P. 1
Aspek Pendidikan Agama Dalam Surat Luqman

Aspek Pendidikan Agama Dalam Surat Luqman

|Views: 2,926|Likes:
Published by muhammad aceh

More info:

Published by: muhammad aceh on Mar 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/14/2013

pdf

text

original

ASPEK PENDIDIKAN AGAMA DALAM SURAT LUQMAN

AYAT 12 – 19 DAN APLIKASI METODE MAUIZHAH



SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh
Gelar Sarjana Pendidikan Agama Islam (S.Pd.I)




Oleh:

LILIS MUKHLISHOH
NIM:102011023501





Di bawah Bimbingan:





PROF. Dr. H. SALMAN HARUN
NIP.150062568





JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI(UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA 1428 H/2007 M


id19483031 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
iv
KATA PENGANTAR



Segala puji hanya milik Allah swt, Tuhan pencipta dan pemelihara semesta alam.
Shalawat dan salam semoga senantiasa Allah limpahkan kepada Nabi Muhammad saw,
keluarganya, sahabat-sahabatnya dan para pengikutnya yang setia hingga Hari
Pembalasan.
Salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) di semua
perguruan tinggi termasuk di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta-
adalah membuat karya ilmiah dalam bentuk skripsi. Dalam rangka itulah penulis
membuat skripsi ini dengan judul “ASPEK PENDIDIKAN AGAMA DALAM
SURAT LUQMAN AYAT 12 – 19 DAN APLIKASI METODE MAUIZHAH”.
Selama pembuatan skripsi ini, tidak sedikit kesulitan dan hambatan yang dialami
oleh penulis, baik yang menyangkut pengaturan waktu, pengumpulan bahan-bahan
(data) maupun pembiayaan dan sebagainya. Namun, dengan hidayah dan inayah Allah
swt dan berkat kerja penulis disertai dorongan dan bantuan dari berbagai pihak, maka
segala kesulitan dan hambatan itu dapat diatasi dengan sebaik-baiknya sehingga skripsi
ini dapat diselesaikan pada waktunya. Oleh karena itu, seyogyanyalah penulis
menyampaikan ucapan terima kasih yang tiada terhingga dan penghargaan yang
setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan atas
terselesaikannya skripsi ini ; terutama kepada Bapak Prof. Dr. H. Salman Harun selaku
id19495625 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
v
dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan nasehat, masukan dan bimbingan
yang sangat berharga bagi penulis. Terima kasih ini juga penulis sampaikan kepada :
1. Dekan, Pembantu Dekan dan seluruh Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah mendidik dan
memberikan berbagai ilmu pengetahuan yang sangat berharga kepada penulis.
2. Ketua dan Sekretaris serta staf jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Bapak Bahris Salim M.Ag selaku dosen penasehat akademik jurusan Pendidikan
Agama Islam, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta.
4. Pimpinan dan staf perpustakaan yang telah memberikan fasilitas untuk
mengadakan studi kepustakaan. Baik itu Perpustakaan Utama (PU),
Perpustakaan FITK, dan terutama Perpustakaan Iman Jama' & Bapak Bajuri serta
para stafnya.
5. Bapak dan Ema tercinta yang telah merawat, mendidik dan mencurahkan segala
kasih sayangnya kepada penulis selama hayat. Semoga Allah swt mengampuni
segala dosanya dan melimpahkan rahmat, karunia dan ridho-Nya kepada beliau
berdua.
6. Adik-adik tercinta ; Iroh, Lisa, Habib dan Arif serta semua keluarga yang penulis
cintai, yang telah memberi semangat dan dorongan kepada penulis.
7. Rekan-rekan seperjuangan di PAI angkatan 2002 khususnya kelas “B” , terutama
teman-teman tercintaku ; Ummi, Miaow, Ida, Kia dan Nurul serta segenap pihak
yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya di sini. Terima kasih atas
vi
segala bantuan dan dorongan semangat kepada penulis dalam penyusunan skripsi
ini.
Mudah-mudahan amal dan jasa baik mereka diterima oleh Allah SWT dan di
balas-Nya dengan pahala yang berlipat ganda. Amiin.
Mudah-mudahan pula skripsi ini bermanfaat, khusunya bagi penulis, dan bagi
para pembaca yang budiman pada umumnya.



Jakarta, Februari 2007

Penulis





1
BAB I
PENDAHULUAN

A. Alasan Pemilihan Judul
Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat Islam, memuat semua segi kehidupan.
Begitu banyak hal tercakup dalam ayat-ayatnya, baik yang tersurat maupun tersirat, dari
kehidupan manusia sampai mencakup ke berbagai bidang Ilmu Pengetahuan. Berbagai
macam ilmu ada dalam kandungan al-Qur’an, di antara ilmu-ilmu tersebut adalah
Sosiologi, Antropologi, Biologi, Sejarah, Botani, Humaniora, Seksologi, Astronomi dan
Psikologi, adalah sebagian kecil Ilmu yang disinggung dalam al-Qur’an. Bahkan al-
Qur’an adalah “Sumber Ilmu Pengetahuan”
Bidang pendidikan, yang merupakan salah satu faktor fundamental dalam
kehidupan manusia, telah menjadi salah satu bidang yang tercakup dalam kandungan
ayat-ayat suci al-Qur’an. Bahkan menjadi kandungannya yang utama, sebab perjalanan
kehidupan manusia di muka bumi adalah untaian mata rantai pendidikan yang
berkesinambungan dan Nabi telah diutus Tuhan untuk menjadi guru-guru (subyek
pendidikan) yang mengenalkan umat manusia kepada Tuhan.
Secara garis besar banyak ayat-ayat al-Qur’an yang memuat tuntunan bagi umat
manusia dalam usahanya untuk melahirkan generasi penerus yang lebih baik. Hal-hal
seperti peningkatan iman dan taqwa, pengembangan wawasan keagamaan, dan tuntunan
untuk membentuk manusia seutuhnya adalah hal yang dicapai lewat pendidikan.


id19533171 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
2
Ada tiga argument yang menjadi alasan penulis mengambil "ASPEK
PENDIDIKAN AGAMA DALAM SURAT LUKMAN AYAT 12 – 19 DAN
APLIKASI METODE MAUIZHAH " sebagai judul skripsi ini. Adapun tiga argument
itu adalah sebagai berikut :
1. Rasa beragama adalah fitrah manusia, dan pada diri setiap anak yang
dilahirkan ke dunia telah membawa potensi beragama yang benar, bertauhid kepada
Allah sesuai dengan perjanjiannya dengan Tuhan ketika dia masih di alam azali,
sebagaimana firman Allah SWT :
^OT³4Ò EO··Ò¡ ElG4O TR` ×ØØ·4
4¯E1-47 TR` ¯¦R-ØOQ÷¹¬÷
¯ª×&4©+CØ´O¬O ¯ª¬-E³O&^+Ò¡4Ò
-OÞ>4N ¯ªØ&´O¬¼^Ò¡ ¬e¯O·¯Ò¡
¯ª7¯TÞ4OT W W-Q7¯·~ ¯OÞ>4 O
.4^^³T¹E- O HÒ¡ W-Q7¯Q¬³·> 4¯¯Q4C
ROE©41´³^¯- ^^T³ EL¬± ^T4N
-EOE- 4×-T-R¼EN ^¯_=÷ uÒÒ¡
W-EQ7¯Q¬³·> .E¼-VT³ E´·O'=Ò¡
4^74.4-47 TR` N¯l·~ EL¬±4Ò
LO+CØ´O¬O TR)` ¯ªR-R³u¬4 W
4L7¯TU¯&+©··Ò¡ E¼R¯ ºE¬··
4^¯_Q÷¹Q¬URC¯l÷©^¯-
ElR¯EOE4Ò N´·E¼+^ Re4CE-
¯ª÷¹^UE¬·¯4Ò ¬HQN¬´·¯O4C ^¯_Ø÷
Artinya :
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya) berfirman :
"Bukankan Aku ini Tuhanmu ?. Mereka menjawab : "Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi". (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan : "Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)" atau agar kamu tidak mengatakan : "Sesungguhnya
orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini
3
adalah anak-anak keturunan yang datang sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan
membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu ?". dan demikian
kami jelaskan ayat-ayat itu agar mereka kembali (kepada kebenaran).” (QS. Al-A’raf :
172-174)
Kedua ayat di atas menunjukkan bahwa sebelum manusia lahir, terlebih
dahulu ia diminta kesaksian untuk mengakui keesaan Tuhan dan ia menerima kesaksian
itu, sehingga ketika lahir ke dunia ia telah beragama yang benar dan bertauhid kepada
Allah.
Pada ayat yang lain Allah menjelaskan bahwa manusia itu dilahirkan
membawa fitrah, oleh karena itu ia diperintahkan untuk tetap mengikuti agama yang
fitrah, yaitu agama Islam. Sebagaimana firman-Nya :
¯¦R~Ò·· ElE¹^·4Ò ÷ׯR"-R¯
L¼ORLEO ¯ =ª4O^CR· *.- Ø´®-¯-
4O·C·· "EEL¯- O&¯OÞU4× ¯ ºº
ºCR³¯l·> ÷-·UECR¯ *.- ¯ ¬CR¯·O
·-¯R".- O¦Ø´1·³^¯- ·ó´¯·¯4Ò
4O·4-±Ò¡ +EEL¯- ºº 4¹Q÷©ÞU^¬4C
^Q´÷
Artinya :
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Alllah) ; (tetaplah
atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada
perubahan pada fitrah Allah. Itulah agama yang lurus ; tetapi kebanyakan manusia
tidak mengetahui". (Q.S. Ar-Ruum : 30)

Ayat tersebut memberikan pengertian bahwa manusia lahir telah membawa
fitrah, bahkan dikatakan bahwa diatas fitrah itulah manusia diciptakan. Ayat ini
bersesuaian dengan hadis Rasulullah SAW :
4
˴Ϣ͉Ϡ˴γ˴ϭ˶Ϫ˸ϴ˴Ϡ˴ϋ˵Ϳ΍ϰ͉Ϡ˴λ˶Ϳ΍˴ϝ˸Ϯ˵γ˴έ˴͉ϥ˴΍˵Ϫ˸Ϩ˴ϋ˵Ϳ΍˴ϲ˶ο˴έ˴Γ˴ή˸ϳ˴ή˵ϫ˸ϲΑ˶΍˴ ˸Ϧ˴ϋ
˴ϝΎ˴ϗ ΍˴ή͋μ˴Ϩ˵ϳ˸ϭ˴΍˶Ϫ˶ϧ΍˴Ω͋Ϯ˴Ϭ˵ϳ˵ϩ΍˴Ϯ˴Α˴Ύ˴ϓ˶Γ˴ή˸τ˶ϔϟ˸΍ϰ˴Ϡ˴ϋ˵Ϊ˴ϟ˸Ϯ˵ϳΎ͉ϟ˶΍˳Ω˸Ϯ˵ϟ˸Ϯ˴ϣ˸Ϧ˶ϣΎ˴ϣ
˶Ϫ˶ϧΎ˴δ͋Π˴Ϥ˵ϳ˸ϭ˴΍˶Ϫ˶ϧ ϩ΍ϭέ ϯέΎΨΒϟ΍


Artinya :
“Dari Abu Hurairah r.a bahwa Rasulullah SAW telah bersabda : "Tidaklah
anak yang dilahirkan itu, kecuali telah membawa fitrah beragama (perasaan percaya
kepada Allah), maka kedua orang tuanya lah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani dan
Majusi.”(H.R. Bukhari)
1


Dalil-dalil diatas menunjukkan bahwa setiap anak Adam ketika berada di
dalam kandungan telah melakukan kesaksian atau janji setia atas keesaan Allah yang
menjadikan dia lahir sebagai manusia tauhid atau fitrah. Namun dalam perkembangan
pribadi anak tersebut selanjutnya akan terbentuk melalui pengaruh dari lingkungan
sekitarnya, dalam dunia pendidikan hal ini sejalan dengan teori konvergensi yang
dikemukakan oleh William Stern, bahwa perkembangan anak akan dipengaruhi oleh
faktor bakat dan faktor lingkungan.
Menurut Sartain, (Ahli Psikologi Amerika), yang dimaksud dengan
lingkungan (environment) meliputi kondisi dan alam dunia ini yang dengan cara-cara
tertentu mempengaruhi tingkah laku kita, pertumbuhan, perkembangan atau life
process.
2


1
Zainuddin Hamidy, dkk., Terjamah Shahih Bukhari jilid II, (Jakarta : Wijaya, 1992), Cet. Ke-
XIII, h. 89
2
M. Ngalim Purwanto, Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, (Bandung : Remaja Rosdakarya,
1994), h. 59
5
Meskipun lingkungan tidak bertanggung jawab terhadap kedewasaan anak
didik, namun merupakan faktor yang sangat menentukan yaitu pengaruhnya yang sangat
besar terhadap anak didik, sebab bagaimanapun anak tinggal dalam satu lingkungan,
yang disadari atau tidak pasti akan mempengaruhi anak.
Dilihat dari segi anak didik, tampak bahwa anak secara tetap hidup dalam
lingkungan masyarakat tertentu tempat ia mengalami pendidikan. Menurut Ki Hajar
Dewantara lingkungan-lingkungan tersebut meliputi lingkungan keluarga, lingkungan
sekolah dan lingkungan organisasi pemuda (masyarakat), yang disebut dengan Tri Pusat
Pendidikan, yaitu tiga pusat pendidikan yang secara bertahap dan terpadu mengemban
suatu tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya.
3

Dengan demikian, potensi fitrah tersebut pada perkembangan selanjutnya
akan berkembang sesuai dengan pendidikan yang diterimanya, dan sesuai pula dengan
pengaruh dari lingkungannya. Dengan kata lain, lingkungan pendidikan dapat berfungsi
untuk memperkuat fitrah yang telah ada dan juga dapat berfungsi untuk melemahkan
fitrah tersebut. Maka agar anak tetap beragama benar sesuai dengan fitrahnya, dan untuk
memperkuat fitrah yang telah ada tersebut, maka proses pendidikan yang harus
dilakukan oleh Tri Pusat Pendidikan sangat tepat bila mengambil rujukannya dari dalam
Al-Qur'an surat Lukman ayat 12 sampai dengan ayat19, merujuk kepada firman Allah
SWT:
¦.¯- ^¯÷ El·UR> ¬e4C-47
´U4-´¯^¯- ´¦O´¯O4^¯- ^=÷

3
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, (Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2003), Cet. 3, h. 33
& 37
6
O1³¬- LO4·uQ4O4Ò
4×-RL´O¯·÷©·URm¯ ^Q÷
Artinya :
"Alif Lam Mim. Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah, menjadi
petunjuk dan rahmat bagi orang yang berbuat kebaikan." (Q.S Luqman : 1 – 3)



Maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama sangatlah penting agar
dapat mengarahkan fitrah tersebut ke arah yang benar, bahkan dapat mengembangkan
dan memperkuat fitrah, sehingga mereka dapat mengabdi dan beribadah sesuai dengan
ajaran Islam. Tanpa adanya pendidikan agama dari satu generasi berikutnya, maka orang
akan jauh dari agama.yang benar.

2. Al-Qur'an adalah sumber yang pertama dan utama dalam pengambilan
rujukan yang memuat peraturan hidup bagi setiap orang yang beriman, termasuk di
dalamnya masalah pendidikan. Kemudian akan diikuti oleh As-Sunnah sebagai sumber
yang kedua berfungsi sebagai penjelas Al-Qur'an. Hal ini sesuai dengan apa yang
difirmankan Allah SWT dalam Al-Qur'an :
¯¬~ W-QN¬ORCÒ¡ -.-
¬°Q÷c·O¯-4Ò W ¹T¯··
W-¯Q-¯4Q·> E¹T¯·· -.- ºº OUR47©
4ׯØOR¼·¯^¯- ^Q=÷
Artinya :
"Katakanlah : "Taatilah Allah dan Rasul-Nya, jika kamu berpaling, sungguh
Allah tidak menyukai orang-orang yang kafir". (Q.S. Ali Imran : 32)

7
Dan juga firman Allah SWT dalam Al-Qur'an yang ditujukan kepada orang-
orang yang beriman :
O&¬³Ò^4C 4ׯR~-.-
W-EQN44`-47 W-QN¬ORCÒ¡
-.- W-QN¬ORCÒ¡4Ò
4·Q÷c·O¯- OدÒ+¡4Ò
ØO¯··- ¯¦7¯LR` W ¹T¯··
u®7+^N4O4L·> OT× ¡7¯ØE*
+ÞÒ·1NO·· OÞ¯T³ *.-
´·Q÷c·O¯-4Ò ¹T³ u®7+47
4¹QNLR`u·¬> *.T
R¬¯Q4O^¯-4Ò QO´=E- ¯
ElR¯·O ¬O¯OE= ÷T=O^OÒ¡4Ò
ECØÒ··> ^T_÷

Artinya :
“Hai orang-orang yang beriman, Taatilah Allah dan taatilah Rosul-Nya dan Ulil
Amri diantara kamu. Kemudian jika kau berlainan pendapat tentang sesuatu, maka
kembalikan ia kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar
beriman kepada hari kemudian.” (Q.S. An-Nisa : 59)

Begitu pula yang terdapat dalam hadits:
˶Ϧ˸Α΍˶ή˸ϴ˶Μ˴ϛ˸Ϧ˴ϋ ˶Ϫѧ˸ϴ˴Ϡ˴ϋ˵Ϳ΍ϰ͉˷˷˷Ϡѧ˴λ˶Ϳ΍˴ϝ˸Ϯѧ˵γ˴έ͉ϥ˴΍˶ϩ͋Ϊѧ˴Ο˸Ϧѧ˴ϋ˶Ϫ˸ϴ˶Α˴΍˸Ϧ˴ϋ˶Ϳ΍˶Ϊ˸Β˴ϋ
˴ϝΎ˴ϗ˴Ϣ͉Ϡ˴γ˴ϭ ˶Ϳ΍˴ΏΎѧ˴Θ˶ϛΎѧ˴Ϥ˶Ϭ˶Α˸Ϣ˵Θ˸Ϝ͉δѧ˴Ϥ˴ΗΎѧ˴ϣ΍˸Ϯ͊Ϡ˶πѧ˴Η˸Ϧѧ˴ϟ˶Ϧ˸ϳ˴ήѧ˸ϣ˴΍˸Ϣ˵Ϝ˸ϴѧ˶ϓ˵Ζѧ˸ϛ˴ή˴Η
˶Ϫ͋ϴ˶Β˴ϧ˴Δ͉Ϩ˵γ˴ϭ ήΒϟ΍ΪΒϋϩ΍ϭέ
Artinya :
“Dari Kasir bin Abdillah dari Bapaknya dari kakeknya sesungguhnya
Rasulullah SAW telah bersabda : "Aku tinggalkan untukmu dua perkara, tidak akan
8
tersesat kamu selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitabullah (Al-Qur'an)
dan Sunnah Nabi-Nya (Al-Hadis)." (H.R. Ibnu Abdil Baar)
4


Taat kepada Allah dalam ayat-ayat diatas berarti dalam hal apa saja termasuk
dalam hal pendidikan, karena itu dalam menerapkan pendidikan agama hendaknya
mengikuti apa yang ditunjukkan oleh Allah SWT melalui kitab suci-Nya yaitu Al-
Qur'an.
Sedangkan yang dimaksudkan dengan taat kepada Rasul-Nya dalam hal ini
berarti perintah untuk menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan yang
ideal dalam upaya merealisasikan nilai-nilai yang ada di dalam Al-Qur'an.
Dengan demikian merupakan suatu keharusan untuk menjadikan Al-Qur'an
dan Sunnah sebagai pedoman dalam melaksanakan pendidikan agama.
Walaupun Al-Qur'an dan As-Sunnah telah begitu tegas mewajibkan untuk
mengikuti keduanya, namun menurut pengamatan sementara dari penulis, masih ada saja
yang belum menjadikan Al-Qur'an dan As-Sunnah sebagai pedoman dalam mendidik
agama. Hal tersebut disebabkan oleh ketidaktahuan mereka dalam memahami Al-Qur'an
dan As-Sunnah tersebut, sehingga mereka merasa cukup dengan apa yang ada pada
mereka dan mengambil pedoman-pedoman selain Al-Qur'an dan As-Sunnah tanpa
khawatir mengalami kegagalan dan kesesatan di dalam kehidupannya.
3. Sebagai individu, manusia merupakan kesatuan antara jiwa dan raga. Di
dalam jiwa manusia terdapat pembawaan-pembawaan yang dapat terpengaruh, baik oleh
kata-kata yang tertulis maupun yang terdengar, yang membawanya ke arah yang benar
atau yang salah. Kata-kata tersebut dapat membuka jalan ke dalam jiwa secara langsung

4
KH. Munawar Chalil, Kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, (Jakarta : Bulan Bintang,
1973), Cet. Ke-4, h. 67
9
melalui pikiran dan perasaan, sehingga membuat pikiran dan perasaan goyah, dan
sampai pada perenungan secara mendalam (tafakkur) serta penghayatan yang
melahirkan perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara sadar.
Pembawaan seperti itu merupakan potensi yang perlu dikembangkan ke
arah yang positif. Salah satu cara yang dapat mengembangkannya melalui pendidikan
adalah dengan menggunakan sarana yang ada pada diri manusia itu sendiri, yakni
pendengaran, penglihatan, dan hati. Allah SWT berfirman :
ºE¬E·4Ò… Nª7¯·¯ E7^©OO¯-
4O=¯·-4Ò ÞEE³R*^··-4Ò ·
¯ª7¯+UE¬·¯ ¬HÒNO7¯^=·> ^_l÷
“… Dan Dia memberikan kamu pendengaran, penglihatan, dan hati agar kamu
bersyukur”. (QS. An-Nahl : 78)

Dalam mendidik jiwa manusia, ajaran Islam senantiasa menyesuaikan
dengan potensi yang ada pada dirinya. Salah satu ajaran Al-Qur’an yang berkenaan
dengan cara mendidik adalah melalui nasihat-nasihat yang baik yang dapat menyentuh
perasaan murid yang disebut “mauizhah”, metode yang dapat menyentuh hati,
mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendaki melalui nasihat-nasihat yang
dibarengi dengan keteladanan atau panutan, yang dalam hal ini Rasulullah SAW.
Diantara ayat Al-Qur’an yang melandasi penggunaan metode mauizhah, antara lain
E´+O´HO41+^4Ò ¯O4O^ONO·UR¯ ^l÷
¯ORmEO·· ¹T³ ReE¬E¼^^
¯O4O^R"~.- ^_÷
“Dan kami akan memberi kamu taufik kepada jalan yang mudah. Oleh sebab itu,
berilah peringatan, karena peringatan itu akan bermanfaat” (QS. Al-A'laa : 8-9)

Selain itu disebutkan dalam ayat lain :
10
TO¯^E¬^¯-4Ò ^¯÷ E¹T³
=T=Oee"- O´>·¯ ·O^O7= ^=÷ ·ºT³
4ׯR~-.- W-QNL4`-47
W-Q¬UR©4N4Ò ReE·TUO¯-
W-¯Q=-4Q·>4Ò ÷--E·^¯T
W-¯Q=-4Q·>4Ò TO¯¯O¯T
^Q÷

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian .
kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal shaleh, dan nasihat-menasihati
supaya menaati kebenaran, dan nasihat-menasihati supaya selalu sabar” (QS. Al-‘Asr :
1-3)

Ayat tersebut mengisyaratkan agar setiap Mukmin saling nasihat-menasihati,
baik dalam kebenaran maupun dalam kesabaran, karena nasihat akan memberikan
dampak yang positif, baik bagi yang memberi maupun yang diberi. Salah satu contoh
bagaimana Al-Qur’an mendidik manusia melalui nasihat, dapat diperhatikan dalam
beberapa ayat dari surat Luqman ayat 13 – 19 yang merupakan bagian dari pembahasan
skripsi ini. Dengan kata lain mauizhah yang terdapat dalam surat Luqman sangat relevan
untuk diaplikasikan karena dalam ayat tersebut dapat ditemukan gagasan pokok berupa
keterbukaan, kasih sayang, keseimbangan, dan integritas yang memberikan implikasi
terhadap tindakan praktis pendidikan.
5

Oleh sebab itu, mauizhah dalam Al-Qur’an dapat diangkat sebagai
sebuah metode pendidikan. Dan karena alasan-alasan tersebut diatas, maka penulis
berkeinginan membahas aplikasi metode mauizhah tersebut.

5
Drs. Syahidin M. Pd., Metode Pendidikan Qur’ani;Teori dan Aplikasi, (Jakarta : Misaka Galiza,
1999), Cet. 2, h. 102
11

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Karena luasnya makna Pendidikan Agama dan luasnya tafsir Al-Qur'an
serta untuk kejelasan yang akan dibahas, maka perlu bagi penulis untuk membatasi dan
merumuskan masalah-masalah yang akan dibahas dalam skripsi ini.
1. Pembatasan Masalah
Adapun pembatasan masalahnya adalah sebagai berikut :
a. Aspek pendidikan agama yang dimaksud penulis adalah aspek pendidikan agama
Islam yang terdapat dalam surat Luqman ayat 12 sampai dengan ayat 19 yang
diambil dari materi ayat 12 – 19 surat Luqman.
b. Adapun mengenai metode yang dibahas dalam skripsi ini, karena ada kaitannya
dengan pembahasan Surat Luqman ayat 12 – 19, maka yang dimaksud di sini
adalah metode mauizhah dalam surat Luqman ayat 12 – 19.

2. Perumusan Masalah
Adapun perumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
a. Adakah dalam surat Lukman ayat 12 – 19 aspek pendidikan agama tentang ;
1. Dasar Pendidikan Agama
2. Tujuan Pendidikan Agama
3. Proses Pendidikan Agama dan
4. Hasil yang dicapai dalam Pendidikan Agama
b. Bagaimana aplikasi metode mauizhah yang terdapat dalam surat Luqman ayat 12
sampai dengan ayat 19 ?

12
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui aspek pendidikan agama yang terdapat dalam surat
Luqman ayat 12 sampai dengan ayat 19
b. Untuk mengetahui bagaimana aplikasi metode mauizhah dalam surat
Luqman ayat 12 sampai dengan ayat 19

2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sumbangan berarti sebagai bahan untuk
mengembangkan teori dalam Khazanah Ilmu Pengetahuan
b. Hasil penelitian ini juga dapat dijadikan acuan bagi para pendidik dalam
mendidik anak didik, baik itu para orang tua dalam mendidik anaknya, atau
para guru di sekolah dan pendidik lainnya di lingkungan non formal. Selain
itu juga dapat dijadikan acuan bagi para anak dalam memperlakukan kedua
orang tuanya dan berakhlak baik kepada sesamanya.

D. Metodologi Penelitian
Pembahasan skripsi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan
(library research) dengan mempelajari dan memahami kitab-kitab tafsir, kitab-kitab
hadis, kitab-kitab lain yang relevan dengan pembahasan, majalah-majalah, paper dan
pendapat para pakar yang ada kaitannya dengan permasalahan yang penulis bahas.
13
Sedangkan dalam penyusunannya secara teknis, penulis semuanya berpedoman pada
buku "Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan Disertasi", yang di terbitkan oleh Jakarta
Press 2002.
Selanjutnya penulis mempersiapkan bahan-bahan yang akan dibahas dari
buku-buku dan kitab-kitab yang relevan dengan masalah yang akan dibahas, baik yang
sifatnya Primer maupun yang sifatnya sekunder. Sumber-sumber yang sifatnya primer
ialah buku-buku atau kitab-kitab yang membahas tentang pendidikan, baik pendidikan
secara umum maupun pendidikan Agama. Adapun sumber-sumber yang sifatnya
sekunder ialah buku-buku atau kitab-kitab yang tidak secara khusus membahas tentang
pendidikan namun ada kaitannya dengan pembahasan.




E. Sistematika Penulisan.
Skripsi ini terdiri dari lima bab, masing-masing bab terdiri dari beberapa sub bab.
Dan pembahasan ini disusun secara sistematis, sehingga kaitan antara yang satu dengan
yang lainnya tidak terputus. Adapun sistematikanya adalah sebagai berikut :
BAB I Pendahuluan.
Dalam bab ini dibahas alasan pemilihan judul, pembatasan dan
perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metodologi
penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II Pengertian, Tujuan dan Prinsip Pendidikan Agama.
14
Bab ini membahas hal-hal yang berkenaan dengan Pendidikan Agama
yang memuat tentang pengertian pendidikan agama, tujuan pendidikan
agama, prinsip-prinsip pendidikan agama yang mempunyai 3 prinsip
yaitu menyeluruh (Asy-Syumul), kesatuan, dan perkembangan (At-
tathawwur), serta Al-Qur’an sebagai sumber pendidikan Agama
BAB III Tafsir Surat Luqman Ayat 12 – 19
Bab ini membahas hal-hal yang berkenaan dengan tafsir surat yang akan
dibahas yang memuat tentang Teks Ayat dan Terjemahnya, Sekilas
tentang sosok Luqman sebagai Tokoh Pendidikan Agama, Tafsir Surat
Luqman ayat 12 – 19 dan Nilai-nilai Pendidikan Agama dalam Surat
Lukman ayat 12 sampai dengan ayat 19.
BAB IV Aplikasi Metode Mauizhah Dalam Surat Luqman Ayat 12 – 19
Bab ini membahas hal-hal yang berkenaan dengan variabel ketiga yaitu
metode mauizhah yang memuat tentang Pengertian Mauizhah, Pengertian
Metode Mauizhah, Tujuan dan Keistimewaan Metode Mauizhah serta
Bentuk Mauizhah, Efektifitas Nasihat dan Aplikasi Metode Mauizhah
dalam surat Luqman ayat 12 – 19
BAB V Penutup.

Bab ini memuat tentang kesimpulan dari pembahasan pokok dalam
skripsi ini dan saran-saran yang disampaikan penulis kepada pihak-pihak
yang terkait dengan pendidikan, baik itu di lingkungan formal, informal
maupun non formal.

15
BAB II
PENGERTIAN, TUJUAN DAN PRINSIP PENDIDIKAN AGAMA

A. Pengertian Pendidikan Agama
Kata pendidikan agama merupakan dua rangkaian kata yang terdiri dari kata
pendidikan dan agama. Sebelum penulis menjelaskan mengenai pendidikan agama,
terlebih dahulu akan penulis jelaskan mengenai pengertian pendidikan, kemudian
pengertian agama dan selanjutnya pengertian pendidikan agama yang merupakan
penggabungan dari kata pendidikan dan kata agama.
Dalam bahasa Indonesia, kata pendidikan terdiri dari kata didik yang
mendapat awalan pen dan akhiran an. Kata tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam
kamus Bahasa Indonesia adalah suatu perbuatan (hal, cara dan sebagainya) mendidik.
Kata pendidikan sering digunakan untuk menerjemahkan kata educatioan dalam bahasa
Inggris. Dari segi bahasa, kata education tersebut berasal dari bahasa Latin, yaitu ex
yang berarti keluar, dan ducere duc yang berarti mengatur, memimpin dan
mengarahkan. Dengan demikian secara kebahasaan pendidikan berarti mengumpulkan,
menyampaikan informasi dan menyalurkan bakat, dan pada dasarnya pengertian
pendidikan ini terkait dengan konsep penyampaian informasi dan pengembangan bakat
yang tersembunyi.
1




1
W.J.S. Poerdarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta :Balai Pustaka, 1991), Cet. XII,
h. 250
id19549593 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
16
Masih dalam pengertian etimologi atau kebahasaan, dijumpai pula kata al-
Tarbiyah ( ΔϴΑήΘϟ΍ ) dalam bahasa Arab. Kata ini sering digunakan oleh para ahli
pendidikan Iskam untuk menerjemahkan kata pendidikan dalam bahasa Indonesia.
Sebuah buku karangan Muhammad Athiyah al-Abrasyi yang berjudul al-Tarbiyah al-
Islamiyah misalnya, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Prof. H. Bustami A.
Ghani dan Johar Bahry (pakar di bidang bahasa Arab) menjadi “Dasar-dasar Pokok
Pendidikan Islam.” Demikian pula buku yang berjudul Min al-Ushul al-Tarbiyah Fi al-
Islam, karangan Abdul Fattah Jalal diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi
“Dasar-dasar Pendidikan Islam”. Begitu pula nama Kementrian di beberapa Negara
Arab yang mengurusi bidang pendidikan (Wizarat al-Tarbiyah). Salah satu nama
Fakultas yang terdapat di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang
menyiapkan guru-guru adalah Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Kenyataan ini
menunjukkan pengaruh yang luas dari penggunaan istilah Tarbiyah untuk kegiatan
pendidikan. Abdurrahman al-Nahlawi, misalnya lebih cenderung menggunakan kata
tarbiyah untuk kata pendidikan. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa kata tarbiyah berasal
dari tiga kata kerja, yaitu :
Yang pertama adalah kata ( ˴έ ˴Α Ύ )rabaa, ( ˴ϳ ˸ή ˵Α ˸Ϯ )yarbuu yang berarti bertambah
dan bertumbuh, karena pendidikan mengandung misi untuk menambah bekal
pengetahuan kepada anak didik dan menumbuhkan potensi yang dimilikinya. Hal ini
sejalan dengan firman Allah SWT yang terdapat dalam al-Qur’an surat ar-Ruum ayat 39
yang berbunyi sebagai berikut:

17
˴ϓ˶αΎ͉Ϩϟ΍˶ϝ΍˴Ϯ˸ϣ˴΃ϲ˶ϓ˴Ϯ˵Α˸ή˴ϴ˶ϟΎ˱Α˶έ˸Ϧ˶ϣ˸Ϣ˵Θ˸ϴ˴Η΍˴˯Ύ˴ϣ˴ϭ ˶Ϫ͉Ϡϟ΍˴Ϊ˸Ϩ˶ϋϮ˵Α˸ή˴ϳΎ˴Ϡ

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada
harta manusia, maka riba ini tidak menambah pada sisi Allah…” (Q.S Ar-Ruum : 39)

Kedua dari kata ( ˴έ ˶Α ˴ϲ )rabiya, ( ˴ϳ ˸ή ˴ϰΑ )yarba yang berarti menjadi besar,
karena pendidikan juga mengandung misi untuk membesarkan jiwa dan memperluas
wawasan seseorang.
Ketiga adalah dari kata ( ˴έ ͉Ώ )rabba, ( ˴ϳ ˵ή ͊Ώ )yarubbu yang berarti
memperbaiki, menguasai urusan, menuntun,mengatur, mengasuh, mendidik, melatih,
membina, bertanggung jawab, menjaga, dan memelihara.
2

Menurut Penulis, kata yang ketiga dari kata kerja ˴έ ͉Ώ kurang tepat untuk asal
kata ΔϴΑήΗ karena kata ˴έ ͉Ώ lebih ditekankan kepada proses penciptaan alam (penciptaan
secara fisik), padahal tarbiyah yang dimaksudkan oleh kata kerja pertama( ˴έ ˴Α Ύ )dan kedua
( ˴έ ˶Α ˴ϲ )mengacu kepada mendidik secara fisik dan non fisik.
Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqy dalam bukunya al-Mu’jam al-Mufahras li
Alfadz al-Qur’an al-Karim telah menginformasikan bahwa di dalam al-Qur’an kata
tarbiyah dengan berbagai kata yang serumpun dengannya diulang sebanyak lebih dari
872 kali. Kata tersebut berakar pada kata rabb. Kata ini sebagaimana dijelaskan oleh
Raghib al-Ashfahany, yang dikutip oleh Abuddin Nata, bahwa pada mulanya al-
Tarbiyah yaitu Insya’al-syai halan fa halun ila hadd al tamam yang artinya

2
Abdurrahman An-Nahlawi, sebagaimana dikutip oleh Ahmad Tafsir dalam bukunya Ilmu
Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1994), Cet. 2, h. 29
18
mengembangkan atau menumbuhkan sesuatu setahap demi setahap sampai pada batas
yang sempurna.
3

Dengan merujuk pada kajian di atas maka dapat disimpulkan bahwa lafadz
al-Tarbiyah mempunyai unsur-unsur pokok sebagai berikut :
1. Memelihara fitrah anak dan memantapkannya dengan penuh perhatian
2. Menumbuhkan aneka ragam bakat anak
3. Mengarahkan fitrah dan bakat anak menuju yang lebih baik dan sempurna
4. melakukan semua proses tersebut secara bertahap.
Selain kata tarbiyah, terdapat juga kata ( ϢϴϠόΘϟ΍ ) Ta’lim. Istilah Ta’lim ini
memberi pengertian sebagai suatu proses pemberian Ilmu pengetahuan, pengertian,
pemahaman dan tanggung jawab. Kata Ta’lim juga banyak digunakan dalam
menyatakan pendidikan, seperti kitab yang dikarang oleh al-Zarnuji, yaitu Ta’lim al-
Muta’allim Thariq al-Ta’allum, seminar tentang pendidikan Islam mengambil nama
Mu’tamar al-Ta’limiyat al-Islamiyah, salah satu Kementrian yang terdapat di Saudi
Arabia menggunakan nama Wizarat al-Ta’lim al-‘Ali. Hal ini setidaknya memberikan
pengakuan terhadap penggunaan kata ta’lim untuk menjelaskan makna. Dalam al-
Qur’an dapat ditemukan penggunaan kata Ta’lim ini, salah satunya adalah :
˶Δ˴Ϝ˶΋Ύ˴Ϡ˴Ϥ˸ϟ΍ϰ˴Ϡ˴ϋ˸Ϣ˵Ϭ˴ο˴ή˴ϋ͉Ϣ˵ΛΎ˴Ϭ͉Ϡ˵ϛ˴˯Ύ˴Ϥ˸γ˴΄˸ϟ΍˴ϡ˴Ω΍˴˯˴Ϣ͉Ϡ˴ϋ˴ϭ

“Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda) seluruhnya
kemudian mengemukakan kepada Malaikat”. (QS. Al-Baqarah : 31).


3
Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 6
19
Abdul Fatah Jalal berpendapat bahwa istilah yang lebih komprehensif untuk
mewakili istilah pendidikan adalah istilah ta’lim, menurutnya istilah ini justru lebih
universal dibanding dengan proses tarbiyah. Untuk ini Jalal mengajukan alasan, bahwa
ta’lim berhubungan dengan bekal ilmu pengetahuan. Pengetahuan ini dalam Islam
dinilai sesuatu yang memiliki kedudukan yang tinggi. Hal ini misalnya dapat dijelaskan
melalui kasus Nabi Adam yang diberikan pengajaran (ta’lim) oleh Tuhan, dengan sebab
ini, para malaikat bersujud (menghormati) Nabi Adam (lihat Q.S. Al-Baqarah : 30-34)
4

Syed Muhammad Naquib al-Attas menawarkan sebuah istilah yang
dianggapnya dapat menggambarkan dan menjelaskan pengertian pendidikan dalam
keseluruhan essensinya. Istilah yang dimaksudkannya itu adalah ( ΐϳ Ω ΄Η Ta’dib.
Menurutnya istilah yang paling tepat untuk menunjukkan pendidikan Islam adalah
ta’dib. Konsep ini didasarkan pada Hadis Nabi :
ϲ͋Α˴έ˸ϲ˶˴ϨΑ͉Ω˴΍ ˴ϓ ˴Ύ ˸Σ ˴δ ˴Ϧ ˴Η ˸΄ ˶Ω ˸ϳ ˶Β ˸ϲ
“Tuhan telah mendidikku, Maka ia sempurnakan pendidikanku”.
Lebih lanjut ia ungkapkan bahwa penggunaan istilah tarbiyah terlalu luas
untuk mengungkap hakikat dan operasionalisasi pendidikan Islam. Sebab kata tarbiyah
yang memiliki arti pengasuhan, pemeliharaan, dan kasih sayang tidak hanya digunakan
untuk manusia, akan tetapi juga digunakan untuk melatih dan memelihara binatang atau
makhluk Allah lainnya. Padahal sasaran pendidikan adalah manusia. Oleh karenanya,
penggunaan istilah tarbiyah tidak memiliki akar yang kuat dalam khazanah Bahasa
Arab. Timbulnya istilah ini dalam dunia Islam merupakan terjemahan dari bahasa Latin

4
Ibid., h. 8
20
“educate” atau Bahasa Inggris “education”. Kedua kata tersebut dalam batasan
pendidikan Barat lebih banyak menekankan aspek fisik dan material, sementara
pendidikan Islam, penekanannya tidak hanya aspek tersebut, akan tetapi juga pada aspek
psikis dan immaterial. Dengan demikian, istilah ta’dib merupakan term yang paling tepat
dalam khazanah Bahasa Arab karena mengandung arti Ilmu, kearifan, keadilan,
kebijaksanaan, pengajaran, dan pengasuhan yang baik, sehingga makna tarbiyah dan
ta’lim sudah tercakup dalam ta’dib.
5

Al-Attas juga berpendapat bahwa istilah tarbiyah tidak berkaitan dengan inti
hakikat pendidikan sebagai “menanamkan ilmu pengetahuan dan intelektualitas serta
akhlak mulia”. Istilah tarbiyah lebih menunjuk konotasi sebagai pekerjaan yang bersifat
sekuler, mengingat konsep bawaan yang terkandung dalam istilah tersebut berhubungan
dengan pertumbuhan dan perkembangan serta kematangan material dan fisik saja.
6

Menurut penulis Al-Attas pada selanjutnya malah menimbulkan
permasalahan baru, karena ta’dib yang diusungnya itu mengandung arti “civilization”
(mencerdaskan budaya), sehingga ia lebih mengacu kepada pembinaan rohani saja.
Semua istilah di atas (tarbiyah, ta’lim dan ta’dib) pada dasarnya sama, yaitu
menerangkan kata pendidikan. Ketiganya sama-sama mempunyai hubungan tak
terpisahkan dengan “proses memelihara, mengasuh dan mendewasakan anak”. Namun
ketiganya berangkat dari sudut pandang dan titik perhatian yang berbeda.

5
DR. H. Samsul Nizar, M.A., Filsafat Pendidikan Islam; Pendidikan Historis, Teoritis dan
Praktis, (Jakarta : Ciputat Pers, 2002), Cet. 1, h. 30-31
6
H. Tajab, et. al., Dasar-dasar Kependidikan Islam (Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam),
(Surabaya : Karya Aditama, 1996), h. 19
21
Istilah Tarbiyah mengandung konsep yang berpandangan bahwa proses
pemeliharaan, pengasuhan, dan pendewasaan anak itu adalah bagian dari proses
Rububiyah Allah kepada manusia. Titik pusat perhatian Tarbiyah adalah pada “usaha
menumbuhkembangkan segenap potensi pembawaan dan kelengkapan dasar anak secara
bertahap dan berangsur-angsur sampai sempurna”. Istilah ta’lim mengandung pandangan
bahwa proses pemeliharaan, pengasuhan dan pendewasaan anak itu adalah “usaha
mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, dan keterampilan dari generasi tua kepada
generasi mudanya”. Dan lebih menekankan pada usaha menanamkan Ilmu pengetahuan
yang berguna bagi kehidupan anak. Adapun istilah Ta’dib didalamnya terkandung
konsep yang berpandangan bahwa hakekat dari pendewasaan, pemeliharaan dan
pengasuhan anak adalah menjadikan (melatih dan membiasakan diri) anak agar
berperilaku yang baik dan beradab sopan santun sesuai dengan yang berlaku dalam
masyarakatnya.
7

Dengan demikian Ta’dib mengesankan proses pembinaan terhadap sikap
mental dan akhlak dalam kehidupan. Jadi sasarannya adalah hati dan tingkah laku.
Ta’lim mengesankan proses pemberian bekal ilmu pengetahuan atau pengajaran yang
hanya terbatas pada penyampaian serta pemberian ilmu pengetahuan dan informasi.
Sedangkan Tarbiyah maknanya lebih luas dari Ta’dib dan Ta’lim.
8
Dengan kata lain,
bahwa Ta’lim dan ta’dib sebenarnya adalah bagian dari Tarbiyah, tetapi Ta’lim dan

7
H. Tajab, Dasar-dasar Kependidikan Islam (Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam),
(Surabaya : Karya Aditama, 1996), h. 19
8
Asnelly Ilyas, Mendambakan Anak Shaleh, (Bandung : Al-Bayan, 1995), Cet. 1, h. 21
22
Ta’dib yang dikehendaki adalah dalam pengertiannya sebagai proses pembelajaran dan
pelatihan.
9

Pada akhirnya penulis berkesimpulan bahwa tarbiyah mengesankan proses
pembinaan dan pengarahan serta bimbingan dalam rangka menumbuhkembangkan
potensi yang telah ada secara bertahap, istilah ta’lim mengesankan proses pemberian
bekal pengetahuan, sedangkan istilah ta’dib mengesankan proses pembinaan terhadap
sikap moral dan etika dalam kehidupan. Namun ketiga istilah ini sebenarnya mempunyai
hubungan yang tak terpisahkan dengan “proses memelihara, mengasuh dan mendidik.”
Terlepas dari perdebatan makna dari ketiga term di atas, Dalam buku Ilmu
Pendidikan yang ditulis oleh Drs. Sudirman, dkk. Disebutkan bahwa asal-usul istilah
pendidikan adalah sebagai berikut :
Istilah pendidikan adalah terjemahan dari bahasa Yunani, yaitu paedagogie.
Paedagogie asal katanya adalah pais yang artinya ‘anak’ dan again yang terjemahannya
adalah ‘membimbing’. Dengan demikian maka paedagogie berarti “bimbingan yang
diberikan kapada anak”. Orang yang memberikan bimbingan kepada anak disebut
paedagog.
10


Berikut ini adalah pengertian pendidikan secara terminologi atau istilah
menurut para ahli pendidikan antara lain :
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa :
Pendidikan ialah : proses pengubahan sikap dan tingkah laku seseoranng atau
kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan
pelatihan.
11


9
H. Tajab, Op. Cit., h. 20
10
Sudirman, et al., Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung : Remaja Rosdakarya, 1991), Cet. 5, h. 4
11
Tim Penyusun, Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan
dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta : Balai Pustaka, 1994)edisi kedua, h. 232
23

Dalam Undang-undang Republik Indonesia No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem
Pendidkan Nasional Bab 1 Pasal 1 Ayat 1 dikemukakan :
Pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui
bimbingan , pengajaran, dan atau latihan bagi peranannya di masa yang akan datang.
Drs. Sudirman, dkk., mengemukakan bahwa Pendidikan berarti usaha yang
dijalankan oleh seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi orang lain agar
menjadi dewasa atau mencapai tingkat hidup dan penghidupan yang lebih tinggi dalam
arti mental.
12

Ahmad D. Marimba mengajukan defenisi sebagai berikut :Pendidikan
adalah bimbingan atau pimpinan secara sadar oleh si pendidik terhadap perkembangan
jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
13

Berdasarkan kenyataan yang terkandung dalam pengertian pendidikan yang
telah dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapat penulis simpulkan bahwa
pendidikan itu adalah usaha sadar dari orang dewasa untuk menyiapkan peserta didik
melalui proses bimbingan, pengasuhan, pengajaran dan pelatihan secara teratur dan
sistematis ke arah kedewasaan untuk peranannya di masa yang akan dating.
Yang selanjutnya kata yang kedua adalah kata agama. Agama dalam arti
laterleknya adalah peraturan atau tata cara. Sedangkan pengertian agama secara

12
Sudirman, et. al., Op. Cit., h. 5
13
Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, (Bandung : al-Ma’arif, 1981), Cet.
VIII, h. 19
24
terminologinya telah dikemukakan oleh EB. Tailor dengan kalimat yang singkat bahwa
:”agama adalah kepercayaan terhadap kekuatan gaib”.
14

Dalam redaksi yang berbeda JG. Frazer mengartikannya sebagai berikut:
”Agama adalah suatu penyerahan diri kepada kekuatan yang lebih tinggi daripada
manusia yang dipercayai mengatur dan mengendalikan jalannya alam dan kehidupan
umat manusia”.
15

Harun Nasution merunut pengertian agama berdasarkan asal kata, yaitu al-
Din, religi (relegere, religare) dan agama. Al-Din (Semit) berarti undang-undang atau
hukum. Kemudian dalam bahasa Arab, kata ini mengandung arti menguasai,
menundukkan, patuh, utang, balasan, kebiasaan. Sedangkan dari kata religi (Latin) atau
relegere berarti mengumpulkan dan membaca. Kemudian religare berarti mengikat.
Adapun kata agama terdiri dari a = tidak ; gam = pergi) mengandung arti tidak pergi,
tetap di tempat atau diwarisi turun temurun.
Bertitik tolak dari pengertian kata-kata tersebut Jalaluddin dalam bukunya
Psikologi Agama mengutip pendapat Harun Nasution yang mengatakan agama
intisarinya adalah ikatan. Karena itu agama mengandung arti ikatan yang harus dipegang
dan dipatuhi manusia . ikatan dimaksud berasal dari suatu kekuatan gaib yang tak dapat
ditangkap dengan panca indera, namun mempunyai pengaruh yang besar sekali terhadap
kehidupan manusia sehari-hari.
16


14
H.M. Arifin, M.Ed., Belajar Memahami Agama-agama Besar, (Jakarta : CV. Sera Jaya, 1981),
Cet. 1, h. 3
15
Ibid., h. 4
16
Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: Raja Grafindo Persada), 1996, Cet. 1, h. 12
25
Pengertian agama seperti yang tersebut diatas nampak terlalu umum.
Pengetian agama yang menurut sementara para ahli dianggap sebagai definisi yang
paling lengkap adalah sebagai berikut :
˲ϊ˸ο˴ϭ˵Ϧ˸ϳ͋Ϊϟ˴΍ ˶΍ ˶Ϭϟ ͇ϰ ˴γ ˶΋Ύ ˲ϖ ˶ϟ ˴ά ˶ϭ ˸΍ϯ ˵όϟ ˵Ϙ ˸Ϯ ˶ϝ ˶Α ˶Ύ ˸Χ ˶Θ ˴ϴ ˶έΎ ˶ϫ ˸Ϣ ˶΍ ͉ϳ ˵ϩΎ ˶΍ ˴ϟ ͉μϟ΍ϰ ˴ϼ ˶Ρ
˶ϝΎϤϟ˸΍ϰ˶ϓ˶Ρ˴ϼ˴ϔϟ˸΍˴ϭ˶ϝΎ˴Τϟ˸΍ϰ˶ϓ

“Agama ialah suatu peraturan Ilahi yang menuntun (mendorong) jiwa
seseorang yang berakal memegang peraturan Ilahi itu dengan kehendaknya
(pilihannya) sendiri untuk ( mencapai) kebaikan hidup di dunia dan kebahagiaan di
akhirat.”
17


Menurut penulis definisi inilah yang paling tepat. Pengertian ini melengkapi
beberapa pengertian agama sebagaimana telah disebutkan sebelumnya. Di dalam
pengertian terakhir ini secara eksplisit ditegaskan bahwa agama ditujukan bagi manusia,
karena manusialah yang dianugerahi akal. Akal yang murni dan belum dipengaruhi oleh
suatu faham akan mudah menerima peraturan-peraturan Ilahi, yang menuntun manusia
ke arah kesentosaan dan kesejahteraan hidup serta membimbing manusia ke arah
keselamatan dan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Berdasarkan dari kedua pengertian kata pendidikan dan agama diatas, maka
akan dikemukan pengertian pendidikan agama. Pendidikan agama yang dimaksudkan
penulis adalah pendidikan agama Islam. Bagi umat Islam, agama merupakan dasar
utama dalam mendidik anak-anaknya melalui sarana-sarana pendidikan. Karena dengan
menanamkam nilai-nilai agama akan sangat membantu terbentuknya sikap dan

17
K.H.M. Taib Thahir Abd. Mu'in, Ilmu Kalam, (Jakarta :Wijaya, 1997), h. 121
26
kepribadian anak kelak pada masa dewasa. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa
pendidikan Islam adalah usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian anak
yang sesuai dengan ajaran-ajaran Islam atau suatu upaya dengan ajaran Islam, memikir,
memutuskan dan berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, serta bertanggung jawab sesuai
dengan nilai-nilai Islam.
18

Selanjutnya penulis akan mengemukakan beberapa pengertian pendidikan
agama (Islam) yang banyak ditulis oleh pakar-pakar pendidikan, khususnya pendidikan
Islam.
Menurut Dra. Zuhairini, dkk., pendidikan agama berarti usaha-usaha secara
sistematis dan pragmatis dalam membantu anak didik agar supaya mereka hidup sesuai
dengan ajaran Islam.
Menurut Drs. Ahmad D. Marimba pendidikan Islam yaitu bimbingan jasmani
dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju terbentuknya kepribadian
utama menurut ukuran-ukuran Islam. Dengan pengertian lain seringkali beliau
menyatakan kepribadian utama dengan istilah kepribadian muslim, yaitu kepribadian
yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat
berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.
19

Hasil Seminar Pendidikan Islam se-Indonesia tanggal 7 sampai dengan 11
Mei 1960 di Cipayung Bogor : “Pendidikan Islam adalah bimbingan terhadap

18
Zuhairini, …et . al., Filsafat Pendidikan Islam, ( Jakarta : Bumi Aksara), 1995, Cet. 2, h. 152

19
Drs. H. Djamaluddin, Drs. Abdullah Aly, Kapita Selekta Pendidikan Islam, (Bandung : Pustaka
Setia, 1998), h. 9
27
pertumbuhan rohani dan jasmani menurut ajaran Islam dengan hikmah mengarahkan,
mengajarkan, melatih, mengasuh, dan mengawasi berlakunya semua ajaran Islam”.
20

Prof. Dr. Moh. Athiyah al-Abrasyi dalam bukunya “Dasar-dasar Pokok
pendidikan Islam” sebagaimana yang dikutip oleh Zuhairini menegaskan bahwa
pendidikan agama adalah untuk mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa
fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi,
mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya ikhlas dan jujur”.
21

Menurut Moh. Al-Thoumy al-Syaibani yang dikutip oleh Prof. Dr. Armai
Arief, MA., dalam bukunya “Reformulasi Pendidikan Islam” disebutkan bahwa
Pendidikan Islam adalah “Usaha mengubah tingkah laku individu dalam kehidupan
pribadinya atau kehidupan kemasyarakatannya dan kehidupan dengan alam sekitarnya
melalui proses pendidikan”. Jadi, proses pendidikan merupakan rangkaian usaha
membimbing dan mengarahkan potensi hidup manusia bverupa kemampuan-
kemampuan dasar dan kemampuan belajar, sehingga terjadilah perubahan dalam
kehidupan pribadinya sebagai makhluk individu dan social, serta dalam hubungannya
dengan alam sekitar dimana dia hidup. Proses tersebut senantiasa berada di dalam nilai-
nilai Islami.
22

Dengan demikian pendidikan Islam terlihat pada kejelasan konsepnya
tentang pembentukan kepribadian utama menurut ukuran-ukuran ajaran agama Islam.


20
Ibid., h. 11

21
Zuhairini,… et. al., Op. Cit., h. 155

22
Prof. Dr. Armai Arief, MA, Reformulasi Pendidikan Islam,( Jakarta : CRSD Press, 2005), Cet.
1, h. 186-187
28
Dengan kalimat yang singkat Dr. Zakiah Daradjat, dkk., memperjelaskan
pengertian pendidikan Islam, yaitu : “Pendidikan Islam itu adalah pembentukan
kepribadian muslim.”
23

Setelah dikemukakan beberapa pengertian pendidikan Islam oleh beberapa
pakar, maka penulis berkesimpulan bahwa pendidikan Islam itu mengandung unsur-
unsur pokok sebagai berikut :
1. kegiatannya dilakukan secara sengaja, terencana dan sistematis yang harus dilalui
secara bertahap
2. adanya bimbingan jasmani dan rohani peserta didik
3. berdasarkan hukum-hukum agama Islam, karena itu tujuan pendidikannya
pembentukan kepribadian muslim di mana ia memilih, memutuskan dan berbuat
berdasarkan nilai-nilai Islam.
4. apa yang diberikan kepada anak didik itu sedapat mungkin dapat mendorong tugas
dan perannya di masyarakat, baik sebagai makhluk pribadi maupun sebagai
makhluk sosial, serta dalam hubungannya dengan alam sekitar di mana ia hidup.

B. Tujuan Pendidikan Agama
Tujuan ialah suatu yang diharapkan tercapai setelah usaha dan kegiatan
selesai. Maka pendidikan, karena merupakan suatu usaha dan kegiatan yang berproses
melalui tahap-tahap dan tingkatan-tingkatan, tujuannya pun bertahap dan bertingkat.


23
Zakiah Daradjat, et. al., Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 1992), Cet. 2, h. 25
29
Tahapan dan tingkatan tujuan pendidikan tersebut akan bermuara pada tujuan
akhir (ultimate aims of education), yaitu tujuan ideal yang diharapkan terbentuk dan
pribadi manusia yang diinginkan.
Dengan demikian jika berbicara tentang tujuan akhir pendidikan Islam,
berarti berbicara tentang nilai-nilai ideal yang bercorak Islami. Hal ini mengandung
makna bahwa tujuan Pendidikan Islam tidak lain adalah tujuan yang merealisasi idealitas
Islam. Sedang idealitas Islam itu sendiri adalah mengandung nilai perilaku manusia yang
didasari atau dijiwai oleh iman dan takwa kepada Allah sebagai sumber kekuatan yang
mutlak dan harus ditaati.
Dalam Kongres se-Dunia ke II tentang Pendidikan Islam tahun 1980 di
Islamabad, menyatakan bahwa :
Tujuan Pendidikan Islam adalah untuk mencapai keseimbangan
pertumbuhan kepribadian manusia (peserta didik) secara menyeluruh dan seimbang
yang dilakukan melalui latihan jiwa, akal pikiran (intelektual), diri manusia yang
rasional; perasaan dan indera. Karena itu pendidikan hendaknya mencakup
pengembangan seluruh aspek fitrah peserta didik;aspek spiritual, intelektual, imajinasi,
fisik, ilmiah dan bahasa, baik secara individual maupun kolektif; dan mendorong semua
aspek tersebut ke arah kebaikan dan kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan Muslim
terletak pada perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah, baik secara
pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia.
24


Oleh karena itu, tujuan pendidikan Islam, menurut Ashraf, adalah penyerahan
diri secara mutlak kepada Allah. Bahkan lebih tandas lagi, Quraish Shihab, seorang
mufassir kenamaan Indonesia, meyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah

24
DR. H. Samsul Nizar, M.A., Filsafat Pendidikan Islam; Pendidikan Historis, Teoritis dan Praktis,
(Jakarta : Ciputat Pers, 2002), Cet. 1, h. 38
30
membina manusia supaya menjadi khalifah di muka bumi untuk membangun dunia
sesuai konsep taqwa. Untuk bisa tunduk kepada aturan Allah itu, manusia harus berilmu
dan berakhlak. Manusia (peserta didik) harus menjadikan nilai-nilai moral sebagai
pijakan pemanfaatan ilmunya.
25

Tujuan pendidikan pada dasarnya merupakan perubahan yang diinginkan dan
diusahakan oleh proses pendidikan atau usaha pendidikan, baik pada dataran tingkah
laku individu dalam kehidupan pribadinya maupun kehidupan bermasyarakat serta alam
sekitar.
Selanjutnya, menurut Hasan Langgulung, berbicara tentang tujuan
pendidikan tidak dapat tidak mengajak kita berbicara tentang tujuan hidup. Sebab
pendidikan bertujuan untuk memelihara kehidupan manusia. Tujuan hidup ini
menurutnya tercermin dalam ayat 162 Surat al-An’am yang artinya : “Katakanlah :
Sesungguhnya Shalatku, dan ibadahku seluruh hidup dan matiku semuanya hanya untuk
Allah Tuhan seluruh alam.
26

Dra. Zuhairini, dkk., dalam bukunya Metodik Khusus Pendidikan Agama
menyebutkan bahwa tujuan umum Pendidikan Agama ialah membimbing anak agar
mereka menjadi orang Muslim sejati, beriman teguh, beramal sholeh dan berakhlak
mulia serta berguna bagi masyarakat, Agama dan Negara.
Tujuan pendidikan Agama tersebut adalah merupakan tujuan yang hendak
dicapai oleh setiap orang yang melaksanakan pendidikan agama. Karena dalam


25
DR. Abdurrahman Mas’ud, et . al., Paradigma Pendidikan Islam, (Yogyakarta : Pustaka
pelajar, 2001), Cet. 1, h. 65


26
Drs. H. Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997), Cet. 1,
h. 49-50
31
mendidik agama yang perlu ditanamkan terlebih dahulu adalah keimanan yang teguh,
sebab dengan adanya keimanan yang teguh itu, maka akan menghasilkan ketaatan
menjalankan kewajiban agama.
Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Adz-Dzariyat ayat 56 yang
berbunyi :
˶ϥϭ˵Ϊ˵Β˸ό˴ϴ˶ϟΎ͉ϟ˶·˴β˸ϧ˶Έ˸ϟ΍˴ϭ͉Ϧ˶Π˸ϟ΍˵Ζ˸Ϙ˴Ϡ˴ΧΎ˴ϣ˴ϭ
“Aku tidak menjadikan jin dan manusia kecuali agar mereka itu beribadat
kepada-Ku.”
Disamping beribadat kepada Allah, maka setiap Muslim di dunia ini harus
mempunyai cita-cita untuk dapat mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 201 :
Ύ˴Ϩ˶ϗ˴ϭ ˱Δ˴Ϩ˴δ˴Σ ˶Γ˴ή˶Χ΂˸ϟ΍ ϲ˶ϓ˴ϭ ˱Δ˴Ϩ˴δ˴Σ Ύ˴ϴ˸ϧ͊Ϊϟ΍ ϲ˶ϓ Ύ˴Ϩ˶Η΍˴˯ Ύ˴Ϩ͉Α˴έ ˵ϝϮ˵Ϙ˴ϳ ˸Ϧ˴ϣ ˸Ϣ˵Ϭ˸Ϩ˶ϣ˴ϭ
˶έΎ͉Ϩϟ΍˴Ώ΍˴ά˴ϋ
“Diantara mereka ada yang berkata, Ya Tuhan kami berikanlah kepada kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Tujuan umum pendidikan Agama tersebut dengan sendirinya tidak akan
dapat dicapai dalam waktu sekaligus, tetapi membutuhkan proses atau membutuhkan
waktu yang panjang dengan tahap-tahap tertentu.
27

Akhirnya, meskipun banyak dijumpai rumusan-rumusan dari beberapa
pemikir Islam tentang tujuan Pendidikan Islam, penulis menemukan suatu aspek


27
Dra. Zuhairini, dkk., Metodik Khusus Pendidikan Agama, (Surabaya : Usaha Nasional, 1983),
Cet. VIII, h. 45-46
32
prinsipil yang sama yaitu menghendaki terwujudnya nilai-nilai Islami dalam pribadi
anak didik dalam bentuk keimanan, keislaman dan ketakwaan.
Jika dilihat tujuan Pendidikan Islam yang dinyatakan dalam kongres se-
Dunia II tentang Pendidikan Islam tahun 1980 seperti yang dikutip sebelumnya, terlihat
bahwa tujuan Pendidikan Islam itu bersifat duniawi dan ukhrawi, karena yang
ditumbuhkembangkan adalah aspek fisik dan non fisik. Begitu pula dalam al-Qur’an
terdapat materi qauliyah yaitu ayat yang berbicara mengenai aqidah, syariat dan akhlak
juga terdapat materi kauniyyah yaitu ayat yang berbicara mengenai ihwal penciptaan
alam serta fenomena alam seperti, kosmis, kosmogoni, kosmografi dan kosmologi. Dan
jika tujuan pendidikan Islam dikaitkan dengan materi qauliyah yang berbicara mengenai
aqidah, syariat dan akhlak, maka nasehat Luqman yang terdapat dalam surat Luqman
ayat 12 sampai dengan 19 ini telah mewakilinya. Karena lingkup maupun urutan ketiga
materi pokok pendidikan agama ini digambarkan oleh surat Luqman ayat 12-19. Adapun
urutan ketiga materi tersebut adalah :
1. Ilmu Tauhid yang membahas tentang Aqidah yang bersifat I’tiqadi, mengajarkan
keesaan Allah, Esa sebagai Tuhan yang mencipta, mangatur dan meniadakan alam
ini.
2. Ilmu Fiqih yang membahas tentang Syariah yang berhubungan dengan amal lahir
dalam rangka mentaati semua peraturan dan hukum tuhan, guna mengatur hubungan
antara manusia dengan Tuhan, dan mengatur pergaulan hidup dan kehidupan
manusia.
3. Ilmu Akhlak adalah suatu amalan yang bersifat pelengkap penyempurna bagi kedua
amal diatas dan yang mengajarkan tentang tata cara pergaulan hidup manusia.
33

Hal ini sesuai dengan inti ajaran pokok Islam sebagaimana yang
dikemukakan oleh Zuhairini dkk., bahwa : Inti pokok ajaran Islam itu meliputi :
1. Masalah keimanan (aqidah)
2. Masalah Keislaman (syariah)
3. Masalah Ikhsan (akhlak)
Rumusan inti pokok ajaran Islam ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan
oleh Muslim dari Umar r.a :
˴ϋ ˸Ϧ ˵ϋ ˴Ϥ ˴ή ˴έ ˶ο ˴ϲ ˵Ϳ΍ ˴ϋ ˸Ϩ ˵Ϫ ˴ϗ ˴ϝ Ύ ˴Α ˸ϴ ˴Ϩ ˴Ϥ ˴ϧ Ύ ˸Τ ˵Ϧ ˵Ο ˵Ϡ ˸Ϯ ˲α ˶ϋ ˸Ϩ ˴Ϊ ˴έ ˵γ ˸Ϯ ˶ϝ ˶Ϳ΍
˴λ ͉Ϡ ˵Ϳ΍ϰ ˴ϋ ˴Ϡ ˸ϴ ˶Ϫ ˴ϭ ˴γ ͉˷Ϡ ˴Ϣ ˴Ϋ ˴Ε΍ ˴ϳ ˸Ϯ ˳ϡ . ˶΍ ˸Ϋ ˴σ ˴Ϡ ˴ϊ ˴ϋ ˴Ϡ ˸ϴ ˴Ϩ ˴έΎ ˲Ϟ˵Ο ˴η ˶Ϊ ˸ϳ ˲Ϊ ˴Α ˴ϴ ˶νΎ ͋Μϟ΍ ˴ϴ Ύ
˶Ώ ˴η ˶Ϊ ˸ϳ ˵Ϊ ͉δϟ΍ ˴Ϯ ˶Ω ΍ ͉θϟ΍ ˸ό ˶ή ˴ϻ ˵ϳ ˴ή ˴ϋ ϯ ˴Ϡ ˸ϴ ˶Ϫ ˴΍ ˴Λ ˵ή ΍ ͉δϟ ˴ϔ ˶ή ˴ϭ ˴ϻ ˴ϳ ˸ό ˶ή ˵ϓ ˵Ϫ ˶ϣ ͉Ϩ ˴΍ Ύ ˴Σ ˲Ϊ
˴Σ ͉ϰΘ ˴Ο ˴Ϡ ˴β ˶· ˴ϟ ͉Ϩϟ΍ϰ ˶Β ͋ϰ ˴λ ͉Ϡ ˵Ϳ΍ϰ ˴ϋ ˴Ϡ ˸ϴ ˶Ϫ ˴ϭ ˴γ ͉Ϡ ˴Ϣ ˴ϓ ˸γΎ ˴Ϩ ˴Ϊ ˵έ ˸ϛ ˴Β ˴Θ ˸ϴ ˶Ϫ ˶΍ ˴ϟ ˵έϰ ˸ϛ ˴Β ˴Θ ˸ϴ ˶Ϫ
˴ϭ ˴ϭ ˴ο ˴ϊ ˴ϛ ͉ϔ ˸ϴ ˶Ϫ ˴ϋ ˴ϰϠ ˴ϓ ˶Ψ ˴ά ˸ϳ ˶Ϫ ˴ϭ ˴ϗ ˴ϝ Ύ ˴ϳ ˵ϣ Ύ ˴Τ ͉Ϥ ˵Ϊ ˴΍ ˸Χ ˶Β ˸ή ˶ϧ ˴όϯ ˶Ϧ ˸΍ ˶ϻ ˸γ ˴ϼ ˶ϡ ! ˴ϓ ˴Ϙ ˴ϝ Ύ
˴έ ˵γ ˸Ϯ ˵ϝ ΍ ˶Ϳ ˴΍ ˸ϟ ˶Ύ ˸γ ˴ϼ ˵ϡ ˴΍ ˸ϥ ˴Η ˸θ ˴Ϭ ˴Ϊ ˴΍ ˸ϥ ˴ϻ ˶΍ ˴Ϫϟ ˶΍ ͉ϻ ˵Ϳ΍ ˴ϭ ˴΍ ͉ϥ ˵ϣ ˴Τ ͉Ϥ ˱Ϊ ͉έ΍ ˵γ ˸Ϯ ˵ϝ
˶Ϳ΍ , ˴ϭ ˵Η ˶Ϙ ˸ϴ ˴Ϣ ͉μϟ΍ ˴ϼ ˴Γ , ˴ϭ ˵Η ˸Ά ˶Η ˴ϰ ͉ΰϟ΍ ˴ϛ Ύ ˴Γ , ˴ϭ ˴Η ˵μ ˸Ϯ ˴ϡ ˴έ ˴ϣ ˴π ˴ϥΎ , ˴ϭ ˴Η ˵Τ ͉Ξ ˸΍ ˴Βϟ ˸ϴ ˶Ζ
˶΍ ˶ϥ ˸γ΍ ˴Θ ˴τ ˸ό ˴Ζ ˶΍ ˴ϟ ˸ϴ ˶Ϫ ˴γ ˶Β ˸ϴ ˱ϼ . ˴Ύϗ ˴ϝ ˴λ ˴Ϊ ˸ϗ ˴Ζ ˴ϓ ˴ό ˶Π ˸Β ˴Ϩ ˴ϟΎ ˵Ϫ ˴ϳ ˸δ ˴΄ ˵ϟ ˵Ϫ ˴ϭ ˵ϳ ˴μ ͋Ϊ ˵ϗ ˵Ϫ ˴ϗ Ύ ˴ϝ
˴ϓ ˴Ύ ˸Χ ˶Β ˸ή ˶ϧ ˴όϯ ˶Ϧ ˸΍ ˶ϟ ˸ϳΎ ˴ΎϤ ˶ϥ ! ˴ϗ ˴ϝΎ ˴΍ ˸ϥ ˵Η ˸Ά ˶ϣ ˴Ϧ ˶Α ˶ͿΎ ˴ϭ ˴ϣ ˶ΌϠ ˴Ϝ ˶Θ ˶Ϫ ˴ϭ ˵ϛ ˵Θ ˶Β ˶Ϫ ˴ϭ ˵έ ˵γ ˶Ϡ ˶Ϫ
˴ϭ ˸΍ ˴ϴϟ ˸Ϯ ˶ϡ ˸΍ ˶Χϻ ˶ή ˴ϭ ˵Η ˸Ά ˶ϣ ˴Ϧ ˶Α ˸ϟΎ ˴Ϙ ˴Ϊ ˶έ ˴Χ ˸ϴ ˶ή ˶ϩ ˴ϭ ˴η ˷ή ˶ ˶ϩ ˴ϝΎ˴ϗ ˴λ ˴Ϊ ˸ϗ ˴Ζ ˴ϗ ˴ϝΎ ˴ϓ ˴΄ ˸Χ ˶Β ˸ή
˶ ˴ϋϰϧ ˶Ϧ ˸ϟ΍ ˶Ύ ˸Σ ˴δ ˶ϥΎ ˴ϗ ˴ϝΎ ˴΍ ˸ϥ ˴Η ˸ό ˵Β ˴Ϊ ˴Ϳ΍ ˴ϛ ˴Ύ ͉ϧ ˴Ϛ ˴Η ˴ή ˵ϩ΍ ˴ϓ ˶Ύ ˸ϥ ˴Ϣϟ ˸ ˴Η ˵Ϝ ˸Ϧ ˴Η ˴ή ΍ ˵ϩ ˴ϓ ˶Ύ ͉ϧ ˵Ϫ
˴ϳ ˴ή ˴ϙ΍ ϢϠδϣϩ΍ϭέ

“Dari Umar r.a beliau berkata : “Pada suatu hari dikala kami sedang duduk
bersama Rasulullah SAW, tiba-tiba datang seorang laki-laki yang berpakaian sangat
putih sekali dan rambutnya sangat rapi, tetapi tidak terlihat tanda-tanda ia seorang
musafir dan tidak seorang pun yang mengenalnya. Lantas ia duduk berhadapan dengan
Nabi sambil mengadu lututnya dengan lutut Nabi dan meletakkan tangannya dipaha
34
beliau, lalu katanya : ‘Hai Muhammad ceritakan kepadaku tentang islam !’ Nabi
menyebutkan :’Islam ialah bahwa engkau mengakui bahwasanya tiada Tuhan selain
Allah dan Muhammad utusan Allah, engkau mengerjakan shalat, engkau membayar
zakat, engkau puasa di bulan ramadhan dan engkau lakukan haji ke Baitullah jika
engkau mampu’. Laki-laki itu berkata : Engkau benar. Dan kami heran, dia yang
bertanya dan dia pula yang membenarkan. Lantas ia berkata lagi : ‘ceritakan kepadaku
tentang Iman!’ Nabi menyebutkan : ‘Iman ialah kamu yakin dan percaya kepada Allah,
malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhir dan taqdir baik dan taqdir
buruk’. Ia menyahut : Engkau benar. Dia berkata lagi : ‘ceritakan kepadaku tentang
Ihsan!’ Nabi menyebutkan : ‘Ihsan ialah engkau sembah Allah seakan-akan engkau
melihat-Nya dan jika engkau tidak melihatnya kamu yakin Dia melihatmu’. (H.R.
Muslim)
28


C. Prinsip Pendidikan Agama
Bila kita mengamati sedalam-dalamnya tentang bagaimana Tuhan mendidik
alam ini, maka nampaklah oleh kita bahwa Allah sebagai Yang Maha Pendidik
(Murabby Al-A’dham) dengan qadrat dan iradat-Nya telah mempolakan suatu supra
sistem dalam suatu sistem mekanisme yang bergerak dalam suatu pola keseimbangan
dan keserasian antara sub-sub sistem dari kehidupan alam ini.
Sebenarnya Allah yang maha kuasa atas ciptaan-Nya itu, bila menghendaki
sesuatu itu terjadi, maka dengan qodrat dan iradat-Nya sesuatu akan terjadi, tanpa
menggunakan sistem apapun. Akan tetapi sebagai maha pendidik Allah rupanya
menghendaki bahwa segala sesuatu yang menyangkut kehidupan di alam ini berjalan
dalam suatu sistem dimana suatu proses kehidupan terjadi secara alami. Hal demikian


28
Terjemah Shahih Muslim Jilid I, Penerjemah Ma'mur Daud, (Malaysia : Klang Book Centre,
1995), Cet. 2, h. 2
35
menjadi contoh bagi makhluk-Nya dalam usaha mengembangkan kehidupan secara
wajar dan manusiawi atau alami sesuai dengan garis (khittah) ysng telah diletakkan
Allah sebagai dasarnya.
Sebagai misal, mengapa Allah Yang Maha Kuasa tidak secara langsung saja
menjadikan makhluknya baik atau jahat, pandai atau bodoh, bahagia atau celaka, sehat
atau sakit (jasmaniah atau rohaniah), tumbuh dan berkembang atau lemah dan punah
sama sekali. Melainkan Allah menjadikannya melalui sistem dimana terjadi berbagai
macam proses yang pada dasarnya terletak pada suatu mekanisme sebab dan akibat.
Dan mengapa Allah perlu menciptakan planet-planet dalam suatu sistem tata
surya yang berjalan di atas khittah yang teratur dan konstan dalam pola keseimbangan
dan keserasian. Mengapa Allah menciptakan wadah dunia ini sebagai suatu sistem
institusi dimana didalamnya umat manusia dididik untuk mampu mengembangkan
dirinya serta mampu berinteraksi dan interaksi dengan dunia sekitarnya bahkan
bersahabat dengan dunia sekitar itu.
Itu semua membuktikan betapa Tuhan ingin menunjukkan bahwa segala
sesuatu yang hidup di alam ini tidak terjadi secara insidental akan tetapi harus melalui
proses dalam suatu sistem yang bekerja secara mekanis yang dapat dicontoh dan ditiru
oleh hamba-Nya, khususnya manusia di dunia ini.
Bila manusia pandai-pandai mengikuti dan berjalan menurut sistem tersebut
maka segala ikhtiar manusia akan berakhir pada tujuan yang dicita-citakan; Sungguh
benar untuk direnungkan apa yang difirmankan Allah, bahwa :
36
ϲ˶ϟϭ˵΄˶ϟ ˳ΕΎ˴ϳ΂˴ϟ ˶έΎ˴Ϭ͉Ϩϟ΍˴ϭ ˶Ϟ˸ϴ͉Ϡϟ΍ ˶ϑΎ˴Ϡ˶Θ˸Χ΍˴ϭ ˶ν˸έ˴΄˸ϟ΍˴ϭ ˶Ε΍˴Ϯ˴Ϥ͉δϟ΍ ˶ϖ˸Ϡ˴Χ ϲ˶ϓ ͉ϥ˶·
ϲ˶ϓ ˴ϥϭ˵ή͉Ϝ˴ϔ˴Θ˴ϳ˴ϭ ˸Ϣ˶Ϭ˶ΑϮ˵Ϩ˵Ο ϰ˴Ϡ˴ϋ˴ϭ ΍˱ΩϮ˵ό˵ϗ˴ϭ Ύ˱ϣΎ˴ϴ˶ϗ ˴Ϫ͉Ϡϟ΍ ˴ϥϭ˵ή˵ϛ˸ά˴ϳ ˴Ϧϳ˶ά͉ϟ΍ ˶ΏΎ˴Β˸ϟ˴΄˸ϟ΍
˴ϫ ˴Ζ˸Ϙ˴Ϡ˴Χ Ύ˴ϣ Ύ˴Ϩ͉Α˴έ ˶ν˸έ˴΄˸ϟ΍˴ϭ ˶Ε΍˴Ϯ˴Ϥ͉δϟ΍ ˶ϖ˸Ϡ˴Χ ˴Ώ΍˴ά˴ϋ Ύ˴Ϩ˶Ϙ˴ϓ ˴Ϛ˴ϧΎ˴Τ˸Β˵γ Ύ˱Ϡ˶σΎ˴Α ΍˴ά
˶έΎ͉Ϩϟ΍

“Sesungguhnya di dalam kejadian lengit dan bumi terdapat tanda-tanda
(kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal. Mereka itu mengingat Allah disaat
berdiri dan duduk dan di waktu berbaring serta memikir-mikir tentang kejadian langit
dan bumi (seraya) mengucapkan :wahai Tuhanku, kau tidak menciptakan ini semua
dengan sia-sia, maha suci Kau maka jauhkanlah kami dari siksaan api neraka.”(Ali
Imran : 190-191)

Allah Maha Pencipta dan Maha Kuasa atas segala-galanya, akan tetapi juga
Maha Pendidik terhadap hamba-hamba-Nya. Dia adalah “Rabbul A’lamin”Pendidik atas
sekalian alam ini. Para malaikat, para Rasul dan Nabi-nabi serta para Wali-wali sampai
kepada para Ulama diciptakan oleh-Nya sebagai penyambung kalam Ilahi dan sekaligus
sebagai pembantu Allah dalam proses mendidik manusia agar menjadi hamba yang
beriman, bertakwa dan taat kepada perintah-Nya.
29

Dengan dasar pemikiran tersebut di atas yang perlu digaris bawahi adalah,
bahwa keberhasilan dalam mendidik manusia akan tercapai dengan baik sesuai tujuan
yang dicita-citakan apabila manusia tersebut dididik sesuai dengan tuntunan Allah,
karena Allah adalah Pendidik Alam Semesta (Rabbul A’lamin) dan Allah juga adalah
Pendidik manusia (Rabbinnas). Sedangkan para rasul dan para nabi, para wali, para


29
H.M Arifin M.Ed., Ilmu Pendidikan Islam; Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan
Pendekatan Interdisipliner, (Jakarta : Bumi Aksara, 2000), Cet. 5, h. 48-49
37
ulama dan para pendidik lainnya merupakan khalifah Allah yang menjadi mediator
terhadap pendidikan bagi hamba-Nya.
Dari konsep rububiyah Allah terhadap alam semesta (termasuk manusia)
itulah pendidikan Islam tersebut sebenarnya bersumber. Dengan demikian bagaimana
konsep dan prinsip-prinsip dasar pendidikan Islam yang sebenarnya (yang bersumber
pada ajaran Islam yang sebenarnya) akan dapat dianalisis dan dikembangkan dari
gambaran dan penjelasan tentang proses rububiyah Allah terhadap alam semesta dan
manusia tersebut.
30
Di antara beberapa prinsip tersebut ialah :
a. Prinsip menyeluruh (holistik atau ( ϝϮϤθϟ΍ )
31

Yaitu prinsip (asas) yang menempatkan semua jenis ciptaan Allah di alam ini
tersusun dari bagian-bagian yang bermakna dalam suatu keseluruhan. Segala yang
maujud ini harus dilihat sebagai sistem kebulatan yang bermakna bagi manusia,
sehingga tak ada bagian satupun dalam sistem ini dipandang tak bermakna atau
tidak diperlukan.
Dengan berpegang pada asas ini, maka dalam dunia kependidikan diperlukan
suatu model (pattern) sistem yang menyeluruh baik dalam pelembagaan
pendidikan yang berjenjang dan bervariasi maupun dalam penerapan metode
pendidikan sehingga terlahirlah sistem “Satu untuk semuanya” (One for all
system).
Kemudian prinsip menyeluruh ini meliputi segala aktivitas biologis perorangan
dan masyarakat. Hal itu meliputi segala hubungan manusia dengan Allah yang


30
H. Tadjab. Op. Cit., h. 18

31
H.M Arifin M.Ed., Op. Cit., h. 51
38
disebut ibadah (hablum minallah) dan hubungan manusia dengan makhluk lainnya
yang disebut dengan muamalah (hablum minallah).
b. Prinsip Kesatuan (Integritas)
32

Adalah suatu asas (prinsip) yang memandang bahwa segala yang diciptakan Allah
dalam kehidupan alam ini baik makhluk manusia maupun tumbuh-tumbuhan
senantiasa berada dalam suatu sistem integral di mana antara satu bagian dengan
bagian lain saling berhubungan yang bersifat menggerakkan dan saling
memperkokoh sebagai satu kesatuan hidup yang bermakna. Bagian-bagian yang
bekerja secara mekanistis dalam fungsinya masing-masing itu tidak terlepas antara
satu dari yang lainnya, oleh karena apabila terlepas antara satu dari yang lain,
kecuali akan menghilangkan makna, juga akan mengakibatkan sistem kehidupan
alamiahnya kehilangan keseimbangannya.
Dalam pendidikan Islam, konsep ini dirujukkan kepada kodrat manusia sebagai
makhluk Allah yang memiliki dimensi fisik dan ruhani yang kualitasnya sangat
ditentukan oleh adanya keseimbangan-keseimbangan. Keseimbangan manusia
dapat dilihat pula dari peran yang seyogyanya dilakukan dalam kedudukannya
sebagai ‘abd (hamba) Allah, pengabdi yang tunduk dan patuh pada ketentuan dan
perintah Allah, sekaligus sebagai khalifah (wakil) Allah yang memiliki kebebasan
dan tanggung jawab memakmurkan dan memberi manfaat kepada siapa pun di
muka bumi. Kedua peran ini mewujudkan manusia yang sempurna (insan kamil)
yang menjadi tujuan pendidikan.



32
Ibid., h. 51
39
c. Prinsip Perkembangan atau ( ˷ϮτΘϟ΍ έ )
33

Yaitu prinsip (asas) yang menetapkan pandangan bahwa Allah dalam menciptakan
alam dan isinya berproses melalui tahap demi tahap menuju ke arah
kesempurnaanya, baik alam makro (alam raya) maupun alam mikro (alam
manusia).
Dalam sistem administrasi kependidikan, misalnya dapat dibentuk suatu sistem
kelembagaan kependidikan yang berjenjang dari tingkat pradasar, dasar,
menengah dan perguruan tinggi, yang menggambarkan model dari proses
perkembangan kemampuan menusia setingkat demi setingkat, ke arah titik
tertinggi kemampuan perkembangannya.
Ketiga prinsip (asas) tersebut, akan lebih sempurna lagi bilamana ditambah
dengan asas ke-4, yaitu asas Pendidikan sepanjang hayat atau Life Long Education
sesuai dengan pandangan Islam yang dinyatakan oleh Nabi :
˵΍ ˸σ ˵Ϡ ˵ΐ ˸΍ ˶όϟ ˸Ϡ ˴Ϣ ˶ϣ ˴Ϧ ˸ϟ΍ ˴Ϥ ˸Ϭ ˶Ϊ ˶΍ ˴ϰϟ ͉Ϡϟ΍ ˸Τ ˶Ϊ
“Tuntutlah ilmu sejak mulai di ayunan sampai liang lahad.”
Pernyataan ini sangat relevan dengan konsep al-Qur’an tentang keharusan
menuntut ilmu dan memperoleh pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan seumur hidup
ini tentunya tidak terlaksana melalui jalur-jalur formal, tetapi juga informal dan non
formal. Atau dengan kata lain, pendidikan yang berlangsung seumur hidup menjadi
tanggung jawab bersama, keluarga, masyarakat dan pemerintah.


33
Ibid., h. 52
40
Kesemua prinsip di atas adalah prinsip materi pendidikan (prinsip
pengajaran). Dalam arti pada proses pengajaran materi-materi pendidikan agama, para
pendidik harus berpegang pada prinsip-prinsip tersebut.

C. Al-Qur’an sebagai Sumber Pendidikan Agama
Sebagai aktivitas yang bergerak dalam bidang pendidikan pembinann
kepribadian, tentunya pendidikan Islam memerlukan landasan kerja untuk memberi arah
bagi programnya. Sebab dengan adanya dasar juga berfungsi sebagai sumber semua
peraturan yang akan diciptakan sebagai pegangan langkah pelaksanaan dan sebagai jalur
langkah yang menentukan arah usaha tersebut.
Drs. Ahmad D. Marimba dalam bukunya “Pengantar Filsafat Pendidikan
Islam” mengatakan bahwa : “Sumber kebenaran dalam Islam adalah al-Qur’an. Inilah
sumber nilai-nilai Islam yang tidak dapat diragukan lagi.
Al-Qur’an secara harfiyah berasal dari fi’il madhi ΃ήϗ - ΃ήϘϳ - ϗ ΃ή ϥ , yang
artinya : membaca (kitab). Dan al-Qur’an adalah masdarnya Secara istilah,
Abdurrahman mengutip pendapat Dr. Subhi ash-Shalih, al-Qur'an adalah :
ΏϮΘϜϤϟ΍ ϢϠγϭ ϪϴϠϋ Ϳ΍ ϰϠλ ϲΒϨϟ΍ ϰϠϋ ϝΰϨϤϟ΍ ΰΠόϤϟ΍ ϡϼϜϟ΍ Ϯϫ ϥ΃ ήϘϟ΍
ϪΗϭϼΘΑΪΒόΘϤϟ΍ήΗ΍ϮΘϟΎΑϪϨϋϝϮϘϨϤϟ΍΢ϓΎμϤϟ΍ϰϓ ΍άϫϰϠϋϥ΃ήϘϟ΍ϒϳήόΗϭ
ϟϮλϻ΍ϦϴΑϪϴϠϋϖϔΘϣϪΟϮϟ΍ ΎϬϘϔϟ΍ϭϦϴϴ ˯ ΔϴΑήόϟ΍˯ΎϤϠϋϭ
bahwa Al-Qur’an adalah kalam yang mukjizat yang diturunkan kepada Nabi
SAW, yang tertulis di dalam mushaf-mushaf yang dinukilkan secara mutawatir dan
41
membacanya adalah ibadah. Pengertian yang demikian ini merupakan kesepakatan
diantara ulama ‘ushul, fiqh dan ulama Arab.
34


˳Sedangkan Menurut Abdul Wahab Khalaf yang dikutip oleh Abdurrahman
Mas'ud, Al-Qur’an adalah :
ϥ΃ήϘϟ΍ Ϯϫ ϡϼϜϟ΍ Ϳ΍ ϱάϟ΍ ϝΰϧ ϪΑ Ρϭήϟ΍ ϦϴϣϷ΍ ϰϠϋ ΐϠϗ ϝϮγέ Ϳ΍ ΪϤΤϣ ϦΑ
ΪΒϋ Ϳ΍ Ύϔϟ΄Α Ϫχ ΔϴΑήόϟ΍ Ύόϣϭ Ϫϴϧ Τϟ΍ ΔϘ ϮϜϴϟ ϥ ΔΠΣ ϝϮγήϟ Ϳ΍ ϰϠϋ Ϫϧ΍
Ϯγέ ϝ Ωϭ ϮΘγ ΍έ αΎϨϠϟ ϥϭΪΘϬϳ ϩ΍ΪϬΑ ΅ΪΒϤϟ΍ ϮδΑ Γέ ΔΤΗΎϔϟ΍ ϡϮΘΨϤϟ΍
ΓέϮδΑ αΎϨϟ΍ ϝϮϘϨϤϟ΍ ΎϨϴϟ΍ ΎΑ ήΗ΍ϮΘϟ
kalam Allah yang diturunkan melalui Malaikat Jibril kepada hati
Rasulullah Muhammad bin Abdillah dengan lafadz-lafadznya berbahasa Arab dan
maknanya yang terang benar agar menjadi hujjah (dalil,bukti) bagi Rasulullah karena
ia adalah utusan Allah dan menjadi Undang-undang bagi manusia agar mereka
mendapat petunjuk Al-Qur’an yang dimulai dengan Surat al-Fatihah dan diakhiri
dengan Surat an-Nas, yang sampai kepada kita secara mutawatir.(Abdul Wahab
khalaf, tth., : 23)

Dari kedua pengertian al-Qur’an menurut kedua pakar tersebut, maka dapat
disimpulkan bahwa pengertian Al-Qur’an adalah kalam atau firman Allah SWT yang
mukjizat yang diturunkan lengkap dengan redaksinya kepada Rasulullah Muhammad
SAW untuk disampaikan juga kepada manusia agar dijadikan hujjah dan petunjuk yang
diawali dengan Surat Al-Fatihah dan diakhiri dengan Surat An-Nas, yang sampai kepada
kita secara mutawatir dan membacanya adalah ibadah.

34
Abdurrahman Mas’ud., Op. Cit., h. 35
42
Ajaran yang terkandung dalam Al-Qur’an itu terdiri dari dua prinsip besar,
yaitu yang berhubungan dengan masalah keimanan yang disebut dengan Aqidah dan
yang berhubungan dengan amal yang disebut Syariah. Istilah-istilah yang biasa
digunakan dalam membicarakan ilmu tentang syariah ini ialah : (a) Ibadah untuk
perbuatan yang langsung berhubungan dengan Allah, (b) muamalah untuk perbuatan
yang berhubungan selain dengan Allah, dan (c) akhlak untuk tindakan yang menyangkut
etika dan budi pekerti dalam pergaulan.
Pendidikan, karena termasuk ke dalam usaha atau tindakan untuk membentuk
manusia, termasuk ke dalam ruang lingkup muamalah. Pendidikan sangat penting karena
ia ikut menentukan corak dan bentuk amal dan kehidupan manusia, baik pribadi maupun
masyarakat.
35

Sementara itu Dra. Zuhairini dkk., mengemukakan bahwa : “Dasar
pelaksanaan pendidikan Islam terutama adalah Al-Quran dan Al-Hadits.” Hal tersebut
berdasarkan Al-Qur’an surat Asy-Syura, ayat 52 yang menyebutkan :
ElR¯EOE4Ò .4L^OEOuÒÒ¡
El^O·¯T³ ~wÞÒ+O ^TR)` 4^QO^`Ò¡
¯ 4` =eL7 OØO^³·> 4`
CU4-´¯^¯- ºº4Ò ÷TE©Ce"-
T´¯·¯4Ò +OE4·UE¬E· -4OQ+^
OR³¯&E+ ·ROT T4` +7.4=4e ^TR`
4^R14:RN ¯ El^^T³4Ò
-OR³¯&4©·¯ ¯OÞ¯T³ ¯O4O´·
±¦1´³4-¯OG` ^T=÷

“Dan kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dengan perintah kami.
Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah al-Kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula


35
Zakiah Darajat,… et. al. , Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta, Bumi Aksara, 1991), h. 18
43
mengetahui apakah iman itu, tetapi kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya yang kami
beri petunjuk dengan siapa yang Kami kehendaki diantara hamba-hamba Kami. Dan
sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang benar”.(Asy-
Syura : 52)

Dengan demikian jika sampai pada hari ini ada manusia yang tidak
menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber pendidikan agamanya, maka itu adalah salah
besar. Karena Allah telah menurunkan Al-Qur’an sebagai cahaya dan petunjuk bagi
umat manusia. Begitu pula Al-Qur’an sebagai kitab undang-undang, hujjah, dan
petunjuk selayaknya kalau didalamnya mengandung banyak hal yang menyangkut
segenap kehidupan manusia. Sebagaimana firman Allah :
… 4L^¯EO4^4Ò ¬C^OÞU4N =U4-´¯^¯-
4L4O¯±R> ÷"7¯Rm¯ ¡7¯ØE* O4³¬-4Ò
LOE©^O4O4Ò ¯O4O^¯+´4Ò
4×-R©TU¯O÷©·UR¯ ^l_÷

”…Dan Kami turunkan kepadamu (Muhammad) Al-Kitab (Al-Qur’an) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-
orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl : 89)

Untuk mendukung pendapatnya bahwa hadits juga sebagai dasar pelaksanaan
pendidikan agama, Dra. Zuhairini dkk., mengutip hadits yang diambil dari Kitab Ihya
Ulumuddin karya Imam al-Ghazaly yang artinya adalah sebagai berikut :
“Sesungguhnya orang mukmin yang paling dicintai oleh Allah ialah orang
yang senantiasa tegak taat kepada-Nya dan memberikan nasihat kepada hamba-Nya,
sempurna akal pikirannya, serta menasihati pula akan dirinya sendiri, menaruh
perhatian serta mengamalkan ajaran-Nya selama hayatnya, maka beruntung dan
memperoleh kemenangan ia” (Al-Ghazali, Ihya’ Ulumuddin hal. 90).

44


Dari ayat Al-Qur’an dan Hadits Nabi diatas dapat diambil titik relevansinya
dengan atau sebagai dasar pendidikan agama, mengingat :
1. bahwa al-Quran diturunkan kepada umat manusia untuk memberi
petunjuk ke arah jalan hidup yang lurus dalam arti memberi bimbingan dan petunjuk ke
arah jalan yang diridhoi Allah SWT
2. Menurut Hadits Nabi, bahwa diantara sifat orang mukmin ialah saling
menasihati untuk mengamalkan ajaran Allah, yang dapat diformulasikan sebagai usaha
atau dalam bentuk pendidikan Islam.
3. Al-Qur’an dan Hadits tersebut menerangkan bahwa Nabi adalah benar-
benar pemberi petunjuk kepada jalan yang lurus, sehingga beliau memerintahkan kepada
umatnya agar saling memberi petunjuk, memberi bimbingan, penyuluhan, dan
pendidikan Islam.
36


Sebagai bukti bahwa Al-Qur’an adalah sumber pendidikan agama terlihat
dari lingkup maupun urutan ketiga materi pokok pendidikan agama yang telah
disinggung sebelumnya sebenarnya telah dicontohkan oleh Luqman ketika mendidik
puteranya sebagaimana digambarkan dalam Al-Qur’an surat Luqman ayat 13 – 19 yang
akan penulis bahas berikut ini.







36
Zuhairini, …et . al, Op. Cit., h. 153
45


45
BAB III
TAFSIR SURAT LUQMAN AYAT 12 – 19 DAN HUBUNGANNYA
DENGAN MATERI PENDIDIKAN AGAMA
A. Teks Ayat dan Terjemahnya
^³·³·¯4Ò E4uO·>-47 =TE©^³7¯
·OE©'¯R4^¯- ÷¹Ò¡ ¯O7¯^-- *. ¯
T4`4Ò ¯O¬:^=4C E©^^T¯·· NO7¯^=EC
·RO´O^¼4LR¯ W T4`4Ò 4OE¼E E¹T¯··
-.- ±ØØ·EN سOR©EO ^¯=÷ ^OT³4Ò
4··~ ÷TE©^³7¯ ·RORL¯"º 4Q¬-4Ò
+OO¬R¬4C OØE·+:4C ºº '´TO^¯¬
*.T W ·HT³ E´uO´"¯¯- v¦·UO¬·¯
_¦1R¬4N ^¯Q÷ 4L^1O4Ò4Ò
=T=Oee"- ROuCE³R¯4QT
+OuÞU4·EQ +OG`+¡ Lu-4Ò ¯OÞ>4N
¯Tu-4Ò +O¬U=R·4Ò OT× ÷×u-4`~4×
÷¹Ò¡ ¯O¬:^-- Oد
EluCE³R¯4QT¯4Ò ©OÞ¯T³
+OO´E©^¯- ^¯Ø÷ ¹T³4Ò
¬C-E³E¹E· -OÞ>4N ¹Ò¡ ¬CØO^=¬
OT. 4` "·^1·¯ El·¯ ·ROT Eª·UR× ºE··
E©÷¹u¬RC¬> W E©÷¹¯:RO=4Ò OT×
4Ou^O³¯- +·ÒNOu¬4` W
^7TlE>-4Ò ºOT:Ec ^T4` =·4^Ò¡
©OÞ¯T³ ¯ O¦¬¦ ©OÞ¯T³ ¯ª7¯N¬´·¯O4`
ª¬:N©TO±4^+·· E©T ¯¦+L7
4¹Q¬UE©u¬·> ^¯T÷ OØE·+:4C
.O&E+T³ ¹T³ ¬l·> 4··³u1R` lO*:EO
^TR)` ±·E1¯OE= T7¯4·· OT× ·E4OuC=
uÒÒ¡ OT× Rª4QE©OO¯- uÒÒ¡ OT×
^·¯O·- Rª·4C O&ر +.- ¯ E¹T³
-.- 7-ORC·¯ ¬OOTlE= ^¯R÷
OØE·+:4C ´¦R~Ò¡ ÞE¯QÞUO¯-
¯ON`·¡4Ò ´ÒNOu¬E©^¯T
4Ou^-4Ò ^T4N QO·¯L÷©^¯-
uO´¯^-4Ò ¯OÞ>4N .4` El4=Ò¡
id19577812 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
46
W E¹T³ ElR¯·O ^TR` ^¯uO4N
ØOQN`1·- ^¯_÷ ºº4Ò ¯OR)¬=¬>
¬CO³·· +EELUR¯ ºº4Ò +^©·> OT×
^·¯O·- O4O4` W E¹T³ -.- ºº
OUR47© E7 ±·4^C¬` ¯OQNC·· ^¯l÷
^³´^~-4Ò OT× ¬CØO^=4`
^*¬_^N-4Ò TR` ElR>¯Q= ¯ E¹T³
4O·¯^Ò¡ Rª4Q^·- ÷ª¯Q=·¯
TOOR©O4^¯- ^¯_÷
Artinya :
“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu :
‘Bersyukurlah kepada Allah, Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah),
maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak
bersyukur (kufur), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji’.
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya : ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan (Allah)itu adalah benar-benar kezaliman yang
besar’.
Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua ibu
bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-
tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersukurlah kepada-Ku dan
kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.
Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang
yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Ku-
beritakan kepada mu apa yang telah kamu kerjakan.
(Luqman berkata): ‘Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan)
ebesar biji sawi dan berada dalam batu atau langit atau di dalam bumi, niscaya
Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sesungguhya Allah Maha Halus lagi
Maha Mengetahui.
47
Hai Anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik
dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa
yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang
diwajibkan (oleh Allah)
Dan janganlah kamu memalingkan muka dari manusia (karena sombong) dan
janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah itu
tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-banggakan diri.
Dan sederhanakanlah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu.
Sesungguhnya seburuk-buruknya suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman : 12 –
19)



B. Sekilas Tentang Sosok Luqman al-Hakim Sebagai Tokoh Pendidikan Agama
Luqman yang disebut oleh surah ini adalah seorang tokoh yang
diperselisihkan identitasnya. Orang Arab mengenal dua tokoh yang bernama
Luqman. Pertama, Luqman Ibn ‘Ad. Tokoh ini mereka agungkan karena wibawa,
kepemimpinan, ilmu, kefasihan dan kepandaiannya. Ia kerap kali dijadikan sebagai
pemisalan dan perumpamaan. Tokoh kedua adalah Luqman al-Hakim yang terkenal
dengan kata-kata bijak dan perumpamaan-perumpamannya. Agaknya dialah yang
dimaksud oleh surat ini.
1
Dalam tafsir Ibnu Katsir bahkan disebutkan nama lengkap


1
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah ; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an, (Jakarta :
Lentera Hati, 2002), h. 125

48
Luqman adalah Luqman bin Anqa' bin Sadun menurut kisah yang dikemukakan oleh
As-Suhaili.
2

Al-Baghdadi mengemukakan bahwa Luqman bukan dari kalangan Arab,
tetapi seorang ‘ajami, yaitu anak Ba’ura dari keturunan Azar (orang tua Nabi
Ibrahim), anak saudara perempuan Nabi Ayyub, atau anak bibi nabi Ayyub. Banyak
perbedaan pendapat tentang asal-usul Luqman tersebut. Ada yang mengatakan
bahwa ia seorang bangsa Negro Sudan, Mesir Hulu atau Habsyi yang warna kulitnya
itam, hidup selama seribi tahun dan berjumpa dengan Nabi Dawud sehingga Nabi
Dawud banyak menimba ilmu darinya. Ada yang berpendapat bahwa dia seorang
Nabi, dan ada pula yang membantah pendapat itu dengan mengatakan bahwa dia
hanyalah seorang ahli hikmah.
3

Para ulama salaf pun berikhtilaf mengenai Luqman apakah dia seorang Nabi
atau hamba Allah yang shaleh tanpa menerima kenabian. Mengenai hal ini ada 2
pendapat. Mayoritas ulama berpendapat bahwa dia adalah hamba Allah yang shaleh
tanpa menerima kenabian. Menurut Ibnu Abbas, Luqman adalah seorang hamba
berkebangsaan Habsyi yang berprofesi sebagai tukang kayu. Sementara Jabir bin
Abdillah mengidentifikasi Luqman sebagai orang bertubuh pendek dan berhidung
pesek. Sedangkan Said bin Musayyab mengatakan bahwa Luqman berasal dari kota

2
M. Nasib Ar-Rifai, Kemudahan dari Allah; Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta: Gema Insani
Press, 1999)Cet. , 789
3
Al-Baghdadi sebagaimana dikutip oleh Armai Arief dalam bukunya Reformulasi Pendidikan
Islam, (Jakarta : CRSD Press, 2005), Cet. 1, h. 182
49
Sudan, memiliki kekuatan, dan mendapat hikmah dari Allah, namun dia tidak
menerima kenabian.
4

Tentang pekerjaannya juga diperselisihkan, ada yang mengatakan sebagai
qadhi kaum Bani Israil, ada yang mengatakan sebagai tukang jahit, ada yang
mengatakan sebagai penggembala ternak, atau sebagi tukang kayu. Namun semua itu
tidak penting, dan mungkin saja kesemua pekerjaan itu pernah dilakukannya,
mengingat usianya yang mencapai 1000 tahun.

Menurut Al-Baghdadi dalam kitabnya Ruh Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-
‘Azim wa al-sab’u al-Maatsani dan menurut Al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir fi al-
‘Aqidah wa al- Syariah wa al-Manhaj-nya Luqman juga mempunyai seorang anak
yang juga diperselisihkan oleh para ulama. Ada yang mengatakan Tsaran, Masykam,
An’am, Asykam dan atau Matan. Anak dan isterinya pada mulanya kafir. Tapi ia
selalu berusaha memberi pendidikan dan pengajaran kepada anak dan isterinya
sampai keduanya beriman dan menerima ajaran tauhid yang diajarkan Luqman.
5

Dan Menurut Hamka dalam Tafsir al-Azhar menegaskan bahwa di dalam
mencari intisari al-Qur’an tidaklah penting bagi kita mengetahui dari mana asal-usul
Luqman. Al-Qur’an pun tidaklah menonjolkan asal-usul. Yang penting adalah dasar-
dasar hikmah yang diwasiatkannya kepada puteranya yang mendapat kemulian
demikian tinggi. Sampai dicatat menjadi ayat-ayat dari Al-Qur’an, disebutkan


4
M. Nasib Ar-Rifai, Kemudahan dari Allah ; Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, (Jakarta : Gema
Insani Press, 1999), Cet. 1

5
Lihat Al Baghdadi dalam kitabnya Ruh Ma’ani fi Tafsir al-Qur’an al-‘Azim wa al-sab’u al-
Maatsani Juz XI dan Al-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir fi al-‘Aqidah wa al- Syariah wa al-Manhaj, Juz
XXI, sebagaimana dikutip oleh Armai Arief. Dalam bukunya Reformulasi Pendidikan Islam halaman 183
50
namanya 2 kali, yaitu pada ayat 12 dan 13 dalam surat 31, yang diberi nama dengan
namanya ; Luqman.
6

Penulis memegang pendapat yang mengatakan bahwa Luqman adalah
seorang ahli hikmah, bukan seorang Nabi, karena yang diajarkan kepada anaknya
bukanlah wahyu, melainkan hikmah yang telah dianugerahkan Allah dan hal ini
sesuai dengan Hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a :
˴ϋ ˶Ϧ ˸Α΍ ˶Ϧ ˴ϋ ͉Β ˳αΎ ˴έ ˶ο ˴ϰ ˵Ϳ΍ ˴ϋ ˸Ϩ ˵Ϫ ˴ϗ ˴ϝΎ ˴γ ˶Ϥ ˸ό ˵Ζ ˴έ ˵γ ˸Ϯ ˴ϝ ˶Ϳ΍ ˴λ ͉Ϡ ˵Ϳ΍ϰ ˴ϋ ˴Ϡ ˸ϴ ˶Ϫ
˴ϭ ˴γ ͉˷Ϡ ˴Ϣ ˴ϳ ˵Ϙ ˸Ϯ ˵ϝ ϟ ˴Ϣ ˸ ˴ϳ ˵Ϝ ˸Ϧ ˵ϟ ˸Ϙ ˴Ϥ ˵ϥΎ ˴ϧ ˶Β ̒ϴ ˴ϭ Ύ ˶Ϝϟ ˸Ϧ ˴ϛ ˴ϥΎ ˴ϋ ˸Β ˱Ϊ ˴ϛ ΍ ˶Μ ˸ϴ ˴ή ͉Θϟ΍ ˸ϔ ˸˶Ϝ ϴ ˶ή ˴ϭ ˴Σ ˴δ ˴Ϧ
˸΍ ˴ϴϟ ˶Ϙ ˸ϴ ˶Ϧ ˴΍ ˴Σ ͉ΐ ˵Ϳ΍ ˴Η ˴ό ˴ϟΎ ˴ϓϰ ˵Ύ ˶Σ ͊Β ˵Ϫ σήϘϟ΍ϩ΍ϭέ ϰΒ

“Dari Ibnu Abbas r.a berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Luqman bukanlah seorang Nabi, tapi beliau adalah seorang hamba yang banyak
berfikir secara bersih dan penuh keyakinan sehingga ia mencintai Allah dan Allah
pun mencintainya, maka dilimpahkan kepadanya Al-Hikmah.” (H.R. Al-Qurthuby)

Jelaslah bahwa Luqman adalah seorang ahli hikmah, kata-katanya merupakan
pelajaran dan nasehat, diamnya adalah berpikir, dan isyarat-isyaratnya merupakan
peringatan. Dia bukan seorang Nabi melainkan seorang yang bijaksana, yang Allah
telah memberikan kebijaksanaan di dalam lisan dan hatinya, dimana ia berbicara dan
mengajarkan kebijaksanaan itu kepada manusia. Dalam al-Qur’an pun diungkapkan
bahwa dia dianugerahi berupa “hikmah” oleh Allah SWT. Banyak perkataannya
yang mengandung hikmah, sebagaimana dapat dilihat perkataannya itu ketika ia


6
Dr. Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz XXI, (Jakarta : Pustaka Panji Mas, 1988), Cet. , h. 114
51
berkata kepada anak laki-lakinya. Tafsir al-Maraghi mengemukakan empat
perkataan Luqman tersebut antara lain :
1. Hai anakku, sesungguhnya dunia itu adalah laut yang dalam, dan
sesungguhnya telah banyak manusia yang tenggelam ke dalamnya. Maka
jadikanlah perahumu di dunia ini bertaqwa kepada Allah SWT, muatannya
iman dan layarnya bertawakkal kepada Allah. Barangkali saja kamu dapat
selamat (tidak tenggelam ke dalamnya), akan tetapi aku yakin kamu akan
selamat.
2. Barang siapa yang dapat menasehati dirinya sendiri, niscaya ia akan
mendapat pemeliharaan dari Allah. Dan barang siapa yang dapat
menyadarkan orang-orang lain akan dirinya sendiri, niscaya Allah akan
menambah kemuliaan baginya karena hal tersebut. Hina dalam rangka taat
kepasa Allah lebih baik daripada membanggakan diri dalam kemaksiatan.
3. Hai anakku, janganlah kamu bersikap terlalu manis, karena engkau pasti
ditelan, dan jangan kamu bersikap terlalu pahit karena engkau pasti akan
dimuntahkan
4. Hai anakku, jika kamu hendak menjadikan seseorang sebagai teman
(saudaramu), maka butalah dia marah kepadamu sebelum itu, maka apabila ia
bersikap pemaaf terhadap dirimu di kala marah, maka persaudarakanlah ia.
Dan apabila ia tidak mau memaafkanmu maka hati-hatilah terhadap dirinya.
7

Banyak sekali perkataan Luqman yang dimuat sumber-sumber lain yang
sangat berpengaruh, perkataannya itu antara lain :


7
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 146
52
1. Jika kamu sedang shalat, maka jagalah hatimu, jika kamu sedang makan,
maka jagalah tenggorokanmu, jika kamu di rumah orang lain, maka jagalah
pandanganmu, dan jika kamu berada diantara manusia, maka jagalah
lisanmu.
2. Ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal ; adapun dua hal yang perlu kamu
ingat adalah Allah dan kematian, sedangkan dua hal yang perlu kamu
lupakan adalah kebaikanmu kepada orang lain dan kejelekan orang lain
terhadapmu.
8

3. Jika sejak kanak-kanak kamu didik dirimu, maka masa dewasa kelak kamu
akan memperoleh manfaatnya.
4. Jauhilah kemalasan, gunakanlah sebagian umrmu untuk pendidikan dan
janganlah berdiskusi dan berdebat dengan orang-orang yang keras kepala.
5. Janganlah mendebat fuqaha. Janganlah berkawam dengan orang fasik.
Janganlah orang fasik kamu jadikan sahabat. Janganlah duduk bersama
orang-orang yang tertuduh.
6. Takutlah hanya kepada Allah dan berharaplah hanya kepada-Nya. Jadikanlah
takut dan harapmu kepada Alllah dalam hatimu adalah skesatuan.
7. Janganlah kamu bersandar dan cinta kepada dunia. Pandanglah dunia sebagai
sebuah jembatan.
8. Ketahuilah bahwa pada hari kiamat, mereka akan bertanya kepada mu
tentang empat hal, 1. Masa mudamu. Dengan cara apa kamu melewatinya? 2.
Umurmu, dengan kegiatan apa kamu menghabiskannya? 3. 4. Harta
bendamu. Dari mana kamu memperolehnya ? Dimanakah kamu belanjakan ?
9. Janganlah memandangi apa yang ada di tangan orang (milik orang lain) dan
bersikaplah dengan akhlak yang baik terhadap semua orang.
10. Janganlah banyak bermusyawarah dengan orang-orang seperjalanan (sesama
musafir), bagikan bekal perjalananmu kepada mereka.


8
M. Ali Ash-Shabuny, Cahaya al-Qur’an, (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2002), Cet., h. 388

53
11. Jika mereka mengajakmu bermusyawarah, beritahukanlah rasa kasihmu
dengan tulus kepada mereka. Bantulah mereka jika mereka memohon
bantuan dan pinjaman kepadamu. Dengarkanlah perkataan orang yang
usianya lebih tua darimu.
12. Kerjakanlah shalat di awal waktu dan tunaikanlah shalat berjamaah walau
berada dalam kondisi tersulit.
9

13. Wahai ananda, butir kata yang berisi hikmah dapat menjadikan orang miskin
dimuliakan seperti raja.
14. Wahai ananda, sering-seringlah menghadiri jenazah dan kurangilah
menghadiri kenduri, karena orang yang sering menghadiri jenazah akan
mengingatkannya kepada kehidupan akhirat, sementara orang yang sering
menghadiri kenduri akan menumbuhkan cintanya yang berlebihan terhadap
dunia yang fana ini.
10

15. Jangan direpotkan dunia, kecuali sekedar untuk memenuhi sisa umurmu.
16. Sembahlah Tuhanmu menurut keperluanmu kepada-Nya
17. Beramallah untuk akhirat sesuai kehendakmu untuk tinggal di sana.
18. Berusahalah menghindarkan dirimu dari bakaran api neraka selama engkau
belum yakin akan selamat darinya.
19. Sesuaikan keberanianmu dalam berbuat durhaka dengan kemampuan
kesabaranmu menerima azab (siksa) Allah.
20. Jika engkau mendurhakai Allah, maka carilah tempat sehingga engkau tidak
dilihat oleh Allah dan Malaikat-Nya.
21. Hai anakku, sesungguhnyaemas itu dicoba dengan api, Dan hamba yang
shaleh iti dicoba dengan bencana. Maka apabila Allah mengasihani suatu
kaum, niscaya dicoba-Nya mereka. Siapa yang rela, niscaya Allah pun rela.
Dan siapa yang marah, niscaya Allah pun marah.


9
Mohsen Qaraati, Seri Tafsir Untuk Anak Muda ; Surah Luqman, (Jakarta : al-Huda, 2005), Cet ,
h. 39-41

10
Armai Arief., Op. Cit., h. 183
54
22. Hai anakku, juallah duniamu dengan akhiratmu, niscaya engkau akan
beruntung dari keduanya! Dan janganlah engkau jual akhiratmu dengan
duniamu, niscaya engkau akan merugi dari keduanya !
23. Hai anakku, tiga perkara kebaikan pada manusia, yaitu ; 1. bermusyawarah
kepada orang yang memberi nasehat, 2. bermuka manis dan lemah lembut
kepada musuh dan orang yang dengki, 3. menyatakan kasih kepada semua
orang.
24. Hai anakku, Orang yang tertipu adalah orang yang berpegang dengan tiga
perkara, yaitu ; 1. orang-orang yang membenarkan terhadap sesuatu yang
tidak dilihatnya, 2. orang yang suka kepada orang yang tidak mempercayai
dirinya, 3. orang-orang yang tamak terhadap apa yang tidak diperoleh dirinya
sendiri.
25. Hai anakku, Takutlah kalian kepada sifat dengki, sifat dengki itu akan
membinasakan agama, melemahkan kemauan dan sesudahnya adalah
penyesalan.
26. Seorang mukmin yang memperhatikan akibat, niscaya aman dari
penyesalan.
11







Demikian banyaknya kata-kata hikmah yang diucapkan oleh Luqman, dan kata-kata
tersebut penuh dengan ajaran-ajaran agama, terutama kata-katanya yang terdapat


11
Mahyuddin Ibrahim, Nasehat 125 Ulama Besar, (Jakarta : Darul Ulum, 1993), Cet. IV, h. 231-
235
55
dalam al-Qur’an surat Luqman ayat 12 – 19 yang akan penulis bahas pada pasal-pasal
selanjutnya dalam skripsi ini.

