P. 1
Uji Antibakteri Patogen Dan Antijamur Patogen Dari Bakteri Lamun

Uji Antibakteri Patogen Dan Antijamur Patogen Dari Bakteri Lamun

|Views: 1,123|Likes:
Published by cmrs_marine17a

More info:

Categories:Types, Research, Science
Published by: cmrs_marine17a on Mar 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/01/2013

pdf

text

original

UJI ANTIBAKTERI PATOGEN DAN ANTIJAMUR PATOGEN DARI BAKTERI LAMUN

Bhakti Pambudi Kurniawan 1,2 Ocky K Radjasa 1 Siwi Aryani QQ 1 Center of Marine Resources Studies 2 Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan Universitas Diponegoro
1

Abstrak Lamun atau dikenal padang lamun adalah hamparan vegetasi lamun yang menutup suatu area pesisir/laut dangkal. Bermacam–macam bakteri juga hidup di daerah lamun, salah satunya mampu menghambat pertumbuhan bakteri pembentuk biofilm tetapi kemampuan bakteri tersebut sebagai penghasil anti bakteri atau anti jamur belum diketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas anti-bakteri dan anti-jamur dari bakteri lamun tersebut. Penelitian ini menggunakan spesies jamur uji Candida albicans dan Aspergillus niger, sedangkan bakteri uji menggunakan Staphylococcus aureus dan Ereschia coli. Metode yang digunakan melalui difusi agar. Uji antimikroba patogen menggunakan ulangan tiga kali per spesies bakteri lamun yang aktif. Bakteri lamun yang aktif sebagai anti-bakteri dan anti-jamur kemudian di identifikasi secara molekular menggunakan analisis DNA. Hasil penelitian ini belum dapat dipublikasikan karena masih dalam proses.

Pengantar Seagrass (tumbuhan lamun) adalah tumbuhan monokotil yang berada di lautan yang memiliki arti penting dalam siklus ekologi pada perairan dangkal pantai tropis dan subtropis, khususnya sebagai produsen di lautan. Lamun yang ditemukan di perairan Indonesia terdiri dari tujuh marga (genus). Tiga diantaranya : Enhalus, Thalassia dan Halophila yang termasuk Famili Hidrocharitaceae, sedangkan empat genus lainnya adalah Halodule, Cymodocea, Syringodium dan Thalassodendron yang termasuk Famili Potamogetonaceae (Nontji, 1987 dalam Dahuri, 2003). Tanaman tingkat tinggi mempunyai memiliki simbiosis dengan mikroba baik bakteri dan atau jamur, simbiosis ini dapat bersifat epifit atau endofit (Tan RX., et al. 2001 dalam Radji, 2005). Lebih lanjut Strobel GA., et.al. (2003) dalam Radji (2005) mengemukakan bahwa sekitar 300.000 jenis tanaman yang tersebar di muka bumi ini mengandung satu atau lebih mikroba endofit yang terdiri dari bakteri dan jamur. Bakteri simbion lamun merupakan sebutan koloni bakteri yang tumbuh dan berkembang serta berasosiasi dengan tanaman lamun. Mikrobia yang telah berhasil diisolasi dari lingkungan laut diperkirakan sekitar 1-2% sebagai kultur murni, sedangkan 98-99% mikrobia belum berhasil dikulturkan. Demikian juga dengan keanekaragaman bakteri simbion pada lamun juga datanya masih sangat terbatas. Dilaporkan bahwa terdapat asosiasi mikroorganisme dengan organisme laut yang diduga juga mensistesa metabolit sekunder (Watermann, 1999). Mikroba yang diisolasi dari tumbuhan yang menghasilkan bahan bioaktif telah diketahui memiliki aktivitas yang lebih besar, bahkan dapat memiliki aktivitas yang lebih besar dibandingkan aktivitas tumbuhan inangnya. Salah satu potensi bakteri tersebut adalah sebagai sumber anti-bakteri pathogen dan anti-jamur pathogen (anti-mikroba pathogen). Antimikroba merupakan suatu bahan kimia yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh mikrobia. Agen antimikroba bersifat selektif toxicity, sehingga biasanya digunakan dalam terapi penyembuhan penyakit yang berhubungan dengan mikroorganisme pathogen (Brock dan Madigan, 1991; Watimena dkk., 1991). Spektrum aktivitas antimikroba ada dua macam, yaitu spektrum luas (broad spectrum) merupakan aktifitas senyawa antimikroba yang aktif terhadap berbagai jenis mikroba dan spektrum sempit (narrow spectrum) yang merupakan kelompok senyawa antimikroba yang aktif terhadap satu atau beberapa jenis mikroba (Levinson, 2004). Uji antimikroba ini bertujuan mengetahui

adanya isolat bakteri lamun yang mampu melawan bakteri E. coli dan S. aureus, dan jamur memakai A. niger dan C. albicans. Pemilihan mikroba patogen dalam uji antimikroba disesuaikan dengan tiap golongan, di mana bakteri E. coli merupakan golongan bakteri gram negatif sedangkan S. aureus memiliki karakterisasi sebagai bakteri kelompok gram positif. Jamur A. niger merupakan kelompok kapang yang diketahui sebagai jamur pathogen karena mampu mensekresikan aflatoxin, sedangkan jamur C. albicans merupakan golongan khamir yang telah diketahui dapat menyebabkan kandidiasis.

Bahan dan Metode Bahan Isolat bakteri lamun yang diperoleh dari koleksi Laboratorium Mikrobiologi Laut, Jurusan Ilmu Kelautan, UNDIP dengan jumlah 30 isolat, isolat bakteri lamun tersebut aktif terhadap bakteri biofilm. Media yang digunakan dalam pertumbuhan bakteri lamun adalah media Zobell untuk media pertumbuhan mikroba lawan yaitu A. niger dan C. albicans adalah Potato Dextrose Agar (PDA) dan malt ekstrak, sedangkan bagi E. coli dan S. aureus adalah Nutrient Broth dan Nutrient Agar. Kultivasi bakteri Satu ose tiap bakteri lamun diinokulasikan ke dalam 10ml media Zobell 2216 laut cair laut diinkubasi selama 5 hari. Jamur lawan A. niger dan C. albicans diinokulasikan pada media 10ml media malt ekstrak, sedangkan bakteri lawan E. coli dan S. aureus diinokulasikan pada media nutrient broth. Jamur lawan dan Bakteri lawan tersebut diinkubasi selama 24 jam. Seleksi antimikroba patogen Tiap sampel isolat bakteri lamun ditumbuhkan pada media Zobell cair 10ml, kemudian diinkubasi selama 5 hari. Pada hari keempat, jamur dan bakteri lawan dikultivasikan. Bakteri lawan pada media NB 10ml sedangkan jamur lawan ditumbuhkan pada media malt ekstrak 10 ml. Hari kelima, bakteri lawan dan jamur lawan diambil 100µl dan dituangkan ke cawan petri yang kemudian di ratakan dengan spreader. Setelah 20 menit, papper disk ukuran 8mm diletakkan sebanyak 8 buah kemudian 20µl bakteri lamun diteteskan pada papper disk. Selanjutnya dilakukan inkubasi selama 24 jam untuk pemgamatandan pengukuran zona bening yang terbentuk.Isolat bakteri yang aktif, baik terhadap bakteri lawan dan atau jamur lawan kemudian diuji lebih lanjut dengan pengulangan 3 kali dengan metode yang sama. Uji Anti Bakteri Patogen dan Uji Antimikroba Patogen Bakteri lamun yang positif dan diduga positif, kemudian diuji konfirmasi terhadap bakteri uji atau jamur uji dimana isolat bakteri tersebut aktif. Langkah uji seperti pada metode seleksi. Identifikasi Bakteri Amplifikasi DNA dilakukan dengan metode PCR berdasarkan metode Thiel and Imhoff (2003). Primer yang digunakan untuk amplifikasi 16S rDNA adalah primer universal 27F (5'AGAGTTTGATCMTGGCTCAG-3') dan primer spesifik eubacteria 1492R (5'TACGGYTACCTTGTTACGACTT-3'). (Long dan Azam 2001). Amplifikasi DNA dengan PCR dilakukan dengan DNA thermal cycler dengan perlakuan suhu sebagai berikut : Denaturasi awal pada 94°C selama 2 menit, Annealing (50° selama 40 detik), ekstensi (72° C C selama 1 menit), dan denaturasi (94° selama 40 det ik), sebanyak 30 siklus, Ekstra annealing C selama 1 menit, dan Ekstra ekstensi akhir pada 72°C selama 5 menit. Visualisasi produk PCR dilakukan melalui elektroforesis dengan tahapan sebagai berikut: Produk PCR sebanyak 5 µl dimasukkan ke dalam sumur gel agarose 1% yang diletakkan pada bufer TAE 1 X, Gel kemudian direndam pada ethidium bromide selama 5 menit untuk mewarnai pita DNA yang terperangkap pada gel. Hasil amplifikasi 16S rDNA yang memiliki panjang sekitar 1460 bp dapat dilihat dengan meletakkan gel di atas UV transluminator (Long dan Azam, 2001).

Proses sekuensing akan dilakukan terhadap isolat bakteri lamu yang aktif dengan menggunakan metode Radjasa et al (2007). Hasil analisis ini akan menemukan jenis bakteri sampai tingkat spesies atau genus tertentu atau merupakan jenis baru yang memiliki kedekatan dengan jenis bakteri tertentu yang telah diketahui. Analisis sekuen DNA isolat bakteri terbaik kemudian dibandingkan dengan sekuen DNA pada basis data (database) DNA. Penelusuran homologi dilakukan dengan menggunakan internet melalui program pelacakan database Basic Local Alignment Search Tool (BLAST) pada National Center for Biotechnology Information, National Institute for Health, USA (www.ncbi.nlm.nih.gov) (Altschul et al., 1997 dalam Radjasa, 2004). Hasil dan Pembahasan Bakteri yang dikultivasi berjumlah 30 isolat yang merupakan bakteri lamun aktif terhadap bakteri biofilm. Jenis bakteri lamun tesebut merupakan hasil isolasi dari genus lamun Thalassia sp, Sryngodium sp, Enhallus sp. Daftar isolat dan kemampuannya terhadap bakteri biofilm dapat dilihat pada tabel 01. dan table 02.
Tabel 01. Isolat Bakteri Lamun
Thalassia sp ETJ - 1 ETJ - 2 ETJ - 3 ETJ - 4 ETJ - 6 TA - 1 Ket: E= Endofit T= Thalassia J= Jepara A= Atas B= Bawah T= Tengah TB - 3 TB - 7 TT - 1 TT - 4 TT - 5 TT - 10 Sryngodium sp ESJ - 1 SA - 5 ESJ - 2 ESJ - 3 ESJ - 6 SA - 1 SA - 2 E= Endofit S= Sryngodium J= Jepara A= Atas Enhallus sp EEJ - 1 EEJ - 2 EEJ - 5 EA - 1 EA - 2 EA - 6 E= Endofit E= Enhallus J= Jepara A= Atas B= Bawah T= Tengah EA - 7 EB - 1 ET - 1 ET - 2

Tabel 02. Bakteri lamun terhadap bakteri biofilm
Bakteri Lamun Thalassia sp ETJ - 1 ETJ - 2 ETJ - 3 ETJ - 4 ETJ - 6 TA - 1 TB - 3 TB - 7 TT - 1 TT - 4 TT - 5 TT - 10 Sryngodium sp ESJ - 1 ESJ - 2 ESJ - 3 ESJ - 6 SA - 1 SA - 2 SA - 5 TKA √ √ √ √ − √ √ − − − − − TKA − − − − − − − TKB √ − − − − − − − − − − − TKB − − − − − − − TFK √ √ √ − √ − − − − − − √ TFK − − − − − − − √ − − − √ √ √ √ − TFH − − − − − − − TFH √ √ Bakteri Biofilm SKA − − − − − − − − − − − − SKA √ − √ − − − − SKB − − − − − − − − − − − − SKB √ − √ √ − − √ SFK − − − − − − − − − − − − SFK √ √ √ − √ √ − SFH − − − − − − − − − − − − SFH √ √ √ − − − − EKA − − − − − − − − − − − − EKA − − − − − − − EKB − − − − − − − − − − − − EKB − − − − − − − EFK − − − − − − − − − − − − EFK − − − − − − − EFH − − − − − − − − − − − − EFH − − − − − − −

Enhallus sp EEJ - 1 EEJ - 3 EEJ - 4 EEJ - 5 EA - 1 EA - 2 EA - 6 EA - 7 EB - 2 ET - 1

TKA − − − − − − − − − −

TKB − − − − − − − − − − −

TFK − − − − − − − − − − −

TFH − − − − − − − − − − −

SKA − − − − − − − − − − −

SKB − − − − − − − − − − −

SFK − − − − − − − − − − −

SFH − − − − − − − − − − − A= atas B= bawah

EKA √ − − − − − − − − − −

EKB √ − − − − √ − √

EFK √ √ √ − √ √ − − √

EFH √ − − √ − − √ − − − −

√ −

− √

− ET - 2 Ket Bakteri Biofilm: E= Enhalus S= Sryngodium

T= Thalassia H= Halodule

K= Kayu F= fiber

Hasil seleksi bakteri lamun dari Tabel 1 terhadap jamur dan bakteri lawan mengindikasikan terdapat 12 isolat yang diduga positif terhadap jamur dan bakteri lawan. Isolat bakteri lamun yang positif dan diduga positif dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Isolat bakteri lamun diduga positif C. albicans E. coli ETJ – 3 TT – 5 EA – 1 ESJ – 3 ETJ – 6 TA -1 SA – 2 TB – 1 TT – 4

A. niger ET – 1

S. aureus EEJ – 1 EEJ – 3

Dari ke 12 isolat tersebut, terdapat 3 isolat yang mampu aktif terhadap jamur lawan C. albicans sedangkan 9 isolat lain tidak aktif terhadap jamur atau bakteri lawan. Isolat dikatakan aktif apabila terdapat zona bening di sekitar papperdisk, ketiga isolat mempunyai lebar zona bening yang bervariasi. Menurut Burges et al., 2003, antimikroba ditandakan adanya zona bening yang terbentuk lebih lebar 1mm daripada diameter papper disk yang digunakan. Daftar isolat yang aktif dapat dilihat pada Tabel 3 dan Gambar 1. Ukuran zona bening dari ketiga isolat dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel.3. Bakteri lamun positif
Isolat ETJ - 6 ESJ - 3 SA - 2
Ket: + = aktif - = tidak aktif (pasif)

A. niger -

C. albicans + + +

E. coli -

S. aureus -

Tabel 4. Ukuran zona bening (mm) terhadap papper disk
Isolat ETJ - 6 ESJ - 3 SA - 2 A. niger C. albicans 1 1 1 1 0 0 1 0
2

E. coli -

S. aureus -

Gambar 1. Kenampakan zona bening
Isolat : ETJ – 6 Jamur lawan: C. albicans Isolat : ESJ – 3 Isolat : SA - 2

1 2 3 2 1

3 1 2 3

Menurut Madigan (1991), C. albicans merupakan golongan mikroorganisme yang termasuk yeast atau khamir. Patogenitas C albicans pada manusia sering ditemukan di dalam mulut, feses, kulit dan di bawah kuku orang sehat. C. albicans dapat membentuk blastospora dan hifa, baik dalam biakan maupun dalam tubuh. Bentuk jamur di dalam tubuh dianggap dapat dihubungkan dengan sifat jamur, yaitu sebagai saproba tanpa menyebabkan kelainan atau sebagai parasit patogen yang menyebabkan kelainan dalam jaringan. Rippon (1974) mengemukakan bahwa bentuk blastospora diperlukan untuk memulai suatu lesi pada jaringan. Sesudah terjadi lesi, dibentuk hifa yang melakukan invasi. Dengan proses tersebut terjadilah reaksi radang. Pada kandidiasis akut biasanya hanya terdapat blastospora, sedang pada yang menahun didapatkan miselium. Antimikroba Isolat bakteri lamun ETJ – 6; ESJ – 3; SA – 2 terlihat mampu membuat zona bening dengan ukuran 1-2 mm. Namun penelitian ini belum dapat mengungkapkan senyawa antimikroba yang terkandung pada isolat bakteri lamun tersebut. Isolat bakteri lamun ETJ – 6 merupakan koloni bakteri epifit pada lamun jenis Thalassia sp, sedangkan ESJ – 3 dan SA – 2 merupakan koloni bakteri epifit pada lamun Sryngodium sp. Hal semacam ini mengindikasikan bahwa senyawa antimikroba memiliki spectrum yang sempit, karena hanya mampu menghambat pertumbuhan kapang C. albicans. Lamun yang merupakan tempat tumbuh isolat ETJ – 6; ESJ – 3; SA – 2, memiliki senyawa metabolit sekunder. Maxey (2006), dalam penelitiannya menyatakan bahwa lamun Thalassia testudinum dan Syringodium filiforme dikenal mempunyai senyawa bioaktif Irgarol. Proses identifikasi bakteri secara molekuler masih dalam proses berjalan sehingga data keanekaragaman bakteri lamun yang aktif belum dapat diketahui.

Kesimpulan dan Saran Dapat disimpulkan bahwa tidak semua isolate bakteri lamun yang aktif terhadap bakteri pembentuk biofilm mampu menghambat pertumbuhan bakteri uji E. coli dan S. aureus serta jamur C. albicans dan A. niger. Hal ini mungkin disebabkan karena adanya perbedaan tekanan ekologis antara bakteri di alam dan bakteri dalam laboratorium.

Daftar Pustaka

Burgess, J.G., K.G.Boyda, E. Armstronga, Z. Jianga, L. Yana, M. Berggrenb, U. Mayb, T. Pisacanec, A.K. Granmob and D.R. Adamsd. 2003. The development of a marine natural product-based antifouling paint. Biofouling. 19: 197-205. Dahuri, R. 2003. Keanekaragaman Hayati Laut Aset Pembangunan Berkelanjutan Indonesia. PT. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta Levinson, W. 2004. Medical Microbiology and Immunology: Examination and Board Review. 8 edition. The McGraw-Hill Companies. USA.
th

Long R. A. and F. Azam. 2001. Antagonistic Interactions among Marine Pelagic Bacteria. Envir. Microbiol. 67, 4975-4983. http://www.sciencemag.org/cgi/content/short/280/5364/694. diakses tanggal 10 Juli 2009. Madigan, MT., TD. Brock. 1991. Biology of Microorganisms, Sixth Edition. Prentice Hall International Inc. USA. Maxey IV, C.E. 2006. Occurrence and Distribution of Irganol 1051 and its Natural Metabolites in Biotic and Abiotic Marine Samples, having been approved in respect to style and intellectual content, is referred to you for judgment. Florida International University. Pelczar, MA., JECS. Chan, NR. Krieg. 1993. Microbiology Concept and Application. The McGrawHill Companies. USA. Radjasa, OK. 2004. Marine invertebrata-associated bacteria in coral reef ecosystems as a new source of bioactive compounds. J. Coast. Dev. 7: 65-70 Radjasa, OK., T. Martens, H-P. Grossart, T. Brinkhoff, A. Sabdono, M. Simon. 2007. Antagonistic Activity of Marine BacteriumPseudoalteromonasluteoviolaceae TAB 4.2 Associated with Coral Acropora sp. J. Biol. Sci. 7 (2):239-246 Thiel, V., and J.F. Imhoff, 2003: Phylogenetic identification of bacteria with antimicrobial activities isolated from different Mediteranean sponges. J. Biomolec. Engin., 20, 421-423. www.ifmgeomar.de/fileadmin/ifm/jb/chapter3_10_microbio.pdf. Diakses tanggal 10 Juli 2009 Watermann, B. 1999. Alternative antifoulant techniques present and future. LimnoMar: 1-6 Wattimena, JR., NJ. Sugiarso, MB. Widianto, EY. Sukandar, dan AR. Setiadi,. 1991. Farmakodinamika dan Terapi Antibiotik. Gajah Mada University Press. Yogyakarta.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->