P. 1
Pengantar Tafsir Surat-surat Paulus

Pengantar Tafsir Surat-surat Paulus

4.0

|Views: 4,557|Likes:
Published by Lie Chung Yen
In Indonesian language, "Introduction to the Letters of Paul", originally notes of lecture on the letters of Paul delivered by Martin Suhartono, S.J., to the students of Faculty of Theology (Pontifical Theological Faculty of Wedabhakti), Sanata Dharma University, Yogyakarta, Indonesia. It covers only the introductory issues on Paul and the Proto-pauline letters, the seven letters undoubtedly attributed to Paul: Philemon, 1 Thessalonians, Philippians, Galatians, 1 Corinthians, 2 Corinthians, and Romans.
In Indonesian language, "Introduction to the Letters of Paul", originally notes of lecture on the letters of Paul delivered by Martin Suhartono, S.J., to the students of Faculty of Theology (Pontifical Theological Faculty of Wedabhakti), Sanata Dharma University, Yogyakarta, Indonesia. It covers only the introductory issues on Paul and the Proto-pauline letters, the seven letters undoubtedly attributed to Paul: Philemon, 1 Thessalonians, Philippians, Galatians, 1 Corinthians, 2 Corinthians, and Romans.

More info:

Published by: Lie Chung Yen on Mar 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/03/2015

pdf

text

original

1. Orisinalitas:

Tak ada kesangsian bahwa Rom berasal dari Paulus. Hanya saja ada bagian yang

disangsikan, yaitu:

(a). Kidung pujian (doxologi) pada 16:25-27 kerap dianggap sebagai tambahan pada
surat yang sudah jadi dan diduga berasal dari perayaan liturgi. Letak kidung tsb. pada
berbagai kodeks / naskah kuno berbeda-beda: ada yang sesudah 16:23, atau 14:23, atau
15:33, atau bahkan dihilangkan. Ayat 16:24 tidak dianggap asli.
(b) Rom 16:1-23 diakui berasal dari Paulus, tapi disangsikan apakah bagian integral
surat Rom karena tampaknya surat berakhir di 15:33. Beberapa Bapa Gereja mengenal Rom
tanpa bab 15-16. Diduga merupakan surat rekomendasi bagi Febe, diakon wanita Gereja
Kengkrea, ditujukan pada jemaat yang sudah dikenal baik oleh Paulus; banyak yang
menduga Efesus (ada Priska dan Akwila, lih. Kis 18:18, 26). Namun tak ada bukti nyata. Jadi
16:1-23 tetap teka-teki meski bisa saja merupakan tambahan yang disetujui oleh Paulus
sendiri.

2. Keutuhan surat:

Umum dilihat beberapa peralihan argumen yang tak lancar: antara 4:25 dengan 5:1-
11 (lebih tepat langsung ke 5:12); 13:10 dengan 13:11-14; 12:1-21 (tentang kasih), dipotong
oleh argumen tentang pemerintah (13:1-7), dilanjutkan di 13:8-10. Orang bertanya-tanya
apakah Rom merupakan penggabungan beberapa surat. Tapi pada umumnya dianggap ditulis
sebagai suatu kesatuan.

3. Waktu dan tempat penulisan:

Rom ditulis saat misi Paulus di dunia Timur telah selesai (Rom 15:23), sebelum ia ke
Yerusalem untuk terakhir kalinya (15:25) sambil membawa kolekte bagi kaum miskin di
Gereja Yerusalem (15:27; 1 Kor 16:1). Ia berniat Spanyol melalui Roma (15:28). Para ahli
sepakat bahwa Rom ditulis di Korintus pada akhir perjalanan Paulus yang ketiga, jadi pada
akhir th. 57/awal 58. Jemaat di Roma belum mengenal dia secara pribadi. Karena itu sebelum
kunjungan ke Roma, yang telah lama dirindukannya (1:13; 15:22, 24, 28), ia menulis surat
kepada mereka sebagai surat perkenalan baik tentang diri maupun ajarannya.

4) Nada Dasar:

Berbeda dengan surat-surat Paulus lain yang selalu berangkat dari problem-problem
konkret jemaat setempat, Rom tak punya kaitan langsung dengan jemaat di Rom. Maka ada
yang menduga ini merupakan traktat atau essei umum yang bisa dikirimkan ke mana saja
sebagai “surat edaran” (circular letter). Tapi masalahnya, jelas-jelas ditulis bahwa ditujukan
ke umat di Roma. Ada yang beranggapan Rom merupakan “kompendium ajaran kristen” atau
“surat warisan dan kesaksian terakhir Paulus”, atau “ringkasan ajaran Paulus”. Pandangan ini
kini dianggap berlebih-lebihan. Namun harus diakui bahwa lebih dari tulisan PB lainnya,
Rom banyak mempengaruhi perkembangan teologi di Barat. Tak ada nada ketergesaan atau
emosional seperti pada surat-surat Paulus lainnya; Rom tampak ditulis dalam suasana tenang
dan reflektif.

5) Latar belakang sosio-historis:
Tak jelas kapan dan oleh siapa ajaran Kristen dibawa ke Roma. Kemungkinan besar
oleh para pejiarah Yahudi yang datang ke Yerusalem (Kis 2:10) dan kembali ke Roma.
Dikabarkan oleh Suetonius (sejarawan Romawi, dalam bukunya Hidup Klaudius, th. 120)

Martin/Paulus/hal. 39

bahwa di Roma pernah terjadi keributan di antara orang-orang Yahudi gara-gara seseorang
tokoh bernama “Chrestos”. Akibatnya Kaisar Klaudius mengusir orang Yahudi dari Roma
(Kis 18:2). Jadi yang tertinggal di Roma hanyalah orang-orang Kristen non Yahudi. Paulus
menyapa jemaat di Roma “Hai bangsa-bangsa bukan Yahudi” dan ia memperkenalkan diri
sebagai “rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi” (11:13). Rom 13:1 “Kepatuhan kepada
pemerintah” rupanya dilatarbelakangi oleh maklumat pengusiran itu.
Namun perlu diingat bahwa Klaudius meninggal th. 54, dan digantikan oleh Nero.
Istri Nero bersimpati pada orang-orang Yahudi sehingga mereka diijinkan kembali,
memperoleh kedudukan terkemuka dan hak-hak istimewa. Ketika Rom ditulis rupanya sudah
ada juga orang Yahudi yang kembali ke Roma. Tampaknya mereka menghadapi jemaat
Kristen yang berbeda dari yang mereka tinggalkan dulu sehingga mungkin saja timbul
konflik.

Rom membahas masalah keselamatan bagi semua bangsa dalam iman akan Yesus
Kristus dalam hubungannya dengan keselamatan lewat ketaatan kepada Taurat Yahudi. Tema
ini tampaknya lebih cocok bagi konteks perlawanan fraksi Yahudi terhadap Paulus di
Yerusalem (Kis 15). Fakta bahwa hal ini dibahas dalam surat yang ditujukan kepada umat di
Roma berarti Paulus menduga-duga bahwa ada konflik semacam itu di Roma. Lebih-lebih
bila kita lihat betapa Paulus was-was pergi membawa kolekte ke Yerusalem, takut ditentang
oleh orang-orang Yudea (lih. Rom 15:30-31). Masalahnya, konflik ini hanya dugaan Paulus
belaka (berdasarkan pengalamannya di Yerusalem) ataukah konflik nyata yang ada di jemaat
Roma saat itu? Pembedaan atas golongan Kristen Yahudi dan non Yahudi tampak juga dalam
struktur surat.

Ada yang menduga ada maksud misionaris (mempertobatkan orang menjadi kristen),
maksud apologis (Paulus cari backing, memperkenalkan diri dan ajaran), atau pastoral
(menjawab problem umat di Roma). Tampaknya ketiga unsur itu ada, dan unsur pokok
adalah aspek pastoral

6) Kerangka Umum:

PENDAHULUAN: 1:1-7: Pengantar panjang

1:8-17: Tema diperkenalkan (khususnya: 1:16-17)

BAGIAN PERTAMA: PRINSIP-PRINSIP DASAR (1-11)

I. Orang Yahudi dan non Yahudi dalam aeon yang lama (1:18-3:20)
(a) Orang non Yahudi dalam aeon lama (1:18-32)
(b) Orang Yahudi dalam aeon lama (2:1 - 3:20) (3:9: kesimpulan)

II. Aeon yang baru (3:21 - 8:39):
(a) Manusia dalam aeon yang baru (3:21 - 4:25)
(b) Kehidupan dalam aeon yang baru (5-8):
-Bebas dari murka (5)
-Bebas dari dosa (6)
-Bebas dari Taurat (7)
-Bebas dari maut (8) (8:39: kesimpulan)

III. Orang-orang Yahudi (9-11):
Kesimpulan (9:6): Siapakah Israel yang sejati?

Martin/Paulus/hal. 40

BAGIAN KEDUA: HIDUP PRAKTIS (ETIKA) (12-15)

Tema Umum: “ibadah yang relevan” (12:1-2)
I. Himbauan umum soal hidup menggereja (12:3-21)
-Prinsip: tak anggap diri tinggi (12:3)
-karisma-karisma (12:4-8)
-perintah mengasihi (12:9-21)

II. Soal hidup sosial (13)
-Kepatuhan pada pemerintah (13:1-7)
-Pemenuhan hukum: kasih, dasar etika eskatologis (13:8-10)
-Dasar etika kristiani: eskatologis (13:11-14)

III. Masalah yang kuat dan yang lemah (14:1 - 15:13)
-Tentang yang lemah (14:1-12)
-Tentang yang kuat (14:13-23)
-Sikap yang tepat (15:1-13) = Kristus tak cari kesenangan diri

PENUTUP: (15:14 - 16:27):
-rencana perjalanan (15:14-33)
-salam (16:1-23).

Tampak bahwa pertentangannya bukanlah antara mana yang menyelamatkan “iman kepada
Yesus” atau “perbuatan” (konteks Reformasi), tapi bagi sesama orang kristen: “iman dalam
Yesus” ataukah “ketaatan pada Taurat” (cara hidup yang ketat-ketat Yahudi), atau antara
orang Kristen non Yahudi melawan orang Kristen Yahudi. Yang dimaksudkan oleh Paulus
dengan “yang kuat” adalah orang Kristen non Yahudi, dan “yang lemah” adalah orang
Kristen Yahudi (tak boleh makan semua hal). Ketika orang Yahudi diusir keluar Roma, yang
tinggal jemaat Kristen nonYahudi. Mereka bertumbuh, terkonsolidasi, jadi kuat dll. sehingga
ada ketegangan ketika gol. kristen yahudi boleh kembali ke Roma. Paulus ingin
menyadarkan kedua belah pihak itu: bagi yang asli Yahudi: keselamatan juga bagi bangsa-
bangsa non Yahudi; bagi yang non Yahudi: jangan sombong.
Bab 12:3 harus diterjemahkan “Janganlah kamu menganggap diri sendiri lebih tinggi
daripada yang seharusnya”. Dan pedoman bagi kedua belah pihak adalah Yesus sendiri:
Kristus tidak mencari kesenangan diri sendiri, maka kita juga harus bersikap seperti Kristus
itu (15:2-3).

PENUTUP

Demikianlah sekedar pengantar atas tafsir surat-surat Paulus. Uraian ini jangan dianggap

sebagai pengganti surat-surat Paulus itu sendiri. Semoga apa yang kurang di sini telah

berhasil ditambah oleh diskusi-diskusi kelompok dan juga pendalaman pribadi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->