P. 1
OTAK MANUSIA

OTAK MANUSIA

4.8

|Views: 20,892|Likes:
Published by abdulholik

More info:

Published by: abdulholik on May 08, 2008
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

06/26/2013

pdf

text

original

OTAK MANUSIA1[2] DAN FUNGSI BERPIKIR

Oleh:

DEWI HERMAWATI SETIANI SPL 995216
E-mail: dewi_setiani@excite.com

PROGRAM PASCASARJANA / S3 INSTITUT PERTANIAN BOGOR
MEI 2001

DAFTAR ISI I. PENDAHULUAN

II. OTAK DAN SISTEM SYARAF

1

[2] Disadur dari Moritz, H. 1995. “Science, Mind and the Universe”. Wichman, Berlin, Jerman

II.1. Bangunan Otak

II.2. Neuron

III. OTAK DAN PIKIRAN

III.1. Teori-Teori Pikiran dan Otak

III.2. Metafisika dan Ontologi

IV. PERSEPSI MANUSIA

IV.1. Persepsi Auditorial

IV.2. Persepsi Visual (Penglihatan)

IV.3. Persepsi Warna

IV.4. Garis Berorientasi, Objek Bergerak dan Sel-Sel Nenek (Grandmother cells)

V. TEORI EVOLUSIONER DARI PENGETAHUAN

V.1. Pengetahuan A Priori dan Posteriori

V.2. Contoh Eddington

V.3. Epistemologi Evolusioner

V.4. Ilmu Pengetahuan

V.5. Buket dan Lampu Sorot (The bucket and The searchlight)

DAFTAR

PUSTAKA

OTAK MANUSIA2[2] DAN FUNGSI BERPIKIR

1. PENDAHULUAN

Masing-masing periode sejarah membandingkan tubuh manusia dengan mesin-mesin: dahulunya tubuh manusia merupakan “mesin mekanis” atau “mesin pemanas” dengan pompa untuk janutungnya. Kini sudah umum untuk membandingkan otak manusia dengan komputer digital besar yang memproses secara parallel. Suatu perbedaan penting untuk membandingkan otak dengan komputer adalah kelebihan-nya yang tinggi: jika bagian dari “komputer otak” gagal, maka bagian-bagian lain dapat mengambil alih. Asumsi-asumsi tentang komputasi otak menjurus kepada konstruksi jaringan syaraf buatan, yang, bersama–sama dengan alat berhitung konvensional, memainkan peranan sangat penting dalam kecerdasan buatan (artificial intelligence, AI) H.Petsche (Wina) dalam Moritz (1995) menunjukkan bahwa “penembakan digital” (digital firing), semua atau tidak sama sekali, seperti on/off, atau digit 1/0, yang disebutkan di atas tidak mengimplikasikan bahwa otak bekerja persis sama dengan komputer digital (Cohen dan Steward 1994, hal. 454). Sel-sel syaraf tidak berhitung secara digital tetapi menggunakan pulsa-pulsa diskret dalam berkomunikasi dalam jarak jauh. Komputer otak pada dasarnya tidaklah digital.. Kita juga tidak boleh melupakan bahwa berhitung atau berfikir logis hanya suatu fraksi yang kecil dalam aktivitas
2

intelektual kita yang juga meliputi kesenangan, keinginan,ketakutan, puisi, musik dan sebagainya. II OTAK DAN SISTEM SYARAF Bila ada kesepakatan tentang suatu fakta dalam filsafat alamiah, maka kesepakatan itu adalah tentang fakta bahwa pemikiran manusia tidak terpisahkan dari otak kita. Bahwa struktur fisiologis atau anatomis otak kita sangat bersangkut paut dengan filsafat, tidak diterima pada umumnya dalam filsafat. Hukum logika dan matematika jauh lebih teliti dan tepat (rigorous) daripada pengetahuan empiris semata tentang struktur otak kita dan “hukum pemikiran” ini tidak terlihat begitu bergantung pada arsitektur otak kita. Nampaknya kecenderungan modern dalam teori pengetahuan yang dikenal dengan nama epistemologi evolusioner, bergantung pada mekanisme dari persepsi (penglihataan, pendengaran, dsb) dan pada pengolahan data dari persepsi oleh otak. Hal yang sama juga berlaku pada kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) dan untuk aspek-aspek komputasi otomatis canggih lainnya, tetapi memiliki sejumlah titik kontak, seperti metoda algoritmis dan aksiomatis dan batasan-batasannya oleh teorema Gödel. (Moritz 1995, hal.4) Teorema Kurt Gödel, disebut juga “teorema ketidaklengkapan” (incompleteness theorem) meletakkan tekanan pada unsur dasar dari “ketidak-pastian” (uncertainty”) melalui logika samar (fuzzy logic), fluktuasi acak (random fluctuation) , kesalahan pengukuran acak (random measurement error), dsb., yang banyak mempersona

para sarjana matematika, fisika, geodesi dan astronomi, sejak K.F. Gauss (1777-1855) (salah satu ilmuan matematika dari tiga ilmuan matematika yang dikenal dunia, yaitu Archimedes dan Newton ). Kurt Gödel adalah warga negara Amerika yang lahir di Cekoslovakia 1930 dianggap adalah peletak dasar dari teori himpunan. Sebelum Gödel, para ahli matematika mengatakan bahwa sebagian besar jalur matematika menunjukkan adanya konsistensi, jika aritmatiknya konsisten. Dengan kata lain, suatu kumpulan axioma adalah konsisten jika tidak mungkin menarik kesimpulan baik pernyataan (statement) maupun penolakan (negation). Namun hasil Gödel mendemonstrasikan ketidak-mungkinan membuktikan konsistensi dari aritmatik dengan cara ini, telah menghancurkan harapan semacam itu. Ia membuktikan bahwa dalam tiap sistem formal, yang dapat dioperasikan dengan aritmatik, terdapat rumus yang benar (true) sebagai representasi dari pernyataan aritmatik, tetapi tidak dapat dibuktikan di dalam sistem. Dalam hal ini, sistem adalah tidak lengkap (teorema ketidak-lengkapan). II.1 Bangunan Otak

Bagian-bagian utama otak adalah: brainstem (“reptilian brain” atau otak reptil). Indonesia : “batang otak” limbic system (“mammalian brain” atau otak mamalia). Indonesia: sistem tungkai cerebrum (“conscious brain” atau otak besar) cerebellum (otak kecil sebelah belakang)

Gb.1 Bagian-Bagian Utama Otak

Brainstem (Gb.1) Menurut sudut pandang evolusi biologis, merupakan bagian otak tertua (sekitar 500 juta tahun). Dengan karakteristik penyederhanaan berkelebihan, brainstem ini dinamakan otak reptil karena terlihat seperti otak keseluruhan reptil. Brainstem umumnya mencermati fungsi-fungsi paling primitif penunjang kehidupan: kontrol pernafasan dan detak jantung.

Cerebellum (Gb.1)

Merupakan struktur perantara yang memperhatikan koordinasi aktivitas dari otot dan pemeliharaan keseimbangan tubuh. Cerebellum bertanggungjawab atas berbagai keterampilan bawah sadar, seperti mengenderai mobil atau bermain piano.

Limbic System (Gb.1) Berbentuk struktur seperti cincin yang merupakan komponen tertinggi dari otak reptil tetapi berkembang paling tinggi pada mamalia. Limbic System mengatur suhu badan, tekanan darah, dsb (“homeostasis”). Juga mengkontrol reaksi-reaksi emosional yang diperlukan untuk kelangsungan hidup: selera (nafsu makan), agresivitas, reaksi terbang, dan perasaan seksual. Nampaknya limbic system juga menjadi dasar pembelajaran dan memori (apa yang dikenal dengan hippocampus) Struktur yang paling penting dari limbic system adalah hypothalamus (terletak di bawah thalamus, Gb.1). Hypothalamus adalah pengatur fungsi dan keadaan tubuh: makan, minum, tidur, jalan, keseimbangan kimia, hormon, dsb. Hypothalamus adalah termostat untuk suhu darah dan berbagai aksi umpan balik, sebagaimana bekerjanya regulator teknologi. Hypothalamus berhubungan sangat erat, melalui pesan-pesan kimiawi dan listrik, dengan pituitary gland (kelenjar bawah otak) terdekat. Ini merupakan kelenjar induk tubuh yang mengatur hormon, secara langsung atau melalui stimulasi kelenjar lain untuk mengeluarkan hormon.

Thalamus (Gb.1) Thalamus bertindak sebagai stasiun pemancar penerus (relay station) untuk sensor eksternal, seperti informasi visual. Informasi ini diteruskan ke

daerah tertentu dari korteks untuk pemrosesan akhir.

Cerebrum (Gb.1) Merupakan bagian otak yang secara khususnya berkaitan dengan kecerdasan manusia. Terdiri dari dua hemisfer, yaitu hemisfer kiri dan hemisfer kanan, yang dihubungkan oleh corpus callosum. (Corpus callosum adalah serat putih yang melintang menghubungkan kedua hemisfer otak). Ada hubungan silang antara kedua hemisfer, yaitu hemisfer kiri menerima informasi dari setengah tubuh kanan (misalnya mata kanan) dan mengkontrol setengah tubuh kanan (misalnya tangan kanan). Begitu pula sebaliknya. Kedua hemisfer sebenarnya merupakan satu sistem dan bekerja sangat erat. Kebanyakan aktivitas cerebrum berlangsung pada permukaannya, yakni korteks (cortex). Korteks, disebut juga kulit otak, memiliki ketebalan sekitar 3 mm dan berlipat, sehingga permukaannya yang besar cocok dalam tengkorak yang relatif kecil. Daerah tertentu dari korteks terkait dengan aktivitas tertentu: daerah utama visual (penglihatan), korteks auditorial (pendengaran), daerah sensor tubuh, korteks motor, dan daerah bicara (dikenal dengan daerah Broca and Wernicke). Daerah-daerah ini jangan sama sekali diterima secara ketat dan jangan secara eksklusif; pada dasarnya semua aktivitas menyangkut seluruh otak. Berkaitan dengan fungsi-fungsinya , korteks dibungkus secara rapat dengan sel-sel syaraf

(neurons) yang sumbu-sumbunya (axe, axon dalam Gb.2) tegaklurus (orthogonal) terhadap permukaan korteks, sehingga kita memiliki struktur yang mengingatkan kita pada permukaan tanah dan garis unting-unting dalam geodesi. Pemikiran rasional berlangsung terutama dalam korteks; limbic system (hypothalamus dsb) nampaknya memberi kontribusi latar belakang emosional.

II.2

Neuron

Gb.2 Bentuk Neuron Setiap otak mengandung sekitar 1011 sel syaraf atau neuron. Tombol penghubung (synaptic buttons, Gb.2) ada sekitar 1014 dicantelkan pada sel-sel syaraf bercabang (dendrite atau dendron) atau sel tubuh (soma) terdekat. Ada suatu celah penghubung (synaptic cleft) tipis, antar satu tombol dengan sel-sel bercabang berikutnya yang dijembatani oleh zat kimia (neurotransmitter) yang dikirim oleh tombol ke sel-sel bercabang. Sel syaraf bercabang (dendrite) yang membawa impuls ke sel tubuh, disebut juga neuro-dendron.. Panjang serat neuron dalam korteks dalam 4.1 km/mm3. Bagaimana sinyal syaraf ditransmisi

sepanjang akson? Akson adalah sel syaraf di mana impuls mengalir menjauhi sel tubuh (lihat Gb.2). Transmisinya serupa dengan gelombang seismik transversal. Gelombang transversal berosilasi dalam arah yang ortogonal terhadap arah perambatannya (propagasinya). Secara serupa, sinyal syaraf adalah impuls yang bergerak maju dari difusi ion-ion tertentu (K+, Na+, Cl) melintas membran yang mirip tabung yang membentuk axon.. Kecepatan normalnya hanya sekitar 5 meter per detik; kecepatannya dapat ditingkatkan oleh pembungkus sumsum (myelin sheath) dari axon sampai dengan 100 meter per detik. Fakta-fakta berikut ini adalah penting: penembakan impuls ( the firing of an impuls) berlangsung semua (all) atau tidak sama sekali (none) Bentuk dan ukuran impuls tidak relevan; yang penting adalah apakah neuron menembak atau tidak. Penghubung (synapses), terdiri tombol penghubung dan celah penghubung (cleft), dapat bersifat merangsang (excitatory) atau mencegah (inhibitory). Efek gabungannya terhadap neuron menetapkan apakah neuron menembak atau tidak. Sistemnya; semua (=1) atau tidak sama sekali (= 0) pada dasarnya merupakan sistem digital, yang menggunakan dua angka terdiri dari 0 (nol) dan 1 (satu) yang sama dengan sistem dua angka dalam komputer digital Sel-sel syaraf tidak menghitung secara digital tetapi menggunakan pulsa-pulsa diskret dalam berkomunikasi. Komputasi otak tidak sebenarnya digital. Untuk penjelasan lebih lanjut dapat dibaca dalam Penrose 1989, pp. 392-399 yang menurut Moritz (1995) sangat relevant. Kita juga tidak boleh lupa bahwa “komputasi” atau berfikir logis hanya merupakan fraksi kecil

sekali dari aktivitas intelektual kita, yang juga meliputi kesenangan, keinginan, ketakutan, puisi, musik, dsb. III OTAK DAN PIKIRAN Hubungan antara otak dan pikiran merupakan salah satu dari beberapa masalah paling kontroversial dalam filsafat. Ini berkaitan erat dengan masalah zat (matter) dan pikiran (mind). Pada penglihatan pertamanya, nampaknya seperti tidak ada masalah sama sekali. Pikiran (thought), perasaan dan emosi kita jelas-jelas ini mental , termasuk ke dalam pikiran (mind). Pohon, rumah atau batu jelas-jelas ini material yang terdiri dari zat. Karena kita dapat menyepak batu, jatuh dari pohon, tinggal di rumah, mematahkan kaki. Apalagi kalau ini bukan material ? Ilmu pengetahuan modern memberikan gambaran agak berbeda dengan zat. Zat terdiri dari molekul-molekul yang sangat kecil. Molekul terdiri dari atom dan atom mempunyai sel inti tipis dengan sejumlah elektron yang mengorbit disekitarnya, seperti halnya planet-planet yang mengorbit bumi. Bila kaki saya menendang batu, suatu ruang kosong menendang ruang kosong (jujurnya, yang memainkan peranan adalah kekuatan yang berlaku dalam ruang kosong ini). Jika dalam ilmu pengetahuan modern menjadikan zat kurang “material”, maka juga pikiran menjadikan kurang “mental”, seperti yang dikatakan oleh filosof Bertrand Russell. Studi tentang otak kita menunjukkan bahwa emosi berhubungan erat dengan aktivitas sistem limbic

(material) dan bahkan kebanyakan manifestasi pemikiran yang paling luhur nampak selaras dengan penembakan neuron-neuron tertentu dalam korteks. Perbandingan yang adil dan berguna secara mendidik antara otak dan pikiran adalah dimungkinkan dalam terminologi komputer modern: otak adalah perangkat keras dan pikiran adalah perangkat lunak pikiran manusia. Perangkat lunak yang sama dapat dijalankan pada perangkat keras yang berlainan. Dengan kata lain :ide-ide yang terkandung dalam suatu buku dapat dimengerti oleh pembaca berlainan, yaitu otak yang berbeda. Analogi otak = perangkat keras, pikiran = perangkat lunak, terlihat cukup tepat bila kita mengingat bahwa hal ini merupakan gambaran kasar semata. Sejumlah persoalan bermula ketika kita mempertanyakan “status ontologis” 3[3] dari pikiran terhadap zat: apakah perangkat lunak mental “secara esensial berbeda” dari perangkat keras otak? Sejumlah filosof mengatakan bahwa pertanyaan tersebut tidak berguna dan sejumlah lainnya berpikiran beda. Apakah pikiran merupakan “substans” (substance). Definisi “substans” adalah “physical material from which something is made or which has a discrete existence” (materi fisik dari mana sesuatu dibentuk atau sesuatu yang mempunyai eksistensi yang mempunyai ciri tersendiri). (Webster’s New Collegiate Dictionary 1981) Yang lebih serius lagi, substans dapat dianggap sebagai sesuatu yang dapat eksis tak-tergantung dari sesuatu yang lain, atau setidak-tidaknya tidak tergantung dari substans lain. Dengan pengertian ini, jika pikiran (mind) atau jiwa (soul) adalah substans, maka ia dapat eksis tak-tergantung dari
3

[3] Ontology is the science of being or reality; the branch of knowledge that investigate the nature, essential properties, and relations of being (Webster’s definition)

zat, dan konsekuensinya dapat menjadi kekekalan dari jiwa (immortality of the soul). Kembali ke ilmu pengetahuan, pikiran nampaknya muncul dari aktivitas otak. Pada tingkat bawah, kehidupan boleh jadi sifat-sifat yang muncul dari zat. “Muncul” di sini artinya “sesuatu yang baru”, secara kualitatif berbeda. Jika zat yang tak-hidup (lifeless matter) menjadi begitu cukup terorganisir (berisi molekul-molekul organik yang kompleks), maka kehidupan dapat muncul, dan jika jaringan otak hidup khususnya begitu terorganisir, fenomena dari pikiran dapat muncul. Ini nampaknya dapat diterima oleh kalangan dialektik materialisme agnostic (bertuhan) dan orang-orang Kristen. Perbedaan-perbedaan diperkirakan (dan ditemui) lagi dalam pertanyaan ontologik (yang terkait dengan alam kejadian atau macam-macam eksistensi), seperti : dalam cara bagaimana pikiran muncul dari zat (jaringan otak), bedakah dengan zat? Apakah hanya sebagai hasil pertumbuhan dari zat atau apakah mempunyai realitas yang tak-terkait (“Emergence only implies that mind is “something new”) Marilah kita rangkum butir-butir yang dapat disepakati oleh mayoritas ilmuan, ahli-ahli filsafat dan ahli-ahli agama: (teolog): 1. Pikiran berhubungan dengan otak seperti perangkat keras berhubungan dengan perangkat lunak. 2. Pikiran adalah aspek baru dari aktivitas otak yang muncul ketika revolusi biologis yang membawa kita ke genus “manusia”. III.1 Teori-Teori Pikiran dan Otak

Materialisme: hanya proses materi yang terjadi, pikiran hanya merupakan “sisi subjektif” dari proses otak, tetapi tidak memiliki realitas apapun. Seluruh proses “hidup” dan “mental” dapat disederhanakan menjadi perobahan-perobahan dalam persoalan yang sepenuhnya ditentukan oleh hukum fisika (reduksionisme) Epiphenomenalisme: apa yang sebenarnya terjadi adalah proses otak secara materi; pengalamanan subjektif kita adalah riil, tetapi secara logika berkelebihan (tidak ada satupun yang hilang ketika kita lupa tentang fenomena mental) Monisme (atau teori identitas): hanya satu “substans” yang ada, yang mengungkapkan dirinya dalam dua cara: memiliki dua “sisi” atau aspek: pikiran dan zat. Pikiran dan zat, disebut juga sebagai dua sisi dari selembar kertas yang sama. Teori ini diusulkan oleh para filosof yang sama bedanya seperti Baruch Spinoza dan Bertrand Russel. Yang lebih terkait erat adalah: Panpsychisme: segala sesuatu yang materi (sebut saja atom atau elektron) mempunyai juga beberapa aspek mental dan psikis, bagaimanapun kecilnya. Dalam makhluk hidup, dan terlebih-lebih dalam pikiran manusia, aspek-aspek mental ini menjadi makin lebih terkoordinir. Teori ini agak aneh pada penglihatan pertamanya; tetapi teori ini diajukan oleh beberapa filosof terbesar, Leibniz dan Alfred North Whitehead. Pada dasarnya, teori ini juga termasuk dalam dialektika materialisme, maupun (berdasarkan difinisinya) dalam monisme dari Spinoza dan Russel. Idealisme: Lawan dari materialisme: sesuatu yang eksis adalah suatu ide (gagasan)

dalam pikiran. Pohon di depan saya ada bila saya melihatnya, oleh karenaya ada dalam pikiran saya. Jika saya tidak melihatnya, maka pohon itu tidak ada. Adalah suatu dunia yang aneh jika pohon seolah-olah loncat dari ada dan tidak ada bergantung pada seseorang yang melihatnya. George Berkeley (1685 – 1753) yang disitir Moritz (1995) menemukan alasan sederhana mengapa objek-objek di dunia ini terus menerus ada, karena Tuhan selalu melihatnya. Plato, Kant, Fichte dan Hegel juga dianggap idealis-idealis, walaupun dalam cara yang berbeda. Mereka menganggap pikiran sebagai konsep utama dan zat adalah konsep yang diturunkan dari pikiran. Padangan ini tidak begitu jauh dari opini sejumlah ilmuwan fisika modern yang berargumentasi sebagai berikut: Adalah sangat sulit bagi kita untuk mendefinisikan zat secara langsung. Bagi seorang fisikawan adalah alamiah kalau mengatakan bahwa zat adalah apa yang memenuhi hukum fisika, yang sudah tentu suatu struktur mental daripada struktur materi. Hal serupa juga dapat dikatakan: entitas yang memenuhi rumus matematika adalah fungsi matematis, yang sama-sama adalah mental. Oleh karena itu zat adalah konstruksi mental. Argumen di atas dapat disangkal, sebagaimana juga semua argumen filosofis. Namun demikian, hal ini nampaknya untuk memasukkan sekurangkurangnya suatu percikan kebenaran. . Dualisme: zat dan pikiran pada dasarnya merupakan konsep berbeda atau seperti yang dikatakan beberapa filosof, merupakan substans berbeda. Sudah barang tentu ini merupakan asumsi umum. Bila saya melukai jari saya (yang merupakan objek materi), maka saya merasa sakit (secara mental). Di sini jelas-jelas zat mempengaruhi pikiran. Ini juga berlaku dalam arah yang berlawanan. Bila saya melihat sebuah apel di

depan saya dan ingin memakannya (keinginan adalah mental), maka saya mengambil dan memakan apel itu (objek materi). Di sini pikiran mempengaruhi zat. Para filosof bertanya-tanya tentang bagaimana “substans berbeda”, zat dan pikiran dapat beraksi antara satu terhadap yang lain.. Contoh yang pertama, terpotongnya jari menyebabkan sakit, sudah begitu umum, sehingga tidak ada seorangpun yang mengajukan banyak pertanyaan tentang “kausal langsung” (direct causation) tersebut. Yang kedua, kemauan mental menyebabkan gerakan tubuh (mengambil apel) telah menimbulkan dan sedang menimbulkan, pembahasan tak terhitung tentang “kausal ke bawah” (downward causation), pikiran beraksi pada zat. Dualisme dalam pandangan normal, bukan ekstrim, adalah suatu pandangan yang alamiah. Akan menjadi persoalan, jika hanya dibesarbesarkan, seperti dua substans yang absolut berbeda yang terpisah secara absolut dan hampir tidak mungkin beraksi satu terhadap yang lain. Pandangan ini diluncurkan ke dalam fisafat oleh René Descartes (Cartesius, 1596 – 1650) yang dianggap sebagai bapak filsafat modern, di samping merupakan seorang matematikawan (memperkenalkan Koordinat Cartesian) Bahayanya dengan filsafat adalah bahwa bahasa alami disesuaikan pada penggunaan sehari-hari, tetapi tidak didesain untuk filsafat. Dengan demikian, filsafat harus menggunakan kata-kata yang dipakai sehari-hari, yang membuatnya lebih akurat. Alfred North Whitehead berbicara tentang “fallacy of misplaced concreteness” (kekeliruan dari kenyataan yang salah tempat). Hal ini dapat terjadi, misalnya, jika kita mempertimbangkan pikiran sebagai substans yang tidak dapat rusak,

dari substans mana keabadian perlu mengikutinya. Beberapa pengikut Descarte menggunakan konsep Tuhan untuk menengahi antara substans yang “tidak berinteraksi”, zat dan pikiran. Nampaknya konsep Tuhan kadang-kadang diminta untuk melayani sebagai “deus ex machina”4[4], bila seorang filosof mencapai kebuntuan. Adalah meragukan apakah konsep Tuhan sebagai “Pemecah Masalah Metafisika Universal” yang memperbaiki penalaran keliru dari para filosof, benar-benar memadai. Jadi nampaknya perlu untuk memperkenankan beberapa interaksi antara tubuh dan pikiran (kausal langsung dan kausal ke bawah). Jadi dualisme tubuh – pikiran sebenarnya harus menjadi “interactionisme” Ini merupakan tesis yang diperdebatkan secara impresif dalam bukunya Popper dan Eccles (1977), yang merupakan acuan dasar (walau tidak kontroversial) tentang persoalan tubuh – pikiran. Dari halaman 75 bukunya Popper dan Eccles kita mencatat argumentasi menentang materialisme yang dirumuskan secara ringkas oleh J.B.S.Haldane pada tahun 1939: “Jika materialisme adalah benar, nampaknya bagi saya, kita tidak dapat tahu bahwa itu benar. Jika pendapat saya adalah hasil dari proses (fisik dan) kimiawi yang terjadi dalam otak saya, seluruhnya ditentukan oleh hukum (fisika dan) kimia, dan tidak oleh logika” (kata-kata dalam tanda kurung disisip oleh Helmut Moritz,1995). Catatan : Agar hal ini benar, suatu dalil harus ditentukan oleh hukum logika
4

[4] “Tuhan di tengah-tengah pengepungan “ diterjemahkan secara harafiah dari Kamus Latin-Indonesia (Kent. et al. 1969). Mungkin dimaksud “Tuhan Melepaskan Kita dari Pengepungan”

Suatu argumen yang lebih meyakinkan terhadap materialisme adalah fakta bahwa biasanya proses otak dianggap berdasarkan hanya fisika klasik saja. Ini sesungguhnya, kurang cukup sejak definisi mikroskopis dari zat harus ditentukan oleh mekanika kuantum. Di sini nampaknya zat dan pikiran menunjukkan suatu keterkaitan erat Bagaimanapun juga konsep seperti materialisme, idealisme atau dualisme tidak dapat didiskusi dalam konteks yang sempit dari interaksi otak – pikiran semata. III.2 Metafisika dan Ontologi

Pada saat ini, relatif bermanfaat bagi kita untuk terlebih dahulu memberikan penjelasan beberapa terminologi filosofis yang digunakan sangat sering. Metafisika mempelajari persoalan-perosalan filosofis yang berada di luar jangkauan ilmu pengetahuan alam. Meta (dalam bahasa Yunani adalah “diluar’ atau”beyond”) fisika. Persoalan metafisika tradisional merupakan hubungan antara Tuhan dan dunia, jiwa manusia, “apa sesungguhnya dunia itu?” dan pertanyaan-pertanyaan ontologis lain. Ontologi mempelajari beragam bentuk eksistensi, misalnya alam dan eksistensi zat, pikiran, matematika, dsb. Beberapa orang menganggap metafisika bahkan sebagai konsep atau teori yang menerangkan daripada hanya menguraikan fenomena dalam fisika itu sendiri. Validitas metafisika, termasuk ontologi ditolak oleh positivisme: hanya data yang teramati dan kesimpulan yang logis yang punya arti. IV PERSEPSI MANUSIA

IV.1

Persepsi Auditorial

Meskipun penekanan utama kita adalah pada persepsi visual (penglihatan), tetapi indera pendengaran juga menjadi perhatian kita yang besar. Kita mendengar suara seorang teman atau mendengar sepotong musik. Telinga merupakan organ yang paling sensitif. Bila organ ini sedikit kurang sensitif, maka kita selalu mendengar suara latar belakang yang sangat menggangu yang dihasilkan oleh gerakan termal dari molekul-molekul udara.. Telinga bagian dalam berisi resonansi yang didesain begitu indah yang, boleh dikatakan, melaksanakan analisis harmonis sangat akurat dan rinci dari sinyal auditorial, suatu gelombang suara. Frekuensi masing-masing gelombang suara didengar begitu jelas dan terang dan secara terpisah, seperti kita dapat mendengar 4 not suara piano sekaligus. Hal ini penting karena dalam persepi visual secara presisi effek perata-rataan terjadi (averaging effect) Pada sisi lain, persepsi auditorial pada manusia tidak memberikan informasi begitu akurat dari mana suara itu datang dan tentang lokasi sumber suaranya. IV.2 Persepsi Visual (Penglihatan)

Ini merupakan bentuk klasik dari persepsi, atas persepsi visual mana para filosof secara tradisional meletakkan penekanan tertingginya. Diketahui secara umum bahwa masing-masing mata berperan seperti kamera fotografis kecil. Lensa menghasilkan gambar dunia luar pada retina, yang lagi-lagi biasanya merupakan gambar sangat akurat, yang selanjutnya ditransmisikan oleh syaraf optis menuju korteks. Stasiun relay dari kedua jejak optis adalah apa yang dinamakan dua lateral

geniculate bodies (LGB), satu pada bagian kanan thalamus dan satu lainnya pada bagian kiri thalamus. Hemisfer kiri dari otak (atau separoh otak kiri) menerima informasi visual dari kedua mata, tetapi dari hanya separuh bidang tampak kanan dari kedua mata. Juga sama dengan hemisfer kanan yang hanya menerima separuh dari bidang tampak kiri dari kedua mata. Pengolahan optis utamanya berlangsung dalam retina, yaitu LGB dan korteks visual dari kedua hemisfer. Perbedaan-perbedaan tipis dalam arah sumbu optis menghasilkan perbedaan-perbedaan dalam citra bersangkutan dalam retina, yang disebut parallax, secara keseluruhan memberikan tampakan 3-dimensi, yaitu kedalaman. Ini dikenal dengan pandangan steoroskopis. Mengingat kini status pemrosesan citra secara elektronis telah begitu canggih, adalah menarik untuk membandingkan pemrosesing data visual dari mata kita dengan teknologi pemrosesan citra, dan visi stereoskopis dilakukan telah lebih dari 5 dekade yang lalu dalam fotogrametri untuk tujuan yang sama, yaitu membangun model 3-dimensi dari citra 2-dimensi. IV.3 Persepsi Warna

Retina mata terdiri dari reseptor-reseptor yang dibungkus rapat, terdiri dari 107 kerucut (cone) dan 108 batang (rods). Rods bertanggung-jawab untuk melihat dalam kondisi pencahayaan yang redup; rod tidak mengenal warna. Sebaliknya cones adalah aktif dalam sinar siang normal. Cones terdiri dari 3 jenis, satu jenis mempunyai kepekaan (sensitivitas) untuk panjang gelombang 430 nanometer (biru) , jenis kedua untuk 530 namometer (hijau) dan jenis ketiga untuk 560 nanometer (merah) Kita ingat bahwa gelombang

elektromagnetik untuk cahaya tampak adalah antara 400 – 700 nanometer (1 nanometer = 10-9 m) Jika semua panjang gelombang diwakili secara uniform, maka kita sebut cahaya putih. Jika beberapa panjang gelombang lebih menonjol, kita melihat warna yang sesuai dengan rata-rata panjang gelombang tersebut. Jadi mata kita tidak melakukan analisis harmonis yang rinci dan canggih seperti dilakukan telinga dengan gelombang suara. Setiap cone mempunyai kepekaan maksimum untuk satu panjang gelombang tertentu dan kepekaan yang menurun untuk panjang gelombang tetangganya. Setiap panjang gelombang menstimulasi satu dari 3 jenis cones sampai taraf tertentu dan kesan bersihnya adalah justru panjang gelombang yang ditentukan Jika sudut masuk dari cahaya memuat beberapa panjang gelombang maka kita akan melihat satu warna rata-rata. Hal ini sama jika kita ketuk piano 2 not bersamaan, c dan e, maka kita akan mendengar not tengahnya. Perata-rataan (atau agaknya pencampuran) dua panjang gelombang oleh mata bahkan menghasilkan warna, untuk warna mana tidak ada panjang gelombang alami yang cocok: ungu sebagai hasil pencampuran biru dan merah. Jadi, setidak-tidaknya dalam visi warna, ada simplifikasi yang sangat besar dari informasi panjang gelombang: sinar cahaya yang memuat banyak sekali panjang gelombang, bahkan tak terbatas, panjang gelombang hanya memberikan satu warna. Visi warna adalah hubungan “banyak dengan satu”. IV.4.

Garis Berorientasi, Objek Bergerak dan Sel-Sel Nenek (Grandmother cells) Juga dalam respek lain, visi tidak sekedar memberikan kita citra fotografis dari dunia luar. Ada sel-sel dalam korteks yang bereaksi hanya pada garis atau strip dari orientasi tertentu: horizontal, vertikal atau miring 450. Neuron lainnya bereaksi hanya jika objek bergerak. Bahkan dikatakan bahwa ada neuron tunggal yang hanya beraksi pada suatu bentuk individual tertentu, seperti muka nenek anda (disebut “grandmother cells”). Ada dua publikasi baku yang ditulis oleh ilmuwan ternama dalam neurologi (neuroscientist) yang mudah dibaca dan menangani berbagai aspek: (Hubel 1988) dan (Young 1987) V PENGETAHUAN TEORI EVOLUSIONER DARI

Karakteristik “non-fotografis” dari visi yang disebut sebelumnya dapat dijelaskan dengan fakta bahwa organ indera, maupun bagian lain dari tubuh kita, telah dibentuk oleh evolusi biologis, melewati hampir semuanya tahapan dari dunia hewan. Pendengaran pada hewan tidak dirancang untuk menikmati musik Beethoven. Pendengaran berfungsi untuk memberi informasi kepada hewan tentang musuh atau korban yang mendekati: singkatnya untuk membantu hewan tetap hidup (menyelamatkan nyawanya). Dengan mata juga demikian: visi dalam hewan bukan utamanya untuk melayaninya melihat pemandangan indah, tetapi membantunya untuk mengenal dan

membedakan makanan dan bahaya. Untuk maksud ini adalah esensial jika objek itu bergerak atau tidak, dan juga penting apakah garis besar dan horizontal atau vertikal maupun pengenalan langsung dari objek terkait (grandmother cells). Dengan demikian penggunaan “data indera” untuk keperluan abstrak seperti seni, ilmu dan filsafat, datang pada status sangat akhir dari pengembangan manusia. Daripada menyalahkan data indera untuk tidak memberikan kita secara langsung semua informasi ilmiah tentang dunia, kita akan terheran dan berterima kasih bahwa data indera dan analisisnya oleh pikiran manusia telah mengajar kita begitu banyak dan (mudahmudahan) akan berlanjut seterusnya. V.1 Pengetahuan A Priori dan Posteriori

Pada pagi hari kita menuju ke mobil kita, membuka pintunya dan memutar kunci starternya. Mengapa? Karena kita ketahui sebagai aturan bahwa mesin mobil akan hidup dan kita akan mengenderainya ke kantor kita. Ekspektasi (harapan) yang kita miliki sebelum memutar kunci starter adalah semacam bentuk pengetahuan a priori ( a priori artinya “sebelumnya”). Setelah mesin mobil hidup betul dengan memutar kunci starter (yang kadangkadang juga belum tentu), maka kita mengetahuinya secara empiris atau a posteriori bahwa harapan kita menjadi kenyataan. Informasi a priori umumnya dipercaya yang diberikan oleh logika dan matematika: 3 + 2 = 5, terlepas apakah kita bicara tentang apel atau manusia, Juga dipercaya bahwa selalu benar, walaupun satu awan ditambah satu awan akan menyatu menjadi awan lain: 1 + 1 = 1 untuk awan. Ini mungkin suatu lelucon, tetapi bukan suatu yang sepele.

Informasi a posteriori diperoleh melalui pengamatan empiris: melihat mobil distarter dalam contoh kita. Sebagaimana diberikan dalam contoh-conton di atas, unsur-unsur a priori dan a posteriori berinteraksi dalam tiap aktivitas manusia, dan jelas pula dalam ilmu pengetahuan: teori (a priori) dan testing melalui percobaan (a posteriori). Apa yang sudah didiskusi dalam filsafat sebelum Kant tetapi telah ditempatkan dalam pusat filsafat oleh Immanuel Kant (1724-1804), menurut Moritz (1995), adalah peranan dan kepastian dari unsurunsur a priori dan a posteriori yang terkait. Secara universal diakui oleh para filosof bahwa hanya logika adalah a priori dan pengamatan adalah a posteriori. Dalil yang secara logika benar (tautology) adalah juga dinamakan “analitis”, lainlainnya (khususnya dalil tentang fakta empiris), dinamakan “sintetis” Sehingga seluruh dalil analitis adalah a priori dan seluruh dalil empiris adalah a posteriori. Kini pertanyaan dari Kant adalah “apakah dalil sintetis yang a priori dimungkinkan ? Ambil misalnya teorema matematika. Teorema ini tidak tergantung dari pengamatan empiris dan dengan demikian dianggap oleh Kant sintetis a priori. Bertrand Russell (1872-1970) beranggapan bahwa dia dapat mendeduksi seluruh matematika dari aksioma logika murni dan dengan demikian percaya bahwa matematika adalah a priori tetapi analitis. Matematikawan kontemporer lainnya agak cenderung ke arah pendapat Kant. Kant percaya tidak hanya matematika saja, tetapi juga ruang geometris dan fisis tiga-dimensi yang akan menjadi a priori secara sintetis, maupun kategori lainnya seperti “waktu” dan “kausalitas” Kant menganggap hal ini akan benar mutlak, tidak hanya aproksimasi (pendekatan), oleh

struktur dari pikiran kita. Dia percaya telah melaksanakan “revolusi Copernicus” dalam filosofi dengan meletakkan hukum yang sangat mendasar dari fisika tidak dalam alam tetapi dalam pikiran kita. Kita tidak dapat sekedar berfikir tentang ruang secara berbeda daripada sebagai ruang tiga-dimensi dan Euclidean. Sejak Teori Relativitas Einstein (atau bahkan sejak geometri non-Euclidean dari Gauss, Bolyai dan Lobačevsky), kita tahu bahwa Kant tidak benar dalam hal ini. Namun demikian, pembicaraan a priori dan a posteriori berlangsung sampai hari ini. V.2 Contoh Eddington

Eddington (1939, hal. 16) memberikan ilustrasi yang menarik tentang a priori ilmiah. Sebagai seorang sarjana biologi laut, ia sedang menjajaki kehidupan di laut. Untuk mendapat spesimen binatang yang hidup di laut ia melempar jala dan memeriksa tangkapannya. Ia menemukan: (1) tidak ada binatang laut yang kurang dari 5 cm panjang (2) semua binatang laut mempunyai insang Agar pasti bahwa penemuannya benar, ia mengulangi eksperimennya beberapa kali dan pada berbagai tempat. Ia menemukan bahwa kesimpulannya benar dan mengambil kesimpulan bahwa hal ini akan benar secara universal. Adalah jelas bahwa temuan (1) bukan hukum objektif dari alam, tetapi konsekuensi dari organisasi eksperimennya. Akan menjadi lain jika ia memakai jala dengan mata jala yang lebih kecil atau lebih besar. Ini menggambarkan bahwa kita tidak dapat menghindari dari “a priori” subjektif. Persepsi indera adalah suatu yang diberikan (data indera) sebagaimana difabrikasi oleh pemroses yang sangat kompleks dari otak kita (Jaring Eddington)

V.3

Epistemologi Evolusioner

Epistemologi adalah tidak lain dari “teori tentang pengetahuan” (theory of knowledge). Ilmuwan biologi terkenal Konrad Lorenz (1903-1989) adalah gurubesar terakhir dari ilmu filosofi Immanuel Kant di Königsberg. Mempelajari filosofi Kant, ia mengenali bahwa kondisi a priori dari Kant untuk pengetahuan manusia dapat di-identifikasi dengan struktur persepsi seseorang (mata, telinga, dsb) yang dikembangkan dalam perjalanan evolusi manusia. Pandangan dunia manusia sebagian besar, walau semata-mata tidak eksklusif, di kondisi oleh bangunan fisis dan mentalnya. Misalnya, selain kita mampu menangkap hanya panjang gelombang dari 400 sampai 700 nm (spectrum tampak) dalam spektrum elektromagnetik, kita sebenarnya mampu memvisualisasi frequensi lain, namun representasi visual kita akan berbeda sekali. (kita dapat menangkap gelombang inframerah sebagai panas). Atau coba bayangkan bagaimana seorang buta yang dapat menangkap frekuensi yang tidak tampak. Teori ini secara menarik menjelaskan mengapa persepsi kita begitu sesuai dangan alam (misalnya mata, telinga dan sentuhan memberikan hasil yang konsisten). Pertanyaan filosofis “adequation mentis ad rem” (keselarasan pikiran dengan alam) dapat dijelaskan secara sederhana: jika kesan indera hewan tidak selaras dengan kenyataan (misalnya, jika hewan tidak mengejar mangsa yang ada), dia tidak akan hidup, karena tidak sesuai dengan prinsip Darwin “survival of the fittest” (hanya mereka yang kuatlah yang dapat hidup). A priori hewan dan apparat persepsinya cocok utk kelangsungan hidup (survival), dan boleh dikatakan, kumpulan dari “hipotesis kerja untuk kelangsungan hidup.

Dalam bukunya “Filozofia znanosti I humanizam” (Filosofi Ilmu Pengetahuan dan Kemanusiaan), Iwan Supek memperlihatkan bahwa teori evolusioner dari pengetahuan berawal dari seorang fisikawan Austria Ludwich Boltzmann (1844-1906) [ZNL, Zagreb, Kroasia, 1991, hal.85] V.4 Ilmu Pengetahuan

Ilmu pengetahuan adalah kelanjutan dari aparat persepsi manusia, terutama untuk kelangsungan hidup. Kemudian, sejak masa Yunani purba, dengan muncul “keinginan tahu intelektual” (intellectual curiosity) untuk memenuhi nafsu ingin tahu untuk dirinya sendiri. Teori-teori sudah tidak lagi (semata-semata) “hipotesa kerja untuk kelangsungan hidup”, tetapi “hipotesa kerja untuk mengerti alam” Sudah tentu a priori utama dibentuk oleh logika dan matematika di satu sisi, dan oleh struktur dari persepsi indera, di lain sisi. Dengan cara mana logika dan otak terkait, hampir seluruhnya masih kontroversial. Aparat persepsi kita, sebaliknya, pasti diberikan kepada kita melalui evolusi. A priori sekunder untuk riset ilmiah adalah teori-teori fisika, kimia, biologi dsb. Berlawanan dengan Kant, adalah, bahwa teori-teori ini sudah tidak lagi dianggap kebenaran absolut, tetapi sebagai hipotesa kerja dengan pemalsuan dari berbagai tingkat variasi dan selalu menjadi subjek untuk setidak-tidaknya peninjauan kembali (revision) V.5 Buket dan Lampu Sorot (The bucket and the searchlight) Filosofi modern menekankan pada peranan aktif dari subjek dalam pengumpulan informasi. Para

penganut positifis logika di sekitar Bertrand Russel menganggap objek materi sebagai “konstruksi logis dari data indera”, data-data ini sedikit banyak terhubung secara pasif dalam buket (ekspresi ini dari Karl Popper, 1979). Pandangan ini tentunya bertentangan dari “fallacy of misplaced concreteness”-nya Whitehead, yaitu penyederhanaan berkelebihan (oversimplification). Secara sederhana adalah tidak benar bahwa kita melihat “suatu bercak merah di kelilingi oleh hijau”, tidak, kita langsung mengenalnya sebagai warna ros. (Memerlukan abstraksi filosofis tingkat tinggi untuk melihat bercak merah sedangkan orang lain melihatnya warna ros). Teori modern menganggap aparat persepsi kita sebagai “lampu sorot” untuk menemukan apa yang kita asumsikan, perkirakan, harapkan atau cemaskan, seperti seorang pemburu menunggu singa. Sebagaimana telah diterangkan pada awal tulisan ini, dan ini adalah alasan mengapa gerakan detektor dalam retina visual adalah tidak begitu penting. Tetapi teori-teori ilmiah juga berperan sebagai lampu sorot untuk mengeksplorasi alam. Kita mengharapkan mem-verifikasi alam melalui eksperimen, atau kalau mengikuti cara Karl Popper, kita harus memalsukannya, seperti seorang gurubesar tanpa ampun mecoba menggagalkan semua mahasiswa, kecuali, mereka yang paling sangat baik. (hanya mereka yang nilai A saja yang sangat baik !!!!). Mari kita mengulangi beberapa pokok-pokok pembahasan kita. Logika matematika secara mutlak adalah a priori. Teori-teori ilmiah juga digunakan secara a priori, sebagai hipostesa kerja, tetapi subjek dari ke penyangkalan dan revisi melalui pengalaman. Teori positif-logis dari data indera yang diterima kurang lebih pasif, dari data mana objek eksternal

diperoleh dengan “konstruksi logis”, tidak sesuai dengan realitas. Unsur-unsur a priori, dari ketakutan primitif dan ekspektasi sampai teori-teori ilmiah maju bekerja sebagai lampu sorot untuk menemukan dan mengerti dunia eksternal kita Binatang sudah merasakan musuh-musuhnya atau korbannya sebagai objek eksternal, walaupun dengan cara kasar. Jika binatang ini mengkonstruki musuh-musuhnya secara mental dari data indera; dia tentunya sudah mati jauh sebelum menyelesaikan konstrukis logis. Juga manusia juga merasa secara langsung, bukan data indera, tetapi objek eksternal. Ini adalah setidaktidaknya orang percaya, dan “realisme hipotetis” dari epistemologi evolusioner menegaskan bahwa ia secara mendasar adalah benar. Alfred North Whitehead mengatakan ia tidak akan memperhatikan gajah kecuali ia mengharapkan akan menemui binatang ini Ini adalah contoh lain dari tesis lampu sorot. Untuk memberikan contoh sehari-hari yang lain: jika orang melihat alam dengan berjalan kaki, ia akan heran betapa banyak yang dapat ia lihat dengan caranya ini, yang sebaliknya hanya akan terlewat tanpa perhatian.. DAFTAR PUSTAKA 1. Churchland, P.M. 1988. Matter and Consciousness, 2nd Edition. MIT Press, New York, USA 2. Cohen J. and I.Steward. 1994. The Collapse of Chaos: Discovering Simplicity in a Complex World. Viking-Penguin, New York, USA 3. Eddington, A. 1939. The Philosophy of Physical Science. Cambridge University Press. London, UK

4. 5. 6.

7. 8. 9.

Haldane A. 1939. The Marxist Philosophy and the Sciences. Reprint by Books for Library Press. Freeport, New York, USA Lorenz K. 1973. Behind the Mirror. Methuen. London, UK Moritz, H. 1995. Science, Mind and the Universe – An Introduction to Natural Philosophy. Herbert Wichmann Verlag. Heidelberg, Germany Popper K.R. and J.C. Eccles. 1977. The Self and Its Brain. Springer Verlag. Berlin, Germany Russel B. 1992. The Problems of Philosophy. William and Norgate. London, UK Whitehead, A.N. 1993. Adventures of Ideas. Macmillan. London, UK

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->