ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK) DI PT.

BANK DANAMON INDONESIA, TBK KANTOR CABANG MANADO

Tesis untuk memenuhi sebagaian persyaratan mencapai derajat Sarjana S-2 Program Studi Magister Kenotariatan

diajukan oleh : Raimond Flora Lamandasa 18884/PS/MK/06

kepada PROGRAM PASCASARJANA UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA 2008

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis persembahkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah menganugerahkan berkat, kesehatan dan kekuatan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini dengan judul : ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK) DI PT. BANK DANAMON INDONESIA, TBK KANTOR CABANG MANADO. Tesis ini disusun guna memenuhi sebagian persyaratan dalam mencapai derajat Sarjana S-2 pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan-kekurangan dalam tesis ini, baik dalam substansi maupun sistematika penyajiannya. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna kesempurnaannya lebih lanjut. Dalam proses perkuliahan hingga pada penyusunan tesis ini, penulis telah banyak menerima dukungan moriil maupun materiil dari berbagai pihak, untuk itu melalui kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang tidak terhingga kepada semua pihak yang telah mendukung penulis dalam studi selama ini. Teristimewa, ucapan terima kasih dan penghargaan ini penulis sampaikan secara khusus kepada, yang terhormat : 1. Bapak Taufiq El Rahman, S.H., M.H., selaku Dosen Pembimbing Akademik sekaligus selaku Dosen Pembimbing Tesis, yang telah banyak membantu,

iv

memotivasi, dan memberikan waktunya dalam pembimbingan hingga selesainya tesis ini. 2. Bapak Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., L.L.M., selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada. 3. Bapak Prof. Dr. Abdul Ghofur Anshori, S.H., M.H., selaku Ketua Pengelola Program Studi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada, Bapak Prof. Dr. Sudjito, S.H., MSi., selaku Pengelola Bidang Akademik dan

Kemahasiswaan, serta Bapak Sularto, S.H., C.N., M.H., selaku Pengelolah Bidang Administrasi Umum dan Keuangan. 4. Management PT. Bank Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado, beserta staffnya di Bagian Marketing, Bagian Administrasi Kredit, Bagian Legal dan Bagian Collection, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk berdiskusi dalam pelaksanaan penelitian lapangan di sela-sela pekerjaannya masing-masing. 5. Ibu Anne Hommes dan Bapak Prof. Dr. Tj. Hommes di Maine - Amerika Serikat, yang selalu memberikan motivasi kepada penulis untuk lebih berkarya demi kemanusiaan. 6. Ibu Marie Claire Barth di Bassel - Swiss, yang juga banyak memberikan motivasi untuk keberhasilan study penulis. 7. United Church of America yang telah membantu keuangan penulis dengan beasiswa yang sangat berarti selama penulis mengikuti pendidikan Magister Kenotariatan di UGM.

v

8.

Para Guru Besar Pengasuh Mata Kuliah Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

9.

Seluruh Dosen Pengasuh Mata Kuliah Program Magister Kenotariatan, bersama staff karyawan/karyawati pada Program Studi Magister Kenotariatan.

10.

Seluruh staff karyawan/karyawati Perpustakaan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.

11.

Isteri penulis, yang tercinta Ir. Gladys Peuru, M.Si., yang dalam kesibukannya sebagai mahasiswa S3 Institut Pertanian Bogor (IPB), bersama anak-anak kami, yang tersayang : Canty Gracella Lamandasa, Cindy Daniella Lamandasa, Cinta Immanuella Lamandasa dan Chanto Joshua Lamandasa, yang dengan setia dan penuh pengertian atas keterpisahan selama studi, tekun berdoa dan selalu memotivasi penulis untuk menyelesaikan studi.

12.

Ibu bapak, kakak-kakak (Ir. Sulzofyan Lamandasa, Sherly Lamandasa, SE, MSi, Ir. Nopelius Lamandasa) dan adik penulis (Ir. Lewingston Lamandasa), serta ayah ibu mertua yang juga turut mendoakan dan memotivasi penulis agar sukses selalu dalam studi.

13.

Teman-teman MKN angkatan tahun 2006, yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

14.

Teman-teman kost di Jl. Jetisharjo No.560 Jetis II Yogyakarta. Dengan kerendahan hari, penulis berharap kiranya tesis ini dapat menjadi

masukan yang bermanfaat bagi PT. Bank Danamon Indonesia, TBk dan atau kepada siapa saja yang membutuhkan informasi sehubungan dengan materi tesis ini.

vi

Akhirnya, satu babak dalam perjalanan hidup ini tercapai sudah, telah terbuka titik awal jalan baru untuk ditempuh dalam asa perjalanan hidup ini. Semoga harap dan cita yang selalu menyemangati penulis selama ini bisa terealisasi hanya dalam Pimpinan dan Anugerah dari Tuhan Yesus Kristus, amien.

Yogyakarta, Januari 2008

Raimond Flora Lamandasa

vii

DAFTAR ISI

Halaman HALAMAN JUDUL …………………………………………………………. HALAMAN PENGESAHAN ………………………………………………. HALAMAN PERNYATAAN ………………………………………………. KATA PENGANTAR ………………………………………………………. DAFTAR ISI ………………………………………………………………… DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………………… INTISARI …………………………………………………………………… ABSTRACT ………………………………………………………………… i ii iii iv viii xi xii xiii

I. PENDAHULUAN ………………………………………………………… A. Latar Belakang.………………………………………………………… B. Perumusan Masalah …………………………………………………… C. Keaslian Penelitian …………………………………………………….. D. Tujuan Penelitian ……………………………………………………… E. Kegunaan Penelitian ……………………………………………………

1 1 8 9 9 10

II. TINJAUAN PUSTAKA …………………………………………………… A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian …………………………………... 1. Pengertian Perjanjian dan Perikatan ………………………………. 2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian …………………………………… 3. Berakhirnya Perjanjian ……………………………………………. 4. Wanprestasi ………………………………………………………..

11 11 11 14 19 21

viii

B. Tinjauan Tentang Kredit dan Perjanjian Kredit ………………………. 1. Pengertian Kredit …………………………………………………. 2. Jenis-Jenis Kredit …………………………………………………. 3. Perjanjian Kredit ………………………………………………….. 4. Kredit Bermasalah .............................…………………………….. 5. Penanganan Kredit Bermasalah .............................…………………

24 24 32 33 38 42

C. Tinjauan Tentang Jaminan ……………………………………………. 1. Pengertian Jaminan ……………………………………………….. 2. Klasifikasi Jaminan Kredit ………………………………………..

43 43 45

D. Tinjauan Tentang Gadai Sebagai Salah Satu Lembaga Jaminan …….. 1. Pengertian Gadai …………………………………………………. 2. Sifat Perjanjian Gadai Sebagai Perjanjian Accesoir .……………. 3. Hak dan Kewajiban Kreditur Pemegang Gadai …………………. 4. Hak dan Kewajiban Debitur / Penjamin Pemberi Gadai ………… 5. Berakhirnya Perjanjian Gadai …………………………………….

47 47 49 50 51 53

E. Tinjauan Tentang Deposito Sebagai Jaminan Kredit …………………. 1. Pengertian Deposito ………………………………………………. 2. Jenis-Jenis Deposito ………………………………………………. 3. Deposito Sebagai Jaminan Kredit ………………………………… 4. Tata Cara Pengikatan Deposito Sebagai Jaminan Kredit …………

53 53 55 56 57

III. CARA PENELITIAN ……………………………………………………. A. Sifat Penelitian ……………………………………………………….. B. Jenis Penelitian ……………………………………………………….. 1. Penelitian Kepustakaan ……………………………………………. 2. Penelitian Lapangan ……………………………………………….

60 60 61 61 62

ix

C. Jalannya Penelitian …………………………………………………… D. Analisa Data …………………………………………………………. E. Hambatan-Hambatan Yang Dihadapi dan Cara Mengatasinya ………

64 65 65

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN …………………………. A. Gambaran Umum PT. Bank Danamon Indonesia ……………………. 1. Sejarah Singkat PT. Bank Danamon Cabang Manado ……………. 2. Bank Danamon Kantor Cabang Manado …………………………. 3. Pencapaian Bisnis PT. Bank Danamon Cabang Manado ………….

67 67 67 71 73

B. Pelaksanaan Kredit Dengan Jaminan Deposito ……………………… 1. Hasil Penelitian ……………………………………………………. 2. Pembahasan ………………………………………………………..

74 74 88

C. Pencairan Depoito Jaminan Yang Tidak Turut Ditandatangani ……… 1. Hasil Penelitian ……………………………………………………. 2. Pembahasan ………………………………………………………..

92 92 96

V. PENUTUP ……………………………………………………………….. A. Kesimpulan …………………………………………………………... B. Saran …………………………………………………………………..

101 101 102

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………...

104

x

DAFTAR LAMPIRAN

I. Surat Perjanjian Kredit Bank Danamon Indonesia II. Surat Perjanjian Gadai Deposito Bank Danamon III. Surat Kuasa Mencairkan Deposito Jaminan Bank Danamon IV. Surat Kuasa Debet Rekening Bank Danamon

xi

ASPEK HUKUM PEMBERIAN KREDIT DENGAN JAMINAN DEPOSITO (KREDIT BACK TO BACK) DI PT. BANK DANAMON INDONESIA, TBK KANTOR CABANG MANADO Raimond Flora Lamandasa, 1 dan Taufiq El Rahman 2

INTISARI

Tujuan penelitian ini ialah : (1) untuk mengetahui bagaimana PT.Bank Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado melakukan pengikatan jaminan deposito yang perjanjiannya tidak turut ditandatangani oleh isteri atau suami pemilik deposito, dalam menjamin kredit back to back; (2) untuk mengetahui bagaimana PT.Bank Danamon Indonesia, TBk Kantor Cabang Manado melakukan pencairan deposito jaminan yang pengikatannya tidak turut ditanda tangani oleh istri atau suami pemilik deposito jika debitur kredit back to back tersebut wanprestasi. Penyusunan tesis ini dilakukan berdasarkan penelitian lapangan untuk memperoleh data primer, dan penelitian kepustakaan untuk memperoleh data sekunder, dengan masing-masing teknik pengumpulan data melalui wawancara dan studi literatur. Seluruh data kemudian dianalisis dengan metode kualitatif. Hasil penelitian ini ialah : (1) PT. Bank Danamon Indonesia, TBk, Kantor Cabang Manado melakukan pengikatan kredit dengan jaminan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin berdasarkan rekomendasi komite kredit kantor pusat atas penyimpangannya. PT.Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado tidak sepenuhnya terlindungi dengan pemberian jaminan deposito yang perjanjian jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito. (2) PT.Bank Danamon Indonesia TBk Kantor Cabang Manado mencairkan deposito jaminan untuk melunasi kredit back to back yang bermasalah, jika kreditnya tertunggak selama 14 hari dan untuk pencairan itu debitur telah diberikan Surat Peringatan 1 sampai dengan 3 untuk melunasi tunggakannya. Kata kunci : kredit back to back, deposito jaminan tidak ditanda tangani isteri atau suami, wanprestasi

1 2

Jl. Jetisharjo No.560, Jetis II, Yogyakarta Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogakarta

LEGAL ASPECT OF BACK TO BACK LOAN AT PT. BANK DANAMON INDONESIA TBK, BRANCH OF MANADO Raimond Flora Lamandasa, 1 and Taufiq El Rahman 2

ABSTRACT The aim of this research is : (1) to know how PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado engages deposit guarantee which is spouse of owner are excluded from this agreement, in guarantying back to back loan; (2) to know how PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado frees a deposit guarantee in which the engagement excludes spouse of owner if back to back loan that is guaranteed default. It based upon field research to get primary data and literature research to get secondary data, and used interview and literature study as data collecting technique. All of data was analyze with qualitative method. The results are : (1) PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado engaged loan with deposit guarantee that excluded spouse of debtor/guarantor based on recommendation of head office credit committee toward the deviation. PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado is not fully protected by giving the deposit guarantee that excluded spouse of owner. (2) PT. Bank Danamon Indonesia Tbk, Branch of Manado liquefied deposit guarantee to settled back to back loan which had problem, if the payment is delayed during 14 days and therefore debtor has been warned by Warning Letter 1 until 3 to settle the arrears.

Keywords: back to back loan, deposit guarantee with no initial of spouse, default.

1 2

Jl. Jetisharjo No. 560, Jetis II, Yogyakarta Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

BAB I PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang Pada umumnya semua negara yang sedang berkembang seperti halnya

Indonesia mempunyai program

pembangunan ekonomi yang bertujuan untuk

mensejahterakan masyarakat secara keseluruhan. Dalam konteks ini peranan perbankan menjadi sangat vital layaknya sebuah jantung dalam tubuh manusia.

Keduanya saling mempengaruhi dalam arti perbankan menjadi salah satu sumber pembiayaan yang akan mengalirkan dana bagi kegiatan ekonomi, sehingga bank yang sehat akan memperkuat kegiatan ekonomi suatu bangsa. Sebaliknya, kegiatan ekonomi yang tidak sehat, lesu atau rapuh juga akan sangat mempengaruhi tingkat kesehatan dunia perbankan. Peranan lembaga perbankan yang sangat strategis ini terus ditata dan diperbaiki dengan dikeluarkannya Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan, yang kemudian direvisi dengan Undang-undang Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan (untuk selanjutnya disebut UU Perbankan). Undang-undang ini memberikan landasan yuridis yang lebih luas dan jelas serta mempertegas jangkauan pelayanan bank terhadap segala lapisan masyarakat. Bank, menurut UU Perbankan didefinisikan sebagai “badan usaha yang

menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya

2

kepada masyarakat dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.” Sebagai lembaga kepercayaan masyarakat, bank mempunyai visi dan misi yang sangat mulia yaitu sebagai sebuah lembaga yang diberi tugas untuk mengemban amanat pembangunan bangsa demi tercapainya peningkatan taraf hidup rakyat. Untuk melaksanakan visi dan misi tersebut, bank berperan sebagai agent of intermediary, dengan menyelenggarakan fungsi-fungsi, sebagai berikut : 1. Fungsi menghimpun dana. 2. Fungsi pemberian kredit. 3. Fungsi memperlancar lalu lintas pembayaran. 4. Fungsi sebagai penyedia informasi, pemberian konsultasi dan bantuan penyelenggaraan administrasi (PT. Persero Danareksa, 1987 : 238). Dalam menjalankan kegiatan usahanya di bidang penyaluran kredit, bank dihadapkan pada permasalahan resiko yaitu resiko pengembalian kredit sehubungan dengan adanya jangka waktu antara pencairan kredit dengan pembayaran kembali. Ini berarti bahwa semakin panjang jangka waktu kredit semakin tinggi pula resiko kredit tersebut. Menghadapi resiko tersebut, pasal 2 UU Perbankan mengamanatkan suatu prinsip agar pihak perbankan dalam melakukan kegiatan usahanya harus bersasaskan demokrasi ekonomi dengan menggunakan prinsip kehati-hatian (prudential banking principle).

3

Lebih lanjut pasal 8 UU Perbankan mengarahkan bahwa ”dalam memberikan kredit, bank wajib mempunyai keyakinan atas kemampuan dan kesanggupan debitur untuk melunasi hutangnya sesuai dengan yang diperjanjikan.” Dan untuk memperoleh keyakinan tersebut, sebelum memberikan kredit, bank harus melakukan penilaian yang seksama terhadap watak, kemampuan, modal, agunan dan prospek usaha dari calon debitur. Mengingat bahwa agunan atau jaminan merupakan salah satu unsur dalam pemberian kredit dan sebagai sarana perlindungan bagi keamanan kreditur untuk adanya kepastian atas pelunasan hutang debitur, atau untuk pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur atau oleh penjamin debitur, maka meskipun berdasarkan unsur-unsur lain telah dapat diperoleh keyakinan atas kemampuan debitur mengembalikan hutangnya, jaminan tambahan atau agunan masih tetap diminta oleh pihak bank (Hasan, 1996 : 233). Untuk memberi landasan yuridis bagi kreditur dalam melaksanakan hak dan kekuasaan atas barang jaminan yang diserahkan oleh debitur atau penjamin debitur, maka atas barang jaminan tersebut lebih dahulu dilakukan pengikatan menurut

hukum yang berlaku, misalnya dengan pengikatan Hipotik, Hak Tanggungan, Fidusia, Gadai atau dengan Jaminan Perorangan (Personal Guarantee) dan Jaminan Perusahaan (Coorporate Guarantee). Menurut sifatnya, lembaga jaminan dapat dibedakan dalam bentuk jaminan perorangan (persoonlijke zekerheid) yang menimbulkan hak perseorangan; dan jaminan kebendaan (zakelijke zekerheid) yang menimbulkan hak kebendaan.

4

Jaminan perorangan adalah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada perorangan tertentu, selalu berupa suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban dari si berutang (debitur), bahkan jaminan perorangan ini dapat diadakan tanpa pengetahuan dari si berutang (debitur) tersebut sehingga jaminan perorangan menimbulkan hubungan langsung antara perorangan yang satu dengan yang lain. Termasuk dalam jaminan perorangan adalah : personal guarantee, coorporate guarantee dan atau perikatan tanggung-menanggung. Sedang jaminan kebendaan ialah jaminan yang berupa hak mutlak atas sesuatu benda dengan ciri-ciri mempunyai hubungan langsung dengan benda tertentu dari debitur atau pihak ketiga sebagai penjamin, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya dan dapat diperalihkan. Jaminan kebendaan ini selain dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya juga dapat diadakan antara

kreditur dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang (debitur) sehingga hak kebendaan ini memberikan kekuasaan yang langsung terhadap bendanya. Yang termasuk dalam jaminan kebendaan adalah : hak tanggungan, hipotik, gadai dan jaminan fidusia. Ada dua pertimbangan yang setidaknya menjadi prasyarat utama untuk sesuatu benda dapat diterima sebagai jaminan, yaitu : 1. Secured, artinya benda jaminan kredit dapat diadakan pengikatan secara yuridis formal, sesuai dengan ketentuan hukum dan perundang-undangan. Jika di

5

kemudian hari terjadi wanprestasi dari debitur, maka bank memiliki kekuatan yuridis untuk melakukan tindakan eksekusi. 2. Marketable, artinya benda jaminan tersebut bila hendak dieksekusi dapat segera dijual atau diuangkan untuk melunasi seluruh kewajiban debitur (Ibrahim, 2004 : 71). Sebagai salah satu bank yang terus menggulirkan kredit kepada masyarakat umum, PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. Kantor Cabang Manado (untuk selanjutnya disebut Bank Danamon), dalam setiap pemberian fasilitas kredit, mensyaratkan calon debitur untuk memberikan jaminan. Bank Danamon menggolongkan jaminan kredit ke dalam tiga kategori, yaitu Jaminan Utama, Jaminan Penunjang dan Jaminan Tambahan. Penggolongan jaminan tersebut didasarkan pada tingkat likuiditas dan marketabilitas jaminan itu sendiri. Yang paling likuid dan marketabel digolongkan sebagai Jaminan Utama, yang likuiditas dan marketabilitasnya sedang-sedang digolongkan sebagai Jaminan

Penunjang dan yang tingkat likuiditas dan marketabilitasnya rendah digolongkan sebagai Jaminan Tambahan. Jaminan Utama terdiri dari dana cash dari debitur atau pihak ketiga (penjamin) yang dikhususkan untuk itu (bisa berupa tabungan, giro atau deposito), emas, bank garansi dari bank lain, tanah dan bangunan yang aksesibilitasnya sangat lancar (terletak di daerah pusat bisnis dengan nilai marketabilitas yang tinggi). Jaminan Penunjang terdiri dari tanah dan bangunan atau tanah kosong yang aksesibilitasnya sedang-sedang, mesin-mesin yang dibiayai dan kendaraan bermotor (mobil). Sedangkan Jaminan Tambahan terdiri dari piutang

6

dagang atau tagihan dagang (receivables) serta persediaan barang dagangan (stock inventory) usaha debitur yang dibiayai. Bank Danamon termasuk bank yang cukup ketat dengan ketentuan rasio kecukupan jaminan atau total collateral coverage (TCC). Benda yang akan dijaminkan terlebih dahulu dilakukan penilaian (taksasi) oleh appraiser interen Bank Danamon dengan patokan harga pasar (market value), kemudian dari harga pasar tersebut dinilai lagi dengan menggunakan nilai Maximum Reliance Bank Danamon (Bank Danamon value), yang range prosentasenya berbeda-beda, sesuai jenis barang jaminannya. Dari nilai Bank Danamon inilah yang kemudian dijadikan sebagai dasar perhitungan rasio kecukupan jaminannya. Untuk jaminan dalam bentuk dana tunai dalam currency yang sama, nilai Bank Danamonnya 100 %, sedangkan jaminan berupa tanah dan bangunan, mesin-mesin serta kendaraan bermotor (mobil) maksimum nilainya hanya sampai 80 % dari

market value. Total collateral coverage suatu kredit harus mengkover minimal 125 % dari plafond kredit yang diberikan, komposisinya bisa terdiri dari total ketiga kriteria jaminan tersebut, tetapi dengan minimum nilai kecukupan Jaminan Utama 80 %. Namun kecukupan collateral coverage sebesar 125 % ini dapat dikecualikan jika jaminan yang diberikan adalah seluruhnya dalam bentuk dana cash dalam currency yang sama, yaitu sudah cukup dengan total collateral coverage-nya sebesar 100 % saja. Belakangan ini berkembang menjadi trend dalam pemberian jaminan dalam bentuk deposito. Bank Danamon, mengklasifikasikan deposito sebagai Jaminan

7

Utama, karena memiliki tingkat kepastian nominal yang sudah pasti dan likuiditasnya pun paling likuid dibanding dengan jaminan lainnya. Oleh karena itu, jika

memungkinkan,

jaminan inilah yang dimintakan kepada calon debitur untuk

diserahkan. Selain faktor kepastian dan likuiditas tersebut, alasan lain sehingga Bank Danamon, disatu sisi meminta, ataupun calon debitur, disisi lainnya, memberikan jaminan deposito atas kreditnya adalah proses persetujuan kreditnya mudah, cepat, tidak berbelit-belit serta biayanya kecil. Selebihnya adalah faktor psikologis penggunaan kredit juga turut menjadi pertimbangan nasabah dimana dengan menggunakan kredit bank, debitur pengelolaan keuangannya. Tetapi kemudian, mudah dan cepatnya proses persetujuan dan pencairan kredit dengan jaminan deposito itu, dalam banyak kasus justru menjadi salah satu sumber permasalahan hukum tersendiri bagi bank, karena debitur yang memberikan deposito sebagai jaminan, umumnya adalah debitur yang secara finansial kuat, sehingga memiliki bargaining position di mata perbankan. Menyadari bargaining merasa lebih bertanggung jawab dalam

position-nya lebih kuat dibanding dengan debitur pada umumnya, pemilik deposito selalu meminta pengecualian-pengecualian dalam pengikatan kredit dan atau jaminannya. Pengecualian yang umum diminta adalah pemilik deposito keberatan dan tidak mau jika perjanjian kredit dan perjanjian jaminan gadai depositonya turut ditanda tangani oleh isteri atau suaminya. Situasi ini menyebabkan bank berada dalam posisi sulit, memilih antara pencapaian target atau pemenuhan aspek hukum kreditnya. Dalam praktek, biasanya pertimbangan bisnis selalu mengalahkan aspek

8

hukum, sehingga sering kali aspek hukum ini khususnya dalam hal pengikatan kredit dan jaminan gadai depositonya menjadi terabaikan. Adanya tarik-menarik kepentingan, terlebih bagi bank yang tidak mau kehilangan bisnisnya, maka

terjadilah pengikatan kredit dan penjaminan deposito atas nama suami yang diikat oleh bank tanpa persetujuan isteri, atau sebaliknya. Tidak ditanda tanganinya oleh salah satu dari suami atau isteri atas perjanjian gadai deposito jaminan tersebut, menjadi potensi masalah hukum ketika debitur kredit dengan jaminan deposito

tersebut wanprestasi. Celah hukum tersebut, dapat menjadi dasar yuridis yang kuat bagi pihak yang tidak memberikan persetujuan untuk melakukan intervensi hukum dengan cara mengajukan keberatan (tuntutan) jika pencairan deposito jaminan tersebut akan dilakukan oleh bank. Tuntutannya adalah pencairan deposito jaminan tidak dapat dilakukan oleh bank karena pengikatan jaminannya sempurna dimata hukum. tidak dilakukan dengan

B. Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, penulis tertarik

melakukan penelitian dengan fokus kepada permasalahan-permasalahan sebagai berikut : 1. Bagaimana Bank Danamon melaksanakan pengikatan jaminan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito ?

9

2.

Bagaimana Bank Danamon melakukan pencairan deposito jaminan yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito jika debitur kredit yang dijamin dengan deposito tersebut wanprestasi ?

C. Keaslian Penelitian Dari penelusuran bahan pustaka yang dilakukan oleh penulis, diketahui

bahwa penelitian tentang Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit Back to Back) Di PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado, lebih khusus lagi penelitian yang fokusnya kepada pengikatan jaminan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito jaminan, belum pernah ada. Dengan demikian penelitian ini adalah penelitian yang pertama dan asli adanya, namun demikian apabila ternyata pernah dilakukan penelitian yang sama maka penelitian ini diharapkan dapat melengkapinya.

D. Tujuan Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui bagaimana Bank Danamon melaksanakan pengikatan kredit dengan jaminan deposito yang pengikatan kredit dan jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito. 2. Untuk mengetahui bagaimana proses pencairan deposito jaminan yang pengikatan kredit dan jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito jika debitur kredit yang dijamin dengan deposito tersebut wanprestasi.

10

E. Kegunaan Penelitian Hasil penelitian ini diharapkan dapat membawa kegunaan dalam hal : 1. Untuk dapat menjadi bahan masukan dan informasi bagi Bank Danamon dan para pihak tentang Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit Back to Back) yang pengikatan deposito jaminannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito. 2. Untuk melengkapi literatur dan bahan diskusi tentang kredit dengan jaminan deposito (kredit back to back) dan sebagai bahan acuan bagi peneliti lain yang tertarik pada tema yang sama.

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan Umum Tentang Perjanjian 1. Pengertian Perjanjian dan Perikatan Pengaturan tentang hukum perjanjian di Indonesia terdapat dalam Buku III Bab Kedua, Bagian Kesatu sampai dengan Bagian Keempat Kitab Undangundang Hukum Perdata (untuk selanjutnya disebut KUH Perdata) dibawah titel Tentang Perikatan, mulai dari pasal 1233 sampai dengan pasal 1864. Kata “perjanjian” dan “perikatan” merupakan dua istilah yang dikenal dalam KUH Perdata. Pasal 1313 KUH Perdata, memberikan definisi bahwa “perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Sedangkan tentang perikatan, sekalipun dalam KUH Perdata tidak secara tegas mendefinisikannya, tetapi dalam pasal 1233 KUH Perdata dinyatakan bahwa perikatan, selain lahir dari Undang-undang, juga karena perjanjian. Dengan demikian suatu perikatan belum tentu merupakan perjanjian, sedangkan suatu perjanjian sudah pasti merupakan suatu perikatan. Definisi perjanjian sebagaimana pasal 1313 KUH Perdata tersebut

mendapatkan tanggapan beragam dari para sarjana hukum kita. Sofwan (1980 : 1), menyatakan bahwa definisi itu kurang lengkap lagipula terlalu luas. Kurang lengkap karena yang dirumuskan dalam pasal itu hanya perjanjian sepihak saja,

12

dimana hanya menimbulkan kewajiban-kewajiban bagi salah satu pihak saja, tetapi tidak meliputi perjanjian timbal balik dimana para pihak saling mengikatkan diri untuk timbulnya hak dan kewajiban bagi para pihak. Terlalu luas karena mencakup pula hal-hal mengenai pelangsungan perkawinan,

membuat janji kawin dan perbuatan-perbuatan semacam itu yang diatur dalam lapangan hukum keluarga, sedangkan pengertian perjanjian yang dimaksud dalam buku III ini adalah perjanjian di dalam lapangan hukum harta kekayaan antara dua belah pihak yang menimbulkan hak dan kewajiban. Berusaha melengkapi definisi perjanjian yang terdapat pada pasal 1313 KUH Perdata, Setiawan (1999 : 49), mengemukakan pendapatnya bahwa : a. Perbuatan harus diartikan sebagai perbuatan hukum, yaitu perbuatan yang bertujuan untuk menimbulkan akibat hukum; b. Perlu ditambahkan dengan kata-kata “atau saling mengikatkan dirinya” dalam pasal 1313 KUH Perdata; sehingga dengan saran tersebut ia memberi definisi perjanjian adalah “suatu perbuatan hukum, dimana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya atau saling mengikatkan dirinya terhadap satu orang lain atau lebih”. Mertokusumo (2005 : 118) memberikan perumusan bahwa “perjanjian adalah hubungan hukum antara dua orang yang bersepakat untuk menimbulkan akibat hukum.” Definisi yang lebih jelas dan tidak semata menekankan pada subjeknya adalah yang dikemukakan oleh Subekti, dimana Ia memberikan perumusan bahwa,

13

“Perjanjian adalah suatu peristiwa dimana seorang berjanji kepada seorang lain atau dimana dua orang itu saling berjanji untuk melaksanakan sesuatu hal.” (Subekti, 1990 : 1). Senada dengan Subekti, lebih jauh beberapa sarjana memberikan penekanan pada ruang lingkupnya yang berada di dalam lapangan hukum harta benda/kekayaan. Prodjodikoro (2000 : 4) merumuskan bahwa “perjanjian adalah suatu perhubungan hukum mengenai harta benda antar dua pihak, dalam mana suatu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau untuk tidak melakukan sesuatu hal, sedang pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.” Harahap (1986 : 6) merumuskan bahwa “perjanjian adalah suatu hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih, yang memberi

kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi. Pendapat yang justru menyamakan pengertian perjanjian dan perikatan adalah Muljadi. Dengan menggunakan istilah perikatan, ia memberikan penjelasan, bahwa perikatan sebagai peraturan yang mengatur mengenai hubungan hukum antara subjek hukum dengan subjek hukum yang melahirkan kewajiban pada salah satu subjek hukum dalam perikatan tersebut. Adanya kewajiban pada salah satu pihak dalam hubungan hukum perikatan tersebut akan melahirkan hak pada pihak lainnya dalam hubungan hukum perikatan tersebut (Muljadi, 2004 : 10).

14

Sedangkan Satrio (2001 : 1) mengatakan bahwa perikatan dalam arti luas meliputi semua hubungan hukum antara dua pihak, dimana disatu pihak ada hak dan dilain pihak ada kewajiban didalamnya termasuk semua hubungan hukum yang muncul dari hubungan hukum dalam lapangan hukum keluarga dan hukum acara. Dari beberapa perumusan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa hakekat perjanjian dan perikatan pada dasarnya adalah sama yaitu keduanya merupakan hubungan hukum antara pihak-pihak yang diikat didalamnya, namun pengertian perikatan jauh lebih luas dari perjanjian sebab hubungan hukum yang ada dalam perikatan munculnya tidak hanya dari perjanjian tetapi juga dari Undang-undang. Perbedaan lain dari keduanya adalah bahwa perjanjian pada hakekatnya

mengikat para pihak berdasar pada kesepakatan (kata sepakat) diantara mereka, sedangkan perikatan selain mengikat karena adanya kesepakatan juga mengikat karena diwajibkan oleh Undang-undang. Dengan demikian keduanya juga berbeda dari konsekuensi hukumnya. Pada perjanjian, oleh karena dasar perjanjian adalah kesepakatan para pihak maka tidak dipenuhinya prestasi dalam perjanjian akan menimbulkan ingkar janji (wanprestasi), sedangkan tidak dipenuhinya suatu prestasi dalam perikatan menimbulkan konsekuensi hukum sebagai perbuatan melawan hukum. 2. Syarat Sahnya Suatu Perjanjian Pasal 1320 KUH Perdata merumuskan empat syarat untuk sahnya suatu perjanjian. Keempat syarat tersebut adalah :

15

a. Sepakat mereka yang mengikatkan dirinya; b. Kecakapan untuk membuat suatu perikatan; c. Sesuatu hal tertentu; d. Suatu sebab yang halal. Syarat pertama dan kedua dikualifisir sebagai syarat-syarat subjektif karena berhubungan dengan subjek perjanjian, sedangkan syarat ketiga dan keempat merupakan syarat objektif karena berhubungan dengan objek perjanjiannya. Jadi sahnya suatu perjanjian haruslah memenuhi unsur-unsur subjektif dan objektif seperti tersebut di atas. a. Sepakat. Sepakat diartikan sebagai pernyataan kehendak menyetujui, seia-sekata atau persesuaian kehendak dari kedua subyek mengenai hal-hal yang pokok dari perjanjian yang diadakan. Apa yang dikehendaki oleh pihak yang satu, juga dikehendaki oleh pihak yang lain, mereka menghendaki sesuatu yang sama secara timbal-balik. Dalam kata sepakat ini, para pihak harus mempunyai kebebasan kehendak. Artinya dalam mencapai atau menentukan kata sepakat tersebut para pihak tidak boleh mendapatkan sesuatu tekanan, yang mengakibatkan adanya cacat bagi perwujudan kehendak tersebut. Menurut Pasal 1321 KUH Perdata, ada tiga hal yang menyebabkan cacat kehendak dalam suatu perjanjian. Ketiga hal tersebut terlihat dalam rumusan

16

pasalnya sebagai berikut

“tiada kata sepakat yang sah apabila sepakat itu

diberikan karena kekhilafan, atau diperolehnya dengan paksaan atau penipuan”. Selain karena kekhilafan (dwaling), paksaan (dwang) ataupun penipuan (bedrog), belakangan ini juga berkembang faham bahwa cacat kehendak juga bisa terjadi dalam hal penyalahgunaan keadaan (misbruik van omstandigheden). Penyalahgunaan keadaan berlatar belakang ketidak seimbangan keadaan mengenai keunggulan pihak yang satu terhadap yang lain. Dalam

perkembangannya, penyalahgunaan keadaan ini bisa berwujud dalam hal keunggulan ekonomi, ataupun keunggulan kejiwaan, sehingga dengan

keunggulan ini jika disalahgunakan oleh salah satu pihak akan melahirkan penyalahgunaan keadaan (Widyadharma, 1995 : 17). Menurut Nieuwenhuis dalam Panggabean (2001 : 40), penyalahgunaan keadaan dapat terjadi jika memenuhi empat syarat, sebagai berikut : 1) Keadaan-keadaan istimewa (bijzondere omstandigheden), seperti keadaan darurat, ketergantungan, ceroboh, jiwa yang kurang waras dan tidak berpengalaman. 2) Suatu hal yang nyata (kenbaarheid), disyaratkan bahwa salah satu pihak mengetahui atau semestinya mengetahui bahwa pihak lain karena keadaan istimewa tergerak hatinya unuk menutup suatu perjanjian. 3) Penyalahgunaan (misbruik), salah satu pihak telah melaksanakan perjanjian itu walaupun dia mengetahui atau seharusnya mengerti bahwa dia seharusnya tidak melakukannya.

17

4) Hubungan

kausal

(causaal

verband),

adalah

penting

bahwa

tanpa

menyalahgunakan keadaan itu maka perjanjian itu tidak akan ditutup. Penyalahgunaan keadaan itu berhubungan dengan terjadinya perjanjian, yang menyangkut keadaan-keadaan yang berperan untuk terjadinya suatu perjanjian dimana memanfaatkan perjanjian itu disepakati. b. Cakap Orang yang membuat perjanjian itu harus cakap menurut hukum. Pada asasnya, setiap orang yang sudah dewasa atau akil-baliq dan sehat pikirannya adalah cakap menurut hukum. Pasal 1330 KUH Perdata disebut sebagai orangorang yang tidak cakap untuk membuat suatu perjanjian adalah : 1). Orang-orang yang belum dewasa; 2). Mereka yang ditaruh dibawah pengampuan; 3). Orang-orang perempuan, dalam hal-hal yang ditetapkan oleh Undangundang, dan pada umumnya semua orang kepada siapa Undang-undang telah melarang membuat perjanjian-perjanjian tertentu. KUH Perdata menyatakan bahwa orang-orang yang belum dewasa adalah orang-orang yang belum berumur 21 tahun dan / atau tidak telah menikah. Secara a contrario, Satrio (1995 : 5) menyimpulkan bahwa dewasa adalah mereka yang : 1) telah berumur 21 tahun; dan 2) telah menikah, termasuk mereka yang belum berusia 21 tahun tetapi telah menikah. Orang didalam pengampuan juga termasuk tidak cakap. Tetapi tentang pengampuan atau curatele ini harus diingat bahwa curatele tidak pernah terjadi keadaan orang lain sedemikian rupa untuk membuat

18

demi hukum, tetapi selalu harus didasarkan atas permohonan (sesuai Pasal 434 sampai dengan Pasal 445 KUH Perdata) dan ia baru mulai berlaku sejak ada ketetapan pengadilan atas permohonan itu (Pasal 446 KUH Perdata). Satrio menegaskan bahwa orang yang dapat ditaruh dibawah pengampuan, disebabkan karena : 1) Gila (sakit otak), dungu (onnoozelheid), mata gelap (rezernij); 2) Lemah akal (zwakheid van vermogens); dan 3) Pemborosan (Satrio, 1995 : 5). Sedangkan ketidak-cakapan perempuan yang telah bersuami, sejak

diundangkannya Undang-undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, harus dilihat dulu apakah ada perjanjian kawin atau tidak. Jika terdapat perjanjian kawin yang isinya tidak ada percampuran harta sama sekali, maka ketentuan bahwa isteri tidak cakap melakukan perbuatan hukum tidak berlaku lagi. Lain halnya jika tidak ada perjanjian kawin maka demi hukum telah terjadi percampuran harta bulat, sehingga dengan ini, segala perbuatan hukum apapun sepanjang berkonsekuensi terhadap harta dalam perkawinan, isteri harus mendapatkan persetujuan dari suaminya, atau demikian sebaliknya. c. Suatu hal tertentu Hal tertentu artinya adalah objek perjanjian itu sendiri, yaitu apa yang diperjanjikan. Hak-hak dan kewajiban yang timbul dari perjanjian itu harus jelas disebutkan di dalamnya. Pasal 1333 KUH Perdata menyebutkan bahwa :

19

“Suatu perjanjian harus mempunyai sebagai pokok suatu barang yang paling sedikit ditentukan jenisnya. Tidaklah menjadi halangan bahwa jumlah barang tidak tentu, asal saja jumlah itu terkemudian dapat ditentukan atau dihitung”. d. Sebab yang halal Sebab yang halal bukan berarti sesuatu hal yang menyebakan perjanjian itu dibuat, tetapi menunjuk kepada pokok atau substansi dari apa yang diperjanjikan itu harus halal adanya. Hukum perjanjian tidak mempermasalahkan motivasi apa yang mencetuskan pembuatan perjanjian, tetapi kepada substansi atau isi daripada perjanjian itu. Konsekuensi dari tidak terpenuhinya salah satu atau kedua syarat subjektif maka perjanjian dapat dibatalkan (vernietigbaar atau voidable). Dalam hal ini salah satu pihak dapat memohonkan pembatalan perjanjian kepada hakim di pengadilan negeri. Sepanjang perjanjian itu tidak dibatalkan oleh hakim, maka menurut Subekti, perjanjian itu tetap mengikat para pihak, sepanjang ada kesediaan para pihak (Subekti, 1990 : 20). Sedangkan jika salah satu atau kedua syarat ojektif tidak terpenuhi maka perjanjian itu batal demi hukum (nietig atau null and void). Artinya bahwa demi hukum, perjanjian itu tidak pernah lahir dan tidak pernah ada suatu perikatan apapun. 3. Berakhirnya Perjanjian Hapusnya perjanjian harus benar-benar dibedakan dengan hapusnya perikatan, karena suatu perikatan dapat saja hapus sedangkan perjanjiannya yang merupakan salah satu sumbernya masih tetap ada.

20

Perikatan jual beli misalnya, dimana didalamnya terkandung dua prestasi perikatan yaitu perikatan untuk membayar dan perikatan untuk menyerahkan barang (levering). Dengan dibayarnya harga jual beli, maka perikatan untuk membayar menjadi hapus. Tetapi hal tersebut belum menghapuskan perjanjian karena masih ada satu perikatan lagi yang belum dilakukan yaitu perikatan untuk menyerahkan barang. Jadi perjanjian akan berakhir jika bermacam-macam perikatan yang terdapat dalam perjanjian itu telah dilaksanakan. Pasal 1381 KUH Perdata menyebutkan sepuluh macam alasan yang menyebabkan perikatan-perikatan dalam suatu perjanjian berakhir. Ke-sepuluh hal tersebut adalah : a. karena pembayaran b. karena penawaran pembayaran tunai disertai penitipan c. karena pembaharuan hutang d. karena perjumpaan hutang atau konpensasi e. karena percampuran hutang f. karena pembebasan hutang g. karena musnahnya barang yang terhutang h. karena kebatalan atau pembatalan i. karena berlakunya syarat-syarat batal j. karena kedaluwarsa (verjaring) Sedangkan menurut Setiawan (1999 : 69), suatu perjanjian dapat berakhir disebabkan karena hal-hal sebagai berikut :

21

a. Ditentukan dalam perjanjian yang dilakukan oleh para pihak. b. Undang-undang menentukan batas berlakunya suatu perjanjian, contohnya ketentuan pasal 1066 ayat 3 jo ayat 4 KUH Perdata dimana perjanjian untuk tidak mengadakan pemecahan harta oleh ahli waris hanya dapat dilakukan untuk jangka waktu 5 tahun. c. Para pihak atau Undang-undang dapat menentukan bahwa dengan terjadinya peristiwa tertentu maka perjanjian akan hapus, contoh perjanjian pemberian kuasa, akan hapus dengan meninggalnya salah satu pihak (pasal 1813 KUH Perdata). d. Pernyataan menghentikan perjanjian. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh kedua belah pihak untuk perjanjian-perjanjian bersifat sementara, seperti perjanjian kerja dan atau perjanjian sewa-menyewa. e. Perjanjian hapus karena putusan hakim. f. Karena tujuan dari perjanjian itu telah tercapai. g. Dengan persetujuan para pihak. 4. Wanprestasi Secara sederhana, wanprestasi dirumuskan selain sebagai pelaksanaan kewajiban yang tidak tepat pada waktunya atau dilakukan tidak menurut yang diperjanjikan, juga menunjuk kepada ketiadaan pelaksanaan prestasi oleh salah satu pihak dalam perjanjian. Ketiadaan prestasi ini bisa terwujud dalam beberapa bentuk, seperti berikut : a. Tidak memenuhi prestasi sama sekali;

22

b. Terlambat dalam memenuhi prestasi; c. Berprestasi tetapi tidak sebagaimana mestinya. Dari bentuk-bentuk wanprestasi tersebut kadang-kadang menimbulkan keraguan pada waktu mana debitur tidak memenuhi prestasi, apakah termasuk tidak memenuhi prestasi sama sekali atau terlambat dalam memenuhi prestasi. Apakah debitur sudah tidak mampu memenuhi prestasinya maka hal ini termasuk pada yang pertama, tetapi apabila debitur masih mampu memenuhi prestasi, ia dianggap sebagai terlambat dalam memenuhi prestasi. Bentuk ketiga adalah jika debitur memenuhi prestasinya tetapi tidak sebagaimana mestinya atau keliru dalam memenuhi prestasinya, apabila prestasinya masih dapat diharapkan untuk diperbaiki maka ia dianggap terlambat tetapi jika tidak dapat diperbaiki lagi maka ia sudah dianggap sama sekali tidak memenuhi prestasi. Pertanyaan yang sering kali timbul dalam praktek adalah sejak kapan debitur dianggap telah melakukan wanprestasi? Ini penting dipersoalkan karena wanprestasi mempunyai akibat hukum yang penting bagi debitur. Untuk mengetahui sejak kapan debitur itu wanprestasi, perlu diperhatikan apakah dalam perjanjian itu ditentukan tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi atau tidak. Dalam hal tenggang waktu yang tidak ditentukan maka diperlukan suatu tindakan hukum dari bank berupa teguran atau somasi kepada debitur. Somasi ini dimaksudkan untuk teguran bahwa debitur telah lalai memenuhi prestasi dan karenanya ia diingatkan agar dalam tenggang waktu tertentu (disebutkan dalam

23

somasi), debitur harus segera melaksanakan prestasinya. Ketidak taatan debitur dalam memenuhi prestasinya sesuai tanggal yang ditentukan dalam somasi, maka dalam hal ini debitur telah dinyatakan wanprestasi (Muhammad, 1992 : 22). Sebaliknya jika dalam perjanjian ditentukan dengan jelas tenggang waktu pemenuhan prestasi, maka menurut Pasal 1238 KUH Perdata, debitur dianggap telah wanprestasi dengan lewatnya waktu yang ditentukan. Praktek baik perbankan yang ada saat ini, walaupun umumnya masalah wanprestasi telah diatur tenggang waktunya dalam perjanjian kredit, tetapi bank tetap membuat somasi kepada debitur untuk menegaskan bahwa ia telah benarbenar wanprestasi. Lalu apa akibat hukumnya jika debitur wanprestasi? Akibat hukum bagi debitur dalam hal ia wanprestasi adalah hukuman atau sanksi-sanksi, yang oleh hukum telah mengatur hal ini. Sanksi-sanksi hukumnya, antara lain adalah : a. Debitur diharuskan membayar ganti rugi yang telah diderita oleh kreditur (Pasal 1243 KUH Perdata). b. Debitur diwajibkan membayar biaya perkara di pengadilan, apabila karena wanprestasinya itu sampai kepada pengadilan (Pasal 181 ayat 1 HIR). c. Debitur wajib memenuhi perjanjian disertai pembayaran ganti rugi (Pasal 1267 KUH Perdata).

24

B. Tinjauan Tentang Kredit dan Perjanjian Kredit 1. Pengertian Kredit Kata kredit berasal dari bahasa Romawi “credere” yang artinya “percaya”. Dalam bahasa Belanda istilahnya “vertrouwen”, dalam bahasa Inggeris “believe” atau “trust” atau “confidence”, yang kesemuanya berarti percaya (Badrulzaman, 1991 : 23). Jika dihubungkan dengan bank, maka terkandung pengertian bahwa bank selaku pemberi kredit percaya untuk meminjamkan sejumlah uang kepada nasabah karena debitur dapat dipercaya kemampuannya untuk membayar lunas pinjamannya setelah jangka waktu tertentu. Dalam masyarakat umum, istilah kredit sudah tidak asing lagi dan bahkan dapat dikatakan populer dan merakyat, sehingga dalam bahasa sehari-hari sudah dicampur-adukan begitu saja dengan istilah hutang. Tetapi, sungguhpun kata kredit sudah berkembang kemana-mana, dalam tahap apapun dan kemanapun arah perkembangannya, dalam setiap kata kredit tetap mengandung unsur “kepercayaan”, kepercayaan. Simorangkir (1988 : 91) merumuskan bahwa “kredit adalah pemberian prestasi (misalnya uang dan barang) dengan balas prestasi (kontra prestasi), akan terjadi pada waktu mendatang.” UU Perbankan menggunakan dua istilah yang berbeda yaitu “kredit” dan “pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”. Penggunaan kedua istilah itu walaupun sebenarnya kredit itu bukan hanya sekedar

25

disesuaikan dengan dinamika perkembangan perbankan saat ini dimana selain bank-bank yang menjalankan usaha secara konvensional berkembang juga bankbank berdasarkan prinsip syariah. Bank yang menjalankan usahanya secara konvensional menyebutnya sebagai “kredit”, sedangkan bank yang menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip syariah menggunakan istilah “pembiayaan berdasarkan prinsip syariah”. Pasal 1 angka (11) UU Perbankan memberikan definisi tentang kredit : “Kredit adalah penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam untuk melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan pemberian bunga”. Sedangkan tentang pembiayaan berdasarkan prinsip syariah, dirumuskan dalam Pasal 1 angka (12) UU Perbankan, sebagai berikut : “Pembiayaan berdasarkan prinsip syariah adalah penyediaan uang atau tagihan yang dipersamakan dengan itu berdasarkan persetujuan atau kesepakatan antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak yang dibiayai untuk mengembalikan uang atau tagihan tersebut setelah jangka waktu tertentu dengan imbalan atau bagi hasil.” Berdasarkan rumusan pengertian kedua istilah tersebut, perbedaannya terletak pada bentuk kontra prestasi yang akan diberikan oleh nasabah peminjam (debitur) kepada pihak bank selaku kreditur atas pemberian kredit atau pembiayaan dimaksud. Pada bank dengan prinsip konvensional kontra prestasi yang diberikan debitur adalah berupa “bunga”, sedangkan pada bank dengan prinsip syariah kontra prestasinya berupa imbalan atau bagi hasil sesuai dengan kesepakatan bersama.

26

Dengan demikian, kredit dan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah merupakan perjanjian pinjam-meminjam (uang) yang dilakukan antara bank dengan pihak lain dalam hal ini nasabah peminjam dana. Perjanjian mana dibuat atas dasar kepercayaan bahwa peminjam dalam tenggang waktu tertentu akan melunasi atau mengembalikan uang atau tagihan tersebut kepada bank disertai bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan. Dari pengertian-pengertian di atas terlihat dengan jelas adanya beberapa unsur kredit. Tentang hal ini, Suyatno (2003 : 14) mengemukakan bahwa unsur-unsur kredit adalah sebagai berikut : a. Kepercayaan, yaitu keyakinan dari si pemberi kredit bahwa prestasi yang diberikannya baik dalam bentuk uang, barang atau jasa akan benar-benar diterimanya kembali dalam jangka waktu tertentu dimasa yang akan datang. b. Tenggang waktu, yaitu suatu masa yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontra prestasi yang akan diterimanya pada masa yang akan datang. c. Degree of risk, yaitu tingkat resiko yang akan dihadapi sebagai akibat dari adanya jangka waktu yang memisahkan antara pemberian prestasi dengan kontra prestasi yang akan diterima dikemudian hari. Semakin lama kredit diberikan berarti semakin tinggi pula tingkat resikonya. d. Prestasi atau objek kredit tidak saja diberikan dalam bentuk uang tetapi juga dalam bentuk barang atau jasa. Namun karena kehidupan ekonomi modern

27

sekarang ini didasarkan kepada uang, maka transaksi-transaksi kredit dalam bentuk uanglah yang lazim dalam praktek perkreditan. Tanpa mengenyampingkan unsur-unsur yang lain, unsur terpenting dalam suatu pemberian kredit adalah kepercayaan. Untuk memperoleh kepercayaan tersebut haruslah sampai pada suatu keyakinan sejauh mana konsep penilaian kredit dapat terpenuhi dengan baik. Menurut Halle (1983 : 54), jika seorang bankir memberikan pinjaman kepada perorangan atau perusahaan, bankir tersebut membutuhkan penilaian kredit dalam bentuk analisis kredit untuk membantu menentukan resiko yang ada atau yang mungkin terjadi dari pinjaman yang diberikan. penting, karena berguna untuk : a. Menentukan berbagai resiko yang akan dihadapi oleh bank dalam memberikan kredit kepada seseorang atau badan usaha. b. Mengantisipasi kemungkinan pelunasan kredit tersebut karena bank telah mengetahui kemampuan pelunasan melalui analisis cashflow usaha debitur. c. Mengetahui jenis kredit, jumlah kredit dan jangka waktu kredit yang dibutuhkan oleh usaha debitur, sehingga bank dapat melakukan penyesuaian dengan struktur dana yang dipersiapkan untuk digunakan. d. Mengetahui kemampuan dan kemauan debitur untuk melunasi kreditnya, baik dari sumber pelunasan primer maupun sekunder. Untuk itu analisis kredit amat

28

Untuk memperoleh kepercayaan kepada calon debitur, umumnya perbankan menggunakan instrument analisa kredit yang terkenal dengan nama azas “the five of credit” , yaitu : a. Character (karakter). b. Capacity (kemampuan). c. Capital (modal). d. Collateral (jaminan). e. Condition of Economy (kondisi ekonomi). Oleh Henderson dan Maness (1989 : 67) menjelaskan secara singkat konsep “5 C” tersebut adalah : a. Character (watak). Adalah adanya keyakinan dari pihak bank bahwa calon debitur mempunyai moral, watak ataupun sifat yang dapat dipercaya, hal ini tercermin dari latar belakang debitur, baik yang bersifat latar belakang pekerjaan maupun yang bersifat pribadi seperti cara hidup atau gaya hidup yang dianut dalam keluarga. Oleh karena itu petugas bank mengadakan penyelidikan secara mendalam dengan jalan mencari informasi dari orang-orang yang berada dalam lingkungan pergaulannya dan hal tersebut akan sangat berpengaruh pada pelunasan kreditnya. b. Capacity (kemampuan) Merupakan gambaran mengenai kemampuan calon debitur untuk memenuhi kewajiban-kewajibannya, kemampuan debitur untuk mencari dan

29

mengkombinasikan resources yang terkait dengan bidang usaha, kemampuan memproduksi barang dan jasa yang dapat memenuhi tuntutan kebutuhan konsumen/pasar. Disamping itu juga kemampuan untuk mengantisipasi variabel dari cashflow usaha, sehingga cashflow tersebut dapat menjadi sumber pelunasan kredit yang utama sesuai dengan jadwal yang sudah disetujui bersama. c. Capital (modal) Penilaian pada aspek ini diarahkan pada kondisi keuangan nasabah, yang terdiri dari aktiva lancar (current assets) yang tertanam dalam bisnis dikurangi dengan kewajiban lancar (current liabilities) yang disebut dengan modal kerja (working capital); dan modal yang tertanam pada aktiva jangka panjang dan aktiva lain-lain. Analisis capital itu dimaksudkan untuk menggambarkan struktur modal (capital structure) debitur, sehingga bank dapat melihat modal debitur sendiri yang tertanam pada bisnisnya dan berapa jumlah yang berasal dari pihak lain (kreditur dan supplier). Bank harus mengetahui “debt to equity ratio”, yaitu berapa besarnya seluruh hutang debitur dibandingkan dengan seluruh modal dan cadangan perusahaan serta likuiditas perusahaan. d. Collateral (jaminan) Collateral adalah jaminan kredit yang mempertinggi tingkat keyakinan bank bahwa debitur dengan bisnisnya mampu melunasi kredit, dimana agunan ini berupa jaminan pokok maupun jaminan tambahan yang berfungsi untuk menjamin pelunasan utang jika ternyata dikemudian hari debitur tidak

30

melunasi utangnya. Debitur menjanjikan akan menyerahkan sejumlah hartanya untuk pelunasan utang menurut ketentuan perundang-undangan yang berlaku, apabila dalam waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utangnya. Jaminan tambahan ini dapat berupa kekayaan milik debitur atau pihak ketiga. e. Condition of Economy (kondisi ekonomi) Kondisi yang mempersyaratkan bahwa kegiatan usaha debitur mampu mengikuti fluktuasi ekonomi, baik dalam negeri maupun luar negeri, dan usaha masih mempunyai prospek kedepan selama kredit masih dinikmati debitur. Termasuk juga analisis terhadap kemampuan usaha debitur dalam menghadapi situasi perekonomian yang mungkin tiba-tiba berubah diluar dugaan semula. Untuk mempertajam analisa, terutama terhadap permohonan kredit dalam jumlah besar, menurut Henderson dan Maness (1989 : 79) perlu ditambahkan dengan kriteria “5 P Principles”, sebagai berikut : a. Purpose Ini merupakan penilaian terhadap maksud permohonan kredit dari calon debitur agar penggunaan jumlah atau jenis kredit tersebut terarah, aman dan produktif serta membawa manfaat bagi pengusaha, masyarakat, bank dan otorita moneter.

31

b. People Adalah penilaian yang dilakukan terhadap calon debitur tentang siapa mitra usahanya, orang atau lembaga yang mem-backup debitur, customer dan supplier, yang kesemuanya sangat penting dalam menunjang kegiatan usaha calon debitur. c. Protection Bilamana usaha debitur mengalami kegagalan, bank sudah harus terlindungi dengan baik dari kesulitan penyelesaian kreditnya, dan bank harus mempunyai alternatif penyelesaian dengan agunan yang dikuasai dan pengikatan yuridis sesuai ketentuan yang berlaku. d. Payment Penilaian juga harus dilakukan terhadap sumber-sumber pelunasan primer dan sekunder, sehingga peta pelunasan (roadmap repayment) dan kemungkinan penyelesaian kredit dapat dilaksanakan tanpa kesulitan. Ini berkaitan dengan casflow perusahaan dan variabel yang mempengaruhinya, sehingga akan lebih jelas bagaimana posisi cash in dan cash out, yang menggambarkan apakah perusahaan mengalami likuiditas usaha yang baik atau tidak. e. Perspective Posisi usaha debitur pada waktu yang akan datang apakah mampu mengikuti kondisi ekonomi, keuangan dan fiskal. Ini berarti merupakan proyeksi perbandingan resiko dan cashflow perusahaan. Perspektif ini dinilai dengan menggunakan kriteria :

32

1) Return, yaitu hasil usaha yang akan dicapai dari kegiatan yang mendapatkan pembiayaan tersebut; 2) Repayment, yaitu perhitungan pengembalian dana dari kegiatan yang mendapatkan pembiayaan kredit; 3) Risk Bearing Ability, yaitu perhitungan besarnya kemampuan debitur dalam menghadapi resiko yang tidak terduga. 2. Jenis-Jenis Kredit Praktek perbankan yang ada, umumnya bank-bank menggolongkan kredit ke dalam dua jenis kredit, yaitu berdasarkan jangka waktu (term) dan berdasarkan tujuan atau penggunaan kredit (utility of loan). Berdasarkan jangka waktu (term of loan), kredit dibagi dalam : a. Kredit jangka waktu pendek (short-term loan), yaitu kredit dengan jangka waktu tidak lebih dari 1 tahun. b. Kredit jangka menengah (middle-term loan), yaitu kredit dengan jangka waktu 1-3 tahun. c. Kredit jangka panjang (long-term loan), yaitu kredit dengan jangka waktu lebih dari 3 tahun. Sedangkan berdasarkan tujuan penggunaan kredit (utility of loan), dibedakan menjadi : a. Kredit konsumtif, yaitu kredit kepada orang perorangan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Contohnya Kredit Pemilikan Rumah (KPR),

33

Kredit Pemilikan Mobil (KPM), Kredit Pemilikan Sepeda Motor (KPSM) dan lain sebagainya. b. Kredit Produktif, yaitu kredit yang diberikan untuk pembiayaan usaha-usaha produktif. Kredit produktif ini umumnya dibedakan lagi menjadi : 1) Kredit investasi, yaitu kredit untuk pengadaan barang modal atau jasa bagi usaha debitur; 2) Kredit modal kerja, yaitu kredit untuk pembiayaan modal kerja usahausaha debitur, termasuk untuk pembiayaan biaya produksi atau penjualannya; 3) Kredit likuiditas, yaitu kredit dari Bank Indonesia yang diperuntukan bagi bank-bank pemerintah maupun swasta guna disalurkan kembali ke berbagai sektor. 3. Perjanjian Kredit Pengertian ataupun rumusan perjanjian kredit tidak diatur secara khusus

dalam Undang-undang Perbankan No.10 tahun 1998, maupun dalam KUH Perdata. Oleh karena itu untuk memahami pengertian perjanjian kredit perlu dikemukakan pendapat para sarjana. Beberapa sarjana hukum, seperti Subekti (1991 : 3) berpendapat bahwa “dalam bentuk apapun juga pemberian kredit itu diadakan, dalam semuanya itu pada hakekatnya yang terjadi adalah suatu perjanjian pinjam-meminjam sebagaimana diatur dalam Pasal 1754 sampai dengan Pasal 1769 KUH Perdata.”

34

Pendapat senada juga dikemukakan oleh Hay (1975 : 67) bahwa “perjanjian kredit adalah identik dengan perjanjian pinjam-meminjam dan tunduk kepada ketentuan Bab XIII dari Buku III KUH Perdata.” Hal yang sama dikemukakan pula oleh Badrulzaman (1994 : 110), bahwa “dari rumusan yang terdapat di dalam Undang-undang perbankan mengenai perjanjian kredit, dapat disimpulkan bahwa dasar perjanjian kredit adalah perjanjian pinjam-meminjam di dalam KUH Perdata Pasal 1754.” Rumusan perjanjian pinjam-meminjam menurut pasal 1754 KUH Perdata, adalah : “Perjanjian pinjam meminjam adalah perjanjian dengan mana pihak yang satu memberikan kepada pihak yang lain suatu jumlah tertentu barang-barang yang menghabis karena pemakaian, dengan syarat bahwa pihak yang belakangan ini akan mengembalikan sejumlah uang yang sama dari macam dan keadaan yang sama pula.” Sarjana lainnya, seperti Hasan berpendapat lain, bahwa perjanjian kredit tidak tepat dikuasai oleh ketentuan Bab XIII Buku III KUH Perdata, sebab antara perjanjian pinjam-meminjam dengan perjanjian kredit terdapat beberapa perbedaan. Perbedaannya, menurut Hasan (1996 : 174) terdapat pada hal-hal : a. Perjanjian kredit selalu bertujuan dan tujuan tersebut biasanya berkaitan dengan program pembangunan; biasanya dalam perjanjian kredit sudah ditentukan tujuan penggunaan uang yang akan diterima, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam tidak ada ketentuan tersebut dan debitur dapat menggunakan uang secara bebas.

35

b. Dalam perjanjian kredit sudah ditentukan bahwa pemberi kredit adalah bank atau lembaga pembiayaan, dan tidak dimungkinkan diberikan oleh individu, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam, pemberi pinjaman dapat dilakukan oleh individu. c. Pengaturan yang berlaku bagi perjanjian kredit berbeda dengan perjanjian pinjam-meminjam. Pada perjanjian kredit berlaku ketentuan UUD 1945, ketentuan bidang ekonomi dalam GBHN, ketentuan-ketentuan umum KUH Perdata, UU Perbankan, Paket Kebijakan Pemerintah dalam Bidang Ekonomi terutama bidang perbankan, Surat-Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI) dan sebagaimnya, sedangkan pada perjanjian pinjam-meminjam tunduk sematamata pada KUH Perdata Bab XIII Buku III. d. Pada perjanjian kredit dan atau pembiayaan berdasarkan prinsip syariah telah ditentukan bahwa pengembalian uang pinjaman itu harus disertai bunga, imbalan, atau pembagian hasil, sedangkan dalam perjanjian pinjam-meminjam hanya berupa bunga saja, dan bunga inipun baru ada apabila diperjanjikan. e. Pada perjanjian kredit, bank harus mempunyai keyakinan akan kemampuan debitur akan pengembalian kredit yang diformulasikan dalam bentuk jaminan baik materiil maupun immateriil, sedangkan pada perjanjian pinjam-

meminjam, jaminan merupakan pengaman bagi kepastian pelunasan hutang dan inipun baru ada apabila diperjanjikan, dan jaminan itu hanya merupakan jaminan secara fisik atau materiil saja.

36

Senada dengan pendapat dari Hasan diatas, Ibrahim (2004 : 28) berpendapat bahwa “perjanjian kredit

juga

berbeda dengan penjanjian pinjam-

meminjam yang diatur dalam Bab XIII Buku III KUH Perdata, baik dari pengertian, subjek pemberi kredit, pengaturan, tujuan dan jaminannya.” Akan tetapi dengan perbedaan tersebut tidaklah berarti dapat dilepaskan sama sekali dari akarnya yaitu perjanjian pinjam-meminjam, karena perjanjian kredit merupakan modifikasi sedemikian rupa sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan dunia bisnis saat ini. Perjanjian kredit bank dilaksanakan berdasarkan atas kesepakatan diantara kedua belah pihak yaitu pihak bank sebagai kreditur dan pihak nasabah sebagai debitur, yang dilandasi dengan kepercayaan, terutama kepercayaan dari pihak bank sebagai pemberi kredit kepada debiturnya. Menurut Halle (1983 : 53), terjadinya perjanjian kredit harus memenuhi kriteria sebagai berikut : 1) 2) 3) Terdapat kedua belah pihak serta ada persetujuan pinjam meminjam antar kreditur dan debitur. Mempunyai jangka waktu tertentu. Hak kreditur untuk menuntut dan memperoleh pembayaran serta kewajiban debitur untuk membayar prestasi yang diterima.

Perjanjian kredit adalah suatu perjanjian pokok yang bersifat riil artinya terjadinya perjanjian kredit ditentukan oleh penyerahan uang oleh bank kepada nasabah debitur. Perjanjian kredit harus diikuti dengan penyerahan uang secara riil kepada debitur. Dalam praktek, ada kemungkinan pinjaman yang diperjanjikan dalam perjanjian kredit tidak jadi dicairkan. Ini terjadi jika bank

37

mendapat informasi baru yang tidak menguntungkan tentang debitur. Ada juga kemungkinan bahwa besarnya jumlah yang diserahkan berlainan dengan jumlah yang semula disetujui di dalam perjanjian kredit. Penyerahan uang kepada penerima kredit bergantung pula pada sifat atau jenis kredit yang diperjanjikan. Jika kredit itu dalam bentuk investasi, maka pencairannya dilakukan berdasarkn progress fisik proyek yang dibiayai. Jika pinjaman dalam bentuk rekening koran, maka pencairannya dilakukan dalam bentuk plafond ke dalam rekening koran, penarikan oleh debitur tergantung kebutuhannya tetapi dalam limit plafond yang disediakan. Dilihat dari bentuknya, perjanjian kredit perbankan pada umumnya menggunakan bentuk perjanjian baku (standard contract). Artinya, perjanjiannya telah disediakan oleh bank dalam bentuk blanko, sedangkan debiturnya tinggal mempelajari dan memahaminya dengan baik. Kelemahan dari perjanjian ini, jika dilihat dari sudut debitur, adalah debitur tinggal memiliki salah satu pilihan dari dua pilihan yakni menerima atau menolak, tanpa adanya kemungkinan melakukan negosiasi atau tawar menawar dengan bank. Dalam hal ini debitur tidak dapat berbuat banyak dalam menghadapi kreditur karena perjanjian baku telah ditentukan oleh bank. Keberadaan perjanjian kredit sangat penting karena berfungsi sebagai dasar hubungan kontraktual antara para pihak. Dalam perjanjian kredit dapat ditelusuri berbagai hal tentang pemberian, pengelolaan ataupun penatalaksanaan kredit itu sendiri. Untuk itu sangat perlu untuk diperhatikan bersama.

38

Wardoyo dalam Hermansyah (2006 : 72), mengemukakan bahwa perjanjian kredit itu memiliki tiga fungsi, yaitu : a. Berfungsi sebagai perjanjian pokok, artinya perjanjian kredit merupakan sesuatu yang menentukan batal atau tidak batalnya perjanjian lain yang mengikutinya, misalnya perjanjian pengikatan jaminan; b. Berfungsi sebagai alat bukti mengenai batasan-batasan hak dan kewajiban di antara kreditur dan debitur; c. Berfungsi sebagai alat untuk melakukan monitoring kredit. 4. Kredit Bermasalah Membahas masalah kredit, tidak lepas dari pembicaraan mengenai kredit bermasalah (non performing loan). Kredit bermasalah selalu ada dalam kegiatan perkreditan bank, karena bank tidak mungkin menghindarkan adanya kredit bermasalah. Sepandai apapun para analis kredit dalam menganalisis permohonan kredit, tetap saja ada kemungkinan kredit tersebut bermasalah. Itulah sebabnya adalah hal yang wajar jika setiap bank memiliki kredit bermasalah. Tetapi sungguhpun demikian, tidak semua kredit bermasalah itu adalah kredit macet. Suatu kedit bermasalah yang tidak dikelolah dengan baik akan mengakibatkan kemacetan kredit atau umum disebut sebagai kredit macet. Terjadinya kemacetan dalam pengembalian kredit mungkin saja disebabkan oleh kesalahan atau kelalaian dari pihak bank sendiri atau dari pihak nasabah, ataupun oleh karena keadaan memaksa (force majeur). Bank hanya berusaha

39

menekan seminimal mungkin besarnya kredit bermasalah agar tidak melebihi ketentuan Bank Indonesia sebagai pengawas perbankan. Bank Indonesia melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, membedakan kualitas kredit ke dalam 5 (lima) kolektibilitas, yaitu : a. Lancar (L) b. Dalam Perhatian Khusus (DPK) c. Kurang Lancar (KL) d. Diragukan (D) e. Macet (M) Kredit yang termasuk dalam golongan kolektibilitas lancar dan dalam perhatian khusus dinilai sebagai kredit yang tidak bermasalah (adalah performing loan), sedangkan kredit yang termasuk dalam golongan kurang lancar, diragukan dan macet dinilai sebagai kredit bermasalah (non performing loan). Beberapa indikator untuk penggolongan kelima kualitas kredit tersebut, adalah sebagai berikut : a. Kredit digolongkan Lancar (L), yaitu jika memenuhi kriteria : 1) pembayaran angsuran pokok dan/atau bunga tepat waktu; 2) memiliki mutasi rekening yang aktif; atau 3) bagian kredit yang dijamin dengan agunan tunai. b. Kredit digolongkan Dalam Perhatian Khusus (DPK), yaitu jika memenuhi kriteria :

40

1) terdapat tunggakan angsuran pembayaran pokok dan/atau bunga yang belum melampaui 90 hari; atau 2) kadang-kadang terjadi cerukan; atau 3) mutasi rekening relatif rendah; atau 4) jarang terjadi pelanggaran terhadap kontrak yang diperjanjikan; atau 5) didukung oleh pinjaman baru. c. Kredit digolongkan Kurang Lancar (KL), yaitu jika memenuhi kriteria : 1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 90 hari; atau 2) sering terjadi cerukan; atau 3) frekuensi mutasi relatif rendah; atau 4) terjadi pelanggaran kontrak yang diperjanjikan lebih dari 90 hari; atau 5) terdapat indikasi masalah keuangan yang dihadapi debitur; atau 6) dokumentasi pinjaman yang lemah. d. Kredit yang digolongkan Diragukan (D), yaitu jika memenuhi kriteria : 1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 180 hari; atau 2) sering terjadi cerukan yang bersifat permanen; atau 3) terjadi wanprestasi lebih dari 180 hari; atau 4) terjadi kapitalisasi bunga; atau 5) dokumentasi hukum yang lemah baik untuk perjanjian kredit maupun pengikatan jaminan.

41

e. Kredit yang digolongkan Macet (M), yaitu jika memenuhi kriteria : 1) terdapat tunggakan angsuran pokok dan/atau bunga yang telah melampaui 270 hari; atau 2) kerugian operasional ditutup dengan pinjaman baru; atau 3) dari segi hukum maupun kondisi pasar, jaminan tidak dapat dicairkan pada nilai wajar. Penting untuk diperhatikan bahwa sebelum menurunkan kolektibilitas kredit, bank akan melakukan evaluasi yang mendalam terhadap debitur-debitur yang termasuk dalam kolektibilitas non performing loan. Ini penting karena penurunan kolektibilitas kredit akan mempengaruhi kinerja bank yang bersangkutan, karena penilaian sehat tidaknya suatu bank salah satunya ditentukan dari berapa besar non performing loan bank itu. Untuk itu setiap bank secara periodik selalu melakukan evaluasi debiturnya dengan menganalisa aspek-aspek : a. Prospek usaha b. Kondisi keungan dengan penekanan cash flow. c. Kemampuan membayar.

Ketiga aspek tersebut merupakan satu kesatuan untuk menilai kualitas kredit, dan tidak dapat dinilai terpisah satu sama lainnya. Kredit bermasalah akan menjadi beban bank karena ia menjadi salah satu tolok ukur bagi Bank Indonesia untuk menilai kinerja bank itu sendiri. Untuk itu adanya kredit bermasalah, perlu penyelesaian yang cepat, tepat dan akurat, perlu

42

dilakukan penilaian ulang secara periodik guna penentuan langkah-langkah penyelamatan dan atau penyelesaian bagi bank. 5. Penanganan Kredit Bermasalah Dalam hal terjadinya kredit bermasalah, bank akan melakukan tindakantindakan penyelamatan kredit. Tindakan penyelamatan kredit ini umumnya dilaksanakan dengan tiga treatment, yaitu : Rescheduling, Reconditioning dan Restructuring. Recheduling adalah tindakan penyelamatan terhadap kredit bermasalah dengan jalan merubah jangka waktu kredit, misalnya dengan jalan

memperpanjang jangka waktu kredit dan atau memperpanjang jangka waktu angsuran kredit. Reconditioning adalah tindakan penyelamatan kredit dengan jalan memberikan keringanan atas persyaratan-persyaratan kredit, misalnya dengan merekapitalisasi bunga tertunggak, penundaan pembayaran bunga sampai pada waktu tertentu (grace period), penurunan suku bunga, pembebasan bunga ataupun pengkonversian kredit dengan jangka waktu pendek menjadi jangka waktu panjang. Sedangkan restructuring adalah tindakan penyelamatan kredit dengan melakukan perubahan struktur kredit setelah lebih dahulu melakukan analisa atas keadaan permodalan debitur. Tindakan-tindakannya dapat berupa penambahan jumlah kredit (injection) dan atau merubah struktur kredit misalnya dari kredit modal kerja menjadi kredit angsuran. Apabila upaya-upaya penyelamatan kredit seperti telah dikemukakan diatas tidak berhasil, maka penanganan atau upaya penagihan kredit yang terakhir

43

adalah dengan melihat jaminan sebagai second way-out (second source of repayment). Dalam hal ini akan dilakukan upaya hukum eksekusi atas jaminan, yang tindakan hukumnya tergantung daripada jenis dan macam jaminan yang diserahkan oleh debitur atau penjaminnya. Prakteknya, eksekusi atas jaminan dijadikan upaya bank yang paling akhir dilakukan, hanya apabila upaya-upaya penyelamatan kredit tidak berhasil.

C. Tinjauan Tentang Jaminan 1. Pengertian Jaminan Telah dikemukakan sebelumnya bahwa dalam setiap penyaluran kredit, bank selalu mensyaratkan adanya jaminan kredit. Hal ini dilakuan untuk

mengantisipasi resiko pengembalian kredit sehubungan dengan adanya jangka waktu pengembaliannya. Dalam hal ini, jaminan berfungsi untuk memberikan hak dan kekuasaan kepada kreditur untuk mendapatkan pelunasan dari hasil penjualan barang-barang jaminan tersebut bila debitur tidak melunasi hutangnya pada waktu yang telah ditentukan. Normalnya, setiap bank berusaha agar kredit yang disalurkan merupakan secured loans, karena didukung dengan jaminan dan berusaha menghindari terjadinya unsecured loans karena tidak didukung dengan jaminan. Jadi jika kredit tidak dapat lagi dilunasi dari usaha sebagai first source of repayment, maka bank akan menempuh jalan pelunasan terakhir dari jaminan sebagai second source of repayment.

44

Penulis memakai kata “jaminan” dalam tesis ini sebagai pengertian daripada “agunan” sebagaimana dirumuskan oleh UU Perbankan dalam Pasal 1 ayat (23) bahwa “agunan adalah jaminan tambahan yang diserahkan nasabah debitur kepada bank dalam rangka pemberian fasilitas kredit atau pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah.” Jaminan tambahan ini dapat berupa jaminan materiil (berwujud) berupa benda-benda bergerak dan benda tetap atau jaminan immaterial (tak berwujud). Sutarno (2005 : 142) merumuskan pengertian jaminan kredit adalah “segala sesuatu yang mempunyai nilai mudah untuk diuangkan yang diikat dengan janji sebagai jaminan untuk pembayaran dari hutang debitur berdasarkan perjanjian kredit yang dibuat oleh kreditur dan debitur.” Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh Hadisoeprapto (1984 : 50) yang mengemukakan bahwa “jaminan kredit ialah segala sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban, yang dapat dinilai dengan uang yang timbul dari suatu perikatan.” Bahwa jaminan yang baik atau ideal, menurut Subekti dalam bukunya Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia (1991 : 19), adalah jaminan yang memenuhi syarat : a. Yang dapat secara mudah membantu perolehan kredit itu oleh pihak yang memerlukannya; b. Yang tidak melemahkan potensi (kekuatan) si pencari kredit untuk melakukan (meneruskan) usahanya;

45

c. Yang memberikan kepastian kepada si pemberi kredit dalam arti bahwa barang jaminan setiap waktu tersedia untuk dieksekusi, yaitu, bila perlu dapat mudah diuangkan untuk melunasi hutangnya si penerima (pengambil) kredit. Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa jaminan kredit adalah seluruh harta kekayaan seseorang, baik barang bergerak, tidak bergerak, barang berwujud maupun tidak berwujud, baik yang diserahkan secara tegas (berdasarkan perjanjian) maupun secara otomatis (berdasarkan Undang-undang) oleh debitur kepada kreditur, dengan maksud untuk menjamin pembayaran kembali kreditnya berdasarkan suatu perikatan. Dalam praktek, jaminan yang sering diterima oleh kreditur bank bukan hanya milik debitur itu sendiri tetapi juga milik pihak ketiga yang atas kemauannya sendiri menyerahkan secara tegas harta kekayaannya untuk menjamin kredit dari debitur. 2. Klasifikasi Jaminan Kredit a. Jaminan Umum dan Jaminan Khusus Pasal 1131 KUH Perdata menetapkan bahwa “segala kebendaan si berutang baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya perseorangan.” Dari rumusan pasal tersebut menunjuk kepada sifat jaminan yang umum, artinya benda jaminan tidak ditunjuk secara khusus dan juga tidak diperuntukan kepada kreditur tertentu. Sehingga jika terdapat beberapa kreditur, maka

46

kedudukan para kreditur itu konkuren satu sama lainnya, dan atas harta kekayaan debitur yang dijual guna pelunasan hutangnya, akan dibagi-bagi secara proporsional. Jadi jaminan umum ini lahir secara otomatis karena ditentukan oleh Undang-undang. Walaupun Undang-undang telah menentukan bahwa semua harta debitur menjadi jaminan bagi hutangnya, praktek perbankan tetap menghendaki adanya jaminan yang dikhususkan untuk penjaminan kepada kreditur tertentu. Artinya, jaminan khusus ini harus dibuat dengan perjanjian antara kreditur disatu pihak dan debitur atau penjamin di pihak lain. b. Jaminan Perorangan dan Jaminan Kebendaan Penggolongan jaminan yang lain, yang sangat umum dilakukan oleh para sarjana adalah jaminan perorangan dan jaminan kebendaan. Jaminan perorangan atau persoonlijke zekerheid adalah jaminan yang menimbulkan hubungan

langsung pada perorangan tertentu, selalu berupa suatu perjanjian antara seorang berpiutang (kreditur) dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban dari si berutang (debitur), bahkan jaminan perorangan ini dapat diadakan tanpa pengetahuan dari si berutang (debitur) tersebut, sehingga jaminan perorangan menimbulkan hubungan langsung antara perorangan yang satu dengan yang lain. Bentuk jaminan perorangan adalah personal guarantee, coorporate guarantee

dan atau perikatan tanggung-menanggung. Sedang jaminan kebendaan atau zakelijke zekerheid ialah jaminan yang berupa hak mutlak atas sesuatu benda dengan ciri-ciri mempunyai hubungan

47

langsung dengan benda tertentu dari debitur atau pihak ketiga sebagai penjamin, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti bendanya dan dapat diperalihkan. Jaminan kebendaan dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya tetapi dapat juga diadakan antara kreditur dengan pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya kewajiban si berutang (debitur) sehingga hak kebendaan ini memberikan kekuasaan yang langsung terhadap bendanya. Bentuk jaminan kebendaan adalah hak tanggungan, hipotik, gadai dan jaminan fidusia. Subekti mengemukakan bahwa “pemberian jaminan kebendaan ini selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari harta kekayaan seseorang, si pemberi (pembaharuan) kewajiban Dengan demikian maka

jaminan, dan menyediakannya guna pemenuhan (hutang) seorang debitur” (Subekti, 1991 : 17).

pemberian jaminan kebendaan kepada kreditur tertentu, memberikan “privelege” atau kedudukan istimewa bagi kreditur penerima jaminan itu terhadap kreditur lainnya.

D. Tinjauan Tentang Gadai Sebagai Salah Satu Lembaga Jaminan 1. Pengertian Gadai Ketentuan Gadai diatur dalam Buku II Bab XX KUH Perdata mulai pasal 1150 sampai dengan 1160. Menurut ketentuan Pasal 1150 bahwa pihak yang menggadaikan disebut “pemberi gadai” dan pihak yang menerima gadai disebut “penerima atau pemegang gadai”.

48

Lembaga jaminan Gadai hingga saat ini banyak ditemukan dalam praktek. Kedudukan pemegang gadai jika dibandingkan dengan fidusia, lebih kuat karena benda jaminan berada dalam penguasaan kreditur. Dalam hal ini kreditur selaku pemegang gadai terhindar dari itikad buruk (the kwader trouw) dari pemberi gadai, sebab dalam gadai benda jaminan sama sekali tidak boleh dipegang oleh atau dibawah penguasaan pemberi gadai (inbezitstelling). Pasal 1150 KUH Perdata mendefinisikan gadai sebagai berikut : “Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang berhutang atau oleh seorang lain atas namanya, dan yang memberikan kekuasaan kepada siberpiutang itu untuk mengambil pelunasan dari barang tersebut secara didahulukan daripada orang-orang berpiutang lainnya; dengan kekecualian biaya untuk melelang barang tersebut dan biaya yang telah dikeluarkan untu menyelamatkannya setelah barang itu digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan” Selanjutnya, Volmar (1994 : 310), dengan bahasanya sendiri, ia memberikan pengertian gadai adalah : “Sebuah hak atas benda bergerak milik orang lain yang dimaksud tujuannya bukan memberikan kepada orang yang berhak terhadap gadai itu (penerima gadai) nikmat benda tersebut, tetapi hanyalah untuk memberikan kepadanya jaminan tertentu bagi pelunasan suatu hutang”. Dari perumusan di atas dapat disimpulkan bahwa gadai adalah suatu hak kebendaan yang mempunyai objek berupa benda bergerak yang berwujud dan tidak berwujud yang penyerahannya dilakukan oleh debitur atau orang lain atas nama debitur/pihak ketiga dengan fungsi untuk menjamin pemenuhan piutang kreditur, dimana pemegang gadai mempunyai hak untuk didahulukan (hak

49

preferen) dari kreditur-kreditur lainnya, kecuali ditentukan lain dalam Undangundang. 2. Sifat Perjanjian Gadai Sebagai Perjanjain Accessoir Perjanjian gadai sifatnya accesoir, artinya ia merupakan perjanjian tambahan dari suatu perjanjian pokok pinjam-meminjam uang dimana ia dimaksudkan untuk menjaga agar jangan sampai siberhutang lalai dalam pembayaran uang pinjamannya. Perjanjian accesoir mempunyai ciri-ciri antara lain : tidak dapat berdiri sendiri, ada maupun hapusnya bergantung pada perjanjian pokoknya dan apabila perjanjian pokoknya dialihkan maka secara otomatis pun ia ikut teralih. Dengan diadakan perjanjian accessoir ini akan membawa konsekuensi sebagai berikut : 1) Sekalipun perjanjian gadainya sendiri mungkin dibatalkan karena melanggar ketentuan gadai yang bersifat memaksa, tetapi perjanjian pokok itu sendiri yang biasanya perjanjian kredit, tetap berlaku, kalau ia dibuat secara sah. Hanya saja tagihan tersebut kalau tidak ada dasar preferensinya sekarang berkedudukan sebagai tagihan konkuren. 2) Hak gadainya sendiri tidak dapat dipindah tangankan tanpa turut berpindahnya perikatan pokoknya, tetapi sebaliknya pengoperan perikatan pokok meliputi pula semua accessoir, dalam mana termasuk kalau ada hak gadainya, yang demikian sesuai dengan ketentuan pasal 1533 KUH Perdata.

50

Menurut Hoey Tiong (1985 : 17), unsur-unsur yang harus dipenuhi dalam suatu perjanjian gadai adalah : a. Gadai lahir karena penyerahan kekuasaan atas barang gadai kepada kreditur pemegang gadai. b. Penyerahan barang itu dapat dilakukan oleh debitur pemberi gadai atau orang lain atas nama debitur. c. Barang yang menjadi objek gadai atau barang atau barang gadai hanyalah benda/barang bergerak. d. Kreditur pemegang gadai berhak mengambil pelunasan piutang dari barang gadai lebih dahulu daripada kreditur lainnya. 3. Hak dan Kewajiban Kreditur Pemegang Gadai a. Hak-hak kreditur pemegang gadai 1) Parate eksekusi, kreditur berhak menjual atas kekuasan sendiri, setelah lewat jangka waktu yang telah diperjanjikan. Parate eksekusi sendiri adalah kewenangan kreditur untuk mengambil pelunasan piutang dari kekayaan debitur dengan tanpa melalui proses pengadilan, dan untuk melaksanakan parate eksekusi ini kreditur harus telah melakukan somasi kepada pemberi gadai supaya hutangnya dibayar, sesuai dengan pasal 1155 KUH Perdata. 2) Hak menjual barang gadai dengan perantaraan hakim, ini sesuai dengan pasal 1156 KUH Perdata.

51

3) Hak menahan benda sampai segala macam hutang debitur dibayar lunas (hak retensi), sesuai dengan pasal 1159 KUH Perdata. 4) Berhak untuk didahulukan dari pembayaran-pembayaran debitur terhadap kreditur lainnya (hak preferen), sesuai dengan pasal 1150 KUH Perdata. 5) Berhak meminta penggantian biaya yang telah dikeluarkannya dalam rangka menjaga agar nilai barang gadai tidak merosot, sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata. b. Kewajiban kreditur pemegang gadai 1) Tidak dapat atau tidak wenang untuk memiliki benda jaminan secara otomatis, sesuai dengan pasal 1154 KUH Perdata. 2) Bertanggung jawab atas hilangnya atau merosotnya nilai barang objek gadai jika hilang atau merosotnya barang gadai tersebut atas kelalaiannya, sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata 3) Kreditur tidak dapat memakai, menggunakan, mengeksploitasi barang jaminan untuk kepentingan diri sendiri kecuali ada perjanjian secara tegas yang memungkinkan untuk itu, sesuai dengan pasal 1159 KUH Perdata. 4) Kreditur wajib memberitahukan kepada pemberi gadai jika barang gadai itu dijual atas kekuasan sendiri, sesuai pasal 1155 dan 1156 KUH Perdata. 5) Bertanggung jawab atas hasil penjualan barang gadai, yaitu digunakan untuk pelunasan jumlah piutangnya, sesuai pasal 1155 KUH Perdata. 4. Hak dan Kewajiban debitur / penjamin selaku pemberi gadai a. Hak-hak debitur / penjamin sebagai pemberi gadai

52

1) Berhak meminta agar pemegang gadai memperhitungkan hasil bunga yang didapatkan dari barang gadai (jika barang gadai berupa piutang atau tagihan yang menghasilkan bunga) dengan kewajiban bunga kredit yang harus dibayarkannya, sesuai dengan pasal 1158 KUH Perdata. 2) Berhak menuntut pemegang gadai jika atas penjualan barang gadai telah tidak digunakan oleh penerima gadai guna pelunasan hutang pemberi gadai, sesuai dengan pasal 1155 KUH Perdata. 3) Berhak menuntut penerima gadai sehubungan dengan hilang atau merosotnya nilai barang gadai yang disebabkan karena kelalaian penerima gadai, sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata. 4) Berhak menuntut penerima gadai untuk mengembalikan barang gadai jika penerima gadai menyalahgunakan barang gadai tersebut, sesuai dengan pasal 1159 KUH Perdata. b. Kewajiban debitur / penjamin sebagai pemberi gadai 1) Wajib mengganti segala biaya yang telah dikeluarkan oleh pemegang gadai ketika pemegang gadai berupaya mempertahankan keselamatan

barang gadai, sesuai dengan pasal 1157 KUH Perdata. 2) Wajib menyerahkan barang gadai ke dalam penguasaan penerima gadai, sesuai dengan pasal 1152 KUH Perdata. 3) Wajib menerima pemberitahuan atas penjualan barang gadai guna pelunasan hutang yang tidak dapat diselesaikan, sesuai pasal 1155 KUH Perdata.

53

4) Wajib menyetujui perhitungan pelunasan atas hutang yang dijamin dengan gadai, pelunasan mana berasal dari hasil penjualan barang gadai, sesuai dengan pasal 1155 KUH Perdata. 5. Berakhirnya Perjanjian Gadai Ada enam alasan yang dikemukakan oleh Satrio perjanjian gadai berakhir. Alasan-alasan itu adalah jika : a. Hapusnya perikatan pokok yang dijamin dengan gadai. b. Terlepasnya benda jaminan dari kekuasaan pemegang gadai. c. Musnahnya benda jaminan gadai. d. Dilepasnya benda jaminan gadai dengan sukarela. e. Adanya percampuran dimana pemegang gadai menjadi pemilik barang gadai. f. Jika terjadi penyalah gunaan benda gadai oleh pemegang gadai. (2002 : 132) dimana

E. Tinjauan Tentang Deposito Sebagai Jaminan Kredit 1. Pengertian Deposito Pengertian deposito disebut dalam pasal 1 angka (7) UU Perbankan. Pasal tersebut menyatakan bahwa “Deposito adalah simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank” Berdasarkan pasal tersebut, deposito dikategorikan sebagai bentuk simpanan dana oleh nasabah penyimpan (deposan) kepada pihak bank, dimana berdasarkan

54

perjanjian antara keduanya, dana itu dapat ditarik kembali oleh nasabah setelah jangka waktu tertentu. Kata perjanjian yang terdapat pada pasal 1 angka (7) UU Perbankan tersebut menunjukan bahwa simpanan deposito yang lahir dari perjanjian yang dibuat antara pihak bank dengan nasabah, tidak terikat bentuknya, tetapi diberikan kesempatan kepada para pihak untuk menentukan syarat-syaratnya. Asas ini sengaja demikian untuk memberikan ruang gerak kepada bank dan nasabah dalam menentukan syarat-syarat deposito yang akan dibuat diantara mereka. Anwari (1979 : 12) memberikan pengertian bahwa “deposito adalah nama yang diberikan pada simpanan deposan di bank yang lasim diletakkan pada persyaratan jangka waktu penyimpanan”. Referensi dari sarjana lain, seperti Karim (2004 : 411), juga mengemukakan pendapat bahwa : “uang yang dititipkan pada bank oleh pribadi maupun lembaga usaha tertentu untuk disimpan dan kemudian ditarik kembali saat dibutuhkan atau berdasarkan syarat yang telah disepakati bersama, yang dapat dimintai atau dibutuhkan disebut deposito”. Berdasarkan uraian tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa deposito adalah simpanan uang ke bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian yang telah disepakati yang dibuat secara tertulis oleh dan antara pihak bank dengan nasabah penyimpan dana (deposan).

55

2. Jenis-jenis Deposito Simorangkir dalam bukunya “Seluk Beluk Bank Komersial”, membagi deposito menjadi empat jenis, yaitu : a. Deposito berjangka (time deposit), yaitu simpanan dalam rupiah milik pihak ketiga yang penarikannya dilakukan setelah jangka waktu tertentu menurut perjanjian antara bank dan si penyimpan (deposan). Bila jangka waktunya telah habis maka kemungkinannya deposan dapat mencairkan atau memperpanjang jangka waktunya. Jangka waktu deposito ini biasanya bervariasi mulai dari 1, 2, 3, 6 ataupun 12 bulan, tergantung kesepakatan kedua belah pihak. Dalam praktek sehari-hari jenis ini lasim disebut deposito biasa. b. Deposito on call, yaitu simpanan deposan dalam jumlah tertentu artinya penempatannya ada syarat jumlah minimal tertentu, biasanya lebih besar dari deposito berjangka biasa, dan jangka waktu penempatannya minimal 7 hari, tergantung bank yang bersangkutan. c. Deposito Automatic Roll-over, perbedaannya dengan deposito berjangka biasa ialah ketika jatuh tempo maka pihak bank harus melakukan perpanjangan jangka waktu secara otomatis, tanpa menunggu konfirmasi lagi ke deposan. Artinya pada saat penempatannya sudah ditentukan syarat perpanjangan otomatis tersebut. d. Sertifikat Deposito, adalah surat berharga yang pada hakikatnya sama dengan surat tanda bukti menyimpan uang. Perbedaan dengan deposito biasa adalah

56

pembayaran bunganya adalah diawal penempatan, diterbitkan oleh bank sebagai surat berharga atas unjuk yang dapat diperjual-belikan atau dipindah tangankan, sedangkan deposito biasa diterbitkan atas nama dan tidak dapat diperjual-belikan (Simorangkir, 1988 : 79-88). 3. Deposito Sebagai Jaminan Kredit Sebagaimana telah diuraikan dalam bagian terdahulu bahwa jaminan diperlukan sebagai salah salah satu sumber pembayaran kredit jika kredit yang diberikan bermasalah maka deposito belakangan ini juga berkembang menjadi trend yang berlaku/diterima sebagai jaminan kredit. Diterimanya deposito sebagai jaminan kredit tidak terlepas dari sifat kepastian jumlahnya yang memang sangat pasti dan sangat likuid dibanding dengan jaminan-jaminan kredit lainnya. deposito

Sehingga dapat dikatakan bahwa pemberian kredit dengan jaminan

memberikan tingkat keamanan yang sangat tinggi dan pasti bagi kreditur. Apalagi jika deposito tersebut keberadaannya (penempatannya) berada di bank pemberi kredit. Selain karena sifatnya yang sangat likuid tersebut, dari sudut debitur, faktor pendorong deposito diserahkan sebagai jaminan kredit, adalah pertimbangan

proses permohonan dan approval kredit serta biaya. Dibandingkan dengan kredit dengan jaminan selain deposito, proses permohonan dan approval kreditnya sangat cepat dan tidak berbelit-belit. Demikian juga dengan biaya, dalam kredit dengan jaminan deposito (back to back loan), biaya kredit yang dikeluarkan oleh debitur dapat ditekan sedemikian rupa sehingga bisa jauh lebih murah

57

dibandingkan dengan kredit umum dengan jaminan lainnya. Hal ini disebabkan karena dua hal : a. seluruh pengikatan kredit dan jaminannya cukup dilakukan secara dibawah tangan; b. karena kepentingan kreditur yang tidak mau kehilangan bisnis dari sisi pendanaan, yaitu dengan penempatan depositonya di bank yang sama dengan kreditur, maka bagi kreditur, deposito jaminan ini juga membawa keuntungan tersendiri sebagai bagian dari pemenuhan target pengumpulan dana-dana pihak ketiga. Sehingga karenanya, terdapat bargaining position yang relatif lebih kuat dibanding dengan jenis-jenis kredit dengan jaminan selain deposito. 4. Tata Cara Pengikatan Deposito Sebagai Jaminan Kredit Deposito termasuk dalam kategori benda bergerak yang tidak berwujud, sehingga atasnya, dapat dibebani dengan hak gadai. Terhadap gadai atas benda bergerak tersebut maka hukum yang berlaku adalah ketentuan dalam KUH Perdata pasal 1150 sampai dengan pasal 1160. Hak gadai terjadi dengan penyerahan benda gadai secara nyata sehingga benda tersebut berada di bawah kekuasaan kreditur. Hak kebendaan (jaminan) atas benda bergerak itu ada pada pemegang gadai. Hal tersebut tercantum dalam pasal 1152 ayat 1 KUH Perdata : “Hak gadai atas benda-benda bergerak dan atas piutang-piutang bawa diletakkan dengan membawa barang gadainya dibawah kekuasaan si berpiutang atau seorang pihak ketiga, tentang siapa telah disetujui oleh kedua belah pihak.”

58

Gadai merupakan perjanjian accesoir, maksudnya adalah bahwa sebelum diadakan perjanjian gadai, terlebih dahulu harus ada perjanjian kredit sebagai perjanjian pokoknya. Maka untuk mengikat deposito sebagai jaminan kredit, akan dilakukan

tahap-tahap pengikatan sebagai berikut : a. Tahap pertama. Pengikatan kredit sebagai perjanjian pokok dimana didalamnya disebutkan jaminan kredit ini adalah deposito. b. Tahap kedua. Pengikatan deposito dilakukan dengan pembuatan akta perjanjian gadai antara pemilik deposito dengan pihak bank. Menurut hukum, akta perjanjian gadai dapat dibuat secara sah dengan dilakukan secara notaril maupun dibawah tangan, dibuat untuk menjamin perjanjian pokoknya yang berupa perjanjian kredit. c. Tahap ketiga. Untuk membebankan hak gadai maka setelah pembuatan akta perjanjian gadai antara pemilik deposito dengan pihak bank, selanjutnya diikuti dengan penyerahan bilyet deposito yang dijaminkan kepada pemegang gadai, dalam hal ini pihak bank. Penyerahan tersebut merupakan penyerahan yang nyata, artinya bilyet deposito itu harus benar-benar diserahkan dibawah kekuasaan bank, tidak boleh hanya berdasarkan pada pernyataan dari pemberi gadai saja, tetapi benda itu masih berada didalam kekuasaannya. Penyerahan nyata ini dilakukan bersamaan dengan penyerahan yuridis, sehingga penyerahan tersebut merupakan unsur sahnya gadai.

59

d. Tahap keempat. Bersamaan dengan tahap ketiga, pemilik deposito/penjamin harus memberikan kuasa kepada pemegang gadai/pihak bank untuk melakukan pencairan deposito dalam hal pemilik deposito/debitur

wanprestasi. Kuasa mencairkan deposito ini adalah juga bentuk nyata penyerahan yuridis deposito kepada bank untuk memudahkan pihak kreditur dalam melakukan pelunasan kredit yang dijamin dengan deposito tersebut. e. Tahap kelima. Kreditur selaku penerima gadai deposito akan melakukan pemblokiran atas deposito jaminan tersebut sesuai dengan jangka waktu

perjanjian kreditnya. Artinya sepanjang kredit sebagai perjanjian pokok belum dilunasi maka sepanjang itu pula deposito jaminan diblokir. Untuk efektifnya pengikatan jaminan deposito, perlu diperhatikan bagaimana status keberadaan deposito tersebut, apakah merupakan harta bersama dalam perkawinan atau tidak. Untuk itu perlu diperhatikan status perkawinan daripada debitur atau penjaminnya. Jika di dalam perkawinan tersebut ada perjanjian kawin yang menyebabkan tidak ada percampuran harta, maka dalam hal pengikatannya, pemilik deposito dapat bertindak sendiri tanpa adanya persetujuan dari isteri atau suaminya. Tetapi jika di dalam perkawinannya tidak ada perjanjian kawin,

sehingga demi hukum harus dipandang bahwa telah terjadi persatuan harta secara bulat, maka diperlukan persetujuan penjaminan dari isteri atau suami pemilik deposito. Ini penting guna memenuhi ketentuan hukum dalam penjaminan harta bersama di dalam perkawinan, sehingga dengan terpenuhinya pengikatan yang dibuat benar-benar mengamankan pihak bank selaku penerima jaminan.

60

BAB III CARA PENELITIAN

Sebagai suatu hasil karya ilmiah yang memenuhi nilai-nilai ilmiah, maka penelitian ini dilakukan dengan pendekatan-pendekatan sistematis dan metodologis seperti terurai berikut :

A. Sifat Penelitian Penelitian mengenai Aspek Hukum Pemberian Kredit Dengan Jaminan Deposito (Kredit Back to Back) khususnya terhadap pengikatan jaminan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito di PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado merupakan suatu penelitian hukum empiris (yuridis-empiris), yang menitik beratkan pada penelitian lapangan (studi lapangan) guna mendapatkan data primer. Dan untuk menunjangnya dilakukan penelitian kepustakaan (studi literatur) untuk

memperoleh data sekunder. Laporan hasil penelitian ini bersifat deskriptif analitis, artinya laporannya menggambarkan (mendeskripsikan) fakta-fakta empiris di lapangan dengan menggunakan analisa normatif sehingga fakta-fakta tersebut mempunyai makna dan kaitan dengan permasalahan yang diteliti. Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan gambaran secara rinci dan sistematis tentang permasalahan empiris

61

di lapangan dan akhirnya didapatkan solusi hukum berdasarkan data yang diperoleh.

B. Jenis Penelitian Kegiatan penelitian ini dilakukan dengan 2 (dua) jenis penelitian berupa : 1. Penelitian Kepustakaan (studi literatur) Penelitian kepustakaan dilakukan dalam rangka memperoleh data sekunder, yaitu data yang sudah tersedia yang berasal dari : a. Bahan hukum primer yaitu bahan hukum yang mengikat yang diurut berdasarkan hirarki perundang-undangan yang meliputi : 1) Kitab Undang-undang Hukum Perdata (KUH Perdata). 2) Undang-undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-undang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan. 3) Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan. 4) Akta Perjanjian Kredit dan Akta Gadai Deposito yang berlaku di PT. Bank Danamon Indonesia, TBk. 5) Memorandum-memorandum tentang jaminan kredit yang berlaku di PT. Bank Danamon Indonesia, TBk. b. Bahan hukum sekunder yaitu bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer yang meliputi : 1) Literatur yang membahas mengenai masalah perbankan. 2) Literatur yang membahas mengenai hukum perjanjian.

62

3) Literatur yang membahas mengenai hukum jaminan. c. Bahan hukum tersier yaitu bahan hukum yang memberikan petunjuk atau penjelasan terhadap bahan hukum primer dan sekunder seperti kamus hukum, ensiklopedia dan lain-lain. d. Alat Pengumpulan Data Alat pengumpulan data dalam penelitian kepustakaan ini adalah studi dokumen atas bahan-bahan hukum tersebut. 2. Penelitian Lapangan (studi lapangan) Penelitian lapangan dilakukan dengan tujuan untuk primer, yaitu data yang langsung diperoleh dari sumbernya. a. Lokasi penelitian Penelitian ini dilakukan di PT.Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado, Jl. Toar No.17 Manado, Propinsi Sulawesi Utara. Pemilihan lokasi penelitian ini dilakukan dengan pertimbangan untuk kemudahan akses penelitian karena sebelum mengambil studi notariat, penulis adalah mantan karyawan PT. Bank Danamon Indonesia, TBk selama 13 tahun dan terakhir berkantor di Kantor Cabang Manado. b. Subyek penelitian Subyek penelitian adalah PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado sebagai kreditur pemberi kredit dan nasabah debiturnya yang memperoleh fasilitas kredit dengan jaminan deposito (kredit back to back). memperoleh data

63

c. Teknik Pengambilan Sampel Penentuan sampel terhadap nasabah dilakukan dengan teknik random sampling (acak) diantara nasabah debitur yang memperoleh fasilitas kredit back to back. Jumlah debitur back to back yang ada di PT. Bank

Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado adalah 10 (sepuluh) debitur. Dari jumlah tersebut peneliti mengambil acak sejumlah 4 (empat) debitur untuk dijadikan responden. Dengan demikian yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah : 1) Business Manager (BM), Account Officer atau Marketing Officer (AO atau MO), Credit Support Administration (CSA), Apraisal Officer, Legal Officer dan Remedial (Collection) Officer dari Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado. 2) Nasabah debitur PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk Kantor Cabang Manado yang memiliki fasilitas pinjaman dengan jaminan deposito (kredit back to back), yang telah ditentukan secara random. Dari random yang dilakukan terpilih 4 (empat) debitur back to back sebagai responden. d. Alat dan Cara Pengumpulan Data Alat pengumpulan data dalam penelitian lapangan ini adalah pedoman wawancara, dalam hal ini pedoman wawancara tidak terstruktur, yang hanya memuat garis besar tentang hal yang akan ditanyakan, selanjutnya dikembangkan sendiri oleh peneliti dengan teknik wawancara bebas guna PT. Bank

64

mendapatkan data yang dibutuhkan. Cara pengumpulan datanya dilakukan dengan wawancara. Wawancara dilakukan dengan wawancara langsung ke tempat para responden berada.

C. Jalannya Penelitian Penelitian ini dilakukan dengan mengikuti alur atau langkah-langkah sebagai berikut : 1. Tahap persiapan, yaitu tahap pra penelitian dengan terlebih dahulu melakukan perumusan masalah yang akan diteliti, selanjutnya dibuatkan dalam bentuk proposal penelitian untuk mendapatkan persetujuan dari dosen pembimbing. Setelah proposal disetujui peneliti menyusun pedoman wawancara dan penentuan / pengambilan responden. 2. Tahap pelaksanaan, yaitu tahap pengerjaan penelitian itu sendiri. Tahap ini dilaksanakan dengan dua langkah yaitu penelitian kepustakaan (studi literatur) yang ditujukan untuk menelusuri bahan-bahan pustaka yang relevan untuk diangkat dalam kerangka teoritis; dan pelaksanaan penelitian di lapangan untuk melakukan pengumpulan data primer dari responden maupun nara sumber. 3. Tahap penyelesaian, yaitu tahap pengolahan (analisis) data yang dilanjutkan dengan penyusunan draft tesis untuk dikonsultasikan dan mendapatkan persetujuan pembimbing, dari dosen pembimbing. Setelah mendapatkan persetujuan

finalisasinya adalah pelaksanaan

presentasi dihadapan komisi

dosen penguji untuk dipertanggung jawabkan secara ilmiah.

65

D. Analisis Data Seluruh data primer dan sekunder yang diperoleh dari penelitian lapangan

dan pustaka diklasifikasikan dan disusun secara sistematis, sehingga dapat dijadikan acuan dalam melakukan analisis. Langkah selanjutnya, dari data primer dan data sekunder yang telah disusun dan ditetapkan sebagai sumber dalam penyusunan tesis ini kemudian dianalisa secara kualitatif dengan menggunakan metode deskriptif. Analisa kualitatif yaitu metode analisis data yang mengelompokkan dan menyeleksi data yang diperoleh dari penelitian lapangan menurut kualitas dan

kebenarannya kemudian dihubungan dengan teori-teori yang diperoleh dari studi kepustakaan sehingga diperoleh jawaban atas permasalahan. Sedang metode deskriptif yaitu metode analisis dengan memilih data yang menggambarkan keadaan sebenarnya di lapangan.

E. Hambatan-hambatan yang dihadapi dan cara mengatasinya Peneliti tidak mengalami kesulitan yang berarti dalam melaksanan penelitian ini, karena sebelum mengikuti program studi Magister Kenotariatan Universitas Gadjah Mada ini, peneliti adalah karyawan PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk yang bekerja selama 13 tahun dalam berbagai jabatan di beberapa kota, mulai dari Legal and Appraisal Officer di Cabang Palu, Account Officer di Cabang Palu , Vice Branch Manager di Cabang Palu, Branch Manager di Cabang Toli-toli, kemudian sewaktu Bank Danamon Change Management pada saat Bank Danamon diambil alih oleh

66

Konsorsium Asia Finance Indonesia (Asia Financial Indonesia, Pte. Ltd.), menjadi Business Manager di Cabang Amurang, Cabang Kotamobagu, dan terakhir berkantor di Kantor Cabang Manado sebagai Senior Account Officer. Sehingga dengan demikian para responden (nara sumber) baik yang berasal dari pejabat bank yang berkompeten ataupun nasabahnya sudah saling kenal sebelumnya. Satu-satunya hambatan yang ditemui hanyalah pada penentuan waktu untuk wawancara dengan responden debitur yang sekaligus pemilik jaminan deposito disebabkan karena kesibukan dalam usahanya masing-masing. Hambatan ini diatasi dengan lebih dahulu menghubungi nasabah debitur dengan melakukan telepon untuk meminta kesepakatan waktu bertemu dan peneliti tinggal menyesuaikan dengan kesediaan waktu mereka. Dengan cara ini, hambatan tadi teratasi dengan baik.

67

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.

Gambaran Umum PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk dan Kantor Cabang Manado

1.

Sejarah Singkat PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk. PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk didirikan pada tahun 1956 dengan nama PT. Bank Kopra Indonesia. Pada tahun 1976 dilakukan penggantian nama menjadi PT. Bank Danamon Indonesia, nama itu terus dipertahankan hingga kini. Bank Danamon mencatatkan diri sebagai bank devisa swasta pertama di Indonesia pada tahun 1976 dan menjadi Perseroan Terbuka pada tahun 1989. Pada tahun 1997, sebagai akibat krisis moneter di Asia, Bank Danamon mengalami kesulitan likuiditas dan diambil alih oleh Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) sebagai salah satu Bank Take Over (BTO). Pada tahun 1999, Pemerintah Indonesia melalui BPPN merekapitalisasi Bank Danamon dengan obligasi pemerintah senilai Rp 32 triliun. Saat itu juga, Bank Danamon sebagai sebuah bank BTO dilebur ke Perseroan sebagai bagian dari program pembenahan BPPN. Pada tahun 2000, delapan bank BTO lainnya dilebur ke dalam Bank Danamon. Bank-bank tersebut adalah : Bank Rama, Bank Duta, Bank Tiara, Bank Nusa Nasional (BNN), Bank Tamara, Bank Risjad Salim Internasional

68

(Bank RSI), Bank Jaya, dan Bank Pos. Sejak saat itu, sebagai surviving entity, Bank Danamon bangkit menjadi salah satu pilar perbankan nasional. Dalam kurun waktu tiga tahun berikutnya, Bank Danamon melakukan restrukturisasi luas mencakup manajemen, sumber daya manusia, organisasi, sistem, nilai, perilaku serta identitas perusahaan. Upaya ini berhasil meletakkan fondasi maupun prasarana baru bagi Perseroan guna meraih pertumbuhan berdasarkan nilai-nilai “Transparansi”, “Responsibilitas”, “Integritas” dan “Profesionalisme” (TRIP). Pada tahun 2003, melalui dealing dengan BPPN, Bank Danamon diambil alih oleh Konsorsium Asia Finance Indonesia (Asia Financial Indonesia, Pte. Ltd.) sebagai pemegang saham pengendali. Kepemilikan terbesar dari Konsorsium Asia Finance ini adalah Temasek, Pte. Ltd., yaitu salah satu BUMN-nya Singapura. Dengan kendali manajemen baru, serta modal 180-hari pemetaan model bisnis dan strategi baru, Bank Danamon terus menjalani perubahan transformasional yang dirancang untuk dijadikannya sebagai bank nasional terkemuka dan pelaku regional unggulan. Menurut data publikasi Bank Danamon per tanggal 30 September 2007, kepemilikan saham Bank Danamon adalah 68,2 % oleh Asia Financial (Indonesia) Pte. Ltd., dan sisanya 31,8 % oleh publik. Dalam menjalankan operasionalnya, Bank Danamon mempunyai Visi : “Kita peduli dan membantu jutaan orang mencapai kesejahteraan (We care and Enable Millions to Prospers).” Visi tersebut berjalan beriringan dengan misinya

69

“Danamon bertekad untuk menjadi Lembaga Keuangan Terkemuka di Indonesia yang keberadaannya diperhitungkan”. Sebagai suatu organisasi yang terpusat pada nasabah, Bank Danamon yang melayani semua segmen dengan menawarkan nilai yang unik untuk masing-masing segmen, berdasarkan keunggulan penjualan dan pelayanan, dan didukung oleh teknologi kelas dunia. Aspirasinya adalah menjadi perusahaan pilihan untuk berkarya dan yang dihormati oleh nasabah, karyawan, pemegangan saham, regulator dan komunitas dimana Bank Danamon berada. Guna merealisasikan Visi dan Misi tersebut, Bank Danamon memiliki nilainilai yang harus dipegang teguh oleh seluruh karyawan dalam melaksanakan pekerjaannya. Nilai-nilai tersebut adalah “Peduli (caring), Jujur (honesty),

Mengupayakan yang terbaik (passion to excel), Kerjasama (teamwork) dan Profesionalisme yang disiplin (disciplined professionalism). Berdasarkan data publikasi Bank Danamon per tanggal 30 September 2007, kinerja keuangan Bank Danamon dari bulan Januari hingga bulan September 2007 dinilai sangat baik, terjadi peningkatan yang signifikan dibanding periode yang sama pada tahun 2006. Dengan Total Aktiva Rp.87.987 Milyar, Bank Danamon berhasil mengumpulkan Laba Bersih Sebelum Pajak sebesar Rp.2.542 Milyar, Laba Bersih Setelah Pajak Rp.1.600 Milyar (ROAA 2,5 %), dengan cost to income ratio sebesar 46,8 %. Total kredit yang disalurkan adalah Rp.50.153 Milyar dan berhasil membukukan dana pihak ketiga sebesar

Rp.58.853 Milyar. Rasio kecukupan modalnya (CAR) adalah 19,2 %, diatas

70

ketentuan CAR nasional. Rasio penyaluran kredit dibandingkan

total dana

pihak ketiga (loan to deposit ratio) termasuk salah satu yang tertingi di perbankan yang ada saat ini, yaitu dengan ratio 85 %. Bank Danamon juga berhasil menekan non performing loan-nya dengan ratio gross 2,8 %, angka ini masih berada dalam angka yang terkendali dan dibawah angka rata-rata perbankan nasional. Hingga saat ini Bank Danamon di dukung oleh 1.400 cabang, tersebar di seluruh wilayah 33 Propinsi di Indonesia, 7 Kantor Wilayah, dengan jumlah karyawan 33.000 orang. Selain unit konvensional, Bank Danamon juga telah memiliki unit usaha syariah, yang dirintis sejak tahun 2002, hingga saat ini telah dibuka 7 Kantor Cabang Syariah, tersebar di kota-kota besar di Indonesia, dengan 3 unit Kantor Cabang Pembantu dan 12 Cabang Office Channeling. Berkat dukungan dari berbagai stake-holder, di tahun 2007 ini Bank Danamon telah meraih beberapa penghargaan yang cukup prestisius dan membanggakan yakni, Indonesian Bank Loyalty Award (IBLA 2007) pada Januari 2007, Worlds Best Trade Finance Awards 2007 pada bulan Januari 2007 dan Service Quality Award 2007 pada bulan Maret 2007. Demikian juga dengan unit usaha syariahnya, telah mendapatkan penghargaan antara lain The Best Phone Handling dan The Best Overall Service Quality dari Islamic Banking Quality Award pada tahun 2005, pemenang kedua Loyalty Index Syariah Banking pada tahun 2005, pemenang ketiga Best Syariah Banking pada tahun 2006 dan The Most Innovative Syariah Bank pada bulan September 2007.

71

2.

Bank Danamon Kantor Cabang Manado Sebagai Ibukota Propinsi Sulawesi Utara, Kota Manado, dinilai memiliki nilai strategis, karena selain sebagai kota yang sedang berkembang di Indonesia Timur, juga merupakan salah satu kota yang menjadi pusat perdagangan di perbatasan Indonesia dan Philipina, sehingga memiliki potensi bisnis yang baik di masa yang akan datang. Untuk itulah Bank Danamon membuka kantor cabangnya di Kota Manado. Kantor Cabang Manado didirikan pada Bulan Mei tahun 1989, berkedudukan di Jl. Toar No.17 Manado. Seiring perkembangan bisnis yang

dicapai, saat ini Bank Danamon Manado memiliki 3 kantor cabang pembantu, masing-masing Kantor Cabang Pembantu (KCP) Manado Sutomo, KCP Ranotana dan KCP Bahu Malalayang. Operasionalisasi ketiga KCP ini di remote oleh Kantor Cabang Induknya yaitu Kantor Cabang Manado Toar. Organisasi kerja Bank Danamon Kantor Cabang Manado didukung oleh empat unit kerja, yakni : Unit Bisnis, yang terdiri dari Small Medium Enterpize (SME) dan Consumer atau Primagold Banking (PB); Unit Operasional; dan Supporting Business Unit. Keempat unit kerja ini masing-masing dipimpin oleh seorang Manager yang kedudukan jabatannya selevel satu dengan lainnya. Setiap unit kerja bertanggung jawab atas pencapaian kinerja di unitnya masing-masing. Unit bisnis yang terbagi dalam dua sub unit, diberi tanggung jawab pada pencapaian target baik dari sisi penyaluran kredit (loan) maupun pengumpulan dana pihak ketiga (funding). Target market unit SME adalah

72

nasabah-nasabah yang memiliki skala usaha kecil-menengah (UKM), dengan kriteria total asset produktif nasabah tidak boleh lebih dari Rp.5 milyar, atau indikator lainnya dari sisi kredit, total kredit perbankan yang dinikmatinya maksimum Rp.5 milyar. Dari sisi funding, SME ditargetkan untuk pencapaian funding yang berasal dari dana-dana hasil usaha produktif nasabah. Target market unit konsumer adalah pemberian kredit atas kebutuhankebutuhan konsumtif nasabah, misalnya untuk pembelian rumah, pembelian mobil, pembelian sepeda motor dan / atau kebutuhan-kebutuhan konsumtif lainnya. Dari sisi funding, target market unit consumer adalah nasabah-nasabah perorangan yang memiliki variabel fixed income, seperti karyawan swasta, pegawai negeri, anggota Kepolisian Republik Indonesia dan atau anggota Tentara Nasional Indonesia beserta pensiunannya. Unit operasional bertanggung jawab atas seluruh pelayanan transaksi-

transaksi tunai maupun non-tunai di teller serta pelayanan jasa-jasa bank lainnya berupa jasa transfer, inkaso, kliring, anjungan tunai mandiri (ATM), save deposit box dan sebagainya. Sedangkan unit supporting bisnis bertanggung jawab atas penata-usahaan, pengikatan dan dokumentasi kredit, yang pekerjaannya meliputi administrasi, pembukuan, dan pembuatan laporan-laporan perkreditan ke Bank Indonesia. Secara struktural, masing-masing unit kerja ini bertanggung jawab secara vertikal ke Kantor Wilayah sesuai garis bidangnya masing-masing, seterusnya

73

Kantor Wilayah bertanggung jawab kepada Divisinya masing-masing di Kantor Pusat dan terakhir Divisi bertanggung jawab kepada Dewan Direksi. 3. Pencapaian Bisnis Bank Danamon Cabang Manado Keberadaan Bank Danamon Kantor Cabang Manado, cukup diperhitungkan oleh bank-bank kompetitor yang ada di Manado. Dari data Statistik Bank Indonesia Manado, per tanggal 31 Agustus 2007, mengindikasikan angka-angka kinerja yang cukup baik. Dari sisi kredit, Bank Danamon berhasil menguasai market share sebesar 12,9 % dari total penyaluran kredit perbankan yang ada di wilayah Kota Manado sebesar Rp.1.972 milyar. Di sisi funding juga demikian, berhasil menguasai market share sebesar 9,5 % dari total funding perbankan

sebesar Rp.3.836 milyar. Penyaluran kredit terkontrol dengan baik, hal itu nampak pada angka gross kredit bermasalah yang hanya sebesar Rp.6,0 milyar. Dari segi profitabilitas, sesuai data per tanggal 30 September 2007, Bank Danamon Cabang Manado berhasil memperoleh laba sebesar Rp.16,6 milyar, dengan total asset Rp.389,7 milyar. Angka-angka ini membuktikan bahwa kinerja bisnis Kantor Cabang Manado cukup berperan dalam kerangka pembangunan ekonomi masyarakat guna peningkatan taraf hidup seluruh rakyat Indonesia. Peran serta ini akan terus bergulir seiring dengan tuntutan kinerja cabang yang ditentukan oleh Kantor Pusat Bank Danamon. Dengan dukungan karyawan yang berjumlah 145 orang, Bank Danamon Cabang Manado bertekad untuk terus berkarya dan

74

memberi warna dalam upaya peningkatan taraf hidup seluruh masyarakat Indonesia.

B.

Pelaksanaan Kredit dengan pengikatan Jaminan Deposito Yang Tidak Turut Ditanda-tangani oleh Isteri atau Suami Pemilik Deposito Jaminan 1. Hasil Penelitian a. Penelitian Terhadap Responden Bank Telah dikemukakan diatas bahwa Bank Danamon Manado terus menunjukan eksistensinya dalam upaya peningkatan taraf hidup masyarakat pada umumnya. Dalam kerangka itu, Bank Danamon terus berupaya meningkatkan angka penyaluran kredit kepada masyarakat, selain tentunya berusaha untuk memperoleh tingkat keuntungan tertentu sebagaimana ditargetkan oleh Kantor Pusat. Dari tahun ke tahun, akses masyarakat untuk memperoleh fasilitas kredit terus dibuka, sehingga seluruh masyarakat mempunyai kesempatan yang sama untuk

memperoleh fasilitas kredit di Bank Danamon. Tetapi sungguhpun demikian, tidak semua masyarakat tentunya dapat menikmati fasilitas yang ditawarkan itu, karena harus melalui proses tahap-tahapan analisa kelayakan terlebih dahulu, sehingga hanya nasabah yang benar-benar bankable-lah nantinya yang akan menikmati fasilitas kredit. Untuk menunjang upaya penetrasi pasar, Bank Danamon menawarkan berbagai jenis kredit yang dikemas sedemikian rupa mengikuti tuntutan

75

kebutuhan pasar yang ada. Terdapat berbagai pilihan variasi produk yang masing-masing memiliki karakter dan keuntungan sendiri-sendiri. Untuk kebutuhan modal kerja, terdapat Kredit Rekening Koran (KRK) dan Kredit Berjangka (KB). Untuk kebutuhan investasi berupa pembelian atau pembiayaan barang modal usaha seperti mesin-mesin, pembukaan out-let baru usaha, renovasi tempat usaha, ataupun ekspansi usaha lainnya, terdapat Kredit Angsuran Berjangka (KAB) yang jangka waktu pengembaliannya dapat disesuaikan dengan cash flow usaha nasabah. Untuk fasilitas penunjang usaha lainnya dalam bentuk non-cash loan terdapat produk-produk trade-finance seperti L/C, Guarantee Bank, Trust Receipt, Pre Export Financing, Post Export Financing dan Rediscontro. Sedangkan untuk kebutuhan konsumtif terdapat fasilitas Kredit Pemilikan Rumah (KPR), Kredit Pemilikan Mobil (KPM), Kredit Sepeda Motor (KPSM), dan Kredit Multi Guna (KMG), yang tergantung kepada kebutuhan konsumtif nasabah. Kebijakan dan prosedur penyaluran kredit, dari waktu ke waktu terus dievaluasi dan dilakukan penyesuaian dengan tuntutan kebutuhan pasar yang semakin hari juga semakin kompetitif. Langkah ini mau tak mau harus dilakukan agar Bank Danamon tetap dapat bersaing di tengah

semakin ketatnya persaingan pasar, karena disaat yang sama bank-bank kompetitor juga semakin ekspansif dalam penyaluran kredit. Salah satu perubahan mendasar yang dilakukan adalah pola marketing, dari pola

76

yang lama marketing pasif “menunggu di tempat” dirubah

menjadi

marketing aktif “turun ke pasar”. Marketing Officer (MO) atau biasa dikenal juga Account Officer (AO) sebagai ujung tombak di lapangan di haruskan untuk aktif melakukan approach untuk mendapatkan prospek nasabah. Dari prospek nasabah ini MO akan melakukan analisa-analisa awal, apakah memungkinkan untuk diproses lebih lanjut atau tidak. Jika hasil penilaian awal baik, maka MO akan melakukan collecting data yang diperlukan, mulai dari data legal aspect usaha berupa ijin-ijin usaha; aspek keuangan nasabah berupa laporan keuangan, mutasi rekening bank yang dimiliki; serta aspek collateral, berupa bukti kepemilikan atas barang jaminan yang akan diserahkan guna menjamin kredit. Setelah melakukan taksasi jaminan, marketing officer mengolah data yang ada untuk selanjutnya dibuatkan memo analisa kredit dalam bentuk proposal kredit dan diajukan kepada komite kredit yaitu pejabat pemegang wewenang memutus kredit, untuk disetujui sesuai limitnya. Memo analisa kredit ini berisikan analisa-analisa yang berkaitan dengan pemenuhan prinsipprinsip perkreditan yang dikenal dengan “the 5 principles of credit”. Dari sini nantinya Komite Kredit akan me-review dan selanjutnya dikeluarkan Memo Keputusan Kredit (MKK atau Credit Approval). Dari aspek pemberian jaminan, satu perkembangan yang cukup positif dalam praktek belakangan ini adalah pemberian jaminan berupa deposito. Untuk mengakomodir demand pemberian jaminan dalam bentuk deposito

77

tersebut, Bank Danamon menciptakan suatu produk kredit yang cukup ekslusif dengan nama Kredit dengan Jaminan Deposito atau di internal

Bank Danamon lasimnya disebut Pinjaman dengan Jaminan Deposito (PJD atau kredit back to back). Dibandingkan dengan jenis-jenis kredit umum yang telah disebutkan diatas, terdapat beberapa perbedaan penanganan terhadap produk kredit ini. Perbedaannya terletak pada proses pengajuan dan approval kreditnya, pengikatan kredit dan jaminannya, maintenance debitur dan penentuan plafond kredit yang dapat diberikan. Dalam proses pengajuan kredit back to back, analisa mendalam tidak perlu dilakukan selayaknya kredit umum lainnya, karena kredit jenis ini benar-benar atas pertimbangan jaminan (based on collateral). Dengan demikian, Bank Danamon memberikan target service level yang lebih singkat dibandingkan dengan kedit umum lainnya. Service level yang diukur sejak dari pengajuan kredit oleh MO hingga pengikatan dan pencairan kreditnya, untuk kredit back to back hanya satu hari kerja. Dari segi pengikatan kredit dan jaminannya, pada kredit umum

dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan ataupun berupa jaminan lainnya, pengikatannya harus dilakukan secara notaril, berbeda halnya dengan kredit back to back. Pengikatan kredit dan jaminan pada kredit back to back cukup dilakukan dengan akta dibawah tangan.

Pertimbangannya adalah karena barang jaminan tersebut ada dalam

78

penguasaan Bank Danamon, sehingga dipandang sudah sangat aman bagi bank. Tetapi hal penting yang diperhatikan oleh bank dalam hal ini adalah pemenuhan aspek hukum dalam pelaksanaan pengikatannya, apakah terpenuhi dengan baik atau tidak. Dalam pengikatan kredit dan jaminannya, digunakan format standar yang telah dibakukan oleh Kantor Pusat Bank Danamon. Baik perjanjian pokoknya yang berupa Perjanjian Kredit maupun perjanjian accesoir-nya berupa Perjanjian Gadai Deposito, standar bakunya telah disiapkan.

Untuk lebih memberikan alas hak kepada bank, maka perjanjian gadai deposito tersebut diikuti dengan Surat Kuasa Mencairkan Deposito yang diberikan oleh debitur atau pemilik jaminan deposito. Semua format pengikatan ini telah distandarisir oleh kantor pusat, cabang selaku pelaksana di lapangan tinggal mengisi blanko yang sudah ada, selanjutnya memintakan penanda tanganan debitur/penjamin. Ketentuan standar yang berlaku dalam hal pengikatan perjanjian kredit dan jaminan, perjanjian itu selain ditanda tangani oleh debitur/pemilik jaminan, juga harus turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur atau oleh isteri atau suami pemilik jaminan deposito. Ketentuan ini dikecualikan jika terdapat bukti-bukti yang kuat yang menyatakan bahwa dalam perkawinan debitur/penjamin terdapat perjanjian kawin. Akan tetapi karena umumnya latar belakang munculnya kredit back to back adalah atas inisiatif bank yang menawarkan faslitas itu kepada

79

debitur, maka dokumen menyangkut perjanjian kawin jarang dimintakan konfirmasinya kepada debitur/penjamin. Untuk itu bank memberi perlakuan (jalan pintas) dengan menggeneralisir bahwa tidak ada perjanjian kawin, sehingga beranggapan bahwa seluruh harta dalam perkawinan adalah harta bersama suami-isteri dari debitur/penjamin secara bulat (terjadi persatuan harta secara bulat). Untuk itu setiap perjanjian yang dibuat harus turut ditanda tangani atau mendapatkan persetujuan daripada isteri atau suami debitur/penjamin. Maka dalam pelaksanaan perjanjian jaminannya, isteri atau suami debitur/pemilik jaminan deposito wajib hadir dan turut membubuhkan tanda tangan pada formulir perjanjiannya. Normatif ketentuan dalam pelaksanaan pengikatan tersebut memang sangat ideal, tetapi sebagus-bagusnya aturan itu dirumuskan untuk dilaksanakan, tidak selamanya seratus persen mulus terlaksana dalam praktek seperti yang diharapkan. Dalam praktek, khususnya terhadap kredit back to back, terdapat berbagai macam argumentasi yang menyebabkan aturan tertulis tersebut diterobos bahkan disimpangi. Ini dilatarbelakangi oleh karena pada

umumnya yang memiliki deposito itu adalah nasabah yang secara ekonomi cukup kuat (kalangan berkecukupan atau the have), dan inisiasi kredit itu berasal dari pihak bank untuk tujuan pencapaian bisnis,

sehingga golongan ini memiliki bargaining position tersendiri di mata

80

bank. Menyadari bargaining position-nya,

debitur yang sekaligus juga

pemilik deposito mengajukan syarat dispensasi-dispensasi dalam hal pengikatan kredit dan atau jaminan depositonya. Alasan-alasan yang umum dikemukakan oleh debitur adalah tidak mau repot, deposito atas nama debitur sendiri, dalam urusan penempatan deposito isteri atau suami tidak pernah dilibatkan, sibuk, dan sebagainya. Berdasar alasan-alasan tersebut, debitur mensyaratkan agar perjanjian kredit dan atau jaminan depositonya tidak ditanda tangani oleh isteri atau suaminya. Hal ini tentu membuat bank dalam posisi sulit, jika tidak memenuhi permintaan debitur/pemilik deposito jaminan berarti kemungkinan bank akan kehilangan bisnis dari dua sisi sekaligus : dari sisi funding, karena depositonya bisa dicairkan atau dipindahkan ke bank lain; dari sisi kredit, tidak ada incremental kredit karena kredit tidak jadi realisasi. Disisi lain, jika memenuhi permintaan debitur/pemilik deposito sama artinya dengan mengabaikan aspek hukum, sehingga membuka celah hukum yang dapat melemahkan bank. Diperhadapkan dengan adanya tarik menarik kepentingan ini, pada akhirnya bank memilih mengikuti kemauan

nasabah, setelah menempuh prosedur standar internal bank. Maka terjadilah pengikatan kredit dan atau jaminan depositonya tanpa turut ditanda tangani oleh isteri/suami pemilik deposito. Pelaksana dan management cabang bukannya tidak menyadari resiko hukum yang dihadapi, tetapi pertimbangan bisnis selalu menjadi pilihan

81

“terpaksa” jika diperhadapkan dengan masalah di atas. Maka dengan motivasi bisnis, cabang melakukan terobosan dengan cara berupaya mengalihkan resiko kepada pemutus kredit di kantor pusat. Untuk itu, pelaksana di cabang menempuh jalan dengan mengajukan permohonan one up level approval (OLA) yaitu mengajukan permohonan persetujuan atas penyimpangan atau deviasi kepada komite kredit kantor pusat di Jakarta. Pengalaman yang ada bahwa komite kredit kantor pusat dalam menanggapi dan merekomendasikan permohonan cabang tidak lepas dari pertimbangan business orientation, sehingga cenderung menyetujui realisasi kredit dengan pelaksanaan pengikatan sesuai permintaan nasabah. Dalam menanggapi permohonan cabang, komite kredit kantor pusat akan memberikan rekomendasi (solusi) dengan syarat agar cabang memenuhi salah satu alternatif solusi, sebagai berikut : 1) disyaratkan agar dibuat persetujuan umum, yang dilakukan secara terpisah dari pengikatan kredit dan gadai deposito oleh isteri atau suami debitur/penjamin, yang isinya menyetujui tindakan hukum apapun yang dilakukan oleh suaminya, termasuk mengajukan kredit dan menjaminkan seluruh harta bersama kepada bank. 2) jika surat persetujuan yang sifatnya umum tersebut tidak dapat diberikan, maka debitur diwajibkan membuat pernyataan bahwa atas

82

segala resiko yang timbul dari kredit dan deposito jaminan ini adalah dalam tanggung jawab debitur sepenuhnya seorang diri. Solusi ini sebetulnya juga merupakan bentuk upaya dari komite kredit untuk bebas dari tanggung jawab hukum atas pemberian persetujuan yang menyimpang akan tetapi pada prakteknya tidak selalu disetujui oleh debitur/penjamin. Maka untuk mengatasi hal itu, pelaksana di cabang akan terus melakukan permohonan dengan mengajukan argumentasi dan perbandingan bisnis yang nyata (akan terjadi) bahwa jika syarat nasabah tidak diikuti maka kredit terancam batal realisasi, sehingga dengan batalnya realisasi, cabang akan kehilangan bisnis dari dua sisi : kredit dan funding (deposito). Dengan kegigihan cabang berargumentasi, pada akhirnya (selalu terjadi demikian), komite kredit kantor pusat

merekomendasikan deviasinya. Berdasar rekomendasi komite kredit kantor pusat maka dilaksanakanlah pengikatan kredit back to back tanpa turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin (pemilik deposito). Sebaliknya, jika tanpa rekomendasi dari pemutus kredit, cabang tidak akan melakukan pengikatan. Perbedaan lainnya adalah dalam hal account maintenance. Untuk kredit back to back, account maintenance setelah kredit dicairkan cukup dilakukan oleh Marketing Officer sekali sebulan. Itupun tidak diwajibkan harus melakukan on the spot kepada nasabah, melainkan cukup dengan media telepon saja. Pada kredit umum, account maintenance dilakukan

83

lebih intensif, minimal dalam sebulan, MO harus on the spot kepada debitur. Hal lainnya yang berbeda adalah tentang penentuan plafond kredit. Dalam kredit dengan jaminan deposito, plafond kredit ditentukan sematamata dari jumlah deposito yang dijaminkan, komite kredit dapat

menyetujui hingga maksimum sama besarnya dengan jumlah deposito jaminan yang diserahkan, sedangkan pada kredit umum, penentuan plafond kredit tidak semata-mata berdasarkan pada jaminan yang diberikan, tetapi gabungan dari seluruh aspek penilaian kredit. Ketentuan yang berlaku jika plafond kredit back to back diberikan sama dengan jumlah deposito yang diserahkan, adalah penempatan deposito harus

secara automatic roll over (ARO) dan bunga dikapitalisasi ke pokok. Tingkat suku bunga deposito jaminan hanya dapat diberikan counter-rate artinya deposito jaminan tidak diperkenankan menggunakan special rate. Sedangkan untuk suku bunga kreditnya adalah suku bunga deposito + 2 %, artinya suku bunga kredit dengan jaminan deposito bunganya lebih mahal 2 % dibandingkan dengan bunga depositonya sendiri. Selisih bunga ini diharapkan oleh bank akan menutupi overhead cost atas maintenance debitur back to back, artinya selisih bunga ini membiayai diri sendiri. Dari hal-hal yang telah diuraikan di atas, pertimbangan yang cukup mendasar sehingga dibuatkan produk kredit dengan jaminan deposito ini dilatar belakangi oleh karena faktor keamanan bagi bank, bahwa dengan

84

sifat deposito yang pasti jumlahnya dan sangat likuid dibandingkan jaminan lainnya, keamanan bank atas resiko kredit ini sudah pasti teratasi dengan penguasaan barang jaminan secara fisik oleh bank. Selain itu, dari sisi debitur, memang menghendaki agar depositonya dijaminkan guna mendapatkan kredit bank. Dan dengan penjaminan deposito ini, aspek birokrasi dalam pengajuan dan pencairan kredit diperpendek, selain itu juga biaya dapat ditekan sedemikian rupa. b. Penelitian Dengan Responden Pihak Debitur Sekaligus Pemilik Deposito Jaminan Dari penelitian lapangan yang dilakukan kepada para debitur kredit dengan jaminan deposito diketahui bahwa latar belakang mereka mengajukan kredit back to back umumnya disebabkan karena probalilitas persetujuan kreditnya yang sudah pasti, proses persetujuannya cepat,

tidak bertele-tele dan biaya murah. Berbeda dengan kredit umum dengan jaminan sertifikat tanah dan bangunan, setelah mengajukan permohonan peluang diterimanya hanya 50 %. Dari lama proses, pada kredit umum dengan jaminan selain deposito, waktu prosesnya paling cepat dalam 14 hari kerja, sedangkan kredit back to back sudah bisa cair hanya dalam waktu paling lama 2 hari kerja. Dari segi biaya, kalau kredit umum dengan jaminan bukan deposito, selain biaya provisi dan administrasi, juga yang paling besar biayanya adalah biaya pengikatan jaminan di notaris serta biaya asuransi atas objek jaminan. Pada kredit back to back biaya

85

pengikatan di notaris dan asuransi jaminan tidak ada, yang ada hanya dikenai biaya provisi dan administrasi, itupun masih dapat ditekan 50 – 75 % dari provisi administrasi pada kredit umum. Faktor lain yang juga melatar belakangi diberikannya deposito sebagai jaminan kredit adalah faktor psikologis penggunaan kredit bank. Jika deposito yang dicairkan dan dipakai sebagai penambah modal dalam kebutuhan usaha, karena memang bawaannya adalah milik sendiri maka pemakaiannya biasanya kurang ketat perhitungannya, artinya bisa saja debitur menggunakannya kepada hal-hal lain yang tidak ada hubungannya dengan pembiayaan usaha. Sedangkan jika menggunakan kredit bank, debitur merasa ada beban tersendiri yang harus dipikul, dan karena itulah maka penggunaannya benar-benar difokuskan kepada pembiayaan usaha yang produktif, sehingga dari usaha itu menghasilkan uang guna pembayaran kewajiban ke bank. Dalam pengikatan kredit dan jaminan deposito, karena pada dasarnya yang dibutuhkan oleh nasabah adalah kecepatan pencairan kreditnya, maka para nasabah umumnya tidak secara detail memperhatikan isi dari perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh bank. Umumnya mereka

berpendapat bahwa perjanjian itu hanya memenuhi formalitas saja, yang penting sudah ditanda tangani supaya kreditnya cepat cair. Debitur atau pemilik deposito jaminan tidak sampai berpikir jauh tentang konsekuensi hukum dari apa yang mereka tanda tangani dalam perjanjian kredit dan

86

gadai jaminan deposito. Yang ada dalam pikiran mereka hanyalah jika kreditnya bermasalah maka deposito itulah yang dicairkan guna pelunasannya. Berangkat dari latar belakang pengikatan yang hanya memenuhi formalitas saja, para debitur penerima kredit back to back tidak mau tahu jika pengikatan-pengikatan yang dibuat oleh bank terlalu menyulitkannya misalnya dengan mengharuskan isteri atau suaminya turut ikut menanda tangani perjanjian. Logika yang dipegang oleh debitur adalah bilyet deposito tertulis atas namanya, maka yang berhubungan dengan bank hanyalah siapa yang tertulis di dalam bilyet deposito tersebut. Bahwa selama penerbitan bilyet deposito, isteri atau suami tidak pernah dilibatkan oleh bank, karenanya adalah hal yang wajar juga jika mereka tak mau tahu dan tak mau mengerti jika isteri atau suaminya turut dibawa-bawa dalam perurusan tersebut. Ketika ditanyakan dengan pertanyaan bagaimana jika pihak bank memaksakan agar isteri atau suaminya turut bertanda tangan dalam perjanjian kredit dan jaminannya? Tentang hal ini ada dua pendapat yang sedikit berbeda satu dengan lainnya, yang pertama, adalah golongan yang keras dengan pandangannya bahwa bagaimanapun isteri atau suami tidak perlu untuk turut ikut menanda tangani perjanjian-perjanjian yang dibuat oleh bank. Kalau dipaksakan oleh bank, konsekuensinya kredit back to back yang telah disetujui tidak akan direalisasikannya, dan debitur

87

memilih depositonya yang dicairkan atau dipindahkan sebagai jaminan ke bank lain yang lebih mudah ketentuannya untuk tambahan modal usaha. Pandangan kedua, adalah mereka yang cukup moderat dengan sedikit mengalah, jika memang bank memaksa untuk itu, ada sedikit kompromi yaitu dengan jalan membuat surat persetujuan dalam dokumen tersendiri, tetapi intinya hanya persetujuan umum bahwa isteri atau suaminya menyetujui suami atau istrinya memperoleh pinjaman di bank dan kemudian menjaminkan barang-barang yang merupakan harta bersama dalam perkawinan. Jika jalan kompromi telah didapatkan, maka perjanjian dapat segera direalisasikan. Dalam pelaksanaan penandatanganan perjanjian kredit dan gadai jaminan deposito, debitur tidak membaca detail isi perjanjiannya. Ketika ditanyakan tentang hal ini mengapa, umumnya selain

berargumentasi bahwa hanya melakukan formalitas bank, juga karena semuanya telah dibuat dalam bentuk format baku, maka mereka mengikuti saja. Membaca dan menanyakan detail isi perjanjian adalah hal yang tidak berguna, hanya membuang-buang waktu kerja saja. Yang inti dipegang oleh debitur adalah jika kreditnya bermasalah maka depositolah yang dicairkan, maka persoalan selesai. Penggunaan kredit back to back bagi debitur tidak ada bedanya dengan penggunaan kredit umum lainnya. Debitur tidak secara khusus

memperuntukkan dana kredit ini hanya untuk kebutuhan tertentu, tetapi

88

semuanya dipakai untuk usaha. Jadi keuntungan menggunakan kredit ini adalah dalam hal waktu proses kredit cepat dan biayanya murah. Inilah yang umum menjadikan deposito menjadi salah satu alternatif pengajuan kredit kepada bank. 2. Pembahasan Pemberlakuan bentuk perjanjian tertulis dibidang perkreditan bank merupakan salah satu pelaksanaan asas kehati-hatian dalam hubungan hukum antara bank dengan debitur. Dengan lain perkataan bahwa dibuat tertulisnya perjanjian kredit dan atau perjanjian-perjanjian lainnya yang timbul tujuan : 1) Untuk menjamin kepercayaan secara timbal-balik antara bank dan debitur; 2) Untuk dokumentasi hukum jika terjadi kredit bermasalah yang dapat merugikan bank. Praktek umumnya bank, termasuk Bank Danamon, perjanjianperjanjian tersebut telah distandarisir sedemikian rupa oleh Kantor Pusat, bahkan dalam pelaksanaannya telah dibuatkan dalam bentuk formulir atau blanko perjanjian, sehingga pelaksana di cabang tinggal menyesuaikan dengan debiturnya, artinya pelaksana bank tinggal mengisi kolom-kolom yang kosong sesuai dengan data debitur dan fasilitasnya. Dalam teori dalam hubungan hukum antara bank dan debitur mempunyai

89

perjanjian, perjanjian semacam ini disebut sebagai perjanjian standar atau perjanjian baku. Pemberlakuaan bentuk perjanjian kredit berikut perjanjian jaminannya yang bersifat standard dan baku dalam hubungan hukum antara bank dengan debitur/penjamin, dimaksudkan untuk : a. Untuk penyeragaman isi dari klausul-klausul perjanjian kredit di seluruh cabang Bank Danamon; b. Untuk kepraktisan bagi pelaksana di cabang, dalam hal ini bagian legal Bank Danamon di dalam melakukan pengikatan kredit. Dari sisi ini diharapkan oleh managemen akan melahirkan efisiensi waktu sehingga pekerjaan dapat lebih terukur efektifitasnya. c. Untuk memudahkn monitoring atau supervisi atas legal

documentation, sehingga memudahkan dalam pelaksanaan evaluasi dan dapat segera diidentifikasi adanya penyimpangan-penyimpangan dalam pelaksanaan pengikatannya. Untuk memperoleh kesempurnaan dan daya ikat yang efektif dari suatu pengikatan kredit dan jaminan deposito bagi kredit back to back, disyaratkan adanya tiga dokumen yang harus dibuat. Ketiga dokumen hukum tersebut adalah sebagai berikut : a. Perjanjian Kredit, sebagai perjanjian pokok. b. Perjanjian gadai deposito, sebagai perjanjian jaminannya. c. Surat kuasa mencairkan deposito

90

Pada tahap ini tidak ada pilihan bagi debitur/penjamin karena formulirformulir itu telah disiapkan oleh bank. Hanya ada dua kemungkinan bagi debitur/penjamin, menyetujui atau menolak, jika menyetujuinya maka perjanjian dilaksanakan, sebaliknya jika tidak maka kredit tersebut terancam tidak terealisasi. Disinilah letak kelemahan perjanjian standar, tidak adanya kesempatan lagi bagi debitur/penjamin untuk menegosiasi klausul-klausul yang ada di dalamnya. Tetapi sungguhpun demikian,

praktek perbankan yang terjadi seperti itulah adanya. Ketentuan dasar Bank Danamon yang mengharuskan isteri atau suami dari debitur/pemilik jaminan ikut turut menandatangani perjanjian kredit dan perjanjian gadai deposito jaminan adalah hal yang normatif dilakukan. Adanya penyimpangan-penyimpangan dalam praktek bahwa pengikatan kredit dan gadai jaminan tetap dilaksanakan tanpa turut ikut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin, secara hukum merupakan suatu kelemahan tersendiri bagi bank. Hal yang pertama dilakukan menurut hukum adalah mengetahui status perkawinan daripada

debitur/penjamin, apakah didalam perkawinan mereka terdapat perjanjian kawin atau tidak. Apabila terdapat perjanjian kawin dengan mana menyatakan terdapat pemisahan atas harta, maka perlakuan hukumnya berbeda. Dengan tindakan menggeneralisir seluruh debitur kredit back to back bahwa tidak ada perjanjian kawin, maka hukumnya adalah seluruh harta yang diperoleh sepanjang perkawinan adalah harta bersama secara

91

bulat. Dengan demikian perlakuan hukum terhadap harta bersama satu sama lainnya harus saling memberikan persetujuan. Demikian juga

terhadap perbuatan penjaminan deposito ke bank, harus dilakukan atas dasar persetujuan suami isteri secara bersama-sama. Jadi kelemahan bank disini jelas berkaitan dengan jumlah resiko yang ter-cover. Karena deposito merupakan harta bersama, maka nilai deposito yang diikat sebagai jaminan itu menjadi berkurang separoh, karena masing-masing dari suami ataupun isteri atas deposito tersebut berhak atas separohnya. Dengan dermikian, secara hukum, bank telah di cover dengan separuh nominal kredit saja, artinya bank telah tidak dicover penuh sebesar nilai kredit yang dicairkan. Jadi dalam hal ini terdapat potensi kerugian bagi bank jika kreditnya bermasalah. Tentang adanya alternatif jalan keluar yang ditempuh bank dalam merealisasikan kredit ini yaitu dengan memintakan persetujuan umum kepada isteri atau suami debitur penjamin, dari sudut pandang hukum, khususnya hukum perjanjian, juga tetap mengandung unsur kelemahan bagi bank. Terjadi kelemahan hukum karena dalam surat persetujuan tersebut tidak menyebutkan secara spesifik perbuatan hukum yang menjadi objek perjanjian. Artinya, surat persetujuan seharusnya berisi tentang perbuatan hukum yang sudah spesifik, dalam hal ini menyetujui suami atau isteri untuk meminjam kredit ke bank dengan jumlah, jangka waktu dan jenis kredit yang spesifik. Dengan hanya menerima persetujuan

92

yang bersifat umum, ini merupakan satu kelemahan tersendiri bagi bank. Celah hukum ini bisa saja dimanfaatkan oleh isteri atau suami yang memberi persetujuan untuk mengajukan klaim ke bank atas kekaburan persetujuan yang diberikannya. Jalan terakhir dengan adanya persetujuan atas penyimpangan yang diajukan oleh pelaksana di cabang hanyalah persetujuan yang bersifat administratif, karena tidak menyangkut substansi hukum dan perbuatan hukumnya. Secara administratif memang membebaskan pelaksana cabang atas penyimpangan pengikatan jaminan, tetapi dari aspek hukum penyimpangan ini tetap merupakan kelemahan bagi bank. Pelaksanaan pemberian jaminan deposito dengan tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito pada satu sisi merupakan kelemahan hukum bagi bank atas perjanjian yang dibuat, tetapi pada sisi lainnya merupakan kekuatan hukum tersendiri bagi pihak penjamin

karena dengan isteri atau suaminya tidak ikut turut menanda tangani perjanjian, menjadi dasar hukum yang kuat untuk melakukan penuntutan haknya terhadap deposito yang dijaminkan ke bank. C. Pencairan Deposito Jaminan Yang Tidak Ditanda Tangani Suami atau Isteri Pemilik Deposito Jika kredit macet 1. Hasil Penelitian 1) Penelitian Dengan Responden Pihak Bank

93

Dari hasil penelitian lapangan diketahui bahwa prosedur/penanganan kredit back to back yang bermasalah dilakukan secara lebih simpel dibandingkan hal yang sama terhadap kredit lainnya yang dijamin dengan jaminan selain deposito. Tanggung jawab penanganan kredit bermasalah untuk kredit back to back tetap menjadi tanggung jawab Marketing Officer (MO) sebagai yang bertanggung jawab dalam account maintenance. Bentuk-bentuk

maintenance terhadap debitur ini dilakukan dengan jalan kunjungan kepada debitur secara periodik, paling tidak sekali dalam setiap bulan. Hasil pertemuan dengan debitur dituangkan dalam bentuk call memo (call visit atau call report). Dalam formulir call memo atau call visit atau call report tersebut dituangkan informasi-informasi terbaru debitur dalam hal kemajuan usaha, kondisi keuangan dan atau permasalahan-permasalahan yang ada dalam pengelolaan usahanya. Informasi-informasi ini menjadi sangat perlu dalam rangka pemeliharaan debitur, karena dari sini dapat dengan mudah diidentifikasi potensi masalah kredit yang mungkin terjadi di kemudian hari. Dengan cara ini, sejak dini MO akan mengetahui potensi masalah ini sehingga di kemudian hari akan mudah pula penanganannya. Fungsi maintenance account dari debitur ini adalah salah satu tugas dan tanggung jawab pokok MO selain mencari debitur baru untuk pencapaian target. Keberhasilan dalam melaksanakan fungsi maintenance

94

ini sangat erat hubungannya dengan terjadinya kredit bermasalah. Hubungan yang terjadi bisa sebagai hubungan sebab akibat, jika berhasil menjaga, maka resiko kredit bermasalah bisa ditekan, sebaliknya jika tidak berhasil maka risiko kredit bermasalah menjadi semakin besar. Jika ternyata setelah dilakukan maintain tetap saja timbul masalah dalam pemenuhan kewajiban kepada bank, maka pola penangananya telah jelas diatur dalam Standard Operating Prosedure (SOP) perkreditan back to back. SOP penanganan masalah ini adalah, setelah menunggak bunga dan atau angsuran pokok dalam 3 hari, MO wajib membuat surat Surat Peringatan (SP), berturut-turut SP 1 – SP 3 yang mengingatkan tentang pemenuhan kewajiban debitur untuk masa tertentu diwajibkan harus melunasi tunggakannya. Dalam surat tersebut selain memberikan peringatan akan tunggakan debitur, ditegaskan juga bahwa jika tetap menunggak maka dalam 14 hari sejak tunggakannya, deposito jaminan akan dicairkan guna melunasi total outstanding (O/S) kredit. Pencairan jaminan ini tidak saja akan melunasi terhadap total tertunggak tetapi terhadap seluruh outstanding (O/S) pinjaman yang masih tersisa, akan dibayar secara sekaligus dengan dana dari deposito jaminan. Surat-surat peringatan ini kemudian dilakukan filing oleh bagian administasi kredit guna melengkapi dokumendasi hukum yang ada bagi setiap debitur.

95

Jika dalam jangka waktu 14 hari debitur tidak juga melakukan pembayaran maka dengan dasar SP 1-3 tersebut telah merupakan dasar hukum yang kuat bagi bank untuk menyatakan bahwa debitur wanprestasi. Dan berdasarkan adanya wanprestasi ini pencairan deposito jaminan dilakukan. Pencairan deposito ini dilakukan atas dasar perjanjian gadai dan surat kuasa pencairan deposito dari debitur/penjamin yang telah ditanda tangani pada tahap awal pencairan kredit. Dana hasil pencairan deposito tersebut dimasukkan ke rekening debitur, selanjutnya dengan tersedianya dana ini maka pendebetan/ pelunasan kredit segera dilakukan. Pelunasan kredit dilakukan terhadap seluruh O/S pinjaman tersisa, tunggakan bunga, dan denda berjalan

sampai dengan hari dilakukan pelunasan atas kreditnya. 2) Penelitian Dengan Responden Pihak Debitur Sekaligus Pemilik Deposito Jaminan Dari penelitian lapangan kepada debitur/penjamin (pemilik deposito jaminan) diketahui bahwa pelaksanaan maintenance account kredit back to back dirasakan tidak dilakukan sepenuhnya dengan baik oleh bank. Menurut debitur, kemungkinan ini terjadi karena bank di satu sisi merasa sudah sangat aman dengan menguasai deposito jaminan yang diikat

secara “ketat” oleh bank. Sehingga dengan alasan itu bank tidak mau

96

membuang waktu untuk melakukan monitoring kredit dengan langkahlangkah maintain yang benar kepada debitur. Terinformasi dari debitur back to back bahwa ketika kewajiban tertunggak, tiba-tiba saja debitur mendapatkan surat peringatan 1 – 3 dengan ancaman bahwa jika terjadi tunggakan yang terus-menerus untuk jangka waktu 14 hari, maka bank akan melakukan pencairan deposito jaminan. Yang lebih memprihatinkan adalah dengan tanpa adanya langkah-langkah persuasif, misalnya menggalang komunikasi dengan mencari tahu sumber masalah mengapa kredit tertunggak, hingga pemberian surat-surat peringatan sebelumnya, tiba-tiba debitur

mendapatkan surat pemberitahuan dari bank bahwa seluruh O/S kredit dari debitur telah dilakukan pelunasan dengan pencairan deposito. Menghadapi kenyataan ini, debitur tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain berusaha mengerti kondisi dan kenyataan yang dihadapinya. 2. Pembahasan Bank Indonesia adalah pemegang otoritas dalam hal mengeluarkan regulasi, kebijakan dan pengawasan perbankan yang ada di Indonesia. Di bidang kredit, Bank Indonesia berupaya selalu meng up-date peraturanperaturan perkreditan yang berlaku bagi seluruh bank dengan mengeluarkan Surat Keputusan Direktur Bank Indonesia (SK Dir BI), Peraturan Bank Indonesia (PBI) ataupun Surat Edaran Bank Indonesia (SEBI). Tetapi sungguhpun Bank Indonesia selalu melakukan up-dating peraturan yang

97

berlaku,

bank-bank yang ada tetap diberi kewenangan khusus untuk

membuat regulasinya sendiri-sendiri dengan berpedoman pada ketentuanketentuan Bank Indonesia, termasuk kebijakan perkreditan. Dengan demikian ketentuan perkreditan internal berlaku sebagai ketentuan yang harus ditaati oleh bank dan debitur dalam hubungannya dengan kredit yang ada. Bahwa dalam ketentuan penanganan kredit back to back, Bank Danamon mengeluarkan ketentuan Standard Operating Prosedure (SOP) tersendiri mulai dari tatacara handling sampai pada penanganan kredit bermasalahnya, maka dalam hal menangani kredit back to back bermasalah, ketentuan itulah yang berlaku. Permasalahannya adalah apakah ketentuan tersebut benar-benar telah dilaksanakan oleh para user di lapangan atau tidak. Untuk efektifitas pelaksanaannya, perlu dilakukan supervisi dari para atasan (supervisor). Secara periodik harus dilakukan penilaian dan evaluasi atas kinerja pelaksana cabang (user) agar tidak terjadi penyimpanganpenyimpangan yang dapat merugikan para pihak. Satu kajian hukum yang sangat penting dalam penanganan kredit back to back bermasalah adalah penentuan kapan debitur wanprestasi. Menurut Pasal 1238 KUH Perdata, tentang wanprestasi sebaiknya diatur secara jelas dan spesifik dalam perjanjian. Tetapi jika tidak dirumuskan secara spesifik tentang kapan terjadinya wanprestasi dalam perjanjian, maka lewatnya

98

waktu dalam melaksanakan prestasi sudah merupakan titik dimana salah satu pihak telah wanprestasi terhadap perjanjian. Dalam perjanjian kredit Bank Danamon, ketentuan tentang

wanprestasi sudah secara jelas dirumuskan. Menurut Pasal 12 Formulir Surat Perjanjian Kredit Bank Danamon menyatakan bahwa dengan mengenyampingkan jangka waktu kredit dalam pasal 1, bank dapat dengan seketika dan sekaligus memintakan pelunasan segala kewajiban debitur, apabila : a) Angsuran pokok atau bunga atau jumlah yang terhutang lainnya tidak dibayar lunas pada waktunya, dimana dengan lewatnya waktu saja sudah merupakan bukti yang cukup dan sah bahwa debitur telah wanprestasi; b) Debitur tidak memenuhi, terlambat memenuhi atau memenuhi namun hanya sebagian kewajiban yang diperjanjikan; c) Jika suatu pernyataan, surat keterangan atau dokumen yang diberikan oleh debitur kepada bank tidak sesuai dengan yang sebenarnya; d) Bila menurut bank, keadaan keuangan, bonafiditas dan solvabilitas debitur mundur sedemikian rupa sehingga debitur tidak dapat melakukan kewajibannya; e) Bila debitur dan atau penjamin mengajukan permohonan dinyatakan pailit;

99

f)

Bila debitur dan atau penjamin mengambil keputusan bubar atau membubarkan diri (jika debitur adalah perusahaan);

g)

Bila harta kekayaan debitur dan atau penjamin disita oleh instansi berwenang sehingga membahayakan pelaksanaan kewajiban ke bank;

h) i)

Bila barang-barang jaminan disita oleh instansi berwenang; Bila debitur dan atau penjamin lalai atau melanggar ketentuan dalam perjanjian kredit;

j) k) l)

Bila perpanjangan kredit tidak dapat lagi dilakukan; Bila asset debitur dan penjamin menurut penilaian bank menurun; Bila debitur masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia. Dengan perumusan yang terdapat pada pasal 12 perjanjian kredit Bank

Danamon tersebut telah jelas saat mana seorang debitur dikategorikan telah wanprestasi. Jika salah satu dari hal-hal tersebut diatas dilanggar oleh debitur maka untuk seketika dan sekaligus tanpa perlu adanya surat teguran dari juru sita atau surat lainnya yang serupa dengan itu dan tanpa perantaraan Pengadilan, Bank dapat langsung menjual harta benda yang dijaminkan oleh debitur dan atau penjamin. Dengan ditandatanganinya perjanjian kredit maka berdasarkan pasal 12 tersebut bank diberi kekuasan untuk melakukan tindakan hukum terhadap jaminan deposito guna pelunasan kewajiban debitur. Praktek dan itikad baik yang dilakukan oleh Bank Danamon saat ini adalah tetap memberikan SP 1-3 kepada debitur dengan memberi waktu 14 hari guna menyelesaikan tunggakannya.

100

Pencairan deposito jaminan baru benar-benar akan dilakukan Bank Danamon setelah tenggang waktu ini tidak juga ditaati oleh debitur Sebagaimana telah dikemukakan diatas bahwa dasar fundamental dari perjanjian kredit dan jaminan adalah persetujuan, yang dilakukan berupa menanda tanagani seluruh dokumen perjanjian kredit dan jaminan, maka dengan adanya hal ini telah meletakan dasar hukum yang kuat bagi para pihak untuk mengikatkan diri dan taat pada perjanjian itu. Dalam hal telah ditanda-tanganinya seluruh dokumen perjanjian dalam pemberian kredit back to back maka dimata hukum, apapun tindakan

hukum yang dilakukan bank dalam rangka pelunasan kredit yang bermasalah tersebut dipandang sebagai ketentuan yang berdasar hukum dan mengikat bagi para pihak termasuk debitur atau penjaminnya. Sebaliknya dengan tidak adanya persetujuan dari isteri atau suami pemilik deposito jaminan, pihak yang tidak turut bertanda tangan tersebut memiliki dasar hukum yang kuat guna melakukan tuntutan hukum kepada bank atas pencairan deposito yang separohnya adalah hak yang bersangkutan. Pemberian persetujuan atas pemberian jaminan deposito yang merupakan harta bersama menjadi sangat perlu diperhatikan oleh bank dalam pelaksanaan pemberian kredit back to back jika bank tidak ingin terjadi kerugian dalam pengembalian kredit.

101

BAB V PENUTUP A. Kesimpulan Berdasarkan pembahasan yang telah dikemukankan di atas maka dapatlah ditarik kesimpulan atas pokok masalah yang diteliti, sebagai berikut : 1. Bahwa untuk melaksanakan perjanjian gadai atas deposito yang

perjanjiannya tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito, maka dilakukan langkah-langkah yang telah terpola, sebagai berikut : a) pelaksana di Cabang mengajukan permohonan persetujuan atas

penyimpangan atau deviasi kepada komite kredit kantor pusat; b) pengikatan kredit dan jaminan deposito tanpa turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin dilakukan berdasarkan rekomendasi komite kredit kantor pusat. Pengikatan kredit dan jaminan deposito tanpa turut ditanda tangani oleh isteri atau suami debitur/penjamin tidak dapat dilakukan oleh cabang jika tidak ada rekomendasi dari komite kredit kantor pusat. Pengikatan jaminan deposito dengan tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami pemilik deposito guna menjamin kredit back to back tidak sepenuhnya melindungi Bank Danamon dari resiko kredit. 2. Dalam hal terjadinya wanprestasi atas kredit back to back yang pengikatan jaminan gadainya tidak turut ditandatangani oleh isteri atau suami pemilik

102

deposito, bank melakukan langkah-langkah yang telah terpola (prosedur standar), sebagai berikut : a) Memberikan Surat Peringatan 1 sampai 3 (SP 1-3), yang isinya debitur telah lalai dalam memenuhi kewajibannya, dan untuk itu diberi waktu selama 14 hari agar debitur segera menyelesaikan/melunasi kewajiban tertunggaknya kepada bank. b) Jika debitur tidak memenuhi prestasi yang dituangkan dalam SP 1-3 tersebut dalam jangka waktu 14 hari, maka bank melakukan pencairan deposito, dana hasil pencairan tersebut dikreditkan (dimasukkan) ke rekening debitur. c) Langkah selanjutnya adalah melakukan pelunasan atas seluruh outstanding (O/S) kredit, berikut bunga tertunggak dan denda

keterlambatan debitur dengan cara mendebet rekening debitur. d) Langkah terakhir yang dilakukan bank adalah memberikan

pemberitahuan tertulis kepada debitur bahwa seluruh O/S kredit berikut dengan tunggakan bunga dan denda, telah dilakukan pelunasan dengan pencairan deposito jaminan.

B.

Saran Untuk mencegah terjadinya pengikatan jaminan kredit yang tidak sempurna yang pada akhirnya menyebabkan bank tidak sepenuhnya terlindungi dalam pemberian kredit back to back, maka bersama ini disarankan :

103

1. Bank perlu merubah kebijakan kredit back to back-nya, tidak semata mendasarkan diri pada orientasi bisnis gna pencapaian target tetapi juga selektif menerima debitur kredit back to back, dengan memperhatikan pemenuhan aspek hukumnya. Orientasi bisnis perlu dijalankan secara

beriringan dengan aspek hukumnya. Selanjutnya kebijakan itu agar dilakukan secara konsisten dalam pelaksanaannya. 2. Pemberian kredit dengan jaminan dengan deposito yang tidak turut ditanda tangani oleh isteri atau suami dari pemilik deposito jaminan hendaknya dihindari, karena bagaimanapun bank menyiasati pengikatannya, dimata hukum tetap merupakan pengikatan yang tidak aman bagi pihak bank, karena didalamnya terdapat celah hukum yang dapat digunakan oleh pihak yang tidak turut menanda tangani perjanjian jaminan untuk melakukan tuntutan hukum.

104

DAFTAR PUSTAKA

A.

BUKU

Anwari, Ahmad, 1979, Praktek Perbankan (Deposito Berjangka), PT. Balai Aksara, Jakarta. Badrulzaman, Mariam Darus, 1991, Perjanjian Kredit Bank, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. -----------------------------------, 1994, Aneka Hukum Bisnis, Alumni, Bandung. Danareksa, PT. (Persero), 1987, Pasar Modal Indonesia Pengalaman dan Tantangan, Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi UI, Jakarta. Hadisoeprapto, Hartono, 1984, Pokok-Pokok Hukum Perikatan dan Hukum Jaminan, Liberty, Yogyakarta. Halle, R. H., 1983, Credit Analisys A Complete Guide, Jhon Wiley and Sons Inc, New York. Hasan, Djuhaendah, 1996, Lembaga Jaminan Kebendaan Bagi Tanah Dan Benda Lain Yang Melekat Pada Tanah Dalam Konsepsi Penerapan Asas Pemisahan Horisontal (Suatu Konsep Dalam Menyongsong Lahirnya Lembaga Hak Tanggungan), PT.Citra Aditya Bakti, Bandung. Hay, Marhainis Abdul, 1975, Hukum Perbankan Indonesia, Pradnya Paramita, Bandung. Henderson, J.W dan Maness, T.S., 1989, The Financial Analisys Desk Book : A Cash Flow Approach to Liquidity, Van Nostrand Reinhold, New York. Hermansyah, 2006, Hukum Perbankan Nasional Indonesia, Media Group, Jakarta. PT. Kencana Prenada

Hoey Tiong, Oey, 1985, Fidusia sebagai jaminan unsur-unsur perikatan, Indonesia, Jakarta.

Ghalia

Ibrahim, Johannes, 2004, Cross Default Dan Cross Collateral Sebagai Upaya Penyelesaian Kredit Bermasalah, PT.Refika Aditama, Bandung.

105

Karim Adwarman, 2004, Bank Islam, Analisa Fiqih dan Keuangan, Raja Grafindo Persada, Bandung. Mertokusumo, Sudikno, 2005, Mengenal Hukum Suatu Pengantar, Yogyakarta. Liberty,

Muhammad, Abdulkadir, 1992, Hukum Perikatan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung.

Muljadi, Kartini dan Gunawan Widjaja, 2004, Perikatan Pada Umumnya, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta. -----------------------------------------------, 2005, Hak Istimewa, Gadai dan Hipotik, PT. Kencana Prenada Media Group, Jakarta. Panggabean, Hendry P., 2001, Penyalahgunaan Keadaan Sebagai Alasan (Baru) Untuk Pembatalan Perjanjian, Liberty, Yogyakarta. Patrik, Purwahid, 1994, Dasar-Dasar Hukum Perikatan, Bandung. CV. Mandar Maju,

Prodjodikoro, Wirjono, 2000, Azaz-azaz Hukum Perjanjian, Mandar Maju, Bandung. Ross, Stephen A. Westerfield, Radolph W. Jafe, Jeffrey, 1999, Corporate Finance, Irwin Mc Graw-Hill, 5th edition. Satrio, J., 2001, Hukum Perikatan, Perikatan Yang Lahir dari Undang-Undang, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. ----------, 2002, Hukum Jaminan Hak Jaminan Kebendaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. Setiawan, R., 1999, Pokok-Pokok Hukum Perikatan, Putra A. Bardin, Bandung. Simorangkir, O.P., 1988, Seluk Beluk Bank Komersial, Aksara Persada Indonesia, Jakarta. Sowfan, Sri Soedewi Masjchoen, 1980, Hukum Perdata Hukum Perutangan Bagian B, Liberty, Yogyakarta. -----------------------------------------, 1980, Hukum Jaminan Di Indonesia PokokPokok Hukum Jaminan dan Jaminan Perorangan, Liberty, Yogyakarta.

106

Subekti, R., 1990, Hukum Perjanjian, PT. Intermasa, Jakarta. --------------, 1991, Jaminan-Jaminan Untuk Pemberian Kredit Menurut Hukum Indonesia, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung. Subekti, R., Tjitrosudibio, R., 2006, Kitab Undang-undang Hukum Perdata, Pradnya Paramita, Jakarta. Sudargo, 2005, Kamus Hukum Edisi Baru, Rineka Cipta, Jakarta. Sutarno, 2005, Aspek-Aspek Hukum Perkreditan pada Bank, Alfabeta, Bandung. Suyatno, Thomas, H.A. Chalik, M. Sukada, C.T.Y. Ananda dan D.T. Marala, 2003, Dasar-dasar Perkreditan, edisi keempat, PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. Volmar (diterjemahkan oleh I.S.Adiwirmata), 1994, Pengantar Studi Hukum Perdata Jilid I, Raja Grafindo Persada, Jakarta. Widyadharma, Ignatius Ridwan, 1995, Hukum Perbankan, Ananta, Semarang.

B.

PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 1 tahun 1974 Tentang Perkawinan, Lembaran Negara Nomor 1 tahun 1974 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 7 tahun 1992 Lembaran Negara Nomor 31 tahun 1992 Tentang Perbankan,

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 10 tahun 1998 Tentang Perubahan atas Undang-undang Nomor 7 tahun 1992 Tentang Perbankan, Lembaran Negara Nomor 182 tahun 1998

C.

REFERENSI LAINNYA

Buku Statistik Bank Indonesia Manado, edisi September 2007 Buku Kebijakan Kredit Bank Danamon Indonesia

107

Buku Legal Manual Bank Danamon Indonesia Surat-Surat Edaran Bank Danamon Indonesia tentang Perkreditan Memo-memo Intern Bank Danamon Indonesia tentang Jaminan Kredit Bank Danamon

Lampiran 1

PERJANJIAN KREDIT Nomor : ………………..
Perjanjian Kredit ini (selanjutnya disebut Perjanjian) dibuat dan ditandatangani pada hari …………………. , tanggal ………………………….. oleh dan antara : 1. PT. BANK DANAMON INDONESIA Tbk, berkedudukan di Jakarta, dalam hal ini melalui cabangnya di ………………………………………………………………………….………………………………. dalam hal ini diwakili oleh …………………………….………………………………………………….………….. , dalam kedudukannya selaku ……………………………………………………………… (untuk selanjutnya disebut "BANK"). ……………………………………… , swasta, bertempat tinggal di ……………..…………………………………………. dalam hal ini bertindak : *) a. untuk diri sendiri dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah mendapat persetujuan dari suaminya / istrinya, yaitu : ………………………………………... yang turut menandatangani perjanjian ini / sebagaimana ternyata dari Surat Persetujuan yang dibuat dibawah tangan bermeterai cukup tertanggal ……………………………. *) b. selaku …………………………………………………………………….. dari dan oleh karenanya sah bertindak untuk dan atas nama PT. …….…………………………………….. berkedudukan di ……………………..……. dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam perjanjian ini telah memperoleh persetujuan dari ……………………………………… yang turut menandatangani perjanjian ini / sebagaimana ternyata dalam suratnya tertanggal …………………… *) (selanjutnya disebut "DEBITUR").

2.

Bahwa BANK dan DEBITUR telah saling setuju untuk membuat, menetapkan, melaksanakan dan mematuhi Perjanjian ini dengan syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut : PASAL1 FASILITAS KREDIT 1.1. Jenis, Jumlah, Jangka Waktu dan Tujuan Penggunaan a. Fasilitas Kredit yang diberikan BANK kepada DEBITUR (selanjutnya disebut Fasilitas Kredit) adalah : *) (i) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *) Jumlah : Jangka Waktu : Tujuan Penggunaan : (selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………)

(ii) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *) Jumlah : Jangka Waktu : Tujuan Penggunaan : (selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………) (iii) Jenis Fasilitas : ( Non revolving / revolving ) *) Jumlah : Jangka Waktu : Tujuan Penggunaan : (selanjutnya disebut Fasilitas ………………………………………………) (selanjutnya fasilitas tersebut diatas secara bersama-sama disebut “Fasilitas Kredit”). sehingga seluruh jumlah Fasilitas Kredit yang diberikan BANK kepada ………………………………… (……………………………………………………………………………………….). b. Yang dimaksud dengan fasilitas kredit revolving dan non revolving adalah :
1/14

DEBITUR adalah

Divisi Hukum – Kantor Pusat

Lampiran 1 ♦ ♦ c.

"Non revolving" dimana DEBITUR tidak dapat melakukan penarikan kembali atas pembayaran Fasilitas Kredit yang telah dibayar dari waktu ke waktu selama jangka waktu Perjanjian ini. “Revolving”dimana DEBITUR dapat melakukan penarikan dan/atau pembayaran kembali atas Fasilitas Kredit dari waktu ke waktu selama jangka waktu Perjanjian ini .

Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran, maka pemberian Fasilitas Kredit oleh Bank kepada DEBITUR akan dilaksanakan melalui Rekening Koran dan setiap pembayaran kembali sampai lunas terhadap penarikan atas Fasilitas Kredit dan/atau menimbulkan rekening bersaldo kredit atau nihil, tidak mengakibatkan berakhirnya/gugurnya Perjanjian ini.

1.2.

Perubahan Mata Uang Pinjaman Apabila dilarang oleh ketentuan-ketentuan yang berlaku atau apabila dana dalam mata uang Dollar Amerika Serikat tidak tersedia pada BANK atau dalam hal disyaratkan oleh ketentuan dan/atau kebijaksanaan yang berlaku atau oleh karena sebab apapun juga, BANK menurut pertimbangannnya sendiri tidak dapat/tidak bersedia memberikan Fasilitas Kredit dalam mata uang Dollar Amerika Serikat, maka DEBITUR menyetujui dan memberi wewenang kepada BANK untuk sewaktu-waktu mengkonversikan seluruh atau sebagian Fasilitas Kredit ke dalam mata uang Rupiah dan setiap konversi tersebut mengikat DEBITUR cukup dengan pemberitahuan tertulis dari BANK kepada DEBITUR . DEBITUR setuju bahwa perubahan mata uang pinjaman dilakukan berdasarkan kurs yang berlaku dan/atau ditetapkan oleh BANK pada hari dimana perubahan tersebut dilakukan. Fluktuasi kurs mata uang pinjaman yang timbul sehubungan dengan dilakukannya perubahan berdasarkan ketentuan ini adalah menjadi resiko dan tanggung-jawab DEBITUR. Untuk itu DEBITUR juga menyatakan setuju untuk menandatangani perubahan Perjanjian sehubungan dengan konversi tersebut apabila diminta oleh BANK, dan apabila setelah diminta oleh BANK, DEBITUR belum juga menandatangani perubahan Perjanjian tersebut maka dengan ini DEBITUR memberi kuasa yang tidak dapat dicabut kembali kepada BANK untuk dan atas nama DEBITUR menandatangani akta atau perjanjian perubahan atas Perjanjian sehubungan dengan konversi tersebut. Apabila karena perubahan yang dimaksud pada ketentuan 1.2. ini jumlah Fasilitas Kredit menjadi lebih besar dari jumlah yang disebut dalam ketentuan 1.1. di atas, maka DEBITUR wajib mengembalikan kelebihan jumlah fasilitas tersebut dalam jangka waktu dan cara yang ditentukan oleh BANK.

1.3.

Penarikan Fasilitas Kredit a. Jangka Waktu Penarikan (i) Untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka ; Jangka waktu penarikan adalah sejak …………………………………….. dan akan berakhir pada tanggal yang jatuhnya ……………………………………... Jangka waktu mana dapat diperpanjang dengan persetujuan tertulis dari BANK setelah mempertimbangkan permohonan tertulis dari DEBITUR, yang merupakan kesatuan dari Perjanjian. (ii) Untuk Fasilitas Kredit Berjangka, Fasilitas Kredit Rekening Koran dan Fasilitas Kredit Modal Kerja ; Jangka waktu penarikan adalah sejak penandatanganan Perjanjian. b. Cara Penarikan (1) Bila DEBITUR hendak melakukan penarikan dana atas Fasilitas Kredit, DEBITUR wajib mengirimkan pemberitahuan tertulis atau menyerahkan bukti penarikan kepada BANK yang memberitahukan jumlah pinjaman dan tanggal penarikan yang dikehendaki, tanggal mana tidak boleh kurang dari 3 (tiga) hari kerja setelah BANK menerima pemberitahuan tersebut. (2) (Tiap) Penarikan Fasilitas Kredit hanya dapat dilakukan dalam jangka waktu penarikan Fasilitas Kredit, pada hari kerja dan jam kerja BANK yang disetujui bersama oleh BANK dan DEBITUR.

(3) Menyimpang dari ketentuan-ketentuan tersebut di atas, BANK tetap mempunyai hak untuk menunda atau mengatur kembali (Rescheduling) penarikan Fasilitas Kredit. Penundaan atau pengaturan kembali tersebut tidak memberikan hak kepada DEBITUR untuk mengajukan tuntutan/gugatan
Divisi Hukum – Kantor Pusat 2/14

Lampiran 1 hukum berupa apapun terhadap BANK, antara lain (namun tidak terbatas) tuntutan/gugatan membayar ganti rugi kepada DEBITUR atas kerugian-kerugian yang mungkin diderita DEBITUR sebagai akibat penundaan atau pengaturan kembali penarikan Fasilitas Kredit tersebut. (4) DEBITUR setuju bahwa BANK juga mempunyai hak untuk sewaktu-waktu membatalkan ataupun mengurangi jumlah Fasilitas Kredit (dalam hal DEBITUR tidak dapat memenuhi Syarat Penarikan Pinjaman sebagaimana tersebut dalam Pasal 3 Perjanjian atau dalam hal DEBITUR melakukan salah satu Peristiwa Kelalaian dalam Pasal 12 Perjanjian) (5) Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran, DEBITUR tidak dapat melakukan penarikan pinjaman apabila saldo di rekening DEBITUR menjadi negatif. c. Bukti Penarikan Untuk (tiap) penarikan, DEBITUR wajib dan akan menyerahkan pada BANK media penarikan berupa : *) (1) Promissory Note; (2) Cek, Bilyet Giro; (3) Tanda Terima Uang atau media lainnya yang ditentukan oleh BANK dalam bentuk dan isi yang disetujui dan diterima oleh BANK. media-media penarikan mana akan menjadi bukti bagi BANK mengenai telah diterimanya uang oleh DEBITUR dari BANK. Dalam hal tidak ditandatanganinya media-media penarikan seperti tersebut di atas maka Perjanjian ini dianggap sebagai Tanda Terima Uang untuk suatu jumlah uang berdasarkan Perjanjian ini dan Perjanjian-perjanjian lainnya yang merupakan perubahan dan/atau penambahan dari Perjanjian ini. d. e. Kewajiban BANK untuk memberikan Fasilitas Kredit adalah sebesar sebagaimana tercantum dalam pasal 1 ayat 1.1 Perjanjian ini. Khusus untuk kredit rekening koran, berlaku ketentuan bahwa penggunaan kredit yang diberikan kepada DEBITUR harus menunjukkan perputaran yang aktif dari waktu ke waktu dalam setiap bulannya, atau jika rekening itu tidak diselesaikan sekurang-kurangnya sekali setahun, maka Kredit ini dapat dihentikan.

1.4.

Pembuktian Hutang Sebagai akibat dari penarikan Fasilitas Kredit, maka DEBITUR dengan ini menyatakan menerima Fasilitas Kredit dari BANK dengan jumlah setinggi-tingginya sebagaimana disebutkan dalam ketentuan 1.1. di atas, jumlah mana belum termasuk bunga, provisi, komisi dan ongkos-ongkos serta biaya-biaya lainnya yang timbul sebagai akibat penarikan Fasilitas Kredit sehubungan dengan Perjanjian ini. DEBITUR dan BANK setuju bahwa media-media penarikan dan/atau pembukuan-pembukuan dan/atau catatan-catatan serta surat-surat dan dokumen-dokumen lain yang dipegang dan dipelihara oleh BANK juga merupakan bukti yang lengkap dari semua jumlah hutang DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini dan mengikat terhadap DEBITUR. Pembayaran Kembali a. Pembayaran kembali akan dilakukan oleh DEBITUR kepada BANK dengan ketentuan sebagai berikut : (i) Untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka ; sesuai dengan jadwal pembayaran kembali sebagaimana terlampir dalam Perjanjian. (ii) Untuk Fasilitas Kredit Berjangka dan Modal Kerja ; pada tanggal jatuh tempo Perjanjian dan/atau pada tanggal jatuh tempo Surat Promes. (iii) Untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran ; pada tanggal jatuh tempo Perjanjian. (iv) …………….…………………………………………………………………………………………………………. . ………….……………………………………………………………………………………………………………. . ………………………………………………………………………………………………………………………..
(jika tidak mencukupi, dipergunakan lembar tambahan yang merupakan lampiran Perjanjian ini)

1.5.

b.

Setiap pembayaran dari DEBITUR, pertama-tama akan diperuntukkan bagi pembayaran :

Divisi Hukum – Kantor Pusat

3/14

Lampiran 1 (1) (2) (3) (4) (5) 1.6. Biaya terhutang kepada negara, termasuk tetapi tidak terbatas pada pajak; ongkos-ongkos, misal ongkos perkara (jika ada); bunga dan pembayaran lainnya selain denda dan pinjaman pokok; denda yang belum dibayarkan dan; pokok pinjaman yang terhutang.

Pembayaran Kembali Lebih Cepat/Awal (berlaku untuk Fasilitas Kredit Angsuran Berjangka) a. DEBITUR diperkenankan membayar kembali pinjaman yang terhutang kepada BANK berdasarkan Fasilitas Kredit (baik seluruhnya maupun sebagian) lebih cepat/awal dari tanggal pembayaran yang telah ditetapkan dengan syarat dan ketentuan sebagai berikut : 1. DEBITUR wajib mengirim surat pemberitahuan mengenai keinginan membayar kembali lebih cepat/awal tersebut kepada dan diterima oleh BANK sedikitnya 5 (lima) hari kerja sebelum tanggal pembayaran yang lebih cepat/awal dilakukan, dengan menyebutkan jumlah uang yang akan dibayar kembali lebih cepat/awal dan tanggal dimana pembayaran kembali yang lebih cepat/awal tersebut akan dilakukan (tanggal tersebut harus merupakan suatu Tanggal Pembayaran Bunga, sebagaimana diatur dalam Perjanjian ini); 2. Suatu Surat Pemberitahuan Membayar Lebih Cepat seketika diterima oleh BANK dalam jangka waktu yang ditetapkan dalam ayat (a) di atas ini mengikat kepada dan mewajibkan DEBITUR melaksanakan pembayaran lebih cepat/awal kepada BANK pada tanggal dan dalam jumlah uang yang disebutkan dalam surat pemberitahuan tersebut; 3. Pembayaran kembali yang lebih cepat/awal atas pinjaman yang terhutang berdasarkan Perjanjian ini wajib dilakukan dalam jumlah pokok tidak kurang dari ……………… (………..………… ) kali angsuran. 4. Jumlah uang yang dibayar oleh DEBITUR untuk membayar kembali lebih cepat/awal tidak dapat dipinjam kembali oleh DEBITUR dari BANK berdasarkan Perjanjian ini; 5. Jumlah uang yang diterima oleh BANK untuk pembayaran kembali lebih cepat/awal pinjaman yang terhutang berdasarkan Fasilitas Kredit akan digunakan oleh BANK untuk membayar kembali atau mengurangi angsuran pembayaran kembali pinjaman tersebut mulai dari angsuran yang harus dibayar pada tanggal pembayaran angsuran yang paling akhir (inverse order of maturity). b. DEBITUR wajib membayar uang denda/penalti kepada BANK sebesar ……… % flat dari jumlah uang yang dibayar kembali lebih cepat/awal, dan uang denda/penalti tersebut wajib dibayar oleh DEBITUR pada waktu melaksanakan pembayaran kembali lebih cepat/awal tersebut.

1.7.

Bunga, Provisi/Fee Dan Bunga Denda a. Bunga Atas tiap jumlah uang yang terhutang atau sisanya yang belum dibayar lunas atas pemberian Fasilitas Kredit, DEBITUR wajib membayar bunga kepada BANK sebagai berikut : Jenis Fasilitas (i) (ii) (iii) Setiap penarikan Fasilitas Kredit dikenakan bunga sebagaimana disebut diatas yang dikenakan pertahun yang dihitung berdasarkan : *) (i) saldo harian dan untuk maksud tersebut BANK akan membebankan bunga pada jumlah Fasilitas Kredit yang terhutang dan DEBITUR harus membayar pada tanggal yang ditetapkan oleh BANK, dengan ketentuan bilamana tanggal tersebut jatuh pada bukan hari kerja BANK, maka bunga akan dibebankan pada hari kerja sebelum tanggal tersebut. (ii) Khusus untuk Fasilitas Kredit Rekening Koran, bunga dihitung berdasarkan saldo harian dan untuk maksud tersebut BANK akan membebankan bunga pada rekening DEBITUR atau DEBITUR harus membayar pada tanggal yang ditetapkan oleh BANK, dengan ketentuan bilamana tanggal tersebut bukan hari kerja BANK, maka bunga akan dibebankan pada hari kerja sebelum tanggal tersebut. DEBITUR setuju dan dengan ini memberi kuasa kepada BANK untuk sewaktu-waktu merubah ketentuan besarnya suku bunga tersebut diatas sesuai perkembangan keadaan pasar, dan BANK akan memberitahukan perubahan suku bunga tersebut kepada DEBITUR, pemberitahuan mana akan mengikat DEBITUR. Jumlah Fasilitas Bunga

Divisi Hukum – Kantor Pusat

4/14

Lampiran 1 Tanggal Pembayaran Bunga adalah pada setiap tanggal 22 (dua puluh dua) setiap bulannya (dan/atau hari kerja berikutnya bila tanggal 22 tersebut jatuh pada hari libur), kecuali ditentukan lain oleh BANK. Bunga tersebut di atas terhutang oleh DEBITUR sejak tanggal penarikan pinjaman sampai dengan hari dan tanggal hutang tersebut dibayar kembali dengan lunas, penuh dan dengan sebagaimana mestinya oleh DEBITUR kepada BANK sesuai dengan jumlah hari yang telah berlalu, dihitung atas dasar bahwa 1 (satu) tahun adalah 360 (tiga ratus enampuluh) hari, dan wajib dibayar lunas, penuh dan dengan sebagaimana mestinya oleh DEBITUR kepada BANK pada setiap tanggal pembebanan bunga. b. Provisi Dan Fee DEBITUR setuju untuk membayar provisi dan fee sebagai berikut : Jenis Fasilitas (i) (ii) (iii) c. Bunga Denda Bilamana DEBITUR tidak atau gagal membayar lunas suatu pinjaman, bunga atau lain-lain jumlah uang yang wajib dibayar berdasarkan Perjanjian ini atau bukti penerimaan uang, maka (dengan tidak mengurangi kewajiban DEBITUR untuk tetap membayar jumlah uang yang telah wajib dibayarnya itu berikut bunga yang berlaku pada saat itu) DEBITUR wajib membayar bunga denda atas jumlah yang tidak atau lalai dibayar tersebut kepada BANK. Besarnya bunga denda adalah ……….. % (……………….) pertahun di atas bunga yang berlaku pada saat itu dihitung dari jumlah bunga tertunggak dan/atau jumlah uang yang tidak atau lalai dibayar tersebut. Perhitungan bunga denda terhutang dihitung secara harian mulai dari hari dan tanggal jatuh tempo jumlah uang yang wajib dibayar tersebut tidak atau lalai dibayar sampai dengan hari dan tanggal jumlah uang yang wajib dibayar tersebut dibayar lunas sesuai dengan jumlah hari yang lewat, dengan ketentuan jumlah hari dalam satu tahun adalah 360 (tiga ratus enam puluh) hari sebagai faktor pembagi tetap dan bunga denda tersebut wajib dibayar dengan sekaligus (lunas) oleh DEBITUR seketika ditagih secara tertulis oleh BANK. 1.10. Pembukuan. Fasilitas Kredit yang dimaksud dalam Perjanjian ini akan dibukukan oleh BANK pada kantor/cabang yang tercantum dalam Perjanjian ini. Akan tetapi DEBITUR setuju dan bersama ini memberikan kuasa pada BANK untuk bilamana BANK menganggap perlu berdasarkan pertimbangan BANK sendiri, untuk mengalihkan pembukuan Fasilitas Kredit dimaksud pada kantor/cabang BANK yang lain, baik yang berada di Indonesia maupun di luar Indonesia. PASAL 2 KUASA MENDEBET REKENING Tanpa mengurangi kewajiban DEBITUR untuk melaksanakan sendiri pembayaran kepada BANK sebagaimana ditetapkan di atas, pada hari dimana suatu pembayaran berdasarkan Perjanjian ini wajib dilakukan, DEBITUR setuju dan dengan ini memberi kuasa dan wewenang penuh pada BANK setiap waktu dan dari waktu ke waktu yang ditetapkan oleh BANK khusus untuk mendebet rekening DEBITUR pada BANK, baik rekening/account giro, rekening/account deposito (hal mana bersama ini DEBITUR memberi kuasa pula pada BANK khusus untuk mencairkan terlebih dahulu deposito atas nama DEBITUR tersebut), baik dalam mata uang Rupiah maupun dalam mata uang lain, jumlah yang besarnya setiap kali akan ditetapkan oleh BANK dan menggunakan/memakai jumlah uang tersebut untuk membayar dan membayar kembali semua dan setiap jumlah uang yang sekarang telah dan/atau dikemudian hari akan terhutang dan dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini beserta segala perubahan dan tambahannya, media-media penarikan, perjanjian lain dan perjanjian-perjanjian jaminan, baik untuk jumlah pokok, bunga, denda atau lain-lain jumlah uang yang wajib dibayar oleh DEBITUR pada BANK. Jumlah Fasilitas Provisi/Fee

Divisi Hukum – Kantor Pusat

5/14

Lampiran 1 Selama hutang DEBITUR kepada BANK belum dibayar lunas, maka segala kuasa yang diberikan oleh DEBITUR kepada BANK dalam Perjanjian ini atau dokumen-dokumen lain sehubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit kepada DEBITUR merupakan bagian yang terpenting dan tidak terpisahkan dari Perjanjian ini, yang dengan tidak adanya kuasa-kuasa tersebut Perjanjian ini tidak akan dibuat dan dengan demikian kuasa-kuasa tersebut tidak akan berakhir karena sebab apapun juga termasuk tetapi tidak terbatas oleh sebab-sebab yang tercantum dalam pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. PASAL 3 SYARAT PENARIKAN PINJAMAN Dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan lain dalam PERJANJIAN ini, BANK baru wajib mencairkan pinjaman kepada DEBITUR berdasarkan Perjanjian ini bila DEBITUR paling tidak telah memenuhi, seperti namun tidak terbatas pada, syarat-syarat : 3.1. BANK telah menerima dokumen-dokumen (semua dengan bentuk dan isi yang disetujui BANK dan dalam hal yang diserahkan adalah salinan maka aslinya wajib ditunjukkan pada BANK saat penyerahan dokumendokumen tersebut) sebagai berikut : a. Dokumen yang disyaratkan dalam Perjanjian ini, yaitu termasuk akta pendirian dan/atau anggaran dasar yang dibuat sampai dengan tanggal dan hari ini, berikut pengesahan-pengesahan yang telah diberikan oleh instansi yang berwajib terhadap anggaran dasar tersebut dan perubahan-perubahannya, berikut pula salinan Berita Acara Rapat Para Pemegang Saham dimana diangkat Direksi atau Komisaris DEBITUR yang sekarang menjabat jabatan-jabatan tersebut dan/atau persetujuan komisaris dan/atau persetujuan rapat umum para pemegang saham bila disyaratkan dalam anggaran dasar dan/atau peraturan yang berlaku. b. Asli surat kuasa dan/atau persetujuan yang disyaratkan oleh anggaran dasar DEBITUR yang dibuat dan diberikan oleh DEBITUR kepada orang-orang tertentu (jika ada) yang ditunjuk untuk dan atas nama DEBITUR melaksanakan Perjanjian ini dan Perjanjian (-perjanjian) Jaminan serta semua dokumen yang disyaratkan oleh atau berkaitan dengan Perjanjian ini atau Perjanjian-perjanjian jaminan, berikut contoh tandatangan orang-orang tersebut. c. Salinan surat izin usaha perdagangan dan/atau surat-surat izin lainnya yang dikeluarkan oleh instansi yang berwenang yang diperlukan oleh DEBITUR dalam menjalankan usahanya. d. Asli bukti-bukti hak kepemilikan atas barang-barang yang dijadikan Jaminan dan/atau Perjanjian (perjanjian) Jaminan yang disebut dalam Pasal 9 Perjanjian ini. 3.2. 3.3. 3.4. Semua Perjanjian-(perjanjian) Jaminan telah ditanda tangani dan dalam bentuk dan isi yang disetujui BANK. DEBITUR tidak sedang dalam keadaan lalai berdasarkan ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam Pasal 13 Perjanjian ini atau berdasarkan sebab lain sesuai pertimbangan BANK. Pernyataan dan Jaminan yang diberikan DEBITUR sebagaimana tersebut dalam Pasal 4 Perjanjian adalah benar dan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. PASAL 4 PERNYATAAN DAN JAMINAN DEBITUR bersama ini menyatakan dan menjamin bahwa : 4.1. Kewenangan Bertindak. DEBITUR mempunyai kekuasaan dan wewenang serta berhak untuk membuat, menandatangani dan melaksanakan segala ketentuan dalam Perjanjian ini dan Perjanjian Jaminan. Pihak yang menandatangani Perjanjian ini dan Perjanjian Jaminan adalah pihak yang mempunyai wewenang dan sah untuk mewakili DEBITUR dalam melakukan hal tersebut. DEBITUR telah mengambil segala tindakan yang disyaratkan oleh anggaran dasarnya dan ketentuan hukum yang berlaku untuk sahnya Perjanjian dan untuk melaksanakan Perjanjian Jaminan, dan Anggaran Dasar DEBITUR telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman dengan Surat Keputusan tertanggal ………………………………. Nomor ………………………………………….. dan telah dimuat dalam Berita Negara Nomor ………. tertanggal ……………………………, dan Tambahan Berita Negara Nomor ………………., dokumen-dokumen mana merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini. 4.2. Kekuatan Perjanjian.
6/14

Divisi Hukum – Kantor Pusat

Lampiran 1 Perjanjian ini dan segala dokumen serta instrument yang timbul sehubungan dan berkaitan dan sebagai akibatnya, adalah sah dan mengikat DEBITUR serta berlaku sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang tercantum di dalamnya. Pembuatan, penyerahan dan pelaksanaan Penandatangan Perjanjian dan dokumendokumen terkait lainnya tidak melanggar atau bertentangan dengan ketentuan hukum yang berlaku atau kebijakan pemerintah atau keputusan pengadilan atau badan arbitrase atau anggaran dasar DEBITUR sendiri dan tidak mengakibatkan pelanggaran (atau dinyatakan sebagai pelanggaran) atas kewajiban DEBITUR berdasarkan atau memerlukan suatu persetujuan yang disyaratkan oleh setiap perjanjian atau dokumen yang telah ada, terhadap mana DEBITUR merupakan pihak didalamnya atau harta kekayaan DEBITUR terikat atau terlibat, kecuali atas hal-hal yang telah diberitahukan terlebih dahulu secara tertulis oleh DEBITUR kepada BANK sebelum penandatanganan tersebut. 4.3. Tidak Ada Tuntutan/Sengketa. Tidak ada dan tidak akan pernah ada sengketa maupun tuntutan terhadap DEBITUR maupun barang-barang yang dijadikan Jaminan, baik di luar maupun di dalam pengadilan atau peradilan manapun juga yang dapat berakibat buruk/menambah resiko terhadap usaha DEBITUR pada umumnya dan keadaan keuangan DEBITUR pada khususnya yang dapat membahayakan BANK atas pemberian Fasilitas Kredit ini. Debitur tidak akan mengajukan tuntutan/gugatan hukum berupa apapun terhadap BANK, antara lain (namun tidak terbatas) tuntutan/gugatan membayar ganti rugi kepada DEBITUR atas kerugian-kerugian yang mungkin diderita DEBITUR sebagai akibat dari Perjanjian ini. Dalam hal debitur karena suatu perkara di pengadilan atau karena suatu sitaan sebelum diputuskan perkaranya oleh pengadilan atau karena suatu putusan pengadilan atau karena proses hukum lainnya memperoleh hak kekebalan, DEBITUR dengan ini memberikan pernyataan yang tidak dapat dicabut kembali melepaskan hak kekebalan tersebut yang berkenaan dengan kewajibannya berdasarkan Perjanjian ini 4.4. Laporan Keuangan Laporan Keuangan yang telah di audit oleh akuntan publik atau dibuat oleh DEBITUR sendiri (yang telah dinyatakan "sah" oleh DEBITUR) adalah benar, tepat dan tidak ada kesalahan apapun, dan menunjukkan secara jelas keadaan keuangan DEBITUR yang sebenarnya. Perijinan. Setiap ijin, persetujuan atau wewenang yang dikeluarkan oleh instansi yang berwajib dan yang disyaratkan untuk dan dalam rangka pembuatan, penyerahan dan pelaksanaan Perjanjian ini dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit ini telah diperoleh DEBITUR. Ijin-ijin, persetujuanpersetujuan dan wewenang mana sekarang ini masih berlaku, dan akan diperpanjang oleh DEBITUR apabila jangka waktu ijin, persetujuan dan/atau wewenang-wewenang tersebut telah habis namun seluruh pinjaman dibayar lunas oleh DEBITUR. Tidak Dalam Keadaaan Lalai/Wanprestasi DEBITUR tidak sedang dalam keadaan lalai dan/atau melakukan pelanggaran dan/atau dinyatakan dalan keadaan wanprestasi, berdasarkan perjanjian kredit lain dengan BANK. Pajak DEBITUR tidak memiliki tunggakan atas kewajiban pada pihak ketiga atau kepada Pemerintah dalam hal perpajakan. Kepailitan. DEBITUR, PENJAMIN dan/atau PEMBERI JAMINAN tidak sedang dan tidak akan mengajukan permohonan penundaan pembayaran (surseance van betaling) terhadap Fasilitas Kredit yang diberikan berdasarkan Perjanjian ini dan tidak menjadi insolvent atau dinyatakan pailit dan tidak kehilangan haknya untuk mengurus atau menguasai harta bendanya.

4.5.

4.6.

4.7.

4.8.

PASAL 5 HAL-HAL YANG DIWAJIBKAN
Divisi Hukum – Kantor Pusat 7/14

Lampiran 1

Kecuali ditentukan lain oleh BANK, terhitung sejak tanggal Perjanjian ini sampai dengan dilunasinya seluruh kewajiban yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini, maka DEBITUR wajib melakukan/melaksanakan hal-hal sebagai berikut : 5.1. 5.2. 5.3. Menjalankan usahanya secara layak dan efisien. Menggunakan Fasilitas Kredit semata-mata untuk keperluan sebagaimana ditetapkan dalam Perjanjian ini. Senantiasa memberikan ijin kepada BANK atau petugas-petugas yang diberi kuasa oleh BANK untuk : a. melakukan pemeriksaan (audit) terhadap buku-buku, catatan-catatan dan administrasi DEBITUR serta memeriksa keadaan barang-barang jaminan; b. melakukan peninjauan ke dalam proyek, bangunan-bangunan lain dan kantor-kantor yang digunakan DEBITUR dan c. mengizinkan BANK untuk menempatkan karyawan-karyawannya dan/atau kuasanya dalam perusahaan DEBITUR guna ikut mengawasi pengelolaan perusahaan tersebut, apabila dianggap perlu oleh BANK. Mengizinkan karyawan-karyawan BANK atau kuasanya atau perusahaan penilai sebagaimana akan ditetapkan oleh BANK dan akan diberitahukan kepada DEBITUR untuk melakukan collateral inspection minimal satu kali dalam satu tahun dan dengan biaya ditanggung oleh DEBITUR. Melakukan pembukuan mengenai keuangan perusahaan dan membuat catatan-catatan yang mencerminkan keadaan keuangan perusahaan DEBITUR yang sesungguhnya serta hasil pengoperasian perusahaan DEBITUR yang sesuai dengan prinsip-prinsip pembukuan yang diterima secara umum atau sesuai dengan prinsip-prinsip Akuntansi Indonesia yang mencerminkan kewajaran dan dilaksanakan secara konsisiten. Memberikan pada BANK segala informasi/keterangan/data-data (seperti, namun tidak terbatas pada laporan keuangan DEBITUR), yaitu : a. segala sesuatu sehubungan dengan keuangan dan usaha DEBITUR, b. bilamana terjadi perubahan dalam sifat atau luas lingkup usaha DEBITUR bilamana terjadi suatu peristiwa atau keadaan yang dapat mempengaruhi keadaan usaha atau keuangan DEBITUR, setiap waktu, baik diminta maupun tidak diminta oleh BANK. Mempertahankan, memperpanjang atau memperbaharui apabila sudah habis jangka waktunya semua izin usaha dan izin-izin lainnya yang dipunyai oleh DEBITUR dalam rangka menjalankan usahanya dan menyerahkan fotocopy dari izin-izin tersebut kepada BANK serta menyimpan sebaik-baiknya surat-surat izin dan persetujuan-persetujuan yang telah diperolehnya dari pihak yang berwenang dan apabila ternyata dikemudian hari diperlukan surat-surat izin dan persetujuan-persetujuan yang baru, DEBITUR wajib segera mengurusnya. Membayar pajak-pajak dan beban-beban lainnya yang ditetapkan oleh Pemerintah, bea meterai, biaya-biaya dan semua tagihan-tagihan yang wajib dibayar oleh DEBITUR sehubungan dengan usahanya dengan sebagaimana mestinya. Menyerahkan pada BANK : a. Laporan Keuangan Tahunan (Audited) segera setelah diminta oleh BANK, selambat-lambatnya 90 (sembilan puluh) hari kalender sejak tanggal laporan. b. Laporan Keuangan Triwulanan (House Figures), termasuk neraca dan perhitungan laba-rugi, segera setelah diminta oleh BANK, selambat-lambatnya 60 (enam puluh) hari sejak tanggal laporan, yang ditandatangani oleh pengurus DEBITUR. c. Laporan Keuangan Tahunan yang merupakan lampiran Surat Pemberitahuan Tahunan Atas Pajak Penghasilan (SPT-PPh) yang bertanda terima dari kantor Pelayanan Pajak setempat, selambat-lambatnya 120 (seratus dua puluh) hari sejak tanggal laporan. d. Daftar Tagihan-tagihan (Piutang) DEBITUR dengan disertai aging schedule setiap triwulan, selambatlambatnya 30 (tiga puluh lima) hari kalender setelah tanggal periode laporan tersebut dan ditandatangani oleh pengurus perusahaan DEBITUR. e. Daftar Barang Dagangan (Inventory) DEBITUR setiap triwulan, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari kalender setelah tanggal periode laporan dan ditandatangani oleh pengurus perusahaan DEBITUR. PASAL 6 HAL-HAL YANG DILARANG
Divisi Hukum – Kantor Pusat 8/14

5.4.

5.5.

5.6.

5.7.

5.8.

5.9.

Lampiran 1

Kecuali ditentukan lain oleh BANK, terhitung sejak tanggal Perjanjian ini sampai dengan dilunasinya seluruh kewajiban yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini, maka DEBITUR dilarang melakukan hal-hal sebagai berikut : 6.1. Menjual atau dengan cara lain mengalihkan hak atau menyewakan/menyerahkan pemakaian seluruh atau sebagian kekayaan/asset DEBITUR, baik barang-barang bergerak maupun tidak bergerak milik DEBITUR, kecuali dalam rangka menjalankan usaha DEBITUR sehari-hari. 6.2. Menjaminkan/mengagunkan dengan cara bagaimanapun kekayaan DEBITUR kepada orang/pihak lain, kecuali menjaminkan/mengagunkan kekayaan kepada BANK sebagaimana termaktub dalam Perjanjian (perjanjian) Jaminan. Mengadakan perjanjian yang dapat menimbulkan kewajiban DEBITUR untuk membayar kepada pihak ketiga, kecuali dalam rangka menjalankan usaha DEBITUR sehari-hari. Menjamin langsung maupun tidak langsung pihak ketiga lainnya, kecuali melakukan endorsemen atas suratsurat yang dapat diperdagangkan untuk keperluan pembayaran atau penagihan transaksi-transaksi lain yang lazim dilakukan dalam menjalankan usaha. Memberikan pinjaman kepada atau menerima pinjaman dari pihak lain kecuali dalam rangka menjalankan usaha DEBITUR sehari-hari. Mengadakan perubahan dari sifat dan kegiatan usaha DEBITUR seperti yang sedang dijalankan dewasa ini. Merubah susunan pengurus, susunan Para Pemegang Saham dan nilai saham DEBITUR. Mengumumkan dan membagikan deviden saham DEBITUR. Melakukan merger atau akuisisi.

6.3. 6.4.

6.5. 6.6. 6.7. 6.8. 6.9.

6.10. Membayar atau membayar kembali tagihan-tagihan atau piutang-piutang berupa apapun juga yang sekarang dan/atau dikemudian hari akan diberikan oleh para Pemegang Saham DEBITUR baik berupa jumlah pokok, bunga dan lain-lain jumlah uang yang wajib dibayar. PASAL 7 PERLINDUNGAN TERHADAP PENGHASILAN BANK 7.1. Semua biaya yang dapat ditagih dan harus dibayar dan yang timbul berdasarkan Perjanjian ini dan segala akibat dari pada Perjanjian ini, termasuk tapi tidak terbatas kepada, biaya-biaya yang bertalian dengan penyimpanan dan pemilikan jaminan, upah serta beban-beban dan setiap pembayaran yang harus dibayar BANK kepada pengacara dan/atau penasehat hukum yang diberi tugas oleh BANK untuk menagih kredit tersebut, segala ongkos-ongkos yang bersangkutan dengan realisasi jaminan itu, termasuk komisi dan pembayaran-pembayaran lainnya kepada pihak ketiga, demikian pula pajak (seperti, namun tidak terbatas pada bea materai) daripada Perjanjian ini (termasuk segala perubahan dan/atau penambahannya) menjadi tanggungan DEBITUR. Juga apabila terjadi perubahan pada Undang-undang, peraturan perundang-undangan, petunjuk pelaksanaannya atau penafsirannya atau hal-hal lain yang mengakibatkan bertambahnya biaya (seperti, namun tidak terbatas pada pengenaan pajak, bea, pungutan atau biaya lain) pada BANK sehubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit dalam Perjanjian ini merupakan tanggungan DEBITUR. Maka sejak tanggal permintaan BANK, DEBITUR wajib dalam jangka waktu 7 (tujuh) hari membayar tambahan biaya-biaya tersebut kepada BANK.

7.2.

7.3.

PASAL 8 JAMINAN ATAS PEMBERIAN KREDIT

Divisi Hukum – Kantor Pusat

9/14

Lampiran 1 8.1. Untuk menjamin pembayaran lunas, penuh, tertib dan dengan sebagaimana mestinya semua jumlah uang yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini dan perubahan dan/atau perpanjangannya, baik jumlah pokok pinjaman(-pinjaman), bunga, biaya-biaya dan lain-lain jumlah uang yang wajib, maka DEBITUR menyerahkan pada BANK Jaminan(-jaminan), yang pengalihan hak kepemilikannya dibuktikan dengan dokumen atau perjanjian-perjanjian yang dibuat dalam bentuk, jumlah dan isi yang memuaskan BANK, termasuk namun tidak terbatas pada hal-hal sebagai berikut, berikut segala tambahan dan/atau penggantinya yang diuraikan dalam perjanjian terpisah namun merupakan kesatuan dari Perjanjian ini, yaitu : ……...…………………………………………………………………………………………………………………………. ……...…………………………………………………………………………………………………………………………. ……...…………………………………………………………………………………………………………………………. ……...…………………………………………………………………………………………………………………………. ……...…………………………………………………………………………………………………………………………. ……...…………………………………………………………………………………………………………………………. ……...…………………………………………………………………………………………………………………………. Seluruh Perjanjian Jaminan (-Perjanjian Jaminan) tersebut (selanjutnya disebut Perjanjian (-perjanjian) Jaminan) juga terikat secara “Cross Collateralized” terhadap fasilitas(-fasilitas) kredit lainnya yang diberikan oleh BANK kepada DEBITUR, yang diuraikan dalam perjanjian(-perjanjian) terpisah antara BANK dan DEBITUR. 8.2. BANK berhak dan berwenang menjalankan hak dan wewenangnya atas jaminan yang disebut pada ketentuanketentuan diatas. PASAL 9 ASURANSI BARANG JAMINAN 9.1. DEBITUR atas tanggungan sendiri harus selalu mengasuransikan harta benda yang dijaminkan oleh DEBITUR dan/atau PENJAMIN kepada BANK pada perusahaan asuransi dan sampai jumlah pertanggungan yang ditetapkan oleh BANK, terhadap kerugian karena kebakaran dan bahaya-bahaya lain yang menurut pertimbangan BANK dapat menimpa harta benda tersebut. Setiap polis asuransi harus memuat "Banker's Clause", yakni bahwa selama harta benda yang diasuransikan masih merupakan jaminan hutang kepada BANK, maka uang pertanggungan yang dibayar oleh perusahaan asuransi akan diserahkan langsung oleh perusahaan asuransi tersebut kepada BANK dan selanjutnya untuk diperhitungkan dengan hutang DEBITUR kepada BANK dan jika masih ada sisa, menyerahkan sisa tersebut kepada DEBITUR atau PENJAMIN sebagai pemilik harta benda yang dijaminkan kepada BANK. Dalam hal hasil uang pertanggungan tidak cukup untuk melunasi seluruh hutang, sisa hutang tersebut tetap menjadi hutang DEBITUR kepada BANK dan harus dibayar dengan seketika dan sekaligus oleh DEBITUR pada saat ditagih oleh BANK. Asli kwitansi atau bukti pembayaran premi asuransi dan asli polis asuransi beserta "Banker's Clause" harus diserahkan kepada BANK. Jika menurut pertimbangan BANK, DEBITUR lalai memenuhi kewajiban sebagaimana yang dimaksud dalam ayat (1) Pasal ini, maka tanpa mengurangi kewajiban DEBITUR tersebut BANK berhak dan dengan ini diberi kuasa oleh DEBITUR untuk dan atas tanggungan DEBITUR mengasuransikan harta benda yang dijaminkan dan mendebet rekening DEBITUR pada BANK sejumlah premi asuransi serta biaya-biaya lain yang harus dibayar, tetapi hal tersebut bukan merupakan kewajiban BANK. Apabila DEBITUR karena satu dan lain hal lalai atau tidak melaksanakan haknya pada saat hak tersebut timbul untuk mengajukan klaim kepada perusahaan asuransi sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 Pasal ini, maka BANK atas tanggungan DEBITUR dengan ini diberi kuasa oleh DEBITUR untuk melakukan klaim kepada perusahaan asuransi untuk dan atas nama DEBITUR dan melaksanakan segala sesuatu yang diperlukan untuk itu termasuk tetapi tidak terbatas pada pengurusan surat-surat/ dokumen-dokumen yang berhubungan dengan pengajuan klaim tersebut kepada perusahaan asuransi serta DEBITUR wajib menyerahkan segala dokumen yang diperlukan oleh BANK untuk melaksanakan pengajuan klaim asuransi tersebut; tetapi pengajuan klaim dimaksud di atas bukan kewajiban BANK. PASAL 10 KOMPENSASI

9.2.

9.3.

Divisi Hukum – Kantor Pusat

10/14

Lampiran 1 10.1. Kewajiban DEBITUR untuk membayar kembali hutangnya pada BANK berdasarkan Perjanjian ini atau setiap perjanjian lain yang berhubungan, wajib dipenuhi oleh DEBITUR tanpa DEBITUR berhak untuk memperhitungkan (mengkompensir) dengan tagihan/piutang dagang DEBITUR terhadap BANK (bila ada) dan tanpa hak untuk menuntut terlebih dahulu suatu pembayaran lain (counter claim). 10.2. DEBITUR menyetujui bahwa tagihan/piutang dagang DEBITUR pada BANK (bila ada) tidak dapat dijadikan alasan untuk tidak membayar atau menuntut kembali BANK berdasarkan Perjanjian ini atau berdasarkan perjanjian-perjanjian lain yang disebut dalam Perjanjian ini. DEBITUR dengan ini melepaskan semua haknya seperti disebut dalam pasal 1425 sampai dengan 1429 Kitab Undang-undang Hukum Perdata. PASAL 11 PENGALIHAN HAK 11.1. DEBITUR setuju bahwa apabila dianggap perlu oleh BANK, berdasarkan pertimbangannya sendiri BANK mempunyai hak untuk mengalihkan, baik seluruh atau sebagian hak-hak yang timbul sehubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit yang diberikan kepada DEBITUR berdasarkan Perjanjian (berikut setiap perubahan, penambahan atau perpanjangannya) kepada pihak ketiga lainnya. Dan DEBITUR dengan ini setuju bahwa penerima pengalihan hak yang bersangkutan akan mendapat manfaat yang sama dengan yang diberikan kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini. 11.2. Menyimpang dari hal dimuka, DEBITUR setuju untuk tidak mengalihkan sebagian atau seluruh hak dan kewajibannya berdasarkan Perjanjian ini pada pihak ketiga lainnya tanpa persetujuan tertulis terlebih dahulu dari BANK. 11.3. Dalam hal BANK mengalihkan Fasilitas Kredit ini, baik sebagian maupun seluruhnya, DEBITUR tetap terikat dan tunduk pada syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan dalam Perjanjian (berikut setiap perubahan dan/atau perpanjangannya) serta perjanjian-perjanjian lainnya yang berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit oleh BANK kepada DEBITUR. PASAL 12 PERISTIWA KELALAIAN Menyimpang dari jangka waktu pemberian kredit yang disebut dalam ketentuan 1.1. diatas, berikut segala perubahannya, seluruh jumlah pinjaman dari DEBITUR terhadap BANK, baik karena hutang pokok, bunga, komisi, fee dan biaya-biaya lainnya yang terhutang berdasarkan Perjanjian ini, dapat ditagih dan wajib dibayarkan kembali dengan seketika dan sekaligus seluruhnya, tanpa perlu adanya surat teguran juru sita atau surat lainnya yang serupa dengan itu, dan tanpa perantaraan Pengadilan, BANK dapat langsung menjual harta benda yang dijaminkan oleh DEBITUR dan/atau PENJAMIN kepada BANK baik dibawah-tangan maupun dimuka umum (secara lelang) dengan harga dan syarat-syarat yang ditetapkan oleh BANK, dengan ketentuan pendapatan bersih dari penjualan dipergunakan untuk pembayaran seluruh kewajiban/hutang DEBITUR kepada BANK dan jika ada sisa, maka sisa tersebut akan dikembalikan kepada DEBITUR dan/atau PENJAMIN sebagai pemilik harta benda yang dijaminkan kepada BANK. Sebaliknya, apabila hasil penjualan tersebut tidak cukup untuk melunasi seluruh kewajiban/hutang DEBITUR kepada BANK, maka kekurangan tersebut tetap menjadi kewajiban/hutang DEBITUR kepada BANK dan wajib dibayar oleh DEBITUR dengan seketika dan sekaligus pada saat ditagih oleh BANK, yaitu dalam hal terjadinya, paling tidak, salah satu dari kejadian di bawah ini : 12.1. Bilamana angsuran hutang pokok dan/atau bunga dan/atau jumlah yang terhutang lain yang timbul berdasarkan Perjanjian ini tidak dibayar lunas pada waktu dan dengan cara sebagaimana yang ditentukan dalam Perjanjian ini dan/atau perubahan dan/atau perpanjangannya, dimana lewatnya waktu saja sudah merupakan bukti yang cukup dan sah bahwa DEBITUR telah melalaikan kewajibannya; 12.2. Bilamana menurut BANK, DEBITUR tidak memenuhi, terlambat memenuhi atau memenuhi namun hanya sebagian, paling tidak salah satu dari syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan lain dalam Perjanjian ini dan/atau terjadi kelalaian atau pelanggaran yang termaktub dalam perjanjian-perjanjian jaminan yang dibuat berkenaan dengan Perjanjian ini. 12.3. Jika suatu pernyataan, surat keterangan atau dokumen yang diberikan sehubungan dengan Perjanjian ini dan/atau perubahan dan/atau penambahan dan/atau sehubungan dengan Perjanjian ini ternyata tidak benar atau tidak sesuai dengan pernyataan sebenarnya dalam atau mengenai hal-hal yang oleh BANK dianggap penting.

Divisi Hukum – Kantor Pusat

11/14

Lampiran 1 12.4. Apabila semata-mata menurut pertimbangan BANK, keadaan keuangan, bonafiditas dan solvabilitas DEBITUR mundur sedemikian rupa yang dapat mengakibatkan DEBITUR tidak dapat membayar hutangnya lagi. 12.5. Bilamana DEBITUR atau orang/pihak lain yang menanggung atau menjamin pembayaran hutang-hutang DEBITUR (untuk selanjutnya disebut juga PENJAMIN) berdasarkan perjanjian ini mengajukan permohonan untuk dinyatakan dalam keadaan pailit atau penundaan pembayaran hutang-hutang ("surseance van betaling") kepada instansi yang berwenang atau tidak membayar hutangnya kepada pihak ketiga yang telah dapat ditagih (jatuh waktu) atau karena sebab apapun tidak berhak lagi mengurus dan menguasai kekayaannya atau dinyatakan pailit atau suatu permohonan atau tuntutan untuk kepailitan telah diajukan terhadap DEBITUR dan/atau terhadap PENJAMIN kepada instansi yang berwenang. 12.6. Bilamana DEBITUR atau PENJAMIN dibubarkan atau mengambil keputusan untuk bubar (bilamana DEBITUR atau PENJAMIN adalah suatu perusahaan) meninggal dunia atau menangguhkan untuk sementara usahanya atau dinyatakaan berada dibawah pengampuan ("Onder Curatele Gesteld"). 12.7. Bilamana kekayaan DEBITUR atau PENJAMIN seluruhnya atau sebagian disita oleh instansi yang berwajib; atau apabila menurut penilaian BANK kekayaan DEBITUR atau PENJAMIN dianggap menjadi berkurang sehingga dapat membahayakan Fasilitas Kredit yang dimaksud dalam Perjanjian ini. 12.8. Bilamana barang(-barang) yang dijadikan jaminan untuk pembayaran hutang DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini disita oleh instansi yang berwenang, atau bilamana barang(-barang) jaminan tersebut hilang, rusak atau musnah karena sebab apapun juga. 12.9. Apabila DEBITUR atau PENJAMIN telah lalai atau melanggar sesuatu ketentuan dalam suatu perjanjianperjanjian lain, termasuk namun tidak terbatas pada perjanjian yang mengenai atau berhubungan dengan pinjaman uang atau pemberian kredit dimana DEBITUR atau PENJAMIN adalah sebagai pihak yang meminjam dan bilamana kelalaian/atau pelanggaran tersebut mengakibatkan atau memberikan hak kepada pihak lain dalam perjanjian tersebut untuk menyatakan bahwa hutang atau kredit yang diberikan dalam perjanjian tersebut menjadi harus dibayar atau dibayar kembali dengan seketika dan sekaligus pada tanggal jatuh waktu pembayaran yang telah ditentukan. 12.10. Bilamana tidak dapat diperoleh salah satu atau beberapa atau seluruh ijin, persetujuan atau wewenang, baru maupun perpanjangannya, yang dikeluarkan oleh instansi yang berwajib dan yang disyaratkan untuk dan dalam rangka pembuatan, penyerahan dan pelaksanaan Perjanjian ini dan dokumen-dokumen lain yang berhubungan dengan pemberian Fasilitas Kredit ini. 12.11. Apabila nilai asset/kekayaan milik DEBITUR menurut penilaian BANK menurun. 12.12. Jika DEBITUR masuk dalam Daftar Kredit Macet dan/atau Daftar Hitam (blacklist) yang dikeluerkan oleh Bank Indonesia. PASAL 13 KETENTUAN TAMBAHAN Atas Fasilitas Kredit ini berlaku pula ketentuan sebagai berikut : ………....….……………………………………………………..…………………………………………………………………… … ………....….……………………………………………………………………………………………………………………………. . ………....….……………………………………………………………………………………………………………………………. . ………....….…………………………………………………………………………………………………………………………… ………....….…………………………………………………………………………………………………………………………… ………....….…………………………………………………………………………………………………………………………… ………....….…………………………………………………………………………………………………………………………… ………....….…………………………………………………………………………………………………………………………… ………....….…………………………………………………………………………………………………………………………… ………....….…………………………………………………………………………………………………………………………… ………....….…………………………………………………………………………………………………………………………… PASAL 14 PEMBERITAHUAN
Divisi Hukum – Kantor Pusat 12/14

Lampiran 1

14.1. Semua surat menyurat atau pemberitahuan yang harus dikirim oleh masing-masing pihak kepada pihak lain dalam Perjanjian ini mengenai atau sehubungan dengan Perjanjian ini dilakukan dengan secara langsung, surat tercatat, facsimile, telex atau melalui perusahaan ekspedisi (kurir) ke alamat-alamat yang tersebut dibawah ini : a. BANK Nama : Alamat : Telp/Fax : Telex : Contact Person : b. DEBITUR Nama Alamat Telp/Fax Telex Contact Person : : : : :

14.2. Surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan dianggap telah diterima oleh pihak yang dituju (i) pada tanggal tanda terima ditandatangani apabila disampaikan secara langsung atau melalui jasa kurir (ii) pada tanggal setelah 5 (lima) hari kerja sejak diposkannya apabila dikirim dengan surat tercatat atau sejak diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) dan cukup bila ditandatangani oleh pihak-pihak yang berhak mewakili BANK atau DEBITUR (iii) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui telex yang dikonfirmasi dengan kode jawab; dan (iv) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui facsimile yang dikonfirmasi dengan tanda telah dikirim. 14.3. Dalam hal terjadi perubahan alamat dari alamat tersebut diatas atau alamat terakhir yang tercatat pada masingmasing pihak, maka perubahan tersebut harus diberitahukan secara tertulis kepada pihak lain dalam Perjanjian ini selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sebelum terjadinya perubahan alamat yang dimaksud. Jika perubahan alamat tidak diberitahukan, maka surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan berdasarkan Perjanjian ini dianggap telah diberikan sebagaimana mestinya dengan dikirimnya surat atau pemberitahuan itu dengan secara langsung, surat tercatat, facsimile atau telex atau sejak diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) yang ditujukan kealamat tersebut diatas atau alamat terakhir yang diketahui/tercatat pada masing-masing pihak. PASAL15 KETENTUAN PENUTUP 15.1. DEBITUR dengan ini menyatakan bahwa DEBITUR tunduk kepada semua peraturan-peraturan dan kebijaksanaan-kebijaksanaan mengenai kredit yang ada pada BANK sekarang sebagaimana terlampir dan/atau diperlihatkan kepada DEBITUR. 15.2. Semua dan setiap kuasa yang diberikan oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian ini merupakan bagian-bagian yang terpenting dan tidak dapat dipisahkan dari Perjanjian ini, yang tanpa adanya kuasa-kuasa tersebut Perjanjian ini tidak akan dibuat dan dengan demikian maka kuasa-kuasa tersebut tidak dapat ditarik kembali maupun dibatalkan oleh sebab-sebab yang tercantum dalam pasal 1813, 1814 dan 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia. 15.3. Perjanjian ini tidak dapat diubah atau ditambah kecuali dengan suatu perjanjian perubahan atau tambahan yang ditandatangani para pihak dalam Perjanjian ini. 15.4. Mengenai Perjanjian ini DEBITUR dan BANK dengan ini melepaskan ketentuan pasal 1266 dan pasal 1267 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia. 15.5. Jika ada salah satu ketentuan dalam Perjanjian ini yang oleh karena suatu ketetapan pemerintah atau pengadilan dilarang atau tidak dapat dilaksanakan atau menjadi tidak berlaku atau dinyatakan batal demi hukum, hal tersebut tidak mempengaruhi keabsahan ketentuan lainnya dalam Perjanjian ini, dan ketentuanketentuan lainnya tersebut tetap berlaku dan mengikat serta dapat dilaksanakan sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian ini, DEBITUR wajib membuat dan menandatangani dokumen yang berisikan ketentuan yang
Divisi Hukum – Kantor Pusat 13/14

Lampiran 1 memenuhi persyaratan BANK sebagai pengganti ketentuan yang dilarang atau tidak dapat dilaksanakan tersebut, sebagaimana diminta oleh BANK. 15.6. Tidak digunakannya atau ditundanya penggunaan sesuatu hak, kuasa atau hak istimewa oleh BANK bukan berarti bahwa BANK melepaskan hak atau kuasa atau hak istimewanya itu kecuali hak tersebut dilepas oleh BANK secara tertulis. Dan digunakannya sebagian hak, kuasa atau hak istimewa tadi tidak menghalangi BANK untukmeneruskan atau mengulangi digunakannya hak atau kuasa atau hak istimewa tersebut. Hak-hak dan upaya-upaya yang diberikan kepada BANK dalam Perjanjian ini bersifat kumulatif dan tidak mengurangi hakhak-hak dan upaya-upaya lain yang diberikan kepadanya menurut hukum. 15.7. Dalam hal terjadi atau timbul suatu Kelalaian/Pelanggaran, maka suatu tindakan yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh BANK atau kelambatan dalam melaksanakan suatu hak, wewenang atau tuntutan tidak melemahkan hak, wewenang atau tuntutan tersebut dan juga tidak dapat diartikan bahwa BANK melepaskan hak, wewenang atau tuntutan tersebut atau membenarkan terjadinya kelalaian pada atau dilakukannya pelanggaran oleh DEBITUR. 15.8. Terhadap Perjanjian ini dan segala dokumen yang berhubungan dan yang timbul akibat Perjanjian ini, seperti namun tidak terbatas pada perjanjian-perjanjian jaminan, tunduk pada hukum negara Republik Indonesia. 15.9. Mengenai Perjanjian ini dan segala akibatnya kedua belah pihak memilih tempat kedudukan hukum yang tetap dan seumumnya di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri …………………… di ……………………………… . Namun, tidak mengurangi hak dan wewenang BANK untuk memohon pelaksanaan (eksekusi) atau mengajukan tuntutan/gugatan hukum terhadap DEBITUR berdasarkan Perjanjian ini dimuka pengadilan lain dalam wilayah Republik Indonesia. Demikian PERJANJIAN ini dibuat dan ditandatangani di …………………………. , pada tanggal dan tahun sebagaimana tersebut diatas, dan mulai berlaku sejak tanggal ……………………………. . BANK PT. BANK DANAMON INDONESIA Tbk DEBITUR
Materai

_________________________________
Nama : Jabatan :

_______________________________
Nama : Jabatan : Mengetahui dan Menyetujui,

________________________________
Nama : Jabatan :
*) Coret yang tidak perlu

Divisi Hukum – Kantor Pusat

14/14

Lampiran 2

PERJANJIAN GADAI DEPOSITO
No. .............................

Perjanjian Gadai Deposito ini (selanjutnya disebut “Perjanjian”) dibuat pada hari ini, ....................., tanggal ..............……....................... oleh dan antara : 1. PT. BANK DANAMON INDONESIA Tbk, berkedudukan di Jakarta, dalam hal ini melalui kantornya di Jalan …………………………………………….. , dan diwakili oleh …………………………………………………...... dalam kedudukannya selaku ……………………………………….. (selanjutnya disebut “BANK”); ……………………………………………………………….………………………………… , swasta, bertempat tinggal di …………………………………………………………………. dalam hal ini bertindak : *) a. untuk diri sendiri dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah mendapat persetujuan dari suaminya / istrinya, yaitu : ………………………………………... yang turut menandatangani Perjanjian ini / sebagaimana ternyata dari Surat Persetujuan yang dibuat dibawah tangan bermeterai cukup tertanggal ……………………………………. *) b. selaku ……………………………………………………………………….. dari dan oleh karenanya bertindak untuk dan atas nama PT. …………………………………….. berkedudukan di ……………………..……. dan untuk melakukan tindakan hukum tersebut dalam Perjanjian ini telah memperoleh persetujuan dari ……………………………………… yang turut menandatangani Perjanjian ini / sebagaimana ternyata dalam suratnya tertanggal …………………… *) (selanjutnya disebut “PEMBERI GADAI”).

2.

Para pihak dengan ini menerangkan terlebih dahulu hal-hal sebagai berikut : a. Bahwa oleh dan antara …………….………………………...…. (selanjutnya disebut “DEBITUR”) dan BANK telah dibuat dan ditandatangani Perjanjian Kredit nomor ………….., tanggal ……………... (selanjutnya perjanjian kredit tersebut berikut seluruh perubahannya, perpanjangannya dan atau pembaharuannya yang akan dibuat dikemudian hari disebut “Perjanjian Kredit”). b. Bahwa untuk menjamin pembayaran kembali dengan tertib dan secara sebagaimana mestinya seluruh hutang DEBITUR kepada BANK yang telah dan akan ada berikut bunga, denda, provisi serta biaya-biaya lain yang mungkin timbul karena fasilitas kredit yang telah dan atau akan diberikan berdasarkan Perjanjian Kredit, PEMBERI GADAI menggadaikan kepada BANK, semua hak atas Rekening Deposito sebagaimana akan disebut dibawah ini. c. Bahwa untuk menggadaikan Hak atas Rekening Deposito tersebut, PEMBERI GADAI telah : *) (i) mendapatkan persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa, sebagaimana ternyata dari Berita Acara Rapat Umum Para Pemegang Saham Luar Biasa tertanggal …………………………… / menyerahkan Surat Pernyataan Direksi PEMBERI GADAI tertanggal ……………………..., yang menyatakan bahwa jumlah saham yang digadaikan oleh PEMBERI GADAI kepada BANK ini tidak merupakan sebagaian besar (hanya merupakan sebagian kecil) dari seluruh kekayaan/asset yang dimiliki PEMBERI GADAI dan oleh karenanya oleh karenanya persetujuan dari Rapat Umum Luar Biasa Para Pemegang Saham PEMBERI GADAI sebagaimana disyaratkan oleh Pasal 88 ayat 1 Undang-undang no.1 tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas tidaklah diperlukan. *) (ii) dan/atau telah memenuhi ketentuan-ketentuan yang termaktub dalam anggaran dasar Perseroan serta PEMBERI GADAI dan peraturan-peraturan yang berlaku, termasuk tetapi tidak terbatas pada persetujuan pengalihan hak atas Rekening Deposito sesuai dengan ketentuan Perjanjian ini dan peraturan yang berlaku.

Maka sehubungan dengan segala sesuatu yang diuraikan di atas, BANK dan PEMBERI GADAI telah saling setuju dan sepakat untuk dan dengan ini membuat serta menetapkan Perjanjian untuk dipatuhi dan dilaksanakan oleh para pihak, dengan memakai syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan sebagai berikut :

Divisi Hukum – Kantor Pusat

hal.1/5

Lampiran 2

PASAL 1 PEMBERIAN GADAI 1. Guna menjamin setiap dan seluruh jumlah uang yang terhutang oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit, PEMBERI GADAI menyatakan dengan ini menggadaikan dan/atau memberikan kepada BANK, semua Hak atas Rekening Deposito yang dibuktikan dengan : Bilyet Deposito Berjangka : Nomor Deposito : Tanggal Deposito : Atas Nama : Jumlah : berikut setiap jumlah penambahan bunga ke dalam jumlah nominal yang setiap perubahan tersebut telah ternyata dari perubahan kontrak dan Bilyet Depositonya (Selanjutnya disebut “Deposito”). PEMBERI GADAI dapat mengajukan permohonan kepada BANK untuk merubah jenis mata uang atas Deposito berjangka yang digadaikan tersebut diatas sesuai kurs yang berlaku sekurang-kurangnya 3 (tiga) hari sebelum tanggal perubahan mata uang yang diminta oleh PEMBERI GADAI tersebut, dengan ketentuan bahwa BANK atas pertimbangan sendiri berhak untuk menolak permintaan tersebut. PASAL 2 EKSEKUSI DAN HASILNYA 1. Dalam hal terjadi kejadian kelalaian sebagaimana diatur dalam Perjanjian Kredit, maka tanpa harus mendapatkan suatu keputusan, perintah atau wewenang dari Pengadilan terlebih dahulu yang PEMBERI GADAI dengan ini secara tegas mengenyampingkannya dan dengan memberitahukan secara tertulis kepada PEMBERI GADAI, PEMBERI GADAI setuju dan dengan ini memberikan kuasanya kepada BANK yang tidak dapat ditarik kembali dan tidak akan berakhir oleh sebab apapun termasuk tapi tidak terbatas pada sebab-sebab yang tercantum dalam pasal 1813, 1814 dan 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia untuk mencairkan Deposito tersebut dan PEMBERI GADAI menyetujui BANK dapat memperhitungkan hasil pencairan Deposito serta mengambil pelunasan atas hutang pokok, bunga, provisi dan/atau biaya lain yang timbul berdasarkan Perjanjian Kredit termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya perkara dimuka Pengadilan, honor Pengacara Hutang tersebut diatas. Kuasa tersebut di atas dan kuasa lain yang diberikan di dalam Perjanjian ini bersifat tidak dapat ditarik kembali dan merupakan satu kesatuan serta bagian yang tidak terpisahkan dari Perjanjian ini, tanpa kuasa mana Perjanjian Kredit tidak akan dibuat dan karenanya kuasa-kuasa tersebut tidak akan berakhir karena sebab-sebab yang termaktub dalam pasal 1813, pasal 1814 dan pasal 1816 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia atau sebab apapun. Dalam melaksanakan setiap hak untuk melakukan pencairan Deposito berdasarkan Perjanjian ini, BANK tidak perlu membuktikan jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR berdasarkan Perjanjian Kredit, dan untuk keperluan tersebut BANK berhak menentukan jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR berdasarkan pembukuan dan catatan BANK, demikian dengan tidak mengenyampingkan hak DEBITUR atau PENJAMIN untuk kemudian membuktikan bahwa jumlah yang terhutang. Setiap jumlah yang diperoleh BANK dari hasil eksekusi berdasarkan Perjanjian ini, akan dipergunakan untuk membayar : a. seluruh ongkos, biaya dan pengeluaran yang timbul akibat pelaksanaan Perjanjian ini; dan b. seluruh jumlah yang jatuh tempo dan atau dibayar berdasarkan ketentuan sebagaimana diatur dalam Perjanjian Kredit. Apabila hasil pencairan Deposito tersebut kurang untuk membayar hutang DEBITUR berdasarkan Perjanjian Kredit maka DEBITUR tetap berkewajiban membayar sisa hutang DEBITUR kepada BANK. Demikian sebaliknya apabila dari hasil pencairan Deposito tersebut masih terdapat sisa, maka BANK akan mengembalikan sisanya kepada PEMBERI GADAI, tanpa mewajibkan BANK untuk membayar bunga atas sisa pencairan Deposito tersebut.

2.

2.

3.

4.

5.

Divisi Hukum – Kantor Pusat

hal.2/5

Lampiran 2

PASAL 3 PERNYATAAN DAN JAMINAN 1. PEMBERI GADAI menyatakan bahwa apa yang digadaikan tersebut diatas adalah miliknya, tidak digadaikan kepada pihak lain, serta bebas dari sitaan dan mengenai hal ini BANK tidak akan mendapat tuntutan dari pihak lain yang menyatakan mempunyai hak terlebih dahulu atau turut mempunyai hak terlebih dahulu atau turut mempunyai hak atas apa yang dijaminkan tersebut diatas. PEMBERI GADAI memiliki hak dan kewenangan penuh untuk mengalihkan dan menyerahkan Deposito kepada BANK dan persetujuan (-persetujuan) yang diperlukan sesuai anggaran dasar PEMBERI GADAI maupun peraturan yang berlaku telah diperoleh PEMBERI GADAI secara cukup dan lengkap. PEMBERI GADAI akan atas biayanya sendiri dan setiap waktu atas permintaan tertulis dari BANK, tepat pada waktunya dan sebagaimana seharusnya, menandatangani dan menyerahkan kepada BANK setiap instrumen dan dokumen sebagaimana BANK secara beralasan menganggap perlu dalam mendapatkan manfaat penuh dan atas hak dan kekuasaan yang diberikan dalam Perjanjian ini; BANK berhak untuk menyimpan asli bilyet Deposito sebaik-baiknya pada tempat yang aman, satu dan lain hal atas biaya DEBITUR atau PEMBERI GADAI. Dalam hal PEMBERI GADAI karena suatu perkara di pengadilan atau karena suatu sitaan sebelum diputuskan perkaranya oleh pengadilan atau karena suatu putusan pengadilan atau karena proses hukum lainnya memperoleh hak kekebalan, PEMBERI GADAI dengan ini memberikan pernyataan yang tidak dapat dicabut kembali melepaskan hak kekebalan tersebut yang berkenaan dengan kewajibannya berdasarkan Perjanjian Kredit dan atau Perjanjian ini. DEBITUR dan atau PEMBERI GADAI wajib membela, mengganti rugi dan membebaskan BANK dari dan terhadap setiap tindakan, tuntutan, gugatan, perkara, kerugian, kewajiban, pungutan dan biaya dalam bentuk apapun, sah atau tidak, yang BANK alami atau derita dengan cara apapun juga atas atau sehubungan dengan Deposito atau Perjanjian ini, termasuk namun tidak terbatas pada biaya yang dikeluarkan oleh BANK sehubungan dengan eksekusi Perjanjian ini. PASAL 4 KETENTUAN LAIN-LAIN 1. Perjanjian ini bukan merupakan pembayaran atas jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit kecuali dan sampai BANK benar-benar menerima dana hasil pencairan Deposito untuk membayar setiap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR. Perjanjian ini oleh para pihak dimaksudkan sebagai jaminan terhadap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit dan tidak boleh ditafsirkan sebagai membatasi atau menghalangi dengan cara apapun juga eksekusi oleh BANK atas setiap hak yang dimiliki oleh BANK untuk memperoleh pelunasan atas setiap jumlah yang terhutang dan wajib dibayar oleh DEBITUR. Hak jaminan yang diberikan berdasarkan Perjanjian ini merupakan tambahan terhadap dan tidak bergantung kepada hak atau benda jaminan lainnya yang mungkin dipegang atau diperoleh BANK sehubungan dengan Hutang yang dijamin berdasarkan Perjanjian ini. BANK berhak untuk menerima hak atau benda jaminan tambahan lainnya dari pihak ketiga dan/atau untuk melepaskan hak atau benda jaminan itu dengan atau tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada PEMBERI GADAI dan tanpa mempengaruhi kewajiban-kewajiban PEMBERI GADAI berdasarkan Perjanjian ini. Jaminan dalam Perjanjian ini sekali-kali tidak dan tidak dapat mengurangi atau mempengaruhi hak dan wewenang BANK untuk menjalankan/melaksanakan atau mengajukan tuntutan atau gugatan berdasarkan agunan atau perjanjian lain berupa apapun yang sekarang telah dan di kemudian hari akan dipegang oleh atau diberikan kepada BANK untuk memberikan jaminan atau kepastian pembayaran hutang yang wajib dibayar oleh DEBITUR kepada BANK berdasarkan Perjanjian Kredit. PASAL 5 PEMBERITAHUAN 1. Semua surat menyurat atau pemberitahuan-pembertahuan yang harus dikirim oleh masing-masing pihak kepada pihak lainnya dalam Perjanjian ini mengenai atau sehubungan dengan Perjanjian ini dilakukan secara langsung, surat tercatat, faksimile, telex atau melalui perusahaan ekspedisi (kurir) ke alamat-alamat tersebut di bawah ini : Divisi Hukum – Kantor Pusat

2.

3.

4. 5.

6.

2.

3.

4.

Divisi Hukum – Kantor Pusat

hal.3/5

Lampiran 2

a. BANK Nama Alamat Telpon Fax Telex Contact Person b. PEMBERI GADAI Nama Alamat Telpon Fax Telex Contact Person 2.

: PT Bank Danamon Indonesia, Tbk : : : : :

: : : : : :

3.

Surat menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan dianggap telah diterima oleh pihak yang dituju (i) pada tanggal tanda terima ditandatangani apabila disampaikan secara langsung atau melalui jasa kurir (ii) pada tanggal setelah 5 (lima) hari kerja sejak diposkannya apabila dikirim dengan surat tercatat atau sejak diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) dan cukup bila ditandatangani oleh pihak-pihak yang berhak mewakili BANK atau PEMBERI GADAI (iii) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui telex yang dikonfirmasi dengan kode jawab; dan (iv) pada hari dikirimkannya apabila dikirim melalui facsimile yang dikonfirmasi dengan tanda telah dikirim. Dalam hal terjadi perubahan alamat dari alamat tersebut di atas atau alamat terakhir yang tercatat pada masingmasing pihak, maka perubahan tersebut harus diberitahukan secara tertulis kepada pihak lain dalam Perjanjian ini selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sebelum terjadinya perubahan alamat dimaksud. Jika perubahan alamat tersebut tidak diberitahukan, maka surat-menyurat atau pemberitahuan-pemberitahuan berdasarkan Perjanjian ini dianggap telah diberikan sebagaimana mestinya dengan dikirimnya surat atau pemberitahuan itu dengan secara langsung, surat tercatat, facsimile, telex atau sejak diserahkan kepada perusahaan ekspedisi (kurir) yang ditujukan ke alamat tersebut di atas atau alamat terakhir yang diketahui atau tercatat pada masing-masing pihak. PASAL 6 KETENTUAN PENUTUP

1. 2.

3.

4.

5.

Perjanjian ini dibuat berdasarkan dan hanya dapat ditafsirkan menurut hukum Republik Indonesia. PEMBERI GADAI menyetujui bahwa Deposito yang digadaikan berdasarkan Perjanjian ini tunduk kepada "Ketentuan-ketentuan Operasi Bank" termasuk setiap alat bukti yang diajukan/dipergunakan oleh BANK yang berlaku untuk setiap perubahan, perpanjangan dan/atau setiap penambahan jumlah nominal deposito tersebut, yang berasal dari jumlah bunga yang diterima maupun valuta tersebut diatas sehingga penggadaian yang dilakukan sejak pertama kalinya akan tetap berlaku untuk seterusnya selama hutang belum dibayar lunas. PEMBERI GADAI dengan ini menyatakan secara tegas melepaskan hak dan hak istimewa yang diberikan oleh Undang-undang seperti tercantum pada pasal 1831, 1833, 1837 dan 1848 Kitab Undang-undang Hukum Perdata Indonesia. Bila suatu ketentuan dalam Perjanjian yang oleh karena suatu ketetapan pemerintah atau pengadilan dilarang atau tidak dapat dilaksanakan atau menjadi tidak berlaku, selama adanya larangan tersebut tanpa mengakibatkan batalnya ketentuan hukum lain dari Perjanjian, dan tanpa menghilangkan kemungkinan diberlakukannya kembali ketentuan yang dilarang tersebut di kemudian hari, PEMBERI GADAI wajib membuat dan menandatangani dokumen yang berisikan ketentuan yang memenuhi persyaratan BANK sebagai pengganti ketentuan yang dilarang atau tidak dapat dilaksanakan tersebut, sebagaimana diminta oleh BANK. Jika ada salah satu ketentuan dalam Perjanjan ini yang dinyatakan batal demi hukum, hal tersebut tidak mempengaruhi keabsahan ketentuan lainnya dalam Perjanjian ini, dan ketentuan-ketentuan lainnya tersebut tetap berlaku dan mengikat dan dapat dilaksanakan sebagaimana ditentukan dalam Perjanjian ini, PEMBERI GADAI wajib membuat dan menandatangani dokumen yang berisikan ketentuan yang memenuhi persyaratan BANK sebagai pengganti ketentuan yang dilarang atau tidak dapat dilaksanakan tersebut, sebagaimana diminta oleh BANK.

Divisi Hukum – Kantor Pusat

hal.4/5

Lampiran 2

6.

7.

8.

Tidak digunakannya atau ditundanya penggunaan sesuatu hak, kuasa atau hak istimewa oleh BANK bukan berarti bahwa BANK melepaskan hak atau kuasa atau hak istimewanya itu kecuali hak tersebut dilepas oleh BANK secara tertulis. Dan digunakannya sebagian dari hak, kuasa atau hak istimewa tadi tidak menghalangi BANK untuk meneruskan atau mengulangi digunakannya hak atau kuasa atau hak istimewa tersebut. Hak-hak dan upayaupaya yang diberikan kepada BANK dalam Perjanjian ini bersifat kumulatif dan tidak mengurangi hak-hak dan upaya-upaya lain yang diberikan kepadanya menurut hukum. Kegagalan atau kelalaian BANK untuk menuntut PEMBERI GADAI melaksanakan suatu ketentuan dalam Perjanjian ini tidak akan melepaskan hak BANK untuk menuntut PEMBERI GADAI untuk melaksanakan ketentuan tersebut dikemudian hari, kecuali hak tersebut dilepas oleh BANK secara tertulis. Mengenai Perjanjian ini dan segala akibatnya para pihak memilih domisili hukum yang tetap dan tidak berubah di Kantor Panitera Pengadilan Negeri ……..…………………….. di ……………….., demikian dengan tidak mengurangi hak BANK untuk melakukan penuntutan atau gugatan terhadap DEBITUR dan atau PEMBERI GADAI berdasarkan Perjanjian ini di pengadilan-pengadilan lain dalam wilayah Republik Indonesia.

Demikian Perjanjian ini dibuat di ……………………….., pada hari dan tanggal tersebut di atas dan mulai berlaku sejak tanggal ………………………………...

BANK PT BANK DANAMON INDONESIA, Tbk

PEMBERI GADAI

Materai

________________________________ Nama : Jabatan :

_________________________ Nama : Jabatan :

Mengetahui dan Menyetujui,

________________________ Nama : Jabatan : *) Coret yang tidak perlu

Divisi Hukum – Kantor Pusat

hal.5/5

Lampiran 3

SURAT KUASA PENCAIRAN DEPOSITO
Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Alamat KTP No. : ………………………………… : ………………………………… : …………………………………

Dengan ini menerangkan terlebih dahulu : Bahwa sehubungan dengan pemberian fasilitas kredit oleh PT. Bank Danamon Indonesia, Tbk, berkedudukan di Jakarta (selanjutnya disebut “Bank”) kepada Pemberi Kuasa sebagaimana ternyata dalam Perjanjian Kredit No………………………………. tanggal ………………………. (berikut dengan segenap perubahan, penambahan, perpanjangan dan pembaharuan daripadanya, disebut “Perjanjian Kredit”) yang ditanda tangani oleh dan antara Pemberi Kuasa dengan Bank, dengan ini Pemberi Kuasa memberi kuasa dengan hak subtitusi kepada Bank (selanjutnya disebut juga “Penerima Kuasa”), untuk dan atas nama Pemberi Kuasa : --------------------------------------------------------- K H U S U S------------------------------------------------------1. mencairkan deposito berjangka milik Pemberi Kuasa yang terdapat pada Bank baik yang ada pada saat ini maupun yang akan diserahkan dikemudian hari, termasuk tetapi tidak terbatas pada bilyet deposito dengan nomor ……………………….. nominal Rp.……………………… (………………………………………………..) (selanjutnya disebut “Deposito”) dan selanjutnya memperhitungkan serta mengambil pelunasan atas hutang pokok, bunga, provisi dan/atau biaya lain yang timbul dan dipandang perlu oleh Bank termasuk tetapi tidak terbatas pada biaya perkara di muka Pengadilan, honor Pengacara yang timbul akibat hutang berdasarkan Perjanjian Kredit, yaitu dalam hal Pemberi Kuasa lalai (wanprestasi) berdasarkan Perjanjian Kredit, dengan ketentuan bahwa Pemberi Kuasa tetap berkewajiban untuk memenuhi kewajibannya sekalipun pencairan Deposito tersebut telah dilakukan. menandatangani surat-surat/tanda terima, serta dokumen-dokumen lainnya sehubungan dengan pencairan Deposito tersebut menurut syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan/prosedur yang diatur dan berlaku pada Bank tidak ada yang dikecualikan, sehingga walaupun untuk sesuatu tindakan itu diperlukan surat kuasa khusus, kuasa tersebut supaya dianggap telah diberikan dengan kuasa ini.

2.

Segala kuasa yang diberikan sehubungan dengan surat kuasa ini bersifat tidak dapat ditarik kembali dan merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan dengan Perjanjian Kredit, dan tidak akan berakhir karena sebab-sebab yang termaktub dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Indonesia.

Divisi Hukum – Kantor Pusat

1/2

Lampiran 3

Pemberi Kuasa dengan ini menyatakan menjamin dan membebaskan Bank dari segala kewajiban, tuntutan, gugatan dan klaim apapun juga serta dari pihak manapun juga, termasuk dari Pemberi Kuasa sendiri serta dari semua kerugian dan resiko yang timbul dikemudian hari sehubungan dengan Surat Kuasa ini. Demikian Surat Kuasa ini dibuat dengan sebenarnya untuk dapat dipergunakan dengan semestinya.

……………………….., …………… PENERIMA KUASA, PEMBERI KUASA,

…………………………………….

………………………………………

Divisi Hukum – Kantor Pusat

2/2

Lampiran 4

SURAT KUASA
Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama Alamat KTP No. : ………………………………… : ………………………………… : …………………………………

Pemegang Rekening A/C : …………………………………, Bank Danamon dan/atau Tabungan No. : …………………………………, Bank Danamon Selanjutnya disebut PEMBERI KUASA, Dengan ini memberi kuasa dengan hak Subtitusi kepada : PT. BANK DANAMON INDONESIA, Tbk berkedudukan di Jakarta, melalui Cabangnya di ………………………………………………………………………………………………….., selanjutnya disebut PENERIMA KUASA. ------------------------------------------------------- K H U S U S --------------------------------------------------------Untuk mendebet Rekening/Tabungan tersebut di atas dan/atau rekening lain atas nama PEMBERI KUASA pada PENERIMA KUASA guna membayar biaya administrasi, provisi, hutang pokok, bunga, denda, notaris, asuransi dan biaya-biaya lain yang mungkin timbul sehubungan dengan pemberian kredit oleh PENERIMA KUASA kepada PEMBERI KUASA. Selama hutang dari PEMBERI KUASA belum dibayar lunas kepada PENERIMA KUASA, kuasa ini tidak akan berakhir oleh karena sebab apapun juga termasuk tetapi tidak terbatas oleh sebab-sebab yang tercantum dalam Pasal 1813 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Demikian Surat Kuasa ini dibuat untuk dipergunakan sebagaimana mestinya.

……………………., …………. PENERIMA KUASA, PEMBERI KUASA,

…………………………………

……………………………........

Divisi Hukum – Kantor Pusat

1/1

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful