P. 1
Periodisasi an Budaya Pada Masyarakat Awal Indonesia Untuk Mpp2003

Periodisasi an Budaya Pada Masyarakat Awal Indonesia Untuk Mpp2003

|Views: 501|Likes:
Published by apriganteng

More info:

Published by: apriganteng on Mar 16, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/15/2013

pdf

text

original

PERIODISASI PERKEMBANGAN BUDAYA PADA MASYARAKAT AWAL INDONESIA

PERIODISASI PERKEMBANGAN ANGGOTA KELOMPOK: BUDAYA PADA MASYARAKAT AWAL 1. ANDIKA ANUGERAH 2. KASIFUL APRIANTO INDONESIA 3. M. FIKRI FARRASWAN
4. ROPI PERDANA PUTRA

SMA NEGERI 1 PADANG PANJANG TAHUN PELAJARAN 2009 / 2010

JAMAN BATU

JAMAN LOGAM
TEMBAGA PERUNGGU BESI

Zaman BATU
Zaman batu terdiri atas 1. Jaman Batu Tua (Paleolithikum) 2. Jaman Batu Madya (Mesolithikum), dan 3. Jaman Batu Muda (Neolithikum)

PALEOLITIKUM
Jaman Batu Tua (Paleothikum)
‡ Alat-alat batu yang digunakan pada masa jaman Paleothikum masih sangat kasar karena teknik pembuatannya masih sangat sederhana. Alat-alat bantu ini dibuat dengan cara membenturkan antara batu yang satu dengan batu yang lainnya. Pecahan batu yang menyerupai bentuk kapak, mereka gunakan sebagai alat. Ada pula alat yang dipangkas dengan rapi sebelum digunakan. Hasil budaya jaman Paleothikum adalah sebagai berikut. ‡ Alat-alat yang terbuat dari batu yang masih kuat, berupa kapak genggam, yaitu kapak tidak bertangkai yang digunakan dengan cara menggenggam dan berfungsi untuk menggali umbi, memotong, dan menguliti binatang. Kapak perimbas (chopper) berfungsi untuk meribas kayu, memecah tulang, dan sebagai senjata. Alat-alat ini banyak ditemukan di daerah Pacitan, sehingga Ralph Von Koeningswald menyebutnya Kebudayaan Pacitan. Selain di Pacitan alat-alat tersebut juga ditemukan di Gombong (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), Lahat (Sumatera Selatan).

Pendukung kebudayaan Pacitan adalah Pithecanthropus erectus, dengan alas an sebagai berikut : ‡ a) Alat-alat dari Pacitan pada lapisan yang sama dengan Pithecanthropus erectus, yaitu pada pleistosen tengah (lapisan dan fauna Trinil) ‡ b) Di Chou-Kou-Tien, Cina ditemukan sejumlah fosil sejenis Pithecanthropus erectus, yaitu Sinanthropus pekinesis. Bersama fosil-fosil ini ditemukan alat-alat batu yang serupa dengan alat-alat batu dari Pacitan. ± Alat-alat dari tulang dan tanduk binatang berupa alat penusuk (belati), ujung tombak dengan gergaji pada kedua sisinya, alat pengorek ubi dan keladi, tanduk menjangan yang diruncingkan, serta duri ikan pari yang digunakan sebagai mata tombak. ‡ 2. Alat serpih (flakes), terbuat dari batu yang bentuknya kecil, ada yang terbuat dari batu induk (kalsdon). Biasanya digunakan untuk mengiris daging atau memotong umbiumbian dan buah-buahan.

‡ Pendukung kedua kebudayaan ini adalah Homo Soloensis dan Homo Wajakensis, dengan alasan sebagai berikut, a. Di Ngadirejo Sambung Macan Sragen ditemukan kapak genggam bersama tulangtulang binatang dan atap tengkorak Homo Soloensis. b. Alat-alat dari Ngandong berasal dari lapisan yang sama dengan Homo Wajakensis yaitu pleistosen atas.

MESOLITIKUM
Perkembangan kebudayaan pada jaman ini berlangsung lebih cepat daripada jaman Batu Tua. Hal tersebut disebabkan oleh factor-faktor diantaranya, pendukung kebudayaan jaman ini adalah manusia cerdas (Homo Sapiens). Keadaan alam saat itu sudah tidak seliar dan selabil jaman batu tua. Manusia telah mencapai tingkat kebudayaan yang jauh lebih tinggi daripada yang telah dicapai manusia purba pada jaman Paleothikum selama 600.000 tahun. Pada jaman ini alat-alat dari batu sudah mulai digosok meskipun belum halus. Manusia pendukung jaman ini adalah Homo Sapiens khusunya Ras Papua Melanesoid

‡

‡

Hasil kebudayaan masa jaman Mesolithikum antara lain sebagai berikut : ± Kapak Sumatra (Pebble) sejenis kapak genggam yang sudah digosok, tetapi belum sampai halus. Kapak ini terbuat dari batu kali yang dipecah atau dibelah. Jenis kapak ini banyak ditemukan pada kyokkenmoddinger di sepanjang pantai Sumatra Timur Laut antara Langsa (Aceh) dengan Medan (Sumatra Utara). ± Batu pipisan, terdiri atas batu penggiling dengan landasannya. Batu ini digunakan untuk menggiling makanan, menghaluskan cat merah (seperti tampak dari bekas-bekasnya). ± Kyokkenmoddinger, sampah dapur (bahasa Denmark), kyoken artinya dapur dan modding yang artinya sampah. Sampah ini berwujud kulit siput dan kerang yang menumpuk yang menumpuk ribuan tahun sehingga membentuk bukit, tingginya kadang-kadang mencapai tujuh meter dan sudah menjadi fosil. Penelitian ini dilakukan oleh Dr. Van Stein Callenfels pada tahun 1925, disepanjang pantai Sumatra Timur Laut. Pendukung kebudayaan ini adalah manusia Papua Melanesoid. Abris Sours Roche adalah tempat tinggal jaman prasejarah yang berwujud gua-gua dan ceruk-ceruk di dalam batu karang untuk berlindung.

NEOLITIKUM
Perkembangan kebudayaan pada jaman batu muda sudah sangat maju daripada jaman-jaman sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh adanya migrasi secara bergelombang penduduk ProtoMelayu dari Yunan, Cina Selatan ke Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Pendatang baru tersebut membawa kebudayaan kapak persegi. Peninggalan kebudayaan jaman Neolithikum hamper di seluruh Kepulauan Nusantara sehingga menurut R Soekmono, kebudayaan Neolithikum inilah yang menjadi dasar kebudayaan Indonesia sekarang

Pada jaman Neolithikum, peralatan dari batu sudah digosok halus karena mereka sudah mengenal teknik mengasah dan mengumpam. Peralatan yang dihasilkan pada jaman Neolithikum, anatara lain sebagai berikut :
‡ 1. Kapak persegi, pemberian nama kapak persegi ini berasal dari Von Heine Geldern, yaitu kapak yang berbentuk memanjang dengan penampang lintangnya berbentuk persegi panjang atas trapezium. Kapak-kapak persegi ini, terutama ditemukan di Indonesia bagian barat, yaitu Sumatra, Jawa, dan Bali. Di Indonesia bagian Timur ditemukan di Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, dan sedikit di Kalimantan. Berdasarkan penemuan yang ada, dapat disimpulkan bahwa penyebaran kebudayaan kapak persegi dari Asia Daratan ke kepulauan Nusantara melalui jalan Barat, yaitu dari Asia (Yunan, Cina Selatan) ke Asia Tenggara, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, dan Maluku 2. Kapak Lonjong, kapak yang penampangnya berbentuk lonjong dan bulat telur. Pada ujungnya yang lancip ditempatkan tangkai, kemudian diikat menyiku. Kapak lonjong yang besar disebut Walzenbeil dan yang kecil disebut keinbeil. 3. Perhiasan, antara lain berwujud gelang, kalung, anting-anting yang bahan bakunya dari batubatu indah dan kalsedon. 4. Tembikar, pecahan-pecahan tembikar ditemukan pada lapisan atas kyokkenmoddinger di Sumatera. 5. Pakaian, hiasan tembikar yang bermotif tenunan membuktikan bahwa masyarakat prasejarah sudah mengenal pakaian.

‡

‡

‡

‡

MEGALITIKUM
Kebudayaan Megalithikum adalah kebudayaan yang utamanya menghasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar dan masif. Bangunan Megalithikum ini digunakan sebagai sarana penghormatan dan pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Kebudayaan Megalithikum muncul pada jaman Neolithikum dan berkembang luas pada jaman logam. Penemuan bangunan Megalithikum tersebar hampir di seluruh kepulauan Nusantara, bahkan sampai sekarangpun masih ditemukan tradisi Megalithikum, seperti terdapat di Pulau Nias, Sumba, Flores, dan Toraja.

Hasil-hasil terpenting dari kebudayaan Megalithikum adalah sebagai berikut :

‡

‡ ‡ ‡

‡ ‡

1. Menhir, yaitu tiang atau tugu yang terbuat dari batu tunggal dan ditempatkan pada suatu tempat. Menhir berfungsi sebagai tempat pemujaan terhadap arwah nenek moyang, tempat memperingati seseorang (kepala suku) yang telah meninggal, tempat menampung kedatangan roh. Menhir banyak ditemukan di paseman, Sumatera Selatan. 2. Punden berundak, yaitu bangunan pemujaan yang bertingkat-tingkat (berundak-undak). 3. Dolmen, yaitu meja batu sebagai tempat sesaji dan sebagai kubur batu. 4. Kubur peti batu, yaitu peti jenazah yang terpendam di dalam tanah berbentuk persegi panjang dan sisi-sisinya dibuat dari lempengan-lempengan batu. Kubur peti batu banyak ditemukan di kuningan, Jawa Barat. 5. Sarkofagus atau keranda, yaitu peti jenazah yang berbentuk seperti palung atau lesung, tetapi mempunyai tutup. 6. Waruga adalah peti jenazah kecil yang berbentuk kubus dan ditutup dengan batu lain yang berbentuk atap rumah.

Zaman LOGAM
Disebut sebagai jaman logam karena pada saat itu semua peralatan manusia sebagian besar terbuat dari logam.

Jaman logam dibagi menjadi:
‡ Jaman Tembaga ‡ Jaman Perunggu ‡ Jaman Besi

Jaman Tembaga
‡ Jaman tembaga merupakan jaman awal manusia mengenal peralatan dari logam. Namaun jaman ini tidak banyak membawa pengaruh terhadap perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia. Jaman logam berkembang di luar wilayah Indonesia seperti Semenanjung Malaka, Kamboja, Muangthai, dan Vietnam.

Jaman Perunggu
‡ Kebudayaan perunggu yang berkembang di Indonesia disebut dengan kebudayaan Dong Son. Hal ini sesuai dengan para pakar bahwa kebudayaan perunggu di Indonesia berasal dari Dong Song Vietnam. ‡ Dengan dikenalnya perunggu, Bangsa Indonesia memiliki kepandaian baru, yaitu menuang perunggu karena perunggu tidak dapat dipukulpukul atau dipecah-pecah seperti membuat alat dari batu. Perunggu harus dilebur dulu menjadi cairan perunggu baru dicetak sesuai kebutuhan.

Hasil Kebudayaan Jaman Perunggu :
‡ ‡ ‡ ‡ ‡ ‡

1. 2. 3. 4. 5. 6.

Nekara Bejana Perunggu Kapak Corong Arca Perunggu Benda-benda perunggu Gerabah dan manik-manik

Jaman Besi
‡ Benda-benda dari besi pada jaman logam atau perundagian banyak ditemukan di Indonesia, tetapi banyak yang rusak atau hancur karena mudah karatan dan termakan cuaca. Benda besi umumnya ditemukan sebagai benda bekal kubur seperti yang ditemukan di daerah Wonosari (Jawa Tengah) dan Besuki (Jawa Timur). Jenis peralatan besi yang ditemukan di Indonesia antara lain mata kapak, pisau, ujung tombak, gelang, dan pedang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->