P. 1
jabatan fungsional pns

jabatan fungsional pns

|Views: 941|Likes:
Published by ddalya

More info:

Published by: ddalya on Mar 18, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/16/2011

pdf

text

original

u

t,r

r. 1

Menimbang

Me.ngingat

PRe:SIOEN REPUBLIK INDONESIA

PEAATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA NOMOR 16 TAHUN 1994

TENTANG

JABATAN FUNGSIONAL PEGAWAI NEGERI SIPIL

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

bahwa dalam rangka pengembangan profesionalisme dan pembinaan xarier Pegawai Negeri sipil serta peningkat~n mutu pelaksanaan tugas umum pemerintahan dan pembangunan, dipandang perlu menetapkan Peraturan

.

Pemerintah tentang Jabatan Fungsiona) Pegawai Ne-

ger! sipil;

1., Pasal 5 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945;

2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-

pokok Kepegawaian (Lernbaran Negara Tahun 1974 UL/ ,y-,~ Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041}i

3.'Peraturan Pemerintah Nomor ~O Tahun 1975 tentang Wewenang Pengangkatan, Pemindahan dan Pernberhen- ,f?~ tian Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun

1975 Nomor 26, Tambahan Lernbaran Negara Nomor

3058)i

4. Peraturan Pemerintah Hornor 5 Tahun 1976 'tentang

,

Formasi Pegawai Hegeri sipil (Lembaran Nega.,ra

Tahun 1976 Hornor 9, Tambahan Lembaran Nega~a I

Nomor 3068);

5. Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1977 tent~~g Peraturan Gaji Pegawai Negeri ~ipil (Lembar~n Negara Tahun 1977 Nomor 11, Tambahan Lembaran Negara Nomor J098);

6. Peraturan Pernerintah Nornor J Tahun 1980 tentaryg Pengangkatan Dalam Pangkat Pegawai Negeri Sipil (Lembaran 'Negara Tahun 1980 Nomor 6, Tambah~n Lembaran Wegara Nomor 3156);

.'

. \

o

Menetapkan

. ",,,_ .. , ..... ~.- .. --.~.''"'''''-.---~- ..

.. ~

_1':':-

16·' •

"

PRESIDE.N REF'U8LIK INDONESIA

7. peraturan Pemerintah Nemor 14 Tahun 1994 tentang Pendidlkan dan Pelatihan Jabat~an pegaw~i Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1994 Nornor 20, Tamhahan Lembaran Neqara Nemor 3545);

ft 0/

MEMUTUSKAN :

PERATURAN PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA TENTANG JABATAN FUNGSIONAL PEGAWAI NEGERI SIPIL.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan pemerintah ini yang dimaksud

denqan

.

. .

1. Jabatan Funqsional Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah ini disebut jabatan fungsional· adalah kedudukan yang menunjukkan tugas; tang9un9 jawab, wewenang dan hak seseorang Peqawai Negeri Sipil dalam suatu satuan organisasi yang dalam pelaksanaan tugasnya didasarkan_pada keahlian dan/atau ketrampilan

tertentu serta bersifat mandiri.

'2. Rurnpun jabatan fungsional adalah hirnpunan jabatan tungsional yang mempunyai fungsi dan tugas yang berkaitan erat satu sarna lain dalam melak-

sanakan salah satu tugas umum pemerintahan.

J. Angka Kredit adalah satuan nilai dari tiap butir keqiatan dan/atau akumulasi nila1 butir-butir kegiatan yang harus dicapai oleh pejabat fungsional dalam rangka pembinaan karier yang bersang>tutan ..

4. Instansi pembina jabatan tunqsional adalah instansl Pemerlntah yang bertugas membina suatu jabatan fungsional menurut peraturan perundangund~nqan yang b~rla~u.

168

PREStOE.N REPU8LIK INDONESIA

BAB II

JENIS DAN RRITERIA JABATAN FUNGSIONAL

Pasal 2

OJ

(l) Jabatan-jabatan fungsional dihimpun dalam rumpun jabatan fungsional.

(2) Jabatan fungsional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) terdiri dari

a. jabatan tungsional keahliani

b. jabatan fungsional ketrampilan.

Pasal J

Jabatan fun9si~nal keahlian dan jabatan fungsional ketrampilan ditet~pkan dengan kriteria sebagai berikut :

o

a. Mempunyai metodologi, teknik analisis, teknik dan prosedur kerja yang didaSarkan atas disiplin ilmu pengetahuan· dan/atau pelatihan teknis tertentu dengan sertifikasi;

b. Memiliii etika profesi yang ditetapkan oleh organisasi protesi;

c. Dapat disusun dalam suatu jenjang jabatan berdasarkan :

1) Tingkat keahlian bagi jabatan fungsional keahlian;

2) . Tingkat ketrampilan bagS. jabatan fungsional ketrampilan;

d. Pelaksanaan tugas bersifat mandiri;

e. Jabatan fungsional tersebut diperl~kan dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsi organisasi.

, . .

169

PRESIOEN REPUBLIK INOONESIA

BAS III

WEWENANG PENETAPAN JABATAN FUNGSIONAL, DAN ANGKA KREDIT

01

{ !

Pasal 4

Presiden menetapkan rumpun jabatan fungsional atas usul Menter! yang bertanggungjawah di bidang pendayagunaan aparatur negara.

Pasal 5

Pene~apan jabatan dan angka kredit jabatan fungsional dilakukan oleh Menteri yang bertanggungjawab di bidanq pendayagunaan aparatur negara dengan memperhatikan usul dari pimpinan instansi pemerintah yang bersangKutan setelah terlebih dahulu mendapat pertimbangan teknis .secara tertulis dari Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara, dengan mengacu pad a rumpun jabatan yang ditetapkan oleh Presiden sebaqaimana dimaksud dalam Pasal 4.

o

, Pasal 6

Jabatan fungsional dan angka kredit yang telah ditetapkan oleh pejabat yang berwenanq berdasarkan peraturan perundanq-undangan yang berlaku sebelum Peraturan Pemerintah inl, dinyatakan tetap berlaku

'dengan ketentuan secara bertahap diadakan peninjauan kemball untuk dlsesuaikan dengan k~tentuan dalam Peraturan Pemerintah ini.

BAS IV PENGANGKATAN DAN PEMBINAAN

Pasal 7

Pengangkatan Pegawai Negeri Sipil kedalarn jabatan

. .

funqsional pada instansi pemerintah ditetapkan oleh

pejabat yang berwenang sesuai formasi iang telah dlteta.pkan.

i I I,

I

U'

,

, ..

I

o

170

PRESIOEN REPUBLIK INDONESIA

.,._'.'"

Pasal 8

(1) Penilaian prestasi kerja bagi pejabat fungsional ditetapkan dengan angka kredit oleh pejabat yang berwenang setelah mendengar pertim,gangan Tim Penilai.

(2) Tim Penilai sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dibentuk oleh pimpinan instansi pembina jabatan tungsional at au pim~inan instansi pengguna jabatan funqslonal.

Pasal 9

Xenaikan dalam jenjang jabatan fungsional yang lebih tinqqi disampinq ~iwajibkan memenuhi angka

,

kredit' yang te1ah aitetapkan harus pula memenuhi

syarat-~yarat sebagaimana yang telah ditetapkan dalam peraturan perundang-undang~n yang berlaku.

Pasal 10

Perpindahan Peqawai Negeri sipil antar jabatan fungsional atau antar jabatan fungsional dengan jabatan struktural dimunqkinkan sepanjang memenuhi persyaratan yang ditetapkan untuK rnasing-masing jabatan tersebut.

Pasal 11

(1) Pernbinaan jabatan fungsional dilakukan oleh instansi pembina jabatan fungsional.

(2) Penetapan instansi pembina jabatan fungsional sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dan penetapan rumpun jabatan fungslonal ditetapkan ~engan Keputusan Presiden.

! ,

t

172

PRESIOEN REPUBLIK INDONESIA

7

BAS VII KETENTUAN PENUTUP

Pasal 15

o

Peraturan Pemerintah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.

Agar setiap ora~g mengetahui, memerintahkan pengundangan Peraturan Peme~intah ini dengan penempatannya dalam L~mbaran Negara Republik Indonesia.

Ditetapkan di Jakarta

pada tanggal 18 April 1994

PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA

ttd

S 0 E H l\ R T 0

Oiundangkan di Jakarta

() . pada tanqgal 18 April 1994

MENTER! NEGARA SEKRETARIS NEGARA REPUBLIK INDONESIA

ttd

MOE R 0 ION 0

LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA TAHUN 1994 NOMOR 22·

Salinan sesuai aslinya SEKRETARIAT KABINET RI Kepala Biro Hukum

173

PAESIO£'N ~EPUBLIK INOONESIA

PENJELASAN A '1' A S

PERATURAN PEMERIN1AH REPUBLIK INDONESIA

NOMOR 16 TAHUN 1994 TENTANG

JABATAN FUNGS~ONAL PEGAWAI NEGERI SIPIL

o

UMUM

Dalam rangka mencapai tujuan nasional, dibutuhkan adanya, Pegawai Negeri sipil dengan mutu profesionalisme yang memadai, berdaya'guna dan berhasilguna didalam melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangun4n.

o

Untuk mewujudkan pegawai Negeri Sipil se,bagaimana dimaksud di atas, dalam Undang~undang Nomor a Tahun 1974 dinyatakan bahwa Pegawai Neg~ri Sipil perlu dibina dengan sebaik-baiknya atas dasar sistem KArier dan sistem prestasi kerja.

Salah satu muatan di dalam Undang-undang Nemor 8 Tahun 1974 yang selanjutnya dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah Nomer 3 Tahun 1980 menyatakan bahwa dalam ran~ka usaha pembinaan karier dan peningkatan mutu profesionalisme, diatur tentang kernungkinan bagi Pegawal Negeri Sip!l untuk menduduki jabatan fungsional.

Peraturan Pemerintah ini dimaksud untuk rnengatur pembinaan Pe9a~ai Negeri Sipil yang menduduki jabatan fungsional yang didalamnya mernuat antara lain kriteria tentang jabatan fungsional dan persyaratan yang harus dipenuhi oleh Peqawai Negeri sipil yang akan diangkat untuk menduduki jabatan fungsional. selain itu diatur pula ketentuan tentang jenjanq jabatan serta tata cara penilaian prestasi kerja Pegawai Negeri sipil yang rnenduduki jabatan fungsional.

Dengan demikian ~iharapkan bahwa dengan diterbitkannya Peraturan Pemerintah in1 Pegawai Negeri Sipil dapat dipacu mutu profesienalismenya melalui pembinaan karier yang berorientasi pad a prestasi kerja, sehingga tujuan untuk mewujudkan· Pegawai

". - .

.:

174 '

PRESIOEN .REPUBLIK INOONltS'A

Negeri Sipil sebaqai Aparatur Negara yang berdayaguna dan berhasilguna di dalam melaksanakan tugas umum pemerintahan dan pembangunan dapat tercapai.

PASAL DEMI PASA~

Pas'll 1

Culcup jelas

.Pasal 2

Ayat (1)

Jabatan-jabatan di dalam &Uatu rumpun jabatan tidak bersitat statis, akan tetapi dapat berkembang sesuai dengan perkambanqan ilmu dan teknologi, sehinqqa dapat terjadi pemerkayaan jabatan di dal~m suatu rumpun jabatan. Sabagai contoh, pada awalnya rumpun jabatan pendidikan, hanya terdiri dari Dosen dan Guru. Namun karena tingkat kompleksitas keqiatan di bidang pendidikan dapat timbul kebutuhan akan jabatan fungsional baru misalnya ·antara lain, Ahli Kurikulum dan Ahli Pengujian.

Oapat pula terjadl panqembanqan jabatan dari spesialisasi kearah sub spesiallsasi.

Sebaqai contoh : Dokter Spesialis Bedah dapat berkembang menjadi Dokter Sub Spesialis Bedah Jantung atau Sub Spesialis Bedah Otak. Untuk penqembanqan keahlian seperti tar.ebut diatas pada hakekatnya bertumpu pada jabatan yang aama.

Pemerkayaan jabatan seperti tersebut di atas pada hakekatnya adalah merupakan penqembanqan jabatan baru dalarn Datu rumpun jab~tan.

Ayat (2)

11hat penjelasan Pasal 3 huruf A.

175

PRESIC£N REPUBLIK INOONESIA

Pasal J

I -',

U

Huruf a

Jabatan tungsional keahlian adalah kedudukan yang menunjukk~n tugas yang dilandnsi oleh pengetahuan, metodologi . dan teknis analisis yang didasarkan atas disiplin ilmu yang bersangKutan dan/atau berdasarkan sertifikasi yang setara dengan keahlian dan ditetapkan berdasarkan akre-

.

ditasi tertentu. Sedangkan jabatan fungsional ketrampil-

an adalah kedudukan yang menunjukkan tugas yang rnemperqunakan prosedur dan teknik kerja tertentu serta dilandas! kewenanqan penanganan berdasarkan sertifikasi yang dit.entukan.

Sebagai contoh : dalam rumpun jabatan pranata komputer dilihat dari tugas pckok, yang meliputi perancangan sistem dan penqembangan. sistem, seorang sistem Analis adalah termasuk pejabat fungsional keahlian. Sedangkan Programer Komputer yang mernpunyai tuqas menjabarkan perancanqan sistem, menyusun program operasional dan peravatannya adalah termasuk pejabat funqsional ketrampilan.

Leqalisasi keahlian dan kewenangan penanganan dari kedua jabatan !ungsional tersebut ditetapkan dalam bentuk sertitikat.

Huru! b

Yang dimaksud dengan etika profesi adalah norma-norma atau kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh disiplin ilmu pengetahuan dan organisasi profesi yang harus dipatuhi .oleh pejabat tunqsional di dalam melaksanakan tuqas dan tanggungjawabnya.

organisasi profesi dibentuk dan menjadi wadah bagi para pejabat fungsional sesual denqan rumpun jabatan funq-

. .

slonal yang bersangkutan.

176

PRESIOEN REPUBl.lK INOONE:S1A

-,

U

Huruf c

Untuk menetapkan jenjang jabatan pada setiap jabatan tunqsional baik jabatan fungsional keahlian maupun jabatan fungsional ketrampilan dilakukan rnelalui evaluasi jabatan sesua! dengan !aktor-faktor penilaian yang ditetapkan dengan memperhatikan karakteristik jabatan yan9, bersangkutan.

Jenjang jabatan keahlian dan ketrampilan mempunyai jalur

.

jenjang jabatan yang berbeda dan mampunyai jenjang

pangkat yang berbeda pula satu sarna lain.

Huruf d

Pejabat tungsional pada hakekatnya adalah seseorang yang mempunyai tanggungjawab hasil pelaksanaan tugas dan kewenangan pelaksanaan tuga~ secara mandiri. Didalam melaxsanakan<tug3snya pejabat !ungsional tidak mutlak harus bekerja sendiri. Dia dapat dibantu Qleh tenaga fungsional yang lain, namun tang9ungjawab hasil pelaksanaan tuqas dan kewenanqan pelaksanaan tugas tetap m~lekat pada pejabat fungsional tersebut.

Contoh, seorang Apotek~r di dalam meracik obat dapat dibantu oleh Asisten Apoteker. Namun hasil kerja Asisten Apoteker tetap menjadi tanqgunqjawab Apoteker. Dilain plhak tan99ungjavab Mandiri aeorang Asisten Apoteker adalah dapat meracik obat sesuai denqan prosedur kerja yang dibakukan untuk< keperluan tersebut.

o

Hurut e

Penetapan jabatan funqsional .dalam suatu unit organisasi dimungkinkan sepanjang jabatan tungsional tersebut sesua! dengan tU9as dan fungsi dari organisasi yang ber-

<sangkutan.

Pasal 4

Cukup jelas

"

'to

PRESIOEN REPUBt.IK INOON£SIA

Pasal 5

CUkup jelas

0,

Pasal 6

Cukup jelas

Pasal 7

Pengangkatan Pegawai Hegeri sipil dalam suatu jabatan fungsional disa~pin9 perlu me~pertimban9kan lingKup tugas organisasi dengan rincian tugas jabatan fungsional, harus pula mempertimbangkan beban kerja yang ada yang memberi kemungkinan untuk pencapaian angxa Kredit bag! pejabat funqsional yang bersangKutan.

Pasal 8

Ayat (1)

Pejabat yang berwenanq adalah pejabat ·yang mempunyai kevenangan menqangkat dan/atau memberhentikan Pegawai Nageri berdasarkan peraturan perundang-undanqan yang berlaku.

Ayat (2)

Tim P.enilai terdiri dari pejabat-pejabat funqsional dan dibantu oleh pejabat yang menanqani bidanq kapeqawaian yang mempunyai jabatan aerendah-rendahnya sarna dengan pajabat tungslonal yang dlnilai.

TiM Penila! memberikan pertimbanqan kepada pejabat yanq

berveninq mepetapkan an9ka kredit dan kenaikan panqkat

v pejabat .funqsional yang bersangkutan.

Pembantukan Tim Penile! d1tetepkan sebagal berikut :

1) Tim penilai Pusat dltetapkan oleh· pimpinan ins'tans! pemb~na jabatan rungsional sebaqaimana dimaksud pada Pasal 11 Peraturan Pemerintah in1.

'2} Til'll •••

..... , .... + __ ~T .... '...,. _ ...... _ _.._..._------------- ... ~-.-- -------- .--~ -

178

PRE:SIOEN REPUBLIK INDONESIA

2) Tim Penilai Instansi ditetapkan oleh pimpinan inst"~nGi penqguna jabttan fungsional.

3} Mekanisma pendeleqasian wewenanq ditetapkan oleh instansi pembina.

o

"4) Tim Penilai Pusat mempunyai kewenangan untuk meni- 1a1 pejabat fungsiona1 golongan IV.

5) Tim Penilai Instansi mempunyai kewenangan untuk menilai pejabat tungsional ~olonqan II dan g010ngan III.

Pasal 9

Anqka Kredit yang dipakai sebagai penilaian prestasi kerja merupakan salah satu unsur dar! Oaf tar Penilaian Pelaksanaan Pekerjaan (DPJ) PegAwai Negeri sipil, oleh karenanya maka unsur-unsur lain yang dipersyaratkan dalam DPJ bagi kenaikan pangkat atau kenaikan jabatan perlu dipenuhi oleh setiap pejabat fungsional.

o

Pasal 10

Perpindahan an tar jabatan fungsional persyaratannya ditetapkan untuk jabatan yang bersangkutanl sedangkan untuk "jabatan struktural"persya~atannya ditentukan dalam Peraturan Pemerintah tentang Penqangkatan Pegawai Negeri Sipil Dalam Jabatan Struktural.

Pasal 11

Ayat (1)

Yang dimaksud dengan pembinaan adalah penetapan dan penqendalian terhadap standar profesi yang meliputi kewenangan penanganan, prosedur pelaksanaan tugas dan metodoloqinya. Dalam pembinaan tersebut termasuk didalamnya penetapan petunjuk teknis yang diperlukan.

Ayat (2)

,:,"

.......

179

PAESIDEN AEPUBLIK INDONESIA

u

Ayat (2)

Instansi pembina jabatan fungsional adalah instansi yang menggunakan jabatan fungsicnal yang mempunyai bidanq kegiatan sesuai dengan tugas pokck instansi tersebut at au instansi yang .apabila dikaitkan dengan bidang tugasnya dianggap mampu untuk ditetapkan sebagai pembina jabatan fungsicnal.

Contoh, Oepartemen Kesehatan sebagai Pem~ina Jabatan Fungsional Dokter, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan sebagai Pembina Jabatan Fungsional Guru dan Biro Pusat statistik sebagai Pembina Jabatan Fungsional Pranata Komputer.

Pasal 12

u

Kebij aksanaan umum pendidikan dan pelatihan j abatan fungsional ~itetapkan dleh Lembaga Administrasi Negara. Pendidikan dan Pela~ihan Penjenjangan teknis fungsional dilaksanakan oleh-instansi pembina jabatan fungsional, sedangkan pendidlkan dan latihan lainnya dapat dllaksanakan oleh masing-masing instansi dengan koordinasl instansi pembina jabatan !ungsional.

Sertifikasi keahllan dan ketrampilan diberikan oleh instansi pembina jabatan fungslonal dengan pembinaan Lembaga Administrasi Nega.ra.

Pasal lJ

Ayat (l}

Besarnya tunjangan jabatan fungsional ditetapkan berdasarkan jenjang jabatan fungsional yang telah ditetapkan.

Ay~t (2) •••

_., - - -.-.-

.. __ .. __ ._ .. , __ ... - _~.r . _.

, ,. ~.

, .

.:

o

u

180

PRESIOEN R£PUBt..1K 'NDONE SlA

Ayat (2)

S •• arnya tunjangan ja~atan fungsional ditetapkan dengan Keputusan Presiden at •• usul Menteri Neqara Pendayagunaan Aparatur Negara set.lan terlebih dahulu mendapat pertimbang an dari Menter! K.uan~an.

Pasal 14

Cukup jelas

Pasal 15

Cukup jelas

~AMBAHAN LEMBARAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR_~5~J ____

-_._---

... n~-."'.J

J:{ ~'flc:'::.-'~-:-

~\:},

':". - .

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->