P. 1
Konflik

Konflik

5.0

|Views: 13,451|Likes:
Published by bedilanguage

More info:

Published by: bedilanguage on Mar 19, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF or read online from Scribd
See more
See less

07/15/2013

Konflik

Masyarakat adalah makhluk social yang selalu berinteraksi. Dalam interaksinya, manusia sering kali dihadapkan pada situasi yang disebut konflik (pertentangan/pertikaian). Munculnya konflik social tidak terjadi dengan sendirinya dan tidak sesederhana yang bisa kita bayangkan. Banyak factor yang kita harus dikaji,mengapa konflik tersebut muncul kepermukaan. Konflik berasal dari kata kerja Latin configere yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik diartikan sebagai suatu proses sosial antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu interaksi. perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Dengan dibawasertanya ciri-ciri individual dalam interaksi sosial, konflik merupakan situasi yang wajar dalam setiap masyarakat dan tidak satu masyarakat pun yang tidak pernah mengalami konflik antar anggotanya atau dengan kelompok masyarakat lainnya, konflik hanya akan hilang bersamaan dengan hilangnya masyarakat itu sendiri. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. DEFINISI MENURUT PARA AHLI Soerjono soekanto menyebut konflik sebagai perantara atau pertikaian, yaitu suatu proses sosial individu atau kelompok yang berusaha memenuhi tujuanya dengan jalan menentang pihak lawan, disertai dengan ancaman dan/ atau kekerasan. Sementara itu, konflik sosial bisa diartikan menjadi dua hal. Pertama,perspektif atau sudut pandang yang menghadap konflik selalu ada dan mewarnai segenap aspek interaksi manusia dan struktur sosial. Kedua, konflik sosial merupakan pertikaian terbuka seperti perang,revolusi, pemogokan, dan gerakan perlawanan. Para teoritis konflik banyak berpedoman pada pemikiran max, meskipun memiliki pemikiran sendiri yang berlainan. Tokoh-tokoh teoritis konflik di antaranya, Ralf Dahrendorf dan Randall Collins. Dahrendof berpendirian bahwa masyarakat mempunyai dua wajah yaitu konflik dan consensus, sehingga teori sosiologi harus dibagi menjadi dua bagian, teori konflik dan teori consensus. Dahrendof juga mengakui bahwa masyarakat takan ada tanpa consensus dan punya konflik yang menjadi persyaratan satu sama lain. Jadi, kita takan punya konflik jika tidak ada consensus terlebih dahulu. Tokoh lainya, Collins menjelaskan bahwa konflik adalah proses sentral dalam kehidupan sosial sehingga dia tidak menganggap konflik itu baik atau buruk. Colins

1

memandang setiap orang memiliki sifat sosial ( sociable), tetapi jiga mudah berkonflik dalam hubungan sosial mereka. Konflik bisa terjadi dalam hubungan sosial karena penggunaan kekerasan oleh seseorang atau banyak orang dalam lingkungan pergaulanya. Ia melihat orang mempunyai kepentingan sendiri-sendiri, jadi berbenturan mungkin terjadi karena adanya kepentingan-kepentingan yang saling bertentangan.

Beberapa ahli mengemukakan pendapatnya mengenai konflik, diantaranya sebagai berikut. a. Menurut Berstein (1965), konflik merupakan suatu pertentangan, perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik mempunyai potensi yang memberikan pengaruh positif (+) dan ada pula yang negatif (—) di dalam interaksi manusia. b. Menurut Dr. Robert M.Z. Lawang, konflik itu adalah perjuangan untuk memperoleh

nilai, status,kekuasaan, di mana tujuan dari mereka yang berkonflik, tidak hanya memperoleh keuntungan, tetapi juga untuk menundukkan saingannya. c. Menurut Drs. Ariyono Suyono, konflik adalah proses atau keadaan di mana dua pihak

berusaha menggagalkan tercapainya tujuan masing-masing yang disebabkan adanya perbedaan pendapat, nilai-nilai ataupun tuntutan dari masing-masing pihak. d. Menurut James W. Vander Zanden, konflik diartikan sebagai suatu pertentangan

mengenai nilai atau tuntutan hak atas kekayaan, kekuasaan, status, atau wilayah tempat pihak yang saling berhadapan bertujuan untuk menetralkan, merugikan ataupun menyisihkan lawan mereka.

Faktor penyebab konflik
Perbedaan individu, yang meliputi perbedaan pendirian dan perasaan. Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial, sebab dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya. Misalnya, ketika berlangsung pentas musik di lingkungan pemukiman, tentu perasaan setiap warganya akan berbeda-beda. Ada yang merasa terganggu karena berisik, tetapi ada pula yang merasa terhibur. Perbedaan latar belakang kebudayaan sehingga membentuk pribadi-pribadi yang berbeda. Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik. Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok. Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki

2

kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Sebagai contoh, misalnya perbedaan kepentingan dalam hal pemanfaatan hutan. Para tokoh masyarakat menanggap hutan sebagai kekayaan budaya yang menjadi bagian dari kebudayaan mereka sehingga harus dijaga dan tidak boleh ditebang. Para petani menbang pohon-pohon karena dianggap sebagai penghalang bagi mereka untuk membuat kebun atau ladang. Bagi para pengusaha kayu, pohon-pohon ditebang dan kemudian kayunya diekspor guna mendapatkan uang dan membuka pekerjaan. Sedangkan bagi pecinta lingkungan, hutan adalah bagian dari lingkungan sehingga harus dilestarikan. Di sini jelas terlihat ada perbedaan kepentingan antara satu kelompok dengan kelompok lainnya sehingga akan mendatangkan konflik sosial di masyarakat. Konflik akibat perbedaan kepentingan ini dapat pula menyangkut bidang politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Begitu pula dapat terjadi antar kelompok atau antara kelompok dengan individu, misalnya konflik antara kelompok buruh dengan pengusaha yang terjadi karena perbedaan kepentingan di antara keduanya. Para buruh menginginkan upah yang memadai, sedangkan pengusaha menginginkan pendapatan yang besar untuk dinikmati sendiri dan memperbesar bidang serta volume usaha mereka. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat. Perubahan adalah sesuatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak, perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial. Misalnya, pada masyarakat pedesaan yang mengalami proses industrialisasi yang mendadak akan memunculkan konflik sosial sebab nilai-nilai lama pada masyarakat tradisional yang biasanya bercorak pertanian secara cepat berubah menjadi nilai-nilai masyarakat industri. Nilai-nilai yang berubah itu seperti nilai kegotongroyongan berganti menjadi nilai kontrak kerja dengan upah yang disesuaikan menurut jenis pekerjaannya. Hubungan kekerabatan bergeser menjadi hubungan struktural yang disusun dalam organisasi formal perusahaan. Nilai-nilai kebersamaan berubah menjadi individualis dan nilai-nilai tentang pemanfaatan waktu yang cenderung tidak ketat berubah menjadi pembagian waktu yang tegas seperti jadwal kerja dan istirahat dalam dunia industri. Perubahan-perubahan ini, jika terjadi seara cepat atau mendadak, akan membuat kegoncangan proses-proses sosial di masyarakat, bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehiodupan masyarakat yang telah ada. Dalam masyarakat Indonesia yang majemuk rawan terhadap terjadinya suatu konflik sosial, karena secara garis besar struktur sosial masyarakat Indonesia terbagi ke dalam berbagai suku bangsa, agama, ataupun golongan yang beragam. Menurut J. Ranjabar hal-hal yang dapat menjadi penyebab terjadinya konflik pada masyarakat Indonesia adalah sebagai berikut. 1) Apabila terjadi dominasi suatu kelompok terhadap kelompok lain. Contohnya adalah konflik yang terjadi di Aceh dan Papua. 2) Apabila terdapat persaingan dalam mandapatkan mata pencaharian hidup antara kelompok yang berlainan suku bangsa. Contohnya, konflik yang terjadi di Sambas. 3) Apabila terjadi pemaksaan unsur-unsur kebudayaan dari warga sebuah suku terhadap warga suku bangsa lain. Contohnya, konflik yang terjadi di Sampit. 4) Apabila terdapat potensi konflik yang terpendam, yang telah bermusuhan secara adat. Contohnya, konflik antarsuku di pedalaman Papua. Oleh sebab itu, terdapat berbagai bentuk konflik dalam kehidupan masyarakat.

3

Jenis-jenis konflik
Menurut Dahrendorf, konflik dibedakan menjadi 4 macam : konflik antara atau dalam peran sosial (intrapribadi), misalnya antara perananperanan dalam keluarga atau profesi (konflik peran (role)) konflik antara kelompok-kelompok sosial (antar keluarga, antar gank). konflik kelompok terorganisir dan tidak terorganisir (polisi melawan massa). konflik antar satuan nasional (kampanye, perang saudara). Menurut Ursula Lehr kemungkinan-kemungkinhan situasi yang dapat menimbulkan konflik adalah sebagai berikut. 1. Konflik dengan Orang Tua Sendiri Konflik ini terjadi sebabgai akibat situasi-situasi hidup bersama orang tua. 2. Konflik dengan Anak Sendiri Konflik ini terjadi misalnya setelah otang tua mengetahui tingkah laku anak yang tidak Cocok dengan harapannya. 3. Konflik dengan Sanak Keluarga Misalnya timbul konflik dengan mertua atau keluarga suami atau istri yang dipandang Terlalu ikut campur. 4. Konflik Dengan Orangn Lain Konflik ini timbul dalam hubungan social denagn tetangga-tetangga,teman,dll. 5. Konflik dengan Suami atau Isteri Persoalan hidup atau tujuan hidup dapat memicu terjadingya konflik antara suami isteri 6. Konflik di Sekolah Berbagai macam konflik disekolah antara lain berupa tidak dapat mengikuti pelajaran. 7. Konflik dalam Pemilihan Pekerjaan Konflik ini timbul dari sifat pekerjaan sendiri. 8. Konflik Agama Berhubungan dengan pertanyaan mengenai hakikat dan tujuan hidup 9. Konflik Pribadi Misalnya,timbul karena minat yang berlawanan. Secara garis besar berbagai konflik dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk konflik berikut ini. a. Berdasarkan Sifatnya

Berdasarkan sifatnya, konflik dapat dibedakan menjadi konflik destruktif dan konflik konstruktif. 1) Konflik destruktif merupakan konflik yang muncul karena adanya perasaan tidak senang, rasa benci dan dendam dari seseorang ataupun kelompok terhadap pihak lain. Pada konflik ini terjadi bentrokan-bentrokan fisik yang mengakibatkan hilangnya nyawa dan harta benda. Contohnya, konflik Ambon, Poso, Kupang, dan Sambas. 2) Konflik konstruktif merupakan konflik yang bersifat fungsional, konflik ini muncul karena adanya perbedaan pendapat dari kelompokkelompok dalam menghadapi suatu permasalahan. Konflik ini akan menghasilkan suatu konsensus dari perbedaan pendapat tersebut dan menghasilkan suatu perbaikan. Misalnya, perbedaan pendapat dalam sebuah organisasi.

4

b.

Berdasarkari Posisi Pelaku yang Berkonflik

Berdasarkan posisi pelaku yang berkonfiik, konfiik dibedakan menjadi konflik vertikai, konflik horizontal, dan konflik diagonal. 1) Konflik vertikal merupakan konflik antarkomponen masyarakat di dalam satu struktur yang memiliki hierarki. Contohnya, konflik yang terjadi antara atasan dengan bawahan dalam sebuah kantor. 2) Konflik horizontal merupakan konflik yang terjadi antara individu atau kelompok yang memiliki kedudukan yang relatif sama. Contohnya, konflik yang terjadi antarorganisasi massa. 3) Konflik diagonal merupakan konflik yang terjadi karena adanya ketidakadiian alokasi sumber daya ke seluruh organisasi sehingga menimbulkan pertentangan yang ekstrim. Contohnya, konfiik Aceh.

Berdasarkan Konsentrasi Aktivitas Manusia

di Dalam Masyarakat Konflik

dibedakan menjadi konflik sosial, konflik politik, konflik ekonomi, konflik budaya, dan konflik ideologi. 1) Konflik sosial merupakan konflik yang terjadi akibat adanya perbedaan kepentingan soshi! Dari pihak yang berkonflik. Konflik sosial ini dapat dibedakan menjadi konflik sosial vertikal dan konflik sosial horizontal. Konflik ini seringkali terjadi karena adanya provokasi dari orang-orang yang tidak bertanggung jawab. a) Konflik sosial vertikal, yaitu konflik yang terjadi antara masyarakat dan negara. Contohnya, kemarahan massa yang berujung pada peristiwa Trisakti (12 Mei 1998). b) Konflik sosial horizontal, yaitu konflik yang terjadi antaretnis, suku, golongan, atau antarkelompok masyarakat. Contohnya, konflik yang terjadi di Ambon. 2) Konflik politik merupakan konflik yang terjad karena adanya perbedaan kepentingan yang berkaitan dengan kekuasaan. Contohnya, konflik yang terjadi antarpengikut suatu parpol. 3) Konflik ekonomi merupakan konflik akibat adanya perebutan sumber daya ekonomi dari pihak yang berkonflik. Contohnya, konflikantarpengusaha ketika melakukan tender. 4) Konflik budaya merupakan konflik yang terjadi karena adanya perbedaan kepentingan budaya dari pihak yang berkonflik. Contohnya, adanya perbedaan pendapat antarkelompok dalam menafsirkan RUU antipomografi dan pornoaksi. 5) Konflik ideologi merupakan konflik akibat adanya perbedaan paham yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang Contohnya, konflik yang terjadi pada saat G-30-S/PKI.

5

e.

Berdasarkan Cara Pengelolaznnya.

Berdasarkan cara pengelolaannya, konflik dapat dibedakan menjadi konflik interindividu, konflik antarindividu, dan konflik antarkelompok sosial. 1) Konflik interindividu merupakan tipe yang paling erat kaitannya dengan emosi individu hingga tingkat keresahan yang paling tinggi. Konflik dapat muncul dari dua penyebab, yaitu karena kelebihan beban (role overloads) atau karena ketidaksesuaian seseorang dalam melaksanakan peranan {person-role incompatibilities). Dalam kondisi pertama seseorang mendapat beban berlebihan akibat status (kedudukan) yang dimiliki, sedang dalam kondisi yang kedua seseorang memang tidak memilikikesesuaian yang cukup untuk melaksanakan peranan sesuai dengan statusnya. Perspektif konflik interindividu mencakup tiga macam situasi alternatif berikut. a) Konflik pendekatan-pendekatanr, seseorang harus memilih di antara dua buah alternatif behavior yang sama-sama atraktif. b) Konflik menghindari-menghindarr, seseorang dipaksa untuk memilih antara tujuan-tujuan yang sama-sama tidak atraktif dan tidak diinginkan. c) Konflik pendekatan-menghindari multipet, seseorang menghadapi kemungkinan pilihan kombinasi multipel; dari konflik pendekatan-menghindari. 2) Konflik antar individu merupakan konflik yang terjadi antara seseorang dengan satu orang atau lebih, sifatnya kadang-kadang substantif, menyangkutperbedaan gagasan, pendapat,

kepentingan, atau bersifat emosional, menyangkut perbedaan selera, dan perasan like/dislike (suka/tidak suka). Setiap orang pernah mengalami situasi konflik semacam ini, ia banyak mewarnai tipe-tipe konflik kelompok maupun konflik organisasi. Karena konflik tipe ini berbentuk konfrontasi dengan seseorang atau lebih, maka konflik antarindividu ini juga merupakan target yang perlu dikelola secara baik. 3) Konflik antarkelompok merupakan konflik yang banyak dijumpai dalam kenyataan hidup manusia sebagai makhluk sosial, karena mereka hidup dalam kelompok-kelompok. Contohnya, konflik antarkampung.

6

A. Kegiatan 1
A. Pilihlah satu jawaban yang paling tepat! 1. Dalam interaksi sosial manusia, konflik dapat terjadi di antara kelompok-kelompok yang dulunya belum pernah berinteraksi secara intensif, misalnya antara .... a. tramsmigran dengan penduduk asli setempat b. seorang guru dengan murid baru c. sahabat yang sudah lama tak pernah berjumpa d.pengembara dengan binatang buas di hutan e.kelompok yang anggotanya telah lama berinteraksi

2.

Konflik adalah proses atau keadaan di mana dua pihak berusaha menggagalkan tercapainya tujuan masing-masing pihak, yang disebabkan adanya perbedaan pendapat, nilai, maupun tuntutan dari masing-masing pihak. Pendapat ini dikemukakan oleh .... a. Auguste Comte b. Ariyono Suyono c.Saoelaiman Soemardi d.Paul B. Horton e.J.LGillindanJ.P.Gillin

3.

Dalam konflik destruktif dikenal adanya konflik emosional destruktif, misalnya .... a. perasaan tidak senang b. perbedaan ide/gagasan c.perbedaan tujuan d.perbedaan pendapat e.perbedaan kepentingan

4.

Di antara hal-hal berikut ini yang berpotensi mengawali suatu konflik antarkelompok sosial adalah .... a. kejelasan status dan peranan b. konflik-konflik yang telah diatasi sebelumnya c.ketidaksalingtergantungan di antara d.hambatan-hambatan komunikasi e.persepsi-persepsi individu

individu dalam kelompok

5. berikut ini adalah faktor-faktor penyebab timbulnya sebuah konflik, kecuali.... a. adanya integrasi sosial b. adanya perubahan sosial c.adanya perbedaan kepentingan d.adanya perbedaan antarindividu e.perbedaan latar belakang kebudayaan

6. Konflik yang bersifat destruktif dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini, kecuali .... a. adanya kecemburuan sosial b. fanatisme yang berlebihan d. rasa benci dan dendam di antara pihak-pihak yang terlibat konflik e.keyakinan terhadap ajaran agama tertentu

c. penggunaan kekuasaan yang berlebihan oleh aparat negara dan pemerintah

7. Konflik yang konstruktif ditandai oleh .... a. rasa iri dan Benci b. benturan-benturan fisik e. tidak ada jawaban yang benar d.jatuhnya korban dan hilangnya harta benda e.perbedaan pendapat dalam menghadapi suatu masalah

8. Konflik yang destruktif dapat dihindari dengan upaya-upaya berikut, kecuali....

7

a. b. c. d. e.

bersikap demokratis menggunakan asas saling tenggang rasa dalam pergaulan hidup saling menghormati di antara penganut agama yang berbeda semaksimal mungkin menghindari perbedaan pendapat menghargai pluralisme dalam kebudayaan,suku, agama, dan bahasa yang berbeda dalam kehidupan bermasyarakat

9. Berikut ini yang merupakan konflik yang memuat isu agama, yaitu .... a. b. kerusuhan Sambas kerusuhan Poso c.konflik Nanggroe Aceh Darussalam d. konflik di berbagai daerah di Papua e.tragedi Semanggi

10. Faktor agama akan mudah menjadi pemicu dalam sebuah konflik yang terjadi di masyarakat apabila diikuti oleh .... a. b. c. fanatisme yang berlebihan ketidakberdayaan ekonomi ketidakberdayaan politik d.jawaban a, b, dan c benar e.tidak ada jawaban yang benar

B. 1. 2. 3. 4. 5.

Jawablah pertanyaan-pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas! Jelaskan yang kalian pahami tentang konflik social! Jelaskan bentuk-bentuk konflik yang terjadi di masyarakat! Sebutkan dan jelaskan faktor-faktor pendorong adanya konflik! Apakah yang dimaksud dengan konflik vertical dan konflik horizontal? Berikan contoh! Jelaskan proses terjadinya konflik menurut pandangan Jonathan Turner!

8

Akibat konflik
Suatu konflik tidak selalu mendatangkan hal-hal yang buruk, tetapi, kadang-kadang mendatangkan sesuatu yang positif.Antara lain. 1. memperoleh aspek kehidupan yang belum jelas atau masih belum tuntas ditelaah. 2. memungkinkan adanya penyesuaian kembali norma dan nilai. 3. meupakan jalan untuk mengurangi ketergantungan antarindividu dan kelompok. 4. membantu menghidupkan kembali norma lama dan menciptakan norma baru. 5. berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keseimbangan. Hasil atau akibat dari konflik social dalah. 1. meningkatkan solidaritas sesame anggota kelompok 2. keretakan hubungan antaraindividu atau kelompok. 3. Perubahan kepribadian para individu 4. kerusakan harta benda dan bahkan hilangnya nyawa manusia. 5. Akomodasi,dominasi, bahkan bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam pertikaian. Suatu masyarakat dapat dinyatakan telah mencapai kondisi tertib jika terjadi keselarasan antara tindakan anggota masyarakat dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat tsb. Dalam kehidupan masyarakat majemuk sering terjadi pertentangan antara satu aspek dengan aspek lainnya. Sumber potensi konflik yang rentan terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia adalah masalah agama, ras, dan suku bangsa. Setiap konflik yang terjadi dalam masyarakat akan membawa dampak, baik dampak secara langsung maupun dampak tidak langsung. a. Dampak Secara Langsung

Dampak secara langsung merupakan dampak yang secara langsung dirasakan oleh pihakpihak yang terlibat konflik. Adapun dampak konflik secara langsung, diantaranya sebagai berikut. 1) Menimbulkan keretakan hubungan antara individu atau kelompok dengan individu atau kelompok lainnya. 2) Adanya perubahan kepribadian seseorang, seperti selalu memunculkan rasa curiga, rasa benci, dan akhirnya dapat berubah menjadi tindakan kekerasan. 3) Hancurnya harta benda dan korban jiwa, jika konflik tersebut berubah menjadi tindakan kekerasan. 4) Kemiskinan bertambah akibat tidak kondusifnya keamanan. 5) Lumpuhnya roda perekonomian jika suatu konflik berlanjut menjadi tindakan

9

kekerasan. 6) Pendidikan formal dan informal terhambat karena rusaknya sarana dan prasarana pendidikan.

b. Dampak Tidak Langsung Dampak tidak langsung merupakan dampak yang dirasakan oleh pihak-pihak yang tidak terlibst langsung dalam sebuah konflik, ataupun dampak jangka panjang dari suatu konflik yang tidak secara langsung dirasakan oleh pihak-pihak yang berkonflik. Misalnya, agresi Israel yang dilakukan kepada para pejuang Hizbullah di Lebanon akan membawa dampak pada kenaikkan harga minyak dunia yang akan merembet pada kenaikkan harga-harga barang di pasaran.Hal ini akan dirasakan juga oleh masyarakat kita. Dampak Positif adanya konflik Disamping dampak yang dapat dirasakan secara langsung maupun tidak langsung, sebuah konflik juga memiliki sisi positif. Adapun sisi positif dari sebuah konflik adalah sebagai berikut a. b. Meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (in group solidarity). Munculnya pribadi-pribadi yang kuat dan tahan uji menghadapi berbagai situasi

konflik. c. Membantu menghidupkan kembali norma-norma lama dan menciptakan norma-

norma baru. d. Munculnya kompromi baru apabila pihak yang berkonflik dalam kekuatan seimbang. Misalnya, adanya kesadaran dari pihak-pihak yang berkonflik untuk bersatu kembali, karena dirasakan bahwa konflik yang berlarut tidak membawa keuntungan bagi kedua belah pihak. Hasil dari sebuah konflik adalah sebagai berikut : meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok (ingroup) yang mengalami konflik dengan kelompok lain. keretakan hubungan antar kelompok yang bertikai. perubahan kepribadian pada individu, misalnya timbulnya rasa dendam, benci, saling curiga dll. kerusakan harta benda dan hilangnya jiwa manusia. 10

dominasi bahkan penaklukan salah satu pihak yang terlibat dalam konflik. Para pakar teori telah mengklaim bahwa pihak-pihak yang berkonflik dapat menghasilkan respon terhadap konflik menurut sebuah skema dua-dimensi; pengertian terhadap hasil tujuan kita dan pengertian terhadap hasil tujuan pihak lainnya. Skema ini akan menghasilkan hipotesa sebagai berikut: Pengertian yang tinggi untuk hasil kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk mencari jalan keluar yang terbaik. Pengertian yang tinggi untuk hasil kita sendiri hanya akan menghasilkan percobaan untuk "memenangkan" konflik. Pengertian yang tinggi untuk hasil pihak lain hanya akan menghasilkan percobaan yang memberikan "kemenangan" konflik bagi pihak tersebut. Tiada pengertian untuk kedua belah pihak akan menghasilkan percobaan untuk menghindari konflik.

Contoh konflik
Konflik Vietnam berubah menjadi perang. Konflik Timur Tengah merupakan contoh konflik yang tidak terkontrol, sehingga timbul kekerasan. hal ini dapat dilihat dalam konflik Israel dan Palestina. Konflik Katolik-Protestan di Irlandia Utara memberikan contoh konflik bersejarah lainnya. Banyak konflik yang terjadi karena perbedaan ras dan etnis. Ini termasuk konflik Bosnia-Kroasia (lihat Kosovo), konflik di Rwanda, dan konflik di Kazakhstan.

Konflik dan Kekerasan
Dalam banyak definisi, ancaman dan kekerasan selalu dikaitkan dengan konflik, kekerasan merupakan alat dari konflik untuk mencapai tujuan. Dapat juga dikatakan bahwa kekerasan merupakan proses akhir dari konflik. Namun, sesungguhnya konflik berbeda dengan kekerasan. Menurut Prof. DR. Winardi, S.E., konflik berarti adanya oposisi atau pertentangan pendapat antara orang-orang, kelompok-kelompok, atau organisasi-organisasi berkaitan dengan perbedaan-perbedaan pendapat, keyakinan-keyakinan, ide-ide, maupun kepentingan-kepentingan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988), konflik adalah percekcokan; perselisihan; pertentangan; ketegangan di antara orang-perorangan atau kelompok. Kekerasan berarti perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain, atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain. Konflik seringkali berubah menjadi kekerasan terutama apabila upaya-upaya yang berkaitan dengan pengelolaan konflik tidak 11

dilaksanakan dengan sungguh-sungguh oleh pihak yang berkaitan. Demikian pula bila upaya memperoleh keadilan di pengadilan ternyata gagal. Dari tujuan makro, pakar studi konflik dari Universitas Oxford, France Stewart, menyebut empat kategori negara yang berpotensi konflik yang kemudian berlanjut ke tindak kekerasan: negara dengan pendapatan dan pembangunan manusianya rendah; negara yang pernah terlibat dalam konflik serius dalam 30 tahun terakhir; negara dengan tingkat perbedaan horizontal yang tinggi; dan negara yang rezim politiknya berada dalam transisi rezim refresif menuju rezim yang lebih demokratis. Dalam kenyataan hidup manusia, antara konflik dengan kekerasan dapat dibedakan, namun acap kali tak dapat dipisahkan secara eksplisit.

1-

Teori-Teari Kekerasan Menurut Thomas Santoso, teori kekerasan dapat dikelompokkan ke dalam tiga

kelompok besar, yaitu sebagai berikut. a. Teori Kekerasan sebagai Tindakan Aktor (Individu) atau Kelompok

Para ahli teori kekerasan kolektif ini berpendapat bahwa manusia melakukan kekerasan karena adanya faktor bawaan, seperti kelainan genetik atau fisiologis. Menurut para ahli teori ini agresivitas perilaku seseorang dapat menyebabkan timbulnya kekerasan, seperti kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya, ataupun dilakukan oleh pasangan suami istri. Wujud kekerasan yang dilakukan oleh individu tersebut dapat berupa pemukulan, penganiayaan ataupun kekerasan verbal berupa kata-kata kasar yang merendahkan martabat seseorang. Sedangkan kekerasan kolektif merupakan kekerasan yang dilakukan oleh beberapa orang atau sekelompok orang (crowd). Munculnya tindak kekerasan kolektif ini biasanya karena adanya benturan identitas suatu kelompok dengan kelompok lain, seperti identius berdasarkan agama atau etnik. Contohnya, kekerasan yang terjadi di Poso dan Revolusi Eropa pada abad-19. Menurut teori ini kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang (crowd) dilakukan dengan irasionalitas dan emosionalitas, individu-individu dalam suatu kelompok crowd dianggap saling meniru sehingga emosionalitas dan rasionalitas sesamanya semakin kuat dan semakin besar. Hal ini terjadi karena adanya persamaan nasib ataupun persamaan persepsi terhadap ketidakadilan yang mereka rasakan bersama. 12

b.

Teori Kekerasan Struktural

Menurut teori ini kekerasan struktural bukan berasal dari orang tertentu, melainkan terbentuk dalam suatu sistem sosial. Para ahli teori ini memandang kekerasan tidak hanya dilakukan oleh aktor (individu) atau kelompok semata, tetapi juga dipengaruhi oleh suatu struktur, seperti aparatur negara. Pada umumnya bila seseorang atau kelompok memiliki harta kekayaan berlimpah, maka akan selalu ada kecenderungan untuk melakukan kekerasan kecuali ada hambatan yang jelas dan tegas. Sebagai contoh kekerasan struktural adalah terjadinya kasus Timor Timur, kasus Tanjung Priok, seputar kerusuhan Mei 1998, dan Iain-Iain.

c.

Teori Kekerasan sebagai kaitan antara actor dan Struktur

Menurut pendapat para ahli teori ini, konflik merupakan sesuatu yang telah ditentukan sehingga bersifat endemik bagi kehidupan masyarakat. Menurut Thomas Santoso istilah kekerasan digunakan untuk menggambarkan perilaku, baik yang terbuka (overt) atau tertutup (covert), dan yang bersifat menyerang (offensive) atau bertahan (defensive), yang disertai penggunaan kekuatan kepada orang lain. Oleh karena itu ada empat jenis kekerasan yang dapat diidentifikasi: a) kekerasan terbuka (kekerasan yang dapat dilihat, seperti perkelahian; b) kekerasan tertutup (kekerasan tersembunyi atau yang secara tidak langsung dilakukan, seperti pengancaman); c) kekerasan agresif (kekerasan yang dilakukan untuk mendapatkan sesuatu, seperti penjambretan); d) kekerasan defensif (kekerasan untuk melindungi diri). Salah satu bentuk kekerasan kolektif yang akhir-akhir ini sedang ramai dibicarakan yaitu terorisme. Meskipun terorisme dapat dilakukan oleh satu orang, tetapi pada awalnya terorisme dilakukan oleh suatu kelompok secara bersamaan. Oleh karena itu, terorisme merupakan salah satu bentuk kekerasan kolektif. Dari beberapa pandangan tentang terorisme, pendapat dari Yonah Alexander, yang diambil dari Kamus Inggris Oxford, yaitu suatu kebijakan yang dimaksudkan untuk menyerang dengan teror kepada mereka yang terhadapnya tindakan tersebut dilakukan; penggunaan metode intimidasi; fakta 13

berupa peneroran atau kondisi diteror . Terorisme dapat menimbulkan kondisi ketakutan yang sangat menonjol meskipun terhadap mereka yang secara tidak langsung menjadi objek masyarakat umum, otoritas publik; petugas resmi; pemerintahan; untuk memenuhi tuntutan tertentu, yang bisa juga menjadi tahapan awal terjadinya revolusi dalam sebuah negara.

Kompetisi
Kompetisi adalah kata kerja intransitive yang berarti tidak membutuhkan objek sebagai korban kecuali ditambah dengan pasangan kata lain seperti against (melawan), over (atas), atau with (dengan). Tambahan itu pilihan hidup dan bisa disesuaikan dengan kepentingan keadaan menurut versi tertentu. Menurut Deaux, Dane, & Wrightsman (1993), kompetisi adalah aktivitas mencapai tujuan dengan cara mengalahkan orang lain atau kelompok. Individu atau kelompok memilih untuk bekerja sama atau berkompetisi tergantung dari struktur reward dalam suatu situasi. Menurut Chaplin (1999), kompetisi adalah saling mengatasi dan berjuang antara dua individu, atau antara beberapa kelompok untuk memperebutkan objek yang sama. Kompetisi dalam istilah biologi berarti persaingan dua organisme atau lebih untuk mendapatkan kebutuhan hidup mereka. Berdasarkan kebutuhan tersebut kompetisi dibagi menjadi: (1) Kompetisi teritorial yaitu kompetisi untuk memperebutkan wilayah atau teritori tempat tinggal organisme, hal ini berkaitan dengan kompetisi selanjutnya. (2) Kompetisi makanan yaitu kompetisi untuk memperebutkan mangsa atau makanan dari wilayah-wilayah buruan. Kompetisi juga dapat dibagi menjadi: (1) kompetisi internal adalah kompetisi pada organisme dalam satu spesies dan (2) kompetisi eksternal adalah kompetisi pada organisme yang berbeda spesiesnya. Kompetisi dapat berakibat positif atau negatif bagi salah satu pihak organisme atau bahakn berakibat negatif bagi keduanya. Kompetisi tidak selalu salah dan diperlukan dalam ekosistem, untuk menunjang daya dukung lingkungan dengan mengurangi ledakan populasi hewan yang berkompetisi.

14

Cara Pengendalian Konflik dan Kekerasan
, Pengendalian suatu konflik hanya mungkin dapat dilakukan apabila berbagai pihak yang berkonflik terorganisir secara jelas. Menekan sebuah konflik agar tidak berlanjut menjadi sebuah tindak kekerasan memerlukan strategi pendekatan yang tepat a. Pengendalian secara Umum Secara umum, terdapat beberapa cara dalam upaya mengendalikan atau meredakan sebuah konflik, yaitu sebagai berikut. I) Konsiliasi

Konsiliasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial yang dilakukan melalui lembagalembaga tertentu yang dapat memberikan keputusan dengan adil. Dalam konsiliasi berbagai kelompok yang berkonflik duduk bersama mendiskusikan hal-hal yang menjadi pokok permasalahan. Contoh bentuk pengendalian konflik seperti ini adalah melalui lembaga perwakilan rakyat.

2) Arbitrasi Arbitrasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial melalui pihak ketiga dan kedua belah pihak yang berkonflik menyetujuinya. Keputusan-keputusan yang diambil pihak ketiga harus dipatuhi oleh pihak-pihak yang berkonflik. 3) Mediasi Mediasi merupakan bentuk pengendalian konflik sosial dimana pihak-pihak yang berkonflik sepakat menunjuk pihak ketiga sebagai mediator. Namun berbeda dengan arbitrasi, keputusan-keputusan pihak ketiga tidak mengikat pihak manapun. 4) Ajudication Ajudication merupakan cara penyelesaian konflik melalui pengadilan.

b. Pengendalian Menggunakan Manajemen Konflik Di samping cara-cara tersebut di atas, gaya pendekatan seseorang atau kelompok dalam menghadapi konflik dapat dilaksanakan sehubungan dengan tekanan relatif atas apa yang

15

dinamakan cooperativeness dan assertivenes . Cooperativeness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu/kelompok lain. Assertiveness adalah keinginan untuk memenuhi kebutuhan dan minat individu/kelompok sendiri. Gambar berikut ini menunjukkan lima gaya manajemen konflik berkaitan dengan adanya tekanan relatif di antara keinginan untuk menuju ke arah cooperativeness atau assertiveness sesuai dengan intensitasnya, mulai dari yang rendah sampai dengan yang tinggi

Bagan 2.1 Lima macam gaya manajemen konflik Keterangan: 1) Tindakan menghindark bersikap tidak kooperatif dan tidak asertif, menarik diri dari situasi yang berkembang, dan atau bersikap netral dalam segala macam cuaca. 2) Kompetisi atau komando otoritatif. bersikap tidak kooperatif, tetapi asertif, bekerja dengan cara menentang keinginan pihak lain, berjuang untuk mendominasi dalam situasi menang ataukalah , dan atau memaksakan segala sesuatu agar sesuai

dengan kesimpulan tertentu, dengan menggunakan kekuasaan yang ada. 3) Akomodasi atau meratakan: bersikap kooperatif, tetapi tidak asertif,

membiarkan keinginan pihak lain menonjol, meratakan perbedaan-perbedaan guna mempertahankan harmoni yang diusahakan secara buatan. 4) Kompromis: bersikap cukup kooperatif dan juga asertif dalam intensitas yang cukup. Bekerja menuju ke arah pemuasan pihak-pihak yang berkepentingan, mengupayakan tawarmenawar untuk mencapai pemecahan yang dapat diterima kedua belah pihak meskipun 16

tidak sampai ti.igkat optimal, tak seorang pun merasa menang, dan tak seorang pun merasa bahwa yang bersangkutan menang atau kalah secara mutlak. 5) Kolaborasi (kerja sama) atau pemecahan masalah. bersikap kooperatif maupun asertif, berusaha untuk mencapai kepuasan bagi pihak- pihak yang berkepentingan dengan jalan bekerja melalui perbedaan-perbedaan yang ada, mencari, dan memecahkan masalah hingga setiap individu/kelompok mencapai keuntungan masing-masing sesuai dengan

harapannya.

c.

Hasil Manajemen Konflik

Dari gaya manajemen konflik tersebut kemungkinan hasil yang didapat adalah sebagai berikut:

1) Konflik Kalah-Kalah Konflik kalah-kalah terjadi apabila tak seorang pun di antara pihak yang terlibat mencapai tujuan yang sebenarnya, dan alasan-alasan/faktor-faktor penyebab konflik tidak mengalami perubahan. Sekalipun hasil konflik kalah-kalah, seakan-akan memberi kesan terselesaikan atau memberi kesan lenyap untuk sementara waktu, ia mempunyai tendensi untuk muncul kembali pada masa mendatang. Hasil kalah kalah, biasanya akan terjadi apabila konflik dikelola dengan sikap menghindari, akomodasi, meratakan, dan atau melalui kompromis. Sikap menghindari merupakan sebuah bentuk ekstrim tiadanya perhatian (non-attention). Orang berpura-pura seakan-akan konflik tidak ada dan mereka hanya berharap bahwa konflik tersebut akan terselesaikan dengan sendirinya. Akomodasi atau meratakan, berusaha menekan perbedaan-perbedaan antara pihak yang berkonflik dan menekankan pada persamaan-persamaan pada bidang-bidang kesepakatan. Koekstensi damai melalui diakuinya kepentingan bersama merupakan tujuan yang ditekankan. Tindakan meratakan (smoothing), mungkin sekali tidak menghiraukan dasar nyata dari konflik tertentu. Sebagai contoh, di Indonesia, kata musyawarah untuk mufakat sering muncul dalam berbagai situasi konflik.

17

Kompromis akan terjadi apabila dibuat akomodasi sedemikian rupa sehingga masingmasing pihak yang berkonflik mengorbankan hal tertentu yang dianggap mereka sebagai hal yang bernilai. Akibatnya adalah bahwa tidak ada satu pihak pun yang mencapai keinginan mereka dengan sepenuhnya, dan diciptakan kondisi-kondisi anteseden untuk konflik-konflik yang mungkin akan muncul pada masa yang akan datang.

2) Konflik Menang-Kalah Pada konflik menang-kalah, salah satu pihak mencapai apa yang diinginkannya dengan mengorbankan keinginan pihak lain. Hal tersebut mungkin disebabkan karena adanya persaingan, di mana orang mencapai kemenangan melalui kekuatan, keterampilan yang superior, atau karena unsur dominasi. la juga dapat merupakan hasil dari komando otoritatif, ketika seorang otoriter mendikte sebuah pemecahan dan kemudian

dispesifikasikan apa yang akan dicapai dan apa yang akan dikorbankan dan oleh siapa. Andaikata figur otoritas tersebut merupakan pihak aktif di dalam konflik yang berlangsung, makakiranya mudah untuk meramalkan siapa yang akan menjadi pemenang dan siapa yang akan kalah. Mengingat bahwa strategi-strategi menang-kalah juga tidak memecahkan kausa pokok terjadi konflik, mzkz kiranya pada rr.asa mendatang kcnflikkcnfiik akan muncul lagi.

3) Konflik Menang-Menang Konflik menang-menang, dilaksanakan dengan jalan menguntungkan semua pihak yang terlibat dalam konflik yang terjadi. Hal tersebut secara tipikal dicapai apabila dilakukan konfrontasi persoalan-persoalan yang ada dan digunakannya cara pemecahan masalah untuk mengatasi perbedaan-perbedaan pendapat dan pandangan. Pendekatan positif tersebut terhadap konflik berkaitan dengan perasaan pada pihak-pihak yang sedang berkonflik bahwa ada sesuatu hal yang salah dan hal itu perlu mendapatkan perhatian. Kondisi menang-menang meniadakan alasan-alasan untuk melanjutkan atau menimbulkan kembali konflik yang ada karena tidak ada hal yang dihindari ataupun ditekankan. Semua persoalan-persoalan yang relevan diperbincangkan dan dibahas secara terbuka. Batu uji akhir untuk menilai sesuatu pemecahan menang-menang adalah apakah pihak yang turut berpartisipasi di dalam konflik tersebut bersedia bercakap-cakap satu sama lain, sampai 18

pada makan bersama dalam satu meja. Orang Minangkabau menyatakannya dalam ungkapan segala sesuatu menjadi beres di meja makan . Perhatikan pula contoh pernyataan berikut.
a) Saya menginginkan sebuah pemecahan yang sekaligus mencapai tujuan-tujuan saudara dan tujuantujuan saya sendiri, dan yang dapat diterima oleh kita bersama. b) Adalah tanggung jawab bersama kita untuk bersikap terbuka dan jujur tentang fakta-fakta,

pendapat-pendapat, dan perasaan-perasaan.

Pemecahan masalah dan kerja sama (kolaborasi) dapat dikatakan sebagai pendekatan yang paling berhasil dan paling baik dalam usaha manajemen konflik. Akan tetapi, bukan berarti pemecahan yang lain tidak memiliki nilai yang potensial dalam pengelolaan suatu konflik. Akan selalu ada konflik yang tidak dapat dikeloia dengan berkolaborasi. Untuk hal-hal demikian kita pakai saja prinsip minus mallum (terbaik di antara yang kurang baik). Dalam menangani konflik, terutama yang sifatnya destruktif, kita harus menjunjung tinggi demokrasi, transparansi, dan toleransi dalam segala aspek kehidupan.

B. Kegiatan 2

19

TAWURAN ANTARPELAJAR MERUPAKAN KONFLIK ANTARKELOMPOK YANG TELAH MENJURUS PADA TINDAK KEKERASAN. UPAYA APA YANG SEBAIKNYA DILAKUKAN UNTUK MENGATASI KONFLIK

ANTARKELOMPOK TERSEBUT, SERTA PIHAK MANA SAJA YANG RELEVAN UNTUK MENGATASINYA? BUATLAH KELOMPOK YANG TERDIRI DARI 3-4 ORANG. UNTUK MENJAWAB MASALAH DI ATAS. CIPTAKAN SUASANA DISKUSI YANG MENARIK!

TUGAS MANDIRI Demo Terhadap Peredaran Playboy Indonesia Ribut-ribut penerbitan majalah Playboy di Indonesia semakin menghangat. Beberapa waktu lalu, Tempo interaktif memberitakan kalau Front Pembela Islam telah mengadukan sembilan orang yang terlibat dalam produksi Playboy sekaligus mengadukan 26 perusahaan yang beriklan di majalah edisi perdana tersebut dengan tuduhan menyebarkan pornografi sehingga melanggar KUHP dart Undang-Undang Pers 1990. Pihak Playboy Indonesia sendiri yang diwakili Pemimpin Redaksinya Erwin Arnada meminta agar semua pihak yang merasa keberatan dengan kehadiran majalah Playboy Indonesia, mengutarakannya dengan jalan damai, seperti dikutip Kompas Cyber Media 12 April kemarin. Kami menghormati hak-hak kelompok masyarakat untuk mengutarakan pendapatnya, narnun percaya bahwa pengutaraan pendapat hams dilakukan secara damai dan tanpa mengorbankan tmk-hak pihak yang lain. Kekecewaan masyarakat pun tidak hanya dituangkan melalui demonstrasi di kantor Playboy di Jakarta. Komentar tak sedap juga dilontarkan kepada Menteri Komunikasi dan Informasi Indonesia, Sofyan Jalil. Menkominfo dipandang tidak melakukan tindakan yang maksimal untuk mencegah peredaran majalah untuk dewasa tersebut di Indonesia, seperti dikatakan oleh juru bicara Hizbut Thahrir Indonesia, Ismail Yusanto, yang dikutip dari Media Indonesia Online. Terus terang kami kecewa dengan sikap Menkominfo. Bila belum apa-apa sudah menyatakan tidak berwenang apalagi kami-kami ini. Alasan yang diberikan sangat dangkal, terlebih bagi pemerintahan di negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar. Dirinya menekankan bahwa pemerintah bisa menggunakan pasal-pasal mengenai barang-barang yang dinilai cabul, seperti yang tercantum dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Memang betul ada perspektif legal formal untuk melarang penerbitan majalah semacam itu, namun juga harus menjadi pertimbangan nilai-nilai edukasi, nilai-nilai masyarakat, dan juga agama. Masih dari Media Indonesia Online, Ismail Yusanto yang berbicara atas nama Hizbut Thahrir Indonesia melakukan demo kepada kantor majalah Playboy dan Popular di Jakarta Selatan. Kedua majalah itu dinilai representasi dari nilai-nilai yang mereka tentang keras.Sementara ini kami pilih 2 majalah itu dulu. Kami akan meminta mereka untuk dalam jangka waktu sepekan menarik semua majalah yang diterbitkan. Bila tidak juga dilakukan, kami akan mengajukan tuntutan hukum dengan menggunakan pasal 281 dan 282 20

KUHP.Keluhan terhadap sikap menkominfo juga disuarakan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Din Syarr.suddin, yang disampaikannya pada acara dialog dengan Direktur Bank Dunia Paul Wolfowitz hari selasa lalu. Menkominfo kok menurut saya seperti tumpul hatinya. persoalan bangsa harus dilihat dengan hati nurani, tidak bisa dengan legal formal saja. Menkominfo Sofyan Djalil sendiri mengatakan, pemerintah akan melaporkan majalah Playboy edisi Indonesia ke kepolisian, jika isinya dinilai malanggar kesusilaan. Pertanyaan: v 1. Setelah Anda membaca artikel tersebut di atas, apakah perbedaan pendapat di antara berbagai

kelompok sosial tersebut merupakan suatu konflik? Jelaskan pendapat Anda! 2. Menurut pendapat Anda, cara apa yang harus ditempuh apabila terjadi konflik budaya? Jelaskan! 3. Sebutkan contoh-contoh konflik yang pernah terjadi di lingkungan Anda!

kesimpulan Apa yang dimaksud dengan konflik? Faktor-faktor apa yang menyebabkan munculnya suatu konflik? Konflik merupakan suatu pertentangan atau pertikaian sebagai gejala sosial yang sering muncul dalam kehidupan masyarakat. Secara umum faktor-faktor yang menyebabkan munculnya suatu konflik adalah adanya perbedaan antarindividu, adanya perbedaan latar belakang kebudayaan, adanya perbedaan kepentingan, dan perubahan sosial. Sebutkan klasifikasi bentuk-bentuk konflik yang terdapat dalam

masyarakat? Secara garis besar konflik dalam masyarakat dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa bentuk konflik, di antaranya adalah konflik destruktif, konflik konstruktif, konflik vertikal, konflik horizontal, konflik diagonal, konflik terbuka, konflik tertutup, konflik sosial, konflik politik, konflik ekonomi, konflik budaya, konflik ideologi, konflik interindividu, konflik antarindividu, dan konflik antarkelompok. Apakah perbedaan konflik destruktif dengan konflik yang konstruktif? Konflik destruktif merupakan konflik yang sifatnya merugikan individu maupun kelompok yang terlibat di dalamnya. Konflik ini ditandai oleh perasaan

cemas/tegang/stres, persaingan yang tidak sehat, ledakan konflik yang hebat sampai muncul tindakan ancaman/kekerasan, dan sebagainya. Adapun konflik yang konstruktif merupakan konflik yang sifatnya membangun, yang memberikan keuntungan bagi 21

