P. 1
Bab II Landasan Teori

Bab II Landasan Teori

|Views: 1,125|Likes:
Published by Yoga Nurzaman

More info:

Published by: Yoga Nurzaman on Mar 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/04/2013

pdf

text

original

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pemahaman Akhlak
1. Pengertian
Pemahaman berasal dari kata paham yang artinya mengerti benar
dalam suatu hal.
1
Adapun pengertian akhlak adalah kebiasaan kehendak
itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak.
2
Jadi
pemahaman akhlak adalah seseorang yang mengeri benar akan kebiasaan
perilaku yang diamalkan dalam pergaulan semata – mata taat kepada Allah
dan tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu seseorang yang sudah
memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil
perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan
yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati
dalam kenyataan hidup keseharian.
Dengan demikian memahami akhlak adalah masalah fundamental
dalam Islam. Namun sebaliknya tegaknya aktifitas keislaman dalam
hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa
orang itu memiliki akhlak. Jika seseorang sudah memaami akhlak dan
menghasilkan kebiasaan hidup dengan baik, yakni pembuatan itu selalu
diulang – ulang dengan kecenderungan hati (sadar).
3
Akhlak merupakan
kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran,
perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu
kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup
keseharian. Semua yang telah dilakukan itu akan melahirkan perasaan
moral yang terdapat di dalam diri manusia itu sendiri sebagai fitrah,
sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat,
mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna, mana yang cantik
dan mana yang buruk. Di dalam The Encyclopaedia of Islam yang dikutip

1
WJS. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, tt, hlm. 694
2
Ahmad Amin, Etika (Ilmu Akhlak), Bulan Bintang, Jakarta, 1975, hlm. 62
3
Rachmat Djatnika, Akhlak Mulia, Pustaka, Jakarta, 1996, hlm.27
oleh Asmaran dirumuskan: It is the science of virtues and the way how to
acquire then, of vices and the way how to quard against then, bahwa ilmu
akhlak adalah ilmu tentang kebaikan dan cara mengikutinya, tentang
kejahatan dan cara untuk menghindarinya.
4
Dengan demikian hendaknya
di sekolah sebagai guru mampu mengantarkan anak untuk memahami
ilmu akhlak dengan harapan agar anak mampu memahami tentang akhlak
yang sebenarnya.
Menurut Islam pendidikan akhlak adal;ah faktor penting dalam
membina suatu umat membangun suatu bangsa.
5
Kita bisa melihat bahwa
bangsa Indonesia yang mengalami multi krisis juga disebabkan kurangnya
pemahaman akhlak. Secara umum pembinaan pemahaman akhlak remaja
atau pada dataran SLPTP sangat memprihatinkan. Oleh karena itu
program utama dan perjuangan pokok dari segala usaha dalam pembinaan
pemahaman pendidikan akhlak.
6
Dalam penelitian ini terfokus pada
materi pelajaran kelas 1 MTs N yang terdiri sebagai berikut :
7

a. Sifat – sifat Allah
b. Sifat – sifat wajib Allah
c. Sifat – sifat mustahil Allah
d. Akhlak tercela riya, kufur, syirik, nifaq
e. Perilaku kehidupan
f. Iman kepada kitab – kitab Allah
g. Kitab – kitab Allah
h. Kitab Al-Qur’an
i. Fungsi Al-Qur’an
j. Perilaku sahabat

4
Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, Raja Grafindo
5
Ibid., hlm. 47
6
Nazaruddin Razak. Dienul Islam. Al Ma’arif, Bandung, 1973, hlm. 45
7
H. Masan AF, Aqidah Akhlak Kurikulum 2004 Madrasah Tasanawiyah Kelas 1, PT Karya
Toha Putra, Semarang. 1987, hlm. V-vi
Namun perlu diketahui bahwa dalam penelitian ini hanya berkaitan
pemahaman akhlaknya, sehingga penulis memilah – milah yang berkaitan
materi pelajaran akhlak saja yakni :
a. Akhlak tercela, riya, kufur, syirik, nifaq
b. Perilaku kehidupan rasul
c. Perilaku sahabat
Allah SWT menjunjung tinggi terhadap akhlak karena akhlak adalah alat
yang dapat membahagiakan kita dalam kehidupan dunia dan akherat.
Maka hendaknya pihak – pihak yang berkaitan mampu memberikan
pemahaman akhlak tehadap anak didiknya. Karena dengan akhlak
manusia akan berjalan sesuai dengan aturan yang sudah ada, yakni dalam
ajaran agama Islam.
2. Faktor yang mempengaruhi akhlak
Setiap orang ingin agar menjadi orang yang baik, mempunyai
kepribadian yang kuat, dan sikap mental yang kuat dan akhlak yang
terpuji. Semua itu dapat diusahakan dengan melalui pendidikan, untuk itu
perlu dicari jalan yang dapat membawa kepada terjaminnya akhlak
perilaku ihsan sehingga ia mampu dan mau berakhlak sesuai dengan niali
– nilai moral. Nilai – nilai moral akan dapat dipatuhi oleh seorang dengan
kesadaran tanpa adanya paksaan kalau hal itu datng dari dirinya sendiri.
Dengan demikian pendidikan agama harus diberikan secara terus menerus
baik faktor keluarga, faktor kepribadian, pendidikan formal, pendidikan
nonformal atau lingkungan masyarakat.
a. Faktor keluarga
Dalam pembinaan akhlak anak, faktor orang tua sangat
menentukan, karena akan masuk ke dalam pribadi anak bersamaan
dengan unsur – unsur pribadi yang didapatnya melalui pengalaman
sejak kecil. Pendidikan keluarga sebagai orang tua mempunyai
tanggungjawab dalam mendidik anak – anaknya karena dalam
keluarga mempunyai waktu banyak untuk membimbing, mengarahkan
anak – anaknya agar mempunyai perilaku islami.
Kebahagiaan orang tua atas hadirnya seorang anak yang
dikaruniakan kepadanya, akan semakin terasa karena tumbuhnya
harapan bahwa garis keturunannya akan berlangsung terus. Satu hal
yang perlu mendapatkan perhatian serius dari para orang tua muslim
ialah tentang kesalehan anak – anak mereka.
8
Ada beberapa hal yang
perlu direalisasikan oleh orang tua yakni aspek pendidikan akhlak
karimah. Pendidikan akhlak sangat penting dalam keluarga, karena
dengan jalan membiasakan dan melatih pada hal – hal yang baik,
menghormati kepada orang tua, bertingkah laku sopan yang baik
dalam berperilaku keseharian maupun dalam bertutur kata. Pendidikan
akhlak tidak hanya secara teoritik namun disertai contohnya untuk
dihayati maknanya, seperti kesusahan ibu yang mengandungnya,
kemudian dihayati apa yang ada dibalik yang nampak tersebut,
kemudian direfleksikan dalam kehidupan kejiwaannya.
9

Menerima pendidikan baik secara langsung maupun tidak
langsung, disamping itu keluarga merupakan unit kehidupan bersama
manusia terkecil dan alamiah, artinya secara alamiah dialami setiap
kehidupan manusia, karenanya keluarga merupakan jembatan meniti
bagi generasi, oleh karena itu orang tua berperan penting sebagai
pendidik, yakni memikul pertanggungjawabn terhadap pendidikan
anak. Karena pendidika itulah yang akan membentuk manusia di masa
depan. Tepat sekali apa yang dikatakan oleh kingsley Price : Man is
the only creature that must be educated by education. We mean care,
discipline (training) and instruction, including culture. Man can
become man through education only. He is only what education
makes him.
10


8
Jikalau anak – anak tumbuh dewasa menjadi generasi yang saleh maka dia dapat menjadi
generasi yang saleh yang memiliki akhlak muli. Lihat pada M. Nipa Abdul Halim, Anak Saleh
Dambaan Keluarga, Mitra Pustaka, Yogyakarta, 2000, hlm. 12
9
Chabib Thoha, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 1996, hlm.
108.
10
Kingsley Price, Educational and Philosophical thought, Allyn and Bacon, Boston, 1962,
hlm. 396.
Keluarga merupakan wadah pertama dan utama, peletak dasar
perkembangan anak. Dari keluarga pertama kali anak mengenal
agama dari kedua orang tua, bahkan pendidikan anak sesungguhnya
telah dimulai sejak persiapan pembentukan keluarga.
11
Setelah
mendapatkan pendidikan akhlak dalam keluarga secara tidak langsung
nantinya akan berkembang di lingkungan masyarakat.
Oleh karena itu maka kebiasaan – kebiasaan dalam keluarga
harus dalam pengawasan, karena akan sangat berpengaruh pada diri
anak, kebiasaan yang buruk dari keluarga terutama dari kedua orang
tua akan cepat ditiru oleh anak – anaknya, menjadi kebiasaan anak
yang buruk. Dengan demikian juga kebiasaan yang baik akan menjadi
kebiasaan anak yang baik. Peran orang tua dan anggota keluarga
sangat penting bagi pendidikan akhlak dan selektivitas bergaul.
b. Faktor kepribadian (dari orang itu sendiri)
Dengan menggunakan kaidah fikih mengemukakan bahwa diri
sendiri termasuk orang yang dibebani tanggungjawab pendidikan
menurut Islam, apabila manusia telah mencapai tingkat mukallaf maka
ia menjadi bertanggung jawab sendiri terhadap mempelajari dan
mengamalkan ajaran agama Islam. Kalau ditarik dalam istilah
pendidikan Islam orang mukallaf adalah orang yang sudah dewasa
sehingga sudah semestinya ia bertanggungjawab terhadap apa yang
harus dikerjakan dan apa yang harus ditinggalkan. Hal ini sangat erat
kaitannya dengan keluarga atau semua anggota keluarga yang
mendidik pertama kali. Perkembangan agama pada seseorang sangat
ditentukan oleh pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama
pada masa – masa pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur
0-12 tahun.
12
Kemampuan seseorang dalam memahami masalah –
masalah agama atau ajaran- ajaran agama, hal ini sangat dipengaruhi

11
Mansur, Mendidik Anak Sejak Dalam Kandungan, Mitra Pustaka Utama, Yogyakarta,
2004, hlm.129.
12
Zakiah Daradjat, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta, 1970, hlm.58
oleh intelejensi pada orang itu sendiri. Orang pandai akan mudah
memahami ajaran – ajaran Islam.
Menurut penulis, usia SMP adalah masa transisi antara masa
kanak – kanak dengan dewasa. Pada masa ini, kesadaran akan emosi
menjadi penting karena tak jarang banyak remaja yang mengalami
kesulitan menghadapi gejolak emosinya. Pada suatu saat ia menjadi
orang yang terlalu gembira, tapi pada saat lain menjadi begitu murung
dan sedih. Oleh karena itu keadaan psikologis yang semacam itu akan
menyebabkan mereka sulit mengontrol dirinya sehingga tingkah
lakunya (akhlaknya) juga tidak terkendali. Hal ini bisa di hindari jika
remaja belajar untuk memahami emosinya.
c. Faktor Lingkungan (Masyarakat)
Lembaga non formal akan membawa seseorang berperilaku
yang lebih baik karena di dalamnya akan memberikan pengarahan –
pengarahan terhadap norma – norma yang baik dan buruk. Misalnya
pengajian, ceramah yang barang tentu akan memberikan pengarahan
yang baik, tak ada seorang mubaligh yang mengajak hadirin untuk
melakukan perbuatan yang tidak baik.
Dengan demikian pendidikan yang bersifat non formal yang
terfokus pada agama ternyata akan mempengaruhi pembentukan
akhlak pada diri seseorang. Maka tepat sekali dikatakan bahwa nilai –
nilai dan kebiasaan masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai –
nilai dan kebiasaan masyarakat yang tidak bertentangan dengan nilai –
nilai Islam apalagi yang membawa maslahat dapat dimanfaatkan
sebagai bahan dalam menentukan kebijaksanaan.
Kehidupan manusia tidak lepas dari nilai itu selanjutnya perlu
diinstitusikan. Institusi nilai yang terbaik adalah melalui upaya
interaksi edukatif, pandangan Freeman Butt dalam bukunya Cultural
History of Western Education, menyatakan bahwa hakekat interaksi
edukatif adalah proses tranformasi dan internalisasi nilai, proses
pembiasaan terhadap nilai, proses rekonstruksi nilai, serta penyesuaian
terhadap nilai. Akhlak yang baik dapat pula diperoleh dengan
memperhatikan orang – orang baik dan bergaul dengan mereka, secara
alamiah manusia itu meniru, tabiat seseorang tanpa dasar bisa
mendapat kebaikan dan keburukan dari tabiat orang lain.
13
Interaksi
edukatif antara individu dengan individu lainnya yang berdasarkan
nilai-nilai Islami agar dalam masyarakat itu tercipta masyarakat yang
berakhlakul karimah.
Lingkungan masyarakat yakni lingkungan yang selalu
mengadakan hubungan dengan cara bersama orang lain. Oleh karena
itu lingkungan masyarakat juga dapat membentuk akhlak seseorang, di
dalamnya orang akan menatap beberapa permasalahan yang dapat
mempengaruhi bagi perkembangan baik dalam hal – hal yang positif
maupun negative dalam membentuk akhlak pada diri seseorang. Oleh
karena itu lingkungan yang berdampak negative tersebut harus diatur,
supaya interaksi edukatif dapat berlangsung dengan sebaik – baiknya.
Bentuk – bentuk organisasi lain di dalam masyarakat merupakan
persekutuan hidup yang memanifestasikan ajaran agama Islam dalam
kehidupan sehari – hari.
Dari penjelasan di atas di jelaskan bahwa manusia hidup
membutuhkan orang lain. Maksudnya bahwa tak seorangpun manusia
yang bisa hidup sendiri. Jika dikaitkan lingkungan sekolah, hal ini
sama bahwa mereka dalam hidup saling membutuhkan dan saling
mempengaruhi satu sama lain. Misalkan ketika ia melihat temannya
yang rajin melakukan kegiatan keagamaan di lingkungan sekolah maka
secara tidak langsung dia akan terpengaruh juga dengan kegiatan
temannya. Jadi lingkungan sangat memberikan pengaruh yang besar
bagi pertumbuhan pola pikir dan akhlak seseorang khususnya siswa –
siswi MTs Negeri Subah.

13
M. Abul Quasem, Etika Al-Ghozali, Etika Majemuk di Dalam Islam. Pustaka Bandung
1988, hlm. 94
Ada tiga macam pengaruh lingkungan pendidikan terhadap
keberagamaan seseorang.
14

1) Lingkungan yang acuh tak acuh terhadap agama. Lingkungan
semacam ini ada kalanya berkeberatan terhadap pendidikan
agama, dan ada kalanya pula agar sedikit tahu tentang hal itu.
2) Lingkungan yang berpegang pada tradisi agama, tetapi tanpa
keinsafan batin ; biasanya lingkungan demikian menghasilkan
seseorang beragama yang secara tradisional tanpa kritik atau
beragama secara kebetulan.
3) Lingkungan yang memiliki tradisi agama dengan sadar dan hidup
dalam kehidupan yag beragama
Lingkungan ini memberikan motivasi atau dorongan yang kuat
kepada seseorang untuk memeluk dan mengikuti pendidikan agama
yang ada, apabila lingkungan ini ditunjang oleh anggota – anggota
masyarakat yang baik dan kesepakatan memadai, maka kemungkinan
besar hasilnya pun paling baik untuk mewujudkan akhlak pada diri
orang yang ada disekitarnya.
15

Masyarakat di sini juga ikut mempengaruhi akhlak atau perilaku
seseorang yang ada disekitarnya yang dalam kehidupan sehari –
harinya ia tak mungkin lepas dari pengaruh lingkungan dimana ia
tinggal. Lingkungan pergaulan merupakan alat pendidikan, meskipun
keadaan maupun peristiwa apapun yang terjadi tidak bisa dirancang,
sehingga keadaan tersebut mempunyai pengaruh terhadap
pembentukan kepribadian seorang baik berdampak baik maupun akan
berdampak jelek. Lingkungan pergaulan yang baik akan mendukung
pula perkembangan pribadi seseorang yang disekitarnya. Namun
pergaulan yang jelekpun sangat mendukung kepribadian yang buruk,
bahkan bisa merusak akidah – akidah yang telah tertanam pada diri
sejak kecil, jika ia tidak pandai mengawasi dan menyaring (memfilter)

14
Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, Pustaka Setia. Bandung, 1997. hlm. 235
15
Ibid, hlm. 236
dari segala pergaulan yang terjadi di masyarakat. Dalam kegiatan
masyarakat cenderung bersifat pengajaran orang dewasa, di
lingkungan agama Islam bentuk jalur ini yang kegiatannya
diprogramkan dalam instansi – instansi sekolah. Dasar – dasar
pengembangan intelektual dalam Islam harus bersumber dari Al –
Qur’an dan Hadist.
16

Jadi disini kita atau orang dewasa harus berhati – hati terhadap
berbagai macam faktor yang bisa mempengaruhi akhlak yang tidak
baik. Apabila nilai – nilai agama banyak masuk ke dalam
pembentukan kepribadian seseorang, maka tingkah laku oang tersebut
akan banyak diarahkan dan dikendalikan oleh nilai – nilai agama.
17

Oleh karena itu sebagai orang dewasa hendaknya melakukan
pengawasan yang ketat dalam hal berkaitan dengan perilaku dalam
lingkungan masyarakat, karena sekarang banyak remaja sudah sangat
sulit untuk membiarkan dalam hal bergaul bebas tanpa disertai dengan
pengawasan orang tua akan mengakibatkan celaka di kemudian hari
yang tak bisa ditebus dengan apapun.
d. Faktor visual dan audio visual
Tidak hanya pengaruh lingkungan tapi masih banyak lagi
misalnya TV, majalah dan tayangan – tayangan lain yang bisa
memberikan banyak pengaruh pada kepribadian anak dan tingkah laku
anak. Misalkan kita melihat tayangan – tayangan barat atau film –
film porno maka kalau anak – anak didik kita tidak dibekali dengan
ilmu agama maka ia akan terjerumus ke dalamnya. Belum lagi
sekarang marak dengan majalah – majalah yang menyajikan tentang
beragama busana yang jorok yang sangat tidak pantas dipakai oleh
budaya kita, tetapi anak seusia MTs itu adalah masa dimana keinginan
untuk mencoba sangat tinggi. Oleh karena itu kita harus berhati – hati

16
Mansur, Peradaban Islam dalam Lintasan Sejarah, Global Pustaka Utama, Yogyakarta,
2004, hlm. 83.
17
Zakiah Daradjat, Op Cit, hlm. 63
memberikan pengarahan kepada anak – anak kita agar mereka selalu
memegang ajaran agama.
Disinilah pentingnya peranan penanaman akhlak yang telah
ditanamkan oleh kedua orang tuanya, yang berguna sebagai filter
perkembangan yang telah terjadi pada zaman yang penuh globalisasi
ini. Disinilah peranan pengamalan ibadah yang dilaksanakan oleh
orang dewasa sebagai contoh terhadap orang – orang yang ada di
sekitar mereka, agar di lingkungan tersebut dalam pergaulannya
mencerminkan akhlakul karimah.
3. Ciri – Ciri Kepribadian Muslim
Sekiranya sebagian kita ditakdirkan dapat melihat melalui sebuah
jendela kea lam manusia pada setiap zaman dan tempat sesungguhnya,
kita akan melihat suatu khalayak yang heterogen, pandangan hidup yang
berbeda – beda da kelompok – kelompok yang berbeda status sosialnya.
Kita akan melihat umat manusia, kadang – kadang jalan itu buntu dan
kadang – kadang jalan itu banyak simpang siurnya. Disaat inilah manusia
butuh teman untuk berbagi dalam memecahkan masalah yang dia hadapi.
Oleh karena itu selektif dalam memilih teman adalah salah satu kunci
untuk selamat dunia dan akherat. Hanya orang – orang yang paham akan
ajara agama (Islam) yang bisa selektif dalam bergaul. Karena pada
dasarnya Islam mempunyai misi universal dan abadi, intinya adalah
mengadakan bimbingan bagi kehidupan mental dan jiwa manusia atau
akhlak.
18
Bangsa Indonesia yang mengalami multi krisis juga disebabkan
kurangnya pendidikan pendidika akhlak. Secara umum pembinaan akhlak
mahasiswa perguruan tinggi juga sangat memprihatinkan. Hal ini
setidaknya bisa dibuktikan dengan banyaknya penyelewengan (korupsi)
yang mencapai 30% dari dana pembangunan yang dilakukan oleh orang –
orang besar yang notabene adalah para sarjana.
19
Oleh karena itu program

18
Nazaruddin Razak, Dienul Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1973, hlm. 45
19
Mansur, Diskursus Pendidikan Islam, Global Pustaka Utama, Yogyakarta, 2001, hlm.
utama dan perjuangan pokok dari segala usaha adalah pembinaan atau
pendidikan akhlak.
20

Allah SWT menetapkan akhlak adalah alat yang dapat
membahagiakan kita dalam kehidupan dunia dan akherat. Karena dengan
akhlak manusia akan berjalan di atas rel sesuai dengan aturan yang sudah
ada, yakni dalam ajaran agama Islam.
Kepribadian muslim masa kini tergambar olehnya merupakan
warisan yang diterimanya dari orang tua dan nenek moyang selama
beberapa abad. Ia merupakan warisan yang besar, yang dalam
pembentukkannya telah ikut serta ide yang berbeda – beda, yang
sebagainya tidak menghendaki kebaikan bagi Islam dan umatnya.
Tambahan lagi bahwa perlawanan pada masa sekarang ditujukan untuk
menguasai pemikiran manusia serta mempengaruhi akidahnya serta
akhlaknya. Bila persolannya demikian, sedang kepribadian Ummat Islam
masa sekarang tidak mengambarkan kepribadian muslim yang
sesungguhnya- kecuali orang yang mendapatkan rahmat Allah.
21
Maka
wajiblah kita memulai kembali pembentukkan kepribadian muslim yang
jelas ciri – cirinya dan sifat-sifatnya, serta kepribadian dan akhlak-akhlak
yang tampak pada rasul-rasul, nabi-nabi, pada para sahabat yang mulai
dan imam-imam yang terkemuka.
Dari paparan diatas maka kita ketahui bahwa akhlakul karimah itu
merupakan suatu tingkah laku seseorang baik secara individu maupun
suatu kelompok dalam berbuat atau bertingkah laku dalam kehidupan
sehari – harinya sesuai dengan ajaran-ajaran agama Islam. Dengan
demikian berarti akhlakul karimah harus berdasarkan akidah Islam, karena
akhlakul karimah berhubungan dengan keimanan dan hukum. Karena
akhlak menentukan hukum atau nilai perbuatan manusia dengan
keputusan baik atau buruk, perbedaan terletak pada tolak ukurnya ajaran
al-Quran dan Sunnah, etika dengan pertimbangan akal pikiran dan moral

20
Nazaruddin Razak, Op Cit., hlm. 48
21
Ummar Sulaiman Al-Asyqar, Ciri – ciri Kepribadian Muslim, Srigunting, Jakarta, 1995,
hlm.11
dengan adapt kebiasaan yang umum berlaku di masyarakat.
22
Karena
perilaku ihsan berhubungan dengan keimanan dan hukum maka akidahlah
yang merupakan standar penilaian. Apapun yang bertentangan dengan
kaidah Islam tidak diambil atau tidak diyakini. Oleh karena itu apabila
perilaku yang sekiranya bertentangan dengan akidah maka harus
ditinggalkannya.
Akhlak mulia bukanlah sekedar taktik yng bersifat sementara,
melainkan suatu sikap yang terus menerus.
23
Akhlak merupakan kekuatan
jiwa dari dalam, yang mendorong manusia untuk melakukan yang baik
dan mencegah perbuatan yang buruk. Allah mendorong manusia untuk
memperbaiki akhlaknya bila terlanjur salah, sesuai firman Allah SWT.
T4`4Ò ¯ִ☺u¬4C -7EQ÷c uÒÒ¡
¯ªTU^¬4C +O=O^¼4^ O¦¬¦
QOR¼^¯4-¯OEC -.- R³´×4C -.-
-4OQ¬¼EN V☺1RO·O ^¯¯´÷
“Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya,
Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa:110).
24

Pemahaman akhlak sesuai dengan ayat tersebut yang menjelaskan
bahwa perbuatan akhlak mempunyai tujuan langsung yang dekat, yaitu
harga diri, dan tujuan jauh yakni ridla Allah melalui amal sholeh dan
jaminan kebahagian dunia akherat.
Sudah kita ketahui bersama bahwa manusia dalam kehidupannya itu
selalu mengadakan hubungan dengan orang lain. Dengan adanya
hubungan ini ia berusaha untuk menyesuaikan dengan lingkungan yang
dihadapinya. Dalam berperilaku yang baik itu manusia harus tahu sifat
yang dihadapinya. Dan pada hakekatnya manusia itu telah diberi
kesadaran untuk memilih yang baik dan buruk dari sang pencipta.

22
Asmaran. Op.Cit, hlm.9
23
Khalil al-Musawi, Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Lentera, Jakarta, 1999.
hlm.22
Mahmud Yunus, Terjemahan al-Qur’an al-Karim, Al-Ma’arif, Bandung, 1993, hlm.87.
Masalah akhlakul karimah itu merupakan ilmu yang berkaitan
dengan ilmu akherat, karena perilaku tersebut merupakan kualitas positif
dan terpuji yang melahirkan tindakan mulia.
25
Selain itu manusia juga
diilhami oleh Allah dengan jalan baik dan buruk sesuai dengan firman
Allah SWT:
ִ¹ִ☺E¤·±Ò·· ִ-4OQ¬¹+-
ִ¹.4Q^³·>4Ò ^l÷
Artinya. “ Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan
dan ketaqwaannya.” (QS.Al-syams:8).
26


Perilaku baik dan buruk merupakan suatu yang mendasar dalam diri
manusia karena manusia mempunyai kebebasan untuk memilih bahwa
manusia adalah kehendak bebas dan bertanggung jawab yang menempati
station antara dua kutub yang berlawanan yakni Allah dan setan,
selanjutnya kehendak bebas yang berhadapan dengan pilihan yang berat
dan rumit apakah ia akan memilih roh Allah atau terbenam dalam
lempung dibawah endapan Lumpur. Dengan adanya kehendak bebas
manusia itu maka manusia perlu pengarahan untuk memilih atau
menentukan kehendak agar manusaia tidak terperosok ke dalam Lumpur
yang busuk. Untuk itu diperlukan suatu pendidikan yang akan mendidik
manusia untuk berperilaku ihsan atau baik, dalam kehidupan di
masyarakat manusia tidak dapat hidup sendiri bahkan ia selalu bergaul
dengan sesamanya. Oleh karena itu manusia dalam hidupnya harus
menggunakan bahasa yang baik dan benar, menghormati sesama, suka
memaafkan bila ada yang bersalah, menolong terhadap orang yang perlu
mendapatkan pertolongan, menepati janji dan juga berani
mempertahankan sesuatu kebenaran untuk disampaikan.
Dari penjelasan diatas kita tahu bahwa cirri-ciri kepribadian muslim
yaitu:

25
Hasan Asari, Nukilan Pemikiran Islam Klasik. Tiara Wacana. Yogyakarta,1999, hlm.
26
Mahmud Yunus, Op. Cit, hlm. 535.
1. Bashirah. Orang Islam yang berpedoman kepada petunjuk Allah
adalah orang Islam yang memperoleh cahaya. Ia diberikan bashirah
dan furqon.
27
Islam yang dianut oleh orang muslim itu
menghidupkan hati dan menyembuhkan bermacam-macam penyakit.
Islam itu adalah cahaya yang mengoyak-ngoyak selubung kegelapan
yang menyelubungi jiwa, sebagaimana ia menyingkap kegelapan
pikiran yang terhembus dalam kehidupannya.
2. Kekuatan Hidayah Tuhan yang benar-bena dirasakan oleh orang
Islam, kebenaran murni yang dipikulnya, terang jalan yang ditempuh
dan pengetahuannya mengenai kesesatan yang menimpa manusia,
semua itu membuat ia mempunyai kekuatan yaitu kekuatan hakiki
lagi benar yang tegak diatas dasar-dasar yang benar lagi kuat,
kekuatan menisbahkan diri kepada Allah dan kepada agama-Nya
yang hak, Allah SWT berfirman:

Artinya :Kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi rasul-Nya dan bagi
orang-orang mukmin ( Al-Munafiqun: 8)
3. Berpegang teguh kepada kebenaran. Orang Islam merasa yakin akan
kebenarannya yang ada pada dirinya, sedikitpun ia tidak
meragukannya. Ia merasa sangat kuat dengan kebenarannya itu dia
berpendapat, bahwa hilangnya kebenaran ini dan berpendapat,
bahwa hilangnya kebenaran ini dan terlepasnya tangannya
merupakan siksa yang tiada siksa yang lebih berat dari padanya.
4. Tetap tabah atas kebenaran. Sementara tetap berpegang teguh
kepada kebenaran, berjihat untuk mewujudkan serta menegakkan

27
Bashirah artinya akal, kecerdasan, hati nurani, hujjah dan dalil. Sedangkan furqan artinya
kemampuan membedakan antara yang hak dan yang bathil. Lihat Umar Sulaiman Al-Asyqr,
Op.Cit. hlm.33
dan menghancurkan kebatilan, seorang muslim memerlukan
ketabahan.
28

Dari cirri-ciri diatas bisa kita ketahui bahwa setiap manusia mempunyai
kesempatan untuk menjadi pembiasaan hidupnya sehingga akan lekat
pada jiwanya, dan akhirnya akan menjadi akhlak. Selanjutnya dengan
adanya kebiasaan-kebiasaan yang baik tersebut akan membentuk akhlak.
Dalam hal akhlak dapat dirinci sebagai berikut:
a). Akhlakul karimah dalam pergaulan siswa dengan guru. Meliputi sikap
hormat, sopan santun dalam berbicara, minta ijin bila meninggalkan
ruangan, memberi salam bila bertemu, suka membantu, melaksanakan
nasehat dan perintah guru, sikap jujur, berani menyampaikan
kebenaran, tepat waktu bila berjanji.
b). Akhlakul karimah terhadap sesame siswa yang meliputi sikap re3ndah
hati dan ramah-tamah, suka memberi salam terlebih dahulu, suka
memberi maaf kepada sesame siswa yang salah, sopan santun dalam
bicara, menunjukkan rasa gembira jika bertemu, tidak suka meneng
sendiri. Disamping itu juga bersikap adil dalam bergaul, meliputi suka
memberi dan menerima nasehat terhadap sesame siswa, tidak membea-
bedakan sesame siswa, tidak suka mengucilkan sesama siswa. Juga
mempunyai sikap jujur dalam bergaul, meliputi tidak suka berbohong,
berani menyampaikan kebenaran.

B. Selektifitas Bergaul
1. Pengertian
Selektifitas bergaul berarti dalam rangka memilih teman, hal itu
perlu dilakukan terencana, tidak spontan karena selektifitas bergaul
berarti kehiodupan bersama suatu pergaulan dalam kehidupan sehari-

28
Ketabahan adalah sifat yang jelas pada kepribadian muslim sebab manusia itu amat
sering berubah dan berbalik hatinya. Seperti dalam sabda rasul yang artinya hati-hati manusia itu
berada antara dua jari. Dia membalik-baliknya sebagaimana dikehendaki-Nya lihat Ibid, hlm 46
hari.
29
Untuk sahabat-sahabat (sangat dekat), selektivitasnya harus lebih
cermat. Pada umumnya penyebab gagalnya orang-orang dalam
melanjutkan perahabatan dalam bergaul adalah karena mereka salah
dalam memilih teman yang diajak bergaul dalam kehidupannya.
Kegagalan dalam selektivitas tersebut disebabkan sikap tergesa-gesa
dan lebih mendahulkan perasaan atau emosionalnya.
2. Pertimbangan – pertimbangan dalam Bergaul
Menurut Mastuhu globalisasi selain menghadirkan peluang
“posisi” untuk hidup mudah, nyaman, murah, indah dan maju; juga
dapat menghadirkan peluang “negative” sekaligus, yaitu menimbulkan
keresahan, penderitaan, dan penyesatan.
30
Disaat inilah manusia akan
dihadapkan oleh dua hal yang sama – sama membuat harus memilih dan
harus benar- benar mengetahui manfaat dan mudhorotnya. Oleh karena
itu manusia harus punya bekal berupa ilmu pengetahuan dan ilmu
agama. Ilmu pengetahuan adalah merupakan faktor essensial dalam,
pendidikan.
31
Hal ini tumbuh seiring dengan tumbuhnya kesadaran
umat manusia akan keterbatasan ilmu pengetahuan dalam memecahkan
berbagai masalah umat manusia, terutama yang berhubungan dengan
akhlak atau moral. Oleh karena selektif dalam memilih teman adalah
kunci utama untuk bisa tumbuh dan berkembang menjadi anak – anak
yang sholeh dan sholehah.
Di luar perdebatan tentang globalisasi tersebut kita menyaksikan
munculnya pola kelakuan baru anak- anak muda yang menerobos batas-
batas keagamaan konvensional, tradisi, dan geografi.
32
Oleh karena itu
tantangan anak – anak muda dalam hal pergaulan semakin menantang.

29
Khalil Al Musawi, Bagaimana Membangun Kepribadian Anda, Lentera. Jakarta, 1999.
hlm 121
30
Mastuhu, Menata Ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam Abad 21, Safira
Insani Press, Yogyakarta, 2003, hlm. 10
31
Perlu diketahui bahwa hubungan ilmu pengetahuan dengan agama sekarang ini sudah
tampak benang merah yang menjebatani kesenjangan yang selama ini sudah terjadi. Lihat di
Mansur, Op.Cit, hlm 67-68.
32
Abdul Munir Mulkhan, Kesalehan Multikultural dalam Pendidikan Islam di Era Global,
Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2004, hlm. 3
Maka itu dalam memilih teman harus berpandai – pandai karena hal
tersebut akan mempengaruhi dalam berfikir dan perbuatannya sehari –
hari. Oleh karena itu seorang anak harus diarahkan oleh orang tuanya
untuk memilih teman.
Sedangkan penciptaan lingkungan pergaulan anak di luar rumah,
hendaklah di awasi, dengan siapa anak – anak bergaul dan bagaimana
perilaku teman bergaulnya itu. Setidak – tidaknya, orang tua sering-
seringlah berkumpul bersama dalam suasana santai dan pada saat itulah
di musyawarah apa yang seharian diperbuat oleh anak- anaknya, dengan
siapa mereka bergaul, bagaimana perilaku teman – teman mereka dan
seterusnya. Jika diperkirakan perilaku teman – teman sepergaulannya
itu mendukung kebaikan, maka berikan stimulus agar mereka semakin
akrab atau sesekali dimintai supaya datang ke rumah. Sekiranya kurang
mendukung atau jelas – jelas berakhlak tercela, maka selekasnyalah
anak diperinagtkan agar mereka tidak terlalu dekat dalam berteman, jika
perlu supaya menjauh dari teman-teman yang demikian. Orang tua bisa
menasehati misalnya dengan syair sebuah sya’ir yang berbunyi:

Artinya : “Janganlah berteman dengan pemalas yang buruk laku!
Betapa banyak orang yang saleh menjadi buruk, sebab
berteman dengan orang yang buruk laku. Menjalarnya laku
buruk dari teman teramat cepat, laksana bara api yang
diletakkan di atas abu.”

