P. 1
OCB Dan Stres Terhadap Kinerja

OCB Dan Stres Terhadap Kinerja

5.0

|Views: 3,106|Likes:
Published by Joko Widodo

More info:

Published by: Joko Widodo on Mar 12, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

Organisasi pada umumnya percaya bahwa untuk mencapai keberhasilan

harus mengusahakan kinerja individuyangsetinggi-tingginya, karena pada

dasarnya kinerja individual mempengaruhi kinerja tim atau kelompok kerja dan

pada akhirnyamempengaruhikinerja organisasi secara keseluruhan.Namun

dalam kenyataan sehari-hari, kinerja tinggi bagi pegawai bukanlah hal mudah

untuk dicapai. Banyak hal yang menghalangi seorang pegawai mencapai kinerja

tinggi tersebut.

Untukmencapaikinerja yang setinggi-tingginya dituntut "perilaku sesuai"

karyawan dengan harapan organisasi. Oleh karena itu ada deskripsi formal tentang

perilaku yang harusdikerjakan (perilakuintra-role). Realitasyang ada adalah

banyakperilaku yang tidak terdeskripsi secara formal yang dilakukan oleh

karyawan, misalnyamembantu rekan kerjamenyelesaikan tugas, kesungguhan

dalam mengikuti rapat-rapatperusahaan, sedikit mengeluh banyak bekerja, dan

lain-lain. Perilaku-perilaku ini disebut sebagai perilakuextra-role(Hardaningtyas,

2004).

Perilakuextra-roledalamorganisasijuga dikenal dengan istilah

organizational citizenship behavior (OCB), dan orang yang menampilkan perilaku

OCB disebut sebagai karyawan yang baik (good citizen). Contoh perilaku yang

3

termasuk kelompokOCBadalah membantu rekan kerja, sukarela melakukan

kegiatan ekstra di tempat kerja, menghindari konflik dengan rekan kerja,

melindungi properti organisasi, menghargai peraturan yang berlaku di organisasi,

toleransi pada situasi yang kurang ideal/menyenangkan di tempat kerja, memberi

saran-saran yang membangun di tempat kerja, serta tidak membuang-buang waktu

di tempat kerja (RobbinsdalamElfina P, 2004:105-106).

OCB merupakan istilah yang digunakan untuk mengidentifikasi perilaku

karyawan sehinggadia dapat disebut sebagai “angota yang baik” (Sloat dalam

Novliadi, 2007). Perilaku ini cenderung melihat seseorang (karyawan) sebagai

makhluksosial(menjadi anggota organisasi), dibandingkan sebagai makhluk

individual yang mementingkan diri sendiri. Sebagai makhluksosial, manusia

mempunyai kemampuan untuk memiliki empati kepada orang lain dan

lingkunganya dan menyelaraskan nilai-nilai yang dianutnya dengan nilai-nilai

yang dimiliki lingkungannya untuk melakukan segala sesuatu yang baik manusia

tidak selalu digerakkan oleh hal-hal yang menguntungkan dirinya, misalnya

seseorang mau membantu orang lain jika ada imbalan tertentu. Jika karyawan

dalam organisasi memiliki OCB, maka usaha untuk mengendalikan karyawan

menurun, karena karyawan dapat mengendalikanperilaku sendiri atau mampu

memilih perilaku terbaik untuk kepentingan organisasinya.(Novliadi, 2007)

Di dalam Kantor Akuntan Publik, perilakuextra-roleini sering terjadi,

untuk melakukan sesuatu yang baik,seseorang (karyawan) memang tidak selalu

digerakkan oleh hal-hal yang hanya mementingkan dirinya.Dengan kemampuan

berempati seseorang (karyawan) dapat memahami orang lain dan lingkungannya

4

serta menyelaraskan nilai-nilai individual yang dianutnya dengan nilai-nilai yang

dianut lingkungannya, sehinggamuncul perilaku yangniceyaitu sebagaigood

citizen.Jika karyawandalamorganisasi memilikiOCB,karyawan dapat

mengendalikanperilakunya sendiri sehingga mampu memilih perilaku yang

terbaik untuk kepentingan organisasinya.

Borman dan Motowidlo dalam Novliadi(2007)mengatakan bahwa OCB

dapat meningkatkan kinerja perusahaan (organizational performance) karena

perilaku ini merupakan “pelumas” dari mesinsosialdalam organisasi, dengan kata

lain dengan adanya perilaku ini maka interaksi sosial pada anggota-anggota

organisasi menjadi lancar, mengurangi terjadinya perselisihan, dan meningkatkan

efisiensi.

Dalam zaman kemajuan di segala bidang seperti sekarang ini manusia

semakin sibuk. Di situ pihak peralatan kerja semakin modern dan efisien, dan di

lain pihak beban kerja di satuan-satuan organisasi juga semakin bertambah.

Keadaan ini tentu saja akan menuntut energi karyawan yang lebih besar dari yang

sudah-sudah. Sebagai akibatnya, pengalaman-pengalaman yang disebut stres

dalam taraf yang cukup tinggi menjadisemakin terasa(Qauliyah, 2006).

Pekerjaan yang dilakukan auditor cenderung dikerjakan secara berkelompok

dibanding dikerjakan secara individu, di sinilah kemampuan dalam bekerja secara

kelompokditunjukan. Jikamasing-masingauditor dapat bekerja secara

berkelompok, tentu kinerja yang dihasilkan memuaskan. Tidak jarang auditor

dituntut untuk bekerja secara optimal dalam waktu yang singkat dan berada dalam

5

tekanan seperti keinginan para pemakai jasa, ketidakpuasan atas gaji, beban

pekerjaan yang terlalu berat, suasana kerja yang tidak kondusif, yang

memungkinkan timbulnyastreskerja. Namun faktor-faktor yang mempengaruhi

kinerja karyawan dapat saja berbeda antara satu karyawan dengan karyawan yang

lain, baik dalam profesi yang sama apalagi berbeda(Dwilita, 2008).

Pekerjaan auditor selalu berada dalam tekanan baik keharusan penyelesaian

tugas tepat waktu, waktu penyelesaian tugas yang terbatas, tekanan dari pimpinan,

maupun tekanan yang berasal dari klien (Dwilita, 2008). Hal inilah yang

menyebabkan tingkatstresyang dialami karyawan yang bekerja di kantor akutan

publikdapat meningkat hingga menurunkan kinerja mereka.

Stres mempunyai posisi yang penting dalam kaitannya dengan produktivitas

sumberdaya manusia, dana dan materi. Selain dipengaruhi oleh faktor-faktor yang

ada dalam diri individu, stres juga dipengaruhi oleh faktor-faktor dari organisasi

dan lingkungan. Hal ini perlu disadari dan dipahami. Pemahaman akan sumber-

sumber dan penyebab stres di lingkungan pekerjaan disertai pemahaman terhadap

penanggulangannya adalah penting baik bagi para karyawan maupun para

eksekutif untuk kelangsungan organisasi yang sehat dan efektif.(Nico, 2008)

Menurut segi bahasa stres dapat diartikan sebagai tekanan yaitu istilah

kedokteran sebagai ganguan atau kekacauan mental dan emosional yang

disebabkan oleh faktor-faktor luar, atau tidak adanya kemampuan untuk

menanggulangi kejadian dan reaksi terhadap kejadian itu (Manahan dalam

Dwilita, 2007).Stres merupakan suatu keadaan di mana seseorang mengalami

6

ketegangankarena adanya kondisi-kondisi yang mempengaruhi dirinya, kondisi-

kondisi tersebut dapat diperoleh dari dalam maupun dari luar diri seseorang.

Interaksidenganlingkungan kerja,bukan hanyamembutuhkanstaminafisik tetapi

juga stabilitas emosi yang baik. Karenastreskerja yang tinggi dapatmenimbulkan

berbagai macam konsekuensi, mulai dari gejala fisiologis, gejala psikologis, serta

gejala perilaku yang perlu mendapat perhatian lebih (Robbins,1996).Outcomes

atau hasil yang akan muncul sebagai konsekuensistrestidak hanya berdampak

pada individu tetapi juga akan berpengaruh pada organisasi.

Dampak stres sering menimbulkan masalah bagi tenaga kerja, baik pada

kelompok eksekutif (white collar workers) maupun kelompok pekerja biasa (blue

collar workers). Stres kerjadapat menganggu kesehatan tenaga kerja, baik fisik

maupun emosional. Hal itu juga didukung oleh Sulliyan dan Bhagat (1992) dalam

studi mereka mengenai stres kerja (yang diukur denganrole ambiguity, role

conflict, danrole overload)dan kinerja, pada umumnya ditemukan bahwa stres

berhubungan secara negatif dengan kinerja.(Nico, 2008)

Dwilita (2007) meneliti tentang pengaruh motivasi,stres, dan rekan kerja

terhadap kinerja auditor. Hasil analisisnya menunjukan bahwastreskerjadapat

mempengaruhi kinerja auditorsecara positif, ketikastreskerja meningkat maka

dapat meningkatkan kinerja auditor.

Penelitian lain yang dilakukan olehAndraeni(2003)tentangAnalisis

Pengaruh Stres Kerja terhadap Motivasi Kerja dan Kinerja karyawan. Hasil

analisisnyamenunjukan bahwastresyang terlalu rendah atau terlalu tinggi dapat

7

menyebabkan tingkat (prestasi) kinerja karyawan yang rendah (tidak optimum).

Oleh karena itu,stresyang berlebihan akan menyebabkan karyawan frustasi dan

dapat menurunkan prestasinya, sebaliknyastres yang terlalu rendah menyebabkan

karyawan tidak termotivasi untuk berprestasi.

Berdasarkanpada uraian latar belakang masalah tersebut diatas, maka dapat

diajukansebuah penelitian dengan judul”PengaruhOrganizational Citizenship

BehaviorDan StresKerjaTerhadapKinerja Auditor pada Kantor Akuntan Publik

di Kota Semarang”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->