P. 1
sejarah mata uang

sejarah mata uang

|Views: 5,184|Likes:
Published by fahminurani
sejarah danmata uang rupiah
sejarah danmata uang rupiah

More info:

Published by: fahminurani on Mar 30, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as TXT, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/14/2013

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN ALLAH-lah menciptakan manusia dan menjadikannya makhluk yang membutuhkan makanan , pakaian, dan tempat

tinggal. Memandang terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia it u, Allah tundukkan apa yang ada di langit dan bumi. Firman Allah swt. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air huja n dari langit , kemudian Dia menengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-b uahan menjadi rezeki bagimu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bah tera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula ) bagimu sungai-sungai (QS Ibarahim [14]:32). Oleh karena itu, sejak awal sejarah manusia, orang-orang bekerja keras d alam kehidupan untuk memenuhi terjaminnya barang dan jasa dan memanfaatkan nikma t-nikmat yang Allah berikan bagi mereka. Ketika tidak sanggup seorang diri dalam memenuhi segala kebutuhan barang dan jasa, terjadilah kerja sama sesame manusia dalam rangka menjamin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu.

BAB II A. SEBAB-SEBAB MUNCULNYA UANG Ada beberapa sebab munculnya uang antara lain: 1) Kesusahan mencari keinginan yang sesuai antara orang-orang yang melakuka n transaksi , atau kesulitan untuk mewujudkan kesepakatan mutual. Ja’far bin Ali al-Dimasyqy mengungkapkan dalam perkataannya, “dan tidak setiap orang dari mer eka membutuhkan pada waktu dimana orang lain juga membutuhkan.” Misalnya, seseor ang yang punya keahlian sebagai tukang kayu dan membutuhkan jasa seorang pandai besi. Disni tukang kayu ingin memberikan jasa kepada pandai kepada pandai besi s ebagai imbalan jasanya. Bisa saja ia menemukan pandai besi, tetapi tidak membutu hkan jasa tukang kayu sehingga ia harus pergi dan mencari pandai besi yang lain yang sedang membutuhkan jasa tukang kayu. Demikian waktu menjadi banyak terbuang dengan sia-sia sampai dia manemukan pandai besi. Untuk lebih memperjelas lagi, penulis akan memberikan contoh yang lain. Seseoran g pemilik zaitun membutuhkan wol. Disini ia harus mencari orang yang memiliki wo l untuk ditukar. Bisa saja dia menemukan pemilik wol, tapi kebetulan dia tidak m embutuhkan zaitun tetapi membutuhkan gandum. Begitulah susahnya system jual beli barter. 2) Perbedaan ukuran barang dan jasa, dan sebagian barang yang tidak dapat d ibagi-bagi. Ini yang beliau ungkapkan dalam perkataannya: “Dan ukuran-ukuran bar ang yang mereka butuhkan tidak sama.” Dalam contoh kita terdahulu, katakanlah pe milik zaitun yang membutuhkan wol menemukan pemilik wol yang juga membutuhkan za itun. Hanya saja tidak ada kesepakatan antara keduanya dalam hal ukuran barang y ang dibutuhkan. Pemilik zaitun memiliki 10 liter zaitun sedangkan pemilik wol ha nya memiliki sedikit wol yang sesuai dengan jumlah ukuran zaitun. Sedangkan pemi lik zaitun sendiri tidak ingin membagi-bagi barangnya. Terkadang barang itu send iri tidak bisa dibagi-bagi seperti orang memiliki seekor kambing dan membutuhkan baju. Ukuran seekor kambing jelas menyamai lebih dari satu baju dan tidak munki n baginya untuk membagi-bagi kambingnya sebagai bayaran untuk sepotong baju. ter jadi kesulitan dalam pertukaran. 3) Kesulitan untuk mengukur standar harga seluruh barang dam jasa. Seperti yang beliau ungkapkan: “Dan dia tidak mengetahui nilai setiap barang dari setiap jenis dan apa ukuran tukar untuk setiap bagian dari bagian-bagian yang lain dar i segala sesuatu.” Pada sistem barter sulit untuk mengetahui nilai suatu barang diukur dengan baran

g-barang yang lain atau barang. Di sebuah pasar misalnya, terdapat beberapa kamb ing, unta, gandum, minyak goring, sutera, dan seterusnya. Karena tidak adanya st andar ukuran untuk mengetahui harga setiap barang, terjadi kesulitan dalam prose s pertukaran .Berapa ukuran gandum yang menyamai seekor unta? Dan berapa berapa banyak ukuran minyak goring untuk ditukarkan dengan kain sutera? Memandang sulit nya permasalahan ini, merupakam petunjuk dari Allah Swt, kepada manusia untuk me mbuat uang sebagai harga dan nilai terhadap semua barang dan jasa sehingga prose s pertukaran menjadi mudah karena pemilik unta mengukur harga untanya dengan uan g, begitu juga pemilik apel menukur nilai apelnya denga uang. Kalau tidak adanya ukuran standar seperti ini, dalam proses jual beli akan mendapat kesulitan. B. PENTINGNYA UANG `Uang adalah salah satu pilar ekonomi. Uang memudahkan proses pertukaran komodi ti dan jasa. Setiap proses produksi dan distribusi mesti menggunakan uang. Pada berbagai bentuk proses produksi berskala besar modern, setiap orang dari ko mponen masyarakat mengkususkan diri dalam produksi barang komoditas atau baagian dari barang dan memperoleh nilai dari hasil produksi yang ia psarkan dalam bent uk uang. Sebagai mana para pengusaha pabrik membayar gaji dari “jasa” para karya wan dan buruh yang bekerja pada mereka dengan menggunakan uang. Karena itu, sist em ekonomi modern yang menyangkut banyak pihak tidak bisa berjalan dengan sempur na tanpa menggunakan uang. Tidaklah berlebihan sebagian orang yang mengisyaratkan bahwa penemuan uang merup akan salah satu penemuan besar yang diocapai oleh manusia. Tidak kalah pentingde ngan ditemukannya sistem tulis menulis, mengolah tanah, dan pemanfaatan energi. Ketika seseorang mencermati lebih dalam kekurangan-kekurangan yang begitu besar dalam sistem barter, maka berbarengan dengan kemajuan yang begitu luas membuka j alan kepada manusia untuk menggunakan uang. Hanya saja manusia tidak mencapai penemuan uang itu dalam sekejap. Pada walnya m ereka melakukan pertukaran barang dan jasa secara barter sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya. Kemudian mereka mengkhususkan suatu barang yang ada dan ter sebar luas dari berbagai macam barang dan menjadikannya sebagai ukuran harga seg ala sesuatu. Demikianlah mata uang di berbagai bangsa menjadi bermacam-macam dan beragam. C. DINAR DAN DIRHAM SEBAGAI MATA UANG DALAM ISLAM Umat Islam telah akrab dengan mata uang yang terbuat dari emas, disebut dinar da n mata uang yang terbuat dari perak disebut dirham. Mata uang ini telah digunaka n secara praktis sejak kelahiran Islam hingga runtuhnya Khalifah Utsmaniyah di T urki pasca perang dunia I. Oleh karena itu, kebanyakan negara Islam dijajah oleh barat dengan sistem kapitalisnya, maka seluruh aspek ekonomi dan kehidupan juga mengikuti pola-pola kapitalis, termasuk masalah mata uang. Dinar dan dirham yang dipergunakan orang Arab waktu itu tidak didasarkan pada ni lai nominalnya, melainkan menurut beratnya. Sebab dinar dan dirham tersebut dian ggap sebagai mata uang yang dicetak, mengingat bentuk timbangan dirham yang tida k sama dan karena kemungkina terjadinya penyusutan berat akibat peredarannya. Datangnya Rasulullah SAW, sebagai tanda kedatangan Islam, maka beliau mengakui b erbagai muamalah yang menggunakan dinar Romawi dan dirham persia. Beliau juga me ngakui standar timbangan yang berlaku dikalangan kaum Quraiys untuk menimbang be rat dinar dan dirham. Sehubungan dengan hal ini Rasulullah bersabda “Timbangan b erat (wazan) adalah timbangan penduduk makkah, dam takaran (mikyal) adalah takar an penduduk Madinah” (HR. Abu Daud dan An Nas’i), kaum muslimin terus menggunaka n dinar Romawi dan dirham Persia dalam bentuk cap, dan gambar aslinya sepanjang hidup Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh masa kekhalifahan Abu Bakar pada awal kekhalifahan Umar bin Khaththab. Pada masa pemerintahannya, khalifah Umar bin Khaththab, pada tahun 20 hijriah, yaitu tahun kedelapan kekhalifahan Umar bin Khaththab, beliau mencetak uang dirh am baru berdasarkan pola dirham Persia. (Kadim As Sadr, 202) Berat, gambar, maup un tulisan bahlawinya( huruf persianya) tetap ada, hanya ditambah dengan lafaz y

ang ditulis dengan huruf Arab gaya kufi, seperti lafaz Bismillah (dengan nama Al lah) dan BIsmillahi Rabbi (dengan nama Allah tuahnku) yang terletak pada tepi li ngkaran. Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 75 hijriah (695 M), mencetak dirham k husus yang bercorak Islam, dengan lafaz-lafaz Islam yang ditulis dengan huruf Ar ab gaya kufi. Dengan demikian, dirham persia tidak digunakan lagi. Dua tahun kem udian , (tepatnya tahun 77 H/ 697 M). Abdul Malik bin Marwan mencetak dinar khus us yang bercorak Islam setelah meninggalkan pola dinar Romawi. Gambar-gambar din ar lama diubah dengan tulisan atau lafaz-lafaz Islam, seperti Allahu Ahad (Allah itu tunggal), Allah Baqa’ (Allah itu abadi). Sejak saat itulah orang Islam memi liki dinar dan dirham Islam yang secara resmi digunakan sebagai mata uangnya (A Q Zallum, 1993). D. MATA UANG DI ZAMAN KHALIFAH DAN ULAMA ISLAM

Mata Uang di Zaman Khalifah Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sebenarnya dizaman khalifah Umar bin Khaththa b dan Utsman bin Affan, mata uang telah dicetak dengan mengikuti gaya dirham pe rsia dengan perubahan pada tulisan yang tercantum pada mata uang tersebut. Pada awal pemerintahan Umar pernah terbetik pikiran untuk mencetak uang dari kulit, namun dibatalkan karena tidak disetujui oleh para sahabat yang lain. Mata uang k halifah Islam yang mempunyai kecirian khusus baru dicetak oleh pemerintah Imam A li r.a. Namun sayang peredarnnya sangat terbatas karena keadaan politik saat itu . Mata uang dengan gaya Persia dicetak pula di zaman Muawiyah dengan mencantumkan gambar dan pedang gubernurnya di Irak. Ziyad juga mengeluarkan dirham dengan men cantumkan nama khalifah. Cara yang dilakukan Muawiyah dan ziyad, pencantuman gam bar dan nama kepala pemerintah pada mata uang masih dipertahankan sampai saat in i, juga termasuk di Indonesia. Mata uang yang beredar pada waktu itu belum berbentuk bulat seperti uang logam s ekarang ini. Baru pada zaman Ibnu Zubair dicetak untuk pertama kalinya mata uang dengan bentuk bulat, namun peredarannya berbatas di Hijaz. Sedangkan Mus’ab, gu bernur di Kufah mencetak uang dengan gaya Persia dan Romawi. Pada tahun 72-74 H, Bisr bin Marwan mencetak mata uang yang disebut denga dinar dinar Athawiya. Sam pai dengan zaman ini mata uang khalifah beredar bersama dengan dinar Romawi, dir ham Persia dan sedikit Himiyarite Yaman. Barulah pada zaman Abdul malik (76 H) p emerintah mendirikan tempat pencetakan uang di Daar Idjard, Suq ahwaj, sus, jay, manadar, maisan, rai, Abarkubadh, dan mata uang khalifah dicetak secara terorga nisir dengan kontrol pemerintah. Nilai mata uang ditentukan oleh beratnya. Mata uang dinar mengandung emas 22 kar at, dan terdiri dari pecahan setengah dinar dan sepertiga dinar. Pecahan yang le bih kecil didapat dengan memotong uang, Imam Ali misalnya, pernah membeli daging dengan memotong dua karat dari dinar. (HR Abu Dawud). Dirham terdiri dari beber apa pecahan nash (20 dirham), nawat (5 dirham), Sha ira (1/60 dirham). Nilai tukar dinar-dirham relatif stabil pada jangka waktu yang panjang dengan ku rs dinar-dirham 1:10 pada saat itu perbandingan emas perak 1:7, sehingga satu di nar 20 karat setara dengan 20 dirham 44 karat. Reformasi moneter pernah dilakuka n oleh Abdul Malik yaitu dirham diubah menjadi 15 karat , dan pada saat yang sam a dinar dikurangi berat emasnya dari 4,25 gram. Di zaman Ibnu Faqih (289 H) nila i dinar menguat menjadi 1:17, namun kemudian stabil pada kurs 1:15. Uang di Zaman Ibnu Taimiyah Ulama Islam Ibnu Taimiyah yang hidup di zaman pemerintahan raja mamluk, telah me ngalami situasi dimana beredar benyak jenis mata uang dengan nilai kandungan log am mulia yang berlainan satu sama lain. Ketika itu beredar tiga jenis mata uang, dinar (emas), dirham (perak), dan fullus (tembaga). Peredaran dinar sangant ter batas, perdaran dirham berfluktuasi kadang-kadang malah menghilang, sedangkan ya ng beredar luas adalah fullus, fenomena inilah yang dirumuskan oleh ibnu Taimiya h bahwa uang dengan kualitas rendah (fullus) akan menendang uang kualitas baik (

dirham-dinar). E. SEJARAH MATA UANG MANUSIA

Uang kertas yang kita gunakan sekarang, bentuk dan sistemnya merupakan dari perk embangan masa yang panjang. Kertas-kertas ini dinamakan bank note, yaitu janji b ank untuk membayarkan uang logam kepada pemilik ketika ada permintaan. Uang kertas pertama kali muncul pada tahun 910 M di Cina. Pada awalnya mereka me nggunakan uang kertas atas dasar penopang logam emas dan perak 100%. Sekitas aba d 10 M uang kertas tidak 100% ditopang oleh emas dan perak dan sekitar abad 12 M mereka sudah tidak menggunakan emas dan perak sebagai penopang uang kertas. Demikianlah uang kertas muncul disamping uang logam semenjak beberapa waktu lalu . Namun beberapa uang-uang kertas yang tersimpan di bank-bank kemudian berkemban g dan terpisah dari uang-uang logam dan tidak bisa lagi ditukarkan dengan emas. Namun uang-uang tersebut tetap sah secara undang-undang. Uang kertas melewati 4 tahap yang berbeda hingga sampai pada bentuk dan sistemny a sekarang. Fase pertama, ketika volume perdagangan luar negeri semakin luas, keuntungan-keu ntungan semakin meningkat, dan harta semakin berkembang, kemudian mereka menitip kan uang logam pada penyimpanan-penyimpanan tukang emas, tempat penukaran emas, atau pemuka-pemuka agama untuk mengihindari kemungkinan pencurian dan perampokan . Pihak-pihak itu kemudian memberikan kepada penitip akta-akta penyimpanan yang di tuliskan jumlah uang lgam yang dititipkan. Akta ini sendiri bukan uang, karena t idak bersifat diterima secara luas dan tidak mungkin digunakan untuk membayar pe mbelian-pembelian. Akta ini hanya digunakan sebagai bukti penyimpanan dan untuk melakukan transfer uang dari satu tempat ke tempat lain. Fase kedua, pada fase ini penlisan akta mengalami perubahan. Pada fase pertama a kta dituliskan berdasarkan jumlah dari simpanan logam emas atau perak. Sedang pa da fase ini, seseorang yang menitip uang logam kemudian menerima akta dengan jum lah titipan dan ditulis pada akta jaminan pembayaran terhadap akta ini. Pemegang akta pun tidak perlu membubuhkan tanda tangan untuk transaksi. Fase ketiga, kepercayaan orang-orang semakin tumbuh terhadap kertas-kertas yang diterbitkan oleh lembaga keuangan ini. Mereka menggunakannya untuk melaksanakan kontrak transaksi langsung tanpa merujuk ke lembaga keuangan untuk menukarnya de ngan uang logam. Dalam kenyataannya, lembaga keuangan menemukan bahwa sebagian b esar kertas-kertas ini berada dalam peredaran tanpa ditukarkan dengan uang logam . Sebagai contoh, jikalau lembaga keuangan menemukan diantara setiap 20 potong ker tas hanya satu kertas ditukarkan, itu artinya ratio penukaran adalah 5%. Lembaga keuangan dapat menambah ratio ini untuk cadangan dan menjaga kepercayaan orangorang, lalu menyimpan 10% dari uang-uang logam itu. Ini berarti 90% dari kertaskertas tidak memiliki saldo uang logam karena 100 kertas disbanding 10 potong ua ng logam. Jumlah uang kertas semakin banyak yang tidak ada penopangnya. Ketika orang-orang mulai merasakan penipuan yang terjadi, mereka kemudian segera menukarkan uang lertasnya ke uang logam, namun tak segampang itu sehingga menim bulkan kekacauan, dan kondisi memburuk. Negara terpaksa menerbitkan uang kertas tanpa penopang untuk meredam kekacauan. Fase keempat, peristiwa perang dunia I tahun 1914 adalah perang yang pedih, yang membuat peredaran mata uang emas memburuk,serta kebutuhan pemerintah terhadap p

embiayaan perang yang bertambah. Semua itu membuat Negara-negara menahan saldo e mas yang mereka miliki dan mencegahnya keluar. Kemudian uang kertas tidak dapat ditukar dengan emas. Uang kertas memiliki beberapa kelebihan, antara lain; mudah dibawa, membawa uang kertas berisiko lebih kecil , biaya penerbitan lebih kecil, kemungkinan untuk m enerbitkannya dalam tipe-tipe bertingkat yang sesuai dengan volume interaksi dag ang yang berbeda-beda. Keputusan Negara-negara menerbitkan uang kertas tanpa penopang emas ternyata mem buat uang kertas dengan bebas diterbitkan. Negara dengan bebasnya mencetak uang kertas dan bahkan akhir-akhir ini banyak uang kertas palsu. Dari sini menimbulka n banyak kekurangan dari uang kertas. Diantara kekurangan uang kertas adalah; ri siko kekacauan dalam kegiatan keuangan dan kegiatan internasional, karena system uang kertas tidak menjamin stabilitas nilai tukar seperti jaminan pada emas. Ri siko penerbitan uang yang berlebihan dan akibatnya seperti inflasi keuangan yang menyebabkan kenaikan harga-harga dan kekacauan kondisi masyarakat. Satu lagi jenis uang yang sekarang beredar di masyarakat, yakni uang bank atau y ang lebih kita kenal dengan Giro. Uang bank terdiri dari seperti rekening giro y ang kita kenal sekarang, dan deposit-deposit di bank-bank dagang. Uang jenis ini berkembang di nagara-negara maju di mana tradisi perbankan semaki n bertambah. Di Inggris peredaranya mencapai 98%, di Amerika 95% dan di Jerman s ekitar 85%. Cek-cek itu sendiri bukan uang bank, tapi sebagai media peredaran. S edangkan uang bank adalah deposit-deposit, rekening giro. Dan itu tidak lain sek edar tanda bukti. Uang bank termasuk jenis uang yang berisiko kecil terhadap pencurian dan kehilan gan. Cek hanya bisa dipenuhi untuk orang tertentu atau karena perintah pemilik r ekening/cek. Pada satu sisi, uang bank merupakan jenis uang yang lebih mudah dig unakan dalam transaksi. Pada dasarnya bank tidak menyimpan seluruh jumlah nilai deposit, tapi hanya meny impan dalam jumlah tertentu saja, karena bank percaya nasabah tidak akan menarik simpananya secara bersamaan. Bahkan sangat kecil uang simpanan tersebut ditarik . Karena itu bank menyimpan sebagian dari deposit-deposit itu dalam brankasnya d an menggunakan sisanya untuk kredit modal maupun konsumsi untuk nasabah lainnya. Sebagi misal, kita asumsikan keberadaan deposit di bank sebanyak 100.000 unit u ang, bank hanya menyimpan sebesar 20% sebagai cadangan, sedangkan sisanya sebesa r 80% digunakan untuk menyalurkan kredit-kredit terhadap nasabah lain. Pemilik-pemilik deposit dapat menggunakan 100.000 unit uang dan individu/ nasaba h penerima kredit memanfaatkan 80.000 unit uang. Ini mengakibatkan kelebihan uan g yang beredar di masyarakat, hal yang dapat mengancam perekonomian global dan t erjadinya inflasi. http://iqtishaduna.wordpress.com/ekonomi-islam/sejarah-mata-uang-manusia™®-bagia n-kedua/ waktu akses puk.15.40 WITA hari selasa 28 april F. UANG DI BERBAGAI BANGSA

a. Uang Pada Bangsa Lydia Dikatakan bahwa lydian (bangsa lydia) adalah orang-orang pertama kali mengenal u ang cetakan. Pertama kali uang mucul ditangan para pedagang ketika mereka mersak an kesulitan dalam jual beli dalam sistem barter lalu mereka membuat uang. Pada masa Croesus 570-546 SM, Negara berkepentingan mencetak uang. Dan pertama kaliny a masa ini terkenal dengan mata uang emas dan perak yang halus dan akurat.

b. Uang Pada Bangsa Yunani Bangsa yunani membuat “uang komoditas” (commodity money) sehingga tersebar diant ara merka “kapak” ([double axes] sebagai utensil-money) dan koin-koin dari perun ggu. Kemudian mereka membuat emas dsan perak yang pada awalnya beredar diantara mereka dalam bentuk batangan sampai masa dimulainya pencetakan uang tahun 406 SM . Kadang mereka mengukir di uang mereka bentuk berhala mereka, gambar pemimpin-pei mpin mereka, sebagaimana juga kadang mereka mengukir nama negeri dimana uang itu di cetak. Mata uang utama mereka adalah Drachma yang terbuat dari perak. c. Uang Pada Bangsa Romawi Bangsa Romawi pada masa sebelum abad ke-3 SM menggunakan mata uang yang terbuat dari perunggu yang disebut aes (Aes Signatum Aes Rude). Mereka juga menggunakan mata uang koin yang terbuat dari tembaga. Dikatakan bahwa orang pertama kali men cetaknya adalah Numa atau Servius Tullius, dikatakan, koin itu dicetak pada tahu n 268 SM. Kemudian, mereka mencetak Denarius dari emas yang kemudian menjadi mata uang uta ma imperium Romawi. Dikatakan dicetak pada tahun 268 SM. Di atas uang itu mereka cetak ukiran bentuk tuhan-tuhan dan pahlawan-pahlawan mereka, hingga masa Juliu s Caesar yang kemudian mencetak gambarnya di atas uang tersebut. G. SEJARAH RUPIAH

Kemerdekaan berarti lepas dari segala bentuk penjajahan. Setelah 17 Agustus 1945 , Indonesia memiliki kebebasan dalam segala hal tersebut. Sudah seharusnya tidak ada lagi penjajahan dalam bentuk apapun di atas bumi Indonesia ini. Hal ini ber laku juga dalam bidang perekonomian. Suatu negara merdeka semestinya berhak meng atur dan menentukan sendiri sistem perekonomiannya. Dengan begitu suatu negara b erarti juga memiliki hak untuk mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri sebaga i alat tukar yang sah yang dipakai oleh rakyat negara tersebut. Indonesia sebaga i sebuah negara merdeka juga memiliki mata uang sendiri setelah masa penjajahan berakhir. Mata uang yang tersebut adalah rupiah yang kita kenal sekarang ini. Mu nculnya rupiah sebagai alat tukar yang sah di negara ini tidak terjadi secara in stan, rupiah mengalami beberapa tahapan dan proses hingga menjadi mata uang resm i Indonesia. Rupiah juga berkembang dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi seperti yang sekarang kita pergunakan ini. Uang adalah hal yang sangat dekat den gan masyarakat dan sangat sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang sudah mengenalnya. Uang kini juga menjadi tolak ukur tingkat perekonomian suatu negara . Dengan segala fungsi dan peranannya itu, uang menjadi hal yang sangat berharga . Uang juga merupakan salah satu kebanggan dan kekuatan negara. Karena itulah sa ya tertarik untuk membahas perkembangan rupiah sebagai salah satu sejarah bangsa , dari awal masa kemerdekaan hingga akhirnya diakui sebagai mata uang resmi nega ra Indonesia dan dipakai oleh masyarakat dalam kesehariannya. a) Awal Mula Perekonomian Indonesia

Selama masa perang kemerdekaan, terdapat tiga mata uang yang beredar di Indonesi a. Ketiga mata uang itu adalah mata uang Jepang, mata uang Belanda, dan mata uan g de Javasche bank. Peredaran ketiga mata uang ini pada masa itu sangat tidak te ratur dan bebas. Hal ini dikarenakan masih kurangnya kontrol dari pemerintah ber upa kebijakan-kebijakan mengenai perekonomian negara. Hal ini wajar jika melihat Indonesia pada masa itu merupakan negara yang baru saja merdeka. Selain belum a danya kebijakan yang tegas, pada masa awal kemerdekaan ini administrasi dan perb ankan negara belum berjalan seperti semestinya sehingga belum ada bank central y ang ditunjuk sebagai bank pencetak uang resmi negara. Pada masa awal kemerdekaan tersebut terjadi pula dinamika ekonomi berupa hiperinflasi atau terjadi penurun an nilai mata uang karena terlalu banyak mata uang yang beredar di masyarakat te rhadap mata uang Jepang, hal ini memperparah perekonomian rakyat dikarenakan rak yat pada masa itu banyak yang menggunakan mata uang Jepang dalam transaksi sehar i-hari. Pemerintah Indonesia mulai mencoba mengatur dan menangani hiperinflasi i

ni dengan mengeluarkan beberapa larangan perederan mata uang asing namun kebijak an ini tidak ditanggapi oleh pihak NICA karena pada saat itu mereka justru menge darkan mata uang mereka untuk mendanai gerakan militer mereka di tanah air. Kebi jakan ini diambil oleh Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) Le tjen Sir Montagu Stopford pada 6 Maret 1946. Stopford mengumumkan pemberlakuan m ata uang NICA di seluruh wilayah Indonesia yang telah diduduki oleh pasukan AFNE I. Hal ini menyebabkan kekacauan ekonomi dan terjadinya krisis kepercayaan terha dap pemerintahan pada masa itu. Masyarakat pada waktu itu menjadi bimbang dalam menggunakan mata uang dikarenakan adanya perbendaan nilai mata uang yang lebih c enderung menguntungkan jika menggunakan mata uang asing. Pemertintah Indonesia ditengah krisis dan berbagai permasalahan yang muncul pada awal kemerdekaan itu tidak berhenti berusaha untuk menetralkan keadaan. Pemerin tah mengeluarkan mata uang sendiri yaitu Oeang Repoeblik Indonesia(ORI) pada 26 Oktober 1946. Munculnya ORI sebagai mata uang resmi yang dikeluarkan pemerintah membuat mata uang Jepang, Hindia-Belanda, dan de Javasche bank tidak berlaku lag i di Indonesia. Tinggal satu mata uang asing yang masih beredar di wilayah tanah air, mata uang NICA. Namun peredaran mata uang NICA tidak didukung oleh rakyat Indonesia. Rakyat lebih memilih menggunakan ORI ketimbang mata uang NICA. Dengan begitu mata uang NICA hanya beredar dikalangan orang-orang AFNEI saja dan tidak beredar dikalangan masyarakat Indonesia. Setelah itu pemerintah mencoba membent uk bank-bank pemerintah yang direncanakan akan berfungsi sebagai pengatur nilai tukar ORI dengan mata uang asing. Bank-bank yang dibentuk pemerintah pada masa i tu antara lain Bank Repoeblik Indonesia yang sebelumnya merupakan Shomin Ginko, bank pemerintah pendudukan Jepang sebelumnya. Selain itu dibentuk pula Bank Tabu ngan Pos yang sebelumnya merupakan Tyokin Kyoku. Bank Tabungan Pos ini pada masa sekarang dikenal sebagai Bank Tabungan Negara(BTN) setelah pergantian namanya p ada tahun 1950. Ada pula Bank Nasional Indonesia yang merupakan transformasi dar i Yayasan pusat bank yang didirikan pemerintah pada 1 November 1946. Bank-bank i ni didirikan sebagai bank umum yang dijalankan oleh pemerintah RI. Fungsi utama bank-bank ini adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana kepada masyarakat sert a pemberi jasa di dalam lalu lintas pembayaran. Pada masa tersebut ada satu bank lagi yang merupakan cikal bakal Bank Indonesia, bank ini adalah de Javasche Ban k yang pada masa itu belum menjadi bank central tatapi merupakan bank sirkulasi yang turut menjaga kestabilan perekonomian Indonesia. Sejak 1 Juli 1953 bank ini menjadi Bank Indonesia dan berkedudukan sebagai bank central. Dengan begitu Ban k Indonesia merupakan satu-satunya bank yang dapat mencetak mata uang resmi Indo nesiam Rupiah. b) Sejarah Rupiah Rupiah merupakan mata uang resmi Indonesia. Nama rupiah biasanya dikaitkan oleh banyak pihak sebagai pelafalan dari ”rupee” mata uang India, namun sebenarnya me nurut Adi Pratomo, salah satu peneliti sejarah uang Indonesia, rupiah diambil da ri kata rupia dalam bahasa Mongolia. Rupia sendiri berarti perak. Memang sama de ngan arti rupee, namun rupiah sendiri merupakan pelafalan asli Indonesia karena adanya penambahan huruf ’h’ di akhir kata rupia, sangat khas sebagai pelafalan o rang-orang Jawa. Hal ini sedikit berbeda dengan banyak anggapan bahwa rupiah ada lah salah satu unit turunan dari mata uang India. Rupee India sebenarnya juga da pat dikatakan sebagai turunan dari kata rupia itu sendiri, dengan begitu rupiah Indonesia memiliki tingkatan yang sama bukan sebagai unit turunan dari mata uang India tersebut. Pada masa-masa awal kemerdekaan, Indonesia belum menggunakan ma ta uang rupiah namun menggunakan mata uang resmi yang dikenal sebagai ORI.. ORI memiliki jangka waktu peredaran di Indonesia selama 4 tahun, ORI sudah mulai dig unakan semenjak 1945-1949. Namun penggunaan ORI secara sah baru dimulai semenjak diresmikannya mata uang ini oleh pemerintah sebagai mata uang Indonesia pada 30 Oktober 1946. ORI pada masa awal tersebut dicetak oleh Percetakan Canisius deng an bentuk dan disain yang sangat sederhana dan menggunakan pengaman serat halus. Bahkan dapat dikatakan ORI pada masa tersebut merupakan mata uang yang sangat s ederhana, seadanya, dan cenderung berkualitas kurang, apalagi jika dibandingkan dengan mata uang lainnya yang beredar di Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan t ersebut ORI beredar luas di masyarakat meskipun uang ini hanya dicetak di Yogyak

arta saja. ORI sedikitnya sudah dicetak sebanyak lima kali dalam jangka waktu em pat tahun antara lain, cetakan I pada 17 Oktober 1945, seri II pada 1 Januari 19 47, seri III dikeluarkan pada 26 Juli 1947. Pada masa itu ORI merupakan mata uan g yang memiliki nilai yang sangat murah jika dibandingkan dengan uang-uang yang dikeluarkan oleh de Javasche Bank. Padahal uang ORI adalah uang langka yang seme stinya bernilai tinggi. Setelah masa ORI tersebut, pada 2 November 1949 pemerintah menetapkan mata uang pengganti ORI. Rupiah diputuskan sebagai mata uang resmi pengganti ORI. Rupiah s endiri sebenarnya sudah ada dan dikenal sebelum dikeluarkannya ORI tersebut. Men urut sunmber tertentu, konsep rupiah sebenarnya sudah dikenal semenjak abad lima atau enam Masehi. Rupiah di Indonesia secara nyata sudah dikenal luas sebagai m ata uang sebelum masa kemerdekaan yaitu pada masa Penjajahan Jepang (Dai Nippon) pada masa Perang Dunia II. Pada masa tersebut rupiah diperkenalkan pada masyara kat dengan nama mata uang Hindia-Belanda(rupiah Hindia-Belanda) yang kemudian se telah masa kemerdekaan dikenal sebagai rupiah jawa. Rupiah pada masa tersebut ti dak menjadi mata uang resmi yang dikeluarkan pemerintah karena pada masa itu de Javasche Bank sebagai pencetak mata uang ini bukan merupakan bank central milik pemerintah dan pada masa itu pengelolaan perekonomian dan pencetakan uang dipega ng sepenuhnya oleh pemerintah dan bukan oleh bank central. Ada banyak keraguan s ebenarnya mengenai bagaimana tepatnya mata uang ini mulai ada dan dipakai sebaga i mata uang resmi. Pada masa setelah diresmikannya rupiah masih ada satu bentuk mata uang yang sempat dipakai di Indonesia. Mata uang ini adalah mata uang yang dikeluarkan pada masa RIS yang dikenal sebagai mata uang RIS. Mata uang ini masu k dalam sejarah perkembangan mata uang Indonesia sebagai pengganti sementara Rup iah. Setelah masa RIS berakhir mata uang Indonesia kembali menjadi rupiah, namun tidak ada sumber pasti yang menyebutkan mengenai waktu transisi secara tepat da ri mata uang RIS ke mata uang rupiah ini. Setelah masa RIS tersebut rupiah mulai dipakai secara umum dan mulai banyak mengalami perkembangan dan penyempurnaan. Sebagai mata uang resmi Indonesia, rupiah kemudian dikeluarkan dan dikontrol ole h Bank Indonesia. Terlebih lagi semenjak Bank Indonesia secara resmi dijadikan b ank central dan diberi kewenangan penuh untuk mengatur perbankan negara pada 1 J uli 1953. Rupiah kemudian diberi kode atau simbol yang digunakan pada semua peca han uang kertas dan uang logam berupa Rp dan diakui oleh semua pihak. Rupiah sen diri tidak secara langsung dapat tersebar secara merata di bumi Indonesia. Perse baran mata uang ini tidak begitu merata secara cepat. Misalnya saja, daerah kepu lauan Riau dan Papua baru menggunakan mata uang rupiah pada tahun 1964 dan 1971. Semenjak dipakainya rupiah sebagai mata uang resmi, rupiah berulang kali mengal ami pergolakan. Devaluasi dan Pemangkasan merupakan hal yang selalu menghiasi pe rkembangan rupiah. Devaluasi terjadi pada beberapa periode misalnya saja pada 7 Maret 1946, 20 September 1949 ,Februari 1952 ,September 1959, akhir Januari 1963 dan tahun 1964. Pemangkasan nilai rupiah juga tejadi pada rupiah antara lain te rjadi pada 25 Agustus 1959 dan 29 Maret 1983. Perubahan-perubahan tampilan, nila i mata uang, bentuk, dan warna pun mewarnai perkembangan mata uang resmi Indones ia ini. Mulai dari ORI yang bentuk, gambar, cetakan, dan kertasnya memiliki kual itas yang buruk hingga kini uang-uang kertas telah memiliki bentuk dan tampilan yang mewah dan rapi. Rupiah sudah mengalami banyak sekali masa-masa seiring berkembangnya bangsa ini. Rupiah juga berkembang mengikuti perkembangan masa di Indonesia. Ia sempat tida k dianggap sebagai mata uang resmi ketika ORI menjadi mata uang yang diresmikan pemerintah, ia juga sempat tergantikan oleh mata uang RIS, namun pada hakikatnya seluruh mata uang tersebut sebenarnya merupakan sejarah dari rupiah itu sendiri sebagai sebuah mata uang resmi Indonesia. Sudah banyak pahlawan, daerah nusanta ra, dan kebudayaan yang tergambar di mata uang rupiah. Sudah banyak seri yang di keluarkan oleh pemerintah untuk mengganti, memperbaiki, dan menyempurnakan mata uang kebanggan negara ini. Bagaimanapun, rupiah merupakan sebuah cermin dari ban gsa Indonesia. Ketika mendengar kata rupiah, hal yang langsung terpikirkan adala h Indonesia, jelas karena rupiah adalah milik Indonesia saja dan tidak ada negar a lain yang memiliki rupiah. Sebagai salah satu kebangaan negara, sudah semestin ya rupiah juga dijunjung tinggi. Rupiah sudah selayaknya diakui, dibanggakan, da n dijaga oleh setiap warga negara Indonesia. Kecintaan pada rupiah merupakan seb

uah kecintaan pada Negara Indonesia. Usaha para pendahulu untuk menciptakan sebu ah sistem perekonomian lengkap dengan mata uang yang hanya dimiliki oleh negara ini saja sangat berat. Para pendahulu berusaha menghalau kekuatan mata uang asin g yang beredar di Indonesia agar Indonesia sebagai negara merdeka mampu secara m andiri mengatur sistem perekonomiannya sendiri. Meskipun rupiah juga bisa menjad i citra buruk ditengah krisis yang sering terjadi di Indonesia ketika rupiah har us melemah terhadap kurs mata uang asing, rupiah merupakan senjata bangsa untuk menghalau penjajahan di bidang ekonomi bagi bangsa ini. Denga segala hal yang di miliki rupiah inim sudah semestinya masyarakat Indonesia berusaha mengerti dan m emahami sejarah dan perkembangan rupiah ini. Tidak berarti ketika kita sebagai w arga negara tidak memahami milik kita sendiri. Milik kita yang setiap waktu kita bawa dan gunakan. Rupiah tidak semestinya hanya kita banggakan sebagai tolak uk ur kekayaan pribadi, namun semsetinya kita banggakan sebagai tolak ukur kekayaan bangsa. Menghargai rupiah dengan tidak menekuk-nekuknya hingga menjadi lusuh, b ahkan sobek, merupakan hal kecil yang sangat berarti. Menghargai sekecil apapun nilai uang yang kita miliki akan membuat rupiah memiliki makna yang besar bagi n egara ini. Ketika kita berusaha mengetahui sejarah mata uang kita, disitu pula a kan timbul rasa cinta terhadap tanah air kita. Banyak sekali kesimpang siuran te rhadap sejarah mata uang rupiah. Dalam berbagai sumber terkadang memiliki perbed aan pandangan terhadap sejarah rupiah. Hal ini jelas dikarenakan tidak adanya pe rhatian masyarakat dan pemerintah terhadap symbol perekonomian negara ini. Ketik a generasi muda tidak mengetahui sejarah bangsa, tidak akan muncul kecintaan ter hadap segala milik negara ini. Apalagi generasi muda mendapatkan informasi yang salah mengenai sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejara hnya semestinya ditanamkan kepada setiap insane di Indonesia ini. Sangat naïf ke tika kita setiap hari menggunakan rupiah sebagai mata uang resmi dalam melakukan transaksi, namun kita tidak tahu menahu akan sejarah dan perkembangan mata uang kita sendiri tersebut.

http://andreaspraditya.blogspot.com/2009/01/sejarah-rupiah.html waktu akses puk. 15.40 WITA hari selasa 28 april

H.

UANG DALAM EKONOMI KONVENSIONAL

Komponen-komponen yang termasuk dalam uang adalah uang logam, uang keratas dan s impanan giro atau uang giral. Uang logam dan uang kertas disebut sebagai uang ka rtal yang merupakan utang pemerintah ataupun bank sentral tanpa bunga. Uang gira l merupakan utang bank komersial. Uang kertas merupakan bagian yang besar dari uang kartal. Semua uang kertas bere dar merupakan uang kertas yang diedarkan atau dikeluarkan oleh bank sentral yait u Bank Indonesia dengan otoritas pemerintah yaitu Departemen Keuangan. Uang kert as bersama-sama dengan uang logam disebut sebagai uang kartal. Uang giral merupakan simpanan uang pada suatu bank yang dapat diambil sewaktu-wa ktu dengan menulis cek yang merupakan perintah oleh pemilik simpanan giro terseb ut kepada bank untuk membayar kepadanya atau kepada orang lain atau pihak lain y ang ditunjuk dan dituliskan pada cek tersebut. Cek dapat digunakan untuk pembaya ran transaksi jual beli atau transaksi keuangan lainnya. Ia lebih disenangi dari pada uang kartal dalam penggunaan untuk menyelesaikan atau melaksanakan transak si pembayaran karena ia lebih aman, lebih mudah dan praktis tanpa harus menghitu ng seperti pembayaran dengan uang kartal. Seiring dengan perkembangan ekonomi yang sangat pesat, masyarakat memerlukan ala t pertukaran yang lebih praktis dinbandingkan dengan uang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, selain uang kartal (uang kertas dan uang logam) yan g diciptakan oleh pemerintah, dalam kegiatan pertukaran terdapat alat pertukaran lain yag lebih “fleksibel” seperti kartu kredit, cek, giro bilyet dan lain-lain

. Namun, alat pembayaran ini belum dapat diterima oleh masyarakat secara umum. Hadirnya uang dalam sistem perekonomian akan mempengaruhi perekonomian suatu neg ara, yang biasanya berkaitan dengan kebijakan-kebijakan moneter. Pada umumnya an alisis ekonomi suatu negara ditentukan oleh analisis atas ukuran uang yang bered ar. Samuelson mengatakan bahwa banyak ekonom percaya bahwa perubahan jumlah uang berdar dalam jangka panjang terutama akan menghasilkan tingkat harga, sedangkan dampaknya terhadap output real, adalah sedikit atau bahkan tidak ada. Dengan kata lain, ekspansi moneter akan mnurunkan tingkat bunga pasar. Hal ini a kan menigkatkan pengeluaran untuk investasi usaha riil yang sangat sensitif terh adap perubahan tingkat bunga. Melalui mekanisme pengganda (multiplier) permintaa n agregat akan meningkat, yang menyebabkan naiknya output dan harga di atas ting kat yang tidak dicapai dalam situasi normal. I. UANG DALAM EKONOMI ISLAM

Sebagai perbandingan dengan teori ekonom konvensional-kapitalisme- Islam membica rakan uang sebagai sarana penukar dan penyimpan nilai, tetapi uang bukanlah bara ng dagangan. Uang menjadi berguna hanya jika ditukar dengan benda yang dinyataka n atau jika digunakan untuk membeli jasa. Oleh karena itu, uang tidak bisa dijua l atau dibeli secara kredit. Orang perlu memahami kebijakan Rasulullah SAW, bahw a tidak hanya mengumumkan bunga atas pinjaman sebgai sesuatu yang tidak sah teta pi juga melarang pertukaran uang dan beberapa benda bernilai lainnya untuk pertu karan yang tidak sama jumlahnya, serta menunda pembayaran jika barang dagangan a tau mata uangnya adalah sama. Efeknya adalah mencegah bunga uang yang masuk ke s istem ekonomi ekonomi melalui cara yang tidak diketahui. Didalam ekonomi islam uang bukanlah modal. Sementara ini kita kadang salah kapra h menempatkan uang. Uang kita sama artikan dengan modal (capital ). Uang adalah barang khalyak/public goods masyarakat luas. Uang bukan barang monopoli seseoran g. Jadi semua orang berhak memiliki uang yang berlaku di suatu negara. Sementara modal adalah barang pribadi atau orang per orang. Jika uang sebagai flow concep t sementara modal adalah stock concept. a) Money as flow concept Didepan telah disinggung, bahwa uang adalah sesuatu yang mengalir. Sehingga uang diibaratkan seperti air. Jika air di sungai itu mengalir, maka air itu akan ber sih dan sehat. Jika air berhenti (tidak mengalir secara wajar) maka air tersebut menjadi busuk dan bau, demikian juga dengan uang. Uang berputar untuk produksi akan menimbulkan kemakmuran dan kesehatan ekonomi masyarakat. Sementara, jika ua ng ditahan maka dapat menyebabkan macetnya roda perekonomian. Dalam ajaran Islam , uang ahrus diputar terus sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang lebih bes ar. Untuk itu uang perlu digunakan untuk investasi di sektor riil. Jika uang dis impan tidak diinvestasikan kepada sektor riil, maka tidak akan mendatangkan apap (Q.S Al-Lahab). Penyimpanan uang yang telah mencapai haulnya, menurut ajaran Is lam, akan dikenai zakat. b) Money as Public Goods Uang adalah barang untuk masyarakat banyak. Bukan monopoli perorangan. Sebagai b arang umum, maka masyarakat dapat menggunakannya tanpa ada hambatan dari orang l ain. Oleh karena itu, -dalam tradisi Islam- menumpuk uang sangat dilarang, sebab kegiatan menumpuk uang akan mengganggu orang lain menggunakannya.

BAB III PENUTUP Kesimpulan: Sebab-sebab munculnya uang antara lain: I. Kesusahan mencari keinginan yang sesuai antara orang-orang yang melakuka n transaksi, atau kesulitan untuk mewujudkan kesepakatan mutual. II. Perbedaan ukuran barang dan jasa dan sebagian barang tidak dapat di bagi . III. Kesulitan untuk mengukur harga seluruh barang dan jasa. Uang adalah salah satu pilar ekonomi, uang memudahkan pertukaran komoditi dan ja sa, setiap proses produksi dan distribusi mesti menggunakan uang. Sejak dulu orang sudah akrab dengan uang, seperti pada masa pemerintahan Islam d ahulu, uang dinar dan dirham yang terbuat dari emas dan perak telah menjadi kebu tuhan orang-orang. Dalam ekonomi konvensional komponen yang termasuk dalam uang adalah uang logam, uang kertas dan simpanan giro atau uang giral. Sedangkan didalam ekonomi Islam, uang dibicarakan sebagai sarana penukar dan penyimpan nilai, tetapi uang bukan barang barang dagangan.

TANGGAPAN Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang haru s dipenuhi, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut kita tidak dapat melakuk annya seorang diri, untuk itu kita perlu bekerja sama dengan orang lain. Kita me nukarkan barang yang kita miliki dengan barang yang kita butuhkan yang dimiliki oleh orang lain. Tetapi dalam melakukan hal tersebut akan terdapat masalah, sepe rti ketika pemilik barang yang kita butuhkan sedang tidak membutuhkan barang yan g kita miliki, atau ketika nilai barang yang kita miliki tidak sesuai dengan nil ai barang yang kita butuhkan atau barang yang kita miliki tidak dapat dibagi-bag i. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut sangat tepat sekali manusia membuat ala t tukar yang dapat ditukarkan dengan barang apa saja, dan juga nilainya diketahu i secara jelas. Sehingga ketika seseorang membutuhkan suatu barang ia hanya perl u menukarkan uang yang nilainya sama dengan barang yang dia butuhkan tanpa harus mencari pemilik barang yang sedang membutuhkan barang yang ia miliki, karena ua ng dapat di tukarkan dengan barang apa saja. BAB I PENDAHULUAN ALLAH-lah menciptakan manusia dan menjadikannya makhluk yang membutuhkan makanan , pakaian, dan tempat tinggal. Memandang terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia it u, Allah tundukkan apa yang ada di langit dan bumi. Firman Allah swt. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air huja n dari langit , kemudian Dia menengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-b uahan menjadi rezeki bagimu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bah tera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula ) bagimu sungai-sungai (QS Ibarahim [14]:32). Oleh karena itu, sejak awal sejarah manusia, orang-orang bekerja keras d alam kehidupan untuk memenuhi terjaminnya barang dan jasa dan memanfaatkan nikma t-nikmat yang Allah berikan bagi mereka. Ketika tidak sanggup seorang diri dalam memenuhi segala kebutuhan barang dan jasa, terjadilah kerja sama sesame manusia dalam rangka menjamin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu.

BAB II A. SEBAB-SEBAB MUNCULNYA UANG Ada beberapa sebab munculnya uang antara lain: 1) Kesusahan mencari keinginan yang sesuai antara orang-orang yang melakuka n transaksi , atau kesulitan untuk mewujudkan kesepakatan mutual. Ja’far bin Ali al-Dimasyqy mengungkapkan dalam perkataannya, “dan tidak setiap orang dari mer eka membutuhkan pada waktu dimana orang lain juga membutuhkan.” Misalnya, seseor ang yang punya keahlian sebagai tukang kayu dan membutuhkan jasa seorang pandai besi. Disni tukang kayu ingin memberikan jasa kepada pandai kepada pandai besi s ebagai imbalan jasanya. Bisa saja ia menemukan pandai besi, tetapi tidak membutu hkan jasa tukang kayu sehingga ia harus pergi dan mencari pandai besi yang lain yang sedang membutuhkan jasa tukang kayu. Demikian waktu menjadi banyak terbuang dengan sia-sia sampai dia manemukan pandai besi. Untuk lebih memperjelas lagi, penulis akan memberikan contoh yang lain. Seseoran g pemilik zaitun membutuhkan wol. Disini ia harus mencari orang yang memiliki wo l untuk ditukar. Bisa saja dia menemukan pemilik wol, tapi kebetulan dia tidak m embutuhkan zaitun tetapi membutuhkan gandum. Begitulah susahnya system jual beli barter. 2) Perbedaan ukuran barang dan jasa, dan sebagian barang yang tidak dapat d ibagi-bagi. Ini yang beliau ungkapkan dalam perkataannya: “Dan ukuran-ukuran bar ang yang mereka butuhkan tidak sama.” Dalam contoh kita terdahulu, katakanlah pe milik zaitun yang membutuhkan wol menemukan pemilik wol yang juga membutuhkan za itun. Hanya saja tidak ada kesepakatan antara keduanya dalam hal ukuran barang y ang dibutuhkan. Pemilik zaitun memiliki 10 liter zaitun sedangkan pemilik wol ha nya memiliki sedikit wol yang sesuai dengan jumlah ukuran zaitun. Sedangkan pemi lik zaitun sendiri tidak ingin membagi-bagi barangnya. Terkadang barang itu send iri tidak bisa dibagi-bagi seperti orang memiliki seekor kambing dan membutuhkan baju. Ukuran seekor kambing jelas menyamai lebih dari satu baju dan tidak munki n baginya untuk membagi-bagi kambingnya sebagai bayaran untuk sepotong baju. ter jadi kesulitan dalam pertukaran. 3) Kesulitan untuk mengukur standar harga seluruh barang dam jasa. Seperti yang beliau ungkapkan: “Dan dia tidak mengetahui nilai setiap barang dari setiap jenis dan apa ukuran tukar untuk setiap bagian dari bagian-bagian yang lain dar i segala sesuatu.” Pada sistem barter sulit untuk mengetahui nilai suatu barang diukur dengan baran g-barang yang lain atau barang. Di sebuah pasar misalnya, terdapat beberapa kamb ing, unta, gandum, minyak goring, sutera, dan seterusnya. Karena tidak adanya st andar ukuran untuk mengetahui harga setiap barang, terjadi kesulitan dalam prose s pertukaran .Berapa ukuran gandum yang menyamai seekor unta? Dan berapa berapa banyak ukuran minyak goring untuk ditukarkan dengan kain sutera? Memandang sulit nya permasalahan ini, merupakam petunjuk dari Allah Swt, kepada manusia untuk me mbuat uang sebagai harga dan nilai terhadap semua barang dan jasa sehingga prose s pertukaran menjadi mudah karena pemilik unta mengukur harga untanya dengan uan g, begitu juga pemilik apel menukur nilai apelnya denga uang. Kalau tidak adanya ukuran standar seperti ini, dalam proses jual beli akan mendapat kesulitan. B. PENTINGNYA UANG `Uang adalah salah satu pilar ekonomi. Uang memudahkan proses pertukaran komodi ti dan jasa. Setiap proses produksi dan distribusi mesti menggunakan uang. Pada berbagai bentuk proses produksi berskala besar modern, setiap orang dari ko mponen masyarakat mengkususkan diri dalam produksi barang komoditas atau baagian dari barang dan memperoleh nilai dari hasil produksi yang ia psarkan dalam bent

uk uang. Sebagai mana para pengusaha pabrik membayar gaji dari “jasa” para karya wan dan buruh yang bekerja pada mereka dengan menggunakan uang. Karena itu, sist em ekonomi modern yang menyangkut banyak pihak tidak bisa berjalan dengan sempur na tanpa menggunakan uang. Tidaklah berlebihan sebagian orang yang mengisyaratkan bahwa penemuan uang merup akan salah satu penemuan besar yang diocapai oleh manusia. Tidak kalah pentingde ngan ditemukannya sistem tulis menulis, mengolah tanah, dan pemanfaatan energi. Ketika seseorang mencermati lebih dalam kekurangan-kekurangan yang begitu besar dalam sistem barter, maka berbarengan dengan kemajuan yang begitu luas membuka j alan kepada manusia untuk menggunakan uang. Hanya saja manusia tidak mencapai penemuan uang itu dalam sekejap. Pada walnya m ereka melakukan pertukaran barang dan jasa secara barter sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya. Kemudian mereka mengkhususkan suatu barang yang ada dan ter sebar luas dari berbagai macam barang dan menjadikannya sebagai ukuran harga seg ala sesuatu. Demikianlah mata uang di berbagai bangsa menjadi bermacam-macam dan beragam. C. DINAR DAN DIRHAM SEBAGAI MATA UANG DALAM ISLAM Umat Islam telah akrab dengan mata uang yang terbuat dari emas, disebut dinar da n mata uang yang terbuat dari perak disebut dirham. Mata uang ini telah digunaka n secara praktis sejak kelahiran Islam hingga runtuhnya Khalifah Utsmaniyah di T urki pasca perang dunia I. Oleh karena itu, kebanyakan negara Islam dijajah oleh barat dengan sistem kapitalisnya, maka seluruh aspek ekonomi dan kehidupan juga mengikuti pola-pola kapitalis, termasuk masalah mata uang. Dinar dan dirham yang dipergunakan orang Arab waktu itu tidak didasarkan pada ni lai nominalnya, melainkan menurut beratnya. Sebab dinar dan dirham tersebut dian ggap sebagai mata uang yang dicetak, mengingat bentuk timbangan dirham yang tida k sama dan karena kemungkina terjadinya penyusutan berat akibat peredarannya. Datangnya Rasulullah SAW, sebagai tanda kedatangan Islam, maka beliau mengakui b erbagai muamalah yang menggunakan dinar Romawi dan dirham persia. Beliau juga me ngakui standar timbangan yang berlaku dikalangan kaum Quraiys untuk menimbang be rat dinar dan dirham. Sehubungan dengan hal ini Rasulullah bersabda “Timbangan b erat (wazan) adalah timbangan penduduk makkah, dam takaran (mikyal) adalah takar an penduduk Madinah” (HR. Abu Daud dan An Nas’i), kaum muslimin terus menggunaka n dinar Romawi dan dirham Persia dalam bentuk cap, dan gambar aslinya sepanjang hidup Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh masa kekhalifahan Abu Bakar pada awal kekhalifahan Umar bin Khaththab. Pada masa pemerintahannya, khalifah Umar bin Khaththab, pada tahun 20 hijriah, yaitu tahun kedelapan kekhalifahan Umar bin Khaththab, beliau mencetak uang dirh am baru berdasarkan pola dirham Persia. (Kadim As Sadr, 202) Berat, gambar, maup un tulisan bahlawinya( huruf persianya) tetap ada, hanya ditambah dengan lafaz y ang ditulis dengan huruf Arab gaya kufi, seperti lafaz Bismillah (dengan nama Al lah) dan BIsmillahi Rabbi (dengan nama Allah tuahnku) yang terletak pada tepi li ngkaran. Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 75 hijriah (695 M), mencetak dirham k husus yang bercorak Islam, dengan lafaz-lafaz Islam yang ditulis dengan huruf Ar ab gaya kufi. Dengan demikian, dirham persia tidak digunakan lagi. Dua tahun kem udian , (tepatnya tahun 77 H/ 697 M). Abdul Malik bin Marwan mencetak dinar khus us yang bercorak Islam setelah meninggalkan pola dinar Romawi. Gambar-gambar din ar lama diubah dengan tulisan atau lafaz-lafaz Islam, seperti Allahu Ahad (Allah itu tunggal), Allah Baqa’ (Allah itu abadi). Sejak saat itulah orang Islam memi liki dinar dan dirham Islam yang secara resmi digunakan sebagai mata uangnya (A Q Zallum, 1993). D. MATA UANG DI ZAMAN KHALIFAH DAN ULAMA ISLAM

Mata Uang di Zaman Khalifah Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sebenarnya dizaman khalifah Umar bin Khaththa

b dan Utsman bin Affan, mata uang telah dicetak dengan mengikuti gaya dirham pe rsia dengan perubahan pada tulisan yang tercantum pada mata uang tersebut. Pada awal pemerintahan Umar pernah terbetik pikiran untuk mencetak uang dari kulit, namun dibatalkan karena tidak disetujui oleh para sahabat yang lain. Mata uang k halifah Islam yang mempunyai kecirian khusus baru dicetak oleh pemerintah Imam A li r.a. Namun sayang peredarnnya sangat terbatas karena keadaan politik saat itu . Mata uang dengan gaya Persia dicetak pula di zaman Muawiyah dengan mencantumkan gambar dan pedang gubernurnya di Irak. Ziyad juga mengeluarkan dirham dengan men cantumkan nama khalifah. Cara yang dilakukan Muawiyah dan ziyad, pencantuman gam bar dan nama kepala pemerintah pada mata uang masih dipertahankan sampai saat in i, juga termasuk di Indonesia. Mata uang yang beredar pada waktu itu belum berbentuk bulat seperti uang logam s ekarang ini. Baru pada zaman Ibnu Zubair dicetak untuk pertama kalinya mata uang dengan bentuk bulat, namun peredarannya berbatas di Hijaz. Sedangkan Mus’ab, gu bernur di Kufah mencetak uang dengan gaya Persia dan Romawi. Pada tahun 72-74 H, Bisr bin Marwan mencetak mata uang yang disebut denga dinar dinar Athawiya. Sam pai dengan zaman ini mata uang khalifah beredar bersama dengan dinar Romawi, dir ham Persia dan sedikit Himiyarite Yaman. Barulah pada zaman Abdul malik (76 H) p emerintah mendirikan tempat pencetakan uang di Daar Idjard, Suq ahwaj, sus, jay, manadar, maisan, rai, Abarkubadh, dan mata uang khalifah dicetak secara terorga nisir dengan kontrol pemerintah. Nilai mata uang ditentukan oleh beratnya. Mata uang dinar mengandung emas 22 kar at, dan terdiri dari pecahan setengah dinar dan sepertiga dinar. Pecahan yang le bih kecil didapat dengan memotong uang, Imam Ali misalnya, pernah membeli daging dengan memotong dua karat dari dinar. (HR Abu Dawud). Dirham terdiri dari beber apa pecahan nash (20 dirham), nawat (5 dirham), Sha ira (1/60 dirham). Nilai tukar dinar-dirham relatif stabil pada jangka waktu yang panjang dengan ku rs dinar-dirham 1:10 pada saat itu perbandingan emas perak 1:7, sehingga satu di nar 20 karat setara dengan 20 dirham 44 karat. Reformasi moneter pernah dilakuka n oleh Abdul Malik yaitu dirham diubah menjadi 15 karat , dan pada saat yang sam a dinar dikurangi berat emasnya dari 4,25 gram. Di zaman Ibnu Faqih (289 H) nila i dinar menguat menjadi 1:17, namun kemudian stabil pada kurs 1:15. Uang di Zaman Ibnu Taimiyah Ulama Islam Ibnu Taimiyah yang hidup di zaman pemerintahan raja mamluk, telah me ngalami situasi dimana beredar benyak jenis mata uang dengan nilai kandungan log am mulia yang berlainan satu sama lain. Ketika itu beredar tiga jenis mata uang, dinar (emas), dirham (perak), dan fullus (tembaga). Peredaran dinar sangant ter batas, perdaran dirham berfluktuasi kadang-kadang malah menghilang, sedangkan ya ng beredar luas adalah fullus, fenomena inilah yang dirumuskan oleh ibnu Taimiya h bahwa uang dengan kualitas rendah (fullus) akan menendang uang kualitas baik ( dirham-dinar). E. SEJARAH MATA UANG MANUSIA

Uang kertas yang kita gunakan sekarang, bentuk dan sistemnya merupakan dari perk embangan masa yang panjang. Kertas-kertas ini dinamakan bank note, yaitu janji b ank untuk membayarkan uang logam kepada pemilik ketika ada permintaan. Uang kertas pertama kali muncul pada tahun 910 M di Cina. Pada awalnya mereka me nggunakan uang kertas atas dasar penopang logam emas dan perak 100%. Sekitas aba d 10 M uang kertas tidak 100% ditopang oleh emas dan perak dan sekitar abad 12 M mereka sudah tidak menggunakan emas dan perak sebagai penopang uang kertas. Demikianlah uang kertas muncul disamping uang logam semenjak beberapa waktu lalu . Namun beberapa uang-uang kertas yang tersimpan di bank-bank kemudian berkemban g dan terpisah dari uang-uang logam dan tidak bisa lagi ditukarkan dengan emas. Namun uang-uang tersebut tetap sah secara undang-undang.

Uang kertas melewati 4 tahap yang berbeda hingga sampai pada bentuk dan sistemny a sekarang. Fase pertama, ketika volume perdagangan luar negeri semakin luas, keuntungan-keu ntungan semakin meningkat, dan harta semakin berkembang, kemudian mereka menitip kan uang logam pada penyimpanan-penyimpanan tukang emas, tempat penukaran emas, atau pemuka-pemuka agama untuk mengihindari kemungkinan pencurian dan perampokan . Pihak-pihak itu kemudian memberikan kepada penitip akta-akta penyimpanan yang di tuliskan jumlah uang lgam yang dititipkan. Akta ini sendiri bukan uang, karena t idak bersifat diterima secara luas dan tidak mungkin digunakan untuk membayar pe mbelian-pembelian. Akta ini hanya digunakan sebagai bukti penyimpanan dan untuk melakukan transfer uang dari satu tempat ke tempat lain. Fase kedua, pada fase ini penlisan akta mengalami perubahan. Pada fase pertama a kta dituliskan berdasarkan jumlah dari simpanan logam emas atau perak. Sedang pa da fase ini, seseorang yang menitip uang logam kemudian menerima akta dengan jum lah titipan dan ditulis pada akta jaminan pembayaran terhadap akta ini. Pemegang akta pun tidak perlu membubuhkan tanda tangan untuk transaksi. Fase ketiga, kepercayaan orang-orang semakin tumbuh terhadap kertas-kertas yang diterbitkan oleh lembaga keuangan ini. Mereka menggunakannya untuk melaksanakan kontrak transaksi langsung tanpa merujuk ke lembaga keuangan untuk menukarnya de ngan uang logam. Dalam kenyataannya, lembaga keuangan menemukan bahwa sebagian b esar kertas-kertas ini berada dalam peredaran tanpa ditukarkan dengan uang logam . Sebagai contoh, jikalau lembaga keuangan menemukan diantara setiap 20 potong ker tas hanya satu kertas ditukarkan, itu artinya ratio penukaran adalah 5%. Lembaga keuangan dapat menambah ratio ini untuk cadangan dan menjaga kepercayaan orangorang, lalu menyimpan 10% dari uang-uang logam itu. Ini berarti 90% dari kertaskertas tidak memiliki saldo uang logam karena 100 kertas disbanding 10 potong ua ng logam. Jumlah uang kertas semakin banyak yang tidak ada penopangnya. Ketika orang-orang mulai merasakan penipuan yang terjadi, mereka kemudian segera menukarkan uang lertasnya ke uang logam, namun tak segampang itu sehingga menim bulkan kekacauan, dan kondisi memburuk. Negara terpaksa menerbitkan uang kertas tanpa penopang untuk meredam kekacauan. Fase keempat, peristiwa perang dunia I tahun 1914 adalah perang yang pedih, yang membuat peredaran mata uang emas memburuk,serta kebutuhan pemerintah terhadap p embiayaan perang yang bertambah. Semua itu membuat Negara-negara menahan saldo e mas yang mereka miliki dan mencegahnya keluar. Kemudian uang kertas tidak dapat ditukar dengan emas. Uang kertas memiliki beberapa kelebihan, antara lain; mudah dibawa, membawa uang kertas berisiko lebih kecil , biaya penerbitan lebih kecil, kemungkinan untuk m enerbitkannya dalam tipe-tipe bertingkat yang sesuai dengan volume interaksi dag ang yang berbeda-beda. Keputusan Negara-negara menerbitkan uang kertas tanpa penopang emas ternyata mem buat uang kertas dengan bebas diterbitkan. Negara dengan bebasnya mencetak uang kertas dan bahkan akhir-akhir ini banyak uang kertas palsu. Dari sini menimbulka n banyak kekurangan dari uang kertas. Diantara kekurangan uang kertas adalah; ri siko kekacauan dalam kegiatan keuangan dan kegiatan internasional, karena system uang kertas tidak menjamin stabilitas nilai tukar seperti jaminan pada emas. Ri siko penerbitan uang yang berlebihan dan akibatnya seperti inflasi keuangan yang menyebabkan kenaikan harga-harga dan kekacauan kondisi masyarakat.

Satu lagi jenis uang yang sekarang beredar di masyarakat, yakni uang bank atau y ang lebih kita kenal dengan Giro. Uang bank terdiri dari seperti rekening giro y ang kita kenal sekarang, dan deposit-deposit di bank-bank dagang. Uang jenis ini berkembang di nagara-negara maju di mana tradisi perbankan semaki n bertambah. Di Inggris peredaranya mencapai 98%, di Amerika 95% dan di Jerman s ekitar 85%. Cek-cek itu sendiri bukan uang bank, tapi sebagai media peredaran. S edangkan uang bank adalah deposit-deposit, rekening giro. Dan itu tidak lain sek edar tanda bukti. Uang bank termasuk jenis uang yang berisiko kecil terhadap pencurian dan kehilan gan. Cek hanya bisa dipenuhi untuk orang tertentu atau karena perintah pemilik r ekening/cek. Pada satu sisi, uang bank merupakan jenis uang yang lebih mudah dig unakan dalam transaksi. Pada dasarnya bank tidak menyimpan seluruh jumlah nilai deposit, tapi hanya meny impan dalam jumlah tertentu saja, karena bank percaya nasabah tidak akan menarik simpananya secara bersamaan. Bahkan sangat kecil uang simpanan tersebut ditarik . Karena itu bank menyimpan sebagian dari deposit-deposit itu dalam brankasnya d an menggunakan sisanya untuk kredit modal maupun konsumsi untuk nasabah lainnya. Sebagi misal, kita asumsikan keberadaan deposit di bank sebanyak 100.000 unit u ang, bank hanya menyimpan sebesar 20% sebagai cadangan, sedangkan sisanya sebesa r 80% digunakan untuk menyalurkan kredit-kredit terhadap nasabah lain. Pemilik-pemilik deposit dapat menggunakan 100.000 unit uang dan individu/ nasaba h penerima kredit memanfaatkan 80.000 unit uang. Ini mengakibatkan kelebihan uan g yang beredar di masyarakat, hal yang dapat mengancam perekonomian global dan t erjadinya inflasi. http://iqtishaduna.wordpress.com/ekonomi-islam/sejarah-mata-uang-manusia™®-bagia n-kedua/ waktu akses puk.15.40 WITA hari selasa 28 april F. UANG DI BERBAGAI BANGSA

a. Uang Pada Bangsa Lydia Dikatakan bahwa lydian (bangsa lydia) adalah orang-orang pertama kali mengenal u ang cetakan. Pertama kali uang mucul ditangan para pedagang ketika mereka mersak an kesulitan dalam jual beli dalam sistem barter lalu mereka membuat uang. Pada masa Croesus 570-546 SM, Negara berkepentingan mencetak uang. Dan pertama kaliny a masa ini terkenal dengan mata uang emas dan perak yang halus dan akurat. b. Uang Pada Bangsa Yunani Bangsa yunani membuat “uang komoditas” (commodity money) sehingga tersebar diant ara merka “kapak” ([double axes] sebagai utensil-money) dan koin-koin dari perun ggu. Kemudian mereka membuat emas dsan perak yang pada awalnya beredar diantara mereka dalam bentuk batangan sampai masa dimulainya pencetakan uang tahun 406 SM . Kadang mereka mengukir di uang mereka bentuk berhala mereka, gambar pemimpin-pei mpin mereka, sebagaimana juga kadang mereka mengukir nama negeri dimana uang itu di cetak. Mata uang utama mereka adalah Drachma yang terbuat dari perak. c. Uang Pada Bangsa Romawi Bangsa Romawi pada masa sebelum abad ke-3 SM menggunakan mata uang yang terbuat dari perunggu yang disebut aes (Aes Signatum Aes Rude). Mereka juga menggunakan mata uang koin yang terbuat dari tembaga. Dikatakan bahwa orang pertama kali men cetaknya adalah Numa atau Servius Tullius, dikatakan, koin itu dicetak pada tahu n 268 SM. Kemudian, mereka mencetak Denarius dari emas yang kemudian menjadi mata uang uta ma imperium Romawi. Dikatakan dicetak pada tahun 268 SM. Di atas uang itu mereka

cetak ukiran bentuk tuhan-tuhan dan pahlawan-pahlawan mereka, hingga masa Juliu s Caesar yang kemudian mencetak gambarnya di atas uang tersebut. G. SEJARAH RUPIAH

Kemerdekaan berarti lepas dari segala bentuk penjajahan. Setelah 17 Agustus 1945 , Indonesia memiliki kebebasan dalam segala hal tersebut. Sudah seharusnya tidak ada lagi penjajahan dalam bentuk apapun di atas bumi Indonesia ini. Hal ini ber laku juga dalam bidang perekonomian. Suatu negara merdeka semestinya berhak meng atur dan menentukan sendiri sistem perekonomiannya. Dengan begitu suatu negara b erarti juga memiliki hak untuk mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri sebaga i alat tukar yang sah yang dipakai oleh rakyat negara tersebut. Indonesia sebaga i sebuah negara merdeka juga memiliki mata uang sendiri setelah masa penjajahan berakhir. Mata uang yang tersebut adalah rupiah yang kita kenal sekarang ini. Mu nculnya rupiah sebagai alat tukar yang sah di negara ini tidak terjadi secara in stan, rupiah mengalami beberapa tahapan dan proses hingga menjadi mata uang resm i Indonesia. Rupiah juga berkembang dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi seperti yang sekarang kita pergunakan ini. Uang adalah hal yang sangat dekat den gan masyarakat dan sangat sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang sudah mengenalnya. Uang kini juga menjadi tolak ukur tingkat perekonomian suatu negara . Dengan segala fungsi dan peranannya itu, uang menjadi hal yang sangat berharga . Uang juga merupakan salah satu kebanggan dan kekuatan negara. Karena itulah sa ya tertarik untuk membahas perkembangan rupiah sebagai salah satu sejarah bangsa , dari awal masa kemerdekaan hingga akhirnya diakui sebagai mata uang resmi nega ra Indonesia dan dipakai oleh masyarakat dalam kesehariannya. a) Awal Mula Perekonomian Indonesia

Selama masa perang kemerdekaan, terdapat tiga mata uang yang beredar di Indonesi a. Ketiga mata uang itu adalah mata uang Jepang, mata uang Belanda, dan mata uan g de Javasche bank. Peredaran ketiga mata uang ini pada masa itu sangat tidak te ratur dan bebas. Hal ini dikarenakan masih kurangnya kontrol dari pemerintah ber upa kebijakan-kebijakan mengenai perekonomian negara. Hal ini wajar jika melihat Indonesia pada masa itu merupakan negara yang baru saja merdeka. Selain belum a danya kebijakan yang tegas, pada masa awal kemerdekaan ini administrasi dan perb ankan negara belum berjalan seperti semestinya sehingga belum ada bank central y ang ditunjuk sebagai bank pencetak uang resmi negara. Pada masa awal kemerdekaan tersebut terjadi pula dinamika ekonomi berupa hiperinflasi atau terjadi penurun an nilai mata uang karena terlalu banyak mata uang yang beredar di masyarakat te rhadap mata uang Jepang, hal ini memperparah perekonomian rakyat dikarenakan rak yat pada masa itu banyak yang menggunakan mata uang Jepang dalam transaksi sehar i-hari. Pemerintah Indonesia mulai mencoba mengatur dan menangani hiperinflasi i ni dengan mengeluarkan beberapa larangan perederan mata uang asing namun kebijak an ini tidak ditanggapi oleh pihak NICA karena pada saat itu mereka justru menge darkan mata uang mereka untuk mendanai gerakan militer mereka di tanah air. Kebi jakan ini diambil oleh Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) Le tjen Sir Montagu Stopford pada 6 Maret 1946. Stopford mengumumkan pemberlakuan m ata uang NICA di seluruh wilayah Indonesia yang telah diduduki oleh pasukan AFNE I. Hal ini menyebabkan kekacauan ekonomi dan terjadinya krisis kepercayaan terha dap pemerintahan pada masa itu. Masyarakat pada waktu itu menjadi bimbang dalam menggunakan mata uang dikarenakan adanya perbendaan nilai mata uang yang lebih c enderung menguntungkan jika menggunakan mata uang asing. Pemertintah Indonesia ditengah krisis dan berbagai permasalahan yang muncul pada awal kemerdekaan itu tidak berhenti berusaha untuk menetralkan keadaan. Pemerin tah mengeluarkan mata uang sendiri yaitu Oeang Repoeblik Indonesia(ORI) pada 26 Oktober 1946. Munculnya ORI sebagai mata uang resmi yang dikeluarkan pemerintah membuat mata uang Jepang, Hindia-Belanda, dan de Javasche bank tidak berlaku lag i di Indonesia. Tinggal satu mata uang asing yang masih beredar di wilayah tanah air, mata uang NICA. Namun peredaran mata uang NICA tidak didukung oleh rakyat Indonesia. Rakyat lebih memilih menggunakan ORI ketimbang mata uang NICA. Dengan

begitu mata uang NICA hanya beredar dikalangan orang-orang AFNEI saja dan tidak beredar dikalangan masyarakat Indonesia. Setelah itu pemerintah mencoba membent uk bank-bank pemerintah yang direncanakan akan berfungsi sebagai pengatur nilai tukar ORI dengan mata uang asing. Bank-bank yang dibentuk pemerintah pada masa i tu antara lain Bank Repoeblik Indonesia yang sebelumnya merupakan Shomin Ginko, bank pemerintah pendudukan Jepang sebelumnya. Selain itu dibentuk pula Bank Tabu ngan Pos yang sebelumnya merupakan Tyokin Kyoku. Bank Tabungan Pos ini pada masa sekarang dikenal sebagai Bank Tabungan Negara(BTN) setelah pergantian namanya p ada tahun 1950. Ada pula Bank Nasional Indonesia yang merupakan transformasi dar i Yayasan pusat bank yang didirikan pemerintah pada 1 November 1946. Bank-bank i ni didirikan sebagai bank umum yang dijalankan oleh pemerintah RI. Fungsi utama bank-bank ini adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana kepada masyarakat sert a pemberi jasa di dalam lalu lintas pembayaran. Pada masa tersebut ada satu bank lagi yang merupakan cikal bakal Bank Indonesia, bank ini adalah de Javasche Ban k yang pada masa itu belum menjadi bank central tatapi merupakan bank sirkulasi yang turut menjaga kestabilan perekonomian Indonesia. Sejak 1 Juli 1953 bank ini menjadi Bank Indonesia dan berkedudukan sebagai bank central. Dengan begitu Ban k Indonesia merupakan satu-satunya bank yang dapat mencetak mata uang resmi Indo nesiam Rupiah. b) Sejarah Rupiah Rupiah merupakan mata uang resmi Indonesia. Nama rupiah biasanya dikaitkan oleh banyak pihak sebagai pelafalan dari ”rupee” mata uang India, namun sebenarnya me nurut Adi Pratomo, salah satu peneliti sejarah uang Indonesia, rupiah diambil da ri kata rupia dalam bahasa Mongolia. Rupia sendiri berarti perak. Memang sama de ngan arti rupee, namun rupiah sendiri merupakan pelafalan asli Indonesia karena adanya penambahan huruf ’h’ di akhir kata rupia, sangat khas sebagai pelafalan o rang-orang Jawa. Hal ini sedikit berbeda dengan banyak anggapan bahwa rupiah ada lah salah satu unit turunan dari mata uang India. Rupee India sebenarnya juga da pat dikatakan sebagai turunan dari kata rupia itu sendiri, dengan begitu rupiah Indonesia memiliki tingkatan yang sama bukan sebagai unit turunan dari mata uang India tersebut. Pada masa-masa awal kemerdekaan, Indonesia belum menggunakan ma ta uang rupiah namun menggunakan mata uang resmi yang dikenal sebagai ORI.. ORI memiliki jangka waktu peredaran di Indonesia selama 4 tahun, ORI sudah mulai dig unakan semenjak 1945-1949. Namun penggunaan ORI secara sah baru dimulai semenjak diresmikannya mata uang ini oleh pemerintah sebagai mata uang Indonesia pada 30 Oktober 1946. ORI pada masa awal tersebut dicetak oleh Percetakan Canisius deng an bentuk dan disain yang sangat sederhana dan menggunakan pengaman serat halus. Bahkan dapat dikatakan ORI pada masa tersebut merupakan mata uang yang sangat s ederhana, seadanya, dan cenderung berkualitas kurang, apalagi jika dibandingkan dengan mata uang lainnya yang beredar di Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan t ersebut ORI beredar luas di masyarakat meskipun uang ini hanya dicetak di Yogyak arta saja. ORI sedikitnya sudah dicetak sebanyak lima kali dalam jangka waktu em pat tahun antara lain, cetakan I pada 17 Oktober 1945, seri II pada 1 Januari 19 47, seri III dikeluarkan pada 26 Juli 1947. Pada masa itu ORI merupakan mata uan g yang memiliki nilai yang sangat murah jika dibandingkan dengan uang-uang yang dikeluarkan oleh de Javasche Bank. Padahal uang ORI adalah uang langka yang seme stinya bernilai tinggi. Setelah masa ORI tersebut, pada 2 November 1949 pemerintah menetapkan mata uang pengganti ORI. Rupiah diputuskan sebagai mata uang resmi pengganti ORI. Rupiah s endiri sebenarnya sudah ada dan dikenal sebelum dikeluarkannya ORI tersebut. Men urut sunmber tertentu, konsep rupiah sebenarnya sudah dikenal semenjak abad lima atau enam Masehi. Rupiah di Indonesia secara nyata sudah dikenal luas sebagai m ata uang sebelum masa kemerdekaan yaitu pada masa Penjajahan Jepang (Dai Nippon) pada masa Perang Dunia II. Pada masa tersebut rupiah diperkenalkan pada masyara kat dengan nama mata uang Hindia-Belanda(rupiah Hindia-Belanda) yang kemudian se telah masa kemerdekaan dikenal sebagai rupiah jawa. Rupiah pada masa tersebut ti dak menjadi mata uang resmi yang dikeluarkan pemerintah karena pada masa itu de Javasche Bank sebagai pencetak mata uang ini bukan merupakan bank central milik pemerintah dan pada masa itu pengelolaan perekonomian dan pencetakan uang dipega

ng sepenuhnya oleh pemerintah dan bukan oleh bank central. Ada banyak keraguan s ebenarnya mengenai bagaimana tepatnya mata uang ini mulai ada dan dipakai sebaga i mata uang resmi. Pada masa setelah diresmikannya rupiah masih ada satu bentuk mata uang yang sempat dipakai di Indonesia. Mata uang ini adalah mata uang yang dikeluarkan pada masa RIS yang dikenal sebagai mata uang RIS. Mata uang ini masu k dalam sejarah perkembangan mata uang Indonesia sebagai pengganti sementara Rup iah. Setelah masa RIS berakhir mata uang Indonesia kembali menjadi rupiah, namun tidak ada sumber pasti yang menyebutkan mengenai waktu transisi secara tepat da ri mata uang RIS ke mata uang rupiah ini. Setelah masa RIS tersebut rupiah mulai dipakai secara umum dan mulai banyak mengalami perkembangan dan penyempurnaan. Sebagai mata uang resmi Indonesia, rupiah kemudian dikeluarkan dan dikontrol ole h Bank Indonesia. Terlebih lagi semenjak Bank Indonesia secara resmi dijadikan b ank central dan diberi kewenangan penuh untuk mengatur perbankan negara pada 1 J uli 1953. Rupiah kemudian diberi kode atau simbol yang digunakan pada semua peca han uang kertas dan uang logam berupa Rp dan diakui oleh semua pihak. Rupiah sen diri tidak secara langsung dapat tersebar secara merata di bumi Indonesia. Perse baran mata uang ini tidak begitu merata secara cepat. Misalnya saja, daerah kepu lauan Riau dan Papua baru menggunakan mata uang rupiah pada tahun 1964 dan 1971. Semenjak dipakainya rupiah sebagai mata uang resmi, rupiah berulang kali mengal ami pergolakan. Devaluasi dan Pemangkasan merupakan hal yang selalu menghiasi pe rkembangan rupiah. Devaluasi terjadi pada beberapa periode misalnya saja pada 7 Maret 1946, 20 September 1949 ,Februari 1952 ,September 1959, akhir Januari 1963 dan tahun 1964. Pemangkasan nilai rupiah juga tejadi pada rupiah antara lain te rjadi pada 25 Agustus 1959 dan 29 Maret 1983. Perubahan-perubahan tampilan, nila i mata uang, bentuk, dan warna pun mewarnai perkembangan mata uang resmi Indones ia ini. Mulai dari ORI yang bentuk, gambar, cetakan, dan kertasnya memiliki kual itas yang buruk hingga kini uang-uang kertas telah memiliki bentuk dan tampilan yang mewah dan rapi. Rupiah sudah mengalami banyak sekali masa-masa seiring berkembangnya bangsa ini. Rupiah juga berkembang mengikuti perkembangan masa di Indonesia. Ia sempat tida k dianggap sebagai mata uang resmi ketika ORI menjadi mata uang yang diresmikan pemerintah, ia juga sempat tergantikan oleh mata uang RIS, namun pada hakikatnya seluruh mata uang tersebut sebenarnya merupakan sejarah dari rupiah itu sendiri sebagai sebuah mata uang resmi Indonesia. Sudah banyak pahlawan, daerah nusanta ra, dan kebudayaan yang tergambar di mata uang rupiah. Sudah banyak seri yang di keluarkan oleh pemerintah untuk mengganti, memperbaiki, dan menyempurnakan mata uang kebanggan negara ini. Bagaimanapun, rupiah merupakan sebuah cermin dari ban gsa Indonesia. Ketika mendengar kata rupiah, hal yang langsung terpikirkan adala h Indonesia, jelas karena rupiah adalah milik Indonesia saja dan tidak ada negar a lain yang memiliki rupiah. Sebagai salah satu kebangaan negara, sudah semestin ya rupiah juga dijunjung tinggi. Rupiah sudah selayaknya diakui, dibanggakan, da n dijaga oleh setiap warga negara Indonesia. Kecintaan pada rupiah merupakan seb uah kecintaan pada Negara Indonesia. Usaha para pendahulu untuk menciptakan sebu ah sistem perekonomian lengkap dengan mata uang yang hanya dimiliki oleh negara ini saja sangat berat. Para pendahulu berusaha menghalau kekuatan mata uang asin g yang beredar di Indonesia agar Indonesia sebagai negara merdeka mampu secara m andiri mengatur sistem perekonomiannya sendiri. Meskipun rupiah juga bisa menjad i citra buruk ditengah krisis yang sering terjadi di Indonesia ketika rupiah har us melemah terhadap kurs mata uang asing, rupiah merupakan senjata bangsa untuk menghalau penjajahan di bidang ekonomi bagi bangsa ini. Denga segala hal yang di miliki rupiah inim sudah semestinya masyarakat Indonesia berusaha mengerti dan m emahami sejarah dan perkembangan rupiah ini. Tidak berarti ketika kita sebagai w arga negara tidak memahami milik kita sendiri. Milik kita yang setiap waktu kita bawa dan gunakan. Rupiah tidak semestinya hanya kita banggakan sebagai tolak uk ur kekayaan pribadi, namun semsetinya kita banggakan sebagai tolak ukur kekayaan bangsa. Menghargai rupiah dengan tidak menekuk-nekuknya hingga menjadi lusuh, b ahkan sobek, merupakan hal kecil yang sangat berarti. Menghargai sekecil apapun nilai uang yang kita miliki akan membuat rupiah memiliki makna yang besar bagi n egara ini. Ketika kita berusaha mengetahui sejarah mata uang kita, disitu pula a kan timbul rasa cinta terhadap tanah air kita. Banyak sekali kesimpang siuran te

rhadap sejarah mata uang rupiah. Dalam berbagai sumber terkadang memiliki perbed aan pandangan terhadap sejarah rupiah. Hal ini jelas dikarenakan tidak adanya pe rhatian masyarakat dan pemerintah terhadap symbol perekonomian negara ini. Ketik a generasi muda tidak mengetahui sejarah bangsa, tidak akan muncul kecintaan ter hadap segala milik negara ini. Apalagi generasi muda mendapatkan informasi yang salah mengenai sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejara hnya semestinya ditanamkan kepada setiap insane di Indonesia ini. Sangat naïf ke tika kita setiap hari menggunakan rupiah sebagai mata uang resmi dalam melakukan transaksi, namun kita tidak tahu menahu akan sejarah dan perkembangan mata uang kita sendiri tersebut.

http://andreaspraditya.blogspot.com/2009/01/sejarah-rupiah.html waktu akses puk. 15.40 WITA hari selasa 28 april

H.

UANG DALAM EKONOMI KONVENSIONAL

Komponen-komponen yang termasuk dalam uang adalah uang logam, uang keratas dan s impanan giro atau uang giral. Uang logam dan uang kertas disebut sebagai uang ka rtal yang merupakan utang pemerintah ataupun bank sentral tanpa bunga. Uang gira l merupakan utang bank komersial. Uang kertas merupakan bagian yang besar dari uang kartal. Semua uang kertas bere dar merupakan uang kertas yang diedarkan atau dikeluarkan oleh bank sentral yait u Bank Indonesia dengan otoritas pemerintah yaitu Departemen Keuangan. Uang kert as bersama-sama dengan uang logam disebut sebagai uang kartal. Uang giral merupakan simpanan uang pada suatu bank yang dapat diambil sewaktu-wa ktu dengan menulis cek yang merupakan perintah oleh pemilik simpanan giro terseb ut kepada bank untuk membayar kepadanya atau kepada orang lain atau pihak lain y ang ditunjuk dan dituliskan pada cek tersebut. Cek dapat digunakan untuk pembaya ran transaksi jual beli atau transaksi keuangan lainnya. Ia lebih disenangi dari pada uang kartal dalam penggunaan untuk menyelesaikan atau melaksanakan transak si pembayaran karena ia lebih aman, lebih mudah dan praktis tanpa harus menghitu ng seperti pembayaran dengan uang kartal. Seiring dengan perkembangan ekonomi yang sangat pesat, masyarakat memerlukan ala t pertukaran yang lebih praktis dinbandingkan dengan uang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, selain uang kartal (uang kertas dan uang logam) yan g diciptakan oleh pemerintah, dalam kegiatan pertukaran terdapat alat pertukaran lain yag lebih “fleksibel” seperti kartu kredit, cek, giro bilyet dan lain-lain . Namun, alat pembayaran ini belum dapat diterima oleh masyarakat secara umum. Hadirnya uang dalam sistem perekonomian akan mempengaruhi perekonomian suatu neg ara, yang biasanya berkaitan dengan kebijakan-kebijakan moneter. Pada umumnya an alisis ekonomi suatu negara ditentukan oleh analisis atas ukuran uang yang bered ar. Samuelson mengatakan bahwa banyak ekonom percaya bahwa perubahan jumlah uang berdar dalam jangka panjang terutama akan menghasilkan tingkat harga, sedangkan dampaknya terhadap output real, adalah sedikit atau bahkan tidak ada. Dengan kata lain, ekspansi moneter akan mnurunkan tingkat bunga pasar. Hal ini a kan menigkatkan pengeluaran untuk investasi usaha riil yang sangat sensitif terh adap perubahan tingkat bunga. Melalui mekanisme pengganda (multiplier) permintaa n agregat akan meningkat, yang menyebabkan naiknya output dan harga di atas ting kat yang tidak dicapai dalam situasi normal. I. UANG DALAM EKONOMI ISLAM

Sebagai perbandingan dengan teori ekonom konvensional-kapitalisme- Islam membica rakan uang sebagai sarana penukar dan penyimpan nilai, tetapi uang bukanlah bara ng dagangan. Uang menjadi berguna hanya jika ditukar dengan benda yang dinyataka

n atau jika digunakan untuk membeli jasa. Oleh karena itu, uang tidak bisa dijua l atau dibeli secara kredit. Orang perlu memahami kebijakan Rasulullah SAW, bahw a tidak hanya mengumumkan bunga atas pinjaman sebgai sesuatu yang tidak sah teta pi juga melarang pertukaran uang dan beberapa benda bernilai lainnya untuk pertu karan yang tidak sama jumlahnya, serta menunda pembayaran jika barang dagangan a tau mata uangnya adalah sama. Efeknya adalah mencegah bunga uang yang masuk ke s istem ekonomi ekonomi melalui cara yang tidak diketahui. Didalam ekonomi islam uang bukanlah modal. Sementara ini kita kadang salah kapra h menempatkan uang. Uang kita sama artikan dengan modal (capital ). Uang adalah barang khalyak/public goods masyarakat luas. Uang bukan barang monopoli seseoran g. Jadi semua orang berhak memiliki uang yang berlaku di suatu negara. Sementara modal adalah barang pribadi atau orang per orang. Jika uang sebagai flow concep t sementara modal adalah stock concept. a) Money as flow concept Didepan telah disinggung, bahwa uang adalah sesuatu yang mengalir. Sehingga uang diibaratkan seperti air. Jika air di sungai itu mengalir, maka air itu akan ber sih dan sehat. Jika air berhenti (tidak mengalir secara wajar) maka air tersebut menjadi busuk dan bau, demikian juga dengan uang. Uang berputar untuk produksi akan menimbulkan kemakmuran dan kesehatan ekonomi masyarakat. Sementara, jika ua ng ditahan maka dapat menyebabkan macetnya roda perekonomian. Dalam ajaran Islam , uang ahrus diputar terus sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang lebih bes ar. Untuk itu uang perlu digunakan untuk investasi di sektor riil. Jika uang dis impan tidak diinvestasikan kepada sektor riil, maka tidak akan mendatangkan apap (Q.S Al-Lahab). Penyimpanan uang yang telah mencapai haulnya, menurut ajaran Is lam, akan dikenai zakat. b) Money as Public Goods Uang adalah barang untuk masyarakat banyak. Bukan monopoli perorangan. Sebagai b arang umum, maka masyarakat dapat menggunakannya tanpa ada hambatan dari orang l ain. Oleh karena itu, -dalam tradisi Islam- menumpuk uang sangat dilarang, sebab kegiatan menumpuk uang akan mengganggu orang lain menggunakannya.

