PENGANTAR

TAFSIR SURAT-SURAT PAULUS

(Catatan Kuliah)

Martin Suhartono, S.J.

1998

--------------------------------------------------------------------Fakultas Teologi - Universitas Sanata Dharma - Yogyakarta

Martin/Paulus/hal. 2

DAFTAR ISI

PENGANTAR LATAR BELAKANG PAULUS "PERTOBATAN" PAULUS PAULUS DAN YUDAISME PALESTINA ABAD I PAULUS DAN UNSUR-UNSUR TRADISIONAL KRISTEN SURAT KEPADA FILEMON SURAT KEPADA UMAT DI TESSALONIKA I SURAT KEPADA UMAT DI FILIPI SURAT KEPADA UMAT DI KORINTUS I SURAT KEPADA UMAT DI KORINTUS II SURAT KEPADA UMAT DI GALATIA SURAT KEPADA UMAT DI ROMA

h. 3 h. 4 h. 6 h. 11 h. 13 h. 17 h. 21 h. 24 h. 29 h. 33 h. 34 h. 38

Martin/Paulus/hal. 3 PENGANTAR

Yang dipaparkan di sini hanyalah sekedar pengantar terhadap tafsir tujuh surat yang tak disangsikan berasal dari Santo Paulus. Sebagian besar permasalahan yang dikupas di sini muncul dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para mahasiswa karena itu tidak dimaksudkan sebagai pengantar menyeluruh terhadap pemikiran Santo Paulus. Untuk melengkapi kuliah ini, para mahasiswa/i diwajibkan mendalami buku-buku Rm. St. Darmawijaya, Sekilas Bersama Paulus, Rm. Th. Jacobs, Paulus Rasul, dan Paulus: Hidup, Karya, dan Teologinya. Dalam praktek belajar mengajar di ruang kuliah banyak waktu diberikan pada diskusi kelompok. Dengan demikian diharapkan para mahasiswa secara aktif terlibat dalam proses mencari, membaca, dan menafsirkan bersama. Harapan dosen adalah para mahasiswa tidak berhenti pada yang diolah di ruang kuliah saja melainkan terdorong untuk terus membaca dan menafsirkan surat-surat Santo Paulus serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Terima kasih saya ucapkan kepada para mahasiswa/i yang turut aktif dalam proses belajar-mengajar ini maupun kepada mereka yang dengan penuh kesabaran telah mendengarkan uraian saya.

Yogyakarta, Desember 1998 Martin Suhartono, S.J.

Martin/Paulus/hal. 4 LATAR BELAKANG KEHIDUPAN PAULUS Kuliah dimulai dengan mengedarkan angket kepada para mahasiswa/i tentang apa yang mereka ketahui mengenai Santo Paulus dan pemikirannya. Dari hasil angket itu dapat dikemukakan hal berikut ini. Beberapa kesalahpahaman tentang Paulus Dalam angket kelihatan beberapa salah paham tentang Paulus, a.l. 1) Paulus seorang kafir sebelum bertobat? Kata "kafir" biasa diartikan sebagai tak beragama. Paulus jelas bukan kafir, tapi beragama. Ia lebih maju dari teman sebaya dalam agama Yahudi (Gal 1:14). Dalam menaati hukum Taurat ia tidak bercacat (Fil 3:6). Semangatnya menangkapi orang Kristen justru muncul dari semangat keagamaan Yahudi yang berlebihan (Kis 9:1-2). 2) Paulus bukan orang Yahudi asli? Paulus justru membanggakan asal-usul Yahudinya: keturunan Abraham, suku Benyamin, (Rom 11:1; 2 Kor 11:22), “orang Ibrani asli” (Fil 3:5). 3) Paulus warganegara Yunani? Pada masa Paulus itu baik Palestina maupun Yunani termasuk dalam wilayah kekaisaran Romawi. Paulus memiliki kewarganegaraan Roma dari lahir (Kis 22:28). 4) Paulus setelah bertobat berhenti membuat kemah? Bukan hanya sebelum bertobat, setelah bertobat pun ia tetap membuat tenda (Kis 18:3), ia selalu melakukan pekerjaan tangan sebagai matapencaharian (Kis 20:34; 1 Kor 4:12; ), karena ia tak mau tergantung pada orang lain atau menjadi beban mereka (1 Tes 2:9). Meskipun sebagai pewarta Injil ia berhak hidup dari itu, ia tak mau memakai hak itu (1 Kor 9:14-15). 5) Paulus menghasut orang Yahudi untuk membunuh Stefanus? Dalam Kis 8:1a dan Kis 22:20 hanya dikatakan bahwa ketika Stefanus dibunuh ia menyetujui perbuatan itu. Jelas tak bisa ditafsirkan bahwa dialah yang memulai tindakan itu dengan menghasut. 6) Paulus, setelah pertobatan, segera ganti nama dari Saulus ke Paulus? Paulus sendiri dalam surat-suratnya tak pernah menyebut bahwa ia dulu bernama Saulus. Setelah pertobatan (Kis 9) pun Saulus tetap disebut Saulus. Dan baru pada Kis 13:9 disebutkan “Saulus, yang juga disebut Paulus”. Dari ungkapan itu tampaknya kedua nama itu bersama-sama merupakan nama Paulus. Memang, banyak ahli menduga bahwa Paulus, karena warganegara Romawi sejak lahir, punya nama Paulus sejak lahir juga; kemungkinan besar namanya “Saulus Paulus”, dengan “Paulus” sebagai semacam nama keluarga (lih. Kis 13:7: ada “Sergius Paulus”, gubernur pulau Pafos). Paulus adalah versi Latin nama Ibrani “Saul”, versi Yunani adalah “Saulus”. Jadi Paulus punya nama seperti nama moyangnya, Saul, raja pertama orang Israel (Kis 13:21). Nama “Saul” adalah bentuk “passive participle” kata kerja “memohon”, jadi maknanya: “Yang dimohonkan”, yang diminta dari Allah, sesuai dengan kisah mengapa ia menjadi raja Israel. Ketiga versi itu hanya ada dalam Kis. Sayang terjemahan Indonesia menghilangkan nama Saul (yang digunakan dalam kisah pertobatan, selalu dalam bentuk vokatif). Apakah makna pemakaian berbagai versi itu? Patut diingat bahwa penyusunan Kis dipengaruhi oleh teologi penulisnya, bersama-sama dengan Injil Luk. Kedua kitab ini kerap disebut Injil Roh Kudus jilid 1 dan 2. Jilid 1 (Luk) bicara tentang karya Roh Kudus dalam diri Yesus; jilid 2 (Kis) bicara tentang karya Roh Kudus dalam Gereja Kristus setelah Ia mengutus Roh KudusNya. Dan Gereja itu berkembang seturut janji Kristus (Kis 1:8): menjadi saksi Kristus dari Yerusalem, seluruh Yudea dan Samaria, sampai ke ujung bumi. Penyebaran dari Yerusalem ke Yudea dan Samaria terjadi setelah kemartiran Stefanus (Kis 8:1b). Sedangkan

Martin/Paulus/hal. 5 Kis diakhiri dengan ungkapan bahwa pewartaan Kerajaan Allah itu telah mencapai ujungujung bumi (Paulus di Roma, pusat dunia saat itu; Kis 28:30-31). Jadi jelas ada hubungan erat antara teologi dan geografi dalam narasi Kis (seperti juga dalam Injil!). Maka dari segi teknik naratif, penampilan tokoh Paulus (yang nantinya menjadi Rasul Bangsa-bangsa) persis pada saat Stefanus dibunuh tentunya bukan kebetulan saja. Paulus dalam surat-suratnya sendiri tak pernah menyebut peristiwa ini. Satu tokoh mengecil (keluar dari panggung cerita) dan tokoh lain mulai membesar (sedikit demi sedikit masuk dalam panggung cerita): teknik “closing up” dan “fading” ini umum dalam film. Dari Kis 13 dst. tokoh utama cerita adalah Paulus, bukan Petrus atau Barnabas. Selain itu, segera setelah pertobatan (Kis 9), Kis 10 bicara tentang Petrus yang membaptis Kornelius, perwira pasukan Italia, seorang non Yahudi. Seakan pengarang Kis mau meyakinkan pembaca Kis yang ragu akan panggilan Paulus sebagai rasul para bangsa. Panggilan Paulus diteguhkan oleh pewahyuan kepada Petrus bahwa orang kafir pun dipanggil menjadi murid Kristus (Kis 11:17-18). Jadi tampaknya dengan sengaja pengarang Kis menggunakan tiga versi nama itu. Nama Ibrani “Saul” menekankan bahwa ia adalah orang Yahudi asli; nama Yunani “Saulus” menyatakan bahwa ia juga terdidik dalam budaya Yunani; dan nama Latin “Paulus” menyatakan panggilannya menjadi rasul para bangsa. Ingat juga tulisan “Yesus, orang Nazareth, raja Yahudi” pada salib Yesus yang ditulis dalam tiga bahasa itu; ini menyatakan universalisme penebusan Yesus (Yoh 19:19-20). 7) Apakah Paulus menulis sendiri surat-suratnya? Kalau ini diartikan bahwa Paulus yang berada di belakang tulisan itu sebagai pengarang, memang demikian. Tapi kalau diartikan bahwa Paulus dengan tangannya sendiri menulis, kiranya tidak demikian. Lih. Rom 16:22: “Salam .... dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini”. Seperti kebiasaan jaman itu, pengarang tidak menulis sendiri, melainkan pakai sekretaris. Bayangkan dalam satu jam hasilnya 70 huruf; ditulis di atas papirus, dengan tangkai bulu, dan tinta dari minyak zaitun yang dibakar. Tentang proses surat menyurat di dunia Yunani-Romawi coba baca C. Groenen, Pengantar ke dalam Perjanjian Baru, hal 204-210. Paulus mendiktekan dan baru kemudian menambah kata-kata akhir dengan membubuhkan tulisan tangannya yang besarbesar, atau tanda tangannya (lih. Gal 6:11; 1 Kor 16:21). Dari ke-14 surat yang dihubungkan dengan Paulus, hanya 13 yang berupa surat dan menyebut Paulus sebagai asal surat. Surat Ibrani tak demikian; tradisi dengan ragu menyebut a.l. Paulus sbg. penulis, karena itu Ibr diletakkan paling belakang. Para ahli tak ragu-ragu tentang tujuh surat yaitu: 1 Tes, 1 Kor, 2 Kor, Gal, Rom, Fil dan Filemon, bahwa mereka dikarang oleh Paulus sendiri (disebut: Proto Paulus). Ada kesepakatan bahwa 1 & 2 Tim dan Tit bukan dari Paulus, bahkan mungkin ditulis setelah Paulus meninggal (disebut: Pseudo Paulus); sedangkan tentang Ef, Kol, dan 2 Tes, para ahli masih berdebat. Ef dan Kol disebut Deutero Paulus (berasal dari murid-murid Paulus, semasa Paulus masih hidup).

Martin/Paulus/hal. 6 "PERTOBATAN" PAULUS Orang sering terpukau oleh pertobatan Paulus dan mengira itu sekedar perubahan dari pribadi yang jahat ke pribadi yang baik secara moral. Padahal Paulus berani bilang bahwa ia tak bercacat dalam ketaatan pada hukum Taurat (Fil 3:6), lebih maju dari Yahudi sebaya dalam soal agama; jadi keburukan moral, pendosa dll. tak bisa diandaikan dalam diri Paulus. Memang ia merasa paling hina di antara para rasul (I Kor 15:9), namun ini karena ia dahulunya penganiaya jemaat kristen. Jadi apakah yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa Damsyik itu? 1) Pertobatankah yang terjadi? Dari surat-suratnya kelihatan bahwa Paulus sendiri tak menekankan aspek pertobatan (seakan usaha sendiri) tapi lebih menekankan aspek pewahyuan, penampakan Kristus, atau pernyataan Allah dalam diri putraNya (lih. Fil 3:12 “ditangkap Kristus”; I Kor 9: “melihat Yesus”; I Kor 15: 8 “Ia menampakkan diri”). Ia juga menyadari peristiwa itu dalam konteks panggilan, seperti perutusan nabi-nabi (lih. Yes 49, Yer 1): “memilih aku sejak kandungan. ... memanggil aku ...menyatakan Anak-Nya ... agar aku memberitakan Dia di antara bangsabangsa” (Gal 1:15-16). Memang ia membandingkan perbedaan dasariah sebelum dan sesudah peristiwa Damsyik: dulu semua dianggap sampah, namun ini juga dalam konteks “pengenalan akan Kristus” (Fil 3:8). Jadi ternyata peristiwa Damsyik itu bukan sekedar conversio, melainkan terutama (disadari sungguh-sungguh dan selalu ditekankan Paulus) revelatio - visio, dan vocatio/missio. Tapi itu kata Paulus, tapi bagaimana dengan sumber lain, misalnya Kisah para rasul, apakah kita juga akan mendapati aspek-aspek itu? Bukankah kesan kita selama ini tentang peristiwa itu adalah bahwa itu dikuasai oleh aspek pertobatan saja! Mari kita bandingkan ketiga kisah tsb.: PERSAMAAN Peristiwa: Kis 9:1-19a Kis 22:4-16 Kis 26:12-23 1. Surat ay. 1-2 2. Ke Damsyik ay. 3a 3. Cahaya sekeliling ay. 3b (Paulus) 4. Jatuh ke tanah ay. 4a (Paulus) 5. P dengar suara ay. 4b 6. “S, mengapa ..?” ay. 4c 7. P tanya “siapa?” ay. 5a 8. Jawab “aku Yesus” ay. 5b ay. 4-5 ay. 6a ay. 6b (tengah hari, sekeliling P) ay. 7a (Paulus) ay. 7b ay. 7c ay. 8a ay. 8b (+...Nazaret) ay. 12b (kuasa) ay. 12a ay. 13 (tengah hari, P dkk.) ay. 14a (kami rebah) ay. 14b (bhs. Ibrani) ay. 14c (..nendang ..) ay. 15a ay. 15b

9.

(tak disebut)

10. “Berdiri, masuk kota, ay. 6 yg. harus kaubuat” 11. Teman2 P dengar tapi ay. 7 tak lihat... 12. P bangkit, buta ay. 8a 13. Teman2 tuntun P ay. 8b

PERBEDAAN ay. 10a (“Apa yang (tak disebut) harus kubuat?”) ay. 10b (“...dikatakan ay. 16a (..di atas kaki) yang ditetapkan ..”) ay. 9 (lihat tapi tak (tak disebut) dengar) ay. 11a (tak ada P bangkit) (tak disebut) (tak bisa lihat krn. sinar) ay. 11b (tak disebut)

Martin/Paulus/hal. 7 14. P buta 3 hari, ay. 9 tak makan dan minum 15. Ananias diperintah Tuhan ay. 10-14 16. Tuhan bicara pd. Ananias ay. 15-16 17. A tumpang tangan pd. P ay. 17 “....terima Roh Kudus” 18. Sesuatu tanggal dari mata ay. 18a P bisa lihat lagi. 19. P bangkit, dibaptis, makan. ay. 18b-19 (tak disebut) (tak disebut)

(tak disebut) (tak disebut) ay. 14-15 (Ananias kpd. P) ay. 16b-18: (Tuhan langsung ke P) ay. 12-13a (A ke P: (tak disebut) “terima penglihatan” ay. 13b (P bisa lihat lagi) (tak disebut)

ay. 16 (A perintah P: (tak disebut) “bangkit, dibaptis...” Tema pertobatan jelas tampak dalam Kis 9. Sinar yang membutakan Paulus merupakan model khas hukuman Allah yang menghalangi musuh maju (lih. 2 Mak 3:27 Heliodorus jatuh diliputi kegelapan). Cerita lebih menekankan mukjizat penyembuhan kebutaan (ada pola khas kisah penyembuhan: lama sakit tiga hari, keengganan penyembuh, penumpangan tangan). Tentang masa depan Paulus diberitahukan kepada Ananias (sekedar karena ia segan datang ke Paulus), dan tak diteruskan ke Paulus. Dalam Kis 22, mulai tampak bukan hanya pertobatan tapi juga panggilan atau perutusan Paulus, yang diberitahukan kepada Paulus oleh Ananias (tak dikisahkan kapan Ananias terima ini), dan diteguhkan dengan penampakan Tuhan di Bait Allah (ay 17 dst.). Maka detail pertanyaan Paulus “Apakah yang harus kulakukan?” ini sudah mengantisipasi perutusan. Kis 26 lebih menekankan panggilan dan perutusan: peranan Ananias dihilangkan, Paulus menerima langsung tugas itu dari Allah. Kelihatan bagaimana unsur pewahyuan/penampakan menjadi semakin ditekankan: “apa yang kamu lihat dan dengar” Tapi bagaimana dengan perbedaan-perbedaan itu? Apa saling bertentangan? Konteks masing-masing kisah itu menentukan penceritaan. Kis 9 adalah uraian narator kepada pembaca. Sedangkan dalam Kis 22 cerita itu diletakkan dalam mulut tokoh Paulus yang bicara di depan orang-orang Yahudi. Jadi di sini penting unsur apologetis Paulus, maka pentinglah peranan Ananias dikemukakan. Dalam Kis 26 cerita diletakkan dalam mulut tokoh Paulus yang bicara di muka raja Agrippa, maka peranan Ananias menjadi tak relevan. Dalam Kis 9 teman-teman Paulus mendengar suara tapi tidak melihat orang, dalam Kis 22 mereka melihat cahaya tapi tidak mendengar suara? Mengapa? Ada penjelasan grammatik, ungkapan bahasa Yunani “mendengar suara” dengan bentuk genitif (akouein phônês) seperti diterapkan pada teman-teman Paulus (9:7) berarti mendengar “suara yang tak jelas, gemremeng” sedangkan dengan bentuk akkusatif (akouein phônên) seperti diterapkan pada Paulus berarti “memahami” suara yang jelas (lih. Yoh 12: 28-29: Yesus mendengar suara dari sorga dan mengerti isinya, yang lain dengar tapi tak mengerti). Tapi seandainya pun argumen ini tak diterima (perbedaan umum hanya terdapat dalam bahasa Yunani Klasik, tapi tak diterapkan dalam bahasa Yunani PB), tetap bisa dilihat makna Kis 22, mau ditonjolkan bahwa pesan itu diperuntukkan hanya bagi Paulus. Jadi kita lihat, ketiganya itu saling mengandaikan. Satu elemen peristiwa dalam satu kisah diceritakan sedang pada kisah lain tak diceritakan itu tergantung relevansinya, mana yang mau ditekankan. Maka kalau hanya berhenti pada Kis 9 (pertobatan) saja itu tak mencukupi untuk mendapat gambaran yang jelas tentang peristiwa itu. Maka para ekseget kini cenderung tak bicara soal “pertobatan Paulus” tapi “peristiwa Damsyik” yang jauh lebih luas dan dalam maknanya. Apakah versi II dan III tambahan dari penulis, dan yang I lebih historis? Memang ada dugaan begitu. Tapi sulit memisahkan antara yang historis dan yang narratif (ingat uraian di atas), karena tentu si pengarang punya maksud tertentu dalam berkisah dan ini mempengaruhi

