EPIDEMIOLOGI PENYAKIT MENULAR

A. PENGANTAR Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang kedokteran mendorong para tenaga ahli selalu mengadakan riset terhadap bebagai penyakit termasuk salah satunya adalah penyakit menular demi mengatasi kejadian penderitaan dan kematian akibat penyakit B. TIGA KELOMPOK UTAMA PENYAKIT MENULAR 1. Penyakit yang sangat berbahaya karena angka kematian cukup tinggi. 2. Penyakit menular tertentu yang dapat menimbulkan kematian dan cacat, walaupun akibatnya lebih ringan dari yang pertama 3. Penyakit menular yang jarang menimbulkan kematian dan cacat tetapi dapat mewabah yang menimbulkan kerugian materi. C. TIGA SIFAT UTAMA ASPEK PENULARAN PENYAKIT DARI ORANG KE ORANG 1. Waktu Generasi (Generation Time) Masa antara masuknya penyakit pada pejamu tertentu sampai masa kemampuan maksimal pejamu tersebut untuk dapat menularkan penyakit. Hal ini sangat penting dalam mempelajari proses penularan. Perbedaan masa tunas denga wakru generasi yaitu Masa tunas ditentukan oleh masuknya unsur penyebab sampai timbulnya gejala penyakit sehingga tidak dapat ditentukan pada penyakit dengan gejala yang terselubung, waktu generasi ialah waktu masuknya unsur penyebab penyakit hingga timbulnya kemampuan penyakit tersebut untuk menularkan kepada pejamu lain walau tanpa gejala klinik atau terselubung.

2. Kekebalan Kelompok (Herd Immunity) Adalah tingkat kemampuan atau daya tahan suatu kelompok penduduk tertentu terhadap serangan atau penyebaran unsur penyebab penyakit menular tertentu berdasarkan tingkat kekebalan sejumlah tertentu anggota kelompok tersebut. Herd Immunity merupakan faktor utama dalam proses kejadian wabah di masyarakat serta kelangsungan penyakit pada suatu kelompok penduduk tertentu. Wabah terjadi karena 2 keadaan :

Akhir dari proses penyakit adalah sembuh. barak dimana keadaan sangat tertutup dan mudah terjadi kontak langsung.• Keadaan kekebalan populasi yakni suatu wabah besar dapat terjadi jika agent penyakit infeksi masuk ke dalam suatu populasi yang tidak pernah terpapar oleh agen tersebut atau kemasukan suatu agen penyakit menular yang sudah lama absen dalam populasi tersebut. 3. dimana tata cara dan konsep keluarga. mulai dari gejala klinik yang tidak tampak sampai keadaan yang berat disertai komplikasi dan berakhir cacat atau meninggal dunia. Infeksi Terselubung (Tanpa Gejala Klinis) Adalah keadaan suatu penyakit yang tidak menampakkan diri secara jelas dan nyata dalam bentuk gejala klinis yang jelas sehingga tidak dapat didiagnosa tanpa cara tertentu seperti test tuberkulin. Penyembuhan dapat lengkap atau dapat berlangsung jinak (mild) atau dapat pula dengan gejala sisa yang berat (serve sequele). masuknya sejumlah orang-orang yang peka terhadap penyakit tertentu dalam populasi tsb. Formula angak serangan ini adalah banyaknya kasus baru (tidak termasuk kasus pertama) dibagi dengan banyaknya orang yang peka dalam satu jangka waktu tertentu. Ex: Asrama mahasiswa/tentara. MANIFESTASI KLINIK SECARA UMUM 1. Untuk mendapatkan perkiraan besar dan luasnya infeksi terselubung dalam masyarakat maka perlu dilakukan pengamatan atau survai epidemiologis . cacat atau meninggal. Angka serangan ini bertujuan untuk menganalisis tingkat penularan dan tingkat keterancamam dalam keluarga. sistem hubungan keluarga dengan masyarakat serta hubungan individu dalam kehidupan sehari-hari pada kelompok populasi tertentu merupakan unit epidemiologi tempat penularan penyakit berlangsung. pemeriksaan antibodi dalam tubuh dll. D. • Bila suatu populasi tertutup seperti asrama. Spektrum Penyakit Menular Pada proses penyakit menular secara umum dijumpai berbagai manifestasi klinik. Angka Serangan (Attack Rate) Adalah sejumlah kasus yang berkembang atau muncul dalam satu satuan waktu tertentu di kalangan anggota kelompok yang mengalami kontak serta memiliki risiko atau kerentanan terhadap penyakit tersebut. kultur tenggorokan. 1.

chickenpox III. dll. KOMPONEN PROSES PENYAKIT MENULAR 1. Lebih banyak dengan gejala klinik jelas Kelompok dengan bagian terselubung kecil. Contoh :Measles. dll. Hepatitis A II. Poliomyelitis. Kelompok cacing/helminth baik cacing darah maupun cacing perut. Faktor Penyebab Penyakit Menular Pada proses perjalanan penyakit menular di dalam masyarakat faktor yang memegang peranan penting : • Faktor penyebab atau agent yaitu organisme penyebab penyakit • Sumber penularan yaitu reservoir maupun resources • Cara penularan khusus melalui mode of transmission Unsur Penyebab Dikelompokkan Dalam : a. . sebagian besar penderuta tampak secara klinis dan dapat dengan mudah didiagnosa.dan tes tertentu pada populasi. pediculosis. Kelompok arthropoda (serangga) seperti scabies. Tuberkulosis. karena umumnya penderita muncul dengan gejala klasik. Contoh. tidak tampak pada berbagai tingkatan. Lebih banyak dengan tanpa gejala klinik (terselubung) Kelompok penyakit dengan keadaan lebih banyak penderita tanpa gejala atau hanya gejala ringan saja. Kelompok protozoa seperti plasmodium. E. Penyakit yang umumnya berakhir dengan kematian Kelompok penyakit yang menunjukkan proses kejadian yang umumnya berakhir dengan kelainan atau berakhirnya dengan kematian. c. Hasil survai ini dapa digunakauntuk pelaksanaan program. Contoh: Rabies F. amuba. GAMBAR PENYEBARAN KARAKTERISTIK MANIFESTASI KLINIK DARI TIGA JENIS PENYAKIT MENULAR I. patogenisitas rendah. b. keterangan untuk kepentingan pendidikan.

f.d. Interaksi Penyebab dengan Pejamu a. Infektivitas Infektivtas adalah kemampuan unsur penyebab atau agent untuk masuk dan berkembang biak serta menghasilkan infeksi dalam tubuh pejamu. e. 4. 2. a. 4. Patogenesis Patogenesis adalah kemampuan untuk menghasilkan penyakit dengan gejala klinis yang jelas . 3. 3. Bakteri termasuk spirochaeta maupun ricketsia. Sumber Penularan 1. 4. Keadaan umum Kekebalan Status gizi Keturunan Cara keluar dari sumber dan cara masuk ke pejamu melalui : 1. Fungus atau jamur baik uni maupun multiselular. 2. saluran pencernaan saluran pernapasan saluran urogenitalia gigitan. mukosa ataukulit 1. 4. 3. Virus sebagai kelompok penyebab yang paling sederhana. luka placenta 1. Kontak langsung Melalui udara Melalui makanan atau minuman Melalui vector Keadaan Pejamu 1. 2. 3. suntikan. 5. Penderita Pembawa kuman Binatang sakit Tumbuhan/benda Cara Penularan 1. 2.

Penyakit ini umumnya berpindah dari manusia ke manusia dan hanya dapat menimbulkan penyakit pada manusia saja. Merangsang kerentanan pejamu terhadap obat dalam menetralisasi toksisitas f. 5. 8. Reservoir binatang atau benda lain Selain dari manusia sebagai reservoir maka penyakit menular yang mengenai manusia dapat berasal dari binatang terutama yang termasuk dalam kelompok penyakit zoonosis. Manusia sebagai reservoir Kelompok penyakit menular yang hanya dijumpai atau lebih sering hanya dijumpai pada manusia. Infeksi yang menetap (infeksi laten) e. Beberapa penyakit Zoonosis utama dan reservoir utamanya 1. Sumber penularan a. Imunogenisitas Imunogenisitas adalah suatu kemampuan menghasilkan kekebalan atau imunitas 1. a. Rangsangan imunologis atau reaksi alergi yang menyebabkan kerusakan pada tubuh pejamu d. Ketidakmampuan membentuk daya tangkal (immuno supression) 1. Brocellossis Sapi. a. Virulensi Virulensi adalah nilai proporsi penderita dengan gejala klinis yang berat terhadap seluruh penderita dengan gejala klinis jelas. 4. Invasi jaringan secara langsung b.a. 6. Scrub & Murine Tikus Leptospirosis Tikus Virus Encephlitides Kuda Trichinosis Babi Hidatosis Anjing 9. 3. Produksi toksin c. Mekanisme Patogenesis a. 2. 7. kambing . Pes (plaque) Tikus Rabies (penyakit anjing gila Anjing Bovine Tuberculosis Sapi Thypus.

Convalescent carrier (baru sembuh klinis). “Mereka yang baru sembuh dari penyakit menular tertentu tetapi masih merupakan sumber penularan penyakit tersebut untuk masa tertentu”. Arsip mata kuliah fkm unhas 2006 . bentuk pembawa kuman (carrier) dapat dibagi dalam beberapa jenis : 1. Incubatory carrier (masa tunas). Manusia dalam kedudukannya sebagai reservoir penyakit menular dibagi dalam 3 kategori utama : 1) Reservoir yang umumnya selalu muncul sebagai penderita 2) Reservoir yang dapat sebagai penderita maupun sebagai carrier 3) Reservoir yang umumnya selalu bersifat penderita akan tetapi dapat menularkan langsung penyakitnya ke pejamu potensial lainnya. tetapi harus melalui perantara hidup Referensi : 1.jakarta: penerbit buku kedokteran egc 2. “Mereka yang dalam sejarahnya tidak pernah menampakkan menderita penyakit tersebut secara klinis akan tetapi mengandung unsur penyebab yang dapat menular kepada orang lain”. “Merupakan sumber penularan yang cukup lama”. Budiarto. Pengantar epidemiologi. Bustan mn ( 2002 ). Healthy carrier (inapparent). eko. 4. nur dasar-dasar epidemiologi 4. Pengantar epidemiologi. 3. Chronis carrier (menahun).Melihat Perjalanan penyakit pada pejamu. Nasry. rineka cipta 3. “Mereka yang masih dalam masa tunas tetapi telah mempunyai potensi untuk menularkan penyakit”.2003. 2. jakarta.

1. Jadi Imunisasi adalah suatu tindakan untuk memberikan kekebalan dengan cara memasukkan vaksin ke dalam tubuh manuasia.1. kebal atau resisten. (Depkes RI. Sedangkan kebal adalah suatu keadaan dimana tubuh mempunyai daya kemampuan mengadakan pencegahan penyakit dalam rangka menghadapi serangan kuman tertentu. 1994) Dalam ilmu kedokteran. Adapun tujuan imunisasi adalah merangsang sistim imunologi tubuh . Imunisasi 2. 2008 by mirzal tawi 2. imunitas adalah suatu peristiwa mekanisme pertahanan tubuh terhadap invasi benda asing hingga terjadi interaksi antara tubuh dengan benda asing tersebut.1. Kebal atau resisten terhadap suatu penyakit belum tentu kebal terhadap penyakit lain. Pengertian Imunisasi Imunisasi berasal dari kata imun.Imunisasi dan Faktor Yang Mempengaruhinya May 12.

UNICEF. pemerintah bertekad untuk mencapai Universal Child Immunization (UCI) yaitu komitmen internasional dalam rangka Child Survival pada akhir tahun 1990. (Depkes RI. 2. Dengan bantuan donor internasional (antara lain WHO.1. 1997) Dengan status program demikian. 2000) 2. program imunisasi telah dimulai sejak abad ke 19 untuk membasmi penyakit cacar di Pulau Jawa. 2. Pentingnya Imunisasi dan Penyakit Yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif dan efisien dalam mencegah penyakit dan merupakan bagian kedokteran preventif yang mendapatkan prioritas.2. Ketujuh penyakit tersebut dimasukkan pada program imunisasi yaitu penyakit tuberkulosis. cakupan imunisasi lengkap secara nasional baru mencapai 4%.untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Dengan strategi akselerasi. cakupan imunisasi dapat ditingkatkan menjadi 73% pada akhir tahun 1989. 1985) Departemen Kesehatan RI (2004). campak dan hepatitis-B.2. (Abednego. Sampai saat ini ada tujuh penyakit infeksi pada anak yang dapat menyebabkan kematian dan cacat. Program Imunisasi Di Indonesia. Strategi ini terutama ditujukan untuk memperkuat infrastruktur dan kemampuan manajemen program. 2000) Pada tahun 1984.2. Tahun 1977 sampai dengan tahun 1980 mulai diperkenal kan imunisasi BCG. difteri. polio. sebanyak 96% dari semua kecamatan di tanah air memberikan pelayanan imunisasi dasar secara teratur. Pada akhir tahun 1989. difteri. Tuberkulosis . walaupun sebagian anak dapat bertahan dan menjadi kebal. Akhirnya lebih dari 80% bayi di Indonesia mendapat imunisasi lengkap sebelum ulang tahunnya yang pertama. menyebutkan imunisasi adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pemberian vaksin pada tubuh seseorang sehingga dapat menimbulkan kekebalan terhadap penyakit tertentu. tetanus. (Depkes RI. pertusis. Tahun 1981 dan 1982 berturut-turut mulai diperkenalkan antigen polio dan campak yang dimulai di 55 buah kecamatan dan dikenal sebagai kecamatan Pengembangan Program Imunisasi (PPI). DPT dan TT secara berturut-turut untuk memberikan kekebalan terhadap penyakit-penyakit TBC anak. pertusis dan tetanus neonatorum. UCI ditingkat nasional dapat dicapai pada akhir tahun 1990. (Musa. Dengan penerapan strategi mobilisasi social dan pengembangan Pemantauan Wilayah Setempat (PWS). USAID) program berupaya mendistribusikan seluruh kebutuhan vaksin dan peralatan rantai dinginnya serta melatih tenaga vaksinator dan pengelola rantai dingin . Kasus cacar terakhir di Indonesia ditemukan pada tahun 1972 dan pada tahun 1974 Indonesia secara resmi dinyatakan Negara bebas cacar.1.

2. Kejadian seperti ini sering kali ditemukan pada persalinan yang dilakukan oleh dukun kampong akibat memotong tali pusat memakai pisau atau sebilah bambu yang tidak steril. (Depkes RI. Difteri Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh Corynebacterium diphtheriae merangsang saluran pernafasan terutama terjadi pada balita. terutama dengan masih seringnya kejadian tetanus pada bayi baru lahir (tetanus neonatorum). 2. Penyakit terjadi karena kuman Clostridium tetani memasuki tubuh bayi lahir melalui tali pusat yang kurang terawat.2. 2. Namun kasus AFP ini dalam beberapa tahun terkahir kembali ditemukan di beberapa daerah di Indonesia. daun-daunan dan sebagainya. untuk mencegah kejadian tetanus neonatorum ini adalah dengan pemberian imunisasi. Di negara-negara berkembang kematian ini merupakan 25% dari kematian penyakit yang sebenarnya dapat diadakan pencegahan. Campak .2. Seperti halnya penyakit infeksi saluran pernafasan akut lainnya. Penyakit ini merupakan penyakit yang cukup serius pada bayi usia dini dan tidak jarang menimbulkan kamatian. Tetanus Penyakit tetanus merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman bakteri Clostridium tetani.2. Oleh karena itu. Tali pusat mungkin pula dirawat dengan berbagai ramuan.2. Kejadian tetanus jarang dijumpai di negara yang telah berkembang tetapi masih banyak terdapat di negara yang sedang berkembang. Poliomielitis Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh virus polio. pertusis sangat mudah dan cepat penularannya. Diperkirakan 95% penderita TBC berada di Negara berkembang. Berdasarkan hasil surveilans AFP (Acute Flaccide Paralysis) dan pemeriksaan laboratorium. Penyakit difteri mempunyai kasus kefatalan yang tinggi. 2.2.6. 1992). Pada penduduk yang belum divaksinasi ternyata anak yang berumur 1-5 tahun paling banyak diserang karena kekebalan (antibodi) yang diperolah dari ibunya hanya berumur satu tahun.5. 2. Penyakit ini dapat merupakan salah satu penyebab tingginya angka kesakitan terutama di daerah yang padat penduduk. penyakit ini sejak tahun 1995 tidak ditemukan di Indonesia.4. Penyakit TBC ini dapat menyerang semua golongan umur dan diperkirakan terdapat 8 juta penduduk dunia diserang TB denga kematian 3 juta orang per tahun.Tuberkulosis (TBC) adalah suatu penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). abu.2.3. Pertusis Pertusis atau batuk rejan adalah penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh Bordotella pertusis pada saluran pernafasan.

3. 2. sedangkan di daerah lain dikaitkan dengan pertumbuhan anak. kematian pada bayi. Hal ini dimaksudkan agar mereka terlindungi dari penularan hepatitis B sedini mungkin dalam hidupnya. apakah diantara 6 penyakit yang dapat discegah dengan imunisasi dijumpai dalam seminggu. peralatan yang cukup untuk penyuntikan yang aman dan sterl. Penyebabnya virus dan menular melalui saluran pernafasan yang keluar saat penderita bernafas. Hal ini dapat dicegah dengan pemberian imuniasi sedini mungkin kepada bayi dan anak-anak. Penyakit ini masih merupakan satu masalah kesehatan di Indonesia karena prevalensinya cukup tinggi. dan termasuk penyakit akut dan sangat menular. Pemerintah Indonesia sangat mendorong pelaksanaan program imunisasi sebagai cara untuk menurunkan angka kesakitan. supervisor dan petugas imunisasi vaksinasi. tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah penyakit dan kematian bayi dan anak-anak yang disebabkan oleh wabah yang sering muncul. 2.2. Tujuan pemantauan menurut Azwar (2003) adalah untuk mengetahui sampai dimana keberhasilan kerja. Hal ini perlu dilakukan untuk memperbaiki program. . pengecekan lemari es normal. Tujuan Pelaksanaan Imunisasi Tujuan pemberian imunisasi adalah untuk mencegah terjadinya infeksi penyakit yang dapat menyerang anak-anak. Hepatitis B Penyakit hepatitis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Menurut Depkes RI (2001). Dibeberapa daerah penyakit ini dikaitkan dengan nasib yang harus dialamai oleh semua anak. Penyakit ini pada umumnya sangat dikenal oleh masyarakat terutama para ibu rumah tangga. batuk dan bersin (droplet). hasil imunisasi dibandingkan dengan sasaran yang telah ditetapkan. Prioritas pencegahan terhadap penyakit ini yaitu melalui pemberian imunisasi hepatitis pada bayi dan anak-anak. Hal-hal yang perlu dilakukan pemantauan (dimonitor) sebagaimana disebutkan oleh Sarwono (1998) adalah sebagai berikut : Pemantauan ringan adalah memantau hal-hal sebagai berikut apakah pelaksanaan pemantauan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. mengetahui permasahan yang ada.7. Dengan demikian integrasi imunisasi Hepatitis B ke dalam imunisasi dasar pada kelompok bayi dan anak-anak merupakan langkah yang sangat diperlukan. apakah vaksin ckup tersedia. menyerang hampir semua anak kecil. Untuk tercapainya program tersebut perlu adanya pemantauan yang dilakukan oleh semua petugas baik pimpinan program. balita/ anak-anak pra sekolah.Penyakit campak (Measles) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus campak.

Untuk tingkat kabupaten dan provinsi. Vaksinasi Campak . Vaksin yang diberikan melalui mulut pada bayi umur 2-12 bulan sebanyak 4 kali dengan jarak waktu pemberian 4 minggu. kejang. bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat antara 75-100% dari target.4.5 ml diberikan secara subkutan atau intramuscular pada bayi yang berumur 2-12 bulan sebanyak 3 kali dengan interval 4 minggu. Vaksinasi BCG dinyatakan berhasil apabila terjadi tuberkulin konversi pada tempat suntikan. Vaksinasi BCG Vaksinasi BCG diberikan pada bayi umur 0-12 bulan secara suntikan intrakutan dengan dosis 0. Gejala biasanya demam ringan dan reaksi lokal tempat penyuntikan. Kelebihan dosis dan suntikan yang terlalu dalam akan menyebabkan terjadinya abses ditempat suntikan. berarti program sangat berhasil. 2005) 2. (Depkes RI. Jadwal Pemberian Imunisasi 2. hendaknya pemberian vaksin DPT diganti dengan DT. berarti prgram cukup berhasil dan bila garis pencapaian dalam 1 tahun dibawah 50% dari target berabrti program belum berhasil.Cara memantau cakupan imunisasi dapat dilakukan melalui cakupan dari bulan ke bulan dibandingkan dengan garis target. vaksin BCG harus disimpan pada suhu 20 C. 2 dan 3 dari Sabin.4. dapat digambarkan masing-masing desa.1.4.4. Bila ada reaksi yang berlebihan seperti suhu yang terlalu tinggi.3. (Depkes RI.2. pertusis dan tetanus adalah dengan pemberian vaksin yang terdiri dari toksoid difteri dan toksoid tetanus yang telah dimurnikan ditambah dengan bakteri bortella pertusis yang telah dimatikan. Vaksinasi Polio Untuk kekebalan terhadap polio diberikan 2 tetes vaksin polio oral yang mengandung viruis polio yang mengandung virus polio tipe 1. Bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat antara 50-75% dari target. Bila garis pencapaian dalam 1 tahun terlihat dibawah 25% dari target berarti program sama sekali tidak berhasil. Untuk mengetahui keberhasilan program dapat dengan melihat seperti. Dosis penyuntikan 0. Untuk menjaga potensinya. Vaksinasi DPT Kekebalan terhadap penyakit difteri. Reaksi spesifik yang timbul setelah penyuntikan tidak ada. 2005) 2. (Notoatmodjo. 2005) 2. maka penilaian diarahkan pada penduduk tiap kecamatan dan kabupaten.4. Ada tidaknya tuberkulin konversi tergantung pada potensi vaksin dan dosis yang tepat serta cara penyuntikan yang benar. (Depkes RI. menangis yang berkepanjangan lebih dari 3 jam. kesadaran menurun. Disamping itu. pada kedua tingkat ini perlu mempertimbangkan pula memonotoring evaluasi pemakaian vaksin. 2003) 2.4.05 ml.

Imunisasi dasar yang tidak lengkap. faktor kebetulan dan penyebab tidak diketahui. Efek samping imunisasi yang dikenal sebagai Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau Adverse Events Following Immunization (AEFI) adalah suatu kejadian sakit yang terjadi setelah menerima imunisasi yang diduga berhubungan dengan imunisasi. Manfaat dan Efek Samping Imunisasi Imunisasi bertujuan untuk merangsang system imunologi tubuh untuk membentuk antibody spesifik sehingga dapat melindungi tubuh dari serangan penyakit.5. yaitu kesalahan program/tehnik pelaksanaan imunisasi. Vaksin sebagai suatu produk biologis dapat memberikan efek samping yang tidak diperkirakan sebelumnya dan tidak selalu sama reaksinya antara penerima yang satu dengan penerima lainnya. Gejala klinis KIPI dapat dibagi menjadi dua yaitu gejala lokal dan sistemik. Suntikan ini diberikan secara subkutan dengan dosis 0. nodelle/ pembengkakan dan . Berdasarkan hasil penelitian Ibrahim (1991).Vaksin yang diberikan berisi virus campak yang sudah dilemahkan dan dalam bentuk bubuk kering atau freezeried yang harus dilarutkan dengan bahan pelarut yang telah tersedia sebelum digunakan. Pemberian tetanus toksoid pada ibu hamil dapat mencegah terjadinya tetanus neonatorum pada bayi baru lahir yang ditolong dengan tidak steril dan pemotongan tali pusat memakai alat tidak steril. DPT 3 kali. Polio 4 kali dan Campak 1 kali) pada waktu anak berusia kurang dari 11 bulan. sedangkan yang dimaksud imunisasi dasar lengkap adalah telah mendapat semua jenis imunisasi dasar (BCG 1 kali. 1985). Gejala lokal seperti nyeri. (Depkes RI. Pemberian imunisasi lebih awal rupanya terbentur oleh adanya zat anti kebal bawaan yang berasal dari ibu (maternal antibodi). Penyebab kejadian ikutan pasca imunisasi terbagi atas empat macam. kemerahan. menyatakan bahwa bila imunisasi dasar dilaksanakan dengan lengkap dan teratur. 1991). induksi vaksin. Imunisasi poliomyelitis dapat memberikan perlindungan seumur hidup apabila telah diberikan 4 kali. (Ibrahim. Maka untuk Indonesia vaksin campak diberikan mulai abak berumur 9 bulan. sebelum terkena infeksi virus campak secara alami. ternyata dapat menghambat terbentuknya zat kebal campak dalam tubuh anak. Walaupun cakupan imunisasi tidak sama dengan 100% tetapi sudah mencapai 70% maka anal-anak yang tidak mendapatkan imunisasi pun akan terlindungi oleh adanya suatu “herd immunity”. sehingga imunisasi ulangan masih diberikan 4-6 bulan kemudian. maka imunisasi dapat menguragi angka kesakitan dan kematian balita sekitar 80-95%. Sedangkan anak yang sama sekali tidak diimunisasi tentu tingkat kekebalannya lebih rendah lagi. (Musa.5 ml pada anak umur 9-12 bulan. Pengertian teratur dalam hal ini adalah teratur dalam mentaati jadwal dan jumlah frekuensi imunisasi. 2005): 2. Di negara berkembang imunisasi campak dianjurkan diberikan lebih awal dengan maksud memberikan kekebalan sedini mungkin. maksimal hanya dapat memberikan perlindungan 25-40%. Imunisasi campak diberikan 1 kali akan memberikan perlindungan seumur hidup. Imunisasi terhadap difteri dan pertusis dimulai sejak umur 2-3 bulan dengan selang 4-8 minggu sebanyak 3 kali akan memberikan perlindungan mendekati 100% sampai anak berusia 1 tahun.

Menurut Azwar. merupakan suatu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dan pendidikan dapat mendewasakan seseorang serta berperilaku baik. Gejala sistemik antara lain panas.Perbedaan pengalaman terhadap masalah kesehatan/penyakit dan pengambilan keputusan dipengaruhi oleh umur individu tersebut (Noor.( Ali.Penelitian Salma Padri.Yang termasuk dalam unsur karakteristik manusia antara lain: umur.Karakteristik Ibu Penyebaran masalah kesehatan berbeda untuk tiap individu.1 Umur Umur merupakan salah satu sifat karakteristik tentang orang yang sangat utama.Azrul (1999) salah satu faktor yang menentukan terjadinya masalah kesehatan di masyarakat adalah ciri manusia atau karakteristik . kelompok dan masyarakat dibedakan atas tiga macam yaitu : Ciri-ciri manusia/karakteristik.Muhammad (2002) didapatkan bahwa usia ibu berhubungan dengan pengetahuan dan perilaku mereka terhadap imunisasi (p < 0.2. status perkawinan.N. sehingga dapat memilih dan membuat keputusan dengan lebih tepat.2000) Beberapa studi menemukan bahwa usia ibu. Muhammad. rewel dan menangis yang berkepanjangan.2002).dkk (2000) juga menemukan bahwa faktor utama yang berhubungan dengan imunisasi campak adalah umur ibu (OR 2.Umur mempunyai hubungan dengan tingkat keterpaparan. 2000) 2.pendidikan.status sosial ekonomi.(2001) menunjukkan bahwa karakteristik ibu yang erat hubungannya dengan status imunisasi campak anak umur 9-36 bulan adalah: umur ibu yaitu umur ibu yang dihitung sejak lahir sampai saat penelitian.Penelitian ini menunjukkan hasil yang sama dengan penelitian Lubis (1990. pendidikan. Pendidikan Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku.Selanjutnya penyebaran masalah kesehatan menurut waktu dipenaguruhi oleh kecepatan perjalanan penyakit dan lama terjangkitnya suatu penyakit. Dari penelitian Ali.indurasi pada lokasi suntikan. semakin tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin diperhitungkan.dan agama.Selanjutnya hasil penelitian Ibrahim D. dan status sosial ekonomi berhubungan dengan cakupan imunisasi dan opini orang tua tentang vaksin berhubungan dengan status imunisasi anak mereka.karakteristik ibu yang peneliti diteliti adalah : 2.ras/etnik.2. (Depkes. Menurut Azwar (1996). Pada penelitian ini .N.dalam Ali. gejala gangguan pencernaan.05).2.Muhammad. keadaan penduduk dan keadaan pelayanan kesehatan.2. Begitu juga halnya dalam masalah status imunisasi dasar bayi juga dipengaruhi oleh karakteristik ibu dan faktor tempat. tempat dan waktu. .dalam hal ini adalah jarak rumah dengan puskesmas/tempat pelayanan kesehatan.53 95% CI: 1. besarnya risk serta sifat resistensi. 2002) .21 -5.P.27). 2. lemas. ras.Sedangkan dari segi tempat disebutkan penyebaran masalah kesehatan dipengaruhi oleh keadaan geografis. jenis kelamin.

Status ekonomi berhubungan erat pula dengan faktor psikologi dalam masyarakat.Muhammad.01 kali. Dengan berpendidikan tinggi. daerah tempat tinggal/geografis. Sejalan dengan pendapat Slamet.diharapkan masyarakat dapat memanfaatkannya untuk kesehatan keluarganya.Azrul.M.Karena terdapatnya perbedaan kemampuan ekonomis dalam mencegah penyakit atau mendapatkan pelayanan kesehatan. pendidikan dan keadaan tempat tinggal dalam menentukan status sosial ekonomi. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. sebagian besar (78%) adalah kurang dari 1 km.Azrul.b).pendidikan.Menurut Noor. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari pusat pelayanan kesehatan. juga menyebutkan kelengkapan status imunisasi anak tertinggi pada ibu yang berpendidikan SLTP keatas sebanyak 30.Sedangkan Parker & Bennet memakai indikator pendapatan. 2. Slamet (1999).1999) dalam melakukan penelitian sosial menggunakan indikator pekerjaan.Noor. kebiasaan hidup dan lain sebagainya.Karena terdapatnya perbedaan sikap hidup dan perilaku hidup yang dimiliki.Pemahaman ibu atau pengetahuan ibu terhadap imunisasi sangat dipengaruhi oeleh tingkat pendidikan ibu.kesimpulan penelitian Idwar (2001) juga menyebutkan ada hubungan yang bermakna antara status imunisasi dengan jarak dekat dibandingkan yang jauh sebesar 1.jumlah anak dan sikap terhadap kesehatan.Status sosio ekonomi erat hubungannya dengan pekerjaan/jenisnya. menyebutkan semakin tinggi tingkat pendidikan atau pengetahuan seseorang maka semakin membutuhkan pusat-pusat pelayanan kesehatan sebagai tempat berobat bagi dirinya dan keluarganya. maka wawasan pengatehuan semakin bertambah dan semakin menyadari bahwa begitu penting kesehatan bagi kehidupan sehingga termotivasi untuk melakukan kunjungan ke pusat-pusat pelayanan kesehatan yang lebih baik.215 kali untuk pendidikan tamat SLTA/ke atas dan 0. Singarimbun (1986). Hasil penelitian Ramli.Berdasarkan penelitian Idwar (2001) juga disimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan seorang ibu maka makin besar peluang untuk mengimunisasikan bayinya yaitu 2.N. Jarak antara rumah responden dengan pusat pelayanan kesehatan terdekat.(Ali.961 kali untuk pendidikan tamat SLTP/sederajat.2.N (2000).3. 1999).Sejalan dengan Ramli. Sedangkan untuk jarak sedang . Ibu yang berpendidikan mempunyai pengertian lebih baik tentang pencegahan penyakit dan kesadaran lebih tinggi terhadap masalah-masalah kesehatan yang sedikit banyak telah diajarkan di sekolah. (Azwar. pendapatan keluarga. yaitu :a). Hollingshead dan Redlich (dalam Azwar.N (2000) menyebutkan berbagai variabel sangat erat hubungannya dengan status sosio ekonomi sehingga merupakan karakteristik. Status Sosial Ekonomi Terdapatnya penyebaran masalah kesehatan yang berbeda berdasarkan status sosial ekonomi pada umumnya dipengaruhi oleh 2 (dua) hal.1%.R(1988) menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian drop out atau tidak lengkapnya status imunisasi bayi diantaranya adalah : faktor jarak rumah ke tempat pelayanan imunisasi.Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting.N. Jarak kurang dari 1 km ini masih tergolong dekat.2002).

memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterpretasikan materi tersebut secara benar. Pengetahuan mencakup penalaran. Menurut Slamet (1999). Selanjutnya Depkes RI (2000) menyebutkan komponen pendukung ibu melakukan imunisasi dasar pada bayi antara lain kemampuan individu menggunakan pelayanan kesehatan yang diperkirakan berdasarkan pada faktor pendidikan. pengetahuan yang mencakup dalam domain kognitif mempunyai 6 (enam) tingkat yaitu tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.3. sumber pendapatan atau penghasilan. gagasan. mengakibatkan banyak tenaga kerja yang kemungkinan tidak akan tertampung di sektor industri. Dengan terjadinya peralihan itu. sehingga sebagian besar diantaranya akan terjun ke lapangan kerja informal. baik di sektor formal maupun informal. Sementara itu. termasuk praktek atau kemauan teknis dalam memecahkan berbagai persoalan hidup yang belum dibuktikan secara sistimatis. pengetahuan. yang dilakukan secara reguler di luar rumah. ide. walau tanpa dasar pengetahuan yang memadai ternyata di kalangan ibu tidak bekerja sikap dan perilaku mereka tentang imunisasi lebih baik dibanding ibu yang bekerja. Pada masa yang akan datang di Indonesia akan terjadi perubahan dari negara agraris menjadi negara industri. dimana tingkat pengetahuan tentang imunisasi ini masih sangat kurang.324 kali untuk mengimunisasikan bayinya dibandingkan dengan ibu yang tidak bekerja disebabkan kurangnya informasi yang diterima ibu rumah tangga dibandingkan dengan ibu yang bekerja. Ibu akan mencari pelayanan kesehatan yang terdekat dengan rumahnya karena pertimbangan aktivitas lain yang harus diselesaikan yang terpaksa ditunda.batasan Ibu yang bekerja adalah ibu – ibu yang melakukan aktifitas ekonomi mencari penghasilan baik di sektor formal maupun informal. Pengetahuan merupakan domain yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang. (Azwar. Begitupun. 2000). (Depkes RI. 1996) Pengetahuan adalah hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap objek tertentu melalui mata dan telinga.justru menyebutkan bahwa ibu yang bekerja mempunyai risiko 2.Muhammad (2002) didapatkan bahwa tidak terdapat perbedaan pengetahuan tentang imunisasi antara ibu yang bekerja dengan ibu yang tidak bekerja.dibandingkan dengan jarak jauh tidak terlihat adanya hubungan yang bermakna. konsep dan pemahaman yang dimiliki manusia tentang dunia dan segala isinya termasuk manusia dan kehidupan.Tentunya aktifitas ibu yang bekerja akan berpengaruh terhadap waktu yang dimiliki ibu untuk memberikan pelayanan/kasih sayang terhadap anaknya termasuk perhatian ibu pada imunisasi dasar anak tersebut. karena adanya perbaikan pendidikan dan perhatian terhadap perempuan menyebabkan semakin meningkatnya tenaga kerja perempuan. Dari penelitian Ali. Aplikasi . Hubungan Pengetahuan Ibu dengan Program Imunisasi Pengetahuan adalah seluruh pemikiran.Namun menurut hasil kesimpulan penelitian Idwar (2000). 2. penjelasan dan pemahaman manusia tentang segala sesuatu.

Semua aktivitas yang dilakukan para ibu seperti dalam pelaksanaan imunisasi bayi tidak lain adalah hasil yang diperoleh dari pendidikan. Komponen pendukung antara lain kemampuan individu menggunakan pelayanan kesehatan yang diperkirakan berdasarkan pada faktor pendidikan. Tahap pendidikan sangat menentukan kemampuan seseorang dalam mengatasi masalah dalam kehidupannya baik dilingkungan sosial maupun dilingkungan kerjanya. Dengan adanya pendidikan dan pengetahuan mendorong kemauan dan kemampuan yang ditujukan terutama kepada para ibu sebagai anggota masyarakat memberikan dorongan dan motivasi untuk menggunakan sarana pelayanan kesehatan. Pengetahuan dapat menambah ilmu dari seseorang serta merupakan proses dasar dari kehidupan manusia. 1996) . sehingga dapat memilih dan membuat keputusan dengan lebih tepat. manusia dapat melakukan perubahan-perubahan kualitatif individu sehingga tingkah lakunya berkembang. 2000) Faktor pengetahuan memegang peranan penting dalam menjaga kebersihan dan hidup sehat. terutama faktor pengetahuan ibu tentang kelengkapan status imunisasi dasar bayi atau anak. analisa merupakan suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-komponen. Melalui pengetahuan. Evaluasi ini terkait dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Tanggung jawab keluarga terutama para ibu terhadap imunisasi bayi/ balita sangat memegang peranan penting sehingga akan diperoleh suatu manfaat terhadap keberhasilan imunisasi serta peningkatan kesehatan anak. 1999) Pendidikan seseorang merupakan salah satu proses perubahan tingkah laku. Tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu sangat mempengaruhi terlaksananya kegiatan pelaksanaan imunisasi anak/ bayi. semakin tinggi pendidikan seseorang maka dalam memilih tempat-tempat pelayanan kesehatan semakin diperhitungkan. (Slamet. Slamet (1999) menegaskan bahwa wawasan pengetahuan dan komunikasi untuk pengembangan lingkungan yang bersih dan sehat harus dikembangkan yaitu dengan pendidikan dan meningkatkan pengetahuan. Pengetahuan ibu dapat diperoleh dari pendidikan atau pengamatan serta informasi yang didapat seseorang. (Notoatmodjo. Pemanfaatan pelayanan kesehatan dipengaruhi oleh komponen-komponen pendorong yang menggambarkan faktor-faktor individu secara tidak langsung berhubungan dengan penggunaan pelayanan kesehatan yang mencakup beberapa faktor. merupakan suatu faktor yang mempengaruhi perilaku seseorang dan pendidikan dapat mendewasakan seseorang serta berperilaku baik. pengetahuan. baik itu pendidikan formal maupun non formal.diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari atau kondisi yang sebenarnya. Menurut Azwar (1996). Pendidikan kesehatan dapat membantu para ibu atau kelompok masyarakat disamping dapat meningkatkan pengetahuan juga untuk meningkatkan kemampuan (perilakunya) untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal. sumber pendapatan atau penghasilan. tetapi masih dalam suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. (Depkes RI.

kurang motivasi (2-3%) serta hambatan lainnya (23-37%).D. menyebutkan semakin tinggi tingkat pendidikan atau pengetahuan seseorang maka semakin membutuhkan pusat-pusat pelayanan kesehatan sebagai tempat berobat bagi dirinya dan keluarganya. Hasil penelitian Ramli. Syahrul. Menurut Lubis(dalam Ali. faktor kepuasan ibu . dan ayahnya berpendidikan SD ke bawah. Diantaranya menurut Singarimbun (1986). radio.(2003) memberikan gambaran bahwa anak mempunyai kesempatan lebih besar untuk tidak diimunisasi lengkap bagi yang ibunya tinggal di perdesaan.Selanjutnya Masykur (1983) dalam kesimpulan penelitiannya juga menyatakan ibu-ibu yang tahu tentang imunisasi tertinggi pada ibu yang tamat SLTA yaitu 80. Semakin banyak jumlah anak. Strategi ini berasumsi bahwa anak-anak tidak akan diimunisasi secara benar disebabkan orang tua tidak mendapat penjelasan yang baik atau karena memiliki sikap yang buruk tentang imunisasi.2002).kurang pengetahuan. Slamet (1999).R(1988) menunjukkan bahwa faktor yang berpengaruh terhadap kejadian drop out atau tidak lengkapnya status imunisasi bayi adalah : pengetahuan ibu tentang imunisasi .Muhammad.Peningkatan cakupan imunisasi melalui pendidikan orang tua telah menjadi strategi populer di berbagai negara.tingkat pengetahuan ibu tentang imunisasi sebagian besar (73.2002). Dengan berpendidikan tinggi.dari suatu penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa kurangnya peran serta ibu rumah tangga dalam hal ini disebabkan karena kurang informasi (6075%). semakin besar kemungkinan seorang ibu tidak mengimunisasikan anaknya dengan lengkap. tidak punya akses ke media massa ( surat kabar/majalah. tidak memiliki KMS (Kartu Menuju Sehat).0%) sudah baik Namun demikian juga masih didapat sebagian kecil (4%) yang tergolong kurang.K. (Ali.dkk (2002) dalam kesimpulan penelitiannya juga mengemukakan bahwa ada hubungan yang bermakna antara pengetahun ibu dan keterpaparan informasi dengan status imunisasi.Muhammad..Program imunisasi dapat berhasil jika ada usaha yang sungguh-sungguh dan berkesinambungan pada orang. TV). maka perbaikan dalam evaluasi perilaku kesehatan masyarakat dan peningkatan pengetahuan sangat diperlukan. Sebagai contoh adalah hasil beberapa penelitian yang menyebutkan peningkatan status kelengkapan imunisasi bayi/ anak akan meningkat seiring meningkatnya pendidikan dan pengetahuan ibu.Jika suatu program intervensi preventif seperti imunisasi ingin dijalankan secara serius dalam menjawab perubahan pola penyakit dan persoalan pada anak dan remaja. Berdasarkan hasil penelitian Cahyono..Fariani.1%.7% dan secara statistik menunjukkan ada perbedaan yang bermakna antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan ibu tentang imunisasi. faktor jumlah anak balita.orang yang memiliki pengetahuan dan komitmen yang tinggi terhadap imunisasi. berpendidikan rendah. maka wawasan pengatehuan semakin bertambah dan semakin menyadari bahwa begitu penting kesehatan bagi kehidupan sehingga termotivasi untuk melakukan kunjungan ke pusat-pusat pelayanan kesehatan yang lebih baik. menyebutkan kelengkapan status imunisasi anak tertinggi pada ibu yang berpendidikan SLTP keatas sebanyak 30.M.

Azrul.http://library. Jakarta. faktor keterlibatan pamong dalam memotivasi ibu dan faktor jarak rumah ke tempat pelayanan imunisasi.M.2002) Abednego.Peran seorang ibu pada program imunisasi sangatlah penting. Medan. Pengantar Administrasi Kesehatan.Muhammad .id/modules. Jakarta. Ilmu Kesehatan Masyarakat Suatu Survey. Strategi dan Pengembangan Program Imunisasi Di Indonesia Menjelang Abad 21. Sikap dan Perilaku Ibu Bekerja dan Tidak Bekerja Tentang Imunisasi. Kepercayaan dan perilaku kesehatan ibu juga hal yang penting. 1996 . op=modload [16 Januari. Pengetahuan. Karenanya suatu pemahaman tentang program ini amat diperlukan untuk kalangan tersebut. karena penggunaan sarana kesehatan oleh anak berkaitan erat dengan perilaku dan kepercayaan ibu tentang kesehatan dan mempengaruhi status imunisasi.Jakarta1999 ___________.ac.terhadap pelayanan petugas imunisasi.2008 ] Azwar. 1993 ___________.Pengantar Epidemiologi.usu.Masalah pengertian dan keikutsertaan orang tua dalam program imunisasi tidak akan menjadi halangan yang besar jika pendidikan kesehatan yang memadai tentang hal itu diberikan. H. Jakarta. Binarupa Aksara. 1997 Ali.php. Balai Penerbit FK UI.(Ali.2002.Muhammad.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful