P. 1
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terjadinya

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Terjadinya

|Views: 1,831|Likes:
Published by Rizdy_Haydar_1049

More info:

Published by: Rizdy_Haydar_1049 on Mar 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2012

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Terjadinya pergantian orde pemerintahan dari orde baru kepada orde reformasi,1 telah melahirkan sejumlah perubahan penting dalam tata pemerintahan Indonesia. Salah satu hal penting yang menandai adanya perubahan pada orde reformasi ini adalah adanya pergeseran pola dari negara berstruktur sentralistis hierarkis menjadi negara terdesentralisasi. Perubahan ini menyiratkan sebuah sketsa baru bahwa negara tidak hanya menjadi aktor dan subjek pembangunan, melainkan juga menjadi objek dari pembangunan dan reformasi. Berbagai fenomena politik baru bermunculan sebagai implikasi logis dari iklim politik yang semakin terbuka. Kondisi ini dapat dilihat dari beberapa hal, misalnya jumlah angka pemilih yang mengalami peningkatan, bertambahnya jumlah partai politik peserta pemilu, semakin beragamnya bentuk partisipasi politik masyarakat, hingga pada dinamika konflik politik yang muncul di lingkup daerah. Sederhananya, desentralisasi di Indonesia yang dituangkan dalam kebijakan otonomi daerah, telah menghasilkan nuansa baru dalam dinamika demokrasi prosedural yang dilakukan di Indonesia. Lahir dari sebuah keinginan untuk menciptakan tatanan demokrasi yang ideal, maka kemunculan kebijakan otonomi daerah adalah hal yang tidak bisa dielakkan. Adanya otonomi daerah adalah sebuah upaya pemerintah pusat dalam memberikan ruang politik yang lebih luas bagi setiap daerah yang ada di Indonesia. Dengan demikian partisipasi politik di masyarakat pun akan meningkat. Harapannya, ketika
1

Presiden Soeharto menyatakan pengunduran dirinya pada tanggal 21 Mei 1998. Jatuhya pemerintahan Soeharto melahirkan pemerintahan baru yang disebut dengan era reformasi, masa peralihan dari pemerintahan otoriter ke arah demokrasi ini sering pula disebut sebagai era transisi. Lihat, Munafrizal Manan, Gerakan Rakyat Melawan Elite (Yogyakarta : Resist Book, 2005), hal. 71.

1

ada ruang politik yang luas bagi masyarakat melalui kebijakan otonomi daerah, maka akan turut memberikan pengaruh pada pembangunan di sektor lainnya. Selain untuk meningkatkan partisipasi politik masyarakat, kebijakan otonomi daerah juga memiliki tujuan-tujuan lain yang sangat luas. Hal ini meliputi, adanya konsolidasi dan dorongan bagi proses demokratisasi; stimulus bagi pembangunan ekonomi; penahan arus urbanisasi; pemenuhan kepuasan sosial, kultural, dan religius; serta guna meningkatkan efisiensi dan efektifitas. Karakter otonomi yang dimiliki oleh setiap daerah di Indonesia, bisa dikatakan berbeda dengan karakter otonomi yang berada di negara federal. Otonomi yang dimiliki oleh pemerintahan daerah di Indonesia adalah otonomi yang diberikan oleh pusat dan dibentuk melalui undang-undang yang dibuat oleh pusat. Sehingga pemerintahan daerah yang ada adalah pemerintahan bentukan pusat. Berdasarkan hal itulah, pemerintahan daerah di Indonesia tidak memiliki karakter “state”, yang berarti pula tidak memiliki kedaulatan. Otonomi yang dimiliki oleh pemerintahan daerah di Indonesia adalah kewenangan dasar yang diberikan oleh pusat untuk mengatur dan mengurus beberapa kewenangan pemerintahan yang diberikan. Sifat pengelolaannya berada pada ruang lokal yang oleh sebab itu implementasi penerapan otonomi daerah di Indonesia tak lepas dari sebuah konsep dasar mengenai pemerintahan lokal. Dilihat dari aspek sejarah, eksistensi pemerintahan lokal ataupun pemerintahan daerah yang kita ketahui saat ini, perkembangannya tidak lepas dari pengalaman pemerintahan di daratan Eropa. Pengalaman di Eropa menggambarkan bahwa kemunculan satuan-satuan wilayah berjalan secara alamiah, yang dalam

perkembangannya satuan wilayah tersebut melembaga menjadi sebuah pemerintahan. Satuan wilayah tersebut diberi nama muncipal (kota), county (kabupaten),

2

commune/gementee (desa).2 Biasanya, ikatan dasar yang menyatukan satuan wilayah tersebut ialah berdasar pada hubungan yang sudah saling mengenal dan saling membantu dalam ikatan geneologis ataupun teritorial. Demi menjaga eksistensi dan keberlangsungan hidupnya, satuan komunal tersebut kemudian membutuhkan lembaga. Pembentukan lembaga tersebut

melingkupi lembaga politik, lembaga ekonomi, lembaga sosial, budaya pertahanan dan keamanan. Tentunya keragaman lembaga tersebut tergantung pada pola adat istiadat masyarakat yang bersangkutan. Keberadaan lembaga-lembaga yang telah dibentuk tersebut kemudian

diintegrasikan dengan sistem administrasi negara dari suatu negara yang berdaulat. Dari sini, diklasifikasikanlah satuan wilayah yang ada berdasarkan batas geografisnya, kewenangannya, dan bentuk kelembagaannya. Satuan komunitas tersebut kemudian diformalkan dalam sistem administrasi pada tingkat lokal.3 Berdasarkan pengalaman di Eropa, organisasi pemerintahan lokal yang ada dibagi menjadi dua, yakni satuan organisasi perantara dan satuan organisasi dasar. Sebagai contoh di Perancis, satuan organisasi perantaranya adalah department dan satuan dasarnya adalah commune. Di Indonesia, satuan organisasi perantaranya adalah provinsi dan satuan dasarnya adalah kota, kabupaten, dan desa.4 Perkembangan pemerintahan daerah yang semakin modern, menurut Stoker, kaitannya tak terlepas dari fenomena industrilisasi yang terjadi di Inggris. Industrialisasi yang terjadi di Inggris memunculkan efek arus urbanisasi besarbesaran. Terjadilah lonjakan penduduk dari desa ke kota, yang tentunya juga
2

Hanif Nurcholis, Teori dan Praktik Pemerintahan Dan Otonomi Daerah ( Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia, 2007), hal.1. 3 Dalam konteks keterwakilan parlemen, pengurus atau wakil rakyat harus benar-benar mewakili dengan mempertimbangkan penduduk setempat, sehingga dalam hal ini diperlukan perubahan sistem politik, sehingga dalam setiap sistem politik yang baru, massa – rakyat menjadi lebih dimungkinkan memiliki perwakilan di parlemen, dan tidak golongan elite saja. Lihat, Sohartono, Politik Lokal ( Yogyakarta : Lapera Pustaka Utama, 2000), hal. 140. 4 Ibid. hal.2.

3

memunculkan permasalahan baru di kota. Baik permasalahan baru di bidang sosial, politik, dan hukum. Oleh sebab itu, untuk merespon dinamika permasalahan tersebut diperlukan adanya sistem kemasyarakatan untuk menanganinya. Untuk merespon kondisi tersebut semula dibentuklah badan ad hoc, Dewan Kota hingga mulai berkembanglah praktik pemerintahan daerah sebagai yang kita kenal saat ini.5 Semangat otonomi daerah di Indonesia, secara formal sudah diatur semenjak masa awal kemerdekaan. Setelah Soeharto turun hingga saat ini sudah ada dua regulasi yang mengatur ulang tata otonomi daerah di Indonesia, yakni UU No.22 tahun 1999 yang disahkan pada masa kepemimpinan Presiden B.J.Habibie dan UU No.32 tahun 2004 yang disahkan pada masa pemerintahan Megawati Soekarno Putri. Sejatinya, ruang otonomi yang diberikan kepada daerah dilaksanakan demi terwujudnya demokratisasi di Indonesia. Pola terpusat yang selama ini diterapkan, dirasa tidak memberikan keadilan bagi tiap-tiap daerah. Kekayaan sumber daya alam yang ada di daerah, terkadang manfaatnya jarang dirasakan oleh masyarakat daerah. Proporsi pembagiannya dirasa tidak adil, lantaran intervensi pusat begitu kuat. Melalui pola desentralisasi, diharapkan dapat membenahi ketidakadilan antara pusat dan daerah. Pemerintah daerah tidak lagi hanya memiliki kewenangan administrasi saja, melainkan juga memiliki kewenangan politik. Dengan adanya kewenangan politik inilah, pemerintah daerah akan lebih leluasa untuk menata dan mengatur potensi yang dimilikinya guna mewujudkan pembangunan yang merata. Namun, praktik dilapangan terkait dengan penerapan undang-undang otonomi daerah pun menemukan banyak sekali dinamika. Mulai dari konflik dalam proses pemilihan kepala daerah langsung hingga konflik politik antara legislatif dengan eksekutif daerah. Permasalahan seperti ini dapat dikatakan sebagai sesuatu yang baru. Sebab, pada periode dimana pemerintahan daerah belum memiliki ruang otonomi
5

Ibid.

4

daerah seperti saat ini, konflik di daerah biasanya bisa diredam dengan adanya intervensi dari pemerintahan pusat. Presiden yang diwakili oleh menteri dalam negeri memiliki wewenang langsung untuk meredam setiap konflik yang ada. Semua hal dilaksanakan berdasarkan arahan dan instruksi dari pusat. Sehingga, apapun yang terjadi di level daerah tak pernah lepas dari intervensi pemerintah pusat. Pelaksanaan otonomi daerah menyimpan sejumlah potensi konflik yang tidak sederhana. Misalnya saja masalah kewenangan yang terjadi di antara level pemerintahan. Pada penyelenggaraan public goods, dalam hal ini bisa kita lihat masalah jalan raya, mana jalan yang menjadi tanggung jawab kabupaten/kota dan mana jalan yang menjadi tanggung jawab provinsi terkadang juga masih simpang siur. Kerusakan yang terjadi pada jalan provinsi yang melintas di wilayah kabupaten/kota seringkali diadukan oleh warga kepada pemerintah kabupaten/kota. Menanggapi hal tersebut, maka pemerintah kabupaten/kota secara wewenang tidak bisa bertindak apaapa. Selanjutnya bisa kita lihat pada pola konflik yang terjadi antara pemerintah daerah tingkat I dengan pemerintah daerah tingkat II yang memiliki potensi SDA. Serta pola konflik yang terjadi di antara stakeholder pemerintah daerah di setiap levelnya, dalam hal ini DPRD I dengan Gubenur atau DPRD II dengan walikota atau bupati. Disahkannya UU No.22 tahun 1999 dan UU No.32 tahun 2004, membawa nuansa baru dalam iklim otonomi daerah saat ini. Berdasar pada undang-undang tersebut, proses pemilihan kepala daerah pun mengalami perubahan mekanisme. Dipilihnya kepala daerah baik oleh DPRD maupun oleh masyarakat secara langsung, membawa kedudukan kepala daerah menjadi bersifat politis. Dalam UU No.22 tahun 1999, diatur bahwa kepala daerah dipilih oleh DPRD. Hal ini tentunya tidak terlepas dari regulasi yang tercatat dalam UU No.22 Tahun

5

1999 pasal 14 yang menyatakan bahwa DPRD adalah sebagai Badan Legislatif Daerah dan Pemerintahan Daerah sebagai eksekutif daerah6. Dalam konteks ini, yang dimaksud pemerintah daerah adalah kepala daerah dan perangkat daerah lainnya, berarti dengan demikian DPRD bukan lagi sebagai bagian dari pelengkap kepala daerah sebagaimana yang tertuang dalam rumusan UU No.18 Tahun 1965 atau UU No.5 Tahun 1974. Secara teoritik, hubungan antara DPRD dengan pemerintah daerah dapat dilihat melalui bangunan konseptual yang dikemukakan Pinch dengan mengangkat variasi model sistem. Menurut Pinch ada empat model sistem hubungan antara DPRD dengan Pemerintah Daerah7. Yakni : • Model commisioners system. Dalam model ini, komisioner hasil pemilihan langsung dari masyarakat, diberikan kewenangan untuk mengelola dinasdinas atau lembaga birokrasi8 daerah. • Model council-manager system. Dalam model ini, manager hasil pilihan dewan bersama walikota menentukan dan mengelola dinas-dinas atau lembaga birokrasi daerah. • Pola weak major. Pada pola ini institusi birokrasi daerah diisi melalui pemilihan langsung dari masyarakat. Namun seorang walikota dipilih oleh DPRD yang terpilih.

6 7

UU No.22 Tahun 1999 . Eko Prasojo, Desentralisasi & Pemerintahan Daerah Antara Model Demokrasi Lokal & Efisiensi Struktural (Depok : Departemen Ilmu Administrasi FISIP UI, 2006), hal.34. 8 Birokrasi pemerintah adalah seluruh jajaran badan-badan eksekutif sipil yang dipimpin oleh pejabat pemerintah di bawah tingkat menteri, yang memiliki tugas pokok untuk menindak lanjuti keputusan politik yang diambil pemerintah secara profesional. Jika menggunakan teori pembedaan kekuasaan yang dianut dalam UUD 1945, maka badan-badan legislatif dan yudikatif tidaklah dapat disebut sebagai birokrasi walaupun ukuran organisasinya besar. Lihat, Moerdiono & Sarwono Kusumaatmadja, Birokrasi dan Administrasi Pembangunan (Jakarta : Pustaka Sinar Harapan, 1992), hal. 38.

6

Pola strong major. Pada pola ini seorang kepala daerah dipilih oleh masyarakat, kemudian diberikan kewenangan untuk menentukan dan mengelola institusi birokrasi daerahnya. Jika dikontekstualisasikan dengan kondisi di Indonesia, ketika UU No.22

tahun 1999 yang berlaku, Indonesia berada di antara pola strong major dan councilmanager9. Dikatakan strong major dikarenakan kepala daerah dipilih oleh DPRD, dan DPRD juga memiliki wewenang untuk menyetujui atau tidak seorang sekretaris daerah yang dipilih oleh kepala daerah. Dalam hal ini, posisi seorang sekretaris daerah juga bisa ditempatkan sebagai seorang manager di daerah, karena pola seperti ini tidak menghendaki posisi seorang manager dipilih secara politis. Tugas dan wewenang DPRD untuk memilih Kepala Daerah dalam UU No.22 Tahun 1999 tertuang dalam pasal 18 yang menyebutkan “DPRD mempunyai tugas dan wewenang : memilih Gubernur/Wakil Gubernur, Bupati/Wakil Bupati, dan Walikota/Wakil Walikota. Kewenangan DPRD ini kemudian lebih jauh diperkuat dengan wewenang lain, yaitu pertama DPRD memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban Gubernur, Bupati dan Walikota10. Kedua, pengisian posisi Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah dilakukan oleh DPRD melalui pemilihan secara bersamaan11. Ketiga, Kepala Daerah wajib menyampaikan pertanggungjawaban kepada DPRD pada setiap akhir tahun anggaran, juga wajib memberikan pertanggungjawaban kepada DPRD untuk hal tertentu atas permintaan DPRD12. Keempat, pada masa akhir jabatannya, Kepala Daerah wajib memberi pertanggungjawaban kepada DPRD. Ketika DPRD tidak menerima pertanggungjawaban Kepala Daerah, maka ia tidak
9

Ibid. hal.35. UU No.22 Tahun 1999 Pasal 19. 11 UU No.22 Tahun 1999 Pasal 34 ayat 1. 12 UU No.22 Tahun 1999 Pasal 45 ayat 1 dan 2.
10

7

boleh mencalonkan diri untuk Pemilihan Kepala Daerah berikutnya13. Dengan mekanisme seperti ini, kedudukan DPRD mengalami penguatan dari aspek kekuasaan, tugas dan wewenang. Pada sisi yang lain posisi kepala daerah yang terpilih relatif juga lebih berkualitas karena sosok kepala daerah dikenal dengan baik oleh elite-elite politik yang berkecimpung dalam pemerintahan daerah. Namun di sisi lain, mekanisme ini menyisakan kelemahan. Yakni terkait dengan akuntabilitas publik dan pertanggungjawabannya yang kurang karena hanya ditentukan oleh elite lokal saja. Lain halnya dengan UU No.32 tahun 2004 yang mengatur pemilihan kepala daerah melalui mekanisme langsung dipilih oleh masyarakat. Hadirnya undangundang otonomi daerah yang baru ini bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk pendewasaan politik dalam berdemokrasi di Indonesia. Perubahan undang-undang otonomi daerah ini prosesnya diawali dengan perubahan susunan, kedudukan, lembaga-lembaga negara dari pusat sampai ke daerah melalui amandemen UUD 1945 Tahun 1999, 2000, 2001 dan 2002. Pada UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah, pemilihan Gubernur dan Wakilnya, Bupati dan Wakilnya, serta Walikota dan Wakilnya dilakukan secara langsung oleh masyarakat. Asas yang digunakan dalam proses ini sebangun dengan asas pada pemilihan umum yakni langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil. Karakter pemimpin yang dibangun dengan mekanisme langsung seperti ini, menjadikan kepala daerah yang terpilih memiliki kedudukan yang kuat, politis dan cenderung tunggal. Namun di sisi lain, dipilihnya kepala daerah secara langsung menjadikan kepala daerah yang terpilih ralatif kurang berkualitas, karena dikenal terbuka kepada semua masyarakat dan terbuka pula bagi para pemilih baru. Pilkada di Indonesia sudah menjadi sebuah konsensus politik. Dalam pasal 56 UU No.32 tahun 2004 menyebutkan bahwa kepala daerah dan wakil kepala daerah
13

UU No.22 Tahun 1999 Pasal 53.

8

dipilih dalam satu pasangan calon yang dipilih langsung. Ketentuan ini diperkuat lagi dalam Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2005 Pasal 4 ayat 3. Pada pasal 56 UU No.32 Tahun 2004 menyebutkan bahwa “Kepala daerah wakil kepala daerah dipilih dalam satu pasangan calon yang dilaksanakan secara demokratis, berdasarkan asas langsung, umum, bebas, rahasia, jujur , dan adil”. Pasangan calon yang dapat berkontestasi dalam Pilkada ini adalah calon yang diusulkan oleh partai politik dan gabungan partai politik.14 Dengan mekanisme dipilih langsung oleh masyarakat, konsekuensi logisnya, peran politis DPRD tidak sekuat sebelumnya. Sebab, legitimasi seorang kepala daerah beserta wakilnya penentuan akhirnya berasal dari masyarakat, bukan ditentukan oleh partai politik yang duduk di DPRD. Dalam konteks inilah dinamika hubungan antara DPRD dan Kepala Daerah menjadi lebih menarik, karena keduanya memiliki kekuatan politis yang berasal dari sumber legitimasi yang sama yakni dari masyarakat. Mengenai pola hubungan antara kepala daerah dan DPRD yang terpusat pada kewenangan lembaga tersebut untuk bertindak sebagai wakil rakyat, Arbi Sanit mengemukakan bahwa : Badan Legsilatif dan Eksekutif merupakan lembaga pemerintahan (dalam arti luas) yang sama-sama berwenang untuk bertindak atas nama dan untuk anggota masyarakat. Sungguhpun dengan cara yang berbeda, kedua lembaga tersebut sama memperoleh kekuasaan dari rakyat melalui proses pemilihan. “15

I. 2 Permasalahan
14 15

UU.No.32 Tahun 2004 Pasal 56 ayat 2. Arbi Sanit, Perwakilan Politik di Indonesia (Jakarta: CV Rajawali, 1985), hal.242-243.

9

Pilkada pertama yang dilaksanakan di Depok pada tahun 2004 telah melahirkan walikota hasil pilihan masyarakat Depok. Pasangan Nurmahmudi Ismail dan Yuyun Wirasaputra akhirnya berhasil menduduki kursi nomor satu di Depok setelah

melewati proses pilkada yang cukup panjang. Adalah sebuah fenomena umum, bahwa penyelenggaraan pemilihan kepala daerah langsung di berbagai daerah, telah menuai berbagai macam konflik politik. Hal ini tak lepas dari berbagai macam potensi kelemahan yang dimiliki dalam tata politik Indonesia di tengah iklim otonomi daerah saat ini. Semangat desentralisasi yang terejawantah dalam otonomi daerah sekarang, selain memberikan ruang kebebasan untuk berkompetisi, di sisi lain juga membuka ruang konflik yang lebih terbuka. Konflik terbuka itu dapat dipetakan antara lembaga pemerintahan daerah dan antara masyarakat dengan lembaga pemerintahan. Depok adalah satu dari sekian banyak daerah yang telah menyelenggarakan pilkada secara langsung, dan dalam prosesnya pun tak bisa terhindar dari konflik politik. Bulan April 2006, tak lama setelah Nur Mahmudi dan Yuyun terpilih, dinamika politik di Kota Depok diawali dengan ketidaksetujuan pihak DPRD dari lima fraksi selain F-PKS, terhadap Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) dari Walikota Depok. Namun akhirnya DPRD menyetujui RPJMD tersebut, setelah sebelumnya DPRD melakukan konsultasi dengan Departemen Dalam Negeri dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.16 Pengesahan RPJMD oleh DPRD ternyata belum memutuskan permasalahan antara Walikota terpilih dengan DPRD. Hal selanjutnya yang digulirkan adalah terkait dengan kinerja Nur Mahmudi Ismail dalam penyelenggaraan pemerintahan yang tidak profesional. Penyusunan kebijakan yang dirancang oleh Nur Mahmudi Ismail dinilai
16

R. Adi Kusuma Putra, “Ada Apa Dengan Depok ?” , dalam www.kompas.co.id diakses pada 31 Agustus 2007 pukul 22:15 WIB.

10

tidak dikomunikasikan secara formal kepada DPRD. Padahal, kebijakan yang direncanakan tersebut, oleh DPRD dipandang sebagai kebijakan yang strategis17. Kebijakan yang dipermasalahkan oleh DPRD Depok terdiri dari enam hal. Pertama, terkait dengan pembentukan staf khusus oleh Nur Mahmudi Ismail di lingkungan Pemda Depok yang sebelumnya tidak dibicarakan terlebih dahulu dengan DPRD. Dalam hal ini, DPRD merasa sikap yang ditunjukkan oleh Nur Mahmudi Ismail sangat sepihak. Kedua berkenaan dengan pemasangan baliho Nur Mahmudi Ismail yang terpasang di Jalan Margonda. Baliho yang memuat foto Nur Mahmudi Ismail tersebut dibiayai oleh Yose Rizal dengan mengatasnamakan Infokom Pemda Depok. Hal ketiga yang dipermasalahkan oleh DPRD adalah terkait dengan adanya program Sipesat (Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu) yang pendanaannya bersumber dari dana APBD sebesar Rp. 211.000.000. Hal keempat yang dinilai DPRD sebagai bentuk penyimpangan Nur Mahmudi Ismail adalah menyangkut dikeluarkannya Hak Guna Bangunan (HGB) Kepada PT Megapolitan18. Dua hal lainnya adalah menyangkut pengerukan Situ Cilangkap dan pelaksanaan lelang di Dinas Pekerjaan Umum19. Lebih dalam lagi, digunakannya hak interpelasi oleh DPRD Depok dilatarbelakangi juga oleh rencana Nur Mahmudi Ismail untuk mengganti Sekda Depok, Winwin. Begitu juga dengan upaya penertiban mekanisme lelang proyek di Depok, yang tentunya kedua hal tersebut mengganggu kepentingan anggota dewan secara langsung. Dalam rangka menanggapi keganjilan yang dirasakan oleh lima fraksi di DPRD, diadakanlah rapat Panmus (Panitia Musyawarah) yang merencanakan menghadirkan Nur Mahmudi Ismail dalam rapat paripurna DPRD. Terkait dengan usulan ini, F-PKS
17 18

Ibid. “DPRD Depok Desak Pemberhentian Nur Mahmudi”, dalam www.suarakaryaonline.com diakses pada tanggal 31 Agustus 2007 pukul 22:15 WIB. 19 “F-PKS: Kritik Lima Fraksi Membuat Nur Mahmudi Hati-hati”, dalam www.kompas.co.id diakses pada tanggal 31 Agustus 2007 pukul 22:30 WIB.

11

menolak seandainya rapat paripurna diselenggarakan dengan menghadirkan Nur Mahmudi Ismail. Akhirnya rapat Panitia Musywarah memutuskan untuk

diselenggarakan rapat paripurna yang agendanya adalah pandangan hukum dari tiaptiap fraksi terkait enam kebijakan yang dikeluarkan oleh Nur Mahmudi Ismail. Rapat tersebut diselenggarakan pada tanggal 6 November 2006. Semua fraksi hadir menyampaikan pandangan hukumnya di depan rapat paripurna DPRD, kecuali F-PKS yang tidak hadir untuk menyampaikan pandangan hukumnya. Hasil dari rapat paripurna ini yang menggagendakan pandangan hukum dari setiap fraksi selanjutnya akan diserahkan kepada Mahkamah Agung (MA). Pengaduan ini didasarkan atas penilaian DPRD Depok yang memandang enam kebijakan Nur Mahmudi terindikasikan melanggar undang-undang, sumpah dan jabatan, serta korupsi kolusi dan nepotisme. Namun dokumen yang diajukan oleh DPRD Depok dikembalikan lagi oleh MA. Wakil Ketua DPRD Depok menyatakan bahwa pengembalian surat tersebut disebabkan oleh faktor teknis. Ketika itu DPRD Depok menyerahkan ke Bagian Umum, harusnya dokumen pengaduan tersebut diserahkan ke Bagian Perkara MA.20 Tandasnya dokumen yang diajukan oleh DPRD Depok kepada MA, kemudian diteruskan dengan upaya melakukan interpelasi kepada Nur Mahmudi Ismail. Rapat interpelasi terhadap Nur Mahmudi Ismail ditetapkan dalam rapat Panitia Musyawarah (Panmus) pada tanggal 11 Desember 2006. Berdasarkan keputusan dalam rapat

Panmus tersebut, rapat interpelasi terhadap Nur Mahmudi Ismail, akan dilaksanakan pada 13 Desember 2006 dengan agenda meminta keterangan mengenai enam

kebijakan Nur Mahmudi. Dari tempo waktu yang ada, berdasarkan peraturan, agenda pokok yang juga merupakan kewajiban yang dimiliki DPRD di setiap periode akhir
20

“F-PKS: DPRD Depok Salah Langkah”, dalam www.kompas.co.id diakses pada tanggal 31 Agustus 2007 pukul 22:20 WIB.

12

tahun adalah pembahasan RAPBD untuk tahun selanjutnya. RAPBD untuk tahun selanjutnya harus sudah disahkan oleh DPRD menjadi Peraturan Daerah satu bulan sebelum memasuki tahun anggaran. Sebelumnya DPRD juga harus membahas Anggaran Perubahan dan Pendapatan Belanja Daerah Perubahan 2006 untuk merespon dinamika pembangunan pada tahun anggaran yang sudah ditetapkan pada APBD 2006. Usulan hak interpleasi tersebut diajukan oleh 33 anggota dewan, dengan sebelumnya didahului dengan pandangan hukum dari lima fraksi yang dokumennya sudah diserahkan kepada Mahkamah Agung. Kelima fraksi yang mendukung hak interpelasi tersebut adalah Fraksi Golongan Karya, Fraksi Partai Demokrat, Fraksi PDIP, Fraksi Amanat Nasional dan Fraksi Persatuan Bangsa. Dari penjabaran di atas, maka penulis sampai pada tiga buah pertanyaan yang akan dijawab dalam skripsi ini : 1. Apa yang menjadi motivasi DPRD Depok melakukan Interpelasi kepada

Walikota Depok (Nur Mahmudi Ismail)? 2. Apa pengaruh interpelasi DPRD terhadap penyusunan APBDP Tahun 2006 dan RAPBDP 2007 ? 3. Bagaimana dampak intrpelasi terhadap realisasi pembangunan kota Depok ?

1.3 Kerangka Teori Untuk menganalisis permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini, maka ada beberapa kerangka teori yang akan digunakan. Pertama, karena kajian dalam skripsi ini tak terlepas dari konsep desentralisasi, maka penulis akan terlebih dulu menjelaskan mengenai konsep desentralisasi. Hal ini perlu dijelaskan agar perumusan permasalahan yang dituangkan dalam skripsi ini bisa dipetakan secara jelas.

13

Kedua, masih berkaitan degan point pertama, karena orientasi utama dari penyelenggaraan pemerintahan daerah adalah memberikan pelayanan yang optimal bagi masyarakat, dan agar analisis tentang permasalahan yang diungkapkan dalam skripsi ini dapat dipahami secara utuh, maka bagian kedua yang akan diuraikan dalam bagian kerangka teori ini adalah mengenai perspektif teori hubungan desentralisaisi dengan peningkatan pelayanan publik. Ketiga, akan dipaparkan pula terkait dengan teori parlemen. Selanjutnya sebagai pendekatan terhadap kebijakan anggaran yang menjadi salah satu fokus pertanyaan skripsi ini, maka skripsi ini menggunakan teori pilihan rasional dan teori pilihan publik sebagai salah satu pisau analisis, yakni untuk melihat motivasi para aktor politik dalam membuat kebijakan tersebut. Serta akan dipaparkan juga mengenai teori komunikasi politik untuk bisa melihat salah satu faktor yang menjadi penyebab munculnya interpelasi DPRD.

1.3.1 Desentralisasi dan Dekonsentrasi Teori dan pandangan yang menjelaskan mengenai kedua hal tersebut sudah banyak sekali ditemukan dalam kajian-kajian ilmiah. Dalam skripsi ini, penulis akan menggunakan beberapa pandangan saja dari akademisi yang telah mengkaji masalah ini. Hal ini dimaksudkan untuk lebih mempermudah pembahasan pada permasalahan yang disajikan. Dalam mengurai dua konsep di atas, Harun Nurcholis mengutip JHA Logemann memasukkan istilah dekonsentrasi ke dalam istilah desentralisasi. Desentralisasi oleh Logemann dipecah menjadi dua yakni21 : 1. Desentralisasi Jabatan yakni adanya pelimpahan kekuasaan dari alat perlengkapan
21

negara

yang

lebih

tinggi

kepada

bawahannya

untuk

Harun Nurcholis, Op.Cit. hal.3.

14

memperlancar pekerjaan pemerintah. Sebagai contoh pelimpahan menteri kepada gubernur, dari gubernur kepada bupati/walikota. Desentralisasi jabatan ini disebut juga oleh Logemann sebagai dekonsentrasi. 2. Desentralisasi Ketatanegaraan atau yang biasa juga disebut dengan desentralisasi politik. Dalam konsep ini terjadi pelimpahan kekuasaan perundangan dan pemerintahan kepada daerah-daerah otonom di dalam lingkungannya. Desentralisasi semacam ini dibagi lagi menjadi dua, yakni desentralisasi teritorial dan desentralisasi fungsional. Desentralisasi teritorial yaitu penyerahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Desentralisasi fungsional yaitu berupa pelimpahan kekuasaan untuk mengatur dan mengurus pada fungsi-fungsi tertentu saja.

Serupa dengan pandangan Logemann, beberapa kalangan akademisi lain juga menggaris bawahi bahwa konsep desentralisasi dapat dipilah menjadi dua bagian besar. Yakni definsi dari sudut pandang administratif dan definisi dari sudut pandang politik. Dari sudut pandang administratif, desentralisasi didefinisikan sebagai the transfer of administrative responsibility from central to local government22 . Hal ini sejalan dengan pandangan Logemann yang menyebutkan definisi ini dengan istilah dekonsentrasi. Istilah dekonsentrasi ini dilihat oleh Parson sebagai : “...the sharing power between members of the same ruling group having authority respectively in different areas of the state...”23 Cheema dan Rondinelli yang dikutip oleh Lili Romli menyebutkan

dekonsentrasi sebagai pengalihan beberapa kewenangan atas tanggung jawab
22

Lili Romli, Potret Otonomi Daerah Dan Wakil Rakyat di Tingkat Lokal (Jakarta : Pustaka Pelajar, 2007), hal.4 23 Ibid.

15

administrasi di dalam suatu kementrian atau jawatan. Dalam dekonsentrasi tidak ada pelimpahan kewenangan yang nyata, struktur yang berada di level bawah hanya menjalankan kewenangan atas nama atasannya saja dan bertanggung jawab kepada atasannya. Dalam bahasa lain pada UU Otonomi Daerah, dekonsentrasi adalah pelimpahan wewenang dari pemerintah pusat kepada pemerintah daerah. Dari sudut pandang politik, Smith mendefinisikan desentralisasi sebagai : “....the transfer of power, from top level to lower level, in a territorial hierarchy, which could be one of government within a state, or offices within a large organization.”24 Pandangan lain mengenai desentralisasi datang dari Mawhood, yang mengatakan bahwa desentralisasi adalah devolution of power from central government to local government. Dalam UU Otonomi Daerah, desentralisasi didefinisikan sebagai penyerahan wewenang dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah.25
24

Ibid. hal.5. Dalam kajian yang mengangkat sudut pandang sejarah, implementasi dari konsep desentralisasi ini pun bisa tercermin dalam beberapa undang-undang yang sudah pernah dihasilkan. Dalam konstitusi UUD 1945 pasal 18 disebutkan bahwa “Pembentukan Daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan undang-undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara, dan hak-hak asal-usul dalam daerah-daerah yang bersifat istimewa”. Kewajiban konstitusi ini kemudian dituangkan dalam UU No.1 Tahun 1945. Tentunya, sebagai sebuah produk undang-undang yang pertama, keberadaan UU No.1 Tahun 1945 masih banyak kelemahan. Tetapi di sisi lain, kehadiran undang-undang ini menunjukkan sebuah komitmen besar dari pemerintah untuk segera melaksanakan politik desentralisasi dan juga memberikan hak-hak otonom kepada daerah. Kekurangan tersebut kemudian ditutupi dengan dikeluarkannya UU No.22 tahun 1948 tentang Pemerintahan Daerah. Hal penting yang membedakan undang-undang ini dengan undang-undang sebelumnya adalah adanya hak otonomi dan medebewind yang luas kepada badan pemerintah daerah yang terbentuk secara demokratis. Selang sembilan tahun kemudian, dikeluarkanlah Undang-Undang No.1 Tahun 1957 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Dalam undang-undang yang baru ini, terdapat tiga hal yang didasari oleh prinsip desentralisasi, yakni pertama, setiap daerah hanya memiliki satu bentuk susunan pemerintahan daerah yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri. Kedua, daerah dibentuk berdasarkan susunan derajat dari atas ke bawah sebanyak-banyaknya tiga tingkat. Ketiga, daerah diberikan hak otonomi yang seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurusi rumah tangganya sendiri dengan menganut sistem otonomi riil. Pada perkembangan selanjutnya, ketika Indonesia masuk masa demokrasi terpimpin, prinsip desentralisasi yang telah dianut direduksi dengan dikeluarkannya Penpres No.6 Tahun 1959 yang kemudian disempurnakan oleh Penpres No.5 Tahun 1960. Lima tahun setelahnya, pemerintah mengeluarakan Undang-Undang No.18 Tahun 1965 sebagai perundangan yang merangkum pokokpokok dari prinsip desentralisasi pada undang-undang sebelumnya. Bergantinya pemerintahan dari masa Demokrasi Terpimpin ke Masa Orde Baru, maka berganti pula kebijakan politik desentralisasinya. Dengan dikeluarakannya Undang-Undang No.5 Tahun 1974, penerapan prinsip desentralisasi sedikit mengalami hambatan, sebab dalam regulasi tersebut, pemerintah pusat masih
25

16

1.3.2. Perspektif

Teori

Hubungan

Desentralisasi

Dengan

Peningkatan

Pelayanan Publik Rondinelli memandang ada enam hal yang memperkuat pandangan bahwa implementasi desentralisasi dengan pemberian otonomi kepada daerah dapat menjadikan pelayanan publik menjadi lebih efektif dan efisien. Enam hal tersebut adalah26, pertama melalui otonomi akan terjadi optimalisasi hirarkhi dalam penyampaian pelayanan akibat dari penyediaan pelayanan publik27 dilakukan oleh institusi yang mempunyai kedudukan yang lebih dekat dengan masyarakat. Sehingga, daerah mampu membuat dan mengambil keputusan yang strategis dengan lebih mudah. Kedua, dengan adanya pemberian otonomi maka akan membuat segenap aparat daerah semakin mampu untuk menyesuaikan bentuk pelayanan yang disajikannya terhadap kebutuhan dan kondisi yang ada di tingkat lokal. Ketiga, akan adanya peningkatan perawatan terhadap infrastruktur. Hal ini dilakukan melalui alokasi anggaran yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi yang ada di wilayahnya. Keempat, pemberian otonomi kepada daerah akan mengakibatkan adanya pengalihan fungsi-fungsi rutin dari pusat kepada daerah. Dengan demikian, pusat dapat lebih fokus kepada fungsi-fungsi kebijakan. Kelima, akan adanya persaingan dalam konteks kompetisi terhadap pemberian pelayanan diantara unit-unit pemerintah dan antara sektor publik dan sektor swasta atas arahan pemerintah daerah. Keenam, dengan pemberian otonomi akan dapat membuat birokrasi menjadi lebih berorientasi kepada publik.
diberikan wewenang dalam mengatur urusan-urusan yang dikelolanya di daerah melalui asas dekonsentrasi dan medebewind. 26 Ibid,. hal.144. 27 Pelayanan publik adalah kata lain dari pelayanan umum (publik services) yang merupakan barangbarang non-material. Barang-barang dan jasa publik senantiasa berkaitan dengan administrasi dan birokrasi publik, serta kebijakan publik. Lihat, Luh Nyoman Dewi Triandayani & Muhammad Abas, Pelayanan Publik Apa Kata Warga ( Jakarta : Pusat Studi Pengembangan Kawasan, 2001), hal. 1.

17

Pandangan Rondinelli ini kemudian diperkuat oleh Maas dan Fesler yang mengemukakan bahwa desntralisasi adalah sebagai sarana untuk merealisasikan tujuan-tujuan yang mendasar atau nilai-nilai tertentu dari suatu komunitas politik. Conyers lebih lanjut menyatakan bahwa dibentuknya pemerintahan lokal dilihat sebagai bagian penting dari sebuah sistem yang demokratis. Keberadaan pemerintahan daerah diposisikan sebagai elemen yang merespon pemindahan beban pelayanan yang tadinya berada dalam wewenang pemerintahan pusat. Pemerintah daerah juga diposisikan untuk mendorong pendidikan politik dan keterlibatan pada tingkat lokal. Dengan demikian tingkat otentisitas sebuah kebijakan dapat lebih sesuai dengan kondisi wilayah dan masyarakat setempat28.

1.3.3. Teori Parlemen Lembaga legsilatif adalah lembaga yang membuat undang-undang.

Anggotanya dipiliih oleh masyarakat banyak untuk duduk mewakili mereka dalam lembaga tersebut. Dengan demikian, rakyatlah yang sesungguhnya memiliki kedaulatan. Perwakilan adalah sebuah konsep dimana seseorang atau suatu kelompok memiliki kemauan atau kewajiban untuk berbicara dan bertindak atas nama suatu kelompok yang lebih besar. Dalam sistem demokrasi dewasa ini, partai politiklah yang menjadi kelompok untuk mewakili kepentingan masyarakat yang lebih luas. Hal inilah yang dinamakan perwakilan yang bersifat politik (political representation)29. Secara umum, kehadiran badan legislatif sebagai lembaga perwakilan politik memiliki dua fungsi penting 30, yakni pertama menentukan policy atau kebijaksanaan dan membuat undang-undang. Untuk menopang fungsi ini, lembaga perwakilan dibekali dengan hak inisiatif, hak amandemen dan hak budget. Fungsi yang kedua
28 29

Ibid. Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik (Jakarta : PT Gramedia, 2000), hal.175. 30 Ibid., hal.183-184.

