P. 1
Kata-Kata Dalam Bahasa Aceh

Kata-Kata Dalam Bahasa Aceh

|Views: 1,332|Likes:
Published by kartiwa_tyfa

More info:

Published by: kartiwa_tyfa on Mar 25, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/01/2012

pdf

text

original

Kata Ganti Orang dalam Bahasa Aceh

Berikut tabel kata ganti orang dalam bahasa Aceh

Bahasa

Bahasa Aceh Imbuhan ku-/-ku(h) lôn-/-lôn lôn-/-lôn lôn-/-lôn lôn-/-lôn ta-/-teu(h) meu-/-meu(h) ka-/-keu(h) ta-/-teu(h) neu-/-neu(h) ka-/-keu(h) ta-/-teu(h) neu-/-neu(h) ji-/-ji(h) geu-/-geu(h) neu-/-neu(h) ji-/-ji(h) geu-/-geu(h) geu-/-geu(h) neu-/-neu(h) Ket. Biasa/Kasar Halus Lebih halus Sangat halus Paling halus Biasa Biasa Biasa/Kasar Halus Sangat halus Biasa/Kasar Halus Sangat halus Biasa/Kasar Halus Sangat halus Biasa/Kasar Halus Halus Sangat halus

Catatan:

Indonesia BentukBebas Kèë Aku Lôn Ulôn Saya Lôn tuwan Ulôn tuwan (Geu)tanyoë Kita Kamoë Kami Kah Kau Gata Kamu Droëneu(h) Anda Awak kah Awak gata Kalian Awak droëneu(h) Jih Dia Gop nyan Beliau Droëneu(h) nyan Awak nyan Ureuëng nyan Mereka Gop nyan Droëneu(h) nyan

* Arti ulôn/lôn yang sebenarnya adalah hamba. * Menurut Abdul Gani Asyik, kata ganti lôn tuwan dan ulôn tuwantidak memiliki bentuk imbuhan. Namun, menurut pengamatan saya ada. Contoh: Lôn tuwan teungöh lônmakeuën (Saya sedang makan) * Geutanyoë dipakai pada keadaan resmi, sedangkan tanyoë dipakai sehari-hari

* Gata dipakai untuk orang yang lebih muda. Juga oleh suami kepada istri, mertua kepada menantu dll. Tidak bisa digunakan untuk orang yang sebaya. * Bentuk asal droëneu(h) adalah no yang sekarang masih dipergunakan di Aceh Besar (saya belum tahu di mana). * Di Aceh Besar[1], tidak dikenal bentuk droëneu(h), tetapi dipakai singkatannya yaitu droën/dron. Selain itu ada kata ganti orang lain yang khas Aceh Besar yaitu kata ganti droë/dro . Kata ganti ini dipakai khusus untuk orang yang sebaya yang lebih halus dari bentuk kah.Contoh: Hay, droë na kajak baroë u Banda? (Eh, kamu ada pergi kemarin ke Banda Aceh?)

* Gop nyan dipakai untuk orang yang lebih tua juga kepada seseorang yang dihormati. * Droëneu(h) nyan (beliau) dipakai untuk Tuhan, para nabi, raja, ulama (teungku) dan orang yang sangat dihormati. Penghormatan bentuk ini melebihi bentuk gop nyan (beliau). * Ureuëng nyan (mereka) dipakai untuk orang yang lebih tua atau seseorang yang dihormati. Juga bisa dipakai untuk orang ketiga tunggal. Ingat !!! Di sebagian besar Aceh Besar, bunyi /ë/ bisa dikatakan tidak dibunyikan. Bunyi /ë/ sangat jelas diucapkan di Pidië. Jadi, bagi Anda yang baru belajar bahasa Aceh, tidak perlu khawatir apabila belum bisa melafalkannya. Contoh: Droë diucapkan dro. Kèë diucapkan kè. Kamoë diucapkan kamo. Tanyoë diucapkan tanyo. Ureuëng diucapkan ureung. Untuk kata ganti orang kedua jamak, selain bentuk yang di atas juga terdapat bentuk lainnya. Perbedaan bentuk ini merupakan perbedaan karena dialek.

Indonesia Dialek 1 * Dialek 2 * Dialek 3 *** Awak kah Kah nyoë (mandum) Kah (mandum) Gata nyoë (mandum) Gata (mandum) Kalian Awak gata Awak droëneu(h) Droëneu(h) nyoë (mandum) Droëneu(h) (mandum)
* Yang sering saya pakai. Kemungkinan karena saya lahir dan besar di Banda Aceh. ** Yang sering dipakai oleh keluarga besar saya dari pihak ibu (kampung Seulimeung/Seulimeum/Seulimuëm) *** Saya kutip dari tulisan Dr. Abdul Gani Asyik,

Belajar Bahasa Aceh
Dalam bahasa Aceh, seperti bahasa-bahasa lainnya, dikenal juga subjek berupa orang pertama, orang kedua, dan orang ketiga yang bisa berupa subjek tunggal ataupun jamak. Subjek-subjek tersebut adalah:  Orang Pertama Tunggal : Lon (bisa juga Lon Tuan, ungkapan sopan) : Ku (digunakan dalam percakapan antar teman, terdegar kasar)

Jamak : Kamoe (yang berarti kami) : Geutanyoe (yang berarti kita) 

Orang Kedua Tunggal : Droeneuh (untuk orang yang lebih tua atau dituakan) : Gata (untuk orang yang lebih muda, ungkapan sopan) : Kah (untuk orang yang sebaya atau lebih muda, biasanya untuk teman) Jamak : Droeneueh mandum, Gata mandum, Kah mandum 

Orang Ketiga

Tunggal : Gop nyan (artinya dia, baik itu laki-laki maupun perempuan, ungkapan sopan)

: Jih (artinya juga dia, bisa digunakan untuk teman atau pun orang yang lebih muda) Jamak

Droeneueh nyan mandum (bisa juga awak nyan mandum atau ureueng nyan, sebagai ungkapan sopan) : Awak jeh mandum ( bisa juga Ureueng jeh)

Sekarang kita sudah mengenal subjek-subjek dalam bahasa Aceh, jadi kita lanjutkan dengan membuat kalimat menggunakan subjek-subjek tersebut. Contoh kalimat sederhana: Lon pajoh timphan - Lon (saya) - lonpajoh --> lon + pajoh (makan) - timphan (kue tradisional Aceh) Perhatikan kata lon pajoh, yang terdiri dari awalan lon dan kata kerja pajoh. Dalam bahasa Aceh, setiap subjek memiliki awalan yang dikombinasikan dengan kata dasar(kerja) yang sesuai dengan respek terhadap subjek tersebut. Pasangan subjek dan awalan tersebut adalah: - Lon : lon - Ku : ku - Kamoe : meu - Geutanyoe : ta - Droeneueh : neu - Gata : ta - Kah : ka Droeneuh mandum : neu - Gata mandum : ta - Kah mandum : ka - Gop nyan : geu - Jih : di Droeneuh nyan mandum : geu - Awak nyan mandum : di Contoh lain kalimat sederhana: Kami pergi ke sawah Kamoe meujak u blang - Kamoe (kami) - meujak --> meu + jak(pergi) - u (ke) -> blang (sawah) Dia sudah pulang Gop nyan ka geuwoe atau Jih ka diwoe - Gop nyan (dia) - ka (sudah) - geuwoe --> geu + woe (pulang) - Jih (dia) - ka (sudah) - diwoe --> di + woe (pulang) Hal yang sama juga berlaku untuk subjek-subjek yang lain.

Bunyi Bahasa Aceh Bunyi dalam bahasa Aceh terbagi dua, yaitu bunyi hidup (vokal) dan bunyi mati (konsonan). Masing-masing bunyi ini terbagi lagi menjadi bunyi tunggal dan bunyi rangkap. I. Bunyi hidup (vokal) I.1 Bunyi hidup tunggal bahasa Aceh memiliki bunyi hidup yang dihasilkan melalui mulut (vokal

oral) dan hidung (vokal nasal). (a) vokal oral - a : aduen (abang) bak (pohon) rab (dekat) saka (gula)

- i : iku (ekor) ija (kain) bit (benar) sit (juga) - e : dilafalkan seperti huruf e dalam kata lebih atau berani le (banyak) let (cabut) tahe (pandang) beuhe (berani) - eu : eu (lihat) aneuk (anak) keude (kedai, warung) leubeh (lebih) - é : dilafalkan seperti huruf e dalam kata sate ék (mau, sanggup, naik) éh (tidur) tabék (hormat) lé (oleh) - è : dilafalkan seperti huruf e dalam kata petak èk (tinja) bèk (jangan) salèh (shaleh) mugè (tengkulak, sales) - o : dilafalkan seperti huruf o dalam kata bosan lob (membalik) boh (buah) ok (bohong) po (empunya) - ô : dilafalkan seperti huruf o dalam kata foto ôk (rambut) ôn (daun) lôn (saya) bôh (mengisi) - ö : dilafalkan antara bunyi o dan e böh (buang) gadöh (hilang) beu-ö (malas) deungö (dengar) - u : uram (pangkal) bu (nasi) karu (ribut) turi (kenal) (b) vokal nasal- 'a : 'ab (suap) s'ah (bisik) meuh'ai (mahal) nadeu'a (sakit parah) - 'i : 'i-'i (suara tangis) 'ibadah (ibadah) t'ing (tiruan bunyi) sa'i (mengurung diri, bersemedi) - 'è : 'èt (pendek) la'èh (lemah) pa'è (tokek) 'èktikeuet (niat) - 'eu : 'eu (ya) ta'eun (wabah) - 'o : 'oh (hingga, cara, ketika) sy'o (sengau) kh'ob (bau busuk) ch'ob (tusuk) - 'ö : is'öt (geser) ph'öt (bunyi padam api) - 'u : 'u-'u (tiruan bunyi) meu'u (membajak) I.2 Bunyi hidup rangkap

Bunyi hidup - rangkap dalam bahasa Aceh dapat dipilah dalam dua cara. Pertama, vokal rangkap yang dihasilkan melalui mulut (vokal oral) dan vokal rangkap yang dihasilkan melalui hidung (vokal nasal). Kedua, bunyi hidup - rangkap dapat pula dipilah menjadi vokal berakhiran e dan vokal berakhiran i. (a) vokal rangkap berakhiran e.

- ie : dilafalkan seperti huruf i yang diakhiri dengan huruf y ie (air) mie (kucing) sie (daging/potong) lieh (jilat) - èë : dilafalkan seperti huruf è yang diakhiri dengan huruf y teubèë (tebu) kayèë (kayu) batèë (batu) bajèë (baju) - euë : euë (lapang/mandul) keubeuë (kerbau) uleuë (ular) pageuë (pagar)

- oe : dilafalkan seperti huruf o yang diakhiri dengan huruf w baroe (kemarin) sagoe (sudut) duroe (duri) putroe (putri) - öe : lagöe - ue : dilafalkan seperti huruf u yang diakhiri dengan huruf w yue (suruh) sue (ampas) bue (kera) kue (ikat) - 'ie : dilafalkan seperti huruf 'i yang diakhiri dengan huruf y p'ieb (hisap) reuh'ieb (rusak) reung'ieb (sejenis serangga) kh'ieng (bau busuk) - 'èe : dilafalkan seperti huruf 'è yang diakhiri dengan huruf y 'èerat (aurat) peuna'èe (berulah) - 'eue : dilafalkan seperti huruf 'eu yang diakhiri dengan huruf y 'eue (merangkak) s'euet (menampi) - 'ue : dilafalkan seperti huruf 'u yang diakhiri dengan huruf w 'uet (telan) meu-'ue (membajak) neuk'uet (menir) s'ueb (limpa)

(b) vokal rangkap berakhiran i - ai : dilafalkan seperti rangkaian huruf ai pada kata pakai sagai (saja) kapai (kapal) akai (akal) gatai (gatal) - 'ai : dilafalkan seperti huruf 'a yang diakhiri dengan huruf y meuh'ai (mahal) - ei : hei (panggil) - oi : boinah (kekayaan, harta benda) - ôi : dilafalkan seperti huruf ô yang diakhiri dengan huruf y bhôi (kue bolu) cangkôi (cangkul) tumpôi (tumpul) dôdôi (dodol) - öi : lagöina (sangat) - ui : dilafalkan seperti huruf u yang diakhiri dengan huruf y bui (babi) phui (ringan) cui (cungkil) apui (api)

II. Bunyi mati (Konsonan) II.1 Bunyi mati - tunggalBahasa Aceh terdiri atas 24 buah bunyi mati - tunggal, yaitu: - p : pajôh (makan) papeuen (papan) gobnyan (beliau) jakhab (terkam) - t : tangké (tangkai) takue (leher) intat (antar) brat (berat) - c : cah (tebas, babat) cabeueng (cabang) pancang (pancang) pucôk (pucuk) - k : ka (sudah) likôt (belakang) galak (suka) jak (pergi) - b : bunoe (tadi) keubeue (kerbau) sabab (sebab) kitab (kitab)

- d : deuh (tampak) duroe (duri) gadôh (lalai) gadöh (hilang) - j : jeumöt (rajin) jén (jin) bajèe (baju) bajeueng (bejat) - g : gabuek (sibuk) gidöng (injak) lagèe (seperti) lagôt (laku-dagangan) - f : faké (fakir) - s : su (suara) sipak (sepak) asoe (isi) gasien (miskin) - sy : syaé (syair) désya (dosa) kasy'ak (becek) - h : h'iem (teka-teki) jeuheuet (jahat) dah (sumbu) beukah (pecah) - m : mat (pegang) timu (timur) gulam (pikul) tém (mau) - n : na (ada) niet (niat) tagun (memasak) kheun (baca, kata) - ny : nyan (itu) nyoe (ini) siny'ok (hempas) pany'ot (lampu) - ng : ngeut (bodoh) ngui (pakai) teungeut (kantuk, tidur) teugageueng (terpelanting) - mb : mbôn (embun) mbông (sombong) - nd : kandét ganda tandéng- nj : panjoe meunjéng (cincin sumur) anjông kanji - ngg : nggang (bangau) - l : leumah (tampak) langai (bajak, garu) geuluyung (telinga) paleuet (telapak tangan) - r : röt (jalan) rô (tumpah) baroe (kemarin) puréh (lidi) - w : wa (peluk) wie (kiri) weueh (sedih) geulawa (lempar)- y : yôh (ketika) yö (takut) payah (payah, sukar) piyôh (istirahat)

II.2 Bunyi mati - rangkap Bunyi mati - rangkap, yang disebut juga gugus konsonan, dalam bahasa Aceh terbagi menjadi bunyi mati - rangkap yang berakhiran h, l, dan r.(a) konsonan rangkap berakhiran h - ph : pha (paha) phôn (pertama) timphan (jenis penganan khas Aceh) phô (jenis tarian Aceh) - th : thô (kering) that (sangat) lathuk (berlumur - kotoran) thôn (tahun) - ch : ch'a (pencar) chèn (loncat, lompat) chik (dewasa) - kh : kha (paling berani, kuat, keras) jakhab (terkam) khueng (kemarau) kh'ieng (bau) - bh : bhôi (kue) bhah (masalah) bhan (ban) bhoe (rapuh, renyah) - dh : dhoe (dahi) dhiet (cantik) dheuen (dahan)

- jh : jhô (sorong, tolak) jhung (menarik) - gh : leughum (tiruan bunyi) gham-ghum (tiruan bunyi) - lh : lham (tenggalam) lhat (tambat, sangkut) lhôh (terangi) lhôn (telanjang) - rh : rhah (cuci) rhoh (berbuah - padi) rhob (riuh) (b) konsonan rangkap berakhiran l - pl : plueng (lari) plè (tuang) plôh (puluh) plöh (lepas) - cl : cl'am-clum (tiruan bunyi gerak kaki dalam air) clab-club (tiruan bunyi) - kl : klo (tuli) kleuet (liat) kleueng (elang) - bl : bloe (beli) blang (sawah) blie (pelotot) publa (melerai) - gl : gla (licin) glue (licin - tangan) glông (lingkaran) glöng (pancangkan)

(c) konsonan rangkap berakhiran r - pr : pruh (tiup/hembus) pr'iek (robek) pruet (perut) prah (peras) - tr : trieng (bambu) trueng (terong) trang (terang) trôh (simpan, tiba) - cr : crôh (goreng) crah (retak) cr'ah (tumis) crông (timba) - kr : krueng (sungai) kreueh (keras) krang (rapuh, renyah) - br : breueh (beras) brôh (sampah) brôk (buruk) bruek (tempurung) - dr : droe (diri) jeundrang (jerami) geundrang (genderang) - jr : jroh (baik/bagus) jra (jera) jruek (awet, pekasan) keujruen (pengawas) - gr : grah (haus) groh (putik) grôb (lompat) Dalam mempelajari bahasa Aceh, perlu juga diperhatian beberapa bunyi yang berbeda antara bahasa Aceh dengan bahasa Melayu. Perbedaan-perbedaan tersebut adalah: - Bahasa Aceh memiliki konsonan rangkap baik pada suku pertama maupun suku kedua, misalnya: Pada suku pertama; pada suku kedua; dhoe (dahi); atra (harta); kha (berani); jakhab (terkam); brôh (sampah); geundrang (genderang); glang (cacing); ablak (sejenis hiasan); pha (paha); subra (riuh rendah); cheue (teduh); ganchéb (kuncikan); dan lain-lain dan lain-lain

- Bunyi d dan t disuarakan dengan menggerakkan ujung lidah pada langit-langit dekat akar gigi atas. - bunyi d yang terdapat pada akhir kata bahasa Melayu menjadi bunyi t dalam bahasa Aceh, misalnya: Ahad menjadi Aleuhat (hari Minggu) dalam bahasa Aceh. - bunyi rangkap èë dalam bahasa Aceh, kadang-kadang menggantikan bunyi u dalam bahasa Melayu, misalnya: kayu -> kayèë; asu -> asèë; kutu -> gutèë; batu -> batèë; bulu -> bulèë; pangku -> pangkèë; baju -> bajèë; tamu -> jamèë; guru -> gurèë; malu -> malèë; ribu -> ribèë; tentu -> teuntèë; palu -> palèë; dan lain-lain

- bunyi oe (ow) bahasa Aceh kadang-kadang menggantikan bunyi i bahasa Melayu, misalnya: puteri -> putroe; kami -> kamoe; tuli -> tuloe; mandi -> manoe; jari -> jaroe; laki -> lakoe; kemudi -> keumudoe; puji -> pujoe; ganti -> gantoe; negeri -> nanggroe; adik

-> adoe; dan lain-lain - bunyi eue bahasa Aceh kadang-kadang menggantikan bunyi a pada suku kedua yang mendahului konsonan penutup bahasa Melayu, misalnya: bulan -> buleuen; salam -> saleuem; udang -> udeueng; hutan -> uteuen; atas -> ateueh; lintang -> linteueng; layar -> layeue; orang -> ureueng; pinang -> pineueng; papan -> papeuen; ular -> uleue; dan lain-lain - bunyi r pada akhir kata bahasa Melayu, biasanya menjadi hilang dalam bahasa Aceh, misalnya: ular -> uleuë; ukur -> ukô; alur -> alue; kapur -> gapu; layar -> layeue; dengar -> deungö; sekadar -> sekada; sabar -> saba; dan lainlain

- bunyi s pada akhir kata bahasa Melayu, biasanya berubah menjadi bunyi h dalam bahasa Aceh, misalnya: habis -> abéh; kipas -> kipah; balas -> balah hangus -> angoh; mas -> meuh; halus -> halôh tipis -> lipéh; beras -> breueh; keras -> kreueh gelas -> glah; putus -> putôh; harus -> harôh kapas ->

gapeueh; tikus -> tikôh; Kamis -> Hamèh ramas -> ramah; peras -> prah; tawas -> tawah ibus -> ibôh; nafas -> nafah;

Sumber

sajadah yang lusuh. debu, bekas alkohol dan spermamu---di sana, di antara bekas sujud yang alpa di malam-malam buta atas suara-suara kelelawar yang tak mungkin didengar dan jangkrik yang tengah bercinta dengan bantal-bantal kapuk yang apek--seorang lelaki muda tengah khusyuk dalam mimpinya: kran. pispot. bunyi-bunyi kendaraan. bibir. bibir. bir. gadis-gadis empatbelasan dengan pakaian ketat sekolahan. pinggul-pinggul ranum. dada-dada kuntum. "Ah, Tuhan, izinkan aku jadi pembalut. izinkan aku jadi pembalut."

II koran. nama-nama yang hilang, dulu, ditemukannya dalam celana barunya yang bermotif belalai dan sepasang burung yang tengah bercumbu dengan pohon jambu. lelaki muda itu tidak bisa memanjat pohon. tidak ingat caranya memohon. doa-doa yang dulu dihafalnya di luar kepala memang tak pernah memenuhi kepalanya. "Ah, Tuhan, koran mana yang memuat doa-doa dan nama-nama seperti namaMu dulu itu, yang hilang sendiri saat kusadari ternyata ada nama lain yang lebih menarik di dalam celanaku?"

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->