Martin/Paulus/hal. 8 bagaimana dikisahkan dll. Yang jelas ketiga kisah itu ditulis oleh satu pengarang yang sama. Tidak bisa diandaikan bahwa pengarang ybs. lupa detail cerita ketika ia sampai pada Kis 22 dan Kis 26! Tentang hal ini lihat: Ch.W. Hedrick, “Paul’s conversion/call: a comparative analysis of the three reports in Acts” dalam Journal of Biblical Literature 100 (1981) hal. 415-432. Dan juga Kardinal Martini, Kesaksian Santo Paulus (Yogyakarta: Kanisius, 1988). Ada juga yang menyoroti peristiwa itu secara berbeda, yaitu dari kesamaan motif Pengalaman Paulus dengan pengalaman yang lain: Kis 9 sejajar dengan pengalaman para rasul lain, Kis 22 dengan pengalaman Stefanus, Kis 26 dengan pengalaman nabi-nabi. Hendaknya dibedakan antara kejadian historisnya dan pengisahan kejadian itu. Terhadap kejadian historisnya kita memang tak bisa langsung mengamati, yang bisa kita amati adalah narasi kejadian itu sebagaimana disampaikan oleh Kis maupun surat-surat Paulus. Kalau ada ketidaksesuaian antara Kis dan Paulus sehubungan dengan riwayat Paulus sendiri, para ahli tafsir cenderung lebih menerima keterangan Paulus karena sadar bahwa penulisan Kis digerakkan oleh motivasi teologis tertentu yang belum tentu menjadi minat utama Paulus. Mis. Paul menyepi ke Arabia (padang Gurun Nabatea dekat Damsyik) dikisahkan oleh Paulus (Gal) tapi tidak oleh Kis; peristiwa Paulus menyaksikan kemartiran Stefanus dituturkan oleh Kis, tapi tidak oleh Paulus. 2) Pengalaman Damsyik sebagai titik balik hidup Paulus: Paulus mencapai suatu titik puncak yang tak bisa dilewati lagi dalam hidup sebagai orang Yahudi. Ada ciri-ciri yang muncul juga dalam pengalaman orang yang berbalik arah dalam hidup: reaksi emosional yang ekstrem (kemarahan dan kebencian pada para pengikut Kristus.), perubahan reaksi terhadap yang tadinya dibenci (jadi fanatik kristen) dan terhadap yang tadinya disukai (menganggap rendah hukum Taurat). Lihat: J.G. Gager, “Some notes on Paul’s conversion”, dalam New Testament Studies 27 (1980) hal. 697-704. Dari sudut kejadian itu sendiri, ada yang mengatakan bahwa yang terjadi hanyalah sekedar vision (spt. pengalaman santo/a) dan dalam menafsirkan itu Paulus dipengaruhi oleh tradisi apokaliptik Yahudi, jadi ia cerita dalam konteks kebangkitan orang mati. Ada yang menilai kejadian itu semata-mata dari segi psikologis: Paulus mengalami kekecewaan terhadap diri sendiri (Rom 7) karena dosa-dosanya. Tapi musti diingat, bahwa Rom 7 kini disadari bukanlah otobiografis, “aku” di situ bukanlah menunjuk Paulus pribadi, tapi ia memakai itu secara inklusif: yang dimaksudkan adalah setiap orang. Ia sendiri kerap berbangga bahwa tak bercacat dalam Taurat (Fil 3:6), jauh lebih maju dari yang sebaya (Gal 1:14). Atau ada juga yang melihat bahwa ia kecewa pada kegagalan hukum. Apakah benar demikian? Kiranya tidak. Paulus sampai pada pengalaman Damsyik selalu yakin akan peranan hukum Taurat: “hukum Taurat adalah penuntun bagi kita sampai Kristus datang” (Gal 3:24). Lalu apa yang sebenarnya terjadi di situ? Beberapa ahli menyangkal bahwa pengalaman Damsyik itu berarti banyak bagi teologi Paulus. Tapi banyak ahli (Jeremias, Beker, Bornkamm, Cerfaux, Rigaux, Fitzmyer) yang menilai bahwa pengalaman itu merupakan sumber bagi pemikiran Paulus selanjutnya. Tampaknya mereka punya alasan kuat. Pengalaman Damsyik itu bisa dipakai sebagai jalan masuk ke pemahaman akan Paulus. Lepas dari masalah inspirasi, paham KS dll, pengalaman Paulus bisa dipandang sebagai kesaksian tentang iman kepada Kristus. Paulus sendiri sadar kapan bicara atas nama sendiri (1 Kor 7:12), atas nama Tuhan (1 Kor 7:10) atau memberi anjuran yang patut diperhatikan karena ia orang yang dapat dipercayai karena rahmat yang diterimanya dari Allah (1 Kor 7:25). Untuk melihat apa yang terjadi pada jalan ke Damsyik, orang harus memeriksa suratsurat Paulus. Dari Kis kita tahu bahwa itu menyangkut juga suatu pewahyuan diri Yesus (apa

Martin/Paulus/hal. 9 yang kau lihat dan dengar ....). Dalam Gal 1:16 Paulus bicara bahwa Allah berkenan menyatakan PuteraNya kepada Paulus. Dalam I Kor 15, dalam konteks membela kebangkitan Yesus, ia bicara tentang penampakan Yesus yang bangkit, yang seperti kepada Petrus dll. juga menampakkan diri kepada Paulus sendiri. Jadi 1 Kor 15 itu bukanlah legitimasi Paulus sebagai rasul. Di situ Perlu dibedakan antara konteks dekat suatu teks (dalam hal 1 Kor 15 adalah serangan orang terhadap kebangkitan Yesus dan pembelaaan Paulus) dan apa yang orang lain (kita!) bisa pakai dari teks itu, mis. orang bisa mengutip ayat-ayat itu lepas dari konteksnya untuk membuktikan bahwa Paulus juga rasul karena “ditampaki” Yesus sebagaimana rasul yang lain. Memang agak aneh pemakaian di luar konteks itu, karena ditampaki saja belum merupakan kepastian bahwa seseorang diangkat jadi rasul, buktinya menurut 1 Kor 15:6 Yesus menampakkan diri juga kepada 500 orang lain! Jadi yang terjadi pada Paulus di jalan itu adalah perjumpaannya secara riil dengan Yesus yang bangkit. Dan perjumpaan dengan Yesus yang bangkit ini telah mengubah pandangan Paulus sama sekali tentang Dia yang mati disalib. Perubahan apakah yang terjadi di situ? Sebagaimana orang Yahudi, ia tentunya menilai orang yang mati disalib sebagai orang terkutuk (Ul 21:23; cf. Gal 3:13). Karena itu ia begitu digerakkan oleh rasa benci terhadap orang-orang yang mempertuhankan orang terkutuk itu. Tapi dalam perjumpaan di jalan Damsyik itu, Paulus kemudian paham akan makna salib itu. Bahwa Allah sendiri yang mengutus Yesus (Gal 4:4) dan menyerahkannya bagi kita (Rom 5:6). Maka dari pengalaman pribadinya sebelum Damsyik ia bisa mengatakan bahwa salib itu adalah kebodohan bagi orang Yunani (Paulus terdidik sebagai orang Yunani) dan batu sandungan bagi orang Yahudi (Paulus Yahudi asli) (1 Kor 1:22 dst.). Setelah Damsyik ia mengerti bahwa salib ternyata “kekuatan Allah dan hikmat Allah” (I Kor 1:24). Maka barangsiapa ikut dalam kematian Kristus akan ikut juga dalam kebangkitanNya (Rom 6:3-4). Jadi inti pengalaman Damsyik, sebagaimana dikatakan oleh Paulus sendiri adalah pengalaman pembalikan dalam pengenalan akan Kristus (Fil 3:8). Dan aspek utama pengenalan itu ialah besarnya kasih Allah dalam Yesus (Rom 8:39; cf. Ef. 3:18-19). Karena pengenalan akan Yesus itulah ia melihat segala sesuatu sebelum Yesus sebagai sampah. Tadinya ia mengira Yesus itu mati dan terkutuk, setelah Damsyik ia mengalami bahwa Yesus itu hidup dan mulia. Baru dalam konteks pengenalan akan Yesus ini, masalah justifikasi (yang kerap dibicarakan orang kalau omong tentang Paulus) ada maknanya. Masalah Justifikasi ini hanyalah akibat pengenalan itu, dan bukan batu sendi teologi Paulus sebagaimana umum dikira. Masalah justifikasi ini menghangat sehubungan dengan kontroversi Protestan dan Katolik. Martin Luther melihat Katolik sebagai dikuasai oleh hukum: indulgensi, pengakuan dosa dll, seakan orang Katolik berpretensi akan diselamatkan karena taat pada institusi dll. Menurut Luther, orang diselamatkan karena iman dan bukan karena pekerjaan (ia mendasarkan diri pada Rom). Sampai 1977 memang orang punya anggapan bahwa orang-orang Yahudi abad pertama berpandangan bahwa mereka diselamatkan karena ketaatan mereka pada hukum (mis. pandangan umum bahwa Farisi itu legalistis dll) dan kedatangan orang kristen justru memprotes pandangan itu dengan mengajarkan bahwa orang diselamatkan karena cinta Allah semata. Pada tahun 1977 E.P. Sanders (prof. teologi di Oxford saat itu, sekarang prof di Duke Univ., USA) menerbitkan Paul and Palestinian Judaism. Di situ ia mempertanyakan pandangan umum kita tentang Yahudi abad pertama tsb. Dan berdasarkan juga pada Ul 7:7 serta kisah rabbi-rabbi ia menegaskan bahwa tidak betul begitu. Orang Yahudi melakukan hukum dalam rangka “nomisme perjanjian” “covenantal nomism”, artinya ketaatan pada hukum dilaksanakan karena mereka telah menjadi umat yang terikat perjanjian dengan Allah.

Martin/Paulus/hal. 10 Jadi mereka sadar mengalami lebih dahulu dicintai Allah, dan ketaatan itu sebagai bentuk ungkapan balasan terhadap cinta Allah itu. Mereka sadar bahwa keselamatan diperoleh semata-mata karena cinta Allah itu dan bukan karena prestasi mereka. Jadi bukannya mereka mau merayu Allah, atau merebut cinta Allah, dengan pekerjaan hukum mereka. Paulus sendiri selalu kembali pada pengalaman dasariah dicintai itu selagi orang masih berdosa (Rom 5:8). Yohanes juga demikian: inilah cinta, bukan kita yang mencintai, tapi kita dicintai (1 Yoh 4:10). Tesis Sanders itu ini banyak dianut orang. Tapi ada juga yang masih mau mempertahankan pendapat yang lama. Apakah Rom dan Gal (yang membahas justifikasi) berarti sampingan saja? Yah, kita harus melihat bahwa setiap surat Paulus itu ditujukan kepada jemaat konkret tertentu dan mau membahas masalah pokok komunitas itu. Pada jaman itu, masalah apakah harus sunat atau harus ikut adat Yahudi bila orang non Yahudi jadi kristen merupakan masalah hidup mati komunitas kristen pertama (Kis 15). Kita yang hidup di jaman modern memang mungkin tak merasakan secara langsung, meski problem itu bisa juga ada pada penghayatan kaul (sebagai ungkapan cinta pada cinta Allah, ataukah secara tak sadar karena kompleks-kompleks tertentu mau merayu Allah?). Jadi pengalaman dasariah Paulus pada pengalaman Damsyik itu terletak, bukan masalah justifikasi, melainkan pada pengenalan terhadap Yesus Kristus yang sejati.

Martin/Paulus/hal. 11 PAULUS DAN YUDAISME PALESTINA ABAD PERTAMA Dari uraian tentang tesis E.P. Sanders (Yudaisme Palestina tidaklah seperti yang kita duga: legalistis dll), bisa timbul pertanyaan: kalau begitu apa beda paham Yudaisme dengan pandangan Paulus. Bukankah inti paham Paulus adalah bahwa inisiatif rahmat Allah ditanggapi oleh manusia. Sanders sendiri mengatakan bahwa ada jurang antara “pola keagamaan” (pattern of religion) Paulus dan Yudaisme. Yudaisme menganut “nomisme perjanjian”, sedangkan Paulus lebih “teologi partisipasi”, artinya: dengan mati bersama Kristus orang mendapat hidup baru, dengan menjadi anggota tubuh Kristus orang menjadi anggota komunitas yang diselamatkan. Orang memang tentu tak akan menolak bahwa memang itulah ciri teologi Paulus, tapi apakah betul bertentangan dengan yang disebut Sanders “nomisme perjanjian”? 1) Kesamaan dalam pola keagamaan, perbedaan dalam unsur-unsur pembentuk pola: Morna Hooker, ekseget wanita dari Cambridge, bilang bahwa dari sudut “pattern of religion” tak ada perbedaan antara Paulus dan Yudaisme, yaitu: “rahmat penyelamatan Allah membangkitkan tanggapan ketaatan manusia” (lihat: “Paul and Covenantal Nomism”, dalam Paul and Paulinism, eds. M.D. Hooker dan S.G. Wilson, hal. 47-56). Hanya saja, ada perbedaan dalam elemen-elemen yang menyusun pola itu. Ia menyusun skema pola itu sbb. Bagi Yudaisme: Pilihan Allah dan penyelamatan Israel --> tanggapan Israel terhadap perjanjian di Sinai --> hidup dalam perjanjian, dalam ketaatan kepada Hukum --> penghakiman terakhir --> hadiah dan hukuman. Bagi Paulus: Tindakan penyelamatan Allah dalam Kristus --> tanggapan terhadap tindakan ini lewat baptis --> hidup dalam Kristus, dalam kesesuaian dengan Roh --> penghakiman terakhir --> hadiah dan hukuman. Kelihatan bagaimana dalam skema itu Kristus sejajar dengan perjanjian dan Hukum dengan Roh. 2) Sejarah Penyelamatan Paulus: Adam ---> Abraham ----> Yesus: Jadi memang dalam Paulus bisa dilihat adanya garis lurus sejarah keselamatan: Adam --> Abraham --> Yesus. Bagaimana dengan Musa? Musa tampaknya disingkirkan entah ke mana. Musa bagi Paulus berfungsi sebagai perantara atau semacam “petugas” Perjanjian Sinai; tapi menurut dia, Yesus adalah sumber perjanjian. Di Sinai memang terjadi perjanjian dengan Allah, tapi ini diperuntukkan bagi umat Israel. Paulus tidak cenderung menyebut itu sebagai Perjanjian bagi seluruh umat manusia. Bagi Paulus, Perjanjian bagi seluruh umat manusia itu hanya terpenuhi dan terlaksana dalam diri Yesus. Dengan Abraham, Allah baru sampai pada taraf janji-janji belaka. Nah, pelaksanaannya terjadi dalam diri Yesus. Musa berfungsi semacam interlude, sampingan, subsider, dll. Paulus bilang dalam Gal 3:24 bahwa hukum Taurat (ungkapan perjanjian Sinai) menjadi penuntun sampai Kristus datang. Jadi begitu Kristus datang, ya sudah tak diperlukan lagi. Bagaimana dengan hukum Taurat? Bagi Paulus, jelas hukum itu sudah terbukti kegagalannya dari Yesus yang bangkit. Orang yang dihukum berdasarkan Taurat (menghojat Allah, Yoh 19:7 “kami punya hukum, dan menurut hukum itu ia harus mati”) dan terkutuk karena disalib (Ul 21:23) ternyata dibenarkan oleh Allah sebagaimana nyata dari kebangkitanNya (Gal 3:13).

