P. 1
Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(r)- Dalam Bahasa Indonesia

Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(r)- Dalam Bahasa Indonesia

|Views: 1,548|Likes:
Published by SNT van Ophujsen

More info:

Published by: SNT van Ophujsen on Mar 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/25/2012

pdf

text

original

i

KONSTITUEN PASCAVERBA INTRANSITIF BERAFIKS BE(R)- DALAM BAHASA INDONESIA: SUATU KAJIAN SINTAKSIS

SKRIPSI diajukan untuk dipertahankan dalam Sidang Sarjana pada Program Strata Satu Jurusan Sastra Indonesia

Oleh Heru Pratikno H1A050035

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2009

i

KONSTITUEN PASCAVERBA INTRANSITIF BERAFIKS BE(R)- DALAM BAHASA INDONESIA: SUATU KAJIAN SINTAKSIS

SKRIPSI diajukan untuk dipertahankan dalam Sidang Sarjana pada Program Strata Satu Jurusan Sastra Indonesia

Oleh Heru Pratikno H1A050035

PROGRAM STUDI SASTRA INDONESIA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR
i

ii

2009

iii

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)- dalam Bahasa Indonesia: Suatu Kajian Sintaksis Nama : Heru Pratikno NPM : H1A050035

Jatinangor, 9 November 2009 Pembimbing utama, Pembimbing Pendamping,

H. Agus Nero Sofyan, M.Hum. NIP 196606171992031002

Hardiati, M.Hum. NIP 196010091985082001

Disahkan Dekan Fakultas Sastra

Disetujui Ketua Program Studi

iii

iv

LEMBAR PERSEMBAHAN

Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (AL ISRAA’: 25)

“Kebenaran tidak datang dari langit, dia mesti diperjuangkan untuk menjadi benar…” -Pramoedya Ananta Toer-

Sebuah karya kecil ini kupersembahkan untuk Ayah, Ibu, dan Adik-adikku yang senantiasa berdoa, semoga Allah swt selalu membimbing dan menuntun mereka
iv

v

ke jalan kebenaran.

vi

ABSTRAK Skripsi ini berjudul “Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)dalam Bahasa Indonesia: Suatu Kajian Sintaksis”. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yang bertujuan memberikan gambaran data secara sistematis, faktual, dan akurat. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah surat kabar Media Indonesia, Republika, dan Kompas. Selain itu, penulis juga menelusuri majalah Tempo untuk dijadikan bagian dari sumber data. Kajian teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah kajian sintaksis, meliputi konstituen pascaverba, klasifikasi verba, afiksasi, kata, frasa, dan klausa. Permasalahan yang dibahas dalam skripsi ini adalah fungsi, kategori, serta konstruksi sintaktis sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)-. Hasil penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi oleh fungsi pelengkap dan keterangan. Selanjutnya, konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat pula diisi oleh kategori sintaktis berupa nomina atau frasa nominal, verba atau frasa verbal, adjektiva atau frasa adjektival, frasa numeralia, dan farasa preposisional. Selain itu, konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi oleh konstruksi sintaktis yang berupa kata, frasa, dan klausa.

vi

vii

viii

ABSTRACT

The title of this research is “Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)- dalam Bahasa Indonesia: Suatu Kajian Sintaksis”. The research uses a descriptive method, whose purpose is to systematically, factually, and accurately describe and prtray the data acquired. The sources used in this research are newspapers, which include Media Indonesia, Republika, and Kompas. Besides, in this research, the writer also makes use of the Tempo magazine as a data supply. The theory used in this research is syntax. The problems identified here are functions, categories, and syntactic constructions as post-verb intransitive constituents with affix be(R)-. From the research it can be observed that post-verb intransitive constituents with affix be(R)- can be filled by complement functions and adverbs. Next, post-verb intransitive constituents with affix be(R)- can also be filled by syntactic categories, nominal or nominal phrases, verb or verb phrases, adjectival or adjectival phrases, numeral phrases, and prepositional phrases. More to the point, post-verb intransitive constituents with affix be(R)- can also be filled by syntactic constructions of words, phrases, and clauses.

viii

ix

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah subhanahuwataala karena atas rahmat dan hidayah-Nya skripsi ini dapat diselesaikan. Skripsi ini berjudul “Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)- dalam Bahasa Indonesia: Suatu Kajian Sintaksis”. Skripsi ini diajukan untuk dipertahankan dalam Ujian Sidang Sarjana Strata Satu pada Program Studi Sastra Indonesia Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Pada kesempatan ini, rasa terima kasih penulis sampaikan kepada pihakpihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini, di antaranya sebagai berikut. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Rektor Universitas Padjadjaran, Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Ir., DEA., Dekan Fakultas Sastra, Prof. Dr. Dadang Suganda, M.Hum., Ketua Program Studi Sastra Indonesia, Baban Banita, M.Hum., dosen pembimbing utama, H. Agus Nero Sofyan, M.Hum., dosen pembimbing pendamping, Hardiati, M.Hum., dosen wali, Hj. Yeti Setianingsih, Dra., seluruh pengajar Program Studi Sastra Indonesia, dan teman-teman seperjuangan Sastra Indonesia angkatan 2005. Semoga Allah subhanahuwataala memberikan balasan atas segala jasa dan bantuan yang telah diberikan dengan tulus dan ikhlas kepada penulis.
x

xi

Seluruh isi skripsi ini merupakan hasil karya penulis sendiri dan bukan merupakan jiplakan atau saduran semata. Oleh sebab itu, penulis berani bertanggung jawab atas segala isi yang terkandung di dalamnya. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu

pengetahuan linguistik dan memberikan pengetahuan khususnya pada kajian sintaksis.

Jatinangor, 9 November 2009

Penulis

xii

DAFTAR SINGKATAN DAN LAMBANG

Penulisan Singkatan MI K R T : Media Indonesia : Kompas : Republika : Majalah Tempo

Penulisan Lambang * (/) : menandai bentuk yang tidak grmatikal/ tidak berterima : menandai hadir atau tidak hadir unsur gramatikal (morfem terikat)

Penulisan Sumber Data (xx, xx/xx/xx-xx-xxxx) nama surat kabar halaman kolom tanggal bulan tahun

xii

xiii

xiv

DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL …………………………………………………… i LEMBAR PENGESAHAN ……………………………………………. ii LEMBAR PERSEMBAHAN …………………………………………. ABSTRACT ……………………………………………………………. KATA PENGANTAR …………………………………………………. DAFTAR SINGKATAN ………………………………………………. DAFTAR ISI …………………………………………………………… BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah …………………………...…… 1 1.2 Pembatasan Masalah ……………………………………. 13 1.3 Identifikasi Masalah …………………………………….. 13 1.4 Tujuan Penelitian ……………………………………...… 14 1.5 Kegunaan Penelitian …………………………………….. 14 1.6 Metode dan Teknik Penelitian ……………..………….... 15 1.7 Sumber Data Penelitian …………………………………. 16 BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Konstituen ……………………………………………..….. 17 2.2 Konstituen Pascaverba …………………………………… 18 2.3 Batasan Verba ……….…………………………………… 18 2.3.1 Verba dari Segi Perilaku Morfologis …………….. 19 2.3.2 Verba dari Segi Perilaku Sintaktis ………………. 19 2.3.2.1 Verba Transitif ……………………………. 20 2.3.2.2 Verba Intransitif ……………………….….. 21 2.3.3 Verba dari Segi Perilaku Semantis ………………. 22
xiv

iii v vi viii ix

ABSTRAK ……………………………………………………………… iv

xv

2.4 Proses Morfologis ………………………………………… 22 2.4.1 Afiksasi …………………………………………….. 23 2.4.2 Reduplikasi ………………………………………… 25 2.4.3 Komposisi ………………………………………….. 26 2.5 Fungsi Sintaktis ………………………………………….. 26 2.5.1 Subjek ……………………………………………… 27 2.5.2 Predikat ……………………………………………. 27 2.5.3 Objek ………………………………………………. 28 2.5.4 Pelengkap ………………………………………….. 29 2.5.4.1 Pelengkap Wajib .……………………….. 30 2.5.4.2 Pelengkap Tidak Wajib ………………… 30 2.5.5 Keterangan ………………………………………… 30 2.5.5.1 Keterangan Wajib ………………………. 31 2.5.5.2 Keterangan Tidak Wajib ………………. 31 2.6 Kategori Sintaktis ………………………………………... 30 2.6.1 Nomina …………………………………………….. 32 2.6.2 Verba ………………………………………………. 33 2.6.3 Adjektiva …………………………………………... 35 2.6.4 Pronomina …………………………………………. 36 2.6.5 Numeralia ………………………………………….. 36 2.6.6 Adverbia …………………………………………… 37 2.6.7 Preposisi ……………………………………………. 37 2.6.8 Konjungsi …………………………………………... 37 2.7 Konstruksi Sintaktis …………………………………….... 38 2.7.1 Kata ………………………………………………… 38 2.7.2 Frasa ……………………………………………….. 39 2.7.2.1 Frasa Endosentrik ………………………… 40 2.7.2.1.1 Frasa Endosentrik Koordinatif … 40 2.7.2.1.2 Frasa Endosentrik Atributif ……. 41 2.7.2.1.3 Frasa Endosentrik Apositif …….. 41 2.7.2.2 Frasa Eksosentrik …………………………. 41

xvi

2.7.2.2.1 Frasa Eksosentrik Direktif ……... 41 2.7.2.2.2 Frasa Eksosentrik Objektif …….. 42 2.7.3 Klausa ……………………………………………… 42 2.7.3.1 Klausa Bebas ………………………………. 43 2.7.3.2 Klausa Terikat …………………………….. 43 2.7.4 Kalimat …………………………………………….. 44 BAB III ANALISIS KONSTITUEN PASCAVERBA INTRANSITIF BERAFIKS BE(R)- DALAM BAHASA NDONESIA 3.1 Fungsi Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)- ………………………………………….. 46 3.1.1 Konstituen dengan Fungsi Pelengkap …………… 46 3.1.1.1 Pelengkap Wajib ………………………….. 46 3.1.1.2 Pelengkap Tidak Wajib …………………... 48 3.1.2 Konstituen dengan Fungsi Keterangan ………….. 49 3.1.2.1 Keterangan Wajib ………………………… 50 3.1.2.2 Keterangan Tidak Wajib …………………. 51 3.2 Kategori Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)- ………………………………………….. 53 3.2.1 Konstituen dengan Kategori Nomina atau Frasa Nominal ………………………………………….. 54 3.2.2 Konstituen dengan Kategori Verba atau Frasa Verbal ……………………………………………. 55 3.2.3 Konstituen dengan Kategori Adjektiva atau Frasa Adjektival ……………………………….... 56 3.2.4 3.2.5 Konstituen dengan Frasa Numeralia ………….. 57 Konstituen dengan Frasa Preposisional ………. 58

3.3 Konstruksi Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)- ……………………………... 59 3.3.1 Konstituen Berupa Kata …………………………. 59

xvii

3.3.1.1 Bentuk Dasar ……………………………... 59 3.3.1.2 Bentuk Turunan ………………………….. 60 3.3.2 Konstituen Berupa Frasa ………………………… 61 3.3.2.1 Frasa Endosentrik ………………………… 61 3.3.2.1.1 Frasa Endosentrik Koordinatif … 62 3.3.2.1.2 Frasa Endosentrik Atributif …….. 64 3.3.2.1.3 Frasa Endosentrik Apositif ……… 66 3.3.2.2 Frasa Eksosentrik ………………………….. 68 3.3.2.2.1 Frasa Eksosentrik Direktif ……….68 3.3.2.2.2 Frasa Eksosentrik Objektif ……… 70 3.3.3 Konstituen Berupa Klausa ………………………… 73 3.3.3.1 Konstituen Berupa Klausa Bebas ………….73 3.3.3.2 Konstituen Berupa Klausa Terikat ……….. 75 BAB IV PENUTUP 4.1 Simpulan …………………………………………………… 4.2 Saran ……………………………………………………….. 78 79

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………… 80 DAFTAR KAMUS ……………………………………………………… 81 DAFTAR SITUS ………………………………………………………… 82 RIWAYAT HIDUP LAMPIRAN

xviii

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri. Bahasa mempunyai peranan penting dalam kehidupan sehari-hari karena melalui bahasa manusia dapat menyampaikan pikiran, perasaan, dan idenya kepada orang lain. Dengan adanya bahasa, baik itu bahasa lisan, tulis, maupun isyarat orang akan melakukan suatu komunikasi dan kontak sosial. Bahasa yang digunakan baik lisan maupun tulis terdiri atas satuan-satuan yang berisi tentang pernyataan yang memiliki intonasi final. Satuan-satuan bahasa itulah yang kita kenal dengan kalimat. Kalimat memiliki struktur sintaktis yang unsur-unsurnya saling berkaitan. Unsur-unsur tersebut mencakup fungsi sintaktis, kategori sintaktis, dan konstruksi sintaktis. Yang termasuk ke dalam fungsi sintaktis yaitu subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Kategori sintaktis berkaitan dengan kelas kata, antara lain, nomina, verba, adjektiva, pronomina, adverbia, numeralia, pronomina, dan kata tugas. Konstruksi sintaktis, misalnya, kata, frasa, dan klausa. Ketiga unsur sintaktis memiliki kaitan yang erat dan tidak dapat dipisahkan dalam konstruksi sebuah kalimat.
1

2

Berbicara tentang kategori sintaktis verba merupakan satu di antara bagian yang dibicarakan dalam kategori sintaktis. Dalam tataran fungsi sintaktis, verba pada umumnya mengisi fungsi predikat. Jika dilihat berdasarkan segi bentuknya, Alwi, dkk. (2003: 98) mengelompokkan verba menjadi verba asal dan verba turunan. Verba asal adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa afiks dalam konteks sintaktis, contohnya mandi, sakit, pergi, minum, dan sebagainya. Verba turunan adalah verba yang harus atau dapat memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa pada posisi sintaktisnya. Verba turunan dapat dibentuk melalui afiksasi (pengimbuhan), reduplikasi (pengulangan), dan komposisi (pemajemukan). Ramlan (1985: 55) mengatakan pengimbuhan atau afiksasi adalah suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata atau pokok kata, yang sanggup melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru. Berkaitan dengan verba turunan yang berafiks, contohnya berlari pada awalnya berupa verba dasar lari kemudian mengalami penambahan afiks yang berupa prefiks (awalan) be(R)-. Dilihat berdasarkan banyaknya nomina yang mendampingi, Kridalaksana (1994: 52) membedakan verba menjadi dua.
A. Verba transitif ialah verba yang bisa mempunyai atau harus mendampingi

objek. Misalnya: (1) Lukman membeli hati dan lidah. (R, 5/3/23-3-2009/www.republika.co.id)

3

(2) Pemerintah Malaysia masih membutuhkan tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) untuk bekerja di sejumlah perusahaan di negara tetangga itu. (K, 1/1/22-12-2008/ www.kompas.com) Pada kedua contoh kalimat di atas terdapat objek sebagai konstituen pascaverba, kalimat seperti itulah yang dinamakan kalimat berverba transitif. Yang menjadi objek dalam kalimat di atas adalah pada kalimat (1) hati dan lidah, sedangkan pada kalimat (2) tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD). Objek tersebut dapat dipindahposisikan menjadi subjek dalam kalimat pasif seperti berikut. (1a) hati dan lidah dibeli (oleh) Lukman. (2b) tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) masih dibutuhkan (oleh) Pemerintah Malaysia untuk bekerja di sejumlah perusahaan di negara tetangga itu. Kalimat seperti pada nomor (1a) dan (2b) adalah kalimat pasif dalam bahasa Indonesia yang beracuan pada kalimat aktif sebelumnya. Kalimat tersebut maknanya tetap sama, tetapi ada perubahan struktur dan fungsi kalimatnya. Perubahan dari kalimat sebelumnya adalah struktur predikat membeli menjadi dibeli; membutuhkan menjadi dibutuhkan; dan fungsi objek hati dan lidah,

tenaga kerja Indonesia (TKI) asal Provinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD) berpindah menjadi fungsi subjek.
B. Verba intransitif ialah verba yang menghindarkan objek.

Misalnya:

4

(3) Uji coba itu berjalan mulus. (R, 1/1/12-11-2008/www.republika.co.id) (4) Anjing gila berkeliaran di sekitar tempat tinggal mereka. (MI, 1/1/19-52009/www.mediaindonesia.com) Konstituen pascaverba yang ada dalam kedua kalimat (3) dan (4) bukan merupakan objek karena tidak dapat dipindahposisikan menjadi subjek dalam kalimat pasif. Konstruksi semacam inilah yang dinamakan kalimat berverba intransitif. Afiksasi be(R)- pada contoh (3) merupakan bentuk dasar verba satu di antara proses yang menghasilkan verba intransitif. Verba intransitif yang diturunkan oleh prefiks be(R)- contohnya sangat produktif, sedangkan pada contoh (4) verba be(R)- + ke-an berkategori nomina sangat terbatas jumlahnya karena tidak semua bentuk ke-an bisa dilekati afiks be(R)-. Konfiks ke-an yang membentuk verba tidak bisa dilekati prefiks be(R)-. Perhatikan ekspresi berikut. (a) ketiduran, kehilangan, kejatuhan, dan ketinggalan.

(b)* berketiduran, berkehilangan, berkejatuhan, dan berketinggalan. Kata mulus sebagai konstituen pascaverba intrasitif berafiks be(R)- pada kalimat (3) mengisi fungsi pelengkap yang bersifat wajib, artinya apabila pelengkap yang ada setelah verba intrasitif berafiks be(R)- dilesapkan kalimat tersebut menjadi tidak lengkap dan keberterimaannya pun menjadi terganggu. Berikut kalimat (3) apabila fungsi pelengkapnya dilesapkan. (3)* Uji coba itu berjalan

5

Kemudian pada kalimat (4) konstituen pascaverba intrasitif berafiks be(R)-mengisi fungsi keterangan yang sifatnya mobil atau dinamis, keadaan seperti itu menunjukkan keterangan yang ada setelah verba dapat berpindah tempat dan kalimatnya pun masih bisa berterima. Berikut kalimat (4) apabila fungsi keterangannya diputarbalikkan. (4a) Di sekitar tempat tinggal mereka anjing gila berkeliaran. (4b) Anjing gila di sekitar tempat tinggal mereka berkeliaran. Sifat yang dinamis dari fungsi keterangan dapat dipindahposisikan ke depan bagian kalimat atau di antara bagian konstituen yang ada. Akan tetapi, fungsi keterangan yang ada tidak berubah; dengan kata lain konsisten atau tetap sebagai keterangan. Selain sifat yang dinamis kalimat (4) fungsi keterangannya tidak wajib, artinya ketika keterangan dihilangkan kalimat tersebut masih dapat berterima. Berikut kalimat (4) apabila fungsi keterangannya dilesapkan. (4c) Anjing gila berkeliaran Kridalaksana (2001: 100) mengatakan kategori adalah golongan satuan bahasa yang anggotanya mempunyai perilaku sintaksis dan sifat hubungan yang sama. Berdasarkan kategori sintaktisnya konstituen pascaverba intrasitif berafiks be(R)- pada kalimat (3), yaitu fungsi pelengkap kata mulus mengisi kategori adjektiva karena bisa diuji dengan adverbial sangat, agak, lebih, dsb. Berbicara tentang bentuk sintaktis antara lain mengenai kata, frasa, dan klausa. Konstituen pascaverba intrasitif berafiks be(R)- pada kalimat (4) mengisi fungsi keterangan, yaitu di sekitar tempat tinggal mereka. Konstruksi seperti itu dinamakan dengan frasa preposisional.

6

Verba sebagai konstituen yang utama dalam sebuah kalimat sangat berperan untuk menentukan kehadiran fungsi-fungsi sintaktisnya. Verba secara sintaktis lebih mendominasi kehadiran satuan-satuan fungsional dalam kalimat, yaitu subjek, objek, pelengkap, dan keterangan dalam sebuah kalimat. Penentuan fungsi kalimat sangat ditentukan oleh pemakaian verba, baik yang menyertai maupun yang disertainya bergantung pada sifat ketransitifan verba. Dalam realisasinya pada kalimat, verba memiliki kemungkinan

didampingi oleh konstituen. Konstituen pendamping verba tersebut bisa berada di sebelah kiri atau di sebelah kanan. Konstituen sebelah kanan verba penulis namakan konstituen pascaverba. Konstituen pascaverba intransitif bisa berupa pelengkap dan keterangan. Kehadiran konstituen lain dalam sebuah konstruksi kalimat bergantung pada verba dalam konstruksi tersebut. Berikut ini adalah beberapa contoh analisis kalimat yang memiliki verba be(R)- + disertai konstituen pendamping kanan. (5) Pemerintah pusat berkeinginan untuk membeli saham 2008 sekaligus 2009. (T, 4/3/2-7-2009/www.tempointeraktif.com) (6) Tito berkeberatan dengan putusan terhadap dirinya. (K, 1/2/2-3-2009/ www.kompas.com) Pada kalimat (5) dan (6) apabila kita lihat berdasarkan fungsi sintaktisnya, yaitu Pemerintah pusat dan Tito mengisi fungsi subjek; berkeinginan dan berkeberatan mengisi fungsi predikat; untuk membeli saham 2008 sekaligus 2009 dan dengan putusan terhadap dirinya mengisi fungsi keterangan. Kata

7

berkeinginan dan berkeberatan merupakan jenis verba yang intransitif karena tidak memerlukan objek sebagai pendamping kanannya. Fungsi sintaktis konstituen pascaverba intrasitif berafiks be(R)- pada kalimat (5) diisi oleh fungsi keterangan. Keterangan yang hadir pada verba berkeinginan dapat dibuktikan dengan munculnya kata untuk dalam kelas kata bahasa Indonesia kita kenal dengan istilah preposisi atau kata depan. Kehadiran konstituen keterangan pada kalimat (5) menunjukkan keharusan dalam sebuah konstruksi kalimat. Itu artinya, apabila keterangan dihilangkan dalam kalimat (5) maka kalimat itu menjadi tidak lengkap. Berikut kalimat (5) apabila fungsi keterangannya dilesapkan. (5)* Pemerintah pusat berkeinginan Hilangnya konstituen pascaverba intrasitif berafiks be(R)- pada kalimat (5)* dapat menimbulkan pertanyaan karena tidak adanya tujuan dari subjek. Keterangan sebagai konstituen pascaverba intrasitif berafiks be(R)- yang hadir pada konstruksi kalimat (5) berperan sebagai tujuan yang menerangkan subjek. Konstituen pendamping kanan verba intrasitif berafiks be(R)- pada kalimat (6) juga diisi oleh fungsi keterangan. Akan tetapi, kehadiran konstituen keterangan yang ada pada verba intransitif berafiks be(R)- tidak menjadi keharusan atau dengan kata lain opsional. Berikut kalimat (6) apabila fungsi keterangannya dilesapkan. (6a) Tito berkeberatan Tidak menjadi masalah ketika fungsi keterangan dihilangkan pada kalimat (6a) di atas. Secara penalaran kalimat tersebut masih berterima dan bisa

8

dimengerti. Munculnya partikel dengan pada kalimat (6) merupakan preposisi atau kata depan. Berdasarkan kategori sintaktis partikel dengan biasanya

tergolong dalam keterangan yang menyatakan cara. Fungsi imbuhan be(R)- pada kedua verba di atas berlainan, di antaranya pada kata berkeinginan membentuk kata kerja aktif, sedangkan pada kata berkeberatan membentuk kata sifat. Ketentuan itu bisa kita lihat dari bentuk dasarnya yakni ingin dan berat. Makna bentuk verba berkeinginan dan berkeberatan pada kalimat di atas berbeda, tetapi imbuhan yang menyertai kata dasarnya sama yaitu be(R)- + ke-an. Alwi, dkk. (2003: 139) membedakan makna verba be(R)-, yakni bila dasarnya berupa nomina akan menghasilkan makna mempunyai, menggunakan, dan menghasilkan. Jadi, pada verba berkeinginan maknanya adalah mempunyai keinginan, sedangkan pada verba berkeberatan maknanya yaitu merasa keberatan karena kata sifat. Pada kata keinginan dan keberatan juga terdapat imbuhan yakni ke-an, fungsi dari konfiks ke-an yakni membentuk nomina abstrak. Kridalaksana (2005: 785) mengatakan, “Nomina abstrak adalah nomina yang biasanya berasal dari adjektiva dan verba yang tidak menunjuk pada sebuah objek, tetapi pada suatu kejadian atau pada suatu abstraksi”. Kedua bentukan verba intrasitif berafiks be(R)- di atas sama-sama memiliki tiga morfem, yakni satu morfem bebas dan dua morfem terikat secara morfologis. Badudu (1987: 66) menyatakan, “Morfem yang dapat berdiri sendiri disebut morfem bebas, sedangkan morfem terikat adalah morfem yang tidak dapat

9

berdiri sendiri dan selalu muncul bersama-sama dengan morfem lain”. Morfem terikat secara morfologis artinya morfem tersebut harus bergabung dengan bentuk lain, sehingga menjadi bentuk yang lebih kompleks dan akhirnya memiliki makna secara gramatikal. Verba berkeinginan terdiri atas satu morfem bebas yakni ingin dan dua morfem terikat yakni ke-an dan be(R)-. Begitu pula dengan verba berkeberatan terdiri atas satu morfem bebas yakni berat dan dua morfem terikat yakni ke-an dan be(R)-. Dalam kaidah pembentukan kata, verba-verba tersebut harus mengalami proses sebelum menjadi bentuk yang lebih kompleks. Urutannya adalah ingin, berat menjadi keinginan, keberatan kemudian menjadi

berkeinginan, berkeberatan. Setelah menganalisis kalimat intransitif verba be(R)- dengan fungsi sintaksis berupa keterangan sebagai konstituen pascaverba dan kategori sintaksis berupa preposisi juga sebagai konstituen pascaverba. Selanjutnya penulis masih akan menganalisis konstituen pascaverba be(R)- berdasarkan fungsi, kategori, dan konstruksi sintaktisnya. Berikut ini adalah jenis kalimat yang memiliki verba intransitif berafiks be(R)-. (7) Orang Cina berkegiatan ekonomi di kota-kota, orang Melayu di luar wilayah kota. (T, 9/3/17-3-2008/www.tempointeraktif.com) (8) Anggaran 2009 dan 2010 Harus Berkesinambungan (R, 14-4-2009/ www.republika.co.id)

10

(9) Penumpang

itu

berkewarganegaraan

Indonesia.

(T,

1/2/7-1-2005/

www.tempointeraktif.com) Kalimat (7), (8), dan (9) berdasarkan fungsi sintaksisnya adalah Orang Cina, Anggaran 2009 dan 2010, dan Penumpang itu mengisi fungsi subjek; berkegiatan, berkesinambungan, dan berkewarganegaraan mengisi fungsi predikat; ekonomi, Ø, dan Indonesia mengisi fungsi pelengkap. Kata berkegiatan, berkesinambungan, dan berkewarganegaraan merupakan jenis verba yang intransitif karena tidak memerlukan objek sebagai pendamping kanannya. Lebih khusus untuk kalimat (8) tidak memiliki konstituen pascaverba, keadaan seperti itu kita sebut dengan Ø (zero). Ø (zero ) artinya keadaan kosong setelah verba be(R)-. Pada kata berkesinambungan merupakan akhir dari intonasi sebuah kalimat. Kalimat seperti nomor (8) itu tetap saja bisa kita pahami dan tidak terganggu keberterimaannya karena secara sintaktis dan semantis maknanya tetap ada. Fungsi sintaktis konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat (7) diisi oleh fungsi pelengkap. Pelengkap yang hadir pada verba berkegiatan yakni ekonomi. Kata ekonomi dalam kalimat itu bukan termasuk sebagai fungsi objek, melainkan mengisi fungsi pelengkap karena secara distribusi tidak dapat diputarbalikkan menjadi subjek dalam kalimat pasif. Pelengkap dalam kalimat (7) dapat dibuktikan dengan verba yang ada, yakni terdapat imbuhan be(R)-. Dalam bahasa Indonesia imbuhan be(R)- termasuk dalam jenis verba yang tidak memerlukan objek atau verba intransitif.

11

Kehadiran konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- yang berupa pelengkap pada kalimat (7) menunjukkan keharusan dalam sebuah konstruksi kalimat atau yang kita sebut dengan pelengkap wajib. Itu artinya, apabila pelengkap dihilangkan dalam kalimat (7) maka kalimat itu menjadi tidak jelas maksudnya dan kurang lengkap untuk membentuk sebuah kontruksi. Berikut kalimat (7) apabila fungsi pelengkapnya dilesapkan. (7)* Orang Cina berkegiatan Sama halnya seperti pada kalimat (5), ketika konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dihilangkan kalimat tersebut menjadi tidak sempurna. Kehadiran fungsi pelengkap pada kalimat (7) sangat diperlukan karena sebagai penjelas predikat. Kesempurnaan kalimat juga bergantung pada predikat yang mengikutinya. Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat (9) juga diisi oleh fungsi pelengkap. Pelengkap yang ada pada verba berkeberatan sangat diperlukan kehadirannya, sebab apabila dihilangkan konstituen kanannya keberterimaan kalimat itu menjadi terganggu. Munculnya kata Indonesia pada kalimat (9) dalam kelas kata bahasa Indonesia tergolong nomina. Nomina yang seperti itu termasuk jenis nomina bernyawa karena sebagai pengganti nama kelompok manusia. Fungsi imbuhan be(R)- pada verba di atas adalah kata berkegiatan dan berkesinambungan membentuk verba aktif, sedangkan pada kata

berkewarganegaraan membentuk nomina abstrak. Terbentuknya nomina bisa diuji dengan memakai adverbial bukan. Ketentuan untuk menggolongkan fungsi

12

imbuhan be(R)- bisa kita lihat dari bentuk dasarnya yakni giat, sambung, dan warga negara. Makna bentukan verba berkegiatan, berkesinambungan, dan

berkewarganegaraan pada kalimat di atas berbeda, imbuhan yang menyertai kata dasarnya pun berbeda. Pada verba berkegiatan maknanya adalah melakukan kegiatan, sedangkan pada verba berkesinambungan dan berkewarganegaraan maknanya adalah memiliki kesinambungan, dan memiliki kewarganegaraan. Pada kata kegiatan, kesinambungan, dan kewarganegaraan juga terdapat imbuhan, yakni ke-an, fungsi dari konfiks ke-an adalah membentuk nomina abstrak. Nomina yang demikian belum memiliki bentuk konkret atau wujud yang nyata. Ketiga bentukan verba tersebut memiliki jumlah morfem yang berbedabeda. Verba berkegiatan terdiri dari satu morfem bebas yakni giat, dan dua morfem terikat yakni ke-an dan be(R)-. Pada verba berkesinambungan terdiri atas satu morfem bebas yakni sambung, dan tiga morfem terikat yakni -in-, ke-an, dan be(R)-. Dalam afiksasi morfem terikat seperti -in- dinamakan infiks atau sisipan. Selanjutnya, pada verba berkewarganegaraan terdiri dri dua morfem bebas yakni frasa nomina warga negara, dan dua morfem terikat juga yakni ke-an dan be(R)-. bentuk kewarganegaraan harus dirangkaikan menjadi kesatuan kerena

melekatnya konfiks ke-an. Dalam kaidah pembentukan kata, verba-verba tersebut harus mengalami proses sebelum menjadi bentuk yang lebih kompleks. Urutannya adalah sebagai berikut.

13

A. giat, menjadi kegiatan, kemudian menjadi berkegiatan; B. sambung, menjadi sinambung, kemudian menjadi kesinambungan, dan

selanjutnya menjadi berkesinambungan; dan
C. warga

negara,

menjadi

kewarganegaraan,

kemudian

menjadi

berkewarganegaraan. Analisis kalimat intransitif verba be(R)- dengan konstituen pendamping kanan membuktikan kehadiran fungsi sintaktisnya hanya berupa pelengkap dan keterangan. Kemudian kategori sintaksis sebagai pendamping kanan berupa nomina, adjektiva, dan frasa preposisional.

1.2 Pembatasan Masalah Melihat jumlah verba yang berafiks dalam bahasa Indonesia cukup banyak, penulis membatasi permasalahan dengan hanya menganalisis verba intransitif berafiks be(R)-. Penulis tertarik membahas masalah ini karena verba intransitif berafiks be(R)- dalam bahasa Indonesia memiliki beragam konstituen kanannya. Yang menjadi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- juga dibatasi, yaitu hanya pada fungsi, kategori, dan konstruksi sintaktis.

1.3 Identifikasi Masalah Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan dalam latar belakang masalah. Permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Apa saja yang menjadi fungsi sintaktis sebagai konstituen pascaverba

intransitif berafiks be(R)-?

14

2. Apa saja yang menjadi kategori sintaktis sebagai konstituen pascaverba

intransitif berafiks be(R)-? dan
3. Apa saja yang menjadi konstruksi sintaktis sebagai konstituen pascaverba

intransitif berafiks be(R)-?

1.4 Tujuan Penelitian Berdasarkan identifikasi masalah yang dikemukakan, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. mendeskripsikan fungsi sintaktis sebagai konstituen pascaverba intransitif

berafiks be(R)-;
2. mendeskripsikan

kategori

sintaktis

sebagai

konstituen

pascaverba

intransitif berafiks be(R)-; dan
3. mendeskripsikan konstruksi sintaktis sebagai konstituen pascaverba

intransitif berafiks be(R)-.

1.5 Kegunaan Penelitian Penulis berharap penelitian ini dapat bermanfaat bagi perkembangan linguistik, khususnya dalam pembahasan mengenai fungsi, kategori, dan konstruksi sintaksis yang menjadi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam bahasa Indonesia. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan informasi untuk penelitian berikutnya.

15

1.6 Metode dan Teknik Penelitian Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Djajasudarma (2006: 9) mengatakan, “Metode penelitian deskriptif adalah metode yang bertujuan membuat deskripsi; maksudnya membuat gambaran, lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai data, sifat-sifat serta hubungan fenomena-fenomena yang diteliti.” Penelitian ini memberikan gambaran tentang konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- melalui data-data kebahasaan yang ada pada saat ini, sehingga data yang dicatat bersifat paparan sebagaimana mestinya. Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. studi kepustakaan merupakan pembacaan berbagai buku referensi yang

berkaitan dengan masalah yang diteliti;
2. pengumpulan data merupakan pencarian untuk mendapatkan data-data

yang diperlukan dari sumber data yang telah ditentukan, antara lain dari surat kabar dan majalah; 3. penyeleksian data merupakan pemilihan data yang sesuai dengan sifat dan ciri setiap data;
4. pengklasifikasian data merupakan pengelompokan data yang telah

terkumpul untuk memudahkan penganalisisan;
5. penganalisisan data merupakan proses analisis dan mendeskripsikan data

yang ada;

16

6. penyimpulan hasil penelitian merupakan penarikan simpulan berdasarkan

analisis data sekaligus jawaban tujuan penelitian; dan 7. penyusunan laporan merupakan penyusunan hasil penganalisisan data yang diteliti dalam bentuk karya tulis ilmiah.

1.7 Sumber Data Penelitian Data penelitian ini bersumber dari bahasa tulis, yakni media masa dan majalah yang berbahasa Indonesia. Sumber data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Surat Kabar Media Indonesia, 2. Surat Kabar Kompas, 3. Surat Kabar Republika, dan

4. Majalah Tempo. Sumber data tersebut dapat memberikan data-data sesuai dengan objek yang diteliti dan dianggap dapat mewakili data-data dalam penelitian yang dilakukan. Alasan dipilihnya sumber data dari media masa dan majalah tersebut karena mempunyai cakupan yang luas untuk mencari kalimat yang memiliki konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)-.

17

BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Konstituen Konstituen dapat dikatakan sebagai bagian terpenting atau pendukung dari suatu konstruksi. Berikut ini ahli tata bahasa Indonesia mengemukakan pendapatnya tentang konstituen. Kridalaksana (2001: 118) mengatakan, “Konstituen adalah unsur bahasa yang merupakan bagian dari satuan yang lebih besar; bagian dari sebuah konstruksi”. Misalnya dalam konstruksi kalimat Ia dinobatkan menjadi sultan Yogyakarta pada 8 Februari 1921. Yang menjadi konstituen dalam konstruksi kalimat tersebut adalah Ia, dinobatkan, menjadi sultan Yogyakarta, dan 8 Februari 1921. Selanjutnya, Alwi, dkk. (2003: 314) mengatakan, “Konstituen adalah satuan-satuan yang membentuk suatu konstruksi”. Misalnya dalam konstruksi kalimat berikut Para demonstran memprotes tindakan Israel menyerang Jalur Gaza, Palestina. Konstituen-konstituen dalam kalimat tersebut adalah Para demonstran, memprotes, dan tindakan Israel menyerang Jalur Gaza, Palestina. Konstituen tersebut masih terdiri atas konstituen yang lebih kecil lagi, yaitu Para dan demonstran untuk Para demonstran, me(N)- dan protes untuk memprotes, dan tindak, -an, Israel, me(N)-, serang, Jalur, Gaza, dan Palestina untuk tindakan Israel menyerang Jalur Gaza, Palestina.
17

18

2.2 Konstituen Pascaverba Berbiacara tentang pascaverba berarti ada dua unsur yang harus dipahami, yaitu pasca dan verba. Secara morfologis pasca merupakan bentuk terikat atau yang dikenal dengan klitika. Artinya, bentuk pasca tidak dapat berdiri sendiri dan harus dilekatkan dengan bentuk lainnya. Berdasarkan kamus Alwi, dkk. (2005: 834) makna pasca adalah sesudah atau setelah. Selanjutnya, verba adalah kategori sintaktis yang biasanya berfungsi sebagai predikat dalam kalimat. Jadi, dapat diartikan pascaverba adalah setelah atau berada di sebelah kanan verba. Berdasarkan pengertian yang telah diungkapkan dapat disimpulkan bahwa konstituen pascaverba ialah bagian dari satuan unsur bahasa yang letaknya setelah atau berada di sebelah kanan verba. Dalam skripsi ini dijelaskan apa yang menjadi konstituen pascaverba.

2.3 Batasan Verba Verba merupakan satu di antara kelas kata yang dibacarakan dalam bahasa Indonesia. Verba biasanya juga sering dikaitkan dengan predikat dalam kalimat. Kridalaksana (1994: 46) mengatakan bahwa verba diberi tempat pertama tidaklah berarti bahwa proses derivasi, misalnya, nomina ke verba atau kategori kata lain ke verba diingkari. Alwi, dkk. (2003: 88-117) menjelaskan, verba dapat dilihat berdasarkan beberapa perilakunya, di antaranya verba berdasarkan perilaku morfologis, verba

19

berdasarkan perilaku sintaktis, dan verba berdasarkan perilaku semantis. Berikut ini merupakan penjelasan tentang verba dilihat berdasarkan segi perilakunya. 2.3.1 Verba dari Segi Perilaku Morfologis Klasifikasi verba berdasarkan dari segi perilaku morfologis berarti mengamati verba dari segi bentuknya. Alwi, dkk. (2003: 98-117) mengatakan, dalam pembentukannya verba dibedakan menjadi dua bagian, yaitu verba asal dan verba turunan. Berikut ini penjelasan mengenai verba dilihat dari bentuknya. A. Verba asal adalah verba yang dapat berdiri sendiri tanpa bantuan afiks dalam konteks sintaktis, misalnya, pergi, datang, tidur, mandi, naik, turun, suka, tiba, dan tinggal. B. Verba turunan adalah verba yang harus atau dapat memakai afiks, bergantung pada tingkat keformalan bahasa pada posisi sintaktisnya. Verba turunan digolongkan lagi menjadi beberapa bagian, di antaranya, (1) verba afiks wajib dengan dasar bebas, misalnya, bersuami, membesar, bersepeda, bertelur, dan mendarat; (2) verba afiks manasuka dengan dasar bebas, misalnya, (men)dengar, (mem)beli, dan (ber)jualan; (3) verba afiks wajib dengan dasar terikat, misalnya, berjuang, menganga, mengungsi, dan bertemu; (4) verba berulang, misalnya, bangun-bangun, bernyanyi-nyanyi, dan menari-nari; dan (5) verba majemuk, misalnya, siap tempur, terjun payung, dan jatuh bangun.

2.3.2 Verba dari Segi Perilaku Sintaktis Verba merupakan unsur yang sangat penting dalam kostruksi kalimat karena dalam kebanyakan hal verba berpengaruh besar terhadap unsur-unsur lain

20

yang harus atau boleh ada dalam kalimat tersebut. Berdasarkan dari segi perilaku sintaktisnya Alwi, dkk. (2003: 90-95) mengemukakan verba terdiri atas verba transitif dan verba taktransitif. Berikut ini penjelasan mengenai verba dilihat dari perilaku sintaktisnya.

2.3.2.1 Verba Transitif Alwi, dkk. (2003: 90) mengemukakan, “Verba transitif adalah verba yang memerlukan nomina sebagai objek dalam kalimat aktif dan objek tersebut dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif”. Berikut ini contoh kalimat berupa verba transitif. (1) Pemerintah akan menaikkan harga bahan bakar minyak bulan depan. (2) Rani sedang membersihkan halaman rumah. Verba yang dicetak miring pada kalimat nomor (1) dan (2) adalah verba transitif. Setiap verba transitif tersebut diikuti pendampingnya berupa frasa nominal, yaitu harga bahan bakar minyak dan halaman rumah. Frasa nominal tersebut berfungsi sebagai objek dalam konstruksi kalimat, objek tersebut dapat dijadikan subjek dalam kalimat pasif. Berikut ini merupakan kalimat apabila objeknya dipindahposisikankan menjadi subjek. (1a) Harga bahan bakar minyak akan dinaikkan (oleh) pemerintah. (2a) Halaman rumah sedang dibersihkan (oleh) Rani. Kridalaksana (1994: 52-53) menyatakan, “Verba transitif ialah verba yang bisa mempunyai atau harus mendampingi objek”. Berdasarkan banyaknya objek verba dapat dibagi atas

21

A. verba monotransitif adalah verba yang hanya mempunyai satu objek.

Misalnya dalam kalimat Mahasiswa menyampaikan orasi.
B. verba bitrasitif adalah verba yang mempunyai dua objek. Misalnya, Ibu

membelikan adik sepeda.
C. verba ditransitif adalah verba transitif yang ojeknya tidak muncul. Misalnya,

Adik sedang menangis.

2.3.2.2 Verba Taktransitif Alwi, dkk. (2003: 93) mengemukakan, “Verba taktransitif adalah verba yang tidak memiliki nomina di belakangnya yang dapat berfungsi sebagai subjek dalam kalimat pasif”. Berikut ini merupakan kalimat berupa verba taktransitif. (3) Mobil Pak Herman berjumlah lima belas buah. (4) Musa sudah bekerja di perusahaan asing. Verba yang dicetak miring pada kalimat nomor (3) dan (4) adalah verba taktransitif. Verba berjumlah dan sudah bekerja dikatakan taktransitif karena tidak dapat diikuti objek. Dilihat berdasarkan fungsi dan kategori konstituen pascaverba pada kalimat tersebut adalah lima belas buah sebagai fungsi pelengkap dan di perusahaan asing sebagai kategori frasa preposisional. Konstituen pascaverba yang berupa pelengkap dan frasa preposisional tersebut tidak dapat dipindahposisikan dalam konstruksi kalimat.

2.3.3 Verba dari Segi Perilaku Semantis

22

Setiap verba memiliki makna inhern yang terkandung di dalamnya. Makna inhern verba dapat kita ketahui dari segi semantisnya. Alwi, dkk. (2003: 98-117) mengatakan, verba dilihat berdasarkan segi perilaku semantisnya dapat dibedakan menjadi empat bagian, yaitu verba perbuatan (aksi), verba proses, verba keadaan, dan verba pengalam. Berikut ini penjelasan mengenai verba dilihat dari perilaku semantisnya. A. Verba perbuatan biasanya dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang dilakukan oleh subjek? misalnya, dalam kalimat Polisi itu berlari kencang. Verba berlari merupakan jenis verba perbuatan karena dapat diuji dengan pertanyaan Apa yang dilakukan Polisi itu? B. Verba proses biasanya dapat menjadi jawaban untuk pertanyaan Apa yang terjadi pada subjek? misalnya, Mobil itu terbakar setelah tertabrak truk. Verba terbakar merupakan jenis verba proses karena dapat diuji dengan pertanyaan Apa yang terjadi pada Mobil itu? C. Verba keadaan menyatakan bahwa acuan verba berada dalam situasi tertentu. Misalnya pada kata sakit, suka, dan sedih. Verba tersebut merupakan jenis verba keadaan karena menunjukkan dalam situasi dan kondisi tertentu.

2.4 Proses Morfologis Proses morfologis merupakan cara pembentukan suatu kata. Berikut ini para ahli tata bahasa Indonesia mengemukakan pendapatnya tentang proses morfologis.

23

Ramlan (1987: 51) mengatakan, “Proses morfologis adalah proses pembentukan kata-kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya”. Misalnya, menjual, berlari-lari, dan rumah sakit ketiganya merupakan kata yang sudah terbentuk berdasarkan intinya. Yang menjadi inti dari bentuk tersebut adalah jual, lari, dan rumah sakit. Kridalaksana (2009: 12) mengatakan, “Proses morfologis adalah proses yang mengubah leksem menjadi kata. Dalam hal ini leksem merupakan input dan kata merupakan output”. Samsuri (1985: 190) mengatakan, “Proses morfologis adalah cara penggabungan kata-kata dengan menghubungkan morfem yang satu dengan morfem yang lain; proses penggabungan morfem-morfem menjadi kata”. Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa proses morfologis adalah pembentukan kata yang mengubah leksem menjadi kata dari satuan lain yang merupakan bentuk dasarnya dengan menghubungkan morfem satu dengan morfem lainnya. Proses morfologis dalam bahasa Indonesia meliputi tiga jenis, yaitu afiksasi, reduplikasi, dan komposisi.

2.4.1 Afiksasi Afiksasi merupakan proses pelekatan afiks pada kata. Berikut ini adalah pendapat tentang pengertian afiksasi yang dikemukakan para ahli tata bahasa Indonesia. Kridalaksana (2009: 28) mengatakan, “Afiksasi adalah proses yang mengubah leksem menjadi kata kompleks”. Dalam proses ini, leksem (1) berubah

24

bentuknya; (2) menjadi kategori tertentu, sehingga berstatus kata; dan (3) sedikit banyak berubah maknanya. Ramlan (1987: 54) mengatakan, “Afiksasi adalah suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata atau pokok kata, yang sanggup melekat pada satuan-satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru”. Afiksasi dapat dibagi-bagi lagi menjadi prefik, infiks, sufiks, simulfiks, konfiks, dan kombinasi afiks. Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa afiksasi adalah proses atau penambahan kata dasar dengan afiks, sehingga menimbulkan kata kompleks. Dalam hal ini leksem berubah bentuknya menjadi kategori tertentu, sehingga berstatus kata. A. Prefiks ialah afiks yang terletak dilajur paling depan bentuk dasar. Prefiks dalam bahasa Indonesia, antara lain be(R)-, me(N)-, pe(R)-, pe(N)-, dan te(R)B. Infiks adalah afiks yang disisipkan di tengah kata. Infiks dalam bahasa Indonesia dapat dibagi menjadi empat, yaitu -el-, -em-, -er-, dan -in-. C. Sufiks adalah afiks yang diimbuhkan pada posisi akhir bagian bentuk dasar. Sufiks dalam bahasa Indonesia, antara lain -an, -i, -kan, dan -nya. D. Simulfiks menurut Badudu (1986: 89) adalah afiks yang berbentuk nasalisasi. Dalam bahasa Jawa dikenal simulfiks N (nasal), misalnya, pada kata nanggung, ngelas, nyasar, dan ngetik. E. Konfiks menurut Keraf (1984: 115) ialah gabungan afiks berupa prefiks dan sufiks merupakan satu afiks yang tidak terpisah-pisah. Konfiks dalam bahasa Indonesia, yaitu pe(R)-an, pe(N)-an, per-i, per-kan, ke-an, dan be(R)-an.

25

F. Imbuhan gabung menurut Kridalaksana (1993: 114) adalah gabungan afiks yang mempunyai bentuk dan makna gramatikal sendiri-sendiri yang dibubuhkan pada bentuk dasar. Imbuhan gabung dalam bahasa Indonesia meliputi me(N)-i, me(N)-kan, di-i, di-kan, memper-i, memper-kan, diper-, diper-i, diper-kan, ter-kan, dan ter-i. Dalam penelitian ini penulis memfokuskan pada afiks be(R)- yang membentuk verba intransitif sebagai pengisi fungsi predikat dalam suatu konstruksi kalimat.

2.4.2 Reduplikasi Ramlan (1987: 63) mengatakan, “Reduplikasi atau proses pengulangan adalah pengulangan satuan gramatik, baik seluruhnya maupun sebagiannya, baik dengan variasi fonem maupun tidak. Hasil pengulangan disebut kata ulang, sedangkan satuan yang diulang merupakan bentuk dasarnya”. Dalam linguistik Indonesia reduplikasi dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bagian, antara lain (1) reduplikasi penuh, misalnya, sepeda-sepeda, buku-buku, dan makan-makan, (2) reduplikasi sebagian, misalnya, lelaki, tetamu, dan tetangga, (3) reduplikasi berubah bunyi, misalnya, bolak-balik, sayur-mayur, dan lauk-pauk, dan (4) reduplikasi berimbuhan, misalnya, kereta-keretaan, rumah-rumahan, dan secantik-cantiknya.

2.4.3 Komposisi

26

Ramlan (1987: 76) mengatakan, “Kata majemuk ialah kata yang terdiri dari dua kata sebagai unsurnya”. Di samping itu, ada juga kata majemuk yang terdiri dari satu kata dan satu pokok kata sebagai unsurnya, misalnya kolam renang, dan daya tahan; ada pula yang terdiri dari pokok kata semua, misalnya, jual beli, simpan pinjam, dan lomba lari; dan kata majemuk dengan unsur yang berupa morfem unik, misalkan simpang siur dan sunyi senyap. Menurut Ramlan ciri-ciri kata majemuk, yaitu salah satu atau semua unsurnya berupa pokok kata, unsur-unsurnya tidak mungkin dipisahkan atau tidak bisa diubah strukturnya, tidak bisa disisipi kata lain seperti yang, itu, dan dan.

2.5 Fungsi Sintaktis Verhaar (2006: 167) mengatakan, “Fungsi sintaktis adalah konstituen yang formal belaka tidak terikat pada unsur semantis tertentu dan tidak terikat pada unsur kategorial tertentu”. Dapat dikatakan fungsi sintaktis ialah peran sebuah unsur bahasa dalam satuan kalimat yang lebih luas. Kridalaksana (2001: 62) mengatakan, “Fungsi sintaktis adalah hubungan antara unsur-unsur bahasa dilihat dari sudut pandang penyajinya dalam ujaran; masalah subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan bersangkutan dengan fungsi sintaktis”. Chaer (2009: 20) mengatakan, “Fungsi sintaktis adalah semacam kotakkotak atau tempat-tempat dalam struktur sintaktis yang kedalamannya akan diisikan kategori tertentu”.

27

Berdasarkan definisi-definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa fungsi sintaktis ialah konstituen yang mengisi bagian unsur bahasa, seperti subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan.

2.5.1 Subjek Subjek adalah unsur pokok yang terdapat pada sebuah kalimat di samping unsur predikat. Kridalaksana (2001: 204) mengatakan, “Subjek adalah bagian klausa berujud nomina; atau frasa nominal yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara”. Subjek dalam kalimat bahasa Indonesia memiliki ciri-ciri sebagai berikut: a. merupakan jawaban berwujud kata atau kelompok kata atas pertanyaan apa dan siapa; b. c. d. e. dapat disertai kata ini dan itu (takrif); dapat diperluas dan disertai frasa atau klausa; tidak dapat didahului kata depan (di, ke, dan dari); dan berupa kata benda atau kelompok kata benda atau kelas kata lain yang dapat memiliki salah satu ciri di atas. (5) Rani mengendarai mobil barunya.

2.5.2 Predikat Kridalaksana (2001: 177) mengatakan, “Predikat adalah bagian klausa yang menandai apa yang dikatakan oleh pembicara tentang subjek”. Predikat juga merupakan unsur utama suatu kalimat di samping subjek.

28

Ciri-ciri predikat di dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: a. merupakan jawaban berwujud kata atau kelompok kata atas pertanyaan mengapa dan bagaimana; b. c. d. e. berupa kata adalah, ialah, atau merupakan; dapat disertai kata pengingkar tidak atau bukan; dapat disertai kata seperti ingin, hendak, mau, akan, belum, sudah, telah; dan berupa kata kerja atau kelompok kata kerja, kata benda atau kelompok kata benda, kata sifat atau kelompok kata sifat, kata bilangan atau kelompok kata bilangan, serta kelompok kata atau frasa preposisional. (6) Para buruh bekerja bagaikan sapi perah.

2.5.3 Objek Kridalaksana (2001: 148) mengatakan, “Objek adalah nomina atau kelompok nomina yang melengkapi verba-verba tertentu dalam klausa”. Ciri-ciri yang dimiliki oleh objek dalam kalimat bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: a. b. c. d. e. terdapat dalam kalimat aktif transitif; langsung mengikuti predikat (kata kerja transitif); tidak didahului kata depan; dapat menjadi subjek dalam kalimat pasif (dalam oposisi aktif); dan berupa kata benda, kelompok kata benda, atau anak kalimat.

(7) Presiden SBY akan menaikkan harga BBM.

2.5.4 Pelengkap

29

Kridalaksana (2001: 114) mengatakan, “Pelengkap sebagai komplemen adalah kata atau frasa yang secara gramatikal melengkapi kata atau frasa lain dengan menjadi subordinat padanya”. Pelengkap dan objek memiliki kesamaan. Kesamaan kedua unsur kalimat ini adalah sebagai berikut: 1. 2. 3. bersifat wajib ada karena melengkapi makna verba predikat kalimat; menempati posisi di belakang predikat; dan tidak didahului preposisi. Perbedaannya terletak pada kalimat pasif. Pelengkap tidak menjadi subjek dalam kalimat pasif. Jika terdapat objek dan pelengkap dalam kalimat aktif, objeklah yang menjadi subjek kalimat pasif, bukan pelengkap. Berikut ciri-ciri pelengkap kalimat dalam bahasa Indonesia. a. terdapat pada kalimat dengan predikat berupa kata adalah, ialah, merupakan, atau menjadi; atau predikat berupa kata kerja berimbuhan be(R)- atau ke-an; b. berada langsung di belakang predikat (pada kalimat semitransitif) atau di belakang objek (pada kalimat dwiransitif); c. d. tidak didahului kata depan; dan tidak dapat dijadikan subjek dalam kalimat pasif. Pelengkap berdasarkan posisinya ada yang bersifat wajib dan ada yang bersifat tidak wajib. Berikut ini penjelasannya.

2.5.4.1 Pelengkap Wajib Pelengkap wajib ialah unsur sintaktis yang harus hadir dalam konstruksi kalimat. Pelengkap wajib apabila dilesapkan dari konstruksi menyebabkan

30

ketidakberterimaan suatu kalimat dari segi struktur dan makna. Berikut ini merupakan contohnya. (8) Andri berkebangsaan Brasil.

2.5.4.2 Pelengkap Tidak Wajib Pelengkap tidak wajib ialah unsur sintaktis yang bersifat manasuka hadir dalam konstruksi kalimat. Pelengkap tidak wajib apabila dilesapkan dari konstruksi menyebabkan suatu kalimat masih berterima dari segi struktur dan makna. Berikut ini merupakan contohnya. (9) Gandar tertidur pulas setelah bermain seharian.

2.5.5 Keterangan Kridalaksana (2001: 107) mengatakan, “Keterangan adalah kata atau kelompok kata yang dipakai untuk meluaskan atau membatasi makna subjek atau predikat dalam klausa”. Keterangan merupakan unsur kalimat yang memberikan informasi lebih lanjut tentang suatu yang dinyatakan dalam kalimat; misalnya, memberi informasi tentang tempat, waktu, cara, sebab, dan tujuan. Keterangan yang berupa frasa ditandai oleh preposisi, seperti di, ke, dari, dalam, pada, kepada, terhadap, tentang, oleh, dan untuk. Keterangan yang berupa anak kalimat ditandai dengan kata penghubung, seperti ketika, karena, meskipun, supaya, jika, dan sehingga. Ciri-ciri unsur keterangan kalimat dalam bahasa Indonesia adalah sebagai berikut: a. memberikan informasi tentang tempat, waktu, cara, alat, sebab, akibat,

31

tujuan, dan sejenisnya; b. c. d. memiliki keleluasaan posisi (awal, akhir, atau di antara subjek dan predikat.); didahului kata depan atau kata penghubung; dan berupa kata atau kelompok kata (frasa preposisi) atau anak kalimat.

2.5.5.1 Keterangan Wajib Keterangan wajib ialah unsur sintaktis yang harus hadir dalam konstruksi kalimat. Keterangan wajib apabila dilesapkan dari konstruksi menyebabkan ketidakberterimaan suatu kalimat dari segi struktur dan makna. Berikut ini merupakan contohnya. (10) Rinaldi tinggal di Banjaran.

2.5.5.2 Keterangan Tidak Wajib Keterangan tidak wajib ialah unsur sintaktis yang bersifat manasuka hadir dalam konstruksi kalimat. Keterangan tidak wajib apabila dilesapkan dari konstruksi menyebabkan suatu kalimat masih berterima dari segi struktur dan makna. Berikut ini merupakan contohnya. (11) Jumadi sedang mengerjakan tugas di kamar . Dalam penelitian ini yang menjadi fungsi sintaktis sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- ialah pelengkap dan keterangan. Kedua fungsi sintaktis tersebut ada yang bersifat wajib dan ada yang bersifat tidak wajib atau manasuka.

2.6 Kategori Sintaktis

32

Verhaar (2006: 170) mengatakan, “Kategori sintaktis adalah apa yang sering disebut kelas kata, seperti nomina, verba, adjektiva, adverbial, adposisi artinya preposisi atau posposisi, dan sebagainya”. Dalam analisisnya kategori lazim ditentukan kata demi kata. Kridalaksana (2001: 101) mengatakan, “Kategori sintaktis adalah golongan yang diperoleh suatu satuan sebagai akibat hubungan dengan kata-kata lain dalam konstruksi sintaktis”. Berbicara tentang kategori tidak terlepas mengenai kelas kata. Kelas kata sendiri ialah golongan kata yang mempunyai kesamaan dalam perilaku formalnya. Kategori dalam bahasa Indonesia, Kridalaksana (1994: 51-104)

menggolongkannya menjadi beberapa bagian, antara lain: verba, adjektiva, nomina, pronomina, numeralia, adverbia, interogativa, demonstrativa, artikula, preposisi, konjungsi, kategori fatis, dan interjeksi. Dalam penjelasan berikut penulis hanya memaparkan kategori sintaktis yang berkaitan dengan penelitian, di antaranya nomina, verba, adjektiva, pronominal, adverbial, konjungsi, numeralia, dan preposisi.

2.6.1 Nomina Kridalaksana (1994: 68) mengatakan, “Nomina adalah kategori yang secara sintaktis (1) tidak mempunyai potensi untuk bergabung dengan partikel tidak; (2) mempunyai potensi untuk didahului oleh partikel dari, bukan dan beberapa”. Secara garis besar nomina terdiri atas (1) nomina bernyawa, dan (2) nomina takbernyawa.

33

Alwi, dkk. (2003: 213) mengatakan nomina sering juga disebut dengan kata benda. Dalam bukunya Alwi memberikan keterangan mengenai ciri-ciri nomina dilihat dari segi semantis, segi sintaktis, dan segi morfologisnya. Dari segi semantisnya, dapat kita katakan nomina adalah kata yang mengacu pada manusia, binatang, benda, dan konsep atau pengertian. Dari segi sintaktisnya, nomina mempunyai ciri sebagai berikut, yaitu dapat menduduki fungsi subjek, objek, atau pelengkap; tidak dapat diingkarkan dengan kata tidak, kata pengingkarnya ialah bukan; dan dapat diikuti adjektiva seperti yang. Dari segi morfologisnya, nomina dapat diturunkan melalui afiksasi, perulangan, atau pemajemukan. Berikut ini merupakan contoh. (12) Persija unggul 2-0 atas Persela Lamongan.

2.6.2 Verba Verba dapat dikatakan sebagai kelas kata yang biasanya berfungsi sebagai predikat dalam suatu bahasa dalam hal ini bahasa Indonesia. Berikut ini para ahli tata bahasa Indonesia mengemukakan pendapatnya tentang verba. Menurut Kridalaksana (dalam Putrayasa, 2008: 45) mengatakan, “Verba adalah subkategori kata yang memiliki ciri dapat bergabung dengan partikel tidak, tetapi tidak dapat bergabung dengan partikel di, ke, dari, sangat, lebih, atau agak. Selain itu, verba juga dapat dicirikan oleh perluasan kata tersebut dengan rumus V + dengan kata sifat”. Misalnya, berjuang dengan sangat gigih, melaju dengan lambat, dan berpikir dengan cepat. Kata berjuang, melaju, dan berpikir merupakan verba.

34

Alwi, dkk. (2005: 1260) mengatakan, “Verba adalah kata yang menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan; kata kerja”. Ciri-ciri verba dapat diketahui, antara lain berfungsi utama sebagai predikat dalam kalimat walaupun dapat juga memiliki fungsi lain dan pada umumnya verba tidak dapat bergabung dengan kata-kata yang menyatakan makna kesangatan, seperti agak, sangat, dan sekali. Misalnya, *agak mandi, *sangat makan, dan *lari sekali. Di samping itu, ada juga bentuk verba yang dapat didekatkan dengan kata yang menyatakan makna kesangatan, seperti agak berbahaya, sangat mengecewakan, dan menginginkan sekali. Chaer (2008: 74) mengatakan, “Ciri-ciri utama verba atau kata kerja dapat dilihat dari adverbia yang mendampinginya, yaitu (1) dapat didampingi oleh adverbia negasi tidak dan tanpa, misalnya, tidak minum dan tanpa menabung; (2) tidak dapat didampingi adverbia negasi bukan, misalnya, *bukan tidur, tetapi negasi bukan dapat berterima bila berada dalam konstruksi konstrastif, misalnya dalam kalimat Intan bukan menangis karena sedih, melainkan karena gembira; (3) dapat didampingi oleh semua adverbia frekuensi, misalnya, sering makan, kadang-kadang pulang, dan jarang pulang; (4) tidak dapat didampingi oleh kata bilangan dengan penggolongannya, misalnya, *sebuah menulis dan *dua butir pulang; (5) dapat didampingi semua adverbia jumlah, misalnya, kurang menulis, sedikit makan, dan kurang menarik; (6) tidak dapat didampingi oleh semua adverbia derajat, misalnya, *agak datang, *cukup pergi, dan *paling lompat; dan (7) dapat didampingi semua adverbial kala, misalnya, sudah mandi, sedang membaca, dan akan pergi.”. Berikut ini merupakan contoh.

35

(13) Marwoto akan datang setelah adiknya pulang. Berdasarkan pengertian-pengertian yang telah diungkapkan dari para ahli bahasa dapat disimpulkan bahwa verba adalah kategori kata yang

menggambarkan proses, perbuatan, atau keadaan; verba disebut juga sebagai kata kerja dan mengisi fungsi predikat dalam kalimat; dan verba memiliki ciri-ciri dapat bergabung dengan partikel tidak, sering, kurang, dan sedang, tetapi tidak dapat bergabung dengan partikel bukan, di, ke, dari, sebuah, sangat, lebih, atau agak.

2.6.3 Adjektiva “Adjektiva adalah kategori yang ditandai oleh kemungkinannya untuk (1) bergabung dengan partikel tidak; (2) mendampingi nomina; (3) didampingi partikel seperti lebih, sangat, agak; (4) mempunyai ciri-ciri morfologis seperti -er (dalam honorer), -if (dalam sensitif), dan -i (dalam alami); atau (5) dibentuk menjadi nomina dengan konfiks ke-an, seperti keadilan, kehalusan, dan keyakinan.” (Kridalaksana, 1994: 59). Adjektiva juga sering disamakan atau disejajarkan dengan kata sifat. Alwi, dkk. (2003: 171) mengatakan, “Adjektiva adalah kata yang memberikan keterangan yang lebih khusus tentang sesuatu yang dinyatakan oleh nomina dalam kalimat”. Adjektiva yang memberikan keterangan terhadap nomina itu berfungsi atributif. Adjektiva juga dapat berfungsi sebagai predikat dan adverbial dalam kalimat. Fungsi predikatif dan adverbial itu mengacu pada suatu keadaan. Berikut ini merupakan contoh.

36

(14) Dewi siswa tercantik di kelasnya..

2.6.4 Pronomina Pronomina adalah kategori yang berfungsi menggantikan nomina. Pronomina itu terdiri atas saya, aku, kami, kita, Anda, engkau, kalian, dia, ia, beliau, dan mereka. Kategori ini tidak bisa berafiks, tetapi beberapa di antaranya bisa direduplikasikan, yaitu kami-kami, dia-dia, beliau-beliau, mereka-mereka, dengan pengertian ‘meremehkan’ atau ‘merendahkan’.

2.6.5 Numeralia Kridalaksana (1994: 79) mengatakan, “Numeralia adalah kategori yang dapat (1) mendampingi nomina dalam konstruksi sintaktis; (2) mempunyai potensi untuk mendampingi numeralia lain; dan (3) tidak dapat bergabung dengan tidak atau dengan sangat. Numeralia berdasarkan subkategorisasinya Kridalaksana (1994: 79) menggolongkan atas (1) numeralia takrif ialah numeralia yang menyatakan jumlah yang tentu, misalnya, dua, satu perempat, kelima, ribuan, dan (2) numeralia taktakrif ialah numeralia yang menyatakan jumlah yang taktentu, misalnya, beberapa, tiap-tiap, dan semua.

2.6.6 Adverbia

37

Adverbia adalah kategori yang dapat mendampingi kategori lain, misalnya, adjektiva (belum rapi), numeralia (bukan dua), dan verba (tidak makan).

2.6.7 Preposisi Kridalaksana (1994: 95) mengatakan, “Preposisi adalah kategori yang terletak di depan kategori lain (terutama nomina), sehingga terbentuk frasa eksosentris direktif”. Preposisi dibagi menjadi tiga jenis, antara lain A. preposisi dasar, preposisi yang tidak mengalami proses morfolgis; B. preposisi turunan, terbagi lagi atas; i. gabungan preposisi dan preposisi ii. gabungan preposisi dan nonpreposisi
C. preposisi yang berasal dari kategori lain, misalnya pada, tanpa, selain,

semenjak, sepanjang, sesuai, dan sebagainya.

2.6.8 Konjungsi Konjungsi adalah kategori yang berfungsi meluaskan satuan yang lain dalam konstruksi hipotaktis dan selalu menghubungkan dua satuan lain atau lebih dalam konstruksi miliknya, misalnya, adapun, agar, tetapi, dan jika. Dalam penelitian ini yang menjadi kategori sintaktis sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- ialah nomina, verba, adjektiva, dan numeralia.

38

2.7 Konstruksi Sintaktis “Konstruksi sintaktis adalah pengelompokan satuan-satuan yang sesuai dengan kaidah-kaidah sintaktis suatu bahasa.” (Kridalaksana, 2001: 120). Maksud dari pengertian di atas ialah konstruksi sintaktis itu merangkaikan dari unsurunsur sintaktis yang ada, sehingga membentuk bangunan kalimat yang lengkap dan memiliki makna. Konstruksi sintaktis tersusun secara hierarki dibedakan menjadi lima macam satuan sintaktis, yaitu kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Artinya, kata merupakan satuan terkecil yang membentuk frasa; frasa membentuk klausa, klausa membentuk kalimat; dan kalimat membentuk wacana. Beriku ini hanya dijelaskan konstruksi sintaktis berupa kata, frasa, dan klausa.

2.7.1 Kata Kata merupakan satu di antara konstruksi sintaktis yang paling kecil. Berikut ini para ahli tata bahasa Indonesia mengemukakan pendapatnya tentang kata. Kridalaksana (2001: 98) mengatakan, “Kata adalah morfem atau kombinasi morfem yang oleh bahasawan dianggap sebagai satuan terkecil yang dapat diujarkan sebagai bentuk yang bebas; satuan bahasa yang dapat berdiri sendiri”. Selanjutnya, Kentjono (2002: 56) berpendapat, “Kata disebut sebagai satuan gramatikal bebas terkecil dengan kata lain kata mempunyai potensi untuk

39

berdiri sendiri”. Misalnya sebagai kalimat jawaban atau sebagai kalimat suruhan mau., pergi!. Chaer (2009: 37) mengemukakan, kata sebagai satuan terbesar dalam tataran morfologi dan sebagai satuan terkecil dalam tataran sintaksis. Berdasarkan bentuknya kata dibedakan atas bentuk dasar dan bentuk turunan. Kata yang berbentuk turunan terjadi akibat pengimbuhan, pengulangan, dan pemajemukan. Berikut ini merupakan contoh. (15) Sepeda merupakan alat transportsi. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa kata adalah satuan terkecil yang dapat berdiri sendiri dan diujarkan bebas, kata juga berpotensi menjadi kalimat minor.

2.7.2 Frasa Frasa merupakan satu di antara konstruksi sintaktis yang dibentuk dari kata. Berikut ini para ahli tata bahasa Indonesia mengemukakan pendapatnya tentang frasa. Kridalaksana (2001: 59) mengatakan, “Frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif; gabungan itu dapat rapat dan dapat renggang”. Contohnya gunung tinggi, mobil baru, dan orang sakit. Ramlan (1987: 151) mengemukakan, “Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas unsur klausa”. Chaer (2009: 39) mengemukakan, “Frasa adalah satuan sintaksis yang tersusun dari dua buah kata atau lebih yang di dalam klausa menduduki fungsi-

40

fungsi sintaktis”. Dengan kata lain, frasa dibentuk dari dua buah kata atau lebih dan mengisi salah satu fungsi sintaktis. Frasa bila dilihat dari hubungan kedua unsurnya dalam kalimat Chaer (2009: 120) membedakannya atas frsa endosentrik dan frasa koordinatif. Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa frasa adalah gabungan dua kata atau lebih yang sifatnya tidak predikatif dan biasanya menempati satu unsur fungsi di dalam kalimat.

2.7.2.1 Frasa Endosentrik Chaer (2009: 40) mengemukakan, “Frasa endosentrik adalah frasa yang salah satu unsurnya dapat menggantikan kedudukan keseluruhannya”. Apabila salah satu unsurnya ditanggalkan kedudukannya sebagai pengisi fungsi sintaksis masih bisa berterima. Ramlan (1987: 155) membedakan frasa endosentrik menjadi tiga golongan, di antaranya, frasa endosentrik koordinatif, frasa endosentrik atributif, frasa endosentrik apositif.

2.7.2.1.1 Frasa Endosentrik Koordinatif Frasa endosentrik koordinatif ialah frasa yang unsur-unsurnya setara. Frasa endosentrik koordinatif dapat ditandai dengan hadirnya konjungsi dan dan atau. Berikut ini merupakan contoh kalimatnya. (16) Kami pergi bersama ayah dan ibu.

41

2.7.2.1.2 Frasa Endosentrik Atributif Frasa endosentrik atributif ialah frasa yang unsur-unsurnya tidak setara. salah satu unsurnya ada yang berupa inti dan unsur lainnya disebut atribut. Berikut ini merupakan contoh kalimatnya. (17) Raharjo membeli mobil baru.

2.7.2.1.3 Frasa Endosentrik Apositif Frasa endosentrik apositif ialah frasa yang unsur-unsurnya saling menggantikan. Antara unsur yang satu dengan unsur yang lainnya memiliki kaitan. Berikut ini merupakan contoh kalimatnya. (18) Jembatan Suramadu diresmikan Presiden RI SBY.

2.7.2.2 Frasa Eksosentrik Chaer (2009: 40) mengemukakan, “Frasa eksosentrik adalah frasa yang hubungan kedua unsurnya sangat erat, sehingga kedua unsurnya tidak bisa dipisahkan sebagai pengisi fungsi sintaksis”. Dalam kaitan antarunsurnya, frasa eksosentrik memiliki hubungan semantis tertentu, di antaranya, frasa eksosentrik direktif dan frasa eksosentrik objektif.

2.7.2.2.1 Frasa Eksosentrik Direktif Frasa eksosentrik direktif ialah frasa yang salah satu unsurnya berbentuk preposisi. Berikut ini merupakan contoh kalimatnya.

42

(19) Perkulian semester pendek akan dilaksanakan di gedung kuliah bersama.

2.7.2.2.2 Frasa Eksosentrik Objektif Frasa eksosentrik objektif ialah frasa yang memiliki objek. Berikut ini merupakan contoh kalimatnya. (20) Kami berniat merencanakan sesuatu. Dalam penelitian ini frasa yang hadir sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- ialah frasa endosentrik koordinatif, frasa endosentrik atributif, frasa endosentrik apositif, frasa eksosentrik direktif, dan frasa eksosentrik objektif.

2.7.3 Klausa Klausa merupakan satu di antara konstruksi sintaktis yang dibentuk dari kata dan frasa. Berikut ini beberapa para ahli tata bahasa Indonesia mengemukakan pendapatnya tentang klausa. Kridalaksana (2001: 59) mengatakan, “Klausa adalah satuan gramatikal berupa kelompok kata yang sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat; dan mempunyai potensi untuk menjadi sebuah kalimat”. Sifat dari klausa yaitu predikatif, contohnya hujan turun, angin ribut, dan sebagainya.

43

Kentjono (2002: 58) berpendapat, “Klausa adalah satuan gramatikal yang disusun oleh kata atau frasa dan yang mempunyai satu predikat”. Klausa pada umumnya merupakan konstituen sebuah konstruksi kalimat. Chaer (2009: 41) mengemukakan, “Klausa adalah satuan sintaksis yang berada di atas satuan frasa dan di bawah satuan kalimat, berupa runutan kata-kata berkonstruksi predikatif”. Dengan kata lain, di dalam konstruksi itu ada komponen berupa kata atau frasa yang berfungsi sebagai predikat. Klausa bila dilihat dari kedudukannya di dalam kalimat Chaer (2009: 43) membedakannya atas klausa bebas dan klausa terikat. Berikut ini penjelasan tentang klausa bebas dan klausa terikat.

2.7.3.1 Klausa Bebas Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai potensi untuk menjadi kalimat bebas. Artinya, fungsi-fungsi sintaktis yang dimiliki harus lengkap dan apabila diberi intonasi final akan menjadi kalimat yang dapat berdiri sendiri serta tidak terikat dengan kalimat lain.

2.7.3.2 Klausa Terikat Klausa terikat adalah klausa yang tidak mempunyai potensi untuk menjadi kalimat bebas. Jenis klausa ini ditandai dengan munculnya konjungsi subordinatif, seperti ketika, meskipun, dan karena. (21) Ayah sudah pergi ketika kami datang.

44

Kalimat tersebut terdiri dari dua klausa, yaitu klausa pertama Ayah sudah pergi disebut dengan klausa bebas karena dapat berdiri sendiri, sedangkan klausa kedua ketika kami datang disebut dengan klausa terikat karena tidak dapat mandiri dan posisinya harus selalu melekat dengan klausa pertama. Dari beberapa pendapat yang ada mengenai klausa dapat disimpulkan bahwa klausa adalah satuan bahasa yang minimal terdiri atas subjek dan predikat dan berkemampuan untuk menjadi sebuah kalimat. Dalam penelitian ini klausa yang hadir sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- ialah klausa bebas dan klausa terikat.

2.7.4 Kalimat Kridalaksana (1993: 92) mengatakan, “(1) Kalimat adalah satuan bahasa yang secara relaitf berdiri sendiri, mempunyai intonasi final, dan secara aktual maupun potensial terdiri dari klausa; (2) klausa bebas yang menjadi bagian kognitif percakapan; satuan proposisi yang merupakan gabungan klausa atau merupakan satu klausa, yang membentuk satuan yang bebas; jawaban minimal, seruan, dan salam”. Putrayasa (2008: 20) mengatakan, “Kalimat adalah satuan gramatikal yang dibatasi oleh adanya jeda panjang yang disertai nada akhir naik dan turun”. Berdasarkan jumlah klausanya Putrayasa (2008: 20-55) mengklasifikasi kalimat menjadi (1) kalimat tunggal dan (2) kalimat majemuk. Berikut ini penjelasan tentang klasifikasi kalimat berdasarkan klausanya.

45

Kalimat tunggal ialah kalimat yang hanya terdiri dari satu klausa atau satu konstituen. Unsur inti kalimat tunggal ialah subjek dan predikat. Selanjutnya, kalimat majemuk ialah kalimat yang terdiri atas dua klausa atau lebih. Perhatikan bedanya contoh antara kalimat tunggal dan kalimat majemuk berikut ini.

(22) Mahasiswa Mendiskusikan pemilihan umum 2009. (23) Sarang teroris itu dikepung dan ditembaki Densus 88 pada malam hari. Dalam penelitian ini konstituen-konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- itu terdapat pada kalimat tunggal dan majemuk.

46

BAB III ANALISIS KONSTITUEN PASCAVERBA INTRANSITIF BERAFIKS BE(R)- DALAM BAHASA NDONESIA

3.1 Fungsi Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)Pada dasaranya fungsi sintaktis terdiri atas subjek, predikat, objek, pelengkap, dan keterangan. Dapat diketahui bahwa verba intransitif adalah verba yang tidak menghadirkan objek setelah predikatnya. Jadi, dalam penelitian ini dibahas mengenai fungsi sintaktis yang menjadi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)-. Fungsi sintaktis setelah verba intransitif berafiks be(R)- hanya berupa pelengkap dan keterangan.

3.1.1 Konstituen dengan Fungsi Pelengkap Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan fungsi pelengkap dalam konstruksi kalimat. Berdasarkan distribusi dalam kalimat, pelengkap ada yang bersifat wajib dan ada yang bersifat opsional atau manasuka. Berikut ini analisis data konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dengan fungsi pelengkap.

3.1.1.1 Pelengkap Wajib Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan pelengkap wajib dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data pelengkap wajib
46

47

sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (1) Sementara itu, sang ibu Marija berkebangsaan Slovenia. (MI, 1/1/7-5-2008) (2) Konvensi ini berpotensi memicu perpecahan. (MI, 1/1/11-12-2008) (3) Dalam kehidupan sosial, ia berkepribadian hangat. (R, 1/1/3-5-2009) (4) APBD DKI Berindikasi Korupsi (R, 1/1/27-2-2008) (5) Selama persidangan ayah pesinetron Fachri Albar itu berkelakuan baik. (MI, 1/1/25-6-2008) Pada kalimat nomor (1) sampai dengan (5) konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- mengisi fungsi sebagai pelengkap. Fungsi pelengkap pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah Slovenia, memicu perpecahan, hangat, Korupsi, dan baik. Fungsi pelengkap yang hadir pada kalimat tersebut bersifat wajib. Artinya, pelengkap tersebut sebagai unsur dalam konstruksi kalimat sangat terikat dan kehadirannya sangat diperlukan. Fungsi pelengkap sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)apabila dilesapkan dalam konstruksi kalimat akan menjadi tidak berterima baik struktur dan maknanya. Hal itu dapat dibuktikan dengan melesapkan unsur pelengkapnya sebagai berikut. (1a)* Sementara itu, sang ibu Marija berkebangsaan. (2a)* Konvensi ini berpotensi. (3a)* Dalam kehidupan sosial, ia berkepribadian. (4a)* APBD DKI Berindikasi. (5a)* Selama persidangan ayah pesinetron Fachri Albar itu berkelakuan.

48

3.1.1.2 Pelengkap Tidak Wajib Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan pelengkap tidak wajib dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data pelengkap tidak wajib sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (6) (7) Ratusan Karyawan Freeport Berjalan Kaki ke Timika. (MI, 1/1/25-7-2009) Di puncuk pohon cempaka Burung ketilang bernyanyi Bersiul-siul sepanjang hari Dengan tak jemu-jemu. (R, 1/1/23-10-2008) (8) Warga berteriak histeris, karena tak ada suara gemuruh mesin pesawat bernomor registrasi A-1325, namun terdengar suara benda keras yang menerjang rerimbunan pohon bambu. (R, 1/1/22-5-2009) (9) Jumlah pengangguran bertambah banyak setiap tahunnya karena

pabrik/industri banyak yang gulung tikar/bangkrut. (MI, 1/1/19-5-2008) (10) Menurut laporan terakhir, jelas Ari, Soeharto sudah bisa bernafas sendiri meskipun alat bantu pernafasan masih dipasang. (T, 1/1/20-1-2008) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (6) sampai dengan (10) berfungsi sebagai pelengkap. Pelengkap sebagai fungsi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah Kaki, Bersiul-siul, histeris, banyak, dan sendiri. Pelengkap-pelengkap yang hadir pada kalimat nomor (6) sampai dengan (10) sifatnya tidak wajib atau manasuka. Dikatakan demikian karena kehadiran konstituen-konstituen yang berupa fungsi pelengkap itu boleh hadir atau pun tidak hadir dalam konstruksi kalimat. Pelengkap yang bersifat manasuka sebenarnya

49

hanya sebagai penjelas predikat kalimat. Jika, konstituen yang berfungsi sebagai pelengkap tersebut dilesapkan, kalimat-kalimat tersebut tidak terganggu baik struktur dan informasi yang diberikan masih dapat berterima. Akan tetapi, informasi yang diberikan kalimat tersebut menjadi kurang lengkap.

Ketidakhadiran pelengkap-pelengkap itu masih dapat teratasi oleh hadirnya fungsi keterangan dalam kalimat. Hal itu dapat dibuktikan dengan melesapkan unsur pelengkapnya sebagai berikut. (6a) (7a) Ratusan Karyawan Freeport Berjalan ke Timika. Di puncuk pohon cempaka Burung ketilang bernyanyi sepanjang hari Dengan tak jemu-jemu. (8a) Warga berteriak, karena tak ada suara gemuruh mesin pesawat bernomor registrasi A-1325, namun terdengar suara benda keras yang menerjang rerimbunan pohon bambu. (9a) Jumlah pengangguran bertambah setiap tahunnya karena pabrik/industri banyak yang gulung tikar/bangkrut. (10a) Menurut laporan terakhir, jelas Ari, Soeharto sudah bisa bernafas meskipun alat bantu pernafasan masih dipasang.

3.1.2 Konstituen dengan Fungsi Keterangan Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat pula diisi fungsi keterangan dalam konstruksi kalimat. Berdasarkan distribusinya dalam kalimat, keterangan ada yang bersifat wajib dan ada yang bersifat tidak wajib atau

50

manasuka. Berikut ini analisis data konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dengan fungsi keterangan.

3.1.2.1 Keterangan Wajib Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan keterangan wajib dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data keterangan wajib sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (11) Proyek ambisius ini bakal berlokasi di Ibu Kota Tallin atau kota besar lainnya. (R, 1/1/18-5-2009) (12) Forum yang dibentuk pada 5 Juli 2008 ini berkantor di Wisma Batavia. (R, 1/1/14-8-2009) (13) Selanjutnya, Maya dan kawan-kawan harus berhadapan dengan tim Thailand. (T, 1/1/6-9-2009) (14) Pemerintah dan DPR berkesempatan untuk membuat UU tentang Pengadilan Tipikor hingga 19 Desember 2009. (MI, 1/1/30-6-2008) (15) Presiden Yudhoyono akan bertindak sebagai inspektur upacara

pemakaman Ali Alatas. (R, 1/1/11-12-2008) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (11) sampai dengan (15) berfungsi sebagai keterangan. Keterangan sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah di Ibu Kota Tallin atau kota besar lainnya, di Wisma Batavia, dengan tim Thailand, untuk membuat UU tentang Pengadilan Tipikor, dan sebagai inspektur

51

upacara pemakaman Ali Alatas. Konstituen pengisi keterangan itu ditandai hadirnya preposisi di, dengan, untuk, dan sebagai. Keterangan pada kalimat (11) sampai dengan (15) memiliki sifat yang wajib. Maksud pernyataan tersebut adalah fungsi keterangan yang hadir dalam kalimat tidak dapat dilesapkan dari posisinya. Apabila fungsi keterangan pada kalimat dilesapkan, kalimat tersebut berdasarkan struktur dan maknanya menjadi tidak berterima. Hilangnya konstituen keterangan pada konstruksi kalimat tersebut akan menyebabkan ketidakgramatikalan kalimat. Jadi, pada intinya konstituen sebagai fungsi keterangan dalam kalimat tersebut kehadirannya sangat terikat dan diperlukan pada konstruksi kalimat. Berikut ini kalimat nomor (11) sampai dengan (15) apabila fungsi keterangannya dilesapkan. (11a)* Proyek ambisius ini bakal berlokasi. (12a)* Forum yang dibentuk pada 5 Juli 2008 ini berkantor. (13a) * Selanjutnya, Maya dan kawan-kawan harus berhadapan. (14a)* Pemerintah dan DPR berkesempatan. (15a)* Presiden Yudhoyono akan bertindak.

3.1.2.2 Keterangan Tidak Wajib Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan fungsi keterangan tidak wajib dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data keterangan tidak wajib sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat.

52

(16)

Ia sempat berdiskusi dengan pengurus masjid dan bersilaturahmi dengan jamaah. (T, 1/1/29-7-2009)

(17)

Puluhan

Kader

Partai

Penegak

Demokrasi

Indonesia

(PPDI)

berdemonstrasi di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, kemarin. (MI, 1/1/5-11-2008) (18) Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary sedang berkegiatan di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan Pontianak, Kalimantan Barat, untuk mengikuti acara Kementerian Komunikasi dan Informatika. (MI, 1/1/5-11-2008) (19) Kini, jumlah pemeluk Islam semakin bertambah dengan kehadiran para imigran dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan negara-negara Islam di Asia. (R, 1/1/18-5-2009) (20) Para pengendara harus berhati-hati saat melewati Jalan Otto

Iskandardinata karena terdapat galian perbaikan jalan di Jakarta Timur, kemarin. (MI, 1/1/11-12-2008) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (16) sampai dengan (20) berfungsi sebagai keterangan. Fungsi keterangan yang dimunculkan adalah dengan pengurus masjid, di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, di Balikpapan, Kalimantan Timur, dan Pontianak, Kalimantan Barat, dengan kehadiran para imigran dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan negara-negara Islam di Asia, dan saat melewati Jalan Otto Iskandardinata. Konstituen pengisi fungsi keterangan tersebut ditandai dengan hadirnya preposisi dengan, di, dan saat.

53

Keterangan yang hadir pada kalimat (16) sampai dengan (20) sifatnya tidak wajib atau manasuka. Maksudnya adalah kehadiran fungsi keterangan sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- boleh hadir atau pun tidak hadir dalam konstruksi kalimat. Jika, konstituen yang berfungsi sebagai keterangan tersebut dilesapkan, kalimat-kalimat tersebut tidak terganggu dan masih dapat berterima dari segi struktur dan maknanya. Berikut ini merupakan kalimat apabila konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- yang berupa keterangannya dilesapkan. (16a) Ia sempat berdiskusi dan bersilaturahmi dengan jamaah. (17a) Puluhan Kader Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI)

berdemonstrasi. (18a) Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary sedang berkegiatan. (19a) Kini, jumlah pemeluk Islam semakin bertambah. (20a) Para pengendara harus berhati-hati karena terdapat galian perbaikan jalan di Jakarta Timur, kemarin.

54

Tabel 1. Fungsi Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)Fungsi Sintaktis Pelengkap Wajib Kalimat 1. Sementara itu, sang ibu Marija berkebangsaan Slovenia. 2. Konvensi ini berpotensi memicu perpecahan. 3. APBD DKI Berindikasi Korupsi. Konstituen Pascaverba Slovenia memicu perpecahan Korupsi Kaki

Pelengkap Tidak Wajib

4. Ratusan Karyawan Freeport Berjalan Kaki ke Timika. 5. Menurut laporan terakhir, jelas Ari, Soeharto sudah bisa bernafas sendiri sendiri meskipun alat bantu pernafasan masih dipasang. 6. Di puncuk pohon cempaka Burung ketilang bernyanyi Bersiul-siul sepanjang hari Dengan tak jemu-jemu Bersiul-siul

Keterangan Wajib Keterangan Tidak Wajib

7. Forum yang dibentuk pada 5 Juli 2008 ini berkantor di Wisma Batavia. di Wisma Batavia 8. Presiden Yudhoyono akan bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman sebagai inspektur upacara Ali Alatas. pemakaman Ali Alatas 9. Selanjutnya, Maya dan kawan-kawan harus berhadapan dengan tim Thailand. dengan tim Thailand 10. Ia sempat berdiskusi dengan pengurus masjid dan bersilaturahmi dengan jamaah. 11. Puluhan Kader Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) berdemonstrasi di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, kemarin. 12. Para pengendara harus berhati-hati saat melewati Jalan Otto Iskandardinata karena terdapat galian perbaikan jalan di Jakarta Timur, kemarin.
54

dengan pengurus masjid di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, saat melewati Jalan Otto

54

55

Iskandardinata Bagan 1. Fungsi Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)-

56

55

57

3.2 Kategori Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)Dalam penelitian ini dibahas mengenai kategori sintaktis yang menjadi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)-. Hasil penelitian kategori sintaktis setelah verba intransitif berafiks be(R)- berupa nomina atau frasa nominal, verba atau frasa verbal, adjektiva atau frasa adjektival, frasa numeralia, dan frasa preposisional.

3.2.1 Konstituen dengan Kategori Nomina atau Frasa Nominal Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan kategori nomina atau frasa nominal dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data kategori nomina atau frasa nominal sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (21) Sebanyak 23 orang berkebangsaan Thailand, 3 orang lainnya

berkebangsaan Indonesia. (T, 1/1/1-4-2008) (22) Ketika itu, Estonia belum berbentuk negara. (R, 1/1/18-5-2009) (23) Mereka beragama Nasrani, tapi bertoleransi terhadap umat agama lain. (R, 1/1/18-5-2009) (24) Papan itu bergambar sepasang polisi laki-laki dan perempuan dalam sikap hormat. (K, 1/1/14-8-2008) (25) Lontongnya berbentuk segitiga lebar dan pipih. (K, 1/1/3-7-2008) (26) Jika kasus itu berindikasi tindak pidana korupsi, selanjutnya dilakukan gelar perkara. (MI, 1/1/6-10-2008)

58

Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (21) sampai dengan (26) berkategori sebagai nomina. Nomina sebagai kategori konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah Thailand, negara, dan Nasrani. Selanjutnya, Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (21) sampai dengan (26) berkategori sebagai frasa nominal. Frasa nominal sebagai kategori pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah sepasang polisi laki-laki dan perempuan, segitiga lebar dan pipih, dan tindak pidana korupsi.

3.2.2 Konstituen dengan Kategori Verba atau Frasa Verbal Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan kategori verba atau frasa verbal dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data kategori verba atau frasa verbal sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (27) Lulusan PT Berkesempatan Kerja di Perusahaan Jepang. (R, 1/1/11-7-2009). (28) Saya nggak bisa berhenti menangis. (R, 1/1/14-7-2009) (29) Malam ini Presiden berencana datang bersama dengan PM Badawi. (R, 1/1/11-12-2008) (30) Pemprov DKI Tak Berkewajiban Ganti Rugi Monorel. (K, 1/1/14-5-2009) (31) Saya tidak bermimpi mencetak gol di final. (MI, 1/1/24-8-2008) (32) Sementara itu, seluruh penyusun Undang-Undang yang berasal dari parpol sudah berkonsentrasi menghadapi Pemilu 2009. (MI, 1/1/30-6-2008)

59

Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (27) sampai dengan (32) berkategori sebagai verba. Verba sebagai kategori konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah Kerja, menangis, dan datang. Selanjutnya, Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (27) sampai dengan (32) berkategori sebagai frasa verbal. Frasa verbal sebagai kategori pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah Ganti Rugi Monorel, mencetak gol, dan menghadapi Pemilu 2009.

3.2.3 Konstituen dengan Kategori Adjektiva atau Frasa Adjektival Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan kategori adjektiva atau frasa adjektival dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data kategori adjektiva atau frasa adjektival sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (33) Dari Indonesia, Amin Suryana berkesempatan besar untuk menyalip Hardi karena selisih catatan waktu keduanya amat tipis. (T, 1/1/25-8-2003) (34) Saat menuju landasan, pesawat berkecepatan rendah sehingga tidak bisa bermanuver, (R, 1/1/10-3-2009) (35) Siswi kelas I SMP ini sudah berkegiatan normal seperti rekan-rekan sebayanya. (T, 1/1/19-1-2009) (36) Pelapis dinding atau wallcover ruang tamunya berwarna merah bata, bergaya retro, dengan motif polkadot seukuran bola pingpong dengan garisgaris vertikal. (T, 1/1/20-7-2009)

60

(37) Sedangkan perabotnya berwarna cokelat kayu. (T, 1/1/20-7-2009) (38) RUU MA Beraroma "Tak Sedap". (K, 1/1/23-9-2008) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (33) sampai dengan (38) berkategori sebagai adjektiva. Adjektiva sebagai kategori konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah besar, rendah, dan normal. Selanjutnya, Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (33) sampai dengan (38) berkategori sebagai frasa adjektival. Frasa adjektival sebagai kategori pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah merah bata, cokelat kayu, dan Tak Sedap.

3.2.4 Konstituen dengan Frasa Numeralia Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan kategori frasa numeralia dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data kategori frasa numeralia sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (39) Penyerang (Satpol PP) berjumlah 150 orang. (T, 1/1/10-9-2008) (40) Biaya yang dibutuhkan para calon TKI berkisar Rp 5 juta. (K, 1/1/22-122008) (41) Angin dari tenggara-selatan itu berkecepatan 5-22 knot. (MI, 1/1/27-9-2008) (42) Satu porsi full berisi dua lontong. (K, 1/1/3-7-2008) (43) Pimpinan MPR berjumlah lima orang yang terdiri dari 3 anggota DPR dan 2 anggota DPD. (MI, 1/1/3-7-2008)

61

Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (39) sampai dengan (43) berkategori sebagai frasa numeralia. Frasa numeralia sebagai kategori konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah 150 orang, Rp 5 juta, 5-22 knot, dua lontong, dan lima orang.

3.2.5 Konstituen dengan Frasa Preposisional Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan kategori frasa numeralia dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data kategori frasa numeralia sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (44) Kalla sudah berkegiatan sejak pagi hari. (R, 1/1/29-7-2009) (45) Kompetisi Liga Singapura berakhir pada 4 November 2009. (MI, 1/1/26-92009) (46) Beberapa perusahaan besar Thailand beroperasi di Kamboja. (R, 1/1/16-102008) (47) Kapal jetfoil itu berlayar dari Pelabuhan Boom Baru, Palembang, dan mengalami kecelakaan pada jalur pelayaran Bui Merah, Bangka, sekitar pkl. 15.00 hingga 16.00 WIB. (MI, 1/1/27-1-2009) (48) Diah Defawati telah berpindah ke PDIP sekaligus menjadi Caleg partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini. (MI, 1/1/26-8-2008) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (44) sampai dengan (48) berkategori sebagai frasa preposisional. Frasa preposisional

62

sebagai kategori konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah sejak pagi hari, pada 4 November 2009, di Kamboja, dari Pelabuhan Boom Baru, Palembang, dan ke PDIP. Frasa preposisional dalam kalimat tersebut ditandai dengan hadirnya preposisi sejak, pada, di, dari, dan ke.

63

Tabel 2. Kategori Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)Kategori Sintaktis Nomina Frasa Nomina Verba Frasa Verba Adjektiva Frasa Adjektiva Frasa Numeralia Frasa Preposisional Kalimat Konstituen Pascaverba 1. Sebanyak 23 orang berkebangsaan Thailand, 3 orang lainnya berkebangsaan Thailand Indonesia. 2. Mereka beragama Nasrani, tapi bertoleransi terhadap umat agama lain. Nasrani 3. Papan itu bergambar sepasang polisi laki-laki dan perempuan dalam sikap sepasang polisi laki-laki hormat. dan perempuan 4. Lontongnya berbentuk segitiga lebar dan pipih. segitiga lebar dan pipih 5. Lulusan PT Berkesempatan Kerja di Perusahaan Jepang. Kerja 6. Saya nggak bisa berhenti menangis. menangis 7. Pemprov DKI Tak Berkewajiban Ganti Rugi Monorel. Ganti Rugi Monorel 8. Saya tidak bermimpi mencetak gol di final. mencetak gol 9. Siswi kelas I SMP ini sudah berkegiatan normal seperti rekan-rekan normal sebayanya. rendah 10. Saat menuju landasan, pesawat berkecepatan rendah sehingga tidak bisa bermanuver, 11. Sedangkan perabotnya berwarna cokelat kayu. cokelat kayu 12. RUU MA Beraroma "Tak Sedap". Tak Sedap 13. Penyerang (Satpol PP) berjumlah 150 orang. 150 orang 14. Satu porsi full berisi dua lontong. dua lontong 15. Kalla sudah berkegiatan sejak pagi hari. sejak pagi hari 16. Beberapa perusahaan besar Thailand beroperasi di Kamboja. di Kamboja

64

62

65

Bagan 2. Kategori Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)-

66

3.3 Konstruksi Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam bahasa Indonesia memiliki konstruksi sintaktis beragam. Pada dasaranya konstruksi sintaktis terdiri atas kata, frasa, klausa, kalimat, dan wacana. Berikut ini diuraikan jenis konstruksi sintaktis sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam bahasa Indonesia.

3.3.1 Konstituen Berupa Kata Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan bentuk kata dalam konstruksi kalimat. Berdasarkan bentuknya kata dibedakan atas bentuk dasar dan bentuk turunan. Berikut ini data berupa kata sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat.

3.3.1.1 Bentuk Dasar Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan konstruksi kata yang berbentuk dasar dalam kalimat. Berikut ini data berupa konstruksi kata yang berbentuk dasar sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)-. (49) Saya berpenyakit asma, bisa mati kalau pakai ekstasi. (T, 1/1/11-5-1999) (50) Pembahasan RUU MA Berindikasi Suap (R, 1/1/17-12-2008) (51) LBI juga bersifat profesional, (T, 1/1/16-6-2003)

67

(52) Para petinju wanita ini berkemauan besar untuk mewakili negara di tingkat dunia. (K, 1/1/13-11-2009) (53) Ketiganya memang berprilaku normal namun semuanya kurang pergaulan. (R, 1/1/14-7-2009) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (49) sampai dengan (53) berkonstruksi sebagai kata yang berupa bentuk dasar. Kata yang berbentuk dasar sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah asma, Suap, profesional, besar, dan normal.

3.3.1.2 Bentuk Turunan Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan konstruksi kata yang berbentuk turunan dalam kalimat. Berikut ini data berupa konstruksi kata yang berbentuk turunan sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)-. (54) Para santriwati juga berkesempatan berorganisasi melalui kegiatan ekstrakurikuler. (R, 1/1/23-12-2008) (55) Selama kurang lebih 30 menit lamanya aparat polsek Abepura berusaha bertahan dari serangan ratusan warga asal Wamena itu. (MI, 1/1/9-4-2009) (56) Mobil baru berhenti melaju kala menabrak tiang listrik. (R, 29/9/2009) (57) Menurut hitungannya, 68 persen siswa berkemampuan rata-rata. (T, 1/1/12-1999) (58) Tujuh partai berasaskan Pancasila; hanya PKS dan PPP. (R, 1/1/30-4-2009)

68

Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (54) sampai dengan (58) berkonstruksi sebagai kata yang berupa bentuk turunan. Kata yang berbentuk turunan sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah berorganisasi, bertahan, melaju, rata-rata, dan Pancasila. Bentuk turunan berorganisasi, bertahan, dan melaju merupakan hasil dari afiksasi be(R)- + kata dasar (organisasi, tahan, dan laju). Bentuk turunan ratarata merupakan hasil dari reduplikasi kata dasar rata. Bentuk turunan Pancasila merupakan gabungan kata antara panca dengan sila yang satu di antaranya merupakan bentuk terikat atau biasa disebut klitika.

3.3.2 Konstituen Berupa Frasa Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan bentuk frasa dalam konstruksi kalimat. Frasa dilihat berdasarkan distribusinya dapat terbagi atas frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. Berikut ini data berupa frasa sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat.

3.3.2.1 Frasa Endosentrik Dalam kaitan antarunsurnya, frasa endosentrik memiliki hubungan semantis tertentu, di antaranya, frasa endosentrik koordinatif, frasa endosentrik atributif, dan frasa endosentrik apositif. Berikut ini data konstruksi frasa

69

endosentrik sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam kalimat.

3.3.2.1.1 Frasa Endosentrik Koordinatif Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan frasa endosentrik koordinatif dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data frasa endosentrik koordinatif sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)dalam konstruksi kalimat. (59) Ajak anak berbelanja sayur dan buah. (K, 1/1/23-7-2008) (60) Ia berkali-kali menggerakkan atau menggigit bibir. (K, 1/1/17-6-2008) (61) Semua berpakaian rapi dan trendy. (K, 1/1/10-3-2008) (62) “Golkar tidak berpikir soal menang-kalah, tapi lebih menginginkan terciptanya pemerintahan yang kuat dan stabil.” (R, 1/1/16-4-2009) (63) Guru harus berpenampilan menarik dan penuh percaya diri. (R, 1/1/24-22009) (64) Mereka cocok bekerja sebagai artis, dekorator interior, atau pemandu wisata. (MI, 1/1/24-9-2009) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (59) sampai dengan (64) berkonstruksi sebagai frasa endosentrik koordinatif. Frasa endosentrik koordinatif sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah sayur dan buah, menggerakkan atau menggigit, rapi dan trendy, menang-kalah, menarik dan penuh percaya diri, dan sebagai artis, dekorator interior, atau pemandu wisata.

70

Kalimat pada nomor (59) sampai dengan (64) frasa endosentriknya bersifat koordinatif. Dengan kata lain, unsur-unsur pembentuk frasa tersebut memiliki kedudukan yang setara dan bersifat penambahan atau pemilihan. Hal itu dapat dibuktikan dalam kalimat dengan munculnya konjungsi dan dan atau. Frasa endosentrik yang koordinatif kedua unsurnya merupakan inti dan mempunyai peranan yang sama penting, sehingga apabila salah satu unsurnya dilesapkan tidak akan menjadi masalah dalam konstruksi kalimat baik dari segi struktur dan maknanya. Berikut ini kalimat apabila unsur-unsur pembentuk frasa endosentriknya yang bersifat koordinatif dipisahkan. (59a) Ajak anak berbelanja sayur. (59b) Ajak anak berbelanja buah. (60a) Ia berkali-kali menggerakkan bibir. (60b) Ia berkali-kali menggigit bibir. (61a) Semua berpakaian rapi. (61b) Semua berpakaian trendy. (62a) “Golkar tidak berpikir soal menang, tapi lebih menginginkan terciptanya pemerintahan yang kuat dan stabil.” (62b) “Golkar tidak berpikir soal kalah, tapi lebih menginginkan terciptanya pemerintahan yang kuat dan stabil.” (63a) Guru harus berpenampilan menarik. (63b) Guru harus berpenampilan penuh percaya diri. (64a) Mereka cocok bekerja sebagai artis.

71

(64b) Mereka cocok bekerja sebagai dekorator interior. (64c) Mereka cocok bekerja sebagai pemandu wisata.

3.3.2.1.2 Frasa Endosentrik Atributif Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan frasa endosentrik atributif dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data frasa endosentrik atributif sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (65) Matahari bersinar sangat terik. (R, 1/1/6-11-2008) (66) Selama ini, lanjut dia, istri dan ibu HC berjualan nasi kuning. (T, 1/1/20-82008) (67) Ia sebenarnya berpenampilan sangat baik untuk ukurannya. (MI, 1/1/23-102009) (68) Pagi hari, ia sudah berolahraga selama 30 menit di sebuah gimnasium dekat rumahnya di Chicago. (K, 1/1/30-6-2008) (69) Biasanya, orang seperti ini suka berkelakuan sedikit centil untuk memamerkan ponselnya. (K, 1/1/7-7-2008) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (65) sampai dengan (69) berkonstruksi sebagai frasa endosentrik atributif. Frasa endosentrik atributif sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah sangat terik, nasi kuning, sangat baik, selama 30 menit, dan sedikit centil.

72

Kalimat pada nomor (65) sampai dengan (69) frasa endosentriknya bersifat atributif. Artinya, unsur-unsur pembentuk frasa tersebut berlainan ada yang berupa unsur pusat atau penting dan ada yang berupa unsur penambah atau atribut. Berdasarkan data frasa endosentrik atributif pada kalimat tersebut yang menjadi unsur pusat atau terpenting adalah terik, nasi. baik, 30 menit, dan centil. Frasa endosentrik atributif apabila salah satu unsurnya dilesapkan dalam kalimat akan menjadi tidak berterima baik struktur dan maknanya. Berikut ini kalimat apabila unsur-unsur pembentuk frasa endosentriknya yang bersifat atributif dipisahkan. (65a)* Matahari bersinar sangat. (65b) Matahari bersinar terik. (66a) Selama ini, lanjut dia, istri dan ibu HC berjualan nasi. (66b)* Selama ini, lanjut dia, istri dan ibu HC berjualan kuning. (67a)* Ia sebenarnya berpenampilan sangat untuk ukurannya. (67b) Ia sebenarnya berpenampilan baik untuk ukurannya. (68a)* Pagi hari, ia sudah berolahraga selama di sebuah gimnasium dekat rumahnya di Chicago. (68b) Pagi hari, ia sudah berolahraga 30 menit di sebuah gimnasium dekat rumahnya di Chicago. (69a)* Biasanya, orang seperti ini suka berkelakuan sedikit untuk memamerkan ponselnya. (69b) Biasanya, orang seperti ini suka berkelakuan centil untuk memamerkan ponselnya.

73

3.3.2.1.3 Frasa Endosentrik Apositif Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan frasa endosentrik apositif dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data frasa endosentrik apositif sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (70) Selain itu, Sarkozy juga bertemu dengan Perdana Menteri Israel Ehud Olmert di Yerusalem, kemudian pada Selasa (6/1) mengunjungi Suriah dan Lebanon. (K, 1/1/9-1-2009) (71) Di sini ia berjumpa Sukri, ustad yang tinggal di Desa Senembah Ujung Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. (T, 1/1/6-72009) (72) Di putaran keempat nanti, Senin (30/6), Jankovic akan berhadapan dengan petenis Thailand, Tamarine Tanasugarn, untuk memperebutkan tiket ke perempat final. (K, 1/1/28-6-2008) (73) Bintang berusia 50 tahun ini mulai berpacaran dengan "si brondong" Chase Dreyfous, pada Juni silam setelah bertemu dalam sebuah acara amal. (T, 1/1/19-11-2008) (74) Usai sholat, ia bersama sang adik, Ahmad Maulana, 9, yang setia menemani setiap hari, bermain di halaman masjid. (K, 1/1/25-7-2008) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (70) sampai dengan (74) berkonstruksi sebagai frasa endosentrik apositif. Frasa endosentrik apositif sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah Perdana Menteri Israel

74

Ehud Olmert, Sukri, ustad yang tinggal di Desa Senembah Ujung Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, petenis Thailand, Tamarine Tanasugarn, "si brondong" Chase Dreyfous, dan sang adik, Ahmad Maulana, 9. Kalimat pada nomor (70) sampai dengan (74) frasa endosentriknya bersifat apositif. Artinya, unsur-unsur pembentuk frasa endosentrik hubungannya menjelaskan dan peranannya sebagai pengganti bagian yang dijelaskan, sehingga apabila salah satu unsurnya digantikan dalam konstruksi kalimat secara struktur dan makna masih berterima. Berikut ini kalimat apabila unsur-unsur pembentuk frasa endosentriknya yang bersifat apositif dipisahkan. (70a) Selain itu, Sarkozy juga bertemu dengan Perdana Menteri Israel di Yerusalem, kemudian pada Selasa (6/1) mengunjungi Suriah dan Lebanon. (70b) Selain itu, Sarkozy juga bertemu dengan Ehud Olmert di Yerusalem, kemudian pada Selasa (6/1) mengunjungi Suriah dan Lebanon. (71a) Di sini ia berjumpa Sukri. (71b) Di sini ia berjumpa ustad yang tinggal di Desa Senembah Ujung Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. (72a) Di putaran keempat nanti, Senin (30/6), Jankovic akan berhadapan dengan petenis Thailand, untuk memperebutkan tiket ke perempat final. (72b) Di putaran keempat nanti, Senin (30/6), Jankovic akan berhadapan dengan Tamarine Tanasugarn, untuk memperebutkan tiket ke perempat final. (73a) Bintang berusia 50 tahun ini mulai berpacaran dengan "si brondong", pada Juni silam setelah bertemu dalam sebuah acara amal.

75

(73b) Bintang berusia 50 tahun ini mulai berpacaran dengan Chase Dreyfous, pada Juni silam setelah bertemu dalam sebuah acara amal. (74a) Usai sholat, ia bersama sang adik, 9, yang setia menemani setiap hari, bermain di halaman masjid. (74b) Usai sholat, ia bersama Ahmad Maulana, 9, yang setia menemani setiap hari, bermain di halaman masjid.

3.3.2.2 Frasa Eksosentrik Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan konstruksi frasa eksosentrik dalam kalimat. Dalam kaitan antarunsurnya, frasa eksosentrik memiliki hubungan semantis tertentu, di antaranya, frasa eksosentrik direktif dan frasa eksosentrik objektif. Berikut ini data konstruksi frasa eksosentrik sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam kalimat.

3.3.2.2.1 Frasa Eksosentrik Direktif Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan frasa eksosentrik direktif dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data frasa eksosentrik direktif sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (75) Biasanya, ia berjualan di Pancoran. (K, 1/1/18-6-2008) (76) Selain itu, GM kemungkinan akan kembali berproduksi di Indonesia. (K, 1/1/14-8-2008)

76

(77) Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat (15/5) siang langsung bertolak ke Bandung, Jawa Barat, setibanya di Jakarta setelah kunjungan kerja selama tiga hari ke Manado, Sulawesi Utara. (MI, 1/1/15-5-2009) (78) Wasit dan Juri Chris John Berasal dari AS. (R, 1/1/15-10-2009) (79) Sebenarnya aku ingin berkolaborasi dengan Glen Fredly, tapi Afghan lebih tepat karakter suaranya. (R, 1/1/29-4-2009) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (75) sampai dengan (79) berkonstruksi sebagai frasa eksosentrik direktif. Frasa eksosentrik direktif sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah di Pancoran, di Indonesia, ke Bandung, Jawa Barat, dari AS, dan dengan Glen Fredly. Frasa eksosentrik direktif yang ada pada kalimat tersebut ditandai dengan hadirnya preposisi di, ke, dari, dan dengan. Frasa eksosentrik direktif pada kalimat nomor (75) sampai dengan (79) mempunyai distribusi yang tidak sama dengan salah satu unsurnya. Hubungan antarunsur pembentuk frasa tersebut bersifat terikat dan keduanya sangat penting untuk hadir dalam kalimat. Jadi, apabila salah satu unsur pembentuk frasa eksosentrik direktif pada kalimat dilesapkan, kalimat tersebut secara struktur dan informasi tidak berterima. Hal itu dapat dibuktikan dengan melesapkan salah satu unsurnya sebagai berikut. (75a)* Biasanya, ia berjualan di. (75b)* Biasanya, ia berjualan Pancoran. (76a)* Selain itu, GM kemungkinan akan kembali berproduksi di.

77

(76b)* Selain itu, GM kemungkinan akan kembali berproduksi Indonesia. (77a)* Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat (15/5) siang langsung bertolak ke setibanya di Jakarta setelah kunjungan kerja selama tiga hari ke Manado, Sulawesi Utara. (77b)* Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat (15/5) siang langsung bertolak Bandung, Jawa Barat, setibanya di Jakarta setelah kunjungan kerja selama tiga hari ke Manado, Sulawesi Utara. (78a)* Wasit dan Juri Chris John Berasal dari. (78b)* Wasit dan Juri Chris John Berasal AS. (79a)* Sebenarnya aku ingin berkolaborasi dengan, tapi Afghan lebih tepat karakter suaranya. (79b)* Sebenarnya aku ingin berkolaborasi Glen Fredly, tapi Afghan lebih tepat karakter suaranya.

3.3.2.2.2 Frasa Eksosentrik Objektif Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan frasa eksosentrik objektif dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data frasa eksosentrik objektif sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (80) Sekitar pukul 07.15 WIB dia berniat ingin membersihkan kamar motel nomor 47. (MI, 1/1/3-10-2009) (81) Manajer Arsene Wenger pun berharap bisa menambah kekuatan di lini depan dengan mendatangkan Mario Balotelli dari Inter. (R, 1/1/23-10-2009)

78

(82) Itu artinya dia sedang berusaha mengeluarkan isi pikirannya. (K, 1/1/17-62008) (83) Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, berencana akan mengirim sekitar 500 tentara ke Afghanistan. (R, 1/1/14-10-2009) (84) Maskapai penerbangan Lion Air berencana akan melayani pengangkutan jamaah haji Indonesia tahun 2009 ini. (R, 1/1/13-1-2009) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (80) sampai dengan (84) berkonstruksi sebagai frasa eksosentrik objektif. Frasa eksosentrik objektif sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah ingin membersihkan kamar motel nomor 47, bisa menambah kekuatan di lini depan, mengeluarkan isi pikirannya, akan mengirim sekitar 500 tentara, dan akan melayani pengangkutan jamaah haji Indonesia. Data tersebut dikatakan frasa eksosentrik objektif karena unsur-unsur pembentuknya memiliki verba transitif yang memerlukan objek sebagai konstituennya. Verba-verba transitif yang ada dalam frasa eksosentrik objektif tersebut adalah ingin membersihkan, bisa menambah, mengeluarkan, akan mengirim, dan akan melayani. Di samping itu, yang menjadi unsur objek dalam frasa eksosentrik objektif, yaitu kamar motel nomor 47, kekuatan di lini depan, isi pikirannya, sekitar 500 tentara, dan pengangkutan jamaah haji Indonesia. Frasa eksosentrik objektif sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (80) sampai dengan (84) juga mempunyai distribusi yang tidak sama dengan salah satu unsurnya. Hubungan antarunsur

79

verba dan objek pembentuk frasa bersifat terikat dan keduanya sangat penting untuk hadir dalam kalimat. Jadi, apabila salah satu unsur pembentuk frasa eksosentrik objektif pada kalimat dilesapkan, kalimat tersebut secara struktur dan informasi tidak berterima. Hal itu dapat dibuktikan dengan melesapkan salah satu unsurnya sebagai berikut. (80a)* Sekitar pukul 07.15 WIB dia berniat ingin membersihkan. (80b)* Sekitar pukul 07.15 WIB dia berniat kamar motel nomor 47. (81a)* Manajer Arsene Wenger pun berharap bisa menambah dengan mendatangkan Mario Balotelli dari Inter. (81b)* Manajer Arsene Wenger pun berharap kekuatan di lini depan dengan mendatangkan Mario Balotelli dari Inter. (82a)* Itu artinya dia sedang berusaha mengeluarkan. (82b)* Itu artinya dia sedang berusaha isi pikirannya. (83a)* Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, berencana akan mengirim ke Afghanistan. (83b)* Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, berencana sekitar 500 tentara ke Afghanistan. (84a)* Maskapai penerbangan Lion Air berencana akan melayani tahun 2009 ini. (84b)* Maskapai penerbangan Lion Air berencana pengangkutan jamaah haji Indonesia tahun 2009 ini.

80

3.3.3 Konstituen Berupa Klausa Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan bentuk klausa dalam konstruksi kalimat. Dilihat berdasarkan kemandiriannya klausa terdiri atas dua bagian, yakni klausa bebas dan klausa terikat. Berikut ini data berupa klausa sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat.

3.3.3.1 Konstituen Berupa Klausa Bebas Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan bentuk klausa bebas dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data klausa bebas yang menjadi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (85) Ia tetap beranggapan Bank Century terlalu kecil dan tak signifikan untuk diselamatkan. (T, 1/1/7-9-2009) (86) Saya berkeyakinan suatu saat Kereta Api akan menjadi andalan transportasi di Jakarta. (K, 1/1/8-11-2008) (87) Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri I ndonesia (Kadin) MS Hidayat berpendapat, Bank Indonesia seharusnya bisa lebih keras memaksa bankbank untuk melaksanakan fungsi intermediasi. (T, 1/1/3-8-2009) (88) Bisa-bisa, si dia malah berpikir Anda masih mencintai dan belum bisa melupakan mantan kekasih. (MI, 1/1/6-6-2009)

81

(89) Ketua Asosiasi Produsen Gula dan Terigu Indonesia Natsir Mansur berpendapat, merek kemasan murah untuk gula hanya akan

menguntungkan konsumen. (K, 1/1/11-5-2009) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (85) sampai dengan (89) berkonstruksi sebagai klausa bebas. Klausa bebas sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah Bank Century terlalu kecil dan tak signifikan untuk diselamatkan, suatu saat Kereta Api akan menjadi andalan transportasi di Jakarta, Bank Indonesia seharusnya bisa lebih keras memaksa bank-bank untuk melaksanakan fungsi intermediasi, Anda masih mencintai dan belum bisa melupakan mantan kekasih, dan merek kemasan murah untuk gula hanya akan menguntungkan konsumen. Konstruksi kalimat tersebut dikatakan memiliki klausa bebas karena unsur pembentuk kalimat yang minimal terdiri atas subjek dan predikat dapat berdiri sendiri. Bentuk klausa bebas tersebut sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat dipisahkan dalam konstruksi kalimat karena tidak terikat dengan klausa sebelumnya. Hubungan antara klausa pertama dengan klausa kedua bersifat bebas dalam arti dapat menjadi kalimat tersendiri. Jadi, apabila salah satu unsur pembentuk klausa pada konstruksi kalimat dipisahkan, kalimat tersebut secara struktur dan informasi masih berterima. Hal itu dapat dibuktikan dengan memisahkan salah satu unsur klausanya sebagai berikut. (85a) Ia tetap beranggapan. (85b) Bank Century terlalu kecil dan tak signifikan untuk diselamatkan.

82

(86a) Saya berkeyakinan. (86b) Suatu saat Kereta Api akan menjadi andalan transportasi di Jakarta. (87a) Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri I ndonesia (Kadin) MS Hidayat berpendapat. (87b) Bank Indonesia seharusnya bisa lebih keras memaksa bank-bank untuk melaksanakan fungsi intermediasi. (88a) Bisa-bisa, si dia malah berpikir. (88b) Anda masih mencintai dan belum bisa melupakan mantan kekasih. (89a) Ketua Asosiasi Produsen Gula dan Terigu Indonesia Natsir Mansur berpendapat. (89b) Merek kemasan murah untuk gula hanya akan menguntungkan konsumen.

3.3.3.2 Konstituen Berupa Klausa Terikat Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat diisi dengan bentuk klausa terikat dalam konstruksi kalimat. Berikut ini data klausa terikat yang menjadi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam konstruksi kalimat. (90) SFC tidak berkeberatan andaikata Duric berlaku seperti Precious. (MI, 1/1/26-9-2009) (91) Perilaku Ryan banyak berubah ketika ia duduk di bangku SMP. (K, 1/1/257-2008) (92) Nyamuk sudah bisa berkembang biak setelah curah hujan relatif kecil. (T, 1/1/15-2-2007)

83

(93) Bolehlah polisi bergembira karena telah melenyapkan Noordin M Top. (MI, 1/1/19-9-2009) (94) Banyak orang bersedih karena tidak mendapatkan anak yang sangat mereka impikan. (MI, 1/1/11-8-2009) Konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat nomor (90) sampai dengan (94) berkonstruksi sebagai klausa terikat. Klausa terikat sebagai konstruksi konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- pada kalimat tersebut secara berturut-turut adalah andaikata Duric berlaku seperti Precious, ketika ia duduk di bangku SMP, setelah curah hujan relatif kecil, karena telah melenyapkan Noordin M Top, dan karena tidak mendapatkan anak yang sangat mereka impikan. Klausa terikat yang terdapat pada kalimat tersebut ditandai dengan hadirnya konjungsi, seperti andaikata, meski, bahwa,dan karena. Konstruksi kalimat tersebut dikatakan memiliki klausa terikat karena unsur pembentuk kalimat yang minimal terdiri atas subjek dan predikat tidak dapat berdiri sendiri. Bentuk klausa terikat tersebut tidak dapat dipisahkan dalam konstruksi kalimat karena merupakan bagian yang dianggap penting sebagai penjelas klausa pertama. Hubungan antara klausa pertama dengan klausa kedua yang menjadi penjelas bersifat terikat dan sangat penting untuk hadir dalam kalimat. Jadi, apabila salah satu unsur pembentuk klausa pada konstruksi kalimat dipisahkan, kalimat tersebut secara struktur dan informasi tidak berterima. Hal itu dapat dibuktikan dengan memisahkan salah satu unsur klausanya sebagai berikut. (90a) SFC tidak berkeberatan. (90b)* Andaikata Duric berlaku seperti Precious.

84

(91a) Perilaku Ryan banyak berubah. (91b)* Ketika ia duduk di bangku SMP. (92a) Nyamuk sudah bisa berkembang biak. (92b)* Setelah curah hujan relatif kecil. (93a) Bolehlah polisi bergembira. (93b)* Karena telah melenyapkan Noordin M Top. (94a) Banyak orang bersedih. (94b)* Karena tidak mendapatkan anak yang sangat mereka impikan.

85

Tabel 3. Konstruksi Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)Konstruksi Sintaktis Bentuk Dasar Bentuk Turunan Koordinatif Atributif Frasa Endosentrik Apositif Direktif Frasa Eksosentrik Objektif Kalimat 1. Pembahasan RUU MA Berindikasi Suap 2. Mobil baru berhenti melaju kala menabrak tiang listrik. 3. Semua berpakaian rapi dan trendy. 4. Matahari bersinar sangat terik. 5. Usai sholat, ia bersama sang adik, Ahmad Maulana, 9, yang setia menemani setiap hari, bermain di halaman masjid. 6. Biasanya, ia berjualan di Pancoran. 7. Itu artinya dia sedang berusaha mengeluarkan isi pikirannya. 8. Ia tetap beranggapan Bank Century terlalu kecil dan tak signifikan untuk diselamatkan. 9. Perilaku Ryan banyak berubah ketika ia duduk di bangku SMP. Konstituen Pascaverba Suap melaju rapi dan trendy sangat terik sang adik, Ahmad Maulana, 9, di Pancoran. mengeluarkan isi pikirannya. Bank Century terlalu kecil dan tak signifikan untuk diselamatkan. ketika ia duduk di bangku SMP.

Kata

Frasa

Klausa Bebas Klausa Klausa Terikat

83

86

Bagan 3. Konstruksi Sintaktis Konstituen Pascaverba Intransitif Berafiks Be(R)-

87

84

88

BAB IV PENUTUP

4.1 Simpulan Berdasarkan analisis data pada bab III dapat disimpulkan bahwa konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam kalimat bahasa Indonesia adalah sebagai berikut. (1) Fungsi sintaktis sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)dapat berupa pelengkap dan keterangan. Pelengkap sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat berupa pelengkap wajib dan pelengkap tidak wajib. Keterangan sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- juga dapat berupa keterangan wajib dan keterangan tidak wajib. (2) Kategori sintaktis sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)terdiri atas nomina atau frasa nominal, verba atau frasa verbal, adjektiva atau frasa adjektival, frasa numeralia, dan frasa preposisional. (3) Konstruksi sintaktis sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)yang terdapat dalam kalimat dapat berupa kata, frasa, dan klausa. Kata sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat berupa bentuk dasar dan bentuk turunan. Frasa sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat berupa frasa endosentrik dan frasa eksosentrik. Frasa endosentrik sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat

88

89

berupa frasa endosentrik koordinatif, frasa endosentrik atributif, dan frasa endosentrik apositif. Frasa eksosentrik sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat berupa frasa eksosentrik direktif dan frasa eksosentrik objektif. Selanjutnya, klausa sebagai konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dapat berupa kalusa bebas dan klausa turunan.

4.2 Saran Penelitian konstituen pascaverba intransitif berafiks be(R)- dalam kalimat bahasa Indonesia ini belum lengkap atau menyeluruh karena data yang ada terbatas. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya masih perlu dilakukan agar lebih komprehensif dengan didukung data-data yang lebih beragam. Penelitian selanjutnya dapat dilakukan, di antaranya, terhadap sifat kehadiran pelengkap wajib dan keterangan wajib yang dihubungkan dengan ketransitifan verba, konstruksi verba, dan kategori pelengkap begitu pula dengan keterangan itu sendiri. Pengkajian selain ditunjang dari sisi morfologi, sintaksis, dan semantik, perlu juga dari sisi wacana, sehingga dihasilkan klasifikasi yang lebih lengkap mengenai sifat kehadiran pelengkap dan keterangan tersebut.

90

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Babdudu, J.S. 1987. Pelik-Pelik Bahasa Indonesia. Bandung: Pustaka Prima. Chaer, Abdul. 2003. Linguistik Umum. Jakarta: Rineka Cipta. __________. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. __________. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia. Jakarta: Rineka Cipta. Kentjono, Djoko. 2002. Dasar-Dasar Linguistik Umum. Jakarta: Fasa UI Keraf, Gorys. 1994. Komposisi. Flores: Nusa Indah. __________. 2009. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka. Kridalaksana, Harimurti. 1994. Kelas Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia. __________. 2009. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Kushartanti, dkk. 2007. Pesona Bahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka. Parera, J.D. 1990. Morfologi. Jakarta: Gramedia Pustaka. Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Depdiknas RI. 2007. Pedoman Umum EYD dan Pembentukan Istilah. Bandung: Yrama Widya. Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Analisis Kalimat. Bandung: Refika Aditama. __________. 2008. Kajian Morfologi. Bandung: Refika Aditama. __________. 2006. Tata Kalimat Bahasa Indonesia. Bandung: Refika Aditama. Ramlan. 1987. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: Karyono.

91

__________. 1987. Sintaksis. Yogyakarta: Karyono. Samsuri. 1981. Analisis Bahasa. Jakarta: Erlangga. Verhaar, J.W.M. 1996. Asas-Asas Linguistik Umum. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

92

DAFTAR KAMUS

Alwi, dkk. 2005. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Kridalaksana, Harimurti. 2001. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia Pustaka.

93

DAFTAR SITUS

http://www.google.co.id http://www.kompas.com http://www.mediaindonesia.com http://www.republika.co.id http://www.tempointeraktif.com

94

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Heru Pratikno

Tempat tanggal lahir : Jakarta, 10 Desember 1986 Agama Alamat : Islam : Jalan Anggrek 1 Blok J No. 235 RT 13/11 Desa Jatimulya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi Jawa Barat 17510 No. telepon Pendidikan Formal : 085624624592 : TK Islam Putri Kembar Bekasi 1992-1993 SD Negeri Mulya Jaya Bekasi 1993-1999 SMP Negeri 4 Tambun Selatan 1999-2002 SMA Negeri 1 Tambun Selatan 2002-2005 Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran 2005-2009 Nama Bapak Pekerjaan Nama Ibu Pekerjaan Alamat : Sugino : PNS : Ratna Mulyati : PNS : Jalan Anggrek 1 Blok J No. 235 RT 13/11 Desa Jatimulya Kecamatan Tambun Selatan Kabupaten Bekasi Jawa Barat 17510

95

LAMPIRAN

1. Sementara itu, sang ibu Marija berkebangsaan Slovenia. (MI, 1/1/7-5-2008) 2. Konvensi ini berpotensi memicu perpecahan. (MI, 1/1/11-12-2008) 3. Dalam kehidupan sosial, ia berkepribadian hangat. (R, 1/1/3-5-2009) 4. APBD DKI Berindikasi Korupsi (R, 1/1/27-2-2008) 5. Selama persidangan ayah pesinetron Fachri Albar itu berkelakuan baik. (MI,

1/1/25-6-2008)
6. Ratusan Karyawan Freeport Berjalan Kaki ke Timika. (MI, 1/1/25-7-2009) 7. Di puncuk pohon cempaka Burung ketilang bernyanyi Bersiul-siul sepanjang

hari Dengan tak jemu-jemu. (R, 1/1/23-10-2008)
8. Warga berteriak histeris, karena tak ada suara gemuruh mesin pesawat

bernomor registrasi A-1325, namun terdengar suara benda keras yang menerjang rerimbunan pohon bambu. (R, 1/1/22-5-2009)
9. Jumlah

pengangguran

bertambah

banyak

setiap

tahunnya

karena

pabrik/industri banyak yang gulung tikar/bangkrut. (MI, 1/1/19-5-2008)
10. Menurut laporan terakhir, jelas Ari, Soeharto sudah bisa bernafas sendiri

meskipun alat bantu pernafasan masih dipasang. (T, 1/1/20-1-2008)
11. Proyek ambisius ini bakal berlokasi di Ibu Kota Tallin atau kota besar

lainnya. (R, 1/1/18-5-2009)
12. Forum yang dibentuk pada 5 Juli 2008 ini berkantor di Wisma Batavia. (R,

1/1/14-8-2009)

96

13. Selanjutnya, Maya dan kawan-kawan harus berhadapan dengan tim

Thailand. (T, 1/1/6-9-2009)
14. Pemerintah dan DPR berkesempatan untuk membuat UU tentang Pengadilan

Tipikor hingga 19 Desember 2009. (MI, 1/1/30-6-2008)
15. Presiden Yudhoyono akan bertindak sebagai inspektur upacara pemakaman

Ali Alatas. (R, 1/1/11-12-2008)
16. Ia sempat berdiskusi dengan pengurus masjid dan bersilaturahmi dengan

jamaah. (T, 1/1/29-7-2009)
17. Puluhan Kader Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) berdemonstrasi

di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta, kemarin. (MI, 1/1/5-112008)
18. Ketua KPU Abdul Hafiz Anshary sedang berkegiatan di Balikpapan,

Kalimantan Timur, dan Pontianak, Kalimantan Barat, untuk mengikuti acara Kementerian Komunikasi dan Informatika. (MI, 1/1/5-11-2008)
19. Kini, jumlah pemeluk Islam semakin bertambah dengan kehadiran para

imigran dari Timur Tengah, Afrika Utara, dan negara-negara Islam di Asia. (R, 1/1/18-5-2009)
20. Para pengendara harus berhati-hati saat melewati Jalan Otto Iskandardinata

karena terdapat galian perbaikan jalan di Jakarta Timur, kemarin. (MI, 1/1/11-12-2008)
21. Sebanyak 23 orang berkebangsaan Thailand, 3 orang lainnya berkebangsaan

Indonesia. (T, 1/1/1-4-2008)
22. Ketika itu, Estonia belum berbentuk negara. (R, 1/1/18-5-2009)

97

23. Mereka beragama Nasrani, tapi bertoleransi terhadap umat agama lain. (R,

1/1/18-5-2009)
24. Papan itu bergambar sepasang polisi laki-laki dan perempuan dalam sikap

hormat. (K, 1/1/14-8-2008)
25. Lontongnya berbentuk segitiga lebar dan pipih. (K, 1/1/3-7-2008) 26. Jika kasus itu berindikasi tindak pidana korupsi, selanjutnya dilakukan gelar

perkara. (MI, 1/1/6-10-2008)
27. Lulusan PT Berkesempatan Kerja di Perusahaan Jepang. (R, 1/1/11-7-2009). 28. Saya nggak bisa berhenti menangis. (R, 1/1/14-7-2009) 29. Malam ini Presiden berencana datang bersama dengan PM Badawi. (R,

1/1/11-12-2008)
30. Pemprov DKI Tak Berkewajiban Ganti Rugi Monorel. (K, 1/1/14-5-2009) 31. Saya tidak bermimpi mencetak gol di final. (MI, 1/1/24-8-2008) 32. Sementara itu, seluruh penyusun Undang-Undang yang berasal dari parpol

sudah berkonsentrasi menghadapi Pemilu 2009. (MI, 1/1/30-6-2008)
33. Dari Indonesia, Amin Suryana berkesempatan besar untuk menyalip Hardi

karena selisih catatan waktu keduanya amat tipis. (T, 1/1/25-8-2003)
34. Saat menuju landasan, pesawat berkecepatan rendah sehingga tidak bisa

bermanuver, (R, 1/1/10-3-2009)
35. Siswi kelas I SMP ini sudah berkegiatan normal seperti rekan-rekan

sebayanya. (T, 1/1/19-1-2009)

98

36. Pelapis dinding atau wallcover ruang tamunya berwarna merah bata, bergaya

retro, dengan motif polkadot seukuran bola pingpong dengan garis-garis vertikal. (T, 1/1/20-7-2009)
37. Sedangkan perabotnya berwarna cokelat kayu. (T, 1/1/20-7-2009) 38. RUU MA Beraroma "Tak Sedap". (K, 1/1/23-9-2008) 39. Penyerang (Satpol PP) berjumlah 150 orang. (T, 1/1/10-9-2008) 40. Biaya yang dibutuhkan para calon TKI berkisar Rp 5 juta. (K, 1/1/22-12-

2008)
41. Angin dari tenggara-selatan itu berkecepatan 5-22 knot. (MI, 1/1/27-9-2008) 42. Satu porsi full berisi dua lontong. (K, 1/1/3-7-2008) 43. Pimpinan MPR berjumlah lima orang yang terdiri dari 3 anggota DPR dan 2

anggota DPD. (MI, 1/1/3-7-2008)
44. Kalla sudah berkegiatan sejak pagi hari. (R, 1/1/29-7-2009) 45. Kompetisi Liga Singapura berakhir pada 4 November 2009. (MI, 1/1/26-9-

2009)
46. Beberapa perusahaan besar Thailand beroperasi di Kamboja. (R, 1/1/16-10-

2008)
47. Kapal jetfoil itu berlayar dari Pelabuhan Boom Baru, Palembang, dan

mengalami kecelakaan pada jalur pelayaran Bui Merah, Bangka, sekitar pkl. 15.00 hingga 16.00 WIB. (MI, 1/1/27-1-2009)
48. Diah Defawati telah berpindah ke PDIP sekaligus menjadi Caleg partai

pimpinan Megawati Soekarnoputri ini. (MI, 1/1/26-8-2008)
49. Saya berpenyakit asma, bisa mati kalau pakai ekstasi. (T, 1/1/11-5-1999)

99

50. Pembahasan RUU MA Berindikasi Suap (R, 1/1/17-12-2008) 51. LBI juga bersifat profesional, (T, 1/1/16-6-2003) 52. Para petinju wanita ini berkemauan besar untuk mewakili negara di tingkat

dunia. (K, 1/1/13-11-2009)
53. Ketiganya memang berprilaku normal namun semuanya kurang pergaulan.

(R, 1/1/14-7-2009)
54. Para

santriwati juga berkesempatan berorganisasi melalui kegiatan

ekstrakurikuler. (R, 1/1/23-12-2008)
55. Selama kurang lebih 30 menit lamanya aparat polsek Abepura berusaha

bertahan dari serangan ratusan warga asal Wamena itu. (MI, 1/1/9-4-2009)
56. Mobil baru berhenti melaju kala menabrak tiang listrik. (R, 29/9/2009) 57. Menurut hitungannya, 68 persen siswa berkemampuan rata-rata. (T, 1/1/1-2-

1999)
58. Tujuh partai berasaskan Pancasila; hanya PKS dan PPP. (R, 1/1/30-4-2009) 59. Ajak anak berbelanja sayur dan buah. (K, 1/1/23-7-2008) 60. Ia berkali-kali menggerakkan atau menggigit bibir. (K, 1/1/17-6-2008) 61. Semua berpakaian rapi dan trendy. (K, 1/1/10-3-2008) 62. “Golkar tidak berpikir soal menang-kalah, tapi lebih menginginkan

terciptanya pemerintahan yang kuat dan stabil.” (R, 1/1/16-4-2009)
63. Guru harus berpenampilan menarik dan penuh percaya diri. (R, 1/1/24-2-

2009)
64. Mereka cocok bekerja sebagai artis, dekorator interior, atau pemandu

wisata. (MI, 1/1/24-9-2009)

100

65. Matahari bersinar sangat terik. (R, 1/1/6-11-2008) 66. Selama ini, lanjut dia, istri dan ibu HC berjualan nasi kuning. (T, 1/1/20-8-

2008)
67. Ia sebenarnya berpenampilan sangat baik untuk ukurannya. (MI, 1/1/23-10-

2009)
68. Pagi hari, ia sudah berolahraga selama 30 menit di sebuah gimnasium dekat

rumahnya di Chicago. (K, 1/1/30-6-2008)
69. Biasanya,

orang seperti ini suka berkelakuan sedikit centil untuk

memamerkan ponselnya. (K, 1/1/7-7-2008)
70. Selain itu, Sarkozy juga bertemu dengan Perdana Menteri Israel Ehud

Olmert di Yerusalem, kemudian pada Selasa (6/1) mengunjungi Suriah dan Lebanon. (K, 1/1/9-1-2009)
71. Di sini ia berjumpa Sukri, ustad yang tinggal di Desa Senembah Ujung

Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara. (T, 1/1/6-72009)
72. Di putaran keempat nanti, Senin (30/6), Jankovic akan berhadapan dengan

petenis Thailand, Tamarine Tanasugarn, untuk memperebutkan tiket ke perempat final. (K, 1/1/28-6-2008)
73. Bintang berusia 50 tahun ini mulai berpacaran dengan "si brondong" Chase

Dreyfous, pada Juni silam setelah bertemu dalam sebuah acara amal. (T, 1/1/19-11-2008)
74. Usai sholat, ia bersama sang adik, Ahmad Maulana, 9, yang setia menemani

setiap hari, bermain di halaman masjid. (K, 1/1/25-7-2008)

101

75. Biasanya, ia berjualan di Pancoran. (K, 1/1/18-6-2008) 76. Selain itu, GM kemungkinan akan kembali berproduksi di Indonesia. (K,

1/1/14-8-2008)
77. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Jumat (15/5) siang langsung bertolak

ke Bandung, Jawa Barat, setibanya di Jakarta setelah kunjungan kerja selama tiga hari ke Manado, Sulawesi Utara. (MI, 1/1/15-5-2009)
78. Wasit dan Juri Chris John Berasal dari AS. (R, 1/1/15-10-2009) 79. Sebenarnya aku ingin berkolaborasi dengan Glen Fredly, tapi Afghan lebih

tepat karakter suaranya. (R, 1/1/29-4-2009)
80. Sekitar pukul 07.15 WIB dia berniat ingin membersihkan kamar motel nomor

47. (MI, 1/1/3-10-2009)
81. Manajer Arsene Wenger pun berharap bisa menambah kekuatan di lini

depan dengan mendatangkan Mario Balotelli dari Inter. (R, 1/1/23-10-2009)
82. Itu artinya dia sedang berusaha mengeluarkan isi pikirannya. (K, 1/1/17-6-

2008)
83. Perdana Menteri Inggris, Gordon Brown, berencana akan mengirim sekitar

500 tentara ke Afghanistan. (R, 1/1/14-10-2009)
84. Maskapai penerbangan Lion Air berencana akan melayani pengangkutan

jamaah haji Indonesia tahun 2009 ini. (R, 1/1/13-1-2009)
85. Ia tetap beranggapan Bank Century terlalu kecil dan tak signifikan untuk

diselamatkan. (T, 1/1/7-9-2009)
86. Saya berkeyakinan suatu saat Kereta Api akan menjadi andalan transportasi

di Jakarta. (K, 1/1/8-11-2008)

102

87. Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri I ndonesia (Kadin) MS Hidayat

berpendapat, Bank Indonesia seharusnya bisa lebih keras memaksa bankbank untuk melaksanakan fungsi intermediasi. (T, 1/1/3-8-2009)
88. Bisa-bisa, si dia malah berpikir Anda masih mencintai dan belum bisa

melupakan mantan kekasih. (MI, 1/1/6-6-2009)
89. Ketua Asosiasi Produsen Gula dan Terigu Indonesia Natsir Mansur

berpendapat, merek kemasan murah untuk gula hanya akan menguntungkan konsumen. (K, 1/1/11-5-2009)
90. SFC tidak berkeberatan andaikata Duric berlaku seperti Precious. (MI,

1/1/26-9-2009)
91. Perilaku Ryan banyak berubah ketika ia duduk di bangku SMP. (K, 1/1/25-7-

2008)
92. Nyamuk sudah bisa berkembang biak setelah curah hujan relatif kecil. (T,

1/1/15-2-2007)
93. Bolehlah polisi bergembira karena telah melenyapkan Noordin M Top. (MI,

1/1/19-9-2009)
94. Banyak orang bersedih karena tidak mendapatkan anak yang sangat mereka

impikan. (MI, 1/1/11-8-2009)

103

RASA TERIMA KASIH

Kebahagian yang luar biasa kurasakan karena pada akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Segala sesuatu itu terjadi semata-mata atas izin dan kehendak Allah swt. Oleh karena itu, rasa syukur yang sedalam-dalamnya selalu kutujukan kepada Allah swt. Aku hanya bisa berusaha dengan sungguhsungguh dan selalu berserah diri pada-Nya. Untuk kedua orang tuaku yang takhenti-hentinya memberikan doa dan tenaganya agar anaknya kelak mendapat kesuksesan. Berkat keringat dan kerja keras Ayahanda Sugino akhirnya aku bisa menjadi seorang sarjana sastra seperti sekarang ini. Begitu juga Ibundaku Ratna Mulyati yang selalu memberikan nasihat dan wejangannya, sehingga aku bisa menyelesaikan studi strata satu dengan tepat waktu. Untuk Bapak dan Ibuku terima kasih yang sebesar-besrnya atas seluruh jasa dan pengorbananmu, semua itu akan selalu kuingat dan kukenang selamanya. Kepada adik-adikku tercinta Henda Hernawan dan Winda Sulistyawati yang selalu memberikan motivasi bagiku hingga aku dapat mencapai nilai terbaik dalam menyelesaikan studi sarjana pertama ini. Semoga nanti engkau dapat menjadi lebih baik dari padaku dan berhasil mendapatkan apa yang kau citacitakan. Teruntuk kasihku Intan Julides yang takjemu-jemu memberikan bantuan berupa pikiran dan semangat hidup, sehingga dalam waktu yang relatif cepat skripsiku ini dapat selesai dengan menyandang predikat mendapat pujian. Segala

104

keikhlasan dan kesabaranmu semoga dapat menjadi kebaikan di kemudian hari. Amin.. Staf Perpustakaan Fakultas Sastra yang telah berkenan memberikan prasarana untuk bernaung ketika mengerjakan skripsi ini, sehingga dalam proses mengerjakan skripsi dari awal sampai akhir mengalami kelancaran. Bapak Andi sebagai Staf Program Studi Sastra Indonesia yang telah membantu dalam mempersiapkan administrasi dalam menempuh ujian sidang sarjana, sehingga pelaksanaan sidang sarjana dapat berjalan dengan tertib dan memuaskan hati. Seluruh warga Joko Tarub society, semua saudaraku Sastra Indonesia 2005, kawan-kawan Teater Musim Dingin, rumahku Blue Hikers, panitia PFS, dan barudak KKNM Ciptarasa kalian itu adalah warna dan bumbu dalam hidupku selama menjadi mahasiswa Unpad.

-sekian-

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->