I.

Pengantar Maksud dan Tujuan Modul ini dibuat dengan maksud dan tujuan sebagai berikut: 1. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengkaji dan memahami tujuan pembahasan materi 2. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut kecepatan masing-masing 3. memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut cara dan kebiasaan belajar masing-masing 4. Memberikan feedback yang banyak dan segera sehingga siswa dapat memperbaiki kelemahan dalam menguasai materi bahasan 5. Memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguasai materi bahasan secara tuntas dan menyeluruh Dengan demikian, manfaatkanlah modul ini sebaik-baiknya Petunjuk Penggunaan Modul 1. Bacalah, fahamilah dan dalamilah materi modul ini 2. Lakukan kegiatan pembelajaran modul ini sesuai dengan masing-masing petunjuk 3. Tidak diperkenankan mengerjakan modul berikutnya sebelum modul ini dianggap memenuhi dan/atau melampaui standar ketuntasan belajar minimal (KKM) Standar Kompetensi Memahami berbagai peristiwa dan gejala sosial yang terjadi dalam masyarakat, serta menerapkan nilai dan norma dalam proses pengembangan kepribadian yang dapat dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari dengan nilai-nilai akhlak mulia sehingga mampu meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kompetensi Dasar Siswa mampu mendeskripsikan sosialisasi sebagai proses dalam pembentukan kepribadian serta dapat memberikan moral, menghaluskan budi pekerti dan meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan YME Indikator • Siswa mampu mengidentifikasi proses sosialisasi sebagai pembentuk kepribadian. • Siswa mampu memberi contoh faktor-faktor yang mempengaruhi proses sosialisasi sebagai pembentuk kepribadian. • Siswa mampu menunjukkan berbagai agen sosialisasi dalam pembentukkan kepribadian • Siswa memahami bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai mahluk sosial yang harus berhubungan satu sama lainnya yang dilandasi nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME.

MODUL SOSIOLOGI 1 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

II.

Materi A. PENDAHULUAN Apa yang akan terjadi apabila seseorang tidak pernah berhubungan, bergaul, atau berkomunikasi dengan orang lain? Dapatkah ia berkembang sebagaimana layaknya manusia? Untuk itu, mari kita simak kasus di bawah ini. Isabela Malang yang Beruntung

Isabela adalah nama seorang anak perempuan. Selama 6 tahun awal kehidupannya, ia hidup dalam sebuah kamar gelap yang terisolasi dari dunia luar. Keluarga ibu Isabela sangat malu atas kelahirannya sebagai “anak haram”, sehingga menyembunyikannya dari dunia luar. Isabela tak pernah berhubungan dengan orang lain kecali dengan ibunya, yang kebetulan bisu dan tuli. Isabela akhirnya ditemukan oleh petugas sosial ketika ia dibawa kabur oleh ibunya dari rumah keluarga mereka. Ketika ditemukan, Isabela tidak mampu berbicara. Satu-satunya kemampuan berkomunikasi dengan ibunya adalah dengan bahasa isarat sederhana. Yang dapat ia lakukan hanyalah mengeluarkan beberapa teriakan. Walaupun sudah berusia 6 tahun, namun perilakunya masih mirip dengan bayi berusia 6 bulan. Semasa kanak-kanak, Isabela sangat terkucil dan tidak mengalami sosialisasi. Karena selama 6 tahun ia hanya pernah melihat sedikit orang, maka ia selalu ketika kemudian harus berhadapan dengan orang yang ia tak kenal. Ia akan bereaksi seperti binatang liar jika berhadapan dengan orang asing. Ketika kemudian ia terbiasa melihat orang-orang tertentu, reaksinya berubah menjadi sangat apatis. Pada awalnya diduga Isabela tuli, namun kemudian terbukti bahwa ia dapat bereaksi terhadap suara-suara yang ia dengar. Para pakar kemudian mengembangkan program sistematis untuk menolong Isabela menyesuaikan diri dengan hubunga antar-manusia dan menjalani proses sosialisasi.Setelah beberapa kali latihan, ia mulai mampu mengucapkan kata-kata. Meskipun pada awalnya berjalan lambat, namun ia dapat dengan cepat melewati masa pertumbuhan sebagai anak berusia 6 tahun. Sesudah itu, setelah berlatih sekitar 2 bulan, ia mulai mampu berbicara dalm kalimat lengkap. Sembilan bulan kemudian, ia sudah mampu memahami baik kata-kata maupun kalimat. Akhirnya, menjelang usianya yang ke 9 tahun, Isabela sudah siap masuk sekolah umum bersama anak-anak “normal” lainnya. Pada usia 14 tahun ia sudah duduk di kelas 6, belajar dengan baik di sekolah dan mengalami penyesuaian emosi dengan baik pula. (Disadur dari “Sociology” karya Richard T. Schaefer dan Robert P. Lamn, him 97-98)
Begitulah, Isabela yang semula tidak bisa bicara dan takut ketika bertemu dengan oang asing, akhirnya bisa menjalani hidup normal seperti anak-anak lainnya. Itu terjadi karena ia telah menjalani proses sosialisasi. Isabela bertemu dan berinteraksi dengan orang banyak. Melalui proses sosialisasi itu ia memiliki kepribadian yang sehat. Tapi, apa sesungguhnya proses sosialisasi itu? Apa pula pembentukan kepribadian itu? Bagaimana kaitan antara sosialisasi dan pembentukan kepribadian?

MODUL SOSIOLOGI 2 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

B. SOSIALISASI
Kasus di atas menunjukan bahwa manusia memerlukan interaksi dengan orang lain agar potensi kemanusiaanya berkembang secara wajar. Manusia adalah mahkluk social. Manusia membutuhkan manusia lain agar ia dapat bertahan hidup. Manusia memerlukan social. Manusia memerlukan sosialisasi. Apa sesungguhnya arti dan inti dari sosialisasi? Mengapa sosialisasi itu sangat penting dalam hidup manusia?

1. Pengertian Menurut Para Ahli Ada banyak definisi tentang sosialisasi. Macionis (1997: 123) misalnya menyebut sosialisasi sebagai pengalaman social sepanjang hidup yang memungkinkan seseorang mengembangkan potensi kemanusiaanya dan mempelajari pola-pola kebudayaan. Horton & Hunt (1987: 89) mendefinisikan sosialisasi sebagai proses di mana seorang menginternalisasikan norma-norma kelompok tempat ia hidup, sehingga berkembang menjadi satu pribadi yang unik. Giddens (1994: 60) melukiskan proses sosialisai sebagai sebuah proses yang terjadi ketika seorang bayi yang lemah berkembang secara aktif melalui tahap demi tahap sampai akhirnya menjadi pribadi yang sadar akan dirinya sendiri, pribadi yang berpengetahuan, dan terampil akan cara hidup dalam kebudayaan tempat ia tinggal. Ritcher Jr (1987: 139) berpendapat bahwa sosialisasi adalah proses seseorang memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang diperlukannya agar dpat berfungsi sebagai orang dewasa dan sekaligus sebagai pemeran aktif dalam satu kedudukan atau peranan tertentu di masyarakatnya. Broom & Selznic (1961: 79) menyatakan bahwa sosialisasi adalah proses membangun atau menanamkan nilai-nilai kelompok pada siri seseorang,. Dari segi masyarakat, sosialisasi adalah cara untuk mensransmisikan kebudayaan dan cara bagaimana seseorang di sesuaikan ke dalam cara kehidupan yang telah diorganisir. Dari segi individu, sosialisasi adalah pemenuhan potensi pertumbuhan dan perkembangan pribadinya. Sosialisasi memanusiakan manusia dan mendembangkannya agar menjadi pribadi yang mempunyai kesadaran identitas, mampu mengatur dan mendisplinkan perilakunya, serta memiliki cita-cita, nilainilai, dan ambisi. Dari berbagai pendapat di atas, dapat ditarik beberapa pengertian pokok tentang sosialisasi sebagai berikut. a. Sosialisasi adalah proses yang berlangsung sepanjang hidup manusia. b. Dalam sosialisasi terjadi saling pengaruh antara individu serta segala potensi kemanusiaanya.
MODUL SOSIOLOGI 3 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

c. Melalui proses sosialisasi, individu, menyerap pengetahuan, kepercayaan, norma, sikap, dan keterampilan dari kebudayaan masyarakatnya. d. Hasil sosialisasi adalah berkembangnya kepribadian seseorang mejadi satu pribadi yang unik, sedankan kebudayaan masyarakat juga terpelihara dan berkembang melalui proses sosialisasi. 2. Proses Sosialisasi Sosialisasi sebagai proses sosial mempunyai tujuan untuk: Memberi keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk melangsungkan kehidupan seseorang kelak. Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien serta mengembangkan kemampuannya untuk membaca, menulis dan bercerita Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipeljari melalui latihan mawas diri yang tepat Membiasakan individu dengan nilai-nilai kepercayaan pokok yang ada pada masyarakat

Sosialisasi adalah proses yang memungkinkan seseorang belajar tentang sikapsikap, nilai-nilai, dan tindakan-tindakan yang dianggap tepat oleh satumasyarakat atau oleh satu kebudayaan tertentu.Seseorang perlu belajar tentang sikap, nilai, dan tindakan ini agar ia dapat bertahan hidup dalam masyarakat tersebut. Proses sosialisasi memungkinkan seseorang berperilaku sesuai dengan nilai dan norma yang berlakubagi masyarakat, sehingga terhindar dari perilaku asosial. Perilaku asosial adalah perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma masyarakat. Sosialisasi terjadi melalui interaksi antar manusia. Manusia mempelajari sesuatu dari orang-orang yang paling penting dalam kehidupannya, seperti anggota keluarga dekat, teman baik, dan para guru. Namun demikian, manusia juga belajar dari orang-orang yang mereka temui di jalan, di televise, dalm film, majalah, atau melalui internet. George Herbert Mead berpendapat bahwa sosialisasi yang dilalui seseorang dapat dibedakan melalui tahap-tahap sebagai berikut: a). Tahap Persiapan (preparatory stage) Tahap ini dialami sejak manusia dilahirkan, saat seorang anak mempersiapkan diri untuk mengenal dunia sosialnya, termasuk untuk pemahaman tentang diri sendiri Contoh: kata “makan” yang diajarkan ibu kepada anaknyayang masih balita diucapkan “mam”. Makna kata tersebut belum dipahami secara tepat oleh anak. Lama kelamaan anak memahami secara tepat makna tersebut dengan kenyataan yang dialaminya

MODUL SOSIOLOGI 4 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

b). Tahap meniru (play stage) Tahap ini ditandai dengan semakin sempurnanya seorang anak menirukan peran-peran yang dilakukan oleh arang dewasa. Pada tahap ini mulai terbentuk kesdaran tentang nama diri dan siapa nama orang tuanya, kakaknya dan sebagainya.Dengan kata lain, kemampuan untuk menempatkan diri pada posisi orang lain juga mulai terbentuk pada taham ini. Bagi seorang anak, orang-orang ini disebut orang-orang yang amat berarti (significant other) c). Tahap siap bertindak (game stage) Pada tahap ini,kemampuanya menempatkan diri pada posisi orang lain punmeningkat sehingga memungkinkan adanya kemampuan bermain secara bersama-sama. Dia mulai menyadari adanya tuntutan untuk membela keluarga danbekerja sama dengan teman-tamannya. Pada tahap ini lawan berinteraksi semakin banyak dan hubungannya semakin kompleks. Individu mulai berhubungan dengan teman-teman sebaya diluar rumah. Bersamaan dengan itu, anak mulai menyadari bahwa ada norma tertentu yang berlaku di luarg keluarganya.

Teman sebaya amat berpengaruh pada tahap game stage. Dari sanalah dia mulai berinteraksidengan dunia di luar keluarganya

d). Tahap penerimaan norma kolektif (generalized stage) Pada tahap ini seseorang telah dianggap dewasa. Dia sudah dapat menempatkan dirinya pada posisimasyarakat secara luas. Dengan kata lain, ia dapat bertenggang rasa tidak hanya dengan orang-orang yang berinteraksi dengannya tapi juga dengan masyarakat luas. Kriteria Jumlah orang yang berinteraksi Keragaman orang dalam berinteraksi Kesadaran diri yang dimiliki Preparatory stage sedikit Rendah belum Paly Stage Sedikit bertambah Agak rendah Hanya meniru Game Stage Agak banyak Agak tinggi Mampu bekerja sama Generalized stage Banyak Tinggi Mampu bekerja sama dalam masyarakat luas secara tatap muka

MODUL SOSIOLOGI 5 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Hal-hal yang Disosialisasikan Hal-hal yang disosialisasikan dalam proses sosialisasi adalah pengetahuan, nilai, dan norma, serta keterampilan hidup. Pengetahuan tentang kebudayaan dalam masyarakat secara formal maupun informal. Pada akhirnya, nilai dan norma social itu diinternalisasikan oleh orang yang terlibat dalam proses sosialisasi itu. Proses internalisasi adalah proses mempelajari nilai dan norma sosial sepenuhnya sehingga menjadi bagian dari system nilai dan norma yang ada pada dirinya. Jika proses tersebut sudah ada dalam diri seseorang maka nilai dan norma tersebut akan mengendalikan perilaku seseorang. Keterampilan dalam suatu kebudayaan disosialisasikan melaui proses pengajaran dan pelatihan, baik secara formal maupun informal. 2.2. Jenis-jenis Sosialisasi Dalam sosiologi, proses sosialisasi biasanya dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut. a. Sosialisasi primer adalah sosialisasi pertama yang dijalani seseorang semasa kanak-kanak, dan yang berfungsi mengantar mereka memasuki kehidupan sebagai anggota masyarakat. Sosialisai primer terjadi dalam keluarga, kelompok teman sepermainan, dan sekolah. b. Sosialisasi sekunder adalah sosialisasi lanjutan di masa seseorang menjalani sosialisasi di sektor-sektor kehidupan nyata di masyarakat, seperti di tempat kerja, akademi militer, dan sebagainya. Dari segi caranya, sosialisasi yang berlangsung dalam keluarga dibedakan pula menjadi: a. Sosialisasi represif adalah proses sosialisasi yang lebih mengutamakan penggunaan hukuman, komunikasi satu arah, dan kepatuhan anak-anak pada orang tua, dan peran dominant orang tua dalam proses tersebut. b. Sosialisasi partisipatif adalah sosialisasi yang lebih mengutamakan penggunaan motivasi, komunikasi timbale balik, penghargaan terhadap otonomi anak, dan sharing tenggung jawab dalam proses tersebut. 3. Tujuan Sosialisasi Melalui sosialisasi, masyarakat mengajar anak-anak tentang apa yang harus diketahui jika ia hendak menyatu dengan masyarakat, dan apa yang harus dipelajari jika ia hendak mengembangkan potensinya. Sosialisasi mempunyai tujuan sebagai berikut. Menumbuhkan Disiplin Dasar Ada banyak disiplin yang harus ditanamkan kepada warga masyarakat, mulai dari bagaimana menggunakan toilet hingga bagaimana melkukan penelitian dengan metodologi ilmiah. Perilaku tidak disiplin muncul dari dorongan untuk mengikuti kehendak sendiri. Disiplin sekolah yang mewajibkan setiap siswa masuk sekolah tepat waktu bertentangan dengan kecenderungan sebagian siswa untuk bermalasmalasan bangun dan berangkat sekolah di pagi hari. Jika menuruti dorongan hati, memang lebih enak tidur di pagi hari dan bangun agak siang, terlebih di musim hujan. Namun demi masa depan siswa sendiri, dorongan hati untuk bermalasmalasan itu harus dibatasi dengan peraturan disiplin sekolah.
MODUL SOSIOLOGI 6 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

3.2. Menanamkan Aspirasi atau Cita-cita Masyarakat tidak hanya mentransfer nilai budaya umumyang menentukan cara hidup warga masyarakat, melainkan juga mentransfer cita-cita hidup tertentu. Masyarakat yang ekonominya dibangun dengan teknologi maju harus mampu memotivasi sebagian anggotanya agar bercita-cita menjadi ilmuwan dan pakar teknologi. Organisasi keagamaan harus mampu mendorong umatnya agar ada yang bercita-cita menjadi ustadz, pastor, atau pendeta. Proses sosialisasi harus mampu menanamkan beragam cita-cita sebagai sesuatu yang ideal dan harus dicapai oleh seseorang. 3.3. Mengajarkan Peran-peran Sosial dan sikap-siakap Penunjangnya Melalui proses sosialisasi, setiap orang belajar bajgaimana mengkoordinasikan perilakunya dengan perilaku orang lain, dan bagaimana menyesuaikan diri pada lingkungan tertentu sesuai peranan yang disandangnya. Setiap warga masyarakat diharapkan mampu memperhitungkan kehadirang orang lain dalam hubungan social mereka. Pemimpin dan anak buah, siswa dan guru, masingm-masing memainkan peranan yang berbeda, namun saling melengkapi. Setiap peran mengandung keutamaanm perasaan, sikap, dan sikap kepribadian yang cocok dengan peranan yang bersangkutan. Setiap siswa diharapkan mempunyai sikap bersemangat dan memperhatikan pelajaran. Seorang guru diharapkan memiki sikap sabar dan bijaksana. Sedangkan seorang perwira diharapkan memiliki sikap yang tenang dan hormat pada atasan. 3.4. Mengajarkan Keterampilan Sebagai Persiapan Dasar untuk Berpartisipasi dalam Kehidupan Orang Dewasa Banyak keterampilan yang berwatak social, seperti menulis surat, hidup bertetangga, menggunakan telepon, dan memesan makanan di restoran. Keterampilan social dapat menjadi pra-kondisi yang penting bagi partisipasi efektif di bidang politik atau organisasi lainnya.

4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Sosialisasi Kegagalan sosialisasipada diri seseorang menujukan bahwa ada sejumlah factor yang mempengaruhi keberhasilan sosialisasi. Faktor-faktor itu antara lain: 4.1. Kesiapan atau Kematangan Pribadi Seseorang Sebagaimana lazimnya dalam proses pendidikan, proses sosialisasi juga mensyaratkan adanya kematangan atau kesiapan anak dalam menjalani proses tersebut. Yang termasuk dalam kesiapan adalah potensi manusia untuk belajar dan kemampuan berbahasa. Memaksakan bayi agar bisa mengucapkan kata “saya” sesegera mungkin tentu tidak sesuai dengan kematangan atau kesiapannya. Sebab pada usia dibawah 18 bulan bayi baru bisa mampu mengenali semua lelaki sebagai “ayah” dan semua perempuan sebagai “ibu-nya”.Baru pada usia 18 bulan sampai 2 tahun, bayi dapat mengucapkan kata “saya” dan mulai memiliki “kesadaran akan dirinya sendiri.”
MODUL SOSIOLOGI 7 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

4.2. Lingkungan atau Sarana Sosialisasi Potensi manusia tidak berkembang secara otomatis, melainkan memerlukan lingkungan sosial yang tepat. Stewart (1987:98) menyatakan berkembang atau tidak potensi kemanusiaan seseorang tergantung pada tiga factor yang terkait, yaitu (a) interaksi sesame manusia, bahasa, dan cinta atau kasih sayang. a. Interaksi dengan sesama Interaksi dengan sesame manusia diperlukan untuk pertumbuhan kecerdasan, pertumbuhan social dan emosional, mempelajari pola-pola kebudayaan, dan berpartisipasi dalam bermasyarakat. Melalui interaksi dengan orang lain, orang belajar tentang pola-pola perilaku yang tepat. Melalui interaksi, orang juga belajar tentang hak, kewajiban, dan tenggung jawab dalam hidup bermasrakat, serta tindakan yang mana yang mana di setujui dan mana yang dilarang,. Pendek kata, interaksi dengan sesama manusia sangat penring, karena bakat yang begitu besar pun akan sia-sia jika tidak diasah melalui interaksi dengan orang lain. b. Bahasa Bahasa diperlukan untuk mempelajari symbol-simbol kebudayaan, merumuskan dan memahami kenyataan, memahami gagasan-gagasan yang kompleks, dan menyatakan pandangan-pandangan maupun nilai-nilai seseorang. c. Cinta atau kasih sayang

Cinta dan kasih sayang diperlukan untuk kesehatan mental dan fisik seseorang. Juga sebagai sarana bekerjasama dengan orang lain, perkembangan seksual yang normal, serta penyaluran kasih sayag orang tua kepada anaknya. Lingkungan sosial di mana seseorang hidup dan berkembang serta menjalani proses sosialisasi. Ketidaklengkapan orang tua misalnya, (yang terjadi pada anak yang ditinggal cerai atau mati dari salah satu orang tuanya) dapat berpengaruh negaif pada perkembangan anak. Ketiadaan salah satu model perilaku (entah ayah atau ibu) akan mengakibatkan kurang sempurnanya proses sosialisasi anak. Di negara-negara Barat, keluarga yang kedua orang tua bekerja sehingga tidak dapat mendampingi anak-anak mereka sepanjang waktu, menyerahkan pengasuhan kepada lembaga penitipan anak. Studi yang dilakukan menunjukan bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara perkembangan kepribadian anak yang diasuh oleh ibunya sendiri dengan yang dititipkan kepada lembaga penitipan. Lingkungan sosial yang buruk atau kebudayaan masyarakat tertentu juga sangat mempengaruhi kepribadian anak yang tumbuh dalam lingkungan itu. Warga suku IK di Uganda, yang hidup dalam situasi keadaan amat miskin, telah berkembang menjadi manusia yang paling pelit dan rakus sedunia, sama sekali tidak memiliki
MODUL SOSIOLOGI 8 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

sifat kasih sayang dan semangat tolong menolong. Untuk bertahan hidup, mereka bahkan tega merebut makanan yang sudah ada di mulut anaknya sendiri. 4.3. Cara Sosialisasi Cara sosialisasi yang dialami oleh seseorang juga mempengaruhi hasil sosialisasi itu sendiri. Pribadi yang tumbuh dalam suasana otoriter dan selalu mengalami represi akan menjadi pemberontak, atau rendah diri, tidak menghargai notrma, dan sejenisnya. Sbaliknya, seseorang yang mengalami sosialisasi patisipatif akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, demokratis, dan menghargai orang lain.

5. Agen-agen Sosialisasi Setiap orang menjalani proses sosialisasi sepanjang hayatnya. Ketika anak-anak, ia menjalani sosialisasi di dalam keluarga, kemudia di sekolah dan di kelompok sebayanya. Ketika sudah bekerja, ia menjalani sosialisasi di tempat kerja. Ketika dewasa dan berkeluarga, ia pun mengaami proses sosialisasi menjadi istri atau suami, menjadi orang tua, menjadi mertua, menjadi kakek atau nenek, dan seterusnya. Selama masa hidup, orang tua mengalami sosialisasi dari media masa dan negara. Keluarga, sekolah, kelompok teman sebaya, media masa, tempat kerja, dan negara adalah agen-agen yang menjadi sarana proses sosialisasi. Seorang anak bisa menjadi obyek sosialisasi sekaligus juga pelaku sosialisasi itu sendiri. Dalam proses tersebut, orang-orang dewasa juga mengalami sosialisasi dengan cara menyesuaikan diri menjadi pasangan suami istri, menjadi orang tua, dan sebagainya. Derngan adanya perubahan perliaku anak, maka si anak itu sendiri juga menyebabkan orang lain berubah pola perilakunya. Anak-anak itu mengubah orang dewasa menjadi ibu dan bapak, yang pada gilirannya membantu anak berkembang selama masa kanak-kanak. 5.1. Keluarga Keluarga adalah yang paling terkait erat dengan proses sosialisasi seseorang. Fungsi utama keluarga adalah menjaga dan mamalihara anakanak. Kita mengalami sosialisasi pertama kali dalam kehidupan sebagai bayi dan anak-anak dalam keluarga.

Fungsi keluarga: a. Menjaga dan memelihara anak Salah satu fungsi keluarga adalah sebagai alat untuk menghadirkan anak-anak ke dunia ini. Fungsi ini tidak berhenti sampai situ saja, orang tua memiliki kewajiban untuk menjaga dan memelihara anak-anaknya, antara lain melalui pemberian rasa aman, pendidikan, makanan, dan fasilitas yang memadai.
MODUL SOSIOLOGI 9 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

b. Tempat awal persemaian nilai dan norma Keluarga secara tradisional memainkan beberapa fungsi bagi anak-anak. Salah satu fungsi keluarga adalah sosialisasi nilai dan norma keluarga dan masyarakat. Melalui orang-orang dewasa yang ada dalam keluarga, anak-anak akan memperoleh model yang akan ditirunya dalam kehidupan mendatang. Seorang anak laki-laki menjadikan ayahnya sebagai model perilaku. c. Tempat persemaian cinta atau kasih sayang Selain itu, keluarga seharusnya berfungsi memenuhi kebutuhan sebagai kasih sayang, kekeluargaan, danketulusan yang amat penting bagi pertumbuhan rasa cinta sesame bagi setiap anak. Keluarga juga menjadi penentu status sosal seorang anak. Anak-anak menyerap serangkaian nilai, keentingan, dan kebiasaan dari keluarga dengan status tertentu keluarganya. d. Tempat perlindungan bagi anggota keluarga Keluarga juga berfungsi sebagai perlindungan baik secara fisik, ekonomi, maupun psikologis yang amat diperlukan bagi tumbuhnya rasa aman, percaya diri, dan sikap positif terhadap orang lain dalm jiwa setiap anak. Dengan menjalankan berbagai fungsi seperti itu, jelas keluarga merupakan agen sosialisasi terpenting bagi setiap anak. Perkembangan rasa keterikatan social dan saling ketergantungan dari seseorang sangat tergantung pada bagaimana mereka diperlakukan oleh lingkungan sekitarnya. 5.2. Sekolah Seperti halnya keluarga, sekolah memperoleh mandat tegas untuk mensosialisasikan nilai dan norma kebudayaan bangsa dan negaranya. Oleh karena itulah di sekolah berlangsung proses pendidikan dan pengajaran. a. Fungsi utama pendidikan Fungsi utama pendidikan adalah (a) menyiapkan anak-anak untuk menyongsong kehidupannya kelak dan (b) membantu perkembangan potensi anak sebagai pribadi yang utuh dan makhluk sosial yang bermanfaat untuk kehidupan sosial. b. Proses yang terjadi dalam pendidikan Di samping itu, melalui proses juga terjadi: • Memelihara kebudayaan dengan mewariskannya kepada generasi muda, • Mengembangkan kemampuan partisipasi siswa dalam kehidupan demokrasi dengan mengajarkan keterampilan-keterampilan berkomunikasi dan pengembangan kemampuan berpikir rasional dan mandiri, • Memperkaya kehidupan dengan memperluas wawasan pengetahuan dan seni siswa, • Meningkatkan penyesuain diri siswa dengan bimbingan pribadi dan berbagai pelajaran seperti psikologis terapan, pendidikan seks, efek penyalahgunaan obat, • Meningkatkan kesehatan siswa dengan latihan-latihan fisik dan pelajaran tentang kesehatan, • Membentuk warga yang patriotik dengan pelajaran tentang kejayaan negara, peningkatan persatuan dan kesatuan bangsa, dan sebagainya.
MODUL SOSIOLOGI 10 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Melalui proses pendidikan, anak-anak diperkenalkan kepada nilai dan norma atau budaya masyarakat, bangsa, dan negaranya, sehingga diharapkan dapat memahami, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupannya sehari-hari. Semua itu amat bermanfaat bagi pengembangan kepribadian anak sebagai individu dan sekaligus sebagai warga masyarakat, bangsa, dan Negara. Sekolah sesungguhnya menyediakan sarana bagi terbentuknya kelompok teman sebaya (peer group). 5.3. Peer Groups/Kelompok Teman Sebaya Peer groups adalah kelompok pertemanan dengan teman sebaya. Menurut Piaget (Giddens 1994:77), hubungan di antara teman sebaya lebih demokratis disbanding hubungan antara anak dan orang tua. Hubungan antar teman sebaya lebih diwarnai oleh semangat kerja sama dan saling memberi dan menerima di antara anggota kelompok. Menurut Piaget, dalam keluarga, orang tua dapat memaksakan berlakunya aturan keluarga. Dalam kelompok teman sebaya, aturan perilaku dicari dan diuji kemanfaatannya secara bersama-sama. Ketika anak tumbuh semakin dewasa, peran keluarga dalam perkembangan sosial semakin berkurang dan digantikan oleh kelompok teman sebaya. a. Fungsi peer groups Kelompok teman sebaya di kalangan remaja, kelompok teman sekelas, kelompok minat khusus, klik pertemanan, geng anak muda, dapat membantu anak dalam kemandirian dari orang tua atau pemegang otoritas lainnya. Di rumah, orang tua cenderung mendominasi, sementara di sekolah, para remaja harus tunduk kepada guru dan kepala sekolah. Dalam kelompok teman sebaya, setiap remaja dapat menyatakan dirinya sendiri secara bebas. Kelompok teman sebaya membantu remaja itu menjalani tranisi kea rah yang lebih dewaasa.

b. Pengaruh positif dan negative peer groups Kelompok teman sebaya dapat memberi pengaruh positif dan negatif. Pengaruh positif dari kelompok teman sebaya antara lain mendorong remaja untuk aktif dalam kegiatan yang menguntungkan, seperti sukarelawan, anggota PMI, dan sebagainya. Dan juga dapat memperkuat nilai dalm keuarga, sekolah, dan masyarakat. Namun, pengaruh negatif dari kelompok sebaya juga dapat mendorong seseorang untuk merusak nilai dan norma kebudayannya, seperti ngebut di jalanan, mengutil, melakukan vandalisme, dan sebagainya.

