P. 1
UU No 37 Tahun 1999 Tentang Hubungan Luar Negeri

UU No 37 Tahun 1999 Tentang Hubungan Luar Negeri

|Views: 698|Likes:
Published by hipink
Hubungan luar negeri, hubla
Hubungan luar negeri, hubla

More info:

Published by: hipink on Mar 11, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/24/2012

pdf

text

original

RESUME KULIAH “UU no 37 Tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri” Kelas C Sekdilu Angkatan 35 th 2010 Oleh : Harry

P. Haryono Mengapa kita perlu punya UU yang mengatur tentang Hubungan Luar Negeri ?  Sejak Indonesia merdeka dan berdirinya Kemlu pada tanggal 19 Agustus 1945, kita belum memiliki peraturan perundang-undangan yang mengatur Hubungan Luar Negeri untuk menjabarkan apa yang tercantum dalam UUD 1945 ;  Kini kita memiliki UU 37 tahun 1999 tentang Hubungan Luar Negeri dan UU 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional  Lihat UU no 37 a b c d dan e serta Pasal 5(1), Pasal 11, pasal 20(1) UUD 1945 dan juga UU no 1 tahun 1982 Hubungan Diplomatik dan Hubungan Konsuler dan UU no 2 tahun 1982 tentang Misi Khusus.  Indonesia telah meratifikasi berbagai konvensi internasional, contohnya Konvensi Wina 1961 tentang Hubungan Diplomatik, Konvensi Wina 1963 tentang Hubungan Konsuler, dan Konvensi New York 1969 tentang Misi Khusus, peratifikasian ini harus diikuti dengan pembentukan UU yang dapat menetapkan ketentuan, langkah, cara pengaplikasian hasil dari konvensikonvensi diatas Ketentuan dalam UUD 1945 yang perlu dijabarkan dalam per UU-an nasional  Pembukaan UUD 1945 : Alinea 1 : Bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan….. dan Alinea 4 ; …..dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yg berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, ….  Pasal 11 : Presiden dengan persetujuan DPR menyatakan perang, membuat perdamaian dan perjanjian dengan negara lain.  Pasal 13 (1) Presiden mengangkat duta dan konsul Pasal 13 (2) Presiden menerima duta negara lain Karakteristik  Diundangkan pada tanggal 14 September 1999 oleh Presiden BJ Habibie ;

 RUU dibuat pada akhir kabinet Suharto tahun 1997 dan setelah ada perubahan pemerintahan pada tahun 1998 RUU ditarik dan dibuat perubahan sebelum diajukan lagi sehingga memungkinkan Kemlu memiliki satu UU lagi yaitu UU no 24 tahun 2000 tentang Perjanjian Internasional yang juga penting  Terdiri dari 10 Bab (38 pasal substantif), yaitu : I. II. III. IV. V. VI. VII. VIII. IX. X. Ketentuan Umum (Psl 1-4) Penyelenggaraan Hublu dan Pelaksanaan Polugri (Psl 5-12); Pembuatan dan pengesahan Perjanjian Internasional (Psl 13-15) ; Kekebalan, Hak Istimewa dan Pembebasan (Psl 16-17) ; Perlindungan kepada WNI(Psl 18-24) ; Pemberian Suaka dan masalah pengungsi (Psl 25-27); Aparatur hubungan luar negeri (Psl 28-34) ; Pemberian dan penerimaan surat kepercayaan (Psl 35-38); Ketentuan Peralihan (Psl 39); Ketentuan Penutup (Psl 40).

UU ini memerlukan peraturan pelaksanaan dalam bentuk :  UU, yaitu Pasal 15 menentukan bahwa untuk pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional akan dibuat UU tersendiri ;  Peraturan Pemerintah, Pasal 12(2) ;  Keputusan Presiden, Pasal 25(2), 27(2), 30(2);  Keputusan Menteri, Pasal 31(2), 33, 34 ;  Dan seyogyanya ada UU lagi yang mengatur tentang Kekebalan dan Hak2 Istimewa mengingat UU no 37/1999 hanya memuat 2 pasal saja yaitu pasal 16 dan 17 karena UU no 1 tahun 1982 adalah UU pengesahan bukan UU substantif padahal Vienna Convention on Diplomatic Relations merupakan kaidah hukum baru yang perlu dilaksanakan dalam peraturan perundangundangan nasional kita ; I. Ketentuan Umum Pasal 1 ayat 1, 2 dan 3 ; Pasal 2 : Pancasila, UUD 1945 dan GBHN ; Pasal 3 : Bebas aktif yang diabdikan untuk kepentingan nasional ;

Pasal 4 : Diplomasi yang kreatif, aktif, dan antisipatif, tidak sekedar rutin dan reaktif, teguh dalam prinsip dan pendirian, serta rasional dan luwes dalam pendekatan II. Pelaksanaan Hublu dan Polugri  Pasal 5 : Hublu sesuai Polugri, perU2an nasional, hukum dan kebiasaan internasional ; pemerintah & non pemerintah ;  Pasal 6 : Presiden & DPR ; Presiden delegasikan kpd menlu ; wewenang menlu’  Pasal 7: Presiden tunjuk pejabat lain dan koordinasi dgn Menlu;  Pasal 8 : Kemlu dan perwakilan ;  Pasal 9 : Hubungan diplomatik dan pembukaan perwakilan diplomatik dan konsuler di luar negeri ;  Pasal 10 : pengiriman pasukan dna misi perdasmaian ;  Pasal 11 : Lembaga kebudayaan dan persahabatan bdan promosi dsb di LN ;  Pasal 12 : Lembaga persahabatan dan kebudayaan asing di Indonesia III. Pembuatan dan pengesahan perjanjian internasional  Pasal 13 : Koordinasi dgn Kemlu  Pasal 14 : Full powers dari Menlu  Pasal 15 : Diatur oleh UU tersendiri (UU no 24 tahun 2000) IV. Kekebalan, hak istimewa dan pembebasan  Pasal 16 : pemberian kekebalan, hak istimewa dan pembebasan dari kewajiban tertentu kpd perwakilan diplomatik & konsuler, misi khusus, perwakilan PBB dan OI lainnya dilakukan sesuai dengan peraturan perundang-undangan nasional, hukum dan kebiasaan internasional ;  Pasal 17 : pemberian pembebasan dari kewajiban tertentu kepada pihak2 yg tidak ditentukan pasal 16 dapat dilakukan asalkan berdasarkan peraturan perundang-undangan nasional. V. Perlindungan kepada WNI  Pasal 18 : masalah hukum dgn perwakilan asing di Indonesia ;  Pasal 19 : persatuan dan kerukunan WNI di luar negeri; pengayoman, perlindungan dan bantuan hukum ;  Pasal 20 : sengketa antar WNI ;

 Pasal 21 : WNI terancam bahaya, diamankan dan dipulangkan ;  Pasal 22 : penunjukan koordinator dalam hal terjadi perang dan pemutusan hubungan diplomatik ;  Pasal 23 : kerjasama dgn pemerintah setempat, negara lain dan Organisasi Internasional ;  Pasal 24 : catat keberadaan WNI, surat keterangan kelahiran perkawinan, perceraian dan kematian dan tugas konsuler lainnya. VI. Pemberian suaka dan masalah Pengungsi  Pasal 25 : kewenangan berikan suaka pada Presiden dgn pertimbangan Menlu ;  Pasal 26 : sesuai peraturan perUUan nasional, hukum dan kebiasaan dan praktek internasional  Pasal 27 : pertimbangan Menlu dan diatur dalam Keppres VII. Aparatur hubungan Luar Negeri  Pasal 28 : koordinasi hublu dan polugri oleh Menlu  Pasal 29 : tentang Dutabesar LBBP  Pasal 30 : pejabat lain setingkat Dubes dgn Keppres  Pasal 31 : PDLN dgn Kepmen  Pasal 32 : PDLN, pejabat fungsional, tatacara pengangkatan, hak dan kewajiban PDLN  Pasal 33 : jenjang kepangkatan dan gelar PDLN  Pasal 34 : Hubungan kerja antara Kemlu dan perwakin dgn Kepmen VIII. Pemberian dan penerimaan surat kepercayaan  Pasal 35 : Presiden berikan Surat Kepercayaan dan menerima Surat kepercayaan dari Dubes asing ;  Pasal 36 : wakil RI untuk upacara tertentu di LBN dan konferensi internasional diberikan surat kepercayaan ;  Pasal 37 : Surat Tauliah untuk Konsul RI dan eksekuatur  Pasal 38 : Surat Tauliah Konhon RI dan eksekuatur Mengapa pejabat Kemlu (PDLN, BPKRT dan PK) harus tahu mengetahui UU no 37/1999 dan juga UU no 24/2000

 Karena setelah lebih dari 54tahun kita merdeka Kemlu baru bisa mengatur tentang hubungan luar negeri dan perjanjian internasional ;  Dengan adanya kedua UU tersebut Kemlu mempunyai pegangan yg lebih kuat dalam melakukan koordinasi dengan instansi lain baik pusat maupun daerah; yang menjadikan Kemlu sebagai gerbang pembentukan perjanjian instasi pusat maupun daerah dalam hubungan mereka dengan negara asing  UU yg kita miliki belum sempurna, oleh karena itu di tangan generasi muda Kemlu masih diperlukan penyempurnaan terhadap apa yang sudah kita miliki

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->