P. 1
Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

Model Layanan Pendidikan Bagi Anak Berkebutuhan Khusus

|Views: 6,883|Likes:
Published by lelyistighfarin

More info:

Published by: lelyistighfarin on Mar 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/01/2015

pdf

text

original

MODEL LAYANAN PENDIDIKAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Dalam makalah kami ini, akan dibahas mengenai bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang mengalami kecacatan fisik, yaitu tunanetra, tunarungu, tunadaksa, tunamental, tunalaras, dan anak berbakat.

Bentuk Layanan Menurut Hallan dan Kauffman bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus ada berbagai pilihan, yaitu :
a. Reguler Class Only : kelas biasa dengan guru biasa b. Reguler Class with Consultation

: konsultan biasa dengan konsultan

guru PLB
c. Itenerant Teacher : Kelas Biasa dengan guru kunjung d. Resource Teacher : yaitu kelas biasa dengan guru biasa, namun dalam

beberapa kesempatan anak berada di ruang sumber dengan guru sumber e. Pusat Diagnosik-Perspektif
f. Hospital or Homebond Instruction : pendidikan dirumah atau dirumah

sakit, yakni kondisi anak yang memungkinkan belum masuk ke sekolah biasa
g. Self-contained Class : kelas khusus di sekolah bersama guru PLB h. Spesial Day School : sekolah luar biasa tanpa asrama i.

Resedential School : sekolah luar biasa berasrama

1

Samuel A. Kirk membuat gradasi layanan Pendidikan bagi anak berkebutuhan Khusus dari model segredasi ke model mainstreaming.

2

Dari kedua pendapat di atas, bentuk-bentuk layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus dapat dibedakan menjadi 2 kelompok besar, yaitu : a. Bentuk Layanan Pendidikan Segredasi Yaitu penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan secara khusus dan terpisah dari sistem pendidikan anak normal. Sistem pendidikan segregasi diselenggarakan karena: 1. Adanya kekhawatiran terhadap kemampuan anak berkebutuhan khusus untuk belajar bersama dengan anak normal. 2. Adanya kelainan fungsi pada anak berkebutuhan khusus memerlukan layanan pendidikan dengan menggunakan metode yang sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. Ada empat penyelenggaraan pendidikan dengan sistem segregasi, yaitu : 1. Sekolah Luar Biasa (SLB) Bentuk SLB merupakan bentuk unit pendidikan, artinya, penyelenggaraan sekolah mulai dari tingkat persiapan sampai dengan tingkat lanjutan diselenggarakan dalam satu unit sekolah dengan satu kepala sekolah. Pada awalnya penyelenggaraan sekolah dalam bentuk unit ini berkembang sesuai dengan kelainan yang ada (satu kelainan saja), sehingga ada SLB untuk tunanetra(SLB-A), SLB untuk tunarungu (SLB-B), SLB untuk tunagrahita (SLB-C), SLB untuk tunadaksa

3

(SLB-D), SLB untuk tunalaras (SLB-E). Di setiap SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut. Selain itu ada pula SLB-ABCD yaitu SLB untuk anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa. Hal ini dikarenakan jumlah murid yang sedikit dan fasilitas sekolah yang terbatas.

2. Sekolah Luar Biasa Berasrama Peserta didik SLB berasrama tinggal diasrama. Pengelolahan asrama menjadi satu kesatuan dengan pengelolaan sekolah, sehingga di SLB tersebut ada tingkat persiapan, tingkat dasar, dan tingkat lanjut, serta unit asrama. Bentuk satuan pendidikannya juga sama dengan bentuk SLB sebelumnya. Pada SLB berasrama, terdapat kesinambungan program

pembelajaran yang ada di sekolah dengan diasrama, sehingga asrama merupakan tempat pembinaan setelah anak di sekolah.

3. Kelas Jauh / Kelas Kunjung Merupakan kebijakan pemerintah berupa lembaga yang disediakan untuk memberi pelayanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus yang tinggal jauh dari dari SLB dan SDLB. Dalam penyelenggaraan kelas jauh ini menjadi tanggung jawab SLB terdekatnya, mereka berfungsi sebagai guru kunjung, administrasinya di SLB tersebut.

4

4. Sekolah Dasar Luar Biasa Merupakan unit sekolah yang terdiri dari berbagai kelainan yang dididik dalam satu atap. Dalam SDLB terdapat anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, dan tunadaksa. Tenaga kependidikannya terdiri dari kepala sekolah, guru untuk masing-masing kelainan pada anak, guru agama dan guru olahraga, serta tenaga ahli yang berkaitan dengan kelainan mereka juga penjaga sekolah. Kurikulum dan pendekatan yang digunakan juga disesuaikan dengan ketunaan masing-masing, selain itu di SDLB diselenggarakan pelayanan khusus sesuai dengan ketunaan anak.

b. Bentuk Layanan Terpadu/Integrasi

Adalah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada anak berkebutuhan khusus untuk bbelajar bersama-sama dengan anak normal di sekolah umum. Jumlah anak berkebutuhan khusus dalam satu kelas maksimal 10% dari jumlah siswa keseluruhan. Hal ini untuk menjaga agar beban guru tidak terlalu berat, dibanding jika guru harus melayani berbagai kelainan. Untuk membantu kesulitan yang di alami anak berkebutuhan khusus, di sekolah terpadu disediakan Guru Pembimbing Khusus (GPK), fungsinya sebagai konsultan bagi guru kelas, kepala sekolah, atau anak berkebutuhan khusus itu sendiri, juga sebagai pembimbing di ruang bimbingan khusus atau guru pada kelas khusus.

5

Ada 3 bentuk keterpaduan dalam layanan pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus menurut Depdiknas, ketiga bentuk tersebut adalah :
1. Bentuk Kelas Biasa (keterpaduan penuh)

Dalam bentuk keterpaaduan ini, anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa secara penuh dengan menggunakan kurikulum biasa. Dalam keterpaduan ini guru pembimbing khusus hanya berfungsi sebagai konsultan dan penasihat, baik mengenai kurikulum, maupun permasalahan dalam mengajar anak berkebutuhan khusus, sehingga perlu di buatkan ruangan tersendiri. Pendekatan, metode, dan cara penilaian yang digunakan pada kelas biasa ini tidak berbeda dengan kelas pada sekolah umum, tetapi untuk beberapa mata pelajaran di sesuaikan dengan kebutuhan anak.

2. Kelas Biasa dengan Ruang Bimbingan Khusus (keterpaduan sebagian)

Pada keterpaduan ini anak berkebutuhan khusus belajar di kelas biasa dengan menggunakan kurikulum biasa serta mengikuti pelayanan khusus untuk mata pelajaran tertentu yang tidak bisa diikuti anak berkebutuhan khusus bersama dengan anak normal. Pelayanan khusus tersebut diberikan di ruang bimbingan khusus oleh guru pembimbing khusus, dengan menggunakan pendekatan individu dan metode peragaan yang sesuai.

3. Bentuk Kelas khusus (keterpaduan lokal)

Dalam keterpaduan ini, anak berkebutuhan khusus mengikuti pendidikan sama dengan kurikulum di SLB secara penuh pada sekolah umum yang di laksanakan program pendidikan terpadu.

6

GPK berfungsi sebagai pelaksana program di kelas khusus, pendekatan, metode, dan cara penilaian yang biasa digunakan di SLB.

7

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->