P. 1
Risalah Sidang Perkara Nomor 140.PUU-VII.2009, 3 Maret 2010

Risalah Sidang Perkara Nomor 140.PUU-VII.2009, 3 Maret 2010

|Views: 532|Likes:
Published by Saljuputy

More info:

Published by: Saljuputy on Mar 08, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/11/2013

pdf

text

original

Xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxp;;;;;;;;;;;;;;;;;;; ;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;;

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA
---------------------

RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 140/PUU-VII/2009 PERIHAL PENGUJIAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1965 TENTANG PENYALAHGUNAAN DAN/ATAU PENODAAN AGAMA TERHADAP UNDANG-UNDANG DASAR NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1945 ACARA MENDENGARKAN KETERANGAN AHLI YANG DIHADIRKAN MK, SAKSI DARI PEMOHON, AHLI DARI PEMERINTAH DAN PIHAK TERKAIT (VII)

JAKARTA RABU, 3 MARET 2010

MAHKAMAH KONSTITUSI REPUBLIK INDONESIA -------------RISALAH SIDANG PERKARA NOMOR 140/PUU-VII/2009 PERIHAL Pengujian Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. PEMOHON Perkumpulan Inisiatif Masyarakat Partisipatif untuk Transisi Berkeadilan (Imparsial) dkk. ACARA Mendengarkan Keterangan Ahli yang dihadirkan MK, Saksi dari Pemohon, Ahli dari Pemerintah dan Pihak Terkait (VII) Rabu, 3 Maret 2010, Pukul 10.00 – 15.35 WIB Ruang Sidang Pleno Gedung Mahkamah Konstitusi RI, Jl. Medan Merdeka Barat No. 6, Jakarta Pusat. SUSUNAN PERSIDANGAN 1) 2) 3) 4) 5) 6) 7) 8) 9) Prof. Dr. Moh. Mahfud MD., S.H. Prof. Dr. Achmad Sodiki, S.H. Prof. Dr. Maria Farida Indrati, S.H., M.H. Dr. H.M. Akil Mochtar, S.H., M.H. Hamdan Zoelva, S.H., M.H. Dr. Muhammad Alim, S.H., M.Hum. Dr. H.M. Arsyad Sanusi, S.H., M.Hum. Dr. Harjono, S.H., MCL. Drs. Ahmad Fadlil Sumadi, S.H., M.Hum. (Ketua) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) (Anggota) Panitera Pengganti

Fadzlun Budi SN, S.H., M.Hum.

1

Pihak yang Hadir: Pemohon: Muhammad Nur Khoiron (Desantara Foundation) Margaretha (Demos)

Kuasa Hukum Pemohon: Uli Parulian Sihombing, S.H., LL.M. Nurkholis Hidayat, S.H. Zainal Abidin, S.H. Siti Aminah, S.H. Judianto Simanjuntak, S.H. Muhammad Isnur, S.H. Vicky Silvanie, S.H. Adam. M. Pantauw, S.H. Putri Kanesia, S.H. M. Chairul Anam, S.H.

Saksi dari Pemohon: Sardy

Ahli yang dihadirkan MK Prof. Dr. Andi Hamzah Dr. Eddy O.S. Hiariej

Pemerintah: Prof. Dr. IBG. Yudha Triguna, MS. (Dirjen Bimas Hindu) Drs. Budi Setiawan, M. Sc. (Dirjen Bimas Budha) H. Mubarok (Kepala Biro Hukum Departemen Agama) Ahmad Johari (Direktur Penerangan dari Departeman Agama) Cholilah, S.H., M.H. (Direktur Litigasi Dephukham) Mashuri. Dr. Mualimin Abdi, S.H., M.H. (Kasubdit Dephukham untuk Penyiapan dan Pendampingan Sidang MK)

Ahli dari Pemerintah: K.H. Hafidz Usman Philipus K. Wijaya

2

Pihak Terkait (PBNU): Asrul Sani

Pihak Terkait (Majelis Ulama Indonesia/MUI): Drs. H. Amidhan (Koordinator) H.M. Lutfi Hakim, S.H., M.H. (Anggota) Hj. Aisyah Amini, S.H., M.H. (Anggota) Wirawan Adnan (Anggota)

Ahli dari Pihak Terkait (Majelis Ulama Indonesia/MUI): Amin Djamaluddin

Kuasa Hukum Pihak Terkait PPP: Muhammad Naril Ilham, S.H.

Kuasa Hukum Pihak Terkait (Dewan Dakwah Islamiyah): Abdul Rahman Tardjo, S.H. Azham, S.H.

Pihak Terkait (Ittihadul Muballighin): Drs. H. Ningram Abdullah, M.Ag. (Sekretaris Jenderal) Ahmad Michdan, S.H. (Kuasa Hukum)

Pihak Terkait (Yayasan Irene Center): Hj. Irene Handoyo Hj. Navitri Sally Setianingsih Endar Kusuma

Kuasa Hukum Pihak Terkait (Yayasan Irene Center): Muhammad Ichsan, S.H., M.H. Akhmad Henry Setiawan, S.H., M.H.

Ahli dari Pihak Terkait (Yayasan Irene Center): K.H. Sulaiman Zachawerus Dra. Hj. Nurdiati Akma

3

Pihak Terkait (BASSRA): K.H. Nairul Rochman Dr. Eggy Sudjana, S.H., M.Si. (Kuasa Hukum)

Pihak Terkait (BKOK): Ir. Engkus Ruswana, M.M Arnold Panahal

Pihak Terkait (HPK): Aa. Sudirman Hadi Prajoko

Pihak Terkait (KWI): Rudi Pratikno

4

SIDANG DIBUKA PUKUL 10.00 WIB

1.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Sidang Pleno Mahkamah Konstitusi untuk mendengar keterangan Saksi dan keterangan Ahli serta tangapan dari Pihak Terkait yaitu Irena Center, Ittihadul Muballighin dan Bassra dalam Perkara Nomor 140/PUUVII/009 dinyatakan dibuka dan terbuka untuk umum. KETUK PALU 3 X Silakan Pemohon untuk memperkenalkan siapa yang hadir dan dihadirkan. Anda mewakili yang lain saja, disebut satu-satu, tidak perlu bicara sendiri-sendiri agar cepat, silakan.

Assalamualaikum wr. wb.

2.

KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Selamat pagi Yang Mulia, selamat pagi hadirin sekalian. Terima kasih. Pada hari ini kami dari Pemohon yang hadir adalah Kuasa Hukum Pemohon, kemudian juga Pemohon Prinsipal dari Yayasan Desantara diwakili oleh Direktur Eksekutifnya, Saudara Nur Khoiron yang di sebelah kiri saya. kemudian ada juga Saksi Sardy, kemudian untuk Saksi Korban, kemudian juga untuk Pemohon Prinsipal yang lain adalah Demos yaitu Saudara Margaretha, yang sebelah kiri saya paling ujung, Wakil Direktur Eksekutif Demos, kemudian untuk Ahli hari ini Prof. Sutandyo Widyo Subroto itu kebetulan berhalangan karena mengajar di UNDIP dia minta waktu minggu depan tanggal 10, Yang Mulia. Untuk Kuasa Hukum saya sendiri Uli Parulian Sihombing, di sebelah kiri saya, M. Choirul Anam, kemudian ini Nurkholis, kemudian Zainal Abidin di sebelah kanannya, yang paling belakang ini Adam M. Pantauw, kemudian di sampingnya Putri Kanesia, kemudian Vicky, kemudian Muhammad Isnur, kemudian Judianto Simanjuntak dan yang terakhir Siti Aminah. Itu saja Yang Mulia, terima kasih.

3.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Pemerintah, silakan.

5

4.

PEMERINTAH : DR. MUALIMIN ABDI, S.H., M.H. (KABAG PENYAJIAN DAN PENYIAPAN KETERANGAN PEMERINTAH PADA SIDANG MK) Terima kasih, Yang Mulia. Assalamualaikum wr. wb. Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua. Dari Pemerintah dalam perjalanan Pak Menteri Agama Suryadharma Ali, Kemudian ada Pak Yuda Triguna dari Dirjen Indung, kemudian ada Pak Mubarok…, Pak Budi Setiawan, ya terima kasih. Selamat datang, Bapak. Dirjen Budha, kemudian ada Pak Mubarok, Kepala Biro Hukum Departeman Agama, kemudian ada Pak Ahmad Johari Direktur Penerangan dari Departeman Agama, kemudian ada Pak Mashuri, kemudian ada Ibu Cholilah dari Direktorat Litigasi Perundangundangan, kemudian saya sendiri Mualimin Abdi. Kemudian Yang Mulia, Pemerintah juga menghadirkan Ahli, yang sekarang hadir ada dua yaitu Pak K.H. Hafidz Usman dan Pak Philip K. Wijaya. Jadi nanti yang sesuai daftar kemungkinan akan kita susulkan atau untuk minggu depan, Yang Mulia. Terima kasih.

5.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Pihak Terkait, Ittihadul Muballighin.

6.

PIHAK TERKAIT(ITTIHADUL MUBALLIGHIN) : DRS. H. NINGRAM ABDULLAH, M. AG. Dari Ittihadul Muballighin, kami nama Ningram Abdullah dengan penasihat hukum Bapak Ahmad Michdan. Terima kasih,

Assalamualaikum wr. wb.

Wassalamualaikum wr. wb.

7.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik berikutnya dari Yayasan Irena Center.

8.

KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : MUHAMMAD ICHSAN, S.H., M.H.

Kami hadir lengkap, yang sebelah kanan saya Hj. Irene Handoyo pendiri Yayasan Irene Center. Kemudian ketuanya Ibu Hj. Navitri, kemudian ada dua orang pengurus lainnya Sally Setianingsih dan Endar Kusuma di belakang. Kemudian kami menghadirkan 2 Ahli, yang sebelah

Assalamualaikum wr. wb.

Terima kasih, Yang Mulia.

6

kiri saya K.H. Sulaiman Zachawerus dan kemudian Ahli yang satu lagi Dra. Hj. Nurdiati Akma. Sementara saya Kuasa Muhammad Ichsan. Ya, terima kasih. 9. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Bassra. 10. PIHAK TERKAIT (BASSRA) : K.H. NAIRUL ROCHMAN Bapak Majelis yang saya muliakan, saya dari Badan Silaturahmi Ulama Pesantren Madura, nama saya K.H. Nairul Rochman dan Kuasa Hukum dari kami adalah Bapak Eggy Sudjana, terima kasih.

Assalamualaikum wr.wb.

Assalamualaikum wr. wb.

11.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Dari NU?

12.

PIHAK TERKAIT (PBNU) : ASRUL SANI

Assalamualaikum wr. wb.
kasih. 13.

Terima kasih, Yang Mulia. Saya Asrul Sani, mewakili Pengurus Besar Nadhatul Ulama, terima

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Majelis Ulama Indonesia, silakan.

14.

PIHAK TERKAIT (MUI) : M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Terima kasih, Yang Mulia. Dari Majelis Ulama hadir di sini Koordinator Bapak Amidhan, kemudian saya anggota, M. Lutfi Hakim, dan anggota lagi ada di belakang Ibu Aisyah Amini, serta kami akan hadirkan Saksi pada pagi hari ini yaitu Bapak Amin Djamaluddin. Terima kasih.

15.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Bapak Amin Djamaluddin, ya? Oke, sebentar. Dewan Da’wah, silakan.

7

16.

IKUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (DEWAN ISLAMIYAH) : ABDUL RAHMAN TARDJO, S.H., M.H.

DAKWAH

Hadir di Dewan Da’wah, saya Kuasa Hukum, Abdul Rahman Tardjo, dan di sebelah saya Pak Azam, hadir juga beberapa Pengurus Dewan Da’wah berada di belakang. Terima kasih.

Assalamualaikum wr. wb.

Wassalamualaikum wr. wb.

17.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Oke. Sudah lengkap, ya? Darimana, Pak?

18.

KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (PPP) : M. NARIL ILHAM Terima kasih, Yang Mulia. Saya Muhammad Naril Ilham dari Partai Persatuan Pembangunan, Kuasa Hukum, terima kasih.

19.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik. Silakan ini Ahli yang didatangkan oleh Mahkamah Konstitusi memperkenalkan satu-satu, Prof. Andi Hamzah, sudah kenal tapi perlu memperkenalkan diri juga, Pak.

20.

AHLI (YANG DIHADIRKAN MK) : PROF. DR. ANDI HAMZAH Nama saya Andi Hamzah, lahir di Senkang 14 Juni 1933. Saya menjabat Jaksa 1 Mei 1954 sampai 1994, sesudah itu menjadi Guru Besar Universitas Trisakti sampai sekarang sejak pensiun 1994 sampai sekarang. Sekarang juga saya menjadi Tim Pakar Departemen Pertahanan, Anggota Balai Pertimbangan Pemasyarakatan dan juga Anggota Penyusun KUHP dan Ketua Penyusun KUHAP. Sekian, terima kasih.

Assalamualaikum wr. wb.

21.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Dr. Eddy Hiariej.

8

22.

AHLI (YANG DIHADIRKAN MK) : DR. EDDY O.S. HIARIEJ, S.H., M.H. Salam sejahtera dan selamat pagi, perkenalkan saya Eddy OS Hiariej, staf pengajar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, terima kasih.

Assalamualaikum wr. wb.,

23.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, mari kita memulai pada (…,)

24.

KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Maaf Yang Mulia, ada para memperkenalkan diri dari yang lain. pihak yang juga belum

25.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Darimana? Dipersilakan. Ada yang belum dipersilakan?

26.

PIHAK TERKAIT (BKOK) : IR. ENGKUS RUSWANA, M.M. Terima kasih, Yang Mulia. Kami dari BKOK.

27.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Oh BKOK, ya.

28.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, ada lagi?

29.

PIHAK TERKAIT(HPK) : SUDIRMAN Saya Sudirman dari Himpunan Penghayat Kepercayaan bersama Mas Hadi Prajoko terima kasih

Rahayu. Rahayu.

30.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, masih ada lagi?

9

31.

PIHAK TERKAIT (KWI) : RUDI PRATIKNO Terima kasih, Yang Mulia Saya Rudi Pratikno mewakili dari KWI, terima kasih.

32.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, KWI, ya. Baik, jadi pagi ini kita akan mendengarkan Ahli dan Saksi. Lalu nanti setelah Sholat Dzuhur, Pihak Terkait. Nah, Ahli dan Saksi kalau tidak terselesaikan pagi ini kita sambung nanti sedikit sesudah habis Sholat Dzuhur. Nah, untuk itu dimohon Saksi Sardy supaya maju untuk mengambil sumpah dulu. Yang saksi satunya Amin Djamaluddin mana? Tadi menghadirkan Saksi?

33.

PIHAK TERKAIT (MUI) : M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Maaf, Yang Mulia, masih dalam perjalanan. Terima kasih.

34.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Oh ya. Baik, Saudara Sardy, Saudara Penghayat Kepercayaan mau bersumpah dengan apa?

35.

SAKSI DARI PEMOHON : SARDY Pancasila.

36.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Tidak ada sumpah Pancasila. Berjanji saja, ya? Oke, silakan Pak Harjono, ini Saksi.

37.

HAKIM ANGGOTA : DR. HARJONO, S.H., MCL. Cukup dengan mengatakan saya berjanji. Sampaikan, ya. “Saya berjanji akan menerangkan yang sebenarnya tidak lain dari yang sebenarnya”. Terima kasih.

38.

SAKSI DARI PEMOHON : SARDY “Saya berjanji akan menerangkan yang sebenarnya tidak lain dari yang sebenarnya”.

10

39.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Silakan duduk. Kemudian sekarang para Ahli yang beragama Islam dahulu, K.H. Hafidz Usman, mohon maju. Kemudian Dr. Edward Hiariej, kemudian Prof. Andi Hamzah, kemudian K.H. Sulaiman Zachawerus. Ini saja saya kira, apa ada lagi Ahli yang sekarang di datangkan?

40.

KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : MUHAMMAD ICHSAN, S.H., M.H. Mohon maaf, Yang Mulia, Ahli kami ada satu lagi, Dra. Hj. Nurdiati Akma.

41.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ya, silakan. Ini Ahli apa Saksi? Nurdiati ini Ahli apa Saksi?

42.

KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : MUHAMMAD ICHSAN, S.H., M.H. Ahli, Yang Mulia.

43.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Terus maju, sini, kalau Ahli. Ahli beneran, ya? Masih ada lagi yang belum dipanggil? Baik, ada lima. Pak Fadlil.

44.

HAKIM ANGGOTA : DRS. AHMAD FADLIL SUMADI, S.H., M.HUM. Untuk pengucapan sumpah, ikuti kata yang saya pandukan. “Bismillahirrahmanirrahiim, demi Allah saya bersumpah, sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya. Terima kasih, cukup.

45.

AHLI-AHLI: “Bismillahirrahmanirrahiim, demi Allah saya bersumpah, sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya, sesuai dengan keahlian saya”.

11

46.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Silakan duduk kembali. Baik, akan lebih efektif penggunaan waktu, jadi semua Saksi dan Ahli ini kita dengarkan dulu semuanya, baru nanti tanya jawab. Karena kalau selesai satu tanya, selesai satu tanya, bisa seperti kemarin, dua orang saja habis waktu dua setengah jam. Sekarang semuanya, lalu nanti tanya silang, toh sebenarnya banyak substansi yang sama. Nah, untuk itu saya persilakan dulu Saudara Sardy sebagi Saksi.

47.

SAKSI DARI PEMOHON : SARDY Terima kasih, selamat pagi, Salam Rahayu. Yang Mulia, mendengarkanlah kami seorang penghayat yang gagal menjadi tentara. Gara-gara jadi penghayat, saya sebagai penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak bisa mendaftarkan jadi tentara, waktu itu ABRI. Majelis sidang yang mulia. Perkenankanlah saya, nama Sardy, umur 35 tahun, alamat Bojong Menteng, RW 5, RT 5 Kelurahan Bojong Menteng, Rawa Lumbu, Bekasi. Untuk menceritakan pengalaman pribadi saya mengenai kegagalan menjadi calon ABRI akibat identitas saya sebagai penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan kornologi sebagai berikut, sejak kecil saya bercita-cita jadi ABRI yang sekarang namanya TNI. Untuk itu saya rajin berolah raga terutama olah raga lari, lari siangpun saya lakoni agar fisik saya kuat dan belajar dengan tekun agar bekal pendidikan saya cukup untuk melamar jadi calon ABRI. Ketika saya lulus SMA, ketika saya di SMA untuk jurusan yang berkaitan dengan pendaftaran ABRI, sudah saya siapkan yaitu A2 biologi, karena waktu itu ABRI itu menerima cuma A1 dan A2. Ketika saya lulus SMA pada tanggal 28 Mei 1994, cita-cita saya untuk jadi ABRI ingin segera saya wujudkan. Ketika ada pengumuman untuk pendaftaran calon ABRI maka segera saya mencari informasi dan mengurus segala persyaratan yang dibutuhkan untuk menjadi calon ABRI. Ketika saya mengurus surat kelakuan baik yang menjadi salah satu syarat untuk melamar calon ABRI surat dari RT, RW, dan Desa waktu itu, yang sekarang sudah menjadi kelurahan, lancar tidak ada masalah apa-apa. Kemudian saya mendatangi Kantor Koramil yaitu Kantor Koramil Bantar Gebang, saya diberikan surat rekomendasi untuk melanjutkan ke Polsek Bantar Gebang, Bekasi. Selanjutnya saya mengajukan berkas persyaratan untuk kelakukan baik ke Kantor Polsek Bantar Gebang karena untuk mendaftarkan calon ABRI menurut staf sipil pembuat kelakukan baik yang berhak mengeluarkan adalah Polres Bekasi dan selanjutnya staf sipil membuatkan surat pengantar lengkap dengan stempel Polsek untuk ke Polres Bekasi.

12

Selanjutnya berkas pengajuan kelakukan baik yang saya masukkan ke bagian pembuatan surat kelakuan baik di Kantor Polres Bekasi ketika sedang antri saya dipanggil ke dalam oleh petugas sipil Polres dan beliau mengatakan bahwa orang penghayat itu tidak bisa jadi calon ABRI. Dan beliau menyarankan agar identitas agama saya dirubah. Kemudian semua berkas dikembalikan kepada saya. Karena besarnya keinginan saya menjadi ABRI, walaupun dengan berat hati selanjutnya saya mengurus perubahan identitas saya dalam KTP di Desa atau Kelurahan dan Kecamatan menjadi pemeluk salah satu agama. Beberapa hari kemudian setelah selesai merubah identitas, berkas itu saya ajukan lagi, dan saya masukkan ke loket pembuatan kelakukan baik. Dalam suasana mengantri saya dipanggil kembali untuk masuk ke dalam ruangan. Setelah di dalam saya di jemput polisi yang berpakaian seragam dan di bawa ke ruangan penyidik, di sana saya diinterogasi tentang semua kegiatan Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Saya jelaskan dengan panjang lebar, ketika polisi itu menanyakan keberadaan orang penghayat di Bekasi, saya menjawab di Bekasi Penghayat Terhadap Tuhan Yang Maha Esa sudah ada pengurusnya dari Desa, Kecamatan sampai Kabupaten/Kota. “Kalau Bapak masih menanyakan kepada saya, kenapa Bapak seorang polisi setahu saya polisi itu sangat dekat dengan masyarakat, kalau Bapak tidak tahu keberadaan orang penghayat di Bekasi kalau begitu Bapak kurang informasi”. Polisi itu marah dan memukul saya, kepala saya, yang tepat di telinga kanan saya menggunakan berkas pengajuan kelakuan baik saya. Setelah melakukan pemukulan itu polisi itu meninggalkan saya sendiri di ruangan. Beberapa menit kemudian polisi itu kembali menemui saya dan membawa saya ke suatu ruangan, mungkin itu ruangan atasannya karena di sana ada seseorang yang berpakaian safari. Di sana saya ditanya dengan pertanyaan yang sama, tetapi kali ini saya tidak menjawab atau tidak mengatakan Bapak kurang informasi, saya takut kena pukul yang kedua kalinya. Kemudian polisi itu menelpon, tidak tahu saya, nelpon kemana, yang jelas mungkin ke Kodam Jaya atau ke Mabes Polri. Setelah telepon itu di tutup polisi itu mengatakan, “Penghayat Kepercayaan Tehadap Tuhan Yang Maha Esa tidak bisa mendaftar calon ABRI dan kalau pun dipaksakan percuma hanya untuk membuang-buang uang”. Selanjutnya saya pulang tetapi tidak ke rumah melainkan ke rumah pengurus penghayat yang ada di Bekasi, tempat tinggal di Kampung Melayu Jakarta Timur, untuk mendapatkan kejelasan mengapa orang Pengayat Terhadap Tuhan Yang Maha Esa tidak bisa mendaftarkan calon ABRI. Setalah sesampainya di rumah beliau saya langsung mengatakannya, menanyakannya, beliau mengatakan, “Yang sabar, kita sedang berjuang, memang orang Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa selalu didiskriminasikan tetapi untuk bela negara berbakti kepada nusa dan bangsa bukan jadi ABRI saja,

13

masih banyak menurut ajaran leluhur kita Indonesia”, beliau menasehati saya. Saya berpikir tidak bisa begitu karena cita-cita datang dari hati yang sangat dalam dan saya pun pamitan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang saya sangat kecewa sekali. Sesampainya di Bekasi saya istirahat untuk menghilangkan lelah di pintu air Bekasi. Di sana saya merenung dan teringat waktu libur semester saya, kala itu saya aktif di organisasi pencinta alam sekolah. Kami membuat acara pendakian, pendakian gunung di Serang Banten. Di sana tidak menemukan gunung yang tinggi, tetapi di sana saya menemui suku pedalaman yang tinggal di tiga bukit, namanya Suku Baduy. Saya sempat berbincang-bincang dengan mereka. Bahasa yang mereka gunakan Bahasa Sunda. Saya bertanya kepada mereka, agama apa yang mereka anut? Mereka menjawab Sunda Wiwitan. Yang sangat mengherankan bagi saya di sana tidak ada satupun anak Suku Baduy yang sekolah, dan saya pun kembali bertanya “Kenapa anak-anak Bapak Ibu tidak ada yang sekolah?” Ada satu orang yang menjawab, “kami dengan bercocok tanam, sandang pangan sudah tercukupi, kami tidak mau yang berlebihan dan kami sambil menjalankan ajaran leluhur kami yaitu kerukunan hidup, kalau anak-anak kami sekolah pasti bisa pintar, cerdas, tambah wawasan dan pasti punya cita-cita, kalau cita-cita anak saya, pemerintah bisa menyalurkan atau melayani, kalau tidak, akan sakit hati kepada pemerintah, sementara ini pemerintah tidak mau memberikan kebebasan kepada kaum adat, Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan sebagainya”. Ternyata pembicaraan orang Badui waktu itu betul juga. Dengan emosi, saya, tas, dan isinya, berkas kelakuan baik yang tidak jadi dan ijazah SMA asli saya, saya lemparkan ke Kalimalang, pintu air Bekasi. Jadi sia-sia pengorbanan saya sekolah selama 12 tahun, karena dengan kecewanya saya. Hampir selama 5 tahun saya mengalami kegoncangan kekecewaaan, sangat berat, dan tidak mengerti kenapa orang Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang menjalankan ajaran leluhur bangsa sendiri dan memegang teguh nilai-nilai Pancasila, yang mengajarkan kedamaian dan kerukunan hidup tidak bisa mengabdikan diri untuk bela negara menjadi ABRI. Bukankah kami juga warga negara, Pak? Tapi kenapa kami sebagai penghayat kepercayaan selalu didiskriminasikan? Majelis Hakim yang mulia, pengalaman ini sangat membawa trauma terhadap diri saya, apalagi anak-anak saya sekarang sudah mengatakan bercita-cita menjadi TNI. Yang takut, saya takut akan nantinya akan menghadapi kekecewaan yang sama seperti saya. Sudah saya kasih pilihan, mau jadi pengacara, mau jadi insinyur, tetapi tetap anak saya memilih untuk menjadi TNI. Demikian pengalaman saya sebagai korban perlakuan diskriminasi, karena sebagai Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Semoga Majelis Hakim yang mulia dalam menentukan

14

keputusan nanti, Majelis Hakim dalam keadaan sehat, sehat lahir, dan sehat batin. Sehat lahir kecukupan sandang, pangan, dan papan. Sehat batin mempunyai tenggang rasa. Semoga Majelis Hakim dalam keadaan baik, bijak, dan bajik, lahir tidak bohong, dan tidak dusta, batin tulus dan jujur. Semoga Majelis Hakim dalam keadaan benar, benar lahir, tahu hak dan kewajiban, benar batin mempunyai harga diri. Semoga Majelis Hakim dalam keadaan pintar, pintar lahir nyata, dalam tekad ucap dan lampah yang baik, pintar batin, panutannya semua hidup. Semoga Majelis Hakim dalam keadaan selamat, selamat lahir, tidak melakukan perbuatannya yang mencelakaan orang lain, selamat batin hidup sebagai kawula gusti yang kumawula kepada gustinya. Semoga pengalaman saya ini dapat menjadi bahan pertimbangan majelis Hakim Mahkamah Konstitusi yang mulia dalam menentukan keputusan yang seadil-adilnya mengenai Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 yang sangat tidak sesuai dengan Pembukaan UndangUndang Dasar RI Tahun 1945 tentang kecerdasan bangsa alenia keempat yang berbunyi, “kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu pemerintahan negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan dan mencerdaskan umum, mencerdaskan bangsa, untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, dan seterusnya...”. Terima kasih, Rahayu, Rahayu. 48. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Saudara Sardy belum menyerahkan CV ke sini, ya, riwayat hidup? Saudara usianya berapa sekarang? 49. SAKSI DARI PEMOHON : SARDY Umur saya 35 tahun. 50. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. 35 ya, oke. Nanti identitas yang agak lengkap diserahkan ke PP ya. Baik (…) 51. PIHAK TERKAIT (MUI) : M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Maaf Yang Mulia, melaporkan dari MUI, Saksi dari MUI telah hadir di persidangan. Terima kasih.

15

52.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ya, baik. Saya minta Ahli maju dulu, Bapak Philipus K. Wijya tadi belum diambil sumpah. Silakan Bapak maju. Rohaniawan ini…, silakan Rohaniawan ini …, beragama Budha, Bapak ya, silakan. Bu Maria, ini Ahli dari Pemerintah.

53.

HAKIM ANGGOTA: PROF. DR. MARIA FARIDA INDRATI, S.H., M.H.

sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya, sadu sadu sadu.” 54. AHLI DARI PEMERINTAH : PHILIPUS K. WIJAYA

Namu sakya muni budaya, demi Yang Budha saya bersumpah

Ucapkan lafal janji yang saya ucapkan.

Namu sakya muni budaya, demi Yang Budha saya bersumpah sebagai Ahli akan memberikan keterangan yang sebenarnya sesuai dengan keahlian saya, sadu sadu sadu.”
55. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Silakan kembali, Bapak. Mana yang dari Majelis Ulama? Maju, Pak. Namanya siapa? 56. PIHAK TERKAIT (MUI) : M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Pak Amin Djamaluddin. 57. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Amin Djamaluddin, oke silakan Pak Amin Djamaluddin. Pak Akil, disumpah Bapak. 58. HAKIM ANGGOTA : DR. H.M. AKIL MOCHTAR, S.H., M.H.

menerangkan yang sebenarnya, tidak lain dari sebenarnya. 59. AHLI DARI MUI : AMIN DJAMALUDDIN menerangkan yang sebenarnya, tidak lain dari sebenarnya.

Bismillahirrahmanirrahim, demi Allah saya bersumpah, akan

Baik Saudara Saksi, ikuti lafal sumpah yang saya ucapkan.

Bismillahirrahmanirrahim, demi Allah saya bersumpah, akan

16

60.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Silakan kembali ke tempat, Bapak. Sekarang kita dengarkan dulu keterangan Ahli Prof. Andi Hamzah. Boleh ke podium, Bapak. Tetapi boleh juga duduk.

61.

AHLI (YANG DIHADIRKAN MK) : PROF. DR. ANDI HAMZAH Yang Mulia Majelis Hakim, pertama saya kemukakan di sini bahwa saya akan memberikan keterangan sesuai keahlian saya, jadi dari sudut hukum pidana khususnya berkaitan dengan Penetapan Presiden Republik Indonesia Nomor 1/PNPS/1965 ini, jadi ada kaitannya dengan rumusan delik di dalam hukum pidana. Jadi tentu di sini agak bersifat teknis yuridis. Setelah saya membaca kira-kira 20 KUHP negara-negara asing, bahkan telah menerjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, maka saya menarik kesimpulan bahwa pada umumnya ada delik-delik atau tindak pidana yang bersifat netral, artinya sama saja seluruh dunia itu, pencurian, perkosaan, pembunuhan, pemalsuan surat, penghinaan, semua ada di dalam KUHP di negara manapun juga. Mungkin ancaman pidananya agak sedikit berbeda, misalnya pencurian di sini 5 tahun, di Belanda 4 tahun di Pakistan 3 tahun. Tetapi semua sama saja. Jadi dalam masalah ini tidak ada masalah kolonial atau tidak kolonial. Jadi waktu menyusun KUHP, Rancangan KUHP, saya anggota, saya ditugasi menyusun delik lingkungan hidup dengan mentah-mentah saya salin dari KUHP Belanda saja, karena sama saja. Ada 3 hal menurut saya yang tidak netral, artinya setiap negara mungkin berbeda, dan kenyataannya juga berbeda, tidak netral, jadi dalam hal ini mesti hati-hati: Yang pertama, Delik Kesusilaan, itu akan berbeda antar negara. Jadi di Belanda misalnya, Jepang, Perancis dan lain-lain itu makin hari makin lunak delik kesusilaan itu. Sedangkan Indonesia semakin hari semakin kencang dengan dikeluarkannya Undang-Undang Pornografi misalnya itu. Yang kedua, Delik Agama, ini juga tidak netral. Jadi Indonesia ini dengan…, tentu seperti Pempres ini dengan keras mengatur tentang delik agama. Ada negara yang tidak memidana orang yang menghina agama, seperti RRC, jadi orang bisa berteriak di Tiananmen menghina agama apapun tidak dipidana. Sedangkan di sini agak keras. Sedangkan ada yang sedang, seperti Belanda, ternyata kawan saya ada, di bawah KUHP baru dari Belanda, ada delik, ada agama di sana, menghalangi pemujaan agama dan sebagainya, ada di Belanda. Ternyata ada tiga pasal yang juga ada dalam Rancangan KUHP. Jadi andaikata Rancangan KUHP yang sudah 28 tahun, tidak ada negara di dunia membuat Rancangan KUHP demikian lama tidak keluar-keluar. Andaikata itu sudah berlaku tidak ada masalah ini, karena di sana sudah diatur 3 pasal kalau

17

tidak salah, mengenai penodaan agama. Mirip-mirip dengan…, ternyata mirip-mirip dengan yang sudah diatur di KUHP Belanda yang baru. Jadi, yang ketiga, tidak netral ideologi, delik ideologi. Hampir semua negara tidak mengatur delik ideologi. Apa mau faham apa terserahlah, tidak dipidana, karena prinsip nya pikiran orang tidak bisa dipidana. Hanya dua negara yang mengatur delik ideologi, yang justru saling hitam putih, yaitu RRC. RRC delik yang terberat adalah merongrong komunisme, marxisme, leninisme, maoisme itu. Merongrong komunisme adalah tindak pidana paling berat di RRC. Terbalik Indonesia, tahun 1998 dimasukkan dalam KUHP larangan penyebaran komunisme, marxisme dan segala bentuknya. Pasti terbalik, hitam-putih. Itu dua negara, yang menganut, yang mencantumkan ideologi. Kabarnya juga Jerman sebenarnya melarang nazisme. Jadi itu tiga negara…, yang tidak netral. Kemudian, cara merumuskan delik ini, bahwa kita KUHP Indonesia mengikuti Belanda, mengikuti Perancis, bahwa KUHP Indonesia itu rumusan deliknya harus sesuai dengan asas legalitas. Jadi, nullum delictum nulla poena sine praevia lege poenali, harus ada undangundang pidana, perundang-undangan pidana yang ada sebelumnya perbuatan, baru orang dapat dipidana. Perundang-undangan pidana, wettelijke strafbepaling, jadi Perda boleh, orang bisa dipidana dengan Perda, karena memakai istilah wettelijke strafbepaling, ketentuan perundang-undangan pidana. Lain kalau KUHAP, KUHAP itu haas wet, harus dengan undang-undang. Jadi orang yang ditangkap, ditahan dan seterusnya harus dengan undang-undang. Tidak boleh dengan Perda. Kemudian, ternyata bahwa asas legalitas nullum delictum itu dianggap kurang memadai. Karena apa gunanya ada undang-undang sebelumnya, tapi undang-undang karet. Undang-undang karet, semua orang bisa menafsirkan semaunya undang-undang tersebut. Jadi sudah ada undang-undang sebelumnya, tapi bersifat karet, itu percuma, maka muncul rumus baru yaitu nullum crimen sine lege scripta, tidak ada delik tindak pidana tanpa ada undang-undang yang ketat sebelumnya. Nullum crimen sine lege strigta, Bahasa Belandanya geen delict zonder een preciese wettelijk bepaling, harus ada undang-undang persis tidak boleh ditafsirkan menjadi karet. Itulah dianut di dalam KUHP Indonesia karena mengikuti Belanda, sehingga kalau teliti membaca KUHP Indonesia itu, semua definisi itu, kecuali satu, ‘penganiayaan’. ‘Mencuri’ definisi, “mengambil suatu barang kepunyaan orang lain, de maksud memilikinya dengan melawan hukum”. Di luar itu bukan pencurian. Lain misalnya dengan Malaysia yang tidak menganut scripta itu, “barang siapa mencuri barang orang lain”, begitu saja. Jadi, mencuri barang orang lain di Malaysia, kembalikan lagi dihukum, mencuri. Indonesia tidak, jadi kalau saya, ada orang memakai barang orang, mobil, keliling-keliling untuk coba-coba baru kembali ke garasi, tidak mungkin dihukum pencurian karena tidak memenuhi definisi, “maksud memilikinya”. Kecuali penganiayaan tadi, karena tidak

18

mungkin orang membuat definisi penganiayaan, karena ratusan, ribuan cara untuk menganiaya orang. Oleh karena itu, kita Indonesia ini sudah melenceng dari itu, karena terlalu banyak membuat undang-undang di luar KUHP yang ternyata banyak bukan definisi, tidak definisi, remang-remang. Dan ini perundang-undangan di luar KUHP, ada dua macam yaitu Undangundang pidana, memang undang-undang pidana, tindak pidana ekonomi, tindak pidana korupsi, money laundering, Pengadilan HAM, kekerasan rumah tangga, pornografi, itu memang Undang-undang Pidana. Tetapi di samping itu ada Perundang-undangan Administrasi yang bersanksi pidana. Perundangan Administrasi yang bersanksi pidana ukurannya itu tidak boleh mencantumkan pidana berat, jadi maksimum kurungan 1 tahun atau denda sekian. Karena maksud itu, itu disebut ordening strafrecht hukum pidana pemerintahan, bukan untuk menghukum orang benar-benar, hanya untuk menakut-nakuti, menaati ketentuan administrasi itu. Lain dari Undang-Undang Pidana. Maka itu di Belanda kalau orang mau dihukum lebih dari 1 tahun harus dibuat baju Undang-Undang Pidana atau masukkan KUHP, yang di Belanda cuma satu Undang-Undang di luar KUHP yaitu Undang-Undang Tindak Pidana Ekonomi. Jadi, semua masuk KUHP, money laundering masuk, Penodaan Agama masuk, semua masuk KUHP. Yang Perundangan Administrasi bersanksi pidana ini tidak boleh lebih pidananya dari 1 tahun kurungan, ini kita langgar. Banyak sekali Perundang-undangan Administrasi Indonesia menghukum dan mengancam pidana berat sekali. Jadi Undang-Undang Kehutanan itu Perundang-undangan Administrasi pidananya 10 tahun, karena itu sudah menyalahi, harus membuat Undang-Undang Tindak Pidana Kehutanan. Undang-Undang Narkotika, pidana mati, padahal Undang-Undang Administrasi itu cara mendatangkan narkoba, mendistribusi narkotika pidananya mati, harus membuat Undang-Undang Tindak Pidana Narkotika atau masukkan dalam KUHP . Inilah menjadi kesulitan dan dikaitkan dengan Pempres ini ternyata dua- duanya ada, jadi ada ketentuan di sini Perundangundangan Administrasi yaitu Pasal 1, “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, mengajurkan atau mengusahakan dukungan umum untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatankegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu penafsiran tentang kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok agama itu”, tidak ada sanksi kan? Lalu Pasal 2, “Barang siapa yang melanggar ketentuan tersebut pada Pasal 1 diberi perintah peringatan keras untuk menghentikan perbuatan itu”. Jadi teguran dari Menteri Agama, Menteri Jaksa Agung, Menteri Dalam Negeri. Ketentuan ini saya tau betul, kenapa? Ini rancangan ini di buat oleh Kejaksaan Agung, waktu saya masih jaksa, jadi saya tahu betul, jadi

19

ceritanya Jaksa Agung Gunawan waktu itu ketakutan ada isu dia mau disantet orang, maka itu dia membuat ini, larangan kepercayaan agama takut di santet. Lalu di Kejaksaan Agung dibentuklah PAKEM (Pengawas Aliran Kepercayaan dalam Masyarakat). Lalu di ayat (2) di sini, “Apabila pelanggaran tersebut dalam ayat (1) dilakukan oleh organisasi atau sesuatu aliran kepercayaan maka Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakan sebagai organisasi atau aliran tersebut sebagai orsati aliran terlarang”. Satu dan lain setelah presiden mendapat kiriman dari Menteri Agama, Menteri Jaksa Agung, dan Menteri Dalam Negeri. Jadi ini teguran, ini sanksi pembubaran administrasi . Tapi tiba-tiba pada Pasal 3, “Apabila setelah dilakukan tindakan oleh Menteri Agama bersama-sama Menteri Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri dan oleh Presiden Republik Indonesia menurut ketentuan dalam Pasal 2 terhadap orang orsati atau aliran kepercayaan mereka masih terus melanggar ketentuan dalam Pasal 1, terus melakukan penafsiran bertentangan pada ajaran pokok agama, orang yang bersangkutan dari aliran itu dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya 5 tahun. Ini sudah menyalahi, karena apa? Ini ketentuan administrasi yang mestinya ancaman pidananya itu hanya 1 tahun kurungan atau denda. Kemudian juga ini tidak memenuhi persyaratan nullum crimen sine lege scripta karena di sini bisa multitafsir. Menafsirkan sesuatu agama yang dianut di Indonesia bertentangan dengan pokok-pokok ajaran itu. Jadi seorang misalnya Suni menafsirkan..., membuat penafsiran pasti bertentangan dengan pokok-pokok ajaran aliran Syiah. Saya tidak ambil contoh Indonesia, nanti tidak enak. Dipakai orang di luar negeri saja. Jadi kalau ini bisa menjadi karet, yaitu mengenai aliran administrasi yang bersanksi pidana. Kemudian di dalam Pasal 4 tidak ada masalah karena dia menambah KUHP. Jadi Pempres ini 2 sifatnya, satu Perundang-undangan Administrasi, baru ada sanksi administrasi, baru ada alternatifnya sanksi pidana 5 tahun, tapi juga ada Perundangan Pidana yaitu memasukkan pasal baru di dalam KUHP, “Dipidana dengan pidana penjara selamalamanya 5 tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama di Indonesia dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa”. Jadi menurut saya Pasal 156A ini, khususnya A masih lumayan, artinya masih memenuhi nullum crimen sine lege scripta, tapi B nya B nya juga bisa multitafsir, dengan maksud agar supaya orang tidak menganut suatu agama apapun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa, agama mana yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa itu bisa ditafsirkan macam-macam lagi. Kesimpulan saya, andaikata KUHP yang rancangan itu sudah jadi, masalah ini tidak ada semua karena di sana juga sudah diatur mengenai

20

delik agama dan juga ternyata Belanda yang negara sekuler juga sudah menambah KUHP-nya di sini bahwa 3 pasal tadi menghalang-halangi …, tapi semuanya bersifat definisi tidak seperti yang kita Indonesia susun, sehingga mereka itu, apa namanya, menyebut kita Sarjana Hukum Indonesia sangat menghina dengan mengatakan stomme hond / anjing blo’on, oleh karena itu buku saya tidak pakai S.H. karena buku saya dari perpustakaan Belanda juga, nanti dia bilang S.H. ini stomme hond / anjing blo’on. Sekian, wasslamualikum wr. wb. 62. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. MD Baik, sebelum ke Pak Eddy Hiariej, karena Pak Andi Hamzah ini Ahli yang diundang oleh Mahkamah Konstitusi, bukan oleh pihak, Pak saya minta penegasan saja bahwa ancaman pidana di dalam Hukum Administrasi itu ya, harus ringan tidak lebih dari 1 tahun itu ada undangundangnya tidak yang menyatakan bahwa harus itu, atau itu hanya karena kebiasaan? 63. AHLI (YANG DIHADIRKAN MK) : PROF. DR. ANDI HAMZAH Kebiasaan itu. 64. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. MD Kebiasaan saja, oke. Baik, silakan sekarang Pak Eddy Hiariej. 65. AHLI (YANG DIHADIRKAN MK) : DR. EDDY O.S. HIARIEJ, S.H., M.H. Terima kasih, Majelis yang mulia. Selamat pagi, Assalamualaikum wr. wb. Dan salam sejahtera, Majelis yang mulia, kami akan membaca yang sudah sebetulnya kami serahkan ke Panitera, sudah kami tuangkan dalam slide, yaitu mengenai permohonan Pengujian Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan, Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Sebagai pengantar keberadaan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama memang menimbulkan kontroversi. Ada pendapat bahwa undang-undang a quo bertentangan dengan sejumlah pasal dalam Undang-Undang Dasar 1945. Sejumlah pasal tersebut adalah Pasal 1 ayat (3) tentang negara hukum, Pasal 28D ayat (1) tentang kepastian hukum yang adil dan persamaan di hadapan hukum, Pasal 28E ayat (1) dan ayat (2) tentang kebebasan memeluk agama dan beribadah menurut agama serta kebebasan menyakini

21

kepercayaan, menyatakan pikiran dan sikap sesuai dengan hati nuraninya, Pasal 28I ayat (1) hak beragama dan Pasal 29 ayat (2) tentang jaminan untuk memeluk agama dan beribadat sesuai dengan agama dan kepercayaannya. Ada juga yang berpendapat bahwa undangundang a quo tidaklah bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan memberi perlindungan terhadap pemeluk agama. Setelah kami mencermati betul isi dari undang-undang a quo dan kami sesuaikan dengan bidang keahlian kami di bidang hukum pidana maka tanggapan kami adalah sebagai berikut, dalam praktek penegakan hukum tidaklah dapat dipungkiri bahwa dalam praktek penegakan hukum undang-undang a quo selalu digunakan untuk mengadili pemikiran dan keyakinan seseorang, hal ini bertentangan dengan postulat cogitationis poenam nemo partitur, hukum tidak bisa atau seseorang tidak bisa dihukum atas apa yang ada dalam pikirannya atau sesuatu yang diyakini atau sesuatu yang dipercayai. Mengapa sampai terjadi dalam praktek hukum yang demikian? Tadi banyak sudah disinggung oleh Ahli Prof. Dr. Andi Hamzah bahwa memang dalam asas legalitas itu ada 4 prinsip yang melekat, yang pertama adalah nullum crimen nulla poena sine lege praevia, tidak ada perbuatan pidana tidak ada pidana tanpa undang-undang sebelumnya. Yang kedua adalah nullum crimen nulla poena sine lege scripta tidak ada perbuatan pidana tidak ada undang-undang pidana tanpa undangundang pidana tertulis, yang ketiga adalah nullum crimen nulla poena sine lege certa tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa Undang-Undang Pidana yang jelas, dan yang keempat adalah Nullum crimen, nulla poena sine praevia lege stricta tidak ada perbuatan pidana, tidak ada pidana tanpa undang-undang yang ketat. Dalam berbagai literatur sering disingkat bahwa asas legalitas dalam hukum pidana harus menganut lex praevia, lex certa, lex scripta, dan lex stricta. Jadi sekali lagi bahwa dalam penegakkan hukum pasal-pasal ini sering kali disalahgunakan oleh aparat penegak hukum. Akan tetapi bila kita mencermati substansi dengan berbagai interpretasi terhadap ketentuan atau dalam undang-undang a quo, maka pendapat ahli sebagai berikut; pertama adalah interpretasi doktriner. Interpretasi doktriner ini adalah memperkuat argumentasi dengan merujuk pada suatu doktrin tertentu yang dalam hal ini adalah doktrin mengenai keberadaan hukum pidana. Kepentingan yang harus dilindungi oleh hukum pidana ada tiga. Yang pertama adalah individuale belangen atau kepentingan-kepentingan individu, yang kedua adalah social of maatshcappelijke belangen kepentingan-kepentingan sosial atau kepentingan-kepentingan masyarakat, dan yang berikut adalah staats belangen kepentingan-kepentingan negara. Sebagaimana fungsi umum hukum pidana het strafrecht zich richt tegen min of meer abnormale gedragingen, jadi fungsi hukum pidana adalah melakukan atau mencegah atau menanggulangi kelakuan-kelakuan yang tidak normal. Tindakan-tindakan yang tidak normal yang dimaksud adalah yang

22

tindakan-tindakan yang menyerang kepentingan individu, kepentingan masyarakat, maupun kepentingan negara. Yang berikut, yang kedua, Ahli melihat dari segi interpretasi tradisional. Interpretasi tradisional adalah interpretasi dengan cara melihat suatu perilaku dalam tradisi hukum masyarakat. Tidaklah dapat dipungkiri bahwa masalah beragama adalah masalah yang sangat sensitif bagi kehidupan bermasyarakat dan bernegara di Indonesia sehingga dapat menimbulkan konflik horisontal. Keberadaan undangundang a quo masih tetap dibutuhkan sebagai prevensi generale atau prevensi umum agar tidak terjadi konflik yang dimaksud. Yang ketiga adalah berdasarkan interpretasi sistematis gramatical, bahwa hukum pidana dalam undang-undang a quo tidak diberlakukan secara serta merta bilamana terjadi pelanggaran terhadap Pasal 1 undang-undang a quo. Tadi sudah dijelaskan oleh Ahli Prof. Dr. Andi Hamzah, ada ketentuan dalam Pasal 2 yang mengatakan bahwa jika terjadi pelanggaran terhadap Pasal 1, pemerintah memberi peringatan untuk menghentikan perbuatannya. Jika dilakukan oleh suatu organisasi maka organisasi tersebut dapat dibubarkan atau dinyatakan sebagai organisasi terlarang. Hukum pidana baru berfungsi jika ketentuan dalam Pasal 2 undang-undang a quo tidak lagi berfungsi. Menurut pendapat Ahli bahwa ketentuan-ketentuan tersebut mengindikasikan bahwa fungsi umum hukum pidana dalam undangundang a quo adalah bersifat ultimum remedium, artinya hukum pidana adalah sarana yang paling akhir yang digunakan untuk menegakkan hukum bilamana instrumen penegakan hukum lainnya tidak lagi berfungsi. Yang berikut, yang keempat, yang digunakan oleh Ahli adalah interpretasi historis. Keberadaan undang-undang a quo adalah untuk melindungi kepentingan umat beragama di Indonesia. Atas dasar Pasal 4 undang-undang a quo kemudian disisipkan ketentuan tersebut ke dalam KUHP sehingga menjadi Pasal 156 a yang berada di bawah bab tentang kejahatan terhadap ketertiban umum. Pasal-pasal tersebut dikenal dengan haatzai artikelen atau pasal-pasal penyebar kebencian. Menurut sejarahnya pasal-pasal tersebut berasal dari Code British yang diberlakukan oleh penjajah Inggris di India. Pasal-pasal itu kemudian diadopsi oleh Belanda dan diterapkan secara concordantie beginselen di daerah jajahannya Indonesia. Yang kelima adalah interpretasi futuristik, yang tadi juga sudah disinggung oleh Prof. Andi Hamzah, substansi undang-undang a quo lebih rinci telah dimasukkan ke dalam RUU KUHP Bab 7 tentang Tindak Pidana Terhadap Agama dan Kehidupan Beragama. Bab 7 tersebut terdiri dari bagian ke-1, yakni tindak pidana terhadap agama yang meliputi penghinaan terhadap agama dan penghasutan untuk meniadakan keyakinan terhadap agama, bagian ke-2 yaitu tindak pidana terhadap kehidupan beragama dan sarana ibadah yang mencakup gangguan terhadap penyelenggaraan ibadah dan kegiatan keagamaan

23

serta perusakan tempat ibadah. Dengan dimasukkannya pasal-pasal tersebut dalam RUU KUHP memberi indikasi yang kuat bahwa para ahli pidana di Indonesia cenderung mempertahankan undang-undang a quo. Yang terakhir yang dipakai oleh Ahli adalah interpretasi komparatif. Interpretasi komparatif adalah interpretasi dengan membandingkan ketentuan tersebut di negara lain. Negara yang dipakai sebagai perbandingan di sini adalah Belanda. Mengapa Ahli menggunakan Belanda? Pertama, sistem hukum di Indonesia secara mutatis mutandis sama dengan sistem hukum di Belanda, dan yang kedua Hukum Pidana Indonesia kalau boleh dikatakan adalah anak kandung dari Hukum Pidana Belanda. Pasal-pasal tersebut diadopsi oleh Belanda dari Code British yang diberlakukan oleh penjajah Inggris di India pada saat Inggris menguasai Belanda berdasarkan Traktat London. Pasal-pasal penyebar kebencian yang terdapat dalam Wetboek van Strafrecht di Belanda identik dengan Pasal 154, Pasal 155, Pasal 156 dan Pasal 157 KUHP Indonesia. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 156A KUHP Indonesia tidak terdapat dalam Wetboek van Strafrecht di Belanda, bahkan pasal-pasal penyebar kebencian ini telah dihapus lebih dari 50 tahun di Belanda sebagai pengejawantahan kritik hukum para pakar hukum pidana Belanda antara lain van Bemmelen yang menyatakan bahwa pasal-pasal tersebut merintangi kehidupan berdemokrasi. Majelis yang mulia, dalam pembaharuan Wetboek van Strafrecht di Belanda pada tahun 1983 Twee de Kammer atau parlemen memasukkan pasal-pasal menyangkut tindak pidana terhadap agama dan kehidupan beragama. Pasal 145 WvS mengenai menghalang-halangi, menghentikan atau menghalang-halangi upacara keagamaan yang dikenal dengan istilah Verhendering godsdienstige bijeenkomst. Pasal 146 WvS membuat keributan dalam upacara keagamaan atau Storing godsdienstige bijeenkomst. Pasal 147 WvS tentang Penodaan atau Penghinaan terhadap Tuhan, Nabi atau Rasul yang diterjemahkan sebagai Smalende godslastering. Pasal 147A adalah pasal tambahan yang baru saja dimasukkan pada awal tahun 2000 di negeri Belanda yaitu penyebarluasan penodaan atau penghinaan terhadap Tuhan, Nabi atau Rasul yang dikenal dengan istilah Verspreiding smalende godslastering. Kemudian dalam Pasal 137 WvS di negeri Belanda terkait penghinaan golongan penduduk atau belediging van groep mensen ditambahkan Pasal 137C WvS menyangkut penghinaan terhadap golongan penduduk termasuk di dalamnya adalah golongan agama. Pasal-pasal tersebut di atas di dalam WvS diletakkan di bawah Bab V dengan judul Misdrijven Tegen de Openbare Orde atau kejahatan terhadap ketertiban umum. Kesimpulan ahli, berdasarkan keseluruhan uraian di atas keberadaan Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 masih tetap relevan

24

dan tidak bertentangan dengan konstitusi tetapi sebagai instrumen pengaman untuk melindungi kehidupan beragama dalam rangka menjaga ketertiban umum. Yang kedua, pelaksanaan undang-undang tersebut harus dilakukan secara hati-hati sehingga tidak mengarah kepada pengadilan terhadap pemilikiran, pendapat atau keyakinan seseorang. Demikian Yang Mulia, terima kasih. 66. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Terima kasih, Saudara Ahli. Lalu Ahli berikutnya yang dihadirkan oleh Pemerintah Kiai Hafidz Usman, bisa maju ke podium. 67. AHLI DARI PEMERINTAH : K.H. HAFIDZ USMAN Yang saya muliakan Ketua Mahkamah dan Anggota Mahkamah Konstitusi. Izinkanlah saya untuk menyampaikan beberapa poin pandangan mengenai uji materiil Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965. Saya kebetulan lahir tetangganya orang Baduy, Banten dan saya sekarang tinggal di Bandung dam pernah punya pengalaman juga di Senayan, anggota DPR dan pensiun Departemen Agama. Teringat waktu kecil karena rumah saya d ipinggir jalan besar sering dapat tamu orang Baduy orang tua saya menjamu seperti biasa dan tidak pernah ditanyakan bagaimana dan bagaimananya. Dan orang Baduy sekarang sudah ada yang menjadi anggota DPRD Kabupaten Lebak dan ada juga yang sudah pergi haji. Saya kebetulan di Bandung juga punya pengalaman mendirikan IAIN yang sekarang menjadi UIN Sunan Gunung Jati dan saya mempunyai kegiatan setelah pensiun menjadi Ketua Majelis Ulama Indonesia Jawa Barat dan menjadi Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama. Dalam kaitan uji materiil undang-undang ini kami telah menyampaikan sikap baik dari MUI seluruh Jawa Barat maupun juga dari Forum Kerukunan Umat Beragama seluruh Jawa Barat, dua minggu yang lalu kami datang ke sini. Ketua Mahkamah yang saya muliakan. Saya berpendapat bahwa bangsa Indonesia mencatat perkembangan dirinya sejak juga zaman kesultanan di berbagai daerah mengakui komponen masyarakat yang terdiri dari berbagai suku yang menganut agama masing-masing. Tidak diketemukan keterangan yang menunjukkan pernah terjadi konflik keberagamaan, karena agama. Hal ini merupakan kekayaan bangsa Indonesia Bhinneka Tunggal Ika. Jadi

Assalamualaikum wr. wb.

25

kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang, dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas kebebasan hak orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan dan ketertiban umum dalam satu masyarakat demokratis.” Saya ulangi, Pasal
28J ini dilahirkan pada perubahan kedua Undang-Undang Dasar. Yang tidak dilakukan perubahan lagi pada perubahan ketiga dan keempat. Kita mengakui adanya agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia. Kita bisa sebut ialah Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Konfusius Yahudi, Shinto, atau lainnya. Ketua Mahkamah yang saya muliakan. Kalau boleh, saya ingin membacakan penjelasan dari UndangUndang PNPS Nomor 1 Tahun 1965, pada penjelas pasal demi pasal. Pasal 1 “dengan kata-kata di muka umum dimaksudkan apa yang lazim diartikan dengan kata-kata itu dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Agama-agama yang dipeluk oleh penduduk di Indonesia ialah Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Buddha dan Konfusius.” Kemudian dimuat, ini tidak berarti bahwa agama-agama lain misalnya Yahudi, Zarasustrian, Shinto, Toism, dilarang di Indonesia. Mereka mendapat jaminan penuh seperti yang diberikan oleh Pasal 29 ayat (2) dan mereka dibiarkan adanya, asal tidak melanggar ketentuan-ketentuan yang terdapat dalam peraturan ini atau peraturan perundangan lain. Demikian penjelasan Pasal 1 dari Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965. Dalam Islam dikenal adanya nilai-nilai agama, yang termasuk dalam kategori maklumun minnna dinni bidharurah. Yakni nilai-nilai

kalaupun, katakanlah ada konflik bukan karena agama, karena kepentingan. Masih perlu dijelaskan apa yang dimaksud Pemohon dengan kebebasan beragama. Apakah kebebasan dalam mengikuti salah satu agama atau bebas beragama, dalam arti bebas menerjemahkan dan menafsirkan norma agama? Jika mengikuti hal yang kedua, tentu akan timbul kerancuan tentang eksistensi agama itu sendiri. Pertumbuhan bangsa Indonesia sekarang sungguh telah mantap dalam kehidupan beragama, dengan dibuktikan perubahan UndangUndang Dasar, walaupun sudah empat kali, akan tetapi tidak merubah Bab XI, Agama Pasal 29 ayat (1) dan (2). Dalam hal kebebasan yang sekarang diekspos sebagai hak asasi manusia, sebagai penjabaran dari Pasal 28 Undang-Undang Dasar 1945, sungguh sudah jelas belaka termuat dalam Pasal 28J sebagai hasil perubahan kedua yang tidak diubah pada perubahan ketiga dan perubahan keempat Undang-Undang Dasar. Ketua Mahkamah yang saya muliakan. Izinkan saya membaca ulang Pasal 28J Undang-Undang Dasar ayat (1) “setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang lain, dalam tertib kehidupan bermasyarakat dan bernegara.” Dan ayat (2) “dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk

26

agama yang sangat jelas dari sumbernya, baik Al-quran maupun sunnah Rosulullah Saw. Dalam terapnnya dikenal sebagai hal-hal yang mujmali, tercapai konsensus dan disepakati bersama, atau ada hal-hal yang mukfalakhi, diakui sebagai ranah perbedaaan dan yang ditolerir. Perlu dijelaskan, seperti umat Islam mengakui Muhammad bin Abdullah adalah Rasulullah dan Khatamun Nabiyin. Baik itu Suni mauopun Syiah sama. Sedikit saya ingin saya menyampaikan perbedaan, Suni mengakui khillafah dari Khalafaur Rasyidin yang empat. Siah hanya merokomendir pengakuan kepada Ali Kaharamallah Wajah. Suni dan Syiah sama shoalatnya, tidak ada tambahan shalat lima kali sehari semalam. Hanya bedanya mungkin, yang perlu karena tadi soalnya disinggung oleh yang ahli supaya kita ada umat Islam bisa memilah mana sesungguhnya hal-hal yang dapat dijadikan nilai baku untuk membina ketertiban umum di tengah-tengan masyarakat kita. Seperti Suni mengakui shalat Jumat dengan tidak harus diatur siapa imam siap khatib tetapi atas kesepakatan bersama. Syiah imam dan khatib Jumat harus dari pihak pemerintah, sehingga ada kelompoknya yang mengatakan kalau yang ditugaskan tidak datang maka Jumat bisa dirubah shalat dzuhur saja. Ini dikemukakan supaya kita berpikir proposional, mana nilai agama yang memang maklumun minnna dinni bidharurah, mana yang mujmali, dan mana yang.mukftalafi. Sedikit menyinggung tentang pidana, kebetulan saya dulu ikut menyusun KUHAP. Anggota DPR tahun 1977-1982. Kami sesungguhnya ada semacam komitmen, seandainya bisa dilaksanakan setelah KUHAP selesai diundangkan maka segera ada revisi KUHP-nya. Sebab di situ ada nilai-nilai yang perlu disesuaikan dengan budaya yang beragama di Indonesia, seperti defisi zina dan perzinahan. Harus disesuaikan sepanjang persetubuhan dilakukan di luar pernikahan adalah itu perzinahan, dalam hukum Islam. Dan itu termasuk dalam kelompok hukum hudud {sic}. Tidak bisa dipandang pendekatan lain. Dalam Islam dikenal mana yang sifatnya Jinayat karena jelas dalam Al-Quran dan Sunnah Rosul mana yang sifatnya Ta’jir pelajaran. 68. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Kiai bisa terfokus ke masalah PNPS ini? 69. AHLI DARI PEMERINTAH : KH. HAFIDZ USMAN Ya, ini saya terundang karena tadi ingin membedakan. 70. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ya.

27

71.

AHLI DARI PEMERINTAH : KH. HAFIDZ USMAN Kemudian saya ingin menambahkan Pemerintah dalam hal ini, kepala negara sebagai penyelenggara negara perlu menegaskan kewenangannya dalam menjamin dan melakukan perlindungan kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masingmasing. Arti kata memeluk agama adalah beribadat, dalam arti beragama yakni, itulah makna beragama. Artinya Pemerintah sebagai penyelenggara negara harus menjaga eksistensi orang beragama, beribadat menurut agamanya. Ketua Mahkamah yang saya muliakan, saya berkeyakinan dengan beberapa pertimbangan pemikiran yang sebagian saya kemukakan di sini. Tetapi keyakinan saya mantap bahwa Undang-undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 masih tetap relevan dan tidak bertentangan dengan rasa keadilan hukum masyarakat, bangsa Indonesia. Dan cita-cita proklamasi dan Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Itulah yang ingin saya sampaikan dan sedikit ditulis formal, hati nurani saya sesungguhnya berbicara lebih dari ini. Karena kecintaan kepada bangsa dan negara Indonesia. Bagi kami, bagi saya Indonesia adalah negara yang sah. Orang yang akan menggangu eksistensi keutuhan NKRI sesungguhnya pihak-pihak ini perlu diluruskan pemikirannya. Demikian, wabilahitaufikwalhidayah, wassalamualaikum wr. wb.

72.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Berikutnya Bapak Philipus K. Wijaya.

73.

AHLI DARI PEMERINTAH : PHILIPUS K. WIJAYA Mohon izin, Yang Mulia, untuk disampaikan di tempat duduk. Selamat siang Yang Mulia, Ketua Mahkamah dan Anggota Mahkamah Konstitusi, dan yang terhormat semua yang hadir dalam sidang ini. Salam sejahtera, nama saya Philip Kuncoro Wijaya, saya sebagai Ahli dari Pemerintah. CV saya mungin belum disampaikan, nanti akan saya susulkan. Sehari-hari saya adalah pengajar di program pasca di Universitas Airlangga Surabaya, juga di sebagai pembina akademik dari beberapa universiatas, seperti Majong, Universitas Majong yang ada di Malang, Universitas Jinan yang ada di Guangzhau dan sebagainya. Di dalam kehidupan beragama, saya selaku Wakil Sekjen Walubi Indonesia dan Ketua Walubi Jawa Timur dan juga sebagai pembina di FKUBm yaitu, Forum Kerukunan Antar Beragama di Jawa Timur.

28

Di bidang-bidang interfaith yang lainnya saya hampir mengikuti seluruh rangkaian dialog interfaith yang diselenggarakan di manca negara, kemudian juga masih sebagai anggota dari WCRP yang salah satu ketuanya adalah Bapak Kiai Hasyim Muzadi, saya juga masih duduk sebagai governing code di WCRP yaitu skala yang lebih kecil daripada WCRP untuk wilayah Asia, kemudian juga sebagai pembina di CDCC, IRC dan banyak lagi. Saya ingin menyampaikan secara lebih singkat, karena banyak hal-hal yang disampaikan di pembicara sebelumnya dan juga yang telah disampaikan oleh ahli dari Pemerintah Bapak K.H. Hafidz, sehingga saya menyampaikan yang belum disampaikan saja. Menurut saya adanya Undang-undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penodaan Agama, paling tidak bisa menjadi pegangan dari aparat hukum dalam bertindak, karena kasus-kasus yang terjadi kalau saya melihat di Jawa Timur sendiri, sering sekali terjadi kasus-kasus penodaan agama yang aneh-aneh. Yang baru beberapa hari yang lalu yaitu ada yang mengaku sebagai nabi di Pulau Kangean, dan ini sudah diurus oleh aparat pemerintah, sehingga dampaknya tidak meluas. Sebuah undang-undang, tadi sudah dibahas sangat mendalam karena saya bukan orang hukum. Tapi menurut saya sebuah undangundang diperlukan itu tidak bisa disetarakan satu negara dengan negara yang lain, paling tidak ada bedanya karena perbedaan budaya atau mungkin tingkat pendidikan, tingkat kematangan dan sebagainya yang membedakan, sehingga pada akhirnya mungkin bisa disetarakan kalau hal-hal yang lain bisa disetarakan. Jadi banyak sekali kearifan lokal untuk setiap negara, setiap bangsa, setiap daerah harusnya juga menjadi titiktitik yang perlu diperhatikan di dalam penerapan undang-undang itu sendiri. Namun tadi kasus pertama yang disampaikan oleh Saudara kita, yang memeluk sebuah kepercayaan yang belum diakui secara formal, itu seharusnya kemungkinan karena terjadi kesalahan tafsir tentang Undang-Undang Nomor 1 ini, karena Undang-Undang Nomor 1 ini tidak menghalangi adanya kepercayaan yang lain. Bahkan beberapa contoh diajukan itu dengan kata di depannya “misalnya” artinya tidak hanya yang disebut saja, bahkan yang lain-lain harusnya diakui sepanjang tidak menodai agama yang lain, iya poinnya kira-kira seperti itu. Kita sangat memperhatikan adanya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini dan juga perkembangan belakangan ini. Kita telah diskusikan, kita adakan dialog khusus di dalam FKUB Jawa Timur, kita adakan dialog internal di dalam umat agama Buddha sendiri dan juga saya sempat melakukan dialog beberapa.., 2 bulan yang lalu kira-kira sebelum Pak K.H. Hasyim Muzadi diajukan sebagai saksi ahli di sidang yang terhormat ini. Jadi sempat kita berdua berdiskusi panjang lebar, satu jam lebih mengenai poin ini. Di dalam agama yang saya peluk, agama Budha juga tidak kurang kasus-kasus yang dengan tanda kutip penodaan agama

29

bermunculan. Saya kira yang lebih tahu Bapak Dirjen Pembina Umat Buddha yang kebetulan hadir di sini. Tapi sebagai minoritas kita mungkin kekurangan kemampuan untuk bereaksi sehingga banyak sekali kasuskasus yang dibiarkan begitu saja lewat. Kasus yang mungkin belakangan cukup menghebohkan tapi juga belum mendapatkan penyelesaiaan yang tuntas yaitu berdirinya “Buddha Bar” di Jakarta, jadi itu nama orang suci dalam agama kita itu dibuat nama sebuah bar itu yang terjadi. Memang di dalam agama Buddha, kita punya banyak penafsiran sehingga di dalam agama Buddha juga mempunyai banyak sekali sektesekte. Namun yang paling penting adalah tidak menodai yang sudah ada dan bisa saling mendukung dengan hidup rukun, damai dan sebagainya. Tidak kalah dengan Pak Kyai yang duduk di sebelah saya yang sangat concern kepada NKRI kita ini. Saya juga pernah menjalani pendidikan bela negara dan saya diangkat sebagai jadi Ketua Alumni Bela Negara di Indonesia. Tentu saja kita sangat yakin bahwa Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini saat ini masih dibutuhkan. Terima kasih Yang Mulia. 74. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, terima kasih, Bapak. Singkat tetapi jelas. Mudah-mudahan juga Djamaluddin bisa singkat dan jelas seperti beliau ini. Dipersilakan maju, Bapak. 75. Bapak Amin

SAKSI DARI PIHAK TERKAIT (MUI) : AMIN DJAMALUDDIN Yang Mulia Mahkamah Konstitusi, pada kesempatan ini secara ringkas saya sebagai Saksi akan bacakan pokok-pokok ajaran sesat yang selama ini saya hadapi terutama sekali di Jakarta ini. Saya meghimpun banyak tetapi Karena mengingat waktu, saya ringkas saja dan insya Allah materi lengkapnya akan kami serahkan Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi Yang Mulia ini. Pertama-tama kami katakan bahwa Undag-Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini adalah sangat dibutuhkan. Berdasarkan pengalaman kami selama ini, menghadapi banyaknya aliran-aliran sesat yang muncul di Indonesia ini. Contohnya yang pertama adalah ingkar sunnah, yaitu kelompok yang tidak percaya sama hadist Nabi Muhammad Saw dan menuduh Imam Bukhari itu adalah orang komunis yang pura-pura masuk Islam untuk membikin hadits yang sebanyak-banyaknya untuk menyesatkan umat Islam. Yang diikuti mereka hanyalah Al-quran saja. Seperti contoh, umpamanya tadi pagi tanggal 1 Ramadhan, ustadznya ini datang bersama pengurus masjid bertanya, kamu puasa? Jawabnya

Assalamualaikum wr. wb.

30

puasa, kamu lihat bulan? Jawabnya tidak, bodoh tidak lihat bulan kok puasa, tidak paham Al-quran. Al-Quran mengatakan Faman Syahida minkum musyahrafal Yahsuhu. Siapa yang melihat bulan itu yang puasa, yang tidak melihat bulan tidak wajib puasa bodoh dasar. Semua pengurus mesjid dihubungi ditanya yang sama, akhirnya karena ini ustadz kita, guru hadits kita pantasan semua tidak puasa karena tidak lihat bulan. Itu diceramahkan di mic masjid tiap hari Jumat. Allah kata ustadz kita ini Haji Sanwani, tidak akan salah memasukan orang ke dalam surga atau neraka. Kalau dia orang beriman dibuang di laut, dimakan ikan tetap saja masuk surga, tidak bakalan salah itu dimakan ikan tetap saja masuk surga. Tetapi orang kafir dimandikan, dikafankan, dishalatkan, dikuburkan baik-baik tetap saja masuk neraka. Jadi mereka itu kalau ada orang meninggal tidak perlu dimandikan, tidak perlu dikafankan, ditanam begitu atau di buang kelaut dimakan ikan, ya Allah tidak akan salah memasukkan orang ke dalam surga atau neraka. Itu ingkar sunnah itu. Akhirnya masyarakat kesal, tidak sabar mendengar Imam Bukhari komunis itu lagi mereka mengaji akhirnya masyarakat berkumpul ditangkap saja, cuma tidak dipukul digotong saja, dipikul ramai-ramai ustadznya, dibawa ke Koramil, akhirnya diserahkan Koramil, orang ini orang sesat. Karena menuduh orang komunis, orang Rusia yang pura-pura masuk Islam untuk membikin hadist yang sebanyak-banyaknya, kemudian untuk menyesatkan umat Islam. Itu ingkar sunnah itu. Dua, tokohnya yang lain Teguh Esha. Teguh Esha ini menulis di “Panji Emas Ali Topan Anak Jalanan.” Setelah belajar Islam, Ali Topan Santri Jalanan. Setelah itu dia mengangkat dirinya menjadi rasul. Shalatnya bukan mengikut rasul, tetapi mengikut burung, maaf seperti burung dara itu kalau shalat itu, begitu shalatnya. Akhirnya lagi Shalat di Bandung sana ditangkap orang karena shalatnya mengikuti burung begitu. Dan Tegu Esha ini akhirnya Tempo memuat berita Teguh Esha nabi jalanan, kata majalah Tempo itu, ada semua datanya ini. Itu contoh yang lain tentang ingkar sunnah itu. Ketiga, Lia Aminuddin, malaikat Jibril. Macam-macam ini ajaran Lia Aminuddin ini. Ini mereka itu, maaf , mereka itu mebuat agama baru telah lahir agama baru sallamullah. Dia mau menyatukan semua agama, Islam dihapus, Kristen dihapus, Hindu di hapus, Buddha dihapus, bergabunglah kepada agama sallamullah ini. Kirim wahyunya itu ke kantor kami, tiap wahyunya yang turun itu bertumpuk di kantor kami itu. Ya, kalau mau bukti ya bisa di anu. Wahyu dia turun, berkembang terus pemikirannya akhirnya tadi Lia Aminuddin berganti Lia Eden karena hidup di surga, bersuamikan malaikat jibril dan berhubungan seks seperti manusia biasa ini dengan malaikat Jibril di surga. Akhirnya saya laporkan ke kepolisian ini penodaan agama, kemudian masyarakat yang tidak sabaran akhirnya Surga Eden yang di rumah dia di Bungur sana dikepung, akhirnya ditangkap polisi, dibawa ke Komdak dengan anjinganjingnya itu.

31

Menurut ajaran Agama Salamullah, yang mentukan suci atau kotornya seseorang itu adalah anjing. Kalau datang ke rumahnya ajing menggonggong itu orang kotor itu tamu itu. Kalau datang ke rumahnya anjingnya diam, ini orang suci. Jadi anjing itu yang menentukan suci atau kotornya seseorang begitu, hanya dengan anjing itu Aminudin sama Nabi Muhammad Abdurahman diangkut semua oleh polisi di bawah ke Polda dan saya diperiksa juga sebagai pelapor dan pengadilan juga saya hadir, pembelanya lima puluh pengacara, bayangkan. Lima puluh pengacara pembela Lia Aminuddin. Kemudian HMA Bijak Bestari. Ini tamatan Akabri Udara, tamat HMA ini. Dia mengangkat dirinya Tuhan tertinggi di atas Allahu Akbar. Allahu Akbar setingkat di bawah dia, mengetahui semua yang ghaib, bisa memerintahkan malaikat semua malaikat itu patuh dan tunduk sama dia. Datanya ada semuanya, jadi mengangkat Tuhan dirinya Tuhan tertinggi di atas Allahu Akbar, Allahu Akbar setingkat di bawah dia, suatu saat utusanya datang ke kantor minta damai, jangan LPPI buat brosur tentang sesatnya HMA Bijak Bestari, ya saya tolak sebab Bijak Bestari ini saya katakan, Bijak Bestari itu lebih dari Firaun, Firaun hanya dirinya Tuhan tertinggi. Tapi Bijak Bestari adalah setingkat di atas Allahu Akbar. Jadi ini contohnya, Bijak Bestari. Kemudian Nabi Musadek. Nabi Musadek ini saya terima datang ke kantor saya, ini Nabi itu bersama saya mengajak saya untuk masuk dan membisikkan sama saya dapat wahyu itu dipanggil oleh semua pengikut di kantor itu, ya rasul, ya rasul, ya rasul. Di kantor ini saya, kemudian mengajarkan syahadat ashadu alla illahailallah waashadu anna almasih almaud rasulullah, tidak wajib puasa, belum wajib puasa, belum wajib sholat, belum wajib zakat, belum wajib haji, hanya sholat malam dua rakaat, yang tidak sholat malam harus lapor sama rasul, lihat orang lapor kalau kayak bisa satu juta tebusan dosanya tapi kalau miskin ya tergantung daripada keadaan orang yang lapor itu. Kalau orang Bintaro di sana bisa yang banyak pengikutnya bisa di atas satu juta itu tebusan dosa karena tidak shalat malam itu. Saya lapor ke Mabes Polri, akhirnya diproses dan sekarang itu dihukum empat tahun penjara. Jadi sekarang ini itu di Indonesia ini Malaikat Jibril di penjara, Rasul Muhammad Abdurahaman penjara tiga tahun, Rasul Musadek penjara empat tahun. Jadi Malaikat Rasul dua Rasul dalam penjara ini Indonesia ini. Kemudian di Kudus ada rasul baru Sabda Kusumo namanya. Ganti syahadat ashadu alla ilaha illahlah washadu anna sabda kusumo rasullulah. Ada silsilahnya dari Nabi Adam sampai dia itu ada lengkap, saya lampirkan juga ini sebagai bahan. Kemudian Surga Eden dan sekarang itu sudah jadi tersangka di Polda Bandung, di Cirebon, dia ini mengaku dirinya Tuhan. Ada Jibril, ada bidadari tinggal dalam surga ini. Dan sudah sekian lama praktiknya ini.

32

Tanggal 4 Januari 2010 datang ke kantor LPPI, orang melaporkan tentang adanya Surga Eden ini. Korban, yang mana dia ini resmi nikah di catatan sipil di KUA Allahnya, juga hadir Tuhannya juga hadir ada fotonya, semua fotonya Tuhannya di sini. Setelah nikah resmi Tuhannya ini melarang berhubungan suami istri selama enam bulan, tapi istrinya ini dikerjain terus oleh dia. Dikerjain terus oleh Tuhan ini, istrinya berpikir kok saya sudah nikah resmi di KUA, suaminya juga berpikir saya sudah nikah resmi kenapa tidak boleh berhubungan? Tapi Tuhan terus berhubungan dengan istrinya itu. Akhirnya kedua-duanya keluar dari tata kerajaan Eden ini dan datang ke kantor saya diantar oleh teman-teman “Garis” dan tanggal 10 Januari 2010 saya ke Cirebon mengatur strategi, setelah saya pelajari tentang situasi di Cirebon itu saya perintahkan mereka “Ini dilaporkan ke Polda, karena sudah berada di beberapa daerah di luar Cirebon”. Akhirnya tanggal 12 Januari 2010, mereka lapor ke Polda, kemudian diintelin oleh pihak kepolisian, ternyata benar, hidup mereka itu telanjang bulat, maaf. Jadi Tuhan itu suruh memerintah bidadari ini untuk telanjang bulat tidak berpakaian, kapan harus disetubuhi, boleh. Jadi semua disetubuhi, sehingga koran-koran banyak juga yang memuat ini. Pengikut disetubuhi, ditonton ramai-ramai, betul. Ditonton ramairamai, telanjang, disetubuhi, dan di CD-kan lagi. Saya ketemu di Polda, saya tanya sama Tuhan ini. Ini kan urusan kamar, sama urusan.., saya tidak panggil Tuhan, Bapak dan istri Bapak. Kenapa difoto, kenapa di CD-kan? Diam Tuhan itu, tidak bisa jawab dia. Jadi kalau umpanyanya orang yang disetubuhi oleh Tuhan ini melahirkan anak. Apa harus bangga bahwa itu anak Tuhan. Harus bangga bahwa itu anak Tuhan? Dikumpulkan anak Tuhan ini, jadi keluarga Imran dalam Al-quran ini, jadi keluarga Imran dalam al-Quran ini. Ibunya, perempuan-perempuan yang sudah disetubuhi itu, itu keluarga Mariam. Jadi ini luar biasa ini ajaran Rahmat Tontowi ini. 76. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik Pak baik. Tadi sudah banyak contoh, Bapak katakan kaitannya dengan PNPS (…) 77. lalu apa yang ingin

SAKSI DARI PIHAK TERKAIT (MUI) : AMIN DJAMALUDDIN Maaf Yang Mulia, JIL yang belum saya katakan.

78.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Apa?

33

79.

SAKSI DARI PIHAK TERKAIT (MUI) : AMIN DJAMALUDDIN Jaringan Islam Liberal.

80.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Silakan, tapi dipersingkat saja.

81.

SAKSI DARI PIHAK TERKAIT (MUI) : AMIN DJAMALUDDIN Ya, JIL ini menggugat Al-quran. Ratusan ayat quran yang salah, saya kutip semua ayat yang salah. Ratusan ayat, yang paling besar salahnya itu menurut JIL ayat yang berbunyi inna dinna indallahi islam, itu salah. Yang benar, “inna dinna indallahi hanafiah. Jadi mereka itu lagi memperjuangkan menerbitkan Al-quran ala Indonesia. Al-quran versi mereka itu, ratusan ayat Al-quran yang dikatakan salah, itu JIL. Penghinaannya yang luar biasa terhadap umat Islam. Orang yang meyakini bahwa Al-quran itu adalah wahyu suci, itu keledai semua. Jadi kita ini keledai semua menurut mereka. Jadi ini data-datanya ada semua di sini tentang JIL ini. Ayat quran yang dibuat juga saya kutip semua. Jadi mereka itu tokohnya itu adalah Ulil Abtar Abdallah sebagai koordinator. Di sini, Ulil di wawancarai oleh wartawan. Dia itu mendapat 1,4 miliar satu tahun tapi itu kecil katanya. Jadi mendapat biaya dari Asia Foundation 1,4 miliar tapi itu kecil kata Ulil. Jadi ini mereka ini, berbuat ini untuk kepentingan luar. Jadi, itulah yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan ini. Oleh sebab itu, kalau umpamanya PNPS Nomor 1 Tahun 1965 ini dicabut dan tidak ada sandaran hukumnya ini selama ini. Saya kira Lia Aminuddin, Musadek dan Bijak Bestari sudah dibunuh orang, sudah dibunuh. Untung ada undang-undang ini, yang menyelamatkan mereka itu. Jadi tidak bertindak liar, tidak main hakim sendiri, diserahkan sama polisi, polisi diproses sesuai dengan kesalahannya. Kemudian polisi serahkan kepada kejaksaan, kejaksaaan dibawa ke pengadilan dan dituntut berdasarkan pasal ini. Kalau pasal ini dicabut berarti BapakBapak Yang Mulia di sini, Mahkamah Konstitusi ini menyuruh kami di lapangan ini untuk bermain hakim sendiri, jangan salahkan kami nanti kalau orang yang ngaku dirinya Tuhan, saya tangkap, digebuk, karena tidak ada payung hukum lagi. Maaf, Karena saksi ini adalah pelaksana di lapangan. Sudah banyak sekali ini, sudah banyak sekali hal-hal kesesatan semacam ini saksi alami tapi tidak pernah di sakiti, tidak pernah dipukul, tapi diserahkan kepada pihak yang berwajib untuk diadili sesuai dengan pasal ini. Jadi sekali lagi, kalau pasal ini dicabut akan menyuruh kami ini untuk bertindak main hakim sendiri. Ya, berarti kami insya Allah tidak salah salah karena selama ini tidak pernah kami pukul, tapi setelah ini

34

dicabut, ya, kami pukul saja ini orang-orang, orang-orang sesat. Kami ini bukan orang-orang kuliah di perguruan tinggi Pak, kami ini orang lapangan, mengalami ini. Jadi bahan bagi kami untuk membela Islam 82. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik. 83. SAKSI DARI PIHAK TERKAIT (MUI) : AMIN DJAMALUDDIN Lebih kurangnya minta maaf. 84.

Wabillahitaufik walhidayah, wassalamualikum wr. wb.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Untuk sesi ini yang terakhir Ibu Nurdiati tadi. Siapa tadi? Kalau Pak Zaenuddin nanti sesudah Sulaiman Zachawerus itu nanti sesudah Pihak Terkait bicara dulu baru memberi kesaksian atau keahlian. Silakan.

85.

AHLI DARI PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : DRA. HJ. NURDIATI AKMA Yang Mulia, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini ternyata memberi berkah kepada seluruh Bangsa Indonesia ini. Paling tidak setelah kita beberapa kali mengikuti sidang di Mahkamah Konstitusi ini, terbongkar banyak hal yang terselamatkan. Di beberapa tempat setelah saya menghadiri pengajian atau taklim, ada yang sempat marah tatkala tetangganya bercanda, hanya bercanda tetapi karena sudah berbeda agama bercandanya dianggap keterlaluan. Masak Bu, dibilang malaikat memakai celana gombrang, masak Bu, Nabi Muhammad dibilang wajahnya mirip Alain Delon dan sebagainya. Apakah kita pukul apa kita apakan? Untung ada undang-undang ini, sehingga saya sempat katakan. Sekarang kita punya ajaran Islam, baik-baik, tatkala dia sudah tidak bisa diajak baik-baik, dikasih nasihat, kita punya suatu payung hukum. Negeri ini, negeri yang berdasarkan hukum. Semua rakyat terlindungi. Dengan adanya undang-undang ini sebetulnya, bagi umat Islam diperbolehkan untuk kita adu-adu otot. Tentu yang akan kecewa adalah mereka yang lemah. Justru undang-undang mengatur negeri ini menjadi negeri yang tenteram, paling tidak sedikit tentram. Karena apa? Karena yang telah tadi dikemukakan dari kelompok Budha dari kelompok yang lain mereka merasa terayomi. Tatkala umat yang begitu besar. Saya

Assalamualaikum wr. wb.

udhu’u illa sabili rabikka bil hikmah warma idzatan hasanah wajadilhum illa bill aksan. Ajak ngomong dulu dia baik-baik, ajak dia diskusi dulu dia

35

ingat beberapa tahun yang lalu majalah “Monitor”, itu sempat saya meredam satu kelurahan yang ingin mencari kantor itu untuk membakar, untuk membunuh siapa yang melakukan itu. Karena apa? Karena ini sudah menyinggung, menodai nilai-nilai agama yang mereka anut dan mereka sangat patuhi. Oleh karena itu kami berkesimpulan, agar Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini tetap harus dipertahankan, bahkan dipertegas dan diperbanyak sosialisasinya. Karena mungkin yang terjadi adalah sosilisasi yang kurang. Kalau rakyat bawah, menengah ke bawah.., pendidikannya rendah mereka dengan mudah mereka diberi pencernaan. Tetapi yang kelompok menengah ke atas ini, janganjangan you tidak mengerti dan mungkin pura-pura tidak mengerti. Negeri kita negeri yang memang bukan berdasarkan agama, berdasarkan Pancasila. Tetapi tidak dibenarkan orang di dalamnya tidak beragama. Bayangkan kalau di satu rumah boleh memeluk agama sesukanya, tanpa melihat koridor agama yang dibenarkan di Indonesia. Saya tidak bisa membayangkan Bapak yang tadi diangkat sumpah untuk menjadi saksi? Bingung mau pakai demi apa? Demi Tuhan, demi apa? Akhirnya jadi bingung sendiri. Bayangkan kalau di satu rumah sepuluh keluarga, di satu RW ada seratus. Betapa bingungnya kita? Oleh karena itu bahwa ada aturan di negeri ini, bahwa ada agama yang dibenarkan dan tidak boleh orang yang tidak beragama. Kalau tidak beragama silakan cari negeri yang lain yang bisa memayungi mereka. Akhirnya saya berkesimpulan memohon kepada Mejelis Hakim dan Yang Mulia semuanya untuk kita bersepakat agar undang-undang ini tetap dipertahankan, terutama masalah yang disebutkan oleh Saksi Ahli yang terakhir sebelum saya, tentang Jaringan Islam Liberal. Ini banyak pertanyaan berkali-kali kami datang di pengajian, tiap kali kami datang kepada di majelis taklim. Bagaimana ini Bu, Islam kita ini diapain, diobok-obok? Apa kita umat Islam ini diam saja. Apa kita harus bergerak, apa kita harus apa? Apa iya saya harus membenarkan gerakan-gerakan mereka? Untung ada undang-undang seperti ini. Barangkali kerja keras dari lembaga hukum untuk mensosialisasikan undang-undang ini dan menyebarkan, memberikan pemahaman bahwa negeri ini, negeri yang beragama dan agama yang telah disepakati adalah agama ini, ini, ini. Terima kasih. Wabilahitaufik walhidayah, wassalamualaikum. wr. wb.. 86. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, semua Saksi dan Ahli sudah tampil kecuali nanti Pak Sulaiman. Itu nanti karena beliau dihadirkan sebagai Ahli dari Irena Center, sehingga Irena bicara dulu baru Bapak nanti.

36

Saya berikan kesempatan di sana satu, di sana satu. Khususkhusus untuk Ahli dari MK, karena dari MK ini setelah ini tidak balik lagi. Ini undangan MK, Bapak Prof. Andi Hamzah dan Pak Eddy Hiariej (…) 87. PIHAK TERKAIT (MUI) : M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Dari MUI akan bertanya pada Ahli yang di MK, mohon juga diberi kesempatan. 88. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ya, boleh, 1 saja dari Pihak Terkait. Ada ndak dari sini? Singkat saja, ya? Pengalaman saya kalau Anda bicara terlalu panjang, tanya saja langsung apa. Di sana juga, di sana juga. Kita biasanya jam 12:00 istirahat untuk sholat dzuhur dan makan siang. Silakan. 89. KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Terima kasih, Yang Mulia. Pertanyaan kami dari Kuasa Hukum Pemohon kepada Saksi Dr. Eddy O.S. Hiariej. Untuk Dr. Eddy O.S. Hiariej, Anda, saya bingung seperti itu, penjelasan Anda di satu sisi Anda mendukung kebebasan berpikir, beragama dan lain-lain. Kemudian di kesimpulan tiba-tiba Anda menyatakan, ini relevan. Padahal dalam fakta bahwa banyak kasus Undang-Undang PNPS ini justru masuk ke wilayah pemidanaan pemikiran. Nah, yang saya ingin tanyakan, bagaimana membuktikan khususnya mengenai mens rea dari penodaan agama ini? Kita tahu bahwa sangat abstrak sekali membuktikan penodaan agama khususnya dalam bentuk mens rea -nya. Terima kasih. 90. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Dari Pemerintah ada? Cukup. Dari Majelis Ulama. 91. PIHAK TERKAIT (MUI) : M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Terima kasih, Yang Mulia. Sedikit pertanyaan kepada Saudara Saksi dari..., Saudara Saksi Sardy boleh Yang Mulia, ya. Selaku penghayat kepercayaan apakah Saudara ataupun organisasi Saudara pernah diberi perintah atau peringatan keras untuk menghentikan perbuatannya dalam suatu

37

keputusan bersama, Menteri Agama atau menteri, atau Jaksa Agung atau Menteri Dalam Negeri? Kemudian untuk Ahli, Bapak Prof. Dr. Andi Hamzah. Apakah pidana penjara dalam Pasal 3 PNPS yang selama-lamanya 5 tahun ini, Saudara katakan menyalahi ancaman satu tahun maksimal. Apakah dalam pengertian yang lain, Ahli masih setuju, atau tetap setuju adanya suatu hukuman pidana mati..,hukuman pidana administrasi, kendati hukuman maksimalnya tidak 5 tahun tapi 1 tahun? Mohon penegasan. Kemudian yang kedua, Ahli mengatakan Pasal 4 PNPS a quo pada dasarnya tidak ada masalah karena telah dimasukkan ke dalam KUHP. Sedangkan Ahli dari Pemohon yaitu Prof. Sahetapy mengatakan adalah sangat mengherankan bagaimana suatu undang-undang yang direkayasa di zaman tirani dan kemudian dengan prosedur yang tidak jelas di-simsalabim menjadi Pasal 156A KUHP. Pertanyaannya adalah secara ilmu hukum pidana, apakah lazim memasukkan suatu pasal pidana tertentu ke dalam suatu kodifikasi hukum pidana? Pertanyaan serupa mohon juga dijawab oleh Saudara ahli Eddy Hiariej. Kemudian untuk Saudara Ahli Dr. Eddy O.S Hiariej. Yang pertama, tadi Ahli menjelaskan tentang historis PNPS. Pemohon mendalilkan bahwa produk PNPS Nomor 1 Tahun 1965 dibuat pada masa pemberlakukan hukum darurat perang. Apakah benar dibuat di dalam suatu masa hukum darurat perang? Mohon kepastiannya. Kemudian yang kedua, Pemohon juga mendalilkan Pasal 3 Undang-Undang PNPS bertentangan dengan asas kepastian hukum, karena tidak jelas dimengerti dan tidak dapat diperkirakan, misalnya tentang yang dimaksud pokok-pokok ajaran agama dan lain-lain. Apa pendapat Ahli tentang pernyataan Pemohon dalam permohonannya ini? Yang terakhir, tadi Ahli menjelaskan adanya pengaturan penodaan agama juga dalam KUHP Belanda. Setahu saya, setahu kami, Partai Kristen Demokrat atau PKD di Belanda praktis hampir selalu menguasai parlemen. Bisakah Saudara menjelaskan apa latar belakang Partai PKD mengusung undang-undang yang mengatur penodaan agama ini? Terima kasih. Terima kasih, Yang Mulia. 92. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ya baik, cukup. Jadi begini Saudara Sardy tidak usah menjawab. Nanti sore saja kalau menjawab. Sekarang, masing-masing 2,5 menit untuk Ahli. Silakan Prof. Andi! 93. AHLI (YANG DIHADIRKAN MK) : PROF. DR. ANDI HAMZAH Jawabannya saya mengenai 1 tahun tadi, sebenarnya saya lupa tadi menyampaikan kepada Yang Mulia Ketua. Bahwa ada kaitan dengan

38

penahanan. Bahwa yang satu tahun itu tidak bisa ditahan kan menurut KUHAP. Di dalam Undang-Undang Administrasi ini umumnya pegawai negeri sipil (...) 94. PIHAK TERKAIT (MUI) : M. LUTFI HAKIM, S.H., M.H. Mohon menggunakan mic, Yang Mulia. 95. AHLI (YANG DIHADIRKAN MK) : PROF. DR. ANDI HAMZAH ....adalah penyidik, Departemen Kehutanan, Departemen Perikanan, itu ada penyidik semua itu. Jadi kalau diancam 5 tahun dia akan bisa menahan orang, ya kan? Dimana dia tahan? Apa penjara mau terima kalau ada orang surat perintah penahanan yang bukan dari polisi atau kejaksaan. Ini menjadi persoalan kan? Maka itu minimumnya satu tahun, artinya dia tidak bisa melakukan penahanan. Kalau ditaruh 5 tahun, dia bisa melakukan penahanan. Ini praktisnya seperti itu. Jadi kalau mau lebih dari 1 tahun harus dikasih baju Undang-Undang Pidana, atau masukkan dalam KUHP. Ya, jadi seperti Undang-Undang Lingkungan Hidup, itu kan kalau kita 10 tahun. Kalau Belanda dia masukkan ke Undang-Undang Tindak Pidana Ekonomi, supaya mendapat baju, payung Undang-Undang Pidana. Begitu, saya kira itu. Masih ada yang ditanya tadi? 96. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Oke, Saudara Eddy Hiariej. 97. AHLI (YANG DIHADIRKAN MK) : DR. EDDY O.S. HIARIEJ, S.H., M.H. Terima kasih, Majelis yang mulia. Yang pertama dari Pemohon mengenai kebebasan berpikir dan berkeyakinan yang saya maksudkan adalah yang seperti yang Saudara ajukan tadi adalah saksi yang menganut aliran kepercayaan. Ini tidak bisa diadili atau dihukum karena itu ialah keyakinan dan kepercayaan yang bersangkutan. Kemudian pertanyaan Saudara mengenai mens rea. Kalau kita berbicara mengenai mens rea berarti kita berbicara mengenai subjektive onrecht element, melawan hukum yang subjektif. Dalam hukum pidana kita menggunakan teori yang namanya kesengajaan yang diobjektifkan. Artinya apa? Subjektive onrecht element itu hanya bisa dilihat, hanya bisa diketahui kalau ada subjektive onrecht element. Saudara bisa kembali mempelajari bukunya Moelyatno, mengenai elemen-elemen perbuatan pidana.

39

Yang berikut pertanyaan dari Pihak Terkait, bahwa penambahan pasal seperti 156A atau misalnya Pasal 136B itu adalah hal yang wajar dalam pemberharuan KUHP. Kalau membuka Wetboek van Strafrecht di Belanda itu biasanya di setiap tambahan Pasal 156A,15..., apa, tambahan-tambahan dengan mengunakan huruf. Kemudian yang kedua mengenai pertanyaan keadaan darurat perang. Saya kira keadaan darurat perang tidak ada hubungannya tidak ada hubungannya dengan Undang-Undang Nomor 1 PNPS 1965. Keadaan darurat perang itu diumumkan oleh Nasution pada tahun 1957 ketika sidang konstituante di Bandung ingin mengubah dasar negara Pancasila dan keadaan darurat perang itu sudah di cabut pada Tahun 1963, ketika Irian Barat kembali ke dalam pangkuan wilayah RI. Pada Tahun 1965, tadi yang sudah dikatakan oleh Prof. Andi Hamzah, pada saat itu adalah Jaksa Agung Gunawan waktu itu yang kemudian untuk membasmi aliran kepercayaan yang dianggap sesat. Tetapi jangan juga dilupakan bahwa pada saat itu banyak terjemahanterjemahan sesat yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia sekitar tahun 1964-1965 antara lain yang diplesetkan oleh PKI itu bahwa orang Islam itu tidak perlu shalat sesuai surat Al-Ma’un ayat, fawailul lilmusholin, celakalah bagi orang-orang yang shalat.” Tapi tidak meneruskan ayat itu. lha, ini kemudian asbamul nuzul adanya UndangUndang Nomor 1 PNPS 1965. Yang berikut adalah mengenai yang didalilkan oleh Pemohon bahwa dalam pasal tersebut tidak mengandung kepastian hukum. Memang kalau kita kembali pada prinsip pada asas legalitas lex praevia, lex certa, lex stricta dan lex scripta ini memang antara yang satu dengan yang lain saling bersinggungan. Sebagai satu contoh, tadi dikatakan bahwa tidak ada pidana, tidak ada perbuatan pidana tanpa ada Undang-Undang Pidana yang ketat. Kalau Undang-Undang Pidana yang ketat itu berarti tidak boleh dilakukan analogi, tetapi terjadi analogi di dalam hukum pidana itu sudah terjadi di Belanda sejak tahun 1921. Artinya apa? Perkembangan hukum itu selalu dia selalu sesuai zaman dan masanya. Jadi betul di satu sisi memang ada satu postulat dasar yang di kemukakan oleh Immanuel Kant “súmmum ius, summa iniuria” suatu hukum yang semakin pasti semakin tidak adil. Terserah kepada Majelis, mau memilih kepada kepastian hukum ataukah kepada keadilan. Dan konsep dasar hukum pidana itu selalu mengantinomikan antara juctice versus kepastian hukum. Yang terakhir, bahwa yang menarik bahwa memang Partai Kristen Demokrat selalu menguasai Twee de Kammer atau parlemen di Belanda dan dalam memorie van toelichting dimasukkan pasal-pasal penodaan agama dalam Wetboek Van Strafrecht di negeri Belanda semata-mata adalah untuk melidungi golongan minoritas. Sekian dan terima kasih.

40

98.

KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Yang Mulia, mohon 10 detik.

99.

KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ya, baik. Dengan demikian sidang akan ditutup dan akan dibuka kembali jam 14.00. KETUK PALU 3X SIDANG DISKORS PUKUL 12.05 WIB

SIDANG DIBUKA KEMBALI PUKUL 14.00 WIB 100. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. MD Dengan mencabut skors, sidang pleno untuk Perkara Nomor 140/PUU-VII/2009 dinyatakan dibuka kembali. KETUK PALU 3X Berikutnya kita akan mendengarkan tanggapan atau keterangan dari Pihak Terkait yaitu Yayasan Irena Center Silakan. 101. PIHAK TERKAIT (YAYASAN HANDOYO IRENE CENTER) : HJ. IRENE

Assalamualaikum wr. wb.

Yang Mulia Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, Pemerintah, DPR, Terkait, Pemohon dan hadirin seluruhnya. Ruang sidang ini, perlu diketahui sebenarnya bukan panggung saya. Saya bukan ahli hukum, saya hanya seorang Ibu yang menangis karena kegelisahan anak-anak, bangsa terutama yang beragama Islam. Mereka merintih dan menangis karena maraknya penodaan agama yang menimpa diri mereka.

Assalamualaikum wr. wb.

41

Saya tampil di sini untuk melengkapi, menyajikan yang belum terungkap. Itu sebabnya saya hadir di sini. Yang Mulia Majelis Hakim. Sebagaimana yang kita ketahui, bukti-bukti penodaan agama yang dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama Islam dan menodai agama Islam. Contohnya Mirza Gulam Ahmad, nabi dari aliran Ahmadiyah. Kesesatan Ahmadiyah adalah dia mengaku sebagai nabi dan rasul, kitab sucinya tazkirah ibadah hajinya gharabwah dan qodhiyan. Berikutnya adalah Lia Aminuddin yang mengaku sebagai penguasa kerajaan Tuhan. Pada tahun 1997 dia mengaku sebagai Imam Mahdi, maaf mengaku sebagai Jibril. Tahun 1998 mengaku sebagai Imam Mahdi dan setelah menggunduli rambutnya mengaku sebagai, mendapat maaf, agak terputus, mengaku sebagai Jibril roh kudus. Ini adalah fotonya Lia Aminuddin, ini adalah jamaahnya salamullah dan ini ketika Lia Aminuddin mengaku mendapatkan wahyu dari Allah. Berikutnya, akan saya sajikan bukti-bukti penodaan agama oleh pihak luar Islam dengan cara melakukan penafsiran yang menyimpang. Adapun yang dimaksud perbuatan di depan umum, bisa dilaksanakan lewat lisan, tulisan lewat media cetak, media elektronik, buku, brosur, koran, VCD, website. Akan saya tunjukkan buktinya masing-masing tentang penodaan itu. Buku, pada tahun 2004 beredar buku The Islamic Invasion yang ditulis oleh Robert Morey dengan edisi lux, dijual di kaki lima hanya dengan harga 5000 rupiah untuk setebal 300 halaman, luar biasa kejinya. Kita lihat fotonya Robert Morey, itulah dia dan bukunya The Islamic Invasion, apa yang dia katakan? Dia mengatakan bahwa Allah adalah dewa bulan, dan itu tercantum pada halaman 58. Berikutnya lagi, dia menyatakan bahwa Allah SWT adalah sebesar-besarnya penipu dan itu tercantum dalam halaman 76. Berikutnya lagi, dia menyatakan bahwa Rasullulah SAW kesurupan dan kemungkinan besar epilepsi. Dan itu tercantum dalam halaman 85. Lebih lanjut lagi dia mengatakan ajaran Rasullulah SAW absurd, tidak ada peluang untuk benar dan itu tercantum dalam halaman 93. Berikutnya lagi, dia menyatakan bahwa ajaran-ajaran setan ada dalam kitab suci Al-qurannya orang Islam, Nabi Muhammad SAW dikatakan mendapat inspirasi dari syaitan. Hal itu bisa dilihat pada halaman 30. Kejeniusan Rasulullah mengubah ibadah penyembahan dewa bulan menjadi dewa Islam, menjadi agama Islam, maaf. Dan agama Islam adalah agama terbesar di dunia, itu kata Robert Morey yang tercantum pada halaman 109. Dia menyatakan shalat adalah pemaksaan kultural dan sekaligus dia menyatakan imperialisme budaya sudah terjadi di dalam Islam, itu

42

pun dinyatakan oleh Robert Morey. Kemudian kita saksikan lagi, dikatakan juga bahwa Islam menindas wanita, itu ada di halaman 52. Muhammad melakukan pembunuhan, perampokan terhadap orang yang dianggap kafir atas nama Allah, itu yang dikatakannya dalam buku Robert Morey ini. Berikut lagi, Islam mengadopsi simbol ritus agama dan nama tuhan dari agama pagan kuno, itu adalah tuduhan Robert Morey. Berikutnya, maka kata Robert Morey orang-orang muslim harus menolak kitab suci Al-Quran dan Al-Quran bukan bersumber dari wahyu. Berikutnya kita saksikan foto-foto ini, menurut Robert Morey, foto dewa bulan yang dia temukan di Hazor, dia katakan umat Islam adalah penyembah berhala yaitu dewa matahari. Bagaimana penodaan lewat buku? Selain Robert Morey kita bisa lihat juga di dalam buku yang di tulis oleh Drs. H. Amos, entah “H” itu singkatan apa, mungkin Himar. Namanya sendiri adalah Purnomo Winangun, dia mengatakan bahwa ibadah haji adalah ibadah mainan anak kecil. Dia menyatakan bahwa Allah itu bukan dzat tapi z-a-t zat ,benda. Berikutnya lagi dia menyatakan Allah itu lebih dari satu, bukan Allahu Ahad, dia menyatakan bahwa Muhammad itu itu tidak selamat bahkan minta diselamatkan, minta di doakan oleh umatnya supaya selamat. Dia menyatakan Hajar Aswad itulah berhala yang disembah oleh umat Islam. Dia menyatakan upacara ibadah haji sebagai ibadah penyembahan berhala. Maka dia mengatakan umat Islam memberhalakan Makkah dan Ka’bah. Hajar Aswad sangat di dewa-dewa kan dan dianggap sebagai Allah Yang Maha Besar, itulah kata terjemah kata Purnomo Winangun, itulah terjemah daripada kalimat Allahu Akbar. Siapapun yang tidak mau mencium Hajar Aswad, katanya Purnomo Winangun maka bagi orang Islam dia adalah kafir. Sekarang kita saksikan penodaan lewat brosur. Banyak brosur-brosur penodaan, dalam kesempatan ini saya tampilkan contohnya saja, Insya Allah sekitar lima brosur. Brosur ini kalau dilihat sekilas sepertinya brosur umat Islam, tapi ternyata bukan brosur umat Islam. Bahkan brosur-brosur ini membandingkan antara Al-Quran dengan kitab suci agama yang lain. Dan disebutkan disitu ayat-ayat dan juga suratnya. Allah disebut sebagai nama dewa bangsa Arab yang mengairi bumi. Jadi Allah adalah dewa zaman pra Islam. Berikutnya disebutkan, Isa AS ruh Allah, maka Isa adalah Allah. Berikutnya siapakah yang bernama Allah itu? Isinya jadi yang bernama Allah itu adalah dewa. Berikutnya lagi adalah brosur yang berjudul keselamatan. Dia menyatakan shiratal mustaqim adalah Isa anak Maryam yang harus diikuti dan ditaati, memakai ayat Al-Quran yaitu surat Zukruf ayat 61 tapi disimpangkan maknanya. Manusia bisa memperoleh keselamatan jika ikuti shiratal mustaqim. Siapa shiratal mustaqim? Maka dikatakan Isa A.S.

43

Demikian pula rahasia jalan ke surga. Seolah pembuatnya Islam karena ditulis pembuatnya adalah Dakwah Ukhuwah lengkap dengan P Box-nya. Isinya adalah agar manusia dapat mencapai surga harus mengikuti Isa A.S, dan kemudian dia pun mengutip dari surat Maryam ayat 19, ayat Al-quran dipelencengkan penafsirannya di sini dan memakai ayat dari kitab suci yang lain. Bagaimana penodaan dalam bentuk VCD? Penodaan dalam bentuk VCD kita bisa saksikan, saya akan perdengarkan kepada Ibu dan Bapak hanya dalam waktu 3 menit atau 2 menit, klip penodaan terhadap Al-quran. Ini peristiwa ini terjadi di Batu, Malang. Dan inilah pembuktian-pembuktiannya. (PEMUTARAN VIDEO) Yang diangkat itu adalah kitab suci Al-Quran Insya Allah Ibu dan Bapak seluruhnya, Yang Mulia Majelis Hakim juga mendengar dan melihat dengan saksama apa yang diletakkan di lantai itu, dan apa yang dihujat, apa yang mereka katakan mengusir roh setan dari kitab suci Al-Quran. Inilah bentuk konkrit pembuktian dari penodaan agama yang Saudara pertanyakan. Kita lanjutkan, ada kemudian orang yang mengaku bernama Ali Makrus. Dia mengaku mantan muslim, dia mengaku mantan Ketua FPI Surabaya. Apa kemudian yang dia katakan (PEMUTARAN VIDEO) Ibu dan Bapak bisa menyaksikan betapa biadab, kejam, keji atau lain yang lebih tepat daripada ungkapan ini. Ini jelas fitnah dan kita semua tahu bahwa mereka melakukan fitnah itu. Peristiwa itu sampai hari ini tetap berlangsung, saya buktikan harian Republika, Jumat tanggal 19 Februari 2010 masih juga memberitakan tentang Makrus Ali atau Ali Makrus itu. Apa yang dia perbuat menghina ajaran dan ibadah umat Islam, menimbulkan kebencian pada pihak lain karena terlihat simbol dari kegiatan penceramah di tempat ibadah agama tertentu. Diduga ini merupakan upaya provokasi terhadap umat Islam Ibu dan Bapak yang dirahmati Allah. Bukan hanya itu saja, mereka juga melakukannya di website. Coba kita lihat dan saya mohon kepada Saudara-Saudara saya seiman dan seakidah, jangan terpancing emosi, di dalam ruangan ini kita membuktikan seperti permintaan dari pihak Pemohon, apa ukuran penistaan atau penodaan agama. Ini saya akan beberkan pembuktiannya, silakan diukur kalau Anda masih punya hati nurani. Forum blog ini oleh Forum Murtadin Indonesia, bisa dibaca blognya. Isinya menggambarkan surga dan nikmatnya pesta seks dalam Islam. Berikutnya kebohongan Islam. Silakan, web-nya. Isi

44

menggambarkan Rasulullah yang dimuliakan oleh umat Islam meminta dituangkan minuman keras atau khamer. Berikutnya kebohongan Islam, isinya adalah Allah dan Rasulullah memperbolehkan sodomi. Kata mereka sodomi dihalalkan Allah dan Rasulullah. Kemudian Laskar Murtadin, isinya, mereka menggunakan foto ulama Islam tapi mengajak kepada gerakan pemurtadan. Siapa foto beliau yang tercantum di sini, Habib Riziq dan Abu Bakar Ba’asir. Maaf Dja’far Umar Thalib. “Kami laskar murtadin mengajak Saudara-Saudara sekalian untuk meninggalkan Islam dan bergabung bersama kami dalam misi pemurtadan.” Omong kosong, bohong dan sekaligus fitnah, bukan hanya penodaan. Berita muslim shahih, namanya demikian, tapi isinya apa? Menyatakan Allah adalah Tuhan abal-abal. Berita muslim shahah lebih lanjut menyatakan tiga bukti logis dan faktual, Allah SWT bukan Tuhan. Disebut saya katakan muslim itu goblok, Allah bukan Tuhan tapi berhala. Berita muslim shahih mengatakan Islam agama sakit, Muhammad tidak sinting tapi sakit jiwa. Berita muslim shahih berikutnya mengatakan, nilai moral nabi yang meniduri gadis 9 tahun. Islam expose menyatakan menyebut nama Allah sebagai Ouwlah, ini lebih kurang ajar lagi. Mohon tidak emosi Saudara seiman dan seakidah karena kita dalam pembuktian. Islam expose menggambar sosok lelaki jelek dengan menyatakan itu adalah Rasulullah sebagai pemakai kondom merek “durex,” itu dalam bahasa Belanda. The gangster of Muhammed, kemudian berita muslim shahih mengatakan isi gambar kartun Allah, Nabi Muhammad dan muslim digambarkan dalam adegan yang sangat menghina. Sekali lagi karena ini pembuktian, coba kita ukur sampai dimana ukuran obyektif para Pemohon. Klik publication, gambar kartun muslim melakukan sholat dikatakan menyembah dewa bulan. Itu pertanyaannya, sholat sama dengan menyembah dewa bulan dan mereka gambarkan dewa bulan yang ada di Azhor. Berikut lagi kita saksikan, mereka katakan nabi Muhammad SAW masuk neraka, maka dikelilingi oleh api neraka sujud menyembah kepada Yesus Kristuslah Tuhan katanya. Lihat mereka memasang ayatayat bibelnya di. Yohanes Pasal 1 ayat (10), Yohanes Pasal 5 ayat (27), Filipi Pasal 2 ayat (11). Kemudian merekapun menyatakan bahwa Allah adalah setan, lengkap dengan ayat Bibelnya, kembali tadi ayat Bibelnya, Lukas Pasal 9 ayat (23) dan (24). Berikutnya faithfreedom.com, tidak kurang biadabnya, isinya adalah gambar komik tentang perzinahan dia sebut nama Muhammad faithfreedom.com, faithfreedom-Indonesia, dia dan Zainab. menyatakan, dia membuat komik tentang Rasullah dengan Hafsa. Padahal Nabi Muhammad SAW tidak boleh untuk digambarkan, umut

45

Islam tidak pernah mencoba-coba untuk menggambar beliau. Tapi mengapa umat di luar Islam, pihak ketiga membuat seperti ini? Dan di situ dikatakan gambar komik tentatang Al Azl, ngeseks islamiyah katanya, dan masih ada lebih dari 100 website situs atau blog lain yang berisi penodaan terhadap ajaran dan simbol-simbol agama Islam. Nah, sekarang coba kita mempersilakan pada pihak Pemohon, apakah Saudara masih punya hati nurani melihat ini semua? Kita sekarang membuat pembuktian terbalik. Kalau agama Anda diperlakukan seperti ini apakah Anda juga terima dan nyatakan ini kebebasan beragama? Siapkah? Elton John dia orang Kristen dia mengatakan “Jesus was a gay Lord ” Berikut, Michael Elton John menyebut Yesus seorang gay, penyanyi Kristen asal Inggris dikutuk oleh Amerika. Ternyata Amerika juga mengenal pengutukan. Masih ada yang lain kalau Anda ingin tahu. Kalau undang-undang ini dihapuskan apa yang terjadi? Yesus merokok dan minum bir, gegerkan Kristen di India sampai menimbulkan kerusuhan di sana. Berikutnya, ini coba Anda lihat bagaimana kalau salib Anda dibuat seperti ini? Salib kodok hijau, katak hijau. Maka sebelah tangan kanan dan kiri memegang mug dan kemudian telur. Jangan terkejut, ini juga sudah ada. Tapi umat Islam tidak pernah mau berbuat seperti ini, selama sekian tahun kami tetap diam dan sabar, karena kami taat hukum, lihatlah, siaplah untuk melihat gambar ini. Bagaimana kalau Tuhan Anda diperbuat seperti ini, siapkah? Sampai dimana hati nurani Anda? detik.com ini juga menimpa Budha, dikatakan patung Budha berwajah mendiang Gus Dur menuai protes umat Budha. Ini yang dilakukan, inilah kalau tidak ada Undang-Undang tentang Penodaan Agama dan itukah yang Anda inginkan? Sampai dimana hati nurani Anda? Undang-Undang Nomor 1 justru untuk membentengi agar supaya umat beragama tetap dalam keadaan aman, apakah ada agenda tersendiri dari pihak Anda untuk kemudian membuat bangsa ini menjadi carut marut dan ribut? Kami sejak lama sudah menahan diri. Sampai ketika peristiwa Mei tahun 1978 umat Islam dituduh dengan fitnah yang sangat keji. Teriak Allahu Akbar kemudian memperkosa dan teriak dan fitnahan itu menyebar seluruh dunia yang sampai hari ini Anda-Anda hanya bisa memfitnah dan tidak mampu membuktikan. Barangkali Majelis Hakim, saya mohon Yang Mulia mendengarkan apa yang disampaikan berikutnya beberapa menit oleh penasihat hukum kami. Terima kasih. 102. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Tidak usah, terlalu panjang.

46

Berikutnya Ittihadul Muballighin, nanti saja. Gantian biar kalau waktunya habis tersisa nanti boleh. Yang sudah terdaftar dulu, kuota waktunya biar tepat. 103. PIHAK TERKAIT(ITTIHADUL MUBALLIGHIN) : DRS. H. NINGRAM ABDULLAH, M. AG. Yang Mulia Ketua dan Anggota Hakim Mahkamah Konstitusi. Kami akan bacakan pendapat Ittihadul Muballigin tentang terhadap permohonan pengujian materil Undang-Undang Nomor 1 PNPS 1965 tentang Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama oleh tim advokasi kebebasan beragama. Dengan memanjatkan puji dan syukur kepada Allah Swt atas segala rahmat dan nikmat serta shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad Saw semoga kita dapat memperjuangkan ajaran sunnahnya. Yang Mulua Ketua dan Anggota Hakim Mahkamah Konstitusi yang berbahagia, Islam adalah agama yang mendambakan perdamaian. Hal ini tergambar yang dianjurkannya kita setiap bertemu mengucapkan assalamualaikum, damai untuk Anda. Demikian juga ketika selesai sholat kita, mengucapkan salam kedamaian yang didambakan bukan hanya untuk diri sendiri tapi untuk pihak lain. Sehingga kata Nabi seorang muslim adalah siapa yang menyelamatkan orang lain, yang mendapatkan kedamaian dari gangguan lidah dan tangannya. Jadi perdamaian merupakan salah satu ciri utama agama Islam, karenanya agama Islam mengharusakan adanya kedamaian bagi seluruh mahluk, sehingga dalam perang pun kalau mereka cenderung kepada kedamaian maka sambutlah kecenderungan itu dan berserah dirilah kepada Allah. Bahwa dalam rangka mewujudkan perdamaian itu dengan pihak lain Islam pun mengajarkan dialog yang baik. Dan dialog itu pun ada keputusannya, dalam As-sabba dikatakan, “katakanlah kamikah yang benar atau Anda yang benar, kamikah yang salah atau Anda yang salah?” Para Hakim yang mulia, dalam perkara yang kita sidangkan hari ini tentu berpedoman dengan ini. Kami pendukung Undang-Undang Nomor 1 ini yang benar atau Pemohon, Tim Advokasi Kebebasan Beragama? Jawabannya tentu adalah dari isi permohonan yang diajukan, dari terungkap dari sidang-sidang terdahulu, maka sebenarnya kamilah yang benar, kami dan pendukung inilah yang benar, sedangkan mereka adalah sesat yang sesesat-sesatnya. Karena mereka tidak mau kedamaian.

Assalamualaikum wr. wb.

Assalamualikum wr.wb

47

Untuk itu Hakim yang mulia, kalau pada sidang dahulu ada dari Saksi Pemohon mengatakan bahwa, undang-undang ini perlu dimasukkan kantong sampah, justru permohonan merekalah yang perlu dimasukkan kantong sampah, kenapa? Karena mereka tidak berhak uji materiil, karena mereka tidak bergerak dalam bidang keagamaan. Karena ini Undang-Undang Penodaan Agama dan empat Pemohon yang perorangan itu juga tidak tergangu aktivitasnya. Yang Mulia Hakim Mahkamah Konstitusi, berbicara soal kerukunan dan toleransi, Islam merupakan agama yang paling menjaga kerukunan dan toleransi. Islam datang tidak hanya berjuang mempertahankan eksistensinya sebagai agama tetapi juga mengakui eksistensi agama lain, tidak seperti tadi yang kita dengar. Oleh karena itu maka jelas Al-Quran mengatakan, lha iqraha fidin, ada paksaan dalam agama Islam.” Lakum diinukum waliyadin, “bagimu agamamu dan bagiku agamaku.” Dan orang Islam diperintahkan untuk memberi perlindungan terhadap non muslim yang meminta perlindungan, surat At-taubah ayat 6 “dan jika seorang diantara orang musyrik itu minta perlindungan kepadamu, lindungilah ia supaya ia mendengar firman Allah, kemudian antarkan ia ke tempat yang aman baginya, demikian itu disiapkan mereka kaum yang tidak mengetahui". Sungguh seorang muslim dilarang menodai agama lain, karenanya orang Islam tidak pernah menodai agamanya, kenapa? Karena berpedoman kepada Al- quran surat Al-anam ayat 108, walla tasibu ladzina yada’una mindunillah,fayasubullaha ad wabighairil ilm. Dan janganlah kamu memaki-maki, menghina sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki-maki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.” Yang terjadi tadi itu adalah mereka memaki-maki tanpa pengetahuan dan tanpa batas. Umat Islam tidak akan menodai agama lain, kalau agamanya tidak dinodai. Umat Islam tidak akan mengganggu aliran-aliran yang menyimpang dari Islam jika tidak mengatasnamakan Islam dan tidak menjelekkan Islam. Oleh karenanya jangan coba-coba agama lain atau aliran lain mengaku Islam mengubah-ngubah ajaran Islam, keimanan seorang muslim akan melawannya siapapun yang merubah-rubah ajaran Islam. Oleh karena itu Hakim yang mulia, di sinilah urgensinya di sinilah pentingnya negara melindungi umat beragama dari siapa saja yang merong-rong keberagaman seorang muslim. Maka Undang-Undang PNPS Nomor 1 Tahun 1965 ini harus dipertahankan. Pemohon selalu mengatasnamakan kebebasan, padahal kebebasan yang kami garisbawahi adalah yang seperti dikatakan oleh Ibnu Koldun, kebebasan sesorang dibatasi oleh kebebasan orang lain khuriyatun mar’ii mahdhotun bidhatun khairi, hak seorang pun dibatasi oleh hak orang lain . Dengan dalih kebebasan, apakah bebas menghina, menodai, apakah undang-undang ini tidak diperlukan? Kami bertanya kepada Pemohon dan Kuasa Pemohon, apakah Anda beragama? Kalau

48

Pemohon dan Kuasa Hukum Pemohon beragama, apakah rela agama Anda dihina? Apakah rela agama Anda dinodai? Kalau Pemohon dan Kuasa Hukum Pemohon tidak beragama, maka tidak berhak menguji ini, karena Indonesia berdasar pada Tuhan Yang Maha Esa. Sekali lagi undang-undang ini perlu dipertahankan. Kita tidak bisa bayangkan kalau undang-undang ini dicabut, sebagai ilustrasi saja jika ada seorang dari sebuah desa dipukul oleh desa lain maka akan terjadi tawuran masal, kenapa? Menjaga kehormatan desa, mereka tidak mempertimbangkan benar dan salahnya. Apalagi agama yang sakral ini, dihina, dinodai, maka apa yang terjadi kira-kira kita bayangkan. Itulah mutlaknya, perlunya Undang-Undang PNPS ini. Para Hakim Konstitusi yang mulia, sebagaimana kita pelajari dulu di sekolah, pembuka Undang-undang Dasar, batang tubuh dan penjelasan adalah merupakan suatu kesatuan yang tidak bisa dipisahpisahkan. Ternyata kalau kita baca mengenai memisah-misahkan bahkan memotong, bahkan menyembunyikan, sudah jelas tadi dibacakan oleh Pak kyai kita bahwa, Pasal 28 itu jelas. Ayat (1) “setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang yang lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ayat (2) di dalam menjalankan hak dan kebebasannya setiap orang wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang, dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama, keamanan, ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis Jadi jelas adanya pembatasan yang dikatakan undang-undang, maka Undang-Undang PNPS ini adalah konstitusional yang harus dipertahankan. Hakim Yang Mulia, kalau kami amati semua fenomena yang terjadi di Indonesia ini, baik bidang politik, bidang sosial, agama yang serba kontroversi ini adalah akibat dari liberalisme dan HAM yang dipahami oleh sementara kelompok semau gue kata orang Jakarta Betawi. Mereka yang mengajukan kebebasan agama lewat undangundang ini adalah mereka yang terpengaruh dari liberalisme dan HAM yang ada di Barat. Kami bertanya kepada Hakim yang mulia, apakah sama liberalisme dan HAM yang ada di Barat dengan liberalisme dan HAM yang ada di Indonesia? Kalau sama tentunya free sex bebas, mabuk-mabukan bebas, judi bebas, menghina agama bebas, memilih agama bebas. Oleh karena itu maka, Hakim yang mulia, liberalisme dan HAM di Indonesia ini harus dibatasi oleh Pancasila, harus dibatasi oleh norma etika dan agama. Nah, karena itu maka bisalah ini nampaknya terjadi adalah karena ideologi lama yang berbaju baru. Oleh karena itu maka ya untuk bidang ke hukum kami serahkan kepada dari kuasa hukum kami Achmad Michdan. Terima kasih, wassalamualaikum, wr. wb.

49

104. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Selanjutnya dari Bassra. 105. PIHAK TERKAIT (BASSRA) : K.H. NAIRUL ROCHMAN Bapak Ketua Mahkamah yang kami muliakan, kami dari Bassra akan menyerahkan sikap Bassra secara tertulis melalui Majelis Mahkamah kepada Panitera nanti dan selanjutnya mungkin nanti akan sikap kami akan dijabarkan oleh advokat kami Dr. Eggy Sudjana, S.H., M.Si. Hanya kami akan menggarisbawahi, apalagi setelah mendengar banyak penodaan-penodaan terhadap agama terutama kepada umat Islam, maka sebetulnya dengan adanya PNPS kita menahan diri. Menurut ajaran kami Allah sudah berfirman waqotilu fii sabilillahi ladzi adyuqotiluna adnakum {sic}........ “dan perangilah di jalan Allah orangorang yang memerangi kamu tetapi janganlah kamu melampaui batas.” Itu Islam. Jadi kalau ada yang orang memerangi pasti akan diperangi oleh orang Islam tapi jangan sampai melampaui batas. Mengapa? Karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Orang-orang di luar sudah sepakat, seandainya jaminan ini, PNPS ini dicabut akan ada fatwa ulama untuk menekan ayat ini. Kita tidak boleh dibodohin yang tadi masya Allah, mau menangis hati saya. Allah dibegitukan, Muhammad Saw dibegitukan dan menurut kami 5 tahun itu sedikit. Mengapa saya katakan sedikit? Saya punya alasan, satu nilai akidah dan iman serta pokok-pokok ajaran agama lebih mahal dari nilai atau harga jiwa, raga, dan dunia serta isinya. Lebih baik mati kita kalau seumpamanya ajaran Islam diinjak-injak, mahal nilai akidah menurut kita. Kita hidup di dunia ini sementara 70 paling banyak kalau kita umur 70. Selanjutnya berabad-abad. Naudzubillah kalau kita di penjara, di azab oleh Allah di neraka naudzubillah himindzalik tidak ada artinya di dunia. Dunia hanya sementara tidak artinya, hidup yang menipu. Apapun kenikmatannya, dua hari, tiga hari, seminggu, setahun biasa. Bapak (kurang jelas) mungkin sudah merasakan, itu biasa menjadi hakim itu kalau sudah setahun, dua tahun awal-awalnya Masya Allah, itulah dunia menipu. Maka nomor dua, alasannya orang yang membunuh semua sesamanya bisa di pidana penjara belasan tahun sampai seumur hidup atau dihukum mati. Orang yang menghancurkan akal dan jasad orang lain dengan narkoba bisa dipidana penjara sampai belasan tahun atau seumur hidup atau hukum mati, maka orang atau kelompok yang menghancurkan akidah dan iman, orang atau kelompok lain dengan melakukan permusuhan, penyalahgunaan dan penodaan terhadap pokok-pokok ajaran agamanya seharusnya dipidana orang atau

Assalamualaikum, wr. wb.

50

kelompok itu lebih berat, atau setidaknya lebih sama dengan pidananya orang yang membunuh dan orang yang mengedarkan narkoba. Justru itu Islam sebenarnya sudah sempurna. Firman Allah alyaumal akmakum, dinukun, wathoalaikum ni’mati waladziril islammadina {sic} “pada hari ini semenjak 14 abad tahun yang lalu Allah berfirman, hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah kucukupkan kepadamu nikmatku lantaran telah kuridhai Islam itu jadi agama bagimu.” Maka orang atau kelompok dari umat Islam yang mempunyai paham atau penafsiran atau kegiatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam yang telah sempurna dan telah final semenjak 14 abad lalu, khususnya adalah masalah-masalah pokok bukanlah masalah-masalah fura’i atau khilafiah, orang atau kelompok tersebut sudah keluar dari Islam atau sudah bukan orang Islam lagi murtad dan sudah menganut aliran sesat. Maka Islam di Indonesia ada NU, Muhammadiyah, Persis dan lain-lainnya yang kesemuanya itu hidup berdampingan dengan rukun dan harmonis disebabkan karena mereka tidak menyimpang dari pokokpokok ajaran Islam. Tetapi kalau orang atau kelompok tersebut masih ngotot dan bersikukuh dengan paham atau penafsiran-penafsiran atau kegiatan-kegiatan yang tidak sesuai dengan pokok-pokok ajaran Islam, maka dipersilakan keluar dari agama Islam dengan membentuk agama sendiri di luar Islam dengan tidak mengembel-embeli kata-kata Islam pada agama tersebut. Itulah yang dinamakan kebebasan beragama, kebebasan meyakini kepercayaan dan kebebasan menyatakan pikiran atau sikap sesuai dengan hati nuraninya. Bukan yang dikatakan kebebasan meyakini, kebebasan beragama, kebebasan meyakini kepercayaan, dan kebebasan menyatakan pikiran atau sikap sesuai dengan hati nuraninya bukan dimaksud seseorang atau sekelompok yang menganut suatu agama khususnya agama Islam dengan paham atau penafsiran atau ajaran yang dia buat sendiri, sesuai dengan hati nuraninya sendiri dan menyimpang dari pokok-pokok agama itu tetapi justru hal yang demikian itu adalah pelecehan atau penodaan terhadap agama. Maka bentuk apa saja baik dikelompok maupun perorangan yang melakukan penafsiran agama Islam atau agama lainnya yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan itu sedangkan penafsiran atau kegiatan-kegiatan yang menyimpang dari ajaran pokok-pokok ajaran agama tersebut, berarti kelompok atau orang itu telah melecehkan dan menodai agama tersebut, dan kelompok itu atau orang itu telah melanggar HAM. Dengan ini Bassra mengatakan seandainya Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang Penyalahgunaan atau Penodaan Agama dicabut pasti akan terjadi penodaan suatu agama yang dilakukan oleh seseorang atu kelompok maupun agama lain. Dua, penyelewengan agama yang ada di Indonesia untuk kepentingan tertentu yang menyimpang dari pokok-pokok agama itu. Tiga, berkembangnya aliran

51

sesat secara bebas. Empat, merebaknya orang melanggar HAM dengan leluasa. Yang kesemuanya ini akan menimbulkan: 1. Keresahan umat dalam memeluk agamanya selama hidup di Indonesia. 2. Tidak adanya ketentraman menunaikan ibadah menurut agamanya masing-masing. 3. Tidak ada jaminan dari Pemerintah bagi rakyatnya untuk menikmati ketentraman menunaikan agamanya. 4. Tidak ada jaminan dari Pemerintah bagi rakyatnya untuk menunaikan ibadah dengan murni, utuh menurut agamnya masingmasing. Sehingga akan terjadi kekacauan dan keributan yang ujung-ujungnya pertengkaran dan perang antara umat dan bangsa kita sendiri. Kalau keadaannya sudah seperti ini, akan merambat kepada lenyapnya persatuan dan kesatuan yang akhirnya NKRI pasti akan pecah. Maka dengan hal-hal tersebut di atas pengurus Bassra memohon kepada Mahkamah Konstitusi agar mengabaikan permohonan pihak Pemohon dan jangan membatalkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini. Demikian dan akan diteruskan penjabarannya oleh advokat kami,

wassalamualaikum wr. wb.

106. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, kami beri waktu masing-masing 5 menit untuk panasihat hukum. Dari Irene Center. 107. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : MUHAMMAD ICHSAN, S.H., M.H.

Hanya tiga poin. Yang pertama adalah pada permohonan Pemohon, di samping mempergunakan legal standing-nya berdasarkan Pasal 51 ayat (1) juga menyebutkan hak gugat LSM atau NGO standing Tusu. Dan ini tidak tepat, karena tidak ada di anggaran dasar atau akte pendirian yang menyebutkan menyebutkan aspek keagamaan. Mereka bukan wali dari orang-orang yang mengalami kerugian konstitusional, oleh Karena faktor penodaan agama. Jadi artinya, di samping dalam aspek kerugian konstitusional menurut Pasal 51 ayat (1), karena tidak mengalami kerugian secara nyata, tidak mengalami kerugian dalam aspek potensional, sebagaimana yang diargumentasikan, didalilkan oleh mereka maka tentunya kalaupun ini

Assalamualaikum wr. wb.

Terima kasih Yang Mulia.

52

menjadikan sebuah ketegasan bagi mereka tentu mereka harus membuktikan di persidangan ini. Yang kedua kalaupun mereka mempergunakan hak gugat LSM atau NGO standing Tusu ini juga tidak tepat. Karena mereka tidak ada di dalam akte pendirian atau anggaran dasar mereka. Menyebutkan nilainilai keagamaan yang mereka usung di dalam akte pendirian. Dan mereka bukan wali dari orang-orang yang mengalami kerugian secara konstitusional berdasarkan unsur penodaan agama. Oleh karena itu berkaitan dengan pokok posita mereka, ada dua hal yang sangat bertentangan di sini adalah persoalan unsur pada Pasal 1 ayat (1) undang-undang, sebagaimana yang kemudian dipersoalkan dalam pengujian ini. Dua unsur yang penting adalah persoalan yakni berkaitan dengan masalah penodaan, tetapi yang dikembangkan dalam positanya adalah berkaitan dengan aspek kebebasan sebagaimana yang pernah dijelaskan oleh rekan kami dari MUI Lutfi. Ini terjadi sebuah upaya manipulatif obscuur libel, kabur di dalam hal positanya. Tidak ada relevansi antara persoalan posita dengan tuntutan yang ada di dalam permohonan itu sendiri. Oleh karena itu singkat saja kami katakan bahwa kami menolak legal standing , yang kedua untuk menyatakan bahwa menolak pengujian permohonan pengujian yang diajukan sebelas orang Pemohon melalui kuasa hukumnya, dan yang ketiga adalah, mohon kembali untuk menyatakan bahwa undangundang itu tetap berlaku dan kekuatan hukum yang mengikat. Terimah kasih, wassalamualaikum, wr. wb. 108. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Dari Bassra 109. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (BASSRA) : DR. EGGY SUDJANA, S.H., M.SI. Terimah kasih assalamualaikum, wr. wb. Dalam perspektif hukum yang kita persoalkan sekarang, saya ingin sampaikan Yang Mulia Majelis Hakim dari Mahkamah Konstitusi. Bahwa ada dua unsur saja yang ingin saya stressing atau tekankan. Pertama ketidakseriusan dari Pemohon yang Prinsipal bukan lawyer-nya tidak hadir pada umumnya saya lihat. Yang sesungguhnya menunjukkan ketidakseriusan dan agenda apa yang kita tidak mengerti. Karena kalau soal serius tidak serius, ini soal agama sangat prinsipil, kita semua serius, soal apa namanya kesibukan kita juga banyak kesibukan. Nah, untuk itu perlu catatan saja untuk Majelis Hakim, permohonan dari mereka yang tidak serius ini seyogianya jangan juga ditanggapi serius. Artinya harus diabaikan. Yang kedua, dalam konteks apa namanya pasal-pasal yang dikemukakan oleh Pemohon. Kalau kita perhatikan hanya dibenturkan

53

dari Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 PNPS 1965 ini dengan Pasal 28D dan juga kaitannya dengan Pasal 156 KUHP dan sifatnya teknis yang tidak prinsipal menurut pemahaman hukum dan tidak mengerti secara substansi hukum yang sesungguhnya di Indonesia berlaku Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Kita mengerti di dalam Undang-Undang Dasar 1945 mukadimah alenia ketiga mengatakan “berkat rahmat Allah, dinyatakan kemerdekaan bangsa Indonesia di batang tubuhnya Pasal 29 “Negara Indonesia berdasarkan kepada Ketuhanan, “ dulu masih ada koma dengan kewajiban menjalankan syariat Islam tapi dipotong. Tapi sekarang masih ada Pasal 29 ayat (1) itu. Kemudian di Pasal 5 Undang-Undang Dasar 1945 juga, bahwa pembuat undang-undang itu Presiden dan DPR, kemudian lebih fokus lagi di Pasal 9 Undang-Undang Dasar 1945 Presiden dan Wakil Presiden bersumpah demi Allah, maka logika hukum ini kalau kita mau sangat mencermati dengan baik adalah seyogianya, karena negara Republik Indonesia dasarnya adalah Tuhan, Tuhan yang dimaksud adalah Allah, Allah itu punya hukum namanya hukum Islam harusnya di negeri ini berlaku hukum Islam. Dengan pendekatan ini tidak perlu pendekatan ini tidak perlu istilah negara Islam segala macam. Cuma persoalannya Presiden kita dari Soekarno sampai SBY Islamnya disfungsional, Islamnya tidak dalam konteks yang sesungguhnya, komitmen kepada Islam itu sendiri. Begitu juga DPR-nya maka tidak lahir kejelasan dari hukum Islam. Karena undang-undang ini lahir, kita mengerti ilmunya kita sama, mengerti bahwa lahirnya undang-undang itu paling tidak historisnya jelas, sosiologis, baru yuridisnya. Tambahan dari saya adalah harus dimengerti, psikologisnya dan filosofisnya. Nah, Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 ini kita harus ingat pergolakan pada waktu itu yang luar biasa, satu juta setengah atau satu setengah juta orang meninggal proses pembunuhan dari gejolak ideologi ini, yang tadi kita dengar soal ideologi berbeda dari negara-negara dari Professor Andi Hamzah. Jadi dengan pemahaman yang lengkap seperti ini, Undang-Undang PNPS ini bukan saja relevan tetapi ini harus diperkuat lagi menjadi masuk KUHP, sebagaimana yang disarankan Prof. Andi Hamzah, itu menjadi klausul yang harus jelas. Kemudian yang lebih fokusnya lagi, aliran-aliran yang seperti ini tidak mengurangi rasa hormat saya kepada yang aliran kepercayaan yang Rahayu-Rahayu tadi itu saya sarankan itu bukan kerugian konstitusional, karena itu tidak termasuk kategori agama. Dia masuk ke Departemen Pariwisata dan Kebudayaan. Nah, ke sanalah diurus diri kau itu supaya jelas. Karena tidak ada urusannya dengan agama. Dia bukan agama, begitu juga dengan yang lain-lain. Yang agama sudah dinyatakan enam ya, yang ada dalam konteks negara Republik Indonesia.

54

Nah, dengan demikian Majelis Hakim Yang Mulia, negara kita adalah dasarnya Tuhan. Tuhannya adalah Allah, Allah punya hukum, dan hukum itu namanya hukum Islam. Para hakim wajib menjalankan hukum Islam. Saya kira itu. Assalamualaikum wr.wb 110. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, terima kasih. Persis 5 menit 5 menit. Dan Terakhir masih mendengarkan dulu sebelum nanti sebelum tanya jawab dipersilakan untuk mengajukan pertanyaan…’ 111. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (ITTIHADUL MUBALLIGHIN) : AHMAD MICHDAN, S.H. Majelis, ini dari Ijtihadiyah belum. 112. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ya, (suara tidak terdengar jelas). Oh, tadi masih ada juga ya. Ya, dipersilakan. 113. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (ITTIHADUL MUBALLIGHIN) : AHMAD MICHDAN, S.H. Baik, Majelis yang terhormat. Pada prinsipnya kami berkesimpulan bahwa permohonan Pemohon tidak mempunyai legal standing. Dan yang kedua bahwa terkait, kami Pihak Terkait, mensomir para Pemohon untuk membuktikan kerugian sejak diberlakukannya Undang-Undang Nomor 1 tentang PNPS Tahun 1965 ini. Yang ketiga, bahwa kami Pihak Terkait menyimpulkan, Pemohon telah mencoba mengadili umat atau penganut agama Islam dengan cara mengadu domba dengan pemahaman Islam yang dangkal. Oleh karena itu, kami menyimpulkan permohonan Pemohon harus ditolak secara keseluruhan. Tentu Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965 sesuai dengan pendapat para ahli perlu di sempurnakan. Demikian, billahitaufik walhidayah wassalamualaikum wr. wb. 114. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Ya, formulasi hukumnya tidak jelas ya. Katanya tadi tidak punya legal standing. Tidak punya legal standing, tidak bisa di tolak, iya kan? Tidak punya legal standing berarti kita tidak masuk ke perkara. Selesai perkara ini ditutup, tapi boleh mengajukan lagi. Tapi kalau ditolak berarti kita nilai perkaranya itu.

55

standing?

Saudara mau minta ditolak apa minta di..., tidak punya legal

115. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (ITTIHADUL MUBALLIGHIN) : AHMAD MICHDAN, S.H. Di tolak, Majelis. 116. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H.

legal standing itu artinya dia tidak berhak berperkara dan perkara
ditutup kan gitu. Ini berhak dia berperkara. Nanti kita nilai perkaranya. Baik, saya persilakan kepada K.H. Sulaiman Zachawerus.

Minta di tolak, berarti perkara ini jalan kan? Kalau tidak punya

117. AHLI DARI PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : K.H. SULAIMAN ZACHAWERUS Majelis hakim yang saya muliakan, saya bernama Sulaiman Zachawerus, putra dari seorang Ibu dari Ternate dan ayah dari Sanger Talaud, yang tadinya Kristen, dan marga Zachawerus itu adalah marga Kristen. Satu-satunya Zachawerus yang muslim adalah saya. Pada saat ini posisi saya adalah selaku Ketua MUI Kabupaten Bekasi juga Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Bekasi sekaligus penasihat di Irene Center. Ingin mengomentari tentang Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 tentang PNPS ini. Setelah digugat oleh para Pemohon, bagi kami ini merupakan blessing in disguise. Karena selama ini Undang-Undang Nomor 1 tahun 1965 ini tenggelam entah dimana. Sebagai blessing in disguise artinya orang awam kemudian semuanya menjadi tahu bahwa negara ini punya Undang-Undang Anti Penodaan Agama. Padahal kita tahu, bahwa agama itu adalah the ultimate concern of human artinya kepedulian yang paling tinggi dari setiap manusia adalah agama. Jadi, kalau agama di nodai, maka taruhannya adalah nyawa. Kalau tidak dilindungi oleh Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 di negeri ini, kita lihat tadi presentasi yang disampaikan oleh Irene Center tentang bagaimana Nabi Muhammad yang sedang ereksi melihat anak kecil, bagaimana Allah yang digambarkan seperti setan, kemaluannya diperlihatkan sedang mensodomi Nabi Muhammad, kemudian Nabi Muhammad mensodomi umatnya muslim, tapi digambarkan seperti babi. Hati siapa yang tidak akan marah? Kami tahu situs-situs itu dimana alamatnya, tapi kami tau kami ini berbangsa dan bernegara, kita tidak perlu memerintahkan laskar Islam untuk menyerang mereka sehingga pendek kata saja Majelis Hakim, terutama Ketua Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi, kami mohon agar Undang-

Assalamuaalaikum wr.wb.

56

Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini, tidak saja masih relevan tetapi harus dibukukan dan diberlakukan implemantasinya dengan lebih ketat agar tidak adalagi blog-blog atau website, tulisan, majalah dan brosur yang bisa seenaknya menghina dan menodai agama, rasul, kitab suci kita AlQuran. Karena itu, tugas kita semua menjaga ketentraman hidup beragama di negeri ini. Dengan adanya undang-undang itu, maka sekali lagi kami harapkan kepada Majelis Hakim untuk fokus bahwa undang-undang ini bukan harus terus diberlakukan tetapi harus lebih disosialisasikan untuk lebih kukuh diberlakukan agar tidak terjadi hal-hal yang kita tidak sama inginkan. Demikian, assalamualaikum wr. wb. 118. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, Saudara kita punya waktu kalau mau dipakai semua, waktu yang tersisa 53 menit untuk semacam tanya jawab atau saling minta penjelasan. Tapi kalau sampai tidak selama itu sidang ini selesai ya selesai. Nah, untuk itu saya persilakan kepada Pemohon, kepada Pemerintah, kepada Pihak Terkait yang ingin menyampaikan pertanyaanpertanyaan, kemana saja silang saja begitu ya? Dewan Dakwah ya? Dewan Dakwah ya? Bapak darimana? 119. PIHAK TERKAIT (HPK) : SUDIRMAN HPK. 120. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Himpunan Penghayat Kepercayaan, baik. Dewan Dakwah dulu, Silakan. 121. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (DEWAN DAKWAH ISLAMIYAH): AZAM, S.H. Terima kasih Yang Mulia Majelis Hakim yang kami hormati. Assalamualaikum, wr. wb. . Saya hanya sedikit mau menanyakan kepada Saksi Sardy yaitu penghayat kepercayaan. Ada satu hal lagi yang tadi dikatakan oleh Saksi Sardy yang seringkali diucapkan di depan sidang bahwa Penghayat Kepercayaan mengatakan Ketuhanan Yang Maha Esa dan itu berulangulang. Padahal kalau kita bicara Ketuhanan Yang Maha Esa, saya pikir semuanya sudah tahulah. Ini saya pikir nyambung-nya kemana kalau dia seringkali berbicara begitu? Dan perlu saya ingin tegaskan di sini dan menjadi sebuah catatan saya dan juga Majelis Hakim, bahwa memang.., saya katakan ini aliran bukan agama penghayat kepercayaan apa yang

57

sudah dijelaskan tadi oleh Bung Eggy, memang harus lari ke parawisata, betul. Ini platformnya juga tidak jelas, kitabnya juga apa? Tahu-tahu datang, dengan susah sekali MK tadi mau menyiapkan penyumpahannya, terpaksa ya harus Hakim Majelis sendiri yang harus turun-tangan sendiri untuk menyumpah, yang setahu saya setiap penyumpahan itu mesti harus ada Panitera atau siapapun yang di luar hakim langsung. Itu saja yang perlu saya sampaikan. Yang Kedua ini, saya sedikit lebih mempertegas lagi kepada Bapak Profesor. Philip ya dari Budha. Tadi Bapak Profesor itu, Anda tadi yang saya tangkap itu sedikit mengeluh tentang keminoritasan Anda sebagai orang Buddha. Di sini Anda mengatakan bahwa, apalagi yang dikaitkan dengan adanya penodaan dan penghinaan terhadap agama Anda. Anda sudah tadi menjelaskan dengan contoh bahwa saya setelah melakukan sesuatu terhadap adanya penodaan terhadap agama saya itu dengan contoh Budha Bar yang sampai sekarang prosesnya itu tidak, tidak ditindaklanjuti secara hukum. Saya pikir walaupun Anda minoritas, Insya Allah kaum mayoritas akan ikut membantu, kalau itu menyangkut penodaan agama. Dan itulah dari pihak kami sebagai orang Islam, bahwa Islam itu adalah agama rahmatan lil alamin dan siap untuk membantu yang lemah. Kalau reposisinya sudah benar. Apalagi sudah dikaitkan dengan adanya Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965. Saya pikir itu saja yang nanti yang perlu harus di pertegas lagi nanti dari Pak Prof. Terima kasih. 122. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Himpunan Penghayat Kepercayaan, silakan. 123. PIHAK TERKAIT(HPK) : SUDIRMAN

Rahayu, selamat sore Yang Mulia Hakim Mahkamah Konstitusi. Saya mendengarkan berbagai macam Ahli yang disampaikan segala macam pihak baik itu dari Saksi/Ahli dari MK yang dihadirkan, maupun Saksi/Ahli dari MUI dan Saudara-Saudara saya dari umat muslim. Pertama-pertama saya berterima kasih kepada Saudara Eggy Sudjana yang sudah mau bicara Rahayu, kita cukup terbiasa dengan kata-kata seperti itu. Saksi Ahli dari MUI telah menjelaskan fakta-fakta empiris yang begitu banyak di masyarakat. Rasanya saya juga miris, kelihatan bahwa ada pihak ketiga yang ingin memprovokasi terhadap keberadaan kerukunan umat beragama. Saling menjatuhkan antara umat beragama, sebagaimana tadi sudah disampaikan oleh beberapa ahli, bahwa nuansanya adalah kepentingan politik, perebutan umat beragama saja.
58

Bahwa apa yang saya tangkap, Pemerintah memang perlu memberi saluran yang tepat untuk kondisi yang demikian. Tetapi saya masih ingat sekali dalam kaum kami, karena saya dulu adalah anggota Fordem dimana Presiden yang saya cintai Guus Dur bersama-sama saya sekitar tahun 1999-2000, dia menyampaikan bahwa teman-teman Konghucu diakui sebagai agama negara. Pada saat makan bersama dengan beliau, saya menyampaikan, “Guus, mengapa Konghucu yang dari Cina diakui sebagai agama negara, kami yang dari masyarakat adat punya keberadaan religi adat, belum diakui.” Jawaban Guus Dur!, “nggowo rene kabeh gung, mumpung aku jadi Presiden !”. Apa yang saya lakukan tahun 2000? Kemudian apa yang disampaikan oleh Presiden Guus Dur yang saya cintai, saya lakukan. Ternyata tidak sampai setahun Guus Dur jatuh. Sehingga kami belum bisa berinteraksi panjang. Tetapi apa yang dilakukan Presiden hari ini, Abdurrahman Wahid. Saya sangat hormat dan sangat cintai, beliau melakukan gugatan tersebut. Ada dua pandangan dari para saksi yang diajukan dari MUI, bahwa, penerjemahan, “penodaan agama” itu ada dua persepsi. Yang kami tanyakan kepada Ibu Nurdiati Akma. Dia menerjemahkan “penodaan agama” itu adalah orang-orang yang bertuhan tapi tidak beragama. Yang kedua, bahwa undang-undang ini tidak boleh satu pun orang yang tidak beragama sebagaimana diakui oleh negara hidup di negeri ini. Kalau memang pengertiannya seperti ini, kami ini dimana sebagai bagian dari pada negeri ini asli, pribumi asli untuk bisa merefleksi terhadap pencipta jagat raya ini, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Kami tidak mempermasalahkan. Bahkan kami tidak pernah mengambil sendiri-sendiri agama-agama yang datang dari negeri luar. Kami sangat menghormati agama-agama yang datang dari negeri luar di negeri ini untuk hidup bersama-sama dalam proses kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Tetapi, kami ingin kesetaraan menjalankan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Itu perlu adanya proteksi dan perlindungan yang jelas. Ini kami sampaikan kepada Bu Nurdiati Akma, bagaimana menterjemahkan prinsip-prinsip dari penodaan agama itu sendiri. Yang kedua, ada kesimpulan yang telah disampaikan oleh para saksi ahli dari MK. Yaitu Pak Andi Hamzah, bahwa untuk delik pidana di dunia ini masih multitafsir, masih sangat subjektif tergantung kebijakan negara, terutama delik susila, delik agama dan delik ideologi. Apa yang disampaikan oleh Pak Andi Hamzah, ternyata juga dijelaskan secara rinci oleh Saksi/Ahli yang lain namanya Pak Eddy. Dia menjelaskan bahwa, undang-undang tidak boleh subyektif, harus obyektif pada intinya begitu. Tapi dia lupa, bahwa norma-norma hukum yang harus dipegang itu adalah tiga prinsip dasar, yaitu kesetaraan di bidang hukum, kepastian hukum, dan keadilan hukum itu beliaunya tidak bisa

59

menyampaikan kesimpulan yang betul-betul kongkrit untuk menterjemahkan pengertian penodaan agama atas agama-agama. Saya sepakat dengan PBNU bahkan Bassra, kalau ingin mendirikan agama sendiri tidak masalah, jangan sampai sendi-sendi agama yang sudah ada itu ditafsirkan sedemikian rupa mengaku Islam tapi beribadah bersholat mengahap timur, ini kan kejadian seperti ini sering terjadi dianggapnya ini adalah bagian daripada kami. Padahal kami tidak pernah mengambil satu pun sendi sendi agama yang ada di dalam agama kan sudah ada. Kami berharap ada kejelasan yang real atas undang-undang ini sehingga tidak ada lagi multitafsir. Kalau keberadaan multitafsir diteruskan implementasinya di masyarakat menjadi problem yang luar biasa dan kami berharap undang-undang ini dicabut dan diajukan lagi dalam bentuk yang saling melindungi dan saling keseteraan di dalam kehidupan masyarakat. Barangkali itu yang bisa kami sampaikan ke Hakim Konstitusi sangkalangkong, rahayu, rahayu. 124. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. BKOK. Terima kasih juga, sangkalangkong itu artinya terima kasih, dari

125. PIHAK TERKAIT (BKOK) : IR. ENGKUS RUSWANA, M.M. Yang Mulia Bapak Ketua dan Majelis Hakim Konstitusi. Setelah mendengarkan keterangan para Saksi dan Terkait tadi sebenarnya kami sudah mengatakan bahwa seakan-akan tidak ada ruang untuk hidup bagi kami hidup di negara ini, untuk itu kami bertanya. Apakah negara ini hanya untuk pemeluk agama, jadi persoalan tadi. Kedua jika tidak ada hubungan dengan kami, undang-undang ini telah membuat kami tersingkir bahwa dari Pasal 2 ayat (2), Pasal (3), Pasal (4) itu ditegas, dinyatakan itu melayang aliran kepercayaan. Apa sebenarnya tidak terkait pada persoalan ini. Cukup sekian, Rahayu. 126. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Cukup, Saudara Sardy. Tadi Saudara mendapat beberapa pertanyaan. Tapi kalau sifatnya pertanyaan konseptual itu tidak harus dijawab karena Saudara sebagai Saksi. Saksi itu hanya apa yang dialami, dilihat, didengar. Kalau ditanya konsep ilmiahnya apa itu serahkan saja ke kuasa hukumnya kalau mau menjawab, tapi kalau tidak mau menjawab tidak apa. Kemudian ya, silakan Saudara Saksi.

60

127. SAKSI DARI PEMOHON : SARDY Mungkin masalah pertanyaan tadi bukan untuk saya, serahkan saja. Terima kasih. 128. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, Ahli dari Budha, Bapak tadi ada pertanyaan untuk Bapak atau tidak persis pertanyaan sebenarnya. Tapi ada hal yang di singgung, silakan. 129. AHLI DARI PEMERINTAH : PHILIPUS K. WIJAYA Terima kasih, Yang Mulia. Saya juga berterima kasih kepada Saudara-Saudara dari umat muslim yang bersedia membantu, itu sesuatu yang luar biasa. Semoga kerukunan seperti ini yang bisa dijaga. Jadi, ada saling menghormati dan saling membantu dan sebagainya. Mungkin ini sedikit di luar topik kali ini jadi saya tidak memperpanjang, terima kasih. 130. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, lalu ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak jelas ditunjukkan kepada siapa. Ya..dari HPK dari kepada ya, ahli yang dari Majelis Ulama tadi Bu Nur ya? Bu Nurdiati, silakan Bu Nur. Pertanyaan tadi yang sempat saya tangkap memang tampaknya ada upaya adu domba. Ada pertanyaan baru, apakah dari HPK dan BKOK itu hampir sama, apakah orang tidak boleh kalau tidak beragama tetapi bertuhan. Percaya pada Tuhan tapi tidak menganut pada agama, apakah tidak boleh di Indonesia seperti itu atau kalau istiah BKOK itu apakah negara Indonesia ini hanya untuk pemeluk agama? Bagaimana aliran kepercayaan yang sesudahnya tidak ada misalnya. Silakan, Bu. 131. AHLI DARI PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : DRA. HJ. NURDIATI AKMA Terima kasih. Barangkali kalau kita runtut kenapa keluarnya undang-undang ini? Ini adalah juga berkaitan tentang terjadinya G30/SPKI, kemudian adanya apa namanya, penistaan agama dari komunis. Kemudian pembubaran dari PKI itu sendiri, maka negara ini, Negara Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila Berketuhanan Yang Maha Esa memang hanya diperuntukan untuk orang yang beragama. Dan agama saya

61

itu sudah jelas ada 6 agama , apakah itu namanya aliran kepercayaan apapun namanya, silakan ada naungannya. Naungannya adalah salah satu dari agama tersebut. Alangkah kalang kabutnya tadi Saudara dari yang “Rahayu” tadi akan mengangkat sumpah. Sumpahnya cara apa? Negara kita punya ada aturan, kalau negara ini tidak ada aturan, tidak ada koridor harus hanya enam agama, bayangkan apa yang kita lakukan dalam ruangan ini dengan berbagai-bagai macam keyakinan kalau itu tidak ada payungnya, payungnya adalah agama. Jadi saya rasa jelas sekali kalau undangundang ini, Undang-Undang Penistaan terhadap agama. Jadi beda dengan yang pertanyaannya tadi. Kalau selama warga negara Indonesia tidak melakukan penistaan, tidak melakukan penghinaan, penodaan terhadap satu agama saya rasa tidak ada masalah, ini kan timbulnya undang-undang ini karena banyaknya penodaan-penodaan. Masih kurangkah data-data dan fakta yang tadi sudah dikemukakan, apa lagi oleh Ibu Irene, bagaimana diungkap mulai dari buku, dari majalah, dari brosur sampai dari kata bahkan masih ada yang disimpan dan tidak sempat dikeluarkan. SMS yang mereka masukkan ke dalam HP kita umat islam yang isinya adalah kotor dan malu sekali untuk digambarkan di sini. Ini yang undangundang. Jadi konteks pembicaraan kita pada saat ini adalah UndangUndang Nomor 1 Tahun 1965 ini sangat-sangat dibutuhkan. Sebetulnya yang membutuhkan bukan kami umat Islam yang mayoritas jumlahnya besar dan tadi Saudaraku dari Buddha mengatakan terima kasih pada umat Islam memang patut sekali. Kita baca pada sejarah dunia, kita baca di media, dimana umat Islam mayoritas agama lain terlindungi, karena Islam itu damai. Islam itu datang membawa kedamaian, keselamatan. Bagaimana Nabi Muhammad Saw pada waktu futuhulMakkah, beliau memegang kemenangan dengan 10.000 umat Islam masuk kota Mekah, tidak terjadi balas dendam, tidak terjadi pembunuhan. Bahkan beliau mengayomi siapa yang masuk kerumah Abu Sofyan, siapa yang masuk…, semua dilindungi dan mereka semua aman selama mereka tidak merusak umat Islam. Tapi coba kita lihat dimana umat Islam yang sedikit, umat islam dikejar dibunuh, disakiti karena Islam tidak mengajarkan seperti itu. Alhamdullilah mudah-mudahan Saudara terbuka terutama yang beragama Islam, sadarlah bahwa Islam itu mengantarkan kedamaian jadi kalau, rahmatan lil alamin memberikan kerahmatan bagi seluruh alam, bukan untuk umat Islam saja. Andai yang beragana di luar islam terlindungi, terayomi. Jadi saya kembalikan lagi kepada Majelis Hakim bahwa tolong untuk Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1965 ini perlu untuk diperkuat, dikokohkan dan lebih banyak lagi disosialisasikan, dibuka mata-mata mereka untuk juga ikut, berterima kasih kepada negara yang telah mengeluarkan undang-undang ini karena berarti mereka bisa selamat hidup di negeri yang tercinta ini. Terima kasih.

62

132. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, cukup ya masih ada lagi? 133. KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Instrupsi, Majelis Hakim. 134. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Pak EggY Sudjana sama dari HPK. Silakan, Pak Eggy. 135. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (BASSRA) : DR. EGGY SUDJANA, S.H., M.SI. Iya, mau klarifikasi. Satu Saudaraku, saya kurang tahu namanya tadi, pak siapa. Tadi, saya menyebut Rahayu tidak ada maksud penistaan, kalau Anda anggap itu penistaan demi Allah, demi Rasul saya mohon maaf. Ya, artinya saya tidak ada itu, cuma saya kan tidak tahu siapa nama Anda dan siapa saksi itu. Jadi jelas, yang ingin dipertegas disini adalah Islam itu rahmatan lil alamin, Islam bukan kelompok, Islam bukan golongan, Islam adalah tata nilai yang muatannya keadilan, kedamaian, kesejahteraan, ketertiban, keselamatan for everybody buat siapa saja. Jadi oleh karena itu, negara ini dasarnya Tuhan, Tuhannya adalah Allah, Allah itu punya hukum namanya hukum Islam, ya dalam teori demokrasi juga yang mayoritas itu adalah yang menentukan. Maka seyogianya teman-teman yang non muslim ya berbesar hati, lega dan tidak ada masalah untuk pengertian seperti ini. Di samping itu menurut ketentuan yang ada makanya tadi saya sebut Departemen Pariwisata dan Kebudayaan, memang koridornya diarahkan di situ bagi yang bukan katagori agama. Dalam Islam bahkan mau kafir juga boleh kok, setan saja diciptakan Allah untuk melawan dirinya, untuk oposisi sama dirinya boleh kok. Apa lagi diantara kita, kalau tidak sejalan ya tidak ap-apa lakum din nukum waliyaddin, sudah jelas kalau dalam Islam, tadi kan Anda tanya sebagai warga negara tempatnya ya dimana kita ini, di Indonesia jelas dilindungi hukum yang luar biasa, rakmatan lil alamin-nya gitu lho. Kita hargai Anda, kita bersaudara sebangsa setanah air. Kalau soal agama lakum dinukum waliyaddin, Anda-Anda kita kita tapi posisinya jelas. Maka oleh karena itu tegas Majelis Hakim Yang Mulia, karena katagori yang dipersoalkan ini soal penodaan agama dan mereka-mereka

63

dalam konteks definisi hari ini bukan masuk katagori agama, maka seyogianya tidak perlu dipersoalkan dalam persoalan ya penistaan agama atau bukan begitu lho atau saya kira. Keberatan mereka tidak ada urusan. Kalau pikiran saya begitu, Majelis Hakim. Terima kasih. 136. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik, dari HPK ya? 137. PIHAK TERKAIT (HPK) : HADI PRAJOKO Terima kasih kesempatannya, Yang Mulia. Sebelum lupa saya ucapkan terima kasih sekali kepada Saudara Eggy Sudjana yang sudah dengan sejuk mengucapkan permohonan maaf. Kami terima dan kita sama-sama satu bangsa, satu tanah air, luar biasa. Khusus buat Ibu yang sebelum Saudara Eddy mengatakan, ini saya kaget luar biasa kaget dan sejatinya pekan lalu kami dari Himpunan Penghayat Kepercayaan sudah memberi penjelasan. Dan sejatinya mustinya diketahui, tapi ini mungkin bukti kenyataan betapa di Republik ini, di gedung yang sangat terhormat dengan 9 pilar yang demikian berwibawa menggambarkan 9 Majelis Hakim Konstitusi, ternyata masih ada warga negara yang belum mengetahui bahwa ada Penghayat Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa, mereka-mereka yang mengikuti jejak ajaran keyakinan leluhur bangsanya jauh sebelum ada sistem keyakinan dari luar datang. Dan sejatinya pula Republik ini sudah memberi secercah harapan. Yang pertama pekan lalu sudah saya katakan, untuk yang pertama kalinya penghayat kepercayaan yang selalu dihina dan di nomorduakan, kami merasa dan bukan bergenit-genit diberi kesempatan untuk didengar suaranya. Dan negarapun sejatinya sudah memberikan sedikit terang bagi kami, dan Ibu bisa baca bersama-sama mungkin, sudah ada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kyang dilanjutkan dengan PP Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Administrasi Kependudukan Nomor 23, itu sejatinya merupakan pengakuan. Tapi kembali ke pokok pembahasan kita tentang Undang-Undang Nomor 1 PNPS Tahun 1965, seperti Saudara Eddy katakan. Bisa jadi tidak ada kaitannya, urusannya di Departemen Kebudayaan dan Pariwisata. Sejatinya undang-undang ini sangat berkaitan dengan kami, sebagaimana kami telah jelaskan pekan lalu. Dari pasal-pasal yang demikian sedikit, mungkin lima atau empat dari Uundang-Undang Nomor 1 itu, pada intinya bisa dibagi dua, perlindungan bagi mereka yang

64

beragama dan ancaman-ancaman bagi mereka pemeluk penghayat kepercayaan. Jadi jelaslah sudah kami sangat berkepentingan dalam konteks persidangan kali ini. Sekali lagi kami mengucapkan terima kasih dan kami tidak akan lupakan para penghayat kepercayaan ini untuk pertama kalinya dalam sejarah Republik ini penghayat dimintai keterangan dan diberi kesempatan untuk berbicara di forum ini. Terima kasih, Rahayu. 138. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Cukup ya? Baiklah kalau begitu sidang ini bisa dianggap cukup, silakan dari Irena Center. 139. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : MUHAMMAD ICHSAN, S.H., M.H. Pertanyaan yang saya ke Kuasa Hukum Pemohon. Saya agak sedikit memperdalam persoalan masalah legal standing mereka, karena setahu saya (…) 140. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Saudara mau tanya soal legal standing ya? 141. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : MUHAMMAD ICHSAN, S.H., M.H. Maksud saya lebih mempertegas, keberadaan daripada yayasanyayasan sebagai Pemohon dalam persoalan ini. 142. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Yayasan Pemohon? 143. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : MUHAMMAD ICHSAN, S.H., M.H. Para Pemohon mereka. 144. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Kalau para Pemohon itu nanti keberadaannya kan menyangkut soal legal standing. Legal standing itu nanti menjadi pertimbangan Hakim saja. Tidak usah di ini, kecuali mau substansi perkara. Kalau eksistensi Pemohon sudah dibahas terus sejak minggu lalu dan itu sudah

65

kami catat, nanti menjadi bagian awal dari Putusan Mahkamah ini. Ya soal legal standing. Baik, ada yang lain? 145. KUASA HUKUM PIHAK TERKAIT (YAYASAN IRENE CENTER) : MUHAMMAD ICHSAN, S.H., M.H. Tidak, terima kasih. 146. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Cukup, baik, kalau begitu kita akan bertemu lagi sidang tanggal 10 hari Rabu yang akan datang jam 10.00. Dan secara resmi nanti Kepaniteraan akan menyampaikan (…) 147. KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Interupsi Yang Mulia, sidangnya Jumat atau Rabu? 148. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Jumat depan kosong, nanti Jumat depannya lagi. Jadi tanggal 17 dan 19 bagaimana? 149. KUASA HUKUM PEMOHON : ULI PARULIAN SIHOMBING, S.H., LL.M. Jadi Jumat besok kosong ya? Jumat besok kosong. 150. KETUA : PROF. DR. MOH. MAHFUD MD., S.H. Baik dengan demikian sidang dinyatakan selesai dan ditutup.

KETUK PALU 3X SIDANG DITUTUP PUKUL 15.35 WIB

66

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->