P. 1
penjernihan Air

penjernihan Air

|Views: 13,345|Likes:
Published by tuluswinarto

More info:

Published by: tuluswinarto on Mar 27, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/21/2013

pdf

text

original

Saringan Air Sederhana

Posted by aimyaya | Under teknologi tepat guna Selasa Jan 20, 2009

Bila anda mengalami problem karena air di rumah anda tidak terlalu jernih atau sedikit keruh, anda dapat menggunakan cara penyimpanan air untuk mendapatkan air bersih. Lain halnya bila air di rumah anda keruh, kotor atau berbau. Sebenarnya ada berbagai cara sederhana untuk menjernihkan air. Anda dapat menggunakan bahan kimia seperti “AGS” dan tawas, bahan alami seperti biji kelor ataupun dengan membuat saringan. Saya sendiri pernah mengalami problem mendapatkan air bersih tersebut, maklum rumah saya dekat sungai dan bekas sawah jadi warna air sumur saya sering berubah warna mulai dari jernih, keruh, kuning bahkan bila musim kemarau bias sampai berwarna hitam dan berbau. Ada banyak pilihan cara untuk mengatasi hal tersebut. Untuk penggunaan AGS, semakin parah air yang ada maka semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk mengendapkan kotoran. Tawas dapat menggerus dinding sumur, sedangkan biji kelor susah dicari, pilihan saya akhirnya jatuh pada membuat saringan yang dapat menjernihkan air tanpa menggunakan bahan kimia. Setelah melakukan observasi, tanya sana-sini, surfing sana sini, ternyata selama air tersebut tidak mengandung limbah kimia berbahaya kita masih dapat mengatasinya dengan menggunakan saringan / penjernih air yang banyak dijual di pinggir-pinggir jalan atau pun menggunakan saringan air bermerk seperti halnya yang dipakai oleh depo pengisian air minum isi ulang atau mungkin dengan membuat sendiri saringan air sederhana. Untuk pembuat saringan air sederhana anda dapat menggunakan cadas, tanah liat, bambu dan arang aktif, ataupun saringan ijuk+pasir+dst. Untuk cadas dan tanah liat, bagus sih tapi dengan cara pembuatannya yang susah dan debit air hasil penyaringan yang kecil, saringan ini bukan pilihan utama bagi saya. Selanjutnya saringan bambu, walaupun bambu mudah didapat, tetapi butuh keahlian khusus untuk bekerja dengan bambu.

Pilihan terakhir adalah membuat saringan ijuk+pasir+dst. Cara membuat saringan ini cukup mudah. Saringan dimulai dengan membuat lapisan pasir, ijuk, arang aktif, pasir dan batu. Hasilnya…SERRR… air yang tadinya keruh, kuning atau bahkan hitam+bau sekalipun akan menjadi jernih dan tanpa bau setelah melewati saringan ini. Untuk tempat saringan anda dapat menggunakan tong, drum, ember, ataupun sambungan kaleng / sambungan botol plastik. Sedangkan ukuran lapisan saringan anda dapat sesuaikan dengan masalah yang anda hadapi. Saringan yang saya buat menggunakan 25 cm untuk ijuk dan arang aktif / arang batok kelapanya. Sebab salah satu kegunaan arang adalah untuk mengurangi/menghilangkan bau. Bila masalah yang anda hadapi cukup berat, anda dapat mencoba dengan menambahkan satu buah lapisan batu zeolit. Hal yang perlu anda ketahui bahwa setelah saringan dibuat, air yang dihasilkan awalnya tidak terlalu jernih, tetapi lama kelamaan air yang keluar akan menjadi jernih (pada saringan yang saya buat membutuhkan waktu ± 10 menit). Selain itu, aturlah debit air yang masuk tangki saringan (keluaran dari tangki pengendapan) agar tidak lebih besar dari debit air yang keluar dari saringan (air bersih). Caranya ?? Saya menggunakan trial and error.. Selamat mencoba… Tags : air bersih, pengolahan limbah cair, saringan, saringan air