MODUL SOSIOLOGI 11 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

5.4. Media Massa Radio, film, musik, TV, surat kabar, dan internet juga merupakan agen sosialisasi. Melalui berbagai media massa itu, masyarakat menyosialisasilan nilai dan norma yang berlaku, tidak saja di masyarakat setempat, namun juga yang berlaku pada belahan dunia lain. Media massa yang paling berpengaruh dalam sosialisasi adalah TV. a. Pengaruh media massa Sama sseperti kelompok teman sebaya, media massa juga dapat menimbulkan pengaruh postif dan negatif. Dengan membaca surat kabar atau menonton TV, cakrawala pengetahuan, minat, dan cara pandang seseorang akan diperluas. Namun demikian, media massa juga dapat merangsang terjadinya perilku kekerasan dan pelanggaran norma social lainnya. b. Bimbingan orang tua dalam menyikapi pengaruh media massa Bimbingan orang tua atau guru dalm menyikapi dan menikmati info yang di muat dalam media massa amat diperlukan. Dengan bimbingan orang tua dan guru, diharapkan anak-anak terhindar dari pengaruh negatif pemberitaan media massa, dan sekaligus untuk menyerap hal positif dari media massa. 5.5. Tempat Kerja Tempat kerja merupakan tempat sosialisasi bagi seseorang. Pekerjaan tertentu menuntut peran tertentu di pekerjannya. Oleh karena itu, pekerjaan juga membentuk kepribadian seseorang. Orang yang bekerja di pabrik misalnya, akan terbentuk menjadi pribadi yang disiplin, menghargai waktu, menguasai teknologi, dan tekun dalam bekerja. Sosialisasi tentang seseorang pekerjaan akan berlangsung intensif segera sesudah seseorang menyelesaikan sekolah dan mencari serta mendapatkan pekerjaan. Selama bekerja pun mereka menjalani proses sosialisasi. 5.6. Negara Richard T. Schaefer dan Robert P. Lamm (1998:117) menambahkan satu agen sosialisasi, yaitu negara. Dengan membuat berbagai peraturan perundangundangan, sebenarnya negara juga menssosialisasikan nilai dan norma yang di anut oleh masyarakat, bangsa, dan warga masyarakat. Negaralah yang menentukan usia minimum bagi seseorang agar boleh mengemudikan mobil, memberikan suara dalam pemilu, atau boleh mengambil pension, dan lain-lain. Jadi, negara menentukan perilaku yang tepat pada usia tertentu dari warga masyrakatnya.

MODUL SOSIOLOGI 12 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Apakah yang di hasilkan dari pengalaman hidup seseorang di dalam berbagai wahana sosialisasi tersebut? Tak lain adalah kepribadiannya sendiri. Tertapi apakah kepribadian seseorang itu hanya ditentukan oleh proses sosialisasi yang dialaminya?

B. KEPRIBADIAN Kesan apa yang kita tangkap jika kita mendengar ungkapan “kalau nggak marahmarah, ya bukan pak Agus namanya”. Atau “yaah tahu sendirilah kalau si Ida sudah bicara, nggak ada putusnyadeh. Ada aja yang diceritakannya”. Dari ungkapan itu kita mendapat gambaran tentang dua pribadi yang berbeda. Kesan yang kita tangkap, Pak Agus adalah pribadi yang cenderung emosional dalam menghadapi situasi hidupnya. Sementara Ida adalah pribasi ramah yang cenderung berkomunikasi secara terbuka dengan siapa pun. Apakah kepribadian itu? Mengapa masing-masing orang mempunyaikepribadian yang berbeda?

1. Pengertian Kepribadian Menurut Horton (1982:12), kepribadian adalah keseluruhan sikap, perasaan, ekspresi, dan temperamen seseorang. Sikap, perasaan, ekspresi, dan temperamen itu akan terwujud dalam tindakan seseorang jika dihadapkan pada situasi tertentu. Setiap orang mempunyai kecenderungan berperilaku yang baku, atau berpola konsisten, sehingga menjadi cirri khas pribadinya. Schaefer & Lamm (1998:97) mendefinisikan kepribadian sebagai keseluruhan pola sikap, cirri-ciri khas, dan perilaku seseorang. Pola berarti sesuatu yang sudah menjdai standar atau baku, sehingga kalau dikatakan pola siakp, maka sikap itu sudah baku, berlaku terus-menerus secara keonsisten dalam menghadapi situasi yang dihadapi. Pola perilaku yang demikian juga merupakan perilakuyang sudah baku, yang cenderung ditampilkan seseorang jika ia dihadapkan pada situasi kehidupan tertentu. Orang yang pada dasarnya pemalu cenderung menghindarkan diri dari kontak mata dengan lawan bicaranya. 2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Kepribasian seseorang berkembang melalui interaksi di antara banyak factor, yaitu warisan biologis, lingkungan fisik, kebudayaan, kehidupan kelompok, dan pengalaman khas seseorang. 2.1. Warisan Biologis Warisan biologis adalah semua hal yang diterima seseorang serbagai manusia melalui gen kedua orang tuanya. Setiap manusia sehat dan normal memiliki kesamaan biologis tertentu, seperti tumbuh dengan dua tangan, dua kaki, lima indera, dan otak yang kompleks. Kesamaan biologis ini menjelaskan kemiripan kepribadian dan tingkah laku antarmanusia. Namun, warisan biologis setiap manusia ada yang unik. Tidak ada satu orang pun yang memiliki sifat warisan biologis yang benar-benar sama dengan orang lain.
MODUL SOSIOLOGI 13 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Warisan biologis itu menjadi bahan mentah bagi kepribadian. Bahan mentah itu dapat dibentuk melalui bermacam cara. Dulu orang percaya beberapa unsure kepribadian seperti ambisi, kejujuran, kriminalitas, penyimpangan seksual, dan sebagainya, merupakan warisan dari orang tua. Sekarang orang lebih percaya bahwa semua sifat kepribadia ditentukan oleh pengalaman. Beberapa pakar bahkan berpendapat bahwa perbedaan antarorang dalam hal kemampuan, prestasi, dan perilaku sepenuhnya ditentukan oleh lingkungannya. Oleh karena itu, perbedaan warisan biologis antar individu tidaklah terlalu penting. Kepribadian setiap orang berkembang melalui interaksi sejumlah factor yang bekerja di atas warisan biologisnya yang unik.

2.2. Lingkungan Fisik Pengaruh lingkungan alam atau fisik terhadap kepribadian manusia paling sedikit dibandingkan factor-faktor lainnya. Lingkungan fisik tidak mendorong terjadinya kepribadian khusus seseorang. Lingkungan alam hanya memberi serangkaian pembatasan bagi kebudayaan yang mungkin berkembang. Pada gilirannya, kebudayaan itulah yang mempengaruhi kepribadian seseorang. 2.3.Kebudayaan Kepribadian yang muncul dari masyarakat yang satu berbeda dengan kepribadian masyarakat yang lainnya. Setiap masyarakat mengembangkan satu atau beberapa macam kepribadian dasar yang sesuai dengan kebudayaannya. Aspek kebudayaan yang berpengaruh pada perkembagan kepribadian adalah norma kebudayaan. a. Contoh pengaruh kebudayaan terhadap kepribadian Kebudayaan suku Zuni mengutamakan harmoni, kerja sama, menghindari persaingan, sikap agresif, dan ambisi. Harta milik dinilai berdasarkan manfaatnya bukan sebagai symbol prestise dan kekuasaan. Pandangan orang lain menjadi sarana kontrol yang kuat Hasilnya, warga Zuni adalah pribadi yang percaya diri dan mempercayai orang lain. Warga Zuni adalah pribadi yang tenang dan merasa aman. Warga Zuni juga merupakan pribadi yang murah hati, sopan, dan kooperatif. b. Pengalaman individu. Setiap kebudayaan berisi pengalaman tertentu, yang secara bersama diperkaitkan oleh setiap orang yang ada dalam masyarakat itu. Anak-anak Amerika didorong untuk menjadi individualistis, komperatif, dan berbicara secara terus terang, sementara anak-anak Jawa didorong untuk memiliki kesadaran kelompok yang kuat, kooperatif, dan berbicara halus. Setiap kebudayaan memberikan pengaruh umum terhadap individu yang tumbuh didalamnya. Pengaruh itu berbeda dari satu kebudayaan dengan kebudayaan lainnya.

MODUL SOSIOLOGI 14 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

c. Pengalaman bersama Pengalaman bersama dalam suatu masyarakat atau kebudayaan akan membentuk satu model kepribadian “modal personality” atau karakter social yang berkembang pada sebagian besar warga masyarakat. Pengalaman-pengalaman sama yang dialami oleh kebanyakan warga sebuah kebudayaan menimbulkan kemiripan kepribadian dalam masyarakat dan membedakannya dengan kepribadian warga masyarakat lain. Oleh karena itu, kita bisa merasakan bahwa kepribadian orang Jepang berbeda dengan kepribadian orang Inggris. Namun secara umum kita juga merasakan bahwa kepribadian bangsa Indonesia berbeda dengan kepribadian bangsa Amerika. 2.4. Pengalaman Hidup dalam Kelompok Kelompok adalah wahana di mana seseorang mengalami perkembangan kepribadian. Seseorang menyadari kebiasaan, memahami larangan (tabu), dan menerima hadiah dan hukuman melalui kelompok. Kelompoklah yang merupakan sarana langsung untuk menyalurkan kebudayaan kepada seseorang. Tanpa pengalaman hidup dalam kelompok, kepribadian normal seseorang tidak akan berkembang. Dari berbagai kelompok yang melingkupi kehidupan seseorang, ada kelompok yang menjadi model bagi gagasan dan norma perilaku seseorang. Kelompok itu disebut sebagai kelompok acuan atau reference group. Kelompok acuan yang pertama adalah keluarga. Sifat dasar kepribadian seseorang dibentuk pada masa awal kehidupan anak-anak dalam keluarga. Kelompok teman sebaya juga merupakan kelompok acuan yang penting. Pada usia belasan tahun, kelompok teman sebaya justru menjadi kelompok referensi yang amat penting dan mungkin paling berpengaruh pada sikap, cita-cita, dan norma perilaku yang dianut seseorang. Dalam masalah ini bisa terjadi konflik antara norma keluarga dengan norma teman sebaya. Tidak setiap kelompok teman sebaya mempunyai norma yang bertentangan dengan norma keluarga. Ada sebagian remaja yang memilih kelompok teman sebaya yang memiliki norma sesuai dengan norma keluarga. Ada pula yang memilih teman sebaya yang normanya bertentangan dengan norma keluarga. Pilihan itu dipengaruhi oleh seseorang tentang dirinya sendiri. Remaja yang merasa tidak dicintai, diabaikan, dan diperlakukan tidak adil oleh orang tuannya, cenderung memilih teman sebaya yang normanya menyimpang dari norma keluarga. 2.5. Pengalaman Unik atau Khas Tak ada dua orang yang mempunyai serangkaian pengalaman pribadi yang sama, walau mungkin mereka anak dari orang tua yang sama. Pengalaman unik seseorang adalah tak seorang pun yang menyamainya. Pengalaman-pengalaman seseorang tidaklah ditambahkan mlainkan dipadukan. Itu berarti kejadian hari ini mempunyai makna sesuai kejadian di masa lampau. Keberhasilan atau kekalahan ini mempengaruhi seseorang dalam bentuk seperti atau kemenangan atau kekalahan di masa lalu. Sedangkan menurut F. G. Robin, terdapat lima factor yang menjadi dasar perkembangan kepribadian tersebut, yaitu sebagai berikut: 1. Sifat dasar
MODUL SOSIOLOGI 15 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi yang diwarisi seseorang dari ayah, ibunya. Sifat dasar yang masih merupakan potensi tersebut akan berkembang menjadi aktualisasi karena pengaruh factor-faktor lainnya. 2. Lingkungan prenatal Lingkungan pranatal yaitu lingkungan dalam rahim ibu. Dalam lingkungan ini, individu mendapat pengaruh-pengaruh tidak langsung dari sang ibu. Pengaruhpengaruh itu dapat digolongkan menjadi beberapa kategori yaitu sebagai berikut: a. Beberapa jenis penyakit, seperti diabetes atau kanker, secara tidak langsung berpengaruh terhadap perkembangan mental, penglihatan, dan pendengaran sang bayi. b. Gangguan endoktrin dapat mengakibatkan keterbelakangan mental dan emosional. c. Struktur tubuh ibu merupakan kondisi yang mempengaruh perkembangan bayi dalam kandungan. d. Shock pada saat kelahiran merupakan kondisi yang dapat menyebabkan beberapa kelainan. 3. Perbedaan Perorangan Perbedaan perorangan dalam hal ini meliputi perbedaan ciri-ciri fisik, seperti warna kulit, atau rambut, perbedaan ciri-ciri mental, emosional, personal, dan sosial. 4. Lingkungan Lingkungan yaitu kondisi disekitar individu yang mempengaruhi proses sosialisasinya. Lingkungan dapat dikatagorikan sebagai berikut: a. Lingkungan alam, yaitu keadaan tanah, iklim, flora dan fauna disekitar individu. b. Kebudayaan, yaitu cara hidup masyarakat tempat individu itu berada. Kebudayaan mempunyai aspek material (rumah perlengkapan hidup, dan hasil teknologi lainnya). Dan aspek nonmaterial (nilai-nilai dan pandangan hidup). c. Manusia lain dan masyarakat disekitar individu. Pengaruh manisua lain dan masyarakat dapat menstimulasi atau membatasi proses sosialisasi. 5. Motivasi Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam diri individu yang menggerakan individu untuk melakukan sesuatu. Motivasi dapat dibedakan menjadi dorongan dan kebutuhan. Dorongan adalah ketidakseimbangan dalam diri individu karena pengaruh yang datang dari luar dan dalam dirinya yang mempengaruhi dan mengerahkan perbuatan individu dalam rangka mencapai keseimbangan kembali. Kebutuhan adalah dorongan yang telah ditentukan secara personal, social, dan budaya.

MODUL SOSIOLOGI 16 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

3. Tahap-tahap Perkembangan Kepribadian Ada banyak teori tentang perkembangan kepribadian. Salah satunya dikemukakan oleh Eric Erikson. Menurut Erikson, perkembangan kepribadian seseorang itu berlangsung melalui delapan tahapan yang perpindahannya ditandai oleh adanya krisis jati diri atau identitas. Delapan tahapan itu adalah tahap bayi, tahap awal kanak-kanak, tahap bermain, tahap sekolah, tahap remaja, tahap dewasa, tahap dewasa menengah, dan tahap tua. Penjelasan mengenai masing-masing tahap dapat dilihat dalam uraian berikut. 3.1. Tahap Bayi Pada masa bayi, tahap pertama, anak-anak belajar rasa percaya atau tidak percaya kepada orang lain. Jika ibunya (atau pengasuh) secara konsisten memberi cinta dan kasih saying, serta memperhatikan kebutuhan fisik bayi, maka bayi itu akan membangun perasaan aman dan percaya pada orang lain. Sebaliknya, jika pengasuhnya tidak perhatian, dingin, menolak, atau bahkan menyakitinya maupun sekedar tidak konsisten, maka bayi itu akan membangun rasa tidak aman dan tidak percaya pada orang lain. 3.2. Tahap Anak-anak Pada tahap ke dua, anak-anak mulai belajar berjalan, menggunakan tangannya, dan melakukan banyak kegiatan lain. Ia mulai membangun kemandirian, yaitu membuat pilihan, menyatakan kehendaknya, serta membentuk dan mengejar keinginannya. Jika anak mendapat dorongan dari orang di sekitarnya dan diperbolehkan mencoba berbagai hal sehingga mengetahui konsekuensinya, maka ia akan mengembangkan kesadaran kemandiran, kesadaran bahwa dirinya adalah seorang yang memiliki kemampuan. Jika dihalang-halangi, Erikson percaya bahwa anak-anak merasa takut dan ragu pada dirinya sendiri dan merasa malu danlam berhubungan dengan orang lain. 3.3. Tahap Awal Kesadaran Diri dalam keenam tahap hidup berikutnya akan terjadi pula krisis identitas masingmasing, di mana diperlukan proses pembelajaran tertentu yang diperlukan agar seseorang berkembang menjadi pribadi yang kepribadiannya yang sehat. Dalam tahap ketiga, kesadaran moral anak berkembang. Dalam tahap keempat, dunia anak semakin luas, banyak pelajaran teknis yang ia pelajari, dan perasaan bahwa dirinya kompeten atau mampu melakukan sesuatu diperbesar. 3.4. Tahap Remaja Sampai Akhir Hidup Dalam tahap kelima, remaja mulai mengembangkan kesadaran akan identitas pribadinya melalui interaksinya dengan orang lain. Dalam tahap keenam, seseorang mulai mengembangkan hubungan cinta yang abadi dengan lawan jenisnnya. Pada usia dewasa menengah, seseorang berkarya untuk keluarga dan mayarakat, meberikan sesuatu yang bermanfaat, maik bagi keluarga maupun masyarakatnya.
MODUL SOSIOLOGI 17 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Pada tahap akhir hidupnya, seseoarng akan menemukan akhir hidupnya dengan penuh harga diri atau kebanggan atau penuh penyesalan diri. Setiap tahap kehidupan disertai dengan nilai-nilai keutamaan hidup atau kebajikan dasar yang akan berkembang jika seseorang berhasil melewati krisis jati dirinya. Jika sosialisasi yang cocok dengan masing-masing tahp berhasil dijalani, maka nilai-nilai keutamaan hidup itu akan dimiliki oleh seseorang. Namun jika pada sosialisasi pada suatu tahap kurang berhasil, nilai-nilai itu akan sulit diperoleh dalam tahapan hidup berikutnya. Jika proses sosialisasiyang tidak tepat dalam tahap dalam usia dewasa awal tetrjadi pada seseorang, maka orang itu akan kehilangan kesempatan mengembangkan perasaan cinta, yang mungkin akan sulit diperolehnya bahkan sampai akhir hidupnya. Tabel 4.1. Tahapan Perkembangan Kehidupan Menurut Erikson Usia Bayi Awal kanak-kanak (2 - 3 tahun) Tahap Bermain (4 – 5 tahun) Tahap Sekolah (6 – 10 tahun) Remaja Dewasa Awal (19 – 35 tahun) Dewasa Menengah (36 – 50 tahun) Tua (51 tahun keatas) Krisis identitas yang harus dilampaui Percaya vs Tidak Percaya Kemandirian vs Pemalu dan Peragu Inisiatif vs Rasa Bersalah Pekerja Keras vs Rendah Diri Identitas vs Kebingungan Peran (12 – 18 tahun) Keakraban vs Ketersaingan Produktivitas vs Kemandegan Integritas vs Tak Berpengharapan Nilai keutamaan dasar yang dikembangkan Harapan Kehebdak/Kemauan Tujuan/Cita-cita Kompetensi Loyalitas/Kesetiaan Cinta Kepedulian Kebujaksanaan

4. Perkembangan Kesadaran Diri Sesuai dengan Penilaian Orang Lain Sudah barang tentu banyak teori lain tetang perkembangan kepribadian seseorang. Charles H. Cooley misalnya, mengemukakan teori bahwa proses pembentukan kepribadian seseorang itu pada hakikatnya merupakan proses berkaca diri (looking glass self). Menurut Cooley, setiap orang melihat dirinya seperti apa yang dilihat orang lain terhadap dirinya dan/atau seperti yang ia bayangkan dilihat orang lain terhadap dirinya. Kesadaran orang tentang seperti apakah dirinya itu sesungguhnya, atau seperti apa sesungguhnya gambaran dirinya itu sangat ditentukan oleh pangangan orang lain tentang dirinya, baik yang secara nyata diungkapkan, diekspresikan melalui isyarat dan symbol, meupun yang ia pikirkan dinyatakan oleh orang lain tentang dirinya. Seorang gadis kecil yang setiap kali dipuji orang tuanya sebagai gadis cantik, akan memahami dirinya sebagai gadis cantik. Apalagi jika pujian yang sama selalu ia dapatkan setiap bertemu dengan orang lain, baik melalui kata-kata atau pandangan kagum orang-orang di sekitarnya.
MODUL SOSIOLOGI 18 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Sebaliknya, seorang anak yang secara fisik memang cantik tidak akan pernah dirinya merasa cantik, jika sejak awal kehidupannya orang tuanya menunjukan ketidakpuasannya serta memperlakukan sebagai gadis yang tidak menarik. Jadi gambaran seseorang tentang diri sendiri tidak ada hubungan dengankenyataan yang sesungguhnya, tetapi lebih ditentukan oleh pandangan orang lian tehadap dirinya. Kesadaran akan diri sendiri berdasarkan “cermin” yang disediakan orang disekitarnya terus berkembang selama sehidupan seseorang. Pada massa bayi, orang tua dan saudaralah yang menjadi cermin penentu gambaran seseorang akan dirinya. Pada massa kanak-kanak dan remaja, teman-teman sepermainan juga menjadi cermin penentu gambaran seseorang akan dirinya. Pada massa percintaan, pacarlah yang menjadi cermin utama penetu gambaran seseorang akan dirinya. Begitulah, setiap manusia tertarik terhadap yang dipikirkan orang lain tentang dirinya dan cenderung menyesuaikan tindakannya dengan pemahamannya tentang sikap orang lain. III. Kegiatan Pembelajaran A. Telitilah dan dalamilah uraian materi pada modul di atas B. Tugas : Analisis & Refleksi Realitas Sosial Anak Bangsawan yang Berjiwa Merdeka R.A. Kartini adalah putrid Raden Mas A.A. Sosroningrat, bupati Jepara. Meski seorang bangsawan, Kartini sama sekali tak memedulikan kebangsawanannya. Ia menganggap semua orang sederajat dan bersaudara. Tulisnya, “Bagi saya, hanya ada dua macam bangsawan: bangsawasan jiwa dan bangsawan budi. Dalam pikiran saya, tidak ada yang lebih gila dan lebih heboh daripada melihat orang-orang yang membanggakan apa yang disebut ‘keturunan bangsawan’.” Usia Kartini tidak panjang, hanya 25 tahun (21 April 1879-17 september 1904). Meski begitu, ia telah menggunakan hidupnya secara bermakna: memerdekakan bangsanya dari jiwa yang tak memuliakan HAM; menumbuhkan bangsawan jiwa dan bangsawan budi. Todung Mulya Lubis dalam disertasinya (1993:54), menyebut Kartini sebagai sosok yang ‘mencerahkan masyarakat Indonesia’ dan ‘memiliki kontribusi sangat besar dalam membangkitkan wacana HAM’. Begitulah, jati diri Kartini adalah pendekar HAM. Sebagai pendekar HA, senjata Kartini adalah pena. Maka, kata Kartini, “Rampaslah harta benda saya, asal jangan pena saya.” Dengan senjata pena itulah, ia menuliskan surat-surat kepada sahabat-sahabatnya. Ia tuliskan gugatan, pemikiran, dan tindakannyaatas lingkungan sosial dikitarnya yang tidak menghargai dan memuliakan HAM, terutama HAM kaum perempuan. Sahabat pena Kartini bukan orang yang sembarangan. Mereka adalah Mr. J.H. Abendanon dan Ny. R.M. Abendanon Mandri, seorang Kepala Kementrian Pengajaran dan Kerajinan Hindia Belanda; Nona Stella Zeehandelaar, seorang idealis dan feminis, puteri seorang dokter di Belanda; Ir. Henry Hubert van kol (seorang politikus) dan Ny. J.M.P. van Kol (seorang penulis); Ny. M.C.E. Ovink, isteri seorang asisten residen di Jepara; Dr. N. Adriani, seorang ahli bahasa; Ny. H.G. de BooyBoissevain anak seorang sastrawan dan pemimpin redaksi surat kabar Algemeen Handelsblad; dan Prof. Dr. G.K. Anton, guru besar ilmu kenegaraan di Jena (Jerman).
MODUL SOSIOLOGI 19 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Bagaimana mungkin seorang Kartini yang tamat ELS (Europe Lagere School), yang dipingit di dalam rumah, mampu bersahabat dan berdiskusi dengan orang-orang hebat itu? Jawabnya, karena Kartini punya jiwa merdeka dan semangat baja. Betapa tidak, selepas umur 12 tahun, ia dipingit. Tidak boleh deluar rumah. Tidak boleh sekolah. Namun, hal itu tidak membuatnya patah semangat. Ia justru sangat giat membaca dan belajar. Belajar sendiri di rumah. Pertama-tama belajar memperdalam bahasa Belanda. Karena, ketika itu, bahasa Belanda adalah jendela untuk melihat dunia. Dengan bekal penguasaan bahasa belanda itulah berbagai Koran, majalah, dan bukubuku pencerah jiwa dilahapnya. Ia sedemikian rajin membaca dengan penuh perhatian. Surat kabar de Locomotif asuhan Pieter Broshooft dan majalah wanita De Hollandsche Lilie adalah makanan sehari-harinya. Bahkan ia menulis juga untuk majalah itu. Tidak hanya itu. Selagi masih sangat muda, ia telah membaca buku-buku pengasah jiwa manusiawi, antara lain buku Max Hacelaar karya Multatuli, De Stille Knaacht karya louis Coperus, buku-buku karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya-karya Augusta de Witt, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan roman anti perang Die Waffen Nieder karya Berta Von Suttner. (Adakah kita juga giat membaca buku-buku pengasah jiwa manusiawi seperti dia?) Jadi, meski bukan seorang bersekolah tinggi, Kartini mampu secara cerdas mencerna kenyataan hidup yang dihadapinya. Ia sanggup mengungkapkan pengalaman hidupnya dalam tulisan yang mendalam-menawan. Tulisan yang menginspirasi banyak orang di berbagai belahan dunia, dulu maupun sekaran, untuk menhidupkan budaya HAM. Bahkan, aktivis HAM internasional Eleanor Roosevelt pun menyitir surat Kartini dalam salah satu pidatonya di depan komisi HAM yang dipimpinnya, ketika menyusun The Universal Declaration of Haman Rights tahun 1948. 16 tahun kemudia, dalam kata pengantar sebuah buku, Eleanor bersaksi: ‘Menurut pendapat saya, makna surat-surat ini tetap penting, seperti waktu ia ditulis’ (Symmers, 1964 dalam Keesing, 1990:199). Tak hanya Eleanor, banyak penulis dan cendekiawan tertambat hatinya pada esok dan pemikiran kartini. Sastrawan besar, Louise Symmers menulis Letters of a Javanese Princess; Jean Taylor menulis Raden Ajeng Kartini, An Indonesian feminist 1990-19904; Elisabeth Keesing menulis Hoe ruim een kooi ook is, leven en lot van Kartini en haar werk. Begitulah, mereka menghidupkan ingatan semua orang mengenai sosok Kartini: seorang pendekar HAM.
(Sumber: Phibeta )

Berdasarkan informasi di atas, buatlah sebuah esai ilmiah singkat (maksimal dua halaman folio) dengan tema “Pengaruh Sosialisasi pada Kepribadian R.A.Kartini”. Esai tersebut paling tidak harus memuat hal-hal berikut: 1. Gambarkan hal-hal penting mengenai sosialisasi yang diterima oleh R.A Kartini dan juga gambaran mengenai pribadinya 2. Buatlah penjelasan bagaiman proses sosialisasi tersebut mempengaruhi kepribadian R.A. Kartini. Bagaimana hal itu bisa dijelaskan dari teori sosialisasi dan pembentukan kepribadian? 3. Makna apakah yang bisa kalian petik dari kasus R.A. Kartini dalam kaitannya dengan pemahaman sosialisasi dan pembentukan kepribadian?
MODUL SOSIOLOGI 20 SOSIALISASI DAN PEMBENTUKAN KEPRIBADIAN MODUL INI HANYA DIPERGUNAKAN DI LINGKUNGAN SMA NEGERI 3 SUBANG

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful