P. 1
Pengantar Perjanjian Baru

Pengantar Perjanjian Baru

5.0

|Views: 3,444|Likes:
Published by Lie Chung Yen
In Indonesian language, "Introduction to New Testament", originally notes of lecture on the New Testament delivered by Martin Suhartono, S.J., to the students of Faculty of Theology (Pontifical Theological Faculty of Wedabhakti), Sanata Dharma University, Yogyakarta, Indonesia. It covers only the introductory issues on the process of formation of the Christian Scripture, its canonization, its inspired nature, its social-historical background, and then on Paul and the Synoptic problem.
In Indonesian language, "Introduction to New Testament", originally notes of lecture on the New Testament delivered by Martin Suhartono, S.J., to the students of Faculty of Theology (Pontifical Theological Faculty of Wedabhakti), Sanata Dharma University, Yogyakarta, Indonesia. It covers only the introductory issues on the process of formation of the Christian Scripture, its canonization, its inspired nature, its social-historical background, and then on Paul and the Synoptic problem.

More info:

Published by: Lie Chung Yen on Mar 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/03/2014

pdf

text

original

Kanon KS adalah daftar resmi kitab-kitab yang diakui sebagai hasil inspirasi ilahi dan

bersama-sama disebut sebagai Kitab Suci. Daftar resmi dalam arti ini baru ditetapkan pada

Konsili Trente (abad ke-16). Sebelum itu pun sudah beredar kitab-kitab yang diyakini oleh

umat sebagai diilhamkan oleh Allah, namun ada juga yang kurang diyakini. Kitab-kitab yang

selalu diterima oleh semua pihak dalam Gereja sebagai diilhamkan oleh Allah disebut

"protokanonika" (termasuk kanon "pertama" atau tak pernah diperdebatkan). Kitab-kitab

yang tadinya diragukan atau diperdebatkan kanonisitasnya tapi kemudian diterima adalah

kitab-kitab yang disebut "deuterokanonika" (bukan dalam arti kanon "yang kedua", tapi

"yang kemudian" diterima). Yang "proto" dianggap lebih berbobot ilahi daripada yang

"deutero".

Bagi umat Katolik, kedua golongan kitab itu diterima sebagai memiliki nilai yang

sejajar. Kanon KS PB adalah sama bagi semua orang Kristen, baik Protestan maupun

Katolik. Dalam hal KS PL, umat Protestan mengikuti daftar KS pada kanon Yahudi, yaitu

kitab-kitab PL yang hanya terdapat dalam Kitab Suci Ibrani. Sedangkan umat Katolik,

sebagai tambahan terhadap Kitab Ibrani itu, menerima juga tujuh kitab "deuterokanonika"

PL, yang terdapat juga dalam Kitab Suci Yunani (Septuaginta/LXX): Tobit, Yudit,

Kebijaksanaan, Sirach, Baruch, dan 1 & 2 Makkabe. Umat Protestan memasukkan kitab-

kitab Deuterokanonika ini dalam Apokrifa. Maka dalam edisi bahasa Inggris, KS yang

dipakai umat Katolik biasa ditandai judul The Holy Bible. With the Apocrypha.

Kitab Suci Ibrani adalah KS yang dipakai oleh orang-orang Yahudi di Palestina,

sedangkan Kitab Suci Yunani (Septuaginta) adalah KS yang dipakai oleh orang-orang

Yahudi di luar Palestina (diaspora). Kitab Suci Yunani ini merupakan terjemahan Kitab Suci

Ibrani pada abad ketiga Seb.M. Disebut "septuaginta" (artinya: tujuh puluh) berdasarkan

legenda bahwa ada tujuh puluh orang yang menerjemahkan sendiri-sendiri tetapi

menghasilkan satu terjemahan yang persis sama. Kitab-kitab yang disebut Deuterokanonika

itu sudah tak ditemukan lagi dalam bentuk asli bhs. Ibrani, beberapa malah mungkin bukan

merupakan terjemahan dari bahasa Ibrani melainkan asli ditulis dalam bahasa Yunani.

Apakah alasan umat Katolik tetap memakai daftar KS PL seperti dalam Septuaginta?

Karena dari penyelidikan mengenai kutipan PL yang dipakai oleh para Penginjil dan para

rasul dalam surat-suratnya dapat diduga bahwa mereka memakai KS terjemahan Yunani itu.

Martin/PengPB/hal 15

Jadi pemakaian KS PL Yunani oleh para rasul itu dianggap sebagai diinspirasikan oleh

Allah.

Lalu mengapa umat Protestan memakai kanon KS Ibrani? Mereka kembali ke daftar

KS Ibrani karena menganggap itulah yang paling asli, dan karenanya paling diilhamkan

Allah; selain mungkin saja ada alasan politis, yaitu supaya berbeda dari yang dipakai oleh

umat Katolik. Sama seperti pada akhir abad pertama dulu ketika terjadi persimpangan jalan

antara Yudaisme dan Kristianisme. Saat itu para rabbi Yahudi berkumpul di Yamnia untuk

menentukan semacam daftar kitab-kitab yang punya dampak liturgis (dianggap kudus).

Tindakan ini mungkin diambil karena, berhadapan dengan orang-orang Kristen yang juga

menggunakan KS Yahudi versi terjemahan Yunani, mereka "dipaksa" menentukan sikap.

Mereka memutuskan bahwa yang sah dipakai oleh komunitas Yahudi adalah teks KS bahasa

Ibrani.

Perbedaan KS PL Protestan dan Katolik itu hanyalah dari segi daftar kitab. Tapi dari

segi isi dan rumusan teks ayat-ayat KS PL itu tak ada perbedaan, karena teks KS yang saat

ini dipakai, baik oleh umat Katolik maupun Protestan sama-sama diterjemahkan dari teks asli

KS PL bahasa Ibrani, kecuali untuk bagian Deuterokanonika / Apokrifa yang diterjemahkan

dari Septuaginta. Jangan terkecoh oleh gagasan tentang jumlah KS PL yang berbeda-beda

dalam tradisi Yahudi, Katolik dan Protestan. Minus Deuterokanonika, jumlah kitab-kitab PL

dalam ketiga tradisi itu sama saja, hanya kadangkala dengan nama dan penggolongan yang

berbeda (lihat I. Marsana Windhu, Awal Persahabatan dengan Kitab Suci, Yogyakarta:

Kanisius, 1995, hlm. 20-21).

Excursus: Nama Allah:

Orang Yahudi begitu hormat pada teks yang mengandung nama Allah. Nama Allah, yaitu 4

konsonan “YHWH” (Ibrani: hWhy), karena itu disebut Tetragrammaton (empat huruf), adalah

nama yang paling suci bagi umat Israel, karena itu tak boleh diucapkan. Dalam membaca KS,

orang akan menyebut empat huruf itu “Adonai” (artinya: my Lord, Tuhanku; dengan “I”

berarti “-ku”). Penyalin PL abad ke-6 M, para rabbi Masoreth, memberi tanda huruf-huruf

hidup “a-o-a” di atas empat huruf itu agar orang ingat untuk membaca “adonai”. Tapi

penerjemah KS edisi awal bhs. Inggris abad ke-16 M tak tahu maksud notasi “a-o-a” itu

sehingga dikira merupakan tambahan huruf hidup pada konsonan “yhwh”, jadi dibaca

Yahowah, dan menjadi “Yehovah” atau “Yehowa”. Mereka mengira itulah cara

Martin/PengPB/hal 16

mengucapkan nama Allah! Kini tersisa ucapan “Yahweh”. Jadi ucapan-ucapan ini muncul

dari kesalahpahaman belaka! Buku yang mengandung nama Allah ini tak boleh dibawa ke

WC

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->