P. 1
Kelas 10 Smk Bahasa-Indonesia

Kelas 10 Smk Bahasa-Indonesia

5.0

|Views: 27,632|Likes:
Published by rahman30

More info:

Published by: rahman30 on Mar 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/02/2015

pdf

text

original

Bentuk kata yang terdapat pada bahasa Indonesia terdiri atas kata dasar,
kata berimbuhan, kata ulang, dan kata majemuk.
a.Kata Dasar

Kata dasar adalah kata yang menjadi dasar bentukan kata yang lebih besar.
Contoh:
Kata dasar tolong dapat dibentuk menjadi kata yang lebih besar lagi,
seperti menolong, penolong, pertolongan, tolong-menolong.
b.Kata berimbuhan

Kata berimbuhan adalah kata yang mendapatkan imbuhan atau afiks
(prefiks, infiks, sufiks, atau konfiks).
Contoh:

Kata Dasar

Imbuhan

Jenis

Kata Berimbuhan

ganjal

meng-

prefiks

mengganjal

usaha

ber-

berusaha

lebar

per-

perlebar

tanda

ter-

tertanda

suling

-er-

infiks

seruling

tapak

-el-

telapak

tekan

-an

sufiks

tekanan

jasmani

-ah

jasmaniah

pukul

me-i

konfiks

memukuli

lupa

me-kan

melupakan

debat

memper-kan

memperdebatkan

indah

ke-an

keindahan

baik

per-i

perbaiki

c.Kata ulang

Kata ulang adalah kata yang terjadi sebagai hasil reduplikasi.
Contoh: baju-baju, sayur-mayur, berbunga-bunga, kedua-duanya, dan
sebagainya.
d.Kata majemuk

Kata majemuk adalah gabungan kata yang membentuk makna baru.
Contoh: sepakbola, air mata, rumah sakit, dan sebagainya.

65

Informasi

Tugas Individu

1.Bacalah wacana di bawah ini dengan cermat.

Ratapan Anak Bangsa di Layar Kaca

Kekerasan tidak hanya muncul di sinetron, namun juga di film kartun
untuk anak-anak, acara bincang-bincang, hingga berita-berita.
Sunarto, doktor Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia yang meneliti
kekerasan televisi terhadap perempuan, menengarai, kekerasan yang terus-
menerus ditonton orang tua sekalipun bisa menimbulkan disentilasi atau
penumpulan kepekaan.
”Berdasar studi resepsi, pengaruh tayangan kekerasan bervariasi pada
setiap orang. Orang tua biasanya sudah mempunyai kedewasaan mental
psikologis sehingga bisa memilah-milah. Namun, jika menonton tayangan
itu lebih dari empat jam sehari, orang menjadi tidak peka. Melihat kekerasan
diam saja,” kata Sunarto.
Selain kekerasan, banyak pula cerita di sinetron yang tidak masuk akal
dan membodohi. Tebaran cerita yang membodohi itu muncul pula dalam
film televisi atau sinetron berbau mistik, supranatural, horor, bahkan atas
nama moral dan agama.
Tidak hanya sinetron, bahkan tayangan animasi untuk anak-anak pun,
berdasarkan penelitian Sunarto, ternyata berpengaruh menyemaikan
kekerasan pada wanita dan anak-anak. Kekerasan psikologis dilakukan
dengan memarahi, membuat jengkel, mengancam, mengejek. Kekerasan
seksual misalnya dengan mempermalukan di depan umum, atau merayu
untuk menipu. Adapun kekerasan fungsional misalnya dengan memaksa
datang ke suatu tempat.
Menurut dosen FISIP Universitas Indonesia, Dedy N. Hidayat, tayangan
kekerasan yang dikonsumsi terus akan tampil dalam persepsi penonton
sebagai realitas simbolis. Ini adalah suatu realitas yang sedikit banyak
berpijak pada realitas objektif dalam masyarakat meski penonton sadar
tayangan itu hanyalah fiktif. Bisa jadi, penonton menempatkan adegan itu
sebagai alternatif perilaku yang bisa dilakukan saat menghadapi situasi
tertentu.

Selama rating masih dijadikan patokan oleh industri pertelevisian,
selama itu pula pendidikan lewat televisi tidak berjalan. Industri televisi
butuh hidup untuk membiayai produksi. Rating rendah akan berpengaruh
pada perolehan iklan yang rendah pula sehingga tidak bisa menutup biaya
produksi. Alasan yang selalu dikemukakan itu memang masuk akal.

66 Bahasa Indonesia Tingkat Semenjana Kelas X

Tarik-menarik antara idealisme dan komersialisme di jagat pertelevisian
agaknya akan selalu ada. Sejak tahun 1990-an televisi sudah kerap dikritik
soal kekerasan dan cerita tidak masuk akal itu, namun seperti layaknya
tren, hal itu berulang dan berulang lagi.
Barangkali bukan anak tiri yang meratap, tetapi anak bangsa!

Sumber: Kompas, 29 Juli 2007 (Diambil seperlunya)

2.Carilah bentuk kata dalam teks di atas kata berimbuhan, kata ulang, dan
kata majemuknya.
3.Buatlah kalimat baru dengan menggunakan bentuk kata yang Anda temukan
dari teks di atas.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->