Nasehat – nasehat seperti itu perlu diberikan terus menerus agar
anak tidak keliru dalam memilih teman. Jangan sampai mereka tersesat
akibat sesatnya pergaulan. Ciptakan segala lingkungan tempat anak –
anak bergaul dengan lingkungan yang benar – benar mendidik.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam selektivitas
bergaul antara lain yaitu :
a. Agama Islam. Agama adalah hal yang sangat penting dalam selektif
bergaul. Karena kita ketahui bahwa seseorang yang mempunyai
agama kuat maka InsyaAllah akan bisa membawa kita ke jalan yang
di ridhoi-Nya dan juga akhlaknya akan terpelihara dari hal – hal
yang dosa.
b. Melaksanakan amalan – amalan Islam. Hal ini sangat jelas bahwa
tak ada satupun amalan agma Islam yang akan menyengsarakan
umatnya. Hanya orang – orang yang bodoh yang tidak menyakini
hal tersebut. Karena kita bahwa semua ajaran Islam mengajak
umatnya untyk berbuat kebaikan dan salah satunya adalah berakhlak
mulia.
c. Mempunyai sifat tulus dan mulia. Hal ini merupakan salah satu
criteria sifat yang harus dimiliki oleh seseorang untuk kita pilih
menjadi teman. Karena jika seseorang telah memiliki sifat tersebut
maka penulis yakin akhlaknya juga baik. Bagaimana tidak jika
seseorang telah dengan tulus melakukan sesuatu maka dia orangnya
sangat mulia.
d. Semua kata – katanya dapat dipercaya. Kreteria yang terakhir ini
tak kalah pentingnya dengan yang lain. Karena kita ketahui bahwa
jika seseorang sudah tidak percaya semua perkataannya maka dia
bukanlah teman yang bisa diajak cerita tentang masalah – masalah
yang seharusnya kita jaga.
Berbagai macam hal – hal yang perlu diperhatikan dalam selektivitas
bergaul di atas akan mempunyai tujuan dalam rangka untuk dapat
memberikan andil dalam mewujudkan amal perbuatan yang lebih baik dan
sebagai teman hidupnya dalam rangka untuk meningkatkan perbuatan –
perbuatan yang baik dalam kehidupan sehari – hari. Kalau kita telah
terlanjur memilih teman yang salah maka kita masih punya kesempatan
untuk meninggalkannya dan mencari teman yang baru yang sesuai dengan
criteria-kriteria diatas. Meskipun yang sulit itu kita lakukan. Tapi yang
penting bagi kita adalah belajar untuk mencobanya. Karena belajar
merupakan suatu proses dari seorang individu yangbberupaya mencapai
tujuan belajar yaitu suatu bentuk perubahan perilaku yang relative baik.
33

Bagaimanapun memilih teman dalam bergaul bukan berarti meragukan
semua teman yang tidak dipilih sebagai teman dekat. Sungguh halk
tersebut hanya dilakukan dalam batas – batas yang wajar. Dalam
selektivutas bergaul memang sangat diperlukan karena memilih teman
yang baik atau tidak baik pada dasarnya merupakan pendidikan yang
secara tidak disadari, sehingga hal tersebut memerlukan perhatian serius
dalam kaitannya dengan selektivitas bergaul. Demikian juga memilih
teman dekat dalam Islam sangat jauh dari unsur semangat realistis dan
geografis, justru keduanya itu adalah pikiran – pikiran yang ditiupkan oleh
musuh Islam, sebagai alat untuk memecah permusuhan umat, sehingga
dengan begitu akan mudah bagi mereka untuk mengeksploitasinya. Oleh
karena itu dalam selektivitas bergaul jangan hanya memperhatikan warna
kulit, ras, maupun lainnya. Yang perlu ditegakkan adalah firman Allah
yang artinya “Sesungguhnya orang yang paling mulia antara kamu adalah
orang yang paling takwa di sisi Allah”. (QS. Al-Hujurat : 13)
34

Dalam firman Allah tersebut telah tergambar bahwa dalam memilih
teman untuk diajak bergaul yang pertama dilihat adalah taqwanya karena
sifat ketaqwaan itu akan mencerminkan semua perilakunya dalam
kehidupan sehari – hari. Selektivitas dalam pergaulan tidak bisa dilakukan
dengan tergesa – gesa kaena akhlak anak – anak sangat ditandai oleh
ketidak teraturan, ada sianak mudah meloncat dari kesan yang satu ke
kesan yang lain, dari satu aktifitas, satu sentiment ke yang lainnya dengan
cara cepat. Disposisinya sama sekali belum stabil, kemarahannya mudah
berkobar tapi juga mudah mereda. Air mata berganti senyum,
persahabatan berbalik menjadi kebencian atau sebaliknya, tanpa paksaan
yang jelas atau seringkali hanya pengaruh kecil dalam pergaulannya.
Berbagai permainan yang dikenalipun ia sangat bosan dan beralih ke suatu

33
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka Cipta,
Jakarta, 2003, hlm 28
34
Mahmud Yunus, OP.Cit, hlm. 466
yang lain, sehingga dalam hal ini si anak akan mengikuti apa yang
diberikan kepada orang tuanya.
35
Oleh karena itu sebagai orang tua harus
memberikan pengarahan dan ketauladanan agar si anak bisa menerapkan
apa yang diberikan dan dilakukan oleh si anak. Karena dalam proses
pembentukkan kepribadian anak akan melihat dalam hal ini
memanifestasikan apa yang terdapat pada orang tuanya. Sehingga dalam
memilih teman tidak akan membawa kemadlorotan dan akan
mempengaruhi kepribadian yang lebih baik lagi.

C. Hubungan Pemahaman Akhlak dengan Selektivitas Bergaul
Sebagai umat Islam hendaknya mampu untuk menyakini apa yang
diturunkan oleh Allah dan Rasul-Nya atau sering disebut habluminnas dan
habluminallah. Aturan itu sebagai modal untuk melaksanakan ibadah, dari
akhlak yang mulia inilah nantinya akan mempengaruhi tindakan – tindakan
seseorang dalam kehidupan setiap hari antara lain selektivitas dalam bergaul.
Tindakan yang dilandasi dengan ajaran agama Islam dalam arti sesuai anjuran
Islam dan menjauhi larangan Islam itulah yang dinamakan akhlakul karimah.
Dari penjelasan diatas kita tahu bahwa pemahaman akhlak yang baik
akan sangat mempengaruhi seseorang terhadap selektivitas bergaul.
Maksudnya jika seseorang paham betul tentang akhlak maka dia akan selektif
dalam pergaulan di sekolah maupun masyarakat.
Akhlak merupakan perilaku dalam pergaulan sehari – hari, percampuran
dalam persahabatan atau dalam kehidupan sehari – hari, hidup dan kehidupan
bersama – sama masyarakat. Kita semua khususnya umat Islam perlu bergaul
terlebih – lebih para siswa MTs sebagai lembaga pendidikan Islam dalam
rangka meningkatkan selektivitas bergaul. Sebab dalam pergaulan terdapat
teman atau orang lain yang akhlaknya buruk dan ada juga yang baik, sehingga
perlu selektivitas dalam bergaul dengan sesame manusia baik dalam keadaan
sendiri atau berkelompok di sekolah maupun dalam masyarakat.

35
Emile Durkheim, Pendidikan Moral, Airlangga, Jakarta, 1990, hlm.94
Agama Islam tidak melarang adanya pergaulan antara sesama manusia
bahkan malah diajurkan asal berdasarkan norma – norma ajaran agama Islam.
Dengan adanya pergaulan berarti telah mengadakan interaksi yang di
dalamnya terkandung pendidikan. Maka tercetuslah bertambahnya
pengetahuan, kepandaian bahkan sampai pada akhlak termasuk dalam bergaul
dengan sesamanya. Dalam peningkatan pemahaman akhlak dan selektivitas
bergaul terjadilah suatu interaksi yang memuat hal – hal edukatif.
36

Untuk bisa memahami akhlak dengan sebaik – baiknya maka seseorang
harus memang benar – benar mempunyai seorang sosok guru pada saat bisa
proses belajar mengajar diperlukan upaya – upaya maksimal, sehingga ulama
pada masa depan mempunyai ilmu pengetahuan yang luas, beriman dan
beramal saleh.
Dari penjelasan diatas kita ketahui bahwa jika seseorang telah paham
akhlak yang baik dan akhlak yang buruk maka secara tidak langsung dia akan
selektif dalam bergaul. Karena jika teman kita mempunyai akhlak yang buruk
maka kitapun akan ikut terpengaruh, atau sebaliknya jika mempunyai teman
teman baik maka kitapun akan ikut menjadi baik. Seperti pepatah jawa jika
tidak ingin bau minyak maka jangan dekat – dekat dengan minyak, atau kalau
gak ingin panas maka jangan dekat – dekat dengan api. Kedua pepatah jawa
itu telah memberikan gambaran pada kita bahwa teman yang paham akhlak
sangat memberikan pengaruh bagi kehidupan kita.

36
Teuku Amiruddin, Riorientasi Manajemen Pendidikan Islam, UII Press, Yogyakarta,
2000, hlm.167.
BAB III
LAPORAN HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Obyek Penelitian
1. Sejarah singkat berdirinya MTs N Subah Batang
Semakin berkembangnya masyarakat Indonesia dalam hal
pendidikan, terbukti kecamatan Subah mempunyai semangat dan peduli
terhadap anak-anak dan cucu mereka untuk meraih pendidikan serta
melestarikan budaya dan peradaban bangsa. Dengan semangat dan
kepedulian masyarakat kecamatan Subah bersama – sama untuk
mendirikan lembaga pendidikan, karena masyarakat sekitar mayoritas di
domisili oleh orang muslim sehingga para tokoh masyarakat
menginginkan regenerasi yang akan datang mempunyai akhlakul karimah
yang baik. Kepedulian masyarakat kecamatan Subah terbukti dengan
adanya pendirian bangunan lembaga pendidikan dengan harapan para
pendiri dan tokoh mayarakat kecamatan Subah agar anak – anak cucu
mereka dapat menggantikan tugas orang tua sebagai khalifah fil ardi
dengan sebaik – baiknya.
Berdirinya MTs N di kecamatan Subah dilatarbelakangi adanya
penjajahan baik dari Barat ( Jepang, Belanda, dan Inggris) maupun dalam
negeri misalnya G.30.S. PKI yang meletus pada tahun 1965, sehingga
masyarakat Subah merasakan pentingnya pendidikan dalam rangka
merubah system kehidupan khususnya pendidikan agama Islam sebagai
modal bagi putra putrinya. Berangkat dari permasalahan itu maka ada
beberapa tokoh masyarakat timbul pemikiran untuk mendirikan lembaga
pendidikan formal yang berciri khas Islam yaitu MTs untuk menampung
lulusan SD dan MI yang ada di Wilayah Kecamatan Subah Kabupaten
Batang. Akhir atahun 1969 Kecamatan Subah Kabupaten Batang telah
berhasil mendirikan madrasah menengah pertama (MMP) Tsabiluttaqwa
yang didirikan atas swadaya masyarakat yang diprakarsai KH. Fahrurrozi,
K. Kosim Tolib (alm), Kariri Said, Rahmat Muhai alm.
MPP menempuh pendidikan selama tiga tahun yang mendasarkan
pada surat keputusan mentri agama No. 52 tahun 1971 taggal 2 Agustus
1971 agar diadakan perubahan nama. Baik struktur maupun kurikulum
madrasah di lingkungan Depag. Pada tahun 1972 MPP berubah namanya
menjadi MTs Tsabiluttaqwa yang mendasarkan pada keputusan mentri
agama No. 31 tahun 1972. Kemudian satu tahun kemudian berubah
menjadi pendidikan guru agama pertama yang lama pendidikannya empat
tahun yang dibina oleh pendidikan guru agama negeri Pekalongan.
Pendidikan guru agama pertama Tsabiluttaqwa mengalami berbagai
kendala sehingga berubah namanya kembali menjadi MTs Tsabiluttaqwa
pada tahun 1978. Hal ini berdasarkan surat keputusan mentri agama No.
16 tahun 1978. Berdasarkan pertimbangan dan untuk mememudahkan
meningkatkan mutu pendidikan maka MTs Tsabiluttaqwa menerima
tawaran dari pemerinah (Depag) untuk dinegerikan. MTs N berdiri
berdasarkan Surat keputusan mentri agama No. 27 tahun 1980 dan
diresmikan pada tanggal 2 Juli 1971 oleh Bapak Kepala Kantor Wilayah
Depag Propinsi Jawa Tengah dan didampingi Bupati Batang dan MTs
negeri Ymt yang saat ini menjabat sebagai kepala seksi pendidikan agama
Islam Kandepag Batang
2. Keadaan guru dan karyawan MTs N Subah Batang
Guru dan karyawan di sebuah lembaga pendidikan adalah merupakan
motor dalam melaksanakan adanya proses belajar mengajar untuk
mencapai tujuan pendidikan yakni mewujudkan generasi insane kamil.
Adapun keadaan guru dan karyawan MTs N Subah Batang antara lain:
TABEL I
KEADAAN GURU DAN KARYAWAN MTs N SUBAH BATANG
TAHUN 2005
No Nama NIP Mengajar
Ijasah
Terakhir
Jabatan
1. Drs. Sholihin
Hayat
150209969 BK SI IAIN
AKTA IV
Ka. Madrasah
Drs. Ubaidillah 15022607 Bahasa
Arab
SI IAIN WK. Mad.
Ur.
Kurikulum
Zaenal Arifin,
S.Ag
150207108 Fiqih SI IAIN WK. Mad.
Ur. Humas
Purwati, BA 150104107 B.
Indonesia
SM IAIN Wali Kelas II
C
Drs. Amir Faisol 150271290 B. Inggris,
Arab
SI
IAIN/TADRIS
Wali Kelas Ia
Chorisah, A.Md 150212292 Aqidah
akhlak
D2 Wali Kelas
IC
Muhajir, BA 150235930 PPKN, IPA
Fisika
SM IAIN WK. Mad.
Ur. Sarana
dan Prasarana
Sukirno, S.Ag 150258448 SKI SI IAIN WK. Mad.
Ur.
Kesiswaan
Muhdi, BA 150240522 B. Inggris SM IAIN Wali Kelas
IIIa
Lucky Frisdiarti,
BA
150246236 BK,
B.Daerah
SM IKIP Wali Kelas
IIb
Drs. Darozi 150277234 IPS
(Ekonomi)
SI
IAIN/TADRIS
Wali Kelas II
e
Dra. Susi Ida H 150281558 IPA (
BIologi)
SI
IAIN/TADRIS
Wali Kelas
IId
Dra. Krisnawaty 150279886 Matematika SI
IAIN/TADRIS
Wali Kelas
IIa
Suaman 150254551 IPA Fisika D3 IKIP Wali Kelas
IIIb
Mustofa, BA 150259757 B.
Indonesia
SM IAIN Wali Kelas
IIIc
Darman, A,Ma Pd 131869853 Penjaskes D3 IKIP Wali Kelas
IIf
Suwahono, S.Pd 150294973 IPS Sejarah S1 IKIP Wali Kelas
IIId
Ernio Budiyanti,
S.Pd
150294811 Kertangkes SI UMS Wali Kelas Id
Yudo Andrianto -

B.
Indonesia
D3 UMS Wali Kelas Ib
Dra. Umul faidah - Matematika SI IAIN -

Edi subeno, S.Pd - IPS
Geografi
SI IKIP -
Wityawati, S.Pd - IPS Sejarah SI UNNES -
Wiastuti DS, S.Pd - B.
Indonesia
S1 UMS -
Ari Riwayanto,
S.Pd
- Matematika S1 UNS -
Titik Margiati,
S.Pd
- IPS Sejarah S1 UNS -
Nurkhusno 150224609 -

MAN Ka. Ur. TU
Sumarno 150247378 - SMA Staf TU
Siti Qomariyah - - MAN Staf TU
Mujinah - - SMA Staf TU
M. Suryo - - SMA Penjaga
3. Keadaan murid MTs N Subah Batang
Keadaan murid MTs N Subah Batang mengalami peningkatan setiap
tahunnya walaupun ada persaingan dengan lembaga pendidikan tingkat
menengah umum yang berstatus negeri. Namun MTs N Subah Batang ini
dalam penerimaan siswa baru dari tahun ke tahun kuantitas makin
meningkat masih dalam taraf normal atau baik. Untuk lebih jelasnya
dapat dilihat table dibawah ini.

TABEL II
KEADAAN MURID MTs N SUBAH BATANG
Kelas I Kelas II Kelas III
No
Tahun
Pelajaran
pa pi jml pa pi jml pa pi jml
Jml
total
1 2001/2002 82 104 186 58 83 141 55 58 113 440
2 2002/2003 111 117 228 75 97 172 54 81 135 535
3 2003/2004 138 155 293 101 108 209 73 96 169 671
4 20014/2005 87 115 202 123 149 272 98 105 203 677
5 2005/2006 89 113 202 125 150 275 90 113 203 680

4. Keadaan Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasarana adalah merupakan salah satu alat penunjang
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar. Sehingga dalam lembaga
pendidikan semakin lengkap alat pendukungnya maka semakin baik dalam
arti dapat dengan mudah untuk mencapai tujuan pendidikan yang
diharapkan.
TABEL III
KEADAAN SARANA DAN PRASARANA MTs N SUBAH BATANG.
NAMA BARANG JML KET
Mesin Ketik
+ Mesin ketik manual portable (11-13”)
+ Mesin ketik manual Standar (14 – 17”)
+ Mesin ketik manual Langwangen dan Olimpia (18 – 35”)
+ Mesin ketik manual Olimpia

1
1
1
4
1



Baik
Komputer
+ Komputer Kp. 133 MHZ
+ Printer LQ 1070
+ Printer LX000

2
1
1



Baik
Alat Penyimpan
+ Filling cabinet

2

Baik
Alat Kantor lain
+ Papan Visual

5

Baik
Alat Rumah Tangga
+ Tape Recorder
+ Radio Tape
+ Sound System
+ Mikrofon
+ Pemotong Rumput
2
1
2
2
1
2



Baik
Mebelair
+ Lemari kayu
+ Rak kayu/besi
+ Meja kayu
+ Kursi kayu
+ Kursi besi
+ Figura
+ Tempat Koran
+ Meja kursi tamu

22
12
394
704
15
64
1
3 set



Baik
Alat komunikasi
+ Telepon

1

Baik
Alat kesenian
+ Pianika
+ Gitar
+ Alat musik (Chosidah)
+ Suling plastik
+ Drumband

12
1
43
5
1 set



Baik
Alat Olah Raga
+ Alat Volly Ball
+ Tennis Meja
+ Atletik
+ Bulu Tangkis

17
16
85
4


Baik
Alat Peraga Pendidikan
+ Alat peraga Fisika
+ Alat peraga Kimia
+ Alat peraga Biologi
+ Alat Peraga ketrampilan
+ Mikroskup
+ Alat peraga Fisika
+ Alat Peraga Kimia

183 set
329 set
81 set
9 set
5 buah
9 buah
25 buah




Baik
Buku perpustakaan
+ Buku- buku
+ Buku umum
+ Buku agama
+ CBSA Agama
+ Buku Ilmu Sosial
+ Buku Ilmu Bahasa
+ Matematika/Pengetahuan Alam
+ Ilmu Pengetahuan Praktis
+ Olah Raga dan Kesenian

55
1513
5243
111
2745
3295
3676
31
283




Baik


B. Penyajian Data
1. Data tingkat pemahaman akhlak MTs N Subah Batang
Dalam penelitian ini penulis telah memaparkan bahwa tujuan dari
penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui pemahaman akhlak siswa
MTs N Subah Batang tahun pelajaran 2004/2005. (2) Untuk mengetahui
selektifitas bergaul siswa MTs N Subah Batang tahun pelajaran 2004. (3)
Untuk mengetahui hubungan antara pelaksanaan pemahaman akhlak
dengan selektifitas bergaul pada siswa MTs N Subah Batang tahun
pelajaran 2005. Maka langkah awal untuk mengetahui tujuan tersebut
adalah mengumpulkan data, yang kemudian data tersebut diolah. Di
bawah ini penulis sajikan data yang berhasil penulis olah menjadi bentuk
tabel.
Untuk mengetahui skore tingkat pemahaman akhlak tersebut, maka
penulis mengambil prosedur sebagaiu berikut :
(1) Memberi nilai 3 untuk jawaban setiap item ytang berkode a.
(2) Memberi nilai 2 untuk jawaban setiap item yang berkode b
(3) Memberi nilai 2 untuk jawaban setiap item yang berkode c
TABEL IV
TINGKAT PEMAHAMAN AKHLAK MTS N SUBAH BATANG
TAHUN PELAJARAN 2004 / 2005
No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 skore
1 Ag 3 3 1 1 2 2 1 2 2 3 20
2 Ah 3 3 3 3 3 3 1 3 3 25
3 Ak. M 3 2 3 1 3 3 3 2 2 2 24
4 Al 3 2 3 2 3 1 2 3 2 3 24
5 A.S 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 29
6 AB 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
7 Ar 2 3 2 2 2 3 3 2 2 3 24
8 Af 3 3 3 2 3 2 3 3 3 3 28
9 Au 3 2 2 3 3 3 3 2 2 1 24
10 DR 3 3 3 2 2 2 2 3 3 3 26
11 Ge 3 3 2 3 1 2 2 2 3 2 23
12 Ha 3 3 2 3 3 3 3 3 2 3 28
13 In 2 2 3 3 3 2 2 2 1 2 22
14 Ja 3 3 2 2 1 3 3 2 2 3 24
15 MA 3 2 3 3 2 2 3 3 2 2 25
16 MG 3 2 3 3 2 2 2 3 3 2 25
17 MH 3 2 3 3 3 1 3 3 3 3 27
18 MI 2 2 3 1 1 1 2 1 1 2 15
19 ML 3 3 2 2 2 3 3 3 2 1 24
20 MR 3 3 2 2 2 3 3 3 3 3 27
21 Mh 3 1 1 1 2 3 3 3 3 3 20
22 Mk 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
23 Na 3 3 3 3 3 3 1 3 3 2 27
24 Re 3 3 2 2 1 1 2 1 2 2 19
25 RU 3 2 2 2 3 3 3 2 3 2 25
26 Sa 33 3 3 3 2 3 2 3 3 1 26
27 So 3 2 3 3 2 3 3 3 2 3 27
28 Su 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 29
29 Ya 3 3 3 3 2 3 3 3 3 3 29
30 Za 3 3 2 2 3 2 2 3 2 2 24
31 AU 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 24
32 AK 3 2 3 3 3 2 2 2 2 3 25
33 Ai 3 2 3 3 3 3 3 3 1 3 27
34 Aa 3 2 2 2 3 3 3 2 2 2 24
35 AF 3 3 3 1 3 1 2 3 3 3 25
36 De 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 28
37 Ex 3 2 3 3 2 2 3 3 2 3 26
38 FA 3 2 1 1 1 1 1 1 1 1 14
39 Fi 3 3 2 2 2 2 3 3 2 3 25
40 Kh 3 3 2 2 1 2 3 3 3 2 24
41 LO 3 3 3 3 2 1 2 2 2 1 22
42 MS 3 2 3 3 2 3 2 3 3 3 27
43 NU 3 3 3 3 2 3 3 3 2 3 28
44 NA 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 29
45 Nh 3 2 1 2 3 1 2 1 3 3 21
46 Rrk 3 3 3 2 3 3 2 3 2 2 26
47 SA 3 3 3 2 2 3 2 3 2 2 25
48 Si 3 2 3 2 1 3 3 2 2 2 23
49 SJ 3 3 3 2 3 3 3 3 2 3 38
50 Us 3 2 2 2 2 3 2 3 2 3 24

2. Data selektifitas Bergaul Siswa MT s N Batang Subah
Untuk membuktikan tujuan penelitian yanb penulis ajukan pada
nomor dua dan sekaligus untuk menjawab tujuan penelitian pada nomor 3
yaitu untuk mengetahui pemahaman akhlak pengaruhnya terhadap
selektifitas bergaul siswa MTs N Subah Batang khususnya kelas 1, maka
dirasa perlu mengetahuio selektifitas bergaul siswa MTs N Subah Batang
tersebut. Berikut ini penulis sajikan data tentang selekltifitas bergaul pada
siswa MTs N Subah Batang, dapat dilihat pada tabel berikut ini.

TABEL VI
TINGKAT SELEKTIFITAS BERGAUL SISWA MTS N SUBAH BATANG
TAHUN AJARAN 2004
No Nama 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 skore
1 Ag 3 1 2 3 3 2 2 2 1 1 23
2 Ah 3 3 3 2 1 3 3 3 3 3 27
3 Ak. M 3 3 3 3 3 3 1 3 3 2 27
4 Al 3 2 3 3 3 1 3 3 3 2 26
5 A.S 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
6 AB 3 3 3 3 3 3 3 3 3 3 30
7 Ar 3 3 3 3 2 3 3 3 3 2 28
8 Af 3 2 3 3 3 3 3 2 2 2 24
9 Au 3 3 3 3 3 3 3 2 3 2 28
10 DR 3 2 2 3 3 2 3 2 2 2 24
11 Ge 2 1 1 2 2 3 3 2 1 2 22
12 Ha 3 3 2 2 3 2 2 3 3 2 25
13 In 3 3 2 2 2 2 3 3 1 2 23
14 Ja 3 3 3 3 2 2 3 3 3 3 28
15 MA 3 2 2 3 3 2 3 3 2 3 24
16 MG 3 3 3 2 2 2 2 3 3 3 24
17 MH 3 3 1 3 3 2 2 1 3 3 24
18 MI 2 3 2 2 1 1 1 1 1 2 16
19 ML 3 2 3 2 2 2 3 3 2 2 24
20 MR 3 3 2 3 3 3 3 2 3 2 27
21 Mh 2 2 2 3 3 2 3 3 2 3 25
22 Mk 3 3 2 2 3 3 3 3 3 3 28
23 Na 3 2 2 3 3 3 2 2 2 2 25
24 Re 2 3 3 3 2 2 2 3 2 2 24
25 RU 3 3 2 3 2 2 2 3 2 3 25
26 Sa 3 2 3 3 3 3 3 3 3 3 29
27 So 3 2 3 3 3 1 2 2 2 3 24
28 Su 3 2 3 3 2 2 3 2 3 2 25
29 Ya 3 2 3 3 2 3 3 3 3 3 28
30 Za 3 3 3 3 1 2 3 3 2 3 26
31 AU 3 2 3 3 3 2 2 3 3 3 27
32 AK 3 3 3 3 3 2 2 3 3 3 28
33 Ai 3 3 3 3 3 3 1 2 2 3 26
34 Aa 3 3 3 2 2 3 3 2 2 2 25
35 AF 2 2 2 3 3 2 2 3 3 2 23
36 De 3 2 2 3 1 3 3 2 2 3 24
37 Ex 3 3 2 2 2 3 3 3 2 3 26
38 FA 3 3 2 2 1 2 1 1 3 2 21
39 Fi 3 3 3 2 2 3 3 3 2 2 27
40 Kh 3 3 3 2 3 3 3 3 3 3 29
41 LO 3 2 3 2 3 3 3 3 1 2 26
42 MS 3 2 3 1 2 2 3 1 2 2 21
43 NU 3 3 3 3 2 3 3 1 2 3 25
44 NA 3 2 2 1 3 3 3 2 2 3 24
45 Nh 3 2 2 2 3 3 3 3 2 2 25
46 Rrk 3 3 2 2 2 1 2 3 3 1 22
47 SA 3 2 2 2 3 3 3 2 3 3 27
48 Si 2 3 3 2 3 3 3 3 3 2 27
49 SJ 3 3 2 3 2 3 3 3 2 3 27
50 Us 3 3 3 3 3 3 1 3 3 3 29

BAB IV
ANALISIS DATA

A. Analisis Data Tingkat Pemahaman Akhlak dan Selektifitas Bergaul
1. Analisis data tingkat pemahaman akhlak
Dalam penelitian atau skripsi ini terdapat dua variabel yaitu variabel
pemahaman akhlak dan variable selektifitas bergaul. Jadi pemahaman
akhlak pada MTs N Subah Batang merupakan tujuan pertama yang
penulis tempuh dalam penelitian ini, yakni untuk menjawab pokok
masalah pertama yang telah dikemukakan dalam bab sebelumnya atau bab
pendahuluan. Yakni untuk mengetahaui tingkat pemahaman akhlak, maka
penulis segera mengadakan pengolahan terhadap data yang telah
terkumpul dan setelah itu diadakan analisis yang tepat. Adapun langkah
yang penulis ambil adalah sebagai berikut :
a. Mencari skore dari masing – masing jawaban responden yakni
memberi nilai 3 untuk jawaban tiap item berkode a, memberi nilai 2
untuk jawaban tiap item yang berkode b, dan memberi nilai 1 untuk
jawaban tiap item yang berkode c, sehingga dapat disajikan dalam
bentuk table berikut ini :
Tabel VI
NilaiTingkat Pemahaman Akhlak Pada Siswa MTs N Subah Batang
Tahun Ajaran 2004 / 2005
Frekuensi dari jawaban
1 Nama
A B C
Skore
1 Ag 3 4 3 20
2 Ah 8 - 1 25
3 Ak. M 5 4 1 24
4 Al 5 4 1 29
5 A.S 9 1 - 30
6 AB 10 - - 30
7 Ar 4 6 - 24
8 Af 8 2 - 28
9 Au 5 4 1 24
10 DR 5 5 - 26
11 Ge 4 5 1 23
12 Ha 8 2 - 28
13 In 3 6 1 22
14 Ja 5 4 1 24
15 MA 5 5 - 25
16 MG 8 1 1 27
17 MH 8 1 1 27
18 MI 1 5 4 15
19 ML 5 4 1 24
20 MR 7 3 - 27
21 Mh 3 4 2 20
22 Mk 10 - - 30
23 Na 8 1 1 27
24 Re 2 5 3 19
25 RU 5 5 - 25
26 Sa 7 2 1 26
27 So 7 3 - 27
28 Su 9 1 - 29
29 Ya 9 1 - 29
30 Za 4 6 - 24
31 AU 6 4 - 24
32 AK 5 5 - 25
33 Ai 8 1 1 27
34 Aa 4 6 - 24
35 AF 7 1 2 14
36 De 8 2 - 28
37 Ex 6 4 - 26
38 FA 1 2 7 14
39 Fi 5 5 - 25
40 Kh 5 4 1 24
41 LO 4 4 2 22
42 MS 7 3 - 28
43 NU 8 2 - 28
44 NA 9 1 - 29
45 Nh 4 3 3 21
46 Rrk 6 4 - 26
47 SA 5 5 - 25
48 Si 4 5 1 23
49 SJ 8 2 - 38
50 Us 4 6 - 24

b. Menentukan lebar interval, dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Mencari Ba (nilai batas tertinggi), yaitu 30
2. Mencari Bb (nilai batas terendah), yaitu 10
3. Setelah diketahui Ba dan Bb maka digunakan rumus sebagai
berikut :
3
1 Bb) (Ba + −

=
3
1 ) 10 30 ( + −

=
3
21

= 7
c. Mengklasifikasikan tingkat pemahaman akhlak dengan berpedoman
pada lebar interval sehingga diketahui :
- 24 – 30 aalah nilai dalam kategori tinggi dalam akhlak (A)
- 17 – 23 nilai dalam kategori kurang dalam pemahaman akhlak (B)
- 10 – 16 adalah nilai dalam kategori tidak dalam pemahaman
akhlak (C)
Agar lebih jelas penulis sajikan dalam bentuk tabel berikut ini :

Tabel VII
Tingkat Pemahaman Akhlak Pada Siswa MTs N Subah Batang
Tahun Ajaran 2004 / 2005
No
Tingkat
Pemahaman
Akhlak
Nominasi No
Tingkat
Pemahaman
Akhlak
Nominasi
1 20 Kurang 26 26 Tinggi
2 25 Tinggi 27 27 Tinggi
3 24 Tinggi 28 29 Tinggi
4 24 Tinggi 29 29 Tinggi
5 29 Tinggi 30 24 Tinggi
6 30 Tinggi 31 24 Tinggi
7 24 Tinggi 32 25 Tinggi
8 28 Tinggi 33 27 Tinggi
9 24 Tinggi 34 24 Tinggi
10 26 Tinggi 35 25 Tinggi
11 23 Kurang 36 28 Tinggi
12 28 Tinggi 37 26 Tinggi
13 22 Kurang 38 14 Tidak
14 24 Tinggi 39 25 Tinggi
15 25 Tinggi 40 24 Tinggi
16 25 Tinggi 41 22 Kurang
17 27 Tinggi 42 27 Tinggi
18 15 Tidak 43 28 Tinggi
19 24 Tinggi 44 29 Tinggi
20 27 Tinggi 45 21 Kurang
21 20 Kurang 46 26 Tinggi
22 30 Tinggi 47 25 Tinggi
23 27 Tinggi 48 23 Kurang
24 19 Kurang 49 38 Tinggi
25 25 Tinggi 50 24 Tinggi

d. Mencari banyaknya individu dalam tiga tingkatan kategori, yaitu :
tinggi, kurang, dan tidak, sehingga dapat disajikan dalam bentuk tabel
berikut ini.
Tabel VIII
Komposisi Frekuensi Tingkat Pemahaman Akhlak Pada Siswa MTs N
Subah
Batang Tahun Ajaran 2004 / 2005
No Nilai Pemahaman
Akhlak
Interval Nilai F %
1 Tinggi 24-30 40 80
2 Kurang 17-23 8 16
3 Tidak 10-13 2 4
Jumlah 50 1005

Dari tabel tersebut maka penulis dapat memberikan interpretasi
tentang tingkat pemahaman akhlak pada siswa MTs N Subah Batang
tahun ajaran 2004/2005.
1) 40 dari 50 responden adalah tergolong dalam kelompok tinggi, dan
jika diprosentasekan maka akan diperoleh angka 80 %. Hal ini dapat
dikatakan bahwa siswa MTs N Subah Batang dengan predikat baik
atau tinggi berjumlah 80 %.
2) 8 dari 50 responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah
termasuk dalam kategori kurang. Ini menandakan bahwa 8 dari
responden adalah tergolong dalam kategori kurang dalam pemahaman
akhlak. Dan jika diprosentasekan maka akan diketahui ada 16%.
3) Adapun yang tergolong dalam kelompok tidak dalam pemahaman
akhlak ada 2 responden. Dengan demikian diketahui bahwa siswa
MTs N Subah Batang yang tergolong dalam kategori tidak dalam
pemahaman akhlak ada 4%.
2. Analisis Data Selektifitas Bergaul Siswa MTs N Subah Batang
Analisis paeda bagian ini dimaksudkan untuk mencari jawaban terhadap tujuan
penelitian yang kedua yakni untuk mengetahui tingkat selektifitas bergaul pada
siswa MTs N Subah Batang tahun ajaran 2004 / 2005. Prosedur yang penulis
gunakan untuk mengetahui tingkat selektifitas bergaul pada siswa tersebut
adalah sebagai berikut :
a. Mencari skore dari masing – masing jawaban responden yaitu dengan
cara memberikan nilai 3 pada jawaban tiap item yang berkode a,
memberi nialai 2 pada jawaban tiap item yang berkode b, dan
memberi nilai 1 pada jawaban tiap item yang berkode c. Penulis
berhasil merangkum perolehan nilai skore dari masing – masing
jawaban responden, dan agar lebih jelas dapat dilihat dalam tabel
berikut ini.
Tabel IX
Tingkat Selektifitas Bergaul Pada Siswa MTs N Subah Batang
Tahun Ajaran 2004 / 2005
Frekuensi dari jawaban
No Nama
A B C
Skore
1 Ag 3 4 3 23
2 Ah 8 1 1 27
3 Ak.M 9 1 - 27
4 Al 7 2 1 26
5 AS 10 - - 30
6 AB 10 - - 30
7 Ar 8 2 - 28
8 AF 6 4 - 24
9 Au 8 2 - 28
10 DR 4 6 - 24
11 Ge 2 5 3 22
12 Ha 5 5 - 25
13 In 4 5 1 23
14 Ja 8 2 - 28
15 MA 6 4 - 24
17 MG 6 4 - 24
18 MH 6 2 2 24
19 MI 1 4 5 16
20 MR 7 3 - 27
21 Mh 5 5 - 25
22 Mk 8 2 - 28
23 Na 5 5 - 25
24 Re 6 4 - 24
25 Ru 5 5 - 25
26 Sa 9 1 - 29
27 So 5 4 1 24
28 Su 5 5 - 25
29 Ya 8 2 - 28
30 Za 7 2 1 26
31 AU 7 3 - 27
32 AK 8 2 - 28
33 Ai 7 2 1 26
34 Aa 5 5 - 25
35 AF 4 6 - 23
36 De 5 4 1 24
37 Ex 6 4 - 26
38 FA 7 3 - 29
39 Fi 7 3 - 27
40 Kh 9 1 - 29
41 LO 6 3 1 26
42 MS 3 5 2 21
43 NU 7 2 1 25
44 NA 5 4 1 24
45 Nh 5 5 - 25
46 Rrk 4 4 2 22
47 SA 6 4 - 26
48 Si 7 3 - 27
49 SJ 7 3 - 27
50 Us 9 - 1 29

b. Menentukan lebar interval, dengan sebagai berikut :
1. Mencari nilai tertinggi (Ba), yaitu 30
2. Mencari nilai terendah (Bb) yaitu 10
3. Menentukan jumlah interval yaitu 3 (tinggi, cukup dan kurang)
Setelah diketahui ketiga hal tersebut maka kemudian
dimasukkan ke dalam rumus sebagai berikut :
3
1 Bb) (Ba + −

=
3
1 ) 10 30 ( + −

=
3
21

= 7
c. Mengklasifikasikan tingkat selektifitas bergaul dengan berpedoman
kepada lebar interval tersebut, sehingga dapat diketahui :
- 24 – 30 adalah nilai dalam kategori selektif (A)
- 17 – 23 nilai dalam kategori kurang selektif (B)
- 10 – 16 adalah nilai dalam kategori tidak selektif ( C )
Mengacu pada standarisasi di atas maka tersaji data yang dpat dilihat
dalam bentuk tabel sebagai berikut.
Tabel X
Nilai tingkat Selektifitas Bergaul Pada Siswa MTs N Subah
Batang
Tahun Ajaran 2004/2005
NO
Nilai Tingkat
selektifitas bergaul
Nominasi NO
Nilai tingkat
selektifitas bergaul
Nominasi
1 23 Kurang
selektif
26 29 Selektif
2 27 Selektif 27 24 Selektif
3 27 Selektif 28 25 Selektif
4 26 Selektif 29 28 Selektif
5 30 Selektif 30 26 Selektif
6 30 Selektif 31 27 Selektif
7 28 Selektif 32 28 Selektif
8 24 Selektif 33 26 Selektif
9 28 Selektif 34 25 Selektif
10 24 Selektif 35 23 Kurang
Selektif
11 22 Kurang
Selektif
36 24 Selektif
12 25 Selektif 37 26 Selektif
13 23 Kurang
Selektif
38 21 Kurang
Selektif
14 28 Selektif 39 27 Selektif
15 24 Selektif 40 29 Selektif
16 24 Selektif 41 26 Selektif
17 24 Selektif 42 21 Kurang
Selektif
18 16 Kurang
Selektif
43 25 Selektif
19 24 Selektif 44 24 Selektif
20 27 Selektif 45 25 Selektif
21 25 Selektif 46 22 Selektif
22 28 Selektif 47 26 Selektif
23 25 Selektif 48 27 Selektif
24 24 Selektif 49 27 Selektif
25 25 Selektif 50 29 Selektif

d. Mencari banyaknya individu dalam tiga tingkatan kategori, yaitu
kategori selektif, kurang selektif, dan tidak selektif. Berikut ini dapat
disajikan dalam bentuk tabel berikut ini :
Tabel XI
Frekuensi Tingkat Selektifitas Bergaul Pada Siswa MTs N Subah Batang
Tahun Ajaran 2004 / 2005
NO Nilai Tingkat
selektifitas Bergaul
Interval
Nilai
F %
1 Selektif 24 – 30 42 84
2 Kurang selektif 17 – 23 7 14
3 Tidak selektif 10 - 16 1 2
Jumlah 50 100 %

Jika mengacu kepada hasil di atas maka tingkat selektifitas bergaul pada siswa
MTs N Subah Batang tahun ajaran 2004 dapat diketahui bahwa :
- Mereka yang berada dalam kondisi selektif berjumlah 42 responden
atau 84 %
- Mereka yang berada dalam kondisi kurang selektif berjumlah 7
responden atau 14 %
- Sedangkan mereka yang dalam kondisi tidak selektif berjumlah 1
sresponden atau 2 %.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada 42 responden atau
84 % dari keseluruhan sampel berada dalam kondisi selektif atau memiliki
selektifitas bergaul baik, adapun 7 responden atau 14% dalam tingkat kurang
selektifitas bergaul dan 1 responden atau 2 % tidak selektif dalam bergaul.

B. Analisis Data untuk Mengetahui Hubungan Antara Pemahaman Akhlak
dengan Selektifitas Bergaul
Dalam analisis berikut, penulis bermaksud untuk mencari kebenaran
adanya hubungan antara pemahaman akhlak dengan selektifitas bergaul.
Adapun untuk membuktikan hal tersebut, penulis berusaha mengambil
langkah sebagai berikut :
1. Mencari harga Chi Kuadrat, dengan rumus sebagai berikut :
X
2
= ∑
fh
fh) (fo
2


Keterangan :
X
2
: Chi kuadrat
fo : frekuensi yang diperoleh
fh : frekuensi yang diharapkan
Untuk mencari harga Chi kuadrat maka penulis mengambil langkah – langkah
sebagai berikut :
a. Membuat tabel persiapan nilai tingkat pemahaman akhlak dan nilai
selektifitas bergaul. Penulis berhasil merangkum angka – angka dari
analisis data, sehingga dapat dilihat dalam bentuk tabel berikut ini :
N
o
Nama Nilai
Pemahama
n Akhlak
Nilai
Selektifitas
Bergaul
Nominasi Nilai
Pemahaman
Akhlak
Nominasi Nilai
selektifias Bergaul
1 Ag 20 23 Kurang Kurang selektif
2 Ah 25 27 Tinggi Selektif
3 Ak.M 24 27 Tinggi Selekti
4 Al 24 26 Tinggi Selekti
5 AS 29 30 Tinggi Selekti
6 AB 30 30 Tinggi Selekti
7 Ar 24 28 Tinggi Selekti
8 AF 28 24 Tinggi Selekti
9 Au 24 28 Tinggi Selekti
10 DR 26 24 Tinggi Selekti
11 Ge 23 22 Kurang Kurang selektif
12 Ha 28 25 Tinggi Selektif
13 In 22 23 Kurang Kurang selektif
14 Ja 24 28 Tinggi Selektif
15 MA 25 24 Tinggi Selektif
16 MG 25 24 Tinggi Selektif
17 MH 27 24 Tinggi Selektif
18 MI 15 16 Tidak Kurang selektif
19 ML 24 24 Tinggi Selektif
20 MR 27 27 Tinggi Selektif
21 Mh 20 25 Kurang Selektif
22 Mk 30 28 Tinggi Selektif
23 Na 27 25 Tinggi Selektif
24 Re 19 24 Tinggi Selektif
25 RU 25 25 Tinggi Selektif
26 Sa 26 29 Tinggi Selektif
27 So 27 24 Tinggi Selektif
28 Su 29 25 Tinggi Selektif
29 Ya 29 28 Tinggi Selektif
30 Za 24 26 Tinggi Selektif
31 AU 24 27 Tinggi Selektif
32 AK 25 28 Tinggi Selektif
33 Ai 27 26 Tinggi Selektif
34 Aa 24 25 Tinggi Selektif
35 AF 28 24 Tinggi Kurang Selektif
36 De 28 24 Tinggi Selektif
37 Ex 26 26 Tinggi Selektif
38 FA 14 21 Tinggi Kurang Selektif
39 Fi 25 27 Tinggi Selektif
40 Kh 24 29 Tinggi Selektif
41 LO 22 26 Kurang Selektif
42 MS 27 21 Tinggi Kurang Selektif
43 NU 28 25 Tinggi Selektif
44 NA 29 24 Tinggi Selektif
45 Nh 21 25 Tinggi Selektif
46 Rrk 26 22 Tinggi Kurang Selektif
47 SA 25 26 Tinggi Selektif
48 Si 23 27 Kurang Selektif
49 SJ 38 27 Tinggi Selektif
50 Us 24 29 Tinggi Selektif

b. Mmbuat tabel perhitungan frekuensi yang diperoleh (fo)
Setelah diketahui nilai tingkat dari kedua variabel itu yakni
pemahaman akhlak dengan elektifitas bergaul pada siswa MTs N
Subah Batang, maka berikut ini penulis berhasil membuat tabel
perhitungan frekuensi yang diperoleh sebagai berikut.
Tabel XIII
Frekuensi yang Diperoleh (fo)
Tingkat Selektifitas Bergaul No Tingkat
Pemahaman
Akhlak
Selektif Kurang
selektif
Tidak
selektif
Total
1 Tinggi 37 3 0 40
2 Kurang 5 3 0 8
3 Tidak 0 1 1 2
Jumlah 42 7 1 50

c. Membuat tabel perhitungan frekuensi yang diharapkan dengan
menggunakan rumus sebagai berikut :
fh =
N
(nk)(ng)

Keterangan :
Fh = frekuensi yang diharapkan
nk = jumlah kolom
ng = jumlah golongan
N = Total
Dengan demikian dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel XIV
Frekuensi yang Diperoleh (fh)
Tingkat Selektifitas Bergaul No Tingkat
Pemahaman
Akhlak
Selektif Kurang
selektif
Tidak
selektif
Total
1 Tinggi 33,6 5,6 0,8 40
2 Kurang 6,72 1,12 0,16 8
3 Tidak 1,68 0,28 0,04 2
Jumlah 42 7 1 50s

d. Membuat tabel perhitungan Chi Kuadrat ( X )
2

Karena angka Indeks korelasi kontingensi C atau KK itu harus
dihitung dangan Chi Kuadrat, maka langkah pertama yang harus kita
tempuh adalah mengetahui besarnya Chi Kuadrat tersebut. Oleh
karena itu di bawah ini penulis siapkan tabel kerjanya.
No
Tingkat
Pemahama
n Akhlak
Tingkat
Selektifitas
Bergaul
fo fh (fo-fh) (fo-fh)
2

fh
fh) (fo
2


1 Tinggi Selektif
Kurang selektif
Tidak selektif
37
5
0
33,6
6,72
1,68
3,4
-1,72
-1,68
11,56
2,96
2,82
0,34
0,44
1,68
Jumlah 42 2,46
2 Kurang Selektif
Kurang selektif
Tidak selektif
3
3
1
5,6
1,12
0,28
-2,6
1,88
0,72
6,76
3,53
0,44
1,21
2,41
1,57
Jumlah 7 5,19
Selektif
Kurang selektif
Tidak selektif
0
0
1
0,8
0,16
0,04
-0,8
-0,16
0,96
0,64
0,02
0,92
0,8
0,16
23,92
Jumlah 1 24,88
50 32,53

e. Mencari kebenaran hipotesis yang berbunyi ada hubungan yang positif
antara pemahaman akhlak dengan selektifitas bergaul pada siswa MTs
N Subah Batang tahun ajaran 2004 / 2005.
Setelah harga Chi Kuadrat diketahui, maka selanjutnya penulis
substitusikan ke dalam rumus koefisien kontingensi sesuai rumus yang
ada dalam bab I sebagai berikut :
KK =
N X
X
2
2
+

=
50 53 , 82
53 , 32
+

= 39 , 0
= 0,63
Untuk memberikan interpretasi terhadap C atau KK itu, harga C
terlebih dahulu kita ubah menjadi Phi, dengan rumus :]
∅ =
2
1 c
c


∅ =
2
63 , 0 1
63 , 0


∅ =
40 , 0 1
63 , 0


∅ =
60 , 0
63 , 0

∅ =
77 , 0
63 , 0
= 0,82
Selanjutnya harga ∅ yang telah kita peroleh itu kita konsultasikan
dengan tabel nilai “r” Proiduct moment, dengan terlebih dahulu mencari
df-nya : df = N-nr = 50-2 = 48. (dalam Tabel Nilai “r” Product Moment
tidak diperoleh df sebesar 48, karena itu digunakan df sebesar 50).
Dengandf sebesar 50, diperoleh harga r pada taraf signifikan 1 %
diperoleh 0,354.
Kebenaran hipotesisi tersebut dilandasi dengan uji statisitik dengan
memakai rumus Chi Kuadrat dan dilanjutkan pada Koefisien Kontingensi
yang kemudian dilanjutkan oleh Phi. Dalam uji statistik diketahui bahwa
dengan hasil total 0,82 setelah dikonsultasikan dengan tabel r Product
Moment dengan batas penolakan 1 % yang menunjukkan angka 0,354
ternyata total Phi berada jauh di atas batas penolakan 1 %, ayitu 0,82 >
0,354 dalam batas penolakan 1 %.
Dengan demikian nilai Phi leboh ebsar daripada r tabel, apda taraf
significant 1 %. Dengan ini maka hipotesa nol ditolak, berarti ada korelasi
positif yang sangat dignificant antara pemahaman akhlak degan
selektifitas bergaul pada siswa MTs N Subah Batang tahun ajaran 2004 /
2005. semakin besar pemahaman akhlak maka semakin besar pula
selektifias bergaul mereka.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian tersebut, penulis telah mengumpulkan data,
kemudian data tersebut diolah yang selanjutnya dianalis dengan menggunakan
analisis statistik, maka penulis mengambil kesimpulan antara lain :
1. Variabel pertama yakni pemahaman akhlak pada siswa MTs N Subah
Batang menunjukkan tingkat rata – rata yang tinggi yaitu sebanyak 40
orang atau 80 % dari total sampel. Adapun yang kurang sebanyak 8 atau
16 % dan yang tidak sebanyak 2 atau 4 %.
2. Variabel kedua adalah selektifitas bergaul pada siswa MTs N Subah
Batang menunjukkan tingkat mayoritas selektif yaitu 42 orang atau 84 %
dari total sampel. Adapun yang kurang selektif sebanyak 7 orang atau 14
% dan yang tidak selektif sebanyak 1 atau 2 %.
3. Berdasarkan penganalisaan kedua variabel tersebut dengan analisis
statistik, maka total phi sebesar 0,85 setelah dikonsultasikan dengan batas
penolakan 1 % yang menunjukkan angka 0,354. Dengan demikian
hipotesis yang penulis ajukan dapat diterima kebenarannya, artinya ada
hubungan yang positif antara pemahaman akhlak dengan selektifitas
bergaul pada siswa MTs N Subah Batang tahun ajaran 2004 / 2005.

B. Saran
Hendaknya para siswa MTs N Subah Batang tahun ajaran 2004 / 2005
menerapkan pengetahuan tentang akhlak, untuk diterapkan dalam kehidupan
sehari – hari agar dapat berakhlak dengan baik ditengah – tengah masyrakat.
Oleh karena itu selektifitas bergaul perlu diperhatikan dalam bergaul sehari –
hari. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan agar menjadi contoh dalam
keluarga, dalam masyarakat , dan dalam lingkungan luas bangsa Indonesia.
Oleh karena itu siswa MTs N Subah Batang tersebut agar saling menghargai
baik dalam pondok / sekolahan maupun di luar pondok / sekolahan, dan perlu
diciptakan lingkungan agamis.
Bagi seorang guru akidah akhlak atau BP juga punya andil yang cukup
besar dalam pembentukan akhlak yang baik dalam diri siswa. Misalnya
dengan cara memanggil siswa yang memiliki akhlak yang jelek, kemudian
diberi nasehat bahwa selektifitas bergaul merupakan langkah yang bisa
ditempuh dalam memahami akhlak yang baik, dan masih banyak lagi cara
yang bisa dilakukan seorang guru atau BP dalam meningkatkan pemahaman
akhlak siswa.

C. Penutup
Puji syukur alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang
te;ah melimpahkan segala rahmat, inayah serta nikmat kekuatan, kesehatan
dan kemudahan, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik
tanpa danya rintangan yang berarti. Sholawat serta salam tak lupa penulis
sanjungkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah
membawa dan membimbing kita yakni dengan ajaran yang diridhoi oleh Allah
SWT, yakni berpegang teguh pada ajaran Islam. Semoga kita semua
tergolong umatnya yang mendapat syafaatnya kelak di kemudian hari.
Selanjutnya penulis menyadari tanpa adanya bantuan dari berbagai
pihak, tentunya tidka mungkin penulis dapat menyelesaikannya, terutama
dosen pembimbing yang telah mengarahkan dan membimbingnya, tak lupa
penulis ucapkan banyak terima kasih dan semoga amalnya diterima oleh Allah
SWT. Berakhirnya penulisan skripsi ini, semoga dapat bermanfaat khususnya
baigi penulis dan pembaca pada umumnya. Amin.


TES HASIL BELAJAR

Petunjuk :
1. Tulislah nama dan kelas ditempat yang telah tersedia !
2. Jawablah pertanyaan berikut ini dengan melingkari huruf a, b, dan c sesuai
dengan hati nurani saudara dengan pnuh kejujuran!
3. Jawaban anda tidak berpengaruh padd nilai raport.

Nama :

Kelas :

1. Apa yang anda ketahui tentang Riya ?
a. sifat suka menampilkan diri dalam beramal, agar amal tersebut dilihat
orang dengan maksud ingin mendapat sipati atau pujian.
b. Sifat yang tidak percaya kepada Tuhan
c. Sifat yang percaya terhadap suatu benda
2. Apa yang anda ketahui tentang kufur ?
a. Sifat yang tidak percaya kepada Tuhan.
b. Sifat yang suka menampilkan diri dalam beramal, agar amal tersebut
dilihat orang dengan maksud ingin mendapat simpati ataub pujian.
c. Sifat yang percaya terhadap suatu benda.
3. Apa yang anda ketahui tentang syirik ?
a. Sifat yang tidak percaya terhadap suatu benda.
b. Sifat yang ketika berbuat amalan kebajikan di depan orang lain supaya
orang lain itu mengira bahwa ia orang yang ikhlas beramal, tetapi
sebenarnya ia tidak ikhlas sama sekali.
c. Sifat suka menampilkan diri dalam beramal, agar amal tersebut dilihat
orang dengan maksud ingin mendapat simpati atau pujian.
4. Apa yang anda ketahui tentang Nifaq
a. sifat yang ketika berbuat amalan kebajikan di depan orang lain supaya
orang lain.
b. Sifat yang percaya terhadap suatu benda
c. Sifat yang tidak percaya kepada Tuhan
5. Menurut anda, apakah berani mempertahankan aqidah yang kalian miliki
termasuk sifat terpuji ?
a. Ya, itu termasuk akhlak yang terpuji.
b. Biasa – biasa saja
c. Tidak, hal itu bukan termasuk sifat yang terpuji
6. Ketika anda melihat kesusuhan orang – orang lemah, apa yang anda lakukan ?
a. Membantunya.
b. Kadang – kadang membantu
c. Membiarkan saja
7. Sebagai orang yang beriman, apakah anda sudah membiasakan berakhlak
mulia sebagaimana dicontohkan sehabat – sahabat Rasul ?
a. Ya, sudah membiasakan berakhlak yang baik seperti Rasul.
b. Kadang – kadang saya berusaha berakhlak yang baik
c. Tidak, saya belum bisa membiasakan beraklak yang baik seperti Rosul

8. Sebagai orang yang beriman, apakah anda percaya bahwa nabi memiliki sifat
terpuji?
a. Ya, saya percaya
b. Kadang-kadang percaya
c. Tidak percaya

9. Ketika ada teman anda yang melakukan perbuatan buruk apa yang kamu
lakukan?
a. Menegurnya
b. Kadang-kadang menegur
c. Membiarkan saja.
10. Apa yang kamu lakukan jika melihat orang kaya tapi kikir
a. Menasehatinya
b. Kadang-kadang menasehati(melihat situasi dan kondisi)
c. Membiarkan saja, karena merasa bukan urusannya.
1. Apabila ada kelompok remaja yang suka berjudi, apakah saudara senang
berteman dengan mereka?
a. Tidak senang
b. Kadang-kadang
c. Senang
2. Jika anak yang pandai dan berakhlak mulia, apakah saudara senang
menjadi temannya?
a. Senang sekali
b. Biasa saja
c. Tidak senang karena tidak PD
3. jika ada teman yang suka bolos sekolah, apakah saudara berteman dengan
mereka?
a. Tidak saya tidak berteman dengan mereka
b. Kadang-kadang berteman
c. Sering berteman dengan mereka
4. Apabila dikampungmu atau dikelas ada kelompok belajar, apakah saudara
akan mengikutinya?
a. Ya, ingin sekali
b. Kadang-kadang ingin
c. Tidak ingin
5. Apabila ada kelompok pemuda yang suka mabuk-mabukan, apakah
saudara senang menemaninya?
a. Tidak suka bergabung dengan mereka
b. Kadang-kadang bergabung
c. Sering bergabung dengannya
6. Didalam kampungmu ada kelompok karang taruna, atau perkumpulan
pemuda, apakah saudara selalu mengikutinya?
a. Ya, suka ikut
b. Kadang-kadang ingin ikut
c. Tidak pernah mengikutinya
7. Apakah saudara senang menjalin hubungan yang akrab dengan teman yang
suka mencontek?
a. Tidak suka karena akan berpengaruh
b. Kadang-kadang
c. Senang karena dapat teman
8. Apabila ada teman yang berbuat mungkar apa yang saudara lakukan?
a. Di tegur dan dinasehati
b. Kadang-kadang menegur, tinggal melihat kondisi
c. Terserah dia saja.
9. Apakah dikelas anda mempunyai nama kelompok geng tertentu?
a. Tidak punya karena semua sama
b. Kadang-kadang punya
c. Punya, karena untuk menjaga diri
10. Apakah anda dikelas pernah menegur temanmu yang membuat kegaduhan
a. Sering menegur
b. Kadang-kadang menegur
c. Tidak pernah menegur.
DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, mulyono, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar, Rineka
Cipta, Jakarta, 2003.

Al-Musawi, Khalil, Bagaimana membangun Kepribadian Anda, Lentera Jakarta.
1999.

Al-Asyqar, Umar Sulaiman, Ciri-ciri Kepribadian Muslim, Srigunting,
Jakarta,1995.

Ali, Muhammad, Bimbingan belajar, Sinar baru Bandung. 1984

Amin, Ahmad, Etika (Ilmu Alhlak), Bulan Bintang, Jakarta, 1975.

Amiruddin, Teungku, Reorienasi Manajemen Pendidikan Islam, UII Press.
Yogyakarta, 2000

Asari, Hasan, Nukilan Pemikiran Islam Klasik, Tiara wacana, Yogyakarta,1999

Asmaran, Pengantar Studi Akhlak, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994

Dardjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Bulan bintang, Jakarta, 1970

Djatnika, Rachmat, Akhlak Mulia, Pustaka, Jakarta, 1990

Durkheim, Emile, Pendidikan Moral, Airlangga, Jakarta, 1990

H. Hasan AF, Aqidah Akhlak Kurikulum 2004 Madrasah Tsanawiyah kelas 1,
PT Karya Toha Putra, semarang, 1987

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research II, Fak Psikologi UGM, Yogyakarta.

Halim, M. Nipan Abdul, Anak Saleh Dambaan Keluarga, Mitra Pustaka,
Yogyakarta, 2000

Hasyimi, Muhammad Ali, Apakah Anda Berkepribadian Muslim, Gema Insani
Press. Jakarta, 1995

Mansyur, Mendidik anak Sejak dalam kandungan, Mitra Pustaka Utama,
Yogyakarta, 2004

_______, Diskursus Pendidikan Islam, Global Pustaka utama, Yogyakarta, 2001

_______, Peradaban Isalam dalam Lintasan Sejarah, Global Pustaka Utama.
Yogyakarta,2002.

Mastuhu, Menata ulang Pemikiran Sistem Pendidikan Nasional dalam abad
21, Safira Insani Press Yogyakarta, 2003

Muhaimin, Paradigma Pendidikan Islam, Upaya mengefektifkan Pendidikan
Agama Islam di sekolah , Remaja Rodaskarya, Bandung, 2002.

Mulkhan , Abdul Munir, Kesalehan Multikultural Dalam Pendidikan Islam di
Era Global, Ar-Ruzz Media, Yogyakarta, 2004

Narbuko, Cholid, Metodologi Penelitian Sosial, Fakultas Tarbiyah IAIN
“Walisonggo” Semarang, 1989

Prince, Kingsley, Educational and Philosopical Thought, Allyn and Bacon,
Boston, 1962

Quasem, M. Abul, Etika Al-Ghazali, Etika majemuk di dalam Islam, Pustaka
Bandung, 1998.

Razak, Nazaruddin, Dienul Islam, Al-Ma’arif, Bandung, 1973

Tafsir Al-Azhar Juz 1, PT Pembimbing Masa, Jakarta, 1970

Thoha, Chabib, Kapita Selekta Pendidikan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,
1996

Uhbiyanti, Nur, Ilmu Pendidikan Islam, Pustaka Setia, bandung, 1997

Walgino, Bimo, Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah, Fak. Psikologi, UGM,
Yogyakarta, 1980

WJS. Poerwodarminto, Kamus Umum Bahasa Indonesia, tt.

Yunus, Mahmud, Terjemahan al-Qur’an al-Kharim, Al-Ma’arif, Bandung, 1993

Zaenuddin dkk.., Seluk Beluk Pendidikan dari al-Ghozali, Bumi Aksara, Jakarta,
1991

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->