AKSI ADVEN PEMBANGUNAN 2015

KEUSKUPAN BOGOR

KELUARGAKU
RAHIM BELAS KASIH & PENGAMPUNAN
BUKU PANDUAN RENUNGAN
UMAT
DISUSUN OLEH KOMISI KATEKETIK
KEUSKUPAN BOGOR
JL. JEND. A. YANI NO. 31. BOGOR

1

KATA PENGANTAR
Berawal dari 5 pilar Karya Pastoral Keuskupan Bogor yang
dicanangkan oleh Bapa Uskup, salah satu fokusnya yaitu keluarga.
Pada APP tahun ini tema yang diangkat adalah Keluarga Sumber
Sukacita, perhatian SAGKI pun salah satunya mengarah pada tema
keluarga. Sehubungan dengan fokus pada tema keluarga tersebut,
tema AAP tahun ini pun mengarah pada keluarga.
Kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dalam masyarakat
menjadi keprihatinan Gereja, khususnya Gereja Keuskupan Bogor.
Keprihatinan terhadap kekerasan dalam rumah tangga
menggerakkan Gereja untuk melakukan berbagai upaya untuk
mencegah dan mengatasi penyebaran ‘virus’ kekerasan di dalam
kehidupan keluarga-keluarga umat manusia, termasuk keluargakeluarga Katolik.
Salah satu upaya Gereja Keuskupan Bogor ialah mengajak
keluarga-keluarga merefleksikan kembali makna dan tugas
panggilan hidup berkeluarga, melalui kegiatan Aksi Adven
Pembangunan (AAP) tahun 2015, yang bertema: “Keluargaku
Rahim Belaskasih dan Pengampunan”.
Rahim, dalam pengertian harafiah berarti kantung selaput dalam
perut seorang wanita (ibu), tempat pembentukan dan pertumbuhan
janin, bakal pribadi manusia, yang kelak akan lahir sebagai
seorang bayi dan menjadi anak di dalam keluarga. Rahim
merupakan tempat yang damai dan nyaman bagi janin; tempat ia
mengalami kasih ibu dan ayahnya serta seluruh keluarganya.
Rahim merupakan karunia Allah bagi manusia, khususnya bagi
seorang ibu, sebagai co-creator, rekan kerja Allah untuk
menciptakan dan memelihara kehidupan di dunia ini.

2

Merefleksikan “Keluarga sebagai Rahim Belas Kasih dan
Pengampunan” pada intinya berarti merefleksikan keluarga sebagai
tempat di mana anggota-anggota keluarga mengalami belas kasih,
pengampunan, dan keadilan Allah yang Maharahim, dan belajar
mengikuti sifat-sifat kerahiman Allah. Refleksi sebagai aksi
bersama sepanjang kita masa Adven 2015 ini terdiri atas tiga
permenungan yang masing-masing mengangkat (sub) tema:
(1) Keluarga Rahim Ilahi;
(2) Keluarga Mengolah Konflik Dalam Terang Injil; dan
(3) Keluarga Merayakan Rahmat Kasih dan Pengampunan.
Pengalaman akan Allah Maharahim merupakan kekuatan bagi
keluarga Katolik untuk menghadapi dan mengatasi konflik-konflik
di dalam keluarga dengan jalan-jalan yang ditunjukkan oleh Allah
sendiri, melalui Kristus dan Injil-Nya. Dalam terang Injil Kristus,
keluarga tidak lagi melihat konflik sebagai penghambat atau
bahkan penghancur relasi, melainkan peluang untuk saling
menunjukkan belas kasih, pengampunan, dan keadilan di antara
anggota-anggota keluarga. Terang Injil Kristus menuntun keluarga
Katolik – melalui konflik – menuju kedewasaan dan kesempurnaan
pribadi sebagai citra Allah Maharahim.
Pada tahap akhir refleksi bersama ini, keluarga-keluarga Katolik
diajak untuk merayakan rahmat belas kasih dan pengampunan
Allah Maharahim yang telah dialami. Perayaan dilakukan dengan
bersyukur dan bergembira bersama keluarga dan Gereja melalui,
antara lain: penerimaan Sakramen Ekaristi dan Sakramen
Pengampunan. Perayaan juga dilakukan dengan berbagi
kegembiraan bersama orang-orang di sekitar yang dijumpai seharihari, melalui tindakan-tindakan penuh belas kasih, pengampunan,
dan keadilan.

3

Semoga keluarga-keluarga Katolik yang menjadi Rahim Ilahi, ikut
melahirkan Kristus Penyelamat bagi masyarakat.
Selamat memasuki dan menjalani masa Adven.
Tuhan Memberkati.

Bogor, 1 November 2015
Komisi Kateketik Keuskupan Bogor

4

DAFTAR ISI
Kata Pengantar……………………………..………………… 2
Daftar Isi……………………………………………………... 3
 Pertemuan Pertama …………………………………….…
KELUARGA ADALAH RAHIM ILAHI

 Pertemuan Kedua …………………………………………
KELUARGA MENGOLAH KONFLIK DALAM TERANG INJIL

 Pertemuan Ketiga ………………………….……………..
KELUARGA MERAYAKAN RAHMAT BELAS KASIH &
PENGAMPUNAN

5

PERTEMUAN PERTAMA

KELUARGA ADALAH RAHIM ILAHI
(Sumber Bacaan Kitab Suci: Kej. 1: 26 -28 dan Lukas 1: 5- 25)
Tujuan:
Umat lebih menyadari bahwa pilihan panggilan hidup berkeluarga
merupakan rumah atau tempat pertama dan utama “Pendidikan
Rahim Ilahi”, agar keberadaan dan tumbuh kembangnya manusia
tetap mencerminkan diri sebagai citra Allah.
Gagasan Pokok:
“Ditemukan, Bayi Laki-laki Dalam Kardus” (Tengerang, Jurnal
Bogor, Hal. 3, Rabu, 21 Oktober 2015), itulah salah satu contoh
berita dari media masa mengenai kekerasan dalam rumah tangga
atau keluarga, yang terus saja terjadi dalam hidup manusia.
Kekerasan dalam keluarga tidak hanya dari orangtua terhadap
anak, tapi ada juga dari anak terhadap orangtuanya, orangtua
dengan orang tua dan anak dengan anak.
Gambaran ketidakharmonis dalam hidup keluarga seperti itu,
menimbulkan berbagai pertanyaan, mengapa kekerasan dalam
rumah tangga itu bisa terjadi? Bukankah keduanya (suami-isteri)
pada awal jumpa saling mencintai/mengasihi? Dan bukankah anak
merupakan buah kasih dari orangtuanya?
Keadaan kekerasan dalam rumah tangga yang terjadi dalam
masyarakat, juga menjadi keprihatinan Gereja. Karena itu Gereja
melakukan berbagai kegiatan salah satunya adalah Aksi Adven
6

Pembangunan (AAP) ini untuk mencegah dan mengatasi, agar
virus kekerasan dalam rumahtangga tidak terjadi (lagi) dalam
keluarga umat manusia, khususnya dalam keluarga-keluarga
Katolik.
Dari latar belakang tersebut, Gereja Keuskupan Bogor dalam
tradisi kegiatan AAP tahun 2015 ini mengangkat Tema:”
Keluargaku Rahim Belaskasih dan Pengampunan”. Sub tema
pertama dalam renungan ini adalah: “Keluarga Rahim Ilahi”.
Lalu apa yang dimaksud dengan keluarga Rahim ilahi?
Untuk memahami hal itu, marilah kita mulai memahami arti
keluarga. Keluarga berasal dari bahasa sansekerta “kula” dan
“warga”, yang berarti anggota dan kelompok kerabat. Dalam
kontesi ini arti keluarga tidak hanya nuclear family (keluarga inti),
tetapi juga extended family (Keluarga besar). Secara umum kita
dapat mengatakan bahwa keluarga adalah tempat atau lembaga
kehidupan dan bertumbuhnya sel terkecil dari masyarakat. Disana
menjadi tempat pertama dan utama terjadinya “sekolah” sepanjang
hidupnya. Sedangkan Rahim, artinya kantung selaput dalam perut
seorang wanita (Ibu), tempat janin atau bayi, tempat pertama
kehidupan itu. Rahim juga berarti bersifat belaskasihan, bersifat
penyayang. Sedangkan Ilahi berarti mempunyai sifat-sifat Tuhan.
Jadi kelurga Rahim ilahi artinya tempat atau lembaga dimana
anggota-anggota keluarga mendapatkan belaskasih atau kasih
sayang dari sifat-sifat Tuhan. Itu berarti Allah menaruh atau
memberikan belaskasih kepada keluarga.
Belaskasih Ilahi dalam keluarga sudah sejak semula atau sejak
kekal Allah berikan. Dalam Kitab Kejadian diterangkan hal itu,
bahwa Allah menjadikan manusia menurut citra-Nya.
Ia
menjadikan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri (Kej.
1:26-27) Artinya sejak semula (kekal) sifat-sifat Allah ditanamkan
7

pada diri manusia, itulah hadiah gratis dari Allah kepada kita
manusia.
Karena kita mengerti bahwa kehadiran seorang anak manusia
melalui pilihan panggilan hidup berkeluarga, maka mestinya kita
juga harus sadar dan bersyukur, bahwa keluarga adalah Rahim
Ilahi itu. Artinya dalam dan melalui keluarga, “sekolah” mengenai
sifat-sifat Allah (ilahi) itu ada dan terjadi. Keluarga menjadi tempat
pembentukan pendidikan (formatio) cinta dan dicintai serta
bernilai. Sebaliknya oleh karena kita tidak pernah sadar dan tidak
bersyukur, atas martabat hidup keluarga selaku citra Allah, maka
terjadilah perilaku atau karakter yang tidak mencerminkan citra
Allah, seperti kekerasan dalam rumah tangga (keluarga) yang
selalu terjadi.
Oleh sebab itu dalam mengantisipasi dan mengatasi berbagai
macam persoalan hidup berkeluarga, kiranya perlu disadarkan
kembali fungsi keluarga agar dapat menghayati hidup berkeluarga
secara harmonis, secara damai dan sejatera (bahagia).
Fungsi-fungsi keluarga antara lain: (1) Fungsi Religius, artinya
dalam keluarga harus terjadi pendidikan iman (agama). Ajaran
Kitab Suci, Tradisi Gereja dan ajaran-ajaran Magisterium Ecclesia
seharusnya secara teratur ditanamkan dalam sekolah informal itu,
bahayanya, jika orangtuanya tidak mengetahui mengenai hal itu.
( 2 ) Fungsi Pendidikan, orangtua adalah pendidik pertama dan
utama dalam “sekolah informal” dan bermula dari sini, orangtua
semakin menunjukkan tanggungjawabnya dan mengarahkan ke
pendidikan formal, demikian juga pendidikan non formal bagi
anak-anak atau anggota keluarganya (bayangkan jika anakanaknya tidak bersekolah?), (3) Fungsi Perlindungan, dalam hal
ini tugas keluarga ialah melindungi anak-anak dari tindakantindakan yang tidak baik, sehingga anggota keluarganya merasa
terlindungi dan merasa aman. (4) Fungsi Sosialisasi anak, tugas
8

keluarga harus mempersiapkan anak-anaknya menjadi anggota
masyarakat yang baik, menjadi anggota Gereja yang baik. (5)
Fungsi perasaan, keluarga hendaknya menjaga secara intuitif
merasakan perasaan dan suasana anak dan anggota yang lain dalam
berkomunikasi dan berinteraksi antar sesama anggota keluarga;
sehingga menanamkan kebiasaan saling pengertian, saling
menghargai satu sama lain dalam menumbuhkan keharmonisan,
kedamaian dalam keluarga. (6) Fungsi ekonomis, tugas keluarga
dalam hal ini orangtua harus menghidupi keluarganya untuk
mencukupi kebutuhan hidup keluarga terutama kebutuhan
primernya dan mengaturnya sedemikian rupa, agar terciptalah
persediaan yang cukup. (7) Fungsi biologis, tidak hanya untuk
meneruskan keturunan, tetapi lebih dari itu orangtua hendaknya
dapat menjelaskan fungsi-fungsi dari anggota tubuh terutama
tentang seks dan seksualitas, sehingga terciptalah kesehatan tubuh
dan penghargaan martabat manusia seutuhnya. (8) Fungsi
Rekreatif, keluarga perlu ada rekreasi bersama, sehingga tercipta
suasana yang menyenangkan. Dari semua fungsi-fungsi tersebut
diatas, orangtua hendaknya mendasari itu semua dengan (9) fungsi
kasih sayang, perhatian, dan rasa aman diantara keluarga serta
membina pendewasaan kepribadian (karakter) anggota
keluarganya.
Masa Adven selama empat pekan pada tahun ini, hendaknya
menjadi momentum bagi keluarga Katolik untuk semakin
menyadari akan pilihan panggilan hidupnya, bahwa hidup berrumahtangga yang dibangunnya adalah “Rahim Ilahi”, agar dapat
menghayati hal itu, maka kita perlu mendalami kisah penciptaan
manusia dari kitab Kej. 1:26-28 dengan kata kuncinya: ”Manusia
adalah Citra Allah”.
Lalu bagaimana dapat mewujudkan dengan baik sebagai citra
Allah dalam hidup berkeluarga? Kita perlu belajar dari keluarga
Bapak Zakharia dalam Injil Lukas 1:5-25. Ada beberapa yang
9

menarik dari keluarga ini. (1) Keluarga ini adalah keluarga yang
benar di hadapan Allah. Benar dihadapan Allah dapat kita artikan
menikah/berkeluarga secara secara sah, baik berdasarkan aturan
sipil maupun aturan Gereja kita. Hidup benar juga dapat diartikan
tidak melanggar aturan dan moral dalam hidupnya. (2) Mereka
menuruti segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak
bercacat. Ini kita artikan bahwa keluarga itu sungguh hidup oleh
imannya. Menjadi keluarga Katolik harus hidup oleh imannya akan
Kristus. Artinya seluruh kehidupan dalam keluarga Katolik harus
menampakan kehadiran Kristus. (3) Menjalankan tugas dan
fungsinya dengan tulus sebagai” imam”.
Kita mengartikan
orangtua harus komitmen dan bertanggungjawab atas tugas
pekerjaanya, agar mencukupi kebutuhan hidup keluarganya.
Menjalankan tugas dengan tulus, bukan berarti mengabaikan sisi
profesionalitas dari suatu tugas pekerjaan. (4) Keluarga dengan
kebiasaan hidup doa yang sangat tinggi, sebab doa menjadi dasar
hidup oleh iman yang hakiki, dengan doa hidup keluarga membuka
banyak kemungkinan campur tangan Allah dalam hidup berrumahtangga. (5) Walaupun awalnya mereka ragu akan perkataan
Malaikat Gabriel, keluarga ini tetap percaya pada kehendak Allah.
Ini yang dimaksudkan bahwa setiap manusia dan setiap keluarga
itu unik, oleh karena berbeda itu maka setiap orang dan setiap
keluarga tentu ada kelebihan dan kekurangannya. Namun demikian
kita perlu meneladani hidup dari Bapak Zakharia dan Ibu Elizabet,
bahwa apapun hendaknya manusia tetap harus bergantung dan
pasrah kepada kehendak Allah.

10

PROSES PERTEMUAN
A. PEMBUKA
1. Lagu Pembuka: (Madah Bakti No. 317)
2. Tanda Salib dan Salam:
P: † Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin.
P: Semoga kasih Allah menyertai kita sekalian.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
3. Kata Pembuka:
P: Saudara-Saudari terkasih dalam Kristus,
Selamat berjumpa kembali dalam acara pendalaman iman
Aksi Adven Pembangunan (AAP). Pada Masa Adven
Tahun 2015 ini, Gereja Keuskupan Bogor, melalui Bapa
Uskup Paskalis Bruno Syukur, mengajak kita sekalian
mempersiapkan diri memyambut Natal dengan hati penuh
syukur atas anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita.
Tema AAP yang ditetapkannya adalah: ”Keluargaku
Rahim Belaskasih dan Pengampunan”. Tema umum ini
diurai menjadi tiga sub tema, yaitu: (1) Keluarga Rahim
Ilahi, (2) Keluarga Mengolah Konflik dalam Terang Injil,
dan (3) Keluarga Merayakan Rahmat Belaskasih dan
Pengampunan.
Di dalam pertemuan pertama ini, dengan sub tema
“Keluarga Rahim Ilahi”, kita diajak untuk lebih menyadari
bahwa keluarga kita masing-masing merupakan rumah atau
tempat pertama dan utama “pendidikan kerahiman ilahi”;
tempat tinggal dan bertumbuh-kembangnya pribadi-pribadi
yang mencerminkan diri sebagai citra Allah. Dengan
11

kesadaran ini, kita meneguhkan kembali pilihan kita
menjalani panggilan hidup berkeluarga kita masing-masing.
Mari siapkan hati dan pikiran kita, agar renungan yang kita
lakukan ini memberi manfaat bagi kehidupan keluarga dan
Gereja kita.
(Hening sejenak)
4. Doa Pembuka:
P : Marilah berdoa.
Allah Bapa Yang Penuh Kasih, sejak kekal Engkau
menaruh belaskasih kepada manusia dan dalam keluarga
kami masing-masing. Kami mohon, bukalah hati dan
pikiran kami, agar semakin sadar bahwa kami adalah
Gambar dan Rupa-Mu sendiri. Semoga oleh Sabda-Mu
yang akan kami renungkan, mendorong kami semakin
menampakkan kerahiman ilahi-Mu dalam keluarga kami.
Demi Yesus Kristus, Pengantara kami.
U : Amin.
B. MENGGALI ARTI “KELUARGA SEBAGAI RAHIM
ILAHI”
5. Dialog:
Saudara-Saudari terkasih,
Dalam Kata Pembuka tadi, telah disebut tema pertemuan
kita hari ini, yaitu “Keluarga sebagai Rahim Ilahi”.
Menurut Saudara-Saudari, apa arti “Keluarga sebagai
Rahim Ilahi”?
12

Umat dapat mengemukakan pendapat tentang “Keluarga
sebagai Rahim Ilahi”, secukupnya, dalam suasana dialog,
tidak berkembang menjadi adu pendapat atau debat.
Kita akan menggali lebih dalam makna “Keluarga sebagai
Rahim Ilahi” setelah kita mendengarkan Sabda Tuhan.
C. MEMBACA DAN MENDALAMI SABDA
6. Bacaan Kitab Suci:
Bacaan pertama: Kej. 1:26-28
26
Berfirman Allah: ”Baiklah Kita menjadikan manusia
menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa
atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas
ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang
melata yang merayap di bumi. 27Maka Allah menciptakan
manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah
diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka. 28Allah memberkati mereka, lalu Allah
berfirman kepada mereka: ”Beranakcuculah dan bertambah
banyak, penuhilah bumi dan taklukanlah itu, berkuasalah
atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara, dan atas
segala binatang yang merayap di bumi.
Bacaan kedua Lukas 1: 5- 25
5
Pada zaman Herodes, raja Yudea, adalah seorang imam
yang bernama Zakharia dari rombongan Abia. Isterinya
juga berasal dari keturunan Harun, namanya Elisabet.
6
Keduanya adalah benar di hadapan Allah dan hidup
menurut segala perintah dan ketetapan Tuhan dengan tidak
bercacat. 7Tetapi mereka tidak mempunyai anak, sebab
Elisabet mandul dan keduanya telah lanjut umurnya. 8Pada
13

suatu kali, waktu tiba giliran rombongannya, Zakharia
melakukan tugas keimaman di hadapan Tuhan. 9Sebab
ketika diundi, sebagaimana lazimnya, untuk menentukan
imam yang bertugas, dialah yang ditunjuk untuk masuk ke
dalam Bait Suci dan membakar ukupan di situ. 10Sementara
itu seluruh umat berkumpul di luar dan sembahyang.
Waktu itu adalah waktu pembakaran ukupan. 11Maka
tampaklah kepada Zakharia seorang malaikat Tuhan berdiri
di sebelah kanan mezbah pembakaran ukupan. 12Melihat
hal itu ia terkejut dan menjadi takut. 13Tetapi malaikat itu
berkata kepadanya:” Jangan takut, hai Zakharia, sebab
doamu telah dikabulkan dan Elisabet, isterimu, akan
melahirkan seorang anak laki-laki bagimu dan harus
engkau menamai dia Yohanes. 14Engkau akan bersukacita
dan bergembira, bahkan banyak orang akan bersukacita
atas kelahirannya itu. 15Sebab ia akan besar di hadapan
Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman
keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari
Rahim ibunya. 16Ia akan membuat banyak orang Israel
berbalik kepada Tuhan, Allah mereka, 17dan ia akan
berjalan mendahului Tuhan dalam roh dan kuasa Elia untuk
membuat hati bapak-bapak berbalik kepada anak-anaknya
dan hati orang-orang durhaka kepada pikiran orang-orang
benar dan dengan demikian menyiapkan bagi Tuhan suatu
umat yang layak bagi-Nya. 18Lalu kata Zakharia kepada
malaikat itu:” Bagaimanakah aku tahu, bahwa hal ini akan
terjadi? Sebab aku sudah tua dan isteriku sudah lanjut
umurnya.” 19Jawab malaikat itu kepadanya:” Akulah
Gabriel yang melayani Allah dan aku telah diutus untuk
berbicara dengan engkau dan untuk menyampaikan kabar
baik ini kepadamu. 20Sesungguhnya engkau akan menjadi
bisu dan tidak dapat berkata-kata sampai kepada hari, di
mana semuanya ini terjadi, karena engkau tidak percaya
akan perkataanku yang akan nyata kebenarannya pada
14

waktunya.” 21Sementara itu orang banyak menanti-nantikan
Zakharia. Mereka menjadi heran, bahwa ia begitu lama
dalam Bait Suci. 22Ketika ia keluar, ia tidak dapat berkatakata kepada mereka dan mengertilah mereka, bahwa ia
telah melihat suatu penglihatan di dalam Bait Suci. Lalu ia
memberi isyarat kepada mereka, sebab ia tetap bisu.
23
Ketika selesai jangka waktu tugas jabatannya, ia pulang
ke rumah. 24Beberapa lama kemudian Elisabet, isterinya
mengandung dan selama lima bulan ia tidak menampakkan
diri, katanya: 25Inilah suatu perbuatan Tuhan bagiku, dan
sekarang Ia berkenan menghapuskan aibku di depan
orang.”
7. Pendalaman Iman:
P : Saudara-Saudari terkasih dalam Kristus,
Setelah kita membaca dan mendengarkan dua bacaan
Kitab Suci, sekarang marilah kita mendalami iman kita
akan Kristus dari kedua bacaan tersebut, dan juga dari
pengalaman dan pengamatan kita dari berbagai
persoalan hidup berkaitan dengan tema ”Keluarga
Rahim Ilahi”.
Pertanyaan pendalaman:
a) Apa pesan dari bacaan pertama Kej. 1:26-27 bagi
kita, manusia?
b) Apa saja persoalan-persoalan keluarga yang tidak
mencerminkan diri selaku citra Allah? Dan
mengapa persoalan itu bisa terjadi?
c) Menurut Saudara-Saudari, manakah fungsi
keluarga, agar dapat menghayati dengan baik dan
benar bahwa keluarga adalah Rahim ilahi?
15

d) Dari baca kedua, manakah usaha yang dapat kita
teladani dari keluarga Bapak Zakharia dan Ibu
Elisabet, dalam menghayati keluarga adalah Rahim
Ilahi?
8. Benang Merah Pendalaman Iman:
P : Saudara-Saudari yang terkasih dalam Kristus.
Dari apa yang kita perbincangkan tadi ada beberapa hal
yang menjadi pokok perhatian kita:
a. Kita harus menyadari bahwa setiap keluarga Katolik
hendaknya sungguh-sungguh menghayati bahwa
keluarganya adalah rahim ilahi, yaitu tempat atau
lembaga dimana anggota-anggota keluarga
mendapatkan belaskasih atau kasih sayang dari
Allah. Allah menaruh atau memberikan belaskasih
kepada keluarga kita. Kita dicintai oleh Allah dan
hendaknya kitapun membalasnya dengan mencintai
Allah, dan mencintai anggota-anggota keluarga kita.
b. Allah yang mengasihi kita, sebagaimana yang kita
dengar dalam Kej. 1:26-27, menjadikan kita,
manusia, menurut citra-Nya, menyediakan tempat
hidup yang damai dan nyaman, juga dekat denganNya, serta memberikan kepada kita tanggung jawab
untuk memelihara kehidupan di tempat itu.
c. Kita percaya, bahwa keluarga kita adalah “tempat
hidup” yang Allah sediakan bagi kita. Inilah dasar
untuk kita membangun keluarga sebagai rahim
ilahi: sejak semula atau sejak kekal, Allah telah
memberikan “hadiah” yang sangat berharga, sangat
indah, kepada kita, yakni: tanggung jawab untuk
memelihara, melindungi, mengasihi keluarga kita,
dan siapa saja yang tinggal bersama kita, agar
16

keluarga kita merasa aman, tenteram, damai dan
sejahtera (bahagia); merasa dicintai oleh Allah.
d. Kitapun perlu belajar atau meneladani keluarga
Zakharia dan Elisabet dalam Injil Lukas 1:5-25 agar
kita dapat memelihara keluarga kita sebagai “rahim
ilahi”, yaitu dengan mendasarkan kehidupan
keluarga kita pada iman kepada Kristus, bersama
keluarga berusaha hidup benar di hadapan Allah,
mengikuti perintah dan ketetapan-ketetapan Allah,
dan memperkokohnya dengan hidup doa yang tetap
dan teratur.

17

9. Lagu Pengantar Renungan : “Di Doa Ibuku Namaku
Disebut”
Di waktu ku masih kecil
gembira dan senang.
Tiada duka ku kenal,
tak kunjung mengerang.
Di sore hari nan sepi
ibuku bertelut,
sujud berdoa ku dengar
namaku disebut.
reff :
Di doa ibuku
namaku disebut.
Di doa ibu ku dengar
ada namaku disebut.

Seringlah kini ku kenang
di masa yang berat,
di kala hidup mendesak
dan nyaris ku sesat.
Melintas gambar ibuku
sewaktu bertelut.
Kembali sayup ku dengar
namaku disebut.
Sekarang dia telah pergi
ke rumah yang senang,
namun kasihnya padaku
selalu ku kenang.
Kelak di sana kami pun
bersama bertelut,
memuji Tuhan yang dengar
namaku disebut.

D. RENUNGAN:
(Renungan, harap dibawakan dalam suasana yang hening)

P : Saudara-Saudari terkasih,
Di sebuah media masa terdapat berita tentang penemuan
bayi laki-laki di dalam kardus (Tengerang, Jurnal Bogor,
Rabu, 21 Oktober 2015, hlm. 3). Seorang ibu? dengan
sangat tega mencampakkan anak manusia begitu saja. Kita
dapat mengatakan ibu? itu seperti sudah mati rasa, tidak
lagi mempunyai cinta; rasa hormat terhadap hidup manusia
pun sudah hilang dari hati dan pikirannya. Padahal ketika ia
18

dan pasangannya bertemu, mereka mengungkapkan rasa
cinta satu sama lain. Tetapi mengapa mereka
mencampakkan bayi laki-laki itu? Bukankah bayi yang
dikandung dan dilahirkan itu adalah buah cinta mereka?
Peristiwa ini adalah salah satu contoh kasus kekerasan
dalam keluarga. Banyak penyebab terjadinya kekerasan
dalam keluarga, antara lain: ketidakmampuan mengatur
amarah, sikap egois dan tak mau kalah, hilangnya rasa cinta
kepada pasangan dan/atau anak, hilangnya kesadaran
orangtua bahwa anak dan keluarga adalah anugerah cinta
Allah. Bacaan pertama yang kita dengarkan tadi
mengingatkan kita bahwa kekerasan dalam keluarga
mungkin terjadi karena kita kurang atau tidak lagi
menghargai diri kita sendiri, dan anggota-anggota keluarga
sebagai citra Allah yang mulia. Di dalam hidup keluarga
kita, barangkali, kita tidak lagi menghayati kerahiman ilahi,
dan lupa bahwa keluarga adalah “tempat tinggal” yang
Allah sediakan bagi kita.
Karena itu, dalam masa Adven ini, marilah kita menimba
pengalaman iman dari keluarga Bapak Zakharia dan Ibu
Elisabet dalam Injil Lukas 1:5-25. Mereka sungguh
menghayati hidup berkeluarga di dalam iman mereka
kepada Allah, sehingga kehidupan keluarga mereka
berbuah keselamatan bagi banyak orang beriman, terutama
dengan kehadiran putera mereka, Yohanes Pembaptis,
sebagai BENTARA Kristus.
Semoga teladan keluarga Zakharia mengantar keluargakeluarga kita kepada keluarga kudus Nasaret, yang kita
akan rayakan pada Natal yang akan datang, sebagai bukti
tanda cinta Allah yang melindungi dan menyelamatkan diri
19

dan keluarga kita masing-masing. Tuhan memberkati kita
semua. Amin.
E. DOA-DOA TANGGAPAN:
10. Refleksi diri dan doa mohon pertobatan:
P : Saudara-Saudari yang terkasih dalam Kristus.
Marilah pada kesempatan yang baik ini, kita mawas
diri sejenak. Kita bersyukur karena sejak semula Allah
menciptakan kita menurut gambar dan rupa-Nya
sendiri. Artinya Ke-ilahian-Nya ada di dalam diri kita,
dan kita menyebutnya Allah yang Maharahim.
Kerahiman ilahi terus menyertai kita dalam perjalanan
hidup keluarga kita masing-masing. Menyadari
kerahiman Allah, mari kita refleksikan diri kita
masing-masing lalu mohon pengampunan dari Allah,
atas kelalaian, kesalahan dan dosa-dosa kita, terutama
karena kita kurang menghayati kerahiman ilahi dalam
diri kita dan dalam keluarga kita.
(hening sejenak)
P: Tuhanlah yang mengampuni segala kesalahan kita dan
menyembuhkan segala penyakit kita.
U : Tuhan itu pengasih dan penyang.
P : Dialah yang meluputkan hidup kita dari kematian dan
memahkotai kita dengan kasih setia dan rahmat
U : Tuhan itu pengasih dan penyayang.
20

P : Tuhan tidak akan murka terus menerus, tidak untuk
selamanya mengobarkan amarah-Nya.
U : Tuhan itu pengasih dan penyang.
P:

Ia tidak memperlakukan kita setimpal dengan dosa
kita, dan tidak membalas sepadan kesalahan kita.

U : Tuhan itu pengasih dan penyayang.
P : Semoga Allah yang Mahapengasih dan
Mahapenyayang, mengasihani kita, menghancurkan
sumber dosa di dalam hati kita, dan mengantar kita ke
hidup yang kekal.
U : Amin.
11. Doa Umat:
P : Ya Allah yang Maharahim, kami ingin hidup bahagia
di dalam keluarga kami, dan menjadikan keluarga
kami Rahim-Mu yang kudus. Oleh karena itu, dengan
rendah hati kami sampaikan doa-doa permohonan
kami:
1. Ya Allah, bukalah hati dan pikiran kami sebagai
keluarga-keluarga Katolik supaya kami semakin
menyadari tugas mulia dari-Mu untuk memelihara
keluarga kami masing-masing sebagai rahim ilahi.
Kami mohon,
U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.
2. Ya Bapa, tanamkanlah cinta kasih sejati di dalam
diri kami masing-masing, juga di dalam keluarga
21

kami. Bantulah kami untuk menghayati cinta-Mu
di dalam hidup keluarga kami dengan mencintai
anggota-anggota keluarga kami. Kami mohon,
U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.
3. Ya Bapa, tolonglah keluarga-keluarga yang
mengalami kekerasan di dalam rumah mereka,
baik kekerasan verbal maupun kekerasan fisik.
Utuslah kepada mereka Roh Cinta Kasih dan
Pengampunan, dan kuduskanlah mereka kembali
di dalam kerahiman-Mu. Kami mohon…
U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.
4. Ya Bapa, semoga keluarga-keluarga Katolik
selalu hidup oleh imannya akan Yesus Kristus,
Putera-Mu, seperti Keluarga Zakharia-Elisabethdan-Yohanes Pembaptis. Kami mohon,
U : Kabulkanlah doa kami, ya Tuhan.
P : (Marilah kita sampaikan intensi pribadi dalam hati kita
masing masing-masing.)
P : Ya Bapa, kami percaya bahwa Engkau selalu setia
kepada kami umat-Mu, walaupun kadang-kadang kami
tidak setia kepada-Mu. Kiranya Engkau mengabulkan
doa-doa permohonan kami ini, karena kami memohon
semua itu di dalam Kristus, Tuhan dan Pengantara
kami.
U : Amin.
F. ORATIO DOMINICA:
22

P:

Atas petunjuk penyelamat kita, dan menurut ajaran ilahi,
maka marilah kita berdoa…

U:

Bapa Kami ...

U:

Ya Bapa, bebaskalah kami dari segala yang jahat dan
berilah kami damai-Mu, supaya dalam keluarga kami
semakin menghayati kerahiman ilahi, s ambil
mengharapkan kedatangan penyelamat kami, Yesus
Kristus.

U:

Sebab Engkaulah Raja, yang mulia dan berkuasa untuk
selama-lamanya.

G. PENUTUP
12. Doa Penutup:
P : Marialah berdoa.
Ya Allah yang kekal dan kuasa, kami bersyukur
kepada-Mu, karena Engkau telah mencurahkan RohMu untuk menyertai kami dalam merenungkan dan
berbagi pengalaman iman tentang keluarga sebagai
rahim ilahi. Semoga butir-butir kerahiman ilahi-Mu
yang kami perbincangkan tadi, semakin berakar dan
berbuah dalam hidup keluarga kami, karena Kristus
yang kami nantikan dalam HARI RAYA NATAL.
Sebab Dialah Tuhan dan Pengantara kami, yang
bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan
berkuasa, Allah sepanjang segala masa.
U : Amin.
23

13. Mohon Berkat:
P : Allah yang Maharahim, mengakhiri pertemuan
pendalaman iman ini, kami mohon berkat-Mu atas diri
dan keluarga kami masing-masing, agar kami selalu
setia kepada-Mu.
Dan semoga Allah yang Maharahim memberkati kita
semua: (+) Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh
Kudus.
U : Amin.
14. Kata Penutup dan Pengutusan:
P:

Saudara-Saudari sekalian, ibadat pendalaman AAP
kita kali ini sudah selesai, marilah kita hidup dalam
kerahiman Tuhan.

U : Syukur kepada Allah.
15. Lagu Penutup: judul lagu (Madah Bakti No. 325)

24

PERTEMUAN KEDUA

KELUARGA MENGOLAH KONFLIK
DALAM TERANG INJIL
(Sumber Bacaan Kitab Suci: Lukas 2: 41-52)
Tujuan:
Mengajak dan menyadarkan seluruh keluarga-keluarga kristiani
untuk berani menghadapi konflik dan menyelesaikannya sesuai
dengan terang injil.
Gagasan Pokok :
Paus Yohanes Paulus II menyatakan bahwa dalam pernikahan dan
keluarga terbentuklah suatu kompleksitas hubungan antarpribadi;
suami dan istri, orang tua dan anak, kakak dan adik. Melalui relasirelasi itu, setiap anggota diintegrasikan ke dalam “keluarga
manusia” dan “keluarga Allah”, yakni Gereja (FC 15)
Maka tahun 2015 ini, Gereja Keuskupan Bogor, memfokuskan diri
mengenai kehidupan dalam keluarga. Keluarga katolik yang sering
dikenal dengan ungkapan “Ecclesia Domestica”, mengandung
makna bahwa Keluarga merupakan tempat persemaian, kehidupan
menggereja, dimana benih-benih kasih tumbuh dan berkembang
dalam dalam terang injil. Kita ketahui secara jelas bahwa keluarga
adalah sel terkecil dalam masyarakat, karena didalam keluarga
terbangun suatu jaringan awal hubungan sosial. Melalui kehadiran
dan peran anggota-anggotanya, keluarga menjadi tempat asal dan
25

upaya efektif untuk membangun masyarakat yang manusiawi dan
rukun (FC 43).
Dalam Pedoman Pastoral Gereja yang dikeluarkan KWI, dikatakan
bahwa, Gereja adalah “Ibu dan Guru” (mater et magistra) bagi
keluarga Katolik. Artinya berperan sebagai ibu, Gereja
memberikan bantuan dan asuhan bagi keluarga dalam menjalankan
kehidupan berkeluarga. Terlebih dalam menghadapi problematika.
Sedangkan menjadi guru, Gereja memberikan pengarahan serta
pedoman-pedoman bagi Keluarga Katolik dalam mengarungi
kehidupan zaman yang serba komplek ini. Gereja akan selalu
memberikan perhatian dan penghargaan kepada keluarga katolik
yang dengan setia menghayati panggilan hidupnya. Gereja
memberikan pendampingan dan meneguhkan keluarga yang
sedang mengalami konflik dalam menjalankan tugas perutusannya.
Tidak dapat dipungkiri
bahwa konflik terjadi dimana-mana,
termasuk dalam kehidupan berkeluarga. Ada berbagai
problematika yang dapat menimbulkan konflik dalam keluarga.
Problematika itu dapat dikategorikan dalam dua kelompok yakni
problematika yang bersifat umum yakni masalah-masalah yang
dihadapi dan dialami oleh hampir setiap keluarga dan problematika
yang bersifat khusus adalah masalah-masalah yang berkaitan
dengan norma moral hidup, yang dialami oleh keluarga Katolik
tertentu.
Pedoman Pastoral Gereja menyajikan berbagai Problematika yang
bersifat umum dan khusus.
Problematika yang bersifat umum itu antara lain:
 Hubungan dalam keluarga, yang tidak harmonis, meliputi
hubungan antara suami dan istri, hubungan orang tua dan
anak dan hubungan keluarga inti dan keluarga besar.
26











Pendidikan iman dan moral dalam keluarga yang tidak
berkenan meliputi pendidikan pada umumnya, pendidikan
iman dan pendidikan moral.
Ekonomi dan keuangan dalam rumah tangga.
Perkawinan campur.
Pencegahan dan penanganan HIV/AIDS dan NAPZA.
Kesetaraan Gender dalam keluarga
Kekerasan dalam Rumah tangga
Kesehatan keluarga
Lanjut usia yang kurang diperhatikan
Adat istiadat dalam perkawinan.
Seksualitas dalam keluarga
Keluarga berencana.

Problematika yang bersifat khusus antara lain:
 Prokreasi artifisial
 Terapi dengan menggunakan Stem Cell.
Secara singkat problematika itu dapat digolongkan dalam beberapa
jenis yakni masalah perkawinan yang tidak sah, kesulitan ekonomi,
relasi suami istri, kondisi anak, relasi dengan umat/masyarakat,
dan masalah yang berhubungan dengan relasi dengan Tuhan.
Berbagai macam problematika yang terjadi dalam keluarga dapat
menyebabkan konflik, baik terhadap diri sendiri maupun dengan
anggota keluarga, bahkan mungkin dengan anggota Gereja ataupun
dengan masyarakat sekitar dimana keluarga berada.
Dari berbagai persolan yang berpotensi menimbulkan konflik
tersebut diatas, kita diajak agar dapat menghadapi/mengatasinya
dalam terang injil, yang menjadi dasar acuan bagi kita (keluarga)
untuk hidup benar menurut kehendakNya. Problematika itu antara
lain:
27

1. Hubungan Suami Istri
Suami istri dipanggil untuk hidup dalam persekutuan yang
bersifat eksklusif dan tak terputuskan (KHK 1056) kecuali oleh
kematian (bdk. Mat 19:6). Melalui perkawinan suami istri
mewartakan kehadiran cinta kasih Allah yang menyelamatkan.
Dalam perkembangan teknologi yang serba modern ini selain
memberikan manfaat positif tetapi juga menimbulkan dampak
negatif misalnya gaya hidup instan, ketidaknyamanan dalam
berelasi antara suami istri. Maka timbullah dorongan untuk
melakukan perceraian. Salah satu indikasinya adalah
meningkatnya kasus perkawinan yang harus ditangani oleh
Tibunal Keuskupan dan perceraian sipil.
Untuk mengatasi hal ini gereja menawarkan arah pemecahan
antara lain :
 Pendampingan suami istri untuk mengunakan kemajuan
teknologi secara positif dan mewaspadai dampak negatif.
 Menawarkan kesempatan konsultasi, mediasi dan
rekonsiliasi melalui orang atau lembaga yang disiapkan
oleh Gereja.
 Mengingatkan suami istri akan janji perkawinan dengan
rela berkorban demi kebahagian pasangan, sabar, saling
mengampuni dan mendoakan.
 Mendorong suami istri untuk memanfaatkan rahmat Allah
yang diterima dalam sakramen perkawinan, dengan setia
menerima sakramen Ekaristi dan Sakramen Rekonsiliasi.
2. Hubungan orang tua dan anak
Allah menghadirkan manusia baru melalui orang tua dalam
suatu perkawinan suci. Kehadiran pasangan dan anak
merupakan bukti nyata cinta Allah kepada keluarga. Santo
Paulus mengajarkan : “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di
dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu
dan ibumu ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang
28

nyata dari janji ini:supaya kamu berbahagia dan panjang
umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan
amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di
dalam ajaran dan nasihat Tuhan.(Ef. 6:1-4) Nasihat Paulus ini
mengajarkan kita akan relasi yakni pendidikan kebijaksanaan
dan cinta kasih antar generasi. Perbedaan antar generasi ini
dapat menjadi pemicu konflik. Apa yang menurut orang tua
baik untuk anaknya, belum tentu diterima baik oleh anak.
Akhirnya orang tua membiarkan anak menentukan sendiri
tanpa pengarahan yang semestinya.
Menanggapi masalah ini, Gereja mengajarkan:

Orang tua hendaknya menjalin relasi yang bersifat personal
dan fungsional. Relasi Personal berarti orang tua
menghargai kepribadian anak dan tidak sewenang-wenang
kepada anak; Relasi fungsional artinya orang tua harus
menyadari akan tugasnya sebagai pendidik pertama dan
utama dengan cara memberikan pengarahan, pembinaan
baik melalui nasihat maupun teladan hidupnya.

Menghargai hak asasi anak antara lain dalam hal memilih
pasangan hidup, memilih pekerjaan, tidak mempekerjakan
anak dibawah umur dan memaksa anak untuk mengikuti
kursus atau les-les privat, sekolah tertentu demi gengsi
orang tua.

Berhubungan dengan perkembangan dunia digital yang
mewabah kepada semua lapisan manusia yang kadang
berpotensi menimbulkan konflik, maka gereja menghimbau
kepada orang tua untuk mendampingi anak anak mereka
saat menggunakan alat komunikasi modern. Perlu
ketegasan orang tua dalam membatasi penggunaan alat
29

komunikasi modern pada saat dan waktu yang tepat,
mengunakan media elektronik untuk tujuan yang mendidik.

Karena kesenjangan usia antara anak dan orang tua, maka
dari pihak anak diharapkan membangun sikap hormat
kepada orang tua yang didasari oleh cinta kasih, bukan
keterpaksaan, terlebih dikala orang tua memasuki usia
lanjut dan membutuhkan bantuan dari anak-anaknya.
Ketidakmampuan orang tua jangan dipandang sebagai
kelemahan, dan menganggap mereka sebagai orang yang
tidak berguna. Sadarilah bahwa sikap positif kepada orang
tua adalah merupakan ungkapan rasa terima kasih atas jasajasa orang tua, dan harus disadari bahwa jasa-jasa orang tua
tak akan mungkin kita balas semuanya dan orang tua pun
tidak menuntutnya.

3. Hubungan keluarga inti dan keluarga besar
Budaya Indonesia yang terkenal dengan kekerabatan
hendaknya menjunjung tinggi nilai kehidupan keluarga besar,
yang terdiri dari Keluarga Inti dan keluarga orang tua dan dan
mertua serta sanak saudara. Kadang kala jika keluarga inti
mengalami persoalan dalam keluarga dan mungkin konflik,
kadang kala keluarga besar, tanpa diminta bantuannya ingin
menolong. Hal ini dapat memberi nilai positif sebagai suatu
kerja sama yang baik dalam keluarga. Tetapi jika terus menerus
dan bahkan mencampuri urusan keluarga inti terlalu mendalam
maka, ini merupakan awal dari konflik baru yang bisa terjadi
antara keluarga inti dan keluarga besar. Menghadapi persoalan
ini maka Gereja menyerukan:

Keluarga inti mempunyai otonomi yang harus dihargai oleh
keluarga besar.

30


Masing-masing keluarga hendaknya menyadari
kedudukannya dalam relasi tersebut. Mampu menempatkan
diri masing-masing.
Memberi bantuan adalah ungkapan cinta kasih, bukan ikut
campur tangan pada urusan keluarga suatu pribadi.

4. Pendidikan Iman dan Moral dalam keluarga
 Mengenai pendidikan, Gereja mengatakan “Hendaknya
orang tua mempercayakan anak mereka kepada
se ko la h-s e kol a h te m pat pe ndi di ka n K at ol ik
diselengarakan (KHK 798). Kewenangan mendirikan
sekolah katolik terletak pada otoritas Gereja, namun
umat beriman diharapkan membantunya (KHK 800).
 Melalui pendidikan iman diharapkan generasi Gereja
bertumbuh dengan semangat cinta kasih dan
persaudaraan. Maka dari itu, pendidikan dalam keluarga
harus memperhatikan pendidikan iman dan moral
Katolik karena keluarga adalah sekolah nilai-nilai
kamanusiaan dan iman Katolik (GE 3, FC 36).
 Orang tua adalah pendidik dan pewarta iman pertama
dan utama bagi anak-anak (AA 11)
 Pendidikan moral adalah upaya untuk mengantar
seseorang agar hidup dengan baik. Namun kenyataan
sekarang banyak terjadi peristiwa yang bertentangan
dengan nilai-nilai moral kehidupan. Maka dari itu di
dalam keluarga katolik, anak anak juga perlu diberi
pemahaman tentang norma-norma moral katolik dengan
cara yang sesuai dengan perkembangannya. Pendidikan
nilai dan norma hendaknya didasari pada hukum cinta
kasih. (bdk. Mrk 12:30-31).
Dan hendaknya
menanamkan ajaran moral yang bersumber dari
Sepuluh Perintah Allah (Kel 20:1-17).
5. Ekonomi dan Keuangan Rumah Tangga
31

Ekonomi keluarga adalah salah satu cara bagaimana
keluarga mengusahakan agar kebutuhan hidup secara
finansial dapat terpenuhi. Namun dalam kenyataan hidup,
sering terjadi pertengkaran dan konflik dalam keluarga
dapat terjadi ketika membahas mengenai keuangan.
Bagaimana seharusnya agar kita tidak terjerumus dalam
konflik yang berkepanjangan bila membicarakan tentang
kebutuhan ekonomi. Gereja mengajarkan bahwa :



Penataan ekonomi dilaksanakan dengan berprinsip
bahwa Allah menciptakan segala sesuatu untuk
kesejahteraan semua orang (Kej.1:28-29).
Merencanakan dan mengelola ekonomi rumah tangga
dengan memprioritaskan pemenuhan kebutuhan
anggota keluarganya (bdk 2 Tes 3:10)
Membiasakan hidup hemat, sederhana dan ugahari.
Hindari pola hidup aji mumpung sehingga tidak terjadi
penumpukan biaya yang tak terduga. Kita ingat kisah
Yusuf menjelaskan mimpi raja Firaun (Kej 41:26-30).
Membangun sikap solider dan semangat berbagi (bdk
Kis 2:44-54).
Mengembangkan sikap jujur dan terbuka (bdk Mat
5:37) trmasuk dalam hal keuangan rumah tangga.

Dari berbagiai problematika keluarga yang disebutkan
diatas, pada kesempatan ini kita diajak untuk dapat
mengolahnya dalam terang injil. Teks injil yang menjadi
acuan referensi dalam pendalaman iman ini dari Lukas
2:41-52. Inti sarinya kita hendaknya memiliki sikap yaitu
belajar dari keluarga Yusuf dan Maria dalam mengatasi
persoalan-persoalan hidup yang mereka alami.

32

PROSES PERTEMUAN
A. PEMBUKA
1. Lagu Pembuka: PS No. 442
2. Tanda Salib dan Salam:
P : † Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U : Amin.
P : Cinta kasih Allah Bapa dan Putera-Nya, Yesus
Kristus, serta penghiburan Roh Kudus beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.
3. Pernyataan Tobat:
P : Saudara-Saudari, sebelum kita mendengarkan Sabda
Allah dan merenungkannya, marilah kita menyiapkan
diri dengan mohon ampun kepada Allah atas dosadosa kita.
---hening sejenak--P : Tuhan Yesus Kristus, Engkau memanggil kami
supaya berbuat yang benar. Tuhan, kasihanilah kami.
U : Tuhan, kasihanilah kami.
P : Engkau menanggung dosa kami supaya kami bebas
dari kekuasaan dosa dan dapat hidup menurut
kehendak Allah. Kristus, kasihanilah kami.
U : Kristus, kasihanilah kami.
P : Engkau menderita bagi kami supaya kami selamat
dan mengikuti jejak-Mu. Tuhan, kasihanilah kami.
U : Tuhan, kasihanilah kami.
33

P : Semoga Allah yang Maharahim mengasihani kita,
mengampuni dosa kita, dan mengantar kita ke hidup
yang kekal.
U : Amin.
4. Doa Pembukaan
P
: Marilah kita berdoa --bersama-sama—
P + U: Allah Bapa kami yang Maharahim, kami bersyukur
kepada-Mu atas kesempatan bertemu kembali
sebagai keluarga-Mu. Kami mohon terang Roh
Kudus-Mu bagi kami semua yang hadir di sini
u n t u k m e n u n t u n k a m i a g a r k a m i mampu
mendengarkan, menghayati, dan mengamalkan
sabda-Mu, khususnya di dalam kehidupan keluarga
kami masing-masing. Semoga dalam menantikan
kelahiran Putera-Mu, Yesus Kristus, kami semakin
dikuatkan dalam iman kami dengan nasihat-nasihat
In j i l Suci-Mu.
De n g a n pengantaraan Kristus,
Tuhan kami, yang hidup dan berkuasa bersama
dengan Ro h Kudus, Allah sepanjang segala masa.
Amin.
B. MEMBACA DAN MENDALAMI SABDA
5. Bacaan Kitab Suci:
Yesus pada umur dua belas tahun dalam Bait Allah
(Lukas 2: 41-52):
41
Tiap-tiap tahun orang tua Yesus pergi ke Yerusalem pada
hari raya Paskah. 42 Ketika Yesus telah berumur dua belas
tahun pergilah mereka ke Yerusalem seperti yang lazim
pada hari raya itu. 43Sehabis hari-hari perayaan itu, ketika
34

mereka berjalan pulang, tinggallah Yesus di Yerusalem
tanpa diketahui orang tua-Nya. 44Karena mereka
menyangka bahwa Ia ada di antara orang-orang
seperjalanan mereka, berjalanlah mereka sehari perjalanan
jauhnya, lalu mencari Dia di antara kaum keluarga dan
kenalan mereka. 45Karena mereka tidak menemukan Dia,
kembalilah mereka ke Yerusalem sambil terus mencari Dia.
46
Sesudah tiga hari mereka menemukan Dia dalam Bait
Allah; Ia sedang duduk di tengah-tengah alim ulama,
sambil mendengarkan mereka dan mengajukan pertanyaanpertanyaan kepada mereka. 47Dan semua orang yang
mendengar Dia sangat heran akan kecerdasan-Nya dan
segala jawab yang diberikan-Nya. 48Dan ketika orang tuaNya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya
kepada-Nya: "Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian
terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari
Engkau." 49Jawab-Nya kepada mereka: "Mengapa kamu
mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus
berada di dalam rumah Bapa-Ku?" 50Tetapi mereka tidak
mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka. 51Lalu Ia
pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap
hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan
semua perkara itu di dalam hatinya. 52Dan Yesus makin
bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya,
dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
6. Pendalaman Iman:
Dialog interaktif pengalaman dan kitab suci
1. Konflik apa yang terjadi dalam peristiwa bacaan Injil?
2. Bagaimana Yusuf dan Maria mengolah konflik yang
terjadi dalam keluarganya?

35

3.

Bagaimana sikap/tanggapan kita bila kita menghadapi
masalah dalam keluarga kita? Apa yang dapat kita
teladani dari peristiwa keluarga Yusuf dan Maria?

C. POKOK-POKOK RANGKUMAN/RENUNGAN
Keluarga sering dilanda konflik: kekerasan dalam rumah
tangga, perceraian, penggunaan narkoba, dll.
Terhadap
berbagai konflik dalam keluarga, Gereja menawarkan solusi
dengan melandaskan pada ajaran-ajaran Ilahi, sebagai berikut:
1. Hubungan Suami Istri hendaknya terjalin dengan baik
untuk keharmonisan hidup berkeluarga. Dalam KHK 1056
dikatakan
Suami istri dipanggil untuk hidup dalam persekutuan yang
bersifat eksklusif dan tak terputuskan. Demikian dikatakan
dalam injil Mat 19:6, apa yang telah dipersatukan Allah
tidak boleh diceraikan oleh manusia.
Untuk mengatasi hal ini gereja menawarkan arah
pemecahan antara lain:



Pendampingan suami istri untuk mengunakan
kemajuan teknologi secara positif dan mewaspadai
dampak negatif.
Menawarkan kesempatan konsultasi, mediasi dan
rekonsiliasi melalui orang atau lembaga yang
disiapkan oleh Gereja.
Mengingatkan suami istri akan janji perkawinan
dengan rela berkorban demi kebahagian pasangan,
sabar, saling mengampuni dan mendoakan.
Mendorong suami istri untuk memanfaatkan rahmat
Allah yang diterima dalam sakramen perkawinan,
36

dengan setia menerima sakramen Ekaristi dan
Sakramen Rekonsiliasi.
2. Hubungan antara seluruh anggota keluarga harus tercipta
dengan baik, sebagaimana yang dinasehatkan oleh Santo
Paulus:
“Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan,
karena haruslah demikian. Hormatilah ayahmu dan ibumu
ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata
dari janji ini:supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu
di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan
amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka
di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.(Ef. 6:1-4) Nasihat
Paulus ini mengajarkan kita akan relasi yakni pendidikan
kebijaksanaan dan cinta kasih antar generasi. Perbedaan
antar generasi ini dapat menjadi pemicu konflik. Apa yang
menurut orang tua baik untuk anaknya, belum tentu
diterima baik oleh anak. Akhirnya orang tua membiarkan
anak menentukan sendiri tanpa pengarahan yang
semestinya. Paulus menambahkan dalam suratnya kepada
jemaat di Filipi, tentang nasihat supaya bersatu dan
merendahkan diri seperti kristus “hendaknya kamu sehati
sepikir dalam satu kasih, satu jiwa satu tujuan, dengan tidak
mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia.
Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang
menganggap dengan yang lain lebih utama dari pada
dirinya sendiri. Hendaknlah kamu dalam hidupmu bersama
menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam
Kristus Yesus yang walaupun dalam rupa Allah tidak
menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik
yang harus dipertahankan” (Flp 2:1-11).

37

3. Injil yang kita renungkan hari ini menampilkan kehidupan
Yusuf dan Maria dalam menghadapi permasalahan atau
konflik keluarganya. Merkea menjadi khawatir dan gelisah
karena Yesus tidak ada diantara mereka. Konflik yang
terjadi dalam diri Yusuf dan Maria merupakan situasi yang
cukup dilematis dalam proses menghadapi persoalan anak.
Namun, poin penting yang harus kita dalami adalah bahwa
Yosef dan Maria sungguh dekat dengan Allah dan
mengentahui dengan benar apa yang menjadi kehendak
Allah dalam hidup mereka dan khususnya rencana Allah
dalam diri anaknya, Yesus Kristus. Kedekatan Yosef dan
Maria pada kehendak Allah merupakan teladan bagi kita
bahwa mereka sungguh menuruti apa yang diinginkan oleh
Allah. Dalam hal ini bagi kita menuruti kehendak Allah
berarti menuruti nasihat-nasihat dalam terang injil.
Harapannya adalah denganmenuruti nasihat-nasihdat dalam
terang injil ini, seluruh keluarga-keluarga kristiani mampu
menghadapi dan menyelesaikan konflik sesuai dengan
kehendak Allah.
4. Karena itu Gereja menyerukan:
 Orang tua hendaknya menjalin relasi yang bersifat
personal dan fungsional. Relasi Personal berarti
orang tua menghargai kepribadian anak dan tidak
sewenang-wenang kepada anak; Relasi fungsional
artinya orang tua harus menyadari akan tugasnya
sebagai pendidik pertama dan utama dengan cara
memberikan pengarahan, pembinaan baik melalui
nasihat maupun teladan hidupnya.
 Menghargai hak asasi anak antara lain dalam hal
memilih pasangan hidup, memilih pekerjaan, tidak
mempekerjakan anak dibawah umur dan memaksa
38


anak untuk mengikuti kursus atau les-les privat,
sekolah tertentu demi gengsi orang tua.
Berhubungan dengan perkembangan dunia digital
yang mewabah kepada semua lapisan manusia yang
kadang berpotensi menimbulkan konflik, maka
gereja menghimbau kepada orang tua untuk:
mendampingi anak anak mereka saat menggunakan
alat komunikasi modern. Perlu ketegasan orang tua
dalam membatasi penggunaan alat komunikasi
modern pada saat dan waktu yang tepat,
mengunakan media elektronik untuk tujuan yang
mendidik.
Karena kesenjangan usia antara anak dan orang tua,
maka dari pihak anak diharapkan membangun sikap
hormat kepada orang tua yang didasari oleh cinta
kasih, bukan keterpaksaan, terlebih dikala orang tua
memasuki usia lanjut dan membutuhkan bantuan
dari anak-anaknya.
Kekurangmampuan orang tua jangan dipandang
sebagai kelemahan, dan menganggap mereka
sebagai orang yang tidak berguna. Sadarilah bahwa
sikap positif kepada orang tua adalah merupakan
ungkapan rasa terima kasih atas jasa-jasa orang tua,
dan harus disadari bahwa jasa-jasa orang tua tak
akan mungkin kita balas semuanya dan orang tua
pun tidak menuntutnya.
Menanamkan pendidikan iman dan moral sepanjang
hidup; agar keluarga-keluarga kristiani tumbuh
dengan semangat cinta kasih dan persaudaraan.
Perlunya kestabilan pemenuhan kebutuhan hidup
dalam keluarga terutama kebutuhan primer, dan
hendaknya dikelola dengan baik

39

D. DOA-DOA TANGGAPAN:
5. Doa Umat:
P : Allah Bapa yang maha baik, Engkau menghendaki
agar keluarga-keluarga katolik yang telah Engkau
bangun melalui perkawinan sah dan sacramental dapat
hidup bahagia. Bapa dengarkanlah doa dan
permohonan umatMu ini.
L : Y a B a p a semoga para mepimpin gereja mampu
menanamkan sabda-Mu dalam diri kami sehingga
kami menjadi pelaku sabda-Mu yang setia
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L : Ya Bapa semoga keluarga-kelurga yang sedang
mengalami konflik mampu menyelesaikan
permasalahan mereka dalam terang injil, kami mohon
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L : Ya Bapa semoga para orang tua mampu memimpin
keluarga mereka dalam terang dan roh
kebijaksanaanMu, Kami mohon
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L : Ya Bapa semoga anak-anak yang dilahirkan dalam
keluarga mampu mengembirakan hati orang tua
mereka dan menjadi sumber suka cita bagi keluarga,
Kami mohon
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
L : Ya Bapa semoga setiap keluarga senantiasa
memperbaharui diri dalam Kristus yang lahir ke dunia.
Kami mohon...
U : Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
40

L : Allah Bapa di surga, demikianlah permohonan kami
semoga keluarga Nazaret tetap menjadi teladan bagi
kami semua, dengan pengantara Kristus Tuhan kami
U : Amin
6. Doa Masa Adven (PS No. 86)
P : Marilah kita berdoa bersama-sama
Ya Allah Bapa yang mahakudus kami bersyukur ke
hadirat-Mu karena lewat masa penantian ini Engkai
menjanjikan Juruselamat yakni Yesus Kristus PuteraMu. KedatanganNya dinubuatkan oleh para nabi, dan
dinantikan oleh Perawan Maria dengan cinta mesra.
Dialah Edam baru yang memulihkan persahabatan
kami dengan Dikau. Ia menolong yang lemah, dan
menyelamatkan yang berdosa.
Ia membawa damai sejati bagi kami dan membuat
semakin banyak orang mengenal Engkau, dan berani
melaksanakan kehendak-Mu.
Ia datang sebagai
manusia biasa, untuk melaksanakan renaca-Mu dan
membukakan jalan keselamatan bagi kami. Pada akhir
zaman Ia akan datang dengan semarak dan mulia
untuk menyatakan kebahagiaan yang kami nantikan.
Kami mohon kelimpahan rahmat-Mu, agar selama
hidup di dunia ini kami seslalu siap siaga dan penuh
harap menantikan kedatangan-Nya yang mulia, agar
pada saat Ia datang nanti, kami Kau perkenankan ikut
berbahagia bersama Dia dan seluruh umat kesayanganMu. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan
sepanjang masa. Amin.
41

7. Doa Bapa Kami
P : Saudara-saudara marilah dengan hati yang mantap kita
memohon datangnya Kerajaan Allah di dunia ini
dengan mengucapkan doa yang diajarkan oleh Yesus
sendiri….
U : Bapa Kami…..
8. Doa Penutup
P : Allah Bapa kami yang maha baik, kami bersyukur atas
segala rahmat yang Kau berikan kepada kami sehingga
kami dapat berbagi pengalaman iman dalam mengolah
konflik kehidupan kami khususnya persoalanpersoalan dalam rumah tangga. Semoga kami sebagai
pribadi dalam keluarga mampu menyadari kerahiman
ilahi sehingga kerahiman ilahi itu tumbuh dan berakar
dalam rumah tangga kami masing-masing. Demi
Kristus Tuhan dan pengantara kami.
U : Amin
9. Berkat Pengutusan
P : Marilah kita mohon berkat Tuhan, supaya segala
upaya kita menyiapkan perayaan Natal mencapai hasil
seperti yang kita harapkan dan supaya keluarga kita
semakin menghayati nasehat-nasehat injil.
---hening sejenak--P : Semoga dalam masa persiapan Natal, Allah
meneguhkan iman kita
U : Amin
42

P : Semoga Allah mendorong kita supaya lebih giat
mengamalkan nasehat-nasehat injil kepada sesama,
khususnya di dalam keluarga masing-masing.
U : Amin
P : Semoga kita semua yang hadir disini diberkati Dalam
Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
U : Amin
10. Lagu Penutup: PS No. 443

43

PERTEMUAN KETIGA

KELUARGA MERAYAKAN
RAHMAT BELAS KASIH DAN
PENGAMPUNAN
(Sumber Bacaan Kitab Suci: Lukas 2:1-20)
Tujuan:
Umat menyadari, dan memahami rahmat belas kasih dan
pe nga mpuna n da lam peris ti wa N atal sert a berusaha
mewujudkannya dalam kehidupan keluarga seturut teladan
Keluarga Kudus Nazareth.
Gagasan Pokok:
Natal adalah peristiwa dimana Allah turun ke dunia dan menjelma
menjadi manusia. Melalui peristiwa Natal, Allah menunjukkan
belas kasih-Nya yang begitu besar kepada manusia. Ia juga
senantiasa mengampuni dan mengangkat manusia dari dosa. Inilah
kebahagiaan bagi dunia, yaitu ketika manusia yang telah jatuh
dalam dosa diangkat dan dipersatukan kembali dengan Allah.
Demikian pula dalam keluarga, Allah menunjukkan belas kasihNya dengan pertama-tama hadir dan menjadi bagian dari Keluarga
Kudus Nazareth. Allah berkenan hadir dalam keluarga-keluarga
kristiani. Natal juga adalah perayaan iman kehadiran Allah dalam
keluarga.
Harus diakui bahwa tidak ada satupun keluarga yang sempurna.
Setiap keluarga pasti mengalami konflik dan berbagai cobaan
dalam kehidupan. Begitupun Keluarga Kudus Nazareth mengalami
44

berbagai konflik dan cobaan ketika akan melahirkan Yesus.
Mereka mengalami penolakan di beberapa tempat, melahirkan
Yesus di kandang yang dingin. Hingga akhirnya harus lari demi
melindungi Yesus sang pembawa sukacita. Namun dalam
perjalanannya itulah, Keluarga Kudus mengalami sebuah proses
kehidupan, yang di dalamnya terdapat rahmat belas kasih dan
pengampunan. Mereka dengan setia menerima Yesus dan
menjaganya karena mereka tahu bahwa Yesus yang hadir itulah
sumber rahmat belas kasih dan pengampunan bagi keluarga dan
dunia. Kehadiran Yesus adalah pemenuhan janji Allah, yakni
mendatangkan rahmat keselamatan bagi manusia.
Injil Luk 2:1-20 menjadi acuan dalam mendalami pertemuan
Adven ketiga yakni Keluarga merayakan rahmat belas kasih dan
pengampunan, memiliki beberapa hal penting untuk kita cermati
bersama, antara lain:
a. Keluarga Kudus Nazareth pada perjalanannya mengalami
banyak pergolakan dan cobaan tetapi mereka dengan setia
menerima dan menjaga Yesus yang hadir di dalam
keluarga. Mereka sadar akan rahmat belas kasih dan
pengampunan Allah yang hadir melalui Yesus.
b. Semoga dalam merayakan Natal tidak hanya dengan baju
baru dan pernak-pernik baru. Tetapi hendaknya itu semua
harus didasari pada rasa syukur atas Allah yang hadir
dalam keluarga, dan melalui kehadiran-Nya itulah Ia
mengalirkan rahmat belas kasih dan pengampunan secara
terus menerus. Oleh sebab itulah kita pun diajak untuk mau
memberi tempat bagi Allah dalam keluarga sama seperti
apa yang telah dilakukan oleh Keluarga Kudus Nazareth.

45

c. Melalui kehadiran Allah dalam keluarga, kita diajak untuk
peka dan memberi tempat bagi mereka yang sendirian dan
tidak merasakan kasih keluarga dalam hidupnya,
mereka yang lemah, berdosa, dan menderita. Dengan demikian
perayaan natal menjadi satu perayaan kebahagiaan karena Juru
Selamat telah datang ke dunia dan sekaligus kegembiraan. Sebab
seluruh anggota Kerajaan Allah berkumpul di dalam satu
persekutuan yang penuh rahmat belas kasih dan pengampunan.

46

PROSES PERTEMUAN
A. PEMBUKA.
1. Lagu Pembuka: PS No. 613
2. Tanda Salib:
P: † Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus.
U: Amin
P: Semoga kasih Allah menyertai kita sekalian.
U: Sekarang dan selama-lamanya.
3. Kata Pembuka:
P: Saudara- saudari terkasih dalam Kristus, kita berjumpa
lagi dalam acara pendalaman AAP. Peretemuan ketiga ini
dengan tema: Keluarga Merayakan Rahmat Belaskasih dan
Pengampunan. Mari kita mempersiapkan hati dan pikiran
kita untuk mengikuti pendalaman ini.
(Hening sejenak)
4. Doa Pembuka:
P : Marilah berdoa
Allah Bapa Yang Penuh Kasih, melalui Yesus yang lahir di
kandang domba, Engkau berkenan hadir dan tinggal di
dalam Keluarga Kudus Nazareth. Kami mohon hadirlah
dan tinggallah bersama keluarga kami agar kami pun dapat
merayakan rahmat belas kasih dan pengampunan dalam
sukacita Natal. Demi Kristus, Tuhan dan Pengantara kami
yang hidup dan berkuasa bersama Dikau dalam
persekutuan dengan Roh Kudus, Alllah sepanjang segala
masa.
47

U : Amin.
B. MEMBACA DAN MENDALAMI SABDA
5. Bacaan Kitab Suci
Kelahiran Yesus (Lukas 2:1-7)
1
Pada waktu itu Kaisar Agustus mengeluarkan suatu
perintah, menyuruh mendaftarkan semua orang di seluruh
dunia. 2Inilah pendaftaran yang pertama kali diadakan
sewaktu Kirenius menjadi wali negeri di Siria.3Maka
pergilah semua orang mendaftarkan diri, masing-masing di
kotanya sendiri. 4Demikian juga Yusuf pergi dari kota
Nazaret di Galilea ke Yudea, ke kota Daud yang bernama
Betlehem, --karena ia berasal dari keluarga dan keturunan
Daud- 5supaya didaftarkan bersama-sama dengan Maria,
tunangannya, yang sedang mengandung. 6Ketika mereka di
situ tibalah waktunya bagi Maria untuk bersalin, 7dan ia
melahirkan seorang anak laki-laki, anaknya yang sulung,
lalu dibungkusnya dengan lampin dan dibaringkannya di
dalam palungan, karena tidak ada tempat bagi mereka di
rumah penginapan.
Gembala-gembala (Lukas 2: 8-20)
8
Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang
menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. 9Tibatiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan
kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka
sangat ketakutan. 10Lalu kata malaikat itu kepada mereka:
"Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan
kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: 11Hari ini
telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota
D a u d . 12 Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan
menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan
48

terbaring di dalam palungan." 13Dan tiba-tiba tampaklah
bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala
tentara sorga yang memuji Allah, katanya: 14"Kemuliaan
bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera
di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."
15
Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan
kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang
kepada yang lain: "Marilah kita pergi ke Betlehem untuk
melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan
Tuhan kepada kita." 16Lalu mereka cepat-cepat berangkat
dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang
berbaring di dalam palungan.17Dan ketika mereka melihatNya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan
kepada mereka tentang Anak itu. 18Dan semua orang yang
mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembalagembala itu kepada mereka. 19Tetapi Maria menyimpan
segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.
20
Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji
dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka
dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang
telah dikatakan kepada mereka.
6. Pendalaman iman :
P : Saudara-Saudari terkasih dalam Kristus.
Setelah kita membaca dan bacaan Injil tesrebut
sekarang marilah kita mendalami isi dan pesan Injil
tersebut, juga pengalaman iman kita dalam menjalani
hidup berkeluarga.
Pertanyaan pendalaman:
a) Rahmat belas kasih apa yang dialami oleh Keluarga
Kudus Nazareth pada teks Lukas 2:1-20?
49

b) Menurut saudara sekalian sudahkah keluarga
Katolik merayakan rahmat belas kasih dan
pengampunan? Sharingkan pengalamannya!
c) Sebagai satu keluarga, apa yang harus kita lakukan
dalam merayakan rahmat belas kasih dan
pengampunan?
d) Sudahkah kita bersikap peka terhadap orang-orang
yang belum dapat merasakah rahmat belas kasih
dan pengampunan? Kira-kira apa yang harus kita
berikan bagi mereka? (tindakan-tindakan
konkritnya)

C. POKOK-POKOK RANGKUMAN/RENUNGAN
a. Kelahiran Yesus di kandang yang sederhana menunjukkan
rahmat belas kasih dan pengampunan Allah yang begitu
besar. Sekalipun manusia sudah melupakan Allah, namun
Allah selalu mengingat manusia. Bahkan karena cinta-Nya
yang besar, Ia rela turun dan menjadi manusia biasa.
Kelahiran Yesus menjadi tanda rahmat belas kasih dan
pengampunan Allah yang besar. Kandang domba yang dulu
dipandang hina kini menjadi suatu tanda bahwa Allah
mengasihi dan mengampuni manusia. Kita pun sebagai
suatu keluarga diajak untuk merayakan rahmat belas kasih
dan pengampunan Allah dengan bersikap peka terhadap
merka yang sendirian. Kita diajak untuk mau membagikan
kasih dalam segala hal dengan semangat dan cinta Natal
yang ajaib.
50

b. Dulu seorang penulis cerita terkenal, Hans Christian
Andersen pernah menulis sebuah cerita fiksi berkaitan
dengan hari Natal. Ia menulis cerita tentang gadis kecil
penjual korek api. Dalam cerita tersebut ada seorang gadis
kecil yang amat miskin dan merindukan kehangatan
keluarga di tengah dinginnya salju. Akhirnya berbekal
korek api yang tidak laku ia membayangkan betapa
menyenangkannya bila berada dalam keluarga terutama di
hari Natal. Betapa menyenangkannya bisa makan dan
berkumpul bersama keluarga di hari Natal. Ia
membayangkan betapa senangnya jika memiliki keluarga
yang saling mengasihi dengan setulus hati, yang saling
mengampuni dengan rela hati.
c. Kita pun sebagai keluarga yang telah merayakan rahmat
belas kasih dan pengampunan diajak untuk peka terhadap
sesama kita. Terutama mereka yang sendirian dan
mengalami keretakan keluarga.
d. Kita harus memberi tempat bagi Yesus untuk hadir di
tengah keluarga sama seperti yang telah dilakukan oleh
Keluarga Kudus. Dengan menerima Yesus di dalam
keluarga pada akhirnya kita dapat merayakan rahmat belas
kasih dan pengampunan.
D. DOA-DOA TANGGAPAN:
7. Doa Umat :
P : Ya Bapa yang Maha Rahim, kami sekeluarga rindu
merayakan rahmat belas kasih dan pengampunan. Oleh
sebab itu dengarkanlah permohonan-permohonan kami
ini:
51

P: Ya Bapa, bukalah hati dan pikiran kami untuk dapat
menyadari rahmat kasih-Mu di tengah-tengah keluarga
kami. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan
P: Ya Bapa, berkatilah dan bantulah keluarga kami agar
mampu mewujudkan sikap saling mengampuni dengan
rela hati. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan
P: Ya Bapa, semoga keluarga-keluarga yang mengalami
luka batin akibat pertikaian, perceraian, dan kekerasan
dapat menemukan kembali rahmat belas kasih dan
pengampunan dalam keluarga. Kami mohon kiranya
Engkau berkenan menuntun mereka ke dalam
persatuan kembali di dalam keluarga. Kami mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan
P: Ya Bapa, semoga keluarga-keluarga Katolik selalu
dapat meneladani kehidupan Keluarga Kudus Nazareth
dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Kami
mohon…
U: Kabulkanlah doa kami ya Tuhan.
P: (Marilah kita sampaikan intensi dalam hati kita masing
masing-masing)
P: Ya Bapa, kami percaya bahwa Engkau selalu
mengalirkan rahmat belaskasih dan pengampunan bagi
kami manusia yang lemah ini. Oleh karena itu kiranya
kabulkanlah doa-doa kami ini, demi Kristus Tuhan dan
pengantara kami.
52

U: Amin.
8. Doa Masa Adven (PS No. 86)
P

: Marilah kita berdoa bersama-sama
Ya Allah Bapa yang mahakudus kami bersyukur ke
hadirat-Mu karena lewat masa penantian ini Engkai
menjanjikan Juruselamat yakni Yesus Kristus PuteraMu. KedatanganNya dinubuatkan oleh para nabi, dan
dinantikan oleh Perawan Maria dengan cinta mesra.
Dialah Edam baru yang memulihkan persahabatan
kami dengan Dikau. Ia menolong yang lemah, dan
menyelamatkan yang berdosa.
Ia membawa damai sejati bagi kami dan membuat
semakin banyak orang mengenal Engkau, dan berani
melaksanakan kehendak-Mu.
Ia datang sebagai
manusia biasa, untuk melaksanakan renaca-Mu dan
membukakan jalan keselamatan bagi kami. Pada akhir
zaman Ia akan datang dengan semarak dan mulia
untuk menyatakan kebahagiaan yang kami nantikan.
Kami mohon kelimpahan rahmat-Mu, agar selama
hidup di dunia ini kami seslalu siap siaga dan penuh
harap menantikan kedatangan-Nya yang mulia, agar
pada saat Ia datang nanti, kami Kau perkenankan ikut
berbahagia bersama Dia dan seluruh umat kesayanganMu. Sebab Dialah Tuhan, pengantara kami, kini dan
sepanjang masa. Amin.

9. Doa Bapa Kami
P :

Kita satukan seluruh doa syukur dan permohonan
kita dengan doa yang diajarkan Yesus kepada kita.
53

U :

Bapa Kami…..

10. Doa Penutup:
P : Marilah berdoa.
Ya Allah yang kekal dan kuasa, kami bersyukur
kepada-Mu, karena Engkau telah mencurahkan Roh-Mu
untuk menyertai kami dalam merenungkan dan berbagi
pengalaman iman tentang hidup berkeluarga dalam
merayakan rahmat belas kasih dan pengampunan. Kami
mohon semoga butir-butir peristiwa Natal yang kami
perbincangkan tadi, semakin berakar dan berbuah
dalam hidup keluarga kami. Bantulah kami untuk dapat
menerima dan menghadirkan Engkau dalam keluarga
kami, sehingga dalam Dikau kami dapat saling berbagi
belas kasih dan mengampuni kesalaha dengan rela hati.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, yang
bersama Dikau dalam persatuan Roh Kudus, hidup dan
berkuasa, Allah sepanjang segala masa.
U : Amin.
11. Mohon Berkat:
P : Tuhan beserta kita
U : sekarang dan selama-lamanya
P : Semoga kita semua diberkati oleh Allah yang Maha
Kuasa, dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus
U : Amin
54

12. Lagu Penutup: PS No. 644

55