P. 1
Kondisi Sosial Ekonomi

Kondisi Sosial Ekonomi

|Views: 1,341|Likes:
Published by chairilazmi

More info:

Published by: chairilazmi on Mar 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/10/2015

pdf

text

original

BAB 1 PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Pembangunan nasional bertujuan untuk meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan masyarakat Indonesia, serta mempunyai hakekat pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia secara merata. Ini berarti pemerintah berupaya agar pendapatan masyarakat selalu meningkat dan hidup secara layak. Upaya ini bukan hanya untuk perorangan atau sebagian masyarakat, tetapi benar-benar dirasakan oleh seluruh masyarakat. Dengan demikian jumlah kemiskinan atau jumlah penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan dapat berkurang. Dalam tujuan pembangunan nasional itu juga dijelaskan bahwa

pembangunan nasional itu sendiri merupakan suatu usaha guna meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia, dan pelaksanaanya bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah tetapi seluruh rakyat Indonesia. Maksudnya adalah setiap warga negara harus ikut serta dan berperan dalam melaksanakan pembangunan sesuai dengan profesi dan kemampuan masing-masing. Dalam GBHN juga dijelaskan bahwa "segala usaha dan kegiatan pembangunan harus dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya bagi kemanusiaan, bagi kesejahtaraan rakyat dan bagi pengembangan pribadi warga negara". Selanjutnya dinyatakan bahwa"hasil-hasil material dan spiritual yang di capai dalam pembangunan harus dapat dinikmati secara merata oleh seluruh bangsa dan tiaptiap warga negara berhak menikmati hasil-hasil pembangunan yang layak di

perlukan bagi kemanusiaan dan sesuai dengan nilai dharma bhaktinya yang diberikan kepada bangsa dan negara. (TAP MPR No.IV/MPR/1978). Pembangunan nasional mencakup hal-hal yang bersifat lahiriah dan batiniah yang selaras, serasi dan seimbang. Pembangunan yang bersifat lahiriah dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan hajat hidup fisik manusia, misalnya sandang, pangan, perumahan, olahraga, transportasi dan lain sebagainya. Sedangkan pembangunan yang bersifat batiniah seperti tempat ibadah, pendidikan, hiburan dan kesehatan. Di Indonesia salah satu masalah yang paling krusial adalah masalah kemiskinan. Dengan adanya masalah kemiskinan ini berarti masih ada masyarakat yang belum dapat menikmati hasil pembangunan tersebut sehingga pemerintah membuat suatu program dalam menekan angka kemiskinan sebagai suatu agenda utama dalam proses pembangunan. Tingkat kemiskinan seringkali diukur dengan rendahnya pendapatan terutama bagi penduduk yang tinggal di daerah pedesan. Gambaran yang ada selama ini menunjukan bahwa 80% penduduk Indonesia bermukim, bekerja dan menggantungkan hidupnya di daerah pedesaan. Meskipun sebagai sumber daya terdapat di daerah pedesaan, namun kenyataan masih juga terdapat penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan dan tidak mampu memenuhi kebutuhan yang mendasar seperti pendidikan, kesehatan, perumahan, pangan dan sebagainya. Secara objektif harus diakui bahwa kemiskinan itu melekat pada masyarakat pedesaan, yang secara monoton kehidupanya tergantung dari lahan yang mereka gunakan (Radin,1998).

Menurut Sajogyo (1997), indicator kemiskinan dapat dilihat dari: tingkat konsumsi beras pertahun, tingkat akan kecukupan akan gizi dan tingkat kesejahteraan. Lebih lanjut Hadinegoro dan Pakpahan (1993) mengidentifikasi faktor penentu tingkat kemiskinan di pandang dari segi keluarga dan potensi wilayah. Dari segi keluarga tingkat kemiskinan di tentukan oleh (1) sumber daya manusia yang terdiri dari tingkat pendidikan, nilai atas sikap partisipasi, keterampilan, pengalaman berusaha, jumlah anggota keluarga dan jenis pekerjaan. (2) sarana dan prasarana yang terdiri dari irigasi, transportasi, pasar, kesehatan, pendidikan energi listrik, fasilitas komunikasi dan lembaga keuangan. Dijelaskan lebih lanjut bahwa dari sekian banyak factor tersebut di atas tidak berlaku sama untuk setiap daerah. Adapun langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah untuk

mengurangi angka kemiskinan di Indonesia yaitu (1) adanya program beras miskin (RASKIN),(2) adanya dana kompensasi BBM,(3) adanya dana BOS untuk menunjang pendidikan,(4) adanya Program Penanggulangan Kemiskinan di Perkotaan (P2KP), dan tidak terkecuali di Kabupaten atau kota. Akan tetapi upaya ini masih juga belum berhasil secara baik, kenyataanya kemiskinan masih juga terdapat di daerah perkotaan dan pedesaan. Secara individual,kemiskinan adalah suatu keadaan rumah tangga dimana penghasialn rumah tangga tersebut dalam kurun waktu tertentu akan habis dikonsumsi atau untuk pengeluaran agar keluarganya dapat bertahan untuk hidup. Sasaran yang hendak dicapai dari pembanguan ekonomi adalah mengutamakan

kenaikan pendapatan perkapita dan pemenuhan kebutuhan pokok,bersama dengan itu pembangunan bertujuan untuk menghapus kemiskinan,memperluas

kesempatan keja dalam penanggulangan pengangguran. Menurut Tjiptoheri Janto.(1997;109),Pendapan perkapita merupakan salah satu indicator dalam melihat tingkat kesejahteraan masyarakat terhadapa kebutuhan yang dikonsumsi.Bila pendapatan yang diterima seseorang individu dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka,maka individu tersebut dapat dikatakan tidak miskin.Namun bila pendapatan yang di peroleh seseorang belum mampu untuk dapat memenuhi memenuhi kebutuhan dasar mereka,maka orang iu yang dikatakan miskin. Program Beras Miskin (Raskin) yang dimulai pada bulan januari 2002 merupakan program lanjutan dari program Operasi Pasar Khusus ( OPK) yang di rancang pemerintah dan dilaksanakan oleh Bulog pertengahan tahun 1998. Program ini adalah penyempurnaan dari program stabilitas harga beras,yang umumnya mahal dan juga kurang adil dinikmati semua orang terutama, bagi masyarakat miskin. Program RASKIN merupakan subsidi pangan sebagai upaya dari pemerintah untuk meningkatkan ketahanan pangan clan memberikan perlindungan kepada, keluarga, miskin melalui pendistribusian beras yang diharapkan mampu menjangkau keluarga miskin dimana masing- masing keluarga miskin akan menerima beras minimal 10 kg per bulan dan minimal 20 kg per bulan netto,dengan harga, netto Rp.1000/ kg dititik produksi.

Tujuan dari program RASKIN adalah memberikan bantuan dan meningkatkan atau membuka akses pangan keluarga miskin dalam rangka memenuhi kebutuhan beras sebagai upaya meningkatkan ketahanan pangan di tingkat keluarga, melalui penjualan beras kepada keluarga penerima, manfaat pada tingkat harga bersubsidi dengan jumlah yang telah ditentukan. Sasaran dari proram RASKIN adalah terbantu dan terbukanya akses beras keluarga miskin yang telah terdata dengan ketentuan tertentu sesuai dengan hasil musyawarah desa atau kelurahan dengan harga bersubsidi ditempat sehingga dapat membantu meningkatkan ketahanan pangan keluarga miskin. Tabel 1. Jumlah KK Penerima Raskin Kecamatan Payakumbuh Utara Tahun 2008

No Kelurahan

Jumlah KK Jumlah KK Jumlah Penduduk Laki-laki Wanita Jumlah 661 1110 490 836 318 315 534 277 310 256 393 929 358 382 224 403 511 437 583 1096 442 856 332 294 511 291 324 287 371 967 343 393 214 372 519 480 1244 2206 932 1692 650 609 1045 568 634 543 764 1896 701 775 435 775 1030 917 304 509 224 155 180 249 139 162 126 195 442 153 177 106 237 243 52 118 80 92 53 62 56 30 59 32 66 101 49 49 30 53 37 36

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

Bunian Napar Pd.Kaduduk Tarok Cubadak Air Tambago Talawi BI.Betung Tj.Anau Payolinyam Payonibung Nan Kodok Kaningbukit Muaro Pasir Taruko Bl. Cacang BI.Gadang

19 BI.Jariang 431 431 362 20 BI.Gurun 357 451 808 21 BI.Baru 449 460 909 22 BI.Kaliki 362 349 711 23 Kt. Baru 1027 1076 2103 24 Lb.Baru. 1217 1080 2297 25 Kb.Gadang 954 912 1866 26 S.Durian 1541 1550 3091 27 Parambahan 1153 1066 2219 28 Kt. Panjang 1669 1693 3362 Jumlah 17.904 17.743 35.647 S umber: kantor camat Payakumbuh Utara

213 188 232 175 532 545 466 868 778 Q3.5 9-6

38 30 32 32 72 56 57 146 124 L7 01

Dari data yang ada, kemisknan di Kec.Payakumbuh Utara.Kodya Payakumbuh masih tergolong tinggi yang disebabkan oleh berbagai sumber daya alam dan manusia. Dalam penelitian ini ditujukan pada kelurahan Nan Kodok karena dari 27 kelurahan yang ada, kelurahan ini termasuk kelurahan yang banyak mendapatkan bantuan RASKIN dan juga merupakan tempat tinggal peneliti sendiri. Namun kenyataan yang penulis lihat di lapangan masih terjadi penyimpangan dalam pembagian beras untuk keluarga miskin tersebut,dalam arti ekonomis (keluarga mampu) Maka dari itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul "Kondisi Sosial Ekonomi Keluarga Penerima Beras Miskin (RASKIN) di Kelurahan Nan Kodok. Kecamatan Payakumbuh Utara"

B. Pertanyaan Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan diatas,maka dalam penilitian ini,permasalahan yang dapat penulis rumuskan dilihat dari aspek sebagai berikut : 1. Bagaimana tingkat konsumsi beras keluarga penerima raskin? 2. Bagaimana tingkat pendidikan keluarga penerima raskin? 3. Bagaimana tingkat kesehatan keluarga penerima raskin? 4. Bagaimana kondisi perumahan keluarga penerima raskin? 5. Bagaiaman tingkat pendapatan keluarga penerima raskin? C. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang : 1. tingkat konsumsi beras keluarga penerima raskin. 2. tingkat pendidikan keluarga penerima raskin. 3. tingkat kesehatan keluarga penerima raskin. 4. tingkat pendapatan keluarga penerima raskin. 5. kondisi perumahan keluarga penerima raskin D. Manfaat Penelitian Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian seperti diuraikan diatas,penelitian ini diharapkan memiliki manfaat antara lain; 1. Bagi penulis,sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana. Pendidikan Geografi di FIS UNP 2. Sebagai bahan referensi bagi mahasiswa untuk melakukan penelitian selanjutnya.

3. Sebagai informasi untuk pemerintah Kota Payakumbuh tentang kondisi social ekonomi keluarga penerima, bergs miskin di Kecamatan Payakumbuh utara.

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Gambaran Umum Kelurahan Nan Kodok Berdasarkan letak administrasinya kelurahan Nan Kodok. Kecamatan Payakumbuh Utara, merupakan bagian salah satu keeamatan di Kota Pakumbuh yang diperintah oleh seorang kepala kelurahan.Kepala kelurahan inilah yang menggerakan segala sesuatu untuk kemajuan. KeluraMaNan Kodok. Kelurahan Nan Kodok ini dikelilingi oleh areal persawahan clan juga dilalui oleh sebuah sungai.Sungai dimanfaatkan oleh masyarakat petani untuk mengairi sawah mereka.Persawahan yang ada dikelurahan Nan Kodok terdapat disekitar daerah pemukiman penduduk dan disepanjang aliran sungai. Kelurahan Nan Kodok terdiri terdiri dari 6 RT dan 3 RW.Kelurahan ini dikepalai oleh seorang lurch dan setiap RT dan RW dipimpin oleh kepala RT dan RW yang dipilih oleh masyarakat. Biasanya masyarakat kelurahan Nan Kodok berkumpul dilapangan yang ada dikelurahan pada scat tertentu,misalnya pada perayaan hari ulang tahun Republik Indonesia,pada scat ini masyarakat selalu merayakan dengan bermacammacarn acara seperti pertandingan bola kaki antar RW,Volly ball,panjat pinana dan sepeda santai. Jarak yang menghubungkan Kelurahan Nan Kodok dengan pusat kota Payakumbuh 3 km dan jarak ke ibu kota propinsi adalah 128 km.Kelurahan ini memiliki lugs 79 ha.Tanah di kelurahan ini dimanfaatkan masyarakat 29 ha untuk pemukiman,33 ha untuk persawahan clan 17 ha untuk tanah kering.

B.Penduduk dan Mata pencarian Masyarakat kelurahan Nan Kodok sebagian besar bekerja sebagai petani.Selain petani mereka juga berprofesi sebagai Pegawai Negeri

Sipil,Pedagang dan Wiraswasta. C.Keadaan Sosial Masyarakat di Kelurahan Nan Kodok Kelurahan Nan Kodok pada umumnya didiami oleh penduduk asli Minang Kabau.Mereka hidup rukun,damai dan memiliki jiwa gotong royang yang tinggi.Keiurahan ini memiliki keinekaragaman dalam wilayahnya,mulai dari budaya,bahasa dan sebagainya.Hal ini desebabkan,karena kelurahan Nan Kodok tidak hanya dihuni oleh masyarakat asli kelurahan Nan Kodok tetapi juga dihuni oleh etnis lain yaitu jawa,batak dan pendatang lainya. Secara umum masyarakat kelurahan Nan Kodok ini beragama islam.tJntuk kelancaran beribadah,di kelurahan ini terdapat 1 buah mesjid dan 7 buah mushalla.Pendidikan formal clikelurahan ini juga ditunjang oleh beberapa sekolah yaitu 1 buah TK,1 buah SD dan 1 buah SMA. D. Kajian Teori Kerangka teori ini dimaksudkan sebagai suatu teoritis untuk dapal menerangkan dan menggambarkan masalah penelitian yang telah dirumumuskan antara lain ; tinkat konsumsi beras, tinkat pendapatan, tinkat kesehatan, kondisi perumahan, dan tinkat pendidikan

1. kondisi sosial ekonomi keluarga penerima raskin a. Kondisi social Kondisi social dalam penelitian ini adalah segala perubahan –perubahan pada lembaga – lembaga kemasyarakatan didalam suatu masyarakat yang

mcrnpengaruhi system sosialnya. Termasuk didalamnya nilai-nilai, sikap-sikap dan pola-pola perilaku didalam masyarakat. b.Kondisi Ekonomi Kehidupan Ekonomi dalam penelitian ini dimaksud sebagai taraf perekonomian keluarga yang dilihat melalui pendapatan atau jumlah keseluruhan dari kekayaan lainya, pendidikan, pekerjaan. Pendapatan yang dimaksud adalah jumlah pendapatan yang diterima keluarga yang dihitung rata-rata perbulan, sdangkan yang dimaksud dngan pendidikan disini adalah tingkat pendidikan formal dan non formal anggota. keluarga. Sementara pekedaan adalah mata pencarian atau aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan nafkah bagi kelangsungan hidup mereka. Kondisi social ekonomi masyarakat akan mempengaruhi kemampuan masyarakat An sendiri dalam memenuhi kebutuhan baik papan, sandang, pangan maupun kesehatan. Kondisi social ekonomi masyarakat yang rendah terutama yang tinggal dipedesaan akan rendah pemenuhan gizinya baik dari segi kualitatif maupun kuantitatif dan tidak dapat memanfaatkan sarana pengobatan secara maksimal.(Wirosuharjo,1986:147)

2 Tingkat konsumsi beras Sajogyo(1977)dalam Arsyad (1988;192) menggunakan tingkat konsumsi beras sebagai indicator kemiskinan.Untuk daerah pedesaan, penduduk dengan konsumsi beras kurang dari 240 kg perkapita pertahun bisa digolongkan miskin.Sedangkan untuk daerah perkotaan adalah 360 kg perkapita pertahun. Untuk lebih jelasnya Sajogya membagi indikator kemiskinan menjadi 3 kelompok: Tabel 2. Indikator Kemiskinan Menurut Sajogyo (1997) Indikator a. Melarat b. Sangat miskin c. Miskin Pedesaan 180 kg 240 kg 320 kg Perkotaan 370 kg 360 kg 480 kg

Batas garis kemiskinan yang digunakan tiap-tiap negara ternyata berbedabeda. Hal ini desebabkan oleh adanya perbedaan lokasi dan standar kebutuhan hidup. Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan batas kemiskinan dari besarnya rupiah dibelanjakan perkapita sebulan untuk memenuhi kebutuhan minimum makanan bukan makan (BPS, 1994) Untuk kebutuhan minimum makanan digunakan patokan 2.100 kalori perhari. Adapun pengeluaran kebutuhan minimum bukan makanan meliputi pengeluaran untuk perumahan, sandang, serta aneka barang dan jasa.

3. Tingkat Pendidikan

Menurut Digtionary of Education dalam Nawi (1990;175) menyebutkan bahwa pendidikan adalah (1)proses dimana seseorang mengembangkan

kemampuan sikap dan bentuk tingkah laku lainya di dalam masyarakat dimana dia hidup,(2)proses social dimana seseorang diharapkan pada pengaruh lingkungan khususnya yang datang dari sekolah sehingga memperoleh atau mengalami perkembangan kemampuan social dan kemampuan individu yang optimum. Dalam kamus besar bahasa Indonesia(1980;204) yang dinyatakan bahwa pendidikan adalah proses pengolahan tingkah laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan latihan proses perbuatan cars mendidik. Melalui pendidikan seseorang akan memiliki wawasan yang lugs dan kritis,dapat membimbing keluarganya dan berusaha agar kehidupan keluarganya dapat meningkat kearah yang lebih baik dan terencana sehingga hasilnya dapat memuaskan. Pendidikan mempengaruhi dan dipengaruhi oleh keadaan social ekonomi dan budaya masyarakat.Meningkatnya jumlah penduduk yang tidak terkendali akan menimbulkan dampak yang buruk dalam pendidikan seperti keterbatasn sarana dan prasarana pendidikan,kekurangan tenaga pendidik dan lainsebagainya. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pendidikan adalah sarana meningkatkan kualitas somber daya manusia dan memberikan perubahan terhadap perilaku manusia sehingga menciptakan manusia yang berkualitas dan memiliki wawasan yang luas. 4. Tingkat Kesehatan

Menurut kamus besar bahasa Indonesia pengertian sehat adalah suatu keadaan baik segenap badan serta. bagian-bagianya (Purwadarminta,1989 dalam Elvia).Sedangkan menurut UU pokok kesehatan no 9 tahun 1990,arti sehat adalah meliputi kesehatan jasmani,rohani dan social serta mental.Dalam arti luas kesehatan dapat diartikan sebagai suatu keseimbangan kesehatan

jasmani,rohani,social bukan keadaan bebas dari penyakit cacat dan kelemahan (Emmi 1992;60 dalam Elvia). Hampir sama yang dikemukakan oleh kajian yang relevan,sehat adalah; a. Suatu keadaan sempurna fisik mental dan social,bukan hanya bebas dari penyakit. b. Harus dinilai menurut kemampuan adaptasi terhadap perubahan

lingkungan,jika kemampuan adaptasinya gagal,maka akan iatuh sakit (DEPKES 1989;38).Menurut DEPKES (1989;42) menyebutkan factorfaktor yang mempengaruhi kesehatan pribadi adalah; • Factor lingkungan yaitu segala sesuatu yang mempunyai hubungan langsung dengan kita seperti iklim • • Factor social budaya sepertipenghasialn dan pendidikan Fasilitas kesehatan seperti lokasi,tempat pelayanan kesehatan dan tenaga medis,selanjutnya keturunan seperti genetic dan struktur tubuh.

5. Kondisi Perumahan

Menurut (Emmy,1992;56) menjelaskan bahwa perumahan adalah suatu tempat tinggal dimana keluarga dapat hidup teratur,sehingga pertumbuhan jasmani dan rohani serta social tedamin dan terpenuhi untuk mempertebal atau memelihara rasa kekeluargaan.Jadi rumah merupakan kebutuhan primer yang mutlak dimiliki manusia dalam upaya sosialisasi dan melindungi diri dari ancaman yang mengganggu kelangsungan hidup anggotanya. Ditinjau dari persyaratan sebuah rumah,hendaklah memperhatikan hal-hal sebagai berikut; a. Ruang tidur hendaklah terpisah antara anak-anak dengan orang dewasa serta, antara pria dan wanita. b. Ruang tamu;ruang tempat menerima tamu,biasanya tempatnya didepan sehingga kehadiran tamu tidak mengganggu bagi setiap anggota keluarga. c. Ruang makan;digunakan untuk tempat makan bagi anggota keluarga. d. Ruang dapur;tempat memasak makanan sekaligus tempat menyajikan makanan e. Kaman mandijernpat mandi dan tempat buang hajat keluarga. f. Halaman pekarangan yang digunak-an sebagai tempat bermain -Makanak,tempat menanam bungs dan apotik hidup (Lamzinar.1983;30 dalam Elvia) Dari uraian diatas dapat disimpulkan bah%va rumah mempakm facwt penunjang dalam kelangsungan hidup manusia karena sebagai tempat tinggal bagi suatu keluarga agar hidup teratur dan dapat memilihara rasa kekeluargaan. 5. Tingkat Pendapatan

Pendapatan secara umum dapat diartikan menurut Hull (1976) dikutip oleh Nawi (1991;22).pendapatan adalah gambaran yang lebih tepat tentang posisi ekonomi keluarga yang merupakan keseluruhan pendapatan ataukekayaan keluarga (termasuk barang-barang dan hewan peliharaan),dipakai untuk membagi kedalaman tiga kelompok yaitu pendapatan tinggi,sedang dan rendah. Pendapatan menurut kamus bahasa Indonesia (1989 ;185) adalah hasil kerja atau uasaha. Pengertian ini hampir sama dengan pendapat yang dikemukakan Shadli (1989:11). Bahwa pendapata adalah sejumlah uang atau barang yang diterimanya sebagai hasil kerja yang dilakukan. Menurut BPS dalam Sumardi mengelompokan pendapatan daolam beberapa kelompok sebagai berikut;(1)pendapan berupa uang (2) pendapan berupa barang.Pendapatan berupa uang adalahsegala' penghasilan yang sifatnya regular yang diterima biasanya sebagai balas jasa dari majikan.Sedangkan pendapan berupa barang adalah segala penghasilan yang sifatnya regulerakan tetapi tidak selalu berbentuk balas jasa dan diterima dalam bentuk barang dan jasa.Barang-barang dan jasa yang diperoleh dinilai dengan harga pasar sekalipun tidak disertai dngan transaksi uang oleh yang menikmati barang dan jasa tersebut

B. Kerangka Konseptual

Kondisi perumahan Tingkat pendidikan Tingkat konsumsi beras Tingkat kesehatan Tingkat pendapatan l ekonomi keluarga penerima raskin

Kesejahtaraan lahir dan bathin merupakan cita-cita setiap keluarga baik yang tinggal di daerah pedsaan maupun yang tinggal diperkotaan.Kemiskinan sebagai salah satu penciri ketidaksejahteraan kelnarga yang merupakan masalah yang sedang dihadapi bangsa. Indonesia pads saat ini.Berbagai uasaha telah dilakukan oleh pemerintah bersama masyarakat untuk menanggulanginya. Dari uraian variable-variabel tersebut diatas,dapat penulis gambarkan kerangka konseptual sebagai berikut;

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Dalam melakukan penelitian seseorang dapat menggunakan metode dan rancangan penelitian sesuai dengan tujuan yang dicapai dari penelitian tersebut.Berdasarkan masalah dan tujuan penelitian,maka penelitian ini tergolong kepada `penelitian deskriptif'.Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bennaksud membuat pencemaan mengenai situasi-situasi atau kejadiankejadian yang tidak saling mencari hubungan,membuat ramalan atau prediksi

(Nawi,1990;131).Selanjutnya Nawi (1988;31)menjelaskan bahwa penelitian deskriptif(terbatas pada pengungkapan masalah keadaan peristiwa sebagai mana adanya dan sekedar hanya mengungkap dan hasil penelitian ditekankan pada gambaran objek yang diselidiki. Berkaitan dengan permasalahan yang hendak dikaji peneliti,maka variable yang diteliti meliputi;tingkat konsumsi beras,tingkat pendidikan,tingkat

kesehatan,kondisi perumahan dan tingkat pendidikan. B. Populasi dan Sampel 1. Populasi Pengertian populasi menurut Nasution (1985:31) menyatakan bahwa populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti,diamati,diwawancarai dimana peneliti akan menarik suatu kesimpulan tentang objek itu.

Selanjutnya Maffuh (1996:172),populasi adalah jumlah keseluruhan unit

analisis yang cirri-cirinya akan diduga atau dengan kata lain populasi merupakan sekimpulan unsur atau elemen yang menjadi objek penelitian. Dengan adanya populasi daerah penelitian,akan dapat ditarik sampel rang menjadi populasi adalah keseluruhan keluarga penerima beras miskin di kelurahan Nan Kodok kecamatan Payakumbuh utara yaitu sebanyak 101 KK 2. Sampel Pengertian sampel menurut Arikunto (1992:104) adalah sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti.Penarikan sampel dalam penelitian ini diambil Random Sampling atau secara acak yaitu dari 28 kelurahan yang ada di kecarnatan, Payakumbuh Utara diambil 1 kelurahan yaitu kelurahan Nan Kodok sebanyak 101 KK. Dalam penelitian ini terdiri dari responden kunci dan responden kepala keluarga.Responden kunci yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah orang atau pihak yang berkompeten yang dianggap banyak mengetahui banyak persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat yang menjadi populasi dan penduduk yang dijadikan sampel. C. Variabel Data Variabel dan data yang diungkapkan dalam penelitian ini adalah tingkat konsumsi beras,tingkat pendapatantingkat pendidikan,tingkat kesehatan dan kondisi perumahan keluarga penerima beras miskin tersebut.

1. Defenisi Operasional,Variabel dan Indikator

a. Tingkat konsumsi beras Dimaksudkan dalam penelitian ini adalah jumlah atau banyak beras yang dimasak setiap harinya,untuk mengukumya digunakan indicator 1) Frekuensi makan dalam sehari 2) Jenis beras yang dikonsumsi b.Tingkat pendapatan Pendapatan dimaksudkan dalam penelitian ini adalah pendapatan anggota keluarga untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,untuk mengukurnya digunakan indicator: 1) Pendapatan dari tani 2) Pendapatan dari non tani c. Tingkat pendidikan. Pendidikan dimaksudkan dalam penelitian adalah jenjang pendidikan yang pernah ditempub anggota keluargauntuk mengukumya digunakan indicator: 1) Pendidikan formal 2) Pendidikan non formal 3) Keadaan pendidikan anak d. Tingkat kesehatan Dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kondisi kesehatan keluarga mengenai diri dan lingkungan,untuk mengukurnya digunakan indicator: 1) Penyakit yang pernah diderita 2) Tempat berobat keluarga 3) Tempat membuang sementara sampah di rumah

4) Tempat pembuangan sampah akhir e. Kondisi Perumahan Dimaksudkan dalam penelitian ini adalah kondisi rumah dan fasilitas yang ada didalamnya,untuk mengukurnya digunakan indicator: 1) Jenis rumah 2) Luas rumah 3) Jumlah kamar D. Jenis data,Teknik Pengumpulan Data, Alat Pengumpulan Data dan Sumber data 1. Jenis data a) Data sekunder yaitu data-data fisik yang diperoleh dari kantor camat Payakumbuh Utara b) Data primer,yaitu data yang langsung didapat dari kelurga penerima beras miskin melalui wawancara dan penyebaran angket penelitian 2. Teknik pengumpulan data Data primer diperoleh dari wawancara terbimbing dengan responder melalui daftar pertanyaan,sedangkan data sekunder diperoleh dari staf kelurahan melalui observasi dan wawancara. 3. Sumber data Data primer diperoleh dari responden dilapangan data kusioner, data sekunder diperoleh dari data kecamatan dan kelurahan setempat.

4. Alat pengumpul data

Data primer dikumpulkan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner,data sekunder dikumpulkan melalui kantor camat dan. kelurahan 5. Teknik analisis data Berdasarkan tujuan penelitian dan data yang diperoleh,maka data akan dianalisis secara deskriptif yaitu digunakan analisis statistik deskriptif berupa formula persentase yang bertujuan untuk melihat kecendrungan indikator masingmasing variable dengan menggunakan rumus; Frekuensi Jawaban Responden x 100% = Nilai Item Jumlah Responden (Arikunto, 1989: 333 dalam Elvia) Keterangan: P = persentase F = frekuensi jawaban responden N = jumlah responden

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->