Martin/Paulus/hal. 12 Justru dalam konteks seperti itu (Adam, Abraham, Yesus), orang-orang non Yahudi mendapat tempat. Mereka tak perlu menjadi Yahudi dahulu kalau mau jadi Kristen. Yang penting bukanlah sunat lahir tapi sunat batin (Rom 2:28-29). 3) Ambiguitas posisi Musa dan Hukum Taurat dalam Paulus: Namun hati-hati, jangan kita memakai skema Mateus untuk mengerti Paulus. Mateus memang menampilkan Yesus sebagai Musa yang Baru, duduk berkotbah di bukit, menyampaikan hukum-hukum bagai Musa di atas Sinai. Bagi Mateus, Yesus tidak menghilangkan Taurat, melainkan cuma menggenapinya saja (“tak satu iota pun boleh dihilangkan dari Taurat”, Mt 5:17). Di sini pun orang masih harus hati-hati. Mateus pun tampaknya sudah memberikan kepada Yesus posisi yang tak sama dengan Musa. Musa hanya perantara hukum Allah, sedangkan tampaknya Yesus ditampilkan seperti punya otoritas sendiri: perhatikan rumusan “Ada tertulis .... tapi AKU berkata ...”, seakan Yesus ditempatkan pada posisi sejajar dengan Yahweh! Sinai bahkan dalam gambaran simbolis Paulus diibaratkan seperti Hagar (budak), sedangkan Perjanjian dalam Kristus sebagai anakanak Abraham lewat Ishak, anak-anak yang syah (Gal). Orang Israel membaca PL tanpa disingkapkan; hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya (2 Kor 3:14). Namun meskipun demikian, jangan pula kita terlalu simplistis. Seakan hukum itu dibuang total. Paulus kerap masih pakai bahasa-bahasa hukum. Ia bicara tentang “hukum Kristus” (Gal 6:2), di tempat lain ia juga menyebut “hukum Taurat” dalam konteks positif, mengasihi sesama merupakan pelaksanaan hukum Taurat (bdk. Im 19:18; Rom 13:8). Jangan kita berpikir, karena Paulus menjabarkan semua pada iman dan kasih, maka ia tak bicara soal ganjaran dan hukuman. Ia bicara soal hari akhir, ketika terjadi penghakiman (Rom 2:16; lihat juga: Rom 14:10-12; 1 Kor 3:10-15; 4:1-5; 2 Kor 5:10). Tapi Kristus akan menyelamatkan milikNya (1 Tes 1:10; Rom 5:9). Apakah Paulus tetap Yahudi yang tetap menjalankan hukum Taurat? Memang demikian. Dalam Rom 7 Taurat disebut kudus (Rom 7:12). Paulus menulis juga “kita sekarang melayani dalam keadaan baru menurut Roh dan bukan dalam keadaan lama menurut huruf hukum Taurat” (Rom 7:6). Dari sini kita lihat bagaimana Paulus cukup bergulat dengan ketegangan antara pengenalannya terhadap Kristus dan pengalamannya yang berakar pada tradisi Yahudi dengan Tauratnya. Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit di jalan ke Damsyik memang membuat Paulus merenung tentang banyak hal dalam hidupnya: bagaimana dengan tradisi Yahudi, bagaimana dengan orang non Yahudi, bagaimana rencana penyelamatan Allah, dll. Yang ditentang Paulus adalah menerapkan dengan paksa hukum Taurat kepada orang-orang non-Yahudi yang mau mengikuti Kristus. Kalau dulu orang memang dengan mudah akan mengatakan bahwa Paulus anti hukum Taurat, tapi kini orang akan hati-hati. Orang makin sadar bahwa tak bisa dikatakan begitu saja bahwa Paulus anti Hukum. Bagi Paulus, ada banyak arti “hukum Taurat”: mulai dari (1) sekedar aturan/peraturan yang harus ditaati, lalu (2) kisah sejarah Israel, kesusastraan nabinabi dan kebijaksanaan (seluruh PL), dan (3) fungsi kosmis Taurat (berhub. dengan Kebijaksanaa) dalam penciptaan dan penebusan, akhirnya (4) keseluruhan kehendak Allah sebagaimana dinyatakan dalam alam semesta dan masyarakat.. Maka orang kini membedakan dulu, kepada siapa Paulus bicara. Kepada umat di Galatia, ia anti hukum; yang berada di bawah Taurat berarti di bawah kutuk (Gal 3:10). Kepada umat di Korintus, ia rada setengah-setengah, ya anti ya pro, tapi pada prinsipnya ia bilang, yang penting adalah menaati hukum (1 Kor 7:9). Kepada umat di Roma ia bersikap positif terhadap hukum: ia meneguhkan hukum (Rom 3:31), mencintai itu berarti melaksanakan hukum (Rom 13:8; cf. Im 19:18), dan Taurat itu kudus (Rom 7:12).

Martin/Paulus/hal. 13 PAULUS DAN UNSUR-UNSUR TRADISIONAL KRISTEN Dari uraian bagaimana terjadi pembalikan 180 derajat dalam diri Paulus bisa timbul masalah, yaitu apakah itu hanya terjadi pada diri Paulus, ataukah juga menyebar di umat Yahudi waktu itu? Karena andaikata hanya terjadi pada Paulus, maka mungkin benar kesan beberapa kalangan bahwa Paulus adalah pendiri agama Kristen, seakan ia menyelewengkan arah tradisi yang diwarisi dari Yesus (yang masih bergerak dalam Yudaisme). Konteks gagasan beberapa kalangan tentang Paulus itu adalah bahwa Paulus menyelewengkan arah tradisi Yesus dengan memperkenalkan konsep Yesus sebagai Tuhan (atas dasar keyunaniannya). Fakta bahwa surat-surat Paulus banyak tersebar bukan hanya di jemaat yang menjadi tujuan surat ybs., tapi ke mana-mana, bahkan sebelum ada Injil-injil, ini merupakan bukti bahwa ide-ide Paulus itu entah kenapa dirasakan cocok dengan banyak jemaat (lih 2 Pt 3:15-16). Jadi dari sudut kecendrungan paham Yesus sebagai Tuhan, perluasan iman Kristen kepada orang-orang non-Yahudi, itu merupakan kecendrungan umum dan meluas. Hanya saja, mungkin dalam kurun waktu thn. 36-60an memang tak ada orang sekaliber Paulus, yang bisa merumuskan secara tepat dan teologis masalah-masalah tersebut beserta dengan pemecahannya. Namun kiranya keliru kalau orang beranggapan bahwa Pauluslah "provokator", atau perintis ide-ide tersebut. Ingat, baik pada zaman Yesus maupun Paulus, tampaknya kumpulan jemaat pengikut Kristen itu masih hidup dan beribadat dalam sinagoga-sinagoga, selain mulai juga berkumpul secara khusus dalam rumah-rumah jemaat secara bergiliran. Pemisahan dari Yudaisme berjalan berangsur-angsur, sejak Pemberontakan Pertama Yahudi (66 M) dan kemudian juga setelah Pemberontakan Kedua Yahudi (135 M), dan tak bisa ditentukan suatu titik waktu tertentu (lih. M.R. Wilson, Our Father Abraham. Jewish Roots of the Christian Faith, Grand Rapids: W.B. Eerdman's Publishing Co., 1989, khususnya bab II: "Church and Synagogue in the Light of History"). Sedangkan kalau mau disoroti dari sudut serangan berbagai kalangan itu: ide ketuhanan Yesus dibawa masuk Paulus dari tradisi Yunani, bisa dilihat bahwa dalam suratsurat Paulus tidak semua hal itu berasal dari hasil perenungan (inspirasi) Paulus sendiri. Ada banyak unsur yang disetujui para ahli tafsir sebagai berasal dari tradisi Pra-Paulus. Misalnya: a) Rumusan “Yesus adalah Tuhan”: lih. Rom 10:9; 1 Kor 12:3; Fil 2:11; mungkin pula Rom 1:4; seperti juga tradisi kuno 1 Kor 11:23. Ungkapan bahasa Aram “maranatha” (1 Kor 16:22; dari “marana atha”, “Tuhan kami, datanglah!”) menunjukkan bahwa Yesus telah disebut “Tuhan” oleh orang Kristen purba. b) Gelar “Kristus” lebih sebagai nama diri: lih. Fil 2:11, juga Rom 1:4, tradisi kuno 1 Kor 15:3. Kebiasaan ini tampaknya cukup kuno (lih. Kis 2:36; 11:26). c) Yesus sbg. keturunan Daud: lih. Rom 1:3. d) Yesus sebagai Anak Allah: Rom 1:3dst tampaknya merupakan tahap perantara perkembangan Kristologi ketika Yesus dipercaya sebagai ditetapkan sebagai Anak Allah setelah kebangkitan (Kis 2:36; 5:31; 13:33). Namun tak ada paham kelahiran dari seorang perawan. e) Tradisi tentang penampakan Yesus yang bangkit: 1 Kor 15:3-5: mati karena “dosa-dosa kita”, bangkit “pada hari ketiga”. f) Kedatangan Kristus kembali: ungkapan “maranatha” (1 Kor 16:22) tampaknya diambil alih dari tradisi yang beredar luas dan berisi harapan akan kedatangan Yesus kembali (Didakhe 10:6; Wahyu 22:20; lihat 1 Kor 4:5; 5:5; 11:26; 15:23). g) Baptis sebagai ikut serta dalam kematian Yesus: Rom 6:3dst. menunjukkan kebiasaan baptis dalam umat kristen awal: melepaskan pakaian lama, telanjang bulat (!) dan ditenggelamkan, naik dan memperoleh pakaian putih lambang Kristus sendiri.

Martin/Paulus/hal. 14 i) Kidung kerendahan hati Kristus: Fil 2:6-11: kematian sebagaimana juga inkarnasinya dianggap sebagai tanda kerendahan hati Yesus; status illahi Yesus. j) Kidung peranan Yesus dalam penciptaan dan penebusan: Kol 1:15-20: kidung tentang preeksistensi Yesus dan peranannya dalam alam semesta. Lihat M. Casey, “Chronology and the Development of Pauline Christology”, dalam M.D. Hooker dan S.G. Wilson, Paul and Paulinism, hal. 124-134. Casey mengatakan bahwa bahan-bahan pra Paulus ini menunjukkan bahwa “Kristologi Paulus bukanlah hasil suatu pikiran tunggal, bukan juga suatu entitas tunggal yang keberadaan mendadaknya harus diterangkan, melainkan hasil proses perkembangan yang dapat diamati” (hal. 125). Dan justru ada kesejajaran (paralellisme) antara bahan-bahan itu dengan bahan-bahan yang berasal dari Yudaisme intertestamental (Yudaisme dalam periode antara PL dan PB): kepercayaan Yahudi akan tokoh perantara illahi - insani. Tokoh-tokoh perantara Dikatakan bahwa Paulus ambil alih beberapa unsur dari tradisi kristen purba sebelum dia, yaitu kurun waktu duapuluhan tahun sesudah kebangkitan Kristus, (mengingat surat pertama Paulus, 1 Tes, ditulis sekitar th. 50/51 CE), maka mungkin ada yang ingin tahu darimana orang kristen memperoleh itu? Apakah ujug-ujug turun dari surga ide-ide seperti “Tuhan”, “Kristus”, “Anak Manusia” dll? Tentunya tidak. Manusia mengungkapkan pengalaman hubungan mereka dengan Allah seturut budaya dan bahasanya sendiri. Di antara periode PL dan terbentuknya PB ada periode yang disebut Yudaisme Intertestamental (antara Ezra dan Yesus). Nah, dalam periode ini dikenal populer tokohtokoh perantara. Ingat bahwa agama Yahudi menganut monoteisme mutlak: satu Allah, tak ada tuhan apa pun di luar Dia (lih. peringatan-2 dalam Yes, Yer dan Yeh). Berbeda dengan budaya politeisme di sekelilingnya. Dalam hal ini pun pada awalnya pun perkembangan. Tadinya masing-masing suku bangsa punya dewa/tuhan sendiri-sendiri. Ungkapan “Allah Israel” sendiri sudah mengandaikan bahwa diakui adanya “Allah Moab” “Allah Mesir” dll. Tapi kemudian muncul kesadaran bahwa yang ada hanya Allah Israel itu: yang lain bukanlah Allah, melainkan berhala buatan tangan manusia (lihat pertentangan antara Nabi Elia dan nabi-nabi Baal, I Raj 18; Yer 10). Tapi umat Israel mengalami juga betapa Tuhan itu dekat pada mereka, menghubungi mereka. Maka selalu ada keraguan: apakah Allah datang sendiri ataukah utusan-utusanNya? Bisa dilihat pada kisah Abraham. Di satu pihak dikatakan ada tiga orang, dikatakan juga tiga malaikat, tapi pesan yang disampaikan adalah “Aku ....:” seakan Allah sendirilah yang datang dan menyapa (Kej 18). Musa juga alami hal yang sama. Allah dialami dalam api menyala, tapi api yang tidak membakar semak (Kel 3). Jadi ada kehadiran Allah tapi juga ada ketidakhadiranNya! Dengan demikian mulai muncul gambaran akan tokoh-tokoh perantara. Para mailakat diberi nama selalu dengan akhir “El”, berarti Allah, karena seakan mereka adalah perpanjangan tangan Allah sendiri: Gabriel (“Allah adalah Perkasa”), Raphael (“Allah menyembuhkan”), Mikael (“Siapakah seperti Allah?”). Kemudian Henokh yang tidak binasa melainkan naik ke sorga (Kej 5:24); Melkhisedekh (Kej 14; bdk. Ibr. 7:1-10) yang tak berayah-ibu, raja kekal); Musa yang tak jelas kuburnya di mana (Ul 34:6) maka ada legenda bahwa ia tetap hidup, Elia yang tak mati tapi diangkat ke surga (2 Raj 2). Terhadap tokohtokoh itu mulai dilihat juga keillahian, pre-eksistensi mereka, peranan mereka dalam tata keselamatan (hakim di hari akhir). Dalam situasi seperti itulah banyak gambaran tokoh-tokoh itu diterapkan pada Yesus sendiri ketika umat mengalami kenyataan akan Yesus yang bangkit dan tetap hidup.

Martin/Paulus/hal. 15 Masalahnya, apakah paham yang sama juga diterapkan pada Yesus, meski digunakan istilah yang sama, seperti “Tuhan”, “Anak Allah” dll? Arti “Tuhan”, “Anak Allah” bagi Yesus dalam Paulus: Tentang ini silahkan baca buku Tom Jacobs, Paulus. Hidup dan karyanya, halaman 156dst. Hanya perlu diingat bahwa kata Yunani untuk “Tuhan”, yaitu “kyrios” itu punya makna yang luas: tuan, majikan, junjungan, Tuhan. Jadi tak selalu sama dengan “Allah”, padahal dalam bhs. Indonesia itu maknanya selalu sama. Maka memang “ketuhanan” Yesus selalu menjadi sandungan bagi penganut monoteisme mutlak seperti Yahudi dan Islam. Bahasa-bahasa Barat mengenal perbedaan antara “God” (Allah) dan “Lord” (Tuhan, Junjungan). Dalam PL versi Yunani (Septuaginta), tetragramaton (empat huruf suci nama Allah) JHWH (dalam KS Indonesia diterjemahkan “TUHAN” huruf besar semua) hampir selalu diterjemahkan bukan dengan theos (yang selalu berarti Allah) tapi kyrios (Tuhan). Padahal para rasul dan umat kristen awal itu memakai Septuaginta sebagai KS mereka, maka kalau mereka menyebut Yesus yang bangkit sebagai kyrios, kemungkinan besar mereka bermaksud menyamakan Yesus dengan Allah. Dari surat-suratnya, jelas Paulus menyebut Yesus sebagai kyrios, dalam arti Tuhan. Bila ia bicara soal ho theos (The God) itu selalu berarti Allah, Bapa Tuhan Yesus (I Kor 8:6; 2 Kor 11:31). Hanya saja dalam Rom 9:5 memang seakan Yesus disebut “Allah” tapi di situ theos tanpa kata sandang (artikel ho). Lagipula, tergantung di mana orang meletakkan komanya, itu tak harus dihubungkan dengan Yesus. Lihat Jerome Biblical Commentary, komentar thd. surat Roma 9:5: disebutkan ada empat kemungkinan meletakkan koma beserta dengan konsekuensinya bagi penafsiran. Hal yang sama berlaku juga bagi gelar “Anak Allah”. Coba baca juga tulisan Rm. Darmo tentang gelar-gelar Yesus. Tentu belum ada definisi tegas tentang Tritunggal Mahakudus. Paulus lebih bicara dalam kerangka Allah Bapa dan Tuhan Yesus (1 Kor 8:6), sedangkan bila bicara tentang Roh Kudus itu selalu dalam konteks hubungan antara Allah dan Manusia (Rom 5:5; 8:26). Diri Yesus sebagai pusat teologi Paulus: Kita kembali lagi pada pengalaman Damsyik. Jelas bagi Paulus pengenalan akan Kristus adalah segala-galanya. Dan ini juga akan bermakna sekali bagi pengalaman pastoralnya. Ketika ia menguraikan pandangannya, yang dikira merupakan kristologi, sebenarnya konteksnya bukanlah mengajar siapa Yesus itu, melainkan apa konsekuensinya bagi penghayatan iman kita. Coba baca: David Sanders, “A Lived Christology in Paul”, dalam The Month 27(1994), hal. 475-479. Coba lihat 1 Kor 1-4: konteksnya adalah problem perpecahan dalam jemaat, ada yang menganggap diri milik Apolos, ada yang milik Petrus, ada yang milik Paulus. Tampaknya Paulus dituduh terlalu duniawi, kurang karismatis (II Kor 10:2). Paulus memberikan solusi atas problem konkret jemaat itu dengan mengingatkan jemaat akan siapakah Yesus yang mereka ikuti itu. Yaitu Yesus yang tersalib: Injil tak tergantung pada hikmat manusia, melainkan kuasa Allah. Juga dalam I Kor 15. Problemnya bukanlah bahwa umat tak percaya akan kebangkitan Kristus. Umat percaya saja, tapi yang tak mereka percayai adalah bahwa mereka akan bangkit. Atau mereka mengira bahwa mereka sudah termasuk orang-orang rohani berkat ikut Yesus. Paulus mengingatkan bahwa kalau tak ada kebangkitan orang mati, maka Yesus juga tak bangkit. Dan kalau Ia bangkit, Ia bangkit sebagai anak sulung. Jadi yang lain akan mengalami nasib seperti Dia juga. Umat diingatkan juga bahwa tubuh jasmani yang mereka

Martin/Paulus/hal. 16 miliki sekarang bukanlah tubuh yang abadi, melainkan tubuh kebinasaan. Ada tubuh rohani, tubuh kebangkitan yang tak sama dengan yang jasmani itu. Dalam 1 Kor 11:17-33, problemnya adalah keserakahan umat dalam perjamuan. Yang kaya lupa akan yang miskin dan makan hidangannya sendiri. Paulus ingatkan bahwa Yesus adalah Yesus yang telah memberikan diriNya bagi semua dalam Ekaristi. Maka hendaknya umat juga berbuat seperti Yesus. Maka dapat dikatakan bahwa teologi, kristologi, penyelesaian pastoral dll bagi Paulus itu didasarkan pada hubungan pribadi Yesus dengan Paulus, dan Paulus dengan jemaat. Misalnya, berulang kali ia menyuruh jemaat menjadikan dia sebagai teladan yang harus ditiru: I Kor 4:15-16; 11:1 (istilah “pengikut” lebih harus diartikan sebagai “peniru”, “peneladan”, “imitator”); 1 Tes 1:6-7; 2 Tes 3:7-9; Fil 3:17; 4:9. Nah, ternyata Paulus hanya bilang begitu pada umat di Tessalonika, Korintus dan Filipi, yaitu komunitas kristiani yang didirikan oleh Paulus, jadi yang memang punya hubungan pribadi dengan dia. Umat di Filipi diperlakukan secara khusus, dari mereka Paulus bahkan mau menerima sumbangan (Fil 4:1516), padahal dari jemaat lain ia tidak sudi karena mau mandiri. Penggolongan Surat-surat: Proto-pauline (1 Tes, Gal, Fil, Flm, 1 Kor, 2 Kor, Rom) yang tak diragukan berasal dari Paulus sendiri; Deutero-pauline (2 Tes, Kol, Ef) yang masih dipermasalahkan apakah asli dari Paulus atau murid-muridnya. Pastoral/post-pauline (1 Tim, 2 Tim, Tit) yang pada umumnya dianggap bukan dari Paulus tapi dari murid-muridnya. Perjalanan Paulus selalu dimulai dari Antiokhia. Perjalanan I (th. 46-49) disusul dengan kunjungan ke Yerusalem (Konsili; Kis 15). Perjalanan II (th. 50-52), a.l. tinggal di Korintus (zaman pemerintahan Galio gubernur di Achaia, Kis 18:12) tempat ia menulis 1 Tes (th.51). Perjalanan III (th. 5458): a.l. tinggal di Efesus selama 2-3 tahun, tempat ia menulis Gal (th. 54), Fil (56-57), Flm (56-57), 1 Kor (57), ke Makedonia (2 Kor, thn. 57) dan ke Achaia tiga bulan (Rom, th.58).

Martin/Paulus/hal. 17 SURAT KEPADA FILEMON Tentang pengantar umum pada surat ini harap baca komentar terjemahan LBI. Pernah ada orang protes: “Kok, surat pribadi yang berisi rekomendasi kerja ini bisa masuk Kanon KS?!”. Tapi perlu dibaca dengan teliti bahwa di awal surat dikatakan ‘kepada jemaat di rumahmu’ (ayat 2), jadi surat itu bukanlah surat pribadi semata-mata. Celakanya, dari sebuah surat saja tanpa mengerti latar belakang terjadinya, siapa yang disebut di situ, dll, sulit bagi kita mengerti maksud surat itu secara utuh. Kita tahu jelas bahwa Paulus mengirim Onesimus kepada Filemon. Tapi, coba saja kita amati, dari surat Flm saja, tanpa baca komentar, apakah kita bisa mengetahui hubungan antara Filemon dan Onesimus? Pandangan umum para ahli KS tentang surat kepada Filemon adalah sbb.: Onesimus adalah budak Filemon yang pernah mencuri dari dia dan lari kabur, mungkin pernah dipenjarakan dan di situ ketemu Paulus, dipertobatkan oleh Paulus, dan ketiba bebas dikirim kembali ke tuannya! Di zaman perang saudara di USA dulu itu (Utara lawan Selatan a.l. karena pro dan kontra perbudakan), ada seorang pendeta kulit putih berkotbah mengancam para budak agar tidak lari dari tuannya, dengan alasan: Paulus sendiri melarang para budak melarikan diri, Paulus sendiri merasa terikat oleh hukum dan mengembalikan Onesimus kepada Filemon. Mendengar kotbah macam itu, bangkitlah para budak dan keluar dari gereja. Tepatkan tafsiran itu? Dari sejarah abad-abad pertama Romawi kita tahu bahwa memang budak yang lari dicap sebagai buronan (fugitivus) dan kalau mereka kembali atau ditangkap dan dibawa ke majikan mereka, mereka akan disiksa keras. Tapi kalau budak itu lari ke seorang sahabat dari tuannya dan minta perantaraan dia untuk mendamaikan kembali, maka dia tak akan dianggap sebagai buronan, melainkan orang yang minta suaka/asylum. Yang menampung mereka pun tidak akan dianggap salah. Dari ay. 19 kita tahu bahwa ada hubungan khusus antara Paulus dan Filemon, maka bila Onesimus lari ke Paulus, Paulus tak bersalah, dan tak ada masalah yuridis di situ. Tapi dari manakah para ahli tafsir bisa punya pendapat bahwa Onesimus pernah mencuri milik Filemon? Dari kata “merugikan”? Kita harus kembali ke teks itu sendiri. Paulus memberikan pernyataan hipotetis atau pengandaian dan bukan pernyataan faktual: “Seandainya ....”. Dari situ saja tak bisa disimpulkan bahwa pasti Onesimus pernah berhutang! Kalimat itu dalam bhs. Yunani bisa diterapkan juga untuk masa datang: mis. Onesimus karena akan tinggal pada Filemon, mungkin saja ngentek-ngenteke sego! Filemon pernah hutang pada Paulus itu faktual bukan hipotetis (ay. 19). Darimana orang menduga bahwa Onesimus adalah budak yang lari dan bertobat, maka mau kembali? Paulus tak pakai kata “pertobatan”, ia bilang “anakku yang kudapat selagi aku dalam penjara”. Bahasa Yunani kata itu “egennêsa” seharusnya diterjemahkan: “kuperanakkan” seperti dalam Mazmur 2:7 (Ibr 1:5). Lihat saja: 1Kor 4:15,17; Gal 4:19. Kata 'kuperanakkan' harus diartikan Paulus yang membawa Onesimus pada iman akan Kristus; bukan dalam arti ia tadinya “pendosa” lalu dibuat menyesal atau tobat atas dosadosanya (bisa juga, tapi bukan ini yang dimaksud dengan istilah itu). Nah, dalam arti itu pulalah kiranya hubungan Filemon dengan Paulus. Filemon mengenal Kristus berkat Paulus, maka ia berhutang diri (artinya berhutang hidup, berhutang keselamatan) pada Paulus. Tanpa Paulus, ia belum akan selamat. Filemon orang terkemuka di Kolose, lihat Kol 4:9: Tikhikus diutus Paulus ke Kolose bersama Onesimus (yang disebut “orang dari antara kalian [umat Kolose]”), maka

Martin/Paulus/hal. 18 disimpulkan Filemon orang Kolose juga. Terkemuka karena rumahnya dipakai untuk berkumpul jemaat. Dari mana Paulus menulis? Yang jelas dari penjara. Tempat persisnya tak mungkin ditentukan. Tapi ada berbagai pendapat: ketika Paulus dipenjara di Roma (th. 61-63; pendapat yang umum dianut para ahli, karena Paulus "sudah tua"); atau di Kaisarea (th. 5860), atau di Ephesus (th. 56-57, menurut Jerome Biblical Commentary). Tehnik Retorika Paulus: Dari diskusi di atas kita bisa sadar betapa bahayanya main rekonstruksi macam-macam; bisabisa tak sesuai dengan kenyataan. Apalagi kalau surat itu menjadi senjata ideologis untuk membenarkan penyerahan diri para budak, tak boleh lari dari majikan dll. Seakan Paulus merasa wajib mengembalikan budak yang lari itu. Penting bagi kita kembali ke teks itu dan mendalami kekayaan yang ada. Surat singkat ini merupakan contoh yang baik bagaimana Paulus menguasai tehnik retorika klasik. Bisa dilihat skema sbb. ay. 1-3: Salam Pembuka: dari siapa kepada siapa ay. 4-7: Exordium: pendahuluan, “captatio benevolentiae”: [kasih, hati, doaku] persekutuan iman ay. 8-16: Corpus inti: isi, pembuktian (meyakinkan dari sudut ethos, pathos, ratio) [kasih, buah hati] ay. 17-22: Peroratio: kesimpulan, penegasan kembali [hati, doamu] sekutu iman ay. 23-25: Salam penutup: salam untuk ...... Dari awal sudah kelihatan bagaimana Paulus menggunakan keahliannya meyakinkan orang. Pada exordium ia menarik simpati Filemon dengan memuji kasih Filemon. Di surat lain ia pakai urutan “iman, kasih, harapan” (Kol 1:4-5; 1 Tes 1:3), di sini urutannya “kasih, iman”. Dengan lihainya ia menyembunyikan apa yang sesungguhnya dikehendaki sampai ayat 10, ketika nama Onesimus pun disebut untuk pertama kali setelah sekian kalimat. Jadi ia sejak awal mempersiapkan hati Filemon, hingga mau tak mau akan mengikut kehendak Paulus. Pada Corpus inti Paulus mendasarkan diri pada ethos, tingkahlakunya sendiri: ia tak mau memerintah, tapi memohon. Ia tak memaksa, tapi menyerahkan pada kehendak bebas Filemon. Ia menyentuh pathos (perasaan) Filemon: ia “tua” (arti lain presbytês adalah “duta besar”, lih. 2 Kor 5:20) dan tahanan. Ia meyakinkan ratio dengan bermain kata dengan nama Onesimus: menekankan kegunaan Onesimus (arti harafiah nama “Onesimus” adalah “Yang Berguna”). Onesimus disebut sebagai “jantung hati” Paulus. Sedang pada peroratio Paulus menegaskan lagi yang dikehendakinya. Ia tidak memaksa, hanya memberikan alasan yang lebih kuat: Paulus adalah sekutu iman Filemon.. Paulus memikirkan segala kemungkinan penolakan: bila ada alasan ekonomis, maka ia sudah siap menanggungnya. Ia berani menulis karena percaya akan ketaatan Filemon, bahkan Filemon akan berbuat lebih. Ia menulis “Hiburkanlah hatiku” (ay. 20), padahal tadi dikatakan bahwa Onesimus adalah “hati”nya (ay. 12), jelas apa yang diharap Paulus. Akhirnya, ia memberikan gambaran bahwa ia sendiri akan datang (seakan-akan memberi pesan tersembunyi: dia sendiri akan mengontrol bagaimana tindakan Filemon). Di sini lebih mau dikatakan bahwa Paulus dibebaskan dari penjara, dan bisa berada lagi/kembali di tengah umat (a.l. Filemon juga).

Martin/Paulus/hal. 19 Surat dimaksudkan Paulus agar dibacakan di depan jemaat; jadi bakal ada kontrol sosial thd. Filemon. Ada salam dari Markus, Lukas dll., jadi eksistensi surat itu diketahui juga oleh banyak orang dari pihak Paulus. Apakah Onesimus benar-benar budak Filemon? Ada yang menyangsikan hal ini. Alasannya: kata 'secara manusiawi' (ay. 16) atau harafiahnya, 'di dalam daging', itu berarti ada pertalian darah (lih. Rom 1:3-4: Yesus di dalam daging keturunan Daud, di dalam Roh oleh kebangkitan ditetapkan sebagai Anak Allah. Maka ayat 16 maksudnya: kalau bagi Paulus saja Onesimus sudah saudara kekasih (di dalam Tuhan), apalagi bagi Filemon (yang juga di dalam 'daging'). Kata 'sebagai budak' tak perlu ditafsirkan faktual, melainkan "bagaikan" (bukan bagaikan orang yang lebih rendah tingkatnya), seperti pada ay. 17: menerima Onesimus 'bagaikan' menerima Paulus sendiri. Surat ke Filemon ini secara miniatur merupakan gambaran akan faham keselamatan Paulus: karya pendamaian (spt. dulu Kristus mendamaikan kita dengan Allah, II Kor 5:18). Menjadi gambaran konkret penerapan kasih kristiani. Perbudakan dalam dunia Romawi-Yunani abad pertama: Orang zaman sekarang biasa menerapkan kategori pemikiran mereka zaman ini terhadap masalah-masalah zaman dulu. Begitu juga dalam hal perbudakan. Kita sudah terbiasa berpikir bahwa perbudakan itu bertentangan dengan hak-hak asasi manusia. Lebih-lebih karena kita punya gambaran seperti situasi perbudakan di Amerika Serikat. Di sana memang gawat, sampai kemudian terjadi perang saudara antara pihak Selatan dan Utara. Kita teringat situasi Santo Petrus Klaver di Amerika Selatan dengan budak-budak sengsara yang dilayaninya. Apakah persis seperti itu situasi budak-budak zaman dulu di Roma? Para ahli tafsir KS sudah sejak lama kebingungan, mengapa Paulus justru memakai metafor “perbudakan” itu untuk menggambarkan “penyelamatan”. Orang kristen dibebaskan dari dosa dan menjadi budak kebenaran (Rom 6:18). Bahkan dalam 1 Kor 9:19 ia menulis bahwa ia menjadikan diri “budak dari semua orang”. Ia kerap menyebut diri “budak Kristus”. Ada yang berkata bahwa istilah itu khas Paulus dan merupakan skandal besar bagi orangorang Romawi. Ada juga yang bilang bahwa paham itu tak berasal dari dunia Romawi Yunani melainkan dari dunia Yahudi (PL). Ada yang bilang itu berasal dari kuil suci Delphi, saat budak mau dibebaskan maka dijual kepada dewa; sebenarnya ia bebas total, hanya saja dikatakan menjadi milik dewa tertentu. Tapi mengapa peristilahan seperti itu begitu umum pada Paulus, dan tampaknya tak ada bantahan apa pun? Jadi hal itu dimengerti seakan sudah memang seharusnya demikian. Kalau hanya berpedoman pada tulisan para filsuf atau pun para pujangga (mereka semua dari kelas atas) memang dunia perbudakan tampak serba negatif, dikecam, budakbudak dibenci dan diremehkan. Tapi kalau orang menyelidiki peninggalan-peninggalan tulisan dari kalangan bawah (batu nisan makam, kumpulan makna mimpi, novel-novel, dll.) maka muncul gambaran yang lain. Ternyata dunia para budak tak seburuk yang kita duga. Ada beberapa paham umum tentang budak yang ternyata tak tepat. Sering dikira, para budak tak punya tempat tinggal sendiri, mereka tinggal di rumah tuan mereka. Tapi dari beberapa naskah kontrak kerja atau dagang; jelas dikatakan itu ditandatangani di rumah para budak itu sendiri. Ternyata para budak punya uang dan harta kekayaan. Bahkan mereka kerap membebaskan diri sendiri dengan membayar harga tinggi yang dituntut tuan mereka; atau bahkan mempersembahkan batu nisan mewah bagi mendiang majikan. Budak dapat ditemukan bekerja dalam pekerjaan apa pun yang dapat dilakukan oleh orang merdeka: dokter, pengacara, tentara, penanggung jawab perusahaan, pembersih rumah dll. Selain budak kelas bawah, ada juga budak kelas menengah yang menjadi manager (oikosnomos). Ini diketahui a.l. dari buku petunjuk mimpi karangan Artemidorus. Ada mimpi yang baik bagi

Martin/Paulus/hal. 20 budak kelas rendah, tapi mimpi yang sama berarti buruk bagi budak kelas atas dan sebaliknya. Mimpi disalib baik bagi budak rendahan (bakal dibebaskan) tapi buruk bagi budak manager (akan dilucuti dari kekuasaannya). Ternyata posisi budak memberi kemungkinan untuk naik pangkat dalam skala sosial. Budak orang terkenal atau kaya maka akan mencicipi juga kekayaan dan kedudukan itu. Budak orang kaya bisa dengan mudah mencari pekerjaan. Sebaliknya orang merdeka yang tanpa jaminan, akan menganggur dan sengsara. Dalam dunia itu hidup subur pola “patronclient” (pelindung dan klien). Menjadi budak juga dianggap sebagai sarana untuk merambat ke atas (mobilitas ke atas), apalagi setelah nanti dibebaskan. Ini jelas juga dari perumpamaan Yesus tentang budak yang dipercayai seluruh isi perut eh rumah tuannya! Orang kadang lebih memilih jadi budak tapi kaya dan berpengaruh daripada merdeka tapi kere! Jadi kata 'budak si Anu' bagi Paulus tidak menunjuk status rendah, tapi justru posisi otoritas (mewakili si Anu dalam segala hak dan wewenangnya). Nah, dalam konteks dunia seperti itulah Paulus hidup. Maka bahasa positif tentang perbudakan memang bisa ditangkap dan diterima. Lihat studi Dale B. MARTIN, Slavery as Salvation. The Metaphor of Slavery in Pauline Christianity (New Haven - London: Yale University Press, 1990).