18

yaitu fungsi melakukan kontrol terhadap eksekutif. Menjaga tindakan eksekutif agar sesuai dengan kebijaksanaan yang telah ditetapkan. Untuk mengoptimalisasi fungsi ini, lembaga legislatif diberikan hak kontrol khusus seperti hak interpelasi dan angket, pertanyaan parlemen atau mosi. Interpelasi yakni hak untuk meminta keterangan kepada eksekutif mengenai suatu kebijakan. Terhadap hak ini, badan eksekutif harus bisa memberikan penjelasan kepada lembaga legislatif. Keputusan akan hal ini dilakukan oleh lembaga legislatif melalui sidang pleno yang didalamnya dilakukan pembahasan oleh para anggota dan diakhiri dengan pemungutan suara. Jika hasilnya tidak memuaskan, maka hal ini merupakan pertanda bagi eksekutif bahwa kebijakannya diragukan. Angket adalah hak lembaga legislatif untuk mengadakan penyelidikan sendiri, dimana hasil penyelidikannya dibahas bersama anggota yang lain untuk dirumuskan terkait dengan pendapatnya. Hasil dari hal ini kemudian ditujukan kepada eksekutif agar diperhatikan. Sedangkan mosi adalah sebuah hak kontrol yang memiliki tingkatan penekanan yang sangat tinggi terhadap eksekutif. Dalam sistem parlementer, jikalau kabinet menerima suatu mosi tidak percaya, maka kabinet harus mengundurkan diri.

1.3.4. Teori Komunikasi Politik Menurut Zulkarimein Nasution, ada beberapa definisi komunikasi politik, yaitu31: menurut Fagen (1966) yang menyatakan bahwa ada yang mendefinisikan komunikasi politik sebagai segala komunikasi yang terjadi dalam suatu sistem politik dan antara sistem tersebut dengan lingkungannya; Mueller (1973) merumuskan komunikasi politik sebagai “hasil yang bersifat politik” (political outcomes) dari kelas sosial, pola bahasa, dan pola sosialisasi; dan menurut Galnoor (1980) komunikasi
31

Zulkarimein Nasution, Komunikasi Politik Suatu Pengantar (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1990)

19

politik merupakan infrastruktur politik, yakni suatu kombinasi dari berbagai interaksi sosial dimana informasi yang berkaitan dengan usaha bersama dan hubungan kekuasaan masuk ke dalam peredaran32. Selain itu, salah satu definisi dari komunikasi politik yang cukup tegas dan gampang diungkapkan oleh Michael Schudson (1997), menurutnya komunikasi politik itu: “Any transmission of messages that has, or is intended to have, an effect on the distribution or use of power in society or on attitude toward the use of power” Menurut Schudson, gejala komunikasi politik bisa dilihat dari dua arah. Pertama, bagaimana institusi-institusi negara yang bersifat formal atau suprastruktur politik menyampaikan pesan-pesan politik kepada publik. Kedua, bagaimana infrastruktur politik merespon dan mengartikulasikan pesan-pesan politik terhadap suprastruktur33. Sebuah pendekatan yang digagas oleh Harold Lasswell mengemukakan bahwa cara yang mudah untuk melukiskan suatu tindakan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaan-pertanyyan berikut: Siapa? Mengatakan apa? Dengan saluran apa? Kepada siapa? Dengan akibat apa?34 Hal ini kemudian dikenal juga dengan sebutan Model Lasswell. Berdasarkan pandangan Lasswell, proses komunikasi dapat dijelaskan dengan pernyataan sederhana, “Who says what to whom in what channel with what effect”. Model komunikasinya adalah sebagai berikut35:
32 33

Ibid. hal. 24 Dedy Jamaluddin Malik, Media Massa dan Krisis Komunikasi Politik Menguatnya Infra dan Melemahnya Suprastruktur Politik dalam Novel Ali, Peradaban Komunikasi Politik Potret Manusia Indonesia (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1999), hal. v. 34 Dan Nimmo, Komunikasi Politik Suatu Pengantar (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1990), hal. 13. Lihat juga dalam Fiske, Introduction to Communication Studies (London: Routledge,1990), hal. 30. 35 Brent D. Ruben, Communication and Human Behavior (New Jersey: Prentice Hall, 1992), hal. 25.

20

Who (speaker)

What (message)

Channel (or medium)

Whom (audience or listener)

Effect

1.3.5. Teori Pilihan Rasional Untuk bisa menganalisis motivasi yang melatarbelakangi dari para aktor politik, dalam skripsi ini saya menggunakan teori pilihan rasional. Teori pilihan rasional merupakan sebuah paradigma dalam kajian ilmu ekonomi politik. Pendekatan ini dimulai oleh kaum klasik yang sudah mengembangkan asumsi manusia rasional yang selalu memilih yang terbaik dari alternatif yang ada. Kemudian kaum Neoklasik membawa sisi rasionalitas yang ada pada individu kepada institusi-institusi politik. Menurut pandangan kaum neoklasik, institusi politik dan penyelenggara negara dalam melakukan aktivitasnya didorong oleh motivasi untuk memenuhi kepentingan masingmasing pihaknya. Bagi teori pilihan rasional, kebijakan publik adalah hasil interaksi politik diantara para pelaku rasional yang ingin memaksimalkan keuntungan bagi diri sendiri. Suatu kebijakan yang khusus melindungi industri tertentu, misalnya dianggap sebagai keseimbangan rasional, rational equlibrium, yang memuaskan kepentingan para pejabat pemerintah, untuk terus berkuasa maupun kaum pengusaha yang sedang mengejar peningkatan profit. Politik, dengan demikian, dianggap sebagai sebuah panggung, dimana semua pihak bersaing untuk mengeruk berbagai sumber yang ada di arena publik.36

36

Rizal Malarangeng, Mendobrak Sentralisme Ekonomi : Indonesia 1986-1992 (Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia, 2002), hal.9-10.

21

Teori pilihan rasional dalam kajian ekonomi politik, memiliki kaitan dengan konsep-konsep seperti keinginan atau preferensi (preference), kepercayaan (belief ), peluang (opportunities), dan tindakan (action). William H.Riker mengemukakan bahwa teori pilihan rasional memiliki empat elemen, pertama para aktor politik memiliki kemampuan untuk merangking tujuan-tujuan, nilai, selera dan strategistrategi mereka. Kedua, para aktor politik dapat memilih alternatif terbaik yang bisa memaksimalkan kepuasan mereka. Elemen ketiga adalah kesempatan, elemen ketiga ini terkait dengan sumber daya dan kendala. Elemen keempat adalah tindakan, yaitu hasil pilihan dari sesuatu yang telah diamatinya. Elster mengungkapkan : “ The essence of rational choice explanation embodies a conception of how preferences, beliefs, resources, and actions stand in relation to one another”.37 Lebih lanjut Elster menerangkan bahwa sebuah tindakan dikatakan sebagai tindakan rasional jika mampu memperlihatkan keterkaitan antara preferensi, kepercayaan, dan sumber daya. Untuk memperkuat pandangan ini, Jurgen Habermas mengemukakan bahwa tindakan rasional adalah tindakan yang disengaja untuk mecapai hasil maksimal dengan menciptakan kondisi yang kondusif dan institusi yang mendukung sehingga dapat dilakukan sebuah tindakan dengan tingkat kesalahan minimal38. Dalam konteks ilmu politik, rasionalitas politik mengacu pada pilihanpilihan tindakan dan keputusan yang diambil dengan tujuan politik. Berdasarkan Teori pilihan rasional yang disebutkan di atas, maka motivasi para aktor politik dalam membuat keputusan dapat pula dijelaskan dengan melihat nilainilai yang kemungkinan menjadi pedoman para aktor politik dalam membuat

37 38

Deliarnov, Ekonomi Politik Baru ( Jakarta : Erlangga, 2002), hal.135. Ibid.

22

keputusan.

Menurut

konsepsi

Anderson,

ada

empat

nilai

yang

menjadi

pertimbangan :39 a. Nilai-nilai Politik. Pembuat keputusan mungkin melakukan penilaian atas altematif kebijaksanaan yang dipilihnya dari sudut pentingnya alternatifalternatif itu bagi partai politiknya atau bagi kelompok-kelompok klien dari badan atau organisasi yang dipimpinnya. Keputusan-keputusan yang lahir dari tangan para pembuat keputusan seperti ini bukan mustahil dibuat demi keuntungan politik dan kebijaksanaan, dengan demikian akan dilihat sebagai instrumen untuk memperluas pengaruh-pengaruh politik atau untuk mencapai tujuan dan kepentingan dari partai politik atau tujuan dari kelompok kepentingan yang bersangkutan. b. Nilai-nilai Organisasi. Para pembuat keputusan, khususnya birokrat (sipil atau militer), mungkin dalam mengambil keputusan dipengaruhi oleh nilai-nilai organisasi di mana ia terlibat di dalam organisasi agar organisasinya tetap lestari, untuk tetap maju atau untuk memperlancar program-program dan kegiatan-kegiatannya atau untuk mempertahankan kekuasaan dan hak-hak istimewa yang selama ini dinikmati. c. Nilai-nilai Pribadi. Hasrat untuk melindungi atau memenuhi kesejahteraan atau kebutuhan fisik atau kebutuhan finansial reputasi diri, atau posisi historis kemungkinan juga digunakan oleh para pembuat teputusan sebagai kriteria dalam pengambilan keputusan. d. Nilai-nilai Kebijaksanaan. Tidak semua keputusan ditujukan untuk

keuntungan politik, organisasi atau pribadi. Sebab, para pembuat keputusan mungkin pula bertindak berdasarkan atas penepsi mereka terhadap
39

Dikutip dari http://astaqauliyah.blogspot.com/2005/04/teori-teori-pengambilan-keputusan.html, diakses pada tanggal 11 November 2007 pukul 14.00 WIB.

23

kepentingan umum atau keyakinan tertentu mengenai kebijaksanaan negara apa yang sekiranya secara moral tepat dan benar. e. Nilai-nilai Ideologis. Ideologi pada hakikatnya merupakan serangkaian nilainilai dan keyakinan yang secara logis saling berkaitan yang mencerminkan gambaran sederhana mengenai dunia serta berfungsi sebagai pedoman benindak bagi masyarakat yang meyakininya.

1.3.6. Teori Pilihan Publik Kerangka teori selanjutnya yang digunakan dalam skripsi ini adalah teori pilihan publik. Teori pilihan publik ini digunakan sebagai upaya pendekatan terhadap kebijakan anggaran selaku kebijakan publik yang terkait langsung dengan kepentingan masyarakat. Teori pilihan publik ini dapat digunakan juga untuk menelaah perilaku para aktor politik ataupun sebagai petunjuk bagi pengambilan keputusan dalam penentuan pilihan kebijakan publik yang paling efektif. Hadirnya teori pilihan publik ini tidak telepas pengaruhnya dari pendekatan ekonomi murni. Perspektif ini muncul dari sebuah proses pengembangan dan pengaplikasian perangkat serta metode ilmu ekonomi terhadap proses pengambilam keputusan bersama. Hal ini diperkuat oleh pandangan Caporaso dan Levine yang mengartikan pilihan publik sebagai aplikasi metode-metode ekonomi terhadap politik.40 Pandangan yang menjadi premis dasar dalam teori pilihan publik adalah bahwa adanya kesamaan bertindak antara para pembuat keputusan politik dengan para pembuat keputusan privat. Dalam konteks ini, politik tidak dipandang hanya sebagai arena memperebutkan kekuasaan, namun politik dapat juga dipandang sebagai arena yang di dalamnya terjadi pertukaran kepentingan yang memiliki aturan
40

Ibid. hal.139.

24

berupa konstitusi. Para pemain yang berada dalam arena ini adalah wakil rakyat yang duduk sebagai legislatif dan politikus yang bertindak untuk memperjuangkan kebijakan publik sampai pada kelompok pemilih yang memilih mereka. Motivasi yang melatarbelakanginya adalah memaksimalkan kesempatan atau vote maximizers . Produk politik berupa kebijakan publik adalah hasil dari proses pertukaran, sama halnya dengan proses terbentuknya harga dalam pasar persaigan sempurna. Hanya saja dalam konteks politik, pertukaran memiliki pengertian sebagai sebuah proses persetujuan kontrak yang lebih luas makna dan cakupannya. Pendekatan pilihan publik pada akhirnya mampu untuk membuka sekat-sekat antara ekonomi dan politik serta antara pasar dan pemerintah. Berikut adalah perbandingan variabel antara perbandingan ekonomi klasik dan pilihan publik.41

Tabel 1.1 Perbandingan Variabel antara Ekonomi Klasik dan Pilihan Publik

Variabel
Pemasok Demander Komoditas Alat transaksi Jenis transaksi

Ekonomi Klasik
Produsen, pengusaha, distributor Konsumen Barang swasta Uang Voluntary transaction

Pilihan Publik
Politisi, parpol, birokrasi, pemerintah Pemilih Barang publik Suara Politics as exchange

Dikaitkan dengan konteks permasalahan yang diangkat dalam skripsi ini, APBDP sebagai kebijakan anggaran adalah bagian dari kebijkan publik yang lahir dari mekanisme politik. Tony Byrne mengemukakan bahwa anggaran dapat diartikan sebagai sebuah rencana keuangan yang menggambarkan pilihan kebijakan suatu
41

Bustanul Arifin dan D.J.Rachbini, Ekonomi Politik dan Kebijakan Publik ( Jakarta : PT.Grasindo, 2001), hal.20.

25

lembaga dalam suatu periode tertentu di masa yang akan datang. Anggaran juga dapat dipahami sebagai sebuah pernyataan sikap yang berisi perincian penerimaan dan belanja operasional maupun belanja modal yang disertakan juga dengan perencanaan untuk tahun yang akan datang. Dengan mengacu pada pengertian anggaran secara umum, di dalamnya tercakup pengertian anggaran negara, anggaran perusahaan, maupun anggaran institusi lainnya. Dalam skripsi ini, definisi anggaran yang dimaksud difokuskan pada anggaran negara. Terkait dengan hal ini, definisi anggaran dipertajam oleh John F. Due sebagai suatu pernyataan yang berisi mengenai perkiraan pengeluaran dan penerimaan yang diharapkan akan terjadi dalam suatu periode di waktu yang akan datang. Serta berisi mengenai data dari pengeluaran dan penerimaan yang benar-benar terjadi di masa yang sebelumnya.

1.4 Model Analisa Faktor Penyebab Implikasi
Interpelasi DPRD : Landasan Formal : Pengangkatan staf khusus Pengadaan Baliho SIPESAT Pemberian HGB Pengerukan situ Cilangkap Lelang di Dinas PU Motif Politik : Penggantian Sekda Penertiban Tender PKS- isasi birokrasi

Terhambatnya Pembahasan APBDP 2006 dan RAPBD 2007

Walikota Depok tertunda dalam merealisasikan pembangunan: SIPESAT, Santunan Nikah, Santunan Kematian

1.5 Operasionalisasi Konsep

26

Interpelasi sebagai salah satu hak dari DPRD adalah hak untuk meminta keterangan kepada Kepala Daerah tentang kebijakan yang penting dan strategis serta berdampak luas pada kehidupan masyarakat, daerah, dan negara. Dalam konteks hak interpelasi yang diajukan oleh DPRD Depok kepada walikota, terkait dengan enam kebijakan yang dikeluarkan oleh walikota Depok yang dinilai DPRD sangat sepihak. Enam kebijakan tersebut adalah, pembentukan staf khusus di lingkungan Pemda Depok, pengadaan baliho di Jalan Margonda, program SIPESAT, pemberian Hak Guna pengerukan Situ Cilangkap, dan

Bangunan kepada PT.Megapolitan,

pelaksanaan lelang di Dinas PU. Interpelasi ini juga dilatarbelakangi oleh kepentingan para anggota dewan yang terganggu, lantaran walikota akan melakukan pergantian sekda dan penertiban tender proyek pembangunan. Digunakannya hak interpelasi oleh DPRD Depok tentunya memberikan implikasi, setidaknya bagi dua hal. Pertama terhadap pembahasan APBDP 2006 dan RAPBD 2007, dan kedua bagi kinerja Walikota Depok.

APBDP dan RAPBD sebagai instrumen keuangan daerah, memiliki posisi yang sangat strategis sebagai acuan dalam melaksanakan pembangunan bagi walikota. APBD merujuk pada Kepmendagri No.29/th.2002 didefinisikan sebagai suatu rencana keuangan tahunan daerah yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Daerah tentang APBD. APBD dapat diartikan juga sebagai sarana untuk dapat mengetahui kemampuan pemerintah daerah dalam melaksanakan kebijakan yang dipilihnya di masa lalu, serta maju mundurnya kebijakan yang hendak dilaksanakan oleh pemerintah daerah di masa yang akan datang. Dengan digunakannya hak interpelasi oleh DPRD Depok terhadap enam

27

kebijakan Walikota, otomatis agenda DPRD yang seharusnya pada rentan waktu September hingga Desember membahas kebijakan anggaran, menjadi bersamaan dengan agenda pengajuan hak interpelasi. Secara teknis, kondisi seperti ini menyebabkan penambahan agenda DPRD.

Kinerja seorang walikota secara langsung dipengaruhi oleh Peraturan Daerah yang disahkan bersama oleh DPRD. APBDP dan RAPBD adalah peraturan daerah yang dijadikan sebagai acuan bagi kepala daerah dalam melaksanakan pembangunan. Terhambatnya pembahasan APBDP dan juga RAPBD otomatis mempengaruhi juga pelaksanaan pembangunan di Depok, dan hal ini tentunya juga memberikan dampak politis bagi kinerja walikota.

1.6 Metode Penelitian • Pendekatan dan Paradigma Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif . Alasan yang mendasarinya adalah : Data yang dikumpulkan dan di analisa merupakan gejala sosial yang dinamis, dimana aktor-aktornya berperan penting dalam memberikan informasi dan pemaknaan tentang dunia sosial yang melingkupi mereka. Sehingga pendekatan kualitatif memungkinkan peneliti untuk dapat berinteraksi secara leluasa dalam pengumpulan data karena informasi yang di dapat merupakan bentuk nyata dari interaksi tersebut. Peneliti dalam penelitian ini akan berusaha secara maksimal untuk meninggalkan nilai dan bias karena kedekatan emosi dengan objek penelitian, peneliti juga tidak ikut aktif dalam proses mempengaruhi kebijakan yang dilakukan oleh penelitian.42
42

Pengungkapan yang bersifat kualitatif mengandaikan beberapa hal dalam data : (1) bentuk data adalah teks, kata-kata tertulis, ucapan atau symbol-simbol yang menggambarkan orang, tindakan dan bahkan kehidupan sosial. (2) penelitian tidak berusaha mengubah data kualitatif menjadi angka-angka

28

Penelitian ini dilakukan dalam bentuk penelitian lapangan (field research), dimana peneliti melakukan studi melalui interaksi langsung dengan objek penelitian. Sedangkan tipe penelitian yang akan digunakan adalah eksplanatif, yaitu berisi pejelasan-penjelasan dan analisis-analisis terhadap berbagai temuan di lapangan yang disesuaikan dengan tema yang diangkat dalam skripsi ini, yakni Pengaruh Interpelasi DPRD Terhadap Proses Pembahasan Anggaran dan Kinerja Walikota di Depok Tahun 2006. Penelitian kualitatif lebih fokus pada proses daripada hasil, maka penelitian kualitatif bertumpu pada penguumpulan data primer yang utamanya diperoleh melalui wawancara dengan narasumber ataupun informan kunci selain pada studi literatur yang relevan. Adapun teknik pengumpulan data dapat diperoleh sebagai berikut : 43 • Teknik Pengumpulan Data Teknik untuk mengumpulkan data dan informasi dilakukan dengan dua cara yakni : 1. Studi Lapangan : Wawancara Mendalam (Indepth Interview) Penentuan informan dilakukan dengan menggunakan teknik snowball sampling , dimana peneliti pertama-tama menghubungi humas kantor walikota Depok, selanjutnya informan pertamalah yang menunjukkan informan-informan. Berikutnya wawancara dilakukan secara terstruktur (structured interviewed) dengan

menggunakan pedoman wawancara sebagai acuan penggalian informasi dan data. 2. Studi Dokumen Dan Literatur Yang Relevan
yang terpercaya dan objektif, melainkan berusaha membuat data-data terbut dapat diakses oleh (sub0 kultur lain, menunjukkan relativitas perbagai pertimbanga para actor dalam dunia sosial mereka, dan menunjukkan hubungan antara deskripsi-deskripsi sosiologis dengan konsep-konsep para actor itu dalam tindakan mereka. (3) dalam melihat data, peneliti tidak berusaha mengembangkan pengukuran yang tepat dan objektif melainkan memusatkan perhatian pada makna, definisi metafora, symbol dan deskripsi dari aspek-aspek yang diteliti. Lihat, W. Lawrence Neuman, Sosial Research Methods : Qualitatif and Quantitative Approach. 5th Edition. (Boston : Allyn and Bacon, 1997), hal. 328, 418. 43 John W. Cresswel, dalam Research Design Qualitative Approaches (California : Sage Publications, 1994), hal. 145.

29

Dilakukan guna mempelajari literatur-literatur yang berhubungan dengan tema skripsi dan untuk melengkapi informasi yang didapat dari wawancara. Pengumpulan informasi sekunder melalui literatur baik koran, internet, buku, majalah, ataupun jurnal yang memuat objek penelitian dan tema serta isu terkait.

Teknis Analisis Data Karena data dalam penelitian ini bukanlah merupakan angka-angka melainkan

kata-kata yang terdapat dalam dokumen maupun wawancara maka infomasi yang didapat tidaklah sama persis, sehingga dapat mengacu pada satu makna, dengan demikian penulis melakukan langkah-langkah berikut : 1. Studi literatur dengan berbagai bahan bacaan yang terkait dengan tema dan isu yang diangkat. 2. Melakukan wawancara mendalam secara tidak terstruktur untuk mendapatkan informasi yang lengkap dan memadai dari berbagai narasumber yang memiliki kepentingan terhadap proses kebijakan tersebut (stakeholder kunci). Di samping itu, pembuktian terhadap informasi dan data yang didapat digunakan dengan cara crosscheck informasi dengan pihak yang lain. 3. Kategorisasi data berdasarkan topik, dilanjutkan dengan intepretasi dan diskripsi data. Data-data dan informasi yang terkumpulkan nantinya akan dianalisa berdasarkan kondisi yang ada dan berbagai faktor yang menyebabkan hal tersebut. Karena penelitian ini ingin mengungkap faktor-faktor mempengaruhi kebijakan maka analisa terhadap proses menjadi penting karena menyangkut kondisi dan situasi yang melatarbelakangi proses tersebut.

30

4.

Penulisan laporan. Didasarkan pada sistematika penulisan laporan yang ada.

1.7 Tujuan dan Signifikansi Penelitian • Tujuan

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini : a. Untuk mengetahui dinamika interaksi lembaga eksekutif dan legislatif daerah terutama pasca otonomi daerah. b. Untuk melihat pandangan dari para pengambil kebijakan daerah terhadap proses pembahasan kebijakan anggaran.

Signifikansi

Adapun signifikansi penelitian yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah : 1) Seiring dengan semakin menguatnya politik desentralisasi, maka topik yang terkait dengan pemerintahan daerah adalah sesuatu yang menarik untuk dikaji, terlebih lagi dalam sekup kajian yang membahas mengenai politik anggaran di daerah. Hal inilah yang mendorong penulis untuk mengangkat topik politik anggaran dalam skripsi ini. 2) Selain hal di atas, penulisan skripsi ini pun merupakan sebuah respon dari kondisi yang terjadi di masyarakat terkait dengan hak-hak mereka yang terabaikan ketika permasalahan yang diangkat dalam topik ini terjadi.

1.8 Sistematika Penulisan BAB I : PENDAHULUAN

31

Terdiri dari latar belakang masalah, masalah, kerangka teori, model analisa, operasionalisasi konsep, hipotesa, metode penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II : PEMERINTAHAN KOTA DEPOK MENGACU PADA UU

NOMOR 32 TAHUN 2004 Berisi penjelasan mengenai tugas dan wewenang lembaga-lembaga pemerintahan daerah beserta organ kelengkapannya, mengacu kepada UU Nomor 32 tahun 2004. BAB III : MEKANISME PENYUSUNAN DAN PEMBAHASAN

RANCANGAN ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH (RAPBD) Berisi tentang proses penyusunan dan pembahasan kebijakan anggaran di daerah. BAB IV : PENGARUH INTERPELASI TERHADAP PEMBAHASAN

ANGGARAN DAN DAMPAKNYA KEPADA REALISASI PEMBANGUNAN Memuat analisis tentang interpelasi yang diajukan oleh DPRD Depok terhadap Walikota. Dilihat dari peta kekuatan politik di DPRD Depok, siapa fraksi yang mendukung dan tidak mendukung interpelasi, bagaimana jalannya interpelasi, hingga dampak yang ditimbulkan dari diajukannya interpelasi oleh DPRD. BAB V : KESIMPULAN

Berisi kesimpulan teoritik terhadap hasil penelitian, dan juga rekomendasi peneliti kepada organisasi khususnya dan juga kepada peneliti.

32

BAB II LANDASAN TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR DAN PERUMUSAN HIPOTESIS PENELITIAN

II. A. Deskripsi Teoritik II.A.1. Hakekat Kompetensi Guru II.A.1.a. Pengertian Kompetensi Guru Pada suatu sekolah peranan suatu kompetensi guru dalam mengajar mata pelajaran yang diajarkannya kepada siswa sangat penting dalam menentukan prestasi belajar siswa. Artinya bahwa guru yang berkompetensi baik dalam mengajar maka prestasi belajar siswa pun diharapkan akan baik pula. Dan sebaliknya kalau kurang baik kompetensinya dalam mengajar, maka prestasi belajar siswa yang diajarkan akan kurang baik pula. Oleh karena itulah, baik

33

para guru maupun pihak sekolah yang dalam hal ini kepala sekolah, hendaknya harus berupaya dalam menjaga atau meningkatkan kompetensi guru agar tujuan pendidikan, sebagaimana diamanatkan dalam ketetapan MPR Nomor : II / MPR/ 1993 tanggal 3 Maret 1993 tentang Garis-Garis Bear Haluan Negara dapat terwujud : Pendidikan nasional bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti luhur, berkepribadian mandiri, maju dan tangguh, cerdas, kreatif, terampil berdisiplin, beretos kerja, profesional, bertanggungjawab dan produktif serta sehat jasmani dan rohani. Pendidikan nasional juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial serta kesadaran pada sejarah bangsa dan sikap menghargai jasa pahlawan serta berorientasi masa depan.44 Salah satu faktor penting yang dapat mewujudkan tujuan pendidikan, diamanatkan oleh ketetapan MPR diatas adalah guru yang berkompeten dalam mengajar, dan tentunya disamping faktor-faktor lain seperti sarana, maupun prasarana pendidikan. Dan untuk memahami apa yang dimaksud dengan kompetensi dalam mengajar itu, berikut akan diungkapkan beberapa pendapat. Menurut Subandiah, kompetensi mengajar adalah ”kemampuan guru dalam menciptakan suasana pengajaran yang kondusif sehingga memungkinkan dan mendorong peserta didik untuk mengembangkan kreatifitasnya guna mencapai tujuan yang ditentukan” . 45 Tugas dan tanggung jawab guru berkaitan sekali dengan kemampuan yang diysratkan untuk memangku jabatan sebgaai guru sehingga ia dapat menjalankan tugsanya dengan baik. Kemampuan dasar yang dimaksud adalah kompetensi guru.
44 45

Ketetapan MPR RI 1993, Jakarta, Gunung Ilmu Press, hal. 95. Subandiah. 1993. Pengembangan dan Inovasi Kurikulum. Jakarta : PT Raja Grafindo, Hal. 6.

34

Menurut Uzer Usman pengertian kompetensi guru adalah ”kemampuan seorang guru dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan secara bertanggung jawab dan layak”. Untuk mengetahui apakah seorang guru telah memiliki kualitas dalam mengajar dalam arti dapat melaksanakan tugas keguruannya ada beberapa faktor tentag kemampuan tersebut. Burhanudin Harahap dalam bukunya Supervisi Pendidikan menjelaskan tentang beberapa faktor dalam pengajaran yang baik antara lain: Menguasai materi, menguasai bahan pendalaman, merumuskan tujuan, mengenail dan menggunakan metode, melaksanakan proses belajar mengajar, menggunakan media laboratorium dan perpustakaan, memotivasi siswa dan menguasai komunikasi teknik dan bertanya. Dari faktor-faktor di atas dapat dilihat dengan jelas bahwa kemampuan, pemikiran dan pengetahuan serta keterampilan seseorang guru dalam proses mengajarnya sehingga akan terlihat pula kompetensi mengajarnya. Mengajar merupakan tugas yang berat bagi seorang guru karena langsung berhadapan dengan sekelompok siswa, yang memerlukan bimbingan dan pembinaan menuju kedewasaan. Mengingat tugas berat dan sangat penting ini, maka guru yang mengajar di depan kelas harus mempunyai prinsip-prinsip mengajar dan harus dilaksanakan seefektif mungkin, sehingga kompetensi pengajarannya menjadi lebih baik. Prinsip mengajar itu antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Perhatian Aktivitas Appersepsi Materi Repetisi Motivasi

35

7. 8. 9. 10.

Konsentrasi Sosialisasi Menentukan tujuan pelajaran Evaluasi46

Untuk lebih jelasnya dapat dijelaskan satu persatu sebagai berikut : Perhatian mengandung pengertian bahwa di dalam mengajar guru harus dapat membangkitkan perhatian siswa kepada pelajaran yang diberikan oleh guru. Sedangkan aktivitas mengandung pengertian bahwa dalam proses belajar mengajar perlu menimbulkan aktivitas siswa dalam maupun berbuat. Appersepsi mengandung pengertian bahwa setiap guru yang mengajar perlu menghubungkan pelajaran yang diberikan dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa maupun pengalamannya. Materi mengandung pengertian bahwa guru dalam mengajar harus mengetahui dengan baik materi yang dibahas. Karena jika tidak menguasai materi yang akan diajarkan, maka guru tersebut akan kesulitan menguasai kelas. Repetisi mengandung pengertian bahwa bila guru mengajar harus menjelaskan sesuatu unit pelajaran dengan diulang-ulang agar siswa menjadi jelas dalam menagkap materi pelajaran. Motivasi mengandung pengertian bahwa guru dalam mengajar harus memperhatikan apa yang dapat mendorong sisswa untuk lebih bersemangat ketika pelajaran sedang berlangsung. Sedangkan konsentrasi mengandung pengertian bahwa hubungan, cara menilai atau memberi nilai berupa huruf atau angka.47

46 47

W. James Pohan. 1986. Evaluasi Pengajaran. Jakarta : Kanisius, Hal. 15. Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1995. Jakarta, Balai Pustaka.

36

Jadi yang dimaksud penelitian di sini adalah penilaian yang dilakukan siswa terhadap kualitas pengajaran guru. Mata pelajaran dapat dipusatkan pada salah satu pusat minat, sehingga siswa dapat memperoleh pengetahuan secara luas dan mendalam. Sosialisasi mengandung pengertian bahwa dalam perkembangan siswa perlu bergaul dengan teman lainnya. Siswa disamping sebagai individu, juga mempunyai segi sosial yang perlu dikembangkan. Menentukan tujuan pelajaran mengandung pengertian bahwa dalam menentukan materi pelajaran guru harus mengetahui tujuan dari pelajaran tersebut sehingga ketika menerangkan tidak menyimpang dari yang telah ditentukan. Evaluasi mengandung pengertian bahwa semua kegiatan belajar mengajar perlu dievaluasi. Evaluasi dapat memberi motivasi bagi guru maupun siswa karena mereka akan lebih giat belajar dan meningkatkan proses berpikirnya. II.A.1.b. Aspek – Aspek Kompetensi Guru Piet Sahertian menjelaskan bahwa kompetensi guru mengandung berbagai pengertian yaitu : 1. Kemampuan guru untuk mewujudkan tujuan –tujuan pendidikan. 2. Ciri hakiki dari kepribadian guru yang menuntunnya kearah pencapaian tujuan pendidikan yang telah ditentukan. 3. Perilaku yang dipersyaratkan untuk mencapai tujuan

pendidikan.48 Dari pengertian tersebut maka ada tiga aspek dari kompetensi guru yaitu aspek personal, aspek sosial dan aspek profesional. Dalam banyak analisis tentang kompetensi guru yaitu aspek personal, aspek sosial dan aspek profesional. Dalam banyak analisis tentang kompetensi guru aspek
48

Piet A. Sahertian. 1994. Profil Pendidik Profesional. Yogyakarta : Andi Offset, hal. 56.

37

personal dan aspek sosial umumnya disatukan. Hal ini dikarenakan solidaritas manusia termasuk guru dapat dipandang sebagai

pengejawantahan dari pribadinya. II.A.1.c.Kompetensi personal dan sosial Yang dimaksud dengan kompetensi personal adalah kemampuan dan ciri-ciri yang ada dalam diri guru yang dapat mengembangkan kondisi belajar sehingga hasil belajar dapat dicapai dengan efektif.49 Departemen pendidikan dan kebudayaan dalam buku panduan Pembinaan Kompetensi Mengajar, dijelaskan ada tiga hal yang memberi ciri kompetensi personal yaitu : kepribadian, penampilan, dan kepemimpinan.50 Ada beberapa ciri kepribadian yang mestinya dimiliki seorang guru yaitu : a. b. c. d. e. Kemampuan interaksi sosial yang hangat Memiliki rasa tanggung jawab Memiliki kejujuran Objektif, tegas dan adil Demokrasi

Kepribadian yang menyangkut masalah psikis nampak dalam bentuk tingkah laku yang dapat diamati secara lahiriah dalam pergaulan bersama. Tingkah laku guru pada umumna merupakan penampilan lain dari kepribadiannya. Kemampuan pribadi seorang guru nampak dari sifat bekerja sama dengan demokratis, penyayang, menghargai kepribadian peserta didik, sabar, menyenangkan, dan berakhlak baik, adil, toleran, mantap dan stabil, peka terhadap persoalan peserta didik, mampu menghargai anak didik serta mampu memimpin secara baik.

49 50

Zakiah Drajat. 1982. Kepribadian Guru. Jakarta : CV. Bulan Bintang, hal. 18. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 1987. Pembinaan Kompetensi Mengajar. Jakarta : IKIP Jakarta, hal. 11.

38

Uzer Usman secara lebih rinci lagi menjelaskan tentag kemampuan personil guru yang mencakup : 1. Mengembangkan kepribadian 1.1 1.2 Ber-Tuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Berperan dalam masyarakat sebagai warga

Negara yang berjiwa Pancasila 1.3 Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang

dipersyaratkan bagi jabatan guru. 2. Berinteraksi dan berkomunikasi 2.1 Berinteraksi dengan sejawat untuk

meningkatkan kemampuan profesional. 2.2 Berinteraksi dengan masyarakat untuk

pencapaian misi pendidikan. 3. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan 3.1 belajar. 3.2 Membimbing siswa yang mengalami Membimbing siswa yang mengalami kesulitan

permasalahan. 4. Melaksanakan administrasi sekolah 4.1 4.2 Mengenal Pengadministrasian kegiatan Sekola. Melaksanakan kediatan administrasi sekolaj penelitian sederhana untuk keperluan

5. Melaksanakan pengajaran 5.1 5.2
51

Mengkaji konsep dasar penelitian Melaksanakan penelitian sederhana51

Uzer Usman, Op. Cit., Hal. 11.

39

A. Samana mendiskripsikan kemampuan personal dan sosial guru dalam proses belajar mengajar sebagai berikut : Menghayati serta mengamalkan nilai hidup termasuk nilai keimanan dan moral, bertindak jujur dan bertanggung jawab, berperan sebagai [emimpin, bersikap bersahabat dan terampil berkomunikasi, menghargai pribadi orang lain, kretaif, disiplin, bermental sehat dan stabil serta berperan serta dalam berbagai kegiatan sosial baik dalam lingkup kesejawatan maupun masyarakat. 52 Kompetensi personal dan sosial seorang guru merupakan modal dasar bagi guru yang bersangkutan dalam melaksanakan tugas keguruan secara profesional. Kegiatan pendidikan pada dasarnya merupakan kekhususan komunikasi antar guru dan siswa. II.A.1.d. Kompetensi Profesional. Kemampuan mengajar meruakan kemampuan esensial yang harus dimiliki oleh seorang guru. Kemampuan mengajar sebenarnya merupakan pencerminan penguasaan guru atas kompetensi profesional sebagai pengajar dan pendidik. Proyek pengembangan pendidikan guru (P3G) Depdikbud telah merumuskan kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh seorang guru. Rumusan tersebut oleh Ali Imran disimpulkan menjadi tiga kategori yaitu : ”Kemampuan mengusai bahan bidang studi, kemampuan merencanakan proses belajar mengajar dan kemampuan melaksanakan program tersebut”.53 Kemampuan mengusai bahan bidang studi adalah kemampuan mengetahui, memahami, mengimplikasikan, mengsintesiskan, dan menguasai sejumlah

pengetahuan keahlian yang akan diajarkan. Penguasaan ini menjadi landasan pokok seorang guru dalam melaksanakan tugas pengajaran.

52 53

A. Saman. 1994. Profesionalisme Keguruan. Yogyakarta : Kanisius, hal. 27. Cece Wijaya dan Tabrani Rusman. 1991. Kemampuan Dsara Guru. Bandung : Remaja Rosyada Karya, hal. 130.

40

Sebelum melaksanakan pengajaran, maka terlebih dahulu harus dapat membuat perencanaan pengajaran. Kemampuan merencanakan program belajar mengajar pada intinya adalah kemampuan membuat satuan pelajaran (SP) yang berbobot. Kemampuan melaksanakan program belajar mengajar adalah kemampuan menciptakan interaksi belajar mengajar sesuai dengan situasi dan kondisi serta program yang dibuatnya. Kemampuan ini merupakan penerapan secara nyata rencana pengajaran yang telah dibuat pada saat perencanaan pengajaran. Menurut Uzer Usman secara garis besarnya, kompetensi profesional guru meliputi lima hal yaitu : 1. Menguasai landasan pendidikan

1.1 Mengenal tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional 1.2 Mengenal ungsi sekolah dalam masyarakat 1.3 Mengenal prinsip-prinsip psikologi yang dapat

dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar. 2. Menguasai bahan pengajaran

2.1 Menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar dan menengah 2.2 Menguasai bahan pengayaan 3. Menyususn program pengajaran

3.1 Menetapkan tujuan pengajaran 3.2 Memilih mengembangkan bahan pengajaran 3.3 Memilih dan mengembagkan strategi belajar mengejar.

41

3.4 Memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai 3.5 Memilih dan memanfaatkan sumber belajar 4. Melaksanakan program pengajaran

4.1 Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat 4.2 Mengatur ruang belajar 4.3 Mengelola interaksi belajar mengajar. 5. Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah

dilaksanakan 5.1 Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran 5.2 Menilai prestasi belajar mengajar yang telah dilaksanakan.54 Tujuan utama guru adalah mengajar disamping juga mendidik. Jika tugas mengajar harus ditopang oleh penguasaan kompetensi profesional, maka guru dalam tugasnya sebagai pendidik harus juga memiliki kompetensi personal dan sosial. Jadi ketiga kompetensi tersebut tidak berdiri sendiri tetapi saling mempengaruhi. Penguasaan terhadap kompetensi keguruan sebagai tolak ukur kinerjanya sebagai pendidik profesional.

II.B. Tugas dan Tanggung Jawab Guru Jabatan guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar tugas dalam bentuk pengabdian. Menurut Uzer Usman tugas guru dikelompokkkan menjadi tiga jenis, yaitu tugas dalam bidang profesi, tugas kemanusiaan dan kemasyarakatan.55

54 55

Uzer Ussman, Op.Cit., hal. 18. Ibid., hal. 4.

42

Guru merupakan suatu profesi yang artinya suatu jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru. Tugas guru sebagai profesi meliputi mendidik, mengajar, dan melatih. Mendidik berarti meneruskan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan melatih berarti mengembangkan keterampilan kepada siswa. Tugas guru dalam bidang kemanusiaan meliputi bahwa guru disekolah harus dapat menjadikan dirinya sebgaia orang tua kedua. Ia harus dapat menarik simpati sehingga ia menjadi idola bagis siwanya. Pelajaran apapun yang diberikannya, hendaknya dapat menjadikan motivasi bagi siswa untuk belajar. Masyarakat menempatkan guru pada tempat yang lebih terhormat

dilingkungannya karena dari seorang guru diharapkan masyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guru berkewajiban mencerdaskan bangsa menuju kepada pembentukan manusia Indonesia seutuhnya. Oleh karena itu guru dituntut untuk menjadi panutan masyarakat. Guru tidak hanya diperlukan oleh siswa diruang kelas, tetapi juga diperlukan oleh masyarakat lingungannya dalam menyelesaikan aneka ragam permasalahan yang dihadapi masyarakat. Lebih lanjut lagi, Peters mengemukakan bahwa ada tiga tugas dan tanggung jawab pokok seorang guru, yaitu : ”Guru sebagai pengajar, guru sebagai pembimbing dan sebagai administrator kelas”.56 Guru sebagai pengajar lebih menekankan pada tugas dalam merencanakan dan melaksanakan pengajaran. Guru tidak hanya menyampaikan materi pelajaran tetapi juga menanamkan konsep berpikir. Bahkan lebih dari itu guru perlu mengubah perilaku siswa sehigga terbentuk sikap kepribadian. Tugas ini memberikan aspek pendidikan sebab tidak hanya berkenaan dengan penyampaian ilmu pengetahuan tetapi juga menyangkut perkembangan kepribadian dan pembentukan nilai-nilai.
56

Cece Wijaya dan Tabrani Rusyan. Op. Cit., Hal. 23.

43

Guru sebagai pembimbing memberi tekanan kepada tugas memberikan bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya. Setiap peserta didik memiliki pribadi yang unik, mereka masing-masing mempunyai ciri dan sifat bawaan serta latar belakang yang berbeda. Permasalahan psikologis yang dihadapinya memerlukan bimbingan sehingga ia dapat memecahkan permasalahannya dengan bimbingan guru. Tugas guru sebagai administrator kelas pada hakekatnya merupakan jalinan antara ketatalaksanakan bidang [engajaran dan ketatalaksanaan pada umumnya. Namun ketatalaksanaan bidang pengajaran lebih menonjol dan lebih diutamakan bagi profesi guru. Sejalan dengan pendapat Peters, maka Amstrong membagi tugas dan tanggungjawab guru ke dalam lima kategori : Tanggung jawab dalam pengajaran

a.

Tanggung jawab dalam memberikan

bimbingan b. Tanggung jawab dalam mengembangkan

kurikulum c. profesi d. Tanggung jawab dalam membina Tanggung jawab dalam mengembangkan

hubungan dengan masyarakat.57 Berkaitan dengan itu, Dirjen Dikdasmen secara lebih rinci mengemukakan tugas dan tanggung jawab seorang guru.yang mencangkup : a. Membuat program pengajaran / rencana kegiatan belajar

mengajar
57

Ibid/, hal. 25.

44

b. c. d. e.

Membuat satuan pelajaran (persiapan mengajar) Melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Melaksanakan kegiatan [enilaian catur wulan / tahunan Mengisi daftar nilai siswa

f. Melaksanakan analisis hasil evaluasi belajar g.Menyusun dan melaksanakan program perbaikan dan pengajaran h.Melaksanakan kegiatan membimbing siswa dalam kegiatan proses belajar mengajar i. Membuat alat pelajaran j. Menciptakan karya seni k.Mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum l. Melaksanakan tugas tertentu di sekolah m. Mengadakan pengembangan setiap bidang pengajaran yang

menjadi tanggung jawabnya n.Membuat lembar kerja siswa o.Membuat catatan kemajuan hasil belajar masing-masing siswa p.Meneliti daftar hadir siswa sebelum memulai pelajaran q.Mengatur ruang kelas.58 Tugas-tugas tersebut biasannya telah diketahui oleh seorang guru yang pada akhirnya tergantung kepada guru tersebut apakah dapat memahami dan menerapkan dalam kegiatan belajar mengajar atau tidak. Dan hal ini juga menjadi tolak ukur dari keberhasilan seorang kepala sekolah sebagai pemimpin guru. Oleh karena itu kepala sekolah dituntut untuk dapat melaksanakan tugas-tuganya dengan segala kemampuan

58

Dirjen Dikdasmen, Direktorat Sarana Pendidikan. 1993. Pedoman Pengelolaan Administrasi Administrasi Sekolah. Jakarta : Depdikbud, hal. 6.

45

dan pengetahuannya dengan efektif. Keefektifan pelaksanaan tugas kepala sekolah itu ditunjukkan oleh keberhasilan dalam meningkatkan kinerja guru.

II.D. Penilaian Terhadap Kualitas Guru ”Penilaian berasal dari kata-kata yang berarti sesuatu yang dapat diukur atau pengukuran” Dengan demikian, kalau melakukan sesuatu penilaian, maka harus ada objek yang dinilai. Penilaian yang baik adalah oenilaian yang bersifat objektif, yaitu apa adanya. Guru yang berkualitas adalah ” guru yang memiliki syarat-syarat kepribadian dan syarat-syarat kemampuan keguruan”59 Besar kecilnya kemampuan seorang guru sangat tergantung pada kemampuan masing-masing. Adapun kemampuan-kemampuan tersebut terdiri dari : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Menguasai landasan-landasan pendidikan Menguasai bahan pelajaran Kemampuan mengelola kelas Kemampuan mengelola proses belajar mengajar Kemampuan mengelola interaksi belajar mengajar Kemampuan menggunakan media atau sumber belajar Menilai hasil belajar Memahami prinsip-prinsip dan hasil penelitian untuk keperluan

penjgajaran 9. 10. mengenal fungsi dan program bimbingan dan penyuluhan mengenal dan menyelenggarakan administrasi pendidikan60

Ada tiga komponen penting dalam proses pembelajaran yang digunakan untuk mengukur keberhasilan guru dalam emnjalankan tugasnya. Ketiga komponen itu

59

Husen Dendasuro. 1987. Pembinaan Evaluasi Pengajaran. Jakarta : Lembaga Penelitian IKIP Jakarta , hal. 11. 60 Ibid., hal. 15 – 16.

46

mencakup dalam hal yang meliputi ”persiapan mengajar guru, pelaksanaan mengajar, dan antar pribadi / komunikasi”.61 Dengan mengadakan evaluasi terhadap ketiga komponen akan diperoleh data yang dipakai untuk memperbaiki kegiatan berikutnya. Adapun penjelasannya sebagai berikut : 1.Persiapan mengajar Pada Dasarnya untuk mencapai suatu dimulai denga suatu perencanaan. Demikian pula dalam proses belajar mengajar. Sebelum pelajaran dimulai, seorang guru harus membuat persiapan mengajar lebih dahulu agar proses pembelajaran berjalan dengan lancar dan tercapai suatu tujuan yang telah ditentukan secara maksimal. Adapun hal-hal yang harus dimiliki guru dalam membuat persiapan mengajar adalah : a. Merencanakan pengorganisasian bahan pengajaran b. Merencanakan pengelolaan kegiatan belajar mengajar c. Merencanakan pengelolaan kelas d. Merecanakan media serta sumber pelajaran e. Merencanakan penilaian prestasi siswa Bila semua hal tersebut telah dilaksanakan maka persiapan mengajar guru telah dilaksanakan dengan baik. 2. Pelaksanaan Mengajar Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar harus dipertimbangkan mengenai penerapan metode mengajar yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang hendak dicapai. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan mengenai penerapan metode mengajar dalam pelaksanaan proses belajar mengajar yaitu : a. Faktor tujuan pengajaran yang akan dicapai
61

R. Soeganda Poerbakawatja. 1990. Ensiklopedia Pendidikan.Jakarta : Gunung Agung.

47

b. Faktor materi pelajaran yang akan dicapai c. Faktor fasilitas yang tersedia d. Faktor guru sebagai pelaksanaan pengajaran e. Faktor waktu yang tersedia untuk mengajar Metode mengajar yang dilaksanakan di sekolah antara lain metode ceramah, diskusi, tanya jawab, dan sebagainya. 3. Hubungan antar pribadi / komunikasi Komunikasi sebagai suatu istilah dalam pendidikan yang berarti bahwa pendidiknya (guru orang tua) dan anak didiknya (siswa, anak) tercapai suatu hubungan yang memungkinkan pendidik menyalurkan bahan-bahan pendidikannya (nilai-nilai) kepada anak didiknya. Komunikasi ini merupakan gejala dalam proses identifikasi. Dari pengertian di atas, di mana guru berhadapan dengan siswa kedua belah pihak saling mengidentifikasi suatu titik temu adanya saling mengerti. Dengan demikian adanya suatu hubungan batin, suatu komunikasi yang mungkin diadakan suatu dialog komunikasi terjadi jika dalam proses identifikasi kedua belah pihak saling mendekati dan mencapai suatu moment dalam proses pendidikan. Moment adalah yang membuka jalan untuk dilangsungkannya dialog. Dengan demikian identifikasi merupakan suatu moment dalam proses pendidikan yang sangat penting dan menjadi suatu keharusan bagi seorang pendidik untuk melakukannya bila berhasil dalam proses belajar mengajar. Selain komunikasi harus berjalan, juga perlu diperhatikan bagi para guru agar dapat memberikan respon kepada siswa secara positif. Upaya-upaya yang dilakukan guru dalam memberikan respon yang positif adalah dengan memberikan cara-cara sebagai berikut :

48

a. Memotivasi siswa dari materi yang disajikan b. Mengadakan pretest dari materi yang telah disajikan pada pertemuan sebelumnya c. Mereview materi pelajaran yang telah diberikan kepada siswa pada pertemuan yang telah disajikan sebelumnya Dengan diadakannya hal seperti ini maka diharapkan sekali para peserta didik secara kreatif dan aktif selama proses belajar berlangsung. Untuk meningkatkan kualitas mengajar guru, diperlukan beberapa keterampilan yang perlu diterapkan dalam proses belajar mengajar. Keterampilan tersebut adalah : a. Keterampilan memberi penguatan Penguatan adalah “respon terhadap suatu tingkah laku yang dapat meningkatkan kemungkinan berulangnya kembali tingkah laku tersebut”62 Seorang guru perlu menguasai keterampilan memberikan penguatan karena penguatan merupakan dorongan bagis siswa untuk meningkatkan perhatiannya. Penguatan dapat diberikan dalam bentuk verbal, yaitu berupa kata-kata pujian dan nonverbal berupa mimik dan gerakan badan. b. Keterampilan mengadakan variasi Variasi dalam kegiatan adalah “perubahan dalam proses kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan motivasi siswa serta mengurangi keenuhan dan kebosanan”63

62 63

Wardani, I. G. K. 1998. Pemantaoan Kemampuan Mengajar. Jakarta : Universitas Terbuka, hal. 27. Ibid., hal. 30.

49

Variasi dalam proses belajar mengajar dapat dikelompokkan menjadi tiga yaitu : 1. 2. Variasi dalam gaya mengajar Variasi dalam penggunaan media dan bahan

pelajaran 3. c. Variasi dalam pola interaksi dan kegiatan

Keterampilan menjelaskan Menjelaskan adalah “pengorganisasian materi pelajaran

dalam tata urutan yang terencana secara sistematis sehingga dengan mudah dapat dipahami oleh siswa”64. Dalam menjelaskan pelajaran, guru hakekatnya guru memperhatikan kejelasan. Media belajar repetisi dan pendekatan terhadap hal yang penting, sehingga mudah dimengerti oleh siswa. d. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran

Membuka pelajaran mencakup hal-hal berikut ini, yaitu : 1. 2. 3. Menarik perhatian dengan berbagai cara Menimbulkan motivasi memberikan acuan dan mengemukakan tujuan

Menutup pelajaran mencakup hal-hal berikut ini yaitu : 1. 2. 3. rumah e. Keterampilan mengelola kelas Merangkum dan meringkas Mengadakan evaluasi memberikan tindak lanjut berupa pekerjaan

64

Ibid., hal. 32.

50

Keterampilan mengelola kelas adalah ”keterampilan dalam menciptakan kondisi yang optimal guna terjadinya proses menciptakan kondisi optimal guna terjadinya proses pembelajaran yang selalu efektif.65 Keterampilan mengelola kelas terdiri dari : 1. 2. 3. f. Bersosialisasi Penyelesaian masalah yang ada penggunaan humor

Keterampilan bertanya Menurut Bola Abimanyu, keterampilan bertanya dapat

dibagi menajdi dua : 1. keterampilan bertanya adalah dasar. Dengan

komponen-komponennya

mengungkapkan

pertanyaan secara singkat dan jelas., pemberian acuan, pemusatan perhatian, penyebaran pertanyaan. 2. keterampilan bertanya lanjut dengen komponen-

komponennya mengubah tuntutan tingkah kognitif dalam menjawab pertanyaan pengaturan pertanyaan dari yang sederhana ke yang kompleks.66 Jadi dengan demikian dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan penilaian terhadap kualitas mengajar guru adalah penilaian yang dilakukan siswa terhadap tinggi rendahnya mutu guru dalam memberikan pelajaran. Adapun faktor-faktor yang dinilai adalah:
65 66

Kosasi R. 1992. Keterampilan Mengelola Kelas. Jakarta : Departemen P dan K, hal. 17. Bola Abimanyu. Keterampilan Bertanya dan Lanjutan. Jakarta : P2LPTK, hal. 19.

51

1.

Membuka pelajaran terhdiri dari perhatian

mengulang pelajaran materi yang akan dibahas dan tujuan pelajaran. 2. Menjelaskan terdiri dari kejelasan, media

belajar, repetisi, dan penekanan hal penting. 3. 4. Bertanya dengan jelas, singkat, dan waktu. Variasi terdiri dari metode mengajar, interaksi di

dalam kelas. 5. Mengelola kelas ; kondisi optimal, sosialisasi

penyelesaian masalah dan humor 6. Penutup pelajaran ; membuat kesimpulan ,

evaluasi dan tindak lanjut.

II.A.2.Hakekat Pretasi Belajar II.A.2.a. Pengertian Pretasi Belajar Prestasi belajar siswa sangat penting bagi siswa, guru maupun sekolah. Oleh karena itu, penentuan prestasi belajar atas siswa dapat dilihat menurut segi kepentingan dari masing-masing elemen yang ada di sekolah. Bagis siwa, prestasi belajar dapat dijadikan tolak ukur atas kemampuan dan keberhasilannya dalam menyerap segala pengetahuan dan keterampilan yang telah dilakukannya. Prestasi belajar ini erupakan suatu indikator dan dapat dijadikan acuan tentang seberapa jauh pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan sebeleumnya telah dimiliki untuk dapat mengupayakan penginkatannya. Prestasi merupakan suatu indikator dari perkembangan dan kemajuan siswa atas penguasaannya terhadap bahan pelajaran yang telah diberikan guru kepada siswa.

52

Hal ini sesuai dengan pendapat yang dikemukakan oleh Nasrun Harahap dkk, yang dikutip oleh Syaiful Bahri tentang pengertian perstasi : Prestasi adalah penilaian pendidikan tentang perkembangan dan kemajuan murid yang berkenaan dengan penguasaan bahan pelajaran yang disajikan kepada mereka serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. 67 Perstasi merupakan hasil penilaian pendidikan atas perkembangan dan kemajuan siswa dalam belajar. Prestasi menunjukkan hasil dari pelaksanaan kegiatan yang diikuti siswa di sekolah. Kegiatan belajar yang diikuti siswa dapat diukur melalui penguasaan materi yang diajarakan guru serta nilai-nilai yang terdapat dalam kurikulum. Pendapatan selanjutnya dikemukakan oleh Thursan Hakim menyatakan bahwa : Belajar dapat didefinisikan sebagai proses perubahan di dalam kepribadian manusia dan perubahan tersebut ditampakkan dalam bentuk peningkatan kualitas dan kuantitas tingkah laku seperti penginkatan kecakapan, pengetahuan, sikap, kebiasaan, pemahaman, keterampilan, daya pikir, dan lain-lain kemampuannya.68 Belajar merupakan proses belajar dari perkembangan hidup manusia. Dengan belajar, manusia melakukan perubahan-perubahan kualitas individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Semua aktivitas dan prestasi hidup menusia tidak lain adalah hasil belajar. Dari pemahaman tentang pengertian prestasi dan belajar di atas, maka dapatlah ditarik kesimpulan bahwa prestasi belajar siswa merupakan hasil yang dicapai dari aktivitas atau kegiatan belajar siswa. Lebih lanjut Syaiful Bahri mengemukakan pendapatnya tentang prestasi belajar sebagai berikut : ”Prestasi belajar adalah hasil
67

Syaiful Bahri Djamarah. 1994. Prestasi Belajara dan Kompetensi Guru. Surabaya: Ushana Nasional, hal. 22. 68 Thursan Hakim. 2001. Belajar Secara Efektif. Jakarta : Puspa Swarsa, hal. 1.

53

yang diperoleh berupa kesan – kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari kativitas belajar.69 Prestasi belajar merupakan hasil yang berupa kesan-kesan akibat adanya perubahan dalam diri individu dari kegiatan belajar yang dilakukannya. Perubahan yang dicapai dapat berbentuk kecakapan, tingkah laku, ataupun kemampuan yang merupakan akibat dari proses belajar yang dapat bertahan dalam kurun waktu tertentu. Dalam melakukan aktivitas belajar, tentunya siswa memiliki tujuan dan keguatan yang diikutinya tersebut. Prestasi belajar yang tinggi merupakan tujuan dan akibat dari kegiatan belajar yang masimal atau sebaliknya. Kelengkapan fasilitas belajar memberikan pengaruh yang berarti terhadap prestasi belajar siswa. Siswa yang fasilitas belajaranya lengkap, prestasi belajaranya menjadi lebih baik. Penemuan ini mendukung beberapa pendapat dari Suryabraka yang dikutip oleh Sudarwan Danim mengatakan bahwa : ” Sarana dan fasilitas merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi proses dan hasil belajar”70. Ternyata pula, siswa yang aktivitas belajarnya tinggi, prestasi belajaranya lebih tinggi daripada siswa yang aktivitas belajaranya rendah. Oleh sebab itu aktivitas belajar aktif dan dukungan fasilitas yan lengkap akan mberpengaruh positif dan berarti terhadap prestasi.

II.A.2.b. Faktor-Faktor yang Mempengauhi Prestasi Belajar. Belajar merupakan proses kegiatan untuk mengubah tingkah laku bagi subjek belajar (peserta didik), ternyata banyak faktor yang mempengaruhinya. Berhasil atau tidaknya proses belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yang

69 70

Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit., hal. 23. Sudarwan Danim, Op. Cit., hal, 73.

54

dapat dibagi dalam klariikasi faktor interen (faktor yang berada dalam didir siswa) dan faktor eksteran (faktor yang berasal di luar diri siswa). Sehubungan dengan adanya dua faktor yang mempengaruhi prestasi belajar siswa seperti yang telah disebutka di atas. W.S. Winkef menjelaskan kedua faktor tersebut sebagai berikut : 1. Faktor interen (dalam diri siswa) meliputi : • Faktor intelektual yaitu taraf intelegensi, kemampuan belajar, cara belajar. • Faktor non intelektual yaitu motivasi belajar, sikap, perasaan, kondisi psikis. 2. Faktor eksteren (luar diri siswa) terdiri dari : • Faktor pengatur proses belajar dan pengelompokkan siswa • Faktor sosial disekolah yang terdiri dari sistem sekolah, status sosial siswa, interaksi guru dengan siswa dan sebagainya • Faktor situasional yang terdiri dari keadaan politik ekonomi, waktu, tempat dan keadaan musim.71 Dalam kaitannya denan kaitan belajar siswa, peranan gurupun sangat menentukan terhadap keberhasilan belajar siswa. Guru merupakan faktor penting dalam menunjang prestasi belajar siswa. Dalam hal ini guru harus memperhatikan kemampuan anak didik dan mengatur tingkat penguasaan materi pelajaran pada siswa. Oleh karena itu guru berperan besar terhadap peningkatan kemampuan anak didik, dengan kemampuan – kemampuan yang dimilikinya serta pengalamannya dapat mengarahkan dan membimbing para siswa secara baik untuk meningkatkan prestasi belajarnya.

71

W.S. Winkel. 1987. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pengajaran. Jakarta : Gramedia, hal. 43.

55

Menurut L B. Kinnning, studi tentang pembinaan anak didik agar dapat meningkatkan prestasi belajar dapat ditempuh dengan jalan : 1. 2. Mengadakan perencanaan secara kooperatif dengan anak didik Mengembangkan kepemimpinan dan tanggungjawab pada anak

didik 3. Membina prosedur belajar di kelas secara demokratis,

mengorganisir kegiatan belajar secara kelompok, dan memberikan kesempatan bekerjasama. 4. Memberikan partisipasi secara luas dalam berbagai kegiatan

edukatif sesuai dengan kesanggupan anak didik sendiri 5. Memberikan kesempatan buah untuk perpikir kritis dalam dalam

mengembangkan

pikiran

sendiri,

terutama

mengemukakan dan menerima pendapat. 6. Menciptakan kesempatan untuk mengembangkan sikap yang

dikehendaki secara sosiologis, psikologis dan biologis.72 Upaya yang dapat dilaksanakan oleh sekolah atau guru ntuk meningkatkan prestasi belajar menurut A. Tabrani Rausyan antara lain : 1. Menciptakan suasana belajar yang dapat merangsang aktivitas

belajar peserta didik 2. 3. 4. 5. 6.
72 73

Mengoptimalkan hasil belajar Memberikan contoh yang baik Menjelaskan tujuan belajar secara nyata Menginformasikan hasil-hasil yang dicapai peserta didik Memberikan penghargaan atas prestasi yang dicapai73

H.S. Koswara. Op. Cit., hal. 162. A. Tabrani Rausyan, dkk. Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Remaja Karya, hal. 6.

56

Dengan upaya-upaya tersebut diharapkan akan adapat meningkatkan perestasi belajar yang optimal. Akan tetapi upaya ataupun yan dilakukan oleh beberapa pihak secara maksimal, tidak akan membuat hasil jika daris siswa itu sendiri tidak ada kesadaran bahwa belajar adalah merupakan kebutuhan dan juga tanggung jawab. Oleh karena itu kesadaran harus dimunculkan dengan berbagai macam motivasi, agar semangat belajar senantiasa dapat

dipertahankan dan bahkan ditingkatkan. II.A.2.c.Evaluasi Hasil Belajar dan Pengolahan Nilai. Evaluasi adalah “suatu proses berkelanjutan tentang pengumpulan dan penafsiran informasi untuk menilai keputusan-keputusan yang dibuat dalam merancang suatu sistem pengajaran”74. Rumusan itu mempunyai tiga implikasi, yaitu sebagai berikut : Pertama, evaluasi adalah suatu proses yang terus menerus, bukan hanya kahir pengajaran, tetapi dimulai sebelum dilaksanakannya pengajaran sampai degan berakhirnya pengajaran. Kedua, proses evaluasi senantiasa diarahkan ke tujuan tertentu, yakni untuk mendapatkan jawaban-jawaban tentang bagaimana memperbaiki pengajaran. Ketiga, evaluasi menuntut penggunaan alat-alat ukur yang akurat dan bermakna untuk mengumpulkan informasi yang dibutuhkan guna membuat keputusan. Dengan demikian, evaluasi merupakan proses yang berkenaan dengan pengumpulan informasi yang memungkinkan kita menentukan tingkat kemajuan pengajaran dan bagaimana berbuat baik pada waktu-waktu mendatang.
74

Oemar Hamalik. 2002. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem. Jakarta : Bumi Aksara, hal. 210.

57

Keberhasilan kemajuan belajar peserta didik memerlukan data otentik yang dapat dipercaya serta memiliki keabsahan. Tentunya, setiap kegiatan yang berkenaan dengan prestasi peserta didik menjadi topik pembicaraan khusus dikalangan para penyelenggara pendidikan. Karena kemajuan peserta didik merupakan fakto yang sangat vital bagi perkembangan dan berlangsungnya proses pendidikan. Salah satu sasaran pendidikan adalah menghasilkan lulusan yang berkualitas. Tinggi rendahnya kualitas pendidikan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satu yang berpengaruh adalah penilaian yang dilakukan oleh guru atau lembaga pendidikan yang memenuhi persyaratan validitas dan reabilitas penilaian. Itu sebabnya sebelum memutuskan penilaian harus dimulai oleh pengukuran. Pengertian pengukuran menurut Wond dan Brown adalah sebagai berikut : “ Measurement means the act of process of sustainging the extent or quantity of something”.75 Jadi pengukuran menurut Wond and Brown adalah suatu tindakan atau proses untuk menentukan luas atau kuantitas daripada sesuatu. Setelah diukur baru disimpulkan yang disebut penilaian. Rumusan penilaian menurut Wond and Brown adalah : “Evaluation refer to the act or process to determining the value of something”.
76

Jadi yang dimaksud dengan

evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menetukan nilai daripada sesuatu. Dengan demikian penilaian pendidikan agar objektif dimulai dari pengukuran yang bersifat kuantitas, kemudian diolah dan disimpulkan secara kualitas.
75 76

Ibid., hal. 164. Ibid., hal. 164.

58

“Alat penilaian ada dua, yaitu test dan non test. Bila dilihat dari jumlah siswa dapat dibedakan menjadi sua jenis, yaitu test individual dan tes kelompok. Bila ditinjau dari hasil penyusunan tes dapat dibedakan menjadi tes buatan dan tes standar.77 Bentuk tes yang sering dipakai dalam proses belajar mengajar pada hakikatnya dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok : 1) tes lisan, 2) tes tertulis, 3) tes perbuatan / tindakan.78 Bentuk tes tertulis ecara umum dapat dibagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu : a. Tes essay, adalah tes yang berbentuk pertayaan tertulis yang jawabannya merupakan kerangka (essay) atau kalimat yang panjang – panjang. b. Tes objektiv, adalah tes yang dibuat sedemikian rupa sehingga hasil tes dapat dinilai secara objektiv, dinilai oleh siapapun akan menghasilkan nilai yang sama.79 Jenis-jenis tes objektif terdiri dari hal-hal sbegaai berikut : 1. The False, yaitu bentuk tes yang item-item nya berupa statmentstatmen, ada statment yang benar dan ada statment yang salah. Anak didik disuruh memilih mana statment yang benar dan mana yang salah. 2. Multiple Choice, yaitu bentuk soal yang terdidri dari statmen yang belum lengkap, dan untuk melengkapinya disediakan pilihan (option) dan distractor atau pengeceoh. 3. Matching atau menjodohkan, yaitu bentuk soal yang terdiri dari dua kolom
77 78

yang paralel dimana masing-masing kolom berisi

Ibid., hal. 86. Harjanto, Op. Cit., hal. 279. 79 Ibid.

59

uraian dan anak didik disuruh menjodohkan uraian disebelah kiri dengan pasangannya disebelah kanan. 4. Completion atau melengkapi. Alat penilaian yang termasuk non test seperti observasi, wawancara, eventory, studi kasus, chek list, dan lain sebagainya.80 Beberapa prinsip dasar yang harus diperhatikan dalam menyusun test hasil belajar tersebut antara lain : a. Tes hendaknya dapat mengukur secara jelas hasil belajar yang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. b. Mengukur sampel yang representatif dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang dijarakan. c. Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benar-benar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai dengan tujuan. d. Dirancang sesuai dengan kegunaannua untuk memperoleh hasil yang diinginkan.81 Selanjutnya dalam melakukan pengolahan hasil belajar dapat dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu : 1. 2. Pengolahan hasil tes pada penilaian fomatif Penilaian hasil tes pada penilaian sumatif82

Untuk lebih jelasnya pengolahan sebagai hasil belajar sebagai berikut : 1. Pengolahan hasil tes pada penilaian formatif Penilaian formatif yang dilaksanakan pada akhir setiap satuan pelajaran bertujuan untuk memeberikan umpan balik bagi guru, yaitu :
80 81

H. S. Koswara, Op. Cit., hal. 164. Harjanto, Op. Cit., hal. 283. 82 Ahmad Rohan. 1995. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta, hal. 182.

60

Pertama : untuk mengetahui sampai dimana penguasaan peserta didik [ada umumnya atas bahan atau materi pelajaran yang disajikan dalam satuan pelajaran itu. Kedua : Untuk mengetahui sampai dimana penguasaan setiak peserta didik setelah menyelesiakan proses belajar nya pada satuan pelajaran itu. 2. Pengolahan hasil tes pada penilaian sumatif Untuk pengolahan hasil tes pada penilaian sumatif dapat dilakukan melalui dua jenis pendekatan : • • Pengolahan berdasarkan ukuran mutlak Pengolahan berdasarkan ukuran relatif83

Pengolahan dengan pendekatan yang berdasarkan ukuran mutlak : Pengolahan skor mentah dengan ukuran mutlak dalam standar atau skala 10 dengan mempergunakan ketentuan / rumus :

Skor real Skor akhir = ------------ X 10 = ......................... Skor Ideal Pengolahan dengan pendekatan yang berdasarkan ukuran relatif : Pengolahan berdasarkan ukuran relatif ini ditujukan untuk menilai atau mengukur prestasi seseorang dibandingkan dengan nilai prestasi rata-rata dari kelompoknya. Dengan kata lain : pengolahan yang berdasrakan ukuran relatif menentukan kedudukan peserta didik masing-masing di dalam kelasnya.

83

Ibid., hal. 190.

61

II.B. Kerangka Konseptual Dalam kegiatan belajar siwa selalu meninginkan hasil yang maksimal atau mendapatkan haisl belajar yang tinggi. Hasil beajar yang tinggi didapat melalui proses, bukan hanya bisa mengetahui saja tetapi siswa harus bisa menganalisa sampai mensisntesa suatu pelajaran. Dan untuk mencapaianya banyak faktor – faktor yang mempengaruhi seperti faktor yang datang dari diri siswa dan dari luar siswa tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar yang berasal dari diri seperti IQ, kesehatan, fisik snagat besar pengaruhnya ditabah lagi faktor-faktor yang datang dari luar siswa seperti lingkungan sekolah, guru, lingkungan teman bergaul, ataupun lingkungan keluarga tidak kalah pentingnya dalam menunjang prestasi belajar siswa. Lebih khusus di sekolah atau di dalam kelas guru memegang oeranan penting dalam mendidik dan mengajar agar tujuan dan terget dari kurikulum dapat tercapai dengan baik. Guru harus memperhatikan siswa demi siswa dalam perkembangan belajarnya. Dan peran guru dapat dlihat dalam memperhatikan, membimbing siswa yang merasa kurang atau memberikan perhatian bagis siswa yang beprestasi baik. Hal ini semua bertujuan agara siswa merasa diperhatikan tanpa adanya pembedaan antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya. Oleh karena itu seorang guru harus dapat menguasai kelas agar tidak ada salah persepsi siswa kepad aguru yang bertugas hanya mengajar saja tanpa memperhatikan proses iswa dalam belajar. Perhatian guru yang tinggi dengan memberikan dorongan berbentuk non materi ataupun materi seperti pujian, hukuman, hadia, merupakan suatu dinamika dalam mendidik dan emngajar sehingga siswa menajdi terpacu untuk mendapatkan prestasi belajar yang tinggi. Begitu besarnya pengaruh guru dalam mencapai prestasi belajar yang tinggi karena guru merupakan sososk manusia yang harus menjadi idola siswa nya. Ini

62

berarti setiap bentuk yang diberikan guru akan selalu dikerjakan karena siswa sudah merasa terikat psikologis dengan gurunya. Tugas dan tanggungjawab guru berkaitan erat sekali dengan kemampuan yang disyaratkan untuk memangku jabatan sebagai guru sehingga ia dapat menjalankan tugasnya dengan baik. Dari kondisi di atas maka kompetensi guru akan dapat mempengaruhi perstasi belajar siswa. Berikut merupakan bagan dalam pengaruh kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa :

Tinggi

Tinggi

Kompetensi guru

Proses belajar mengajar

Prestasi Belajar

Rendah

Rendah

II.C. Hipotesis Dari landasan teoritik dan kerangka konseptual di atas maka peneliti mengambil dugaan sementara bahwa ada pengaruh kompetensi mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa pada SMK Gutama Jakarta Timur.

63

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian di SMK Gutama di Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. 2. Waktu penelitian dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Desember 2007 s /d Februari 2008, dengan melalui tahapan sebagai berikut Jadwal Penelitian NO Tanggal 1 05-06-2007 2 19-06-2007 3 17-07-2007 4 21-08-2007 Tahap Penelitian Tahap Persiapan Tahap Pengumpulan Data Tahap Pengolahan dan Analisis Data Tahap Penulisan dan Hasil Penelitian Tanda Tangan

B. Populasi dan Sampel Penelitian Pada penelitian ini populasi adalah seluruh siswa SMK Gutama sebanyak 300 siswa. Sampel penelitian ini ditentukan sejumlah 30 orang yang ditarik secara acak sederhana (Simple Random Sampling) dari populasi penelitian dengan melalui undian. Dengan teori 30/300 =0,1 %.1

64

Nawawi pengantar metodologi penelitian(1983:152)

C. Metode Penelitian Setiap kegiatan tidak akan terlepas dari metode, baik dalam penyusunan maupun dalam pengambilan data yang dibutuhkan. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode expost facto, perlakuan terhadap variabel telah terjadi, penelitian meneliti dengan cara melihat kebelakang dengan mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap variabel yang diamati.

D. Teknik Pengumpulan Data Ada dua bentuk yang dilakukan di dalam penelitian ini yaitu : kompetensi mengajar guru (variabel x) atau variabel yang mempengaruhi dan pretasi belajar siswa (variabel y) atau variabel yang dipengaruhi. Variabel kompetensi guru diukur dengan menggunakan alat angket atau kuesioner yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun secara sistematis. Dan prestasi belajar siswa dengan menggunakan studi dokumentasi yaitu mengambil nilai rata-rata raport semester I, dan hasil pengukuran tersebut dapat ditentukan hubungan kedua variabel yaitu kompetensi guru dengan prestasi belajar siswa SMK Gutama, Jakarta Timur.

E. Instrumen Penelitian

65

1.

Teknik pemilihan instrumen Angket ditujukan kepada siswa SMK Gutama, Jakarta Timur. Daftar

pernyataan yang dibuat terdiri dari satu bagian. Yaitu untuk menjaring data tentang kompetensi guru. Sedang untuk menjaring data prestasi belajar murid dengan mengguanakan dokumen sekolah berupa data-data nilai rata-rata semester I. Instrumen yang digunakan adalah angket / kuesioner. Angket yang digunakan tergolong dalam angket tertutup / langsung, dimana responden sudah disediakan jawaban alternatif. Responden tinggal memilih jawaban dengan memberi tanda chek (✔) pada tempat yang telah disediakan. Adapun jawaban yang disediakan pada masing-masing angket terdapat lima kategori pilihan jawaban mengacu pada skala LICKRET: - Selalu - Sering - Kadang – Kadang - Pernah - Tidak pernah ( S1) ( Sr) ( Kd) ( P) ( TP)

Masing-masing kategori mempunyai skor : - Selalu - Sering - Kadang-kadang - Pernah - Tidak pernah :5 :4 :3 :2 :1

2.

Teknik penyusunan instrumen

66

Untuk memperoleh data tentang kompetensi guru, digunakan angket (kuesioner) tertutup. Sedang studi dokumentasi digunakan untuk

mengumpulkan data mengenai nilai-nilai raport bayangan siswa kelas II pada tahun ajaran 2007 / 2008. Angket yang dirancang dan digunakan dalam penelitian ini dibuat berdasarkan indikator-indikator dari variabel kompetensi guru. Kisi-kisi instrumen dapat dijabarkan sebagai berikut : Kisi-kisi Instrumen Variabel X (Manajemen Sarana Pendidikan) Variabel Bebas (X) Kompetensi guru a. b. c. d. e. f. Deskriptor Keterampilan memberikan penguatan Keterampilan mengadakan variasi Keterampilan menjelaskan Keterampilan membuka dan menutup pelajaran Keterampilan mengelola kelas Keterampilan bertanya Nomor Item 1,5,6,18,19,24,26,29,30 3,12,13,14,25 2,7 4,16,17 10,11,15,20,21,22,23,27,28 8,9

F. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Untuk mengetahui persyaratan dalam menggunakan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson, maka terlebih dahulu diuji validasi dan reliabilitasnya. 1. Uji Validitas Dalam penelitian ini uji validitas menggunakan rumus Product Moment dari Karl Pearson sebagai berikut : Rumus korelasi product moment yaitu :84
84

Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan ( Jakarta : Rineka Cipta, 1990), hal. 191.

67

n.∑ xy – (∑ x) (∑y) rxy = ----------------------------------√(n . ∑ x2 – (∑x)2 ( n. ∑y2-(∑y)2 Keterangan : rxy = Koefisien korelasi antara kualitas guru dengan pretasi belajar siswa n = Jumlah sampel penelitian ∑x = Jumlah skor item variabel X ∑y = Jumlah skor variabel Y ∑xy = Hasil kali antara variabel x dan variabel y 2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas, yakni pengujian terhadap ketetapan atau knsistensi. Dalam penelitian ini reliabilitasnya akan mengguanakan rumus elah dua SPEARMAN BROWN R11 = 2.rb ---------- 85 1 + rb

Keterangan : R11 = Nilai koefisien reliabilitas rb = Nilai koefisien r ganjil genap Hasil uji coba reliabilitas akan dikonsultasikan pada tabel interpretasi r. G. Teknik Analisis Data a. Koefisien Korelasi Product Moment Dari Pearson Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kedua variabel denggan menggunakan rumus product moment dari Karl Parson :

n.∑ xy – (∑ x) (∑y) rxy =
85

-----------------------------------

Ibid., hal. 202.

68

√(n . ∑ x2 – (∑x)2 ( n. ∑y2-(∑y)2 X Y = Skor variabel kualitas mengajar guru = Skor variabel prestasi belajar siswa

Setelah diketahui nilai rhitung maka dikonsultasikan dengan rtabel product moment dan dilanjutkan dengan mencari koefisien hipotesis.

b. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t yaitu untuk mencari nilai hitung t menggunakan rumus : r√-2 --------√1-r2 n r = Jumlah responden = Nilai koefisien korelasi variabel x dan y

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Jika thitung > ttabel, Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh yang significant kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa. Jika thitung > ttabel, Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada pengaruh yang significant kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa.

c. Koefisien Determinasi Untuk megetahui berapa besar konstribusi kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa digunakan rumus koefisien determinasi sebagai berikut : KD KD = rxy2 x 100 % = Koefisien Determinasi

rxy = Koefisiensi korelasi antara variabel X dan Y

69

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

H. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian di SMK Gutama di Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. 2. Waktu penelitian dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Desember 2007 s /d Februari 2008, dengan melalui tahapan sebagai berikut Jadwal Penelitian NO Tanggal 1 05-06-2007 2 19-06-2007 3 17-07-2007 4 21-08-2007 Tahap Penelitian Tahap Persiapan Tahap Pengumpulan Data Tahap Pengolahan dan Analisis Data Tahap Penulisan dan Hasil Penelitian Tanda Tangan

I. Populasi dan Sampel Penelitian Pada penelitian ini populasi adalah seluruh siswa SMK Gutama sebanyak 300 siswa. Sampel penelitian ini ditentukan sejumlah 30 orang yang ditarik secara acak sederhana (Simple Random Sampling) dari populasi penelitian dengan melalui undian. Dengan teori 30/300 =0,1 %.1

70

Nawawi pengantar metodologi penelitian(1983:152)

J. Metode Penelitian Setiap kegiatan tidak akan terlepas dari metode, baik dalam penyusunan maupun dalam pengambilan data yang dibutuhkan. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode expost facto, perlakuan terhadap variabel telah terjadi, penelitian meneliti dengan cara melihat kebelakang dengan mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap variabel yang diamati.

K. Teknik Pengumpulan Data Ada dua bentuk yang dilakukan di dalam penelitian ini yaitu : kompetensi mengajar guru (variabel x) atau variabel yang mempengaruhi dan pretasi belajar siswa (variabel y) atau variabel yang dipengaruhi. Variabel kompetensi guru diukur dengan menggunakan alat angket atau kuesioner yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun secara sistematis. Dan prestasi belajar siswa dengan menggunakan studi dokumentasi yaitu mengambil nilai rata-rata raport semester I, dan hasil pengukuran tersebut dapat ditentukan hubungan kedua variabel yaitu kompetensi guru dengan prestasi belajar siswa SMK Gutama, Jakarta Timur.

L. Instrumen Penelitian 1. Teknik pemilihan instrumen

71

Angket ditujukan kepada siswa SMK Gutama, Jakarta Timur. Daftar pernyataan yang dibuat terdiri dari satu bagian. Yaitu untuk menjaring data tentang kompetensi guru. Sedang untuk menjaring data prestasi belajar murid dengan mengguanakan dokumen sekolah berupa data-data nilai rata-rata semester I. Instrumen yang digunakan adalah angket / kuesioner. Angket yang digunakan tergolong dalam angket tertutup / langsung, dimana responden sudah disediakan jawaban alternatif. Responden tinggal memilih jawaban dengan memberi tanda chek (✔) pada tempat yang telah disediakan. Adapun jawaban yang disediakan pada masing-masing angket terdapat lima kategori pilihan jawaban mengacu pada skala LICKRET: - Selalu - Sering - Kadang – Kadang - Pernah - Tidak pernah ( S1) ( Sr) ( Kd) ( P) ( TP)

Masing-masing kategori mempunyai skor : - Selalu - Sering - Kadang-kadang - Pernah - Tidak pernah :5 :4 :3 :2 :1

2.

Teknik penyusunan instrumen

72

Untuk memperoleh data tentang kompetensi guru, digunakan angket (kuesioner) tertutup. Sedang studi dokumentasi digunakan untuk

mengumpulkan data mengenai nilai-nilai raport bayangan siswa kelas II pada tahun ajaran 2007 / 2008. Angket yang dirancang dan digunakan dalam penelitian ini dibuat berdasarkan indikator-indikator dari variabel kompetensi guru. Kisi-kisi instrumen dapat dijabarkan sebagai berikut : Kisi-kisi Instrumen Variabel X (Manajemen Sarana Pendidikan) Variabel Bebas (X) Kompetensi guru g. h. i. j. k. l. Deskriptor Keterampilan memberikan penguatan Keterampilan mengadakan variasi Keterampilan menjelaskan Keterampilan membuka dan menutup pelajaran Keterampilan mengelola kelas Keterampilan bertanya Nomor Item 1,5,6,18,19,24,26,29,30 3,12,13,14,25 2,7 4,16,17 10,11,15,20,21,22,23,27,28 8,9

M. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Untuk mengetahui persyaratan dalam menggunakan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson, maka terlebih dahulu diuji validasi dan reliabilitasnya. 1. Uji Validitas Dalam penelitian ini uji validitas menggunakan rumus Product Moment dari Karl Pearson sebagai berikut : Rumus korelasi product moment yaitu :86
86

Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan ( Jakarta : Rineka Cipta, 1990), hal. 191.

73

n.∑ xy – (∑ x) (∑y) rxy = ----------------------------------√(n . ∑ x2 – (∑x)2 ( n. ∑y2-(∑y)2 Keterangan : rxy = Koefisien korelasi antara kualitas guru dengan pretasi belajar siswa n = Jumlah sampel penelitian ∑x = Jumlah skor item variabel X ∑y = Jumlah skor variabel Y ∑xy = Hasil kali antara variabel x dan variabel y 2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas, yakni pengujian terhadap ketetapan atau knsistensi. Dalam penelitian ini reliabilitasnya akan mengguanakan rumus elah dua SPEARMAN BROWN R11 = 2.rb ---------- 87 1 + rb

Keterangan : R11 = Nilai koefisien reliabilitas rb = Nilai koefisien r ganjil genap Hasil uji coba reliabilitas akan dikonsultasikan pada tabel interpretasi r. N. Teknik Analisis Data d. Koefisien Korelasi Product Moment Dari Pearson Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kedua variabel denggan menggunakan rumus product moment dari Karl Parson :

n.∑ xy – (∑ x) (∑y) rxy =
87

-----------------------------------

Ibid., hal. 202.

74

√(n . ∑ x2 – (∑x)2 ( n. ∑y2-(∑y)2 X Y = Skor variabel kualitas mengajar guru = Skor variabel prestasi belajar siswa

Setelah diketahui nilai rhitung maka dikonsultasikan dengan rtabel product moment dan dilanjutkan dengan mencari koefisien hipotesis.

e. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t yaitu untuk mencari nilai hitung t menggunakan rumus : r√-2 --------√1-r2 n r = Jumlah responden = Nilai koefisien korelasi variabel x dan y

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Jika thitung > ttabel, Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh yang significant kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa. Jika thitung > ttabel, Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada pengaruh yang significant kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa.

f. Koefisien Determinasi Untuk megetahui berapa besar konstribusi kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa digunakan rumus koefisien determinasi sebagai berikut : KD KD = rxy2 x 100 % = Koefisien Determinasi

rxy = Koefisiensi korelasi antara variabel X dan Y

75

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

O. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat penelitian di SMK Gutama di Kelurahan Kebon Pala, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. 2. Waktu penelitian dilakukan selama 3 bulan mulai bulan Desember 2007 s /d Februari 2008, dengan melalui tahapan sebagai berikut Jadwal Penelitian NO Tanggal 1 05-06-2007 2 19-06-2007 3 17-07-2007 4 21-08-2007 Tahap Penelitian Tahap Persiapan Tahap Pengumpulan Data Tahap Pengolahan dan Analisis Data Tahap Penulisan dan Hasil Penelitian Tanda Tangan

P. Populasi dan Sampel Penelitian Pada penelitian ini populasi adalah seluruh siswa SMK Gutama sebanyak 300 siswa. Sampel penelitian ini ditentukan sejumlah 30 orang yang ditarik secara acak sederhana (Simple Random Sampling) dari populasi penelitian dengan melalui undian. Dengan teori 30/300 =0,1 %.1

76

Nawawi pengantar metodologi penelitian(1983:152)

Q. Metode Penelitian Setiap kegiatan tidak akan terlepas dari metode, baik dalam penyusunan maupun dalam pengambilan data yang dibutuhkan. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan metode expost facto, perlakuan terhadap variabel telah terjadi, penelitian meneliti dengan cara melihat kebelakang dengan mengetahui kemungkinan pengaruhnya terhadap variabel yang diamati.

R. Teknik Pengumpulan Data Ada dua bentuk yang dilakukan di dalam penelitian ini yaitu : kompetensi mengajar guru (variabel x) atau variabel yang mempengaruhi dan pretasi belajar siswa (variabel y) atau variabel yang dipengaruhi. Variabel kompetensi guru diukur dengan menggunakan alat angket atau kuesioner yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun secara sistematis. Dan prestasi belajar siswa dengan menggunakan studi dokumentasi yaitu mengambil nilai rata-rata raport semester I, dan hasil pengukuran tersebut dapat ditentukan hubungan kedua variabel yaitu kompetensi guru dengan prestasi belajar siswa SMK Gutama, Jakarta Timur.

S. Instrumen Penelitian 1. Teknik pemilihan instrumen

77

Angket ditujukan kepada siswa SMK Gutama, Jakarta Timur. Daftar pernyataan yang dibuat terdiri dari satu bagian. Yaitu untuk menjaring data tentang kompetensi guru. Sedang untuk menjaring data prestasi belajar murid dengan mengguanakan dokumen sekolah berupa data-data nilai rata-rata semester I. Instrumen yang digunakan adalah angket / kuesioner. Angket yang digunakan tergolong dalam angket tertutup / langsung, dimana responden sudah disediakan jawaban alternatif. Responden tinggal memilih jawaban dengan memberi tanda chek (✔) pada tempat yang telah disediakan. Adapun jawaban yang disediakan pada masing-masing angket terdapat lima kategori pilihan jawaban mengacu pada skala LICKRET: - Selalu - Sering - Kadang – Kadang - Pernah - Tidak pernah ( S1) ( Sr) ( Kd) ( P) ( TP)

Masing-masing kategori mempunyai skor : - Selalu - Sering - Kadang-kadang - Pernah - Tidak pernah :5 :4 :3 :2 :1

2.

Teknik penyusunan instrumen

78

Untuk memperoleh data tentang kompetensi guru, digunakan angket (kuesioner) tertutup. Sedang studi dokumentasi digunakan untuk

mengumpulkan data mengenai nilai-nilai raport bayangan siswa kelas II pada tahun ajaran 2007 / 2008. Angket yang dirancang dan digunakan dalam penelitian ini dibuat berdasarkan indikator-indikator dari variabel kompetensi guru. Kisi-kisi instrumen dapat dijabarkan sebagai berikut : Kisi-kisi Instrumen Variabel X (Manajemen Sarana Pendidikan) Variabel Bebas (X) Kompetensi guru m. n. o. p. q. r. Deskriptor Keterampilan memberikan penguatan Keterampilan mengadakan variasi Keterampilan menjelaskan Keterampilan membuka dan menutup pelajaran Keterampilan mengelola kelas Keterampilan bertanya Nomor Item 1,5,6,18,19,24,26,29,30 3,12,13,14,25 2,7 4,16,17 10,11,15,20,21,22,23,27,28 8,9

T. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Untuk mengetahui persyaratan dalam menggunakan teknik korelasi product moment dari Karl Pearson, maka terlebih dahulu diuji validasi dan reliabilitasnya. 1. Uji Validitas Dalam penelitian ini uji validitas menggunakan rumus Product Moment dari Karl Pearson sebagai berikut : Rumus korelasi product moment yaitu :88
88

Suharsini Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan ( Jakarta : Rineka Cipta, 1990), hal. 191.

79

n.∑ xy – (∑ x) (∑y) rxy = ----------------------------------√(n . ∑ x2 – (∑x)2 ( n. ∑y2-(∑y)2 Keterangan : rxy = Koefisien korelasi antara kualitas guru dengan pretasi belajar siswa n = Jumlah sampel penelitian ∑x = Jumlah skor item variabel X ∑y = Jumlah skor variabel Y ∑xy = Hasil kali antara variabel x dan variabel y 2. Uji Reliabilitas Uji reliabilitas, yakni pengujian terhadap ketetapan atau knsistensi. Dalam penelitian ini reliabilitasnya akan mengguanakan rumus elah dua SPEARMAN BROWN R11 = 2.rb ---------- 89 1 + rb

Keterangan : R11 = Nilai koefisien reliabilitas rb = Nilai koefisien r ganjil genap Hasil uji coba reliabilitas akan dikonsultasikan pada tabel interpretasi r. U. Teknik Analisis Data g. Koefisien Korelasi Product Moment Dari Pearson Untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara kedua variabel denggan menggunakan rumus product moment dari Karl Parson :

n.∑ xy – (∑ x) (∑y) rxy =
89

-----------------------------------

Ibid., hal. 202.

80

√(n . ∑ x2 – (∑x)2 ( n. ∑y2-(∑y)2 X Y = Skor variabel kualitas mengajar guru = Skor variabel prestasi belajar siswa

Setelah diketahui nilai rhitung maka dikonsultasikan dengan rtabel product moment dan dilanjutkan dengan mencari koefisien hipotesis.

h. Pengujian Hipotesis Pengujian hipotesis dilakukan dengan uji t yaitu untuk mencari nilai hitung t menggunakan rumus : r√-2 --------√1-r2 n r = Jumlah responden = Nilai koefisien korelasi variabel x dan y

Dengan kriteria pengujian sebagai berikut : Jika thitung > ttabel, Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti ada pengaruh yang significant kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa. Jika thitung > ttabel, Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti tidak ada pengaruh yang significant kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa.

i. Koefisien Determinasi Untuk megetahui berapa besar konstribusi kompetensi guru terhadap prestasi belajar siswa digunakan rumus koefisien determinasi sebagai berikut : KD KD = rxy2 x 100 % = Koefisien Determinasi

rxy = Koefisiensi korelasi antara variabel X dan Y

81

BAB IV ANALISIS DATA, PEMBAHASAN DAN HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data Pada bab ini akan di paparkan bagian pokok mengenai deskripsi analisis data dan interprestasi hasil penelitian. Data penelitian ini terdiri dari dua variabel yaitu variabel bebas (x) dan variabel terikat (y). variabel bebas adalah pengaruh kompetensi mengajar guru, sedangkan variabel terikat adalah prestasi belajar siswa. Jumlah subjek penelitian yang datanya telah memenuhi sarat untuk di analisa adalah 30 orang, pada SMK Gutama Jakarta Timur. Setelah penulis menghitung jumlah skor yang di dasarkan dari jawaban guru pada angket, maka penulis akan menyajikan hasil tersebut pada tabel I untuk hasil variabel pangaruh kompetensi mengajar guru (variabel x) B. Pengujian Persyaratan Statistik 1. Uji validasi Uji validasi instrumen menggunakan uji validasi butir dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment dari Karl Pearson. Dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Definisi konsep butir isntrument secara optimal sehingga dapat diukur. 2. Tentukan jumlah sample sebagai responden, dalam penilitan ini sampel yang digunakan untuk uji validasi sebanyak 20 responden. 3. Tabulasi hasil jawaban responden

82

4. Kolom butir soal yang sama dari seluruh responden yang telah mengisi angket mewakili nilai skoor variabel X. Sedangkan nilai skor total untuk seluruh butir soal mewakili nilai variabel Y. tetapkan validasi isntrument soal dengan menggunakan rumus korelasi Product Moment. 5. Instrumen ditetapkan valid atau tidak valid diukur dengan membandingkan perolehan nilai jaringan dan nilai jaringan maka butir soal dinyatakan valid.

TABEL 1 Tabulasi Data Hasil Uji Coba Instrumen Variabel X (Kompetensi Mengajar)

83

X
No 1 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 J 3 2 1 3 3 3 5 4 3 3 3 5 3 3 3 5 3 5 1 1 62 2 5 3 3 5 5 2 5 4 4 3 2 5 2 2 3 3 3 5 5 5 74 3 4 1 3 4 4 2 5 2 5 3 2 5 2 2 2 4 4 5 4 3 66 4 4 3 4 5 5 3 3 4 5 4 2 5 2 2 2 5 5 5 3 3 74 5 3 1 1 4 5 4 5 2 1 3 2 4 2 2 2 4 4 4 1 1 55 6 3 1 3 5 5 1 5 3 4 4 5 5 5 5 5 3 3 5 5 5 80 7 4 1 2 4 4 3 3 2 5 4 2 4 2 3 3 5 3 5 3 3 65 8 3 3 3 5 5 3 5 3 5 3 5 4 3 2 3 3 3 4 2 2 69 9 3 2 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 2 3 4 4 4 3 4 4 68 10 2 2 3 4 4 3 3 2 2 5 2 3 3 3 2 3 4 4 1 3 58 11 4 3 4 5 5 3 5 3 5 4 3 4 3 3 5 4 4 5 4 5 81 12 2 3 2 4 4 3 4 2 3 5 3 4 3 3 3 4 3 3 1 3 62 13 3 1 3 4 4 1 5 2 3 4 3 3 3 3 3 3 4 5 4 4 65 14 3 5 2 5 4 1 5 2 3 4 3 4 3 3 2 5 4 4 3 5 70 Nomor Item 15 3 3 4 5 4 3 5 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 5 3 4 73 16 4 3 3 5 4 5 5 4 5 4 3 5 3 3 4 4 4 5 3 4 80 17 4 3 3 4 5 5 5 2 4 4 3 5 3 3 3 4 3 5 5 4 77 18 4 3 3 4 5 3 5 4 4 4 3 5 3 4 3 3 4 5 4 4 77 19 3 3 3 5 4 3 5 3 5 4 3 4 3 2 3 3 3 4 2 3 68 20 3 2 3 5 4 2 4 3 4 5 2 5 2 3 4 4 3 5 3 4 70 21 3 2 3 5 5 5 5 3 5 4 5 4 5 5 5 4 3 5 4 5 85 22 2 1 2 5 5 2 5 2 4 3 3 3 3 3 4 5 4 4 1 4 65 23 2 1 2 5 5 2 5 2 4 3 3 3 3 3 4 5 4 4 1 4 65 24 3 2 3 4 5 3 5 5 4 4 4 4 3 4 4 5 3 4 2 4 75 25 3 2 3 5 5 2 3 3 5 3 2 4 2 3 2 4 3 4 3 5 66 26 3 2 1 5 5 3 5 3 4 3 1 2 2 3 5 4 1 4 2 5 63

Y
Skor 27 3 3 3 4 4 2 4 2 5 4 3 3 3 2 2 4 2 5 4 4 66 28 2 3 3 5 5 3 5 4 4 3 4 3 3 4 3 4 3 5 3 5 74 29 3 4 2 4 3 4 3 3 4 4 3 5 3 3 2 5 4 5 1 5 70 30 1 3 3 5 4 3 4 3 4 4 4 5 4 5 5 4 3 4 3 5 76 Total 92 73 82 135 132 83 135 88 121 115 88 123 85 91 99 119 101 16 86 115 2099

84

TABEL 2 Perhitungan Validasi Butir Instrumen Variabel X
Butir 1 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 X 3 2 1 3 3 3 5 4 3 3 3 5 3 3 3 5 3 5 1 1 62 Y 92 73 82 135 132 83 135 88 121 115 88 123 85 91 99 119 101 136 86 115 2099 X2 9 4 1 9 9 9 25 16 9 9 9 25 9 9 9 25 9 25 1 1 222 Y2 8464 5329 6724 18225 17424 6889 18225 7744 14641 13225 7744 15129 7225 8281 9801 14161 10201 18496 7396 13225 228549 XY 276 146 82 405 396 249 675 352 363 345 264 615 255 273 297 595 303 680 86 115 6772 Butir 2 No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 X 5 3 3 5 5 2 5 4 4 3 2 5 2 2 3 3 3 5 5 5 74 Y 92 73 82 135 132 83 135 88 121 115 88 123 85 91 99 119 101 136 86 115 2099 X2 25 9 9 25 25 4 25 16 16 9 4 25 4 4 9 9 9 25 25 25 302 Y2 8464 5329 6724 18225 17424 6889 18225 7744 14641 13225 7744 15129 7225 8281 9801 14161 10201 18496 7396 13225 228549 XY 460 219 246 675 660 166 675 352 484 345 176 615 170 182 297 357 303 680 430 575
8067

R xy =

(n.Σx
rxy =

n. Σxy 2

− ( Σx )

( Σx )( Σy )
2

) (n.Σy

2

− ( Σy )

2

)

135440 − 130138 (596 ) . (165199 )
= 0,5344 = 5302 = 0,5344 9922

=

5302 98446684

=

161340

− 155326

(564 ) . (165179 )

=

6014 93160956

=

6014 = 0, 623 9651

Berdasarkan hasil hitungan diperoleh hasil bahwa seluruh butir item instrumen variabel kompetensi mengajar guru adalah valid, karena nilai rhitung > rtabel dimananya sebesar 0,360

85

TABEL 3 Tabulasi validitas Butir Instrumen Variabel X No. butir Instrumen 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 2. Uji Reliabilitas Data Uji reabilitas data menggunakan uji teknik belah dua Spearman Brown, dengan Langkah-langkah sebagai berikut : 1. Butir soal yang dinyatakan valid kemudian di belah menjadi dua bagian yaitu kelompok ganjil dan genap. Koefisien Korelasi 0.534 0.623 0.771 0.599 0.736 0.519 0.757 0.707 0.602 0.550 0.795 0.637 0.711 0.586 0.432 0.724 0.581 0.718 0.773 0.866 0.486 0.689 0.832 0.659 0.762 0.681 0.669 0.688 0.485 0.487 Keterangan Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid Valid

Hasil perhitungan validasi butir instrumen variabel X

86

2. Jawaban tiap kelompok dibobot sehingga menghasilkan score total tiap item soal. Score yang diperoleh adalah score kelompok ganjil dan score kelompok genap. 3. Score total kelompok ganjil mewakili nilai score X dan kelompok genap mewakili nilai score Y. 4. Buat tabel penolong sehingga terdapat kolom skor niali X, Y, Xy, X2, dan Y2. 5. Cari skor nilai Σ X, Σ Y, Σ XY, Σ X2, dan Σ Y2 6. Cari nilai koefisien korelasi dengan rumus Pearson Product Moment. Hasilnya nilai koefisien itu dibuat dengan istilah r ganjil genap = rxy = rb 7. Nilai koefisien r ganjil genap = rxy = rb. Itu baru merupakan nilai reabilitas setengah isntrumen penelitian atau setengah dari seluruh butirbutir soal. 8. Reabilitas seluruh intrumen harus dicari dengan bantuan rumus Spearman Brown dan menghasilkan nilai koefisien dan dikenal dengan istilah koefisien r11 dengan rumus :
R 11 = 2.r b 1 + rb

score total

9. Bila koefisien Spearman Brown atau rn sudah dihasilkan, maka bandingkan dengan nilai r tabel 10. Tetapkan kesimpulan dengan ketentuan bahwa, jika koefisien r hitung (koefisien Spearman Brown atau r11) lebih besar dari rtabel maka soal realibel. Sebaliknya jika koefisien rhitung lebih kecil dari rtabel maka soal tidak reliable. Perhitungan dilakukan seteliti mungkin untuk mencegah kesalahan.

87

TABEL 4 Skor Nilai Soal Ganjil

No Subyek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 J

Nilai item 1 3 2 1 3 3 3 5 4 3 3 3 5 3 3 3 5 3 5 1 1 62 3 4 1 3 4 4 2 5 2 5 3 2 5 2 2 2 4 4 5 4 3 66 5 3 1 1 4 5 4 5 2 1 3 2 4 2 2 2 4 4 4 1 1 55 7 4 1 2 4 4 3 3 2 5 4 2 4 2 3 3 5 3 5 3 3 65 9 3 2 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 2 3 4 4 4 3 4 4 68 11 4 3 4 5 5 3 5 3 5 4 3 4 3 3 5 4 4 5 4 5 81 13 3 1 3 4 4 1 5 2 3 4 3 3 3 3 3 3 4 5 4 4 65 15 3 3 4 5 4 3 5 4 4 4 3 3 2 3 3 4 4 5 3 4 73 17 4 3 3 4 5 5 5 2 4 4 3 5 3 3 3 4 3 5 5 4 77 19 3 3 3 5 4 3 5 3 5 4 3 4 3 2 3 3 3 4 2 3 68 21 3 2 3 5 5 5 5 3 5 4 5 4 5 5 5 4 3 5 4 5 85 22 2 1 2 5 5 2 5 2 4 3 3 3 3 3 4 5 4 4 1 4 65 23 2 1 2 5 5 2 5 2 4 3 3 3 3 3 4 5 4 4 1 4 65 25 3 2 3 5 5 2 3 3 5 3 2 4 2 3 2 4 3 4 3 5 66 27 3 3 3 4 4 2 4 2 5 4 3 3 3 2 2 4 2 5 4 4 66 29 3 4 2 4 3 4 3 3 4 4 3 5 3 3 2 5 4 5 1 5 70

Skor Total 48 32 40 65 64 42 67 40 61 55 43 60 41 43 46 62 52 69 44 55 1029

88

TABEL 5 SKOR NILAI SOAL GENAP Y
No Subyek 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 J

Nomor Item
2 5 3 3 5 5 2 5 4 4 3 2 5 2 2 3 3 3 5 5 5 7 4 4 4 3 4 5 5 3 3 4 5 4 2 5 2 2 2 5 5 5 3 3 7 4 6 3 1 3 5 5 1 5 3 4 4 5 5 5 5 5 3 3 5 5 5 8 0 8 3 3 3 5 5 3 5 3 5 3 5 4 3 2 3 3 3 4 2 2 6 9 9 3 2 3 4 4 3 4 3 3 4 3 4 2 3 4 4 4 3 4 4 6 8 1 0 2 2 3 4 4 3 3 2 2 5 2 3 3 3 2 3 4 4 1 3 5 8 1 2 2 3 2 4 4 3 4 2 3 5 3 4 3 3 3 4 3 3 1 3 6 2 1 4 3 5 2 5 4 1 5 2 3 4 3 4 3 3 2 5 4 4 3 5 7 0 1 6 4 3 3 5 4 5 5 4 5 4 3 5 3 3 4 4 4 5 3 4 8 0 1 8 4 3 3 4 5 3 5 4 4 4 3 5 3 4 3 3 4 5 4 4 7 7 2 0 3 2 3 5 4 2 4 3 4 5 2 5 2 3 4 4 3 5 3 4 7 0 2 2 2 1 2 5 5 2 5 2 4 3 3 3 3 3 4 5 4 4 1 4 6 5 2 4 3 2 3 4 5 3 5 5 4 4 4 4 3 4 4 5 3 4 2 4 7 5 2 6 3 2 1 5 5 3 5 3 4 3 1 2 2 3 5 4 1 4 2 5 6 3 2 8 2 3 3 5 5 3 5 4 4 3 4 3 3 4 3 4 3 5 3 5 7 4 30 1 3 3 5 4 3 4 3 4 4 4 5 4 5 5 4 3 4 3 5 76

Skor
Total 44 41 42 70 68 41 68 48 60 60 45 63 44 48 53 57 49 67 42 60 1070

89

TABEL 6 Perhitungan Reliabilitas Belah Dua Ganjil Genap

No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 J

X 48 32 40 65 64 42 67 40 61 55 43 60 41 43 46 62 52 69 44 55 1029

Y 44 41 42 70 68 41 68 48 60 6 45 63 44 48 53 57 49 67 42 60 1070

X2

Y2

2304 1024 1600 4225 4096 1764 4489 1600 3721 3025 1849 3600 1680 1849 2116 3844 2704 4761 1936 3025 55213

1936 1681 1764 4900 4324 1681 4624 2304 3600 3600 2025 3969 1936 2304 2809 3249 2401 4489 1764 3600 59260

XY 2112 1312 1680 4550 4352 1722 4556 1920 3660 3300 1935 3780 1804 2064 2438 3534 2548 4623 1848 3300 57038

R xy =

(n.Σx

n. Σxy 2

− ( Σx )

( Σx )( Σy )
2

) (n.Σy

2

− ( Σy )

2

)
2

=

(20(55213)

20 (57068 ) - (1091 )(1070 ) − (1091 )
2

) (20 (59260

− (1070 )

)

=

(1104260

1140760 − 1058841

- 1101030

)(1185200

−1144900

)

=

39730 ( 45419 ) . ( 40300

)

=

39730 1830385700

=

39730 = 0,92 42783 ,00714

R 11 =

2.r b 1 + rb

90

=

2 0 2 . ,9 1 +0 2 ,9

=

1,8 4 = 0,9 8 5 1,9 2

Dari hasil perhitungan diperoleh nilah rhitung sebesar 0,958 sedangkan rtabel sebesar 0,377. rhitung > rtabel, maka isntrumen variable kompetensi mengajar guru ( X ) memiliki reabilitas sangat tinggi.

TABEL 7

91

Tabulasi Data Hasil Angket Tentang Pengaruh Kompetensi mengajar Guru di SMK Gutama Jakarta Timur
TOTAL SKOR 16 4 5 2 4 4 3 2 3 5 5 4 2 5 3 4 4 4 3 3 2 4 3 5 5 3 3 5 3 2 4 17 4 5 3 2 4 5 2 4 4 3 4 4 3 3 2 4 5 5 3 4 4 5 3 3 5 4 3 4 5 5 18 5 3 2 2 5 2 4 5 4 4 3 4 5 3 3 5 4 5 5 3 5 4 5 5 4 5 4 3 4 3 19 4 5 2 4 4 5 2 3 5 4 4 2 3 5 4 4 4 4 5 4 3 5 4 4 4 5 5 5 4 5 20 4 5 2 3 3 5 3 4 3 4 4 3 3 3 4 3 4 5 4 4 4 4 4 4 5 4 4 4 4 4 81 81 62 65 75 76 68 76 75 78 74 78 60 78 79 80 80 79 79 78 80 82 78 81 81 78 81 81 81 81

NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

1 4 2 5 4 3 4 5 3 4 3 4 4 4 4 4 5 3 4 4 3 3 5 4 4 5 5 5 5 4 3

2 3 4 2 5 2 4 3 2 4 3 5 4 2 5 5 4 2 4 4 5 4 4 3 4 4 3 4 5 5 4

3 5 4 4 2 4 2 5 3 3 5 5 4 3 3 4 5 5 4 4 5 5 4 3 4 4 4 4 4 5 5

4 4 5 3 4 3 4 4 4 2 3 3 3 3 4 3 4 4 3 4 3 4 4 4 5 4 3 5 5 5 4

5 4 5 3 3 3 2 4 5 2 5 3 5 3 4 4 4 4 2 5 3 4 5 4 4 4 3 4 5 4 5

6 5 3 5 3 4 5 5 3 4 5 2 2 4 4 4 5 5 5 2 5 5 4 4 4 4 4 5 4 5 4

7 3 2 2 2 4 3 5 2 4 2 4 4 3 4 3 5 3 4 4 3 5 4 5 5 5 4 4 3 4 5

8 4 4 2 4 5 3 3 5 5 4 4 3 5 4 5 3 4 4 5 5 3 5 4 5 4 5 4 5 4 3

SKOR JAWABAN SISWA 9 10 11 12 13 14 15 5 5 2 3 3 5 5 4 5 5 5 4 4 2 5 4 4 3 3 2 4 2 3 5 3 5 3 3 3 3 3 5 5 5 3 5 4 4 2 4 5 5 4 2 2 4 3 3 5 5 4 4 4 3 5 5 3 3 2 5 5 5 3 5 3 4 4 5 3 4 5 4 4 3 3 2 5 4 2 2 4 4 2 3 4 4 3 4 5 2 5 5 3 5 5 3 4 5 5 3 4 5 3 4 5 3 2 5 5 4 3 5 5 4 3 3 3 5 5 5 3 4 5 4 3 3 4 4 3 5 4 3 5 4 3 4 5 4 4 5 2 2 5 5 4 3 5 5 3 2 2 5 5 4 5 2 3 2 4 5 5 4 2 3 2 4 5 5 5 3 2 2 5 4 5 5 3 2 5 2 5 4 4 5 4 5 3 2 2 4 4 5 5 2 3 4 3 5 4 5 3 4 3 4 5 4 4 4 2 3

92

TABEL 8 Data Hasil Penelitian tentang Kompetensi Mengajar Guru Di SMK KWK Jakarta Timur
RESPONDEN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 X 81 81 62 65 75 76 68 76 75 78 74 78 60 78 79 80 80 79 79 78 80 82 78 81 81 78 81 81 81 81

Sumber : Data Diolah Dari Hasil Angket

93

TABEL 9 Data Hasil Penelitian tentang Kompetensi Mengajar Guru Di SMK GUTAMA Jakarta Timur (Variabel Y)
RESPONDEN 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 X 7,6 7,6 5,7 6,6 7,0 7,1 6,3 7,1 7,1 7,3 6,9 7,3 5,5 7,3 7,4 7,5 7,5 7,4 7,4 7,3 7,5 7,7 7,3 7,6 7,6 7,3 7,6 7,6 7,6 7,6

Sumber : Nilai Raport Siswa Mid Semester Ganjil Th. Pelajaran 2007 – 2008

Mengetahui Kepala Sekolah SMK Gutama Jakarta Timur

(Drs. Much Slamet)

94

TABEL 10 Perhitungan Korelasi Product Moment No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 Responden 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 ∑ X 97 105 103 103 95 109 105 103 111 109 105 101 100 98 106 105 104 105 102 112 104 115 110 102 102 104 95 101 102 99 3112 Y 6,50 7,10 7,00 6,80 6,50 7,10 6,90 6,80 7,50 7,30 7,40 6,50 6,40 6,20 7,10 7,30 6,00 6,70 6,60 7,40 6,90 7,70 7,20 6,60 6,50 6,80 6,10 6,30 6,50 6,60 204,3 Y2 42,25 50,41 49 46,24 42,25 50,41 47,61 46,24 56,25 53,29 54,76 42,25 40,96 38,44 50,41 53,29 36 44,89 43,56 54,73 47,61 59,29 51,84 43,56 42,25 46,24 37,21 39,69 42,25 43,56 1396,7 323469 7 X2 9409 11025 10609 10609 9025 11881 11025 10609 12321 11881 11025 10201 10000 9604 11236 11025 10816 11025 10404 12544 10816 13224 12100 10404 10404 10816 9025 10201 10404 9801 XY 630,5 745,5 721 700,4 617,5 773,9 724,5 700,4 832,5 795,7 111 656,5 640 607,6 752,6 766,5 624 703,5 673,2 828,8 717,6 885,5 792 673,2 663 707,2 579,5 636,3 663 653,4 21242,3

Sumber : Data Diolah Dari Hasil Penelitian

Berdasarkan tabel hasil penelitian di atas pengujian hiptesis dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut : 1. Mencari nilai Koefisien Korelasi Product Momet Dari Pearson

95

R xy =

(n.Σx

n. Σxy 2

− ( Σx )

( Σx )( Σy )
2

) (n.Σy

2

− ( Σy )

2

)

=

(30 ×178210
( 5346300
1624

30 .16849 ,5 - (2306 )( 218 ,5)

− (2306 ) 2 )(30 ×1595 ,05 − (218 ,5) 2 )

=

505485 - 503861 − 5317636

)( 47851 ,5 − 47742

,25 )

=

( 28664 ) (109 ,5)

=

1624 313 .1542
1624 1769 ,6163

=

= 0,918

Analisa perhitungan menggunakan product moment pada 0, 05 menunjukkan r hitung = 0, 918 lebih besar dan r tabel = 0, 361, ini berarti antara variabel kompetensi mengajar guru dengan prestasi belajar siswa pada semester I terdapat hubungan yang significant.

2. Mencari nilai thitung thitung =
r n− 2 1− 2 r
0,9 8 1 3 −2 0
2

=

1 − ,9 8 0 1

96

=

0.9 8 1

2 8

1 − .8 3 0 4

=

0.918 (5.29 ) 0.157
485622

= 0,396232 = 12,26 Perhitungan uji koefisien korelasi t diperoleh thitung sebesar 12, 26 kemudian dengan derajat kebebasan dan taraf nyata diperoleh 0,05, peroleh ttabel sebesar 1, 710 dengan demikian thitung > dari ttabel = 12,26 >1.70. Ini berrati variabel x dan y posistif dan significant.

3. Koefisien Determinasi KD = r2 x 100 % = (0,918)2 x 100 % = 0,84 x 100 % = 84 % Perhitungan determinasi sebesar 84 % artinya, prestasi belajar siswa di SMK Gutama 84 % dipengaruhi oleh kompetensi guru, sedangkan 100 % - 84 % = 16 % di pengaruhi faktor lain.

C. Pembahasan Hasil Penelitian Dari hasil perhitungan menggunakan product moment pada a 0,05 menunjukkan r hitung = 0, 918 lebih besar dari r tabel, yaitu 0, 361 atau 0,918 > 0, 361 serta hasil pengujian korelasi lemah dengan menggunakan uji t diperoleh t hitung lebih besar dari tabel yaitu 12, 26 > 1, 70.

97

Dengan demikian hipotesis yang menyatakan terdapat pengaruh yang positif dan significant antara pengaruh kompetensi mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa dapat diterima. Dari perhitungan koefisien determinasi diatas, nilai KD = 64 %, hal ini menunjukkan bahwa besarnya prestasi belajar siswa di SMK Gutama Jakarta Timur 64% dipengaruhi oleh kompetensi guru. Sedangkan yang 100% - 64% = 36% dipengaruhi oleh faktor-faktor lain.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

98

A. Kesimpulan Berdasarkan pada hasil penelitian, analisis maupun pembahasan yang telah dilakukan. Selanjutnya dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut : 1. Terdapat hubungan yang positif dan significant antara kompetensi mengajar guru dengan prestasi belajar siswa di SMK Gutama Jakarta Timur. Hal ini ditunjukkan oleh hasil perhitungan koefisien korelasi product moment dari Pearson , dimana r = 0,918 2. Dari hasil pengujian hipotesis ternyata thitung lebih besar bila dibandingkan dengan ttabel. Dimana thitung = 12, 26 sedangkan ttabel = 1,701, dengan demikian maka hipotesis nol penelitian ini ditolak dan hipotesis alternatifnya diterima. Atau dengan kata lain, ada pengaruh yang significant dari kompetensi mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa di SMK Gutama Jakarta Timur. 3. Dari hasil penghitungan koefisien determinan di dapat KD = 84 % dengan demikian diambil kesimpulan bahwa pretasi belajar siswa di SMK Gutama Jakarta Timur 84 % dipengaruhi oleh faktor kompetensi mengajar guru, sedangkan 16 % dipengaruhi oleh faktor lain.

B. Saran-Saran Berdasarkan hasilpenelitian tersebut di atas, menghasilkan saran-saran sebagai berikut : 1. Kepada kepala sekolah hendaknya tetap berupaya optimal meningkatkan kompenesi mengajar guru dengan memberikan motifasi dan kesempatan yang

99

luas kepada para guru untuk mengikuti berbagai pelatihan dan pendidikan dengan tugas keguruan. 2. kepada para guru hendaknya senantiasa meningkatkan wawasan

pengetahuannya sehingga dapat menjadi seorang pendidik yang berkualitas dan mampu melaksanakan tugas dan tanggungjawab sebagai seorang guru dengan maksimal. 3. Kepada para siswa disampaikan agar tetap berupaya semaksimal mungkin untuk lebih giat dalam belajar, karena dengan belajar yang giat, maka siswa akan menjadi anak yang cerdas.

100

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->