individu dan kelompok yang terlibat di dalamnya. Konflik konstruktif dapat meningkatkan kreativitas individu dan kelompok, ikatan yang semakin kuat di antara anggota kelompok, dan sebagainya. Apakah perbedaan antara konflik dengan kekerasan? konflik berbeda dengan kekerasan, konflik berarti adanya pertentangan atau perbedaan pendapat antarindividu dengan individu lain atau pertentangan antarindividu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok, sedangkan kekerasan merupakan perbuatan seseorang atau kelompok yang menyebabkan cedera atau hilangnya nyawa seseorang atau kelompok orang ataupun menyebabkan kerusakan harta benda orang lain. Konflik dapat berubah menjadi kekerasan apabila upaya-upaya pengendalian konflik tidak dilaksanakan tepat sasaran. Mengapa konflik akan selalu muncul dalam kehidupan manusia? Konflik selalu muncul sehubungan interaksi sosial di antara umat manusia. Dalam kehidupan manusia terdapat sejumlah perbedaan-perbedaan, seperti perbedaan pendapat; kepentingan-kepentingan (sosial, ekonomi, dan politik); perbedaan latar belakang individu (kebudayaan, adat-isitiadat, agama, dan bahasa); serta perubahan-perubahan sosial yang terjadi di masyarakat yang dapat merubah sistem atau nilai yang berlaku Apa yang harus dilakukan agar konflik tidak berlanjut menjadi tindak kekerasan? Untuk menekan agar konflik tidak menjadi kekerasan, maka dibutuhkan cara pengendaiian konflik yang tepat, di antaranya adalah dengan cara konsiliasi, arbitrasi, mediasi, dan lajudication. Di samping cara-cara tersebut di atas ada lima macam gaya pendekatan seseorang atau keiompck dalarri menghadapi situasi konflik, yaitu sebagai berikut. a. Tindakan menghindar.

b. Kompetisi atau komando otoritatif. c. Akomodasi.

d. Kompromi. e. Kolaboasi (kerja sama).

22

PAKET ISTILAH
A k o m o d a s i : A mb i g ui t as : ketidakjelasan. penyesuaian sosial dalam interaksi antara pribadi dan kelompok manusia untuk mere-dakan pertentangan. kemungkinan yang mempunyai dua penger-tian; ketidaktentuan atau

Apatis: acuh tak acuh; tidak peduli; masa bodoh. Arbitrasi: usaha perantara dalam meleraikan sengketa. Destruktif: bersifat merusak; memusnahkan; atau menghancurkan. Endemik: penyakit yang berjangkit disuatu daerah tertentu; secara tetap terdapat di iempattempat atau dikalangan orang-orang tertentu atau pada golongan suatu masyarakat. Gencatan senjata: penghentian tembak-menembak (tentang perang). Kompromi: persetujuan dengan jalan damai atau saling mengurangi tuntutan Konflik sosial: pertentangan antaranggota masyarakat yang bersifat menyeluruh dalam kehidupan; persfektif/sudut pandang tertentu di mana konflik dianggap seialu ada dan mewarnai segala aspek interaksi manusia dan struktur sosial; pertikaian terbuka seperti perang, revolusi, pemogokan, dan gerakan perlawanan. Konsiliasi: usaha mempertemukan keinginan pihak yang berselisih untuk mencapai persetujuan dan menyelesaikan perselisihan tersebut. Konstruktif: bersifat membina; memperbaiki; membangun. Majemuk: terdiri atas beberapa bagian yang merupakan satu kesatuan. ,.,, Persepsi: tanggapan langsung dari sesuatu; serapan; proses seseorang mengetahui beberapa hal melalui panca inderanya. Polietnis: terdiri dari banyak etnis. , Represif: bersifat menekan; mengekang; menahan; atau menindas. Solidaritas: solider; sifat satu rasa (senasib); perasaan setia kawan. Toleransi: sikap atau sifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri.

23

INTEGRASI SOSIAL Istilah integrasi berasal dari bahas Inggris, integration yang berarti keseluruhan atau kesempurnaan social. Maka Integrasi social adalah proses penyesuaian di antara unsureunsur yang saling berbeda dalam kehidupan social sehingga menghasilkan suatu pola kehidupan yang serasi fungsinya bagi masyarakat yang bersangkutan. Unsure-unsur yang berbeda tersebut dapat meliputi perbedaan kedudukan social, ras, etnik, agama, bahasa, kebiasaan, system nilai dan norma. Menurut Maurice Duverger, integrasi dibangunnya interdependensi yang lebih rapat antara bagian-bagian dari organisme hidup atau antara anggota-anggota di dalam masyarakat. Sedangkan menurut Paul B Horton, integrasi adalah suatu proses pengembangan masyarakat di mana segenap kelompok ras dan etnik mampu berperan serta secara bersama-sama dalamkehidupan berbudaya dan politik. Integrasi social akan terbentuk di dalam masyarakat apabila sebagian besar anggota masyarakat tersebut memiliki kesepakatan tentang batas-batas territorial dari suatu wilayah atau Negara tempat mereka tinggal. Menurut Abu Ahmadi melihat bahwa integrasi masyarakat terdapat kerjasama dari seluruh anggota masyarakat mulai dari tingkatan individu, keluarga, lembaga dan masyarakat sehingga menghasilkan persenyawaan berupa consensus nilai yang samasama dijunjung tinggi. Namun demikian, menurut Abdul Syani, integrasi social tidak cukup diukur dari criteria berkumpul atau bersatunya anggota masyarakat dalam arti fisik. Ia juga sekaligus merupakan pengembangan sikap solidaritas dan perasaan manusiawi. Pengembangan sikap dan perasaan manusia ini merupakan dasar dari keselarasan suatu kelompok atau masyarakat. Menurut William F Ogburn dan Mayer Nimkoff, syarat berhasilnya integrasi social adalah: a. Anggota-anggota masyarakat merasa bahwa mereka berhasil saling mengisi kebutuhan-kebutuhan satu dengan yang lainnya. b. Masyarakat berhasil menciptakan kesepakatan besama mengenai normanorma dannilai-nilai yang dijadikan pedoman dalam berinteraksi satu dengan yang lainnya c. Norma-norma dan nilai social itu berlaku cukup lama dan dijalankan secara konsisten serta tidak mudah mengalami perubahan. Suatu integrasi social dapat berlangsung cepat atau lambat tergantung pada factor-faktor berikut: Homogentas kelompok Besar kecilnya kelompok Mobilitas geografis Efektifitas komunikasi yang baik dalam masyarakat juga akan mempercepat integrasi social 24

FAKTOR-FAKTOR PENDORONG INTEGRASI SOSIAL Pengorbanan Toleransi terhadap kelompok-kelompok manusia dengan kebudayaan yang berbeda. Kesempatan yang seimbang dalam ekonomi bagi pelbagai golongan masyarakat dengan latar belakang kebudayaan yang berbeda Sikap saling mengahrgai orang lain dengan kebudayaanya Mengidentifikasi akar persamaan di antara kultur-kultur etnis yang ada Kemampuan segenap keompok yang ada untuk berperan secara bersama-sama dalam kehidupan budaya dan ekonomi Mengakomodasi timbulnya “kebangkitan etnis” Upaya yang kuat dalam melawan prasangka dan diskriminasi Menghilangkan pengkotak-kotakan kebudayaan Perkawinan campuran Adanya musuh bersama di luar

25

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->