P. 1
tuberkulosis atau TBC

tuberkulosis atau TBC

|Views: 3,620|Likes:
Published by mignonne13

More info:

Published by: mignonne13 on Mar 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/10/2014

pdf

text

original

BATUK DARAH Seorang laki-laki, 34 thn, datang ke Puskesmas dengan keluhan batuk darah sebanyak kurang lebih

¼ gelas air mineral setiap kali batuk, dalam sehari pasien batuk lebih kurang 10 kali. Gejala sudah dirasakan oleh pasien sejak tiga bulan yang lalu, berupa batuk berdahak yang disertai demam dan berkeringat terutama malam hari. Riwayat penyakit pada keluarga: istri pasien menderita TBC paru aktif. Pada pemeriksaan fisisk didapatkan: kesadaran komposmentis, lemah, TD 100/70 mmHg, frekuensi nadi 90x/mnt, frekuensi nafas 26x/mnt, suhu 360 C, habitus asteniku. Hemitoraks kanan: fremitus taktil dan vokal meningkat, perkusi sonor dan ronkhi basah kasar di apeks paru. Jantung dan abdomen dalam batas normal. Pemeriksaan laboratorium: Hb 11 g/dL, LED 60 mm/jam, Leukosit 9000/ L, BTA sputum (+/+/+). Pemeriksaan rontgen thoraks: infiltrat dan cavitas pada 1/3 atas paru-paru kanan. Dokter meyimpulkan pasien menderita Tuberkulosis Paru dengan Hemoptoe dan akan memberi terapi OAT kategori I sesuai dengan prinsip dasar pengobatan P2M TB di Pusekesmas, karena riwayat alamiah perjalanan penyakit TBC bersifat kronis, maka dokter menganjurkan untuk dilakukan screening pada anakanaknya. Serta menunjuk anggota keluarganya untuk menjadi pengawas menalan obat (PMO).

Skenario II “Batuk Darah” 1

SASARAN BELAJAR 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopik dan Mikroskopik Paru-paru 2. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Pernafasan 3. Memahami dan menjelaskan Bakteri Mycobacterium tubercolusis 4. Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi dan Riwayat Alamiah Perjalanan Penyakit TBC Paru 5. Memahami dan Menjelaskan Patogenesis, Morfologi Tuberculosis Paru 6. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis, Komplikasi, dan Prognosis TBC Paru 7. Memahami dan Menjelaskan Hukum Merokok Menurut Agama Islam.

Skenario II “Batuk Darah” 2

1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopik dan Mikroskopik Paru-paru

Jantung dan Pru-paru tampak dari depan

Mikroskopik lobulus sekunder dari kedalaman paru dan lobulus primer

Paru-paru merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar terdiri dari sel-sel epitel dan dan endotel. O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah. Paru-paru dibagi menjadi dua, yakni : Paru-paru kanan, terdiri dari 3 lobus (belah paru): o o Lobus pulmo dekstra superior Lobus medial

Skenario II “Batuk Darah” 3

o

Lobus inferior.

Paru-paru kiri, terdiri dari: o o pulmo sinister lobus superior pulmosinister lobus inferior.

Tiap-tiap lobus terdiri atas belahan-belahan yang lebih kecil (segmentalis): Paru-paru kiri mempunyai 10 segment yaitu : • • 5 buah segment pada lobus superior, dan 5 buah segment pada inferior

Paru-paru kanan mempunyai 10 segmet yakni : • • • 5 buah segment pada lobus inferior 2 buah segment pada lobus medialis 3 buah segment pada lobus inferior Tiap-tiap segment ini masih terbagi lagi menjadi belahan-belahan yang bernama lobulus. Diantara lobulus yang satu dengan yang lainnya dibatasi oleh jaringan ikat yang berisi pembuluh-pembuluh darah geteh bening dan saraf-saraf, dalam tiap-tiap lobulus terdapat sebuah bronkiolus. Di dalam lobulus, bronkiolus ini bercabang - cabang banyak sekali, cabang-cabang ini disebut duktus alveolus. Tiap-tiap duktus alveolus berakhir pada alveolus yang diameternya antara 0,2 – 0,3 mm. Letak paru-paru Paru-paru terletak pada rongga dada, datarannya menghadap ke tengah rongg dada/kavum mediastinum. Pada bagian tengah itu terdapat tampuk paru-paru atau hilus. Pada mediastinum depan terletak jantung. Paru-paru dibungkus oeh selaput selaput yang bernama pleura. Pleura dibagi menjadi dua :  Pleura viseral (selaput dada pembungkus), yaitu selaput paru yang langsung membungkus paru-paru.

Skenario II “Batuk Darah” 4

Pleura parietal, yaitu selaput paru yang melapisi bagian dalam dinding dada.

Antara kedua pleura ini terdapat rongga (kavum) yang disebut kavum pleura. Pada keadaan normal kavum pleura ini vakum/hampa udara sehingga paru-paru dapat berkembang kempis dan juga terdapat sedikit cairan (eksudat) yang 1. Serabut symphaticus: truncus sympaticus

pandangan dorsal jantung dan paru-paru yang telah dibelah

Paru kanan dan kiri

pleura parietalis berdasarkanletaknya terbagi atas:

Skenario II “Batuk Darah” 5

a. c.

Pleura costalis Pleura mediatinalis

b. Pleura diaphragmtica d. Pleura cervicalis Pada hillus terdapat ligamentum pulmonale yng berfungsi untuk mengatur pergerakan alat dalam hillus selama proses respirasi. Alat yang masuk pada hillus pulmonalis: (brouncus primer, arteri pulmonalis, arteri brounchialis, dan syaraf). Alat yang keluar pada hillus pulmonalis: (vena pulmonalis, vena bronchialis, dan vasa limfatisi) Persarafan Paru: Serabut aferrent dan eferrent visceralis berasal dari truncus sympaticus dan serabut parasympatiscus berasal dari nervus vagus. 1. Serabut symphatis Truncusympaticus kanan dan kiri memberikan cabang – caang pada paru membentuk plexus pulmonalis yang terletak didepan dan dibelakang broncus prim. Fungsi saraf sympatis untuk merelaxasi tunica muscularis dan menghambat sekresi bron cus. 2. Serabut para sympatikus Nervus vagus kanan dan kiri juga memberikan cabang – cabang pada plexus pulmonalis kedepan dan kebelakang. Fungsi saraf parasympaticus untuk konstraksi tunica muscularis akibatnya lumen menyempit dan merangsang sekresi boncus. MIKROSKOPI Broncus • • • • Broncus extrapulmonal sangat mirip dengan trakea Tidak terdapat tulang rawberbentuk huruf “C” Epitel bertingkat torak dengan silia dan sel goblet Terdapat kelenjar campur

Skenario II “Batuk Darah” 6

• •

Pada lamina propia terdapat berkas – berkas otot polos. Mucosa tidak rata, terdapat lipatan longitudinal karena kontraksi otot polos.

BRONCHIOLUS • • • • • Tidak mempunyai tulang rawan dan pada lamina propia tidak terdapat kelenjar Lamina propia terdapat otot polos dan serat elastin Pada bronkiolus besar masih terdapat sel goblet. Pada bronkiolus kecil, mucosa dilapisi sel – sel kuboid atau toraks renda, terdapat sel tanpa silia, tidak terdapat sel goblet. Pada bronkiolus kecil terdapat sel clara yang menghasilkan surfaktan.

BRONCUS TERMINALIS • • • Mucosa dilapisi oleh selapis sel kuboid. Pada dinding tidak terdapat alveolus Pada lamina dapat dilihat serat – serat otot polos

BRONCUS RESPIRATORIUS • • • • Epitel terdiri dari sel torak rendah atau kuboid Epitel terputus – putus, karena pada dinding terdapat alveolus. Tidak terdapat sel goblet Terdapat serat otot polos, kolagen, dan elastin.

DUCTUS ALVEOLARIS • • • • Ductus alveolaris adalah saluran berdinding tipis, bebentuk kerucut. Epitel selapis gepeng Diluar epitel, dindingnya dibentuk oleh jaringan fiboelastis. Alveoli dipisahkan septum interalveolaris

Skenario II “Batuk Darah” 7

ATRIA, SACCUS ALVEOLARIS dan ALVEOLI • • • Ductus alveolaris bermuara keatria. Alveolus berupa kantung dilapisis epitel selapis epitel selapis gepeng yang sanagt tipis. Pada septum interalveolare terdapat serat retikular dan serat elastin.

Tiga jenis sel utama terletak didalam septum alveolaris 1. Sel alveolar gepeng 9 tipe 1) atau sel epitel ppermukaan. • • Inti sel yang gepeng Sitoplasmanya sulit dilihat

2. Sel alveolar besar ( tipe II) atau sel septa • • • • • • Sel ini tampa seperti sendiri – sendiri atau sebagai kelompok – kelompok kecil Sel Epitel gepeng akan membentuk taut kedap. Bentuk selnya kubis dan menonjol kedala ruanganalveol tetapi biasanya terletak di sudut dinding alveol. Lapisan mengandug surfaktan Mempunyai kemampuan mitosis Sel anak dianggap dapat menjadi sel tipe I, jadi dapat merupakan sumber utama pembentukan sel baru yang melapisi alveoli. SEL DEBU Makrofag alveolar atau fagosit, memiliki ciri seperti makrofag di tempat ini. Fagosit alveolar terdapat dalam jaringan interstisial septa interalveolaris, bebas dalam rongga alveol. Banyak dari sel tersebut tidak diragukan lagi berasal dari monosit yang berasal dari sum-sum tulang, tetapi sumbernya tetap dalam perdebatan.beberapa sel nampaknya bervakuol yaitu bekas tempat lemak pada sitoplasma, mungkin kolestrol, dan lainnya mengandung karbon yang difagositosis. Salah satu jenis yaitu siderofag atau sel gagal jantung. Umumnya dijumpai bila ada bendungan Skenario II “Batuk Darah” 8

aliran darah merah memasuki alveoli (diapedesis), dalam keadaan ini makrofag memakan sel darah merah sehingga akan mengandung hemosiderin. Fagosit relatif cepat diganti dan hampir seluruhnya dikeluarkan kedalam sputum melalui percabangan bronkus. Beberapa sel yang terletak didalam jaringan ikat septa interalveolaris, didalam pleura, dan sekitar pembuluh darah serta saluran bronkial, relatif statis. (buku ajar histologi & Anatomo Kedokteran YARSI)

Skenario II “Batuk Darah” 9

2. Memahami dan Menjelaskan Mekanisme Pernafasan Pada pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan externa, oksigen dipungut melalui hidung dan mulut, pada waktu bernapas; oksigen masuk melalui trakheadan pipa bronkhial ke alveoli, dan dapat erat hubungan dengan darah di dalam kapiler pulmonaris. Hanya satu lapis membran, yaitu membran alveoli-kapiler, memisahkan oksigen dari darah. Oksigen menembus membran ini dan dipungut oleh hemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung. Dari sini dipompa di dalam arteri ke semua bagian tubuh. Darah meninggalkan paru-paru pada tekanan oksigen 100 mmHg dan pada tingat ini hemoglobinnya 95% jenuh oksigen. Di dalam paru-paru, karbon dioksida, salah satu hasil buangan metabolisme, menembus membran alveolar-kapiler dari kapiler darah ke alveoli dan setelah melalui pipa bronkhial dan trakhea, dinapaskan keluar melalui hidung dan mulut.  4 proses yang berhubungan dengan pernapasan pulmoner atau pernapasan externa: 1) Ventilasi pulmoner, atau gera pernapasan yang menukar udara dalam alveoli dengan udara luar 2) Arus darah melalui paru-paru 3) Distribusi arus udara dan arus darah sedemikian sehingga jumlah tepat dari setiapnya dapat mencapai semua bagian tubuh 4) Difusi gas yang menembusi membran pemisah alveoli dan kapiler. Karbon dioksida lebih mudah berdifusi dari pada oksigen. Semua proses ini diatur sedemikian sehingga darah yang

meninggalkan paru-paru menerima jumlah tepat CO2 dan O2. Pada waktu gerak badan lebih banyak darah datang di paru-paru membawa terlalu banyak CO2 dan terlampau sedikit O2; jumlah CO2 itu tidak dapat dikeluarkan, maka konsentrasinya dalam darah arteri bertambah. Hal ini merangsang pusat pernapasan dalam otak untuk memperbesar kecepatan dan dalamnya pernapasan. Penambahan ventilasi yang dengan demikian terjadi mengeluarkan CO2 dan memungut lebih banyak O2.

Skenario II “Batuk Darah” 10

Udara cenderung bergerak dari daerah bertekanan tinggi ke daerah bertekanan rendah, yaitu menuruni gradien tekanan. Udara mengalir masuk dan keluar paru selama proses bernapas dengan mengikuti penurunan gradien tekanan yang berubah berselang-seling antara alveolus dan atmosfer akibat aktivitas siklik otot-otot pernapasan. Terdapat 3 tekanan berbeda yang penting pada ventilasi: • Tekanan atmosfer (barometrik) adalah tekanan yang ditimbulkan oleh berat udara di atmosfer terhadap benda-benda di permukaan bumi. • • Tekanan intra-alveolus (intra-pulmonalis) adalah tekanan di dalam alveolus. Tekanan intrapleura (tekanan intratoraks) adalah tekanan di dalam kantung pleura; tekanan yang terjadi di luar paru di dalam rongga toraks. Tekanan intrapleura biasanya lebih kecil daripada tekanan atmosfer, rata-rata 756 mmHg saat istirahat. Karena udara mengalir mengikuti penurunan gradient tekanan, maka tekanan intra alveolus harus lebih rendah daripada tekanan atmosfer agar udara mengalir masuk ke paru selama inspirasi. Demikian juga, tekanan intra alveolus harus lenih besaru daripada tekanan atmosfer agar udara mengalir keluar dari paru selama ekspirasi. Tekanan intra alveolus dapat diubah dengan mengubah volume paru sesuai hukum boyle. Mekanisme inspirasi Sebelum inspirasi dimulai, otot-otot pernapasan melemas, tidak ada udara yang mengalir, dan tekanan intra alveolus setara dengan tekanan atmosfer. Pada awitan inspirasi, otot-otot inspirasi (diaphragma dan otot antariga eksternal) terangsang untuk berkontraksi, sehingga terjadi pembesaran rongga toraks. Diafragma dipersarafi oleh saraf frenikus. Diafragma bergerak ke bawah dan memperbesar volume rongga toraks. Otot-otot antariga diaktifkan oleh saraf interkostalis. Pada saat rongga toraks mengembang, paru juga dipaksa mengembang untuk mengisi rongga toraks yang membesar. Sewaktu paru mengembang, tekanan intra alveolus menurun karena molekul dalam jumlah yang sama kini menempati volume paru yang lebih besar. Karena tekanan intra alveolus sekarang lebih rendah daripada tekanan atmosfer, Skenario II “Batuk Darah” 11

uadar mengalir masuk ke paru mengikuti penurunan gradient tekanan dari tekanan tinggi ke tekanan rendah. Udara terus mengalir sampai tidak ada lagi gradient. Mekanisme ekspirasi Pada akhir inspirasi, otot-otot inspirasi melemas. Saat melemas, diafragma kembali ke bentuknya, sewaktu otot antariga melemas, sangkar iga yang terangkat turun, dan dinding dada dan paru yang teregang kembali menciut ke ukuran inspirasi karena adanya sifat elastic. Sewaktu paru menciut dan berkurang volumenya, tekanan intra alveolus meningkat, karena jumlah molekul udara yang lebih besar yang terkandung di dalam volume paru yang besar pada akhir inspirasi sekarang terkompresi ke dalam volume yang lebih kecil. Udara sekarang keluar paru mengikuti penurunan gradient tekanan dari tekanan alveolus yang tinggi ke tekanan atmosfer yang lebih rendah. Aliran keluar udara berhenti jika tekanan intra alveolus menjadi sama dengan tekanan atmosfer dan tidak lagi terdapat gradient tekanan. Dalam keadaan normal, ekspirasi adalah suatu proses pasif karena terjadi akibat penciutan elastic paru saat otot-otot inspirasi melemas tanpa memerlukan kontraksi otot atau pengeluaran energi.  Volume paru dan kapasitas paru dapat ditentukan oleh: • Isi Alun Nafas / tidal volume/ volume pasang surut: adalah udara yg keluar dan masuk paru pada pernafasan biasa. Pada keadaan istirahat besarnya 500 cc. • Volume Cadangan Inspirasi /Inspiratory reserve volum /IRV adalah volume udara yg masih dapat masuk kedalam paru pada inspirasi maksimal, setelah inspirasi biasa. Pria :3.300 cc, Wanita : 1.900 cc • Volume Cadangan Ekspirasi /Expiratory Reserve Volume/ERV Adalah : jumlah udara yang dapat dikeluarkan secara aktif dari dalam paru melalui kontraksi otot otot ekspirasi setelah ekspirasi biasa. P 1.000 cc dan W: 700 cc • Volume Residu/ Residual Volume/ RV adalah udara yg masih tersisa dalam paru setelah ekspirasi maksimal. Pria :1.200 cc Wanita :1.100 cc Skenario II “Batuk Darah” 12

Volume residu tidak dapat diukur secara langsung dgn spirometer karena udara difusi gas. Dapat dibagi dua : • Volume kollaps , udara yg masih dapat keluar dari paru ,setelah ekspirasi maksimal dan hanya mungkin terjadi bila paru mengalami kollaps. • Volume minimal , udara yg masih tertinggal dalam paru setelah paru kollaps dan tidak dapat dikeluarkan dgn cara apapun. ini tidak keluar masuk paru,pengukuran dengan

Kapasitas Inspirasi / CI: Jumlah udara maksimal yg dapat dimasukkan kedalam paru setelah akhir ekspirasi biasa. CI = IRV + TV FRC = ERV + RV

Kapasitas Residu Fungsional /FRC, Jumlah udara didalam paru pada akhir ekspirasi biasa. Bermakna dalam mempertahankan kadar O2 dan CO2 yg relatif stabil dlm alveol pada saat inspirasi dan ekspirasi.

Kapasitas Vital / Vital Capacity VC adalah volume udara maksimal yg dapat keluar masuk paru selama satu siklus pernafasan sampai ekspirasi maksimal. VC = IRV + TV + ERV . Kemampuan pengembangan paru dan dada dan dipengaruhi kebugaran seseorang. yaitu setelah inspirasi maksimal

Kapasitas Paru Total / Total Lung Capacity / TLC: Jumlah udara maksimal yg dapat ditampung paru. TLC = VC + RV Pria =6000 cc Wanita =4.200 cc

volume ekspirasi paksa dalam 1 detik (forced expiratory volume, FEV1). Volume udara yang dapat diekspirasi selama detik pertama ekspirasi pada penentuan KV. Biasanya FEV1 adalah 80 % yaitu,

Skenario II “Batuk Darah” 13

dalam keadaan normal 80 % udara yang dapat dipaksa keluar dari paru yang mengembang maksimum dapat dikeluarkan dalam satu detik pertama. VentPulmonal =TV X Frek nafas Vent Pulm (ml/menit),TV (ml/nafas),Frek nafas (nafas/mnt) [Lauralee Sherwood]

Skenario II “Batuk Darah” 14

3. Memahami dan Menjelaskan Bakteri Mycobacterium tubercolusis

 Bentuk. • • • berbentuk batang lurus atau agak bengkok dengan ukuran 0,20,4 x 1-4 um. Pewarnaan Ziehl-Neelsen dipergunakan untuk identifikasi bakteri tahan asam. Tidak dapat digolongkan gram negatif atau gram positif

 Biakan • • • • Kuman ini tumbuh lambat, koloni tampak setelah lebih kurang 2 minggu bahkan kadangkadangsetelah 6-8 minggu. Suhu optimum 37°C, tidak tumbuh pada suhu 25°C atau lebihdari 40°C. Medium padat yang biasa dipergunakan adalah LowensteinJensen. PH optimum 6,4-7,0. Terdapat 3 formulasi umu yang dapat di gunakan; 1. medium agar semi sintetik medium ini mengandung garam, vitamin, kofaktor, asam oleat, albumin, katalase, gliserol, glukosa, dan malakit hijau. Medium ini digunakan untuk mengobservasi morfologi koloni, untuk uji sensitifitas, dan menambahkan antibiotik sebagai medium selektif. 2. medium telur inspissated medium ini mengandung garam, gliserol, dan substansi organik kompleks. Medium ini digunakan sebagai medium selektif dengan menambahkan antibiotik 3. medium kaldu medium ini mendorong prolifersi inokulum kecil. Skenario II “Batuk Darah” 15

 Sifat-sifat. • • • • • • Mycobacterium tidak tahan panas, akan mati pada 6°C selama 1520 menit. Biakan dapatmati jika terkena sinar matahari lansung selama 2 jam. Dalam dahak dapat bertahan 20-30p jam. Basil yang berada dalam percikan bahan dapat bertahan hidup 810 hari. Biakan basil inidalam suhu kamar dapat hidup 6-8 bulan dan dapat disimpan dalam lemari dengan suhu20°C selama 2 tahun. Myko bakteri tahan terhadap berbagai khemikalia dan disinfektanantara lain phenol 5%, asam sulfat 15%, asam sitrat 3% dan NaOH 4%. • • Basil ini dihancurkanoleh jodium tinctur dalam 5 minit, dengan alkohol 80 % akan hancur dalam 2-10 menit. Bersifat aerob obligat

(Mikrobiologi Kedokteran Jawet)

Skenario II “Batuk Darah” 16

4. Memahami dan Menjelaskan Perjalanan TBC Paru Faktor risiko Tuberkulosis: 1. Infeksi Tuberkulosis

Epidemiologi

dan

Riwayat

Alamiah

 Orang-orang yang lahir di negara asing dari negara-negara yang berinsiden tinggi  Orang-orang miskin dan sangat miskin, terutama di kota-kota besar  Penghuni penjara sekarang atau sebelumnya  Orang tunawisma  Pengguna obat injeksi  Pekerja perawat kesehatan yang merawat penderita berisiko tinggi  Anak yang terpajan pada orang dewasa berisiko tinggi 2. Penyakit Tuberkulosis bila Terinfeksi  Koinfeksi dengan virus imunodefisiensi manusia (HIV)  Penyakit gangguan imun lain, terutama keganasan  Pengobatan imunosupresif  Bayi dan anak ≤ 3 tahun [Nelson] Epidemiologi Global Pada bulan Maret 1993, WHO mendeklarasikan TB sebagai global health emergency. TB dianggap sebagai masalah kesehatan dunia yang penting karena lebih kurang 1/4 penduduk dunia terinfeksi oleh mikobakterium TB. Pada tahun 1998 ada 4.617.047 kasus TB yang tercatat di seluruh dunia. Sebagian besar kasus TB ini (95%) dan kematiannya (98%) terjadi di Negara-negara yang sedang berkembang. Di antara mereka 75% berada pada usia produktif yaitu 20-49 tahun. Karena penduduk yang padat dan tingginya prevalensi maka lebih dari 65% dari kasus-kasus TB yang baru dan kematian yang muncul terjadi di Asia. Alasan utama munculnya atau meningkatnya beban TB global ini antara lain disebabkan: 1. kemiskinan pada berbagai penduduk, tidak hanya pada Negara yang sedang berkembang tetapi juga pada penduduk Skenario II “Batuk Darah” 17

perkotaan tertentu di Negara maju. 2. adanya perubahan demografik dengan meningkatnya penduduk dunia dan perubahan dari struktur usia manusia yang hidup. 3. perlindungan kesehatan yang tidak mencukupi pada penduduk di kelompok yang rentan terutama di negeri-negeri miskin. 4. tidak memadainya pendidikan mengenai TB di antara para dokter. 5. terlantar dan kurangnya biaya untuk obat, sarana diagnostic, dan pengawasan khusus TB dimana terjadi deteksi dan tatalaksana kasus yang tidak adekuat. 6. adanya epidemic HIV terutama di Afrika dan Asia. Epidemiologi TB di Indonesia Indonesia adalah negeri dengan prevalensi TB ke-3 tertinggi di dunia setelah China dan India. Perkiraan kejadian BTA di sputum yang positif di Indonesia adalah 266.000 tahun 1998. berdasarkan survei kesehatan rumah tangga tahun 1985 dan survey kesehatan nasional 2001, TB menempati ranking nomor 3 sebagai penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Prevalensi nasional terakhir TB paru diperkirakan 0,24%. Sampai sekarang angka kejadian TB di Indonesia relative terlepas dari angka pandemic infeksi HIV karena masih relative rendahnya infeksi HIV, tapi hal ini mungkin akan berubah di masa dating melihat semakin meningkatnya laporan infeksi HIV dari tahun ketahun. Cara penularan TB Lingkungan hidup yang sangat padat dan pemukiman di wilayah perkotaan kemungkinan besar telah mempermudah proses penularan dan berperan sekali atas peningkatan jumlah kasus TB. Proses terjadinya infeksi M. tuberculosis biasanya secara inhalasi, sehingga TB paru merupakan manifestasi klinis yang paling sering disbanding organ lainnya. Penularan penyakit ini sebagian besar melalui inhalasi basil yang mengandung droplet nuclei, khusunya yang didapat dari pasien TB paru dengan batuk berdarah atau berdahak yang mengandung basil tahan asam (BTA). [IPD II] Cara mencegah TB: 1. sinar ultraviolet embasmi bakteri, bias digunakan di tempat-tempat dimana sekumpulan orang dengan berbagai penyakit harus duduk Skenario II “Batuk Darah” 18

bersama-sama selama beberapa jam (misalnya di rumah sakit, ruang tunggu gawat darurat). Sinar ini bias membunuh bakteri yang terdapat di dalam udara. 2. Isoniazid sangat efektif jika diberikan kepada orang-orang dengan risiko tinggi tuberculosis, misalnya petugas kesehatan dengan hasil tes tuberculin positif, tetapi hasil roentgen tidak menunjukkan adanya penyakit. Isoniazid diminum setiap hari selama 6-9 bulan.

3. penderita tuberculosis pulmoner yang sedang menjalani pengobatan tidak perlu diisolasi lebih dari beberapa hari karena obatnya bekerja secara cepat sehingga mengurangi kemungkinan terjadinya penularan. Tetapi penderita yang mengalami Penderita batuk dan tidak tidak menjalani lagi dapat pengobatan secara teratur, perlu diisolasi lebih lama karena bias menularkan hari. 4. Di Negara-negara berkembang, vaksin BCG digunakan untuk mencegah infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. PMO (Pengawas Menelan Obat) 1. Persyaratan PMO  Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui baik oleh petugas kesehatan maupun penderita.  Disegani dan dihormati oleh penderita.  Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita.  Bersedia membantu penderita dengan sukarela.  Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersamasama dengan penderita. 2. Siapa yang bisa jadi PMO? Sebaiknya adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat, pekarya sanitarian, juru imunisasi, dan lain-lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota PPTI, PKK atau tokoh masyarakat lainnya atau anggota keluarga. 3. Tugas seorang PMO Skenario II “Batuk Darah” 19 penyakitnya. biasanya menularkan penyakitnya setelah menjalani pengobatan selama 10-14

 Mengawasi penderita TBC agar menelan obat secara teratur sampai selesai pengobatan.  Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur.  Mengingatkan penderita untuk pemeriksaan ulang dahak pada waktu yang telah ditentukan.  Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TBC yang mempunyai gejala-gejala tersangka TBC untuk segera memeriksakan diri ke unit pelayanan kesehatan. [www.medicastore.com]

Skenario II “Batuk Darah” 20

5. Memahami dan Menjelaskan Patogenesis, Morfologi TBC Paru PATOGENESIS Jalan masuk awal bagi basilus tuberkel ke dalam paru atau tempat Iainnya pada individu yang sebelumnya sehat menimbulkan respons peradangan akut nonspesifik yang jarang diperhatikan dan biasanya disertai dengan sedikit atau sama sekali tanpa gejala. Basilus kemudian ditelan oleh makrofag dan diangkut ke kelenjar limfe regional. Bila penyebaran organisme tidak terjadi pada tingkat kelenjar Iimfe regional, lalu basilus tuberkel lalu mencapai aliran darah dan terjadi diseminata yang Iuas. Kebanyakan lesi tuberkulosis diseminata menyembuh, sebagaimana lesi paru primer, walaupun tetap ada fokus potensial untuk reaktivasi selanjutnya. Diseminasi dapat mengakibatkan tuberkulosis meningeal atau miliaris, yaitu penyakit dengan potensial terjadinya morbiditas dan mortalitas yang utama, terutama pada bayi dan anak kecil. Selama 2 hingga 8 minggu setelah infeksi primer, saat basilus terus berkembang biak di lingkungan intraselulernya, timbul hipersensitivitas pada pejamu yang terinfeksi. Limfosit yang cakap secara imunologik memasuki daerah infeksi, di situ limfosit menguraikan faktor kemotaktik, interleukin dan limfokin. Sebagai responsnya, monosit masuk ke daerah tersebut dan mengalami perubahan bentuk menjadi makrofag dan selanjutnya menjadi sel histiosit yang khusus, yang tersusun menjadi granuloma. Mikobakterium dapat bertahan dalam makrofag selama bertahun-tahun walaupun terjadi peningkatan pembentukan lisozim dalam sel ini, namun multiplikasi dan penyebaran selanjutnya biasanya terbatas. Kemudian terjadi penyembuhan, seringkali dengan kalsifikasi granuloma yang lambat yang kadang meninggalkan lesi sisa yang tampak pada foto rontgen paru. Kombinasi lesi paru perifer terkalsifikasi dan kelenjar limfe hilus yang terkalsifikasi dikenal sebagai kompleks Ghon. Tuberkulosis—sebagai penyakit klinis—timbul pada sebagian kecil individu yang tidak mengalami infeksi primer. Pada beberapa individu, tuberkulosis timbul dalam beberapa minggu setelah infeksi primer; pada kebanyakan orang, organisme tetap dormant selama bertahun-tahun Skenario II “Batuk Darah” 21

sebelum memasuki fase multiplikasi eksponensial yang menyebabkan penyakit. Di antara banyak keadaan, usia dapat dianggap sebagai faktor bermakna yang menentukan jalannya penyakit tuberkulosis. Pada bayi, infeksi tuberkulosis seringkali cepat berkembang menjadi penyakit, dan berisiko tinggi menderita penyakit diseminata, antara lain meningitis dan tuberkulosis miliaris. Pada anak di atas usia 1 atau 2 tahun sampai sekitar usia pubertas, lesi tuberkulosis primer hampir selalu menyembuh; sebagian besar akan menjadi tuberkulosis pada masa akil balig atau dewasa muda. Individu yang terinfeksi pada masa dewasa memiliki resiko terbesar untuk terjadinya tuberkulosis dalam waktu sekitar 3 tahun setelah infeksi. Penyakit tuberkulosis lebih sering pada perempuan dewasa muda, sementara pada laki-laki lebih sering pada usia yang lebih tua. http://medis.web.id/penyakit-dalam/tuberkulosis-paru.html

Skenario II “Batuk Darah” 22

6. Memahami dan Mejelaskan Diagnosis, Komplikasi, dan Prognosis TBC Paru DIAGNOSIS Gejala klinis: • • • • • Demam. Serangan demam pertama dapat sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Batuk / batuk darah. Batuk terjadi karena adanya iritasi bronkus. Batuk darah karena terdapat pembuluh darah yang pecah. Sesak napas Nyeri dada Malaise (anoreksia, tidak ada nafsu makan, badan makin kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam, dll.) Pemeriksaan Fisis Pemeriksaan pertama terhadap keadaan umum pasien mungkin ditemukan konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris), badan kurus atau berat badan menurun. Secara anamnesis dan pemeriksaan fisis, TB paru sulit dibedakan dengan pneumonia biasa. Dalam penampilan klinis, TB paru sering asimptomatik dan penyakit baru dicurigai dengan didapatkannya kelainan radiologis dada pada pemeriksaan rutin atau uji tuberkulin yang positif. Pemeriksaan Radiologis Pada awal penyakit, lesi masih merupakan sarang-sarang pneumonia, gambaran berupa bercak-bercak seperti awan dengan batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi jaringan ikat, bayangan terlihat berupa bulatan dengan batas tegas (tuberkuloma). Pada cavitas, bayangan berupa cincin, mula-mula berdinding tipis, lama-lama dinding jadi sklerotik dan terlihat menebal. Pada kalsifikasi, bayangan tampak bercak-bercak padat dengan densitas tinggi. Gambaran radiologis lain yang sering menyertai adalah penebalan pleura, efusi pleura (empiema), pneumotoraks. Pemeriksaan radiologis lain adalah bronkografi, CT scan, dan MRI.

Skenario II “Batuk Darah” 23

Pemeriksaan Laboratorium • Darah. Pada saat tuberkulosis baru mulai akan didapatkan jumlah leukosit yang sedikit meninggi dengan hitung jenis pergeseran ke kiri. Jumlah limfosit masih di bawah normal. Laju endap darah mulai meningkat. Bila penyakit mulai sembuh, jumlah leukosit kembali normal dan jumlah limfosit masih tinggi. Laju endap darah mulai turun ke arah normal lagi. • Sputum. Pemeriksaan kuman sputum BTA, adalah penting karena sudah dengan dapat ditemukannya diagnosis tuberkulosis

dipastikan. Dalam hal ini dianjurkan satu hari sebelum pemeriksaan sputum, pasien dianjurkan minum air sebanyak + 2 liter dan ajarkan melakukan refleks batuk. Dapat juga dengan memberikan tambahan obat-obat mukolitik ekspektoran atau dengan inhalasi larutan garam hipertonik selama 20-30 menit. Bila masih sulit,sputum masih dapat diperoleh dengan cara bronkoskopi. BTA dari sputum bisa juga didapat dengan cara bilasan lambung. Hal ini sering dikerjakan pada anakanak karena mereka sulit mengeluarkan dahaknya. Sputum yang akan diperiksa hendaknya sesegar mungkin. Pemeriksaan sputum dilakukan dengan menggunakan metode pewarnaan Ziehl-Neelsen. Penderita yang dicurigai TB paru, harus melakukan pemeriksaan sputum S (sewaktu), P (pagi), S (sewaktu). • Tes anak Tuberkulin. (balita). Pemeriksaan Biasanya ini masih tes banyak Mantoux dipakai yakni untuk dengan membantu menegakkan diagnosis tuberkulosis terutama pada anakdipakai menyuntikkan 0,1 cc tuberculin P.P.D (Purified Protein Derivative) intrakutan berkekuatan 5 intermediet strength. Tes tuberkulin hanya menyatakan apakah seseorang individu sedang atau pernah mengalami infeksi M. Tuberculosis, M. Bovis, vaksinasi BCG dan Mycobacterium patogen lainnya. Dasar tes tuberkulin ini adalah reaksi berupa alergi tipe lambat. Setelah 48-72 jam disuntikkan, akan timbul reaksi berupa indurasi kemerahan yang terdiri dari limfosit, yakni reaksi persenyawaan antara antibody seluler dengan antigen

Skenario II “Batuk Darah” 24

tuberkulin. Banyak sedikitnya reaksi persenyawaan antara antibody seluler dan antigen tuberculin amat dipengaruhi oleh antibody humoral, makin besar pengaruh antibody humoral, makin kecil indurasi yang ditimbulkan. Hasil tes Mantoux: o o o o Indurasi 0-5 mm: Mantoux negatif = golongan no sensitivity. Di sini peran antibody paling menonjol. Indurasi 6-9 mm: hasil meragukan = golongan low grade sensitivity. Di sini peran antibody humoral masih menonjol. Indurasi 10-15 mm: Mantoux positif = golongan normal sensitivity. Di sini peran kedua antibody seimbang. Indurasi > 15 mm: Mantoux positif kuat = golongan [IPD II] KOMPLIKASI  Komplikasi dini: pleuritis, efusi pleura, laringitis, usus, Poncet’s arthropathy  Komplikasi lanjut: obstruksi jalan napas -> SOFT (Sindrom Obstruksi Pasca Tuberkulosis), kerusakan parenkim berat -> SOPT / fibrosis paru, kor pulmonal, amiloidosis, karsinoma paru, sindrom gagal napas dewasa (ARDS), sering terjadi pada TB milier dan kavitas TB. [IPD II] PROGNOSIS Prognosis umumnya baik jika infeksi terbatas di paru, kecuali jika disebabkan oleh strain resisten obat atau terjadi pada pasien berusia lanjut, dengan debilitas, atau mengalami gangguan kekebalan, yang berisiko tinggi menderita tuberkulosis milier [Patologi vol. 2, Robbins, dkk] hypersensitivity. Di sini peran antibody seluler paling menonjol.

Skenario II “Batuk Darah” 25

7. Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan TBC Paru Tujuan pengobatan pada TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Pengobatan Tuberkulosis dilakukan dengan prinsip-prinsip sbb: • OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat. Tidak OAT tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih menguntungkan dan sangat dianjurkan. • Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung (DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (PMO). • Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif (2-3 bulan) dan lanjutan (4-7 bulan)  Tahap intensif: obat diberikan setiap hari,dan diawasi langsung untuk mencegah resistensi obat. Jika diberikan secara tepat, yang awalnya menular bisa men jadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian besar TB BTA positif menjadi BTA negatif dalam 2 bulan  Tahap lanjutan: diberikan obat lebih sedikit dengan jangka waktu yang lama. Tahap ini penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah kekambuhan. Dosis yang Direkomendasikan (mg/kg) Harian 3x seminggu 5 (4-6) 10 (8-12) 10 (8-12) 10 (8-12) 25 (20-30) 35 (30-40) 15 (12-18) 15 (15-20) 15 (12-18) 30 (20-35)

Jenis OAT Isoniazid (H) Rifampicin (R) Pyrazinamid (Z) Streptomycin (S) Ethambutol (E)

Sifat Bakterisid Bakterisid Bakterisid Bakterisid Bakteriostatik

Obat yang digunakan untuk TBC digolongkan atas dua kelompok, yaitu: • Obat primer / Lini pertama: Isoniazid (INH), Rifampisin, Etambutol, Streptomisin, Pirazinamid. Memperlihatkan efektifitas yang tinggi dengan toksisitas yang masih dapat ditolerir, sebagian besar dapat dipisahkan dengan obat-obatan ini. Skenario II “Batuk Darah” 26

Obat sekunder / Lini kedua: Etionamid, Paraaminosalisilat, Sikloserin, Amikasin, Kapreomisin, Kanamisin.

Isoniazid (INH) Efek antibakteri: bersifat tuberkulostatik dan tuberkulosid. Efek bakterisidnya hanya terlihat pada kuman yang sedang tumbuh aktif. Isoniazid dapat menembus ke dalam sel dengan mudah. Mekanisme kerja: menghambat biosintesis asam mikolat (mycolic acid) yang merupakan unsur penting dinding sel mikobakterium. Farmakokinetik: mudah diabsorbsi pada pemberian oral maupun parenteral. Mudah berdifusi ke dalam sel dan semua cairan tubuh. Antar 75-95% diekskresikan melalui urin dalam waktu 24 jam dan hampir seluruhnya dalam bentuk metabolit. Efek samping: reaksi hipersensitivitas menyebabkan demam, berbagai kelainan kulit. Neuritis perifer paling banyak terjadi. Mulut terasa kering, rasa tertekan pada ulu hati, methemoglobinemia, tinnitus, dan retensi urin. Sediaan dan posologi: terdapat dalam bentuk tablet 50, 100, 300, dan 400 mg serta sirup 10 mg/mL. Dalam tablet kadang-kadang telah ditambahkan B6. biasanya diberikan dalam dosis tunggal per orang tiap hari. Dosis biasa 5 mg/kgBB, maksimum 300 mg/hari. Untuk TB berat dapat diberikan 10mg/kgBB, maksimum 600 mg/hari, tetapi tidak ada bukti bahwa dosis demikian besar lbih efektif. Anak < 4 tahun dosisnya 10mg/kgBB/hari. Isoniazid juga dapat diberikan secara intermiten 2 kali seminggu dengan dosis 15 mg/kgBB/hari. Rifampisin Aktivitas antibakteri: menghambat pertumbuhan berbagai kuman grampositif dan gram-negatif. Mekanisme kerja: terutama aktif terhadap sel yang sedang tumbuh. Kerjanya menghambat dan DNA-dependent lain RNA dengan polymerase menekan dari mula mikrobakteria mikroorganisme

terbentuknya (bukan pemanjangan) rantai dalam sintesis RNA. Farmakokinetik: pemberian per oral menghasilakn kadar puncak dalam plasma setelah 2-4 jam. Setelah diserap dari saluran cerna, obat ini cepat Skenario II “Batuk Darah” 27

diekskresi

melalui

empedu

dan

kemudian

mengalami

sirkulasi

enterohepatik. Penyerapannya dihambat oleh makanan. Didistribusi ke seluruh tubuh. Kadar efektif dicapai dalam berbagai organ dan cairan tubuh, termasuk cairan otak, yang tercermin dengan warna merah jingga pada urin, tinja, ludah, sputum, air mata, dan keringat. Efek samping: jarang menimbulkan efek yang tidak diingini. Yang paling sering ialah ruam kulit, demam, mual, dan muntah. Sediaan dan posologi: tersedia dalam bentuk kapsul 150 mg dan 300 mg. Terdapat pula tablet 450 mg dan 600 mg serta suspensi yang mengandung 100 mg/5mL rifampisin. Beberapa sediaan telah dikombinasi dengan isoniazid. Biasanya diberikan sehari sekali sebaiknya 1 jam sebelum makan atau dua jam setelah makan. Dosis untuk orang dewasa dengan berat badan kurang dari 50 kg ialah 450 mg/hari dan untuk berat badan lebih dari 50 kg ialah 60 mg/hari. Untuk anak-anak dosisnya 10-20 mg/kgBB/hari dengan dosis maksimum 600 mg/hari. Etambutol Aktivitas antibakteri: menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati. Hanya aktif terhadap sel yang tumbuh dengan khasiat tuberkulostatik. Farmakokinetik: pada pemberian oral sekitar 75-80% diserap dari saluran cerna. Tidak dapat ditembus sawar darah otak, tetapi pada meningitis tuberkulosa dapat ditemukan kadar terapi dalam cairan otak. Efek samping: jarang. Efek samping yang paling penting ialah gangguan penglihatan, biasanya bilateral, yang merupakan neuritis retrobulbar yaitu berupa turunnya ketajaman penglihatan, hilangnya kemampuan membedakan warna, mengecilnya lapangan pandang, dan skotom sentral maupun lateral. Menyebabkan peningkatan kadar asam urat darah pada 50% pasien. Sediaan dan posologi: tablet 250 mg dan 500 mg. Ada pula sediaan yang telah dicampur dengan isoniazid dalam bentuk kombinasi tetap. Dosis biasanya 15 mg/kgBB, diberikan sekali sehari, ada pula yang menggunakan dosis 25 mg/kgBB selama 60 hari pertama, kemudian turun menjadi 15 mg/kgBB. Pirazinamid Skenario II “Batuk Darah” 28

Aktivitas antibakteri: mekanisme kerja belum diketahui. Farmakokinetik: mudah diserap usus dan tersebar luas ke seluruh tubuh. Ekskresinya terutama melalui filtrasi glomerulus. Efek samping: yang paling umum dan serius adalah kelainan hati. Menghambat ekskresi asam urat. Efek samping lainnya ialah artralgia, anoreksia, mual, dan muntah, juga disuria, malaise, dan demam. Sediaan dan posologi: bentuk tablet 250 mg dan 500 mg. Dosis oral 20-35 mg/kgBB sehari (maksimum 3 g), diberikan dalam satu atau beberapa kali sehari.

Streptomisin Aktivitas antibakteri: bersifat bakteriostatik dan bakterisid terhadap kuman TB. Mudah masuk kavitas, tetapi relatif sukar berdifusi ke cairan intrasel. Farmakokinetik: setelah diserap dari tempat suntikan, hampir semua streptomisin berada dalam plasma. Hanya sedikit sekali yang masuk ke dalam eritrosit. Kemudian menyebar ke seluruh cairan ekstrasel. Diekskresi melalui filtrasi glomerulus. Efek samping: umumnya dapat diterima dengan baik. Kadang-kadang terjadi sakit kepala sebentar atau malaise. Bersifat nefrotoksik. Ototoksisitas lebih sering terjadi pada pasien yang fungsi ginjalnya terganggu. Sediaan dan posologi: bubuk injeksi dalam vial 1 dan 5 gram. Dosisnya 20 mg/kgBB secara IM, maksimum 1 gr/hari selama 2 sampai 3 minggu. Kemudian frekuensi berkurang menjadi 2-3 kali seminggu. Etionamid Aktivitas antibakteri: in vitro, menghambat pertumbuhan M. tuberculosis jenis human pada kadar 0.9-2.5 g/mL. Farmakokinetik: pemberian per oral mudah di absorpsi. Kadar puncak 3 jam dan kadar terapi bertahan 12 jam. Distribusi cepat, luas, dan merata ke cairan dan jaringan. Ekskresi cepat dalam bentuk utama metabolit 1% aktif. Efek samping: paling sering anoreksia, mual da muntah. Sering terjadi hipotensi postural, depresi mental, mengantuk dan asthenia. Skenario II “Batuk Darah” 29

Sediaan dan posologi: dalam bentuk tablet 250 mg. Dosis awaln 250 mg sehari, lalu dinaikan setiap 5 hari dengan dosis 125 mg – 1 g/hr. Dikonsumsi waktu makan untuk mengurangi iritasi lambung. Paraaminosalisilat Aktivitas bakteri: in vitro, sebagian besar strain M. tuberculosis sensitif dengan kadar 1 g/mL. Farmakokinetik: mudah diserap melalui saluran cerna. Masa paruh 1 jam. Diekskresi 80% di ginjal dan 50% dalam bentuk asetilasi. Efek samping: gejala yang menonjol mual dan gangguan saluran cerna. Dan kelianan darah antara lain leukopenia, agranulositopenia, eosinofilia, limfositosis, sindrom mononukleosis atipik, trombositopenia. Sediaan dan posologi: dalam bentuk tablet 500 mg dengan dosis oral 8-12 g sehari.

Sikloserin Aktifitas bakteri: in vitro, menghambat M.TB pada kadar 5-20 dengan menghambat sintesis dinding sel. Farmakokinetik: baik dalam pemberian oral. Kadar puncak setelah pemberian obat 4-8 jam. Ditribusi dan difusi ke seluruh cairan dan jaringan baik. Ekskresi maksimal dalam 2-6 jam, 50% melalui urin dalam bentuk utuh. Efek samping: SSP biasanya dalam 2 minggu pertama, dengan gejala somnolen, sakit kepala, tremor, vertigo, konvulsi, dll. Sediaan dan posologi: bentu kapsul 250 mg, diberikan 2 kali sehari. Hasil terapi paling baik dalam plasma 25-30 g/mL. Kanamisin dan Amikasin Menghambat sintesis protein bakteri. Efek pada M. tb hanya bersifat supresif. Farmakokinetik: melalu suntikan intramuskular dosis 500 mg/12 jam (15mg/kgBB/hr, atau dengan intravena selama 5 hr/mgg selama 2 bulan,dan dilanjutkan dengan 1-1.5 mg 2 atau 3 kali/mgg selama 4 bulan. Kapreomisin Skenario II “Batuk Darah” 30 g/mL

Efek samping: nefrotoksisitas dengan tanda nnaiknya BUN, menurunnya klirens kreatinin dan albuminuria. Selain itu bisa terjadi hipokalemia, uji fungsi hati buruk, eosinogilia, leukositosis, leukopenia, dan trombositopenia. Efek samping ringan OAT Efek Samping Tidak nafsu makan, mual, sakit perut Nyeri sendi Kesemutan s/d rasa terbakar pada kaki Kemerahan pada air seni Penyebab Rifampisin Pirasinamid INH Rifampisin Penatalaksanaan Semua OAT diminum malam sebelum tidur Beri Aspirin Beri Vitamin B6 (Piridoxin) 100mg/hr Perlu penjelasan ke pasien

Efek samping berat OAT Efek Samping Gatal dan Kemerahan Tuli Gangguan Keseimbangan Ikterus tanpa sebab lain Bingung dan muntahmuntah Gangguan Penglihatan Purpura dan renjatan (syok) Penyebab Semua jenis OAT streptomisin streptomisin Hampir semua OAT Hampir semua OAT Etambutol Rifampisin Penatalaksanaan Ikuti petunjuk pelaksanaan Hentikan,ganti dengan Etambutol Hentikan,ganti dengan Etambutol Hentikan,sampai menghilang Hentikan,segera tes fungsi hati Hentikan Hentikan

a) OAT kategori 1 (2HRZE/ 4H3R3) Panduan OAT ini diberikan untuk: o o o Pasien baru TB paru BTA positif Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru

Skenario II “Batuk Darah” 31

Dosis panduan OAT-KDT kategori 1 Berat Badan 30-37 kg 38-54 kg 55-70 kg ≥70 kg 2 3 4 5 Tahap intensif tiap hari selama 56 hari RHZE (150/75/400/275) tablet 4KDT tablet 4KDT tablet 4KDT tablet 4KDT Tahap lanjutan 3 kali seminggu selama 16 minggu RH (150/150) 2 tablet 2KDT 3 tablet 2KDT 4 tablet 2KDT 5 tablet 2KDT

Dosis panduan OAT-Kombipak kategori 1 Tahap pengobat an Intensif Lanjutan Lama pengobata n 2 bulan 4 bulan Dosis /hr/kali Tablet Isoniazid @300mg r 1 2 Kaplet Rifampisin @450mgr 1 1 Tablet Pirazinamid @500mgr 3 Tablet Etambuto l @250mgr 3 -

b) OAT kategori 2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Panduan OAT ini diberikan untuk BTA positif yang telah diobati sebelumnya: o o o Kambuh Gagal Dengan pengobatan setelah putus berobat

Dosis panduan OAT-KDT kategori 2 Tahap intensif tiap hari RHZE (150/75/400/275)+S 56 hari 2 tab 4KDT+750mg streptomisin inj. 3 tab 4KDT+500mg streptomisin inj. 4 tab 4KDT+1000mg streptomisin inj. 5 tab 4KDT+ 1000mg streptomisin inj. 28 hari 2 tab 4KDT 3 tab 4KDT 4 tab 4KDT 5 tab 4KDT Tahap lanjutan 3 x smgg RH (150/150)+E(400) 20 mgg 2 tab 2KDT+2 tab Etambutol 3 tab 2KDT+3 tab Etambutol 4 tab 2KDT + 4 tab Etambutol 5 tab 2KDT + 5 tab Etambutol

BB 30-37 kg 38-54 kg 55-70 kg ≥71 kg

Skenario II “Batuk Darah” 32

Dosis panduan OAT-Kombipak kategori 2 Tabl et Iso niazi d @30 0 mgr 1 1 Kapl et Rifa m pisin @45 0 mgr 1 1 Tabl et Piraz i nami d @50 0 mgr 3 3 Etambutol Tabl et @25 0 mgr 3 3 Tabl et @40 0 mgr Strep tomisin injeksi jmlh hr/X menelan obat

Tahap pengobatan

Lama Pengobatan

Intensi f (Dosis harian ) Lanjut an (Dosis 3x smgg)

2 bulan 1 bulan 4 bulan

0,75 gr -

56 28

2

1

-

1

2

-

60

(Farmakologi dan Terapi UI; Kuliah Farmako UI)

Skenario II “Batuk Darah” 33

8. Memahami dan Menjelaskan Hukum Merokok Menurut Agama Islam a. Merokok itu sesuatu yang khobits (buruk). (Sudah kami jelaskan di atas dari segi kedokteran dan ilmu pengetahuan, dan akan kami jelaskan dari segi Islam di bawah) Sedangkan Robb-mu di dalam Al Quran mengatakan : ”Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” {QS Al-A’raaf: 157).

b.

Merokok termasuk perbuatan mubadzir. Sedang Rabb-mu subhanahu wataala telah berfirman : ”Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabb-nya.” {QS Al-Israa’: 26-27).

c.

Merokok adalah perbuatan yang berlebih-lebihan / melampaui batas. Sedangkan Alloh subhanahu wataala berfirman : ”Sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” {QS Al-’Araaf: 31}

d.

Merokok sama saja bunuh diri. (Merokok meningkatkan risiko keseluruhan kematian sebesar 70% dibandingkan kepada bukan perokok, dan perokok meninggal 5-8 tahun lebih awal dibandingkan bukan perokok). Sedangkan Alloh tabaroka wa ta’ala berfirman : ”Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Alloh adalah Maha Penyayang kepadamu. Dan barangsiapa berbuat demikian dengan melanggar hak dan aniaya, maka Kami kelak akan memasukannya ke dalam neraka, Yang demikian itu adalah mudah bagi Alloh.” {QS An-Nisa’: 29-30}

e.

Merokok sama saja melemparkan diri dalam jurang kebinasaan. Padahal Alloh subhanahu wata’ala berfirman : ”Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Alloh menyukai orang-orang yang berbuat baik.” {QS Al-Baqoroh: 195}

f.

Merokok dapat menimbulkan bahaya. Sedangkan Rosululloh bersabda : ”Tidak boleh membahayakan diri sendiri maupun orang lain.” {HR Malik dalam ”Al-Muwatho” Kitabul Aqdliyah, Kitabul Qodla’ fil Mirfaq (31), Ibnu Majah (2/75-85) dishohihkan dan disepakati oleh Adz-Dzahabi}

Skenario II “Batuk Darah” 34

g.

Kemudian wahai saudaraku tercinta, bagaimana kamu menyenangkan dirimu dengan cara mengganggu hambahamba Alloh tatkala Anda merokok, Engkau cemari udara, Engkau lukai perasaan orang lain, Engkau ganggu mereka dengan bau tidak sedap, Engkau bahayakan mereka dengan asap rokok-mu bahkan dua kali lebih berisiko terkena penyakit, terlebih lagi kalau Anda merokok di tempat umum. Apakah Anda belum pernah mendengar firman Alloh tabaroka wata’ala : ”Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” {QS Al Ahzab: 58}

h.

Istri anda yang tercinta yang telah mempersembahkan cinta sucinya kepada Anda, harus menanggung akibatnya sehingga dia tidak bisa mendapatkan nafkah biologis (maaf, karena mungkin Anda impotensi), begitu juga dia tercemari bau yang tidak sedap dari Anda. Apakah Anda belum mendengar firman Alloh subhanahu wata’ala : ”Dan para wanita itu mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” {QS Al-Baqoroh: 228}

i.

j.

Anak adalah dambaan setiap orang tua, memiliki keturunan akan selalu diusahakan oleh orang-orang yang berakal. Namun, Anda telah memutus keberadaan mereka, bahkan rokok dapat merusak kehamilan. Kesehatan anak merupakan kenikmatan yang sangat nampak dan pemberian yang sangat agung. Apabila mereka sehat, maka menjadi sebab kebahagian bagi orang tuanya. Tapi apa yang Engkau lakukan, Engkau menjadi sebab timbulnya penyakit pada diri-diri mereka.

k.

Kehidupan sangatlah berharga. Kehidupan itu sendiri amatlah singkat. Namun, Engkau mengurangi waktu kehidupan yang singkat tersebut. Orang yang tidak merokok lebih panjang umurnya dari pada perokok.

Ada pertanyaan : Bagaimana mungkin rokok bisa mengurangi umur padahal Alloh telah menentukan dan mencatat takdir seluruh makhluk sebelum Alloh menciptakan langit dan bumi. Lalu bagaimana dengan firman Alloh : ”Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu (aja); maka apabila telah datang waktunya (ajalnya), mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya? Maka jawabannya : Asy Syaikh Muhammad bin Ibrohim Al-Hamd menjawab, tidak ada pertentangan dalam masalah ini. Sebagaimana Alloh subhanahu wata’ala telah menetukan dan menulis takdir seluruh makhluk, yang diantaranya Alloh mentakdirkan ajal mereka dengan waktu dan umur tertentu. Maka demikian juga Alloh mengaitkan antara sebab dan akibatnya. Skenario II “Batuk Darah” 35

Sebagaimana sehat, bagusnya makanan dan udara, serta mengkonsumsi barang-barang yang bisa menguatkan badan dan hati termasuk sebab yang bisa memanjangkan umur. Maka demikian pula hal yang berkebalikan dari hal tersebut. Termasuk di dalamnya merokok yang tergolong sebagai sebab yang bisa mengurangi umur. Dengan demikian tidak ada pertentangan antara takdir Alloh yang telah mendahului dengan hubungan antara akibat dan sebab.Bahkan disana ada beberapa perkara robbaniah maknawiah yang dengannya bisa bertambah umur seseorang, seperti silaturrohmi, istighfar, dan amalan-amalan secara umum

(http://ackogtg.wordpress.com/2009/02/19/merokok-dilihat-dari-sudut-pandang-kedokterandan-islam/)

Skenario II “Batuk Darah” 36

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->