P. 1
Makalah Bahasa Indonesia

Makalah Bahasa Indonesia

|Views: 3,761|Likes:
Published by serbaada
makalah
makalah

More info:

Published by: serbaada on Mar 09, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/02/2013

pdf

text

original

hAKALAH

ßEßEPAPA HAL PENTINC
0ALAh ßAHASA IN0DNESIA




DIeh
huhamad AdjI, S.S.
NIP 13232107º










Jurusan Sastra IndonesIa
FakuItas Sastra
UnIversItas padjadjaran
JatInangor, 2008



ßEßEPAPA HAL PENTINC
0ALAh ßAHASA IN0DNESIA

1. AFIKSASI
0I bawah InI akan dIjelaskan mengenaI Imbuhan dalam bahasa
ÌndonesIa beserta fungsI dan maknanya.

Α ΑΑ Α. FungsI Imbuhan
Ìmbuhan atau afIks terdIrI atas awalan sepertI men¤·, ber·, ter·, ke·, per·,
dì·, sIsIpan sepertI -em·, ·el·, ·er·, ; akhIran sepertI -kcn, ·l, ·cn;
gabungan Imbuhan sepertI ber·cn, per·cn, ke·cn. SetIap Imbuhan
mempunyaI fungsI sebagaI pembentuk jenIs kata. FungsI·fungsI tersebut
bIsa dIlIhat pada contoh pada table berIkut InI :

No. Imbuhan FungsI Contoh
1. me· KK mencabut
menulIs
2. me·kan KK mengunIngkan
J. me·I KK mencabutI
menangIsI
4. pe· K8 penanam
pelamar
5. pe·an K8 pembacaan
pengeboman
6. ber· KK bekerja
berlarI
7. ber·an KK bergandengan
berjualan
8. ter·

KK terjatuh
tertulIs
KS tercantIk
terjauh
9. ke·an

KK kejatuhan
kehujanan
K8 kedudukan
kedamaIan
KS kekecIlan
kebesaran
10. per·

KK perkecIl
pertebal
K8 peternak
peserta
11. dI· KK dIpukul
dIbaca
12. dI·kan KK dIhItamkan
dIkembalIkan
1J. dI·I KK dItulIsI
dItaburI
14. memper·I KK memperbudak
mempercepat
15. dIper· KK dIperlebar
dIpertajam
16. memper·kan KK mempertahankan
mempersatukan
17. dIper·kan KK dIperdagangkan
dIperdebatkan
18. memper·I KK memperbaIkI
mempersenjataI
19. dIper·I KK dIperbaruI
dIperbaIkI
20. ·em· KK gemetar
·el·
·er·
K8
K8
gelembung
gerIgI
21. ·kan
·I
KK
KK
hItamkan
cabutI


ß. hakna Imbuhan
Ìmbuhan memIlIkI kemampuan mengubah jenI kata menjadI jenIs kata laIn.
Ìmbuhan juga mampu mengubah makna sebuah kata makna·makna
tersebut bIsa dIlIhat pada contoh makna darI beberapa Imbuhan dI bawah
InI :

No. Imbuhan hakna Contoh
1. me· |embuat
|enjadI
|enuju
|engeluarkan
8erlaku sepertI
|enyambal
|engeras
|elaut
|endesIs
merajalela
2. me·kan |embuat jadI
|emberI
|enganggap
SebagaI
8enefaktIf/untuk
orang laIn
|asuk
|enghItamkan
|endoakan
|endewakan
|embawakan

memenjarakan
J. me·I |embuat jadI
|emberI
|embuang
ÌntensItas
|embasahI
|engaIrI
|engulItI
memukulI
4. pe· Alat
Pelaku
Pemotong
pemaIn
5. pe·an Proses
HasIl
Pembahasan
pengumuman
6. ber· |engadakan
|empunyaI
|enggunakan
|engeluarkan
Kelompok
0alam keadaan
Untuk dIrI
sendIrI
8erpesta
8erharta
8erdasI
8erludah
8erempat
8ersedIh
bercukur
7. ber·an 8anyak
SalIng
berjatuhan
berpukulan
8. ter·

Telah dI·
0apat dI·
PalIng
Yang dI·
Tercatat
Terbaca
TercantIk
terdakwa
9. ke·an

Tempat
Terlalu
Terkena
0apat dI·
Agak
Hal
Kecamatan
Kebesaran
Kehujanan
KelIhatan
Kemerahan
kedunIaan
10. per·

Yang ber·
Yang dI·
0Ibuat jadI
0Ianggap
Peternak
Pesuruh
Percepat
peralat
11. dI· 0IkenaI dIpukul
12. dI·kan 0IberI
0Ibuat jadI
0Ianggap
0Imasukkan
0IIzInkan
0Itenggelamkan
0Itukarkan
dIkandangkan
1J. dI·I 0IberI
0Ibuat jadI
ÌntensItas
0Ibuang
0IaIrI
0IbasahI
0IpukulI
dIkulItI
14. memper· |engganggap
|embuat jadI
|emperalat
memperluas
15. dIper· 0Ianggap
0Ibuat jadI
0Iperbudak
dIperalat
16. memper·kan |embuat jadI
|emberI
memperhatIkan
mempertahankan
17. dIper·kan 0Ibuat jadI
0IberI
0Ianggap
0Ipermalukan
0IperhatIkan
dIpermaInkan
18. memper·I |embuat jadI
|emberI
memperbaIkI
mempersenjataI
19. dIper·I dIbuat jadI
dIberI
0IperbaIkI
dIpersenjataI
20. ·em·
·el·
·er·
8erkalI·kalI
banyak
banyak
gemetar
gelembung
gerIgI
21. ·kan
·I
0Ibuat jadI
0Ibuat jadI
hItamkan
cabutI


2. PE0UPLIKASI

Pada bagIan InI akan dIbahas mengenaI jenIs·jenIs reduplIkasI dan
maknanya.
A. JenIs-JenIs PedupIIkasI
FeduplIkasI dalam bahasa ÌndonesIa dIbagI menjadI empat jenIs.
JenIs·jenIs tersebut dapat dIlIhat pada tabel berIkut InI :
No. JenIs ßentuk 0asar Contoh
1. utuh cepat
buah
larI
cepat·cepat
buah·buah
larI·larI
2. berImbuhan buah·buah
orang·orang
talI·talI
buah·buahan
orang·orangan
talI·temalI
J. berubah bunyI gerak
balIk
sayur
lauk
gerak·gerIk
bolak·balIk
sayur·mayur
lauk·pauk
4. sebagIan luhur
layu
berjalan
melambaIkan
Pohon
berdesakan
leluhur
lelayu
berjalan·jalan
melambaI·
lambaIkan
pepohonan
berdesak·desakan
5. dwI purwa tamu
sama
tetamu
sesama

0alam bahasa ÌndonesIa juga dIkenal bentuk ulang dIluar keempat jenIs
dI atas. 8entuk ulang yang dImaksud dIsInI adalah kctc µlcn¤ semµ. Kata InI
dIsebut kata ulang semu karena bentuknya menyerupaI kata ulang. Karena
tIdak memIlIkI bentuk dasar. Kata·kata InI tIdak dIkelompokkan jenIs kata
ulang.
Contoh : cncì·cncì, pcrµ·pcrµ, pµrc·pµrc, µbµn·µbµn

ß. hakna PedupIIkasI
|akna reduplIkasI antara laIn :
1. banyak tIdak tentu : negara·negara, orang·orang
2. banyak bermacam·macam : sayur·sayuran, buah·buahan
J. menyerupaI : langIt·langIt, kuda·kudaan, rumah·rumahan
4. agak : kemerah·merahan
5. IntensItas : secepat·cepatnya, kuat·kuat, berlarI·larI
6. salIng : berpandang·pandangan, tarIk·menarIk
7. kumpulan : dua·dua, tIga·tIga
8. walaupun : kecIl·kecIl (cabe rawIt)

C. KomposIsI
Pada umumnya struktur kata majemuk hampIr sama sepertI dengan
kata bIasa. Ìa tIdak dapat dIpecah·pecahkan menjadI bagIan yang lebIh kecIl
lagI atau dIsIsIpI bentuk laIn dItengah·tengah bagIan tersebut. Perlu dIIngat
bahwa kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebIh yang membentuk
satu kesatuan artI, ada beberapa contoh yang memang dapat dIpandang
sebagaI kata majemuk, tetapI dapat dIpandang juga hanya sebagaI kelompok
kata saja.

1. PoIa Pemajemukan
Pola pemajemukan kata majemuk harus selalu sesuaI dengan prInsIp.
PrInsIp dImaksudkan sebagaI batasan atau cIrI·cIrI yang dImIlIkI atau
yang harus dImIlIkI oleh kata majemuk tersebut, yaknI :
a. Cabungan Itu memunculkan makna baru
b. Hubungan antara keduanya tIdak dapat dIpIdahkan
c. 8Iasanya terdIrI kata dasar
d. FrekuensI pemakaIan tInggI

2. SIfat Kata hajemuk
a. Kata majemuk eksosentrIs
Kata majemuk InI antarunsurnya tIdak salIng menerangkan.
Contoh : lckì bìnì, tµc mµd, tìkcr bcntcl, dan sebagaInya.
b. Kata majemuk endosentrIs :
Kata majemuk InI salah satu unsurnya menjadI IntI sedang unsur laIn
menerangkannya.
Contoh : rµmch sckìt, pcn]cn¤ µmµr, scpµ tcn¤cn, dan sebagaInya.


3. hacam Kata hajemuk
a. Kata majemuk setara (dwandwa)
|enurut sIfatnya, kata majemuk InI dIgolongkan dalam kata
majemuk eksosentrIs.
Contoh : scnck scydcrc, tìkcr bcntcl.
b. Kata majemuk tak setara
|enurut sIfatnya kata majemuk InI dIgolongkan ke dalam kata majemuk
endosentrIs

4. hakna Pemajemukan
Proses pemajemukan/komposIsI menghasIlkan kata
majemuk/komposItIum. |akna kata majemuk bergantung pada konteks
kalImat. Yang perlu menjadI perhatIan Ialah bahwa kata majemuk ada
yang bermakna kIas, ada yang sebenarnya, dan kata majemuk selalu
mempunyaI makna baru.
PerhatIkan :
a. rumah + sakIt → rumah sakIt (makna sebenarnya)
b. kambIng + hItam → kambIng hItam (makna kIas = tumpuan
kesalahan)

3. FPASE 0AN KALIhAT TUNCCAL

A. Frase
Frase adalah satuan bahasa yang terdIrI darI dua kata atau lebIh yang
tIdak melampauI bats fungsI unsur klausa atau kalImat. Frase selalu trdapat
dalam satu fungsI unsur klausa atau kalImat, yaItu S, P, D, atau K.

2. PembagIan Frase
a. 8erdasarkan dIstrIbusI menurut unsurunya :
a). Frase EksosentrIs :
Frase InI tIdak mempunyaI dIstrIbusI yang sama dengan semua
unsurnya.
Contoh : dI halaman, pada Ibunya, ke perpustakaan, dan sebagaInya.
b). Frase EndosenntrIk
Frase InI mempunyaI dIstrIbusI yang sama dnegan unsrnya, baIk semua
unsurnya maupun salah satu darI unsurnya.
Frase endosentrIk dIbedakan menjadI :

(1) Frase endosentrIk yang koordInatIf :
Frase endosentrIk InI terdIrI atas unsur·unsur yang setara
Contoh :
SuamI IstrI
TIga empat (bulan)
PembInaan dan pelaksanaan
8elajar atau bekerja

(2) Frase endosentrIk yang atrIbutIf :
Frase endosentrIk InI terdIrI darI unsur·unsur yang tIdak setara.
Contoh :
halaman luas
0P Atr
bulan InI
0P Atr
sedang makan
Atr 0p

(UP = unsur pusat/IntI)
(Atr = atrIbut)

(J) Frase endosentrIk yang aposItIf :
frase endosentrIs InI atrIbutnya berupa aposIsI.
Contoh :
Ìvone, teman baruku, (menjadI juara satu)
Atr
Yogya, kota pelajar,.
8ung Karno, PresIden pertama FÌ, .

b. 8erdasarkan persamaan dIstrIbusI dengan golongan atau kategorI kata yang
menjadI unsur IntInya (UP) :
a) Frase nomInal
Frase InI UP·nya berupa NomInal / K8
Contoh :
bµkµ baru
sìswc lama
kcntor Pajak
orcn¤ tµc yang bIjaksana

b) Frase 7erbal
Frase InI UP·nya berupa verbal / KK.
Contoh :
Telah dctcn¤
Sudah dapat bìccrc
ÌngIn bertemµ

c) Frase bIlangan / numeral
Frase InI UP·nya berupa kata bIlangan.
Contoh :
dµc ekor (kambIng)
lìmc puluh kIlogram (beras)
sembìlcn saja

d) Frase keterangan
Frase InI mempunyaI dIstrIbusI yang sama dengan kata keterangan.
Contoh :
tcdì malam
kemcrìn sIang
besok sore
sekcrcn¤ InI

e) Frase depan / preposIsIonal
Frase InI terdIrI atas kata depan (preposIsI) sebagaI penandanya.
Contoh :
dì sebuah gedung
dcrì kota
ke 8anyuwangI
tentcn¤ masalah Itu
kepcdc sahabat karIbnya

f) Frase adjektIval / sIfat
Frase InI IntInya berupa kata sIfat.
Contoh :
Sangat ]cµh
pcn]cn¤ sekalI
Terlalu ekonomìs

ß. KaIImat TunggaI
8erbIcara masalah pola pembentukan kalImat, kIta tIdak lepas darI
persoalan jabatan atau fungtor kalImat. Terdapat lIma fungtor yaItu subjek
(S), predIkat (P), objek (D), keterangan (K), dan pelengkap (Pel.).

1. Subjek (S) : pokok / IntI pIkIran, atau sesuatu yang berdIrI sendIrI dan
tentangnya dIjelaskan oleh yang laIn.
CIrI S : • berjenIs kata benda atau yang dIbendakan
• menjadI IntI / pokok pIkIran
• dIjelaskan oleh bagIan laInnya
• menjadI jawaban darI pertanyaan "sìcpc" atau "cpc"
AposIsI S : keterangan subjek, sebagaI bagIan S dan dapat berfungsI
menggantIkan S, jIka S tersebut dItIadakan.

Mìsclnyc : 0dìn, cnck Kcsìm, pcndcì.

2. PredIkat (P) : bagIan kalImat yang menjelaskan tentang sIfat atau
perbuatan.
CIrI P : • bertugas menjelas S
• berjenIs kata kerja, kata benda, kata sIfat, kata depan, kata
bIlangan
• menjadI jawaban darI pertanyaan "men¤cpc", "bc¤cìmcnc".

J. Dbjek (D) :
Dbjek yang tergolong nomInal tak bernyawa atau orang ketIga tunggal,
nomIna objek Itu bIsa bergantI dengan pronomInanya dan jIka berupa
pronomIna ckµ dan kcmµ (tunggal), bentul -kµ dan -mµ dapat dIgunakan.
Mìsclnyc : AdIk mengunjungInya.
Saya mencIntaImu.

4. Keterangan (K)
Ket. Waktu / tempat : sebelum, sesudah, selama,
nantI, besuk, kemarIn, pada, dalam
Ket. Tempat / lokatIf : dI
Ket. Ìnstrumental : dengan tongkat
Ket. Sebab / kausal : sebab, karena
Ket. AkIbat / konsekutIf : sampaI/ hIngga
Ket. Tujuan / fInal : agar, untuk, supaya, bagI, demI
Ket. Kesertaan / komItatIf : adIk pergI bersama ayah.
Ket. Syarat / kondIsIonal : jIka, apabIla
Ket. Perlawanan / konsesIf : meskIpun, walaupun
Ket. Jumlah / kuantItatIf : AdIk jatuh tIga kalI
Ket. 8obot/ kualItas : dengan + kata sIfat
Ket. PerbandIngan / komparatIf / sImIlatIf : seeprtI, bagaIkan
Ket. |odalItas : betul·betul, pastI, sungguh

5. Pelengkap
Drang serIng mengacaukan pengertIan objek dan pelengkap
(komplemen). Hal Itu bIsa dImengertI karena bentuk dan posIsI (keberadaan)
keduanya memIlIkI beberapa kemIrIpan. Akan tetapI, persamaan dan
perbedaan antara objek dan pelengkap dapat dIlIhat pada cIrrI·cIrI berIkut :

Dbjek PeIengkap
1. berwujud nomInal atau klausa
Contoh : Saya memukul 8udI.
1. berwujud nomInal, verbal, atau
klausa
Contoh : Drang Itu bertubuh raksasa.
Ìa belajar menarI.
Ìa bertanya kapan saya pulang.
2. langsung berada dI belakang
predIkat aktIf transItIf.
Contoh : |ereka mempelajarI teorI
InI.
2. Langsung berada dI belakang
predIkat aktIf taktransItIf serta
semItransItIf.
Contoh : Negara InI berdasarkan
hokum.
0Ia mencarIkan saya pekerjaan.
J. menjadI subjek bIla dIpasIfkan
Contoh : TeorI InI mereka pelajarI.
J. tak dapat menjadI subjek akIbat
pemasIfan kalImat karena kalImat
tIdak dapat dIpasIfkan.
4. dapat dIgantI dengan promIna·nya 4. tIdak dapat dIgantI dengan·nya
5. TIdak dapat dIdahuluI preposIsI.
Contoh : Ìa membIcarakan hal Itu.
5. 0apat dIdahuluI preposIsI
Contoh : Ìa berbIcara tentang hal
Itu.

Sebuah kalImat tIdak harus mempunyaI jabatan secara lengkap S, P, D, K, Pel.
KalImat dapat berupa S·P saja yang dIsebut dengan kalImat dasar. 0alam
bahasa ÌndonesIa dIkenal 5 pola kalImat dasar, yaItu :
1. K8 + K8 Ayah pedagang.
2. K8 + KK Tono pergI.
AdIk belajar
J. K8 + KS Temanku rajIn.
Ìbuku cantIk.
4. K8 + K. 8Il AdIkku dua orang.
KambIng Itu lIma ekor.
5. K8 + K.0ep Ayah dI rumah.
ArIs ke sekolah

C. KaIImat IntI dan TransformasI

KalImat InI adalah kalImat yang terdIrI atas IntI S·P atau pada kalImat aktIf
transItIf terdIrI atas IntI S·P·D, sedangkan kalImat IntI yang sudah menjalanI
perubahan dIsebut kalImat transformasI.

CIrI·cIrI / dan Contoh :

KaIImat IntI KaIImat TransformasI
1. TerdIrI darI IntI fungsI S·P atau S·
P·D
1. JIka terjadI penambahan atau
pengurangan fungsI kalImat
0ìc ckcn per¤ì ke 1ckcrtc
Per¤ì !
2. ÌntonasI netral 2. TerjadI perubahan IntonasI
(susunan)
0ìc per¤ì ³
J. Susunan normal J. TerjadI perubahan susunan
(dIInversIkan) Per¤ì dìc.
4. 8entuknya posItIf 4. TerjadI penegatIfan
0ìc tìdck per¤ì.


4. KALIhAT hAJEhUK

A. KaIImat hajemuk Setara, ßertIngkat, Campuran

1. KalImat |ajemuk Setara
KalImat majemuk setara adalah kalImat majemuk yang pola·pola
kalImatnya memIlIkI kedudukan sederajat. 0I dalam kalImat tersebut
tIdak terdapat pola kalImat yang mendudukI suatu fungsI tertentu lebIh
tInggI darI pola yang laIn.

Ada tIga jenIs kalImat majemuk setara :
a. Setara menggabungkan
Contoh : · TInI belanja sayuran dcn Ibu memasak·nya.
· Ayah mengambIl buku kemµdìcn membacanya.

b. Setara memIlIh
Contoh : Engkau dI sInI ctcµ Ikut pulang saja.

c. Setara mempertentangkan
Contoh : · AdIknya rajIn, tetcpì Ia sendIrI malas
· Ìa tIdak menjaga adIknya, tetcpì membIarkannya bermaIn.

2. KalImat |ajemuk 8ertIngkat
KalImat majemuk bertIngkat mengandung dua pola kalImat atau
lebIh yang tIdak sederajat. Salah satu pola mendudukI fungsI utama
kalImat yang lazIm dIsebut sebagaI Induk kalImat, sedangkan pola yang
lebIh rendah kedudukannya dIsebut anak kalImat.


CIrI kalImat majemuk bertIngkat :
a) terdIrI atas klausa Induk dan klausa anak
b) kalusa anak menggantIkan fungsI yang ada dalam kalImat tunggal

Pada bagIan berIkut dIsajIkan beberapa contoh anak kalImat (klausa
anak) :
a) Anak kalImat penggantI subjek
Contoh :
8ahwa Ia marah sudah kamI ketahuI
S P
S·P

b) Anak kalImat penggantI objek
Contoh :
Ayahku orangnya gemuk
S P
S·P

c) Anak kalImat penggantI objek
Contoh :
Ìa tIdak mengetahuI bahwa kamI telah menIkah
S P D
S·P

d) Anak kalImat penggantI keterangan tujuan
Contoh :
Ìa mengajak orang·orang Itu agar mereka bersama
S P D K


S·P

e) Anak kalImat penggantI keterangan waktu
Contoh :
Ìa datang ketIka saya belajar
S P K
S·P

J. KalImat |ajemuk Campuran
KalImat majemuk campuran dapat terdIrI atas satu Induk kalImat
dan sekurang·kurangnya dua anak kalImat, atau sekurang·kurangnya
dua Induk kalImat dan satu atau lebIh anak kalImat.
Contoh :
Saya menulIs surat dan adIk menonton televIsI ketIka ayah pulang kerja
S P D S P D K
S·P


5. KALIhAT EFEKTIF

KalImat efektIf adalah kalImat yang dapat mengungkapkan gagasan,
pIkIran, dan perasaan dengan tepat dItInjau darI struktur, dIksI, dan
logIkanya. 0engan kata laIn kalImat efektIf selalu berterIma secara tata
bahasa dan makna. KetIdakefektIfan suatu kalImat dapat dIsebabkan berbagaI
hal, antara laIn :
1. kontamInasI 6. kesalahan logIka
2. pleonasme 7. ketIdaktepatan bentuk kata
J. ambIguItas 8. ketIdaktepatan makna kata
4. tIdak jelas unsur subjek 9. pengaruh bahasa daerah
5. kemubazIran preposIsI 10. pengaruh bahasa asIng







Contoh :

KaIImat TIdak EfektIf KaIImat EfektIf
1. |ereka sedang mempertìn¤¤ìkcn
pematang.
2. 8cnyck cnck·cnck bermaIn
belerang.
J. 0atanglah pcdc µlcn¤ t chµn
cnckkµ ycn¤ kedµc.

4. Kepcdc para sIswa dIharap tenang.
|ereka sedang menInggIkan
pematang.
|ereka sedang memeprtInggI
pematang.
8anyak anak bermaIn kelereng.
Anak·anak bermaIn kelereng.
0atanglah pada ulang tahun anakku·
yang kedua (anak kedua)
Para sIswa harap tenang.
5. Anak dcrì Pak Ahmad menjadI
polIsI.
6. PencurI berhcsìl dItangkap polIsI.
7. |ereka dImIntaI
pertcn¤¤µn¤]cwcbcnnyc.
8. Ìa sedang marah sehIngga ccµh
ketIka melIhatku.
9. Fumahnyc Pak 0Irman sedang
dIcat.
10. Saya tIdak mengetahuI dìmcnc Ia
sembunyI.
Anak Pak Ahmad menjadI polIsI.
PencurI telah dItangkap polIsI.
|ereka dImIntaI
pertanggungjawabannya.
Ìa sedang marah sehIngga tIdak acuh
ketIka melIhatku.
Fumah Pak 0Irman sedang dIcat.
Saya tIdak mengetahuI tempat
persembunyIannya.









6. hAKNA

A. hakna LeksIkaI dan hakna CramatIkaI
1. |akna LeksIkal
|akna leksIkal adalah makna kata yang kurang lebIh bersIfat tetap
dapat juga dIkatakan bahwa majna leksIkal sesuaI dengan acuannya, sesuaI
dengan hasIl observasI alat Indera atau makna yang sungguh ada dalam
kehIdupan kIta.
Contoh : tIkus (TIkus Itu dImakan kucIng).

2. |akna CramatIkal
|akna gramatIkal adalah makna kata yang muncul akIbat perIstIwa
gramatIkal (ketatabahasaan).
|akna gramatIkal InI bIasa tImbul, karena :
a. Urutan kata
SInta mengajak WenI pergI
WenI mengajak SInta pergI
b. ÌntonasI
Agus pergI.
Agus pergI :
c.8entuk kata
Adam tIdur dI aula
Teguh tertIdur dI aula
d. Kata tugas
Wawan makan dcn mInum dI sInI.
Cahyo makan ctcµ tIdur dI sInI.

ß. IstIIah dan Kata
ÌstIlah adalah kata atau gambaran kata yang dengan cermat
mengungkapkan suatu konsep·konsep, proses, keadaan, atau sIfat yang khas
dalam bIdang tertentu. Untuk memahamI IstIlah yang dIpakaI dalam suatu
kalImat, kIta harus tahu artI dan penggunannya.

|Isalnya : · KIta perlu mengadakan dìversìfìkcsì tanaman untuk
menIngkatkan hasIl pertanIan kIta.
· Para sIswa sedang men¤ìdentìfìkcsì data angket yang akan
dItelItI.
· Ìbu yang sedang sakIt Itu dIperIksa µrìnenyc.

C. hakna 0enotatIf dan KonotatIf
|akna denotcsì adalah makna yang sebenarnya, baIk sebagaI kata lepas
maupun dalam kalImat.
Contoh : Saya ter]ctµh darI pohon
|ereka sedang mckcn nasI
|akna konotcsì adalah makna yang memerlukan beragaI penafsIran (makna
ganda). 0engan kata laIn mana konotasI mendukung makna tIdak sebenarnya.

0. Perubahan hakna
Kata·kata dalam bahasa tertentu mengalamI perubahan artI.
Terdapat enam jenIs perubahan artI.
1. |eluas/generalIsasI
|akna kata sekarang lebIh luas darIpada makna asalnya
Contoh : petanI, peternak, berlayar, Ibu.
2. |enyempIt/spesIalIsasI
|akna sekarang lebIh sempIt darIpada makna kata asalnya.
Contoh : pendeta, sarjana
J. AmelIoratIf
|akna kata sekarang lebIh baIk darIpada makna kata asalnya.
Contoh: wanIta, pramunIkmat, warakawurI
4. PeyoratIf
|akna sekarang lebIh jelek darIpada makna kata asalnya.
Contoh : kawIn, gerombolan, oknum
5. SInestesIa
|akna kata yang tImbul karena tanggapan dua Indera yang berbeda.
Contoh: Namaya harum

6. AsosIasI
|akna kata yang tImbul karena persamaan sIfat
Contoh : HatI·hatI menghadapI tukang catut dI bIoskop Itu.

E. Hubungan hakna
1. Sìnonìm adalah kata·kata yang memIlIkI kesamaan atau kemIrIpan makna.
Contoh : sìµmcn = scdcr
dctcn¤ = tìbc = scmpcì
2. Anonìm adalah kata·kata yang memIlIkI makna berlawan.
Cotoh : bescr·kecìl
ctcs·bcwch
sìcn¤·mclcm
J. Polìsemì adalah suatu kata yang memIlIkI makna ganda. Namun demIkIan,
dI ntara makna tersebut masIh terdapat hubungan makna.
Contoh : Anck saya sakIt. (keturunan)
Ìa cnck buahku. (bawahan)
HatI·hatI, cnck tangga Itu rapuh. (bagIan tangga yang dIInjak)
4. Hìponìm adalah suatu kata yang maknanya telah tercakup oleh kata yang
laIn. Hubungan makna kata satu dengan yang laIn akan menghasIlkan kata
(superordInat dan subordInate).
5.
Alat tulIs ....→ superordInat (hIpernIm)
↓ ↓ ↓
PensIl buku pena ....→ subordInate (hIponIm)
|____________|
KohIponIm
6. Hìpernìm adalah suatu kata yang maknanya mencakup makna kata yang
laIn.
Contoh :
|amalIa
↓ ↓ ↓
Kuda sapI kambIng

7. Homonìm adalah kata·kata yang memIlIkI kesamaan ejaan dan bunyI namun
artInya berbeda.
Contoh :
8µlcnì InI adIkku menIkah.
|alam InI bµlcn tIdak bersInar.
8. Homofon adalah kata·kata yang memIlIkI bunyI sama tetapI ejaan dan
artInya berbeda.
Contoh : Saya tIdak scn¤sì lagI.
Yang melanggar akan mendapatkan scnksì.
0Ilarang masuk dalam ladIng perbµrµcn.
KIta harus menaatI peraturan Undang·Undang perbµrµhcn.
9. Homo¤rcf adalah kata·kata yang memIlIkI tulIsan sama tetapI bunyI dan
artInya berbeda.
Contoh : Ìa tIdak mau tchµ.
Nenekku suka makan tchµ.
Catatan : HomonIm serIng dIkacaukan dengan polIsemI. Keduanya mempunyaI
perbedaan sepertI sebagaI berIkut :
No HDhDNIh No PDLISEhI
1.
2.
J.
8erupa dua kata atau lebIh.
TIdak ada hubungan artI.
0Ipergunakan secara
denotatIf.
1.
2.
J.
8erasal darI satu kata
Ada hubungan artI
0Ipergunakan secara
konotatIf kecµclì kata
Induknya.





7. PAPACPAF

A. Paragraf
Paragraf merupakan bagIan wacana yang merupakan satu kesatuan
kalImat·kalImat penjelas. Paragraf yang baIk harus memenuhI krIterIa yaItu
memIlIkI satu Ide pokok atau satu pIkIran utama dan beberapa pIkIran
penjelas antarkalImat yang salIng berkaItan/berkoherensI sehIngga merupakan
satu kesatuan. KalImat yang memuat satu Ide pokok/pIkIran utama dIsebut
kalImat utama. KalImat yang mengandung pIkIran penjelas dIsebut kalImat
penjelas. Paragraf yang kalImat utamanya terletak pada awal paragraf dIsebut
paragraf dedµktìf. Paragraf yang kalImat utamanya terletak dI akhIr paragraf
dIsebut paragraf ìndµktìf.

ß. JenIs Karangan
JenIs karangan ada lIma, yaItu :
1. EksposIsI
Karangan InI berIsI uraIan penjelasan tentang suatu topIk dengan tujuan
memberI InformasI. TIdak jarang eksposIsI berIsI langkah/ cara/ proses kerja.
EksposIsI demIkIan dIsebut paparan proses.
Contoh :
|embaca IntensIf merupakan kegIatan membaca secara telItI atau
membaca secara seksama bacaan berupa teks. Tujuan membaca dengan cara
InI untuk mendapatkan pemahaman IsI bacaan secara tepat dan rIncI.
|Isalnya, mengetahuI hal·hal yang dIperlukan.

2. ArgumentasI
Karangan InI bertujuan membuktIkan kebenaran suatu pendapat/
kesImpulan dengan data/ fakta konsep sebagaI alasan/buktI.
Contoh :
AIr yang tergenang sepertI dI kaleng·kaleng bekas dan selokan harus
dIbersIhkan. AIr yang tergenang Itu tIdak boleh dIbIarkan karena akan menjadI
sarang nyamun. Nyamuk akan bertelur dan berkembang bIak dI genangan aIr
tersebut.

J. 0eskrIpsI
Karangan InI berIsI gambaran mengenaI suatu hal/ keadaan sehIngga
pembaca seolah/olah melIhat, merasa, atau mendengar hal tersebut.
Contoh :
|alam Itu Indah sekalI. 8Intang·bIntang dI langIt berkerlap·kerlIp
memancarkan cahaya. Udara dIngIn menusuk kulIt. SesekalI terdengar suara
jangkrIk mengusIk sepInya malam.

4. PersuasI
Karangan InI bertujuan untuk mempengaruhI emosI pembaca agar
berbuat sesuatu.
Contoh :
Penggunaan pestIsIda dan pupuk kImIa untuk tanaman dalam jangka
waktu lama tIdak lagI menyuburkan tanaman dan memberantas hama.
PestIsIda justru dapat mencemarI lIngkungan dan menjadIkan tanah lebIh
keras, sehIngga perlu pengolahan dengan bIaya yang tInggI. Dleh karena Itu,
hIndarIlah penggunaan pestIsIda secara berlebIhan.

5. NarasI
Karangan InI berIsI rangkaIan perIstIwa yang susul menyusul sehIngga
membentuk alur cerIta. Karangan jenIs InI sebagIan besar berdasarkan
ImajInasI.
Contoh :
HafIz terkejut mendengar suara kemenakannya Itu. 0engan segera
dItarIknya talI tImba pengangkat tanah, tempat Abdullah bergantung. KetIka
Itu tampaklah oleh HafIz mata aIr berbusa·busa naIk ke atas dengan cepat,
besar, dan jenIs.


C. KaIImat Utama dan KaIImat PenjeIas
Kclìmct µtcmc Ialah kalImat yang berIsI masalah/ kesImpulan sebuah
paragraf. Letaknya dapat dI awal paragraf (dedµksì), dI akhIr (ìndµksì), atau
dI awal dan dI akhIr (dedµksì·ìndµksì).
Kclìmct pen]elcs, Ialah kalImat yang berIsI penjelasan terhadap hal
yang dInyatakan dalam kalImat atau berIsI hal·hal khusus.
Contoh :
8cnyck orcn¤ membccc sebµch bccccn den¤cn tµ]µcn ìn¤ìn
mendcpctkcn ìnformcsì dcrì bccccn tersebµt. ÌnformasI yang IngIn dIperoleh
mungkIn sudah pernah dIdengar, tetapI lebIh meyakInkan lagI dengan
membaca langsung. |embaca bacaan berIsI InformasI yang pernah dIbaca
sebelumnya dan IngIn mengIngat lagI InformasI Itu lebIh baIk. ApalagI
membaca suatu bacaan yang berIsI InformasI baru, tentu akan dIcermatI
dengan baIk atau mungkIn akan mencatat InformasI tersebut.
KalImat yang tercetak mIrIng dalam bacaan tersebut berupa kclìmct
µtcmc dan kalImat·kalImat berIkutnya merupakan kclìmct pen]elcs.

0. JuduI ßacaan
PemberIan judul bacaan harus mempertImbangkan IsI bacaan. Judul
harus menarIk, sIngkat, mudah dIIngat, menggambarkan IsI, berupa kata atau
frase. Judul harus dItulIs dengan mengacu pada EY0, yaItu menggunakan
huruf kapItal sebagaI huruf pertama semua kata, termasuk semua unsur kata
ulang sempurna, kecualI kata sepertI dI, ke, darI, dan, yang, untuk, yang
tIdak terletak pada posIsI awal. Judul tIdak boleh dIakhIrI tanda tItIk ( . )
Contoh :
0asar·0asar FIsIka |odern
Peran Puskesmas pada Era FeformasI





8. WACANA

A. Cagasan Utama
Cagasan utama bacaan adalah hal utama yang dIbahas atau dIungkakan
dalam bacaan. Cagasan dIungkapkan dengan kata atau frase. Letak gagasan
utama dI awal paragraf (deduktIf), dI akhIr (InduktIf), atau dI awal dan dI
akhIr (deduktIf·InduktIf). 0alam paragraf berjenIs narasI dan deskrIpsI gagasan
utama dapat tersebar dI seluruh kalImat.
Contoh 1 :
8acaan yang baIk untuk anak berIsI contoh yang baIk·baIk pula. Cara
yang dapat dIlakukan dengan menampIlkan tokoh kartun, boneka,
badut yang lucu, tetapI mengandung unsur pendIdIkan. Tokoh bInatang
yang cerdIk pun dapat pula mewakIlI pesan moral. |Isalnya, kancIl
menIpu buaya atau sejenIsnya. Tokoh orang bertubuh raksasa, tetapI
sangat baIk terhadap sesama.

Cagasan utama paragraf terdapat dI awal paragraf (deduksI), yaItu
bacaan yang baIk untuk anak.

Contoh 2 :
Sudah ad aIde, tetapI sukar untuk dItuangkan. Selalu dIhadapkan
dengan persoalan apa yang hendak dItulIs: Seberapa panjang tulIsan
yang akan dItulIs. KerIngnya pengetahuan terhadap topIk yang hendak
dIkembangkan. 0emIkIanlah pengalaman seseorang pada awal belajar
menulIs.

Cagasan utama paragraf terdapat dI akhIr (InduksI), yaItu pengalaman
berlajar menulIs.




ß. henarIk KesImpuIan
0alam menyusun pendapat uuntuk menarIk kesImpulan yang benar, kIta
harus menggunakan pola berpIkIr/penalaran yang besar pula. Pola penalaran
dIbagI menjadI dua, yaItu deduktIf dan InduktIf.

1. Penalaran deduktIf
YaItu dImulaI dnegan mengemukakan pernyataan yang umum (premIs
umum/mayor) dIIkutI pernyataan khusus (premIs khusus/mInor) menarIk
kesImpulan terhadap hal yang khusus. Penalaran demIkIan dIsebut juga
sìlo¤ìsme.

2. Penalaran InduktIf
YaItu dImulaI dengan fakta·fakta yang menjadI sebab menuju
kesImpulan umum berdasarkan hal·hal yang khusus tersebut. |acam·macam
penalaran InduktIf :
a. CeneralIsasI : perumusan kesImpulan umum berdasarkan data/ kejadIan·
kejadIan yang bersIfat khusus.
b. Sebab·akIbat : dImulaI dengan fakta·fakta yang menjadI sebab menuju
kesImpulan yang menjadI akIbat.
c. AkIbat·sebab : dImulaI dengan fakta·fakta yang menjadI akIbat lalu kIta
analIsIs untuk mencarI sebabnya.
d. AnalogI : adalah pengambIlan kesImpulan dengan asumsI bahwa jIka dua
atau beberapa hal memIlIkI banyak kesamaan, maka aspek laIn pun memIlIkI
kesamaan.







º. LDCIKA

A. PenaIaran
1. Penalaran ÌnduksI
a. Penclcrcn ¤enerclìscsì
|erupakan bagIan penalaran ìndµksì. PenarIkan berdasarkan data yang
sesuaI dengan fakta atau data. Fakta atau data dapat dIperoleh melaluI
penIlaIan, pengamatan, atau hasIl survaI. Jumlah data atau fakta khusus yang
dIkemukakan harus cukup dan dapat mewakIlI.
Contoh :
8erdasarkan pengamatan yang dIlakukan kepada sIswa S|A 2000. Saat
mereka melaksanakan upacara, semua sIswa memakaI sepatu hItam dan
kaus kakI putIh. PakaIan mereka putIh·putIh dan kemeja dImasukkan ke
dalam celana dan ke rok, memakaI Ikat pInggang warna hItam. PakaIan
mereka dIlengkapI lagI dengan dasI dan topI abu·abu. 1cdì, dcpct
dìkctckcn, sìswc SMA 2000 pckcìcnnyc serc¤cm dcn tertìb sewcktµ
men¤encì µpcccrc.

b. Penclcrcn cnclo¤ì
8agIan darI ìndµktìf. Penalaran dengan membandIngkan dua hal yang
berbeda, tetapI memIlIkI bagIaIn persamaan. 8erdasarkan banyak kesamaan
tersebut, dItarIklah suatu kesImpulan.
Contoh :
Seseorang yang menuntut Ilmu sama halnya dengan mendakI gunung.
Sewaktu mendakI, ada saja rIntangan sepertI jalan yang lIcIn yang
membuat seseorang jatuh. Ada pula semak belukar yang sukar dIlaluI.
0apatkah seseorang melaluInya: 8egItu pula bIla menuntut Ilmu,
seseorang akan mengalamI rIntangan sepertI kesulItan ekonomI,
kesulItan memahamI pelajaran, dan sebagaInya. Apakah 0Ia sanggup
melaluInya: 1cd, menµntµt ìlmµ scmc hclnyc dne¤cn mendckì ¤µnµn¤
µntµk menccpcì pµnccknyc.

c. Penclcrcn sebcb·ckìbct juga merupakan bagIan ìndµksì. Penalaran dImulaI
dengan mengemukakan fakta berupa sebab lalu dIsusul dengan kesImpulan
yang berupa akIbat.
Contoh :
Hujan berturut·turut mengguyur desa kamI. AIr sungaI berangsur·angsur
naIk. Jalan dan halaman rumah pun mulaI menggenang aIr. Akhìrnyc,
bcn]ìr pµn melcndc desc kcmì.

2. Penalaran 0eduksI
Penalaran deduktIf adalah proses penalaran yang bertolak darI
pernyataan yang bersIfat umum menuju pada pernyataan atau kesImpulan
khusus. SebagaI contoh, sImpulan berIkut sebenarnya merupakan ImplIkasI
pernyataan ßujur sanykar adalah seyìempat sama sìsì ;
SegI empat yang sIsI·sIsI horIsotalnya tIdak sama panjang dengan sIsI tegak
lurusnya bukan bujur sangkar.
Semua bujur sangkar harus merupakan segI empat, tetapI tIdak semua segI
empat merupakan bujur sangkar.
8Isa pula deduktIf dIgunakan dengan contoh atau bagan yang laIn, sepertI dI
bawah InI :
PremIs Umum
↓ ↓ ↓
PremIs Khusus PremIs Khusus PremIs Khusus

PremIs adalah proposIsI (pernyataan) yang mendasarI penalaran untuk menarIk
kesImpulan.
8entuk deduktIf yang laIn adalah sìloyìsme.
Contoh :
PU : Semua sIswa berpakaIan seragam.
PK : ArIs seorang sIswa.
K : JadI, ArIs pun berpakaIan seragam.
Fumus SIlogIsme :
PU=A=8
PK=C=A
K=C=8
SIlogIsme dI atas apabIla dIeprsIngkat dIsebut entìnem.
Contoh :
Karena ArIs sIswa, Ia berpakaIan seragam.
Catatan : PU : PremIs umum
PK : PremIs Khusus
K : SImpulan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->