EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

A. PENGANTAR Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kedokteran mendorong para tenaga ahli selalu mengadakan riset terhadap bebagai penyakit termasuk salah satunya adalah penyakit menular demi mengatasi kejadian penderitaan dan kematian akibat penyakit B. TIGA KELOMPOK UTAMA PENYAKIT MENULAR 1. Penyakit yang sangat berbahaya karena angka kematian cukup tinggi. 2. Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan kematian dan cacat, walaupun akibatnya lebih ringan dari yang pertama 3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian dan cacat tetapi dapat mewabah yang menimbulkan kerugian materi. C. TIGA SIFAT UTAMA ASPEK PENULARAN PENYAKIT DARI ORANG KE ORANG 1. Waktu Generasi (Generation Time) Masa antara masuknya penyakit pada pejamu tertentu sampai masa kemampuan maksimal pejamu tersebut untuk dapat menularkan penyakit. Hal ini sangat penting dalam mempelajari proses penularan. Perbedaan masa tunas denga wakru generasi yaitu Masa tunas ditentukan oleh masuknya unsur penyebab sampai timbulnya gejala penyakit sehingga tidak dapat ditentukan pada penyakit dengan gejala yang terselubung, waktu generasi ialah waktu masuknya unsur penyebab penyakit hingga timbulnya kemampuan penyakit tersebut untuk menularkan kepada pejamu lain walau tanpa gejala klinik atau terselubung.

2. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity) Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut. Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu. Wabah terjadi karena 2 keadaan :

barak dimana keadaan sangat tertutup dan mudah terjadi kontak langsung. cacat atau meninggal. kultur tenggorokan. Infeksi Terselubung (Tanpa Gejala Klinis) Adalah keadaan suatu penyakit yang tidak menampakkan diri secara jelas dan nyata dalam bentuk gejala klinis yang jelas sehingga tidak dapat didiagnosa tanpa cara tertentu seperti test tuberkulin. mulai dari gejala klinik yang tidak tampak sampai keadaan yang berat disertai komplikasi dan berakhir cacat atau meninggal dunia. 1. Angka serangan ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penularan dan tingkat keterancamam dalam keluarga. Ex: Asrama mahasiswa/tentara. Penyembuhan dapat lengkap atau dapat berlangsung jinak (mild) atau dapat pula dengan gejala sisa yang berat (serve sequele). • Bila suatu populasi tertutup seperti asrama. Akhir dari proses penyakit adalah sembuh. D. Spektrum Penyakit Menular Pada proses penyakit menular secara umum dijumpai berbagai manifestasi klinik. masuknya sejumlah orang-orang yang peka terhadap penyakit tertentu dalam populasi tsb. Angka Serangan (Attack Rate) Adalah sejumlah kasus yang berkembang atau muncul dalam satu satuan waktu tertentu di kalangan anggota kelompok yang mengalami kontak serta memiliki risiko atau kerentanan terhadap penyakit tersebut.• Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau kemasukan suatu agen penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut. pemeriksaan antibodi dalam tubuh dll. sistem hubungan keluarga dengan masyarakat serta hubungan individu dalam kehidupan sehari-hari pada kelompok populasi tertentu merupakan unit epidemiologi tempat penularan penyakit berlangsung. dimana tata cara dan konsep keluarga. Formula angak serangan ini adalah banyaknya kasus baru (tidak termasuk kasus pertama) dibagi dengan banyaknya orang yang peka dalam satu jangka waktu tertentu. Untuk mendapatkan perkiraan besar dan luasnya infeksi terselubung dalam masyarakat maka perlu dilakukan pengamatan atau survai epidemiologis . MANIFESTASI KLINIK SECARA UMUM 1. 3.

Penyakit yang umumnya berakhir dengan kematian Kelompok penyakit yang menunjukkan proses kejadian yang umumnya berakhir dengan kelainan atau berakhirnya dengan kematian. Contoh: Rabies F. b. keterangan untuk kepentingan pendidikan. Tuberkulosis. amuba. dll.dan tes tertentu pada populasi. Kelompok protozoa seperti plasmodium. Contoh. Hepatitis A II. c. Kelompok cacing/helminth baik cacing darah maupun cacing perut. Faktor Penyebab Penyakit Menular Pada proses perjalanan penyakit menular di dalam masyarakat faktor yang memegang peranan penting : • Faktor penyebab atau agent yaitu organisme penyebab penyakit • Sumber penularan yaitu reservoir maupun resources • Cara penularan khusus melalui mode of transmission Unsur Penyebab Dikelompokkan Dalam : a. karena umumnya penderita muncul dengan gejala klasik. patogenisitas rendah. dll. Contoh :Measles. Hasil survai ini dapa digunakauntuk pelaksanaan program. . tidak tampak pada berbagai tingkatan. sebagian besar penderuta tampak secara klinis dan dapat dengan mudah didiagnosa. GAMBAR PENYEBARAN KARAKTERISTIK MANIFESTASI KLINIK DARI TIGA JENIS PENYAKIT MENULAR I. KOMPONEN PROSES PENYAKIT MENULAR 1. Kelompok arthropoda (serangga) seperti scabies. Lebih banyak dengan gejala klinik jelas Kelompok dengan bagian terselubung kecil. chickenpox III. E. pediculosis. Poliomyelitis. Lebih banyak dengan tanpa gejala klinik (terselubung) Kelompok penyakit dengan keadaan lebih banyak penderita tanpa gejala atau hanya gejala ringan saja.

