P. 1
kesuburan tanah

kesuburan tanah

|Views: 1,862|Likes:
Published by ahmad fauzy

More info:

Published by: ahmad fauzy on Mar 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/08/2012

pdf

text

original

A.Lahan Kering dan Lahan Basah

Lahan basah umumnya tempat yang kaya akan keanekaragaman hayati.
Manusia memperoleh berbagai manfaat dari lahan basah, baik secara
ekonomi, ekologi, maupun budaya. Sebagian besar penduduk dunia
bermukim dalam kawasan atau dekat dengan lahan basah. Banyak kota-kota
di dunia yang dibangun pada kawasan lahan basah. Kota Bandung di Jawa
Barat dulunya adalah sebuah danau. Kota-kota di Provinsi Kalimantan Barat
umumnya terletak dekat sungai. Ibukota Provinsi Kalimantan Barat terletak
pada kawasan delta Sungai Kapuas (Anonima

, 2010).
Potensi lahan kering di Indonesia sekitar 75.133.840 ha. Suatu keadaan
lahan yang sangat luas. Akan tetapi lahan2 kering tersebut tidak begitu
menghasilkan dan berguna bagi masyarakat yang tinggal di sekitar area lahan
kering. Hal ini disebabkan oleh masih kurangnya teknologi pengelolaan lahan
kering sehingga sering mengakibatkan makin kritisnya lahan2 kering
(Syukur, 2008).

Erosi, kekurangan air dan unsur hara adalah masalah yg paling serius di
daerah lahan kering. Teknologi untuk mananggulangi masalah- masalah
tersebut juga sudah banyak, akan tetapi kurang optimal di manfaatkan karena
tidak begitu signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan petani daerah
lahan kering. Memang perlu kesabaran dalam pengelolaan daerah lahan
kering, karena meningkatkan produktivitas lahan di daerah lahan kering yang
kondisi lahannya sebagian besar kritis dan potensial kritis tidaklah mudah
(Kartasapoetra, 1991).

Tanah entisol adalah tanah mineral tidak dengan horizon permulaaan.
Pengertian pokok order ini ialah tanah dengan regolit tebal tanpa horizon
kecuali suatu lapis bajak. Yang mencakup dalam order ini, tanah sangat subur
pada alluvium baru dan tanah tanah yang subur pada proses yang gersang.
Tercakup juga tanah dangkal pada batuan dasar. Ciri umum semua entisol
ialah perkembangan profil yang tidak jelas. Produktifitas pertanian entisol

4

5

bervariasi besar tergantung pada tempat dan sifat. Jika dipupuk cukup dan
jika pemberian air dapat dikendalikan, beberapa diantaranya sangat produktif.
Tetapi pembatasan kedalaman, kandungan lempung atau keseimbangan air
membatasi penggunaan intensif daerah luas dari tanah ini (Buckman &
Brady, 1969).

B.Kesuburan Tanah

Kesuburan Tanah adalah kemampuan suatu tanah untuk
menghasilkan produk tanaman yang diinginkan, pada lingkungan tempat
tanah itu berada. Tanah memiliki kesuburan yang berbeda-beda tergantung
sejumlah faktor pembentuk tanah yang merajai di lokasi tersebut, yaitu:
Bahan induk, Iklim, Relief, Organisme, atau Waktu. Tanah merupakan fokus
utama dalam pembahasan ilmu kesuburan tanah, sedangkan kinerja tanaman
merupakan indikator utama mutu kesuburan tanah (Anonimb

, 2010).
Dua cara umum penetapan yang menggambarkan air tanah yang
biasa dipakai. Pertama, melalui suatu cara kadar air diukur secara langsung
atau tidak langsung, dan kedua, berbagai teknik digunakan untuk menentukan
potensial kelengasan tanah (Soepardi, 1983).
Nilai kritikal daya simpan lengas tanah disesuaikan dengan daya
tahan tiap kelompok pertanaman disatu tempat yang masing-masing tempat
besarnya berbeda-beda. Nilai Kritikal lengas tanah adalah kadar pertengahan
antara kapasitas lapangan dan titik layu tetap (Notohadiprawiro, 2001).
Bahan organik merupakan sumber nitrogen tanah yang utama, serta
berperan cukup besar dalam memperbaiki sifat fisik, kimia, dan biologis
tanah serta lingkungan. Di dalam tanah, pupuk organik akan dirombak oleh
organisme menjadi humus atau bahan organik tanah. Bahan organik berfungsi
sebagai “pengikat” butiran primer tanah menjadi butiran sekunder dalam
pembentukan agregat yang mantap. Keadaan ini berpengaruh besar pada
porositas, penyimpanan dan penyediaan air serta aerasi dan temperatur tanah.
Bahan organik dengan C/N tinggi seperti jerami dan sekam memberikan
pengaruh yang lebih besar pada perubahan sifat-sifat fisik tanah dibanding
bahan organik yang telah terdekomposisi seperti kompos (Anonimc

, 2010).

6

Kestabilan bahan organik dalam tanah dapat dihubungkan dengan
banyaknya fraksi liat, tipe mineral dan pembentukan agregat. Kestabilan yang
tinggi terjadi pada tanah yang berkadar liat tinggi, adanya mineral 2:1 atau
mineral amorpus (alofan dan imogolit) dan agregat yang berukuran besar.
Mekanisme kestabilan bahan organik dalam tanah, menurut pengetahuan saat
ini, adalah rekalsitran secara kimia yang dipengaruhi oleh unsur
penyusunnya, adanya grup fungsional, dan konformasi molekul bahan
organik menolak dekomposisi berbagai mikroba dan enzim, stabilisasi secara
kimia melalui jerapan grup fungsional pada permukaan mineral liat dan
seskuioksida amorf, proteksi bahan organik secara fisik oleh fraksi liat dalam
pori tanah, khususnya pori meso (2-50 nm) yang membatasi aksesibilitas
berbagai mikroba dan enzim. Bahan organik tanah mempunyai kemampuan
mencolok dalam menyelimuti permukaan mineral tanah yang reaktif dan
menciptakan muatan negatif yang ditunjukkan oleh nilai pH0 yang rendah
(Anda, 2008).

Pengaruh struktur dan tekstur tanah terhadap pertumbuhan tanaman
terjadi secara langsugung. Struktur tanah yang remah (ringan) pada umumnya
menghasilkan laju pertumbuhan tanaman pakan dan produksi persatuan
waktu yang lebih tinggi dibandingkan dengan struktur tanah yang padat.
Jumlah dan panjang akar pada tanaman makanan ternak yang tumbuh pada
tanah remah umumnya lebih banyak dibandingkan dengan akar tanaman
makanan ternak yang tumbuh pada tanah berstruktur berat. Hal ini
disebabkan perkembangan akar pada tanah berstruktur ringan/remah lebih
cepat per satuan waktu dibandingkan akar tanaman pada tanah kompak,
sebagai akibat mudahnya intersepsi akar pada setiap pori-pori tanah yang
memang tersedia banyak pada tanah remah. Selain itu akar memiliki
kesempatan untuk bernafas secara maksimal pada tanah yang berpori,
dibandiangkan pada tanah yang padat. Sebaliknya bagi tanaman makanan
ternak yang tumbuh pada tanah yang bertekstur halus seperti tanah
berlempung tinggi, sulit mengembangkan akarnya karena sulit bagi akar
untuk menyebar akibat rendahnya pori-pori tanah. Akar tanaman akan

7

mengalami kesulitan untuk menembus struktur tanah yang padat, sehingga
perakaran tidak berkembang dengan baik. Aktifitas akar tanaman dan
organisme tanah merupakan salah satu faktor utama pembentuk agregat tanah
(Anonimd

, 2010)

Partikel-partikel berukuran relatif lebih besar dan oleh karena itu
menunjukkan permukaan yang kecil dibandingkan dengan yang ditunjukkan
oleh partikel-partikel debu dan tanah liat yang berbobot sama, karena
permukaan pasir yang kecil, maka bagian yang dimainkan dalam kegiatan
kimia dan fisika tanah adalah kecil, kecuali jika terdapat dalam perbandingan
yang terlalu kecil, pasir meningkatkan ukuran ruangan antarpartikel, jadi
memberikan peluang pergerakan udara dan air drainase ( Foth,1994)
Tekstur tanah ditentukan di lapangan dengan cara melihat gejala
konsistensi dan rasa perabaan menurut bagan alir dan di laboratorium dengan
menguunakan metode-metode. Metode tersebut adalah metode pipet atau
metode hidrometer (Elisa, 2002).
Keasaman tanah merupakan hal yang biasa terjadi di wilayah-
wilayah bercurah hujan tinggi yang menyebabkan tercucinya basa-basa dari
kompleks jerapan dan hilang melalui air drainase. Pada keadaan basa-basa
habis tercuci, tinggallah kation Al dan H sebagai kation dominant yang
menyebaabkan tanah bereaksi masam (Coleman dan Thomas, 1970).
Absorbsi Nitrogen oleh tanaman jagung berlangsung selama
pertumbuhannya. Pada awal pertumbuhan, akumulasi N dalam tanaman
relatif lambat dan setelah berumur 4 minggu akumulasi N sangat cepat. Pada
saat pembungaan (bunga jantan muncul) tanaman jagung telah mengabsorbsi
N sebanyak 50% dari seluruh kebutuhannya. Oleh karena itu untuk
memperoleh hasil jagung yang baik, unsur hara N dalam tanah harus cukup
tersedia dalam fase tersebut. Cara pemberian pupuk N yang baik adalah
dengan jalan meletakkan pupuk di permukaan tanah dan segera di bumbun,
atau ditugal disamping tanaman dan ditutup kembali dengan tanah. Tanaman
jagung mengabsorbsi unsur P dalam jumlah relatif lebih sedikit daripada
absorsi unsur N dan K. Pola akumulasi P tanaman jagung hampir sama

8

dengan akumulasi hara N. Pada fase awal pertumbuhan akumulasi P relatif
lebih lambat, namun setelah umur 4 minggu meningkat dengan cepat. Pada
saat keluar bunga jantan, akumulasi P pada tanaman jagung mencapai 35%
dari seluruh kebutuhannya. Selanjutnya akumulasi meningkat hingga
menjelang tanaman di panen. Gejala kekurangan unsur hara P, tampak pada
fase pertumbuhan, yaitu daun jagung berwarna keunguan. Kekurangan hara P
menyebabkan perakaran tanaman menjadi dangkal dan sempit penyebarannya
serta batang menjadi lemah. Selain itu, pembentukan biji tidak sempurna,
barisan biji tidak teratur dan tongkol ukurannya menjadi kecil. Kalium
dibutuhkan oleh tanaman jagung dalam jumlah paling banyak dibanding
dengan unsur N dan P. Pada fase pembungaan akumulasi hara K telah
mencapai 60-75% dari seluruh kebutuhannya (Anonime

, 2010).
Penggunaan pupuk buatan NPK secara terusmenerus dapat
menipiskan unsur-unsur mikro Zn, Fe, Cu, Mg, Mo, dan Br yang
mengakibatkan pertumbuhan tanaman menjadi kerdil, produktivitas menurun,
dan tanaman rentan terhadap hama/penyakit. Selain itu, harga pupuk semakin
mahal dan sulit untuk diperoleh terutama pada daerah-daerah yang sarana
angkutannya terbatas. Penggunaan pupuk organik dapat menjadi alternative
untuk mengurangi berbagai dampak pupuk buatan, antara lain dengan
memanfaatkan limbah sisa panen tanaman sela dengan cara mendaur ulang
menjadi kompos. Penggunaan kompos limbah kebun berpotensi dapat
mengurangi atau menyubstitusi penggunaan pupuk buatan sampai dengan
50% selain dapat memperbaiki sifat fisik dan kimia tanah. Kadar unsur makro
limbah padi mengandung N 0,82%, P 0,50% dan K 1,63% serta limbah
jagung mengandung N 0,92%, P 0,29%, dan K 1,39%. Kandungan N, P, dan
K pada limbah padi dan jagung tersebut bila dimanfaatkan akan mengurangi
penggunaan pupuk buatan (anorganik). Percobaan ini bertujuan untuk
mengetahui pertumbuhan, hasil dan nilai ekonomi tanaman sela jagung di
antara kelapa dengan pemberian pupuk buatan 25% dari takaran rekomendasi
ditambah kompos limbah kebun serta pemberian kompos tanpa pupuk buatan
(Ruskandi, 2005).

9

C.Pupuk Urea, SP-36, dan KCL
Dosis pemupukan untuk budidaya tanaman jagung yang umumnya
dianjurkan yaitu pupuk Urea 450 kg/ha; pupuk SP-36 100 kg/ha; dan KCl 100
kg/ha. Pupuk Urea diaplikasikan sebanyak 3 kali masing-masing 150 kg/ha
yaitu pada saat tanam, 3 Minggu Setelah Tanam (MST) dan 6 MST.
Sementara itu, pupuk SP-36 dan KCl diberikan ke dalam tanah saat tanam.
Alternatif lain dosis pemupukan untuk jagung, apabila menggunakan pupuk
majemuk yaitu pemberian pupuk NPK Phonska (15-15-15) 400 kg/ha dan
Urea 200 kg/ha. Pupuk NPK Phonska diaplikasikan 2 kali yaitu saat tanam
(250 kg) dan saat 3 MST (150 kg). Sama halnya dengan NPK Phonska,
pupuk Urea juga diaplikasikan 2X yaitu 100 kg saat tanaman berumur 3 MST
dan 100 kg saat 6 MST. Pemberian pupuk ke dalam tanah dilakukan dengan
cara ditugal dengan jarak 7-10 cm di samping lubang tanaman dan ditutup
dengan tanah. Selain pupuk anorganik, pupuk organik (pupuk
kandang/kompos) perlu diberikan ke dalam tanah untuk memperbaiki sifat
fisik tanah. Dosis yang diperlukan yaitu sekitar 5 ton/ha dan diberikan saat
tanam sebagai penutup lubang tanam (Anonimf

, 2010).
Urea adalah larutan dari ureum dan ammonium nitrat dan
penngunaannya harus disemprotkan. Kadar Nitrogennya 30%, terdiri dari
15% dari N-amida, 7,5% N-amonium, dan 7,5% N-nitrat. Larutannya
mengandung 39 kg N per 100 liter. Reaksi nitrogennya, di tanah yang tidak
mengandung kalsium pada tanaman dapat dikatakan sama dengan
kalkammosalpeter. Di tanah yang tidak mengandung kalsium, reaksinya
adakalanya tidak memuaskan, karena menguapnya NH3 (Saleh, 1986).
Penyemprotan dengan urea sangat penting artinya dalam mengurangi
tenaga kerja (40% dibandingkan dengan pada itu hendaknya penyemprotan
dilakukan dalam bentuk tetesan yang lebih kasar, jadi dalam kondisi tekanan
yang rendah. Untuk tanaman yang sangat peka, dianjurkan menggunakan
potongan kayu, dengan kayu tersebut cairan pupuk diteteskan. Hendaknya

10

dihindarkan menyemprot dalam kondisi kelembaban yang kurang dari 50%
(Rinsema, 1983).

Mineral yang umumnya dalam penimbunan kalium, termasuk sylvite
(KCL), sylvinit (Campuran KCL dan NaCL), kainit (MgSO4KCL.3H2O), dan
langbeinit (K2SO4.2MgSO4). Pengolahan “ore” terdiri dari pemisahan KCL
dari produk-produk lain dalam “ore”umumnya digunakan untuk memisahkan
KCL dari campuran yang ada di dalam “ore”. “Ore” adalah tanah, tersuspensi
dalam air, dan diberi perlakuan dengan bahan pengambang yang melekat
pada Kristal KCL. Selama udara dialirkan melalui suspense. Kristal KCL
terapung ke atas dan berbui. Setelah pemurnian lebih lanjut, KCL yang
mendekati murni dikeringkan dan disaring berdasarkan ukuran partikelnya.
Bahan pupuk disebut muriate kalium (KCL) dan berisi sekitar 60 persen K2O
(Endang, et.all, 1998).

D.Tanaman Jagung

Jagung yang memiliki umur lebih dalam memerlukan tingkat
kerapatan optimum sedikit lebih rendah, dibanding tanaman yang berumur
genjah. Hal ini sangat berhubungan dengan ukuran morfologis tanaman.
Selain itu musim tanam juga berpengaruh terhadap kerapatan optimum
tanaman. Bahwa pada musim kemarau, kerapatan (populasi) tanaman
optimum sedikit lebih rendah bila dibanding pada musim penghujan. Keadaan
ini disebabkan oleh pertanaman pada musim kemarau mengalami kekurangan
air terutama pada fase pembungaan dan pengisian biji. Populasi optimum
rata-rata tanaman jagung adalah 66.667 tanaman/Ha, (75x20) Cm, 1
benih/lubang. Dengan cara ini hasil dapat ditingkatkan 20-30% bila dibanding
dengan hanya meletakkan pupuk di permukaan tanah dan dibiarkan terbuka.
Tanaman jagung yang kekurangan unsur N memperlihatkan pertumbuhan
yang kerdil dan daun tanaman berwarna hijau kekuning-kuningan yang
berbentuk huruf V dari ujung daun menuju tulang daun. Selain itu tongkol
jagung yang terbentuk menjadi lebih kecil dan kandungan protein dalam biji
rendah (Anonimg

, 2010).

11

Pemberian pupuk nitrogen yang terlalu banyak pada tanaman jagung
akan mempertinggi atau menambah pertumbuhan vegetatif dan tanaman akan
lebih peka terhadap terhadap penyakit. Jumlah nitrogen yang diberikan
tergantung pada varietas dan kesuburan tanah, dimana jumlahnya dapat
bervariasi antara 60 kg sampai 120 kg N/ha atau 150 kg sampai 300 kg
urea/ha. Penambahan jumlah pupuk nitrogen akan meningkatkan kandungan
protein total di dalam biji, hanya kualitas protein dari segi nilai biologisnya
adalah menurun. Protein pada jagung mempunyai kandungan asam amino,
triptofan, lisin, dan metionin yang rendah. Kandungan tidak meningkat secara
cepat dengan pemberian nitrogen yang meningkat, terutama kandungan
protein total, namun perbandingan relative dari asam amino esensial menurun
(Efendi dan Sulistiati, 1991).
Interaksi varietas dengan dosis urea memberikan pengaruh pada
parameter jumlah daun umur 8 dan 12 MST, dan panjang tongkol. Hasil uji
BNT menunjukkan bahwa interaksi varietas Bisi-2 dengan dosis urea 350 kg
ha-1.menghasilkan rata-rata jumlah daun terbanyak umur 8 dan 12 MST,
sedangkan pada rata-rata panjang tongkol tertinggi, diperoleh dari interaksi
varietas Agricorndengan dosis urea 350 kg ha-1 (v1n2). Hal ini menunjukkan
bahwa masing-masing varietas lebih respon terhadap dosis urea 350 kg ha-1
sehingga memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan dengandosis
lainnya. Nitrogen merupakan unsur hara esensiil yang memberikan pengaruh
lebih dominan terhadap tanaman jagung, dibandingkan unsur hara lainnya.
Tanaman jagung memerlukan nitrogen dalam jumlah relatif banyak sebagai
bahan penyusun protein dan protoplasma serta pembentuk bagian tanaman
seperti batang dan daun (Kuruseng dan Kuruseng, 2008).
Jagung manis termasuk keluarga Graminae dari suku Maydeae yang
pada mulanya berkembang dari jagung tipe dent dan flint. Jagung tipe dent
(Zea mays identata) mempunyai lekukan dipuncak bijinya karena adanya zat
pati keras pada bagian pinggir dan pati lembek pada bagian puncak biji.
Jagung tipe flint (Zea mays indurata) berbentuk agak bulat, bagian luarnya
keras dan licin. Dari kedua tipe jagung inilah jagung manis berkembang

12

kemudian terjadi mutasi menjadi tipe gula yang resesif. Tinggi tanaman
jagung manis agak pendek. Secara fisik atau morfologi bunga jantan
berwarna putih, mengandung kadar gula lebih banyak dalam endospermnya.
Umur tanaman lebih genjah dan memiliki tongkol yang lebih kecil serta dapat
dipanen umur 60–75 hari. Jagung manis dapat tumbuh pada semua jenis
tanah, dengan syarat drainase baik serta persediaan humus dan pupuk
tercukupi. Keasaman tanah yang baik untuk pertumbuhan 5,5–7,0
(Iskandar, 2006).

Jagung adalah tanaman yang penting untuk pangan dan pakan. Lebih
dari 120 juta ha lahan kering pada berbagai area di dunia menjadi media
utama pengusahaannya. Di Indonesia, selain pada lahan kering, jagung
diusahakan pada lahan sawah setelah panen padi dengan produktivitas
mencapai sekitar 7,0 t/ha. Dalam kaitan kehilangan hasil jagung, organisme
pengganggu tanaman (OPT) menjadi penyebab penting apabila menginfeksi
tanaman pada fase vegetatif, semakin muda tanaman terinfeksi semakin besar
peluang kehilangan hasil. Selanjutnya pada fase pascapanen, OPT yang perlu
menjadi perhatian adalah hama kumbang bubuk dan patogen tular benih yang
menyebabkan penurunan kualitas hasil. Biji jagung, baik sebagai pakan,
maupun pangan mudah rusak akibat faktor eksternal dan internal, sehingga
kurang bermanfaat, bahkan dapat membahayakan kesehatan manusia dan
ternak yang mengonsumsinya (Pakki dan Talanca, 2006).

13

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->