P. 1
Morfologi Bunga-buah Dan Taksasi Produksi Kelapa Sawit

Morfologi Bunga-buah Dan Taksasi Produksi Kelapa Sawit

3.0

|Views: 12,617|Likes:
Published by ivan ara

More info:

Published by: ivan ara on Mar 29, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as ODT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/21/2015

pdf

text

original

MORFOLOGI BUNGA-BUAH DAN TAKSASI PRODUKSI KELAPA SAWIT

Disusun Oleh :
KELOMPOK B 11

Anggota : 1. Galvan Yudistira 2. Sitta Azmi F 3. Azanel Walad 4. Merry Gloria Meliala 5. Nova MS A24070040 A24070088 A24070156 A24070162 H34070111

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2010 PENDAHULUAN Latar Belakang Kelapa sawit merupakan salah satu komoditas penting di Indonesia. Devisa negara yang dihasilkan melalui kelapa sawit cukup besar. Direktur Jendral Perkebunan Departemen Pertanian Republik Indonesia, Akmad Mangga Barani mengatakan dalam Formatnews 15 Desember 2009 bahwa Indonesia merupakan negara terbesar produsen kelapa sawit di dunia. Devisa negara dari ekspor minyak kelapa sawit mentah (CPO) Rp13,5 triliun. Wakil Ketua Dewan Sawit Indonesia (DSI) Derom Bangun memperkirakan devisa negara akan meningkat sebesar 10%. Produksi kelapa sawit diharapkan terus meningkat dari tahun ke tahun. Peningkatan produksi CPO dapat dilakukan melalui peningkatan produksi buah kelapa sawit. Salah satu hal yang berhubungan dengan produksi kelapa sawit adalah panen. Panen merupakan serangkaian kegiatan mulai dari memotong tabdan buah segar matang panen sesuai dengan kriteria matang panen, mengutip dan mengumpulkan berondolan, serta mengumpulkan di tempat penampungan hasil (TPH). Melalui panen akan terlihat bagaimana perawatan terhadap kelapa sawit dilakukan. Perawatan yang bain akan terlihat melalui hasil kelapa sawit yang baik. Produksi buah kelapa sawit dapat diperkirakan melalui taksasi. Taksasi yaitu memperkirakan besarnya produksi yang akan dicapai pada masa tertentu dan masa berikutnya dalam luasan tertentu. Melalui taksasi produksi, dapat ditentukan jumlah buah yang dapat dipanen pada kebun kelapa sawit. Hal ini penting untuk memperkirakan keefisienan penggunaan jumlah tenaga kerja pemanen, angkutan, dan pelaksanaan panen. Dalam pelaksanaan taksasi, kemampuan untuk mengenal dan mengetahui morfologi bunga buah sangat diperlukan. Taksasi dilakukan dengan melihat morfologi bunga buah. Untuk itu, pekerja yang malakukan taksasi harus mengetahui bagaimana ciri-ciri bunga dan buah pada fase dan umur tertentu.

Bunga yang masih mengalami inisiasi dan bunga yang sudah diserbuki akan berbeda. Begitu pula buah pada umur 1 bulan akan berbeda dengan buah yang berumur 2 bulan. Tujuan Tujuan dari praktikum ini adalah: 1. Melakukan taksasi produksi yang meliputi: taksasi untuk 6 bulan, taksasi untuk 3 bulan, taksasi untuk 1 bulan, dan taksasi panen. 2. Menghitung perkiraan hasil panen 3. Menghitung sex rasio 4. Menghitung kebutuhan tenaga kerja panen Bahan Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah 20 tanaman contoh kelapa sawit. Metode Pelaksanaan Kondisi tandan bunga dan tandan buah yang ada pada setiap tanaman contoh diamati. Data pengamatan diisi pada tabel pengamatan yang telah disediakan pada lembar kerja. Tandan bunga jantan dan tandan bunga betina diamati. Namun jumlah tandan bunga jantan tidak kami hitung. Bobot Tandan Buah Segar (TBS) rata-rata tanaman contoh diperkirakan. Prestasi kerja dihitung dan dilakukan perkiraan taksasi produksi untuk selama 6 bulan, 3 bulan, dan 1 bulan.

TINJUAN PUSTAKA

Taksasi Produksi Taksasi produksi kelapa sawit adalah kegiatan memperkirakan jumlah tanaman kelapa sawit yang dapat dipanen. Taksasi produksi dilakukan untuk memprediksi panen setiap tahun. Rumus taksasi produksi adalah sebagai berikut : Y=axbxc Keterangan ; a = Jumlah seluruh tandan yang akan dipanen selama 6 bulan. b = Berat tandan rata-rata. c = Persentase minyak terhadap berat tandan. Untuk CPO sebesar 20%. Morfologi Buah Kelapa Sawit Kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Bunga tersebut keluar dari ketiak atau pangkal pelepah daun bagian dalam. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat. Kelapa sawit mengadakan penyerbukan silang (cross pollination). Artinya, bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaraan angin dan atau serangga penyerbuk. Perbandingan bunga betina dan bunga jantan (sex ratio) sangat dipengaruhi oleh pupuk dan air. Jika tanaman kekurangan pupuk atau kekurangan air, bunga jantan akan lebih banyak keluar. Produktivitas tanaman menjadi baik jika unsur hara dan air tersedia dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Kecukupan unsur hara dan air didasarkan pada analisis tanah, air, dan daun sesuai dengan umur tanaman. sex ratio mulai terbentuk 24 bulan sebelum dipanen. Artinya, calon bunga (primordia) telah terbentuk dua tahun sebelum panen.

perencanaan produksi dihitung minimal tiga tahun sebelumnya, sehingga perencanaan pemupukan dapat dijadwalkan. Buah muda berwarna hijau pucat. Semakin tua berubah menjadi hijau hitam hingga kuning. buah sawit yang masih mentah berwarna hitam (nigrescens), beberapa diantaranya yang berwarna hijau (virescens). Buah matang berwarna merah kuning (oranye), buah matang akan rontok (buah leles atau berondol). Keadaan ini menandakan bahwa kelapa sawit sudah layak panen. biasanya perintah panen diberikan berdasarkan jumlah jatuhnya berondolan, yakni 1-2 buah per kg tandan. Tandan sawit terdiri atas sekitar dua ribu buah sawit dan tingkat kematangannya bervariasi. Secara praktis, tandan yang dianggap matang atau layak panen adalah jika telah berwarna merah jingga yang memiliki kandungan karotena (pigmen alami berwarna merah, berada di bagian kuit buah yang matang). Ada juga buah sawit yang tidak mengandung karotena di mesocarpnya (buah albecens). Biji kelapa sawit memiliki ukuran dan bobot yang berbeda untuk setiap jenisnya. Biji dura afrika memiliki panjang 2-3 cm dan bobot rata-rata mencapai 4 g, sehingga dalam 1 kg terdapat 250 biji. Biji dura deli mempunyai bobot 13g/biji, sedangkan biji tenera afrika rata-rata memiliki berat 2 g/biji. Umumnya, biji kelapa sawit memiliki periode dorman, yakni periode istirahat yang tidak segera dapat berkecambah atau tumbuh. Perkecambahan bisa berlangsung dari 6 bulan dengan tingkat keberhasilan sekitar 50%. Berdasarkan ketebalan cangkang dan daging buah, kelapa sawit dibedakan menjadi beberapa jenis sebagai berikut. 1. Dura (D), memiliki cangkang tebal (3-5 mm), daging buah tipis, dan rendemen minyak 15-17%. 2. Tenera (T), memiliki cangkang agak tipis (2-3 mm), daging buah tebal, dan rendemen minyak 21-23%. 3. Pisifera (P), memiliki cangkang sangat tipis, daging buah tebal, biji kecil, dan rendemen minyak tinggi (23-25%). Tandan buah hampir

selalu gugur sebelum masak, sehingga jumlah minyak yang dihasilkan sedikit.

Morfologi Bunga Kelapa Sawit Kelapa sawit merupakan tanaman monoecious (berumah satu). Artinya, bunga jantan dan bunga betina terdapat pada satu pohin, tetapi tidak pada tandan yang sama. Walaupun demikian, kadang-kadang dijumpai juga bunga jantan dan betina pada satu tandan (hermafrodit). Bunga muncul dari ketiak daun. Setiap ketiak daun hanya menghasilkan satu infloresen daun hanya dapat menghasilkan satu infloresen (bunga majemuk). Biasanya, beberapa bakal infloresen gugur pada fase-fase awal perkembangannya sehingga pada individu tanaman terlihat beberapa ketiak daun tidak menghasilkan infloresens. Perkembangan infloresen dari proses inisiasi awal sampai membentuk infloresen lengkap pada ketiak daun memerlukan waktu 2.5 – 3 tahun. Infloresen akan muncul dari ketiak daun beberapa saat menjelang antesis (penyerbukan). Pada tanaman muda (2-4 tahun), anthesis biasanya terjadi pada infloresen di keetiak daun nomor 20, sedangkan pada tanamn tua (> 12 tahun ) biasanya terjadi pada daun lebih muda, yaitu sekitar infloresen pada daun nomor 15. Bunga kelapa sawit merupakan bunga mejemuk yang terdiri dari kumpulan spikelet dan tersusun dalam infloresen yang berbentuk spiral. Bunga jantan maupun bunga betina mempunyai ibu tangkai bunga (peduncle/rachis) yang merupakan struktur pendukung spikelet. Umumnya dari pangkal rachis muncul sepasang daun pelindung spikelet. Umumnya, dari pangkal rachis muncul sepasang daun pelindung (spathes) yang membungkus infloresen sampai dengan saat-saat menjelang terjadinya antesis. Dari rachis ini, terbentuk struktur triangular bract yang kemudian membentuk tangkai-tangkai bunga (spikelets).

Infloresen dibedakan berdasar morfologi spikelet. Walaupun infloresen digolongkan sebagai “jantan” dan “betina”, kenyataannya infloresen betina juga menghasilkan bunga-bunga jantan; sedangkan infloresen jantan biasanya mempunyai beberapa bunga betina pada bagian dasar spikelet. Berdasarkan irisan pada bunga yang belum mekar (immature), infloresen jantan dan infloresen betina berasal dari satu struktur yang sama. Inisiasi primordia stamen (organ jantan) dan karpel (organ betina) terbentuk secara bersamaan. Pada masa 3 bulan sebelum antesis, pertumbuhan salah satu bagian dari eklamin bunga akan terehenti sehingga satu jenis bunga yang dihasilkan dalam inflouresen. Dalam beberapa kejadian, kadang-kadang gynoecium (organ betina) dapat berkembang bersama-sama dengan androecioum (organ jantan) pada spikelet jantan. Infloresen tersebut dinamakan infloresen andromorphous. Hal ini terutama terjadi pada tanaman-tanaman muda. Tipe infloresen hermafrodit yang lain kadang-kadang ditemukan pada spikelet jantan meupun spiket betina. Selain itu, infloresen hermaflodit juga bisa berupa infloresen yang membentuk spikelet betina pada bagian bawah, sedangkan pada bagian ujungnya berupa spikelet jantan. Infloresen campuran hanya terjadi selama perubahan siklus pembungaan dari fase betina ke fase jantan, di mana infloresen andromorphous biasanya muncul. Infloresen campuran dapat terjadi baik pada akhir fase jantan maupun fase betina.

HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1. Pengamatan Taksasi Produksi pada Kelompok B Jumlah tandan dengan umur buah setelah seludang terbuka/ keadaan No. bunga atau tandan Tanaman Anthesis 1 bulan 1 0,25 0,25 2 0 0,2 3 0 0,2 4 0 0,05 5 0 0,65 6 0 0,05 7 0,2 0,35 8 0,2 0,25 9 0,2 0,45 10 0,5 0,25 11 0,25 0,4 12 0 0,1 0,13 0,27 Waktu kerja = 30 menit = 0,5 jam Perhitungan HOK = 0,5 jam x 6 orang x (1 HOK / 7 jam) = 0,42 HOK Prestasi kerja : Luas lahan : x 1 ha = 0,143 ha Lama Kerja: 30 menit =
30menit = 0.5 jam 60menit

2 bulan 0,35 0,4 0,4 0,25 0,65 0,3 0,3 0,3 0,2 0,35 0,7 0 0,35

3 bulan 0,7 0,7 0,7 0,65 0,95 0,6 0,8 0,65 0,9 0,85 0,8 0,1 0,7

4 bulan 0,75 0,95 0,9 0,85 0,85 0,9 0,95 0,85 0,8 0,9 0,9 0,7 0,86

5 bulan 1 1 1 1 0,75 0,85 0,9 0,9 0,95 0,85 0,45 0,9 0,88

Jumlah Tenaga Kerja: 6 orang

1 Hari Kerja (HK) = 7 jam/hari Penghitungan: Luas lahan yang dikerjakan oleh 1 orang = LuasLahan JumlahTena gaKerja 1428,57 6orang

=

= 238,095 m2 / orang Maka Prestasi Kerja (PK), yaitu =
7 jam x 238,095m 2 0.5

= 3333,33 m2 / HK tiap orang Jika dalam 1 ha, maka PK =

PKdalammeter 10000m 2

=

3333.33m 2 / HK 10000m 2

= 0,3333 ha/ HK tiap orang Jika dijadikan HK/ ha, maka = = 3,0003 HK / ha 3 HK/ha tiap

1 0.3333ha / HK

orang. Perhitungan taksasi 6 bulan = (anthesis + bulan + bulan + bulan + bulan + ) x 140 tanaman x 17 kg = ( 0,13 + 0,27 + 0,35 + 0,7 + 0, 86 + 0, 88 )x 140 x 17 kg = 7592,2 kg = 7,59 ton Perhitungan Taksasi 3 bulan

= (bulan + bulan + bulan ) x 140 tanaman x 17 kg = ( 0,7 + 0, 86 + 0, 88 )x 140 x 17 kg = 5807,2 kg = 5,8 ton Perhitungan Taksasi 1 bulan = bulan x 140 tanaman x 17 kg = 0,88 x 140 tanaman x 17 kg = 2094, 4 kg = 2,094 ton

Pembahasan Tanaman kelapa sawit yang berumur tiga tahun sudah mulai dewasa dan mulai mengeluarkan bunga jantan atau bunga betina. Bunga jantan berbentuk lonjong memanjang, sedangkan bunga betina agak bulat. Tanaman kelapa sawit mengadakan penyerbukan silang (cross pollination). Artinya, bunga betina dari pohon yang satu dibuahi oleh bunga jantan dari pohon yang lainnya dengan perantaraan angin dan atau serangga penyerbuk. Bunga kelapa sawit berumah satu, artinya pada satu batang terdapat bunga jantan dan bunga betina yang letaknya terpisah pada tandan bunga yang berbeda. Tandan bunga terletak di ketiak daun, mulai tumbuh setelah tanaman berumur sekitar satu tahun. Primordia (bakal) bunga terbentuk sekitar 33 sampai 34 bulan sebelum bunga matang (siap melaksanakan penyerbukan). lambat. Pertumbuhan bunga sangat dipengaruhi oleh kesuburan tanaman. Tanaman yang tumbuh kerdil pertumbuhan bunganya lebih Letak bunga jantan yang satu dengan lainnya sangat rapat dan membentuk cabang-cabang bunga yang panjangnya antara 10 sampai 20 cm. Pada tanaman dewasa, satu tandan mempunyai kurang lebih 200 cabang bunga. Setiap cabang mengandung 700 sampai 1200 bunga jantan. Bunga jantan ini terdiri dari 6 helai benangsari dan 6 perhiasan bunga. Satu tandan bunga jantan dapat menghasilkan 25 sampai 50 gram tepungsari. Bunga betina terletak dalam tandan bunga, tiap tandan bunga mempunyai 100-200 cabang dan setiap cabang terdapat

paling banyak 30 bunga betina. Dalam satu tandan terdapat 3.000 sampai 6.000 bunga betina. Bunga betina memiliki 3 putik dan 6 perhiasan bunga. Diantara bakal buah hanya satu yang subur, jarang terdapat dua atau lebih. Bunga jantan maupun bunga betina biasanya terbuka selama 2 hari (jika dalam musim hujan bisa sampai 4 hari). Tepung sari dapat menyerbuki selama 2-3 hari, tetapi makin lama daya hidup viabilitasnya makin menurun.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 1.Bunga jantan dan bunga betina kelapa sawit Keterangan : a. bunga jantan b. bunga betina c. bunga betina masa anthesis d. bunga jantan masa anthesis

Gambar 2. Bunga Kelapa Sawit Pelepah daun kelapa sawit yang terbentuk diikuti dengan bakal bunga, bunga kelapa sawit yang terbentuk hingga anthesis memerlukan waktu hingga dua bulan. Hal tersebut terjadi bila keadaan menguntungkan. Terhambatnya pembentukan bunga pada tanaman kelapa sawit akibat faktor lingkungan, seperti serapan hara

terutama unsur N. Bila unsur N pada daun nomor 17 yang dihitung dari pucuk kurang dari 2,5 %, maka bunga yang terbentuk rendah atau 1 sampai 2 bunga setiap dua bulan. Pembentukan bunga secara optimal terjadi bila serapan N tinggi diikuti dengan sudut daun yang menangkap radiasi matahari juga maksimal, keadaan tersebut dapat menyebabkan tandan bunga kelapa sawit terbentuk sekitar dua buah setiap bulan (IOPRI, 2008). Selanjutnya penurunan kadar N dalam tanaman berpengaruh terhadap fotosintesis baik lewat kandungan klorofil maupun enzim fotosintetik yang akhirnya menurunkan hasil (pati) yang terbentuk, keadaan tersebut mempengaruhi produktivitas tanaman, terutama pembentukan bunga dan buah. Lamanya proses pembentukan buah (dari saat penyerbukan sampai matang), tergantung pada keadaan iklim dan faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan. Lama proses pemasakan buah di beberapa kawasan berbeda, di Malaysia sekitar 5,5 bulan, di Sumatera sekitar 3 sampai 6 bulan dan di Afrika sekitar 6-9 bulan. Selama buah kelapa sawit masih muda yaitu sampai berumur 4,5 sampai 5 bulan, buah kelapa sawit berwarna ungu. Setelah itu kulit buah (exocarp) berangsur berubah dari ungu menjadi merah kekuningan. Pada saat ini terjadilah pembentukan minyak yang intensif pada daging buah (mesocarp) dan butir-butir minyak tersebut mengandung zat warna karotin yang berwarna jingga. Proses pembentukan minyak dalam daging buah berlangsung selama 24 hari, yaitu sampai buah mencapai tingkat masak. Masaknya buah dalam satu tandan tidak sekaligus, tetapi berangsur-angsur mulai bagian atas dan bagian samping yang terkena sinar matahari menuju ke arah bawah (pangkal). Satu tandan buah telah siap dipanen apabila beberapa buah dari tandan tersebut telah terlepas dan jatuh ke tanah. Lama selisih umur antara tandan bunga atau tandan buah yang satu dengan tandan bunga atau buah yang umurnya paling berdekatan adalah satu bulan. Hal ini disebabkan karena dalam satu bulan pembentukan bunga atau buah pada pangkal tandan kelapa sawit rentangnya adalah dari 1 sampai 2 buah/bunga. Produktifitas kelapa sawit sangat erat kaitannya dengan sex ratio, semakin tinggi sex ratio dalam artian jumlah bunga betina semakin banyak maka

produktifitas kelapa sawit akan semakin tinggi, hal ini disebabkan karena semakin banyak bunga betina maka jumlah buah kelapa sawit yang dihasilkan juga akan semakin tinggi. Sex ratio juga dipengaruhi oleh serapan hara terutama unsur Nitrogen, bila unsur Nitrogen pada daun nomor 17 kurang dari 2.5% maka bunga yang terbentuk rendah atau 1 s/d 2 bunga setiap dua bulan. KESIMPULAN Taksasi produksi kelapa sawit adalah kegiatan memperkirakan jumlah tanaman kelapa sawit yang dapat dipanen. Taksasi produksi dilakukan untuk memprediksi panen setiap tahun. Jumlah kelapa sawit yang bisa dipanen erat kaitannya dengan produktifitas. Sex ratio merupakan perbandingan antara jumlah bunga jantan dan bunga betina pada suatu pohon kelapa sawit. Hal ini sangat berpengaruh pada jumlah produksi tandan pada pohon kelapa sawit.

DAFTAR PUSTAKA Pahan I.2006. Panduan Lengkap Kelapa Sawit. Jakarta: Penebar Swadaya. Sunarko. 2009. Budidaya dan Pengelolaan Kebun Kelapa Sawit dengan Sistem kemitraan. Agromedia Pustaka. Jakarta. Devisa Negara dari CPO Naik 10% di 2010 http://bataviase.co.id/node/119570 [diakses tanggal 05 Maret 2010] Indonesia Negara Produsen Kelapa Sawit Terbesar http://www.formatnews.com [diakses tanggal 05 Maret 2010]

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->