P. 1
Artikel Administrasi Hukum Proyek Konstuksi

Artikel Administrasi Hukum Proyek Konstuksi

|Views: 2,088|Likes:
Published by choerur_robach
Artikel Administrasi Hukum Proyek
Artikel Administrasi Hukum Proyek

More info:

Published by: choerur_robach on Mar 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/05/2013

pdf

text

original

Artikel ASPEK HUKUM DALAM PEMBANGUNAN

Administrasi Hukum Proyek Konstruksi di Indonesia Oleh: CHOERUR ROBACH / 0710610026

DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS TEKNIK JURUSAN SIPIL

1

Sebagai seorang calon perencana, seorang mhasiswa teknik sipil diharapkan dapat memahami dan memiliki wawasan hukum yang luas. Hal ini diperlukan karena pada saat terjun ke lapangan nanti, seorang perencana maupun kontraktor kemungkinan besar akan banyak menemui masalah-masalah hukum seperti pembebasan lahan, perijinan (IMB), penyimpangan yang berpotensi mengakibatkan kegagalan bangunan, dan sebagainya. Untuk itu, tugas ini akan banyak memberikan wawasan kepada mahasiswa tentang kaitan antara hukum dan pembangunan. Berikut ini akan sedikit dibahas beberapa artikel yang berkaitan dengan hukum perencanaan, hukum penataan ruang, hukum perencana jasa konstruksi, hukum agraria hukum lingkungan, dan hukum perumahan/permukiman/gedung.

A. Administrasi hukum proyek konstruksi
Sumber : konstruksi.mht www.siaksoft-network.com/Administrasi hukum proyek

Posted by Yasin Setiawan

BAB I PENDAHULUAN I. Pengertian Manajemen Proyek

Proyek adalah merupakan suatu rangkaian kegiatan dan kejadian yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan tertentu dan membuahkan hasil dalam suatu jangka tertentu dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Manajemen adalah merupakan proses terpadu dimana individu-individu sebagai bagian dari organisasi dilibatkan untuk mencapai tujuan yang telah di tetapkan dan berlangsung terus menerus sering dengan waktu. Sedangkan fungsi pokok dari manajemen yaitu merencanakan, mengorganisasikan dan mengendalikan disamping fungsi-fungsi manajerial penting lainnya yaitu memimpin, mengarahkan, mengaktifkan, memberi contoh, membangun motivasi, mengkoordinasikan, mengkomunikasikan serta mengambil keputusan. Dalam pengertian lain, proyek adalah suatu kegiatan yang mempunyai jangka waktu tertentu dengan sumber daya tertentu pula, seperti menurut Seutji Lestari (1990) bahwa sistem manajemen proyek adalah bagaimana menghimpun dan mengelola masukan (input) yang bersumberdaya ( tenaga, manusia, dana, waktu, teknologi, bahan, peralatan dan manajemen) untuk menghasilkan keluaran/hasil proyek (output) yang telah ditentukan untuk mencapai suatu tujuan proyek yang mendukung suatu program dalam suatu jangka waktu batas tertentu/terbatas. Sedangkan menurut Istimawan Dipohusodo (1996) Konsep Manajemen Proyek dapat diartikan sebagai penataan serta pengorganisasian atas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan manajemen proyek. Sistem manajemen proyek disusun dan di jabarkan menjadi seperangkat pengertian, pedoman, alat-alat dan petunjuk tata cara pelaksanaan sehingga mampu menghubungkan kesenjangan persepsi,
2

membangun kesamaan bahasa serta mampu mewujudkan suatu bentuk kerjasama dan koordinasi diantara satuan organisasi pelaksanaannya. Secara sistematis fungsi manajemen menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien untuk itu perlu di terapkan fungsi-fungsi dalam manajemen itu sendiri seperti Planning, Organizing, Actuating dan Controlling, dengan demikian dapat dicapai tujuan proyek yang optimal. Dalam melakukan Planning ( Perencanaan ) perlu di perhatikan beberapa faktor antara lain, waktu pelaksanaan, waktu pemesanan, waktu pemasukan material, alat, jumlah dan kualifikasi tenaga kerja, metode/teknik pelaksanaan dan sebagainya. Kemudian melaksanakan jenis-jenis pekerjaan proyek sesuai dengan rencana yang telah di tetapkan dengan selalu mengadakan Organizing yaitu pengarahan. Setelah itu dilaksanakan pula evaluasi atau koreksi-koreksi terhadap hasil pelaksanaan yang ada ( Actuating ). Terakhir adalah Controlling yaitu memonitoring, mengawasi dan mengendalikan pelaksanaan proyek tersebut sehingga berjalan sesuai dengan schedule yang ada dan optimal. Dengan Konsep ini peran manajer proyek konstruksi sangat besar dalam menentukan keberhasilan proyek dari segi waktu, biaya, mutu, keamanan dan kenyamanan yang optimal sehingga dari sisi ini dapat berkembang perusahaan yang bergerak di bidang manajemen konstruksi yang akan mengelola proyek-proyek yang diingini oleh owner secara profesional. II. Jenis Proyek Konstruksi

Proyek konstruksi berkembang sejalan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Bidang-bidang kehidupan manusia makin beragam sehingga menuntut industri jasa konstruksi membangun proyek-proyek konstruksi yang sesuai dengan kebutuhan tersebut. Proyek konstruksi untuk bangunan gedung perkantoran atau sekolah dan perumahan akan sangat berbeda dengan konstruksi bangunan pabrik, begitu juga dengan konstruksi bangunan bendungan, jembatan, jalan dan proyek sipil lainnya. Di bawah ini akan di jelaskan mengenai kategori-kategori proyek konstruksi yang ada sebagai berikut : 1. Proyek bangunan perumahan/pemukiman (Residentil Construction) Proyek pembangunan perumahan pemukiman didasarkan pada tahapan pembangunan yang secara serempak dengan penyediaan prasarana penunjang. Jadi sangat diperlukan perencanaan yang matang untuk infra struktur yang ada dalam lingkungan pemukiman tersebut seperti jaringan jalan, air bersih, listrik dan fasilitas lainnya. 2. Proyek Konstruksi bangunan gedung ( Building Construction) Proyek konstruksi bangunan gedung mencakup bangunan gedung perkantoran, sekolah, pertokoan , rumah sakit, rumah tinggal dan lain-lainnya.

3

3. Proyek Konstruksi Teknik Sipil (Heavy Engineering Construction) Umumnya proyek-proyek yang termasuk dalam kategori ini adalah proyek yang bersifat infra struktur seperti pembangunan jalan, jembatan, bendungan, jalan kereta api dan lain-lain. 4. Proyek Konstruksi Industri ( Industrial Construction) Proyek Konstruksi yang termasuk di dalam proyek ini adalah seperti proyek industri yang mempunyai spesifikasi khusus seperti pembangunan industri berat, pertambangan, kilang minyak, dan Fabrikasi- Fabrikasi khusus lainnya dimana di butuhkan suatu teknologi yang tinggi dengan tingkat ketelitian yang akurat serta mempunyai tingkat keamanan yang tinggi pula. Tahapan dalam Proyek Konstruksi Secara garis besar tahapan proyek konstruksi dapat di bagi menjadi 3 bagian yaitu : Perancangan ( Planning, design) Pengadaan/pelelangan ( Tender ) Pelaksanaan (construction)

BAB II ASPEK HUKUM Etika hukum dalam jasa konstruksi melibatkan mereka yang terkait mulai dalam proses perencanaan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian pelaksanaan pekerjaan konstruksi yaitu penyedia jasa (konsultan perencana, konsultan pengawas dan kontraktor sebagai pelaksanaan) dan pengguna jasa (pemilih proyek/pimpro). Dimana dasar Hukum Yang di pakai untuk berbagai pekerjaan jasa konstruksi adalah sebagai berikut : II.1 Dasar-dasar Hukum a. Peraturan pemerintah no 29 tahun 2000 tentang penyelengaraan jasa konstruksi. b. Keputusan Presiden (keppres) No 80 tahun 2003 tentang pedoman pengadaan barang dan jasa.
c. Kepres No 42 tahun 2002 tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan

dan Belanja Negara. d. Keputusan Menteri terkait tentang pengadaan barang dan jasa e. Keputusan Gubernur dan peraturan pemerintah daerah propinsi. f. Keputusan Bupati/Walikota dan peraturan lainnya
4

g. Dokumen Lelang tentang standar pekerjaan h. Dokumen Kontrak Pekerjaan Penggunaan dana dalam penyediaan barang dan jasa pun diatur dalam UndangUndang dan Peraturan pemerintah, hal ini sesuai dengan diberlakukannya Undangundang No 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah melalui Peraturan Pemerintah No 104 tahun 200 tentang dana perimbangan menetapkan bahwa : a.Bagian daerah dari Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan, Bea perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan dan penerimaan sumber daya alam. b.Dana Alokasi Umum : Dana Yang berasal dari APBN yang dialokasikan dengan tujuan pemerataan kemampuan keuangan antar daerah untuk membiayai kebutuhan pengeluaran dalam rangka pelaksanaan desentralisasi c.Dana Alokasi Khusus : dana yang berasal dari APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk membiayai kebutuhan tertentu. Dana tersebut merupakan sumber Pendapatan Daerah yang berasal dari APBN> Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) disusun dalam suatu rencana keuangan tahunan daerah disampaikan oleh kepala daerah untuk mendapat persetujuan DPRD yang ditetapkan dalam bentuk PERDA tentang APBD yang mengacu pada PP no 105 tahun 200 tentang pengelolaan dan pertanggung jawaban keuangan daerah. Dana lainnya yang dapat dipakai untuk pengadaan proyek adalah bersumber dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagaimana yang diatur dalam UU no 34 tahun 2000 tentang perubahan UU No 18 tahun 1997 tentang pajak daerah dan retribusi daerah serta pinjaman daerah yang diatur dalam PP No 107 tahun 2000 tentang Pinjaman Daerah. Pengadaan barang dan jasa dalam pelaksanaannya harus mempunyai beberapa ketentuan menurut peraturan yang berlaku antara lain : • • • • • • Memenuhi ketentuan perundang-undangan untuk menjalankan usaha/kegiatan sebagai penyedia barang dan jasa Memiliki keahlian, pengalaman, kemampuan teknis dan manajerial untuk penyediaan barang dan jasa tidak dalam pengawasan pengadilan, tidak pailit, kegiatan usahanya sedang tidak dihentikan atau tidak sedang dalam sangsi pidana secara hukum mempunyai kapasitas menandatangani kontrak Sebagai wajib pajak sudah memenuhi kewajiban perpajakan tahun terakhir Dalam kurun waktu 4 tahun terakhir pernah memperoleh pekerjaan penyediaan barang dan jasa di lingkungan pemerintahan ataupun swasta kecuali bagi penyedia yang baru berdiri kurang dari tiga tahun.
5

• • •

Memiliki SDM, modal, peralatan dan fasilitas lainnya Tidak dalam daftar hitam Memiliki alamat tetap dan jelas serta dapat dijangkau dengan pos.

Dalam penyediaan barang dan jasa, penyedia barang dan jasa harus mempunyai sumberdaya manusia untuk melaksanakan pekerjaan proyek tersebut. Sumber daya manusia ini juga di tetapkan beberapa kriteria yang meliputi : • • • • • • memiliki nomor Wajib Pajak (NPWP) dan bukti penyelesaian kewajiban pajak lulusan perguruan tinggi negeri ataupun swasta yang telah diakreditasikan oleh instansi yang berwenang di bidang perguruan tinggi. mempunyai pengalaman dalam bidang yang sama. Pegawai Negeri, pegawai BI, Pegawai BHMN/BUMN/BUMD dilarang menjadi penyedia barang dan jasa Penyedia barang/jasa yang keikutsertaannya menimbulkan kepentingan dilarang menjadi penyedia barang dan jasa. pertentangan

Terpenuhinya persyaratan penyedia barang dan jasa dinilai melalui proses prakualifikasi dan atau pasca kualifikasi oleh pejabat pengadaan.

Pengguna barang dan jasa juga wajib untuk mengalokasikan waktu yang cukup untuk penayangan pengumuman, kesempatan dalam pengambilan dokumen dan kesempatan untuk mempelajari dokumen serta persiapan pembuatan penawaran. II.2 Pekerjaan SWAKELOLA Swakelola adalah pelaksanaan pekerjaan yang direncanakan, di kerjakan dan diawasi sendiri dengan menggunakan tenaga sendiri, alat sendiri atau upah borongan tenaga. Pekerjaan yang dapat dilakukan dengan Swakelola antara lain : 1. Pekerjaan tersebut dilihat dari besaran, sifat, lokasi atau pembiayaan tidak dapat dilakukan dengan cara pelelangan atau pemilihan langsung atau penunjukan langsung. 2. Pekerjaan secara rinci/detail tidak dapat dihitung/ditentukan terlebih dahulu sehingga apabila dilaksanakan oleh penyedia barang dan jasa akan menanggung resiko yang besar 3. Penyelenggaraan diklat khusus, penataran, seminar, lokakarya atau penyuluhan 4. pekerjaan proyek untuk percontohan (pilot project) yang bersifat khusus untuk pengembangan teknologi/metode kerja yang belum dilaksanakan oleh penyedia barang/jasa

6

5. pekerjaan khusus yang bersifat pemprosesan data, perumusan kebijakan pemerintah, pengujian di laboratorium, pengembangan sistem tertentu dan penelitian lembaga ilmiah pemerintah. II.3 Pengadaan yang di biayai pinjaman Luar Negeri. Undang undang No 18 tahun 1999 tentang JAKON dan petunjuk pelaksanaan sepanjang tidak bertentangan dengan Naskah Perjanjian Luar Negeri (NPLN) Loan Afreement (LA) atau Dokumen Kesepahaman (MOU), pengadaan ini dapat dilaksanakan. Dokumen lelang harus sesuai dengan standar pengadaan jasa borongan , pelelangan internasional, dan kontrak harga satuan (Standart Bidding Documents For Procurement of civil work, International Competitive Bidding Unit rate Contract) serta sesuai dengan Dokumen Kontrak pekerjaan yang telah dibuat.

BAB III KESIMPULAN III.1 Aspek-aspek yang mempengaruhi proyek Pengadaan barang dan jasa pada instansi pemerintah selama ini telah banyak di campuri dengan hal-hal yang tidak baik, yaitu korupsi, kolusi dan nepotisme dimana sudah tidak sesuai lagi dengan ketentuan-ketentuan yang ada dalam aspek-aspek manajemen konstruksi ataupun aspek hukumnya. Hal tersebut diakibatkan oleh adanya ketidak seimbangan peran dan wewenang dari komponen yang terlibat dan aktifitas pengadaan barang dan jasa tersebut. Pada masa yang akan datang keadaan haruslah diubah sehingga keinginan yang berkembang dalam masyarakat terhadap pemerintah dapat diwujudkan berupa suatu sistem yang menuntut agar dalam melaksanakan penyelenggaraan pemerintah dan pembangunan dilaksanakan secara bersih dari KKN dan mampu menyediakan public good yang prima dan mampu dalam merespon tingkat perkembangan globalisasi. Dari penjelasan pada BAB I diatas dapat kita simpulkan pula bahwa tidak hanya aspek hukum dan good governance saja sebagai faktor utama dalam pengadaan barang dan jasa yang optimal, tetapi di perlukan juga prinsip-prinsip yang kuat dalam pengadaan tersebut antara lain ; 1. Efisien Yang dikatakan Efisien adalah Menggunakan daya yang terbatas untuk mencapai sasaran dalam waktu sesingkat-singkatnya dan dapat di pertanggung jawabkan. 2. Efektif Sesuai dengan kebutuhan dan memberikan manfaat yang sebesar besarnya sesuai dengan yang di tetapkan pemerintah 3. Persaingan sehat
7

Dilakukan melalui pelelangan/seleksi dan persaingan sehat diantara penyedia jasa yang memenuhi persyaratan yang berdasarkan dengan ketentuan yang ada. 4. Transparan dan terbuka Ketentuan dan informasi mengenai pengadaan barang dan jasa sifatnya bagi peserta pelelangan, pemilihan langsung, penunjukan langsung yang berminat serta bagi masyarakat luas 5. Akuntabilitas Mencapai sasaran baik fisik, keuangan, manfaat bagi kelancaran pelaksanaan tugas umum pemerintah dan pelayanan masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku Dari sisi Perencanaan Strategik penerapan sistem harus memperhatikan faktorfaktor organisasi baik internal maupun external dengan memperhitungkan kekuatan (strenght), kelemahan (weakness), peluang (opportunities) dan ancaman (treats). Cakupan dari suatu perencanaan strategi adalah adanya pernyataan visi, misi dan faktor keberhasilan, rumusan tentang tujuan, sasaran uraian aktifitas organisasi serta uraian tentang cara mencapai tujuan tersebut. Bahwa Asas umum penyelenggaraan Negara sebagaimana tercantum dalam UU no 28 tahun 1999 meliputi Asas Kepastian Hukum; Asas tertib penyelenggaraan Negara; Asas Kepentingan Umum; Asas Keterbukaan; Asas Proporsionalitas; Asas Profesionalitas dan Asas Akuntabilitas. Asas Akuntabilitas adalah asas yang menentukan setiap kegiatan dan hasil akhir kegiatan penyelenggaraan Negara termasuk barang dan jasa harus dapat dipertanggung jawabkan kepada masyarakat dan dilaksanakan sesuai dengan ketentuan perundangan yang berlaku. III.2 Aspek Akuntabilitas Menurut INPRES No. 7 tahun 1999, diartikan sebagai perwujudan kewajiban suatu instansi pemerintah untuk mempertanggung jawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan misi organisasi dalam pencapaian tujuan dan sasaran yang telah di tetapkan melalui alat pertanggung jawaban secara periodik. Agar Asas Ini dapat di terapkan maka perlu dipahami prinsip akuntabilitas yaitu; 1. Adanya komitmen dari pimpinan dan staf secara konsisten dan konsekuen dalam melaksanakan misi organisasi 2. Dilaksanakan sistem yang menjamin penggunaan sumber daya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku Disamping itu pula perlu adanya etika dalam pengadaan barang dan jasa seperti antara lain : 1. Melaksanakan tugas secara tertib disertai dengan tanggung jawab untuk mencapai sasaran kelancaran dan ketepatan tercapainya tujuan pengadaan.
8

2. Bekerja secara Profesional atas dasar kejujuran serta menjaga kerahasiaan dokumen pengadaan 3. Tidak saling mempengaruhi baik secara langsung maupun tidak langsung untuk mencegah terjadinya persaingan tidak sehat 4. Menerima dan bertanggungjawab atas segala keputusan yang ditetapkan oleh kedua pihak 5. Mencegah/menghindari terjadinya pertentangan kepentingan, pemborosan atau kebocoran uang negara dan penyalahgunaan wewenang dengan tujuan untuk kepentingan pribadi, golongan atau pihak lainnya yang dapat merugikan negara. 6. tidak berjanji, tidak menawarkan memberi atau menerima imbalan kepada siapapun yang diketahui atau patut dapat diduga berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa.

9

B. Advokasi Jasa Konstruksi
Sumber: www. JasaKonstruksi.net/Advokasi Jasa Konstruksi.mht 1. Advokasi Hukum Bantuan Advokasi diadakan untuk menyelesaikan sengketa yang tejadi dalam pekerjaan jasa konstruksi. Kegiatan ini di fokuskan untuk menyelesaikan sengketa yang terjadi di luar pengadilan kecuali terhadap tindak pidana dalam penyelenggaraan pekerjaan konstruksi. Bantuan yang diberikan berupa : • • Pembinaan sistem dan tertib aturan hukum dalam melaksanakan pekerjaan konstruksi Pelayanan bantuan hukum yang bersifat terbuka untuk umum dalam bentuk konsultasi, negosiasi, mediasi, dan konsiliasi serta berkoordinasi dengan para ahli hukum yang menguasai industri jasa konstruksi Menyelenggarakan sistem informasi bantuan hukum konstruksi kepada setiap para pelaku industri jasa konstruksi. Melakukan kerjasama periodik dengan aparat penegak hukum, pejabat publik, akademisi, pakar hukum, praktisi yang berkaitan dengan penanganan kasuskasus konstruksi baik di pusat maupun daerah.

• •

Hal-2 pokok yang diperlukan untuk mendukung/membuktikan/melawan suatu klaim di bidang jasa konstruksi : 1. Dokumen tender • Menjaga semua dokumentasi beserta rekaman pra penandatanganan kontrak dan mampu telusur yang dimilikinya , permasalahan yang ditemui selama ini seringnya dokumen tender hilang atau tidak lengkap. Setiap dokumen yang dimiliki harus dipastikan dan terekam kepada siapa dan kapan mendistribusikan rekamannya. Dokumen ini meliputi; take off sheets, dokumen permintaan penawaran, dokumen proposal penawaran jasa pelaksana (kontraktor)/ jasa perencana /pengawas (konsultan kontruksi ) dan /atau pemasok, berita acara aanwijzing dan site-visit/peninjauan lapangan. 2. Dokumen Kontrak Kerja Kontruksi • • • Memastikan dokumen lelang yang menjadi dokumen kontrak kerja konstruksi yang sudah di tanda tangani tersedia lengkap. Tersedianya data tentang rekaman dokumen tersebut kepada siapa dan kapan distribusikan. Memastikan bahwa segala sesuatu telah tersedia dalam kontrak dan andal dan controlable pada tahap pelaksanaan. Dokumen kontrak di-review pada saat potensi sengketa teridentifikasi.
10

3. Schedule • •

Memiliki schedule awal yang controlable, memelihara up-dating nya secara reguler. Merekam setiap kejadian delay/keterlambatan dan penyebab beserta dampak dari keterlambatan tersebut. Untuk memberlakukan klaim keterlambatan / Delay Claim harus dibuktikan bahwa memang ada ketertundaan waktu yang excusable, compensable and critical. Memelihara dokumen rencana schedule dan up-dated schedule secara periodik berdasarkan metoda lintasan kritis / Curva S Komponen utama Klaim keterlambatan / Claim Delay adalah Overhead Management Office, dikalkulasi berdasarkan pengeluaran administrasi umum pada tahun berjalan.

4. Gambar Rencana, Spesifikasi, Shop-drawing, permintaan informasi dan submittal • • Setiap dokumen Disain dan korespondensi terkait harus dikaji. Perlu membuat daftar Info-Log, Shop-drawing Log, Submittal-Log, mencatat terutama tanggal terima/ respon/ komentar.

5. Catatan Harian

Memelihara Catatan Harian Proyek yang minimum berisikan antara lain cuaca setiap hari tentang pemakaian sumber daya alat, material dan tenaga kerja di lapangan, pendatangangan material kritis, kunjungan lapangan oleh pihak ke-3, penemuan-penemuan hidden side conditions, penyimpangan rencana atau konflik, pertanyaan-pertanyaan penting, setiap kejadian yang patut bagi keterlambatan / delay, perbedaan pendapat yang muncul. Memelihara laporan berisikan penemuan dan penyelesaian problema. Setiap kejadian dipastikan selalu mengedepankan fakta dari pada opini.

• • • •

6. Korespondensi Proyek Selalu mengirim balasan korespondensi/ surat-menyurat. Korespondensi disimpan secara kronologis. Bila diidentifikasi adanya perubahan, copy korespondensi terkait kasus tersebut dibuatkan folder khusus dan terpisah.

7. Foto dan video • Mengambil foto dan video setiap tahapan/kejadian proyek atau setiap akhir minggu

11

Ini penting untuk menentukan persentase Progress/ kemajuan setiap saat pada waktu tertentu .

8. Miscellaneous • Merekam setiap pembicaraan rapat dalam Minutes of metting (MOM) dan membuat file khusus untuk itu , bila digunakan digital maka harus selalu membuat copy file dan disimpan dilain tempat . Menetapkan pelaku-pelaku pencegahan sengketa yang disepakati dalam kondisi konrak seperti antara lain Contract-reviewer, Risk-allocator, Partnering team, DAB team. Menghubungi penasehat hukum/ ahli kontrak kerja konstruksi bila dianggap perlu

9. Change Order Logs • Setiap proyek pasti akan menghadapi perubahan-perubahan. Nilai perubahan 5% sampai 15% nilai kontrak awal adalah hal yang lumrah./norma. Merekam semua Change Order dan Cost Recovery Claim. Menyepakati semua perubahan beserta dampaknya sedini mungkin dengan menggunakan segala macam cara pencegahan sengketa Memelihara setiap dokumen menyangkut tambahan biaya akibat perubahan

• • •

10. Financial Statement 1. Melaksanakan proses pembayaran sesuai ketentuan kontrak. 2. Mencatat semua proses permintaan pembayaran dan realisasinya 3. Membuat amendemen kontrak bila diharuskan prosedur yang berlaku, untuk perubahan nilai kontrak akibay perubahan
4. Menyicil kesepakatan final account dan menyelesaikan sebelum serah

terima final proyek

12

2. Kesimpulan dan saran Seorang perencana maupun pelakasana konstruksi tidak akan pernah lepas seutuhnya dari masalah hukum. Masalah-masalah seperti pembebasan lahan, perijinan (IMB), hingga kegagalan bangunan meruapakan masalah yang berkaitan, baik secara langsung maupun tidak langsung dengan hukum. Untuk itu, seorang calon sarjana sipil diharapkan meiliki wawasan hukum yang luas. Di samping itu, akan lebih baik jika seorang sarjana sipil pada saat terjun ke lapangan nanti memiliki link denagn para advokat yang handal di bidang hukum (terutama yang berkaitan dengan konstruksi), agar masalah-masalah konstuksi yang terjadi tidak menyita pikiran, tenaga, waktu dan uang. Dan yang paling penting, dalam merencanakan maupun melaksanakan proyek-proyek konstruksi seorang sarjana sipil harus mengindahkan kaidah-kaidah, aturan maupun standar yang telah dibuat di Negara ini agar tidak terjadi kegagaln konstruksi maupun dugaan penyimpangan.

13

C.

Aspek Hukum Pengelolaan Lingkungan Laut (Pantai) Era Otonomi Daerah
Sumber : www.kompas.com/kompas-cetak/0403/31/bahari/944830.htm Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

a. Definisi Hukum lingkungan adalah segala jenis peraturan yang berkaitan dengan aspek-aspek dalam lingkungan (environment) Hukum mengenai lingkungan laut, baik mengenai perlindungan dan pelestariannya telah diatur dalam ketentuan-ketentuan internasional, baik dalam Konvensi Jenewa tahun 1958, Konvensi PBB tahun 1982, Deklarasi Stockholm tahun 1972, dan sebagainya, tentunya dapat memberikan masukan yang berarti dalam membentuk Undang-Undang Lingkungan Hidup (UU No. 4 tahun 1982 atau UU No. 23 Tahun 1987). Daerah Kabupaten/Kota dengan berlakunya Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah mempunyai kewenangan pengelolaan lingkungan laut sebagaimana diatur pada pasal 10 ayat 3. Persoalannya adalah bagaimana pemerintah Kabupaten / Kota melaksanakannya. Sumber daya alam hayati dan ekosistem wilayah pantai (lingkungan laut) mempunyai kedudukan dan peranan penting bagi kehidupan dan pembangunan daerah, karena itu harus dikelola dan dimanfaatkan secara lestari bagi kesejahteraan rakyat daerah untuk masa sekarang dan masa mendatang. Udara, Sumber daya alam dan lingkungan hidup merupakan sumber yang penting bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Sumber daya alam menyediakan sesuatu yang diperoleh dari lingkungan fisik untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia, sedangkan lingkungan merupakan tempat dalam arti luas bagi manusia dalam melakukan aktifitasnya.Untuk itu, pengelolaan sumber daya alam seharusnya mengacu kepada aspek konservasi dan pelestarian lingkungan. Eksploitasi sumber daya alam yang hanya berorientasi ekonomi hanya membawa efek positif secara ekonomi tetapi menimbulkan efek negatif bagi kelangsungan kehidupan umat manusia. Oleh karena itu pembangunan tidak hanya memperhatikan aspek ekonomi tetapi juga memperhatikan aspek etika dan sosial yang berkaitan dengan kelestarian serta kemampuan dan daya dukung sumber daya alam. Pembangunan sumber daya alam dan lingkungan hidup menjadi acuan bagi kegiatan berbagai sektor pembangunan agar tercipta keseimbangan dan kelestarian fungsi sumber daya alam dan lingkungan hidup sehingga keberlanjutan pembangunan tetap terjamin. Pemanfaatan sumber daya alam seharusnya memberi kesempatan dan ruang bagi peranserta masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan dan pembangunan berkelanjutan.

14

Meningkatnya intensitas kegiatan penduduk dan industri perlu dikendalikan untuk mengurangi kadar kerusakan lingkungan di banyak tempat yang antara lain berupa pencemaran industri, pembuangan limbah yang tidak memenuhi persyaratan teknis dan kesehatan, penggunaan bahan bakar yang tidak aman bagi lingkungan, kegiatan pertanian, penangkapan ikan, dan eksploitasi hutan lindung yang mengabaikan daya dukung dan daya tampung lingkungan. Dengan memperhatikan permasalahan dan kondisi sumber daya alam dan lingkungan hidup dewasa ini, maka kebijakan di bidang sumber daya alam dan lingkungan hidup ditujukan pada upaya : (1) mengelola sumber daya alam, baik yang dapat diperbaharui maupun yang tidak dapat diperbaharui melalui penerapan teknologi ramah lingkungan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampungnya, (2) memberdayakan masyarakat dan kekuatan ekonomi dalam pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan hidup bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, (3) memelihara kawasan konservasi yang sudah ada dan menetapkan kawasan konservasi baru di wilayah tertentu, dan (4) mengikutsertakan masyarakat dalam rangka menanggulangi permasalahan lingkungan. Sasaran yang ingin dicapai adalah terwujudnya pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. 1 b.Ketentuan-Ketentuan Mengenai Pengelolaan Lingkungan Laut Dilihat Dari Hukum Internasional Dan Nasional 1. Ketentuan-Ketentuan Internasional Perlindungan laut sebelum dilaksanakannya Konvensi PBB 1982 telah ditetapkan Konvensi Jenewa 1958 mengenai rezim laut lepas yang dalam pasal 24 menegaskan : “every state shall draw up regulations to prevent pollution of the seas by the dischange of oil from ships or pipelines or resulting from the exploitation and exploration if the seabed and its subsoil taking account to the existing treaty provisions on the subject” (Setiap negara wajib mengadakan peraturan-peraturan untuk mencegah pencemaran laut yang disebabkan oleh minyak yang berasal dari kapal atau pipa laut atau yang disebabkan oleh eksplorasi dan eksploitasi dasar laut dan tanah di bawahnya, dengan memperhatikan ketentuan-ketentuan perjanjian internasional yang terdapat mengenai masalah ini”)

15

Ketentuan tersebut mewajibkan negara-negara untuk mengadakan peraturan perundang-undangan tentang perlindungan lingkungan laut. Perlindungan lingkungan laut dimaksud dalam pasal tersebut mencakup perikanan dan pelestarian kekayaan hayati laut. Tergantungnya tiap-tiap negara pada laut sebagai sumber kekayaan protein hewani dan kemajuan teknologi penangkapan ikan, menjadikan perlindungan lingkungan laut suatu masalah yang mendapat perhatian dan dukungan yang cukup besar. Dalam konvensi PBB 1982 tentang hukum laut pasal 192 menegaskan : “states have the obligation to protect and preserve the marine environment” (“Negara-negara mempunyai kewajiban untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut”). Konvensi PBB 1982 lebih secara tegas mewajibkan negara untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Memang negara mempunyai hak kedaulatan untuk mengeksploitasi kekayaan alam, namun tentunya eksploitasi dilakukan dengan penuh kebijaksanaan yang tidak mengganggu apalagi merusak lingkungan laut dan pelestariannya. Pasal 193 Konvensi PBB 1982 menegaskan hak kedaulatan negara untuk mengeksploitasikan kekayaan alamnya, secara lengkap pasal tersebut berbunyi : “states have the sovereign right to exploit their natural resources pursuant to their environmental policies and accordance with their duty to protect and preserve the marine environment” (“Negara-negara mempunyai hak kedaulatan untuk mengeksploitasi kekayaan alam mereka serasi dengan kebijaksanaan lingkungan mereka serta sesuai pula dengan kewajiban mereka untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut”) Negara-negara harus mengambil segala tindakan yang perlu sesuai dengan konvensi baik secara individual maupun secara bersama-sama untuk mencegah mengurangi, dan mengendalikan pencemaran lingkungan laut yang disebabkan oleh setiap sumber dengan menggunakan cara-cara yang paling praktis yang ada pada mereka, sesuai dengan kemampuan mereka secara bijaksana dan serasi. Dalam mengambil tindakan-tindakan untuk mencegah, mengurangi atua mengendalikan pencemaran lingkungan laut, negara-negara harus bertindak sedemikian rupa agar tidak memindahkan, baik secara langsung maupun tidak langsung, kerusakan atau bahaya dari suatu daerah ke daerah lain, atau mengubah suatu bentuk pencemaran ke dalam bentuk pencemaran lain.
12. Ketentuan Nasional

Perlindungan dan pelestarian lingkungan laut (pantai) dalam Hukum Nasional kita dapat dilihat pada : a) Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya b) Undang-Undang No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
16

Terbentuknya peraturan perundang-undangan baru yang dapat dianggap memenuhi kesadaran hukum rakyat, tidak otomatis menjamin efektifitas pelaksanaannya. Hal ini berlaku pula untuk kedua aturan perundang-undangan tersebut di atas, penyebabnya antara lain : 1) Ketentuan perundang-undangan tidak segera dilengkapi dengan ketentuan pelaksanaannya (Implementing regulations) sehingga berdampak bahwa ketentuan operasional yang dibuat berdasarkan undang-undang yang lama untuk menjaga kevakuman hukum sehingga masih tetap berlaku. 2) Kurang berkembangnya teori penafsiran hukum yang mestinya dapat dikembangkanleh para hakim, sehingga ada kelambatan dalam proses pembentukan hukum baru. 3) Perkembangan hukum dalam masalah sumber daya alam hayati dan lingkungan laut belum disertai dengan kemampuan aparat penegak hukum di lapangan. Dalam UU No. 5 Tahun 1990 ditegaskan bahwa kawasan pelestarian alam sebagai kawasan dengan ciri khas tertentu, baik di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman. Jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan secara lestari sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Ketentauan-ketentuan pelaksanaan dari kedua undang-undang tersebut dalam bentuk Peraturan Pemerintah, misalnya : 1) Peraturan Pemerintah No. 19 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran dan atau Perusakan Laut 2) Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun. 3) Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara.

c.Pengelolaan Lingkungan Laut (Pantai) Era Otonomi Daerah Ketentuan-ketentuan internasional dan Hukum Nasional, telah memberikan perlindungan terhadap lingkungan laut (pantai) dan pelestariannya. Dengan berlakunya Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 terjadilah paradigma baru tentang Pengelolaan Lingkungan Laut (Pantai), karena dengan ditetapkan UndangUndang tersebut daerah mempunyai kewenangan pengelolaan lingkungan laut (pantai) sejauh 4 mil yang diukur dari garis pantai. Secara jelas dasar yuridis kewenangan berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 sebagai berikut : 11) Pasal 3 “Wilayah daerah propinsi, sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1), terdiri atas wilayah darat dan wilayah laut sejauh dua belas mil laut yang
17

diukur dari garis pantai ke arah laut lepas dan/atau ke arah perairan kepulauan”. 12) Pasal 10 ayat (3) “Kewenangan daerah Kabupaten dan Daerah Kota di wilayah laut, sebagaimana dimaksud pada ayat (2) adalah sejauh sepertiga dari batas laut daerah propinsi”. Kewenangan daerah sejauh 4 (empat) mil dari garis pantai sebaagimana ditegaskan pada pasal 10 ayat (3) meliputi : 11) Eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut 22) Pengaturan kepentingan administrasi 33) Pengaturan tata ruang 44) Penegakan hukum terhadap peraturan yang dikeluarkan oleh daerah atau yang dilimpahkan kewenangannya oleh pemerintah 55) Bantuan penegakan keamanan Walaupun berdasarkan Undang-Undang No. 22 Tahun 1999 telah memberikan kejelasan-kejelasan kewenangan daerah atas wilayah laut, namun perangkat hukum di daerah belum menyentuh bidang kelautan dan pantai. Pengaturan lingkungan laut (pantai) tidak cukup hanya dengan Peraturan Daerah mengenai tata ruang pantai, tetapi harus lebih menjangkau kepada pemanfaatan, perlindungan, dan pelestariannya. Untuk keperluan itu tentunya harus dilakukan telaah/kajian yang serius dari berbagai pihak terutama Pemerintah Daerah untuk segera bertindak membuat produk hukum (aturan daerah) yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan laut (pantai). Untuk membuat aturan yuridis tersebut tidak cukup dikerahkan ahli hukum daerah dan DPRD, tetapi akan lebih baik dan dapat aplikatif apabila disertakan pula tenaga-tenaga ahli di bidang kelautan, sehingga akan jelas dalam aturan tersebut upayaupaya perlindungan mutu laut. Selain perangkat yuridis perlu pula disiapkan perangkat-perangkat penyerta seperti lembaga yang mewadai kegiatan tersebut, personil (SDM) yang handal sehingga kawasan laut (pantai) di Kabupaten Kulon Progo dapat termanfaatkan sumber dayanya tanpa mengesampingkan aspek pelestariannya.

d.Saran • *Perlindungan lingkungan laut dan pelestariannya telah diatur dalam ketentuan internasional baik dari Konvensi Jenewa 1958, Konvensi PBB 1982, dan Deklarasi Stockholm.

18

*Perangkat Hukum Nasional yang berkaitan erat dengan perlindungan laut dan pelestariannya tercermin pada UU No. 5 Tahun 1990 dan UU No. 23 Tahun 1997 serta PP No. 19 Tahun 1999 sebagai aturan pelaksanaannya. Belum adanya aturan yuridis daerah yang menyentuh wilayah laut dan pantai, karena aturan daerah tidak hanya cukup tata ruang pantai, tetapi perlu aturan yuridis yang dapat menyentuh perlindungan dan pelestarian wilayah laut dan pantai. Mengoptimalkan upaya konservasi, rehabilitasi dan penghematan sumber daya pertambangan, energi dan air melalui sosialisasi penghematan, kepedulian dan kesadaran masyarakat, meningkatkan kerjasama antar unit/instansi terkait dalam pengelolaan dan penegakan hukum. Meningkatkan partisipasi dan akuntabilitas masyarakat, swasta dan pemerintah dalam mengatasi pencemaran lingkungan hidup dan meningkatkan sistem pengelolaan lingkungan,serta penegakkanhukum yang tegas dalam penanganansumber pencemaran lingkungan. Peranan pemerintah daerah sangat diperlukan dalam perumusan kebijakan pengelolaan sumber daya alam terutama dalam rangka perlindungan dari bencana ekologis. Sejalan dengan otonomi daerah, kontrol masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup merupakan hal yang penting. Dengan demikian hak dan kewajiban masyarakat untuk memanfaatkan dan memelihara keberlanjutan sumber daya alam dan lingkungan harus dapat dioptimalkan. Kesalahan dalam pengelolaan dapat berpotensi mempercepat terjadinya kerusakan sumber daya alam, termasuk kerusakan hutan lindung, pencemaran hilangnya keanekaragaman hayati, kerusakan konservasi alam, dan sebagainya.

19

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->