mukosa ataukulit 1. 5. suntikan. 2. 3. Penderita Pembawa kuman Binatang sakit Tumbuhan/benda Cara Penularan 1. Sumber Penularan 1. 2. 4. 2. e. 4. Patogenesis Patogenesis adalah kemampuan untuk menghasilkan penyakit dengan gejala klinis yang jelas . 3. luka placenta 1. 4. f. Virus sebagai kelompok penyebab yang paling sederhana. 3. Infektivitas Infektivtas adalah kemampuan unsur penyebab atau agent untuk masuk dan berkembang biak serta menghasilkan infeksi dalam tubuh pejamu. Kontak langsung Melalui udara Melalui makanan atau minuman Melalui vector Keadaan Pejamu 1. a. 4. Bakteri termasuk spirochaeta maupun ricketsia. saluran pencernaan saluran pernapasan saluran urogenitalia gigitan. Fungus atau jamur baik uni maupun multiselular. 3. Keadaan umum Kekebalan Status gizi Keturunan Cara keluar dari sumber dan cara masuk ke pejamu melalui : 1. 2. Interaksi Penyebab dengan Pejamu a.d.

Ketidakmampuan membentuk daya tangkal (immuno supression) 1. 6. Pes (plaque) Tikus Rabies (penyakit anjing gila Anjing Bovine Tuberculosis Sapi Thypus. Beberapa penyakit Zoonosis utama dan reservoir utamanya 1. Penyakit ini umumnya berpindah dari manusia ke manusia dan hanya dapat menimbulkan penyakit pada manusia saja. Rangsangan imunologis atau reaksi alergi yang menyebabkan kerusakan pada tubuh pejamu d. Invasi jaringan secara langsung b. Scrub & Murine Tikus Leptospirosis Tikus Virus Encephlitides Kuda Trichinosis Babi Hidatosis Anjing 9. Sumber penularan a. Merangsang kerentanan pejamu terhadap obat dalam menetralisasi toksisitas f. Brocellossis Sapi. 2. Mekanisme Patogenesis a.a. Reservoir binatang atau benda lain Selain dari manusia sebagai reservoir maka penyakit menular yang mengenai manusia dapat berasal dari binatang terutama yang termasuk dalam kelompok penyakit zoonosis. 3. 8. 7. 4. Infeksi yang menetap (infeksi laten) e. Manusia sebagai reservoir Kelompok penyakit menular yang hanya dijumpai atau lebih sering hanya dijumpai pada manusia. 5. Produksi toksin c. Imunogenisitas Imunogenisitas adalah suatu kemampuan menghasilkan kekebalan atau imunitas 1. a. a. Virulensi Virulensi adalah nilai proporsi penderita dengan gejala klinis yang berat terhadap seluruh penderita dengan gejala klinis jelas. kambing .

3. Pengantar epidemiologi. “Mereka yang baru sembuh dari penyakit menular tertentu tetapi masih merupakan sumber penularan penyakit tersebut untuk masa tertentu”. jakarta. “Mereka yang masih dalam masa tunas tetapi telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit”. “Mereka yang dalam sejarahnya tidak pernah menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi mengandung unsur penyebab yang dapat menular kepada orang lain”. bentuk pembawa kuman (carrier) dapat dibagi dalam beberapa jenis : 1. rineka cipta 3. Arsip mata kuliah fkm unhas 2006 . Incubatory carrier (masa tunas). Chronis carrier (menahun). eko. Budiarto. Bustan mn ( 2002 ). 2.2003. tetapi harus melalui perantara hidup Referensi : 1. Pengantar epidemiologi. Healthy carrier (inapparent). Manusia dalam kedudukannya sebagai reservoir penyakit menular dibagi dalam 3 kategori utama : 1) Reservoir yang umumnya selalu muncul sebagai penderita 2) Reservoir yang dapat sebagai penderita maupun sebagai carrier 3) Reservoir yang umumnya selalu bersifat penderita akan tetapi dapat menularkan langsung penyakitnya ke pejamu potensial lainnya. Convalescent carrier (baru sembuh klinis). Nasry.jakarta: penerbit buku kedokteran egc 2. nur dasar-dasar epidemiologi 4.Melihat Perjalanan penyakit pada pejamu. 4. “Merupakan sumber penularan yang cukup lama”.

Imunisasi 2. 2008 by mirzal tawi 2. (Depkes RI. Adapun tujuan imunisasi adalah merangsang sistim imunologi tubuh .1.1. Kebal atau resisten terhadap suatu penyakit belum tentu kebal terhadap penyakit lain. Jadi Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manuasia. kebal atau resisten. Sedangkan kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi serangan kuman tertentu.1. 1994) Dalam ilmu kedokteran. imunitas adalah suatu peristiwa mekanisme pertahanan tubuh terhadap invasi benda asing hingga terjadi interaksi antara tubuh dengan benda asing tersebut.Imunisasi dan Faktor Yang Mempengaruhinya May 12. Pengertian Imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun.

Akhirnya lebih dari 80% bayi di Indonesia mendapat imunisasi lengkap sebelum ulang tahunnya yang pertama.2. 2. difteri.1.untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). 2. Dengan strategi akselerasi.1. Pentingnya Imunisasi dan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan merupakan bagian kedokteran preventif yang mendapatkan prioritas. difteri. pertusis dan tetanus neonatorum. Pada akhir tahun 1989. Kasus cacar terakhir di Indonesia ditemukan pada tahun 1972 dan pada tahun 1974 Indonesia secara resmi dinyatakan Negara bebas cacar. program imunisasi telah dimulai sejak abad ke 19 untuk membasmi penyakit cacar di Pulau Jawa. walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. 2000) 2. (Abednego. Dengan penerapan strategi mobilisasi social dan pengembangan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). Strategi ini terutama ditujukan untuk memperkuat infrastruktur dan kemampuan manajemen program. Ketujuh penyakit tersebut dimasukkan pada program imunisasi yaitu penyakit tuberkulosis.2. Dengan bantuan donor internasional (antara lain WHO. 2000) Pada tahun 1984. Program Imunisasi Di Indonesia. UNICEF. sebanyak 96% dari semua kecamatan di tanah air memberikan pelayanan imunisasi dasar secara teratur. (Musa.2. pemerintah bertekad untuk mencapai Universal Child Immunization (UCI) yaitu komitmen internasional dalam rangka Child Survival pada akhir tahun 1990. (Depkes RI. Tuberkulosis . polio. UCI ditingkat nasional dapat dicapai pada akhir tahun 1990. cakupan imunisasi dapat ditingkatkan menjadi 73% pada akhir tahun 1989. campak dan hepatitis-B. tetanus. pertusis. DPT dan TT secara berturut-turut untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit-penyakit TBC anak. Tahun 1981 dan 1982 berturut-turut mulai diperkenalkan antigen polio dan campak yang dimulai di 55 buah kecamatan dan dikenal sebagai kecamatan Pengembangan Program Imunisasi (PPI). Tahun 1977 sampai dengan tahun 1980 mulai diperkenal kan imunisasi BCG. cakupan imunisasi lengkap secara nasional baru mencapai 4%. 1997) Dengan status program demikian. (Depkes RI. Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat. menyebutkan imunisasi adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. 1985) Departemen Kesehatan RI (2004). USAID) program berupaya mendistribusikan seluruh kebutuhan vaksin dan peralatan rantai dinginnya serta melatih tenaga vaksinator dan pengelola rantai dingin .

Berdasarkan hasil surveilans AFP (Acute Flaccide Paralysis) dan pemeriksaan laboratorium. 2. (Depkes RI. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang. Kejadian seperti ini sering kali ditemukan pada persalinan yang dilakukan oleh dukun kampong akibat memotong tali pusat memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. daun-daunan dan sebagainya. Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak terdapat di negara yang sedang berkembang.5. penyakit ini sejak tahun 1995 tidak ditemukan di Indonesia. untuk mencegah kejadian tetanus neonatorum ini adalah dengan pemberian imunisasi. Penyakit ini merupakan penyakit yang cukup serius pada bayi usia dini dan tidak jarang menimbulkan kamatian.2. 2. Pada penduduk yang belum divaksinasi ternyata anak yang berumur 1-5 tahun paling banyak diserang karena kekebalan (antibodi) yang diperolah dari ibunya hanya berumur satu tahun. terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum).6. Penyakit ini dapat merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan terutama di daerah yang padat penduduk. Poliomielitis Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. 2. Penyakit difteri mempunyai kasus kefatalan yang tinggi. Seperti halnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut lainnya. Penyakit TBC ini dapat menyerang semua golongan umur dan diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang TB denga kematian 3 juta orang per tahun.2. Difteri Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae merangsang saluran pernafasan terutama terjadi pada balita.2.2.Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). pertusis sangat mudah dan cepat penularannya.2. 2. 1992). Campak . Tetanus Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman bakteri Clostridium tetani.4. Oleh karena itu. 2. Pertusis Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Bordotella pertusis pada saluran pernafasan. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan. Di negara-negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Namun kasus AFP ini dalam beberapa tahun terkahir kembali ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. Penyakit terjadi karena kuman Clostridium tetani memasuki tubuh bayi lahir melalui tali pusat yang kurang terawat.2.3. abu.

apakah vaksin ckup tersedia. Tujuan Pelaksanaan Imunisasi Tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya infeksi penyakit yang dapat menyerang anak-anak. pengecekan lemari es normal. balita/ anak-anak pra sekolah. peralatan yang cukup untuk penyuntikan yang aman dan sterl. Dengan demikian integrasi imunisasi Hepatitis B ke dalam imunisasi dasar pada kelompok bayi dan anak-anak merupakan langkah yang sangat diperlukan. supervisor dan petugas imunisasi vaksinasi. Penyakit ini masih merupakan satu masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensinya cukup tinggi. Dibeberapa daerah penyakit ini dikaitkan dengan nasib yang harus dialamai oleh semua anak. Penyebabnya virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar saat penderita bernafas. tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah penyakit dan kematian bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh wabah yang sering muncul. Hal ini dimaksudkan agar mereka terlindungi dari penularan hepatitis B sedini mungkin dalam hidupnya. Untuk tercapainya program tersebut perlu adanya pemantauan yang dilakukan oleh semua petugas baik pimpinan program. mengetahui permasahan yang ada. Pemerintah Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan angka kesakitan. Menurut Depkes RI (2001). hasil imunisasi dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. Hepatitis B Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B. batuk dan bersin (droplet). dan termasuk penyakit akut dan sangat menular. sedangkan di daerah lain dikaitkan dengan pertumbuhan anak.Penyakit campak (Measles) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak.7. Hal-hal yang perlu dilakukan pemantauan (dimonitor) sebagaimana disebutkan oleh Sarwono (1998) adalah sebagai berikut : Pemantauan ringan adalah memantau hal-hal sebagai berikut apakah pelaksanaan pemantauan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hal ini perlu dilakukan untuk memperbaiki program. menyerang hampir semua anak kecil. . Penyakit ini pada umumnya sangat dikenal oleh masyarakat terutama para ibu rumah tangga. Tujuan pemantauan menurut Azwar (2003) adalah untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan kerja.2. apakah diantara 6 penyakit yang dapat discegah dengan imunisasi dijumpai dalam seminggu. 2. kematian pada bayi. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian imuniasi sedini mungkin kepada bayi dan anak-anak.3. Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu melalui pemberian imunisasi hepatitis pada bayi dan anak-anak. 2.

(Notoatmodjo.1.4. pertusis dan tetanus adalah dengan pemberian vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan ditambah dengan bakteri bortella pertusis yang telah dimatikan.3. berarti program sangat berhasil. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadi tuberkulin konversi pada tempat suntikan. Bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat antara 50-75% dari target.4. Vaksinasi Polio Untuk kekebalan terhadap polio diberikan 2 tetes vaksin polio oral yang mengandung viruis polio yang mengandung virus polio tipe 1. 2005) 2. 2005) 2.5 ml diberikan secara subkutan atau intramuscular pada bayi yang berumur 2-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 4 minggu. vaksin BCG harus disimpan pada suhu 20 C.4.05 ml. Ada tidaknya tuberkulin konversi tergantung pada potensi vaksin dan dosis yang tepat serta cara penyuntikan yang benar. hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT. Gejala biasanya demam ringan dan reaksi lokal tempat penyuntikan.4. bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat antara 75-100% dari target. Vaksinasi BCG Vaksinasi BCG diberikan pada bayi umur 0-12 bulan secara suntikan intrakutan dengan dosis 0. 2005) 2. pada kedua tingkat ini perlu mempertimbangkan pula memonotoring evaluasi pemakaian vaksin. Bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat dibawah 25% dari target berarti program sama sekali tidak berhasil. berarti prgram cukup berhasil dan bila garis pencapaian dalam 1 tahun dibawah 50% dari target berabrti program belum berhasil.4. 2003) 2. Untuk menjaga potensinya. Vaksinasi DPT Kekebalan terhadap penyakit difteri. kejang.2. Disamping itu. Vaksinasi Campak . Vaksin yang diberikan melalui mulut pada bayi umur 2-12 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak waktu pemberian 4 minggu. Jadwal Pemberian Imunisasi 2. menangis yang berkepanjangan lebih dari 3 jam. Untuk tingkat kabupaten dan provinsi. (Depkes RI. 2 dan 3 dari Sabin. Reaksi spesifik yang timbul setelah penyuntikan tidak ada. maka penilaian diarahkan pada penduduk tiap kecamatan dan kabupaten. Untuk mengetahui keberhasilan program dapat dengan melihat seperti. (Depkes RI. dapat digambarkan masing-masing desa. kesadaran menurun.Cara memantau cakupan imunisasi dapat dilakukan melalui cakupan dari bulan ke bulan dibandingkan dengan garis target. Dosis penyuntikan 0. Kelebihan dosis dan suntikan yang terlalu dalam akan menyebabkan terjadinya abses ditempat suntikan. (Depkes RI. Bila ada reaksi yang berlebihan seperti suhu yang terlalu tinggi.4.

Pemberian imunisasi lebih awal rupanya terbentur oleh adanya zat anti kebal bawaan yang berasal dari ibu (maternal antibodi). 1985). sebelum terkena infeksi virus campak secara alami. Imunisasi dasar yang tidak lengkap. Walaupun cakupan imunisasi tidak sama dengan 100% tetapi sudah mencapai 70% maka anal-anak yang tidak mendapatkan imunisasi pun akan terlindungi oleh adanya suatu “herd immunity”. Pemberian tetanus toksoid pada ibu hamil dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum pada bayi baru lahir yang ditolong dengan tidak steril dan pemotongan tali pusat memakai alat tidak steril.5 ml pada anak umur 9-12 bulan.Vaksin yang diberikan berisi virus campak yang sudah dilemahkan dan dalam bentuk bubuk kering atau freezeried yang harus dilarutkan dengan bahan pelarut yang telah tersedia sebelum digunakan. yaitu kesalahan program/tehnik pelaksanaan imunisasi. (Ibrahim. kemerahan. Polio 4 kali dan Campak 1 kali) pada waktu anak berusia kurang dari 11 bulan. sehingga imunisasi ulangan masih diberikan 4-6 bulan kemudian. DPT 3 kali. 1991). menyatakan bahwa bila imunisasi dasar dilaksanakan dengan lengkap dan teratur. 2005): 2.5. (Depkes RI. Vaksin sebagai suatu produk biologis dapat memberikan efek samping yang tidak diperkirakan sebelumnya dan tidak selalu sama reaksinya antara penerima yang satu dengan penerima lainnya. ternyata dapat menghambat terbentuknya zat kebal campak dalam tubuh anak. Manfaat dan Efek Samping Imunisasi Imunisasi bertujuan untuk merangsang system imunologi tubuh untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit. faktor kebetulan dan penyebab tidak diketahui. maksimal hanya dapat memberikan perlindungan 25-40%. Gejala lokal seperti nyeri. nodelle/ pembengkakan dan . Imunisasi poliomyelitis dapat memberikan perlindungan seumur hidup apabila telah diberikan 4 kali. Penyebab kejadian ikutan pasca imunisasi terbagi atas empat macam. Suntikan ini diberikan secara subkutan dengan dosis 0. Di negara berkembang imunisasi campak dianjurkan diberikan lebih awal dengan maksud memberikan kekebalan sedini mungkin. (Musa. Gejala klinis KIPI dapat dibagi menjadi dua yaitu gejala lokal dan sistemik. Pengertian teratur dalam hal ini adalah teratur dalam mentaati jadwal dan jumlah frekuensi imunisasi. Maka untuk Indonesia vaksin campak diberikan mulai abak berumur 9 bulan. Imunisasi terhadap difteri dan pertusis dimulai sejak umur 2-3 bulan dengan selang 4-8 minggu sebanyak 3 kali akan memberikan perlindungan mendekati 100% sampai anak berusia 1 tahun. induksi vaksin. Imunisasi campak diberikan 1 kali akan memberikan perlindungan seumur hidup. Sedangkan anak yang sama sekali tidak diimunisasi tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi. maka imunisasi dapat menguragi angka kesakitan dan kematian balita sekitar 80-95%. sedangkan yang dimaksud imunisasi dasar lengkap adalah telah mendapat semua jenis imunisasi dasar (BCG 1 kali. Berdasarkan hasil penelitian Ibrahim (1991). Efek samping imunisasi yang dikenal sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immunization (AEFI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga berhubungan dengan imunisasi.

Selanjutnya hasil penelitian Ibrahim D. lemas.21 -5.Perbedaan pengalaman terhadap masalah kesehatan/penyakit dan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh umur individu tersebut (Noor. semakin tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin diperhitungkan. Pada penelitian ini .dalam hal ini adalah jarak rumah dengan puskesmas/tempat pelayanan kesehatan.Muhammad. Pendidikan Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku. . status perkawinan.2. Menurut Azwar (1996).Selanjutnya penyebaran masalah kesehatan menurut waktu dipenaguruhi oleh kecepatan perjalanan penyakit dan lama terjangkitnya suatu penyakit. dan status sosial ekonomi berhubungan dengan cakupan imunisasi dan opini orang tua tentang vaksin berhubungan dengan status imunisasi anak mereka.2. 2. jenis kelamin.05). tempat dan waktu.Azrul (1999) salah satu faktor yang menentukan terjadinya masalah kesehatan di masyarakat adalah ciri manusia atau karakteristik .2.27). Muhammad. Dari penelitian Ali. pendidikan.2002). Begitu juga halnya dalam masalah status imunisasi dasar bayi juga dipengaruhi oleh karakteristik ibu dan faktor tempat. 2000) 2.dan agama. ras.2.53 95% CI: 1. (Depkes.karakteristik ibu yang peneliti diteliti adalah : 2.indurasi pada lokasi suntikan. Menurut Azwar.Yang termasuk dalam unsur karakteristik manusia antara lain: umur. keadaan penduduk dan keadaan pelayanan kesehatan. kelompok dan masyarakat dibedakan atas tiga macam yaitu : Ciri-ciri manusia/karakteristik.N.P.(2001) menunjukkan bahwa karakteristik ibu yang erat hubungannya dengan status imunisasi campak anak umur 9-36 bulan adalah: umur ibu yaitu umur ibu yang dihitung sejak lahir sampai saat penelitian.Penelitian Salma Padri.Sedangkan dari segi tempat disebutkan penyebaran masalah kesehatan dipengaruhi oleh keadaan geografis.status sosial ekonomi.pendidikan. besarnya risk serta sifat resistensi.Muhammad (2002) didapatkan bahwa usia ibu berhubungan dengan pengetahuan dan perilaku mereka terhadap imunisasi (p < 0.N.Penelitian ini menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian Lubis (1990. sehingga dapat memilih dan membuat keputusan dengan lebih tepat. Gejala sistemik antara lain panas. merupakan suatu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dan pendidikan dapat mendewasakan seseorang serta berperilaku baik.( Ali.Umur mempunyai hubungan dengan tingkat keterpaparan.1 Umur Umur merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang sangat utama.dkk (2000) juga menemukan bahwa faktor utama yang berhubungan dengan imunisasi campak adalah umur ibu (OR 2.ras/etnik. gejala gangguan pencernaan.Karakteristik Ibu Penyebaran masalah kesehatan berbeda untuk tiap individu. 2002) .dalam Ali.2000) Beberapa studi menemukan bahwa usia ibu. rewel dan menangis yang berkepanjangan.

961 kali untuk pendidikan tamat SLTP/sederajat. Jarak kurang dari 1 km ini masih tergolong dekat. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat pelayanan kesehatan.Menurut Noor.Sedangkan Parker & Bennet memakai indikator pendapatan. kebiasaan hidup dan lain sebagainya.M.2002).Status ekonomi berhubungan erat pula dengan faktor psikologi dalam masyarakat. Hasil penelitian Ramli.1%. juga menyebutkan kelengkapan status imunisasi anak tertinggi pada ibu yang berpendidikan SLTP keatas sebanyak 30.Karena terdapatnya perbedaan sikap hidup dan perilaku hidup yang dimiliki. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. pendidikan dan keadaan tempat tinggal dalam menentukan status sosial ekonomi.01 kali.N. Sedangkan untuk jarak sedang .Azrul. Status Sosial Ekonomi Terdapatnya penyebaran masalah kesehatan yang berbeda berdasarkan status sosial ekonomi pada umumnya dipengaruhi oleh 2 (dua) hal. yaitu :a).N (2000) menyebutkan berbagai variabel sangat erat hubungannya dengan status sosio ekonomi sehingga merupakan karakteristik. Sejalan dengan pendapat Slamet. maka wawasan pengatehuan semakin bertambah dan semakin menyadari bahwa begitu penting kesehatan bagi kehidupan sehingga termotivasi untuk melakukan kunjungan ke pusat-pusat pelayanan kesehatan yang lebih baik.kesimpulan penelitian Idwar (2001) juga menyebutkan ada hubungan yang bermakna antara status imunisasi dengan jarak dekat dibandingkan yang jauh sebesar 1. Singarimbun (1986). Slamet (1999).Sejalan dengan Ramli.Muhammad. Dengan berpendidikan tinggi. 2.Noor.Azrul.b). pendapatan keluarga. Ibu yang berpendidikan mempunyai pengertian lebih baik tentang pencegahan penyakit dan kesadaran lebih tinggi terhadap masalah-masalah kesehatan yang sedikit banyak telah diajarkan di sekolah. menyebutkan semakin tinggi tingkat pendidikan atau pengetahuan seseorang maka semakin membutuhkan pusat-pusat pelayanan kesehatan sebagai tempat berobat bagi dirinya dan keluarganya.pendidikan.2.Status sosio ekonomi erat hubungannya dengan pekerjaan/jenisnya.R(1988) menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian drop out atau tidak lengkapnya status imunisasi bayi diantaranya adalah : faktor jarak rumah ke tempat pelayanan imunisasi.diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya untuk kesehatan keluarganya.3. Hollingshead dan Redlich (dalam Azwar.N (2000).1999) dalam melakukan penelitian sosial menggunakan indikator pekerjaan.215 kali untuk pendidikan tamat SLTA/ke atas dan 0. daerah tempat tinggal/geografis.Karena terdapatnya perbedaan kemampuan ekonomis dalam mencegah penyakit atau mendapatkan pelayanan kesehatan.(Ali.Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting.Pemahaman ibu atau pengetahuan ibu terhadap imunisasi sangat dipengaruhi oeleh tingkat pendidikan ibu. (Azwar. 1999).jumlah anak dan sikap terhadap kesehatan. sebagian besar (78%) adalah kurang dari 1 km. Jarak antara rumah responden dengan pusat pelayanan kesehatan terdekat.N.Berdasarkan penelitian Idwar (2001) juga disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang ibu maka makin besar peluang untuk mengimunisasikan bayinya yaitu 2.

Pengetahuan mencakup penalaran.Tentunya aktifitas ibu yang bekerja akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki ibu untuk memberikan pelayanan/kasih sayang terhadap anaknya termasuk perhatian ibu pada imunisasi dasar anak tersebut. yang dilakukan secara reguler di luar rumah. penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu. ide. 1996) Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu melalui mata dan telinga. sumber pendapatan atau penghasilan. termasuk praktek atau kemauan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum dibuktikan secara sistimatis. memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar.3. sehingga sebagian besar diantaranya akan terjun ke lapangan kerja informal. Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Program Imunisasi Pengetahuan adalah seluruh pemikiran.Namun menurut hasil kesimpulan penelitian Idwar (2000). Selanjutnya Depkes RI (2000) menyebutkan komponen pendukung ibu melakukan imunisasi dasar pada bayi antara lain kemampuan individu menggunakan pelayanan kesehatan yang diperkirakan berdasarkan pada faktor pendidikan. Begitupun. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkat yaitu tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Dari penelitian Ali. (Azwar.batasan Ibu yang bekerja adalah ibu – ibu yang melakukan aktifitas ekonomi mencari penghasilan baik di sektor formal maupun informal. 2000). karena adanya perbaikan pendidikan dan perhatian terhadap perempuan menyebabkan semakin meningkatnya tenaga kerja perempuan. pengetahuan.justru menyebutkan bahwa ibu yang bekerja mempunyai risiko 2. baik di sektor formal maupun informal. 2.dibandingkan dengan jarak jauh tidak terlihat adanya hubungan yang bermakna. Ibu akan mencari pelayanan kesehatan yang terdekat dengan rumahnya karena pertimbangan aktivitas lain yang harus diselesaikan yang terpaksa ditunda.324 kali untuk mengimunisasikan bayinya dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja disebabkan kurangnya informasi yang diterima ibu rumah tangga dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Sementara itu. Menurut Slamet (1999). konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk manusia dan kehidupan. Dengan terjadinya peralihan itu. dimana tingkat pengetahuan tentang imunisasi ini masih sangat kurang. Aplikasi . Pada masa yang akan datang di Indonesia akan terjadi perubahan dari negara agraris menjadi negara industri. mengakibatkan banyak tenaga kerja yang kemungkinan tidak akan tertampung di sektor industri. (Depkes RI. gagasan. walau tanpa dasar pengetahuan yang memadai ternyata di kalangan ibu tidak bekerja sikap dan perilaku mereka tentang imunisasi lebih baik dibanding ibu yang bekerja.Muhammad (2002) didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengetahuan tentang imunisasi antara ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja.

Tanggung jawab keluarga terutama para ibu terhadap imunisasi bayi/ balita sangat memegang peranan penting sehingga akan diperoleh suatu manfaat terhadap keberhasilan imunisasi serta peningkatan kesehatan anak. Pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh komponen-komponen pendorong yang menggambarkan faktor-faktor individu secara tidak langsung berhubungan dengan penggunaan pelayanan kesehatan yang mencakup beberapa faktor. baik itu pendidikan formal maupun non formal. 2000) Faktor pengetahuan memegang peranan penting dalam menjaga kebersihan dan hidup sehat. 1999) Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku. Tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu sangat mempengaruhi terlaksananya kegiatan pelaksanaan imunisasi anak/ bayi. Komponen pendukung antara lain kemampuan individu menggunakan pelayanan kesehatan yang diperkirakan berdasarkan pada faktor pendidikan. 1996) . Dengan adanya pendidikan dan pengetahuan mendorong kemauan dan kemampuan yang ditujukan terutama kepada para ibu sebagai anggota masyarakat memberikan dorongan dan motivasi untuk menggunakan sarana pelayanan kesehatan. tetapi masih dalam suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. sumber pendapatan atau penghasilan. (Depkes RI. Melalui pengetahuan. terutama faktor pengetahuan ibu tentang kelengkapan status imunisasi dasar bayi atau anak. sehingga dapat memilih dan membuat keputusan dengan lebih tepat. Semua aktivitas yang dilakukan para ibu seperti dalam pelaksanaan imunisasi bayi tidak lain adalah hasil yang diperoleh dari pendidikan. Menurut Azwar (1996). Evaluasi ini terkait dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. (Notoatmodjo. manusia dapat melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. Pengetahuan dapat menambah ilmu dari seseorang serta merupakan proses dasar dari kehidupan manusia. Pendidikan kesehatan dapat membantu para ibu atau kelompok masyarakat disamping dapat meningkatkan pengetahuan juga untuk meningkatkan kemampuan (perilakunya) untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. Tahap pendidikan sangat menentukan kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah dalam kehidupannya baik dilingkungan sosial maupun dilingkungan kerjanya. pengetahuan. Slamet (1999) menegaskan bahwa wawasan pengetahuan dan komunikasi untuk pengembangan lingkungan yang bersih dan sehat harus dikembangkan yaitu dengan pendidikan dan meningkatkan pengetahuan. semakin tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin diperhitungkan.diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari atau kondisi yang sebenarnya. Pengetahuan ibu dapat diperoleh dari pendidikan atau pengamatan serta informasi yang didapat seseorang. analisa merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. (Slamet. merupakan suatu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dan pendidikan dapat mendewasakan seseorang serta berperilaku baik.

tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi sebagian besar (73. TV)..kurang motivasi (2-3%) serta hambatan lainnya (23-37%). Strategi ini berasumsi bahwa anak-anak tidak akan diimunisasi secara benar disebabkan orang tua tidak mendapat penjelasan yang baik atau karena memiliki sikap yang buruk tentang imunisasi. Menurut Lubis(dalam Ali.Peningkatan cakupan imunisasi melalui pendidikan orang tua telah menjadi strategi populer di berbagai negara. faktor jumlah anak balita. faktor kepuasan ibu . (Ali.Muhammad. dan ayahnya berpendidikan SD ke bawah.dkk (2002) dalam kesimpulan penelitiannya juga mengemukakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahun ibu dan keterpaparan informasi dengan status imunisasi.0%) sudah baik Namun demikian juga masih didapat sebagian kecil (4%) yang tergolong kurang. menyebutkan kelengkapan status imunisasi anak tertinggi pada ibu yang berpendidikan SLTP keatas sebanyak 30. Slamet (1999).2002). Diantaranya menurut Singarimbun (1986).7% dan secara statistik menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan ibu tentang imunisasi. Sebagai contoh adalah hasil beberapa penelitian yang menyebutkan peningkatan status kelengkapan imunisasi bayi/ anak akan meningkat seiring meningkatnya pendidikan dan pengetahuan ibu.Fariani. Syahrul. Semakin banyak jumlah anak. radio.Selanjutnya Masykur (1983) dalam kesimpulan penelitiannya juga menyatakan ibu-ibu yang tahu tentang imunisasi tertinggi pada ibu yang tamat SLTA yaitu 80.R(1988) menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian drop out atau tidak lengkapnya status imunisasi bayi adalah : pengetahuan ibu tentang imunisasi .2002).1%.D.dari suatu penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa kurangnya peran serta ibu rumah tangga dalam hal ini disebabkan karena kurang informasi (6075%). tidak memiliki KMS (Kartu Menuju Sehat).orang yang memiliki pengetahuan dan komitmen yang tinggi terhadap imunisasi.K. menyebutkan semakin tinggi tingkat pendidikan atau pengetahuan seseorang maka semakin membutuhkan pusat-pusat pelayanan kesehatan sebagai tempat berobat bagi dirinya dan keluarganya.kurang pengetahuan. semakin besar kemungkinan seorang ibu tidak mengimunisasikan anaknya dengan lengkap. berpendidikan rendah..M. tidak punya akses ke media massa ( surat kabar/majalah. Berdasarkan hasil penelitian Cahyono.(2003) memberikan gambaran bahwa anak mempunyai kesempatan lebih besar untuk tidak diimunisasi lengkap bagi yang ibunya tinggal di perdesaan. Dengan berpendidikan tinggi.Program imunisasi dapat berhasil jika ada usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan pada orang.Jika suatu program intervensi preventif seperti imunisasi ingin dijalankan secara serius dalam menjawab perubahan pola penyakit dan persoalan pada anak dan remaja. maka wawasan pengatehuan semakin bertambah dan semakin menyadari bahwa begitu penting kesehatan bagi kehidupan sehingga termotivasi untuk melakukan kunjungan ke pusat-pusat pelayanan kesehatan yang lebih baik. Hasil penelitian Ramli. maka perbaikan dalam evaluasi perilaku kesehatan masyarakat dan peningkatan pengetahuan sangat diperlukan.Muhammad.

ac.2008 ] Azwar. Medan. faktor keterlibatan pamong dalam memotivasi ibu dan faktor jarak rumah ke tempat pelayanan imunisasi.2002) Abednego. Pengantar Administrasi Kesehatan.Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua dalam program imunisasi tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan kesehatan yang memadai tentang hal itu diberikan.M. 1996 .Muhammad.php.Muhammad . Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting.Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting.(Ali. karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi. Azrul. Strategi dan Pengembangan Program Imunisasi Di Indonesia Menjelang Abad 21. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut.id/modules.2002.Jakarta1999 ___________. Ilmu Kesehatan Masyarakat Suatu Survey. 1997 Ali.Pengantar Epidemiologi. Sikap dan Perilaku Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Tentang Imunisasi. op=modload [16 Januari. H. Binarupa Aksara. Jakarta.http://library. 1993 ___________.terhadap pelayanan petugas imunisasi. Balai Penerbit FK UI.usu. Pengetahuan. Jakarta. Jakarta.