MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

01

02

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

DAPUR

REDAKSI
Pelindung:
• Uskup Bogor,
Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM
Dewan Penasihat:
• Staff Kuria Keuskupan Bogor
Redaktur Ahli:
• RD. Ch. Tri Harsono • RD. Yohanes Driyanto
• RD. Alfons Sutarno
Sidang Redaksi:
• RD. Alfonsus Sutarno • RD. Yustinus Joned S
• RD. Lucius Joko K • RD.Agustinus Suyatno
• St. K. Kristyono • Darius Lekalawo
• Ambrosius S. Mally • Ign. Happy Delima
Pemimpin Umum/ Pemimpin Redaksi:
• RD. Yustinus Joned S
Redaktur Bahasa:
• RD. Alfonsus Sutarno
Redaktur Pelaksana:
• Stanislaus Kostka Kristyono
Redaktur Artistik:
• Darius Lekalawo
Ilustrator:
• RD. Nikasius Jatmiko
Pemimpin Perusahaan:
• Ambrosius S. Mally
Administrasi:
• Ign. Happy Delima
Sirkulasi dan Distribusi:
• RD. Yustinus Joned S • Komsos Keuskupan
Bogor • Sekretariat Paroki Keuskupan Bogor
Iklan & Promosi:
• RD. Alfons Sutarno (0812 111 0457)
• Anastasia Sanny K. (0812 10273 949)
• Ambrosius Satu Mally (021 7076 4215)
• Ign. Happy Delima (0812 10 818 009)
Alamat Redaksi:
Gedung Pusat Pastoral Keuskupan Bogor
Jl. Kapten Muslihat No. 22 BOGOR 16122
Tel.: (0251) 831 3997 Fax.: (0251) 835 9102
E-mail: mekar@keuskupanbogor.org

audara-saudariku yang
terkasih. Pada edisi ini,
Sredaksi
‘menghidangkan’ tema

seputar Tahun Hidup Bakti yang
telah dicanangkan oleh Paus
Fransiskus. Tahun Hidup %akti
2015-2016 bagi Keuskupan Bogor
menjadi waktu yang tepat untuk
merefleksikan perjalanan dari
masa lalu, saat ini hingga saat
yang akan datang dalam karya
Pastoral Keuskupan Bogor.
Paus Fransiskus
menekankan bahwa, perjumpaan
dengan Yesus adalah sebuah
pengalaman sukacita di dalam
kehidupan kita. Terlebih,
perjumpaan dengan Yesus adalah
titik utama bagi seseorang dalam
menjalani hidup bakti. Hanya
karena kita memiliki perjumpaan
dengan Yesus maka seseorang
mempunyai kesan, kenangan,
hingga dirinya berani mengambil
keputusan untuk menjalani
sebuah hidup yang didedikasikan
bagi Yesus Kristus. Keputusan
dan komitmen ini nyata di dalam
pelayanan cinta kasih yang kita
baktikan kepada sesama.
Untuk Keuskupan Bogor,
Mgr. Paskalis Bruno Syukur
dalam ekaristi pembukaan tahun
hidup bakti mengungkapkan

ajakan supaya para Imam, bruder,
suster serta frater yang hadir untuk
menjalani hidup baktinya dengan
penuh sukacita. Sukacita tersebut
akan tampak pada keindahan hidup
yang dijalani. Hanya dengan cara
inilah kita dapat mempengaruhi,
mengajak, meyakinkan orang lain
untuk menjalani hidup bakti. mereka
yang menjalani hidup bakti sungguh
memberikan pelayanan yang tampak,
yang sesuai dengan kebutuhan dan
juga selaras dengan Keuskupan
Bogor. Kaum hidup bakti dipanggil
untuk menterjemahkan Injil dengan
cara hidup tertentu yang sungguh
semakin mendekatkan hubungannya
dengan Allah dan juga bermanfaat
bagi sesama. .aum hidup bakti
dipanggil secara khusus untuk
menjadi “Injil yang hidup.”
Tahun hidup bakti ini menjadi
waktu yang tepat bagi para Imam,
bruder, suster, frater, serta komunitaskomunitas hidup bakti untuk
melakukan revitalisasi hidup religius.
Revitalisasi ini bagi Mgr. Paskalis
akan tampak pada 3 hal penting yakni
spiritualitas, hidup komunitas, dan
evangelisasi. Besar harapan bahwa
melalui revitalisasi hidup religius ini,
kita dapat membangun Keuskupan
Bogor secara bersama-sama.
nRD. Yustinus Joned Saputra

MEKARIA

Rek. BCA KCP Depok Asri
No. Acc: 7650612285
a/n: Ignatius Happy Delima
Penerbit dan Percetakan:
PT. Grafika Mardi Yuana
Jl. Siliwangi No. 50 BOGOR 16131
(Isi diluar tanggungjawab percetakan)
MAJALAH MEKAR menerima tulisan,
artikel, reportase, foto dan karikatur dari
umat. Syarat: tidak mengandung SARA
dan bermanfaat bagi umat (menambah
pengetahuan, keterampilan, memecahkan
masalah, menggugah emosi, menghibur,
menyentuh kepekaan etis dan estestis, dll).
Redaksi tunggu kiriman Anda via e-mail:
mekar@keuskupanbogor.org

UNTUK KALANGAN SENDIRI

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

03

DAFTAR ISI

Dapur Redaksi
Sajian Utama
Sebuah Refleksi Di Tahun Hidup Bakti 2015 ................06

Ternyata Fransiskan Miskin ................................................32

Kiprah Komisi dan Seksi
Sajian Khusus

Hidup Bakti Pengertian dan Berwujudannya Dalam
Gereja .......................................................................................08

Suara Gembala

Sukacita Sejati Hidup
yang Dibaktikan .................................................................... 21

Kabar Dekanat

Festival KOMSOS 2015: Wadah Perjumpaan Umat dan
Masyarakat ............................................................................ 12

Yusefin Lely Kusumaningsih, SH:
Selalu Bersyukur ....................................................................34
Retret Pengutusan KEP-7 Santo Thomas: Tuaian
Memang Banyak, Tetapi Pekerja Sedikit ........................40
“Family Weekend:
Keluarga Sumber Sukacita” ................................................42

Kemah Tuhan

Kaya dengan Simbol ........................................................... 18

Isu Nusantara & Mancanegara

Kaum Muda Pelopor
Kerukunan Umat Beragama .............................................. 13
Paroki Kristus Raja Serang
Merayakan Hut RI Ke 70 ..................................................... 14
Merefleksikan Arti Imamat Personal Sekaligus Imamat
Komunal ................................................................................... 16

Tokoh Kita

Prof. Dr. Martin Harun, OFM: Preman Pikir Turis,

04

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

Wali Kota Depok, Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Ismail,M.Sc:
Pembangunan Sulit Terwujud Kalau Hubungan Antar
Umat Beragamanya Kisruh ...............................................45
Menjadi Gembala dalam
Semangat Martiria ................................................................46

SURAT

PEMBACA

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

05

SAJIAN

UTAMA

Sebuah Refleksi Di
Tahun Hidup Bakti
2015

T

ahun 2015 telah dicanangkan
oleh Paus Fransiskus
sebagai Tahun Hidup Bak,
diumumkan Tgl. 30 November
2014 akan berakhir 2 Februari
2016. Tanggapan atas hal tersebut
telah muncul diberbagai gereja
katolik di seluruh dunia dalam
berbagai bentuk tulisan, ulasan
maupun kegiatan sebagai aksi dan
hari-hari studi maupun seminar
bahkan retret sebagai refleksi dan
evaluasi. Tak terkecuali di gereja
Indonesia, melalui seruan KWI
(Kantor Wali Gereja Indonesia)
dan informasi-informasi dari
KOPTARI (Konferensi Pemimpin
Tinggi Antar Religius Indonesia)
baik melalui media sosial maupun
media cetak serta elektronik lain,
telah menanggapinya dan terkesan
sebagai “euforia tahun hidup
bak”.
Tulisan ini dak hanya untuk
menambah euforia tersebut,
tetapi dapat dijadikan refleksi
dan inspirasi bagi seap pribadi
pemeluk hidup bak dan seap
pribadi yang peduli terhadap

06

keberlangsungan adanya Lembaga
Hidup Bak ditengah gereja Katolik,
khususnya di Keuskupan Bogor.

Memaknai kegiatan
Tahun Hidup Bakti
Bagi para imam, biarawan
biarawa, religius sebagai pemeluk
Hidup Bak, serasa mendapat
“angin segar”, sekaligus seper
dibangunkan dari keterlenaan
harian sebagai orang-orang yang
terpanggil secara khusus. Tahun
Hidup Bak, dapat dijadikan sarana
berefleksi atas panggilan yang
telah dijalani, apa movasi awal
yang telah menggerakkan sehingga
memilih cara hidup khusus,
bagaimana telah menjalaninya dan
apa yang diharapkan selanjutnya
setelah dapat melewa tahaptahap kehidupan sebagai orangorang terpanggil.
Secara pribadi saya ingat,
semasa kecil selalu diajak berdoa
bersama dalam keluarga. Salah
satu doa yang didoakan secara
berganan adalah “doa mohon
panggilan”. Diluar itu, ibu saya

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

sering bercerita tentang kehidupan
para Pastor, Bruder, dan Suster, yang
hidupnya sederhana, lebih banyak
memikirkan dan memperhakan
hidup orang lain dari pada
memikirkan dirinya sendiri, dak
memiliki harta berlimpah, kecuali
yang diperlukan untuk kebutuhan
harian dan keperluan pelayanan
sesuai tugasnya. Tetapi mereka
itu “kaya” karena diberka oleh
Tuhan sebagai orang-orang yang
terpanggil dan terpilih, maka hidup
mereka nampak bahagia. Saya
bersyukur memiliki kenangan masa
kecil ini, yang tanpa saya sadari
menumbuhkan benih panggilan
yang terus berkembang dalam
diri dari waktu ke waktu sampai
saya berani mengambil keputusan
memilih jalan hidup sebagai
religius.
Setelah menjalani hidup
sebagai seorang religius hampir
36 tahun lamanya, saya bersyukur
boleh mengalami dan merasakan
kehidupan beserta keindahannya
seper yang digambarkan oleh
ibu dalam cerita-cerita yang
pernah saya dengarkan di masa
silam. Dinamika kehidupan
bersama dengan saudara-saudari

SAJIAN

UTAMA
sepanggilan, mengalami sukacita
dalam usaha jatuh bangun
menjalani komitmen hidup sebagai
religius, menjadikan saya semakin
meyakini bahwa “sukacita Injili ”
sebagai tanda khas para pemeluk
hidup bak menjadi energi yang
terus dapat dibagi. Sumber utama
energi rohani tersebut dapat saya
peroleh melalui kekuatan Sabda
dalam Kitab Suci, merenungkan
dan mengenal secara personal
siapa Yesus Kristus dalam hidup
keseharian saya. Pengalaman
ini membawa semangat dan
menjadikan saya semakin mencintai
cara hidup sebagai religius dan
semakin bersemangat untuk
menghidupinya.
“Euforia tahun hidup bak”
membawa harapan yang pas.
Tuhan yang memanggil dan memilih
orang-orang yang dikehendakiNya sebagai Pemeluk Hidup Bak,
agar mereka menjadi saksi-saksi
dari hidup bersama, mewartakan
sukacita Injili yang berkelanjutan
membawa kabar gembira kepada
banyak orang, karena tanda khas dari
Hidup Bak adalah bersaksi.
Kita diundang untuk
memperbarui panggilan kita serta
mendalami dengan sadar sukacita
dan tantangan-tantangan dari Injil.
Karena Tahun Hidup Bak, terpusat
pada pewartaan Injil dengan
maksud membantu umat beriman
memahami makna indahnya
mengiku Kristus yang terungkap
melalui berbagai bentuk panggilan
hidup yang dibakkan kepada
Tuhan melalui aneka pelayanan

kepada sesama.
Kita dipanggil atau
dipilih bukan terutama untuk
mendapatkan kebahagiaan,
tetapi untuk menjalani panggilan
itu. Hidup Bak dapat memiliki
daya tarik, apabila pemeluknya
memiliki beberapa sifat yang
dapat dikenali dan dialami oleh
orang-orang disekitarnya antara
lain, murah ha rela berbagi
dan berkorban, mampu ingkar
diri/ sederhana dan melupakan
diri sendiri (altruis), dapat
menghidupkan dan menghidupi
Sabda dalam Kitab Suci, sehingga
kebahagiaan akhirnya terpancar
dalam kehidupan dan kesaksian
keseharian para pemeluk hidup
bak yang penuh syukur dengan
sikap peduli.
Refleksi yang sangat sederhana
ini dapat dikembangkan lebih luas
dan lebih mendalam oleh siapa
saja yang berminat secara khusus
dan serius untuk memperhakan
perkembangan hidup panggilannya.
Orang muda katolik dapat lebih
meningkatkan kegiatan dan olah
rohani, sehingga memiliki kepekaan
akan “ suara dan panggilan Tuhan”
yang seringkali tercampur aduk
dengan hiruk pikuknya suara lain
disekitarnya.
Bagi orang tua terutama
keluarga-keluarga katolik,
diharapkan supaya membiasakan
dan mengkondisikan suasana
kebersamaan rohani dalam
keluarga, terutama di bulan Kitab
Suci Nasional ini, bukan secara
kebetulan tema yang diambil

dari Komisi Kerasulan Kitab Suci
Keuskupan Bogor sama dengan
tema nasional: “Keluarga Melayani
Seturut Sabda” semua bentuk
pelayanan menjadi persembahan
yang hidup kepada Allah,
memuji dan meluhurkan Allah
dengan hidupnya. Kesempatan
pendalaman Kitab Suci menjadi
salah satu sarana keluarga
untuk mengkomunikasikan
dan memperkenalkan serta
menawarkan sejak dini tentang
pilihan hidup panggilan para putraputrinya dalam terang Sabda Kitab
Suci dengan tokoh sentral Yesus
Kristus yang rela menjadi Sahabat
dan Saudara kita.
Untuk Pemeluk Hidup Bak,
menjadi saat membarui kesediaan
dan jawaban “ya” dengan sadar, tau
dan mau berkomitmen atas janji
tahbisan imamat maupun profesi
religius yang pernah diucapkan,
mau Taat, Murni dan Sederhana
yang disaksikan oleh seluruh umat,
memberi kesaksian di tengah dunia,
dengan hidup yang didedikasikan
bagi Yesus Kristus.
Akhirnya, sebagai pemeluk
Hidup Bak, kita pantas mensyukuri
panggilan kita sebagai anugerah
dari Allah yang harus tetap kita
jaga dan kembang buahkan dengan
rendah ha dan penuh sukacita,
karena Kasih Allah dilimpahkan
kepada hamba-hamba yang banyak
kelemahan ini, tetapi dikasihi dan
dimampukan oleh Tuhan untuk
tetap menjalani hidup bak sampai
sekarang dan selanjutnya.
nSr. Marietta SFS

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

07

SAJIAN

KHUSUS

Hidup Bakti Pengertian
dan Berwujudannya
Dalam Gereja

Gereja Katolik
1gerejawi
Ditegaskan melalui dokumen
pada umumnya dan

Kitab Hukum Kanonik khususnya
bahwa yang dimaksud dengan
Gereja Katolik adalah Gereja yang
bukan Gereja Ortodok, Gereja
Protestan, atau Gereja Anglikan.
Gereja Katolik berbeda dari
Gereja-Gereja lain itu. Lebih dari
itu, Gereja Katolik ditandai oleh
ga ikatan: (1) pengakuan iman,
Credo, atau Sahadat, (2) SakramenSakramen yang berjumlah tujuh:
Baps, Penguatan, Ekaris, Tobat,
Perkawinan, Tahbisan, serta
Pengurapan Orang Sakit, dan (3)
pemerintahan gerejawi dibawah
Paus .
Kata Gereja diterjemahkan dari
kata Ekklesia dan Kyriake. Ecclesia
berar kumpulan orang pilihan atau

08

kelompok orang yang dipilih. Oleh
Tuhan, mereka sengaja dibedakan
dari orang lain di sekitarnya,
disendirikan dengan tanda atau
ciri tersendiri, dan dikhususkan
melalui anugerah tertentu untuk
kepenngan Tuhan. Dengan kata
lain yang umum, mereka itu
dikuduskan.
Sedangkan, Kyriake berar
belong to God atau milik Allah.
Dengan kata itu ingin dijelaskan,
ditegaskan, dan dipaskan suatu
hubungan yang khusus dan
ismewa antara mereka dan
Allah. Sebagai milik, orang-orang
itu dituntut ketaatan penuh dan
tanpa syarat. Selain itu, mereka
boleh yakin atau merasa terjamin
akan perlindungan, arahan, dan
pendampingan. Sebagai pemilik,
Allah bebas menghendaki atau

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

melakukan apa pun juga terhadap
umatNya. Bersamaan dengan itu,
Ia berkewajiban untuk memberikan
kenyamanan, kepasan, dan
ketegasan.
Gereja itu dak terjadi begitu
saja dan ba-ba. Prosesnya
panjang dan berbagai tahapan
harus dilalui. Setelah dimulai
dari Abraham (kurang-lebih
1850 Sebelum Masehi) dan
terbentuk Bangsa Israel dibawah
kepemimpinan Musa (kuranglebih 1250 Sebelum Masehi),
akhirnya terbangunlah Umat baru
yang disebut Tubuh Kristus lewat
pembapsan. Dengan dibaps,
seseorang diampuni dosanya,
dilahirkan kembali sebagai Putera
Allah, dikonfigurasikan atau
diserupakan dengan Kristus, dan
dijadikan satu tubuh Kristus atau
digabungkan dengan Gereja.

Proprietas
2
Yang dimaksudkan dengan
kata proprietas adalah hal yang

dimiliki dan harus ada agar
sesuatu disebut dak kehilangan

SAJIAN

KHUSUS
ja dirinya. Ibarat seekor kucing,
hewan itu harus memiliki bunyi
meong, kegemaran makan ikan
asin, dan naluri menangkap kus,
agar dapat dikatakan sebagai kucing
yang sesungguhnya. Tanpa satu,
dua, atau ga hal itu, bentuknya
memang masih kucing, tetapi
kucing yang dak lagi sesungguhnya
dan seharusnya. Kucing itu hanya
kucing-kucingan.
Proprietas Gereja adalah:
kehidupan, kekudusan, dan misi.
Kehidupan di sini menunjuk
pada kegiatan. Tanpa adanya
kegiatan, kehidupan itu diragukan.
Sebaliknya, dengan adanya
kegiatan, dak hanya dapat
dipaskan adanya kehidupan tetapi
juga terjadinya pertumbuhan,
perkembangan, dan pematangan.
Kekudusan adalah pengeran
yang jelas, tegas, dan pas atau
keyakinan bahwa dirinya adalah
orang yang terpilih dan milik
Allah. Dengan begitu, ia akan
memiliki ketenangan, kemantapan,
dan kedamaian ha yang relaf
kuat dan bertahan. Ia akan
tampil sebagai seorang pribadi
yang percaya diri. Konsekuensi
yang menyertainya adalah
ketaatan suka-rela. Akibat yang
mengikunya adalah upaya

yang serius untuk selalu dan
dimanapun menghindarkan diri
dari pelanggaran dan dosa. Karena
urutan atau tahap konsekuensi itu,
sering secara mudah dan cepat
dikatakan bahwa orang kudus
adalah orang yang dak berdosa.
Misi adalah sesuatu yang
dapat dan harus dilakukan.
Berkenaan dengan hal ini, Yesus
dengan tegas menyatakan bahwa
Gereja adalah garam dan terang
dunia. Karena itu, Gereja harus
mengasini dan menerangi. Agar
sungguh sepenuhnya mengasini,
suatu saat Gereja harus siap
bercampur atau membaur dengan
yang berbeda dengan dirinya dan
rela larut sehingga tak terkenali
lagi identasnya. Agar sungguh
sepenuhnya menerangi, disaat
lain Gereja harus siap tampil dan
menjadi nyata seluruh identasnya.

Bentuk Hidup
3
Seap orang yang dibaps
diinkorporasi pada Kristus dan

dibentuk sebagai Umat Allah.
Karena itu, dalam bentuk dan
dengan caranya masing-masing ia
harus mengambil bagian dalam
tugas, peran, fungsi, dan tanggungjawab Kristus sebagai Imam,
Nabi, dan Raja. Imam berkaitan

erat dengan pengudusan. Nabi
berkenaan langsung dengan
pengajaran. Raja bertalian tak
terpisahkan dengan pemerintahan.
Bentuk dan cara mengambil
bagian dalam tria munera Chris
itu didasarkan pada bentuk hidup
(forma vivendi) masing-masing.
Berdasarkan penetapan ilahi,
Gereja Katolik meyakini bahwa
bentuk hidup itu melipu: Klerikus
yang juga disebut Pelayan Suci,
Hidup Bak, dan Awam . Berikut
ini adalah skema bentuk hidup dan
kekhasannya.

Hidup Bakti
4
Pengerannya adalah bentuk
hidup yang dibakkan kepada

Allah dengan menjalankan nasihat
injili; ketaatan, kemurnian, dan
kemiskinan dalam persaudaraan.
Dalam Gereja bentuk hidup
ini telah nyata tumbuh dan
berkembang pesat. Pertumbuhan
dan perkembangannya dak
hanya menyangkut refleksi
teologisnya yang semakin kaya dan
mendalam, tetapi juga tempat atau
kedudukannya dalam kehidupan,
kekudusan, dan misi Gereja pada
umumnya.
Kitab Hukum Kanonik yang
dipromulgasikan pada tahun 1917

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

09

SAJIAN

KHUSUS

(Codex Lama) merangkum bentuk
hidup itu dengan nama Hidup
Religius. Dibedakan dari hidup
krisi ani biasa, Hidup Religius
dirumuskan sebagai “Cara hidup
yang tetap dalam persaudaraan
dari umat krisani yang bukan
hanya menjalankan kaidah umum,
tetapi melaksanakan nasihat
injili dengan mengikrarkan
kaul ketaatan, kemurnian, dan
kemiskinan”. Sedangkan mereka
yang memeluk cara hidup demikian,
tetapi tanpa mengucapkan ke ga
kaul disebut dengan nama Serikat
Hidup Persaudaraan.
Berbeda dengan yang lama,
Kitab Hukum Kanonik 1983
menyebut hidup yang dibak kan
kepada Allah dengan menjalankan
nasihat Injili dengan kata Hidup
Bak. Dalam Hidup Bak itu
terdapat Hidup Religius, yang
sebutan lengkapnya Lembaga atau
Tarekat Religius. Lembaga atau
Tarekat itu sejajar dengan Lembaga
atau Tarekat Sekular. Mirip dengan
Hidup Bak tetapi anggotanya 
dak mengikrarkan ga kaul adalah
Serikat Hidup Kerasulan.
Berikut ini adalah definisi
Hidup Bak dan beberapa
muatannya yang pokok beserta
penjelasannya secara singkat:
● Hidup Bak itu adalah bentuk
hidup yang tetap. Hal ini
menunjuk bukan pada 'cara'

10

hidup (modus vivendi) yang
tetap, tetapi 'bentuk' hidup
(forma vivendi) yang tetap.
Sebagai perbandingan dapat
dikatakan demikian; Bukan
menunjuk cara yang biasanya
gampang berubah, seper:
‘bercocok-tanam’, melainkan
lebih statusnya sebagai ‘petani’.
Sifatnya bukan sementara,
tetapi tetap dan terus-menerus
selama hidup.
● Melalui pengikraran nasihat
Injil. Hal ini berhubungan
dengan cara yang ditempuh
atau jalan yang dilalui, yaitu:
menjalankan nasihat Injil.
● Atas dorongan Roh Kudus
mengiku Kristus secara lebih
dekat. Hal ini menyatakan
bahwa bentuk hidup yang
demikian itu adalah wujud dari
hal mengiku Kristus secara
lebih, dan dak seper yang
ditempuh oleh orang krisani
pada umumnya. Karena itu,
hidup yang demikian itu dak
mungkin dapat terjadi dan
dijalankan tanpa campur-tangan
atau karya Roh Kudus.
● Dipersembahkan secara utuh
kepada Allah yang paling
dicintai. Hal ini menunjuk pada 
ga nasihat injili, yang diyakini
sebagai wujud persembahan
yang baru dan ismewa.
Tiga nasihat injili itu diyakini

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

mencakup secara sempurna
semua segi kehidupan Kristus
sendiri.
● Demi kehormatan bagiNya dan
juga demi pembangunan Gereja
serta keselamatan dunia. Ada 
ga tujuan pokok yang ingin
dicapai dengan bentuk dan
cara hidup itu, yakni: hormat
kepada Allah, pembangunan
Gereja, dan keselamatan dunia.
Keganya merupakan satu
kesatuan yang menurut Gereja 
dak mungkin dapat dipisahpisahkan.
● Untuk tercapainya
kesempurnaan cintakasih

SAJIAN

KHUSUS
dalam pelayanan Kerajaan
Allah. Dengan tercapainya
tujuan di atas, akan terwujudlah
kesempurnaan kasih dalam
membangun Kerajaan Allah.
● Sebagai tanda unggul dalam
Gereja. Hal lain yang sekaligus
muncul dalam Gereja sebagai
akibat dari bentuk dan cara
hidup itu adalah hadirnya suatu
tanda yang jelas dan terang.
Hal ini dapat dipahami dengan
menger dengan baik bahwa
Gereja adalah sakramen.
● Pewartaan akan kemuliaan
surgawi. Akhirnya, dengan
bentuk dan cara hidup yang
demikian itu, kemuliaan surgawi
yang dak terlihat oleh mata
dan dak terdengar oleh telinga
sudah mulai dapat diansipasi,
dapat dibayangkan, dan
dirasakan.

Tahun Hidup Bakti
5
Seper akhir-akhir ini pernah
ditetapkan oleh otoritas Gereja

yang berwenang adanya Tahun
Iman dan juga Tahun Keluarga,
dengan alasan yang sama
ditetapkan tahun 2015 sebagai
Tahun Hidup Bak. Penetapan ini
berangkat dari keprihanan pada

Hidup Bak pada umumnya dan
upaya pemusatan perhaan umat
beriman padanya. Seluruh umat
beriman dan pemeluk Hidup Bak
khususnya diajak untuk bersamasama menemukan dan mencerma
permasalahan yang muncul
dalam Hidup Bak dan diajak
untuk sekaligus berupaya mencari
pemecahannya.
Satu hal yang nyata dan
mulai mudah disadari adalah
kenyataan bahwa jumlah pemeluk
Hidup Bak yang merosot sangat
tajam. Padahal, jumlah umat dan
jumlah klerikus bertambah. Akibat
lebih lanjut yang mulai tampak
dari berkurangnya atau adanya
pemeluk Hidup Bak itu adalah
melemahnya atau bahkan adanya
kehidupan krisani lagi di berbagai
tempat. Berikutnya adalah menipis
dan bahkan hilangnya kebanggaan
diri sebagai umat katolik. Akhirnya,
manya semangat misioner.
Keka bertemu para Superior
Hidup Bak di akhir Tahun 2013,
Paus Fransiskus menyatakan
sekurang-kurangnya empat hal
yang hilang dalam penghayatan
Hidup Bak. Yang pertama
adalah generosity (kemurahan
ha). Hal ini tampak lewat kesan
orang-orang miskin khususnya
bahwa para pemeluk Hidup Bak
itu kikir atau pelit. Yang kedua
adalah 'sacrifice' (pengurbanan).
Sementara para karyawan dalam
lembaga pendidikan, kesehatan,
sosial, dan pastoral dituntut
untuk mengurbankan banyak hal
termasuk waktu untuk keluarga
mereka, tampak para pemeluk
Hidup Bak sangat berat merelakan
waktu israhat atau melepaskan
hobinya untuk sementara demi
pelayanan.
Yang kega adalah self
denial (penyangkalan diri).
Ditengarai bahwa cukup banyak
pemeluk Hidup Bak membiarkan
keinginannya akan berbagai
hal duniawi terus tumbuh dan

berkembang. Yang diperjuangkan
bukan hanya hal yang sungguh
dibutuhkan tetapi malah hal-hal
yang sebenarnya dak diperlukan
atau jelas dapat mengganggu
penghayatan nasihat Injil. Yang
keempat adalah self forgeulness
(pelupaan diri). Hal ini menunjuk
pada praktek yang hanya dan terus
memikirkan kebutuhan diri sendiri
atau kelompoknya. Sebaliknya, tak
pernah masuk dalam pemikiran
atau perhaan akan kebutuhan
sesamanya, Gereja Parkularnya,
dan Gereja Universal.

Wake up the world
6
Dengan Tahun Hidup Bak
ini diharapkan agar dilakukan
refleksi dan kegiatan lain terutama
dan khususnya yang langsung
berkenaan dengan Hidup Bak.
Semua umat beriman dihimbau
untuk secara sendiri dan bersama
memikirkan, membicarakan,
menetapkan sikap, dan akhirnya
mengambil ndakan yang perlu
demi kebaikan Hidup Bak. Khusus
kepada para pemeluk Hidup Bak,
Paus pernah menyerukan agar
mereka sungguh-sungguh menjadi
saksi dan membangunkan dunia.
Langkah konkret walau sangat
sederhana perlu segera diambil
atau dilakukan. Hal mudah dan
sepernya dak memerlukan
banyak usaha, contohnya adalah
doa pribadi dan bersama.
Mengacu pada anjuran apostolik
Evangelii Gaudium, saatnya
bagi para pemeluk Hidup Bak
khususnya untuk mulai lagi
tampil sebagaimana seharusnya.
Tampilkan diri sebagai pribadi
yang bersuka-cita dan jangan
seper orang yang pulang dari
pemakaman.
Bogor, 8 September 2015
R.D. Y. Driyanto
Vikaris Yudisial Keuskupan Bogor

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

11

KABAR

DEKENAT

Fes val KOMSOS 2015

Wadah Perjumpaan
Umat dan Masyarakat

L

ebih 1000 orang hadir dalam
kegiatan Fes val KOMSOS 2015
yang diselenggarakan oleh
Seksi Komunikasi Sosial Paroki
BMV Katedral Keuksupan Bogor
di komplek Sekolah Budi Mulia,
Minggu (9/8). Kegiatan yang
bertajuk “Sukacita Perjumpaan
dengan Sesama” ini ingin menjadi
wadah perjumpaan umat.
“Kami sebagai pani a ingin
menjadikan Fes val KOMSOS 2015
ini menjadi sarana perjumpaan
umat baik dalam kalangan internal
Gereja Katolik dan juga kalangan
external yaitu masyarakat pada
umumnya,” jelas Susan Sar ka
selaku perwakilan pani a.
Dalam Fes val ini ada banyak
kegiatan diantaranya: Workshop
Jurnalis k, Pameran Jurnalis k
(Kartun, Bule n dan Foto), Lomba
Mewarnai untuk PG-SD, Bazar dan
pentas seni.

12

Dalam sambutannya RD.
Dominikus Savio Tukiyo selaku
Pastor Paroki BMV Katedral Bogor
berharap agar kegiatan Workshop
Jurnalis k ini dapat menjadi sarana
pengembangan umat dalam bidang
jurnalis k.
“Saya berharap agar setelah
kegiatan ini dapat muncul penulispenulis dan pewarta-pewarta muda,
baik di kalangan Gereja maupun di
Masyarakat,” tutur romo Tukiyo.
Kegiatan Workshop yang
mengangkat tema “Menjadi
Jurnalis Warga” ini terbagi dalam
3 sesi yaitu sesi fotografi dan
ilustrasi dengan narasumber Alex
Suban (Wartawan Warta Kota),
Yongky Suikhiong (Ilustrator Media
Nasional dan Berita Umat) dan
Ari Sudana (Penulis dan Redaktur
Berita Umat) sebagai moderator.
Sesi kedua tentang penulisan,
menghadirkan Nurulloh (Editor

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

Kompasiana dan Wartawan
Kompas.com) dan Ahmad Nurhasim
(Redaktur Tempo dan Ketua AJI
Jakarta) sebagai Narasumber, dan
Igna us Herjanjam (Wartawan
Suara Pembaruan dan Pemimpin
redaksi Berita Umat) sebagai
Moderator.
Kemudian sesi ke ga yaitu
pembahasan tulisan hasil liputan
peserta menghadirkan Monique
Rijckers (Produser Metro TV)
sebagai narasumber.
Uskup Bgor Mgr. Paskalis
Bruno Syukur juga hadir dan
berkeliling melihat pameran karya
RD. Nikasius Jatmiko (Rektor
Seminari Tinggi Santo Petrus dan
Paulus Keuskupan Bogor) dan
Yonky Sukhiong. Juga melihat aneka
ragam bazar diantaranya toko buku
Obor, Kanisius, Gramedia. Dalam
pentas seni dengan MC Joe Richard
dan Isabella Tan Serta, ikut tampil
meriah kolintang dari SMA Budi
Mulia, Gamelan dari SMP Budi
Mulia, Band dari SMA Marsudirini
dan tarian serta nyanyian lainnya
dari umat di Bogor. nAloisius Johnsis

KABAR

DEKENAT

Kaum Muda Pelopor Kerukunan
Umat Beragama
Dalam rangka menyambut
Dirgahayu Kemerdekaan
Republik Indonesia yang
ke-70 Kantor Kesatuan
Bangsa dan Politik
(KesBangPol) Kabupaten
Bogor menyelenggarakan
dialog kerukunan umat
beragama di Hotel
Rizen Premiere Cisarua,
Senin(10/08) sampai
dengan rabu(12/08).

K

egiatan dengan target orangorang muda dari 6 agama
yang diakui Negara ini diiku
oleh kurang lebih 50 orang. Toto
Supriyadi selaku ketua pania
berharap agar kedepan kaum

muda dapat menjadi pelopor
kerukunan umat beragama. “Kami
dari KesBangPol menyelenggarakan
kegiatan ini agar diusia Indonesia
yang sebentar lagi menginjak 70
tahun, kerukunan umat beragama
dapat terjalin dengan baik dan
kalianlah orang-orang muda
pelopornya,” tukas Ketua Pania.
Dalam kegiatan selama 3 hari
2 malam, disampaikan banyak
materi mengenai kerukunan
yaitu, Masalah Kambmas di
Kab. Bogor oleh AKP Agus S, SH
selaku KASAT BINMAS POLRES
BOGOR. Memaknai Kerukunan
Umat Beragama di Jawa Barat
oleh H. Khoirul Naim, SKM,
M.Epid selaku Sekretaris Badan
Kesatuan Bangsa dan Polik (BKBP)
Provinsi Jawa Barat. Dasar Hukum
Beragama oleh Suwokohadi,
SH selaku Jaksa dari Kejaksaan
Negri Cibinong. Pandangan
Islam terhadap Toleransi dan

Pluralisme di Indonesia oleh Prof.
Drs. KH. Ahmad Mukri Aji selaku
ketua Majelis Ulama Indonesia
(MUI) Kab. Bogor. Peran Pemuda
dalam Memelihara Keharmonisan
Kerukunan Umat Beragama oleh
Dr. H Jamaluddin, SH, M.Si selaku
Kepala Sub Bagian Hukum dan
KUM Kanwil Kementrian Agama
Prov. Jabar.
Di akhir, Drs. M. Rizal Hidayat,
M.Si selaku Kepala Kantor Kesatuan
Bangsa dan Polik berharap agar
melalui kegiatan ini rasa toleransi
antar agama dapat tumbuh di
Kabupaten Bogor. “Saya sungguh
berharap agar mulai dari hari ini,
Anda sekalian sebagai orang-orang
muda dapat menjadi penggerak
kerukunan umat beragama di
wilayah Anda masing-masing
sehingga rasa toleransi di Bogor
dapat terus tumbuh dan menjadi
panutan untuk wilayah yang lain,”.
nAloisius Johnsis. Foto ilustrasi: jangkarkeadilan.com

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

13

KABAR

DEKENAT

S

ebagai bagian dari Bangsa
Indonesia yang sedang
merayakan HUT ke 70
tahun, Paroki Kristus Raja Serang
mengemas beberapa acara yang
bertemakan nasionalisme. Acara
yang melibatkan bermacam
kalangan terutama generasi muda.
Berikut adalah beberapa album
yang terekam dalam lensa

Bina Iman Anak
dengan aneka lomba
Dunia anak mempunyai
kegembiraan tersendiri, meskipun
mungkin mereka belum menger
benar ar nasionalisme, tapi tetap
saja itu harus ditanamkan sejak
dini pada mereka, itulah yang
ditanamkan oleh para Pembina
bina iman anak di Paroki Kristus
Raja Serang. Anak-anak BIA
diajak menyanyikan beberapa
lagu kebangsaan dan cerita
kepahlawanan, dan diajak berjuang
untuk mencapai kemenangan, tentu
bukan hadiahnya yang diutamakan
tapi kebersamaan dan kegembiraan
khas anak anak BIA.

Paroki Kristus Raja
Serang Merayakan Hut RI
Ke 70
14

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

Upacara Pengibaran
Bendera dan Detik
detik PROKLAMASI
Tanggal 17 Agustus 2015 kali
ini terasa lebih ismewa di Paroki
Kristus Raja – Serang, karena meski
bukan pertama kalinya namun
peringatan Hari Kemerdekaan
Republik Indonesia kembali
diwarnai dengan upacara bendera.
Upacara bendera dan tentunya
pembacaan teks proklamasi ini
dipimpin oleh komandan upacara
Nandus Silaban dari OMK dan
inspektur upacara RD. Stefanus
Maria Sumardiyo Adipranoto
selaku Pastor Paroki. Upacara
diiku oleh gabungan orang muda
dari berbagai gereja di Serang
dimana dari rencana 12 gereja yang
diundang, hadir 8 gereja termasuk
tuan rumah serta perwakilan DPP
Kristus Raja dan segenap undangan

KABAR

DEKENAT
dengan total sekitar 125 orang.
Gereja-gereja tersebut antara lain :
GBI Serang Kota, GSJA Serang Kota,
GTI Serang, HKBP Cilegon, Gereja
Pentakosta Tabernakel, GKI Serang,
GPSI Serang, dan tentunya Gereja
Katolik Kristus Raja Serang.
Dalam amanatnya, Romo
Sumardiyo mengawali dengan
keprihaƒan atas musibah yang
menimpa pesawat dari maskapai
Trigana Air di Papua. Kemudian
Romo mengajak untuk memaknai
proklamasi sebagai kehidupan
berbangsa yang bebas dirasakan
segenap lapisan masyarakat. Tentu
saja hal ini karena jasa perjuangan
para pahlawan yang rela berkorban
jiwa raga hingga puncaknya
pada tanggal 17 Agustus 1945
tatkala proklamasi kemerdekaan
Indonesia dikumandangkan.
Proklamasi melepas belenggu
penjajahan untuk hidup sederajat
dengan bangsa lain yang merdeka
dan mencapai tujuan nasional
bangsa. Hal ini yang harus
diteruskan oleh generasi masa
kini utamanya komunitas krisƒani
guna memajukan Negara Kesatuan
Republik Indonesia.
Romo menegaskan bahwa
kaum muda harus termoƒvasi
untuk ambil bagian dan akƒf dalam
kegiatan mencerdaskan kehidupan
bangsa melalui pendidikan yang
harus dijalani dengan sungguh.
Hal ini selaras dengan ƒga poin
penƒng dari cita-cita para pahlawan
yaitu bekerja/ melayani sesama,
semangat pantang menyerah
dan keberanian yang nyata tanpa
sering mengeluh saat menghadapi
masalah. Apapun yang dituju
tentu butuh pengorbanan, namun
terinsipirasi dari para pahlawan
yang telah meletakkan petunjuk
arah perjalanan bangsa ini, kita
ƒdak boleh takut gagal. Semuanya
bisa kita raih dengan berlandaskan
kepada Pancasila dan UUD 1945
yang ibarat dua mercusuar
penggan para pahlawan yang

Lomba-lomba ini ditujukan untuk
merekatkan tali persaudaraan para
orang muda dari berbagai gereja
dan memupuk semangat kerjasama
antar individu dalam satu team.

telah gugur.
Setelah upacara, dilanjutkan
dengan acara Cafe Rohani jilid
III oleh OMK Kristus Raja Serang
yang mengambil tema “Satu
Indonesia di Dalam Kristus”.
Acara ini dihelat di aula Alexander
dimana banyak sesi yang diadakan
disamping tentunya para peserta
bisa memesan aneka makanan
dan minuman selama acara
berlangsung. Selain menampilkan
beberapa talenta OMK, ada juga '
talkshow' dalam acara yang diketuai
oleh Saudari Debbie. Talkshow kali
ini menghadirkan dua narasumber
yaitu Diakon Alvares dan Bapak
Andre Nabu dengan moderator
Suster Tarsisia dan Saudara Jeki.
Diakon Alvares dalam sesinya
mengungkapkan tentang perasaan
berbangsa dan bernegara yang
harus nyata terwujud pada diri
seap orang muda. Adapun Bapak
Andre Nabu yang bekerja di divisi
Reskrim Polda Banten menekankan
pada kesempatan dialog untuk
orang muda utamanya dalam
menangkal berbagai isu kriminalitas
dewasa ini semisal Cyber Crime.
Acara Cafe Rohani selanjutnya
aneka lomba-lomba diantaranya
Lomba Pancing Bola, Balap
Kelereng, Menggiring Bola dengan
terong, Balap Karung, Makan
Kerupuk, dan yang paling heboh
adalah mengambil koin dalam
pepaya yang sudah dilumur oli.

Perayaan Ekaristi HUT
Kemerdekaan RI
Puncak dari peringatan HUT
RI ke-70 di Paroki Kristus Raja
Serang ditutup dengan Misa Kudus
yang dipimpin oleh RD. Thomas
Gregorius Slamet Riyadi. Misa
kali ini dimeriahkan dengan paduan
suara dari OMK Kristus Raja yang
tetap semangat meski seharian
sudah disibukkan dengan rangkaian
acara peringatan kemerdekaan
Indonesia. Romo Thomas dalam
homilinya menekankan perlunya
refleksi diri terhadap kemerdekaan
yang sudah diraih. Utamanya
adalah bagaimana kebebasan yang
sudah dinikma bisa dijalankan
dengan penuh tanggung jawab oleh
seap warga negara Indonesia.
Sebagai bagian dari bangsa
Indonesia, Gereja Katolik
Sepanjang Sejarah selalu ikut
secara akf dalam upaya merebut
kemerdekaan bangsa ini. Dalam
sejarah, kita mengenal para
pahlawan yang dilahirkan Gereja
untuk bangsa ini antara lain,
Mgr. Soegiyo Pranoto, Ignaus
Slamet Riyadi, Yosafat Sudarso dll.
Dan dari generasi penerus kita
mendengar para cendikia Prof, JB
Sumarlin, LB Moerdani, dan para
pahlawan olahraga sepere Alan
Budi Kusuma, Susi Susan, Ardi BW
dll. Gereja akan selalu mengiringi
perjalanan bangsa ini dengan
menyumbangkan putra putri
terbaiknya. Seluruh warga gereja
harus berprinsip 100 % Katolik dan
100 % Indonesia, Pro ecclesia et
patria, untuk gereja dan bangsa .
Hal ini tentu akan membawa
negara ini akan lebih maju dan
berkembang dari waktu ke waktu.
Merdeka!!! nDian P / Komsos Kristus Raja
Serang,/ Foto, A. Gin, YeeS & team BIA

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

15

KABAR

DEKENAT

Merefleksikan Arti Imamat Personal
Sekaligus Imamat Komunal
Konsili Vatikan II dalam Dekrit tentang Pembinaan Imam yakni
Optatam Totius artikel 4 menandaskan demikian, “Seminari Tinggi
sungguh perlu bagi pembinaan imam. Seluruh pendidikan para
seminaris di situ harus bertujuan: supaya seturut teladan Tuhan
kita Yesus Kristus, Guru, Imam dan Gembala, mereka dibina untuk
menjadi gembala jiwa-jiwa yang sejati”.

M

emperhakan hal tersebut
maka Seminari Tinggi St.
Petrus-Paulus Keuskupan
Bogor mengadakan retret
tahunan di Rumah Khalwat
St. Maria Tawangmangu, Jawa
Tengah.
Dengan kemantapan ha
dan kegembiraan bersama, para
frater berangkat dari Bandung,
Jawa Barat pada 31 Juli 2015

16

menggunakan bus menuju
Tawangmangu. Retret yang
run diadakan seap menjelang
tahun ajaran baru ini merupakan
kesempatan yang selalu
dinankan para frater untuk
kembali meng-charge kekuatan
dalam menjalani panggilan dari
Sang Sumber Kehidupan itu
sendiri.
Retret tahunan merupakan
kesempatan yang selalu

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

digunakan para frater dengan
baik sebagai sarana memurnikan
dan menguatkan movasi
panggilan menjadi Imam Diosesan
Keuskupan Bogor.
Retret kali ini mengambil
tema “Merefleksikan Ar Imamat
Personal Sekaligus Imamat
Komunal” yang dibimbing oleh
RD. Paulus Sunu Sukmono Wasi
mulai dari tanggal 1-5 Agustus
2015. Dalam banyak

KABAR

DEKENAT
kesempatan, para frater diajak sekaligus ditantang
untuk memurnikan mo vasi panggilannya dalam
mengiku Yesus, Sang Gembala Utama dengan
pertama-tama mengenali diri pribadinya secara
lebih jauh, mendalam, sekaligus objek f. Melalui
pendekatan psikologis, para frater dibimbing untuk
mau terbuka pada gerak Roh Kudus dengan ak f
meneli ba n, olah kerohanian, serta jujur pada diri
sendiri dan rekan sekomunitas.
Dengan pertama-tama menyadari siapa dirinya
secara jujur dan objek f serta merenenungkan
makna panggilan maka para frater diharapkan
menjadi pribadi yang lebih matang dan sadar tujuan
hidupnya untuk membak kan diri pada Tuhan
melalui sesama.
Dinamika retret yang diberikan pun sangat
menarik karena para frater diarahkan untuk bergulat
dan merenungkan tentang dirinya melalui hal-hal
sederhana yang ada di kompleks rumah retret itu.
Proses permenungan yang diberikan oleh RD. Sunu
tersebut hendak membuka dan menyadarkan segala
potensi, tantangan, hambatan, dan peluang yang
ada pada diri seorang calon imam.
Kematangan kepribadian dinilai sebagai pintu
masuk menyiapkan gembala-gembala jiwa yang
mumpuni dalam melayani para domba kelak. Jadi,
dalam kerangka merenungkan panggilan imamat
secara personal (yang dialami secara pribadi
oleh se ap frater), hal itu dikonkretkan dalam
dinamikanya dengan rekan-rekan sepanggilannya.
Hal itu terutama diarahkan sebagai ungkapan bak
kepada Allah lewat kehadiran nyata bagi segenap
umat.
Dalam perayaan ekaris perutusan, imam
diosesan Keuskupan Bandung yang berkarya sebagai
pendamping para frater untuk Keuskupan Bandung
itu menandaskan bahwa retret sesungguhnya akan
dimulai setelah selesai dari retret ini. Maksudnya
adalah bahwa ujian sesungguhnya yang akan
dihadapi oleh para frater ialah melalui dinamika
hidup keseharian yang dijalani sebagai calon imam.
Akan ada banyak jebakan, tantangan, godaan
dari dalam diri maupun dari luar yang merintangi,
tapi iman pada Allah yang melahirkan panggilanlah
yang akan berbicara dan mengatasinya. Dia
berharap agar setelah mengiku retret ini para
frater mengalami kebaharuan hidup dan kembali
bersemangat dalam menapaki peziarahan hidupnya
sebagai seorang calon imam yang mempersiapkan
diri sebagai gembala bagi Keuskupan Bogor.
nFr. Nanang

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

17

KEMAH

TUHAN

Kaya
Dengan Simbol
Suatu pagi di hari Minggu. Jarum jam menunjuk angka 06.45.
Matahari belum lama beranjak naik. Sinarnya menerobos selasela pohon dan dedaunan yang memayungi jalan, menciptakan
lorong-lorong cahaya berwarna keemasan. Indah.

P

agi itu satu keluarga, ayah
ibu dengan ga anaknya yang
masih kecil, berjalan kaki
menelusuri jalan dari gerbang
utama perumahan Kota Wisata,
Cibubur, menuju Gereja Maria
Bunda Segala Bangsa (MBSB)

18

yang ada di kompleks perumahan
tersebut. Dengan wajah riang,
mereka melangkah santai sambil
menikma sejuknya udara pagi.
Anak-anaknya sesekali berlarian.
Misa kedua di gereja itu
akan digelar jam 07.30. Jarak dari

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

gerbang utama Kota Wisata ke
gereja tak sampai 1 kilometer. Jadi
masih cukup banyak waktu, tak
perlu jalan terburu-buru.
Sesampai di gereja, masih ada
sebagian umat—yang mengiku
misa sebelumnya—baru saja

KEMAH

TUHAN
beranjak pulang. Sebagian lainnya
masih bertegur sapa dan ngobrol
dengan umat yang baru datang
untuk mengiku misa jam 07.30.
Keluarga tadi langsung
mengambil air suci, membuat tanda
salib, dan masuk gereja. Sesaat
mereka berlutut untuk berdoa, lalu
bangkit duduk. Masih ada 15 menit
sebelum misa dimulai.
Mata sang ayah menatap lurus
ke depan, ke arah altar. Pikirannya
menerawang jauh. Di sana, di
altar itu, perayaan Ekaris bakal
berpusat.

Saka Guru
Gereja MBSB berdiri di atas
tanah seluas 6.000-an meter
persegi. Desain bangunan gereja
menerapkan konsep minimalis
modern ala vila di Belanda. Pilihan
ini diselaraskan dengan vila-vila
di Kota Amsterdam, Belanda,
tempat di mana Bunda Maria
menampakkan diri sebagai Bunda
Segala Bangsa. Itu sebabnya Mgr.
Michael Cosmas Angkur OFM,
ke ka itu Uskup Bogor, menamai
gereja ini dengan Gereja Maria
Bunda Segala Bangsa.
Gereja ini memiliki luas tanah
1.577 meter persegi. Gedung ini
terdiri dari dua bangunan yang
sekaligus menyatu, yakni gedung
gereja dengan luas tanah 1.382
meter persegi (luas bangunan 1.747
meter persegi), serta area pastoran
dengan luas tanah 195 meter
persegi (luas bangunan 429 meter
persegi).
Dalam area ini juga dibangun
Gedung Serba Guna atau GSG (luas
tanah 755 meter persegi dan luas
bangunan 840 meter persegi). GSG
terdiri dari dua lantai. Lantai atas
digunakan sebagai ruang serba
guna, sementara lantai bawah
disekat-sekat dalam beberapa
ruang dan direncanakan untuk
menampung semua akvitas seksiseksi dan kategorial yang ada di
Paroki Maria Bunda Segala Bangsa.

Gereja MBSB berada satu area
dengan Sekolah Bunda Ha Kudus.
Jika masuk dari arah gerbang
utama, lokasinya persis di sebelah
kanan bundaran pertama.
Gereja ini dibangun dengan
tujuan menjadi tempat perjalanan
rohani iman Apostolik umat. Itu
sebabnya konsep dan desain
arsitekturnya pun dibuat penuh
simbol-simbol perjalanan rohani
umat Kristus dalam menjalani
kehidupan yang penuh dengan
cobaan sebelum sampai di ”Bait
Allah” yang sebenarnya.
Simbol-simbol itu tercermin
di ruang dalam gereja. Di sana ada
altar, ruang untuk koor, ruang umat
yang sebagian juga ada di balkon,
serta kamar-kamar pengakuan
dosa. Area dalam gereja ini
mampu menampung 1.300 umat.
Sementara, kapasitas ruang GSG
untuk 700-an umat.
Pintu gerbang utama Gereja
MSB disebut sebagai pintu 'Pater
Noster'. Di situ terukir doa Bapa
Kami. Pintu 'Pater Noster' ini
menghadap lurus ke altar. Saat
memasuki pintu utama, umat
Allah diajak memasuki gerbang
kehidupan baru bersama Kristus.
Selain melalui pintu Pater
Noster, umat yang hendak ikut misa
juga dapat masuk melalui empat
pintu yang tersedia di samping
kanan dan kiri gereja. Saat misa
dimulai, pintu-pintu tersebut akan
ditutup oleh petugas tata terb.
Altar gereja, yang dominan
dengan warna coklat tua, krem dan
puh, dibangun ga lantai lebih 
nggi kembang lantai gereja.
Lantainya terbuat dari batu marmer
berwarna hitam. Hitam adalah
simbol kekuatan. Altar memang
sudah seharusnya dibangun di atas
pijakan yang kokoh.
Di atas altar terdapat meja
altar terbuat dari kayu dengan latar
belakang salib Kristus berukuran
besar berwarna coklat tua. Di sisi
kiri altar terdapat satu mimbar

untuk lektor dan pemazmur.
Mimbar itu sekaligus menjadi
tempat para Romo menyampaikan
homili.
Sementara, di sisi kanan altar
terdapat kursi untuk tempat duduk
para Romo. Di depan kursi itu juga
disediakan ang untuk mikrofon
dan ang tempat buku atau teks.
Melalui mikrofon itulah Romo akan
menyapa umatnya saat awal misa.
Di altar itu juga terdapat “Bait
Allah” yang disimbolkan dengan
Tabernakel. ”Bait Allah” harus
berdiri di atas lantai yang kuat.
Bukan sekadar kuat secara fisik,
tetapi juga rohani. Dari kejauhan,
di bawah cahaya lampu altar,
Tabernakel tampak memancarkan
cahaya puh keemasan. Cahaya
yang menjadi simbol cahaya Roh
Allah yang Mahakudus.
Bangunan gereja, sampai ke
langit-langit, disangga oleh tujuh
pasang saka guru. Juga kokoh,
seakan hendak memayungi semua
umat yang masuk ke dalam gereja.
Jumlah saka guru itu juga sekaligus
mewakili tujuh Sakramen yang ada
dalam Gereja Katolik, yakni Baps,
Ekaris, Penguatan, Pengakuan
Dosa, Pengurapan Orang Sakit
atau Perminyakan, Imamat,
dan Pernikahan. Sakramen itu
melambangkan ikatan Allah Bapa
dengan umat-Nya.
Tujuh saka guru itu
kemudian turun ke bawah menjadi
14 ang utama penyangga
bangunan gereja. Ada tujuh ang di
kiri dan tujuh ang di kanan, Empat
belas ang itu menjadi simbol dari
“Jalan Salib Kristus” dan sekaligus
dipakai umat untuk upacara jalan
salib pada saat Pra-Paskah. Tiangang itu juga menjadi simbol jatuh
bangun perjalanan kehidupan
rohani umat Paroki MBSB.

Umat Terus
Bertambah
Usia Gereja dan Paroki MBSB
sebenarnya masih terbilang

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

19

KEMAH

TUHAN
belia. Paroki ini baru secara resmi
dikukuhkan pada 20 Mei 2008
oleh Uskup Bogor keka itu, Mgr.
Michael Angkur OFM. Berbarengan
pengukuhan itu dilakukan pula
tahbisan 1 imam dan 3 diakon.
Meski masih belia, umat Paroki
MBSB dengan cepat bertambah.
Jika pada tahun 2011 baru ada
5.777 jiwa, sampai akhir 2014
sudah menjadi 9.224 jiwa. Angka
ini sekaligus membuat Paroki MBSB
menjadi paroki kedua terbesar di
Keuskupan Bogor, setelah Paroki
Katedral yang umatnya mencapai
14.000-an jiwa.
Seiring bertambahnya jumlah
umat, kini seap hari Minggu
ruang-ruang yang ada di lantai
bawah GSG kerap dipakai untuk
menampung umat yang ingin
mengiku misa kudus dan tak
tertampung di area utama gereja.
Itu sebabnya saat ini Dewan Paroki
MBSB memutuskan untuk membeli
tanah yang berada di seberang
gereja. Kelak di atas tanah tersebut
akan dibangun fasilitas pendukung
kegiatan gereja.
Sekadar informasi, umat yang
ikut misa di gereja bukan hanya
umat Paroki MBSB, tetapi juga
banyak yang berasal dari paroki
lainnya. Di antaranya, umat dari
Paroki St. Servaus di Kampung
Sawah, Pondok Gede, Bekasi, dan
Paroki St. Thomas di Kelapa Dua,
Depok.
Seap minggu Gereja MBSB
menggelar lima misa kudus. Misa
pertama pada Sabtu jam 18.00.
Empat misa berikutnya pada hari
Minggu, jam 05.30, 07.30, 10.00
dan 17.00. Selain itu ada misa
harian Senin sampai Jumat jam
06.00.
Saat ini Paroki MBSB dilayani
oleh ga pastor, yakni Romo RD
Benyamin Sudarto sebagai pastor
paroki, dengan dibantu oleh dua
pastor lainnya, Romo RD Yohanes
Suradi dan Romo RD Redemptus
Pramudianto. ***

20

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

SUARA

GEMBALA

Sukacita Sejati Hidup yang
Dibaktikan *)

K

ita, manusia ini, begitu
dinamis, begitu unik dan
misterius, bagitu luar biasa.
Sehingga, ada banyak ungkapan,
banyak uraian untuk menjelaskan
atau mendeskripsikan manusia.
Namun, manusia itu begitu unik
dan misterius sehingga banyaknya
ungkapan dan uraian pun dak
mampu memberikan penjelasan
yang persis dan finall tentang
manusia. Dalam hal ini, ungkapanungkapan dan uraian-uraian
tentang manusia merupakan
gambaran-gambaran atau
kesadaran-kesadaran
yang sifatnya terbatas,
dan oleh karenanya
manusia pada dasarnya
akan selalu mencari dan
mencari kesadaran akan

dirinya, terutama berkaitan dengan
tujuan, harapan dan makna
keberadaannya.
Hal ini tentu saja didorong
oleh kesadaran manusia yang 
dak hanya sekedar “ada”
sebagaimana ciptaan yang lain.
Manusia merupakan ciptaan yang
“mengada”, ia diciptakan selalu
dengan tujuan dan kemampuan
untuk merealisasikan
tujuan
keberadaannya.
Maka,

kehidupannya menjadi sebuah
perjalanan dari waktu ke waktu
untuk mewujudkan kesadaran
tersebut, perjalanan hidup menjadi
sebuah cara dan area untuk
mengaktualisasikan kesadaran diri
dan harapan yang diinginkan di
masa depan.
Kesadaran akan aktualisasi diri
ini sebenarnya menggambarkan
pula kesadaran yang patut
untuk terus ditanamkan dan
dikembangkan dalam diri seap
orang, bahwa seap orang
tatana
diciptakan untuk mengisi tatanan
k
dunia dan ambil bagian dalam karya
Allah. Seap pribadi, apapun dan
da
bagaimanapun keadaannya, da
dak
secara “kebetulan” diciptakan.
Seap pribadi selalu diciptakan
oleh Allah dengan suatu maksud
dan tujuan. Maka sepanjang
kehidupannya, seap pribadi
sudah sepatutnya mencoba
menco
memahami, menemukan
dan melakukan perannya
dalam tata dunia ini. Dala
Dalam
hal ini, seap peran memil
memiliki
ciri khasnya masing-masing
masing-masing,
sebagaimana individu yang
selalu unik dan tak tergankkan.
Sehingga, dak boleh oran
orang
merasa dak berperan,
merasa dak ada pengar
pengaruh
terhadap kehidupan di
dunia ini. Seap pribad
pribadi
mempunyai peran, se
seap
pribadi mempunyai
pengaruh besar
terhadap tatanan
dunia, terhadap kkarya
Allah sendiri.
Sukacita se
seja,
dalam hal ini,

ME
M
MEKAR
EK
KA
AR | ED
E
EDISI
DIIS
SI 03
0 | TAHU
TTAHUN
TA
AHU
H N XX
X
XXV
XV | OK
O
OKTOBER
KTO
T BE
ER - D
DESEMBER
ESEMBER 2015

21

SUARA

GEMBALA
justru ada keka manusia mampu
memahami makna hidupnya
dan menentukan sendiri bentuk
hidupnya untuk mengaktualisasikan
makna keberadaannya tersebut.
Pilihan itu ada karena Allah, dengan
keputusan dan kehendak-Nya
yang murah ha dan bijaksana,
mengangkat manusia untuk ambil
bagian dalam hidup ilahi-Nya
dan memberikan kebebasan bagi
seap pribadi untuk memaknai
hidupnya dalam kerangka sejarah
keselamatan, dalam kerangka
ambil bagian pada karya Allah demi
keselamatan segala makhluk.

Panggilan Hidup dan
Tantangan Jaman
serta Harapannya
Gereja sungguh menyadari
hakekat dirinya sebagai sakramen
keselamatan bagi dunia. Gereja
juga sungguh menyadari hakekat
panggilan dasar seap orang
beriman untuk ambil bagian
dalam hidup ilahi Allah dan karya
keselamatan-Nya (panggilan
kekudusan). Maka, di dalam
Gereja, terdapat ga bentuk
hidup (forma vivendi) untuk
mengaktualisasikan panggilan
dasar hidup seap orang beriman
tersebut, yaitu bentuk hidup
clericus, vita consecrata dan laicus.
Di dalam dan melalui kega bentuk
hidup inilah, disediakan cara dan
sarana untuk mengaktualisasikan
proses “menjadi”nya, untuk
mengaktualisasikan makna
hidupnya dalam mencapai
kekudusan hidup bersama dengan
Allah.
Kega bentuk hidup itu
dikatakan sebagai panggilan, yang
berar bahwa, seap orang bebas
menentukan pilhannya, dak ada
yang boleh terpaksa atau memaksa
orang lain dalam menentukan
bentuk hidupnya. Keganya juga
mempunyai martabat dan tujuan
yang sama, yakni kekudusan. Yang

22

membedakan adalah ciri khas
masing-masing.
Clericus (kaum tertahbis, yakni
Uskup, Imam dan Diakon), karena
rahmat tahbisan yang diterima
mempunyai ciri khas sebagai
pelayan spiritual, pelayan suci
atau pelayan kesucian, minister
sacer (lih. CIC Kan. 207 par.1).
Vita Consecrata (Hidup Bak
atau Kaum Religius) mempunyai
ciri khas dalam menghaya ga
kaul atau nasehat injili (selibat,
kemiskinan dan ketaatan) dalam
konteks persaudaraan (lih. CIC
Kan. 207 par.2). Kaum Religius
ini selalu hidup berkomunitas
dalam satu rumah atau biara,
sehingga (meskipun kurang
tepat) biasanya disebut sebagai
kaum biarawan dan biarawa
(contohnya para imam tarekat
atau ordo, para bruder dan suster).
Sedangkan, laicus atau kaum
awam mempunyai ciri khas dalam
tugasnya menurut kedudukannya
masing-masing untuk meresapi
dan menyempurnakan tata dunia
dengan semangat injili (lih. CIC
Kan.225 par.2). Dalam mewartakan
keselamatan dan memenuhi
tugas keduniaannya, kaum awam
memberi kesaksian tentang Kristus
sendiri.
Selain menyadari hakekat diri
sebagai sakramen keselamatan,
dengan menyadari panggilan dasar
seap orang beriman krisani di
dalam dan melalui kega bentuk
hidup tersebut, Gereja juga
menyadari hakekat eksistensinya di
dunia, dengan segala duka, harapan
dan penderitaannya. Kegembiraan
dan harapan, duka dan kecemasan
orang-orang zaman sekarang,
terutama kaum miskin dan siapa
saja yang menderita, merupakan
kegembiraan dan harapan, duka
dan kecemasan para murid Kristus
juga (Gaudium et Spes 1). Lalu,
bagaimana kita melihat dunia kita
saat ini?

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

Ada banyak kesadaran dan
gagasan tentang situasi dunia kita
saat ini. Tentu kita memahami
atau menyadari dan sepakat juga
bahwa, dunia kita belakangan ini
diwarnai dengan kecenderungankecenderungan hedonisme,
konsumerisme, materialisme,
ulitarisme, indifferensme, dan
individualisme. Hedonisme adalah
pandangan hidup yang menganggap
bahwa orang akan menjadi bahagia
dengan mencari kebahagiaan
sebanyak mungkin dan sedapat
mungkin menghindari perasaanperasaan yang menyakitkan.
Hedonisme merupakan ajaran atau
pandangan bahwa kesenangan
atau kenikmatan merupakan tujuan
hidup dan ndakan manusia.
Konsumerisme adalah paham
atau ideologi yang menjadikan
seseorang atau kelompok
melakukan atau menjalankan
proses konsumsi atau pemakaian
barang-barang hasil produksi secara
berlebihan atau dak sepantasnya
secara sadar dan berkelanjutan.
Hal tersebut menjadikan manusia
menjadi pecandu dari suatu
produk, sehingga ketergantungan
tersebut dak dapat atau
susah untuk dihilangkan. Sifat
konsumf yang dimbulkan
akan menjadikan penyakit jiwa
yang tanpa sadar menjangkit
manusia dalam kehidupannya.
Sedangkan, “indiferensme”
adalah kepercayaan bahwa dak
penng agama apapun yang
dianut manusia, ia tetap bisa
diselamatkan. Indiferensme
ini dapat melemahkan agama
karena agama menjadi relaf,
bahkan relaf dak penng.
Indiferensme juga dapat
membuahkan sinkresme, yaitu
pencampuradukan ajaran-ajaran
agama. Tentu ini menjadi sebuah
tantangan berkaitan dengan
ketegasan dan pemurnian iman
seap pribadi.

SUARA

GEMBALA
Kata “materialisme” terdiri
dari kata “materi” dan “isme”.
“Materi” dapat dipahami sebagai
“bahan; benda; segala sesuatu
yang tampak”. “Materialisme”
adalah pandangan hidup yang
mencari dasar segala sesuatu yang
termasuk kehidupan manusia di
dalam alam kebendaan sematamata, dengan mengesampingkan
segala sesuatu yang mengatasi
alam indra. Sementara itu, orangorang yang hidupnya berorientasi
kepada materi disebut sebagai
“materialis”. Orang-orang ini adalah
para pengusung paham (ajaran)
materialisme atau juga orang yang
memenngkan kebendaan semata
(harta,uang,dsb).
Individualisme merupakan
satu filsafat yang memiliki
pandangan moral, polik
atau sosial yang menekankan
kemerdekaan manusia serta
kepenngan bertanggung jawab
dan kebebasan sendiri. Seorang
individualis akan melanjutkan
percapaian dan kehendak pribadi.
Mereka menentang intervensi
dari masyarakat, negara dan
seap badan atau kelompok atas
pilihan pribadi mereka. Oleh itu,
individualisme melawan segala
pendapat yang menempatkan
tujuan suatu kelompok sebagai
lebih penng dari tujuan seseorang
individu yang dengan sendiri
adalah dasar kepada seap badan
masyarakat. Pendapat-pendapat
yang di tentang termasuk holisme,
kolekvisme dan stasme, antara
lain. Filsafat ini juga kurang senang
dengan segala standar moral
yang berlaku ke atas seseorang
karena peraturan-peraturan itu
menghalangi kebebasan seseorang.
Sedangkan, ulitarianisme
adalah suatu teori dari segi eka
normaf yang menyatakan bahwa
suatu ndakan yang patut adalah
yang memaksimalkan penggunaan
(ulity), biasanya didefinisikan

sebagai memaksimalkan
kebahagiaan dan mengurangi
penderitaan. “Ulitarianisme”
berasal dari kata Lan ulis, yang
berar berguna, bermanfaat,
berfaedah, atau menguntungkan.
Islah ini juga sering disebut
sebagai teori kebahagiaan
terbesar (the greatest happiness
theory). Ulitarianisme sebagai
teori sistemas pertama kali
dipaparkan oleh Jeremy Bentham
dan muridnya, John Stuart Mill.
Ulitarianisme merupakan suatu
paham es yang berpendapat
bahwa yang baik adalah yang
berguna, berfaedah, dan
menguntungkan. Sebaliknya, yang
jahat atau buruk adalah yang
tak bermanfaat, tak berfaedah,
dan merugikan. Karena itu, baik
buruknya perilaku dan perbuatan
ditetapkan dari segi berguna,
berfaedah, dan menguntungkan
atau dak. Bahkan dalam hal ini,
relasi dengan Tuhan dan sesama
pun diukur dari manfaat atau
kegunaannya saja secara pribadi.
Tuhan dan sesama manusia
diperlakukan sekedar sebagai objek.
Kecenderungankecenderungan tersebut
dak hanya berdampak pada
diri manusia sendiri, namun
berdampak pula pada keutuhan
ciptaan secara umum, yakni alam
semesta. Tentunya kita juga sangat
memahami dan menyadari bahwa,
telah sekian lama terjadi eksploitasi
terhadap alam semesta (yang
idealnya mengeksplorasi untuk
kebaikan bersama tanpa melupakan
kelestariannya). Kerusakan alam
akibat ketamakan manusia telah
terjadi dalam skala yang sangat
parah di berbagai belahan bumi kita
ini.
Inilah gambaran umum
konteks kita berada dan hidup.
Memang, kita dak bisa
menghakimi diri kita atau orang lain
ada dalam pengaruh situasi-situasi

tersebut. Akan tetapi, dengan
menyadari situasi jaman ini paling
dak kita diajak untuk memahami
dan mawas diri, memahami situasi
diri dan dunia kita secara nyata dan
mawas diri terhadap pengaruhpengaruh yang melemahkan
dan bisa jadi menghancurkan
nilai dan martabat diri, martabat
kemanusiaan kita, sesama dan alam
semesta.
Namun, apakah memang
situasi dunia kita ini melulu atau
seolah-olah tanpa harapan? Kita
patut bersyukur pula bahwa masih
banyak orang, masih banyak pihak
yang peduli terhadap keutuhan
ciptaan, keutuhan kemanusiaan
dan alam semesta pada umumnya.
Banyak orang, banyak pihak yang
senanasa memperjuangkannya.
Bahkan, sebenarnya kita
mempunyai keyakinan dasar
bahwa, seap pribadi mempunyai
kehendak baik dan kehendak untuk
menjadi baik.
Dalam hal ini, ada keyakinan
bahwa dalam diri seap pribadi
sebenarnya ada hasrat untuk
mewujudkan kerinduaan dan
harapannya akan masa depan yang
pas (harapannya) semakin baik.
Filsuf Cicero, pernah mengatakan,
“Dum vita est, spes est”, keka ada
kehidupan, di situ ada harapan.
Ada juga ungkapan yang senada,
“Dum spiro, spero”, keka saya
bernafas, saya berharap. Harapan,
dalam hal ini, berar penanan,
cita-cita, dan kerinduan akan
hal-hal baik yang diinginkan
terjadi di masa depan. Dalam
ungkapan tersebut tergambar
pribadi manusia yang selalu unik,
potensial dan dinamis. Seap
orang selalu memiliki harapan dan
cita-cita personal, selalu ada dan
memiliki kemampuan dalam upaya
mewujudkannya, sehingga seap
orang selalu bergerak, berubah dan
harapannya semakin maju serta
berkembang.

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

23

SUARA

GEMBALA

24
24

sekaligus panggilannya untuk
menjalankan misi Allah merawat
dan mengembangkan kehidupan.
Allah yang telah menciptakan
segala sesuatu baik adanya itu,
memberikan kemampuan pula
bagi manusia untuk mewujudkan
kebaikan dirinya dan ciptaan,
Allah memperlengkapi manusia
untuk seap perbuatan baik yang
dilakukannya (2 Tim 3:17).
Berkat kesadaran akan konteks
dunia dan hakekat manusia
yang pada dasarnya mempunyai
panggilan dan hasrat mencapai
keutuhan diri dan ciptaan tersebut,
keyakinan akan tumbuhnya pribadipribadi yang tetap peduli akan
keutuhan kemanusiaan dan seluruh
ciptaan tetaplah membuncah. Yang
dibutuhkan adalah keberanian dan
ketegasan untuk memilih cara,
melalui panggilan bentuk hidup
yang ada dan dipilih, dalam rangka
ambil bagian dalam karya besar
Allah tersebut, sekaligus sebagai
wahana untuk mengaktualisasikan
diri yang seja dan seutuhnya.
Karena, seap pribadi mempunyai
peran dalam karya besar Allah,
dan seap pribadi oleh Allah telah
diberikan kemampuan

MEKAR
ME
MEKAR
KAR | E
KA
EDISI
DIS
SI 033 | T
TA
TAHUN
AHU
HUN X
XX
XXV
XV | OKTOBER
OKTOBE
OK
TO
OB
BE
ER - DESEMBER
DESE
SEMB
MBE
ER
R 22015
015
01
15

(sebagai bekal) untuk karya baik ini.

Hidup yang
Dibaktikan sebagai
Aktualisasi Diri
Salah satu panggilan hidup
dalam Gereja Katolik, sebagaimana
disampaikan di atas, adalah
panggilan hidup sebagai Kaum
Religius atau Hidup Bak (Vita
Consecrata). “Dalam seap zaman
ada perempuan dan laki-laki yang
karena taat kepada panggilan Bapa
dan dorongan Roh, memilih hidup
secara khusus demi mengiku
Kristus dan mengabdikan diri
kepada-Nya” (bdk. 1 Kor. 7:34;
Perfectae Caritas, 1). Seper rasul,
mereka telah meninggalkan segala
sesuatu, agar dengan bantuan Roh
Kudus mereka melayani Tuhan
dan umat beriman. Dalam hal ini,
melayani Tuhan berar juga upaya
menjadi co-creator bagi Allah,
menjadi rekan kerja Allah dalam
menjaga keutuhan ciptaan dan
alam semesta.
Di dalam dan melalui
panggilan hidup yang dipilihnya,
mereka ini mencoba membakkan
diri seutuhnya demi karya Allah
tersebut. Pada bab VI dari

Foto ilustrasi: Darius Lekalawo

Inilah yang menjadi kesadaran
akan hakekat dasar manusia
sekaligus cara manusia untuk
memberikan makna terhadap
hidupnya. Selama kehidupan
itu masih dimiliki maka manusia
akan selalu berusaha memberi
makna pada hidupnya, selalu akan
mengharapkan dan mengupayakan
hal-hal baik terjadi dalam
hidupnya. Manusia, idealnya,
akan selalu menjadikan hidup dan
perjalanannya sebagai wahana
untuk mencari, menemukan dan
mewujudkan yang benar, baik dan
sempurna (verum propter bonum et
perfectum; demi yang benar, baik
dan sempurna), demi keutuhan diri
dan seluruh ciptaan.
Bahkan dalam tataran religius,
ada kesadaran iman bahwa hidup
itu sendiri anugerah, dan dalam
kehidupan itu, manusia diberikan
tugas oleh Allah untuk merawat dan
mengembangkan kehidupan serta
segala ciptaan-Nya yang sejak awal
mula baik adanya (Kej 1:1 – 2:7).
Manusia, yang diciptakan dalam
citra Allah, menyadari martabat
keilahiannya

SUARA

GEMBALA
Konstusi Dogmak Lumen
Genum, yang berjudul “Para
Religius”, kita dapat membaca
ajaran Gereja tentang ga nasihat
Injil: kemurnian, kemiskinan,
dan ketaatan. Tiga nasihat Injil
inilah yang diikrarkan oleh para
religius yang bersekutu dalam
Tarekat Hidup Bak, di mana
mereka mengikatkan diri sebagai
keluarga. Dijelaskan dalam LG,
“status religius bukan jalan tengah
antara perihidup kaum imam dan
kaum awam. Tetapi, dari kedua
golongan itu ada sejumlah orang
krisani yang dipanggil oleh Allah
untuk menerima karunia ismewa
dalam kehidupan Gereja, dan
untuk dengan cara masing-masing
menyumbangkan jasa mereka bagi
misi keselamatan Gereja.”
Tahun ini, 2015, telah
dicanangkan Bapa Suci Fransiskus
sebagai Tahun Hidup Bak
untuk memperinga 50 tahun
dua dokumen penng Konsili
Vakan II, yaitu Perfectae Caritas
(Dekret Tentang Hidup Bak)
dan Lumen Genum (Konstusi
Dogmas Tentang Umat Allah).
Kedua Dokumen ini secara khusus
berbicara tentang hidup bak.
Sejarah juga mencatat tarekat
hidup bak tumbuh subur dari
waktu ke waktu. Bahkan, ada
tarekat yang lahir di Indonesia.
Ada yang ma, tetapi banyak yang
lahir. Sampai-sampai di kalangan
komunitas tertentu muncul kelakar:
Tuhan bahkan dak tahu berapa
jumlah tarekat Suster-suster.
Tentu, kelakar itu menggambarkan
betapa beraneka ragam cara
hidup dan cara berkarya untuk
mewartakan Kabar Gembira.
Dan, keanekaragaman itu berakar
dari ga nasihat Injil: kemurnian,
kemiskinan, dan ketaatan,
meskipun ga nasehat Injil ini juga
diperuntukkan bagi semua orang
krisani, termasuk kaum clericus
dan awam.

Dalam hal ini, pencanangan
Tahun Hidup Bak oleh Bapa
Suci Paus Fransiskus, yang dibuka
pada 30 Nopember 2014 dan
akan ditutup pada Pesta Yesus
Dipersembahkan di Kenisah,
tanggal 2 Februari 2016, tentunya
hendak membangun rasa syukur,
harapan dan opmisme akan
panggilan hidup sebagai kaum
religius atau hidup bak ini.
Dengan demikian, hidup yang
dibakkan secara khusus, dengan
semangat dasar ga nasehat
Injil ini, bisa menjadi wahana
aktualisasi diri bagi pribadi yang
terpanggil dalam merealisasikan
dirinya sebagai citra Allah, sebagai
rekan kerja Allah dalam menjaga
dan mengembangkan keutuhan
kemanusiaan serta seluruh ciptaan.
Bapa Suci Paus Fransiskus
secara khusus mengungkapkan
makna dan tujuan dari
pencanangan Tahun Hidup Bak
ini. Pencanangan Tahun Hidup
Bak patutlah disyukuri sebagai
ajakan kepada seluruh Gereja
untuk semakin menyelami makna
dan penngnya pilihan hidup
bak sebagai salah satu bentuk
panggilan khusus untuk hidup dan
karya pelayanan Gereja. Lebih jauh
pencanangan itu dimaksudkan
untuk mengobarkan semangat
dan cinta putra-putri Gereja agar
semakin terbuka, lapang ha dan
dengan keberanian iman menjawab
panggilan Allah.
Tahun Hidup Bak patutlah
dijadikan kesempatan untuk
merenung dan membaharui
komitmen keseaan kepada Tuhan,
kepada pelayanan Gereja, kepada
pemikiran dan cita-cita dasar
pendiri tarekat masing-masing, dan
kepada masyarakat pada zaman ini,
meskipun ditemui banyak kesulitan
dan tantangan. Kesempatan ini
sungguh tepat untuk merenungkan
kembali bagaimana seluruh
umat beriman, khususnya kaum

muda, dipanggil Allah untuk
mempersembahkan seluruh hidup
melalui penghayatan akan nasihatnasihat Injil demi kemuliaan Allah
dan keselamatan sesama serta
keutuhan alam ciptaan. Tokoh
iman yang patut dijadikan suriteladan dalam kehidupan demikian
adalah Bunda Maria, yang sungguh
berserah-diri secara total kepada
Allah dengan menyimpan segala
perkara iman dalam hanya dan
merenungkannya.
Tujuan mulia dari pencanangan
Tahun Hidup Bak: Pertama,
untuk “mengenang dengan penuh
syukur masa lalu”. Kendapun
turut mengalami tantangan dari
krisis yang melanda dunia dan
Gereja, para pemeluk hidup bak
tetap berusaha hidup di dalam
pengharapan. Gereja bersyukur
karena hidup dan pelayanan
tarekat-tarekat hidup bak dak
didasarkan semata-mata atas
kekuatan manusia, tetapi terlebih
atas iman dan harapan kepada
Allah. “Karena kami mempunyai
pengharapan yang demikian, maka
kami berani berndak dengan
penuh keberanian” (2Kor 3:12).
Diteguhkan oleh sabda Kristus, para
pemeluk hidup bak memperoleh
keyakinan untuk turut berucap: “Di
dalam Dia, dak ada yang dapat
merampas harapan kita” (bdk. Yoh
16:22).
Kedua, untuk “merangkul
masa depan dengan harapan”.
Pengharapan ini dak dapat
menjauhkan hidup umat
beriman dari semangat untuk
tetap menjalani hidup yang
telah dianugerahkan Allah.
Para pemeluk hidup bak tetap
berusaha mengarahkan pandangan
kepada Kristus yang hidup mulia
dalam kemuliaan surgawi. Kega,
untuk mendorong para religius
khususnya agar “menjalani
hidup hari ini dengan penuh
semangat.” Semangat hidup

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

25

SUARA

GEMBALA
dengan penghayatan nilai Injili
berhubungan dengan “hidup dalam
kasih, persahabatan seja , dan
persatuan yang mendalam.” Tahun
Hidup Bak 2015 akan terpusat
pada pewartaan Injil, dengan
maksud membantu umat beriman
makin memahami makna “indahnya
mengiku Kristus” yang terungkap
melalui berbagai bentuk panggilan
hidup membiara.
Di era globalisasi ini, para
religius ditantang untuk se a pada
panggilan dasarnya memberikan
kesaksian hidup di dalam Allah
dan mewujudkan Kerajaan Allah.
Perlu ada kesadaran, bahwa kaum
religius pun (sebagaimana juga
kaum clericus dan awam) orangorang berdosa yang dianugerahi
rahmat panggilan luhur, demikain
disampaikan oleh Pastor Sunarka,
OFM (Ketua Konferensi Pimpinan
Tarekat-Tarekat Indonesia/Koptari)
dalam sebuah kesempatan. Oleh
karena itu, perlu dibangun dimensi
mis k dengan memperkuat relasi
erat dengan Allah. Kemudian
menggugah dimensi kesaksian
kenabian dan solider kepada
mereka yang lemah dan terus
memupuk dimensi persaudaraan
dengan penghayatan ga kaul
(ketaatan, kemiskinan, dan
kemurnian) dalam menghadapi
tantangan zaman seper
hedonisme, konsumerisme,
materialisme, ulitarisme,
indifferensme, dan individualisme.
Minimal ga aspek tersebut dapat
terwujud. Selain itu, para religius
juga dituntut untuk krea f dalam
karya dan terus menghaya ga
kaul yang masih relevan di zaman
yang terus berubah ini.
Di sisi lain, op misme akan
panggilan hidup ini juga perlu
ditumbuhkan sehingga bisa menjadi
semangat dalam mewujudkan
kesaksian akan sukacita hidup bak .
Op misme ini ada terutama karena
Allah sendiri yang mempunyai

26

inisia f memilih dan mengangkat
manusia ke dalam se ap
panggilan hidup. Allah sendiri
yang mempunyai “pekerjaan”
terhadap dunia ini, tentu IA
pula yang akan menjamin se ap
“pekerjaan”, se ap “karya-Nya”
dapat berkesinambungan melalui
peran serta manusia, ciptaan-Nya.
Rick Warren, dalam bukunya The
Purpose Driven Life, What On
Earth Am I Here For?, sebagaimana
diku p oleh RD. Yohanes Driyanto
dalam ar kel tentang pendidikan
seminari, menyatakan bahwa kita
ini adalah “pengurus” (steward),
bukan pemilik dari dunia dan
kehidupan ini. Maka, kita harus
yakin dan op mis bahwa Allah
juga akan menjamin tetap adanya
orang-orang yang memberikan
diri, membak kan diri kepada
Allah sebagai kaum religius dalam
tarekat-tarekat hidup bak .
Op misme ini sejalan dengan
janji Allah yang akan senan asa
memilih dan mengangkat gembalagembala dalam Gereja. Keyakinan
ini terungakan dalam nubuat nabi
Yeremia (Yer 3:15) yang menjadi
landasan keyakinan dasar Bapa
Suci Paus Yohanes Paulus II ke ka
menyampaikan Anjuran Apostolik
tentang Pembinaan Imam dalam
Situasi Zaman Sekarang, yaitu
Pastores Dabo Vobis (Gembalagembala akan Kuangkat bagimu).
Allah sendiri yang akan memanggil
dan mengangkat pula putra-putri
Gereja, yang akan bekerja sama
dengan para gembala dan umat
dalam membangun keutuhan
ciptaan-Nya.
Selain karena Allah sendiri
sebagai dasar keyakinan yang
utama, op misme ini juga bisa kita
jaga karena pada kenyataannya
masih ada dan terus ada kaum
muda yang digerakkan Tuhan dan
tergerak untuk merin s panggilan
sebagai kaum religius maupun
kaum clericus. Memang, secara

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

umum ada gejala menurunnya
animo untuk panggilan khusus ini.
Saya, oleh Bapa Uskup, ditugaskan
di Seminari Menengah Stella Maris.
Se ap tahun selalu ada anakanak muda yang menda–arkan
diri ke Seminari ini, dan peminat
selalu melebih batas kemampuan
kami untuk menyediakan tempat
dan pendampingan. Ke ka para
seminaris sampai pada waktunya
untuk memilih tujuan selanjutnya,
jumlah yang memilih menjadi calon
imam diosesan maupun calon
imam religius cenderung seimbang.
Ar nya, panggilan itu tetap ada dan
selalu ada.
Dalam hal ini, kita juga bisa
melihat bahwa, kaum muda
itu pada dasarnya merindukan,
mengharapkan dan mencari
kepas an dalam hidupnya. Sebuah
kepas an yang menjadi bentuk
baginya untuk mengaktualisasikan
dirinya. Toh, kita mengetahui
bahwa panggilan khusus, sebagai
clericus dan hidup bak , sebetulnya
menyediakan sebuah kepas an,
yakni kepas an akan hakekat dan
tugas, kepas an akan tahap-tahap
yang mes dilakukan, kepas an
akan arah yang hendak dicapai,
kepas an akan pola atau cara
hidup yang mes dijalankan.
Hidup dalam pelayanan menjadi
sebuah kesempatan untuk
mengaktualisasikan hakekat diri
sebagai citra Allah, sebagai rekan
kerja dalam karya keselamatan
Allah.
Kaum muda ini membutuhkan
keberanian dalam dirinya untuk
memilih. Kaum muda ini juga
membutuhkan arahan, bimbingan
serta teladan agar semakin
menemukan keyakinan di dalam
dirinya akan panggilan hidupnya.
Benih itu selalu ada, bibit itu
selalu tersedia. Kaum muda yang
senan asa mencari ja diri dan
kepas an atau keseja an hidup
itu menjadi benih dan bibit dari

SUARA

GEMBALA
panggilan hidup khusus ini.
Semoga, Tahun Hidup Bak
ini
menjadi pengalaman syukur bagi
kita, syukur atas rahmat Tuhan yang
berkenan mengangkat putra-putri
Gereja dalam karya keselamatanNya melalui hidup yang dibak
kan
secara khusus dengan semangat

ga Injil yang dihaya
nya. Dengan
pengalaman syukur ini, kita
pun yakin, kita pun senan
asa
dipenuhi harapan bahwa Allah
akan tetap menjamin tumbuh dan
berkembangnya panggilan ini. Allah
akan selalu menjamin adanya kaum
muda yang terbuka dan tergerak
untuk membak
kan hidupnya bagi
Tuhan dan sesama, demi keutuhan
ciptaan-Nya. Dengan demikian, kita
menjalani hari ini dengan penuh
semangat, dengan penuh suka cita.
Dan hidup penuh semangat dan
sukacita inilah bentuk kesaksian
yang nyata dan berdayaguna.
Sebagai kaum clericus dan
kaum religius, semoga kita semakin
penuh sukacita menghaya

pengabdian dan pelayanan kita
kepada Allah dan sesama. Semoga,
dengan semangat dan sukacita itu,
semakin krea
f dan sepenuh ha

dalam mengaktualisasikan hakekat
hidup dan panggilan kita, semakin
se
a dengan hidup panggilan kita,
sebagai bentuk kesaksian hidup.
Sebagai kaum muda, semoga
kita semakin berani membuka diri
terhadap sapaan Allah. Semoga,
kita mampu mengenali gerak roh,
gerak ba
n kita yang menuntun
dan mengobarkan semangat kita
untuk mengaktualisasikan diri kita.
Panggilan sebagai clericus dan
religius menyediakan kepas
an
akan tujuan serta jalan yang harus
kita tempuh. Semoga, kita diberikan
anugerah keberanian untuk memilih
dan mencintai pilihan kita.
Sebagai kaum awam pada
umumnya, panggilan untuk hidup
berkeluarga juga mulia, mempunyai
martabat yang sama. Semoga, kita

juga terbuka terhadap panggilan
Allah akan pembak
an hidup
secara khusus sebagai clericus dan
religius (hidup bak
), sehingga
kita pun bisa ambil bagian dalam
karya Allah, dalam karya Gereja
untuk mengembangkan panggilan
hidup tersebut. Keluarga menjadi
dasar utama dan pertama akan
kehidupan dan panggilan hidup itu
sendiri. Semoga keluarga-keluarga
juga berupaya mengenalkan,
membimbing, mengarahkan
dan mendukung anak-anaknya
pada hidup panggilan khusus
itu. Semoga, kaum awam turut
ambil bagian dengan memberikan
dukungan, doa, perha
an dan
bantuan terhadap kehidupan kaum
religius serta pembinaan para calon
religius ini.
Dengan demikian, kita boleh
berharap bahwa pengalaman
syukur dan harapan dalam Tahun
Hidup Bak
ini, Gereja, umat Allah,
kita semua, semakin bersukacita
karena Allah memperkenankan
dan mengangkat putra-putri Gereja
dalam tugas karya keselamatan-Nya
secara khusus.
Semoga Hidup yang Dibak
kan
sungguh menjadi sukacita seja
,
karena melalui inilah kita bisa
mengaktualisasikan hakekat diri kita
dalam pengabdian dan pelayanan
kepada Allah dan sesama. Menjadi
sukacita seja
, karena Hidup
yang Dibak
kan menjadi “cara
mengada” kita di tengah dunia
ini, “cara mengada” kita untuk
mengisi tatanan dunia dan ambil
bagian dalam karya Allah. Inilah
makna dan tujuan mendasar hidup
dan eksistensi diri kita, sehingga
hidup kita bukan sekedar “lewat”
yang tanpa makna. “Hidup yang
aku terima akan aku bak
kan
untuk Tuhan dan sesama”. Tuhan
memberka
kita. nRD. Y. Suparto
*) Tulisan ini disusun dari berbagai sumber yang
menjadi bahan referensi dan inspirasi.
MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

27

TOKOH

KITA
Prof. Dr. Martin Harun, OFM:

Suka-Duka Umat Menjadi SukaDuka Saya
Selama kurang lebih 44
tahun menginjakkan
kakinya di Indonesia
sebagai misionaris misi,
Prof. Dr. Martin Harun,
OFM dari Ordo Fransiskan
ini, tidak hanya menjadi
seorang imam. Banyak
tugas lain diembannya.

I

a juga mengabdikan dirinya
sebagai dosen dan guru besar
Tafsir Alkitab STF Driyarkara
(1972-2013), dosen di Universitas
Katolik Atmajaya Jakarta (19732008), Universitas Katolik
Parahyangan Bandung (19792004), Lembaga Biblika Indonesia
dan Lembaga Alkitab Indonesia
(1975-sekarang) serta bidang riset
Tafsir Sinop‰k, Hermeneu‰ka
Perjanjian Lama,

28

Tafsir Taurat, Tafsir Surat Paulus,
Bahasa Yunani dan lain sebagainya.
Untuk mengenal lebih
dekat sosok Imam Fransiskan
yang telah malang melintang di
sejumlah posisi pen‰ng dalam
dunia pendidikan, keagamaan dan
berbagai kegiatan lain, berikut
ini wawancara singkat Darius
Lekalawo, dari Majalah Mekar, di
kediaman Pater Mar‰n, di Pan‰
Asuhan Santo Yusup, Sindanglaya
–Cipanas, Jawa Barat, Minggu,
(16/8/2015).
Menjadi Imam Misonaris, Apakah
itu cita-cita Pater sejak kecil?
Sejak Sekolah Dasar (SD) citacita dan keinginan untuk menjadi
pastor misionaris memang sudah
ada. Paman Fernando, adik dari
ibu saya sudah menjadi
pastor misionaris
di Brasil,

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

Amerika Selatan. Saya sering
membaca surat-surat dan melihat
fotonya yang berkeliling naik
kuda, pakai topi besar, sombrero.
Keinginan itu saya bicarakan
dengan orangtua dan dengan
gembira mereka menerimanya
karena paman dari ayah maupun
ibu juga ada yang sudah menjadi
seorang imam.
Mengapa Pater memilih menjadi
Imam Misonaris?
Seper‰ dikatakan sebelumnya,
karena saya tertarik menjadi pastor
yang bertugas di tanah misi seper‰
paman saya dengan masuk ke
seminari menengah OFM. Saya
suka pelajaran matema‰ka, tapi
‰dak suka sedikitpun tertarik

TOKOH

KITA
menjadi imam yang guru! Saya
ingin menjadi pastor di lapangan
misi.
Pater berasal dari keluarga Katolik
yang taat dan apakah ada saudara
lain yang menjadi Biarawan atau
Biarawa?

Kehidupan katolik dalam
keluarga di masa kecil saya cukup
kental. Doa pagi dan malam,
doa makan, rosario. Ibu sering
membacakan dari cerita Alkitab
dari seri buku untuk anak-anak.
Sebelum sekolah kami selalu misa
dulu. Adik bungsu hanya sampai
masuk seminari menengah.
Beberapa saudara sepupu juga
mencoba masuk seminari tapi
berhen. Saya menjadi imam
terakhir dari keluarga besar.
Apakah ada kesulitan keka
masuk menjadi pastor keka itu?
Dari dalam diri saya pada masa
pendidikan sewaktu-waktu muncul
keragu-raguan, atau kebosanan.
Tapi toh itu dak mengubah haluan.
Walau cita-cita sebagai misionaris
misi dak segera terwujud
namun sebagai frater
saya tetap bertahan.
Apalagi saat
mau ditahbisan
diakon, ada
kabar bahwa
di Brasil 
dak lagi

menerima misionaris misi. Hanya
ada kemungkinan saya hanya
menjadi dosen Filsafat atau Kitab
Suci di Negeri Belanda dan dak
menjadi misionaris misi.
Namun akhirnya terjadi
mukjizat. Minister provinsial
OFM Belanda yang berkunjung
ke Indonesia dan mengetahui di
Indonesia akan mendirikan Sekolah
Tinggi Filsafat Driyarkara di Jakarta
dan sedang kekurangan dosen.
Keka Minister Provinsial bertanya,
apakah Anda rela ke Indonesia. “Ya,
sangat sangat rela!”
Apakah Pater memiliki
pengalaman yang mengesankan
selama berada di seminari?
Ya, terutama kualitas
pendidikan sekolah di seminari
menengah maupun nggi. Selain
itu adanya dukungan serta dedikasi
yang nggi dari para guru dan
dosen saya. Saya sangat berterima
kasih kepada OFM Belanda yang
telah memberikan pendidikan yang
bermutu, termasuk teman-teman
yang selalu menyegarkan saya lewat
kegiatan sharing kitab suci.
Apa suka dan duka menjadi
seorang Imam?
Apakah pengalaman yang

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

29

untuk pastoral, kerasulan,
evangelisasi, dan untuk hidup
saya sendiri. Mimpi masa muda
saya untuk menjadi pastor paroki
tak pernah terwujud, tapi ada
kegiatan pastoral dalam rangka
kerasulan Lembaga Biblika. Hal
itu dan juga pencarian dukungan
untuk anak-anak pan asuhan
Vincenus pernah atau berulang
kali membawa saya bertugas enam
puluhan paroki di KAJ. Penngnya,
imam jangan menjadi dosen belaka!

sama menjadi suka atau duka,
tergantung dari sikap saya sendiri.
Imam yang tergerak untuk melayani
Tuhan dan umat, menemukan
kesukaan dalam banyak hal yang
bisa menjadi beban dan kesusahan
bagi imam yang sibuk dengan
kesenangan, aspirasi, atau hobihobinya sendiri. Keka saya sebagai
imam mulai merasa beberapa
pelayanan sebagai menyusahkan
atau mengganggu, saya sebaiknya
memeriksa sikap saya sebagai
utusan, apakah masih murni. Tentu,
mesnya suka dan duka umat
menjadi suka dan duka saya. Hal
itu lebih mudah dikatakan daripada
dilakukan!

30

Sejak kapan Pater mengajar
menjadi seorang dosen?
Sejak tahun 1972- 2013 di STF
Driyarkara, genap 40 tahun. Tetapi
menjadi seorang dosen dak hanya
berar mengajar. Di perguruan 
nggi ada banyak tugas yang harus
dibagi bersama, seper ketua
program, atau pembantu rektor
ini dan itu. Yang paling memberi
saya sukacita pada masa akhir
adalah merangkap sebagai ketua
perpustakaan.
Selain Guru besar Tafsir Alkitab di
STF Driyarkara apakah Pater, juga
mengajar di tempat lain?
Sejak tahun 1973-2008 saya
dosen Tafsir di program pendidikan
agama di universitas Atmajaya.
Tahun 1979-2004 di FF Parahyangan
Bandung. Dulu energi saya masih
kuat, sehingga bisa merangkap, tapi
sekarang tak bisa lagi.
Menurut Pater tanggung jawab
terpenng menjadi seorang imam
sekaligus dosen itu apa?
Bagi saya, menjaga bahwa
Tafsir Alkitab dak nggal ilmu
belaka tetapi menjadi berguna

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

Apa yang memovasi Pater
sehingga bisa menjadi seper
sekarang ini?
Mula-mula hanya suatu mimpi
sebagai anak. Itu harus pelan-pelan
semakin dimurnikan menjadi cinta
kepada … kepada apa ya? Mesnya
cinta akan Tuhan, Injil, Kitab Suci,
gereja dan umat, terutama orang
yang dilupakan. Biarlah Tuhan
sendiri menetapkan sejauh mana
saya sudah maju dalam proses
pemurnian movasi.
Selain menjadi dosen, kegiatan
apa yang Pater lakukan di waktu
senggang?
Saya suka menulis, tetapi
itu sudah bukan waktu senggang
lagi. Suka jalan dalam alam,
hiking! Maka sudah lama saya
mengenal banyak lorong di sekitar
Cipanas, sudah sejak tahun 70 an.
Sayangnya, sekarang dak bisa lagi
menjelajahi semua itu. Tetapi masih
suka jalan-jalan di taman luas Santo
Yusup, juga berenang. Dan ada
hobby membaca cerpen, juga koran
dan majalah.
Apa impian Pater yang belum
tercapai sampai sekarang apa?
Sudah waktunya melepaskan
mimpi-mimpi. Cukuplah hidup
dalam pengharapan bahwa Tuhan
akan menyediakan. Bagus kalau Ia
menyediakan waktu dan kesegaran
untuk masih menyelesaikan
beberapa buku tentang Kitab Suci.

Mengapa Pater memilih Ordo
Fransiskan?
Mula-mula karena ada paman
yang Fransiskan. Kemudian tetap
tertarik karena kharisma Santo
Fransiskus mulai memikat saya. Ia
seorang yang sungguh-sungguh
dapat mengilhami hidup injili dan
mendorong penginjilan seper
yang dibutuhkan sekarang. Ia selalu
menantang saya untuk melampaui
keterbatasan dan kelemahan saya.
Selain itu, hidup bersaudara dalam
komunitas dan provinsi memberi
banyak dukungan bila sendiri juga
mau mendukungnya.
Bagaimana perasaan Pater keka
melihat pastor-pastor muda
terutama dalam keluarga saudara
dina yang kurang menghaya
teladan hidup Santo Fransiskus?
Itu bukan soal muda atau
tua. Saya juga masih kurang bisa
meneladani Bapa Fransiskus. Yang
penng adalah bahwa semua usia
terus mencari bina lanjut secara
pribadi, dalam komunitas dan
provinsi. Kalau itu berjalan, ada
harapan. Kalau itu diabaikan, bisa
parah.
Apa pengalaman Pater di Lembaga
Biblika Indonesia dan Lembaga
Alkitab Indonesia?
Saya bersyukur bahwa selama
menjadi dosen saya juga selalu
dilibatkan di LBI dan LAI. Di situlah
lapangan kerasulan saya sebagai
pastor. Keka terlibat dalam
pendalaman Kitab Suci, dalam
menyelenggarakan kursus-kursus
untuk pemuka umat, lewat tulisan
non-ilmiah untuk umum, atau
dalam perjumpaan dan kerja sama
ekumene.
Pengalaman itu selalu
memperkaya saya. Dan luar biasa,
sudah sejuta lebih buku Alkitab
dengan Deuterokanonika bisa
disebarkan di tengah umat Katolik.
Itu bisa dilakukan oleh team LBI
dalam kerja sama dengan LAI.

Masih tetap kami bersama-sama
merevisi terjemahan Alkitab yang
mungkin baru selesai lima tahun
lagi.
Apa prestasi Pater selama menjadi
dosen dan berkarya di Lembaga
Biblika Indonesia?
Saya berharap saya dak telah
menjadi orang yang rewel dalam
kerja sama, sebab perguruan 
nggi dan lembaga gerejawi hanya
bisa berprestasi baik kalau ada
kerja sama. Kesaksian kerja sama
memberi juga nilai plus bagi mereka
yang kita layani. Prestasi single
fighter boleh mengundang tepuk
tangan, tetapi kurang mengangkat
keseluruhan yang perlu dilakukan,
digelu , dan dicapai.
Tanggal 14 Juli 2015 yang lalu,
Pater merayakan pesta emas
imamat. Hal apa yang paling
berkesan selama 50 tahun sebagai
seorang imam?
Misalnya ini, bahwa umat
katolik yang rajin beribadat di
Indonesia bertambah dengan
kecepatan yang sama. Sayangnya,
umat katolik di Belanda tak mau
lagi ber ibadat. Saya menyaksikan
ibadat umat di Keuskupan Jakarta
dan Bogor bertambah berlipat
ganda. Namun kita harus ha -ha
dalam mengevaluasi perkembangan
kuan ta f itu. Ibadat rasanya
bukan tujuan tetapi sarana. Di hari
pengadilan, ukuran Tuhan akan
menyangkut buah-buah ibadat itu:
kebenaran, keadilan, kejujuran,
BIODATA
Nama Lengkap
Nama Panggilan
Tempat, Tanggal Lahir
Alamat nggal
Profesi
Jumlah saudara
Pendidikan Terakhir

pendamaian, kasih. Semoga anda
dan saya bisa lulus di situ.
Bagaimana perkembangan
Fransiskan di Indonesia maupun
dunia sekarang ini menurut
pandangan Pater?
Pada abad kedua puluh ada 67
Fransiskan Belanda dan Brasil yang
datang ke Jawa dan Flores, belum
terhitung kalau 100 fransiskan yang
datang ke Papua. Sekarang di awal
abad 21, belasan Fransiskan asal
Indonesia sudah mulai diutus ke
Thailand, Myanmar, Timor Leste,
Tanah Suci (Timur Tengah-red),
Turki. Arus balik itu berbicara
banyak! Ada yang sangat berkurang
di Eropa, ada yang lahir baru di Asia
dan Afrika. Moga-moga semangat
misi internasional provinsi
Indonesia menarik banyak generasi
muda.
Apa pesan Pater atau opmalisasi
yang dilakukan terhadap generasi
muda untuk tertarik menjalani
panggilan sebagai biarawan dan
biarawa?
Hendaknya berusaha
menemukan keindahan injil,
menjalin persahabatan dengan
Yesus, dengan gembira menjadi
anggota umat, ak f terutama dalam
gerakan sesama orang muda. Di
situ akan menjadi jelas apakah
Tuhan memanggil Anda untuk salah
satu dari banyak bentuk kerasulan
awam. Atau mungkin untuk
pelayanan imamat, dan atau hidup
bak . nDarius Lekalawo

:
:
:
:

Mar n Harun (Olsthoorn) OFM
Mar n
Haarlem, 4 April 1940
Pan Asuhan Santo Yusup, Sindanglaya,
Cipanas, Cianjur, Jawa Barat 43253
: Dosen Tafsir Alkitab
: Di Belanda masih ada dua saudari
perempuan dan ga saudara laki-laki
: Doctor

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

31

Preman Pikir Turis, Ternyata
Fransiskan Miskin
Prof. Dr. Martin Harun,
OFM adalah anak ketiga
dari lima bersaudara.
Pastor yang akrab disapa
Pater Martin, sejak Sekolah
Dasar (SD) sudah bercitacita ingin menjadi pastor
misionaris. Keinginan
pribadinya, ternyata
mendapat dukungan dari
orangtuanya. Mereka
menyambut gembira,
mendorong penuh
keinginannya untuk
menjejaki para pamannya
yang juga sudah menjadi
imam.

P

astor kelahiran Haarlem,
Belanda, 04 April 1940, kini
genap berusia 75 tahun. Sejak
kecil, ia sudah belajar mandiri.
Dia juga akf sebagai putra
altar. Seper diceritakannya saat
masuk SD Katolik diaspora yang
kekurangan guru, ia terpaksa harus
bergabung dengan murid murid
yang berbeda kelas. Cara untuk bisa
mengejar keternggalan pelajaran,
Pater Marn harus belajar ekstra,
mengerjakan semua pekerjaan
rumah (PR) dari buku-buku yang
ada.
Keinginan dan tekadnya
untuk menjadi seorang Imam
misi semakin mengebu-gebu saat
melihat belasan pastor Fransiskan
dalam sebuah acara rekreasi putra

32

altar ke Seminari Menengah OFM
yang berada dalam Keuskupan
Haarlem-Amsterdam. Namun
demikian, Pater Marn, masih
memiliki cita-cita lainnya. Dia juga
ingin menjadi seorang arsitek atau
insinyur pertanian jika dirinya gagal
masuk seminari.
Namun Pater Marn, yang lahir
setahun setelah berkecamuknya
Perang Dunia II pada 1 September
1939 ini, akhirnya menegaskan
keinginan dan membulatkan
tekadnya dengan masuk Novisiat
Fransiskan di Belanda pada usia 12
tahun.

Diutus ke Indonesia
Pater Marn dalam ceritanya
mengatakan saat sebagai frater,
ia juga bekerja sebagai sekretariat

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

Pro Mundi Vita. Sebuah organisasi
internasional yang bertugas untuk
memperbaiki distribusi tenaga
misionaris. Dengan seringnya
diselenggarakan kongres-kongres,
maka Pater Marn banyak bertemu
dengan para misionaris dari
berbagai benua hingga dirinya
ditahbiskan menjadi Diakon. Untuk
mengasah kemapuannya ia juga
dipercayakan sebagai dosen filsafat
dan Kitab Suci di Belanda.
Penanan untuk menjadi
seorang imam misionaris belum
juga ba. Akhirnya suatu waktu
Tuhan memberikan mukjizat-Nya.
Diceritakan Pater Marn, hal itu
terjadi keka ia sedang studi S2
Kitab Suci. Minister Provinsial OFM
Belanda yang sedang berkunjung
ke Indonesia memberikan kabar
pada dirinya bahwa, Serikat Yesus

dan Ordo Fransiskan di Keuskupan
Agung Jakarta, berencana akan
mendirikan Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara dan saat itu sedang
kekurangan dosen.
Pater Provinsial keka itu
bertanya, sebagaimana diceritakan
Pater Marn, apakah Anda rela
diutus ke Indonesia. “Saya katakan
ya, saya sangat rela”. Setelah
usai studi S3 di Yerusalem, Israel
tepatnya pada 1 April 1971,
akhirnya penanan itu datang.
Pater Marn diutus ke Indonesia.
Tapi rintangan masih terus
menghadang Pater Marn.
Sebanya di Indonesia ia
mengalami kendala bahasa dalam
berkomunikasi saat memberikan
kuliah tafsir Alkitab di STF
Yogyakarta. Di biara Bonaventura,
Papringan, sekitar awal tahun 1972,
ia menyesuaikan diri dan belajar
bahasa Indonesia.
Tidak hanya masalah bahasa,
cuaca, iklim, makanan juga menjadi
kendala. Ia sempat putus asa.
“Bahasa masih susaaah! Cuaca
sangat panaaas! Makanan pedaaas!
Beberapa kali sakit amoeba (diaerered), hingga berat badanya turun 15
kilogram.
“Tapi syukur, setelah dua
tahun berlalu semuanya membaik.
Saya bertambah gemuk, makin
lancar berbicara bahasa Indonesia.
Dan pada tahun 1981 saya resmi
menjadi warga negara Indonesia”,
ungkap Pater Marn.
Selain menjadi dosen,
Pater Marn juga diminta Pater
Cletus Groenen untuk membuka
sekretariat Lembaga Biblika
Indonesia (LBI) di Jakarta bersama
teman-teman dari LBI. Mereka
terjun langsung ke lapangan untuk
kerasulan Kitab Suci, pendalaman
Kitab Suci, kursus-kursus bagi umat,
khususnya Kursus Pendidikan Kitab
Suci (KPKS).
“Luar biasa, sudah sejuta
lebih buku Alkitab dengan
Deuterokanonika bisa disebarkan

di tengah umat Katolik di seluruh
Indonesia. Atas kerjasama team
Lembaga Biblika Indonesia (LBI),
Lembaga Alkitab Indonesia (LAI),
ekumene bersama rekan-rekan
memang sangat menggembirakan
sampai hari ini. Mudah-mudahan
saya mendapat umur (berusia
panjang-red), agar bisa merevisi
terjemahan Alkitab yang mungkin
baru selesai sekitar lima tahun lagi”,
ungkapnya

Fransiskan miskin
Tidak hanya hal yang posif
yang dikenang Pater Marn
Harun. Imam Fransiskan yang
bernama asli Marn Olsthoorn, ini
bercerita bahwa di mata kalangan
preman Jakarta dan Jawa Barat
memandangnya sebagai seorang
turis dan bukan sebagai seorang
imam (Pastor).
“Preman di Jakarta dan Jawa
Barat melihat saya sebagai turis
yang bawa dolar dan bukan sebagai
seorang Fransiskan miskin. Berulang
kali saya dicopet dalam kendaraan
umum bahkan dirampok. Saya dak
pernah melawan, apalagi disertai
ancaman. Saya persilahkan mereka
untuk mengambil apa yang ada”.
Dan mereka pas selalu
kecewa, tutur Pater Marn, karena
di dompet hanya ada sedikit
uang. Kalau memang ada arloji,
itu pun yang murahan. Lucunya
ada perampok yang berbaik ha,
terkadang mereka mengembalikan
sedikit uang, saat saya minta untuk
ongkos pulang. Mereka memberi,
ujarnya.
Pengalaman lain yang
menghebohkan semua pihak di
Keuskupan Bogor adalah sebuah
kabar yang terjadi pada 15 tahun
yang lalu. Kabar itu menyatakan
bahwa Pater Marn meninggal
dunia. Diceritakannya bahwa
keka ia datang ke Kampus
Universitas Parahyangan, Bandung
untuk mengajar. Mahasiswa
yang melihatnya berlarian masuk

kampus.
Pater Marn Harun pun
bertanya dalam ha, mengapa
semua mahasiswa dan dosen
berlarian masuk kampus?.
Salah satu dosen pun datang
mendekanya serta meraba-raba
tangan dan lengan kemudian
mempersilahkan masuk. Dengan
gugup dosen mengatakan di wisma
frateran pagi itu sudah diadakan
misa requiem untuk Pater Marn
yang diketahui meninggal dunia di
RS Carolus Jakarta.
Bahkan perwakilan dosen
dan mahasiswa pun saat ini sudah
dalam perjalanan ke Sindanglaya/
Cimacan untuk mengiku upacara
pemakaman. Setelah mereka
konfirmasikan ke Sindanglaya,
ternyata bukan Pater Marn OFM
yang meninggal dunia tetapi Fr.
Marn CSE.
“Ini berita sifatnya sangatsangat terbatas. Sejauh yang saya
tahu, ceritanya hanya beredar
di Keuskupan Bogor saja. Hal itu
terjadi karena salah pengeran.
Dan mereka sadar dan mengaku
keliru. Mujur, saya sudah mendapat
misa requiem duluan, sehingga saya
tetap segar dan sehat hingga hari
ini”,ungkapnya sembari tersenyum.
Disinggung perihal Keuskupan
Bogor yang mencanangkan tahun
2015 sebagai tahun hidup bak,
Pater Marn yang ditahbiskan
menjadi Imam, 14 Juli 1960
itu, mengatakan penng untuk
memandang masa lalu dengan rasa
syukur, menghidupi masa sekarang
dengan semangat, dan merangkul
masa depan dengan harapan lewat
kesaksian yang otenk dari sebuah
panggilan.
“Bahwa hidup bak jangan kita
melihat hanya panggilan sebagai
imam saja, tetapi lebih kepada
semua panggilan menjadi biarawan
dan biarawa yang dalam hal ini
termasuk para suster, bruder serta
komunitas lainnya”, ujarnya. nDarius
Lekalawo

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

33

KIPRAH

KOMISI & SEKSI

Selalu
Bersyukur

“Selalu bersyukur,
sederhana, peduli akan
sesama dan lingkungan.
Dia adalah Yusefin Lely
Kusumaningsih. Kecintaan
dan kepeduliannya
terhadap bumi ini
membuat dia terlibat
aktif dalam kegiatan
lingkungan hidup.”

S

osok yang akrab dipanggil
Bu lely ini senanasa ingin
membuat suatu gerakan posif.
Apalagi gerakan itu berkaitan
dengan lingkungan hidup.

“ Percaya”
Sebelum terlibat dalam
kegiatan lingkungan hidup, Bu
Lely sudah menekuni pekerjaan
sebagai notaris. Hidup yang penuh
percobaan ini, semakin berat
dijalani keka suaminya meninggal
dunia. Bu Lely pun hidup menjanda
saat berusia 24 tahun. Memilih 
dak bergantung kepada orang
tua dan saudaranya, Bu Lely pun
memilih untuk menuntaskan
studinya.
“ Pekerjaan sebagai notaris
adalah pilihan dari Tuhan untuk
saya” itulah jawaban dari Bu Lely
keka ditanya kenapa bisa menjadi
notaris. Ia dak pernah mencari
orang, tapi orang yang datang
sendiri mencari dia. “Seap ada
kemauan, pas ada jalan” itulah
kata-kata yang ia pegang dan yakini.
Bu Lely percaya apa yang
dikasih Tuhan untuknya itu luar
biasa. Ia juga percaya bahwa apa
yang menjadi milikinya saat ini
adalah pan dari Tuhan. Dan
dari pan tersebut ia melakukan
banyak kegiatan sosial.

34

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

KIPRAH

KOMISI & SEKSI 
dak hanya disitu saja.
Keka ditanya mengenai
bidang yang ingin beliau tekuni
lebih jauh, ia menjawab ingin
menekuni lingkungan hidup. Proses
yang beliau sedang jalankan adalah
kembali ke kampung halamannya
di Keuskupan Purwokerto, Jawa
Tengah. Dimana ia akan membawa
pengalamannya dalam lingkungan
hidup dan membaginya kepada
sesama disana.

Keka ditanya mengapa
lebih milih pekerjaan atau
kegiatan sosial, Bu Lely menjawab
lebih memilih kegiatan sosial. “
Kebetulan 'client' saya dak pernah
mempermasalahkan kegiatan sosial
saya. Ya kalau memang rejeki saya,
pas nggak lari, pas akan balik ke
saya lagi” ujar beliau.
Selalu senang ha melakukan
kegiatan sosial membuat Bu Lely 
dak pernah merasakan duka.
“Kalau ditanya suka dukanya,
dukanya dak ada karena memang
lebih banyak sukanya. Memang
banyak resikonya tapi dak banyak
sekali” jawab Bu Lely saat ditanya
suka duka dalam kegiatan yang ia
tekuni.

Lingkungan Hidup
Lima tahun berkecimpung
dalam lingkungan hidup membuat
sosok Bu Lely sibuk karena harus
melakukan banyak kegiatan. Salah
satunya melakukan penyadaran
kepada anak muda, khususnya
mereka yang masih sekolah.
Bu Lely juga harus terlibat
dalam kegiatan anak muda. Di
mana dalam keterlibatnya, ia
mencari cara agar anak-anak
muda sadar dengan lingkungan
hidup. Seper mengadakan lomba
fotografi dan poster bertema
lingkungan hidup saat acara
“OMK Bogor Bersyukur”. Kegiatan
menanam 1.000 pohon saat acara
Bogor Youth Day 2015. Dari sana
beliau berharap kesadaran anak
muda meningkat dalam lingkungan
hidup.
Awal ketertarikannya terhadap
lingkungan muncul, yaitu saat ia
menghadiri sebuah pertemuan
yang bertema “JƵƐƚŝĐĞ and Peace”.
Termasuk peace-nya itu sendiri
adalah berdamai dengan alam.
Dari sana, Bu Lely sadar ia harus
melakukan acon. Dari situ ia
terus menurus melakukan kegiatan
lingkungan hidup.
Masih kurangnya kesadaran

gereja akan pen ngnya lingkungan
hidup membuat Bu Lely pernah 
dak mendapatkan respon. “Keka 
dak ada respon sama sekali, justru
banyak peserta dari luar yang
datang. Biasanya dari kelompokkelompok PKK, ” tuturnya.
Belum bergeraknya komisi
Justice and Peace, membuat ia
rela menjadi relawan. Tidak
hanya di lingkungan hidup, beliau
juga terlibat dalam komisi mitra
perempuan. Karena didalam komisi
mitra perempuan ada kegiatan
pengembangan, kekaryaan, dan
advokasi. Dengan inisiaf Bu Lely
maka ditambahkan juga kegiatan
lingkungan hidup.
Untuk komisi mitra
perempuan, Bu Lely lebih
mengarah kepada pemberdayaan.
Menurutnya, seap perempuan itu
harus mandiri, berani, harus kreaf.
Itu yang ia arahkan kepada seap
perempuan.
Tidak hanya akf di keuskupan,
beliau juga sempat akf dalam
paguyuban lansia di stasi Bunda
Maria Ratu Sukatani. Banyak
kegiatan yang Bu Lely lakukan
saat bergabung dalam lansia. Tapi,
karena polanya sudah terbentuk,
beliau yakin, harus berkembang

Harapan
“Harapan saya untuk
keuskupan bogor, sebenarnya jika
sesama komisi bisa bersinergi,
pas itu akan baik sekali”, jawab
beliau keka ditanya mengenai
harapannya terhadap Keuskupan
Bogor.
Menurut pendapatnya, masih
banyak komisi di keuskupan yang 
dak mau bersinergi dengan komisi
lainnya. Gengsi, ingin menonjol
adalah alasan yang menurut Bu
Lely kenapa ada beberapa komisi
yang dak mau bersinergi. Jika dak
mau bersinergi, beliau mengatakan
pas komisi tersebut akan sulit
berkembang. Tapi, jika mau
bersinergi pas akan bagus.
Semoga banyak orang-orang
gereja, terutama mereka yang
masih muda lebih sadar dan
peduli terhadap lingkungan. Tidak
hanya sadar dan peduli, tapi juga
merawat dan menjaganya. Dan
jangan bersifat sementara saja, tapi
selamanya agar bumi kita hijau dan
indah.
Bu Lely juga menawarkan
untuk seluruh umat Keuskupan
Bogor, jika mau bibit, tanaman
atau yang berhubungan dengan
lingkungan bisa menghubungi
dirinya. Dengan senang ha beliau
akan membantu.n Astri
Narasumber :
Yusefin Lely Kusumaningsih, SH
Pekerjaan : Notaris
Tanggal lahir : 20 Oktober 1963

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

35

KIPRAH

KOMISI & SEKSI

Proud to be Catholic

M

“Apakah kalian bangga
menjadi Katolik?”
demikian pertanyaan
yang dilontarkan oleh
Bapa Uskup, Mgr. Paskalis
Bruno Syukur dalam
homilinya pada misa
pembukaan Camping
Rohani Keuskupan Bogor.
Semangat yang berapiapi dari para peserta
menciptakan satu nada
yang baru sehingga
seluruh peserta serentak
berkata “yaa, kami
bangga”

36

isa pembukaan yang
dipersembahkan oleh Bapa
Uskup Bogor, Mgr. Paskalis
Bruno Syukur dan didampingi
oleh RD. Andreas Bramantyo dan
RD. Agusnus Dedy Budiawan
mengawali kegiatan Camping
Rohani bagi anak-anak yang
bersekolah di Sekolah Negeri di
seluruh Keuskupan Bogor.
Kegiatan ini menjadi kegiatan
yang ditunggu-tunggu oleh para
peserta karena mereka sebagai
anak-anak katolik yang bersekolah
di sekolah negeri merindukan satu
kebersamaan dengan saudarasaudara seiman. Camping dengan
nuansa alam pegunungan yang
berada di kompleks Sentul City ini
berlangsung selama ga hari dua
malam, dimulai Jumat, 28 Agustus
2015 sampai Minggu, 30 Agustus
2015.
Hari pertama setelah
misa pembukaan, RD. Andreas
Bramantyo sebagai Ketua Komisi
Katekek Keuskupan Bogor
memberikan sambutannya kepada
para peserta dari paroki-paroki di
Keuskupan Bogor. Dia berharap
agar kegiatan ini sungguh memberi
pengalaman yang membahagiakan
bagi anak-anak dan seluruh peserta
Camping rohani ini.
Peserta berdatangan dari
paroki St. Markus - Depok Timur,

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

St. Maas - Cinere, Ha Maria
Tak Bernoda - Cicurug, Maria
Para Malaikat - Cipanas, St.
Yakobus Rasul - Megamendung,
St. Fransiskus Asisi - Sukasari, St.
Andreas – Sukaraja, Keluarga Kudus
– Cibinong, Maria Bunda Segala
Bangsa – Kota Wisata, Sta. Maria
Fama – Sentul, St. Maus – Depok
Tengah, Sta. Maria Tak BernodaRangkasbitung.
Dengan jumlah peserta 100
orang, arena Camping menjadi
amat seru dan menggembirakan.
Seluruh peserta diajak untuk
bergaul bersama bukan hanya
dengan peserta dari paroki asalnya
saja, melainkan dengan peserta dari
seluruh paroki Keuskupan Bogor.
Hari ini pun diisi dengan
penjelasan tujuan kegiatan
Camping rohani yang dipaparkan
oleh kakak-kakak pania, yakni
mahasiswa dan mahasiswi Fakultas
Teologi Universitas Katolik Atmajaya
Jakarta. Ditekankan bahwa kegiatan
ini ingin menumbuhkan benih rasa
bangga menjadi seorang katolik
di zaman ini dan acara dilanjutkan
dengan doa malam.
Dengan tema, Proud to be
Catholic, para peserta diajak
untuk memiliki kebanggaan yang
mendalam sebagai umat pilihan
Yesus Kristus. Kebanggaan ini harus
tertanam kuat pada diri orang

KIPRAH

KOMISI & SEKSI
Katolik agar seluruh periswa
hidupnya mampu membuahkan
kebahagiaan dan kegembiraan
seja seper yang diharapkan Yesus
Kristus Tuhan Kita.
Hari kedua, pania
memfokuskan pada acara atau
kegiatan dengan konsep pengajaran
atau katekese. Peserta dibentuk
menjadi 4 kelompok dan mereka
harus mengunjungi pos-pos yang di
dalamnya sudah disiapkan materi
katekse dengan 4 tema yaitu
Trinitaris, Sakramen-sakramen
dan doa-doa dasar, Sejarah
perkembangan Gereja, dan yang
terakhir adalah 5 tugas atau pilar
dalam Gereja Katolik.
Selain diisi dengan acara
katekese tersebut, para peserta
juga diajak untuk bermain
bersama dalam games-games
yang sangat seru dan cukup
menggembirakan. Lagu-lagu rohani
yang mungkin terasa baru bagi
mereka pun, diajarkan oleh kakak
pania sehingga mereka semakin
memahami ar iman mereka dan
mampu pada akhirnya memiliki
kebanggan yang mendalam sebagai
orang Katolik.
Malam hari berpuncak pada
acara api unggun. Namun sebelum
mencapai acara puncak itu, peserta
diajak bermain satu games yang
bermakna, yakni dengan jumlah 8
kelompok yang terdiri dari 11-12
orang mereka diberi tanggung
jawab menjaga satu lilin bernyala
dan membawanya sampai di
arena api unggun. Namun di
sepanjang perjalanan, mereka akan
mendapat godaan dan hambatan
yakni para “iblis” yang meniup
lilin-lilin mereka. Dan jika apinya
padam, mereka sekelompok harus
mengambil api ke sumbernya lagi.
Para “iblis” itu adalah kakakkakak pania termasuk para frater,
RD. Andre sebagai ketua komisi
katekek dan juga RD. Dedy sebagai
perwakilan para pendamping dari
seap paroki. Terlihat pada awalnya

sangat mudah namun ternyata
begitu sulit bagi mereka.
Dibumbui dengan emosi dan
kemarahan yang besar karena
selalu gagal mencapai tujuan,
namun para peserta dak pernah
menyerah. Bahkan berujung
pada keseruan saling mengejar
dan bertabrakan hingga ada yang
terjatuh pula. Mereka memiliki
semangat yang luar biasa dan
berpikir bersama mencari strategistrategi yang pas untuk mampu
menghalau para “iblis” di sekitar
mereka.
Pada akhirnya dengan durasi
cukup lama, mereka berkumpul
bersama dan sepakat untuk
bergabung menjadi satu kelompok
besar yakni 100 orang. Mereka
bekerja sama menjaga satu lilin
dengan benteng yang sangat kuat
hingga akhirnya sampai di arena api
unggun.
Nampak keceriaan dan
kebahagiaan yang mendalam
pada raut wajah mereka. Hal ini
memunculkan satu senyum bangga
pula dari kakak – kakak pania dan
para pendamping dari seap paroki.
Api unggun yang dimeriahkan
dengan pentas seni dari seap
kelompok ini, membuat malam itu
semakin sempurna.
Sebelum mereka berisrahat,
mereka pun bersama-sama
menerbangkan 4 lampion sebagai
tanda harapan mereka yang
dilambungkan ke udara. Agar
harapan mereka menjadi nyata dan

terwujud di masa depan mereka
sebagai anak-anak Kristus.
Minggu pagi yang cerah
menjadi permulaan hari terakhir
mereka. Diawali dengan acara
penegasan tema ‘Proud to be
Catholic’ lewat penjelasan materi
maupun juga games. Hingga
akhirnya ditutup dengan misa
perutusan yang dipersembahkan
oleh RD. Andreas Bramantyo dan
RD. Agusnus Dedy Budiawan.
Seluruh peserta mendapat
satu buah kalung salib sebagai
tanda yang nyata bahwa kami
sebagai anak-anak Kristus siap
untuk menjalani perutusan dengan
penyertaan Kristus dan kami bangga
untuk hidup sebagai pengikut
Kristus. Acara berakhir pada pukul
14.00 dan seluruh peserta kembali
ke paroki masing-masing.
Terima kasih kepada Bapa
Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno
Syukur, juga kepada RD. Andreas
Bramantyo dan RD. Agusnus
Budiawan. Terima kasih juga bagi
para Frater Diocesan Bogor, Tim
Komisi Katekek Keuskupan Bogor,
para mahasiswa Fakultas Teologi
Universitas Atma Jaya Jakarta, para
pendamping dari seap paroki.
Terutama terima kasih juga
disampaikan kepada seluruh
peserta dari paroki-paroki
Keuskupan Bogor yang sudah
bersama-sama bertumbuh dalam
kegembiraan seja hingga akhirnya
kita semua menjadi bangga sebagai
umat katolik. Proficiat! Proud to be
Catholic. nFr. Yohanes Anggi Witono Hadi.

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

37

KIPRAH

KOMISI & SEKSI

Gereja Prajurit dan
Prajurit Gereja
Perayaan syukur peresmian
paroki baru di Semplak –
Bogor (Sabtu, 1 Agustus
2015) menjadi impian
umat Katolik Semplak.
Impian ini terwujud karena
telah terpenuhi syarat
kepemilikan gedung gereja
yang berlokasi di Blok
C (samping Megantara)
berdasarkan SK Kepala Staf
TNI Angkatan Udara No.
11/ VII/ 2006, tertanggal
03 Juli 2006 yang memberi
pinjam pakai tanah seluas
sekitar 2.235 M2.
38

G

ereja dari paroki baru ini
memilih pelindung Santo
Igna us Loyola. Alasan
pemilihan pelindung ini karena
lokasi paroki ini terletak di
kompleks Pangkalan Udara Atang
Senjaya, Semplak Bogor. Santo
Igna us Loyola sendiri adalah
seorang prajurit tulen, tangguh,
beriman cerdas yang berjiwa
missioner.
Seluruh umat katolik
Semplak Bogor bergembira karena
wilayahnya telah diresmikan
menjadi sebuah paroki yang
terletak kompleks Pangkalan Udara
(Lanud) Atang Senjaya, Semplak –
Bogor, Jawa Barat.
Menjadi sebuah paroki adalah
wajar karena telah memenuhi
salah satu syaratnya yakni memiliki
gedung dan umat yang telah
memadai, sekitar 609 kepala
keluarga dengan jumlah umat

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

sekitar 1.896 jiwa. Maka pada
hari Sabtu 1 Agustus 2015, Uskup
Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur
OFM, meresmikan wilayah yang
berada di daerah Kompleks Atang
Senjaya menjadi paroki dengan
nama pelindung St. Igna us Loyola.
Dengan adanya Paroki St.
Igna us Loyola berar Keuskupan
Bogor kini memiliki 22 paroki.
Untuk itu RD Y. Monang, selaku
Sekretaris Keuskupan Bogor
membaca SK peresmian Paroki St.
Igna us Loyola dan SK penunjukan
RD Y.M. Ridwan Amo, sebagai
Pastor Paroki St. Igna us Loyola.
Dan dilanjutkan dengan penandatanganan prasas resmi menjadi
paroki baru dalam Keuskupan
Bogor.
Mgr. Paskalis Bruno Syukur
OFM dalam homilinya pada
perayaan syukur ini menghendaki
agar umat Semplak menunjukkan
sikap militan dalam kehidupan
beragama dengan membangun
spiritualitas kehidupan umat paroki

KIPRAH

KOMISI & SEKSI
yang bersandar pada: Magnificat
Anima Mea Dominum (Luk 1: 46),
yakni mengarahkan hidup untuk
memuji dan memuliakan Tuhan
seper Bunda Maria
Dengan demikian, paroki ini
bisa menjadi rumah kegembiraan
dan rumah suka-cita bagi seluruh
umat. Ad Maiorem Dei Gloriam,
di mana seluruh gerak kehidupan
pastoral menunjukkan untuk
kembali ke sumber asal hidup
beriman yakni demi kemuliaan
Tuhan yang lebih besar.
Sen re cum Ecclesiae, di
mana seluruh umat senanasa
menunjukkan keseaan dengan
seha sejiwa bersama gereja lokal,
parkular dan gereja universal
membangun suatu communio
dengan semangat iman yang
mendalam, solider, dialogal,
memasyarakat dan misioner.
Dengan kega sandaran ini,
akan membawa umat kepada
penghayatan spiritualitas dan terus
berjuang mewujudkan keselamatan
masa kini dan di sini, serta merajut
masa depan yang penuh harapan.
Sehingga fokus karya pastoral dalam
membangun pastoral keluarga,
pastoral bagi OMK (orang muda
katolik), pastoral bidang pendidikan
dan persekolahan, pastoral sosial

polik dalam hidup menggereja,
dan pastoral peningkatan sumber
daya umat beriman. Semuanya
terwujud apabila kita menunjukan
penghayatan spiritualitas hidup
masa kini dan di sini.
Sehubungan dengan ajakan
militansi gereja yang ada dalam
lingkungan TNI berar gereja
dibangun untuk para prajurit.
Diharapkan agar umat sungguh
menjadi prajurit bagi masa depan
gereja. Oleh karena itu, Pastor
Ridwan, selaku Pastor Paroki
menghimbau umat dengan
ungkapan ‘berjuang sebagai
prajurit’ guna mencapai cita-cita
paroki.
Memang kalau melihat sejarah
pembentukan paroki ini, maka
terlihat jelas sejarah perjuangan
yang panjang. Berawal dari hanya
enam kepala keluarga hingga
sekarang ini dalam kurun waktu
50 tahun, telah tercatat ada 609
kepala keluarga. Jadilah sebuah
paroki.
Pastor paroki pun berharap
agar umat berjuang dan terus
berjuang menunjukan citra
Allah dalam keluarga, dan pada
masyarakat sekitarnya. Ini berar
kita menjadi prajurit gereja. Di
mana umat berperan akf dalam

membangun gereja sehingga
menjadi ‘batu hidup untuk
pembangunan suatu rumah rohani’
ujar RD Tukiyo, Pastor Paroki
Katedral yang mengup dari Surat
Pertama Petrus (1Ptr 2:5).
Harapan beliau agar paroki ini
dapat bertumbuh dan berkembang
untuk menghadirkan Kerajaan
Allah di dunia ini dengan semangat
kasih persaudaraan, ketekunan,
dan kebersamaan dalam melayani
Tuhan dan sesama.
Harapan ini mulai tertunjuk
dengan adanya kerja sama umat
dan Basolia (Badan Sosial Lintas
Agama) yang ikut memeriahkan
suasana kegembiraan umat paroki
ini. Mereka ikut menyumbang acara
dari beberapa umat agama lainnya,
antara lain sumbangan dari umat
Budha Bogor berupa barongsai.
Mereka juga menggelar berbagai
atraksi menghantar Bapak Uskup
dan tamu undangan masuk ke
ruang acara di gedung Megantara
(samping gereja).
Acara mengalir meriah hingga
berakhirnya atraksi barongsai.
Sumbangan lain berupa rebana
datang dari umat Islam Bogor yang
melantungkan lagu-lagu kasidahan.
Nuansa acara malam itu sungguh
menunjukkan suasana keakraban
antar semua kelompok agama.
Dengan diresmikan menjadi
sebuah paroki memberikan suatu
berkat dan tantangan tersendiri
bagi umat dalam pelayanan dan
karya pastoral paroki. Hal ini
dipertegas juga oleh Komandan
Lanud Atang Senjaya, Marsekal
Pertama Dedy Permadi, S.E.,MMDS
dalam sambutannya yang dibacakan
oleh Kolonel (Pnb) Hendro
menyampaikan turut berbahagia
atas diresmikan paroki St. Ignaus
Loyola, berar pelayanan rohani
umat Katolik di Kompleks ATS dan
sekitarnya semakin terfokus.
Beliau menyampaikan bahwa
menjadi paroki mempunyai
konsekuensi dan tantangan yang

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

39

KIPRAH

KOMISI & SEKSI
berat dalam menjalankan tugas
pastoral. Untuk itu diperlukan
par sipasi umat dalam mendukung
pelayanan tersebut. Beliau
mengungkapkan supaya umat
Semplak dapat menjalankan
kegiatan keagamaan, hendaklah
bergandengan dengan kelompok
umat lain agar terjalinnya
kerukunan umat beragama.

Memang selama ini umat
paroki ini telah menjalankan
kegiatan sosial secara bersamasama, seper kegiatan pemeriksaan
dan pengobatan gra s yang
dilaksanakan se ap bulan (minggu
pertama). Dia juga mengucapkan
terima kasih kepada umat katolik
yang ikut membantu kebersihan
lingkungan gereja dan lingkungan

kompleks Lanud Atang Senjaya,
semoga hal ini terus dipertahankan
dan terus di ngkatkan.
Sebelumnya Uskup TNI
Mgr. Igna us Suharyo, yang diwakili
oleh Romo Rony menyampaikan
bahwa kehadiran gereja di
kompleks TNI menunjukkan
integritas umat dengan TNI dalam
menegakkan Negara Kesatuan

Retret Pengutusan KEP-7 Santo Thomas:

Tuaian Memang Banyak, Tetapi
Pekerja Sedikit

P

ara peserta Kursus Evangelisasi
Pribadi (KEP)-7 mendapat
pelajaran dan pembekalan
selama enam bulan dalam 11
Bab materi pengajaran. Materi
itu antara lain; Pendalaman
Evangelisasi, Perkembangan Iman,
Kerajaan Allah dan Keselamatan,
Berteman dengan orang-orang,
Sharing Iman, Kisah Kristus dan
Penyajian Injil, Ajakan untuk
Bertobat, Integrasi ke dalam

40

Komunitas, Orientasi Kunjungan
Rumah hingga Evaluasi akhir.
Adapun para peserta KEP juga
mendapat pembekalan tambahan
mengenai pengetahuan tentang
Hukum Kanonik Gereja yang
diberikan dan dijelaskan oleh RD. Y.
Driyanto (VikJud Keuskupan Bogor)
dalam 2 sesi pertemuan. Ada juga
penjelasan tentang Kitab Suci
oleh RD. A. Adi Indiantono dengan
mengusung tema “Kitab Suciku
diselewengkan?”. Pembahasan
soal kitab suci ini menjadi sangat
menarik.
Kemudian disajikan pelajaran
tentang Sakramen oleh RD.
Alfonsus Sutarno dan Iman Katolik
oleh RD. Robertus Eeng Gunawan.
Dan tentu saja disajikan tentang
Evangelii Nunandi (Mewartakan
Injil) dan Evangelii Gaudium
(Mewartakan Injil dengan Sukacita)
oleh RD. Stefanus Sri Haryono.
Setelah melewa masa
kursus selama enam bulan, dari 86
peserta yang terda˜ar pada KEP
-7 ini hanya tersisa 49 orang yang
bertahan hingga masa pengutusan.
Melewa banyaknya cobaan untuk
dapat terus bertahan mengiku
KEP ini adalah suatu hal yang luar

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

biasa. Dalam kesibukan keseharian,
melawan godaan malas, para
peserta KEP dan pani a mampu
melewa nya dengan baik hingga
saatnya Retret Pengutusan.
Pada Jumat, 11 September
2015, seluruh peserta KEP bertolak
ke Wisma Puspanita, Ciawi untuk
mengiku Retret pengutusan.
Dengan semangat dan sukacita
semua peserta berkumpul untuk
bersama-sama mengiku misa
pembukaan yang dipimpin oleh RD.
St. Sumardiyo AP.
Seusai misa, dilanjutkan
dengan pujian, kembali peserta
harus mengiku sesi pelajaran
tentang Krisis dan Hasil
Pemberitaan Injil serta Refleksi
Perjalanan Emaus oleh RD. St.
Sumardiyo AP. Sebelum beranjak ke
tempat dur seluruh peserta dan
pani a mengadakan doa malam.
Hari Sabtu, 12 September
2015, diawali dengan doa pagi,
peserta mendapatkan lanjutan
sesi pengajaran tentang Perjalanan
Tobat Pemberita Injil hingga saatnya
Ibadat Tobat hingga pukul 10.30.
Kemudian dilanjutkan dengan
pengakuan dosa serta konseling,
dimana tujuannya agar seluruh

KIPRAH

KOMISI & SEKSI
Republik Indonesia (NKRI).
Dan sebagai laporan bahwa
gedung gereja di kompleks TNI
AU, antara lain di Yogyakarta,
Halim Perdanakusuma (Jakarta),
Makassar, Malang dan Atang
Senjaya Semplak.
Beliau juga mengharapkan
agar umat yang ada di lingkungan
ini sungguh menjadi umat yang
peserta disiapkan …dak hanya
secara teori dan praktek, tetapi juga
disiapkan secara ha… agar lebih siap
menerima perutusan dan menjadi
pembawa kabar baik menurut
ajaran Kristus.
Sore hari adalah saat yang
dinan…-nan… oleh seluruh peserta.
Sebelum misa pengutusan seluruh
peserta diajak untuk melakukan
refleksi pribadi. Pada pukul 17.30,
setelah melewa… gladi singkat
seluruh peserta dengan hikmat
mengiku… Misa Pengutusan. Misa
konselebrasi dipimpin oleh Mgr.
Paskalis Bruno Syukur, didampingi
Pastor Paroki St. Thomas RD.
Robertus Eeng Gunawan dan RD.
St. Sumardiyo AP sebagai Pastor
pembimbing Retret Pengutusan.
Dalam homilinya, Bapa Uskup
berpesan “Iman tanpa perbuatan
adalah ma, maka sebarkanlah
kebaikan dengan iman yang
penuh sukacita, baik itu ke dalam
lingkungan gereja maupun ke
dalam masyarakat”. Selesai misa
perutusan, seluruh peserta dan
pania bersukacita dan berfoto
bersama Bapa Uskup, para Pastor,
para pengajar dan seluruh pania
KEP-7 ini.
Acara dilanjutkan dengan
makan malam bersama. Kemudian,
kembali seluruh peserta diberi
materi tentang Yesus Pemberita Injil
dalam Sengsara. Dalam materi ini,
peserta diajak untuk merefleksikan
diri agar kuat dalam iman, mental,
dan selalu sea walaupun didera
berbagai masalah dan cobaan

militan dalam menjalankan tugas
pelayanan keagamaan. Dengan
demikian, tema yang tertulis
’menjadi saksi kebaikan Tuhan, TNI
AU bersama rakyat mewujudkan
perdamaian dan tegaknya NKRI’
yang menjadi harapan kita semua
dapat terpenuhi dan bersatu untuk
memuji dan memuliakan Tuhan
dengan semboyan Ad Maiorem Dei
hidup. Peserta kiranya hidup serupa
dengan Kristus. Tidaklah mudah
tetapi akan membawa keselamatan
bagi diri sendiri dan orang banyak.
Sesi ini disampaikan oleh
Bp. Antonius Rudi Marbun dari
Paroki Kristus Raja, Serang.
Beliau mengajak seluruh peserta
bernyanyi bersama dan bersukacita.
Hari yang panjang ini ditutup
dengan Penerimaan Karunia Allah
dipandu oleh Bp. Ign. Urip Widodo
dilanjutkan dengan Adorasi yang
dipimpin oleh RD. St. Sumardiyo
AP.
Pada sesi ini, Roh Kudus benarbenar datang dan menyapa pada
seap individu peserta dengan
cara yang berbeda-beda, ada yang
berbicara dengan Roh Kudus,
ada yang menari, bersenandung
bahkan ada juga yang hanya
menangis. Hal ini dak membuat
peserta ketakutan. Mereka
menikma dan bersyukur bahwa
perjumpaan secara personal ini
menjadi pengalaman baru yang
dak terlupakan, tercerahkan dan
terlahir baru.
Minggu, 13 September 2015,
diawali dengan Ibadat pagi, Leco
Divina, dengan bahan mengup
bacaan yang diambil dari Bulan
Kitab Suci Nasional (BKSN) yang
dipimpin oleh Ketua Pania KEP-7,
Bp. Rudolf Simarmata. Hari terakhir
sebelum penutupan, peserta
kembali dibekali dengan pengajaran
tentang Peran Roh Kudus dalam
Evangelisasi yang dijelaskan oleh
Bp. M. Roman Ginng dari BPK

Gloriam.
Akhirnya, acara dilanjutkan
dengan penampilan gerak dan lagu
yang dibawakan oleh anak-anak BIA
(bina iman anak) paroki Semplak.
Juga pembagian hadiah-hadiah
dari berbagai perlombaan dalam
rangka pendirian Paroki St. Igna…us
Loyola serta ramah tamah bersama.
Proficiat bagi umat Semplak.
nFrans P. Liwun

Keuskupan Bogor.
Kemudian dilanjutkan dengan
pemaparan tentang Program Kerja
DPP Paroki St. Thomas Kelapa Dua,
dengan tujuan agar para peserta
KEP-7 ikut berperan akf dalam
pelayanan nyata gereja dan ikut
mensukseskan program-program
kerja yang telah dibuat dan
disetujui oleh Pastor Paroki beserta
jajarannya di DPP.
Padatnya acara retret kali
ini dak menyurutkan semangat
peserta dan pania KEP-7. Acara
ditutup dengan pemilihan ketua
pania untuk KEP-8. Setelah foto
bersama, dilanjutkan dengan
sharing pengalaman antara pania
dan peserta untuk persiapan
KEP tahun depan, acara Retret
Perutusan 2015 ini ditutup dengan
doa dan makan siang bersama.
Retret Pengutusan ini
membawa kesan luar biasa bagi
seap peserta yang turut serta.
Mereka mengatakan bahwa dengan
ikut serta dalam kegiatan ini selain
menambah keakraban satu sama
lain. Mereka juga menjadi lebih
sadar akan betapa baiknya Tuhan,
merasa lebih dekat secara personal
dengan Yesus sang juru selamat
pembawa damai di ha.
Mereka ingin segera
menyebarkan kabar baik, ingin
lebih akf dan mengajak orang
mengenal lebih dekat dengan
Kristus, bahkan tak sedikit yang
menerima mukjizat penyembuhan.
"Bertolaklah ketempat yang dalam
dan terbarkanlah jalamu."naureliarani

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

41

KIPRAH

KOMISI & SEKSI

“Family Weekend:

Keluarga Sumber
Sukacita”
Keuskupan Bogor mulai pada 3 s/d 5 Juli 2015, merayakan
family weekend yang bertempat di Cikanyere. “Keluarga
Sumber Sukacita” adalah tema yang diangkat dalam
family weekend. Tercatat 421 peserta meramaikan acara
ini. Akhir pekan keluarga ini diawali dengan ekaristi oleh
Mgr. Paskalis Bruno Syukur. Beliau di dampingi RD. Alfonsus
Sutarno, RD. Yustinus Monang Damanik dan RD. Sutrisno.

U

sai ekaris, pembukaan
secara secara simbolis dibuka
oleh Mgr. Paskalis, dengan
menyalakan kembang api. Sesudah
acara pembukaan dilanjutkan
dengan santap malam, dilanjutkan
dengan perkenalan dan pemaparan
tentang maksud diadakannya
family weekend tersebut. Acara hari
pertama ditutup dengan adorasi
di kapel dan dilanjutkan dengan

42

israhat.
Memasuki hari kedua, kegiatan
hari itu diawali dengan perayaan
ekaris oleh RD. Sutrisno. Setelah
itu, dilanjutkan dengan makan pagi
dan pukul 08.00 s/d 09.30 WIB
dimulainya Seksi pertama oleh Mgr.
Paskalis berkaitan dengan potret
kondisi terkini keluarga Keuskupan
Bogor.
Sesi pertama ini, peserta dibagi

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

dalam ga kelompok. Kelompok
pertama terdiri dari anak-anak di
bawah 10 tahun, kelompok kedua
umur 11 tahun sampai remaja
dan kelompok kega terdiri dari
peserta yang sudah dewasa sampai
yang sudah senior. Kegiatan seap
kelompok berbeda.
Kelompok pertama didampingi
oleh kakak pembina, mereka diajak
bermain bersama. Kelompok yang
kedua didampingi oleh para frater,
di mana mereka mengajak peserta
untuk jalan-jalan mengelilingi biara
CSE. Mereka diperkenalkan tempattempat dalam biara. Para fraterfrater juga memberikan gambaran
tentang panggilan sebagai
biarawan. Kelompok yang terakhir
bersama Mgr. Paskalis, peserta
diberikan gambaran tentang
potret kondisi terkini keluarga di
Keuskupan Bogor.
Sesi kedua oleh Prof. DR.
Richardus Eko Indrajit yang
didampingi istrinya yang juga

KIPRAH

KOMISI & SEKSI
penyanyi Lisa Arianto. Tema yang
beliau paparkan berkaitan dengan
keluarga bersukacita dengan media
digital. Media digital sering dilihat
sebagai sesuatu yang negaf. Akan
tetapi, keka media digital dilihat
dari cara pandang yang posif,
media digital menghadirkan banyak
manfaat bagi kehidupan manusia.
Media digital menjadikan
seseorang merasa dekat dengan
orang-orang yang jauh jaraknya
seper hidup dengan tetangga dan
menjadikan seseorang terlibat dan
terhubung satu dengan yang lain.
Lewat media digital, Gereja juga
dapat dihadirkan.
Media digital juga menjadikan
komunikasi antar sesama
menjadi dekat, seseorang dapat
memberikan harapan dan
membagikan sukacita kepada yang
lainnya. Akan tetapi, semua itu
dibutuhkan sebuah kebijaksanaan
dari pihak manusianya. Oleh
karena, media digital sebagai alat,
arnya bisa digunakan sebagai
sarana untuk kebaikan tetapi juga
dapat dijadikan sebagai alat ndak
kriminal.
Sesi kega oleh RP. Yohanes
CSE, tentang rekonsiliasi keluarga
dan Sesi keempat dibawakan oleh
RD. Yohanes Driyanto tentang
alasan keluarga bersukacita.
Perkawinan sering dipahami
sebagai kebahagiaan. Sehingga,
keka seseorang dak mengalami
kebahagiaan dalam perkawinannya,
maka seseorang dengan mudahnya
ingin mengakhiri perkawinannya.
Oleh karena itu, untuk
memperoleh pemahaman yang
benar tentang perkawinan perlu
melihat dalam kitab kejadian “Tidak
baik kalau manusia itu seorang
diri saja. Aku akan menjadikan
penolong baginya yang sepadan
dengan dia (Kej 2:18). Di dalam
kitab kejadian dak dijelaskan
bahwa tujuan menciptakan “pribadi
lain” untuk kebahagiaan.
Dalam KHK tahun 1983 kan

1055 § 1, ditegaskan bahwa tujuan
perkawinan adalah : kebaikan
pasangan atau suami istri, kelahiran
dan, pendidikan anak. Kega
tujuan itu menjadi satu dan dak
terpisahkan. Oleh karena itu, untuk
kebaikan pasangan, langkah yang
ditempuh adalah: benevolence,
partnership, companionship,
friendship dan, care.
Sedangkan berkaitan dengan
kelahiran melipu: hubungan
seksual yang wajar dan manusiawi,
ungkapan dari pemberian diri yang
utuh, orang tua yang bertanggung
jawab dan keluarga berencana
alamiah “Hubungan seksual yang
dilakukan berdasarkan siklus
biologis”. Bagian terakhir yaitu
pendidikan anak yang melipu:
fisik, moral, intelektual, sosial dan
kultural.
Identas dan misi perkawinan:
apakah perkawinan itu, jawabannya
ada dalam kitab kejadian yaitu dua
pribadi menjadi satu daging (Kej
2:24). Konsili Vakan II menyatakan
sebagai komunio hidup dan kasih,
sedangkan dalam kan 1055§1
menyatakan bahwa perkawinan
adalah kesenasiban seluruh hidup.
Selanjutnya melihat
misi dari perkawinan, misi
berhubungan dengan tanggung
jawab yang harus dilaksanakan
oleh orang yang merengkuh
hidup perkawinan. Misi tersebut
berbentuk menjaga, menyatakan
dan mengkomunikasikan kasih.
Oleh karena di dalam perkawinan
itu ciri hakikinya adalah unitas
(perkawinan monogami, subyek
satu keluarga mandiri dan
pasangan kekasih yang tetap) dan
indissolubilitas (sekali orang masuk
dalam perkawinan, mereka dak
mungkin keluar dari perkawinan
itu).
Hidup berkeluarga juga
sebagai panggilan dari Allah. Oleh
karena itu, sudah seharusnya
seseorang yang menempuh hidup
berkeluarga dengan segenap

ha, akal budi, jiwa dan, tenaga
sekaligus terbuka, rela dan bersedia
bekerjasama dengan rahmat Tuhan.
Menjelang malam, acara
dilanjutkan dengan pentas seni dan
hiburan.
Di hari terakhir (hari kega)
family weekend, sesi dibawakan
oleh RD. Alfonsus Sutarno
dengan tema kabar sukacita
tentang keluarga. Ada bermacammacam alasan orang menjadi
bersukacita, antara lain keka
seseorang memiliki, mendapatkan,
merasakan, kemampuan, dan dapat
tampil seper yang diharapkan.
Akan tetapi keka seseorang
ditanya, apakah keka memiliki,
merasakan, mendapatkan,
kemampuan dan tampil seper
yang diharapkan itu, seseorang
merasa bahagia? Jawabannya
bermacam-macam, bisa ya dan
bisa dak. Arnya bahwa sesuatu
yang diatas itu dak mutlak.
Sukacita yang seja tercipta lewat
perjumpaan dengan Yesus.
Mereka yang bersukacita
adalah orang-orang yang menerima
tawaran penyelamatan, dibebaskan
dari dosa, penderitaan, kehampaan
ban dan kesepian. Injil secara
terus menerus mengajak kita untuk
bersukacita. Oleh karena itu, supaya
kita bersukacita maka kita harus
selalu memperbaharui perjumpaan
dengan Yesus atau membiarkanNya menjumpai kita.
Setelah ga hari bersatu
dalam kebersamaan acara family
weekend, peserta diutus untuk
menjadi pembaharu-pembaharu di
dalam keluarga supaya kehidupan
keluarganya menjadi sumber
sukacita. Kini, peserta harus
menjadi agen perubahan yang
mampu menghadirkan sukacita
itu. Setelah sesi kelima, peserta
menyempurnakan acara itu
dengan Perayaan Ekaris yang
dipersembahkan oleh Mgr. Paskalis
Bruno Syukur.
n Foto ilustrasi: Darius Lekalawo

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

43

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA
Drs. M. Yusuf Hidayat, MA:

Pluralitas Baru Ditingkat Elit

S

oal silaturahmi bagi masyarakat
Indonesia sudah menjadi
darah daging, teris
mewa
pada hari-hari besar keagamaan
seper
Idul Fitri. Silaturahmi selain
kebiasaan unik yang dimiliki orangorang Indonesia, silaturahmi juga
merupakan bentuk kepedulian dan
rasa kasih sayang sebagai sesama
ciptaan Tuhan kepada keluarga,
teman dekat, kerabat, tetangga,
atau siapa saja.
Secara sosiologis, tradisi yang
dilakukan masyarakat Indonesia
sangat efek
f untuk memperkuat
rasa persaudaraan serta hubungan
sosial. Dipandang dari sisi agama
juga sangat bernilai karena
melaksanakan perintah yang Maha
Kuasa dalam hal hubungan sesama
manusia.
Pada hari raya Idul Fitri 1346
H pada tahun 2105, para Imam
dan umat Katolik yang ada di Kota
Depok melakukan silahturahmi
dengan tokoh-tokoh agama, para
alim ulama. Salah satunya adalah
bersilaturahmi dengan Drs. M.

44

Yusuf Hidayat, MA dibilangan Pitara
Depok.
Dalam wawancara yang
diwarnai rasa kekeluargaan itu,
banyak pesan yang bisa didapatkan
dari Ketua Majelis Ulama Indonesia
(MUI), Kecamatan Pancoran Mas,
Kota Depok ini, terutama dalam
hal yang terkait dengan toleransi
antarumat beragama di Kota Depok
dalam tahun-tahun terakhir ini.
Masalah keyakinan memang
pelik. “Makanya pen
ng sekali
sikap saling hormat menghorma
,“
ungkap Kiai Yusuf di awal
perbincangan kami. Benar bahwa
kualitas dan kadar pluralitas
ditentukan oleh kualitas pendidikan
seseorang. Selain itu jaga komitmen
dan jangan ada paksaan. Tampilan
dalam bahasa Alqurannya adalah
Fastabiqul Khairat (Berlombalomba dalam kebaikan).
“Keberadaan Forum
Komunikasi Umat Beragama
(FKUB) merupakan jalan tengah
yang dibentuk pemerintah untuk
mengatasi masalah keagamaan,

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

insyah Allah Depok bisa kondusif,”
ujarnya.
MUI itu lembaga atau iden
k
dengan organisasi keulamaan
atau di Katolik dikenal dengan
Konfrensi Wali Gereja Indonesia
(KWI). Seper
yang saya katakan
bahwa pluralitas sekarang baru
di
ngkat elit saja belum sampai ke
akar rumput. Ar
nya tergantung
yang mewarnainya atau apa yang
ia baca. Kalau di Islam tergantung
dari para kiai-kiai atau ulama. Di
Katolik tergantung kepada para
pastor sebagai pemangku moral
untuk secara bijak menjelaskan
kepada umat. Insyah Allah umat
juga menger
.
Dan kita jangan terpecah belah
karena gara-gara poli
k. Poli
k
boleh beda tetapi berpoli
klah yang
santun. Kita harus pisahkan mana
wilayah agama dan mana wilayah
poli
k. Jangan kita campuradukkan.
Tetapi soal adanya agama,
kelompok, organisasi yang ingin
mengacak-acak kesatuan Negara
Kesatuan republik Indonesia (NKRI),

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA
pihak aparat jangan main-main,
harus segera ditangani dengan
serius. Buat saya NKRI adalah harga
ma”, tegas Dosen Universitas
Indonesia ini.

Pola pikir yang sama
tentang kebersamaan
Pria yang baru menyelesaikan
gelar doktornya ini, juga
menuturkan “Tugas saya sebagai
ulama serta bapak-bapak yang
di gereja adalah bagaimana
mengembangkan pola pemikiran
yang sama tentang kebersamaan. Di
Islam juga dikenal dengan ukhuwah
islamiyah (persaudaraan seakidah).
Tidak cuma itu, ada ukhuwah
wathoniyah (persaudaraan
nasionalisme) bahwa kita ini satu
bangsa dan ukhuwah basyariyah
(persaudaraan kemanusiaan). Hal
itu sudah lama dikembangkan oleh
Nahdlatultul Ulama (NU) yang
didirikan oleh KH Hasyim Asy’ari.
“Jadi soal ukhuwah islamiyah
(persaudaraan seakidah), ukhuwah
wathoniyah (persaudaraan
nasionalisme), ukhuwah basyariyah
(persaudaraan kemanusiaan),
kalau para pemangku moral
terutama kami yang ada di MUI
terus menyuarakan itu maka Insyah
Allah umat jadi dewasa. Jadi untuk
tetap menjaga suasana kondusif
semuanya berada di ujung lidah
kita”, harapnya.
Dalam kesempatan yang
sama, YB. Djoko Suhono, mantan
pengurus FKUB Kota Depok
menuturkan kegiatan silaturahmi
kepada para tokoh agama, ulama,
pejabat pemerintah sudah
dilakukan seap tahunnya.
“Kunjungan kepada tokoh
agama, ulama termasuk pejabat
pemerintah terutama dalam harihari besar seper Idul Fitri, dalam
beberapa tahun terakhir ini adalah
menjadi kegiatan run dari umat
Katolik untuk mempererat tali
silaturahmi”, ungkap Djoko. nDarius
Lekalawo

Wali Kota Depok, Dr. Ir. H. Nur Mahmudi Ismail,M.Sc:

Pembangunan Sulit
Terwujud Kalau Hubungan
Antar Umat Beragamanya
Kisruh

Saat hari Raya Idul Fitri
1346 H pada 17-18 Juli
2015 lalu, para Imam dan
Umat Katolik Dekenat
Utara Keuskupan Bogor
memanfaatkan moment
istimewa umat Muslim ini
dengan bersilaturahmi
ke kediaman Wali Kota
Depok, Dr. Ir. H. Nur
Mahmudi Ismail, M.Sc
di bilangan Cimanggis
Depok, Jumat (17/7/2015)

S

ambutan penuh hangat dari
sang Wali Kota membuat
suasana cair merasuk dalam
sikap dan keceriaan para tamu
yang hari itu datang ke kediaman
suami dari Nur Azizah Tahmid ini.
Sang Wali Kota pun sangat
mengapresiasi kedatangan umat
Katolik dalam suasana bulan
penuh maaf ini. Kepada para
tamu yang hadir Nur Mahmudi
mengatakan saudara kita
yang Katolik saja dalam seap
Idul Fitri selalu datang untuk
bersilaturahmi. “Kita sebagai
Muslim seharusnya lebih rajin.
Silaturahmi ini terus mereka
lakukan seap tahunnya.
Kalau yang Muslim dak mau
bersilaturahmi malah malu ya, ”
ujarnya sembari tersenyum.
Tahun terakhir sekaligus Idul
Fitri terakhir sebagai Depok Satu,

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

45

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA
Nur Mahmudi dalam wawancara
mengatakan, pertama, dia
mengucapkan banyak terima
kasih kepada semua warga di Kota
Depok atas par
sipasi mereka
dalam membangun Kota Depok
sehingga berada pada
ngkat
kemiskinannya sangat rendah
dibandingkan dengan rata-rata
nasional. Rata-rata kemiskinan
nasional itu 11,67 persen
sementara Kota Depok hanya 2,37
persen.
Kedua,
ngkat par
sipasi
masyarakat juga membuat ratarata lama sekolah di Kota Depok
sudah 11 tahun lebih. Kemudian
angka harapan hidupnya 37,75
persen, dan ini merupakan
posisi ter
nggi nasional kedua
setelah Kabupaten Sleman,
Daerah Is
mewa Jogjakarta.
Hal ini terwujud karena rajinnya
masyarakat untuk membantu
membangun kesehatan, dunia

pendidikan, perekonomiannya.
Sementara ngkat
kesejahteraan warga Depok
sangat bagus karena Indeks
Pembangunan Manusia (IPM)
sudah pada posisi ga besar,
mengalahkan kota-kota legendaris
dan popular bahkan dibanding
kota yang sudah jauh lebih lama
berdiri seper Banten, Bandung,
Surabaya, Solo, Semarang,
Palembang. Kita mengalahkan
semua”, ungkapnya.
Kondisi ini, menurut
Mahmudi, agar semua warga
Depok menger dan mensyukuri
yang kemudian bisa dilanjutkan
untuk menjadi lebih bagus lagi.
“Amanahnya, pendidikan harus
lebih dingkatkan lagi, daya beli
dan ekonomi terus dikuatkan lagi.
Jangan menyerah hanya berhen
hanya cukup pada nomor ga
walaupun saat ini Depok relave
sebuah kota baru,”ujarnya.

Menjadi Gembala dalam
Semangat Martiria

Dia berharap, Kota Depok
bias menjadi nomor satu di
Indonesia. Jadi perlu menjaga
terus masalah kualitas kehidupan
kemasyarakatan termasuk juga
menjaga keharmonisan hubungan
antar umat beragama. “Jadi
Kemajuan ekonomi, pendidikan,
kesehatan dak akan mungkin
terwujud kalau hubungan antar
umat beragamanya kisruh”,
harapnya.
Nur Mahmudi juga berpesan,
Depok kini cendrung damai 
dak ada kekisruhan terkait
intoleransi. “Kita harus selalu
membuka komunikasi, selain itu
kita juga harus memberdayakan
berbagai lembaga-lembaga yang
peduli terhadap kehidupan sosial
kemasyarakatan dan keagamaan.
Jadi berbagai forum atau lembaga
terus kita hidupkan, supaya
tercipta saling pemahaman yang
lebih baik”. nDarius Lekalawo

Pada tanggal 7 – 11 September 2015 diadakan Pertemuan UNIO Regio Jawa. UNIO Regio
Jawa merupakan wadah pertemuan imam-imam diosesan yang diadakan setiap tiga tahun
sekali. Pada kesempatan ini, Keuskupan Agung Semarang mendapat kepercayaan menjadi
tuan rumah dan mengambil tempat di Hotel Puri Asri, Magelang, Jawa Tengah.

T

ema yang diambil adalah:
“Menjadi Gembala Dalam
Semangat Mar
ria” – “Dadi
Pangon Kang Manjing Ajur Ajer”.
Tema ini menurut RD. Purwatmo
ingin memberikan gambaran
seper
yang diungkapkan oleh
Paus Fransiskus: “Menjadi Gembala
yang Berbau Domba”, bagaimana
seorang imam akrab dengan
umatnya.
Dengan pertemuan ini
akan dilihat apakah semangat

46

ini sudah diterapkan atau belum
dalam kehidupan para imam
diosesan. RD. Purwatmo lebih
lanjut mengungkapkan bahwa
semangat marria di Keuskupan
Agung Semarang bisa dilihat dari:
1. Semangat membela iman yang
telah ditampilkan oleh sosok Romo
Sanjoyo, dan 2. Keseaan dan
perjuangan para imam awal hingga
sekarang untuk menekuni tugastugas yang diberikan.
Jadi semangat kemarran

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

menjadi semacam Roh Kudus
bagi para imam yang berjuang
sungguh-sungguh dalam pelayanan.
Beliau juga menyampaikan bahwa
bentuk pertemuan ini bukanlah
Konggres, melainkan pertemuan
persaudaraan yang akan terdiri dari:
Animasi, edukasi dan sekaligus juga
rekreasi.

Kegiatan Pembuka
Pada pukul 17.00 pada 7
September, kegiatan diawali dengan

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA

Ekaris yang dipimpin oleh RD. F.X
Sukendar, Vikjen Keuskupan Agung
Semarang. Dalam Pengantar, beliau
mengungkapkan: “Yesus adalah
gembala baik bagi kita semua. Ia
mengundang para imam untuk
ambil bagian dalam imamatNya
sehingga kita bisa mewujudkan
secara nyata dalam kehidupan
sehari-hari melalui pelayanan
penggembalaan.”
Sedangkan dalam Homilinya,
RD. Sukendar mengungkapkan
bahwa pertemuan ini merupakan
pertemuan syukur atas perjumpaan
imamat karena kita menjadi imam
di tempat tugas masing-masing.
Tugas dalam ketaatan pada uskup
masing-masing keuskupan dan
dalam tugas serta karya.
Lebih lanjut beliau
mengungkapkan “bahwa kita
membuka ha untuk belajar
dan mengalami diperkarya oleh
semangat marria dari romo-romo
pendahulu. Semangat ini mau kita
tempatkan dalam kerangka bacaan
pertama yang kita dengarkan dan
kita renungkan, yaitu pengosongan
diri. Upaya untuk mewujudkan
diri menjadi gembala yang seja
dalam pertemuan ini adalah dengan
melihat kembali perjalanan misi
masa lalu, yang akan kita lihat
bersama dalam beberapa hari

pertemuan yang akan kita lalui”.
Setelah Perayaan Ekaris,
kegiatan dilanjutkan dengan
ucapan selamat datang dari Mgr.
Johanes Pujasumarta (Uskup Agung
Semarang) sekaligus pemukulan
‘kentongan’ sebagai tanda
dimulainya kegiatan ini. Setelah itu
acara dilanjutkan dengan makan
malam, perkenalan dari perwakilan
imam-imam lima keuskupan yang
hadir serta penjelasan kegiatan
untuk esok hari.

Napak Tilas
Pukul 04.15 pada 8 September,
di seap kamar peserta berbunyi
‘Morning Call’ sebagai tanda
peserta harus segera bangun dan
berkumpul di Lobby Hotel untuk
memulai kegiatan hari ini. Terlihat
dari wajah-wajah segar seluruh
peserta, menunjukkan mereka
siap memulai perjalanan napak 
las menuju Stasi Kerug. Setelah
pembagian Bus, peserta berangkat
menuju k pemberangkatan di
tempat rekreasi Rumah Kamera,
Desa Majaksingi.
Sebanya di Lokasi, semua
peserta berkumpul melakukan
pemanasan, dan dilanjutkan
pengarahan dari Kepala Desa
Majaksingi dan Kapolsek
Borobudur. Setelah doa dan foto

bersama, pukul 06.30 peserta
diberangkatkan. Cuaca hari ini
cukup mendukung untuk perjalanan
menyusuri perbukitan Menoreh.
Memasuki rute yang terus
menanjak, rombongan mulai
terpecah menjadi berapa kelompok.
Banyak peserta mulai kelelahan
dan mengucurkan keringat
menaklukkan jalanan berdebu dan
berbatu. Dibeberapa k, nampak
para relawan dari umat setempat
menyapa peserta dan memberikan
bantuan, bahkan ada yang
menyiapkan makanan ringan dan
jamu sebagai pemompa semangat.
Melewa pos pertama, jarak antar
peserta semakin jauh.
Pukul 08.40, sebagian besar
peserta sudah sampai di Kapel St.
Petrus & Paulus Kerug yang menjadi 
k akhir napak las. Pania cukup
terkejut, karena peserta ba lebih
cepat dari waktu yang dijadwalkan.
Sambil menan acara selanjutnya,
peserta menikma hidangan
tradisional yang disedikan oleh
umat setempat. Sebagian besar
peserta terlihat berbaring di kursikursi gereja melepaskan lelah.
Pukul 10.00, acara dilanjutkan
dengan ‘sharing’ dari umat
mengenai misi pertama di tempat
ini. Kemudian kegiatan dilanjutkan
dengan perjalanan menuju Goa

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

47

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA

Maria
Sendangsono. Canda tawa
peserta semakin ramai ke ka
mereka menaiki truk. Banyak dari
mereka menirukan suara-suara
kambing dan sapi yang membuat
umat dan peserta tertawa lepas.
Pukul 12.00, peserta sudah
ba di Goa Maria. Sambil menan
jadwal Ekaris pukul 15.00, banyak
peserta memanfaatkan waktu
untuk dur memulihkan tenaga.

Perayaan Ekaristi
Tahun Hidup Bakti
Pukul 15.00, Ekaris Perayaan
Tahun Hidup Keuskupan Agung
Semarang dimulai. Ekaris yang
dihadiri ribuan umat, serta ratusan
imam dan biarawan-biarawa
ini dipimpin oleh Mgr. Johanes
Pujasumarta didampingi Mgr.
Antonius Subianto (Uskup Bandung)
dan Mgr. Blasius Pujaraharja (Uskup
Emeritus Ketapang) beserta empat
imam yang berkarya di Keuskupan
Agung Semarang.
Dalam Homilinya, Mgr.
Pujasumarta menjelaskan bahwa
perayaan ini sudah dipersiapkan
sejak lama. Beliau juga
menyampaikan melalui perayaan
ini, kita diajak untuk melihat betapa
indahnya panggilan Tuhan. Allah
yang kita imani itu misteri, tetapi
bisa kita imani dan kita alami dalam
hidup kita. Sehingga se ap pribadi
yang menjawab panggilanNya bisa
sampai pada pengosongan diri.
Lebih lanjut beliau
menyampaikan: “misteri itu

48

bermakna
karena ada Yesus Kristus yang
merupakan kabar dari Allah yang
dak kelihatan itu. Yesus Kristus
hadir di tengah-tengah kita
dipersiapkan oleh Allah sendiri
begitu rupa sampai menjadi
manusia oleh karena daya kekuatan
Roh Kudus melalui Bunda Maria
yang kelahirannya kita rayakan hari
ini.” Jaman sekarang mungkin orang
acuh tak acuh dengan misteri Tuhan
itu. Hal ini terjadi karena buah-buah
dari sekularisme yang melanda
dunia ini.
Dalam Perayaan Ekaris
ini, juga diadakan pengucapan
Kaul Eremit Diosesan oleh Romo
Mar nus Suhartono Sanjoyo yang
selama lima tahun ini mencoba
hidup seturut cara hidup eremit.
Pukul 17.10, Perayaan Tahun Hidup
Bak selesai. Para peserta kegiatan
UNIO regio jawa melanjutkan
kegiatan dengan berkumpul di
Paroki Promasan dan kemudian
menuju penginapan.

Seminar dan
Kunjungan
Setelah para peserta
menyelesaikan kegiatan hari
pertama dan kedua, pada hari
ke ga, mereka ‘disuguhkan’ jadwal
studi dan berbagi pengalaman
seputar Imam Diosesan dan
bagaimana menjadi Imam Diosesan
masa kini dan masa depan.
Setelah sarapan, pukul 08.10
kegiatan studi dimulai dengan
pembicara Mgr. Blasius Pujaraharja

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

dan
RD. Dominikus
Bambang. Kedua narasumber
memaparkan lika-liku awal
keberadaan Imam Diosesan. Mgr.
Blasius memulai dengan ungkapan
“Sejarah adalah guru kehidupan”.
Beliau juga mencoba melihat
kembali pengalaman napak las
dihari kedua, meskipun hanya
sebentar, namun menghadirkan
pengalaman.
Sedangkan tentang Imam
Diosesan pertama Keuskupan
Agung Semarang beliau
mengungkapkan bahwa Imam
perin s berani memulai sesuatu
yang baru dalam kesendirian di
tengah-tengah imam-imam tarekat.
Mereka harus menemukan sendiri
ja diri Imam Diosesan.
Lebih lanjut beliau juga
mengungkapkan Imam Projo itu
hidup sendiri tanpa kelompok yang
mendukungnya, hanya bergantung
pada uskup dan keuskupannya.
Untuk meneruskan karya perin s,
mereka pada awalnya dak
didukung finansial yang mencukupi.
Selain itu, hingga beberapa tahun
yang lalu, imam projo seolah-olah
dianggap sebagai imam kelas dua
yang hidupnya dak diikat dengan
pengucapan kaul.
Sedangkan RD. Bambang
mengungkapkan pengalaman
pribadi yang dianggap sebagai
imam kelas empat, disamakan
dengan awam. Beliau juga
mengungkapkan penilaianpenilaian itu muncul dikalangan

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA
umat awam. Catatan akhir dari dua
pembicara setelah tanya jawab
adalah: ciri utama dari Imam
Diosesan yang mau ditampilkan
adalah kemesraan dengan umat
awam terutama yang lemah tanpa
melepaskan jaringan dengan imamimam dari tarekat yang lain.
Sejarah adalah catatan data,
tetapi lebih dari itu bagaimana kita
mampu menafsirkan catatan data di
masa lalu. Kita bersama diingatkan
perlu adanya ruang rohani yang
menjadi dasar misioner. Munculnya
imam kelas, dak akan muncul
lagi bila karya yang dipercayakan
mampu dijalankan dengan
sungguh-sungguh.
Setelah menikma snack,
kegiatan dilanjutkan dengan 2
narasumber berikutnya yaitu: Mgr.
Vincenus Sukno dan RD. Simon
L Tjahjadi. Pembicara pertama,
RD. Simon mengungkapkan
pemaparan melalui pendekatan
historis supaya menger asalnya
sehingga mengetahui tujuan.
“Siapa yang dak mengenali masa
lalunya akan mengulangi kesalahan
yang sama” itulah mengapa beliau
mengungkapkan pendekatan
historis begitu penng. Dengan
gamblang beliau memberikan
pemetaan perkembangan imam
diosesan.
Dibagian kedua, Mgr.
Sukno lebih pada pengungkapan
gambaran Imam Diosesan dan
bagaimana beliau dalam karya
di Keuskupan Surabaya bersama
juga dengan para imam projonya.
Selain kedua pembicara tersebut,
Mgr. Antonius Subianto juga
diminta untuk mengungkapkan
pengalamannya. Dengan canda
khasnya beliau sempat juga
menyampaikan pengalaman
dianggap sebagai “kacang lupa
kulitnya” karena dalam berbagai
kesempatan terlihat fokus pada
imam projo.
Pada session sore, ‘disuguhkan’
pembicara dari perwakilan umat

untuk menyampaikan harapanharapan mengenai Imam Diosesan.
Esok harinya, Kamis 10
September 2015, kegiatan diisi
dengan keliling beberapa karya
Keuskupan Agung Semarang dan
rekreasi bersama di pantai Goa
Cemara, Bantul, DI Jogyakarta.
Perjalanan pertama adalah menuju
Museum Misi di Munˆlan. Peserta
diperkenalkan dengan gambaran
sejarah Keuskupan Agung Semarang
dan tokoh-tokoh yang berperan di
dalamnya.
Setelah itu, peserta
mengunjungi Arena Pengembangan
Kaum Muda (APKM) di Jalan
Kaliurang. Disana peserta mendapat
suguhan makanan tradisional serta
kopi ala café modern hasil cipta
dari anak-anak muda. Pukul 13.15,
peserta melanjutkan kegiatan
dengan mengunjungi tempat
konservasi penyu di Pantai Goa
Cemara.
Selain berekreasi dan
mendapatkan pengetahuan
mengenai konservasi penyu, para
imam diberi kesempatan untuk
melepaskan anak-anak penyu.
Kegiatan hari keempat ditutup
dengan mengunjungi Paroki
Ganjuran dan mendengarkan
‘sharing’ bersama RD. Gregorius
Utomo.

Penutup Kegiatan
Pukul 06.00-07.00, kegiatan
dimulai dengan pertemuan
perwakilan imam dari keuskupan
regio jawa untuk membahas
rekomendasi kegiatan untuk
dipaparkan kepada semua peserta.
Setelah sarapan, pukul 08.10,
disampaikan hasil pembahasan
yang sudah menjadi rekomendasi
bersama. Rekomendasi ini juga
menjadi acuan untuk kegiatan
Temu Imam Diosesan Regio Jawa
selanjutnya.
Seluruh rangkaian kegiatan
selama lima hari ini ditutup dengan
Perayaan Ekarisˆ yang dipimpin

oleh Mgr. Blasius didampingi ketua
unio masing-masing keuskupan
pukul 10.00. Dalam kata pembuka
misa, Mgr. Blasius menyampaikan
ungkapan syukur untuk pertemuan
yang telah berjalan dengan
baik. Pertanyaan reflekˆf dari
beliau: “Apakah sudah tercapai
persaudaraan diantara para
Imam Diosesan? Apakah tercapai
penyegaran untuk bekal pelayanan
kita? Apakah semangat bermaˆria
dan menggembalakan semakin
muncul? Kita telah menghasilkan
rekomendasi. Kita serahkan itu
semua dalam ekarisˆ ini”.
Sedangkan dalam homili
beliau mengangkat kembali
tema “Menjadi Gembala Dalam
Semangat Marˆria: dadi pangong
kang manjing ajur ajer” harus bisa
muncul sebagai pria dan wanita,
tetapi jangan menjadi waria; atau
prinsip “Forter in re, Suaviter
in modo” Kuat dalam prinsip,
lemah lembut dalam cara. Terkait
dengan tugas imamat, Santo Paulus
memberikan inspirasi bahwa dia
diperintah menjadi utusan bukan
karena kehendak sendiri tetapi oleh
Yesus.
Imamat bukanlah jenjang
karir, tetapi panggilan. Maka
Paulus mampu mengungkapkan
“aku hidup, bukan lagi aku yang
hidup melainkan Kristus yang
hidup dalam diriku”. Kalau kita
bersatu dengan Kristus, kita akan
aman dan berbuah. Mgr. Blasius
mengungkapkan kebersatuan
dengan umat sangat penˆng untuk
mewujudkan “Gembala yang
berbau domba”.
Setelah perayaan Ekarisˆ
dan sambutan-sambutan, seluruh
rangkaian kegiatan ditutup dengan
pemukulan kentongan oleh ketua
UNIO se-regio Jawa, serta kemudian
makan siang bersama. Marilah
menjadi gembala yang berbau
domba. Sampai jumpa tahun 2018
di Keuskupan Bogor.
nRD. Yustinus Joned Saputra

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

49

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA

Tahbisan Presbiterat Keuskupan Bogor

Menjadi Gambar Kristus
yang Nyata

R

atusan umat dan para Pastor di
Keuskupan Bogor menghadiri
Tahbisan Presbiterat di Gereja
Santo Joseph Sukabumi, Selasa
(29/9). Tahbisan yang bertepatan
dengan Pesta Malaikat Agung
Mikael, Gabriel dan Rafael ini
dipimpin langsung oleh Uskup
Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur
didampingi oleh RD. Ch Tri Harsono
selaku Vikjen Keuskupan Bogor,
RD. Nikasius Jatmiko selaku
Rektor Seminari Tinggi St. Petrus
dan Paulus Keuskupan Bogor, RP.
Yohanes Indrakusuma CSE selaku
Pemimpin Umum Tarekat CSE dan
RD. Jimmy Rampengan selaku
Pastor Paroki St. Joseph Sukabumi,
2 Diakon Diosesan Keuskupan
Bogor dan 2 Diakon tarekat CSE. Yang
ditahbiskan menjadi Pastor
hari ini adalah Diakon Marselinus
Wisnu Wardana, Diakon Bonifasius
Heribertus Beke, Diakon Alvares
Maria CSE, dan Diakon Hieronymus
a Spiritu Sancto CSE. Bapa Uskup
berharap agar para imam tertahbis

50

dapat menjadi citra Allah yang
sejaŒ. “Saya berharap para
imam khususnya Anda sekalian
yang ditahbiskan pada hari ini
dapat menjadi 'in persona ChrisŒ'
yaitu gambar Kristus yang nyata
baik dikalangan umat maupun
masyarakat,” tukasnya.
Dalam homilinya Mgr.
Paskalis menjelaskan mengenai
3 tugas utama para imam yaitu
menyebarkan Injil atau kabar
gembira, menggembalakan umat,
dan merayakan peribadatan Ilahi
yaitu sakramen-sakramen dalam
Gereja Katolik. Bapa Uskup juga
mengajak para imam serta segenap
umat yang hadir untuk menanggapi

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

ajakan Paus Fransiskus. “Mari
kita menampilkan potret Kristus
yang bersukacita seperΠyang
dituturkan dalam ensiklik Paus
Fransiskus yang pertama Evangelii
Gaudium (Sukacita Injil). Kita
semua juga diajak untuk menjadi
umat yang berbelas kasih karena
Allah pun demikian, oleh karena
itu Bapa Suci secara khusus mulai
8 Desember 2015 memulai tahun
belas kasih atau Kerahiman Ilahi.
Kemudian dalam ensikliknya yang
terakhir 'Laudato Si', kita diajak untuk
mencintai semesta alam yang
menjadi sahabat kita juga dalam
perziarahan hidup di dunia ini.”
Diakhir perayaan Bapa Uskup
dan RP. Yohanes Indrakusuma
mengumumkan tugas baru
dari para Pastor tertahbis. RD.
Marselinus Wisnu Wardhana
menjadi Manager di PT. Grafika
Mardi Yuana milik Keuskupan Bogor
dan Vikaris Paroki BMV Katedral
Bogor, RD. Bonifasius Heribertus
Beke menjadi Vikaris Paroki St.
Joseph Sukabumi, RP. Alvares
Maria CSE akan ditempatkan di
Lembah Karmel Cikanyere, dan
RP. Hieronymus a Spiritu Sancto
CSE akan ditempatkan di Seminari
Tinggi milik CSE di Kalimantan.
Proficiat Keuskupan Bogor!

nAloisius Johnsis

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

51

ISU NUSANTARA DAN

MANCANEGARA

52

MEKAR | EDISI 03 | TAHUN XXV | OKTOBER - DESEMBER 2015

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful