P. 1
Kumpulan Laporan Praktikum Analisa Kulit

Kumpulan Laporan Praktikum Analisa Kulit

|Views: 8,939|Likes:
Published by Hidayatullah

More info:

Published by: Hidayatullah on Mar 10, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/13/2013

pdf

text

original

Kulit jadi ( tersamak ) berasal dari kulit mentah yang sebelumnya telah diawetkan
lalu diolah melalui proses yang bertahap mulai dari proses Soaking (perendaman) sampai
proses Finishing ( penyalesaian). Dimana kesemua proses tersebut pada akhirnya
memberikan karakter tertentu pada kulit jadinya yang disesuaikan dengan tujuan
peruntukakannya dengan cara penambahan bahan – bahan tertentu pada saat proses.
Pada akhirnya kulit jadi akan dijual ke pasaran. Tentunya pasar menginginkan
kualitas kulit jadi yang terbaik agar kulit jadi tersebut dapat digunakan sesuai dengan fungsi
dari jenis artikelnya masing – masing. Misalnya kulit sarung tangan (Glove) harus sesuai
dengan arah gerak dari jari tangan.
Dengan adanya Standar Industri Indonesia (SII), maka dapat diketahui kriteria kulit
jadi yang memenuhi standar baik itu ditinjau dari segi fisik maupun kimiawinya yang
tentunya disesuaikan dengan jenis artikelnya. Sebab setiap artikel mempunyai standar yang
berbeda – beda.

Agar diketahui bahwa kualitas kulit jadi yang diproduksi tersebut sesuai dengan
Standar Industri Indonesia (SII,), maka diperlukan suatu analisa. Dimana analisa kulit itu
sendiri ada 4 macam menurut cara ujinya, yaitu :
Kulit boks merupakan kulit samak khrom yang berasal dari kulit kambing atau kulit
anak sapi yang biasanya dibuat untuk bahan pembuatan atasan sepatu, di perdagangan kulit
boks harus memiliki syarat-syarat tertentu agar memenuhi standar mutu perdagangan kulit

[ANALISA BAHAN KULIT. TBKKP.07/IV]July , 2009

boks, dan untuk mengetahui kulit boks tersebut memiliki kwalitas baik, cukup atau kurang
maka dilakukan suatu pengujian terhadap sampel kulit boks tersebut untuk mengetahui
karakteristik dari kulit tersebut dan apakah karakteritik kulit tersebut telah memenuhi
standar baku yang telah ditetapkan atau belum.
Menurut Jayusman dalam diktat penuntun praktikum ilmu bahan II secara garis
besar tujuan dilakukannya pengujian terhadap suatu kulit samak adalah pertama, untuk
menentukan mutu atau kualitas kulit secara umum, karena melalui suatu analisa atau
pengujian dapat ditentukan contoh kulit yang diuji tersebut bermutu baik, sedang, atau
kurang. Kedua, untuk mencari kesalahan atau kekurangan dalam proses penyamakan kulit
karena dari hasil uji ini dapat dilihat kekurangan yang terdapat pada hasil penyamakan kulit
sehingga dapat ditentukan pada proses-proses apa saja yang menyebabkan terjadinya
kesalahan tersebut dan dapat diperbaiki pada proses berikutnya sehingga kulit yang
dihasilkan menjadi lebih baik atau berkualitas baik. Ketiga adalah untuk meniru atau
mengikuti proses-proses produksi kulit yang berkualitas baik sehingga untuk mengetahui
proses produksinya dilakukan pengujian terlebih dahulu terhasil kulit tersebut setelah
mengetahui karakteristiknya baru dilakukan penyusunan rancangan proses, melakukan
proses percobaan, kemudian hasilnya diuji dan terus dilakukan penyempurnaan sampai
didapat hasil yang diinginkan.

Dalam melakukan pengujian terhadap kulit samak sacara umum ada 4 cara pengujian
yaitu pengujian organoleptis, fisis, kimiawi, dan mikrobiologis namun dalam standar
industri indonesia untuk bermacam-macam produk kulit samak persyaratan yang
dicantumkan hanya persyaratan organoleptis, fisis dan untuk persyaratan mikrobilogis tidak
dicantumkan hal ini dikarenakan syarat organoleptis, fisis dan kimia saling berhubungan
atau mendukung.

Pengujian organoleptis merupakan suatu pengujian yang dilakukan dengan
menggunakan panca indra atau dilakukan secara visual, dan dibantu dengan alat yang
sederhana, dalam pengujian ini sifat-sifat yang diuji meliputi kelepasan nerf, keadaan kulit,
keadaan cat, kelentingan dan ketahanan sobek.
Pengujian fisis merupakan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan alat-alat
mekanis seperti tensil strenght, stiknes, crokmeter dan lain sebagainya, hal-hal yang diuji
dalam pengujian fisis meliputi; tebal kulit, kondisi penyamakan, ketahanan gosok cat kering
maupun basah, ketahanan zwik, ketahanan tarik, ketahanan regang, ketahanan bengkuk,
penyerapan air, ketahanan letup.

[ANALISA BAHAN KULIT. TBKKP.07/IV]July , 2009

Pengujian kimia merupakan pengujian yang dilakukan dengan cara kimiawi yang
bertujuan untuk mengetahui kadar bahan-bahan kimia yang terdapat pada kulit seperti kadar
air, kadar abu, kadar zat penyamak, kadar lemak/minyak, pH.
Persyaratan kulit box menurut SII (Standar Industri Indonesia) 0018 – 79 adalah

sebagai berikut;
A.Organolaptis
1.Kelepasan Nerf

:Tidak lepas

2.Keadaan Kulit

:Berisi, liat dan lemas

3.Cat:

Rata dan Mengkilap

4.Ketahanan Sobek

:Kuat

5.Kelentingan/elastisitas

:Lenting

A.Kimiawi
1.Kadar air

: maks 20 %

2.Kadar abu jumlah

: maks 2 % diatas Cr2O3

3.Kadar Cr2O3

: min 3 %

4.Kadar minyak/lemak

: (2-6) %

5.pH: 3,5 – 7,0

Dalam menganalisa secara kimiawi kulit tersamak dapat dilakukan dengan cara
mempersiapkan contoh kulit uji yang akan dianalisa. Dalam pengambilan contoh uji untuk
pengujian kimia kulit tersamak dapat diambil pada bagian krupon, leher dan perut hal ini
dikarenakan bagian-bagian tersebut dapat mewakili semua bagian pada kulit dan pada
masing-masing bagian tersebut memiliki karakteristik yang berbeda-beda. Dalam
pengambilan contoh uji ini juga dilakukan dengan membedakan kulit hewan besar dan kulit
kecil. Pada pengambilan contoh uji pada hewan kecil seprti kulit box dari kulit kambing
dapat dilakukan sebagai berikut;

[ANALISA BAHAN KULIT. TBKKP.07/IV]July , 2009

Keterangan:
AC

: Garis punggung

D

: Titik pangkal paha dan kaki belakang

DF//AC
E

: Titik pangkal paha kaki depan
Setelah contoh uji dipotong dari kulit utuhnya kulit contoh uji dipotong kecil-kecil
dan dari semua bagian tadi dicampur menjadi sartu dan setelah kulit contoh uji siap
dilanjutkan dengan pengujian kimia yaitu; pengujian kadar air, kadar abu, kadar krom kadar
minyak, dan kondisi pH kulit.

Pengujian kadar air; kadar air dalam kulit tersamak adalah jumlah air yang terdapat
didalam kulit tersamak dinyatakan dalam persen berat. Pengukuran kadar air pada umunya
dilakukan dengan menguapkan air yang terkandung. Kemudian persentase air yang
menguap adalah kadar airnya cara uji kadar air yang biasa dilakukan pada saat ini adalah
cara pengeringan (oven drying) dan cara penyaringan serta penyulingan bersama
(condestilation).

Uji kadar air dengan metode pengeringan pada dasarnya adalah mengusahakan
penguapan air dari contoh kulit dengan cara memberikan energi panas pada suhu 100±20

C,
kehilangan berat selama penguapan merupakan berat air yang terdapat didalam contoh kulit.

[ANALISA BAHAN KULIT. TBKKP.07/IV]July , 2009

Kelemahan dengan menggunakan metode pengeringan antara lain, bahan-bahan
organik atau gas yang mudah menguap (volatil) akan ikut menguap sehingga mengurangi
ketelitian, sedangkan ketelitian dipengaruhi oleh ruang pengering, pergerakan diudara dalam
ruang pengering kelmbaban ruang pengering, tekanan ruang pengering, tebal lapisan dan
ukuran contoh, kontruksi alat jumlah bahan serta posisinya dalam alat pengering.
Pengujian kadar abu; kadar abu merupakan pengujian yang dilakukan untuk
mengetahui jumlah bahan-bahan organik dan anorganik yang terdapat didalam kulit,
pengujian ini dilakukan dengan pemberian energi panas pada suhu >6000

C sehingga bahan-
bahan tersebut menjadi abu dan jumlah abu yang dihasilkan ditimbang dan dinyatakan
sebagai persentase kadar abu.

Pengujian kadar krom, pengujian kadar krom dalam kulit bertujuan untuk
mengetahui kematangan dari suatu kulit yang disamak dengan menggunakan bahan
penyamak krom. Prinsip pengujian krom pada dasarnya ada 2 cara yaitu;
Oksidasi dengan cara pelelehan dengan Kalium Natrium Karbonat dan Boraks; abu
dari pengujian kadar abu dilelehkan pada suhu 6000-70000

C, dengan campuran Na2CO3 dan
K2CO3 (dapat juga ditambah boraks), masing-masing sebanyak 2 gram, maka krom oksida
akan menjadi garam kromat, kemudian didinginkan dan dilarutkan dalam air, diasamkan
dengan HCl, selanjutnya sebagian dari larutan diperiksa kromnya secara yodometri dengan
menambah kalium iodida dilanjutkan dengan titrasi menggunakan larutan thiosulfat.
Oksidasi dengan Asam Perklorat; abu dipindahkan dalam gelas piala, kemudian
ditambah dengan asam sulfat pekat dan asam perklorat, gelas piala ditutup dengan kaca
arloji lalu dipanasi sampai warna larutan menjadi bikromat. Larutan didinginkan kemudian
ditambah dengan air suling dan dipanaskan kembali sampai klor bebasnya hilang.
Selanjutnya kadar krom oksidnya ditetapkan secara iodometri. Reaksi yang terjadi adalah
sebagai berikut;

Cr2O7 + H+

+ I-

Cr3+

+ I2 + H2O

I2 + Na2S2O3 Na2S4O6 + NaI
Kadar krom oksida dinyatakan sebagai persen dari berat contoh kulit. Yang

dinyatakan sebagai berikut;
1 ml Thio Sulfat setara dengan 0,0253 gram krom oksida.
Analisa pH; Menurut Arrhenius bahwa derajat keasaman (pH) adalah negatif
logaritma logaritma dari konsentrasi ion hidrogen. Pada air murni terdapat ion-ion tersebut
adalah H+

dan OH-
.

[ANALISA BAHAN KULIT. TBKKP.07/IV]July , 2009

H2O H+

+ OH-
Pada keseimbangan Ks = [H +

] [OH -
]

[H2O]
[H2O] dianggap tetap, 1 liter = 1000 gram dan mengandung 1000 : 18 = 55,5 gram

molekul.

K air = Ks. H2O = [H+

] [OH-

] = 10-14

, sehingga [H+

] [OH-

] = 10-14

Maka [H+

] = [OH] = 10-7

gram ion perliter, ternyata satu ion H setara dengan satu

ion OH-

, maka dapat disimpulkan bahwa satu gram asam atau basa adalah jumlah asam atau
basa yang mengandung satu gram ion H+

atau satu ion OH-
.
Untuk suatu zat tertentu dapat disebut asam apabila zat tersebut jika dilarutkan

menghasilkan ion H+

, dan apabila zat tersebut menghasilkan ion OH-

maka zat tersebut

adalah basa.

Pengujian kadar lemak/minyak; pada proses pengolahan kulit, minyak/lemak tetap
dipertahankan pada kadar tertentu, bahkan pada tahap peminyakan kandungan minyak
dalam kulit ditambah yang bertujuan untuk membuat kulit menjadi lemas sehingga kulit
menjadi lemas tidak kaku.

Minyak didalam kulit akan sangat mengganggu, terutama jika minyak berlebihan
maka kulit akan sukar direkatkan menggunakan lem dan akan mudah ditumbuhi jamur, dan
apabila minyak yang sangat sedikit didalam kulit maka kulit akan menjadi kaku dan mudah
retak.

Untuk mengetahui jumlah minyak didalam kulit tersamak dilakukan dengan
memisahkan minyak dalam kulit tersamak dengan menggunakan bahan pelarut organik
antara lain ; karbon tetra klorida, eter, kloroform, benzen dan lain-lain. Metode yang
digunakan adalah extraksi sedangkan pemisahan minyak dengan bahan pelarut dilakukan
dengan destilasi.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->