P. 1
CONTOH SKRIPSI

CONTOH SKRIPSI

|Views: 4,932|Likes:
Published by muhammad aceh

More info:

Published by: muhammad aceh on Mar 05, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2013

pdf

text

original

i

KEKERASAN TERHADAP ISTRI DALAM RUMAH TANGGA
MENURUT UU NO. 23 TAHUN 2004 DAN HUKUM ISLAM
(Studi Putusan Pengadilan Negeri Salatiga
No: 116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No: 20/Pid.B/PN.Sal/2006)

SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Kewajiban dan Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana dalam Ilmu Hukum Islam















Disusun Oleh:

SRI MULYATI
21103006



JURUSAN SYARI’AH
PROGRAM STUDI AL AHWAL AL SYAKHSIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN)
SALATIGA
2007
ii
DAFTAR ISI
Judul ................................................................................................................... i
Deklarasi ............................................................................................................ ii
Nota Pembimbing ............................................................................................... iii
Pengesahan ......................................................................................................... iv
Motto .................................................................................................................. v
Persembahan ...................................................................................................... vi
Kata Pengantar ............................................................................................ ...vii
Daftar Isi ....................................................................................................... viii
BAB I PENDAHULUAN
A Latar Belakang Masalah ................................................................ 1
B Penegasan Istilah ........................................................................... 5
C Rumusan Masalah ......................................................................... 7
D Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................................. 7
E Telaah Pustaka .............................................................................. 8
F Kerangka Teori ......................................................................... 11
G Metodologi Penelitian ............................................................... 15
H Sistematika Pembahasan ........................................................... 17

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEKERASAN DALAM
RUMAH TANGGA
A Konsep Kekerasan Menurut Undang-undang No. 23 tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga ......... 20
1. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga ..................... 20
2. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ............... 22
3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya KDRT ......... 29
4. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga ......................... 32
iii
B Konsep Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut Hukum Islam
.................................................................................................... 34
1. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga ............... 34
2. Faktor-faktor Kekerasan dalam Rumah Tangga ................. 43
3. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga ......................... 44
BAB III PUTUSAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP
KDRT DI PENGADILAN NEGERI SALATIGA
A Gambaran Umum tentang Pengadilan Negeri Salatiga ............. 46
1. Sejarah Pengadilan Negeri Salatiga .................................... 46
2. Kewenangan Pengadilan Negeri Salatiga ........................... 49
3. Struktur Organisasi Pengadilan Negeri Salatiga ................. 52
B Putusan Hakim Terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga di
Pengadilan Negeri Salatiga ....................................................... 53
1. Putusan Nomor : 116/Pid.B/PN.Sal/2005 ........................... 53
2. Putusan Nomor : 20/Pid.B/PN.Sal/2006 ............................. 63
C Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Mengenai Perkara
Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga di Pengadilan
Negeri Salatiga .......................................................................... 74

BAB IV ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP KDRT DI
PENGADILAN NEGERI SALATIGA
A Analisis Kekerasan dalam Rumah Tangga No.
116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006 ........... 78
B Analisis Putusan dan Pertimbangan Hakim Terhadap Kekerasan
dalam Rumah Tangga di Pengadilan Negeri Salatiga ............... 83
BAB V PENUTUP
A Kesimpulan ............................................................................... 89
B Saran ......................................................................................... 92

46
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Rumah tangga merupakan unit yang terkecil dari susunan kelompok
masyarakat, rumah tangga juga merupakan sendi dasar dalam membina dan
terwujudnya suatu negara. Indonesia sebagai negara yang berlandaskan
pancasila yang didukung oleh umat beragama mustahil bisa terbentuk rumah
tangga tanpa perkawinan. Karena perkawinan tidak lain adalah permulaan dari
rumah tangga. Perkawinan merupakan aqad dengan upacara ijab qobul antara
calon suami dan istri untuk hidup bersama sebagai pertalian suci (sacral),
untuk menghalalkan hubungan kelamin antara pria dan wanita dengan tujuan
membentuk keluarga dalam memakmurkan bumi Allah SWT yang luas ini.
Dengan perkawinan terpeliharalah kehormatan, keturunan, kesehatan jasmani
dan rohani, jelasnya nasab seseorang.
1

Ada tiga hal mengapa perkawinan itu menjadi penting. Petama:
perkawinan adalah cara untuk ikhtiyar manusia melestarikan dan
mengembangbiakan keturunanya dalam rangka melanjutkan kehidupan
manusia di muka bumi. Kedua: perkawinan menjadi cara manusia
menyalurkan hasrat seksual. Yang dimaksud di sini adalah lebih pada kondisi
terjaganya moralitas, dengan begitu perkawinan bukan semata-mata
menyalurkan kebutuhan biologis secara seenaknya, melainkan juga menjaga
alat reproduksi agar menjadi tetap sehat dan tidak disalurkan pada tempat

1
H. Bgd, M. Leter, Tuntutan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencana, Angkasa
Raya, Padang, 1985, hlm. 7.

47
yang salah. Ketiga: perkawinan merupakan wahana rekreasi dan tempat orang
menumpahkan keresahan hati dan membebaskan diri dari kesulitan hidup
secara terbuka kepada pasanganya.
2

Pada dasarnya tujuan perkawinan ialah membentuk keluarga yang
bahagia dan kekal, dalam undang-undang No. 1 tahun 1974 tentang
perkawinan, perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita
sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang
bahagia dan kekal berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa
3
. Dari pengertian
tersebut untuk mewujudkan keluarga yang bahagia landasan utama yang perlu
dibangun antara laki-laki dan perempuan sebagai suami istri adalah adanya
hak dan kewajiban di antara keduanya.
Al-Qur’an sendiri menyebutkan tujuan perkawinan dalam Surat Ar-
Rum ayat 21:
ْ ﻢُ ﻜَ ﻨْ ﻴَ ﺑ َ ﻞَ ﻌَ ﺟَ و ﺎَ ﻬْ ﻴَ ﻟِ ا اْ ﻮُ ﻨُ ﻜْ ﺴَ ﺘِ ﻟ ﺎً ﺟاَ وْ زَ أ ْ ﻢُ ﻜِ ﺴُ ﻔْ ﻧَ ا ْ ﻦِ ﻣ ْ ﻢُ ﻜَ ﻟ َ ﻖَ ﻠَ ﺧ ْ نَ أ ِ ﻪِ ﺘَ ﻳَ أ ْ ﻦِ ﻣَ و
ً ﺔَ ﻤْ ﺣَ رَ و ً ةﱠ دَ ﻮَ ﻣ , َ نْ وُ ﺮﱠ ﻜَ ﻔَ ﺘَ ﻳ ٍ مْ ﻮَ ﻘِ ﻟ ٍ ﺖَ ﻳَ ِ ﻷ َ ﻚِ ﻟَ ذ ْ ﻰِ ﻓ ﱠ نِ إ

“Diantara tanda-tanda kebesaran Tuhan adalah bahwa dia telah
menciptakan pasangan bagi kamu dari bahan yang sama agar kamu
menjadi tenteram bersamanya. Dia menjadikan kamu berdua saling
menjalin cinta (mawadah warohmah) pelajaran yang berharga bagi
orang-orang yang berfikir.” (Q.S. Al Rum: 21).
4


Dalam ayat tersebut dikatakan sakinah, mawadah dan rahmah,
mempunyai arti antara lain: diam sesudah bergerak, tetap, menetap, bertempat

2
Suara Rahima, No. 14 Th. 15 April 2005, hlm. 19
3
UU RI No. 1 tahun 1974, tentang Perkawinan, Pustaka Widyatama, Yogyakarta, Cet. I,
2004, hlm. 8.
4
Depertemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara
Penerjemah al-Qur’an, 1997, hlm. 407.

48
tinggal, tenang, dan tentram, ini menyebutkan bahwa perkawinan
dimaksudkan sebagai wahana atau tempat dimana orang-orang yang ada
didalamnya terlindungi dan dapat menjalani hidup dengan penuh kedamaian
dan aman. Dengan ketiga arti ini perkawinan merupakan ikatan yang dapat
melahirkan hubungan saling mencintai, saling menasehati, dan saling
mengharapkan satu sama lain, ungkapan al-Qur’an dengan bahasa bainakum
atau dengan kata lain satu sama lain. Tentu saja menunjukan bahwa cinta dan
kasih sayang bukan hanya dimiliki oleh salah satu pihak. Yakni suami istri
konsekuensi logisnya mereka tidak boleh saling menyakiti dan menghianati.
5

Fenomena kadang berbicara lain, perkawinan yang diharapkan sakinah,
mawadah, warahmah, ternyata harus kandas ditengah jalan karena
permasalahan dalam keluarga, dan Islam menyikapi dengan memberi solusi
perceraian bagi keluarga yang memang sudah tidak dapat dipertahankan.
Kekerasan dalam rumah tangga merupakan suatu permasalahan dalam
keluarga untuk mempertahankan sebuah keluarga. Kekerasan dalam rumah
tangga bisa menimpa siapa saja termasuk bapak, suami, istri, dan anak, namun
secara umum pengertian dalam KDRT di sini dipersempit artinya
penganiayaan terhadap istri oleh suami. Hal ini bisa dimengerti karena
kebanyakan korban dalam KDRT adalah istri.
Bila kita teliti lebih jauh banyak sekali keluarga yang tidak bahagia,
rumah tangga yang selalu ditiup oleh badai pertengkaran dan percekcokan.
Dengan keadaan yang semacam ini istri manapun tidak akan nyaman dalam

5
Suara Rahima, op cit, hlm. 30.

49
mejalani kehidupanya. Kasus seperti ini sangat banyak sekali terjadi dalam
masyarakat. Akan tetapi mengapa masyarakat enggan melaporkan kasusnya
pada pihak yang berwenang? Bahkan dari hasil observasi yang penulis
lakukan di Pengadilan Negeri Salatiga, selama adanya Undang-undang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga baru ada dua kasus yang
diputuskan oleh Pengadilan yang diajukan oleh istri. Hal ini disebabkan
karena dari pihak korban takut kasus dalam keluarganya diproses di
Pengadilan karena itu merupakan aib dalam keluarganya ataukah kurang
sadarnya dari pihak korban akan perlindungan hukum yang telah diberikan
oleh negara.
Majlis Hakim dalam menetapkan sebuah keputusan tidak hanya
berpedoman pada UU PKDRT saja, tetapi hakim juga mempertimbangkan
dari beberapa keterangan saksi yang berbeda-beda dalam memutuskan suatu
perkara.
Dalam dua putusan kekerasan dalam rumah tangga yang diputuskan
oleh Pengadilan Negeri Salatiga terdapat beberapa hal-hal yang meringankan
dan hal-hal yang memberatkan, yang diantara keduanya juga berbeda, putusan
No: 116/Pid.B/PN.Sal/2005 yang diajukan pada tanggal: 21 Desember 2005
dan diputus pada hari Kamis tanggal 23 Februari 2006 terdapat hal-hal yang
memberatkan diantaranya Terdakwa main hakim sendiri dan Terdakwa
sebagai suami tidak melindungi istri. Sedangkan hal-hal yang meringankan
Terdakwa mengaku bersalah dan minta maaf pada istrinya, Terdakwa dan
Saksi masih berhubungan suami istri meskipun perkaranya sudah diproses di

50
Pengadilan, dan belum pernah dihukum. Sedangkan dalam putusan No:
20/Pid.B/PN.Sal/2006 yang diajukan pada 5 April 2006 dan diputus pada hari
Senin Tanggal 5 Juni 2006, terdapat hal-hal yang memberatkan yaitu
Terdakwa main hakim sendiri, Terdakwa sebagai suami tidak melindungi, dan
Terdakwa tidak minta maaf pada korban, sedangkan hal-hal yang
meringankan yaitu Terdakwa belum pernah dihukum, dan terdakwa mengaku
bersalah dan menyesalinya. Akan tetapi putusan yang dijatuhkan dalam
perkara tersebut sangatlah jauh perbedaanya, untuk putusan No:
116/Pid.B/PN.Sal/2005 dijatuhkan pidana 1 tahun dengan masa percobaan 2
tahun serta dibebankan biaya sebesar 1000 rupiah, sedangkan putusan No:
20/Pid.B/PN.Sal/2006 dijatuhkan pidana 6 bulan dan harus dijalani serta di
bebankan biaya sebesar 500 rupiah.
Dari paparan di atas, penulis tertarik untuk melakukan menelitian
terhadap putusan-putusan hakim mengenai “KEKERASAN TERHADAP
ISTRI DALAM RUMAH TANGGA (Studi Putusan Pengadilan Negeri
Salatiga No: 116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No: 20/Pid.B/PN.Sal/2006)”.

B. Penegasan Istilah
Untuk memudahkan pembahasan mengenai judul skripsi ini, terlebih
dahulu penulis akan mengemukakan arti istilah yang terkandung dalam judul
tersebut, sehingga tidak akan terjadi kerancauan pemahaman mengenai judul
penelitian “KEKERASAN TERHADAP ISTRI DALAM RUMAH

51
TANGGA” (Studi Putusan Pengadilan Negeri Salatiga No.
116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No: 20/Pid.B/PN.Sal/2006).
1. Kekerasan : Serangan atau invasi (assault) terhadap fisik maupun
integritas mental psikologis seseorang.
6

2. Istri : Wanita (perempuan) yang telah menikah atau yang
bersuami
7

3. Rumah Tangga : Sering juga disebut dengan keluarga yang berasal dari
bahasa sansekerta, yakni kula yang berarti famili dan
warga yang berarti anggota. Jadi, keluarga adalah
anggota famili yang dalam hal ini adalah terdiri dari
ibu (istri), bapak (suami), dan anak.
8

4. Studi : Pemikiran untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
9

5. Putusan : Putusan adalah pernyataan hakim yang diucapkan
dalam sidang pengadilan terbuka, yang dapat berupa
pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan
hukum.
10

6. PN Salatiga : Pengadilan tingkat pertama bagi perkara perdata
maupun pidana, Pengadilan Negeri dibentuk oleh

6
Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
1996, hlm. 17.
7
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka,
Jakarta, 1989, hlm. 341.
8
Ratna Batara Munti, Perempuan Sebagai Kepala Rumah Tangga, Lembaga Kajian
Agama dan Gender, Jakarta, Cet. I, 1999, hlm. 2.
9
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia,Balai Pustaka, Jakarta, 1982,
hlm. 965.
10
UU RI No. 8 tahun 1981, tentang Hukum Acara Pidana, PT. Karya Anda, Surabaya, tt,
hlm. 5.

52
Menteri Kehakiman Agung. Daerah hukumnya
meliputi satu daerah tingkat dua.
11

C. Rumusan Masalah
Dari beberapa permasalahan tersebut, dapat ditarik beberapa rumusan
masalah yang merupakan central pembahasan ini:
1. Bagaimana konsep kekerasan dalam rumah tangga menurut Undang-
undang No. 23 tahun 2004 dan fiqh?
2. Bagaimana putusan hakim dalam perkara kekerasan terhadap istri dalam
rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.?
3. Bagaimana petimbangan hakim dalam menyelesaikan perkara kekerasan
terhadap istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga ditinjau
dari UU No. 23 tahun 2004 dan hukum Islam?

D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan pokok masalah di atas, penelitian ini mempunyai tujuan
sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui konsep kekerasan dalam rumah tangga menurut
peraturan perundang-undangan dan (fiqh)
2. Untuk mengetahui pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara
kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri
Salatiga.

11
JST. Simorangkir, et. al, Kamus Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. VI, 2000, hlm. 124.

53
3. Untuk mengetahui putusan hakim mengenai perkara kekerasan terhadap
istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.

Adapun kegunaan dari penyusunan penelitian ini adalah sebagai
berikut:
1. Dengan penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi penulis untuk
menambah wawasan dan pengetahuan di bidang hukum khususnya
pertimbangan-pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara kekerasan
terhadap istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.
2. Untuk memenuhi salah satu persyaratan dalam memperoleh gelar sarjana
dalam bidang Hukum Islam (syari’ah)
E. Telaah Pustaka
Kekerasan dalam sebuah rumah tangga akan dianggap tabu
dipublikasikan atau diceritakan kepada orang lain, wajar jika kemudian
masalah-masalah KDRT jarang sekali yang muncul ke muka persidangan.
Farha Ciciek dalam bukunya Ikhtiar Mengatasi Kekerasan dalam
Rumah Tangga Belajar dari Kehidupan Rasulullah SAW. Mengemukakan
panjang lebar tentang kekerasan domestik yang menimpa kaum perempuan.
Dalam bahasanya yang singkat dan padat, dia menulis latar belakang dan
segala sesuatu yang menyangkut masalah kekerasan dalam rumah tangga. Dia
juga menyebutkan bahwa masalah kekerasan dalam rumah tangga adalah salah
satu permasalahan yang menjadi tanggung jawab masyarakat dan
membutuhkan peran negara, sehingga dibutuhkan kolektif untuk

54
menanggulanginya. Akan tetapi tidak menulis tentang bagaimana bentuk
perlindungan yang diberikan oleh negara melalui Undang-undang No. 23
tahun 2004 dan pandangan hukum Islam mengenai kekerasan.
Faqihuddin Abdul Kodir dkk dalam bukunya Fiqh Anti Trafiking
(Jawaban atas Berbagai Kasus Kejahatan Perdagangan Manusia dalam
Perspektif Hukum Islam) menjelaskan pandangan keagamaan yang timbul dari
teks-teks al Quran, Hadits Nabi, dan pendapat para Ulama’ mengenai berbagai
persoalan menyangkut trafiking seperti persoalan buruh migran, penjualan
organ tubuh, penjualan bayi, aborsi korban perkosaan dan bentuk-bentuk
kekerasaan lain yang berbasis gender termasuk juga KDRT. Jawaban yang
diberikan dalam buku tersebut tidak hanya terhenti pada penguatan etis moral
dalam al Quran dan Hadits tetapi juga dikaitkan dengan potensi yuridis formal
dari Undang-undang yang berlaku.
Sebenarnya sudah banyak peneliti yang mengkaji tentang kekerasan
dalam rumah tangga seperti halnya Perlindungan Hukum Terhadap
Perempuan Korban Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT
(Studi Kasus di Polres Salatiga tahun 2004-2006), Kekerasan Terhadap Istri
Sebagai Alasan Perceraian (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga tahun
1999-2001), dan Kekerasan Terhadap Istri Dalam Rumah Tangga (Studi
Komparatif Terhadap Hukum Islam dengan UU No. 23 tahun 2004).
Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Kekerasan dalam
Rumah Tangga Menurut UU KDRT (Studi Kasus di Polres Salatiga tahun
2004-2006) merupakan skripsi yang dibahas oleh Eni Kusrini. Dalam skripsi

55
ini diuraikan bentuk perlindungan Polres Salatiga terhadap korban kekerasan
diantaranya yaitu:
a. Menerima laporan atau pengaduan;
b. Penyidikan terhadap pelaku tindak pidana;
c. Membuatkan surat keterangan atau pengantar untuk visum ke RSU
sebagai bukti;
d. Mengamankan korban jika ada ancaman dari pelaku kekerasan;
e. Menerima konseling untuk menguatkan korban;
f. Melakukan penangkapan terhadap tersangka.
12

Kekerasan Terhadap Istri Sebagai Alasan Perceraian (Studi Kasus di
Pengadilan Agama Salatiga tahun 1999-2001) merupakan skripsi yang
dibahas oleh Siti Nakiyah yang secara spesifik tidak ada kasus perceraian yang
dikarenakan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga. Sebetulnya ada
perceraian yang dikarenakan tindak kekerasan dalam rumah tangga, akan
tetapi setelah perkara dibawa kemuka Pengadilan kontek kekerasan dimasukan
dalam koridor hukum yang lain, misalnya perceraian itu karena tidak ada
keharmonisan, ada pihak ketiga, penelantaran, penganiayaan, cemburu, krisis
akhlak dan sebagainya.
13

Sedangkan Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga (Studi
Komparatif Terhadap Hukum Islam dengan UU No. 23 tahun 2004) yang

12
Eni Kusrini, Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Kekerasan Dalam
Rumah Tangga Menurut UU KDRT (Studi Kasus di Polres Salatiga), Skripsi untuk memperoleh
gelar S-1 pada Ilmu Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2006, hlm. 52.
13 Siti Nakiyah, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Rumah Tangga Sebagai Alasan
Perceraian, (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga ) Skripsi untuk mempereh gelar S-1 pada
Ilmu Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2004, hlm. 61.

56
diteliti oleh Fithri Awwalin menjelaskan tentang Hukum Islam serta UU No.
23 tahun 2004 dalam memandang hukum yang terjadi dalam rumah tangga
yang meliputi bentuk-bentuk kekerasan dilihat dari perspektif Islam dan UU
No. 23 tahun 2004, dan akibat hukum dari tindak kekerasan yang dilakukan
serta permasalahan lainya yang menyangkut KDRT dalam perspektif lainya.
14

Dari paparan di atas maka penulis berupaya untuk seobyektif mungkin
menampilkan pembahasan yang berbeda dalam meneliti dan menganalisa
putusan yang masih berkaitan dengan kekerasan dalam rumah tangga dengan
mengambil judul “KEKERASAN TERHADAP ISTRI DALAM RUMAH
TANGGA (Studi Putusan Pengadilan Negeri Salatiga No.
116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006)”.

F. Kerangka Teori
Kekerasan dalam rumah tangga sering terjadi dalam masyarakat, dan ini
adalah salah satu bentuk ketidak adilan gender yang biasa terjadi. Kekerasan
terhadap perempuan merupakan tindakan yang merugikan perempuan baik
secara fisik dan nonfisik. Kebanyakan orang memahami kekerasan itu hanya
sebagai tindakan fisik yang kasar saja, sehubungan bentuk perilaku menekan
tidak pernah diperhitungkan sebagai kekerasan. Padahal yang disebut dengan

14 Fithri Awwalin, Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga (Studi Komparatif
Hukum Islam dengan UU No. 23 Tahun 2004), Skripsi untuk memperoleh gelar S-1 pada Ilmu
Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2006. hlm. 18.

57
kekerasan itu mencakup keseluruhanya
15
, termasuk kekerasan fisik, psikis,
seksual atau penelantaran rumah tangga.
Kebanyakan orang beranggapan bahwa kekerasan yang dilakukan oleh
suami adalah kekhilafan sesaat dan tidak banyak para pihak yang menyadari
bahwa kekerasan terhadap rumah tangga itu merupakan suatu perilaku yang
berulang, dan yang menjadi permasalahan di sini, banyak korban yang takut
melaporkan kekerasan tersebut kepada pihak-pihak yang berwenang.
Di dalam rumah tangga, konflik merupakan hal yang biasa, perselisihan
pendapat, perdebatan, pertengkaran, tapi semua itu tidak serta merta disebut
sebagai bentuk kekerasan dalam rumah tangga.
Menurut UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
dalam Rumah Tangga (PKDRT), Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah
setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologi, atau
penelantaran rumah tangga termasuk juga hal-hal yang mengakibatkan
ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak,
rasa tidak percaya, atau penderitaan psikis berat pada seseorang
16
.
Undang-undang ini merupakan jaminan yang diberikan negara untuk
mencegah terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku
Kekerasan dalam Rumah Tangga, dan melindungi korban Kekerasan dalam
Rumah Tangga. Undang-undang PKDRT ini juga tidak bertujuan untuk

15
“Kekerasan Terhadap Perempuan Berbasis Gender (KTPBG)”, Peket Informasi, Rifka
Annisa Women’s Crisis Center, Jogyakarta, t.t, hlm 2.
16
UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Pustaka fokusmedia, Bandung, Cet. II, Desember, 2006, hlm. 5.

58
mendorong perceraian, sebagaimana sering dituduhkan orang. Undang-undang
PKDRT ini justru bertujuan untuk memelihara keutuhan Rumah Tangga yang
benar-benar harmonis dan sejahtera dengan mencegah segala bentuk
kekerasan sekaligus melindungi korban dan menindak pelaku Kekerasan
dalam Rumah Tangga.
Banyak ayat al-Qur’an yang menyinggung persoalan kekerasan terhadap
perempuan menyangkut kekerasan fisik. Al-Qur’an berbicara mengenai
pemukulan suami yang nunyuz hal ini dijelaskan dalam Q.S. An Nisa’ ayat 34.
ﺎَ ﻤِ ﺑَ و ٍ ﺾْ ﻌَ ﺑ ﻰَ ﻠَ ﻋ ْ ﻢُ ﻬَ ﻀْ ﻌَ ﺑ ُ ﷲا َ ﻞﱠ ﻀَ ﻓﺎَ ﻤِ ﺑ ِ ءﺎَ ﺴﱢ ﻨﻟا ﻰَ ﻠَ ﻋ َ نْ ﻮُ ﻣاﱠ ﻮَ ﻗ ُ لﺎَ ﺟﱢ ﺮﻟا
ُ ﷲا َ ﻆِ ﻔَ ﺣﺎَ ﻤِ ﺑ ِ ﺐْ ﻴَ ﻐْ ﻠِ ﻟ ُ تﺎَ ﻈِ ﻓﺎَ ﺣ ُ تﺎَ ﺘِ ﻧﺎَ ﻗ ُ تﺎَ ﺤِ ﻟﺎﱠﺼﻟﺎَ ﻓ ْ ﻢِ ﻬِ ﻟاَ ﻮْ ﻣَ ا ْ ﻦِ ﻣ اْ ﻮُ ﻘَ ﻔْ ﻧَ ا
ﱠﻦُ هْ وُ ﺮُ ﺠْ هاَ و ﱠ ﻦُ هﻮُ ﻈِ ﻌَ ﻓ ﱠﻦُ هَ زْ ﻮُ ﺸُ ﻧ َ نْ ﻮُ ﻓﺎْ ﺨَ ﺗ ْ ﻲِ ﺗﱠ ﻼﻟاَ و ِ ﻊِ ﺟﺎَ ﻀَ ﻤﻟا ْ ﻲِ ﻓ
اً ﺮْ ﻴِ ﺒَ آﺎ ﻴِ ﻠَ ﻋ َ نﺎَ آ َ ﷲا ﱠ نِ ا ً ﻼْ ﻴِ ﺒَ ﺳ ﱠ ﻦِ ﻬْ ﻴَ ﻠَ ﻋ اْ ﻮُ ﻐْ ﺒَ ﺗَ ﻼَ ﻓ ْ ﻢُ ﻜَ ﻨْ ﻌَ ﻃَ ا نِ ﺎّ ﻓ ﱠﻦُ هْ ﻮُ ﺑِ ﺮْ ﺿاَ و
) ءﺎﺴﻨﻟا : ٣٤ (
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena
Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang
lain (wanita), dan karena mereka ( laki-laki) telah menafkahkan
sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah
taat kepada Allah lagi memelihara diri. Ketika suaminya tidak ada oleh
karena Allah telah memelihara (mereka) wanita-wanita yang kamu
khawatiri Nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah
mereka ditempat tidur mereka, dan pukulah mereka. Kemudian jika
mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkanya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar”
(Q.S. Surat an Nisa’Ayat 34).
17


Surat An-Nisa ayat 34 di atas merupakan salah satu ayat yang
membahas kelebihan derajat pria dari wanita dalam hal kepemimpinan. Jadi
kemudian beranggapan bahwa dengan dasar tersebut, kaum laki-laki berhak
berbuat seenak hati terhadap kaum wanita. Sebab sebuah himbauan yang

17
Depertemen Agama RI, AlQuran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penerjemah
al Qur’an, 1997, hlm. 85.

59
tersurat maupun tersirat dalam ayat itu adalah bahwa kaum pria harus menjadi
pemimpin bagi kaum wanita dengan memberikan perlindungan dan
pemeliharaan terhadap mereka bukanya untuk menguasai ataupun
memenopoli.
18

Di antara tugas kaum laki-laki adalah melindungi kaum perempuan. Ini
sebabnya mengapa hanya diwajibkan kepada laki-laki, tidak kepada
perempuan, begitu juga menafkahi keluarga. Inilah yang lebih banyak dalam
harta warisan, tetapi di luar hak-hak yang disebutkan (hak mengendalikan,
menuntut dan memimpin) maka dalam masalah hak ataupun kewajiban adalah
sama.
19

Ayat ini sebagai landasan bahwa kaum laki-laki berkewajiban
memelihara dan menjaga perempuan karena laki-laki diberi kelabihan jasmani,
ayat ini juga sebagai pijakan bagi suami untuk membari pendidikan kepada
istri mereka yang membangkang dengan cara menasehati. Dan jika dengan
nasehat dia masih membangkang maka pukulah mereka. Akan tetapi pukulan
itu tidak boleh terlalu menyakitkan dan melukai.
Selain al Qur’an yang jelas sudah melarang tindakan kekerasan juga ada
hadits yang menjelaskan tentang larangan ini.
ﻦﺑ ﺰﻳﺰﻌﻟا ﺪﺒﻋ ﻦﻋ ﻰﺴﻟﺎﻴﻄﻟا دواد ﻮﺑأ ﺎﻧﺮﺒﺧأ ىﺮﺒﻨﻌﻟا سﺎﺒﻋ ﺎﻨﺛﺪﺣ
ﻰﺒﻨﻟا ﻦﻋ ﺮﻤﻋ ﻦﺑا ﻦﻋ رﺎﻨﻳد ﻦﺑ ﷲا ﺪﺒﻋ ﻦﻋ ﺔﻤﻠﺳ ﻰﺑأ ﻦﺑ ﷲا ﺪﺒﻋ
لﺎﻗ ﻢﻠﺳو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻞﺻ " : ﺔﻣﺎﻴﻘﻟا مﻮﻳ تﺎﻤﻠﻇ ﻢﻠﻈﻟا " ﻦﻋ بﺎﺒﻟا ﻰﻓو

18
Salim Bahreisy, Tafsir Ibnu Kasir, Jilid II, PT, Bina Ilmu, Surabaya, 1990, hlm. 387.
19
Tengku Muhammad Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir Al Qur’anul Majid An-Nuur, Jilid I,
PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang, hlm. 843.

60
ﻦﺴﺣ ﺚﻴﺣ اﺬه ةﺮﻳﺮه ﻰﺑأو ﻰﺳﻮﻣ ﻰﺑأو ﺔﺸﺋﺎﻋو ﺮﻤﻋ ﻦﺑ ﷲا ﺪﺒﻋ
ا ﺚﻳﺪﺣ ﻦﻣ ﺐﻳﺮﻏ ﺮﻤﻋ ﻦﺑ .

Abbas Al- Anbari menceritakan kepada kami, Abu Dawud Ath Thayalisi
memberitahukan kepada kami dari Abdul Aziz bin Abdillah bin Abi Salamah
dari Abdillah bin Dinar dari Ibnu Umar dari Rasulullah SAW bersabda:
“perbuatan aniaya adalah merupakan kegelapan-kegelapan di hari qiyamat”
dalam bab ini terdapat dari Badillah bin Umar bin Amir, Aisyah, Musa dan
Abu Hurairah. Hadis ini adalah hadis hasan gharib dari hadis ibnu umar.
20


Demikianlah seharusnya hubungan suami istri dalam rumah tangga
Islam, namun dalam kenyataan pasangan suami istri itu kadang-kadang lupa
menerapkan petunjuk-petunjuk Allah tersebut, dan tergelincir dalam
pertengkaran di antara mereka dan terjadilah apa yang tidak dikehendaki serta
yang paling dibenci Allah SWT yaitu putusnya hubungan pernikahan.

G. Metode Penelitian
Untuk memperolah data yang akurat penulis menggunakan Metode
penelitian yang diantaranyan adalah:
1. Pengumpulan Data
a. Observasi yaitu metode pengumpulan data dengan jalan pengamatan
dan pencatatan secara langsung dengan sistematis terhadap fenomena-
fenomena yang diselidiki
21
;
b. Wawancara yaitu:“Sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara
(interviewer) untuk memperoleh informasi dari terwawancara
(interviewer)”
22
;

20
Muh Zuhri Dipl. Talf dkk, Tarjamah Sunan at-Tirmidzi, Jilid III, CV. Asy Syifa,
Semarang, tt, hal. 533.
21
Erna Widodo Mukhtar, Konstruksi Ke Arah Penelitian Diskriftif, Avyrouz, Yogjakarta,
2000, hlm.79.

61
c. Dokumentasi yaitu mencari data mengenai hal-hal yang variable yang
berupa catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, prasasti, notulen
rapat, agenda dan sebagainya.
23
Dokumentasi yang dimaksud di sini
adalah mengambil sejumlah data mengenai putusan kekerasan terhadap
istri dalam rumah tangga di Pengadilan Negeri Salatiga yaitu putusan
Nomor 116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan Nomor 20/Pid.B/PN.Sal/2006.
d. Studi Pustaka yaitu penelitian yang mengambil data dari bahan-bahan
tertulis (khususnya berupa teori-teori).
24

e. Subyek Penelitian dalam mengumpulkan data Penulis wawancara
dengan Hakim Pengadilan Negeri Salatiga yaitu Edi Pengaribuan,
SH.MH., Viktor Togi Rumahorbo, SH.MH., Hariyadi, SH. Dan
Sutiyono, SH. untuk memberikan informasi khususnya berupa
pertimbangan dan dasar putusan Hakim mengenai kasus kekerasan
dalam rumah tangga.
2. Metode Analisis data
Analisis data yaitu analisis pada teknik pengolahan datanya dan
melakukan uraian dan penafsiran pada suatu dokumen.
25
Analisis yang
dimaksud disini adalah menganalisis informasi yang menitik beratkan
pada penelitian dokumen, menganalisis peraturan dan putusan-putusan
hakim. Dalam penelitian ini penulis menggunakan beberapa pendekatan:

22
Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktrek, Rineka Cipta,
Jakarta, 1998, hlm.145.
23
Ibid, hlm. 236.
24
Tatang M. Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Rajawali, Jakarta, Cet. III, 1990, hlm.
135.
25
Iqbal Hasan, Analisis Data Penelitian Dengan Statistik, PT. Bumi Aksara, Jakarta, Cet.
1, 2004, hlm. 30.

62
a. Pendekatan Analisis (Analicical Appoach) yaitu mengetahui makna
yang terkandung oleh istilah-istilah yang digunakan dalam aturan
perundang-undangan secara konsepsional, sekaligus mengetahui
penerapanya dalam praktik dan putusan-putusan hukum
26
.
b. Pendekatan kasus yaitu mempelajari pendekatan norma-norma atau
kaidah hukum yang dilakukan dalam praktik hukum
27
. Terutama
mengenai kasus-kasus yang telah diputus yang dapat dilihat dalam
yurisprudensi terhadap perkara-perkara yang menjadi fokus penelitian.

H. Sistematika Pembahasan
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belekang Masalah
B. Penegasan Istilah
C. Rumusan Masalah
D. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
E. Telaah Pustaka
F. Kerangka Teori
G. Metodologi Penelitian
H. Sistematika Pembahasan

26
Johnny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media
Publishing, Jakarta, Cet II, 2006, hlm. 310
27
Ibid, 321.

63
BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG KEKERASAN DALAM
RUMAH TANGGA
A. Konsep Kekerasan Menurut Undang-undang No. 23 tahun 2004
tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga
1. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga
2. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga
3. Faktor-faktor yang Menyebabkan Terjadinya KDRT
4. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga
B. Konsep Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut Hukum
Islam
1. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga
2. Faktor-faktor Kekerasan dalam Rumah Tangga
3. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga
BAB III PUTUSAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP KDRT
DI PENGADILAN NEGERI SALATIGA
A. Gambaran Umum tentang Pengadilan Negeri Salatiga.
1. Sejarah Pengadilan Negeri Salatiga
2. Kewenangan Pengadilan Negeri Salatiga.
3. Struktur Organisasi Pengadilan Negeri Salatiga
B. Putusan Hakim Terhadap Kekerasan DALAM Rumah
Tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.
1. Putusan Nomor : 116/Pid.B/PN.Sal/2005.
2. Putusan Nomor : 20/Pid.B/PN.Sal/2006.

64
C. Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Mengenai Perkara
Kekerasan Terhadap Istri dalam Rumah Tangga di
Pengadilan Negeri Salatiga.

BAB IV ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP KDRT DI
PENGADILAN NEGERI SALATIGA
A. Analisis Kekerasan dalam Rumah Tangga No.
116/Pid.B/PN.Sal/2005 dan No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006.
B. Analisis Putusan dan Pertimbangan Hakim Terhadap
Kekerasan dalam Rumah Tangga di Pengadilan Negeri
Salatiga.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran













65
BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG KEKERASAN DALAM RUMA TANGGA
A. Konsep Kekerasan Menurut UU No. 23 Tahun 2004 tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
1. Pengertian Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan terhadap wanita telah tumbuh sejalan dengan
pertumbuhan kebudayaan manusia. Namun hal tersebut baru menjadi
perhatian dunia internasional sejak 1975.
Kekerasan terhadap perempuan menurut perserikatan bangsa-bangsa
dalam deklarasi penghapusan kekerasan terhadap perempuan pasal 1
kekerasan terhadap perempuan adalah segala bentuk tindakan kekerasan
yang berbasis gender yang mengakibatkan atau akan mengakibatkan rasa
sakit atau penderitaan terhadap perempuan baik secara fisik, seksual,
psikologis, termasuk ancaman, pembatasan kebebasan, paksaan, baik yang
terjadi di area publik atau domestik
28
.
Menurut Herkutanto, kekerasan terhadap perempuan adalah
tindakan atau sikap yang dilakukan dengan tujuan tertentu sehingga dapat
merugikan perempuan baik secara fisik maupun secara psikis.
Hal penting lainnya ialah bahwa suatu kejadian yang bersifat
kebetulan (eccidental) tidak dikategorikan sebagai kekerasan walaupun
menimbulkan kerugian pada perempuan.

28
“Kekerasan Terhadap Perempuan Berbasis Gender (KTPBG)”, Peket Informasi, Rifka
Annisa Women’s Crisis Center, Jogyakarta, t.t, hlm. 2

66
Pengertian di atas tidak menunjukkan bahwa pelaku kekerasan
terhadap perempuan hanya kaum pria saja, sehingga kaum perempuanpun
dapat dikategorikan sebagai pelaku kekerasan
29
.
Kekerasa dalam Rumah Tangga khususnya penganiayaan terhadap
istri, merupakan salah satu penyebab kekacauan dalam masyarakat.
Berbagai penemuan penelitian masyarakat bahwa penganiayaan istri tidak
berhenti pada penderitaan seorang istri atau anaknya saja, rentetan
penderitaan itu akan menular ke luar lingkup rumah tangga dan
selanjutnya mewarnai kehidupan masyarakat kita
30.

Menurut Mansour Fakih, Kekerasan adalah serangan atau invasi
terhadap fisik maupun integritas keutuhan mental psikologi seseorang
31
.
Kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga khususnya terhadap istri
sering didapati, bahkan tidak sedikit jumlahnya. Dari banyaknya kekerasan
yang terjadi hanya sedikit saja yang dapat diselesaikan secara adil, hal ini
terjadi karena dalam masyarakat masih berkembang pandangan bahwa
kekerasan dalam rumah tangga tetap menjadi rahasia atau aib rumah
tangga yang sangat tidak pantas jika diangkat dalam permukaan atau tidak
layak di konsumsi oleh publik.
Menurut UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
dalam Rumah Tangga (PKDRT), Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah

29
Herkutanto, Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Sistem Hukum Pidana, dalam buku
Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, PT. Alumni, Bandung, 2000, hlm. 267-268.
30
Ciciek Farha, Ikhtiar Mengatasi Kekerasan dalam Rumah Tangga belajar dari
kehidupan Rasulullah SAW , PT. Lembaga Kajian Agama dan Jender, Jakarta, Cet. I, Desember
1999, hlm. 22
31
Mansour Fakih, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
Cet. I, 1996, hlm. 17.

67
setiap perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan yang berakibat
timbulnya kesengsaraan atau penderitaan secara fisik, seksual, psikologi,
atau penelantaran rumah tangga termasuk juga hal-hal yang
mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
kemampuan untuk bertindak, rasa tidak percaya, atau penderitaan psikis
berat pada seseorang
32
.
Dua tahun setelah diterbitkanya UU No 23 tahun 2004 Tentang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (PKDRT), jumlah kasus
kekerasan terhadap perempuan masih cukup tinggi. LBH Asosiasi
Perempuan Indonesia untuk keadilan (APIK) Semarang mencatat
sepanjang Januari – Juni 2007 terjadi 44 kasus kekerasan dalam rumah
tangga.
Akan tetapi dari 44 kasus itu hanya sembilan korban yang
menempuh upaya hukum. Lima korban lapor ke Polisi, tiga korban
mengajukan gugatan cerai, dan seorang melapor kepada instansi dimana
pelaku bekerja.
33

2. Bentuk-bentuk Kekerasan Terhadap Istri
A. Bentuk-bentuk Kekeraan Terhadap Istri
Bentuk-bentuk kekeraan terhadap istri dapat berupa fisik, atau
psikis, hal ini dapat dilakukan secara aktif (menggunakan kekerasan)
atau pasif (menelantarkan) dan pelanggaran seksual.

32
UU RI No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga.
Pustaka fokusmedia, Bandung, Cet. II, Desember, 2006, hlm. 5
33
Suara Merdeka, 7 Agustus 2007.

68
Bentuk-bentuk kekerasan terhadap perempuan menurut undang-
undang PKDRT untuk lebih jelasnya penulis akan mencantumkan
pasal demi pasal yang tertuang dalam pasal 5-9.
Pasal 5.
“Setiap orang dilarang melakukan kekerasan dalam rumah tangga
terhadap orang dalam lingkup rumah tangganya, dengan cara:
a. Kekerasan fisik
b. Kerasan psikis
c. Kekerasan seksual, atau
d. Penelantaran rumah tangga”
Pasal 6
“Kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a adalah
perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat”
Pasal 7
“Kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf b adalah
perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya rasa percaya diri,
hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya, dan/atau
penderitaan psikis berat pada seseorang.
Pasal 8
“Kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf c
meliputi:
a. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang
menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut

69
b. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam
lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan
komersial dan/atau tujuan tertentu”
Pasal 9
(1) Setiap orang dilarang menelantarkan orang dalam lingkup rumah
tangganya, padahal menurut hukum yang berlaku baginya atau
karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan kehidupan,
perawatan, atau pemeliharaan kepada orang tersebut.
(2) Penelantaran sebagaimana dimaksud ayat (1) juga berlaku bagi
setiap orang yang mengakibatkan ketergantungan ekonomi dengan
cara membatasi dan atau melarang untuk bekerja yang layak di
dalam atau di luar rumah sehingga korban berada dibawah kendali
orang tersebut.
34

B. Ketentuan Pidananya diatur dalam Pasal 44 sampai dengan pasal 53.
Pasal 44
(1) Setiap orang yang malakukan perbuatan kekerasan fisik dalam
lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf
a dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau
denda paling banyak Rp 15. 000.000,00 (lima belas juta rupiah).
(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat,
dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun

34
op cit, hlm. 5-6

70
atau denda paling banyak Rp 30.000.000,00 (tiga puluh juta
rupiah)
(3) Dalam Hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
mengakibatkan matinya korban, dipidana dengan pidana penjara
paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp
45.000.000,00 (empat puluh juta rupiah)
(4) Dalam hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh
suami terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan
penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau
mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, dipidana dengan
pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling
banyak Rp 5.000.000,00 (lima juta rupiah)
Pasal 45
(1) Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan psikis dalam
lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud pada pasal 5 huruf b
dipidana dengan penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda
paling banyak Rp 9.000.000,00 (sembilan juta rupiah)
(2) Dalam hal perbuatan sebagimana dimaksud pada ayat (1)
dilakukan oleh suami terhadap istri atau sebaliknya yang tidak
menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan
jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari dipidana
penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp
3.000.000,00 (tiga juta rupiah)

71
Pasal 46
“Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan seksual
sebagaimana dimaksud pada pasal 8 huruf a dipidana penjara paling
lama 12 (dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp 36.000.000,00
(tiga puluh enam juta rupiah)”
Pasal 47
“Setiap orang yang memaksa orang yang menetap dalam rumah
tangganya melakukan hubungan seksual sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 8 huruf b dipidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan
pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling
sedikit Rp 12.000.000,00 (dua belas juta rupiah) atau denda paling
banyak Rp 300.000.000,00 (tiga ratus juta rupiah)”
Pasal 48
“Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksdud dalam Pasal 46 dan
Pasal 47 mengakibatkan korban mendapat luka yang tidak memberi
harapan akan sembuh sama sekali, mengalami gangguan daya pikir
atau kejiwaan sekurang-kurangnya selama 4 (empat) minggu terus
menerus atau 1 (satu) tahun tidak berturut-turut, gugur atau matinya
janin dalam kandungan, atau mengakibatkan tidak berfungsinya alat
reproduksi, dipidana dengan pidana penjara paling lama 20 (dua puluh)
tahun atau denda paling sedikit Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta
rupiah)”

72
Pasal 49
Dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau denda
paling banyak Rp 15.000.000,00 (lima belas juta rupiah), setiap orang
yang:
a. Menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangganya
sebagaimana dimaksud dalam pasal 9 ayat (1).
b. Menelantarkan orang lain sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (2)
Pasal 50
Selain dipidana sebagaimana dimaksud dalam Bab ini hakim dapat
menjatuhkan pidana tambahan berupa:
a. Pembatasan gerak pelaku baik yang bertujuan untuk menjatuhkan
pelaku dari korban dalam jarak dan waktu tertentu, maupun
pembatasan hak-hak tertentu dari pelaku
b. Penetapan pelaku mengikuti program konseling di bawah
pengawasan lembaga tertentu
Pasal 51
“Tindak pidana kekerasan fisik sebagaimana dimaksud dalam Pasal 44
ayat (4) merupakan delik aduan”.
Pasal 52
“Tindak pidana kekerasan psikis sebagaimana dimaksud dalam pasal
46 yang dilakukan oleh suami terhadap istri atau sebaliknya
merupakan delik aduan”.

73
Pasal 53
“Tindak pidana kekerasan seksual sebagaimana dimaksud dalam Pasal
46 yang dilakukan oleh suami terhadap istri atau sebaliknya
merupakan delik aduan”
35
.
Kekerasan dalam Rumah Tangga bukanlah persoalan domestik
(privat) yang tidak boleh diketahui orang lain. KDRT merupakan
pelanggaran hak asasi manusia dan kejahatan terhadap martabat
kemanusiaan serta bentuk diskriminasi yang harus dihapuskan. UU ini
merupakan jaminan yang diberikan negara untuk mencegah terjadinya
kekerasan dalam rumah tangga, menindak pelaku KDRT, dan melindungi
korban KDRT
Undang-undang ini juga tidak bertujuan untuk mendorong
perceraian, sebagaimana sering dituduhkan orang. UU PKDRT ini justru
bertujuan untuk memelihara keutuhan rumah tangga yang (benar-benar)
harmonis dan sejahtera dengan mencegah segala bentuk kekerasan
sekaligus melindungi korban dan menindak pelaku kekerasan dalam
rumah tangga.
Menurut Harkutanto bentuk-bentuk kekerasan dapat berupa
Kekerasan Psikis, bentuk tindakan ini sulit untuk dibatasi pengertiannya
karena sensifitas emosi seseorang sangat berfariasi. Dalam suatu rumah
tangga hal ini dapat berupa tidak diberikannya suasana kasih sayang pada
istri agar terpenuhi kebutuhan emosionalnya. Hal ini penting untuk

35
op cit, hlm. 16-19.


74
perkembangan jiwa seseorang identifikasi yang timbul pada kekerasan
psikis lebih sulit diukur dari pada kekerasan fisik.
Kekerasan Fisik, bila didapati perlakuan bukan karena kecelakaan
pada perempuan. Perlakuan itu dapat diakibatkan oleh suatu episode
kekerasan yang tunggal atau berulang, dari yang ringan hingga yang fatal.
Penelantaran perempuan, penelantaran adalah kelalaian dalam
memberikan kebutuhan hidup pada seseorang yang memiliki
ketergantungan pada pihak lain khususnya pada lingkungan rumah tangga.
Pelanggaran seksual, setiap aktifitas seksual yang dilakukan oleh
orang dewasa atau perempuan. Pelanggaran seksual ini dapat dilakukan
dengan pemaksaan atau dengan tanpa pemaksaan. Pelanggaran seksual
dengan unsur pemaksaan akan mengakibatkan perlukaan yang berkaitan
dengan trauma yang dalam bagi perempuan
36
.

3. Faktor Terjadinya Kekerasan Terhadap Perempuan
Secara garis besar faktor-faktor yang menjadikan kekerasan dalam
rumah tangga dapat dirumuskan menjadi dua, yakni faktor eksternal dan
faktor internal. Faktor ekternal ini berkaitan erat hubunganya dengan
kekuasaan suami dan diskriminasi dikalangan masyarakat. Di antaranya:
a. Budaya patriarkhi yang menempatkan pada posisi laki-laki dianggap
lebih unggul dari pada perempuan dan berlaku tanpa perubahan,
seolah-olah itulah kodrati.

36
op cit, hlm. 268-270.

75
b. Interpretasi agama, yang tidak sesuai dengan universal agama,
misalnya seperti Nusyuz, yakni suami boleh memukul istri dengan
alasan mendidik atau istri tidak mau melayani kebutuhan seksual
suami, maka suami berhak memukul dan istri dilaknat malaikat.
c. Kekerasan berlangsung justru tumpang tindih dengan legitimasi dan
menjadi bagian dari budaya, keluarga, negara dan praktik di
masyarakat sehingga menjadi bagian kehidupan.
Faktor-faktor lain yang menyebabkan terjadinya kekerasan dalam
rumah tangga antara lain:
a. Labelisasi perempuan dengan kondisi fisik yang lemah cenderung
menjadi anggapan objek pelaku kekerasan sehingga pengkondisian
lemah ini dianggap sebagai pihak yang kalah dan dikalahkan. Hal ini
sering kali dimanfaatkan laki-laki untuk mendiskriminasikan
perempuan sehingga perempuan tidak dilibatkan dalam berbagai peran
strategis. Akibat dari labeling ini, sering kali laki-laki memanfaatkan
kekuatannya untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan baik
secara fisik, psikis, maupun seksual.
b. Kekuasaan yang berlindung dibawah kekuatan jabatan juga menjadi
sarana untuk melakukan kekerasan. Jika hakekat kekuasaan
sesungguhnya merupakan kewajiban untuk mengatur, bertanggung
jawab dan melindungi pihak yang lemah, namun sering kali
kebalikannya bahwa dengan sarana kekuasaan yang legitimate,
penguasa sering kali melakukan kekerasan terhadap warga atau

76
bawahannya. Dalam kontek ini misalnya negara terhadap rakyat dalam
berbagai bentuk kebijakan yang tidak sensitif pada kebutuhan rakyat
kecil.
c. Sistem Ekonomi kapitalis juga menjadi sebab terjadinya kekerasan
terhadap perempuan. Dalam sistem ekonomi kapitalis dengan prinsip
ekonomi cara mengeluarkan modal sedikit untuk mencapai keuntungan
sebanyak-banyaknya, maka memanfaatkan perempuan sebagai alat dan
tujuan ekonomi akan menciptakan pola eksploitasi terhadap
perempuan dan berbagai perangkat tubuhnya. Oleh karena itu
perempuan menjadi komoditas yang dapat diberi gaji rendah atau
murah
37
.
Sedangkan faktor internal timbulnya kekerasan terhadap istri adalah
kondisi psikis dan kepribadian suami sebagai pelaku tindak kekerasan
yaitu: a) sakit mental, b) pecandu alkohol, c) penerimaan masyarakat
terhadap kekerasan, d) kurangnya komunikasi, e) penyelewengan seks, f)
citra diri yang rendah, g), frustasi, h) perubahan situasi dan kondisi, i)
kekerasan sebagai sumber daya untuk menyelesaikan masalah (pola
kebiasaan keturunan dari keluarga atau orang tua)
38

Salah satu indikasi permasalahan sosial yang berdampak negatif
pada keluarga adalah kekerasan yang terjadi dalam lembaga keluarga,
hampir semua bentuk kekerasan dalam keluarga oleh laki-laki misalnya

37
Mufidah et al, Haruskah Perempuan dan Anak Dikorbankan? Panduan Pemula Untuk
Pendampingan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, PT. PSG dan Pilar Media,
2006, hlm. 8-10.
38
Siti Zumrotun, Membongkar Fiqh Patriarkhis; Refleksi atas Keterbelengguan
Perempuan dalam Rumah Tangga, STAIN Press, Cet.I, 2006, hlm. 103.

77
pemukulan terhadap istri pemerkosaan dalam keluarga dan lain sebagainya
semua itu jarang menjadi bahan pemberitaan masyarakat karena dianggap
tidak ada masalah, sesuatu yang tabu atau tidak pantas dibicarakan korban,
dari berbagai bentuk kekerasan yang umumnya adalah perempuan lebih
khususnya lagi adalah istri cenderung diam karena merasa sia-sia. Para
korban biasanya malu bahkan tidak berani menceritakan keadaanya
kepada orang lain
4. Dampak Kekerasan Terhadap Perempuan
Dampak kekerasan yang dialami oleh istri dapat menimbulkan
akibat secara kejiwaan seperti kecemasan, murung, setres, minder,
kehilangan percaya kepada suami, menyalahkan diri sendiri dan
sebagainya. Akibat secara fisik seperti memar, patah tulang, cacat fisik,
ganggungan menstruasi, kerusakan rahim, keguguran, terjangkit penyakit
menular, penyakit-penyakit psikomatis bahkan kematian.
Dampak psikologis lainya akibat kekerasan yang berulang dan
dilakukan oleh orang yang memiliki hubungan intim dengan korban
adalah jatuhnya harga diri dan konsep diri korban (ia akan melihat diri
negatif banyak menyalahkan diri) maupun depresi dan bentuk-bentuk
gangguan lain sebagai akibat dan bertumpuknya tekanan, kekecewaan dan
kemarahan yang tidak dapat diungkapkan
39
.
Penderitaan akibat penganiayaan dalam rumah tangga tidak terbatas
pada istri saja, tetapi menimpa pada anak-anak juga. Anak-anak bisa

39
Kristi Poerwandari, Kekerasan Terdahap Perempuan Tinjauan Psikologis dalam buku
Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, Alumni, Bandung, 2000, hlm. 283.

78
mengalami penganiayaan secara langsung atau merasakan penderitaan
akibat menyaksikan penganiayaan yang dialami ibunya, paling tidak
setengah dari anak-anak yang hidup di dalam rumah tangga yang
didalamnya terjadi kekerasan juga mengalami perlakuan kejam. Sebagian
besar diperlakukan kejam secara fisik, sebagian lagi secara emosional
maupun seksual.
Kehadiran anak dirumah tidak membuat laki-laki atau suami tidak
menganiaya istrinya. Bahkan banyak kasus, lelaki penganiaya memaksa
anaknya menyaksikan pemukulan ibunya. Sebagian menggunakan
perbuatan itu sebagai cara tambahan untuk menyiksa dan menghina
pasangannya.
Menyaksikan kekerasan merupakan pengalaman yang sangat
traumatis bagi anak-anak, mereka sering kali diam terpaku, ketakutan, dan
tidak mampu berbuat sesuatu ketika sang ayah menyiksa ibunya sebagian
berusaha menghetikan tindakan sang ayah atau meminta bantuan orang
lain. Menurut data yang terkumpul dari seluruh dunia anak-anak yang
sudah besar akhirnya membunuh ayahnya setelah bertahun-tahun tidak
bisa membantu ibunya yang diperlakan kejam.
Selain terjadi dampak pada istri, bisa juga kekerasan yang terjadi
dalam rumah tangga dialami oleh anak. Diantara ciri-ciri anak yang
menyaksikan atau mengalami KDRT adalah:
a. Sering gugup
b. Suka menyendiri

79
c. Cemas
d. Sering ngompol
e. Gelisah
f. Gagap
g. Sering menderita gangguan perut
h. Sakit kepala dan asma
i. Kejam pada binatang
j. Ketika bermain meniru bahasa dan prilaku kejam
k. Suka memukul teman
40
.
Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan pelajaran pada anak
bahwa kekejaman dalam bentuk penganiayaan adalah bagian yang wajar
dari sebuah kehidupan. Anak akan belajar bahwa cara menghadapi tekanan
adalah dengan melakukan kekerasan. Menggunakan kekerasan untuk
menyelesaikan persoalan anak sesuatu yang biasa dan baik-baik saja.
KDRT memberikan pelajaran pada anak laki-laki untuk tidak
menghormati kaum perempuan.
B. Konsep Kekerasan dalam Rumah Tangga Menurut Hukum Islam.
1. Bentuk-bentuk Kekerasan dalam Rumah Tangga
Kekerasan menurut hukum Islam ini paling sulit dideteksi karena
umumya terjadi di lingkungan domestik yang mencakup hubungan
perkawinan seperti poligami, kekerasan seksual, wali mujbir, belanja
keluarga (ekonomi) talak, dan lain sebagainya.

40
op cit, Farha Ciciek, hlm. 35-37.

80
Al-Qur’an sebagai sumber hukum Islam memang tidak mencakup
seluruh persoalan kekerasan terhadap perempuan, namun banyaknya ayat
yang berbicara mengenai kekerasan terhadap perempuan sudah cukup
menjadi bukti bahwa Islam sangat memberi perhatian terhadap kekerasan
dalam rumah tangga.
Adapun kekerasan yang terjadi dalam rumah tangga perspektif
hukum Islam sebagai berikut:
1. Kekerasan Fisik
Al-Qur’an dan hadits diyakini semua umat Islam sebagai sumber
acuan utama dalam semua tindakan. Kedua sumber tersebut dipelajari
dan dikaji di lembaga pendidikan dan lapisan masyarakat, sehingga
lumrah jika terjadi banyak penafsiran.
Al-Qur’an memberi perhatian bagi istri yang Nusyuz hal ini
dijadikan dasar pemikiran Surat an-Nisa’ ayat 34. Dalam ayat ini yang
dijadikan dasar memberi pelajaran bagi istri yang Nusyuz yaitu
terdapat pada ayat
... ْ ﻲِ ﻓ ﱠﻦُ هْ وُ ﺮُ ﺠْ هاَ و ﱠﻦُ هﻮُ ﻈِ ﻌَ ﻓ ﱠﻦُ هَ زْ ﻮُ ﺸُ ﻧ َ نْ ﻮُ ﻓﺎْ ﺨَ ﺗ ْ ﻲِ ﺗﱠ ﻼﻟاَ و
ﱠ ﻦِ ﻬْ ﻴَ ﻠَ ﻋ اْ ﻮُ ﻐْ ﺒَ ﺗَ ﻼَ ﻓ ْ ﻢُ ﻜَ ﻨْ ﻌَ ﻃَ ا نِ ﺎّ ﻓ ﱠﻦُ هْ ﻮُ ﺑِ ﺮْ ﺿاَ و ِ ﻊِ ﺟﺎَ ﻀَ ﻤﻟا
ﻼْ ﻴِ ﺒَ ﺳ ...ً
“wanita-wanita yang kamu khawatiri Nusyuznya, maka nasehatilah
mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukulah
mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu
mencari-cari jalan untuk menyusahkanya”.

Dalam tafsif al Azhar dijelaskan tindakan-tindakan yang patut
dilakukan suami terhadap istri yang Nusyuz yaitu dengan cara “maka

81
ajarilah mereka” beri mereka petunjuk dan pengajaran, ajarilah
mereka dengan baik, sadarkan mereka akan kesalahanya. Suami
hendaklah menunjukan pimpinan yang tegas dan bijaksana, cara yang
kedua yaitu dengan cara “pisahkanlah mereka dari tempat tidur’
kerapkali istri menjadi hilang kesombonganya karena pengajaran
demikian. Tetapi ada pula perempuan yang harus dihadapi dengan cara
yang lebih kasar, maka pakailah cara yang ketiga “dan pukulah
mereka” tentu saja cara yang ketiga ini hanya dilakukan kepada
perempuan yang sudah memang patut dipukul
41
. Dari pemahaman
surat an Nisa’ inilah banyak suami yang melakukan kekerasan
terhadap istri dalam segala bentuknya.
Sebagian Ulama’ menafsirkan al-Qur’an tentang pemukulan ini,
pertama, pemukulan tidak boleh di arahkan ke wajah, kedua,
pemukulan tidak boleh sampai melukai, dianjurkan dengan benda yang
paling ringan, seperti sapu tangan. Ketiga pemukulan dilakukan dalam
rangka mendidik. Keempat, pemukulan dilakukan dalam rangka
sepanjang memberikan efek manfaat bagi keutuhan dan keharmonisan
kembali relasi suami istri
42
.
Nabi Muhammad melarang seseorang melakukan kekejaman
dan penyiksaan. Beliau bersabda, “ tidak seorangpun boleh di jatuhi
hukuman dengan api” dan juga memperingatkan agar tidak memukul
siapapun pada wajahnya. Dalam hukum pidana, beberapa hukuman

41
Hamka, Tafsir al-Azhar, Juz V, Pustaka Panjimas, Jakarta, 1983. hlm. 48-49.
42
Husen Muhammad, Islam Agama Ramah Perempuan Pembelaan Kiai Pesantren, LKiS,
Yogjakarta, Cet. I, 2004, hlm. 242.

82
mungkin terlihat berat atau bahkan keras. Hukuman berat di ancam
bagi beberapa kejahatan seperti perzinaan. Islam memandang
kejahatan tersebut adalah perbuatan yang keji dan konsekuensinya
sangat menyakitkan. Contoh lainnya adalah pencurian yang
dikategorikan dalam hukuman hudud, Hukuman bagi kejahatan ini
adalah potong tangan.
43

2. Kekerasan Psikis
Selain kekerasan fisik Islam juga memperhatikan kekerasan
psikis, sebagaimana kisah Khaulah binti Tsalabah mengadu kepada
Rasulullah karena selalu dicaci maki oleh suaminya Aus bin Samit,
Khaulah seorang muslimah yang taat beribadah dan taat pada suami.
Sehingga walaupun dicaci ia tetap bersabar, tetapi pada suatu hari
hilanglah kesabaranya karena dizhihar suaminya, lantaran marah
hanya karena pulang tidak ada makanan. Malam harinya Khaulah
menolak dicampuri suaminya. Peristiwa ini diajukan pada Rasulullah
lalu turunlah surat al Mujadalah ayat 1-6 tentang zhihar ayat ini
mengandung makna agar para suami tidak mudah menzhihar
istrinya
44
.
Ada sebuah hadits yang menjelaskan apabila seseorang telah
mengilla’ istrinya, mereka harus membayar kafarah ketika ia akan
mengauli istrinya.

43
Topo Santoso, Membumikan Hukum Pidana Islam, Gema Insani, Jakarta, 2003, hlm. 73.
44
op cit, Siti Zumrotun, hlm. 111.

83
ْ ﺖَ ﻟﺎَ ﻗ ﺎَ ﻬْ ﻨَ ﻋ ُ ﷲا َ ﻰِ ﺿَ ر َ ﺔَ ﺸِ ﺋﺎَ ﻋ ْ ﻦَ ﻋ : َ ﻞَ ﺻ ِ ﷲا َ لْ ﻮُ ﺳَ ر ﻰَ ﻟِ ا
َ ﺳَ و ِ ﻪْ ﻴَ ﻠَ ﻋ ُ ﷲا َ ﻞَ ﻌَ ﺟَ و َ لَ ﻼَ ﺤْ ﻟا َ ﻞَ ﻌَ ﺠَ ﻓ َ مﱠ ﺮَ ﺣَ و ِ ﻪِ ﺋﺎَ ﺴَ ﻧ ْ ﻦِ ﻣ ْ ﻢﱠ ﻠ
ً ةَ رﺎﱠ ﻔَ آ ِ ﻦْ ﻴِ ﻤَ ﻴْ ﻠِ ﻟ ) تﺎﻘﺛ ﻪﺗاورو ىﺬﻣﺮﺘﻟا ﻩاور (
Artinya: dari Aisyah ra. Mengatakan “Rasulullah saw bersumpah illa’
terhadap istri-istrinya dan mengharamkan mereka, kemudian
menjadikan yang haram menjadi halal dan menyebar kafarah
tebusan sumpahnya”. (HR. Tirmidzi)

Dalam hadist tersebut dijelaskan bahwa illa’ itu merupakan
sumpah untuk suami terhadap istrinya untuk tidak menggauli istrinya
hingga waktu yang ditentukan.
Para ulama sepakat ketika suami mengilla’ istrinya selama 4
bulan berturut-turut maka tidak boleh menjima’nya. Suami ketika akan
menjima’ istrinya lagi ia harus membayar kifarat yaitu memerdekakan
budak jika ada. Apabila tidak menemukan budak, maka puasa dua
bulan berturut-turut, apabila tidak mampu, maka memberi makan 60
orang miskin.
45

Banyak ayat al-Qur’an yang menunjukan bahwa antara
perempuan dan laki-laki itu sama atau setara misalnya tentang
kesempatan mendapatkan pahala, hubungan perempuan dengan laki-
laki dan juga kerabatnya. Dalam hal kepemilihan, Islam memberi hak
bagi perempuan untuk memilih jodoh. Semula hak itu ditentukan oleh
wali, setelah Islam datang tuntutan Islam anak gadis yang akan
dinikahkan, diajak bicara dan ikut menentukan pilihanya.
3. Kekerasan Seksual

45
Ibnu Hajar al Asqolani, Bulughul Maram, PT. Toha Putra, Semarang, tt, hlm. 237

84
Yang dimaksud kekerasan ini adalah pemaksaan aktivitas
seksual oleh satu pihak terhadap pihak lain; suami terhadap istri, atau
sebaliknya yang biasa disebut dengan marital rape, akan tetapi
pemahaman ini lebih dipahami berbagai kalangan marital rape adalah
istri yang beroleh tindak kekerasan seksual suami dalam sebuah
perkawinan atau rumah tangga. Dengan demikian marital rape
merupakan tindak kekerasan atau pemaksaan yang dilakukan oleh
suami terhadap istri untuk melakukan aktifitas seksual tanpa
pertimbangan kondisi istri
46
.
Berdasarkan pada beberapa pengertian marital rape di atas,
dapat dirumuskan bentuk-bentuk marital rape sebagai berikut: (1)
Hubungan seksual yang tidak dikehendaki istri karena ketidak siapan
istri dalam bentuk fisik dan psikis. (2) Hubungan seksual yang tidak
dikehendaki istri misalnya dengan oral atau anal .(3) Hubungan
seksual disertai ancaman kekerasan atau dengan kekerasan yang
mengakibatkan istri mengalami luka ringan ataupun berat
47
.
Terkait dengan masalah seksualitas suami istri, ada beberapa
statemen al-Qur’an yang bisa dikemukakan diantaranya dalam surat al
Baqarah ayat 187 yaitu:
... ﻦﻬﻟ سﺎﺒﻟ ﻢﺘﻧاو ﻢﻜﻟ سﺎﺒﻟ ﻦه ...
“Mereka (istri-istrimu) adalah pakaian bagimu dan kamu adalah
pakaian bagi mereka”


46
Milda Marlia, Marital Rape Kekerasan Seksual Terhadap Istri, PT, LKiS Pelangi
Aksara, Yogjakarta, Cet. 1, 2007. hlm. 11
47
Ibid, hlm. 13

85
Ayat lain juga menyatakan bahwa suami harus menggauli
istrinya dengan ma’ruf ini tentunya tidak diperbolehkan adanya
kekerasan baik pemukulan, penganiayaan dan lain sebagainya.
Al Syirazi mengatakan meskipun pada dasarnya istri wajib
melayani permintaan suami, akan tetapi jika memang tidak terangsang
untuk melayaninya, ia boleh menawarnya atau menangguhkannya, dan
bagi istri yang sedang sakit atau tidak enak badan, maka tidak wajib
baginya untuk melayani ajakan suami sampai sakitnya hilang. Jika
suami tetap memaksa pada hakekatnya ia telah melanggar prinsip
muasyaroh bil ma’ruf dengan berbuat aniaya kepada pihak yang justru
seharusnya ia lindungi.
48

Ulama’ Madzhab memandang ‘azl (coitus interruptus) yakni
menarik dzakar (penis) keluar dari farji (vagina) pada saat-saat mau
keluar mani. Tiga dari empat madzhab yaitu: Imam Hanafi, Imam
Maliki, dan Hambali sepakat bahwa ‘azl tidak boleh dilakukan begitu
saja oleh suami tanpa seizin istri, dengan alasan dapat merusak
kenikmatan istri. Umar berkata:
ﺎَ ﻬِ ﻧْ ذِ ﺈِ ﺑ ﱠ ﻻِ إ ِ ةَ أْ ﺮَ ﻤﻟْ ا ِ ﻦَ ﻋ َ لِ ﺰْ ﻌَ ﻳ ْ نَ ا ﷲا ُ لْ ﻮُ ﺳَ ر ﻰَ ﻬَ ﻧ .
Rasulullah melarang seseorang malakukan ‘azl tanpa seizin istrinya.
(HR. Ibnu Majah)

Sejalan dengan prinsip melindungi hak istri untuk menikmati
hubungan seksnya. Dengan merujuk pada hadits di atas jelas bagi kita

48
Masdar F. Mas’udi, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, PT. Mizan Hazanah
Ilmu-ilmu Islam, Bandung, Cet. II, 1997, hlm. 113.

86
bahwa dalam hubungan seks dan justru pada detik-detik
kenikmatannya istri sama sekali bukan hanya objek tapi juga menjadi
subjek.
49

Dari sini jelaslah perspektif al-Qur’an melarang adanya
pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan suami terhadap istri atau
marital rape, ia bertentangan dengan prinsip-prinsip dasar Islam
tentang seksualitas dalam perkawinan.
4. Kekerasan Ekonomis
Yang dimaksud kekerasan ekonomi ialah apabila suami tidak
memberikan nafkah, perawatan atau pemeliharaan sesuai dengan
hukum yang berlaku atau perjanjian antara suami dan istri tersebut.
Selain itu juga yang termasuk dalam kategori penelantaran ekonomi
adalah membatasi atau melarang untuk bekerja yang layak di dalam
atau di luar rumah, sehingga korban dibawah kendali orang tersebut.
Islam mengatur secara jelas melalui pengalaman-pengalaman
masa kenabian Muhammad, jelaslah bahwa Islam tidak menoleransi
penelantaran dan kekerasan dari segi ekonomi.
Islam menetapkan kewajiban memberi nafkah kepada istri, oleh
karena itu seorang suami yang tidak memberi nafkah kepada istrinya
telah berdosa kapada istrinya dan Tuhan.
Dan para istri yang menuntut suami untuk membelikan sesuatu
selain keperluan-keperluan pokok yang menjadi tanggung jawab suami

49
Ibid, hlm. 117-118.

87
harus benar-benar dipertimbangkan apakah menurut ajaran agama
sesuatu yang dimintanya itu merupakan pemborosan ataukah benar-
benar menjadi kebutuhan hidup, sedangkan keperluan istri yang
menjadi tanggung jawab suami adalah:
a. Keperluan makan dan minum
b. Keperluan pakaian
c. Keperluan pengobatan dan pemeliharaan kesehatan
d. Seorang istri juga hendaknya mempertimbangkan hal-hal yang
akan diminta kepada suaminya, sehingga tidak membebani suami
dengan tuntutan diluar kewajibanya
50

Adapaun dasar kewajiban suami menafkahi istri tersebut dalam
firman Allah Q.S. Al Baqarah ayat 233.
N≡$!≡´θ9#´ρ ´⎯èʯ`ƒ ´⎯δ‰≈ 9ρ& ⎦,!¯θm ⎦⎫=Β%. ⎯ϑ9 Š#´‘& β& Λ⎢`ƒ πã$ʯ9#
’? ã´ρ Šθ9¯θRQ# …`&! ´⎯γ%—‘ ´⎯·κE´θ`¡.´ρ ∃ρ`è RQ$/
“Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun
penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan
kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan
cara ma'ruf”.

Dari beberapa paparan di atas jelas sekali bahwa Islam benar-
benar telah melarang bertindak kekerasan terhadap istri, termasuk juga
penelantaran pemberian nafkah. Bahkan ketika terjadi cerai pun Islam
masih memberi perhatian terhadap perempuan, salah satunya adalah

50
Muhammad Thalib, Ketentuan Nafkah Istri dan Anak, PT. Irsyad Baitus Salam,
Bandung, Cet. I, 2000. hlm. 21-22.

88
dengan adanya Iddah, dan larangan mengambil kembali sesuatu yang
telah diberikan kepadanya, hal ini dijelaskan dalam surat al-Baqoroh
ayat 229:
... Ÿω´ρ ‘≅t† ¯Ν6 9 β& #ρ‹{'? $´ϑΒ ´⎯δθϑF?#´™ $↔‹© ω) β& $ù$ƒ† ω&
$ϑŠ)`ƒ Šρ‰`m ´!# β*ù Λ⎢z ω& $´Κ‹)`ƒ Šρ‰`n ´!#
“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah
kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak
akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir
bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum
Allah.
51


2. Faktor-faktor Terjadinya Kekerasan dalam Rumah Tangga
Faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya kekerasan terhadap istri
antara lain:
a. Istri melakukan Nusyuz, suami boleh memukul bagian badan istri
kecuali wajah istri, sebab hal ini merupakan hak istri manakala istri
melakukan kesalahan. Hal ini boleh dilakukan jika memang membawa
faedah, jika tidak maka tidak perlu malakukan pemukulan
52
.
b. Istri tidak mengindahkan kehendak suami untuk berhias dan bersolek.
Juga karena istri menolak diajak ke tempat tidur.
c. Istri keluar dari rumah tanpa izin, istri memukul anaknya menangis.
d. Istri menghina suami dengan kata-kata yang tidak enak didengar.
e. Istri berbincang-bincang dengan laki-laki lain bukan muhrimnya.

51
Depertemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara Penerjemah
al Qur’an, 1997. hlm. 37.
52
Muhammad bin Umar An-Nawawi, Syarah Uqudullujain Etika Rumah Tangga, Pustaka
Amani, Jakarta, Cet II, 2000. hlm. 22.

89
f. Istri tidak mandi haid ketika sudah memasuki waktu suci.
53
Hal ini
menyebabkan suami tidak bisa menggauli istrinya.
3. Dampak Kekerasan dalam Rumah Tangga
Korban kekerasan bisa mengenali fakta kekerasan psikis sementara
waktu, sebagai pengenalan awal untuk menyadari seseorang diketahui
menjadi korban atau sedang menderita gangguan psikologis sebagai
variasi dan tanda-tanda terganggunya kondisi psikologis
a. Ketakutan (fear). Diantara gejala yang muncul seperti jika seseorang
berada dalam keadaan kecemasan berkelanjutan karena relasi dirasa
tidak berimbang. Seseorang merasa sama sekali tidak bisa mengambil
keputusan terutama dalam situasi mendesak. Selalu khawatir bersikap
karena ketergantungan permanen.
b. Rasa tidak percaya diri (PD). Rasa tidak PD dapat berarti orang tidak
bisa membuat konsep diri positif orang kemudian terjangkiti dan
didominasi oleh konsep diri negatif hingga tidak menemukan cara
menghargai dirinya. Gejala ini ditandai dengan oleh sikap merendah
terus menerus atau minder (inferior), selalu menyerahkan urusan
kepada orang lain, dan merosotnya eksistensi diri hingga tidak lagi
memiliki harapan untuk membuat nilai positif dalam hidupnya.
c. Hilangnya kemampuan untuk bertindak. Orang dengan situasi trauma
atau mengalami kejenuhan permanen akibat harga dirinya lemah akan
jatuh pada situasi pesimis dalam memandang hidup dan hingga enggan

53
Ibid, 35.

90
melakukan tindakan yang sesuai dengan apa yang diharapkanya. Efek
kekerasan psikis menimbulkan trauma degenetatif (mematahkan
semangat berkembang generasi)
d. Adanya situasi tidak berdaya (helplessness) situasi ini juga merupakan
gangguan pribadi dan dikatakan orang sakit secara psikologis. Ciri-ciri
helplessness antara lain putus asa, menyerah sebelum berbuat,
fatalistic, dan selalu menggantung diri, pada otoritas. Orang yang tidak
berdaya akan sulit melakukan komunikasi
54





















54
op cit, hlm. 94.

91
BAB III
PUTUSAN DAN PERTIMBANGAN HAKIM TERHADAP KDRT DI
PENGADILAN NEGERI SALATIGA
D. Gambaran Umum Tentang Pengadilan Negeri Salatiga
1. Sejarah Pengadilan Negeri Salatiga
Pengadilan Negeri Salatiga dibentuk pada abad ke-19 yaitu tahun
1896 berupa Landraad untuk keperluan Warga Negara Asing dan Belanda,
Pemerintah Daerah pada masa itu berupa Kabupaten Semarang dan
Kawedanan Salatiga yang berpusat di Salatiga berbentuk Gamanto yang
pada perubahannya setelah kemerdekaan menjadi kota Pbebek dan kini
berbentuk Kotamadya. Pada waktu berbentuk Landraad hakim-hakim di
Salatiga terdiri atas tokoh Ahli Hukum pada jaman itu yaitu:
1) Mr. Whirlmink
2) Mr. Carnalis
3) Mr. Peter
4) Mr. Ter Haar
5) Mr. Lekkerkarkar
6) Mr. Sebeeler
7) Mr. Rykee
8) Mr. Cayauk
9) Mr. Dr. Gondo Koesoemo
10) Mr. Shoot
11) Mr. Wiednar

92
12) Mr. R. Soeprapto
Pada masa Pendudukan Jepang (Tihoo-Ho-in)
1) Mr. Lio Oen Hok
2) P. Salamoon
Pada Jaman ReVolusi kemerdekaan Ketua Pengadilan Negeri Salatiga
adalah:
1) Mr. Trank
2) Mr. Kresno
Setelah Indonesia Merdeka, yang pernah menjadi Ketua Pengadilan
Negeri Salatiga adalah:
1) Mr. Soebiyono
2) Mr. Woeryanto
3) Soehono Soedjo, SH.
4) Soenarso, SH.
5) Soeharto, SH.
6) Acmadi, SH.
7) Imam Soetikno, SH.
8) H. Mohammad Hatta, SH.
9) Soetopo, SH.
10) Djautan Purba, SH.
11) Agus Air Guliga, SH.
12) Sarwono Soekardi, SH.
13) Sabirin Janah, SH.

93
14) Suhartatik, SH.
15) Tewer Nussa Steven, SH.
16) Winaryo, SH.MH. (Sekarang).
Dalam perkembanganya Wilayah daerah Pemerintahan mengalami
perubahan demikian juga daerah Hukum Pengadilan Negeri Salatiga.
Untuk mengatur Wilayah Kabupaten Semarang yang begitu luas, pada
tahun 1963 Pengadilan Negeri Salatiga terpecah menjadi dua yaitu:
1) Pengadilan Negeri Salatiga dengan wilayah Hukum Kabupaten
Semarang bagian Selatan dan Kotamadya Salatiga.
2) Pengadilan Negeri Ambarawa dengan wilayah Kabupaten Semarang
bagian Utara.
Setelah pembagian wilayah Hukum tersebut, maka pada tahun 1983
berdasarkan proses pengurangan Wilayah Hukum maka kejaksaan Negeri
Salatiga mempunyai 2 (dua) wilayah hukum, yaitu:
1) Kejaksaan Negeri Salatiga sebagai penuntut umum di Wilayah
Kotamadya Salatiga yang terdiri atas satu kecamatan.
2) Kejaksaan Ambarawa dengan wilayah Hukum Kabupaten Semarang
bagian Selatan, namun setelah Pengadilan Negeri Kabupaten Ungaran
diresmikan, Wilayah Pengadilan Negeri Salatiga yang tadinya meliputi
Kabupaten Semarang bagian Selatan, maka Wilayah Hukum
Pengadilan Negeri Salatiga tinggal 1 (satu) Kecamatan terdiri dari 9
(sembilan) Kelurahan. Dan dalam perkembangannya saat ini Wilayah

94
Hukum Pengadilan Negeri Salatiga meliputi 4 (empat) Kecamatan
terdiri dari 22 (dua puluh dua) Kelurahan.
2. Kewenangan Pengadilan Negeri Salatiga.
a. Tugas dan Wewenang Ketua Pengadilan:
1) Menetapkan/menentukan hari-hari tertentu untuk melakukan
persidangan perkara.
2) Menetapkan panjar biaya perkara. Dalam hal penggugat atau
tergugat tidak mampu, ketua dapat mengizinkannya untuk beracara
secara prodeo.
3) Membagi perkara gugatan dan permohonan kepada hakim untuk
disidangkan
4) Dapat mendelegasikan wewenang kepada Wakil Ketua untuk
membagi perkara permohonan dan menunjuk Hakim untuk
menyidangkannya.
5) Menunjuk Hakim untuk mencatat gugatan atau permohonan secara
lesan
6) Memerintahkan kepada Jurusita untuk melakukan pemanggilan,
agar terhadap termohon eksekusi dapat dilakukan teguran
(anmaning) untuk memenuhi putusan yang telah berkekuatan
hukum tetap, putusan serta merta, putusan provisi dan
melaksanakan eksekusi lainnya.
7) Memerintahkan kepada Jurusita untuk melaksanakan somasi.

95
8) Berwenang menangguhkan eksekusi untuk jangka waktu tertentu
dalam hal ada gugatan perlawanan. Berwenang memerintah,
memimpin, serta mengawasi eksekusi sesuai ketentuan yang
berlaku.
9) Menetapkan biaya Jurusita dan menetapkan biaya eksekusi.
10) Menetapkan:
- Pelaksanaan lelang
- Tempat pelaksanaan lelang
- Kantor lelang Negara sebagai pelaksana lelang
11) Melaksanakan putusan serta merta:
- Dalam hal perkara dimohonkan banding wajib meminta izin
kepada Pengadilan Tinggi.
- Dalam hal perkara dimohonkan kasasi wajib meminta izin
kepada Mahkamah Agung
12) Menyelesaikan permohonan kewarganegaraan
13) Melakukan penyumpahan terhadap permohonan kewarganegaraan
yang telah memperoleh Surat Keputusan Presiden.
14) Menyediakan buku khusus untuk anggota Hakim Majlis yang ingin
menyatakan berbeda pendapat dengan kedua anggota Hakim Majlis
lainya dalam memutuskan perkara serta merahasiakannya
15) Mengawasi pelaksanaan court calender dan mengumumkannya
pada pertemuan berkala para Hakim. Meneliti court calender yang

96
membina hakim agar memutus perkara yang diserahkan kepadanya
paling lama 6 bulan.
16) Mengevaluasi laporan mengenai penanganan perkara yang
dilakukan Hakim dan Panitera Pengganti, selanjutnya mengirimkan
laporan dan hasil evaluasinya secara periodik kepada Pengadilan
Tinggi dan Mahkamah Agung.
17) Memberikan izin berdasarkan ketentuan undang-undang untuk
membawa keluar dari ruang Kepaniteraan: daftar, catatan, berita
acara serta berkas perkara.
18) Meneruskan SEMA, PERMA dan surat-surat dari Mahkamah
Agung atau Pengadilan Tinggi yang berkaitan dengan hukum dan
perkara kepada para Hakim, Panitera, Wakil Panitera, Panitera
Muda, Panitera Pengganti dan Jurusita.
b. Tugas dan Wewenang Wakil Ketua Pengadilan
a. Melaksanakan tugas ketua apabila ketua berhalangan.
b. Melaksanakan tugas yang didelegasikan oleh ketua kepadanya.
c. Dalam hal Ketua mendelegasikan wewenang pembagian perkara
permohonan, harus membagikannya kepada Hakim secara merata.
c. Tugas dan Wewenang hakim/Ketua Majlis
a. Menetapkan hari sidang
b. Menetapkan sita jaminan
c. Bertanggung jawab atas pembuatan dan kebenaran berita acara
persidangan.

52
3. Struktur Pengadilan Negeri Salatiga
Struktur Organisasi Pengadilan Negeri Salatiga adalah sebagai berikut:

KETUA
ERWIN TUMPAK PASARIBU, SH. MH.

WAKIL KETUA
SRI HERAWATI, SH. MH
MAJELIS HAKIM
VICTOR TOGI R., SH
HISBULLAH, SH.
NELSON P., SH
NINIK H., SH
FERI SUMELANG, SH.
PANITERA / SEKRETARIS
SUTJIPTO HADI, SH.

WAKIL PANITERA
SRI PRIHUTAMI
WAKIL SEKRETARIS
SUSI HANDAYANI W., SH.
KEPANITERAAN PERDATA/
PANITERA MUDA PERDATA.

S.ER.RIJADI, SH
NIKEN PRAMESTI
DWI SETYONINGRUM, SH
WINARNO
KEPANITERAAN PIDANA/
PANITERA MUDA PIDANA.

ABADI, SH.
ENDANG SUMARNI
YUWONO
WEDOWATI, SH.
KEPANITERAAN HUKUM/
PANITERA MUDA HUKUM.

ENDANG WUEDIAATI, SH.
ERI PRIHANTONO
AHMAD WAHYUDIN
S. YUNANTO AW,SH
S. HANANTA, SH.
URUSAN KEPEGAWAIAN


CATUR PRIO KUNCORO
JUWARINI
SURATIYEM
URUSAN KEUANGAN


WIDODO
SITI KHOTIJAH, SH.
SUHARNI
URUSAN UMUM

IVAN R.A. TULANDI
SOETARNO
MASRUR SHOKEH
SUTIMIN
SUBARDI
NGARBI
ARTIYANI
KELOMPOK FUNGSIONAL KEPANITERAAN
1. PANITERA PENGGANTI
2. JURUSITA/JURUSITA PENGGANTI

SUKARMAN
KAMAMI
SURYA KARYOSA
MARGANA
E.M. DWI ANGGOROWATI
SRI TEGUH WALUYO, SH.
RINI ADRIATI, SH.
WIGATI HARYATI
SUMINAH, SH.
ACHMAD RAFFIK ARIEF, SH.
R. RUDI HARSOJO
MULYADI, SH.
BAGAN SUSUNAN PENGADILAN NEGERI SALATIGA


53
53
E. Putusan Hakim Terhadap Kekerasan dalam Rumah Tangga Di Pengadilan
Negeri Salatiga.
Perkara kekerasan dalam rumah tangga selama adanya Undang-undang
Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga terdapat empat putusan, satu
putusan terhadap adik ipar, satunya lagi putusan terhadap kemenakan dan dua
putusan terhadap istri. Dalam pembahasan ini, penulis hanya mencantumkan
dua putusan kekerasan terhadap istri.
1. Putusan Nomor : 116/Pid.B/PN.Sal/2005
Pengadilan Negeri Salatiga yang memeriksa dan mengadili perkara
pidana dalam tingkat pertama, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut
dalam perkara terdakwa:
Nama : BMB Bin SD
Tempat Lahir : Semarang
Umur/ tanggal lahir : 26 tahun / 24 Nopember 1979
Jenis Kelamin : Laki-laki
Kewarganegaraan : Indonesia
Alamat : Karang Kepoh I Rt. 6/I Kel. Tegalrejo Kc.
Argomulyo Kota Salatiga
Agama : Islam
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA
Terdakwa tidak di tahan:


54
54
Terdakwa tidak didampingi penasehat hukum tetapi akan menghadapi
sendiri perkaranya di Pengadilan Negeri tersebut;
Telah membaca:
1. Surat pelimpahan perkara biasa dari penuntut umum/ kepala Kejaksaan
Negeri Salatiga No. B-1354/0.3.20/ Ep. 2/12/2005, yang isinya pada
pokoknya meminta agar Ketua Pengadilan Negeri Salatiga menetapkan
hari persidangan untuk memeriksa dan mengadili perkara tersebut dan
menetapkan pemanggilan terhadap para Terdakwa dan saksi-saksi serta
mengeluarkan penetapan untuk tetap menahan para Terdakwa.
2. Surat dakwaan Penuntut Umum tanggal: 21 Desember 2005, Nomor
regester perkara PDM-/SALTI / Ep.2 / 12 / 2005 serta surat-surat yang
berkaitan dengan perkara tersebut.
a. Setelah memperhatikan barang bukti didalam perkara tersebut
b. Setelah mendengar keterangan saksi-saksi dan Terdakwa dimuka
persidangan
c. Setelah memperhatikan Visum Et Repertum
d. Setelah mendengar pula pembacaan tuntutan Pidana dari Penuntut
Umum tanggal 16 Februari 2006 No. Reg. Perk. PDM-
45/SALTI/Ep. 2.12/2005 yang pada pokoknya agar Majlis Hakim
yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan:
- Menyatakan Terdakwa BMB Bin SD bersalah melakukan
perbuatan pidana melakukan kekerasan fisik dalam lingkup


55
55
rumah tangga sebagaimana dalam dakwaan Primair melanggar
Pasal 44 Ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004.
- Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa BMB Bin SD dengan
pidana penjara selama 1 (satu) tahun dengan masa percobaan 2
(dua) tahun
- Menyatakan barang bukti berupa lembaran kertas putih ukuran
panjang 40 cm lebar 30 cm tebal 0,5 cm terbungkus plastik
warna putih dirampas untuk di musnahkan
- Menetapkan agar terdakwa dibebani membayar biaya perkara
sebesar Rp 1.000. (seribu rupiah)
Setelah mendengar dan memperhatikan pembelaan secara lisan dari
Terdakwa dimuka persidangan pada tanggal 16 Februari 2006 yang pada
pokoknya memohon agar Majlis Hakim menjatuhkan putusan yang
seringan-ringanya bagi diri terdakwa.
Menimbang bahwa selanjutnya Terdakwa oleh Penuntut Umum
dihadapkan ke muka persidangan karena telah didakwa
Primair
Bahwa Terdakwa BMB bin SD pada hari Rabu tanggal 28 September
2005 sekira jam 13.00 WIB atau setidak-tidaknya pada waktu lain di tahun
2005 bertempat di Rumah Jl. Karang Kepoh I Rt. 6/I Kel. Tegalrejo Kec.
Argomulyo Kota Salatiga atau setidak-tidaknya pada suatu tempat lain
yang masih termasuk dalam wilayah hukum Pengadilan Negeri Salatiga,
melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga


56
56
sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 UU No. 23 tahun 2004, perbuatan
tersebut dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut:
Pada waktu dan tempat seperti tersebut di atas terdakwa BMB Bin
SD hendak pamitan pergi kepada istri yaitu saksi korban RA kemudian
saksi korban menjawab dengan kata-kata “paling kamu keluar bersama
cewek yang bernama GTN” lalu terdakwa bilang “kamu sok tahu” dari
kata-kata tersebut akhirnya terjadi pertengkaran mulut antara terdakwa
dengan saksi korban RA selanjutnya terdakwa mengibaskan satu bendel
kertas folio mengenai dahi saksi korban sebanyak satu kali, lalu saksi
korban RA membalas memukul terdakwa menggunakan sapu lidi
mengenai pinggang sebelah kiri sebanyak tujuh kali. Setelah mendapat
perlawanan (balasan) dari saksi korban RA lalu terdakwa menjadi emosi
dan langsung memukul saksi korban RA dengan tangan kosong mengenai
pelipis mata sebelah kiri sebanyak satu kali, akibat pukulan terdakwa
tersebut saksi korban RA menderita sakit atau membuat saksi korban RA
terhalang untuk menjalankan pekerjaan sementara itu, sebagaimana hasil
pemeriksaan Visum Et Repertum No. 370/1652 tanggal 11 Oktober 2005
yang ditandatangani oleh Dr. Jamaludin pada Badan Pengelolaan RSUD
Kota Salatiga dengan kesimpulan: memar pada pipi kiri, bergaris 0,5 cm
dapat disebabkan oleh persentuhan benda tumpul.
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam
pasal 44 ayat 1 Undang-undang No. 23 tahun 2004.


57
57
Subsidair:
Bahwa terdakwa BMB Bin SD pada waktu dan tempat sebagaimana
diuraikan dalam dakwaan primair tersebut di atas melakukan perbuatan
kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam
pasal 5 huruf a UU. Nomor 23 tahun 2004 yang dilakukan oleh suami
terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau
kegiatan sehari hari, perbuatan tersebut dilakukan dengan cara-cara
sebagai berikut:
Pada waktu dan tempat seperti tersebut di atas, ketika terdakwa
hendak pamitan pergi kepada istri yaitu saksi korban RA kemudian saksi
korban menjawab dengan kata kata “paling kamu keluar bersama cewek
yang bernama “GTN” lalu terdakwa bilang “kamu sok tau” dari kata-kata
tersebut akhirnya terjadi pertengkaran mulut antara tedakwa dengan saksi
korban RA membalas memukul terdakwa menggunakan sapu lidi
mengenai pinggang sebelah kiri sebanyak 7 kali, setelah mendapat
perlawanan (balasan) dari saksi korban RA menderita luka sebagaimana
hasil pemeriksaan Visum et Repertum Nomor 370/1652 tanggal 11
Oktober 2005 Kota Salatiga dengan kesimpulan: Memar pada pipi bergaris
0,5 cm dapat disebabkan oleh benda tumpul.
Perbuatan terdakwa sebagaimana dasar dan diancam pidana dalam
pasal 44 ayat (4) UU No. 23 Tahun 2004.


