P. 1
Artikel Seks Bebas Dan Cara Mengatasinya

Artikel Seks Bebas Dan Cara Mengatasinya

|Views: 34,182|Likes:
Published by Yopi Ratnasari
Silakan Baca...
Silakan Baca...

More info:

Published by: Yopi Ratnasari on Mar 23, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

08/15/2013

pdf

text

original

I.

BEBERAPA DEFINISI
Apa definisi remaja? Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa.Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat.Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun.Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun. Apa definisi reproduksi? Istilah reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata produksi yang artinya membuat atau menghasilkan.Jadi istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya.Sedangkan yang disebut organ reproduksi adalah alat tubuh yang berfungsi untuk reproduksi manusia. Apa arti kesehatan reproduksi remaja? Kesehatan reproduksi remaja adalah suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.Pengertian sehat disini tidak sematamata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.

II. PERLUNYA PENGETAHUAN TENTANG KESEHATAN REPRODUKSI REMAJA
Mengapa remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi? Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki informasi yang benarmengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang ada disekitarnya.Dengan informasi yang benar, diharapkan remaja memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses reproduksi. Siapa saja yang perlu diberitahu perihal informasi kesehatan reproduksi? Proses reproduksi merupakan proses melanjutkan keturunan yang menjadi tanggung jawab bersama laki-laki maupun perempuan.Karena itu baik laki-laki maupun perempuan harus tahu dan mengerti mengenai berbagai aspek kesehatan reproduksi.Kesalahan dimana persoalan reproduksi lebih banyak menjadi tanggung jawab perempuan tidak boleh terjadi lagi. Pengetahuan dasar kesehatan reproduksi apa yang perlu diberikan kepada remaja agar mereka mempunyai kesehatan reproduksi yang baik?
        

Tumbuh kembang remaja: perubahan fisik/psikis pada remaja, masa subur, anemi dan kesehatan reproduksi Kehamilan dan melahirkan: usia ideal untuk hamil, bahaya hamil pada usia muda, berbagai aspek kehamilan tak diinginkan (KTD) dan abortus Pendidikan seks bagi remaja: pengertian seks, perilaku seksual, akibat pendidikan seks dan keragaman seks Penyakit menular seksual dan HIV/AIDS Kekerasan seksual dan bagaimana menghindarinya Bahaya narkoba dan miras pada kesehatan reproduksi Pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual Kemampuan berkomunikasi: memperkuat kepercayaan diri dan bagaimana bersifat asertif Hak-hak reproduksi dan jender

Apa perbedaan pendidikan kesehatan reproduksi dan pendidikan seks? Pendidikan seks merupakan bagian dari pendidikan kesehatan reproduksi sehingga lingkup pendidikan kesehatan reproduksi lebih luasPendidikan kesehatan reproduksi mencakup seluruh proses yang berkaitan dengan sistem reproduksi dan aspek-aspek yang mempengaruhinya, mulai dari aspek tumbuh kembang hingga

hak-hak reproduksi.Sedangkan pendidikan seks lebih difokuskan kepada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan seks.

produksi © 2001 bkkbn

III. TUMBUH KEMBANG REMAJA
Perubahan apa saja yang dialami remaja? Perubahan tersebut meliputi Perubahan fisik baik yang bisa dilihat dari luar maupun yang tidak kelihatan. Remaja juga mengalami perubahan emosional yang kemudian tercermin dalam sikap dan tingkah laku. Perkembangan kepribadian pada masa ini dipengaruhi tidak saja oleh orangtua dan lingkungan keluarga, tetapi juga lingkungan Perubahan fisik apa saja yang dialami remaja? Tubuh mengalami perubahan dari waktu ke waktu sejak lahir. Perubahan yang cukup menyolok terjadi ketika remaja baik perempuan dan laki-laki memasuki usia antara 9 sampai 15 tahun, pada saat itu mereka tidak hanya tubuh menjadi lebih tinggi dan lebih besar saja, tetapi terjadi juga perubahan-perubahan di dalam tubuh yang memungkinkan untuk bereproduksi atau berketurunan. Perubahan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa atau sering dikenal dengan istilah masa pubertas ditandai dengan datangnya menstruasi (pada perempuan) atau mimpi basah (pada laki-laki). Datangnya menstruasi dan mimpi basah pertama tidak sama pada setiap orang. Banyak faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Salah satunya adalah karena gizi.Saat ini ada seorang anak perempuan yang mendapatkan menstrusi pertama ( menarche) di usia 8-9 tahun. Namun pada umumnya adalahsekitar 12 tahun. Perubahan emosional/psikologis yang terjadi? Pada remaja juga terjadi perubahan-perubahan emosi, pikiran, lingkungan pergaulan dan tanggung jawab yang dihadapi. Pada masa ini remaja akan mulai tertarik pada lawan jenis. Remaja perempuan akan berusaha untuk kelihatan atraktif dan remaja laki-laki ingin terlihat sifat kelaki-lakiannya. Beberapa perubahan mental lain yang juga terjadi adalah berkurangnya kepercayaan diri (malu, sedih, khawatir dan bingung). Remaja juga merasa canggung terhadap lawan jenis. Remaja akan lebih senang pergi bersama-sama dengan temannya daripada tinggal di rumah dan cenderung tidak menurut pada orang tua, cari perhatian dan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu. Hal ini akan membuat mereka

lebih mudah terpengaruh oleh temannya. Remaja perempuan, sebelum menstrusai akan menjadi sangat sensitif, emosional, dan khawatir tanpa alasan yang jelas. Mengapa perubahan di atas perlu diketahui oleh remaja? Remaja perlu mengetahui perubahan di atas agar mereka mampu mengendalikan perilakunya. Remaja harus mengerti bahwa begitu dia mendapatkan menstruasi atau mimpi basah maka secara fisik dia telah siap dihamili atau menghamili. Bisa hamil atau tidaknya remaja putri bila melakukan hubungan seksual tidak tergantung pada berapa kali dia melakukan hubungan seksual tetapi tergantung pada kapan dia melakukan hubungan seksual (dikaitkan dengan siklus kesuburan) dan apakah sistem reproduksinya berfungsi dengan baik (tidak mandul). Banyak remaja yang tidak mengetahui akan hal ini, sehingga mereka menyangka bahwa untuk hamil orang harus terlebih dahulu melakukan hubungan seksual berkali-kali.

Kapan masa subur terjadi? Masa subur adalah masa dimana terjadinya pelepasan sel telur pada perempuan. Titik puncak kesuburan terjadi pada hari ke 14 sebelum masa menstruasi berikutnya. Tetapi tanggal menstruasi berikutnya sering kali tidak pasti pada remaja.Biasanya diambil perkiraan masa subur 3-5 hari sebelum dan sesudah hari ke 14 tersebut. Pada masa remaja pencegahan kehamilan dengan tidak melakukan hubungan seksual pada masa subur (sisten kalender), tidak dapat diandalkan.Ini disebabkab siklus mentruasi pada remaja perempuan biasanya tidak teratur.Secara lebih mendetail, siklus kesuburan seorang perempuan dapat dipelajari pada gambar terlampir

Anemia dan kesehatan reproduksi Anemia (kurang darah: Hb <12 gr %) sangat terkait erat dengan masalah kesehatan reproduksi (terutama pada perempuan). Jika perempuan mengalami anemia maka akan menjadi sangat berbahaya pada waktu dia hamil dan melahirkan. Perempuan yang menderita anemia berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan rendah (kurang dari 2.5 kg). Di samping itu, anemia dapat mengakibatkan kematian baik ibu maupun bayi pada waktu proses persalinan. Karena itu untuk memastikan agar remaja tidak mengidap

anemia maka perlu dianjurkan untuk memeriksakan diri pada petugas medis. Jika ternyata remaja mengidap anemia maka perlu dianjurkan untuk makan-makanan yang bergizi atau mengkonsumsi pil besi sesuai dengan anjuran.

IV. KEHAMILAN DAN MELAHIRKAN
Kapan usia ideal untuk hamil dan melahirkan ? Menurut BKKBN usia untuk hamil dan melahirkan adalah 20 sampai 30 tahun, lebih atau kurang dari usia tersebut adalah berisiko. Kesiapan seorang perempuan untuk hamil dan melahirkan atau mempunyai anak ditentukan oleh kesiapan dalam tiga hal, yaitu kesiapan fisik, kesiapan mental/ emosi/psikologis dan kesiapan sosial/ekonomi. Secara umum,

seorang perempuan dikatakan siap secara fisik jika telah menyelesaikan pertumbuhan tubuhnya (ketika tubuhnya berhenti tumbuh), yaitu sekitar usia 20 tahun. Sehingga usia 20 tahun bisa dijadikan pedoman kesiapan fisik.

Apa yang terjadi jika remaja menikah/hamil pada usia sangat muda (di bawah 20 tahun)? Remaja dimungkinkan untuk menikah pada usia dibawah 20 tahun sesuai dengan Undang-undang Perkawinan No. I tahun 1979 bahwa usia minimal menikah bagi perempuan adalah 16 tahun dan bagi laki-laki 18 tahun. Tetapi perlu diingat beberapa hal sebagai berikut:
 

Ibu muda pada waktu hamil kurang memperhatikan kehamilannya termasuk kontrol kehamilan. Ini berdampak pada meningkatnya berbagai resiko kehamilan. Ibu muda pada waktu hamil sering mengalami ketidakteraturan tekanan darah yang dpat berdampak pada keracunan kehamilan serta kekejangan yang berkibat pada kematian yang menyebabkan tingginya angka kematian ibu Penelitian juga memperlihatkan bahwa kehamilan usia muda (dibawah 20 tahun) sering kali berkaitan dengan munculnya kanker rahim. Ini erat kaitanya dengan belum sempurnanya perkembangan dinding rahim.

Apa yang perlu diketahu remaja tentang kehamilan yang tidak diinginkan? Kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) adalah suatu kehamilan yang karena suatu sebab maka keberadaanya tidak diinginkan oleh salah satu atau kedua calon orang tua bayi tersebut. KTD disebabkan oleh faktor:

  

Karena kurangnya pengetahuan yang lengkap dan benar mengenai proses terjadinya kehamilan dan metode-metode pencegahan kehamilan Akibat terjadinya tindak perkosaan Kegagalan alat kontrasepsi

Kerugian KTD dan bahaya pada remaja? Beberapa kerugian KTD pada remaja:
 

Remaja atau calon ibu merasa tidak ingin dan tidak siap untuk hamil maka ia bisa saja tidak mengurus dengan baik kehamilannya Sulit mengharapkan adanya perasaan kasih sayang yang tulus dan kuat dari ibu yang megalami KTD terhadap bayi yang dilahirkanya nanti. masa depan anak mungkin saja terlantar Mengakhiri kehamilannya atau sering disebut dengan aborsi. Di Indonesia aborsi dikategorikan sebagai tindakan ilegal atau melawan hukum. Karena tindakan aborsi adalah ilegal maka sering dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak aman. Aborsi tidak aman berkontribusi kepada kematian dan kesakitan ibu.

Apakah yang disebut abortus? Abortus adalah berakhirnya suatu kehamilan (oleh akibat-akibat tertentu) sebelum buah kehamilan tersebut mampu untuk hidup di luar kandungan, dimana beratnya masih di bawah 500 gram atau sebelum usia kehamilan 20 minggu. Abortus dibagi menjadi dua, yaitu abortus spontan dan abortus buatan. Abortus spontan adalah abortus yang terjadi secara alamiah tanpa adanya upaya-upaya dari luar untuk mengakhiri kehamilan tersebut. Terminologi yang paling sering digunakan untuk abortus spontan adalah keguguran. Sedangkan abotus buatan adalah abortus yang yang terjadi akibat adanya upaya-upaya tertentu untuk mengakhiri proses kehamilan. Istilah yang sering digunakan adalah aborsi, pengguguran, atau abortus provolatus. Apakah dampak dari melakukan aborsi? Aborsi sangat berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan perempuan terutama jika dilakukan secara sembarangan yaitu oleh meraka yang tidak terlatih. Perdarahan yang terus-menerus serta infeksi yang terjadi setelah tindakan aborsi merupakan sebab utama kematian perempuan yang melakukan aborsi. Di samping itu aborsi juga berdampak pada kondisi psikologis. Perasaan sedih karena kehilangan bayi, beban batin akibat timbulnya perasaan bersalah dan penyesalan yang dapat mengakibatkan depresi. Oleh karena itu konseling mutlak diperlukan kepada pasangan sebelum mereka memutuskan untuk

melakukan tindakan aborsi. Tindakan aborsi harus diyakinkan sebagai tindakan terakhir jika altenatif lain sudah tidak dapat diambil.

V. PENDIDIKAN SEKS BAGI REMAJA
Apakah arti seks? Seks berarti jenis kelamin, yaitu suatu sifat atau ciri yang membedakan laki-laki dan perempuan. Apakah arti seksual? Seksual berarti yang ada hubungannnya dengan seks atau yang muncul dari seks, misalnya pelecehan seksual yaitu menunjuk kepada jenis kelamin yang dilecehkan.

Apakah arti perilaku seksual? Perlaku seksual adalah segala bentuk perilaku yang muncul berkaitan dengan dorongan seksual. Apakah arti hubungan seksual? Hubungan seks mempunyai arti hubungan kelamin sebagai salah satu bentuk kegiatan penyaluran dorongan seksual Bagaimana jika remaja diberi pendidikan seks? Pada umumnya orang menganggap bahwa pendidikan seks hanya berisi tentang pemberian informasi alat kelamin dan berbagai macam posisi dalam berhubungan kelamin. Hal ini tentunya akan membuat para orangtua merasa khawatir. Untuk itu perlu diluruskan kembali pengertian tentang pendidikan seks. pendidikan seks berusaha menempatkan seks pada perspektif yang tepat dan mengubah anggapan negatif tentang seks. Dengan pendidikan seks kita dapat memberitahu remaja bahwa seks adalah sesuatu yang alamiah dan wajar terjadi pada semua orang, selain itu remaja juga dapat diberitahu mengenai berbagai perilaku seksual berisiko sehingga mereka dapat menghindarinya.

Apakah dengan mendapatkan pendidikan seks remaja menjadi ingin mencoba? Sebetulnya sampai saat ini tidak ada bukti bahwa pendidikan seks justru akan menyebabkan remaja ingin mencoba. Berbagai studi justru menunjukan bahwa remaja yang mendapatkan informasi yang benar tentang kehidupan seksualitas akan menjadi lebih bertanggung jawab terhadap kehidupan mereka. Bagi remaja yang belum aktif seksual, pendidikan seks justru akan menunda umur pertama kali melakukan hubungan seks. Remaja yang sejak awal mengetahui bahwa melakukan hubungan seksual dengan sembarang orang akan memiliki resiko yang tinggi terkena penyakit kelamin, cenderung akan menghidari tingkah laku tersebut. Apakah yang dimaksud orientasi seksual? Orientasi seksual adalah dengan jenis kelamin dimana seseorang lebih tertarik secara seksual. Secara ekstrem orientasi seksual dikategorikan menjadi dua yaitu heteroseks (orang yang secara seksual tertarik dengan lawan jenis) dan homoseks (orang yang secara seksual lebih tertarik dengan orang lain yang sejenis kelamin). Diantara kedua kutub

orientasi seksual tersebut, masih ada perilaku-perilaku seksual yang sulit dimasukkan dalam satu kategori tertentu karena banyak sekali keragaman di dalamnya. Apa yang dimaksud dengan homoseksualitas? secara seksual dan aktivitas seskual pada jenis kelamin yang sama. Laki-laki yang tertarik kepada laki-laki disebut “gay”., sedangkan perempuan yang tertarik pada perempuan disebut “lesbian”. Bagaimana terjadinya homoseksualitas? Terjadinya homoseksualitas masih diperdebatkan. Ada yang mengatakan bahwa hal ini terjadi sejak lahir (dipengaruhi oleh gen) dan ada pula yang mengatakan didapatkan dari pengaruh lingkungan. Bagaimana sebaiknya kita bersikap terhadap kaum homoseksual? Homoseksual dikatakan normal apabila bisa diterima di suatu budaya tertentu dan dikatakan tidak normal apabila tidak diterima di budaya yang lain, tetapi dalam bersikap kita sebaiknya tetap menghargai manusia tanpa membedakan orientasi seksualnya.

VI. PMS DAN HIV/AIDS
Apa yang dimaksud dengan Penyakit Menular Seksual (PMS) ? PMS adalah penyakit yang dapat ditularkan dari seseorang kepada orang lain melalui hubungan seksual. Seseorang berisiko tinggi terkena PMS bila melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan baik melalui vagina, oral maupun anal. Bila tidak diobati dengan benar, penyakit ini dapat berakibat serius bagi kesehatan reproduksi, seperti terjadinya kemandulan, kebutaan pada bayi yang baru lahir bahkan kematian. Apa saja tanda dan gejala PMS? Karena bentuk dan letak alat kelamin laki-laki berada di luar tubuh, gejala PMS lebih mudah dikenali, dilihat dan dirasakan. Tanda-tanda PMS pada laki-laki antara lain:
        

berupa bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok pada penis/alat kelamin, luka tidak sakit; keras dan berwarna merah pada alat kelamin, adanya kutil atau tumbuh daging seperti jengger ayam, rasa gatal yang hebat sepanjang alat kelamin, rasa sakit yang hebat pada saat kencing, kencing nanah atau darah yang berbau busuk, bengkak panas dan nyeri pada pangkal paha yang kemudian berubah menjadi borok.

Pada perempuan sebagian besar tanpa gejala sehingga sering kali tidak disadari. Jika ada gejala, biasanya berupa antara lain:
       

rasa sakit atau nyeri pada saat kencing atau berhubungan seksual, rasa nyeri pada perut bagian bawah, pengeluaran lendir pada vagina/alat kelamin, >keputihan berwarna putih susu, bergumpal dan disertai rasa gatal dan kemerahan pada alat kelamin atau sekitarnya, keputihan yang berbusa, kehijauan, berbau busuk, dan gatal, timbul bercak-bercak darah setelah berhubungan seksual, bintil-bintil berisi cairan, lecet atau borok pada alat kelamin.

Bagaimana remaja bisa terhindar dari PMS? Bagi remaja yang belum menikah, cara yang paling ampuh adalah tidak melakukan hubungan seksual, saling setia bagi pasangan yang sudah menikah, hindari hubungan seksual yang tidak aman atau beresiko, selalu menggunakan kondom untuk mencegah penularan PMS, selalu menjaga kebersihan alat kelamin. Apa saja jenis PMS? Ada banyak macam penyakit yang bisa digolongkan sebagai PMS. Di Indonesia yang banyak ditemukan saat ini adalah gonore (GO), sifilis (raja singa), herpes kelamin, klamidia, trikomoniasis, kandidiasis vagina, kutil kelamin.

Apakah PMS dapat diobati? Kebanyakan PMS dapat diobati, namun ada beberapa yang tidak bisa diobati secara tuntas seperti HIV/AIDS dan herpes kelamin. Jika kita terkena PMS, satu-stunya cara adalah berobat ke dokter atau tenaga kesehatan., jangan mengobati diri sendiri. Selain itu, pasangan kita juga harus diobati agar tidak saling menularkan kembali penyakit tersebut. >Mitos-mitos seputar PMS Perlu diketahui bahwa PMS tidak dapat dicegah hanya dengan memilih pasangan yang kelihatan bersih penampilannya, mencuci alat kelamin setelah berhubungan seksual, minum jamu-jamuan, minum antibiotik sebelum dan sesudah berhubungan seks.

Apakah HIV/AIDS itu? AIDS singkatan dari Aquired Immuno Deficiency Syndrome. Penyakit ini adalah kumpulan gejala penyakit akibat menurunnya system kekebalan tubuh. Penyebabnya adalah virus HIV. HIV sendiri adalah singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Apakah HIV/AIDS termasuk PMS? Ya, karena salah satu cara penularannya adalah melalui hubungan seksual. Selain itu HIV dapat menular melalui pemakaian jarum suntik bekas orang yang terinfeksi virus HIV, menerim tranfusi darah yang tercemar HIV atau dari ibu hamil yang terinfeksi virus HIV kepada bayi yang dikandungannya. Di Indonesia penularan HIV/AIDS paling banyak melalui hubungan seksual yang tidak aman serta jarum suntik (bagi pecandu narkoba).

Tanda-tanda dan gejala HIV/AIDS Sesudah terjadi infeksi virus HIV, awalnya tidak memperlihatkan gejala-gejala khusus. Beru beberapa minggu sesudah itu orang yang terinfeksi sering menderita penyakit ringan sehari-hari seperti flu atau diare. Pada periode 3-4 tahun kemudian penderita tidak memperlihatkan gejala khas atau disebut sebagai periode tanpa gejala, pada saat ini penderita merasa sehat dan dari luar juga tampak sehat. Sesudahnya, tahun ke 5 atau 6 mulai timbul diare berulang, penurunan berat badan secara mendadak, sering sariawan dimulut, dan terjadi pembengkakan di kelenjar getah bening dan pada akhirnya bisa terjadi berbagai macam penyakit infeksi, kanker dan bahkan kematian. Bagaimana bisa terhindar dari HIV/AIDS? Lebih aman berhubungan seks dengan pasangan tetap (tidak berganti-ganti pasangan seksual). Hindari hubungan seks di luar nikah. Menggunakan kondom jika melakukan hubungan seksual berisiko tinggi seperti dengan pekerja seks komersial; sedapat mungkin menghindari tranfusi darah yang tidak jelas asalnya; menggunakan alat-alat medis dan non media yang terjamin streril. Dapatkah HIV/AIDS diobati?

Sampai sekarang, belum ditemukan cara pengobatan yang tuntas, saat ini yang ada hanyalah menolong penderita untuk mempertahankan tingkat kesehatan tubuhnya. Bagaimana mendeteksi HIV/AIDS? Dengan melakukan tes-tes darah sesuai tahapan perkembangan penyakitnya. Untuk mendeteksi adanya antibodi terhadap virus HIV, yang menunjukkan adanya virus HIV dalam tubuh, dilakukan tes darah dengan cara Elisa sebanyak 2 kali. Kemudian bila hasilnya positif, dilakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan cara Western Blot atau Immunofluoresensi. Mitos yang salah seputar HIV/AIDS? Beberapa mitos yang salah yang sering terjadi di masyarakat adalah bahwa berhubungan sosial dengan penderita HIV/AIDS akan membuat kita tertular, seperti bersalaman, menggunakan WC yang sama, tinggal serumah, atau menggunakan sprei yang sama dengan penderita HIV/AIDS. Apakah penderita HIV/AIDS perlu dikucilkan? Sebaiknya penderita jangan dikucilkan. Kita perlu tetap memperlakukannya sebagai teman dan tidak merubah sikap karena penyakitnya. Memberi mereka dorongan semangat dan juga memperhatikan keterbatasan keadaan fisiknya dalam bergaul.

VII. PELECEHAN DAN KEKERASAN SEKSUAL

Apakah yang disebut pelecehan seksual? Pelecehan seksual adalah setiap bentuk perilaku yang memiliki muatan seksual yang dilakukan seseorang atau sejumlah orang namun tidak disukai dan tidak diharapkan oleh orang yang menjadi sasaran sehingga menimbulkan akibat negatif, seperti: rasa malu, tersinggung, terhina, marah, kehilangan harga diri, kehilangan kesucian dan sebagainya, pada diri orang yang menjadi korban. Apa contoh pelecehan seksual? Banyak sekali, mulai dari siulan nakal seorang pria terhadap perempuan yang dikenal atau yang tidak dikenalnya, lelucon-lelucon cabul, perilaku meraba-raba tubuh korban dengan tujuan seksual, pemaksaan dengan ancaman kekerasan atau ancaman lainnya agar korban bersedia melakukan hubungan seksual, dan sebagainya. Perkosaan adalah pelecehan paling ekstrem. Apakah perkosaan hanya dilakukan oleh orang yang dikenal sebagai penjahat? Tidak. Dalam banyak kasus perkosaan dilakukan oleh orang yang sudah dikenal korban. Misalnya: teman dekat, kekasih, saudara, ayah (tiri maupun kandung), guru, pemuka agama, atasan dan sebagainya. Dalam banyak kasus lainya, perkosaan dilakukan oleh orang-orang yang baru dikenal dan semula nampak sebagai orang baik-baik yang menawarkan bantuan misalnya, mengantarkan korban ke suatu tempat. Bagaimana mencegah terjadinya pelecehan? Pada dasarnya, setiap orang harus menunjukan bahwa dia tak bersedia dilecehkan. Kamu sepantasnya tidak memberikan peluang pada pihak manapun untuk melecehkan dirimu. Sebagai contoh, kamu harus menunjukkan sikap tegas pada saat orang lain melakukan tindakan tanda-tanda kearah pelecehan, seperti meminta untuk membuka pakaian atau meraba-raba. Bahkan sejak kecil, anak-anak sebaiknya diajarkan untuk tidak membiarkan orang lain selain orang tuanya melihat-lihat atau memegang-megang tubuhnya.

Apa yang harus dilakukan jika melihat ada pelecehan terjadi pada orang lain? Kita harus turut menunjukan penolakan, ketidaksukaan atau bahkan ancaman terhadap pelaku pelecehan, serta mengajak pihak lain bersama mengecam pelecehan. Pelaku pelecehan umumnya akan berhenti melecehkan bila merasa bahwa banyak orang mengetahui tindakannya dan mengecamnya. Apa yang harus dilakukan bila terjadi perkosaan? Segera lapor ke polisi. Di kepolisian korban akan diantar ke dokter untuk mendapatkan visum et repertum. Apabila korban takut pergi ke kantor polisi, ajaklah teman atau saudara untuk menemani. Kalau terpaksa, koban bisa datang ke rumah sakit terlebih dahulu agar dokter bisa memberikan surat keterangan, dan meminta dokter menghubungi polisi. Saran sederhana menjaga diri dari perkosaan? Menunjukan sikap tegas terhadap segala bentuk perilaku yang mencurigakan, selalu bersikap waspada, hindari berjalan di tempat gelap dan sunyi, berpakaian sewajarnya, sediakan selalu senjata di dalam tas, seperti misalnya korek api, deodorant semprot, dan sebagainya; jika pergi ke suatu tempat asing, bawa alamat lengkap, denah dan jalur kendaraan sehingga tidak terlihat bingung. Bertanya pada tempat-tempat resmi, seperti kantor polisi, jangan mudah menerima ajakan untuk bepergian atau menginap di tempat yang belum dikenal, jangan mudah menumpang kendaraan orang yang belum di kenal, berhati-hati jika diberi minum orang, pastikan selalu jendela, pintu kamar, rumah, mobil sudah terkunci. Belajar beladiri praktis untuk mempertahankan diri ketika diserang.

VIII. NARKOBA DAN MIRAS
Apa hubungan narkoba dan miras dengan kesehatan repoduksi? Secara langsung, pecandu narkoba (khususnya mereka yang mempergunakan jarum suntik) dapat menjadi saran penularan HIV/AIDS. Secara tidak langsung narkoba dan miras biasanya terkait erat dengan pergaulan seks bebas. Di samping itu kecanduan obat terlarang pada orang tua akan mengakibatkan bayi lahir dengan ketergantungan obat sehingga harus mengalami perawatan intensif yang mahal. Kebiasaan menggunakan narkoba/miras dapat menurun pada sifat-sifat anak yang dilahirkan, yaitu menjadi peminum dan pecandu, atau mengalami gangguan mental/cacat. Perempuan “pemakai” mempunyai sikap hidup malas dan kekurangan gizi sehingga mengakibatkan bayi dalam kandungan gugur, berat lahir rendah atau cacat. Bagaimana menghindarkan diri dari jerat narkoba dan miras Jangan pernah berpikir untuk mencoba. Tindakan mencoba merupakan langkah awal untuk terjerumus. Dekatkan diri dengan tuhan. Jadikan keluarga sebagai tempat perlindungan jika menghadapi suatu masalah. Carilah sahabat yang baik. Bergabunglah dengan kelompok yang memiliki tujuan yang positif. Jauhi kelompok yang tidak memiliki tujuan yang jelas.

Apa yang perlu dilakukan jika mengetahui ada orang yang kecanduan disekitarnya? Ingatlah bahwa masalah narkoba dan miras adalah masalah kita bersama. Semua orang dapat mengalaminya. Karena itu janganlah mengucilkan atau menjauhi mereka yang terkena nakoba dan miras. Sebaliknya rangkulah mereka dan bantulah mereka keluar dari permasalahan tersebut. Dukunglah dan bantulah keluarga korban untuk bersama-sama menolong korban. Jika mengalami banyak hambatan dalam membantu keluarga korban, rujuklah penanganan korban melalui keluarganya kepada pihak yang memiliki kemampuan untuk itu.

IX. MATERI YANG MENONJOLKAN SEKS DI MEDIA
Apa yang disebut sebagai MMSM? MMSM adalah materi seks di media yang secara sengaja ditujukan untuk membangkitkan hasrat seksual. MMSM sama dengan pornografi. Namun orang seringkali menganggap pornografi terbatas hanya pada materi yang menggambarkan hubungan seks yang tidak normal. Sedangkan MMSM merujuk pada segenap bentuk materi yang terkait dengan seks dan bertujuan merangsang birahi penonton atau pembacanya. Dalam hal ini, pornografi adala adalah salah satu bentuk MMSM. Apa yang diakibatkan oleh MMSM? MMSM bertujuan merangsang hasrat seksual pembaca atau penonton. Karena itu efek yang dirasakan orang yang menyaksikan atau membaca MMSM adalah terbangkitnya dorongan seksual. Bila seseorang mengkonsumsi MMSM sesekali dampaknya tidak akan terlalu besar. Yang menjadi masalah adalah bila orang terdorong untuk terus menerus mengkonsumsi MMSM, yang mengakibatkan dorongan untuk menyalurkan hasrat seksualnya pun menjadi besar. Dalam hal ini, yang perlu diperhatikan adalah dampak MMSM pada kalangan remaja. Mengapa dampak MMSM pada remaja perlu secara khusus diperhatikan? Bila remaja terus-menerus mengkonsumsi MMSM, sangat mungkin ia akan terdorong untuk melakukan hubungan seks pada usia terlalu dini, di luar ikatan perkawinan. Apalagi MMSM pada umumnya tidak mengajarkan corak hubungan seks yang bertanggung jawab, sehingga potensial mendorong perilaku seks yang menghasilkan kehamilan remaja, kehamilan diluar nikah atau penyebaran penyakit yang menular melalui hubungan seks, seperti PMS/HIV/AIDS. Penelitian menunjukan pada konsumen MMSM dan pornografi cenderung mengalami efek kecanduan, dalam arti, sekali menyukai MMSM, seseorang akan merasakan kebutuhan untuk terus mencari dan memperoleh MMSM.

Apakah normal bila remaja menyukai MMSM?

Sangat wajar. Setiap manusia memiliki naluri seks dan karena itu wajar jika mereka merasa senang dengan materi seks. Namun demikian, bila remaja sering mengkonsumsi MMSM, dorongan untuk menyalurkan hasrat seksualnya menjadi tinggi. Karena itu, seperti sudah dikatakan, mengkonsumsi MMSM sejak remaja potensial mendorong tumbuhnya perilaku seks di luar pernikahan yang tidak bertanggung jawab. MMSM merendahkan martabat perempuan? Umumnya MMSM memang menonjolkan perempuan sebagai objek seks. Dalam hal ini, MMSM memperkuat cara pandang masyarakat bahwa perempuan pada dasarnya makhluk rendah yang berfungsi sebagai pemuas nafsu seks pria. Lebih dari itu, banyak media yang menggambarkan adegan perkosaan terhadap perempuan sebagai peristiwa yang penuh kenikmatan. Karena itu, MMSM cenderung menempatkan perempuan dalam posisi rendah.

X. PENINGKATAN KEPERCAYAAN DIRI DAN PENGENDALIAN DIRI
Mengapa orang banyak terlibat dalam hal-hal negatif?

Orang sering terlibat dalam hal-hal negatif karena mereka memiliki banyak persoalan dan tidak mengetahui cara pemecahannya. Karena itu mereka mencoba melupakan persoalannya tersebut dengan menjadi pecandu atau bergaul dengan kelompok yang tidak benar. Seluruh persoalan akan dapat di selesaikan dengen baik jika terjalin komunikasi yang baik antar pihak yang membutuhkan bantuan dan pihak yang membantu. Mengapa sulit berkomunikasi dengan remaja? Orang dewasa atau orang tua sering mengeluh bahwa mereka tidak mengerti kemauan para remaja. Sebaliknya remaja mengeluh bahwa orang di sekitar tidak mau dan tidak bisa mengerti ‘dunia’ mereka. Sikap orang dewasa atau orang tua yang tidak mengerti dunia remaja karena mereka memandang dari sudut pandang dan pengalaman yang selama ini mereka miliki. Memahami perasaan orang lain (emphatic) merupakan inti sukses berkmunikasi dengan remaja. Bagaimana remaja dapat berkomunikasi dengan lawan jenisnya/ temannya dengan baik? Kadang-kadang remaja perempuan tidak tahu bagaimana mengatakan “tidak” kepada pacarnya jika dia diajak melakukan sesuatu. Remaja perlu dibekali dengan cara berkomunuikasi yang baik. Model komunikasi ada 3 yaitu pasif (menerima apa yang diutarakan lawan bicara, agresif (memaksa orang lain mengikuti pendapatnya) dan asertif (menyampaikan dengan jelas keinginannya pada lawan bicara. Remaja seharusnya berkomunikasi secara asertif terhadap lawan jenisnya/pacarnya. Bagaimana cara berkomunikasi secara asertif? Remaja perlu diajari bagaimana berkomunikasi secara asertif. Berikanlah petunjuk berikut kepada remaja:
       

Pikirkan dahulu apa yang akan kamu bicarakan (dengarkan sendiri dahulu apa-apa yang akan kamu utarakan), kira-kira akan menyakitkan dia atau tidak Lihat-lihat situasi, apakah dia lagi bahagia, sedih atau marah. ilih pas moodnya sedang baik. Kemudian (kalau perlu) doa dulu, tarik napas dan sampaikan pendapatmu dengan kepala dingin (jangan emosi) Sampaikan dengan jelas pendapatmu (jangan muter-muter) Kalau bisa melucu, pakailah daya lucumu Kalau dia mengemukakan pendapatnya, dengarkan dulu, jangan potong pembicaraannya, jangan tidak diacuhin. Buatlah dia menerima bahwa tidak semua keinginannya bisa kamu penuhi. Kalau dia tetep ngotot, berikan alasan yang masuk akal, upayakan hal ini berkalikali

Kalau semua daya upaya kamu sudah mentok, cobalah mengalihkan perhatian, misalnya dengan mengatakan “wah capek nih, gue mau minum, kamu mau minum apa?” Jika tetap tidak dicapai titik temu, mungkin kamu perlu mengkaji ulang hubunganmu dengan dia, mau terus atau putus… dipikir-pikir lagi.

Beberapa tips yang dapat membantu remaja melewati masa remajanya dengan baik

Sampaikan kepada remaja untuk berbagi rasa dengan orang tua atau orang yang dituakan di rumah, mencari seorang sahabat, meningkatkan kepercayaan diri dan berani mengatakan tidak untuk hal-hal yang buruk. Sarankan remaja untuk bergaul dalam kelompok atau membentuk kelompok dengan aktivitas positif dan menjauhi kelompok dengan tujuan negatif. Remaja juga perlu disarankan untuk menjaga kesehatan fisik sedini mungkin dan secara terus-menerus.

XI. BAGAIMANA MENJADI ORANG TUA BAGI REMAJA

Apa yang perlu diperhatikan dalam berdiskusi dengan remaja? Sampaikan kepada orang tua remaja untuk tidak bersikap menggurui. Jangan beranggapan bahwa kita lebih mengetahui sesuatu dibandingkan dengan remaja. Berikan kesempatan kepada remaja untuk mengemukakan pandangannya. Berikan argumen yang jelas dan masuk akal terhadap suatu persoalan (jangan mengatakan…. Pokoknya…..). Berikan dukungan pada remaja bila mereka memang patut diberikan dukungan. Katakan salah jika mereka salah, dengan alasan yang masuk akal menurut ukuran mereka. Jadikan mereka sebagai teman diskusi bukan sebagai individu yang harus diberitahu. Mendorong orang tua untuk menjadi sahabat bagi remaja? Perasaan orang tua dalam membina anak remaja tidak dapat diukur. Orang tua harus menyadari bahwa pada saat ini memasuki masa dunia remaja, anak-anak mengalami masa transisi antara lain tidak ingin tergantung dengan orang tua, merasa tidak membutuhkan orang tua, tidak banyak bicara, serta tidak ingin banyak diawasi. Semua hal tersebut harus disadari dalam membangun komunikasi dengan remaja. Remaja membutuhkan bimbingan orang tua untuk membentuk pribadi yang baik dan mengembangkan berbagai potensi diri. Remaja perlu diarahkan sesuai dengan normanorma yang berlaku. Mereka harus dibantu untuk membentuk nilai-nilai yang memungkinkan mereka untuk membuat pilihan bijaksana dan menggunakan kebebasan mereka secara bijaksana.

Mendorong orang tua membantu remaja mengenali perubahan yang ada pada dirinya?

Pengalaman mengenai masa remaja khususnya kenangan orang tua terhadap sesuatu yang sangat spesifik, seperti kencan pertama, sangat penting ditularkan kepada anak remaja. Hal yang harus diperhatikan oleh para orang tua adalah apa yang mereka alami beberapa puluh tahun yang lalu, sekarang ini juga dialami oleh anak remaja mereka. Oleh karena itu penting bagi orang tua untuk melihat remaja dengan pandangan yang luas serta penuh perhatian, sehingga menimbulkan suatu pendekatan yang berbeda bagi para remaja. Perubahan penting apa yang perlu diperhatikan oleh orang tua terhadap anak remaja mereka? Masa remaja adalah periode transisi dengan perubahan fisik yang menandai seorang anak mempunyai kemampuan bereproduksi. Anak perempuan mulai mengalami menstruasinya, anak laki-laki mulai ejakulasi. Serta tingkah laku mereka pada saat itu akan berubah cepat dan kadang-kadang menimbulkan suatu pertentangan.Ada dua hal yang paling menonjol dalam kehidupan remaja yaitu:
 

Keinginan untuk mencari identitas diri Keinginan untuk tidak tergantung dari orang lain khususnya orang tua.

