P. 1
Kinerja TK-PTKIB Tahun 2009

Kinerja TK-PTKIB Tahun 2009

|Views: 580|Likes:
Published by Parjoko MD
Pelaksanaan Keppres No. 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia. Pada Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu II, juga membantu pemulangan TKIB dan Keluarganya dari Timur Tengah.
Pelaksanaan Keppres No. 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia. Pada Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu II, juga membantu pemulangan TKIB dan Keluarganya dari Timur Tengah.

More info:

Published by: Parjoko MD on Mar 03, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/22/2013

pdf

text

original

K KEMENTERIAN KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT RI

KINERJA TIM KOORDINASI PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA
(TK-PTKIB)

TAHUN 2009

Jakarta,

Desember 2009

Tim Penyusun:
Dra. Maswita Djaja, MSc (Penanggung Jawab) Ir. Parjoko, MAppSc (Editor) Ir. Tri Rahayu, MM, Dr. Ir. Moon Cahyani (Penulis, Pengolahan Data) Puji Astusi, SSos, Rini Rahmawati, Endang Susilowati, Budi Rahayu, SE (Administrasi, Pengolah Kata) Dengan kontribusi dari seluruh Anggota Satgas TK-PTKIB

ii

PENGANTAR
Dalam rangka pelaksanaan Keputusan Presiden No. 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB), Pemerintah bertindak responsif mengantisipasi perkembangan kebijakan pemerintah Malaysia dalam mendeportasi pendatang asing tanpa ijin (PATI) kembali pulang ke negara asalnya termasuk ke Indonesia yang jumlahnya paling besar. Rencana Pemerintah Malaysia untuk melakukan razia, penangkapan dan pemulangan besar-besaran terhadap PATI pada tahun 2009, ditangguhkan pelaksanaannya dan atas diplomasi Departemen Luar Negeri RI melalui Perwakilan RI di Malaysia, sekitar 214.000 TKI bermasalah dan keluarganya di Negeri Sabah mendapat jaminan perusahaan/majikan Malaysia dan diperbolehkan untuk memperbaharui dokumen tanpa harus pulang ke Indonesia. Sehubugan dengan itu, TK-PTKIB lalu mengirim 150.000 paspor ke Malaysia guna keperluan tersebut. Laporan Kinerja Satgas TK-PTKIB Tahun 2009 ini disusun sebagai pertanggung jawaban dan bahan evaluasi untuk peningkatan pelayanan di masa mendatang, yang diperkirakan masih akan terus ada TKI Bermasalah, yang keberadaan dan jumlahnya sejalan dengan upaya pembenahan 80% permasalahan yang ditengarai justru terjadi di dalam negeri. Semoga Allah SWT menerima amal perbuatan ini dan berkenan memberikan kekuatan dan petunjukNya kepada kita semua dalam mengemban tugas selanjutnya. Jakarta, Desember 2009

Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak,

Dra. Maswita Djaja, MSc

iii

DAFTAR ISI
Halaman PENGANTAR DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang B. Tugas dan Fungsi C. Landasan Kerja D. Ruang Lingkup II. RENCANA STRATEGIS A. Visi dan Misi B. Tujuan dan Sasaran C. Strategi D. Kebijakan E. Program III. KINERJA TAHUN 2009 A. Koordinasi dengan Pemerintah Malaysia B. Koordinasi Pemulangan TKIB C. Sosialisasi Safe Migration D. Sosialisasi Peluang Kerja Dalam Negeri E. Pemantauan dan Evaluasi F. Kesimpulan dan Rekomendasi IV. PENUTUP LAMPIRAN
Keputusan Presiden RI No. 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB). 2. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. 05A/KEP/MENKO/KESRA/I/2009 tentang Satuan Tugas Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah serta Pekerja Migran Indonesia Bermasalah Sosial dan Keluarganya dari Malaysia. 3. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 12/KEP/SESMENKO/KESRA/I/2009 tentang Sekretariat Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB). 4. Koordinasi dan pemantauan Satgas TK-PTKIB Tahun 2009, serta Sistem Jaringan SMS-Net GAT. 1.

iii iv 1 2 3 5 6 7 8 9 10 13 15 19 21 22 30 32

iv

BAB I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Rencana Pemerintah Malaysia untuk merazia dan memulangkan Pendatang Asing Tanpa Izin (PATI) secara besarbesaran pada tahun 2009, tidak jadi dilaksanakan karena keberhasilan diplomasi yang dilakukan oleh Departemen Luar Negeri melalui Perwakilan RI di Malaysia. Atas kesepakatan bersama, 217.367 TKI Bermasalah dan keluarganya di Sabah, Malaysia Timur tidak perlu dipulangkan ke Indonesia dan diijinkan utuk melengkapi dokumennya di Malaysia karena adanya jaminan kerja dari perusahaan/majikan di Malaysia. Namun kebijakan Pemerintah Kerajaan Sabah, Malaysia tersebut tidak berlaku di negara bagian lainnya, sehingga pemulangan TKI bermasalah dari Malaysia terutama dari Semenanjung tetap terus berlangsung. Pemulangan TKI Bermasalah dan keluarganya dari Malaysia seolah sudah menjadi kisah klasik yang terus terjadi tanpa ada akhirnya. Moratorium yang dilakukan oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI pada pertengahan tahun 2009 untuk menghentikan sementara penempatan TKI sektor informal ke Malaysia, tidak menyurutkan gelombang pemulangan TKI bermasalah dari negeri itu. Dan kembali upaya ad hoc atas dasar Keputusan Presiden RI No. 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB) – yang sudah berumur 5 tahun lebih - tetap harus diberlakukan. Penanganan serta pemulangan TKI Bermasalah dan keluarganya dari Malaysia masih akan terus berlangsung apabila permasalahan rekrutmen, pelatihan, kelengkapan dokumen, penempatan dan perlindungan calon pekerja migran yang terjadi di dalam negeri tidak dibenahi dengan segera. Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI) harus bekerjasama dan bersinergi menyelesaikan masalah tersebut

1

yang oleh banyak pakar merupakan 80% masalah penyebab terjadinya TKI Bermasalah di Malasia dan di negara penempatan lainnya. Menimbang besarnya permasalahan ketenagakerjaan di dalam negeri yang harus dibenahi, diperkirakan penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah tidak akan selesai dalam 5 tahun ke depan sehingga diperlukan perencanaan jangka menengah yang lebih matang. Laporan Kinerja TK-PTKIB Tahun 2009 ini yang merupakan tahun akhir Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009, menyampaikan hasil kerja TK-PTKIB dalam mengimplemen-tasikan Keppres No. 106 Tahun 2004, yang sehari-hari dilaksanakan oleh Satuan Tugas TK-PTKIB, dan didukung oleh Satgas Pemulangan TKIB (PTKIB) yang berada di 11 daerah entry point di Indonesia.

B. Tugas dan Fungsi
Sebagaimana tertuang dalam Keputusan Presiden RI No. 106 Tahun 2004, tugas TK-PTKIB adalah untuk menyusun dan mengkoordinasikan kebijakan dan program pemulangan TKIB ke Indonesia, dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku dan HAM. Dalam melaksanakan tugas, TK-PTKIB melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk: 1. 2. 3. 4. Melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Malaysia atas dasar prinsip tanggung jawab bersama. Melakukan pendataan sebelum keberangkatan dan pemulangan. Melakukan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan. Melakukan pengecekan dan pengurusan hak-hak gaji/ upah/penghasilan lain, harta benda, piutang serta hak-hak melekat lainnya. Memfasilitasi pemberian dokumen perjalanan/Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP). Mengatur pengangkutan sesuai dengan jadwal dan lokasi tujuan pemulangan/daerah asal. Melaksanakan pengawalan, penjagaan, pengamanan dan perlindungan selama perjalanan sampai ke tempat asal.

5. 6. 7.

2

8. 9.

Memberikan pelayanan kebutuhan dasar sejak dari penampungan, selama perjalanan sampai ke tempat asal. Mempersiapkan kembali menjadi Tenaga Kerja Indonesia yang berkualitas dan memenuhi persyaratan.

Dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari, TK-PTKIB melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No.05A/KEP/MENKO/KESRA/I/2009, membentuk Satuan Tugas Pemulangan TKI Bermasalah serta Pekerja Migran Bermasalah Sosial dan Keluarganya dari Malaysia, yang terdiri dari pejabat-pejabat teknis sektor terkait. Di Pusat, TK-PTKIB menggalang kerjasama dengan badan-badan dan lembaga internasional, sedang di tingkat daerah, TK-PTKIB bekerja-sama dengan Gubernur dan Bupati/Walikota daerah entry dan exit point serta daerah asal TKIB, dan/atau dengan pihak lain yang dipandang perlu.

C.

Landasan Kerja
Dalam melaksanakan tugasnya, TK-PTKIB mengacu kepada: 1. Undang-undang No. 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut. 2. Undang-undang No. 6 Tahun 1974 tentang Kesejahteraan Sosial. 3. Undang-undang No. 9 Tahun 1992 tentang Keimigrasian. 4. Undang-undang No.10 Tahun 1992 tentang Kependudukan dan Keluarga Sejahtera. 5. Undang-undang No. 14 Tahun 1992 tentang Lalu lintas dan Angkutan Jalan. 6. Undang-undang No. 21 Tahun 1992 tentang Pelayaran. 7. Undang-undang No. 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. 8. Undang-undang No. 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri. 9. Undang-undang No. 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia. 10. Undang-undang No. 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia. 11. Undang-undang No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. 12. Undang-undang No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan.

3

13. 14. 15. 16. 17. 18.

19.

20. 21. 22. 23. 24. 25. 26.

27. 28. 29.

30.

Undang-undang No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga. Undang-undang No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Undang-undang No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Undang-undang No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah. Undang-undang No. 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia di Luar Negeri. Undang-undang No. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Ekonomi, Sosial dan Budaya). Undang-undang No. 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civic and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-hak Sipil dan Politik). Undang-undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan RI. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 tentang Perlindungan Saksi dan Korban. Undang-undang No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional Tahun 2005-2025. Undang-undang No. 21 Tahun 2007 tentang Penghapusan Tindak Pidana Perdagangan Orang. Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Undang-undang Nomor 38 Tahun 2008 tentang Pengesahan Piagam Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara. Undang-undang Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Peraturan Presiden No. 81 Tahun 2006 tentang Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indinesia (BNP2TKI). Keputusan Presiden RI Nomor 36 Tahun 1990 tentang Pengesahan Konvensi tentang Hak-hak Anak.

4

31.

32.

33.

Keputusan Presiden RI No. 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB). Instruksi Presiden RI No. 6 Tahun 2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia. Akta Imigrasi Malaysia dan Instrumen HAM Internasional.

D. Ruang Lingkup
Ruang lingkup tugas TK-PTKIB meliputi: 1. Koordinasi dengan Pemerintah Malaysia membahas masalah pemulangan TKIB dan penempatan kembali TKI sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Koordinasi Satgas TK-PTKIB dengan instansi sektoral Pusat dan Daerah serta pihak lain yang dipandang perlu, membahas berbagai hal yang berkaitan dengan pemulangan TKIB serta upaya mempersiapkan kembali menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persyaratan. Koordinasi dengan instansi sektoral pusat dan Daerah serta pihak lain yang dipandang perlu dalam pelaksanaan tugas sewaktu-waktu dari Pimpinan. Pengendalian dan tindak lanjut penyelesaian masalah pemulangan TKIB dan penempatan TKI sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, melalui kegiatan monitoring dan evaluasi, analisis dan penyampaian rekomendasi tindak lanjut kepada Pimpinan, serta penyampaian informasi kepada publik.

2.

3.

4.

5

BAB II. RENCANA STRATEGIS

A. Visi dan Misi
Visi TK-PTKIB adalah “Terwujudnya koordinasi lintas sektor Pusat, Daerah dan di Malaysia agar terselenggara pemulangan TKIB dengan selamat dan bermartabat serta terbina menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persyaratan”. Untuk mewujudkan visi tersebut, maka sejalan dengan tugas dan fungsinya, misi TK-PTKIB adalah: 1. Peningkatan koordinasi dengan Pemerintah Malaysia agar terselenggara pemulangan TKIB dengan selamat dan bermartabat. 2. Peningkatan koordinasi, keterpaduan dan sinkronisasi kebijakan, program dan kegiatan pelayanan kepada TKIB dan TKI, antar instansi sektoral Pusat dan Daerah, dengan Perwakilan RI di Malaysia dan dengan pihak-pihak lain yang diperlukan. 3. Peningkatan mekanisme kerjasama dalam memfasilitasi pelayanan dan pemberian bantuan dalam pemulangan TKIB sejak di Malaysia sampai ke daerah asalnya di Indonesia, dan dalam memfasilitasi pengiriman kembali TKI sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. 4. Peningkatan pemantauan, analisis dan evaluasi kebijakan, program dan kegiatan pelayanan dan pemberian bantuan dalam pemulangan TKIB sejak di Malaysia sampai ke daerah asalnya di Indonesia.

6

B. Tujuan dan Sasaran
Sejalan dengan arahan Keputusan Presiden RI No. 106 Tahun 2004, maka TK-PTKIB menetapkan tujuan yaitu: 1. Meningkatkan keterpaduan dan sinkronisasi penyiapan dan perumusan kebijakan, program dan kegiatan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 2. Mewujudkan dan melaksanakan sistem/mekanisme dalam memfasilitasi pemangku kepentingan (stake-holder) terkait dalam memberikan pelayanan dan bantuan kepada TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 3. Meningkatkan akuntabilitas kebijakan, program dan kegiatan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 4. Mewujudkan dan melaksanakan sistem pemantauan, analisis dan evaluasi kebijakan, program dan kegiatan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan, yang efektif dan berhasilguna. Adapun sasaran yang akan dicapai, adalah: 1. Terwujudnya kebijakan, program dan kegiatan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan yang tidak tumpang tindih, manusiawi dan menghormati HAM. 2. Terlaksananya mekanisme untuk memfasilitasi stake-holder terkait dalam pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 3. Meningkatnya akuntabilitas kebijakan, program dan kegiatan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 4. Terwujudnya rekomendasi peningkatan kebijakan, program dan kegiatan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 5. Terwujudnya sistem informasi dan networking pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan, yang menyeluruh dan dapat dipercaya (reliable).

7

Sasaran tersebut akan dicapai, disesuaikan dengan ketersediaan sumberdaya yang ada dan kondisi lingkungan strategis yang berkembang.

C.

Strategi
Dalam rangka mencapai tujuan dan sasaran tersebut di atas, berbagai faktor lingkungan strategis yang mempengaruhi dipertimbangkan sebagai berikut: 1. Demokratisasi, yang tercermin dari kehendak masyarakat untuk ikut mengawasi dan mengontrol pelaksanaan kebijakan, program dan kegiatan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 2. Desentralisasi, yang diwujudkan dengan memberikan ruang gerak yang memadai bagi daerah sesuai dengan kemampuan sumberdaya yang dimilikinya, untuk ikut berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah nasional berkaitan dengan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 3. Globalisasi, yang mempengaruhi hubungan antar negara baik bilateral, multilateral maupun regional. 4. Akuntabilitas, yang menghendaki adanya transparansi yang berkaitan dengan pelayanan dan pemberian bantuan Pemerintah RI dalam pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. Selanjutnya, dengan mempertimbangkan pula kesiapan sumberdaya yang ada, maka strategi yang akan ditempuh dalam rangka pencapaian tujuan dan sasaran adalah: 1. Memfasilitasi dan menjembatani instansi sektoral Pusat dan Daerah serta pihak lain yang diperlukan, dalam penyelenggaraan pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 2. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman TKIB dan calon TKI tentang cara bermigrasi yang baik dan aman serta terhadap kebijakan deportasi Pemerintah Malaysia terhadap PATI di Malaysia.

8

3. Pemampuan aparatur baik Pusat, Daerah dan di Perwakilan RI di Malaysia serta pihak lain yang diperlukan, dalam pemberian layanan dan bantuan dalam pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. 4. Meningkatkan dan pengembangan kemitraan dan jejaring kerja baik antar instansi sektoral Pusat dan Daerah serta pihak lain yang diperlukan. 5. Memfasilitasi pengembangan Polmas di daerah perbatasan guna meningkatkan peran serta masyarakat dalam pengawasan dan pengendalian

D. Kebijakan
Strategi tersebut di atas dituangkan dalam bentuk kebijakan operasional TK-PTKIB sebagai berikut: Koordinasi dalam rangka memfasilitasi dan menjembatani instansi sektoral Pusat dan Daerah serta pihak lain yang diperlukan, dilakukan dengan memprioritaskan pada institusi/ lembaga yang terkait langsung di lapangan. 2. Koordinasi peningkatan pengetahuan dan pemahaman TKIB dan calon TKI tentang cara bermigrasi yang baik dan aman serta terhadap kebijakan deportasi Pemerintah Malaysia terhadap PATI di Malaysia dilakukan dengan proaktif melibatkan aparat Perwakilan RI di Malaysia dan komunitas penduduk Indonesia yang ada di Malaysia, bekerja sama dengan institusi/lembaga tempatan yang peduli. 3. Koordinasi pemampuan aparatur baik Pusat, Daerah dan di Perwakilan RI di Malaysia serta pihak lain yang diperlukan, dilakukan melalui pembina teknis instansi sektoral masingmasing. 4. Koordinasi peningkatan dan pengembangan kemitraan dan jejaring kerja dilaksanakan dengan memanfaatkan kemajuan sistem informasi dan kemudahan komunikasi serta ketersediaan fasilitas jaringan internet dan mengupayakan adanya pertukaran data dan informasi secara teratur. 5. Koordinasi pengembangan Polmas di daerah perbatasan dilakukan dengan memfasilitasi peningkatan peran masyarakat dengan petugas. 1.

9

E.

Program
Berdasarkan asas prioritas dan kesiapan sumber daya yang diperlukan, maka disusun program pemulangan TKIB dan pembinaannya menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan, sebagai berikut: 1. Tahun Anggaran 2007 a. Koordinasi Pemerintah RI dan Malaysia serta Pertemuan Tingkat Menteri untuk membahas proses pemulangan TKIB secara bermartabat dan selamat sampai ke daerah asalnya di Indonesia. b. Sosialisasi kebijakan razia Pendatang Asing Tanpa Ijin (PATI) di Malaysia oleh pasukan RELA dan deportasi TKIB dari Malaysia. c. Koordinasi pemulangan TKIB di daerah exit point di Malaysia, dan di daerah entry point, transit dan daerah asal TKIB di Indonesia. d. Koordinasi penyusunan anggaran pemulangan TKIB dari Malaysia. e. Koordinasi pelaksanaan kegiatan sektoral, antar Pemerintah Pusat dan Daerah, swasta dan kelembagaan masyarakat, dalam pembinaan dan pemberdayaan TKIB menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persyaratan. f. Koordinasi monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemulangan TKIB dari Malaysia. g. Pelaksanaan tugas sewaktu-waktu dari Pimpinan. 2. Tahun Anggaran 2008 a. Koordinasi Pemerintah RI dan Malaysia serta Pertemuan Tingkat Menteri untuk membahas penyelesaian masalah TKIB di dalam dan di luar negeri. b. Sosialisasi kebijakan razia Pendatang Asing Tanpa Ijin (PATI) di Malaysia oleh pasukan RELA dan deportasi TKIB dari Malaysia. c. Sosialisasi cara bermigrasi yang baik dan aman kepada TKIB serta calon TKI dan pencari kerja di dalam negeri.

10

d. Sosialisasi alternatif kesempatan kerja di perdesaan melalui berbagai program pemerintah seperti PNPM Mandiri, UMKM, Kredit Perkasa, dan lain-lain. e. Koordinasi pemulangan TKIB di daerah exit point di Malaysia, dan di daerah entry point, daerah transit dan daerah asal TKIB di Indonesia. f. Koordinasi penyusunan anggaran pemulangan TKIB dari Malaysia. g. Koordinasi pelaksanaan kegiatan sektoral, antar Pemda Pusat dan Daerah, swasta dan kelembagaan masyarakat, dalam pembinaan dan pemberdayaan TKIB menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persyaratan. h. Koordinasi penyempurnaan pedoman, juklak, juknis dan standar operasional prosedur tentang penanganan TKIB dengan adanya Perpres No. 81 Tahun 2006 tentang BNP2TKI dan Inpres No. 6 Tahun 2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI. i. Koordinasi monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemulangan TKIB dari Malaysia. j. Pelaksanaan tugas sewaktu-waktu dari Pimpinan. 3. Tahun Anggaran 2009 a. Koordinasi Pemerintah RI dan Malaysia serta Pertemuan Tingkat Menteri untuk membahas penyelesaian masalah TKIB di dalam dan di luar negeri. b. Sosialisasi kebijakan razia Pendatang Asing Tanpa Ijin (PATI) di Malaysia oleh pasukan RELA dan deportasi TKIB dari Malaysia. c. Sosialisasi cara bermigrasi yang baik dan aman kepada TKIB serta calon TKI dan pencari kerja di dalam negeri. d. Sosialisasi alternatif kesempatan kerja di pedesaan melalui berbagai program pemerintah seperti PNPM Mandiri, UMKM, Kredit Perkasa, dan lain-lain. e. Koordinasi pemulangan TKIB di daerah exit point di Malaysia, dan di daerah entry point, transit dan daerah asal TKIB di Indonesia. f. Koordinasi penyusunan anggaran pemulangan TKIB dari Malaysia.

11

g. Koordinasi pelaksanaan kegiatan sektoral, antar Pemda Pusat dan Daerah, swasta dan kelembagaan masyarakat, dalam pembinaan dan pemberdayaan TKIB menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persyaratan. h. Koordinasi implementasi dan evaluasi juklak/juknis dan standar operasional prosedur tentang penanganan TKIB yang telah disempurnakan. i. Koordinasi monitoring, evaluasi dan pelaporan pelaksanaan pemulangan TKIB dari Malaysia. j. Pelaksanaan tugas sewaktu-waktu dari Pimpinan.

12

BAB III. KINERJA TAHUN 2009

Pelaksanaan program dan kegiatan Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB) Tahun 2009, adalah sebagai berikut:

A. Koordinasi dengan Pemerintah Malaysia
Koordinasi dengan Pemerintah Malaysia dilakukan oleh Perwakilan RI di Malaysia baik oleh KBRI di Kualalumpur pada tingkat federal maupun oleh KJRI pada tingkat negara bagian. 1. Pembentukan Joint Committee oleh Pemerintah Malaysia yang melibatkan KBRI di Kualalumpur untuk membantu penyelesaian masalah TKIB. Pembentukan Joint Committee ini baru pada tingkat Federal sementara untuk Pemerintah Negara Bagian belum dibentuk, sehingga penyelesaiaan masalah TKIB memerlukan waktu yang agak lama. 2. KJRI Johor Bahru membentuk Special Task Force dan berkoordinasi dengan Jabatan Tenaga Kerja Malaysia untuk mengidentifikasi dan membuat Daftar Hitam bagi Agen Malaysia dan majikan yang melakukan penipuan dan pelanggaran lainnya seperti tidak membayar gaji, pekerjaan tidak sesuai dengan yang dijanjikan, melakukan tindak kekerasan, pelecehan dan tindak kekerasan lainnya. KJRI Johor Bahru juga mengupayakan adanya kenaikan upah minimum TKI di berbagai sektor yang kemudian menjadi standar baku di seluruh Semenanjung Malaysia. Kenaikan upah ini memberikan dampak dengan menurunnya TKI yang lari ke tempat kerja lain yang menyebabkan statusnya menjadi ilegal. 3. KJRI Kuching mengupayakan adanya pemutihan TKIB di Sarawak dengan melakukan pendekatan kepada perusahan di Sarawak. Berbeda dengan Sabah, di Sarawak tidak ada dukungan dari Pemerintah Kerajaan setempat sehingga pemutihan diupayakan atas pendekatan dari KJRI ke perusahaan/majikan. Tahun 2007-2008, sebanyak 2.700
13

TKIB telah diberikan paspor untuk melengkapi dokumen ketenagakerjaan dengan perusahaan/majikannya. Program pemutihan ini terus dilakukan oleh KJRI karena menguntungkan kedua belah pihak dan efektif dalam rangka perlindungan TKI. 4. KJRI Kota Kinabalu di Negeri Sabah, Malaysia dan KBRI di Kualalumpur, serta Departemen Luar Negeri RI, atas dasar win-win solution termasuk pertimbangan masalah perekonomian Negeri Sabah, Malaysia, menyepakati program pemutihan untuk TKI Bermasalah dan keluarganya, yang mendapat jaminan dari perusahaan di Sabah. Pemutihan tahap pertama dilakukan bulan Juli–Oktober 2008 untuk 217.367 orang TKIB, dan terus dilanjutkan dengan tahap 2 bulan Agustus–Oktober 2009. Pada tahap pertama, biaya levi dikenakan sebesar 100% tetapi kemudian diberikan keringanan sampai 50% untuk mengurangi beban TKIB. 5. Satgas TK-PTKIB bersama dengan Tim Inter Departemen dan LSM, didukung oleh International Migration Organization (IOM) Kantor Jakarta, mengadakan study visit ke Malaysia, Singapura, Kuwait dan Bahrain. Kesempatan ini sekaligus dipergunakan untuk mengkoordinasikan berbagai hal terkait dengan TKI bermasalah di negara tersebut. Di Malaysia, penanganan Pekerja Asing dilakukan oleh Kementerian Sumber Manusia (dari segi Human Resource Development dalam rangka “Merealisasikan Decent Work“ dan Harmonize Working Environment), Kementerian Dalam Negeri (dalam hal Imigrasi, visa, permit, dan sebagainya), dan Kementerian Kesehatan. Berbagai Akta dan Peraturan Pelaksanaan telah diterbitkan Pemerintah Malaysia tetapi implementasi di tingkat lapangan masih banyak terjadi penyimpangan yang menimbulkan banyak persoalan seperti banyaknya Pendatang Asing Tanpa Ijin (PATI), overstayer karena kelalaian majikan (pemegang paspor pekerja asing) dalam memperpanjang ijin kerja pekerja asing yang bekerja padanya, serta masalah banyaknya permit asli tapi palsu. Berkaitan dengan PATI, hal ini bukan merupakan kebijakan ketenagakerjaan Pemerintah Malaysia, sehingga penanganannya lebih didasarkan pada pendekatan HAM dan sebagai bangsa serumpun. Tetapi di lapangan, penanganan PATI lebih cenderung melalui pendekatan Keimigrasian, dan belum mempertimbangkan situasi PATI yang banyak menjadi korban perdagangan orang (trafficking in persons).
14

Malaysia telah mempunyai Anti-Trafficking in Persons Act (Act 670, 2007) yang telah mendorong meningkatnya kasuskasus yang ditangani dan jumlah korban yang diselamatkan, namun dalam US TIP Report 2009, Malaysia dimasukkan dalam Tier 3, menurun dari tahun 2008 (Tier 2 Watch-list) karena dinilai tidak cukup mengambil tindakan dalam pemberantasan trafficking in persons. Malaysia juga menyatakan belum akan meratifikasi Konvensi Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya, karena belum yakin dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan dalam konvensi tersebut.

B. Koordinasi Pemulangan TKIB
Dalam rangka meningkatkan operasional pelaksanaan tugas TK-PTKIB, berbagai kebijakan ditetapkan pada tahun 2009, sebagai berikut: 1. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat No. 05A/KEP/MENKO/KESRA/I/2009 tentang Satuan Tugas Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah serta Pekerja Migran Indonesia Bermasalah Sosial dan Keluarganya dari Malaysia, yang dimaksudkan untuk memperjelas lingkup tugas antar kelembagaan pemerintah yang menangani masalah ketenagakerjaan di dalam dan luar negeri. 2. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 12/KEP/SESMENKO/KESRA/I/2009 tentang Sekretariat Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TKPTKIB), yang dimaksudkan untuk mendukung secara administratif agar pelaksanaan Satgas TK-PTKIB dapat berjalan dengan optimal. 3. Petunjuk Pelaksanaan Satgas TK-PTKIB tentang Penanganan dan Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia, yang dimaksudkan agar Satgas Pemulangan TKIB Daerah dapat memberikan pelayanan yang sama dan adanya jaminan pembiayaan dari Pusat. Petunjuk Pelaksanaan tersebut telah disosialisasikan ke Satgas PTKIB Tanjungpinang, Kepulauan Riau, Pontianak, Kalimantan Barat dan Nunukan, Kalimantan Timur, sebagai daerah entry point yang banyak menerima pemulangan TKIB dan keluarganya dari Malaysia.
15

4. Kebijakan untuk membentuk Satgas Pemulangan TKIB Tanjungpriok, DKI Jakarta, yang selama ini operasionalisasinya di bawah Koordinasi Departemen Sosial. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta akan mengakselerasi proses pembentukan Satgas PTKIB DKI Jakarta sehingga pada akhir tahun 2009 diharapkan Satgas PTKIB DKI Jakarta sudah dapat resmi operasional. 5. Kebijakan bagi Satgas TK-PTKIB untuk membantu penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dari Timur Tengah di dalam negeri. 6. Kebijakan penganggaran penanganan dan pemulangan TKIB dari Malaysia dan Negara Lainnya melalui APBN-P Tahun 2009, serta kebijakan pembiayaan pemulangan TKIB dari Timur Tengah secara terpadu oleh Pemerintah, PT. Garuda Indonesia, PJTKI/PPTKIS dan Konsorsium Asuransi. 7. Kebijakan penanganan dan pemulangan TKIB dan keluarganya serta penganggarannya selama 5 tahun ke depan yang diperkirakan masih akan tetap ada sejalan dengan penuntasan masalah ketenagakerjaan yang sebagian besar terjadi di dalam negeri. 8. Kebijakan tentang prosedur penerimaan, penanganan dan pemulangan TKIB dan Keluarganya dari Timur Tengah sejak penerimaannya di Bandara Soekarno-Hatta, pemeriksaan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Mabes POLRI, pendalaman kasus, rehab psikososial dan penampungan di Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) Depsos, serta pemulangan dan pengawalan TKIB sampai ke daerah asalnya. 9. Kebijakan pengembangan Perpolisian Masyarakat (Polmas) dari Mabes POLRI untuk Daerah Perbatasan sebagai upaya memperkuat pengawasan keluar-masuknya orang dan barang melalui pelabuhan dan lorong tradisionil di daerah perbatasan, serta upaya pemberdayaan masyarakat agar mempunyai pengetahuan dan keberdayaan dalam membantu TKIB yang melewati daerahnya. Dengan berbagai kebijakan tersebut di atas, pemulangan TKIB dan keluarganya dari Malaysia sepanjang Tahun 2009 mencapai 38.839 orang, dengan 27.026 orang di antaranya mendapat bantuan permakanan dan transportasi dari Departemen Sosial yaitu untuk selama di penampungan dan

16

untuk perjalanannya ke daerah asal. Sementara untuk proses pemutihan yang dilaksanakan oleh Perwakilan RI di Sabah, Malaysia telah mencapai 140.618 orang dari 217.367 TKIB dan keluarganya yang terdaftar di Imigresen Malaysia. Dengan difasilitasi oleh Perwakilan RI di Kuching, pemutihan di Sarawak juga masih terus berlangsung.

Pemulangan TKIB Malaysia
Tahun 2004-2009
400,000

356,256

300,000

200,000

170,585

100,000

30,604
0

36,315

42,133

38,839

2004

2005

2006

2007

2008

2009

Pemulangan TKI Bermasalah termasuk anak-anak dan bayi dari Timur Tengah selama bulan Oktober-Desember 2009 mencapai 1.314 orang, yang berasal dari Abu Dhabi (69 orang), Jeddah (200 orang), Riyadh (101 orang), Amman (125 orang), Kairo (35 orang), Damaskus (53 orang), Doha (44 orang), Dubai (115 orang), Sana’a (13 orang) dan Kuwait (559 orang). Pemulangan TKIB dari Timur Tengah ini dilanjutkan sampai dengan akhir bulan Januari 2010, yang merupakan akhir dari Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu II. Untuk penanganan dan pemulangan TKIB dari Malaysia dan negara lainnya, penganggarannya selain didukung oleh sektor terkait (Deplu, Depnakertrans, BNP2TKI, Depsos), juga didukung oleh PT. Garuda Indonesia, PJTKI/PPTKIS dan Konsorsium Asuransi. Di samping itu, Satgas TK-PTKIB juga berhasil mengupayakan adanya tambahan dana APBN-P Tahun 2009 sebesar Rp 16,3 milyar yang dialokasikan untuk koordinasi

17

(Kemenko Kesra, Rp 0,6 milyar), permakanan dan transportasi TKIB (Depsos, Rp 9,2 milyar), pelayanan kesehatan TKIB dan rujukan Rumah Sakit (Depkes, Rp 2,1 milyar), penguatan operasional 12 Satgas PTKIB Daerah (Ditjen PUM Depdagri, Rp 2,3 milyar), penertiban administrasi kependudukan (Ditjen Adminduk, Depdagri Rp 0,6 milyar), serta pengamanan dan pengembangan Polmas (Mabes POLRI, Rp 1,3 milyar). Realisasi penggunaan anggaran APBN-P tahun 2009 sampai dengan 31 Desember 2009, sebesar 31,76% dengan rincian sebagai berikut: 1. Perlindungan Sosial Pekerja Migran, Depsos: 2,90%. 2. Koordinasi Pemulangan TKIB, Kementerian Koordinator Bidang Kesra: 97,98%. 3. Layanan Kesehatan TKIB, Depkes: 41,16%. 4. Penguatan dan Operasional Satgas PTKIB Daerah, Ditjen PUM, Depdagri: 68,02%. 5. Pelayanan dokumen kependudukan bagi TKIB, Ditjen Adminduk, Depdagri: 82,91%. 6. Pengamanan TKIB dan pengembangan Polmas Daerah Perbatasan, Mabes POLRI: 94,26%. Rendahnya serapan anggaran selain karena turunnya DIPA yang sudah mendekati akhir tahun 2009, juga karena pengaruh keberhasilan diplomasi Deplu dan Perwakilan RI di Malaysia sehingga 217.367 orang TKIB dan keluarganya tidak jadi dipulangkan karena mereka diijinkan oleh Pemerintah Sabah untuk memperbaharui dokumennya di Malaysia. Sehubungan dengan itu, anggaran perlindungan sosial dan layanan kesehatan banyak yang tidak tergunakan sehingga serapan anggaran menjadi kecil. Selain itu, kecilnya serapan anggaran juga diakibatkan adanya 3 Satgas PTKIB Daerah (Sumatera Utara, Tanjungbalai Karimun dan Dumai) yang tidak mengambil alokasi dana yang disediakan, karean sudah didukung oleh anggaran daerah. Hal yang sama juga terjadi pada anggaran Mabes POLRI yang tersisa karena alokasi dana untuk Polmas Jakarta Utara tidak dipergunakan karena sudah tersedia anggaran pendukungnya. Kegiatan Ditjen Adminduk Depdagri, oleh karena ketidaksiapan beberapa daerah, sebagian kegiatan tidak dapat dilaksanakan sehingga menyisakan anggaran. Sisa anggaran yang tidak terpakai, oleh Kementerian/ Lembaga dikembalikan ke Kas Negara.

18

Sejalan dengan pemikiran bahwa TKIB hanyalah merupakan dampak dari permasalahan rekrutmen, diklat, penempatan dan perlindungan tenaga kerja yang 80% masalahnya terjadi di dalam negeri, diperkirakan untuk 5 tahun ke depan penghapusan TKIB belum akan tuntas karena beratnya mengatasi permasalahan ketenagakerjaan di dalam negeri. Sehubungan dengan itu, Satgas TK-PTKIB kemudian berkoordinasi dengan Bappenas dan berhasil memasukkan penanganan TKI bermasalah dalam draft RPJMN Tahun 20102014 lengkap dengan alokasi anggarannya untuk 5 tahun ke depan. 1. Koordinasi Pemulangan TKIB, Kementerian Koordinator Bidang Kesra, Rp 4,25 milyar. 2. Bantuan dan Jaminan Sosial TKIB, Depsos, Rp 123,2 milyar. 3. Layanan Kesehatan TKIB, Depkes, Rp 4,5 milyar. 4. Kesiapsiagaan Satgas PTKIB Daerah, Ditjen PUM, Depdagri, Rp 28,7 milyar. 5. Pelayanan dokumen kependudukan bagi TKIB, Ditjen Adminduk, Depdagri, Rp 4,6 milyar. 6. Pengamanan TKIB dan pengembangan Polmas Daerah Perbatasan, Mabes POLRI, Rp 22,5 milyar. 7. Verifikasi TKIB, Ditjen Imigrasi, Depkumham, Rp 1,5 milyar. Namun karena RPJMN Tahun 2010-2014 belum definitif, maka kebutuhan untuk penanganan dan pemulangan TKIB Tahun 2010 belum teralokasikan. Satgas TK-PTKIB akan mengupayakan kembali adanya APBN-P Tahun 2010 untuk mendanai penanganan dan pemulangan TKIB yang cakupannya diperluas tidak hanya yang berasal dari Malaysia namun juga dari negara lainnya.

C.

Sosialisasi Safe Migration
Safe Migration (Bermigrasi Secara Aman), oleh sebagian besar TKIB dan keluarganya belum diketahui dan difahami dengan baik. Hal ini sudah selayaknya jika dikaitkan dengan rata-rata rendahnya pendidikan tenaga kerja Indonesia dan kurang intensifnya komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang prosedur mencari dan menjadi TKI yang sebenarnya, terutama di sektor informal yang sebagian besar TKI bekerja di sektor itu.

19

Kurangnya informasi mengenai safe migration juga disebabkan oleh ulah para calo tenaga kerja yang karena mengharapkan komisi perekrutan yang menggiurkan, sering justru membujuk dengan memberikan informasi yang tidak benar, yang kemudian ternyata menyebabkan TKI yang bersangkutan menjadi bermasalah. Perihal ketentuan mengenai umur banyak diabaikan dan dengan berbagai cara mengupayakan dokumen kependudukan yang datanya dipalsukan, antara lain mengenai umur yang dituakan agar dapat memenuhi persyaratan. Keterangan mengenai kompetensi dan kesehatan sering kali banyak dimanipulasi sehingga calon tenaga kerja yang tidak memenuhi persyaratan dapat lolos ketentuan administrasinya. Biaya yang timbul dibebankan kepada calon tenaga kerja yang harus dikembalikan melalui pemotongan upah kerja selama 6-8 bulan dengan hanya sedikit menyisakan atau bahkan tidak sama sekali untuk pekerja yang bersangkutan. Untuk melengkapi berbagai model KIE yang sudah ada, Satgas TK-PTKIB mengembangkan Perpolisian Masyarakat (Polmas) di Daerah Perbatasan, yang selain ditugasi untuk membantu Kepolisian dalam ketertiban dan keamanan masyarakat, juga dilengkapi dengan informasi tentang safe migration sehingga masyarakat dapat memberikan keterangan kepada TKIB dan keluarganya yang keluar-masuk melalui desanya. Tahun 2009, Satgas TK-PTKIB mengembangkan 4 Polmas Daerah Perbatasan di Tanjungpinang dan Batam, Kepulauan Riau, di Entikong, Kalimantan Barat dan Nunukan Kalimantan Timur. Dalam jangka panjang diharapkan agar titik-titik Polmas Daerah perbatasan ini dapat berkembang menjadi sabuk pengaman daerah perbatasan RI-Malaysia dan negara tetangga lainnya. Selain menjadi mata-telinga pihak Kepolisian dan Pertahanan, Polmas juga dapat menjadi agen KIE bagi pekerja migran baik dari daerah itu sendiri maupun yang berasal dari luar tentang Safe Migration, bagaimana bermigrasi secara aman. Dalam pengembangan Polmas, Satgas TK-PTKIB bekerjasama dengan Biro Bina Masyarakat Mabes POLRI, Bagian Bina Mitra Kepolisian Daerah, Pemerintah Daerah, serta dengan Kelembagaan Masyarakat setempat dalam mengembangkan Polmas Daerah Perbatasan.

20

Berkaitan dengan Identitas TKI yang asli tetapi datanya dipalsukan agar memenuhi persyaratan umur, Satgas TK-PTKIB melalui Ditjen Adminduk mendorong implementasi Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK) yang menerapkan single identity number dan sudah diujicobakan di beberapa kabupaten, agar diaplikasikan untuk TKI Bermasalah dan Keluarganya. Dalam rangka membantu TKIB yang ingin kembali bekerja menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persyaratan, Ditjen Adminduk dan Ditjen Imigrasi memfasilitasi dengan pemberian Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri sebagai pengganti KTP dan Kartu Keluarga untuk pembuatan paspor bagi TKIB yang memenuhi persyaratan. Berbagai kemudahan ini diharapkan dapat mengurangi migrasi penduduk secara ilegal, karena untuk bermigrasi dengan aman sebetulnya dapat dilakukan dengan mudah dan dengan biaya yang tidak memberatkan.

D. Sosialisasi Peluang Kerja Dalam Negeri
Selama lima tahun terakhir, Pemerintah RI telah berupaya untuk membuka kesempatan dan peluang kerja di pedesaan, di dalam negeri. Berawal dari Program Pembangunan Kecamatan (PPK) dan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) yang dikembangkan sejak tahun 1998, pada tahun 2007 Pemerintah meluncurkan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dengan cakupan yang diperluas, yang pada tahun 2009 meliputi seluruh kecamatan di Indonesia. PNPM Mandiri yang diwujudkan dalam bentuk Bantuan Langsung Masyarakat (BLM), langsung ditransfer ke Kecamatan guna mendanai berbagai kegiatan pembangunan di pedesaan yang dirancang dan dilaksanakan serta diawasi oleh masyarakat sendiri. Pengajuan proposal kegiatan pembangunan di pedesaan bersifat kompetitif dengan sekitar 30-40% dilokasikan untuk kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan. Potensi peluang dan kesempatan kerja di pedesaan inilah yang disosialisasikan dan terutama ditujukan kepada tenaga kerja Indonesia di luar negeri dan juga TKI Bermasalah dan Keluarganya yang menjadi kelompok sasaran layanan Satgas TKPTKIB. Dengan sosialisasi ini, diharapkan TKIB setelah kembali ke daerah asalnya dapat menentukan sikap untuk mencari pekerjaan dan peluang kerja di pedesaan, atau kembali menjadi TKI tetapi dengan kompetensi yang telah berkualitas dan memenuhi persyaratan.
21

Pengembangan Polmas Daerah Perbatasan mempunyai banyak fungsi termasuk memberikan KIE tentang ketenagakerjaan serta peluang dan kesempatan kerja di pedesaan kepada TKIB dan orang-orang yang keluar-masuk melalui daerahnya. Oleh karena itu, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) sebagai perwujudan Polmas di pedesaan, perlu mendapat bahan-bahan dan informasi mengenai berbagai program pembangunan di pedesaan dari dinas/sektor terkait.

E.

Pemantauan dan Evaluasi
Pemantauan dan evaluasi pelaksanaan penanganan dan pemulangan TKIB dan keluarganya dari Malaysia dilaksanakan secara terpadu lintas sektor maupun secara sendiri-sendiri ke daerah entry point dan provinsi asal TKIB Indonesia, serta ke negara tujuan yaitu Malaysia. Dengan adanya tambahan tugas untuk membantu penanganan dan pemulangan TKIB dari Timur Tengah, pemantauan juga dilakukan ke Singapura, Kuwait, Bahrain, dan Saudi Arabia. Pemantauan ke negara tersebut mendapat dukungan dari International Migration Organization (IOM). 1. Daerah Entry Point Tahun 2009, Kota Dumai sebagai daerah entry point TKIB di Provinsi Riau menghidupkan kembali Satgas Pemulangan TKIB sehingga jumlah Satgas PTKIB Daerah menjadi 12 yaitu: Medan (Sumatera Utara), Dumai (Riau), Tanjungpinang, Tanjungbalai Karimun, Batam (Kepulauan Rau), Pontianak-Entikong (Kalmanntan Barat), Nunukan (Kalimantan Tmur), Pare-pare (Sulawesi Tengah), Tanjungpriok (DKI Jakarta), Tanjungemas (Jawa Tengah), Tanjungperak (Jawa Timur), dan Mataram (NTB).

22

Medan Nunukan Batam Dumai Tgpinang

Tgbalai Krm

Entikong

Parepare

Jakarta Semarang

Surabaya Mataram

Entry Point: Belawan-Medan, Dumai, Tg-Balai Karimun, Batam, Tg-Pinang, Entikong, (Tarakan), Nunukan, Pare-pare, Tg-Priok, Tg-Emas, Tg-Perak, Mataram.

Berdasarkan pemantauan ke 12 Satgas Pemulangan TKIB tersebut diperoleh informasi dan masukan sebagai berikut: 1) Seluruh Satgas Pemulangan TKIB Daerah menyatakan komitmennya untuk berpartisipasi menyelesaikan masalah nasional pemulangan TKIB dan keluarganya dari Malaysia. 2) Pada umumnya Satgas Pemulangan TKIB Daerah belum mempunyai shelter yang memadai. 3) Juklak Penanganan dan Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia Tahun 2009, belum tersosialisasikan dengan baik sehingga pelaksanaan di lapangan belum optimal. 4) Prosedur layanan kesehatan melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan dan Rumah Sakit Rujukan di beberapa Satgas PTKIB belum berjalan lancar. Termasuk dalam hal ini layanan kesehatan untuk TKIB yang mengalami stress atau gangguan jiwa. 5) Prosedur penanganan dan pemulangan TKIB dan keluarganya yang meninggal dunia di daerah entry point belum berjalan dengan baik. 6) Banyak Satgas PTKIB yang belum mendapat dukungan biaya operasional dari APBD dan APBN.

23

7) Satgas PTKIB mengalam kesulitan untuk memproses penempatan kembali TKIB menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan, karena TKIB (deportan) tidak dilengkapi dengan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) tetapi hanya berupa Surat Pengantar dari Perwakilan RI. SPLP merupakan persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh Surat Kedatangan dari Luar Negeri bagi TKIB yang ingin kembali bekerja ke luar negeri. 2. Daerah Asal TKIB Berdasarkan pemantauan ke beberapa daerah asal TKIB, diperoleh informasi dan masukan sebagai berikut: 1) Beberapa daerah asal TKIB belum mempunyai Satuan Tugas atau kelembagaan yang ditetapkan untuk mengurus penanganan dan pemulangan TKI bermasalah walaupun banyak TKIB berasal dari daerah tersebut. 2) Layanan kesehatan bagi TKIB dan keluarganya di daerah asal walaupun sudah diatur dalam Petunjuk Pelaksanaan Pemulangan TKIB dan Keluarganya dari Malaysia Tahun 2009, masih memerlukan sosialisasi dan advokasi lebih lanjut agar Puskesmas, Rumah Sakit, Dinas Kesehatan, dan pihak lain terkait dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. 3) Masih rendahnya sosialisasi mengenai safe migration di pedesaan sehingga masih banyak calon tenaga kerja khususnya perempuan yang belum mengerti bagaimana mencari kerja dan berbagai persyaratan untuk bekerja ke luar negeri. Kondisi ini dimanfaatkan oelh calo-calo tenaga kerja yang tidak bertanggung jawab untuk membujuk perempuan di pedesaan termasuk yang di bawah umur untuk bekerja di luar negeri dengan resiko bermasalah dan masuk dalam jeratan hutang (debt bondage). 4) Tindak lanjut pemberdayaan TKIB dan keluarganya yang sudah kembali ke daerah asalnya masih memerlukan pengembangan lebih jauh agar yang bersangkutan mempunyai alternatif yang terbaik bagi dirinya akan menjadi pekerja atau pengusaha di desanya, atau kembali bekerja ke luar negeri namun dengan kompetensi yang lebih baik dan menempuh

24

prosedur rekrutmen dan penempatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan. 5) Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dan program nasional pembangunan pedesaan lainnya (kesehatan, pendidikan, usaha ekonomi) belum banyak dimengerti oleh masyarakat di pedesaan sehingga mereka belum dapat mengaksesnya. 3. Negara Tujuan Berdasarkan pemantauan ke beberapa negara tujuan TKI, diperoleh informasi dan masukan sebagai berikut: 1) Tingginya biaya penempatan TKI di Malaysia disinyalir karena besarnya biaya untuk pendewasaan umur dan atau ganti nama, perijinan (suami), “surat keterangan“ kesehatan, pelatihan yang tidak cukup, yang kesemuanya memerlukan uang dan menjadi “jeratan hutang“ yang harus dibayar TKI melalui pemotongan selama 6-8 bulan gaji. Banyaknya Outsourcing Agent (Malaysia) ditengarai juga telah menyebabkan terjadinya under-wages bagi TKI serta adanya penyalahgunaan “pass lawatan kerja sementara“ yang dipakai untuk menekan pekerja asing agar menerima persyaratan kerja di bawah standar. Di Malaysia sangat sulit untuk menuntut majikan karena keterbatasan permit pekerja asing yang jika dilanggar dapat ditindak dan dideportasi. Disarankan agar masalah paspor, wages dan one-day off sebagai hal yang mendasar tidak bisa ditawar lagi untuk diperjuangkan pihak Indonesia, dan dilanjutkan pada isu-isu lainnya seperti adanya pengecualian dari ketentuan undang-undang yang tidak membolehkan pekerja asing untuk menikah dan membawa famili, tetapi ternyata dibiarkan terjadi di Sabah. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan perlindungan kepada pekerja asing PLRT di Malaysia, disarankan agar penempatannya tidak melalui PJTKI/PPTKIS tetapi G to G, dan diharapkan jangan mengirim TKI melalui Outsourcing Agent. Sementara remintansi TKI yang besar dan kutipan US$15 setiap penempatan sudah selayaknya dikembalikan untuk membantu TKI yang bermasalah.

25

2) Ministry of Manpower (MOM) Singapura menginformasikan bahwa kebijakan terhadap pekerja asing adalah menarik tenaga ahli (talent) asing secara seimbang dengan pengembangan tenaga ahli lokal. Untuk tenaga ahli asing dalam rangka pengembangan ekonomi dan daya saing Singapura, diberikan pas kerja, fasilitas dan pajak (levy) yang berbeda dengan tenaga kerja terampil (mid-skilled) dan tenaga kerja unskilled/semi-skilled. Untuk PLRT yang dikategorikan sebagai tenaga kerja unskilled/semi-skilled, MOM tidak menetapkan upah minimum tetapi menyerahkannya dalam hubungan supply-demand antara PLRT dan majikan. Persyaratan untuk PLRT asing di Singapura menurut MOM adalah berumur minimal 23 tahun dan menempuh 8 tahun pendidikan formal. Pihak MOM mengatakan bahwa banyak kasus ditemukan, PLRT Indonesia secara fisik diperkirakan umurnya lebih rendah daripada yang tertera dalam dokumen (paspor). PLRT asing yang baru datang ke Singapura mendapat Safety Awareness Cource (SAC) yang mendidik PLRT tentang praktek keselamatan, nomor kontak dan bantuan, hak, kewajiban dan perlindungan di bawah Undang-undang Singapura, dan paket informasi lainnya. PLRT secara hukum mendapat hak minimum satu hari libur, namun ketentuan libur ini dapat dinegosiasikan majikan agar PLRT tetap bekerja dengan mendapat kompensasi. Secara random, PLRT asing diwawancarai untuk meyakinkan bahwa PLRT mampu beradaptasi dengan suasana kerja dan suasana tinggal di masyarakat Singapura. Namun menurut NGO Singapura, ketentuan MOM tersebut tidak berjalan dengan semestinya. Banyak Agency Singapura mengambil (paksa) materi SAC sehingga PLRT menjadi terputus hubungan dengan lingkungan luar, sehingga berbagai perlakuan majikan yang buruk tidak terdeteksi dan atau tidak terlaporkan. Banyak juga praktek tidak baik Agency Tenaga Kerja Indonesia dan Singapura, seperti misalnya menuakan umur TKI untuk memenuhi persyaratan umur PLRT di Singapura (23 tahun).

26

Mengenai batasan umur ini perlu dibahas dengan Pemerintah Singapura dengan menurunnya umur seseorang mencapai kedewasaan fisik dan psikologisnya. Perihal one-day off, banyak Agency Singapura sering meminta PLRT untuk tetap bekerja, dan kompensasinya dimasukkan sebagai komponen pengembalian pinjaman untuk biaya pelatihan dan penempatan. Biaya rekrument dari Agency Singapura, oleh PJTKI disebutkan sebagai pinjaman PLRT. Menurut Undangundang Singapura, placement fee dibayar 10% dari gaji PLRT, tetapi karena disebut sebagai pinjaman, maka Pemerintah Singapura tidak bisa menindak kejadian pemotongan gaji PLRT yang dapat berlaku selama 8-10 bulan. Menurut pengamatan NGO, PLRT Indonesia walaupun mempunyai sertifikat lulus bahasa Inggris tetapi dalam prakteknya tidak mampu berkomunikasi dengan majikan, kurang familiar dengan berbagai peralatan elektronik dan peralatan rumah tangga keluarga Singapura, dan mengalami culture shock. Menurut Undang-undang Singapura, selama 2 tahun hubungan kerja, pekerja asing (PLRT) tidak boleh hamil, yang akan diketahui karena setiap 6 bulan sekali harus menjalani check medis. Bagi yang hamil diberikan alternatif digugurkan (legal dan murah di Singapura), atau kembali pulang ke negara asalnya. Untuk memberikan perlindungan yang lebih lebih baik kepada pekerja sektor informal (di Singapura), Indonesia diharapkan dapat mengakui pekerja sektor informal sebagai “pekerja“, sehingga dapat dipergunakan untuk berunding dengan negara penempatan. Indonesia juga perlu menginfomasikan kepada NGO Singapura tentang prosedur penempatan dan perlindungan pekerja migran agar dapat membantu mengadvokasi berbagai pihak yang terkait. 3) Penanganan Pekerja Asing di Kuwait dilakukan oleh Kementerian Kehakiman, Sosial dan Tenaga Kerja bagi ekspatriat yang bekerja di sektor formal, sementara untuk sektor informal seperti pekerja rumah tangga dilakukan oleh Domestic Labour Department, Departemen Dalam Negeri.

27

Sistem rekruitmen adalah sponsorship, melalui kontrak bisnis, kerjasama pemerintah, swasta dan untuk domestic worker melalui Agency Tenaga Kerja Kuwait (PJTKA), bekerja-sama dengan PPTKIS di Indonesia. Pemerintah Kuwait menyampaikan komitmennya untuk meningkatkan perlindungan HAM dan menghapus diskriminasi atas dasar gender, warna kulit/ras, dan agama, dengan memberikan perlakuan yang sama terhadap pekerja asing (ekspatriat). Untuk sektor formal (pemegang visa 18) yang diatur Undangundang Ketenagakerjaan (Private Sector Law of Labour) memang tidak ada masalah, namun berbeda dengan sektor informal (pemegang visa 20) yang diatur dengan Undang-undang Ijin Tinggal Orang Asing (Aliens Resident Law) masih ada berbagai permasalahan. Pemerintah Kuwait akan melanjutkan pembahasan revisi MoU antara RI dan Kuwait yang disepakati tahun 1996. Untuk menekan permasalahan pekerja rumah tangga, disarankan agar ditingkatkan penyelenggaraan cultural training bagi calon pekerja rumah tangga (culture, nature, climate, law dan lain-lain tentang negara Kuwait). Untuk meningkatkan perlindungan terhadap domestic worker di Kuwait, Pemerintah Kuwait akan mengamandemen undang-undang terkait perlindungan pekerja asing terutama pekerja rumah tangga, pemberantasan kejahatan terorganisir, kejahatan lintas negara dan trafficking in persons. Pemerintah Kuwait juga berencana membangun Home Helper Operating Agency yang dilengkapi dengan fasilitas general checkup, penampungan, pakaian, transportasi, ID Card (untuk yang paspornya ditahan majikan) dan kegiatan pemberdayaan melalui workshop, training, pendidikan dan juga pemberian informasi. Untuk operasional Home Helper Operating Agency ini, diperlukan trainee yang berpengalaman dari negara pengirim tenaga kerja. Sampai dengan saat ini, domestic worker di Kuwait terbesar berasal dari India (576.881 orang), Filipina (103.069 orang), Sri Lanka (98.634 orang) dan Indonesia (64.780 orang).

28

4) Penduduk Bahrain sekitar 1 juta jiwa, dengan sekitar 70 persennya adalah pekerja asing yang sebagian besar berasal dari India, Pakistan, Banglades, Filipina, Srilangka, Thailand dan Indonesia. Bahrain telah mempunyai Undang-undang Ketenagakerjaan (Labour Law) yang juga mengatur mengenai pekerja rumah tangga, dan diberlakukan kepada penduduk Bahrain maupun Non Bahrain. Di Bahrain tidak ada peraturan apapun yang membolehkan paspor TKI dipegang oleh orang lain. Pengendalian Agency Tenaga Kerja (PJTKA) Bahrain, dilakukan oleh Menteri Tenaga Kerja, dan kepada pekerja asing diberi kebebasan untuk pindah pekerjaan atau pindah employer. Kelemahan TKI/TKW Indonesia di Bahrain adalah kurangnya pengetahuan tentang hak-haknya, tentang pekerjaannya, dan keyakinan tentang apa yang akan dikerjakannya datang ke Bahrain. Ditengarai, banyak TKI/TKW di Indonesia mendapatkan informasi dan janji-janji yang tidak benar tentang bekerja di Bahrain. Pemerintah Bahrain mengharapkan agar pekerja rumah tangga dari Indonesia telah berumur dewasa (25 tahun). Dalam rangka implementasi Unemployment Insurence Act (2008), Pemerintah Bahrain membentuk Labour Market Regulatory Authority (LMRA) dan Labour Fund yang bersama-sama dengan Ministry of Labour mengharmonisasikan antara kebijakan dan program ketenagakerjaan Bahrain, administrasi pekerja asing serta training dan pemberdayaan tenaga kerja Bahrain. Dana yang masuk ke LMRA, 80% akan disetorkan ke Labour Fund yang akan dikembalikan ke pasar kerja dalam bentuk training tenaga kerja sehingga lebih produktif. LMRA sendiri bertugas untuk melayani visa dan ijin tinggal, ID Card, pemeriksaan kesehatan, serta mendeteksi, menahan dan mendeportasi tenaga kerja ilegal, yang didukung dengan sistem terkomputerisasi. Pemerintah Bahrain mempunyai shelter Dar Al Aman untuk korban tindak kekerasan dalam rumah tangga, yang dikelola oleh Badan Administrasi Shelter yang terdiri dari wakil-wakil kementerian dan nonpemerintah yang menetapkan kebijakan, dan peraturan

29

tentang administrasi, keuangan dan ketentuan teknis operasional shelter. Shelter dilengkapi dengan dokter, psikiatri, peneliti kasus dan kerjasama dengan lembaga lain, dan memberikan layanan penampungan, kesehatan, sosial, psikologis dan bantuan hukum, rekreasi, kebudayaan dan peningkatan kepedulian, untuk jangka waktu maksimum delapan minggu. Kepada korban juga diberikan pembinaan lanjutan setelah keluar dari shelter. Untuk mencegah masuknya pendatang ilegal, shelter hanya menerima korban dari pihak kepolisian. Hambatan bahasa yang ada, diatasi melalui kerjasama dengan pekerja migran sebagai penterjemah.

F.

Kesimpulan dan Rekomendasi
1. Pelaksanaan Program sebagaimana tertuang dalam Rencana Strategis TK-PTKIB dapat direalisasikan walaupun ada keterbatasan anggaran tahun 2009, baik dari sisi jumlah maupun waktu pencairan dana APBN-P Tahun 2009 yang turun di empat bulan terakhir tahun 2009. Dari Rp 16,3 milyar dana APBN-P Tahun 2009, terserap 31,76% dan sisanya dikembalikan ke Kas Negara. Rendahnya serapan dana karena 217.367 orang TKIB dan Keluarganya di Sabah, Malaysia tidak perlu pulang ke Indonesia karena mendapat jaminan dari perusahaan/majikan dan diijinkan untuk memperbaharui dokumen di Malaysia. Selama tahun 2009, telah dipulangkan 38.839 roang TKIB dan keluarganya dari Malaysia, dengan 27.026 orang di antaranya mendapat bantuan permakanan dan transportasi dari Departemen Sosial. Data pemulangan TKIB ini tidak termasuk mereka yang pulang melalui jalur pelabuhan dan lorong-lorong tradisionil yang banyak terdapat di perbatasan RI-Malaysia. Tambahan tugas kepada Satgas TK-PTKIB untuk membantu pemulangan TKIB dan keluarganya dari Timur Tengah, selama bulan Oktober-Desember 2009, telah berhasil dikoordinasikan pemulangan 1.314 orang TKIB dari Timur Tengah termasuk anak-anak dan bayi.

2.

3.

30

4.

Petunjuk Pelaksanaan tentang Penanganan dan Pemulangan TKIB dan Keluarganya dari Malaysia Tahun 2009, perlu disempurnakan terutama prosedur untuk pengurusan dokumen bagi TKIB yang ingin kembali menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persayaratan. Pengembangan Polmas Daerah Perbatasan yang diawali di 4 titik di perbatasan Provinsi Kepulauan Riau, Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur, perlu diteruskan sehingga terbentuk sabuk pengaman di sepanjang daerah perbatasan RI-Malaysia. Untuk mendukung penanganan dan pemulangan TKIB dan keluarganya dari Malaysia dan negara lainnya, kegiatan ini perlu dimasukkan dalam konsep RPJMN Tahun 20102014, dengan alokasi kebutuhan dananya. Perlu dibangun shelter TKIB yang berkualitas dengan daya tampung yang mencukupi di daerah entry point kedatangan TKIB dari luar negeri. Perlu dilakukan penegakan hukum yang konsisten kepada PJTKI/PPTKIS yang terbukti melakukan praktek trafficking in persons dengan kedok pengiriman tenaga kerja Indonesia. Perlu payung hukum yang lebih tinggi agar dapat semakin meningkatkan partisipasi berbagai komponen good governance dalam penanganan dan pemulangan TKI bermasalah dan keluarganya dari Malaysia dan negara lainnya. Peningkatan sosialisasi dan advokasi tentang kesempatan kerja dan peluang berusaha di pedesaan dalam negeri melalui program transmigrasi, perkebunan, Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, dan program pembangunan pedesaan lainnya. Meningkatkan kerjasama dengan kelembagaan masyarakat, dunia usaha serta lembaga pemerintah pusat dan daerah dalam sosialisasi dan advokasi cara-cara bermigrasi yang aman dalam mencari kerja di luar negeri. Mendorong Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan BNP2TKI serta sektor terkait untuk secara sinergis membenahi masalah ketenagakerjaan di dalam negeri.

5.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

12.

31

BAB IV. PENUTUP

Demikian laporan kinerja TK-PTKIB Tahun 2009 disusun dalam rangka pelaksanaan tugas dan fungsinya sebagaimana diarahkan dalam Keputusan Presiden RI No. 106 Tahun 2004 yaitu agar pemulangan TKIB dari Malaysia dapat dilaksanakan secara bermartabat dan dengan menjunjung tinggi HAM, dan selanjutnya dibina dan diberdayakan agar menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan. Selain sebagai laporan pelaksanaan Program Kerja TK-PTKIB Tahun 2009, juga dimaksudkan sebagai bahan evaluasi agar tindak lanjut penanganan dan pemulangan TKIB dan keluarganya dari Malaysia dan negara lainnya di masa yang akan datang dapat semakin ditingkatkan. Kepada seluruh unsur TK-PTKIB dan unit teknis yang tergabung dalam Satgas/Posko TK-PTKIB Pusat dan Daerah yang telah bekerja ekstra keras dalam memberikan pelayanan terbaik dalam pemulangan TKIB dan keluarganya serta penempatannya kembali menjadi TKI berkualitas dan memenuhi persyaratan, kami sampaikan penghargaan dan terima kasih yang sebesar-besarnya. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa berkenan menerima amal ibadah kinerja Satgas TK-PTKIB dan memberikan kekuatan dan petunjuk-Nya dalam penugasan selanjutnya.

Jakarta,

Desember 2009

Satgas TK-PTKIB.

32

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 106 TAHUN 2004 TENTANG TIM KOORDINASI PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, Menimbang : a. bahwa sesuai dengan Pembukaan Undang-undang Dasar 1945, salah satu tujuan Negara Kesatuan Negara Republik Indonesia adalah melindungi segenap bangsa Indonesia; b. bahwa perkembangan kebijakan Pemerintah Malaysia tentang pemulangan Tenaga Kerja Indonesia bermasalah dan keluarganya sangat berpengaruh terhadap keberadaan tenaga kerja asal Indonesia yang bekerja di Malaysia beserta keluarganya; c. bahwa masalah ketenagakerjaan di Indonesia saat ini dan pada waktu mendatang masih berada pada tingkat pertumbuhan angkatan kerja baru yang cukup tinggi dan terbatasnya kesempatan kerja yang tersedia di dalam negeri; d. bahwa proses pemulangan tenaga kerja Indonesia bermasalah dan keluarganya dari Malaysia perlu mendapat perhatian khusus, ditangani secara koordinatif dengan tetap menjunjung tinggi harkat dan martabatnya sebagai manusia, hak-hak pekerja dan keluarganya sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku dan kaidahkaidah hukum internasional; e. bahwa sehubungan dengan hal tersebut, dipandang perlu membentuk Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia dengan Keputusan Presiden; Mengingat : 1. Pasal 4 ay at (1) Pas al 27 ayat (2) pasal 28 G ayat (1) Pasal 28 I ayat (4) Undang-undang Dasar 1945; 2. Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3882);

1

MEMUTUSKAN Menetapkan: KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG TIM KOORDINASI PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA. BAB I KETENTUAN UM UM Pasal 1 Dalam Keputusan Presiden ini yang dimaksud dengan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah adalah Tenaga Kerja Indonesia yang bekerja di Malaysia yang tidak memiliki izin kerja dan/atau dokumen-dokumen yang sah untuk bekerja di Malaysia dan/atau yang bekerja tidak sesuai dengan izin kerja yang dimiliki. BAB II PEMBENTUKAN DAN TUGAS Pasal 2 (1) Membentuk Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia yang selanjutnya dalam Keputusan Presiden ini disebut dengan TK-PTKIB, sebagai wadah koordinasi baik di tingkat Pusat, di Perwakilan Republik Indonesia di M alaysia, maupun di tingkat Daerah. (2) TK-PTKIB berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Presiden. Pasal 3 (1) TK-PTKIB mempunyai tugas menyusun dan mengkoordinasikan kebijakan dan program pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia ke Indonesia. (2) Pelaksanaan tugas TK-PTKIB sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan dengan memperhatikan ketentuan peraturan perundangundangan yang berlaku dan hak asasi manusia. Pasal 4 Dalam melaksanakan tugas, TK-PTKIB mengambil langkah-lanngkah yang diperlukan untuk: a. melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Malaysia atas dasar prinsip tanggung jawab bersama; b. melaksanakan pendataan sebelum keberangkatan/pemulangan; c. melakukan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan; d. melakukan pengecekan dan pengurusan hak-hak gaji/upah/ penghasilan lain, harta benda, piutang serta hak-hak melekat lainnya;

2

e. f. g. h. i.

pemberian dokumen Perjalanan Laksana Paspor (SPLP); mengatur pengangkutan sesuai dengan jadwal dan lokasi tujuan pemulangan/daerah asal; melaksanakan pengawalan, penjagaan, pengamanan dan perlindungan selama perjalanan sampai ke tempat asal; pemberian pelayanan kebutuhan dasar sejak dari penampungan, selama perjalanan sampai ke tempat asal; mempersiapkan kembali menjadi Tenaga Kerja Indonesia yang berkualitas dan memenuhi persyaratan. Pasal 5

Dalam melaksanakan tugasnya, TK-PTKIB bekerja sama dengan Gubernur dan Bupati/Walikota asal Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan/atau pihak-pihak lain yang dipandang perlu. Pasal 6 Dalam melaksanakan tugas, TK-PTKIB mendapat pengarahan dari Tim Pengarah yang terdiri dari : a. Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; b. M enteri Negara Koordinator Bidang Perekonomian; c. Menteri Negara Koordinator Bidang Politik dan Keamanaan. BAB III ORGANISASI Bagian Pertama Keanggotaan Pasal 7 Susunan keanggotaan TK-PTKIB terdiri dari : 1. Ketua: Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat 2. Wakil Ketua I : Menteri Luar Negeri 3. Wakil Ketua II : Menteri Tenaga Kerja Dan Transmigrasi 4. Anggota : a. Menteri Dalam Negeri b. M enteri Kehakiman dan Hak Asasi M anusia c. Menteri Sosial d. M enteri Kesehatan e. M enteri Perhubungan f. M enteri Keuangan g. Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan h. M enteri Negara Badan Usaha M ilik Negara i. Panglima Tentara Nasional Indonesia j. Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia.

3

5. 6. 7.

k. Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia. l. Para Konsul Jenderal Republik Indonesia di Malaysia Sekretaris: Sekretaris Menteri Negara Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Wakil Sekretaris I: Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler, Departemen Luar Negeri. Wakil Sekretaris II: Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Bagian Kedua Kesekretariatan Pasal 8

(1) Dalam M elaksanakan tugasnya, TK-PTKIB dibantu oleh sekretariat. (2) Sekretariat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), dipimpin oleh sekretaris TKPTKIB. (3) Keanggotaan Sekretariat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) diangkat oleh ketua TK-PTKIB. Bagian Ketiga Satuan Tugas Pasal 9 (1) Untuk menunjang kelanc aran pelaksanaan tugas, TK-PTKIB membentuk satuan tugas. (2) Keanggotaan satuan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) merupakan Pejabat Instansi Pemerintah terkait. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai keanggotaan, tugas, dan tata kerja satuan tugas sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan oleh Ketua TKPTKIB. BAB IV TATA KERJA Pasal 10 Ketentuan mengenai tata kerja TK-PTKIB diatur lebih lanjut oleh Ketua TK- PTKIB. Pasal 11 TK-PTKIB melaporkan hasil pelaksanaan tugas TK-PTKIB kepada Presiden.

4

BAB V PEMBIAYAAN Pasal 12 Segala biaya yang diperlukan bagi pelaksanaan tugas TK-PTKIB dan pelaksanaan pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia ke Indonesia dibebankan kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. BAB VI KETENTUAN PENUTUP Pasal 13 Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.

Ditetapkan di Jakarta Pada tanggal 18 Oktober 2004 PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA, ttd M EGAWATI SOEKARNOPUTRI

5

KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT Nomor: 05A/KEP/MENKO/KESRA/I/2009 TENTANG SATUAN TUGAS PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH SERTA PEKERJA MIGRAN INDONESIA BERMASALAH SOSIAL DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT, Menimbang : a. bahwa untuk menunjang kelancaran pelaksanaan Keputusan Presiden Nomor 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB), telah dibentuk Satuan Tugas TKPTKIB yang diperbaharui setiap tahun; b. bahwa berdasarkan pertimbangan di atas, maka tahun 2009 ini dipandang perlu membentuk kembali Satuan Tugas TK-PTKIB yang tugasnya diperluas meliputi pekerja migran Indonesia bermasalah sosial; Mengingat : 1. Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3882); 2. Undang-undang Nomor 36 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja di Luar Negeri (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4445);

1

3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia. MEMUTUSKAN: Menetapkan : KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT TENTANG SATUAN TUGAS PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH SERTA PEKERJA MIGRAN INDONESIA BERMASALAH SOSIAL DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA. : Membentuk Satuan Tugas Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah serta Pekerja Migran Indonesia Bermasalah Sosial dan Keluarganya dari Malaysia yang selanjutnya dalam Keputusan ini disebut Satgas PTKIBPMIBS dengan susunan keanggotaan sebagaimana tercantum dalam Lampiran Keputusan ini. : Satgas PTKIB-PMIBS sebagaimana dimaksud dalam diktum PERTAMA bertugas membantu kelancaran pelaksanaan tugas TK-PTKIB dalam pemulangan tenaga kerja Indonesia bermasalah serta pekerja migran bermasalah sosial dan keluarganya dari Malaysia, meliputi: 1. melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Malaysia atas dasar prinsip tanggung jawab bersama; 2. melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota asal tenaga kerja Indonesia bermasalah serta pekerja migran Indonesia bermasalah sosial dan/atau pihak-pihak lain yang dianggap perlu; 3. memberikan informasi kepada tenaga kerja Indonesia di Malaysia mengenai kebijakan Pemerintah Malaysia yang mengatur tentang tenaga kerja;
2

PERTAMA

KEDUA

4. 5. 6.

7. 8.

9.

10.

11.

12.

13.

14. KETIGA

melaksanakan pendataan sebelum keberangkatan/ pemulangan; melakukan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan; melakukan pengecekan dan pengurusan hak-hak gaji/ upah/penghasilan lain, harta benda, piutang serta hak-hak melekat lainnya; pemberian dokumen perjalanan/Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP); mengatur pengangkutan sesuai dengan jadwal dan lokasi tujuan pemulangan/daerah asal; melaksanakan pengawalan, penjagaan, pengamanan dan perlindungan selama perjalanan sampai ke tempat asal; meningkatkan Perpolisian Masyarakat (Polmas) untuk pengawasan pelabuhan dan jalur lintas tradisionil di daerah perbatasan; pemberian pelayanan kebutuhan dasar sejak dari penampungan, selama perjalanan sampai ke tempat asal; mempersiapkan kembali menjadi tenaga kerja Indonesia yang berkualitas dan memenuhi persyaratan; mensosialisasikan peluang kerja dan berusaha di pedesaan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, transmigrasi dan pengembangan perkebunan di wilayah Indonesia; Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada TK-PTKIB.

: Untuk mendukung kelancaran pelaksanaan tugas pemulangan tenaga kerja Indonesia bermasalah serta pekerja migran Indonesia bermasalah sosial dan keluarganya dari Malaysia, Kementerian/Lembaga dapat membentuk Tim Teknis Operasional yang susunan keanggotaan dan tugasnya ditetapkan oleh Menteri/Pimpinan Lembaga yang bersangkutan.
3

KEEMPAT

: Segala pembiayaan yang berkaitan dengan pelaksanaan tugas Satgas PTKIB-PMIBS dibebankan kepada anggaran masing-masing Kementerian/Lembaga sesuai dengan bidang tugasnya. : Keputusan ini mulai berlaku sejak ditetapkan dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 6 Januari 2009 Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Ttd Aburizal Bakrie

KELIMA

4

Lampiran: Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor : 05A/KEP/MENKO/KESRA/I/2009 Tanggal: 6 Januari 2009 SATUAN TUGAS PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH SERTA PEKERJA MIGRAN INDONESIA BERMASALAH SOSIAL DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA

A.

PENGARAH Ketua Ketua I Ketua II

Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Direktur Jenderal Protokol dan Konsuler, Departemen Luar Negeri. Direktur Jenderal Pembinaan dan Penempatan Tenaga Kerja, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 1. 2. Direktur Jenderal Pemerintahan Umum, Departemen Dalam Negeri. Direktur Jenderal Administrasi Kependudukan, Departemen Dalam Negeri. Direktur Jenderal Bantuan dan Jaminan Sosial, Departemen Sosial. Direktur Jenderal Imigrasi, Departemen Hukum dan HAM. Direktur Jenderal Perhubungan Laut, Departemen Perhubungan. Direktur Jenderal Perhubungan Darat, Departemen Perhubungan. Direktur Jenderal Perhubungan Udara, Departemen Perhubungan.

Anggota

3. 4. 5. 6. 7.

5

8.

9.

10. 11. 12.

13.

14. 15. 16. B.

Direktur Jenderal Anggaran dan Perimbangan Keuangan, Departemen Keuangan. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Departemen Kesehatan. Direktur Jenderal Bina Pelayanan Medik, Departemen Kesehatan. Deputi Bidang Perlindungan, BNP2TKI. Deputi Bidang Perlindungan Perempuan, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan. Staf Ahli Bidang Ketenagakerjaan, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Asisten Operasi Kepala Staf Umum, MABES TNI. Kepala Babinkam, MABES POLRI. Duta Besar Republik Indonesia untuk Malaysia.

KOORDINASI PELAKSANAAN DAN PEMANTAUAN Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ketua Perempuan dan Kesejahteraan Anak, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Wakil Ketua I Staf Ahli Bidang Ketenagakerjaan dan Tenaga Kerja Indonesia, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Departemen Luar Negeri. Asisten Deputi Urusan Kesempatan Kerja Perempuan dan Ekonomi Keluarga, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat.

Wakil Ketua II Sekretaris

6

Wakil Sekretaris

Direktur Bantuan Sosial Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran, Departemen Sosial. 1. Direktur Penempatan Tenaga Kerja Luar Negeri, Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Direktur Pemberdayaan Keluarga, Departemen Sosial. Direktur Dokumen Perjalanan, Visa dan Fasilitas Keimigrasian, Departemen Hukum dan HAM. Direktur Tata Negara, Departemen Hukum dan HAM. Direktur Ketentraman Ketertiban dan Perlindungan Masyarakat, Departemen Dalam Negeri. Direktur Pendaftaran Penduduk, Departemen Dalam Negeri. Direktur Lalu Lintas Angkutan Laut, Departemen Perhubungan. Direktur Lalu Lintas Angkutan Jalan, Departemen Perhubungan. Direktur Lalu Lintas Angkutan Udara, Departemen Perhubungan. Direktur Anggaran II, Departemen Keuangan. Direktur Bina Pelayanan Medik Dasar, Departemen Kesehatan. Direktur Surveilans Epidemiologi Imunisasi dan Kesehatan Matra, Departemen Kesehatan. Direktur Perlindungan dan Advokasi Kawasan Asia Pasifik dan Amerika, BNP2TKI. Direktur Pengamanan, BNP2TKI. Asisten Deputi Urusan Tenaga Kerja Perempuan, Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan.

Anggota

2. 3.

4. 5.

6. 7. 8. 9. 10. 11. 12.

13.

14. 15.

7

16. Perwira Pembantu Utama IV, OPS, MABES TNI. 17. Direktur Samapta, Babinkam MABES POLRI. 18. Para Konsul Jenderal Republik Indonesia di Malaysia.

Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Ttd Aburizal Bakrie

8

KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT Nomor: 12/KEP/SESMENKO/KESRA/I/2009 TENTANG SEKRETARIAT TIM KOORDINASI PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA (TK-PTKIB) MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT, Menimbang: a. bahwa ketentuan Pasal 8 Keputusan Presiden Indonesia Nomor 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB) menetapkan perlunya TK-PTKIB dibantu oleh Sekretariat; b. bahwa sehubungan dengan hal tersebut di atas, dipandang perlu membentuk Sekretariat TK-PTKIB; Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 156, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3882); 2. Undang-undang Nomor 39 Tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja di Luar Negeri (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 133, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4445); 3. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 106 Tahun 2004 tentang Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia;
1

4. Peraturan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 10/PER/ MENKO/KESRA/III/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat; 5. Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor 1A/KEP/ MENKO/KESRA/II/2002 tentang Pendelegasian Wewenang Penandatanganan Keputusan Pembinaan dan Pemberian Dukungan Administrasi. MEMUTUSKAN: Menetapkan: KEPUTUSAN MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT TENTANG SEKRETARIAT TIM KOORDINASI PEMULANGAN TENAGA KERJA INDONESIA BERMASALAH DAN KELUARGANYA DARI MALAYSIA. Membentuk Sekretariat Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia yang selanjutnya disebut Sekretariat TK-PTKIB, dengan susunan keanggotaan terdiri dari pejabat dan staf Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat sebagaimana tersebut dalam lampiran Keputusan ini. Sekretariat TK-PTKIB sebagaimana dimaksud dalam diktum PERTAMA mempunyai tugas membantu kegiatan Tim Koordinasi Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB) dalam: 1. melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Pemerintah Malaysia atas dasar prinsip tanggung jawab bersama; 2. melakukan koordinasi dengan Pemerintah Daerah Propinsi dan Kabupaten/Kota asal Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah dan/atau pihak-pihak lain yang dianggap perlu;
2

PERTAMA:

KEDUA:

3.

4. 5. 6.

7. 8.

9.

10.

11.

12.

13. 14.

15.

memberikan Informasi kepada Tenaga Kerja Indonesia di Malaysia mengenai Kebijakan Pemerintah Malaysia yang mengatur tentang Tenaga Kerja; melakukan pendataan sebelum keberangkatan dan pemulangan; melakukan pemeriksaan dan pelayanan kesehatan; melakukan pengecekan dan pengurusan hak-hak gaji/upah/penghasilan lain, harta benda, piutang serta hak-hak melekat lainnya; memberikan dokumen perjalanan/Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP); mengatur pengangkutan sesuai dengan jadwal dan lokasi tujuan pemulangan/ daerah asal; melaksanakan pengawalan, penjagaan, pengamanan dan perlindungan selama perjalanan sampai ke tempat asal; meningkatkan Perpolisian Masyarakat (Polmas) untuk pengawasan pelabuhan dan jalur lintas tradisionil di daerah perbatasan; pemberian pelayanan kebutuhan dasar sejak dari penampungan, selama perjalanan sampai ke tempat asal; mempersiapkan kembali menjadi tenaga kerja Indonesia yang berkualitas dan memenuhi persyaratan; menyiapkan pendidikan anak-anak tenaga kerja Indonesia di Malaysia; mensosialisasikan peluang kerja dan berusaha di pedesaan melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat, transmigrasi dan pengembangan perkebunan di wilayah Indonesia. Melaporkan hasil pelaksanaan tugas kepada TK-PTKIB.

3

KETIGA:

Segala pembiayaan yang berkaitan dengan kegiatan Sekretariat TK-PTKIB dibebankan kepada DIPA Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Tahun Anggaran 2009. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan dengan ketentuan apabila dikemudian hari terdapat kekeliruan akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya.

KEEMPAT:

Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 06 Januari 2009 AN. MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Ttd, Indroyono Soesilo

4

Lampiran: Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor: 12/KEP/SESMENKO/KESRA/I/2009 Tanggal: 06 Januari 2009 SUSUNAN KEANGGOTAAN SEKRETARIAT TK-PTKIB TAHUN 2009 No. 1. 2. JABATAN DALAM SEKRETARIAT Pengarah Penanggung Jawab JABATAN DALAM INSTANSI Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak. Kepala Biro Perencanaan dan KLN. Asisten Deputi Urusan Kesempatan Kerja Perempuan dan Ekonomi Keluarga. Asisten Deputi Urusan Keluarga dan Kesejahteraan Anak. Kepala Bidang Kesempatan Kerja Perempuan. Kepala Bidang Ekonomi Keluarga. 1. 2. 3. 4. Kepala Biro Umum. Kepala Biro Informasi dan Persidangan. Asisten Deputi Urusan Kualitas Hidup Perempuan. Asisten Deputi Urusan Perlindungan Perempuan dan Anak. Asisten Deputi Urusan Pendidikan Formal. Asisten Deputi Urusan Pendidikan Non Formal.
5

3. 4.

Koordinator Ketua

5. 6. 7. 8.

Wakil Ketua Sekretaris Wakil Sekretaris Anggota

5. 6.

No.

JABATAN DALAM SEKRETARIAT 7.

JABATAN DALAM INSTANSI Asisten Deputi Urusan Pelayanan Kesehatan. 8. Kepala Bagian Penyusunan Program dan Anggaran. 9. Kepala Bagian Keuangan. 10. Kepala Bagian Perundangundangan dan Ortala. 11. Kepala Sub Bagian Penyusunan Program. 12. Kepala Sub Bagian Penyusunan Anggaran.

8.

Teknis Komputasi, Komunikasi dan Administrasi

1. 2. 3. 4. 5.

Kepala Sub Bagian Tata Usaha Deputi VI. Budi Rahayu, SE, Staf Subag TU Deputi VI. Rini Rahmawati, Staf Subag TU Deputi VI. Endang Susilowati, Staf Subag TU Deputi VI. Nurdin, Staf Subag TU Deputi VI.

AN. MENTERI KOORDINATOR BIDANG KESEJAHTERAAN RAKYAT Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Ttd, Indroyono Soesilo

6

KOORDINASI SATGAS TK-PTKIB TAHUN 2009

Koordinasi Satgas TK-PTKIB tentang Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB Tahun 2009. Tanjung Pinang, 14 Februari 2009

1.

2.

3.

Dalam rangka penyempurnaan Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB dari Malaysia Tahun 2009, pada tanggal 14 Februari 2009 di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, Satgas TK-PTKIB mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri oleh Satgas TK-PTKIB (Pusat), Satgas PTKIB Tanjung Pinang, Perwakilan RI di Johor Bahru, Malaysia, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dan Kepolisian Daerah Kepulauan Riau. Wakil Walikota Tanjung Pinang membuka rapat koordinasi dan mengharapkan penanganan masalah TKIB dilakukan dengan pendekatan kemanusiaan tetapi harus diimbangi dengan upaya pemberdayaan calon tenaga kerja melalui Balai Latihan Kerja di bawah koordinasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. Selain peningkatan keterampilan, calon tenaga kerja perlu dibekali dengan pengetahuan tentang sosial budaya negara tujuan. Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak melalui sambutan tertulisnya menyampaikan penghargaan kepada Satgas PTKIB Tanjung Pinang yang telah memberikan layanan dengan baik kepada TKIB yang dipulangkan melalui Tanjung Pinang. Diperkirakan pemulangan TKIB masih akan terus terjadi dan agar pelayanan dapat diselenggarakan dengan baik dan tertib administrasi, diperlukan petunjuk pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB dari Malaysia. Berdasarkan pengalaman Satgas PTKIB Tanjung Pinang, diharapkan Juklak dapat disempurnakan sebelum ditetapkan oleh Pimpinan.

1

4.

5.

Ketua Satgas PTKIB Tanjung Pinang memaparkan perkembangan dan permasalahan penanganan TKIB di Tanjung Pinang, antara lain kebutuhan akan adanya tempat penampungan dan sarana prasarananya, layanan kesehatan termasuk yang mengalami gangguan kejiwaan, kerjasama dengan Pemerintah Daerah Asal, dan perlunya rekomendasi dari Atasan bagi anggota TNI yang ingin mengambil saudaranya yang menjadi TKIB. Dari diskusi yang berkembang, dihasilkan beberapa kesimpulan dan tindak lanjut sebagai berikut: 1) Perlu segera dibentuk Satgas PTKIB Provinsi Kepulauan Riau untuk mengkoordinasikan penanganan dan pemulangan TKIB/PMBS di daerah entry point di Provinsi Kepulauan Riau yaitu di Tanjung Pinang, Tanjung Balai Karimun, dan Batam. 2) Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau perlu memiliki tempat penampungan yang memadai untuk memberikan pelayanan kepada TKIB/PMBS yang banyak dipulangkan melalui Provinsi Kepulauan Riau. 3) Diperlukan adanya pengawalan dari kepolisian dalam transportasi TKIB/PMBS dan pendampingan petugas kesehatan selama dalam perjalanan dari entry point ke daerah asal TKIB.

2

Peningkatan operasional Balai Latihan Kerja untuk meningkatkan kompetensi calon TKI dan atau calon pekerja migran Indonesia. 5) Perlu klinik kesehatan jiwa di RSU Tanjung Pinang untuk menampung dan merawat TKIB/PMBS yang memerlukan. Dalam hubungan ini, perlu ditingkatkan kerjasama dengan Shelter dan Rumah Singgah ”Engku Putri” di bawah koordinasi Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau. 6) Pengembangan Perpolisian Masyarakat (Polmas) dalam meningkatkan pengawasan pelabuhan dan lorong-lorong tradisionil yang dipergunakan untuk keluar masuknya pekerja migran non prosedural di daerah perbatasan, yang rawan dengan tindak pidana perdagangan orang, penyelundupan orang (people smuggling), penyelundupan senjata dan narkoba termasuk pelaku terorisme. 7) Perlu screening kesehatan oleh Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) untuk mencegah keluar masuknya penyakit yang berpotensi wabah dan penyakit menular dengan tetap mempertimbangkan agar tidak menambah beban bagi TKIB/PMBS dan atau calon TKI/PM. 8) Memperjuangkan ketersediaan anggaran yang memadai untuk Operasional Satgas PTKIB Daerah dan peningkatan pelayanan kepada TKIB/PMBS. 9) Peningkatan pemberdayaan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau dan provinsi lainnya melalui Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri dalam rangka meningkatkan kesempatan kerja di dalam negeri. 10) Sejalan dengan Keputusan Kepala BNP2TKI No. KEP.128/KA-PEN-PP/IV/2008 tentang Pedoman Pelaksanaan Penempatan Kembali TKIB di Tanjung Pinang Kepulauan Riau, perlu ada kejelasan dan ketegasan tugas dan tanggung jawab antara Satgas PTKIB yang selama ini telah menangani pemulangan TKIB/PMBS dengan Tim Penempatan Kembali TKIB, sehingga perlu diatur secara khusus. 11) Untuk meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Asal TKIB/PMBS, perlu dilakukan koordinasi antara Pemerintah Daerah entry point dangan Pemerintah Daerah Asal dengan difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesra. ***

4)

3

Koordinasi Satgas TK-PTKIB tentang Pembiayaan Transportasi Pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Timur Tengah (Kuwait dan Jeddah) Jakarta, 9 Oktober 2009

Dalam rangka membahas pembiayaan transportasi pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Timur Tengah (Kuwait dan Jeddah), pada hari Jumat, 9 Oktober 2009 Satgas TK-PTKIB mengadakan rapat koordinasi terbatas yang dihadiri oleh Depnakertrans, BNP2TKI, Dit. Perlindungan WNI dan BHI, Deplu, Perwakilan RI Kuwait, PT. Garuda Indonesia, Konsorsium Asuransi, dan Asosiasi PJTKI (APJATI). 2. Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak selaku Satgas TK-PTKIB memandu rapat koordinasi membahas kemungkinan alokasi kewajiban dan teknis pembayaran tiket Garuda untuk mengangkut TKI/TKW-B dari Kuwait dan Jeddah, yang direncanakan akan tiba di Jakarta bulan November 2009. Untuk terselenggaranya penerbangan Garuda tersebut, diperlukan adanya perjanjian antara PT. Garuda Indonesia (GI) dengan Kemenko Kesra yang menjamin mengenai masalah pembayaran tiket dari Jeddah dan Kuwait yang harganya akan disepakati antara Pemerintah dan PT. Garuda Indonesia. Untuk biaya tiket TKI/TKW-B dari Jeddah menjadi tanggung jawab Deplu dalam penyelesaiannya, sementara TKI/TKW-B Kuwait, karena mereka semua melalui penempatan resmi, diharapkan Konsorsium Asuransi dan APJATI membantu pembayaran tiket pesawat dari Kuwait ke Jakarta, dan dari Jakarta ke daerah asal masing-masing berkoordinasi dengan BNP2TKI. 3. BNP2TKI menyampaikan kesiapannya untuk membiayai 300 tiket yang dialokasikan untuk pemulangan TKI/TKW-B dari Kuwait. Namun BNP2TKI sifatnya melengkapi kekurangan biaya pemulangan yang tidak dapat dipenuhi dari klaim asuransi dan dari APJATI. 4. Dit. Perlindungan WNI dan BHI menyampaikan bahwa alokasi dana Deplu akan disalurkan melalui Perwakilan RI setempat, dan sifatnya juga melengkapi kekurangan biaya pemulangan, yang tidak dapat dipenuhi dari klaim asuransi dan dari APJATI, serta dari BNP2TKI. Deplu menyatakan bahwa biaya pemulangan TKI/TKW-B dari Jeddah, menjadi tanggung jawab Deplu dan akan dikoordinasikan secara terpisah.

1.

4

5. Perwakilan RI Kuwait akan menyampaikan tentatif daftar TKI/TKW-B yang akan dipulangkan melalui pesawat Garuda bulan November 2009, sebagai bahan bagi BNP2TKI, Konsorsium Asuransi dan APJATI untuk meneliti jumlah TKI/TKW-B yang berhak mendapat klaim asuransi dan atau biaya pemulangannya. 6. Depnakertrans menyampaikan bahwa pada prinsipnya TKI berhak atas klaim asuransi untuk biaya pemulangannya. Namun memerlukan penelitian terhadap daftar TKI/TKW-B yang dipulangkan apakah masih memenuhi persyaratan untuk klaim asuransi. Depnakertrans akan mengkoordinasikan kegiatan verifikasi tersebut. 7. Konsorsium Asuransi menyampaikan bahwa berdasarkan informasi tentang TKI/TKW Bermasalah di Kuwait, akan diketahui jumlah yang bisa memperoleh klaim asuransi. Selanjutnya mengenai ketentuan premi Rp 400.000,- per calon TKI, dalam prakteknya terjadi ”perang” discount sehingga ketika terjadi klaim mengalami kesulitan. Sebetulnya sudah ada sistem data base SISCO, yang informasinya dipasok oleh BNP2TKI, Konsorsium (data asuransi), demikian pula data medical checkup dari lembaga kesehatan. Namun sistem ini jalannya tersendatsendat sehingga tidak efektif. Diperlukan pengaturan terhadap asuransi TKI yang habis kontrak (2 tahun) dan melakukan perpanjangan kontrak kerja di luar negeri. 8. APJATI juga akan meneliti TKI/TKW-B yang akan dipulangkan dari Kuwait, untuk mengetahui berapa jumlah orang yang dapat didukung pendanaannya dari APJATI. 9. Dari diskusi yang berkembang, dihasilkan beberapa kesimpulan dan tindak lanjut sebagai berikut: 1) Sudah seharusnya pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Kuwait menjadi tanggung jawab Konsorsium Asuransi dan APJATI. Baru bagi yang tidak memenuhi persyaratan klaim, menjadi tanggung jawab Pemerintah (BNP2TKI, Deplu). 2) Diharapkan data dari Perwakilan RI Jeddah dan Kuwait dapat segera diterima oleh para pihak sehingga masingmasing sudah dapat mengetahui jumlah TKI/TKW-B yang akan didukung pendanaannya, yang selanjutnya akan dituangkan dalam MoU dengan PT. Garuda Indonesia.***

5

Koordinasi Satgas TK-PTKIB tentang Penerimaan Pemulangan TKIB Timur Tengah Tahun 2009 Jakarta, 21 Oktober 2009

1.

Dalam rangka teknis penerimaan dan pemulangan TKIB dari Timur Tengah, pada hari Rabu tanggal 21 Oktober 2009 di Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Satgas TK-PTKIB mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri oleh Satgas TK-PTKIB (Pusat), BNP2TKI, dan Satuan Pelayanan Kepulangan TKI (SPKTKI) Bandara Soekarno-Hatta, Banten, Dinas Tenaga Kerja Provinsi DKI Jakarta, serta LSM Peduli Buruh Migran dan IOM Jakarta. 2. Asisten Deputi Menko Kesra Urusan Kesempatan Kerja Perempuan dan Ekonomi Keluarga mewakili Satgas TK-PTKIB memandu rapat koordinasi dan menyampaikan rencana penerimaan pemulangan TKI Bermasalah dari Kuwait sebanyak 72 orang yang akan tiba di Bandara Soekarno Hatta hari Senin, 26 Oktober 2009. Dari Kuwait 72 orang TKIB dipulangkan menggunakan pesawat ke Singapura menggunakan Singapore Airlines SQ457, dan dari Singapore ke Jakarta, sejumlah 36 orang menggunakan pesawat Singapore Airlines SQ960 (diperkirakan tiba di Jakarta pukul 16.00 WIB) dan 36 orang lainnya menggunakan Singapore Airlines SQ962 (diperkirakan tiba di Jakarta pukul 18.00 WIB). Sesuai dengan petunjuk TK-PTKIB, atas permintaan Bareskrim yang akan menyelidiki kasus pengiriman TKI di bawah umur yang kemudian menjadi TKI Bermasalah, rombongan TKIB Kuwait akan dibawa ke Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) Departemen Sosial untuk pendataan, menerima perlakuan pembinaan dari pekerja sosial dan penyelidikan dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) Bareskrim Mabes Polri, untuk kemudian baru dipulangkan ke daerah asalnya. Perlakuan ini dipertimbang-kan perlu untuk dilakukan agar TKIB Kuwait mendapat informasi yang benar mengenai cara bermigrasi yang aman dan sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

6

Pembagian tugas disesuaikan dengan tupoksi kementerian/ lembaga sebagai berikut: Penerimaan TKIB Kuwait di Bandara Soekarno-Hatta dilakukan oleh Deplu, kemudian diserahkan kepada BNP2TKI untuk dibawa ke RPTC Depsos. Pengangkutan dari Bandara Soekarno-Hatta ke RPTC Depsos menjadi tanggung jawab BNP2TKI, dengan pengawalan dari Babinkam Polri. Penampungan TKIB Kuwait di RPTC Depsos menjadi tanggung jawab RPTC Depsos demikian pula pengamanannya, bekerjasama dengan pihak Babinkam Polri dan keamanan setempat. Diperlukan surat dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat kepada Depsos untuk dapat menggunakan dana APBN-P Tahun 2009 yang dialokasikan ke Depsos guna penanganan TKIB dari Kuwait dan dari daerah Timur Tengah lainnya. UPPA Bareskrim Polri akan melakukan penyelidikan di RPTC, dan jika telah selesai, RPTC Depsos akan menghubungi BNP2TKI up SPKTKI Bandara Soekarno-Hatta untuk memulangkan TKIB Kuwait dari RPTC Depsos ke daerah asal masing-masing. IOM akan membantu biaya transportasi dari Bandara Soekarno-Hatta ke RPTC Depsos jika diperlukan, dan akan mengirim Pekerja Sosial IOM dan LSM Peduli Buruh Migran untuk ikut bergabung dengan Pekerja Sosial RPTC Depsos. Kepada Dinas Tenaga Kerja sebagai embrio Satgas Pemulangan TKIB DKI Jakarta, dimohon agar membantu penanganan TKIB di RPTC Bambu Apus, dengan mengkoordinasikan Dinas Kesehatan agar menugaskan Puskesmas Bambu Apus sebagai lembaga kesehatan yang berwenang merujuk TKIB yang sakit di RPTC Depsos, ke RS Rujukan yang ada di Jakarta. Model penerimaan TKIB Kuwait ini akan diberlakukan untuk menerima kepulangan TKIB dari Kuwait dan dari Timur Tengah lainnya, yang akan segera dipulangkan oleh Pemeritah RI. 3. UPPA Bareskrim Polri menyambut baik dukungan dari berbagai pihak yang telah memfasilitasi upaya penyelidikan bagi penegakan hukum kepada pelaku yang mengirimkan TKI di bawah umur sehingga menjadi bermasalah. Untuk keperluan
7

penyelidikan diperkirakan memerlukan waktu maksimal seminggu dan akan dimulai esok hari setelah para TKIB Kuwait beristirahat. Dengan demikian UPPA Bareskrim tidak ikut dalam rombongan penjemput dari Bandara Soekarno-Hatta ke RPTC Bambu Apus. 4. Kasubdit Pemulangan BNP2TKI yang didampingi oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) yang bersangkutan, bersedia menerima tanggung jawab pengangkutan TKIB Kuwait dari Bandara Soekarno-Hatta ke RPTC Depsos, dan dari RPTC Depsos ke daerah asal masing-masing. Pihak BNP2TKI memohon dibuatkan surat dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat untuk keperluan administrasi. 5. Kepala SPKTKI Selapanjang Bandara Soekarno-Hatta menyatakan memang daya tampung yang tersedia di GPKTKI sekitar 50 orang dan telah terisi 25 orang, sehingga menyetujui jika TKIB Kuwait langsung dibawa ke RPTC Depsos. Untuk keperluan pendataan, GPKTKI akan berkoordinasi dengan RPTC Depsos dan UPPA Bareskrim Polri. Kepala SPKTKI menyambut baik pekerjaan sosial yang diberlakukan kepada TKIB, dan mengharapkan agar untuk TKIB yang jumlahnya kurang dari 10 orang dapat diberikan perlakuan pekerjaan sosial tersebut di GPKTKI. Permintaan ini oleh Depsos akan diteruskan kepada Pimpinan agar dapat menempatkan Pekerja Sosial di GPKTKI Selapanjang Bandara Soekarno-Hatta. 6. Babinkam Polri telah siap dengan personil pengamanan dan pengawalan dari Bandara Soekarno-Hatta ke RPTC Depsos. Selanjutnya untuk pengamanan di RPTC Depsos akan diserahkan kepada Security RPTC dengan dukungan dari Kepolisian setempat. 7. IOM Jakarta sebagaimana penyambutan TKIB dari Kualalumpur, Malaysia menyetujui TKIB Kuwait langsung dibawa ke RPTC Depsos karena beberapa keterbatasan yang ada di GPKTKI Selapanjang terutama dikaitkan dengan keperluan penyelidikan Kepolisian. IOM Jakarta akan menyertakan Pekerja Sosialnya untuk ikut dalam Tim Penerimaan dan mendampingi sampai ke dan selama di RPTC Depsos di Bambu Apus. 8. LSM Peduli Buruh Migran menyampaikan beberapa hal yang perlu mendapat perhatian berdasarkan pengalamannya bekerjasama dengan Satgas PTKIB Tanjungpriok Jakarta.

8

9. Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta menyanggupi untuk menghubungi Dinas Kesehatan DKI Jakarta agar menunjuk Puskesmas Bambu Apus sebagai lembaga kesehatan yang diberi wewenang untuk merujuk TKIB yang sakit di RPTC Depsos di Bambu Apus. 10. Dari diskusi yang berkembang, dihasilkan beberapa kesimpulan dan tindak lanjut sebagai berikut: 1) Penerimaan di Bandara Soekarno-Hatta akan didukung Staf dari BNP2TKI, Deplu, Kemenko Kesra, Babinkam Polri dan IOM, dan akan langsung membawa TKIB Kuwait ke RPTC Depsos. 2) Komunikasi melalui HP akan dipergunakan jika ada hal-hal yang perlu dikoordinasikan guna mendapat penyelesaian bersama. 3) Model penerimaan TKIB Kuwait tahap pertama ini akan dievaluasi untuk penerimaan rombongan TKIB Kuwait selanjutnya. ***

9

Koordinasi Satgas TK-PTKIB tentang Pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Timur Tengah Jakarta, 30 Oktober 2009

Dalam rangka pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Timur Tengah yang jumlahnya telah melebihi daya tampung shelter Perwakilan RI setempat dan telah menjadi isu nasional, pada tanggal 30 Oktober 2009 di Kementerian Koordinator Bidang Kesjahteraan Rakyat, Satgas TK-PTKIB mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri oleh Satgas TK-PTKIB (Pusat), PT. Garuda Indonesian (PT. GI), APJATI, Konsorsium Asuransi, dan Dinas Tenaga Kerja Provinsi DKI Jakarta. 2. Sekretaris Menko Kesra selaku Sekretaris Satgas TK-PTKIB memandu rapat koordinasi yang diarahkan untuk membahas kemungkinan pemulangan TKIB dari Timur Tengah menggunakan pesawat Garuda yang mengangkut jemaah haji dan kembali dalam keadaan kosong. Hal ini perlu dilakukan karena telah menjadi isu nasional dan walaupun di luar kewenangan Satgas TK-PTKIB, jika diperlukan akan dirubah payung hukumnya. 3. Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak mempresentasikan hasil Tim Interdep yang dipimpin Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Ketenagakerjaan yang melalui fasilitasi dan dukungan IOM Jakarta, bulan September 2009 berkunjung ke negara Malaysia dan Singapura, kemudian bulan Oktober 2009 berkunjung ke negara Kuwait dan Bahrain. Khususnya di Kuwait, dilaporkan ada 686 TKI/TKW Bermasalah yang tinggal di shelter KBRI Kuwait yang daya tampungnya hanya 100 orang, dan menurut informasi juga ada di shelter-shelter Perwakilan RI lainnya di Timur Tengah yang secara keseluruhan diperkirakan lebih dari 1.208 TKI/TKW-B yang perlu segera ditangani, dan hal ini telah dibahas dalam rapat koordinasi di Kemenko Perekonomian hari Rabu, 21 Oktober 2009, yang menyepakati penyediaan tiket pulang (BNP2TKI, Asuransi, APJATI), dan untuk keperluan penyelidikan TKI/TKW-B underages, Bareskrim Mabes Polri meminta untuk ditampung di RPTC Depsos sekaligus untuk asesmen rehab psiko, dan

1.

10

selanjutnya dipulangkan ke daerah asal masing-masing oleh BNP2TKI. Dari 109 orang yang dipulangkan dari Kuwait tgl. 26 dan 28 Oktober 2009 dengan menggunakan alokasi tiket dari BNP2TKI, telah ditampung di RPTC Depsos, namun ada 9 orang TKI/TKWB melarikan diri dengan cepat yang diduga mendapat bantuan dari pihak luar. Sisanya dalam proses BAP Kepolisian dan rencana akan dipulangkan ke daerah asal masing-masing kemungkinan hari Senin 2 November 2009. Diperlukan pengaturan lebih lanjut untuk pemulangan TKI/TKW-B dari Kuwait selanjutnya dan juga dari wilayah Timur Tengah lainnya. 4. Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Ketenagakerjaan menyampaikan bahwa kunjungan Tim Interdep ke Kuwait telah mendapat sambutan baik dari Pemerintah Kuwait yang kemudian ditindaklanjuti dengan melakukan peninjauan dan melaksanakan finger printing di shelter KBRI Kuwait. Percepatan finger printing memungkinkan 109 orang TKI/TKW-B Kuwait dipulangkan ke Jakarta. Berdasarkan rapat di Kemenko Perekonomian 21 Oktober 2009, disepakati bahwa 300 tiket akan dibantu BNP2TKI, 100 tiket dari Apjati dan 100 tiket lainnya dari Konsorsium Asuransi, sementara kekurangannya dari Deplu. Kondisi terakhir diinformasikan bahwa jumlah TKI/TKW-B di shelter Kuwait sekarang menjadi 808 orang, dikurangi dengan 109 orang yang telah dipulangkan berarti tinggal 699 orang, dan ada 351 orang di antaranya yang selesai diperiksa. Mengenai rencana pemulangan menggunakan pesawat Garuda belum dibahas dalam rakor tersebut. 5. Deputi Perlindungan Perempuan KNPP menyampaikan jika TKI/TKW-B Kuwait sudah ada yang siap, kiranya dapat dipulangkan terlebih dulu, dan jika menggunakan pesawat Garuda perlu mempertimbangkan waktunya yang hanya 1 bulan (musim haji). Dipertanyakan kenapa pemulangan TKI/TKW-B dari Kuwait harus ditampung lebih dahulu (tidak langsung dipulangkan), demikian pula kepulangan TKI kenapa harus diarahkan ke Gedung Pendataan Kepulangan TKI (GPKTKI) Selapanjang. 6. Direktur Perlindungan WNI dan BHI Deplu menyampaikan bahwa sudah berpengalaman dalam hal diplomasi dan mengharapkan dalam koordinasi tetap didasarkan kepada tugas pokok dan fungsi masing-masing. Dalam hal TKI Bermasalah, Deplu menyampaikan perlunya pembenahan di dalam negeri, karena berbagai prosedur seperti pelaporan penempatan TKI ke

11

negara tujuan yang seharusnya dilaporkan ke Perwakilan RI, tidak pernah dilakukan. Diinformasikan bahwa Deplu telah siap dengan dana sebesar Rp 9 milyar untuk pemulangan TKIB. Perihal rencana pemulangan TKI/TKW-B dengan pesawat Garuda disampaikan bahwa untuk penerbangan haji tidak dimungkinkan pulangnya dipergunakan untuk mengangkut TKIB karena kesepakatan yang ada Garuda harus pulang dalam keadaan kosong. Ditambahkan pula bahwa Deplu – dalam rangka Program 100 Hari - kini juga sedang mempersiapkan kepulangan orang Irian di PNG yang berniat kembali ke Indonesia. 7. PT. GI menyampaikan keprihatinan terhadap masalah TKI/ TKW-B yang ada di shelter di Kuwait dan Timur Tengah lainnya dan menyatakan bahwa pemulangan TKI/TKW-B merupakan masalah kemanusiaan yang harus segera dilaksanakan. Untuk itu, PT. GI akan mengatur penerbangan Garuda reguler (bukan pesawat haji) hari Senin, 9 November 2009 dari Jeddah menuju Kuwait, dan dijadwalkan berangkat dari Kuwait pukul 23.00 waktu Kuwait menuju Jakarta, dan diperkirakan tiba di Jakarta hari Selasa, 10 November 2009 pukul 13.00 WIB. Kapasitas angkut pesawat Garuda sejumlah 425 orang, mohon agar dapat dipersiapkan, dan soal pembayaran tiket dapat dibicarakan dalam kesempatan tersendiri. Informasi PT. GI ini disambut baik oleh Sekretaris Kemenko Kesra, dan sore ini juga akan mengirim surat ke Bapak Menteri Luar Negeri mengenai rencana ini dan memohon bantuan untuk berkoordinasi dengan Pemerintah Kuwait guna membantu proses perijinan sehingga sejumlah 425 TKI/TKW-B di shelter KBRI Kuwait pada hari Senin, 9 November 2009 telah siap dan dapat diberangkatkan pulang ke Indonesia. Staf Ahli Kemenko Perekonomian Bidang Ketenagakerjaan mengusulkan agar diutus Tim yang terdiri dari Kemenko Kesra, Depnakertrans dan Deplu ke Kuwait untuk membantu kelancaran pelaksanaan rencana ini. Namun usulan ini ditanggapi oleh Sekretaris Kemenko Kesra agar sebaiknya pengaturannya dan penyiapannya diserahkan kepada yang berwenang yaitu Departemen Luar Negeri dan Perwakilan RI terkait. 8. APJATI menyampaikan bahwa telah menyiapkan 100 tiket dan berencana untuk segera pergi ke Kuwait untuk realisasi pemulangan TKI/TKW-B Kuwait ke Indonesia. APJATI bisa mengupayakan tiket sampai 150 tiket, namun mengharapkan agar pemulangan TKI/TKW-B ke Indonesia dapat menggunakan

12

pesawat reguler sesuai dengan jumlah kesiapan release bagi TKI/TKW-B dari Pemerintah Kuwait. Pernyataan APJATI ini ditanggapi Sekretaris Kemenko Kesra agar menunda perjalanan ke Kuwait, dan mengintegrasikan dana penyediaan tiket yang ada untuk mendukung rencana pemulangan TKI/TKW-B Kuwait dengan pesawat Garuda tanggal 9-10 November 2009. 9. Depsos menyampaikan tanggapan bahwa untuk menyambut kepulangan 425 TKI/TKW-B dari Kuwait tanggal 10 November 2009, perlu persiapan teknis yang matang karena daya tampung RPTC Depsos hanya 200 orang. Sehingga diperlukan prosedur penyambutan, yang mungkin hanya yang diperlukan untuk penyelidikan Kepolisian yang ditampung di RPTC Depsos. Menanggapi hal ini, Babinkam Polri menginformasikan bahwa penyelidikan terkait masalah TKI/TKW-B Kuwait dilakukan oleh Polwan Unit Perempuan dan Anak (UPPA) Bareskrim Polri, yang mungkin dapat dilakukan secara cepat dengan menambah personil yang ada, sehingga bagi TKI/TKW-B dari Kuwait yang masalahnya ringan dapat segera dipulangkan ke daerah asal masing-masing. 10. Sekretaris Ditjen Binapenta Depnakertrans menjelaskan bahwa berdasarkan pengalaman pemulangan TKI/TKW-B dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu (i) membentuk task-force dalam rangka Program 100 Hari (ii) charter pesawat khusus untuk pemulangan, dan (iii) melaksanakan pemulangan mengunakan pesawat reguler. Disampaikan bahwa Depnakertrans sedang menggarap MoU dengan Pemerintah Kuwait yang akan meningkatkan perlindungan pekerja informal (Pekerja Rumah Tangga), namun pembahasan melalui join workgroup baru disetujui Pemerintah Kuwait akhir November 2009. Depnakertrans menyetujui jika koordinasi pemulangan TKI/TKW-B dari luar negeri diperluas dengan payung hukum yang kuat. 11. Asosiasi PPTKIS (non APJATI) menyampaikan bahwa bersedia membantu penyediaan tiket tambahan untuk pemulangan TKI/TKW-B. Disarankan agar data dari KBRI Kuwait dapat dipilah dan dipergunakan untuk mengklaim pihak asuransi, yang dalam hal ini juga dapat berperan serta dalam pemulangan TKI/TKW-B.

13

Pernyataan ini ditanggapi Sekretaris Kemenko Kesra agar Asosiasi bersedia untuk mengintegrasikan kesediaan tiket yang ada untuk mendukung pemulangan 425 orang TKI/TKW-B Kuwait tanggal 9-10 November 2009. Mekanismenya akan dibahas lebih lanjut dalam pertemuan yang lebih teknis. 12. IOM Jakarta mengingatkan bahwa banyak diantara TKI/TKW-B Kuwait yang dapat dikategorikan sebagai trafficking in persons sehingga IOM mengharapkan tetap diadakan interview untuk mengidentifikasi masalah tersebut. Mengenai keterlibatan IOM ini, Staf Ahli Kemenko Perekonomian Bidang Ketenagakerjaan menyarankan agar IOM Jakarta dapat berkoordinasi dengan IOM Kuwait untuk membantu merekomendasikan ke Pemerintah Kuwait sehigga proses perijinan untuk rencana pemulangan 425 TKI/TKW-B dan lainnya di shelter KBRI Kuwait dapat terlaksana dengan baik. 13. Dari diskusi yang berkembang, dihasilkan beberapa kesimpulan dan tindak lanjut sebagai berikut: 1) Disepakati rencana pemulangan 425 TKI/TKW-B dari Kuwait yang akan diangkut dengan Pesawat Garuda, berangkat pukul 23.00 waktu Kuwait hari Senin, 9 November 2009, dan tiba di Jakarta pukul 13.00 WIB hari Selasa, 10 November 2009. Kedatangan TKI/TKW-B dari Kuwait akan disambut oleh Menko Kesra, Menteri Perhubungan, Menteri Luar Negeri dan Menteri lainnya terkait. Kemenko Kesra hari Jumat, 30 Oktober 2009 sore ini juga akan mengirim surat kepada Menteri Luar Ngeri agar berkenan menghubungi Menteri Luar Negeri Kuwait untuk membantu rencana tersebut. Surat akan ditembuskan kepada Menteri terkait, termasuk PT. GI agar dapat dipergunakan untuk tindakan selanjutnya. Dit. Perlindungan WNI dan BHI Deplu akan segera mengirim kawat ke Perwakilan RI Kuwait untuk segera bergerak menyiapkan pelaksanaan rencana tersebut. Semua kegiatan yang berlangsung di luar negeri, sebagai leading sector adalah Departemen Luar Negeri dan Perwakilan RI yang bersangkutan.

14

2) Serah-terima TKI/TKW-B dari Kuwait di Bandara SoekarnoHatta, diserahkan oleh Deplu kepada BNP2TKI, dan bagi TKI/TKW-B yang berdasarkan screening harus masuk ke RPTC Depsos, diserahkan oleh BNP2TKI kepada Depsos. Penerimaan TKI/TKW-B di Bandara Soekarno-Hatta sebagai leading-sector adalah BNP2TKI, sedang selama berada di RPTC Depsos, leading sector-nya adalah Depsos. 3) Secara teknis, sebelum kedatangan TKI/TKW-B dari Kuwait akan diselenggarakan rapat koordinasi antara kementerian/ lembaga yang terkait. ***

15

Koordinasi Satgas TK-PTKIB tentang Pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Timur Tengah (Kuwait dan Jeddah). Jakarta, 16 November 2009

Dalam rangka membahas pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Timur Tengah, pada hari Senin, 16 November 2009 Satgas TK-PTKIB mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri oleh PT. Garuda Indonesia (PT. GI), Konsorsium Asuransi (Konsorsium ADIRA, Konsorsium JASINDO, Konsorsium JAS/BUMI PUTERA, Konsorsium DHAMAN SYAMIL, dan Konsorsium Mitra Sejahtera), dan Asosiasi PJTKI (APJATI) yang dilakukan dengan berkomunikasi melalui telepon. 2. Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak selaku Satgas TK-PTKIB memandu rapat koordinasi membahas alokasi kewajiban dan teknis pembayaran tiket Garuda yang telah mengangkut 406 TKI/TKW-B dari Kuwait dan Jeddah, dan telah tiba di Jakarta dengan selamat pukul 13.30 WIB hari Selasa, 10 November 2009. Pihak Konsorsium berdasarkan data yang telah diberikan pada hari Rabu, 11 November 2009, dari 326 TKI/TKW Bermasalah dari Kuwait, diminta menyampaikan berapa orang yang dapat dibiayai dari asuransi untuk membayar tiket tersebut, dan sisanya akan dipenuhi oleh BNP2TKI. Sementara untuk biaya pemulangan 80 orang TKI/TKW Bermasalah dari Jeddah menjadi tanggung jawab Deplu yang akan membayar biaya tiket melalui Perwakilan RI Jeddah. 3. Depnakertrans yang ditugasi untuk mengkoordinir penyeleksian data TKI/ TKW Bermasalah yang memungkinkan dibiayai konsorsium asuransi dan Apjati, melaporkan sebagai berikut: a. APJATI: 100 Orang. b. Konsorsium ADIRA: 35 orang c. Konsorsium JASINDO: 8 orang d. Konsorsium JAS/BUMI PUTERA: 33 orang e. Konsorsium DHAMAN SYAMIL: 8 orang f. Konsursium Mitra Sejahtera: 2 orang Total tiket dari Konsorsium Asuransi dan APJATI: 186 orang, sehingga sejumlah 140 orang akan dibiayai dari BNP2TKI.

1.

16

4. Berdasarkan alokasi tersebut kemudian dibuat Surat Perjanjian Pengangkutan TKI tertanggal 9 November 2009, antara pihak PT. GI dengan BNP2TKI, Konsorsium Asuransi dan APJATI. Surat Perjanjian tersebut dilengkapi dengan materai dalam rangkap 9 (sembilan) untuk masing-masing pihak.

5. Mengingat penandatangan perjanjian dari PT. GI (Senior General Manager) berhalangan hadir, maka Surat Perjanjian sepenuhnya diserahkan kepada PT. GI untuk melengkapi tanda-tangan para pihak. PT. GI diwajibkan untuk segera mengeluarkan invoice dengan persyaratan yang diperlukan dan segera menyampaikannya kepada Konsorsium Asuransi, APJATI dan BNP2TKI, sehingga pembayaran melalui transfer dapat segera dilaksanakan. Copy dari bukti pembayaran mohon dapat disampaikan ke Kemenko Kesra sebagai bahan laporan kepada Pimpinan. 6. Dit. Perlindungan WNI dan BHI menyampaikan bahwa alokasi dana Deplu akan disalurkan melalui Perwakilan RI Jeddah, sehingga PT. GI diharapkan segera menemui Deplu untuk menyelesaikan dokumen dan persuratan yang diperlukan. PT. GI diharapkan dapat segera menyampaikan penagihan kepada Perwakilan RI Jeddah. 7. BNP2TKI menyampaikan bahwa kewajiban Konsorsium Asuransi dan APJATI tidak hanya biaya pemulangan dari Kuwait ke Jakarta, tetapi sampai ke daerah asalnya yang sejauh ini masih ditalangi oleh BNP2TKI, yang akan ditagihkan kepada yang bersangkutan.

17

Secara terpisah, BNP2TKI memohon kepada PT. GI agar diberikan kelonggaran dari ketentuan waktu dalam Perjanjian, untuk pembayaran tiket mengingat sistem penganggaran pemerintah seringkali ada kelambatan. Secara prinsip, pihak PT. GI dapat menerimanya. 8. Tindak lanjut: 1) PT. GI akan melengkapi tanda-tangan para pihak dalam Surat Perjanjian, dan akan segera mengeluarkan invoice dengan bukti-bukti yang diperlukan kepada Konsorsium Asuransi, APJATI dan BNP2TKI sesuai dengan alokasi pembiayaan yang telah disepakati. 2) Copy bukti pembayaran dari Konsorsium Asuransi, APJATI dan BNP2TKI akan disampaikan dan dilaporkan kepada Kemenko Kesra. 3) PT. GI akan segera mengubungi Dit. Perlindungan WNI dan BHI, Deplu, untuk menyelesaikan dokumen dan suratmenyurat serta penagihan biaya pengangkutan TKI/TKW Bermasalah dari Jeddah ke Perwakilan RI Jeddah. ***

18

Koordinasi Sosialiasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB Tahun 2009 di Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Timur Nunukan, 3 Desember 2009

1.

Dalam rangka Sosialisasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia Tahun 2009, pada hari Kamis tanggal 3 Desember 2009, di Ruang Rapat Kantor Bupati Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Timur, Satgas TK-PTKIB bekerjasama dengan Satgas PTKIB Nunukan, mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri anggota Satgas Pemulangan TKIB Kabupaten Nunukan, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Nunukan, dan Asosiasi PPTKIS/ PJTKI Kabupaten Nunukan.

2. Asdep Menko Kesra Urusan Kesempatan Kerja Perempuan dan Ekonomi Keluarga membacakan sambutan Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak yang mengemukakan pentingnya petunjuk pelaksanaan Penanganan dan Perlindungan TKIB bagi aparat pelaksana di lapangan agar dapat memberikan layanan yang sebaik-baiknya bagi TKI Bermasalah dan keluarganya dari sejak di Malaysia sampai dengan ke daerah asalnya. Deputi juga mengingatkan bahwa TKI Bermasalah tidak akan pernah selesai jika permasalahan rekrutmen, diklat, penampungan, penempatan dan perlindungan yang 80–90 persen terjadi di dalam negeri, tidak dilakukan secara terarah, terencana dan sinergis antara pemerintah, swasta dan kelembagaan masyarakat. Dalam hubungan itu, untuk membantu mengawasi keluar masuknya pekerja migran secara ilegal non prosedural melalui pelabuhan dan lorong-lorong tradisionil yang banyak terdapat di sepanjang perbatasan RI-Malaysia yang membentang sejak dari Provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara, Satgas TK-PTKIB bekerjasama dengan Babinkam Mabes Polri sedang mengembangkan Perpolisian Masyarakat (Polmas) di empat titik di daerah perbatasan, yang diharapkan dapat berkembang menjadi sabuk pengaman di daerah perbatasan, yang tidak saja berguna untuk mengatasi masalah TKI ilegal, tetapi juga narkoba
19

dan terorisme. Oleh karena itu, diharapkan adanya dukungan dari semua pihak agar ujicoba pengembangan Polmas Daerah Perbatasan yang diwujudkan dalam bentuk Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) dapat segera dirumuskan, untuk direplikasi di daerah pedesaan lainnya di sepanjang daerah perbatasan. 3. Wakil Bupati Nunukan dalam sambutannya mengemukakan perkembangan kondisi dan situasi yang terjadi di Nunukan sebagai pengaruh kegiatan pemutihan TKIB yang atas petunjuk Pusat dilakukan oleh Perwakilan RI di Sabah, Malaysia. Diusulkan agar kegiatan pemutihan TKIB di Sabah dapat dilaksanakan kembali di Nunukan, dengan pertimbangan bahwa Kabupaten Nunukan memiliki cukup pengalaman dan sarana penampungan dalam proses pendokumentasian TKIB ke Sabah sejak tahun 2003 dan merupakan salah satu dari 12 enrty point yang telah ditunjuk pemerintah untuk mendirikan dan memberikan Pelayanan Terpadu TKI Satu Atap. Diusulkan agar sisa program pemutihan yang diinformasikan baru mencapai 50%, dapat diarahkan untuk dapat dilaksanakan di Nunukan.

4. Kabid Ketahanan Keluarga mewakili Asdep Menko Kesra Urusan Kesempatan Kerja Perempuan dan Ekonomi Keluarga memaparkan Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Perlindungan TKIB Tahun 2009, yang menyampaikan latar belakang disusunnya Juklak, Pelaksanaan Kegiatan (Pengorganisasian, langkah-langkah pelaksanaan di Malaysia maupun di Indonesia, peng-anggaran, dan lain-lain), pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing instansi terkait dengan
20

pemutihan dan Pemulangan TKIB/PMBS dari Malaysia. Kepada Satgas PTKIB Nunukan diberikan Buku Juklak Penanganan dan Perlindungan TKIB Tahun 2009 untuk dibagikan kepada anggota Satgas PTKIB agar pelaksanaan tugas dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. 5. Kepala Bagian Bina Mitra Kepolisian Resort Nunukan menyampaikan konsep, pelaksanaan dan capaian FKPM sebagai bentuk implementasi Polmas di Kabupaten Nunukan. Dilaporkan bahwa Polmas melalui FKPM di Nunukan khususnya di daerah perbatasan dengan Malaysia, telah dikembangkan tidak saja dari sisi ketertiban dan keamanan, tetapi juga melalui pengembangan usaha ekonomi melalui pembuatan bagang di laut sehingga selain mendatangkan keuntungan ekonomi bagi FKPM juga meningkatan ketahanan wilayah dari gangguan pihak asing, yang seringkali mencoba melanggar wilayah perbatasan. 6. Dari diskusi yang berkembang, dicatat beberapa permasalahan penting sebagai berikut: Kebijakan Kependudukan Nasional dengan NIK Tunggal serta Proses Pemutihan TKI deportasi yang dilakukan di Sabah, Malaysia dianggap memberikan dampak negatif bagi masyarakat Nunukan. Diantaranya adalah dari 53 Kantor Cabang PTKIS/PJTKI yang beroperasional di Nunukan, kini hanya 10-15 PTKIS/PJTKI yang mampu bertahan sehingga terjadi beberapa PTKIS/PJTKI yang memberhentikan karyawannya. Kebijakan pemutihan dokumen TKI deportasi yang dilaksanakan di Sabah Kalimantan Timur, dimanfaatkan oleh para calo ketenagakerjaan untuk mengirim calon TKI yang masih fresh (baru) melalui cara non-prosedural dengan memberikan informasi nantinya dapat mengikuti program pemutihan di Sabah, Malaysia, yang biayanya lebih murah. Dalam hal ini, peran PJTKA di Sabah sangat besar karena mereka menampung calon TKI tersebut untuk dipekerjakan dan selanjutnya diikutsertakan dalam program pemutihan. Namun banyak di antaranya yang dipekerjakan sebagai TKI ilegal dan jika ada masalah kemudian dilaporkan kepada RELA atau Imigresen untuk ditangkap dan dideportasi.

21

Program pemutihan dinilai berjalan lambat karena dari 217.000 TKIB yang akan diputihkan, paspor yang disediakan baru terserap 115 ribu paspor, sehingga dapat dikatakan bahwa program pemutihan ini belum berdampak positif. Masalah pendidikan bagi anak-anak TKI, menurut pihak imigrasi Nunukan hingga saat ini masih bermasalah. Artinya, bahwa sarana dan prasarana pendidikan bagi anak-anak TKI relatif belum tersedia atau akses mendapatkan pendidikan yang berkualitas relatif masih terbatas (komitmen 20 persen dana pendidikan belum terealisir); Sarana Polri dalam rangka pengamanan di laut masih terbatas terutama untuk melakukan pengejaran para TKI ilegal yang mencoba masuk ke Malaysia melalui pelabuhan dan loronglorong tradisionil yang banyak terdapat di Nunukan. Para calon TKI tersebut sangat paham memanfaatkan lengahnya petugas. Dalam rangka penyelesaian hal-hal yang menyebabkan terjadinya TKI Bermasalah yang diibaratkan layaknya gunung es, diusulkan adanya upaya untuk memperoleh komitmen dari semua pihak sehingga target penurunan pemulangan TKI Bermasalah tahun 2014 sebesar 30.000 orang, dapat tercapai. Komitmen tersebut dapat dicapai setelah adanya kesamaan persepsi dari semua pihak tentang penanganan dan pemulangan TKIB. 7. Dari sosialisasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKI Bermasalah, beberapa hal perlu ditindaklanjuti antara lain: 1) Koordinasi di tingkat Pusat untuk pembaharuan dan atau perpanjangan SK Keimigrasian yang telah berakhir tanggal 17 Nopember 2009. 2) Peningkatan sosialisasi dan advokasi Satgas TK-PTKIB Pusat untuk mensinkronkan mekanisme kerja Satgas Daerah, terutama dari sisi pembiayaan yang masih terkesan bersifat sektoral. 3) Pembinaan dan penguatan FKPM di daerah perbatasan, mengingat bahwa lembaga ini terbukti dapat dijadikan mitra bagi Polri dalam pengamanan keluar-masuknya TKI ilegal, penyelundupan narkoba dan terorisme. Peningkatan advokasi dari Babinkam Mabes Polri agar bantuan dana Tahun 2009 untuk FKPM di Nunukan dapat segera dicairkan.

22

4)

5)

6)

7)

8)

Sistem Jaringan melalui SMS yang dikembangan oleh LSM Gerakan Anti Trafficking (GAT) Batam untuk Polmas di wilayah tersebut, juga perlu dikembangkan di Nunukan dan atau Polmas lainnya, agar apabila terjadi masalah di lapangan dapat cepat tertangani secara komprehensif dan integratif karena masing-masing petugas akan mendapatkan tembusan. Untuk lebih meningkatkan keberdayaan FKPM, perlu dilakukan pemberdayaan ekonomi sebagai stimulus bagi anggota FKPM. Uji coba pemanfaatan kompor jarak yang ternyata mampu mengurangi biaya operasional para nelayan ketika melaut (biaya minyak semalam sebesar Rp 30 ribu rupiah dapat dihemat menjadi Rp 5 ribu rupiah jika menggunakan biji jarak), maka penyediaan biji jarak dan kompor jarak merupakan peluang usaha ekonomi yang dapat dikembangkan melalui FKPM. Peningkatan advokasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB/PMBS pada Satgas PTKIB terutama di daerah entry point, mengingat bahwa masih terjadi salah pengertian masing-masing anggota Satgas dalam penanganan, pemulangan dan perlindungan TKIB/PMBS. Misalnya anggaran yang seharusnya ada di Dinas Sosial tertampung di BP3TKI, sehingga penggunaannyapun menjadi kurang tepat sasaran. Mekanisme reemburse masih dirasakan berbelit-belit, sehingga tidak dapat dimanfaatkan secara maksimal. Pengkajian berbagai kebijakan daerah Nunukan dengan mempertimbang-kan berbagai masukan termasuk dari PTKIS/PJTKI yang dirasakan cukup berpengaruh sehingga perlu diwaspadai, mengingat bahwa PJTKI sifatnya mencari profit, meskipun keberadaannya merupakan mitra bagi Satgas PTKIB Nunukan. Pengkajian masalah dokumen kependudukan bagi calon TKI dari luar Nunukan yang datang ke Nunukan tanpa membawa dokumen kependudukan dan surat keterangan pindah, sementara penerbitan KTP sudah bersifat nasional dan tidak boleh menggunakan KTP musiman sebagaimana yang telah dilakukan sebelumnya. Di lain pihak Perda yang mengatur soal ini juga belum ada (dalam proses pembahasan di DPRD Nunukan), sehingga kondisi ini menjadikan tidak leluasanya PJTKI untuk melaksanakan penempatan TKI. Berkaitan

23

9)

10)

11)

12)

13)

dengan menurunnya kegiatan tersebut, beberapa PJTKI terpaksa menghentikan kegiatannya. Berkaitan dengan penempatan kembali TKI Bermasalah menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persyaratan, Tim Penempatan Kab. Nunukan yang dibentuk oleh BNP2TKI masih belum operasional dengan baik, karena adanya persepsi dari PPTKIS bahwa penempatan kembali TKI deportasi akan sulit mendapatkan majikan. Perlu advokasi kepada PPTKIS bahwa TKI Deportans tidak selalu berkaitan dengan masalah kriminal, tetapi pada umumnya karena masalah dokumen sehingga dapat dipertimbangkan untuk dapat ditempatkan kembali menjadi TKI secara legal prosedural. Berkaitan dengan pemulangan TKI deportasi, diperoleh informasi bahwa yang bersangkutan tidak dilengkapi dengan Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) hanya berupa surat pengantar dari Konsulat RI di Tawau. Perlu dilakukan klarifikasi mengenai hal ini sehingga mekanisme pemberian dokumen kependudukan dapat berjalan dengan sebaikbaiknya. Perlu peningkatan koordinasi dan sinergi antara anggota Satgas PTKIB Nunukan terutama dalam meningkatkan peran BP3TKI sehingga sumber daya yang ada dapat dipergunakan dengan maksimal dalam menangani pemulangan TKIB dan penanganan masalah ketenagakerjaan pada umumnya. Perlu peningkatan koordinasi dan sinergi dengan FKPM dalam sosialisasi terkait dengan terbukanya kesempatan kerja di daerah perbatasan melalui pembangunan perkebunan kelapa sawit di kawasan tersebut. Untuk meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Asal TKIB/ PMBS, perlu dilakukan koordinasi antara Pemerintah Kabupaten Nunukan dengan Pemerintah Daerah Asal dengan difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesra. ***

24

Koordinasi Sosialiasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB Tahun 2009, di Provinsi Kalimantan Barat Pontianak, 3 Desember 2009

1.

Dalam rangka Sosialisasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia Tahun 2009, pada hari Kamis tanggal 3 Desember 2009, di Ruang Rapat Gubernur Kalimantan Barat di Pontianak, Satgas TK-PTKIB bekerjasama dengan Satgas PTKIB Kalimantan Barat, mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri anggota Satgas Pemulangan TKIB Entikong dan Pontianak, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Entikong, dan Asosiasi PPTKIS/PJTKI Kalimantan Barat.

2. Direktur Bantuan Sosial Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran (Bansos KTK-PM) Depsos selaku Satgas TK-PTKIB, menyampaikan arahan tentang pentingnya Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Perlindungan TKIB bagi aparat pelaksana di lapangan agar dapat memberikan layanan yang sebaik-baiknya bagi TKI Bermasalah dan keluarganya dari sejak di Malaysia sampai dengan ke daerah asalnya. Ditekankan bahwa penanganan TKI Bermasalah tidak akan pernah selesai jika permasalahan rekrutmen, pelatihan, penempatan dan perlindungan yang 80–90 persen terjadi di dalam negeri tidak diatasi secara terarah, terencana dan sinergis antara pemerintah, swasta dan kelembagaan masyarakat. Sehubungan dengan itu, untuk membantu mengawasi keluar masuknya pekerja migran secara ilegal non prosedural melalui pelabuhan dan lorong-lorong tradisionil yang banyak terdapat di sepanjang perbatasan RI-Malaysia yang membentang sejak dari Provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara, dikembangkanlah Perpolisian Masyarakat (Polmas) di daerah perbatasan. Berawal dari empat titik di 3 provinsi, diharapkan dapat terus berkembang menjadi sabuk pengaman di daerah perbatasan, yang tidak saja berguna untuk mengatasi masalah TKI ilegal, tetapi juga narkoba dan terorisme.

25

Oleh karena itu, diperlukan dukungan dari semua pihak agar pengembangan Polmas Daerah Perbatasan yang diwujudkan dalam bentuk Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM), dapat segera terbentuk untuk direplikasi di daerah pedesaan lainnya di sepanjang daerah perbatasan. 3. Asisten II Gubernur Kalimantan Barat selaku Pengarah Satgas Pemulangan TKIB Provinsi Kalimantan Barat menyampaikan perkembangan pemulangan TKIB dari Malaysia, yang diawali dari penerimaan TKIB di pintu masuk perbatasan Entikong, transit di Pontianak, dan dilanjutkan dengan pemulangan TKIB ke daerah asalnya baik yang ada di Provinsi Kalimantan Barat maupun provinsi lainnya. Satgas Pemulangan TKIB di Kalimantan Barat dinilai masih belum berkoordinasi dengan baik, terlihat dari penanganan TKIB yang masih belum maksimal, dan belum efektifnya koordinasi pemulangan TKIB, walaupun petunjuk pelaksanaan penanganan TKIB dari Malaysia sudah diterbitkan. Sosialisasi Petunjuk Pelaksanaan Pemulangan TKIB ini diharapkan dapat memperbaiki kinerja Satgas PTKIB Kalimantan Barat ke depan. 4. Kabid Kesempatan Kerja Perempuan mewakili Asdep Menko Kesra Urusan Kesempatan Kerja Perempuan dan Ekonomi memaparkan Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Perlindungan TKIB Tahun 2009, mencakup prosedur serta pembagian tugas dan tanggung jawab masing-masing instansi terkait dengan pemutihan dan Pemulangan TKIB/PMBS dari Malaysia. Beberapa unsur Satgas TK-PTKIB seperti Departemen Sosial, Babinkam Mabes POLRI dan Departemen Kesehatan, akan memberikan informasi yang lebih teknis agar pelaksanaan penanganan dan pemulangan TKIB melalui Kalimantan Barat dapat berjalan dengan sebaik-baiknya. Kepada Satgas PTKIB Pontianak dan Entikong disampaikan beberapa buku Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB dari Malaysia, untuk dijadikan acuan. 5. Direktorat Samapta Babinkam Mabes POLRI menyampaikan konsep Pengembangan Polmas melalui Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) di perbatasan, serta pelaksanaan dan capaian FKPM yang sudah dibentuk di Kabupaten Sanggau. Mabes Polri juga menyampaikan upaya pengamanan pemulangan TKIB sejak dari perbatasan sampai ke penampungan, dan pemulangannya ke daerah asal. Untuk pengamanan di daerah

26

perbatasan, diperlukan dukungan masyarakat melalui FKPM untuk membantu Kepolisian mengawasi keluar-masuknya orangorang yang tidak diharapkan melalui lorong-lorong tradisionil yang banyak terdapat di perbatasan Kalimantan Barat dan Sarawak, Malaysia. 6. Direktorat Bansos KTK PM menyampaikan keterangan lebih rinci mengenai prosedur penggunaan dana dari Depsos yang diperuntukkan bagi pembiayaan permakanan, transportasi dan kebutuhan perempuan dan anak, serta pemulangan jenazah TKIB. Dinas Sosial sebagai anggota Satgas PTKIB Provinsi diharapkan lebih intesif berkoordinasi dengan Departemen Sosial sehingga berbagai masalah yang ada di lapangan dapat segera dicarikan solusinya. 7. Departemen Kesehatan menyampaikan Pedoman Penanganan Masalah Kesehatan bagi TKIB Deportasi dan Keluarganya dari Malaysia, yang diselenggarakan melalui Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) dan jika diperlukan dapat dirujuk ke Rumah Sakit Rujukan yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan, kesemuanya atas biaya Departemen Kesehatan. KKP diperbatasan hendaknya berfungsi sebagai penyaring pertama dan terdepan agar berbagai penyakit berbahaya dari luar negeri tidak masuk ke Indonesia.

8. Dari diskusi yang berkembang, dicatat beberapa permasalahan penting sebagai berikut: Satgas pemulangan TKIB yang ada di Pontianak dan Entikong hanya ada satu dibentuk oleh Gubernur Kalimantan Barat dan sebagai Pengarah adalah Asisten II, sebagai Ketua adalah Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan beranggotakan Dinas terkait di lingkup Provinsi dan Kepolisian. Selama ini pemulangan dan penanganan TKI di entry point diterima oleh Kantor Imigrasi dan diserahkan ke Satgas yang ada di Entikong yang terdiri dari BP3TKI dan Polsek Entikong. Bagi TKIB dari luar Kalimantan Barat, dipulangkan ke daerah asal melalui Dinas Sosial di Pontianak dengan dititipkan angkutan umum. Pemulangan TKIB dari entry point di Entikong ke Pontianak tidak ada pengawalan, hanya dititipkan ke bus umum untuk diturunkan ke Dinas Sosial. Bila ada TKIB yang sakit diserahkan juga ke Dinas Sosial, dengan alasan dinas lain tidak ada anggarannya.

27

Apabila ada TKIB yang perlu penampungan/bermalam, ditempatkan di BLK dan juga di Polsek sambil menunggu angkutan ke Pontianak. Biaya permakanan TKIB selama ini ditanggung oleh Polsek, dan tidak mengetahui kalau dana tersebut dapat direimburse ke Dinas Sosial. Ke depan, Polsek Entikong akan mempersiapkan administrasinya sejak awal agar dana yang dikeluarkan dapat diganti dari Dinas Sosial. TKIB yang sakit selama ini tidak mendapatkan penanganan bantuan kesehatan, dan jika ada TKIB yang perlu penanganan khusus seperti stres atau gangguan jiwa dititipkan ke LSM Anak Bangsa di Entikong dengan penanganan seadanya. 9. Rencana tindak lanjut: 1) Untuk mengurangi jumlah angkatan kerja Indonesia ke Malaysia perlu segera disiapkan peluang kerja didalam negeri misalnya dengan membuka perkebunan kelapa sawit di perbatasan wilayah RI sehingga tenaga kerja Indonesia dapat bekerja di negerinya sendiri dengan perlindungan sepenuhnya sebagai WNI. 2) Pemulangan TKIB dari Malaysia harus diselenggarakan agar dapat pulang dengan selamat dan bermartabat. Satgas Pemulangan TKIB yang terdiri dari wakil-wakil dari Dinas terkait, hendaknya melaksanakan tugasnya dengan baik dan memanfaatkan dana yang tersedia sesuai dengan kebutuhan dan prosedur yang sudah ditetapkan. 3) TKIB di Entikong banyak yang tidak mau pulang ke daerah asal dan tinggal di perbatasan sehingga di Entikong timbul perkampungan etnis tertentu yang dikhawatirkan akan membebani daerah perbatasan dengan berbagai permasalahan sosial yang muncul. 4) BLK yang ada di Entikong belum berfungsi seperti yang diharapkan, karena belum dilengkapi dengan instruktur yang diperlukan dan juga belum dilengkapi dengan ruang pelatihan yang memadai. Untuk itu perlu dukungan semua pihak agar dapat segera difungsikan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di negara tujuan sesuai dengan keterampilan dan keahlian yang diperlukan.

28

5) Diperlukan penjelasan teknis dari Ditjen Imigrasi tentang penggunaan Paspor 24 halaman dan 48 halaman untuk TKI. 6) Perlu segera disiapkan penampungan TKIB di entry point Entikong didukung dengan Satgas setempat yang beranggotakan terutama dari Dinas Sosial, Kesehatan dan Nakertrans, Imigrasi dan Kepolisian. 7) Perlu penanganan khusus dari Satgas PTKIB tentang munculnya berbagai perkampungan etnis di Entikong. 8) Perlu keterlibatan dan kerja keras dari Satgas Daerah agar pelayanan dan perlindungan TKIB dapat diselenggarakan dengan maksimal. Untuk itu, Satgas PTKIB akan menyelenggarakan koordinasi internal untuk meningkatkan kinerja Satgas PTKIB, baik yang ada di Pontianak maupun yang berada di Entikong. ***

29

Koordinasi Sosialiasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB Tahun 2009 di Kota Tanjungpinang Provinsi Kepulauan Riau Tanjung Pinang, 21 Desember 2009

1.

Dalam rangka Sosialisasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia Tahun 2009, pada hari Senin, 21 Desember 2009 di Hotel Plaza Bintan, Kepulauan Riau, Satgas TK-PTKIB bekerjasama dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri anggota Satgas Pemulangan TKIB Kota Tanjungpinang, Tanjungbalai Karimun, Batam, Kepolisian Provinsi dan Kota Tanjungpinang, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Tanjungpinang, LSM Gerakan Anti Trafficking (GAT) Batam, dan Rumah Singgah Tepak Sirih Tanjungpinang.

2. Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Pemberdayaan Perempuan dan Kesejahteraan Anak mengemukakan pentingnya petunjuk pelaksanaan Penanganan dan Perlindungan TKIB bagi aparat pelaksana di lapangan agar dapat memberikan layanan yang sebaik-baiknya bagi TKI Bermasalah dan keluarganya dari sejak di Malaysia sampai dengan ke daerah asalnya. Deputi juga mengingatkan bahwa TKI Bermasalah tidak akan pernah selesai jika permasalahan rekrutmen, diklat, penampungan, penempatan dan perlindungan yang 80–90 persen terjadi di dalam negeri, tidak dilakukan secara terarah, terencana dan sinergis antara pemerintah, swasta dan kelembagaan masyarakat. Dalam hubungan itu, untuk membantu mengawasi keluar masuknya pekerja migran secara ilegal non prosedural melalui pelabuhan dan lorong-lorong tradisionil yang banyak terdapat di sepanjang perbatasan RI-Malaysia yang membentang sejak dari Provinsi Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara, Satgas TK-PTKIB dari Babinkam Mabes Polri sedang mengembangkan Perpolisian Masyarakat (Polmas) di empat titik di daerah perbatasan, yang diharapkan dapat menjadi acuan pembangunan sabuk pengaman daerah perbatasan, yang tidak saja berguna untuk mengatasi masalah TKI ilegal, tetapi juga narkoba dan terorisme. Oleh
30

karena itu, diharapkan adanya dukungan dari semua pihak agar pengembangan Polmas Daerah Perbatasan yang diwujudkan dalam bentuk Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) di Tanjungpinang dan Batam dapat segera terwujud.

3. Dinas Sosial Provinsi Kepulauan Riau menyampaikan bahwa draft SK Gubernur tentang Pembentukan Satgas Pemulangan TKIB dan PMBS Provinsi Kepulauan Riau telah diproses dan tinggal menunggu tandatangan Gubernur, namun karena sedang diperiksa oleh KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) maka legalisasi SK menjadi terhambat. 4. Direktorat Samapta Babinkam Mabes Polri menyampaikan penekanan tugas dan fungsi Kepolisian dalam pengawalan dan pengamanan pemulangan TKI Bermasalah dari Malaysia, disamping tugas pembinaan masyarakat untuk mewujudkan ketertiban dan keamanan khususnya di daerah perbatasan yang ditengarai menjadi tempat keluar-masuknya orang-orang yang perlu diwaspadai yang kemungkian berpenyakit menular berbahaya, penyelundupan orang dan mungin juga kriminal, narkoba dan terorisme. Mabes Polri menjadikan Polmas Daerah Perbatasan sebagai prioritas oleh karenanya percontohan Polmas Daerah Perbatasan di Kepulauan Riau diharapkan dapat berfungsi dengan optimal. 5. Ditjen Adminduk, Departemen Dalam Negeri mengutarakan pentingnya pelaksanaan KTP Nasional yang berprinsip One Man One Identity, yang telah diujicobakan dengan law enforcement di lima kota, yaitu: Padang, Cirebon, Makassar, Jembrana dan Yogyakarta. KTP Nasional akan diperluas ke daerah lain, dan telah disosialisasikan di Kota Tanjung Pinang, melalui Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil diharapkan dapat melakukan

31

supervisi ke kabupaten/kota di Provinsi Kepulauan Riau. KTP Nasional diharapkan dapat membantu mencegah terjadinya TKI Bermasalah. 6. Kepala Bagian Samapta Kepolisian Kota Besar Batam-RempangGalang (Barelang) menyampaikan konsep dan rencana pengembangan FKPM terkait dengan Polmas Daerah Perbatasan. Di Batam pengembangan FKPM/Polmas direncanakan bekerjasama dengan LSM GAT Batam yang mempunyai daerah binaan di Teluk Mata Ikan yang seringkali dipergunakan untuk lalu-lintas kedatangan TKI ilegal dari Malaysia. 7. Dari diskusi yang berkembang, dicatat beberapa permasalahan penting sebagai berikut: Masih kurangnya jangkauan layanan dari Satgas PTKIB Kota Tanjung Pinang karena keterbatasan kewenangan dan anggaran, kurangnya fasilitas penampungan, ketiadaan fasilitas untuk penanganan TKIB yang menderita sakit keras/meninggal dan menderita gangguan jiwa, serta pembayaran dengan sistem reimburse yang menyulitkan Satgas karena keterbatasan anggaran daerah. Terkait dengan masalah penampungan, Dinas Sosial menyampaikan bahwa Departemen Sosial telah menganggarkan dan akan segera membangun Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC) di Tanjungpinang sehingga diharapkan akan dapat mengurangi beban Rumah Singgah yang dikelola Tepak Sirih. TKIB dari Malaysia umumnya berasal dari provinsi lain sehingga pengurusan jaminan kesehatannya sulit dilakukan, terutama jika penderita tidak dapat ditangani oleh KKP atau RS Rujukan yang telah ditetapkan oleh Departemen Kesehatan. Bagi TKIB yang menjadi korban trafficking, tempat penampungan LSM Tepak Sirih sangat terbatas daya tampungnya, oleh karena itu perlu ada mekanisme, proses dan prosedur yang jelas dalam menangani korban, sehingga korban dapat segera dipulangkan ke daerah asal dan ditangani oleh Pemdanya. Upaya penanganan TKIB yang bersifat “kuratif”, kiranya perlu dilengkapi dengan upaya-upaya preventif (pencegahan) yang mengacu kepada penyelesaian akar permasalahan.

32

8. Simpulan dan Rencana Tindak Lanjut: 1) Penanganan TKIB dari Malaysia oleh Satgas PTKIB Kota Tanjung Pinang telah berjalan dengan baik, namun memerlukan peningkatan masalah penampungan dan penanganan yang perlu dikoordinasikan dengan Pemda dari kabupaten dan provinsi lain. 2) Pembentukan Satgas Pemulangan TKIB/PMBS Provinsi Kepulauan Riau harus segera diwujudkan agar dapat meningkatkan dan memperluas jangkauan pelayanannya ke kabupaten/provinsi lain. Tim Satgas Pusat, khususnya Depdagri akan membantu mempercepat proses tersebut. 3) Terkait dengan penanganan trafficking yang dapat berkedok penempatan TKI, perlu ada MoU antara Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dengan provinsi/kabuapten daerah asal dan daerah transit. MoU secara khusus tentang penanganan trafficking yang difasilitasi oleh Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan telah ada, namun masih diperlukan MoU dengan cakupan yang lebih luas yang diharapkan dapat difasilitasi oleh Departemen Dalam Negeri. 4) Dalam rangka pengembangan tindakan preventif mencegah terjadinya TKIB dan lainnya di Provinsi Kepulauan Riau, peranan Polmas Daerah Perbatasan perlu dioptimalkan. Untuk keberdayaan FKPM, perlu dibarengi dengan pemberdayaan masyarakat termasuk perempuan sehingga mempunyai sumber daya yang cukup menunjang operasional Polmas Daerah Perbatasan. 5) Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dalam rangka meningkatkan keberdayaan FKPM, akan bersinergi dengan Mabes Polri dan LSM GAT Batam untuk memberdayakan FKPM Batam melalui pengembangan usaha ekonomi perempuan yang selanjutnya dapat dikembangkan menjadi usaha ekonomi masyarakat/FKPM. ***

33

Koordinasi Satgas TK-PTKIB tentang Pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Timur Tengah Jakarta, 28 Desember 2009

1.

Dalam rangka pemulangan TKI Bermasalah dari Timur Tengah sebagai Program 100 Hari Kabinet Indonesia Bersatu II, pada tanggal 28 Desember 2009 di Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Satgas TK-PTKIB mengadakan rapat koordinasi yang dihadiri oleh anggota Satgas TK-PTKIB (Pusat), PT. Garuda Indonesia (PT. GI), PT. Angkasa Pura II, dan Dinas Tenaga Kerja/Satgas PTKIB Provinsi DKI Jakarta.

2. Sekretaris Menko Kesra selaku Sekretaris Satgas TK-PTKIB memandu rapat koordinasi yang diarahkan untuk membahas rencana pemulangan TKIB dari Timur Tengah sampai dengan sisa waktu Program 100 Hari yang akan berakhir 31 Januari 2010. Pemulangan menggunakan pesawat Garuda sebagaimana telah dilaksanakan pada Hari Pahlawan 10 November 2009, yang mekanismenya melibatkan seluruh kementerian/lembaga yang terkait (Model-1), dinilai telah berjalan dengan baik. Namun pemulangan tersebut masih menyisakan 133 tiket yang masih harus ditagih oleh PT. Garuda kepada APJATI dan Konsorsium JAS. Pada tanggal 11 Desember 2009, Deplu kembali memulangkan 100 orang TKIB dari Jeddah, namun di dalam negeri diserahkan kepada Depnakertrans yang mekanisme pemulangannya agak berbeda (Model-2) karena langsung diangkut ke Balai Makarti Mukti Tama Depnakertrans Kalibata Jakarta, dan hanya memberikan waktu terbatas kepada UPPA Bareskrim untuk memeriksa TKIB yang kemungkinan menjadi korban perdagangan orang (trafficking in persons). TKIB langsung dipulangkan ke daerah asalnya dan diberi bekal setiap orang Rp 3 juta,-. Sekretaris Menko Kesra menyarankan agar pemulangan 885 orang TKIB (Kuwait 491 orang, Jeddah 80 orang, Jordan 200 orang, Qatar 20 orang, Abu Dabi 34 orang, dan Dubai 60 orang) yang akan datang, menggunakan mekanisme Model-1. Kepada PT. Garuda diharapkan dapat memberikan harga tiket yang lebih murah agar anggaran Deplu mencukupi. Perlu pula disepakati agar pembayaran tiket kepada PT. Garuda oleh Deplu dapat

34

dilakukan sebelum akhir tahun 2009, dengan pelaksanaan pengangkutan sekitar pertengahan bulan Januari 2010. 3. Direktur Perlindungan WNI dan BHI, Deplu melaporkan bahwa untuk pemulangan TKIB Timur Tengah memperoleh Anggaran Biaya Tambahan (ABT) Tahun 2009 sebesar Rp 10 milyar untuk biaya pemulangan 1.367 orang. Sampai dengan 28 Desember 2009, sudah dipulangkan 1.114 orang TKIB, dan masih ada sekitar 885 orang TKIB yang berada di Jeddah, Aman dan Kuwait yang akan dipulangkan ke tanah air. Mohon kepada PT. Garuda dapat memberikan harga tiket yang lebih murah agar dana yang ada cukup untuk memulangkan TKIB tersebut, yang direncanakan Minggu kedua dan ketiga bulan Januari 2010. Deplu telah mengundang Duta Besar Saudi Arabia, Jordan dan Kuwait ke Jakarta, selain mengucapkan terima kasih atas kerjasama selama ini juga mohon bantuan agar proses pemberian exit memo dapat dipercepat, sehingga rencana pemulangan TKIB bulan Januari 2010 dapat berjalan dengan lancar. Dilaporkan juga pemulangan warga Papua di PNG yang direncanakan 644 orang, karena peristiwa meninggalnya Kuali Kwalik, hanya 320 orang yang kembali pulang ke Papua. 4. PT. Garuda menyatakan sanggup untuk menyediakan penerbangan dalam rangka pemulangan TKIB dari Timur Tengah, pada tanggal 12 dan 19 Januari 2009, menggunakan pesawat Boeing 747-400 yang berkapasitas 425 penumpang. Untuk harga tiket yang lebih murah, akan dilaporkan kepada Pimpinan, tetapi mohon agar ada kontak langsung dari Bapak Sesmenko Kesra kepada Pimpinan Garuda. Mengenai pembelian tiket yang dilakukan sebelum 31 Desember 2009 untuk penerbangan Januari 2010, secara teknis bisa dilaksanakan melalui MoU antara Deplu dengan PT. Garuda. 5. Ditjen Imigrasi menyatakan siap untuk melakukan kembali pemeriksaan keimigrasian TKIB dalam pesawat selama perjalanan dari Timur Tengah ke Jakarta. Tetapi berdasarkan pengalaman sebelumnya bahwa petugas selama 27 jam harus selalu berada dalam pesawat (karena tidak ada visa dari Pemerintah Kuwait mengingat sempitnya waktu), untuk pemulangan TKIB yang akan datang mohon agar petugas imigrasi dapat berangkat lebih dulu agar bisa beristirahat secukupnya.

35

6. BNP2TKI menyatakan sanggup melaksanakan penerimaan dan pemulangan TKIB melalui mekanisme Model-1. Mengingat bahwa anggaran 2009 sudah habis, BNP2TKI dalam pemulangan TKIB bulan Januari 2010 baik ke RPTC Depsos Jakarta, maupun ke daerah asalnya masing-masing, akan bekerjasama dengan pihak ketiga (dana talangan). Dilaporkan bahwa tahun 2009, BNP2TKI telah memulangkan 616 TKIB dari luar negeri (Timur Tengah, Hongkong), dan telah memulangkan 4.030 orang TKIB dari Bandara Soekarno-Hatta ke daerah asalnya masing-masing. 7. Mabes Polri yang diwakili Direktorat Samapta Babinkam menyatakan siap mendukung pengamanan pemulangan TKIB dan penindakan hukum kepada pihak-pihak yang menyebabkan terjadinya TKI Bermasalah. Untuk itu, diperlukan adanya surat dari Kemenko Kesra termasuk jika diperlukan bantuan pengamanan di RPTC Depsos dengan dukungan anjing penjaga dari Kepolisian.

8. Dit. Bansos Korban Tindak Kekerasan dan Pekerja Migran Depsos menyampaikan siap menerima TKI Bermasalah di RPTC yang akan diperiksa lebih lanjut oleh Kepolisian. Selain pemeriksaan Kepolisian, TKIB juga menerima tindakan rehabilitasi sosial oleh Pekerja Sosial, yang memerlukan waktu tinggal 8-9 hari di RPTC. Selama ini RPTC Depsos telah menangani 307 orang TKIB dari Malaysia dan Timur Tengah. Dari sejumlah tersebut, menurut pemeriksaan Kepolisian ada 169 orang yang diduga menjadi korban tindak pidana perdagangan orang, dan akan ditindaklanjuti oleh UPPA Bareskrim Mabes Polri. 9. Perum Angkasa Pura II Bandara Soekarno Hatta menyatakan siap menyediakan sarana, prasarana dan refreshment jika pemulangan TKIB akan disambut oleh Menteri atau Pejabat lainnya. Dalam hubungan ini, perlu didesain acara dan tata letaknya agar para Menteri lebih bisa bertatap muka dengan para TKIB. 10. Departemen Kesehatan menyampaikan bahwa Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Bandara Soekarno-Hatta dan Rumah Sakit Rujukan siap jika ada TKIB yang sakit selama di Bandara. Dalam hubungan ini, Depsos mengharapkan agar Depkes juga menyediakan tenaga medis selama TKIB berada di RPTC Depsos, Jakarta.

36

11. Dari diskusi yang berkembang, dihasilkan beberapa kesimpulan dan tindak lanjut sebagai berikut: 1) Pemulangan TKIB dari Timur Tengah dengan 2 flight Garuda yang akan tiba tanggal 13 dan 20 Januari 2010, akan diterima dan dipulangkan dengan mekanisme Model-1. 2) Sebelum tanggal 31 Desember 2009, Deplu melalui KJRI Timur Tengah dengan PT. Garuda dapat berkomunikasi untuk mentransfer dana pembelian tiket yang pelaksanaan penerbangannya bulan Januari 2010. Harga tiket diupayakan agar dicukupkan untuk 2 kali penerbangan penuh (850 orang). 3) Petugas Imigrasi akan berada di Timur Tengah beberapa hari sebelumnya agar dapat memberikan pelayanan keimigrasian kepada TKIB dalam pesawat selama dalam perjalanan pulang Timur-Tengah-Jakarta. Akan dibuatkan surat yang diperlukan dari dari Kemenko Kesra kepada Ditjen Imigrasi Departemen Hukum dan HAM. 4) Pemulangan TKIB akan disambut oleh Menteri. PT. Angkasa Pura II menyiapkan tempat upacara dan sarana prasarana termasuk refreshment, serah terima dari Deplu kepada BNP2TKI, dan selanjutnya mengiktui mekanisme penanganan dan pemulangan Model-1. 5) Surat-surat yang diperlukan akan segera diproses dan dikirimkan kepada pihak-pihak terkait. 6) Program 100 Hari akan selesai akhir Januari 2010, mohon agar dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Kemenko Kesra menyampaikan terima kasih atas atas pastisipasi semua pihak dan keberhasilan pemulangan TKIB Timur Tengah selama ini. 7) Anggaran tahun 2010 bulan Januari 2010 diperkirakan masih belum bisa cair sehingga simpul-simpul kegiatan yang penting mohon diamankan. Dalam hal terjadi masalah mohon agar segera diinformasikan kepada Sekretaris Kemenko Kesra untuk dicarikan solusinya. ***

37

MONITORING SATGAS PEMULANGAN TKIB DAERAH

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Medan-Belawan, Provinsi Sumatera Utara Medan, 2-5 November 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Medan dan Belawan, Provinsi Sumatera Utara, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Pemerintah Provinsi Sumatera dan dinas/instansi terkait.

2. Kasus TKIB dan Keluarganya di Provinsi Sumatera Utara disebabkan antara lain karena permainan mafia transportasi yang terjadi baik di Indonesia maupun di Malaysia. Pemulangan TKIB dan Keluarganya dari Malaysia sejak tahun 2007 jumlahnya relatif sangat sedikit bila dibandingkan dengan tahun 2004. Pemerintah Sumatera dengan jajaran instansinya bertindak tegas terhadap PPTKIS dalam hal penempatan TKI ke luar negeri, pihak PPTKIS harus bertanggung jawab penuh. PPTKIS yang terdapat di Provinsi Sumatera Utara berjumlah 60 perusahaan, namun yang efektif oeprasional sekitar 40 perusahaan yang terdiri 13 perusahaan yang berpusat di Provinsi Sumatera, sedangkan 27 lainnya merupakan perusahaan cabang yang berkantor pusat di Jakarta. 3. Selama bulan Januari sampai dengan Oktober 2009, menurut BP3TKI Medan, telah dipulangkan sejumlah 137 orang TKIB yang semuanya berasal dari Malaysia. Dari 137 orang tersebut, 100 orang merupakan TKI bermasalah, sedangkan 37 orang masih menjadi calon TKI.

38

Permasalahan yang menimpa 100 orang TKI berbeda-beda, antara lain: 33 orang melarikan diri, 25 orang asuransinya bermasalah, 14 orang putus komunikasi dengan keluarganya, 13 orang bermasalah dalam gaji, 1 orang karena sakit. Permasalahan yang menimpa 37 orang calon TKI, meliputi 25 orang karena bermasalah dalam biaya penempatan, 8 orang bermasalah dalam pemulangan calon TKI oleh oknum perorangan sehingga dilakukan razia, 2 orang lari dari asrama, dan 2 orang masalah lainnya. Pada bulan Januari 2009 terdapat 34 orang TKI/CTKI bermasalah, yang berkaitan dengan PPTKIS sebanyak 30 orang penyebabnya adalah 23 orang di antaranya bermasalah karena asuransi, dan 6 orang bermasalah dalam penempatan (calon TKI), sisanya 1 orang bekerja tidak sesuai dengan perjanjian kerja (lain-lain). Sedangkan yang berkaitan dengan perorangan sebanyak 4 orang, penyebabnya 2 orang karena lari, dan masing-masing 1 orang karena sakit dan gaji bermasalah. Pada bulan Pebruari 2009 terdapat 8 orang TKI/CTKI bermasalah, yang berkaitan dengan PPTKIS sebanyak 5 orang penyebabnya adalah 3 orang karena lari, dan 2 orang karena gaji. Sedangkan yang berkaitan dengan perorangan sebanyak 3 orang semuanya karena WNI terlantar. Pada bulan Maret 2009 terdapat 10 orang TKI/CTKI bermasalah, yang berkaitan dengan PPTKIS sebanyak 4 orang dengan rincian masing-masing 1 orang karena gaji, ganti rugi, putus komunikasi, dan asuransi. Sedangkan yang berkaitan dengan perorangan terdapat 6 orang dengan penyebab ke semuanya melarikan diri. Pada bulan April 2009 terdapat 22 orang TKI/CTKI bermasalah, yang berkaitan dengan PPTKIS berjumlah 9 orang, dengan rincian masalah disebabkan 4 orang karena biaya penempatan, dan 5 orang karena pemulangan. Sedangkan yang berkaitan dengan perorangan terdapat 13 orang yang disebabkan 5 orang karena lari, dan 8 orang CTKI digerebeg dalam pemulangan. Pada bulan Mei 2009 terdapat 19 orang TKI/CTKI bermasalah, yang berkaitan dengan PPTKIS berjumlah 12 orang, dengan rincian masalah disebabkan 8 orang karena lari, dan masingmasing 2 orang karena putus komunikasi dan gaji, . Sedangkan yang berkaitan dengan perorangan terdapat 7 orang semuanya disebabkan karena lari.

39

Pada bulan Juni 2009 terdapat 19 orang TKI/CTKI bermasalah, yang berkaitan dengan PPTKIS berjumlah 11 orang, dengan rincian masalah disebabkan 6 orang karena gaji, 3 orang karena putus komunikasi, dan masing-masing 1 orang karena biaya penempatan dan lain-lain. Sedangkan yang berkaitan dengan perorangan terdapat 8 orang, 4 orang karena lari, 1 orang karena gaji, dan 3 orang karena lain-lain. Pada bulan Juli 2009 terdapat 19 orang TKI/CTKI bermasalah, semuanya berkaitan dengan PPTKIS dengan rincian masalah disebabkan 12 orang karena biaya penempatan, 6 orang karena putus komunikasi, dan 1 orang karena asuransi. Pada bulan Agustus 2009 terdapat 4 orang TKI/CTKI bermasalah, yang berkaitan dengan PPTKIS berjumlah 2 orang semuanya disebabkan putus komunikasi. Sedangkan yang berkaitan dengan perorangan terdapat 2 orang semuanya berkaitan dengan biaya penempatan. Pada bulan September 2009 terdapat 2 orang CTKI bermasalah, semuanya berkaitan dengan PPTKIS, penyebabnya adalah penangguhan proses keberangkatan. 4. Saran dan tindak lanjut: 1) Pemerintah daerah Sumatera Utara mempunyai prinsip bahwa untuk menyelesaian masalah TKI bermasalah harus bertindak tegas dan bersih. Misalnya kalau terdapat TKI ilegal yang bermasalah tidak perlu dilindungi, tetapi kalau TKI legal yang bermasalah maka PPTKIS harus bertanggung jawab dalam penyelesaiannya. 2) Mulai Desember 2009 penanganan TKI akan mulai dilaksanakan secara lebih terpadu, dengan instansi/dinas terkait yaitu: BP3TKI, Disnaker, Kepolisian, Imigrasi, Dinas Kesehatan, dan Asuransi/perbankan. 3) Perlu dirumuskan penyediaan dana untuk pemberangkatan TKI, apakah berasal dari Pemerintah atau dari swasta (perbankan) disertai dengan sistem dan mekanisme pengembalian uangnya oleh TKI kepada pihak perbankan. ***

40

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Provinsi Kepulauan Riau Tanjungpinang, 5-8 November 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Provinsi Kepulauan Riau, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau di Tanjungpinang dan dinas/instansi terkait, Satgas Pemulangan TKIB Kota Tanjungpinang, serta Bagian Bina Mitra Kepolisian Tanjungpinang dan Poltabes Barelang di Batam.

2. Dinas Sosial telah menginisiasi pembentukan Satgas Penanganan Pekerja Migran Bermasalah Sosial (PMBS) Provinsi Kepulauan Riau dan sedang membahas draft Surat Keputusan Gubernur untuk segera diajukan. Dalam Satgas ini dipergunakan istilah Pekerja Migran Bermasalah Sosial karena mempunyai pengertian yang lebih luas tidak hanya pekerja migran Indonesia yang di luar negeri (TKI Bermasalah) tetapi juga mereka yang berada di dalam negeri, seperti calon pekerja migran yang berada di Provinsi Kepulauan Riau yang gagal diberangkatkan karena ternyata dokumen dan prosedurnya tidak memenuhi persyaratan. Calon pekerja migran yang umumnya berasal bukan dari Kepulauan Riau, perlu juga mendapat bantuan penanganan termasuk pemulangannya ke daerah asal mereka masing-masing. Diharapkan akhir tahun 2009, SK ini sudah ditandatangani oleh Gubernur Kepulauan Riau. Dengan dibentuknya Satgas Penanganan PMBS Provinsi Riau, diharapkan jalur pembiayaan bisa dilakukan dengan lebih cepat karena Departemen/ Instansi Pusat dapat mengalokasikan biaya penanganan PMBS melalui dana dekonsentrasi di Satgas PMBS Kepulauan Riau. Selama ini, Satgas PTKIB Kabupaten/Kota Kepulauan Riau (Tanjungpinang, Batam dan Tanjungbalai Karimun) harus mereimburs biaya penanganan TKI Bermasalah langsung ke Departemen Sosial dan Instansi Pusat lainnya.

41

Dinas Sosial mengajukan permohonan kepada Satgas TK TK-PTKIB Pusat up. Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat untuk memfasilitasi pertemuan dengan Provinsi Asal PMBS untuk membicarakan masalah penanganan dan pemulangan PMBS baik yang dari luar negeri maupun yang ada di Kepulauan Riau, sehingga ada pembagian tanggung jawab yang tegas antara daerah transit dan daerah asal PMBS. an Terkait dengan rencana sosialisasi Juklak Penanganan dan Pemulangan TKIB dari Satgas TK TK-PTKIB Pusat di Provinsi Kepulauan Riau, akan dikerjasamakan dengan Dinas Sosial sebagai Satgas PMBS Provinsi Kepulauan Riau, yang rencananya akan diselenggarakan pada akhir November atau awal Desember 2009. Pada kesempatan tersebut, akan diundang Satgas PTKIB dari Kota Tanjungpinang, Batam dan Tanjungbalai Karimun serta dari Perwakilan RI di Johor Bahru, Malaysia.

3. Sejalan dengan rencana peningkatan pengawasan keluar masuknya orang melalui pelabuhan dan lorong lorong-lorong tradisionil yang banyak terdapat di daerah perbatasan termasuk di Provinsi Kepulauan Riau, Kemenko Kesra bekerjasama dengan Babinkam Mabes Polri telah mengembangkan Perpolisian Masyarakat engembangkan (Polmas) di Tanjungpinang dan Batam, dengan tambahan muatan untuk membantu mengawasi pengiriman dan pemulangan TKI ilegal dan kemungkinan terjadinya tindak pidana perdagangan orang, penyelundupan narkoba dan terorisme.

42

Pada kesempatan bertatap muka dengan Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) se Tanjungpinang Barat di Gudang Minyak, disampaikan ucapan terima kasih kepada masyarakat Tanjungpinang yang telah membantu saudara-saudaranya yang memerlukan bantuan selama berada di Tanjungpinang. Pemerintah melalui Bina Mitra Kepolisian akan memberikan bekal kepada FKPM sehingga dapat memberikan informasi dan pembinaan kepada calon pekerja migran dan atau TKI bermasalah yang pulang melalui daerahnya bahwa mencari kerja dengan menjadi TKI ilegal adalah tidak benar, dan dapat menyampaikan informasi bagaimana menjadi tenaga kerja yang berkualitas dan memenuhi persyaratan. Masyarakat melalui FKPM menyatakan siap untuk membantu Pemerintah namun mohon agar diberikan dukungan agar operasional FKPM dan komunikasi dengan pihak Kepolisian dapat berjalan dengan lancar. 4. Monitoring Polmas di Batam dilakukan dengan mengadakan pertemuan dengan Bagian Samapta dan Bina Mitra Poltabes Barelang, yang djuga dihadiri oleh Satgas Pemulangan TKIB Batam (Disnakertrans, BP3TKI, Biro Pemberdayaan Perempuan), serta LSM Gerakan Anti Traficking (GAT) Batam. Pengembangan Polmas di Batam untuk memperkuat daerah perbatasan baru dimulai tahun 2009, dan telah mendapat pengarahan dari Babinkam Mabes Polri namun belum secara operasional terpadu. Berdasarkan hasil koordinasi yang dilakukan, Polmas yang akan dijadikan percontohan di Batam adalah FKPM Teluk Mata Ikan yang kebetulan juga menjadi daerah kerja LSM GAT. Sebagai Pembina Utama adalah Bagian Bina Mitra Poltabes Barelang dengan Wakil Bagian Samapta. LSM GAT mendapat tugas untuk mengobservasi kemungkinan pemberdayaan masyarakat Teluk Mata Ikan yang menurut rencana tata ruang akan dikembangkan sebagai daerah wisata. Selama ini ditengarai banyak masyarakat menambang pasir sehingga merusak lingkungan, sehingga perlu dicarikan alternatif lainnya untuk kehidupan rakyat. LSM GAT juga akan dilibatkan dalam pembinaan daerah yang berfungsi sebagai pelabuhan tradisionil lainnya sehingga dapat berfungsi sebagai Polmas yang kuat. Satgas PTKIB yang terdiri dari dinas dan Biro Pemberdayaan Perempuan diharapkan ikut berpartisipasi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing memberikan pembinaan kepada masyarakat Teluk Mata Ikan dan FKPM lainnya sehingga mereka mempunyai keberdayaan ekonomi, sosial, dan keamanan serta kelengkapan informasi
43

tentang pemberdayaan usaha ekonomi pedesaan, ketenagakerjaan dan trafficking in persons sehingga dapat memberikan informasi tersebut kepada pada TKI ilegal yang berangkat dan atau pulang melalui Teluk Mata Ikan dan pelabuhan tradisionil lainnya.

Rencana tindak yang akan dilakukan dalam waktu dekat antara lain adalah: 1) Bagian Samapta Poltabes Barelang akan segera berkoordinasi dengan FKPM Teluk Mata Ikan mengenai rencana menjadikan FKPM Teluk Mata Ikan sebagai Proyek Pengembangan Polmas di Daerah Perbatasan. 2) GAT akan mengembangkan Sistem Jaringan SMS antara FKPM Teluk Mata Ikan dengan Bagian Samapta, Bina Mitra Poltabes Barelang, Satgas PTKIB dan Satgas Anti Trafficking Batam, serta dengan Mabes Polri dan Kemenko Kesra. 3) LSM GAT akan melakukan observasi lapangan dan diskusi dengan masyarakat untuk pengembangan usaha ekonomi rakyat yang diharapkan dapat mencegah perusakan lingkungan hidup karena penjualan pasir yang selama ini dilakukan oleh masyarakat Teluk Mata Ikan. 4) Disepakati bahwa ada atau tidak ada kegiatan, secara periodik akan dilakukan pelaporan melalui Sistem Jaringan SMS yang akan dikembangkan.

44

5. Rekomendasi: 1) Menginformasikan kepada Babinkam Mabes Polri agar melakukan pembinaan sampai dengan tingkat FKPM di pedesaan/kelurahan sehingga masyarakat merasa diperhatikan karena mendapat pembinaan dari Mabes Polri dan menerima masukan langsung dari masyarakat. Berdasarkan pertemuan di Tanjungpinang, FKPM di lapangan tidak pernah menerima bantuan apapun dari Kepolisian walaupun sudah menandatangani pertanggungjawaban. 2) Sosialiasi tentang Penanganan dan Pemulangan TKIB/PMBS ada baiknya mengundang juga FKPM yang daerahnya ada pelabuhan tradisionil untuk pemberangkatan dan pemulangan TKI non–prosedural. 3) Meningkatkan sosialiasi program pemberdayaan ekonomi di Provinsi Kepulauan Riau dan berbagai sumber daya pendanaan bagi pengembangan usaha ekonomi masyarakat. 4) Untuk meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah Daerah Asal TKIB/PMBS, perlu dilakukan koordinasi antara Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau dengan Pemerintah Daerah Asal dengan difasilitasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesra. ***

45

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Batam, Provinsi Kepulauan Riau Batam, 16-18 Oktober 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke beberapa LSM di Batam yang selama ini diketahui telah berpartisipasi dalam penanganan TKI Bermasalah dan pemberantasan tindak pidana perdagangan orang (trafficking in persons). Pemantauan ini dimaksudkan untuk menilai kesiapan LSM terkait dengan rencana pengembangan Perpolisian Masyarakat (Polmas) yang salah satu daerah uji cobanya adalah Pulau Batam.

2. Salah satu tugas Satgas Pemulangan Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah serta Pekerja Migran Indonesia Bermasalah Sosial dan Keluarganya dari Malaysia (Satgas PTKIB-PMIBS) yang dibentuk melalui Keputusan Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat Nomor: 05A/Kep/Menko/Kesra/I/ 2009 tanggal 6 Januari 2009, adalah meningkatkan Perpolisian Masyarakat (Polmas) untuk pengawasan pelabuhan dan jalur lintas tradisionil di daerah perbatasan, yang menurut pengamatan berbagai pihak banyak terdapat di Provinsi Kepulauan Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur dan Sulawesi Utara. Di sepanjangan daerah perbatasan ini ditengarai banyak terjadi pemberangkatan dan pemulangan TKI non prosedural bahkan yang tidak dilengkapi dengan dokumen ketenagakerjaan apapun. Perpolisian Masyarakat (Polmas) sudah lama dikembangkan oleh Kepolisian RI dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/1673/ X/1994 tanggal 13 Oktober 1994 tentang Pokok-pokok Kemitraan Antara Polri dengan Instansi dan Masyarakat; Keputusan Kapolri No. Pol. : Kep/54/X/2002 tanggal 17 Oktober 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Satuan-satuan Organisasi pada Tingkat Kewilayahan; Surat Keputusan Kapolri No.Pol.: Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat Dalam PenyelenggaraanTugas Polri; Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/431/VII/2006 tanggal 1

46

Juli 2006 tentang Pedoman Pembinaan Personel Pengemban Fungsi Polmas; Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/432/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 tentang Panduan Pelaksanaan Fungsi Operasional Polri dengan Pendekatan Polmas; Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/433/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 tentang Pembentukan dan Operasionalisasi Polmas; Kebijakan dan Strategi Kapolri tanggal 8 Desember 2007 tentang Percepatan dan Pemantapan Implementasi Polmas; Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2008 tanggal 26 September 2008 tentang Pedoman Dasar Strategis dan Implementasi Pemolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB) mempertimbangkan bahwa Polmas dapat menjadi salah satu jalan keluar untuk mencegah pemberangkatan TKI non-prosedural melalui pelabuhan dan jalur lintas tradisionil di daerah perbatasan, yang diharapkan dengan menurunkan jumlah pemulangan TKI Bermasalah dari Malaysia yang berbatasan langsung dengan RI. Berkaitan dengan itu, Mabes Polri melalui Peraturan Kepala Babinkam No. POL.03 Tahun 2009 tanggal 31 Agustus 2009 telah mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Pengamanan Pemulangan TKI Bermasalah yang Berlandaskan Perpolisian Masyarakat (Polmas) yang mendapat dukungan APBN Perubahan Tahun 2009 untuk dikembangkan di empat daerah yaitu di Tanjungpinang dan Batam Provinsi Kepulauan Riau, Entikong Provinsi Kalimantan Barat, dan Nunukan Provinsi Kalimantan Timur. Dalam pengembangannya, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) sebagai wadah Polmas, antara lain juga melibatkan kelembagaan masyarakat yang ada di daerah tersebut. Dalam hubungan ini, Satgas TK-PTKIB Kementerian Koordinator Bidang Kesra mengadakan monitoring dan evaluasi kesiapan kelembagaan masyarakat dalam rangka pengembangan Polmas di Batam, dengan melakukan berbagai pertemuan dengan LSM setempat. 3. LSM Gerakan Anti Trafficking (GAT) Batam, selama 2 tahun terakhir telah memberikan pendampingan kepada para pekerja migran yang kembali secara non prosedural melalui Teluk Mata Ikan di Batam (salah satu tempat berlabuhnya perahu pengangkut pekerja migran ilegal dari Malaysia). Sejalan dengan harapan GAT Batam untuk meningkatkan kerjasama dengan Pemerintah Batam, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau, dan
47

Pemerintah Pusat dalam penanganan pelabuhan tradisionil seperti Teluk Mata Ikan dan beberapa pelabuhan tradisionil lainnya, yaitu dalam rangka mencegah terjadinya penyelundupan manusia yang berpotensi terjadinya penyelundupan senjata, narkoba dan pelaku terorisme, maka Pengembangan Polmas di daerah perbatasan seperti di Teluk Mata Ikan dapat menjadi model yang sangat mungkin untuk dilaksanakan dalam mengurangi tindak pidana perdagangan orang (trafficking in persons) yang berkedok pengiriman tenaga kerja Indonesia. LSM GAT sering membantu Tenaga Kerja Indonesia, termasuk anak-anak dan ibu hamil, yang berhasil kabur dari Malaysia. Mereka biasanya menggunakan speedboat dan turun di pinggiran pantai Teluk Mata Ikan pada malam dini hari. Mereka yang banyak berasal dari Surabaya dan Lombok, berhasil kabur dari Malaysia menggunakan jasa seorang tekong dengan biaya tertentu dan diturunkan di pinggiran pantai Teluk Mata Ikan. Hampir semua TKI mengaku sudah lama ingin kembali ke Indonesia, namun selalu dihalang-halangi majikannya masingmasing, dan paspornya ditahan oleh majikan sehingga mereka terpaksa kabur.

Di Teluk Mata Ikan, melalui Pos Pendataan GAT, mereka diterima di pinggiran pantai yang langsung mendatanya dan membantu mereka untuk pulang ke daerahnya masing-masing. Bagi TKI yang swadaya mereka difasilitasi pemulangannya, sedang bagi yang tidak mempunyai uang, dibantu oleh LSM GAT.

48

GAT juga memfasilitasi tempat istirahat sementara bagi TKI yang pada umumnya datang pada malam hari. Pelarian TKI seperti itu juga diketahui oleh Polsek Batam Kota, dan atas dasar kemanusiaan, bekerjasama dengan GAT, mereka dibantu dan difasilitasi untuk pulang. 4. LSM Yayasan Setara Kita, Batam, yang berdiri sejak 2 November 2004, adalah sebuah lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang advokasi dan perlindungan korban trafficking di Kota Batam. Pimpinan LSM Setara Kita yang juga masuk dalam Forum 182 (terkait pemberantasan tindak pidana perdagangan orang), sangat mendukung penguatan masyarakat di daerah perbatasan dalam rangka Perpolisian Masyarakat (Polmas) yang diharapkan dapat membantu mengurangi jalur-jalur yang dipergunakan untuk menerima dan mengirimkan tenaga kerja bermasalah dan mungkin juga korban perdagangan orang. Terlebih dengan adanya informasi dari Koordinator Nasional Koalisi Nasional Penghapusan Eksploitasi Seksual dan Komersial Anak, yang mengatakan bahwa Indonesia telah menjadi sasaran child sex tourism (CST/wisata seks anak) dunia, sehingga kian memperburuk citra Indonesia di mata internasional, khususnya di dunia pariwisata. Menurut data UNICEF tahun 1998, 30 persen dari pekerja seks komersial (PSK) adalah anak (10-18 tahun) dan diperkirakan 40.000-70.000 anak Indonesia telah menjadi korban eksploitasi seksual komersil anak (Eska). Dalam sepuluh tahun terakhir Indonesia menempati posisi nomor tiga setelah Brasil dan Vietnam dalam pariwisata seksual anak. Saat ini ada enam provinsi masuk dalam kategori berat pariwisata seksual anak, di antaranya Bali, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, Batam, Sumatera Utara dan Lombok. Sebelumnya Indonesia menempati lima besar wisata seks dunia setelah Brasil, Vietnam, Myanmar dan Thailand. Namun dalam perkembangannya, karena belum ada aturan yang tegas mengenai pelacuran anak, maka Indonesia “naik kelas” menjadi tempat wisata seks anak. Sementara itu Myanmar dan Thailand telah mengubah aturan yang tegas mengenai pelacuran anak sehingga peringkat mereka turun. Departemen Sosial memperkirakan sebagian besar wisatawan asing dari Malaysia dan Singapura yang pergi ke Batam setiap minggunya melakukan aktivitas seksual dengan PSK yang 30 persennya adalah anak-anak. Pelacuran yang dilakukan oleh anak kerap kali dijadikan sasaran para turis asing, dan ini dimungkinkan terjadi karena belum adanya aturan yang jelas.

49

Kondisi seperti ini memang banyak terjadi di negara-negara berkembang yang diwarnai dengan tekanan ekonomi (kemiskinan dan gaya hidup) dan sulitnya memperoleh lapangan pekerjaan, serta kurangnya kesadaran dan kontrol sosial di lingkungan masyarakat dan keluarga. Dalam hubungan inilah, Polmas dapat berperan sebagai sarana dan wahana untuk pemberdayaan masyarakat tidak saja di bidang keamanan, tetapi juga di bidang ekonomi, sosial dan budaya sehingga memliki keberdayaan dan ketahanan masyarakat yang kuat, yang mampu menangkis hal-hal yang membahayakan bagi kehidupan warga masyarakat terutama di pedesaan. 5. Saran tindak lanjut: 1) Menyarankan kepada Babinkam Mabes Polri untuk mengambil Kelurahan Teluk Mata Ikan Batam sebagai lokasi pengembangan model Polmas di perbatasan di daerah Batam, Provinsi Kepulauan Riau. 2) Menyarankan kepada Babinkam Mabes Polri agar dalam pengembangan Polmas di Batam melibatkan LSM GAT dan Setara Kita (Forum 182) dan atau LSM lainnya sehingga terbentuk jejaring yang kuat antara FKPM dengan lembaga lain dalam penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah, korban tindak pidana perdagangan orang (trafficking in persons) dan korban tindak kekerasan lainnya, termasuk penyelundupan manusia. ***

50

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Batam, Provinsi Kepulauan Riau Batam, 1-4 Desember 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Batam, Provinsi Kepulauan Riau, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Batam, dan berkoordinasi dengan Bagian Bina Mitra Poltabes Barelang, LSM Gerakan Anti Trafficking (GAT) Batam, dan kelembagaan masyarakat setempat. Batam merupakan salah satu daerah entry point pemulangan TKIB terutama dari Semenanjung Malasia yang dapat ditempuh dari Johor Bahru, Malaysia dan dari Singapura selama 1 jam perjalanan kapal laut. Namun di sepanjang garis perbatasan Singapura-Malaysia-Kepulauan Riau yang berupa laut, sangat mudah ditembus melalui moda angkutan laut tersebut, yang berangkat dan mendarat dari dan ke pelabuhan tradisionil yang banyak terdapat di Batam, Bintan dan pulau-pulau lainnya di Provinsi Kepulauan Riau. Satgas TK-PTKIB bekerjasama dengan Babinkam Mabes Polri bermaksud mengembangkan Perpolisian Masyarakat (Polmas) di daerah perbatasan yang salah satunya akan dikembangkan di Batam, yang jika berhasil akan direplikasi sehingga sepanjang garis perbatasan terbentuk sabuk pengaman Polmas untuk mengawasi keluar-masuknya TKI ilegal, dan juga trafficking in persons, penyelundupan manusia, narkoba dan bahkan terorisme.

2. Bagian Samapta dan Bagian Bina Mitra Poltabes Barelang menyambut baik prakarsa Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat yang bekerjasama dengan Mabes Polri bermaksud mengembangkan Polmas Daerah Perbatasan di Batam, yang memang menjadi salah satu tempat keluarmasuknya TKI ilegal melalui pelabuhan tradisionil yang banyak terdapat di Batam. Dengan pegembangan ini, dapat diketahui berbagai penguatan yang diperlukan agar Polmas Daerah Perbatasan mampu menjalankan fungsinya yang menjadi semakin luas dan berat. Untuk itu, agar selanjutnya pengembangan Polmas Daerah Perbatasan lebih efektif, Poltabes

51

Barelang menyarankan agar melibatkan juga Direktorat Bina Mitra di Polda Kepulauan Riau yang berkedudukan di Batam.

3. Menurut LSM GAT Batam, ada dua lokasi yang berpotensi untuk mengembangkan Polmas Daerah Perbatasan karena masyarakat setempat telah memahami dan telah ikut berpartisipasi dalam upaya pencegahan dan pemulangan TKIB dan trafficking, yaitu di Teluk Mata Ikan, Kelurahan Sambau, dan Tanjung Bemban, Kelurahan Batu Besar di Batam. Kedua tempat tersebut selama ini sering dijadikan tempat berlabuhnya perahu pengangkut pekerja migran ilegal dari Malaysia. Meskipun Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) yang terletak di desa belum optimal, namun partisipasi masyakarat dan pihak Kepolisian di lapangan sangat baik. LSM GAT telah melakukan pendekatan ke Poltabes Balerang agar dapat memfasilitasi penggiatan FKPM dalam membantu kegiatan pencegahan dan pemulangan TKIB dan trafficking di kedua lokasi tersebut. 4. Dengan memanfaatkan teknologi informasi, LSM GAT telah membuat jaringan informasi inter pemangku kepentingan yang terkait dengan upaya pencegahan dan penanganan TKIB dan trafficking. Dan melalui jaringan informasi yang memanfaatkan layanan Short Message Services (SMS), penyebaran informasi sangat cepat. Jaringan ini telah memudahkan komunikasi antar pemangku kepentingan dan telah sangat membantu pencegahan TKIB dan penanganan korban trafficking. Untuk lebih meningkatkan daya jangkau dan efektivitas jaringan, maka GAT akan membentuk jejaring SMS yang lebih spesifik yang menjangkau semua pihak terkait dengan pencegahan dan penanganan TKIB dan korban trafficking.

52

Untuk meningkatkan kepedulian masyarakat, LSM GAT bersama pihak Pemerintah Kota Batam dan kelompok-kelompok masyarakat seringkali melaksanakan sosialisasi mengenai bahayanya menjadi buruh migran ilegal dan trafficking serta mengangkat kasus-kasus ke media untuk menimbulkan efek jera bagi calo atau perusahaan yang melakukan penipuan. 5. Dalam pertemuan dengan kelompok masyarakat di Teluk Mata Ikan dan Tanjung Bemban, mengemuka keinginan masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya melalui usaha ekonomi melalui pemberdayaan perempuan. Masyarakat mengharapkan adanya bantuan dari Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat untuk mewujudkan keinginan tersebut. Untuk Teluk Mata Ikan, pelatihan pembuatan aneka souvenir asal kerang dan untuk Tanjung Bemban pelatihan terkait pembuatan aneka masakan asal ikan, kerang dan siput gonggong menjadi prioritas. 6. Saran dan tindak lanjut: 1) Merekomendasikan kepada Babinkam Mabes Polri agar mempertimbangkan Teluk Mata Ikan sebagai daerah pengembangan Polmas Daerah Perbatasan di Batam, bekerjasama dengan LSM GAT yang mempunyai pos dan rumah singgah di daerah tersebut. 2) Untuk meningkatkan keberdayaan FKPM agar dapat operasional dengan baik berdasarkan kekuatan mandiri, Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat perlu mempertimbangkan usulan dari masyarakat Teluk Mata Ikan dan Tanjung Bemban, Batam. ***

53

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Tanjungbalai Karimun, Provinsi Kepulauan Riau Tanjungbalai, 1-4 Desember 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Tanjungbalai, Kabupaten Karimun, Provinsi Kepulauan Riau, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Satgas Pemulangan TKIB Tanjungbalai Karimun.

2. Satgas Pemulangan TKIB Tanjung Balai Karimun dibentuk melalui Keputusan Bupati Karimun Nomor 85 Tahun 2006, dan diperbaharui dengan Keputusan Bupati Nomor 05.B Tahun 2008. Pelaksanaan tugas Satgas PTKIB Tanjungbalai Karimun tahun 2009 masih dilakukan oleh Satgas PTKIB yang sebelumnya karena Keputusan yang baru sedang dalam proses penyelesaian, yang terhambat karena ada perubahan yang mendasar terkait dengan struktur dan pejabat Pemerintah Daerah dan dinas terkait. 3. Menurut laporan Satgas PTKIB Tanjungbalai Karimun, selama tahun 2009 hanya ada 1 orang TKIB yang dipulangkan melalui Tanjungbalai Karimun karena sebagian besar pemulangan TKIB dari Semenanjung Malaysia diarahkan ke pelabuhan Tanjungpinang. Satu orang TKIB yang dipulangkan melalui Tanjungbalai Karimun dalam kondisi stress dan tidak terdapat dalam manifest. Saat ini sedang mendapatkan perawatan di Karimun. 4. Pemulangan TKIB melalui Tanjungbalai, Karimun:
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Tahun 2004 2005 2006 2007 2008 2009 Laki-laki 11.062 3.432 623 271 3 0 Perempuan 4.072 1.006 79 56 1 1 Jumlah 15.134 4.438 702 327 4 1

54

3. Koordinasi pemulangan TKIB oleh Satgas PTKIB Tanjungbalai Karimun cukup efektif. Berdasarkan informasi dari Satgas PTKIB Tanjungpinang, korban diterima di pelabuhan oleh Administratur Pelabuhan sebagai anggota Satgas. Setelah pemeriksaan secara menyeluruh, koban diantar menuju pemondokan/asrama menunggu pemulangan. Korban dipulangkan menumpang kapal dari Karimun menuju Jakarta dengan jadwal bergantung kepada ada tidaknya kapal, umumnya setiap hari Rabu sesuai dengan jadwal pelayaran kapal yang hanya seminggu sekali. 4. TKIB yang dipulangkan melalui Tanjungbalai Karimun berasal dari daerah di luar Karimun, terutama dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan beberapa daerah Indonesia Timur lainnya. Sejauh ini, tidak ada TKIB yang berasal dari Karimun dan sekitarnya. Pengiriman TKIB oleh Satgas PTKIB Tanjungpinang ke Karimun berdasarkan informasi yang diperoleh dari para TKIB tersebut, dan kebanyakan memberikan informasi yang salah tentang daerah asalnya sehingga ’terkirim’ ke Karimun. Hal ini membuat Karimun menjadi tempat transit pemulangan TKIB. 5. Selain sebagai tempat transit pemulangan TKIB, Tanjungbalai Karimun juga menjadi tempat transit dalam pemberangkatan TKI. Pada tahun 2009 pemberangkatan diselenggarakan oleh 7 perusahaan tenaga kerja (PPTKIS) dengan jumlah TKI 1.610 orang. Namun karena TKI tersebut bukan berasal dari Karimun maka data remitansi tidak dapat diperoleh. 6. Saran tindak lanjut: 1) Agar informasi TKIB yang akan dipulangkan melalui Karimun dapat disampaikan lebih awal supaya persiapan lebih matang. 2) Peningkatan koordinasi antara Satgas PTKIB Provinsi, Kab/Kota dan Pusat dalam penanganan TKIB terutama dalam pendataan daerah asal TKIB agar lebih cermat sehingga tidak membingungkan dalam penanganan. 3) Satgas PTKIB Tanjungbalai Karimun telah menerima informasi tentang anggaran operasional Satgas dari Pusat namun karena kesulitan administrasi termasuk belum adanya SK Satgas PTKIB Tahun 2009, karena perubahan struktur dan pejabat, diputuskan untuk tidak mengambil dana tersebut. Walaupun demikian Bupati Tanjung Balai Karimun dan jajarannya tetap mempunyai komitmen yang tinggi dalam penanganan TKIB. ***

55

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Entikong, Provinsi Kalimantan Barat Entikong, 3-6 November 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Provinsi Kalimantan Barat, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Entikong, dan berkoordinasi dengan dinas/instansi terkait setempat. Entikong merupakan daerah entry point pemulangan TKIB dari Negeri Sarawak, Malaysia ke Kalimantan Barat, yang dilakukan melalui jalan darat. Entikong berjarak 387 km dari Pontianak dan dapat dicapai dalam waktu 5-6 jam perjalanan darat. Sekitar 10 km jalan masih berupa jalan tanah yang sedang dikeraskan, selebihnya sudah beraspal halus. Pemantauan ke Entikong dimaksudkan untuk mengetahui pola kerja Satgas PTKIB Kalimantan Barat dengan jauhnya jarak tempuh PontianakEntikong. Di samping itu juga ingin diketahui kesiapan LSM setempat, terkait dengan rencana pengembangan Perpolisian Masyarakat (Polmas) di Entikong sebagai percontohan Polmas Daerah Perbatasan.

2. Satgas PTKIB Kalimantan Barat berkedudukan di Pontianak, sementara Entikong sebagai entry point kepulangan TKIB, dilayani oleh Polsek Entikong, BP3TKI dan Balai Latihan Kerja Disnakertrans di Entikong. Pemulangan TKIB berlangsung sejak dibukanya pintu lintas batas pukul 5.00 pagi sampai pukul 5.00 sore hari. TKIB yang dipulangkan diserahkan petugas KJRI Kuching kepada petugas Imigrasi disaksikan oleh BP3TKI, dan kemudian dilanjutkan pendataan untuk pemulangan ke daerah asal. Bagi TKIB yang harus bermalam, ditampung di BLK Disnakertrans Entikong, dan yang perlu bantuan kasus seperti korban penganiayaan dan perdagangan orang, serta bagi PRT dibawah umur, disidik dengan BAP oleh Polsek Entikong. TKIB yang berasal dari daerah sekitar Entikong/Propinsi, mereka pulang secara mandiri, sedang yang harus pulang keluar Kalimantan Barat, akan difasilitasi oleh Satgas PTKIB Pontianak.

56

Tidak ada pengawalan Kepolisian bagi TKIB yang ke Pontianak, tetapi dititipkan kepada awak bus angkutan untuk diserahkan ke Dinas Sosial di Pontianak. TKIB yang sakit juga mendapatkan perlakuan yang sama, diteruskan ke Dinas Sosial Pontianak. Proses penyidikan Polsek sering memerlukan waktu yang lama, karena ada TKIB yang kebingungan dan sulit berkomunikasi sehingga sementara di amankan di Polsek Entikong. Hal ini mengakibatkan beratnya beban biaya Polsek untuk permakanan TKIB dan transportasinya ke Pontianak. 3. LSM Antar Bangsa di Entikong selama ini telah membantu menampung korban TKIB yang mengalami tekanan/gangguan jiwa. Waktu itu terdapat 5 orang korban, 2 orang diantaranya adalah korban penculikan. Salah satu korban adalah murid Tsanawiyah Garut yang diculik saat pulang sekolah 11 bulan yang lalu. Korban dapat meloloskan diri karena rumah bordirnya digrebek polisi, kemudian diantar seseorang ke KJRI Kuching. Korban penculikan lainnya belum bisa dimintai informasi karena sedang stres, sehingga belum diketahui identitasnya. Korban hanya diam dan tersenyum, namun memiliki cek RM 7.000 yang diduga penghasilannya selama bekerja. LSM Antar Bangsa juga membantu pemulangan TKIB yang tidak berdokumen secara tidak resmi, melalui lorong-lorong tradisionil, menghindari patroli PDRM Sabah. Cara-cara ini terpaksa dilakukan karena jika melalui proses hukum sebagaimana mestinya, memerlukan waktu lama dan TKIB harus menjalani hukuman penjara terlebih dahulu.

57

4. Terkait dengan pengembangan Polmas Daerah Perbatasan di Entikong, Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) Kecamatan Entikong telah dibentuk 2 tahun lalu dan diketuai Bpk Sriyono dari Suku Dayak. Bekerja sama dengan Kepolisian Entikong, FKPM mengawasi keluar masuknya TKI dari dan ke Malaysia yang banyak melalui Entikong. Banyak TKI/calon TKI yang menyewa rumah penduduk, tetapi kemudian tinggal menetap dan menampung saudara atau kerabat yang datang untuk mencari kerja di negeri jiran. Lama kelamaan banyak muncul lokasi yang menjadi kampung etnis Jawa, Lombok dan lain sebagainya. Hal ini memerlukan pendekatan kemasyarakatan agar tidak terjadi gejolak sosial karena perbedaan adat istiadat yang dapat memicu gesekan–gesekan yang mengganggu keamanan wilayah. 5. Saran dan tindak lanjut: 1) Penanganan dan pemulangan TKIB dari Malaysia melalui entry point Entikong dan di Pontianak, belum sesuai dengan prosedur pemulangan menurut Petunjuk Pelaksanaan dari Satgas TK-PTKIB. Untuk meningkatkan kinerja penanganan dan pemulangan TKIB dan Keluarganya dari Malaysia, perlu segera dilakukan sosialisasi Petunjuk Pelaksanaan Penanganan dan Pemulangan TKIB dari Malaysia dan Keluarganya kepada Satgas Pemulangan TKIB di Pontianak dan Entikong. 2) Untuk lebih meningkatkan layanan selama penerimaan, penampungan dan pemulangan TKIB dan Keluarganya dari Malaysia di Entikong, yang sangat membutuhkan sentuhan psikologis, sosial dan kesehatan, perlu segera dibentuk Satgas PTKIB di Entikong yang beranggotakan unsur-unsur Pemerintah dan Kelembagaan Masyarakat/LSM di Entikong yang selama ini juga telah memberikan layanan kepada TKIB dan Keluarganya. ***

58

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Nunukan, Provinsi Kalimantan Timur Nunukan, 2-6 November 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Nunukan, dan berkoordinasi dengan Satgas Pemulangan TKIB Nunukan, Bagian Bina Mitra Polres Nunukan, dan dinas/instansi terkait lainnya. Nunukan merupakan salah satu daerah entry point pemulangan TKIB terutama dari Negeri Sabah, Malasia yang dapat ditempuh dari Tawau, Malaysia selama 1 jam perjalanan kapal laut. Namun di sepanjang garis perbatasan Kalimantan Timur-Sabah, banyak terdapat lorong-lorong pelintasan dan pelabuhan tradisionil yang dijadikan tempat pemberangkatan dan pemulangan TKI non prosedural bahkan yang tidak dilengkapi dengan dokumen ketenagakerjaan apapun. Satgas Pemulangan TKIB Nunukan melaksanakan tugas penanganan pemulangan TKIB dari Malaysia dengan baik meskipun masih ditemukan kendala untuk mengkoordinasikan dinas terkait yang antara lain disebabkan oleh kurang tersosialisasikannya kebijakan Satgas TK-PTKIB Pusat di tingkat lapangan. SK Pemulangan TKIB Nunukan Tahun 2009 telah diterbitkan sejalan dengan reorganisasi di lingkup Kabupaten Nunukan yang salah satunya adalah penggabungan institusi seperti Dinas Sosial dan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

2. Jumlah TKIB yang dipulangkan dari Malaysia ke Nunukan setiap bulannya antara 200 – 300 orang. Namun jumlah TKI yang dikirim melalui Nunukan justru berkurang dengan adanya kebijakan Kependudukan tentang KTP Satu Identitas dan kebijakan tentang pembuatan paspor yang bisa dilakukan di mana saja dengan KTP daerah asalnya. Dengan menggunakan visa melawat/ melancong banyak WNI masuk ke Malaysia melalui Nunukan, dan banyak kemudian yang overstay karena mendapat pekerjaan atau paspornya diambil oleh majikan. Kejadian seperti ini mengakibatkan tetap tingginya jumlah TKIB yang dideportasi.

59

3. Untuk mengurangi masuknya TKI ke Malaysia secara non– perosedural, Pemerintah Kabupaten Nunukan merencanakan pemberlakuan Sistem Pelayanan Satu Atap (SINTAP) untuk pelayanan administrasi bagi calon TKI yang akan bekerja di Malaysia. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Nunukan juga telah mengupayakan pembukaan lapangan kerja di Kabupaten Nunukan khususnya bagi TKIB deportan, sehingga mereka tidak harus kembali ke Malaysia dengan resiko dideportasi kembali. Untuk jangka pendek pembukaan kebun kelapa sawit telah dilaksanakan dan untuk jangka panjang adalah pembentukan Kota Terpadu Mandiri (KTM) yang berbasis potensi alam (yaitu sebagai wilayah pelayanan dan wilayah bahari) yang konsepnya telah disusun dan sedang disempurnakan. 4. Untuk meningkatkan pengawasan lorong-lorong dan pelabuhan tradisionil yang banyak terdapat di Kabupaten Nunukan yang selama ini dipergunakan untuk keluar-masuknya orang-orang secara non-prosedural, Polres Nunukan telah melaksanakan perintah Kapolri dan mengembangkan Polmas secara khusus untuk daerah perbatasan. Perpolisian Masyarakat (Polmas) sudah lama dikembangkan oleh Kepolisian RI dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/1673/ X/1994 tanggal 13 Oktober 1994 tentang Pokok-pokok Kemitraan Antara Polri dengan Instansi dan Masyarakat; Keputusan Kapolri No. Pol.: Kep/54/X/2002 tanggal 17 Oktober 2002 tentang Organisasi dan Tata Kerja Satuansatuan Organisasi pada Tingkat Kewilayahan; Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/737/X/2005 tanggal 13 Oktober 2005 tentang Kebijakan dan Strategi Penerapan Model Perpolisian Masyarakat Daalam Penyelenggaraan Tugas Polri; Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/431/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 tentang Pedoman Pembinaan Personel Pengemban Fungsi Polmas ; Surat Keputusan Kapolri No. Pol.: Skep/433/VII/2006 tanggal 1 Juli 2006 tentang Pembentukan dan Operasionalisasi Polmas; Kebijakan dan Strategi Kapolri tanggal 8 Desember 2007 tentang Percepatan dan Pemantapan Implementasi Polmas; Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2008 tanggal 26 September 2008 tentang Pedoman Dasar Strategis dan Implementasi Pemolisian Masyarakat dalam Penyelenggaraan Tugas Polri. Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (TK-PTKIB) mempertimbangkan bahwa Polmas dapat menjadi salah satu jalan keluar untuk mencegah keluar-

60

masuknya TKI non-prosedural melalui pelabuhan dan jalur lintas tradisionil di daerah perbatasan. Berkaitan dengan itu, Mabes Polri melalui Peraturan Kepala Babinkam No. POL. 03 Tahun 2009 tanggal 31 Agustus 2009 telah mengeluarkan Pedoman Pelaksanaan Pengamanan Pemulangan TKI Bermasalah yang Berlandaskan Perpolisian Masyarakat (Polmas) yang mendapat dukungan APBN Perubahan Tahun 2009 untuk dikembangkan di empat daerah yaitu di Tanjung Pinang dan Batam Provinsi Kepulauan Riau, Entikong Provinsi Kalimantan Barat dan Nunukan Provinsi Kalimantan Timur. Untuk Kabupaten Nunukan telah dibentuk FKPM di 59 daerah yang strategis, dengan melibatkan kelembagaan masyarakat yang ada di daerah tersebut. Keberadaan FKPM cukup efektif dalam mencegah keberangkatan ilegal calon TKI sebagaimana yang pernah terjadi di FKPM Sungai Ular, Kecamatan Nunukan Selatan. Partisipasi aktif anggota FKPM dengan anggota masyarakat lainnya dalam memberikan informasi telah membantu polisi untuk melakukan tindakan. Melalui penjelasan dan pendekatan yang manusiawi, calon TKI tersebut bersedia pulang ke daerah asalnya, atau menjadi pekerja di perkebunan kelapa sawit di daerah Nunukan. FKPM juga mampu mengantisipasi terjadinya berbagai tindak pidana dan membantu menyelesaikan berbagai kasus yang dapat memicu terganggunya keamanan dan ketertiban di daerahnya, yang berdampak pada menurunnya kasus kriminal dan konflik antar anggota masyarakat yang tidak harus diajukan sampai ke polisi atau pengadilan. 5. Dari peninjauan ke FKPM kawasan Pelabuhan Tunon Taka, Kecamatan Nunukan Selatan dan Kecamatan Sebatik Barat (Desa Tanjung Aru dan di Pos Sungai Nyamuk), diperoleh beberapa hal penting sebagai berikut: 1) Ketiga FKPM telah memiliki struktur organisasi yang lengkap, melibatkan warga masyarakat dan petugas polisi setempat. FKPM telah menyusun program dan melakukan pertemuan rutin untuk membahas pelaksanaan program, dan pertemuan khusus untuk membahas kasus-kasus tertentu. Program rutin mencakup pengawasan terhadap keamanan dan ketertiban, serta sosialisasi kepada masyarakat untuk meningkatkan kesadaran hukum. Berbagai kasus yang ditangani antara lain keberangkatan calon TKI ilegal, indikasi trafficking, konflik antar warga (terkait dengan kepemilikan lahan), dan KDRT.

61

2) Balai Kemitraan untuk kegiatan administrasi FKPM beragam ada yang berupa bangunan khusus (Pelabuhan Tunon Taka), menyatu dengan rumah warga (Nunukan Selatan) atau Kantor Kepala Desa (Sebatik Barat). Fasilitas ruangan Balai Kemitraan dan pembiayaan kegiatan di tiga FKPM tersebut hampir sepenuhnya ditanggulangi secara mandiri, mengandalkan sumbangan sukarela dari anggota FKPM dan warga. Di Nunukan Selatan FKPM mendapat bantuan telepon dan pulsa untuk memudahkan komunikasi dengan Polres Nunukan. 3) FKPM Nunukan Selatan telah memulai pengembangan ekonomi masyarakat dengan melakukan sosialisasi penggunaan kompor biji jarak yang manfaatnya dirasakan cukup menolong, karena dapat mengurangi biaya bahan bakar (minyak tanah). FKPM telah merencanakan untuk menanam pohon jarak di lahan tidur seluas 10 hektar dan meminta bantuan Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat untuk memberikan biji jarak sebagai bibit tanaman. 6. Saran dan tindak lanjut: 1) Beberapa FKPM di Kabupaten Nunukan telah berjalan engan baik namun belum semuanya aktif antara lain karena belum lengkapnya fasilitas dan masih kurangnya partisipasi masyarakat. 2) Melibatkan Biro Bina Masyarakat, Deops Mabes Polri yang membidangi pengembangan Polmas dalam Satgas TK-PTKIB Pusat.

62

3) FKPM Nunukan memerlukan penguatan/status hukum FKPM berupa SK dari pimpinan Kepolisian Republik Indonesia, dan mengusulkan adanya seragam untuk meningkatkan pengakuan masyarakat terhadap keberadaan dan peran FKPM. 4) FKPM mengajukan permohonan untuk mendapatkan dana bantuan operasional baik untuk kegiatan rutin FKPM seperti rapat mingguan, bulanan dan tahunan, maupun untuk kegiatan insidentil seperti penyelesaian kasus-kasus tertentu. 5) Babinkam Mabes Polri perlu segera mencairkan anggaran pembinaan Polmas dari Anggaran Biaya Pembangunan Perubahan Tahun 2009 untuk mendukung operasional Polmas di daerah perbatasan. ***

63

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Semarang, Provinsi Jawa Tengah Semarang, 4-6 November 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Semarang, Provinsi Jawa Tengah, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dan dinas/instansi terkait.

2. Kondisi ketenagakerjaan di Provinsi Jawa Tengah menurut data bulan Februari 2009, adalah sebagai berikut: Jumlah penduduk berusia 15 tahun atau lebih (penduduk usia kerja), sebanyak 24.575.820 orang. Dari kelompok tersebut sebanyak 16.610.167 orang (67,59%) tergolong dalam angkatan kerja (TPAK). Kelompok yang terserap sebagai pekerja sebanyak 15.401.496 orang (92,72%) dan yang tidak terserap (pengangguran terbuka) sebanyak 1.208.671 orang (7,28%). Sisa penduduk usia kerja sebanyak 7.965.653 orang (32,41%) tergolong sebagai bukan angkatan kerja. Para pencari kerja yang tidak memperoleh pekerjaan di dalam negeri mengadu nasib ke luar negeri, khususnya ke Malaysia yang merupakan Negara terdekat dari Indonesia. 3. Penempatan TKI Jawa Tengah ke luar negeri (2003 - September 2009) sebanyak 129.584 orang, terbanyak ke Malaysia yaitu sebesar 70.246 orang (54.21 %). Tahun 2008, remitansi TKI Jawa Tengah (35 Kab/Kota) sejak bulan Januari-September 2008 mencapai Rp 906.244.888.326,-, berasal dari kiriman 44.718 orang TKI yang ditransfer melalui BRI, BNI dan Bank Mandiri. 4. Namun TKI Jawa Tengah di luar negeri juga ada yang bermasalah, sehingga Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sejak tahun 2005 melalui Keputusan Gubernur Jawa Tengah No. 560.05/47/2005 tanggal 2 Agustus 2005 membentuk Tim Penguatan Operasional Satgas/Posko Penanggulangan Pemulangan TKI Bermasalah Provinsi Jawa Tengah.

64

5. Tahun 2009, pemulangan TKIB asal Jawa Tengah sebanyak 19.231 orang, menurun dari tahun 2008 (25.926 orang), 2007 (30.323 orang), 2006 (20.801 orang). 6. Khusus untuk pemulangan TKIB dari Malaysia, tahun 2009 (Januari-Oktober 2009) mencapai 866 orang.
No. Tahun 1. 2006 2. 2007 3. 2008 4. 2009 (30 Oktober 2009) Jumlah Laki-Iaki 1.066 379 541 531 2.517 Perempuan 379 209 316 335 1.239 Jumlah 1.445 588 857 866 3.756

Sumber: Disnakertrans Provinsi Jateng

Permasalahan TKIB yang dideportasi dari Malaysia, dapat diidentifikasi sebagai berikut: 1) Berangkat memakai paspor kunjungan. 2) Berangkat resmi tetapi dokumen tidak diperpanjang. 3) Karena ulah calo/sponsor TKI tertipu karena tidak sesuai prosedur. 4) Berangkat keluar negeri (Malaysia) ikut teman/saudara yang sudah bekerja di tempat tujuan. 5) Banyak warga Jawa Tengah yang bekerja ke Malaysia, tetapi dokumennya bukan dari Jawa Tengah (mutasi tidak resmi). 6) Karena tidak ada biaya maka banyak TKI menempuh jalur tidak resmi melalui Tanjung Pinang. 7) TKI lari dari majikan atau pindah kerja karena terjadi tindak kekerasan/diperlakukan kurang baik/tidak sesuai Perjanjian Kerja. 8) Kontrak kerja selesai tidak melapor. 9) Ditangkap polisi relawan (tidak membawa identitas). 7. Penanganan yang diberikan terhadap TKIB antara lain: Penjemputan serta pendataan dan identifikasi kedatangan TKIB. Memberikan penyuluhan dan pengarahan kepada TKIB agar tidak melakukan tindakan yang dapat merugikan diri sendiri dan merepotkan Pemerintah. Memberikan brosur standar operasional penempatan TKI ke luar negeri yang legal/resmi. Memberikan permakanan kepada TKIB.

65

Memberikan bantuan transport dari Terminal Semarang ke Kab/Kota yang berasal dari APBD Provinsi Jawa Tengah. Memberikan fasilitas angkutan dari Posko ke Terminal di Semarang dengan menyewakan Bus. Memberikan surat jalan/pengantar untuk pengamanan di jalan sampai tempat tujuan daerah asalnya. Mengantarkan TKIB ke Terminal Bus dan mengarahkan ke jurusan Bus masing-masing sesuai daerah asalnya. Mewajibkan TKIB melapor ke Dinas/Kantor yang membidangi Ketenaga-kerjaan setempat setelah sampai di daerah asalnya. Melakukan koordinasi dan memberikan informasi kepada Dinas/kantor yang membidangi ketenagakerjaan kab/kota untuk memberikan pembinaan lebih lanjut dan membantu TKI yang bersangkutan apabila ingin kembali bekerja ke luar negeri melalui prosedur yang legal dan mendaftar pada PPTKIS/Cabang PPTKIS yang resmi dan baik di Jawa Tengah. 8. Permasalahan yang dihadapi di lapangan: 1) TKIB yang datang dan diterima Tim di Jawa Tengah sulit diketahui identitasnya secara pasti, karena sebagian besar TKIB tidak membawa dokumen (SPLP, Paspor, KTP atau bukti Jainnya) 2) Daftar nama dan alamat TKIB yang dibawa oJeh pengantar (DAMRI/ Kapal PELNI) tidak jelas. 3) Berdasarkan informasi dari TKIB, bahwa semua dokumen, uang dan barang lainnya semuanya di sita/diminta paksa oleh petugas relawan yang melakukan penangkapan. 4) Tidak tersedianya dana untuk permakanan maupun transpor lokal ke terminal bagi TKIB di Posko Provinsi. 5) Anggaran untuk penanganaan TKI Bermasalah (TKIB) biasanya turun pada akhir tahun anggaran sehingga dirasakan kurang efektif karena deportasi TKI terjadi sepanjang tahun (dari awal tahun), sementara itu dana dari APBD sangat terbatas. 9. Saran tindak lanjut: 1) Hendaknya petugas embarkasi pemulangan dapat memberikan daftar nama dan copy/salinan bukti dokumen identitas bagi TKIB yang dipulangkan, karena sangat diperlukan untuk menunjukkan kepada petugas yang ada di Provinsi maupun Kab/kota bahwa mereka benarbenar TKIB yang mesti harus dibantu.

66

2) Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan atau Depnakertrans bersama KBRI melakukan upaya pengamanan terhadap TKIB yang dipulangkan agar dokumen dan barang bawaannya dapat diselamatkan. 3) Setiap kepulangan TKIB melalui manapun asal Jawa Tengah, hendaknya di informasikan ke Posko Pemulangan TKIB Provinsi Jawa Tengah, sehingga petugas dapat mengidentifikasinya. 4) Melalui Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat hendaknya dapat mengalokasikan dana untuk permakanan bagi TKIB maupun transport lokal ke terminal, karena para TKIB tersebut dari Jakarta hanya mendapatkan jatah makan pagi, sedangkan yang bersangkutan masih harus melanjutkan perjalanan ke daerah asalnya yang jaraknya cukup jauh (rata-rata 4-6 jam) dan bantuan uang transport yang diberikan hanya cukup untuk biaya kepulangan dari Semarang sampai ke daerah asalnya. 5) Melalui Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat diharapkan anggaran untuk penanganan TKI Bermasalah untuk Satgas di Provinsi dapat turun pada awal tahun anggaran sehingga penanganan TKIB dapat lebih optimal. ***

67

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Surabaya, Provinsi Jawa Timur Surabaya, 5-7 November 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Surabaya, Provinsi Jawa Timur, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan dinas/instansi terkait.

2. Satgas Pemulangan TKIB Jawa Timur telah dibentuk dengan Surat Keputusan Kepala Dinas Tenaga Kerja Transmigrasi dan Kependudukan Propinsi Jawa Timur Nomor 560/06.B/112.05/ 2009 tanggal 28 Januari 2009 tentang Tim Satgas Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKIB) dari Malaysia, dengan tugas: Mengkoordinir tugas sektor secara terpadu. Mengkoordinir pengangkutan dari debarkasi ke Posko TKIB. Melakukan pendataan dengan identitas diri yang jelas. Mempersiapkan tempat transit sementara. Mempersiapkan pelayanan kesehatan. Memprioritaskan pelayanan khusus kepada kaum wanita dan anak-anak. Mencegah adanya perdagangan, penyelundupan manusia serta narkoba. Melakukan pengamanan dan penindakan sesuai ketentuan. Memberikan pelayanan kepada TKIB dengan memberikan konsumsi (makanan dan minuman serta bantuan transport). Badan Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana mengharapkan agar dimasukkan dalam keanggotaan Satgas agar dapat membantu TKIB perempuan dan anak. 3. Selama tahun 2004-2008, TKI bermasalah yang difasilitasi pemulangannya oleh Satgas TKIB Jawa Timur sebanyak 42.986 orang, terdiri dari: TKIB Jawa Timur (38.436 orang), TKIB luar Jawa Timur (4.497 orang), dan anak/bayi (4.497 orang). 4. Pemulangan TKIB periode bulan Januari-Oktober 2009, TKI bermasalah yang yang difasilitasi pemulangannya sebanyak 7.663 orang terdiri dari: TKIB Jawa Timur (7.608 orang), anakanak/bayi (46 orang), TKIB Luar Jawa Timur (9 orang).

68

5. Pembiayaan TKI bermasalah untuk wilayah Jawa Timur dianggarkan oleh Pemda melalui Satgas sebesar Rp 35.000,- per orang sampai ke daerah tujuan. Jadi dana tidak melalui Dinas Sosial untuk pemulangannya. Dinas Sosial hanya menganggarkan dana untuk pemberdayaan korban agar tidak berkeinginan untuk kembali bekerja di luar negeri. Tahun 2009 Dinas Sosial telah memberikan dana untuk pemberdayaan bagi 65 orang korban, termasuk korban tindak kekerasan. 6. TKI bermasalah yang masih membutuhkan biaya pemulangan ke daerah asalnya seperti Pulau Bawean yang berada di wilayah Kab. Gresik, dibiayai oleh Satgas Kab. Gresik, dan TKI bermasalah yang berasal dari kepulauan yang berada di sekitar pulau Madura dibiayai oleh Satgas Kabupaten yang bersangkutan. 7. Untuk TKIB luar Jawa Timur, Satgas Jawa Timur mengirim TKI Bermasalah ke daerah tujuan, dan untuk sementara dibiayai oleh Satgas Jawa Timur. Setelah sampai di daerah tujuan biaya yang dikeluarkan oleh Satgas Jawa Timur diganti oleh Satgas daerah tujuan seperti NTB dan NTT. 8. Penampungan TKI bermasalah untuk daerah NTB saat ini ditangani oleh Satgas TKIB yang berkedudukan di Kota Malang Jawa Timur, dan langsung dikirim dengan DAMRI lewat jalan darat ke daerah tujuan seperti Lombok, Sumbawa dan Bima. 9. Saran tindak lanjut: 1) Semua anggaran dan pembiayaan TKI bermasalah ditanggung oleh Pemda Jawa Timur melalui Dinas Nakertrans dan Satgas TKIB. 2) Sampai saat ini menurut petugas TKIB Jawa Timur, pembiayaan Satgas untuk tahun 2009 belum turun dari Anggaran Pusat. 3) Selama pemulangan TKIB tidak ada masalah, namun pemulangan ke daerah asal TKIB, perlu dinaikkan dari Rp 35.000,- menjadi Rp 50.000,4) Bayi yang dibawa oleh TKIB kebanyakan adalah sebagai hasil hubungan gelap oleh para majikan yang tidak bertanggung jawab.

69

5) Dinas Imigrasi terlalu mudah dalam memberikan Paspor, oleh karena itu Imigrasi dalam memberikan paspor harus selektif antara paspor kunjungan wisata dengan paspor TKI pencari kerja. 6) TKI yang dikirim seharusnya TKI yang memiliki keterampilan sesuai dengan kebutuhan negara tujuan, tidak di bawah umur, dan tidak memalsukan identitas, dengan demikian diharapkan TKIB di masa datang dapat berkurang. Untuk itu Tim Satgas Jawa Timur juga telah berkoordinasi kepada dinas/instansi terkait dalam upaya peningkatan kualitas TKI. ***

70

MONITORING DAERAH ASAL TKIB

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Provinsi Lampung Bandar Lampung, 2-4 Desember 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Provinsi Lampung, Satuan Tugas Tim Koordinasi Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia (Satgas TK-PTKIB) telah melaksanakan kunjungan kerja ke Pemerintah Provinsi Lampung dan dinas/instansi terkait.

2. Provinsi Lampung merupakan daerah asal pengiriman TKI, dan sekaligus juga menjadi daerah transit. Hal ini dikarenakan Provinsi Lampung mempunyai aksesibilitas antar provinsi dan ke luar negeri yang baik. Walaupun ada TKIB asal Malaysia yang berasal dari Lampung, namun Pemerintah Provinsi Lampung belum membentuk Satgas Pemulangan TKIB. Namun terkait dengan pemberantasan tindak pidana perdagangan orang, Pemerintah Lampung melalui Peraturan Gubernur Nomor 24 Tahun 2009 tanggal 17 Juli 2009 telah membentuk Gugus Tugas Penanganan dan Pencegahan Trafiking, akan tetapi sampai dengan akhir Desember 2009 Gugus Tugas tersebut belum pernah mengadakan rapat koordinasi. Dinas Tenaga Kerja, Kependudukan dan Transmigrasi, dan BP3TKI Lampung sejauh ini hanya menangani penempatan dan perlindungan TKI formal, dan menginformasikan bahwa untuk periode 2006-2008 jumlah TKI asal Lampung yang dikirim ke luar negeri tercatat sebanyak 7.905 orang, yaitu ke Malaysia, Singapura, Hongkong, Taiwan, Arab Saudi, Kuwait, Jordania, Uni Emirat Arab, Oman, dan Brunei. TKI Lampung hampir seluruhnya bekerja di sektor informal, meski ada sebagian kecil

71

yang bekerja di sektor formal. Seluruh TKI yang bekerja di sektor informal adalah perempuan. Pada tahun 2006, TKI asal Lampung sebanyak 3.308 orang dan pekerja sektor informal 2.599 orang. Negara tujuan TKI asal Lampung antara lain: Malaysia sebanyak 1.824 orang, Arab Saudi sebanyak 1.100 orang, Singapura sebanyak 93 orang, Taiwan sebanyak 93 orang, Hongkong sebanyak 91 orang, UEA sebanyak 70 orang, Oman sebanyak 18 orang, Kuwait sebanyak 10 orang, dan Yordania sebanyak 9 orang. Sedangkan pada tahun 2007, TKI asal Lampung sebanyak 2.994 orang dan 2.591 orang bekerja di sektor informal. Negara tujuan TKI asal Lampung antara lain: Malaysia sebanyak 1.172 orang, Arab Saudi sebanyak 1.120 orang, Taiwan sebanyak 294 orang, Singapura sebanyak 242 orang, Hongkong sebanyak 137 orang, Brunai Darussalam sebanyak 12 orang, Kuwait sebanyak 12 orang, UEA sebanyak 4 orang, dan Qatar sebanyak 1 orang. Pada tahun 2008 tercatat sebanyak 1.183 orang, dan dari jumlah tersebut, pekerja sektor formal hanya 159 orang, selebihnya 1.024 orang bekerja di sektor informal, antara lain sebagai pekerja rumah tangga. 3. Jumlah TKI Lampung yang kembali ke tanah air selama periode 2007-2008 sebanyak 32.215 TKI, yang berasal dari Kabupaten Lampung Timur sebanyak 9.155 orang; dari Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 7.357 orang; dari Kabupaten Tanggamus sebanyak 4.641 orang; dari Kabupaten Lampung Tengah sebanyak 3.642 orang, dari Kabupaten Tulang Bawang sebanyak 3.486 orang; dan dari Kabupaten Lampung Utara sebanyak 1.564 orang; sisanya dari kabupaten/kota yang lain. 4. Dinas Tenaga Kerja, Kependudukan, dan Transmigrasi Lampung memprihatin-kan buruknya sistem pencatatan dan pendataan rekrutmen TKI yang menyebabkan terjadinya kerancuan data antara yang dimiliki dinas dan perusahaan asuransi pemberangkatan tenaga kerja. Salah satu penyebab tidak akuratnya data karena kartu tanda kerja luar negeri (KTKLN) dibuat di Jakarta oleh Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI serta Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi.

72

5. Saran dan tindak lanjut: 1) Pemda Lampung sedang membenahi sistem rekrutmen dan pengiriman TKI Lampung, terutama dengan mempertimbangkan faktor usia produktif, setelah itu baru dilakukan pengiriman. 2) Untuk memperbaiki mekanisme penempatan dan perlindungan TKI, pada tahun 2009 Pemerintah Provinsi Lampung telah membentuk Pos Pelayanan Penempatan dan Perlindungan TKI (P4TKI), sebagai kepanjangan BP3TKI yang berada di Palembang untuk wilayah kerja Sumatera Bagian Selatan. 3) Untuk kepentingan keakuratan data TKI, Disnakerduktrans Lampung sudah mengusulkan supaya KTKLN dibuat di provinsi asal TKI. 4) Pemerintah Provinsi Lampung merasa belum perlu membentuk wadah koordinasi untuk membahas dan memecahkan masalah yang terkait dengan penanganan TKI bermasalah. ***

73

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Provinsi Nusa Tenggara Timur Kupang, 12-15 Oktober 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) yang menjadi salah satu sumber TKI dari Provinsi NTT. Provinsi NTT merupakan salah satu daerah yang menjadi sumber TKI. Tahun 2009 (Oktober), TKI asal NTT yang berangkat ke luar negeri mencapai 6.592 orang, sebagian besar (90%) ke Malaysia, dan dari TKI yang berangkat tersebut sebagian besar (68,8%) adalah perempuan, dan hanya sebagian kecil laki-laki. TKI lakilaki asal NTT umumnya bekerja di perkebunan atau kilang, sementara TKI perempuan menjadi pelaksana rumah tangga (PLRT), keduanya merupakan jenis pekerjaan yang rentan terhadap tindak kekerasan dan eksploitasi. Mereka yang berangkatnya legal, karena berbagai tekanan kerja dan situasi, lalu keluar dari lingkungan kerjanya walaupun dokumennya ditahan majikan dan kemudian menjadi TKI Bermasalah.

2. Di Provinsi NTT sudah terbentuk Tim Koordinasi Pencegahan dan Penanganan TKI Non Prosedural Asal Provinsi NTT yang dibentuk melalui SK Gubernur No. 08/Kep/HK/2009 tanggal 14 Januari 2009 yang bertugas melakukan pencegahan terhadap perekrutan dan pengerahan calon tenaga kerja secara ilegal oleh oknum/calo/PPTKIS yang nakal. Kinerja Tim ini diharapkan dapat menurunkan angka TKIB di luar negeri, karena penyiapan dan pengiriman tenaga kerja NTT telah memenuhi persyaratan dan prosedur penempatan sesuai peraturan perundangan. Namun Tim Koordinasi tersebut tidak melibatkan Dinas Sosial yang membidangi perlindungan pekerja migran, dan juga Dinas Kesehatan yang menangani masalah kesehatan calon TKI dan TKI purna. Tim Koordinasi yang dibentuk terkesan lebih fokus kepada kegiatan penyiapan dan penempatan TKI, tetapi kurang dalam hal perlindungan calon TKI dan TKI purna, serta TKI bermasalah.

74

3. TKI Bermasalah asal NTT banyak yang dipulangkan dari Malaysia melalui Satgas PTKIB Tanjungpinang, Kepulauan Riau atau melalui Nunukan, Kalimantan Timur dan Pare-Pare, Sulawesi Tengah. Pada umumnya masalah TKIB asal NTT karena putus kontak dengan keluarga, gaji tidak dibayar, atau melarikan diri dari majikan. Kehilangan kontak ini telah menimbulkan kekhawatiran bagi keluarga yang ditinggalkan di dalam negeri. 4. Salah satu daerah asal TKIB di Provinsi NTT adalah Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), yang berjarak 115 km dari kota Kupang ke arah Atambua, dan dapat dicapai melalui jalan darat dalam waktu 3 jam. Kabupaten yang berpenduduk 423,895 jiwa ini, sebagian besar penduduknya bertani lahan kering, sementara kaum perempuan NTT banyak menekuni bidang kerajinan rumah tangga seperti bertenun dan pengolahan makanan. 5. Tekanan kehidupan dan terbatasnya lapangan pekerjaan di pedesaan telah mendorong perempuan TTS untuk mencari kerja ke luar negeri, dan pada umumnya ke Malaysia sebagai PLRT. Menurut Dinas Tenaga Kerja Kabupaten TTS, tahun 2008 ada 502 orang TTS pergi menjadi TKI di Malaysia dan tahun 2009 meningkat menjadi 834 orang. Daerah yang banyak mengirim TKI adalah Kecamatan Mollo Utara, Amanuban, dan Amanatun. 6. Menurut penduduk Kecamatan Molok Utara, memang sudah menjadi budaya penduduk setempat untuk merantau dan merasa bangga dan terhormat bila dapat bekerja di luar negeri. Di desa tersebut banyak terdapat para calo yang juga penduduk setempat, dan bekerja sama dengan aparat desa, mencari kemudahan seperti pemalsuan identitas untuk dapat memberangkatkan calon TKI yang sebetulnya tidak memenuhi persyaratan. Karena ketidaksiapan ini banyak TKI asal NTT yang bermasalah, dan mengharap dapat segera kembali ke daerah asalnya. 7. Untuk mengurangi minat penduduk ke luar negeri terutama bagi mereka yang belum memenuhi persyaratan (khususnya umur), Pemerintah Daerah Kabupaten TTS berupaya membuka lapangan kerja di pedesaan melalui pemberdayaan masyarakat termasuk perempuan, dengan memberikan pelatihan keterampilan dan bantuan modal kerja. Kaum perempuan khususnya yang sudah berumah tangga dimotivasi untuk mengembangkan usaha mikro perempuan berbasis sumber daya lokal seperti membuat kue atau memelihara ternak sehingga tidak harus pergi mencari kerja ke luar daerah atau keluar negeri meninggalkan fungsinya sebagai pengasuh anak-anak dan keluarga. Hal seperti ini seringkali

75

menimbulkan dampak sosial yang keuntungan ekonomi yang diperoleh. 8. Saran dan tindak lanjut:

lebih

besar

daripada

1) Karena Provinsi NTT merupakan daerah pengirim TKI yang cukup besar, disarankan agar Tim Koordinasi yang dibentuk juga mencakup fungsi perlindungan dan penanganan TKI Bermasalah yang berasal dari NTT. 2) Meningkatkan pengawasan rekrutmen dan pengiriman TKI non-prosedural yang dilakukan oleh calo-calo yang ada di desa dan berangkat melalui jalur tidak resmi. 3) Meningkatkan pengawasan pengurusan dokumen kependudukan sehingga pemalsuan data (nama, usia, pendidikan) dapat dihindarkan. 4) Mengalokasikan dana APBD Provinsi maupun Kabupaten/ Kota untuk penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah NTT ke daerah asalnya. 5) Membuka kesempatan bekerja dan berusaha di pedesaan sebagai alternatif bagi penduduk setempat khususnya untuk perempuan dan anak-anak perempuan, sehingga mereka tidak memaksakan diri mencari pekerjaan di luar negeri. ***

76

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Provinsi Nusa Tenggara Timur Kupang, 7-10 Desember 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Pemerintah Provinsi NTT di Kupang, serta dinas/instansi terkait setempat.

2. Tim Koordinasi Pencegahan dan Penanganan TKI Non Prosedural yang dibentuk bulan Januari 2009 melaporkan bahwa selama periode Januari-Desember 2009 Satgas PTKIB Provinsi NTT telah memfasilitasi pemulangan 304 TKI ilegal yang dideportasi pemerintah Malaysia. TKI ilegal ini dideportasi setelah dirazia aparat keamanan negara setempat, karena tidak memiliki surat-surat kelengkapan dari daerah asal TKI itu. Sejumlah 304 TKI ilegal tersebut semuanya laki-laki dan berasal dari Kabupaten Sumba Barat, Nagekeo, Manggarai, Belu, Ende, Flores Timur, Rote Ndao dan Kabupaten Kupang. Dari jumlah itu, sekitar 70% berasal dari Kabupaten Belu dan Flores Timur, Ende, Nagekeo serta Manggarai dan sisanya tersebar di Rote Ndao, Sumba Barat dan Kupang. Di Malaysia mereka bekerja sebagai buruh di kebun kelapa sawit dan pembantu rumah tangga (PRT) secara ilegal karena tidak memiliki kelengkapan administrasi seperti visa dari Kedutaan Malaysia di Jakarta. Mungkin saja surat-surat mereka sudah habis masa berlaku tapi belum diperpanjang sehingga tertangkap saat razia. Semua biaya pemulangan TKI ilegal dari Kupang ke kabupaten asal ditanggung Pemerintah Provinsi NTT melalui dana DIPA Dinsos NTT. Karena hampir semua mereka berdomisili di desa, Satgas PTKIB Provinsi NTT telah berkoordinasi dengan Dinas Sosial (Dinsos) kabupaten untuk memfasilitasi perjalanan mereka ke desa asal. 3. Berdasarkan informasi dari Disnakertrans Provinsi NTT, sebanyak 95% dari sekitar 40 ribu tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Nusa Tenggara Timur (NTT) bekerja di Malaysia, baik sebagai buruh di perkebunan maupun penata laksana rumah

77

tangga. Hanya lima persen yang bekerja di negara lain seperti Taiwan, Singapura dan Brunei Darussalam. Malaysia menjadi pilihan utama TKI asal NTT karena selain permintaan terhadap para TKI cukup tinggi dari negeri jiran itu, juga tidak membutuhkan keterampilan khusus. Namun tidak diketahui berapa TKI asal NTT yang bekerja di Malaysia maupun negara lain secara ilegal, tetapi jumlahnya diperkirakan lebih dari angka resmi yang tercatat di Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi. 4. Setiap tahun NTT mengirim sekitar 9.000 TKI ke luar negeri dengan masa kontrak rata-rata dua tahun. Para TKI bisa memperpanjang kontrak jika masih dibutuhkan oleh majikan atau perusahaan. Para TKI yang bekerja di luar negeri ini, sekitar 93% bekerja sebagai penata laksana rumah tangga dan sisanya bekerja di perkebunan, yang berarti jumlah TKI dari NTT yang bekerja secara resmi di luar negeri lebih banyak adalah tenaga kerja wanita (TKW) yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga. 5. Mengenai perlakuan terhadap para TKW, pemerintah secara terus-menerus berupaya memperbaiki persyaratan pengiriman TKI ke berbagai negara tujuan. Diharapkan, ke depan lahir aturan yang lebih tegas sehingga tidak ada lagi perlakuan yang tidak adil terhadap TKI. Khusus TKI dari NTT, sejauh ini terdapat dua kasus menonjol yakni Nirmala Bonat dan Modesta Rangga Kaka yang mendapat penganiayaan dari majikan mereka. 6. BP3TKI Propinsi NTT melaporkan bahwa penempatan TKI NTT ke luar negeri menurut negara tujuan dan jenis kelamin posisi Oktober 2009 sejumlah 6.592 orang, yaitu ke Malaysia 1.367 (Laki-laki), 4.540 (Perempuan); ke Singapura (Laki-laki tidak ada), 455 (Perempuan); ke Hongkong (Laki-laki tidak ada), 156 (Perempuan); ke Brunai (Laki-laki tidak ada), 58 (Perempuan); ke Taiwan (Laki-laki tidak ada), 1 (Perempuan); ke Arab Saudi (Lali-laki tidak ada), 15 (Perempuan). Mereka bekerja di Perkebunan 1.367 orang, Pelaksana Rumah Tangga 5.210 orang, dan sebagai Operator 15 orang. 7. Dari data kasus TKIB di luar negeri, tahun 2009 yang meninggal dunia sebanyak 14 orang, melarikan diri 18 orang, kerja tidak dibayar 18 orang, dipulangkan 2 orang, putus komunikasi 16 orang, tanpa ijin keluarga 3 orang, unfit setelah tiba/bekerja di luar negeri (sakit) sebanyak 8 orang, di bawah umur 1 orang, mencuri 1 orang, majikan meninggal dunia 1 orang, PHK sepihak

78

3 orang, kecelakaan kerja/cacat tidak dapat melanjutkan pekerjaan, terlibat kriminal sebanyak 1 orang, dan kasus lainlainnya sebanyak 14 orang, jadi total kasus TKIB asal NTT sejumlah 104 orang. 8. Kendala yang dihadapi Tim Koordinasi Pencegahan dan Penanganan TKI Non Prosedural di Provinsi NTT adalah terbatasnya dana yang disiapkan sehingga Pemda/Kabupaten dalam hal ini Dinas yang membidangi masalah Ketenagakerjaan belum maksimal dalam penanganan TKI Bermasalah. 9. Untuk mengurangi terjadinya TKI Bermasalah, Satgas PTKIB Provinsi NTT berharap, pelaksana penempatan TKI swasta (PPTKIS) yang merekrut calon TKI dari berbagai wilayah di NTT untuk dikirim ke negara tujuan, harus menaati peraturan di negara tujuan sehingga tidak menyiksa TKI setelah berada di tempat kerja. Semua TKI yang hendak bekerja di luar negeri juga diharapkan menggunakan jalur resmi sehingga permasalahan deportasi bisa diminimalisasi. Apalagi, animo masyarakat NTT untuk bekerja di luar negeri cenderung meningkat dari tahun ke tahun dan membawa dampak positif bagi devisa negara, pembangunan daerah dan bagi pekerja itu sendiri. ***

79

MONITORING NEGARA TUJUAN TKI
Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Kualalumpur, Malaysia Kualalumpur, 14-17 Desember 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Kualalumpur, Malaysia, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Kedutaan Besar RI di Kualalumpur, yang beralamat di No. 233, Jalan Tun Razak, Kualalumpur 50400, Malaysia.

2. Menurut KBRI Kualalumpur, terdapat sekitar 2 juta WNI di Malaysia dan banyak di antaranya yang bekerja. Tahun 2009, jumlah TKI mencapai 991.940 orang atau 51,7% dari jumlah tenaga kerja asing di Malaysia. Sebagian besar (35,9%) TKI bekerja di perladangan dan pertanian, 23,2% sebagai PLRT, 19,9% bekerja di konstruksi/binaan, 16,9% di kilang/pabrik, dan lainnya di bidang service/jasa (3,9%). Karena berbagai pelanggaran kemanusiaan, banyak terjadi permasalahan ketenagakerjaan, keimigrasian, sosial, dan kriminalitas yang menimpa TKI/WNI. Merupakan tugas KBRI Kualalumpur untuk memberikan perlindungan dan bantuan bagi yang WNI/TKI yang memerlukan. Untuk menangani permasalahan WNI/TKI di Malaysia, KBRI membentuk Satuan Tugas melalui Keputusan Kepala Perwakilan RI untuk Negara Kerajaan Malaysia di Kuala Lumpur Nomor. 088/SK-DB/I/2007 tanggal 29 Januari 2007 tentang Pembentukan Satuan Tugas (SATGAS) Pelayanan dan Perlindungan Warga Negara Indonesia (WNI). Untuk tahun 2009, SK sedang dalam proses revisi sehubungan dengan adanya pergantian pemangku jabatan di KBRI Kuala Lumpur.

80

3. Dalam rangka menghindari atau melepaskan diri dari permasalahan, atau dalam proses penyelesaian masalah, banyak WNI/TKI yang untuk sementara harus tinggal di KBRI, dalam shelter yang berkapasitas 70 orang, namun terpaksa harus diisi lebih bahkan mencapai 168 orang (Juli 2009) dengan waktu sampai 6 bulan bahkan ada yang terganggu jiwanya. KBRI telah mengajukan anggaran untuk membangun penampungan (shelter) yang layak namun belum terealisir. KBRI juga menyambut baik rencana Depsos untuk menempatkan Pekerja Sosial di shelter KBRI untuk membantu pemulihan psikososial TKI Bermasalah yang ada di penampungan. 4. Tahun 2009 ada 1.008 orang yang ditampung di shelter KBRI dengan permasalahan: kondisi kerja tidak sesuai dengan yang dijanjikan, beban kerja ganda/berat, tidak betah kerja, pindahpindah majikan, lari/diusir, majikan kasar, dan penipuan perjanjian kerja (324 orang), gaji tak dibayar (172 orang), terlantar/ilegal (166 orang), penyiksaan (104 orang), korban perdagangan orang (53 orang), pelecehan seksual (45 orang), ingin pulang, unfit, tidak kuat bekerja (144 orang). Saat ini di shelter KBRI terdapat 102 orang TKW yang bermasalah dengan 4 bayi/anak. 5. Selama di dalam shelter, WNI/TKIB mendapat permakanan dan keperluan pribadi. Selain itu juga disediakan pelayanan medis oleh 2 orang dokter relawan setiap hari Selasa dan Jumat. KBRI juga mengupayakan pelayanan konsultasi kejiwaan. Untuk berkomunikasi dengan keluarga, WNI/TKIB diberikan kesempatan menggunakan telepon khususnya bagi mereka yang akan dipulangkan guna memudahkan penjemputan oleh keluarganya di Indonesia. KBRI juga menyediakan fasilitas untuk mengirim surat ke Indonesia. Selama di shelter, WNI/TKIB difasilitasi untuk dapat bekerja pada pihak ketiga. Mereka juga diharapkan berpartisipasi dalam menjaga kebersihan dan ketertiban shelter termasuk dalam penyiapan permakanan dan penjagaan bagi yang sakit. 6. Penyelesaian masalah WNI/TKIB tergantung pada berat ringannya masalah, biasanya untuk kasus perdata (gaji) lebih cepat daripada penyelesaian kasus kriminal. Keberadaan Joint Committee sangat membantu penyelesaian masalah WNI/TKI, dan jika sudah selesai, yang bersangkutan dimintakan check-out memo dan diberi Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) untuk

81

pemulangannya ke Indonesia. Tahun 2009, Satgas berhasil mendapatkan kompensasi bagi WNI/TKIB sebesar RM 1,3 juta atau Rp 264,2 juta,-.

7.

Bagi TKIB yang ingin pulang ke Indonesia, Pemerintah Malaysia mengeluarkan kebijakan baru dengan menunjuk PT. Pangkal Rejeki untuk mengurus perijinan pulang ke Indonesia tanpa melalui proses peradilan, dengan biaya sebesar RM 700 per orang untuk membayar denda, biaya check-out memo, dan fee perusahaan. Namun dalam pelaksanaannya, di-subkan lagi kepada 34 perusahaan lainnya sehingga biaya membengkak menjadi RM 1.200-1.400 per orang. Selain itu, untuk paspor yang lewat waktu lebih dari 2 tahun, dikenakan biaya maksimum RM 3.000,- Dengan tingginya biaya ini banyak TKIB kembali pulang ke Indonesia secara ilegal naik kapal tradisional/tongkang ke pelabuhan terdekat di tanah air. Selain melalui PT. Pangkalan Rejeki , TKIB juga bisa pulang melalui Imigrasi dengan hanya membayar denda minimum dan check out memo sebesar RM 400. Kebijakan ini berakhir 2009 namun akan diperpanjang sampai April 2010.

8. Sampai dengan September 2009, dari shelter KBRI telah dipulangkan 680 orang ke Indonesia atas biaya sendiri, biaya majikan dan KBRI. Dari shelter juga ada 31 orang yang bekerja kembali, melarikan diri (6 orang), diserahkan ke Imigrasi (12 orang) dan ikut keluarganya. Ada 14 orang WNI/TKI yang meninggal dunia di shelter KBRI. Daerah asal kepulangan WNI/TKIB antara lain adalah Tanjungbalai Asahan, Medan,

82

Padang, Dumai, Tanjungbalai Karimun, Batam, Pekanbaru, Palembang, Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, Surabaya, Manado, Mataram, Kupang dan Denpasar. Pemulangan TKIB didampingi petugas KBRI dan sering juga dari IOM. 9. Selain membantu menangani masalah TKIB, KBRI juga mengupayakan adanya perpanjangan kontrak baru PLRT dengan kenaikan gaji menjadi RM 600 per bulan. Namun untuk cuti 1 hari per minggu belum bisa diaplikasikan. Untuk PLRT telah beberapa kali mengalami kenaikan gaji per bulannya, yaitu sebelum tahun 2005: RM 420, tahun 2005: RM 450, tahun 2006: RM 500, dan tahun 2007: RM 550. Dan sejak tahun 2008, dinaikkan lagi menjadi RM 600 sampai sekarang. Gaji TKI di sektor formal juga meningkat dari RM 468 menjadi RM 481 ditambah tunjangan makan RM2 per hari, serta tunjangan kehadiran dan giliran kerja (shift). 10. Terkait dengan pemutihan TKIB dan keluarganya di Sabah, Malaysia, KBRI menyampaikan bahwa saat sudah lebih dari 100.000 orang dari target sekitar 217.000 PATI Indonesia, yang diselesaikan dokumennya. Selanjutnya mengenai pendidikan anak-anak TKI di Sabah, tidak ada masalah yang prinsip. KJRI telah melakukan pendekatan ke Pemerintah Federal Malaysia sehingga secara tidak resmi telah mengijinkan pendirian SI-KK dan kelompok belajar Indonesia di perkebunan. Pemerintah Negeri Sabah juga tidak menolak yang berarti sekolah Indonesia dapat terus berjalan. Pemberian ijin secara resmi tampaknya dihindari oleh Pemerintah Malaysia agar tidak menimbulkan kesan diskriminatis terhadap negara lainnya. 11. Saran tindak lanjut: 1) KJRI menengarai bahwa terjadinya TKIB sebagian besar (lebih 80 %) akibat permasalahan yang terjadi di dalam negeri sehingga pembenahan terlebih dahulu harus dilakukan di dalam negeri, baik tentang pelatihan calon TKI, kesehatan, penempatan, perlindungan, maupun legalitas dokumennya. Masalah kelembagaan juga sangat penting karena ketidakserasian Depnakertrans dan BNP2TKI telah menyebabkan buruknya pelayanan kepada calon TKI dan TKI. 2) Dari sisi Malaysia, KJRI mengharapkan agar Polisi Diraja Malaysia lebih serius dalam menangani masalah TKIB, dan mengharapkan agar amandemen MoU RI-Malaysia mengenai peningkatan perlindungan TKI di Malaysia sudah ditandatangani pada Januari 2010. Namun diperoleh suatu

83

kemajuan dengan dibentuknya Joint Committee RI-Malaysia untuk menangani permasalahan TKIB. 3) KJRI mengharapkan Menko Kesra lebih berperan dalam perlindungan sosial TKI bekerjasama dengan Menko Perekonomian. Hal ini diperlukan karena bukan hanya permasalahan ekonomi saja yang menimpa TKIB melainkan juga permasalahan sosial yang jauh lebih banyak. Sehubungan dengan itu, diharapkan Menko Kesra segera mengadakan rapat koordinasi dengan semua instansi terkait dengan masalah ketenagakerjaan untuk mencari solusi sesuai dengan tugas dan fungsi masing-masing. 4) Sehubungan dengan ketentuan persyaratan umur pekerja rumah tangga (PRT) agar bisa bekerja di luar negeri, perlu ditinjau kembali agar bisa lebih muda dari umur 21 tahun namun dilengkapi dengan pelatihan yang berkualitas. 5) Diharapkan implementasi Single Identity sesuai amanat UU No. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dapat terlaksana tahun 2011, untuk mencegah terjadinya pemalsuan identitas yang menjadi salah satu penyebab terjadinya TKIB. ***

84

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Johor Bahru, Semenanjung Malaysia Johor Bahru, 14-17 Desember 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Johor Bahru, Semenanjung Malaysia, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Perwakilan RI (Konsulat Jenderal RI) di Johor Bahru, yang beralamat di No. 723, Jalan Ayer Molek, Johor Bahru 80000, Malaysia. Satgas TK-PTKIB juga berkoordinasi dengan perwakilan LSM Gerakan Anti Trafficking (GAT) Batam yang ada di Johor Bahru.

2. KJRI Johor Bahru mempunyai wilayah kerja Negeri Johor, Melaka, Negeri Sembilan dan Pahang. Secara ekonomis, wilayah tersebut memiliki intensitas bisnis yang tinggi namun tidak diimbangi dengan ketersediaan tenaga kerja sehingga menjadi tujuan utama para pencari kerja yang datang dari negara-negara tetangga, termasuk dari Indonesia, yang masuk secara legal maupun ilegal karena jaraknya yang sangat dekat dari Provinsi kepulauan Riau, dan dengan garis perbatasan yang porous mudah ditembus. Kedekatan jarak dan kesempatan kerja di Johor dan sekitarnya, membuat banyak TKI dan Pendatang Asing Tanpa Ijin (PATI) yang masuk sehingga jumlahnya lebih banyak dari pada negeri lainnya di Malaysia. Diperkirakan ada 880.000 orang TKI di Johor dan sekitarnya, dan yang ilegal diperkirakan dua kalinya. Hal ini memberatkan beban kerja KJRI Johor Bahru yang masih harus menyewa bangunan gedungnya sehingga mengalami kesulitan jika ingin membangun sarana pelayanan yang lebih baik. 3. Jumlah WNI/TKI di wilayah kerja KJRI Johor Bahru sulit diketahui secara pasti karena tidak pernah melaporkan diri ke Perwakilan RI dan banyak yang pulang ke tanah air melalui cara ilegal menumpang perahu malam hari dan mendarat di Batam atau Bintan, Kepulauan Riau. TKI yang bekerja sebagai Penata Laksana Rumah Tangga (PLRT) juga sulit dipantau karena direkrut langsung oleh agen atau majikan. Baru kalau ada masalah KJRI diberi tahu namun tetap diberikan layanan dan bantuan sebagaimana mestinya.
85

Penanganan masalah WNI/TKI dilakukan KJRI bekerjasama dengan Instansi Pemerintah setempat seperti Imigrasi, Kepolisian, Dinas Lalu Lintas dan Pengangkutan Jalan, Kantor Tenaga Kerja, Rumah Sakit, Jabatan Agama Islam, Kantor Pendaftaran/Catatan Sipil, Bea Cukai, beberapa pelabuhan laut dan udara, penjara, mahkamah/pengadilan, Jabatan Kebajikan Masyarakat, Jabatan Kelautan dan lain-lain dalam hubungan kerja yang baik. Kasus yang banyak ditangani adalah masalah gaji PLRT yang belum dibayar oleh majikan, dan hubungan kerja antara pekerja dan majikan. Sehari KJRI rata-rata menerima 10 kasus terkait dengan masalah penganiayaan, pelecehan seksual, penipuan, musibah/survivor/kecelakaan di laut, WNI terlantar dan lainlain. 4. Dalam rangka optimalisasi perlindungan WNI/TKI, titik perhatian KJRI adalah mengurangi jumlah TKIB di Malaysia, yang sebagian besar karena pelanggaran keimigrasian, di samping ada beberapa yang terlibat dalam tindak kejahatan. Berbagai langkah yang dilakukan antara lain: 1) Pembentukan Tim Buser KJRI (Special Task Force) yang bertugas menyelesaikan masalah TKIB dengan para majikan yang “nakal”. Upaya ini telah menimbulkan “efek jera” kepada majikan nakal. Tim ini sangat terbantu dengan pembentukan Joint Committee antara Perwakilan RI dengan Pemerintah Malaysia (yang terkait dengan penanganan TKIB) sehingga lebih memudahkan dalam penanganan TKI Bermasalah. 2) Membuat daftar hitam (black list) agen atau PJTKI Indonesia yang mengirim calon TKI dengan cara tidak benar atau menelantarkan TKI yang menjadi tanggung jawabnya. Ada 20 agen yang masuk dalam Daftar Hitam, dan sudah 16 agen/PJTKI yang kemudian memenuhi kewajibannya, seperti mengupayakan pembayaran upah yang menjadi hak TKIB, mempekerjakan kembali TKI setelah memenuhi persyaratan yang diperlukan, atau dipulangkan ke Indonesia tanpa harus ditahan di penjara Malaysia. 3) Melakukan kerjasama dengan Jabatan Tenaga Kerja Malaysia untuk mengidentifikasi dan membuat Daftar Hitam bagi Agen Malaysia dan Majikan yang melakukan penipuan dan pelanggaran lainnya seperti tidak membayar gaji, pekerjaan

86

tidak sesuai dengan yang dijanjikan, melakukan tindak kekerasan, dan pelecehan. 4) Mengupayakan biaya yang semurah-murahnya bagi TKIB di Malaysia untuk mengurus pemulangan dengan amnesti. Hasil penyaringan dan negosiasi yang dilakukan oleh pihak KJRI terhadap 16 perusahaan yang ditetapkan oleh Pemerintah Malaysia untuk melakukan pengurusan pemulangan amnesti (tanpa harus masuk penjara), maka KJRI merekomendasikan MT. Abdul Kadir yang menawarkan biaya terendah (RM 800) untuk proses amnesti. Saat ini razia terhadap PATI (Pendatang Asing Tanpa Izin) sangat intensif dan jika tertangkap harus membayar compound (denda) sebesar RM 30 per hari, dan harus melewati proses yang lama bahkan dapat ditahan dan dipenjara sebelum akhirnya dipulangkan ke Indonesia. 5) KJRI Johor Bahru mengupayakan adanya kenaikan upah minimum TKI di berbagai sektor yang kemudian menjadi standar baku di seluruh Semenanjung Malaysia. Kenaikan upah ini memberikan dampak dengan menurunnya TKI yang lari ke tempat kerja lain yang menyebabkan statusnya menjadi ilegal. 6) Memberikan perlindungan kepada TKI Perkebunan yang rata-rata masuk menggunakan visa pelancong sehingga rentan terhadap permasalahan, karena ilegal dari sisi Undang-undang Ketenagakerjaan Malaysia tetapi legal di Malaysia karena memiliki permit kerja. KJRI menggalang kerja sama dengan National Union Plantation Workers (NUPW) dan menyarankan TKI menjadi anggota Union agar memperoleh bantuan jika ada permasalahan. 7) KJRI Johor Bahru secara rutin juga mengadakan kegiatan dialog terbuka melalui kunjungan ke pusat konsentrasi TKI di wilayah kerja. 5. Terkait dengan masalah ketenagakerjaan, KJRI juga mengawasi masalah penerbitan Job Order, pelayanan PJTKI, majikan dan agensi asing serta para TKI di seluruh wilayah kerja KJRI Johor Bahru. 6. Sehubungan dengan adanya kebijakan Pemerintah Malaysia untuk menkonsentrasikan pemulangan TKIB dari seluruh penjara di Semenanjung Malaysia di Johor Bahru, KJRI Johor Bahru diminta oleh Imigresen setempat untuk memverifikasi orangorang yang diduga dari Indonesia, sebelum mereka dideportasi ke
87

Tanjungpinang. TKI Bermasalah di Semenanjung Malaysia dikonsentrasikan di Depoh Imigrasi Pelabuhan Pasir Gudang, dan beban kerja KJRI untu memverifikasi WNI mencapai 800-1.500 orang setiap minggunya. 7. Jumlah TKIB yang dideportasi dari Johor Bahru menurut catatan KJRI selama tahun 2009 (November) berjumlah 30.658 orang. Informasi tentang pemulangan TKIB yang sudah diverifikasi KJRI disampaikan ke Satgas PTKIB Tanjungpinang dan ke Pusat untuk dapat diterima dan diproses dengan sebaik-baiknya.

8. KJRI Johor Bahru menyediakan tempat penampungan sementara yang letaknya di belakang kantor untuk para WNI/TKI terlantar dan bermasalah sambil menunggu proses penyelesaian dan pengantaran pulang ke tanah air. Tempat penampungan tersebut tidak pernah kosong dalam sebulan minimal menampung 25-50 orang WNI/PLRT terlantar. Jumlah TKIB yang berada dipenampungan KJRI mencapai 54 orang dengan kasus terbanyak (74%) adalah masalah gaji yang belum dibayarkan. Kasus lainnya adalah hamil di luar nikah yang jumlahnya mencapai 2 - 3 orang per bulan. Pada umumnya TKW tersebut menjadi korban rayuan dan penipuan, di samping rendahnya kesiapan mental para TKW dalam menghadapi godaan.

Di penampungan juga ada 5 orang korban trafficking yang telah maju ke pengadilan dan status perkaranya telah berubah dari Temporary Protection Order menjadi Protection Order. Namun untuk mengangkat kasus trafficking ini, dengan keterbatasan jumlah hakim Malaysia, korban diharuskan menunggu sekitar 3-4

88

bulan sehingga merugikan baginya. KJRI bermaksud mengangkat masalah sistem peradilan Malaysia yang tidak berpihak kepada korban trafficking ini dalam Seminar Anti Trafficking yang akan dilaksanakan di Kuala Lumpur pada akhir bulan Desember 2009. 9. LSM Gerakan Anti Trafficking (GAT) Johor Bahru sangat menghargai upaya Pemerintah dalam memberikan perlindungan kepada WNI/TKI Bermasalah dan bersedia membantu khususnya bagi mereka yang akan pulang ke tanah air menggunakan program amnesti. Di Batam, LSM GAT juga mempunyai Pos Pemantauan di Teluk Mata Ikan yang selama ini dipergunakan untuk membantu TKIB yang pulang melalui jalan laut menggunakan perahu kecil yang sering membahayakan para TKI Bermasalah. 10. Saran tindak lanjut: 1) Meningkatkan kerjasama dengan Satgas PTKIB Kepulauan Riau untuk peningkatan pelayanan pemulangan TKIB termasuk para korban trafficking dan korban tindak kekerasan lainnya. 2) Melanjutkan dan meningkatkan komunikasi yang telah terjalin dengan baik antara Satgas KJRI Johor Bahru dengan Satgas TK-PTKIB Pusat. 3) Membina hubungan dengan LSM GAT di Batam terutama untuk membantu menerima pemulangan TKIB yang pulang menggunakan fasilitas amnesti. 4) Memanfaatkan Joint Committee RI-Malaysia yang telah dibentuk untuk mengupayakan sebesar-besarnya perlindungan dan pemenuhan hak-hak TKI Bermasalah di Malaysia. 5) Menyuarakan kepada berbagai pihak di dalam negeri yang terkait dengan masalah ketenagakerjaan agar membenahi berbagai masalah rekrutmen, penempatan dan perlindungan calon TKI untuk mengurangi dan menghilangkan TKI Bermasalah. ***

89

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Sarawak, Malaysia Kuching, 14-17 Desember 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Sarawak, Malaysia, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Perwakilan RI (Konsulat Jenderal RI) di Kuching, Shelter KJRI Kuching beserta TKI Bermasalah yang berada di shelter, Asrama para TKI yang bekerja di perkebunan Malaysia di Bau, Kuching, dan berkoordinasi dengan Satgas Pemulangan TKIB Provinsi Kalimantan Barat yang sedang bertugas ke Kuching.

2. KJRI Kuching baru pindah menempati Kantor baru yang terletak di Jalan Stutong MTLD, No. 21, Lot 16557, Block 11, 93350 Kuching, Sarawak. Kantor KJRI yang lama sekarang difungsikan sebagai shelter untuk menampung TKI Bermasalah. Dari 1,2 juta TKI di Malaysia, di Sarawak ada sekitar 200.000 TKI yang legal, belum termasuk TKI ilegal dan Pekerja Rumah Tangga, yang jumlahnya sulit diketahui karena banyak masuk melalui jalan-jalan tikus di perbatasan Sarawak-Kalimantan Timur yang kini berubah menjadi jalan gajah (dapat dilalui mobil). Untuk memberikan pelayanan dan perlindungan kepada WNI termasuk TKI di Sarawak, KJRI Kuching membentuk Pelayanan Warga (Citizen Service) yang saat ini sedang dalam proses pemeriksaan untuk memperoleh sertifikat ISO. Dalam hubungan ini, KJRI menggunakan sistem jemput bola mendatangi kantong-kantong di pedalaman tempat kerja para TKI dan menerapkan jam kerja Monday-to-Monday untuk memberikan pelayanan dan perlindungan kepada WNI/TKI di Sarawak. Pemutihan di Sarawak berbeda dengan di Sabah, karena di Sarawak tidak ada dukungan dari Pemerintah Kerajaan setempat, sehingga pemutihan diupayakan atas pendekatan dari KJRI ke perusahaan/majikan. Tahun 2007-2008, sebanyak 2.700 TKIB telah diberikan paspor untuk melengkapi dokumen ketenagakerjaan dengan perusahaan/majikannya. Program pemutihan ini terus dilakukan oleh KJRI karena menguntungkan kedua belah pihak dan efektif dalam rangka perlindungan TKI.

90

Walaupun sudah ada kebijakan Federal yang mulai Maret 2009 menetapkan bahwa levy pekerja asing dibayar oleh perusahaan (RM500 untuk PRT, RM 1.000 untuk pekerja kebun), namun implementasinya di Sarawak belum menyeluruh. Levy yang tadinya dibayar perusahaan tetap berlanjut demikian pula levy yang semula dibayar pekerja juga tidak ada perubahan. Upah Minimum Regional (UMR) tidak diberlakukan di Sarawak sehingga PRT hanya menerima upah RM100-150 per bulan dan tidak jarang tidak dibayarkan sehingga menjadi masalah. Dalam rangka memberikan perlindungan kepada PRT, perpanjangan paspor dan kontrak kemudian diwajibkan dilakukan di KJRI dengan besaran upah dan persyaratan lainnya disetujui dan disepakati bersama. Terhadap permintaan gaji PRT minimal sebesar RM450 per bulan banyak majikan yang setuju, sementara gaji pekerja kilang (RM10 per hari), pekerja kebun (RM18-19 per hari), dan pekerja konstruksi (RM25 per hari), diupayakan oleh KJRI untuk dinaikkan. Mekanisme job order dari perusahaan yang perlu endorsement dari KJRI, dimanfaatkan untuk upaya menaikkan gaji TKI tersebut. 3. TKI deportasi di Sarawak yang dikenal dengan Repatriasi WNI, pada umumnya berasal dari PJTKA yang menerima TKI dari agen-agen gelap, yang kemudian tertangkap oleh RELA dan dimasukkan ke Detention Center Imigresen. Sebelum direpatriasi, Imigresen meminta bantuan KJRI untuk memverifikasi kebenaran kewarganegaraan para deportan yang dituangkan dalam Surat Pengantar atau Rekomendasi KJRI, yang akan dipergunakan oleh Imigresen Sarawak mendeportasi WNI/TKI Bermasalah melalui exit point Malaysia di Tebedu ke entry point Indonesia di Entikong, Provinsi Kalimantan Barat. Surat Perjalanan Laksana Paspor (SPLP) tidak diberikan kepada deportan dan atau TKI bermasalah karena memerlukan biaya yaitu RM18 per orang, RM22 untuk dua orang atau lebih, sementara untuk WNI yang selesai menjalani hukuman, SPLP diberikan gratis. Mengenai pemberlakuan Surat Keterangan KJRI sebagai pengganti SPLP ini memerlukan penyesuaian dalam Juklak Penanganan dan Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya Tahun 2009, berkaitan dengan proses pemberian Surat Keterangan Datang dari Luar Negeri (SKDLN) baik untuk keperluan membuat KTP di daerah asalnya, maupun untuk upaya penempatan kembali TKIB menjadi TKI yang berkualitas dan memenuhi persyaratan.
91

Penerbitan SPLP bagi TKI Bermasalah, masih memerlukan exit memo dari Imigresen Sarawak yang memerlukan penyiasatan dan penyelidikan terlebih dahulu, jika ternyata pernah tersangkut kriminal dan masuk ke Malaysia tanpa paspor, yang bersangkutan dapat ditahan dan diproses secara hukum. Dengan dibentuknya Joint Committee RI-Malaysia di Kualalumpur yang terdiri dari Imigresen, Departemen Dalam Negeri, dan Kejaksaan Malaysia serta Perwakilan RI, dapat diajukan permohonan kepada JC agar bagi TKI Bermasalah dapat diberikan exit memo untuk segera dipulangkan ke Indonesia. Proses ini sudah berjalan (sementara langsung ke Kualalumpur karena JC Sarawak belum ada), diharapkan dapat berjalan dengan baik. Hal yang menyulitkan bagi KJRI adalah alamat dari majikan TKI Bermasalah yang susah ditelusuri karena seringkali dipindahpindah majikan. Kepada majikan seperti ini seharusnya juga ditindak dan diberikan sanksi hukuman oleh Pemerintah Malaysia. 4. Sejauh ini KJRI Kuching merasa kesulitan untuk memulangkan TKI Bermasalah ke Entikong karena penyambutan di dalam negeri dinilai kurang memberikan jaminan atas keselamatan dan perlindungan kepada TKI. Dengan adanya pertemuan dengan Satgas Pemulangan TKIB Provinsi Kalimantan Barat, dapat dibina koordinasi antara KJRI Kuching dengan Satgas Pemulangan TKIB Kalbar.

92

Dalam kaitan ini, Satgas Pemulangan TKIB Provinsi Kalimantan Barat yang bergabung dalam rapat koordinasi, menyatakan akan memperkuat Satuan Lapangan Satgas PTKIB Provinsi Kalbar di Entikong dengan memanfaatkan Balai Latihan Kerja Disnakertrans Entikong sebagai tempat penampungan sementara, dan melibatkan pihak Kepolisian, Kesehatan, Perhubungan, Sosial dan LSM Anak Bangsa Entikong dalam penanganan kasus-kasus TKI Bermasalah, serta dalam pemulangan selanjutnya ke Pontianak terus ke daerah asalnya di luar provinsi, dan atau ke daerah asalnya di wilayah Kalimantan Barat. KJRI Kuching mengharapkan agar permasalahan di dalam negeri yang menyebabkan terjadinya TKI Bermasalah di Malaysia dapat segera diatasi. TKI Bermasalah hanya merupakan akibat dari 80% masalah ketenagakerjaan seperti masalah kekurangan informasi, rekrutmen, diklat, penampungan dan penempatan yang sering kali menggunakan jalur tikus yang jumlahnya sangat banyak di perbatasan Kalimantan Barat dan Sarawak. 5. Kunjungan ke shelter KJRI Kuching bertemu dengan TKI Bermasalah sejumlah 35 orang yang terdiri dari 9 orang laki-laki dan 26 orang perempuan. Mereka berasal dari Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Jakarta, NTT, dan terbanyak dari Kalimantan Barat. Sekitar 5 orang di antaranya mengaku di bawah umur, dan banyak pula diantaranya yang masuk ke Malaysia menggunakan visa kunjungan dan kemudian mencari kerja. Beberapa orang sudah overstay satu dua hari sehingga disarankan untuk segera keluar melalui Entikong untuk menghindari denda yang lebih besar. Sebagian lainnya lagi sudah bekerja tetapi tidak dibayar sehingga kami menyarankan untuk segera mengambil keputusan akan menuntut upahnya atau segera pulang ke Indonesia sehingga prosesnya tidak berlarut-larut. Sebagian besar paspor mereka ditahan oleh majikan sehingga para TKIB sehari-hari hanya beraktivitas di dalam shelter. Kesempatan selama berada di shelter, kami sarankan untuk dipergunakan saling tukar-menukar informasi dan keahlian sehingga menambah pengetahuan dan keterampilan masingmasing.

93

6. Kunjungan ke camp TKI legal di Perkebunan milik Pemerintah Sarawak dilakukan ke daerah Bau, sekitar 2 jam perjalanan darat dari Kuching. Di camp ini para TKI yang banyak berasal dari Sulawesi Selatan, Jawa dan NTT, ditempatkan dalam bangunan asrama dengan fasilitas listrik dan air leideng, dengan kewajiban membayar penggunaannya oleh TKI. Disediakan pula fasilitas gedung olah raga. Kepada TKI diberikan ID-Card sebagai pengganti paspor yang disimpan di kantor perusahaan. Dengan surat jalan dari perusahaan, ID-Card dapat dipergunakan sebagai identitas jika TKI bepergian keluar kebun untuk suatu keperluan ke Kuching dan daerah lainnya. Di perkebunan milik Pemerintah Malaysia ini tidak ada TKI ilegal, karena kalau ada TKI yang datang menggunakan visa wisata (karena ikut dengan saudaranya di situ), akan difasilitasi rena oleh PPTKIS/Agency untuk mendapatkan visa dan kontrak kerja. Di camp juga ada para isteri TKI yang dibawa dari kampungnya sementara anak-anaknya ditinggal karena tidak diijinkan ikut ke anaknya Malaysia. Mereka dititipkan kepada orang tua atau keluarga ka untuk bersekolah di kampung. Para isteri itu ada yang ikut kerja di kebun tetapi juga ada yang tidak bekerja hanya tinggal bersama suaminya di camp TKI. Kelompok TKI dari Sulawesi Selatan dan lainnya yang muslim meminta ijin kepada perusahaan untuk libur hari Jumat dan bekerja di hari Minggu, sementara TKI dari NTT yang beragama Kristen mengambil libur hari Minggu untuk beribadat ke gereja.

94

Kepada TKI disampaikan pesan agar jika pulang ke kampung bersedia memberikan penjelasan kepada rekan, teman dan orangorang sekampung bahwa tidak perlu mencari kerja di Malaysia secara ilegal karena dengan cara legal prosedural juga tidak terlalu sulit prosesnya. Beberapa PPTKIS bahkan mempunyai BLK Luar Negeri di Pontianak yang dapat dimanfaatkan untuk mengikuti diklat sebelum ditempatkan di Malaysia. Di perkebunan ini, TKI sebagian bertugas di bagian pengambilan buah, sebagian lagi di bagian penyemprotan dan pemeliharaan. Mereka pagi-pagi subuh telah berangkat kerja ke kebun menggunakan kendaraan perkebunan. Beberapa TKI sudah memperbaharui kontraknya beberapa kali yang berarti sudah lama tinggal bekerja di Malaysia. 7. Saran tindak lanjut: 1) Memantau pembentukan Satuan Pelaksana Satgas PTKIB Kalimantan Barat di Entikong yang melibatkan unsur Satgas di lapangan dan LSM Anak Bangsa Entikong, serta efektivitas koordinasi Satuan Pelaksana Entikong dalam penanganan dan pemulangan TKIB dengan KJRI Kuching, Sarawak. 2) Memantau pemulangan TKI Bermasalah yang ada di shelter KJRI Kuching dengan memanfaatkan terbentuknya Join Committee RI-Malaysia yang diharapkan dapat mempercepat keluarnya exit memo bagi TKI Bermasalah sehingga dapat segera kembali pulang ke daerah asalnya.

95

3) Melakukan pembahasan dengan sektor terkait Satgas TKPTKIB Pusat mengenai penggunaan Surat Keterangan KJRI sebagai pengganti SPLP bagi deportan dan TKI Bermasalah lainnya, terkait dengan Administrasi Kependudukan. 4) Meningkatkan koordinasi penyelesaian masalah rekrutmen, penempatan dan perlindungan TKI di dalam negeri yang ditengarai merupakan bagian terbesar yang telah menyebabkan terjadinya TKI Bermasalah. ***

96

Monitoring Pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya dari Malaysia di Tawau, Sabah, Malaysia Tawau, 14-17 Desember 2009

1.

Dalam rangka memantau dan mengevaluasi penanganan dan pemulangan TKI Bermasalah dan Keluarganya di Sabah, Malaysia, Satgas TK-PTKIB telah melaksanakan kunjungan kerja ke Kantor Pelaksana Tugas dan Fungsi KJRI Kota Kinabalu di Tawau yang beralamat di Batu 2,50, Jl. Sin Onn, Peti Surat No. 742, 91008, Tawau, Sabah, Malaysia.

2. Negeri Sabah, Malaysia berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Timur dengan garis perbatasan darat yang melintang sepanjang 980 km dan batas laut yang jarak terdekatnya dapat ditempuh dalam waktu 20 menit. Di sepanjang perbatasan terdapat banyak akses yang memungkinkan keluar masuknya TKI non-prosedural secara leluasa, yang berakibat banyaknya TKI yang tidak memiliki dokumen keimigrasian di Tawau. Sejak 26 Mei 1967 Pemerintah Indonesia dan Malaysia sepakat memfasilitasi mobilitas penduduk wilayah perbatasan kedua negara untuk melaksanakan kegiatan perekonomian setempat. Pemerintah Indonesia mengeluarkan Pas Lintas Batas (PLB) berwarna merah, sementara pemerintahan Malaysia (Imigresen Tawau) mengeluarkan PLB berwarna hijau yang dapat dipergunakan masuk ke wilayah Indonesia sebatas di Nunukan dan Sebatik. Lalu lintas penduduk melintasi perbatasan banyak dilakukan lewat Pelabuhan Sungai Nyamuk, Lamijung (Sebatik), Tunun Taka (Nunukan) dan Juwata (Tarakan). Kedua pelabuhan terakhir ini terutama dipergunakan sebagai pelabuhan umum nasional yang melayani general cargo dan penumpang. Tahun 2009, melalui pelabuhan resmi, tercatat ada 123.571 orang Indonesia melintas ke Tawau, sedang dari Tawau mencapai 167.709 orang. Sementara bagi lalu lintas penduduk melalui pelabuhan tradisional tidak terpantau karena menggunakan kapal-kapal kecil/tradisional. Kegiatan perekonomian penduduk yang dilakukan melalui perdagangan dengan skema barter trade telah menguntungkan masyarakat di kedua negara, dan telah diperkuat melalui sertifikasi komoditi untuk memastikan bahwa komoditi perdagangan aman dikonsumsi.

97

3. Tawau yang berada di bagian selatan Negeri Sabah, menjadikan sektor pertanian sebagai tulang punggung perekonomiannya, yang dalam pengelolaannya melibatkan 70% penduduk, dibantu oleh sejumlah besar tenaga kerja asing (TKA) yang 90%-nya adalah tenaga kerja Indonesia (TKI). Namun kemudahan keluarmasuk daerah perbatasan, banyak disalah-gunakan pihak tertentu yang tidak bertanggungjawab untuk memasukkan TKI ilegal/tidak berdokumen untuk bekerja di Tawau. TKI ilegal ini sangat rentan terhadap eksploitasi, kekerasan, upah rendah dan tidak mendapat perlindungan maksimal sebagai WNI. Pemerintah Malaysia sering mengadakan razia kepada TKI ilegal yang disebut sebagai PATI (pendatang asing tanpa izin), dan kemudian memberikan sanksi hukuman yang cukup berat, untuk seterusnya dideportasi ke Nunukan. Masalah TKI ilegal bahkan telah berkembang menjadi isu keamanan di Sabah. Kasus TKI yang pindah majikan, melarikan diri, atau masuk skema outsourcing yang sering mengakibatkan ketidakpuasan, telah membuat TKI menjadi ilegal dan terjebak berbagai macam masalah. Skema penggunaan “mandor”, subkontraktor, atau kontraktor, yang karena masalah gaji, sering memicu terjadinya kekerasan fisik oleh mandor dan tukang pukulnya yang bahkan masih satu suku bangsa, sehingga TKI/WNI menjadi terlibat tindak pidana.

Sebagai hasil diplomasi Perwakilan RI di Malaysia dan Kementerian Luar Negeri, atas dasar win-win solution termasuk pertimbangan masalah perekonomian Negeri Sabah, Malaysia, disepakati program pemutihan untuk TKI Bermasalah dan keluarganya, yang mendapat jaminan dari perusahaan di Sabah.
98

Pemutihan tahap pertama dilakukan bulan Juli–Oktober 2008 untuk 217.367 orang TKIB, dan terus dilanjutkan dengan tahap 2 bulan Agustus–Oktober 2009. Pada tahap pertama, biaya levi dikenakan sebesar 100% tetapi kemudian diberikan keringanan sampai 50% untuk mengurangi beban TKIB. Untuk mendukung pemutihan ini, Kantor Pelaksana Tugas dan Fungsi KJRI Kota Kinabalu di Tawau mendapat bantuan staf dari Deplu, dari Kantor Imigrasi Kalimantan Timur dan Dit. Administrasi Hukum Umum Depkumham. Perkembangan pemutihan di Tawau sampai dengan 21 Desember 2009, adalah 71.163 orang TKIB dan keluarganya. Ditambah dengan pemutihan di Kota Kinabalu yang sampai dengan 16 Desember 2009 mencapai 69.455 orang, maka total pemutihan yang berhasil diselesaikan di Negeri Sabah, Malaysia adalah 140.618 orang.
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. Total
Sumber: KPTF Tawau, 2009.

Sektor Perladangan Pertanian Jasa Pabrik/kilang Konstruksi PRT

Pekerja 20.552 9.661 1.512 502 2.074 885 35.186

Dependen

Jumlah

35.977

71.163

4. Perkebunan Kuala Lumpur Kampong BHD (KLK) yang terletak di Sempurna sejauh 1,5 jam perjalanan dari Tawau, memiliki 8 lokasi perkebunan dan 3 kilang, yang berada di Sempurna dan Lahan Datu, dan mempekerjakan hampir 10.000 orang TKI. Dibantu oleh PJTKA, perusahaan telah memutihkan 3.800 orang. Layanan pemutihan oleh KJRI dilakukan dengan mendatangi perkebunan jika jumlah TKIB lebih dari 200 orang. Pemutihan ini sangat menguntungkan perusahaan karena tidak harus kehilangan pekerjanya yang pergi mengurus dokumennya di Indonesia, dan juga menguntungkan bagi TKIB dan keluarganya karena tidak perlu mengeluarkan biaya perjalanan

99

kembali ke daerah asalnya atau ke Nunukan, termasuk kemungkinan bagi keluarganya yang mungkin tidak diterima masuk kembali ke Sabah.

5. Kendala pemutihan di Tawau antara lain terbatasnya sumber daya manusia di Kantor Pelaksana Tugas dan Fungsi KJRI Kota Kinabalu di Tawau (15 orang staf lokal dan 1 honorer), sementara bantuan Staf dari Indonesia terbatas waktunya. Kendala lainnya adalah sistem penerbitan paspor yang belum on line, sehingga masih terdapat kemungkinan terjadinya perekayasaan data TKIB dan keluarganya. 6. Saran tindak lanjut: 1) Untuk memaksimalkan kinerja Kantor Pelaksana Tugas dan Fungsi KJRI Kota Kinabalu di Tawau sesuai dengan beban kerjanya, perlu ditingkatkan statusnya menjadi Kantor Perwakilan KJRI. 2) Paspor TKI yang diterbitkan di Tawau hanya berlaku untuk jangka waktu 3 tahun sehingga perlu dipikirkan mekanisme perpanjangannya untuk tahun 2011. 3) Potensi barter trade yang menguntungkan bagi kedua belah pihak Indonesia dan Malaysia, perlu dipertimbangkan sebagai dorongan untuk memperkuat pembangunan daerah perbatasan. ***

100

Studi Visit Tim Gabungan, LSM dan IOM ke Malaysia dan Singapura Kualalupur-Singapura, 31 Agustus-4 September 2009

1.

International Organization for Migration (IOM) Kantor Jakarta memfasilitasi studi visit Tim Gabungan ke Malaysia dan Singapura sebagai upaya membantu Pemerintah Indonesia dalam mengatasi tantangan-tantangan migrasi tenaga kerja saat ini dan ke depan. Tim Gabungan dipimpin oleh Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Ketenagakerjaan, dengan anggota dari Depnakertrans, BNP2TKI, Kemenko Kesra, KNPP, Depsos, Deplu, Bareskrim Mabes Polri, dan IOM. Wakil dari NGO (Migrant Care dan Ecosoc Institute) berhalangan hadir.

2. Di Malaysia, Tim bertemu dengan Kementerian Sumber Manusia, NGO (SUHAKAM: The Human Rights Commission of Malaysia; Migrant Care; CARAM ASIA: Coordination on Action Research on AIDS and Mobility; Uni Global Union, Malaysian Liaison Council; Union Migrant Indonesia; dan Prof. Dr. Azizah Kassim dari Institute of Malaysian and International Studies), KBRI, Perkumpulan Masyarakat Indonesia di Malaysia (IATMI-KL: Ikatan Ahli Tenaga Minyak Indonesia; Paguyuban Bocahe Dewe; Pasomaja: Paguyuban Sosial Masyarakat Jawa; Malaysia Information and Technology Community, Persatuan Masyarakat Indonesia), dan meninjau Agency Pekerjaan Sri Nadin di Kuala Lumpur. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut: 1) Penanganan Pekerja Asing di Malaysia dilakukan oleh Kementerian Sumber Manusia (dari segi Human Resource Development dalam rangka “Merealisasikan Decent Work“ dan Harmonize Working Environment), Kementerian Dalam Negeri (dalam hal Imigrasi, visa, permit dsb), dan Kementerian Kesehatan. Berbagai Akta dan Peraturan Pelaksanaan telah diterbitkan Pemerintah Malaysia tetapi implementasi di tingkat lapangan masih banyak terjadi penyimpangan yang menimbulkan banyak persoalan seperti banyaknya Pendatang Asing Tanpa Ijin (PATI), overstayer karena kelalaian majikan (pemegang paspor pekerja asing) memperpanjang ijin kerja pekerja asing

101

yang bekerja padanya, serta masalah banyaknya permit asli tapi palsu. Berkaitan dengan PATI, hal ini bukan merupakan kebijakan ketenagakerjaan Pemerintah Malaysia, sehingga penanganannya lebih didasarkan pada pendekatan HAM dan sebagai bangsa serumpun. Namun penanganan PATI lebih cenderung melalui pendekatan Keimigrasian, padahal dalam praktek banyak PATI yang menjadi korban perdagangan orang (trafficking in persons). Malaysia telah mempunyai Anti-Trafficking in Persons Act (Act 670, 2007) yang telah mendorong meningkatnya kasus-kasus yang ditangani dan meningkatnya jumlah korban yang diselamatkan, namun dalam US TIP Report 2009, Malaysia dimasukkan dalam Tier 3, menurun dari tahun 2008 (Tier 2 Watch-list) karena dinilai tidak cukup mengambil tindakan dalam pemberantasan trafficking in persons. Berkaitan dengan Konvensi Perlindungan Buruh Migran dan Keluarganya, Malaysia menyatakan belum akan meratifikasinya karena belum yakin dapat melaksanakan ketentuan-ketentuan konvensi. 2) Pihak NGO menyampaikan bahwa tingginya biaya penempatan (RM 8,000) karena besarnya biaya untuk pendewasaan umur dan atau ganti nama, perijinan (suami), “surat keterangan“ kesehatan, pelatihan yang tidak cukup, yang kesemuanya memerlukan uang dan menjadi “jeratan hutang“ yang harus dibayar TKI melalui pemotongan total selama 6 bulan gaji. Banyaknya Outsourcing Agent (79 Agents) di Malaysia ditengarai juga telah menyebabkan terjadinya under-wages bagi TKI serta adanya penyalahgunaan “pass lawatan kerja sementara“ yang dipakai untuk menekan pekerja asing agar menerima persyaratan kerja di bawah standar. Di Malaysia sangat sulit untuk menuntut majikan karena keterbatasan permit pekerja asing yang jika dilanggar dapat ditindak dan dideportasi. NGO menyarankan agar masalah paspor, wages dan one-day off sebagai hal yang mendasar tidak bisa ditawar lagi untuk diperjuangkan pihak Indonesia, dan dilanjutkan pada isu-isu lainnya seperti adanya pengecualian dari ketentuan undang-undang yang tidak membolehkan pekerja asing untuk menikah dan membawa famili, tetapi ternyata dibiarkan terjadi di Sabah. Hal ini disarankan untuk dijadikan bahan pembicaraan dalam
102

pembahasan MoU Malaysia-RI di Jakarta. Selanjutnya dalam rangka meningkatkan perlindungan kepada pekerja asing PLRT di Malaysia, disarankan agar penempatannya tidak melalui PJTKI tetapi G to G, dan diharapkan jangan mengirim TKI melalui Outsourcing Agent. Sementara remintansi TKI yang besar dan kutipan US$15 setiap penempatan sudah selayaknya dikembalikan untuk membantu TKI yang bermasalah. Pihak Indonesia juga diharapkan untuk memperjuangkan adanya shelter di negara tujuan migrasi tenaga kerja. 3) KBRI Kuala Lumpur menginformasikan bahwa di Malaysia ada sekitar 2 juta WNI termasuk TKI dan yang undocumented. Permasalahan yang muncul merupakan pelanggaran kemanusiaan dan sudah berlangsung lama tanpa diketahui. Sebagian besar masalah TKI adalah tidak dibayar gajinya dan dianiaya. Malaysia juga terkesan membiarkan adanya majikan yang mempekerjakan TKI ilegal terutama di bidang konstruksi, namun majikan berdalih bahwa yang mempekerjakan TKI ilegal adalah Outsourcing Agent yang merekrut tenaga kerja dan kebetulan boss-nya adalah orang Indonesia. Walau menurut Undang-undang Malaysia para pekerja asing tidak dibolehkan membawa isteri dan anak, faktanya di Sabah, Malaysia Timur terdapat anak-anak TKI yang tidak bersekolah yang jumlahnya menurut LSM Humana mencapai 70.000 anak (pendataan KBRI 34.000 anak). Namun ketika PATI dan keluarganya hendak dideportasi, para pengusaha tempatan merasa keberatan karena akan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar. Malaysia kemudian setuju untuk mengadakan pemutihan dan bahkan memotong pajak (levy) pekerja asing dari RM 2,000 menjadi RM 1,000 saja. Saat ini ada sekitar 217.000 PATI Indonesia dan keluarganya sedang dalam proses pemutihan. Masalah anak-anak TKI ternyata juga terdapat di Port Klang, ada sekitar 60 anak-anak yang ditampung oleh warga tempatan karena orang tuanya kerja serabutan. Masalah ini sudah ditangani oleh KBRI Kuala Lumpur. Malaysia juga mengeluarkan kebijakan pengampunan bagi PATI yang akan pulang ke negara masing-masing. Mereka tidak akan ditangkap tetapi harus membayar denda dan exit memo sebesar RM 400. Kebijakan ini akan berakhir bulan Oktober 2009 namun ada kemungkinan diperpanjang.
103

Menanggapi Inpres No. 6 Tahun 2006 tentang Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI, dalam rangka implementasi UU No. 39 Tahun 2004 tentang PPTKLN yang mengharuskan adanya laporan penempatan ke Perwakilan RI, KBRI Kuala Lumpur akan menerapkan “Welcoming Program“ dengan menerima penempatan TKI di KBRI dan KJRI sekaligus memberikan briefing tentang berbagai hal yang harus diketahui oleh TKI. KBRI juga melaporkan telah mengajukan anggaran untuk membangun penampungan (shelter) yang layak. Kapasitas penampungan yang ada di KBRI KL sekarang adalah 70 orang namun terpaksa harus diisi sampai 141 orang, dengan waktu sampai 6 bulan bahkan ada yang terganggu jiwanya. KBRI menyambut baik rencana Depsos untuk menempatkan Pekerja Sosial di shelter KBRI untuk membantu pemulihan psikososial TKI Bermasalah yang ada di penampungan. Dari remitansi TKI yang besar, KBRI mengusulkan adanya kebijakan tentang pemberian kredit lunak bagi pembiayaan rekrutmen, penampungan, diklat dan penempatan TKI sehingga tidak memberatkan yang bersangkutan dan terhindar dari jeratan hutang dari PPTKIS atau sponsor, yang berakibat harus membayar hutang tersebut dengan gajinya selama 6 bulan. Diinformasikan bahwa Bank Syariah telah siap untuk membantu. KBRI memerlukan adanya capacity building bagi SDM-nya yang mungkin dapat didukung oleh IOM. 4) Agency Pekerjaan Sri Nadin di Kuala Lumpur adalah salah satu Agency yang menjalin kerjasama dengan PPTKIS di Indonesia untuk penempatan TKI PLRT di Malaysia. Setelah kedatangannya di Malaysia, para calon PLRT mendapat diklat singkat mengenai bahasa, dan berbagai keterampilan pekerjaan rumah tangga. Selama penempatan, bagi PLRT yang mengalami masalah psikososial (kangen, belum serasi berhubungan dengan majikan dan keluarga) dapat ditempatkan kembali di Agency untuk mendapat treatment dari para tutor yang berpengalaman dan mempunyai kemampuan multi bahasa.

104

3. Di Singapura, Tim bertemu dengan KBRI, Kementerian Tenaga Kerja, NGO (Task Force on ASEAN Migrant Worker; HOME: The Humanitarian Organization for Migration Economics; TWC2 (The Working Committee 2), dan meninjau kantor HOME di Geylang, Singapura. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian dan tindak lanjut: 1) KBRI Singapura menginformasikan bahwa ada sekitar 158.000 WNI di Singapura yang terdiri dari 85.000 orang PLRT, 10.000 orang Pelaut Indonesia, 21.000 orang profesional (finansial, jasa, perbankan), 15.000 orang pelajar/ mahasiswa, dan lainnya pengusaha atau permanent resident. Untuk memberikan pelayanan kepada WNI di Singapura, KBRI menerapkan reformasi birokrasi sejak tahun 2007 dan kini sudah mendapat ISO dan berbagai penghargaan untuk pelayanan publik yang ramah, murah, cepat dan transparan. Setiap tahun KBRI Singapura menghasilkan PNBP sekitar 10 juta Sin$ yang kurang lebih setara dengan biaya operasional KBRI, dan telah memberikan visa sekitar 63.000 per tahun untuk orang asing. Untuk perlindungan bagi 85.000 orang PLRT dan 10.000 orang pelaut Indonesia, KBRI telah menyusun SOP dan membuka Hotline 24 jam termasuk memberikan biaya taksi bagi WNI yang harus pergi ke KBRI dalam keadaan darurat. KBRI menyediakan penampungan dengan kapasitas 150 orang yang terisi rata-rata 120 orang per bulan. Penampungan dilengkapi dengan poliklinik, pelatihan secara individual dan kelompok, serta pemberdayaan melalui magang dan menjadi cleaning service di KBRI (dibayar Sin$ 10 per hari untuk maksimum 15 hari per bulan). Magang termasuk membantu pelayanan foto dan fotocopy yang dilaksanakan oleh Dharma Wanita Persatuan KBRI Singapura. Kasus umum yang terjadi di Singapura adalah gaji tidak dibayar, tidak kerasan, dan tindak kekerasan yang banyak disebabkan karena ketidakpahaman PLRT terhadap sistem, gaya hidup dan budaya masyarakat Singapura. Tahun 2008 ada 1.400 kasus yang diselesaikan dengan 60% pulang ke Indonesia, dan selebihnya bekerja pada majikan baru. Respon Kepolisian Singapura sangat baik dan pengadilan kasus-kasus diberitakan di media, yang memberikan efek jera karena masalah pencitraan sangat penting bagi Singapura.

105

Pemulangan PLRT dilakukan langsung ke daerah asalnya yang dibiayai oleh majikan dan diurus sepenuhnya oleh KBRI Singapura. KBRI juga memfasilitasi perpanjangan kontrak antara majikan dan PLRT setelah habis masa kontraknya (2 tahun). KBRI memfasiilitasi untuk mengusulkan kenaikan gaji, 1 dayoff, dan kontrak kemudian dilegalisasi konsuler untuk mengurus permit kerja ke Ministry of Manpower (MOM). KBRI juga melakukan akreditasi terhadap PJTKA Singapura, tahun 2006 dari 250 agency setelah akreditasi terdapat 125 agency yang dinilai baik. Hal yang sama disarankan juga dilakukan di dalam negeri untuk memperoleh PJTKI yang berkualitas dan bertanggung jawab. KBRI juga melakukan upaya pengembangan SDM melalui pelatihan setiap 2 minggu sekali dalam bentuk kursus Bahasa Mandarin, Bahasa Inggris, Memasak dan Siraman Rohani. Lebih lanjut, KBRI bulan Februari 2009 mendirikan Pusat Pendidikan dan Pelatihan PLRT Singapura secara formal dan bersertifikat, dengan biaya pendaftaran Sin$ 50 per paket diklat, yaitu: Bahasa Inggris (Beginner, Advance), Komputer, Paket B dan C, dan Universitas Terbuka (4 jurusan). Pusat Diklat ini didukung oleh mahasiswa Indonesia (61 orang), dan operasionalnya antara lain didukung oleh DWP KBRI Singapura melalui hasil usaha foto dan fotocopy di KBRI (40% dari keuntungan yang diperoleh). Untuk PLRT Purna Kerja yang kembali ke daerah asalnya, diperlukan adanya pembinaan lanjutan (pendampingan) agar mampu bekerja dan atau berusaha dengan baik. Berkaitan dengan Inpres No. 6 Tahun 2006 tentang Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI, KBRI Singapura selalu menginformasikan job-order dari Singapura ke Jakarta, namun belum secara on-line. Diperlukan pembahasan bersama untuk operasionalisasi on-line system sebagaimana dimandatkan oleh Inpres No. 6 Tahun 2006. Untuk meningkatkan penempatan dan perlindungan TKI, KBRI Singapura merintis kerjasama dengan Pemda Wonogiri untuk memperpendek jalur rekrutmen, persiapan (community based training) dan penempatan TKI (PLRT), sehingga cost-structure dapat ditekan serendah mungkin agar tidak memberatkan TKI/PLRT dalam mengembalikan hutangnya melalui pemotongan gajinya setelah bekerja di Singapura.
106

2) Ministry of Manpower (MOM) Singapura menginformasikan bahwa kebijakan terhadap pekerja asing adalah menarik tenaga ahli (talent) asing secara seimbang dengan pengembangan tenaga ahli lokal. Untuk tenaga ahli asing dalam rangka pengembangan ekonomi dan daya saing Singapura, diberikan pas kerja, fasilitas dan pajak (levy) yang berbeda dengan tenaga kerja terampil (mid-skilled) dan tenaga kerja unskilled/semi-skilled. Bagi perusahaan/majikan yang akan mempekerjakan pekerja asing, diharuskan membayar security bond sebesar Sin$5,000 untuk memastikan pekerja asing tersebut dapat kembali ke negara asalnya pada akhir hubungan kerja. Pekerja asing juga harus mengikuti medical check untuk memastikan tidak membawa penyakit menular dan sehat untuk bekerja. Untuk kelompok tertentu, pekerja asing juga harus menjalani test HIV dan TB. Untuk asurasi kesehatan, perusahaan/majikan harus membayar sedikitnya Sin$5,000 per tahun. Khusus untuk PLRT, karena tidak masuk dalam Akta Kompensasi Kecelakaan Kerja, majikan harus membayar Asuransi Kecelakaan Pribadi dengan pertanggungan sedikitnya Sin$40,000 untuk PLRT-nya. Sangat disayangkan bahwa MOM tidak memiliki statistik tentang pekerja asing dari Indonesia. MOM juga tidak menetapkan upah minimum PLRT tetapi menyerahkannya dalam hubungan supply-demand antara PLRT dan majikan (rata-rata gaji PLRT sekarang Sin$350). Persyaratan untuk PLRT asing di Singapura menurut MOM adalah berumur minimal 23 tahun dan menempuh 8 tahun pendidikan formal. Pihak MOM mengatakan bahwa banyak kasus ditemukan, PLRT Indonesia secara fisik diperkirakan umurnya lebih rendah daripada yang tertera dalam dokumen (paspor). PLRT asing yang baru datang ke Singapura mendapat Safety Awareness Cource (SAC) yang mendidik PLRT tentang praktek keselamatan, nomor kontak dan bantuan, hak, kewajiban dan perlindungan di bawah Undang-undang Singapura, dan paket informasi lainnya. PLRT secara hukum mendapat hak minimum satu hari libur, namun ketentuan libur ini dapat dinegosiasikan majikan agar PLRT tetap bekerja dengan mendapat kompensasi. Secara random, PLRT asing diwawancarai untuk meyakinkan bahwa PLRT mampu

107

beradaptasi dengan suasana kerja dan suasana tinggal di masyarakat Singapura. Agency Tenaga Kerja di Singapura diatur melalui peraturan perundang-undangan (Employment Agencies Act), perijinan dan akreditasi. Ijin diberikan melalui penelitian track record dan jaminan Sin$10,000 atau Sin$20,000. Pelanggaran yang dilakukan Agency akan dinilai dan dapat berakibat pada pencabutan ijin. Untuk Agency Penempatan PLRT, wajib diakreditasi pada tahun pertama beroperasi, oleh dua badan independen yaitu Asosiasi Agency Tenaga Kerja (Singapura) dan CaseTrust. 3) NGO Singapura menghargai upaya IOM untuk yang pertama kalinya telah mempertemukan Official Pemerintah Indonesia dengan NGO Singapura. Diharapkan agar pertemuan ini berlanjut menjadi jejaring dalam tukar-menukar infomasi secara berkelanjutan. Berdasarkan pengalaman NGO Singapura dalam membantu Pekerja Asing asal Indonesia yang bermasalah, diinformasikan bahwa telah terjadi berbagai praktek yang tidak baik oleh Agency Tenaga Kerja Indonesia dan Singapura, seperti misalnya untuk memenuhi persyaratan umur PLRT di Singapura (23 tahun) sering kali umur PLRT yang masih muda dituakan dalam dokumennya. Dengan semakin cepatnya seseorang mencapai kedewasaan fisik dan psikologisnya, kiranya perlu diadakan pertemuan dengan Pemerintah Singapura mengenai batasan umur ini (agar dapat diturunkan). Agency sering mengatakan kepada PLRT bahwa tidak ada “one-day off“, dan meminta PLRT untuk tetap bekerja. Kompensasinya dimasukkan sebagai pengembalian pinjaman untuk biaya pelatihan dan penempatan. Agency Singapura membayar Sin$ 2,000 kepada PJTKI untuk rekrument, tetapi ini dianggap sebagai pinjaman PLRT. Menurut Undangundang Singapura, placement fee dibayar 10% dari gaji PLRT, tetapi karena disebut sebagai pinjaman, maka Pemerintah Singapura tidak bisa menindak kejadian pemotongan gaji PLRT yang dapat berlaku selama 8-10 bulan. Untuk PLRT Filipina, karena gajinya lebih besar, pemotongannya dapat lebih cepat.

108

Agency Singapura juga mengambil (paksa) materi dari Safety Awareness Cource (SAC) sehingga PLRT menjadi terputus hubungan dengan lingkungan luar, sehingga berbagai perlakuan majikan yang tidak baik tidak terdeteksi dan atau tidak terlaporkan. Agency lebih senang dengan PLRT yang masih muda karena gajinya murah dan lebih penurut. Menurut pengamatan NGO, PLRT Indonesia walaupun mempunyai sertifikat lulus bahasa Inggris tetapi dalam prakteknya tidak mampu berkomunikasi dengan majikan, kurang familiar dengan berbagai peralatan elektronik dan peralatan rumah tangga keluarga Singapura, dan mengalami culture shock. Menurut Undang-undang Singapura, selama 2 tahun hubungan kerja, pekerja asing (PLRT) tidak boleh hamil, yang akan diketahui karena setiap 6 bulan sekali harus menjalani check medis. Bagi yang hamil diberikan alternatif digugurkan (legal dan murah di Singapura), atau kembali pulang ke negara asalnya. Hal ini disarankan oleh NGO untuk menjadi bahasan bagaimana menangani PLRT dan atau siswa Indonesia yang hamil di Singapura. Untuk memberikan perlindungan yang lebih lebih baik kepada pekerja sektor informal (di Singapura), Indonesia diharapkan dapat mengakui pekerja sektor informal sebagai “pekerja“, sehingga dapat dipergunakan untuk berunding dengan negara penempatan. Indonesia juga perlu menginfomasikan kepada NGO Singapura tentang prosedur penempatan dan perlindungan pekerja migran agar dapat membantu mengadvokasi berbagai pihak yang terkait. NGO Singapura mengharapkan agar pembicaraan dengan Pemerintah Indonesia diteruskan dan membentuk networking. Berbagai informasi tentang agency yang nakal, peraturan tentang PJTKI, kontak person, dan hotline kiranya dapat disampaikan untuk kedua belah pihak. Pertemuan seperti ini hendaknya diikuti dengan pertemuan selanjutnya, yang mungkin dapat difasilitasi oleh IOM. 4) Kantor HOME (The Humanitarian Organization for Migration Economics) yang didirikan tahun 2004, mempunyai visi: “Membangun Budaya Selamat Datang, di mana Tidak Ada Laki-laki, Perempuan dan Anak sebagai Orang Asing. Kita adalah Keluarga”. Untuk melaksanakan misinya: (1) Mengembangkan riset dan pendidikan tentang

109

sosial ekonomi migrasi di Singapura (2) Menyediakan layanan reintegrasi sosial kepada emigran dan imigrant, dan (3) Menyediakan bantuan kemanusiaan bagi dampak dari krisis migrasi, HOME mempunyai shelter, layanan kesehatan, kampanye kepada majikan, bantuan hukum dan mediasi. Banyak PLRT asal Indonesia yang ditampung di HOME dan sedang dalam proses mendapat bantuan untuk menyelesaikan masalahnya. Bekerjasama dengan Agency Tenaga Kerja, HOME memberikan pekerjaan kepada PLRT yang sedang dalam proses mediasi, dalam lingkungan kerja yang benar-benar terkontrol. Untuk operasional, HOME mengharapkan ada kontribusi dari IOM.***

110

Studi Visit Tim Gabungan, LSM dan IOM ke Kuwait dan Bahrain Kuwait-Bahrain, 3-8 Oktober 2009

1.

International Organization for Migration (IOM) Kantor Jakarta memfasilitasi studi visit Tim Gabungan ke Kuwait dan Bahrain sebagai upaya membantu Pemerintah Indonesia dalam mengatasi tantangan-tantangan migrasi tenaga kerja saat ini dan ke depan. Tim Gabungan dipimpin oleh Staf Ahli Menko Perekonomian Bidang Ketenagakerjaan, dengan anggota dari Depnakertrans, BNP2TKI, Kemenko Kesra, KNPP, Depsos, Depdagri, Bareskrim Mabes Polri, serta Peneliti NGO dan IOM.

2. Di Kuwait, Tim bertemu dengan Kementerian Luar Negeri, Kementerian Kehakiman, Sosial dan Tenaga Kerja, Kementerian Dalam Negeri (Domestic Labour Department dan Immigration Department); NGO Human Rights Organization: Graduate Society of Kuwait; Agency Tenaga Kerja (PJTKA) Kuwait; KBRI; Perkumpulan Masyarakat Indonesia di Kuwait; shelter Pemerintah Kuwait dan shelter KBRI, UNDP Kuwait, dan Peneliti dari Kuwait University. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian: 1) Kuwait adalah salah satu negara tujuan penempatan TKI. Negara berpenduduk 3,052 juta jiwa ini, dengan luas wilayah 17.820 km2, berarti kepadatan penduduknya sekitar 168 jiwa/km2. Penduduk asli Kuwait berjumlah kurang lebih 1 juta jiwa, sisanya merupakan pekerja asing (ekspatriat). Pendapatan per kapita penduduk Kuwait adalah US$ 34.500 (2007) yang berasal dari ekspor minyak dan produk olahannya. Potensi penempatan TKI terutama di bidang perminyakan, konstruksi, kesehatan (nurses), pendidikan, arsitektur, elderly care dan babby sitter (domestic worker). Penanganan Pekerja Asing di Kuwait dilakukan oleh Kementerian Kehakiman, Sosial dan Tenaga Kerja bagi ekspatriat yang bekerja di sektor formal, sementara untuk sektor informal seperti pekerja rumah tangga dilakukan oleh Domestic Labour Department, Departemen Dalam Negeri. Sistem rekruitmen adalah sponsorship, melalui kontrak
111

bisnis, kerjasama pemerintah, swasta dan untuk domestic worker melalui Agency Tenaga Kerja Kuwait (PJTKA), bekerja-sama dengan PPTKIS di Indonesia. Tahun 2008, Kuwait oleh Pemerintah AS ditetapkan berada pada Tier III dalam kasus perdagangan orang (Trafficking in Persons), menurun dari tahun sebelumnya (Tier II). Dalam rangka penanganan korban, Pemerintah Kuwait berencana membangun shelter Pemerintah dengan kapasitas 700.000 orang yang akan dioperasionalkan oleh Lembaga lintas sektor. Direktur Konsuler Kementerian Luar Negeri, menyampaikan bahwa Kuwait berketetapan untuk meningkatkan perlindungan HAM dan menghapus diskriminasi atas dasar gender, warna kulit/ras, dan agama. Kuwait merupakan salah satu negara yang dikenal menjamin hak-hak pekerja dan menyediakan layanan dan fasilitas yang memadai untuk ekspatriat. Kuwait telah berpengalaman dalam memberlakukan secara fair para tenaga kerja asing yang berasal dari lebih 100 negara yang bekerja baik dalam sektor publik maupun domestik. Kuwait menyatakan mendukung berbagai kemungkinan kerjasama dengan Pemerintah RI. Under Secretary Kementerian Kehakiman, Sosial dan Tenaga Kerja menyampaikan bahwa tidak ada perlakuan yang berbeda terhadap pekerja asing (ekspatriat). Untuk sektor formal (pemegang visa 18) tidak ada masalah, berbeda dengan sektor informal (pemegang visa 20) yang tidak diatur dalam Undang-undang Ketenagakerjaan (Private Sector Law of Labour), tetapi di bawah Undang-undang Ijin Tinggal Orang Asing (Aliens Resident Law). Kementerian Kehakiman, Sosial dan Tenaga Kerja akan ke Indonesia untuk pembahasan lebih lanjut/revisi MoU antara RI dan Kuwait yang disepakati tahun 1996. Untuk menekan permasalahan pekerja rumah tangga, disarankan agar ditingkatkan penyelenggaraan cultural training bagi calon pekerja rumah tangga (culture, nature, climate, law dan lain-lain tentang negara Kuwait). Immigration Department dan Domestic Worker Department, Ministry of Interior Kuwait menyampaikan bahwa dunia internasional telah menekan Kuwait untuk meningkatkan perlindungan terhadap domestic worker di Kuwait. Pemerintah Kuwait bertekad meningkatkan perlindungan kepada domestic worker melalui program
112

untuk mengamandemen undang-undang terkait perlindungan pekerja asing terutama pekerja rumah tangga, pemberantasan kejahatan terorganisir, kejahatan lintas negara dan trafficking in persons, antara lain menggunakan pasal 185 Criminal Code yang mengancam memberikan hukuman penjara sampai dengan 5 tahun dan denda KD 3.000 (1 KD = Rp 35.000,-), dan bertambah berat hukumannya jika diulangi kejahatannya. Pemerintah Kuwait juga berencana membangun Home Helper Operating Agency yang dilengkapi dengan fasilitas general check-up, penampungan, pakaian, transportasi, ID Card (untuk yang paspornya ditahan majikan). Juga akan dilengkapi dengan kegiatan pemberdayaan melalui workshop, training, pendidikan dan juga pemberian informasi. Untuk operasional Home Helper Operating Agency ini, diperlukan trainee yang berpengalaman dari negara pengirim tenaga kerja. Sampai dengan saat ini, domestic worker di Kuwait terbesar berasal dari India (576.881 orang), Filipina (103.069 orang), Sri Lanka (98.634 orang) dan Indonesia (64.780 orang). Dalam kesempatan ini, menanggapi permintaan KBRI untuk mempercepat proses pengambilan sidik jari TKW yang ada di penampungan KBRI Kuwait, diminta agar data para TKW Indonesia tersebut segera disampaikan ke Immigration Department, agar dapat segera diproses. 2) Pihak NGO menyampaikan bahwa telah melakukan promosi ke pihak Parlemen Kuwait untuk mengamandemen undangundang agar juga mengatur mengenai pekerja rumah tangga. Menurut pengamatan NGO, kekurangan pekerja domestik Indonesia adalah formulasi kontrak dan kelemahan dalam pelatihan. Diusulkan agar kontrak juga diketahui oleh KBRI. Diperlukan adanya workshop, dan training yang lebih baik kepada lawyers Kuwait mengenai HAM termasuk tentang Anti Trafficking in Persons. IOM diminta untuk memfasilitasi kegiatan tersebut. Pihak NGO juga berpendapat perlunya perlakuan non-fisik di shelter yang direncanakan akan dibangun dengan kapasitas 700.000 orang. Disinggung pula mengenai isu “black magic“ yang dimiliki oleh calon pekerja rumah tangga Indonesia yang membuat hubungan dengan majikan menjadi kurang baik. NGO Kuwait sependapat perlunya sosialisasi yang lebih luas tentang trafficking in persons kepada masyarakat Kuwait.

113

Dari pihak Perkumpulan Masyarakat Indonesia di Kuwait, akan berupaya membantu mensosialisasikan tentang Indonesia khususnya pariwisata kepada masyarakat Kuwait, dengan merencanakan kegiatan pameran foto dari fotografer Indonesia di Kuwait. Selain pembinaan masalah sosial dan budaya masyarakat Indonesia di Kuwait, juga akan dibangun jaringan informasi peluang kerja di Kuwait dengan kelembagan masyarakat di Indonesia. 3) Agency Tenaga Kerja (PJTKA) Kuwait (KAM, Abu Faizal Alderbas, Abdul Aziz Al Ali, Al Aman, dan AlFail Kawi) menjelaskan prosedur perekrutan TKW untuk pekerja rumah tangga. Agency Kuwait, untuk keperluan rekrutmen dan penerimaan TKW di Kuwait, mengangkat TKI sebagai LO PJTKA tersebut. Mereka datang ke Indonesia, sering kali melalui APJATI, memilih PPTKIS sebagai rekan kerja di Indonesia dan memberikan job order serta berbagai persyaratan yang diminta. PPTKIS merekrut calon TKW dan mengirim bio data mereka ke PJTKA Kuwait untuk ditawarkan kepada employer. Employer yang bersangkutan mengajukan permohonan visa (perseorangan) ke Immigration Department dan kemudian dikirimkan ke PPTKIS untuk pemberangkatan calon TKW yang disetujui. PJTKA Kuwait menjemput di Bandara, tidak boleh lebih dari 2 jam, karena jika tidak, calon TKW oleh petugas Bandara akan dibawa ke shelter dan untuk menebusnya dalam waktu 24 jam, harus membayar denda. Selanjutnya calon TKW istirahat di PJTKA untuk isitirahat dan diberikan briefing mengenai bekerja di Kuwait. PJTKA lalu memberitahu kepada employer untuk menjemput calon TKW, namun ternyata hal ini tidak diinformasikan ke KBRI. Kepada employer diberikan jaminan selama 6 bulan, jika tidak ada kecocokan dapat dikembalikan ke PJTKA untuk diganti. Bagi TKW yang ditolak employer akan dilakukan lobby, dan seandainya tetap ditolak akan dimintakan „release“ dari employer agar dapat dicarikan majikan yang baru. Selama mencari majikan yang baru Calon TKW menunggu di PJTKA, dan seandainya tidak ada employer yang mau, maka calon TKW akan dipulangkan ke Indonesia. Masalahnya adalah bahwa jaminan pengembalian calon TKW ke PPTKIS hanya selama 3 bulan, selebihnya menjadi tanggungan PJTKA. Masalah yang lain adalah bahwa calon TKW yang bermasalah banyak yang lari ke KBRI, dan dalam

114

hubungan ini, keinginan PJTKA untuk membantu shelter KBRI tidak diijinkan oleh KBRI Kuwait. Walaupun setiap TKI diwajibkan untuk membayar asuransi dari konsorsium yang ditetapkan Depnakertrans sebesar Rp 400.000,- per orang selama 2 tahun untuk pertanggungan penuh (tiket, gaji tidak dibayar, kesehatan, bantuan hukum), namun dalam prakteknya sulit untuk diklaim karena TKI/TKW tidak memegang Kartu Peserta Asuransi (KPA). Sesuai arahan dari KBRI, Agency Kuwait mengasuransikan TKI tetapi hanya untuk pertanggungan kecelakaan dan meninggal sebesar KD 9 (Rp 315.000,-) untuk dua tahun kontrak kerja. 4) Dari pertemuan dengan UN Representative Kuwait dan Peneliti dari Kuwait University, diperoleh masukan kepada Pemerintah Indonesia untuk melakukan monitoring dan evaluasi dan mengadakan pertemuan secara rutin/periodik dengan TKI di Kuwait. Melakukan koordinasi dan konsolidasi secara terus- menerus dengan Pemerintah Kuwait terutama untuk menggali kebutuhan khusus masyarakat Kuwait yang kemudian diwujudkan dalam bentuk materi training kepada calon TKI/TKW. Perwakilan RI juga diminta untuk menerbitkan semacam ID-card agar TKI/TKW yang bermasalah dapat segera diketahui identitasnya dan diberikan bantuan. Kuwait University menyampaikan upayanya dalam mempromosikan agar para employer yang menyebabkan terjadinya TKI Bermasalah dapat diproses secara hukum. Agar para domestic worker dapat bekerja tanpa memikirkan keluarganya, Kuwait University juga sedang mempromosikan adanya migration family. Membandingkan dengan TKW India yang paling banyak jumlahnya di Kuwait, diinformasikan bahwa TKW India lebih baik bahasa Inggrisnya, sedikit yang lari dari majikan, memiliki mindset yang memang mau bekerja di Kuwait, serta memiliki jaringan sesama bangsa India yang lebih baik. Disampaikan bahwa ke depan, Kuwait akan banyak memerlukan elderly care yang juga mempunyai pengetahuan dasar pengobatan. 5) KBRI Kuwait melaporkan bahwa saat ini ada 616 TKW bermasalah di shelter KBRI yang sempit sehingga berdesakdesakan. Jumlah tersebut di luar 20 orang TKW bermasalah yang dititipkan di shelter Pemerintah Kuwait, menunggu proses penyelesaian masalahnya.
115

Duta Besar RI di Kuwait dalam pertemuan dengan Immigration Department Kuwait menyatakan bahwa sudah tersedia 600 tiket di KBRI untuk pemulangan TKW Bermasalah dan kemudian memohon agar proses finger printing dipercepat. Namun ternyata hanya tersedia 90 tiket, sisa dari alokasi BNP2TKI sejumlah 100 tiket yang sudah dipergunakan 10 tiket. Atas upaya Tim, diperoleh alokasi tambahan tiket dari BNP2TKI sebanyak 100 tiket lagi sehingga tersedia 190 tiket. Dalam hubungan ini, pihak konsorsium asuransi di Indonesia hendaknya ikut bertanggung jawab dalam pemulangan TKI/TKW bermasalah di Kuwait. Sebagai tindak lanjut pertemuan Tim dengan Kementerian Luar Negeri Kuwait, Sheikh Jaber Al Mubarok telah berkunjung ke shelter KBRI Kuwait dan hari berikutnya petugas dari Immigration Department Kuwait datang ke shelter KBRI Kuwait untuk melaksanakan finger printing TKI/TKW bermasalah untuk proses selanjutnya. Diharapkan clearance dari Immigration Kluwait dapat segera keluar sehingga TKI/TKW Bermasalah dapat segera dipulangkan ke Indonesia. Jumlah TKI yang lari ke KBRI beberapa tahun terakhir ini memang banyak. Tahun 2008 mencapai 3.340 orang, sementara dari Januari-Juli 2009 sudah 1.597 TKI yang lari ke KBRI, dan jumlahnya di shelter selama kurun waktu tersebut mencapai 2.884 orang, yang memerlukan biaya negara rata-rata Rp 2 milyar per tahun. Jika dibandingkan dengan jumlah kedatangan TKI, maka tahun 2008, sebesar 16% TKI yang datang/lari ke KBRI, dan meningkat tahun 2009 menjadi 26%. Permasalahan sebagian besar karena gaji yang tidak dibayar (29%), majikan cerewet/galak (24%) dan perlakuan kasar (16%). Menurut pengacara yang disewa KBRI, penyelesaian masalah terkait dengan perkara perdata (gaji tidak dibayar) maupun pidana (penganiayaan, pelecehan seksual) melalui pengadilan memang dapat memerlukan waktu lama terbukti ada TKW yang sudah 2 tahun berada di penampungan, masalahnya belum terselesaikan. Kasus anak yang terlahir akibat hubungan TKW dengan ekspatriat/orang Kuwait, juga memerlukan penyelesaian yang lama, karena anak tersebut tidak bisa dibawa pulang ke Indonesia jika ibunya tidak bersedia pulang.

116

Dari observasi yang dilakukan, diperoleh data 62 TKI/TKW yang pada saat direkrut dan dikirim ke Kuwait dan Bahrain, masih berusia antara 14-18 tahun. Berdasarkan data dari KBRI, tahun 2006 terdapat 142 Agency (PJTKA) di Kuwait, tetapi setelah dilakukan pengelompokan, pada Februari 2009 jumlahnya menjadi 122 agency. Bulan Mei 2009, BNP2TKI melakukan kerjasama dengan KUDLO (Kuwait Union of Domestic Labour Offices), dan saat ini terdapat sejumlah 88 agency. Pada tanggal 14 September 2009, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi mengeluarkan surat moratorium pengiriman TKI ke Kuwait, namun surat tersebut belum diterima oleh KBRI Kuwait, yang oleh Staf Depnakertrans kemudian diberikan copy suratnya. Surat tersebut sebetulnya telah dikirim melalui email kepada Atase Tenaga Kerja di Kuwait namun belum tersosialisasikan kepada Staf KBRI yang lain. 6) Berikut kutipan dari Koran Arab Times, terbitan 5 Oktober 2009: Kuwait cares for safety, welfare of all expatriates – Al-Rawdhan
‘Indonesian Team’s visit opens new horizons of cooperation’ KUWAIT CITY, Oct 4, (KUNA): Director of Kuwaiti Foreign Ministry’s Consular Affairs Department Hamoud Youssef Al-Rawdhan said Sunday his country cares for the safety and welfare of all foreign nationals particularly the housemaids. “The state of Kuwait, out of keenness on protection of human rights, fights all forms of discrimination based on gender, color or religion,” AlRawdhan said during his meeting with a visiting Indonesian delegation. “Kuwait is reputed to be one of the leading countries that guarantee all rights of workers and provide them with the facilities that suit their convenience on equal footing,” he affirmed. “With nationals of some 100 countries working in it, Kuwait has a long experience in dealing fairly with expatriate workers whether in the public or private sectors,” Al-Rawdhan pointed out. He promised to offer all possible help to the Indonesian delegation during their stay here, highlighting the importance of the cooperation deals signed by the two countries. The delegation, now on a visit to Kuwait, includes representatives of several sectors concerned with labor affairs. On his part, advisor at the Indonesian Ministry of Economy and chief of the delegation Erivan (Arifin) Habibi said the visit to Kuwait opened new horizons of cooperation.

117

Loopholes Speaking to KUNA, Habibi said there are some loopholes in the operation of the Kuwaiti private employment offices which bring unqualified workers from Indonesia and other countries. “In some cases the workers are unable to accommodate themselves to living and working in Kuwait due to the difference in customs, traditions and cultures,” he pointed out. “The delegation was updated on the work regulations in Kuwait as well as the mechanisms of bringing foreign workers,” he said, highlighted the need of his country to launch specialized institutes for qualifying workers for overseas employment. The visit of the delegation is part of the program of the International Organization for Migration (IOM) on international dialogue on migration and regional consultative processes. The program aims to enhance exchange of information between Indonesia, Malaysia, Singapore, on one hand and the Middle East migrant-recipient countries including Kuwait and Bahrain, chief of the IOM mission in Kuwait Fawzi Al-Ziod said in statements to KUNA. “It backed the Indonesian government in its efforts to manage its expatriate workers”. “The aim of the program is to build the capacity of governments in tackling the migration issues and challenges,” Al-Ziod noted. Meanwhile, Kuwait has always been top among nations in the realm of addressing affairs related to work development and has been keen on protection of workers’ rights, an official said on Sunday. Undersecretary for Ministry of Social Affairs and Labor Mohammad AlKandari told KUNA after meeting with the Regional Director and Assistant Director-General of the International Labor Organization (ILO) Office for Arab States in Beirut, Nada Al-Nashif, that the organization’s role is important and deserves praise. He affirmed Kuwait’s continuous bids to ensure enforcement of international conventions and laws for the protection of the workers. Al-Kandari noted significance of the workshop, organized by Kuwait for GCC for the issue of culture leadership and the business world, due to open here on Monday and proceed till Thursday. For her part, Al-Nashif thanked the officials of the ministry for warm welcome and participation in the workshop, due to be under auspices of Minister of Social Affairs and Labor Dr Mohammed Al-Afasi.

118

7) Berdasarkan berbagai masalah tersebut, diusulkan langkahlangkah tindak lanjut sebagai berikut: a. Mengupayakan penyelesaian kasus TKI Bermasalah di KBRI Kuwait dan yang ada di shelter Pemerintah Kuwait, dengan bantuan Pemerintah Kuwait agar TKIB tersebut dapat segera dipulangkan ke Indonesia. b. Mengupayakan biaya tiket pemulangan TKI Bermasalah di Kuwait yang sudah ada sejumlah 190 tiket, dan masih memerlukan biaya tambahan sekitar Rp 5 milyar untuk sisanya. c. Mengupayakan agar konsorsium asuransi ikut bertanggung jawab dalam pemulangan TKI/TKW Bermasalah dari Kuwait dan negara Timur Tengah lainnya. d. Merencanakan penerimaan TKI Bermasalah di Jakarta, yang memerlukan pendataan yang lebih teliti termasuk digital biometrik, penampungan dan “pengarahan” kepada TKI yang bersangkutan agar lebih menyiapkan diri jika ingin bekerja ke luar negeri. e. Koordinasi inisiasi (pilot project) networking data-base biometric digital antara Ditjen Adminduk, Depdagri – Bareskrim Mabes Polri – Ditjen Imigrasi, Depkumham, dengan dukungan teknis dari Depkominfo. f. Penyusunan RPJMN 2010-2014 tentang tahapantahapan penyelesaian 80-90 persen permasalahan TKI yang terjadi di dalam negeri. g. Pemutakhiran Inpres No. 6 Tahun 2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan TKI, khususnya pada bagian lampiran karena tenggat waktu telah terlampaui sehingga diperlukan adanya langkah-langkah pembaharuan. Untuk itu, diperlukan adanya laporan menyeluruh tentang pelaksanaan Inpres No. 6 Tahun 2006 tersebut. h. Perlu revitalisasi Pokja Perlindungan yang dibentuk oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dengan program kerja yang lebih komprehensif dan terarah, didukung oleh dana yang mencukupi.

119

3. Di Bahrain, Tim bertemu dengan Kepala Kantor Urusan Konsuler (KUK) RI, Kementerian Luar Negeri Bahrain, Kementerian Dalam Negeri (General Directorate of Criminal Investigation, CID), Labor Market Regulatory Authority (LMRA), shelter Pemerintah Bahrain dan shelter KUK RI, NGO (Migrant Worker Protection Society), Perkumpulan Masyarakat Indonesia di Bahrain, dan Agency Tenaga Kerja (PJTKA) di Bahrain. Beberapa hal yang perlu mendapat perhatian: 1) Bahrain merupakan salah satu negara di Kawasan Teluk, berpenduduk sekitar 1 juta jiwa, yang menempati wilayah seluas 678 km2, sehingga kepadatan penduduk sekitar 1.475 jiwa/km2. Pendapatan penduduk per kapita sebesar US$ 20.000 (2007) yang diperoleh dari ekspor minyak, gas, aluminium dan tekstil, perdagangan, jasa (perhotelan) serta teknologi informasi dan komunikasi. Dari sejuta penduduk Bahrain, sekitar 70% merupakan pekerja asing yang sebagian besar berasal dari India, Pakistan, Banglades, Filipina, Srilangka, Thailand dan Indonesia. Kementerian Luar Negeri Bahrain menyampaikan bahwa Pemerintah Bahrain telah mempunyai Undang-undang Ketenagakerjaan (Labour Law) yang juga mengatur mengenai pekerja rumah tangga, dan undang-undang tersebut diberlakukan kepada penduduk Bahrain maupun Non Bahrain. Dalam merespons perdagangan orang yang ditengarai meningkat di Bahrain, Pemerintah Bahrain telah menetapkan Undang-undang Pemberantasan Perdagangan Orang pada tahun 2008, membentuk Task Force: The National Committee to Combat Trafficking in Persons, dan juga telah menyusun Rencana Aksi Nasional, pembangunan safe house (shelter) untuk korban, membangun network dengan NGO, serta peningkatan kapasitas dan peningkatan kepedulian terhadap pemberantasan perdagangan orang. Tahun 2008, Bahrain berada pada Tier-2 Watch List. Pemerintah Bahrain menyambut baik ajakan untuk membangun network Anti Trafficking in Persons dengan Indonesia. Disarankan agar Indonesia mengemukakan hal tersebut dalam pertemuan Gulf Cooperation Countries (GCC) dan kemudian ditindaklanjuti dengan pertemuan setingkat menteri. Diakui bahwa banyak penduduk Bahrain yang belum mengerti tentang trafficking in persons, sehingga masih memerlukan sosialisasi yang intensif. Menanggapi tentang masalah paspor
120

TKI, Kementerian Luar Negeri menegaskan tidak ada peraturan apapun yang membolehkan paspor TKI dipegang oleh orang lain. Pengendalian Agency Tenaga Kerja (PJTKA) Bahrain, dilakukan oleh Menteri Tenaga Kerja, dan kepada pekerja asing diberi kebebasan untuk pindah pekerjaan atau pindah employer. Menurut pengamatan Kementerian Luar Negeri Bahrain, kelemahan TKI/TKW Indonesia di Bahrain adalah kurangnya pengetahuan tentang hak-haknya, tentang pekerjaannya, dan keyakinan tentang apa yang akan dikerjakannya datang ke Bahrain. Ditengarai, banyak TKI/TKW di Indonesia mendapatkan informasi dan janji-janji yang tidak benar tentang bekerja di Bahrain. General Directorate of Criminal Investigation (CID) Bahrain, menyampaikan bahwa dalam rangka mengantisipasi perdagangan orang, akan menerapkan pengawasan kepada orang-orang yang transit di Bahrain. Terhadap pekerja rumah tangga dari Indonesia, diharapkan telah berumur dewasa (25 tahun). Untuk yang berusia di bawah 18 tahun, dapat masuk ke Bahrain tetapi menggunakan visa keluarga. Menanggapi permintaan kerjasama Police to Police antara RI dan Bahrain, secara formal akan dilakukan melalui Interpol dan komunikasi dengan KUK RI, tetapi secara informal dapat dilakukan menggunakan sarana komunikasi yang ada (telepon, internet, email). Dalam rangka implementasi Unemployment Insurence Act (2008), Pemerintah Bahrain membentuk Labour Market Regulatory Authority (LMRA) dan Labour Fund yang bersama-sama dengan Ministry of Labour mengharmonisasikan antara kebijakan dan program ketenagakerjaan Bahrain, administrasi pekerja asing serta training dan pemberdayaan tenaga kerja Bahrain. Dana yang masuk ke LMRA, 80% akan disetorkan ke Labour Fund yang akan dikembalikan ke pasar kerja dalam bentuk training tenaga kerja sehingga lebih produktif. LMRA sendiri bertugas untuk melayani visa dan ijin tinggal, ID Card, pemeriksaan kesehatan, serta mendeteksi, menahan dan mendeportasi tenaga kerja ilegal. LMRA (www.lmra.bh) dilengkapi dengan sistem komputer yang dapat diakses oleh Perwakilan RI dan memberikan pelayanan secara on-line, sehingga kedatangan tenaga kerja ke Bahrain sudah lebih siap, karena karena mereka sudah
121

lebih mengetahui apa yang harus di bawa dan apa yang harus dikerjakan dan yang tidak boleh dikerjakan. Perwakilan RI akan diberi user-ID dan password untuk dapat masuk ke sistem, dan diharapkan dapat menempatkan stafnya di LMRA untuk tukar-menukar informasi tentang peraturan di Bahrain dan peraturan di Indonesia dalam bahasa yang dimengerti oleh calon TKI. Walaupun sistem sedang dalam proses penyempurnaan dalam menampung tenaga kerja informal, apa yang ada sudah dapat dipergunakan untuk mengontrol TKI formal yang ada di Bahrain. Diretorate of Social Welfare at the Minstry of Social Development, membangun shelter Dar Al Aman untuk korban tindak kekerasan dalam rumah tangga. Melalui keputusan menteri dibentuk Badan Administrasi Shelter yang terdiri dari wakil-wakil kementerian dan non-pemerintah yang menetapkan kebijakan, dan peraturan tentang administrasi, keuangan dan ketentuan teknis operasional shelter. Shelter dilengkapi dengan dokter, psikiatri, peneliti kasus dan kerjasama dengan lembaga lain, dan memberikan layanan penampungan, kesehatan, sosial, psikologis dan bantuan hukum, rekreasi, kebudayaan dan peningkatan kepedulian, untuk jangka waktu maksimum delapan minggu. Kepada korban juga diberikan pembinaan lanjutan setelah keluar dari shelter. Untuk mencegah masuknya pendatang ilegal, shelter hanya menerima korban dari pihak kepolisian. Hambatan bahasa yang ada, diatasi melalui kerjasama dengan pekerja migran sebagai penterjemah. 2) Kantor Urusan Konsuler (KUK) RI di Manama, Bahrain menjelaskan bahwa jumlah WNI yang bekerja di Bahrain sampai dengan Agustus 2009 sebanyak 98.609 orang, dengan sekitar 10% yang bekerja di sektor formal (arsitektur, IT, pemerintahan, perusahaan retail, perhotelan, restoran, hypermarket, pramugari, pelaut dan sebagainya), selebihnya bekerja di sektor informal sebagai penata laksana rumah tangga. Permasalahan tenaga kerja Indonesia di Bahrain terutama dari sektor informal, yang memang sedikit diatur dalam Undang-undang Perburuhan (Labour Law for the Private Sector 1976), dan hanya menyatakan bahwa PLRT diperlakukan sebagai bagian dari keluarga, sehingga jika terjadi perselisihan akan diselesaikan secara kekeluargaan.

122

Dalam upaya memberikan perlindungan kepada WNI/TKI bermasalah, KUK RI di manama, Bahrain juga menyewa pengacara dan penampungan sementara (shelter). Saat ini di shelter terdapat 3 orang PLRT dan seorang bayi hasil hubungan TKW dengan penduduk setempat, yang ditinggalkan oleh ibunya. Perlu ada arahan bagaimana mendapatkan yang terbaik bagi si anak, mungkin melalui adopsi atau pemulangan ke Indonesia. Menanggapi tawaran LMRA untuk menempatkan Staf KUK RI di LMRA, disampaikan bahwa KUK RI Bahrain mengalami keterbatasan staf untuk keperluan tersebut. Diperlukan adanya petunjuk KBRI Kuwait dan Pusat mengenai hal ini. 3) Pihak NGO Migrant Workers Protection Society (MWPS) menyampaikan bahwa organisasinya terdiri dari relawan dan anggota dari berbagai negara, termasuk Bahrain, India, Sri Lanka, USA, New Zealand dan Inggris. Menurut MWPS, pekerja rumah tangga di Bahrain tidak dilindungi oleh Undang-undang Ketenagakerjaan dan tidak memiliki sumber daya dan tujuan ke mana harus pergi jika mendapat perlakuan atau tindak kekerasan. Banyak di antaranya dapat dikategorikan sebagai kasus perdagangan orang, karena di negara asalnya, mereka membayar banyak uang kepada Agensi Perekrut Tenaga Kerja, dan dijanjikan pekerjaan yang menguntungkan, tetapi kenyataannya jauh berbeda, bahkan mendapat perlakuan/tindak kekerasan dari majikan. Para majikan itu merasa bahwa keterampilan pekerja rumah tangga tidak memadai lalu bertindak kasar baik verbal maupun fisik, bahkan mengambil paspornya. Para korban tersebut berhasil lari dan ditampung di shelter MWPS, yang menerima korban perempuan dari seluruh kebangsaan, ras dan agama. Sejak berdirinya tahun 2005, shelter MWPS telah menampung perempuan dari India, Indonesia, Sri Lanka, Bangladesh, Ethiopia and Eritrea. Kebutuhan fisik dan lainnya, dipenuhi oleh anggota MWPS yang secara sukarela menyumbangkan waktu dan keahliannya tanpa imbalan. Pekerja rumah tangga tersebut dibantu memperoleh gaji dan hak lainnya dari majikan. Mereka diberikan layanan kesehatan, dan bagi yang akan kembali ke negaranya, dihubungkan ke Perwakilan/Konsulat untuk memperoleh dokumen dan exit memo. Banyak diantaranya diberikan tiket untuk pulang.

123

Tanpa adanya shelter ini, korban akan ditahan, dipenjara bahkan dideportasi mengikuti prosedur pemerintah. Tidak ada tindakan yang dikenakan kepada majikan dan tidak ada upaya yang dilakukan untuk mengetahui sebab-sebab pekerja rumah tangga lari dari rumah majikan. Perkumpulan masyarakat Indonesia di Bahrain (Perkibar), melalui milist perkibar_dibahrain@yahoogroup.com berupaya membantu menginformasikan peluang kerja terutama di sektor formal di Bahrain kepada masyarakat di tanah air yang mungkin memerlukan. Mereka juga akan menjajagi kemungkinan untuk berpartisipasi mempromosikan pariwisata Indonesia bekerjasama dengan masyarakat Indonesia di Kuwait. 4) Agency Tenaga Kerja (PJTKA) Bahrain menyampaikan bahwa peraturan perundang-undangan di Bahrain melindungi semua pihak baik pekerja, employer dan calon tenaga kerja. Berkaitan dengan masalah pekerja rumah tangga, disampaikan bahwa kesalahan banyak berada pada pihak majikan, yang berbuat kasar namun bukannya tanpa alasan. Para pekerja rumah tangga itu dinilai berlaku tidak pantas, kebanyakan mereka lari dari majikan bukan karena sebab yang serius tetapi hanya karena ingin pindah majikan dan atau pindah pekerjaan. Jika akhirnya kekerasan itu terjadi, karena berada di ranah privat, hanya yang berwajib yang bisa mengambil tindakan. Kepada TKW, PJTKA mengusulkan agar diberikan ID-Card yang juga berisi informasi tentang alamat keluarga atau kontak person yang dapat diakses jika yang bersangkutan mendapat masalah. PJTKA Bahrain menyampaikan bahwa kesalahan juga banyak berasal dari PPTKIS di Indonesia yang mengirim TKW di bawah umur, yang atas usulan dari negara pengirim, disepakati minimal usia TKW dari India 30 tahun, Filipina 25 tahun dan Indonesia 21 tahun. Selain di bawah umur, TKW Indonesia juga tidak ditraining dengan baik, tidak mengetahui adat-istiadat Bahrain, dan hanya sedikit memiliki informasi tentang Bahrain. PPTKIS terkesan hanya ingin mengirim TKW sebanyak-banyaknya untuk mengambil keuntungan dari komisi yang diperoleh, tetapi kurang bertanggung jawab jika ada masalah di Bahrain. PJTKA mengusulkan adanya kerjasama dengan KUK RI Bahrain, yang melalui reguler meeting diharapkan berbagai informasi yang bermanfaat dapat saling diketahui untuk
124

kebaikan bersama. Selanjutnya untuk calon TKW di Bahrain, diharapkan agar dikirimkan yang berkerampilan, serta mampu berbahasa Inggris dan Arab (optional). 5) Berdasarkan berbagai masalah tersebut, diusulkan langkahlangkah tindak lanjut sebagai berikut: a. Mengupayakan penyelesaian kasus bayi dari TKI Bermasalah yang ditinggalkan ibunya di shelter KUK RI Manama, Bahrain. b. Mengupayakan penempatan Staf KUK RI di Manama dalam lembaga LMRA Bahrain. c. Membangun kerjasama dengan Lembaga Pemerintah Bahrain dalam peningkatan kerjasama pemberatasan tindak pidana perdagangan orang lintas negara, yang sering kali berkedok penempatan TKI/TKW Indonesia. d. Membangun kerjasama dengan Asosiasi Agency Tenaga Kerja di Bahrain untuk meningkatkan kualitas penempatan, pelayanan dan perlindungan kepada TKI/TKW Indonesia di Bahrain. e. Membangun networking dengan masyarakat Indonesia di Bahrain dan di Indonesia dalam membantu menginformasikan peluang kerja di Bahrain dan negara teluk lainnya. f. Menindaklanjuti berbagai saran dan masukan dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan sistem penempatan dan perlindungan TKI terutama TKW di luar negeri. ***

125

SISTEM JARINGAN INFORMASI SMS-NET POLMAS

Kerjasama pengembangan Perpolisian Masyarakat (Polmas) di Batam oleh Babinkam Mabes POLRI, Bagian Samapta dan Bagian Bina Mitra Poltabes Barelang, dan LSM Gerakan Anti Trafficking (GAT) Batam, antara lain mengembangkan Sistem Jaringan Informasi menggunakan SMS yang memudahkan pelaporan berbagai kejadian di masyarakat kepada berbagai pihak yang tergabung dalam Jaringan SMS-Net Polmas Batam. Anggota Forum Kemitraan Polisi dan Masyarakat (FKPM) sebagai perwujudan Polmas di pedesaan, menyampaikan informasi terkait dengan ketertiban dan keamanan di daerahnya kepada nomor server LSM GAT dan secara otomatis akan diteruskan kepada berbagai pihak seperti Poltabes Barelang, Babinkam dan Baintelkam Mabes POLRI, Kementerian Koordinator Bidang Kesra, untuk selanjutnya sesuai dengan tugas dan fungsinya, mengambil tindakan seperlunya.

126

Peralatan yang diperlukan untuk pengembangan SMS-Net Polmas Batam sangat sederhana dengan biaya operasional yang relatif murah, dengan jangkauan informasi sejauh SMS dapat mencapainya yang berarti seluas jaringan selulair yang telah ada di Indonesia maupun di dunia.

----***----

127

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->