P. 1
Elastisitas benda

Elastisitas benda

|Views: 11,712|Likes:
Published by bimo

More info:

Published by: bimo on Mar 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2013

pdf

text

original

PENDAHULUAN

Dibandingkan dengan zat cair, zat padat lebih keras dan lebih berat. Sifat zat padat yang seperti ini memiliki molekul-molekul yang tersusun rapat sehingga ikatan diantara mereka relatif kuat. Inilah sebabnya mengapa zat padat relatif sukar dipecah-pecah dengan tangan. sebagai contoh, untuk membelah kayu diperlukan alat lain dan gaya yang besar. setiap usaha memisahkan molekulmolekul zat padat, misalkan tarikan atau tekanan, akan selalu dilawan oleh gaya tarik menarik antar moleku zat padat itu sendiri. Sebuah pegas yang kita gantungi dengan sebuah beban pada salah satu ujungnya, akan kembali ke panjangnya semula jika beban tersebut kita ambil kembali. Sifat sebuah benda yang dapat kembali ke bentuk semula seperti itu disebut elastisitas. Benda-benda yang memiliki elastisitas misalnya karet. baja, dan kayu, di sebut benda elastis. Sebaliknya, benda-benda yang tidak memiliki sifat elastis, misalnya pelastisin, lumpur dan tanah liat disebut benda plastis. Banyak bahan-bahan yang kita gunakan sehari-hari yang bersifat elastis tetapi hanya sementara saja. Ketika gaya yang diberikan pada bahan-bahan tersebut tidak akan kembali kebentuk semula. Keadaan ini dikatakan segbagai keadaan dimana batas elastisitas bahan telah terlampaui. Baja merupakan bahan elastik, jika gaya yang berkerja padanya terlalu besar, baja yang sudah berubah bentuk tidak akan bisa kembali lagi kebentuknya semula dengan sendirinya. Sebagai contoh, rangka mobil yang rusak akibat kecelakan yang hebat tidak akan kembali kebentuknya semula, walaupun bahan rangka mobil termasuk bahan elastik. Pertama kali, ukurlah panjang awal pegas sebelum diberi beban pada ujung sebuah pegas dimulai dengan beban 50g, 100g. 150g, dan seterusnya. Modulus Elastisitas dapat diartikan secara sederhana, yaitu adalah hubungan besaran tegangan tarik dan regangan tarik. Lebih jelasnya adalah perbandingan antara tegangan tarik dan regangan tarik. Modulus Elastisitas sangat penting dalam ilmu fisika karena setelah mempelajarinya, kita bisa menggunakannya untuk menentukan nilai kelastisan dari sebuah benda.

PEMBAHASAN

Teori elastisitas menyebutkan bahwa bila suatu benda pejal dibebani oleh gaya luar, benda tersebut akan berubah bentuk (deformasi) sehingga menimbulkan tegangan dan regangan. Geometri benda sangat berpengaruh pada distribusi tegangan. Tegangan akan terkonsentrasi pada daerah-daerah dimana terjadi perubahan bentuk yang tiba-tiba seperti lubang dan takikan. Benda-benda yang memiliki elastisitas misalnya karet. baja, dan kayu, di sebut benda elastis. sebaliknya, benda-benda yang tidak memiliki sifat elastis, misalnya pelastisin, lumpur dan tanah liat disebut benda plastis. Tegangan dan Regangan Tegangan: Gaya persatuan luas, dimana gaya tersebut bekerja, P = F/A yang dimana Dimensi: Gaya/Luas, N/m2 Regangan: perubahan yang dialami dibandingkandengan keadaan awalnya, L /Lo, ΔA/Ao, Δ V/Vo Tanpa Dimensi Tegang Penyebab Regang Akibat

Berdasarkan arah gaya dan pertambahan panjangnya (perubahan bentuk), tegangan dibedakan menjadi tiga macam, yaitu tegangan rentang, tegangan mempat, dan tegangan geser. Dua jenis regangan Regangan tarik / tekan (strain) dan Regangan geser (shear). Titik yang merupakan awal daerah plastik dan akhir daerah elastik, disebut batas elastisitas. Untuk Tegangan yang kecil, benda tegar bersifat “elastis”. Faktor perbandingan antara tegangan dan regangan didefenisikan sebagai modulus elastisitas. Yang dimana Tegangan = modulus elastisitas × Regangan

Modulus elastik untuk tegangan dan regangan ini disebut modulus Young. Modulus Young merupakan ukuran ketahanan suatau zat terhadap perubahan panjang ketika suatu gaya (atau beberapa gaya) diberikan pada benda. Tegangan Normal = F / A F A, gaya normal

F /A = E ΔL/L0 dimana A= Tegangan, L0 = Regangan, dan E = modulus Young
Contoh soal: Sebuah beban sebesar 6,0 kg digantungkan pada seutas kawat logam yang panjangnya 60 cm dan diameternya 0,1 cm. akibatnya kawat memanjang sejauh 0,025 cm. Hitunglah tegangan, regangan, dan modulus elstik kawat tersebut. Penyelesaiannya: Dik : massa= 6 kg g= 9,8 d=0,1 cm ΔL= 0,025 L= 60 cm Dit; Tegangan=? Regangan=? Elastisitas kawat logam=? Tegangan pada kawat

(6,0) (9,8) 1 (3,14) ( 0,1x10-2 )2 4 Tegangan = 7,49 x 107 N/m2 Regangan pada kawat

0,025 60 Regangan = 4,2 x 10-4

Modulus elastisitas Modulus elastisitas = Regangan Tegangan 4,2 x 10 7,49 x 107 N/m = 1,80 x 1011 N/m2

Modulus Young beberapa bahan ( Sumber : Table 9-1 Giancoli ) Bahan material Aluminum Brass Steel Bone Marble Modulus Young E (N/m2) 70 x 109 100 x 109 200 x 109 15 x 109 50 x 109

Kurva Tegangan-Regangan

Oa:

bersifat

elastis

Hukum

Hooke berlaku Ob: batas proporsional Material kembali ke panjang Semula jika tegangan di hilangkan c: permanen d : batas patah

Modulus Geser

Didefinisikan sebagai perbandingan tegangan geser dan regangan geser. S = Tegangan geser/Regangan geser F⁄ ⁄ /A’ S= x/h = A x h F⁄ ⁄ / = tg φ F⁄ ⁄ /A

Modulus geser disebut juga modulus puntir, dan hanya terjadi pada zat padat. Modulus Bulk (Balok) Modulus ini menghubungkan tekanan hidrostatik dengan perubahan volumenya. dp B= dV/Vo = - Vo dV dp

Kebalikan dari modulus Bulk adalah kompresibilitas k = 1/ B

Hukum Hooke

Pada

tahun

1676,

Robert

Hooke

mengusulkan suatu hukum fisika menyangkut pertambahan sebuah benda elastik yang dikenal oleh suatu gaya. Menurut Hooke, pertambahan penjang berbanding lurus dengan gaya yang diberikan pada benda. Secara matematis, hukum Hooke ini dapat dituliskan sebagai berikut. F=kx

Dimana

F = gaya yang dikerjakan (N), x = pertambahan panjang (m), k = konstanta gaya (N/m) Dan perlu suatu diingat bahwa hukum Hooke hanya berlaku untuk daerah elastik, tidak berlaku untuk daerah plastis atau benda-benda plastis. Untuk menyalidiki berlakunya hukum Hooke ini, kita bida melakuakn percobaan dengan melakukan sebuah pegas. Seperti ketika menyelidiki sifat elastisitas bahan, kali ini kita juga akan mengukur pertambahan pajang pegas dan besarnya gaya yang diberikan. Dalam hal ini, gaya yang diberikan sama dengan berat benda = massa x percepatan gravitasi. Misalkan kita proleh hasil pengukuran sebagai berikut. Gaya (N) 0,98 1,96 2,94 3,92 4,90 Pertambahan (m) 8 16 24 32 40 panjang

Sesuai dengan persamaan diatas F = k . x, kita dapat menghitung konstanta k berdasarkan tersebut. konstanta k merupakan kemiringan (slope) grafik sehingga nilainya langsung dapat kita hitung dengan memilih dua titik sembarang, misalnya titik A dan titik B. Kemiring grafik sama dengan k, yaitu

Dengan demikian, besar konstanta gaya k = 122,5 N/m.

Berdasarkan nilai k ini kita dapat menghitung pertambahan panjang atau gaya yang akan dikerjakan untuk salah satu besaran yang diketahui. Sebagai contoh, jika gaya yang diberikan 11 N, berapa pertambahan panjangnya F=kx 11 N = (122,5) x x = 0,0898 m = 8,98 cm Besarnya gaya yang diberikan pada benda memiliki batas-batas tertentu. Jika gaya sangat besar maka regangan benda sangat besar sehingga akhirnya benda patah. Hubungan antara gaya dan pertambahan panjang (atau simpangan pada pegas) dinyatakan melalui grafik di bawah ini.

Jika sebuah benda diberikan gaya maka hukum Hooke hanya berlaku sepanjang daerah elastis sampai pada titik yang menunjukkan batas hukum hooke. Jika benda diberikan gaya hingga melewati batas hukum hooke dan mencapai batas elastisitas, maka panjang benda akan kembali seperti semula jika gaya yang diberikan tidak melewati batas elastisitas. tapi hukum Hooke tidak berlaku pada daerah antara batas hukum hooke dan batas elastisitas. Jika benda diberikan gaya yang sangat besar hingga melewati batas elastisitas, maka benda tersebut akan memasuki daerah plastis dan ketika gaya dihilangkan, panjang benda tidak akan kembali seperti semula; benda tersebut akan berubah bentuk secara tetap. Jika pertambahan panjang benda mencapai titik patah, maka benda tersebut akan patah.

Konstanta Gaya Modulus elastisitas yang banyak macamnya itu masing - masing merupakan besaran yang menyatakan sifat elastik suatu bahan tertentu dan bukan menunjukkan langsung seberapa jauh sebuah batang, kabel, atau pegas yang terbuat dari bahan yang bersangkutan mengalami perubahan akbat pengaruh beban. Kalu persamaan (10-7) diselesaikan untuk Fn, maka diperoleh

Atau, bila YA/lo diganti dengan satu konstanta k dan perpanjangan  kita sebut l x, maka: Fn = kx Dengan perkataan lain, besar tambahan panjang sebuah benda yang mengalami tarikan dihitung dari panjang awalnya sebandaing dengan besar gaya yang meregangkannya. Hukum Hooke mulanya diungkapkan dalam bentuk ini, jadi tidak atas dasar pengertian tegangan dan regangan. Apabila sebuah pegas kawat auloir diregangkan, tegangan di dalam kawat itu praktis merupakan tegangan geser semata. Pertambahan panjang pegas itu sebagai keseluruhan berbanding lurus dengan besar gaya yang menariknya. Maksudnya, persamaan berbentuk F = kx itu tetap berlaku, dimana konstanta k bergantung pada modulus luncur kawat itu, pada radiusnya, pada radius ulirnya, dan pada jumlah ulir. Konstanta k, atau perbandingan gaya terhadap perpanjangan, disebut konstanta gaya atau kekuatan pegas itu, dan dinyatakan dalam pound per foot,. Newton per meter, atau dyne per sentimeter. Bilangannya sama dengan gaya yang diperlukan untuk menghasilkan perpanjangan satuan. Perbandingan perpanjangan dengan gaya, atau perpanjangan per satuan gaya, disebut pemuluran (compliance) pegas itu. Pemuluran sama dengan

resiprokal konstanta gaya dan dinyatakan dalam feet per pound, meter per newton, atau sentimeter per dyne. Bilangannya sama dengan perpanjangan yang dihasilkan oleh satuan gaya. Beberapa Pemanfaatan Sifat Elastik Bahan Banyak sekali peralatan yang digunakan manusia yang memanfaatkan sifat elastis bahan. Neraca Newton (neraca pegas) merupakan pemanfaatan yang sangat sederhana, di mana pertambahan panjang pegas digunakan untuk mengukur massa benda yang digantung di ujung neraca. Contoh lainnya adalah pada tali busur sebuah pana. Ketika tali busur tersebut ditarik, tali busur yang bersifat elastik akan menegang dan menyimpan energi potensial elastik. ketika anak panah dilepaskan, energi potensial elastik ini akan berubah menjadi energi kinetik anak panah sehingga sehingga anak panah dapat melesat. pada sepedah motor dan mobil ketika bergerak dijalan yang tidak rata, Inilah yang meyebabkan kita merasa nyaman dan aman walaupun motor atau mobil yang kita tumpangi bergerak di jalan yang tidak rata. Dalam ilmu bangunan, bahan-bahan elastik digunakan sebagai rangka ataupun sebagai penyangga untuk menahan getaran yang besar, misalnya gempa bumi. Bayangkan jika pada sebuah jembatan, bahan utama yang digunakan bukan bahan elastis. Ketika beban yang agak banyak lewat diatas jembatan, maka jembatan itu akan tertekan sedikit kebawah. Karena tidak elastik, jembatan tidak dapat kembali ke posisinya semula. Lama-kalamaan, jembatan itu akan patah. Itulah sebabnya pengetahuan mengenai sifat elastisitas bahan sangat penting dalam kehidupan ini.

Kesimpulan Elastisitas adalah suatu ilmu yang mempelajari mengenai sifat suatu benda yang dapat kembali ke bentuk semula. Yang didalamnya terdapat adanya tengangan dan regangan yang pada akhirnya dapat menentukan nilai modulus elas tisitas suatu bahan yang di ukur sesui dengan rumus.

Modulus elastisitas = Regangan Tegangan

Elastisitas biasanya terdapat pada benda-benda yang memiliki kerapatan yang tinggi (benda padat). Benda-benda yang memiliki sifat elastistisitas di sebut benda elastis dan yang tidak memiliki elastisitas disebut benda plastis. Hukum yang menerangkan tentang elastisitas adalah Hukum Hooke suatu hukum fisika menyangkut pertambahan sebuah benda elastik yang dikenal oleh suatu gaya. yaitu pertambahan panjang berbanding lurus dengan gaya yang diberikan pada benda. Secara matematis, hukum Hooke ini dapat dituliskan sebagai berikut. F=kx Dimana : F = gaya yang dikerjakan (N), x = pertambahan panjang (m), k = konstanta gaya (N/m) Saran • Mudah mudahan apa yang disajikan dapat dipahami dan dimengerti untuk pembelajaran. • Penggunaan elastisitas dalam kehidupan sehari-hari disekitar kita harus dapat di pahami tentang batas dari kapasitas suatu bahan elastisitas tersebut agar tidak terjadi kesalahan misalnya pembuatan jembatan beban di atas jembatan harus sesuai dengan batas maksimum jembatan tersebut menampung beban tersebut.

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmatNya penulis dapat mengerjakan makalah fisika dasar ini. Dan Alhamdulillah, makalah elastisitas ini dapat terselaikan guna memenuhi tugas mata kuliah Fisika Dasar di Jurusan Ilmu Tanah Fakultas Pertanian UNPAD. Penulis menyadari bahwa penyusunan makalah ini mungkin ada kekurangan yang masih jauh dari memuaskan dan sempurna dalam menyelesaikan makalah, namun penulis berharap makalah mengenai elastisitas ini dapat bermanfaat dalam memahami berbagai kajian ilmu yang berkenaan dengan ilmu fisika. Akhir kata, mudah-mudahan makalah ini memberikan manfaat bagi pembelajaran mahasiswa atau siapa saja yang sempat membacanya. Wassalamu ‘alaikum wr.wb.

jatinangor, february 2010 Penyusun,

DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2005. Elastisitas. http://atophysics.wordpress.com diakses pada tanggal 02 februari 2010 pukul 23:35 Linus Pasasa Dr. MS, 2004. Fisika Dasar I bab 7 elastisitas. DEPARTMEN FISIKA ITB Anonim, 2002. Keseimbangan benda tegar dan Elastisitas. www.Google.co.id ”elastisitas” Diaksers pada tanggal 04 februari 2010 pukul 13:40 Giancoly, Douglas. 2001. Fisika. Erlangga:Jakarta. Zaida, Drs.,M.Si. Petunjuk Praktikum Fisika Dasar. Faperta UNPAD IR ALIJAR, M.T,. Elastisitas. Teknik Sipil (Sipil). www.Google.co.id ”elastisitas” Diakses pada tanggal 18 february 2010 pukul 06:48

Tugas Makalah Elastisitas
Disusun untuk mememuhi mata kuliah fisika dasar

Disusun oleh :

BIMO SETIAWAN 150210070061

JURUSAN ILMU TANAH FAKULTAS PERTANIAN UNIVERSITAS PADJADJARAN 2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->