Tafsir Surat Luqman Ayat 12 - 19
Ayat 12
Dalam Tafsir Misbah mengutip pendapat Ibn ‘Asyur disebutkan bahwa : Kata
dan pada awal ayat 12, itu berhubungan dengan ayat 6 sebelumnya, yaitu, “Dan
diantara manusia ada yang membeli ucapan yang melengahkan.” Ia berfungsi
menghubungkan kisah an-Nadhr bin al-Harits itu dan kisah Luqman di sini, atas
dasar persamaan keduanya dalam daya tarik keajaiban dan keanehannya. Yang
pertama keanehan dalam kesesatan, dan yang kedua dalam perolehan dalam hidayah
dan hikmah.
12

Pangkal ayat ini memberi indikasi bahwa Allah SWT menganugerahi hikmah
kepada Luqman, sehingga Luqman bebas dari bahaya kesesatan yang nyata.
Terdapat beberapa penafsiran tentang maksud hikmah tersebut, seperti kemampuan
berpikir, pemahaman yang sempurna dan kesederhanaan. Ada yang memberi makna
dengan akal pikiran, faham, ucapan yang benar, mengetahui segala hal dan
melaksanakan kebaikan, sehingga sesuai diantara amal dan ilmu yang dimiliki.
Inilah hikmah atau karunia yang telah diperoleh Luqman, sehingga ia mampu
mengerjakan sesuatu amal dengan tuntutan ilmunya sendiri.
13



12
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 121
13
Armai Arief, Op. Cit., h. 191
56
Imam Ja’far Shadiq as berkata, “Luqman tidak memperoleh hikmah lantaran
harta, ketampanan dan keluarga, tetapi dia adalah seorang yang bertaqwa, jenius,
pemalu dan penyayang. Jika dua orang saling berseteru dan bermusuhan, maka
Luqman selalu menemukan jalan keluar bagi mereka. Luqman banyak berdiskusi
dengan kaum berilmu. Luqman orang yang berperang melawan hawa nafsunya.
Keilmuwan Luqman sangatlah luas. Ia hidup sezaman dengan Nabi Ayyub.
Meskipun Allah SWT tidak menurunkan kitab samawi kepadanya, tetapi Luqman
mendapatkan sesuatu yang sebanding dengan kitab samawi, yaitu Allah mengajarkan
hikmah kepadanya.
14

Hikmah dalam al-Qur’an ialah pengetahuan yang disertai dengan berbagai
rahasia dan manfaat hukum, sehingga dapat mendorong seseorang untuk
mengamalkan sesuai petunjuk. Selanjutnya Ibnu Umar mengatakan bahwa Al-
Qur’an adalah kumpulah hikmah.
15

Quraish Shihab dalam tafsir Misbahnya mengatakan bahwa para ulama
mengajukan aneka keterangan tentang makna hikmah. Antara lain yang dikutip dari
pendapat al-Biqa’i bahwa hikmah berarti “Mengetahui yang paling utama dari
segala sesuatu, baik pengetahuan, maupun perbuatan.” Ia adalah ilmu amaliah dan
amal ilmiah. Ia adalah ilmu yang didukung oleh amal, dan amal yang tepat didukung
oleh ilmu.”
16
Seorang yang ahli dalam melakukan sesuatu dinamai hakim, Hikmah
juga diartikan sebagai sesuatu yang bila digunakan / diperhatikan akan menghalangi


14
Mohsen Qaraati, Op. Cit., h. 38

15
Drs. Hadi Mutamam, Hikmah dalam al-Qur’an, (Yogyakarta : Madani Pustaka Hikmah, 2001),
Cet. 1, h. 44

16
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 121
57
terjadinya mudharat atau kesulitan yang lebih besar dan atau mendatangkan
kemaslahatan dan kemudahan yang lebih besar. Makna ini ditarik dari kata hakamah,
yang berarti kendali. Karena kendali menghalangi hewan/kendaraan mengarah ke
arah yang tidak diinginkan atau menjadi liar. Memilih perbuatan yang terbaik dan
sesuai adalah perwujudan dari hikmah. Memillih yang terbaik dan sesuai dari dua hal
yang buruk pun, dinamai hikmah dan pelakunya dinamai hakim (bijaksana).
17

Quraish Shihab mengatakan bahwa Imam al-Ghazali memahami kata hikmah
dalam arti pengetahuan tentang sesuatu yang paling utama – ilmu yang paling utama
dan wujud yang paling agung – yakni Allah SWT. Jika demikian menurut al-
Ghazali, Allah adalah Hakim yang sebenarnya. Karena Dia-lah yang mengetahui
ilmu yang paling abadi. Zat serta sifat-nya tidak tergambar dalam benak, tidak juga
mengalami perubahan. Hanya Dia juga yang mengetahui wujud yang paling mulia,
karena hanya Dia yang mengenal hakikat, zat, sifat dan perbuatan-Nya. Jika Allah
telah menganugerahkan hikmah kepada seseorang, maka yang dianugerahi telah
memperoleh kebaikan yang banyak. sebagaimana firman Allah dalam Surat al-
Baqarah ayat 269 :
… T4`4Ò =ªu·NC ·OE©-:´·^¯- ^³·³··
4OT·Ò+¡ -LO¯OE= -LOOR1º± ¯ …

“…Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan
yang banyak.”…( al-Baqarah ayat 269 )


17
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 121
58
Firman-Nya : ( ͿήϜη΍ϥ΍ ) an usykur lillah adalah hikmah itu sendiri yang
dianugerahkan kepada Luqman. Kata syukur terambil dari kata syakara yang
maknanya berkisar antara lain pada pujian atas kebaikan, serta penuhnya sesuatu.
Syukur didefinisikan oleh sementara ulama dengan memfungsikan anugerah yang
diterima sesuai dengan tujuan penganugerahannya. Ia adalah menggunakan nikmat
sebagaimana yang dikehendaki oleh penganugerahnya, sehingga penggunaannya itu
mengarah sekaligus menunjuk penganugerah.
18

Menurut Sayyid Quthub dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menyebutkan arti
hikmah yaitu kelapangan dan kelurusan tujuan, menempatkan segala sesuatu pada
proporsinya dengan penuh kesadaran dan pengertian. Orang yang dianugerahi
hikmah telah dianugerahi kesederhanaan dan kelurusan. Karena itu, ia tidak berbuat
jahat dan tidak melampaui batas. Ia telah diberi pengetahuan tentang sebab-sebab
dan tujuan, karenanya ia tidak tersesat di dalam mengukur dan menentukan urusan.
Ia juga telah diberi pandangan batin yang cemerlang dan membimbingnya kepada
kemaslahatan yang tepat baik berupa gerakan maupun perbuatan.
19

Menurut Quraish Shihab dalam Tafsir Misbahnya, Ia mengatakan bahwa
Sayyid Quthub menulis : “Hikmah, kandungan dan konsekuensinya adalah syukur,
karena dengan bersyukur seperti dikemukakan diatas, seseorang mengenal Allah dan
mengenal anugerah-Nya . Dengan mengenal Allah seseorang akan kagum dan patuh
kepada-Nya, dan dengan mengenal dan mengetahui fungsi anugerah-Nya, seseorang
akan memiliki pengetahuan yang benar, lalu atas dorongan kesyukuran itu, ia akan

18
Ibid., h. 122
19
Sayyid Quthub, Tafsir Fi Zhilalil Qur’an; di bawah Naungan al-Qur’an, jilid 9, (Jakarta :
Gema Insani Press, 2004), Cet. 1, h. 367
59
melakukan amal yang sesuai dengan pengetahuannya, sehingga amal yang lahir
adalah amal yang tepat pula.
20
Hamka pun mengutip pendapat Ar-razi yang
menerangkan dalam tafsirnya bahwa hikmah itu ialah “sesuai diantara perbuatan
dengan pengetahuan.”
21

Selanjutnya disebutkan : (ϪδϔϨϟ ήϜθϳ ΎϤϧΎϓ ήϜθϳ Ϧϣϭ) Dan barang siapa
bersyukur kepada Allah, maka sesungguhnya manfaat dari syukurnya itu kembali
kepada dirinya sendiri. Karena sesungguhnya Allah akan melimpahkan kepadanya
pahala yang berlimpah sebagai balasan dari-Nya dan akan menambahkan nikmat
kepadanya. Seperti firman Allah dalam ayat lainnya :

×÷'·¯… ¯¦¬>¯OE:E- ¯ª7¯^^E³CTeV·
W ×÷'·¯4Ò u®7Þ¯OE¼º± E¹T³
OT.-EO4N سCR³4=·¯ ^_÷

“…Barang siapa yang mensyukuri nikmat-Ku, maka akan kutambahkan dan
barang siapa yang ingkar maka sesungguhnya azab-Ku itu amat pedih.” (QS.
Ibrahim : 7)

Dengan demikian atas rasa syukurnya itu, Allah kelak akan
menyelamatkannya dari azab, sebagaimana telah diungkapkan di dalam ayat lain :
^T4`4Ò ºR·E× w·TU=
¯ªØ&´O¬¼^®=·· 4¹Ò÷³E¹^©4C ^ØØ÷

“…Dan barang siapa yang beramal shaleh, maka untuk diri mereka
sendirilah, mereka menyiapkan (tempat yang menyenangkan).” (QS. Ar-Ruum : 44)



20
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 122-123

21
Hamka, Op. Cit., h. 127
60
Lanjutan redaksi ayat 12 surat Luqman ( ΪϴϤΣ ϲϨϏ Ϳ΍ ϥΎϓ ήϔϛ Ϧϣϭ )
mengandung pengertian Dan barang siapa yang kafir kepada nikmat-nikmat Allah
yang telah diberikan kepadanya, maka dia sendirilah yang menanggung akibat buruk
kekafirannya itu, karena sesungguhnya Allah akan menyiksa dia karena
kekafirannya terhadap nikmat-nikmat-Nya itu. Dan Allah Maha Kaya dari rasa
syukurnya, karena kesyukurannya itu tidak akan menambahkan apa-apa bagi
kekuasaan-Nya, sebagaimana kekafirannya pun tidak akan mengurangi apa-apa bagi
kerajaan-Nya. Dan Dia-lah Yang Maha terpuji dalam segala suasana, apakah hamba
kafir atau bersyukur.
22

Menurut Quraish Shihab, Ia menjelaskan bahwa Kata ( ϲϨϏ )
Ghaniyyun/Maha Kaya terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-huruf ( ύ
)ghain, ( ϥ )nun dan ( ϱ )ya yang maknanya berkisar pada dua hal, yaitu
kecukupan, baik yang menyangkut harta maupun selainnya. Dan yang kedua adalah
suara. Ia mengatakan dalam tafsirnya bahwa Menurut Imam al-Ghazali, Allah yang
bersifat Ghaniyy adalah “Dia yang tidak mempunyai hubungan dengan selain-Nya,
tidak dalam Zat-Nya tidak pula dalam sifat-Nya, bahkan Dia Maha Suci dalam
segala macam hubungan ketergantungan”.Yang sebenar-benarnya “kaya” adalah
yang tidak butuh kepada sesuatu. Allah menyatakan dirinya dalam dua ayat yakni
surat al-Imran ayat 97 dan surat al-Ankabut ayat 29 bahwa “Dia tidak butuh kepada
seluruh alam raya”. Sedangkan manusia betapapun kayanya, maka dia tetap butuh,


22
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 147
61
paling tidak kebutuhan kepada yang memberinya kekayaan. Dan yang memberi
kekayaan adalah Allah SWT.
Kata ( ΪϴϤΣ ) Hamid/Maha terpuji, terambil dari akar kata yang terdiri dari
huruf-huruf (Ρ )ha’ ( ϡ )mim dan ( Ω )dal, yang maknanya adalah antonim tercela.
Kata hamd/pujian digunakan untuk memuji yang Anda peroleh maupun yang
diperoleh selain Anda. Berbeda dengan kata syukur yang digunakan dalam konteks
nikmat yang Anda peroleh saja. Jika demikian, saat Anda berkata Allah
Hamid/Maha Terpuji, maka ini adalah pujian kepada-Nya, baik Anda menerima
nikmat, maupun orang lain yang menerimanya. Sedang bila Anda mensyukuri-Nya,
maka itu karena Anda merasakan adanya anugerah yang Anda peroleh. Demikian
penjelasan Quraish Shihab dalam Tafsir Misbahnya. Oleh karena itu menurutnya ada
tiga unsur perbuatan yang harus dipenuhi oleh pelaku agar apa yang dilakukannya
dapat terpuji. Pertama, perbuatannya indah/baik. Kedua, dilakukan secara sadar, dan
ketiga, tidak atas dasar terpaksa/dipaksa
Kata Ghaniyy yang merupakan sifat Allah pada umumnya – di dalam al-
Qur’an dirangkaikan dengan kata Hamid. Ini untuk mengisyaratkan bahwa bukan
saja pada sifat-Nya yang terpuji, tetapi juga jenis dan kadar bantuan/anugerah
kekayaan-Nya. Itu pun terpuji karena tepatnya anugerah itu dengan kemaslahatan
yang diberi. Di sisi lain, pujian yang disampaikan oleh siapa pun, tidak dibutuhkan-
Nya, karena Dia Maha Kaya, tidak membutuhkan suatu apapun.
23


Ayat 13

23
Ibid., h. 123-124
62
Setelah ayat 12 yang menguraikan hikmah yang dianugerahkan kepada
Luqman yang intinya adalah kesyukuran kepada Allah, dan yang tercermin pada
pengenalan terhadap-Nya dan anugerah-Nya, kini melalui ayat 13 dilukiskan
pengamalan hikmah itu oleh Luqman, serta pelestariannya kepada anaknya. (
ϪϨΑϻϥΎϤϘϟϝΎϗΫ΍ϭIni pun mencerminkan kesyukuran beliau atas anugerah itu. Kepada
Nabi Muhammad SAW atau siapa saja, diperintahkan untuk merenungkan anugerah
Allah kepada Luqman itu dan mengingat serta mengingatkan orang lain.
24
Karena itu
refleksi dari rasa syukur Luqman tersebut ialah mendidik anaknya dengan
menyuruhnya bertauhid kepada Allah dan melarangnya mempersekutukan-Nya
karena sesuangguhnya itu benar-benar kezaliman yang besar dan termasuk dosa
besar pula.
Kata ( ϲϨΑ ) bunayya adalah patron yang menggambarkan kemungilan.
Asalnya adalah ( ϰϨΑ΍ )ibny, dari kata ( ϦΑ΍ )ibn yakni anak lelaki. Pemungilan
tersebut mengisyaratkan kasih sayang. Dari sini kita dapat berkata bahwa ayat diatas
memberi isyarat bahwa mendidik hendaknya didasari oleh rasa kasih sayang
terhadap peserta didik.
Kata ( Ϫψόϳ ) ya’izhuhu terambil dari kata ( φϋϭ ) wa’zh yaitu nasihat
menyangkut berbagai kebajikan dengan cara yang menyentuh hati. Ada juga yang
mengartikannya sebagai ucapan yang mengandung peringatan dan ancaman.
Penyebutan kata ini sesudah kata dia berkata untuk memberi gambaran tentang
bagaimana perkataan itu beliau sampaikan, yakni tidak membentak, tetapi penuh

24
Ibid., h. 125
63
kasih sayang sebagaimana dipahami dari panggilan mesranya kepada anak. Kata ini
juga mengisyaratkan bahwa nasihat itu dilakukannya dari saat ke saat, sebagaimana
dari bentuk kata kerja masa kini dan datang pada kata ( Ϫψόϳ ) ya’izhuhu.
Luqman memulai nasihatnya dengan menekankan perlunya menghindari
syirik/mempersekutukan Allah. ( ͿΎΑ ϙήθΗ ϻ . Larangan ini sekaligus mengandung
pengajaran tentang wujud dan keesaan Tuhan. Bahwa redaksi pesannya berbentuk
larangan, jangan mempersekutukan Allah untuk menekan perlunya meninggalkan
sesuatu yang buruk sebelum melaksanakan yang baik. Seperti bunyi ungkapan : “At-
Takhliyah muqaddamun ‘ala at-Tahliyah” (menyingkirkan keburukan lebih utama
daripada menyandang perhiasan).
25

Luqman menjelaskan kepada anaknya bahwa perbuatan syirik itu merupakan
kezaliman yang besar. ( ϢϴψϋϢϠψϟϙήθϟ΍ϥ΍ . Pernyataan Luqman tentang hakikat
ini diperkuat dengan dua tekanan Yang pertama dengan mengawalinya dengan
larangan berbuat syirik dan alasannya. Dan, yang kedua dengan huruf inna’
(sesungguhnya) dan huruf la (benar-benar).
26
Syirik dinamakan perbuatan yang
zalim, karena perbuatan syirik itu berarti meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya.
Dan ia dikatakan dosa besar, karena perbuatan itu berarti menyamakan kedudukan
Tuhan yang hanya dari Dia-lah segala nikmat. Yaitu Allah SWT dengan sesuatu
yang tidak memiliki nikmat apapun, yaitu berhala-hala.


25
Ibid., h. 127
26
Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 173
64
Adapun Imam Bukhari telah meriwayatkan sebuah Hadits yang bersumber
dari Ibnu Mas’ud. Ibnu Mas’ud telah menceritakan, bahwa ketika turun ayat 82 dari
surat al-An’am yang berbunyi :
4ׯR~-.- W-QNL4`-47 ¯¦·¯4Ò
W-EQOOT:·U4C ¦÷¹4LE©CT³ ·¦·UO¬T
ElØ·^·¯Ò+¡ Nª÷¹·¯ ÷T^`·- ª¬-4Ò
4¹Ò÷³4-^¹G` ^l=÷

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezaliman (syirik), mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan.
Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. Al-An’am : 82)

Maka hal itu dirasakan sangat berat oleh para sahabat, mereka datang
menghadap Rasulullah SAW seraya berkata : Wahai Rasulullah, “Siapakah diantara
kita yang tidak mencampuradukkan imannya dengan perbuatan zalim (dosa)?” Maka
Rasulullah SAW menjawab, “Sesungguhnya pengertian zalim itu tidaklah demikian,
Tidakkah kalian pernah mendengar perkataan Luqman, yakni wasiat Luqmanul
Hakim kepada anaknya yakni ayat ke 13 yang berbunyi :
^OT³4Ò 4··~ ÷TE©^³7¯ ·RORL¯"º
4Q¬-4Ò +OO¬R¬4C OØE·+:4C ºº
'´TO^¯¬ *.T W ·HT³ E´uO´"¯¯-
v¦·UO¬·¯ _¦1R¬4N ^¯Q÷
Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukanlah Allah. Sesungguhnya
mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.
27



27
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 153

65
Dengan demikian pengertian zalim bukanlah berarti dosa melainkan
pengetian zalim yang dikehendaki adalah zalim yang terdapat pada surat Luqman
ayat 13 tersebut.
Kesyirikan itu amat jelek dan berakibat jelek, serta kezaliman yang nyata
karena kesyirikan adalah meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya. Siapa yang
menyamakan antara pencipta (khalik) dengan yang diciptakan (makhluk), antara
patung dengan Tuhan, tidak diragukan lagi, dia adalah orang bodoh yang dijauhkan
oleh Allah dari hikmah dan akal sehat, sehingga pantas untuk disebut zalim dan
dimasukkan dalam kelompok hewan.
28


Ayat 14
Sesudah Allah menuturkan apa yang telah diwasiatkan oleh Luqman terhadap
anaknya, yaitu supaya ia bersyukur kepada Tuhan yang telah memberikan semua
nikmat, yang tiada seorang pun bersekutu dengan-Nya di dalam menciptakan
sesuatu. Kemudian Luqman menegaskan bahwasanya syirik itu adalah perbuatan
yang zalim. Selanjutnya diiringi hal tersebut dengan wasiat-Nya kepada semua anak
supaya mereka berbuat baik kepada kedua orang tuanya, karena sesungguhnya kedua
orang tua ialah penyebab pertama bagi keberadaannya di dunia itu. Untuk itu Allah
SWT berfirman :
ϪϳΪϟ΍ϮΑϥΎδϧϻ΍ΎϨϴλϭϭ
Dan Kami perintahkan kepada manusia supaya berbakti dan taat kepada
kedua orang tuanya, serta memenuhi hak-hak keduanya. Di dalam al-Qur’an sering


28
Ali Ash-Shabuny, Op. Cit., h. 389
66
sekali disebutkan taat kepada Allah dibarengi dengan bakti kepada kedua orang tua,
yaitu seperti dalam firman Allah surat al-Isra’ : 23
¯Ø=Ø·~4Ò ElG4O
·ºÒ¡ W-¼Ò÷³+lu¬·> ·ºT³ +Þ+CT³
÷×^¯4T.4Q^¯T4Ò
L=O^OT³ ¯

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah
selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu…” (QS. Al-Isra’ :
23)

Selanjutnya redaksi ayat menyebutkan jasa ibu secara khusus terhadap
anaknya, karena sesungguhnya di dalam hal ini terkandung kesulitan yang sangat
berat bagi pihak ibu. Untuk itu redaksi selanjutnya berbunyi :
ϦϫϭϰϠϋΎϨϫϭϪϣ΍ϪΘϠϤΣ
Ibu telah mengandungnya, sedang ia dalam keadaan lemah yang kian
bertambah disebabkan makin membesarnya kandungan sehingga ia melahirkan,
kemudian sampai dengan selesai dari masa nifasnya.
29

Quraish Shihab menjelaskan Kata ( ΎϨϫϭ )wahnan berarti kelemahan atau
kerapuhan. Yang dimaksud di sini kurangnya kemampuan memikul beban
kehamilan, penyususn, dan pemeliharaan anak. Patron kata yang digunakan ayat
inilah mengisyaratkan betapa lemahnya sang ibu sampai-sampai ia dilukiskan
bagaikan keϡemahan itu sendiri, yakni segala sesuatu yang berkaitan dengan
kelemahan telah menyatu pada dirinya dan dipikulnya. Bahkan Quraish Shihab

29
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 153-154
67
memperjelasnya dengan ungkapan : “Jika Anda berkata bahwa Si A cantik, maka
kecantikannya itu boleh jadi baru mencapai 60 % atau katakanlah 80 % dari seluruh
unsur kecantikan. Tetapi jika Anda menyifatinya dengan berkata “dia adalah
kecantikan” maka Anda bagaikan telah meletakkan semua unsur kecantikan, yakni
100 % pada diri yang bersangkutan.
Kemudian firmannya lagi ( ϭ ϲϓ Ϫϟ Ύμϓ Ϧϴϣ Ύϋ ) wa fishaluhu fi ‘amain/dan
penyapihannya dalam dua tahun, mengisyaratkan betapa penyusuan anak sangat
penting dilakukan oleh ibu kandung. Tujuan penyusuan ini bukan sekedar untuk
memelihara kelangsungan hidup anak, tetapi terlebih untuk menumbuhkembangkan
anak dalam kondisi fisik dan psikis yang prima. Kata fi/di dalam, mengisyaratkan
bahwa masa itu tidak mutlak demikian. Di sisi lain juga pernah ditegaskan bahwa
masa dua tahun adalah bagi siapapun yang hendak menyempurnakan penyusuan.
Seperti firman Allah :
÷ª4T.4Q^¯-4Ò =Tu¬´¯¯ONC
OT¬-E³·¯uÒÒ¡ ÷×u-·.¯QEO
÷×u-ÞUR`~E W ^TE©R¯ E1-4OÒ¡ ¹Ò¡
E®´+NC ·O4N=¯·O¯- ¯ …

“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh,
yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan...” QS. Al-Baqarah : 233)
30

Menurut Mohsen Qaraati dalam tafsirnya, pemisahan bayi dari ASI
(penyapihan) dapat dilakukan setelah usia bayi menginjak dua tahun, meski tidak
diharuskan menyusuinya selama dua tahun penuh. Karena kata fishal bermakna
pemisahan bayi dari ASI dan fi ‘amain (dalam dua tahun) menunjukkan bahwa di

30
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 130
68
sela rentang waktu selama dua tahun orang tua dapat menyapih bayinya, meskipun
lebih baik disempurnakan selama dua tahun.
31

Pada ayat tersebut tidak disebutkan jasa bapak, tetapi lebih menekankan pada
jasa ibu, ini disebabkan karena ibu berpotensi untuk tidak dihiraukan oleh anak
karena kelemahan ibu, berbeda dengan bapak. Di sisi lain, “Peranan bapak” dalam
konteks kelahiran anak, lebih ringan dibandingkan dengan peranan ibu. Setelah
pembuahan, semua proses kelahiran anak dipikul sendirian oleh ibu. Bukan hanya
sampai masa kelahirannya, tetapi berlanjut dengan penyusuan, bahkan lebih dari itu.
Memang ayah pun bertanggung jawab menyiapkan dan membantu ibu agar beban
yang dipikulnya tidak terlalu berat, tetapi ini tidak langsung menyentuh anak,
berbeda dengan peranan ibu. Betapapun peranan bapak tidak sebesar peranan ibu
dalam proses kelahiran anak, namun jasanya tidak diabaikan sama sekali. Karena itu
anak berkewajiban berdoa untuk ayahnya, sebagaimana berdoa untuk ibunya. Seperti
doa yang diajarkan al-Qur’an yang terdapat dalam surat al-Isra’ : “Rabbi, Tuhanku!
Kasihilah keduanya, disebabkan karena mereka berdua telah mendidik aku di waktu
kecil.” (QS. Al-Isra’ : 24)

Redaksi ayat selanjutnya dari ayat 14 ini kemudian menggabungkan dan
menghubungkan antara kesyukuran kepada Allah dengan kesyukuran dan
berterimakasih kepada kedua orang tua, hanya saja kesyukuran kepada Allah harus
dikedepankan. Dengan demikian al-Qur’an menggambarkan urutan-urutan
kewajiban itu, Jadi, bersyukur kepada Allah dulu, baru kemudian berterima kasih


31
Mohseen Qaraati, Op. Cit., h. 60
69
kepada kedua orang tua. Al-Qur’an mengarahkan agar bersyukur kepada Allah
sebagai pemberi nikmat yang pertama, kemudian berterimakasih kepada kedua orang
tua sebagai dua orang yang menjadi sarana nikmat itu pada urutan berikutnya.
32

ϚϳΪϟ΍ϮϟϭϲϟήϜη΍ϥ΍
“…Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu,…”
Dan Kami perintahkan kepadanya, bersyukurlah kepada-Ku atas semua
nikmat yang telah Kulimpahkan kepadamu, dan bersyukur pulalah kepada kedua ibu
bapakmu. Karena sesungguhnya keduanya itu merupakan penyebab bagi
keberadaanmu. Dan keduanya telah merawatmu dengan baik, yang untuk itu
keduanya mengalami berbagai macam kesulitan sehingga kamu menjadi tegak dan
kuat.
Kemudian lanjutan ayat menghubungkannya dengan hakikat akhirat,
ήϴμϤϟ΍ϲϟ΍
“…Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Luqman : 14)
Karena di akhirat itulah bekal kesyukuran yang tersimpan tersebut
bermanfaat. Bahkan dalam tafsir al-Maraghi dijelaskan bahwa “ Hanya kepada-
Kulah kembali kamu, bukan kepada selain-Ku. Maka Aku akan memberikan balasan
terhadap apa yang telah kamu lakukan yang bertentangan dengan perintah-Ku. Dan
Aku akan menanyakan kepadamu tentang apa yang telah kamu perbuat, yaitu
tasyakkurmu kepada-Ku atas nikmat-nikmat-Ku yang telah kuberikan kepadamu,


32
Sayyid Quthb, Op. Cit., h. 164 dan 175

70
dan rasa terima kasihmu terhadap kedua ibu bapakmu serta baktimu kepada
keduanya.
33

Jika kita perhatikan secara mendalam, wasiat untuk berbakti kepada kedua
orang tuanya muncul berulang-ulang dalam al-Qur’an yang mulia dan dalam wasiat
Rasulullah. Dalam al-Qur’an misalnya yang terdapat dalam surat Luqman ayat 14
dan surat al-Isra’ seperti yang tersebut diatas. Sedangkan wasiat buat orang tua
tentang anaknya sangat sedikit. Kalaupun ada, ia kebanyakan muncul dalam tema
kasih sayang (yaitu keadaan khusus dalam situasi yang khusus pula) karena fitrah itu
sendiri telah menjamin pengasuhan orang tua terhadap anak-anaknya. Jadi, fitrah
selalu mendorong seseorang agar mengasuh generasi baru yang tumbuh untuk
menjamin penerusan kehidupan manusia di bumi ini sebagaimana yang dikehendaki
Allah. Sesungguhnya kedua orang tua pasti mengeluarkan segalanya bagi anak-
anaknya baik apapun yang mereka miliki dalam jasadnya, dalam umrnya, dalam
ototnya maupun segala yang mereka miliki dengan penuh kasih sayang. Walaupun
hal itu sangat sulit dan dibayar dengan mahal, mereka tidak pernah mengeluh dan
mengadu. Bahkan tanpa menghitung-hitung dan merasa berat terhadap pengorbanan
yang mereka korbankan. Mereka malah sangat bersemangat, gembira, dan senang
seolah-olah mereka berdualah yang menikmatinya.
Jadi, fitrah saja sudah cukup sebagai wasiat bagi orang tua untuk menjamin
kehidupan anak-anaknya, tanpa memerlukan wasiat-wasiat lain. Secara ringkas
dalam tafsir Misbah dijelaskan bahwa “Allah telah menjadikan orang tua secara
naluriah rela kepada anaknya. Kedua orang tua bersedia mengorbankan apa saja


33
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 155
71
demi anaknya tanpa keluhan. Bahkan mereka “memberi kepada anak” namun dalam
pemberian itu sang ayah atau ibu justru merasa “menerima dari anaknya. Ini
berbeda dengan anak, yang tidak jarang melupakan – sedikit atau banyak – jasa-jasa
ibu bapaknya. Karenanya anak-anak membutuhkan wasiat yang berulang-ulang agar
menoleh dan mengingat generasi yang telah berkorban, berlalu, dan telah hilang dari
lembaran kehidupan setelah menghabiskan umurnya, ruhnya, dan kekuatannya untuk
generasi yang sedang menghadapi masa depan dalam kehidupan. Seorang anak tidak
akan mungkin dapat dan tidak akan sampai mampu membalas budi kedua orang
tuanya, walaupun anak tersebut mewakafkan seluruh umurnya bagi keduanya. Inilah
gambaran yang mengisyaratkan itu.
34

Diantara hal-hal yang menarik dari pesan-pesan ayat diatas (ayat 14) dan ayat
sebelumnya adalah bahwa masing-masing pesan disertai dengan argumennya
“jangan mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan-Nya adalah
penganiayaan besar”. Sedang ketika mewasiati anak menyangkut orang tuanya
ditekankannya bahwa “Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang
bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun.” Demikianlah seharusnya
materi petunjuk atau meteri pendidikan yang disajikan. Ia dibuktikan kebenarannya
dengan argumentasi yang dipaparkan atau yang dapat dibuktikan oleh manusia
melalui penalaran akalnya. Metode ini bertujuan agar manusia merasa bahwa ia ikut
berperan dalam menemukan kebenaran dan dengan demikian ia merasa memilikinya
serta bertanggung jawab mempertahankannya.
35



34
Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 174

35
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 130-131
72

Ayat 15
Sesudah Allah menyebutkan pesan dan perintah-Nya yang berkaitan dengan
berbakti kepada kedua orang tua, dan mengukuhkan hak keduanya yang harus
ditaati. Lalu dalam ayat 15 ini Allah menetapkan kaidah yang pertama dan utama
dalam masalah akidah; yaitu bahwasanya ikatan dalam akidah adalah ikatan yang
pertama dan utama, yang harus didahulukan diatas ikatan keluarga, keturunan dan
ikatan kekerabatan, meskipun dalam ikatan yang kedua ini adalah satu ikatan yang
didasari kasih sayang dan emosional pribadi.
36

Dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an disebutkan ikatan akidah merupakan ikatan
pertama, sebagai pembuka, pemberi rekomendasi, dan mukaddimah bagi ikatan
nasab dan darah. Walaupun dalam ikatan nasab dan darah terdapat kekuatan cinta
dan kasih sayang yang kuat, namun ia berada dalam urutan berikutnya setelah ikatan
akidah yang pertama itu.
37
Jadi sisa wasiat kepada anak dalam hubungannya kepada
kedua orang tuanya adalah :
ϙήθΗϥ΍ϰϠϋϙ΍ΪϫΎΟϥ΍ϭ ΎϤϬότΗϼϓϢϠϋϪΑϚϟβϴϟΎϣϲΑ …
“Jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu
yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti
keduanya …”

Quraish Shihab menjelaskan bahwa Kata ( ΪϫΎΟ ΍ ϙ ) jahadaka terambil dari
kata ( ΪϬΟ )juhd yakni kemampuan. Patron kata yang digunakan ayat ini


36
Ali Syawakh Ishaq as-Syu’aibi; penerjemah, Asmuni S. Zamakhsyari, Metode Pendidikan Al-
Qur’an dan As- Sunnah (Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1995), h. 69

37
Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 164
73
menggambarkan adanya upaya sungguh-sungguh. Kalau upaya sungguh-sungguh
pun dilarangnya, yang dalam hal ini dalam bentuk ancaman, maka tentu lebih-labih
lagi bila sekedar himbauan, atau peringatan.
Dan yang dimaksud dengan ( ϢϠϋϪΑϚϟβϴϟΎϣ )ma laisa laka bihi ‘ilm/yang
tidak ada pengetahuan tentang itu, adalah tidak ada pengetahuan tentang
kemungkinan terjadinya.
38

Hingga bila orang tua menyentuh titik syirik ini, jatuhlah kewajiban taat
kepadanya, dan ikatan akidah harus mengalahkan dan mendominasi segala ikatan
lainnya. Walaupun kedua orang tua telah mengeluarkan segala upaya, usaha, tenaga,
dan pandangan yang memuaskan untuk menggoda anaknya agar menyekutukan
Allah dimana ia tidak mengetahui tentang ketuhanannya, maka pada saat itu anak
diperintahkan agar jangan taat. Dan perintah itu berasal dari Allah sebagai Pemilik
hak pertama dalam ketaatan.
39

Menurut Mohsen Qaraati, ada tiga ketaatan menurut al-Qur’an, yaitu :
1. Ketaatan mutlak terhadap Allah SWT, Nabi Muhammad SAW dan Ulil
Amri. Seperti yang terdapat dalam firman Allah “Taatilah Allah dan taatilah
Rasul dan Ulil ‘amri …”(Q.S. An-Nisa: 59)
2. Tiada ketaatan mutlak terhadap kaum kafir, munafik, perusak, pendosa,
zalim, dan sebagainya. Seperti yang terdapat dalam firman Allah
“…janganlah kamu menuruti (keinginan) orang-orang kafir dan orang-
orang munafik”(Q.S. Al-Ahzab : 1) “… dan janganlah kamu ikuti orang yang

38
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 132

39
Ibid., h. 175
74
berdosa dan orang kafir diantara mereka”(Q.S. Al-Insan :24) “… dan
janganlah kamu mengkuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu
dari jalan Allah”(Q.S. Shad : 26)
3. Ketaatan bersyarat terhadap kedua orang tua. Artinya, jika mereka
memberikan perintah-perintah yang bermanfaat dan mubah, maka kita wajib
taat. Jika mereka berupaya mengajak anaknya untuk menuju selain Allah,
maka seorang anan harus tidak mentaatinya.
40

Menurut riwayat hal seperti ini terjadi pada sahabat Rasulullah SAW yang
bernama Sa’ad. Menurut tafsir Ibnu katsir ialah Sa’ad bin Malik. Dalam kitabul
Isyarah, Thabrani meriwayatkan dengan sanad yang sampai kepada Sa’ad bin Malik.
Tetapi menurut tafsir al-Qurthuby dan yang lain terjadi pada diri Sa’ad bin Abu
Waqqash. Dalam buku Asbabun Nuzul, Menurut Hadits Riwayat Thabrani dari
Sa’ad bin Malik diceritakan bahwa :
Sa’ad bin Malik seorang lelaki yang sangat taat dan menghormasti ibunya.
Ketika ia memeluk Islam, Ibunya berkata : Wahai Sa’ad, Mengapa kamu tega
meninggalkan agamamu yang lama, memeluk agama yang baru. Wahai anakku pilih
salah satu: “kamu kembali memeluk agama yang alama atau aku tidak makan dan
minum sampai mati”. Maka Sa’ad kebingungan, bahkan ia dikatakan tega
membunuh ibunya. Maka Sa’ad berkata :”Wahai Ibu, jangan kamu lakukan yang
demikian. Aku memeluk agama baru tidak akan mendatangkan mudharat dan aku
tidak akan meninggalkannya”. Maka Ibu Sa’ad pun nekad tidak makan sampai 3
hari 3 malam. Sa’ad berkata : “Wahai Ibu, seandainya kamu memiliki seribu jiwa
kemudian satu persatu meninggal, tetapi aku tidak akan meninggalkan agama
baruku (Islam). Karena itu terserah ibu mau makan atau tidak”. Maka Ibu itu pun


40
Mohsen Qaraati, Op. Cit., h. 71
75
makan. Sehubungan dengan itu, maka Allah SWT menurunkan ayat ke 15 Surat
luqman sebagai ketegasan bahwa kaum muslimin wajib taat dan tunduk kepada
perintah orang tua sepanjang bukan yang bertentang dengan perintah-perintah
Allah SWT. (H.R. Thabrani dari Sa’ad bin Malik)
41

Namun perbedaan akidah dan perintah dari Allah agar tidak taat kepada
orang tua dalam perkara yang melanggar akidah , tidaklah menjatuhkan hak kedua
orang tua dalam bermuamalah dengan baik dan dalam menjalin hubungan yang
memuliakan mereka,
ΎϓϭήόϣΎϴϧΪϟ΍ϰϓΎϤϬΒΣΎλϭ
“Pergaulilah keduanya di dunia dengan baik,…”
Dan pergaulilah keduanya di dalam urusan dunia dengan pergaulan yang
diridhai oleh agama, dan sesuai dengan watak yang mulia serta harga diri, yaitu
dengan memberi pangan dan sandang kepada keduanya, tidak boleh memperlakukan
keduanya dengan perlakuan yang kasar, menjenguknya apabila sakit, serta
menguburnya apabila mati. Firman-Nya, fid-dunya, mengisyaratkan bahwa mereka
mempergauli keduanya adalah suatu hal yang mudah. Karena sesungguhnya hal itu
terjadinya tidaklah terus-menerus, sehingga tidak menjadi beban berat bagi orang
yang bersangkutan.
42
Karena wisata hidup diatas dunia ini hanyalah sementara
dimana ia tidak mempengaruhi apa-apa terhadap perihal hakikat yang pokok dan
murni.


41
A. Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul; Studi Pendalaman Al-Qur’an, (Jakarta : Raja Grafindo
Persada, 2002), Cet. 1, h. 660-661
42
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 156-157
76
Kata ( ϓϭήόϣ Ύ ma’rufan mencakup segala hal yang dinilai oleh masyarakat
baik, selama tidak brtentangan dengan akidah Islamiyah. Dalam konteks ini
diriwayatkan bahwa Asma’ putrid Sayyidina Abu Bakr ra. Berkata : pernah didatangi
oleh ibunya yang ketika itu masih musyrikah. Asma’ bertanya kepada Nabi
bagaimana seharusnya ia bersikap. Maka Rasul SAW memerintahkannya untuk tetap
menjalin hubungan baik, menerima dan memberinya hadiah serta mengunjunginya
dan menyambut kunjungannya.
43

Dan karena mengingat hal tersebut terkadang menyeret seseorang kepada
hal-hal yang meremehkan agama disebabkan adanya hubungan saling timbal balik.
Maka Allah menafsirkan hal tersebut melalui lanjutan firman-Nya :
ϲϟ΍ΏΎϧ΍ϦϣϞϴΒγϊΒΗ΍ϭ …
“…dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku,…
Dan tempuhlah jalan orang-orang yang bertaubat dari kemusyrikannya lalu
kembali kepada agama Islam dan ikuti jejak Nabi Muhammad SAW, yang berarti
ikutilah jalan Allah dengan mentauhidkan-Nya serta mengikhlaskan diri dan taat
kepada-Nya, bukan mengikuti jalan keduanya.
ϥϮϠϤόΗϢΘϨϛΎϤΑϢϜΌΒϧΎϓϢϜόΟήϣϲϟ΍ϢΛ
kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu. Maka kuberitakan kepadamu
apa yang kamu kerjakan”
Kemudian kalian akan kembali kepada-Ku sesudah kalian mati, lalu Aku
kabarkan kepada kalian apa yang telah kalian perbuat di dunia, berupa perbuatan
baik dan perbuatan buruk. Kemudian Aku membalasnya kepada kalian, orang yang


43
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 132
77
berbuat baik akan menerima pahala kebaikannya, dan orang yang berbuat buruk
akan menerima hukuman keburukannya.
44

Dengan demikian Bagi masing-masing terdapat balasan amalnya baik berupa
kekufuran maupun kesyukuran, dan kemusyrikan ataupun tauhid.
45


Ayat 16
Dalam ayat 16 surat Luqman, tokoh yang dianugerahi hikmah ini kembali
kepada akidah dengan memperkenalkan sifat Tuhan, khususnya yang berkaitan
dengan sifat Maha Mengetahui. Allah mampu mengungkap segala sesuatu,
betapapun kecilnya,
46

νέϻ΍ϰϓϭ΍Ε΍ϮϤδϟ΍ϰϓϭ΍ΓήΨλϲϓϦϜΘϓϝΩήΧϦϣΔΒΣϝΎϘΜϣϚΗϥ΍ΎϬϧ΍ϲϨΒϳ ΎϬΑΕ΄ϳ
Ϳ΍ ήϴΒΧϒϴτϟͿ΍ϥ΍
”…walaupun seberat biji sawi dan berada di dalam batu, atau di langit atau
di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya).
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui”
Hai anakku, sesungguhnya perbuatan baik dan buruk itu sekalipun beratnya
hanya sebiji sawi, lalu ia berada di tempat yang paling tersembunyi dan paling tidak
kelihatan, seperti di dalam batu besar atau di tempat yang paling tinggi seperti di
langit, atau tempat yang paling bawah seperti di dalam bumi, niscaya hal itu akan
dikemukakan oleh Allah SWT kelak
47


44
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 157
45
Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 175

46
Quraish Shihab, Secercah Cahaya Ilahi ; Hidup bersama al-Qur’an, (Bandung : Mizan, 2001),
Cet. 2, h. 69
47
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 157
78
Katika menafsirkan kata ( ϝΩήΧ )khardal Quraish Shihab mengutip
penjelasan Tafsir al-Muntakhab yang melukiskan biji tersebut. Disana dinyatakan
bahwa satu kilogram biji khardal/moster terdiri atas 913.000 butir. Dengan
demikian, berat satu butir biji moster hanya sekitar satu per seribu gram, atau kurang
lebih 1 mg, dan merupakan biji-bijian teringan yang diketahui umat manusia sampai
sekarang. Oleh karena itu, biji ini sering digunakan oleh Al-Qur’an untuk manunjuk
sesuatu yang sangat kecil dan halus.
Kata ( ϒϴτϟ )lathif terambil dari akar kata (ϒτϟ) lathafa yang huruf-
hurufnya terdiri dari ( ϝ )lam, ( ρ )tha’ dan ( ϑ )fa. Kata ini mengandung makna
lembut, halus atau kecil. Dari makna ini kemudian lahir makna ketersembunyian dan
ketelitian.
Sedangkan kata ( ήϴΒΧ )khabir, terambil dari akar kata yang terdiri dari huruf-
huruf (Υ )kha, ( Ώ )ba’ dan (έ )ra’ yang maknanya berkisar pada dua hal, yaitu
pengetahuan dan kelemahlembutan. Khabir dari segi bahasa dapat berarti yang
mengetahui dan juga tumbuhan yang lunak. Sementara pakar berpendapat bahwa
kata ini terambil dari kata ( νέϻ΍ΕήΒΧ )khabartu al-ardha dalam arti membelah
bumi. Dari sinilah lahir pengertian “mengetahui”, seakan-akan yang bersangkutan
membahas Sesuatu sampai dia membelah bumi untuk menemukannya.
48

Materi pelajaran akidah diselingi dengan materi pelajaran akhlak, bukan saja
agar peserta didik tidak jenuh dengan satu materi, tetapi juga untuk mengisyaratkan


48
Quraish Shihab, Loc. Cit., h. 134-136
79
bahwa ajaran akidah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak dapat
dipisahkan.
Wasiat Luqman pada ayat 16 ini adalah berkaitan dengan masalah akhirat,
dimana di dalamnya terdapat pahala yang adil dan perhitungan yang cermat atas
amal perbuatan manusia yang digambarkan oleh al-Qur’an dengan kata-kata indah
dan menyentuh, yang membangkitkan semangat, suatu gambaran yang menunjukkan
atas ilmu Allah yang meliput, yang tidak sebiji sawi pun yang luput dari
pengetahuan-Nya, walaupun biji itu tersembunyi di dalam perut bumi, di dalam batu
yang keras, atau di atas langit Allah yang luas, apalagi amal perbuatan manusia,
mudah sekali diketahui-Nya. Karena pengetahuan Allah meliputi seluruh langit dan
bumi.
49

Tidak ada satu pun ungkapan lain yang dapat menggambarkan tentang
ketelitian dan keluasan ilmu Allah yang meliputi segalanya, tentang kekuasaan
Allah, dan tentang hisab yang teliti dan timbangan yang adil melebihi gambaran
yang dilukiskan oleh ungkapan ayat 16 surat Luqman ini. Inilah salah satu
keistimewaan al-Qur’an sebagai mukjizat, dimana susunannya sangat indah dan
sentuhannya sangat dalam.
50


Ayat 17
Redaksi meneruskan kisah Luqman kepada anaknya. Ia menelusuri bersama
anaknya langkah-langkah akidah setelah kestabilannya dalam nurani. Setelah

49
M. Ali Ash-Shabuny, Cahaya Al-Qur’an, (Jakarta : Pustaka Al-Kautsar, 2002), Cet. 1, h. 391-
392
50
Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 176
80
beriman kepada Allah tidak ada sekutu bagi-Nya, yakin terhadap kehidupan akhirat
yang tiada keraguan di dalamnya, dan percaya kepada keadilan balasan dari Allah
yang tidak akan luput walaupun seberat satu biji sawi pun, maka langkah selanjutnya
adalah menghadap Allah dengan mendirikan shalat dan mengarahkan kepada
manusia untuk berdakwah kepada Allah, juga bersabar atas beban-beban dakwah dan
konsekuensi yang pasti ditemui.Sebagaimana firmannya :
ήϜϨϤϟ΍ϦϋϪϧ΍ϭϑϭήόϤϟΎΑήϣ΃ϭΓϮϠμϟ΍Ϣϗ΍ϲϨΒϳ
Pada ayat ini ada suatu pesan bahwa salah satu tugas orang tua kepada
anaknya ialah mendidiknya untuk menegakkan shalat. Karena shalat merupakan
langkah kedua setelah keimanan sehingga Rasulullah SAW menyebutkan dalam
hadisnya bahwa shalat merupakan rukun Islam yang kedua setelah ikrar keimanan
dilakukan (syahadatain) dan Rasulullah memerintahkan agar orang tua menyuruh
anaknya shalat semenjak usia dini, yakni usia tujuh tahun., sebagaimana sabdanya:
ϋ ηϦΑ΍ήϤϋϦ ϝΎϗϢϠγϭ ϪϴϠϋͿ΍ϰϠλϲΒϨϟ΍ϥ΍ϩΪΟϦϋϪϴΑ΍Ϧϋΐϴό ϻϭ΍΍ϭήϣ
ϰϓϢϬϨϴΑϮϗήϓϭήθϋ˯ΎϨΑ΍ϢϫϭΎϬϴϠϋϢϫ΍ϮΑήο΍ϭϦϴϨγϊΒγ˯ΎϨΑ΍ϢϫϭΓϼμϟΎΑϢϛΩ
ϊΟΎπϤϟ΍
“Dari Amr bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah SAW
telah bersabda : Suruhlah anak-anakmu mengerjakan shalat bila mereka telah
berusia tujuh tahun., dan pukullah mereka jika meninggalkannya bila mereka telah
berusia sepuluh tahun dan pisahkanlah tempat tidur mereka. (H.R. Ahmad dan Abu
Daud)
51




51
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah (terj), (Bandung : al-Ma’arif, 1990), Cet 10, j. 1, h. 205
81
Dengan menegakkan shalat berarti kita melakukan perbaikan spiritual.
Menurut Hamka dalam Tafsir al-Azharnya disebutkan bahwa : “Untuk memperkuat
pribadi dan meneguhkan hubungan dengan Allah, untuk memperdalam rasa syukur
kepada Tuhan atas nikmat dan perlindungan-Nya yang selalu kita terima, dirikanlah
shalat. Dengan shalat kita melatih lidah, hati dan seluruh anggota badan untuk selalu
ingat kepada Tuhan”.
52

Selain itu, jika kita bahas salah satu rahasia shalat, misalkan ketika
melakukan sujud, anggota badan yang terletak di posisi paling tinggi yaitu
kepala,kita rendahkan hingga kening kita menyentuh tanah, sedikitnya sebanyak 34
kali dalam 17 rakaat shalat wajib, karena itu shalat senantiasa mengajari manusia
untuk tidak takabbur, sebaliknya mendidik kita untuk tawadhu di hadapan Allah
SWT.
53

Nasihat Luqman pada ayat 17 ini menyangkut hal-hal yang berkaitan dengan
amal-amal shaleh yang puncaknya adalah shalat, serta amal-amal kebajikan yang
tercermin dalam amar makruf dan nahi mungkar, juga nasihat berupa perisai yang
membentengi seseorang dari kegagalan yaitu sabar dan tabah. Menyuruh
mengerjakan makruf, mengandung pesan untuk mengerjakannya, karena tidaklah
wajar menyuruh sebelum diri sendiri mengerjakannya. Demikian juga melarang
kemungkaran, menuntut agar yang melarang terlebih dahulu mencegah dirinya,. Itu
agaknya yang menjadi sebab mengapa Luqman tidak memerintahkan anaknya
melaksanakan yang makruf dan menjauhi mungkar, tetapi memerintahkan,


52
Hamka, Op. Cit., h. 132

53
Mohsen Qaraati, Op. Cit., h. 92
82
menyuruh dan mencegah. Di sisi lain membiasakan anak melaksanakan tuntunan ini
menimbulkan dalam dirinya jiwa kepemimpinan serta kepedulian sosial.
54

Menurut Mohsen Qaraati, Kita berkewajiban untuk membina anak-anak kita
menjadi individu-individu yang bertanggungjawab dan memiliki kepekaan sosial
melalui pendidikan keberimanan, kebertuhanan, menegakkan shalat dan melalui
pendidikan amar makruf nahi mungkar. Karena amar makruf adalah bukti cinta
seseorang kepada ajaran yang diyakininya, bukti kecintaan seseorang kepada umat,
bukti dari keinginan yang kuat untuk menuju keselamatan secara massal. Amar
makruf adalah semangat keagamaan dan jalinan persahabatan antar umat.
55

Inilah jalan akidah yang telah dirumuskan Allah. Yaitu, mengesakan Allah,
merasakan pengawasan-Nya, mengharapkan apa yang ada di sisi-Nya, yakin kepada
keadilan-Nya, dan takut terhadap pembalasan dari-Nya. Kemudian melalui ayat 17
ini beralih kepada dakwah untuk menyeru manusia agar memperbaiki keadaan
mereka, serta menyuruh mereka kepada yang makruf dan mencegah mereka dari
yang mungkar. Juga bersiap-siap sebelum itu untuk menghadapi peperangan
melawan kemungkaran, dengan bekal yang pokok dan utama yaitu bekal ibadah dan
menghadap kepada-Nya serta bersabar atas segala yang menimpa da’i di jalan Allah.
Karena itu redaksi lanjutan ayat 17 mengatakan:
έϮϣϻ΍ϡΰϋϦϣϚϟΫϥ΍
“…Sesungguhnya yang demikian termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh
Allah).” Karena dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an makna Azmil Umur adalah

54
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 137
55
Mohsen Qaraati, Op. Cit., h. 79 & 86
83
melewati rintangan dan meyakinkan diri untuk menempuh jalan setelah
membulatkan tekad dan keinginan.
56

Dalam Tafsir al-Maraghi disebutkan makna Azmil umur ialah yang telah
diwajibkan oleh Allah SWT atas hamba-hamba-Nya, tanpa ada pilihan lain. Karena
di dalam hal tersebut (shalat, amar makruf dan sabar) terkandung faedah yang besar
dan manfaat yang banyak, di dunia dan di akhirat.
57


Ayat 18
Luqman meneruskan secara panjang lebar tentang wasiatnya yang
diceritakan al-Qur’an di dalam surat Luqman ini hingga sampai kepada bahasan
tentang adab seorang da’i kepada Allah. Mendakwahi manusia kepada kebaikan
tidaklah membolehkan dan mengizinkan seseorang berbusung dada atas manusia dan
bersombong diri atas nama pemimpin bagi mereka kepada kebaikan,. Apalagi bila
ketinggian hati dan kesombongan itu dilakukan oleh orang yang tidak mengajak
kepada kebaikan, maka hal itu adalah lebih buruk dan lebih hina.
Bersamaan dengan perintah amar makruf dan nahi mungkar, bersabar atas
segala konsekuensinya, dan semua resiko yang harus dihadapi dan yang menimpa
diri, maka seorang da’i harus beradab dengan adab seorang dai yang merupakan
penyeru kepada Allah. Yaitu agar tidak sombong terhadap manusia karena dengan
perilaku sombong tersebut berarti dia merusak perkataan baik yang telah dia serukan
dengan contoh buruk yang dilakukannya.
αΎϨϠϟϙΪΧήόμΗϻϭ

56
Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 176
57
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 160
84
Kata (ήόμΗ )tusha’ir terambil dari kata (ήόμϟ΍ )ash-sha’ar yaitu penyakit
yang menimpa unta dan menjadikan lehernya keseleo. Sehingga ia memaksakan diri
dan berupaya keras agar berpaling sehingga tekanan tidak tertuju kepada syaraf
lehernya yang mengakibatkan rasa sakit. Dari kata inilah ayat 18 ini menggambarkan
upaya keras dari seseorang untuk bersikap angkuh dan menghina orang lain. Karena
seringkali penghinaan tercermin pada keengganan melihat siapa yang dihina.
58

Melalui ayat ini Luqman melarang anaknya bersikap sombong. Karena
sombong, congkak dan membanggakan diri kepada manusia adalah penyakit
berbahaya yang disebabkan karena kebodohan dan jiwa yang kotor. Karena orang
yang sombong mengira bahwa dirinya lebih tinggi dari seluruh manusia, sehingga
dia melihat orang lain dengan pandangan yang merendahkan dan menghinakan.
Begitu juga manusia, mereka menghinanya dan tidak menghargainya, seperti yang
dikatakan oleh seorang penyair ;
“Perumpamaan orang yang takjub dalam kesombongannya
Seperti orang yang berdiri di atas gunung yang tertinggi
Melihat manusia kecil, sedangkan dia
Juga kecil dalam penglihatan manusia”.

Maka dari itu Luqman melarang anaknya agar tidak sombong, karena Allah
tidak menyukai orang-orang yang sombong ketika berjalan yang membangga-
banggakan dirinya karena jiwa ataupun hartanya.
ΎΣήϣνήϟ΍ϰϓζϤΗϻϭ έϮΨϓϝΎΘΨϣϞϛΐΤϳϻͿ΍ϥ΍

58
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 139
85
“…Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membangga-
banggakan diri”
Ayat lain yang mempunyai makna senada ialah firman Allah :
ºº4Ò +^©·> OT× ^·¯O·- O4O4` W
ElE^T³ T·¯ ·-QO^CÒ` 4·¯O·- ó·¯4Ò
Eu¬U¯:·> 4·4:´¹^¯- LºQ¬C ^Q_÷

“Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan sombong, karena
sesungguhnya kamu sekali-kali tidak dapat menembus bumi dan sekali-kali kamu
tidak akan sampai setinggi gunung.”(Al-Isra’ : 37)

Al-Hafizh ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanadnya yang sampai kepada
Tsabit bin Qais bin Syamas, dia berkata :
˶ϛΫ ˴ή ˸΍ ˶Ϝϟ ˸Β ˵ή ˶ϋ ˸Ϩ ˴Ϊ ˴έ ˵γ ˸Ϯ ˶ϝ ˶Ϳ΍ ˴ϓ ϢϠγϭ ϪϴϠϋ Ϳ΍ ϰϠλ ˴θ ͉Ϊ ˴Ω ˶ϓ ˸ϴ ˶Ϫ ˴ϓ ˴Ϙ ˴ϝΎ ˶΍ ͉ϥ ˴˴Ϳ΍ ˴ϻ ˵ϳ ˶Τ ͊ΐ ˵ϛ ͉Ϟ
˵ϣ ˸Ψ ˴Θ ˳ϝΎ ˴ϓ ˵Ψ ˸Ϯ ˳έ ˴ϓ ˴Ϙ ˴ϝΎ ˴έ ˵Ο ˲Ϟ ˶ϣ ˴Ϧ ˸΍ ˴Ϙϟ ˸Ϯ ˶ϡ ˴ϭ ˶Ϳ΍ ˴ϳ ˴έ Ύ ˵γ ˸Ϯ ˴ϝ ˶Ϳ΍ ˶΍ ͋ϧ ˸ϲ ˴ϟ ˴Ύ ˸Ϗ ˶δ ˵Ϟ ˶Λ ˴ϴ ˶ΑΎ ˸ϲ ˴ϓ ˵ϴ ˸ό ˶Π ˵Β ˶Ϩ ˸ϲ
˴Α ˴ϴ ˵οΎ ˴Ϭ Ύ ˴ϭ ˵ϳ ˸ό ˶Π ˵Β ˶Ϩ ˸ϲ ˶η ˴ή ˵ϙ΍ ˴ϧ ˸ό ˶Ϡ ˸ϲ ˴ϭ ˴ϋ ˴ϼ ˴γΔϗ ˸Ϯ ˶σ ˸ϲ ˴ϝΎ˴Ϙ˴ϓ ˴ϟ ˸ϴ ˴β ˴Ϋ ˶ϟ ˴Ϛ ˸΍ ˶Ϝϟ ˸Β ˵ή ˶΍ ͉ϧ ˴Ϥ ˸΍Ύ ˶Ϝϟ ˸Β ˵ή ˴΍ ˸ϥ ˵Η ˴δ ͋ϔ ˴Ϫ
˸΍ ˴Τϟ ͉ϖ ˴ϭ ˴Η ˸ϐ ˵Ϥ ˴ς ͉Ϩϟ΍ ˴αΎ
“Masalah kesombongan disebutkan di sisi Rasulullah. Lalu beliau
memperingatkannya dengan keras seraya membaca ayat, ‘Sesungguhnya Allah tidak
menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.’ Lalu ada seorang
berkata, Demi Allah. Wahai Rasulullah, jika aku mencuci bajuku maka kagumlah
aku dengan warnanya yang putih. Aku pun kagum terhadap bunyi sandalku dan
gantungan cemetiku. ‘Beliau bersabda, ‘Yang demikian itu bukan sombong.
Sombong adalah bila kamu melecehkan kebenaran dan menyepelekan manusia.”