Martin/Paulus/hal. 21 SURAT PERTAMA KEPADA UMAT DI TESSALONIKA 1. Orisinalitas: Tak ada kesangsian 1 Tes berasal dari Paulus. Inilah surat Paulus yang paling awal, meski tak ada kepastian apakah ini surat yang pertama kali ditulis Paulus atau surat paling awal yang kebetulan masih tersimpan. Berbeda dengan 2 Tes yang dianggap sebagai deuteropaulus, atau bahkan pseudopaulus. 2. Keutuhan surat: Para ahli tak sepakat soal keutuhan 1 Tes. 1 Tes dianggap gabungan dua surat. Tapi tak ada kesepakatan bagian mana termasuk surat mana. Ada yang bilang: surat 1 (bab 1-2) dan surat 2 (bab 3-4); ada juga yang mengira: surat 1 (1:1 - 2:12 & 4:2 - 5:28) dan surat 2 (2:13 - 4:1). Pendapat-pendapat ini umum di Jerman. Banyak yang menduga bahwa 2:13-16 merupakan tambahan yang tak berasal dari Paulus karena dianggap terlalu keras anti Yahudi; hal yang sama dikatakan juga tentang 5:1-11 (satu ahli saja). Namun keberatan-keberatan ini tampaknya lebih berdasarkan pada paham teologis / ideologis tertentu. Maka pada umumnya tak dianggap mempengaruhi tafsiran terhadap 1 Tes. 3. Waktu dan tempat penulisan: Jemaat Tes didirikan Paulus pada perjalanan misinya yang kedua, ketika ia ke Tes dari Filipi (1 Tes 2:2). Kemudian ia meninggalkan Tes beberapa saat untuk ke Atena (2:17; cerita tentang pelarian Paulus dari Tes seperti diceritakan di Kis 17:10-15 tak begitu dipercayai oleh para ahli). Ia kemudian mengutus Timotius dari Atena ke Filipi (3:1-2) dan Paulus pergi ke Korintus dan tinggal di sana selama 18 bulan (Kis 18). Timotius menyusul ke Korintus (3:6; lih. Kis 18:5) dan membawa kabar tentang Tes. Untuk menanggapi itu Paulus menulis surat 1 Tes. Jadi ditulis dari Korintus, sekitar tahun 50/51. Inilah pendapat umum yang ada di antara para ahli. Tapi ada pula yang berpendapat lain (mis. Rm Groenen: ditulis di Athena, tahun 40/41). 4. Nada dasar: Tampak benar kemesraan hubungan Paulus dengan umat Tes. Ia berlaku penuh kasih sayang kepada mereka, “seperti seorang ibu mengasuh dan merawati anaknya” (2:7), “seperti bapa terhadap anak-anaknya” (2:11). Ia pun puas dengan kemajuan rohani yang dicapai umat Tes, yang telah menjadi “teladan” di wilayah Makedonia dan Akhaya (1:7). Timotius pun membawa kabar gembira tentang mereka (3:6). Paulus dalam suratnya tetap ingin melanjutkan hubungan keibuan dan kebapaan terhadap dengan memberikan nasehat-nasehat agar mereka “lebih bersungguh-sungguh lagi” hidup berkenan kepada Allah (4:1). Tampak betapa hubungan pribadi <Tuhan - Paulus - umat> mendasari kegiatan pewartaan Paulus dan penerimaan terhadap Paulus: mereka adalah peneladan Paulus dan peneladan Tuhan (1:6). 5. Latar belakang sosio historis: Tessalonika adalah kota pelabuhan dan ibukota provinsi Roma di Makedonia. Pada jaman Paulus Tess merupakan kota penting dalam hal ekonomi, perdagangan dan politik. Tess adalah pusat perdagangan, jadi penduduknya kosmopolitan. Ada sebuah sinagoga di sana (Kis 17:1-2). Ada juga kuil-kuil dewa/i Mesir dan Romawi, maupun pemujaan kaisar. Meski Kis 17 bicara tentang jemaat Kristen Yahudi dan non Yahudi, tapi dari 1 Tes tampaknya jemaat di sana terdiri dari orang-orang Kristen non-Yahudi (1:9). Mereka mengalami penganiayaan dari orang-orang sebangsanya, seperti juga jemaat Kristen Yahudi di Yudea dari orang-orang Yahudi (2:14).

Martin/Paulus/hal. 22 Kerapkali dilihat Paulus mau membela diri dalam 1 Tes (begitu kesan orang terhadap 1 Tes 1-2) dan mau bicara soal nasib orang mati saja (4:13). Namun alasan-alasan ini saja tak menjelaskan keberadaan 1 Tes. Paulus datang ke Tes setelah dianiaya di Filipi (2:1-2) dan ia mengingatkan jemaat Tes akan nasib sama yang menantikan mereka (3:3-4). Jadi tampaknya memang ada ketegangan antara jemaat dan lingkungannya; Paulus menasehatkan agar mereka tak menjadi sebab pertikaian (4:12). Dalam konteks ini kelihatan bagaimana kenangan akan masa lalu pada 1 Tes 1-2 bukanlah dengan maksud-maksud nostalgia atau pun apologia, melainkan mengandung tujuan kerygmatis (pewartaan), parenetis (anjuran moral), maupun pastoral (penggembalaan). Inti 1 Tes adalah agar jemaat tetap hidup sesuai dengan panggilan yang mereka terima sejak awal: “Hal itu memang telah kamu turuti, tetapi baiklah kamu melakukannya lebih bersungguh-sungguh lagi” (4:1, 10). Selalu ada bahaya bahwa iman mereka goyang karena kesusahan-kesusahan yang mereka alami (3:3) atau pun karena ulah “si penggoda” (3:5); untuk itulah Paulus pernah mengutus Timoteus ke sana (3:2). Jadi kenangan akan masa lalu hendak dijadikan dasar untuk maju ke depan, ke masa datang, menyongsong kedatangan Tuhan (1:10; 2:19; 3:13; 4:16-17; 5:23). 6. Kerangka umum: Skema ini dari W. Wuellner, “The Argumentative Structure of 1 Thessalonians as Paradoxical Encomium”, dalam Raymond F. Collins, The Thessalonian Correspondence (Leuven: LUP, 1990) hal. 117-136. Exordium: (1:1-10): salam pembuka ucapan syukur Corpus: (2:1 - 5:22) A. Meneguhkan Komitmen Iman yang paradoksal dalam situasi sulit (2:1-3:13) B. Komitment Iman yang paradoksal dan Tindakan (4:1-5:22) Peroratio (5:23-28) A. Rekapitulasi (5:23-24) B. Himbauan akhir (pathos) (5:25-28) Dalam Exordium sudah diumumkan tiga keutamaan Kristiani: iman, kasih, dan harapan (1:3). Kemudian 1:5 menyinggung dua unsur dissosiatif Injil: kata-kata belaka <---> kuasa/Roh Kudus/keyakinan. Lalu di 1:6 ada situasi paradoksal: penganiayaan dan sukacita. Inilah rupanya yang mau diutarakan dalam 1 Tes. Sukacita dalam penderitaan adalah tema umum dalam sastra martiriologi Yahudi dan Kristen. Dan paradoks hidup Kristen ini, dengan kesedihan dan kesusahan sebagai kondisi fundamental, bermodelkan Yesus, para rasul, “Gereja-gereja Allah dalam Yesus yang di Yudea” (2:14), dan akhirnya orang-orang Tes (contoh bagi semua orang beriman). 7. Contoh uraian tematis: a) Tiga keutamaan Kristiani: Dalam 1:3 Paulus bicara tentang “pekerjaan iman”, “usaha kasih”, “ketekunan pengharapan”. Jadi tak ada dikotomi antara “perbuatan” vs. “iman”, keduanya terkandung dalam ungkapan “pekerjaan iman”, iman yang kelihatan dalam hidup, kegiatan dan tindakan. Kasih juga bukan cuma pura-pura, idealistis, rasa perasa belaka, melainkan sesuatu yang konkret diwujudkan dalam usaha. Harapan memiliki aspek kesinambungan, terus menerus, dalam ketekunan. Dalam 5:8 iman dan kasih disatukan sebagai “baju zirah”(dipakai di

Martin/Paulus/hal. 23 badan), sedangkan harapan sebagai ketopong (dipakai di kepala). Dalam 2:19 harapan, sukacita, mahkota dijadikan satu; tampaknya harapan itu terungkap dalam “kemuliaan” (mahkota, ketopong) dan “sukacita” (2:20). Dan bila Timoteus sepulangnya dari Tes hanya mengabarkan tentang iman dan kasih jemaat Tes (3:6), maka pembaca dibiarkan mendugaduga, kalau demikian apakah harapan merupakan persoalan jemaat Tes, ada kekurangan dalam harapan? Iman lebih berkaitan dengan masa lalu (ingatan akan tindakan penyelamatan Allah, pewartaan dan penerimaannya), kasih dengan masa kini, dan harapan dengan masa depan. Inilah ketiga dimensi waktu yang memberikan struktur pada pemikiran Paulus. Ketiganya saling berkait-kaitan dan menjadi satu. b) Kegiatan penginjilan: Bila diamati di mana saja kata “Injil” atau “firman” muncul, maka orang akan mendapat gambaran tentang kegiatan penginjilan Paulus. Bila dikatakan “Injil Allah” (2:8), maka itu artinya “Injil yang berasal dari Allah”. Paulus menghayati bahwa Injil bukanlah pemikiran atau omongan dia belaka, melainkan sesuatu yang dipercayakan oleh Allah kepadanya (2:4). Dengan “Injil Kristus” dimaksudkan “Injil tentang Yesus Kristus”, khususnya wafat, kebangkitan dan kedatanganNya kembali yang menyelamatkan orang (1:10; 5:10). Injil itu bukan disampaikan dengan kata-kata belaka, tapi dengan kuasa Roh Kudus dan keyakinan teguh (1:5). Dan diterima juga oleh jemaat Tes bukan sebagai perkataan manusia, melainkan sebagai firman Allah (2:13), menurut Paulus pun itu benar-benar demikian (2:13). Dalam pewartaan, Paulus bukan hanya membagikan Injil saja, melainkan juga hidupnya sendiri dengan jemaat (1:8). Maka ada ikatan erat antara Allah - Yesus Paulus - Jemaat Tes - Jemaat di tempat-tempat lain, yang diungkapkan dengan istilah “peneladanan” (1:6). c) Dimensi eskatologis tindakan kristiani: Setiap bab selalu diakhiri dengan mengajak pembaca menengok ke masa depan saat Yesus datang kembali (1:10; 2:19; 3:13; 4:13-18; 5:23). Maka tindakan-tindakan yang disebutkan dalam bab 4-5 didasarkan pada masa lalu, terlaksana dalam masa kini, dan dengan orientasi ke masa datang. d) Gambaran tentang Allah: Dapat diamati dengan mudah gambaran 1 Tes mengenai Allah: Bapa, Pelindung, penolong dll. Hal ini bisa diamati dari sebutan mengenai Allah, maupun dari ungkapan kt. kerja yang dipakai, baik aktif maupun pasif.

Martin/Paulus/hal. 24 SURAT KEPADA UMAT DI FILIPI: 1) Orisinalitas: Tak ada kesangsian bahwa berasal dari Paulus sendiri. 2) Tempat dan Waktu penulisan: Jelas ditulis oleh Paulus ketika sedang berada di penjara (Fil 1:7, 13, 17 dst). Masalahnya, di penjara mana? Selama ini diduga bahwa Fil ditulis di Roma, saat Paulus dipenjarakan pada akhir hidupnya (Kis 28:16-30). Istilah “istana [Kaisar]” (1:13; 4:2) tampak mendukung pendapat ini. Namun kini pendapat ini tak diterima lagi. Ada beberapa alasan. Yang dimaksudkan dalam 1:13 adalah Praetorium berarti bagian istana gubernur Romawi tempat para pengawal atau tahanan berkumpul (lih. dalam kasus penahanan Yesus Mt 27:27; Yoh 18:28,33) dan 4:2 “rumah tangga Kaisar” berarti kelompok pegawai dan pelayan yang bekerja dalam istana kekaisaran Romawi; namun baik “pretorium” maupun “rumah tangga kaisar” bukan hanya terdapat di Roma saja, melainkan juga di kota-kota besar koloni-koloni kekaisaran Romawi. Selain itu ajaran Paulus dalam Fil dekat dengan ajaran dalam surat Paulus pada periode awal (Rom, 1Kor, 2Kor). Tampak ada kemudahan komunikasi antara tempat Fil ditulis dengan kota Filipi. Fil mengandaikan Paulus belum mengunjungi lagi kota Filipi setelah kunjungan pertama saat ia mendirikan jemaat kristiani di sana (lih. Kis 16:11-40) sekitar th. 50-51. Dalam Fil 1:26; 2:24 dikatakan Paulus ingin berkunjung lagi ke sana, padahal sebelum ia dipenjarakan di Roma Paulus sudah menganggap karyanya di Timur selesai dan ingin ke Barat (Roma, Spanyol; lih. Rom 15:23-38). Kini orang cenderung melihat kota Efesus sebagai tempat penulisan Fil; meski tak pernah ia berkata soal penjara di Efesus, tapi ia berkata berulangkali ia dipenjara (2Kor 11:23) dan khusus tentang Efesus, ia pernah “bergulat dengan binatang buas” (1Kor 15:3032; bdk. 2Kor 1:8-10). Diketahui dari peninggalan arkeologis bahwa di Efesus pernah ada “praetoriani” (pengawal-pengawal kekaisaran) dan keluarga pegawai kekaisaran yang disebut “keluarga Kaisar”. Filipi terletak tak jauh dari Efesus. Jadi diduga ditulis sekitar tahun 54-57. 3) Keutuhan surat: Polycarpus pernah bicara soal “surat-surat” Paulus pada umat di Filipi. Selain itu, berdasarkan nada penggalan argumen dan kalimat dalam 3:1a dan 1b dan 4:9 dan 10, diduga Fil terbentuk dari kumpulan minimal tiga surat. Umum diakui bahwa yang pertama-tama adalah surat A (4:10-20) yang berisi ucapan terima kasih atas bingkisan umat Filipi yang disampaikan ke Paulus lewat Epafroditus (4:18). Kemudian surat B (1:1 - 3:1a; 4:4-7, 21-23) sesudah surat A, Epafroditus jatuh sakit dan ingin pulang ke Filipi (2:25-26), sekaligus Paulus menanggapi masalah yang mereka hadapi. Lalu surat C diduga ditulis setelah ia lepas dari penjara, bernada keras, sampai memper”anjing”kan segala macam (3:2). 4) Kidung Kristologi: Yang umumnya dikenal dari Fil adalah Fil 2:6-11, suatu uraian kristologis tentang “kenosis” (pengosongan) Kristus dan “eksaltasi” (pemuliaan)Nya. Umum diakui bahwa kidung ini yang begitu puitis dikarang lepas dari surat Fil. Tentang apakah yang mengarang itu Paulus sendiri, ya masih diperdebatkan. Namun orang cenderung menduga bahwa Paulus mengambil alih kidung kristologis yang umum dinyanyikan jemaat kristen purba dalam liturgi mereka. Pada th. 110 CE, Pliny Muda (gubernur provinsi Romawi di Asia Kecil) menulis ke kaisar Trayanus sehubungan dengan suatu agama baru yang dicurigai sbb:

Martin/Paulus/hal. 25 “[orang-orang kristen] menegaskan ... bahwa mereka biasa berkumpul di hari tertentu sebelum hari menjadi terang, saat mereka menyanyikan secara berganti-ganti suatu kidung kepada Kristus, bagaikan kepada seorang Dewa” (Surat X.96). Ia menyimpulkan bahwa agama baru itu hanyalah tahyul belaka. Masalahnya, dalam liturgi jelas konteksnya adalah pujian kepada Yesus Kristus, tapi dalam surat Paulus? Seperti juga dalam kasus-kasus lain pada Paulus, uraian kristologis bukanlah demi mengajarkan siapa Yesus, melainkan agar orang menjadikan Dia sebagai teladan dalam hidup praktis. Lihat ayat sebelum kidung itu: “Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (2:5). Dan segera setelah kidung, Paulus berkata “Karena itu, kalian senantiasa taat, maka kini ....” (2:12). Dengan kata lain, seperti sudah kita lihat sebelumnya, ajaran tentang siapa Yesus itu diajukan untuk menyelesaikan suatu problem konkret kehidupan yang dihadapi umat. Manakah problem yang dihadapi umat Filipi? 5) Nada Dasar Fil: Pembaca pertama pun akan segera menemukan bahwa kata-kata berikut muncul berulang kali: sukacita, menderita, dan “sehati sejiwa”. Jadi ada kesedihan, perbantahan dan “sungut-sungut” (2:14) di antara umat Filipi. Mengapa? Siapakah pengacau-pengacau itu? Orang Yahudi? Orang Kristen Yahudi? Orang Romawi? 6) Latar belakang sosio-historis: Kota Filipi adalah kota koloni Romawi. Sebagian besar penduduknya adalah orang Romawi (para veteran perang, pedagang, dll) atau orang warganegara Romawi. Kelompok agama Yahudi dalam kekaisaran Romawi itu khas. Agama mereka diakui sebagai agama sah (religio licita). Mereka tak dituntut menyembah dewa-dewi Romawi maupun menyembah Kaisar sebagai Tuhan. Tapi mengapa orang Kristen non Yahudi tertarik sunat? Ada alasan teologis: dengan sunat mereka menjadi anggota Bangsa Allah, pewaris Janji-janji Allah. Secara sosiologis mereka termasuk agama Yahudi yang sah diakui oleh pemerintah Romawi. Masalahnya bukan sekedar soal identitas sosial, dalam arti masuk dalam kelompok Yahudi di Filipi (karena tampaknya tak ada jemaat Yahudi di Filipi, tak ditemukan sinagoga di Filipi), melainkan soal perlindungan sosial bagi orang kristen yang bukan termasuk kelompok agama “sah” (religio licita). Dalam situasi itu umat diingatkan oleh Paulus agar tak tertarik hal lahiriah, yaitu mau jadi Yahudi agar dapat perlindungan negara Romawi, melainkan ingat bahwa mereka adalah warganegara sorgawi (3:20). Ayat 1:27 “Hendaknya hidupmu berpadanan dengan Injil Kristus”; secara harafiah sebenarnya demikian: “Hiduplah sebagai warganegara Injil Kristus”. Maka kidung kristologi Fil 2:6-11 itu adalah kidung subversif: kontra kaisar, pro Kristus. Bukan kaisar yang disembah sebagai Tuhan, melainkan Yesus. 7) Masalah-masalah terkait: Teks dalam Konteks. Jelas dari uraian di atas bahwa masalah teologis/kristologis tak bisa dilepaskan dari suatu konteks kehidupan. Justru inilah yang ditunjukkan juga oleh Paulus. Paulus tidak mengajarkan teologi/kristologi demi teologi/kristologi itu sendiri, melainkan selalu dengan tujuan menyelesaikan problem-problem tertentu dalam jemaat. Sikap egoisme dalam jemaat di Kor diselesaikan dengan mengajak jemaat merenungkan apa arti Ekaristi yang mereka rayakan, bahwa mereka merayakan pemberian diri Yesus sendiri, karena itu umat didorong untuk bersikap seperti Yesus (1 Kor 11:17-34). Patut diingat bahwa surat-surat Paulus lahir dari situasi konkret jemaat dengan problem-problem tertentu.

Martin/Paulus/hal. 26 Maka eksegese mencoba sebisa mungkin sampai pada klarifikasi problem-problem jemaat itu, dan uraian Paulus ditempatkan pada tempat aslinya, yaitu sebagai upaya untuk menerangi situasi itu berdasarkan iman kepada Kristus. Maka usaha itu dicoba dengan Fil. Kidung kristologis Fil 2:6-11 memang paling terkenal dari Fil, namun dicoba didekati tidak langsung dari sudut kristologis, melainkan dari tujuan Paulus mengutarakan kidung itu. Dengan kata lain, Fil 2:6-11 tak bisa dilepaskan dari Fil 2:5 dan Fil 2:12, ayat-ayat yang mendahului dan mengikutinya, meski diakui oleh para ahli bahwa kidung itu berasal dari konteks di luar surat Fil, yaitu perayaan liturgi. Dalam konteks perayaan liturgi, tentu teks itu punya fungsi dan makna tersendiri, namun begitu teks itu diambilalih oleh Paulus dalam suratnya, teks itu memperoleh fungsi dan makna baru. Dan inilah yang mau diselidiki dalam eksegese: apakah maksud Paulus dengan teks itu? Perspektif hubungan pribadi Kristus -->Paulus-->Jemaat: Identifikasi. Dalam rangka itu tak boleh dilupakan bahwa uraian teologis/kristologis Paulus selalu ditempatkan oleh Paulus sendiri dalam kerangka peneladanan Kristus oleh Paulus, dan peneladan Paulus oleh jemaat (1 Kor 11:1). Apa dan siapa Yesus itu baru menjadi jalan keselamatan kalau bukan sekedar diketahui melainkan juga dilaksanakan oleh jemaat. Hal ini tampak sekali dalam Fil. Sejak awal surat Paulus sudah memberikan isyarat akan ini, misal dalam 1:8 ia mengatakan bahwa merindukan jemaat dengan “kasih mesra Kristus Yesus”, dan maksud kidung kristologis itu ialah agar mereka “menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus” (2:5), dan orang hendaknya jangan mencari kepentingan sendiri, melainkan “kepentingan Yesus Kristus” (2:21); ia berdoa agar hati dan pikiran orang dipelihara dalam Kristus Yesus (4:7). Maka jangan heran kalau Paulus mengatakan “ikutilah teladanku” (3:17). Masalahnya bagi Paulus bukanlah soal pengetahuan intelektual siapakah Kristus itu, seakan seperti dalam Gnostisisme, bahwa pengetahuan akan menyelamatkan, melainkan suatu pengenalan pribadi akan Kristus. Dalam konteks ini ia bisa berkata “bahwa pengenalan akan Kristus lebih mulia daripada semuanya” (3:8). Dan yang dituju oleh Paulus dengan pengenalan itu adalah “persekutuan dalam penderitaanNya” agar ia “menjadi serupa dengan Dia dalam kematian, supaya beroleh kebangkitan” (3:10), dengan kata lain, agar ia diubah menjadi “serupa dengan gambar-Nya” (2 Kor 3:18). Maka juga kalau kita mendapat kesan seakan Paulus itu moralistis, memberikan patokan-patokan moral, Paulus tidak tinggal pada level etika atau moralitas seperti umum pada filsuf Romawi jaman itu, yang banyak dipengaruhi oleh aliran Stoa. Juga bila Paulus menggunakan istilah-istilah Stoa, seperti “keutamaan” (Fil 4:8: kebajikan) atau “kecukupan diri” (Fil 4:11), ia selalu meletakkan itu dalam konteks peneladan pribadi Kristus, dengan tujuan identifikasi total antara jemaat dan Kristus. 8) Struktur Kristologis Fil 2:6-11: Kidung biasa dibagi dalam tiga bagian yang dianggap mencerminkan faham Kristologis, tiga tahap perjalanan hidup Yesus, Putera Allah, dari “atas” ke “bawah” lalu ke “atas” lagi: (1) Tahap Preeksistensi (Fil 2:6: “Meski dalam rupa Allah”) (2) Tahap Inkarnasi dan Wafat (Fil 2:7-8) (3) Tahap Kebangkitan dan Kenaikan ke surga (Fil 2:9-11) Preeksistensi berarti keadaan sebelum Pribadi Kedua Illahi itu “masuk” dalam rahim Maria dan lalu lahir sebagai Yesus dari Nazareth. Bisa saja inilah yang dinyanyikan dalam liturgi yang ditujukan untuk merayakan karya penyelamatan Bapa dalam diri Yesus Kristus dan semua ditujukan “demi kemuliaan Allah Bapa” (Fil 2:11).

Martin/Paulus/hal. 27 Namun karena kidung itu setelah diambil alih oleh Paulus diintegrasikan dalam suratnya dengan didahului seruan Paulus agar jemaat “rendah hati” menaruh pikiran dan perasaan Yesus (2:5) dan disusul dengan seruan untuk tetap “taat” (2:12) tanpa bersungutsungut, maka jelas makna dan fungsi kidung itu bukan sekedar kristologis lagi, melainkan punya makna pastoral dan berfungsi sebagai suatu ajakan moral. Bila tetap berpegang pada tiga tahap itu ya sulit bagi orang biasa meniru Yesus: bagian kedua dan ketiga bisa saja, tapi bagian pertama (pre-eksistensi setara dengan Allah) apa bisa ditiru? Maka orang kini mulai melihat ada dua bagian besar, lebih dipusatkan pada sikap dan tindakan Yesus: (1) Kenosis (penghampaan diri) Yesus: Fil 2:6-8 (2) Pemuliaan oleh Allah: Fil 2:9-11 Dengan demikian ajakan Paulus itu masuk akal, orang bisa diharapkan meneladan Yesus. Paulus tidak berkristologi demi membangun suatu sistem teologi. Setiap kristologi pada Paulus selalu bertujuan penghayatan hidup iman jemaat. “Dalam rupa Allah” ini tidak harus berarti “Yesus adalah Allah sendiri”, melainkan bisa mengacu pada Kej 5:1, bahwa manusia diciptakan dalam “rupa Allah” (lihat juga Yak 3:9; bdk. II Kor 4:4; atau Ef 4:24 “menurut kehendak Allah” bisa juga diterjemahkan “menurut rupa Allah”). Jadi di sini dimengerti bahwa Yesus dipertentangkan dengan Adam: Adam yang “gambar dan citra Allah” (Kej 1:26; 5:1) “menggapai / mencoba merebut” “kesetaraan dengan Allah (Kej 3:5 godaan ular “Kau akan menjadi seperti Allah”). Kontras antara Adam pertama dan Adam kedua merupakan tema Paulus (1 Kor 15:45; Rom 5:12-21). Adam pertama lewat ketidaktaatan mencoba merebut kesetaraan dengan Allah, dengan demikian membawa dosa dan kematian ke dunia; Adam kedua membalik proses ini, lewat ketaatan ia mengosongkan diri, melepaskan “kemanusiaan” (yang adalah rupa dan gambar Allah) dan menjadi bagai “cacing” (Mz 22:6), menjadi manusia yang paling rendah (“budak”), malahan budak terhina karena mati di salib. “Karena itulah Allah meninggikan dia ....” (Fil 2:9-11). 9) Perkembangan Kristologi: Karena sudah disinggung tentang preeksistensi Yesus, baik kalau kita lihat juga perkembangan Kristologi seperti bisa kita amati dalam Injil, Kis dan surat-surat Paulus. Tahap pertama adalah tahap saat gelar-gelar seperti “Anak Allah”, “Tuhan”, “Messias” diterapkan pada Yesus yang bangkit oleh komunitas kristiani setelah kebangkitan. Jadi seakan-akan Yesus baru diangkat/ditetapkan sebagai “Tuhan” pada saat kebangkitan. Ini misalnya bisa dilihat pada Kis 2:36; 5:30-31; 10:40-42, dan Rom 1:3-4. Tahap II ketika gelar-gelar kemuliaan Yesus yang bangkit itu diretroyeksikan (dilemparkan ke belakang, ke masa lalu) ke hidupnya di muka umum sebelum wafatNya (saat pembaptisan lih. Mk 1:11) dan bahkan ke saat kelahiran dan masa kanak-kanaknya (Mt dan Lk). Tahap III saat penerapan gelar-gelar Kristologis pada Yesus sebelum Ia dikandung dan dilahirkan (mis. Yoh 1:1). Sebetulnya sulit menentukan gelar mana termasuk tahap mana. Juga jangan dipikir itu proses yang unilinear/monolinear, melainkan mungkin saja tumbuh bersama-sama. Dalam arti ini kita hendaknya mendekati surat-surat Paulus pada tahap eksegese ini lepas dari perdebatan tentang Trinitas yang menghasilkan dogma-dogma Trinitas pada mis. Konsili Nikea I (th. 325) dan Konsili Kalsedon (th. 451). Mungkin timbul pertanyaan mengapa Paulus sebagai orang Yahudi tak terhambat oleh monoteisme untuk menerima Yesus sebagai “Tuhan”? Tampaknya ia sama sekali tak mengalami kesulitan, dan ia tak membahas juga masalah-masalah yang kemudian diperdebatkan dalam konsili-konsili. Bagi Paulus jelas bahwa gelar “Tuhan” itu diberikan oleh Allah Bapa kepada Yesus (Fil 2:9): nama yang di atas segala nama adalah gelar “Tuhan” itu, dan semua itu demi kemuliaan Allah Bapa (2:11), Dia yang adalah “Satu Allah, Bapa, dari siapa dan kepada siapa kita semua ada” (1 Kor 8:6; I Kor 15:28; Rom 6:10-11).

Martin/Paulus/hal. 28 Coba baca: Mikael Tellbe, “Sociological Factors Behind Philippians 3.1-11 and the Conflict at Philippi”, JSNT 55 (1994) 97-121; S.B. Marrow, Paul: His Letters and His Theology (Mahwah, NJ: Paulist Press, 1986), bab 8: “Philippi”. 10) Pembagian Surat: Kristus dalam 4 Aspek: (Ray C. Stedman) * Bab 1: Yesus adalah Hidup kita: Ayat kunci bagi bab ini adalah "Hidup bagiku adalah Kristus, dan mati adalah keuntungan" (Fil 1:21). Paulus sedang ditahan dalam penjara. Kematian mengancam dia. Dia malah berkata, "Mati adalah keuntungan". Apakah dia sudah bosan hidup? Bukan demikian. Bagi Paulus hidup berarti mengalami Kristus. Kristus telah wafat untuk kita agar Ia dapat hidup di dalam kita. Ia mengalami bahwa Tuhan hidup dan berkarya di dalam dia. Hidup bagi Paulus berarti "bekerja memberi buah" (Fil 2:22). Bahkan semasa dalam penjara pun ia tetap mewartakan Injil sehingga para prajurit Romawi dibawa pada Kristus (bdk Fil 1:13; 4:22). Maka meskipun ia merindukan tinggal bersama Kristus di sorga, tapi ia memilih tinggal di dunia untuk bekerja demi keselamatan banyak orang. * Bab 2: Yesus adalah Teladan kita: Ayat kunci adalah "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Fil 2:5) Ada perpecahan di antara jemaat Filipi. Paulus menasehati bahwa karena Kristus hidup dalam diri kita, maka hendaknya kita memiliki pikiran dan perasaan Kristus pula. Pertikaian kerap disebabkan oleh karena masingmasing mementingkan haknya masing-masing; karena itu Paulus menunjuk pada Kristus sebagai teladan: Ia rela mengosongkan diri-Nya dari segala hak/kuasa-Nya dan mengalami nasib sebagai manusia hina yang wafat di salib. Dan akibatnya malah Allah meninggikan Dia mengatasi segala sesuatu. Paulus menyebutkan dua contoh orang, yakni Timoteus (Fil 2:2022) dan Epafroditus (Fil 2:29-30), yang menghayati pikiran dan perasaan seperti Kristus sendiri. *Bab 3: Yesus adalah Andalan kita: Ayat kunci adalah "Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya..." (Fil 3:10). Andalan memberikan suatu motivasi dan keyakinan pada kita untuk melakukan sesuatu. Paulus menyebutkan hal-hal yang menjadi andalannya sebelum mengenal Yesus, yaitu hal-hal lahiriah seperti ras Yahudi, agama Yahudi, ketaatan pada Taurat dll. Singkatnya, yang menjadi andalan adalah usaha diri sendiri untuk menyempurnakan diri. Setelah mengenal Kristus, Paulus menganggap itu semua sampah. Mereka yang mengandalkan hal-hal lahiriah akan berakhir pada kehancuran (Fil 3:19), sedangkan jemaat diharapkan hanya mengandalkan Kristus dan mengarahkan pandangan ke sorga. Kristus menjadi motivator kita. *Bab 4: Yesus adalah Kekuatan kita: Ayat kunci adalah "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku" (Fil 4:13). Selain menjadi motivator dan andalan kita, Kristus adalah kekuatan kita. Kristus bukan hanya memotivasi kita untuk melakukan hal yang tepat, melainkan juga memberikan kekuatan untuk melaksanakan hal itu. Ia membuat kita menginginkan sesuatu dan memungkinkan kita mencapai hal itu. Di Filipi ada dua wanita yang bersengketa, Euodia dan Sintikhe. Pertikaian hanya bisa diselesaikan bila mereka sehati sepikir dalam Kristus (Fil 4:2). Untuk menghadapi segala kecemasan, kekuatiran, dan ketakutan, yang muncul karena kesulitan hidup atau kemiskinan, Paulus mengajak jemaat menimba kekuatan dari Kristus. Allah sendiri akan mencukupi mereka dalam Kristus (Fil 4:19), seperti Paulus sendiri yang tetap kuat dalam mengalami segala macam penderitaan dan kemiskinan (Fil 4:11-12).

Martin/Paulus/hal. 29 SURAT PERTAMA KEPADA UMAT DI KORINTUS: 1) Orisinalitas: Tak ada keraguan bahwa surat ini memang dari Paulus. 2) Tempat dan waktu penulisan: Paulus sendiri mengatakan bahwa ia menulis 1 Kor dari Efesus pada musim semi (1 Kor 16:8). Waktu penulisan biasa diduga berkisar dari th. 52-57 CE, tapi kebanyakan ahli memilih th. 56/57. Jadi pada perjalanan Paulus yang ketiga; jemaat di Korintus didirikannya pada perjalanan yang kedua (th. 50-52). 3) Keutuhan teks dan struktur: Para ahli sering bicara tentang konstruksi 1 Kor yang lepas-lepas dengan penggalan dan penggabungan yang tak menentu. Untuk menerangkan inkonsistensi itu diajukan dugaan bahwa Paulus menulis 1 Kor tidak sekaligus jadi melainkan dalam kurun waktu tertentu (ditulis, ditinggal, ditulis lagi dst). 1 Kor karenanya dianggap surat praktis, yang menjawab problem-problem konkret jemaat dan bukan traktat teologi yang sistematis, meskipun prinsip-prinsip teologi yang mendasari nasehat praktis itu dapat dilihat dengan mudah. Namun mengingat problem-problem mendesak jemaat, apakah wajar kalau Paulus menunggu-nunggu sebelum mengirimkan surat itu? Tampaknya sebelum ini Paulus pernah menulis kepada mereka, agar mereka tak bergaul dengan orang cabul (1 Kor 5:9). Tak jelas apakah surat ini hilang ataukah digabungkan dengan teks 1 Kor (ada pendapat bahwa 1 Kor 6:1-11 atau 6:12-20 merupakan surat itu). Surat itu rupanya menimbulkan salah pengertian, dan hendak diselesaikan dengan surat 1 Kor ini. Mereka juga pernah menulis kepada Paulus (1 Kor 7:1) dan dalam surat 1 Kor ini Paulus menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka (1 Kor 7:25; 8:1; 12:1). Berdasarkan ini dilihat ada dua pembagian dasar tanpa ada keteraturan dalam isinya: 1. Tentang hal-hal yang ditanyakan secara lisan (bab 1-6) 2. Tentang hal-hal yang ditanyakan secara tertulis (bab 7-16) Meskipun demikian, ada juga yang mengajukan bahwa 1 Kor merupakan karangan yang punya koherensi internal tertentu dan ada ketepatan juga dalam penempatan isi, jadi bukan surat lepas-lepas (lihat K.E. Bailey, “The Structure of I Corinthians and Paul’s Theological Method with Special Reference to 4:7”, Novum Testamentum 25 (1983) 152181), yaitu terdiri atas 5 essei dengan bagian-bagian yang membentuk struktur pararel konsentris terbalik, mis. A B C B’ A’ (A) I. Salib (1:5 - 4:16) (B) II. Pria dan Wanita dalam Keluarga (sex) (4:17 - 7:40) (C) III. Makanan Persembahan (Kristen dan Kafir) (8:1 - 11:1) (B’) IV. Pria dan Wanita dalam Ibadat (cinta) (11:2 - 14:40) (A’) V. Kebangkitan (15) Dari struktur konsentris itu tampaklah betapa pusat keprihatinan 1 Kor adalah masalah hidup jemaat kristen dengan orang-orang kafir (point III). Hal ini tentu berhubungan dengan situasi kota Korintus. Terlalu berlebihan bila Korintus dikatakan “kota maksiat” paling besar; kiranya ya sama maksiatnya seperti kota-kota pelabuhan di dunia Romawi-Yunani jaman itu. Di kota itu hidup masyarakat amat majemuk dalam hal keagamaan: ada kuil penyembahan kaisar, kuil dewa/i Mesir, kuil dewa/i Yunani, selain ada juga sinagoga Yahudi. Dalam

Martin/Paulus/hal. 30 suasana immoralitas masyarakat Korintus, jemaat Kristen ditantang untuk hidup. Apa yang harus mereka perbuat? Itulah yang ingin dijawab Paulus dalam 1 Kor. Kelima gagasan dasar itu sebenarnya sudah diumumkan oleh Paulus dalam bagian pengantar yang berupa ucapan syukur (1:4-9), coba diselikidi sendiri! Menurut Bailey, setiap essei disusun dalam bentuk yang sama, yaitu: 1. Tradisi (mengingat / mengenangkan; yang diajarkan, diteruskan) 2. Problem Etis/Praktis (aspek-aspek negatif) 3. Pernyataan Teologis Umum (dasar bagi solusi problem) 4. Problem Etis/Praktis (aspek-aspek positif) 5. Ajakan (“tirulah aku”, “karena itu ...”) (a) Misalnya dalam Essei I (ttg. Salib: 1:5-4:16), bisa dilihat sbb: 1. Tradisi: “sesuai dengan Kesaksian tentang Kristus” (1:6) 2. Problem (-): keterpecahan umat (Paulus, Apollos, Kefas: 1:10-16) 3. Pernyataan teologis umum: Kami wartakan: Yesus tersalib, bukan hikmat manusia (1:17-2:5) Kami wartakan: hikmat tersembunyi Allah (2:6-16) 4. Problem (+): masing-masing rasul berfungsi: pelayan (3:4-5) 5. Ajakan: “Kudesak kalian, tirulah aku!” (4:16) Jemaat bersikap terhadap rasul/pemimpin seturut kehebatan rasul itu (mungkin dalam hal kotbah, retorika, kelihaian berdebat dll). Paulus mengajak umat melihat siapakah yang diwartakan: yaitu Kristus yang tersalib. Karena itu Injil adalah kekuatan Allah dan bukan soal hikmat manusia, merupakan sandungan dan skandal. Para rasul hanyalah pelayanpelayan Injil itu, bukan majikan. (b) Essei II (ttg. Seksualitas: 4:17 - 7:40) 1. Tradisi: “mengingatkan akan hidup yang kuturuti dalam Kristus” (4:17) 2. Problem (-): Incest, homoseksualitas, immoralitas lain (5 - 6:11a) 3. Pernyataan teologis: Teologi seksualitas (tak identik makan/minum: 6:11-14) Teologi seksualitas (bersatu dengan Tuhan: 6:14-20) 4. Problem (+): pola seksualitas kristen (7) 5. Ajakan: “aku juga punya Roh Allah” (7:40; bdk. 7:7,8,10,12,24,25) Ajakan pada 7:40 tidak bernada “tirulah aku”; tapi kalimat itu amat bermakna dalam perdebatan dengan seksualitas. Ingin ditekankan bahwa manusia bukanlah hanya tubuh jasmani belaka, karena itu masalah seks tidak identik dengan masalah makan/minum: manusia memiliki Roh Allah, tubuhnya adalah Bait Roh Kudus (1 Kor 6:19). Ajakan akhir mengingatkan realitas itu, nasehat langsung (pola “tirulah aku”) sudah tersebar pada bab 7:7, 8, 10, 12, 24, 25.

Martin/Paulus/hal. 31 (c) Essei III (ttg. orang kristen dan kafir: 8 - 11:1) 1. Tradisi: “satu Allah, Bapa, satu Tuhan, Yesus Kristus” (8:6) 2. Problem (-): makanan persembahan berhala (8) 3. Pernyataan teologis: Teologi Missi: “bebas/hamba semua orang” (identifikasi) (9) Teologi Missi: sakramen dan etika (non-identifikasi) (10:1-22) 4. Problem (+): semua boleh, tapi tak semua berguna (10:23-33) 5. Ajakan: “jadilah peneladanku” (11:1) Masalah makanan persembahan berhala hanyalah satu ungkapan saja. Lewat hal ini Paulus masuk dalam masalah inti yang menjadi keprihatinan pokok Paulus sehubungan dengan jemaat di Korintus: bagaimanakah seharusnya sikap orang kristen hidup di tengah orang kafir? Ada dua solusi: identifikasi dan non-identifikasi dengan mereka. (d) Essei IV (ttg. ibadat: 11:2-14) 1. Tradisi: “mengingat, teguh memegang yang kuajarkan” (11:2, lih. 11:23) 2. Problem: tudung kepala wanita & kemabukan (11) 3. Pernyataan teologis: Anugerah Rohani (12) Cinta (13) Anugerah Rohani (14:1-25) 2. Problem: semua mau bicara & wanita memotong pembicara (14:26-36) 5. Ajakan: “Yang kutulis adalah perintah Tuhan, karena itu ...” (14:37-40). Ini pararel dengan Essei II (soal seks). Inti Essei ini adalah Kidung Kasih (bab 13). Dari hal-hal yang tampak remeh, Paulus masuk dalam inti hidup kristen secara pribadi maupun secara gerejani (jemaat kristen adalah tubuh Kristus, bab 12). (e) Essei V (ttg. kebangkitan: 15) 1. Tradisi: ajakan mengingat (15:1-2), credo (15:3-11) 2. Problem: ada yang bilang “tak ada kebangkitan” (15:12-20) 3. Pernyataan teologis: Adam dan Kristus (15:21-28): rencana Allah untuk semua Kesaksian pribadi (15:29-34) Adam dan Kristus (15:35-50): hakekat tubuh rohani 4. Problem: misteri kebangkitan (15:51-57) 5. Ajakan: “karena itu, .... berdirilah teguh!” (15:58) Ini pararel dengan Essei I (soal salib). Maka Paulus tak berhenti pada salib (kematian) melainkan pada kebangkitan, tanpa ini salib tak berarti apa-apa dan sia-sialah iman kita. Masalah "selibat", "kawin", "perempuan": Paulus menganjurkan orang lain agar hidup selibat seperti dia. Hanya daripada orang "hangus" karena nafsu, maka ia menganjurkan orang kawin saja. Dari sini bisa timbul kesan ia menganggap rendah perkawinan. Tapi dari 1 Kor 7:7, harus dipahami bahwa baik "selibat" dan "perkawinan" merupakan karunia. Konteks anjuran selibat Paulus adalah akhir zaman

Martin/Paulus/hal. 32 yang sudah di ambang pintu, suatu zaman darurat (1 Kor 7:26), dan bukan karena selibat dipandang lebih luhur daripada perkawinan. Dalam 1 Kor 14:35 dikatakan bahwa "tak sopan bagi perempuan bicara dalam pertemuan Jemaat". Jelas, dari 1 Kor 11:5 kelihatan bahwa perempuan boleh saja berdoa dan bernubuat dalam pertemuan Jemaat. Maka ada tafsiran bahwa "berbicara" di situ diartikan sebagai "ngrumpi", "tanya satu sama lain", karena ada yang tak jelas dalam pertemuan (perempuan dipisahkan dari kaum pria dalam ibadat, pengaruh sinagoge Yahudi), maka mereka disuruh tanya saja kepada suami di rumah. Tapi ada juga tafsiran lain: Paulus mengutip pendapat umum di Jemaat bahwa perempuan tak boleh bicara. Tapi lalu setelah itu, dalam ayat berikut (1 Kor 14:36) ia membantah pendapat umum itu dengan menegur kaum pria: "adakah firman Allah mulai dari kamu?" dan "hanya kepada kamu sajakah firman itu telah datang?". Implikasinya: kepada wanita juga disampaikan firman Allah, dan karena itu mereka berhak pula bicara. Jelas dari Gal 3:28 Paulus menganut kesetaraan pria dan wanita, meski sebagai orang Yahudi ia masih terikat oleh adat-istiadat dan tradisi tafsir Yahudi atas kisah Penciptaan: wanita berasal dari pria (1 Kor 11:8). Namun sebagai pengikut Kristus ia sadar bahwa dalam Dia orang tak boleh menganggap yang satu lebih tinggi dari yang lain (1 Kor 11:11).

Martin/Paulus/hal. 33 SURAT KEDUA KEPADA UMAT DI KORINTUS

1. Orisinalitas: Tak ada keraguan bahwa surat ini memang berasal dari Paulus. Berisi banyak pengalaman pribadi lebih daripada surat-surat yang lain 3. Waktu dan tempat penulisan: Bila 1 Kor ditulis dari Efesus pada musim semi (1 Kor 16:8), sekitar th. 56/57, maka 2 Kor tampaknya ditulis pada akhir musim dingin di tahun yang sama dari Makedonia (entah Filipi atau Tesalonika; 2 Kor 2:13; 7:5). 3) Latarbelakang Surat: Setelah menulis 1 Kor, Paulus mendengar bahwa suratnya itu gagal mengubah jemaat. Keadaan menjadi lebih parah karena kedatangan beberapa orang yang mengaku rasul dan menentang otoritas Paulus sehingga jemaat terbawa menentang Paulus serta ajarannya dan tetap menekankan Taurat dan sunat (2 kor 11:4; 12:11). Dari Efesus Paulus mengadakan kunjungan singkat ke Korintus (12:14; 13:1). Kunjungan tidak berhasil mengubah jemaat dan Paulus menurut surat "penuh air mata" (2:4) yang dikirimkan lewat Titus (12:18; mungkin digabungkan dalam 2 Kor 10-13?). Terpaksa meninggalkan Efesus karena huru-hara (Kis 19:23-40), Paulus menuju Makedonia lewat Troas untuk menemui Titus (2:12-13). Titus melaporkan bahwa surat itu punya dampak positif (7:5-16). Laporan akan perbaikan situasi jemaat Korintus itulah yang membuat Paulus menulis 2 Kor. 4) Keutuhan teks dan struktur: Ada dugaan bahwa 2 Kor merupakan penggabungan beberapa surat Paulus, tetapi sulit sekali mengidentifikasikan hal itu karena tampak adanya suatu kesatuan yang utuh. Struktur surat berhubungan erat dengan kedatangan ketiga Paulus ke Korintus. Ada tiga bagian utama (2 Kor 1-7; 8-9; 10-13) dengan perincian sbb. menurut NIV Study Bible: * Apologetik: Menjelaskan alasan perubahan dalam perjalanan Paulus (1-7) * Hortatorik: Menyemangati umat untuk melengkapi persembahan mereka (8-9) * Polemik: Memastikan kedatangan Paulus dan otentisitas rasulinya (10-13).

Apologetik: Penjelasan sikap Paulus dan Pelayanan kerasulannya (bab 1–7) o Salam (1:1–2) o Syukur atas hiburan ilahi dalam penindasan (1:3–11) o Integritas alasan dan sikap Paulus (1:12—2:4) o Memaafkan pihak yang bersalah di Korintus (2:5–11) o Bimbingan Tuhan dalam pelayanan (2:12–17) o Umat Korintus: Surat dari Kristus (3:1–11) o Memandang kemuliaan Allah (3:12—4:6) o Harta dalam bejana tanah liat (4:7–16a) o Kematian dan maknanya (4:16b—5:10) o Pelayanan Pendamaian (5:11—6:10) o Bapa rohani memohon pada anak-anaknya (6:11—7:4) o Pertemuan dengan Titus (7:5–16) Hortatorik: Persembahan bagi umat Kristen Yerusalem (bab 8–9) o Menganjurkan bersikap murah hati (8:1–15) o Titus dan Teman-teman diutus ke Korintus (8:16—9:5) o Buah memberi dengan murah hati (9:6–15) Polemik: Paulus membela otoritasnya sebagai rasul (bab 10–13) o Pembelaan Paulus akan otoritasnya sebagai rasul dan wilayahnya (bab 10) o Paulus berbangga (bab 11–12) o Peringatan terakhir (13:1–10) o Penutup, Salam dan Berkat (13:11–14)

Martin/Paulus/hal. 34

SURAT KEPADA UMAT DI GALATIA 1) Orisinalitas: Tak ada keraguan bahwa surat ini memang dari Paulus. 2) Tempat dan waktu penulisan: Dari Gal 4:13 (“Kamu tahu, bahwa aku pertama kali telah memberitakan Injil kepadamu ....”) dapat diduga bahwa Gal ditulis setelah paling tidak ada kunjungan kedua Paulus ke sana (Kis 18:23) pada Perjalanan Misinya yang ketiga. Pada umumnya ada kesepakatan bahwa ditulis di Efesus begitu ia sampai di sana pada Perjalanannya yang ketiga (th. 54). Peta perjalanan dilihat bersama-sama. Perjalanan selalu dimulai dari Antiokhia. Perjalanan I (th. 46-49) disusul dengan kunjungan ke Yerusalem (Konsili; Kis 15). Perjalanan II (th. 50-52), a.l. tinggal di Korintus 18 bulan (th. 51, jaman pemerintahan Galio gubernur di Achaia, Kis 18:12) tempat ia menulis 1 Tes. Perjalanan III (th. 54-58): a.l. tinggal di Efesus selama 2-3 tahun, tempat ia menulis Gal (th. 54), Fil (56-57), Flm (56-57), 1 Kor (57), ke Makedonia (menulis 2 Kor, thn. 57) dan ke Achaia tiga bulan (surat Rom, awal 58). Dipersoalkan apakah yang dimaksud dengan “Galatia”: Provinsi Romawi Galatia yang meliputi juga daerah di selatan (Likaonia, Pisidia, Frigia) selain daerah Galatia itu sendiri yang terletak di sebelah utara, ataukah daerah Galatia itu sendiri yang didiami oleh suku Galatia (berasal dari Gallia, Perancis). Kini umumnya dianut pendapat bahwa yang dimaksud adalah daerah Galatia itu sendiri (di utara); Paulus tak akan omong “Hai orangorang Galatia yang bodoh” (3:1) kalau memaksudkan provinsi Romawi (yang berpenduduk macam-macam). Orang menduga-duga kapan Paulus ke sana untuk pertama kalinya; diduga, terjadi ketika ia bepergian ke daerah Siria dan Kilika tiga tahun sesudah pertobatannya (Gal 1:21). Tampaknya ia hanya singgah kebetulan saja karena sakit (4:13). Soal sakit apa memang tak jelas, meski ada yang menduga sakit mata (4:15 dan 6:11): “mencungkil mata” bisa saja hanya ungkapan idiom yang artinya sedia mengurbankan milik yang paling berharga; “huruf-huruf besar” bisa saja memang tulisan Paulus begitu dan bukan karena mata Paulus sakit. 3) Keutuhan teks dan struktur: Berbeda dengan Filipi, Gal menimbulkan kesan bahwa merupakan satu kesatuan surat dan bukan gabungan beberapa surat. Umum dikenal bahwa Paulus di sini menggunakan teknik retorika Yunani-Romawi yang disebut “deliberatio”, yang ditujukan untuk menggalang dukungan pembaca dan karena itu membuat mereka menerima sudut pandang penulis. Pusat argumentasi adalah pembelaan terhadap Injil Paulus. Surat ini amat emosional, karenanya sering dianggap sebagai “apologia diri” Paulus sendiri. Struktur Gal seturut retorika Yunani-Romawi adalah sbb.: -Praescriptio (Salam Pembuka Surat) (1:1-5) -Exordium (Pengantar) (1:6-10) -Narratio (pernyataan tentang fakta: 3) (1:11 - 2:14) -Propositio/Divisio (Injil Paulus) (2:15-21) -Probatio (confirmatio/bukti: 6) (3:1 - 4:31) (3:1-5/6-26/27-29/4:1-11/12-20/21-31) -Exhortatio (seruan: bebas, roh, cara tepat) (5:1 -6-10) -Postscriptio (kesimpulan, salam penutup) (6:11-18)

Martin/Paulus/hal. 35 4) Nada Dasar: Terasa nada emosional Paulus sudah pada awal. Ia tak mulai dengan ucapan syukur tapi dengan teguran “Aku heran, ...” (1:6). Sampai dua kali pada bagian pengantar (exordium) Paulus berkata “Terkutuklah dia” (1:8, 9). Pada awal “probatio” ia berseru “Hai orang-orang Galatia yang bodoh, ....” (3:1). Keseluruhan surat bernada polemik dan penuh dengan kecaman pada lawan-lawannya yang mengacau jemaat di Galatia “barangsiapa yang mengacaukan kamu, ia akan menanggung hukumannya, siapa pun juga dia” (5:10), “Baiklah mereka yang menghasut kamu itu mengebirikan saja dirinya!” (5:12). Namun kelembutan dan kehangatan Paulus tetap terasa, ia menyebut jemaat “Hai anak-anakku”(4:19) dan “saudara-saudara” (4:12; 5:13; 6:18). Bahkan tampak cinta keibuannya ketika menggambarkan bagaimana ia “sakit bersalin” demi melahirkan mereka dalam Kristus (4:19; bdk. 1 Tes 2:7; 1 Kor 3:2). 5) Latarbelakang sosio-historis: Kembali masalah sunat menjadi pokok pertikaian. Ada sekelompok orang yang “mengacaukan” jemaat (1:7) dan “menghasut” mereka (5:12) sehingga mereka berbalik dari apa yang diajarkan oleh Paulus. Kemungkinan besar dengan tuduhan bahwa apa yang diajarkan Paulus itu bukan berasal dari Allah karena ia tak pernah menjadi rasul Yesus. Atau bahwa ia mengurangi tuntutan Taurat untuk “mencari muka”, memikat, orang-orang non Yahudi. Karena itu Paulus membela diri dengan mengatakan bahwa yang diajarkannya itu tidak diterima dari manusia, melainkan dari pewahyuan Yesus sendiri (1:12). Yang diberitakannya itu pernah dibentangkan pada sokoguru jemaat kristen di Yerusalem (2:2) dan mereka mengakui (bukan mengesahkan!) perutusan Paulus kepada orang tidak bersunat (2:9). Ia tak ingin menyukakan manusia, tapi Allah (1:10; bdk. 1 Tes 2:4; 2 Kor 5:11). Siapakah para pengacau dan penghasut yang disebutkan di 1:7 dan 5:12 itu? Gal 2:4 bicara tentang “saudara-saudara palsu” yang menyusup di Yerusalem; sedangkan 2:12 tentang “orang dari kalangan Yakobus” di Antiokhia yang membuat Petrus dll. bersikap munafik. Apakah mereka menunjuk pada kelompok orang yang sama? Tampaknya tidak. Para saudara palsu di Yerusalem disebut dalam Kis 15:5 sebagai “orang yang telah percaya dari golongan Farisi”; mereka mempermasalahkan sunat. Sedangkan “kalangan Yakobus” di Antiokhia mempersoalkan soal makanan. Dengan dua kelompok ini kiranya sudah ada kesepakatan di Yerusalem (Kis 15). Ada dugaan keras bahwa para pengacau di Galatia itu merupakan kelompok orang kristen berkebangsaan Yahudi dari latarbelakang Gnostik (ada juga yang menduga sekte Esseni), yang lebih fanatik Yahudi daripada Yakobus, Petrus, Paulus dan kaum Farisi. Bukan seluruh hukum Musa yang dituntut melainkan hanya sunat dan perayaan pesta-pesta Yahudi (4:10; bdk. 5:3: sindiran kepada mereka, kalau berpegang pada sunat, maka seluruh Taurat harus ditaati). Namun pendapat para ahli semula bahwa di satu pihak Paulus menghadapi segolongan orang fanatik Yahudi (legalistis) dan di lain pihak segolongan orang yang semaunya dalam etika (libertines) tidak banyak dianut lagi. Kini para ahli lebih berpendapat bahwa hanya ada satu golongan musuh: menekankan sunat (entah dengan maksud apa) dan perayaan pesta liturgi tapi hidup seenaknya dalam moral, jadi kelompok orang yang punya keagamaan sinkretis (Yahudi, Kristen, Gnostik, dll.) (roh-roh dunia: 4:3, 9). Sekali lagi perlu dipahami bahwa masalahnya bukanlah pertentangan antara orang Yahudi dan orang Kristen, tapi pertentangan intern umat Kristen, yaitu antara sekelompok orang Kristen Yahudi (tidak semua) yang menuntut sunat dan orang Kristen (Yahudi dan non Yahudi) yang sehaluan dengan Paulus soal tidakperlunya sunat bagi orang non-Yahudi. Jemaat Galatia yang dituju oleh surat Paulus adalah orang-orang non Yahudi (lih. 4:3, 8, 9).

Martin/Paulus/hal. 36 Masalahnya juga bukan pertentangan teologis antara faham keselamatan lewat perbuatan dengan keselamatan lewat iman (seperti pertentangan Protestan dan Katolik pada Reformasi), seperti kerap diduga, melainkan antara mereka yang berpendapat bahwa iman kepada Kristus cukup untuk keselamatan (Paulus dkk) dan mereka yang berpendapat bahwa selain iman kepada Kristus masih perlu juga berpegang kepada pekerjaan hukum Taurat (para penghasut itu) agar bisa selamat. Jadi yang dipertentangkan bukanlah “perbuatan” dengan “iman”, melainkan “Taurat” (hidup secara Yahudi: 2:14) dengan “Yesus” (2:16). Paulus mengandaikan bahwa sunat menarik mereka karena ada keinginan untuk bebas dari penganiayaan sebagai orang Kristen (5:11; 6:12). Namun ada dugaan bahwa informasi yang ia peroleh tentang lawan-lawannya itu minim sekali, hingga ia juga hanya dapat menduga-duga saja. Ia bingung menghadapi mereka yang tampak legalist tapi sekaligus juga libertines; maka ia “telah habis akal” (4:20). 6) Injil Paulus: Gal 2:15-21: (M.G. Victorino, A Key to the Letter to the Galatians) Ini merupakan bagian inti. Propositio berarti hal yang jadi kesepakatan bersama. Dapat dibagi sbb.: tesis (15-16), sanggahan (17), argumen (18), pendalaman (19-20) dan kesimpulan (21). Perhatian diberikan pada beberapa istilah: (a) “bangsa-bangsa lain, orang berdosa”: orang Yahudi berpendapat bahwa merekalah satu-satunya bangsa kudus (Im 19:2), yang lain orang berdosa. (b) “menurut kelahiran ..... kamu tahu”: dipertentangkan dua keadaan: “berdasarkan kelahiran” dan “berdasarkan pengetahuan (iman)”. (c) “iman (dalam) Kristus”: Kristus bisa sebagai subyek: iman milik Kristus, ketaatanNya pada Bapa sampai mati (Fil 2:6-11). Sebagaimana orang Yahudi diselamatkan karena “iman Abraham”, begitu juga kita diselamatkan karena “iman Kristus”. Dengan Abraham diberikan janji, sedangkan dengan Kristus ada pemenuhan janji; Taurat hanya semacam “baby-sitter” sebelum Kristus datang (3:24). Lihat kesejajaran antara “sampai Kristus datang” (3:24) dan “kini iman itu telah datang” (3:25): jadi iman Kristus. Kita dibenarkan (=diselamatkan) karena partisipasi kita dalam iman milik Kristus itu. (d) “Kristus agen dosa?”: Tuduhan thd. Paulus dkk: tanpa Taurat (hanya dengan iman Kristus) mereka orang berdosa; ini tak masuk akal. Ditambah lagi dengan ayat 18: membangun kembali yang dirombak, yaitu taat lagi pada Taurat. (e) “mati oleh Taurat” artinya mati (kematian Yesus) karena dihukum oleh Taurat dan “mati untuk Taurat” artinya Taurat tak punya kuasa lagi atas aku. (f) “Kristus dalam aku”: Kristus sbg. asal dan tujuan hidup; partisipasi dalam “iman Anak Allah” (2:20), “milik Kristus” (5:24), menurut “hukum Kristus” (6:2). Tesis Paulus adalah: orang diselamatkan bukan karena melakukan hukum Taurat, melainkan karena iman dalam Yesus (2:16). Paulus mempertentangkan Taurat dan Kristus, melakukan Taurat dan iman pada Kristus, sunat dan salib Kristus. Selain itu, lewat perbandingan salam pembuka (1:1-5) dan penutup (6:11-18), tampak ada pertentangan lain yang lebih mendasar yaitu antara tindakan Allah dan tindakan manusia, antara ciptaan baru dan dunia. Dengan kedatangan Kristus maka ada ciptaan baru: orang dilepaskan dari dunia yang jahat ini dan hidup dalam Kristus. Paulus prihatin bahwa meskipun orang sudah hidup dalam Kristus, masih saja kembali ke dunia yang lama: orang kristen Yahudi kembali ke Taurat dan orang kristen non-Yahudi kembali ke tahyul dan roh-roh dunia (4:1-8).

Martin/Paulus/hal. 37 7. Enam Pembuktian (Gal 3:1 - 4:31) 1) Argumen berdasarkan pengalaman (3:1-5): Paulus menunjuk pengalaman umat Galatia akan kehadiran Roh Kudus dalam hidup mereka berupa pengudusan dan mukjizat; ia lalu bertanya: "Ini diperoleh karena Taurat ataukah karena iman akan Yesus?" 2) Argumen berdasarkan Kitab Suci (3:6-14): Paulus menunjuk pada Abraham (Kejadian): ia dibenarkan Tuhan bukan karena Taurat tapi karena iman; orang menjadi anakanak rohani Abraham bukan karena sunat, tapi karena iman. 3) Argumen berdasarkan Logika (3:15-29): Janji Allah (kepada Abraham) tetap berlaku sampai terpenuhi (dalam diri Kristus); pemberian Taurat lewat Musa tidak membatalkan janji itu. Taurat berfungsi sebagai penuntun ("baby sitter") sampai Yesus datang (3:24). 4) Ilustrasi dari hidup keluarga (4:1-11): Ahli waris yang belum akil balig berada di bawah perwalian sampai saat yang ditentukan, tak ubahnya seperti hamba. Manusia hidup sebagai hamba (di bawah perwalian Taurat) sampai Yesus datang menjadikan mereka anak/ahli waris. 5) Ilustrasi dari sejarah (4:12-20): Paulus menunjuk bagaimana umat Galatia dahulu mengasihi dia karena mereka menyambut Injil Paulus dan berbahagia karena itu. Sekarang mereka kehilangan kebahagiaan mereka karena mereka lebih percaya pada para penghasut. 6) Ilustrasi dari Kitab Suci (4:21-31): Paulus menunjuk pada kisah Ishak yang lahir dari Sara, wanita merdeka/istri Abraham, dan Ismael yang lahir dari Hagar, wanita budak Sara. Ishak adalah ahli waris, anak perjanjian, sedangkan Ismael anak perbudakan. Ishak melambangkan pengikut Kristus yang lahir oleh Roh, sedangkan Ismael melambangkan anak-anak perhambaan pada Taurat. 8. Pembenaran dan Pengudusan (1:4) Dalam salam pembuka, Paulus telah meringkas dua bagian utama suratnya. Kalimat "Tuhan yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita" (1:4a) menunjuk proses Pembenaran kita dalam Kristus yang akan diuraikan dalam Gal 1-4, sedangkan "melepaskan kita dari dunia jahat" (1:4b) menunjuk pada proses Pembebasan/Pengudusan kita dalam Roh yang akan diuraikan dalam Gal 5-6. Gal 5:22-23 bicara tentang hidup yang ditandai oleh buah-buah Roh Kudus

Martin/Paulus/hal. 38 SURAT KEPADA UMAT DI ROMA 1. Orisinalitas: Tak ada kesangsian bahwa Rom berasal dari Paulus. Hanya saja ada bagian yang disangsikan, yaitu: (a). Kidung pujian (doxologi) pada 16:25-27 kerap dianggap sebagai tambahan pada surat yang sudah jadi dan diduga berasal dari perayaan liturgi. Letak kidung tsb. pada berbagai kodeks / naskah kuno berbeda-beda: ada yang sesudah 16:23, atau 14:23, atau 15:33, atau bahkan dihilangkan. Ayat 16:24 tidak dianggap asli. (b) Rom 16:1-23 diakui berasal dari Paulus, tapi disangsikan apakah bagian integral surat Rom karena tampaknya surat berakhir di 15:33. Beberapa Bapa Gereja mengenal Rom tanpa bab 15-16. Diduga merupakan surat rekomendasi bagi Febe, diakon wanita Gereja Kengkrea, ditujukan pada jemaat yang sudah dikenal baik oleh Paulus; banyak yang menduga Efesus (ada Priska dan Akwila, lih. Kis 18:18, 26). Namun tak ada bukti nyata. Jadi 16:1-23 tetap teka-teki meski bisa saja merupakan tambahan yang disetujui oleh Paulus sendiri. 2. Keutuhan surat: Umum dilihat beberapa peralihan argumen yang tak lancar: antara 4:25 dengan 5:111 (lebih tepat langsung ke 5:12); 13:10 dengan 13:11-14; 12:1-21 (tentang kasih), dipotong oleh argumen tentang pemerintah (13:1-7), dilanjutkan di 13:8-10. Orang bertanya-tanya apakah Rom merupakan penggabungan beberapa surat. Tapi pada umumnya dianggap ditulis sebagai suatu kesatuan. 3. Waktu dan tempat penulisan: Rom ditulis saat misi Paulus di dunia Timur telah selesai (Rom 15:23), sebelum ia ke Yerusalem untuk terakhir kalinya (15:25) sambil membawa kolekte bagi kaum miskin di Gereja Yerusalem (15:27; 1 Kor 16:1). Ia berniat Spanyol melalui Roma (15:28). Para ahli sepakat bahwa Rom ditulis di Korintus pada akhir perjalanan Paulus yang ketiga, jadi pada akhir th. 57/awal 58. Jemaat di Roma belum mengenal dia secara pribadi. Karena itu sebelum kunjungan ke Roma, yang telah lama dirindukannya (1:13; 15:22, 24, 28), ia menulis surat kepada mereka sebagai surat perkenalan baik tentang diri maupun ajarannya. 4) Nada Dasar: Berbeda dengan surat-surat Paulus lain yang selalu berangkat dari problem-problem konkret jemaat setempat, Rom tak punya kaitan langsung dengan jemaat di Rom. Maka ada yang menduga ini merupakan traktat atau essei umum yang bisa dikirimkan ke mana saja sebagai “surat edaran” (circular letter). Tapi masalahnya, jelas-jelas ditulis bahwa ditujukan ke umat di Roma. Ada yang beranggapan Rom merupakan “kompendium ajaran kristen” atau “surat warisan dan kesaksian terakhir Paulus”, atau “ringkasan ajaran Paulus”. Pandangan ini kini dianggap berlebih-lebihan. Namun harus diakui bahwa lebih dari tulisan PB lainnya, Rom banyak mempengaruhi perkembangan teologi di Barat. Tak ada nada ketergesaan atau emosional seperti pada surat-surat Paulus lainnya; Rom tampak ditulis dalam suasana tenang dan reflektif. 5) Latar belakang sosio-historis: Tak jelas kapan dan oleh siapa ajaran Kristen dibawa ke Roma. Kemungkinan besar oleh para pejiarah Yahudi yang datang ke Yerusalem (Kis 2:10) dan kembali ke Roma. Dikabarkan oleh Suetonius (sejarawan Romawi, dalam bukunya Hidup Klaudius, th. 120)

Martin/Paulus/hal. 39 bahwa di Roma pernah terjadi keributan di antara orang-orang Yahudi gara-gara seseorang tokoh bernama “Chrestos”. Akibatnya Kaisar Klaudius mengusir orang Yahudi dari Roma (Kis 18:2). Jadi yang tertinggal di Roma hanyalah orang-orang Kristen non Yahudi. Paulus menyapa jemaat di Roma “Hai bangsa-bangsa bukan Yahudi” dan ia memperkenalkan diri sebagai “rasul untuk bangsa-bangsa bukan Yahudi” (11:13). Rom 13:1 “Kepatuhan kepada pemerintah” rupanya dilatarbelakangi oleh maklumat pengusiran itu. Namun perlu diingat bahwa Klaudius meninggal th. 54, dan digantikan oleh Nero. Istri Nero bersimpati pada orang-orang Yahudi sehingga mereka diijinkan kembali, memperoleh kedudukan terkemuka dan hak-hak istimewa. Ketika Rom ditulis rupanya sudah ada juga orang Yahudi yang kembali ke Roma. Tampaknya mereka menghadapi jemaat Kristen yang berbeda dari yang mereka tinggalkan dulu sehingga mungkin saja timbul konflik. Rom membahas masalah keselamatan bagi semua bangsa dalam iman akan Yesus Kristus dalam hubungannya dengan keselamatan lewat ketaatan kepada Taurat Yahudi. Tema ini tampaknya lebih cocok bagi konteks perlawanan fraksi Yahudi terhadap Paulus di Yerusalem (Kis 15). Fakta bahwa hal ini dibahas dalam surat yang ditujukan kepada umat di Roma berarti Paulus menduga-duga bahwa ada konflik semacam itu di Roma. Lebih-lebih bila kita lihat betapa Paulus was-was pergi membawa kolekte ke Yerusalem, takut ditentang oleh orang-orang Yudea (lih. Rom 15:30-31). Masalahnya, konflik ini hanya dugaan Paulus belaka (berdasarkan pengalamannya di Yerusalem) ataukah konflik nyata yang ada di jemaat Roma saat itu? Pembedaan atas golongan Kristen Yahudi dan non Yahudi tampak juga dalam struktur surat. Ada yang menduga ada maksud misionaris (mempertobatkan orang menjadi kristen), maksud apologis (Paulus cari backing, memperkenalkan diri dan ajaran), atau pastoral (menjawab problem umat di Roma). Tampaknya ketiga unsur itu ada, dan unsur pokok adalah aspek pastoral 6) Kerangka Umum: PENDAHULUAN: 1:1-7: Pengantar panjang 1:8-17: Tema diperkenalkan (khususnya: 1:16-17)

BAGIAN PERTAMA: PRINSIP-PRINSIP DASAR (1-11) I. Orang Yahudi dan non Yahudi dalam aeon yang lama (1:18-3:20) (a) Orang non Yahudi dalam aeon lama (1:18-32) (b) Orang Yahudi dalam aeon lama (2:1 - 3:20) (3:9: kesimpulan) II. Aeon yang baru (3:21 - 8:39): (a) Manusia dalam aeon yang baru (3:21 - 4:25) (b) Kehidupan dalam aeon yang baru (5-8): -Bebas dari murka (5) -Bebas dari dosa (6) -Bebas dari Taurat (7) -Bebas dari maut (8) (8:39: kesimpulan) III. Orang-orang Yahudi (9-11): Kesimpulan (9:6): Siapakah Israel yang sejati?

Martin/Paulus/hal. 40 BAGIAN KEDUA: HIDUP PRAKTIS (ETIKA) (12-15) Tema Umum: “ibadah yang relevan” (12:1-2) I. Himbauan umum soal hidup menggereja (12:3-21) -Prinsip: tak anggap diri tinggi (12:3) -karisma-karisma (12:4-8) -perintah mengasihi (12:9-21) II. Soal hidup sosial (13) -Kepatuhan pada pemerintah (13:1-7) -Pemenuhan hukum: kasih, dasar etika eskatologis (13:8-10) -Dasar etika kristiani: eskatologis (13:11-14) III. Masalah yang kuat dan yang lemah (14:1 - 15:13) -Tentang yang lemah (14:1-12) -Tentang yang kuat (14:13-23) -Sikap yang tepat (15:1-13) = Kristus tak cari kesenangan diri PENUTUP: (15:14 - 16:27): -rencana perjalanan (15:14-33) -salam (16:1-23). Tampak bahwa pertentangannya bukanlah antara mana yang menyelamatkan “iman kepada Yesus” atau “perbuatan” (konteks Reformasi), tapi bagi sesama orang kristen: “iman dalam Yesus” ataukah “ketaatan pada Taurat” (cara hidup yang ketat-ketat Yahudi), atau antara orang Kristen non Yahudi melawan orang Kristen Yahudi. Yang dimaksudkan oleh Paulus dengan “yang kuat” adalah orang Kristen non Yahudi, dan “yang lemah” adalah orang Kristen Yahudi (tak boleh makan semua hal). Ketika orang Yahudi diusir keluar Roma, yang tinggal jemaat Kristen nonYahudi. Mereka bertumbuh, terkonsolidasi, jadi kuat dll. sehingga ada ketegangan ketika gol. kristen yahudi boleh kembali ke Roma. Paulus ingin menyadarkan kedua belah pihak itu: bagi yang asli Yahudi: keselamatan juga bagi bangsabangsa non Yahudi; bagi yang non Yahudi: jangan sombong. Bab 12:3 harus diterjemahkan “Janganlah kamu menganggap diri sendiri lebih tinggi daripada yang seharusnya”. Dan pedoman bagi kedua belah pihak adalah Yesus sendiri: Kristus tidak mencari kesenangan diri sendiri, maka kita juga harus bersikap seperti Kristus itu (15:2-3).

PENUTUP Demikianlah sekedar pengantar atas tafsir surat-surat Paulus. Uraian ini jangan dianggap sebagai pengganti surat-surat Paulus itu sendiri. Semoga apa yang kurang di sini telah berhasil ditambah oleh diskusi-diskusi kelompok dan juga pendalaman pribadi.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful