P. 1
Doc

Doc

|Views: 16,474|Likes:
Published by ukiktukilah

More info:

Published by: ukiktukilah on Mar 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/18/2013

pdf

text

original

Kurikulum disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan

secara nasional. Berdasarkan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang sistem

pendidikan nasional, pengembangan kurikulum dilakukan dengan mengacu pada

standar nasional pendidikan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Mutu

pendidikan yang tinggi menciptakan kehidupan yang cerdas, damai, terbuka,

demokratis, dan mampu bersaing sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan

semua warga negara Indonesia. Penyempurnaan kurikulum dilakukan secara

responsif terhadap penyerapan hak asasi manusia, kehidupan demokratis,

globalisasi, dan otonomi daerah.

Pemberlakuan Kurikulum 2004 atau Kurikulum Berbasis Kompetensi

oleh pemerintah menghendaki terwujudnya suasana belajar dan proses

pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.

Dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi, standar kompetensi mata pelajaran

Bahasa dan Sastra Indonesia berorientasi pada hakikat pembelajaran bahasa, yaitu

belajar berbahasa adalah belajar berkomunikasi dan belajar sastra adalah belajar

menghargai manusia dan nilai-nilai kemanusiaannya (Depdiknas 2003a:2).

Standar Kompetensi Bahasa dan Sastra Indonesia SMP dan MTs

adalah: (1) mampu mendengarkan dan memahami beraneka ragam wacana lisan,

baik sastra maupun nonsastra; (2) mampu mengungkapkan pikiran, pendapat,

2

gagasan, dan perasaan secara lisan; (3) mampu membaca dan memahami suatu

teks bacaan sastra dan nonsastra dengan kecepatan yang memadai; (4) mampu

mengekspresikan berbagai pikiran, gagasan, pendapat, dan perasaan dalam

berbagai ragam tulisan; (5) mampu mengapresiasi berbagai ragam sastra

(Depdiknas 2003b:4).

Untuk mencapai standar kompetensi di atas maka kegiatan belajar

adalah lebih daripada sekedar pengajaran. Kegiatan belajar adalah kegiatan

pembelajaran. Siswa belajar bukan hanya dari guru melainkan dari teman-teman

sekelas, sesekolah, dari sumber belajar lain. Pendekatan pembelajaran yang

digunakan oleh guru juga harus dapat membawa siswa ke pembelajaran yang

bermakna.

Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dengan materi yang

disajikan secara sistematis sesuai dengan kenyataan bahasa di masyarakat,

diharapkan siswa mampu menyerap materi tentang berbagai hal, mampu mencari

sumber, mengumpulkan, menyaring, dan menyerap pelajaran yang sebanyak-

banyaknya sekaligus dapat berlatih mengenai Bahasa Indonesia, khususnya

keterampilan menulis.

Kurikulum Berbasis Kompetensi mata pelajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia adalah salah satu program untuk mengembangkan pengetahuan,

keterampilan berbahasa siswa, serta sikap positif terhadap Bahasa dan Sastra

Indonesia. Standar Kompetensi yang disiapkan dengan bahasa nasional dan

bahasa negara serta sastra Indonesia sebagai hasil cipta intelektual dalam produk

budaya, yang berkonsekuensi pada fungsi dan tujuan mata pelajaran Bahasa dan

3

Sastra Indonesia sebagai (1) sarana pembinaan kesatuan dan persatuan bangsa, (2)

sarana peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka pelestarian dan

pengembangan budaya, (3) sarana peningkatan pengetahuan, teknologi, dan seni,

(4) sarana penyebarluasan pemakaian Bahasa dan Sastra Indonesia yang baik

untuk berbagai keperluan, (5) sarana pengembangan penalaran, dan (6) sarana

pemahaman keberanekaragaman budaya Indonesia melalui kahasanah kesastraan

Indonesia (Depdiknas 2003d : 2-3). Untuk itulah, tujuan pembelajaran disajikan

dalam komponen kebahasaan, komponen pemahaman, dan komponen penggunaan

secara terpadu.

Pembelajaran menulis pada siswa SMP yang dilaksanakan selama ini

kurang produktif. Guru pada umumnya menerangkan hal-hal yang berkenaan

dengan teori menulis. Sementara pelatihan menulis yang sebenarnya jarang

dibahas atau disampaikan, seperti penggunaan tanda baca dalam menulis,

memadukan kalimat, menyatukan paragraf yang baik, kurang mendapat perhatian.

Padahal tujuan pembelajaran bahasa Indonesia di SMP adalah mempertinggi

kemahiran siswa dalam menggunakan bahasa yang meliputi kemahiran

menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Kemahiran bahasa merupakan

proses belajar bahasa yang pada umumnya melalui hubungan yang teratur

(Depdiknas 1994:1)

Keberhasilan belajar mengajar bergantung pada faktor-faktor

pendukung terjadinya pembelajaran yang efisien. Beberapa faktor mengajar yang

perlu diperhatikan supaya proses belajar berlangsung baik adalah kesempatan

untuk belajar, pengetahuan awal siswa, refleksi, motivasi, dan suasana yang

4

mendukung. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar pada mata pelajaran

Bahasa dan Sastra Indonesia, diharapkan dapat tercipta situasi belajar mengajar

yang memungkinkan siswa melakukan aktivitas secara optimal untuk mencapai

tujuan keterampilan berbahasa yang terdiri atas empat keterampilan yaitu

keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca, dan

keterampilan menulis.

Dari keempat aspek yang dilatihkan siswa, menulis merupakan

keterampilan yang harus mendapat perhatian secara sungguh-sungguh.

Pengalaman selama ini menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis

masih rendah. Padahal kemampuan ini sangat penting. Menulis juga merupakan

kemampuan puncak berbahasa seseorang, yang meliputi keterampilan memilih

kosa kata, menggunakan struktur kalimat, menerapkan ejaan maupun tanda baca,

dan menulis teks berita.

Menulis merupakan suatu keterampilan berbahasa yang digunakan

untuk berkomunikasi secara tidak langsung atau tanpa tatap muka dengan orang

lain. Menulis merupakan kegiatan yang produktif dan ekspresif. Dalam kegiatan

menulis, seorang penulis harus terampil memanfaatkan grafologi, struktur bahasa,

dan kosa kata. Keterampilan menulis tidak akan dimiliki seseorang secara

otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik secara terus-menerus.

Dengan menulis secara terus-menerus dan latihan yang sungguh-sungguh,

keterampilan tersebut dapat dimiliki oleh siapa saja. Keterampilan itu juga

bukanlah suatu keterampilan yang sederhana, melainkan menuntut sejumlah

5

kemampuan. Betapapun sederhananya tulisan yang dibuat, penulis tetap dituntut

memenuhi persyaratan seperti yang dituntut apabila menulis tulisan yang rumit.

Berdasarkan pengamatan peneliti selama ini alokasi waktu

pembelajaran menulis di sekolah-sekolah yang salah satunya di SMP, relatif lebih

kecil. Hal ini berdampak pada keterampilan menulis mereka belum maksimal

sehingga setelah para siswa menamatkan jenjang sekolah, dikhawatirkan belum

mampu menggunakan keterampilan berbahasa secara baik dan benar.

Dari observasi di kelas, peneliti menemukan fenomena bahwa pada

saat diberi kesempatan menulis teks berita, para siswa tidak mementingkan isi

berita. Mereka belum paham betul cara membuat tek berita dengan

memperhatikan 5W + H (siapa yang menjadi bahan berita, apa yang terjadi, di

mana peristiwa itu terjadi, kapan peristiwa itu terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan

bagaimana jalannya peristiwa itu). Mereka lebih mementingkan dapat

menyelesaikan tugas yang diberikan oleh gurunya dan terselesaikan dengan cepat.

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran Bahasa dan

Sastra Indonesia SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang kelas VIIIA saat ini

kondisi kemampuan menulis berita siswa kelas tersebut rendah. Adapun

rendahnya kemampuan tersebut disebabkan kurang mampu menemukan 5W + H

(siapa yang menjadi bahan berita, apa yang terjadi, di mana peristiwa itu terjadi,

kapan peristiwa itu terjadi, mengapa hal itu terjadi, dan bagaimana jalannya

peristiwa itu) dalam sebuah teks berita dan belum dapat menerapkan unsur 5W +

H tersebut dalam menulis teks berita. Sedangkan hasil wawancara dengan siswa

kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang tahun pengajaran

6

2004/2005 diperoleh data sebagai berikut. Sebanyak 30 dari 41 siswa menyukai

mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Siswa yang menyatakan bahwa

menulis teks berita tidak mudah sebanyak 30, sedangkan yang menyatakan bahwa

menulis mudah sebanyak 11 siswa. Di samping itu, berdasarkan wawancara

dengan siswa, pada umumnya mereka tidak termotivasi untuk menulis teks berita

sebab setiap menulis teks berita mereka jarang memperoleh nilai tinggi. Dengan

demikian, keterampilan menulis teks berita siswa VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran

Kabupaten Magelang perlu ditingkatkan.

Pembelajaran kontekstual merupakan konsep guru mengaitkan antara

materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa

membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya

dalam kehidupannya sehari-hari dengan melibatkan tujuh komponen utama

pembelajaran efektifitas, yakni kontruktivisme (Contructivisme), bertanya

(Questioning), menemukan (Inquiri), masyarakat belajar (Learning Community),

pemodelan (Modeling), dan penilaian sebenarnya (Authentic Assessment)

(Depdikbud 2002 : 5).

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang begitu pesat

membawa pengaruh yang besar pada pendidikan di Indonesia. Hal ini juga

berpengaruh pada perubahan dan perkembangan pendidikan, metode dan media

atau sarana pendidikan. Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen

pemodelan (modeling) diharapkan dapat mengatasi kesulitan dalam menulis teks

berita siswa SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten Magelang, khususnya siswa kelas

VIIIA. Dalam pembelajaran tersebut akan mengaitkan antara materi yang

7

diajarkannya dengan dunia nyata siswa. Di samping itu, dalam pembelajaran

tersebut akan dihadirkan sebuah model teks berita saat pembelajaran. Dengan

model ini, siswa berdiskusi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan unsur-unsur

teks berita dan menemukan (mencatat) apa, siapa, kapan, dimana, mengapa, dan

bagaimana tentang peristiwa yang terjadi sebelum mereka membuat teks berita,

sehingga siswa mampu menulis teks berita secara singkat, padat, dan jelas.

Dengan menghadirkan model teks berita dalam pembelajaran, mereka dapat

meniru struktur sebuah teks berita.

Penggunaan pembelajaran kontekstual komponen pemodelan

(modeling) dalam menulis teks berita ini dapat dijadikan sebagai alat untuk

mencapai salah satu tujuan pembelajaran mata pelajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia di SMP. Untuk itulah, peneliti akan melakukan penelitian tentang

peningkatan keterampilan menulis teks berita dengan pembelajaran kontekstual

komponen pemodelan pada siswa kelas VIIIA SMP Negeri 1 Kajoran Kabupaten

Magelang.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->