P. 1
Mobilisasi Dan Posisi

Mobilisasi Dan Posisi

5.0

|Views: 19,985|Likes:
Published by yusvera
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan izinNya juga sehingga kami dapat menyelesaikan tugas yang berjudul ³Ketrampilan dasar praktik Klinik untuk kebidanan yang membahas khususnya sub bahasan tentang mobilisasi dan pengaturan posisi´. Alhamdullilah tugas ini dapat diselesaikan dengan lancar. Penulisan tugas ini selain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengasuh mata kuliah juga sebagai salah satu sarana bagi penyusun
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan izinNya juga sehingga kami dapat menyelesaikan tugas yang berjudul ³Ketrampilan dasar praktik Klinik untuk kebidanan yang membahas khususnya sub bahasan tentang mobilisasi dan pengaturan posisi´. Alhamdullilah tugas ini dapat diselesaikan dengan lancar. Penulisan tugas ini selain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengasuh mata kuliah juga sebagai salah satu sarana bagi penyusun

More info:

Published by: yusvera on Mar 17, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX or read online from Scribd
See more
See less

07/04/2013

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat dan izinNya juga sehingga kami dapat menyelesaikan tugas yang berjudul ³Ketrampilan dasar praktik Klinik untuk kebidanan yang membahas khususnya sub bahasan tentang mobilisasi dan pengaturan posisi´. Alhamdullilah tugas ini dapat diselesaikan dengan lancar. Penulisan tugas ini selain bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan oleh dosen pengasuh mata kuliah juga sebagai salah satu sarana bagi penyusun untuk lebih dapat memahami tentang fungsi dan tujuan mobilisasi dan pengaturan posisi sebagai ketrampilan dasar yang sangat dibutuhkan bagi tenaga paramedis. Tugas ini penulis susun dari hasil studi pustaka yang penulis peroleh dari buku yang berkaitan dengan KDPK dan berbagai sumber tulisan yang menbahas tentang mobilisasi dan pengaturan posisi pada praktik klinik, tak lupa penyusun ucapkan terima kasih kepada pengajar mata kuliah atas bimbingan dan arahan dalam penulisan tugas ini. Juga kepada rekan-rekan yang telah membantu baik materi maupun moril sehingga tugas ini dapat terselesaikan. Saya berharap, dengan membaca tugas yang saya susun ini dapat memberi manfaat bagi kita semua, dalam hal ini dapat menambah wawasan kita tentang KDPK khususnya masalah mobilitas dan pengaturan posisi. Memang tugas ini masih jauh dari sempurna, maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Manna, Januari 2010 Penulis

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

LATAR BELAKANG. Manusia selalu berusaha untuk mempertahankan keseimbangan

hidupnya. Untuk mempertahankan keseimbangan tersebut manusia mempunyai kebutuhan tertentu yang harus terpenuhi dengan baik. Abraham Maslow mengemukakan Teori Hierarki Kebutuhan yang menyatakan bahwa setiap manusia memiliki lima kebutuhan dasar, yaitu: Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan paling dasar pada manusia, Kebutuhan rasa aman dan perlindungan dibagi menjadi : a) Perlindunngan fisik meliputi perlindungan atas ancaman

terhadap tubuh atau hidup, b) Perlindungan psikologis, yaitu perlindungan atas ancaman dari pengalaman yang baru dan asing. Kebutuhan rasa cinta, yaitu kebutuhan untuk memiliki dan dimiliki. Kebutuhan akan harga diri maupun perasaan dihargai oleh orang lain. Kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan tertinggi dalam hierarki Maslow, berupa kebutuhan. Manusia memiliki kebutuhan dasar yang bersifat heterogen. Pada dasarnya, setiap orang memiliki kebutuhan yang sama. Akan tetapi karena terdapat perbedaan budaya, maka kebutuhan tersebutpun ikut berbeda. Dalam memenuhi kebutuhannya, manusia menyesuaikan diri dengan prioritas yang ada. Lalu jika gagal memenuhi kebutuhannya, manusia akan berfikir keras dan bergerak untuk berusaha mendapatkan.Pemenuhan kebutuhan dasar pada manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor sebagai berikut :1. Penyakit, 2. Hubungan keluarga, 3. Konsep diri, 4. Tahap perkembangan. Kebutuhan fisiologis atau kebutuhan fisik manusia merupakan kebutuhan yang paling mendasar yang harus terpenuhi agar kelangsungan hidup bisa bertahan. Ada beberapa kebutuhan fisik manusia yang akan dibahas yaitu Mobilisasi yang merupakan suatu kemampuan individu untuk bergerak secara bebas, mudah dan teratur serta pengaturan posisi sebagai salah satu cara mengurangi resiko menghindari terjadinya dekubitus / pressure area akibat

tekanan yang menetap pada bagian tubuh dan Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan body aligmen (Struktur tubuh).

1.2.

PERUMUSAN MASALAH Dengan memperhatikan latar belakang tersebut, agar dalam penulisan ini

penulis memperoleh hasil yang di inginkan, maka penulis mengemukakan beberapa rumusan masalah. Rumusan masalah itu adalah: 1. Apakah mobilisasi dalam KDPK ? 2. Apasaja pengaturan Posisi dalam KDPK ?

1.3.

TUJUAN Tujuan dari penyusunan tugas ini antara lain: 1. Untuk memenuhi apa dan bagaimana mobilisasi sesuai dengan ketrampilan dasar praktik klinik. 2. Untuk mengetahui pengaturan posisi dan fungsi posisi dalam Ketrampilan dasar praktik klinik.

BAB II METODE PENULISAN

2.1.

OBJEK PENULISAN Objek penulisan tugas ini adalah mengenai Ketrampilan Dasar Praktik KKlinik Untuk Kebidanan, Khususnya tentang mobilisasi dan pengaturan posisi. Dalam tugas ini dibahas mengenai pengertian mobilisasi dan segala hal yang berkaitan dengan mobilisasi serta pengaturan posisi dan fungsi pengaturan itu sendiri yang digunakan dalam praktik klinik.

2.2.

DASAR PEMILIHAN OBJEK Tugas ini membahas mengenai mobilisasi dan pengaturan posisi yang merupakan Ketrampilan Dasar Praktik Klinik untuk Kebidanan. Yang digunakan sebagai dasar dalam praktik klinik khususnya untuk kebidanan.

2.3.

METODE PENGUMPULAN DATA Dalam pembuatan tugas ini, metode pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka terhadap bahan-bahan kepustakaan yang sesuai dengan permasalahan yang diangkat dalam tugas ini yaitu dengan Ketrampilan Dasar Praktik Klinik khususnya dalam bahasan tentang mobilisasi dan pengaturan posisi yang digunakan dalam praktik klinik kebidanan.

BAB III PEMBAHASAN

3.1.

Mobilisasi

3.1.1. Pengertian Mobilisasi Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan bebas, mudah dan teratur (kosier, 1989). 3.1.2. Tujuan dari mobilisasi 1. Memenuhi kebutuhan dasar manusia 2. Mencegah terjadinya trauma 3. Mempertahankan tingkat kesehatan 4. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari ± hari 5. Mencgah hilangnya kemampuan fungsi tubuh ketahanan otot dan kekuatan otot. 3.1.3. Faktor ± faktor yang mempengaruhi Mobilisasi 1. Gaya hidup Perubahan gaya hidup dapat mempengaruhi kemampuan mobilitas seseorang, karena gaya hidup berdampak pada perilaku dan kebiasaan. Gaya hidup sesorang sangat tergantung dari tingkat pendidikannya. Makin tinggi tingkat pendidikan seseorang akan di ikuti oleh perilaku yang dapat meningkatkan kesehatannya. Demikian halnya dengan pengetahuan

kesehatan tetang mobilisasi seseorang akan senantiasa melakukan mobilisasi dengan cara yang sehat misalnya; seorang ABRI akan berjalan dengan gaya berbeda dengan seorang pramugari atau seorang pemambuk. 2. Proses penyakit dan injuri Adanya penyakit tertentu yang di derita seseorang akan mempengaruhi mobilisasinya karena dapat mempengaruhi fungsi system tubuh misalnya; seorang yang patah tulang akan kesulitan untuk mobilisasi secara bebas. Demikian pula orang yang baru menjalani operasi. Karena adanya nyeri mereka cenderung untuk bergerak lebih lamban. Ada kalanya klien harus

istirahat di tempat tidurkarena mederita penyakit tertentu misallya; CVA yang berakibat kelumpuhan, typoid dan penyakit kardiovaskuler. 3. Kebudayaan Kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam melakukan aktifitas misalnya; seorang anak desa yang biasa jalan kaki setiap hari akan berebda mobilisasinya dengan anak kota yang biasa pakai mobil dalam segala keperluannya. Wanita kraton akan berbeda mobilisasinya dibandingkan dengan seorang wanita madura dan sebagainya. 4. Tingkat energy Setiap orang mobilisasi jelas memerlukan tenaga atau energi, orang yang lagi sakit akan berbeda mobilisasinya di bandingkan dengan orang sehat apalagi dengan seorang pelari. 5. Usia dan status perkembangan Seorang anak akan berbeda tingkat kemampuan mobilisasiny dibandingkan dengan seorang remaja. Anak yang selalu sakit dalam masa pertumbuhannya akan berbeda pula tingkat kelincahannya dibandingkan dengan anak yang sering sakit.

3.1.4. Jenis-Jenis Mobilisasi 1. Mobilisasi penuh Mobilisasi penuh merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak secara penuh dan bebas sehingga dapat melakukan interaksi sosial dan menjalankan peran sehari-hari. Mobilisasi penuh ini merupakan fungsi saraf motoris volunteer dan sensoris untuk dapat mengontrol seluruh area tubuh seseorang. 2. Mobilisasi sebagian Mobilisasi sebagian merupakan kemampuan seseorang untuk bergerak dengan batasan yang jelas sehingga tidak mampu bergerak secara bebas karena dipengaruhi oleh gangguan saraf motoris dan sensoris pada area tubuhnya. Hal ini dapat dijumpai pada kasus cedera atau patah tulang dengan pemasangan traksi. Pasien paraplegi dapat mengalami mobilisasi sebagian

pada ekstremitas bawah karena kehilangan kontrol motoris dan sensoris. Mobilisasi sebagian ini dibagi menjadi dua jenis, yaitu:

a. Mobilisasi sebagian temporer merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatr.ya sementara. Hal tersebut dapat : disebabkan oleh trauma reversibe) pada sistem muskuloskeletal, seperti adanya dislokasi sendi dan tulang. b. Mobilisasi sebagian permanen merupakan kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya tetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya sistem saraf yang irreversibel. Contohnya terjadinya hemiplegia karena stroke, paraplegi karena cedera tulang belakang, dan untuk kasus poliomielitis terjadi karena terganggunya sistem saraf motdris dan sensoris. 3.1.5. Tipe persendian dan pergerakan sendi Dalam sistim muskuloskeletal dikenal 2 maca persendian yaitu sendi yang dapat digeragan (diartroses) dan sendi yang tidak dapat digerakan (siartrosis). Mobilsasi yang dilakukan pada tubuh pasien berdasarkan: A. Aktive Room a. Leher y Fleksi: kepala digerakan menunduk kedepan 90 derajat dengan dagu diatas dada. y Ekstensi: Kepala digerakan 90 derajat keatas dengan posisi lurus dengan badan y Hypereksitensi : kepala ditarik kebelakang 90 derajat dengan posisi mengadah keatas y y Lateral fleksi: kepala ditekukan kesamping 90 derajat menuiu bahu Rotasi: kepala digerakan dalam posisi melingkar 90 derajat kekanan dan 90 derajat kekiri dan depan dari belakang. b. Bahu

y

Fleksi : lengan ditingkat 180 derajat dan samping menuju keatas sampai diatas kepaia

y y

Ekstensi : digerakan keposisi istirahat disamping badan Hyperekstensi: lengan digerakan kebelakang badan dengan sudut 50 derajat

y

Abduksi : lengan ditarik keatas samping badan dengan punggung tangan diaias, digerakan kesisi badan 180 derajat keposisi diatas kepala

y

Rotasi Eksterna : dengan lengan disamping, tekukan siku, lengan digerakkan kedepan dan kebelakang 90 derajat sehingga telepak tangan menghadap kedepan.

y

Rotasi interna : dengan lengan disamping tekukan siku, lengan digerakkan kebelakang 90 derajat sehingga felapak tangan

menghadap kebelakang. y Sinkumduksi : lengan digerakan dengan lingkaran 360 derajat diputar sepanjang sisi badan. c. Siku y Fleksi : siku ditekuk dengan telapak tangan menghadap muka, dengan sudut 150 derajat menuju bahu y Ekstensi: siku dari posisi fleksi diluruskan kembali

d. Lengan Bawah y Supinasi: lengan bawah diputar 90 derajat sampai telapak tangan menghadap kebawah y Pronasi: lengan bawah diputar 90 derajat sampai telapak tangan kanan mengahadap kebawah.

e. Pergelangan Tangan y Fleksi: Tangan ditekuk 90 derajat kebawah dengan telapak tangan mengahadap kebawah

y

Ekstensi: tangan digerakan 90 aerajat dengan posisi lurus dengan lengan

y

Hyperekstensi: tangan ditekuk keatas, punggung tangan diatas dengan sudut 90 derajat.

y

Abduksi: pergelangan tangan, dengan jari-jari dirapatkan ditekuk keluar menuju ula

y

Abduksi: pergelangan tangan dengan jari-jari dirapatkan ditekuk ke depan menuju radius.

f. Jari dan Ibu Jani y y Fleksi: Jari-jari digenggamkan Ekstensi: Jari digerakan 90 derajat lurus dengan lengan dengan telapak tangan menghadap ke bawah. y Hyperekstensi : jari-jari dengan felapak tangan kebawah, ditekuk keatas menuju punggung tangan 45 derajat y y y Abduksi: jan dan ibu /ari dibentangkan/direngangkan 30 derajat Abduksi: jari dan ibu jari dirapatkan bersama 30 derajat Posisi Ibu jari : ibu jari ditekuk kedalam memutar menuju kelingking dikuti oleh jari-jari yang lain. g. Pinggul y y Fleksi : tungkai digerakan keatas kemuka 90 derajat Ekstensi : tungkai digerakan kembali ke posisi lurus sejajar dengan tubuh y y y y y y Hyperekstensi: tungkai digerakan kebelakang tubuh 50 derajat Sirkumduksi: tungkai digerakan dalam lingkaran 360 derajat Abduksi: iungkai digerakan kesamping menjauhi tubuh 45 derajat Abduksi: tungkai digerakan kesamping mendekati tubuh 45 derajat Rotasi Interna : tungkai dan kaki diputar kedalam 90 derajat Rotasi Eksterna : tungkai dan kaki diputar kedalam 90 derajat

h. Lutut y y i. Fleksi. lutut ditekuk diangkat kebelakang dan atas 90 derajat Akstensi : Lutut digerakan kembali sejajar tubuh

Pergelangan Kaki y y y y Planfar Fleksi: kaki digerakan kebawah 45 derajat Dorsi Fleksi: kaki digerakan keatas 45 derajat Enversi: sisi luar kaki ditekuk kesamping keluar diputar Inversi: kaki diputar dengan sisi medial, diputar kedalam

j.

Jari Kaki y y y y y FIeksi jari-jari ditekuk kebawah 90 derajat Ekstensi : jari-jari sejajar kembali dengan punggung Hyperekstensi : jari-jari ditekuk keatas 45 derajat Abduksi : jari-jari digerakan menjauhi satu sama lain 15 derajat Abduksi : jari-jari digerakan menapat

k. Pinggang y y y y y Fleksi pinggang ditekuk kedepan 90 derajat Ekstensi : pinggang diluruskan kembali Hyperekstensi: pinggang ditarik kebelakang 30 derajat Lateral Fleksi: tubuh ditarik kekedua sisi 45 derajat Rotasi : tangan dipinggang digerakan melingkar 360 derajat

B. PASSIVE ROOM Posisi Supinasi a. Lengan dan Bahu Lengan klien disamping tubuh, tangan kanan penolong memegang pergelangan tangan pasien dan tangan kiri disiku pasien. y y y y Fleksi dan rotasi eksternai bahu Abduksi dan rotasi eksternai bahu Abduksi bahu Rotasi interna dan eksterna bahu

y y

FIeksi dan ekstensi siku Pronasi dan supinasi lengan bawah

b. Tangan dan pergelangan tangan Tangan kiri penolong diatas punggung tangan, tangan kanan memegang jari-jari tangan : y y Hyperekstensi pergelangan tangan, fleksi jari-jari Hyperekstensi pergelangan tangan, ekstensi jari-jari

c. Pinggul dan Tungkai Tangan kiri perawat dibawah lutut pasien dan memegangnya, tangan kanan perawat ditumit pasien untuk plantar fleksi, tangan kiri perawat diats pergelangan kaki pasien dan tangan kanan memegang jari kaki y y y Plantar fleksi kaki Inversi dan eversi kaki Fleksi dan ekstensi jari kaki

Posisi telungkup dan miring y y Hyperekstensi Bahu Hyperekstensi pinggul

3.1.6. Toleransi aktifitas Penilaian tolerasi aktifitas sangat penting terutama pada klien dengan gangguan kardiovaskuler seperti Angina pektoris, Infark, Miocard atau pada klien dengan immobiliasi yang lama akibat kelumpuhan.Hal tersebut biasanya dikaji pada waktu sebelum melakukan mobilisasi, saat mobilisasi dan setelah mobilisasi. Tanda ± tanda yang dapat di kaji pada intoleransi aktifitas antara lain (Gordon, 1976). a. b. Denyut nadi frekuensinya mengalami peningkatan, irama tidak teratur Tekanan darah biasanya terjadi penurunan tekanan sistol / hipotensi orthostatic. c. Pernafasan terjadi peningkatan frekuensi, pernafasan cepat dangkal.

d. e.

Warna kulit dan suhu tubuh terjadi penurunan. Kecepatan dan posisi tubuh.disini akan mengalami kecepatan aktifitas dan ketidak stabilan posisi tubuh.

f.

Status emosi labil.

3.1.7. Masalah fisik Masalah fisik yang dapat terjadi akibat immobilisasi dapat dikaji / di amati pada berbagai sistim antara lain : a. Masalah musculoskeletal Menurunnya kekuatan dan kemampuan otot, atropi, kontraktur, penurunan mineral, tulang dan kerusakan kulit. b. Masalah urinary Terjadi statis urine pada pelvis ginjal, pengapuran infeksi saluran kemih dan inkontinentia urine. c. Masalah gastrointestinal Terjadinya anoreksia / penurunan nafsu makan diarrhoe dan konstipasi. d. Masalah respirai Penurunan ekspansi paru, tertumpuknya sekret dalam saluran nafas, ketidak seimbangan asam basa (CO2 O2). e. Masalah kardiofaskuler Terjadinya hipotensi orthostatic, pembentukan trombus.

3.1.8. Upaya Pencegahan Terjadinya Masalah Akibat Kurangnya Mobilisasi Upaya Pencegahan Terjadinya Masalah akibat kurangnya mobilisasi antara lain : 1. Perbaikan status gizi 2. Memperbaiki kemampuan mobilisasi 3. Melaksanakan latihan pasif dan aktif 4. Mempertahankan posisi tubuh dengan benar sesuai dengan body aligmen (Struktur tubuh).

5. Melakukan perubahan posisi tubuh secara periodik (mobilisasi untuk menghindari terjadinya dekubitus / pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh.

3.2.

PENGATURAN POSISI Pengaturan posisi yang dapat dilakukan pada pasien ketika mendapatkan perawatan, dengan tujuan untuk kenyamanan pasien, pemudahan perawatan dan pemberian obat, menghindari terjadinya pressure area akibat tekanan yang menetap pada bagian tubuh tertentu. Pengaturan posisi antara lain adalah : Posisi fowler,

3.2.1. Posisi Fowler Posisi setengah duduk atau duduk, bagian kepala tempat tidur lebih tinggi atau dinaikkan. Untuk fowler (45°-90°) dan semifowler(15°-45°). Dilakukan untuk mempertahankan kenyamanan, memfasilitasi fungsi pernapasan, dan untuk pasien pasca bedah. Cara Pelaksanaan : a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan b. Dudukkan pasien c. Berikan sandaran pada tempat tidur pasien atau atur tempat tidur, untuk posisi untuk fowler ( 900) dan Semifowler ( 30 ± 450 ). d. Anjurkan pasien untuk tetap berbaring setengah duduk. Gambar. Cara posisi fowler

3.2.2. Posisi Sim Posisi miring ke kanan atau ke kiri. Dilakukan untuk memberi kenyamanan dan untuk mempermudah tindakan pemeriksaan rectum atau pemberian huknah atau obat-obatan lain melalui anus. Cara Pelaksanaan : a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan b. Pasien dalam keadaan berbaring. Kemudian apabila dimiringkan kekiri dengan posisi badan setengah telungkup, maka lutut kaki kiri diluruskan serta paha kanan ditekuk diarahkan ke dada. Tangan kiri di belakang punggung dan tangan kanan didepan kepala. c. Bila pasien miring kekanan, posisi bdan setengah telungkup dan kaki kanan lurus, sedangkan lutut dan paha kiri ditekuk dan diarahkan ke dada. Tangan kanan dibelakang punggung dan tangan kiri didepan kepala.

Gambar Cara Posisi Sim

3.2.3. Posisi Trendelenburg Posisi pasien berbaring di tempat tidur dengan bagian kepala lebih rendah daripada bagian kaki. Dilakukan untuk melancarkan peredaran darah ke otak, dan pada pasien shock dan pada pasien yang dipasang skintraksi pada kakinya. Cara Pelaksanaan : a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan b. Pasien dalam keadaan berbaring terlentang. Letakkan bantal di antara kepala dan ujung tempat tidur pasien, serta berikan bantal dibawah lipatan lutut.

c. Pada bagian kaki tempat tidur, berikan balok penopang atau atur tempat tidur secara khusus dengan meninggikan bagian kaki pasien. Gambar. Posisi Trendelenburg

3.2.4. Posisi Dorsal Recumbent Posisi berbaring terlentang dengan kedua lutut fleksi (ditarik atau direnggangkan) diatas tempat tidur. Dilakukan untuk merawat dan memeriksa genetalia serta proses persalinan. Cara Pelaksanaan : a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan b. Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, pakaian bawah di buka c. Tekuk lutut, renggangkan paha, telapak kaki menghadap ke tempat tidur dan renggangkan kedua kaki. d. Pasang selimut Gambar. Dorsal Recumbent

3.2.5. Posisi Litotomi Posisi berbaring terlentang dengan mengangkat kedua kaki dan menariknya ke atas bagian perut. Dilakukan untuk memeriksa genetalia pada proses persalinan, dan memasang alat kontrasepsi. Cara Pelaksanaan : a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan b. Pasien dalam keadaan berbaring terlentang, angkat kedua paha dan tarik kearah perut. c. Tungkai bawah membentuk sudut 900 terhadap paha. d. Letakkan bagian lutut/kaki pada tempat tidur khusus untuk posisi litotomi e. Pasang selimut Gambar. Posisi Litotomi

3.2.6. Posisi Genu Pektoral Posisi menungging dengan kedua kaki ditekuk dan dada menempel pada bagian atas tempat tidur. Dilakukan untuk memeriksa daerah rectum dan sigmoid dan untuk membantu merubah letak kepala janin pada bayi yang sungsang. Cara Pelaksanaan : a. Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan b. Anjurkan pasien untuk berada dalam posisi menungging dengan kedua kaki ditetuk dan dada menempel pada kasur tempat tidur c. Pasang selimut pada pasien Gambar. Posisi Genu Pektoral

3.3.

MOBILISASI DENGAN MEMBERIKAN POSISI MIRING Tujuan : 1. Mempertahankan bady aligment 2. Mengurangi komplikasi akibat immobilisasi 3. Mengurangi Meningkatkan rasa nyaman 4. Kemungkinan terjadinya cedera pada perawat maupun klien 5. Mengurangi kemungkinan tekanan yang menetap pada tubuh akibat posisi yang menetap. Indikasi : 1. Penderita yang mengalami kelumpuhan baik hemiplegi maupun para plegi 2. Penderita yang mengalami kelemahan dan pasca operasi 3. Penderita yang mengalami pengobatan (immobilisasi) 4. Penderita yang mengalami penurunan kesadaran Cara Pelaksanaan : 1. Berikan penjelasan kepada klien maksud dan tujuan di lakukan tindakan mobilisasi ke posisi lateral. 2. Cuci tangan sebelum melakukan tindakan untuk membatasi penyebaran kuman ? micro organisme. 3. Pindahkan segala rintangan sehingga perawat leluasa bergerak. 4. Siapkan peralatan yang di perlukan. 5. Yakinkan bahwa klien cukup hangat dan privasy terlindungi.

Saran ± saran atau hal ± hal yang harus di perhatikan : 1. Perawat harus mengetahui teknik mobilisasi yang benar 2. Bila klien terlalu berat pastikan mencari pertolongan 3. Tanyakan kepada dokter tentang indikasi dan kebiasaan dilakukannya mobilisasi Persiapan alat : 1. Satu bantal penopang lengan 2. Satu bantal penopang tungkai 3. Bantal penopang tubuh bagian belakang

Cara kerja : 1. Angkat / singkirkan rail pembatas tempat tidur pada sisi di mana perawat akan melakukan mobilisasi 2. Pastikan posisi pasien pada bagian tengah tempat tidur, posisi supinasi lebih mudah bila di lakukan mobilisasi lateral 3. Perawat mengambil posisi sebagai berikut : a. Perawat mengambil posisi sedekat mungkin menghadap klien di samping tempat tidur lurus pada bagian abdomen klien sesuai arah posisi lateral (misalnya; mau memiringkan kekana, maka perawat ada di samping kanan klien) b. Kepala tegak dagu di tarik ke belakang untuk mempertahankan punggung pada posisi tegak. c. Posisi pinggang tegak untuk melindungi sendi dan ligamen. d. Lebarkan jarak kedua kaki untuk menjaga kestabilan saat menarik tubuh klien e. Lutut dan pinggul tertekuk / fleksi 4. Kemudian letakan tangan kanan lurus di samping tubuh klien untuk mencegah klien terguling saat di tarik ke posisi lateral (sebagai penyangga). 5. Kemudian letakan tangan kiri klien menyilang pada dadanya dan tungkai kiri menyilang diatas tungkai kanan dengan tujuan agar memberikan kekuatan sat di dorong. 6. Kemudian kencangkan otot gluteus dan abdomen serta kaki fleksi bersiap untuk melakukan tarikan terhadap tubuh klien yakinkan menggunakan otot terpanjang dan terkuat pada tungkai dengan tujuan mencegah trauma dan menjaga kestabilan. 7. Letakan tangan kanan perawat pada pangkal paha klien dan tangan kiri di letakan pada bahu klien. 8. Kemudian tarik tubuh klien ke arah perawat dengan cara : a. Kuatkan otot tulang belakang dan geser berat badan perawat ke bagian pantat dan kaki.

b. Tambahkan fleksi kaki dan pelfis perawat lebih di rendahkan lagi untuk menjaga keseimbangan dan ke takstabil c. Yakinkan posisi klien tetap nyaman dan tetap dapat bernafas lega 9. Kemudian atur posisi klien dengan memberikan ganjaran bantal pada bagian yang penting sebagai berikut : a. Tubuh klien berada di sampingdan kedua lengan berada di bagian depan tubuh dengan posisi fleksi, berat badan klien tertumpu pada bagian skakula dan illeum. Berikan bantal pada bagian kepala agar tidak terjadi abduksi dan adduksi ada sendi leher. b. Kemudian berikan bantal sebagai ganjalan antara kedua lengan dan dada untuk mencegah keletihan otot dada dan terjadinya lateral fleksi serta untuk mencegah / membatasi fungsi internal rotasi dan abduksi pada bahu dan lengan atas. 10. Berikan ganjalan bantal pada bagian belakang tubuh klien bila di perlukan untuk memberikan posisi yang tepat 11. Rapikan pakayan dan linen klien serta bereskan alat yang tidak di gunakan. 12. Dokumentasikan tindakan yang telah di kerjakan.

BAB IV KESIMPULAN

Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana tubuh dapat melakukan kegiatan dengan bebas. Tujuan dari mobilisasi antara lain : Memenuhi kebutuhan dasar manusia. Mencegah terjadinya trauma. Mempertahankan tingkat kesehatan. Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari ± hari. Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh. Pengaturan posisi dilakukan ketika pasien mendapatkan asuhan. Pengaturan Posisi antara lain : Posisi fowler (setengah duduk), Posisi litotomi, Posisi dorsal recumbent, Posisi supinasi (terlentang), Posisi pronasi (tengkurap), Posisi lateral (miring), Posisi sim, dan Posisi trendelenbeg (kepala lebih rendah dari kaki)

DAFTAR PUSTAKA

Ketheleen Haerth Belland RN. BSN, Mary and Wells RN Msed, 1986, Chlinical Nursing Prosedurs, California Jones and Bardlett Publishers Inc. Diana Hestings. RGN RCNT. 1986, The Machmillan Guide to home Nursing London, Machmillan London LTD. Ahli bahasa : Prilian Pranajaya, 1980 editor lilian juwono Jakarta, Arcan. Barbara Koezeir, Glenora Erb, 1983, Fundamental of Nursing, california Addison ± Wesly publishing Division. Barbara Koezeir, Glenora Erb, Oliveri, 1988, Fundamental of Nursing, Philadelpia Addison Wesly publishing Division. Republika. Dekubitus. Available at: www.republika.co.id. Acessed Desember 2006. Sanada, H. Pressure ulcers management. http://square.umin.ac.jp/sanada/english/showe.html. Accessed Desember 2006 Sato M., Sanada H., Konya C., et al. Prognosis stage I and related factors. International Wound Journal. 2006;3:335-362 Sugama., J., Sanada, H., Kanagawa, K., et al . Risk factors of pressure sore development, intensive care unit, Pressure ± relieving care, the Japanese version of the Braden Scale. Kanazawa Junior Collage, 1992, 16, 55-59 Suriadi, Sanada H, Kitagawa A, et.al. Study of reliability and validity of the braden scale translated into indonesia. 2003. Master thesis. Kanazawa University, Japan Sussman, C. & Bates-Jensen, B.M.. Wound Care: a collaborative practice manual for physical therapist and nurses. Second Edition. Gaithersburg: AN Aspen publication, 2001,235 ± 260 http://yuwielueninet.wordpress.com/2008/03/25/KDPK/ http://xa-dewie.blogspot.com/2009/10/Prinsip kebutuhan dasar manusia.html http://irm4chimut.wordpress.com/mobilisasi pasien dalam Ketrampilan dasar praktik kebidanan.html http://nursecerdas.wordpress.com/2009/02/05/217/

TUGAS KETRAMPILAN DASAR PRAKTIK KLINIK UNTUK KEBIDANAN Tentang

MOBILISASI DAN PENGATURAN POSISI

Disusun Oleh :

NOKA RUTANI SARI NIM. 090512
DOSEN PEMBIMBING :

MIKASMAN, S. Pd

Akademi Kebidanan Manna Bengkulu Selatan
TA. 2009/2010

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->