P. 1
Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit Back to Back)

Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit Back to Back)

4.87

|Views: 29,579|Likes:
Tesis Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UGM Yogyakarta an. Raimond Flora Lamandasa, NRM 18884/PS/MKN/06 yang dipertahankan dalam ujian tesis tanggal 28 Maret 2008.
Tesis Magister Kenotariatan Fakultas Hukum UGM Yogyakarta an. Raimond Flora Lamandasa, NRM 18884/PS/MKN/06 yang dipertahankan dalam ujian tesis tanggal 28 Maret 2008.

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: Raimond Flora Lamandasa, S.H., M.Kn. on May 07, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

09/05/2014

pdf

text

original

Sections

ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN

JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK)

DI PT. BANK DANAMON INDONESIA, TBK

KANTOR CABANG MANADO

Tesis
untuk memenuhi sebagaian persyaratan
mencapai derajat Sarjana S-2
Program Studi Magister Kenotariatan

diajukan oleh :

Raimond Flora Lamandasa
18884/PS/MK/06

kepada

PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2008

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis persembahkan ke hadirat Tuhan Yang Maha

Kuasa yang telah menganugerahkan berkat, kesehatan dan kekuatan sehingga penulis

dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul : ASPEK HUKUM PEMBERIAN

KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK) DI PT.

BANK DANAMON INDONESIA, TBK KANTOR CABANG MANADO.

Tesis ini disusun guna memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai

derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum

Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa masih terdapat

kekurangan-kekurangan dalam tesis ini, baik dalam substansi maupun sistematika

penyajiannya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun

guna kesempurnaannya lebih lanjut.

Dalam proses perkuliahan hingga pada penyusunan tesis ini, penulis telah

banyak menerima dukungan moriil maupun materiil dari berbagai pihak, untuk itu

melalui kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih dan

penghargaan yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung penulis

dalam studi selama ini. Teristimewa, ucapan terima kasih dan penghargaan ini penulis

sampaikan secara khusus kepada, yang terhormat :

1. Bapak Taufiq El Rahman, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Akademik

sekaligus selaku Dosen Pembimbing Tesis, yang telah banyak membantu,

iv

memotivasi, dan memberikan waktunya dalam pembimbingan hingga

selesainya tesis ini.

2. Bapak Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., L.L.M., selaku Dekan Fakultas Hukum

Universitas Gadjah Mada.

3. Bapak Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H., selaku Ketua Pengelola

Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada, Bapak Prof.

Dr. Sudjito, S.H., MSi., selaku Pengelola Bidang Akademik dan

Kemahasiswaan, serta Bapak Sularto, S.H., C.N., M.H., selaku Pengelolah

Bidang Administrasi Umum dan Keuangan.

4. Management PT. Bank Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado,

beserta staffnya di Bagian Marketing, Bagian Administrasi Kredit, Bagian

Legal dan Bagian Collection, yang telah memberikan kesempatan kepada

penulis untuk berdiskusi dalam pelaksanaan penelitian lapangan di sela-sela

pekerjaannya masing-masing.

5. Ibu Anne Hommes dan Bapak Prof. Dr. Tj. Hommes di Maine - Amerika

Serikat, yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk lebih berkarya

demi kemanusiaan.

6. Ibu Marie Claire Barth di Bassel - Swiss, yang juga banyak memberikan

motivasi untuk keberhasilan study penulis.

7. United Church of America yang telah membantu keuangan penulis dengan

beasiswa yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan Magister

Kenotariatan di UGM.

v

8. Para Guru Besar Pengasuh Mata Kuliah Program Studi Magister Kenotariatan

Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

9. Seluruh Dosen Pengasuh Mata Kuliah Program Magister Kenotariatan, bersama

staff karyawan/karyawati pada Program Studi Magister Kenotariatan.

10. Seluruh staff karyawan/karyawati Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas

Gadjah Mada.

11. Isteri penulis, yang tercinta Ir. Gladys Peuru, M.Si., yang dalam kesibukannya

sebagai mahasiswa S3 Institut Pertanian Bogor (IPB), bersama anak-anak kami,

yang tersayang : Canty Gracella Lamandasa, Cindy Daniella Lamandasa, Cinta

Immanuella Lamandasa dan Chanto Joshua Lamandasa, yang dengan setia dan

penuh pengertian atas keterpisahan selama studi, tekun berdoa dan selalu

memotivasi penulis untuk menyelesaikan studi.

12. Ibu bapak, kakak-kakak (Ir. Sulzofyan Lamandasa, Sherly Lamandasa, SE,

MSi, Ir. Nopelius Lamandasa) dan adik penulis (Ir. Lewingston Lamandasa),

serta ayah ibu mertua yang juga turut mendoakan dan memotivasi penulis agar

sukses selalu dalam studi.

13. Teman-teman MKN angkatan tahun 2006, yang tidak dapat penulis sebutkan

satu persatu.

14. Teman-teman kost di Jl. Jetisharjo No.560 Jetis II Yogyakarta.

Dengan kerendahan hari, penulis berharap kiranya tesis ini dapat menjadi

masukan yang bermanfaat bagi PT. Bank Danamon Indonesia, TBk dan atau kepada

siapa saja yang membutuhkan informasi sehubungan dengan materi tesis ini.

vi

Akhirnya, satu babak dalam perjalanan hidup ini tercapai sudah, telah terbuka

titik awal jalan baru untuk ditempuh dalam asa perjalanan hidup ini. Semoga harap

dan cita yang selalu menyemangati penulis selama ini bisa terealisasi hanya dalam

Pimpinan dan Anugerah dari Tuhan Yesus Kristus, amien.

Yogyakarta, Januari 2008

Raimond Flora Lamandasa

vii

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. i

HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………. ii

HALAMAN PERNYATAAN ………………………………………………. iii

KATA PENGANTAR ………………………………………………………. iv

DAFTAR ISI ………………………………………………………………… viii

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… xi

INTISARI …………………………………………………………………… xii

ABSTRACT ………………………………………………………………… xiii

I. PENDAHULUAN ………………………………………………………… 1

A. Latar Belakang.………………………………………………………… 1

B. Perumusan Masalah …………………………………………………… 8

C. Keaslian Penelitian …………………………………………………….. 9

D. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… 9

E. Kegunaan Penelitian …………………………………………………… 10

II. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………… 11

A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian …………………………………... 11

1. Pengertian Perjanjian dan Perikatan ………………………………. 11

2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian …………………………………… 14

3. Berakhirnya Perjanjian ……………………………………………. 19

4. Wanprestasi ……………………………………………………….. 21

viii

B. Tinjauan Tentang Kredit dan Perjanjian Kredit ………………………. 24

1. Pengertian Kredit …………………………………………………. 24

2. Jenis-Jenis Kredit …………………………………………………. 32

3. Perjanjian Kredit ………………………………………………….. 33

4. Kredit Bermasalah .............................…………………………….. 38

5. Penanganan Kredit Bermasalah .............................………………… 42

C. Tinjauan Tentang Jaminan ……………………………………………. 43

1. Pengertian Jaminan ……………………………………………….. 43

2. Klasifikasi Jaminan Kredit ……………………………………….. 45

D. Tinjauan Tentang Gadai Sebagai Salah Satu Lembaga Jaminan …….. 47

1. Pengertian Gadai …………………………………………………. 47

2. Sifat Perjanjian Gadai Sebagai Perjanjian Accesoir .……………. 49

3. Hak dan Kewajiban Kreditur Pemegang Gadai …………………. 50

4. Hak dan Kewajiban Debitur / Penjamin Pemberi Gadai ………… 51

5. Berakhirnya Perjanjian Gadai ……………………………………. 53

E. Tinjauan Tentang Deposito Sebagai Jaminan Kredit …………………. 53

1. Pengertian Deposito ………………………………………………. 53

2. Jenis-Jenis Deposito ………………………………………………. 55

3. Deposito Sebagai Jaminan Kredit ………………………………… 56

4. Tata Cara Pengikatan Deposito Sebagai Jaminan Kredit ………… 57

III. CARA PENELITIAN ……………………………………………………. 60

A. Sifat Penelitian ……………………………………………………….. 60

B. Jenis Penelitian ……………………………………………………….. 61

1. Penelitian Kepustakaan ……………………………………………. 61

2. Penelitian Lapangan ………………………………………………. 62

ix

C. Jalannya Penelitian …………………………………………………… 64

D. Analisa Data …………………………………………………………. 65

E. Hambatan-Hambatan Yang Dihadapi dan Cara Mengatasinya ……… 65

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………………. 67

A. Gambaran Umum PT. Bank Danamon Indonesia ……………………. 67

1. Sejarah Singkat PT. Bank Danamon Cabang Manado ……………. 67

2. Bank Danamon Kantor Cabang Manado …………………………. 71

3. Pencapaian Bisnis PT. Bank Danamon Cabang Manado …………. 73

B. Pelaksanaan Kredit Dengan Jaminan Deposito ……………………… 74

1. Hasil Penelitian ……………………………………………………. 74

2. Pembahasan ……………………………………………………….. 88

C. Pencairan Depoito Jaminan Yang Tidak Turut Ditandatangani ……… 92

1. Hasil Penelitian ……………………………………………………. 92

2. Pembahasan ……………………………………………………….. 96

V. PENUTUP ……………………………………………………………….. 101

A. Kesimpulan …………………………………………………………... 101

B. Saran ………………………………………………………………….. 102

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………... 104

x

DAFTAR LAMPIRAN

I. Surat Perjanjian Kredit Bank Danamon Indonesia

II. Surat Perjanjian Gadai Deposito Bank Danamon

III. Surat Kuasa Mencairkan Deposito Jaminan Bank Danamon

IV. Surat Kuasa Debet Rekening Bank Danamon

xi

ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO
(KREDIT BACK TO BACK)
DI PT. BANK DANAMON INDONESIA, TBK KANTOR CABANG MANADO

Raimond Flora Lamandasa, 1

dan Taufiq El Rahman 2

INTISARI

Tujuan penelitian ini ialah : (1) untuk mengetahui bagaimana PT.Bank
Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado melakukan pengikatan jaminan
deposito yang perjanjiannya tidak turut ditandatangani oleh isteri atau suami pemilik
deposito, dalam menjamin kredit back to back; (2) untuk mengetahui bagaimana
PT.Bank Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado melakukan pencairan
deposito jaminan yang pengikatannya tidak turut ditanda tangani oleh istri atau suami
pemilik deposito jika debitur kredit back to back tersebut wanprestasi.
Penyusunan tesis ini dilakukan berdasarkan penelitian lapangan untuk
memperoleh data primer, dan penelitian kepustakaan untuk memperoleh data
sekunder, dengan masing-masing teknik pengumpulan data melalui wawancara dan
studi literatur. Seluruh data kemudian dianalisis dengan metode kualitatif.
Hasil penelitian ini ialah : (1) PT. Bank Danamon Indonesia, TBk, Kantor
Cabang Manado melakukan pengikatan kredit dengan jaminan deposito yang tidak
turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin berdasarkan
rekomendasi komite kredit kantor pusat atas penyimpangannya. PT.Bank Danamon
Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado tidak sepenuhnya terlindungi dengan
pemberian jaminan deposito yang perjanjian jaminannya tidak turut ditanda tangani
oleh isteri atau suami pemilik deposito. (2) PT.Bank Danamon Indonesia TBk
Kantor Cabang Manado mencairkan deposito jaminan untuk melunasi kredit back to
back yang bermasalah, jika kreditnya tertunggak selama 14 hari dan untuk pencairan
itu debitur telah diberikan Surat Peringatan 1 sampai dengan 3 untuk melunasi
tunggakannya.

Kata kunci : kredit back to back, deposito jaminan tidak ditanda tangani isteri atau
suami, wanprestasi

1

Jl. Jetisharjo No.560, Jetis II, Yogyakarta

2

Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogakarta

LEGAL ASPECT OF BACK TO BACK LOAN AT PT. BANK DANAMON
INDONESIA TBK, BRANCH OF MANADO

Raimond Flora Lamandasa, 1

and Taufiq El Rahman 2

ABSTRACT

The aim of this research is : (1) to know how PT. Bank Danamon
Indonesia Tbk, Branch of Manado engages deposit guarantee which is spouse of
owner are excluded from this agreement, in guarantying back to back loan; (2) to
know how PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado frees a deposit
guarantee in which the engagement excludes spouse of owner if back to back loan
that is guaranteed default.

It based upon field research to get primary data and literature research to
get secondary data, and used interview and literature study as data collecting
technique. All of data was analyze with qualitative method.
The results are : (1) PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado
engaged loan with deposit guarantee that excluded spouse of debtor/guarantor
based on recommendation of head office credit committee toward the deviation.
PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado is not fully protected by
giving the deposit guarantee that excluded spouse of owner. (2) PT. Bank
Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado liquefied deposit guarantee to settled
back to back loan which had problem, if the payment is delayed during 14 days
and therefore debtor has been warned by Warning Letter 1 until 3 to settle the
arrears.

Keywords: back to back loan, deposit guarantee with no initial of spouse,
default.

1

Jl. Jetisharjo No. 560, Jetis II, Yogyakarta

2

Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pada umumnya semua negara yang sedang berkembang seperti halnya

Indonesia mempunyai program pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk

mensejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks ini peranan

perbankan menjadi sangat vital layaknya sebuah jantung dalam tubuh manusia.

Keduanya saling mempengaruhi dalam arti perbankan menjadi salah satu sumber

pembiayaan yang akan mengalirkan dana bagi kegiatan ekonomi, sehingga bank yang

sehat akan memperkuat kegiatan ekonomi suatu bangsa. Sebaliknya, kegiatan

ekonomi yang tidak sehat, lesu atau rapuh juga akan sangat mempengaruhi tingkat

kesehatan dunia perbankan.

Peranan lembaga perbankan yang sangat strategis ini terus ditata dan

diperbaiki dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang

Perbankan, yang kemudian direvisi dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998

Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan

(untuk selanjutnya disebut UU Perbankan). Undang-undang ini memberikan landasan

yuridis yang lebih luas dan jelas serta mempertegas jangkauan pelayanan bank

terhadap segala lapisan masyarakat.

Bank, menurut UU Perbankan didefinisikan sebagai “badan usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya

2

kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka

meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.” Sebagai lembaga kepercayaan masyarakat,

bank mempunyai visi dan misi yang sangat mulia yaitu sebagai sebuah lembaga yang

diberi tugas untuk mengemban amanat pembangunan bangsa demi tercapainya

peningkatan taraf hidup rakyat.

Untuk melaksanakan visi dan misi tersebut, bank berperan sebagai agent of

intermediary, dengan menyelenggarakan fungsi-fungsi, sebagai berikut :

1. Fungsi menghimpun dana.

2. Fungsi pemberian kredit.

3. Fungsi memperlancar lalu lintas pembayaran.

4. Fungsi sebagai penyedia informasi, pemberian konsultasi dan bantuan

penyelenggaraan administrasi (PT. Persero Danareksa, 1987 : 238).

Dalam menjalankan kegiatan usahanya di bidang penyaluran kredit, bank

dihadapkan pada permasalahan resiko yaitu resiko pengembalian kredit sehubungan

dengan adanya jangka waktu antara pencairan kredit dengan pembayaran kembali. Ini

berarti bahwa semakin panjang jangka waktu kredit semakin tinggi pula resiko kredit

tersebut.

Menghadapi resiko tersebut, pasal 2 UU Perbankan mengamanatkan suatu

prinsip agar pihak perbankan dalam melakukan kegiatan usahanya harus bersasaskan

demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian (prudential banking

principle).

3

Lebih lanjut pasal 8 UU Perbankan mengarahkan bahwa ”dalam memberikan

kredit, bank wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur

untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan.” Dan untuk

memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan

penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek

usaha dari calon debitur.

Mengingat bahwa agunan atau jaminan merupakan salah satu unsur dalam

pemberian kredit dan sebagai sarana perlindungan bagi keamanan kreditur untuk

adanya kepastian atas pelunasan hutang debitur, atau untuk pelaksanaan suatu prestasi

oleh debitur atau oleh penjamin debitur, maka meskipun berdasarkan unsur-unsur lain

telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur mengembalikan hutangnya,

jaminan tambahan atau agunan masih tetap diminta oleh pihak bank (Hasan, 1996 :

233).

Untuk memberi landasan yuridis bagi kreditur dalam melaksanakan hak dan

kekuasaan atas barang jaminan yang diserahkan oleh debitur atau penjamin debitur,

maka atas barang jaminan tersebut lebih dahulu dilakukan pengikatan menurut

hukum yang berlaku, misalnya dengan pengikatan Hipotik, Hak Tanggungan,

Fidusia, Gadai atau dengan Jaminan Perorangan (Personal Guarantee) dan Jaminan

Perusahaan (Coorporate Guarantee).

Menurut sifatnya, lembaga jaminan dapat dibedakan dalam bentuk jaminan

perorangan (persoonlijke zekerheid) yang menimbulkan hak perseorangan; dan

jaminan kebendaan (zakelijke zekerheid) yang menimbulkan hak kebendaan.

4

Jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung

pada perorangan tertentu, selalu berupa suatu perjanjian antara seorang berpiutang

(kreditur) dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban dari si

berutang (debitur), bahkan jaminan perorangan ini dapat diadakan tanpa pengetahuan

dari si berutang (debitur) tersebut sehingga jaminan perorangan menimbulkan

hubungan langsung antara perorangan yang satu dengan yang lain. Termasuk dalam

jaminan perorangan adalah : personal guarantee, coorporate guarantee dan atau

perikatan tanggung-menanggung.

Sedang jaminan kebendaan ialah jaminan yang berupa hak mutlak atas sesuatu

benda dengan ciri-ciri mempunyai hubungan langsung dengan benda tertentu dari

debitur atau pihak ketiga sebagai penjamin, dapat dipertahankan terhadap siapapun,

selalu mengikuti bendanya dan dapat diperalihkan. Jaminan kebendaan ini selain

dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya juga dapat diadakan antara

kreditur dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang

(debitur) sehingga hak kebendaan ini memberikan kekuasaan yang langsung terhadap

bendanya. Yang termasuk dalam jaminan kebendaan adalah : hak tanggungan,

hipotik, gadai dan jaminan fidusia.

Ada dua pertimbangan yang setidaknya menjadi prasyarat utama untuk sesuatu

benda dapat diterima sebagai jaminan, yaitu :

1. Secured, artinya benda jaminan kredit dapat diadakan pengikatan secara yuridis

formal, sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan. Jika di

5

kemudian hari terjadi wanprestasi dari debitur, maka bank memiliki kekuatan

yuridis untuk melakukan tindakan eksekusi.

2. Marketable, artinya benda jaminan tersebut bila hendak dieksekusi dapat segera

dijual atau diuangkan untuk melunasi seluruh kewajiban debitur (Ibrahim, 2004 :

71).

Sebagai salah satu bank yang terus menggulirkan kredit kepada masyarakat

umum, PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. Kantor Cabang Manado (untuk

selanjutnya disebut Bank Danamon), dalam setiap pemberian fasilitas kredit,

mensyaratkan calon debitur untuk memberikan jaminan.

Bank Danamon menggolongkan jaminan kredit ke dalam tiga kategori, yaitu

Jaminan Utama, Jaminan Penunjang dan Jaminan Tambahan. Penggolongan jaminan

tersebut didasarkan pada tingkat likuiditas dan marketabilitas jaminan itu sendiri.

Yang paling likuid dan marketabel digolongkan sebagai Jaminan Utama, yang

likuiditas dan marketabilitasnya sedang-sedang digolongkan sebagai Jaminan

Penunjang dan yang tingkat likuiditas dan marketabilitasnya rendah digolongkan

sebagai Jaminan Tambahan. Jaminan Utama terdiri dari dana cash dari debitur atau

pihak ketiga (penjamin) yang dikhususkan untuk itu (bisa berupa tabungan, giro atau

deposito), emas, bank garansi dari bank lain, tanah dan bangunan yang

aksesibilitasnya sangat lancar (terletak di daerah pusat bisnis dengan nilai

marketabilitas yang tinggi). Jaminan Penunjang terdiri dari tanah dan bangunan atau

tanah kosong yang aksesibilitasnya sedang-sedang, mesin-mesin yang dibiayai dan

kendaraan bermotor (mobil). Sedangkan Jaminan Tambahan terdiri dari piutang

6

dagang atau tagihan dagang (receivables) serta persediaan barang dagangan (stock

inventory) usaha debitur yang dibiayai.

Bank Danamon termasuk bank yang cukup ketat dengan ketentuan rasio

kecukupan jaminan atau total collateral coverage (TCC). Benda yang akan

dijaminkan terlebih dahulu dilakukan penilaian (taksasi) oleh appraiser interen Bank

Danamon dengan patokan harga pasar (market value), kemudian dari harga pasar

tersebut dinilai lagi dengan menggunakan nilai Maximum Reliance Bank Danamon

(Bank Danamon value), yang range prosentasenya berbeda-beda, sesuai jenis barang

jaminannya. Dari nilai Bank Danamon inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar

perhitungan rasio kecukupan jaminannya.

Untuk jaminan dalam bentuk dana tunai dalam currency yang sama, nilai Bank

Danamonnya 100 %, sedangkan jaminan berupa tanah dan bangunan, mesin-mesin

serta kendaraan bermotor (mobil) maksimum nilainya hanya sampai 80 % dari

market value. Total collateral coverage suatu kredit harus mengkover minimal 125

% dari plafond kredit yang diberikan, komposisinya bisa terdiri dari total ketiga

kriteria jaminan tersebut, tetapi dengan minimum nilai kecukupan Jaminan Utama 80

%. Namun kecukupan collateral coverage sebesar 125 % ini dapat dikecualikan jika

jaminan yang diberikan adalah seluruhnya dalam bentuk dana cash dalam currency

yang sama, yaitu sudah cukup dengan total collateral coverage-nya sebesar 100 %

saja.

Belakangan ini berkembang menjadi trend dalam pemberian jaminan dalam

bentuk deposito. Bank Danamon, mengklasifikasikan deposito sebagai Jaminan

7

Utama, karena memiliki tingkat kepastian nominal yang sudah pasti dan likuiditasnya

pun paling likuid dibanding dengan jaminan lainnya. Oleh karena itu, jika

memungkinkan, jaminan inilah yang dimintakan kepada calon debitur untuk

diserahkan. Selain faktor kepastian dan likuiditas tersebut, alasan lain sehingga Bank

Danamon, disatu sisi meminta, ataupun calon debitur, disisi lainnya, memberikan

jaminan deposito atas kreditnya adalah proses persetujuan kreditnya mudah, cepat,

tidak berbelit-belit serta biayanya kecil. Selebihnya adalah faktor psikologis

penggunaan kredit juga turut menjadi pertimbangan nasabah dimana dengan

menggunakan kredit bank, debitur merasa lebih bertanggung jawab dalam

pengelolaan keuangannya.

Tetapi kemudian, mudah dan cepatnya proses persetujuan dan pencairan

kredit dengan jaminan deposito itu, dalam banyak kasus justru menjadi salah satu

sumber permasalahan hukum tersendiri bagi bank, karena debitur yang memberikan

deposito sebagai jaminan, umumnya adalah debitur yang secara finansial kuat,

sehingga memiliki bargaining position di mata perbankan. Menyadari bargaining

position-nya lebih kuat dibanding dengan debitur pada umumnya, pemilik deposito

selalu meminta pengecualian-pengecualian dalam pengikatan kredit dan atau

jaminannya. Pengecualian yang umum diminta adalah pemilik deposito keberatan dan

tidak mau jika perjanjian kredit dan perjanjian jaminan gadai depositonya turut

ditanda tangani oleh isteri atau suaminya. Situasi ini menyebabkan bank berada

dalam posisi sulit, memilih antara pencapaian target atau pemenuhan aspek hukum

kreditnya. Dalam praktek, biasanya pertimbangan bisnis selalu mengalahkan aspek

8

hukum, sehingga sering kali aspek hukum ini khususnya dalam hal pengikatan kredit

dan jaminan gadai depositonya menjadi terabaikan. Adanya tarik-menarik

kepentingan, terlebih bagi bank yang tidak mau kehilangan bisnisnya, maka

terjadilah pengikatan kredit dan penjaminan deposito atas nama suami yang diikat

oleh bank tanpa persetujuan isteri, atau sebaliknya. Tidak ditanda tanganinya oleh

salah satu dari suami atau isteri atas perjanjian gadai deposito jaminan tersebut,

menjadi potensi masalah hukum ketika debitur kredit dengan jaminan deposito

tersebut wanprestasi.

Celah hukum tersebut, dapat menjadi dasar yuridis yang kuat bagi pihak

yang tidak memberikan persetujuan untuk melakukan intervensi hukum dengan cara

mengajukan keberatan (tuntutan) jika pencairan deposito jaminan tersebut akan

dilakukan oleh bank. Tuntutannya adalah pencairan deposito jaminan tidak dapat

dilakukan oleh bank karena pengikatan jaminannya tidak dilakukan dengan

sempurna dimata hukum.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, penulis tertarik

melakukan penelitian dengan fokus kepada permasalahan-permasalahan sebagai

berikut :

1. Bagaimana Bank Danamon melaksanakan pengikatan jaminan deposito yang

tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito ?

9

2. Bagaimana Bank Danamon melakukan pencairan deposito jaminan yang tidak

turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito jika debitur kredit

yang dijamin dengan deposito tersebut wanprestasi ?

C. Keaslian Penelitian

Dari penelusuran bahan pustaka yang dilakukan oleh penulis, diketahui

bahwa penelitian tentang Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito

(Kredit Back to Back) Di PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang

Manado, lebih khusus lagi penelitian yang fokusnya kepada pengikatan jaminan

deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito

jaminan, belum pernah ada. Dengan demikian penelitian ini adalah penelitian yang

pertama dan asli adanya, namun demikian apabila ternyata pernah dilakukan

penelitian yang sama maka penelitian ini diharapkan dapat melengkapinya.

D. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui bagaimana Bank Danamon melaksanakan pengikatan kredit

dengan jaminan deposito yang pengikatan kredit dan jaminannya tidak turut

ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito.

2. Untuk mengetahui bagaimana proses pencairan deposito jaminan yang pengikatan

kredit dan jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik

deposito jika debitur kredit yang dijamin dengan deposito tersebut wanprestasi.

10

E. Kegunaan Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat membawa kegunaan dalam hal :

1. Untuk dapat menjadi bahan masukan dan informasi bagi Bank Danamon dan para

pihak tentang Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit

Back to Back) yang pengikatan deposito jaminannya tidak turut ditanda tangani

oleh isteri atau suami pemilik deposito.

2. Untuk melengkapi literatur dan bahan diskusi tentang kredit dengan jaminan

deposito (kredit back to back) dan sebagai bahan acuan bagi peneliti lain yang

tertarik pada tema yang sama.

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian

1. Pengertian Perjanjian dan Perikatan

Pengaturan tentang hukum perjanjian di Indonesia terdapat dalam Buku III

Bab Kedua, Bagian Kesatu sampai dengan Bagian Keempat Kitab Undang-

undang Hukum Perdata (untuk selanjutnya disebut KUH Perdata) dibawah titel

Tentang Perikatan, mulai dari pasal 1233 sampai dengan pasal 1864.

Kata “perjanjian” dan “perikatan” merupakan dua istilah yang dikenal dalam

KUH Perdata. Pasal 1313 KUH Perdata, memberikan definisi bahwa “perjanjian

adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya

terhadap satu orang lain atau lebih”.

Sedangkan tentang perikatan, sekalipun dalam KUH Perdata tidak secara

tegas mendefinisikannya, tetapi dalam pasal 1233 KUH Perdata dinyatakan

bahwa perikatan, selain lahir dari Undang-undang, juga karena perjanjian.

Dengan demikian suatu perikatan belum tentu merupakan perjanjian, sedangkan

suatu perjanjian sudah pasti merupakan suatu perikatan.

Definisi perjanjian sebagaimana pasal 1313 KUH Perdata tersebut

mendapatkan tanggapan beragam dari para sarjana hukum kita. Sofwan (1980 :

1), menyatakan bahwa definisi itu kurang lengkap lagipula terlalu luas. Kurang

lengkap karena yang dirumuskan dalam pasal itu hanya perjanjian sepihak saja,

12

dimana hanya menimbulkan kewajiban-kewajiban bagi salah satu pihak saja,

tetapi tidak meliputi perjanjian timbal balik dimana para pihak saling

mengikatkan diri untuk timbulnya hak dan kewajiban bagi para pihak. Terlalu

luas karena mencakup pula hal-hal mengenai pelangsungan perkawinan,

membuat janji kawin dan perbuatan-perbuatan semacam itu yang diatur dalam

lapangan hukum keluarga, sedangkan pengertian perjanjian yang dimaksud dalam

buku III ini adalah perjanjian di dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua

belah pihak yang menimbulkan hak dan kewajiban.

Berusaha melengkapi definisi perjanjian yang terdapat pada pasal 1313 KUH

Perdata, Setiawan (1999 : 49), mengemukakan pendapatnya bahwa :

a. Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum, yaitu perbuatan yang

bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum;

b. Perlu ditambahkan dengan kata-kata “atau saling mengikatkan dirinya” dalam

pasal 1313 KUH Perdata;

sehingga dengan saran tersebut ia memberi definisi perjanjian adalah “suatu

perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling

mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”.

Mertokusumo (2005 : 118) memberikan perumusan bahwa “perjanjian adalah

hubungan hukum antara dua orang yang bersepakat untuk menimbulkan akibat

hukum.”

Definisi yang lebih jelas dan tidak semata menekankan pada subjeknya adalah

yang dikemukakan oleh Subekti, dimana Ia memberikan perumusan bahwa,

13

“Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain

atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.”

(Subekti, 1990 : 1).

Senada dengan Subekti, lebih jauh beberapa sarjana memberikan penekanan

pada ruang lingkupnya yang berada di dalam lapangan hukum harta

benda/kekayaan.

Prodjodikoro (2000 : 4) merumuskan bahwa “perjanjian adalah suatu

perhubungan hukum mengenai harta benda antar dua pihak, dalam mana suatu

pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk

tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji

itu.”

Harahap (1986 : 6) merumuskan bahwa “perjanjian adalah suatu hubungan

hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi

kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus

mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi.

Pendapat yang justru menyamakan pengertian perjanjian dan perikatan adalah

Muljadi. Dengan menggunakan istilah perikatan, ia memberikan penjelasan,

bahwa perikatan sebagai peraturan yang mengatur mengenai hubungan hukum

antara subjek hukum dengan subjek hukum yang melahirkan kewajiban pada

salah satu subjek hukum dalam perikatan tersebut. Adanya kewajiban pada salah

satu pihak dalam hubungan hukum perikatan tersebut akan melahirkan hak pada

pihak lainnya dalam hubungan hukum perikatan tersebut (Muljadi, 2004 : 10).

14

Sedangkan Satrio (2001 : 1) mengatakan bahwa perikatan dalam arti luas

meliputi semua hubungan hukum antara dua pihak, dimana disatu pihak ada hak

dan dilain pihak ada kewajiban didalamnya termasuk semua hubungan hukum

yang muncul dari hubungan hukum dalam lapangan hukum keluarga dan hukum

acara.

Dari beberapa perumusan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa hakekat

perjanjian dan perikatan pada dasarnya adalah sama yaitu keduanya merupakan

hubungan hukum antara pihak-pihak yang diikat didalamnya, namun pengertian

perikatan jauh lebih luas dari perjanjian sebab hubungan hukum yang ada dalam

perikatan munculnya tidak hanya dari perjanjian tetapi juga dari Undang-undang.

Perbedaan lain dari keduanya adalah bahwa perjanjian pada hakekatnya

mengikat para pihak berdasar pada kesepakatan (kata sepakat) diantara mereka,

sedangkan perikatan selain mengikat karena adanya kesepakatan juga mengikat

karena diwajibkan oleh Undang-undang.

Dengan demikian keduanya juga berbeda dari konsekuensi hukumnya. Pada

perjanjian, oleh karena dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihak maka tidak

dipenuhinya prestasi dalam perjanjian akan menimbulkan ingkar janji

(wanprestasi), sedangkan tidak dipenuhinya suatu prestasi dalam perikatan

menimbulkan konsekuensi hukum sebagai perbuatan melawan hukum.

2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian

Pasal 1320 KUH Perdata merumuskan empat syarat untuk sahnya suatu

perjanjian. Keempat syarat tersebut adalah :

15

a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya;

b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan;

c. Sesuatu hal tertentu;

d. Suatu sebab yang halal.

Syarat pertama dan kedua dikualifisir sebagai syarat-syarat subjektif karena

berhubungan dengan subjek perjanjian, sedangkan syarat ketiga dan keempat

merupakan syarat objektif karena berhubungan dengan objek perjanjiannya. Jadi

sahnya suatu perjanjian haruslah memenuhi unsur-unsur subjektif dan objektif

seperti tersebut di atas.

a. Sepakat.

Sepakat diartikan sebagai pernyataan kehendak menyetujui, seia-sekata atau

persesuaian kehendak dari kedua subyek mengenai hal-hal yang pokok dari

perjanjian yang diadakan. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu, juga

dikehendaki oleh pihak yang lain, mereka menghendaki sesuatu yang sama secara

timbal-balik.

Dalam kata sepakat ini, para pihak harus mempunyai kebebasan kehendak.

Artinya dalam mencapai atau menentukan kata sepakat tersebut para pihak tidak

boleh mendapatkan sesuatu tekanan, yang mengakibatkan adanya cacat bagi

perwujudan kehendak tersebut.

Menurut Pasal 1321 KUH Perdata, ada tiga hal yang menyebabkan cacat

kehendak dalam suatu perjanjian. Ketiga hal tersebut terlihat dalam rumusan

16

pasalnya sebagai berikut “tiada kata sepakat yang sah apabila sepakat itu

diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”.

Selain karena kekhilafan (dwaling), paksaan (dwang) ataupun penipuan

(bedrog), belakangan ini juga berkembang faham bahwa cacat kehendak juga bisa

terjadi dalam hal penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden).

Penyalahgunaan keadaan berlatar belakang ketidak seimbangan keadaan

mengenai keunggulan pihak yang satu terhadap yang lain. Dalam

perkembangannya, penyalahgunaan keadaan ini bisa berwujud dalam hal

keunggulan ekonomi, ataupun keunggulan kejiwaan, sehingga dengan

keunggulan ini jika disalahgunakan oleh salah satu pihak akan melahirkan

penyalahgunaan keadaan (Widyadharma, 1995 : 17).

Menurut Nieuwenhuis dalam Panggabean (2001 : 40), penyalahgunaan

keadaan dapat terjadi jika memenuhi empat syarat, sebagai berikut :

1) Keadaan-keadaan istimewa (bijzondere omstandigheden), seperti keadaan

darurat, ketergantungan, ceroboh, jiwa yang kurang waras dan tidak

berpengalaman.

2) Suatu hal yang nyata (kenbaarheid), disyaratkan bahwa salah satu pihak

mengetahui atau semestinya mengetahui bahwa pihak lain karena keadaan

istimewa tergerak hatinya unuk menutup suatu perjanjian.

3) Penyalahgunaan (misbruik), salah satu pihak telah melaksanakan perjanjian

itu walaupun dia mengetahui atau seharusnya mengerti bahwa dia seharusnya

tidak melakukannya.

17

4) Hubungan kausal (causaal verband), adalah penting bahwa tanpa

menyalahgunakan keadaan itu maka perjanjian itu tidak akan ditutup.

Penyalahgunaan keadaan itu berhubungan dengan terjadinya perjanjian, yang

menyangkut keadaan-keadaan yang berperan untuk terjadinya suatu perjanjian

dimana memanfaatkan keadaan orang lain sedemikian rupa untuk membuat

perjanjian itu disepakati.

b. Cakap

Orang yang membuat perjanjian itu harus cakap menurut hukum. Pada

asasnya, setiap orang yang sudah dewasa atau akil-baliq dan sehat pikirannya

adalah cakap menurut hukum. Pasal 1330 KUH Perdata disebut sebagai orang-

orang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah :

1). Orang-orang yang belum dewasa;
2). Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan;
3). Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undang-
undang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa Undang-undang
telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu.

KUH Perdata menyatakan bahwa orang-orang yang belum dewasa adalah

orang-orang yang belum berumur 21 tahun dan / atau tidak telah menikah. Secara

a contrario, Satrio (1995 : 5) menyimpulkan bahwa dewasa adalah mereka yang :

1) telah berumur 21 tahun; dan

2) telah menikah, termasuk mereka yang belum berusia 21 tahun tetapi telah

menikah.

Orang didalam pengampuan juga termasuk tidak cakap. Tetapi tentang

pengampuan atau curatele ini harus diingat bahwa curatele tidak pernah terjadi

18

demi hukum, tetapi selalu harus didasarkan atas permohonan (sesuai Pasal 434

sampai dengan Pasal 445 KUH Perdata) dan ia baru mulai berlaku sejak ada

ketetapan pengadilan atas permohonan itu (Pasal 446 KUH Perdata). Satrio

menegaskan bahwa orang yang dapat ditaruh dibawah pengampuan, disebabkan

karena :

1) Gila (sakit otak), dungu (onnoozelheid), mata gelap (rezernij);

2) Lemah akal (zwakheid van vermogens); dan

3) Pemborosan (Satrio, 1995 : 5).

Sedangkan ketidak-cakapan perempuan yang telah bersuami, sejak

diundangkannya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, harus

dilihat dulu apakah ada perjanjian kawin atau tidak. Jika terdapat perjanjian kawin

yang isinya tidak ada percampuran harta sama sekali, maka ketentuan bahwa

isteri tidak cakap melakukan perbuatan hukum tidak berlaku lagi. Lain halnya jika

tidak ada perjanjian kawin maka demi hukum telah terjadi percampuran harta

bulat, sehingga dengan ini, segala perbuatan hukum apapun sepanjang

berkonsekuensi terhadap harta dalam perkawinan, isteri harus mendapatkan

persetujuan dari suaminya, atau demikian sebaliknya.

c. Suatu hal tertentu

Hal tertentu artinya adalah objek perjanjian itu sendiri, yaitu apa yang

diperjanjikan. Hak-hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian itu harus jelas

disebutkan di dalamnya. Pasal 1333 KUH Perdata menyebutkan bahwa :

19

“Suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling
sedikit ditentukan jenisnya.
Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja
jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung”.

d. Sebab yang halal

Sebab yang halal bukan berarti sesuatu hal yang menyebakan perjanjian itu

dibuat, tetapi menunjuk kepada pokok atau substansi dari apa yang diperjanjikan

itu harus halal adanya. Hukum perjanjian tidak mempermasalahkan motivasi apa

yang mencetuskan pembuatan perjanjian, tetapi kepada substansi atau isi daripada

perjanjian itu.

Konsekuensi dari tidak terpenuhinya salah satu atau kedua syarat subjektif

maka perjanjian dapat dibatalkan (vernietigbaar atau voidable). Dalam hal ini

salah satu pihak dapat memohonkan pembatalan perjanjian kepada hakim di

pengadilan negeri. Sepanjang perjanjian itu tidak dibatalkan oleh hakim, maka

menurut Subekti, perjanjian itu tetap mengikat para pihak, sepanjang ada

kesediaan para pihak (Subekti, 1990 : 20). Sedangkan jika salah satu atau kedua

syarat ojektif tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum (nietig atau

null and void). Artinya bahwa demi hukum, perjanjian itu tidak pernah lahir dan

tidak pernah ada suatu perikatan apapun.

3. Berakhirnya Perjanjian

Hapusnya perjanjian harus benar-benar dibedakan dengan hapusnya perikatan,

karena suatu perikatan dapat saja hapus sedangkan perjanjiannya yang merupakan

salah satu sumbernya masih tetap ada.

20

Perikatan jual beli misalnya, dimana didalamnya terkandung dua prestasi

perikatan yaitu perikatan untuk membayar dan perikatan untuk menyerahkan

barang (levering). Dengan dibayarnya harga jual beli, maka perikatan untuk

membayar menjadi hapus. Tetapi hal tersebut belum menghapuskan perjanjian

karena masih ada satu perikatan lagi yang belum dilakukan yaitu perikatan untuk

menyerahkan barang. Jadi perjanjian akan berakhir jika bermacam-macam

perikatan yang terdapat dalam perjanjian itu telah dilaksanakan.

Pasal 1381 KUH Perdata menyebutkan sepuluh macam alasan yang

menyebabkan perikatan-perikatan dalam suatu perjanjian berakhir. Ke-sepuluh

hal tersebut adalah :

a. karena pembayaran

b. karena penawaran pembayaran tunai disertai penitipan

c. karena pembaharuan hutang

d. karena perjumpaan hutang atau konpensasi

e. karena percampuran hutang

f. karena pembebasan hutang

g. karena musnahnya barang yang terhutang

h. karena kebatalan atau pembatalan

i. karena berlakunya syarat-syarat batal

j. karena kedaluwarsa (verjaring)

Sedangkan menurut Setiawan (1999 : 69), suatu perjanjian dapat berakhir

disebabkan karena hal-hal sebagai berikut :

21

a. Ditentukan dalam perjanjian yang dilakukan oleh para pihak.

b. Undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian, contohnya

ketentuan pasal 1066 ayat 3 jo ayat 4 KUH Perdata dimana perjanjian untuk

tidak mengadakan pemecahan harta oleh ahli waris hanya dapat dilakukan

untuk jangka waktu 5 tahun.

c. Para pihak atau Undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya

peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus, contoh perjanjian pemberian

kuasa, akan hapus dengan meninggalnya salah satu pihak (pasal 1813 KUH

Perdata).

d. Pernyataan menghentikan perjanjian. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh

kedua belah pihak untuk perjanjian-perjanjian bersifat sementara, seperti

perjanjian kerja dan atau perjanjian sewa-menyewa.

e. Perjanjian hapus karena putusan hakim.

f. Karena tujuan dari perjanjian itu telah tercapai.

g. Dengan persetujuan para pihak.

4. Wanprestasi

Secara sederhana, wanprestasi dirumuskan selain sebagai pelaksanaan

kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menurut yang

diperjanjikan, juga menunjuk kepada ketiadaan pelaksanaan prestasi oleh salah

satu pihak dalam perjanjian. Ketiadaan prestasi ini bisa terwujud dalam beberapa

bentuk, seperti berikut :

a. Tidak memenuhi prestasi sama sekali;

22

b. Terlambat dalam memenuhi prestasi;

c. Berprestasi tetapi tidak sebagaimana mestinya.

Dari bentuk-bentuk wanprestasi tersebut kadang-kadang menimbulkan

keraguan pada waktu mana debitur tidak memenuhi prestasi, apakah termasuk

tidak memenuhi prestasi sama sekali atau terlambat dalam memenuhi prestasi.

Apakah debitur sudah tidak mampu memenuhi prestasinya maka hal ini termasuk

pada yang pertama, tetapi apabila debitur masih mampu memenuhi prestasi, ia

dianggap sebagai terlambat dalam memenuhi prestasi. Bentuk ketiga adalah jika

debitur memenuhi prestasinya tetapi tidak sebagaimana mestinya atau keliru

dalam memenuhi prestasinya, apabila prestasinya masih dapat diharapkan untuk

diperbaiki maka ia dianggap terlambat tetapi jika tidak dapat diperbaiki lagi maka

ia sudah dianggap sama sekali tidak memenuhi prestasi.

Pertanyaan yang sering kali timbul dalam praktek adalah sejak kapan debitur

dianggap telah melakukan wanprestasi? Ini penting dipersoalkan karena

wanprestasi mempunyai akibat hukum yang penting bagi debitur.

Untuk mengetahui sejak kapan debitur itu wanprestasi, perlu diperhatikan

apakah dalam perjanjian itu ditentukan tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan

prestasi atau tidak.

Dalam hal tenggang waktu yang tidak ditentukan maka diperlukan suatu

tindakan hukum dari bank berupa teguran atau somasi kepada debitur. Somasi ini

dimaksudkan untuk teguran bahwa debitur telah lalai memenuhi prestasi dan

karenanya ia diingatkan agar dalam tenggang waktu tertentu (disebutkan dalam

23

somasi), debitur harus segera melaksanakan prestasinya. Ketidak taatan debitur

dalam memenuhi prestasinya sesuai tanggal yang ditentukan dalam somasi, maka

dalam hal ini debitur telah dinyatakan wanprestasi (Muhammad, 1992 : 22).

Sebaliknya jika dalam perjanjian ditentukan dengan jelas tenggang waktu

pemenuhan prestasi, maka menurut Pasal 1238 KUH Perdata, debitur dianggap

telah wanprestasi dengan lewatnya waktu yang ditentukan.

Praktek baik perbankan yang ada saat ini, walaupun umumnya masalah

wanprestasi telah diatur tenggang waktunya dalam perjanjian kredit, tetapi bank

tetap membuat somasi kepada debitur untuk menegaskan bahwa ia telah benar-

benar wanprestasi.

Lalu apa akibat hukumnya jika debitur wanprestasi? Akibat hukum bagi

debitur dalam hal ia wanprestasi adalah hukuman atau sanksi-sanksi, yang oleh

hukum telah mengatur hal ini. Sanksi-sanksi hukumnya, antara lain adalah :

a. Debitur diharuskan membayar ganti rugi yang telah diderita oleh kreditur

(Pasal 1243 KUH Perdata).

b. Debitur diwajibkan membayar biaya perkara di pengadilan, apabila karena

wanprestasinya itu sampai kepada pengadilan (Pasal 181 ayat 1 HIR).

c. Debitur wajib memenuhi perjanjian disertai pembayaran ganti rugi (Pasal

1267 KUH Perdata).

24

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->