P. 1
Gelombang Cahaya, Gelombang Bunyi Dan Optika Fisis

Gelombang Cahaya, Gelombang Bunyi Dan Optika Fisis

|Views: 8,953|Likes:
Ini merupakan sedikit panduan belajar terutama untuk anak kelas XII SMA mengenai bab Gelombang Cahaya, Gelombang Bunyi Dan Optika Fisis dilengkapi dengan contoH soal dan cara penyelesaiannya serta latihan - latihan soal. SEMOGA BERMANFAAT.
Ini merupakan sedikit panduan belajar terutama untuk anak kelas XII SMA mengenai bab Gelombang Cahaya, Gelombang Bunyi Dan Optika Fisis dilengkapi dengan contoH soal dan cara penyelesaiannya serta latihan - latihan soal. SEMOGA BERMANFAAT.

More info:

Published by: Aditya Dwi Cahyo Nugroho on Mar 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/01/2015

pdf

text

original

1

A. GE L OM BANG BE RJAL AN DAN
GE L OM BANG ST ASI ONE R
1) Gelombang Berjalan
a. Formulasi Gelombang Berjalan
- Persamaan simpangan getaran harmonik
sederhana dengan sudut fase awal θ
0
= 0˚,
yaitu :

Atau

- Fase Gelombang



- Pada saat t = 0



- Jika gelombang datang dari kanan, t
semakin besar dan x juga semakin besar,
maka persamaan gelombang tersebut
adalah :



- Sedangkan jika gelombang datang dari kiri
t semakin besar dan x semakin kecil. Maka
persamaan gelombang tersebut adalah



b. Sudut Fase dan beda fase
Yp = A Sin (e t – kx) = A sin 2 π (
T
t
-
ì
x
)

Sudut fase


Beda fase




c. Jadi dapat disimpulkan pada persamaan
Gelombang Jalan
- Persamaan gelombang datang dari kiri :


- Persamaan gelombang datang dari kanan :


2) Gelombang Stasioner
Gelombang stasioner adalah gelombang
yang terjadi karena hasil perpaduan 2
gelombang yang sama yaitu amplitudo (A)
sama, frekuensi (F) namun arah berbeda.
Gelombang stasioner sering disebut juga
sebagai gelombang berdiri atau gelombang
diam.
Ujung tali yang tak digetarkan bisa
dikaitkan kuat pada sebuah tiang sehingga
tidak dapat bergerak ketika yang lainnya
digetarkan. Ujung itu disebut ujung tetap.
Tetapi bila saja ujung yang tak digetarkan itu
diikatkan pada suatu gelang yang bergerak
pada tiang tanpa gesekan. Ujung itu disebut
ujung bebas.
a. Formulasi Gelombang Stasioner pada
Ujung Tetap
Gelombang datang yang merambat ke kanan
dapat dinyatakan oleh:
Y
1
= A Sin (kx – e t)
Sedangkan gelombang pantul yang merambat
ke kiri dan dibalik (berlawanan fase) dapat
dinyatakan oleh :
Y
2
= -A Sin (-kx – e t)
= A Sin (kx + e t)
Hasil superposisi antara gelombang datang
(Y
1
) dan gelombang pantul (Y
2
) menghasilakan
gelombang stasioner. Pola gelombang
stasioner adalah adanya simpul-simpul dan
perut-perut pada titik tertentu. Maka dari itu,
dapat diketahui hasil superposisi, yaitu :

Y = A Sin e t Y = A Sin 2 π Q
Y = A Sin
ì
t 2
. x
Y = A Sin
ì
t 2
(x – Vt)
Y = A Sin
ì
t 2
(x + Vt)
u p = e t – kx
= 2 π (
T
t
-
ì
x
)
= AQ
ì
x


Y = A Sin (kx – e t)
Y = A Sin (kx +e t)
Q =
T
t
-
ì
x

2
Y = Y
1
+ Y


= A Sin (kx –e t) + A Sin (kx +e t)

= A [ Sin (kx-e t) + Sin (kx +e t) ]
Karena Sin A + Sin B = 2 Sin ½ (A+B) Cos
1/2 (A-B), maka :
Y = A x 2 Sin ½ (kx – e t + kx + e t) cos ½
[ kx –e t – (kx + e t) ]




Y = simpangan partikel pada gelombang
stasioner pada ujung tetap
As = Amplitudo gelombang stasioner
X = Jarak partikel dari ujung tetap
K = Bilangan gelombang
- Letak titik perut gelombang
Letak perut dari ujung tetap merupakan
kelipatan ganjil dari seperempat panjang
gelombang. Persamaannya adalah :



- Letak titik simpul gelombang
Letak simpul dari ujung tetep merupakan
kelipatan genap dari seperempat panjang
gelombang.




b. Formulasi Gelombang Stasioner pada
Ujung Bebas
Gelombang datang yang merambat kekanan
dapat dinyatakan oleh.
Y
1
= A Sin ( kx – e t )
Sedangkan gelombang pantul yang merambat
ke kiri dan di balik (berlawanan fase) dapat
dinyatakan oleh :
Y
2
= - A Sin ( kx + e t )
Hasil superposisi antara gelombang datang
(Y
1
) dan gelombang pantul (Y
2
) menghasilkan
gelombang stasioner dengan persamaan.
Y = Y
1
+ Y
2
= A Sin ( K
x
– e t ) – A Sin ( K
x
– e t )
= A [ Sin (kx- e t) + Sin (kx +e t) ]




Y = Simpangan partikel pada gelombang
stasioner pada ujung bebas
A = Amplitudo gelombang stasioner pada
ujung bebas
X = Jarak partikel dari ujung bebas
K = Bilangan gelombang
- Letak titik perut gelombang
Letak perut dari yang bebas merupakan
kelipatan genap dari seperempat panjang
gelombang.




- Letak titik Simpul gelombang
Letak simpul dari ujung bebas merupakan
kelipatan ganjil dari seperempat panjang
gelombang.




B. GEJAL A-GEJAL A GEL OMBANG
Ada beberapa gejala gelombang baik
gelombang mekanik maupun elektromagnetik
1) Dispersi Gelombang
Dispersi gelombang adalah perubahan bentuk
gelombang ketika gelombang merambat
melalui suatu medium.
- Apakah suatu gelombang bunyi yang
merambat melalui udara mengalami
dispensi ? Jawab :
“Tidak, karena udara termasuk medium
non-dispersi untuk gelombang bunyi.”
Y = 2 A Sin kx cose t
Y = As cos e t
As = 2A Sin kx
X
n + 1
= (2n + 1).
4
1
ì
n = 0,1,2,3,....

X
n + 1
= (2
n
).
4
1
ì
n = 0,1,2,3,....

Y = 2 A Sin kx cose t
Y = As cos e t
As = 2A Sin kx
X
n + 1
= ( 2n )
.
4
1
ì
n = 0,1,2,3,….
X
n + 1
= (2n + 1).
4
1
ì
n = 0,1,2,3,….

3
t = 0


t = t

Ket : Dalam suatu medium dispersi, bentuk
gelombang berubah begitu gelombang merambat
2) Pemantulan gelombang
- Sudut pantul dari gelombang pantul sama
dengan sudut datang dari gelombang
datang.
- Superposisi dari gelombang pantul dengan
gelombang datang menghasilkan
gelombang stasioner.
- Pemantulan gelombang 2 dimensi,
contohnya gelombang permukaan air.
 Pengertian muka gelombang dan sinar
gelombang
- Getaran pembangkit keping akan
menghasilkan sekumpulan garis-garis
lurus.
sinar gelombang
muka gelombang lurus

”Muka gelombang lurus dihasilkan oleh
getaran pembangkit keping”


”Muka gelombang llingkaran dihasilkan
oleh getaran pembangkit bola”
 Pemantulan gelombang permukaan air
Dapat berupa gelombang lurus dan
gelombang lingkaran.
3) Pembiasan gelombang
Frekuensi gelombang selalu tetap, maka
panjang gelombang cahaya di udara lebih
besar daripada gelombang cahaya di air ì
sebanding dengan V. “Makin besar nilai V
makin besar nilai ì.
a. Penurunan persamaan umum pembiasan
gelombang.
n
V
V
r
i
Rumus = = =
2
1
sin
sin

Keterangan :
i = sudut pandang
r = sudut bias
n = indeks bias
b. Pengertian indeks bias
Indeks bias adalah indeks bias medium 2
relatif terhadap medium 1.
- n
2
relatif terhadap n
1

1
2
n
n
n =

-
2 2 1 1
1
2
2
1
2 1
sin sin
sin
sin
,
u u
u
u
u u
n n
n
n
r i
= ¬
= ¬ = =

4) Difraksi Gelombang
Difraksi gelombang adalah lenturan gelombang
yang disebabkan oleh adanya penghalang
berupa celah (difraksi gelombang).
5) Interfensi Gelombang
Interfensi gelombang adalah pengaruh yang
ditimbulkan oleh gelombang - gelombang yang
berpadu. Pada gelombang stasioner yang
dihasilkan oleh superposisi gelombang pantul
dan gelombang datang oleh ujung bebas,
terdapat titik perut.


Sumber gelombang
Muka gelombang
lingkaran
Sinar gelombang
4
- Interfensi gelombang permukaan air


a. Interfensi konstruktif



Apabila kedua gelombang saling
menguatkan.
b. Interfensi destruktif
Apabila kedua gelombang saling
meniadakan.
6) Polarisasi Gelombang
Sifat gelombang yang hanya dapat terjadi pada
gelombang transversal.
Pembiasan
Pemantulan
Difraksi
Interfensi
Gelombang cahaya (3 dimensi)
Gelombang bunyi
Gelombang permukaan air (2 dimensi)
Gelombang tali (1 dimensi)
Gelombang transversal Polarisasi gelombang
Terjadi pada

Polarisasi gelombang. Pemantulan,
pembiasan, difraksi dan interferensi dapat ter
jadi pada gelombang tali ( satu dimensi ),
gelombang permukaan air ( dua dimensi ),
gelombang bunyi dan gelombang cahaya.
Gelombang tali, gelombang permukaan air dan
gelombang cahaya adalah gelombanf
transversal sedangkan gelombang bunyi
adalah gelombang longitudinal.
Ada satu sifat yang hanya terjadi pada
gelombang transversal yaitu polarisasi. Jadi,
polarisasi gelombang tidak dapat terjadi pada
gelombang longitudinal, misalnya pada
gelombang bunyi.

CONT OH SOAL D AN PEMBAH ASAN
1. Sebuah gelombang berjalan diketahui
mempunyai persamaan simpangan
Y = 0,5 sin t ( 40t + 12x ) m. Tentukan cepat
rambat gelombang tersebut !
Jawab :
Y = 0,5 sin t ( 40t + 12x ) m
= 0,5 sin (40t t + 8t x ) m
- e t = 40t , e = 2t f
2t f = 40t
f =
t
t
2
40

= 20 Hz
- k =
ì
t 2
x = 8t x
ì =
t
t
8
2

= 0,25 m

V = f . ì
= 20 Hz . 0,25 m
= 5
s
m

2. Suatu gelombang stasioner mempunyai
persamaan simpangan
Y = ( 1,4 cos
6
5t
x sin 24t t) m dalam satuan
SI, maka tentukanlah :
1. Amplitudo gelombangnya!
2. Frekuensinya!
3. Panjang gelombangnya!
4. Cepat rambat gelombang!
Jawab :
1. Amplitudo (A) =
2
1
.2A
=
2
1
. 1,4
= 0,7 m
2. Frekuensi (f)
e t = 24t , e = 2t f
2t f = 24t
f =
t
t
2
24

= 14 Hz
3. Panjang gelombang ( ì )

ì
t 2
=
6
5t

ì =
t
t
5
12

= 2,4 m
4. Cepat rambat gelombang (V)
V = f . ì
= 14 Hz . 2,4 m
= 33,6
s
m



5
3. Sebuah Slinki menghasilkan gelombang
longitudinal dengan jarak antara pusat rapatan
dan pusat renggangan yang berdekatan 20 cm.
Jika frekuensi gelombang 60 Hz, maka
Tentukanlah cepat rambat gelombang
longitudinal tersebut!
Jawab :
 ì
2
1
= 20 cm
ì = 40 cm = 0,04 m
f = 60 Hz
 v = f ì
= (0,04)(60)
= 2,4
s
m

4. Sebuah gelombang lurus datang pada bidang
batas antara dua medium dengan sudut datang
30
0
.Jika indeks bias medium 2 relatif terhadap
medium 1 adalah
2
1
2 , Tentukanlah sudut
biasnya (r)!
Jawab:
 Sudut datang i = 30
0

Indeks bias n =
2
1
2 ,
Sudut bias r....?
 Dengan menggunakan persamaan
Snellius diperoleh
n
1
sin θ
1
= n
2
sin θ
2

sin θ
1
=
1
2
n
n
sin θ
2

sin 30
0
=
2
2
sin r

2
1
=
2
2
sin r
Sin r =
2
1
atau r = 45
0




UJI KOMPET ENSI
1. Selang waktu yang diperlukan untuk
menempuh 2 puncak yang berurutan atau waktu
yang diperlukan untuk menempuh 2 dasar
berurutan disebut....
a. Amplitudo gelombang
b. Panjang gelombang
c. Periode gelombang
d. Frekuensi gelombang
e. Cepat rambat gelombang
2. Perbedaan dasar antara gelombang tansversal
dan longitudinal yang berjalan sepanjang suatu
slinki adalah pada....
a. Amplitudo gelombang
b. Arah getaran
c. Kecepatan gelombang
d. Frekuensi gelombang
e. Arah rambat gelombang
3. Sebuah Slinki menghasilkan gelombang
longitudinal dengan jarak antara pusat rapatan
dan pusat renggangan yang berdekatan 10 cm.
Jika frekuensi gelombang 30 Hz, maka cepat
rambat gelombang longitudinal tersebut
adalah....
a. 0,20
s
m

b. 0,30
s
m

c. 0,40
s
m

d. 0,60
s
m

e. 0,70
s
m

4. Suatu gelombang stasioner mempunyai
persamaan simpangan Y = (0,4 cos
10
16t
x .sin
20tt) m. Maka jarak simpul ke 3 dan perut ke
4 adalah....
a. 3.075 m
b. 3,125 m
c. 3,175 m
6
d. 3,225 m
e. 3,275 m
5. Suatu gelombang stasioner mempunyai
persamaan simpanagan
y = (0,4 cos
10
16t
x . sin 20 tt) m, maka cepat
rambat gelombang (v) tersebut serta jarak
simpul ke 2 dan simpul ke 5 secara berturut
turut adalah....
a. 12,40
s
m
dan 18,35 m
b. 12,40
s
m
dan 18,45 m
c. 12,50
s
m
dan 18,65 m
d. 12,50
s
m
dan 18,75 m
e. 12,50
s
m
dan 18,85 m
6. Sebuah gelombang berjalan dari titik A ke titik
B dengan kelajuan 3
s
m
. Periode gelombang
tersebut adalah 0,4 s. Jika selisih fasa anatara A
dan B adalah
5
6t
maka jarak AB adalah....
a. 0,6 m
b. 0,8 m
c. 1,0 m
d. 1,2 m
e. 1,4 m
7. Di bawah ini yang merupakan gelombang tiga
dimensi yang memungkinkan terjadinya
pemantulan, pembiasan, difraksi dan intervensi
adalah....
a. Gelombang bunyi
b. Gelombang tali
c. Gelombang permukaan air
d. Gelombang cahaya
e. Gelombang stasioner
8. Seberkas sinar datang pada lapisan minyak ( n
= 1,45 ) yang terapung di atas air ( n = 4/3 )
dengan susdut 30
0
. Maka sudut sinar tersebut
di dalam air adalah....
a. 0,15
0

b. 0,25
0

c. 0,35
0

d. 0,45
0

e. 0,55
0

9. Suatu berkas sinar datang dari n
1
menuju ke
n
2
membentuk sudut sebesar 53
0
. Maka besar
sudut polarisasi pada bidang batas yang sama
adalah....
a. 37
0

b. 47
0

c. 57
0

d. 67
0

e. 77
0

10. Sudut batas dari cahaya yang masuk melalui
kaca ( n =
2
3
) menuju ke air ( n =
3
4
)
adalah....(lihat gambar)

air

i
c
kaca

a. 60,7
0

b. 61,5
0

c. 62,7
0

d. 63,5
0

e. 64,7
0











7

A. CI RI -CI RI GEL OMBANG BUNYI
1. Sifat-sifat dasar bunyi
Ada dua jenis gelombang yaitu gelombang
tranversal dan gelombang longitudinal.
Gelombang bunyi seperti halnya slinki yang
digetarkan maju mundur merupakan
gelombang longitudinal. Daerah yang tekanan
udaranya bertambah disebut rapatan. Gerakan
diafragma radial ke dalam menghasilkan suatu
daerak yang dikenal sebagai renggangan.
2. Mengukur cepat rambatnya bunyi di udara
hasil bagi antara jarak yang ditempuh (s)
dengan selang waktu (t) didefinisikan sebagai
cepat rambat (v) jadi,


a. Mengukur cepat rambat bunyi
Jarak antara simpul dan perut yang
berdekatan adalah
1
/
4
λ (λ adalah panjang
gelombang bunyi), sehingga I
1
=

1
/
4
λ . Karena
ukuran diameter tabung kecil dibandingkan
terhadap panjang gelombang. Maka perut
gelombang simpangan tidak tepat terjadi pada
ujung terbuka tetapi didekatnya, pada jarak c =
± 0,6 R diluar tabung dengan memasukkan
koreksi c, maka
I
1
+ c =
λ
/
4
........pers.1
Dengan menaikkan lagi tabung, kita
mendapatkan resonansi ke 2 (bunyi
dengungan kedua). Pada resonansi ke 2 ini
I
2
+ c =

/
4
........pers 2
Dengan mengurangi (pers 2) dan (pers 1) kita
peroleh
I
2
+ c =

/
4

I
1
+ c =
λ
/
4
_
I
2
- I
1
=
λ
/
2
Karena frekuensi garpu tala yang
digunakan sudah diketahui, maka cepat rambat
bunyi v dapat ditentukan dari persamaan dasar
gelombang



b. Cepat rambat bunyi dalam zat padat
Misalkan suatu gaya luar F diberikan pada
ujung sebuah batang dengan luas penampang
A sehingga ujung batang bergerak dengan
kelajuan u dan menyebabkan suatu pulsa
rapatan gelombang bunyi merambat sepanjang
batang dengan kelajuan v. dalam selang waktu
t pulsa menempuh jarak vt dan panjang
batang logam termampatkan sebesar ut.
Dengan demikian,
Tegangan =
luas
gaya
=
A
F

Renggangan =
ata PanjangRap
Pemampata
=
vt
ut
=
v
u

Jika bahan logam memiliki Modulus young E,
maka :
E =
tan Rapa
Tegangan
=
v u
A F
/
/
=
Au
Fv

Karena itu,
F =
v
EAu
dan Ft = (
v
EAu
)t ...........pers. 1
Tetapi, gaya x selang waktu sama dengan
perubahan momentum dari massa batang
sepanjang vt yang berubah kecepatannya dari
0 menjadi u.
Ft = m (v2 – v1)
= m (u – 0)
= mu
Massa batang (m) sepanjang vt adalah
m = massa jenis . volum
= p (Avt)
= p Avt
Dengan demikian,
Ft = p Avtu ...........pers. 2
Dengan menggunakan ruas kanan ( pers. 1)
dan ( pers. 2) kita peroleh :
(
v
EAu
)t = p Avtu
Aut (
v
E
) = Aut ( p v )
V =
t
s

V= λf

8
Sehingga, v
2
=
p
E


E = modulus young bahan logam
(N/m
2
atau Pa)
p = massa jenis bahan logam (Kg/m
3
)
c. Cepat rambat bunyi dalam gas
Dalam kasus gas terjadi perubahan volum
dan yang berkaitan dengan modulus elastis
bahan adalah modulus bulk (diberi notasi k).
dapat ditunjukkan bahwa dalam kondisi diman
a suatu gelombang bunyi merambat dalam
gas, k =¸ p dimana p adalah tekanan gas dan
¸ adalah tetapan Laplace, yaitu nilai
perbandingan kapasitas kalor pada tekanan
tetap dan volum tetap, ¸ = Cp / Cv dengan
demikian, cepat rambat bunyi dalam gas
adalah ;




Cepat rambat bunyi diudara dipengaruhi
oleh suhu udara. Persamaan dasar cepat
rambat bunyi dalam gas



¸ = tetapan Laplace,
R = tetapan umum gas = 8300 J kmol
-1
K
-1
,
T = suhu mutlak (K),
M = massa molekul gas (kg kmol
-1
).
Cepat rambat bunyi dalam gas tidak
bergantung pada tekanan artinya jika hanya
tekanan gas yang diubah, cepat rambat bunyi
akan tetap. R adalah sama untuk semua jenis
gas, sedangkan ì dan M adalah tetap untuk
suatu jenis gas tertentu. Dengan demikian,



”Cepat rambat bunyi dalam suatu gas
adalah sebanding dengan akar kuadrat
suhu mutlaknya”.
3. Mendengar dan melihat gelombang bunyi
a. Telinga sebagai penerima bunyi
Bunyi adalah hasil getaran suatu benda.
Getaran sumber bunyi menggetarkan udara di
sekitarnya dan merambat ke segala arah
sebagai gelombang longitudinal. Gelombang
bunyi dikumpulkan oleh telinga luar dan
selanjutnya menggetarkan gendang telinga.
Di dalam telinga tengah, getaran-getaran
ini dilewatkan melalui tingkap oval (selaput
telinga yang luas penampangnya lebih kecil)
melalui 3 buah tulang yang diberi nama martil,
landasan, dan sanggurdi. Tekanan bunyi dari
tingkap oval diteruskan melalui cairan cochlea.
Getaran-getaran cairan dalam cochlea
mempengaruhi beribu-ribu saraf yang
mengirim isyarat ke otak kita. Otak kitalah yang
mengolah isyarat tersebut dam membedakan
berbagai macam bunyi.
Jadi, telinga terdiri dari tiga bagian yang
terpisah yaitu telinga luar, telinga tengah dan
telinga dalam. Letupan adalah tekanan
melewati gendang telinga ketika tekanan
dalam diatur menjadi sama terhadap tekanan
diluar.
b. Klasifikasi gelombang bunyi
Telinga normal umumya hanya dapat
mendengar bunyi yang memiliki frekuensi 20
Hz – 20000Hz. Bunyi yang frekuensinya
terletak dalam daerah tersebut dinamakan
audiosonik. Bunyi yang memiliki frekuensinya
lebih rendah dari 20 Hz dinamakan infrasonic,
sedangkan bunyi yang memiliki frekuensi lebih
tinggi dari 20000 Hz dinamakan ultrasonik.
Infrasonic dan ultrasonic tidak dapat didengar
oleh manusia.
c. Melihat bunyi
Peralatan yang digunakan untuk melihat
gelombang bunyi adalah osiloskop yang
dilengkapi dengan sebuah mikrofon. Gabungan
V =
p
E

V =
p
E
V =
p
ì
K


V =
M
RT
ì

v · T
9
nada dasar dan nada-nada atas menghasilkan
bentuk gelombang tertentu untuk setiap
sumber nada. Bentuk gelombang inilah yang
menunjukkan warna dan kualitas bunyi atau
timbre dari sumber nada. Bentuk gelombang
berbeda disebabkan oleh perbedaan nada-
nada dasar yang menyertai nada dasar.
d. Tinggi nada dan kuat bunyi
tinggi atau rendahnya nada ditentukan oleh
frekunsinya. Makin tinggi frekuensi, makin
tinggi nadanya dan makin rendah frekuensinya,
makin rendah nadanya. Kuat atau lemahnya
bunyi ditentukan oleh amplitudo gelombang.
Makin besar amplitudo, makin kuat bunyinya
dan makin kecil amplitudo, makin lemah
bunyinya.
B. GEJAL A - GEJAL A GEL OMBANG
BUNYI
1. Pemantulan Gelomang Bunyi
Hukum pemantulan : sudut datang sama
dengan sudut pantul.
Pemantulan bunyi dalam ruang tertutup dapat
menimbulkan gaung yaitu sebagian bunyi
pantul bersamaan dengan bunyi asli sehingga
bunyi asli menjadi tidak jelas. Ruang besar
yang tidak menimbulkan efek gaung disebut
ruang yang memiliki akustik baik.
2. Pembiasan Gelombang Bunyi

3. Difraksi Gelombang Bunyi
Gelombang bunyi di udara memiliki panjang
gelombang dalam rentang beberapa
sentimeter sampai dengan beberapa meter
(bandingkan dengan gelombang cahaya yang
panjang gelombangnya berkisar 500 nm (5 x
10
-5
cm). Seperti telah diketahui bahwa
gelombang yang panjang gelombangnya lebih
panjang akan lebih mudah didifraksi.
4. Interferensi Gelombang Bunyi
Interferensi bunyi memerlukan dua sumber
bunyi koheren yaitu :
 Bunyi kuat, yang terjadi ketika superposisi
kedua gelombang bunyi di titik P
menghasilkan interferensi konstruktif (jika
kedua gelombang bunyi yang bertemu di
titik P adalah sefase atau memiliki beda
lintasan yang merupakan kelipatan bulat
dari panjang gelombang bunyi.
Bunyi kuat :
.... , 3 , 2 , 1 , 0 ;
2 1
= = ÷ = A n n P S P S S ì
n = 0, n = 1, n = 2 berturut-turut untuk bunyi
kuat pertama, kedua dan ketiga
 Bunyi lemah, terjadi ketika superfisi kedua
gelombang bunyi dititik L menghasilkan
interferensi destruktif (jika kedua
gelombang yang bertemu di titik L adalah
berlawanan fase / memiliki beda lintasan)
Bunyi lemah :


n = 0, n = 1, n = 2 berturut-turut untuk bunyi
lemah pertama, kedua dan ketiga
5. Efek Doppler
Efek Doppler diawali ketika ada suatu gerak
relative antara sumber gelombang dan
pengamat. Ketika sumber bunyi dan pengamat
bergerak saling mendekati, pengamat
mendengar frekuensi bunyi lebih tinggi
daripada frekuensi bunyi yang dipancarkan
sumber tanpa adanya gerak relative. Begitu
juga sebaliknya.



fp = frekuensi yang didengar (pengamat)
V = cepat rambat bunyi di udara
Vp = kecepatan pendengar pengamat
Vs = kecepatan sumber bunyi terhadap
tanah
fs = frekuensi yang dipancarkan sumber
bunyi
V selalu bertanda positif,sedangkan V
s
dan
V
p
bertanda positif jika searah dengan arah
dari sumber (S) ke pendengar (P) dan
bertanda negative jika berlawanan arah .
( ) .... , 3 , 2 , 1 , 0 ; 2 / 1
2 1
= + = ÷ = A n n L S L S S ì
fp = fs
v v
v v
s
p
÷
÷

10
V
s
(diam) = 0
V
p
(diam) = 0
Rumus efek Doppler dengan memasukkan
pengaruh angin :
( )
( )
fs
v v v
v v v
fp
s w
p w
÷ ÷
÷ ÷
=

V
W
= kecepatan angin
 V
w
sama seperti V
p
dan V
s
, yaitu positif jika
searah dengan arah dari sumber ke
pendengar.
6. Pelayangan Gelombang
Variasi kuat lemahnya bunyi secara
periodic disebut layangan dan dihasilkan oleh
superposisi dari dua gelombang bunyi dengan
frekuensi sedikit berbeda. Persamaan
simpangan gelombang :
( )
t
w w
A t
w
A A
sebesar A amplitudo dengan harmonik bergetar
juga titik suatu di gelombang erposisi Hasil
w w w dengan t w t
w
A Y
t w wt A Y
maka sama
hampir Y dan Y gelombang kedua frekuensi Jika
t W t W A
t W A t W A Y Y Y
adalah ini gelombang kedua erposisi Hasil
t W A Y dan t W A Y
p
p
2
cos 2
2
cos 2
:
sup
sin
2
cos 2
) 2 (
2
1
sin
2
1
cos 2
: ,
sin sin
sin sin
: sup
sin sin
2 1
2 1
2 1
2 1
2 1 2 1
2 2 1 1
÷
=
A
=
÷ = A
A
=
A =
+ =
+ = + =
= =
Amplitudo merupakan fungsi waktu
sehingga mempunyai nilai maksimum dan
minimum yang berulang secara periodic
dengan frekuensi sudut sebesar :
2 1
2 1
2 1 2 1 2 1
2
2
1 1
,
1
2
;
2
2 2
2 ;
2
f f
f f
f
T
maka periode ialah T dengan
f
T karena
f f
f
f f
f
w w
w
÷
=
÷
= =
=
÷
=
÷
=
÷
= A
t t
t

- Pelayangan bunyi terjadi karena amplitudo
hasil seperposisi mempunyai nilai
maksimum yang berulang secara periodic
maka terjadi bunyi keras dan lemah secara
periodic pula.
- Satu layangan didefinisikan sebagai gejala
dua bunyi keras / dua bunyi lemah yang
terjadi secara berurutan.
1 layangan = keras – lemah – keras atau
Lemah – keras – lemah
- Periode layangan yang terjadi (T
L
) adalah
½ T sehingga :
2 1 2 1
1 2
2
1
2
1
f f
TL atau
f f
T TL
÷
=
|
|
.
|

\
|
÷
= =
- Frekuensi layangan ialah banyak layangan
yang terjadi dalam satu sekon :
2 1
2 1
:
1
1 1
f f fL
layangan Frekuensi
f f
TL
fL
÷ =
÷
= =

Aplikasi Layangan
- Pemain piano menyetel nada-nada
pasangan dengan bantuan software
computer dengan prinsip layangan.
- Pemain gitar memetik sebuah gitar

C. GE L OM BANG ST ASI ONE R PAD A
AL AT PE NGH ASI L BUNYI
1. Gelombang stasioner transversal pada
senar
Melde mengukur cepat rambat gelombang
dengan menggunakan Sonometer.
Frekuensi nada dasar dawai f
1
ditentukan
dengan persamaan








11







Cepat rambat gelombang transversal dalam
dawai adalah sebanding dengan akar
kuadrat gaya tegangan dawai dan
berbanding terbalik dengan akar kuadrat
massa per panjang dawai.
Secara matematis cepat rambat gelombang
transversal dapat dinyatakan :




Volum merupakan hasil kali panjang dawai
dengan luas penampang, jadi



Jadi, Hukum Marsene berbunyi
Frekuensi senar dengan kedua ujung terikat
adalah :
 berbanding terbalik dengan
panjang senar,
 berbanding lurus dengan akar
kuadrat dari gaya teganga senar,
 berbanding terbalik dengan
akar kuadrat dari massa jenis
bahan senar,
 berbanding terbalik dengan
akar kuadrat dari luas penampang
senar.
2. Gelombang transversal pada pipa organa
a. Pipa Organa Terbuka
L = 
1
atau 
1
= 2L
Dan frekuensi nada dasarnya :
f
1
=
1
ì
V
=
L
V
2

b. Pipa Organa Tertutup
L = 
1
/4 atau 
1
= 4L
Dan frekuensi nada dasarnya :
f
1
=
1
ì
V
=
L
V
4

frekuensi alamiah pipa organa tertutup adalah
fn = nf1 =
L
nV
4

n = 1, 3, 5, …

D . T ARAF I NT ENSI T AS D AN
APL I K ASI BUNYI
- Gelombang memindahkan energi dari satu
tempat ke tempat lain.
- Ketika melewati medium, energi dipindahkan
dari satu partikel dengan yang lain dalam
medium .

2 2 2 2 2
2
2
1
y f m y w m E t = =
- “Energi yang dipindahkan oleh suatu
gelombang sebanding dengan kuadrat
amplitudonya (E o y
2
) dan sebanding dengan
kuadrat frekuensinya (E o f
2
)
2 2
f E dan y E o o
1. Intensitas Gelombang
Adalah energi yang dipindahkan oleh
gelomabang. Lambang I, dengan rumus



Keterangan :
P = daya (watt)
I = Intensitas gelombang (watt / m
2
)
A = luas bidang (m
2
)
 Gelombang tiga dimensi
Memancar dari sumber gelombang ke segala
arah, contohnya : gelombang bunyi yang
memancar, di udara, gelombang gempa bumi,
gelombang cahaya. Jika medium yang dilalui
isotropic (sama ke segala arah) maka
gelombang yang dipancarkan berbentuk
A
P
I =

12
bola.Muka gelomabang bola semakin luas (r)
karena luas permukaaan bola dalam radius r =
4 t r
2
.
- A bertambah ¬ Y berkurang
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2
2
2
2
1
2
1
2
2 2
2
1 1
4 4
Y r Y r
Y r Y r
Y A Y A
=
=
=
t t
2
1
1
2
r
r
Y
Y
=
“Makin jauh dari sumber, amplitudo (y)
mengecil secara sebanding terbalik dengan
jaraknya dari sumber (1/r)”. Intensitas makin
kecil dengan bertambahnya jarak dari sumber
2
2 2
2
2
1 1
1
4
4
r
P
A
P
I
r
P
A
P
I
t
t
= =
= =

2
2
2
1
1
2
r
r
I
I
=
2. Taraf Intensitas Bunyi
- Intensitas ambang pendengaran
Yaitu intensitas bunyi terkecil yang masih
dapat didengar oleh telinga manusia (10
-12

w/m
2
)
- Intensitas ambang perasaan
Yaitu intensitas bunyi terbesar yang masih
dapat didengar oleh telinga manusia (1
w/m
2
)
- Hubungan logaritmik
Telinga manusia mendengar bunyi dua kali
kuat juka intensitas bunyi 100 kalinya. Kuat
bunyi berbanding lurus dengan intensitas
bunyi.

Rumus

Keterangan :
I = Intensitas bunyi (w/m
2
)
I
0
= Intensitas standar (10
-12
w/m
2
)
TI = taraf intensitas bunyi (dB)


3. Aplikasi Gelombang Bunyi
a. Bidang industri
Teknik SONAR (Sound Navigation and
Ranging) pantulan bunyi untuk navigasi.
1) Mengukur kedalaman laut
Pantulan pulsa ultrasonic
Instrument pemancar = fathometer
2) Mendeteksi retak-retak pada struktur logam
Pindai ultrasonic / Pemindai untrasonik
3) Kamera dan perlengkapan mobil
Kamera untuk mengatur fokusnya secara
otomatis sedang perlengkapan mobil, untuk
menghitung jarak dari sebuah mobil ke
obyek di sekitarnya.
b. Bidang Kedokteran
- Pulsa-pulsa ultrasonic
Digunakan untuk melihat bagian dalam
manusia seperti : USG, periksa hati.
Mengapa ultrasonic berguna dalam
diagnosis kedokteran ?
1. Lebih aman untuk melihat janin di dalam
perut ibu.
2. Dapat digunakan terus-menerus untuk
melihat pergerakan janin / lever tanpa
melukai pasien.
3. dapat mengukur kedalaman suatu benda di
bawah permukaan kulit.
4. Dapat mendeteksi perbedaan antar
jaringan lunak dalam tubuh. Untuk
menemukan tumor / gumpalan dalam
tubuh.
- Efek Doppler untuk mengatur kelajuan
aliran darah. memonitori aliran darah
melalui pembuluh nadi utama
Cara kerja :
1. Gelombang ultrasonic frekuensi (5-10)
MHz diarahkan ke pembuluh nadi.
2. Suatu penerima R akan mendeteksi
sinyal hambatan pantul
3. Kegunaan : mendeteksi trombosit
4. Keunggulan :Lebih murah Sedikit
ketidaknyamanan

0
log 10
I
I
TI =
13
CONT OH SOAL D AN PEMBAH ASAN
1. Sebuah pipa organa panjangnya 40 cm. Apabila
cepat rambat di udara 320 m/s. Maka
tentukanlah frekuensi nada dasar , nada dasar
pertama dan nada dasar kedua untuk pipa
organa tertutup!
Jawab :
Diket : L = 40 cm = 0,4 m
v = 320 m/s
Pipa organa tertutup
- Nada dasar : ì = 4 L = 4 . 0,4 = 1,6 m
f0 =
ì
v
=
6 , 1
320
= 200 Hz
- Nada atas I: ì =
3
4
L =
3
4
. 0,4 = 0,53 m
f1 =
ì
v
=
53 , 0
320
= 604 Hz
- Nada atas II : ì =
5
4
L =
5
4
.0,4 = 0,32 m
f2 =
ì
v
=
32 , 0
320
= 1000 Hz
2. Seutas tali memiliki massa 1,04 gram. Tali
tersebut digetarkan sebuah membentuk sebuah
persamaan gelombang transversal yaitu
Y = 0,03 sin ( x + 30t ). Jika x dan y dalam
meter dan t dalam detik. Tentukan tegangan tali
tersebut!
Jawab :
Y = 0,03 sin ( x + 30t )
Untuk mencari tegangan tali digunakan
persamaan
v =
p
F
F =
2
v p
- v =
k
e
=
1
30
= 30 m/s
- p =
l
m
=
8
10 04 , 1
3 ÷
x

= 0,13 x 10
3 ÷
kg/m
3

- F = 0,13 x 10
3 ÷
. (30)
2

= 0,177 = 0, 12 N
3. Dua buah gelombang, masing – masing dengan
frekuensi 300 Hz dan a Hz dibunyikan pada
saat yang bersamaan. Jika terjadi 10 layangan
dalam 2 sekon , tentukanlah nilai a !
Jawab :
f
1
= 300 Hz, f
2
= a
terjadi layangan dua sekon
frekuensi layangan ( fL) =
2
10
= 5Hz
fL menyatakan selisih dari f1 dan f2. Kita tidak
bisa menentukan apakah f2 > f1 ataukah f2 < f1
sehingga untuk kasus ini a memiliki 2 nilai
yaitu
- Untuk a > 300 : fL = a - f1
5 = a - 300
a = 305
- Untuk a > 300 : fL = f1 - a
5 = 300 - a
a = 295
4. Sebuah batu dijatuhkan dari ketinggian 45 m
dalam waktu 3,12 sekon dalam waktu jika
diketahui g = 10 m/s
2
, Tentukanlah cepat
rambat bunyi udara di tempat tersebut!
Jawab :
- X = v
0
t +
2
1
at
2

= h: v
0
= 0 dan a = ( gerak jatuh bebas)
: t = t
1

h = 0 =
2
1
2
1
gt

2
1
t =
10
) 45 ( 2 2
=
g
h
=
100
900

t
1
= s 0 , 3
10
30
=
t = t1 – t2
t2 = t – t1
= 3,12 – 3,0
= 0,12 s
- V =
s
m
t
h
375
12 , 0
45
2
= =

14
5. Sebuah jet menimbulkan bunyi 140 dB pada
jarak 100 . Berapakah taraf intensitasnya pada
jarak 10 km?
Jawab :
r
1
= 100 m = 10
2
m dimana TI
1
= 140 dB
r
2
= 10 km = 10
4
m dimana TI
2
= ?
TI
2
= TI
1
+ 10 log
2
2
1
) (
r
r

= 140 + 10 log (
4
2
10
10
)
2

= 140 + 10 log 10
4 ÷

= 140 + 10 ( -4 )
= 100 Db


























UJI KOMPET ENSI
1. Di bawah ini pernyataan yang paling tepat
mengenai cepat rambat bunyi di dalam gas
adalah....
a. Sebanding dengan akar kuadrat hasil kali
massa mulekul gas dengan dengan tetapan
umum gas.
b. Berbanding terbalik dengan akar kuadrat
tetapan umum gas.
c. Sebanding dengan akar kuadrat tetapan
umum gas.
d. Berbanding terbalik dengan akar kuadrat
suhu mutlaknya.
e. Sebanding dengan akar kuadrat suhu
mutlaknya.
2. Dawai sepanjang 1 m diberi tegangan 100 N.
Pada saat digetarkan dengan frekuensi 500 Hz,
di sepanjang dawai terbentuk 10 perut, maka
massa dawai tersebut adalah....
a. 10
5 ÷
kg
b. 10
4 ÷
kg
c. 10
3 ÷
kg
d. 10
2 ÷
kg
e. 10
1 ÷
kg
3. Sebuah pipa organa memiliki panjang 50 cm.
Jika cepat rambat bunyi di udara adalah 350
m/s, maka frekuensi pada dasar untuk pipa
organa yang terbuka kedua ujungnya dan
tertutup salah satu ujungnya secara berturut –
turut adalah....
a. 350 Hz dan 175 Hz
b. 375 Hz dan 150 Hz
c. 400 Hz dan 125 Hz
d. 425 Hz dan 100 Hz
e. 450 Hz dan 75 Hz
4. Sebuah garpu tala dengan frekuensi 550 Hz
digetarkan di dekat suatu tabung gelas berisi air
yang tinggi permukaannya dapat diatur. Jika
kecepatan merambat bunyi di udara 330 m/s,
15
maka jarak permukaan air dari ujung tabung
agar terjadi resonansi adalah jika....
a. L = 0,10 m ; 0,20 m ; 0,35 m ;....
b. L = 0,20 m ; 0,30 m ; 0,40 m ;....
c. L = 0,35 m ; 0,40 m ; 0,60 m ;....
d. L = 0,25 m ; 0,55 m ; 0,85 m ;....
e. L = 0,15 m ; 0,45 m ; 0,75 m ;....
5. Sebuah kelapa jatuh dari ketinggian 10 m dalam
waktu 2,5 sekon, maka cepat rambat bunyi
udara di tempat tersebut adalah.... (ambil g = 10
m/s
2
)
a. 5 m/s
b. 10 m/s
c. 15 m/s
d. 20 m/s
e. 25 m/s
6. Dua buah gelombang, masing – masing dengan
frekuensi 150 Hz dan a Hz dibunyikan pada
saat yang bersamaan. Jika terjadi 5 layangan
dalam 1 sekon maka nilai a adalah ….(untuk a
> 150)
a. 155 Hz
b. 160 Hz
c. 165 Hz
d. 170 Hz
e. 175 Hz
7. Dalam perangkat percobaan Melde seperti pada
gambar 2.23, dawai yang ditegangkan di antara
kedua jembatan memiliki panjang 1 meter dan
masa 25 gram. Jika masa beban yang digantung
adalah M = 250 gram, tentukan cepat rambat
gelombang transversal yang merambat dalam
dawai tersebut adalah.......... (ambil g = 10
m/s
2
).
a. 10 m/s
b. 12 m/s
c. 13 m/s
d. 15 m/s
e. 17 m/s
8. Seutas senar dengan panjang 2 m, jika massa
senar per satuan panjang adalah 2,5 x 10
-3
kg/m
dan senar ditegangkan oleh gaya 100 N.
Harmonik pertamanya adalah...
a. 30 Hz
b. 40 Hz
c. 50 Hz
d. 60 Hz
e. 70 Hz
9. Sebuah sumber bunyi bergetar dengan daya
20t. Maka taraf intensitas bunyi pada jarak 10
cm dari sumber bunyi tersebut adalah ..... (log 2
= 0,3010)
a. 140,9 dB
b. 141,9 dB
c. 140,8 dB
d. 141,8 dB
e. 140,7 dB
10. Suatu gelombang gempa terasa di desa A
dengan intensitas 8.10
5
w/m
2
. Sumber gempa
berasal dari suatu tempat (P) yang berjarak 500
km dari desa A. jika jarak desa A dan desa B
sejauh 300 km dan ketiga tempat itu
membentuk sudut segitiga siku-siku dengan
sudut siku-siku di desa A maka intensitas
gelombang gempa yang terasa di desa B adalah
.... w/m
2
. ( lihat gambar )
B

AB = 300 km

A
AP = 500 km
a. 5,98. 10
5

b. 6,98. 10
5

c. 5,88. 10
5

d. 6,88. 10
5

e. 5,78. 10
5


P
16

A. CI RI – CI RI GEL OMBANG CAH AYA
Cepat rambat gelombang elektromagnetik (c)
nm C vakum tas Permeabili
Am wb vakum tas Permeabili
s m C
/ 10 . 85 , 8 (
/ 10 . 4 (
/ 10 . 3
1
2 12
0
7
0
8
0 0
÷
÷
=
=
= =
c
t u
c u

Hubungan medan listrik dengan medan
magnetic
cB E =
1. Polarisasi Cahaya
Polarisasi cahaya yaitu terserapnya
sebagian arah getar cahaya. Cahaya yang
sebagian arah getarnya terserah dinamakan
cahaya terpolarisasi. Kemudian, cahaya hanya
mempunyai satu arah getar saja dinamakan
cahaya terpolarisasi linear. Sedangkan, cahaya
terpolarisasi dapat diperoleh dari cahaya tidak
terpolarisasi. Caranya dengan menghilangkan
semua arah getar dan melewatkan salah satu
arah getar saja.
a. Polarisasi dengan penyerapan selektif
Kuat medan listrik yang diteruskan analisator :
u cos
2
E E =
Intensitas cahaya :
0 1
2
1
I I =
I
0
= pada Polaroid pertama (polarisator)
I
2
= cahaya terpolarisasi yang melewati
Polarisator
Hukum Malus
Analisator mengurangi intensitas cahaya
terpolarisasi ;
u u
2
0
2
1 2
cos
2
1
cos I I I = =
u = sudut sumbu transmisi analisator dengan
sumbu transmisi polarisasi.
“Intensitas cahaya yang diteruskan oleh
system Polaroid mencapai maksimum jika
kedua sumbu polarisasi adalah sejajar (u = 0
o

atau 180
o
) dan mencapai minimum jika u = 90
o

/ tegak lurus”.


b. Polarisasi dengan pemantulan
Jika seberkas cahaya menuju ke bidang batas
antara 2 medium, maka sebagian cahaya akan
dipantulkan. Ada 3 kemungkinan yang terjadi
pada cahaya yang dipantulkan yaitu :
- cahaya pantul tak terpolarisasi jika sudut
datang (0
o
) searah garis normal bidang
batas dan 90
o
searah bidang batas.
- Cahaya pantul terpolarisasi sebagian jika
susut datang diantara 0
o
dan 90
o
.
- Cahaya pantul terpolarisasi sempurna jika
sudut datang cahaya dengan nilai tertentu
(disebut sudut polarisasi / sudut Brewster).

q
B
q
2
90
0
Sinar pantul (terpolarisasi sempurna)
Sinar datang
Sinar bias (terpolarisasi sebagian)

Brewster Hukum
n
n
tg
n
n
Sin
Sin
Sin
B
B
B
B
¬ = ¬ =
=
1
2
1
2
2
cos
u
u
u
u u

Bila cahaya datang dari cahaya (n – 1) menuju
ke bahan indeks bias n (n
2
= n) maka
Tan u
B
= n
Aplikasi Polaroid
Sinar matahari tak terpolarisasi, yang
jatuh pada permukaan horizontal, seperti
permukaan danau, permukaan logam, kaca
mobil. Dapat menjadi terpolarisasi dalam arah
hosizontal dengan itensitas cahaya yang cukup
besar. Sinar pantul terpolarisasi dalam arah
horizontal dengan intensitas cahaya yang
cukup besar dapar menyilaukan mata. Cara
untuk mengatasinya yaitu menggunakan
kacamata Polaroid.

17
c. Polarisasi dengan pembiasan ganda
Jika cahaya melalui kaca, cahaya akan
lewat dengan kelajuan sama ke segala arah,
karena kaca memiliki 1 nilai indeks bias.
Bahan-bahan kristal tertentu : karsit, kuarsa,
kelajuan tidak sama ke segala arah karena
cahaya memiliki dua nilai indeks bias. Cahaya
yang melewatinya mengalami pembiasan
ganda.
Sinar tak terpolarisasi menjadi 2 :
sinar biasa (ordinary ray) dan sinar
istimewa (extraordinary ray). Keduanya adalah
terpolarisasi bidang dan arah geraknya selalu
tegak lurus. Sinar biasa mematuhi hukum
snelius sedangkan sinar extraordinary tidak
karena merambat dengan kelajuan berbeda
dalam arah berbeda dalam kristal.
d. Polarisasi dengan hamburan
Penyerapan dan pemancaran kembali
cahaya oleh partikel-partikel (gas) disebut
Hamburan. Hamburan dapat menyebabkan
cahaya matahari tidak terpolarisasi menjadi
terpolarisasi sebagian. Matahari tak
terpolarisasi dihamburkan oleh sebuah molekul
sinar matahari tak terpolarisasi
menyebabkanmolekul penghambur bergetar
pada suatu bidang tegak lurus terhadap arah
rambat cahaya. Electron-elektron pada molekul
ini pada gilirannya meradiasikan kembali
gelombang elektromagnetik dalam berbagai
arah.
2. Efek Doppler pada gelombang
elektromagnetik
Efek Doppler pada gelombang
elektromagnetik tidak bergantung kecepatan
medium, karena gelombang elektromagnetik
tidak memerlukan medium perambatan. Jadi
yang penting pada gelombang elektromagnetik
hanyalah kecepatan relative (V
rel
) antara
sumber dan pengamatnya.
Ketika gelombang elektromagnetik, sumber
gelombang dan pengamat ketiganya bergerak
sepanjang garis lurus yang sama melalui
vakum / udara maka untu Vrel << c, secara
pendekatan Persamaan efek Dopplernya
adalah :
|
.
|

\
|
± =
c
v
fs fp
l Re
1
Catatan :
Tanda + digunakan apabila sumber gelombang
dan pengamat saling mendekat sedangkan
Tanda – digunakan apabila sumber gelombang
dan pengamat saling menjauh.
B. D I FRAK SI CAH AYA
Tentu saja gejala difraksi dapat diamati jika
lebar celah seukuran dengan panjang
gelombang dari gelombang yang melalui celah.
Karena panjang gelombang cahaya (berkisar
5.10
-5
cm) jauh lebih kecil dari pada panjang
gelombang bunyi. (dalam orde beberapa cm),
maka difraksi cahaya sukar diamati dalam
kehidupan sehari-hari.
1. Difraksi Celah Tunggal
a) Analisis Kuantitatif Difraksi Celah Tunggal
Pita lainnya makin sempit ketika makin jauh
dari terang pusat, tetapi lebar pita gelap
hamper tetap. Karena itulah, pada kasus
difraksi celah tunggal hanya diberikan
persamaan untuk menentukan letak pita gelap
dari titik tengah terang pusat. Kita juga dapat
menentukan lebar pita terang pusat sebagai 2y
dimana y adalah jarak pita gelap ke-1dari
terang pusat.
Pola difraksi fraunhofer yang dihasilkan
oleh sebuah celah tunggal. Menurut prinsip
Huygens, tiap bagian celah berlaku sebagai
sebuah sumber gelombang. Dengan demikian,
cahaya dari satu bagian celah dapat
berinteraksi dengan cahaya dari bagian
lainnya, dan intensitas resultannya pada layar
bergantung pada arah Q.
Interferensi minimum (pita gelap) terjadi
jika kedua gelombang berbeda fase 180
0
atau
beda lintasannya sama dengan setengah
panjang gelombang
18

Jika kita bagi celah menjadi empat bagian
dan memakai cara yang sama, kita peroleh
bahwa pita juga gelap ketika

Secara umum dapat dinyatakan bahwa pita
gelap ke-n terjadi jika

Atau
; dengan n = 1, 2, 3, ….
Dengan u adalah sudut simpangan (deviasi).
Perhatikan n = 1 menyatakan garis gelap ke-1,
n=2 menyatakan garis gelap ke-2 dan
seterusnya.
b) Pembesaran system alat optik dibatasi oleh
difraksi
Untuk system alat optik, bukaan cahaya
umumnya berbentuk bulat, pola difraksi yang
dibentuk oleh bukaan penting anda pelajari
karena ini akan membatasi daya urai alat-alat
optik.
Pola difraksi yang dibentuk oleh suatu
bukaan bulat terdiri dari suatu bintik terang
pusat berbentuk lingkaran yang dikelilingi oleh
sederetan cincin terang dan gelap. Kita dapat
menjelaskan pola tersebut dengan sudut u,
yang menampilkan ukuran sudut dari setiap
cincin. Jika diamet bukaan alat optik adalah D
dan panjang gelombang ì, maka ukuran sudut
u, dari cincin gelap pertama diberikan oleh :


Pusat bintik terang disebut cakram airy,
untuk menghargai Sir George, yang pertama
kali menurunkan pernyataan untuk intensitas
cahaya dalam pola difraksi ini. Ukuran sudut
dari cakram Airy adalah ukuran sudut dari
cincin gelap pertama yang dinyatakan oleh
persamaan. Cakram Airy menimbulkan
implikasi pada pembentukan bayangan oleh
lensa dan cermin.
Dalam studi kita tentang alat-alat optik kita
menganggap bahwa suatu lensa dengan jarak
focus f memfokuskan suatu berkas sinar
sejajar pada suatu titik yang berjarak f dari
lensa. Kita sekarang melihat bahwa yang kita
peroleh bukanlah suatu titik tetapi suatu pola
difraksi. Jika kita memilih dua benda titik,
bayangan keduanya bukanlah dua titik tetapi
suatu pola difraksi. Ketika benda - benda
letaknya berdekatan, pola-pola difraksi benda-
benda saling mendidik (menumpuk) i jika
benda-benda cukup berdekatan, pola-pola
difraksi benda-benda hamper berhimpit
sehingga tidak dapat dibedakan (dipisahkan).
Suatu criteria yang menyatakan bagaimana
bayangan dari dua benda titik masih dapat
dipisahkan dengan baik oleh suatu lensa. Oleh
Cord Ray Leigh (1887-1905) disebut criteria
Rayleight, yang berbunyi : ”Dua benda titik
tepat dapat dipisahkan (dibedakan) jika pusat
dari pola difraksi benda titik pertama berimpit
dengan minimum pertama dari difraksi benda
titik kedua”.
Ukuran sudut pemisahan agar dua benda
titik masih dapat dipisahkan secara tepat
berdasarkan criteria Rayleigh disebut batas
sudut resolusi atau sudut resolusi minimum
(lambing um) yang dinyatakan oleh : Sin um =
1,22 karena sudut um sangat kecil, maka Sin
um ~ um, dan persamaan menjadi,



um = sudut resolusi minimum (Radian)
ì = panjang gelombang (m)
D = diameter bukaan alat optik (m)
Jarak pisah terpendek dari dua benda titik
dimana bayangan yang dihasilkan masih dapat
dioptimalkan sebagai dua titik terpisah disebut
batas resolusi atau daya urai alat optik. Makin
Sin  = 1,22
m = 1,22
D
ì
19
kecil daya urai, makin besar resolusi alat optik
tersebut. Tampak bahwa difraksi membatasi
pembesaran suatu lensa (alat optik). Optik
geometris yang menyatakan bahwa kita dapat
terus membuat bayangan sebesar yang kita
inginkan. Akan tetapi akhirnya kita akan
mencapai suatu titik dimana bayangan menjadi
lebih besar, namun tidak terinci dengan jelas.
Daya urai dm dapat kita tentukan secara
pendekatan dengan menggunakan persamaan.
Karena sudut um kecil, maka

Persamaan menjadi :













C. I NT ERF ERENSI CAH AYA
1. Konstruktif : apabila beda fase kedua
gelombang cahaya, 0, 2, 4, 6, 8... Hasil
berupa pola terang.
2. Destruktif : terjadi apabila beda fase
kedua gelombang cahaya 1, 3, 5, 7, 9 ...
Hasil berupa pola lengkap.
a) Percobaan Young














 Jarak pita terang

L
Yd
= m
; dengan m = 0, 1 ,2 , 3...
 Jarak pita gelap

L
Yd
= (m+1/2)
; dengan m = 0, 1, 2, 3...
 Jarak pita gelap dan terang yang
berdekatan

y =
d
L
2
ì

b) Interferensi pada selaput tipis











20
Syarat interferensi konstruktif lapisn tipis
adalah
2 nt = (m + 1/2)
Dengan m = 1, 2, 3, ...

c) Kisi difraksi
Tetapan kisi d =
N
1

Misalnya sebuah kisi memiliki 10000 garis/cm
akan memiliki tetapan kisi yaitu
d =
N
1
=
10000
1
= 10
-4
cm
Rumus kisi difraksi











Garis terang kisi difraksi
S = d. sin  = m
dengan m = 0, 1, 2, ...














CONT OH SOAL D AN PEMBAH ASAN
1. Cahaya tak berpolarisasi dengan intensitas I
0

jatuh pada sebuah polarisator dan analisator
yang sumbu polarisasinya diputar u
0
terhadap
polarisator , sedangkan intensitas cahaya yang
diteruskan adalah 3/8 I
0
. Sudut u
0
adalah ....
Jawab :
I
0
= I
0

I
2
= 3/8 I
0

Ditanya : u
0

Maka,
I
2
= ½ I
0
cos
2
u
3/8 I
0
= ½. I
0
cos
2
u
Cos
2
u =
0
0
2 / 1
8 / 3
I
I

Cos
2
u =
4
3
8
6
=
Cos u = 3
2
1

 = 30
0
2. Cahaya manokromatis jatuh pada celah tunggal
dengan lebar 2 2 x 10
3 ÷
mm. Jika sudut
simpang pita gelap pertama adalah 45
0
,
Tentukanlah panjang gelombang yang
digunakan!
Jawab :
d. sin u = mì
2 2 x 10
3 ÷
sin 45
0
= 1 . ì
2 2 x 10
3 ÷
. 2
2
1
= ì
2 x 10
3 ÷
mm = ì
 = 2 x 10
6 ÷
m
3. Suatu berkas cahaya maokromatis melalui
sepasang celah sempit yang jaraknya 0,3 mm
membentuk pola interferensi pada layar yang
jaraknya 0,9 m dari celah tadi. Bila jarak antara
garis gelap kedua pusat pola 3 mm, Berapakah
panjang gelombang cahaya?
Jawab :
21
d = 0,3 mm = 3 x 10
4 ÷
m
L = 0,9 m
2 y A = 3 mm = 3 x 10
3 ÷
m
Maka,
(2 y A ) =
d


ì =
1
4 3
10 9
) 10 3 )( 10 3 (
÷
÷ ÷
x
x x

= 1,0 x 10
6 ÷
m
4. Pada percobaan Young digunakan dua celah
sempit dan layar yang dipasang 1 m dari celah
tersebut. Jika dihasilkan terang kedua pada
jarak 0,5 mm dari terang pusat dan cahaya
monokromatik yang dijatuhkan secara tegak
lurus dengan panjang gelombang 5000Ǻ.
Tentukanlah jarak antara dua celah tersebut!
Jawab :
L = 1m = 1000mm
yt(2) = 0,5 mm
ì = 5000Ǻ.
Dit : d ?
Maka,
yt (m) =
D
L
( 2m ). ì
2
1

0,5 = 5000 .
2
1
). 2 . 2 (
10 1
3
d
x

0,5 =
7
3
10 5 .
2
1
10 4
÷
x
d
x

5 x 10
1 ÷
=
d
x
4
10 10
÷

d =
1
4
10 5
10 10
÷
÷
x
x

d = 2 x 10
3 ÷
mm
5. Pada suatu malam di jalan raya, sebuah mobil
melaju menjauhi sopir truk yang tengah berada
di depan truknya. Pada kondisi ini, pupil supir
tersebut memiliki diameter kira-kira 8,0 mm.
Kedua lampu mobil dipisahkan dengan jarak
sejauh 1,25 m dan memancarkan sinar merah
( ì = 700 nm dalam vakum). Berapa jauh jarak
mobil itu dari sopir tersebut ketika kedua lampu
belakangnya tampak menyatu menjadi sebuah
bintik tunggal cahaya akibat difraksi?
Jawab :
Diket : D = 8,0 mm = 8.10
-3
m
ì
u
= 700 nm = 7.10
-7
m
n = 1,36
dm = 1,25 m
Dit : L ?
Jawab :
- ì mata =
36 , 1
10 . 7
7
m
n
u
÷
=
ì

= 5,15.10
-7
m
- Dm =
D
L ì 22 , 1

L =
ì . 22 , 1
.D dm

=
7
13
10 . 15 , 5 . 22 , 1
10 , 8 . 25 , 1
÷
÷

= 1,59 .10
4
m



















22
UJI KOMPET ENSI
1. Pernyataan yang tidak sesuai dengan yang
terjadi pada Difraksi pada celah tunggal
adalah....
a. Interferensi minimum terjadi jika kedua
gelombang berbeda fase 180
0
.
b. Interferensi minimum terjadi jika beda
lintasan kedua gelombang = ( 2m ) .
2
1
ì
c. Interferensi maksimum terjadi jika beda
lintasannya = ( 2m – 1 ).
2
1
ì
d. Pita terang dan gelap yang berurutan
jaraknya sebesar ì
2
1

e. Hanya diberikan persamaan untuk
menentukan letak pita gelap dari titik terang
pusat.
2. Suatu cahaya tak terpolarisasi mengenai
polaroid pertama dengan intensitas I
0
. Jika
sudut antara kedua sumbu transmisi 60
0
, maka
intensitas cahaya yang keluar dari sistem
polaroid yang terdiri dua buah polaroid adalah
....
a. ½ I
0
b. ¼ I
0
c. 1/8 I
0
d. 1/16 I
0
e. 1/32 I
0
3. Seberkas cahaya monokromatis dijatuhkan pada
sepasang celah sempit vertikal berdekatan
dengan jarak d = 0,01 m. Pola interferensi yang
terjadi ditangkap pada jarak 20 cm dari celah.
Jika jarak antara garis gelap pertama di sebelah
kiri ke garis gelap pertama di sebelah kanan
adalah 7,2 mm, maka panjang gelombang
berkas cahaya ini adalah....
a. 3,6 x 10
7 ÷
m
b. 1,6 x 10
7 ÷
m
c. 2,6 x 10
7 ÷
m
d. 3,6 x 10
7 ÷
m
e. 4,6 x 10
7 ÷
m
4. Seberkas cahaya dilewatkan pada suatu kisi
difraksi dengan jumlah lubang tiap cmnya
adalah 2000. Saat terjadi interferensi
konstruktif ke 2 sudut biasnya adalah 30
0
.
Maka panjang gelombang cahaya yang
digunakan adalah....
a. 1,25 x 10
7 ÷
m
b. 1,50 x 10
7 ÷
m
c. 1,75 x 10
7 ÷
m
d. 2,00 x 10
7 ÷
m
e. 2,25 x 10
7 ÷
m
5. Celah tunggal selebar 0,20 mm disinari berkas
cahaya sejajar dengan 8000 = ì Aº. Pola
difraksi yang terjadi ditangkap oleh layar pada
jarak 60 cm dari celah. Maka, jarak antara pita
gelap ketiga dengan titik terang pusat adalah....
a. 7,1 mm
b. 7,2 mm
c. 7,3 mm
d. 7,4 mm
e. 7,5 mm
6. Suatu percobaan celah ganda Young mula –
mula dilakukan dalam medium udara. Jika
ruang di anatara celah ganda dan layar dimana
pita terang dan gelap diamati diisi dengan air
yang memiliki indeks bias
3
4
, maka jarak
anatara dua pita terang yang berdekatan....
a. Tetap sama
b. Berkurang menjadi
4
1
kali harga semula
c. Berkurang menjadi
3
1
kali harga semula
d. Bertambah menjadi
4
3
kali harga semula
e. Bertambah menjadi
3
4
kali harga semula
7. Pada percobaan Young digunakan dua celah
sempit yang berjarak 0,3 mm satu dengan
23
lainnya. Jika jarak layar dengan celah 1 m dan
jarak garis terang pertama dari terang pusat 1,5
mm, maka panjang gelombang cahaya adalah....
a. 0,13 mm
b. 0,16 mm
c. 0,20 mm
d. 0,25 mm
e. 0,31 mm
8. Seberkas cahaya jatuh tegak lurus pada kisi
yang terdiri dari 5000
cm
garis
. Sudut bias
orde kedua adalah 37
0
( sin 37
0
= 0,6 ), maka
panjang gelombang cahaya yang digunakan
adalah....
a. 2 x 10
7 ÷
m
b. 3 x 10
7 ÷
m
c. 4 x 10
7 ÷
m
d. 5 x 10
7 ÷
m
e. 6 x 10
7 ÷
m
9. Seberkas cahaya monokromatis dengan panjang
gelombang 600 nm (1 nm = 10
-9
) menyinari
tegak lurus suatu kisi yang terdiri dari 200
garis/mm. Sudut deviasi orde kedua dan orde
maksimum yang mungkin terlihat adalah…
a. 13,0
0
dan 8 garis terang
b. 13,9
0
dan 8 garis terang
c. 12,0
0
dan 7 garis terang
d. 12,9
0
dan 9 garis terang
e. 13,9
0
dan 10 garis terang

10. Jarak antara 2 lampu depan sebuah mobil 122
cm, diaamati oleh mata seseorang yang
memiliki diameter 3 mm. Jika panjang
gelombang cahaya yang diterima mata adalah
500 nm, maka jarak mobil itu paling jauh
supaya masih dapat dibedakan sebagai dua
lampu yang terpisah adalah....
a. 8250 m
b. 7377 m
c. 6000 m
d. 5000 m
e. 4500 m


SUM BER – SUM BER :
1. Buku Paket “FISIKA UNTUK SMA KELAS
XII” Penulis Marthen Kanginan Penerbit
Erlangga, 2006.
2. Buku Paket “SERIBU PENA FISIKA
UNTUK SMA KELAS XII” Penulis Marthen
Kanginan Penerbit Erlangga, 2006.
3. Buku “SOAL – SOAL & PEMBAHASAN
MAFIKIBI 45 Tahun Lengkap ITB, SKALU
PP I , SIPENMARU, UMPTN, dan SPMB”.
Penulis Drs. Komarudin, MA. Penerbit
Epsilon Grup, 2006.


“SEMOGA BERMANFAAT”
By : ADIT_NDUT dkk


















24















You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->