P. 1
Keragaman etnis

Keragaman etnis

|Views: 5,058|Likes:
Published by syakban nashir

More info:

Published by: syakban nashir on Mar 28, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/13/2013

pdf

text

original

PROPOSAL ILMU SOSIAL DAN BUDAYA DASAR KERAGAMAN ETNIS DAN RAS DI INDONESIA

Disusun oleh kelompok 6: Herwinda Septianingrum Syakban Nashir Yopi Dika Putra K Chaulina Alfianti O Adi Mewantono (07560288) (07560293) (07560296) (07560303) (07560 )

PROGRAM STUDI TEKNIK INFORMATIKA FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2009 / 2010

Kata Pengantar

Bismillahirrohmanirrohim… Puji syukur bagi Allah, Tuhan Semesta Alam. Karena atas berkat dan rahmatNya, kami dapat menyusun makalah ini dengan lancar. Makalah ini disusun berdasarkan realita yang terjadi saat ini, yakni keragaman etnis dan ras. Makalah ini sebagai inovasi pembelajaran untuk memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar. Diharapkan pembaca lebih cakap dalam memahami. Sasaran akhirnya adalah mendorong pembaca agar berpartisipasi sebagai mahasiswa yang efektif, bertanggung jawab, dan berpikir kritis. Dengan segala keterbatasan dan kelemahan yang ada, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat memberikan sumbangan dalam proses belajar-mengajar. Terima kasih atas segala dukungan yang telah diberikan, terutama bagi dosen pembimbing saya serta teman-teman yang telah membantu saya dalam prosesnya. Akhirnya kami ucapkan terima kasih.

Tim Penyusun

Malang, 08 Desember 2009

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I PENDAHULUAN 1.1 1.2 1.3 BAB II Latar belakang Perumusan masalah Tujuan penulisan

PEMBAHASAN Definisi keragaman ras dan etnis 2.1.1 Ras 2.1.2 Etnis

2.1

2.2 2.3 2.4

Keragaman ras dan etnis Penyebab timbulnya keragaman ras dan etnis Penghapusan diskriminasi ras dan etnis

BAB III PENUTUP 3.1 3.2 Kesimpulan Saran

DAFTAR PUSTAKA

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Konsep ras bisa ditelusuri jejaknya dari wacana biologis Darwinisme sosial yang menekankan "garis keturunan" dan "tipe-tipe manusia". Di sini ras menunjuk pada karakteristik-karakteristik yang dinyatakan secara fisik dan biologis. Bentuknya yang paling jelas adalah pigmentasi kulit. Atribut-atribut ini kemudian seringkali dikaitkan dengan intelejensi dan kemampuan, yang dipakai untuk memeringkat kelompokkelompok yang telah diraskan dalam hirarki sosial, superioritas material, dan subordinasi. Akar dari rasisme adalah klasifikasi-klasifikasi rasial yang dibangun dan dipertahankan dengan kekuasaan. Pada permulaan abad ke-19 juga telah ditemukenali adanya

pengelompokan

penduduk yang terpusat di Pulau Jawa. Hal ini penyebab

terjadinya gejala kelebihan penduduk di Pulau Jawa, seperti diungkapkan oleh Thomas Raffles penguasa Inggris di Jawa tahun 1914. Hampir tiga perempat

seluruh penduduk pulau Jawa terdiri dari orang Jawa, sisanya adalah orang Sunda, Madura, dan Betawi. Sebaliknya, komposisi etnis di luar pulau Jawa sangat heterogen, dari segi suku bangsa (kelompok etnis) pribumi maupun orang asing (Cina dan India).Du Bus de Gisignies berpendapat, apabila seluruh tanah di Jawa telah dibuka, pada suatu ketika tanah itu akan penuh dengan manusia. Oleh karena itu, pemerintah Hindia Belanda melakukan pemindahan penduduk dari Jawa ke luar Jawa yang disebut dengan program kolonisasi. Diharapkan akan dapat mengurangi kepadatan dan kelebihan penduduk di Jawa, program kolonisasi ini lebih ditekankan pada penempatan petani-petani dari daerah yang padat

penduduknya di Jawa, di desa-desa baru yang disebut koloni di daerah-daerah kosong di luar Jawa.

1.2

Perumusan Masalah Rumusan masalah yang akan kami bahas dalam makalah ini sebagai berikut: 1. Definisi keragaman ras dan etnis 2. Keragaman ras dan etnis 3. Penyebab timbulnya keragaman ras dan etnis 4. Penghapusan diskriminasi ras dan etnis

1.3

Tujuan Penulisan Alasan menulis makalah mengenai keragaman ras dan etnis adalah sebagai berikut:  Mengetahui keberagaman peradaban ras dan etnis.  Memahami definisi keragaman ras dan etnis  Mempelajari keragaman ras dan etnis di Indonesia  Memahami penyebab timbulnya keragaman ras dan etnis

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Definisi Keragaman Ras dan Etnis 2.1.1 Ras Ras adalah sebuah konstruksi sosial dan kategori biologi atau kultural yang universal dan esensial. Ras adalah suatu kelompok manusia yang memiliki ciri-ciri fisik bawan yang sama. Diferensiasi ras berarti pengelompokan masyarakat berdasarkan ciri- ciri fisiknya, bukan budayanya. Karakteristik-karaketiristik fisik ditransformasikan menjadi penanda ras, termasuk di dalamnya anggapan palsu tentang perbedaan kultural dan biologis yang esensial. Penanda ras mestinya dilihat sebagai ketegori politik yang terbuka, yang definisinya tergantung pada pertarungan kekuasaan yang terus berlangsung. Di Indonesia formasi historis ras adalah pentas kekuasaan dan subordinasi. Dalam hubungannya dengan kesempatan hidup, orang-orang Papua misalnya, secara struktural posisinya disubordinasikan. Orang-orang Papua diposisikan dalam pekerjaan bergaji rendah, tidak membutuhkan ketrampilan, diberi keuntungan minimal di pasar, di sekolah, di media, dan dalam representasi budaya. Dalam konteks ini,formasi ras atau rasialisasi secara inheren telah bersifat rasis, yang meliputi bentukbentuk sosial, ekonomi, dan subordinasi politik, yang telah hidup dalam kategori dan ideologi ras. Sebagai sebuah konstruksi diskursif, makna "ras" selalu berubah dan dipertarungkan. Kelompok-kelompok yang berbeda dirasialkan dengan cara berbeda pula. Misalnya, karena keberhasilan ekonominya, peranakan Cina secara historis dijadikan subjek kecemburuan sosial dan distereotipkan dengan berbagai kelicikan. Cina Peranakan di Indonesia dijadikan warga negara kelas dua. Etnisitas adalah sebuah konsep cultural yang berpusat pada pembagian norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan, simbol dan praktik-praktik kultural.

2.1.2

Etnis Etnis adalah segolongan rakyat yang masih dianggap

mempunyai hubungan biologis. Konsep etnisitas bersifat relasional yang berkaitan dengan identifikasi diri dan asal-usul sosial. Apa yang kita pikirkan sebagai identitas kita tergantung kepada apa yang kita pikirkan sebagai bukan kita. Orang Jawa bukan Madura, Batak dll. Konsekuensinya, etnisitas akan lebih baik dipahami sebagai proses penciptaan batas-batas formasi dan ditegakkan dalam kondisi sosiohistoris yang spesifik (Barth 1969). Konsepsi kulturalis tentang etnisitas merupakan sebuah usaha yang berani untuk melepaskan diri dari implikasi rasis yang inheren dalam sejarah konsep ras Etnisitas mewujud dalam bagaimana cara kita berbicara tentang identitas kelompok, tanda-tanda dan simbolsimbol yang kita pakai

mengidentifikasi kelompok. Etnisitas dapat dikembangkan ke dalam diskusi tentang multikulturalisme, untuk menunjukkan formasi sosial yang beroperasi dalam kelompok yang plural dan sejajar, daripada kelompok yang terasialisasi secara hirarkis. Etnisitas terbangun dalam relasi kekuasaan antarkelompok. Ia merupakan sinyal keterpinggiran, sinyal tentang pusat dan pinggiran, dalam konteks sejarah yang selalu berubah. 2.2 Keragaman Ras dan Etnis Tidak dapat dipungkiri lagi, hampir semua wilayah (termasuk kota) di Indonesia adalah wilayah dengan masyarakat multikultur. Para

transmigran tentu lebih jelas motivasinya, yaitu mendapatkan tanah dan pekerjaan yang lebih baik di luar Jawa dan Bali. Namun, kelompok etnis diaspora yang terdiri dari beberapa kelompok etnis tentu memiliki latar beakang yang berbeda-beda. Para pendatang tersebut (transmigran,

diaspora, dan migrasi lainnya) mau tidak mau harus melakukan kontak budaya dengan masyarakat setempat. Berdasarkan teori kultur dominan, masyarakat multikultur di Indonesia

dalam lingkup provinsi dapat dikategorikan menjadi empat:

Kelompok etnis tertentu menjadi dominan di wilayah teritorialnya. Beberapa provinsi yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah lima provinsi di Jawa (Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Jawa Barat), Bali, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Sumatera Barat, Bangka Belitung, Nusa Tenggara Barat, Nangroe Aceh Darusalam Kelompok etnis tertentu menjadi dominan di luar wilayah teritorialnya Untuk kategori ini hanya terjadi di propinsi Lampung, dimana orang Jawa menjadi mayoritas (61,89%) diikuti dengan Orang asli Lampung

(Peminggir, Pepadun, Abang Bunga Mayang) justru menjadi minoritas. Beberapa etnis memiliki jumlah yang berimbang, dapat dikateorikan lagi menjadi: Perimbangan jumlah etnis dengan jumlah etnis asli lebih besar Kategori ini kebanyakan berasal dari etnis diaspora seperti Batak, Bugis, Melayu, Minahasa, dan Buton di wilayah teritorialnya.

Selain itu, etnis Banten juga paling banyak jumlahnya meskipun tidak dominan. Beberapa provinsi yang termasuk dalam kategori ini antara lain adalah: Banten, Sumatera Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Jambi, Riau, Sumatera Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Perimbangan jumlah etnis dengan jumlah etnis pendatang lebih besar Kategori ini kebanyakan terjadi di wilayah dimana para pendatang yang justru “membangun” wilayah di perantauan, terutama DKI Jakarta, Kalimanatan Timur, Kalimantan Tengah, dan Bengkulu. Di ketiga propinsi ini orang Jawa merupakan etnis yang jamlahnya terbesar. Beberapa etnis memiliki jumlah yang berimbang, namun yang terbanyak adalah kumpulan beberapa etnis (kelompok lain-lain), yaitu Maluku,

Maluku Utara, Papua, dan Sulawesi Tengah. 2.3 Penyebab Timbulnya Keragaman Ras dan Etnis Faktor yang membuat perbedaan-perbedaan itu terutama berasal dari ilmu-ilmu prilaku manusia (Behavioral Sciences) seperti sosiologi, antropologi dan psikologi. Ilmu-ilmu sosial tersebut mempelajari dan menjelaskan kepada kita tentang bagaimana orang-orang berprilaku, mengapa mereka berprilaku

demikian, dan apa hubungan antara prilaku manusia dengan lingkungannya. Penyebab tersebut telah menimbulkan banyak konflik didalam masayarakat. Konflik antar-etnis banyak terjadi akibat adanya rasa ketidakadilan, contohnya belum ada orang Papua yang bisa menjadi lurah atau kepala desa di Jawa.Sebaliknya, banyak orang Jawa menjadi lurah di Papua. Adapun faktorfaktor pendorong munculnya diskriminasi sosial sebagai berikut:  Rasisme Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur yang lainnya.  Separatisme Separatisme etnis juga digunakan untuk merujuk kepada kelompok-kelompok yang mencoba memisahkan diri dari segi budaya dan ekonomi atau ras meski tidak selalu menginginkan otonomi politik, seperti kelompok berbasis ras yang ingin mengisolasikan diri dari kelompok lainnya . 2.4 Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis Pembahasan Rancangan Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Etnis dan Ras hendaknya tidak hanya memfokuskan perhatian pada diskriminasi seperti yang terjadi pada etnis Papua. Setiap manusia berkedudukan sama di hadapan Tuhan Yang Maha Esa karena dilahirkan dengan martabat, derajat, hak dan kewajiban yang sama. Pada dasarnya, manusia diciptakan dalam kelompok ras atau etnis yang berbeda-beda yang merupakan hak absolut dan tertinggi dari Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, manusia tidak bisa memilih untuk dilahirkan sebagai bagian dari ras atau etnis tertentu. Adanya perbedaan ras dan etnis tidak berakibat menimbulkan perbedaan hak dan kewajiban antar-kelompok ras dan etnis dalam masyarakat dan negara.

Kondisi masyarakat Indonesia, yang berdimensi majemuk dalam berbagai sendi kehidupan, seperti budaya, agama, ras dan etnis, berpotensi menimbulkan konflik. Ciri budaya gotong royong yang telah dimiliki masyarakat Indonesia dan adanya perilaku musyawarah/mufakat, bukanlah jaminan untuk tidak terjadinya konflik, terutama dengan adanya tindakan diskriminasi ras dan etnis. Kerusuhan rasial yang pernah terjadi menunjukkan bahwa di Indonesia sebagian warga negara masih terdapat adanya diskriminasi atas dasar ras dan etnis, misalnya, diskriminasi dalam dunia kerja atau dalam kehidupan sosial ekonomi. Akhir-akhir ini di Indonesia sering muncul konflik antar ras dan etnis yang diikuti dengan pelecehan, perusakan, pembakaran, perkelahian, pemerkosaan dan pembunuhan. Konflik tersebut muncul karena adanya ketidakseimbangan hubungan yang ada dalam masyarakat, baik dalam hubungan sosial, ekonomi, maupun dalam hubungan kekuasaan. Konflik di atas tidak hanya merugikan kelompok-kelompok

masyarakat yang terlibat konflik tetapi juga merugikan masyarakat secara keseluruhan. Kondisi itu dapat menghambat pembangunan nasional yang sedang berlangsung. Hal itu juga mengganggu hubungan kekeluargaan, persaudaraan, persahabatan, perdamaian dan keamanan di dalam suatu negara serta menghambat hubungan persahabatan antarbangsa. Dalam sejarah kehidupan manusia, diskriminasi ras dan etnis telah mengakibatkan keresahan, perpecahan serta kekerasan fisik, mental, dan sosial yang semua itu merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Pancasila sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai hukum dasar yang menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia yang tercermin dalam sila kedua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Asas ini merupakan amanat konstitusional bahwa bangsa Indonesia bertekad untuk menghapuskan segala bentuk diskriminasi ras dan etnis. Diskriminasi ras dan etnis, tetapi masih belum memadai untuk mencegah, mengatasi, dan menghilangkan praktik diskriminasi ras dan etnis dalam suatu undang-undang.

Berdasarkan pandangan dan pertimbangan di atas, dalam UndangUndang ini diatur mengenai: 1. Asas dan tujuan penghapusan diskriminasi ras dan etnis 2. Tindakan yang memenuhi unsur diskriminatif 3. Pemberian perlindungan kepada warga negara yang mengalami tindakan diskriminasi ras dan etnis 4. Penyelenggaraan perlindungan terhadap warga negara dari segala bentuk tindakan diskriminasi ras dan etnis yang diselenggarakan oleh pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat, serta seluruh warga negara 5. Pengawasan terhadap segala bentuk upaya penghapusan diskriminasi ras dan etnis oleh Komnas HAM 6. Hak warga negara untuk memperoleh perlakuan yang sama dalam mendapatkan hak-hak sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya 7. Kewajiban dan peran serta warga negara dalam upaya penghapusan diskriminasi ras dan etnis 8. Gugatan ganti kerugian atas tindakan diskriminasi ras dan etnis 9. Pemidanaan terhadap setiap orang yang melakukan tindakan berupa: Memperlakukan pembedaan, pengecualian, pembatasan, atau pemilihan berdasarkan pada ras dan etnis, yang mengakibatkan pencabutan atau pengurangan pengakuan, perolehan, atau

pelaksanaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam suatu kesetaraan di bidang sipil, politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Menunjukkan kebencian atau rasa benci kepada orang karena perbedaan ras dan etnis dengan melakukan tindakan-tindakan tertentu.

BAB III PENUTUP

3.1

Kesimpulan Kita memang berbeda, namun bukan untuk dibeda-bedakan. Keragaman

tersebut merupakan anugerah yang patut kita hormati, akui, dan kita hargai sebagai sebuah realitas sosial yang tidak bisa kita tolak. Secara ilmiah, alam dan manusialah yang membuat kita berbeda dari Sabang sampai Marauke. Yang terpenting bagi kita semua adalah adanya kemauan untuk memahami, menghargai, mengakui dan menerima keberagaman yang sudah menjadi realitas sosial. Memahami kebudayaan lain bukan berarti lalu menerima dan mempraktekkannya dalam diri kita. Sesungguhnya kita bangsa Indonesia sudah lama mengenal masyarakat Bhinneka Tunggal Ika, kita tahu itu, kita menyadari bahwa kita memiliki keanekaragaman suku, budaya, agama, bahasa, dan lain-lain. Namun, ada satu hal yang masih dan sangat perlu dibentuk melalui pendidikan multikultural dan pemahaman tentang relativitas budaya di atas adalah menumbuhkan rasa dan kesadaran kita tentang pentingnya menghargai, mengakui, dan menerima keberagaman yang sudah ada. Biarlah tiap-tiap suku bangsa (Etnis) mengembangkan masyarakat dan kebudayaannya dan memupuk kebanggaan terhadap keungulan etniknya masing-masing, tetapi dengan syarat tetap menjunjung tinggi identitas nasional (nasionalisme) sebagai bangsa Indonesia. Kita pelihara kesatuan (berbagai identitas etnik) dan persatuan(bangsa Indonesia). Apabila kita kurang bijak dan kurang terbuka menyikapi keberagaman yang semakin kompleks ini, maka konflik sosial yang berakibat pada kehancuran umat manusia dan disebabkan oleh kebodohan umat manusia. 3.2 Saran Di Indonesia keanekaragaman penduduk kadang-kadang menjadi alasan kesalahpahaman yang menyebabkan friksi antar-kelompok yang cepat meletus seperti gunung berapi. Gangguan itu, dan perubahan lain yang asal dari dalam negeri maupun luar, mengancam stabilitas struktur dan bisa menghancurkan keseimbangan ekonomi

serta keadaan sosial masyarakat lokal. Friksi antara kelompok seperti yang tersebut dikenal di Indonesia dengan istilah SARA, atau dengan kata lain, friksi yang berkait dengan hal: suku, agama, ras atau etnik atau status ekonomi. Sudah saatnya manusia Indonesia berikut dengan berbagai kebudayaan daerahnya yang ada melakukan suatu bentuk adaptasi yang sifatnya

inovasi/pembaruan dengan budaya Barat/asing seperti dalam hal kesenian dimana instrumen musik tradisional dipadukan dengan instrumen modern (alat-alat band dengan teknologi komputernya) maupun perawatan berbagai benda kebudayaan dengan teknologi asing yang ada sehingga akulturasi dapat diwujudkan.

DAFTAR PUSTAKA

Suparlan, Parsudi. 2002. Menuju Masyarakat Indonesia yang Multikultural. http://www.scripp.ohiou.edu/news/cmdd/artikel-ps.htm Diakses tanggal 9 Desember 2009. Rahman. 2005. Pentingnya Pendidikan Multikultur Atasi Konflik Etnis.

http://www.ganto-online.com/index.php?option=com content&tast=view&id=55&Itemid=73. Diakses tanggal 9 Desember 2009. www.google.com www.usun.org www.WordPress.com www.wikipedia.com

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->