P. 1
LAPORAN alel ganda1

LAPORAN alel ganda1

|Views: 2,643|Likes:
Published by Tiwi

More info:

Published by: Tiwi on Mar 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/27/2013

pdf

text

original

PENGAMATAN ALEL GANDA

( Laporan Praktikum Mata Kuliah Genetika )

KELOMPOK 8: Chandra Gunawan ( 3415076941) Pratiwi (3415076919)

Laporan Awal

Laporan Akhir

Total

JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA 2009

ALEL GANDA Tujuan 1. Untuk mengenal beberapa sifat keturunan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda. 2. Untuk mengetahui persentase gen alel ganda yang mempengaruhi penampakan rambut pada jari. 3. Untuk mengetahui persentase gen alel ganda yang mempengaruhi golongan darah. 4. Untuk mengetahui letak praktikan di dalam lingkungan silslah keluarga. 5. Untuk mengetahui genotip praktikan berdasarkan pengaruh alel ganda.

Landasan teori

Gen adalah rantai DNA panjang yang terdiri dari banyak pasang nukleotida. Rangkaian nukleotida dalam DNA inilah yang membawa informasi yang terkandung dalam sebuah gen. Perubahan apapun dalam rangkaian nukleotida dalam sebuah gen dapat menghasilkan alel-alel baru, sehingga sebuah gen memiliki potensi untuk memiliki jutaan alel yang berbeda. Alel adalah gen yang menjadi anggota dari sepasang gen yang sama. Masingmasing alel memiliki pengaruh terhadap suatu karakter khusus yang berbeda dengan alel yang lain. Organisme diploid memiliki pasangan-pasangan gen yang masingmasing terdiri dari 2 alel. Hubungan antar alel menentukan fenotip suatu individu. Mendel menyatakan bahwa pada suatu gen terdapat 2 pasang alel yang memiliki hubungan dominan dan resesive. Namun saat ini, telah diketahui bahwa hubungan antar alel tidak terbatas pada hubungan dominan dan resesive saja. Bahkan, alel juga dapat memiliki banyak hubungan antar alel yang berbeda-beda. Alel mutan dapat memberikan fenotip yang beragam, dan bahwa beberapa alel mutan juga dapat menghasilkan fenotip yang lethal. Pada individu heterozigot, yang fenotipnya tidak dapat dibedakan dari homozigot, maka hubungan antar alelnya dibedakan menjadi:

complete dominance Alel yang bertanggung jawab atas fenotip yang muncul pada individu heterozigot, disebut memiliki hubungan complete dominance atas alel yang sifatnya tidak muncul pada individu tersebut. complete recessive Alel yang sifatnya tidak muncul pada individu heterozigot, disebut memiliki hubungan complete recessive terhadap alel yang sifatnya tampak pada fenotip individu tersebut. Contoh: Pada percobaan Mendel, kacang polong homozigot berfenotip biji bulat disilangkan dengan kacang polong homozigot berbiji keriput. Dihasilkan F1 heterozigot dengan fenotip biji bulat. Hal ini berarti alel yang membawa sifat biji bulat complete dominant terhadap alel biji keriput. Demikian sebaliknya, alel biji keriput complete recessive terhadap alel biji bulat. Pada individu dengan fenotip yang tidak serupa seperti individu homozigot, hubungan dominasi antar alel-alelnya dibedakan menjadi: incomplete dominance (atau disebut juga partial dominance) Alel memiliki hubungan ini, jika fenotip yang dihasilkan memiliki sifat intermediet atau sifat antara dari kedua parental yang homozigot. Contoh: pada Mirabilis jalapa, apabila disilangkan homozigot bunga merah dengan homozigot bunga putih, maka F1 yang dihasilkan adalah bunga pink (merah muda), yang merupakan sifat intermediet dari kedua individu parental. over dominance Pada alel yang memiliki hubungan ini, F1 yang dihasilkan dari persilangan dua individu homozigot, memiliki sifat yang lebih ekstrem atau lebih signifikan, jika dibandingkan dengan individu homozigot. Contoh: Pada Arabidopsis thaliana, alel mutan pada gen An, dapat menyebabkan perubahan pada morfologi daunnya. Individu heterozigot untuk alel ini (An an) memiliki daun yang lebih besar dan memiliki berat total tanaman yang lebih, jika dibandingkan dengan tanaman homozigot untuk kedua alel. codomiance Pada alel yang memiliki hubungan ini, F1 yang dihasilkan dari persilangan dua individu homozigot, memiliki kedua sifat fenotip dari kedua alel. Contoh: Pada golongan darah, apabila induknya homozigot dari golongan darah A dan dari golongan darah B, maka F1 yang dihasilkan akan memiliki golongan darah

AB.

Tabel perbedaan dominasi antar alel Dominasi antar Alel Complete dominance Fenotip Heterozigot Sama seperti individu homozigot salah satu alel Incomplete dominance Sifat Overdominance Lebih signifikan jika dibandingkan dengan Codominance individu homozigot kedua alel intermediet dari kedua individu homozigot

Menunjukkan kedua fenotip dari kedua individu homozigot

Salah satu contoh dari alel ganda adalah sifat warna mata pada Drosophila melanogaster. Selain itu, pada tumbuhan tembakau (Nycotiana tabacum) alel ganda muncul pada sifat gen serbuk sari yang menjadi steril dan dapat menghalangi terjadinya fertilisasi antara dua individu yang memiliki kekerabatan yang dekat. Sedangkan pada manusia, alel ganda menentukan sifat pada penggolongan darah. Golongan darah: Semua organisme dengan system imun atau system kekebalan tubuh akan bereaksi terhadap benda asing yang masuk ke dalam aliran darahnya, yaitu dengan cara menghasilkan antibody untuk berikatan dengan antigen. Antigen atau aglutinogen merupakan suatu zat yang berisi beberapa jenis molekul yaitu protein dan glikoprotein. Antigen ini merupakan zat yang diproduksi oleh isoaglutinin dalam eritrosit.

Sedangkan imunoglobulin adalah molekul protein khusus dalam cairan tubuh yang berfungsi sebagai antibody. Untuk memicu pembentukannya, ia akan bergabung dengan senyawa asing yaitu antigen. Imunoglobulin berbeda dengan antibody yang terbentuk secara alami yang telah diprogram secara genetic. Antibodi ini adalah hasil respon kebal atas benda asing yang masuk ke dalam tubuh. Imunoglobulin terdiri dari 20%protein plasma. Imunoglobulin dapat dibagi menjadi lima kelas utama berdasarkan urutan asam aminonya, yaitu IgG, IgM, IgA, IgD, dan IgE. Dan setiap kelas tersebut mempunyai subkelas tersendiri. Contoh: jika sel darah merah manusia disuntikkan ke seekor mamalia (misalnya tikus), maka binatang tersebut akan memproduksi antibody yang berikatan dengan antigen darah manusia yang telah disuntikkan tadi. Kemudian apabila serum darah tikus tersebut diekstrak, maka akan terlihat bahwa didalamnya terkandung antibody tersebut. Bila serum darah tikus tersebut dicampur dengan sample darah manusia, maka antibody yang terdapat didalamnya akan berikatan dengan sel-sel darah manusia, dan perikatan antibody ini akan menyebabkan terjadinya aglutinasi, atau penggumpalan selsel darah. Tiga sistem golongan darah: Pada tahun 1927, Karl Landsteimer menggunakan reaksi aglutinasi ini untuk menentukan dasar genetic dari golongan darah manusia. Karl menemukan bahwa tiap individu dapat digolongkan menjadi salah satu dari 3 tipe golongan darah, yaitu: golongan darah M, MN, dan N. Orang dengan golongan darah M, berarti ia memiliki antigen M pada permukaan sel darahnya, dan membentuk antibody yang berikatan terhadap sel dengan antigen N. Orang dengan golongan darah N, berarti ia memiliki antigen N pada permukaan sel darahnya, dan membentuk antibody yang berikatan terhadap sel dengan antigen M. Sedangkan orang dengan golongan darah MN, berarti ia memiliki kedua antigen pada permukaan sel darahnya, dan tidak membentuk antibody untuk kedua antigen. Serum dari individu MN tidak akan beraglutinasi terhadap sel dari kedua individu N atau M. Namun, serum dari individu M dan N akan beraglutinasi terhadap sel individu MN. Golongan darah MN dihasilkan oleh sebuah gen yang memiliki alel codominant, yaitu LmLⁿ. Sedangkan golongan darah M dihasilkan dari homozigot Lm dan golongan darah N dihasilkan dari homozigot Lⁿ. Anggota dari sebuah allelic series (rentetan alel pada gen yang sama), tidak

selalu menunjukan fenotip yang sama, sedangkan mutan alel dari gen yang lain dapat tampak seperti anggota dari sebuah allelic series yang bukan miliknya. Hal ini menyulitkan dalam melihat apakah sebuah mutasi berasal dari alel dari gen yang sama. Maka dari itu, digunakan genetic test untuk alel, yaitu segregation test. Segregation test, didasari oleh hukum pertama Mendel. Prinsipnya adalah jika kedua alel tersebut berasal dari gen yang sama, maka keduanya akan berpisah ketika terjadi pembelahan dalam pembentukan gamet. Cara melakukan test ini adalah dengan menyilangkan individu heterozigot (dengan mutasi yang ingin diketahui), dan kemudian diteliti genotip dari gametgametnya dan fenotip keturunan yang dihasilkan. Apabila kedua mutasi tersebut adalah hasil dari gen yang sama, maka gamet yang diproduksi oleh F1 heterozigot akan mengandung 1 alel mutan yang diteliti atau 1 alel pasangannya. Namun tidak pernah mengandung keduanya. Jika mutasi tersebut bukan berasal dari sebuah pasangan alel, maka sebagian gamet yang dihasilkan akan mengandung kedua alel dan sebagian lagi sama sekali tidak mengandung alel tersebut. Segregation test digunakan untuk mendemonstrasikan bahwa golongan darah ABO dikendalikan oleh 1 gen dengan alel ganda. Sama seperti pembagian golongan darah MN, ABO juga bekerja dengan system antigen-antibody. Golongan darah ABO juga ditemukan oleh Karl Landsteiner pada tahun 1927. Pada saat itu, banyak kendala yang ditemui ketika melakukan transfusi darah. Si penerima terkadang mengalami reaksi yang fatal terhadap darah yang ditransfusi. Reaksi ini disebabkan oleh reaksi antigen-antibody antara antigen pada sel darah merah pendonor dengan antibody pada serum penerima. Tubuh manusia akan memproduksi zat anti apabila terdapat benda asing yang masuk ke dalam tubuhnya. Pabila zat anti bertemu dengan antigennya maka akan terjadi aglutinasi atau penggumpalan. Tabel sistem golongan darah ABO Golongan Darah Antigen dalam eritrosit Fenotip O A B AB Genotip ii IAIA atau IA i IBIB atau IB i IAIB A B A dan B Anti B Anti A anti-A dan anti-B Zat anti dalam serum/ plasma darah

Antigen ABO diproduksi oleh alel ganda dari 1 gen ( I ) dan 2 alel dari gen ini adalah codominant (I A dan I B). I A memproduksi antigen A dan I B memproduksi antigen B. Dalam gen ini juga terdapat alel recessive yang tidak memproduksi antigen sama sekali, yaitu I° atau i. Selain sistem darah MNSs dan ABO, terdapat pula sistem golongan darah rhesus (Rh). Dinamakan system darah rhesus karena antigen rh mulanya ditemukan pada eritrosit kera Rhesus. Sama halmnya dengan system darah ABO, system system darah Rh juga didasarkan pada aglutinogen yang ada dipermukaan eritrosit. Individu yang mempunyai aglutinogen Rh dinyatakan sebagai Rh+, sedangkan yang tidak mempunyai aglutinogen Rh dinyatakan sebagai Rh-. Pada kondisi normal plasma manusia tidak berisi antibody anti-Rh, Namun jika orang dengan Rh- menerima darah Rh+, anti Rh akan diproduksi dalam plasma. Bila dilakukan transfusi kedua dengan darah Rh+ antibody yang terbentuk terlebih dahulu akan mengikat eritrosit dari donor dan akan terjadi aglutinasi. Ketidakcocokan Rh, biasanya terjadi pada bayi yang baru lahir. Saat proses kelahiran, darah dari janin bisa terjadi kebocoran setelah bayi lahir dan dapat masuk ke dalam aliran darah ibu. Bila janin mempunyai Rh+ dan ibu mempunyai Rh-, maka ibu akan memproduksi kekeblan tubuhnya dengan cara membuat antibody anti rh. Bila ibu hami lagi, anti Rh yang telah dibuat sebelumnya dapat masuk ke dalam aliran darah pada janin. Bila janin mempunyai Rh- maka tidak terjadi masalah yang serius, namun apabila janin mempunya Rh+, maka respon antara antigen dan antibody akan mengakibatkan hemolisis pada eritrosit janin. Yaitu suatu keadaan dimana terjadi perusakan pada membran eritrosit, sehingga terjadi pelepasan Hb ke dalam plasma darah. Keadaan ini disebabkan ketidakcocokan darah janin dengan darah ibi yang disebut dengan eritroblastosisfetalis. Selain pada golongan darah, alel ganda pada manusia juga dapat ditunjukkan dari letak rambut pada ruas tengah jari tangan. Namun, tidak seluruh jari tangan yang dapat ditumbuhi rambut tersebut. Hanya ibu jari saja yang tidak mungkin ditumbuhi rambut. Jika rambut tumbuh pada semua jari, yaitu jari telunjuk, jari tengah, jari manis dan jari kelingking, maka sifat ini ditentukan oleh seri alel ganda H1. Sedangkan jika hanya jari telunjuk yang tidak ditumbuhi rambut, dalam hal ini adalah kelingking, jari manis dan

jari tengah, sifat ini ditentukan oleh seri alel ganda H2. Namun, jika rambut ini hanya tumbuh di jari manis dan jari tengah, maka hal ini menunjukkan pengaruh dari seri alel ganda H3. Jika rambut hanya tumbuh pada jari manis, sifat ini diatur oleh seri alel ganda H4. Dan terakhir, jika tidak satu jaripun yang ditumbuhi oleh rambut itu, maka fenotip ini diatur oleh seri alel ganda 5. Dominan dari alel-alel itu ialah : H1, H2, H3, H4, H5. H1: rambut terdapat pada semua jari. Ibu jari tidak termasuk H2: rambut pada jari kelingking, manis dan tengah H3: rambut pada jari manis dan tengah H4: rambut pada jari manis saja H5: tidak terdapat rambut pada keempat jari

Alat dan bahan Blood lancet Object glass Darah masing-masing Serum anti-A Serum anti-B Serum anti-Rh+

Cara kerja

Percobaan 1: Tiap paraktikan mengamati sisi atas dari jari-jari tangannya masing-masing. Kemudian memperhatikan dengan seksama rambut yang tumbuh pada segmen digitalis

tengah dari jari-jari. Setelah mengamati, lalu menentukan seri alel gandanya. Mencatat hasil yang didapat dari pengamatan. Percobaan 2: Mempersiapkan seluruh alat yang dibutuhkan Kemudian mengambil sampel darah dari setiap praktikan Memeriksa golongan darah setiap praktikan dengan menggunakan serum anti-A, anti-B, dan serum anti-Rh+

Hasil Pengamatan

Tabel hasil pengamatan ada atau tidaknya rambut di ruas jari tengah dan golongan darah:
No. Nama Rambut ruas tengah jari tangan ABO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Chandra Gunawan Pratiwi Santi Fitriani Stefani Smita H. Siti Nurkhasanah Hidayah Muflikhah Hane Citera Sagita Heni Kusumaningrum Rizcha Prawestri Nur Shabrina Noviani Sari Fitriyani H3 H5 H5 H5 H5 H3 H5 H3 H3 H5 H5 H4 B B B B A O O A B O B B Rhe + + + + + + + + + + + + Golongan darah

13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30

Ninesti Handayanai Nuari Purwenda Retno Kusumaningtyas Dwi rahayu Laelatul Rochmah Jajang Nurbiantoro Ervan Nurkholis Chafid Noor A. Rose A. Aryani Irni Yuniar Z. Arvi Kurniawan Bayuni Indriani L. Nany nopianti Maeza Windiarti Cahya Chandra Dina Rahma F. Joko Sutrisno Maria Esa L.

H3 H3 H5 H5 H2 H5 H5 H5 H3 H5 H5 H2 H5 H4 H5 H5 H5 H3

O O O B B O O O A O O B A O A O B A

+ + + + + + + + + + + + + + + + + +

Perhitungan: Rambut di ruas tengah jari tangan Dari hasil percobaan diperoleh: H1= 0 H2= 2 H3= 8 H4= 2 H5= 18

Dari referensi didapatkan data yang diharapkan pada rambut yang berada di ruas tengah jari tangan di wilayan Indonesia adlah sebagai berikut: H1 = 0% H2 = 13 % H3 = 26 % H4 = 8 % H5 = 53 %

Konversi persen ke dalam desimal:

Tabel Perhitungan Chi-Square Rambut di Ruas Tengah Jari Tangan
H1 Diperoleh Diharapkan (e) Deviasi (d) 0 0 0 H2 2 3,9 -1,9 H3 8 7,8 0,2 H4 2 2,4 -0,4 H5 18 15,9 2,1

= 0 + 0,926 + 0,005 + 0,067 + 0,277 = 1,275 Dk= 5-1 = 4 Berdasarkan hasil perhitungan di atas, didapatkan 1,275 terletak diantara 0,70 – 0, 90. Dengan nilai kemungkinannya yang lebih besar dari 0,05, maka data yang diperoleh dari percobaan tersebut terbilang baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Golongan darah sistem ABO dan Rhesus Dari percobaan di atas diperoleh hasil golonagn darah: A= 6 B= 11 AB= 0 O= 13

Sebagai pembanding, diperoleh dari referensi sebagai hasil yang dihaapkan dan digunakan sebagai pembanding:

Golongan darah A = 25 % Golongan darah B = 27 %

Golongan darah AB = 7% Golongan darah O = 41%

Konversi dari persen ke bentuk desimal dari hasil yang diharapkan:

Tabel Perhitungan Chi-Square Penggolongan Darah Sistem ABO Golongan darah A Observed (o) Expected (e) Deviation (d) 6 7,5 -1,5 Golongan darah B 11 8,1 2,9 Golongan darah AB 0 2,1 -2,1 12,3 0,7 Golongan darah O 13

= 0,3 + 1,04 + 2,1 + 0,04 = 3,48

Dk= 4-1 = 3

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, didapatkan 3,48 terletak pada 0,30. Dengan nilai kemungkinannya yang lebih besar dari 0,05, maka data yang diperoleh dari percobaan tersebut terbilang baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Golongan darah Rhesus
Berdasarkan pengamatan kelas, presentasi penggolongan darah sistem Rhesus adalah sebagai berikut :

Rhesus Positif 33 orang Rhesus Negatif 0 orang Sebagai pembanding, presentase golongan darah berdasarkan sistem rhesus yang ada di Indonesia adalah : Rhesus Positif = 80% Rhesus Negatif = 20%

Untuk mengetahui data yang diperoleh tersebut menyimpang atau tidak, maka dilakukan perhitungan chi square (X2). Tabel Perhitungan Chi-Square penggolongan darah sistem Rhesus Rh + Observed (o) Expected (e)* Deviation (d-0,5) 30 24 6 6 -6 Rh 0

X2 =
= 1,5 + 6 = 7,5

dk = 2 – 1 = 1

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, didapatkan 7,5 terletak pada 0,01 - 0,001. Dengan nilai kemungkinannya yang kurang dari 0,05, maka data yang diperoleh dari percobaan tersebut terbilang tidak baik dan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan.

Pembahasan

Berdasarkan data pengamatan pada rambut di ruas tengah tangan yang dilakukan terhadap 30 sampel, terdapat 0 orang yang termasuk ke dalam H1, 2 orang H2, 8 orang H3, 2 orang H4 dan 18 orang H5. Dalam hal ini, data yang diperoleh akan dikaitkan oleh data harapan rata-rata yang dimiliki oleh orang Indonesia yaitu H1 sebesar 0%, H2 sebesar 13%, H3 sebesar 26%, H4 sebesar 8% dan H5 sebesar 53%. Dari data di atas dapat diketahui bahwa frekuensi tidak adanya rambut pada ruas jari

tengah paling banyak ditemui dibandingkan dengan frekuensi pada H1, H2, H3, dan H4. Data tersebut berarti menunjukkan bahwa seri alel ganda pada H5 bersifat dominan dibandingkan dengan seri alel ganda pada tipe lainnya. Jadi, dapat dilihat urutan dominansinya adalah H5>H3>H4=H2>H1. Berdasarkan data yang telah dilakukan perhitungannya, didapatkan bahawa pada percobaan kali ini mengenai rambut yang berada pada ruas tengah jari tangan tidak dipengaruhi oleh adanya faktor lingkungan atau faktor luar. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil perhitungan dengan menggunakan perhitungan chi square yang diperoleh angka sebesar 1,275 dengan nilai deviasi sebesar 4, sehingga menunjukkan posisi nilai kemungkinan yang didapat. Hasill tersebut memberikan arti bahwa data yang diperoleh pada percobaan tersebut baik dan tidak dipengaruhi faktor luar, dengan batas ambangnya sebesar 0,05. Pada pengamatan golongan darah sistem ABO, didapatkan hasil bahwa golongan darah O memeiliki frekuensi paling banyak ditemukan. Hal ini bersesuaian dengan ratarata frekuensi yang diharapkan. Hasil yang diperoleh 13 orang disusul oleh B sebanyak 11 orang, A sebanyak 6 orang dan AB sebanyak 0 orang. Golongan darah manusia sistem ABO ditentukan oleh alel-alel IA, IB, dan i. Alel i resesif terhadap IA dan IB . Berdasarkan perhitungan chi square yang dilakukan pada data didapatkan hasil bahwa nilai kemungkinannya sebesar 3,48. Dengan deviasi sebesar 3 kemudian angka 3,48 dikonversikan ke dalam tabel chi square, sehingga angka 3,48 ditemukan pada 0,30. Hasil tersebut juga memberikan arti bahwa data yang diperoleh pada percobaan tersebut baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sedangkan pada golongan darah sistem Rhesus, berdasarkan hasil perhitungan dengan cara chi square didapakan nilai sebesar 7,5. Angka 7,5 terdapat diantara 0,01 – 0,001. Hal tersebut berarti bahwa pada percobaan ini data yang diperoleh tidak baik dan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan karenan nilai kemungkinan yang didapatkan kurang dari 0,005. Namun demikian, apabila dibandingkan dengan rata-rata nilai yang diharapkan, data ini termasuk valid. Karena perbandingan dalam prosentasenya Rh+ sebesar 80% dan Rh- sebesar 20%. Hal tersebut menunjukkan adanya kesesuaian antara data yang diperoleh dengan hasil yang diharapkan.

Kesimpulan

Dari hasil praktikum terdapat beberapa sifat keturunan yang dipengaruhi oleh alel ganda adalah ada tidaknya rambut di ruas tengah di punggung telapak tangan, Golongan darah sistem ABO dan Rh. Golongan darah O memiliki frekuensi yang paling banyak dimiliki/ditemui. Golongan darah Rh+ frekuensinya paling banyak ditemui pada orang Indonesia. Tidak adanya rambut pada jari di ruas tengahnya bersifat lebih dominan

dibandingankan dengan yang terdapat rambut pada ruas tengah jari tangannya. Dengan persentase sebesar 60%. Genotip pada golongan darah sistem ABO, untuk orang yang bergolongan darah A adalah IAIA atau IAIO, untuk yang begolongan darah B adalah IBIB atau IBIO, yang bergolongan darah AB adalah IAIB sedangkan untuk yang bergolongan darah O adalah IOIO. Genotip pada golongan darah sistem Rh+ adalah RR atau Rr. Data golongan darah ABO dan rambut pada ruas tengah jari tangan, keduanya valid, berarti data tersebut baik dan tidak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Sedangkan pada golongan darah sistem Rhesus hasil perhitungan chi square menunjukkan bahwa data tersebut dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Namun, apabila disesuaikan dengan frekuensi yang diharapkan maka data tersebut bersifat valid.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2007. Alelle diperoleh dari http://www.answers.com pada Minggu, 8 November 2009. Campbell, et. al. 2002. Biologi Jilid 1. Jakarta: Erlangga. Muzajjanah, dkk. 2006. Penuntun Praktikum Genetika. Jakarta: Lab. Biologi UNJ. Suryo. 1990. Genetika Manusia. Yogyakarta : Gadjah Mada University Press.

Jawaban pertanyaan:

1. Jika :

50% anak golongan darah B, dengan genotip IBi atau IBIB 25% anak golongan darah AB, dengan genotip IAIB 25% anak golongan darah A, dengan genotip IAi atau IAIA

Maka :

Kedua parental harus memiliki alel IA, IB dan i

Pembuktian: P Fenotip: Genotip: Gamet: B IBi IB dan i AB IAIB IA dan IB

Papan Punnet P IB i IA IAIB IAi IBIB IBi IB

F

Perbandingan genotip = IBIB : IBi : IAIB = Perbandingan fenotip = = 1 : 1 : 1

: IAi : 1

B : AB : A 2 : 1 : 1 = 50% : 25% : 25%

2. Kemungkinan adanya anak yang bergolongan darah ABO nya tidak sama dengan kedua orangtuanya adalah jika salah satu atau kedua orang tuanya memiliki genotip yang heterozigot. Selain itu, kedua orang tua yang memiliki golongan darah A dan B

mampu menghasilkan anak dengan golongan darah yang berbeda. Pembuktian: Salah satu parental memiliki genotip heterozigot P A IAIA F IAIB, IAIB, IAi, IAi AB, A >< B IBi

Kedua parental memiliki genotip heterozigot P A IAi F IAIB, IAi, IBi, ii AB, A, B, O >< B IBi

Parental memiliki golongan darah A homozigot dan B homozigot P A IAIA F IAIB, IAIB, IAIB, IAIB AB, AB, AB, AB >< B IBIB

a. Apabila anak pertama mempunyai Rh+, maka kemungkinan anak kedua akan bersifat Rh- adalah 0 % untuk Ibu Rh- (rr) dan Ayah Rh+ (RR). Kemungkinan genotip anak adalah 100% Rh+ jika ayahnya. Karena genotip yang akan dihasilkan akan 100 %

Rh+ yaitu Rr. Jadi 0% anak kedua memiliki Rh-. Sedangkan Ibu Rh- (rr) dan Ayah Rh+ (Rr). Kemungkinan genotip anak: Rr, Rr, rr, rr. Jadi, 50% anak kedua memiliki Rh- (rr). b. Kemungkinan anak kedua memiliki Rh+ adalah Ibu Rh- (rr) dan Ayah Rh+ (RR). Kemungkinan genotip anak: 100% Rh+ (Rr). Jadi 100% anak kedua memiliki Rh+. c. Ibu Rh- (rr) dan Ayah Rh+ (RR). Kemungkinan genotip anak: Rr, Rr, rr, rr. Jadi, 50% anak kedua memiliki Rh+ (Rr). Kemungkinan anak kedua menderita penyakit erythoblastosis adalah jika bapak memiliki Rh+ homozigot maka 100% anaknya bersifat Rh+ sehingga anak pasti menderita penyakit atau kelainan tersebut. Karena pada golongan darah darah MN tidak terdapat antibodi. Sehingga tidak mengakibatkan terjadinya bahaya penggumpalan darah (aglutinasi) jika trasfusi dilakukan. 5. Jika keturunan dengan genotip IAIO maka anti A dari darah ibu akan bertemu dengan antigen dari eritrosit bayi sehingga ibu dapat mengalami keguguran. Jika keturunannya dengan genotip IOIO tidak terjadi keguguran karena eritrosit bayi tidak memiliki antigen.

P

: ♂ O IOIO Gamet : IO : IAIO

><

♀ A IAIA IA

F1

atau

IAIO

6. Dapat dilihihat pada tabel hasil pengamatan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->