P. 1
bpk pemeriksaan

bpk pemeriksaan

|Views: 918|Likes:

More info:

Published by: octavianusmaspanator on Mar 21, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/23/2013

pdf

text

original

NO 110/Desember 2007 - Januari 2008/Tahun XXVII

NO 115/November - Desember 2008/Tahun XXVIII
Pemeriksaan Keuangan :
Pemeriksaan yang
umum-umum
MAJALAH DWIWULANAN BPK RI - ISSN 0216-8154
*Hasil Pemeriksaan atas 275 LKPD Tahun 2007
?
1 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII

K
e
t
u
a

B
P
K

R
I

p
a
d
a

r
a
p
a
t

l
a
p
o
r
a
n

p
e
r
t
a
n
g
g
u
n
g
j
a
w
a
b
a
n

k
e
u
a
n
g
a
n

n
e
g
a
r
a

y
a
n
g

a
k
u
n
t
a
b
e
l

d
i

B
a
l
a
i

S
a
m
u
d
e
r
a
,

J
a
k
a
r
t
a

2
2

O
k
t
o
b
e
r

2
0
0
8
1 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
2 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
DAFTAR ISI
115
edisi
M A J A L A H P E M E R I K S A
Dalam proses globalisasi, kesulitan perekonomian Amerika Serikat telah menjalar de-
ngan cepat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Perekonomian semua negara kini
terperangkap dalam spiral yang menukik tajam ke bawah yang sangat berbahaya.
SAMBUTAN KETUA BPK-RI
PADA PENANDATANGANAN KESEPAKATAN BERSAMA
ANTARA BPK-RI DENGAN POLRI JAKARTA,
21 NOVEMBER 2008
“Dalam pelaksanaan pemeriksaan serta penyusunan laporan hasil pemeriksaan, pemeriksa wajib menggu-
nakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan seksama”.
KRISIS KEUANGAN GLOBAL DAN INDONESIA oleh Anwar Nasution
Perencanaan Audit Laporan Keuangan di ANAO
CARKeyS: Pendekatan Untuk Mencapai Esiensi Pemeriksaan Laporan Keuangan
Unruk mencapai ehsiensi audir, audiror perlu menginregrasikan dan meneriemahkan
informasi yang diperoleh dalam tahap awal audit (preliminary survey) dan menentukan
model pendekatan audit sehingga diharapkan dapat mencapai seluruh tujuan audit.
LK WTP Belum Memuaskan
Selama tujuh bulan penulis melakukan program secondment (magang) untuk melakukan audit laporan keua-
ngan di Ausrralian Narional Audir Ofhce.
Pemeriksaan Laporan Keuangan yang dilakukan oleh BPK sebagai satu-satunya Lembaga
Eksternal Pemerintah merupakan “gerbang” tercapainya Transparansi dan Akuntabilitas
Penyelenggaraan Keuangan Negara.
Pemeriksaan Laporan Keuangan oleh BPK: Sebuah Wewenang dan Tanggung Jawab
demi tercapainya Transparansi dan Akuntabilitas Penyelenggaraan Keuangan Negara
Apa yang salah dengan keinginan itu? Apakah tidak boleh seorang auditor ber-”impro-
visasi” dalam memainkan komposisi prosedur auditnya? Apakah auditor harus selalu patuh
pada “conductor” untuk menghasilkan alunan laporan audit yang harmonis?
Suka Duka Audit LKPD
EDITORIAL
Pemeriksaan keuangan: Pemeriksaan yang umum-umum?
LAPORAN UTAMA
TERKINI
4
5
20
24
31
34
42
46
NO 110/Desember 2007 - Januari 2008/Tahun XXVII
NO 115/November - Desember 2008/Tahun XXVIII
Pemeriksaan Keuangan :
Pemeriksaan yang
umum-umum
MAJALAH DWIWULANAN BPK RI - ISSN 0216-8154
*Hasil Pemeriksaan atas 275 LKPDTahun 2007
?
Majalah Pemeriksa 115
PEMERIKSAAN KEUANGAN:
PEMERIKSAAN YANG UMUM-UMUM?
Action Plan untuk Pemerintah Sumbar
47
3 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
RUBRIK
AGENDA
BPK se-Asia Tingkatkan Kualitas Penjaminan Mutu Audit Keuangan
Mengukur Kinerja Pemerintah Daerah dalam Pemeriksaan Kinerja
Pemeriksaan Kinerja pada ANAO
PEMERIKSAAN KINERJA
PEMERIKSAAN INVESTIGATIF
PEMERINTAHAN
TEKNOLOGI
AGAMA: HIJRAH DAN REFORMASI DIRI
KESEHATAN: Cara mengidentikasi jenis plastik yang aman
GENDIT: GENDIT & AUDITOR PEREMPUAN
RESENSI
ANTI-MONEY LAUNDERING:
International Law and Practice
Penulis: Wouter H. Muller dkk
Penerbit: John Wiley & Sons, England,
2007
Susunan Dewan Redaksi
Majalah Pemeriksa
Pelindung
Dharma Bhakti
Pemimpin Redaksi
Cris Kuntadi
Anggota Redaksi
Yudhi Ramdan
M. Yusuf Jhon
Ekowati Tyas Rahayu
Dian Desilia
Bestantia Indraswati
R. Edi Susila
Gunawan Wisaksono
Staf Redaksi
Nurmalasari
Barlis Baharuddin
Desain Grafis
Sutriono
Rianto Prawoto
Alamat Redaksi dan Tata Usaha
Gedung BPK-RI Jln. Gatot Subroto
No.31 Jakarta Telp. (021)5704395-6
Pes.214/208 Fax.(021)57950285
Diterbitkan oleh Biro Humas & LN,
Badan Pemeriksa Keuangan,
STT No. 722/SK/Ditjen PPG/STT
Redaksi menerima kiriman artikel (disertai dengan softcopy dan foto penulis) sesuai dengan misi majalah PEMERIKSA.
Redaksi berhak mengoreksi/mengubah naskah yang diterima sepanjang tidak mengubah isi naskah.
Isi majalah ini tidaklah berarti sama dengan pendirian Badan Pemeriksa Keuangan.
36
38
48
53
60
70
77
82
84
81
Email: ksbhumas@bpk.go.id
Penghargaan MAPIN kepada BPK
POTRET BPK
RINGKASAN EKSEKUTIF HASIL PEMERIKSAAN BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
SEMESTER I TAHUN 2008
OPINI
63
Mengenal dan Memahami Media Massa
64
Bagi profesi humas, mengenal dan memahami media ma-
ssa adalah satu hal yang penting dilakukan. Media massa
ibarat rekan kerja yang sangat dibutuhkan oleh humas un-
tuk menyebarkan informasi ke masyarakat luas.
SISTEM PENGENDALIAN INTERN PADA ENTITAS PEMERINTAHAN
4 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Pemeriksaan keuangan: Pemeriksaan yang umum-umum?
EDITOR AL
Pemeriksaan menurut amanat UU No. 15
tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara meliputi tiga jenis
yaitu pemeriksaan keuangan, pemeriksaan kinerja dan
pemeriksaan dengan tujuan tertentu. Pemeriksaan
keuangan adalah pemeriksaan atas laporan keuangan atau
sering disebut sebagai general audit (pemeriksaan umum).
Pemeriksaan keuangan disebut sebagai pemeriksaan
umum karena pemeriksa masih melihat apa yang disajikan
dan diungkapkan oleh terperiksa (auditee). Ini berarti
pemeriksaan tersebut belum sampai melihat hal-hal lain
di balik penyajian dan pengungkapan yang mungkin
mengandung beberapa permasalahan.
Anehnya? Meskipun pemeriksa baru melakukan
pemeriksaan umum, toh laporan hasil pemeriksaannya
telah mengandung berbagai permasalahan yang,
bahkan, sampai pada aspek tindak pidana
korupsi yang mestinya diungkapkan
dalam pemeriksaan
i n v e s t i g a t i f .
Pemeriksa juga tidak
jarang mengungkap
temuan terkait
kemahalan, ine£siensi,
dan ketidakefektifan yang
mestinya menjadi ’wilayah’
pemeriksaan kinerja.
Siapa yang salah? Apakah terperiksa yang sering
melakukan kesalahan dalam tataran umum penyajian
dan pengungkapan laporan keuangan? Atau sedemikian
primitifnya si pejabat pengelola keuangan negara sehingga
kecurangan dan tindak pidananya dapat dengan mudah
ditemukan oleh pemeriksa laporan keuangan yang nota
bene masih tahap pemeriksaan umum? Atau mungkin
sekali, justru pemeriksa yang tidak mengetahui batasan
dan rambu-rambu tiga jenis pemeriksaan tersebut.
Alasan terakhir ini bisa jadi benar. Apabila
melihat hasil pemeriksaan, sudah tidak jelas lagi temuan
pemeriksaan jika dikaitkan dengan
jenis pemeriksaan yang dilakukan.
Alangkah naifnya kita sebagai
pemeriksa yang mestinya berdiri
paling depan memberikan contoh
(leading by example) ternyata pada
tataran umum saja, belum
bisa memahami tiga jenis
pemeriksaan (CK).
5 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
KRISIS KEUANGAN GLOBAL DAN INDONESIA
Oleh: Prof. Dr. Anwar Nasution
TERKINI
KRISIS KEUANGAN GLOBAL DAN INDONE-
SIA
1
1. Pengantar
Dalam proses globalisasi, kesulitan perekonomian Ame-
rika Serikat telah menjalar dengan cepat ke seluruh dunia,
termasuk Indonesia. Perekonomian semua negara kini ter-
perangkap dalam spiral yang menukik tajam ke bawah yang
sangat berbahaya. Kesulitan ekonomi itu adalah berupa
penurunan harga aset dan penurunan tingkat laju pertum-
buhan ekonomi serta kebangkrutan dunia usaha. Agunan
tidak dapat disita jika kredit ternyata tidak dapat dilunasi dan
kalaupun dapat disita, harganya jauh di bawah nilai pokok
kredit. Sementara itu, tingkat pengangguran tenaga kerja se-
makin meningkat sedangkan tingkat harga-harga komoditi
primer maupun barang-barang dan jasa-jasa lainnya mero-
sot dengan tajam. Menurut perkiraan, pemulihan kembali
pertumbuhan ekonomi global memerlukan waktu antara 3
hingga 5 tahun.
Kebijakan moneter menjadi tidak dapat berfungsi karena
krisis perbankan. Krisis itu terjadi karena adanya erosi modal
perbankan, penurunan nilai buku pinjamannya dan semakin
sulitnya memperoleh dana. Hal-hal ini terjadi karena ga-
bungan antara penurunan indeks harga saham serta pening-
katan kredit bermasalah serta erosi kepercayaan akan surat-
surat berharga yang merupakan kolateral pinjam meminjam
antara dunia usaha, termasuk pinjaman antarbank. Karena
bank tidak lagi percaya akan kelayakan usaha (creditworthiness)
mitra usahanya dan tidak yakin bahwa ia dapat memobilisir
dana jika memerlukan, bank menjadi takut memberikan kre-
dit dan pinjaman antarbank serta mulai mengakumulir uang
tunai. Walaupun bank sentral seluruh dunia sudah menurun-
kan tingkat suku bunga nominal pinjaman diskonto hampir
menjadi nol persen, bank komersil tidak dapat meneruskan
kemudahan itu kepada nasabahnya. Pada gilirannya, erosi
kepercayaan akan surat-surat berharga seperti ini telah me-
nimbulkan kekeringan likuiditas perbankan dan perekono-
mian, kontraksi kredit lembaga keuangan serta peningkatan
tingkat suku bunga kredit. Padahal, likuiditas dan kredit ada-
lah bagaikan darah bagi dunia usaha maupun pengeluaran
rumah tangga serta bagi perekonomian secara keseluruhan.
Pada gilirannya, kontraksi kredit perbankan akan menimbul-
kan resesi perekonomian yang sekaligus menyulitkan indu-
1 Perbaikan makalah yang ditulis untuk mengenang Almarhum Dr. Syahrir,
Penasehat Presiden R.I. Bidang Ekonomi.
stri perbankan itu sendiri. Di lain pihak, kontraksi ekspansi
kredit perbankan terjadi karena adanya resesi perekonomian
yang mengurangi permintaan kredit oleh dunia usaha mau-
pun sektor rumah tangga.
Untuk mengatasi krisis keuangan dan resesi perekonomi-
an global tersebut diperlukan koordinasi kebijakan penang-
gulangan bersama. Koordinasi mensinerjikan kemampuan
individu masing-masing negara dan sekaligus membantu
upaya pemulihan kembali kepercayaan masyarakat. Namun,
yang terjadi adalah bahwa setiap negara telah menempuh
kebijakan ekonominya sendiri-sendiri maupun upaya yang
berbeda-beda tanpa koordinasi. Negara-negara anggota Uni
Eropa pun bertindak sendiri-sendiri karena Maastricht Treaty
1991 dan 1993 maupun Stability Pact hanya memberikan ke-
wenangan tunggal dalam kebijakan moneter kepada Bank
Sentral Eropa (ECB-European Central Bank). Kebijakan
£skal negara-negara anggota dibatasi karena adanva pem-
batasan besarnva de£sit anggaran negara maksimum sebe-
sar 3 persen dari PDB serta menetapkan jumlah maksimum
utang negara sebesar 60 persen dari PDB. Kebijakan lain-
nya, termasuk pengawasan industri keuangan dan tindakan
penyelamatannya diserahkan sepenuhnya kepada masing-
masing negara anggota. Juga belum ada koordinasi kebija-
kan moneter dan £skal antara negara-negara besar seperti
Uni Eropa, Inggris, Amerika Serikat, Jepang dan China.
Rangkaian kebijakan ekonomi yang diambil secara send-
iri-sendiri oleh setiap negara itu, antara lain, menyangkut
batas maksimum deposito bank yang diasuransikan, pro-
gram penyelamatan bank untuk mengatasi masalah likuidi-
tas dan solvabilitasnya, kebijakan moneter, pengaturan in-
dustri keuangan maupun stimulus £skal dan menentukan
struktur pengeluaran negara guna membantu golongan
masyarakat miskin yang paling menderita akibat dari krisis
itu. Kerja sama dalam kebijakan moneter yang sudah mulai
dijalin antara bank sentral Amerika Serikat dengan sekelom-
pok bank sentral negara-negara kaya baru dalam penurunan
tingkat suku bunga kredit dari bank sentral dan penyediaan
fasilitas swap untuk mengatasi likuiditas dalam mata uang
US Dollar
2
. Namun demikian belum ada koordinasi tentang
besarnya penurunan tingkat suku bunga maupun harmo-
nisasi kebijakan kurs de·isa maupun kebijakan £skal untuk
2 “Central Bank. Dangerous divergence”, the Economist, March 22, 2008, hal
77-79.
1
6 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
mencegah terus merosotnya kegiatan ekonomi global itu.
Makalah ini, yang selanjutnya dibagi dalam enam bagian,
terutama membahas kebijakan moneter, £skal dan upava
penyehatan bank yang dilanda oleh krisis global yang tengah
berlangsung dewasa ini. Selanjutnya makalah ini akan dibagi
dalam lima bagian. Bagian kedua membahas awal pemulaan
krisis. Bagian ketiga membahas dampak umum krisis ekono-
mi global bagi perekonomian Indonesia: lalu lintas modal,
ekspor dan impor serta pengiriman tenaga kerja ke luar
negeri. Bagian keempat membahas upaya untuk mencegah
kepanikan deposan dengan meningkatkan jumlah deposito
yang dijamin oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Bagi-
an kelima membahas upaya untuk penyelamatan bank, baik
untuk mengatasi kesulitan likuiditas jangka pendek maupun
untuk menyehatkan modalnya. Bagian keenam membahas
kebijakan £skal untuk mencegah kemerosotan lebih lanjut
tingkat laju pertumbuhan ekonomi dan mengurangi beban
golongan masyarakat berpendapatan rendah. Bagian ketu-
juh membahas pembangunan arsitektur keuangan regional
dan internasional.
2. Awal Krisis
Krisis perekonomian dunia dewasa ini adalah berawal
dari krisis pemilikan rumah (subprime mortgages) di Amerika
Serikat yang mulai merebak pada tanggal 9 Agustus 2007
dengan kolapsnya Bear Stearns karena gagal memenuhi
kewajibannya yang telah jatuh waktu. Tanggal 5 dan 16
September 2008, Lehman Brothers menjadi bangkrut dan
perusahaan asuransi AIG memperoleh suntikan dana $85
miliar dari Pemerintah untuk dapat bertahan. Bear Stearns
dan Lehman Brothers adalah investment bankers terkemuka
yang bergerak dalam transaksi derivatif yakni sekuritas yang
dijamin oleh kredit pemilikan rumah, tagihan kredit ken-
daraan pemilikan bermotor, tagihan kartu kredit (credit cards)
ataupun pinjaman beasiswa. Pada umumnya, asset yang
terdiri dari semua jenis kredit ini adalah kurang likuid dan
berjangka panjang. Sekuritas yang dijamin oleh berbagai
tagihan kredit tersebut disebut sebagai ABCP (Asset-Backed
Commercial Paper). Sekuritas yang dijamin oleh kredit peru-
mahan disebut MSB (Mortgage-Baked Securities). ABCP dan
MSB diberi peringkat (rating) yang tinggi oleh perusahaan
pemeringkat (rating agencies) sehingga sangat populer sebagai
instrumen investasi oleh investment funds yang tersebar ke se-
luruh penjuru dunia maupun sebagai agunan atau kolateral
bagi pinjaman antarbank. Karena membeli ABCP dan MSB
yang bermasalah di Amerika Serikat, berbagai bank komer-
sil, perusahaan asuransi maupun lembaga-lembaga keuangan
di Eropa Barat telah mengalami kesulitan likuiditas maupun
solvabilitas sehingga terpaksa dibantu ataupun diambil alih
oleh Pemerintah, dihentikan usahanya ataupun diambil alih
oleh perusahaan lain.
Secara tradisional bank komersil pemberi kredit me-
nahan kredit dalam pembukuannya sebagai asset hingga
masa jatuh tempo pembayarannya. Untuk mengurangi
risiko kredit, bank sangat selektif dalam memilih nasabah
kredit dengan memperhatikan kecukupan modal serta agu-
nan kredit, kemampuannya melunasi kredit maupun ka-
rakter penerima kredit untuk melunasi kembali utangnya.
Aturan prudensial perbankan maupun aturan internal bank
itu sendiri menetapkan batas maksimum pemberian kredit
(BMPK) pada suatu perusahaan ataupun suatu kelompok
perusahaan teraniasi, membangun insírasruktur sistem pe-
mantauan risiko, membuat aturan pemotongan pokok mau-
pun bunga kredit (haircut), marjin mapun aturan tentang
kebijakan mengenai agunan kredit. Bank terus menerus me-
mantau penggunaan kredit yang diberikannya berdasarkan
aturan prudensial tersebut. Dengan adanya perkembangan
teknologi dan munculnya lembaga-lembaga keuangan bu-
kan bank (LKBB) baru, bank pemberi kredit dapat meng-
geser risiko kredit kepada pihak lain. Pihak lain itu adalah
perusahaan asuransi yang menjamin kredit serta LKBB yang
mengeluarkan dan mengedarkan ABCP dan MSB tersebut
disebut sebagai bank bayangan (shadow banks).
Salah satu bentuk dari LKBB tersebut adalah SPV (Spe-
cial Purpose Vehicle) yang tujuannya hanya untuk menarik
kembali pokok dan bunga kredit dan meneruskannya ke-
pada pemberi kredit, sebagai debt collector. Bentuk lain adalah
SIV (Structured Investment Vehicle) yang membeli kredit jangka
panjang yang kurang likuid dan merubahnya menjadi surat
berharga ABCP atau MSB berjangka pendek. SIV men-
gurangi risiko kredit dengan cara menggabungkan berbagai
bentuk tagihan kredit dalam satu pool, mengasuransikannya
serta mengelompokkannya menurut tingkat risiko (tranch-
ing). Shadow banking system tersebut mengandalkan pembel-
anjaan usahanya pada utang (KLJKO\ OHYHUDJHG ÀQDQFLQJ), tidak
tunduk pada pengaturan yang ketat oleh bank sentral dan
tidak mendapatkan fasilitas kredit daripadanya
3
.
Krisis terjadi karena besarnya ekspansi kredit pemilikan
rumah selama masa jabatan Gubernur Bank Sentral Green-
span selama 10 tahun terakhir. Pada masa itu, tingkat suku
bunga bank sangat rendah dan tingkat laju pertumbuhan
ekonomi Amerika Serikat sangat tinggi. Ekspansi ekonomi
Amerika Serikat pada masa itu adalah dibelanjai oleh be-
sarnya pemasukan modal asing ke negara itu. Pemasukan
modal asing tersebut telah dapat menutup de£sit ganda
perekonomian negara itu, vakni: de£sit anggaran belanja
negara dan sekaligus de£sit neraca pembavaran luar negeri.
De£sit neraca pembavaran negara itu meningkat dari -3,2
persen dari PDB pada tahun 1999 menjadi -6,2 persen pada
tahun 2006 dan sedikit menurun menjadi -5,3 persen pada
3 Lihat Brunnermeier, Markus K. 2008. Deciphering the 2007-08 Liqiiidity
and Credit Crunh. akan dimuat dalam Journal of Economic Perspectives. 19
Mei, Stulz, Rene M. 2007. “Hedge Funds: Past, Prersent and Future”. Journal
of Economic Perspectives. 21(2). Spring. Hal. 175-194, John Kambhu, Til
Schuermann, dan Kevin Stiroh, “Hedge Funds, Financial Intermediation, and
Systemic Risk”, Economic Policy Review, Federal Reserve Bank of New York,
13(3), December 2007, hal. 1-18 dan Goldstein, Morris. 2008. The Subprime
and Credit Crisis. Washington, D.C.: Peterson Institute for International Eco-
nomics. April 3.
7 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
tahun 2007. Dengan adanya pemasukan modal asing yang
besar itu sekaligus telah merubah sumber pembelanjaan
kredit perumahan dari tadinya hanya berasal dari sumber
lokal menjadi mendunia. Karena rendahnya tingkat suku
bunga dan dapat digesernya risiko kredit pada shadow bank-
ing system, telah menyebabkan pemilihan nasabah kredit oleh
bank komersil menjadi kurang berhati-hati. Dalam keadaan
ekonomi yang tumbuh tinggi dan tingkat suku bunga yang
rendah, nilai agunan maupun kemampuan nasabah untuk
melunasi kreditnya kurang mendapatkan perhatian karena
diperkirakan bahwa harga rumah akan terus menerus me-
ningkat sehingga dapat mengembalikan pokok dan bunga
utang.
Krisis kepercayaan atas kemerosotan indeks harga sa-
ham dan ABCP dan MSB telah mendorong masyarakat
untuk memindahkan kekayaannya (ÁLJKW WR TXDOLW\) pada
bentuk investasi yang dirasakan lebih aman, seperti mata
uang dollar Amerika Serikat (US dollar), Yen dan Euro ser-
ta obligasi Pemerintah Amerika Serikat. Dewasa ini, mata
uang US dollar dianggap sebagai mata uang dunia karena
sebahagian besar dari harga-harga komoditi perdagangan
dunia adalah dinyatakan dalam satuan mata uang tersebut.
Transaksi perdagangan maupun pembayaran utang piutang
antar negara juga lebih banyak dilakukan dalam satuan mata
uang itu. Sementara itu, sebagian terbesar dari cadangan luar
negeri dunia pun ditempatkan dalam bentuk asset dikeluar-
kan oleh Pemerintah maupun dunia usaha Amerika Serikat
ataupun surat berharga asing yang dinyatakan dalam mata
uang US Dollar
4
.
Pada awalnya, Ketua Federal Reserve Bank (Gubernur
Bank Sentral) Amerika Serikat memperkirakan jumlah keru-
gian kredit yang terkait dengan subprime mortgages hanya men-
capai $50-100 miliar. Studi Greenlaw dan rekan-rekannya
memperkirakan penurunan kredit shadow banks sebesar $200
miliar
5
. Perkiraan itu terus meningkat dan Noriel Roubini
memperkirakan setidaknya mencapai $3000 miliar. Menurut
beliau kerugian yang terbesar justru terjadi bukan di sektor
keuangan sedangkan kerugian akibat dari penurunan nilai
kredit perumahan (mortgages) hanya mencapai $300-400 mi-
liar sedangkan penurunan nilai asset lainnya sekitar $600-
700 miliar
6
. Kini, tiga perusahaan otomotif raksasa Amerika
Serikat, General Motors, Ford dan Chrysler pun telah minta
bantuan suntikan dana dari Pemerintah minimum sebesar
4 Lihat Cooper, Richard N. 2008. “Global Imbalances: Globalization, Demog-
raphy, and Sustainability” dan Feldstein, Martin, “Resolving the Global Imbal-
ances: The Dollar and the U.S. Saving Rate”. Kedua artikel itu dimual dalam
The Journal of Economic Perspectives. 22(3), Summer. hal. 93-112 dan 113-
126.
5 David Greenlaw, Jan Hatzius, Anil Kayshyap dan Hyun Song Shin. 2008.
“Leveraged Losses: Lessons from the Mortgage Market Meltdown”. US Mon-
etary Policy Forum Conference Draft. www.chicagogsb.edu/usmp/docs/
usmp/2008confdraft.pdf.
6 Roubini, Noriel. 2006. ‘A Coming The Recession in the US Economy’, RGE
Monitor. Stern School of Business, NYU. July 17 dan 2008 US and Global
Economic Outlook and Implications for Financial Markets. RGE Monitor. Stern
School of Business, NYU. January. www.rgemonitor.com.
$25 miliar untuk dapat mengatasi kesulitan likuiditas mereka
dan mencegah kebangkrutan. Ketiga perusahaan mobil rak-
sasa itu memiliki 105 pabrik perakitan di Amerika Serikat,
menyerap 240 ribu tenaga kerja dan 13 ribu dealer. Oleh
karenanya, penghentian kegiatan ketiga perusahaan otomo-
tif raksasa tersebut akan menyebabkan banyak pengang-
guran tenaga kerja. Kesulitan industri otomotif itu akan juga
berdampak pada pemasok komponen dan suku cadangnya
maupun pada harga-harga berbagai jenis komoditi primer
yang diperlukannya.
3. Dampak umum krisis ekonomi global bagi Indone-
sia
Keterkaitan perekonomian suatu negara dengan pere-
konomian dunia tercermin dari transaksi neraca pembayaran
luar negerinya. Neraca pembayaran luar negeri itu mencatat
transaksi barang dan jasa, balas jasa faktor produksi, teruta-
ma modal dan tenaga kerja, maupun lalu lintas modal antara
suatu negara dengan luar negeri.
3.1 Ketergantungan pada pemasukan modal asing
Karena kecanggihan teknologi komunikasi dan proses-
sing data, dampak negatip yang paling cepat dirasakan akibat
dari krisis perekonomian global adalah pada sektor keuan-
gan. Pelarian modal asing untuk mengatasi kesulitan keuan-
gan kantor pusatnya di negara asalnya langsung menurunkan
indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI). Peranan
modal asing itu sangat dominan baik di BEI maupun di pasar
SBI (Surat Berharga Bank Indonesia)
7
. Kemerosotan indeks
harga saham yang tercepat di BEI, sebesar 22,17 persen ter-
jadi selama tiga hari, pada tanggal 6-8 Oktober 2008. Untuk
mencegah penurunan harga yang lebih tajam Pemerintah te-
lah mengambil tiga tindakan. Pertama, menghentikan kegia-
tan bursa selama 5 hari antara tanggal 8 hingga 13 Oktober.
Kedua, merubah aturan main di BEJ dengan menerapkan
asymmetric auto rejection (batas atas 20 persen dan batas bawah
10 persen). Ketiga, bagaikan “Gebrakan Sumarlin” pada
masa Orde Baru, Pemerintah meminta BUMN yang sudah
menjual saham di BEJ untuk melakukan buyback atau mem-
beli sahamnya kembali.
Dalam masa satu tahun terakhir, nilai tukar Rupiah ter-
hadap US Dollar telah merosot tajam sebesar 23 persen.
Walaupun telah menjadi semakin menurun, jumlah cadan-
gan luar negeri BI dewasa ini dirasakan masih aman karena
masih lebih tinggi daripada kewajiban pembayaran pinjaman
luar negeri berjangka pendek. Jumlah cadangan luar negeri
BI tersebut telah merosot dari $56 miliar pada akhir Desem-
ber 2007 menjadi sekitar $50 miliar pada bulan Nopember
2008 atau cukup untuk membelanjai sekitar 4 bulan impor.
Penurunan cadangan luar negeri BI terjadi karena adanya
intervensi di bursa valuta asing untuk menstabilisir nilai
7 Sewaktu masa krisis tahun 1997-98, secara khusus Indonesia meminta Sin-
gapura untuk membeli SBI guna menambah cadangan devisa BI yang pada
waktu itu tidak mencukupi untuk memenuhi pembayaran kewajiban utang
jangka pendeknya.
8 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
tukar Rupiah dan membelanjai pelarian modal ke luar ne-
geri. Salah satu indikator semakin tingginya pinjaman luar
negeri jangka pendek industri perbankan Indonesia adalah
dari peningkatan rasio loan-to-deposit (LDR)-nya. LDR yang
semakin meningkat itu mencerminkan bahwa industri per-
bankan di Indonesia semakin tergantung pada pinjaman di
luar negeri untuk membelanjai kredit dalam negerinya. De-
wasa ini, kewajiban membayar pinjaman luar negeri men-
jadi semakin mahal karena meningkatnya suku bunga di luar
negeri dan melemahnya nilai tukar Rupiah. Sementara itu,
penerimaan proyek yang dibiayainya menurun dengan tajam
apakah karena adanya kemerosotan tingkat harga komoditi
primer ataukah karena penurunan permintaannya. Hal se-
perti inilah yang tengah dialami oleh Bumi Resources se-
hingga menurunkan harga sahamnya.
Ketergantungan pada dana asing bukan saja dialami oleh
dunia usaha dan industri perbankan, tapi juga oleh Pemerin-
tah. Oleh karena itu, erosi kepercayaan investor pada Indo-
nesia yang tercermin dari kemerosotan indeks harga saham
dan pelemahan nilai tukar Rupiah telah sekaligus menimbul-
kan dampak negatip pada strategi Pemerintah dalam beru-
tang untuk menutup de£sit anggarannva. Setelah krisis se-
karang ini, SUN (Surat Utang Negara) menjadi tidak laku di
pasar uang dan modal komersil di luar negeri dan kalaupun
laku, investor menuntut imbal jasa (yield) yang tinggi diatas
15 persen, lebih dari dua kali lipat dibandingkan dengan im-
bal jasa tahun 2004 (sedikit diatas 7 persen). Karena IGGI/
CGI sudah dibubarkan dan SUN tidak lagi laku dijual di
pasar komersil, maka tidak ada pilihan lain bagi Pemerin-
tah kecuali minta pinjaman dana dari IMF, Bank Dunia dan
ADB maupun dari berbagai negara donor seperti Australia.
Di lain pihak, kemampuan keuangan lembaga-lembaga keu-
angan multilateral itu sangat rendah dewasa ini.
Penarikan modal jangka pendek dari Indonesia terjadi
karena adanya krisis kepercayaan, antara lain, karena belum
adanya kemajuan yang berarti akan tata kelola (governance) du-
nia usaha maupun transparansi serta akuntabilitas keuangan
negara kita sejak krisis ekonomi tahun 1997-1998. Sistem
akuntansi maupun sistem hukum kita belum banyak men-
galami perubahan yang berarti. Krisis Aliran Dana YPPI,
pengakuan Anggota DPR-RI Agus Condro (PDI-P) dalam
jual beli jabatan di bank sentral serta skandal NV Indover,
bank milik BI di Negeri Belanda, masih terus menerus ter-
jadi setelah krisis ekonomi tahun 1997. Opini pemeriksaan
Laporan keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah masih
mendapatkan opini disclaimer sedangkan penerimaan pajak
negara dan berbagai jenis penerimaan bukan pajak maupun
lembaga tera£liasi pada instansi pemerintah masih belum
dapat diaudit. Lembaga teraniasi itu dapat berupa vavasan,
koperasi maupun usaha bisnis yang membebani instansi
negara. Karena tidak adanya rekening Pemerintah yang ter-
padu, Menteri Keuangan tidak mengetahui posisi keuangan
negara maupun likuiditasnya setiap saat. Sementara itu, juga
tidak ada catatan mengenai kekayaan dan utang negara.
Ketergantungan dunia usaha, perbankan dan Pemerintah
Indonesia pada pemasukan modal asing terjadi karena jum-
lah tabungan nasional kita tidak cukup untuk membelanjai
keperluan in·estasi di dalam negeri maupun menutup de£-
sit anggaran negara. Rendahnya jumlah tabungan nasional
itu mencerminkan rendahnya penerimaan negara dari pajak
dan belum berkembangnya investor institusional di dalam
negeri. Investor institusional itu adalah terdiri dari dana
pensiun, Jamsostek, perusahaan asuransi maupun tabungan
jangka panjang seperti Bank Tabungan Pos di Jepang.
Walaupun sekiranya IGGI/CGI masih ada, negara-nega-
ra yang secara tradisional memberikan pinjaman resmi mau-
pun pinjaman komersil untuk Indonesia juga tengah menga-
lami krisis keuangan yang sama. Negara-negara yang secara
tradisional menjadi kreditur Indonesia itu adalah Amerika
Serikat, Jepang, Australia dan negara-negara Eropa. Tadi-
nya, negara-negara itu merupakan anggota IGGI/CGI dan
kemudian menjadi pembeli utama SUN, baik di pasar global
maupun di BEI ataupun pemberi pinjaman komersil bagi
keperluan dunia usaha di Indonesia. Sementara itu, negara-
negara yang dewasa ini memiliki cadangan luar negeri besar,
seperti China dan negara-negara penghasil minyak di Timur
Tengah belum merupakan kreditur Indonesia yang berarti.
Tabel 1 memuat daftar negara-negara kaya yang telah meru-
pakan kreditur tradisional Indonesia ataupun yang belum.
Dampak krisis global sekarang ini pada pengurasan ca-
dangan devisa hanya terbatas pada pelarian modal asing
berjangka pendek yang digunakan membeli surat-surat ber-
harga yang dijual di pasar uang dan modal Indonesia, seperti
SBI, SUN dan saham. Berbeda dengan di Amerika Serikat,
baik dilihat dari nilai asset maupun luasnya jaringan kantor
cabang, industri keuangan di Indonesia masih didominir
oleh industri perbankan. Industri perbankan itu menguasai
lebih dari 81 persen nilai asset industri keuangan nasional
sedangkan asset LKBB hanya sekitar 19 persen. Industri
perbankan Indonesia juga belum melakukan investasi dalam
bentuk ABCP ataupun MSB yang dikeluarkan di Amerika
Serikat. Kecuali NV Indover, belum ada bank nasional yang
memiliki kewajiban luar negeri yang sangat besar seperti
bank-bank Islandia yang sangat agresif membuka jaringan
kantor cabang operasional di Inggris maupun di negara-ne-
gara lain di Eropa. Kegiatan NV Indover bank telah dihenti-
kan oleh bank sentral Negeri Belanda pada tanggal 6 Okto-
ber 2008 karena tidak dapat melunasi kewajibannya sebesar
$92 juta. Kini bank itu berada dibawah Protokol Darurat
yang dikelola oleh kurator untuk segera dilikuidasi. Peranan
pasar modal maupun industri perbankan bayangan (shadow
banks) masih sangat kecil ataupun belum ada di Indonesia.
Beberapa jenis LKBB yang ada di Indonesia baru, seperti
perusahaan pembiayaan (PXOWLÀQDQFH), menonjol dalam peny-
ediaan kredit kendaraan bermotor, terutama sepeda motor.
Walaupun bertumbuh dengan cepat, peranan kartu kredit
masih sangat terbatas.
9 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
3.2 Ekspor dan Impor
Dampak kedua yang juga langsung dirasakan akibat dari
krisis global adalah penurunan ekspor yang sangat tajam
akibat dari adanya penurunan harga maupun jumlah per-
mintaannya. Harga migas per barrel kini hanya sekitar $50
atau sepertiga dari harganya yang tertinggi sekitar $150 pada
tahun yang lalu dan diperkirakan akan terus merosot men-
jadi $25 pada tahun 2009. Harga hasil-hasil pertambangan
kita (seperti tembaga, nikel, timah, aluminium dan batubara)
maupun hasil pertanian (seperti kelapa sawit dan karet) su-
dah tinggal seperlima dari harga tertingginya pada satu atau
dua tahun yang lalu. Resesi perekonomian dan peningka-
tan tingkat pengangguran global akan sekaligus mempen-
garuhi permintaan akan ekspor barang-barang hasil industri
pengolahan maupun kerajinan kita. Ekspor komponen dan
suku cadang kendaraan bermotor, yang berkembang pesat
di Indonesia akhir-akhir ini, akan sangat terganggu karena
kesulitan yang dialami oleh seluruh industri otomotif secara
global. Ekspor Indonesia menjadi lebih sulit dikembangkan
karena, berbeda dengan Tata di India ataupun Haier Group
di Cina, belum ada di antara konglomerat Indonesia yang
telah berkaliber internasional sehingga mampu memasuki
pasar dunia. Kegiatan usaha para konglomerat kita dari sejak
awal Orde Baru hingga kini masih tetap sebagai pemangsa
rente dan belum ada peningkatan nilai tambah komoditi
yang mereka hasilkan. Indonesia masih tetap merupakan
penghasil komoditi primer penghasil barang tambang dan
pertanian serta tenaga kerja kasar bagi dunia. Hanya Mittal
yang memulai usahanya di Surabaya dapat menjadi raksasa
yang merajai pabrik peleburan besi dunia.
Dalam keadaan resesi seperti sekarang ini, hendaknya
dapat diupayakan agar setidaknya pangsa pasar tradisional
ekspor kita dapat dipertahankan melalui berbagai kebijakan
yang merangsang ekspor. Kebijakan pertama adalah dengan
memberikan insentif keuangan kepada produsen dan ek-
sportir. Untuk itu perlu diakhiri kebijakan BI yang, di masa
sebelum krisis, dengan sengaja menguatkan nilai tukar riil
Rupiah (real effective exchange rate) guna membuat harga ko-
moditi impor menjadi lebih murah sehingga menyumbang
pada upava penurunan tingkat laju innasi. Sebelum krisis
yang berlangsung dewasa ini, kebijakan yang menguatkan
nilai tukar riil Rupiah seperti itu dapat dilakukan oleh BI
karena baik ekspor maupun cadangan luar negeri BI dapat
meningkat dengan cepat hanya karena adanya peningkatan
tingkat harga-harga internasional komoditi primer yang kita
ekspor. Sementara itu, pemasukan modal asing yang mem-
beli SUN, SBI maupun saham serta surat-surat berharga In-
donesia pada waktu itu ikut menyumbang pada pemupukan
cadangan devisa. Kebijakan yang menguatkan nilai tukar riil
Rupiah seperti itu telah menimbulkan penyakit ekonomi
yang disebut sebagai the Dutch disease yang membuat produk-
si dalam negeri menjadi kolaps karena tidak dapat bersaing
dengan barang impor. The Dutch disease itu sekaligus men-
imbulkan ketimpangan ekonomi regional, menguntungkan
pada daerah-daerah penambangan sumber daya alam mau-
pun perkebunan di luar Jawa, tapi menimbulkan malapetaka
bagi produsen komoditi saingan impor di Pulau Jawa dan
Bali.
Kebijakan kedua yang perlu dilakukan untuk mendor-
ong ekspor adalah dengan meningkatkan daya saing serta
produktivitas perekonomian nasional kita. Daya saing pere-
konomian Indonesia adalah lebih rendah dibandingkan den-
gan Cina maupun negara-negara tetangga kita seperti Sin-
gapura, Malaysia dan Thailand
8
. Kebijakan yang ketiga adalah
untuk memperbaiki prasarana perekonomian kita seperti
jalan, listrik maupun pelayanan pelabuhan udara serta laut.
Menurut perkiraan, Indonesia memerlukan investasi sebesar
$50 miliar untuk dapat meningkatkan kapasitas pembangkit
tenaga listrik sebesar 40 ribu MWe beserta jaringan trans-
misinya pada tahun 2025
9
. Kebijakan yang keempat untuk
mendorong ekspor adalah memangkas ekonomi biaya tinggi
seperti menyederhanakan perizinan dan meninjau kembali
restribusi dan pajak daerah yang distortif serta mengambat
kelancaran lalu lintas perdagangan antardaerah.
Gabungan dari berbagai kesulitan di atas akan menu-
runkan tingkat laju pertumbuhan ekonomi nasional. Selu-
ruh dunia termasuk IMF, OECD, Bank Dunia dan ADB
terus merevisi ke bawah tingkat pertumbuhan perekonomi-
an dunia. Pada bulan September 2008 ADB memperkirakan
tingkat perumbuhan ekonomi negara-negara anggotanya
(kecuali Jepang) dapat mencapai 7,5 persen untuk tahun
2009. Tiga bulan kemudian proyeksi itu diturunkan men-
jadi 5,8 persen. Indonesia pun telah mengoreksi ke bawah
proyeksi pertumbuhan tingkat laju pertumbuhan ekonomin-
ya. Asumsi APBN tahun 2009 tentang tingkat laju pertum-
buhan ekonomi untuk tahun 2009 telah direvisi dari tadinya
sekitar 6,3 persen menjadi sekitar 5,5-6,1 persen dan turun
lagi menjadi sekitar 4,5-5,0 persen
10
. The Economic Intellegence
Unit memperkirakan tingkat laju pertumbuhan ekonomi In-
donesia tahun 2009 hanya sebesar 3,7 persen. Dalam kead-
aan sistem keuangan global yang belum stabil dewasa ini,
sangat sulit untuk melakukan prediksi. Krisis itu sekaligus
akan menimbulkan disparitas regional maupun kesenjangan
antarkelompok pendapatan masyarakat. Berbagai indikator
ekonomi lainnya juga sudah mulai menunjukkan tanda-tan-
da pelemahan sejak kuartal I tahun 2008 (Tabel-2).
Gabungan antara erosi nilai Rupiah dan penurunan
kegiatan ekonomi nasional akan menurunkan impor. Im-
por yang akan menurun itu adalah terutama barang modal,
bahan baku serta suku cadang keperluan industri pengola-
han, maupun alat-alat berat keperluan perkebunan maupun
pertambangan. Semakin mahalnya harga barang konsumsi
buatan Cina dan buah-buahan impor juga ikut menurunkan
impor.
8 Global Competitiveness Report 2007. Geneva: World Economic Forum.
9 Terry, Lacey. 2008. “No Recession in Indonesia”, the Jakarta Post. Thusday,
November 27, 2008. hal. 7.
10 “Target Pertumbuhan Dipangkas”. Jurnal Nasional. Rabu, 26 November
2008. hal. 1.
10 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
3.3 Pasar Tenaga Kerja
Peningkatan pengangguran tenaga kerja dan jumlah
masyarakat miskin merupakan dampak ketiga yang akan
segera kita alami. Mengikuti negara-negara lain, sudah mu-
lai perkebunan, pertambangan, industri pengolahan dan
konstruksi serta industri jasa di Indonesia, termasuk lem-
baga-lembaga keuangan, yang mengurangi kegiatan dan
penyerapan tenaga kerjanya. Resesi global sekaligus akan
memutuskan hubungan kerja Tenaga Kerja Indonesia (TKI)
di luar negeri dan memulangkan mereka ke Indonesia. Pe-
mutusan hubungan kerja dan pemulangan TKI seperti ini
tidak saja akan menambah berat tekanan pada pasar tenaga
kerja di Indonesia tapi sekaligus mengurangi pendapatan de-
visa kita dari penghasilan mereka di luar negeri (remittances).
Pada tahun 2008, sebanyak 196.635 orang TKI bekerja di
seluruh dunia, di antaranya sebanyak 105.166 bekerja di
Asia Pasi£k dan Amerika, 91.40¯ orang di 1imur 1engah
dan Afrika serta 62 orang di Eropa. Sebanyak 66.816 orang
dari TKI tersebut bekerja di Malaysia, 60.014 orang di Saudi