Dalam sebuah hadits yang lain juga disebutkan :
86
˴ϻ ˴ϳ ˸Ϊ ˵Χ ˵Ϟ ˸΍ ˴Πϟ ͉Ϩ ˴Δ ˴ϣ ˸Ϧ ˴ϛ ˴ϥΎ ˶ϓ ˴ϗϲ ˸Ϡ ˶Β ˶Ϫ ϥϮϜϳϥ΍ΐΤϳϞΟήϟ΍ϥ΍ϞΟέϝΎϗήΒϛϦϣϝΩήΧϦϣΓέΫϝΎϘΜϣ
ϝΎϤΠϟ΍ΐΤϳϞϴϤΟͿ΍ϥ΍ϝΎϗΔϨδΣϪϠόϧϭΎϨδΣϪΑϮΛ αΎϨϟ΍ςϤϏϭϖΤϟ΍ήτΑήΒϜϟ΍
“Tidak masuk Syurga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan
sebiji sawi. Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, bagaimana jika seseorang diantara
kami yang ingin memakai baju dan sandal yang baik?’ Nabi menjawab, ‘Bukan itu –
atau bukan itu yang disebut sombong – sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai
keindahan. Kesombongan adalah tidak menerima kebenaran dan memandang
rendah manusia.”
59


Quraish Shihab menjelaskan Kata ( ϻ ΎΘΨϣ ) mukhtalan terambil dari akar
kata yang sama dengan ϝΎϴΧ khayal. Karenanya kata ini pada mulanya berarti
orang yang tingkah lakunya diarahkan oleh khayalannya, bukan oleh kenyataan yang
ada pada dirinya. Biasanya orang semacam ini berjalan angkuh dan merasa dirinya
memiliki kelebihan dibandingkan dengan orang lain. Dengan demikian,
keangkuhannya tampak secara nyata dalam kesehariannya. Kuda dinamai
ϞϴΧ )khail karena cara jalannya mengesankan keangkuhan. Seorang yang mukhtal
membanggakan apa yang dimilikinya, bahkan tidak jarang membanggakan apa yang
pada hakikatnya tidak ia miliki. Dan inilah yang ditunjuk oleh kata ( ΍έϮΨϓ )
fakhuran, yakni seringkali membanggakan diri. Memang kedua kata ini yakni
mukhtal dan fakhur mengandung makna kesombongan. Kata yang pertama
(mukhtal) bermakna kesombongan yang terlihat dalam tingkah laku, sedang yang
kedua (fakhur) adalah kesombongan yang terdengar dari ucapan-ucapan. Di sisi lain,


59
Ali Asy-Shabuny, Op. Cit., h. 394
87
perlu dicatat bahwa penggabungan kedua hal itu bukan berarti bahwa
ketidaksenangan Allah baru lahir bila keduanya tergabung bersama-sama dalam diri
seseorang. Karena jika salah satu dari kedua sifat ini disandang manusia maka hal itu
telah mengundang murka-Nya. Penggabungan keduanya pada ayat ini atau ayat-ayat
yang lain hanya bermaksud menggambarkan bahwa salah satu dari keduanya
seringkali berbarengan dengan yang lain.
60

Menurut Hamka congkak, sombong, takabbur, membanggakan diri,
semuanya itu menurut penyelidikan ilmu jiwa terbitnya dari sebab ada perasaan
bahwa diri sebenarnya tidak begitu tinggi harganya. Diangkat-angkat ke atas,
ditonjolkan, karena di dalam lubuk jiwa terasa bahwa diri itu memang rendah atau
tidak kelihatan. Dia hendak meminta perhatian orang. Sebab merasa tidak
diperhatikan. Dikaji dari segi iman, nyatalah bahwa iman orang itu masih cacat. Hati
yang cacat oleh sifat sombong merupakan penghalang untuk seseorang masuk
syurga, sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW:
ϢϠγϭϪϴϠϋ Ϳ΍ ϰϠλ Ϳ΍ ϝϮγέ ϥ΍ ϪϨϋ Ϳ΍ ϰοέ ΩϮόδϣ ϦΑ΍ Ϧϋ ϻ ϝΎϗ
ϦϣΔϨΠϟ΍ϞΧΪϳ ήΒϛϦϣΓέΫϝΎϘΜϣϪΒϠϗϰϓϥΎϛ

“Dari Ibnu Mas’ud r.a., bahwasanya Rasulullah SAW telah bersabda :
Tidaklah masuk ke dalam syurga barangsiapa yang ada dalam hatinya sebesar
zarrah dari ketakabburan”.
61






60
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 139-140
61
Hamka, Op. Cit., h. 134
88

Ayat 19
Dalam ayat ini wasiat Luqman mengarahkan anaknya agar berpegang teguh
dengan akhlakul karimah; seperti etika berjalan, etika berbicara dan etika bergaul.
ϚϴθϣϲϓΪμϗ΍ϭ
Kata al-qasdu dalam ayat ini bisa berasal dari kesederhanaan yang
dimaksudkan dengan berjalan biasa dan tidak berlebih-lebihan, dan tidak
menghabiskan tenaga untuk mendapatkan pujian, siulan, dan kekaguman. Di
samping itu, kata al-qasdu bisa juga berasal dari makna maksud dan tujuan. Jasi,
berjalan itu harus selalu tertuju kepada maksud dan tujuan yang ditargetkan
pencapaiannya. Sehingga, gaya berjalan itu tidak menyimpang, sombong, dan
mengada-ada. Namun ia harus ditujukan guna meraih maksudnya dengan sederhana
dan bebas.
62

Sederhana dalam berjalan juga berarti jalan tidak terlalu cepat dan jangan
terlalu lambat., karena jalan terlalu cepat menghilangkan wibawa seseorang, akan
tetapi berjalanlah dengan wajar tanpa dibuat-buat dan juga tanpa pamer menonjolkan
sikap rendah diri atau sikap tawadhu’
Menurut suatu riwayat bahwa :
Siti Aisyah ra. Pernah melihat seorang laki-laki yang hampir mati karena
terlalu merendahkan diri. Lalu ia berkata, “Apakah gerangan yang telah terjadi
pada dirinya ?” Maka ada yang menjawab, bahwa dia adalah termasuk Ahli Qurra’
(ahli fiqih yang alim tentang kitabullah). Mendengar jawaban itu maka Aiayah

62
Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 177
89
menjawab, “Umar adalah pemimpin para ahli Qurra’, tetapi apabila ia berjalan
adalah dengan sikap yang gagah, apabila berkata suaranya keras dan berpengaruh,
dan apbila memukul, maka sakitnya bukan main”.
63
Karena itu hendaklah selalu
menjaga stabilitas diri sendiri, tidak melakukan sesuatu secara berlebihan dan tidak
juga mengerjakan sesuatu di bawah standar kelayakan.
64


Disebutkan pula pada ayat 19 ini agar merendahkan suara.
ϚΗϮλϦϣξπϏ΍ϭ
˴Quraish Shihab menjelaskan bahwa Kata ( ξπϏ΍ ) ughdhud terambil dari
kata ( ξϋ )ghadhdh dalam arti penggunaan sesuatu tidak dalam potensinya yang
sempurna. Mata dapat memandang ke kiri dan ke kanan secara bebas. Perintah
ghadhdh jika ditujukan kepada mata maka kemampuan itu hendaknya dibatasi dan
tidak digunakan secara maksimal. Demikian juga suara. Dengan perintah di atas
seseorang diminta untuk tidak berteriak sekuat kemampuannya, tetapi dengan suara
perlahan namun tidak harus berbisik.
65

Lanjutan redaksi ayat menyebutkan
ήϴϤΤϟ΍ΕϮμϟΕ΍Ϯλϻ΍ήϜϧ΍ϥ΍
bahwa seburuk-buruk suara ialah keledai. Bahkan Qatadah berkata, “Suara
paling jelek adalah suara keledai awalnya ringkikan dan akhirnya lenguhan. Untuk
itulah Allah menjadikannya sebagai pemisalan karena kejelekan dan
keburukannya”.
66



63
Al-Maraghi, Op. Cit., h. 162

64
Mohsen Qaraati, Op. Cit., h. 98
65
Quraish Shihab, Op. Cit., h. 140
66
Ali Ash-Shabuny, Op. Cit., h. 395
90
Maka barangsiapa yang meninggikan suaranya tanpa ada kepentingan
tertentu adalah seperti keledai yang meringkik dengan suaranya yang sangat jelek.
Disebutkan dalam Tafsir Fi Dzilalil Qur’an bahwa di dalam sikap menahan suara
terdapat adab dan keyakinan terhadap diri sendiri, serta ketenangan terhadap
kebenaran pembicaraan dan kekuatannya. Seseorang tidak akan berteriak atau
mengeraskan suara dalam pembicaraannya, melainkan dia adalah orang yang buruk
adabnya, ragu terhadap nilai perkataannya atau nilai kepribadiannya, dan dia
berusaha untuk menutupi keraguannya itu dengan bahasa yang pedas, keras dan
berteriak yang mengejutkan.
67


D. Konsep Pendidikan Agama dalam Surat Luqman ayat 12 – 19
Delapan ayat tersebut di atas sarat dengan nilai-nilai sebagai konsep
pendidikan agama yang harus diterapkan oleh orang tua kepada anak-anaknya
sebagaimana Allah telah menjadikan Luqman dan anaknya sebagai contoh proses
pendidikan agama dari orang tua kepada anaknya dan contoh tersebuut dikemukakan
oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW untuk disampaikan kepada segenap
umatnya.
Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada pokoknya pendidikan agama
itu dapat dirumuskan pada tiga pokok saja yaitu : keimanan atau aqidah, ibadah atau
syariah dan akhlak. Maka pada bahasan terhadap delapan ayat tersebut, penulis akan
membahasnya menurut tiga landasan pokok tersebut.

1. Konsep Pendidikan Keimanan (Aqidah)


67
Sayyid Quthub, Op. Cit., h. 177
91
Pendidikan aqidah terdiri dari pengesaan Allah, tidak menyekutukan-Nya,
dan mensyukuri segala nikmat-Nya. Larangan menyekutukan Allah termuat dalam
ayat 13 surat Luqman tersebut. Pada ayat ini, Luqman memberikan pendidikan dan
pengajaran kepada anaknya berupa akidah yang mantap, agar tidak menyekutukan
Allah. Itulah aqidah tauhid, karena tidak ada Tuhan selain Allah, dan yang selain
Allah adalah makhluk.
Orang yang mempersekutukan Allah adalah suatu aniaya yang besar, bahkan
dosa yang paling besar yang tidak ada ampunan dari Allah walau ia bertaubat,
karena pada dasarnya Allah mengajak manusia agar membebaskan jiwa dan
keyakinannya dari segala sesuatu selain Allah.
Jiwa manusia adalah mulia, sebab itu hubungan manusia haruslah langsung
kepada Allah. Jiwa yang dipenuhi tauhid adalah jiwa yang merdeka, tidak ada yang
mengikat jiwa itu kecuali hanya dengan Allah. Bila manusia telah mempertuhankan
yang lain, padahal yang lain itu hanyalah makhluk belaka, maka manusia sendirilah
yang membawa jiwanya menjadi budak oleh makhluk yang lain.
Ayat ini mendidik manusia bahwa keyakinan pertama dan utama yang operlu
ditanamkan dan diresapkan kepada anak (peserta didik0 adalah tauhid. Kewajiban ini
terpikul di pundak orang tua (rumah tangga) sebagai pendidik awal dalam
pendidikan informal. Demikian juga yang harus dilaksanakan oleh pendidikan
formal dan non formal. Tujuannya agar anak ( peserta didik) terbebas dari
perbudakan materi dan duniawi, sehingga keyakinannya mantap dan akidahnya
92
kokoh, serta keyakinannya itu perlu diresapkan sedini mungkin di saat anak telah
mulai banyak bertanya kepada orang tuanya.
68

Sedangkan perintah bersyukur dijelaskan 12 dan ayat 14 surat Luqman.
karena bersyukur adalah mempertinggi nilai diri sendiri yang sudah layak dan pantas
bagi insan yang sadar akan harga dirinya. Dan barang siapa yang kufur, yaitu tidak
bersyukur, tidak mengenang jasa dan tidak berterima kasih, maka sesungguhnya
Allah SWT Maha Kaya lagi Maha Terpuji. Tidaklah akan kurang kekayaan Tuhan
karena ada hamba-Nya yang tidak ingat kepada-Nya. Yang rugi hamba itu sendiri,
sedangkan Tuhan tidak, entah berapa banyak malaikat di langit dan di bumi serta
beberapa makhluk lain selalu mengucapkan tasbih dan puji-pujian kepada Allah.
Ayat-ayat ini mendidik manusia agar orang yang telah diberi nikmat yang
banyak seperti hikmah, ilmu yang banyak, kemampuan berpikir yang sempurna,
kecerdasan, dan lain sebagainya, hendaklah pandai bersyukur kepada Allah dan
berterima kasih kepada orang yang telah berjasa kepadanya yang dalam hal ini
adalah kedua orang tua. Dan melarang manusia menjadi kufur nikmat, karena
kekufuran itu pada akhirnya akan berakibat buruk kepada dirinya, dan tidak ada
pengaruhnya kepada Allah, karena Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.
Ayat lainnya yang berbicara mengenai pendidikan aqidah adalah ayat 16
surat Luqman. Pada ayat ini Luqman kembali kepada aqidah dengan
memperkenalkan sifat Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu betapapun
kecilnya, walaupun sebesar biji sawi sebagaimana yang dilukiskan dalam ayat
tersebut.


68
Armai Arief, Op. Cit., h. 188-189
93

2. Konsep Pendidikan Ibadah
Ibadah yang secara awam diartikan sesembahan, pengabdian, sebenarnya
adalah istilah yang paling luas dan mencakup tidak hanya penyembahan, tetapi juga
berhubungan dengan tingkah laku manusia meliputi kehidupan.
69

Pendidikan ibadah mencakup segala tindakan dalam kehidupan sehari-hari,
baik yang berhubungan dengan Allah seperti shalat, maupun dengan sesama
manusia. Hubungan kepada Allah SWT dalam bentuk shalat ini dinyatakan oleh ayat
17 surat Luqman. Pada ayat ini Allah mengabadikan empat bentuk nasihat Luqman
untuk penetapan jiwa anaknya, yaitu : a) dirikanlah shalat; b) Menyuruh berbuat
yang baik (makruf); c) Mencegah berbuat mungkar, dan d) bersabar atas segala
musibah. Inilah empat modal hidup yang diberikan Luqman kepada anaknya dan
diharapkan menjadi modal hidup bagi kita semua yang disampaikan Muhammad
kepada umatnya.
Ayat ini mendidik manusia dengan pemantapan jiwa dengan mendirikan
shalat, diikuti sebagai pelopor untuk perbuatan makruf, berani menegur yang salah,
mencegah yang mungkar, dan bila dalam melakukan itu semua terdapat rintangan,
maka diperlukan sifat sabar dan tabah. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk
yang diwajibkan oleh Allah SWT. Dengan demikian ayat ini memberi indikasi
bahwa ahalat sebagai peneguh pribadi, amar makruf nahi mungkar dalam hubungan
masyarakat, dan sabar untuk mencapai apa yang dicita-citakan.
3. Konsep Pendidikan Akhlak


69
Zuhairini, … et. al., Filsafat Pendidikan Islam, Op. Cit., h. 158
94
Sejalan dengan usaha membentuk dasar keyakinan/keimanan maka
diperlukan juga usaha untuk membentuk akhlak yang mulia. Berakhlak yang mulia
adalah merupakan modal bagi setiap orang dalam menghadapi pergaulan antara
sesamanya.
Akhlak termasuk di antara makna yang terpenting dalam hidup ini.
Tingkatnya berada sesudah keimanan/kepercayaan kepada Allah, Malaikatnya,
Rasul-rasulnya, Hari akhirat dan Qadha dan Qadhar Allah. Apabila beriman kepada
Allah dan beribadat kepada-Nya adalah berkaitan erat dengan hubungan antara
hamba dan Tuhannya, maka akhlak pertama sekali berkaitan dengan hubungan
muamalah manusia dengan orang lain, baik secara individu maupun secara kolektif.
Tetapi yang perlu diingat adalah akhlak tidak terbatas pada penyusunan hubungan
antara manusia dengan manusia lainnya, tetapi lebih dari itu, juga mengatur
hubungan manusia dengan segala yang terdapat dalam wujud dan kehidupan ini.
70

Ajaran mengenai pendidikan akhlak dijelaskan dalam beberapa ayat, seperti
ayat 14 surat Luqman yang sebelumnya juga berbicara mengenai pendidikan
keimanan/aqidah. Karena konsekuensi keimanan sebagai keyakinan hati harus
diwujudkan dalam sikap dan perbuatan. Tuntunan akhlak yang mulia mengajarkan
beberapa tuntunan yang harus dijalankan seorang manusia kepada Allah, berupa
kewajiban, anjuran ataupun larangan. Selain itu, tuntunan akhlak juga mengjarkan
manusia untuk berbakti kepada orang tua, ayah dan ibu yang menjadi perantara
kelahirannya di dunia. Selain bersyukur kepada Allah, manusia harus berterima
kasih kepada kedua orang tuanya, yang secara lahiriah telah berkorban, bersusah


70
Ibid., h. 156
95
payah, terutama ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui dan memelihara
dengan penuh kasih sayang.
71

Ayat lainnya yang menjelaskan ajaran akhlak juga adalah pada ayat 15 surat
Luqman. Pada ayat ini mendidik manusia agar mendahulukan dan mengutamakan
aqidah tauhid dan tidak boleh syirik. Perbedaan aqidah si anak dan orang tua tidak
boleh menghalangi pergaulan baik selama hidup di dunia, namun sangat dianjurkan
supaya si anak selalu mengajak orang tuanya kepada agama tauhid. Kalau tidak
berhasil, maka segala sesuatu diserahkan kepada Allah. Karena kepada-Nyalah akan
kembali semua yang ada ini.
Ayat selanjutnya yang berbicara tentang akhlak adalah ayat 16 surat Luqman
yang sebelumnya juga berbicara mengenai pendidikan keimanan/aqidah. Ayat ini
mendidik manusia agar beramal dengan ikhlas karena Allah SWT, sebab Allah akan
membalas semua perbuatan manusia itu betapapun kecilnya; perbuatan baik dibalas
dengan pahala kebaikan, dan perbuatan jahat dibalas dengan kesengsaraan.
Oleh sebab itu jika berbuat baik janganlah semata-mata ingin diketahui oleh
manusia. Tetapi haraplah penghargaan dari Allah semata yang dapat menilai dan
menghargainya. Ayat ini sangat penting untuk memperkuat hubungan batin insan
dengan Tuhannya, pengobat jerih payah atas amal usaha yang kadang-kadang tidak
ada penghargaan dari manusia. Oleh sebab itu, berdasarkan ayat ini, mendorong
manusia untuk bekerja keras dan beramal dengan ikhlas karena Allah semata.
72



71
H.M. Darwis Hude,… et. al., Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an, (Jakarta : Pustaka Firdaus,
2002), Cet. 1, h.443

72
Armai Arief, Op. Cit., h. 196-197
96
Ayat selanjutnya yang menggariskan prinsip-prinsip akhlak adalah ayat 18
aurat Luqman. Ayat ini mendidik manusia dalam pergaulan dengan masyarakat
dengan etika yang baik, berbudi pekerti, sopan santun, dan akhlak yang tinggi, yaitu
tidak boleh sombong, kalau sedang bercakap berhadapan dengan orang lain,
hendaklah berhadapan muka, sebab sebagai pertanda berhadapan hati. Sebaliknya
tidak boleh memalingkan muka, karena dengan demikian akan tersinggung perasaan
lawan bicara, dan dirinya tidak dihargai.
Ajaran sama tentang akhlak juga dimuat dalam ayat 19 surat Luqman. Ayat
ini sebagai kelanjutan dari ayat 18 yang mendidik manusia bertingkah laku sopan di
tengah masyarakat, yaitu sederhana dalam berjalan, jangan terlalu cepat, tergopoh-
gopoh, terburu-buru, akan cepat lelahnya, dan jangan pula terlalu lambat tertegun,
sebab akan membawa kemalasan dan membuang waktu di jalan, melainkan
hendaklah bersikap sederhana. Demikian juga bila berbicara, jangan dengan suara
keras jika tidak ada kepentingan tertentu, jangan berteriak dan menghardik-hardik,
menyerupai suara keledai. Oleh sebab itu, ayat ini juga mendidik manusia agar
bersikap halus, bersuara lemah lembut, sehingga bunyi suara itu pun menarik orang
untuk memperhatikan apa yang dikatakan, sehingga timbul rasa simpati dari si
pendengar. Dikeraskan hanyalah ketika digunakan untuk mengerahkan orang banyak
pada suatu pekerjaan besar atau seperti seorang komandan perang ketika
mengerahkan prajuritnya tampil ke medan perang, misalnya.
Berdasarkan uraian di atas mengenai konsep pendidikan agama yang terdapat
dalam surat Luqman ayat 12-19 tersebut, maka penulis akan mencoba
97
menggambarkan tipologi pendidikan tersebut yang dihubungkan dengan ayat 12 – 19
surat luqman, adalah sebagai berikut :
1. Pendidikan Keimanan/Aqidah ; ayat 12, 13, 14 dan 16
2. Pendidikan Ibadah ; ayat 17
3. Pendidikan Akhlak ; ayat 14, 15, 16, 18 dan 19




98
BAB IV
METODE MAUIZHAH DALAM SURAT LUQMAN AYAT 12 – 19
DAN APLIKASINYA

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya, bahwa individu merupakan
kesatuan antara jiwa dan raga dan di dalam jiwa tersebut terdapat pembawaan-
pembawaan yang dapat terpengaruh, baik itu pengaruh positif maupun negatif. Maka
surat Luqman ayat 12 – 19 ini sangat relevan untuk diaplikasikan dalam rangka
menanamkan pengaruh positif melalui mauizhah di dalamnya. Karena dalam surat
Luqman ayat 12 sampai dengan ayat 19 tersebut seluruhnya berupa mauizhah. Mauizah
yang disampaikan seorang ayah kepada anaknya yang di dalamnya mengandung konsep-
konsep pendidikan, baik itu pendidikan aqidah/keimanan, pendidikan ibadah dan
pendidikan akhlak sebagaimana yang telah dibahas sebelumnya. Dan ini juga bisa
diaplikasikan oleh pendidik lainnya selain orang tua.
Bahkan menurut Ibrahim Amini, salah satu metode yang masih efektif
dalam pembinaan karakter adalah memberi nasihat. Ada perbedaan antara memberi
nasihat dengan mengajar atau memberikan ceramah. Karena nasihat memiliki pengaruh
yang besar, nasihat itu masuk ke dalam hati walaupun tidak menggunakan penjelasan-
penjelasan yang rasional. Nasihat tetap ampuh dalam membangunkan kesadaran
seseorang, bahwa lebih dari itu, karena setiap orang secara alamiah memerlukan nasihat.
id19612406 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
99
tidak semua orang memerlukan pengajaran tapi pasti setiap manusia butuh kepada
nasihat, bahkan sekalipun orang-orang pintar dan orang-orang saleh.
1

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka pada pembahasan kali ini penulis
akan coba membahas mengenai pengertian mauizhah, pengertian metode mauizhah,
bentuk-bentuknya, tujuan dan keistimewaannya, serta aplikasinya dalam pendidikan
agama Islam.

A. Pengertian Mauizhah
“Mauizhah” berarti nasihat, kata tersebut sejalan dengan makna kata
“wa’azha”, “ya’izhu”, wa’zhan”, “waizhatan”, dan “wa mauizhatan” yang berarti
memberi nasihat. Al-Qur’an menggunakan kalimat-kalimat yang menyentuh hati untuk
mengarahkan manusia kepada ide yang dikehendakinya. Inilah kemudian yang dikenal
dengan nasihat dan al-Qur’an sarat dengan nasihat. Allah menjelaskan :
… ˶Ϫ˶Α˸Ϣ˵Ϝ˵ψ˶ό˴ϳΎ͉Ϥ˶ό˶ϧ˴Ϫ͉Ϡϟ΍͉ϥ˶· …
“Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu.”
(QS. An-Nisa : 58)
Abdurrahman An-Nahlawi mendefinisikan mauizhah sebagai berikut;
Mauizhah adalah sesuatu yang dapat mengingatkan seseorang akan apa yang
dapat melembutkan kalbunya, yang menyangkut perihal pahala atau siksa, yang
disajikan dalam bentuk nasihat yang menyentuh, sehingga menimbulkan kesadaran pada
dirinya. Istilah mauizhah disebut juga sebagai al-wa’zhu, yakni pemberian nasihat dan
peringatan akan kebaikan dan kebenaran dengan cara menyentuh kalbu dan menggugah
untuk diamalkannya.
2

Dengan demikian menurut penulis mauizhah itu adalah sesuatu yang di
dalamnya mengandung unsur nasihat dan peringatan yang dapat menimbulkan kesadaran

1
Ibrahim Amini, Agar tak salah Mendidik Anak, Penerjemah; Ahamad Subandi & Salman
Fadlullah, (Jakarta : Al-Huda, 2006), h. 327
2
Syahidin, Op. Cit., h. 104
100
pada diri orang yang diberikan nasihat. Karena itu mauizhah harus disajikan dengan
cara-cara yang menyentuh kalbu agar dapat menggugah perasaan orang yang diberi
nasihat dan mengarahkannya kepada isi nasihat yang diberikan, tanpa ada tujuan
menggurui, supaya ia dengan kesadaran dirinya menerima dan mengamalkan isi nasihat
itu.

B. Pengertian Metode Mauizhah
Berdasarkan pengertian mauizhah menurut An-Nahlawi tersebut diatas,
Syahidin dalam bukunya menyimpulkan bahwa yang dimaksud metode mauizhah ialah
suatu cara penyampaian materi pelajaran melalui tutur kata yang berisi nasihat-nasihat
dan peringatan tentang baik buruknya sesuatu.
3

Memberi nasihat merupakan salah satu metode penting dalam pendidikan
Islam. Dengan metode ini pendidik dapat menanamkan pengaruh yang baik ke dalam
jiwa apabila digunakan dengan cara yang mengetuk relung jiwa melalui pintunya yang
tepat. Bahkan, dengan metode ini pendidik mempunyai kesempatan yang luas untuk
mengarahkan peserta didik kepada berbagai kebaikan kemaslahatan serta kemajuan
masyarakat dan umat. Cara yang dimaksud ialah hendaknya nasihat lahir dari hati yang
tulus. Artinya, pendidik berusaha menimbulkan kesan bagi peserta didiknya bahwa ia
adalah orang yang mempunyai niat baik dan sangat peduli terhadap kebaikan peserta
didik. Hal inilah yang membuat nasihat mendapat penerimaan yang baik dari orang yang
diberi nasihat.
4


3
Ibid., h. 104

4
Hery Noer Aly, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Logos, 1999), Cet. 2, h. 191
101
Dengan demikian, dalam menguraikan metode ini, guru perlu
mempertimbangkan 4 hal, yaitu :


1) Faktor badaniah guru, maksudnya penampilan fisik guru harus mencerminkan isi
nasihat itu, seperti pakaiannya, mimik mukanya, tutur kata dan intonasi suara;
2) Faktor historisitas murid, artinya guru harus memahami latar belakang kehidupan
murid secara umum, dari latar belakang sosial dimana murid itu lahir dan
dibesarkan; petani, pedagang, atau pegawai misalnya;
3) Faktor dunia murid, maksudnya nasihat itu harus disesuaikan dengan tingkat usia
dan pemahaman murid. Menasihati anak usia SD berbeda dengan menasihati
murid usia SLTA.
4) Faktor komunikasi, maksudnya ungkapan dan tutur kata guru harus dapat
dipahami oleh murid. Di sini guru harus menggunakan bahasa yang biasa
digunakan oleh murid.
5

Dengan demikian dalam menggunakan metode mauizhah ini pendidik
hendaknya memperhatikan keempat faktor ini yang masing-masing berhubungan dengan
pendidiknya, latar belakang terdidik, tingkat pemahaman, dan komunikasi atau bahasa
yang digunakannya.



B. Tujuan dan Keistimewaan Metode Mauizhah
Metode mauizhah memiliki tujuan antara lain :
1) Mengarahkan, membina dan menggugah perasaan ke-Tuhanan murid;

5
Ibid., h. 104
102
2) Mengingatkan berbagai makna dan kesan yang membangkitkan perasaan ikhlas
dalam beramal saleh;
3) Mengingatkan makna dan kesan yang membangkitkan perasaan untuk menaati
Allah dan melaksanakan perintah-Nya;
4) Mengarahkan dan membina berpikir yang sehat;
5) Mengarahkan pada penyucian dan pembersihan jiwa.
6

Jika dihubungkan dengan surat Luqman ayat 12 sampai dengan 19 yang telah
dibahas, sesungguhnya tujuan-tujuan di atas terdapat dalam surat luqman ayat 12
sampai dengan 19 tersebut, sebagai berikut:
1. Dalam menggugah perasaan ke-Tuhanan murid telah ditunjukkan oleh ayat 12
dan 13 tentang bagaimana nasehat Luqman kepada anaknya agar jangan
mempersekutukan Tuhan karena hal itu kezaliman yang besar, dan nasihatnya
supaya bersyukur kepada Allah karena hanya kepada Allah kita semua akan
kembali. Serta ditunjukkan oleh ayat 16 surat Luqman yang juga
memperkenalkan sifat Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu betapa pun
kecilnya. Ini menunjukkan Luasnya Ilmu Allah dan ketelitian-Nya. Sehingga
melalui ayat-ayat ini tujuan yang diharapkan yakni menggugah perasaan ke-
Tuhanan pada diri anak dapat tercapai.
2. Untuk mengingatkan berbagai makna dan kesan yang membangkitkan perasaan
ikhlas dalam beramal saleh telah ditunjukkan oleh ayat 16 surat Luqman. Sebab
Allah akan membalas semua perbuatan manusia betapapun kecilnya. Karena itu
berbuat baik jangan karena ingin diketahui oleh manusia. Tetapi berharaplah

6
Syahidin, Op. Cit., h. 105
103
dari Allah yang dapat menilai dan menghargainya. Ayat 16 ini mendorong
manusia untuk bekerja keras dan beramal dengan ikhlas karena Allah semata
walaupun manusia lain tidak mengetahui kebaikan yang kita lakukan, namun
Allah pasti mengetahui dan akan membalasnya.
3. Dalam rangka mengingatkan berbagai makna dan kesan yang membangkitkan
perasaan untuk menaati Allah dan melaksanakan perintah-Nya telah ditunjukkan
oleh hampir keseluruhan dari ayat 12 sampai dengan 19. karena apa yang
dikehendaki oleh ayat-ayat tersebut tentunya dalam rangka menaati Allah dan
menjalankan perintah-Nya.
4. Untuk mengarahkan dan membina berpikir yang sehat juga telah ditunjukkan oleh
semua ayat 12 sampai dengan 19 tersebut. Karena Luqman ketika menyampaikan
nasihatnya selalu disertai dengan argumentasi yang dipaparkan atau yang dapat
dibuktikan oleh manusia melalui penalaran akalnya. Metode ini bertujuan agar
orang yang sedang diberikan nasihat merasa bahwa ia ikut berperan dalam
menemukan kebenaran dan dengan demikian ia merasa memilikinya serta
bertanggung jawab mempertahankannya. Seperti nasihatnya agar jangan
mempersekutukan Tuhan, agar berbuat baik, agar jangan sombong dan lain-
lainnya, kesemuanya itu disertai dengan argumentasi kenapa hal tersebut
diperintahkan dan kenapa dilarang.
5. Sedangkan dalam rangka mengarahkan pada penyucian dan pembersihan jiwa
juga telah ditunjukkan oleh ayat 17 surat Luqman, yaitu nasihat kepada anaknya
untuk mendirikan shalat yang manfaat dari shalat itu sendiri adalah pembersihan
dan penyucian jiwa.
104

Di samping tujuan diatas, metode mauizhah memiliki sejumlah
keistimewaan, yaitu :
1) Dapat menyentuh nurani murid akan keberadaan dirinya secara utuh dan
menyeluruh, sebagaimana terjelma dalam tokoh utama yang sengaja ditampilkan
al-Qur’an melalui peristiwa-peristiwa yang mengandung mauizhah.
2) Mendidik perasaan ketuhanan seperti khauf, rasa ridho, dan cinta terhadap yang
patut diridhoi dan dicintai.
3) Memberikan kesempatan mengembangkan pola pikir murid, sehingga
terpusatkan, baik melalui pengisyaratan dan penerapan, berpikir dan merenung,
maupun dialog yang mengandung serta mengundang penalaran. Dan Surat
Makkiyah ini merupakan salah satu contoh dari metode al-Qur’an dalam
berdialog dengan manusia.
4) Membawa murid pada situasi yang khas serta mampu mempengaruhi
perasaannya menjadi tunduk, yang berakibat pada kesadaran untuk berbuat.
7





Karena keistimewaan-keiatimewaan itulah, metode mauizhah ini memiliki
dampak instruksional sebagai berikut :
a. Mendorong pada perenungan, penghayatan, dan tafakkur akan makna dan
kebesaran Allah.