Saringan Pasir Lambat (SPL)
Posted by aimyaya | Under teknologi tepat guna Jumat Jan 16, 2009

Saringan Pasir Lambat (SPL) sudah lama dikenal di Eropa sejak awal tahun 1800an. Untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih, SPL dapat digunakan untuk menyaring air keruh ataupun air kotor. Saringan Pasir Lambat sangat cocok untuk komunitas skala kecil atau skala rumah tangga. Hal ini tidak lain karena debit air bersih yang dihasilkan oleh SPL relatif kecil. Ada dua jenis proses penyaringan yang terjadi pada Saringan Pasir Lambat, yakni secara fisika dan biologi. Partikel-partikel yang ada dalam sumber air yang keruh secara fisik akan tertahan oleh lapisan pasir pada SPF. Disisi lain, bakteri-bakteri dari genus Pseudomonas dan Trichoderma akan tumbuh dan berkembang biak. Pada saat proses filtrasi dengan debit air lambat (100-200 liter/jam/m2 luas permukaan saringan), patogen yang tertahan oleh saringan akan dimusnahkan oleh bakteri-bakteri tersebut. Secara umum skema dari Saringan Pasir Lambat dapat dilihat sebagai berikut :

Atau mungkin anda dapat memodifikasinya sehingga menjadi seperti gambar di bawah ini

Secara berkala pasir dan kerikil dari SPL harus selalu dibersihkan. Hal ini untuk menjaga agar kualitas air bersih yang dihasilkan selalu terjaga dan yang terpenting adalah tidak terjadi penumpukan patogen / kuman pada saringan. Untuk disinfeksi kuman yang terkandung dalam air dapat menggunakan menggunakan berbagai cara seperti khlorinasi, brominasi, ozonisasi, penyinaran ultraviolet ataupun menggunakan aktif karbon. Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan, sebaiknya air hasil penyaringan dimasak terlebih dahulu hingga mendidih sebelum dikonsumsi.

Tags : air bersih, pengolahan limbah cair, saringan, saringan air, saringan pasir

Pembuatan Penjernihan Air Dengan Cara Penyaringan
Biar blog ini kelihatan intelek (in : dalam, telek : shit, jadinya…wew…), kya…kya…kya… just kidding. Belajar dari pengalaman KKN kemaren, maka buat kawan-kawan yang sedang menghadapi masalah air yang keruh maka berikutlah pembahasannya. Dijamin berhasil, coz cara ini telah melewati bermacam-macam percobaan. Alat : 1. Pipa atau apapun yang berbentuk tabung tinggi. Bahan : 1. Batu kerikil koral yang kecil (dapat diganti dengan batu ziolit yang dipecah kecil-kecil, batu ziolit berguna mengurangi kandungan besi yang terdapat pada air). 2. Pasir pantai (bentuknya berbulir-bulir, bulat). 3. Arang aktif (didapat dengan membakar arang batok kelapa selama 3 jam, memang terlihat aneh tapi sesungguhnya arang inilah yang menjernihkan air yang keruh). 4. Batu ziolit ukuran besar diameter 2-3 cm. 5. Sabut kelapa (dapat diganti dengan busa). Cara : 1. Cuci semua bahan sampai bersih, lalu jemur hingga kering, hal ini berguna agar bahan tidak mengotori air yang dialirkan. 2. Batu ziolit direbus hingga mengeluarkan buih-buih putih (+- 2 jam), o…ya… baunya seperti hati sapi loh… aneh yah... 3. Buat wadah pengendapan, lalu air yang sudah diendapkan dialiri melewati penyaringan yang dibuat. 4. Susun secara berturut-turut dari bawah ke atas pada tabung ; batu kerikil koral, sabut, pasir, sabut, arang, sabut, batu ziolit (setiap lapisan inti, dilapisi sabut/busa), masing-masing bahan setinggi +- 10 cm. 5. Nah, penyaringan siap dipakai. Jika aliran menjadi kecil / kurang deras, pertanda kotoran menumpuk menghalangi aliran air. Cobalah untuk mencuci bahan kembali sampai bersih. Arang aktif harus diganti setiap 3 bulan sekali. • Seluruh bahan dapat dibeli di toko aquarium atau dapat ditemukan di Laboratorium Teknik Lingkungan, FTSP, yang penting izin, ga pake asal ngembat, he…he…he… • Logikanya batu ukuran besar menyaring kotoran yang besar, begitu seterusya hingga ke ukuran yang paling kecil.

Arang Batok: Penjernih Air
Senin, 5 September 2005M 01 Syaban 1426H

• Mencari air jernih untuk diminum memang sudah semakin sulit, yang alami mungkin hanya ada di mata air di gunung dan di oase di gurun. Air jernih pun akhirnya menjadi produk industri hingga kata generik ‘aqua’ pun menjadi paten industri, ah jangan sampai kata ‘air’ menjadi merek dagang pula. Fungsi air untuk diminum pun akhirnya dilebih-lebihkan untuk kepentingan komersial, seperti yang diulas oleh Priyadi tentang ‘Khasiat’ Air Hexagonal. Padahal kebutuhan utama manusia terhadap air untuk diminum hanya satu, yaitu ‘air jernih’, jernih menurut warna dan jernih menurut proporsi kandungan mineral yang terlarut di dalamnya. Dalam tubuh air berfungsi sebagai pelarut, sebagai carrier pembawa zat-zat lain yang harus diedarkan ke seluruh tubuh dan banyak lagi fungsi dan manfaat lainnya. Dengan semakin kotornya air minum, baik dari sumur timba, sumur pompa ataupun air-supply-nya PDAM, kini semakin banyak keluarga mengurangi konsumsi air tersebut sebagai air minum dan digantikan dengan membeli ‘air jernih’ hasil proses industri dalam gelas atau botol plastik. Sebenarnya, air jernih dari sumur untuk diminum masih bisa didapatkan dengan proses penjernihan saat memasaknya, yaitu dengan meletakkan arang batok (tempurung kelapa) di dalamnya (segenggam arang batok sudah lebih dari cukup untuk memasak satu panci air), sebaiknya arang batok dibungkus dahulu dengan kain putih bersih. Selama air dipanaskan hingga mendidih arang batok akan bekerja menyerap zat-zat yang mengotori air, juga menyerap bau serta warna sehingga menghasilkan air jernih yang siap diminum (didinginkan dulu ya, jangan minum air mendidih!). Manfaat air jernih yang lain yang tidak berhubungan adalah untuk mengusir lalat, yaitu dengan cara menyimpannya dalam plastik bening dan digantung, biasanya digantung di dapur atau di atas meja makan. Mungkin nanti ada yang menjual bola kaca berisi air sebagai pengusir lalat yang bisa dipakai di atas meja makan tanpa merusak pandangan dan suasana.

Macam-macam Media Penyaring a. Pasir Saringan menggunakan media pasir bertujuan untuk mengurangi kandungan lumpur dan bahan-bahan padat yang ada dalam air keruh. Ukuran pasir yang digunakan sebagai penyaring bermacam-macam tergantung bahan pencemar yang akan disaring. Semakin besar bahan padat yang akan disaring maka semakin besar pula ukuran pasir yang digunakan. Umumnya, air kotor yang akan disaring dengan pasir mengandung bahan padat dan endapan lumpur. Karena itu, ukuran pasti yang digunakan tidak terlalu besar. Ukuran pasir pada umumnya digunakan adalah pasir berukuran 0,2 mm-0,8 mm. Berdasarkan ukuran pasir, maka dapat dibedakan dua tipe saringan pasir, yaitu saringan cepat dan saringan lambat. Saringan cepat dapat menghasilkan air bersih sejimlah 1,3-2,7 liter/m3/detik. Diameter pasir yang dipakai 0,4 mm-0,8 mm dengan ketebalan 0,6 m-1,2 m. Saringan pasir hanya mampu menahan bahan padat terapung. Saringan pasir tidak menyaring virus atau bakteri atau pembawa bibit penyakit lain. Oleh karena itu masih tetap harus disaring dengan media lain. Saringan pasir harus dibersihkan secara teratur pada waktu-waktu tertentu. Apabila saringan pasir masih memperlihatkan kekeruhan maka saringan pasir tidak , layak digunakan. b. Arang Batok Arang batok adalah arang yang berasal dari tempurung kelapa. Tempurung tersebut dibakar sampai menjadi arang. Arang ini juga bisa diperoleh dari pembakaran kayu. Arang batok dapat menyerap bahan-bahan kimia pencemar air. Arang batok yang berbentuk butiran juga dapat menahan benda-benda padat yang mengotori air. Fungsi utama arng adalah untuk mengurangi warna bau air kotor. Ada dua bentuk arang batok yang digunakan, yaitu butiran berdiameter 0,1 mm dan berukuran 200 mesh. Arang batok berfungsi sebagai penyerap mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang terkandung di air kotor. Setelah berkali-kali digunakan maka arang batok ini tidak efektif lagi karena air yang disaring sudah tidak begitu jernih. Maka arang harus diganti atau di bakar lagi. c. Penyaring Lain Penyering lain misalnya zeolit, perlit dan logam tahan karat. Pemakaiannya sama seperti arang, Saringan inilah yang akan menangkap lumpur dan air kotor, sementara air yang sudah bebas dan lumpur masuk ke dalam bak. Supaya media penyaring berfungsi dengan baik, seluruh media penyaring tersebut harus tetap dalam kondisi basah agar bakteri pengurai tidak mati. Cara mengatur kondisi tersebut yaitu dengan mangatur arus air agar tetap mengalir. Sebelum air masuk bak-bak penyaring sebaiknya air disaring dulu dengan kain atau kassa untuk mengurangi tersumbatnya pipa saluran air. Agar media penyaring tidak cepat tumbuh lumut, tutup bagian atas bak penyaring. d. Kapur, Tawas dan Kaporit Kapur, tawas dan kaporit akan mengendap di dalam air bersama dengan bahan kimia pencemar air. Pengendapan terjadi apabila zat-zat tercampur dengan baik di dalam air. Oleh karena itu ketiganya dimasukan ke dalam air kemudian di aduk.

Air yang ditaburi ketiga bahan ini harus disaring lagi agar endapan yang timbul semakin berkurang Jika sulit mendapat ketiga bahan ini maka dapat digunakan biji kelor. Caranya ditumbuk sampai halus kemudian dimasukan kedalam air. Satu liter air kotor dapat dibersihkan dengan sebutir biji kelor. Setelah dikocok 5-10 menit, larutan biji kelor dituangkan ke dalam air kotor, lalu diamkan selama satu jam, maka air siap digunakan.

Penjernihan Air Air Minum dan Air Limbah 2009-10-06 Bahan : • Lumpang Batu • Arang Batok • Kran air • Kapur • Tawas • Kaporit • Pasir • Ijuk • Kerikil
Mengapa manusia membutuhkan AIR BERSIH ?

Air sangat diperlukan manusia, tidak saja untuk minum tapi juga untuk mandi, Kebutuhan akan air tidak hanya dari segi kuantitas tapi juga kualitas. Konsums memerlukan AIr Bersih sesuai standar.

Air mandi, cuci atau masakpun tidak boleh kotor apabila tercemar limbah indus mengakibatkan bahaya bagi kesehatan tubuh terlebih-lebih pada mata dan kul langsung. Air kotor yang tergenangpun dapat mengundang daur hidup nyamuk genangan tersebut perlu dihindari. Apakah Ciri-ciri AIR BERSIH ?

Alat : • Drum/Bak Pengendap dan Drum/Bak Penyaring

Secara fisik air bersih haruslah jernih, tidak berwarna, tawar, tidak berbau tidak mengandung zat padatan. Secara kimiawi, kualitas air baik jika memi serta tidak mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3), ion-ion logam da dari segi biologis, air sebaiknya tidka mengadung bakteri penyebab penyakit (p nonpatogen. Media Penyaring

Tahapan penjernihan air kotor adalah pengendapan dan penyaringan. Media pe

• PASIR - digunkan untuk menyaring padatan. Ukuran pasir yang dipakai

sudah jernuh, pasir harus dibersihkan. • ARANG BATOK - terbuat dari tempurung kelapa/kayu yang dibakar hin untuk mengurangi warna dan bau. Ukurannya berdiameter 0.1 mm atau yang disaring sudah tidak jernih lagi, arang batok harus dicuci atau diga • KAPUR, TAWAS, DAN KAPORIT - disebut penggumpal koagulan yang pencemar menjadi endapan. Selanjutnya air disaring lagi dengan media • Penyaring lain-yang mudah didapat adalah Ijuk dan Kerikil. Sedangkan m dan logam tahan karat. Menjernihkan air kotor tanpa Zat Kimia A. Bak Pengendap dan Penyaring

Cara ini digunakan untuk sumber air terbuka. Ukuran bak tergantung dari volum Air dialirkan ke Bak Pengendap lewat saluran bambu yang diujungnya ditaruh dialirkan ke dalam Bak Penyaring melalui parit yang berbelok-belok dan berb kandungan oksigen dalam air. Jika parit tidak memungkinkan dapat diganti den Penyaring diisi dengan media penyaring yang disusun seperti pada gambar dia akan mengalir melalui saluran bambu ke Bak Penampungan Air Bersih. Unt masak, air ini tetap harus dimasak untuk mematikan bibit penyakit. B. Lumpung Batu

Letakkan lumpung batu didasar sungai dangkal yang kokoh dan tidak beraliran tersaring karena pori-pori lumpang batu sangat kecil. Untuk mencegah air sung dalam air jernih di dalam lumpang. Perlu dibuatkan tutup lumpang. Untuk men mudah, buatlahlumpung batu dari batu cadas yang dibentuk seperti gambar C. Arang Batok

Bak penyaring dibuat sesuai kebutuhan. Letakkan pipa bambu yang kulit luarny bagian dalamnya di dasar bak. Masukan arang batok. Air kotor diharapkan ters arang batok sehingga kelaurlah air bersih. Menjernihkan air kotor dengan zat kimia

Pada metode ini, diperlukan 2 drum berukuran sama yang dilengkapi dengan k dasar drum +/- 5-10 cm (harus lebih tinggi dari endapan lumpur yang timbul). Bak Pengendap dan Drum 2 berfungsi sebagai Bak Penyaring. Langkah-langkah:

1. Air kotor masuk ke Bak Pengendap, kemudian masukkan 1 gr tawas/1

2.

liter air dan 2.5 gr kaporit/10 liter air. Aduk air dalam Bak secara perlaha Pengadukan ini sebaiknya dilakukan pada malam hari sehingga pada pa berlangsung dengan sempurna. Buka keran pada Bak Pengendap secara tidak terbawa pada Bak Penyaringan. Pada Bak Penyaringan, susun media penyaringan sebagai berikut: - Kerikil setinggi 5 cm pada dasar bak kemudian, - Arang Batok setinggi 10 cm kemudian - Ijuk setinggi 10 cm dan - Pasir Halus berdiameter 0,25 - 0,1 mm setinggi 20 cm. Air yang megalir dari Bak Pengendapan akan dijernihkan lagi melalui pro diharapkan air bersih akan keluar pada saat keran dibuka.

Jika air yang keluar pada bak ke dua sudah tidak jernih lagi, medai peny diganti yang baru. Penggunaan drum sebagai bak Pengendapan dan Ba dengan pemakaian Gentong.

Biji Kelor sebagai Penjernih Air Sungai
MESKIPUN berwarna coklat karena mengandung partikel-partikel tanah, lumpur bahkan unsur logam berat karena tercampur rembesan air limbah industri pabrik, air Sungai Mahakam hingga kini masih tetap menjadi kebanggaan warga Kalimantan Timur, khususnya Kota Samarinda dan Kutai Kartanegara. Berdasarkan kepercayaan dan sedikit dongeng, setiap orang Kalimantan Timur meyakini, siapa pun pendatang atau tamu yang berkunjung ke Kalimantan Timur dan pernah meminum air Sungai Mahakam, diyakini pasti akan kembali lagi ke daerah tersebut, bahkan menetap. Sungai sepanjang 920 Km yang menjadi salah satu sarana transportasi sungai terpenting di propinsi Kaltim itu tak pernah sepi dari lintasan kapal motor dan kapal kontainer, yang terkadang menumpahkan limbah oli sisa ke sungai. Masyarakat agaknya tak pernah peduli dengan warna airnya yang keruh, atau berwarna hitam ketika air sungai surut, terbukti pinggiran sungai tak pernah sepi dari aktivitas manusia yang datang dan pergi mandi, mencuci atau bahkan mengambil air dari sungai tersebut untuk dikonsumsi. Padahal masyarakat dapat memanfaatkan air sungai dengan lebih nyaman dan terjamin kebersihannya apabila mampu menerapkan hasil penelitian seorang dosen dari Fakultas Kehutanan (Fahutan) Universitas Mulawarman (Samarinda) yang diadopsi dari Negara Sudan, dan kemudian dikembangkan di wilayah tersebut. Adalah Enos Tangke Arung, MP, dosen Fahutan Unmul yang menemukan biji kelor dan menyulapnya menjadi ''serbuk ajaib'' yang dapat mengubah air keruh dengan partikel tanah maupun unsur logam menjadi air bersih layak konsumsi, dan memenuhi standar baku mutu yang ditetapkan. Endapkan Partikel Logam Biji buah kelor (Moringan oleifera) mengandung zat aktif rhamnosyloxy-benzilisothiocyanate, yang mampu mengadopsi dan menetralisir partikel-partikel lumpur serta logam yang terkandung dalam air limbah suspensi, dengan partikel kotoran melayang di dalam air. Penemuan yang telah dikembangkan sejak tahun 1986 di negeri Sudan untuk menjernihkan air dari anak Sungai Nil dan tampungan air hujan ini di masa datang dapat dikembangkan sebagai penjernih air Sungai Mahakam dan hasilnya dapat dimanfaatkan PDAM setempat. ''Serbuk biji buah kelor ternyata cukup ampuh menurunkan dan mengendapkan kandungan unsur logam berat yang cukup tinggi dalam air, sehingga air tersebut memenuhi standar baku air minum dan air bersih,'' katanya. Disebutkan, kandungan logam besi (Fe) dalam air Sungai Mahakam yang sebelumnya mencapai 3,23 mg/l, setelah dibersihkan dengan serbuk biji kelor menurun menjadi 0,13 mg/l, dan telah memenuhi standar baku mutu air minum, yaitu 0,3 mg/l dan standar baku mutu air bersih 1,0 mg/l. Sedangkan tembaga (Cu) yang semula 1,15 mg/I menjadi 0,12mg/l, telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih yang diperbolehkan, yaitu 1 mg/l, dan kandungan logam mangan (Mn) yang semula 0,24 mg/l menjadi 0,04 mg/l, telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih 0,1 mg/l dan 0,5 mg/l. Arang Namun apabila air tersebut dikonsumsi untuk diminum, aroma kelor yang khas masih terasa, oleh sebab itu, pada bak penampungan air harus ditambahkan arang yang dibungkus sedemikian rupa agar tidak bertebaran saat proses pengadukan. Arang berfungsi untuk menyerap aroma kelor tersebut. Selain itu, dari hasil uji sifat fisika kualitas air Sungai Mahakam dengan parameter kekeruhan yang semula mencapai 146 NTU, setelah dibersihkan dengan sebuk biji kelor menurun menjadi 7,75 NTU, atau memenuhi standar baku air bersih yang ditetapkan, yaitu 25NTU. Untuk parameter warna yang semula sebesar 233 Pt.Co menjadi 13,75 Pt.Co, atau telah memenuhi standar baku mutu air minum dan air bersih 15 Pt.Co dan 50 Pt.Co. Membuat Serbuk Cara memperoleh serbuk tersebut cukup sederhana, yaitu dengan menumbuk biji buah kelor yang sudah tua hingga halus, kemudian ditaburkan ke dalam air limbah, dengan perbandingan tiga sampai lima miligram untuk satu liter air dan diaduk cepat. Dalam

waktu 10 hingga 15 menit setelah pengadukan, partikel-partikel kotoran yan terdapat di dalam air akan menyatu dan mengendap, sehingga air menjadi jernih. Enos, yang juga kepala Laboratorium Pulp dan Kertas Fahutan Unmul mengatakan, pihaknya juga telah membuat ekstraktif kelor dengan konsentrasi lima persen, yaitu dengan merebus lima gram tepung biji kelor ke dalam 100 ml air hingga mendidih dan disaring. ''Air saringan kelor ini dapat digunakan untuk menjernihkan air, caranya dengan mencampur tiga hingga lima militer ekstrak biji kelor ke dalam satu liter air dan diaduk dengan cepat,'' katanya. Disebutkan, dalam satu polong buah kelor terdapat 10 hingga 15 biji kelor dengan berat masing-masing biji sebesar 2,5 gram tanpa kulit ari, dan dari 10 biji kelor dapat dibuat menjadi serbuk untuk menjernihkan air sebanyak 40 liter. Lebih Ekonomis Kepala laboratorium pengujian air PDAM Unit Cendana (Samarinda), Alimudin mengakui, cara tersebut lebih ekonomis dibanding menggunakan sistem penjernihan air dengan bahan baku tawas yang digunakan selama ini. Perbedaan penjernihan air dengan menggunakan tawas dan serbuk biji kelor adalah pada lamanya waktu pengendapan partikel setelah pengadukan, yaitu hanya lima menit, sedangkan dengan serbuk kelor mencapai 10 hingga 15 menit. Karena tawas jarang diproduksi di Kaltim, pihak PDAM Samarinda mendatangkan tawas dari luar daerah, yaitu dari Sulawesi (Manado) dan Kupang. Tawas tersebut dicampur dengan aluminium dan sulfat sebelum digunakan untuk menjernihkan air sungai. Menurut Enos Tangke, penggunaan serbuk biji kelor lebih ekonomis dibanding tawas, apalagi tanaman kelor dapat dibudidayakan di Kaltim, sementara daun dan buahnya yang masih muda pun dapat dimanfaatkan untuk bahan makanan. Enos yang juga dosen pengasuh mata kuliah Pengendalian Pencemaran menambahkan, tanaman kelor yang dikembangbiakkan dengan biji dan stek dapat tumbuh dengan cepat di daerah berair, sehingga dapat dimanfaatkan untuk dibudidayakan di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Mahakam. ''Dalam tiga bulan pertama tumbuhan tersebut sudah cukup besar dan enam bulan kemudian sudah berbuah dan bisa dimanfaatkan bijinya,'' katanya. Oleh sebab itu, tambahnya, memanfaatkan kelor untuk menjernihkan air merupakan alternatif terbaik dan lebih ekonomis, efisien serta turut melestarikan lingkungan dengan membudidayakan tanaman tersebut di sekitar DAS.(Aspek-35)

Suara Merdeka, Senin, 1 Juli 2002

Penyaringan untuk Menjernihkan Air
1. PENDAHULUAN
Kebutuhan akan air bersih di daerah pedesaan dan pinggiran kota untuk air minum, memasak , mencuci dan sebagiannya harus diperhatikan. Cara penjernihan air perlu diketahui karena semakin banyak sumber air yang tercemar limbah rumah tangga maupun limbah industri. Cara penjernihan air baik secara alami maupun kimiawi akan diuraikan dalam bab ini. Cara-cara yang disajikan dapat digunakan di desa karena bahan dan alatnya mudah didapat. Bahan-bahannya anatara lain batu, pasir, kerikil, arang tempurung kelapa, arang sekam padi, tanah liat, ijuk, kaporit, kapur, tawas, biji kelor dan lain-lain. URAIAN SINGKAT Cara penjernihan air ini sama dengan cara penyaringan I. Perbedaanya terletak pada penyusunan drum atau bak pengendapan dan bak penyaringan, serta susunan lapisan bahan penyaring. BAHAN 1. 10 (sepuluh) kg arang 2. 10 (sepuluh) kg ijuk 3. pasir beton halus 4. batu kerikil

2.

3.

5. 2 (dua) buah kran 1 inci 4. 5.
6. batu dengan garis tengah 2-3 cm PERALATAN 1. 1 (satu) buah bak penampungan 2. 1 (satu) buah drum bekas PEMBUATAN 1. Sediakan sebuah bak atau kolam dengan kedalaman 1 meter sebagai bak penampungan. 2. Buat bak penyaringan dari drum bekas. Beri kran pada ketinggian 5 cm dari dasar bak. Isi dengan ijuk, pasir, ijuk tebal, pasir halus, arang tempurung kelapa, baru kerikil, dan batu-batu dengan garis tengah 2-3 cm (lihat Gambar). PENGGUNAAN 1. Air sungai atau telaga dialirkan ke dalam bak penampungan, yang sebelumnya pada pintu masuk air diberi kawat kasa untuk menyaring kotoran. 2. Setelah bak pengendapan penuh air, lubang untuk mengalirkan air dibuka ke bak penyaringan air. 3. Kemudian kran yang terletak di bawah bak dibuka, selanjutnya beberapa menit kemudian air akan ke luar. Mula-mula air agak keruh, tetapi setelah beberapa waktu berselang air akan jernih. Agar air yang keluar tetap jernih, kran harus dibuka dengan aliran yang kecil. PEMELIHARAAN 1. Ijuk dicuci bersih kemudian dipanaskan di matahari sampai kering 2. Pasir halus dicuci dengan air bersih di dalam ember, diaduk sehingga kotoran dapat dikeluarkan, kemudian dijemur sampai kering. 3. Batu kerikil diperoleh dari sisa ayakan pasir halus, kemudian dicuci bersih dan dijemur sampai kering. 4. Batu yang dibersihkan sampai bersih betul dari kotoran atau tanah yang melekat, kemudian dijemur. KEUNTUNGAN 1. Air keruh yang digunakan bisa berasal dari mana saja misalnya : sungai, rawa, telaga, sawah dan sumur. 2. Cara ini berguna untuk desa yang jauh dari kota dan tempatnya terpencil. KERUGIAN 1. Air tidak bisa dialirkan secara teratur, karena air dalam jumlah tertentu harus diendapkan dulu dan disaring melalui bak penyaringan. 2. Bahan penyaring harus sering diganti. 3. Air harus dimasak lebih dahulu sebelum diminum DAFTAR PUSTAKA Water Purification. Joint Program Development Centre, Institute of Technology Bandung and Indonesia Voluntary Workers Agency (BUTSI) of the Department of Manpower Trasmigration and Cooperatives, 1977. INFORMASI LEBIH LANJUT 1. Pusat Penelitian dan Pengembangan Fisika Terapan – LIPI; Jl. Cisitu Sangkuriang No. 1 – Bandung 40134 - INDONESIA; Tel.+62 22 250 3052, 250 4826, 250 4832, 250 4833; Fax. +62 22 250 3050 2. Pusat Informasi Wanita dalam Pembangunan PDII-LIPI; Sasana Widya Sarwono, Jl. Jend. Gatot Subroto 10 Jakarta 12710, INDONESIA.

6.

7.

8.

9.

10.

11.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->