P. 1
Sejarah Seni Rupa Modern

Sejarah Seni Rupa Modern

|Views: 21,184|Likes:
Published by surwanto

More info:

Published by: surwanto on Mar 04, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/10/2013

pdf

text

original

http://farisie.wordpress.

com/2008/05/16/prasejarah-seni-rupa-modernindonesia/ PRASEJARAH SENI RUPA MODERN INDONESIA
Diarsipkan di bawah: Tak Berkategori — farisie @ 2:12 pm eo Haks dan Guus Maris, Lexicon of Foreign Artists Who Visualized Indonesia 16001950 (Archipelago Press & Gert Jan Bestebreurtje, Singapore & Utrecht: 1995) 528 halaman. KHAZANAH seni rupa Indonesia mengidap kekurangan mendasar: tak mempunyai kumpulan data dasar yang luas. Akibatnya banyak pembicaraan dan polemik cuma bertolak dari ancangan kira-kira: tak dilandasi pengetahuan sejarah seni rupa memadai. Para perupa juga terlalu gampang mengklaim “pembaruan”, seakan mereka tonggak nilai yang belum pernah ada sebelumnya. Salah satu anggapan yang sering diulang-ulang sampai kini adalah bahwa seni rupa modern Indonesia tumbuh sejak Sudjojono dan kawan- kawan mendirikan Persagi di tahun 1938. Mereka bereaksi keras terhadap lukisan jenis Mooi Indie (Hindia Molek), yang cuma menampilkan alam dan manusia Hindia Belanda yang diindah-indahkan. Terhadap seni rupa bercorak kolonialistik-orientalistik ini, Persagi menampilkan prinsip dan karya yang mencerminkan ciri nasional. *** MEMANG terlalu sedikit yang diketahui tentang “prasejarah” seni rupa modern Indonesia. Sesungguhnya, tak seluruh seni rupa di zaman Sudjojono bersifat Mooi Indie. Modernisme yang pahit pun berkembang di zaman itu. Modernisme adalah paham yang tak mengutamakan keindahan dan romantisisme dan juga, seperti yang dinyatakan Sudjojono, memperlihatkan jiwa penciptanya. Beberapa pelukis modernis penting yang berkiprah di Batavia di awal abad ini antara lain John Sten (Swedia), Alexander Kulesh (Rusia), dan Jan Toorop (Belanda). Bahkan modernisme demikian diwadahi lembaga berwibawa seperti Bataviasche Kunstkring. Pameran tunggal Kulesh pada tahun 1937 diadakan di sana, sekalipun karyanya yang modernis itu (yang mencerminkan pengaruh konstruktivisme Rusia) tak diterima khalayak seni rupa Batavia. Di masa itu pula, surat kabar Jaya Bode bukan hanya mempunyai kritik seni rupa berwibawa, tapi juga menampilkan drawing modernis bermutu tinggi. Berbagai data “aneh” semacam itu dapat ditemukan pada Lexicon yang berisi 3.000 nama perupa yang selama 1600-1950 berkarya tentang Indonesia. Menelusurinya dengan teliti, pembaca mendapatkan gambaran “prasejarah” seni rupa modern Indonesia, yang memang tak bermula dari titik nol. Maka bisa disimpulkan, misalnya, bahwa Persagi bukanlah satu-satunya kelompok modernis di alam penjajahan itu. Perannya lebih sebagai pemrakarsa nasionalisme kebudayaan. Data dasar dengan 207 halaman khusus reproduksi hitam putih dan berwarna ini lahir dari kebutuhan yang sungguh-sungguh praktis. Dua orang pedagang seni Belanda, Leo Haks dan Guus Maris, memerlukan rujukan yang tepat mengenai pelbagai karya seni yang mereka lihat atau tangani. Menyadari buku semacam itu tak ada, mereka melakukan

riset sendiri bertahun-tahun, dengan pelbagai cara. Cakupannya luas: sejak seni rupa yang murni sampai yang berkait dengan kepentingan lain. Di sini pembaca dapat menemukan para ilmuwan penting seperti Rumphius (16281702) dan Junghuhn (1809-64), yang membuat sendiri ilustrasi untuk buku mereka. Juga beberapa perupa (dengan karya etsa, litografi, cat minyak) yang menggambarkan situasi di kota atau pedalaman pada awal kolonialisme Belanda. Haks dan Maris memasukkan juga kartun satir sosial, sampul buku, gambar dinding, poster pariwisata, iklan tembakau, kalender, propaganda, desain prangko dan mata uang, serta sedikit patung. Juga gambar amatir yang dibikin oleh mereka yang ditahan di kamp Jepang selama 1942-1945. Rupanya banyak pelukis terkemuka di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 bekerja sebagai desainer dan ilustrator. Keluasan cakupan itu menunjukkan “tradisi” seni rupa yang luas dan sinambung yang menyatu dengan kolonialisme dan orientalisme, tapi yang sebagian fasetnya berhasil meloloskan diri sebagai seni- sebagai-ekspresi. Dalam hal ini penting dicatat kehadiran pelukis asal Belgia AAJ Payen (1792-1853), sahabat Raden Saleh. Ia menjelajahi Hindia Belanda dan berkarya untuk Komisi Ilmuilmu Alam. Jelas, lukisan- lukisannya seperti Sebuah Pasar Dekat Bogor dan Upacara Perkawinan, mengandung nilai obyektif (ilmiah), namun di lain pihak juga menggayakan kenyataan. Payen, bersama Raden Saleh, yang tumbuh dalam asuhan Romantisisme, tak pelak merupakan pengawal tradisi seni rupa tinggi (high art) di Hindia Belanda. Tradisi yang sebuah cabangnya kelak dikecam Sudjojono: Mooi Indie. Tapi, Mooi Indie bukan aliran resmi. Di awal abad ini, Hindia Belanda juga menampung kaum modernis dari segala penjuru. Misalnya, Pieter Ouburg (Belanda), Miguel Covarrubias (Meksiko) dan Emil Nolde (Jerman); mereka ini perupa modernis terkemuka di negeri masing- masing. Juga si petualang berbakat besar, Walter Spies, yang tak puas dengan lingkungan seni avant-garde di Jerman, yang kemudian merangsang pertumbuhan seni rupa Bali. Bahkan Bataviasche Kunstkring juga menaja beberapa pelukis “realisme pahit” Belanda seperti Joanna de Bruijn, Frans Anchoni Cleton, dan Wolff-Schoemaker. *** TENTU, buku tebal ini dihantui juga oleh nama-nama yang menjadi incaran kolektor: Le Mayeur, Willem Dooyewaard, Roland Strasser, Ernest Dezentje, WJF Imandt, misalnya. Tapi bukan hanya itu. Bahkan Rembrandt, Toulouse-Lautrec, Paul Gauguin dan Karel Appel yang tak pernah berkunjung kemari, menghasilkan karya bertema Indonesia. Yang mencolok adalah karya Gauguin berjudul Annah Orang Jawa: seorang wanita telanjang, duduk di kursi, menghadap ke depan. Juga Appel, yang di tahun 1940-an melukis seri Darah Kampung untuk mengecam Aksi Militer Belanda. Indeks Lexicon mestinya bukan hanya indeks nama artis yang ilustrasinya disertakan. Demi penelitian yang lebih luas dan mendalam, mestilah ada indeks yang meluas mencakup museum, lembaga seni, akademi seni, media, dan hal-ihwal lain yang erat bersangkutan dengan produksi dan penyebaran seni rupa. Agar kumpulan data dasar ini tak cuma berguna bagi kaum kolektor, pedagang seni dan pecinta buku-seni. Layaklah buku ini menantang para peneliti seni rupa Indonesia membuat data dasar mutakhir yang lebih luas lagi, yang menyangkut kegiatan seni rupa dalam negeri maupun

kaitan internasionalnya. Pekerjaan ilmiah ini tentulah awal dari penilaian seni rupa yang sehat. Hanya dengan begini barangkali, Indonesia bakal mengalami pluralisme sebenarnya, yakni banyaknya ragam seni rupa yang bersaing sehat. Bukankah dalam riuh-rendah seni rupa 10 tahun terakhir ini, yang terjadi cuma relativisme: sifat gampanggampangan dalam menilai? *** (Nirwan Dewanto, penulis dan ketua redaksi jurnal kebudayaan Kalam)

http://kedaiseni.wordpress.com/2008/11/09/selayang-pandangseni-rupa-sekarang/ Selayang Pandang Seni Rupa Sekarang
November 9, 2008 at 2:30 pm (ARTIKEL, KARYA EKSTERN) Aminudin TH Siregar Seni di zaman sekarang tidak saja luruh di dalam arus besar komodifikasi, tetapi juga menciptakan sejumlah kejanggalan-kejanggalan, baik pada aspek produksi (proses penciptaan karya seni) dan, terutama sekali, pola konsumsi (selera pasar, intrik-intrik, dan etika main). Bertolak dari situ, dunia seni rupa yang sekarang ini mudah tergelincir ke dalam distorsi pemahaman antarkalangan. Efek yang segera bisa kita rasakan adalah bagaimana seni akhirnya diseret ke ruang yang paling problematis sepanjang sejarahnya, yaitu pertikaian antara seni dan bukan seni dan pertanyaan yang tak sulit dijawab sejarah: apakah seni itu? Bagi sebagian orang, kita di Indonesia dianggap mengalami persoalan dengan ’peristilahan seni’ itu. Namun, hemat saya, sudah bukan waktunya lagi kita mengukur kesemrawutan dunia seni rupa dengan menemukan jawaban definitif tentang seni. ’Peristilahan seni’ hanyalah salah satu variabel saja dari persoalan mengenai seni dan bukan satu-satunya masalah yang esensial. Distorsi pemahaman yang terjadi akhir-akhir ini di dalam dunia seni rupa menyangkut peran sebuah profesi, seperti kurator, kritikus, kolektor, penyalur seni, sampai galeri, akademi seni, dan bahkan juga selayaknya menyentuh peran menjadi seniman. Apa peran dan fungsi sejumlah profesi maupun lembaga di tengah kejanggalan pasar seni rupa sekarang? Dan apa fungsi seniman dan karyanya di tengah arus itu? Kalau saya tak salah tangkap kira-kira itulah pokok yang di- gelisahkan, sekaligus diprovo- kasi oleh Arahmaiani di dalam tulisannya (Kompas, 25/5/2008). Tulisan saya ini harap jangan dinilai sebagai jawaban generik tentang situasi yang kita hadapi. Tidak ada obat yang manjur untuk menjernihkan situasi sekarang, bahkan tidak bisa dijawab dengan pameran-pameran gigantik dan dengan dalih wacana sekalipun. Kejanggalan-kejanggalan Kejanggalan dalam proses produksi, yaitu ada kecenderungan terjadi keseragaman visual dalam penciptaan lukisan di kalangan muda. Kemudahan-kemudahan alat teknologi seperti proyektor, print-out on canvas, simulasi citraan melalui olah digital dengan komputer cukup mereduksi kerja tangan—manual. Kemudahan di sana melahirkan jarak, yang pada gilirannya kita tidak lagi bisa merasakan ’aura’ sebuah lukisan. Ini aneh, sebab mestinya sensasi ’aura’ itu ada di sana. Saking rapatnya, antara lukisan dan foto kini identik.

Tak ada yang melarang proses itu, apalagi karya semacam itu kini diserap pasar dengan baik, bahkan dianggap lukisan yang paling kontemporer. Sayangnya, ’estetika komputer’ demikian itu bukan diperoleh dari akumulasi perkembangan sejarah seni rupa kita, tetapi lebih merupakan hasil pencerapan pelukis kita terhadap karya seniman China di mana pola pencerapan dilakukan melalui katalog pameran, katalog lelang, buku-buku, internet, dan sebagainya. Yang ditiru dari China itu adalah cara melukisnya, bukan pada cara berpikirnya. Pelukis kita dengan ringannya mengadopsi angle ’estetika China kontemporer’ ini tanpa sensor dan rasa malu sedikit pun. Kejanggalan di dalam proses penciptaan sebuah karya seni juga merabunkan pasar, sebab memang lukisan yang dihasilkan cukup menarik mata memandang, kita tidak perlu berlama-lama mengernyitkan dahi, sebab memang tidak ada isi. Pelukis muda, kita tahu, masih butuh perjalanan panjang. Dia belum teruji oleh medan sosial, belum teruji oleh sejarah. Akan tetapi, kita kini menghadapi pasar yang juga tidak kuasa menahan diri. Lukisan-lukisan yang tidak jelas (itu kalau kita tilik dari pelbagai aspek), nyatanya dikonsumsi dengan gempita. Sejarah jadi bisu Saya akan mengatakan bahwa apa yang terjadi hari ini di dalam dunia seni rupa mengikis sejumlah nilai, misalnya: komitmen sosial seniman; inovasi pada tema; eksplorasi media; pameran eksperimental, dan lain sebagainya. Sejarah pun lenyap, sebab hari ini semua kalangan dan generasi bertemu di kubangan yang sama, yaitu: pasar. Pelukis senior dan yunior tak mustahil bertemu di dalam pameran yang sama. Harga antardua generasi itu pun mengalami persaingan. Kita nyaris tidak lagi menemui suatu peristiwa yang proporsional sebab pasar datang merangsek medan sosial tanpa bekal sejarah yang memadai. Pasar datang dengan kapital, bukan dengan modal kultural. Tak jarang pasar datang dengan membawa selera masing-masing. Kriteria-kriteria yang basisnya dibangun oleh sejarah dengan mudah dipatahkan oleh selera yang demikian itu. Hingga pada batasbatas tertentu, pasar memang menyebalkan dan tidak tahu diri. Bayangkan kalau harga karya Oesman Effendi tidak berkutik di hadapan pelukis ke- marin sore. Bayangkan kalau balai lelang kini semakin ingin menyulap dirinya sebagai barometer sekaligus parameter perkembangan. Kekisruhan dunia seni rupa kita bersumber dari situasi peralihan yang acapkali terjadi secara fragmentaris. Disebut fragmentaris karena memang tidak tercipta secara sistematik. Situasi pasar yang absurd sekarang ini, misalnya, bukanlah akumulasi sistematik dari perkembangan infrastruktur dan suprastruktur yang baik. Transformasi dari masa ke masa yang sistematik adalah transformasi yang ditata dari kerapihan menata sejarah serta pelbagai parameternya, baik yang bersifat kanonik maupun hubungan-hubungan yang terjadi di luarnya. Dia bersifat kanonik dalam arti bagaimana infrastruktur seni rupa berdiri dalam sebuah kewibawaan, yang legitimasinya diperoleh dari suprastruktur. Museum, misalnya. Atau lembaga, institusi yang nonakademik maupun akademik yang mengolah wilayah produksi-konsumsi untuk dipakai

sebagai tolak ukur di dalam kekisruhan menilai seni. Akan tetapi, siapa yang masih mau mikirin wilayah ini? Banyak hal absurd di dunia seni rupa sekarang ini. Banyak peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar batas nalar. Mungkin tak heran apabila tidak sedikit orang yang berharap semoga pasar sekarang hanyalah bubble, yang akan surut dalam waktu dua-tiga tahun ke depan. Dan akan tiba suatu masa ketika kita memang menemukan orang yang benarbenar seniman, tidak medioker seperti yang banyak dijumpai sekarang. Aminudin TH Siregar Kurator Galeri Soemardja, Bandung

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->