P. 1
Kelas 11 Smk Bahasa Dan Sastra Indonesia

Kelas 11 Smk Bahasa Dan Sastra Indonesia

4.0

|Views: 9,247|Likes:
Published by rahman30

More info:

Published by: rahman30 on Mar 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/06/2015

pdf

text

original

Berikut ini disajikan sebuah cerpen berjudul Per-
tolongan yang Tepat.
Bacalah cerpen tersebut dengan
cermat! Selain itu, coba kalian identifikasikan kata-
katanya berdasarkan kelas kata, sinonim, dan anto-
nim.

Pertolongan yang Tepat

Sudah hampir pukul tujuh pagi dan Samsu
belum juga berangkat ke sekolah. Ia sudah ber-
pakaian rapi dan menyiapkan tasnya. Rupanya
masih ada yang dipikirkannya. Ia duduk di
serambi menunggu temannya, Sapri. Sebentar
kemudian muncullah Sapri di depan rumahnya
seperti biasanya.

“Selamat pagi, Sam! Ayo, sudah hampir pukul
tujuh!” serunya.

“Sapri, hari ini saya tidak akan masuk seko-

lah.”

“Ah, mengapa? Sudah berpakaian rapi. Ayolah,
jangan sampai terlambat,” jawab Sapri ke-
heranan.

“Pri, benar-benar saya tidak berani masuk se-
kolah. Sekarang tanggal dua belas. Uang SPP
harus sudah dibayarkan tanggal sepuluh. Saya
kebingungan pagi ini. Ayah sedang ke pasar
menjual buah-buahan. Mungkin juga mencari
uang untuk membayar SPP itu. Ibu sudah dua
hari sakit panas. Dua orang adik saya juga be-
lum membayar uang SPP.”

Sapri tidak tahan lagi mendengar kata
sahabatnya. Samsu tampak akan menangis.
Matanya mulai berlinang.

“Baiklah, Sam. Kalau begitu saya pergi sendiri.
Tidak usah kamu masuk sekolah. Nanti saya
mintakan izin kepada guru kita. Bantu saja ibumu
di rumah. Pulang sekolah nanti saya singgah
kemari. Saya berangkat, ya.”

Samsu tidak menjawab, suaranya tidak keluar.
Ia hanya mengangguk sambil memandangi Sapri
yang tampak tergesa-gesa.

Sampai di sekolah Sapri berdebar-debar me-

lihat pekarangan sekolah sudah sepi, tandanya
sekolah sudah dimulai. Tahulah dia bahwa dia
sudah terlambat. Apa yang harus dilakukannya?
Segera ia menuju kantor Pak Hidayat, kepala
sekolahnya dan menjelaskan mengapa dia ter-
lambat. Pak Hidayat lalu mengambil secarik
kertas, dibuatnya catatan kemudian diberikan-
nya kepada Sapri. Sapri memberi hormat kepada
Pak Hidayat kemudian menuju kelasnya.

Pada waktu istirahat, Pak Hidayat memanggil
Sapri ke kantornya.

“Sapri, Bapak minta bantuanmu. Sampaikan
kepada ayah Samsu, besok pagi Samsu boleh
masuk sekolah.”

Sapri keluar dari kantor Pak Hidayat dengan
perasaan lega.

Masih teringat saja olehnya peristiwa keter-
lambatannya tadi pagi. Dikiranya kepala sekolah
akan marah kepadanya; ternyata tidak.

Ketika Sapri pulang sekolah, dia singgah di
rumah temannya untuk menyampaikan pesan
Pak Hidayat.

“Sam, besok kamu boleh masuk sekolah. Pak
Hidayat tidak marah meskipun kamu belum
membayar SPP. Hanya pesannya sebelum kamu
masuk kelasmu, pergilah ke kantor Pak Hidayat
dulu!”

“Pri, saya takut. Besok saya belum dapat
membayar uang SPP. Sampai sekarang ayah
belum pulang. Entahlah, berapa untung yang di-
perolehnya dari penjualan,” kata Samsu.

“Sam, Pak Hidayat menyuruh kamu datang bu-
kan untuk membayar uang SPP, melainkan untuk
bertemu saja dan mungkin Pak Hidayat akan
memberimu nasihat.”

Ibu Samsu yang ada di kamar mendengar per-
cakapan dua anak itu dan karena tertarik, lalu
bangkit dari tempat tidurnya ingin menyambung
pembicaraan.

“Turutilah kata temanmu. Masuklah besok, ka-
takan dengan terus terang bahwa kita benar-
benar belum ada uang. Ayahmu sedang berusa-
ha, mudah-mudahan saja berhasil.”

Samsu mengangguk dan berjanji kepada ibu-
nya akan masuk sekolah keesokan harinya.
Sapri lalu minta diri.

Setelah sampai di rumah, Sapri menyimpan

Pembelajaran 4 - Kompetensi Dasar 2.4

39

bukunya, melepas sepatunya lalu mencuci ta-
ngan dan kakinya sebelum berganti pakaian.

“Makanlah segera! Ayah, ibu, dan adik sudah
makan lebih dulu. Mengapa engkau terlambat
pulang?” tanya ibunya.

Sapri tidak langsung makan. Didekatinya ibu-
nya dan diceritakannya kesusahan temannya,
Samsu.

“Kasihan, Bu, Samsu. Sudah dua hari dia tidak
masuk sekolah. Mana ibunya sakit. Ayahnya
menjual buah-buahan di pasar. Hasil penjualan
yang diharapkannya dapat dipakai untuk me-
lunasi uang SPP anak-anaknya ternyata tidak
mencukupi.” Mendengar cerita anaknya itu, Ibu
Sapri sangat terharu. Ia pun bersyukur kepada
Tuhan bahwa keluarganya tidak perlu menderita
seperti itu.

Keesokan harinya, Sapri berangkat sekolah
lebih pagi. Dia singgah di rumah Samsu. Sesam-
painya di sana dilihatnya ayah Samsu ada di
rumah. Sapri merasa gembira. Tentu temannya
sudah mempunyai uang untuk membayar SPP.
Samsu kelihatan menunggu Sapri di serambi ru-
mah. Air mukanya masih tampak kurang gembira.

“Selamat pagi, Sam! Ayo, kita berangkat! Kita
akan menghadap Bapak Hidayat.”

Kedua anak itu lalu minta izin kepada ayah
dan ibu Samsu sebelum keluar pintu pekarangan.
Samsu berhenti dan membisikkan sesuatu ke-
pada Sapri.

“Sapri, ayah sudah kembali dan buah-buahan
dagangannya habis terjual, ....”

“Nah, syukur. Jadi, kamu sudah membawa
uang untuk membayar SPP?”

“Tunggu dulu! Rezeki tentu ada. Kami bergem-
bira. Hanya sayang sekali tidak cukup untuk
membayar uang SPP itu. Ibu ‘kan sakit.
Sebagian uang laba digunakan untuk membeli
obat dan untuk belanja kemarin dan hari ini.
Sisanya tinggal lima ratus rupiah. Padahal uang
SPP saya enam ratus, ‘kan?”

Sambil berjalan, Sapri menarik tangan teman-
nya lalu bertanya, “Uang itu kamu bawa seka-
rang?”

“Ya. Ayah takut uang itu terpakai. Nanti kalau
ada untung lagi, tinggal menambah lagi.”

“Baik, Sam. Kita lekas-lekas menghadap ke-
pala sekolah sebelum kita mulai belajar. Sebaik-
nya kamu lunasi uang SPP-mu hari ini.
Kebetulan aku membawa uang seratus rupiah

untuk membeli buku tulis, tapi buku itu tidak
kuperlukan sekarang. Boleh kamu pinjam dulu
untuk mencukupi uang SPP-mu.”

“Ah, jangan Pri! Nanti ayah dan ibumu marah!”

“Tidak, Sam. Sungguh. Ini bukan uang
pemberian ayah atau ibu tetapi pemberian
paman. Memang ayah dan ibu tahu bahwa saya
diberi uang.” “Baiklah kalau begitu. Jadi, hari ini
saya dapat melunasi uang SPP? Wah, bukan
main. Sungguh kau baik hati. Engkau memang
seorang sahabat bukan sekedar teman.
Pertolongan yang sangat tepat waktunya. Nanti
akan saya beritahukan kepada orang tuaku.”

Sepulang dari sekolah kedua anak itu mence-
ritakan pengalamannya kepada orang tuanya
masing-masing. Ibu Samsu mukanya mulai ber-
seri karena gembira. Waktu Sapri bercerita ten-
tang pertolongannya, ibunya mengangguk-ang-
guk lalu berkata, “Aku bangga akan sikapmu,
Sapri. Pertolonganmu sangat tepat dan pasti
mendapat pahala.”

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->