Arabia, hampir 18 ribu orang bekerja di Taiwan sedangkan
Uni Arab Emirates dan Kuwait masing-masing menyerap
hampir 11 ribu orang, lebih dari 9 ribu orang bekerja di
Hong Kong dan 8.000 orang bekerja di Singapura
11
.
4. Jaminan atas deposito pada perbankan
Setelah terjadinya krisis keuangan global, secara sendiri-
sendiri, semua negara telah meningkatkan batas maksimum
jumlah deposito masyarakat pada perbankan yang dijamin
oleh perusahaan penjaminan simpanan (deposit insurance).
Tujuannya adalah untuk menghindari terjadinya perpin-
dahan dana antarlembaga keuangan ataupun antarnegara
dalam rangka mencari keselamatan dananya (ÁLJKW WR TXDOL-
ty). Perpindahan dana seperti ini bukan saja akan menam-
bah parahnya krisis keuangan tapi juga akan menimbulkan
masalah bagi perekonomian secara keseluruhan. Amerika
Serikat meningkatkan jumlah maksimum deposito yang
dijamin oleh asuransi dari $100.000 per rekening menjadi
US$250.000 dan menjamin seluruh deposito bagi yang tidak
memperoleh balas jasa bunga (blanket guarantee for on-interest
bearing accounts). Mulai tanggal 30 September 2008 Irlandia
juga menjamin seluruh deposito pada 6 bank yang ada di
negara itu. Inggris terpaksa mengikuti Irlandia, negara te-
tangganya, dan Jerman mengumumkan hal yang sama pada
tanggal 5 Oktober dan kemudian disusul oleh negara-negara
Eropa lainnya termasuk Austria, Hongaria, Denmark, Slo-
vakia dan Slovenia.
Indonesia hanya meningkatkan jumlah deposito yang di-
jamin oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) menjadi Rp2
miliar. Di lain pihak, negara-negara tetangga kita di kawasan
Asia-Pasi£k telah mengikuti negara-negara lain di Lropa
mengintrodusir blanket gurantee. Negara-negara tetangga itu
adalah Australia, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Malay-
sia dan Singapura.
11 Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan TKI (BNP2TKI), http://
www.bnp2tki.go.id.
Ternyata bahwa pengalaman pahit dari krisis 1997-98
belum mengubah kebijakan dan perilaku kita. Ada berbagai
pelajaran yang dapat ditarik dari krisis ekonomi tahun 1997-
98
12
. Pelajaran yang pertama adalah bahwa kurs devisa yang
relatif stabil dan tingkat suku bunga yang senantiasa lebih
tinggi di dalam negeri relatif terhadap luar negeri, sebelum
krisis tahun 1997, telah merangsang bank dan dunia usa-
ha untuk meminjam dari luar negeri. Pelajaran yang kedua
adalah bahwa pinjaman luar negeri berjangka pendek dalam
mata uang asing yang digunakan untuk membelanjai kegia-
tan ekonomi jangka panjang yang hanya menghasilkan pen-
dapatan Rupiah telah menimbulkan “currency mismatch” mau-
pun “maturity mismatch” yang memicu krisis ekonomi tahun
1997-98. Sebahagian dari ‘modal asing’ itu adalah cadangan
luar negeri BI yang ditempatkan pada anak perusahaannya,
NV Indover di Negeri Belanda dan Hong Kong, yang dialir-
kan oleh bank itu kembali ke Indonesia dalam bentuk kredit
kepada konglomerat milik kroni-kroni Orde Baru. Pelajaran
yang ketiga ialah bahwa kualitas pengaturan dan pemeriksaan
bank perlu diperbaiki agar dapat dibedakan mana bank yang
”viable” dan mana yang ”non-viable”. Pelajaran yang keem-
pat ialah bahwa perusahaan negara, BUMN dan BUMD,
hendaknya dapat dibuat menjadi korporatis dan tidak lagi
merupakan perpanjangan tangan birokrasi pemerintahan.
Berbagai kelemahan-kelemahan struktural itu belum
banyak berubah. Karena kelemahan dalam sistem hukum
dan sistem akuntansi kita, implementasi aturan pruden-
sial perbankan di Indonesia belum sebaik di negara-nega-
ra tetangga, seperti Malaysia, Singapura, Hong Kong dan
Australia. Stabilitas kurs devisa, stabilitas keuangan maupun
stabilitas sosial-politik adalah juga lebih rawan di Indonesia
daripada di negara-negara tetangga itu. Sebagaimana telah
disebut di atas, sewaktu terjadi kenaikan harga-harga ko-
moditi primer sebelum terjadinya krisis, BI juga dengan sen-
gaja menguatkan nilai riil kurs devisa guna menekan tingkat
laju innasi. Di lain pihak, semua negara tetangga, termasuk
Cina, tetap menggunakan kebijakan kurs untuk mendorong
pertumbuhan ekspornya. Gabungan hal-hal ini serta adanya
perbedaan yang menyolok antara jumlah deposito yang di-
jamin oleh asuransi di Indonesia dengan di negara-negara
tetangga, dapat merupakan pemicu pelarian modal dari In-
donesia untuk mencari tempat yang lebih aman bagi peny-
impanan kekayaan masyarakat di negara-negara tetangga
itu.
Adanya asuransi deposito menimbulkan moral hazard
yakni akan memberikan insentif bagi bank untuk lebih be-
rani memutarkan dana masyarakat pada kegiatan usaha yang
mengandung risiko yang lebih besar dengan harapan untuk
memperoleh keuntungan yang lebih besar pula. Jika terjadi
12 Lihat, misalnya: Matsumoto, Yasuyuki 2007.Financial Fragility and Insta-
bility in Indonesia. London, Routledge dan Fisher, Stanley. 2004. “Financial
Crises: Review of Eichengreen and Tirole”. Journal of Economic Literature.
XLII(4). December. hal. 1094-1097.
11 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
kerugian toh ada asuransi yang akan menanggungnya. Un-
tuk mengurangi moral hazard diperlukan penerapan aturan
perbankan yang lebih ketat. Aturan prudensial perbankan
itu, antara lain, meliputi rasio kecukupan modal atau CAR
(&DSLWDO$GHTXDF\5DWLR) dan berbagai rasio keuangan lainnya,
batas maksimum pemberian
kredit, untuk mencegah
agar dana masyarakat yang
dimobilisir oleh bank han-
ya digunakan untuk mem-
belanjai kegiatan usaha
pemilik dan pengurusnya,
maupun aturan tentang ba-
tas pinjamannya dari luar
negeri untuk menghindar-
kan terjadinya ‘currency and
maturity mismatches’ seperti
di masa krisis 1997-98.
Pembelanjaan asuransi
deposito juga berbeda
antarnegara. Namun pada
umumnya, sebagian dari
dana asuransi deposito adalah bersumber dari premi asur-
ansi yang dibayar oleh bank dan bagian lainnya ditanggung
oleh Pemerintah. Cara pengambilan deposito oleh deposan
dari bank yang sudah bankrut juga berbeda antar negara.
Nasabah bank Northen Rock yang dibubarkan di Inggris me-
merlukan waktu berbulan-bulan untuk mendapatkan kem-
bali depositonya
13
. Cara pengambilan yang birokratis seperti
ini dapat mengurangi kepercayaan masyarakat pada lembaga
penjamin simpanan sehingga memberikan insentif untuk
menarik depositonya dari bank sebelum ada masalah.
5. Upaya penyelamatan bank
Untuk memulihkan kegiatan usaha industri perbankan,
Pemerintah berbagai negara, termasuk Indonesia telah
mengambil tiga bentuk kebijakan. Kebijakan yang pertama,
adakah untuk memulihkan kesulitan likuiditasnya dengan
menambah jumlah dan jenis fasilitas diskonto dari bank sen-
tral dan sekaligus dengan menurunkan tingkat suku bunga
nominalnya, yang dewasa ini hampir mendekati nol persen.
Di berbagai negara, tingkat suku bunga riil diskonto dari
bank sentral sudah negatif. Kebijakan yang kedua adalah
dengan menguatkan modal bank apakah dengan menyun-
tikkan modal dari Departemen Keuangan atau menasion-
alisirnya ataupun membeli kreditnya yang bermasalah, teru-
tama kredit pemilikan rumah. Kebijakan yamg ketiga adalah
menambah kepercayaan masyarakat untuk menyimpan
deposito pada industri perbankan dengan meningkatkan
jumlah deposito bank yang dijamin oleh asuransi deposito.
Pemulihan kesulitan likuiditas dan solvabilitas industri per-
bankan tersebut dimaksudkan untuk memulihkan fungsi ke-
bijakan moneter untuk mempengaruhi permintaan aggregat
13 “Deposit Insurance. A useful ction”. The Economist. October 4
th
2008, hal.
77.
dan menggerakkan sektor riil.
Sebagaimana telah disebut di muka, kesulitan likuiditas
dan solvabilitas perbankan yang telah mengganggu keampu-
han kebijakan moneter tersebut terjadi karena adanya gang-
guan pada mekanisme transmis-
inya sehingga kebijakan bank
sentral tidak dapat diteruskan
oleh bank-bank komersil kepa-
da nasabahnya. Kesulitan likuid-
itas maupun solvabilitas industri
keuangan termasuk perbankan
juga telah melanda di Indone-
sia. Kesulitan likuiditas terse-
but bukan saja meningkatkan
tingkat suku bunga pinjaman
antarbank. Kemerosotan nilai
surat-surat berharga sekaligus
membuat bank menjadi sangat
takut pada risiko (risk-averse).
Karena industri perbankan leb-
ih suka untuk menahan uang tu-
nai dan menempatkan deposito
mereka pada bank sentral daripada meminjamkannya pada
bank lain, pinjaman antarbank praktis menjadi terhenti. Se-
mentara itu, kemerosotan nilai saham dan surat berharga
milik bank serta peningkatan kredit bermasalahnya menu-
runkan modal bank sehingga mengganggu rasio kecukupan
modal atau CAR-nya.
5.1 Upaya Penanganan Kesulitan Likuiditas
Sebagai bankir bagi bank-bank komersil (bankers’ bank)
bank sentral merupakan pemasok utama likuiditas bagi in-
dustri perbankan jika mereka mengalami kesulitan untuk
mendapatkan dana di pasar uang. Bank sentral menciptakan
uang primer. Ada dua bentuk penggunaan uang primer yang
terpenting. Yang pertama adalah berupa uang yang diedar-
kannya pada masyarakat dan yang ditahannya sendiri untuk
keperluannnya. Di Indonesia, pengedaran uang merupakan
hak monopoli Bank Indonesia. Uang primer juga digunakan
dalam bentuk deposito bank-bank komersil pada bank sen-
tral. Sebagian dari deposito bank komersil pada bank sentral
itu adalah berupa cadangan minimum atau Giro Wajib Mini-
mum (GWM) yang ditetapkan oleh bank sentral. Sebagian
lainnya merupakan ekstra cadangan (excess reserves) untuk
berjaga-jaga bilamana bank memerlukannya. Deposito yang
ditempatkan oleh bank-bank komersil di bank sentral hanya
mendapatkan balas jasa bunga yang sangat rendah. Bank
sentral menetapkan besarnya rasio GWM untuk membatasi
kemampuan bank komersil menciptakan uang giral dengan
memberikan kredit dan melakukan investasi.
Dilihat dari sumbernya, komponen uang primer yang
terpenting adalah, pertama, berupa cadangan luar negeri ne-
gara yang ditatausahakannya. Komponen kedua dari uang
primer itu adalah berupa kredit dalam negeri bank sentral.
12 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Sebagai bankir Pemerintah, bank sentral memberikan kre-
dit kepada Pemerintah. Sebagai bankir bagi bank-bank ko-
mersil, bank sentral juga memberikan berbagai jenis kredit
kepada bank-bank komersil. Dalam keadaan darurat, bank
sentral dapat memberikan kredit secara langsung kepada
dunia usaha.
Krisis likuiditas perekonomian terdiri dari krisis likuidi-
tas dalam satuan mata uang nasional dan satuan mata uang
atau valuta asing (valas). Krisis likuiditas dalam satuan mata
uang nasional dengan mudah dapat diatasi oleh bank sentral
tiap negara yang memiliki hak monopoli pengaturan uang
primer, termasuk pengedaran uang dan penetapan rasio
GMW serta pemberian kredit kepada bank-bank komersil.
Di lain pihak, untuk mengatasi krisis likuiditas valas, bank
sentral perlu memiliki cadangan devisa yang memadai dan
memiliki fasilitas kredit dengan bank sentral asing maupun
kreditur luar negeri. Fasilitas kredit dengan bank sentral as-
ing termasuk fasiltas swap atau tukar menukar valuta atau-
pun mata uang.
Untuk memulihkan kesulitan likuiditas jangka pendek in-
dustri perbankan dalam mata uang nasionalnya, bank sentral
di seluruh dunia telah melakukan berbagai tindakan. Secara
historis, dalam keadaan normal, fasilitas kredit bank sentral
dalam satuan mata uang nasional kepada bank-bank yang
sehat adalah fasilitas diskonto yang dijamin dengan kolateral
bermutu tinggi. Karena adanya erosi kepercayaan terhadap
surat-surat berharga, pinjaman antarbank terganggu karena
pihak yang melakukan transaksi tidak yakin mengenai kese-
hatan (creditworthiness) mitra transaksinya ataupun kemampu-
annya untuk memobilisir dana pada saat yang diperlukan.
Untuk mengatasi kemandegan pasar uang antarbank seperti
itu, bank sentral Amerika Serikat mengintrodusir fasilitas
kredit baru berupa the Federal Reserve’s Term Auction Facility
(TAF) pada bulan Desember 2007
14
. TAF memperpanjang
masa waktu kredit yang lebih lama daripada jangka waktu
fasilitas diskonto. Sama dengan kredit diskonto, TAF juga
dijamin oleh kolateral yang disediakan oleh debitur. Berbeda
dengan fasilitas diskonto biasa, TAF memiliki ciri seperti
operasi pasar atau OMO (open market operation). Ciri OMO
itu tercermin dari digunakannya cara pelelangan untuk men-
galokasikan dana fasilitas TAF yang jumlahnya terbatas dan
sekaligus menentukan tingkat suku bunganya.
Di Indonesia, pada tanggal 14 Oktober 2008, Bank In-
donesia melonggarkan likuiditas perbankan dalam Rupiah
dengan cara menurunkan GWM Rupiah dari 9,08 persen
menjadi 7,5 persen dari dana pihak ketiga, dimana sebesar 5
persen daripadanya wajib ditempatkan di BI dan sisanya se-
besar 2,5 persen dalam bentuk SBI maupun SUN. Besarnya
GWM itu semakin diturunkan lagi menjadi 5 persen dewasa
ini. GWM valas diturunkan dari tadinya 3 persen menjadi
14 Olivier Armantier, Sandra Krieger, and James McAndrews. 2008. “ The Fed-
eral Reserve’s Term Auction Facility”. Current Issues in Economics and Finance
14(5). Federal Reserve Bank of New York. December.
1 persen. Penurunan GWM tersebut diharapkan akan me-
ningkatkan kemampuan industri perbankan untuk membe-
rikan kredit pada dunia usaha. Sebagian dari ekspansi kredit
perbankan itu akan menggantikan penurunan dana asing
yang membelanjai kegiatan usaha nasional.
Selain menghadapi kesulitan likuiditas dalam mata uang
nasional, bank-bank juga menghadapi masalah likuiditas
dalam valuta asing (valas). Untuk melonggarkan likuiditas
dalam valas, BI telah mengambil enam langkah kebijakan.
Pertama, menurunkan GWM dalam valuta asing bagi bank
devisa diturunkan dari tadinya 3 persen menjadi 1 persen
dari dana pihak ketiga. Penurunan GWM valas dan pening-
katan tingkat suku bunga deposito valas di dalam negeri di-
maksudkan untuk menarik pemasukan modal asing. Kedua,
memperpanjang tenggat waktu maksimum swap valas dari
tadinya selama 7 hari menjadi satu bulan. Ketiga, mencabut
ketentuan posisi saldo harian pinjaman luar negeri jangka
pendek. Keempat menyediakan pasokan valas bagi perusa-
haan dalam negeri yang memiliki underlying transactions. Ke-
lima, membatasi pembelian valas oleh nasabah bank dan
pihak asing, maksimum sebesar $100 ribu. Pembelian di atas
limit ini hanya dibolehkan bagi yang memiliki underlying trans-
actions. Keenam, mengimbau BUMN untuk menjual valuta
asing hasil penjualan ekspornya.
Daripada terus menerus melakukan intervensi di bur-
sa valuta asing untuk menstabilisir nilai tukar Rupiah, se-
baiknya BI melelang devisa kepada perbankan dalam negeri
untuk memenuhi kebutuhannya sendiri ataupun keperluan
nasabahnya. Pelelangan seperti itu perlu dilakukan secara
neksibel agar tidak menimbulkan kepanikan masvarakat.
Dewasa ini, BI belum diikutkan oleh the Federal Reserve
Bank Amerika Serikat dalam fasilitas currency-swap (pertu-
karan valuta) yang telah dijalinnya dengan berbagai bank
sentral negara-negara maju maupun bank sentral berbagai
negara-negara berkembang seperti Brazil, Mexico, Korea
Selatan dan Singapura. Masing-masing negara berkembang
itu diberikan fasilitas kredit oleh bank sentral Amerika Se-
rikat sebesar $30 miliar tanpa persyaratan apapun. Fasilitas
swap ini menyediakan keperluan likuiditas dalam mata uang
US dollar. Indonesia baru merupakan anggota dari 8 negara
ASEAN+3 (Jepang, Korea Selatan dan Cina). Fasilitas bila-
teral swap tersebut diciptakan berdasarkan perjanjian Chiang
Mai Initiave tahun 2003 untuk mengatasi kesulitan neraca
pembayaran luar negeri negara-negara Asia yang dilanda kri-
sis ekonomi tahun 1997-98. Selain bersifat bilateral, penggu-
naan fasilitas swap itu tetap memerlukan restu IMF dengan
persyaratan penggunaan (condiotionality)-nya
15
.
Karena suksesnya kontrol devisa di Cina dan Malaysia
sehingga terhindar dari krisis ekonomi tahun 1997-98, bany-
ak orang mengusulkan penggunaan kebijakan yang sama di
15 Nasution, Anwar,. 2005. “Monetary Cooperation in East Asia”, Journal of
Asian Economics 16 (2005) 422-442.
13 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Indonesia. Karena kurang senang pada program IMF, Alm.
Presiden Suharto meminta nasihat Steve Hanke penggagas
kebijakan kontrol devisa. Namun, orang lupa bahwa ber-
beda dengan Cina dan Malaysia, Indonesia tidak memiliki
setidaknya dua persyaratan untuk melaksanakan kebijakan
seperti itu, yakni (i) industri perbankan nasional sehat dan
(ii) birokrasi pemerintahan yang andal untuk dapat mene-
rapkannya
16
. Zaman Orde Lama juga telah diterapkan kon-
trol devisa penuh seperti di Cina sekarang ini dan didirikan
BLLD untuk mengadministrasikannya. Kebijakan itu gagal
karena hanya menjadi menimbulkan distorsi ekonomi serta
menjadi sumber KKN sehingga Pemerintah Orde Baru
mengintrodusir kebijakan devisa bebas pada awal tahun
1980-an.
Salah satu hal kelemahan birokrasi kita yang terus me-
nerus terjadi sejak dari zaman Orde Lama hingga hari ini
adalah tidak mampunya mendeteksi dan mencegah transfer
pricing ataupun overvaluation impor dan undervaluation ekspor
sebagai cara untuk menghindarkan pembayaran pajak mau-
pun kontrol devisa. Kegiatan kriminal seperti ini semakin
meningkat setelah krisis ekonomi 1997-98 dan tercermin
dari pemindahan pusat kegiatan konglomerat Indonesia ke
Singapura. Perkebunan, pertambangan dan pabrik serta
usahanya tetap ada di Indonesia, tapi operasinya dikenda-
likan dari Singapura. Kasus Asian Agri yang tidak pernah
diusut tuntas tersebut memberikan indikasi ke arah transfer
pricing itu.
5.2 Penyehatan Modal Bank
Upaya untuk menambah modal bank merupakan porsi
Departemen Keuangan dan bukan bank sentral. Ada dua
cara yang telah dilakukan oleh berbagai negara untuk me-
nyehatkan modal bank agar dapat memenuhi keperluan
rasio kecukupan modal sebesar 8 persen yang disepakati
oleh komite dalam kesepakatan Basel (Basel Accord)
17
. Cara
yang pertama adalah dengan menyuntikkan modal kepada
bank yang mengalami kesulitan. Cara yang kedua adalah
dengan membeli aset yang bermasalah sehingga membersi-
hkan buku perbankan. Inggris dan Jerman menempuh cara
yang sama sedangkan, awalnya, Amerika Serikat menempuh
cara yang kedua dan kini beralih pada dua-duanya. Amerika
Serikat telah menyediakan dana sebesar $700 miliar untuk
menyehatkan kembali industri keuangannya. Pada tanggal
23 Nopember 2008 yang lalu, bank raksasa Citigroup juga
mendapatkan suntikan modal dari Pemerintah Amerika Se-
rikat sebesar $300 miliar untuk menyehatkan kondisi keu-
16 Akira Ayoshi, Karl Habermeier, Bernard Laurens, Inci Otker-Robe, Jorge
Ivan Canales-Kriljenko, and Andrei Kirilenko. 2000. Capital Controls: Coun-
try Experiences with Their Use and Liberalization. Occasional Paper No. 190.
Washington, D.C.: IMF.
17 Tarullo, Daniel K. 2000. Banking on Basel. The Future of International Fi-
nancial Regulation. Washington, D.C.: Peterson Institute for International
Economics. August.
angannya
18
. Kesulitan pokok dalam cara penyehatan yang
kedua adalah dalam hal penilaian aset bermasalah yang di-
ambil alih itu. Melalui pembelian aset bank dan nasabah-
nya tersebut, Pemerintah negara Barat telah melanggar
asas kapitalisme perorangan dengan menasionalisir bank
serta perusahaan di negaranya. Indonesia pada masa krisis
1997-98 menempuh keduanya. Pemerintah Amerika Seri-
kat membentuk the Resolution Trust untuk mengambil alih,
mengelola dan menjual kembali aset saving and loans negara
itu yang mengalami kesulitan keuangan pada saat itu. The
Resolution Trust tersebut yang ditiru oleh Indonesia sebagai
BPPN pada saat krisis tahun 1997-98.
Indonesia pun sudah memiliki protokol dalam men-
ghadapi bank-bank yang mengalami krisis seperti yang ter-
jadi pada PT Bank Century yang ditutup karena kalah kliring
pada tanggal 13 Nopember 2008. Untuk masa mendatang
hendaknya rekapitalisasi perbankan yang bermasalah perlu
mencontoh Amerika Serikat dan jangan lagi mengulangi
pengalaman buruk BLBI pada tahun 1997-98. Ada dua per-
bedaan yang menonjol antara kebijakan yang dilakukan oleh
Amerika Serikat dan negara-negara lain itu dalam mengatasi
krisis keuangannya dewasa ini dengan BLBI di Indonesia
tahun 1997-98. Pertama adalah mengenai besarnya biaya
pembangunan kembali atau rekapitalisasi industri keuangan
itu. Diukur sebagai persentase terhadap PDB-nya masing-
masing, besarnya biaya rekapitalisasi di Amerika Serikat ha-
nya sekitar 1 persen ($700 miliar) sedangkan di Indonesia
mencapai 50 persen.
Perbedaan yang kedua antara rekapitalisasi Amerika Se-
rikat dengan BLBI adalah dalam cara pembelanjaan rekapi-
talisasi. Pemerintah Amerika Serikat minta agar pemilik lem-
baga keuangan yang bermasalah yang bertanggung jawab
dan baru kemudian Pemerintah mengulurkan bantuan untuk
menyelamatkan lembaga keuangan itu guna menghindarkan
risiko sistemik. Artinya, pemilik lembaga keuangan diminta
terlebih dahulu untuk mengosongkan isi kantongnya dan di-
buat miskin, seperti pembelian saham Bear Stearns dengan
tingkat harga yang jauh di bawah tingkat harga pasarnya.
Sebaliknya, BLBI di Indonesia bukan saja menyelamatkan
lembaga keuangannya. BLBI telah juga dipergunakan oleh
pemilik bank yang bermasalah untuk melunasi utangnya,
memindahkan kekayaannya ke luar negeri dan membuatnya
bertambah kaya. Perbedaan cara ini terjadi, antara lain, ka-
rena kualitas pengawasan dan pemeriksaan bank di Amerika
Serikat jauh lebih baik daripada di Indonesia. Sementara
itu, integritas manusianya pun berbeda antara bumi dengan
langit.
Ada tiga hal yang dapat dilakukan dalam masa keti-
dakpastian di tengah krisis seperti sekarang ini. Pertama,
menunda penerapan akuntansi berdasar mark-to-market. Sis-
18 Mishkin, Frederic S. 2006. “How Big a Problem is Too Big to Fall? A Review
of Gary Stern and Ron Feldman’s Too Big to Fall: The Hazards of Bank Bailouts”.
Journal of Economic Literature. XLIV(4). December. hal. 988-1004.
14 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
tem penilaian aset bank seperti ini adalah bersifat pro-cyclical,
artinya, semakin memerosotkan nilai buku saham dan aset
bank yang tengah jatuh harga pasarnya di tengah krisis. Ke-
dua, meningkatkan rasio kecukupan modal dari tingkat 8
persen dewasa ini untuk dapat menghadapi risiko kredit, ri-
siko pasar maupun risiko operasional yang semakin mening-
kat di tengah krisis. Karena peningkatan ketiga bentuk krisis
itu, dengan mudah rasio kecukupan modal dapat berubah
dari 15 persen menjadi 5 persen. Modal bank-bank nasional
tersebut dapat ditingkatkan dengan mempercepat pengga-
bungan usaha atau merjer bank bank nasional yang berjum-
lah 102 dewasa ini. Yang dimerjer itu bukan saja bank-bank
milik swasta yang pada umumnya memiliki modal kecil.
Merjer juga diperlukan oleh bank-bank milik negara yang
jumlahnya ada 5. Sementara itu, perlu semakin dipikirkan
apa peranan dan kontribusi 26 BPD yang masih ada pada
perekonomian daerahnya, selain hanya menjadi kasir Pemda
dan penyedia kredit serba guna bagi karyawan Pemda. Un-
tuk sementara, Pemerintah pun dapat menambah modal
bank yang viable.
Hal ketiga yang perlu dilakukan adalah agar bank-bank
lebih berhati-hati dalam menempatkan dananya. Di lain
pihak, seyogyanya otorita juga jangan lagi menggunakan
bank-bank negara maupun bank-bank nasional sebagai ba-
gian dari strategi gali lubang, tutup lubang seperti penempa-
tan dan berbagai bank nasional pada NV Indover di Negeri
Belanda yang beroperasi sebagai hedge funds. Pada akhirnya
kerugian seperti itu akan digeser kepada masyarakat melalui
anggaran negara.
6. Kebijakan Fiskal
Kebijakan £skal merupakan kebijakan vang paling am-
puh untuk mengatasi krisis dan menggerakkan kembali
perekonomian dalam keadaan dimana kebijakan moneter
tidak berfungsi untuk mempengaruhi permintaan agregat.
Permintaan aggregat itu dapat berupa pengeluaran Pe-
merintah Pusat maupun Daerah, pengeluaran invetasi dunia
usaha maupun pengeluaran konsumsi rumah tangga. Ber-
beda dengan program stabilisasi IMF yang biasa
19
, dewasa
ini semua negara berupaya untuk mencegah terjadinya resesi
ekonomi dengan mengintrodusir stimulus £skalnva sendiri-
sendiri. Stimulus £skal itu dapat berupa ekspansi pengelua-
ran negara maupun keringanan pembayaran pajak (tax cut).
Dalam hal ini, setiap negara memiliki programnya sendiri
sendiri tanpa adanya koordinasi antarnegara. Sebagaimana
kita alami pada saat krisis tahun 1997-98 salah satu elemen
pokok dari program stabilisasi IMF adalah untuk “mengen-
cangkan ikat pinggang” dengan memangkas pengeluaran
negara. Struktur “pengencangan ikat pinggang” yang tidak
adil telah meningkatkan tingkat pengangguran tenaga kerja
dan menimbulkan ketimpangan pendapatan masyarakat se-
hingga menyebabkan program IMF menjadi tidak populer.
19 Gosh, Atish, Charis Christodes, Jun Kim, Laura Papi, Uma Ramakrisnan,
Alun Thomas, and Juan Zalduendo, 2005. The Design of IMF-Supported Pro-
grams. Occasional paper No. 241. Washington, D.C.: IMF.
Kebijakan £skal hanva merupakan kebijakan temporer
yang bersifat sementara dan tidak dapat digunakan sebagai
kebijakan yang bersifat permanen, terus menerus karena akan
mengganggu solvabilitas perekonomian secara keseluruhan.
Stimulus £skal juga tidak dapat mengkompensir penurunan
ekspor. Keampuhan kebijakan £skal adalah tergantung pada
berbagai faktor, seperti besarnya nilai stimulus, waktu atau
timing maupun sasaran yang ditujunya. Untuk mengkoordi-
nasikan besarnya stimulus, waktu serta sasaran kebijakan
£skal itulah kenapa diperlukan koordinasi antarnegara. Di-
lihat dari besarnva nilai stimulus £skal, negara vang mampu
mengintrodusir stimulus £skal vang besar adalah negara
yang memiliki surplus neraca berjalan (current account) dan
cadangan luar negeri yang besar tapi pengeluaran konsumsi
masyarakatnya relatif rendah. Dewasa ini, negara seperti itu
adalah Jerman dan Cina sehingga dunia mengharapkan kerja
sama kedua negara raksasa ini untuk dapat menggerakkan
kembali perekonomian global. Selain kedua negara ini, ne-
gara lain anggota BRIC (Brazil, Rusia, India dan Cina) yang
selain berpenduduk padat tapi juga kaya, diharapkan dapat
meningkatkan pengeluaran konsumsi rumah tangga dan in-
vestasi sektor swastanya untuk mengatasi krisis global itu.
Informasi terakhir menggambakan bahwa cadangan devisa
Cina sudah mencapai $2 triliun, Rusia, setengah triliun US
dollar dan India sebesar $237,52 milliar
20
.
Sasaran £skal tercermin dari struktur pengeluaran mau-
pun penerimaan negara. Sasaran atau tujuan kebijakan £skal
itu hendaknya ditujukan untuk mencapai dua tujuan seka-
ligus, yakni: mencegah terjadinya kontraksi ekonomi yang
lebih mendalam dan mengurangi beban kelompok masy-
arakat miskin. Secara spesi£k, ada tiga sasaran kebijakan
£skal vang dapat diintrodusir untuk mencapai kedua tujuan
ganda ini. Pertama adalah menciptakan program dan proyek
pembangunan yang cepat mempunyai dampak untuk meng-
gerakkan kembali perekonomian nasional. Pertumbuhan
kembali perekonomian akan mengurangi pesimisme konsu-
men maupun dunia usaha akibat dari penurunan nilai aset
mereka dan kemerosotan kegiatan perekonomian. Sasaran
yang kedua adalah membantu golongan masyarakat yang
menderita akibat dari penurunan kegiatan perekonomian.
Dalam hal ini termasuk bantuan kepada pengusaha kecil
dan menengah yang menimbulkan dampak multiplier yang
maksimum karena selain banyak menyerap tenaga kerja juga
mengutamakan penggunaan produk dalam negeri. Ketiga
melakukan in·estasi untuk meningkatkan produkti£tas dan
tingkat laju pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Dalam
kategori ini termasuk investasi dalam infrastuktur, kesehatan
dan pendidikan masyarakat. Infrastruktur perekonomian
bukan saja berupa jalan raya dan jembatan serta pelabuhan
laut maupun udara. Infrastruktur termasuk perbaikan ling-
kungan hidup yang telah tercemar akibat dari perambahan
hutan dan pertambangan maupun urbanisasi. Tidak kurang
pentingnya adalah pengembangan alternatif untuk meman-
20 “Cadangan devisa China tembus US$2 triliun”, Bisnis Indonesia, Jum’at, 28
Nopember 2008, Ekonomi Global, hal 3.
15 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
faatkan berbagai sumber daya alam yang kita miliki, seperti
panas bumi dan tenaga surya maupun angin.
Stimulus £skal (ina bernilai sebesar 4 triliun vuan atau
$585,76 miliar yang setara dengan 1,5 persen dari PDB
nya. Sebesar 45 persen dari padanya akan digunakan un-
tuk pembangunan infrastruktur perekonomian seperti ke-
reta api super cepat, jalan raya, pelabuhan udara maupun
pembangunan tenaga listrik dan jaringan distrubusinya.
Sebesar 25 persen untuk rekonstruksi wilayah yang ditim-
pa bencana alam baru-baru ini. Sebesar 9,25 persen untuk
pembangunan wilayah pedesaan, 8,75 persen untuk peles-
tarian lingkungan, 7 persen untuk perumahan dan 4 persen
untuk kesehatan dan budaya
21
. Stimulus £skal tahun 2009
untuk mencegah kontraksi lebih lanjut ekonomi kan menca-
pai Yuan23.000 miliar ($252 miliar). Diantaranya termasuk
Yuan4.000 miliar ($43,8 miliar) berupa ekspansi pengeluaran
maupun keringanan pajak, sebesar Yuan3.000 miliar berupa
kredit untuk membantu dunia usaha apakah untuk membeli
surat-surat berharga yang mereka keluarkan ataukah mem-
berikan pinjaman lunak. Bantuan untuk menguatkan modal
industri perbankan dinaikkan dari Yuan2.000 miliar menjadi
Yuan12.000 miliar. Masing-masing sebesar Yuan1.000 miliar
dari ekspansi pengeluaran negara itu akan digunakan sebagai
subsidi bagi pengurangan pajak pemilikan rumah maupun
investasi dunia usaha serta untuk bantuan kepada Pemerin-
tah Daerah dalam rangka penciptaan lapangan kerja atau-
pun asuransi kerja (employment insurance)
22
.
Perkembangan APBN Indonesia dan cara pembelanjaan
de£sit anggaran dimuat dalam 1abel 3. \alaupun tingkat
harga-harga komoditi primer telah mengalami kenaikan
(boom) sebelum masa krisis, penerimaan negara dari pajak be-
lum banyak meningkat karena administrasi perpajakan kita
yang masih lemah. Salah satu elemen kebijakan stabilisasi
IMF tahun 1997-98 yang terus menerus dipertahankan oleh
Pemerintah Indonesia hingga saat sekarang ini adalah untuk
membatasi de£sit APBN antara 1 hingga 2 persen dari nilai
Produk Domestik Bruto kita. Bagaimana cara pembelan-
jaan de£sit APBN telah berubah dari waktu ke waktu. Un-
tuk mencegah terjadinva monetisasi de£sit APBN, seperti
pada masa Orde Lama, UU Bank Indonesia Tahun 1999
melarang pembelian SUN di pasar primer. Pada masa Orde
Lama itu, sebahagian besar dari de£sit APBN adalah ditutup
dengan pencetakan uang atau penjualan langsung surat ut-
ang negara pada BI. Karena keterbatasan kemampuannya,
Pemerintah Indonesia sangat terbatas untuk menyediakan
jumlah stimulus £skal untuk mengatasi krisis. Karena keter-
batasan tersebut maka prioritas pengeluaran negara maupun
struktur penerimaannya perlu dipertajam untuk mengurangi
distorsi ekonomi, mengurangi beban kelompok masyarakat
21 “China oers stimulus plan details”. The Wall Street Journal. Friday-Sunday,
November 28-30, 2008. hal. 9 dan “Aso unveils barriers to ‘tsunami; of woe”.
Finacial Times, December 13-14, 2008, hal. 3
22 “Japan announces package of emergency measures”. Financial Times
Weekend. December 13-14, 2008, hal. 1
miskin dan meningkatkan e£siensi maupun pertumbuhan
ekonomi.
Yang berubah dari satu rezim pemerintahan ke rezim
lainnva adalah strategi berutang untuk membelanjai de£sit
anggaran negara itu. Dalam masa pemerintahan Orde Baru,
seluruh de£sit APBN hanva dibelanjai oleh pinjaman luar
negeri berjangka panjang dan bersyarat lunak dari sumber
resmi. Untuk memudahkan negosiasi, dibentuklah IGGI/
CGI yang merupakan konsorsium semua negara-negara
donor. Disamping dilakukan oleh Kedutaan Besarnya mas-
ing-masing, pengawasan sehari-hari penggunaan pinjaman
dari IGGI/CGI dan penaksiran keperluan utang pada ta-
hun berikutnya dilakukan oleh kantor Bank Dunia dan IMF
di Jakarta. APBN vang de£sitnva dibelanjai oleh pinjaman
luar negeri dari sumber resmi itu dinamakan oleh Orde Baru
sebagai “anggaran belanja berimbang” yang sering ditam-
bah dengan embel-embel “dinamis”. Pada masa Orde Baru,
Pemerintah tidak pernah menjual obligasi atau SUN di pasar
komersil dan penggunaan kredit ekspor pun hanya terbatas
pada proyek petrokimia Chandra Asri milik kroni penguasa
politik pada masa itu. Jika Pemerintah mengalami kesulitan
pembayaran utang luar negerinya, Pemerintah melakukan
diplomasi bilateral dengan negara-negara donor terbesar,
seperti Jepang dan Amerika Serikat, untuk memberikan ke-
bijakan keringanan pembayaran utang. Keringanan itu da-
pat berupa pemberian utang baru dengan syarat-syarat yang
lebih ringan sehingga meringankan persyaratan utang secara
keseluruhan. Jalan yang terakhir adalah minta keringanan
pembayaran utang melalui Paris Club.
Strategi Pemerintah dalam berutang untuk menutup de-
£sit APBN mengalami perubahan mendasar pada era reíor-
masi. Perubahan strategi berutang itu, antara lain, karena
didorong oleh peningkatan rasa nasionalisme yang sempit
sehingga tidak mau dikenakan conditionality atau persyaratan
penggunaan utang. Kekecewaan terhadap IMF, telah men-
dorong pelunasan utang kepada lembaga itu sebelum jatuh
tempo. Utang pada IMF yang bunganya sebesar 4 persen se-
tahun dibayar dengan penjualan SUN di pasar internasional
dengan kupon yang mendekati 8 persen setahun.
7. Pembangunan Arsitektur Keuangan Regional dan
Internasional
Indonesia bukanlah negara kaya dalam bentuk materi
maupun gagasan pemikiran. Namun demikian, Indonesia
telah diundang menjadi anggota negara-negara kaya, G-20
sejak beberapa tahun yang lalu. Dalam kaitan itu, Indone-
sia perlu menjalankan diplomasi lebih aktif untuk mengejar
sasaran nasionalnya. Salah satu dari tujuan nasional Indo-
nesia itu dewasa ini adalah bagaimana caranya ikut masuk
daftar pengguna fasilitas currency swap dengan the Federal Re-
serve Bank Amerika Serikat untuk dapat mengatasi kesulitan
likuiditas valuta asing dan menstabilisir nilai tukar Rupiah.
Hal kedua yang dapat dilakukan oleh Indonesia adalah
16 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
untuk mendorong negara-negara kaya anggota ASEAN+3
untuk semakin menyempurnakan fasilitas currency swap yang
tersedia di kawasan ini, baik mengenai jumlahnya maupun
cara penggunaannva vang lebih neksibel dari Chiang Mai Ini-
tiatives. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Jepang, Cina dan
Korea Selatan di Fukuoka pada tanggal 13 Desember 2008
Ketiga negara ini menguasai lebih dari 75 persen ekonomi
Asia Timur dan ekspor mereka terutama ditujukan ke pasar
Amerika Serikat. Untuk menstabilisir kurs mata uang Won,
dalam KTT tersebut Jepang dan Cina masing-masing men-
ingkatkan jumlah fasilitas currency swap kepada Korea Sela-
tan dari sebelumnya sebesar $13 miliar menjadi $50 miliar
23
.
Ketiga negara juga sepakat untuk tidak meningkatkan tarif
perdagangan antar negara setidaknya dalam masa 12 bulan
mendatang. Di lain pihak belum ada kesepakatan mengenai
koordinasi kebijakan £skal dan kurs antar ketiga negara itu.
Dewasa ini, nilai tukar Yen terhadap dollar, sebesar Y88.4
yang terendah selama 13 tahun terakhir, dibandingkan
dengan diatas Y140 pada tahun 1998 sehingga menyebab-
kan erosi kompetisi ekpor Jepang di pasar dunia. Intervensi
kurs yang tidak terkoordinir menyebabkan ’beggar your neigh-
bors’ akan saling menyulitkan semua pihak.
Hal ketiga yang dapat diperankan oleh Indonesia adalah
menyakinkan negara-negara Asia bahwa sekaranglah waktu-
nya bagi mereka untuk menggunakan cadangan luar negeri
mereka yang besar itu untuk membangun infrastruktur eko-
nomi di Asia bagi kepentingan regional bersama
24
. Menurut
perkiraan ADB, sebesar 90 persen dari cadangan luar negeri
23 “Summit tests response to crisis”. The Wall Street Journal. Fiday-Sunday,
December 12-14, 2008.
24 Nasution, Anwar. “Global Savings-Investment Imbalances: What Role for
East Asia”. Asian Economic Papers 6:2, hal 1-13.
Asia Timur adalah diinvestasikan di luar kawasan itu, teru-
tama di Amerika Serikat. Keempat, mengajak negara-negara
Asia untuk mengkoordinasikan kebijakan penanggulangan
krisis guna mensinerjikan upaya individu tiap negara. Koor-
dinasi kebijakan itu termasuk kebijakan moneter, penetapan
kurs de·isa, kebijakan £skal maupun kebijakan ekonominva.
Kebijakan penetapan kurs devisa yang saling bersaing (beggar
thy neighbors) akan sangat merugikan kepentingan bersama.
Di lingkungan internasional, Indonesia dapat mengajak
semua pihak untuk membangun arsitektur keuangan inter-
nasional yang menguntungkan bagi semua pihak. Untuk
menyediakan modal, Indonesia perlu mengajak negara-ne-
gara kaya memberikan kontribusinya. Sebagaimana dapat
dilihat dari Tabel 1, negara-negara kaya itu adalah negara-ne-
gara penghasil minyak dan gas bumi seperti negara-negara
anggota OPEC, Norwegia dan Rusia. Sebagian daripadan-
ya merupakan negara-negara yang menjalankan strategi
pengembangan ekspor, seperti Jepang, Korea Selatan dan
Cina, Taiwan, Hong Kong dan Singapura. Selain dari mo-
dal, juga diperlukan international regulator untuk memoni-
tor implementasi perjanjian aturan main internasional dan
mendorong lalulintas modal antar negara dan bukan untuk
menciptakan regulasi perekonomian dunia seperti 40 tahun
yang lalu.
25
Usul seperti ini luput dari perhatian KTT G-20
di Washington, D.C., baru-baru ini.
Jakarta, 15 Desember 2008.
25 Carmen Reinhart dan Kenneth Rogo. 2008. We need an international
regulator. Financial Times. Wednesday, November 19, 2008. hal. 13.
17 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII

6XPEHU Truman, Edwin M. 2008. The Rise of Sovereign Wealth Funds: Impacts on US Foreign Policy and Economic
Interests. Testimony before the Committee on Foreign Affairs, US House of Representatives, Washington, May 21.
Washington, D.C.: Peterson Ìnstitute. Tabel 1. hal. 8
Tabel 1. Sovereign wealth funds
18 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Tabel 2. Indikator Makroekonomi Indonesia, 2003-2008

1enis Pengeluaran 2003 2004 2005 2006 2007 2008 Tw I
b)
2008 Tw II
b)
Pertumbuhan PDB 4.7 5 5.7 5.5 6.3 6.32 6.39
InIlasi IHK (vear on vear) 5.1 6.4 17.11 6.6 6.59 8.17 11.05
Nilai Tukar (Rp/US$) Rata-rata 8,572 8,940 9,713 9,167 9,140 9,217 9,225
Suku Bunga SBI (1 Bulan)/BI Rate seiak Juli 2005 8.31 7.43 12.75 9.75 8.00 7.96 8.73
Struktur PDB Menurut Pengeluaran (º)
a)
Konsumsi 69.7 72.3 71.3 69.8 71.3 69.5 68.9
- Rumah Tangga 62.3 64.3 63.3 61.4 63.0 62.7 60.4
- Pemerintah 7.4 8.0 8.0 8.4 8.3 6.8 8.6
Investasi 23.4 23.2 24.7 24.9 24.7 27.0 30.5
- Pembentukan Modal Tetap Domestik Bruto 17.8 21.6 23.2 23.6 24.7 25.7 26.0
- Perubahan Stok 5.6 1.5 1.4 1.2 0.0 -0.1 0.5
Diskrepansi Statistik -7.5 -3.7 -1.7 -2.0 -0.7 1.5 4.0
Ekspor Bersih 6.8 4.5 4.1 5.3 4.0 3.4 0.6
- Ekspor Barang dan Jasa 27.9 31.0 33.5 30.4 29.2 30.9 30.7
- Impor Barang dan Jasa 21.0 26.5 29.4 25.1 25.2 27.5 30.1
PDB 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
Struktur PDB Menurut Lapangan Usaha (º)
a)
Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kehutanan, dan
Perikanan
15.5 14.9 14.5 14.2 13.8 13.8 14.1
Pertambangan dan Penggalian 11.3 9.7 9.4 9.1 8.7 8.4 8.2
Industri Pengolahan 27.8 28.4 28.1 27.8 27.4 27.0 26.7
Listrik, Gas, dan Air Bersih 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7 0.7
Konstruksi 5.6 5.8 5.9 6.1 6.2 6.2 6.2
Perdagangan, Hotel dan Restoran 16.2 16.4 16.8 16.9 17.3 17.2 17.3
Pengangkutan dan Komunikasi 5.1 5.8 6.2 6.8 7.3 7.8 7.9
Keuangan, Real Estate dan Jasa Perusahaan 8.7 14.0 9.2 9.2 9.4 9.6 9.5
Jasa-iasa 9.2 9.2 9.2 9.2 9.3 9.3 9.3
PDB 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0 100.0
Tingkat Pengangguran Terbuka 9.5 9.4 10,8 10,3 9.1 8.46 -
Tingkat Kemiskinan 17.4 16.7 16,0 17,7 16.6 15.42
PDB Per Kapita (Ribu Rp) 99,574 10,506 12,700 15,000 17,600 - -
PDB Per Kapita (US $) 1,116 1,167 1,321 1,663 1,947 - -
Agregat Moneter
Pertumbuhan M2 (Akhir Periode) 8.12 8.14 16.42 14.87 18.89 15.32 17.05
Pertumbuhan M1 (Akhir Periode) 16.60 13.41 11.07 28.08 27.63 22.79 22.37
Pertumbuhan Uang Primer (Akhir Periode) 20.42 19.81 20.22 23.90 27.77 19.40 20.68
Suku Bunga
PUAB (Overnight) 8.18 6.86 10.03 5.97 6.5 8.01 8.43
Deposito 6.62 6.43 10.43 8.96 7.19 7.26 7.49
Kredit Modal Keria 15.07 13.41 15.18 15.07 13.0 12.88 12.99
Kredit Investasi 15.68 14.05 14.92 15.1 13.01 21.59 12.51
Neraca Pembayaran
DSR (Debt Servive Ratio) 34.1 27.1 17.3 24.8 19.2 16.3 18.0
Transaksi Berialan/PDB 3.40 0.60 0.10 2.90 2.50 2.31 -1.00
Cadangan Devisa Setara Impor dan Pembayaran
Utang Luar Negeri Pemerintah (Bulan)
7.1 5.5 4.3 4.5 5.7 5.2 5.1

Sumber: Bank Indonesia, Laporan Perekonomian Indonesia 2007, hal.7. tabel 1.1.
a) BPS, Berita Resmi Statistik, No. 43/08/Th. XI, 14 Agustus 2008, hal 6, tabel 5.
b) Bank Indonesia, Indikator Terkini Ekonomi dan Moneter, Oktober 2008.

19 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII

Tabel 3. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara, 2003-2009
(º GDP)

2003 2004 2005 2006 2007 2008
a)
2009
a)

No Items
APBN
Realisasi
APBN
Realisasi
APBN
Realisasi
APBN
Realisasi
APBN
APBN P RAPBN
1 Pendapatan Negara
1
16.8 17.6 17.8 19.1 17.9 20.0 19.3
2 Pengeluaran Rutin 9.2 10.3 10.9 11.5 11.1 13.8 13.8
3 Tabungan Pemerintah (1-2) 7.6 7.3 7.0 7.6 6.8 6.2 5.5
4 Pengeluaran Pembangunan
2
3.4 2.7 2.1 1.8 1.6 1.8 1.7
5 Belania ke Daerah
3
5.9 5.7 5.4 6.8 6.4 6.5 5.7
6 Total Belania Negara (2¹4¹5) 18.5 18.6 18.4 20.1 19.1 22.1 21.2
7 Keseimbangan Primer 1.5 1.7 1.8 1.4 2.0 0.0 0.2
8 Surplus/DeIisit (3-4-5) (1.7) (1.0) (0.5) (1.0) (1.1) (2.1) (1.9)
9 Pembiayaan 1.7 1.0 0.5 1.0 1.1 2.1 1.9
10 Pembiayaan Dalam Negeri 1.7 2.3 0.9 1.6 1.7 2.4 2.1
11 Pembiayaan Luar Negeri, net 0.0 (1.2) (0.4) (0.5) (0.6) (0.3) (0.2)
- Piniaman Program 0.1 0.8 0.4 0.4 0.5 0.6 0.4
- Piniaman Proyek 0.9 0.2 0.5 0.6 0.4 0.5 0.5

- Cicilan Pokok
Utang Luar Negeri
(1.0) (2.0) (1.3) (1.6) (1.5) (1.4) (1.1)

Keterangan:
1. Pendapatan negara termasuk hibah
2. Seiak tahun 2005, belania pemerintah menggunakan Iormat baru yakni anggaran belania terpadu (unifiea buaget)
yang menghilangkan klasiIikasi pengeluaran rutin dan pengeluaran pembangunan. Oleh karena itu data pengeluaran
pembangunan tahun 2005-2009 menggunakan data Belania Modal
3. Termasuk dana otonomi khusus

Sumber: Bank Indonesia, Laporan Perekonomian Indonesia 2007
a) Departemen Keuangan, Data-Data Pokok APBN 2008-2009, Hal 1, Tabel 1.