Pada masa itu mereka akan mulai mencari dan mencoba mencari identitas diri (Siapa saya? Apa yang orang lain pikirkan tentang saya? Apa yang saya sukai? Siapa orangorang penting dalam hidup saya?) dan mencoba untuk menentukan kemampuannya dan mencoba mengukur kapasitasnya (Seberapa jauh saya dapat pergi? Apa yang dapat saya kerjakan? Berapa yang dapat saya ambil? Seberapa tidak tergantungnya saya? Dan lain sebagainya) Perubahan-perubahan fisik yang perlu disadari oleh anak remaja pada saat mereka memasuki dunia remaja? Masa pubertas atau masa transisi dari dunia anak-anak ke dunia dewasa secara fisik ditandai dengan berbagai perubahan. Berbagai perubahan tersebut alamiah sifatnya, namun hal ini tidak diketahui oleh remaja yang bersangkutan jika mereka tidak dijelaskan sesuai dengan nalar dan alam pkiran mereka. Ketidaktahuan tersebut berdampak pada kebingungan, kecemasan, ketakutan, atau bahkan pemberotakan diri. Berbagai perubahan dan tingkat kematangan berbeda antar seorang dengan lainnya. Penting bagi orang tua untuk mengkomunikasikan atau memberikan pengertian mengenai hal tersebut kepada para remaja. Para remaja membutuhkan keyakinan khusus bahwa yang mereka alami adalah sesuatu yang alamiah dan perbedaan yang terjadi antara dirinya dengan teman sebaya lainnya bukanlah suatu kekurangan atau kelainan.

Perubahan tingkah laku dan emosional yang dihadapi oleh para orang tua terhadap anak-anak yang mulai meningkat remaja?

Masa remaja juga ditandai dengan kondisi emosional yang kuat, kuatnya emosi ini kadang-kadang menimbulkan kembali pertengkaran-pertengkaran yang sudah berlalu dan terkadang akan menimbulkan rasa kebencian lagi. Tingkat emosi anak-anak remaja dapat dilihat dengan berbagai cara seperti, temperamental (mudah marah), sering menolak untuk berkomunikasi. Mengapa orang tua perlu memberikan perhatian serius tentang pendidikan seks kepada para remaja mereka? Keingintahuan remaja sangat besar. Dalam kondisi dimana teknologi informasi dan komunikasi begitu bebas dewasa ini maka kesempatan remaja untuk memperoleh informasi terhadap berbagai hal termasuk masalah seks sangatlah terbuka. Masalahnya adalah tidak semua infomasi yang tersedia merupakan informasi yang benar dan tepat bagi kehidupan remaja. Jika kemudian remaja mendapatkan informasi yang tidak benar maka hal ersebut akan berpengaruh pada ‘nilai’ keidupan mereka. Orang tua sangat berperan dalam menimbulkan nilai-nilai positif remaja perihal kehidupan seksual mereka seperti bahaya PMS dan HIV/AIDS, hubungan seks bebas, kehamilan usia muda dan lain sebagainya. Bagaimana agar orang tua diterima oleh remaja? Ada beberapa tips orang tua dapat berkomunikasi dengan remaja yaitu:
   

Pengenalan terhadap diri anda Menganali masalah-masalah anda Mengenalianak-anak anda Ciptakan rasa keterbukaan dalam memberikan informasi yang mendidik mengenai masalah seksual kepada anak anda Kendala apa yang dihadapi oleh orang tua dalam memberikan pendidikan seks kepada remaja mereka? Kendala budaya, pengetahuan serta beban psikologis seringkali menjadi hambatan bagi orang tua dalam berkomunikasi tentang masalah seksual yang sehat dan bertanggung jawab dengan para remaja. Namun satu hal yang harus senantiasa diingat oleh orang tua bahwa peran mereka dibutuhkan oleh para remaja. Jika orang tua tidak mengambil peran tersebut maka dunia luar yang akan mengambilnya. Oleh karenanya orang tua harus dengan berbagai cara berupaya untuk membuka komunikasi tersebut. Orang tua tidak bisa menghindari anakanaknya dari pengetahuan akan seks. Mereka akan mencari sendiri atau memperoleh informasi dari lingkungan dimana mereka bergaul. Informasi tersebut dapat berupa film, majalah, buku cerita atau komik porno, ataupun cerita dari teman-teman sebaya.

Oleh karena itu orang tua mutlak perlu meningkatkan pengetahuan mereka seputar kehidupan seksual yang sedang banyak terjadi misalnya penyebaran HIV/AIDS untuk kemudian didiskusikan dengan anak remaja mereka. Bagaimana orang tua secara efektif membina pendidikan seks pada keluarga? Walaupun tidak ada batasan bagaimana sebaiknya memberikan pendidikan seks kepada anak remaja, namun berbagai studi dan pendapat para ahli memperlihatkan bahwa sifat keterbukaan, perhatian, cinta dan rasa persahabatan yang diberikan oleh orang tua kepada para remaja mampu membina pendidikan seks dalam keluarga.

XII. PENGERTIAN TENTANG JENDER Apa arti dari jender? Jender berasal dari bahasa Latin, yaitu “genus”, berarti tipe atau jenis. Jender adalah sifat dan perilaku yang dilekatkan pada laki-laki dan perempuan yang dibentuk secara sosial maupun budaya. Karena dibentuk oleh sosial dan budaya setempat, maka jender tidak berlaku selamanya tergantung kepada waktu (tren) dan tempatnya. Jender juga sangat tergantung kepada tempat atau wilayah, misalnya kalau di sebuah desa perempuan memakai celana dianggap tidak pantas, maka di tempat lain bahkan sudah jarang

menemukan perempuan memakai rok. Karena bentukan pula, maka jender bisa dipertukarkan. Misalnya kalau dulu pekerjaan memasak selalu dikaitkan dengan perempuan, maka sekarang ini sudah mulai banyak laki-laki yang malu karena tidak bisa mengurusi dapur atau susah karena harus tergantung kepada perempuan untuk tidak kelaparan.

Apa perbedaan seks dan jender? Jender ditentukan oleh sosial dan budaya setempat sedangkan seks adalah pembagian jenis kelamin yang ditentukan oleh Tuhan. Misalnya laki-laki mempunyai penis dan bisa memproduksi sperma, sementara perempaun mengalami menstruasi, bisa mengandung dan melahirkan serta menyusui. Bagaimana bentuk hubungan jender ? Hubungan jender ialah hubungan sosial antara laki-laki dengan perempuan yang bersifat saling membantu atau sebaliknya, serta memiliki banyak perbedaan dan ketidaksetaraan. Hubungan jender berbeda dari waktu ke waktu, dan antara masyarakat satu dengan masyarakat lain, akibat perbedan suku, agama, status sosial maupun nilai (tradisi dan norma yang dianut). atas^ Apakah ketidakadilan jender itu? Ketidakadilan jender merupakan bentuk perbedaan perlakuan berdasarkan alasan jender, seperti pembatasan peran, penyingkiran atau pilih kasih yang mengkibatkan terjadinya pelanggaran atas pengakuan hak asasinya, persamaan antara laki-laki dan perempuan, maupun hak dasar dalam bidang sosial, politik, ekonomi, budaya dan lain-lain.Sebagai contoh dari ketidakadilan jender pada remaja adalah jika terjadi kehamilan pada remaja putri yang masih sekolah maka hanya remaja putri tersebut yang dikeluarkan dari sekolah sementara remaja putra yang menghamili tidak dikeluarkan. Seharusnya jika mungkin, kedua-duanya tetap diberi kesempatan untuk melanjutkan sekolahnya.

XIII. MATERI PENDALAMAN (REFERENSI)
Materi-materi lebih lanjut mengenai kesehatan reproduksi remaja bisa dibaca di beberapa terbitan yang telah dikeluarkan oleh BKKBN sebagai berikut

Pedoman Penyampaian Materi Reproduksi Sehat Remaja Usia 11-21 Tahun untuk Konseling – dengan Sasaran Remaja. Disusun oleh: Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia dan Kantor Menteri Negara Kependudukan/Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional, dengan dukungan dana dari United Nations Population Fund (UNFPA). Depok:8 Desember 1997. Pedoman Konseling Reproduksi Sehat Remaja Usia 11-21 Tahun bagi Fasilitator dengan Sasaran Remaja.Disusun oleh: Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia dan Kantor Menteri Negara Kependudukan/Badan Koordinasi Keluarga

Berencana Nasional, dengan dukungan dana dari United Nations Population Fund (UNFPA). Depok: 1997.

Remaja, Pornografi & Pendidikan SEKS Jakarta, Jum'at SALAH satu televisi swasta beberapa waktu lalu menayangkan kasus perkosaan yang dilakukan sekelompok oknum pelajar SLTP dan SLTA secara beramai-ramai di wilayah Jawa Timur. Dari hasil pemeriksaan aparat, perilaku memalukan ini akibat pengaruh minuman keras dan sering menonton VCD porno.

DALAM cerita rubrik Curhat, Kompas, pernah ada sebuah cerita tentang seorang remaja yang menutup pintunya rapat-rapat hanya karena ingin membuka kartu remi full color yang gambarnya aduhai dan syuur. Merebaknya pornografi sungguh amat memprihatinkan, apalagi bacaan-bacaan dan sejenisnya, yang saat ini amat mudah diakses oleh siapa pun (termasuk remaja). Beberapa waktu lalu survei terhadap pornografi menggambarkan, banyak media massa yang masuk kategori pornografi, di dalamnya memuat isi dan gambar secara vulgar dan permisif. Banyak foto perempuan yang berpose seronok dan berpakaian mini, bahkan hanya ditutupi daun pisang, dan masih banyak kasus serupa yang seringkali masih saja menghiasi wajah media massa kita. Situasi maraknya pornografi sebagai media yang menyesatkan hingga berimplikasi terhadap dekadensi moral, kriminalitas, dan kekerasan seks yang dilakukan remaja, sesunguhnya bukan sebuah kasus baru yang mengisi lembaran surat kabar ataupun media elektronik. Kasus-kasus kekerasan seksual, kehamilan tidak dikehendaki (KTD) pada remaja dan sejenisnya, tampaknya masih belum banyak diangkat ke permukaan sehingga "seolaholah" masalah ini dianggap "kasuistik" yang tidak penting untuk dikaji lebih jauh. Padahal, timbulnya kasus-kasus seputar KTD remaja, kekerasan seksual, penyakit menular seksual (PMS) pada remaja bahkan sampai aborsi, tidak lepas dari (salah satunya) minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja. Pendidikan Seks = Pornografi? Pendidikan kesehatan reproduksi remaja sebagai salah satu upaya untuk "mengerem" kasus-kasus itu, sampai saat ini masih saja diperdebatkan (bahkan banyak yang enggak setuju). Sementara, pornografi tiap saat ditemui remaja. Beberapa kajian menunjukkan, remaja haus akan informasi mengenai persoalan seksualitas dan kesehatan reproduksi. Penelitian Djaelani yang dikutip Saifuddin (1999:6) menyatakan, 94 persen remaja menyatakan butuh nasihat mengenai seks dan kesehatan reproduksi. Namun, repotnya, sebagian besar remaja justru tidak dapat mengakses sumber informasi yang tepat. Jika mereka kesulitan untuk mendapatkan informasi melalui jalur formal, terutama dari lingkungan sekolah dan petugas kesehatan, maka kecenderungan yang muncul adalah coba-coba sendiri mencari sumber informal. Sebagaimana dipaparkan Elizabeth B Hurlock (1994:226), informasi mereka coba dipenuhi dengan cara membahas bersama teman-teman, buku-buku tentang seks, atau mengadakan percobaan dengan jalan masturbasi, bercumbu atau berhubungan seksual.

Kebanyakan masih ada anggapan, seksualitas dan kesehatan reproduksi dinilai masih tabu untuk dibicarakan remaja. Ada kekhawatiran (asumsi) untuk membicarakan persoalan seksualitas kepada remaja, sama halnya memancing remaja untuk melakukan tindakan coba-coba. Sebenarnya, masalah seksualitas remaja adalah problem yang tidak henti-hentinya diperdebatkan. Ada dua pendapat tentang perlu tidaknya remaja mendapatkan informasi seksualitas. Argumen pertama memandang, bila remaja mendapat informasi tentang seks, khususnya masalah pelayanan kesehatan reproduksi, justru akan mendorong remaja melakukan aktivitas seksual dan promiskuitas lebih dini. Sedangkan pendapat kedua mengatakan, remaja membutuhkan informasi tentang perubahan-perubahan yang terjadi pada dirinya dan implikasi pada perilaku seksual dalam rangka menumbuhkan rasa tanggung jawab dan kesadaran terhadap kesehatannya. Remaja sendiri merupakan kelompok umur yang sedang mengalami perkembangan. Banyak di antara remaja berada dalam kebingungan memikirkan keadaan dirinya. Sayangnya, untuk mengetahui persoalan seksualitas masih terdapat tembok penghalang. Padahal, mestinya jauh lebih baik memberikan informasi yang tepat pada mereka daripada membiarkan mereka mencari tahu dengan caranya sendiri. Pendidikan seksualitas masih dianggap sebagai bentuk pornografi. Padahal, dalam gambaran penelitian yang pernah dilakukan oleh Pusat Studi Seksualitas PKBI-DIY di wilayah Yogyakarta pada pertengahan tahun 2000 terhadap persepsi remaja dan guru (mewakili orangtua), anggapan itu tidak sepenuhnya terbukti. Selama ini pendidikan seks dipersepsikan sebagai sebuah hal yang sifatnya pornografi yang tidak boleh dibicarakan, apalagi oleh remaja. Dari hasil kuesioner menggambarkan, hanya sekitar 14,29 persen (responden guru) yang menyatakan, pendidikan seks sama dengan pornografi. Dari remaja sendiri anggapan tentang pendidikan seks sama dengan pornografi tidak terbukti (0 persen). Remaja dan pendidikan seks? Masih amat sedikit pihak yang mengerti dan memahami betapa pentingnya pendidikan seksualitas bagi remaja. Faktor kuat yang membuat pendidikan seksualitas sulit diimplementasikan secara formal adalah persoalan budaya dan agama. Selain itu, faktor lain yang ikut mempengaruhi adalah kentalnya budaya patriarki yang mengakar di masyarakat. Seksualitas masih dianggap sebagai isu perempuan belaka. Pornografi merupakan hal yang ramai dibicarakan karena berdampak negatif, dan salah

satu upaya membentengi remaja dari pengetahuan seks yang menyesatkan adalah dengan memberikan pendidikan seksualitas yang benar. WHO menyebutkan, ada dua keuntungan yang dapat diperoleh dari pendidikan seksualitas. Pertama, mengurangi jumlah remaja yang melakukan hubungan seks sebelum menikah. Kedua, bagi remaja yang sudah melakukan hubungan seksual, mereka akan melindungi dirinya dari penularan penyakit menular seksual dan HIV/AIDS. Mengingat rasa ingin tahu remaja yang begitu besar, pendidikan seksualitas yang diberikan harus sesuai kebutuhan remaja, serta tidak menyimpang dari prinsip pendidikan seksualitas itu sendiri. Maka, pendidikan seksualitas harus mempertimbangkan:
• • • •

Pertama, pendidikan seksualitas harus didasarkan penghormatan hak reproduksi dan hak seksual remaja untuk mempunyai pilihan. Kedua, berdasarkan pada kesetaraan jender. Ketiga, partisipasi remaja secara penuh dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pendidikan seksualitas. Keempat, bukan cuma dilakukan secara formal, tetapi juga nonformal.

Sampai kapankah kita masih terus memperdebatkan persoalan pendidikan seksualitas untuk remaja, sedangkan remaja sebenarnya "diam-diam" sudah mencuri informasi yang menyesatkan tentang seks dari pornografi? Tito, Pusat Studi Seksualitas-PKBI DIY bELAKANGAN ini banyak orangtua yang semakin khawatir dengan perkembangan dan juga pergaulan anak-anaknya. Mereka semakin was-was kalau-kalau putera-puteri mereka yang kelihatannya alim di rumah ternyata bisa bertindak "liar" di luar rumah. Kekawatiran ini diakui semakin menjadi-jadi setelah mencuat kasus pelaporan pemerkosaan yang menimpa bintang sinetron Faisal terhadap seorang remaja berusia 18 tahun bernama Sheara Rendra Mayang Putri. Atau juga yang dilaporkan Puspita Wahyuningsih alias Pipit dengan perut membucit yang diakuinya merupakan buah hubungannya dengan bintang sinetron dan iklan Agung Dumadi. Anak hamil di luar nikah? Mendengar hal tersebut seperti halnya disambar petir di siang bolong. Terlebih lagi jika hal tersebut terjadi di keluarga sendiri. Rasanya sebagai orang tua tidak kurang memberi pengertian akan bahaya dan dosa jika mereka melakukan hubungan seks di luar nikah. Apalagi jika sang orangtua tahu benar bahwa anaknya tidak pernah membantah, patuh dan termasuk juga jarang bergaul. Pertanyaan mengapa dia bisa hamil tanpa nikah terlebih dahulu? Apapula yang menyebabkan seusia mereka harus berhubungan layaknya pasangan suami-isteri?

Yang pasti kejadian ini tak hanya membuat malu keluarga yang punya anak wanita. Bagi yang punya anak laki-laki, juga tentu merasa tercoreng-moreng. Kemungkinan muncul pertanyaan mengapa anaknya yang baru saja dapat mengendarai mobil, ataupun naik motor kini bisa menghamili anak orang? Jika ini sudah terlanjur terjadi, apa yang harus dilakukan oleh para orang tua? Apakah akhirnya menikahkan mereka juga? Ataukah malahan menganjurkan hal yang dilarang dunia-akherat, yakni aborsi? Pertanyaan-pertanyaan ini tentu berpulang pada jawaban Anda masing-masing. Yang pasti selayaknya orangtua yang harus selalu berkewajiban mengayomi dan memberi rasa aman, apapun masalah yang menimpa mereka harus tetap dalam arahan orangtua. Rangkul mereka dan bantu mereka mencari solusi terbaik dari setiap masalah yang mereka hadapi. Bukan langsung mengkambing hitamkan dan memvonis buruk mereka. Bukan pula memberikan solusi tidak beradab seperti contohnya melakukan aborsi atau mencuci tangan atas apa yang sebenarnya telah mereka lakukan. Sebenarnya apakah yang paling diinginkan oleh para remaja jika mereka mempunyai sebuah masalah yang mereka pikir tidak dapat diselesaikan sendiri, baik itu masalah pelajaran, pacar, teman ataupun keluarga? Pasti mereka akan curhat. Sebab mereka pikir dengan curhat, maka masalah mereka dapat teratasi dan apa yang menjadi kegelisahan jiwa mereka dapat dilepaskan. Dengan curhat selain mereka merasa dilegakan perasaannya, mungkin juga dapat masukan untuk mengatasi masalah yang sedang dihadapinya. Tapi bukan solusi terbaik kiranya bila mereka curhat pada orang yang tidak tepat. Karena kemungkinan malahan bukannya jawaban dan penyelesaian yang mereka dapat, melainkan malahan timbul permasalahan baru. Apalagi jika menyangkut sesuatu yang dirahasiakan. Kadang teman yang sudah dianggap dekat dan baik pun belum tentu dapat diajak curhat dalam segala hal. Alangkah baiknya sejak dini rangkul mereka, ajak mereka sebagai seorang teman dan sahabat. Dengan demikian mereka bisa dengan mudah mengatakan apa yang mereka rasakan, tak terkecuali tentang permasalahan cinta mereka. Terangkan pula apa itu seks dan akibatnya sesuai dengan usia dan perkembangan mereka. Dengan demikian mereka bisa berpikir sekian kali untuk melakukan seks diluar nikah. Penanaman agama sedini mungkin juga menjadi jaminan kelangsungan hidup mereka untuk lebih baik. mereka bisa memilih hubugan yang sehat itu seperti apa, pacaran itu seperti apa dan norma hubungan antar pria dan wanita diluar pernikahan itu seperti apa. Mulai dari sekarang juga dan detik ini juga rangkul mereka, dekati mereka sebagai sahabat karib dan bukan menyalahkan semuanya ketika semuanya sudah telanjur terjadi ... Tips Agar Anak Menghindari Seks Bebas

22 August 2002 Jakarta, KBI Gemari Di Indonesia, menurut DepKes RI, hingga 30 September 2006, tercatat 11.604 orang penderita HIV/AIDS. Ini berarti
dalam waktu dua tahun, peningkatan insiden 178%. Karena fenomena gunung es jumlah yang sesungguhnya jauh lebih besar. Insiden terutama terjadi pada usia produktif dan juga pada bayi serta anak-anak. Jika dan loss generation. Inilah alasan penting, mengapa HIV/AIDS harus segera diatasi. Pencegahan Semu Upaya pencegahan HIV/AIDS pun gencar dilakukan. LSM-LSM telah banyak memberikan edukasi kepada mereka yang rentan terkena HIV/AIDS. Di antaranya dengan mengadakan penyuluhan kepada para pelaku seks aktif, seperti Pekerja Seks Komersial (PSK). Bukan itu saja, pengetahuan tentang HIV/AIDS pun telah dimasukkan ke dalam kurikulum pendidikan. Pemerintahan Kabupaten Merauke dan Biak, Provinsi Papua, bekerjasama dengan Dinas Pendidikan setempat mulai memasukkan pelajaran mengenai seluk-beluk HIV/AIDS dan penyakit menular lain dalam kurikulum pendidikan tahun ajaran 2007/2008 ini. Materi tentang HIV/AIDS, sebagai bahan mata pelajaran muatan lokal di sekolah, akan diajarkan mulai sekolah dasar hingga SMA/SMK, dengan tujuan agar siswa memperoleh berbagai pengetahuan tentang penularan HIV/AIDS dan tata cara pencegahannya. Materi tentang HIV/AIDS juga dikemas dalam kurikulum Kesehatan Reproduksi Remaja (KRR) dan sedang disosialisasikan ke sekolah-sekolah. Sayang, materi penyuluhan tentang HIV/AIDS untuk masyarakat umum maupun pelajar itu minus muatan moral dan agama. Bahkan faktor moral dan agama seganja dihilangkan dan sama sekali tabu dibicarakan, karena menurut mereka, HIV/AIDS sekadar fakta medis yang tidak bisa dikait-kaitkan dengan moral dan agama. Ini karena menurut mereka, tidak semua ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) adalah para pelaku tidak amoral seperti pelaku seks bebas. Ada anak yang tertular HIV/AIDS dari ibunya, atau istri baik-baik tertular dari suaminya.

B5/B2/D1Jadi dalam logika ini, memasukkan nilai-nilai moral atau agama hanya akan
memvonis ODHA sebagai pelaku tindak

amoral. Padahal, penyakit HIV/AIDS jelas-jelas terkait dengan perilaku sosial yang tentu erat kaitannya dengan moral. Sebab jika ditelususri, munculnya HIV/AIDS terjadi karena aktivitas sosial yang menyimpang dari tuntunan agama. Ingat, virus mengerikan ini pertama kali ditemukan tahun 1978 di San Francisco Amerika Serikat pada kalangan homoseksual. Di Indonesia kasus HIV/AIDS ini pertama kali ditemukan pada turis asing di Bali tahun 1981. Kita tahu, bagaimana perilaku seks turis asing, meski tak semuanya memang penganut seks bebas. Karena itu, minusnya muatan agama dalam kurikulum penyuluhan HIV/AIDS dipastikan tidak akan membuat upaya pencegahan penyebaran HIV/AIDS efektif. Belum lagi bila dilihat materi penyuluhan atau kurikulum pencegahan HIV/AIDS yang bersumber dari UNAIDS (United Nation Acquired Immune Deficiency Sy ndrome) dan WHO melalui PBB. Dalam kampanyenya pencegahan HIV/AIDS,
Waspada Online http://www.waspada.co.id Menggunakan Joomla! Generated: 16 May, 2008, 11:10

ada istilah ABCD, yakni A= Abstentia alias jangan berhubungan seks ; B= be faithfull alias setialah pada pasangan, C= condom alias pakailah kondom, atau D= drugs atau hindari obat-obatan. Solusi yang ditawarkan tampaknya bagus. Namun, pada realitasnya program kondomisasi lebih mendominasi. Padahal, orang bodoh pun tahu bahwa menyodorkan kondom sama saja menyuburkan seks bebas. Apalagi, faktanya kondom justru dibagikan di lokasilokasi prostitusi, hotel dan tempat-tempat hiburan yang rentan terjadinya transaksi seks. Lagipula, efektivitas kondom dalam pencegahan HIV/AIDS masih diperdebatkan, mengingat tidak ada produsen kondom yang berani mengklaim 100 % produknya aman tak bisa ditembus virus HIV/AIDS. Selanjutnya, untuk mencegah substitusi kondom, legalisasi jarum suntik dan anti-diskriminasi terhadap ODHA. Jika dicermati, dengan solusi yang ditawarkan tersebut virus HIV/AIDS justru semakin menyebar. Kenapa demikian? Mari kita lihat satu persatu. Substitusi Metadon. Metadon adalah turunan narkoba (morfin, heroin dkk) yang mempunyai efek adiktif (nyandu) dan menyebabkan 'loss control' (tidak mampu mengendalikan diri). Dengan dalih agar tidak menggunakan narkoba suntik metadon pun ditempuh karena metadon melalui mulut. Akibat dari program ini, 'loss control' penularan yang utama virus HIV/AIDS. Harga metadon di Puskesmas Rp5000 dan dapat dibeli secara bebas dan terangterangan. Akses metadon yang mudah dan murah akan memperluas pengguna metadon. Adiktif (nyandu) akan melestarikan pengguna narkoba. Legalisasi Jarum Suntik. Dengan dalih agar tidak terjadi penggunaan jarum suntik secara bersamasama,

legalisasi jarum pun dilakukan. Padahal dengan langkah ini berarti ada upaya legalisasi penggunaan narkoba suntik (tetap dilestarikan). Selain itu jarum suntik akan tetap digunakan secara bersama-sama karena pengguna karena pengguna narkoba menjadi loss control sehingga mendekatkan pada kemungkinan seks bebas. Di samping itu pengguna narkoba pun bisa jadi akan semakin banyak. Anti Deskriminasi terhadap ODHA. Dengan dalih hak asasi manusia (HAM) para ODHA maka digulirkan isu anti diskriminasi ODHA. Opini menyesatkan pun dibangun bahwa air liur, air keringat, tinja, air seni, air mata ODHA tidak mengandung virus HIV. Padahal sejatinya seluruh cairan tubuh ODHA mengandung virus HIV dan mampu menularkan kepada orang lain. Dengan demikian jelaslah bahwa solusi yang diberikan/ditawarkan oleh PBB untuk memberantas penyakit AIDS tidak memberantas faktor penyebab utama (akar masalah) atau menghilangkan media penyebarannya yaitu seks bebas, namun justru melestarikannya. Dengan melestarikan seks bebas, virus HIV/AIDS ini akan semakin merajalela. Tidak hanya dikalangan pelaku seks bebas, bahkan akan meluas kepada setiap korban yang berinteraksi dengan sang pelaku. Ketika kondom dilegalisasi, maka akan berdampak pada membludaknya pelaku seks bebas, kehamilan tidak diinginkan di kalangan remaja khususnya serta aborsi yang merajalela. Legalisasi jarum suntik steril anti diskriminasi pada ODHA akan berdampak pada penyebaran dan pembludakan HIV/AIDS dan meningkatnya jumlah penderita HIV/AIDS. Ditambah lagi metadon yang difasilitasi secara resmi dan struktural oleh pemerintah akan melestarikan pengguna narkoba, bahkan justru akan bertambah karena murah dan mudah didapat. Rencana ini akan berjalan secara struktural dan sistematis memalui jaringan pemerintah (yang dipaksakan) sampai tingkat Puskesmas dan masyarakat akar rumput. Artinya, upaya ini bersifat struktural (serempak dan menyeluruh dari pusat sampai daerah bahkan desa-desa). Solusi Preventif dan Kuratif Transmisi utama (media penularan yang utama) penyakit HIV/AIDS adalah seks bebas. Oleh karena itu pencegahannya harus dengan menghilangkan praktik seks bebas tersebut. Hal ini meliputi media-media yang meransang (pornografipornoaksi), tempat-tempat prostitusi, club-club malam, tempat maksiat atau pelaku maksiat. Penderita HIV/AIDS yang tidak karena melakukan maksiat maka tugas negara adalah mengkarantina mereka. Sebuah hadist Rasulullah SAW memungkin ditempuh cara seperti ini. Sekali-kali janganlah orang yang berpenyakit menularkan kepada orang sehat. (HR. Bukhori).

Apabila kamu kamu mendengar ada wabah di suatu negeri maka janganlah kamu memasukinya dan apabila wabah itu terjangkit sedangkan kamu berada dalam negeri itu, janganlah kamu keluar melarikan diri. (HR. Ahmad, Bukhori, Muslim
Waspada Online http://www.waspada.co.id Menggunakan Joomla! Generated: 16 May, 2008, 11:10

dan Nasai dari Abdurrahman bin 'Auf). Mengarantina agar penyakit tersebut tidak menyebar luas, perlu memperhatikan hal-hal berikut: selama karantina seluruh kebutuhannya tidak diabaikan; diberi pengobatan gratis; berinteraksi dibawah pengawasan dan jauh dari media serta aktivitas yang mampu menularkan; merehabilitasi mental (keyakinan, ketakwaan, kesabaran) sehingga mempercepat kesembuhan dan memperkuat ketaqwaan. Telah diakui bahwa kesehatan mental mengantarkan pada 50 % kesembuhan. Di sisi lain, jika selama ini penyakit seperti HIV/AIDS belum ditemukan obatnya maka negara wajib mengerakkan dan memfasilitasi para ilmuawan dan ahli kesehatan agar secepatnya bisa menemukan obatnya. Dengan cara-cara tersebut diharapkan dapat memutus mata rantai penyebaran HIV/AIDS sehingga jutaan anak bangsa dapat diselamatkan. Jika tidak, kita akan menemui bangsa ini kehilangan generasi. (Penulis adalah Aktivis Hizbut Tahrir Indonesia) (wns)

Seks bebas tanpa nikah rupanya sudah menjadi keharusan dalam sebuah hubungan pacaran. Setidaknya itu yang terjadi di kalangan teman-temanku sekampung. Waktu kumpul-kumpul malam minggu kemarin, mereka cerita pengalaman seks mereka bersama cewek mereka. Sebenarnya aku risih mendengarnya, tapi aku pikir bagus juga buat bahan posting blog. Dasar blogger… Kembali ke laptop masalah seks tadi. Mereka menganggap, pacaran tanpa seks itu nggak seru. Seperti kopi tanpa gula. What? Segitu pentingkah? Aku cuma bisa geleng-geleng kepala aja dengernya. Bahkan ada yang bilang klo lakuin itu seminggu terakhir ini dua kali, bersama 2 cewek yang berbeda. Pengakuan terakhir ini yang bikin aku kaget setengah mati.

Apa yang aku pikirkan? Aku lantas berpikir, hal ini terjadi di kalanganku sendiri, yang cuma 7-8 orang. Apa di luar sana keadaannya sama? Jangan-jangan budaya ‘timur’ kita yang menganggap hubungan seks adalah hal yang sakral dan hanya boleh dilakukan dalam ikatan pernikahan sudah berganti menjadi budaya ‘binatang’ (aku lebih suka menyebutnya

budaya binatang, daripada budaya barat) yang membolehkan hubungan seks asalkan didasari suka sama suka? Oh my god, mo jadi apa bangsa ini? Tanpa budaya seks bebas saja bangsa ini sudah banyak masalah. Pasti tambah banyak nih masalah sosial yang timbul gara-gara budaya sialan ini. Kenapa sih ngurusin orang lain? Lagi stress karena jomblo? Hmmm…ini bukan karena aku lagi jomblo, trus kritik-kritik orang lain yang punya pacar. Sekali lagi bukan. Ini semua karena aku prihatin dengan maraknya seks bebas di sekitarku. Dan kebetulan aku termasuk korban. Inget, yang aku nggak suka tuh seks bebasnya, bukan pacarannya. Pacaran sih oke-oke aja selama nggak melibatkan syahwat. Agree? Tips-tips sukses terhindar dengan seks dalam pacaran. Tips ini datang dari diriku sendiri. So far, aku berhasil menghindari hal-hal yang ‘diinginkan’ tersebut. Tips ini untuk semua gender. 1. Hilangkan pikiran-pikiran negatif, terutama yang berkaitan dengan ‘hal itu’. Ingat, semua tindakan itu berawal dari niat dan niat itu ada di hati dan pikiran kita. So, clean it up at first. 2. Jauhkan diri dari materi berbau pornografi. Klo nggak bisa, ya kurangi, jangan terlalu akrab. Aku nggak munafik, nggak menyangkal klo aku berkali-kali lihat film or gambar porno (biasa kan cowok ). Tapi semua pas aku iseng, browsing koleksi file temen. Aku nggak pernah secara eksklusif browsing untuk cari materi itu. Ini ada hubungannya dengan tips nomer 1. Silahkan diartikan sendiri maksud aku. 3. Hindari berduaan di tempat yang sepi dan untouchable oleh orang lain, misal kamar tidur, hotel, dll. Klo mo ke tempat wisata, pilih tempat ngobrol berduaan yang bisa dijangkau pandangan mata orang lain. Sehingga kontrol diri bisa maksimal karena merasa diawasi. Selama ini, aku lebih sering pacaran di tempat-tempat yang ramai, macam mall or kafe. 4. Minimalisir kontak anggota badan pada saat berduaan seperti meraba, ciuman, dll. Ciuman adalah yang paling sulit dihindari. Biasanya bagian ini dominan cowok yang memulai. Tapi jika tips 1, 2 dan 3 dah dijalankan, mudah kok melakukan tips ke-4 ini. 5. Nggak usah pacaran. Ini nggak recommended loh. Dan sebenarnya nggak ada hubungannya sama sekali dengan tips-tips ini. Cuman untuk melengkapi, biar pas 5 biji. Hehehhehe… Tapi kalo mau dipraktekkan, ya silahkan. Untuk sementara, kamu menemani aku yang lagi jomblo. Inget, untuk sementara loh… Silahkan dipraktekkan kalo memang ingin. Kalo nggak ingin dan nggak suka, jangan protes ke aku ya…

Update 01/12/07: Sebuah study di US menghasilkan kesimpulan bahwa konten porno di internet membuat remaja semakin agresif dan mempunyai kepercayaan seks yang salah. Selengkapnya bisa dibaca disini.
Disclaimer: Tulisan ini ndak ada hubungannya dengan mbak -tikabanget-tm ituh, meskipun karakter penjudulannya mirip. Penjudulan ini tidak bermaksud mencontek maupun numpang populer tetapi lebih pada

Topik: HIV/AIDS Kliping: Pendidikan Agama Tak Cukup Cegah Seks Bebas Dipublikasi pada Wednesday, 25 Maret 2010 oleh YoPi RatnaSaRi

Mahasiswa berhenti melakukan seks bebas setelah memahami risikonya. Koran Tempo, Selasa, 24 April 2007 JAKARTA - Pendidikan agama dan keluarga tak cukup mencegah perilaku seks bebas remaja sebelum menikah. Sebaik apa pun orang tua dan lembaga sekolah dalam mendidik anak, tetap saja ada remaja berhubungan seks sebelum menikah. "Jadi pendidikan agama dan keluarga belum cukup," kata Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi Badan Keluarga Berencana Nasional Siswanto Agus Wilopo kemarin. Siswanto menanggapi perilaku seks bebas di kalangan pelajar sebagaimana hasil survei Koordinator Kesehatan Reproduksi Jaringan Epidemiologi Profesor Charles Suryadi. Lembaga ini menyebutkan 15 persen dari 2.224 mahasiswa di sepuluh perguruan tinggi negeri dan swasta melakukan seks bebas sebelum nikah. Menurut Siswanto, remaja memerlukan pendampingan khusus untuk memperkenalkan risiko seks sebelum menikah, termasuk mengenalkan alat kontrasepsi. "Penularan penyakit kelamin, seperti HIV/AIDS, dan kehamilan yang tak direncanakan bisa dicegah dengan cara pemakaian alat kontrasepsi." Di beberapa negara, seperti Amerika, kata dia, orang tua meminta anaknya yang belum menikah memakai alat kontrasepsi. Tapi, menurut dia, pemerintah di sini justru melarang pemberian alat kontrasepsi untuk mereka yang belum menikah.

Padahal, berdasarkan Survei Demografi Kesehatan Indonesia, tingkat kehamilan yang tak direncanakan cukup tinggi. Angkanya mencapai 22 persen dari seluruh kehamilan. Sejumlah mahasiswa yang dihubungi Tempo menganggap survei tentang perilaku seks bebas oleh Jaringan Epidemiologi Nasional kurang mencerminkan realitas. "Mahasiswa yang melakukan seks bebas angkanya jauh lebih besar," kata Eflin Gitarosalyn, mahasiswi Universitas Indonesia. Nova Arifianto, mahasiswa asal universitas yang sama, juga meragukan hasil survei tersebut. Menurut dia, budaya gaul yang mewabah melahirkan pergaulan bebas dan cenderung berkompromi terhadap seks bebas. "Jadi saya yakin angkanya lebih besar dari itu," katanya. Menurut Ari Nugroho, mahasiswa yang lain, jumlah yang masuk akal untuk mahasiswa yang berperilaku seks bebas berkisar 25-30 persen. "Kalau cuma 15 persen terlalu kecil," katanya. Sekretaris Penanggulangan AIDS Nasional Nafsiah Mboi berpendapat sebenarnya sebagian besar mahasiswa mengetahui risiko seks di luar nikah. Risikonya, selain terkena penyakit kelamin, juga mengakibatkan kehamilan yang tak direncanakan. Dia mengungkapkan sekitar 41 persen penularan AIDS di negeri ini disebabkan oleh hubungan heteroseksual dan 4,3 persen disebabkan oleh homoseksual. Di Provinsi Papua, 96 persen penyebab AIDS adalah hubungan seks. Di Eropa, kata dia, sekarang banyak mahasiswa memutuskan berhenti berhubungan seks bebas setelah memahami risiko tadi. "Jadi setop berhubungan seks sebelum nikah atau jangan ganti-ganti pasangan," ujar Nafsiah. PRAMONO | DWI RIYANTO AGUSTIAR

Majalah Gemari, September 2001

Berdasarkan penelitian di berbagai kota besar di Indonesia, sekitar 20 hingga 30 persen remaja mengaku pernah melakukan hubungan seks. Celakanya, perilaku seks bebas tersebut berlanjut hingga menginjak ke jenjang perkawinan. Ancaman pola hidup seks bebas remaja secara umum baik di pondokan atau kos-kosan tampaknya berkembang semakin serius. Mungkinkah karena longgarnya control mereka pada mereka? Berikut ini laporan wartawan Majalah Gemari Haris Fadillah dari "Kota Pelajar" Yogyakarta dan Kota Jakarta. Pakar seks juga specialis Obstetri dan Ginekologi Dr. Boyke Dian Nugraha di Jakarta mengungkapkan, dari tahun ke tahun data remaja yang melakukan hubungan seks bebas semakin meningkat. Dari sekitar lima persen pada tahun 1980-an, menjadi duapuluh persen pada tahun 2000. Kisaran angka tersebut, kata Boyke, dikumpulkan dari berbagai penelitian di beberapa

kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Palu dan Banjarmasin. Bahkan di pulau Palu, Sulawesi Tenggara, pada tahun 2000 lalu tercatat remaja yang pernah melakukan hubungan seks pranikah mencapai 29,9 persen. "sementara penelitian yang saya lakukan pada tahun 1999 lalu terhadap pasien yang datang ke Klinik Pasutri, tercatat sekitar 18 persen remaja pernah melakukan hubungan seksual pranikah," kata pemilik Klinik Pasutri ini. Kelompok remaja yang masuk ke dalam penelitian tersebut rata-rata berusia 17-21 tahun, dan umumnya masih bersekolah di tingkat Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) atau mahasiswa. Namun dalam beberapa kasus juga terjadi pada anak-anak yang duduk di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tingginya angka hubungan seks pranikah di kalangan remaja erat kaitannya dengan meningkatnya jumlah aborsi saat ini, serta kurangnnya pengetahuan remaja akan reproduksi sehat. Jumlah aborsi saat ini tercatat sekitar 2,3 juta, dan 15-20 persen diantaranya dilakukan remaja. Hal ini pula yang menjadikan tingginya angka kematian ibu di Indonesia, menjadikan Indonesia sebagai negara yang angka kematian ibunya tertinggi di seluruh Asia Tenggara. Dari sisi kesehatan, perilaku seks bebas bisa menimbulkan berbagai gangguan. Diantaranya, terjadi kehamilan yang tidak di inginkan. Selain tentunya kecenderungan untuk aborsi, juga menjadi salah satu penyebab munculnya anak-anak yang tidak di inginkan. Keadaan ini juga bisa dijadikan bahan pertanyaan tentang kualitas anak tersebut, apabila ibunya sudah tidak menghendaki. Seks pranikah, lanjut Boyke juga bisa meningkatkan resiko kanker mulut rahim. Jika hubungan seks tersebut dilakukan sebelum usia 17 tahun, risiko terkena penyakit tersebut bisa mencapai empat hingga lima kali lipat. Selain itu, seks pranikah akan meningkatkan kasus penyakit menular seksual, seperti sipilis, GO (ghonorhoe), hingga HIV/AIDS. Androlog Anita Gunawan mengatakan, kasus GO paling banyak terjadi. Penderita bisa saja tidak mengalami keluhan. Tapi, hal itu justru semakin meningkatkan penyebaran penyakit tersebut. Anita menggolongkan penyakit GO tersebut ke dalam subklinis, kronis dan akut. Subklinis dan kronis, kata anita, tidak menimbulkan gejala serta keluhan pada penderita. Sedangkan GO akut akan menampakan gejala, seperti sulit buang air kecil atau sakit pada ujung kemaluan. "Pada pria biasanya menampakan gejala. Berbeda dengan wanita, seringkali tidak menampakan gejala yang jelas. Paling-paling hanya timbul keputihan atau anyang-anyang," ujarnya. Bagaimana dengan GO yang sudah parah? Dr Boyke Dian Nugraha menjelaskan, untuk GO yang sudah parah dapat menyebabkan hilangnya kesuburan, baik pada pria maupun wanita. Saluran sperma atau indung telur menjadi tersumbat oleh kuman GO.

Disisi lain, Boyke menambahkan, perilaku seks bebas ini bisa berlanjut hingga menginjak perkawinan. Tercatat sekitar 90 dari 121 masalah seks yang masuk ke Klinik Pasutri (pasangan suami istri)pada tahun 2000 lalu, dialami orang-orang yang pernah melakukan hubungan pranikah (pre marital). "Masalah seks dengan pasangannya justru dijadikan legistimasi untuk melakukan seks bebas. Bahkan, saat ini, seks bebas sudah menjadi bagian dari budaya bisnis," cetusnya. Factor yang melatarbelakangi hal ini, ujar Boyke, antara lain disebabkan berkurangnya pemahaman nilai-nilai agama. Selain itu, juga disebabkan belum adanya pendidikan seks secara formal di sekolah-sekolah. Selain itu, juga maraknya penyebaran gambar serta VCD porno. Banyak remaja terjebak Lalu bagaimana dengan remaja di "Kota Pelajar" Yogyakarta? Berdasarkan survey Pusat Studi Wanita Universitas Islam Indonesia (PSW-UII) Yogyakarta, jumlah remaja yang mengalami masalah kehidupan seks terutama di Yogyakarta terus bertambah, akibat pola hidup seks bebas. Mengapa demikian? "karena pada kenyataannya pengaruh gaya seks bebas yang mereka terima jauh lebih kuat dari pada control yang mereka terima maupun pembinaan secara keagamaan," kata Kepala PSW-UII Dra Trias Setiawati, Msi. Saat ini, jumlah pelajar di Kota Yogyakarta sebanyak 121.000 orang, atau sekitar 25 persen dari penduduk kota yang terkenal sebagai Kota pelajar yang sebanyak 490.000. Ini, tentunya mendorong makin suburnya bisnis rumah kos di kota ini. Sementara tingkat pengawasan dari pemilik kos di kota ini. Sementara tingkat pengawasan dari pemilik kos maupun pihak orang tua, kata Trias Setiawati, semakin longgar. Sehingga, makin banyak remaja yang terjebak ke dalam pola seks bebas karena berbagai pengaruh yang mereka terima baik dari teman, internet, dan pengaruh lingkungan secara umum. "Sekuat-kuatnya mental seorang remaja untuk tidak tergoda pola hidup seks bebas, kalau terus-menerus mengalami godaan dan dalam kondisi sangat bebas dari kontrol, tentu suatu saat akan tergoda pula untuk melakukannya. Godaan semacam itu terasa lebih berat lagi bagi remaja yang memang benteng mental dan keagamaannya tidak begitu kuat," dalihnya. Salah satu upaya untuk menanggulangi maraknya seks bebas di kalangan remaja, khususnya penghuni kos, selain perlu dilakukan pengawasan yang ketat dan intensif dari pemilik kos secara proporsional, juga meningkatkan kesadaran dari orang tua untuk memilihkan tempat kos bagi anak-anaknya yang layak dan aman. "Selain itu, tentu membekali putra-putrinya dengan benteng ajaran agama yang kokoh," ujar Trias saat ditemui di Yogyakarta, belum lama ini. Pendidikan Kesehatan Reproduksi Maraknya seks bebas di kalangan remaja membuat banyak pihak sangat prihatin. Salah satunya adalah Ketua Yayasan Sayap Ibu Daerah Istimewa Yogyakarta Ny Hj

Ciptaningsih Utaryo. Pasalnya, kata dia, hal itu akan menimbulkan masalah baru bukan hanya bagi wanita remaja itu sendiri, tapi juga pada anak-anak yang akan dilahirkan. Terlebih anak yang lahir tersebut merupakan anak yang dikehendaki, sehingga ada kecenderungan akan ditelantarkan orang tua. Ditambahkannya, munculnya perilaku seks bebas di kalangan remaja yang marak belakangan ini tidak terlepas dari pengaruh era globalisasi, serta berkaitan erat dengan pengaruh Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) atau di Daerah Istimewa Yogyakarta di sebut madat. Sebagai Yayasan yang perduli dengan anak-anak terlantar, Yayasan Sayap Ibu (YSI) berupaya untuk mengatasi permasalahan anak-anak yang ditelantarkan orangtuannya, yang hingga kini jumlahnya demikian besar. Di Yayasan Sayap Ibu Daerah Istimewa Yogyakarta saja saat ini tercatat sekitar 500 orang anak lebih yang dirawat dan belum mendapatkan orang tua angkat. Bila digabung dengan lain jumlahnya akan mencapai ribuan orang. Di antara mereka yang dirawat bukan hanya fisiknya yang normal, tapi ada juga diantaranya yang mengalami kecacatan akibat aborsi yang gagal dilakukan orang tuannya. "Karena biasanya orang tua yang hamil di luar nikah akan cenderung mencari jalan pintas untuk menutupi aib yang dideritannya. Padahal , cara ini selain tidak berprikemanusiaan, juga akan menyebabkan beban ganda pada anak-anak yang gagal di aborsi," dalih Ciptaningsih. Untuk menghindari tindakan aborsi illegal yang dilakukan ibu-ibu yang tidak menginginkan kehamilan, Yayasan Sayap Ibu selain menampung anak-anak yang ditelantarkan orang tuanya, juga mempunyai program merawat ibu-ibu muda yang hamil akibat seks bebas atau kehamilan tidak dikehendaki sampai anak tersebut lahir dengan selamat. "Upaya yang dilakukan Yayasan Sayap Ibu ini bukannya justru memberikan peluang kepada anak-anak remaja untuk melakukan seks bebas, tapi semata untuk menolong nyawa ribuan generasi muda dari perbuatan tidak berkemanusiaan. Aborsi illegal bukan hanya berbahaya bagi janin, tapi juga nyawa ibu muda itu sendiri. Karena setiap janin berdasarkan kontroversi Hak Anak Internasional perlu dijaga kelangsungan hidupnya," tungkasnya. Ciptaningsih menegaskan, saat ini untuk menekankan jumlah pelaku seks bebas -terutama di kalangan remaja- bukan hanya membentengi diri mereka dengan unsure agama yang kuat, juga dibentengi dengan pendampingan orang tua Dan selektivitas dalam memilih teman-teman. Karena ada kecenderungan remaja lebih terbuka kepada teman dekatnya ketimbang dengan orang tua sendiri. Selain itu, sudah saatnya di kalangan remaja diberikan suatu bekal pendidikan kesehatan reproduksi di sekolah-sekolah, namun bukan pendidikan seks secara vulgar. "Pendidikan Kesehatan Reproduksi di kalangan remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang

organ reproduksi, tetapi bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan sebagainya. Dengan demikian, anak-anak remaja ini bisa terhindar dari percobaan melakukan seks bebas," imbau Ciptaningsih. Pikiran Rakyat : Stop AIDS dengan Kasih Sayang dan Keteladanan
Oleh ERNI R. ERNAWAN

HATI kita kembali terenyuh membaca berita, sebanyak 18 bayi di Rumah Sakit Hasan Sadikin positif HIV-AIDS. Ironis karena kasus tersebut justru muncul saat masyarakat dunia, termasuk Jawa Barat bersiap-siap memperingati Hari AIDS Sedunia 1 Desember 2007 bertemakan "Stop AIDS. Tepati Janji-Kepemimpinan". Makna tema peringatan adalah perlunya kepemimpinan yang kuat, tegas, punya visi ke depan, dan mampu mengambil keputusan yang tepat, cepat, dan akurat di berbagai level. Mulai dari level pusat, provinsi, hingga level desa/kelurahan. Mulai dari kepemimpinan civil society, keagamaan, media, sampai pada kepemimpinan di tingkat keluarga. Kepemimpinan yang kuat merupakan faktor kunci dalam menekan laju pertumbuhan HIV-AIDS yang begitu cepat di Indonesia. Keteladanan Sebuah penelitian menunjukkan, ikatan yang kuat antara anak dan orang tua punya andil besar dalam mencegah anak terjerat narkoba. Keluarga juga seharusnya menjadi benteng kokoh yang tidak mudah tembus oleh berbagai pengaruh negatif yang ada di sekitarnya. Dengan peran sentral orang tua, sudah seharusnya efek negatif HIV-AIDS disosialisasikan dengan bahasa yang gampang dicerna dan dimengerti. Mengingat jumlah korban akibat penyakit HIV-AIDS cenderung meningkat setiap tahunnya, komitmen kita sebagai orang tua harus semakin diperteguh. Dipandang perlu untuk membuat "mata rantai" dengan lingkungan yang dipelopori para orang tua guna mencari langkah membentengi diri, keluarga, kelompok, dan kawasan tempat tinggal dari wabah HIV-AIDS. Kesungguhan dan keseriusan kita dinilai berpengaruh besar terhadap upaya pencegahan dan penyebaran HIV-AIDS. Keseriusan dan kesungguhan semua pihak, termasuk para orang tua sesungguhnya sejalan dengan tema Hari HIVAIDS tahun 2007. Tema ini sengaja mengangkat perlunya inovasi, visi, dan kesungguhan dalam tantangan menghadapi AIDS. Keluarga, yang merupakan institusi terkecil dalam masyarakat, menjadi tempat paling awal anak-anak dalam mendapatkan nilai-nilai yang akan dipegangnya dalam kehidupannya. Peran ibu untuk memberi basis nilai-nilai positif jelas mendominasi. Kasih sayang itu melebihi segalanya. Jika anak terjerumus kepada hal yang negatif, yang rugi mula-mula adalah keluarga. Kemudian masyarakat, lalu negara. Kalangan orang tua juga perlu membentuk mata rantai yang kokoh dengan anak-anaknya, sahabat, saudara bahkan masyarakat. Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga dengan tingkat stres tinggi, masa depannya juga rentan. Stres dimaksudnya misalnya karena dia terbiasa melihat orang tuanya mengonsumsi alkohol atau melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Anak yang dibesarkan di lingkungan seperti itu dikhawatirkan akan mengulangi perilaku yang sama ketika dia beranjak dewasa. Tak sedikit contoh, pencandu alkohol dan pelaku kekerasan dalam rumah tangga

adalah mereka yang saat masa kanak-kanak sering melihat perilaku tersebut. Orang tua yang bekerja juga memiliki dampak pada anak-anak, terutama yang sering lembur dan jarang berkomunikasi dengan anak. Pekerjaan juga dapat berdampak pada tingkat stres seseorang yang akan berpengaruh pada komunikasi dalam keluarga. Hasil riset "The Collaborative HIV Prevention Adolescent Mental Health Project" di Amerika menunjukkan bahwa peran keluarga, khususnya orang tua, sangat menentukan pencegahan penularan HIV-AIDS. Jarum suntik Secara kumulatif, sampai dengan 30 September 2007, jumlah kasus HIV-AIDS yang dilaporkan adalah 10.384 kasus. Terbanyak dari DKI Jakarta, disusul Jawa Barat dan Papua. Data Departemen Kesehatan menunjukkan, sebanyak 49,1% kasus HIV-AIDS ditularkan melalui penggunaan narkoba dengan jarum suntik (injecting drug user/IDU). Sebanyak 42,1% lainnya melalui hubungan heteroseksual dan 4,1% melalui hubungan homoseksual. Dari data tersebut, jelas bahwa yang harus dilakukan terlebih dahulu oleh keluarga adalah mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba. Pencegahan penyalahgunaan narkoba adalah upaya yang dilakukan terhadap faktor-faktor yang berpengaruh atau penyebab, baik secara langsung maupun tidak langsung. Tujuannya mengubah keyakinan, sikap, dan perilaku orang sehingga tidak memakai narkoba atau berhenti memakai narkoba. Keluarga adalah lingkungan pertama dan utama dalam membentuk dan memengaruhi keyakinan, sikap, dan perilaku seseorang terhadap penggunaan narkoba. Untuk itu, orang tua harus berperan, pertama, membangun keluarga harmonis. Dalam keluarga yang harmonis komunikasi antara orang tua dan anak terjalin lancar. Orang tua mendengarkan secara aktif anaknya, menunjukkan rasa kasih sayang dan perhatiannya. Orang tua juga memberikan tanggung jawab dan membangun kepercayaan diri si anak, mengembangkan nilai positif pada anak, menciptakan suasana damai, dan mengatasi masalah keluarga. Kedua, mencegah penyalahgunaan narkoba di rumah. Cara ini dilakukan dengan mempelajari fakta dan gejala dini penyalahgunaan narkoba. Orang tua sebagai teladan perlu mengembangkan kemampuan anak menolak narkoba, mengatasi masalah keluarga, dan mendukung kegiatan anak yang sehat dan kreatif serta buat kesepakatan tentang norma dan peraturan. Selanjutnya adalah peran keluarga dalam mencegah terjadinya seks bebas. Perilaku seks bebas di kalangan remaja terjadi, pertama, akibat atau pengaruh dari mengonsumsi berbagai tontonan. Kemudian, kedua, faktor lingkungan, baik lingkungan keluarga maupun lingkungan pergaulan. Ada dua alternatif solusi untuk menyelamatkannya. Pertama, membuat regulasi yang dapat melindungi anak-anak dari tontotan yang tidak mendidik. Kedua, orang tua sebagai penanggung jawab utama terhadap kemuliaan perilaku anak harus menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dalam keluarganya. Pandangan Islam Tingginya pertumbuhan HIV-AIDS di Jawa Barat sangat dipengaruhi oleh meningkatnya jumlah IDU. Oleh karena itu, dalam konsep Islam, narkoba atau Nafza itu haram hukumnya untuk dikonsumsi. Dasarnya adalah firman Allah pada Surat Albaqarah: 219. Bunyinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (segala minuman yang memabukkan) dan judi. Katakanlah, ‘pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka

nafkahkan. Katakanlah, ‘yang lebih dari keperluan’." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir. Sedangkan dalam Surat Almaidah: 90, "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapatkan keberuntungan." Berkenaan dengan itu, Nabi Muhammad saw juga bersabda, "Setiap zat, bahan, atau minuman yang dapat memabukkan dan melemahkan (akal sehat) adalah khamar dan setiap khamar adalah haram" (H.R. Abdullah bin Umar r.a.). Dari kedua ayat dan hadis itu jelaslah bahwa Nafza hukumnya haram dikonsumsi, baik dari segi agama maupun dari sisi undang-undang. Yang dimaksud dengan Nafza adalah narkoba (ganja, heroin/putaw, kokain), alkohol (minuman keras), zat adiktif (ecstasi/shabu-shabu/inex), dan merokok serta zat lainnya yang sejenis (bersifat adiktif/menimbulkan ketagihan). Masyarakat mungkin frustrasi menghadapi HIV-AIDS yang tetap mewabah. Akan tetapi, kita selaku Muslim, justru harus optimistis kalau Islam pasti punya jalan keluarnya. Pada masa Rasulullah saw pernah ada satu daerah yang terjangkiti wabah penyakit tha'un (sejenis kolera). Penyakit ini dengan mudah dan cepat menular kepada yang lainnya. Mendengar berita ini Rasulullah saw bersabda, "Jika kamu mendengar waba (tha'un) sedang berjangkit di suatu tempat, jangan kamu masuk ke tempat itu. Dan jika berjangkit dalam negeri yang kamu sedang berada di dalamnya, maka jangan kamu keluar daripadanya." (H.R. Bukhari dan Muslim) Hadis ini menunjukkan pada kita upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit menular ke orang lain. Sepertinya, upaya ini juga bisa dipakai untuk kasus HIV-AIDS. Bagi yang belum terinfeksi, tentu negara harus tetap menyosialisasikan informasi seputar HIV-AIDS tentang bahaya dan cara menghindarinya. Selain itu, negara juga harus turun tangan untuk membenahi kondisi yang bisa memancing orang melakukan seks bebas dan mengonsumsi narkoba. Semua langkah-langkah di atas akan terlaksana sesuai dengan harapan kalau kita menerapkannya seperti yang diperintahkan Allah SWT dan dicontohkan Rasulullah saw. Ketika hukum Islam tidak dipedulikan oleh negara, tidak sedikit rakyatnya yang ikut-ikutan tak acuh. Akibatnya, kesengsaraan hidup seperti penyebaran HIV-AIDS bakal diperoleh. Padahal, Allah SWT sudah mengingatkan dalam firman-Nya, "Siapa saja yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit." (Q.S. Thaahaa: 123-124). Sekali lagi, perayaan Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap 1 Desember harus menjadi gerakan moral dan keyakinan. Tegasnya, kampanye stop HIV/AIDS boleh digelar setiap tahun, tetapi praktiknya sebaiknya harus dilakukan setiap hari. Karena penularan HIV juga terjadi dalam bilangan hari bahkan hitungan... jam.*** Penulis, pengurus Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kota Bandung

HILANGNYA KOMITMEN DALAM KELUARGA AWAL PENULARAN HIV AIDS Kirim Berita Cetak Berita

(04 Desember 2007)

Jakarta, 4/12/2007 (Kominfo-Newsroom) - Tingginya penularan penyakit HIV AIDs di masyarakat yang antara lain disebabkan disharmoni rumahtangga, dinilai sudah parah sehingga butuh penanganan yang sangat serius. Dra. Hj. Tati Hartimah, MA ketua Pusat Studi Wanita dari UIN Syarif Hidayatullah mengatakan di Jakarta, Selasa (4/12), selama ini sosialisasi pemerintah terhadap penularan penyakit HIV AIDs sudah berjalan baik dan akan lebih baik jika dilakukan lewat pendekatan keagamaan dengan melibatkan para mubalig dan mubaligoh. "Bagi saya pendekatan keagamaan dengan melibatkan peran para mubalig untuk melakukan sosialisasi bahaya penyakit HIV AIDs adalah cara yang efektif sebagaimana yang sudah kami lakukan dengan melibatkan peran mubaligoh kepada komunitas perempuan," katanya. Dalam Islam, para korban penyakit HIV AIDs tidak boleh dikucilkan dan diasingkan dengan alasan apapun, tetapi tetap diajak komunikasi. Hal yang terpenting bagi masyarakat adalah memahami untuk tidak tertular penyakit itu. Mengenai sosialisasi penggunaan kondom sebagai pencegahan penularan penyakit HIV AIDs yang juga ditolak masyarakat, ia menilai cara tersebut diakuinya akan terasa sulit kalau tidak mempunyai cara pandang yang sama. Karena di satu sisi dinilai melegalkan prilaku seks bebas dan di sisi lain merupakan cara efektif mencegah dampak penularan penyakit HIV AIDs dalam hubungan seks bebas. Dikatakannya, sosialisasi kondom juga tidak bisa ditolak 100 persen sebagai sebuah solusi dan tidak bisa pula melarang mereka bekerja di tempat hiburan malam. SEbaiknya sosialiasi kondom disampaikan pada masyarakat dengan kondisi tertentu, seperti wanita pekerja seks komersial dan pekerja tempat hiburan malam. Ia juga menambahkan, tingginya angka penularan HIV AIDs yang umumnya melalui penggunaan narkoba dan hubungan seks bebas, disebabkan hilangnya komitmen bersama dalam sebuah rumah terhadap anggota keluarganya. "Kalau sebuah rumah tangga sudah tidak harmonis dan tak ada lagi komitmen bersama, maka pelarian bagi sebagian anggotanya adalah menggunakan narkoba dan hubungan seks bebas yang kemudian berdampak pada penularan penyakit berbahaya tersebut," ujarnya. Fenomena tingginya angka penularan HIV AIDs yang mengakibatkan pada kematian dan lebih banyak dialami laki laki dari pada perempuan, seharusnya bisa menjadi efek jera bagi para pelaku pengguna narkoba dan pelaku hubungan seks bebas di masyaraka. Sementara Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDs Nasional (KPAN), Nafsiah Mboi mengatakan, penolakan masyarakat terhadap pengunaan kondom sebagai alat pencegah penularan HIV AIDs dikarenakan tiadnya pemahaman yang sama. "Kita tidak mewajibkan kondom pada prilaku seks yang tidak berisiko, akan tetapi hanya prilaku seks yang beresiko. Ibarat kita naik sepeda motor harus pakai helm agar tidak beresiko dan kalau dinilai tidak beresiko, terserah kalau tidak suka ya tidak usah dipakai," katanya. Penularan HIV AIDs sendiri saat ini sudah sangat memprihatinkan dan penularannya sudah terjadi antara suami dan istri, karena itu kalau virus sudah masuk ke dalam keluarga, tidak mungkin dibiarkan, tuturnya. Di masa datang, rencananya KPAN akan terus melakukan komunikasi terhadap masyarakat yang menolak penggunaan kondom sebagai alat pencegah penularan HIV AIDs dan mengajak tokoh lintas agama untuk berperan aktif mengkampanyekan penularan penyakit HIV AIDs dan mencari solusi bersama penanganan HIV AIDs. (Ban/id/c)

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->