58
58
Menimbang : bahwa terdakwa di muka persidangan telah mendengar,
mengerti dan membenarkan isi surat dakwaan tersebut serta
tidak akan mengajukan keberatan/eksepsi:
Menimbang : bahwa dari fakta-fakta yang terungkap di persidangan
tersebut, majlis hakim akan meneliti apakah Terdakwa
terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan
sebagaimana didakwakan oleh Penuntut Umum
Menimbang : bahwa Terdakwa oleh Penuntut Umum telah didakwa
melakukan perbuatan sebagaimana diatur dan diancam
dalam pasal Primair melanggar pasal 44 ayat (1) UU No. 23
Tahun 2004, Subsider melanggar pasal 44 ayat (1) UU No.
23 Tahun 2004 yang mengandung unsur-unsur sebagai
berikut:
1. Setiap Orang
Menimbang : bahwa yang dimaksud setiap orang adalah orang atau
pribadi yang merupakan subyek hukum pendukung hak
dan kewajiban yang mampu melakukan perbuatan yang
dapat dipidana dan dipersalahkan sebagai pelaku suatu
tindak pidana.
Menimbang : bahwa Terdakwa BMB bin SD adalah pribadi atau orang
yang beridentitas sebagaimana tersebut dalam dakwaan,
keadaan jasmani/ rohani sehat dan cukup umur/ dewasa
keterangan mana sesuai dengan pemeriksaan disidang,


59
59
terdakwa mengerti dan membenarkan dakwaan apabila
ternyata terdakwa sebagai subyek hukum adalah pelaku
perbuatan dari tindak pidana yang didakwakan
kepadanya dan bukan orang lain selain terdakwa
Menimbang : bahwa namun demikian unsur setiap orang ini telah
terpenuhi pula sehingga terbukti secara sah dan
meyakinkan
2. Melakukan Perbuatan Kekerasan Fisik
Menimbang : bahwa yang dimaksud dengan kekerasan fisik dalam
pasal 6 UU No. 23 Tahun 2004 adalah perbuatan yang
mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat;
Menimbang : bahwa berdasarkan pengertian di atas dan fakta-fakta
yang terungkap di persidangan, yang didukung oleh
keterangan saksi dan juga terdakwa serta bukti Visum Et
Revertum terdakwa telah melakukan kekerasan fisik
berupa pemukulan terhadap istrinya yaitu saksi korban
RA pada hari Rabu tanggal 28 September 2005 antara
jam 13.00 WIB sampai dengan 13.30 WIB di dalam
kamar di rumah Terdakwa dengan menggunakan
gulungan kertas yang mengenai muka saksi korban RA
dan dengan menggunakan tangan kosong yang mengenai
pipi sebelah kirinya dan kepalanya merasa pusing
sehingga harus beristirahat selama tiga hari.


60
60
Menimbang : bahwa unsur melakukan perbuatan kekerasan Fisik telah
terbukti secara sah dan meyakinkan.
3. Dalam Lingkup Rumah tangga
Menimbang : bahwa ketika Terdakwa melakukan pemukulan tersebut
saksi korban masih merupakan istri Terdakwa yang sah
yang dibuktikan dengan Kutipan Akta Nikah Nomor:
182/19/VIII/2005, sehingga unsur dalam Lingkup Rumah
Tangga telah tebukti secara sah dan meyakinkan
Menimbang : bahwa sesuai dengan pengakuan terdakwa dan dikuatkan
dengan keterangan saksi-saksi serta barang bukti yang
juga dihubungkan dengan fakta-fakta yang terungkap di
atas maka semua unsur-unsur yang terkandung dalam
pasal 44 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004 tersebut telah
terpenuhi, maka Majlis Hakim berkesimpulan bahwa
Terdakwa secara sah dan meyakinkan telah terbukti
melakukan tindak pidana sebagaimana yang telah
didakwakan oleh Penuntut Umum tersebut, sehingga
oleh karenanya Terdakwa harus dinyatakan bersalah
tentang perbuatan yang telah terbukti itu dan oleh
karenaya harus dijatuhi pidana
Menimbang : bahwa dengan memperhatikan keadaan Terdakwa di
Persidangan, ternyata bahwa terdakwa
dipertanggungjawabkan atas perbuatanya tersebut,


61
61
disamping itu pula berdasarka fakta-fakta yang terungkap
di persidangan tidak dikemukakan adanya alasan alasan
pemaaf dan pembenar yang dapat menghapuskan sifat
melawan hukum atas perbuatan para Terdakwa tersebut;
Menimbang : bahwa sebelum Pengadilan Negeri menjatuhkan pidana
atas diri Terdakwa tersebut terlebih dahulu akan
dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal
yang meringankan bagi diri terdakwa tersebut:
Hal-hal yang memberatkan
ƒ Terdakwa main hakim sendiri
ƒ Terdakwa sebagai suami tidak melindungi istrinya.
Hal-hal yang meringankan
ƒ Terdakwa mengaku bersalah dan sudah minta maaf kepada istrinya
ƒ Terdakwa dan saksi masih berhubungan suami istri meskipun
perkaranya sudah diproses di Pengadilan
ƒ Terdakwa belum pernah dihukum
Menimbang : bahwa oleh karena Terdakwa telah dijatuhi pidana, maka
biaya yang timbul dalam perkara ini dibebankan kepada
Terdakwa
Mengingat, pasal 44 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004 jo pasal 197
KUHAP serta pasal lain dari Undang-undang yang bersangkutan.


62
62
MENGADILI
1. Menyatakan bahwa Terdakwa BMB BIN SD secara sah dan
meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana kejahatan melakukan
kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga.
2. Memidana Terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara
selama 1 (satu) tahun.
3. Menetapkan Pidana tersebut tidak perlu dijalani Terdakwa kecuali
dalam tenggang waktu masa percobaan 2 (dua) tahun terdakwa
melakukan perbuatan yang dapat di pidana berdasarkan putusan Hakim
atau berdasar atas perintah hakim.
4. Menetapkan barang bukti berupa: lembaran kertas putih ukuran
panjang 40 cm, lebar 30 cm, tebal 0,5 cm terbungkus plastik warna
putih dirampas untuk dimusnahkan.
5. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp
1.000 (seribu rupiah)
Demikian diputuskan dalam rapat musyawarah Majlis Hakim pada
hari Jum’at Tanggal 17 Februari 2006 oleh Kami Eddy Pangaribuan, SH.
MH, sebagai Ketua Majlis, Hariyadi, SH dan Victor Togi Rumahorbo,
SH.MH, masing-masing sebagai Hakim Anggota Majelis, putusan mana
diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari kamis
tanggal 23 Februari 2006, oleh Hakim Ketua Majlis dengan didampingi
oleh Hakim-hakim Anggota Majlis tersebut serta dibantu oleh S. ER.


63
63
Rijadi, SH, sebagai Panitera Pengganti dengan dihadiri oleh Wagino, SH,
Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Salatiga dan Terdakwa.
2. Putusan Nomor : 20/Pid.B/PN.Sal/2006.
Pengadilan Negeri Salatiga yang memeriksa dan mengadili perkara
pidana dalam tingkat pertama, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut
dalam perkara terdakwa:
Nama : AS Bin HM
Tempat lahir : Kabupaten Semarang
Umur/tanggal lahir : 34 tahun/ 22 Mart 1971
Jenis kelamin : laki-laki
Kebangsaan : Indonesia
Tempat tinggal : Dsn Wiroyudan R.01/ RW. 03 Kelurahan Tingkir
Tengah Kecamatan Tingkir Kota Salatiga.
Agama : Islam
Pekerjaan : Pengemudi
Pendidikan : -
Dalam perkara ini terdakwa ditahan berdasarkan surat perintah
penetapan penahanan yang sah oleh :
1. Penyidik tanggal 6 Februari 2006 Nomor
Pol.SP.Han/10/II/2006/Reskrim sejak tanggal 6 Februari 2006 sampai
dengan 25 Februari 2006;


64
64
2. Perpanjangan Penuntut Umum tanggal 22 Februari 2006 Nomor :
B.126/0.3.20/Epp.1/02./2006 sejak tanggal 26 Februari 2006 sampai
dengan tanggal 6 April 2006.
3. Penuntut Umum tanggal 4 April 2006 Nomor: Print.90.0.3.20/04/2006
sejak tanggal 4 April 2006 sampai dengan 23 April 2006;
4. Majlis Hakim Pengadilan Negeri Salatiga tanggal 17 April 2006
sampai dengan tanggal 16 Mei 2006.
Terdakwa tidak didampingi penasehat Hukum tetapi akan
menghadapi sendiri perkaranya:
Pengadilan Negeri tersebut:
Telah membaca:
1. Surat pelimpahan perkara biasa dari Penuntut Umum / Kepala
kejaksaan Negeri Salatiga No. B-256/0.3.20/Ep.2./4/2006, yang isinya
pada pokoknya meminta agar Ketua Pengadilan Negeri Salatiga
menetapkan hari persidangan untuk memeriksa dan mengadili perkara
tersebut dan menetapkan pemanggilan terhadap para Terdakwa dan
saksi-saksi serta mengeluarkan penetapan untuk tetap menahan para
Terdakwa:
2. Surat Dakwaan Penuntut Umum tanggal : 5 April 2006, Nomor
Register perkara PDM-13/ SALTI/ Ep.2/12/2006 serta surat-surat yang
berkaitan dengan perkara tersebut:
Setelah mendengar keterangan saksi-saksi dan Terdakwa di muka
Persidangan


65
65
Setelah memperhatikan Visum Et Repertum
Setelah mendengar pula pembaca Tuntutan Pidana dari Penutut
Umum tanggal 29 Mei 2006 No. Reg.Perk.PDM-13/SALTI/Ep.2/04/2006
yang pada pokoknya agar majlis Hakim yang memeriksa dan mengadili
perkara ini memutuskan:
1. Menyatakan Terdakwa AS Bin HM bersalah melakukan tindak pidana
melakukan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana
diatur dalam Pasal 44 (1) UU No. 23 Tahun 2004
2. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa AS Bin HM dengan pidana
penjara selama 8 (delapan) bulan dikurangi salama terdakwa berada
dalam tahanan dengan perintah terdakwa tetap di tahan.
3. Menetapkan agar terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar
Rp 500 (lima ratus rupiah).
Setelah mendengar dan memperhatikan pembelaan secara lisan dari
Terdakwa di muka persidangan pada tanggal 29 Mei 2006 yang pada
pokoknya memohon agar Majlis Hakim menjatuhkan putusan yang
seringan-ringannya bagi diri terdakwa.
Menimbang bahwa selanjutnya terdakwa oleh Penuntut Umum
dihadapkan ke muka persidangan karena telah didakwa:
Pertama:
Bahwa ia terdakwa AS Bin HM pada hari sabtu tanggal 4 Februari
2006 sekitar jam 17.00 WIB. Atau setidak-tidaknya pada waktu lain dalam
tahun 2006 bertempat di belakang rumah saksi Eko di Dsn. Tanjung Rt.01


66
66
RW.02 Kel. Tingkir Tengah Kec. Tingkir Kota Salatiga atau setidak-
tidaknya pada suatu tepat lain dalam daerah hukum Pengadilan Negeri
Salatiga, melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah
tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a UU Nomor 23 Tahun
2004 perbuatan tersebut dilakukan dengan cara-cara sebagai berikut: Awal
mulanya pada hari Selasa tanggal 31 Januari 2006 ketika itu terdakwa
mendengar informasi dari petugas keamanan Café Cinsyo Ngawen
Salatiga kalau istri Terdakwa yang bernama NKH diboking oleh orang lain
dan saat itu juga terdakwa diperlihatkan SMS yang ada pada hand phone
milik LS yang berisi kata-kata menghina dan mengancam dari istri
terdakwa yang di ajukan kepada teman kerja istri terdakwa yang bernama
LS tersebut setelah mendengar dari informasi tersebut, sehingga terdakwa
menjadi jengkel, kemudian pada hari Sabtu tanggal 4 Februari 2006
terdakwa mendatangi saksi NKH yang berada di rumah Eko untuk
mengetahui kebenaran berita tersebut, ketika terdakwa bertemu dengan
saksi NKH lalu terjadi pertengkaran mulut, kemudian saksi NKH
mencakar terdakwa mengenai bagian muka terdakwa, akibat perbuatan
saksi NKH kepada Terdakwa tersebut, terdakwa menjadi emosi lalu
menjambak rambut saksi NKH sehingga saksi NKH terjatuh kemudian
saksi NKH melakukan perlawanan dengan mencakar dada Terdakwa,
selanjutnya Terdakwa membalas dengan memukul saksi NKH dengan
menggunakan tangan kosong mengenai bagian pipi kanan sebanyak 2
(dua) kali atau setidak-tidaknya lebih dari (satu) kali, akibat pukulan


67
67
tersebut saksi NKH menderita sebagaimana hasil pemeriksaan Visum et
Repertum nomor 370/425 tanggal 16 Februari 2006 yang ditandatangani
oleh dr. Husna, dokter pada bagian pengelola rumah sakit Umum Daerah
Kota Salatiga dengan kesimpulan ; lecet pada dagu bergaris tengah satu
centimeter, bengkak dan kebiruan pada sudut perbuatan terdakwa tersebut
saksi NKH tidak dapat menjalankan pekerjaan sahari-hari lebih kurang
selama 3 (tiga) hari dirawat di rumah sakit.
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam
pasal 44 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2004
Kedua
Bahwa ia Terdakwa AS Bin HM pada waktu dan tempat
sebagaimana diuraikan dalam dakwaan ke satu di atas melakukan
panganiayaan dengan menggunakan tangan kosong terhadap terdakwa
yang bernama NKH, perbuatan tersebut dilakukan dengan cara-cara
sebagai berikut:
Awal mulanya pada hari Selasa tanggal 31 Januari 2006 ketika itu
terdakwa yang bernama NKH diboking oleh orang lain yang saat itu juga
terdakwa diperlihatkan SMS yang ada pada hand phone milik LS yang
berisi kata-kata menghina dan mengancam dari istri terdakwa yang
bernama LS tersebut sehingga terdakwa menjadi jengkel, kemudian pada
hari Sabtu tanggal 4 Februari 2006 terdakwa mendatangi NKH yang
berada di rumah Eko untuk mengetahui kebenaran berita tersebut, ketika
terdakwa bertemu dengan saksi NKH lalu terjadi pertengkaran mulut,


68
68
kemudian saksi NKH mencakar terdakwa mengenai bagian muka
terdakwa, akibat perbuatan saksi NKH kepada terdakwa tersebut, terdakwa
menjadi emosi lalu menjambak rambut saksi NKH sehingga NKH terjatuh
kemudian saksi NKH melakukan perlawanan dengan mencakar dada
Terdakwa, selanjutnya terdakwa membalas dengan memukul saksi NKH
dengan menggunakan tangan kosong mengenai bagian pipi kanan
sebanyak 2 (dua) kali atau setidak-tidaknya lebih dari 1 (satu) kali, akibat
pukulan terdakwa tersebut saksi NKH menderita sakit sebagaimana hasil
pemeriksaan Visum et Revertum No. 370/425 tanggal 16 Pebruari 2006
yang ditandatangani oleh dokter Husna dokter pada bagian pengelola
Rumah Sakit Umum Daerah Kota Salatiga dengan kesimpulan : lecet pada
dagu bergaris tengah satu centimeter bengkak dan kebiruan pada sudut
mata kanan dapat disebabkan oleh persentuhan benda tumpul, akibat
perbuatan Terdakwa tersebut saksi NKH tidak dapat menjalankan
pekerjaan sehari-hari lebih kurang selama 3 (tiga) hari dirawat di Rumah
Sakit.
Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam
pasal 356 ke-1 KUHP.
Menimbang : bahwa terdakwa di muka persidangan telah menerangkan
bahwa ia telah mendengar, mengerti dan membenarkan isi
surat dakwaan tersebut serta tidak akan mengajukan
keberatan / eksepsi.


69
69
Menimbang : bahwa dari fakta-fakta yang terungkap di persidangan
tersebut, majelis Hakim akan meneliti apakah terdakwa
terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan perbuatan
sebagaimana didakwakan oleh Penuntut Umum.
Menimbang : bahwa terdakwa oleh Penuntut Umum telah didakwa
dengan dakwaan alternatif melakukan perbuatan
sebagaimana diatur dan diancam dalam ke satu melanggar
pasal 44 ayat (1) UU No 23 Tahun 2004, atau Kedua
melanggar pasal 356 pasal ke-1 KUHP.
Menimbang : bahwa oleh karena terdakwa telah didakwa dengan
dakwaan alternatif maka Majlis Hakim akan
mempertimbangkan dakwaan ke satu terlebih dahulu yaitu
pasal 44 ayat (1) UU No 23 Tahun 2004 yang mengandung
unsur-unsur sebagai berikut:
1. Setiap Orang
Menimbang : bahwa yang dimaksud setiap orang adalah orang atau
pribadi yang merupakan subjek hukum pendukung dan
kewajiban yang mampu melakukan perbuatan yang dapat di
pidana dan dipersalahkan sebagai pelaku suatu tindak
pidana.
Menimbang : bahwa terdakwa AS Bin HM adalah pribadi atau orang
yang beridentitas sebagaimana tersebut dalam dakwaan,
keadaan jasmani / rohani sehat dan cukup umum / dewasa


70
70
keterangan mana sesuai dengan pemeriksaan di sidang,
terdakwa mengerti dan membenarkan dakwaan Jaksa
Penuntut Umum bahwa terdakwa sebagai subjek hukum
yang dapat dipertanggungjawabkan segala sesuatu yang
diperbuatnya. Dan bukan orang lain selain terdakwa,
sehingga unsur barang siapa telah terbukti secara sah
meyakinkan
2. Melakukan perbuatan kekerasan fisik
Menimbang : bahwa yang dimaksud dengan kekerasan fisik dalam pasal
6 UU No.23 Tahun 2004 adalah perbuatan yang
mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit, atau luka berat;
Menimbang : bahwa berdasarkan pengertian di atas fakta-fakta yang
terungkap di persidangan, yang didukung oleh keterangan
saksi dan juga terdakwa serta Visum et Repertum terdakwa
telah melakukan kekerasan fisik berupa pemukulan istrinya
yaitu saksi korban NKH Binti Muh. Jupri pada hari Sabtu
tanggal 4 Februari 2006 sekitar jam 17.00 WIB di rumah
Mas Eko di Dusun Tanjung RT.1 Rw.2, Kelurahan Tingkir
Tengah Kota Salatiga dengan menggunakan tangan kosong
yang mengenai muka saksi korban NKH Binti Jupri yang
mengakibatkan bengkak dan kebiruan pada sudut mata
kanan dan lecet pada dagu.


71
71
Menimbang : bahwa akibat pemukulan tersebut saksi korban mengalami
penderitaan secara fisik sebagaimana tersebut dalam Visum
et Repertum di atas dan berdasarkan bukti surat berupa
tanda bukti penerimaan No.01736 tanggal 4 Februari 2006
dan tanda terima perincian biaya perawatan
No.00113/II/2006 tanggal 6 Februari 2006 saksi korban
harus di opname di RSU Salatiga selama 2 (dua) hari;
Menimbang : bahwa unsur melakukan perbuatan kekerasan fisik telah
terbukti secara sah dan meyakinkan.
3. Dalam Lingkup Rumah Tangga
Menimbang : bahwa yang dimaksud dalam lingkup rumah tangga dalam
pasal ayat 1 huruf a UU No. 23 Tahun 2004 meliputi suami,
istri dan anak;
Menimbang : bahwa dari keterangan saksi-saksi dan terdakwa serta alat
bukti surat berupa fotocopy kutipan Akta Nikah
No.341/44/VII/2001 tertanggal 24 Agustus 2001, terdakwa
dengan saksi korban memiliki status sebagai suami istri,
sehingga unsur dalam Lingkup Rumah Tangga telah
terbukti dan secara sah meyakinkan.
Menimbang : bahwa oleh karena telah terpenuhi unsur ini maka semua
unsur yang didakwakan Penuntut Umum dalam dakwaan ke
satu telah terbukti dan terpenuhi.


72
72
Menimbang : bahwa karena terdakwa telah terbukti melakukan tindak
pidana sebagaimana dalam dakwaan ke satu maka dakwaan
kedua tidak perlu dipertimbangkan lagi.
Menimbang : bahwa dengan memperhatikan keadaan terdakwa di
persidangan ternyata bahwa terdakwa dapat
dipertanggungjawabkan atas perbuatannya tersebut, di
samping itu pula berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di
persidangan tidak dikemukakan adanya alasan-alasan
pemaaf dan pembenar yang dapat menghapus sifat melawan
hukum atas perbuatan Terdakwa tersebut, sehingga putusan
yang akan dijatuhkan kepada Terdakwa dalam amar
putusan menurut Majlis Hakim telah pantas dan adil.
Menimbang : bahwa sebelum Pengadilan Negeri menjatuhkan pidana atas
diri terdakwa tersebut terlebih dahulu akan
dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan hal-hal
yang meringankan bagi diri terdakwa tersebut.
Hal-hal yang memberatkan:
ƒ Terdakwa main hakim sendiri
ƒ Terdakwa sebagai suami tidak melindungi istrinya.
ƒ Terdakwa tidak minta maaf kepada korban.
Hal-hal yang meringankan
ƒ Terdakwa mengaku bersalah dan menyesalinya dan tidak akan
mengulangi lagi perbuatannya.


73
73
ƒ Terdakwa belum pernah dihukum
Menimbang : bahwa selanjutnya oleh karena sebelum putusan ini
berkekuatan hukum tetap terdakwa telah menjalani masa
pertahanan maka lamanya masa penahanan tersebut
dikurangi seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
Menimbang : bahwa apabila terdakwa dijatuhkan pidana lebih lama dari
masa penahanan dan terdakwa masih akan menjalani
pidanya tersebut maka terhadap terdakwa diperintahkan
untuk tetap berada dalam tahanan.
Menimbang : bahwa karena terdakwa dihukum maka kepadanya perlu
dihukum pula dengan dibebani membayar biaya perkara ini.
Menimbang : pasal 44 ayat (1) UU No 23 Tahun 2004 jo pasal 197
KUHAP serta pasal-pasal lain dari undang-undang yang
bersangkutan.
MENGADILI
1. Menyatakan bahwa terdakwa AS bin HM secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana kejahatan melakukan kekerasan
fisik dalam lingkup rumah tangga.
2. Menghukum terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara
selama 6 (enam) bulan.
3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani terdakwa dikurangi
seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
4. Memerintahkan agar terdakwa tetap berada dalam tahanan


74
74
5. Menghukum terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp
500,00 (lima ratus rupiah).
Demikian diputuskan dalam rapat musyawarah majlis Hakim pada
hari Senin tanggal 5 Juni 2006 oleh kami Edi Pangaribuan, SH.MH.
sebagai Hakim Ketua Majlis, Sutiyono, SH. Dan Viktor Togi Rumahorbo,
SH.MH. masing-masing sebagai Hakim Anggota Majlis, putusan mana
diucapkan dalam persidangan yang terbuka untuk umum pada hari Senin
Tanggal 5 Juni 2006, oleh Hakim Ketua Majlis tersebut dengan
didampingi Hakim-hakim Anggota Majlis tersebut serta dibantu oleh Rini
Andriati, SH. Sebagai Panitera Pengganti dengan dihadiri oleh Widayati,
SH Jaksa Penuntut Umum pada Kejaksaan Negeri Salatiga dan Terdakwa.
F. Pertimbangan dan Dasar Putusan Hakim Mengenai Perkara Kekerasan
Terhadap Istri dalam Rumah Tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.
Kekerasan dalam Rumah Tangga merupakan tindak pidana, dimana
dalam menyelesaikan masalah ini dimulai dari penyelidikan, penyidikan,
tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum, pemeriksaan dimuka persidangan, dan
pembuktian. Pembuktian disini adalah sebagai duduk perkara pidana yaitu
segala sesuatu yang terjadi di Persidangan.
Penyelidikan yaitu serangkaian tindakan penyelidik untuk mencari dan
menemukan suatu peristiwa yang diduga sebagai tindak pidana guna
menentukan dapat atau tidaknya dilakukan penyidikan. Tahap yang kedua
adalah penyidikan yaitu serangkaian tindakan penyidik dalam hal dan menurut
cara yang diatur dalam Undang-undang untuk mencari serta mengpumpulkan


75
75
bukti dengan bukti itu membuat terang tentang tindak pidana yang terjadi guna
menemukan tersangkanya. Sedangkan pembuktian adalah sebagai
pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara.
Dari hasil wawancara dengan hakim, pertimbangan dan dasar putusan
hakim terhadap perkara kekerasan dalam rumah tangga adalah sebagai
berikut:
55

Pertimbangan Hakim dalam memutuskan perkara kekerasan dalam
rumah tangga di kelompokan menjadi tiga landasan, 1). Landasan hukum 2).
Landasan filosofi 3). Landasan Sosiologi.
Landasan hukum Kekerasan Dalam Rumah Tangga ini tertuang dalam
pasal 44 ayat (1) yaitu “Setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan
fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 huruf
a di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda
paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta Rupiah )”.
Apabila dalam hal sebagaimana di maksud pada ayat (1) dilakukan oleh
suami terhadap istri atau sebaliknya, yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau
kegiatan sehari-hari, di pidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat)
bulan atau denda paling banyak Rp 5.000.000 (lima juta rupiah)
Apabila mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka berat, di
pidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda
paling banyak Rp30.000.000 (tiga puluh juta rupiah).

55
Wawancara dengan Hakim Ketua Pengadilan Negeri Salatiga pada tanggal 13
September 2006.


76
76
Apabila mengakibatkan matinya korban, di pidana dengan pidana
penjara paling lama 15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak
Rp45.000.000 (empat puluh juta rupiah).
Hal ini di jadikan rujukan dasar bagi hakim dalam memutuskan perkara
Kekerasan Dalam Rumah Tangga di tinjau dari hukum formil atau hukum
acaranya. Hukum formil adalah rangkaian peraturan yang memutat cara
bagaimana pengadilan harus bertindak satu sama lain untuk melaksanakan
perjalanan atau hukum materiil.
Landasan yang kedua yaitu landasan filosofi yaitu gambaran tentang
bagaimana perkara itu terjadi dengan pertimbangan keterangan beberapa saksi,
apakah ia sudah sering melakukan tindak pidana atau baru satu kali. Selain
mengacu pada Undang-undang hakim juga mempertimbangkan hal-hal yang
memberatkan dan hal-hal yang meringakan. Seperti apakah terdakwa
menyesali perbuatanya dan minta maaf kepada korban atau tidak, terdakwa
pernah dihukum atau tidak. apakah kekerasan terjadi karena kesalahan dari
pihak istri ataukah pihak suami, Dan dengan pertimbangan sesuai dengan
derita yang dialami oleh korban tersebut termasuk luka ringan atau luka berat,
serta keterangan dari beberapa saksi Majlis Hakim memutuskan berdasarkan
Undang-undang yang ada. Dalam penagambilan keputusan boleh kurang dari
ketentuan yang ada, akan tetapi tidak boleh melebihi ketentuan yang telah di
tetapkan dalam Undang-undang.



77
77
Sedangkan pertimbangan yang ketiga yaitu pertimbangan sosiologi,
yaitu bagaimana kehidupan masyarakat mereka. Apakah lingkungan yang ada
juga sering terjadi kekerasan atau kekerasan di anggap hal yang sangat
dilarang dalam kehidupan masyarakatnya. Landasan filosofi dan sosiologi di
sini tidak di atur dalam undang-undang, sebagaimana landasan hukum yang
ada.
Dalam setiap putusan terdapat panjar biaya yang di jatuhkan bagi diri
terdakwa, mengenai besar kacilnya dilihat dari perkaranya apakah merupakan
tindak pidana ringan atau tindak pidana biasa. Sedangkan mengenai pidana
yang dijatuhkan dengan masa percobaan, tidak perlu dijalani. Akan tetapi jika
sewaktu-waktu Terdakwa melakukan pelanggaran sekalipun itu pelanggaran
lalu lintas, maka hukumam yang dijatuhkan tersebut harus dijalaninya terlebih
dahulu.















78
78
BAB IV
ANALISIS PUTUSAN HAKIM TERHADAP KEKERASAN DALAM
RUMAH TANGGA
C. Analisis Kekerasan dalam Rumah Tangga
Dari hasil observasi yang penulis lakukan di Pengadilan Negeri Salatiga
selama adanya Undang-Undang tentang Penghapusan Kekerasan Dalam
Rumah Tangga ada dua putusan kekerasan yang di ajukan oleh istri. Maka
dalam analisis ini penulis hanya menganalisis pada dua putusan, yaitu putusan
kekerasan terhadap istri.
a. Putusan No. 116/Pid.B/PN.Sal/2005.
Perkara No.116/Pid.B/PN.Sal/2005. Kasus ini adalah kasus pidana
kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam
pasal 5 huruf a Undang-undang No. 23 tahun 2004 yang dilakukan suami
terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau
halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau
kegiatan sehari-hari. Dalam kasus ini sebenarnya Terdakwa juga tidak
berniatan untuk melakukan tindak pidana tersebut, hanya karena Terdakwa
merasa jengkel dengan pembicaraan korban mengenai mantan pacar
suaminya, sehingga terjadilah pertengkaran mulut, yang kemudian
menjadikan emosi, kemudian Terdakwa mengibaskan satu bendel kertas
folio yang mengenai dahi saksi korban sebanyak satu kali, dan kemudian
saksi korban membalas dengan menggunakan sapu lidi yang mengenai
pinggang Terdakwa sebanyak 7 (tujuh) kali, setelah Terdakwa mendapat


79
79
perlawanan dari saksi korban, terdakwa menampar saksi korban dengan
tangan kosong sebanyak 3 (tiga) kali. Akibat dari pemukulan Terdakwa
tersebut saksi korban terhalang untuk menjalankan pekerjaanya
dikarenakan memar pada pipi bergaris 5 (lima) centi meter. Dalam kasus
ini terdapat salah paham tentang mantan pacarnya terdakwa yaitu GTN.
Sehingga dengan kesalah pahaman tersebut membuat saksi korban
cemburu kepadanya.
Berdsarkan fakta yang terungkap dalam persidangan, maka
sampailah pada pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana yang
didakwakan yaitu perbuatan Terdakwa melanggar pasal 44 ayat (1) UU
No. 23 tahun 2004 yang isinya “Setiap orang yang melakukan perbuatan
kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf a di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
atau denda paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta Rupiah)”,
Subsidair perbuatan Terdakwa tersebut di ancam dengan pasal 44 ayat (4)
UU No. 23 tahun 2004 yang isinya “Dalam hal sebagaimana dimaksud
dalam pasal 44 ayat (1) dilakukan oleh suami terhadap istri atau
sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk
menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan
sehari-hari di pidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat bulan
atau denda paling banyak Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah)”.
Selanjutnya dengan memperhatikan bahwa selama pemeriksaan
dipersidangan tidak terungkap adanya alasan pemaaf atau pembenar, maka


80
80
kepada Terdakwa harus dianggap sebagai orang yang mampu
bertanggungjawab atas perbuatannya sebagai perbuatan yang melawan
hukum dan kepada Terdakwa harus dituntut sesuai dengan kesalahannya.
Setelah melihat hal-hal tang meringankan dan hal-hal yang
memberatkan dan memperhatikan undang-undang yang bersangkutan
Majelis Hakim Pengadilan Negeri Salatiga mengadili perkara ini
memutuskan:
1. Menyatakan terdakwa BMB bin SD bersalah melakukan perbuatan
pidana dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dalam dakwaan
primair melanggar pasal 44 ayat (1) UU No. 23 tahun 2004.
2. Menyatakan barang bukti berupa : lembaran kertas putih ukuran
panjang 40 cm lebar 30 cm tebal 05 cm terbungkus plastik warna putih
dirampas untuk dimusnahkan.
3. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa BMB bin SD dengan pidana
penjara selama 1 (satu) tahun dengan masa percobaan 2 (dua) tahun.
4. Menetapkan pidana tersebut tidak perlu dijalani Terdakwa kecuali
dalam tenggang waktu masa percobaan dua tahun terdakwa melakukan
perbuatan yang dapat di pidana berdasarkan putusan hakim atau
berdasar perintah hakim.
5. Menetapkan terdakwa dibebani membayar biaya perkara sebesar Rp.
1.000.


81
81
b. Putusan No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006.
Perkara No. 20/Pid.B/PN.Sal/2006. ini juga merupakan kasus
pidana, kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana
dimaksud dalam pasal 5 huruf a Undang-undang No, 23 tahun 2004 yang
dilakukan suami terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan
penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata
pencaharian atau kegiatan sehari-hari. Dalam kasus ini juga terdapat
kesalah pahaman antara Terdakwa dan saksi korban, sehingga Terdakwa
merasa jengkel ketika mendengar berita bahwa istrinya boking oleh orang
lain. Dari kesalah pahaman tersebut terjadi pertengkaram mulut, kemudian
saksi NKH mencakar Terdakwa mengenai bagian muka Terdakwa, akibat
perbuatan saksi korban tersebut Terdakwa menjadi emosi lalu menjambak
rambut saksi sehingga terjatuh. Kemudian saksi korban melakukan
perlawanan dengan mencakar dada Terdakwa selanjutnya Terdakwa
memukul dengan tangan kosong mengenai pipi sebanyak 2 (dua) kali.
Akibat pemukulan Terdakwa tersebut saksi NKH menderita sakit, tidak
dapat menjalankan pekerjaan sehari-hari lebih kurang selama 3 (tiga) hari
dan dirawat di rumah sakit dengan ketentuan lecet pada dagu bergais
tengah 1 (satu) centi meter dan bengkak pada sudut mata kanan.
Dalam kasus ini kesalah pahaman saksi korban diboking adalah
saksi korban menginap di Hotel. Dari hasil perkawinan mereka telah di
karuniai seorang anak laki-laki berumur 2 tahun 7 (tujuh) bulan,
sebelumnya keadaan rumah tangga mereka sudah tidak harmonis lagi


82
82
dikarenakan Terdakwa tidak bekerja. Kekerasan ini terjadi karena
kurangnya komunikasi dalam keluarga, karena sudah pisah rumah selama
1 (satu) tahun dan keadaan ekonomi keluarga.
Berdsarkan fakta yang terungkap dalam persidangan, serta hal-hal
yang meringankan dan hal-hal yang memberatkan. Maka sampailah pada
pembuktian mengenai unsur-unsur tindak pidana yang didakwakan yaitu
perbuatan Terdakwa melanggar dan dipidana pasal 44 ayat (1) UU No. 23
tahun 2004 yang isinya “Setiap orang yang melakukan perbuatan
kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 5 huruf a di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun
atau denda paling banyak Rp 15.000.000 (lima belas juta Rupiah)” atau
melanggar pasal 356 ke I KUHP.
Dalam persidangan Terdakwa dapat mempertanggung jawabkan
atas perbuatanya tersebut, dan berdasarkan fakta-fakta yang terungkap di
persidangan tidak ditemukanya pemaaf dan pembenar yang dapat
menghapuskan sifat melawan hukum sehingga Majlis Hakim menjatuhkan
amar putusan sebagai berikut:
1. Menyatakan bahwa Terdakwa AS bin HM secara sah dan meyakinkan
bersalah melakukan tindak pidana kejahatan melakukan kekerasan
fisik dalam lingkup rumah tangga.
2. Menghukum terdakwa tersebut oleh karena itu dengan pidana penjara
selama 6 (enam) bulan.


83
83
3. Menetapkan masa penahanan yang telah dijalani Terdakwa
dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan.
4. Memerintahkan agar Terdakwa tetap berada dalam tahanan
5. Menghukum Terdakwa untuk membayar biaya perkara sebesar Rp 500
(lima ratus rupiah).
D. Analisis Putusan dan Pertimbangan Hakim Terhadap Kekerasan dalam Rumah
Tangga di Pengadilan Negeri Salatiga.
Perkara yang diputuskan di Pengadilan harus mempunyai alasan-alasan
yang jelas, Majlis Hakim butuh pembuktian tersebut untuk biasa memutuskan
perkaranya dengan menghadirkan saksi-saksi dan bukti.
Dasar putusan hakim meliputi dua hal yaitu landasan yang tersurat dan
landasan yang tersirat. Landasa yang tersurat yaitu pasal 44 ayat (1) dan ayat
(4), UU PKDRT yaitu:
Pasal 44 ayat (1) yang isinya:
”Setiap orang yang malakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup
rumah tangga sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 huruf a dipidana dengan
pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun atau denda paling banyak Rp. 15.
000.000,00 (lima belas juta rupuah)”
Pasal 44 ayat (4) yang isinya:
”Dalam hal sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan oleh suami
terhadap istri atau sebaliknya yang tidak menimbulkan penyakit atau halangan
untuk menjalankan pekerjaan jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan


84
84
sehari-hari, di pidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau
denda paling banyak Rp. 5.000.000 (lima juta rupiah)”
Unsur undang-undang ini adalah sebagai berikut:
1. Setiap orang yang dimaksud setiap orang adalah setiap pribadi yang
merupakan subyek hukum pendukung hak dan kewajiban yang mampu
melakukan perbuatan dapat di pidana artinya sehat jasmani atau rohani dan
cukup umur.
2. Melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga, hal ini
diatur dalam pasal 6 UU PKDRT adalah perbuatan yang mengakibatkan
rasa sakit, jatuh sakit atau luka berat.
3. Dalam lingkup rumah tangga pasal 2 ayat (1) huruf a UU PKDRT meliputi
suami, istri dan anak.
Sebagaimana ketentuan diatas dapat di pidana sesuai dengan Undang-
undang yang di atur dalam pasal 44 sampai dengan pasal 53. Selain landasan
yang ada dalam Undang-undang Majlis Hakim juga memperhatikan landasan-
landasan yang tersirat yaitu landasan filosofi dan landasan sosiologis. Hal ini
hanya diperlakukan dalam hukum formilnya saja. Selain itu semua perkara
yang bisa di ajukan ke Pengadilan Negeri harus mempunyai alasan-alasan
yang sah, hal ini sebagai dasar bagi hakim dalam memutuskan perkara. Hakim
akan minta bukti kebenaran tersebut, untuk bisa memutuskan perkaranya,
alasan tersebut adalah sebagai dasar hukum materiilnya.
Proses awal dalam menyelesaikan perkara dimulai dari penyelidikan,
penyidikan, tuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum, pemeriksaan di Persidangan


85
85
dan pembuktian. Dengan ini Majlis Hakim dalam memutuskan perkara
kekerasan dalam rumah tangga sudah sesuai dengan perundang-undangan
yang ada.
Persoalan kekerasan terhadap istri berkaitan erat dengan persoalan
tindakan kriminalitas, meskipun pada awalnya dimulai dari persoalan sepele,
kemudian dilakukan terus menerus yang berakumulasi sampai pada
puncaknya menjadi sebuah kriminalitas yang pada mulanya hal seperti ini
dimulai dari stres masalah tekanan ekonomi, suami cemburu buta, ketidak
adilan gender yang dipengaruhi oleh faktor budaya. Dari sekian permasalah ini
suami bisa melakukan tindakan semena-mena terhadap istrinya.
Al-Qur’an surat an-Nisa’ ayat 34 jika dipahami dengan teliti kekerasan
dalam rumah tangga tidak diperbolehkan. Jika istri Nusyuz tindakan-tindakan
yang patut dilakukan suami terhadap istri yaitu dengan cara beri mereka
petunjuk dan pengajaran, ajari mereka dengan baik, sadarkan mereka akan
kesalahanya. Jika dengan cara ini istri tetap saja membangkang, maka
pisahkanlah mereka dari tempat tidur mereka, Adapun mendiamkan istri
dengan tidak mengajak berbicara tidak boleh lebih dari 3 (tiga) hari. Ada pula
perempuan yang harus dihadapi dengan cara yang lebih kasar, yaitu dengan
cara yang ketiga pukulah mereka, akan tetapi pemukulan ini tidak boleh
membuat luka pada istri. Dalam memukul hendaknya dijauhkan dari tempat-
tempat yang menghawatirkan seperti muka serta dijauhkan dari pandangan
anak-anaknya. Karena tujuan dari pemukulan ini yaitu untuk memberi
pelajaran dan bukan untuk membinasakan.


86
86
Dalam pemukulan ini ada statemen yang perlu diperhatikan yaitu
pertama, pemukulan tidak boleh diarahkan ke wajah, kedua, pemukulan tidak
boleh sampai melukai, dianjurkan dengan benda yang paling ringan, seperti
sapu tangan. Ketiga pemukulan dilakukan dalam rangka mendidik. Keempat,
pemukulan dilakukan dalam rangka sepanjang memberikan efek manfaat bagi
kutuhan dan keharmonisan kembali relasi suami istri
Apabila suami telah memberikan nafkah pada istrinya akan tetapi istri
tetap membangkang dan menyeleweng, suami berhak meminta kembali sisa
nafkah yang telah diberikanya, artinya jika istri tetap membangkang pada
suaminya mereka tidak berhak mendapatkan nafkah. Karena nafkah diterima
sebagai imbalan terikatnya istri ditangan suami. Hal ini disepakati oleh imam
Syafi’i dan Muhammad bin Hambal
56
.
Dalam kafarat zihar ketika suami mengilla’ istrinya selama 4 bulan
berturut-turut maka tidak boleh menjima’nya. ketika suami akan menjima’
istrinya lagi ia harus membayar kifarat yaitu memerdekakan budak jika ada.
Apabila tidak menemukan budak, maka puasa dua bulan berturut-turut,
apabila tidak mampu, maka memberi makan 60 orang miskin
Dari beberapa uraian di atas terdapat perbedaan dan persamaan antara
Undang-undang PKDRT dengan hukum Islam yang diantaranya yaitu:

56
Meminta kembali nafkah yang telah diberikan pada istrinya ini ada beberapa pendapat.
Pendapat Abu Hanifah dan Abu Yusuf: suami tidak berhak meminta kembali nafkahnya, karena
nafkah itu sekalipun sebagai imbalan dari pengurungan namun di situ ada semi hibungan suami di
samping telah dipegang oleh istri.


87
87
1. Perbedaan
a. Dalam hal pemberlakuan hukum
Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
pada tanggal 14 September 2004 RUU disetujui oleh anggota DPR,
dan pada tanggal 22 September 2004 menjadi Undang-undang.
Sedangkan hukum Islam itu sendiri diberlakukan sebelum 2 (dua) abad
b. Dalam hal tujuanya
Undang-undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga
mempunyai beberapa tujuan diantaranya:
ƒ Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga
ƒ Melindungi korban kekerasan
ƒ Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga
ƒ Memelihara keutuhan rumah tangga
Sedangkan dalam hukum Islam yaitu berbicara mengenai relasi
suami istri yang memberikan pengertian bahwa sebuah perkawinan
harus dijalani dengan suasana hati yang damai, keseimbangan hak dan
kewajiban antara suami istri yang tidak lain tujuanya untuk
menjadikan keluarga yang sakinah, mawadah dan rahmah.
c. Dalam hal ketentuan hukum pidana
Ketentuan pidana dalam Undang-undang sudah terperinci yaitu
pasal 44 sampai dengan pasal 50, sedangkan dalam hukum Islam
tindak pidana bersifat umum dan elastis sehingga bisa mencakup
semua peristiwa seperti dalam had, qishos dan diyat dibatasi,


88
88
sedangkan mengenai hal-hal yang sekiranya merupakan tindakkan
penganiayaan dalam firman Tuhan akan dihukum dengan dosa bagi
orang yang melakukannya.
Dalam UU PKDRT ditentukan satu atau dua hukuman dengan
batas terendah dan tertinggi sehingga hakim terbatas dalam
menentukan hukumanya. Sedangkan dalam hukum Islam ditentukan
secara jelas sehingga hakim tidak menciptakan sendiri dalam had,
qishos dan diyat, sedang dalam ta’zir memberi pilihan dan hakim bisa
menghentikan pelaksanaan hukumanya.
2. Persamaan
a. Dalam hal melakukan kekerasan
Pasal 5 huruf a “Setiap orang dilarang melakukan kekerasan
dalam lingkup rumah tangganya dengan cara kekerasan fisik, kerasan
psikis, kekerasan seksual, atau penelantaran rumah tangga.
Sedangkan dalam hukum Islam menjelaskan pola relasi yang
didasarkan pada mu’asyarah bil ma’ruf, maka jangan saling
melakukan kekerasan baik istri maupun suami.
b. Dalam hal asas yang digunakan
Undang-undang No. 23 Tahun 2004 dengan asas penghormatan
terhadap martabat manusia, serta anti kekerasan atau diskriminasi dan
juga asas perlindugan terhadap korban. Sedangkan dalam al-Qur’an itu
sendiri merupakan semangat pembebesan dalam menjalin
keseimbangan antara nilai kemanusiaan.


89
89
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Sebagai bab terakhir dari seluruh pembahasan pada bab-bab sebelumnya
maka pada bab ini penulis menyimpulkan sebagai rumusan terakhir dengan
harapan mendapatkan saran-saran dari semua pihak untuk menuju kesempurnaan
selanjutnya. Maka dengan ini penulis membuat kesimpulan sebagai berikut:
1. Kekerasan terhadap perempuan ialah segala bentuk tindakan kekerasan
yang mengakibatkan rasa sakit atau penderitaan terhadap perempuan
termasuk ancaman, menghambat, mengekang, meniadakan kenikmatan,
dan mengabaikan Hak Asasi Manusia yang mengakibatkan penderitaan
secara fisik, psikologis atau seksual, baik yang terjadi di area publik
maupun domestik.
2. Bentuk-bentuk kekerasan dapat berupa:
a. Kekerasan fisik (Physical abuse)
Kekerasan fisik yaitu setiap perbuatan yang mengakibatkan rasa
sakit, atau luka berat seperti suami memukul, menampar, menendang
atau melukai istri, ataupun mengakibatkan cacat pada tubuh seseorang
atau menyebabkan kematian.
b. Kekerasan psikis (Emotional or psychologikal abose)
Kekerasan psikis adalah segala perbuatan yang mengakibatkan
ketakutan, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk


90
90
betindak, rasa tidak berdaya, atau penderitaan psikis berat pada
seseorang.
c. Kekerasan seksual (Sexual abuse)
Kekerasan seksual ialah semua kekerasan seks yang mencakup
semua aktifitas seks yang dipaksakan pada istri (tanpa persetujuan
istri) ataupun pemaksaan hubungan seks dengan cara yang tidak wajar,
memaksakan istri untuk berhubungan seks pada saat istri tidak siap
karena lelah, sakit, haid, atau sebab lainya, atau tidak memenuhi
kebutuhan seks istri.
d. Kekerasan ekonomi (Economical abuse)
Kekerasan ekonomi yaitu tindakan yang membatasi istri untuk
bekerja di dalam atau diluar rumah sehingga korban dibawah kendali
tersebut, atau menelantarkan anggota keluarga dengan tidak
memberikan nafkah atau tidak memenuhi kebutuhan keluarga.
3. Sebuah pernikahan banyak di artikan sebagai suami memiliki istri secara
mutlak, sehingga suami dapat memperlakukan istrinya sesuai dengan
kehendaknya.
4. Al-Qur’an dan Hadits sebagai sumber hukum Islam jangan dipahami
secara tekstual, namun harus dilihat juga tujuannya. Yang pada dasarnya
tujuan utama dari pernikahan adalah untuk memperoleh kehidupan yang
sakinah, mawadah, warahmah.
5. Persoalan UU PKDRT dan Hukum Islam mempunyai semangat yang sama
yang melandasi dua hukum tersebut, adalah penghormatan terhadap


91
91
martabat manusia, kaitanya dengan hak-hak suami istri dalam rumah
tangga, serta arti kekerasan atau diskriminasi terhadap perempuan. Hanya
saja dalam Undang-undang sudah jelas mengenai ketentuan pidananya,
sedangkan dalam hukum islam tidak di dapatkan ketentuan pidana bagi
mereka yang melakukan kekerasan terhadap istri dalam rumah tangga,
akan tetapi kembali pada konsep perkawinan yaitu sakinah, mawadah,
warahmah. Dari sini jelaslah bahwa kekerasan terhadap istri dalam rumah
tangga menurut UU PKDRT dan hukum islam tidak diperbolehkan.
6. Putusan Hakim terhadap kekerasan dalam rumah tangga ditinjau dari
perundangan-undangan sudah sesuai dengan kaidah-kaidah/ ketentuan
yang berlaku di Indonesia. Sehingga Majlis Hakim dalam memutuskan
perkara kekerasan dalam rumah tangga sudah memenuhi syarat keadilan,
tidak memberatkan salah satu pihak, karena sudah sesuai dengan hukum
formil dan hukum materiilnya. Ditinjau dari Hukum Islam hakim
Pengadilan Negeri tidak berlandaskan pada kaidah-kaidah hukum Islam,
akan tetapi secara tidak langsung prinsip Hukum Islam sudah terkandung
didalamnya.
7. Pertimbangan hakim dalam memutuskan perkara kekerasan dalam rumah
tangga dimulai dari penyelidikan, penyidikan, tuntutan oleh Jaksa
Penuntut Umum, pemeriksaan dimuka persidangan, dan pembuktian.
Pembuktian disini adalah sebagai duduk perkara pidana yaitu segala
sesuatu yang terjadi di Persidangan. Apabila pembuktian tersebut benar
dan hakim yakin atas perkara tersebut Majlis Hakim akan


92
92
mempertimbangkan perkara berdasarkan pada landasan-landasan hukum
baik yang tersurat maupun yang tersirat.
B. SARAN
1. Sosialisasi terhadap undang-undang terhadap masyarakat harus terus
dilakukan karena sampai saat ini banyak masyarakat yang belum tahu UU
PKDRT, sosialisasi pertama difokuskan kepada aparat penegak hukum,
kepada masyarakat dengan memberi penyuluhan-penyuluhan hukum.
Sosialisasi kepada kalangan agamawan dan pemuka agama untuk
mengubah kultur dan interpretasi agama.
2. Masih perlunya diadakan di masyarakat tentang kesetaraan gender, bukan
hanya kaum perempuan saja tapi juga laki-laki agar mereka lebih dapat
memahami hak dan kewajiban suami istri.
3. Agar para istri yang menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga jangan
takut untuk melaporkan kasusnya pada pihak yang berwenang, kalau hal
seperti ini dibiarkan terus menerus, mereka akan menganggap kekerasan
dalam rumah tangga adalah hal yang sudah biasa.












93
93
DAFTAR PUSTAKA
“Kekerasan Terhadap Perempuan Berbasis Gender (KTPBG)”,Peket Informasi,
Rifka Annisa Women’s Crisis Center, Jogyakarta.
Arikunto Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktrek, Rineka
Cipta, Jakarta, 1998.
Awwalin Fithri, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Rumah Tangga (Studi
Komparatif Hukum Islam dengan UU No. 23 Tahun 2004), Skripsi untuk
memperoleh gelar S-1 pada Ilmu Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2006.
Batara Ratna Munti, Perempuan Sebagai Kepala Rumah Tangga, Lembaga
Kajian Agama dan Gender, Jakarta, Cet. I,1999.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai
Pustaka, Jakarta, 1989.
Depertemen Agama RI, Al Quran dan Terjemahnya, Yayasan Penyelenggara
Penerjemah al Qur’an, 1997.
Fakih Mansour, Analisis Gender dan Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, Cet. I, 1996.
Farha Ciciek, Ikhtiar Mengatasi Kekerasan dalam Rumah Tangga belajar dari
kehidupan Rasulullah SAW , PT. Lembaga Kajian Agama dan Jender,
Jakarta, Cet. I, Desember 1999.
Hajar Ibnu al Asqolani, Bulughul Maram, PT. Toha Putra, Semarang.
Hamka, Tarsir al-Azhar, Juz V, Pustaka Panjimas, Jakarta.
Hasan Iqbal, Analisis Data Penelitian Dengan Statistik, PT. Bumi Aksara,
Jakarta, Cet. 1, 2004.


94
94
Herkutanto, Kekerasan Terhadap Perempuan dalam Sistem Hukum Pidana,
dalam buku Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, PT. Alumni,
Bandung, 2000.
Ibrahim Johnny, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Bayu Media
Publishing, Jakarta, Cet II, 2006.
JST. Simorangkir, et. al, Kamus Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, Cet. VI, 2000.
Kasir Ibnu, Tafsir Ibnu Kasir, diterjemahkan oleh Bahreisy Salim, dalam buku
Tarjamah Tafsir Ibnu Kasir, Jilid II, PT, Bina Ilmu, Surabaya,1990.
Kusrini, Eni, Perlindungan Hukum Terhadap Perempuan Korban Kekerasan
Dalam Rumah Tangga Menurut UU KDRT (Studi Kasus di Polres Salatiga),
Skripsi untuk memperoleh gelar S-1 pada Ilmu Hukum Islam, STAIN
Salatiga, 2006.
M. Leter H. Bgd, Tuntutan Rumah Tangga Muslim dan Keluarga Berencana,
Angkasa Raya, Padang, 1985.
M. Tatang Amirin, Menyusun Rencana Penelitian, Rajawali, Jakarta, Cet. III,
1990.
Marlia Milda, Marital Rape,Kekerasan Seksual Terhadap Istri, PT, LKiS Pelangi
Aksara, Yogjakarta, Cet. 1, 2007.
Mas’udi Masdar F, Islam dan Hak-hak Reproduksi Perempuan, PT. Mizan
Hazanah Ilmu-ilmu Islam, Bandung, Cet. II, 1997.
Mufidah et al, Haruskah Perempuan dan Anak Dikorbankan? Panduan Pemula
Untuk Pendampingan Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak,
PT. PSG dan Pilar Media, 2006.
Muhammad Husen, Islam Agama Ramah Perempuan Pembelaan Kiai Pesantren,
LKiS, Yogjakarta, Cet. I, 2004.


95
95
Muhammad Tengku Hasbi Ash Shiddieqy, Tafsir Al Qur’anul Majid An-Nuur,
Jilid I, PT. Pustaka Rizki Putra, Semarang, tt.
Nakiyah Siti, Kekerasan Terhadap Istri Dalam Rumah Tangga Sebagai Alasan
Perceraian, (Studi Kasus di Pengadilan Agama Salatiga ) Skripsi untuk
mempereh gelar S-1 pada Ilmu Hukum Islam, STAIN Salatiga, 2004.
Poerwandari Kristi, Kekerasan Terdahap Perempuan Tinjauan Psikologis dalam
buku Penghapusan Diskriminasi Terhadap Wanita, Alumni, Bandung, 2000.
Santoso Topo, Membumikan Hukum Pidana Islam, Gema Insani, Jakarta, 2003.
Suara Merdeka, 7 Agustus 2007.
Suara Rahima, No. 14 Th. 15 April 2005.
Thalib Muhammad, Ketentuan Nafkah Istri dan Anak, PT. Irsyad Baitus Salam,
Bandung, Cet. I, 2000.
Umar Muhammad An-Nawawi, Syarah Uqudullujain Etika Rumah Tangga,
Pustaka Amani, Jakarta, Cet II, 2000.
UU RI No. 1 tahun 1974, tentang Perkawinan, Pustaka Widyatama, Yogyakarta,
Cet. I, 2004.
UU RI No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah
Tangga. Pustaka fokusmedia, Bandung, Cet. II, Desember, 2006.
UU RI No. 8 tahun 1981, tentang Hukum Acara Pidana, PT. Karya Anda,
Surabaya, tt.
W.J.S. Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia.
Widodo Erna Mukhtar, Konstruksi Ke Arah Penelitian Diskriftif, Avyrouz,
Yogjakarta, 2000.


96
96
Zuhri Muh, Dipl. Talf dkk, Tarjamah Sunan at-Tirmidzi, Jilid III, CV. Asy Syifa,
Semarang, tt, hal. 533.
Zumrotun Siti, Membongkar Fiqh Patriarkhis; Refleksi atas Keterbelengguan
Perempuan dalam Rumah Tangga, STAIN Press, Cet.I, 2006.




























97
97
DAFAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Sri Mulyati
Tempat, Tanggal Lahir : Liwa, 10 April 1984
Alamat : Air Dadapan Rt. 03/IV Tri Mulyo, Gedung Surian
Lampung Barat
Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan
Pendidikan :
SEKOLAH NAMA SEKOLAHAN LULUS TAHUN
SDN 02 Gunung Terang, Lampung Barat 2007
MTs Al Manar Bener, Tangaran 2000
MA Al Manar Bener, Tangaran 2003
STAIN Salatiga 2007

Pengalaman Organisasi :
NO ORGANISASI JABATAN TAHUN
1. RESIMEN MAHASISWA Sekretaris 2005-2007
2. Edi Mancoro Rayon Pi 2006-2007





You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->