P. 1
analisis Hikayat

analisis Hikayat

|Views: 3,155|Likes:
Published by zakky

More info:

Published by: zakky on Mar 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC or read online from Scribd
See more
See less

04/24/2013

Hikayat Abdulah dan Amerika

Raja Abdul Aziz bin Saud adalah seorang pendekar gurun yang mampu mempersatukan suku-suku di Semenanjung Arab pada 1932. Sejak itulah berdiri Kerajaan Arab Saudi modern yang sampai kini dikendalikan para pewaris dinastinya. Raja Ibnu Saud terkenal tegas dalam menanamkan disiplin pada anak-anaknya. "Saya melatih anak-anak saya berjalan dengan kaki telanjang, bangun dua jam sebelum fajar, makan sedikit, mengendarai kuda tanpa pelana," begitu kalimat yang sering dinukil dari Raja Ibnu Saud. Menurut para ahli Timur Tengah, kalau ada satu dari 37 putra Ibnu Saud yang mewarisi pelajaran itu, dialah Putra Mahkota Saudi Pangeran Abdullah. Pangeran Abdullah, putra Fahda, istri kedelapan dari 16 istri Ibnu Saud, merasakan bagaimana kehidupan keras yang dijalaninya. Sejak kecil, dia dijauhkan dari istana, dititipkan pada keluarga suku Badui di tengah padang pasir. Tentu saja, Pangeran Abdullah kini tidak menunggang kuda ke mana-mana, apalagi tanpa pelana. Dia menyetir Rolls Royce dengan nomor registrasi 001. Toh, citranya terbilang "bersahaja" dibanding para pangeran Saudi lainnya yang rata-rata flamboyan. Perokok berat yang masih tampak gagah di usia 79 tahun ini belum lama berselang menyambut para wartawan untuk jumpa pers dengan mengenakan sepatu olahraga. Salah satu contoh indikasi ketangguhan Abdullah adalah ketika menghadapi kritik pers Amerika yang meragukan kesungguhannya bekerja sama dalam investigasi terhadap serangan 11 September. Kampanye media Barat itu terhadap Saudi itu, katanya, tak lebih dari manifestasi kebencian yang mengakar dalam terhadap Islam. "Komitmen pada Islam dan tanah air tak perlu diperdebatkan," ujarnya. Sebagian analis Timur Tengah di Washington mulai mengecapnya sebagai antiAmerika. Walau begitu, banyak juga yang melihat Abdullah sebagai orang yang tepat pada saat yang tepat untuk melindungi kepentingan Arab Saudi, dan pada gilirannya kepentingan AS. James Akins, bekas duta besar AS untuk Saudi, melihat Abdullah punya ciri-ciri yang diperlukan untuk mendapat penghormatan dari dunia Arab dan Islam. "Abdullah adalah seorang nasionalis Arab dan seorang muslim yang baik, tidak korup, dan populer," puji Akins. "Memang banyak yang mengatakan Abdullah anti-Amerika. Sejujurnya, saya tidak melihat demikian," F. Gregory Gause, Direktur Studi Timur Tengah di University of Vermont, menimpali. Menurut dia, Abdullah memang punya perhatian yang lebih terhadap isu Palestina dibanding orang-orang lain dalam keluarganya. "Pada tingkat tertentu, orang melihatnya sebagai anti-Amerika," ujar Gause. Gause punya contoh sederhana. Pada musim panas lalu, Saudi mengundang perusahaan-perusahaan asing untuk ikut tender proyek gas senilai US$ 50 miliar. Perusahaan-perusahaan Amerika melenggang dan meraup banyak porsi dari bisnis ini. "Jika Abdullah memang anti-Amerika, keadaannya tidak akan seperti itu," kilah Gause. the christian science monitor/bbc/washington post/yanto musthofa

Unsur Intrinsik Novel
Nama : TETTY NURHIDAYATI NIM : 0701521 No. absent : 12 Kelas : Bahasa Indonesia

Unsur Intrinsik Novel
Judul : Seventeen (17 th) Pengarang : Agung Bawantara Penerbit : Gagasmedia Tahun : 2005 Sinopsis : Dua geng di SMU Garuda yaitu The Caredox Girls yang mengaku sebagai kelompok cewek mandiri yang beranggotakan Merpati, Rindang, Cintya dan Harva dan Geng Cokol alias Cewek Kolot yang beranggotakan Rio, Didom, Cacu dan Omet. Ke dua kelompok itu selalu saling menjahili, hampir dua tahun mereka berseteru, tidak ada yang mau mengalah. Pada akhirnya timbulah keinginan dari Rio untuk mendamaikan kedua kelompok ini. Akan tetapi niat Rio mengurungkan niatnya, dia mengambil kesempatan saat bertandang ke rumah Merpati untuk menyatakan perasaan hatinya. Akhirnya niat ingin mendamaikan berubah menjadi pertemuan yang menggabungkan dua orang komandan kelompok yang sedang berseteru.

Diceritakan seorang gadis bernama Susan berasal dari keluarga miskin. Ayahnya seorang pemabuk dan sering main judi. Ketika kehabisan uang, ia memanfaatkan kegadisan Susan anaknya untuk diperjual belikan kepada lelaki jahanam yang mempunyai uang banyak untuk membayarnya. Oleh karena itu Susan dipaksa oleh ayahnya untuk melayani setiap lelaki hidung belang yang menginginkan kepuasan. Sampai pada akhirnya Susan hamil dan berita tersebut diketahui oleh pihak sekolah. Berat menerima kenyataan, Susan berniat mengakhiri hidupnya. Namun Merpati berhasil mencegahnya. Ia menghibur Susan untuk tetap terus berjuang menjalani kehidupan. Selama 9 bulan Susan bersembunyi samapi pada akhirnya bayi nya pun lahir. Beruntung Susan karena masih ada seorang Lelaki yang mencintainya dengan tulus, mau menerima Susan apa adanya. Lelaki itu bernama Dika. Akhirnya Susan dan Dika pun menikah di usia 17 tahun. Kutipan : SEVENTEEN Buah karya : AGUNG BAWANTARA Merpati memang anak band dengan kepribadian yang unik. Ia adalah komandan grup The Caredox Girls yang beranggotakan Rindang, Harva dan Cintya. Gerombolan ini memproklamirkan diri sebagai cewek-cewek mandiri. Maksudnya, bisa mandi sendiri dan nggak tergantung sama yang namanya cowok. Kalau perlu, begitu ikrar mereka, semua kerjaan yang selama ini dianggap bagian cowok, harus diambil alih!

Hhhh! Merpati menghela nafas panjang. Jam-jam segini memang jadi jam-jam yang membosankan, benar saja tanpa sadar Merpati sudah ngelamunin Rio, komandan Geng Cokol alias “Cowok Kolot”, grup band yang cukup beken di sekolahannya. Selain Rio, anggota lain geng itu adalah Omet, Didom, dan Cacu. Sayang, Geng Cokol musuhan sama The Caredox Girls. Permusuhan keduanya tergolong berat dan laten. Musuhan anjing sama kucing masih kalah seru disbanding permusuhan dua kelompok ini. Kalau anjing sama kucing ketemu, salah satunya (biasanya kucing) pastilah buru-buru melarikan diri. Kalau permusuhan para begundil ini, tidak! Dua grup ini bisa berantem habishabisan dan nggak bisa dipisah sampai mereka kecapekan sendiri. Mungkin perumpamaan yang rada mirip adalah ibarat minyak jelantah ketemu air rebusan sayur di penggorengan yang lagi panas, pasti pletak-pletok, nyiprat ke sana kemari bikin geger. Hampir saban hari kedua geng ini saling mengerjai geng musuhnya. Misalnya, suatu kali geng cokol ngejahilin The Caredox Girls dengan seplastik kumbang-kumbang kecil yang sudah dicelupin dengan jus udang campur kuning telur. Merpati tahu, sebetulnya diantara Geng Cokol itu ada seorang yang belakangan ini sama sekali tidak pernah menyetujui dan melakukan kejahilan, meskipun seringkali ia ikut jadi korban dari kejahilan The Caredox Girls. Masih cukup pagi . Jam seklah mulai masih lama. Omet, Didom, Cacu duduk berderet di atas beton yang melingkari papan SMU Garuda.

Jam istirahat. Susan duduk melamun sendirian di bawah pohon rindang di taman sekolah. Dengan ranting kering ia mengorek-orek tanah menuliskan kata-kata bernada kemarahan :”bangsat!”, “laknat!”, “najis!” yang segera dihapus begitu ada teman atau anak kelas lain mendekat. Setiap hari, aktivitas aneh itu dilakukannya berulang-ulang sampai jam istirahat habis. Susan menyusur koridor sekolah menuju kelas dengan muka tertunduk. Langkahnya lebar-lebar dan cepat. Dibalik rambut lurus dan tergerai, wajah susan tampak merona merah karena marah. Mulutnya manyun seperti sungut. Beberapa orang yang menyapa atau mengomentari langkahnya tak ia hiraukan sedikitpun. Hanya satu yang ada dibenak: masuk kelas, ambil tas lalu pulang. Tapi, tiba-tiba seseorang mencegat langkahnya tepat di tikungan menuju kelas. Ternyata Dika, cowok ganteng yang setengah mati

mendambakan cinta Susan. Matahari tepat di ubun-ubun. Aspal jalanan mendidih karena panas yang begitu terik. Didi berjalan di sebuah lorong dekat sekolah. Didi tak menyadari kalau tiga cowok berseragam SMU yang sedang nongkrong di tempat ketinggian dekat mulut lorong mengawasinya. Ketiga cowok itu langsung mengepung Didi.

“pahami api cinta dalam kehidupan yang telah kuberikan untukmu jangan kau coba berdusta pada hati kecilmu untuk meyakini

mungkin satu yang belum kau pahami hingga kau tetap ragu percuma kau sembunyikan cinta …”
Di studio musik langganan mereka, Genk Cokol sedang asyik berlatih. Cacu menyanyikan lagu ciptaan Rio dengan nada memukau. Dengan penuh perasaan Rio mengiringi dengan petikan gitar yang mantap. Pada drum, Omet tampak trans mnegetuk-ngetukkan stiknya. Didom yang memegang gitarpun menimpali dengan betotan yang akurat. Namun entah kenapa menjelang lagu terakhir, konsentrasi Rio menjadi bubrah. Petikan gitarnya melantur hingga lepas harmoni menyebabkan seluruh permainan jadi terhenti. Mendapati hal itu, dengan kasar Omet mendrible drumnya untuk menumpahkan kekesalannya. “Ngapain sih lo mikirin cewek jahil kayak kuntilanak itu?” sambut Didom. Tak dinyana, Rio dengan heroic menyanggah ucapan temen-temennya. “sebenarnya Merpati itu nggak jahil. Kalian juga sih yang sering ngejahilin dia!” Pada saat itu Omet bangkit dari tempat duduk dan berdiri sambil mengangkat stick Drum. Dengan lantang ia berucap: “Disaksikan oleh stick drum yang selalu mendentumkan setiap ketukan nurani kita.. Demi kecintaan

kita pada musik, demi kesetiakawanan dan kebersamaan kita… jangan sampai kita terpisahkan karena jatuh hati pada si gendut Rindang, Harva, Cintya dan Merpati!” Mendengar itu, DIdom dan Cacau langsung memegang stick drum di tangan Omet tanda sepakat. Setelah tangan ketiganya saling berpegangan, mereka menoleh ke arah Rio untuk mengetahui reaksinya. Dengan lemas Rio terpaksa mendekat dan ikut memegang stick sebagai tanda turut berikrar. Sementara itu, di studio band yang lain, Merpati dan gerombolan juga tengah seru berlatih. Sekian lagu telah mereka lewatkan. Saatnya istirahat sejenak untuk melepas lelah. Tiba-tiba Cintya angkat bicara dengan tema yang sama sekali di luar dugaan. “Eh, Mer! Gue tahu, Rio itu orangnya cakep, agak baik..,” ucapnya sambil memasukkan handuk ke dalam tas. “Cuma, teman-temannya itu lho! Si Omet, Didom, Cacu semuanya bikin gue mau muntah, tahu nggak sih!” “Buka mata lebar-lebar, Neng! Masih banyak kok cowok lain yang lebih ganteng!” sambung Rindang dengan tegangan yang tak mereda sedikitpun. Sambil merebut stick drum dari tangan Cintya, Rindang terus bicara. Begitu kedua stick drum itu berada di tangan nya, Rindang berjalan ke tengah

dan mengangkat stick tinggi-tinggi, lalu dengan lantang berucap: “Demi kecintaan kita pada musik… Demi kesetiakawanan kita… Disaksikan stick drum yang agung, yang menggelorakan setiap detak nafas kita. Inilah sumpah kita. Tidak akan pernah ada saat kita mencintai Omet, Didom, cacu dan … Rio!” Harva memegang stick drum yang ada di tangan Rindang sebagai tanda turut berikrar. Cintya menyusul melakukan hal yang sama. Dengan berat hati, Merpati pun turut bergabung. Hari itu, semakin kental permusuhan Geng Cokol dan The Caredox Girls! Di depan kelas Merpati mendapati Cintya dan Harva yang tengah kebingungan menghadapi Rindang yang pasang muka cemberut. Rindang tak sedikitpun memberi reaksi ketika diajak bicara. Tak betah melihat Rindang begitu, akhirnya Merpati yang duduk di sebelah Rindang mengajukan pertanyaan straight to the point: ”Memangnya kamu tahu dari siapa kalau bokap lo mau kawin lagi?” “Dari foto! Nih!” katanya sambil menunjukkan foto yang sudah disobek menjadis erpihan kecil-kecil. “Hah! Ini kan Tante Wina!” merpati kaget setengah mati melihat sosok perempuan yang ada di dalam foto yang baru saja ia satukan itu. ‘Dia itu tante Wina, adik nyokap gue!’ Gue mesti ngomong sama nyokap gue!” kata Merpati membuat hati Rindang sedikit tentram.

Tok! Tok! Dika mengetuk pintu rumah Susan dengan rada ragu. Ibu susan datang membukakan pintu. “Mau nyari siapa, nak?” “Selamat siang, Susan ada, Tante?” saya Dika, teman sekolahnya.” “Ooo… Tunggu sebentar, ya. Ibu panggilkan dulu. Ayo, silakan masuk.” Selama menunggu, Dika mengobral pandangannya ke seluruh ruangan, dari kiri ke kanan, lalu kembali lagi ke kiri. Tidak banyak waktu yang dibutuhkan Dika untuk merekam semua detil ruangan itu. Soalnya ruangan itu tak banyak berisi perabotan. Hanya kursi tamu dan beberapa dekorasi rumah yang sangat sederhana. Ini adalah sebuah pemandangan ganjil yang pernah Dika lihat. Jika disuruh menduga bagaimana kondisi keluarga yang tinggal di rumah ini berdasarkan tata letak ruang tamunya, Dika akan merasa kesulitan. Ini boleh dibilang keputusan yang nekat,. Seandainya Omet, cacu dan Didom tahu kalau Rio bertandang ke rumah Merpati di malam minggu, pastilah mereka kan mengguyur habis dirinya dengan ledekan dan umpatan, bahkan makian. Tapi itulah kejadiannya. Malam itu Rio tengah berhadap-hadapan dengan Merpati, gadis cantik anggota The Caredox Girls, geng cewek yang menjadi musuh bebuyutan Geng Cokol. Sebagai anggota Geng Cokol, sesungguhnya sudah sejak lama ia menginginkan diberlakukan gencatan senjata dan penandatanganan ikrar perdamaian antara kedua kelompok yang nyaris selama dua tahun saling berseteru itu. Tapi, kondisi internal geng

masing-masing masih belum memungkinkan untuk dibangun hubungan bilateral yang harmonis diantara keduanya. Mudah-mudahan ini bisa jadi kunjungan diplomatik pertama yang membuka jalan ke arah perdamaian antara Geng Cokol dan The Caredox Girls, begitu pikir Rio sebelum berangkat tadi. Tapi, ketika tiba di rumah Merpati, pikiran Rio jadi berubah 180 derajat. Kunjungan diplomatik yang semula bertujuan untuk mendamaikan kedua kelompok, berubah menjadi menggabungkan dua komandan. Jadi, suit… suit…!, Rio dengan terus terang mengungkapkan perasaan cintanya pada Merpati. Setiap orang tentulah punya problematika sendiri-sendiri. Tapi Dika merasa tak banyak teman yang menghadapi problem sepelik yang ia hadapi. Dika naksir seorang cewek bernama Susan. Ia melakukan pendekatan dengan cara-cara yang biasa digunakan orang yang jatuh cinta. Berkenalan, mengajak berbincang lalu mengungkapkan perasaan cintanya melalui surat. Tak ada yang aneh. Tak ada yang bertelbihan. Tapi, kenapa jalan cinta yang dia tempu menjadi begitu menjelimet? Heeeeeeek! Suara itu begitu kencang merobek keheningan udara subuh di rumah Susan. Susan mual-mual lagi. Perutnya terasa melilit-lilit dan hendak menyemburkan seluruh isinya. Segera ia berlari ke kamar mandi untuk menumpahkan gas dan isi perutnya yang memebrontak. Ibu Susan yang mendengar suara gaduh itu, segerta datang menghampiri. Dipijat-pijatnya

tengkuk Susan agar cairan yang hendak menyembur dari dalam lambung dapat keluar dengan lancar sehingga perut Susan cepat lega. Tetap saja tak ada sesuatu pun yang keluar dari mulut Susan kecuali air liur yang mengental. Tahulah ibu Susan apa yang terjadi. Susan hamil. Guru BP memmanggil Susan ke ruangan bimbingan dan konsultasi. Panggilan itu adalah iklan yang cukup ampuh untuk menyiarkan ke seluruh siswa bahwa Susan hamil. Di pelataran gedung, para murid dan guru serta orang-orang tampak berkerumun. Mereka semua mendongak melihat ke puncak gedung dimana Susan berdiri dan siap untuk melompat. Merpati berlari ke dalam gedung, lalu menaiki tangga menuju puncak gedung. Dihatinya hanya ada satu tekad yang menggumpal yaitu

menyelamatkan nyawa Susan. Susan menelungkup di pangkuan Merpati, sambil menangis ia

menceritakan kisah hidupnya yang tragis. “Lo harus tegar, san. Lo harus tetap sekolah buat ngewujudin cita-cita dan harapan lo.” Merpati menghiburnya sambil membelai-belai rambut susan. Drai semua cerita yang ia beberkan dan akhirnya tersiar oleh media, ada satu hal yang penting yang ia simpan rapat-rapat. Sesuatu yang hanya Tuhan yang tahu, yakni cinta dan kekagumannya pada seorang cowok yang dengan tulus mencintainya. Cowok itu adalah Dika.

Tema : cinta dan kehidupan seorang gadis bernasib malang. Tokoh & watak :  Merpati : jahil, tengil, usil, slebor, cuek, perhatian.  Rindang : lucu, keras.  Cintya : setia kawan, suka jahil.  Harva : penakut, cuek, lemot.  Rio : cool, calm and conpident, konyol.  Omet : penakut, polos.  Didom : penakut, humoris, jahil.  Cacu : jeli, meledek, penakut.  Susan : misterius.  Dika : tulus.  Didi Rabbani : kutu buku, culun.  Gaga : setia kawan.  Pak Maman : perhatian dan bijaksana.  Papa+Mama Merpati : baik, perhatian dan bijaksana.  Kak Yuda : humoris, perhatian.  Mbok Misem : rajin.  Papa Rindang : humoris.  Mama Rindang : sensitive, perhatian.  Ayah Susan : kejam, keras.

 Ibu Susan : penyayang.  Ari : baik,perhatian, setia kawan.  Tante Wina : baik, jujur. Alur : maju-mundur, maju. Setting : Rumah Merpati, SMU garuda (kelas, di kantin, BP), rumah Susan, Rumah Rindang, studio band, SMU Pancasila, di jalan, Food Court. Amanat : rasa cinta dan ketulusan hati mampu mengatasi segala kesulitan bahkan kematian sekalipun.

Just another WordPress.com weblog

Unsur intrinsik pada novel Pada Sebuah Kapal oleh N.H Dini
Di bab 7, Sri pun menikahi Charles Vincent. NH Dini menyimpulkan bahwa Sri tidak meminta ijin dari keluarganya, yang membuat Ia terkesan pemberontak, dan cuek terhadap kata-kata yang terlontar dari keluarganya. Di bab ini pun tertulis ”Dan apalagi uang akan kau kerjakan dengan kewarganegaraanmu, kau seorang penari, dan kau penari tanah airmu.” Kalimat ini dilontarkan oleh Sutopo yang menentang keras pernikahan Sri dan Charles. Kalimat ini menyimpan unsur nasionalisme yang terselubung. Sutopo mengatakan bahwa dengan kewarganegaraan Sri yaitu Indonesia, Ia tidak patut untuk menikah dengan seorang yang berkewarganegaraan asing. Tema Tema di dalam cerita ini kurang lebih menceritakan tentang perasaan seorang perempuan (Sri) di dalam kesehariannya diantara keluarga, hubungannya dengan dunia luar, speperti dengan teman-temannya, dan juga kisah percintaan yang dialaminya. Bisa dijebut juga roman/romansa. Latar Latar pada novel ini berganti serining beralurnya cerita. Sri berkunjung ke Semarang. Jakarta, Perancis, Jepang, dan beberapa kota lainnya. Walaupun demikian, hampir setengah bagian dari buku ini menjelaskan tentang keseharian Sri di kapal. Latar social Pada awal cerita, Sri mencertiakan tentang masa kecilnya, yang berlanjut dengan ceritanya menikah, kapal, dan hidupnya sebagai ibu. Di bab 7, Sri pun menikahi Charles Vincent. NH Dini menyimpulkan bahwa Sri tidak meminta ijin dari keluarganya, yang membuat Ia terkesan pemberontak, dan cuek terhadap kata-kata yang terlontar dari keluarganya. Di bab ini pun tertulis ”Dan apalagi uang akan kau kerjakan dengan kewarganegaraanmu, kau seorang penari, dan kau penari tanah airmu.” Kalimat ini dilontarkan oleh Sutopo yang menentang keras pernikahan Sri dan Charles. Kalimat ini menyimpan unsur nasionalisme yang terselubung. Sutopo mengatakan bahwa dengan kewarganegaraan Sri yaitu Indonesia, Ia tidak patut untuk menikah dengan seorang yang berkewarganegaraan asing. Alur Cerita dan Konflik Konflik eksternal terjadi pada Sri ketika Ia memutuskan untuk bekerja menjadi pramugari, tetapi gagal karena sakit. Konflik lainnya pun menyusul dan juga membuat cerita lebih menarik. Alur cerita masih membicarakan tentang penari, dan kehidupannya saat masih gadis. Alur cerit aberubah menjadi semakin menarik dan seru ketika romans nya dimulai. Konflik yang mengambil tempat disini yaitu adalah antara Sri dan Sutopo, tetapi juga konflik internal yang ada di pikiran Sri. BUkan ahanya perdebatannya dengan Sutopo saja, melainkan juga Sri tetap ber argumentasi dengan pikirannya sendiri. Tokoh Tokoh utama pada novel ini adalah narrator, yaitu Sri sendiri. Ia dikelilingi oleh berbagai

macam tokoh dan penokohannya masing-masing. Contohnya, Charles yang antagonis, Narti dan Michel sebagai teman dekatnya yang hanya muncul beberapa kali dalam novel ini. Sangat terlihat bahwa Sri adalah perempuan yang tangguh dan bisa menerima konsekuensi nya sendiri. Di halaman 117 dikatakan ”Aku akhirnya berkata bahwa aku yang akan kawin. Aku sanggup menerima segala akibatnya seorang diri.”. Terdengar sangat berani, Sri sepertinya benar-benar keras kepala untuk menikahi Charles. Amanat Amanat yang saya dapatkan dari cerit aini adalah bahwa belum tentu kita mengenal orang yang kita kenal, dalam artian bahwa tidak ada batas waktu yang ditentukan untuk mengetahui seluruh seluk-beluk karakter orang. COntohnya, Sri berpikiran bahwa suaminya sangat lebut, baik, dan pengertian, tetapi tidak lama setalah menikah, Ia menyadari bahwa suaminya berubah menjadi kasar dan cepat marah. Amanat kedua yang saya dapatkan setalah membaca novel ini juga adalah bagaimana kultur bisa memisahkan kepercayaan ataupun kebiasaan dari pasangan. Karena kultur yang berbeda, dan suami Sri baru mengetahuinya, makanya Ia berubah. Di cerita ini disebutkan bahwa Sri akhirnya pindaj ke Jepang bersama suaminya, Charles. Dan pula ia mengandung. Pada suatu hari ia menyesal akan menikahi Charles, sebab Charles tidak dapat menahan emosinya. Pesan moral yang saya dapatkan adalah bahwa terkadang tidak sepenuhnya kita mengenal orang, walaupun sepertinya suda sangat akrab sekali, karena setiap orang mempunyai sifat yang berbeda, yang mungkin orang lai ntidak tahu, yang bisa berakibat buruk. Sudut Pandang SUdut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah sudut pandang pertama. Narator di dalam cerita ini adalah Sri, sebagai tokoh utama. Jadi kita sebagai pembaca tidak terlalu tahu apa yang Sri rasakan sepenuhnya, karena terkadang Ia tidak menceritakannya. Mungkin inilah apa yang penulis inginkan, bahwa pembaca hanya mengetahui Sri secara terbatas. Gaya Bahasa Gaya bahasa yang digunakan penulis untuk menulis cerita ini sebenarnya bukanlah bahasa yang rumit. Penulisa menggunakan kata-kata dan struktur kalimat yang meruapakan dialog sehari-hari.

Informasi awalan untuk nove Salah Pilih
Kegiatan sebelum membaca buku Salah pilih oleh N. St. Iskandar. Beberapa informasi tentang budaya Minang: • Matrilineal o Garis keturunan dihitung menurut garis keturunan ibu o Suku anak menurut suku ibu o Gelar pusaka tinggi turun dari mamak kepada kemenakan laki laki. o Matrilokal (suami kerumah istri) o Exogami (kawin diluar suku o Sehina semalu, seraso separesao • Memperoleh perlindungan dari system matrilinealnya. • mempunyai posisi yang tinggi dan terhormat dalam keluarga. • secara ekonomi mempunyai hak atas rumah ,sawah, ladang, serta sumber ekonomi lainnya. • Anak perempuan yang putus sekolah umumnya dinikahkan pada usia muda, tidak hanya mengantisipasi berbagai hal yang tidak diinginkan, tetapi juga untuk mengurangi beban orang tua. Nur Sutan Iskandar Nur Sutan Iskandar dilahirkan di Sungai Batang, Sumatera Barat, 3 November1893 dan wafat di Jakarta, 28 November1975. Nama aslinya Muhammad Nur. Setelah menamatkan sekolah rakyat pada tahun 1909 Nur Sutan Iskandar bekerja sebagai guru bantu. Pada tahun 1919 ia hijrah ke Jakarta. Di sana ia bekerja di Balai Pustaka, pertama kali sebagai korektor naskah karangan sampai akhirnya menjabat sebagai Pemimpin Redaksi Balai Pustaka (1925-1942). Kemudian ia diangkat menjadi Kepala Pengarang Balai Pustaka, yang dijabatnya 1942-1945.Ia adalah sastrawan paling produktif di masanya. Sinopsis Novel Salah Pilih Tema Novel ini menceritakan tentang kesalahan seseorang dalam menentukan pilihannya Latar * Latar tempat berada di Minangkabau, Sumatera Barat. Yaitu di Maninjau, Sungaibatang, Bayur, dan Bukittinggi. * Sebagian juga mengambil latar di Pulau Jawa. Sudut pandang dan gaya penulisan

* Sudut Pandang Novel ini menggunakan sudut pandang orang ketiga * Gaya penulisan Bahasa dalam novel ini sebagian besar bergaya Melayu sehingga sedikit sulit dipahami. Juga terdapat beberapa pantun dan peribahasa Melayu dalam novel ini. Amanat * Walaupun sudah berpendidikan tinggi, janganlah lupa pada adat negeri sendiri * Janganlah menilai seseorang dari rupa atau hartanya saja * Jangan membeda-bedakan orang karena kaya atau miskinnya * Menurut pada perintah dan nasihat orang tua itu wajib, tetapi jika perintah orang tua itu salah, sebisa mungkin harus bisa menolaknya * Sesuatu yang menurut orang banyak itu salah, belum tentu merupakan suatu kesalahan Penokohan * Asnah * Asri * Saniah * Mariati * Sitti Maliah * Rangkayo Saleah * Rusiah * Dt. Indomo * Kaharuddin * Mariah * St. Bendahara Kutipan Pendek kata, Asnah sungguh-sungguh kawan sejati bagi Asri. Baik di dalam kesusahan dan kesukaran, baikpun di dalam senang sentosa dan riang gembira. Hal itu sebagaimana bumi dan langit bedanya dengan pengalamannya di kampung dahulu. “Betul-betul salah pilih,” katanya dalam hati apabila ia teringat akan masa lampau itu. ”Akan tetapi,ya,takdir…..” ALUR * Asri adalah seorang pemuda dari Minangkabau yang sedang bersekolah di sebuah sekolah di Pulau Jawa. Namun, karena desakan dari ibunya, ia terpaksa mengubur keinginannya untuk melanjutkan sekolah di sekolah kedokteran. Ia pun kembali ke kampung halamannya dan menikah dengan seorang gadis bernama Saniah.

* Saniah ternyata mempunyai perangai buruk dan sering berbuat kasar terhadap keluarga Asri, terutama pada Asnah, saudara angkat Asri. Saniah pun tak segan-segan berbuat kasar terhadap Asri, bahkan terhadap Mariati, ibu Asri. * Begitu banyak permasalahan muncul hingga Saniah memutuskan untuk pulang ke rumah ibunya. * Suatu saat, dalam perjalanan menuju Padang bersama ibunya, Saniah mengalami kecelakaan dan akhirnya meninggal dunia. * Sepeninggalan Saniah, Asri memutuskan untuk menikah dengan Asnah. Meski sempat mendapat tentangan dari berbagai pihak dan sempat diusir dari kampung halamannya, namun akhirnya mereka berdua hidup bahagia.

3.1 Analisis Unsur Intrinsik Novel 3.1.1 Alur/ Plot Alur adalah penceritaan rentetan peristiwa yang penekanannya ditumpukan kepada sebab-akibat. Untuk merangkai peristiwa-peristiwa menjadi kesatuan yang utuh, pengarang harus menyeleksi kejadian mana yang perlu dikaitkan serta mana yang kiranya harus dipenggal ditengah-tengah. Hal yang demikian berguna untuk lebih menghidupkan cerita menjadi menarik sehingga pembaca berambisi terus untuk menekuninya. Alur dalam cerita kadang sulit untuk dicari karena tersembunyi dibalik jalan cerita. Namun, jalan cerita bukanlah alur. Jalan cerita hanyalah manifestasi bentuk wadah, bentuk jasmaniah dari alur cerita. Dengan mengikuti jalan cerita maka dapat ditemukan alur. Alur bisa dengan jalan progresif (alur maju) yaitu dari awal, tengah, dan akhir terjadinya peristiwa. Tahap progresif bersifat linier. Jalan regresif (alur mundur) yaitu bertolak dari akhir cerita, menuju tahap tengah atau puncak dan berakhir pada tahap awal. Tahap regresif bersifat non linier. Ada juga tehnik pengaluran flash back (sorot balik) yaitu tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Flash back mengubah tehnik pengaluran dari progresif ke regresif. Selain yang tersebut diatas ada juga tehnik alur yang lain yaitu tehnik tarik balik (back tracking) yang dalam tahap tertentu peristiwa ditarik ke belakang. Alur adalah sambung-sinambungnya peristiwa berdasarkan hukum sebab akibat. Alur tidak hanya mengemukakan apa yang terjadi, tetapi yang lebih penting ialah menjelaskan mengapa hal itu terjadi, dengan sambung-sinambungnya peristiwa ini terjadilah sebuah cerita. Sebuah cerita bermula dan berakhir. Antara awal dan akhir ini lah terlaksana alur itu. Tentu sudah jelas, alur itu mempunyai pula bagian-bagiannya yang sederhana dapat dikenal sebagai permulaan, pertikaian dan akhir. Walaupun cerita rekaan berbagai macam contoh, ada pola-pola tertentu yang hampir selalu terdapat dalam sebuah cerita rekaan, yang disebut struktur umum alur, yang digambarkan sebagai berikut : 1. paparan (exposition) Awal 2. rangsangan (inciting moment) 3. gawatan (rising action) 4. tikaian (conflict) Tengah 5. rumitan (complication) 6. klimaks (climax) 7. leraian (falling action) Akhir 8. selesaian (denouement)

Pengarang: Lizsa Anggraeny - Seriyawati Penerbit: Samudera,, PT. Niaga Swadaya Menyemai Cinta di Negeri Sakura

Berdasarkan teknik pengaluran, novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura menggunakan alur sorot balik (flash back), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti regresif. Sorot balik dapat terlihat dalam kutipan berikut : “Hari itu aku pergi berbelanja ke Supermarket yang agak jauh dari rumahku….” (Lizsa, 2007 :166). “Kejadian itu telah berlalu beberapa tahun, tetapi masih membekas kuat dalam ingatan. Karena aku tak tahu mengapa pertanyaan seperti itu terlontar. Hingga kini ku tak tahu jawabnya….” (Lizsa, 2007 :190). 3.1.2 Penokohan/ Perwatakan/ Karakter Penokohan merupakan proses yang digunakan pengarang untuk menciptakan tokoh-tokoh pelaku cerita serta sifat atau gambaran yang berkenaan dengannya. Tokoh yang terdapat dalam suatu cerita memiliki peran yang berbeda-beda. Menurut fungsinya, tokoh dibagi menjadi 3 yaitu : Tokoh Sentral yaitu tokoh yang menentukan gerak dalam suatu cerita. Tokoh Utama yaitu tokoh yang mendukung suatu cerita baik tokoh protagonis maupun antagonis. Tokoh Pembantu yaitu tokoh yang hanya berfungsi melengkapi terjadinya suatu cerita. Menurut perannya, tokoh dibagi menjadi 3 yaitu : Tokoh Protagonis yaitu pelaku yang memiliki watak yang baik sehingga disenangi pembaca. Tokoh Antagonis adalah pelaku yang tidak disenangi pembaca karena memiliki watak yang tidak sesuai dengan apa yang diidamkan oleh pembaca. Tokoh Tritagonis adalah pelaku yang membantu dalam suatu cerita, baik tokoh protagonis maupun antagonis. Penyajian watak dan tokoh serta penciptaan citra tokoh terdapat beberapa metode, masing-masing dengan kelebihan dan kekurangannya. Ada kalanya Pengarang melalui penceritaan mengusahakan sifat-sifat tokoh, pikiran, hasrat dan perasaannya. Kadang menyisipkan komentar pernyataan setuju tidaknya akan sifat-sifat tokoh itu. Secara garis besar dapat mengenal watak para tokoh dalam sebuah cerita yaitu melalui apa yang diperbuatnya melalui ucapan-ucapannya, melalui penggambaran fisik seorang

tokoh, melalui pikiran-pikirannya dan melalui penerangan langsung dari pengarang. Penokohan adalah penampilan watak atau karakter para tokoh oleh pengarang. Penampilan watak yang dilakukan oleh pengarang ada tiga macam cara yaitu : Cara Analitik yaitu pengarang secara langsung memaparkan watak tokoh-tokohnya. Misalnya, pengarang menyebutkan watak tokoh yang pemarah, otoriter, sombong, kasar, dan sebagainya. Cara Dramatik yaitu watak tokoh dapat disimpulkan dari pikiran, cakapan, perilaku tokoh, bahkan penampilan fisik, lingkungan atau tempat tokoh, cara berpakaian dan pilihan nama tokoh, dan sebagainya. Cara Campuran yaitu gambaran watak tokoh menggunakan cara Analitik dan Dramatik secara bergantian. Dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”, cara yang digunakan pengarang untuk menampilkan watak tokoh dalam ceritanya, menggunakan cara Analitik. Pengarang memaparkan watak tokoh-tokohnya yang ditunjukkan pada kutipan berikut ini : “Joy, seorang suami yang otoriter (perintah yang mutlak tidak boleh dilanggar). Namun, disisi lain sebenarnya ia sangat menyayangi istrinya yaitu Ummu S.” ( Lizsa, 2007 :17). “Ummu S, istri Konsulat Bosnia. Lahir dan besar sebagai seorang muslim. Namun, tergerak hati untuk belajar agama di usia senja. Ia seorang ibu rumah tangga, sabar dan pengalah.” (Lizsa, 2007 :15) “Saya percaya, galaknya mertua, cerewetnya mertua atau cap miring apalah yang ada pada mertua, tidak lebih semata-mata karena mereka pun adalah manusia. Hamba Allah yang tak lepas dari sifat baik dan buruk. Namun ada kalanya ibu mertua seperti sahabat yang bisa diajak curhat. Kalaupun ada pergesekan,saya anggap hal yang wajar tak perlu dimasukkan dalam hati.” (Lizsa, 2007: 68-69). Berdasarkan fungsinya, tokoh dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” menampilkan tokoh protagonis dan antagonis. Tokoh utama yang protagonis adalah Ummu S, semenjak dalam perantauan negeri Sakura, Nagoya yang individualis, seorang suami yang otoriter. Namun ia tetap tegar dan tabah. Yang akhirnya ia berhasil menarik warga masyarakat Nagoya untuk mengenal islam. Hingga semua berhasil membangun organisasi islamiah di berbagai daerah. Anak-anaknya pun ikut serta menggeluti islam serta suaminya pun mau untuk beragama islam dan berubah menjadi sosok yang penyayang. Tokoh Antagonis adalah Joy suami Ummu S sendiri. Ia tidak setuju dengan agama yang dianut Ummu S yaitu Islam. Dia berusaha mempengaruhi Ummu S untuk melepas jilbab kemana pun ia pergi. Akan tetapi Ummu S mampu mengelak dengan berbagai akal untuk menjawabnya. Pernyataan tersebut terdapat dalam kutipan dibawah ini : “Sudah. Lepas aja tutup kepalanya itu…”katanya. (Lizsa, 2007: 106) “Kalau bisa, jangan pakai itu, kata suamiku kedua kalinya. Liat tuh di TV, orang Islam

ngebom Inggris,” katanya pula. Dia masih mencoba menggoncangkan kemantapan hatiku….” (Lizsa, 2007: 107) Tokoh bawaannya yaitu Kiki, Yosh, Chi-chi, Mertua Ummu S, Shota dan Takahashi. Disebut tokoh bawaan karena kemunculannya berfungsi untuk mendukung tokoh utama, walaupun sebagian ada hubungannya dengan tokoh utama. Dilihat dari cara menampilkan tokoh, dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”menggunakan tokoh bulat. Pengarang menampilkan tokoh protagonist Ummu S selain menyoroti sifat baik, sabar, tabah, rajin sembahyang dan penolong, juga menyoroti sifatyang tidak baik, tidak mensyukuri nikmat Allah yang diberikan kepadanya. 3.1.3 Latar/ Setting Latar adalah tempat suatu peristiwa dalam cerita yang bersifat fisikal biasanya berupa waktu, tempat dan ruang. Termasuk didalam unsur latar adalah waktu, hari, tahun, periode sejarah, dan lain-lain. Latar cerita mencakup kerengan-keterangan mengenai keadaan sosial dan tempat dimana peristiwa itu terjadi. Fungsi latar selain memberi ruang gerak pada tokoh juga berfungsi untuk menghidupkan cerita. Dalam latar ini, pengarang menampilkan tokoh-tokoh dan peristiwa-peristiwa yang selain berkaitan untuk membangun cerita yang utuh. Kemunculan latar dalam cerita disebabkan adanya peristiwa, kejadian, juga adanya tokoh. Tokoh dan peristiwa membutuhkan tempat berpijak, membutuhkan keadaan untuk menunjukkan kehadirannya. Latar dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”meliputi aspek waktu, ruang dan suasana. 1. Waktu Novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” menggunakan istilah waktu dalam cerita seperti pagi, sore, malam, sekian hari, sekian minggu, sekian bulan dan sebagainya. Terlihat dalam kutipan berikut : “Dua minggu kebelakang saya mendapat kabar gembira dari seorang sahabat melalui telepon.” (Lizsa, 2007: 16) “…..Kejadian tersebut telah berlalu lewat dari 10 tahun. Meski kini tak pernah lagi mengejar bus jurusan ini. Namun peristiwanya masih lekat dibenak.” (Lizsa, 2007: 43) 2. Tempat Tempat yang digunakan dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”di Negara Jepang tepatnya di Nagoya. Tempat tinggal Ummu S setelah menikah dengan Joy. Terlihat dalam kutipan berikut :

“Di Nagoya tempat tinggal saya ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap hari ahad pekan ke dua”. (Lizsa, 2007: 192) 3. Suasana Suasana yang tergambar dalam novel ini adalah suasana kota Nagoya yang Individualis. Negara sekuler yang tak peduli akan keberadaan agama. Kehidupan bebas, hedonisme, serta mementingkan karier duniawiah saja. 3.1.4 Gaya bahasa Bahasa dalam karya sastra mempunyai fungsi ganda. Ia tidak hanya sebagai alat penyampaian maksud pengarang, melainkan juga sebagai penyampaian perasaan. Pengarang dalam menyampaikan tujuannya dapat menggunakan cara-cara lain yang tidak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Cara-cara tersebut misalnya dengan menggunakan perbandingan-perbandingan, menghidupkan benda-benda mati, melukiskan sesuatu keadaan dan menggunakan gaya bahasa yang berlebihan. Usaha atau tindakan yang dilakukan sastrawan agar pendengar atau pembaca tertarik dan terpengaruh oleh gagasan yang disampaikan melalui tuturnya dengan pemilihan bahasa, pemakaian ulasan, dan pemanfaatan gaya bertutur Bahasa dalam novel ini menggunakan bahasa tak baku. Bahasa yang tidak sesuai dengan EYD. Terdapat dalam kutipan berikut : “Nggak….nggak suka ah,”kata Kiki dengan wajah tak suka. (Lizsa, 2007:130) “Ah….masih agak sepi, nih,” batinku senang. (Lizsa, 2007: 119) Sementara gaya bahasa antara lain meliputi : Personifikasi Perbandingan Metafora Alegori Perumpamaan Majas Hiperbola Pertentangan Ironi Litotes Metonimia Pertautan Alusio Eufimisme Sinekdok Parsprototo Totemproparte Serta menggunakan gaya bahasa personifikasi yaitu membandingkan benda yang tercantum dalam kutipan berikut : “….suara hati yang satu makin menonjolkan dorongannya.” “Tapi aku ragu, dan sedikit takut kalau nanti tak berjalan lancar….,” bisik hati yang lain. (Lizsa, 2007: 118)

3.1.5 Amanat Amanat adalah suatu ajaran moral atau pesan yang ingin disampaikan pengarang. Amanat dipakai pengarang untuk menyampaikan tanggung jawab problem yang dihadapi pengarang lewat karya sastra. Amanat merupakan pesan atau gagasan yang mendasar yang dituangkan pengarang dalam karyanya untuk memecahkan peristiwa yang terjadi. Istilah amanat berarti pesan. Amanat cerita merupakan pesan pengarang kepada pembaca atau publiknya. Pesan yang hendak disampaikan mungkin tersurat. Tetapi mungkin juga tidak jelas, samara-samar atau tersirat. Amanat yang terdapat dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” adalah : “Hendaknya seseorang bersabar dalam segala hal menghadapi cobaan hidup, tetap mempertahankan islam diri di Negara yang minoritas Islam, hura-hura, hedonisme dan sebagainya. Dan setidaknya kita mampu mengajak non muslim atau orang-orang tak beragama untuk bergabung masuk islam dengan teknik pengajaran yang menarik.” Inilah amanat yang dapat penulis ambil dari novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati yang diambil secara tersirat. 3.1.6 Tema Pengarang dalam menulis ceritanya bukan sekedar mau bercerita tetapi mau mengatakan suatu hal pada pembacanya. Sesuatu yang ingin dikatakan itu bila suatu masalah kehidupan, pandangan hidupnya tentang kehidupan ini atau karakter terhadap kehidupan ini. Kejadian dan perbuatan tokoh cerita, semua didasari oleh ide dari pengarang. Berdasarkan keterangan diatas dan dengan membaca novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati mengisahkan pelaku utama yaitu Ummu S atau Mrs A, dengan segala permasalahan yang dihadapi maka akan ditemukan ide dasar cerita atau tema yang terkandung didalam karya sastra tersebut. Adapun tema dari novel ini ialah keteguhan hati dan pendirian agama dalam negeri perantauan. 3.1.7 Sudut Pandang/ Point Of View Sudut Pandang ialah cara pengarang menampilkan para pelaku dalam cerita yang dipaparkan. Sudut Pandang merupakan hasil karya seorang pengarang sehingga terdapat pertalian yang erat antara pengarang dengan karyanya. Sudut Pandang/ Point Of View menyarankan pada cara sebuah cerita kisahan. Ia merupakan cara atau pandangan yang dipergunakan pengarang sebagai sarana untuk menyajikan tokoh, tindakan, latar dan berbagai peristiwa yang membentuk cerita dalam sebuah karya fiksi kepada pembaca. Pusat pengisahan meliputi : narrator omniscient,narrator observer, narrator observer omniscient, serta narrator the third person omniscient.

Sudut Pandang cerita itu sendiri secara garis besar dapat dibedakan ke dalam 2 macam : persona pertama, gaya “aku”, dan persona ketiga, gaya “dia”. Pusat pengisahan adalah posisi dan penempatan diri pengarang dalam cerita, atau darimana dia melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam cerita itu. Lizsa Anggraeny dan Seriyawati menceritakan para pelaku dalam novel adalah pengarang sebagai orang pertama dengan kata aku atau –ku untuk tokoh utama. Dapat dilihat dalam kutipan berikut : “Aku menguatkan diri sendiri dengan menceramahi diri, mengolok diri dan mempertanyakan langkah-langkahku selama ini.” ( Lizsa, 2007: 109) “Disinilah, cintaku bersemi dan makin mekar kepadaNya. Yang kuharap hanyalah cintaNya.” (Lizsa, 2007: 109) 3.2 Analisis Unsur Ekstrinsik Novel Dalam karya sastra, nilai-nilai pendidikan yang disampaikan penciptaannya dimuat didalamnya. Hasil karya sastra, pengarang tidak hanya ingin mengekspresikan pengalaman jiwanya saja tetapi secara implisit juga mempunyai maksud dorongan, mempengaruhi pembaca untuk memahami, menghayati dan menyadari masalah serta ide yang diungkapan termasuk nilai-nilai pendidikan yang terdapat didalam karya sastra tersebut. Pembaca bisa mengambil nilai-nilai pendidikan yang terdapat didalamnya. Pembaca karya sastra bisa mengambil pelajaran serta hikmah, nilai-nilai dan contohcontoh dari karya sastra yang dibacanya dengan penuh kesadaran sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan dan pengajaran sastra jika ditangani dengan bijaksana, akan membawa kita dan anak-anak didik ke dalam kontak dengan pikiran-pikiran dan kepribadian-kepribadian besar dunia. Para pendidik dan pemikir besar dari berbagai zaman. Unsur kepribadian dapat dilatih melalui pendidikan dan pengajaran sastra, meliputi : 1. Penginderaan (Sensory) Dalam pengambangan aspek ini studi sastra dapat digunakan untuk memperluas jangkauan dari semua unsure penginderaan klasik yaitu pengliatan, pedengaran pengecap, pembau, sentuhan, perabaan, pembeban. 2. Kecerdasan (intellect) Bentuk pendidikan yang paling bernilai adalah yang telah mengajarkan para siswa untuk memecahkan masalah bagaimana memperoleh kebenaran-kebenaran yang memungkinkan. Untuk dapat menguji derajat atau peringkat keberhasilannya. Adapun sastra mengandung hal-hal yang menjadi tuntutan dalam dunia pendidikan tersebut. 3. Perasaan (feel) Sastra memberikan kepada kita sesuatu cakupan situasi dan kegawatan yang luas yang

seakan-akan menstimulasi beberapa jenis respondensi emosional dan juga bahwa dalam keseluruhannya penulis sastra lazim menyajikan situasi-situasi itu dalam cara-cara yang memungkinkan kita untuk mengeksplorasi, mengkaji dalam perasaan kita dalam suatu cara kemanusiaan yang layak. 4. Kesadaran Sosial Sastra berfungsi menghasilkan suatu kesadaran konprehensip terhadap orang lain. Penulis-penulis sastra modern, termasuk penulis sastra Indonesia, telah banyak berbuat untuk merangsang minat dan simpati pada masalah-masalah kegagalan, ketidak beruntungan, ketertindasan, ketidakberhasilan, pengucilan. Rasa hina dan sakit hati, yaitu mereka yang memerlukan protes. 5. Kesadaran Religius Baik suka maupun tidak suka, apakah kita tahu betul atau tidak, segala pikiran dan perbuatan kita secara rutin didasarkan beberapa asumsi positif dan semua kecerdasan manusia pada abad ini, termasuk manusia Indonesia akan selalu didasarkan pada pragmatisme kehidupan mereka yang lebih daripada diatas landasan rohaniah atau spiritual yang rapuh. Berdasarkan uraian diatas, nilai-nilai pendidikan yang terkandung di dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura”dapat dikaji dan dianalisis. Unsur Ekstrinsik novel adalah unsur yang berasal dari luar cerita. Meliputi nilai religi, nilai susila atau nilai estetika serta nilai sosial dan sebagainya. Karya sastra mengandung nilai-nilai pendidikan yang tergantung pada pengertian yang didapat pembaca lewat karya sastra yang dipahami. Nilai-nilai pendidikan tersebut didapat dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” meliputi : 1. Nilai Religi/ Nilai Agama Agama adalah risalah yang disampaikan Allah kepada Nabi sebagai petunjuk bagi manusia dalam menyelenggarakan tata cara hidup yang nyata serta mengatur hubungan dan tanggung jawab kepada Allah, dirinya sebagai hamba Allah, manusia dan masyarakat serta alam sekitarnya. Agama dan pandangan hidup kebanyakan orang menekankan kepada ketentraman batin, keselarasan dan keseimbangan serta sikap menerima terhadap apa yang terjadi. Pandangan hidup yang demikian jelas memperhatikan bahwa apa yang dicari adalah kebahagiaan jiwa, sebab agama adalah pakaian hati, batin atau jiwa. Kesadaran religius dalam upaya mengembangkan kepribadian melalui pendidikan dan pengajaran. Nilai religius dalam novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” antara lain : Salah satu keindahan itu adalah saya semakin menghargai gaungan gema adzan. Ketika masih berada ditanah air, dimana suara adzan sangat mudah di dengar.

Di bulan Ramadhan amalan sunnah dihitung sebagai amalan fardlu diberi ganjaran 700X lipat. Puasa fisabilillah akan dijauhkan wajahnya dari api neraka sejauh 70 tahun. Puasa Ramadhan akan memberi syafaat di yaumil akhir. Terbukanya pintu surga Al-Rayyan bagi orang-orang yang berpuasa. Juga menghapus dosa-dosa yang lalu. (Lizsa, 2007: 188) Kegiatan para tokoh memberi nilai religius dapat terlihat dalam kutipan berikut: …..Allah membimbingnya untuk datang ke sebuah pengajian keliling di daerahnya…. (Lizsa, 2007: 17-18) Di Nagoya kota tempat tinggal saya ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap hari ahad pekan kedua. Acara itu diadakan dirumah salah satu keluarga secara bergantian tiap bulannya. (Lizsa, 2007: 192) 2. Nilai Estetika Semua karya sastra atau karya seni memiliki keindahan apabila terdapat keutuhan antara bentuk dan isi, keseimbangan dan keserasian penampilan dari karya seni yang lain. Nilai keindahan akan tampak lebih relatif, jika yang kita perhatikan adalah penilaian atau penghargaan terhadap sastra itu. Sastra sebagai cabang seni akan melengkapi sentuhan estetis dengan mengembangkan aspek rasa ini demi sempurnanya aspek keindahan dalam sastra, yang dihubungkan dengan tehnik cerita, gaya bahasa, unsur-unsur yang lain sebagai variasinya. Nilai estetika adalah nilai kesopanan dan budi pekerti atau akhlak. Nilai susila adalah yang berkenan dengan tata krama atau disebut beradab. Nilai susila atau estetika dapat terlihat dalam kutipan berikut : “Saya mendengar itu hanya bisa ikut tersenyum geli. Tapi tidak demikian dengan ibu dari sang anak tersebut. Mimik sang ibu terlihat kaget. Ia langsung mendekati saya dan berkata,” Maaf…maafkan anak saya…maaf ,”ujar sang ibu. Bagi setiap orang yang melakukan suatu kesalahan hendaknya segera mengucap maaf, itu adalah cara berperilaku yang baik. Terdapat kata membungkukkan badan, bagi orang Indonesia terutama Jawa itu menunjukkan sikap yang sopan dan menghormati orang lain. 3. Nilai Sosial Keadaan seseorang sebagai individu tidak terlalu penting. Tetapi individu ini secara bersama membantu masyarakat yang selaras akan menjamin kehidupan yang lebih baik bagi masing-masing individu. Manusia tidak bisa lepas hidup sendiri terpisah dari yang lainnya. Lebih-lebih bila seseorang belum mampu menyelesaikan kebutuhan jasmaninya sendiri walaupun itu yang paling sederhana, seperti seorang anak kecil yang belum mampu mengerjakan sendiri untuk mencukupi kebutuhannya seperti misalnya mandi, makan, berpakaian, dan sebagainya tanpa bantuan orang lain baik itu ayah, ibu maupun kakaknya.

Dalam novel ini banyak terlihat interaksi sosial yang terjadi. Antara lain : suasana kebersamaan, saling membantu, menghargai, menghormati dan menyayangi satu sama lain dalam mengerjakan sesuatu akan menghasilkan hal positif. Hal inilah yang dinamakan nilai kerukunan atau nilai sosial. Manusia perlu dihargai, dihormati dan diperlakukan secara layak. Sudah sepantasnya kita menghargai jerih payah dan keinginannya untuk membantu tugas rumah tangga meski tanpa adanya limitasi pekerjaan. (Lizsa, 2007: 74) 4. Nilai Moral Moral merupakan tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari nilai baik-buruk, benar dan salah berdasarkan adapt kebiasaan dimana individu itu berada. Pesan-pesan moral yang terdapat pada novel “Menyemai Cinta di Negeri Sakura” ini bisa diambil setelah membaca dan memahami isi ceritanya. Penulis menemukan segi positif dan negatifnya. Kedua hal itu perlu disampaikan, sebab kita dapat memperoleh banyak teladan yang bermanfaat. Segi positif harus ditonjolkan sebagai hal yang patut ditiru dan diteladani. Demikian segi negatif perlu juga diketahui serta disampaikan kepada pembaca. Hal ini dimaksudkan agar kita tidak tersesat, bisa membedakan mana yang baik mana yang buruk. Seperti halnya orang belajar. Ia akan berusaha untuk bertindak lebih baik jika tidak tahu hal-hal yang buruk dan tidak pantas dilakukan. Nilai Moral dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura, Jadilah seseorang yang menyemai cinta pada-Nya meski berada dalam perantauan. 3.3 Sinopsis Cerita menggambarkan tentang kehidupan Mrs A atau Ummu S, hidup di negeri Sakura dengan keislamannya. Menikah dengan pria pilihannya dengan harapan hidup berkecukupan dan bahagia. Namun, ternyata kebahagiaan itu hanya semu. Istri identik dengan pembantu bagi suami. Perlakuan kasar secara fisik/ melalui ucapan yang melukai hati. Sering terlontar dari laki-laki yang menjadi Qawwam baginya. Perintah-perintah otoriter yang mutlak tak dapat dilanggar. Lemahnya iman dan tak kuatnya dasar pijakan Ruhiyah, menyebabkan dia terombang ambing dalam kehidupan. Ia seorang ibu rumah tangga, yang dianggap remeh ternyata tak sesederhana yang dibayangkan. Melewati tahun pernikahan ke-8 sudah tak terhitung berapa banyak pertanyaaan sejenis tapi Ummu S belum bisa menjawab. Masalah klasik ketidakcocokan antara mertua dan menantu sering terjadi setelah pernikahan. Yang awalnya begitu baik hati dan dirasa lebih perhatian daripada ibu kandungnya sendiri. Seiring berjalannya waktu. Suatu hari ketika memandang cermin. Ummu S merasa banyak kekurangan dalam tubuhnya. Hidung yang tidak mancung *(pesek = Bahasa

Jawa), bulu mata yang tidak lentik, serta berbagai titik minus lainnya yang menimbulkan kekecewaan dalam diri, menimbulkan organ-organ yang tak menghargai kondisi apa adanya. Hingga ketika mencuci piring, tanpa disadari ibu jari tangan kirinya terluka oleh pecahan gelas yang ditumpuk bersama dengan piring kotor. Sehingga dia harus dirawat ke UGD. Ternyata menurut ahli syaraf, otot ibu jari tangan kirinya ada yang putus. Maka dari itu telapak tangan kirinya harus di gips selama 3 pekan. Dan perlu waktu kira-kira 3 bulan untuk mengembalikan fungsi otot. Ini semua terjadi akibat dirinya yang tidak mensyukuri anugerah yang ada. Sekian lama Ummu S memakai jilbab membuat suaminya risih dan menyuruh untuk melepas jilbab. Ummu S hanya diam dan dengan ragu dia menuruti perintah suami. Semakin lama akhirnya dia gerah dengan perbuatan buka tutup jilbab. Merasakan dikejar oleh dosa, merasa mempermainkan Allah. Karena takut akan laknat Allah maka ia pun menentang perintah suaminya dan kembali berjilbab sepenuhnya. Tiap malam memanjatkan dan memohon kekuatan dan kesabaran dan petunjuk-Nya. Meskipun hidup jauh dari suasana keislaman, seperti tidak terdengarnya suara adzan dari masjid-masjid, mushola ataupun langgar, ceramah-ceramah keagamaan di TV atau majelis taklim, tetapi mereka yang minoritas senantiasa berusaha saling menjaga keimanan dan membuat beragam kegiatan. Bahkan di negeri orang inilah rasa persaudaraan sesama perantauan terasa mudah terjalin dan terikat kuat. Setelah tinggal di Jepang, tidak sedikit yang makin meningkat keimanannya dan memakai jilbab. Bahkan bisa mengajak teman-temannya sesama orang Indonesia memakai jilbab dan juga membuat orang Jepang menjadi tertarik dengan agama islam. Di Nagoya, kota tempat tinggal Ummu S ada kegiatan pengajian keluarga yang dilaksanakan tiap hari ahad pekan kedua. Acara itu diadakan dirumah salah satu keluarga secara bergantian tiap bulannya. Lalu tiap hari Ahad di akhir bulan ada pengajian umum yang sebelumnya dimulai dengan acara mengaji untuk anak-anak. Selain itu, untuk menambah jam belajar dan bermain bersama anak-anak, ada pula kegiatan mengaji tiap hari Sabtu di Masjid Nagoya. Juga ada kegiatan mengkaji AlQur’an bagi ibu-ibu. Kelompok mengaji Al- Qur’an ada beberapa kelompok berdasarkan wilayah tempat tinggal karena tempat tinggal mereka tersebar. Untuk mereka para muslimah ada milis Fahima sebagai wadah forum silaturahmi muslimah di Jepang yang mencakup sampai ke negara-negara lain. Ada muslimah dari Perancis, Singapura, Qatar, Amerika dan lain-lain. Meskipun hidup diluar negeri yang fasilitas keagamaannya masih kurang daripada di Indonesia, bukan berarti kehausan mereka akan belajar dan menambah pengetahuan tentang agama Islam tidak tersalurkan. Justru dengan adanya fasilitas teknologi canggih, komunikasi antara mereka bisa berjalan lancar. Ditambah dengan tersedianya transportasi yang beraneka ragam dan tepat waktu, membuat mereka mudah untuk melangkah kaki

menuju majelis ilmu. Dan yang lebih penting lagi, bukan berarti mereka akan dengan mudah berganti agama. BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil pembahasan terhadap landasan teori serta analisis struktural novel menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati pada bab-bab sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : Sastra adalah karya imajinatif bermedia bahasa yang nilai atau unsur estetikanya dominan. Karya sastra adalah sesuatu yang disampaikan oleh sastrawan dalam karyanya adalah manusia dengan segala macam perilakunya berupa rekaan dari sastrawan. Memiliki 5 fungsi (Fungsi rekreatif, estetis, didaktif, moralitas dan religiusitas) yang intinya sebagai hiburan dan memberikan nilai-nilai yang bermanfaat bagi kehidupan. Macam-macam karya sastra modern antara lain : Novel, Cerpen, serta Puisi. Hasil analisis unsur Intrinsik dan Ekstrinsik dalam novel Menyemai Cinta di Negeri Sakura karya Lizsa Anggraeny dan Seriyawati. Unsur Intrinsik meliputi : 1. Alur/ Plot, tehnik pengaluran yang digunakan pengarang adalah tehnik sorot balik/ Flash back yaitu urutan tahapan dibalik seperti regresif. 2. Penokohan, dilukiskan dengan jelas dalam cuplikan-cuplikan novel. Ummu S, tokoh yang menjunjung tinggi nilai-nilai religius dalam tiap langkah. 3. kehidupan dan tegar menghadapi setiap permasalahan hidup yang dialaminya. Sedangkan tokoh lain berkarakter sesuai dengan sifatnya. 4. Latar, meliputi aspek tempat, waktu dan suasana. Latar tempat dalam novel tersebut terjadi di beberapa tempat, antara lain di sebuah supermarket di Jepang, Nagoya, Stasiun Tokyo dan lain-lainnya. Aspek waktu pada tahun 2000-an, kebanyakan bahasa menggunakan bahasa tidak baku layaknya kehidupan saat ini. Suasana kehidupan yang dialami masyarakat Nagoya adalah karier, kesibukan yang dilakukan semata hanyalah kepentingan karier namun masih bersosialisasi dengan masyarakat meskipun ada yang bersifat individualis. 5. Amanat yang dapat dipetik adalah hendaknya seseorang bersabar dalam menghadapi cobaan hidup, tetap mempertahankan islam diri di Negara lain, serta mampu mengajak masyarakat untuk ikut serta menjadi muslimin dan muslimah yang baik. 6. Tema yang terdapat adalah keteguhan hati dan pendirian agama dalam negeri perantauan.

7. Gaya bahasa, dalam novel banyak menggunakan kata-kata tidak baku misal : Nggak…, Ah…, Agak…,…aja, dan lain sebagainya. Majas yang digunakan yaitu personifikasi. 8. Sudut Pandang, pengarang sebagai orang pertama dengan kataaku atau –ku untuk tokoh utama. Unsur Ekstrinsik yang ada antara lain nilai religi adanya masjid tergambar dalam cerita novel meski hanya sedikit, acara siraman rohani dan lain sebagainya, nilai sosial, saling membantu, menghargai, menyayangi satu sama lain serta nilai estetika kesopanan dalam bertingkah laku yang dilakukan tokoh dalam novel adalah ucapan maaf bila sekiranya telah berbuat kesalahan. Itu akan lebih baik daripada tidak mengucap sekalipun.

Unsur-Unsur Intrinsik Dan Ekstrinsik Drama “The Effect Of Gamma Rays On Man-In-The-Moon Marigolds”
10 Votes UNSUR INTRINSIK Tokoh : (Tokoh Utama) Beatrice Hunsdoffer, Matilda “Tillie”, Ruth, (Tokoh Figuran) Nanny, Mr. Goodman, Janice (Tokoh Sentral) Beatrice “Ibu Tillie dan Ruth” Tema : Semangat hidup anak dalam keluarga disfungsional (Tema tergantung persepsi pembaca) Setting : Rumah keluarga Hunsdoffer (Ruang tamu, dapur, kamar) dan Sekolah Terjadi pada pagi dan malam hari Plot : Drama ini menceritakan tentang seorang anak yang tidak diizinkan oleh ibunya untuk bereksperiemen di bidaing sains. Tokoh-tokohnya adalah Beatrice seorang single parent yang menjadi peminum, perokok berat, dan juga ibu yang suka sinis. Ruth adalah anak Beatrice yang menderita penyakit kejang-kejang. Matilda, atau Tillie adalah anak Beatrice yang sangat terobsesi dengan sains dan atom dan satu-satunya dari ketiga wanita ini yang terlihat normal. Mereka tinggal di sebuah rumah bekas gudang sayur-sayuran. Meskipun Tillie sangat senang bersekolah, tetapi Beatrice sering menyuruhnya tetap di rumah untuk membersihkan kotoran kelinci dan melayani nenek tua yang buta dan tuli yang tinggal bersama mereka untuk lima puluh dollar per bulan. Beatrice selalu mengancam untuk membunuh kelinci Tillie. Tillie menemukan peliharaan lain selain kelinci ketika ia membawa benih marigold yang diperlakukan dengan cahaya yang berbeda. Beatrice sangat marah melihat kekacauan yang dibawa oleh Tillie ke dalam rumah. Namun meskipun begitu, Tillie tetap memelihara marigold-nya sebagaimana ia merawat kelincinya. Suatu hari ketika Ruth pulang dari sekolah, ia mengatakan kepada ibunya bahwa Tillie dan marigold-nya menjadi finalis dalam kompetisi sains, dan Beatrice akan muncul di atas panggung bersama Tillie saat ia mempresentasikan penemuannya. Beatrice jengkel, tetapi ini pertama kalinya ia merasa bangga pada dirinya. Selanjutnya silahkan baca sendiri.. UNSUR-UNSUR EKSTRINSIK

Drama “The Effect of Gamma Rays on Man-In-The-Moon Marigolds” Drama ini adalah drama yang menceritakan tentang disfungsi keluarga Hunsdoffer. Dalam drama ini terdapat tiga tokoh utama yaitu Beatrice, Matilda, dan Ruth. Beatrice yang menjadi sosok ibu pada keluarga ini sering memperlakukan anaknya sesuai keinginannya, seperti melarangnya ke sekolah dan memberdayakan anak khususnya kepada Matilda. Drama ini dibuat pada tahun 1964 oleh Paul Zindel dan dipentaskan pada tahun 1970 di New York. Telah mendapatkan penghargaan Pulitzer Prize for Drama pada tahun 1971 dan di-film-kan pada tahun 1972 oleh 20th Century Fox. Paul Zindel – Penulis Drama “The Effect of Gamma Rays on Man-In-The-Moon Marigolds” Paul Zindel adalah seorang penulis drama, pengarang dan juga seorang guru sains. Lahir di Staten Island, New York, USA pada 15 Mei 1936 dan meninggal karena kanker paruparu di New York City, New York, USA pada 27 Maret 2003. Paul Zindel telah menulis 39 buku yang semuanya didedikasikan kepada anak-anak dan remaja. Kebanyakan karyanya yakni tentang remaja atau anak-anak yang tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari orang tuanya. Beliau sendiri tumbuh di tengah keluarga yang kurang harmonis. Ia hanya hidup bersama ibunya yang bekerja sebagai perawat. Sementara ayahya tidak pernah mempedulikannya. Mungkin berdasarkan pengalamannya tersebut beliau merefleksikannya ke dalam drama atau novel. Seperti Confessions of A Teenage Baboon. Sementara novelnya yang berjudul The Pigman yang terbit pada tahun 1968 telah menjadi bahan ajaran di sekolah-sekolah di Amerika. Kondisi Amerika pada tahun 1960-an Amerika pada tahun 1960-an disebuat sebagai masa kelam Amerika. Karena pada masa itu, terjadilah berbagai konflik dan demonstrasi besar-besar untuk membela hak asasi manusia. Kondisi pasca perang dunia kedua ini khususnya perang Vietnam benar-benar merupakan kondisi buruk di Amerika. Banyak mahasiswa yang melakukan protes dan pergerakan-pergerakan menuntut perubahan. Pada masa kelam ini, Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy dibunuh (1963), Partai Black Panther terbentuk (1966), Black Nasionalis Malcolm X juga terbunuh (1965) sebagaimana Revolusional Dr. Martin Luther King Jr., (1968). Karena protes mahasiswa yang begitu agresif mengakibatkan banyak dari mereka yang mati dalam insiden tersebut.

Pada masa tahun 1960-an di Amerika tersebut tidak hanya diwarnai oleh masa-masa kelam tetapi perkembangan-perkembangan positif juga terjadi. Sebanyak 70 juga anak di Amerika tumbuh menjadi remaja yang keluar dari budaya konservatif 50-an di Amerika dan mereka berhasil melakukan perubahan yang berdampak baik bagi pendidikan dan gaya hidup mereka. Berdasarkan latar belakang sejarah yang terjadi pada pasa 1960-an ini, dapat disimpulkan bahwa di saat Paul Zindel menulis drama ini, anak-anak dan remaja pada saat itu sudah dapat melakukan perubahan-perubahan yakni dengan bersekolah dan memiliki pendidikan. Sebagaimana halnya tokoh remaja Matilda yang sangat sendang bersekolah dan melakukan penemuan-penemuan di bidang sains. - Kondisi keluarga di Amerika di Tahun 1960-an Sejak tahun 1960 sampai 1979, jumlah anak-anak Amerika tanpa ayah meningkat dua kali lipat. Satu dari lima anak Amerika pada masa itu tumbuh di dalam keluarga yang dikepalai oleh wanita. Menurut Garfinkel dan McLanahan (1986) “families headed by women with children are the poorest of all major demographic groups regardless of how poverty is measured” (p.11). . the vast majority of these families remain poor for long periods because they have very low education levels and low earning capacity. They lack sufficient child support from absent fathers and receive low levels of public aid (Garfinkel & McLanahan, 1986). Keluarga yang dipimpin oleh wanita dianggap sebagai keluarga termiskin yang akan berlangsung lama karena rata-rata mereka berasal dari latar belakang pendidikan rendah dan pendapatan yang kurang. Serta mereka kekuarangan anak yang tidak diperhatikan oleh ayahnya dan sedikit menerima pertolongan masyarakat. Menurut Wright dan Wright (1992) ada 4 faktor yang dapat menjelaskan hubungan single-parent dengan kenakalan remaja: 1) Masalah ekonomi 2) Kurang pengawasan, control formal dan dukungan sosial 3) Hidup di tengah lingkungan miskin yang memiliki tingkat kriminal yang tinggi (McLanahan & Booth, 1989), dan 4) Meningkatnya sistem hukuman kriminal pada anak Masalah-masalah seperti ini biasanya timbul karena tidak adanya ayah yang dapat membantu dalam menyelesaikan persoalan baik dari segi ekonomi, pengawasan dan dukungan sosial. Inilah yang dapat menimbulkan disfungsi keluarga. Dimana karena banyaknya masalah yang timbul dalam keluarga dan ibu yang memiliki tanggung jawab besar dalam mengatur keluarga tidak mampu lagi melaksanakan kewajibannya mereka pun menjadi seorang peminum, perokok berat, dan suka memperlakukan anaknya sesuai kehendaknya. - Disfungsi Keluarga Keluarga di mana terjadi banyak konflik, perilaku buruk, dan bahkan pelecehan di antara anggota-anggotanya. Anak-anak yang tumbuh di keluarga seperti ini

cenderung berpikir bahwa hal ini normal. Keluarga disfungsional biasanya terjadi akibat kecanduan alkohol, obat terlarang, dan lain-lain oleh orang tua; penyakit jiwa atau gangguan kepribadian orang tua; atau orang tua yang meniru tingkah laku orang tua mereka sendiri dan pengalaman keluarga mereka yang disfungsional. Berdasarkan penelitian di atas yang memaparkan bahwa sejak tahun 1960-an di Amerika sudah banyak wanita menjadi single-parent tanpa kepedulian lagi dari mantan suaminya sehingga timbullah disfungsi keluarga yang mengakibatkan anak-anak tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Bisa disimpulkan bahwa pada masa drama “The Effect of Gamma Rays on Man-In-The-Moon Marigolds” dibuat, sudah banyak disfungsi keluarga dikarenakan kasus single-parent dan masalah-masalah yang ditimbulkan. Menurut Dr. Dan Neuharth salah satu ciri dari disfungsi keluarga adalah orang tua yang mengisolasi anaknya atau tidak mengizinkan anaknya berhubungan dengan dunia luar dan biasanya anak-anaknya dilarang untuk mengembangkan potensi dirinya serta tidak mengizinkan mereka berbicara atau mengeluarkan pendapat. Inilah yang terefleksi dalam drama “The Effect of Gamma Rays on Man-In-The-Moon Marigolds” dimana Matilda yang sering diisolasi oleh ibunya dan dilarang kesekolah bahkan untuk mengembangkan potensi dirinya.

judul : sang pemimpi > pengarang : Andrea Hirata > penerbit/tahun : Penerbit Bentang/ cetakan ke dua puluh, mei 2008 > jumlah halaman : 288 halaman > ukuran : 25 x 13 cm > harga : Rp 49.000,> ISBN : 979-3062-92-4 II. Unsur-unsur intrinsik : ¤ TEMA Novel tersebut bertemakan "Perjuangan dan Pendidikan" karena dalam novel tersebut ketiGa orang anak, sang pemimpi, yaitu : ikal, arai dan jimbroN yang berjuang dEngan sepenuh hati dan tenaga serta penuh dEngan semangat dan optimis agar dapat menggapai apa yang menjadi mimpi-mimpi mereka. Untuk melanjutkan study ke altar suci alamamater sarbonne, prancis dan menjelajahi eropa sampai afrika. ¤ AMANAT : " Berusah, semangat dan optimis" jika kita ingin semua cita-cita kita tercapai kita harus berusaha, semangat, dan optimis. Dan apabila hasilnya nol, sesungguhnya kita mendapatkan keberhasilan yang tertunda kegagalan itu sesungguhnya suatu pelajaran bagi kita agar menjadi seseorang yang lebih baik. Apapun kodisinya kita harus tetap memiliki cita-cita, walaupun dengan logika tidak masuk akal, tetapi didunia ini tidak ada yang tidak mungkin, jadi apapun caranya kita harus tetap " berusaha, semangat dan optimis". ¤ ALUR Campuran, dilihat dari cerita, nOvel ini menceritakan yang telah terjadi di masa lalu dan menceritakan hal yang sedang terjadi serta kejadian yang berSifat kontinu. ¤ LATAR Sekolah, gudang peti es, pasar, dermaga, bioskop, terminal, tanjung priok, perahu, cimahi, Dll. ¤ PENOKOHAN ARAI : Pemberani, penuh perjuangan, pantang menyerah, selalu semangat, selalu optimis, memiliki jiwa solidaritas yang tinggi. IKAL : agak pemalu, penuh semangat, penuh perjuangan, selalu optimis, memiliki jiwa solidaritas yang tinggi. JIMBRON : Pemalu, setia kawan, reka berkorban, baik hati, jiwanya penuh dengan semangat dan pantang menyerah. Dan tokoh yang lainnya seperti Ibu, ayah, pak mustar, pak balia, laksmi, nurmala, dll. Memiliki karakter masing-masing yang kuat. ¤ SUDUT PANDANG Sudut pandang orang pertama. Dimana yang menjdi orang pertama ( aku ) adalah ikal. ¤ GAYA BAHASA Novel ini memiliki gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh pembaca seakan membawa

si pembAcA ikuT serta dalam setiap adEgan. Sangat menyentUh yang mengakibAtkan setiap perisTiwa yang terjadi sangat menarik untuk di baca. ¤ KOMENTAR Novel ini sangat bagus sekali untUk dibaca karena memberikan suatu pesan sekaliGus peran dan ajaran moral kepada pembaca. Serta tidak bertele-tele dalam menyampaikan setiap kejadian sehingga pembaca tidak bosan untuk melahap sampai habis cerita yang disajikan di nOvel ini. Disamping itu nOvel ini sangat memberikan coNtoh pola pikir setiap manusia. Membangun semangat dan rasa optimis untuk meraiH semua cita-cita pembaca.

Hikayat Si Miskin : Sinopsis
Ada seorang suami istri yang dikutuk hidup miskin. Pada suatu hari mereka mendapatkan anak yang diberi nama Marakarma, dan sejak anak itu lahir hidup mereka pun menjadi sejahtera dan berkecukupan. Ayahnya termakan perkataan para ahli nujum yang mengatakan bahwa anak itu membawa sial dan mereka harus membuangnya. Setelah membuangnya, mereka kembali hidup sengsara. Dalam masa pembuangan, Marakrama belajar ilmu kesaktian dan pada suatu hari ia dituduh mencuri dan dibuang ke laut. Ia terdampar di tepi pantai tempat tinggal raksasa pemakan segala. Ia pun ditemukan oleh Putri Cahaya dan diselamatkannya. Mereka pun kabur dan membunuh raksasa tersebut. Nahkoda kapal berniat jahat untuk membuang Marakarma ke laut, dan seekor ikan membawanya ke Negeri Pelinggam Cahaya, di mana kapal itu singgah. Marakrama tinggal bersama Nenek Kebayan dan ia pun mengetahui bahwa Putri Mayang adalah adik kandungnya. Lalu Marakarma kembali ke Negeri Puspa Sari dan ibunya menjadi pemungut kayu. Lalu ia memohon kepada dewa untuk mengembalikan keadaan Puspa Sari. Puspa Sari pun makmur mengakibatkan Maharaja Indra Dewa dengki dan menyerang Puspa Sari. Kemudian Marakrama menjadi Sultan Mercu Negara.

Unsur-unsur intrinsik:
 Tema: Kesuksesan Dibalik Kesengsaraan  Tokoh dan Karakter: - Maharaja Indra Angkasa (Si Miskin): mudah percaya orang lain, lebih mementingkan harta dari pada anak. - Ratna Dewi (Istri Si Miskin): Penyayang. - Marakarma: Mudah memaafkan. - Nila Kesuma (Mayang Mengurai): Penyayang. - Maharaja Indra Dewa: Pendendam, iri hati, murah hati. - Putri Cahaya Kairani: Suka menolong, membela yang benar.  Alur plot: Maju  Setting: Latar : Kerajaan, di laut. Waktu : Zaman pemerintahan Raja Antah Beranta Suasana : Meratapi nasib.

-

• •

Sudut pandang: orang ketiga Gaya Bahasa: Hiperbola: “seorang anak laki-laki terlalu amat baik parasnya dan elok rupanya…” Pesan moral: Jangan mudah percaya kepada orang lain - Tidak boleh iri kepada keberhasilan orang lain

Analisis Hikayat Sri Rama
ANALISIS HIKAYAT SRI RAMA (HSR) Oleh ASEP SAEPUDIN Penyunting Penerbit Ikhtisar Cerita Awal hikayat, diceritakan perihal lahirnya Rawana setelah dikandung ibunya, Raksagandi, selama dua tahun. Pada usia 12 tahun Rawana sudah biasa memukul mati teman-teman sepermainannya sehingga ia dibuang oleh kakeknya, Bermaraja ke bukit Srandib. Setelah bertapa selama 12 tahun di sana, ia bertemu dengan Nabi Adam. Dengan syarat taat akan hukum Allah SWT., ia dianugerahi empat alam kearajaan yang kesemua rajanya tunduk kepadanya, yaitu kerajaan alam keindraan, kerajaan di dalam bumi, kerajaan di laut, dan kerajaan di permukaan bumi. Di negeri keindraan ia berkuasa, beristri Nila Utama dan beranak yang dinamainya Indrajit. Di dalam bumi ia berkuasa, beristri Putri Pertiwi Dewi beranak Patala Maharayan. Di laut ia berkuasa, beristri Gangga Mahadewi dan beranak Rawana Gangga Mahasura. Dalam usia 12 tahun anak-anaknya diangkatnya menjadi raja. Di Serandib sendiri Rawana mendirikan istana kerajaan besar, Langkapuri. Semua kerajaan di permukaan bumi (alam dunia) takluk kepadanya kecuali kerajaan Indrapuri, Birukasyapurwa, Lakurkatakina, dan negeri Aspahaboga. Sepeninggal Rawana, Negeri Indrapurinegara, Bermaraja, kakek Rawana meninggal digantikan oleh Badanul. Setelah Badanul meninggal, naik tahtalah Raja Citrabaha, ayah Rawana. Citrabaha memiliki tiga orang anak, yaitu Kumbakarna, Bibusanam, dan Surapandaki. Citrabaha meninggal digantikan oleh Naruna. Naruna meninggal digantikan oleh Raja Syaksya. Alkisah, terjadi permusuhan antara kerajaan Biruhasyapurwa dengan kerajaan Indrapurinegara. Citrabaha menyerang Birukasyapurwa dan membunuh keluarga raja Datikawaca. Balikasya, anak adik Datikawaca, naik takhta. Setelah mengembalikan kejayaan Birukasyapurwa, Balikasya ingin membalas dendam, menyerang kerajaan Indrapuranegara. Untuk itu, Balikasya mengutus Sipanjalma dan hulubalang lainnya, : Achadiati Ikram : Penerbit Universitas Indonesia Jakarta, 1980

menyelidiki negeri Indrapuranegara. Dalam penyelidikannya Sipanjalma meracuni menteri dan hulubalang musuh. Setelah meninggalkan surat tantangan, Sipanjalma mengundurkan diri ke negerinya. Sardal dan Kemendekata atas suruhan Raja Syaksya, mengejar Sipanjalma ke Biruhasyapurwa. Terjadilan perang besar-besaran. Rawana berusaha dan berhasil mendamaikan peperangan antara kerajaan-kerajaan tersebut. Alkisah pula, Dasarata Raman cucu Nabi Adam dari Dasarata Cakrawati, menikah dengan putri Mandudari, anak Mahabisnu. Dari perkawinan mereka, lahirlah Sri Rama dan Laksmana. Sebagai balas jasa atas pertolongannya, Dasarata juga mengawini Baliadari. Dari baliadari Dasarata dikaruniai dua orang anak, yaitu Berdana dan Citradana. Rawana mendengar kabar bahwa Dasarata memiliki seorang istri yang sangat cantik. Merasa tertarik, dia menemui Dasarata dan meminta Mandudari. Tanpa sepengetahuan suaminya, Mandudari berusaha menciptakan Mandudari tiruan. Mandudari tiruan inilah yang diberikan Dasarata kepada Rawana. Dengan menyamar sebagai anak-anak, Dasarata menemuni Mandudari tiruan. Pada malam harinya, Dasarata kembali ke wujud aslinya dan bersetubuh dengan Mandudari tiruan. Pagi hari Dasarata kembali menjadi anak-anak dan pulang. Beberapa bulan kemudian Mandudari tiruan melahirkan seorang anak perempuan yang sangat cantik. Akan tetapi, karena ramalan Bibusyanam, saudaranya, bahwa suami anak tersebut akan membahayakannya, anak perempuan tersebut dimasukkan ke dalam lung besi dan dibuangnya ke laut. Lung besi itu hanyut ke laut negeri Darwatipura dan ditemukan oleh raja negeri itu, Maharaja Kala. Dengan serta merta air susu istrinya, Minuram Dewi pun terpancar. Putri temuannya itu dinamai oleh Maharaja Kala Sita Dewi. Maharaja Kala menamam 40 pohon lontar berbanjar dan berkata, “barang siapa yang berhasil memanah 40 pohon lontar tersebut dengan sekali panah, maka putri itu akan diberikan kepadanya”. Mencapai usia 12 tahun, Sita Dewi tumbuh dan termashur sebagai putri Maharaja Kala yang sangat cantik. Banyak putra raja yang datang memintanya untuk dijadikan istri. Maka Maharaja Kala mengumumkan bahwa siap yang dapat memanah 40 pohon

lontar yang ditanamnya dalam sekali panah, maka Sita Dewi akan diberikan kepadanya. Dalam sayembara itu, atas panggilan langsung Maharaja Kala, Sri Rama datang mengikuti sayembara. Sri Rama memenangkan sayembara. Akhirnya Sri Rama menikah dengan Sita Dewi. Setelah berhasil melewati peperangan dengan empat anak raja yang sama-sama menginginkan Sita Dewi, Sri Rama memutuskan untuk tinggal di hutan Dalinam, artinya rimba manikam. Mereka ditemani oleh Laksmana. Di hutan itu, Sri Rama dan Sita Dewi mandi di kolam jernih Kala Sehari Bunting. Serta merta mereka jadi kera. Pada saat menjadi kera itu mereka melakukan hubungan intim. Akibatnya, kata Laksmana, Sita akan melahirkan seekor kera. Dengan diurut, akhirnya Sita Dewi mengeluarkan manikam melalui kerongkongannya. Dengan bantuan Bayu Bata, manikam yang telah dibungkus dengan daun budi, dimasukkan ke dalam mulut Dewi Anjani yang sedang bertapa. Akhirnya Dewi Anjani melahirkan seorang anak lakilaki serupa kera yang dinaminya Hanuman. Merasa sakit hati karena hidung Surapandaki, saudaranya, dirumpungkan oleh Laksmana, Rawana berniat membalas dendam melalui Sita Dewi. Dengan akal dan kesaktiannya, Rawana menculik Sita Dewi. Dalam perjalanannya mencari Sita Dewi, Sri Rama bertemu dengan bangau yang memberikan kabar bahwa istrinya diculik Rawana. Sri Rama juga bertemu dengan Jentayu yang melawan Rawana ketika Rawana menculik Sita Dewi. Rawana juga bertemua dengan Sugriwa serta Baliraja. Pada saat di Negeri Lakurkatakina, negeri baliraja itu, datanglah Citradana dan Berdana, dua saudaranya dari negeri Indrapura. Mereka datang untuk mengabarkan kematian ayah mereka, Dasarata, dan ingin menjemput Sri Rama agar bersedia menjadi raja di Inderapuri. Sri Rama menolaknya. Di negeri Lakurkatakina, Sri Rama memperoleh bantuan. Di sini Sri Rama bertemu dengan Hanuman, anaknya yang lahir melalui Dewi Anjani. Hanuman pula yang disuruhnya untuk menyelidiki keadaan Sita Dewi di Langkapuri . Di Langkapuri Hanuman membakar semua istana kecuali tempat tinggal Sita Dewi. Kalau pada saat pergi bertumpukan lengan Sri Rama, maka ketika pulang Hanuman bertumpukan batu kecil di bukit Serandib.

Berdasarkan informasi hasil penyelidikan Hanuman, Sri Rama memutuskan untuk menyerang negeri Rawana itu. Untuk menyeberang ke Langkapuri, dibuatlah tambak dan jembatan penyeberangan. Dalam pekerjaan itu Sri Rama dibantu oleh Maharesi Sahagentala. Setelah tambak dan jembatan penyeberangan selesai dibangun, dimulailah penyeberangan ke Langkapuri dan pecahlah perang antara pihak Sri Rama dan pihak Rawana. Betapa banyaknya rakyat dan prajurit dari kedua belah pihak yang gugur dalam peperangan itu. Sri Rama sendiri berhasil membinasakan Kumbakarna, Badubisa, Patala Marayan, Gangga Mahasura, Indrajit, dan Mulamatani. Dalam peperangan itu, Sri Rama keluar sebagai pemenang. Dengan begitu Sri Rama berhak menguasai Langkapuri dan menjadi raja yang kedaulatannya sangat luas. Ucapan selamat datang dari kerajaan-kerajaan lain, antara lain dari Maharaja Kala dari negeri Darwati dan Citradana serta Berdana, saudaranya, dari negeri Mandupuranegara. Karena ragu akan kesuciannya, Sita Dewi diuji Sri Rama dengan cara dibakar. Ternyata Sita Dewi tidak terbakar sedikit pun. Artinya, Sita Dewi masih suci. Atas saran Bibusanam, Sri Rama mendirikan negeri baru, yaitu negeri Daryapuranegara. Adapun kerajaan Langkapuri dikuasakan kepada Jamumenteri. Di negeri baru itu, Sri Rama mendirikan pemerintahan yang adil dan makmur. Pada saat itu pula, Sita Dewi hamil atas upaya Maharesi Kala. Namun, Sita Dewi dipitnah Kikuwi, adik Sri Rama, sehingga Sita Dewi pergi dan menetap selama 12 tahun di negeri Darwati, bersama Maharesi Kala. Dalam pembuangannya itu Sita Dewi melahirkan seorang anak laki-laki yang dinamai Tilawi. Karena kehilangan Tilawi, saat diasuhnya, Maharesi Kala menciptakan seorang anak laki-laki lain yaitu Gusi yang segalanya persis Tilawi. Kedua anak tersebut akhirnya hidup bersama seperti dua saudara kandung. Setelah sekian lama, Sri Rama mmenyadari kekeliruannya. Menurut keyakinannya Sita Dewi tidak bersalah. Justru Kikuwilah yang bersalah. Karena itu, Sri Rama menjemput Sita Dewi. Sri Rama dan Sita Dewi dikawinkan lagi dengan upacara kebesaran. Mereka kembali ke negeri Daryapuranegara, hidup rukun dan bahagia di negeri yang adil makmur.

Dalam kondisi yang sentosa itu, Sri Rama mengawinkan Tilawi dengan putri Indra Kusuma Dewi, anak Indrajit. Sedangkan Gusi dikawinkan dengan Gangga Surani Dewi, putri Gangga Mahasura. Adapun Hanuman menolak untuk dikawinkan dengan putri Balikasya dari negeri Biruhsyapurwa. Hanuman sempat berperang dengan Tilawi dan Gusi. Peperangan terjadi karena Hanuman menodai istri muda Tilawi, Sendari Dewi. Peperangan terhenti karena Sri Rama turun tangan mendamaikan mereka. Setelah kejadian itu, Sri Rama mengasingkan diri bertapa di Indipuri bersama Sita Dewi. Di sana Sri Rama ditemani Laksmana dan Hanuman. Dalam masa pertapaan Sri Rama dan Sita Dewi mengajari anak-anaknya tentang tata tertib kerajaan. Demikian juga raja-raja lain banyak yang datang menemuinya. Setelah hampir selama empat puluh tahun, Sri Rama akhirnya meninggal dunia. Struktur Hikayat Alur Secara garis besar alur hikayat ini sebagai berikut. Merasa sebagai raja besar di Langkapuri, Rawana meminta Mandudari istri Dasarata, kepada suaminya. Dasarata tidak menolak. Rawana diberi Mandudari tiruan oleh Mandudari Asli. Dasarata meniduri Mandudari tiruan. Mandudari tiruan melahirkan anak perempuan yang kemudian dibuang oleh Rawana. Maharaja Kala menemukan anak perempuan yang dinamainya Sita Dewi. Karena menang sayembara, Sri Rama berhasil memperistri Sita Dewi. Sita Dewi diculik Rawana sebagai balas dendam terhadap Laksmana yang telah menganiaya saudaranya, Surapandaki. Sri Rama berusaha mencari dan merebut Sita Dewi dari Rawana, mendapat bantuan dari Sugriwa dan Hanuman dari kerajaan Lakurkatakina, dari Maharesi Sahagenta. Terjadilah perang besar-besaran antara pihak Sri Rama dan Rawana, dimenangkan Sri Rama. Sri Rama berkuasa di kerajaan Langkapuri kemudian mendirikan negeri Daryapuranegara yang adil makmur aman sejahtera. Sri Rama memiliki anak Tilawi dan Gusi dari Sita Dewi. Sri Rama mengasingkan diri bertapa selama empat puluh tahun dan meninggal. Pada umumnya alur dalam Hikayat Sri Rama (HSR) ini terjalin rapi dan merupakan suatu unsur yang menunjang amanat. Akan tetapi, walaupun dalam keseluruhannya demikian halnya, dalam bagian-bagiannya ia ciri khas lain, sehingga

tampaknya menjadi amat kompleks. Ini disebabkan juga oleh gaya yang menyukai pengulangan, banyaknya tokoh, dan keanekaan peristiwa. Unsur lain yang menambah kerumitan ialah kenyataan bahwa kisah utama ditinggalkan untuk menceritakan peristiwa-peristiwa yang dimaksudkan sebagai persiapan, tumpuan, atau penjelasan dari kejadian-kejadian selanjutnya. Alur-alur kcil semacam itu, yang kemudian masuk dalam alur besar, dinamakan sub-alur (Ikram, 1980: 22). Dalam novel modern, bagian-bagian seperti ini ibarat sorot balik, yaitu sisipan yang menguraikan latar belakang suatu tokoh di masa lampau tanpa melepaskan alur utamanya. Perbedaannya, bahwa dalam HSR hampir tak mengenal masa lampau dan tidak membedakan mana yang lebih penting: semuanya adalah sekarang. Dalam (HSR) ini banyak subalur yang menjadi bagian dari alur. Bagian-bagian alur ini merupakan pengantar bagian yang sebenarnya atau bagian alur yang penting. Selain itu, berfungsi sebagai sarana untuk memperkenalkan tokoh yang akan memegang pernana penting dalam cerita. Hal ini misalnya, terjadai pada kisah Rawana. Setelah memberi gamabaran yang sempurna mengenai pribadi Rawana, penulis meninggalkannya dan beralih ke kejadian-kejadian yang berlangsung selama Rawana bertapa (HSR II). Setelah jelas, keadaan ini pun ditinggalkannya untuk beralih ke cerita yang menjelaskan asal usul Raja Baliksya dan permusuhannya dengan keluarga Rawana (HSR III). Kedua sub alur ini bertemu dalam HSR IV dan berpaut kembali dengan HSR I dalam HSR V yang menceritakan Rawana mendamaikan kedua raja yang berperang dalam HSR IV tadi. Dua kali pergantian tempat dan pokok cerita ini cukup ditandai dengan kata ”alkisah” dan dengan menyebutkan nama tokoh utamanya: ” ... ini diceritakan orang yang empunya cerita ini. Tatkala itu tersebut pulang perkataan Bermaraja.” (HSR : 12). Kata ”pulang” ini mengaitkan pokok baru ini kepada cerita pembukaan (HSR: 1). Kadang-kadang juga didijelaskan tempatnya, ” ... datanglah kepada hikayat Maharaja Balikasya di negeri Biruhasyapurwa.” (HSR: hlm. 24). Untuk memperjelas alur berikut ini adalah kutipan Garis Besar HSR (Ikram, 1980: 36-43). Lampiran A Garis Besar Hikayat Sri Rama

I.

Rawana jadi raja besar (h. 1)

II.

Negeri Indrapurinegara sepeninggal Rawana (h. 12)

III.

Awal mula permusuhan Balikasya terhadap Syakasya (h. 24) Peperangan antara Balikasya dan Syaksya (h. 31)

IV.

V.

Rawana mendamaikan rajaraja (h. 93)

VI.

Kelahiran Sri Rama (h. 140)

Pembuangannya ke Bukit Srandib. (h. 1) Pertapaannya selama dua belas tahun (h. 2) Pertemuan dan perjanjian dengan Nabi Adam (h. 4) Ra jadi raja dalam empat alam (h. 7) Kelahiran anak-anaknya: Indrajit, Patala Maharayan, Gangga Mahasura (h. 8) Rawana ajdi raja raja di Langkapuri (h. 11) Bermaraja, kakek Rawana, meninggal (h. 12) Badanul jadi raja; meninggal (h. 12) Citrabaha, ayah Rawana, jadi raja, kelahiran Kumbakarna, Bibusanam, dan Surapandaki, anak-anaknya; Citrabaha meninggal (h. 14) Naruna jadi raja; meninggal (h. 18) Syaksya jadi raja (h. 22) Negeri Biruhasyapurwa dikalahkan Citrabaha; raja Datikawaca sekeluarga dibunuh (h. 24) Kelahiran Balikasya, anak adik Datikawaca (h. 24) Balikasya mengembalikan kebesaran negeri Biruhasyapurwa; ia ingin membalas (h. 25) Sipanjalma dikirim untuk menyelidiki negeri Indrapuranegara (h. 31) Sipanjalma meracuni menteri dan hulubalang musuh; iameninggalkan surat tantangan (h. 40) Sipanjalma mengundurkan diri ke negerinya (h. 49) Sradal dan Kemendakata mengejar ke Biruhsyapurwa (h. 61) Perang besar-besaran (h. 61) Rawana menemui Syaksya untuk usaha perdamaian (h. 93) Indrajit diutus ke Baliksya (h. 96) Perdamaian terlaksana (h. 126) Rawana membawa saudara-saudaranya dan Jamumenteri ke Langkapuri (h. 136) Dasarata mendirikan negeri (h. 140) Ia mendapat putri Mandudari, anak Mahabisnu; mereka kawin (h. 143) Baliadari menyelamatkan Dasarata dan Mandudari (h. 146) Mandudari melahirkan Sri Rama dan Laksmana; Baliadari melahirkan Berdana dan Citradana (h. 148) Dasarata diselamatkan oleh Baliadari (h. 152)

VII.

Kelahiran Sita Dewi (h. 153)

VIII.

IX.

X.

XI.

XII.

Rawana datang meminta Mandudari; diberi Mandudari tiruan (h. 153) Kutukan Kisuberisu (h. 159) Dasarata mengunjungi Mandudari tiruan (h. 159) Rawana dan Mandudari kawin (h. 163) Sita Dewi lahir dan dibuang (h. 165) Perkawinan Sri Sita Dewi ditemukan oleh Maharesi Kala (h. Rama dan Sita Dewi 172) (h. 168) Sayembara Sita Dewi (h. 171) Sri Rama dijemput oleh Maharesi Kala (h. 172) Sri Rama membunuh Jagini dan Giaganda (h. 181) Ia menang sayembara (h. 185) Sri Rama mengusir Gagak Sura (h. 187)Sita Dewi disembunyikan (h. 190) Perkawinan Sri Rama dan Sita Dewi (194) Perkawinan Sri Rama dan Sita Dewi (h. 194) Sri Rama, Sita Dewi, Peperangan dengan empat anak raja (h. 196) dan Laksmana Sri Rama memutuskan tidak akan pulang (h. menetap di hutan (h. 204) 196) Kelahiran Hanuman dari Sri Rama dan Sita Dewi dengan perantaraan Anjani (h. 209) Sri Rama membunuh Raksasa (h. 213) Pemukiman di hutan (h. 214) Penculikan Sita Rawana ingin mengalahkan matahari (h. 216) Dewi (h. 216) Kematian Bergasinga oleh Rawana (h. 217) Anak Surapandaki terbunuh oleh Laksmana (h. 20) Perkelahian antara Laksmana dan Surapandaki (h. 222) Rawana melarikan Sita Dewi (h. 232) Catayu dikalahkan oleh Rawana (h. 234) Pencarian jejak Sita Kisah kerbau jantan yang dibunuh oleh anaknya Dewi (h. 214) (h. 214) Baliraja mengalahkan kerbau Hamuk (h. 245) Kekalahan dan pembuangan Sugriwa (h. 250) Pertemuan Sri Rama dengan bangau (h. 254) Pertemuan dengan Catayu (h. 258) Pertemuan dengan raksasa (h. 263) Pertemuan dan perjanjian dengan Sugriwa (h. 266) Sri Rama dicobai (h. 269) Kematian Baliraja oleh Sri Rama (h. 273) Penyerahan kerajaan Dasarata meninggal (h. 281) kepada Berdana dan Berdana dan Citradana menjemput Sri Rama (h. Citradana (h. 281) 284)

XIII.

Perjalanan Hanuman menemui Sita Dewi (h. 290)

XIV.

XV.

XVI.

XVII.

XVIII.

XIX

Sri Rama mencari orang yang dapat melompat ke Langkapuri (h. 290) Hanuman dikenal oleh Sri Rama sebagai anaknya; ia sanggup melompat (h. 297) Hanuman berangkat (h. 303) Pertemuan dengan Maharesi Kipabara (h. 304) Hanuman menyelundupkan cincin Sri Rama kepada Sita Dewi (h. 307) Pertemuan dengan Sita Dewi (h. 309) Hanuman merusak Langkapuri (h. 313) Persiapan pembuatan Dua orang hulubalang mencari tempat terdekat tambak (h. 329) (h. 329) Sri Rama berangkat (h. 336) Pengaduan maharesi Sahagentala kepada Sri Rama (h. 338) Peperangan melawan jayasinga (h. 346) Pembangunan Pekerjaan dimulai (h. 383) jembatan dan Perkelahian Hanuman dengan Nola Nila (h. 385) peristiwa-peristiwa Penemuan maulhayat (h. 389) selama itu (h. 383) Sita Dewi ditipu oleh Rawana dengan berita Sri Rama sudah mati (h. 393) Sagasadana memata-matai tentara Sri Rama (h.409) Gangga Mahasura merusak tambak (h. 418) Tambak selesai (h. 421) Permulaan Sri Rama berangkat menyeberang ke Peperangan (h. 421) Langkapuri. (h. 421) Peringatan Bibusanam dan penyeberangannya ke pihak Sri Rama (h. 426) Peringatan Indrajit kepada Rawana (h. 435) Kematian Sepuluh hulubalang Rawana mati dalam Kumbakarna (h. peperangan (h. 439) 439) Kumbakarna dipanggil (h. 443) Peringatan Kumbakarna (h. 446) Kematian Kumbakarna oleh Sri rama (h. 449) Kematian Badubisa Hanuman diutus ke Rawana membawa surat (h. (h. 461) 461) Badubisa dikeluarkan untuk melawan Sri Rama (h. 468) Kematian Badubisa berkat petunjuk Bibusanam (h. 469) Kematian Patala Patala Maharayan sanggup melawan Rawana (h. Maharayan (h. 479) 479) Peringatan Jamu Menteri (h. 482) Penculikan Sri Rama (h. 486) Pengejaran oleh Hanuman (h. 498)

XX. XXI. XXII

Kematian empat anak Rawana (h. 529) Kematian Gangga Mahasura (h. 543) Kematian Indrajit (h. 549)

Perang dengan Laguda Indra dan Sampa Wadini (h. 499) Pertemuan dengan Niwarani (h. 505) Kisah tamanta Gangga (h. 511) Amiraba dibunuh; Periaban dirajakan (h. 519) Sri Rama dibawa pulang (h. 520) Patala Maharayan dibunuh oleh Sri Rama (h. 523) Mereka ditinggalkan oleh Indrajit (h. 530) Mereka berperang dan mati (h. 532)

XXIII. XXIV.

Kematian Mulamantani (h. 620) Kemenangan Sri Rama atas Rawana (h. 648)

XXV.

Sri Rama jadi raja di Langkapuri (h. 690)

Indrajit akan maju (h. 549) Sri Rama bersiap diri dengan petunjuk Hanuman (h. 551) Indrajit menyerang (h. 552) Sri Rama kena panah; Anggada mengambil obat (h. 555) Indrajit mau membunuh Sri Rama dengan diamdiam (h. 557) Hanuman mengambil obat untuk yang mati (h. 565) Pemujaan Indrajit digagalkan oleh Laksmana (h. 577) Peperangan (h. 582) Indrajit berpamitan kepada istrinya (h. 596) Indrajit melawan Laksmana; kematiannya oleh Sri Rama (h. 605). Peringatan Mandudari (618) Sejarah Mulamantani (h. 620) Mulamatani dibujuk oleh Rawana (h. 624) kematiannya oleh Sri Rama (h. 632) Peperangan (h. 648) Laksmana kena panah Rawana (h. 655) Hanuman memanggil obat (h. 656) Ia mengiikat rambut Rawana dan Mandudari (h. 667) Perang antara Sri Rama dan rawana (h. 672) Hanuman menanyakan kematian Rawana kepada Sita Dewi (h. 690) Sri Rama masuk kota (h. 690) Sita Dewi membakar diri (h. 692) Sri Rama menata negeri (h. 695) Berdana dan Citradana datang (h. 703) Perkawinan Kikuwi dan Bibusanam (h. 706)

XXVI.

Pendirian negeri baru (h. 717)

XXVII. XXVIII . XXIX

Pengusiran Sita Dewi (h. 730) Masa kanak-kanak Tilawi dan Gusi (h. 738) Sri Rama dan Sita Dewi rukun kembali (h. 749)

XXX

Sri Rama mengatur rakyatnya (h. 763)

XXXI.

Perkelahian Tilawi dan Hanuman (h. 787) Pengunduran Sri Rama (h. 798)

XXXII.

Kunjungan Maharesi Kala (h. 709) Pengungkapan rahasia kelahiran Sita Dewi (h. 710) Berdana dan Citradana pulang (h. 715) Saran Bibusanam untuk mendirikan negeri (h. 717) Pembangunan negeri idaman Daryapurenegara (h. 717) Gambaran pemerintahan yang adil dan makmur (h. 725) Sita Dewi hamil (h. 730) Ia dipitnah oleh Kikuwi (h. 733) Ia pergi ke Maharesi Kala (h. 736) Kelahiran Tilawi (h. 738) Gusi diciptakan oleh maharesi Kala (h. 738) Kepahlawanan mereka (h. 741) Sri Rama insaf bahwa Sita Dewi tidak bersalah (h. 749) Penjemputan Sita Dewi (h. 750) Laksmana ditangkap oleh Tilawi dan Gusi (h. 751) Sri Rama dan Sita Dewi dikawinkan lagi dengan upacara kebesaran (h. 757) Mereka pulang ke daryapuranegara (h. 759) Gambaran negeri yang makmur dan bahagia (h. 760) Berdana dan Citradana dijemput (h. 762) Perkawinan Tilawi dan Gusi (h. 764) Hanuman tidak mau dikawinkan (h. 777) Percakapan Laksmana, Berdana, dan Citradana mengenai Hanuman (h. 778) Berturut-turut Sri Rama mengawinkan dan merajakan Hanuman Tugangga, Pariaban, Jambuana, Sugriwa, anila, Anggada, Anggata, Mahabiru, Karang, Ketula, dan janda-janda raksasa (h. 781) Bibusanam tidak mau menjadi raja (h. 784) Perkawinan anak-anakBerdana dan Citradana (h. 785) Tilawi kawin dengan anak Bibusanam (h. 787) Hanuman menodai istrinya (h. 789) Perang antara Tilawi dan Gusi melawan Hanuman (h. 792) Pendamaian oleh Sri Rama (h. 796) Sri Rama membuat negeri tempat bertapa (h. 797)

XXXIII .

Akhir hayat Sri Rama (h. 802)

Sri rama dan Sita Dewi bertapa dan ditunggui oleh Laksmana dan Hanuman.(h. 802) Ciradana dirajakan di Aspahaboga (h. 800) Sri Rama memberi pelajaran kepada Tilawi dan raja-raja yang lain (h. 803) Sri Rama wafat setelah empat puluh tahun bertapa (h. 806)

Berdasarkan Garis Besar HSR di atas, kita bisa melihat bahwa HSR VI merupakan permulaan cerita utama. HSR I –V merupakan sub-alur yang berfungsi untuk memperkenalkan Rawana yang nanti dalam hidup Rama akan memegang peranan yang penting. Pola semacam ini dijumpai berkali-kali dalam hubungan yang lebih sempit. HSR VI-IX memperlihatkan kejadian-kejadian yang membina ke arah pertemuan antara kedua tokoh utama; suatu tahap yang terutama merupakan perkembangan watak. Dalam HSR X terjadi paeristiwa yang menentukan jalannya cerita setelah sebelumnya peristiwa tersebut dibina dengan baik: Sita Dewi diculik; dan tugas Rama jelas, yaitu ia harus merebutnya kembali. HSR X-XXVI merupakan penyelesaian tugas itu. Titik puncak terjadi pada HSR XXIV. Setelah itu alur mejadi sangat lemah karena cerita hanya menyoroti perkembangan pribadi Sri Rama, yaitu dalam HSR XXV-XXVI yang merupakan masa konsolidasi pertama bagi kedudukan Rama sebagai raja. Sesungguhnya di sini sudah terjadi penyelesaian yang memuaskan, tetapi kegoncangan timbul dengan pembuangan Sita Dewi. Seperti layaknya seorang raja, Sri Rama dapat juga memperbaiki kesalahannya. Pengalaman pahit serta masa konsolidasi yang kedua lebih mengokohkan kedudukannya dan mematangkan budinya sehingga petualangan Hanuman pada HSR XXXI dan XXXIII merupakan penutup yang pantas dari hidup seorang raja yang penuh kebaktian terhadap tugasnya sebagai pelindung alam. Tokoh dan Perwatakan Kisah dalam HSR diceritakan dengan gaya diaan, dan si penutur adalah sebagai the third person point of view. Pengarang bertindak sebagai orang yang menceritakan apa adanya secara objektif. Para Pelaku yang diceritakan sangat banyak. Di antara para pelaku tersebut yang bisa dianggap sebagai tokoh cerita adalah:

Sri Rama, seorang yang secara fisik sangat sempurna. Akan tetapi, dari segi watak sesekali diceritakan berwatak tidak seperti seorang pahlawan. Ia anak Dasarata, cicit Nabi Adam, AS(?) yang dianugerahi Dewata Mulia Raya (Allah Swt) kerajaan, kekuatan, kekuasaan yang tiada bandingnya. Rawana, seorang raja yang pada awalnya memiliki sifat agung sebgai raja. Akan tetapi, kemudian ia menjadi sangat sombong, serakah, kasar, kejam, dan bengis, Ia merupakan tokoh antagonis Sri Rama. Hanuman, seorang anak Sri Rama dan Sita Dewi yang dilahirkan secara tak lazim melalui Anjani. Dia juga sebagai orang kepercayaan Sri Rama dalam melawan Rawana. Dia digambarkan sebagai seekor kera sakti yang terampil, penuh akal, dan tipu daya. Laksmana, adik kandung dan sekaligus abdi Sri Rama. Hampir selama hidupnya, ia mengabdikan diri kepada Sri Rama. Sita Dewi, istri Sri Rama. Ia seorang istri yang ideal model kuno, setia, pasif. Ia tahu akan kewajiban Sri Rama sebagai raja dan ksatria. Dia juga sangat tahu kewajibannya sebagai seorang seorang istri. Tokoh-tokoh lainnya yang bisa dianggap sebagai pelaku cerita yang tidak terlalu penting, yaitu: Dasarata, Mandudari, Maharaja Kala, Citradana, Berdana, Gagak Sura, Catayu, Sugriwa, Kikuwi, Bibusanam, Tilawi, Gusi, Hanuman Tugangga, Pariaban, Janbuana, Anila, Anggada, Anggata, Mahabiru, Karang, dan Ketula (pelaku cerita pembatu Sri Rama); Surapandaki, Sagasadana, Gangga Mahasura, Indrajit, Kumbakarna, Badubisa, Patala Maharayan, Laguda Indra, Sampa Wadini, Mulamatani (pelaku-pelaku pembantu Rawana); Bermaraja, Raksagandi, Citrabaha,Naruna, Syaksya, Balikasya, Sipanjalma, sardal, Kemendakata, dan Jamu Menteri, Baliadari, Kisuberisu, Jagini, dan Gigandini (sebagai pelaku cerita yang netral). Perwatakan para tokoh dilakukan dengan cara penjelasan langsung oleh pengarang, prilaku tokoh tersebut, dan dialog tokoh-tokoh lain. Pengarang memaparkan secara lengsung watak tokoh cerita, misalnya: Adapun anak baginda yang bernama Sri Rama itu pun besarlah, terlalu maha elok rupanya, dalam alam dunia ini seorang pun tiada sebagainya. Syahdan lagi

perkasya dan berani. Datanglah usianya baginda kepada tujuh tahun tahun Maka terlalu sekali nakal. (HSR: 149). Dari awal pemunculannya, Sri Rama ditampilkan sebagai seorang yang memang dipastikan akan menjadi penguasa dunia. Dari pihak ibunya, ia anak dasarata, cucu Maharaja Bisnu (HSR: 264, 278), sedangkan dari ayahnya ia cicit nabi Adam a alaihissalam (HSR: 140). Baik dari sudut agama Hindu maupun Islam ia amat berhak menjadi raja dunia. Ini dikemukakan oleh pengarang secara langsung. Pemaparan tokoh Sri Rama dilakukan juga melalui prilakunya atau peranannya. Hal ini tampak misalnya dalam HSR VIII-IX yang menggambarkan bagaimana gagah dan saktinya Sri Rama. Demikian juga pada HSR XI-XII, XVI-XXIV. Pada HSR XII Sri Rama tampak prilakunya sebagai seorang guru yang mengajarkan ajaran raja adil. Mulai HSR XII ini tampak ada perubahan yang substantif dalam watak Sri Rama. Sebelumnya ia berperan sebagai pahlawan yang bertindak; sekarang ia menjadi tokoh raja yang memerintah dan dijaga hambanya. Demikianlah, pengarang memberikan gambaran watak Sri Rama hampir seluruhnya dilakukan melalui prilakunya. Cara demikian juga dilakukan oleh pengarang dalam menggambarkan watak Rawana (HSR I, V, X, XVI-XXIV). Dalam HSR X tampak prilaku Rawana yang sangat sombong sehingga ingin mengalahkan matahari. ”Aku hendak mengalahkan matahari. Sampaikan aku ke langit.” (HSR, 217). Di bagian tertentu yang terbatas, misalnya pada HSR XIX, watak Sri Rama digambarkan melalui dialog tokoh lain. ”jikalau dipanah tiada membunuh dia, jika ditikam dengan senjata tiadakan membunuh Sri Rama, jika dibakar tiada hangus, jika dibuangkan ke air itu pun tiada ia mati, jika kamu beri makan racun pun tiada ia mati” (HSR: 487-488). Latar Kisah Sri Rama berlatarkan kerajaan-kerajaan yang tidak secara eksplisit disebutkan di mana persisnya. Bahkan nama beberapa kerajaan tidak disebutkan. Nama-nama kerajaan yang tersebut dalam kisah ini yaitu kerajaan Langkapuri, Inderapuranegara, Biruhsyapurwa, Mandupuranegara, Darwatipurwa,

Daryapuranegara, Lakurkatakina, Asphaboga. Berdasarkan asal usul cerita HSR, diperkirakan nama-nama kerajaan itu berasal dari daerah India. Di samping nama-nama kerajaan, HSR juga menyebutkan nama tempat, yaitu bukit Serandib. Lokasi persisnya tempat tersebut juga tidak jelas. Kemungkinan juga berasal dari dari India. Selain itu disebutkan beberapa tempat lain sebagai latar khusus peristiwa, yaitu bumi, hutan, danau, lautan, dan langit/udara (angkasa), taman dan kota. ”Maka tatkalala Catayu pun sampailah ke bumi maka ia telentanglentang ke langit lalu berkata, ”Ya tuhanku, pertemukan kiranya hambamu dengan Sri Rama.” (HSR: 238). Berkenaan dengan latar waktu, dalam HSR ini tidak banyak yang bisa dikemukakan. HSR memberi kesan bahwa itu tidak merupakan faktor dalam cerita. Kejadian-kejadian dalam cerita diurutkan tanpa suatu petunjuk kapan terjadi, mana yang yang terjadi lebih dahulu, mana yang bersamaan, dan mana yang kemudian. Unsur waktu yang bisa diperoleh dari kisah ini adalah waktu-waktu khusus kejadian suatu peristiwa cerita, waktu sehari-hari seperti pagi, siang, malam. Selain itu, kalaupun ada hanyalah penjelas lamanya suatu peristiwa terjadi. Berikut adalah sebagai contohnya: Maka dengan kodrat Allah subhana (hu) wa taala itu Nabi Adam pun diturunkan Allah taala dari dalam syorga, berapa lamanya dalam dunia. Maka sekali peristiwa Nabi Adam alaihissalam berjalan-jalan pada waktu subuh. Maka tatkala itu Nnabi Adam pun bertemu dengan Rawanapertapa itu, kakinya digantungnya ke atas, kepalanya ke bawah. Maka Adam bertanya, ”Hai Rawana ngapa engkau melakukan dirimu demikian dan berapa lama sekarang?” Maka sahut Rawana, ”Ya tuhanku Nabi Allah, lama hamba sekarang baharu dua belas tahun pertapa demikian ini.” (HSR: 4) Perlu dikemukakan di sini bahwa rupanya bagi pengarang bilangan dua belas merupakan angka kesayangan (Ikram, 1980:22). Rawana bertapa dua belas tahun (HSR: 3), menjadi raja di dalam negeri keindraan, di dalam bumi, di laut masingmasing selama dua belas tahun (HSR: 8-9). Sita Dewi kawin waktu dua belas tahun (HSR: 171), ditawan Rawana dua belas tahun (HSR: 615), juga waktu dibuang selama dua belas tahun (HSR: 749). Adapun latar sosial yang tampak dalam kisah ini adalah keadaan masyarakat di lingkungan istana kerajaan. Hal ini tampak pada status para pelaku yang terkelompokkan atas paduka raja yang disembah dan kawula yang mengabdi.

Maka hari pun malam. Maka Bibusanam menghadap Sri Rama. Maka titah Sri Rama pada maharaja Sugriwa dan maharaja Bibusanam dan Hanuman, Anila, Anggada dan hanuman Tugangga, Anggata, Mahabiru, Nola, Nila, Karang, Ketula dan segala raja-raja dan pada segala hulubalang tiga puluh tiga itu, ”Malam ini kita berjaga karena kita hendak menganugerahi ayapan akan segala ra’yat.” (HSR: 557). Seluruh kawula selalu mengabdikan hidupnya bagi kepentingan sang raja sebagai tuannya. Maka kata maharaja Bibusanam, ”Jikalau tuan hamba hendak berdatang sembah pun nanti hari siang karena Sri Rama lagi beradu. ”Maka Indrajit (sangat) ditegur oleh maharaja Bibusanam maka Indrajit pun undur daripada tempat itu. Maka maharaja Bibusanam pun tahulah akan Indrajit. Maka oleh maharaja Bibusanam dihunusnya senjatanya maka ia turun ke tanah mendapatkan Indrajit. Maka ditegurnya Indrajit katanya, ”Mengapatah maka tuan hamba selaku ini menghilangkannnn nama segala laki-laki? Adapun Sri Rama dan Laksmana lagi beradu. Jikalau tuan hamba hendak bertikam marilah dengan hamba karena hamba seorang juga yuang jaga.” (HSR: 560). Bahasa Hikayat Sri Rama Hikayat Sri Rama sebagai bagian dari sastra Melayu, menggunakan bahasa Melayu sebagai medianya. Dalam mengisahkan hikayat ini, pengarang menggunakan bahasa seperti orang yang menceritakan sejarah. Apa yang diceritakan dan digambarkan dari tokohnya adalah apa-apa yang teramati serta eksistensi kejiwaaan yang tersimpulkan dari prilaku para tokoh. Jadi, bahasa digunakan sebagai alat pemaparan (ekspositoris). Bahasa yang digunakan berkesan bahasa lugas, objektif. Bukan bahasa artifisial yang dibuat-buat demi keindahan cerita. Bahkan untuk menggambarkan watak tokoh yang luar biasa sekali pun, pengarang lebih memilih kata-kata pembanding yang terbatas. Adapun anak baginda yang bernama Sri Rama itu pun besarlah, terlalu maha elok rupanya, dalam alam dunia ini seorang pun tiada sebagainya. Syahdan lagi perkasya dan berani. Datanglah usianya baginda kepada tujuh tahun Maka terlalu sekali nakal. (HSR: 149). Dalam hal penggunaan kosakata, HSR cenderung menggunakan kata-kata yang sederhana, tanpa banyak variasi atau perbedaan nuansa. Kata henan, misalnya, digunakan belasan kali dalam pengertian yang berbeda-beda; misalnya, menunjukkan ’heran’ (HSR: 42), ’kagum’ (HSR: 36), ’tertegun’ (HSR: 143), ’bingung’ (HSR: 202), ’sedih’ (HSR: 677), prihatin’ (HSR: 658). Demikian pula halnya dengan sukacita dan dukacita. Kesedihan yang sangat mendalam pada suatu

adegan dinyatakan dengan kata-kata sebagai berikut: Maka maharaja Rawana kembali ke istananya dengan dukacitanya .... empat puluh ari empat puluh malam dalam percintaan ” (HSR:461) atau dengan menangisnya tokoh-tokoh, umpamanya, Laksmana ketika melihat Sri Rama telah diculik (HSR: 499). Dalam HSR, unsur bahasa selain sebagai media untuk mengantarkan cerita, juga berfungsi sebagai pembentuk struktur cerita. Hal ini ditandai dengan penggunaan kalimat-kalimat tertentu sebagai judul dan pengawal episode. Dalam episodeepisode awal peperangan mulai HSR XIII sampai dengan HSR XXXII tidak dipisahpisahkan oleh kalimat-kalimat yang menandakan episode baru. Namun, Kematian Indrajit dalam HSR XXII dan kematian Mulamatani, HSR XXIII, diawali oleh semacam judul yang di sini digunakan untuk menekankan kepentingan peristiwa tersebut. Pemasangan kalimat-kalimat judul di sini selain sebagai pengantar episode baru, juga merupakan upaya penonjolan suatu kejadian, walaupun kecil. Selanjutnya, episode-episode yang berjudul ialah HSR I, II, III, V, VI, X, XI, XII, XXIII, XXVII, XXIX, dan XXXI dua di antaranya mendapat tekanan khsuus dengan ditandai oleh kata-kata ”Ini hikayat ...” . kata-kata ini tidak digunakan pada episode-episode lain. Pada dua puluh episode lainnya kalimat pertama langsung memasuki cerita, meskipun diantar juga dengan kata-kata khusus seperti hata, kalakian, berapa lamanya, alkisah, atau kombinasi kata-kata itu. Acapkali hanya dengan kata yang lebih umum, seperti maka, sudah itu, dan sebagainya. Hal yang menarik dari penggunaan bahasa Melayu dalam hikayat ini, setidaknya bagi penulis yang tidak pernah menggunakan (mengenal) bahasa tersebut adalah bahwa dalam kisah ini sangat sering digunakana kata maka. Berikut penulis kemukakan dua petikan: Maka beberapa lamanya maka putri itu pun bunting datang kepada masanya akan beranak. Maka jadilah anak maharaja rawana seorang laki-laki terlalu baik rupanya dan maha besar panjang sekali. Maka dinamai maharaja Rawana Indrajit. Apabila anak raja itu amarah maka keluar kepalanya tiga dan tanganya enam. Setelah datang umurnya kepada dua belas tahun usianya maka anaknya itu dirajakan oleh maharaja Rawana (pada negeri) pada negeri keinderaan. Sudah itu maka maharaja Rawana pun masuk ke dalam bumi maka ia jadi raja dalam bumi. maka segala raja jin dan sjaitan dalam bumi itu semuhanya dalam hukumnya. Maka maharaja Rawana beristri mengambil anak raja dalam bumi bernama putri Pertiwi Dewi. Dengan demikian berapa lamanya maka beranak

seorang laki-laki anaknya itu terlalu elok rupanya lagi gagah (maka) [maka] dinamai baginda anak itu Patala Maharayan. Maka datang kepada dua belas tahun usia Patala Maharayan maka dirajakan ayahnya dalam bumi ... (HSR: 89). Maka Patala Maharayan pun datang. Maka dilihatnya istana Sri Rama tiada kelihatan karena roma Hanuman. Maka ia naik ke udara maka dilihatnya roma Hanuman sempai ke uadara, tiada ia beroleh masuk. Maka patala maharayan pun turun ke bumi lalu masuk ke dalam bumi maka dikelilinginya bumi dilihatnya roma Hanuman terus ke bawah bumi. Maka ia keluar dari dalam bumi maka iamenjadikan dirinya hama masuk ke dalam roma Hanuman. maka dicaharinya istana Sri Rama. Maka Patala Maharayan pun bertemu dengan istana Sri Rama. Maka dilihatnya para hulubalang berkawal, setengah mengelilingi istana Sri Rama, setengah di bawah istana Sri Rama. Maka Patala Maharayan pun pergi. Maka .... (HSR: 492). Amanat Hikayat Sri Rama Menurut Ikram (1980: 9), cerita Melayu, khusunya yang tertulis, tidak lepas dari sifatnya sebagai alat pengajaran. Dalam HSR hal ini tampak pada bagian tertentu yang beberapa kali muncul, dapat dieknalnya sebagai ’Leitmotif’. ’Leitmotif’ ini merupakan perumusan dari ajaran etika yang dikemukakan oleh cerita sebagai keseluruhan, yang terkandung dalam segenap unsur ceritanya. Untuk pertama kali ’Leitmotif’ ini muncul dalam dialog Nabi Adam dan Rawana (HSR: 5-6). Melihat perjuangan Rawana yang begitu gigih untuk mencapai kemuliaan dan kebesaran, Nabi Adam meluluskan permohonannya dengan memohonkan kepada Allah dengan syarat Rawana harus menjadi raja yang baik. ”Sekarang engkau dijadikan Allah taala raja kepada keempat negeri. Bukan barang-barang kebesaran kauperoleh karena itu kepada seseorang pun belum ada demikian dianugerahkan Allah taala; baharulah kepadamu juga jikalau dapat engkau baik kerajaanmu dan ingat engkau menghukumkan karena Allah subhanahu wa taala, karena dipinjaminya juga kerajaan itu dan berkata benar / dan jangan kaubinasakan hati ra’yatmu dan teguh-teguh negerimu dengan kelengkapan dan segala senjatamu dan kasihi segala rakyatmu dengan hukum sebenarnya dan jangan kaukerjakan barang yang dilarangkan Allah taala. Sekarang engkau hendaklah berjanji engkau dengan aku apabila kauperbuat pekerjaan yang salah atau rakyatmu berbuat pekerjaan yang salah keuperkenankan dan tiada kauhukumkan dengan hukum sebenarnya dengan segala itu juga engkau dibinasakan Allah subhanahu wa taala. Jika engkau mau berjanji demikian, maka aku mau memohonkan kehendakmu itu kepada Allah karena segala raja-raja dunia semuhanya raja pinjaman. Jangan kamu takabur karena kerajaan kamu dan kebesaran kamu semuhanya semuhanya pinjaman

juga. Jangan kamu seperti aku inilah keluar dari dalam syorga sebab tiada menurut titah / Tuhanku dan melalui firmanNya. ... (HSR: 5-7). Amanat yang hampir sama dengan yang dikemukakan Nabi Adam di atas, antara lain dikemukakan pula oleh Jamumenteri ketika ia akan diangkat menjadi raja. Pengangkatan itu ditolaknya karena ia merasa tidak dapat memenuhi persyaratan-persyaratannya (HSR: 18-19). Dari dialog penolakannya sebagai raja, Jamumenteri mengemukakan tujuh persyaratan sebagai raja. Tidak layak menjadi raja jika seseorang tidak memenuhi tujuh persyaratan tersebut. Jika dianalisis dan disusun kembali maka diperoleh tujuh sifat raja yang ideal, yaitu (1) kearifan, (2) keadilan, (3) kasih, (4) sifat-sifat lahiriah yang menarik, (5) keberanian demi harga diri, (6) keahlian perang, dan (7) pertapa. Berikut adalah sekilas penjelasan amanat-amanat tersebut. Kearifan Arif diartikan tahu membedakan dan memilih antara yang baik dan yang buruk. rasa moral yang tinggi seharusnya melandasi semua pikiran dan tingkah laku raja, bahkan harus menjadi kepribadiannya. Dalam HSR digambarkan, karena kurangnya sifat arif itu raja dapat berbuat hal yang akibatnya mencelakakan atau membuat sengsara orang. Rawana yang memperturutkan hawa nafsunya terjatuh dalam perbuatan yang tidak dapat dibenarkan: menculik Sita Dewi, dan keras kepala, menolak mengembalikan Sita Dewi bahkan berniat melawan Sri Rama. Dalam hubungan ini disarankan agar dipertimbangkan baik buruknya suatu perbuatan sebelum dilakukan. ”Itulah segala raja-raja hendak dengan budi bicara agar supaya ia sempurna dalam dunia” (HSR: 243), karena ”manusia tiada pernah menyesal dahulu, kemudian juga ia menyesal”. (HSR: 436, 438). Keadilan Dalam HSR keadilan sering disebut bersamaan dengan kasih. Dapatlah ditafsirkan bahwa keadilan berdasarkan kasih karena dalam hubungan ini raja adalah penguasa, sedangkan rakyat yang tidak berdaya ada dalam naungannya (HSR: 243, 285). Kasih

Sri Rama menasihat kedua saudaranya, ”Jangan tiada mengasihi segala ra’yat yang teraniaya dan mengasihi segala hamba”. (HSR: 286). Sifat ini mendapat penekanan yang utama dalam HSR. Raja harus merasa sayang kepada rakyat dan umat manusia pada umumnya; janganlah ia aniaya kepada siapa pun juga. Rawana telah melanggar hukum ini ketika melarikan Sita Dewi tanpa ”memeliharakan rasa segala hambanya”, begitu kata Catayu (HSR: 235). Sifat-sifat lahriah yang menarik Anggapan unsur ini penting bagi seorang raja bisa terlihat dari gambaran beberapa raja. Maharaja Dasarata dikatakan bahwa ia ”terlalu baik parasnya” (HSR: 140). Sri Rama digambarkan sebagai ”terlalu amat elok rupanya, dalam alam dunia ini seorang pun tiada sebagainya” (HSR: 149). Demikian pula Tabalawi dikatakan ”terlalu elok rupanya” (HSR: 738). Keberanian demi harga diri Raja harus disegani oleh sesamanya. Jika tidak, percumalah martabatnya yang tinggi. Raja wajib berani bertindak jika merasa terhina. Ini dikemukakan oleh Baliksya ketika, untuk menjaga namanya sebagai raja, ia hendak membalas kekalahan yang pernah diderita keluarganya dari tangan keluarga raja Syaksya di masa silam; hanya dengan demikian seorang raja dapat mengharapkan penghargaan dari sesama raja (HSR: 28-29). Keahlian perang Dalam ajaran mengenai perang dan segala sesuatu yang bertalian dengan keprajuritan menduduki tempat yang penting dalam ’Leitmotif’ ini. Keahlian perang tidak terbatas pada pemainan senjata, tetapi mencakup juga segala pikiran yang melatarbelakangi peperangan dan tingkah laku yang bersumber padanya. Bagi raja, termasuk laki-laki dalam peranannya sebagai prajurit, sebagai hulubalang, intinya dikemukakan oleh Bermarajadiraja di depan mayat anaknya yang tewas melawan Sri Rama, ”Baik engkau mati dengan nama laki-laki daripada akan menyembah sama raja-raja yang dijadikan Dewata Mulia Raya dalam dunia” (HSR: 215). Pertapa

Sifat pertapa adalah yang paling menentukan bagi perangai dan sepak terjang raja. Seorang raja yang selalu berkecimpung dalam kemewahan dan kekuasaan jelas sangat terbuka jiwanya bagi rasa takabur, tinggi hati, dan lupa. Dengan pertapaan, yang berarti hidup dalam segala kekurangan, keprihatinan, dan tirakat, kata hikmat tujuh perkara rahasia [akan] membukakan dirinya”; maksudnya ia akan mencapai kearifan yang begitu diperlukan dalam jabatannya (HSR: 19). Ia akan menyadari keterbatasannya sebagai manusia serta menginsafi segala kekuasaannya dan kekayaannya itu tidak kekal; semuanya bisa hilang begitu saja. Tambahan pula segala kekuasaan dan kekayaan itu hanyalah pinjaman dari Dewata Mulia Raya yang justru membawa beban berat sehingga tidak pada tempatnya mereka takabur dan lupa (HSR, 5-6, 203-204). Kealpaan ini dapat dihindari dengan menjauhkan diri dari kesenangan dunia. ”Jangan engkau alpa dengan permainan”, tutur Sri Rama kepada anaknya Tilawi (HSR: 806). ”Jangan lupa lalai dalam kerajaan” (HSR: 285). ”Dunia ini tiada akan sungguh”, semua akan hilang musnah kecuali nama. ”Adapun nama yang baik itu tiada binasa lagi kekal selama-lamanya dalam dunia dan akhirat”, pesan Sri Rama kepada adik-adiknya (HSR: 289). Pada seorang raja, keenam sifat yang lain akan lebih mantap dan pasti dengan terlaksananya sifat yang terakhir. Begitulah amanat terpenting yang diajarkan HSR dan dibawakan oleh Sri Rama dan tokoh-tokoh lain. Beberapa amanat tersebut merupakan amanat utama. Ada beberapa hal lain sebagai amanat penunjang, yaitu: Contoh kerajaan Untuk melengkapi HSR sebagai suatu teladan bagi para raja ada pula dikisahkan kebijaksanaan Sri Rama dalam mendirikan suatu kerajaan (HSR: 718-730), mulai dari bentuk ideal sebuah keraton dengan tembok pertahanannya dan perabotannya semapi kepada cara mencari penduduk yang serba cakap untuk isi negeri. Hamba setia Sifat ini dapat dilihat sebagai penopang yang kokoh bagi wibawa raja. Seiring dengan ketinggian martabat raja, HSR mengajarkan kepatuhan mutlak kepada semua orang yang mengabdi raja. Ini bukan berarti suatu kepatuhan yang buta; justru sebaliknya, kepatuhan yang disertai usaha agar tuannya selalu di jalan yang

benar. Hanuman merumuskan penafsiran tentang hamba yang baik sebagai berikut: ”... manikam yang tiada terhargakan itu menteri yang budiman, yang adil acaranya, dan hamba yang baik menjadikan kerja tuannya ... (HSR: 780). Aspek Mimesis Hikayat Sri Rama Karya seni merupakan dokumen sosial (Teuw, 2003:184). Hal tersebut bermakna bahwa karya seni tidak lepas dan mencerminkan dunia nyata, masyarakat tempat karya seni itu diciptakan. Pada proses penciptaannya, karya seni tidak dapat lepas dari kehidupan sosial sebagai sumber inspirasi. Demikian juga, makna karya seni tersebut, tidak bisa lepas dari penilaian berdasarkan unsur-unsur kenyataan sosial yang ada. Pendapat tersebut didasari oleh pandangan Plato. Menurut Plato, tidak ada pertentangan antara realisme dan idealisme dalam seni: seni yang terbaik lewat mimesis, peneladanan kenyataan mengungkapkan sesuatu makna hakiki kenyataan itu. (Teuw, 2003: 181). Selanjutnya, Teuw menjelaskan, bahwa dalam puitika Cina umumnya aspek mimetik ditekankan: seni, sastra harus meneladani tata semesta, kebenaran kesejahteraan dan kebenaran kemanusiaan. Ciptaan dalam arti rekaan murni tidak dianggap seni (Teuw, 2003:183). Jadi jelaslah, sebagai karya seni, sastra tidak dapat dilepaskan dari kehidupan dan kenyataan sehari-hari. Sebagaimana, dikemukakan Wellek (1990: 79-153) bahwa ada 4 faktor ekstrinsik yang saling berkaitan dengan makna karya sastra, yakni: (1) biografi pengarang, (2) psikologis (proses kreatif), (3) sosiologis (kemasyarakatan), sosal budaya masyarakat, dan (4) filosofis. Demikian juga halnya dengan Hikayat Sri Rama (HSR). Pemaknaan hikayat ini bisa dipahami dengan meninjaunya dari aspek mimesisnya. Berkenaan dengan hal itu, menurut Ikram (1980: 1) HSR tidak hanya disenangi pada masa kini, tetapi juga pada masa lampau. Dari zaman ke zaman cerita ini tidak pernah lepas dari angan-angan nenek moyang kita. Dalam bentuk sastra masih tersimpan antara lain Kakawin Ramayana berbahasa Jawa Kuno; Hikayat Sri Rama berbahasa Melayu; Rama Keling, Serat Kanda, dan Serat Rama gubahan Yasadipura dalam bahasa Jawa Baru. Dalam bentuk pahatan batu, kisah Rama tersimpan pada relief-relief candi Prambanan dan Panataran. Di Bali pun

pengaruhnya terasa dan tersimpan dalam berbagai bentuk. Semuanya ini meliputi kurun waktu seribu tahun lebih. Secara umum diketahui, bahwa cerita Sri Rama berasal dari India. Di tanah asalnya kisah Sri Rama terdapat dalam berbagai bentuk dengan berbagai bahasa daerah; berulang-ualng diolah sejak beberapa abad sebelum Masehi sampai zaman modern. Di antaranya yang paling terkenal dan yang dianggap baku ialah Ramayana karangan Walmiki. Di Indonesia, kisah Rama ini menarik perhatian beberapa orang peneliti, antara H. Kern (1900), Juynboll (1922, 1936), Poerbatjaraka (1940), Manomohan Gosh (1936), Hooykaas (1958). Khusus mengenai HSR sudah diteliti sejak awal, antara lain oleh Roorda van Eijsinga (1843), Maxwell (1886), Shellabear (1915), Gerth van Wijk (1891), Winsteadt (1929) dan Overbeck (1933) (Ikram, 1980:1-2). Berdasarkan metode penelitian struktur cerita yang dikembangkan oleh Propp dalam telaahnya mengenai dongeng rakyat Rusia, Ikram (1980) menganalisis HSR berdasarkan pendekatan sinkronis. Menurut Ikram, cara-cara tersebut dapat diterapkan juga pada sastra Melayu Lama karena keduanya memiliki banyak ciri yang serupa (Ikram, 1980: 5). Berkenaan dengan aspek mimesis, sangat sedikit yang dikemukakannya, meskipun diekmukakannya pula bahwa ”cipta sastra adalah hasil daripa kumpulan paham serta konvensi yang dianut oleh masyarakat yang menghasilkan sastra itu pada suatu kurun waktu tertentu”. Sebagai hasil karya seni manusia, HSR tetap saja mencerminkan kehidupan masyarakat, paling tidak pada aspek-aspek tertentu. Menurut pengamatan penulis, dalam HSR, tercermin aspek kehidupan nyata antara lain latar kehidupan sosial yang melatari kisah ini, alam fisik, alam khayali (metafisik), agama, dan budaya. HSR yang diteliti oleh Ikram (1980) ini didasarkan pada kisah Rama yang ada pada Naskah Laud. Kisah ini tergolong naskah Melayu tertua. Jika naskah ini dibeli oleh Laud pada tahun 1633, sebagaimana tertulis pada catatan kaki naskah, maka naskah ini merupakan penanggalan yang palin awal dari naskah Rama Melayu (Ikram, 1980: 72). Naskah tersebut memiliki ketebalan 807 halaman. Berdasarkan identitas naskah tersebut, HSR ini diciptakan pengarangnya sebelum abad ke-15 atau ke-16. Pada kurun waktu itu, masyarakat dunia, sedang

dikuasai oleh penguasa-penguasa berstatus raja. Wajarlah jika HSR ini berlatar sosial masyarakat di sekitar kerajaan (istana centris). Tidak mengherankan jika kehidupan sosial yang digambarkan adalah kehidupan masyarakat feodal, yang terdiri dari masyarakat umum yang berstatus sebagai abdi (kawula) di satu sisi, dengan kelompok penguasa yang bestatus sebagai tuan. Dari dua kategori masyarakat cerita, yang dominan, bahkan hampir selamanya, berperan adalah kelompok tuan, pembesar kerajaan (raja-raja, hulubalang, dan kalangan istana lainnya), masyarakat kawula hampir tidak pernah diceritakan. Aspek latar cerita lain kisah ini adalah latar fisik cerita. Dalam kisah ini yang diceritakan adalah istana kerajaan, medan peperangan, kota kerajaan, hutan, angkasa, dan lautan. Dai aspek-aspek fisik tersebut yang paling banyak menjadi latar cerita adalah istana kerajaan. Sebagian besar peristiwa yang terjadi pada kisah ini berlatarkan istana kerajaan. Sebagai cerita lama, yang masyarakatnya menganut kepercayaan terhadap dewa-dewa, maka dalam kisah ini banyak kejadian-kejadian yang melampaui batas akal pikiran manusia saat ini yang dilakoni oleh tokoh-tokoh khayali atau tokoh metafisik. Peristiwa-peristiwa tersebut antara lain, Maka dengan kodrat Allah subhana (hu) wa taala itu Nabi Adam pun diturunkan Allah taala dari dalam syorga, berapa lamanya dalam dunia. Maka sekali peristiwa Nabi Adam alaihissalam berjalan-jalan pada waktu subuh. Maka tatkala itu Nabi Adam pun bertemu dengan Rawana pertapa itu, kakinya digantungnya ke atas, kepalanya ke bawah. Maka Adam bertanya, ”Hai rawana ngapa engkau melakukan dirimu demikian dan berapa lama sekarang?” Maka sahut Rawana, ”Ya tuhanku Nabi Allah, lama hamba sekarang baharu dua belas tahun pertapa demikian ini.” Maka kata Nabi Adam: ”Hai Rawana apa juga engkau pohonkan kepada Allah subhanahu wa taala engkau menghalkan dirimu demikian ini?” Maka sembah Rawana, ”Ya tuhanku Nabi Allah, jikalau dapat kiranya hamba pohonkan anugerah Allah taala yang hamba kehendaki itu, maka mau hamba bersembahkan diakepada tuan hamba” Maka sabda Nabi Adam, ”Hai Rawana kaukatakanlah yang kehendak hatimu itu, kudengar. Mudahmudahan dapat kupohonkan kepada Allah subhanahu taala. ”Maka kata Rawana, ”Ya tuhanku Nabi Adam yang kehendak hati hamba itu jikalau dapat kiranya hamba pohonkan empat kerajaan kepada / empat tempat. Suatu kerajaan dalam dunia, kedua kerajaan pada keinderaan, ketiga kerajaan di dalam dalam bumi, keempat kerajaan di dalam laut”. Maka sahut Adam alaihissalam, ”Jikalau engkau mau berjanji-janjian dan teguh-teguh pada katamu, mau aku mohonkan kehendakmu itu kepada Allah taala” Maka sembah Rawana, barang janji tuan hamba hamba turut tiada hambasalahi lamun kehendak hamba ini jadi

hamba peroleh.” Maka ujar Nabi Adam alaihissalam, ”Sekarang engkau dijadikan Allah taala raja kepada keempat negeri. Bukan barang-barang kebesaran kauperoleh karena itu kepada seseorang pun belum ada demikian dianugerahkan Allah taala; barulah kepadamu ... (HSR: 4-5) Adapun dihikayatkan orang yang empunyai cerita hikayat ini setelah sudah Rawana dibuangkan ayahnya ke bukit Serandib maka Citrabaha pun beranak tiga orang. Seorang bernama Kumbakarna, mulanya jadi sepuluh hasta tingginya tiga hasta lebar dadanya, rupanya menurut rupa nenenya maharaja Datikawaca raja raksyasya. Hata kalakian datang kepada dua belas tahun usianya. Kumbakarna jika ia tidur maka ia jaga, tiga bulan lamanya jaga, siang malam makan kumbakarna itu, tigapuluh tempayan air sekali diminum Kumbakarna. ... (HSR: 15) Dua kejadian tersebut merupakan contoh kejadian yang menurut hemat penulis, tidak bisa diterima akal sehat. Berikut ini adalah ringkasan kejadian-kejadian sejenis. Maharaja Dasarata menemukan putri yang sangat cantik yang sedang duduk di atas parasana buluh betung yang ditebasnya. Sebelumnya, ketika ditetak (ditebas) oleh abdinya, betung tersebut selalu tumbuh kembali. Putri tersebut kemudian dinamainya Mandudari dan dinikahinya (HSR: 143) Kedua istri Maharaja Dasarata, Mandudari dan Baliadari, tidak juga punya anak. Karena itu, Dasarata meminta anak kepada Maharesi Dewata. Diberi empat biji geliga. Dua biji diberikan kepada mandudari, dia biji diberikan kepeda Baliadari. beberapa bulan kemudian, kedua istrinya masing-masing melahirkan dua orang anak. Mandudari melahirkan Sri Rama dan Laksmana; Baliadari melahirkan Berdana dan Citradana (HSR: 148) Mandudari menciptakan Mandudari tiruan ketika dia diminta oleh Rawana kepada suaminya, Dasarata. Mandudari tiruan itu diciptakannya dari daki yang dipujanya (HSR: 59). Hanuman anaka Sri Rama dan Sita Dewi melalui perantara Dewi Anjani. Pada pengembaraannya di hutan, Sri Rama dan Sita Dewi sempat menjadi kera karena mencerburkan diri pada kolam sehari bunting. Saat menjadi kera itu, mereka bersetubuh. Setelah menjadi manusia kembali, diketahui bahwa mereka akan melahirkan anak berwujud kera. Dipaksalah agar Sita Dewi mengeluarkan manikam dari tubuhnya. Manikam itu dibungkus Sri Rama dengan daun budi, kemudian diberikan kepada angin Bayu bata supaya dibubuhkan kepada mulut

Dewi Anjani yang sedang bertapa di tengah laut. Kemudian lahirlah Hanuman (HSR: 209) Maharesi Kala menciptakan Gusi (kembaran Tilawi, anak Sita Dewi), dari daun pucuk ilalang. Gusi diciptakan Maharesi Kala karena Tilawi yang sedang dalam asuhannya, hilang. Gusi akan diajdikan sebagi pengganti Tilawi. Ternyata Tilawi menemui ibunya, Sita Dewi (HSR: 738). Selanjutnya, dalam aspek agama, Ikram (1980: 8) menjelaskan bahwa pada zaman itu sebagian besar penduduk Sumatra sudah beragama Islam, tetapi setebal apa keimaan dan sekuat apa sisa-sisa agama Hindu dan kepercayaan pribumi tak ada gambaran yang jelas. Dalam HSR, misalnya, kita lihat bahwa frekuensi penggunaan ungkapan ’Dewata Mulia Raya’ jauh lebih tinggi daripada ungkapan ’Allah taala’, Akan tetapi, hal itu mungkin hanya merupakan penyesuaian dengan suasana cerita saja, bukan bukti kekuatan unsur Hindu yang lebih besar. Kita tahu pula bahwa di sekitar zaman itulah di Aceh berkembang sastra keagamaan Islam dengan tokoh Hamzah Fansuri dan Syamsudin; suatu zaman yang merupakan taraf konsolidasi agama Islam di Indonesia. Juga suatu zaman yang sudah mengenal cerita-cerita Islam seperti Hikayat Muhammad Hanafiyyah, dan Hikayat Amir Hamzah. Ditinjau secara umum, nilai-nilai yang dikemukakan HSR tak ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam Bahkan ada yang sesuai sekali seperti kedermawanan yang termasuk amal yang saleh, kesabaran, dan kerendahan hati. Menurut isinya, hikayat ditujukan kepada raja, tetapi tidak kurang pula unsur menarik bagi orang kebanyakan sehingga dalam abad ke-19 ia disukai sebagai bacaan umum di daerah Betawi (Ikram, 1980: 8). Winstead pernah mengemukakan bahwa naskah Laud sangat boleh jadi ditulis untuk khalayak istana kerajaan Islam yang masih menyukai cerita Hindu, asal saja isinya disesuaikan dengan persyaratan Islam (dalam Ikram, 1980: 8). Berkenaan dengan budaya, dalam HSR ini terungkap kisah tentang pembuatan jembatan penyeberangan. Jembatan penyeberangan yang dibuat, tidak tanggungtanggung, yaitu jembatan untuk menyeberangi lautan dalam upaya menyerang negeri Langkapuri tempat berkuasanya Rawana yang menculik Sita Dewi. Meskipun dalam kisah ini, pembuatan jembatan itu dibumbui dengan kejadian-

kejadian yang luar biasa, tetapi sudah menggambarkan adanya upaya, penggunaan akal budi, guna mencapai tujuan. Keterkaitan antara Struktur, Bahasa, dan Aspek Mimesis dalam HSR Keterkaitan antara Struktur dan Bahasa Sebagaimana dikemukakan pada bagian sebelumnya, bahwa dalam

mengisahkan hikayat ini, pengarang menggunakan bahasa seperti orang yang menceritakan sejarah. Apa yang diceritakan dan digambarkan dari tokohnya adalah apa-apa yang teramati. Eksistensi kejiwaaan para tokoh pun tersimpulkan dari prilaku para tokoh tersebut. Jadi, bahasa digunakan sebagai alat pemaparan (ekspositoris). Bahasa yang digunakan berkesan bahasa lugas, objektif, bukan bahasa artifisial yang dibuat-buat demi keindahan cerita. Dalam HSR, unsur bahasa selain sebagai media untuk mengantarkan cerita, juga berfungsi sebagai pembentuk struktur cerita. Hal ini ditandai dengan penggunaan kalimat-kalimat tertentu sebagai judul dan pengawal episode. Dalam hal penggunaan kosakata, HSR cenderung menggunakan kata-kata yang sederhana, tanpa banyak variasi atau perbedaan nuansa. Kesederhanaan penggunaan bahasa tersebut berpengaruh pada penyampaian amanat oleh pengarang melalui tokoh-tokohnya. Amanat-amanat yang diajarkan HSR tidak hanya disampaikan oleh tokoh tertentu, tokoh utama atau atau tokoh protagonis, tetapi juga dibawakan oleh tokoh-tokoh lain secara berulang-ulang. Penekanan amanat dilakukan dengan cara pengulangan tidak dengan bahasa yang padat dan dalam. Keterkaitan antara Struktur dan Mimesis Sebagaimana karya satra lainnya, HSR, terbentuk atas unsur-unsur cerita yang membangunnya. Mengenai struktur HSR ini sudah dijelaskan secara lengkap pada bagian yang lalu. Demikian juga sebagai karya seorang sastrawan, HSR tidak terlepas dari unsur-unsur kehidupan nyata yang ada di sekitar pengarangnya. Ada keterkaitan yang erat antara struktur (intrinsik) dengan unsur mimesis (ekstrinsik). Unsur kehidupan nyata atau mimesis (ekstrinsik) dalam HSR tecermin antara lain terkandung dalam unsur tokoh, latar, dan amanat. Berdasarkan identitas naskah tersebut, HSR ini diciptakan pengarangnya sebelum abad ke-15 atau ke-16. Pada kurun waktu itu, masyarakat dunia, sedang

dikuasai oleh penguasa-penguasa berstatus raja. Wajarlah jika HSR ini berlatar fisik dan sosial lingkungan masyarakat kerajaan (istana centris). Tidak mengherankan jika tempat-tempat peristiwa berlatar istana kerajaan. Demikian juga kehidupan sosial yang digambarkan adalah kehidupan masyarakat feodal, yang terdiri dari masyarakat umum yang berstatus sebagai abdi (kawula) di satu sisi, dengan kelompok penguasa yang bestatus sebagai tuan. Dari dua kategori masyarakat cerita, yang dominan, bahkan hampir selamanya, berperan adalah kelompok tuan, pembesar kerajaan (raja-raja, hulubalang, dan kalangan istana lainnya), masyarakat kawula hampir tidak pernah diceritakan. Pada saat itu juga, masyarakat Sumatra, bisa dikatakan berada pada masa transisi keyakinan akan agama. Agama Islam sedang memasuki tahap konsolidasi, khususnya di Aceh. Sedangkan agama Hindu memasuki masa meredup. Keadaan ini tampak pada HSR. Pada kisah ini terdapat tokoh Islam, yaitu Nabi Adam yang berperan menyampaikan amanat cerita dalam dialognya dengan Rawana. (lihat HSR: 4-5). Selanjutnya, amanat tersebut meskipun disampaikan sebagai persyaratan raja yang ideal, pada dasarnya, secara umum, nilai-nilai yang dikemukakan HSR tak ada yang bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam Bahkan ada yang sesuai sekali seperti kedermawanan yang termasuk amal yang saleh, kesabaran, dan kerendahan hati. Adapun alam khayali, bagi masyarakat masa kini, banyak terdapat dalam peristiwa-peristiwa yang membentuk alur kisah ini. Demikian juga aspek budaya. Keterkaitan antara Bahasa dan Mimesis Dalam HSR, bahasa yang merupakan media cerita, juga dipengaruhi oleh aspek mimesis yang mempengaruhi cerita. Dalam kisah ini frekuensi penggunaan ungkapan ’Dewata Mulia Raya’ jauh lebih tinggi daripada ’Allah taala’, Akan tetapi, hal itu mungkin hanya merupakan penyesuaian dengan suasana cerita saja, bukan bukti kekuatan unsur Hindu yang lebih besar. Kita tahu pula bahwa di sekitar zaman itulah di Aceh berkembang sastra keagamaan Islam dengan tokoh Hamzah Fansuri dan Syamsudin; suatu zaman yang merupakan taraf konsolidasi agama Islam di Indonesia. Juga suatu zaman yang sudah mengenal cerita-cerita Islam seperti Hikayat Muhammad Hanafiyyah, dan Hikayat Amir Hamzah.

HSR yang diteliti oleh Ikram (1980) ini didasarkan pada kisah Rama yang ada pada Naskah Laud. Kisah ini tergolong naskah Melayu tertua. Naskah ini jelas menggunakan bahasa Melayu sebagai medianya. Dengan begitu, dari kisah ini kita bisa memperkirakan bahwa hikayat, yang sudah dipengaruhi oleh agama Islam, pada masa itu sudah merupakan suatu karya sastra. Hikayat ini terutama ditujukan untuk masyarakat istana atau raja-raja Islam. Selain itu, ditujukan juga untuk masyarakat umum. Sebagaimana pendapat Ikram (1980: 8) bahwa menurut isinya, hikayat ditujukan kepada raja, tetapi tidak kurang pula unsur menarik bagi orang kebanyakan sehingga dalam abad ke-19 ia disukai sebagai bacaan umum di daerah Betawi. Aspek mimesis lain yang justru paling penting adalah nilai-nilai kehidupan yang disampaikan dalam amanat cerita. Asepk ini terungkap dalam HSR dalam beberapa kali dan melalui beberapa tokoh. Hal ini karena bahasa yang digunakan adalah bahasa yang ekspositoris dan objektif. Penekanan nilai-nilai kehidupan yang ingin disampaikan dilakukan cara pengulangan, bukan dengan bahasa yang direkayasa. Akhirnya, secara umum bisa disimpulkan bahwa pengarang cerita ini seakanakan ingin mengatakan bahwa kisah dalam HSR ini bukan rekayasa, terutama bukan rekayasa dirinya (baca: ini kisah yang benar-benar terjadi). Dia menceritakan kisah ini berdasarkan orang lain. Hal ini tampak dari penggunaan bahasa yang sederhana, ekspositoris, lugas dan objektif. Hal ini tampak pula dari penggunaan beberapa ungkapan seperti : Ini hikayat yang terlalu indah-indah termashur diperkatakan orang di atas angin dan di bawah angin, nyata kepada segala sastra, ..., Alkisah ini diceritakan oleh orang yang empunya cerita ini ..., Adapun dihikayatkan orang yang empunya hikayat ini ..., Ini hikayat ...., Datanglah kepada hikayat .... Daftar Pustaka

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->