20 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Yth. Saudara Ketua Mahkamah Agung,
Yth. Saudara Jaksa Agung,
Yth. Saudara Kapolri,
Yth Saudara Ketua KPK,
Yth. Saudara Ketua PPATK,
Yth. Para Pimpinan Teras POLRI dan BPK-RI,
Yth. Para Kapolda dan Kalan BPK-RI,
Yth. Saudara-Saudara Para Undangan,
Hadirin dan Hadirat yang saya muliakan
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera Bagi Kita Semua,
Mengawali acara ini, marilah kita panjatkan Puji Syukur
kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, yang telah
melimpahkan RahmatNya kepada kita semua sehingga pada
siang hari ini kita dapat berkumpul di Auditorium BPK-RI.
Tujuan pokok pertemuan kita siang ini adalah untuk menyak-
sikan acara penandatanganan kesepakatan bersama antara
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK-RI)
dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI)
tentang Tindak Lanjut Penegakan Hukum terhadap Hasil
Pemeriksaan BPK-RI Yang Berindikasi Tindak Pidana.
Kesepakatan yang ditandatangani hari ini memiliki arti
yang sangat penting. Walaupun kerjasama antara BPK-RI
dengan POLRI sudah terjalin lama, baru kali ini ada kesepa-
katan formal antar kedua instansi. Kesepakatan ini menjadi
semakin penting karena sukses tidaknya reformasi sistem
sosial yang kita lakukan dewasa ini adalah juga sangat ter-
gantung pada kualitas pekerjaan kedua instansi kita, yakni:
BPK-RI dan POLRI. Sebagaimana disebut dalam Pasal
23E, UUD 1945 mendirikan BPK-RI hanya untuk satu tu-
juan yakni untuk: ”memeriksa pengelolaan dan tanggungja-
wab tentang keuangan negara”. Sementara itu, tugas POLRI
menurut UU No. 2 Tahun 2002 adalah: ”merupakan alat
negara yang berperan dalam memelihara keamanan dan ket-
ertiban masyarakat, menegakkan hukum, serta memberikan
perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada masyar-
akat dalam rangka terpeliharanya keamanan dalam negeri”.
Tanpa adanya transparansi dan akuntabilitas keuangan ne-
gara maupun ketertiban hukum tidak mungkin untuk dapat
mewujudkan sistem politik yang demokratis, otonomi dae-
rah maupun memanfaatkan globalisasi seperti yang dicita
citakan oleh reformasi sistem sosial yang telah kita mulai
sejak berakhirnya pemerintahan Orde Baru pada awal tahun
1998.
Sebagaimana diketahui, baik POLRI maupun BPK-RI
telah mengalami reformasi yang sangat mendasar. Refor-
SAMBUTAN KETUA BPK-RI
PADA
PENANDATANGANAN KESEPAKATAN BERSAMA
ANTARA BPK-RI DENGAN POLRI
JAKARTA, 21 NOVEMBER 2008
21 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
masi POLRI dilakukan berdasarkan UU No. 2 Tahun 2002
Tentang Kepolisian Negara R.I. tanggal 8 Januari 2002 se-
dangkan reformasi BPK-RI dilakukan berdasarkan UU No.
15 Tahun 2006 tentang Badan Pemeriksa Keuangan tanggal
30 Oktober 2006. Dimasa pergolakan politik-keamanan ser-
ta pemerintahan otoriter masa lalu, POLRI adalah merupa-
kan bagian dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia
(ABRI). Pada masa itu, POLRI hanya merupakan salah satu
komponen alat negara dalam pemeliharaan keamanan dan
ketertiban masyarakat maupun dalam penegakan hukum.
Pada masa itu, aparat teritorial ABRI non POLRI, seperti
Babinsa, Koramil dan Kodim jauh lebih berperan daripada
organisasi POLRI.
Dewasa ini, POLRI telah dijadikan sebagai lembaga
yang berdiri sendiri yang langsung berada dibawah Presiden.
Kapolri bukan saja memimpin penyelenggaraan kegiatan
operasional kepolisian dan pembinaan kemampuannya. Ka-
polri sekaligus menetapkan, menyelenggarakan dan men-
gendalikan kebijakan teknis kepolisian. Kewenangan Kapol-
ri itu jauh lebih luas daripada kewenangan Kepala Polisi di
negara-negara lain. Di berbagai negara lain itu, pengendalian
dan pembinaan kepolisian adalah dilakukan oleh Departe-
men Pertahanan ataupun oleh Departemen Dalam Negeri.
Hadirin yang saya muliakan,
Seperti halnya dengan POLRI, BPK-RI dalam pemer-
intahan otoriter dimasa lalu adalah berada dibawah kendali
Pemerintah dan bukan merupakan lembaga yang bebas dan
mandiri sesuai dengan ketentuan UUD 1945. Pemerintah
mengendalikan BPK melalui kendali atas organisasinya, per-
sonilnya, anggarannya, objek pemeriksaan maupun laporan
pemeriksaannya. Dimasa lalu itu, berbagai instansi pemer-
intah (seperti Ditjen Pajak dan Bea Cukai, Bank Indonesia
dan bank-bank negara serta sektor perminyakan termasuk
Pertamina) bukan merupakan objek pemeriksaan BPK-RI.
Demikian juga dengan berbagai jenis pungutan dan PNBP
serta kegiatan bisnis berbagai instansi pemerintah adalah
juga diluar kewenangan pemeriksaan BPK-RI. BPK-RI
pun tidak berwenang untuk memeriksa uang negara yang
disimpan dalam ribuan rekening yang tidak terkonsolidir
dan, bahkan, disimpan pada rekening pribadi para pejabat
negara, termasuk yang sudah lama meninggal dunia. Seka-
rang sudah semakin jelas bahwa ternyata bahwa Pemerintah
pun tidak punya daftar inventaris kekayaan maupun hutang
negara. Sementara itu, dalam pemerintahan otoriter masa
lalu, nada laporan pemeriksaan BPK-RI tidak boleh ”meng-
ganggu stabilitas nasional”.
Perubahan ketiga UUD 1945 serta UU No. 15 Tahun
2006 telah memulihkan kembali kemandirian dan kebeba-
san BPK-RI. Pemulihan kemandirian dan kebebasan BPK-
RI itu diharapkan akan dapat membantu untuk mengoreksi
berbagai dampak negatip dari buruknya sistem manajemen
dan pertanggung jawaban keuangan negara selama ini.
Dengan semakin baiknya sistem manajemen keuangan ne-
gara itu diharapkan, pertama, Pemerintah akan setiap saat
mengetahui posisi keuangan maupun kondisi likuiditasnya.
Kedua, Rakyat akan semakin sadar membayar pajak sete-
lah tahu untuk apa pajak dan hutang negara digunakan serta
tahu tentang kewajiban kontijensi yang akan dihadapinya.
Sementara itu, DPR pun akan dapat menjalankan hak bud-
jetnya lebih baik. Ketiga, mengurangi rasa kecurigaan, rasa
ketidak adilan maupun kecemburuan antar sesama daerah
maupun antara daerah dengan Pusat yang selama ini telah
menyebabkan gejolak politik dan pemberontakan. Keempat,
meningkatkan peringkat Surat Utang Negara (SUN) dan Su-
rat Utang Pemda yang pada gilirannya dapat menurunkan
beban pembayaran kuponnya.
Upaya peningkatan peringkat SUN menjadi sangat pent-
ing setelah berubahnya strategi pinjaman negara. Dimasa
Orde Baru seluruh de£sit APBN hanva dibelanjai dari pinja-
man luar negeri dari sumber resmi berjangka panjang dengan
persyaratan lunak dari negara-negara donor yang tergabung
dalam IGGI/CGI. Setelah reformasi muncul tuntutan poli-
tik untuk tidak lagi menerima bantuan dari IGGI/CGI mau-
pun pinjaman dari IMF yang dianggap memiliki persyaratan
yang terlalu berat dampak politiknya. Mulai tahun 2004 In-
donesia telah menutup de£sit APBN dengan menjual SUN
di pasar komersil dalam negeri dan luar negeri. Dewasa ini,
peralatan POLRI dan TNI pun adalah dibelanjai dengan
menggunakan pembiayaan kredit ekspor yang tingkat suku
bunganya sedikit dibawah tingkat suku bunga pasar.
Hadirin yang saya muliakan,
Dalam negara kesatuan Republik Indonesia, POLRI
maupun BPK-RI adalah merupakan instansi vertikal. Ar-
tinya, POLRI melaksanakan peran dan fungsi kepolisian di
seluruh wilayah negara Republik Indonesia. BPK-RI pun
diberikan tugas oleh UUD 1945 serta UU No. 15 Tahun
2006 untuk memeriksa setidaknya tiga lapis pemerintahan
di Indonesia, yakni: Pusat, Provinsi dan Kabupaten/Kota
serta melaporkan hasil pemeriksaannya kepada DPR-RI,
DPD-RI dan DPRD Provinsi/Kabupaten/Kota.
Pemeriksaan keuangan daerah oleh BPK-RI adalah me-
rupakan salah satu komponen perekat negara kesatuan Re-
publik Indonesia dan untuk mencegah terjadinya kembali
pengalaman pahit dimasa lalu. Pada tahun 1950an, pimpi-
nan PRRI/Permesta melakukan barter yang katanya untuk
mencari sumber pembelanjaan bagi pembangunan daerahn-
ya. Mereka juga aktip mencari bantuan dari berbagai negara
donor di luar negeri. Ternyata bahwa hasil barter dan ban-
tuan asing itu mereka gunakan bukan untuk membangun
daerah, tapi untuk membeli peralatan perang berontak me-
lawan Pemerintah Pusat.
Sebagai lembaga negara yang diharapkan dapat
menegakkan transparansi dan akuntabilitas keuangan ne-
gara, BPK-RI telah memberikan setidaknya tiga contoh dan
teladan (‘lead by example’). Keteladan yang pertama adalah
dalam pembelanjaan kegiatannya. Mulai sejak tahun 2005,
seluruh pembelanjaan kegiatan BPK-RI hanya bersum-
ber dari anggarannya sendiri. Sejak itu, BPK-RI tidak lagi
meminta biaya pemeriksaan dari auditees, walaupun di luar
negeri lembaga seperti BPK-RI dapat mengenakan biaya
22 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
pemeriksaan kepada auditees dengan tarip komersil. Bersa-
maan dengan itu, BPK-RI pun telah menghentikan kegiatan
usaha milik yayasannya sebagai salah satu sumber anggaran
non-bujeter.
Dalam masa empat tahun terakhir, DPR-RI dan Pemer-
intah telah dapat meningkatkan anggaran BPK-RI lebih
dari 5 kali lipat, dari Rp329 miliar pada tahun 2005 men-
jadi Rp1.613 miliar pada tahun 2008. Ini hanya dapat ter-
jadi setelah mereka melihat adanya peningkatan kualitas
pekerjaan BPK-RI dalam menghemat pengeluaran negara
dan meningkatkan penerimaannya serta ikut dalam upaya
memperbaiki sistem pengelolaan dan pertanggungan jawab
keuangan negara. Peningkatan anggaran itu telah mening-
katkan penghasilan karyawan BPK-RI, perbaikan fasilitas
kerja maupun pendidikan serta pelatihan personilnya.
Keteladanan BPK-RI yang kedua tercermin dalam
Pasal 32 UU No. 15 Tahun 2006 yang menetapkan bahwa
pemeriksaan dan tanggungjawab keuangan BPK dilaku-
kan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP). KAP memeriksa
BPK-RI itu adalah ditunjuk oleh DPR-RI berdasarkan usul
BPK-RI dan Pemerintah. Sejak tahun 2006 KAP yang me-
meriksa laporan keuangan BPK adalah KAP Hadori Yunus
dan Rekan. KAP tersebut telah memberikan opini tanpa
pengecualian atas pemeriksaan laporan keuangan BPK un-
tuk tahun 2007.
Keteladanan BPK-RI yang ketiga dalam mewujud-
kan transparansi dan akuntabilitas keuangan negara adalah
tercermin dalam Pasal 33 UU No. 15 Tahun 2006. Pasal ini
menetapkan bahwa secara periodik, mutu pemeriksaan BPK
wajib di telaah atau reviu oleh BPK negara lain. Reviu terse-
but akan menelaah apakah mutu pemeriksaan BPK telah
sesuai dengan standar, sistem yang berlaku secara interna-
sional. Reviu dimaksud dilakukan oleh BPK New Zealand
pada tahun 2004 dan akan dilakukan oleh BPK Negeri Be-
landa untuk tahun 2009.
Hadirin yang saya hormati,
Penandatanganan kesepakatan bersama antara BPK-RI
dengan POLRI yang dilakukan hari ini adalah merupakan
wujud nyata komitmen dari kedua instansi terkait dalam
upaya meminimalisir penyimpangan keuangan negara. Kes-
epakatan bersama ini bertujuan agar segera dapat dilaku-
kan proses penegakan hukum oleh POLRI terhadap hasil
pemeriksaan BPK-RI sesuai peraturan perundang-undan-
gan yang berlaku. Selain itu, dengan kesepakatan ini akan
semakin dapat dicapai kepastian hukum terhadap hasil
pemeriksaan BPK-RI.
Perlu diketahui bahwa dalam masa empat tahun pimpi-
nan sekarang ini menjabat di BPK-RI, sejak awal Desem-
ber 2004, telah banyak hasil pemeriksaan yang berindikasi
pidana yang telah dilaporkan kepada POLRI. Dari tahun
2004 hingga Mei 2008 temuan pemeriksaan BPK yang su-
dah dilaporkan kepada POLRI adalah sebanyak 17 temuan
dengan nilai sebesar Rp19,37 trliliun. Tujuan kesepakatan
bersama antara BPK-RI dengan POLRI ini selain untuk
memenuhi tuntutan undang-undang adalah juga sebagai
upaya untuk menunjukkan kepada masyarakat luas dan dun-
ia internasional akan seriusnya lembaga-lembaga negara di
23 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Indonesia pada upaya pemberantasan korupsi.
Dalam kesepakatan bersama tersebut diatur pula bahwa
hasil pemeriksaan BPK-RI yang diserahkan kepada POLRI
disyaratkan akan adanya pemaparan. Hal ini merupakan ba-
bak baru dalam kerjasama antara BPK-RI dengan POLRI.
Apabila pada saat pemaparan dirasa-
kan terdapat bukti permulaan yang
tidak cukup, BPK-RI dapat segera
melengkapinya. Dengan demikian,
kedepan, diharapkan tidak lagi akan
terjadi kasus dihentikan ditingkat
penyidikan maupun ditingkat pe-
nuntutan. Demikian juga dengan
permohonan perhitungan kerugian
negara yang diajukan POLRI harus
melalui pemaparan sehingga pada
saat itu juga dapat langsung diketa-
hui apakah perhitungan kerugian ne-
gara yang dimintakan masuk dalam
kompetensi BPK-RI. Selain itu, juga
diatur bahwa dalam rangka men-
jamin eíekti£tas penanganan hasil-
hasil pemeriksaan yang diserahkan
kepada POLRI akan memberitahu-
kan secara tertulis perkembangan-
nya. Khusus untuk kasus-kasus yang
menjadi perhatian publik atau per-
hatian POLRI dan BPK-RI, pihak
POLRI dapat menyampaikan perkembangan penanganan-
nya secara lisan melalui pemaparan.
Saya mengharapkan agar tindak lanjut kesepakatan ber-
sama antara BPK-RI dengan POLRI tidak hanya berhenti di
tingkat pusat saja namun juga harus ditindaklanjuti oleh in-
stitusi BPK-RI dan Kepolisian yang berada di tingkat daerah
di seluruh Indonesia. Oleh karena itu setelah penandatan-
ganan kesepakatan ini diharapkan para Kepala Perwakilan
BPK-RI maupun para Kapolda segera memulai kerjasama
pemberantasan tindak pidana keuangan negara yang terjadi
di daerah. Di era otonomi daerah saat ini, transfer dana dari
pemerintah pusat kepada pemerintah daerah setiap tahun
telah menjadi semakin besar. Namun hal tersebut tidak di-
imbangi dengan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan
keuangan yang baik oleh pemerintah daerah. Sejak tahun
2004 hingga 2007 transparansi dan akuntabilitas keuangan
daerah justru telah semakin memburuk keadaannya, sehing-
ga terdapat banyak penyimpangan-penyimpangan.
Hadirin yang saya muliakan,
Perlu diketahui, komitmen BPK-RI untuk mencegah
dan memberantas tindak pidana khususnya terkait dengan
korupsi dan pencucian uang (money laundering) tidak hanya
terbatas dalam tataran kerjasama dengan institusi di dalam
negeri. Dalam tataran internasional, BPK-RI adalah men-
jadi anggota International Organization of Supreme Audit In-
stitutions (INTOSAI) Working Group on Fights Againts Interna-
tional Money Laundering and Corruption (FAIMLAC). Melalui
FAIMLAC, negara-negara anggota bertukar informasi dan
pengalaman dalam pemberantasan korupsi dan pencucian
uang serta menarik kembali uang hasil korupsi itu melalui
(1) pertukaran informasi mengenai strategi pemberantasan,
praktek-praktek dan metodologi pemeriksaan (2) kerjasa-
ma yang saling menguntungkan
dengan BPK negara lain dalam
pemberantasan korupsi di mas-
ing-masing negara, serta (3) tukar
menukar informasi dan saling
membantu penarikan kembali
uang hasil korupsi yang telah
dipindahkan ke negara lain. Ne-
gara-negara yang telah berhasil
untuk menarik kembali hasil ko-
rupsi mantan Kepala Negaranya
adalah Peru, Nigeria dan Phili-
pina. Dalam pertemuan di Cairo
bulan Juli y.l., disepakati bahwa
pertemuan FAIMLAC selanjut-
nya akan diselenggarakan di In-
donesia pada bulan Juli 2009.
Hadirin yang saya muliakan,
Dalam tiga tahun terakhir,
didalam negeri, BPK-RI telah
mengadakan kesepakatan bersa-
ma dengan sejumlah institusi ne-
gara yang terkait dengan pemberantasan korupsi seperti Ke-
jaksaan Agung, KPK, dan PPATK. Tujuan dari kerjasama
antara BPK-RI dengan sejumlah lembaga penegak hukum
tersebut adalah untuk mensinergikan tugas, kewenangan,
dan kemampuan masing-masing. Kewenangan dan kemam-
puan BPK-RI adalah dalam bidang pemeriksaan keuangan
negara. Dilain pihak, penegak hukum, termasuk Kepolisian,
Kejaksaan, dan KPK memiliki mandat dan kompetensi se-
bagai penyidik.
Desain kesepakatan antara BPK-RI dengan POLRI di-
harapkan tetap saling menghormati dan menjunjung tinggi
tugas dan kewenangannya masing-masing. Mengacu pada
pengalaman yang baik dengan KPK, BPK-RI pun mengajak
POLRI untuk dapat melakukan audit investigasi bersama
guna mensinerjikan kewenangan dan kompetensinya mas-
ing-masing untuk dapat mempercepat penanganan kasus
tindak pidana tertentu.
Demikian sambutan saya.
:DELOODKL7DXÀN:DOKLGD\DK
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA
Ketua,
Prof. Dr. Anwar Nasution
Penandatanganan kesepakatan
bersama antara BPK-RI dengan
POLRI yang dilakukan hari ini
adalah merupakan wujud nyata
komitmen dari kedua instansi
terkait dalam upaya meminimalisir
penyimpangan keuangan negara.
Kesepakatan bersama ini bertujuan
agar segera dapat dilakukan proses
penegakan hukum oleh POLRI ter-
hadap hasil pemeriksaan BPK-RI
sesuai peraturan perundang-unda-
ngan yang berlaku.
24 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Perencanaan Audit Laporan
Keuangan di ANAO
Oleh: Firdaus Amyar, SE, MA, Ak Kasubag Pelaksanaan Balai Diklat BPK-RI di Makssar
LAPORAN UTAMA
Selama tu-
juh bulan pe-
nulis melaku-
kan program
s e c o nd me nt
(magang) un-
tuk melaku-
kan audit lapo-
ran keuangan
di Australian
National Audit
Office. Penulis berkesempatan untuk
melakukan satu siklus audit laporan
keuangan penuh (perencanaan, in-
terim, hard close/pre-final, dan final/
year-end) pada tiga entitas di Australia
(Department of Education Science
and Training, Health Services Austra-
lia Ltd, dan House of Representatives).
Seluruh auditor dalam tim penugasan
merupakan pegawai ANAO dan pe-
nulis diikutsertakan sebagai salah satu
anggota tim.
Tulisan berikut merupakan hasil
pengalaman penulis saat melakukan
perencanaan audit (audit planning) di
ANAO. Sebelum menjelaskan peren-
canaan audit, penulis sedikit mengu-
raikan struktur organisasi ANAO.
Struktur Organisasi ANAO
Struktur Organisasi pemeriksaan
ANAO dipecah menjadi dua kelom-
pok, yaitu AASG (Assurance Audit
Services Group) dan PASG (Perform-
ance Audit Services Group). Berdasar-
kan pembagian tersebut, ANAO hanya
mengenal dua macam audit utama
yaitu Audit Laporan Keuangan yang
dikelola oleh AASG dan Audit Kinerja
yang dikelola oleh PASG. Ada audit
pendukung yaitu IT audit yang bias-
anya dilaksanakan pada entitas yang
laporan keuangannya akan diaudit
oleh ANAO. Masing-masing branch/
group diketuai oleh beberapa Executive
Director yang juga merupakan Signing
Officer (penanda tangan opini laporan
keuangan). Di atas Executive Director
terdapat Group Executive Director yang
langsung bertanggung jawab kepada
Auditor-General (Ketua ANAO).
Auditor General merupakan pe-
megang jabatan tertinggi di ANAO.
Auditor General merupakan pembuat
keputusan akhir dari seluruh major
issues. Auditor General mendapatkan
saran dan pendapat dari para Group
Executive Director, Signing Officer, dan
Qualification Committee (yang diketuai
oleh Deputy Auditor General).
Qualification Committee (QC)
terdiri dari Group Executive Director
(dua orang), Kepala Professional Services
Branch (PSB) dan seluruh Signing Offi-
cer. Tugas utama komite ini adalah un-
tuk memberikan nasihat atau pendapat
kepada Signing Officer terhadap ma-
salah-masalah yang mempengaruhi
kualifikasi laporan keuangan ataupun
pelanggaran terhadap peraturan perun-
dang-undangan yang akan dilaporkan
dalam laporan audit (opini audit).
Professional Services Branch
(PSB) mempunyai tugas utama untuk
mengembangkan dan memantau met-
odologi audit dan melaksanakan pro-
gramquality assurance untuk penyelek-
sian objek-objek audit setiap tahunnya.
PSB punya peranan penting untuk
mengidentifikasi inkonsistensi praktik
akuntansi di lembaga pemerintahan
terhadap standar akuntansi dan menca-
ri solusi yang tepat untuk masalah yang
sama (konsistensi). PSB diketuai oleh
senior executive yang sudah berpengala-
man dan didukung oleh National Tech-
nical Director (NTD). Minimal setiap
bulan, PSB juga melakukan technical
update kepada seluruh auditor untuk
berbagai masalah dan issue kebijakan
akuntansi atupun audit yang muncul.
Kita juga dapat bekonsultasi secara
langsung dengan PSB bila di lapangan
mengalami kendala teknis pemeriksaan
seperti prosedur audit, penentuan uji
petik, materialitas, kebijakan akuntansi
dan lain-lain. Penulis pernah berkon-
sultasi secara on-line dengan PSB keti-
ka mengalami kesulitan dalam penen-
tuan materialitas di salah satu entitas.
PSB merespon dan memberikan solusi
secara tepat dan cepat.
Signing Officer beranggotakan
senior executive yang berpengalaman.
Untuk auditee yang memiliki risiko
rendah dapat diemban oleh senior ma-
nager (supervisor) yang berpengalaman.
Peran dari signing officer adalah untuk
memastikan bahwa perencanaan audit
berada pada arah yang tepat, mereviu
hasilnya, mengeluarkan managemen
letter dengan rekomendasi yang sesuai
dan melakukan komunikasi dengan
auditee. Komunikasi ini meliputi ha-
dir dalam rapat audit bersama Komite
Audite dimana strategi audit disampai-
kan, penyampaian hasil ineterim audit
dan penyampaian hasil audit terakhir.
Signing Officer merupakan penanda-
tangan opini audit.
Perencanaan Audit Laporan Keuan-
gan (Audit Planning)
Selama melaksanakan program se-
condment, penulis ikut terlibat dalam
satu siklus audit penuh, termasuk per-
encanaan. Satu tim penugasan umum-
nya terdiri dari: seorang signing officer,
seorang manajer audit (supervisor),
seorang ketua tim, tiga orang anggota
tim (jumlahnya tergantung besar/kecil-
nya entitas yang diperiksa)
Tujuan dari Perencanaan Audit
adalah untuk: (1) mendapatkan pema-
haman terhadap entitas yang diperiksa;
(2) mengidentifikasi dan menga-
nalisa risiko-risiko yang terjadi; dan
25 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
(3) mengembangkan pendekatan audit
untuk menjawab risiko-risiko yang te-
lah teridentifikasi.
Lama dan luasnya perencanaan
audit tergantung dari material atau
tidaknya entitas yang diperiksa (audi-
tee). Semakin material entitas, semakin
lama waktu yang dibutuhkan untuk
perencanaan audit. Tingkat meteri-
alitas entitas ditentukan dari berbagai
faktor, diantaranya adalah jumlah ang-
garan yang dikelola, risiko entitas dan
risiko audit. Untuk entitas yang mate-
rial, perencanaan audit umunya mulai
dilakukan pada Oktober (tanggal per-
laporan keuangan di Australia berakhir
pada 30 Juni) sampai dengan Januari.
Jadi sekitar 5 bulan ketika tahun angga-
ran yang akan diperiksa telah berjalan,
mulai dilakukan perencanaan audit.
Rata-rata memakan waktu satu sampai
empat minggu (tergantung tingkat me-
terialitasnya).
Kertas kerja pemeriksaan untuk
mendokumentasikan Perencanaan Au-
dit tersedia secara elektronik (ANAO
memakai aplikasi software TeamMate
buatan Price WaterhouseCoopers). Temp-
lates, standard, dan panduan untuk
perencanaan audit yang dikeluarkan
ANAO maupun institusi lainnya juga
tersedia secara elektronik sehingga: ter-
jadinya konsistensi perencanaan audit
untuk semua tim; perubahan, reviu
dan feedback dapat secara cepat dilaku-
kan oleh manajer audit/supervisor.
Langkah-langkah yang dilakukan
penulis selama melaksananakan peren-
canaan audit pada tiga entitas tersebut
di atas adalah sebagai berikut:
1. Tim Penugasan Audit
1.1 Menentukan Tim Penugasan
Audit
Pertama-tama adalah mengidenti-
fikasi tim penugasan audit (termasuk
IT audit dan tim spesialist jika diperlu-
kan). Independensi profesional semua
anggota tim harus dipertimbangkan
dengan kewajiban ditandatanganinya
Deklarasi Independensi oleh setiap
anggota tim. Salah satu isinya adalah
menyatakan bahwa anggota tim tidak
punya keterkaitan dan konflik kepent-
ingan (conflict of interest) dengan enti-
tas yang diperiksa.
Dalam menyusun tim, ANAO
mengevaluasi tingkat kompetensi, pen-
galaman dari setiap anggota tim, peran
dan tanggung jawab serta perbedaan
kemampuan dan kecakapannya. Kes-
emuanya dievaluasi dan dituangkan
dalam formulir (template) yang sudah
disediakan oleh ANAO dan dapat di-
akses seluruh anggota tim.
Untuk entitas yang memerlukan
pengetahuan teknis khusus, ANAO
memastikan semua anggota tim memi-
liki pengetahuan yang diperlukan. Jika
anggota tim tidak memiliki pengeta-
huan khusus yang diperlukan, ANAO
harus memastikan seluruh anggota tim
pernah mengikuti pelatihan/kursus
teknis yang sesuai (contohnya adalah
pengetahuan tentang asuransi, pensiun
dan lain-lain).
Manajer Audit (Supervisor) harus
mengadakan rapat perencanaan audit
yang harus dihadiri oleh Signing Offic-
er dan Second Signing Officer (jika ada),
IT Audit dan tenaga ahli yang diperlu-
kan (jika ada). Rapat tersebut umum-
nya dilaksanakan setelah diadakannya
rapat Perencanaan dengan entitas yang
diperiksa. Rapat harus mencakup hal-
hal sebagai berikut:
(a) mereviu hal-hal yang muncul
selama pelaksanaan audit sebel-
umnya, termasuk efektivitas dan
efisiensi audit sebelumnya.
(b) menyepakati dan mendoku-
mentasikan peran dan tujuan
tim penugasan audit.
(c) Sikap kecurigaan kita atas salah
saji material laporan keuan-
gan entitas, termasuk salah saji
karena kecurangan (fraud) atau
error.
(d) Mengidentifikasi dan mencari
strategi untuk merespon risiko
yang teridentifikasi.
(e) Mengidentifikasi perubahan
signifikan dari tahun lalu dan
mengevaluasi dampaknya pada
entitas dan laporan keuangan
entitas.
(f ) Menentukan apakah ada risiko
tertentu yang signifikan terse-
but memerlukan pertimbangan
audit khusus.
Risalah hasil rapat harus dido-
kumentasikan dalam kertas kerja
pemeriksaan.
1.2 Menentukan perlu atau tid-
aknya menunjuk Second Signing Of-
ficer (SSO).
Perlu tidaknya menunjuk SSO
ditentukan oleh Eksekutif AASG.
1.3 Menggunakan IT Audit se-
bagai bagian dari Tim Penugasan
Dalam rangka menentukan apa-
kah diperlukannya bantuan IT Audit,
ANAO harus melaksanakan penilaian
terhadap dampak keseluruhan IT ter-
hadap entitas dan/atau laporan keuan-
gan.
Untuk entitas yang material, um-
umnya dilakukan dahulu IT Audit
sebagai bagian dari tim audit laporan
keuangan sebelum dilakukannya audit
laporan keuangan. Karena semua enti-
tas telah terkomputerisasi dan meng-
gunakan program aplikasi komputer
dalam proses akuntansinya, tim IT au-
dit melakukan test terhadap lingkun-
gan pengendalian sistem secara umum
dan pengendalian aplikasi khusus.
Dengan mempertimbangkan fak-
tor-faktor di bawah ini dilakukan pe-
nilaian pendahuluan atas lingkungan
IT (diklasifikasikan sebagai MINOR,
MODERATE, atau MAJOR):
(a) Tingkat ketergantungan proses
kegiatan utama entitas kepada
IT;
(b) Kompleksitas proses komputer
(contohnya perhitungan, pros-
es otomatis jumlah transaksi,
konektivitas dengan pihak luar);
dan
(c) Kompleksitas struktur IT enti-
tas (misalnya tanggung jawab
tersentralisasi pada satu grup
atau terdesentralisasi dengan
banyak grup)
Tim IT Audit harus membuat do-
kumentasi hasil penilaian IT untuk
MAJOR dan MODERATE yang di-
laksanakan oleh Manajer Audit IT.
1.4 Menentukan kebutuhan akan
tenaga ahli dalam penugasan audit
Selama perencanaan, tentukan apa-
kah diperlukan tenaga spesialist dari
ANAO atau tenaga ahli lainnya yang
masuk dalam tim penugasan audit se-
perti tenaga ahli perpajakan, penilai
dan sebagainya.
26 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Jika memang memerlukan tenaga
ahli dari luar ANAO, diperlukan per-
setujuan dari Signing Officer. Perjan-
jian kesepakatan perlu dibuat antara
ANAO dan tenaga ahli tersebut.
Tim harus mendokumentasikan
secara detail sifat pekerjaan yang akan
dilaksanakan, informasi yang akan di-
berikan dan siapa yang akan memberi-
kan kepada tanaga ahli.
Auditor harus mempertimbangkan
dan mendokumentasikan materialitas
dan risiko bawaan (inherent risk) dari
pekerjaan yang dilakukan oleh expert.
1.5 Memenuhi persyaratan inde-
pendensi dan conflict of interest selu-
ruh anggota penugasan audit
ANAO mempertimbangkan inde-
pendensi, kode etik dan conflict of in-
terest seluruh anggota tim penugasan
audit dengan memakai panduan yang
disediakan ANAO. Hasil pertimban-
gan tersebut akan didokumentasikan.
Jika sudah yakin dengan independ-
ensi semua anggota tim penugasan,
ANAO memastikan setiap anggota tim
sadar akan tanggung jawabnya untuk
melaporkan setiap adanya perubahan
keindependensiannya atau potensi con-
flict of interest selama penugasan audit
kepada Manajer Audit dan/atau Sign-
ing Officer.
Setiap anggota tim wajib menan-
datangani pernyataan Deklarasi Inde-
pendensi sebelum melakukan penu-
gasan audit.
Manajer Audit (Supervisor) bertang-
gung jawab untuk menkoordinasikan
prosedur dan langkah penyelesaian
masalah independensi dari seluruh
anggota tim penugasan audit.
6.6 Menentukan persyaratan se-
curity level
ANAO menentukan dan mendo-
kumentasikan tingkat security clearance
untuk masing-masing anggota tim pe-
nugasan sebelum memulai audit.
Di ANAO setiap auditor yang akan
melakukan tugas audit harus mem-
punyai tingkat security (security level)
terhadap entitas yang diperiksa. Serti-
fikat tersebut dikeluarkan oleh Bagian
Security di ANAO dengan memper-
timbangkan dokumen-dokumen se-
perti keterangan kepolisian dan juga
posisi atau jabatan di ANAO. Entitas
dapat menolak diperiksa oleh Auditor
dari ANAO kalau auditor tersebut ti-
dak memiliki security clearance. Contoh
tingkat security yang dikeluarkan oleh
ANAO adalah TOP SECRET untuk
Signing Officer. Artinya Signing Of-
ficer dapat mengakses semua data dari
entitas yang diperiksa sampai dengan
yang berstatus top secret.
2. Persiapan
1.1 Menyiapkan biaya audit dan
mengembangkan rencana untuk mem-
onitor biaya tersebut.
Biaya pemeriksaan audit berdasar-
kan beban kerja. Anggaran (biaya)
pemeriksaan yang dibagi dalam tugas
pokok berdasarkan jam dan aktivitas
perorangan. Anggaran yang telah disu-
sun harus disetujui oleh Signing Officer
dan Manajer Audit dan dikomunikasi-
kan ke setiap anggota tim sehingga se-
tiap anggota bertanggung jawab untuk
mengikuti anggaran yang telah dialo-
kasikan oleh masing-masing individu.
Manajer audit dan pemimpin tim ber-
tanggung jawab untuk memonitor ang-
garan tersebut dengan pekerjaan aktual
di lapangan karena penambahan atau
pengurangan jumlah jam kerja audit
akan mempengaruhi anggaran (biaya)
pemeriksaan.
1.2 Menyiapkan dan melaksana-
kan Rapat Perencanaan Audit dengan
entitas
Tim penugasan audit harus
menyiapkan dan melaksanakan rapat
Perencanaan Audit dengan entitas. Ra-
pat tersebut harus dihadiri oleh Sign-
ing Officer dan Manajer Audit (Super-
visor).
Hasil rapat tersebut haru dido-
kumentasikan dalam Risalah Rapat
dan dimasukkan dalam Kertas Kerja
Pemeriksaan.
2.3 Menghitung risiko audit ter-
hadap entitas yang telah dinilai oleh
eksekutif ANAO.
Risiko audit harus ditentukan dan
didokumentasikan dalam Audit Pro-
file. Tim harus menentukan apakah
risiko audit entitas low, moderate atau
high dan memberikan alasan penilaian
tersebut. Hasil penilainnya harus ditu-
angkan dalam Audit Strategy.
Tim harus memastikan bahwa
hasil risiko audit yang kita nilai telah
direviu oleh Eksekutif di ANAO dan
ditandatangani oleh Signing Officer.
Tim juga harus memastikan faktor-
faktor risiko tersebut telah termuat
dalam Analysis of Business Risks (ABR)
dan Bridge (Bridge merupakan tem-
plate yang digunakan sebagai jem-
batan antara risiko salah saji materi-
al dengan prosedur audit yang akan
dilakukan untuk mengurangi risiko
tersebut pada tingkat yang dapat di-
terima).
2.4 Menentukan materialitas
Materialitas audit ditentukan
pada saat perencanaan. ANAO punya
panduan yang lengkap untuk men-
ghitung tingkat materialitas. Juga
disediakan template dalam program
Microsoft Excel yang dapat dengan
mudah kita gunakan. Berikut hal-
hal yang dilakukan ketika menentu-
kan tingkat materialitas:
(a) Tim harus menentukan ting-
kat overall materiality untuk
laporan keuangan secara ke-
seluruhan berdasarkan pro-
sedur analitis pendahuluan,
perhitungan Analysis of Busi-
ness Risks (ABR) dan juga pe-
nilaian profesional (profesional
judgement) dengan memper-
timbangkan kondisi entitas
yang diperiksa. Overall mate-
riality digunakan dalam penen-
tuan batas koreksi audit (audit
adjustment) apakah material
atau tidak. Semua koreksi audit
yang bernilai dibawah overall
materiality dikategorikan tidak
material dan sebaliknya.
(b) Tim harus menentukan plan-
ning materiality berdasarkan
overall materiality.
Untuk mengurangi risiko keseluru-
han salah saji yang terdeteksi ataupun
tidak pada laporan keuangan melebihi
tingkat materialitas yang telah ditentu-
kan (overall materiality), kita membuat
“planning materiality”. Contohnya
adalah, ketika kita menentukan over-
all materiality sebesar Rp50juta kita
beranggapan nilai di bawah Rp50juta
tidak material. Tetapi dalam peker-
jaan lapangan ditemukan nilai sebesar
27 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Rp30juta yang ternyata material bagi
pengguna laporan keuangan. Untuk
itulah diperlukan planning materiality
untuk pekerjaan lapangan yang nilain-
ya dibawah overall materiality untuk
mengantisipasi hal tersebut. Planning
materiality adalah jumlah yang lebih
kecil dari tingkat overall materiality
(atau jumlah yang lebih rendah dari
tingkat materialitas untuk item tert-
entu), dan juga digunakan untuk me-
nentukan risiko salah saji material dan
untuk mendisain prosedur audit lanju-
tan untuk merespon risiko yang telah
ditentukan.
(c) Tim harus menentukan mate-
rialitas spesifik untuk akun ter-
tentu jika memang diperlukan.
Artinya berdasarkan pertim-
bangan tertentu akun tertentu
bisa saja tingkat materialitasnya
berbeda dengan overall maupun
planning materiality.
(d) Materialitas harus didiskusikan
dengan seluruh anggota tim
penugasan pada saat rapat pe-
rencanaan audit. Seluruh tim
penugasan dan Signing Officer
harus menyetujuinya dan ha-
rus didokumentasikan hasilnya.
Dokumentasi tersebut men-
cakup dasar penilaian dan ala-
san-alasannya.
(e) Tingkat materialitas harus di-
revisi jika selama audit terdapat
informasi-informasi yang meny-
ebabkan tingkat materialitas ha-
rus berubah. Perubahan tersebut
harus selalu didokumentasikan
dan disetujui oleh Signing Of-
ficer.
2.5 Lakukan prosedur analitis pen-
dahuluan
Template dan tabel disediakan oleh
ANAO untuk menjawab prosedur
tersebut. Prosedur analitis pendahu-
luan diperlukan untuk melihat perger-
akan atau posisi nilai akun secara kom-
paratif antara posisi laporan keuangan
saat diperiksa dengan posisi tahun-ta-
hun sebelumnya. Penjelasan harus di-
berikan bila terjadi perubahan secara
significant (material) atas akun-akun
tertentu.
2.6 Konsultasi dengan PASG (Per-
formance Audit Services Group)
Tim audit laporan keuangan
harus mendiskusikan dengan bagian
yang melaksanakan audit kinerja pada
entitias yang sama atas kemungkinan
pengaruh laporan hasil audit kinerja
terhadap audit laporan keuangan yang
dilaksanakan. Diskusi tersebut mem-
bahas masalah-masalah sebagai berikut:
(a) temuan-temuan yang berpotensi
menjadikan laporan kauangan enitas
salah saji secara material; (b) risiko
bisnis entitas yang telah teridentifikasi
yang berpotensi mempunyai dampak
pada laporan keuangan; (c) kelema-
han-kelemahan internal kontrol yang
relevan dengan audit laporan keuan-
gan.
Tim harus memastikan hal-hal di
atas didokumentasikan dalam ABR
dan Bridge.
2.7 Mereviu risalah rapat dan kon-
trak-kontrak serta perjanjian entitas
yang signifikan.
Tim harus mendapatkan hasil
risalah rapat dari manajemen serta
komite dan kontrak serta perjanjian
yang signifikan yang punya pen-
garuh ke laporan kuangan.
Tim harus mereviu dan men-
ganalisa kontrak-kontrak tersebut
dengan diantaranya mempertim-
bangkan tanggal-tanggal penting,
pihak yang mengadakan perjanjian
dan hak serta kewajibannya, default
clauses (klausul kontrak), durasi,
dampak akuntansinya, amandemen,
dan lampiran kontrak.
Tim harus memastikan fotoko-
pi kontrak signifikan dimasukkan
daampermanent file.
Fotokopi kontrak signifikan ha-
rus disimpan dalam permanent file,
lebih lagi jika kontrak tersebut san-
gat releven dengan temuan audit.
Jika fotokopi kontrak signifikan
tidak disimpan dalam permanent file,
catat syarat dan kondisi yang ada
dalam kontrak dalam kertas kerja
audit.
2.8 Menentukan apakah kegiatan
operasi entitas akan berlanjut (going
concern) atau berubah
Untuk membuat penilaian pen-
dahuluan apakah entitas memiliki
risiko entitas akan berubah secara
signifikan sehingga berpotensi tidak
going concern, pertimbangkan apakah
ada:
(a) kejadian atau kondisi yang
dapat meragukan keberlang-
sungan operasi entitas (con-
tohnya Parlemen telah setuju
pembubarannya atau ada re-
view Parlemen yang punya
dampak signifikan atas sum-
ber dana entitas pada masa
mendatang).
(b) akan ada restrukturisasi se-
lama tahun berjalan sebagai
hasil dari Administrative Ar-
rangement Order, Parliament
Review dan lain-lain.
2.9 Identifikasi dan nilai risiko atas
transaksi pihak ketiga yang material.
Tim harus mendapatkan dari ma-
najemen daftar nama pihak ketiga
terkait dan:
(a) Reviu kertas kerja sebelumnya
terhadap nama-nama pihak
ketiga yang diketahui;
(b) Reviu prosedur entitas untuk
mengidentifikasi pihak keti-
ga;
(c) Selidiki hubungan manajemen
dengan pihak-pihak lain;
(d) Reviu risalah rapat manaje-
men terhadap pihak ketiga
yang terkait;
(e) Reviu korespondensi dan fak-
tur dari perusahan/konsultan
hukum; dan
(f ) Reviu kontrak dan perjanjian
sebagai bukti hubungan den-
gan pihak ketiga.
Tim harus mengevaluasi aktivitas
kontrol entitas untuk identifikasi,
otorisasi dan perlakuan akuntansi
yang tepat terhadap transaksi pihak
ketiga.
Tim harus memastikan semua
risiko yang teridentifikasi telah
dipertimbangkan dalam persiapan
rapat dengan auditee.
2.10 Mempertimbangkan dan
Mendokumentasikan isu khusus
Pertimbangkan dan dokumenta-
sikan isu khusus dalam audit yang
diangkat oleh PSB yang mempunyai
dampak dalam laporan keuangan.
Pastikan juga pertimbangan atas
isu-isu tersebut telah direfleksikan
28 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
dalam ABR dan relevan Bridges. Au-
dit manajer bertanggung jawab un-
tuk menjamin masalah ini ditangani
dengan tepat.
2.11 Mempertimbangkan damp-
ak dari audit yang dilakukan oleh
pihak lain, auditor lain, internal au-
dit atau tenaga ahli.
Jika entitas menggunakan orga-
nisasi jasa untuk proses bisnis atau
akuntansi yang signifikan, kita harus
menilai dan mereviu hasil kerjanya.
Begitu juga untuk hasil kerja dari
internal audit, auditor lain, dan te-
naga ahli. ANAO menyediakan pan-
duan, template dan tabel yang disertai
langkah-langkah untuk menilai hasil
kerja pihak-pihak tersebut. Yang ter-
penting adalah kita mendokumen-
tasikan dan membuat kesimpulan
atas dampak dari penggunaan hasil
kerja pihak-pihak tersebut terhadap
audit kita. Kita juga harus mereflek-
sikannya dalam Bridge yang direfer-
ensi ke kertas kerja.
2.12 Menyelesaikan Profil Audit
(Audit Profile)
Dalam profil audit, minimum
yang harus diidentifikasi adalah:
(1) Portofolio dimana audit ter-
hubung. Portofolio disini maksud-
nya adalah entitas termasuk dalam
bagian dari depertemen atau organ-
isasi pemerintah mana; (2) Apakah
entitas termasuk auditee yang ma-
terial; (3) Peraturan perundang-un-
dangan yang berhubungan dengan
entitas; (4) Tipe pegawai/karya-
wan (in house, co-sourced); (5) Seluruh
anggota tim dan peranannnya mas-
ing-masing; (6) Jadwal untuk audit;
(7) Tingkat risiko, ditentukan oleh
Eksekutif ANAO; (8) Contact person
penting dari entitas. Maksudnya
adalah nomor telepon, e-mail dari
orang-orang penting seperti misalnya
ketua audit komite, kepala bagian
keuangan dll; (9) Opini audit; (10)
Nama dari second signing officer (jika
ada); (11) Hard copy dari file reference
number (korespondensi file dengan
entitas tentang masalah audit)
·
3. Memperoleh Pemahaman Terha-
dap Entitas
3.1 Memperoleh dan memper-
baharui pemahaman terhadap enti-
tas dan lingkungannya - Analysis of
Business Risks (ABR)
ABR adalah sarana dimana auditor
mendapatkan pemahaman lingkungan
bisnis entitas dan risiko-risiko terkait.
ABR meliputi: (1) Kekuatan pasar dan
risiko lingkungan entitas; (2) Stake-
holder kunci dan pengaruhnya terha-
dap operasi bisnis entitas; (3) Tujuan
bisnis, strategi dan risiko bisnis; (4)
Risiko kinerja keuangan.
ANAO telah menyediakan template,
tabel, prosedur dan panduan yang ha-
rus diikuti oleh setiap tim penugasan
ketika akan melakukan Analisa Risiko
Bisnis (ABR)
3.2 Identifikasi Unit Manajemen,
Proses Bisnis dan Proses Akuntansi
Setelah menyelesaikan ABR, tim
harus mengidentifikasi unit-unit
manajemen (bagian-bagian bisnis),
proses bisnis dan akuntansi enti-
tas. ANAO menyediakan template,
tabel, prosedur dan panduan untuk
melakukan hal-hal tersebut diatas.
Hal-hal yang dilakukan adalah:
(1) Tentukan proses bisnis kunci
dari entitas;
(2) Tentukan unit manajemen kun-
ci (bagian unit);
(3) Identifikasi proses bisnis mana
yang berhubungan dengan ma-
sing-masing unit manajemen;
(4) Identifikasi proses akuntansi
kunci;
(5) Identifikasi siklus akuntansi
dan akun-akunnya yang berhu-
bungan dengan proses bisnis.
Identifikasi pula system IT/apli-
kasi yang digunakan.
Tentukan unit manjemen, atau
bagiannya yang akan dibuatkan prose-
dur audit. Dalam melakukan hal terse-
but perlu dipertimbangkan antara lain
kepentingan keuangannya (financial
significance), risiko salah saji material,
peraturan perundangan yang meng-
atur unit manajemen terkait, risiko
spesifik.
Tentukan proses bisnis mana yang
merukapakan kunci dari kegiatan ope-
rasional entitas, dan bagaimana proses
bisnis kunci ini dicatat dalam proses
akuntansi entitas. Ini akan membantu
dalam menentukan proses akuntansi
dan system IT mana yang perlu dieve-
luasi, dimengerti dan divalidasi sebagai
bagian dari perencanaan audit.
3.3 Mendapatkan, mendokumen-
tasikan, dan menilai peraturan perun-
dang-undangan yang terkait dengan
dan dikeluarkan oleh entitas
Tim harus mengidentifikasi dan
mendokumentasikan peraturan pe-
rundang-undangan yang mana entitas
harus patuh dan nilai risiko dari keti-
daktaatannya dan dampaknya terha-
dap laporan keuangan. Termasuk juga
peraturan perundang-undangan yang
dikeluarkan dan dikelola oleh enti-
tas dan dampaknya terhadap laporan
keuangan.
Buat link terhadap risiko yang teri-
dentifikasi ke ABR atau Brdige yang
relevan.
4. Pengendalian Lingkungan – Ting-
kat Entitas
4.1 Mendapatkan pemahaman
dan mengevaluasi lima komponen
internal control pada tingkat enti-
tas.
ANAO telah menyediakan
template, tabel dan prosuder untuk me-
nilai pengendalian lingkungan dalam
Internal Control Assessment.
Kita harus menyimpulkan dan
memberi peringkat terhadap lima
komponen internal control pada ting-
kat entitas. Kelima kontrol tersebut
adalah: (1) Monitoring Kontrol (Moni-
toring of Controls); (2) Aktivitas Kon-
trol (Control Activities); (3) Komuni-
kasi dan Sistem Informasi (Information
System and Communication); (4) Proses
Penilaian Risiko (Risk Assesment Proc-
ess); (5) Lingkungan Kontrol (Control
Environment)
Kelima komponen internal control
tersebut harus dirating dan hasil rat-
ingnya harus didokumentasikan. Con-
toh rating yang diberikan adalah “Dept
ABC’s internal control environtment was
assessed as effective with a moderate in-
ternal control risk assessment (lingkun-
gan internal control Departemen ABC
dininali efektif dengan penilaian risiko
kontrol moderat).
4.2 Memberikan penilaian dan
tanggapan atas Risiko Kecurangan
29 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
(Fraud Risks)
Pada saat rapat tim perencanaan
audit, tim harus memastikan diskusi
dihadiri oleh seluruh anggota tim pe-
nugasan termasuk Signing Officer men-
genai potensi salah saji material karena
kecurangan (fraud) pada entitas. Tim
harus mendokumentasikan risalah ra-
pat.
Selama rapat perencanaan audit
dengan entitas, diskusi harus dilak-
sanakan dengan entitas mengenai iden-
tifikasi risiko salah saji material karena
kecurangan. Tim harus mendokumen-
tasikan risalah rapat.
Untuk menilai risiko salah saji
material karena kecurangan, penting
untuk mengidentifikasi faktor risiko
yang ada di entitas. Tim harus menye-
lesaikan Fraud Work Program yang
telah disediakan ANAO. Fraud Work
Program tersedia untuk membantu
mengidentifikasi faktor risiko yang da-
pat mengindikasikan risiko salah saji
material karena kecurangan pelaporan
keuangan dan salah saji asset.
Saat menilai internal control pada
tingkat entitas, tim harus mempertim-
bangkan kekuatan dari internal control
untuk mencegah dan mendeteksi ke-
curangan terhadap faktor risiko yang
telah diidentifikasi di atas.
Tim harus menyimpulkan risiko
salah saji material apakah tinggi (high),
sedang (medium), atau rendah (low)
dan dokumentasikan alasan penilaian
tersebut.
Jika kecurangan teridentifikasi
atau terdapat informasi yang menindi-
kasikan terdapat kecurangan, signing
officer harus mengkomunikasikan ma-
salah tersebut secepat mungkin pada
tingkatan manajemen yang berwenang
di entitas yang diperiksa.
Jika auditor menidentifikasi ke-
curangan yang melibatkan manage-
ment, pegawai yang mempunyai per-
anan signifikan dalam internal control,
atau pihak lainnya yan mana kecuran-
gan tersebut mengakibatkan salah saji
material pada laporan keuangan, audi-
tor harus mengkomunikasikan masalah
tersebut pada pihak yang bertanggung-
jawab atas pengelolaan entitas (dalam
hal ini manajemen yang lebih tinngi).
Semua hasil diskusi dan penilaian
kecurangan harus didokumentasikan
dalam kertas kerja.
5. Komunikasi dengan Entitas
5.1 Menyiapkan Engagement Let-
ter (Surat Perikatan) entitas
Engagement letter merupakan per-
janjian tertulis antara auditor dengan
auditee. Engagement letter harus di-
tandatangani dan disetujui oleh ke-
dua belah pihak baik auditor maupun
auditee. Engagement letter diterbitkan
sebelum memulai audit. Di ANAO
template (format baku) engagement let-
ter disediakan oleh bagian PSB.
Jika situasi berubah selama audit
yang mana situasi baru tersebut ber-
dampak pada isi/kondisi (terms of) dari
engagement letter, Signing Officer harus
mempertimbangkan untuk menerbit-
kan engagement letter lanjutan (further
engagement letter).
Kita juga harus memastikan enti-
tas menerima secara formal (tertulis)
isi dari engagement letter. Penerimaan
secara formal dari entitas harus dima-
sukkan dalam kertas kerja di file kor-
espondensi.
Engagement letter harus dibaca oleh
auditee secara bersamaan dengan Audit
Strategy yang memuat pendekatan au-
dit yang akan dilakukan auditor.
Isi yang termuat dalam engagement
letter yang disyaratkan oleh Australian
Auditing Standard (AUS 204) adalah:
(1) Tujuan audit;
(2) Tanggung jawab management
atas laporan keuangan;
(3) Lingkup (scope) audit, termas-
uk referensi terhadap peraturan
perundangan yang terkait dan
standard audit;
(4) Betuk dan jenis laporan audit
yang akan dihasilkan;
(5) Penjelasan sejauh mana audit
menggunakan pendekatan un-
tuk mendeteksi salah saji mate-
rial;
(6) Akses yang tidak terbatas untuk
semua catatan, dokumentasi
dan informasi lain yang diper-
lukan untuk kepentingan audit;
(7) harapan untuk mendapatkan
representasi manajemen secara
tertulis;
(8) Permintaan kepada entitas un-
tuk mengkonfirmasi isi dari en-
gagement letter; dan
(9) dasar dan jumlah perhitungan
biaya audit.
5.2 Siapkan Audit Strategy (Cli-
ent Service Strategy/CSS)
Audit Strategy (CSS) merupakan
output dari Perencanaan Audit yang
nantinya akan disampaikan kepada en-
titas. CSS disampaikan kepada manaje-
men entitas dan Komite Audit. Tem-
plate (format baku) sudah disediakan
oleh PSB.
Jika untuk alasan tertentu CSS ti-
dak dibuat, rubahlah engagement letter
untuk memasukkan keterangan yang
diperlukan untuk dikomunikasikan ke
entitas. Perubahan engagement letter
tersebut harus melalui persetujuan Sig-
ning Officer.
Isi dari Audit Strategy adalah:
(1) Executive Summary.
Dalam executive summary di-
jelaskan tentang pendekatan audit
dan biaya audit.
(2) Laporan Keuangan Entitas
Di bagian ini dijelaskan Kerangka
Laporan Keuangan dan tugas dan
kewajiban ANAO melakukan audit
sesuai dengan peratura perundan-
gan yang berlaku.
(3) Proses Audit Laporan Keuan-
gan, yang menjelaskan antara
lain:
(a) Materalitas
(b) Risiko yang Signifikan
(c) Internal Kontrol
(d) Fraud and Error
(e) Internal Audit
(f ) Keperluan audit yang lainnya
(4) Kualitas Audit.
Dalam bagian ini dijelaskan semua
nama-nama anggota tim yang terlibat
dalam audit, peranan dan tanggung ja-
wabnya serta kontak detailnya (nomor
telepon kantor, e-mail dinas, dll)
(5) Jangka waktu penyelesaian au-
dit.
Dalam bagian ini dijelaskan jangka
waktu penyelesaian satu siklus pe-
nuh audit (planning, interim, pre-
final, dan final), tujuan dari setiap
sikus dan output apa saja yang akan
dihasilkan, kepada siapa laporan
setiap siklus ditujukan, dan waktu
penyelesaian setiap siklus audit.
30 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
(6) Biaya audit
(7) Tanggung jawab entitas untuk
menyelesaiakan laporan keuan-
gan dan membantu penyelesa-
ian audit supaya lebih efektif
dan efisien.
(8) Program Kerja Audit ANAO
untuk tahun berjalan yang
menjelaskan entitas merupakan
bagian dari Program Kerja Audit
ANAO dan tingkatan pejabat
penanggung jawab audit.
Lampiran-lampiran yang di-
masukkan diantaranya yaitu ringkasan
Perubahan Kebijkan Akuntansi dan
better practice guidance yang dikeluar-
kan ANAO.
6. Program Audit
6.1 Tentukan tingkat risiko keselu-
ruhan entitas
Dari penilaian Analisa Risiko Bisnis
(ABR) dan internal kontrol pada level
entitas, tentukan dan dokumentasikan
tingkat risiko keseluruhan (overall
risks) apakah rendah (minimum), se-
dang (moderate), atau tinggi (high). Hal
ini berhubungan dengan langkah pada
poin 3.1.
6.2 Mendokumentasikan dan men-
gevaluasi proses bisnis dan akuntansi
yang signifikan
Berdasarkan langkah 3.2 tentang
pemahaman unit manajemen yang
ada di entitas, tim harus menindakla-
jutinya dengan mendokumentasikan
dan mengevaluasi proses bisnis dan
akuntansi yang signifikan. Contohnya
adalah proses bisnis dan akuntansi
pendapatan dan piutang, aset tetap dan
lain-lain. Pekerjaan ini kadang disebut
juga Process Documentaion yang artinya
pendukumentasian atas proses bisnis
dan akuntansi yang beraku di enti-
tas. Pemahaman proses tersebut dapat
dibuat dalam bentuk flow-chart, narasi,
atau gabungan flow-chart dan narasi.
Setelah dilakukan process documen-
tation, tim melakukan walkthrough un-
tuk masing-masing proses bisnis dan
akuntansi yang signifikan.
Walkthrough adalah proses penga-
matan dan pemahaman proses
akuntansi (bisnis) secara langsung di
entitas. Misalkan kita ingin melihat se-
cara langsung bagaimana proses pem-
belian barang dari dimulainya Purchase
Order sampai diterimanya barang.
6.3 Selesaikan Bridge untuk se-
tiap siklus bisnis (akuntansi)
Auditor berkewajiban untuk mengi-
dentifikasi dan menilai risiko salah
saji material. Bridge diperlukan untuk
mendokumentasikan risiko salah saji
material yang telah teridentifikasi un-
tuk kemudian dibuatkan prosedur au-
dit sebagai upaya untuk mengurangi
risiko tersebut pada tingkatan yang
dapat diterima.
Setelah dievaluasi dan didokumen-
tasikannya proses bisnis dan akuntansi
entitas, auditor harus menyelesaikan
Brdige.
Bridge harus diperbaharui selama
pelaksanaan audit untuk merefleksikan
risiko yang teridentifikasi lebih lanjut,
perubahan audit dan informasi yang
relevan lainnya.
7. Pastikan seluruh langkah peren-
canaan audit telah dijalankan
ANAO menyediakan check list yang
menerangkan bahwa seluruh prosedur
dan langkah dalam perencanaan audit
telah selesai dilakukan. Jika semua telah
selesai dilaksanakan harus di signed-off
oleh Manajer Audit dan Signing Officer
dan ditempatkan di TeamMate File se-
hingga dapat diakses dengan mudah
secara on-line oleh seluruh anggota
tim penugasan selama berlangsungnya
pelaksanaan audit.
Kesimpulan
ANAO memandang Perencanaan
Audit merupakan bagian yang sangat
penting dari keseluruhan siklus au-
dit. Perencanaan merupakan tempat
kita mengenal entitas baik lingkungan
dan kegiatannya, mengevaluasi risiko
yang terjadi dan akan dihadapi, serta
mengembangkan prosedur audit yang
tepat untuk mengatasi risiko-risiko
tersebut. Perencanaan audit yang ma-
tang akan memudahkan auditor untuk
melaksanakan pekerjaan interim mau-
pun final (substantive test) secara efektif
dan efisien.
Hasil Pemeriksaan BPK yang telah dilaporkan kepada Kepolisian
31 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Untuk mencapai efisiensi audit,
auditor perlu mengintegrasikan dan
menerjemahkan informasi yang diper-
oleh dalam tahap awal audit (prelimi-
nary survey) dan menentukan model
pendekatan audit sehingga diharapkan
dapat mencapai seluruh tujuan audit.
Rencana pendekatan audit meng-
gambarkan sifat umum, waktu, dan
luasnya pendekatan prosedur audit
yang dilakukan dan rasionalitas un-
tuk memilihnya. Ini merupakan “jem-
batan” antara seluruh keputusan audit
dengan informasi rencana lainnya yang
ada dalam program audit. Kemudian,
pendekatan audit dibuat secara detail
sehingga reviewer dapat menilai keaku-
ratan dan menyediakan instruksi yang
jelas kepada auditor pelaksana rencana
audit. Salah satu pendekatan yang dira-
sa cukup memadai untuk dapat menca-
pai tujuan audit adalah CARKeyS yang
telah diterapkan oleh Audit New Zea-
land denga susunan sebagai berikut:
C Controls (pengendalian) 
Pengujian atas pengendalian
(compliance tests)
AR Analytical Review  Prosedur
review analitis
Key Key items  Pemilihan masa-
lah/perkiraan tertentu untuk
diaudit, biasanya saldo yang
lebih besar dari tolerable error
(kesalahan yang dapat ditol-
erir).
S Sampling  Pemilihan sampel
yang representative (substan-
tive procedures)
CONTROL (C)
Manajemen berkepentingan terha-
dap informasi yang digunakan dalam
pengambilan keputusan usaha secara
relevan dan dapat dipercaya (reliable).
Pengendalian merupakan mekanisme
utama di mana manajemen dapat mem-
peroleh keyakinan tentang integritas in-
formasi. Auditor juga berkepentingan
terhadap integritas informasi dan efek-
tivitas pengendalian yang dilakukan
oleh manajemen. Dalam mengevaluasi
efektivitas pengendalian, auditor tidak
hanya menekankan pada bagaimana
pengendalian tersebut disusun, tetapi
juga penerapan atas pengendalian
dalam praktiknya untuk mencapai tu-
juan pengendalian yang ditetapkan.
Dalam mendokumentasikan dan
mengevaluasi pengendalian, auditor
harus memperhatikan keterbatasan
pengendalian untuk dapat menjamin
administrasi yang efisien dan keleng-
kapan dan kewajaran pembukuan.
Auditot harus tetap memperhatikan
faktor-faktor yang dapat menurunkan
efektivitas pengendalian. Penelitian
berikut perlu dipertimbangkan dalam
mengevaluasi efektivitas pengendalian:
xPengendalian otorisasi dapat dis-
alahgunakan oleh pejabat untuk
kepentingan pribadi.
x Manajemen sering membuat
pengecualian atas pengendalian
yang diterapkan.
x Karena pengendalian tergantung
pada faktor manusia, biasanya
menimbulkan kesalahan karena
judgment (pertimbangan) atau
interpretasi dan kesalahan dalam
pemahaman, kecerobohan, kel-
elahan, atau kebingungan.
x Jika kemampuan dan integri-
tas pegawai dapat dikendalikan
dalam penyaringan dan pen-
didikan, kualitas ini mungkin
berubah karena tekanan baik dari
dalam maupun luar organisasi.
x Tanpa memperhatikan seberapa
kompeten pegawai, pengendal-
ian dapat menjadi jauh dari efek-
tif jika pegawai tidak memahami
fungsi mereka.
Tujuan dalam pengujian atas pen-
gendalian adalah untuk mengarahkan
auditor menentukan apakah untuk
periode pengendalian yang diuji berja-
lan seperti yang diharapkan, diterapkan
selama periode yang diuji, dilaksanakan
dari waktu ke waktu, meliputi seluruh
transaksi atau kejadian yang berkaitan,
didasarkan pada informasi yang dapat
dipercaya, dan berakibat pada koreksi
atas kesalahan yang ditemukan.
Jika auditor percaya bahwa tujuan
pengendalian yang tertentu dapat dica-
pai dengan lebih dari satu pengendal-
ian, auditor tidak perlu menguji selu-
ruh pengendalian tapi hanya terhadap
pengendalian yang dapat dipercaya.
Pengujian atas pengendalian dapat di-
lakukan dengan mengajukan pertan-
yaan, observasi, dan inspeksi terhadap
bukti fisik yang dihasilkan dari kinerja
pengendalian. Mengajukan pertanyaan
(inquiry) dapat dilakukan terhadap pe-
gawai yang membuat rekonsiliasi ba-
gaimana reconcile item (perkiraan yang
harus disamakan, misalnya saldo bank
harus sama dengan saldo buku) dapat
diidentifikasi, alasan penyamaan terse-
but dan prosedur yang dipakai untuk
meyakinkan bahwa catatan akuntansi
segera dikoreksi ketika ada hal yang ti-
dak sama. Auditor juga perlu menguji
rekonsiliasi dilaksanakan secara benar
dan tepat waktu.
Auditor juga bisa melakukan ob-
servasi bagaimana rekonsiliasi dibuat.
Tetapi mungkin pegawai yang melaku-
kan rekonsiliasi akan lebih hati-hati
ketika diperhatikan cara membuat re-
konsiliasi oleh auditor.
Ketika melakukan pengujian pen-
gendalian, auditor perlu menggunakan
pertimbangan profesionalnya untuk
menentukan luasnya pengujian terse-
but. Beberapa faktor yang perlu diper-
timbangkan dalam menentukan luas-
CARKeyS: Pendekatan Untuk Mencapai Efisiensi
Pemeriksaan Laporan Keuangan
Oleh: Cris Kuntadi, M.M., C.P.A.
LAPORAN UTAMA
32 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
nya pengujian antara lain:
a. Seberapa sering pengendalian di-
lakukan.
b. Tingkat keyakinan auditor terha-
dap pengendalian sebagai dasar
untuk membatasi pengujian sub-
stantif.
c. Tingkat keyakinan atas bukti/do-
kumentasi yang dihasilkan oleh
pengendalian.
d. Kebutuhan atas keyakinan bah-
wa pengendalian berjalan secara
efektif.
e. Keberadaan perpaduan pengen-
dalian yang mungkin menguran-
gi tingkat keyakinan
ANALYTICAL REVIEW (AR)
“Effective analytical review is impor-
tant.” Itulah kalimat utama tentang
pentingnya prosedur audit ini. Analyti-
cal review merupakan suatu alat uji yang
manfaatnya tergantung pada keadaan
dan kondisi obyek yang diperiksa. An-
alytical review merupakan kemampuan
dasar yang digunakan bukan hanya
dalam konteks auditing tetapi juga
dalam hubungannya dengan kegiatan
operasional maupun keuangan di sek-
tor publik maupun swasta.
Analytical review adalah alat yang
dipakai untuk mempelajari dan mem-
bandingkan hubungan antara data
(keuangan dan non-keuangan) baik
dalam proses perencanaan audit, se-
bagai teknik review akhir, maupun
sebagai tes substantive (alternatif atau
tambahan untuk sampling atau tes-tes
yang lain). Analytical review juga dis-
ebutb sebagai suatu perbandingan ten-
tang apa yang telah diperoleh dengan
apa yang diharapkan: suatu tes kelay-
akan (test of reasonableness). Perband-
ingan tersebut dapat dilakukan secara
bulanan, tahunan atau apapun dalam
mencapai tujuan audit.
Fluktuasi
Jika analytical review menghasil-
kan perbedaan nilai yang signifikan,
mungkin ada suatu hasil dari perband-
ingan yang tidak dapat ditolerir dan
berpengaruh terhadap tujuan audit.
Dalam melaksanakan, auditor mung-
kin menghadapi hasil atau fluktuasi
yang material atas tren. Kecuali dalam
keadaan yang tidak biasa, ada beberapa
fluktuasi atas hubungan dimana au-
ditor perlu melihat lebih mendalam
sebelum memutuskan kesesuaiannya
dnegan tujuan audit.
Hal yang paling penting adalah
bahwa fluktuasi dapat diterima dan
yang tidak normal ditindaklanjuti se-
cara mendalam untuk melihat apakan
hal tersebut dalat mengganggu tujuan
audit karena tidak dapat ditolerir (in-
tolerable). Tindak lanjut dapat dilaku-
kan dengan:
¾Diskusi masalah dengan mana-
jemen klien. Keterangan dari mana-
jemen harus diverifikasi kecuali ket-
erangan tersebut beralasan dan auditor
harus lebih berhati-hati dengan ket-
erangan yang dipaksakan (glib explana-
tions).
¾Kegiatan analytical review leb-
ih mendalam atau pengujian alternatif
seperti sampling, melihat file, dan lain-
lain.
Beberapa Inti Masalah yang Perlu
Diingat
1. Ingat tujuan
Analytical review harus disesuaikan
dengan keadaan klien dalam hal:
¾ Penting untuk memahami
secara jelas tentang tujuan dimana
analytical review digunakan untuk
membantu dan apakah perkiraan me-
nampilkan kesalahan (overstatement
atau understatement).
¾Hanya melakukan analytical re-
view jika hal tersebut dapat membantu
dalam mencapai tujuan audit. Analyti-
cal review atas gaji, misalnya, biasanya
relatif kurang informatif dan meng-
habiskan banyak waktu dan mungkin
akan lebih baik langsung pada pengu-
jian substantif atas file pegawai yang
disampel untuk melihat keberadaan-
nya (existence), tingkat upah, otorisasi
lembur dan lain-lain.
2. Bedakan antara tahap persiapan
dan interpretasi.
Hanya melihat perbedaan di dalam
daftar tidak berarti apapun. Meng-
interpretasikan dan menindaklanjuti
hal-hal yang luar biasa merupakan inti
dari analytical review, di mana auditor
menetapkan keyakinannya atas bukti-
bukti.
Jangan mengasumsikan analisa
yang kompleks akan lebih baik dari
pada yang sederhana. Meskipun audi-
tor telah mencurahkan kamampuan-
nya dalam persiapan pengujian, jangan
lantas mengasumsikan bahwa inter-
pretasi yang diberikan telah dapat di-
gunakan untuk menarik kesimpulan
yang kuat.
3. Gunakan analisa yang dilakukan
klien jika memungkinkan
4. Usahakan analytical review yang
sederhana
Pertimbangkan kelayakan pengu-
jian sebelum melakukannya. Jangan
sampai pada keadaan dimana auditor
ingin memperoleh data yang banyak
karena tidak mudah untuk mendap-
atkannya dari klien. Buatlah pengu-
jian sederhana. Tidak ada nilai lebih
dalam kompleksitas dan hanya pen-
gujian yang dapat membantu menca-
pai tujuan audit. Tetapi jangan pula
terlalu menganggap mudah analytical
review karena tujuannya adalah un-
tuk memperoleh bukti yang cukup
dengan risiko yang kecil sehingga au-
ditor memberikan opini wajar tanpa
pengecualian padahal ada kesalahan
material di dalamnya. Risiko mungkin
ditimbulkan ketika auditor mengambil
kesimpulan yang salah dari data yang
salah atau kekurangan pengetahuan
mungkin lebih besar dalam menerap-
kan analytical review dibandingkan
dalam masalah sampling: pertimban-
gan dalam analytical review membu-
tuhkan pengalaman yang cukup.
5. Auditor harus mempunyai data
yang reliable
Auditor harus dapat menetapkan
analytical review sebagai suatu persa-
maan dan harus puas dengan reliability
hubungan fungsional sebelum auditor
dapat mencapaiu tujuan audit.
6. Tidak adanya fluktuasi yang di-
harapkan perlu ditelusuri sebagaimana
adanya fluktuasi yang tidak diharap-
kan.
Ini umumnya berhubungan dengan
mendefinisikan di muka, fluktuasi sig-
nifikan apa yang perlu dijelaskan dan
ditindaklanjuti. Auditor hanya dapat
melakukan ini jika mengetahui apa
tujuannya dan jenis fluktuasi yang bisa
ditolerir.
33 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
7. Auditor harus memvalidasi ket-
erangan dari manajemen
Analytical review tidak dapat dis-
elesaikan tanpa validasi dengan pen-
jelasan manajemen. Luasnya validasi
atas penjelasan manajemen tergantung
pada keadaan, kelayakan penjelasan,
konsistensinya dengan informasi yang
lain dan lain-lain.
8. Jangan hanya berfikir bahwa
analytical review merupakan pengujian
substantif.
Terpisah dari kegunaannya dalam
perencanaan dan review, analytical re-
view dapat mengarahkan auditor se-
lama pekerjaan lapangan untuk:
¾Lebih memahami bisnis klien
¾Mengembangkan pemaha-
man atas pengendalian lingkungan
yang lebih mendalam dan keyakinan
atas efektifnya pengendalian tersebut.
Dalam hal ini, analytical review hampir
mendekati pengujian ketaatan (compli-
ance test).
Key items (Key)
Menentukan unsur kunci perkiraan
yang diaudit mungkin merupakan pen-
dekatan yang paling efektif dan efisien
karena cakupan jumlah uang yang be-
sar dapat dicapai. Ketika pemilihan da-
pat menghasilkan cakupan yang cukup
sehingga hanya ada sedikit risiko yang
tertinggal dari perkiraan yang mung-
kin mengandung kesalahan, pengujian
lebih mendalam mungkin tidak diper-
lukan lagi.
Beberapa hal yang perlu dilakukan
adalah melakukan prosedur review
analitis, menerapkan pendekatan agar
audit dapat lebih efektif dan efisien,
mengidentifikasikan transaksi dan sal-
do yang secara individual penting, dan
mengurangi atau meniadakan pengu-
jian lebih mendalam. Karena perkiraan
individu dalam neraca saldo atau kelas
transaksi yang melebihi tolerable error
dipentingkan, maka gunakan tolerable
error (TE) sebagai langkah pertama
dalam mendefinisikan key items. Au-
ditor mungkin juga menyimpulkan
bahwa perkiraan tertentu yang lebih
kecil dari TE perlu dijadikan key items
dan diuji karena, sebagai contoh, au-
ditor percaya perkiraan tersebut men-
gandung kesalahan audit yang pent-
ing.
Key items dapat meliputi:
a. Transaksi yang membutuhkan
pertimbangan subyektif (seperti
penyesuaian penilaian persedi-
aan)
b. Transaksi yang besar atau tid-
ak biasa dicatat pada saat atau
mendekati tutup buku atau tang-
gal penilaian interim (seperti
penjualan yang besar sebelum
atau setelah tutup tahun pada
tanggal persediaan fisik).
c. Saldo yang sudah lama seperti
piutang yang berumur lama.
d. Transaksi yang memerlukan
campur tangan manajemen ting-
kat tinggi, seperti transaksi pihak
yang berkepentingan.
e. Transaksi yang besar dan tidak
umum lainnya.
SAMPLING
Pengujian substantif (substantive
test) merupakan alternatif terakhir
dalam melakukan pemeriksaan. Pen-
gujian substantif dilakukan setelah
ketiga prosedur sebelumnya dilakukan.
Pengujian substantif mungkin tidak
diperlukan manakala ketiga pengujian
sebelumnya telah memberikan keyaki-
nan yang memadai untuk memberi-
kan keyakinan atas kewajaran laporan
keuangan.
Dalam menentukan perlu tidaknya
melakukan sampling, auditor dapat
menggunakan Statistical Sampling
Worksheet. Dalam Statistical Sampling
Worksheet, informasi yang diperlukan
dibagi dalam beberapa tahap yaitu:
a. Sifat pengujian substantif
1) Tolerable error yang telah diten-
tukan sebelumnya
2) Total nilai populasi, seperti total
biaya
3) Risk assessment
Risk assessment didasarkan pada
keyakinan atas efektivitas pengendal-
ian dan risiko kesalahan yang terjadi.
Semakin rendah risiko, semakin kecil
jumlah sample (berkaitan dengan hasil
pengujian atas pengendalian).
b. Kombinasi prosedur
1) Total nilai key items yang telah
diaudit
2) Total cakupan key items.
3) Nilai populasi dikurangi key
items
4) Dasar ukuran sample
5) Tabel Faktor Risiko Audit
c. Menentukan jumlah sampel.
Sampel yang diambil merupakan
perkalian antara Dasar Ukuran Sampel
dengan Tabel Faktor Risiko Audit. Jika
hasil perkalian tersebut lebih rendah
dari 10, maka auditor tidak perlu lagi
melakukan pengujian substantif kare-
na prosedur sebelumnya sudah dapat
memberikan keyakinan atas kewajaran
laporan keuangan.
Inti pengambilan sample ini adalah
dengan mengurangkan populasi yang
akan diperiksa dengan key items yang
telah diperiksa. Selanjutnya dilihat
berapa cakupan populasi yang telah
diperiksa. Jika cakupan tersebut belum
dapat memberikan keyakinan yang me-
madai, maka auditor perlu menambah
sample yang diperlukan berdasarkan
hasil statistical sampling worksheet.
34 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
LK WTP
Belum Memuaskan
Oleh: Hasan Bakri Sinaga (Perwakilan BPK RI di Kendari)
LAPORAN UTAMA
Ikhtisar Hasil Pemeriksaan Semester I Tahun Anggaran
2008 yang memuat informasi secara menyeluruh tentang
hasil pemeriksaan BPK RI dalam periode 1 Januari sampai
dengan 30 Juni 2008 telah disampaikan kepada Ketua DPR
RI, Ketua DPD RI, serta para Ketua DPRD Provinsi/Ka-
bupaten/Kota di seluruh Indonesia. Dengan penyerahan
IHPS I TA 2008 dan Laporan Hasil Pemeriksaan BPK RI
kepada lembaga Perwakilan, maka IHPS I TA 2008 dan
LHP tersebut dinyatakan terbuka untuk umum sebagaima-
na ditentukan Pasal 19 ayat (1) UU No. 15 Tahun 2004.
Dari 468 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD)
Tahun 2007 yang seharusnya diterima untuk diperiksa oleh
BPK RI pada Semester I Tahun 2008, Pemerintah daerah
baru menyerahkan 436 LKPD dan sebanyak 275 LKPD
telah selesai diperiksa, sedangkan sebanyak 32 LKPD be-
lum diterima dan sisanya masih dalam proses penyelesaian
pemeriksaan. Dari 275 LKPD yang telah selesai diperiksa
dengan opini sebagai berikut:
Tabel 1: Opini LKPD 2007 yang telah selesai diperiksa
BPK RI Semester I Tahun 2008
No. Opini Jumlah
Entitas
1 Wajar Tanpa Pengecualian 3
2 Wajar Dengan Pengecualian 173
3 Tidak Memberikan
Pendapat
48
4 Tidak Wajar 51
Jumlah 275
Sumber: IHPS I TA 2008
Dari tabel di atas, yang memperoleh opini Wajar Tanpa
Pengecualian (WTP) dari BPK RI hanya diperoleh tiga enti-
tas yaitu Laporan Keuangan Pemerintah Provinsi Gorontalo,
Pemerintah Kota Tangerang dan Pemerintah Kota Banjar.
Artinya, ketiga Laporan Keuangan tersebut telah disusun
dan disajikan sesuai dengan SAP yang merupakan dasar me-
madai untuk menyatakan pendapat.
Apakah Laporan Keuangan tersebut sudah dapat me-
menuhi kebutuhan informasi para pengguna laporan?
Tanggung Jawab atas Laporan Keuangan
Pernyataan Standar Akuntansi Pemerintah (PSAP) No.
01 Penyajian Laporan Keuangan paragraf 13 menyatakan
bahwa tanggung jawab penyusunan dan penyajian laporan
keuangan berada pada pimpinan entitas. Tanggung jawab ini
dituangkan dalam bentuk Surat Representasi Manajemen
kepada BPK RI.
Tanggung jawab BPK RI adalah pada pernyataan pen-
dapat atas laporan keuangan berdasarkan pemeriksaan yang
dilakukan. Pemeriksaan meliputi atas Standar Akuntansi
Pemerintahan (SAP) yang digunakan dan estimasi signifikan
yang dibuat oleh entitas, serta penilaian terhadap penyajian
laporan keuangan secara keseluruhan.
Pengguna Laporan Keuangan
Informasi yang disajikan dalam laporan keuangan bertu-
juan umum untuk memenuhi kebutuhan informasi dari se-
mua kelompok pengguna. Dengan demikian, LKPD tidak
dirancang untuk memenuhi kebutuhan spesifik dari mas-
ing-masing kelompok pengguna. Terdapat beberapa kelom-
pok utama pengguna laporan keuangan pemerintah, namun
tidak terbatas pada:
a) masyarakat;
b) para wakil rakyat, lembaga pengawas, dan lembaga
pemeriksa;
c) pihak yang memberi atau berperan dalam proses do-
nasi, investasi, dan pinjaman;
d) pemerintah pusat dan pemerintah daerah.
PSAP & Kerangka Konseptual yang Belum Diterap-
kan dalam Laporan Keuangan
Dari hasil reviu terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan
LKPD 2007 dengan opini WTP tersebut, diketahui bahwa
terdapat beberapa PSAP dan Kerangka Konseptual Akuntan-
si Pemerintah yang tidak diterapkan antara lain:
1. PSAP No. 01 Penyajian Laporan Keuangan paragraf
26 menyatakan bahwa: Setiap komponen laporan keuangan
harus diidentifikasi secara jelas. Disamping itu, informasi
berikut harus dikemukan secara jelas dan diulang pada setiap
halaman laporan bilamana perlu untuk memperoleh pemaha-
man yang memadai atas informasi yang disajikan:
a) Nama entitas pelaporan atau sarana identifikasi lain-
nya;
b) Cakupan laporan keuangan, apakah satu entitas tung-
gal atau konsolidasian dari beberapa entitas pelapo-
ran;
c) Tanggal pelaporan atau periode yang dicakup oleh
laporan keuangan, yang sesuai dengan komponen-
komponen laporan keuangan;
35 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
d) Mata uang pelaporan; dan
e) Tingkat ketetapan yang digunakan dalam penyajiana
angka-angka pada laporan keuangan.
2. PSAP No. 01 Penyajian Laporan Keungan
paragraf 98 dan PSAP No. 04 Catatan Atas Laporan
Keuangan paragraf 11 menyatakan bahwa: Catatan
atas Laporan Keuangan disajikan secara sistematis. Setiap pos
dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca, dan Laporan Arus
Kas harus mempunyai referensi silang dengan informasi terkait
dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
3. PSAP No. 02 Laporan Realisasi Anggaran Para-
graf 18 menyatakan bahwa: Entitas pelaporan menyajikan
klasifikasi belanja menurut jenis belanja dalam Laporan Re-
alisasi Anggaran. Klasifikasi belanja menurut organisasi disa-
jikan dalam Laporan Realisasi Anggaran atau di Catatan atas
Laporan Keuangan. Klasifikasi belanja menurut fungsi disa-
jikan dalam Catatan atas Laporan Keuangan dan Paragraf 34
menyatakan bahwa Belanja diklasifikasikan menurut klasifi-
kasi ekonomi (jenis belanja), organisasi, dan fungsi.
4. Satu di antara karakteristik kualitatif laporan
keuangan yang terdapat dalam Kerangka Konseptual
Akuntansi Pemerintah adalah laporan keuangan da-
pat dibandingkan. Informasi yang termuat dalam laporan
keuangan akan lebih berguna jika dapat dibandingkan den-
gan laporan keuanga periode sebelumnya atau laporan keuan-
gan entitas pelaporan lainya. Perbandingan dapat dilakukan
secara internal dan ekternal. Perbandingan secara internal
dapat dilakukan bila suatu entitas menerapkan kebijakan
akuntansi yang sama. Perbandingan secara eksternal dapat di-
lakukan bila entitas yang diperbandingkan menerapkan kebi-
jakan akuntansi yang sama. Apabila entitas pemerintah akan
menerapkan kebijakan akuntansi yang lebih baik dari kebija-
kan akuntansi yang sekarang diterapkan, perubahan tersebut
diungkapkan pada periode terjadinya perubahan.
Untuk lebih jelasnya disajikan sebagai berikut:
Tabel 2 Ringkasan PSAP dan Kerangka Konseptual yang
Tidak Diterapkapkan
No. Entitas a*) b*) c*) d*)
1 Provinsi
Gorontalo
- - ¥ ¥
2 Kota Tangerang ¥ - ¥ -
3 Kota Banjar ¥ ¥ ¥ -
*) Keterangan :
a) Informasi mata uang pelaporan tidak dikemukakan
secara jelas pada halaman muka (on the face) Laporan
Realisasi Anggaran (LRA) & Laporan Arus Kas.
b) Halaman muka LRA, Neraca, dan Laporan Arus
Kas tidak mempunyai referensi silang dengan infor-
masi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan
(CaLK).
c) Belanja tidak diklasifikasikan menurut klasifikasi or-
ganisasi dan fungsi dalam CaLK.
d) Halaman muka (on the face) LRA dan Laporan Arus
Kas tidak diperbandingkan dengan tahun sebelum-
nya.
Kesimpulan
Tidak diterapkannya beberapa PSAP dan kerangka kon-
septual tersebut di atas dalam penyajian dan pengungkapan
laporan keuangan maka:
1) Pengguna laporan keuangan tidak memperoleh pema-
haman yang memadai atas informasi mata uang pelaporan
yang digunakan. (tidak diterapkan PSAP No. 01 paragraf 26
huruf d)
2) Pengguna laporan keuangan kesulitan mencari infor-
masi terkait dalam Catatan atas Laporan Keuangan dengan
halaman muka (on the face) laporan keuangan, karena tidak
adanya referensi silang. (tidak diterapkan PSAP No. 01 para-
graf 98 & PSAP No. 4 paragraf 11)
3) Laporan keuangan belum menyajikan secara wajar
atas informasi tambahan yang diperlukan oleh pengguna
laporan. Klasifikasi belanja menurut fungsi digunakan un-
tuk analisis historis dan formulasi kebijakan. Klasifikasi
menurut organisasi untuk kepentingan akuntabilitas. (tidak
diterapkan PSAP No. 02 paragraf 18 & paragraf 34)
4) Pengungkapan atas laporan keuangan tidak berdasar-
kan Prinsip Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah
yaitu pengungkapan penuh (full disclousure). (tidak diterap-
kan PSAP No. 02 paragraf 18 & paragraf 34)
5) Laporan keuangan tidak dapat dibandingkan dengan
tahun sebelumnya. (tidak diterapkan Karakteristik Kualitatif
Laporan Keuangan point c)
Pemeriksa seharusnya mengajukan usulan koreksi atas
penyajian dan pengungkapan laporan keuangan kepada en-
titas yang diperiksa apabila ditemukan ketidaksesuaian den-
gan SAP. Jika entitas tidak bersedia menerima usulan koreksi
yang diajukan oleh pemeriksa, maka akan menjadi pertim-
bangan dalam memberikan pendapat. Hal ini tidak sesuai
dengan Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN)
Pernyataan Standar Pemeriksa No. 01 Standar Umum yang
ketiga adalah “Dalam pelaksanaan pemeriksaan serta peny-
usunan laporan hasil pemeriksaan, pemeriksa wajib meng-
gunakan kemahiran profesionalnya secara cermat dan sek-
sama”.
Daftar Pustaka
Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi
Pemerintah, Jakarta, 2005.
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia, Peraturan BPK RI No. 01
Tahun 2007 tentang Standar Pemeriksaan Keuangan Negara, Jakarta,
2007.
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia, Ikhtisar Hasil Pemeriksaan
Semester I Tahun Anggaran 2008, Jakarta, 2008.
Komite Standar Akuntansi Pemerintah, Buletin Teknis Nomor 04 tentang
Penyajian dan Pengungkapan Belanja Pemerintah, Jakarta, 2006.
36 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
͞1ŚĞ ďĞƐƚ ƟŵĞ ƚŽ ƉůĂŶƚ Ă ƚƌĞĞ ŝƐ ƚǁĞŶƚLJ LJĞĂƌƐ ĂŐŽ͟ ĚĞŵŝ-
kian dikatakan oleh Wakil ketua BPK RI, Abdullah Zainie da-
ůĂŵ ƐĂŵďƵƚĂŶŶLJĂ ƉĂĚĂ ƉĞŶƵƚƵƉĂŶ 1ŚĞ lul ʹ ASCSAl Quality
AƐƐƵƌĂŶĐĞ kĞǀŝĞǁ MĞĞƟŶŐ di Auditorium Gedung Umar Wira-
hadikusumah BPK RI, Rabu (3/12).
SĞƉĞƌƟ ĚŝŬĂƚĂŬĂŶ ŽůĞŚ ŬĞƚƵĂ 8Þk 8l AŶǁĂƌ NĂƐƵƟŽŶ da-
ůĂŵ ƐĂŵďƵƚĂŶŶLJĂ ƉĂĚĂ ƉĞŵďƵŬĂĂŶ 1ŚĞ lul ʹ ASCSAl Quality
AƐƐƵƌĂŶĐĞ kĞǀŝĞǁ MĞĞƟŶŐ͕ Selasa (25/11), Abdullah Zainie
juga mengatakan bahwa kualitas penjaminan mutu audit seha-
ƌƵƐŶLJĂ ďŝƐĂ ŵĞŶũĂĚŝ ƐĂůĂŚ ƐĂƚƵ LJĂŶŐ ŬƵĂƚ͕ ƐĞƉĞƌƟ ƉŽŚŽŶ ƟŶŐ-
Őŝ LJĂŶŐ ƚƵŵďƵŚ ĚĞŶŐĂŶ SAl ;5ƵƉƌĞŵĞ AƵĚŝƚ lŶƐƟƚƵƟŽŶͿ͕ LJĂŶŐ
ŵĞŶLJĞĚŝĂŬĂŶ ƉĞŶũĂŵŝŶĂŶ ƚĞƌďĞƐĂƌ ƚĞŶƚĂŶŐ ŬƵĂůŝƚĂƐ ĚĂƌŝ ƉƌŽƐĞƐ
audit, cara kerja, produk dan servis untuk memenuhi mandat
ĚĂŶ ƐƚĂŶĚĂƌ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ƐĞƌƚĂ ŚĂƌĂƉĂŶ ŵĂƐLJĂƌĂŬĂƚ ĚĞŵŝ ƚĞƌ-
ĐŝƉƚĂŶLJĂ ƚƌĂŶƐƉĂƌĂŶƐŝ ĚĂŶ ĂŬƵŶƚĂďŝůŝƚĂƐ͘ ͟CůĞŚ ŬĂƌĞŶĂ ŝƚƵůĂŚ
Quality Assurance tree ŝŶŝ ƐĞŚĂƌƵƐŶLJĂ ĚŝƚĂŶĂŵ ϮϬ ƚĂŚƵŶ ůĂůƵ
ƐĞŚŝŶŐŐĂ ŬƵĂůŝƚĂƐ ĂƵĚŝƚ ƚĂŬ ĂŬĂŶ ŵĞŶũĂĚŝ ƉĞƌƚĂŶLJĂĂŶ ƐĞůĂŵĂ
ŬƌŝƐŝƐ͕͟ ŬĂƚĂ ZĂŝŶŝĞ͘
Pertemuan ini merupakan pertemuan tahap ke-5 dari tu-
ũƵŚ ŝŵƉůĞŵĞŶƚĂƐŝ lulͲ ASCSAl CƵĂůŝƚLJ AƐƐƵƌĂŶĐĞ ƉƌŽŐƌĂŵ ĚĂŶ
merupakan pertemuan lanjutan dari rangkaian pertemuan IDI-
ASCSAl LJĂŶŐ ďĞƌŬĂŝƚĂŶ ĚĞŶŐĂŶ ƉĞŶĂŶĚĂƚĂŶŐĂŶĂŶ ŬĞƐĞƉĂŬĂ-
tan bersama oleh sepuluh anggota SAI tentang Peningkatan
Kualitas Penjaminan Mutu Audit Keuangan., pada Desember
2007 di Phnom penh, Cambodia.
AƐŝĂŶ CƌŐĂŶŝnjĂƟŽŶ ŽĨ SƵƉƌĞŵĞ AƵĚŝƚ lŶƐƟƚƵƟŽŶ ;ASCSAlͿ
ŵĞƌƵƉĂŬĂŶ ŽƌŐĂŶŝƐĂƐŝ 8Þk ƌĞŐŝŽŶĂů ƐĞͲASlA LJĂŶŐ ƉĂĚĂ ĂǁĂů ƚĂ-
ŚƵŶ ŝŶŝ ďĞŬĞƌũĂ ƐĂŵĂ ĚĞŶŐĂŶ ln1CSAl uĞǀĞůŽƉŵĞŶƚ lŶŝƟĂƟǀĞ
(IDI), salah satu organisasi di Bawah organisasi BPK se-dunia
ƵŶƚƵŬ ŵĞŶLJƵƐƵŶ͕ ŵĞůĂŬƵŬĂŶ Ƶũŝ ĐŽďĂ ĚĂŶ ŵĞŶĞƌĂƉŬĂŶ Quality
Assurance System Handbook di Lingkungan BPK se-Asia.
Pertemuan ini dihadiri oleh Mrs. Else Karin Kristensen
;uĞƉƵƚLJ uŝƌĞĐƚŽƌ ŐĞŶĞƌĂů ŽĨ ln1CSAlͿ͕ Mƌ ÞƌŝŶƚŽŵ ÞŚŽŽŬƵŵ
(Program Manager IDI), Mƌ ¥ƵũŝƌŽ IĐŚŝŬĂǁĂ ;ƌĞƉƌĞƐĞŶƚĂƟǀĞ
of the ASOSAI Training Administrator, BPK Jepang), Mƌ IŽŚŶ
O’Brien ;SƵďũĞĐƚ MĂƩĞƌ LdžƉĞƌƚ͕ 8Þk CĂŶĂĚĂͿ ĚĂŶ ĚŝŚĂĚŝƌŝ ŽůĞŚ
ƐĞŵďŝůĂŶ ŶĞŐĂƌĂ ĚĂƌŝ ƐĞƉƵůƵŚ LJĂŶŐ ĚŝƌĞŶĐĂŶĂŬĂŶ͕ LJĂŝƚƵ 8ŚƵ-
tan, Cambodia, China, Indonesia, Laos PDR, Mongolia, Nepal,
Philippines, dan Vietnam.
uĂůĂŵ ƉĞŵďƵŬĂĂŶ ƌĞǀŝĞǁ ŵĞĞƟŶŐ͕ AŶǁĂƌ nĂƐƵƟŽŶ ŵĞŶ-
gatakan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan untuk bertu-
kar pengalaman antar sembilan anggota SAI dalam mengim-
ƉůĞŵĞŶƚĂƐŝŬĂŶ ƉĞĚŽŵĂŶ ƉĞŶũĂŵŝŶĂŶ ŵƵƚƵ͘ PĂů ŝŶŝ ƉĞŶƟŶŐ
ŬĂƌĞŶĂ ŵĞŶƵƌƵƚ 8Þk͕ ƌĞŶĚĂŚŶLJĂ ŬƵĂůŝƚĂƐ ůĂƉŽƌĂŶ ŬĞƵĂŶŐĂŶ ĚĂŶ
ĂƵĚŝƚŶLJĂ ƚĞůĂŚ ŵĞŶLJĞďĂďŬĂŶ ƚĞƌũĂĚŝŶLJĂ ŬƌŝƐŝƐ ĞŬŽŶŽŵŝ ϭϵϵϳ
dan kondisi keuangan global saat ini. Selain itu UU Keuangan
Negara Tahun 2004 dan UU BPK RI Tahun 2006 memperkuat
wewenang sekaligus tanggung jawab BPK dalam mendorong
transparansi dan akuntabilitas. Selain itu dengan menerapkan
sistem penjaminan mutu audit secara konsisten dan berke-
lanjutan diharapkan menjadi salah satu cara untuk menjamin
ŬƵĂůŝƚĂƐ ŬĞƌũĂ ĚĂŶ ŚĂƐŝů ĂƵĚŝƚ Ěŝ ƚĞŶŐĂŚ ƚĞƌďĂƚĂƐŶLJĂ ƐƵŵďĞƌ
ĚĂLJĂ͘ kĞŐŝĂƚĂŶ ŝŶŝ ũƵŐĂ ĚŝŐƵŶĂŬĂŶ ŽůĞŚ 8Þk 8l ƐĞŬĂůŝŐƵƐ ƵŶƚƵŬ
mempersiapkan diri menghadapi peer review pada Januari
2009 oleh BPK Belanda.
SĞůĂŶũƵƚŶLJĂ͕ ƉĞƌƚĞŵƵĂŶ ĚŝĂĚĂŬĂŶ Ěŝ CƌŽǁŶĞ ÞůĂnjĂ PŽ-
tel. Tim Quality Assurance ŵĞŵƉƌĞƐĞŶƚĂƐŝŬĂŶ ůĂƉŽƌĂŶŶLJĂ
mengenai hasil pilot review dari masing-masing SAI sekaligus
ŵĞŶLJĞůĞƐĂŝŬĂŶ lulͲASCSAl Quality Assurance Handbook.
Selain membahas tentang Penjaminan Mutu Audit Keuan-
ŐĂŶ͕ ƉĞƐĞƌƚĂ ũƵŐĂ ĚŝĂũĂŬ ƵŶƚƵŬ ŵĞŶŐĞŶĂů ďƵĚĂLJĂ lŶĚŽŶĞƐŝĂ
dengan melakukan perjalanan di beberapa tempat wisata di
Jakarta dan Bandung. Di Jakarta mereka mengunjungi museum
Fatahillah dan Ancol, sedangkan di Bandung peserta diajak un-
tuk mengunjungi Gedung Sate, Museum Konfrensi Asia Afrika,
dan saung Angklung Mang Udjo. Di Saung Anglung Mang Udjo
mereka diajak untuk memainkan salah satu alat musik asli Jawa
Barat, angklung.
Agatha Arvi F
BPK se-Asia Tingkatkan Kualitas
Penjaminan Mutu Audit Keuangan
AGENDA
37 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
AGENDA
uĂůĂŵ ƌĂŶŐŬĂ ŵĞǁƵũƵĚŬĂŶ ŬŽŵŝƚŵĞŶ 8Þk 8l ƵŶƚƵŬ ŵĞŶĐĞŐĂŚ ĚĂŶ ŵĞŵďĞƌĂŶƚĂƐ ƟŶĚĂŬ ƉŝĚĂŶĂ ŬŚƵƐƵƐŶLJĂ ƚĞƌŬĂŝƚ ĚĞŶŐĂŶ
korupsi dan pencucian uang (money launderingͿ ƐĞƌƚĂ ƵŶƚƵŬ ŵĞŵŝŶŝŵĂůŝƐŝƌ ƚĞƌũĂĚŝŶLJĂ ƉĞŶLJŝŵƉĂŶŐĂŶ ŬĞƵĂŶŐĂŶ ŶĞŐĂƌĂ͕ 8Þk 8l
bekerja sama dengan POLRI menandatangani suatu kesepakatan bersama. Kesepakatan bersama ini bertujuan agar segera dapat
diberlakukan proses penegakan hukum oleh POLRI terhadap hasil pemeriksaan BPK RI sesuai peraturan perundang-undangan
LJĂŶŐ ďĞƌůĂŬƵ ƐĞŚŝŶŐŐĂ ĚĂƉĂƚ ĚŝĐĂƉĂŝ ŬĞƉĂƐƟĂŶ ŚƵŬƵŵ ƚĞƌŚĂĚĂƉ ŚĂƐŝů ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ 8Þk 8l͘
ÞĞŶĂŶĚĂƚĂŶŐĂŶĂŶ kĞƐĞƉĂŬĂƚĂŶ 8ĞƌƐĂŵĂ ĂŶƚĂƌĂ 8Þk 8l ĚĞŶŐĂŶ ÞCL8l ƚĞŶƚĂŶŐ ƟŶĚĂŬ ůĂŶũƵƚ ƉĞŶĞŐĂŬĂŶ ŚƵŬƵŵ ƚĞƌŚĂĚĂƉ ŚĂƐŝů
ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ 8ÞkͲ8l LJĂŶŐ ďĞƌŝŶĚŝŬĂƐŝ ƟŶĚĂŬ ƉŝĚĂŶĂ͕ ĚŝůĂŬƵŬĂŶ ŽůĞŚ kĞƚƵĂ 8Þk AŶǁĂƌ NĂƐƵƟŽŶ dan Kapolri IĞŶĚĞƌĂů ÞŽůŝƐŝ 8Ăŵ-
ďĂŶŐ nĞŶĚĂƌƐŽ DĂŶƵƌŝ pada tanggal 21 Oktober 2008 di Auditorium BPK RI Gedung Umar Wirahadikusumah Jl Gatot Subroto 31
Jakarta Pusat. Acara ini dihadiri oleh Wakil Ketua BPK RI, para Anggota BPK RI, Pejabat Eselon I dan Eselon II terkait, para Kepala
Perwakilan, Wakapolri, Pejabat Mabes POLRI, serta para Kapolda.
ÞCL8l ĂĚĂůĂŚ ůĞŵďĂŐĂ LJĂŶŐ ďĞƌĚŝƌŝ ƐĞŶĚŝƌŝ LJĂŶŐ ůĂŶŐƐƵŶŐ ďĞƌĂĚĂ Ěŝ ďĂǁĂŚ ÞƌĞƐŝĚĞŶ͘ kĂƉŽůƌŝ ďƵŬĂŶ ƐĂũĂ ŵĞŵŝŵƉŝŶ ƉĞŶLJĞ-
ůĞŶŐŐĂƌĂĂŶ ŽƉĞƌĂƐŝŽŶĂů ŬĞƉŽůŝƐŝĂŶ ĚĂŶ ƉĞŵďŝŶĂĂŶ ŬĞŵĂŵƉƵĂŶŶLJĂ͕ ƚĞƚĂƉŝ ƐĞŬĂůŝŐƵƐ ŵĞŶĞƚĂƉŬĂŶ͕ ŵĞŶLJĞůĞŶŐŐĂƌĂŬĂŶ ĚĂŶ ŵĞŶ-
ŐĞŶĚĂůŝŬĂŶ ŬĞďŝũŬĂĂŶ ƚĞŬŶŝƐ ŬĞƉŽůŝƐŝĂŶ͘ ÞĞƌƵďĂŚĂŶ ŬĞƟŐĂ uuu ϭϵϰϱ ƐĞƌƚĂ uu nŽ͘ ϭϱ ƚĂŚƵŶ ϮϬϬϲ ƚĞůĂŚ ŵĞŶĞŐĂƐŬĂŶ ŬĞŵĂŶĚŝƌŝĂŶ
ĚĂŶ ŬĞďĞďĂƐĂŶ 8Þk 8l͕ LJĂŶŐ ĚŝŚĂƌĂƉŬĂŶ ĚĂƉĂƚ ŵĞŵďĂŶƚƵ ƵŶƚƵŬ ŵĞŶŐŽƌĞŬƐŝ ďĞƌďĂŐĂŝ ĚĂŵƉĂŬ ŶĞŐĂƟĨ ĚĂƌŝ ďƵƌƵŬŶLJĂ ƐŝƐƚĞŵ
manajemen dan pertanggungjawaban keuangan negara selama ini.
kŽŵŝƚŵĞŶ 8Þk 8l ƵŶƚƵŬ ŵĞŶĐĞŐĂŚ ĚĂŶ ŵĞŵďĞƌĂŶƚĂƐ ƟŶĚĂŬ ƉŝĚĂŶĂ ŬŚƵƐƵƐ LJĂŶŐ ƚĞƌŬĂŝƚ ĚĞŶŐĂŶ ŬŽƌƵƉƐŝ ĚĂŶ ƉĞŶĐƵĐŝĂŶ ƵĂŶŐ
(money launderingͿ ƟĚĂŬ ŚĂŶLJĂ ƚĞƌďĂƚĂƐ ĚĂůĂŵ ƚĂƚĂƌĂŶ ŬĞƌũĂ ƐĂŵĂ ĚĞŶŐĂŶ ŝŶƐƟƚƵƐŝ ĚĂůĂŵ ŶĞŐĞƌŝ͘ uĂůĂŵ ƚĂƚĂƌĂŶ lŶƚĞƌŶĂƐŝŽŶĂů͕
BPK RI menjadi anggota lŶƚĞƌŶĂƟŽŶĂů OƌŐĂŶŝnjĂƟŽŶ ŽĨ 5ƵƉƌĞŵĞ AƵĚŝƚ lŶƐƟƚƵƟŽŶ ;lN1O5AlͿ wŽƌŬŝŶŐ CƌŽƵƉ ŽŶ lŝŐŚƚƐ AŐĂŝŶƐ lŶƚĞƌ-
ŶĂƟŽŶĂů MŽŶĞLJ lĂƵŶĚĞƌŝŶŐ ĂŶĚ cŽƌƌƵƉƟŽŶ ;lAlMlAcͿ. Sedangkan di dalam negeri, BPK RI telah mengadakan kesepakatan ber-
ƐĂŵĂ ĚĞŶŐĂŶ ƐĞũƵŵůĂŚ ŝŶƐƟƚƵƐŝ ŶĞŐĂƌĂ LJĂŶŐ ƚĞƌŬĂŝƚ ĚĞŶŐĂŶ ƉĞŵďĞƌĂŶƚĂƐĂŶ ŬŽƌƵƉƐŝ ƐĞƉĞƌƟ kĞũĂŬƐĂĂŶ AŐƵŶŐ͕ kÞk͕ ĚĂŶ ÞÞA1k͘
AĐĂƌĂ ƉĞŶĂŶĚĂƚĂŶŐĂŶĂŶ ŬĞƐĞƉĂŬĂƚĂŶ ďĞƌƐĂŵĂ ŝŶŝ ĚŝĂŬŚŝƌŝ ĚĞŶŐĂŶ ũƵŵƉĂ ƉĞƌƐ LJĂŶŐ ĚŝůĂŬƵŬĂŶ Ěŝ ƌƵĂŶŐ ŬŽŶĨĞƌĞŶƐŝ ƉĞƌƐ 8Þk 8l
oleh Ketua BPK RI dan Kapolri serta dihadiri oleh beberapa media massa baik cetak maupun elektronik.
5ŝƟ kŚĂƐŶĂŚ
8ĂďĂŬ 8ĂƌƵ
kĞƌũĂ ƐĂŵĂ ĂŶƚĂƌĂ 8Þk ĚĂŶ ÞCL8l ŝŶŝ ďĞƌƚƵũƵĂŶ ƵŶƚƵŬ ŵĞŵƉĞƌĐĞƉĂƚ ĚŝůĂŬƵŬĂŶŶLJĂ ƉƌŽƐĞƐ ƉĞŶĞŐĂŬĂŶ ŚƵŬƵŵ ƚĞƌŚĂĚĂƉ ŚĂƐŝů
ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ 8Þk ƐĞƐƵĂŝ ŬĞƚĞŶƚƵĂŶ ƉĞƌƵŶĚĂŶŐͲƵŶĚĂŶŐĂŶ͕ ƐĞƌƚĂ ƵŶƚƵŬ ŵĞǁƵũƵĚŬĂŶ ƚĞƌĐĂƉĂŝŶLJĂ ŬĞƉĂƐƟĂŶ ŚƵŬƵŵ ƚĞƌŚĂĚĂƉ ŚĂƐŝů
ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ 8Þk͘ SĞůĂŝŶ ƚƵũƵĂŶ ƚĞƌƐĞďƵƚ͕ ŬĞƐĞƉĂŬĂƚĂŶ ďĞƌƐĂŵĂ ŝŶŝ ũƵŐĂ ƐĞďĂŐĂŝ ƵƉĂLJĂ ƵŶƚƵŬ ŵĞŶƵŶũƵŬŬĂŶ ŬĞƉĂĚĂ ŵĂƐLJĂƌĂŬĂƚ
luas dan dunia internasional tentang keseriusan lembaga-lembaga negara di Indonesia dalam memberantas korupsi. Sejak 2004
ŚŝŶŐŐĂ MĞŝ ϮϬϬϴ͕ ƚĞůĂŚ ďĂŶLJĂŬ ŚĂƐŝů ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ 8Þk LJĂŶŐ ďĞƌŝŶĚŝŬĂƐŝ ƉŝĚĂŶĂ LJĂŶŐ ƚĞůĂŚ ĚŝůĂƉŽƌŬĂŶ ŬĞƉĂĚĂ ÞCL8l͘ 1ĞŵƵĂŶ
tersebut berjumlah 17 temuan dengan nilai Rp19,37 triliun.
Kesepakatan ini merupakan babak baru dalam kerja sama antara BPK dengan POLRI. Kesepakatan ini mengatur bahwa hasil
ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ 8Þk LJĂŶŐ ĚŝƐĞƌĂŚŬĂŶ ŬĞƉĂĚĂ ÞCL8l ŚĂƌƵƐ ĚŝƐĞƌƚĂŝ ƉĞŵĂƉĂƌĂŶͬƉĞŶũĞůĂƐĂŶ ŵĞŶŐĞŶĂŝ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ƚĞƌƐĞďƵƚ͘ AƉĂďŝůĂ
ƉĂĚĂ ƐĂĂƚ ƉĞŵĂƉĂƌĂŶ ĚŝƌĂƐĂŬĂŶ ƚĞƌĚĂƉĂƚ ďƵŬƟ ƉĞƌŵƵůĂĂŶ LJĂŶŐ ƟĚĂŬ ĐƵŬƵƉ͕ 8Þk ĚĂƉĂƚ ƐĞŐĞƌĂ ŵĞůĞŶŐŬĂƉŝŶLJĂ͘ uĞŶŐĂŶ ĚĞŵŝŬŝĂŶ͕
ĚŝŚĂƌĂƉŬĂŶ ƟĚĂŬ ĂŬĂŶ ƚĞƌũĂĚŝ ůĂŐŝ ŬĂƐƵƐ ĚŝŚĞŶƟŬĂŶ Ěŝ ƟŶŐŬĂƚ ƉĞŶLJŝĚŝŬĂŶ ŵĂƵƉƵŶ Ěŝ ƟŶŐŬĂƚ ƉĞŶƵŶƚƵƚĂŶ͘
ÞĞƌŵŽŚŽŶĂŶ ƉĞƌŚŝƚƵŶŐĂŶ ŬĞƌƵŐŝĂŶ ŶĞŐĂƌĂ LJĂŶŐ ĚŝĂũƵŬĂŶ ÞCL8l ũƵŐĂ ŚĂƌƵƐ ŵĞůĂůƵŝ ƉĞŵĂƉĂƌĂŶ͕ ƐĞŚŝŶŐŐĂ ĚĂƉĂƚ ůĂŶŐƐƵŶŐ
ĚŝŬĞƚĂŚƵŝ ĂƉĂŬĂŚ ƉĞƌŚŝƚƵŶŐĂŶ ŬĞƌƵŐŝĂŶ ŶĞŐĂƌĂ LJĂŶŐ ĚŝŵŝŶƚĂ ŵĂƐƵŬ ĚĂůĂŵ ŬŽŵƉĞƚĞŶƐŝ 8ÞkͲ8l͘ SĞůĂŝŶ ŝƚƵ͕ ũƵŐĂ ĚŝĂƚƵƌ ďĂŚǁĂ
ƵŶƚƵŬ ŵĞŶũĂŵŝŶ ĞĨĞŬƟĮƚĂƐ ƉĞŶĂŶŐĂŶĂŶ ŚĂƐŝůͲŚĂƐŝů ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ LJĂŶŐ ĚŝƐĞƌĂŚŬĂŶ͕ ÞCL8l ĂŬĂŶ ŵĞŵďĞƌŝƚĂŚƵŬĂŶ ƐĞĐĂƌĂ ƚĞƌƚƵůŝƐ
ƉĞƌŬĞŵďĂŶŐĂŶŶLJĂ͘
1ĞƌĚĂƉĂƚ ƟŐĂ ƌƵĂŶŐ ůŝŶŐŬƵƉ ƉĞůĂŬƐĂŶĂĂŶ ŬĞƌũĂ ƐĂŵĂ ŝŶŝ͘ Pertama͕ ƉĞŶLJĞƌĂŚĂŶ ŚĂƐŝů ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ 8Þk LJĂŶŐ ďĞƌŝŶĚŝŬĂƐŝ ƟŶĚĂŬ
ƉŝĚĂŶĂ ŬĞƉĂĚĂ kĞƉŽůŝƐŝĂŶ ƵŶƚƵŬ ĚŝƟŶĚĂŬůĂŶũƵƟ ƐĞƐƵĂŝ ŬĞƚĞŶƚƵĂŶ ƉĞƌĂƚƵƌĂŶ ƉĞƌƵŶĚĂŶŐͲƵŶĚĂŶŐĂŶ͘ ÞĂĚĂ ƉĞŶLJĞƌĂŚĂŶ ŚĂƐŝů ƉĞŵĞ-
ƌŝŬƐĂĂŶ͕ 8Þk ŵĞŶLJĞƌĂŚŬĂŶ ŚĂƐŝů ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ƐĞĐĂƌĂ ƚĞƌƚƵůŝƐ ŬĞƉĂĚĂ kĞƉŽůŝƐŝĂŶ nĞŐĂƌĂ͘ ÞĞŶLJĞƌĂŚĂŶ ŚĂƐŝů ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ Ěŝ ĚĂĞƌĂŚ
dapat dilakukan oleh Kepala Perwakilan BPK RI kepada Kepala Kepolisian Daerah.
Kedua͕ ŬĞƌũĂ ƐĂŵĂ ŬĞĚƵĂ ƉŝŚĂŬ ĚĂůĂŵ ƉƌŽƐĞƐ ƟŶĚĂŬ ůĂŶũƵƚ ƉĞŶĂŶŐĂŶĂŶ ƉĞƌŬĂƌĂ ƚĞƌŬĂŝƚ ĚĞŶŐĂŶ ƉĞŶĞŐĂŬĂŶ ŚƵŬƵŵ͘ uŶƚƵŬ
ŬĞƉĞŶƟŶŐĂŶ ƉĞŶĞŐĂŬĂŶ ŚƵŬƵŵ͕ kĞƉŽůŝƐŝĂŶ ĚĂƉĂƚ ŵĞŵŝŶƚĂ 8Þk ƵŶƚƵŬ ŵĞŶƵŶũƵŬ AŚůŝ ŐƵŶĂ ĚŝĚĞŶŐĂƌ ŬĞƚĞƌĂŶŐĂŶ ĚĂŶ ƉĞŶĚĂƉĂƚ-
ŶLJĂ ƚĞŶƚĂŶŐ ŚĂůͲŚĂů LJĂŶŐ ďĞƌŬĂŝƚĂŶ ĚĞŶŐĂŶ ŚĂƐŝů ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ 8Þk͘ kĞƟŐĂ͕ ŬĞƌũĂ ƐĂŵĂ Ěŝ ďŝĚĂŶŐ ƉĞŶĚŝĚŝŬĂŶ ĚĂŶ ƉĞůĂƟŚĂŶ ƵŶƚƵŬ
ŵĞŶŝŶŐŬĂƚŬĂŶ ŬĞŵĂŵƉƵĂŶ ƐƵŵďĞƌ ĚĂLJĂ ŵĂŶƵƐŝĂ ƉĂĚĂ ŬĞĚƵĂ ƉŝŚĂŬ͘
8ĞƐƚĂŶƟĂ
Penandatanganan Kesepakatan Bersama
antara BPK RI dengan POLRI
38 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
0
Foto bersama setelah penandatangan MoU antara BPK RI dan BPK
Polandia pada 28 Oktober 2008
Foto bersama setelah penyerahan gambar karikatur dari ketua BPK
RI kepada keluarga Soerasno di Yogyakarta 19 Desember 2008.
Dialog publik “ Mendukung Terciptanya Transparasi dan Akuntabili-
tas Pengelolahan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara/Daerah di
Semarang 18 Desember 2008.
Pemukulan gong oleh Ketua BPK RI dengan didampingi oleh Sekjen
BPK RI pada acara pembukaan Rapat Kerja BPK 22 Desember 2008
POTRET BPK
Warga Kristiani BPK berfoto bersama Ketua BPK RI dan Ibu pada
acara peringatan Natal bersama 20 Desember 2008.
Peresmian pembukaan kantor perwakilan BPK RI provinsi Jawa Te-
ngah, Semarang 18 Desember 2008.
39 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Rapat Kerja Pelaksana BPK RI yang berlangsung pada 22 dan 23
Desember 2008.
Penandatanganan kesepakatan bersama SIMAK BPK RI yang disak-
sikan oleh Kaditama revbang di auditorium BPK.
Ketua BPK RI, Prof. Dr. Anwar Nasution memberikan sambutan pada
acara MoU BPK RI dengan BPK Norwegia 4 November 2008.
Paduan Suara Dharmawanita Persatuan BPK RI berfoto pada acara
Rapat Kerja Pelaksana BPK RI, 23 Desember 2008.
Penandatanganan MoU antara Ketua BPK RI dan BPK Norwegia di
Oslo, 4 November 2008.
Sekretaris Jenderal BPK RI Dharma Bhakti menadatangani berita
acara serah terima jabatan pada acara pelantikan di auditorium
BPK.
40 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Pertemuan Pejabat di Lingkungan Lembaga Negara
dan Bank Indonesia
AGENDA
uĂůĂŵ ƌĂŶŐŬĂ ŵĞŶŝŶŐŬĂƚŬĂŶ ŚƵďƵŶŐĂŶ LJĂŶŐ ůĞďŝŚ ĞƌĂƚ ĂŶƚĂƌĂ ƐĂƚƵ ůĞŵďĂŐĂ ĚĞŶŐĂŶ ůĞŵďĂŐĂ LJĂŶŐ ůĂŝŶŶLJĂ͕ ŵĂŬĂ uĞƉƵƟ
Menteri Setneg Bidang Hubungan Lembaga, 5ƵŵĂƌǁŽƚŽ͕ ŵĞŵƉƵŶLJĂŝ ŐĂŐĂƐĂŶ ƵŶƚƵŬ ŵĞŶŐĂĚĂŬĂŶ ƉĞƌƚĞŵƵĂŶ ĂŶƚĂƌ ůĞŵďĂŐĂ͕
ŬŚƵƐƵƐŶLJĂ Ěŝ ůŝŶŐŬƵŶŐĂŶ SĞŬƌĞƚĂƌŝĂƚ !ĞŶĚĞƌĂů͘ ÞĞƌƚĞŵƵĂŶ ŝŶŝ ďĞƌƚƵũƵĂŶ ƵŶƚƵŬ ƐĂůŝŶŐ ŵĞŵďĂŐŝ ƉĞŶŐĂůĂŵĂŶ LJĂŶŐ ĂĚĂ ƉĂĚĂ ƐƵĂƚƵ
ůĞŵďĂŐĂ ƐĞŚŝŶŐŐĂ ůĞŵďĂŐĂ LJĂŶŐ ůĂŝŶŶLJĂ ŵĞŶŐĞƌƟ ƉĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶ LJĂŶŐ ĚŝŚĂĚĂƉŝ ŽůĞŚ ůĞŵďĂŐĂ ƚĞƌƐĞďƵƚ͕ ƐĞŬĂůŝŐƵƐ ŵĞŶŐƵƌĂŝŬĂŶ
tugas dan fungsi masing-masing lembaga.
uŶƚƵŬ ƉĞƌƚĂŵĂ ŬĂůŝŶLJĂ͕ ƉŝŚĂŬ SĞƚŶĞŐ ƐĞďĂŐĂŝ ƚƵĂŶ ƌƵŵĂŚ ŵĞŶŐĂĚĂŬĂŶ ƉĞƌƚĞŵƵĂŶ ŝŶŝ Ěŝ PŽƚĞů SĂƌŝ ÞĂŶ ÞĂĐŝĮĐ͕ !ĂŬĂƌƚĂ͕ ĚĂŶ
ĚŝŚĂĚŝƌŝ ŽůĞŚ ůĞŵďĂŐĂͲůĞŵďĂŐĂ uÞ8͕ MÞ8͕ uÞu͕ MA͕ kŽŵŝƐŝ ?ƵĚŝƐŝĂů͕ ÞƌĞƐŝĚĞŶ ;SĞƚŶĞŐͿ͕ MĂŚŬĂŵĂŚ kŽŶƐƟƚƵƐŝ͕ 8ĂŶŬ lŶĚŽŶĞƐŝĂ
;ƐĞďĂŐĂŝ 8ĂŶŬ SĞŶƚƌĂůͿ͕ ĚĂŶ 8Þk 8l LJĂŶŐ ĚŝǁĂŬŝůŝ ŽůĞŚ 8ĂŐŝĂŶ PƵďƵŶŐĂŶ uĂůĂŵ nĞŐĞƌŝ͘
ÞĂĚĂ ŬĞƐĞŵƉĂƚĂŶ ƐĞůĂŶũƵƚŶLJĂ͕ SƵď 8ĂŐŝĂŶ PƵďƵŶŐĂŶ LĞŵďĂŐĂ uĂůĂŵ nĞŐĞƌŝ ƉĂĚĂ 8ŝƌŽ PƵŵĂƐ ĚĂŶ LƵĂƌ nĞŐĞƌŝ 8Þk 8l ŵĞŶLJĞ-
ůĞŶŐŐĂƌĂŬĂŶ ƉĞƌƚĞŵƵĂŶ ƌƵƟŶ ƉĞũĂďĂƚ Ěŝ ůŝŶŐŬƵŶŐĂŶ ůĞŵďĂŐĂ nĞŐĂƌĂ͘ ÞĞƌƚĞŵƵĂŶ ƚĞƌƐĞďƵƚ ďĞƌůĂŶŐƐƵŶŐ ƉĂĚĂ ϭϴ !Ƶůŝ ϮϬϬϴ Ěŝ 8ƵĂŶŐ
Pola Gd. Arsip BPK RI Pusat Jl. Jenderal Gatot Subroto No. 31 Jakarta Pusat. Pertemuan ini dihadiri oleh Abdullah Zainie (Wakil
Ketua BPK RI), 8ĂŚĂƌƵĚĚŝŶ AƌŝƚŽŶĂŶŐ (Anggota III BPK RI), DŚĂƌŵĂ 8ŚĂŬƟ (Sekretaris Jenderal BPK RI ), dan 5ŽĞŬŽLJŽ (Tortama
III BPK RI).
MĂƚĞƌŝ LJĂŶŐ ĚŝƉĂƉĂƌŬĂŶ ĂĚĂůĂŚ Peran BPK RI Menuju Transparansi dan Akuntabilitas Keuangan Negara dalam Sistem Keta-
tanegaraan Negara Kesatuan͕ LJĂŶŐ ĚŝƐĂŵƉĂŝŬĂŶ ŽůĞŚ WĂŬŝů kĞƚƵĂ 8Þk 8l͘ AĐĂƌĂ ĚŝŵƵůĂŝ ĚĞŶŐĂŶ ƉĞŵďĂĐĂĂŶ ůĂƉŽƌĂŶ ƉĞůĂŬƐĂŶĂĂŶ
ŬĞŐŝĂƚĂŶ ŽůĞŚ SĞŬũĞŶ 8Þk 8l͕ ĚĂŶ ƐĂŵďƵƚĂŶ uĞƉƵƟ MĞŶƚĞƌŝ SĞŬƌĞƚĂƌŝƐ nĞŐĂƌĂ 8ŝĚĂŶŐ PƵďƵŶŐĂŶ LĞŵďĂŐĂ ƐĞůĂŬƵ kŽŽƌĚŝŶĂƚŽƌ
Forum Sekjen di Lingkungan Lembaga Negara, Sumarwoto.
Dalam pemaparan, dijelaskan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
ŶĞŐĂƌĂ ŽůĞŚ ƉĞŵĞƌŝŶƚĂŚͬŝŶƐƚĂŶƐŝͬůĞŵďĂŐĂ͕ 8Þk ŵĞŶĚŽƌŽŶŐ ÞĞŵĞƌŝŶƚĂŚ ĚĂŶ ƉĂƌĂ ƉŝŵƉŝŶĂŶ ŝŶƐƚĂŶƐŝͬůĞŵďĂŐĂ ƵŶƚƵŬ ŵĞŶLJƵƐƵŶ
rencana aksi (ĂĐƟŽŶ ƉůĂŶ) perbaikan akuntabilitas pertanggungjawaban keuangan negara. Rencana aksi tersebut minimal melipu-
Ɵ͗ ;ϭͿ ƉĞƌďĂŝŬĂŶ ƐŝƐƚĞŵ ĂŬƵŶƚĂŶƐŝ ĚĂŶ ƉĞůĂƉŽƌĂŶ ŬĞƵĂŶŐĂŶ͖ ;ϮͿ ƐŝƐƚĞŵ ƚĞŬŶŽůŽŐŝ ŝŶĨŽƌŵĂƐŝ͖ ;ϯͿ ƉĞŶĞƌƟďĂŶ ƌĞŬĞŶŝŶŐ ÞĞŵĞƌŝŶƚĂŚ͖
;ϰͿ ŝŶǀĞŶƚĂƌŝƐĂƐŝ ĚĂŶ ƉĞŶŝůĂŝĂŶ ĂƐĞƚ ĚĂŶ ƵƚĂŶŐ͖ ;ϱͿ ƉĞŶũĂŵŝŶĂŶ ŵƵƚƵ ;quality assuranceͿ ŽůĞŚ ƉĞŶŐĂǁĂƐ ŝŶƚĞƌŶ͖ ĚĂŶ ;ϲͿ ƉĞŶŝŶŐŬĂ-
ƚĂŶ ŬƵĂůŝƚĂƐ ƐƵŵďĞƌ ĚĂLJĂ ŵĂŶƵƐŝĂ ƉĞŶŐĞůŽůĂ ŬĞƵĂŶŐĂŶ ŶĞŐĂƌĂͬĚĂĞƌĂŚ͘
1ŝĚĂŬ ŚĂŶLJĂ ŵĞŶĚŽƌŽŶŐ ƉĞŶLJƵƐƵŶĂŶŶLJĂ͕ 8Þk ũƵŐĂ ŵĞŵĂŶƚĂƵ ŝŵƉůĞŵĞŶƚĂƐŝ ƌĞŶĐĂŶĂ ĂŬƐŝ ƚĞƌƐĞďƵƚ ĚĂŶ ŵĞůĂƉŽƌŬĂŶŶLJĂ ŬĞ-
pada lembaga perwakilan. Langkah-langkah BPK dalam meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dan pertang-
gungjawaban keuangan negara telah disusun dalam Rencana Strategis (Renstra) BPK Tahun 2005 - 2010. Langkah-langkah terse-
ďƵƚ LJĂŝƚƵ͗ ;ϭͿ ŵĞŶŝŶŐŬĂƚŬĂŶ ŬĞŐŝĂƚĂŶ ƉĞŵďĞƌĂŶƚĂƐĂŶ kkn͕ ;ϮͿ ŵĞŶŝŶŐŬĂƚŬĂŶ ƚƌĂŶƐƉĂƌĂŶƐŝ ĚĂŶ ĂŬƵŶƚĂďŝůŝƚĂƐ ŬĞƵĂŶŐĂŶ ŶĞŐĂƌĂ͕
(3) membantu Pemerintah mengimplementasikan paket UU di bidang keuangan negara, dan (4) membantu Pemerintah untuk
ŵĞůĂŬƵŬĂŶ ƌĞĨŽƌŵĂƐŝ ŝŶƐƟƚƵƐŝŽŶĂů͕ ƚĞƌŵĂƐƵŬ ƌĞƐƚƌƵŬƚƵƌŝƐĂƐŝ 8uMn ĚĂŶ 8ĂĚĂŶ LĂLJĂŶĂŶ uŵƵŵ͘
ÞĞƌƚĞŵƵĂŶ ŝŶŝ ŵĞŵƉĞƌŽůĞŚ ĂŶƚƵƐŝĂƐ LJĂŶŐ ƟŶŐŐŝ ĚĂƌŝ ƉĂƌĂ ƉĞƐĞƌƚĂ LJĂŶŐ ŚĂĚŝƌ ĚĂŶ ĚŝƐĂŵďƵƚ ďĂŝŬ ŽůĞŚ uĞƉƵƟ MĞŶƚĞƌŝ SĞŬ-
ƌĞƚĂƌŝƐ nĞŐĂƌĂ 8ŝĚĂŶŐ PƵďƵŶŐĂŶ LĞŵďĂŐĂ ƐĞůĂŬƵ kŽŽƌĚŝŶĂƚŽƌ lŽƌƵŵ SĞŬũĞŶ Ěŝ LŝŶŐŬƵŶŐĂŶ LĞŵďĂŐĂ nĞŐĂƌĂ͘ MĞŶƵƌƵƚŶLJĂ͕ ƉĞƌ-
ƚĞŵƵĂŶ ŝŶŝ ŵĞƌƵƉĂŬĂŶ ƐĂƚƵ ǁĂĚĂŚ͕ ďƵŬĂŶ ŚĂŶLJĂ ƵŶƚƵŬ ďĞƌĚŝƐŬƵƐŝ ƚĞƚĂƉŝ ũƵŐĂ ŵĞƌƵƉĂŬĂŶ ǁĂĚĂŚ ƵŶƚƵŬ problem solving.
SŝƟ kĂƐŶĂŚ
ÞĞŬĂŶďĂƌƵ ʹ BPK RI Kantor Perwakilan Provinsi Riau kembali mengge-
lar pemaparan kasus (expose) dengan Kejaksaan Tinggi Riau dan Kejaksaan
Negeri Bengkalis pada hari Rabu, 17 Desember 2008 bertempat di Ruang
8ĂƉĂƚ kĂŶƚŽƌ ÞĞƌǁĂŬŝůĂŶ͘ kĂůŝ ŝŶŝ͕ ŬĂƐƵƐ LJĂŶŐ ĚŝƉĂƉĂƌŬĂŶ ŵĞŶŐĞŶĂŝ uƵŐĂĂŶ
Tindak Pidana Korupsi Pelaksanaan Pembangunan Kebun Kelapa Sawit Rak-
LJĂƚ 1ĂŚƵŶ AŶŐŐĂƌĂŶ ϮϬϬϱ ʹ ϮϬϬϲ ƉĂĚĂ kĂďƵƉĂƚĞŶ kĂŵƉĂƌ LJĂŶŐ ĚŝƉĂƉĂƌŬĂŶ
oleh Kejaksaan Tinggi Riau serta Kegiatan Pembebasan Tanah Pelabuhan
Bandar Sri Laksamana Bengkalis Tahun Anggaran 2007 oleh Kejaksaan Neg-
eri Bengkalis.
Expose dibuka langsung oleh Kepala Kantor Perwakilan, Dr. H. Eko Sem-
bodo. Kepala Kantor Perwakilan berharap para pemeriksa dapat menggali
ďĂŶLJĂŬ ŚĂů ĚĂůĂŵ expose ŝŶŝ ƚĞƌŬĂŝƚ ƉĞƌŵĂƐĂůĂŚĂŶ ĚƵŐĂĂŶ ƟƉŝŬŽƌ͘ AĐĂƌĂ ŝŶŝ
ƐĞůĂŝŶ ĚŝŚĂĚŝƌŝ ŽůĞŚ 1ŝŵ ÞĞŶLJŝĚŝŬ ĚĂƌŝ kĞũĂŬƐĂĂŶ 1ŝŶŐŐŝ 8ŝĂƵ ĚĂŶ kĞũĂŬƐĂĂŶ
Negeri Bengkalis juga dihadiri oleh Personil dari Sub Bagian Hukum dan Humas serta delapan orang pemeriksa pada BPK RI Kan-
ƚŽƌ ÞĞƌǁĂŬŝůĂŶ ÞƌŽǀŝŶƐŝ 8ŝĂƵ LJĂŶŐ ƐĞLJŽŐLJĂŶLJĂ ĂŬĂŶ ĚŝƚƵƌƵŶŬĂŶ ƐĞďĂŐĂŝ Ɵŵ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂ͘ ÞĞŵĂƉĂƌĂŶ ŬĂƐƵƐ ŝŶŝ ďĞƌůĂŶŐƐƵŶŐ ŵƵůĂŝ
pukul 09.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.
41 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
BPK RI Raih Penghargaan
Pengembangan GIS dan Remote
Sensing untuk Audit
Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia
(BPK RI) meraih penghargaan dari Masyarakat Penginderaan
Jauh Indonesia (MAPIN) kategori instansi pemerintah/lembaga
dengan pengembangan Geographic Information System (GIS)
dan Remote Sensing (Penginderaan Jauh/RS). Penghargaan
ini diberikan oleh Ketua MAPIN, Ketut Wikantika, kepada
Sekretaris Jenderal BPK RI, Dharma Bhakti, di Aula Timur,
Kampus ITB, Bandung, pada 10 Desember 2008. Acara ini
menjadi bagian dalamPertemuan IlmiahTahunan XVII (PITXVII)
dengan tema “Kebijakan dan Trend Teknologi Penginderaan
Jauh dalam Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan”.
Menurut Ketut, penghargaan ini diberikan kepada lembaga-
lembaga yang mendorong pemasyarakatan penggunaan dan
pengembangan teknologi penginderaan
jauh dalam pelaksanaan tugasnya.
Selain kategori instansi pemerintah/
lembaga, penghargaan ini juga
diberikan untuk dua kategori lain, yaitu:
instansi pendidikan kepada Universitas
Diponegoro dan perusahaan swasta
kepada Barista Geoinformatik. BPK RI
dinilai telah berhasil memperkenalkan
dan mengembangkan penggunaan GIS
dan RS dalam pemeriksaannya. Hal ini
dimulai denganketerlibatanBPKRI dalam
program pilot study on the use of GIS for
audit of disaster-related aid dalam rangka
International Organization of Supreme
Audit Institutions (INTOSAI) Task Forceon
The Accountability and Audit of Disaster
Related Aid (AADRA) dan pemanfaatan/
pengembangan di bidang pemeriksaan
kehutanan. Saat ini teknologi tersebut
digunakan untuk pemeriksaan di bidang
kehutanan dan diharapkan ke depannya
dapat digunakan di bidang lain, seperti
pertambangan, dan sebagainya.
“Manfaat penginderaan jauh
cukup tinggi untuk membantu para
auditor BPK RI dalam melakukan tugas
pemeriksaan,” tegas Sekjen BPK RI
dalam sambutannya usai menerima
penghargaan. GIS adalah salah satu
teknologi yang dapat digunakan oleh
auditor untuk meningkatkan kualitas hasil pemeriksaan. GIS
ini menggunakan aplikasi komputer dan peta citra satelit
sebagai data yang akan diolah. Penggunaan teknologi GIS
dapat memperkaya metodologi dan teknik pemeriksaan dalam
beberapa hal, antara lain: (1) Penentuan Sampel Pemeriksaan.
Penggunaan teknologi GIS dapat memperluas cakupan areal
yang akan diuji dengan menggunakan peta citra satelit. (2)
Alat Mengolah Data/Bukti Pemeriksaan. Teknologi GIS dan RS
dapat dimanfaatkan untuk membantu auditor dalam mengolah
data terkait dengan penggundulan hutan, penebangan di luar
areal yang diijinkan, tumpang tindih lahan (perkebunan dan
hutan), dan lain-lain.
Bestantia
AGENDA
42 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Pemeriksaan Laporan Keuangan oleh BPK:
Sebuah Wewenang dan Tanggung Jawab demi tercapainya Transparansi
dan Akuntabilitas Penyelenggaraan Keuangan Negara
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK)
merupakan lembaga negara Indonesia yang memiliki
wewenang memeriksa pengelolaan dan tanggung
jawab keuangan Negara. Pasal 23 ayat (5) UUD
Tahun 1945 menetapkan bahwa untuk memeriksa
tanggung jawab tentang Keuangan Negara
diadakan suatu Badan Pemeriksa Keuangan yang
peraturannya ditetapkan dengan Undang-Undang.
Hasil pemeriksaan itu disampaikan kepada Dewan
Perwakilan Rakyat.
BPK sejak awal dibentuknya berdasarkan
UUD 1945, mengalami beberapa perubahan seiring
dengan berubahnya konstitusi dan UUD Pemerintahan
Negara Indonesia. BPK pertama kali berkedudukan
di kota Magelang dan hanya mempunyai 9 orang
pegawai Pada saat itu, BPK menggunakan peraturan
perundang-undangan yang dulu berlaku bagi
pelaksanaan tugas Algemene Rekenkamer (Badan
Pemeriksa Keuangan Hindia Belanda), yaitu ICW
dan IAR.
Dengan dibentuknya Negara Kesatuan
Republik Indonesia Serikat (RIS) berdasarkan
Piagam Konstitusi RIS maka dibentuk Dewan
Pengawas Keuangan (berkedudukan di Bogor) yang
merupakan salah satu alat perlengkapan negara RIS.
Dengan terbentuknya Negara Kesatuan Republik
Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1950, maka
Dewan Pengawas Keuangan RIS digabung dengan
Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan UUDS
1950. Dengan dikeluarkannya Dekrit Presiden RI
maka Dewan Pengawas Keuangan berdasarkan UUD
1950 kembali menjadi Badan Pemeriksa Keuangan
berdasarkan Pasal 23 (5) UUD Tahun 1945. Meskipun
Badan Pemeriksa Keuangan berubah-ubah menjadi
Dewan Pengawas Keuangan RIS berdasarkan
konstitusi RIS Dewan Pengawas Keuangan RI
(UUDS 1950), kemudian kembali menjadi Badan
Pemeriksa Keuangan berdasarkan UUD Tahun 1945,
namun landasan pelaksanaan kegiatannya masih
tetap menggunakan ICW dan IAR.
Dalam amanat-amanat Presiden yaitu
Deklarasi Ekonomi dan Ambeg Parama Arta,
telah dikemukakan keinginan-keinginan untuk
menyempurnakan Badan Pemeriksa Keuangan,
sehingga dapat menjadi alat kontrol yang efektif.
Untuk mencapai tujuan itu maka pada tanggal 12
Oktober 1963, Pemerintah telah mengeluarkan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang No.
7 Tahun 1963 tentang Badan Pemeriksa Keuangan
Gaya Baru. Untuk mengganti PERPU tersebut,
dikeluarkanlah UU No. 17 Tahun 1965 yang antara
lain menetapkan bahwa Presiden, sebagai Pemimpin
Besar Revolusi pemegang kekuasaan pemeriksaan dan
penelitian tertinggi atas penyusunan dan pengurusan
Keuangan Negara. Ketua dan Wakil Ketua BPK
RI berkedudukan masing-masing sebagai Menteri
Koordinator dan Menteri. Akhirnya oleh MPRS
dengan Ketetapan No.X/MPRS/1966 Kedudukan
BPK RI dikembalikan pada posisi dan fungsi semula
sebagai Lembaga Tinggi Negara. Sehingga UU yang
mendasari tugas BPK RI perlu diubah dan akhirnya
baru direalisasikan pada Tahun 1973 dengan UU No.
5 Tahun 1973 Tentang Badan Pemeriksa Keuangan.
Dalam era Reformasi sekarang ini, Badan
Pemeriksa Keuangan telah mendapatkan dukungan
konstitusional dari MPR RI dalam Sidang Tahunan
Tahun 2002 yang memperkuat kedudukan BPK
RI sebagai lembaga pemeriksa eksternal di bidang
Keuangan Negara, yaitu dengan dikeluarkannya
TAP MPR No.VI/MPR/2002 yang antara lain
menegaskan kembali kedudukan Badan Pemeriksa
Keuangan sebagai satu-satunya lembaga pemeriksa
Oleh: Romi Suryana, SE Seksi Jawa Barat II.B Perwakilan BPK RI di Bandung
LAPORAN UTAMA
43 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
eksternal keuangan negara dan peranannya perlu
lebih dimantapkan sebagai lembaga yang independen
dan profesional.
Untuk lebih memantapkan tugas BPK RI,
ketentuan yang mengatur BPK RI dalam UUD Tahun
1945 telah diamandemen. Sebelum amandemen
BPK RI hanya diatur dalam satu ayat (pasal 23 ayat
5) kemudian dalam Perubahan Ketiga UUD 1945
dikembangkan menjadi satu bab tersendiri (Bab
VIII A) dengan tiga pasal (23E, 23F, dan 23G) dan
tujuh ayat. Untuk menunjang tugasnya, BPK RI
didukung dengan seperangkat Undang-Undang di
bidang Keuangan Negara, yaitu; UU No.17 Tahun
2003 Tentang keuangan Negara UU No.1 Tahun
2004 Tentang Perbendaharaan Negara UU No. 15
Tahun 2004 Tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan
Tanggung Jawab Keuangan Negara.
Dari paparan di atas, terlihat jelas bahwa
semenjak BPK berdiri 60 tahun yang lalu BPK
telah melakukan tugas mulia berupa pemeriksaan
atas pertanggungjawaban pengelolaan keuangan
Negara. Pemeriksaan yang dilakukan BPK meliputi
pemeriksaan Keuangan, Pemeriksaan Kinerja, dan
Pemeriksaan Khusus dengan Tujuan Tertentu diluar
pemeriksaan keuangan dan kinerja. Tetapi apa lacur,
hingga 60 tahun BPK berdiri, hampir 400 Pemda
belum bisa tuntas membuat laporan keuangan
bahkan boleh dikatakan laporan keuangan
tersebut tidak layak audit. Ketidaksiapan
dalam pembuatan laporan keuangan yang
sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan
memang diakui oleh Menteri Keuangan.
Penyebabnya, belum ada perhatian penuh
seluruh lembaga pemerintah yang besar
terhadap laporan keuangan pemerintah tersebut.
Instansi pemerintah sampai saat ini masih
mengutamakan pelayanan publik, sementara
persoalan laporan keuangan menjadi urusan
belakangan. Laporan keuangan pemerintah
secara umum masih di bawah standar akuntasi
keuangan karena masih dipengaruhi kebiasaan
pengelolaan uang negara yang tidak disertai
dengan pelaporan dan hal ini terkait dengan
budaya dan kebiasaan di birokrasi yang sudah
berlangsung sejak puluhan tahun. Kondisi
inilah yang berpengaruh terhadap pemberian
opini oleh BPK terhadap Laporan Keuangan
Pemerintah baik di Pusat maupun di Daerah.
Pemeriksaan Keuangan diartikan sebagai istilah
yang menggambarkan sifat Financial Audit
yaitu yang mencakup sasaran menyeluruh
meliputi aktvia, hutang, dan modal. Untuk
menghindari kerancuan maka istilah audit
keuangan lebih baik jika digantikan dengan
audit atas laporan keuangan. Audit atas
Laporan Keuangan (Financial Audit) adalah
audit yang dilakukan untuk memberikan
pernyataan pendapat akuntan/auditor yang
independent mengenai kewajaran penyajian
44 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
laporan keuangan auditan atas penggunaan dana
APBN/D (rutin/proyek) ataupun suatu entitas
organisasi perusahaan. Sedangkan Audit kinerja
secara substansial tidak berbeda dengan Audit
Operasional yang didalamnya mencakup pengertian
Audit Manajemen dan Audit atas Program (sifatnya
lebih kecil dan khusus lingkupnya), dalam hal
ini sama-sama mengandung unsur evaluasi atas
efektivitas. Audit kinerja dapat didefinisikan sebagai
penilaian terhadap operasi suatu organisasi apakah
dapat berjalan dengan efisien ekonomis, dan efektif.
BPK sampai dengan Tahun 2007 belum dapat
melakukan Pemeriksaan atas seluruh Laporan
Keuangan Pemerintah Daerah jika berdasarkan
kuantitas Pemerintah Daerah akan berjumlah 473
Laporan yang terdiri dari 33 Laporan Keuangan
Pemerintah Daerah (LKPD) Provinsi, 349 LKPD
Kabupaten dan 91 LKPD Kota. Salah satu faktor
penyebabnya adalah ketidaksiapan Pemerintah
Daerah dalam menyusun Laporan Keuangan sesuai
dengan Standar Akuntansi Keuangan seperti yang
disebutkan pada bagian sebelumnya. Bagaimana
mungkin akan dilakukan pemeriksaan, jika Laporan
Keuangan saja belum dibuat, padahal auditor BPK
telah siap melakukan pemeriksaan keuangan. Hal ini
mencerminkan betapa jauhnya ketertinggalan kita
dengan Negara lain yang telah sampai pada tahap
pemeriksaan kinerja.
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
dilakukan oleh BPK Pusat pada tahun 2007 terhadap
87 laporan keuangan Kementerian/Lembaga (LKKL).
Sedangkan di daerah BPK melakukan pemeriksaan
keuangan atas 275 Laporan Keuangan Pemerintah
Daerah (LKPD). Dari pemeriksaan tersebut, BPK
menyimpulkan kondisi laporan keuangan di pusat
dan daerah mengalami penurunan kualitas dari
tahun ke tahun. Hal ini menunjukkan belum ada
kemajuan berarti dalam peningkatan transparansi
serta akuntabilitas keuangan negara. Sebagian besar
permasalahan terkait dengan kelemahan sistem
pengendalian intern dan ketidakpatuhan terhadap
peraturan perundang-undangan. Bukan hal yang
aneh jika temuan yang berulang dari tahun ke tahun
tersebut mencerminkan kelambanan pemerintah
memperbaiki administrasi keuangan
Negara. BPK memberikan opini penilaian baik
(Dalam kategori WTP atau Wajar Tanpa
Pengecualian) kepada hanya 16 K/L atau sekitar
19% dari 87 K/L yang diperiksa. Sedangkan 16 K/
L yang laporannya dinilai baik itu hanya menguasai
anggaran 12% dari APBN. Kementerian/lembaga
Negara yang laporan keuangannya mendapat WTP
antara lain Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang
dua tahun berturut-turut mendapat penilaian opini
WTP, Lembaga Administrasi Negara (LAN),
Komisi Yudisial, Mahkamah Konstitusi dan berapa
kementerian dan lembaga negara lainnya. Pada
pemerintah daerah, hasil pemeriksaan dengan opini
Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) pada LKPD 2004
ada 17 laporan, hal ini berbeda jauh pada LKPD
2007 yang hanya menjadi 3 laporan saja. Opini
hasil pemeriksaan LKPD pada 2004 dengan opini
Disclaimer hanya 7 laporan, meningkat tajam pada
2007 menjadi 50 laporan atau kurang lebih meningkat
lima kali lipat.
Dari hasil pemeriksaan laporan keuangan
antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,
hampir tidak ada kaitan dan keterpaduan antara
APBN pemerintah pusat dan APBD provinsi dan
kabupaten/kota. Sebagian dari masalah daerah
tersebut terjadi karena seringnya pemerintah pusat
menerbitkan peraturan yang saling bertentangan,
sering berubah dan diinterpretasikan berbeda-beda
antara satu pemerintah daerah dengan pemerintah
daerah yang lain.
BPK memberikan opini disclaimer (tidak
menyatakan pendapat) pada hasil pemeriksaan BPK
atas laporan keuangan pemerintah pusat tahun 2007.
Dengan demikian selama empat tahun berturut-
turut BPK memberikan opini “Tidak Menyatakan
Pendapat” atas LKPP pemerintah pusat. Alasan BPK
memberi opini disclaimer pada LKPP Tahun 2004-
2007, adalah :
1. Terbatasnya akses BPK atas informasi tentang
penerimaan dan piutang pajak dan biaya perkara
yang dipungut oleh Mahkamah Agung;
2. Kelemahan sistem akuntansi dan pelaporan
keuangan negara, serta belum tertibnya penempatan
uang negara dan belum adanya single treasury
account pemerintah;
3. Tidak adanya inventarisasi aset serta utang maupun
piutang Negara;
4. Belum handal dan terintegrasinya sistem teknologi
45 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
informasi Negara.
Kualifikasi atas opini Disclaimer tersebut
menunjukkan kelemahan sistem pengendalian internal
pemerintah dan ketidakpatuhan terhadap ketentuan
paraturan perundang-undangan. Sebagaimana
kita ketahui Pengendalian Intern oleh Pemerintah
dilaksanakan berdasarkan PP 60 Tahun 2008.
Sistem Pengendalian Intern Pemerintahan (SPIP)
adalah suatu sistem yang dapat memberi keyakinan
memadai bahwa penyelenggaraan kegiatan pada
suatu Instansi Pemerintah dapat mencapai tujuannya
secara efisien dan efektif, melaporkan pengelolaan
keuangan negara secara andal, mengamankan aset
negara, dan mendorong ketaatan terhadap peraturan
perundang undangan.
Sistem ini dalam penerapannya harus
memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan serta
mempertimbangkan ukuran, kompleksitas, dan sifat
dari tugas dan fungsi InstansiPemerintah. Sehingga
seiring dengan pemberian Opini Disclaimer oleh
BPK yang disebabkan lemahnya Pengendalian Intern
maka akan membuka peluang yang sangat besar
bagi terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan
anggaran (APBN/APBD).
Pemberian opini Disclaimer atas LKPP selama
reformasi, sangat kontradiktif dengan pengharapan
masyarakat untuk pencapaian kehidupan yang lebih
baik dalam pengelolaan dana publik yang terpercaya
dan transparan yang menunjang tata kelola
pemerintahan yang bersih.
Sepuluh tahun reformasi, upaya pemerintah
untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas
keuangan negara masih sangat lamban. Untuk
mempercepat perbaikan opini dalam pemeriksaan
LKPP dan LKPD, Badan Pemeriksa Keuangan
mengambil 3 inisiatif tindakan kebijakan,yaitu:
1. Mewajibkan seluruh entitas pemerintah membuat
management representative letter (MLR). Surat
ini berisi pernyataan kebenaran isi laporan
keuangan yang diserahkan kepada BPK;
2. Mewajibkan semua entitas pemerintah membuat
rencana kerja terperinci dan terjadwal;
3. Menyarankan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan
Perwakilan Daerah, dan Dewan
Perwakilan Rakyat Daerah membentuk panitia
akuntabilitas publik yang bertugas
mendorong tindak lanjut rekomendasi serta saran
hasil pemeriksaan BPK.
Sebagai penutup, Pemeriksaan Laporan
Keuangan yang dilakukan oleh BPK sebagai satu-
satunya Lembaga Eksternal Pemerintah merupakan
“gerbang” tercapainya Transparansi dan Akuntabilitas
Penyelenggaraan Keuangan Negara. BPK adalah
satu-satunya lembaga pemerintah yang berhak untuk
melakukan pemeriksaan atas Pengelolaan Keuangan
Negara. Hasil Pemeriksaan atas Pemeriksaan
Laporan Keuangan Pemerintah inilah yang dijadikan
dasar penentuan akan dilaksanakannya tahapan
pemeriksaan selanjutnya, berupa pemeriksaan kinerja
ataupun pemeriksaan dengan tujuan tertentu, ataupun
digunakan oleh badan/lembaga yang berwenang untuk
dilakukan penyidikan jika berkaitan dengan tindak
pidana korupsi. Dengan demikian, transparansi dan
akuntabilitas penyelenggaraan Keuangan Negara ini
merupakan misi bersama, antara Pemerintah sebagai
pengelola keuangan Negara dan BPK sebagai
pemeriksa yang berwenang atas pengelola keuangan
Negara. Pemerintah harus bertanggungjawab atas
pengelolaan keuangan Negara secara formal dan
material, demikian juga BPK harus menjunjung tinggi
asas professional dan mandiri dalam melakukan
pemeriksaan. Jika hal tersebut dilakukan dengan
komitmen yang dijunjung tinggi, maka Transparansi
dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan Negara
bukanlah wacana lagi, tetapi menjadi bukti
tercapainya amanat Reformasi di Republik Indonesia
tercinta ini.
Referensi penulis :
WĂƉĞĚŝĂ ͖ ŚƩƉ͗ͬͬǁĂƉĞĚŝĂ͘ŵŽďŝͬŝĚͬŚŝŶĚŝĂͺďĞůĂŶĚĂ ͖ SĞũĂƌĂŚ 8ĂĚĂŶ ÞĞŵĞƌŝŬƐĂ
Keuangan
Konferensi Sektor Publik "1ŽǁĂƌĚƐ ĂŶ AĐĐŽƵŶƚĂďůĞ͕ kĞƐƉŽŶƐŝǀĞ͕ íĸĐŝĞŶƚ͕ ĂŶĚ
íīĞĐƟǀĞ CŽǀĞƌŶŵĞŶƚ͟
di Hotel Borobudur Jakarta, Rabu (23/7)
“Dialog publik dengan pejabat pemerintahan Jawa Barat̺Banten͟ Ěŝ 8ƵĂŶŐ
Rapat Paripurna DPRD
Jawa Barat, Kamis (21/8).
xÞĞƌĂƚƵƌĂŶ ƉĞƌƵŶĚĂŶŐĂŶ LJĂŶŐ ƌĞůĞǀĂŶ ͖ ĚŝŬƵƟƉ ƐĞĐĂƌĂ ůĞŶŐŬĂƉ͘
46 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Suka Duka
Audit LKPD
Oleh: Muhammad Hammam, Staf Seksi Sulteng IA
B
aru-baru ini penulis membuka OƵƚůŽŽŬ ídžƉƌĞƐƐ dan
membaca surat elektronik dari Kasubag Publikasi
tentang permintaan tulisan untuk dimuat pada Ma-
ũĂůĂŚ ÞĞŵĞƌŝŬƐĂ͘ 1ĞŶƚƵ ƐĂũĂ ƉĞŶƵůŝƐ ƟĚĂŬ ŵĞŶũĂĚŝ ďĞƐĂƌ ŬĞƉĂůĂ
karena surat elektronik tersebut dikirimkan kepada everyone
LJĂŶŐ ĂƌƟŶLJĂ ƐĞŵƵĂ ƉĞŐĂǁĂŝ ƉĂĚĂ ůŝŶŐŬƵŶŐĂŶ 8Þk 8l ŵĞŶĚĂƉĂƚ
surat elektronik tersebut.
Tertarik dengan ajakan tersebut, penulis berniat untuk
ƚƵƌƵƚ ďĞƌƉĂƌƟƐŝƉĂƐŝ͕ ŶĂŵƵŶ ƉĞŶŐĂůĂŵĂŶ͕ ƉĂŶŐŬĂƚ͕ ŐŽůŽŶŐĂŶ
ĚĂŶ ũĂďĂƚĂŶ ƐĂLJĂ LJĂŶŐ ŚĂŶLJĂ ƐƚĂĨ ĚĂŶ ŚĂŶLJĂ ĂŶĂŬ bau kencur
LJĂŶŐ ďĂƌƵ ŵĂƐƵŬ kemarin sore ƚĞŶƚƵ ƟĚĂŬ ƉĂŶƚĂƐ ŬĂůĂƵ ƚĞƌůĂůƵ
ďĞƌŚĂƌĂƉ ĚĂƉĂƚ ŵĞŶƵůŝƐ ƵŶƚƵŬ ƚŽƉŝŬ ƵƚĂŵĂ͘ 1ƵůŝƐĂŶ ŝŶŝ ŚĂŶLJĂ
mencoba melihat sisi lain dari pemeriksaan laporan keuangan
;LJĂŶŐ ŵĞŶũĂĚŝ ƚŽƉŝŬ ĚĂƌŝ MĂũĂůĂŚ ÞĞŵĞƌŝŬƐĂͿ LJĂŶŐ ĚĂƉĂƚ ƉĞŶƵ-
lis sajikan.
Capek
SĞďĂŶLJĂŬ ĚƵĂ ŬĂůŝ ƉĞŶƵůŝƐ ŵĞůĂŬƐĂŶĂŬĂŶ ÞĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ
LĂƉŽƌĂŶ kĞƵĂŶŐĂŶ ÞĞŵĞƌŝŶƚĂŚ uĂĞƌĂŚ͕ ŚĂů LJĂŶŐ ƉĂůŝŶŐ ƚĞƌĂƐĂ
ĂĚĂůĂŚ ĐĂƉĞŬ͘ CĂƉĞŬ LJĂŶŐ ĚŝƌĂƐĂ ďƵŬĂŶ ŚĂŶLJĂ ƐĞĐĂƌĂ ƉŝŬŝƌĂŶ͕
ƚĞƚĂƉŝ ũƵŐĂ ĐĂƉĞŬ ĮƐŝŬ ĚĂŶ ĐĂƉĞŬ ŵĞŶƚĂů͘
Capek secara pikiran penulis rasakan karena untuk dapat
ŵĞŵĂŚĂŵŝ ůĂƉŽƌĂŶ ŬĞƵĂŶŐĂŶ LJĂŶŐ ĚŝďƵĂƚ ŽůĞŚ ÞĞŵĞƌŝŶƚĂŚ
uĂĞƌĂŚ ;ÞĞŵĚĂͿ͕ ĚĂůĂŵ ŚĂů ŝŶŝ ĚĂůĂŵ ǁŝůĂLJĂŚ ÞƌŽǀŝŶƐŝ SƵůĂǁĞ-
si Tengah, membutuhkan pemahaman ekstra. Hal ini terjadi
ŬĂƌĞŶĂ ŚĂŶLJĂ ƐĞĚŝŬŝƚ ŽƌĂŶŐ Ěŝ ůŝŶŐŬƵŶŐĂŶ ÞĞŵĚĂ LJĂŶŐ ŵĞŶŐĞƌ-
Ɵ ďĂŐĂŝŵĂŶĂ ĚĂŶ ƵŶƚƵŬ ĂƉĂ ůĂƉŽƌĂŶ ŬĞƵĂŶŐĂŶ ĚŝďƵĂƚ͘ PĂů ŝŶŝ
tentu saja membuat pemeriksa membutuhkan pemikiran ek-
ƐƚƌĂ ƵŶƚƵŬ ĚĂƉĂƚ ŵĞŶŐĞƌƟ ůĂƉŽƌĂŶ LJĂŶŐ ĚŝďƵĂƚ ƚĞƌƐĞďƵƚ͘
Capek secara pikiran juga terjadi karena perkembangan
ƉĞƌĂƚƵƌĂŶ LJĂŶŐ ŵĞŶŐĂƚƵƌ ďĂŐĂŝŵĂŶĂ ÞĞŵĚĂ ŵĞůĂŬƐĂŶĂŬĂŶ
akuntansi berubah dengan cepat. Belum sempat Pemda ber-
ƐĂŶŐŬƵƚĂŶ ŵĞŶLJĞůĞƐĂŝŬĂŶ ŵŝŐƌĂƐŝ ĚĂƌŝ ƉĞƌĂƚƵƌĂŶ ƐĞďĞůƵŵŶLJĂ
ŬĞ ƉĞƌĂƚƵƌĂŶ LJĂŶŐ ďĂƌƵ͕ ƉĞƌĂƚƵƌĂŶ LJĂŶŐ ůĞďŝŚ ďĂƌƵ ůĂŐŝ ƐƵĚĂŚ
ƚĞƌďŝƚ͘ 8ĂŚŬĂŶ͕ ÞĞŵĚĂ ĚĂƉĂƚ ŵĞůĞǁĂƟ ƐƵĂƚƵ ƉĞƌĂƚƵƌĂŶ ŬĂƌĞŶĂ
belum sempat peraturan tersebut dijalankan, peraturan baru
sudah terbit.
CĂƉĞŬ ƐĞĐĂƌĂ ƉŝŬŝƌĂŶ ƚĞŶƚƵ ŵĞƌƵƉĂŬĂŶ ŚĂů LJĂŶŐ ǁĂũĂƌ͕
karena memang begitulah pekerjaan seorang pemeriksa.
CĂƉĞŬ ƐĞĐĂƌĂ ƉŝŬŝƌĂŶ ďĞƌŝŬƵƚŶLJĂ ƚĞƌũĂĚŝ ƐĂĂƚ Ɵŵ ƐƵĚĂŚ
ƉƵůĂŶŐ͕ ŬĞƟŬĂ ƉƌŽƐĞƐ ŬŽƌĞŬƐŝ ŚŝŶŐŐĂ ŵĞŶũĂĚŝ LĂƉŽƌĂŶ PĂƐŝů
ÞĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ;LPÞͿ ƚĞƌŶLJĂƚĂ ŵĞƌƵƉĂŬĂŶ ƉĞŬĞƌũĂĂŶ LJĂŶŐ ůĞďŝŚ
melelahkan daripada saat berada di lapangan. Tenggat wak-
ƚƵ LJĂŶŐ ƚĞůĂŚ ĚŝƚĞƚĂƉŬĂŶ uŶĚĂŶŐͲƵŶĚĂŶŐ ;ĚƵĂ ďƵůĂŶ ƐĞƚĞůĂŚ
laporan keuangan disampaikan) menjadi tekanan tersendiri
ďĂŐŝ ƐĞŵƵĂ ƉŝŚĂŬ LJĂŶŐ ƚĞƌůŝďĂƚ ĚĂůĂŵ ƉĞŶLJƵƐƵŶĂŶ LPÞ͘ SĞůĂŝŶ
ŝƚƵ͕ ÞƌŽƐĞƐ ĚŝƐŬƵƐŝ ĚŝŵĂŶĂ Ɵŵ ŵĞŶĐŽďĂ ƵŶƚƵŬ ŵĞŶũĂŐĂ ĂŐĂƌ
ƚĞŵƵĂŶͲƚĞŵƵĂŶ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ƟĚĂŬ ĚŝͲdrop adalah saat dima-
ŶĂ ƉŝŬŝƌĂŶ ŚĂƌƵƐ ĚŝŬĞƌĂŚŬĂŶ ƵŶƚƵŬ ŵĞŵďƵŬƟŬĂŶ ďĂŚǁĂ ŬŝƚĂ
benar-benar bekerja.
CĂƉĞŬ ĮƐŝŬ ƉĞƌƚĂŵĂ ƚĞƌũĂĚŝ ƐĂĂƚ ďĞƌĂŶŐŬĂƚ ŵĞŶƵũƵ ĚĂĞ-
ƌĂŚ LJĂŶŐ ĚŝƉĞƌŝŬƐĂ͘ uĞŶŐĂŶ ŵĞĚĂŶ ďĞƌŐƵŶƵŶŐ ĚĂŶ ũĂƌĂŬ LJĂŶŐ
ũĂƵŚ͕ ŬĞďĞƌĂŶŐŬĂƚĂŶ ŵĞŶƵũƵ ĚĂĞƌĂŚ LJĂŶŐ ĚŝƉĞƌŝŬƐĂ ĂĚĂůĂŚ ƉĞƌ-
ũĂůĂŶĂŶ ũĂƵŚ LJĂŶŐ ŵĞůĞďŝŚŝ ũĂƌĂŬ ƉƵůĂŶŐ ŬĂŵƉƵŶŐ ƐĂLJĂ ŬĂůĂƵ
dari Jakarta menuju Jepara.
CĂƉĞŬ ĮƐŝŬ ďĞƌŝŬƵƚŶLJĂ ƚĞŶƚƵ ƐĂũĂ ŚĂƌŝͲŚĂƌŝ ƐĂĂƚ ƉĞŵĞƌŝŬ-
ƐĂĂŶ ďĞŐŝƚƵ ƉĂŶũĂŶŐ͕ ƐĂĂƚ ũĂŵ ŬĞƌũĂ LJĂŶŐ ďŝĂƐĂŶLJĂ ƐƵĚĂŚ ůĞďŝŚ
ƉĂŶũĂŶŐ ĚĂƌŝƉĂĚĂ ŝŶƐƚĂŶƐŝ ůĂŝŶŶLJĂ ďĞƌƚĂŵďĂŚ ƉĂŶũĂŶŐ ĚĞŶŐĂŶ
ůĞŵďƵƌ ƟĂƉ ŵĂůĂŵŶLJĂ͘ 1ŝŵ ŚĂƌƵƐ ďĞƌŬĞũĂƌĂŶ ĚĞŶŐĂŶ ďĂŶLJĂŬŶ-
LJĂ ůĂŶŐŬĂŚ LJĂŶŐ ĂĚĂ ƉĂĚĂ ÞƌŽŐƌĂŵ ÞĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ;ÞϮͿ ĚĞŶŐĂŶ
ǁĂŬƚƵ LJĂŶŐ ƚĞƌďĂƚĂƐ͕ ŬĂůĂƵ ƟĚĂŬ ĚŝŬĂƚĂŬĂŶ ǁĂŬƚƵ LJĂŶŐ ƐĂŶŐĂƚ
terbatas. Selain itu, perkembangan organisasi pada pemer-
ŝŶƚĂŚ ĚĂĞƌĂŚ ĚŝŵĂŶĂ ƐĞŵĂŬŝŶ ďĂŶLJĂŬ SkÞu LJĂŶŐ ŵĞŶŐƵƌƵƐ
ĂŬƵŶƚĂŶƐŝŶLJĂ ŵĂƐŝŶŐͲŵĂƐŝŶŐ ŵĞŶũĂĚŝ ĨĂŬƚŽƌ ƉĞŶĂŵďĂŚ ďĂŶ-
LJĂŬŶLJĂ ƉĞŬĞƌũĂĂŶ LJĂŶŐ ŚĂƌƵƐ ĚŝůĂŬƵŬĂŶ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂ͘
SƚĂŶĚĂƌ ďŝĂLJĂ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ƚĂŚƵŶ ϮϬϬϵ LJĂŶŐ ďĂƌƵ ĚŝŬĞůƵ-
ĂƌŬĂŶ LJĂŶŐ ŵĞŶŐŝŶĚŝŬĂƐŝŬĂŶ ĂŬĂŶ ƐĞŵĂŬŝŶ ďĞƌŬƵƌĂŶŐŶLJĂ ďĂŝŬ
waktu maupun personel untuk pemeriksaan LKPD Kabupat-
en/Kota menjadi momok tersendiri bagi penulis pribadi. Pen-
gurangan personel dan waktu pemeriksaan dari 30 hari dan
ƟŐĂ ŽƌĂŶŐ ĂŶŐŐŽƚĂ Ɵŵ ŵĞŶũĂĚŝ Ϯϱ ŚĂƌŝ ĚĞŶŐĂŶ ŚĂŶLJĂ ĚƵĂ ĂŶŐ-
ŐŽƚĂ Ɵŵ ŵĞƌƵƉĂŬĂŶ ŚĂů LJĂŶŐ ƐƵŶŐŐƵŚ ŵĞŶŐŐĞůŝŬĂŶ ƐĞŬĂůŝŐƵƐ
mengerikan. Menggelikan karena dengan standar lama saja
ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ŵĂƐŝŚ ďĞůƵŵ ĚĂƉĂƚ ŽƉƟŵĂů͕ ŵĞŶŐĞƌŝŬĂŶ ŬĂƌĞŶĂ
bila standar baru tersebut benar-benar dilaksanakan, peker-
ũĂĂŶ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ƚĞŶƚƵ ƐĞŵĂŬŝŶ ƟĚĂŬ ŽƉƟŵĂů͘
CĂƉĞŬ ĮƐŝŬ ƐĂLJĂ ƉŝŬŝƌ ĐƵŬƵƉ ƐĂLJĂ ŐĂŵďĂƌŬĂŶ ƐĞƉĞƌƟ ŝŶŝ͕
ŬĂƌĞŶĂ ĚĂůĂŵ ƉĞůĂŬƐĂŶĂĂŶ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ LkÞu ďĂŐŝ ŽƌĂŶŐ LJĂŶŐ
ƐƵŬĂ ŵĞůŝŚĂƚ ŚĂů ďĂƌƵ ƐĞƉĞƌƟ ƉĞŶƵůŝƐ͕ ŬĞŝŶĚĂŚĂŶ ĂůĂŵ ŵĞŶũĂĚŝ
pemikat tersendiri.
Capek terakhir, capek mental. Capek mental terjadi saat
rasa kangen kepada keluarga mulai muncul. 30 hari pergi cukup
ƵŶƚƵŬ ŵĞŶLJĂĚĂƌŝ ďĂŚǁĂ ǁĂŬƚƵ ďĞƌƐĂŵĂ ŬĞůƵĂƌŐĂ ĂĚĂůĂŚ ǁĂŬ-
ƚƵ LJĂŶŐ ƉĂŶƚĂƐ ƵŶƚƵŬ ĚŝƉĞƌũƵĂŶŐŬĂŶ͘ !ĂƵŚ ĚĂƌŝ ŬĞůƵĂƌŐĂ LJĂŶŐ
biasa dirasakan, orang tua di Jepara dan penulis di Palu, se-
makin terasa saat harus 30 hari jauh juga dari teman-teman
ƐĞƉĞƌũƵĂŶŐĂŶ͘ MŝŶŝŵŶLJĂ ŚŝďƵƌĂŶ ƐĂĂƚ Ěŝ ĚĂĞƌĂŚ ;ďĂŚŬĂŶ ďŽůĞŚ
ƐĂLJĂ ŬĂƚĂŬĂŶ ůĞďŝŚ ƌĂŵĂŝ ŬĂŵƉƵŶŐ ƐĂLJĂͿ ŵĞŵďƵĂƚ ƐĞŵĂŬŝŶ
menjadi rasa kangen ini.
Terakhir dari curhat penulis ini, penghasilan tambahan
LJĂŶŐ ĚŝƉĞƌŽůĞŚ ĚĂƌŝ ŵĞůĂŬƐĂŶĂŬĂŶ ƚƵŐĂƐ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ ;ƵĂŶŐ
ůĞůĂŚ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶͿ ƐĞƌĂƐĂ ƟĚĂŬ ƐĞƟŵƉĂů ĚĞŶŐĂŶ ůĞůĂŚ LJĂŶŐ
benar-benar dirasakan saat memeriksa. Sistem at cost LJĂŶŐ
ĚŝďĞƌůĂŬƵŬĂŶ ĚĞŶŐĂŶ ƐƚĂŶĚĂƌ ďŝĂLJĂ ƉĞŵĞƌŝŬƐĂĂŶ LJĂŶŐ Ěŝ ďĂ-
ǁĂŚ ƐƚĂŶĚĂƌ ďŝĂLJĂ ƉĞƌũĂůĂŶĂŶ ĚŝŶĂƐ͕ ŵĞŶũĂĚŝŬĂŶ ƉĞŬĞƌũĂĂŶ
ŵĞŵĞƌŝŬƐĂ ŵĞŶũĂĚŝ ƟĚĂŬ ŵĞŶĂƌŝŬ͘ LĞďŝŚ ƌŝŶŐĂŶ ďĞŬĞƌũĂ Ěŝ ŬĂŶ-
tor (sebagai penunjang ataupun pendukung) daripada harus
ƉĞƌŐŝ ŵĞŵĞƌŝŬƐĂ ĚĞŶŐĂŶ ƚĂŵďĂŚĂŶ ƉĞŶŐŚĂƐŝůĂŶ LJĂŶŐ ƟĚĂŬ
seberapa.
SĞŬĂůŝ ůĂŐŝ ŝŶŝ ŚĂŶLJĂ ŽƉŝŶŝ ĚĂƌŝ ƐƚĂĨ ďŝĂƐĂ LJĂŶŐ ŵĂƐŝŚ bau
kencur LJĂŶŐ ƟĚĂŬ ďĞŐŝƚƵ ŵĞŶŐĞƌƟ ďĂŐĂŝŵĂŶĂ ƐĞŚĂƌƵƐŶLJĂ ŬĞ-
bijakan diambil.
LAPORAN UTAMA
47 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
K
etua BPK RI, Anwar Nasution, menjadi
pembicara dalam Dialog Publik bertajuk
Mendorong Terciptanya Transparansi dan
Akuntabilitas Pengelolaan dan Tanggungjawab Keuangan
Negara/Daerah tanggal 26 Agustus di Kantor Gubernur
Sumatera Barat (Sumbar). Acara ini dihadiri oleh para pejabat
eksekutif dan legislatif pemda-pemda se-Provinsi Sumatera
Barat dan Provinsi Jambi. Setelah kegiatan selesai, Ketua
BPK menginstruksikan Kepala Kantor Perwakilan Provinsi
Sumbar agar menindaklanjutinya dengan melakukan upaya
intensif untuk mendorong Pemerintah Daerah di Provinsi
Sumbar segera menciptakan action plan menuju transparansi
dan akuntabilitas pengelolaan keuangan daerah.
Selanjutnya, para pejabat dari BPK RI Kantor Perwakilan
Provinsi Sumbar dan para pejabat dari Pemerintah Provinsi
Sumbar melaksanakan serangkaian pertemuan, yang diakhiri
dengan pertemuan antara Kepala Kantor Perwakilan Provinsi
Sumbar dan Gubernur Sumbar beserta beberapa pejabat
dari kedua pihak pada tanggal 25 September 2008, untuk
membicarakan upaya-upaya maksimal yang dapat dilakukan
oleh kedua pihak dalam koridor fungsinya masing-masing.
Hal ini dalam rangka mendorong Pemerintah Provinsi
Sumbar melaksanakan pengelolaan dan tanggung jawab
keuangan daerah secara transparan dan akuntabel.
BPK RI Kantor Perwakilan Provinsi Sumbar
berpandangan, dalam rangka transparansi dan akuntabilitas,
hal prioritas yang perlu dicapai saat ini adalah Pemerintah
Provinsi Sumbar mampu menyusun laporan keuangan
pemerintah yang sesuai dengan Standar Akuntansi
Pemerintah (SAP) sehingga akan mendapatkan opini Wajar
Tanpa Pengecualian (WTP).
Pemikiran prioritas ini disambut oleh Pemerintah
Provinsi Sumbar, sehingga pada tanggal 3 November 2008
Kepala Kantor Perwakilan Provinsi Sumbar memberikan
pemaparan di hadapan Gubernur dan Wakil Gubernur
Sumbar, Ketua DRPD dan Wakil Ketua DPRD Provinsi
Sumbar, para Kepala SKPD di lingkungan Provinsi Sumbar
tentang: (1) Kondisi ideal, dengan opini WTP, (2) Kondisi
yang terjadi di Provinsi Sumbar, yang mengakibatkan opini
WDP, (3) Hal-hal yang perlu dibenahi oleh Provinsi Sumbar
untuk mendapatkan opini WTP, dan (4) Imbauan kepada
Provinsi Sumbar membuat Action Plan dalam rangka
pembenahan untuk mendapatkan opini WTP.
Pada saat itu juga diadakan forum tanya-jawab tentang
pengelolaan dan tanggung jawab keuangan daerah. Acara
pemaparan ditutup dengan penyerahan Dokumen Action
Plan Provinsi Sumbar oleh Gubernur Sumbar kepada Kepala
Kantor Perwakilan Provinsi Sumbar. Dokumen Action Plan
tersebut berisi Rencana Aksi menuju Laporan Keuangan
dengan Opini WTP, yang mana rencana aksinya dibagi
kedalam tiga kelompok yaitu:
1) Penyelesaian Tindak Lanjut Hasil Pemeriksaan BPK,
2) Penyempurnaan Kelemahan Kebijakan, Prosedur, Sistem
dan Mekanisme yang menjadi penyebab Temuan Audit,
dan
3) Upaya pemenuhan ketentuan peraturan pengelolaan dam
pertanggungjawaban keuangan daerah.
Langkah selanjutnya yang sekarang sedang dilaksanakan
oleh BPK RI Kantor Perwakilan Provinsi Sumbar adalah
memberikan masukan untuk penyempurnaan Action Plan
Provinsi Sumbar, sehingga kegiatan-kegiatan yang akan
dilaksanakan Pemerintah Provinsi Sumbar diharapkan
berjalan secara efisien dan efektif menuju ke arah yang
dikehendaki.
Gubernur Sumbar, Gamawan Fauzi, menyerahkan Dokumen
Action Plan Provinsi Sumbar kepada Kepala Perwakilan BPK
RI di Padang, Maulana Ginting.
ĐƟŽŶWůĂŶ ƵŶƚƵŬ ÞĞŵĞƌŝŶƚĂŚ 5ƵŵďĂƌ
Oleh: BPK RI Kantor Perwakilan Provinsi Sumbar
LAPORAN UTAMA
48 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
Di Indonesia, istilah money laundering diterjemahkan dengan “pencucian
uang” dimana money laundering telah dikategorikan sebagai kejahatan,
baik yang dilakukan perseorangan maupun korporasi.
Istilah Anti-money laundering (AML) dalam en.wikipedia.org : “is a
term mainly used in the nancial and legal industries to describe the legal
controls that require nancial institutions and other regulated entities to
prevent or report money laundering activities”.
Dapat dipahami, money laundering merupakan suatu praktik menyamarkan
atau menyembunyikan asal usul pendapatan atau kekayaan, sehingga
dapat digunakan tanpa diketahui bahwa pendapatan atau kekayaan
tersebut pada mulanya berasal dari praktik illegal. Landasan hukum
yang digunakan
dalam upaya pemberantasan money laundering dengan cukup jelas
diatur dalam UU No. 25/2003
tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
Buku ini memetakan secara global mengenai praktik money laundering di semua belahan negara (dari benua
Amerika hingga Asia) melalui para politisi atau pengambil kebijakan negaranya masing-masing, baik konsep
hukum dan upaya pemberantasannya. Sebagai ilustrasi singkat, America dalam upaya memerangi praktik
money laundering membuat suatu aturan yang mengikat semua elemen-elemen yang ada, sehingga
upaya money laundering bisa segera diketahui. Elemen-elemen atau badan usaha yang menjadi perhatian
Pemerintah America, diantaranya Private Banker, Thrift Institution, Broker or Dealer in Securities or Commodities,
Insurance Company, Travel Agency, Commercial Bank or Trust Company, and etc. Badan Pemerintahan yang
mengatur upaya pemberantasan money laundering ditangani oleh OFAC (Oce of Foreign Assets Control).
Job description OFAC, diantaranya: mendata SDN (Specially Designated National and Blocked Persons), SDT
(Specially Designated Terrorists), dan SDNT (Specially Designated Narcotics Trackers), memeriksa transaksi
keuangan antara personal/korporasi dengan Bank, melakukan peng-update-an data terbaru dari personal/
korporasi yang ada, dsb.
OFAC ini bekerja sama juga dengan badan-badan yang telah ditunjuk yaitu SEC Headquarters, Board
of Governors of the Federal, Federal Reserve Bank of New York.
Praktik money laundering mulai dirasakan mencuat kembali dekade 2001 akhir pasca peristiwa World
Trade Center (WTC) di New York.
Kelebihan buku ini adalah kita bisa mengetahui upaya atau konsep penanganan praktik money laundering
dari semua negara, sembari kita bisa membuat perbandingan dengan landasan hukum atau Undang Undang
yang telah kita miliki. Bila di America memiliki OFAC, di Indonesia memiliki PPATK
(Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan) yang berwenang menangani pelaporan kasus money
laundering dengan melakukan penyelidikan terhadap berbagai transaksi yang mencurigakan dari lembaga-
lembaga keuangan seperti bank, pasar modal, dan asuransi untuk mencari aliran dana yang pada akhirnya
akan menuju pada aktor intelektual pemilik dana money laundering.
ANTI-MONEY LAUNDERING:
International Law and Practice
Penulis: Wouter H. Muller dkk
Penerbit: John Wiley & Sons, England,
2007,
xx + 813 hlm
/
d
e
s
i
g
n
:

t
r
i
e
/
/
p
i
c
t
u
r
e
:

w
w
w
f
.
o
r
.
i
d
/
49 NO 115/ November - Desember 2008 /Tahun XXVIII
/
d
e
s
i
g
n
:

t
r
i
e
/
/
p
i
c
t
u
r
e
:

w
w
w
f
.
o
r
.
i
d
/

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->