P. 1
BAB v Perhitungan Efisiensi Dan Kapasitas Produksi

BAB v Perhitungan Efisiensi Dan Kapasitas Produksi

|Views: 5,603|Likes:
Published by heri
laporan kp bab v
laporan kp bab v

More info:

Published by: heri on Mar 13, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/18/2013

pdf

text

original

BAB V Perhitungan Efisiensi Dan Kapasitas Produksi Uap Serta Peluang Meningkatkan Efisiensi Boiler

5.1 Spesifikasi Ketel Uap di PT.KIMIA FARMA Semarang Merek Negara pembuat Model / Type No. Seri Tahun Kapasitas uap maksimal Bahan bakar Tekanan maksimal Luas Pemanas Temperatur uap keluar pada ketel Temperatur air masuk ketel Temperatur gas buang pada cerobong Temperatur udara luar Tekanan udara luar : : : : : : : : : : Loos Gunzenhausen : Jerman Barat

UL 3200 : 1967 : 3200 kg/jam 32706 dan 32707

Heavy Oil 18 kg/cm2 80 m² 3500C 1030C / 2150F : 300C 1 atm 2000C

5.2 Data Ketel Uap di PT.KIMIA FARMA Semarang

Bahan bakar yang digunakan adalah heavy oil (residu) dengan komposisi sebagai berikut:
– – – – – – –

Karbon (C) Hidrogen (H) Oksigen (O) Nitrogen (N) Belerang (S) Abu/ash (A) Kelembaban/moisture (Mm)

: : : : : : :

85,6% 9,7% 1% 1% 2,3% 0,12% 0,28%

Dari data operasional kebutuhan bahan bakar IDO untuk ketel uap, tiap jamnya rata-rata memerlukan 210 kg/jam (Mbb = 210 kg/jam). Sedangkan debit airnya rata-rata 50 m3/24 jam = 2,083 m3/jam.

5.3 Perhitungan Pembakaran 5.3.1 Nilai Pembakaran Bahan Bakar a. Nilai Pembakaran Tinggi Dengan menggunakan persamaan (4.1a) dan data-data di atas kita dapatkan nilai kalor pembakaran tinggi (HHV) sebesar: HHV = 7986C + 33575(H - O/8) + 2190S HHV = 7986×0,856+33575(0,097-0,018)+2190×0,023 = 10101,192 kcal/kgBB = 10101,192 x 4,187 = 42293,690 kJ/kg

b. Nilai Pembakaran Rendah

Dari persamaan (4.1b) maka nilai kalor pembakaran rendah adalah sebagai berikut: LHV = HHV – 600(9H + Mm) LHV = 10101,192-600(9×0,097+0,0028) = 9575,716kcal/kgBB = 9575,712 x 4,187 = 40082,87 kJ/kgBB 5.3.2 Kebutuhan Udara Bahan Bakar
a. Dari persamaan (4.2a) maka didapatkan kebutuhan udara teoritis (Ut):

Ut Ut

= 11,5C + 34,5(H – O/8) + 4,32 S (kg/kgBB) = 11,5×0,856+34,50,097-0,018+4,32×0,003 = 13,247 kg/kgBB

b. Dan dari persamaan (4.2b) didapatkan kebutuhan udara pembakaran sebenarnya

(Us): Us Us = Ut (1+ α) (kg/kgBB) = 13,247(1 + 0,18) = 15,631 kg/kg Dimana α = faktor kelebihan udara 18%

5.3.3 Perhitungan Gas Asap
a. Dari persamaan (4.3b) maka didapatkan berat gas asap teoritis (Gt)

Gt Gt

= Ut + (1 – A)(kg/kgBB) = 13,247 + (1 – 0,00012) = 14,246 kg/kgBB

b. Berat gas asap hasil pembakaran W SO2 = 2S = 2 x 0,0023 = 0,0046 kg/kg BB W CO2 = 3,666 C

= 3,666 x 0,856 = 3,133 kg/kg BB W H2O = 9 x H2 = 9 x 0,097 = 0,873 kg/kg BB W O2 = (23% x 18% )Ut = 0,23 x 0,18 x 13,246 = 0,545 kg + 0,01 = 0,548 kg/kg BB W N2 = 77% x Us = 77% x 15,631 = 12,036 kg/kg BB Dari persamaan (4.3a) didapatkan berat gas asap (basah) sebenarnya (Gs) adalah sebagai berikut: Gs Gs = W CO2 + W SO2 + W H2O + W N2 + W O2 = 0,0046 + 3,133 + 0,873 + 0,548 + 12,036 = 16,636 kg/kg BB Atau dengan persamaan 4.3c: Gs Gs = Us + (1 – A) = 15,631 + (1 – 0,0012) = 16,629 kg/kg BB c. Analisa gas asap basah: Kadar gas = (W gas tersebut / W total gas) x 100%
SO2w=0,004616,636×100%=0,028% CO2w=3,13816,636×100%=18,83% (H2O)w=0,87316,636×100%=5,25% O2w=0,55516,636×100%=3,29% N2w=11,95416,636×100%=72,35%

Berat gas asap kering: Gs kering = Gs basah – w H2O = 16,636 – 0,873

= 15,763 kg/kg BB d. Analisa gas asap kering Kadar gas = (W gas tersebut / W total gas) x 100%
SO2w=0,004615,763×100%=0,029% CO2w=3,13815,763×100%=19,88% O2w=0,55515,763×100%=3,48% N2w=11,95415,763×100%=76,36%

5.3.4 Perhitungan Karbon yang Tidak Terbakar Dari persamaan (4.4a) dan (4.4b) didapatkan massa solid refuse dan prosentase solid refuse abu sebagai berikut: mbb + Us Msr Msr = Gs + Msr = (mbb + Us) - Gs = (1 + 15,631) – 16,629 = 0,002 kg/kgBB
Ar=mbb.AMsr×100% Ar=1×0,00120,002×100%

= 60% Maka dengan persamaan (4.4c) jumlah karbon yang tidak terbakar dalam terak/jelaga adalah: Cr Cr = 100% - Ar = 100% - 60% = 40% dari solid refuse = 40% x 0,002 = 0,0008 kg/kgBB Jumlah massa refuse yang terjadi tiap jamnya (persamaan 4.4d) adalah: Mr Mr = Cr.Mbb (kg/jam) = 0,0008 x 210 = 0,168 kg/jam

5.3.4 Karbon Aktual yang Habis Terbakar (C1) Guna mendapatkan banyaknya karbon sesungguhnya yang habis terbakar didapatkan dengan menggunakan persamaan (4.5):
C1=Mbb×persentase karbon-Mr×crMbb×100 C1=210×85,6-0,168×40210×100

= 0,856 kg/kg BB

5.4 Perhitungan Kerugian Kalor 5.4.1 Kalor Jenis Berdasarkan Senyawa-Senyawa Penyusunnya Harga kalor jenis gas asap pada temperatur 1900C (463K), yaitu penjumlahan kalor jenis senyawa penyusun-penyusunnya. Dengan rincian sebagai berikut: Cgas C(CO2) = kadar gas asap basah x Cp gas = 0,1883 x Cp(CO2) = 0,1883 x 0,845 = 0,160 kJ/kg K C(H2O) = 0,0525 x Cp(H2O) = 0,0525 x 1,867 = 0,0986 kJ/kg K C(SO2) = 0,00028 x Cp(SO2) = 0,00028 x 0,644 = 0,000179 kJ/kg K C(O2) = 0,0329 x Cp(O2) = 0,0329 x 0,917 = 0,0328 kJ/kg K C(N2) = 0,7235 x Cp(N2) = 0,7235 x 1,038 = 0,75 kJ/kg K Sehingga Cp gas asap adalah 1,0504 kJ/kg K

5.4.2 Kerugian Kalor Karena Kelambaban Bahan Bakar Kerugian ini disebabkan karena adanya kandungan air di dalam bahan bakar. Dari table B-2 dan B-1a buku Termodinamika Teknik, Willian C. Reynold Dan Henry C. Perkins, didapatkan: hg hf = entalpi uap super panas pada temperatur gas buang T = 1900C = 3740F pada tekanan atmosfer (1 atm), yaitu 1229,714 btu/lb = entalpi pada temperatur udara ruang T = 300C = 860F, yaitu 54 btu/lb sehingga dari persamaan 4.6a besar kerugian kalor karena kelembaban bahan bakar didapat: Q1 Q1
=Mm.(hg-hf)

= 0,0028(1229,714 – 54) = 3,292 btu/lb BB x 0,556 x 4,187 = 7,6637 kJ/kg BB

Dan apabila kerugian ini dinyatakan dalam prosentase (persamaan 4.7), maka: Q1* Q1* = Q1LHV×100% = 7,663740093,515×100% = 0,0191%

5.4.3 Kerugian Kalor Untuk Menguapkan Lembab Yang Terjadi Akibat Hidrogen (H) Yang Terdapat Dalam Bahan Bakar Q2 = 9Hy(hg – hf) = 9 x 0,097 (1229,714 – 54) = 1026,3983 x 0,556 x 4,187 = 2389,4265 kJ/kg Q2* Q2* = Q2LHV×100% = 2389,426540093,515×100% = 5,956% 5.4.4 Kerugian Kalor Untuk Menguapkan Air Dalam Udara Pembakaran Dengan mengasumsikan bahwa udara yang diserap oleh blower masuk ke dalam ruang bakar mengalami penguapan sebesar 70% dan dari Table XVIII Buku

Steam Air And Gas Power, Williams Servens untuk T = 300C = 860F diperoleh berat air dalam udara kering = 0,027586 maka: Q3 Q3
=Us.Mv.0,6(tg-ta)

= 15,631 x 0,7 x 0,027586 x 0,46(374 – 86) = 39,71629 btu/lb BB = 93,0897kJ/kg BB

Bila dinyatakan dalam prosentase: Q3* Q3* = Q3LHV×100% = 93,089740093,515×100% = 0,2322%

5.4.5 Kerugian Karena Pembakaran Tidak Sempurna Dari persamaan (4.6d) didapatkan: Q4 Q4 Q4*
=COCO2+CO×10160C1

= 00,19165+0×10160C1 =0 = Q4LHV×100% =0

5.4.6 Kerugian Karena Terdapatnya Unsur Karbon Yang Tidak Ikut Terbakar Dalam Sisa Pembakaran. Dari persamaan 4.6e didapatkan Q5 Q5
=14540MrCrMbb

= 14540×0,3704×0,40463,05 = 4,65 btu/lb x 0,556 x 4,187 = 10,833 kJ/kgBB

Bila dinyatakan dalam prosentase: Q5* = Q5LHV×100%

Q5*

= 10,83340093,515×100% = 0,027%

5.4.7 Kerugian Cerobong Untuk menghitung kerugian cerobong ini didapatkan dari persamaan 4.6f: Q6 Q6
=Gs.Cptg-ta

= 16,629 x 1,0504(463 – 303)K = 2794,74 kJ/kg BB

Bila dinyatakan dalam prosentase: Q6* Q6* = Q6LHV×100% = 2794,7440093,515×100% = 6,97%

5.4.8 Kerugian Karena Radiasi Dan Lain-Lain Besarnya didapatkan dengan menggunakan persamaan 4.6g: Q7 = 4% x 40093,515 = 1603,355 kJ/kg BB Bila dinyatakan dengan prosentase: Q7* = 4%

5.5 Perhitungan Efisiensi Ketel Uap Efisiensi ketel uap dapat dicari dengan menggunakan persamaan 4.8: ηku ηku = 100% - (Q1*+ Q2* + Q3* + Q4* + Q5* + Q6* + Q7*) = 100% - (0,0191 + 5,9596 + 0,2322 + 0 + 0,027 + 6,97 + 4)% = 82,794%

5.6 Perhitungan Kapasitas Produksi Uap Untuk mengetahui kapasitas produksi uap ini didapatkan dari persamaan 4.9. Diketahui debit air (Qair) = 2,083 m3/jam dan ρair pada suhu 300C = 995,26 kg/m3 (J.P. Holman, perpindahan kalor, table A-9), sehingga dapat diperoleh kapasitas uap yang dihasilkan: Laju air =ρxQ = 995,26 kg/m3 x 2,0834 m3/jam = 2073,53 kg/jam Faktor koreksi terhadap kotoran/endapan F = 0,93 (syamsir A. Muin, pesawatpesawat konversi energi 1 (ketel uap), gbr.10-11) Mu = 2073,52 x 0,93 = 1928,38 kg/jam Jadi perbandingan jumlah uap yang dihasilkan dengan bahan bakar yang dihabiskan adalah 1928 : 210 = 9,18 : 1 kg uap/kg BB

5.7 Efisiensi Berdasarkan Neraca Kalor η= Q1+Q2Q3×100% Data: T1 T2 m hfg : 800C : 3500C : 2073,53 kg/jam = 4571,35 lbm/jam : 1935,0 kJ/kg

Cp Mbb

: 1,86 kJ/kgK : 210 kg/jam

LHV : 40093,515 kJ/kg BB
➢ Kalor pada perubahan temperature (Q1)

Q1

= m x Cp x ΔT = 2073,53 kg/jam x 1,86 kJ/kgK x (350 – 80)K = 1041326,766 kJ/jam

➢ Kalor pada perubahan entalpi (Q2)

Q2

= m x hfg = 2073,53 kg/jam x 1935 kJ/kg = 4012280,55 kJ/jam

➢ Kalor pada bahan bakar (Q3)

Q3

= Mbb x LHV = 210 kg/jam x 40093,515 kJ/kg = 8417612,7 kJ/jam

Sehingga : η η = Q1+Q2Q3×100% = 1041326,766+4012280,558417612,7×100% = 60,036%

5.8 Peluang Meningkatkan Efisiensi Boiler Setelah menghitung berapa besar efisiensi boiler, selanjutnya kita menghitung peluang untuk meningkatkan efisiensi energi hubungannya dengan pembakaran perpindahan panas, kehilangan yang dapat dihindarkan, konsumsi energi untuk alat pembantu, kualitas air dan blowdown. Kehilangan energi dan peluang efisiensi energi dalam boiler dapat dihubungkan dengan pembakaran, perpindahan panas, kehilangan yang dapat

dihindarkan, konsumsi energi yang tinggi untuk alat-alat pembantu, kualitas air dan blowdown Berbagai macam peluang efisiensi energi dalam sistim boiler dapat dihubungkan dengan: 1. Pengendalian suhu cerobong
2. Pemanasan awal air umpan menggunakan economizers

3. Pemanas awal udara pembakaran 4. Minimalisasi pembakaran yang tidak sempurna 5. Pengendalian udara berlebih 6. Penghindaran kehilangan panas radiasi dan konveksi
7. Pengendalian blowdown secara otomatis

8. Pengurangan pembentukan kerak dan kehilangan jelaga 9. Pengurangan tekanan steam di boiler 10. Pengendalian kecepatan variabel untuk fan, blower dan pompa 11. Pengendalian beban boiler 12. Penjadwalan boiler yang tepat 13. Penggantian boiler Semua hal diatas tersebut dijelaskan pada bagian dibawah ini.

5.8.1 Pengendalian Suhu Cerobong
Suhu cerobong harus serendah mungkin. Walau demikian, suhu tersebut tidak boleh terlalu rendah sehingga uap air akan mengembun pada dinding cerobong. Hal ini penting bagi bahan bakar yang mengandung sulfur dimana pada suhu rendah akan mengakibatkan korosi titik embun sulfur. Suhu cerobong yang lebih besar dari 200°C menandakan adanya potensi untuk pemanfaatan kembali limbah panasnya. Hal ini juga menandakan telah terjadi pembentukan kerak pada peralatan perpindahan/ pemanfaatan panas dan sebaiknya dilakukan shut down lebih awal untuk pembersihan air / sisi cerobong.

5.8.2 Pemanasan Awal Air Umpan menggunakan Economizers

Biasanya, gas buang yang meninggalkan shell boiler modern 3 pass bersuhu 200 hingga 3000C. Jadi, terdapat potensi untuk memanfaatkan kembali panas dari gas-gas tersebut. Gas buang yang keluar dari sebuah boiler biasanya dijaga minimal pada 2000C, sehingga sulfur oksida dalam gas buang tidak mengembun dan menyebabkan korosi pada permukaan perpindahan panas. Jika digunakan bahan bakar yang bersih seperti gas alam, LPG atau minyak gas, ekonomi pemanfaatan kembali panasnya harus ditentukan sebagaimana suhu gas buangnya mungkin dibawah 2000C. Potensi penghematan energinya tergantung pada jenis boiler terpasang dan bahan bakar yang digunakan. Untuk shell boiler dengan model lebih tua, dengan suhu gas cerobong keluar 2600C, harus digunakan sebuah economizer untuk menurukan suhunya hingga 2000C, yang akan meningkatkan suhu air umpan sebesar 150C. Kenaikan dalam efisiensi termis akan mencapai 3 persen. Untuk shell boiler modern dengan 3 pass yang berbahan bakar gas alam dengan suhu gas cerobong yang keluar 1400C, sebuah economizer pengembun akan menurunkan suhu hingga 650C serta meningkatkan efisiensi termis sebesar 5 persen.

5.8.3 Pemanasan Awal Udara Pembakaran
Pemanasan awal udara pembakaran merupakan sebuah alternatif terhadap pemanasan air umpan. Dalam rangka untuk meningkatkan efisiensi termis sebesar 1 persen, suhu udara pembakaran harus dinaikkan 200C. Hampir kebanyakan burner minyak bakar dan gas yang digunakan dalam sebuah plant boiler tidak dirancang untuk suhu pemanas awal udara yang tinggi. Burner yang modern dapat tahan terhadap pemanas awal udara pembakaran yang lebih tinggi, sehingga memungkinkan untuk mempertimbangkan unit seperti itu sebagai penukar panas pada gas buang keluar, sebagai suatu alternatif terhadap economizer, jika ruang atau suhu air umpan kembali yang tinggi memungkinkan.

5.8.4 Pembakaran yang Tidak Sempurna
Pembakaran yang tidak sempurna dapat timbul dari kekurangan udara atau kelebihan bahan bakar atau buruknya pendistribusian bahan bakar. Hal ini nyata terlihat dari warna atau asap, dan harus segera diperbaiki. Dalam sistim pembakaran minyak dan gas, adanya CO atau asap (hanya untuk sistim pembakaran minyak) dengan udara normal atau sangat berlebih menandakan adanya masalah pada sistim burner. Terjadinya pembakaran yang tidak sempurna disebabkan jeleknya pencampuran udara dan bahan bakar pada burner. Jeleknya pembakaran minyak dapat diakibatkan dari viskositas yang tidak tepat, ujung burner yang rusak, karbonisasi pada ujung burner dan kerusakan pada diffusers atau pelat spinner. Pada pembakaran batubara, karbon yang tidak terbakar dapat merupakan kehilangan yang besar. Hal ini terjadi pada saat dibawa oleh grit atau adanya karbon dalam abu dan dapatmencapai lebih dari 2 persen dari panas yang dipasok ke boiler. Ukuran bahan bakar yang tidak seragam dapat juga menjadi penyebab tidak sempurnanya pembakaran. Pada chain grate stokers, bongkahan besar tidak akan terbakar sempurna, sementara potongan yang kecil dan halus apat menghambat aliran udara, sehingga menyebabkan buruknya distribusi udara. Pada sprinkler stokers, kondisi grate stoker, distributor bahan bakar, pengaturan udara dan sistim pembakaran berlebihan dapat mempengaruhi kehilangan karbon. Meningkatnya partikel halus pada batubara juga meningkatkan kehilangan karbon.

5.8.5 Pengendalian Udara Berlebih
Tabel dibawah memberikan jumlah teoritis udara pembakaran yang diperlukan untuk berbagai jenis bahan bakar.

Udara berlebih diperlukan pada seluruh praktek pembakaran untuk menjamin pembakaran yang sempurna, untuk memperoleh variasi pembakaran dan untuk menjamin kondisi cerobong yang memuaskan untuk beberapa bahan bakar. Tingkat optimal udara berlebih untuk efisiensi boiler yang maksimum terjadi bila jumlah kehilangan yang diakibatkan pembakaran yang tidak sempurna dan kehilangan yang disebabkan oleh panas dalam gas buang diminimalkan. Tingkatan ini berbeda-beda tergantung rancangan tungku, jenis burner, bahan bakar dan variabel proses. Hal ini dapat ditentukan dengan melakukan berbagai uji dengan perbandingan bahan bakar dan udara yang berbeda-beda.

DATA PEMBAKARAN TEORITIS–BAHAN BAKAR BOILER BIASA (Badan Produktivitas Nasional, pengalaman lapangan) Bahan bakar kg udara yang diperlukan/kg bahan bakar Bahan bakar padat Bagas Batubara (bituminus) Lignit Sekam Padi Kayu Bahan bakar cair Minyak Bakar LSHS 13,8 14,1 9-14 9-14 3,3 10,7 8,5 4,5 5,7 10-12 10-13 9 -13 14-15 11,13 Persen CO2 dalam gas buang yang dicapai dalam praktek

JUMLAH UDARA BERLEBIH UNTUK BERBAGAI BAHAN BAKAR

(Badan Produktivitas Nasional, pengalaman lapangan) Bahan bakar Jenis Tungku atau Burners Udara Berlebih (persen berat) Batubara halus Tungku dengan pendingin air lengkap untuk penghilangan kerak pada kran atau abu kering Tungku kering Batubara Spreader stoker Water-cooler stokers Chain-grate and traveling-grate stokers Underfeed stoker Bahan bakar minyak Burner minyak, jenis register Burner multi-bahan bakar dan nyala datar Gas alam Kayu Burner tekanan tinggi Dutch over (10-23 persen melalui grate) dan jenis Hofft Bagas Black liquor Semua tungku Tubgku pemanfaatan kembali untuk proses draft dan soda-pulping Pengendalian udara berlebih pada tingkat yang optimal selalu mengakibatkan penurunan dalam kehilangan gas buang; untuk setiap penurunan 1 persen udara berlebih terdapat kenaikan efisiensi kurang lebih 0,6 persen. 25-35 30-40 5-7 20-25 20-50 15-20 20-30 15-50 vibrating-grate 30-60 30-60 dengan pendingin air 15-40 15-20

sebagian untuk penghilangan abu

Berbagai macam metode yang tersedia untuk mengendalikan udara berlebih:
➢ Alat analisis oksigen portable dan draft gauges dapat digunakan untuk

membuat pembacaan berkala untuk menuntun operator menyetel secara manual aliran udara untuk operasi yang optimum. Penurunan udara berlebih hingga 20 persen adalah memungkinkan. ➢ Metode yang paling umum adalah penganalisis oksigen secara sinambung dengan pembacaan langsung ditempat, dimana operator dapat menyetel aliran udara. Penurunan lebih lanjut 10 – 15% dapat dicapai melebihi sistim sebelumnya.
➢ Alat analisis oksigen sinambung yang sama dapat memiliki pneumatic

damper positioned yang dikedalikan dengan alat pengendali jarak jauh, dimana pembacaan data tersedia di ruang kendali. Hal ini membuat operator mampu mengendalikan sejumlah sistim pengapian dari jarak jauh secara serentak. Sistim yang paling canggih adalah pengendalian damper cerobong otomatis, yang karena harganya hanya diperuntukkan bagi sistim yang besar.

5.8.6 Minimalisasi Kehilangan Panas Radiasi dan Konveksi
Permukaan luar shell boiler lebih panas daripada sekitarnya. Jadi, permukaan melepaskan panas ke lingkungan terga ntung pada luas permukaan dan perbedaan suhu antara permukaan dan lingkungan sekitarnya. Panas yang hilang dari shell boiler biasanya merupakan kehilangan energi yang sudah tertentu, terlepas dari keluaran boiler. Dengan rancangan boiler yang modern, kehilangan ini hanya 1,5 persen dari nilai kalor kotor pada kecepatan penuh, namun akan meningkat ke sekitar 6 persen jika boiler beroperasi hanya pada keluaran 25 persen. Perbaikan atau pembesaran isolasi dapat mengurangi kehilangan panas pada dinding boiler dan pemipaan.

5.8.7 Pengendalian Blowdown Otomatis
Blowdown kontinyu yang tidak terkendali sangatlah sia-sia. Pengendali blowdown otomatis dapat dipasang yang merupakan sensor dan merespon pada konduktivitas air boiler dan pH. Blowdown 10 persen dalam boiler 15 kg/cm2 menghasilkan kehilangan efisiensi 3 persen.

5.8.8 Pengurangan Pembentukan Kerak dan Kehilangan Jelaga
Pada boiler yang berbahan bakar minyak dan batubara, jelaga yang terbentuk pada pipa-pipa bertindak sebagai isolator terhadap perpindahan panas, sehingga endapan tersebut harusdihilangkan secara teratur. Suhu cerobong yang meningkat dapat menandakan pembentukan jelaga yang berlebihan. Hasil yang sama juga akan terjadi karena pembentukan kerak pada sisi air. Suhu gas keluar yang tinggi pada udara berlebih yang normal menandakan buruknya kineja perpindahan panas. Kondisi ini dapat diakibatkan dari pembentukan endapan secara bertahap pada sisi gas atau sisi air. Pembentukan endapan pada sisi air memerlukan sebuah tinjauan pada cara pengolahan air dan pembersihan pipa untuk menghilangkan endapan. Diperkirakan kehilangan efisiensi 1 persen terjadi pada setiap kenaikan suhu cerobong 220C. Suhu cerobong harus diperiksa dan dicatat secara teratur sebagai indikator pengendapan jelaga. Bila suhu gas meningkat ke sekitar 200C diatas suhu boiler yang baru dibersihkan, maka waktunya untuk membuang endapan jelaga. Oleh karena itu direkomendasikan untuk memasang termometer jenis dial pada dasar cerobong untuk memantau suhu gas keluar cerobong. Diperkirakan bahwa 3 mm jelaga dapat mengakibatkan kenaikan pemakaian bahan bakar sebesar 2,5 persen disebabkan suhu gas cerobong yang meningkat. Pembersihan berkala pada permukaan tungku radiant, pipa-pipa

boiler, economizers dan pemanas udara mungkin perlu untuk menghilangkan endapan yang sulit dihilangkan tersebut

5.8.9 Penurunan Tekanan Steam pada Boiler
Hal ini merupakan cara yang efektif dalam mengurangi pemakaian bahan bakar, jika diperbolehkan, sebesar 1 hingga 2 persen. Tekanan steam yang lebih rendah memberikan suhu steam jenuh yang lebih rendah dan tanpa pemanfaatan kembali panas cerobong, dimana dihasilkan penurunan suhu pada gas buang. Steam dihasilkan pada tekanan yang sesuai permintaan suhu/tekanan tertinggi untuk proses tertentu. Dalam beberapa kasus, proses tidak beroperasi ssepanjang waktu dan terdapat jangka waktu dimana tekanan boiler harus diturunkan. Namun harus diingat bahwa penurunan tekanan boiler akan menurunkan volum spesifik steam dalam boiler,dan secara efektif mende-aerasi keluaran boiler. Jika beban steam melebihi keluaran boiler yang terdeaerasi, pemindahan air akan terjadi. Oleh karena itu, manajer energi harus memikirkan akibat yang mungkin timbul dari penurunan tekanan secara hati- hati, sebelum merekomendasikan hal itu. Tekanan harus dikurangi secara bertahap, dan harus dipertimbangkan tidak boleh lebih dari 20 persen penurunan.

5.8. 10 Pengendali Kecepatan Variable Fan, Blower dan Pompa
Pengendali kecepatan variabel merupakan cara penting dalam mendapatkan penghematan energi. Umumnya, pengendalian udara pembakaran dipengaruhi oleh klep penutup damper yang dipasang pada fan forced dan induced draft. Dampers tipe terdahulu berupa alat kendali yang sederhana, kurang teliti, memberikan karakteristik kendali yang buruk pada kisaran operasi atas dan bawah. Umumnya, jika karakteristik beban boiler bervariasi, harus dievaluasi kemungkinan mengganti damper dengan VSD.

5.8.11 Pengendalian Beban Boiler

Efisiensi maksimum boiler tidak terjadi pada beban penuh akan tetapi pada sekitar dua pertiga dari beban penuh. Jika beban pada boiler berkurang terus maka efisiensi juga cenderung berkurang. Pada keluaran nol, efisiensi boilernya nol, dan berapapun banyaknya bahan bakar yang digunakan hanya untuk memasok kehilangan-kehilangan. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi boiler adalah:
➢ Ketika beban jatuh, begitu juga halnya dengan nilai laju aliran massa gas buang

yang melalui pipa-pipa. Penurunan dalam laju alir untuk area perpindahan panas yang sama mengurangi suhu gas buang keluar cerobong dengan jumlah yang kecil, mengurangi kehilangan panas sensible.
➢ Beban

dibawah separuhnya, hampir kebanyakan peralatan pembakaran

memerlukan udara berlebih yang lebih banyak untuk membakar bahan bakar secara sempurna. Hal ini meningkatkan kehilangan panas sensible. Umumnya, efisiensi boiler berkurang dibawah 25 persen laju beban dan operasi boiler dibawah tingkatan ini harus dihindarkan sejauh mungkin.

5.8.12 Penjadwalan Boiler Tepat Waktu
Karena efisiensi optimum boiler terjadi pada 65-85 persen dari beban penuh, biasanya akan lebih efisien, secara keseluruhan, untuk mengoperasikan lebih sedikit boiler pada beban yang lebih tinggi daripada mengoperasikan dalam jumlah banyak pada beban yang rendah

5.8.13 Penggantian Boiler
Potensi penghematan dari penggantian sebuah boiler tergantung pada perubahan yang sudah diantisipasi pada efisiensi keseluruhan. Suatu perubahan dalam boiler dapat menarik secara finansial jika boiler yang ada: ➢ Tua dan tidak efisien
➢ Tidak mampu mengganti bahan bakar yang lebih murah dalam pembakarannya

➢ Ukurannya melampaui atau dibawah persyaratan yang ada

➢ Tidak dirancang untuk kondisi pembebanan yang ideal Studi kelayakan harus menguji seluruh implikasi bahan bakar jangka panjang dan rencana pertumbuhan perusahaan. Harus dipertimbangkan seluruh faktor keuangan dan rekayasa. Karena plant boiler secara tradisional memiliki umur pakai lebih dari 25 tahun, penggantian harus dipelajari secara hati-hati.

5.8.14 Aturan umum (“Rules of Thumb”)
➢ Penurunan 5 persen udara berlebih meningkatkan efisiensi boiler sebesar 1

persen (atau 1 persen penurunan residu oksigen dalam gas cerobong meningkatkan efisiensi boiler sebesar 1 persen). ➢ Penurunan suhu gas buang sebesar 22 °C meningkatkan efisiensi boiler 1 persen.
➢ Kenaikan 6 °C suhu air umpan karena penggunaan economizer/pemanfaatan

kembali kondensat, terdapat penghematan bahan bakar boiler 1 persen.
➢ Kenaikan 20 °C suhu udara pembakaran, yang dipanaskan awal oleh

pemanfaatan kembali limbah panas, menghasilkan penghematan bahan bakar 1 persen.
➢ Lubang berdiameter 3 mm pada pipa steam 7 kg/cm2 akan memboroskan 32.650

liter bahan bakar minyak per tahun.
➢ Pipa steam 100 m yang terbuka dengan diameter 150 mm yang membawa steam

jenuh pada tekanan 8 kg/cm2 akan memboroskan 25 000 liter bahan bakar minyak per tahun.
➢ Kehilangan panas sebesar 70 persen dapat diturunkan dengan mengambangkan

bola plastik polipropilen berdiameter 45 mm pada permukaan cairan/kondensat panas bersuhu 90 °C.
➢ Fim udara setebal 0,25 mm memberikan resistansi terhadap perpindahan panas

yang sama dengan dinding tembaga dengan setebal 330 mm.
➢ Endapan jelaga 3 mm pada permukaan perpindahan panas dapat menyebabkan

kenaikan pemakaian bahan bakar sebesar 2,5 persen.
➢ Endapan kerak setebal 1 mm pada sisi air dapat meningkatkan pemakaian bahan

bakar 5 hingga 8 persen.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->