P. 1
Memahami Surat-surat Paulus

Memahami Surat-surat Paulus

|Views: 718|Likes:
Published by Lie Chung Yen
In Indonesian language, "Understanding the Letters of Paul", originally a paper presented by Martin Suhartono, S.J. in a seminar on St. Paul's method of proclaiming Christ, in commemoration of the silver jubilee of the Pontifical Theological Faculty of Wedabhakti, Yogyakarta, 27 September 2008.
In Indonesian language, "Understanding the Letters of Paul", originally a paper presented by Martin Suhartono, S.J. in a seminar on St. Paul's method of proclaiming Christ, in commemoration of the silver jubilee of the Pontifical Theological Faculty of Wedabhakti, Yogyakarta, 27 September 2008.

More info:

Published by: Lie Chung Yen on Mar 07, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/14/2012

pdf

text

original

MEMAHAMI SURAT-SURAT PAULUS1

Martin Suhartono, S.J.

Sudah sejak dulu ketika surat Petrus beredar, ada hal-hal yang sukar difahami dalam suratsurat Paulus sehingga ada orang-orang yang memutarbalikkan menjadi kebinasaan mereka sendiri (2 Pt 3:15-16). Semoga hal itu tak terjadi dalam tulisan ini. Berhadapan dengan kesulitan pemahaman terhadap pemikiran Paulus, pembaca suratsurat Paulus dapat bertanya, "Apakah kunci tafsir surat-surat Paulus?" Dalam tulisan ini diajukan tesis bahwa Pengalaman Damsyik merupakan kunci tafsir terhadap surat-surat Paulus. Pengalaman Paulus dalam perjalanan ke Damsyik berjumpa dengan Yesus yang bangkit merupakan titik balik perjalanan hidup Paulus. Pada umumnya, peristiwa di jalan ke Damsyik itu dianggap sebagai saat pertobatan Paulus. Apakah pengertian ini mencukupi? Apakah yang sebenarnya terjadi dalam peristiwa Damsyik itu?

Pengalaman Damsyik: Perjumpaan dengan Yesus yang hidup
Dari surat-suratnya kelihatan bahwa Paulus sendiri tidak menekankan aspek pertobatan melainkan lebih menekankan aspek pewahyuan, penampakan Kristus, atau pernyataan Allah dalam diri putraNya. Paulus menggunakan ungkapan "melihat Yesus" (1 Kor 9:1), "Ia

menampakkan diri" (1 Kor 15:8). Ia menyadari peristiwa itu dalam konteks panggilan sebagaimana terjadi dalam pengutusan nabi-nabi, ia mengungkapkan demikian: "Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan. ... memanggil aku ...menyatakan Anak-Nya ... agar aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa" (Gal 1:15-16; bdk. Yes 49: 1, 5; Yer 1:5). Memang ia membandingkan perbedaan dasariah sebelum dan sesudah Pengalaman Damsyik. Namun hal itu pun dialami oleh Paulus dalam rangka "pengenalan akan Kristus" (Fil 3:8). Inti pengalaman Damsyik, sebagaimana dikatakan oleh Paulus sendiri, adalah pengalaman pembalikan dalam pengenalan akan Kristus (Fil 3:8). Dan aspek utama pengenalan itu ialah besarnya kasih Allah dalam Yesus (Rom 8:39; cf. Ef. 3:18-19). Karena pengenalan akan Yesus itulah ia melihat segala sesuatu sebelum ia berjumpa dengan Yesus sebagai sampah. Tadinya ia mengira Yesus itu mati dan terkutuk, setelah Damsyik ia mengalami bahwa Yesus
                                                            
 Makalah dalam Seminar "Bagaimana Metode Paulus dalam mewartakan Kristus?", Memperingati Pesta Perak  (1984‐2009) Fakultas Teologi Wedabhakti, 27 September 2008, Yogyakarta. 
1

Martin/Memahami Paulus/ hlm. 2   

itu hidup dan mulia. Pengalaman Damsyik ternyata bukanlah sekedar pertobatan, melainkan terutama (disadari sungguh-sungguh dan selalu ditekankan Paulus) penampakan pewahyuan, dan panggilan - pengutusan. Kesimpulan di atas ditarik dari surat-surat Paulus, tapi bagaimana dengan sumber lain (mis. Kis )? Apakah di sana ditemukan aspek-aspek itu pula? Bukankah kesan umum yang spontan muncul dari membaca Kis mengenai peristiwa di jalan ke Damsyik adalah aspek pertobatan? Ada tiga kisah mengenai peristiwa itu dalam Kis (lihat Lampiran). Tema pertobatan jelas tampak dalam Kis 9:1-19a. Sinar yang membutakan Paulus merupakan model khas hukuman Allah yang menghalangi musuh maju, seperti Heliodorus yang jatuh diliputi kegelapan (lih. 2 Mak 3:27). Penekanan kisah tampak pada mukjizat penyembuhan kebutaan; tampak ada pola khas kisah penyembuhan, seperti lamanya penyakit (tiga hari), keengganan penyembuh, dan penumpangan tangan. Rencana Allah mengenai masa depan Paulus diberitahukan kepada Ananias, sekedar karena ia tadinya segan datang ke Paulus, namun informasi tersebut tak diteruskan ke Paulus. Dalam Kis 22:4-16, mulai tampak bukan hanya pertobatan tapi juga panggilan atau pengutusan Paulus, yang diberitahukan kepada Paulus oleh Ananias. Namun tak dikisahkan kapan Ananias menerima rencana Allah mengenai diri Paulus. Pengutusan Paulus diteguhkan dengan penampakan Tuhan di Bait Allah. Maka isi pertanyaan Paulus "Tuhan, apakah yang harus kuperbuat?" (Kis 22:10) sudah mengantisipasi pengutusan. Dalam Kis 26:12-23 tampak pula panggilan dan pengutusan Paulus. Namun peranan Ananias dihilangkan dan Paulus menerima langsung tugas itu dari Allah. Kelihatan bagaimana unsur pewahyuan - penampakan semakin ditekankan di situ sebagaimana tercermin dalam ungkapan "Aku menampakkan diri kepadamu... segala sesuatu yang kaulihat dari pada-Ku....apa yang akan Kuperlihatkan kepadamu..." (Kis 26:16) dan "kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat" (Kis 26:19). Yang terjadi pada Paulus di jalan ke Damsyik adalah perjumpaan Paulus dengan Yesus yang bangkit. Dan perjumpaan dengan Yesus yang bangkit itu telah mengubah sama sekali pandangan Paulus tentang Dia yang mati disalib. Sebagaimana orang Yahudi, ia tentunya menilai orang yang mati disalib sebagai orang terkutuk (Ul 21:23; cf. Gal 3:13). Karena itu ia begitu digerakkan oleh rasa benci terhadap orang-orang yang mempertuhankan orang terkutuk itu. Namun dalam perjumpaan di jalan ke Damsyik itu, Paulus kemudian paham akan makna salib. Ia mengerti bahwa Allah sendiri yang mengutus Yesus (Gal 4:4) dan menyerahkan Dia bagi kita (Rom 5:6). Maka dari pengalaman pribadinya sebelum

Martin/Memahami Paulus/ hlm. 3   

Damsyik ia bisa mengatakan bahwa salib itu adalah kebodohan bagi orang Yunani dan batu sandungan bagi orang Yahudi (1 Kor 1:22 dst.). Setelah Damsyik ia mengerti bahwa salib adalah "kekuatan Allah dan hikmat Allah" (I Kor 1:24). Maka barangsiapa ikut dalam kematian Kristus akan ikut juga dalam kebangkitanNya (Rom 6:3-4). Dari kisah hidup Paulus, tampak bagaimana ia bergulat dengan ketegangan antara pengenalannya terhadap Kristus dan pengalamannya yang berakar pada tradisi Yahudi. Perjumpaan dengan Yesus yang bangkit di jalan ke Damsyik membuat Paulus berpikir ulang tentang banyak hal, misalnya tradisi Yahudi dan Hukum Taurat, orang-orang non Yahudi, rencana penyelamatan Allah, dll.

Berpijak pada tradisi
Betapa pun unik pengalaman Paulus di jalan ke Damsyik, apakah seluruh pengenalan dan pemahaman Paulus mengenai Yesus didasarkan semata-mata pada pengalaman tersebut? Tampaknya tidak demikian. Ada banyak unsur dalam konsep-konsep Paulus mengenai Yesus yang berasal dari tradisi Pra-Paulus; misalnya, lihat M. Casey, “Chronology and the Development of Pauline Christology”, dalam M.D. Hooker dan S.G. Wilson, Paul and Paulinism, London 1982, hal. 124-134: a) Rumusan "Yesus adalah Tuhan": Lihat Rom 10:9; 1 Kor 12:3; Fil 2:11; mungkin pula Rom 1:4; seperti juga tradisi kuno 1 Kor 11:23. Ungkapan bahasa Aram "maranatha" (1 Kor 16:22 "Tuhan kami, datanglah!") menunjukkan bahwa Yesus telah disebut "Tuhan" oleh jemaat Kristen purba. b) Gelar “Kristus” sebagai nama diri: Lihat Fil 2:11, juga Rom 1:4, tradisi kuno 1 Kor 15:3. Kebiasaan ini tampaknya cukup kuno (lih. Kis 2:36; 11:26). c) Yesus sbg. keturunan Daud: Lihat Rom 1:3. d) Yesus sebagai Anak Allah: Rom 1:3dst tampaknya merupakan tahap perantara perkembangan Kristologi ketika Yesus dipercaya sebagai ditetapkan sebagai Anak Allah setelah kebangkitan (Kis 2:36; 5:31; 13:33). Namun tak ada paham kelahiran dari seorang perawan. e) Tradisi tentang penampakan Yesus yang bangkit: Lihat 1 Kor 15:3-5: Yesus wafat karena “dosa-dosa kita”, bangkit “pada hari ketiga”. f) Kedatangan Kristus kembali: Ungkapan “maranatha” (1 Kor 16:22) tampaknya diambil alih dari tradisi yang beredar luas dan berisi harapan akan kedatangan Yesus kembali (Didakhe 10:6; Wahyu 22:20; lihat 1 Kor 4:5; 5:5; 11:26; 15:23).

Martin/Memahami Paulus/ hlm. 4   

g) Baptis sebagai ikut serta dalam kematian Yesus: Rom 6:3dst. menunjukkan kebiasaan baptis dalam umat kristen awal: melepaskan pakaian lama dan ditenggelamkan, kemudian naik dan memperoleh pakaian putih lambang Kristus sendiri. i) Kidung kerendahan hati Kristus: Lihat Fil 2:6-11: Wafat Yesus, sebagaimana juga inkarnasi, dianggap sebagai tanda kerendahan hati Yesus yang punya status ilahi. j) Kidung peranan Yesus dalam penciptaan dan penebusan: Lihat Kol 1:15-20: Kidung tentang pre-eksistensi Yesus dan peranannya dalam alam semesta. Casey mengatakan bahwa bahan-bahan Pra-Paulus ini menunjukkan bahwa “Kristologi Paulus bukanlah hasil suatu pikiran tunggal, bukan juga suatu entitas tunggal yang keberadaan mendadaknya harus diterangkan, melainkan hasil proses perkembangan yang dapat diamati” (hal. 125). Dan justru ada kesejajaran antara bahan-bahan itu dengan bahan-bahan yang berasal dari Yudaisme Intertestamental (Yudaisme dalam periode antara PL dan PB), yaitu faham kepercayaan Yahudi akan tokoh perantara illahi - insani.

Kristologi dalam penghayatan hidup
Bagi Paulus pengenalan akan Kristus adalah segala-galanya. Pengalaman akan Kristus ini mengalir juga ke dalam pengalaman pastoral Paulus. Ketika ia menulis surat kepada jemaatjemaat Kristen, terutama yang didirikan oleh Paulus (Tesalonika, Filipi, Korintus), apa yang sepintas tampak sebagai Kristologi sebenarnya bukanlah pertama-tama dimaksudkan untuk mengajar mereka siapakah Yesus itu, melainkan apakah konsekuensi siapakah Yesus itu bagi penghayatan iman mereka (Lihat David Sanders, “A Lived Christology in Paul”, dalam The Month 27(1994), hal. 475-479). Surat-surat Paulus lahir dari situasi konkret jemaat dengan problem-problem tertentu. Ajaran tentang siapa Yesus itu diajukan untuk menyelesaikan suatu problem konkret kehidupan yang dihadapi jemaat. Ia berupaya untuk menerangi situasi itu berdasarkan iman kepada Kristus. Apa dan siapa Yesus itu baru menjadi jalan keselamatan kalau bukan sekedar diketahui melainkan juga dilaksanakan oleh jemaat. Pengamatan di atas dapat dilihat, misalnya, dalam 1 Kor 1-4. Konteks uraian Paulus di situ adalah problem perpecahan dalam jemaat di Korintus, ada yang menganggap diri milik Apolos, ada yang milik Petrus, ada yang milik Paulus. Tampaknya Paulus dituduh terlalu duniawi, kurang karismatis (II Kor 10:2). Paulus memberikan solusi atas problem konkret jemaat itu dengan mengingatkan jemaat akan siapakah Yesus yang mereka ikuti itu, yaitu Yesus yang tersalib. Injil tidak tergantung pada hikmat manusia, melainkan kuasa Allah.

Martin/Memahami Paulus/ hlm. 5   

Hal yang sama dapat dilihat pula dalam I Kor 15. Problem di Korintus saat itu bukanlah bahwa umat tidak percaya akan kebangkitan Kristus. Umat percaya bahwa Kristus telah bangkit, hanya saja yang tidak mereka percayai adalah bahwa mereka akan bangkit juga. Atau mereka mengira bahwa mereka sudah termasuk orang-orang rohani karena mereka telah menjadi pengikut Yesus. Paulus mengingatkan bahwa kalau tak ada kebangkitan orang mati, maka Yesus juga tidak bangkit. Sedangkan kalau Ia bangkit, Ia bangkit sebagai anak sulung. Karena itulah mereka akan mengalami nasib seperti Dia juga. Umat diingatkan pula bahwa tubuh jasmani yang mereka miliki sekarang bukanlah tubuh yang abadi, melainkan tubuh kebinasaan. Ada tubuh rohani, yaitu tubuh kebangkitan, yang tak sama dengan tubuh yang jasmani itu. Dalam 1 Kor 11:17-33, problem yang dihadapi Paulus adalah keserakahan umat dalam perjamuan. Yang kaya lupa akan yang miskin dan makan hidangannya sendiri. Paulus mengingatkan mereka bahwa Yesus adalah Yesus yang telah memberikan diriNya bagi semua dalam Ekaristi. Maka hendaknya mereka melakukan pula apa yang telah dilakukan Yesus bagi mereka. Bagi Paulus, dapat dikatakan bahwa teologi, kristologi, penyelesaian pastoral dll. selalu didasarkan pada hubungan pribadi Yesus dengan Paulus, dan Paulus dengan jemaat. Misalnya, berulang kali ia menyuruh jemaat menjadikan dia sebagai teladan yang harus ditiru, sama seperti Paulus meneladan Kristus (I Kor 4:15-16; 11:1; 1 Tes 1:6-7; 2 Tes 3:7-9; Fil 3:17; 4:9). Paulus ternyata hanya mengatakan demikian kepada umat di Tesalonika, Korintus dan Filipi, jemaat-jemaat yang didirikan Paulus, yaitu mereka semua yang memiliki hubungan pribadi dengan dia. Bagi Paulus, hubungan pribadi dengan Yesus itu bukanlah soal pengetahuan intelektual siapakah Kristus itu, seakan seperti dianut orang dalam Gnostisisme, yaitu bahwa pengetahuan akan menyelamatkan, melainkan suatu pengenalan pribadi akan Kristus. Dalam konteks ini ia bisa berkata "bahwa pengenalan akan Kristus lebih mulia daripada semuanya" (3:8). Dan yang dituju oleh Paulus dengan pengenalan itu adalah "persekutuan dalam penderitaanNya" agar ia "menjadi serupa dengan Dia dalam kematian, supaya beroleh kebangkitan" (3:10), dengan kata lain, agar ia diubah menjadi "serupa dengan gambar-Nya" (2 Kor 3:18), sehingga dengan demikian bukan lagi "aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal 2:20).

Martin/Memahami Paulus/ hlm. 6   

LAMPIRAN Perbandingan tiga kisah Peristiwa Damsyik dalam Kis 9, 22, dan 26.
(lih. Ch.W. Hedrick, 'Paul’s conversion/call: a comparative analysis of the three reports in Acts' dalam Journal of Biblical Literature 100 (1981), 415-432).

PERSAMAAN Peristiwa: Kis 9:1-19a Kis 22:4-16 Kis 26:12-23

1. Surat 2. Ke Damsyik 3. Cahaya sekeliling

ay. 1-2 ay. 3a ay. 3b (Paulus)

ay. 4-5 ay. 6a ay. 6b (tengah hari, sekeliling P)

ay. 12b (kuasa) ay. 12a ay. 13 (tengah hari, P dkk.) ay. 14a (kami rebah) ay. 14b (bhs. Ibrani) ay. 14c (..menendang ..) ay. 15a ay. 15b

4. Jatuh ke tanah 5. P dengar suara 6. “S, mengapa ..?” 7. P tanya “siapa?” 8. Jawab “aku Yesus”

ay. 4a (Paulus) ay. 4b ay. 4c ay. 5a ay. 5b

ay. 7a (Paulus) ay. 7b ay. 7c ay. 8a ay. 8b (+...Nazaret)

PERBEDAAN
9. P tanya: (tak disebut) ay. 10a (“Apa yang harus kubuat?”) 10. “Berdiri, masuk kota, ay. 6 dikatakan yg. harus kaubuat” 11. Teman2 P dengar ay. 7 tapi tak lihat... 12. P bangkit, buta ay. 8a (tak bisa lihat krn. sinar) 13. Teman2 tuntun P 14. P buta 3 hari, tak makan dan minum 15. Ananias diperintah Tuhan ay. 10-14 16. Tuhan bicara pd. Ananias ay. 15-16 (tak disebut) ay. 14-15 (Ananias kpd. P) (tak disebut) ay. 16b-18: (Tuhan langsung ke P) 17. A tumpang tangan pd. P ay. 17 "...terima Roh Kudus" 18. Sesuatu tanggal dari mata ay. 18a P bisa lihat lagi. 19. P bangkit, dibaptis, makan. ay. 18b-19 ay. 16 (A perintah P: "bangkit, dibaptis..." (tak disebut) ay. 12-13a (A ke P: "terima penglihatan" ay. 13b (P bisa lihat lagi) (tak disebut) (tak disebut) ay. 8b ay. 9 ay. 11b (tak disebut) (tak disebut) (tak disebut) ay. 10b (“...dikatakan yang ditugaskan ..”) ay. 9 (lihat tapi tak dengar) ay. 11a (tak ada P bangkit) (tak disebut) ay. 16a ("..yg kaulihat.. Kuperlihatkan..") (tak disebut) (tak disebut)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->