P. 1
Bagaimana Menulis Esei

Bagaimana Menulis Esei

|Views: 339|Likes:

More info:

Published by: Parlindungan Pardede on Mar 06, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

Alinea JUDUL Diskusi 2 3 1

MENULIS ESEI
Parlin Pardede (FKIP-UKI Jakarta)

Kemahiran untuk membuat suatu alinea yang kompak (lengkap, koheren dan terpadu) merupakan dasar untuk menulis esei. Sebuah esei adalah suatu karangan yang terdiri dari sekumpulan alinea yang membahas sebuah subyek (topik). Suatu esei terdiri dari tiga bagian, yakni pendahuluan, isi, dan penutup. Alinea yang digunakan untuk mengungkapkan bagian pendahuluan disebut alinea pengantar. Seluruh alinea yang menjelaskan, mengklarifikasi, mendiskusikan, membuktikan subyek disebut alinea isi. Sedangkan bagian akhir, yang biasanya berisikan kesimpulan dan saran, disebut alinea penutup. Bagan 1: Tampilan Bagian-Bagian Sebuah Esei
Judul: Berbentuk sebuah kata atau frasa yang berfungsi untuk merangsang minat pembaca atau memberikan gambaran tentang subyek (topik) yang akan dibahas dalam esei. Pendahuluan: Bagian ini biasanya diawali dengan satu atau lebih kalimat pengantar, yang kemudian diakhiri dengan satu atau lebih kalimat tesis, atau kalimat yang mengungkapkan subyek yang akan dibahas secara umum. Kalimat ini merupakan kalimat yang paling penting karena memuat ide-ide pokok yang membatasi dan mengarahkan bagian-bagian esei selanjutnya. Bagian Isi: Bagian ini sering disebut sebagai tubuh karangan/esei. Alinea-alinea yang membentuk bagian ini menjelaskan, menggambarkan, mengklarifikasi atau mendukung kalimat tesis. Setiap alinea isi mengandung minimal sebuah kalimat topik dan beberapa kalimat penjelas. Jumlah alinea isi sangat tergantung pada ide pokok yang dikandung kalimat tesis. Penutup: Bagian ini,secara umum, mengakhiri sebuat esei dengan cara mengungkapkan satu atau lebih dari kelima hal berikut: (a) ringkasan dari materi yang dibahas di dalam alinea, (b) solusi bagi persoalan yang terungkap dalam alinea, (c) ramalan atau prediksi potensial dari situasi yang telah dibahas dalam alinea, (d) rekomendasi yang berhubungan dengan materi yang dibahas di dalam alinea, atau (e) kesimpulan yang ditarik dari informasi yang tersaji dalam alinea

A. Menentukan Judul dan Topik Judul sebuah esei biasanya berbentuk sebuah kata atau frasa yang berfungsi untuk merangsang minat pembaca atau memberikan gambaran tentang subyek yang akan dibahas dalam esei. Sebuah judul harus singkat, tepat dan padat. Oleh karena itu, kata-kata tambahan harus dihilangkan. Di samping itu, judul harus ditulis dengan menggunakan huruf kapital pada seluruh kata pada huruf pertama setiap kata utama (selain preposisi yang terletak di awal judul) tanpa tanda baca apapun dan diletakkan di bagian tengah-atas esei. Lihat contoh contoh berikut. Contoh 5-1: Penulisan Judul Esei

Bab 5: Menulis Esei

☑ ☑ ☑ ☑ ☑ ☑ ☑ ☑ ☑ ☑

Krisis Energi Analisis Penokohan Dalam Tiga Novel Karya William Golding Masalah-Masalah Sosial di Lima Kota Besar di Indonesia Manfaat Program Keluarga Berencana di Indonesia Dampak Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat di Vietnam KRISIS ENERGI ANALISIS PENOKOHAN DALAM TIGA NOVEL KARYA WILLIAM GOLDING MASALAH-MASALAH SOSIAL DI LIMA KOTA BESAR DI INDONESIA MANFAAT PROGRAM KELUARGA BERENCANA DI INDONESIA DAMPAK KEBIJAKAN LUAR NEGERI AMERIKA SERIKAT DI VIETNAM

Penentuan judul suatu esei biasanya sangat berhubungan dengan subyek/topik, atau pokok pembicaraan, yang penentuannya tidak berbeda dengan penentuan topik suatu alinea. Ruang lingkup topik sebuah esei tentu saja jauh lebih luas. Jika penentuan topik diibaratkan dengan pengambilan sebuah potret, maka sebuah alinea ekuivalen dengan sebuah gambar setengah badan (pas-foto), sedangkan sebuah esei bisa ekuivalen dengan sebuah potret yang memuat gambar seseorang atau sebuah keluarga secara utuh. Pembatasan topik sebuah esei harus mengikuti paling tidak dua tahapan, yaitu mengumpulkan informasi yang diketahui tentang topik, menentukan aspek-aspek topik yang diperkirakan menarik bagi pembaca, dan memutuskan aspek-aspek mana saja yang akan diikutsertakan dalam esai. Hasil pembatasan topik yang telah dilakukan biasanya dapat langsung digunakan sebagai judul. Gambar berikut dapat dijadikan sebagai sebuah pedoman praktis untuk membatasi topik sebuah esei. Bagan 2: Pembatasan Gaya hidup Perbedaan mahasiswa dalam Mahasiswa di inggris sebagai agen kontemporer Pembelajaran Amerika penuntun bersahabat Peranan harimau Situasi anjingbahasa bahasa pergaulan internasional Pelestarian mahasiswainggris Inggris sebuah bahasa asing Ikan lumba-lumba: mamalia yangdanperubahan MelatihpembelajaranSumaterasebagaidi tunanetra Binatangbahasasebagaitradisional kaum Indonesia di Amerika Bahasa di Amerika di Amerika Inggris Dua faktor lain yang perlu dipertimbangkan dalam menentukan sebuah subyek atau topik atau pokok pembicaraan dalam suatu esei adalah metode pengembangan yang akan digunakan dan tingkat keabstrakan. Penentuan metode pengembangan yang akan digunakan yang akan digunakan tentu saja sangat tergantung pada substansi subyek atau topik yang akan dibahas dan pembaca
20 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

Bab 5: Menulis Esei

sasaran. Topik “Ikan Lumba-Lumba: Mamalia Yang Bersahabat” diatas, misalnya sangat sesuai dikembangkan dengan menggunakan metode ‘definisi’ dan ‘sebab-akibat’. Sedangkan topik “Melatih Anjing Sebagai Penuntun Kaum Tunanetra” dapat dikembangkan dengan metode ‘proses’; dan topik “Peranan Bahasa Inggris Dalam Pergaulan Internasional” dapat dikembangkan dengan metode ‘definisi’ dan ‘sebab-akibat’. Pentingnya mempertimbangkan tingkat keabstrakan sebuah topik didasarkan pada kenyataan bahwa semakin abstrak sebuah topik, semakin sulit hal itu dijelaskan atau didukung. Akibatnya, semakin sulit mempertahankan minat pembaca. Oleh karena itu, topik suatu esei hendaknya dibuat sekonkrit (senyata) mungkin. Bandingkan kedua kelompok topik berikut. Kelompok pertama bersifat abstrak, sehingga sulit dideukung atau dijelaskan. Sebaliknya, kelompok kedua bersifat lebih konkrit sehingga lebih mudah untuk dijelaskan. Masing-masing topik disertai dengan metode pengembangan yang paling sesuai.
Contoh 2: Topik yang Abstrak dan Konkrit Topik yang abstrak: 1. Kasih Tanpa Pamrih: Kebajikan Yang Paling Luhur (Definisi dan Sebab-Akibat) 2. Bagaimana Menilai Mutu Sebuah Karya Seni (Proses) 3. Hakikat Kasih Sayang dan Benci (Definisi dan Perbandingan) Topik yang konkrit: 1. Empat Kriteria Kasih Tanpa Pamrih (Definisi dan Klasisifikasi) 2. Merakit Sebuah Pesawat Mainan (Proses) 3. Keuntungan dan Kerugian Menikah dan Tidak Menikah (Definisi dan Perbandingan)

Latihan 1
Pilih empat dari suyek-subyek yang tersedia di bawah ini. Tentukan judul, pembatasan topik, dan metode pengembangan yang sesuai.

1) kebakar an hutan 1) lalu lintas 1) musik 1) olah raga B. Kalimat Tesis

5)panti jompo

9) sahabat

5)pendidikan nilai 5)pekerjaan rumah 8) polusi udara

10) sastra 11) tetangga 12) universitas

20 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

Bab 5: Menulis Esei

Setelah topik yang akan dibahas ditentukan, tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah merumuskan kalimat tesis. Setiap essei yang akan ditulis harus mengandung sebuah tesis, atau kalimat yang merumuskan tema dasar esei tersebut. Tesis biasanya berbentuk sebuah kalimat yang berfungsi untuk mengungkapkan gagasan sentral (topik yang akan dibahas) beserta tujuan yang akan dicapai melalui gagasan sentral tersebut. Jadi, sebuah tesis harus mengandung dua hal, yakni: topik dan tujuan penulisan. Kedua kandungan inilah yang membentuk gagasan sentral. Sehubungan dengan itu, tesis dapat didefinisikan sebagai tema yang berbentuk sebuah kalimat dengan topik dan tujuan yang akan dicapai melalui topik tadi dan bertindak sebagai gagasan sentral dalam suatu esei. Berikut adalah dua contoh kalimat tesis yang dirumuskan berdasarkan dua contoh topik yang diambil dari bagan 1. Contoh 3: Perumusan Kalimat Tesis
1. Topik: Kalimat Tesis: Perbedaan mahasiswa tradisional dan kontemporer di Amerika Mahasiswa tradisional dan mahasiswa kontemporer di Amerika berbeda dalam hal usia, tempat tinggal, dan aktivitas non-akademik; gaya belajar; pengimplementasian fungsi sebagai kekuatan moral; dan kebangsaan. Peranan Bahasa Inggris Dalam Pergaulan Internasional Bahasa Inggris berperan semakin penting dalam pergaulan internasional karena penggunaannya yang terus meningkat di bidang diplomasi dan perdagangan antar negara.

2. Topik: Kalimat Tesis:

C. Mengorganisasikan Esei Jika kalimat tesis yang menjadi landasan penulisan sudah dirumuskan, aktivitas selanjutnya adalah merinci topik-topik yang dikandung kalimat tesis tersebut dan mengorganisasikannya ke dalam sebuah kerangka karangan yang sistematis. Dalam tahap penulisan, setiap topik akan dikembangkan atau dijelaskan dalam alinea masing-masing. Seluruh alinea itulah yang akan menjadi bagian tubuh esei. Disamping itu, perlu juga disiapkan sebuah alinea pengantar, yang membentuk bagian pendahuluan, sebuah alinea kesimpulan, yang akan menutup esei. (Lihat profil berikut).

20 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

Bab 5: Menulis Esei

Bagan 3: Profil Kerangka Karangan Pointer Sebuah Esei (JUDUL) I. (Pendahuluan): Terdidi dari sebuah alinea pengantar yang diawali oleh satu atau lebih kalimat pengantar dan diakhiri dengan kalimat tesis. II. (Tubuh Karangan): Terdidi dari beberapa alinea isi yang jumlahnya disesuaikan dengan jumlah ide pokok yang dikandung kalimat tesis. A. Alinea yang membahas ide pokok pertama. 1. Diawali oleh kalimat topik 2. Didukung kalimat-kalimat penjelas yang mendukung atau menjelaskan ide pokok B. Alinea yang membahas ide pokok kedua 1. Diawali oleh kalimat topik 2.Didukung kalimat-kalimat penjelas yang mendukung atau menjelaskan ide pokok C. Alinea yang membahas ide pokok ketiga 1. Diawali oleh kalimat topik 2. Didukung kalimat-kalimat penjelas yang mendukung atau menjelaskan ide pokok III. (Penutup) Terdidi dari sebuah alinea kesimpulan yang diawali oleh ringkasan dari ide pokok yang telah didiskusikan dan diakhiri dengan solusi, ramalan / prediksi, atau kesimpulan yang ditarik dari pembahasan yang dilakukan pada bagian tubuh karangan.

Berikut ini adalah kerangka karangan yang dirancang menurut sistematika pada Bagan 5-3 dan menggunakan kalimat tesis pertama pada Contoh 5-3 di atas sebagai dasar penulisan. Contoh 4: Kerangka Karangan Esei Dengan Pointer

21 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

Bab 5: Menulis Esei

I. Pendahuluan
Tesis: Mahasiswa tradisional dan mahasiswa kontemporer di Amerika berbeda dalam hal usia, tempat tinggal, dan aktivitas nonakademik; gaya belajar; pengimplementasian sikap sebagai kekuatan moral; dan kebangsaan. Ide-Ide Pokok: (1) perbedaan usia, tempat tinggal, partisipasi dalam aktivitas non-akademik; (2) perbedaan gaya belajar, (3) perbedaan pengimplementasian fungsi sebagai kekuatan moral; dan (4) perbedaan kebangsaan. II. Tubuh Karangan A. Kalimat Topik: Usia, tempat tinggal, dan aktivitas non-akademik mahasiswa Amerika lima dekade yang lalu sangat berbeda dengan usia mahasiswa sekarang. 1. mahasiswa tradisional: 18-22 tahun, tinggal di asrama, dan aktif dalam kegiatan non-akademik 2. mahasiswa kotemporer: 22-40 tahun, tinggal di luar asrama, sebagian sudah bekerja dan berkeluarga, dan tidak aktif dalam kegiatan non-akademik B. Kalimat Topik: Mahasiswa tradisional dan mahasiswa non-tradisional di Amerika juga berbeda dalam gaya belajar. 1. hasil tes psikologi: 60% mahasiswa non-tradisional menyukai cara belajar ‘praktis’ 2. mahasiswa non-tradisional yang menyukai cara belajar ‘intuitif’ semakin berkurang. C. Kalimat Topik: Perbedaan lain antara mahasiswa tradisional dan mahasiswa non-tradisional adalah pengimplementasian fungsi sebagai kekuatan moral. 1. mahasiswa 1960-1970-an: berdemonstrasi terhadap kebijakan pemerintah 2. mahasiswa 1980-an: lebih berkonsentrasi pada studi 3. mahasiswa sekarang: berkonsentrasi pada studi dan sekaligus menjadi sukarelawan untuk memperbaiki situasi sosial masyarakat. D. Kalimat Topik: Bentuk perubahan lain yang terjadi pada mahasiswa di Amerika dewasa ini berhubungan dengan kebangsaan. 1. disebabkan oleh peningkatan jumlah mahasiswa asing. a) total mahasiswa asing: 500.000 b) mahasiswa pasca sarjana: 100.000 (25% dari seluruh mahasiswa pasca sarjana) 2. bidang yang banyak ditekuni: bisnis dan manajemen, teknik, matematik, ilmu komputer, dan biologi.

D. Alinea Pengantar dan Alinea Kesimpulan Hingga pada tahap ini, pembahasan dan latihan berfokus pada alinea isi (diskusi) yang membentuk tubuh karangan. Padahal sebuah esei biasanya diawali oleh sebuah alinea pegantar/pendahuluan dan diakhiri oleh sebuah alinea kesimpulan. Alinea pengantar berfungsi untuk mempersiapkan pembaca
20 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

Bab 5: Menulis Esei

untuk mengikuti pembahasan pada bagian tubuh karangan. Hal ini dilakukan dengan memaparkan latar belakang topik yang akan dibahas, atau dengan memicu rasa ingin tahu pembaca melalui pernyataan/pertanyaan yang di luar dugaan. Sedangkan alinea kesimpulan berfungsi untuk mengakhiri esei dengan cara menghadirkan rangkuman ringkas (bila diperlukan), membuat prediksi sehubungan dengan hal-hal yang telah didiskusikan, dan/atau mengungkapkan sebuah pernyataan kulminatif untuk diingat (kalau mungkin). Disamping perbedaan fungsi seperti terungkap dalam alinea di atas, alinea pengantar dan alinea kesimpulan memiliki dua perbedaan lainnya dengan alinea isi. Perbedaan pertama terletak pada panjang/pendeknya alinea. Alinea pengantar dan alinea kesimpulan pada umumnya hanya terdiri dari tiga sampai kalimat, sehingga relatif lebih pendek daripada alinea isi (berkisar antara delapan hingga dua belas kalimat). Alinea pengantar biasanya terdiri dari satu hingga empat kalimat pengantar dan satu kalimat tesis, dan alinea kesimpulan terdiri dari satu hingga empat kalimat rangkuman dan satu kalimat kesimpulan. Perbedaan kedua terletak pada sifat umum atau spesifiknya informasi yang disajikan. Alinea pengantar dan alinea kesimpulan bersifat lebih umum. Alinea pengantar hanya mengungkapkan, tanpa membahas, ide-ide pokok. Sedangkan alinea kesimpulan hanya merangkum dan menyimpulkan tentang apa yang telah didiskusikan. Bagian ini diarahkan untuk memberikan gambaran yang lebih konkrit tentang alinea pengantar dan alinea kesimpulan. 1. Alinea Pengantar Sebagai bagian pembuka, alinea pengantar merupakan salah satu bagian penentu dalam suatu karangan. Oleh karena itu, alinea ini perlu dirancang dan dibuat sedemikian rupa agar dapat menarik minat pembaca. Berikut ini adalah tiga pedoman yang perlu diingat dalam membuat alinea pengantar: (a) Satu atau dua kalimat pengantar yang bertujuan menarik dan memfokuskan perhatian pembaca terhadap subyek atau ide-ide pokok yang disajikan. (b) Satu atau dua kalimat yang menghadirkan latar belakang, membatasi subyek yang dibahas, dan/atau menyajikan makna kata-kata kunci yang akan digunakan. (c) Tuliskan kalimat tesis. Membuat sebuah alinea pengantar yang efektif bukanlah hal yang mudah. Sama dengan penulisan alinea diskusi, pembuatan alinea pengantar membutuhkan latihan-latihan agar dapat dikuasai dengan baik. Sebagai masukan, berikut ini dijelaskan enam teknik pembuatan alinea pengantar yang efektif. Setiap alinea pengantar membutuhkan teknik tersendiri, sesuai dengan subyek yang dibahas dan metode pengembangan yang digunakan.

a) Awali dengan sebuah kutipan! Sebuah kutipan (yang diperoleh dari lagu,
novel, drama, film, surat kabar, atau majalah) yang bisa merangkum subyek yang dibahas dalam sebuah esei dapat menjadi titik awal yang sangat menarik dan efektif bagi sebuah karangan. Agar efek yang diinginkan benar-benar tercapai, perlu diingat bahwa kutipan itu harus merupakan pernyataan ringkas dan tidak menyimpang dari ide-ide pokok yang akan dibahas.

b) Mulai dengan sebuah pertanyaan! Salah satu cara yang paling menarik
untuk mengawali sebuah esei adalah dengan mengajukan pertanyaan retoris, yakni pertanyaan yang jawabannya belum diketahui pembaca, atau pertanyaan yang jawabannya hanya ada dalam kalimat tesis. Menghadapi
21 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

Bab 5: Menulis Esei

pertanyaan seperti ini, pembaca akan dipaksa memikirkan pertanyaan tersebut sehingga ‘bersemangat’ membaca bagian-bagian selanjutnya. c) Ungkapkan latar belakang bagi subyek tulisan! Dalam karangan tertentu, latar belakang yang disajikan secara berjenjang ke arah klimaks dalam beberapa kalimat merupakan awal yang efektif. Agar dapat menggunakan teknik ini, penulis harus memiliki pengetahuan yang luas tentang subyek yang ditulis. d) Buat sebuah dramatisasi atau ungkapkan sebuah cuplikan anekdot! Teknik ini merupakan salah satu cara paling menarik untuk mengawali esei karena sifatnya yang dramatis. Namun perlu dicatat bahwa cerita singkat atau anekdot yang disajikan harus selaras dengan subyek tulisan.

e) Gunakan sebuah sudut pandang yang lain dari yang lain! Mengungkapkan
suatu hal yang ditinjau dari sebuah sudut pandang yang tidak lazim biasanya akan membuat pembaca heran. Hal itu akan membuatnya memaksa diri untuk menyelesaikan membaca esei atau karangan yang dihadapinya.

f)

Buat teknik kombinasi! Kelima teknik di atas dapat juga dikombinasikan agar dapat menjadi pengantar yang efektif bagi karangan. Sebagai contoh, ebuah kutipan dapat disisipkan ke dalam sebuah anekdot; sebuah pertanyaan retoris dapat mengawali sebuah sudut pengungkapan pandang yang tidak lazim. Penggunaan teknik kombinasi ini dapat digunakan dengan tetap mengingat bahwa sebuah alinea pengantar harus sederhana, singkat, dan efektif, sehingga benar-benar mengarahkan perhatian pembaca terhadap subyek yang akan dibahas.

2. Alinea Kesimpulan Sebagai bagian penutup, alinea kesimpulan juga berperan sangat penting dalam membentuk efektivitas sebuah esei. Oleh karena itu, alinea ini juga perlu dirancang dan dibuat sedemikian rupa agar ketika tiba di bagian ini pembaca merasa bahwa ide pokok yang dihadirkan pada kalimat tesis sudah dibahas dengan tuntas. Berikut ini adalah ... pedoman yang perlu diingat dalam membuat alinea kesimpulan: (a) Satu atau dua kalimat meringkas materi yang sudah bibahas. (b) Sebuah kalimat yang menghadirkan solusi dan atau rekomendasi bagi persoalan yang terungkap dalam pembahasan. (c) Sebuah kalimat yang menghadirkan kesimpulan yang ditarik dari informasi yang tersaji dalam alinea E. Menulis Esei Setelah membuat kerangka karangan, tahapan selanjutnya yang harus dilakukan adalah menulis draft berdasarkan kerangka yang ada. Ada kemungkinan bahwa selama penulisan draf penulis merasa perlu menambah atau mengurangi poin-poin tertentu agar hasil tulisan yang sedang digarap jauh lebih baik. Oleh karena itu, proses penulisan draf perlu dilanjukan dengan tahapan pengeditan—evaluasi—dan penulisan akhir. Langkah-langkah tersebut mungkin saja terjadi secara berulang-ulang hingga penulis merasa bahwa karangannya sudah benar-benar mengungkapkan maksudnya dan sudah menggunakan konvensi penulisan yang benar.
21 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

Bab 5: Menulis Esei

Berdasarkan kerangka karangan yang disajikan pada Contoh 5-4, berikut ini adalah esei yang ditulis sebagai sebuah produk akhir dari topik “Perbedaan mahasiswa tradisional dan kontemporer di Amerika”

Contoh 5: Esei

PERBEDAAN MAHASISWA TRADISIONAL DAN MAHASISWA KONTEMPORER DI AMERIKA
Sebagai sebuah negara paling maju di dunia, Amerika Serikat mengalami perubahan yang sangat cepat dalam semua aspek kehidupannya. Salah satu perubahan di bidang pendidikan yang menarik untuk diamati adalah perubahan profil mahasiswa selama empat puluh tahun terakhir. Mahasiswa tradisional dan mahasiswa kontemporer di Amerika berbeda dalam hal usia, tempat tinggal, dan aktivitas non-akademik; gaya belajar; pengimplementasian fungsi sebagai kekuatan moral; dan kebangsaan. Usia, tempat tinggal, dan aktivitas non-akademik mahasiswa Amerika lima dekade yang lalu sangat berbeda dengan usia mahasiswa sekarang. Hingga akhir tahun 1960-an, kebanyakan mahasiswa Amerika yang kuliah di program ‘undergraduate’ berusia antara delapan belas hingga dua puluh dua tahun. Pada umumnya mereka kuliah penuh waktu, tinggal di asrama, dan aktif mengikuti berbagai aktivitas tambahan, disamping menghadiri kelas. Kebanyakan dari mereka berpartisipasi aktif dalam tim olah raga, kelompok pencinta alam, paguyuban keagamaan, kelompok teater, dan organisasi kemahasiswaan lain, yang menjadi bagian dari kehidupan kebanyakan universitas di Amerika. Namun profil tersebut mulai berubah sejak tahun 1970-an dan sekarang keadaan sudah sangat berbeda. Saat ini jumlah mahasiswa ‘tradisional’ tersebut tinggal sekitar seperempat dari seluruh komunitas mahasiswa. Moyoritas mahasiswa saat ini merupakan mahasiswa non-tradisional, yang usianya bervariasi antara 22 hingga 40 tahun. Banyak dari mereka yang kuliah secara paruh-waktu karena mereka sudah berkeluarga dan bekerja. Kebanyakan dari mereka tinggal di luar kampus. Mereka tidak mengikuti aktivitas-aktivitas non-akademik, seperti kelompok-kelompok kegiatan mahasiswa yang ditawarkan kampus. Yang mereka inginkan hanya kelas-kelas berkualitas, siang atau malam, dengan biaya kuliah yang terjangkau. Mereka juga menginginkan kemudahan memarkir kendaraan, jalur registrasi yang tidak bertele-tele, dan pelayanan yang ramah. Waktu dan uang begitu berharga bagi mereka. Mahasiswa tradisional dan mahasiswa non-tradisional juga berbeda dalam gaya belajar. Mahasiswa tradisional pada umumnya terbiasa dengan gaya belajar ‘intuitif.’ Mereka menyenangi ide-ide, belajar dengan metode teori-kepraktek dan menyenangi proses berpikir yang independent dan kreatif. Oleh karena itu, Mereka menuntut ilmu dengan harapan dapat menciptakan hal-hal yang unik. Berbeda dengan mereka, berbagai hasil tes psikologi mengungkapkan bahwa disamping perbedaan yang terdapat dalam diri setiap individu, 60 persen mahasiswa non-tradisional lebih menyukai cara belajar ‘praktis’ (berdasarkan pengalaman). Metode belajar yang mereka senangi adalah metode praktek-ke-teori—pengalaman mendahului ide. Mereka sering menemui kesulitan dalam membaca dan menulis serta merasa ragu akan kemampuan diri sendiri. Motivasi yang mendorong mereka kembali kuliah adalah untuk memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang lebih baik. Sebagian kecil mahasiswa non-tradisional ada yang lebih menyukai gaya belajar ‘intuitif’, namun jumlahnya semakin menurun. Kelompok mahasiswa intuitif ini tidak begitu suka terhadap hal-hal yang praktis. Mereka kuliah untuk menciptakan hal-hal yang unik. Oleh karena itu, mereka cenderung berkonsentrasi pada jurusan-jurusan Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah Klmt.Pengatar (latar blkg) Klmt Tesis Klmt Topik 1

Klmt Topik 2

21

Bab 5: Menulis Esei

seni, filsafat, atau ilmu-ilmu murni. Perbedaan lain antara mahasiswa tradisional dan mahasiswa nontradisional adalah pengimplementasian fungsi sebagai kekuatan moral. Mahasiswa era 1960-an hingga 1970-an sering berdemonstrasi mengoreksi kebijakan-kebijakan pemerintah dan berharap untuk melakukan perubahan mendasar pada masyarakat. Di era 1980-an, mayoritas mahasiswa lebih berkonsentrasi terhadap perkuliahan dan karir mereka di masa yang akan datang. Dewasa ini, terlihat kombinasi dari kedua fenomena itu dalam diri mahasiswa: di satu sisi mereka menginginkan karir yang bagus kalau sudah menyelesaikan kuliah, di sisi lain mereka juga perduli terhadap situasi masyarakat. Banyak mahasiswa masa kini yang menjadi sukarelawan, yang bekerja membantu masyarakat tanpa memperoleh bayaran. Sebagai contoh, mengajar anak-anak gelandangan atau bekerja di rumah-rumah penampungan tunawisma. Dengan melakukan hal-hal seperti itu, mereka berharap dapat membuat perubahan dalam masyarakat. Bentuk perubahan lain yang terjadi pada mahasiswa di Amerika dewasa ini berhubungan dengan kebangsaan. Perubahan ini disebabkan oleh peningkatan jumlah mahasiswa asing, terutama yang mempelajari bidang-bidang tertentu dan yang kuliah di program pasca sarjana. Saat ini, mahasiswa asing di Amerika berjumlah sekitar setengah juta orang, dan lebih dari 100.000 diantaranya mengikuti kuliah di program pasca sarjana. Hal ini berarti lebih dari 25% peserta pasca sarjana di Amerika adalah mahasiswa asing. Bidang-bidang yang banyak mereka pelajari adalah bisnis dan manajemen, teknik, matematik, ilmu komputer, dan biologi. Jumlah yang menekuni bidang-bidang humaniora, seperti sastra, seni, linguistik; maupun ilmu-ilmu sosial, seperti psikologi, pendidikan, antropologi; tidak begitu banyak. Hal itu mungkin didorong oleh keyakinan mereka bahwa ilmu-ilmu sosial dan humaniora tidak menjanjikan karir yang menarik atau pekerjaan dengan gaji yang tinggi. Keempat kelompok perbedaan profil antara mahasiswa tradisional dan kontemporer di atas pada dasarnya terjadi untuk beradaptasi dengan kebutuhan dan perubahan zaman. Jika mahasiswa di negera maju seperti Amerika mengalami atau melakukan begitu banyak perubahan, maka mahasiswa di negara-negara lain juga perlu berubah agar dapat tetap dapat mengimbangi tantangan zaman. 

Klmt Topik 3

Klmt Topik 4

Rangkuman Kesimpulan

Latihan 2
Tulis sebuah esei yang baik dengan panjang sekitar 600 kata untuk masingmasing topik berikut. Awali dengan pembatasan topik, perumusan kalimat tesis, pembuatan kerangka karangan, dan akhiri dengan penulisan esei.

1. 2.

Dampak Positif (atau Negatif) Siaran Televisi Keuntungan (dan / atau Kerugian) Menjadi Seorang Wanita Karir 3. Tokoh Yang Paling Kuhormati 4. Meningkatkan Kemahiran Berbicara dalam Bahasa Inggris 5. Sikap-Sikap yang Paling Tidak Kusukai Dalam Diri Seseorang (Misalnya: pengecut, sombong, munafik, pessimistik, kasar, gampang menyerah) 6. Karakter Wanita (atau Pria) Yang Paling Kusukai (Misalnya: penyabar, jujur, lembut, optimistik, suka menolong, ramah, tegas) 7. Kualitas yang Harus Dimiliki Presiden Indonesia di Abad 21 8. Karakter Pemimpin yang Paling Esensial 9. Kualitas Utama Seorang Guru 10. Pendidikan Sebagai Sarana Penyiapan Sumber Daya Manusia 21 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

Bab 5: Menulis Esei

22 Parlin Pardede: Menulis Karya Ilmiah

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->