7
Ibid., h. 105-106
105
b. Mengingatkan berbagai makna dan kesan yang membangkitkan perasaan untuk
taat dan melaksanakan perintah Allah
c. Menimbulkan kesan heran dan kagum akan kebesaran Allah, sehingga menjadi
pendorong dalam mewujudkan amal saleh.
8


C. Bentuk Mauizhah
Sebagai salah satu metode, Mauizhah mempunyai beberapa bentuk antara
lain sebagai berikut :
a. Nasihat Langsung
Pengertian etimilogis dari kata “nasihat” ialah berasal dari kata “nashaha” (
΢μϧ ) yang mengandung arti “keterlepasan dari segala kotoran dan tipuan”. Secara
lughawi kata “nasihat” itu harus terhindar dari kata yang kotor, tipuan, dan dusta,
dan hal ini sejalan dengan makna syar’i di mana nasihat itu menyangkut kebenaran
dan kebajikan yang harus jauh dari sifat tercela seperti tipuan dan dosa.
9
Seperti
ungkapan ( ΐϴΠϟ΍΢λΎϧϞΟέ )Rajulun nashih al-jaib yang berarti orang yang tidak
memiliki sifat menipu, dan al-nashih ( ΢λΎϨϟ΍ ) berarti madu murni. Atas dasar
pengertian ini, kata Abdurrahman al-Nahlawi, indikasi nasihat yang tulus ialah orang
yang memberi nasihat tidak berorientasi kepada kepentingan material pribadi.
Selanjutnya, pendidik yang memberi nasihat secara tulus hendaknya menghindarkan
diri dari segala bentuk sifat riya dan pamrih agar tidak menodai keikhlasannya

8
Ibid., h. 114-115

9
Syahidin, Op. Cit., h. 111
106
sehingga kewibawaan edukatifnya dan pengaruhnya terhadap jiwa peserta didik
menjadi hilang.
10

Menurut istilah, nasihat merupakan sajian gambaran tentang kebenaran dan
kebajikan, dengan maksud mengajak orang yang dinasihati untuk menjauhkan diri
dari bahaya dan membimbingnya ke jalan yang bahagia dan berfaidah baginya.
Metode mauizhah berbentuk nasihat ini memiliki keistimewaan, antara lain dapat
membuka jalan untuk mempengaruhi perasaan dan pikiran yang mengarah kepada
kebajikan. Akan tetapi, berpengaruh tidaknya metode ini tergantung pada sikap guru
(pendidik); apakah pendidik dalam memberikan nasihat itu disertai kesungguhan,
keikhlasan, dan bersih dari sikap riya ?; apakah disertai keteladanan ?; apakah
disertai penggunaan bahasa yang lembut dan sopan, yang mencerminkan
keterbukaan, kasih sayang, keseimbangan dan integritas ?; sebaliknya, bila pendidik
menggunakan metode mauizhah berbentuk nasihat tanpa dibarengi keikhlasan,
keteladanan, sopan santun, dan lain-lain, maka jangan diharap nasihat itu akan
berbekas pada diri siswa, justru sebaliknya akan menjadi cemoohan dan pelecehan
bagi diri guru. Ini menunjukkan bahwa antara satu metode yakni nasiht dengan
metode lain yang dalam hal ini keteladan bersifat saling melengkapi.
11


b. Tadzkir
Bentuk kedua metode mauizhah ialah tadzkir (peringatan) yakni
mengingatkan berbagai makna dan kesan yang dapat membangkitkan perasaan dan


10
Hery Noer Aly, Op. Cit., h. 192
11
Syahidin, Op. Cit., h. 112
107
emosi untuk segera beramal saleh, dekat dengan Allah, serta melaksanakan segala
perintah-Nya. Bentuk tadzkir ini mempunyai beberapa dimensi, antara lain, tadzkir
akan kematian, tadzkir akan musibah-musibah, tadzkir mengenai penghisaban, dan
sebagainya.
Penggunaan metode mauizhah dalam pengajaran melalui bentuk ini
dimaksudkan untuk dijadikan pendorong yang kuat dalam memunculkan rasa risih
dalam memandang perbuatan yang seharusnya. Dengan kata lain, metode mauizhah
bentuk tadzkir ini membimbing fitrah potensi baik agar tetap berada pada kebaikan
dan berkembang menuju kesempurnaan, serta menghadang potensi buruk agar tidak
berkembang. Agar metode ini benar-benar menggugah kalbu dan pikiran siswa,
sebaiknya dilakukan dalam situasi yang tepat.
12



D. Efektifitas Nasihat
Agar nasihat menjadi efektif, maka pemberi nasihat baik itu di lingkungan
formal, informal dan non formal harus memperhatikan syarat-syaratnya. Berikut ini
adalah syarat-syarat supaya nasihat itu menjadi efektif:
1. Si pemberi nasihat harus terlebih dahulu mengamalkannya. kata-katanya harus
menjadi cermin perbuatannya. kalau apa yang dikatakannya dengan apa yang
dilakukan sama sekali tidak didukung dengan perbuatannya, maka nanti tidak
akan ada yang mendengar. Imam Ali as mengatakan : “Sesungguhnya seorang
alim jika tidak mengamalkan ilmunya, maka nasihatnya akan meleset dari
hatinya seperti hujan yang meleset dari tempat yang licin”. Ia juga mengatakan :

12
Ibid., h. 113
108
“Nasihat tidak akan dikeluarkan oleh telinga dan yang bermanfaat adalah
nasihat yang tidak dikatakan oleh mulut tapi dijelmakan dalam perbuatan”.
karena itu efektifitas nasihat tergantung pada kredibilitas pemberi nasihat.
2. Berikan nasihat secara khusus, jangan di depan orang ramai, supaya tidak
merasa malu untuk menerima kenyataan dirinya. jangan mempermalukan anak-
anak remaja yang umumnya masih sangat peka dan emosional. kecuali kalau isi
nasihat itu adalah hal-hal yang umum. Imam Ali as mengatakan, “memberi
nasihat di depan orang-orang banyak sama saja dengan mengejeknya”.
3. Sampaikan nasihat secara singkat karena jika terlalu bertele-tele akan
membosankan.
4. Nasihat itu harus jelas dan disesuaikan dengan kebutuhan psikologis
pendengarnya.
5. Berikan nasihat secara bertahap. jelaskan terlebih dahulu hal-hal prinsip
sebelum hal-hal yang tidak prinsip. kalau yang dinasihati mau menerima hal-hal
yang prinsipil yang disampaikan, maka barulah melangkah ke hal-hal yang lain.
kalau tidak demikian, maka hasilnya akan negatif. seperti memberi nasihat
seorang wanita yang imannya masih lemah dan tidak memakai jilbab, maka
nasihat pertama adalah tentang memperkuat keyakinan sebelum menyuruhnya
untuk memakai jilbab.
6. Berikan nasihat dengan penuh perhatian dan rasa cinta, jangan menggurui atau
memarahinya
13



13
Ibrahim Amini, Op. Cit., h. 327-328
109
E. Metode Mauizhah dalam Surat Luqman Ayat 12 – 19 dan Aplikasinya
Mauizhah merupakan sebagian cara yang digunakan al-Qur’an dan as-
Sunnah dalam mendidik manusia agar senantiasa taat dan patuh pada perintah Allah
SWT. Metode mauizhah diistilahkan oleh An-Nahlawi sebagai pendekatan
pendidikan keimanan dalam al-Qur’an atau disebut sebagai Metode Quraniyah yang
memiliki berbagai keistimewaan karena adanya keselarasan dengan fitrah (potensi)
manusia sebagai pendidik dan terdidik.
Proses internalisasi nilai ke dalam jiwa murid didahului oleh pengenalan nilai
secara intelektual, disusul oleh penghayatan nilai tersebut, kemudian tumbuh dalam
diri murid tanpa disadari sehingga seluruh jalan pikirannya, tingkah lakunya, serta
sikapnya terhadap segala sesuatu di luar dirinya bukan saja diwarnai tetapi juga
dijiwai oleh nilai tersebut.
Pendapat diatas mengisyaratkan bahwa pendidikan nilai (khususnya agama)
memerlukan waktu yang relatif lama, tetapi tentu saja hal ini dapat diatasi dengan
mencari cara yang tepat, sehingga hasil yang diharapkan dapat dengan cepat tampak
pada terdidik. Dalam jangka pendek, upaya yang dimaksud ialah pendekatan
pengajaran (metode) dalam proses belajar mengajar. Dan keampuhan metode yang
dipilih pun akan sangat tergantung pada siapa yang membawakannya dan dalam
situasi yang bagaimana. Penggunaan metode mauizhah sama halnya dengan metode
lain, ia akan menjadi alat yang tepat manakala dibawakan oleh pendidik yang tahu
bagaimana menggunakannya dan dalam situasi yang cocok, baik materi yang
dibawakan, tujuan yang dikehendaki, maupun waktu yang dipilih. Banyak nasihat
110
guru yang diabaikan muridnya disebabkan guru kurang memperhatikan situasi dan
kondisi yang sedang dihadapi oleh muridnya.
14

Penggunaan metode mauizhah ini dapat meliputi sebagian besar pengajaran,
tanpa membedakan antara agama dan bukan agama. Selain apa yang disebut dalam
surat Luqman ayat 12 – 19 yaitu keimanan, syariah dan akhlak, titik tekannya juga
pada materi yang mengandung unsur-unsur religius, seperti ketauhidan, ukhuwah,
musyawarah, tasamuh, huriyah, istiqamah, jihad dan sebagainya. Dengan kata lain,
berkaitan dengan materi-materi yang mengandung nilai-nilai yang relevan dengan
aturan yang berlaku (Islam), yang kesemua nilai-nilai tersebut bertitik tolak dari tiga
pokok ajaran Islam, yaitu aspek akidah, syariah dan akhlak sebagaimana dijelaskan
pada awal pembahasan.
Aplikasi metode mauizhah ini dilaksanakan dalam kondisi sebagai berikut;
1. Pemberi nasihat harus mencerminkan isi nasihat itu sendiri dalam artian ia telah
mengamalkan apa yang dinasihati. Karena itu mauizhah (nasihat) yang
disampaikan tergantung kepada kredibilitas si pemberi nasihat. Selain itu si
pemberi nasihat harus mengarahkan nasihat itu secara bijaksana. Seperti halnya
nasihat Luqman yang tidak menggurui dan tidak mengandung tuduhan. Karena
orang tua menginginkan bagi anaknya melainkan kebaikan, maka karena itu
pula orang tuanya hanya menjadi penasihat bagi anaknya, yakni nasihat yang
membebaskan dari segala aib dan menghindarkannya dari segala kemudharatan.
2. Dalam memberikan nasihat harus disertai sikap penuh perhatian dan cinta kasih
sebagaimana yang telah dicontohkan oleh tokoh Luqman ketika menasihati

14
Syahidin, Op. Cit., h. 114
111
anaknya. Ia selalu menggunakan panggilan mesra dengan panggilan ya
bunayya, panggilan yang menggambarkan kemungilan dan mengisyaratkan
kasih sayang. Itu semua untuk menimbulkan rasa pengakuan pada diri si anak
bahwa dirinya diakui dan dihargai keberadaannya. Panggilan ini nantinya tentu
harus disesuaikan dengan obyek nasihat (orang yang dinasihatinya).
3. Pemberian nasihat juga harus kontinu (terus-menerus) dari waktu ke waktu dan
tidak berhenti pada satu saat saja, agar apa yang dinasihati benar-benar
terinternal (berbekas) pada diri orang yang dinasihati. Seperti halnya ketika
Luqman menasihati anaknya (memberikan mauizhah) bunyi ayatnya
menggunakan kata ya’izhuhu, bentuk kata kerja masa kini dan datang yang
mengisyaratkan bahwa nasihat itu dilakukannya dari saat ke saat.
4. Pemberian materi nasihat harus disesuaikan dengan tingkat kesulitannya, dalam
artian harus secara bertahap. Oleh karena itu, hal-hal yang prinsipil dahulu yang
diberikan kepada si obyek nasihat sebelum hal-hal yang tidak prinsip.
Sebagaimana Luqman memulai nasihatnya dengan pendidikan aqidah/keimanan
sebelum pendidikan ibadah dan akhlak, karena pendidikan aqidah adalah hal
yang prinsip yang harus diutamakan.
5. Pemberian materi nasihat pun harus diadakan penyelingan antara materi yang
satu dengan materi yang lain. Karena itu jangan memberikan nasihat tentang
hal-hal yang itu-itu saja tanpa diselingi dengan yang lain. Hal ini akan
menimbulkan kejenuhan pada obyek nasihat. Seperti halnya Luqman dalam
memberikan nasihat tentang materi akidah diselingi dahulu dengan materi
akhlak dan materi ibadah. Hal ini agar si obyek nasihat tidak jenuh.
112
6. Dalam memberikan nasihat jangan sampai menciptakan situasi yang sifatnya
menggurui, karena itu akan berakibat pada tidak diterimanya suatu nasihat.
Berikanlah nasihat disertai dengan argumentasi atau alasan mengapa nasihat itu
bentuknya perintah atau larangan, dan kemudian biarkan si obyek nasihat
sendiri yang memikirkannya. Argumentasi dalam memberikan nasihat sangat
penting seperti halnya Luqman dalam nasihat-nasihatnya selalu disertai dengan
argumentasi yang dipaparkan dan dibuktikan kebenarannya. Misalnya
larangannnya jangan menyekutukan Allah adalah dikarenakan itu merupakan
kezaliman yang besar, atau larangannya agar jangan bersikap sombong adalah
karena Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-
banggakan diri, atau misalnya nasihatnya yang memerintahkan anaknya untuk
mendirikan shalat karena di dalam shalat itu sendiri banyak manfaatnya dan
karena hal itu adalah termasuk yang diwajibkan oleh Allah. Kesemuanya itu
disertai dengan argumentasi agar si obyek nasihat membuktikannya melalui
penalaran akalnya. Dengan demikian ia akan merasa memiliki dan bertanggung
jawab mempertahankan isi nasihat itu.



Sasaran metode mauizhah ini adalah timbulnya kesadaran pada orang yang
dinasihati agar mau insaf melaksanakan ketentuan hukum atau ajaran yang
dibebankan kepadanya. Ini bisa dilihat pada apa yang dilakukan Luqmanul hakim
terhadap puteranya sebagaimana dilukiskan di dalam surat Luqman ayat 13 sampai
113
dengan 19 yang isinya antara lain agar jangan menyekutukan Tuhan, berbuat baik
kepada ibu bapak, bersyukur kepada Allah, menunaikan shalat, menyuruh berbuat
baik dan menjauhi perbuatan mungkar dan tidak sombong (takabbur). Begitu pula
yang terdapat dalam surat al-Isra’ ayat 22 sampai dengan 38 yang isinya antara lain
agar jangan menyekutukan Tuhan (syirik), agar berbuat baik kepada ibu bapak
dengan mendoakan dan lainnya, membantu sanak saudara, orang-orang miskin, ibnu
sabil, tidak boros, tidak kikir, tidak membunuh tanpa sebab yang dibolehkan agama,
tidak memakan harta anak yatim, menepati janji, menyempurnakan timbangan dan
takaran, tidak menjadi saksi palsu, dan tidak sombong.
Melihat isi nasihat tersebut, nampak bahwa di dalam al-Qur’an terdapat
pengulangan materi nasihat. Pengulangan nasihat misalnya terjadi pada larangan
menyekutukan Tuhan, perintah berbuat baik kepada kedua orang tua dan tidak
sombong. Pengulangan ini terjadi bisa dipahami, bahwa masalah yang dinasihatkan
itu begitu penting sesuai dengan konteks soalnya. Lagipula ketiga unsur obyek yang
dinasihatkan itu nampak berlaku secara umum pada manusia. Sedangkan obyek
nasihat yang lainnya berkaitan dengan profesi yang bersangkutan.
15



Dari uraian tersebut diatas, terlihat bahwa al-Qur’an secara eksplisit
menggunakan mauizhah (nasihat) sebagai salah satu cara untuk menyampaikan suatu
ajaran. Al-Qur’an berbicara tentang penasihat, yang dinasihati, obyek nasihat, situasi


15
H. Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, Op. Cit., h. 99
114
nasihat dan latar belakang nasihat. Karena sebagai suatu metode pengajaran nasihat
dapat diakui kebenarannya.
115
BAB V
KESIMPULAN

A. KESIMPULAN
Setelah melakukan pembahasan-pembahasan, maka sebagai akhir dari
penulisan skripsi ini perlu kiranya penulis menarik beberapa kesimpulan yang
diperlukan.
Adapun kesimpulan-kesimpulan yang perlu penulis sampaikan adalah
sebagai berikut :
1. Aspek pendidikan agama dalam surat Luqman ayat 12 – 19 secara sistematis terdiri
dari : Dasar, Tujuan, Proses dan Hasil.
a. Dasar, pendidikan agama itu mempunyai dasar yang jelas yaitu wahyu, berupa
kitabullah dan Sunnah Rasulullah.
b. Tujuan, pendidikan agama bertujuan membentuk manusia yang berkepribadian
muslim utama atau diistilahkan dengan insan kamil, yang dapat menjalankan
perannya dengan baik sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial
yang berinteraksi dengan manusia lainnya juga dengan alam sekitarnya yang
juga dilandasi dengan nilai-nilai Islami.
c. Proses, untuk mencapai tujuan yang diharapkan, pendidikan agama melakukan
proses pendidikan yang meliputi pendidikan aqidah/keimanan, pendidikan
ibadah dan pendidikan akhlak.
d. Hasil yang diharapkan dari pendidikan agama yaitu, kebahagiaan dunia dan
akhirat.
id19627078 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com
116
2. Surat Luqman ayat 12 – 19 ternyata memiliki kelengkapan untuk dijadikan sebagai
dasar pendidikan agama sebagaimana rumusan tersebut di atas. Adapun aspek
pendidikan agama yang terdapat dalam surat Luqman ayat 12 – 19 adalah sebagai
berikut :
a. Dasar pendidikan agama adalah wahyu sebagaimana yang dianugerahkan Allah
kepada Luqman berupa hikmah. Hal ini mempunyai kesamaan sumber dengan
kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Karena jika Allah telah menganugerahkan
hikmah kepada seseorang, maka yang dianugerahi telah memperoleh kebaikan
yang banyak. Sebagaimana yang digambarkan ayat 12 sehingga ia selalu
bersyukur kepada Allah.
b. Tujuan pendidikan agama adalah terbentuknya kepribadian muslim yang
utama, yang salah satu bentuknya adalah manusia yang bertauhid kepada Allah
dan jauh dari kemusyrikan (tidak menyekutukannya), sebagaimana yang
diajarkan Luqman kepada anaknya pada ayat 13
c. Proses pendidikan agama pada surat ini meliputi pendidikan aqidah/keimanan
(tauhid), pendidikan ibadah (shalat) dan pendidikan akhlak yang terdiri dari;
berbuat baik terhadap orang tua, bekerja dengan ikhlas dan berlaku tidak
sombong terhadap sesama manusia, serta bersikap sederhana dalam berjalan
maupun berbicara. Hal ini sebagaimana yang terdapat dalam surat Luqman
ayat 13 sampai dengan ayat 19.
d. Hasil yang diharapkan melalui pendidikan agama ialah mencapai kebahagiaan
dunia dan akhirat. Jika surat Luqman ayat 12 sampai dengan ayat 19 ini telah
dilaksanakan oleh setiap pendidik, baik itu orang tua sebagai pendidik di
117
lingkungan informal atau oleh guru sebagai pendidik di lingkungan formal dan
tokoh-tokoh agama di lingkungan non formal, maka kebahagian dunia dan
akhirat yang diharapkan ini bisa tercapai.
3. Metode mauizhah jika dikaitkan dengan surat Luqman ayat 12 sampai dengan ayat
19 sangat relevan untuk diaplikasikan. Namun dalam pelaksanaan teknisnya harus
mempertimbangkan hal-hal tertentu supaya metode tersebut efektif jika
digunakan. Pertimbangan tersebut adalah faktor-faktor yang berkaitan dengan si
pemberi nasihat, obyek nasihat, materi nasihat, situasi nasihat dan latar belakang
nasihat serta sikap pemberi nasihat ketika memberikan nasihat
Dan keampuhan metode mauizhah ini pun sangat tergantung pada siapa yang
membawakannya dan dalam situasi yang bagaimana. Penggunaan metode
mauizhah sama halnya dengan metode lain, ia akan menjadi alat yang tepat
manakala dibawakan oleh pendidik yang tahu bagaimana menggunakannya dan
dalam situasi yang cocok, baik materi yang dibawakan, tujuan yang dikehendaki,
maupun waktu yang dipilih.

B. SARAN
Sebagaimana dijelaskan pada awal pembahasan, bahwa pendidikan anak
pada perkembangan selanjutnya juga dipengaruhi oleh lingkungan yang terdiri dari
lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat, maka pendidikan pun merupakan tugas
bersama antara Pemerintah, sekolah dan orang tua yang disebut dengan Tri Pusat
Pendidikan yakni Tiga pusat pendidikan yang secara bertahap dan terpadu mengemban
suatu tanggung jawab pendidikan bagi generasi mudanya. Oleh karena itu untuk
118
mencapai tujuan pendidikan agama yang diharapkan, maka dalam hal ini penulis ingin
mengemukakan beberapa saran pada pihak-pihak yang terkait yang mudah-mudahan
membawa dampak positif bagi pendidikan agama anak.
Adapun saran-saran dari penulis adalah sebagai berikut :
1. Kepada pihak sekolah sebagai lembaga pendidikan formal, khususnya kepada
guru-guru agama agar terus meningkatkan kualitas dirinya dengan nilai-nilai
Islami yang tentunya bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah Rasul, sehingga dalam
menjalankan tugasnya (dalam mendidik anak-anak) senantiasa dijiwai oleh nilai-
nilai tersebut. Selain itu sebagai guru agama tentunya mempunyai tanggung jawab
yang lebih berat dibandingkan dengan pendidik pada umumnya, karena selain
bertanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anak sesuai dengan ajaran
Islam, ia juga bertanggung jawab terhadap Allah SWT. Dan satu lagi hal yang
terpenting adalah guru agama harus memberikan dan menjadi teladan yang baik
dalam segala tingkah laku dan di setiap keadaan, karena keadaan guru itu akan
selalu dijadikan cermin bagi anak didiknya.
2. Kepada para orang tua di rumah jangan sepenuhnya menyerahkan pendidikan
agama anaknya semata-mata kepada sekolah atau lembaga formal lainnya untuk
mendidik agama mereka. Karena keluarga merupakan tempat pertama dan utama
dalam menanamkan pendidikan agama kepada anak. Selain itu sesungguhnya
waktu yang lebih lama dihabiskan anak adalah waktunya bersama keluarga
dibandingkan waktu yang dihabiskan di sekolah. Karena itu orang tua juga harus
menjadi teladan yang baik yang tidak hanya memerintahkan anaknya untuk belajar
atau mengamalkan ajaran agama tetapi ia juga harus mencerminkan apa yang
119
diperintahkan kepada anaknya. Sebagai contoh misalnya, anak-anak di sekolah
mendapatkan pendidikan agama dari Guru Agama, tetapi keluarganya terutama
orang tuanya adalah orang yang tidak aktif menjalankan ajaran agama atau bahkan
bersikap acuh tak acuh, maka keadaan seperti ini akan berpengaruh negatif
terhadap pertumbuhan jiwa keagamaan anak, karena kurang mendapatkan
pembinaan dari lingkungannya.
3. Kepada para tokoh masyarakat, baik secara pribadi atau kelompok, seperti Kyai,
Ustadz, Ikatan Remaja Masjid, Karang Taruna dan yang lainnya diharapkan juga
dapat membantu secara aktif terselenggaranya pendidikan agama dengan berbagai
upaya yang dilakukan sesuai dengan kewenangan dan tanggung jawab yang
diembannya. Sehingga tujuan pendidikan agama yang kita harapkan bersama dapat
terwujud.



120
DAFTAR PUSTAKA


Al-Hikmah, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Bandung : CV Diponegoro, 2007, Cet. 10

Aly, Hery Noer, Drs., Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta : Logos, 1999, Cet. 2
Amini, Ibrahim, Agar tak Salah Mendidik Anak, Penerjemah; Ahmad Subandi dan
Salman fadlullah, Jakarta, al-Huda, 2006,
Arief, Armai, Prof., Dr., MA, Reformulasi Pendidikan Islam, Jakarta : CRSD Press,
2005, Cet. 1
Arifin M.Ed., H.M., Ilmu Pendidikan Islam; Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis
Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Jakarta : Bumi Aksara, 2000, Cet. 5
-----------------------, Belajar Memahami Agama-agama Besar, Jakarta : CV. Sera Jaya,
1981, Cet. 1
Ar-Rifai, Nasib, M., Kemudahan dari Allah ; Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir, Jakarta :
Gema Insani Press, 1999, Cet. 1
Ash-Shabuny, Ali, M., Cahaya al-Qur’an, Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 2002, Cet.1
As-Syu’aibi, Ishaq, Ali Syawakh, penerjemah, Asmuni S. Zamakhsyari, Metode
Pendidikan Al-Qur’an dan As- Sunnah Jakarta : Pustaka al-Kautsar, 1995
Chalil, Munawar, KH., Kembali kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah, Jakarta : Bulan
Bintang, 1973, Cet. Ke-4
D., Marimba, Ahmad, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, Bandung : al-Ma’arif,
1980, Cet. VIII
Darajat, Zakiah, Prof., Dr., et. al. , Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Bumi Aksara, 1991
id19651531 pdfMachine by Broadgun Software - a great PDF writer! - a great PDF creator! - http://www.pdfmachine.com http://www.broadgun.com

121
Djamaluddin, H., Drs, Aly, Abdullah, Drs., Kapita Selekta Pendidikan Islam, Bandung :
Pustaka Setia, 1998
Hamidy, Zainuddin, Dkk., Tarjamah Shahih Bukhari, Jilid II, Jakarta, Wijaya, 1992,
Cet. XIII
Hamka, Prof., Dr., Tafsir al-Azhar, Juz XXI, Jakarta : Pustaka Panji Mas, 1988, Cet. 1
Hasbullah, Dasar-dasar Ilmu Pendidikan, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2003
Hude, Darwis, H.M, M.Si., Cakrawala Ilmu dalam Al-Qur’an, Jakarta : Pustaka Firdaus,
2002,Cet. 1
Ibrahim, Mahyudin, Nasehat 125 Ulama Besar, Jakarta: Darul Ulum, 1993, Cet. IV
Jalaluddin, Psikologi Agama, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996, Cet. 1
M. Fuad ‘Abd al-Baqy, Mu’jam al-Mufahras li Alfadz al-Qur’anal-Karim, Beirut : Dar
al-Fikr, 1987
Mahalli. Mudjab, A., Asbabun Nuzul; Studi Pendalaman al-Qur’an, Jakarta : Raja
Grafindo Persada, 2002, Cet. 1
Maraghi, Ahmad Musthafa, Al, Tafsir al-Maraghi, Juz. XIX, Semarang : Toha Putra,
1993, Cet. 2
Mas’ud, Abdurrahman, DR., et . al., Paradigma Pendidikan Islam,Yogyakarta : Pustaka
pelajar, 2001, Cet. 1
Mu'in, Abd., Thahir, Taib, Ilmu Kalam, Jakarta : Wijaya, 1997, Cet. 12
Mutamam, Hadi, Drs., H., Hikmah dalam Al-Qur’an, Yogyakarta : 2001, Cet. 1
Nata, Abuddin, Drs., M.Ag., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Logos Wacana Ilmu,
1997, Cet. 1

122
Nizar, Samsul, DR., M.A., Filsafat Pendidikan Islam; Pendidikan Historis, Teoritis dan
Praktis, Jakarta : Ciputat Pers, 2002, Cet.1
Qaraati, Mohsen, Seri Tafsir Untuk Anak Muda; Surah Luqman, Jakarta : al-Huda, Cet
1
Quthb, Sayyid, Tafsir fi Zhilalil Qur’an di bawah Naungan Al-Qur’an, jil 9, Jakarta :
Gema Insani Press, 2004, Cet. 1
Sayyid Sabiq, Fiqh Sunnah, Bandung : al-Ma’arif, 1990, Cet 10, j. 1
Shihab, Quraish, M., Tafsir al-Misbah ; Pesan, Kesan dan Keserasian Al-Qur’an,
Jakarta : Lentera Hati, 2002
---------------------, Secercah Cahaya Ilahi ; Hidup Bersama Al-Qur’an, Bandung :
Mizan, 2001, Cet. 2
Sudirman, et al., Ilmu Pendidikan Islam, Bandung : Remaja Rosdakarya, 1991, Cet. 5
Syahidin, Drs., M.P.d., Metode Pendidikan Qur’ani ; Teori dan Aplikasi, Jakarta :
Misaka Galiza, 1999, Cet. 2
Tadjab, H., Dasar-dasar Kependidikan Islam (Suatu Pengantar Ilmu Pendidikan Islam),
Surabaya : Karya Aditama, 1996
Tim Penyusun, Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta : Balai
Pustaka, 1994)
Zuhairini, …et . al., Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta : Bumi Aksara, 1995, Cet. 2
----------------------, Metodik Khusus Pendidikan Agama Islam, Surabaya : Usaha
Nasional, 1983, Cet. VIII


123

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->