BAB III PENUTUP Kesimpulan: Sebab-sebab munculnya uang antara lain: I. Kesusahan mencari keinginan yang sesuai antara orang-orang yang melakuka n transaksi, atau kesulitan untuk mewujudkan kesepakatan mutual. II. Perbedaan ukuran barang dan jasa dan sebagian barang tidak dapat di bagi . III. Kesulitan untuk mengukur harga seluruh barang dan jasa. Uang adalah salah satu pilar ekonomi, uang memudahkan pertukaran komoditi dan ja sa, setiap proses produksi dan distribusi mesti menggunakan uang. Sejak dulu orang sudah akrab dengan uang, seperti pada masa pemerintahan Islam d ahulu, uang dinar dan dirham yang terbuat dari emas dan perak telah menjadi kebu tuhan orang-orang. Dalam ekonomi konvensional komponen yang termasuk dalam uang adalah uang logam, uang kertas dan simpanan giro atau uang giral. Sedangkan didalam ekonomi Islam, uang dibicarakan sebagai sarana penukar dan penyimpan nilai, tetapi uang

bukan barang barang dagangan.

TANGGAPAN Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang haru s dipenuhi, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut kita tidak dapat melakuk annya seorang diri, untuk itu kita perlu bekerja sama dengan orang lain. Kita me nukarkan barang yang kita miliki dengan barang yang kita butuhkan yang dimiliki oleh orang lain. Tetapi dalam melakukan hal tersebut akan terdapat masalah, sepe rti ketika pemilik barang yang kita butuhkan sedang tidak membutuhkan barang yan g kita miliki, atau ketika nilai barang yang kita miliki tidak sesuai dengan nil ai barang yang kita butuhkan atau barang yang kita miliki tidak dapat dibagi-bag i. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut sangat tepat sekali manusia membuat ala t tukar yang dapat ditukarkan dengan barang apa saja, dan juga nilainya diketahu i secara jelas. Sehingga ketika seseorang membutuhkan suatu barang ia hanya perl u menukarkan uang yang nilainya sama dengan barang yang dia butuhkan tanpa harus mencari pemilik barang yang sedang membutuhkan barang yang ia miliki, karena ua ng dapat di tukarkan dengan barang apa saja. BAB I PENDAHULUAN ALLAH-lah menciptakan manusia dan menjadikannya makhluk yang membutuhkan makanan , pakaian, dan tempat tinggal. Memandang terhadap kebutuhan-kebutuhan manusia it u, Allah tundukkan apa yang ada di langit dan bumi. Firman Allah swt. Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air huja n dari langit , kemudian Dia menengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-b uahan menjadi rezeki bagimu, dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bah tera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan (pula ) bagimu sungai-sungai (QS Ibarahim [14]:32). Oleh karena itu, sejak awal sejarah manusia, orang-orang bekerja keras d alam kehidupan untuk memenuhi terjaminnya barang dan jasa dan memanfaatkan nikma t-nikmat yang Allah berikan bagi mereka. Ketika tidak sanggup seorang diri dalam memenuhi segala kebutuhan barang dan jasa, terjadilah kerja sama sesame manusia dalam rangka menjamin terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu.

BAB II A. SEBAB-SEBAB MUNCULNYA UANG Ada beberapa sebab munculnya uang antara lain: 1) Kesusahan mencari keinginan yang sesuai antara orang-orang yang melakuka n transaksi , atau kesulitan untuk mewujudkan kesepakatan mutual. Ja’far bin Ali al-Dimasyqy mengungkapkan dalam perkataannya, “dan tidak setiap orang dari mer eka membutuhkan pada waktu dimana orang lain juga membutuhkan.” Misalnya, seseor ang yang punya keahlian sebagai tukang kayu dan membutuhkan jasa seorang pandai besi. Disni tukang kayu ingin memberikan jasa kepada pandai kepada pandai besi s ebagai imbalan jasanya. Bisa saja ia menemukan pandai besi, tetapi tidak membutu hkan jasa tukang kayu sehingga ia harus pergi dan mencari pandai besi yang lain

yang sedang membutuhkan jasa tukang kayu. Demikian waktu menjadi banyak terbuang dengan sia-sia sampai dia manemukan pandai besi. Untuk lebih memperjelas lagi, penulis akan memberikan contoh yang lain. Seseoran g pemilik zaitun membutuhkan wol. Disini ia harus mencari orang yang memiliki wo l untuk ditukar. Bisa saja dia menemukan pemilik wol, tapi kebetulan dia tidak m embutuhkan zaitun tetapi membutuhkan gandum. Begitulah susahnya system jual beli barter. 2) Perbedaan ukuran barang dan jasa, dan sebagian barang yang tidak dapat d ibagi-bagi. Ini yang beliau ungkapkan dalam perkataannya: “Dan ukuran-ukuran bar ang yang mereka butuhkan tidak sama.” Dalam contoh kita terdahulu, katakanlah pe milik zaitun yang membutuhkan wol menemukan pemilik wol yang juga membutuhkan za itun. Hanya saja tidak ada kesepakatan antara keduanya dalam hal ukuran barang y ang dibutuhkan. Pemilik zaitun memiliki 10 liter zaitun sedangkan pemilik wol ha nya memiliki sedikit wol yang sesuai dengan jumlah ukuran zaitun. Sedangkan pemi lik zaitun sendiri tidak ingin membagi-bagi barangnya. Terkadang barang itu send iri tidak bisa dibagi-bagi seperti orang memiliki seekor kambing dan membutuhkan baju. Ukuran seekor kambing jelas menyamai lebih dari satu baju dan tidak munki n baginya untuk membagi-bagi kambingnya sebagai bayaran untuk sepotong baju. ter jadi kesulitan dalam pertukaran. 3) Kesulitan untuk mengukur standar harga seluruh barang dam jasa. Seperti yang beliau ungkapkan: “Dan dia tidak mengetahui nilai setiap barang dari setiap jenis dan apa ukuran tukar untuk setiap bagian dari bagian-bagian yang lain dar i segala sesuatu.” Pada sistem barter sulit untuk mengetahui nilai suatu barang diukur dengan baran g-barang yang lain atau barang. Di sebuah pasar misalnya, terdapat beberapa kamb ing, unta, gandum, minyak goring, sutera, dan seterusnya. Karena tidak adanya st andar ukuran untuk mengetahui harga setiap barang, terjadi kesulitan dalam prose s pertukaran .Berapa ukuran gandum yang menyamai seekor unta? Dan berapa berapa banyak ukuran minyak goring untuk ditukarkan dengan kain sutera? Memandang sulit nya permasalahan ini, merupakam petunjuk dari Allah Swt, kepada manusia untuk me mbuat uang sebagai harga dan nilai terhadap semua barang dan jasa sehingga prose s pertukaran menjadi mudah karena pemilik unta mengukur harga untanya dengan uan g, begitu juga pemilik apel menukur nilai apelnya denga uang. Kalau tidak adanya ukuran standar seperti ini, dalam proses jual beli akan mendapat kesulitan. B. PENTINGNYA UANG `Uang adalah salah satu pilar ekonomi. Uang memudahkan proses pertukaran komodi ti dan jasa. Setiap proses produksi dan distribusi mesti menggunakan uang. Pada berbagai bentuk proses produksi berskala besar modern, setiap orang dari ko mponen masyarakat mengkususkan diri dalam produksi barang komoditas atau baagian dari barang dan memperoleh nilai dari hasil produksi yang ia psarkan dalam bent uk uang. Sebagai mana para pengusaha pabrik membayar gaji dari “jasa” para karya wan dan buruh yang bekerja pada mereka dengan menggunakan uang. Karena itu, sist em ekonomi modern yang menyangkut banyak pihak tidak bisa berjalan dengan sempur na tanpa menggunakan uang. Tidaklah berlebihan sebagian orang yang mengisyaratkan bahwa penemuan uang merup akan salah satu penemuan besar yang diocapai oleh manusia. Tidak kalah pentingde ngan ditemukannya sistem tulis menulis, mengolah tanah, dan pemanfaatan energi. Ketika seseorang mencermati lebih dalam kekurangan-kekurangan yang begitu besar dalam sistem barter, maka berbarengan dengan kemajuan yang begitu luas membuka j alan kepada manusia untuk menggunakan uang. Hanya saja manusia tidak mencapai penemuan uang itu dalam sekejap. Pada walnya m ereka melakukan pertukaran barang dan jasa secara barter sebagaimana telah kita jelaskan sebelumnya. Kemudian mereka mengkhususkan suatu barang yang ada dan ter sebar luas dari berbagai macam barang dan menjadikannya sebagai ukuran harga seg ala sesuatu. Demikianlah mata uang di berbagai bangsa menjadi bermacam-macam dan beragam.

C. DINAR DAN DIRHAM SEBAGAI MATA UANG DALAM ISLAM Umat Islam telah akrab dengan mata uang yang terbuat dari emas, disebut dinar da n mata uang yang terbuat dari perak disebut dirham. Mata uang ini telah digunaka n secara praktis sejak kelahiran Islam hingga runtuhnya Khalifah Utsmaniyah di T urki pasca perang dunia I. Oleh karena itu, kebanyakan negara Islam dijajah oleh barat dengan sistem kapitalisnya, maka seluruh aspek ekonomi dan kehidupan juga mengikuti pola-pola kapitalis, termasuk masalah mata uang. Dinar dan dirham yang dipergunakan orang Arab waktu itu tidak didasarkan pada ni lai nominalnya, melainkan menurut beratnya. Sebab dinar dan dirham tersebut dian ggap sebagai mata uang yang dicetak, mengingat bentuk timbangan dirham yang tida k sama dan karena kemungkina terjadinya penyusutan berat akibat peredarannya. Datangnya Rasulullah SAW, sebagai tanda kedatangan Islam, maka beliau mengakui b erbagai muamalah yang menggunakan dinar Romawi dan dirham persia. Beliau juga me ngakui standar timbangan yang berlaku dikalangan kaum Quraiys untuk menimbang be rat dinar dan dirham. Sehubungan dengan hal ini Rasulullah bersabda “Timbangan b erat (wazan) adalah timbangan penduduk makkah, dam takaran (mikyal) adalah takar an penduduk Madinah” (HR. Abu Daud dan An Nas’i), kaum muslimin terus menggunaka n dinar Romawi dan dirham Persia dalam bentuk cap, dan gambar aslinya sepanjang hidup Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh masa kekhalifahan Abu Bakar pada awal kekhalifahan Umar bin Khaththab. Pada masa pemerintahannya, khalifah Umar bin Khaththab, pada tahun 20 hijriah, yaitu tahun kedelapan kekhalifahan Umar bin Khaththab, beliau mencetak uang dirh am baru berdasarkan pola dirham Persia. (Kadim As Sadr, 202) Berat, gambar, maup un tulisan bahlawinya( huruf persianya) tetap ada, hanya ditambah dengan lafaz y ang ditulis dengan huruf Arab gaya kufi, seperti lafaz Bismillah (dengan nama Al lah) dan BIsmillahi Rabbi (dengan nama Allah tuahnku) yang terletak pada tepi li ngkaran. Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada tahun 75 hijriah (695 M), mencetak dirham k husus yang bercorak Islam, dengan lafaz-lafaz Islam yang ditulis dengan huruf Ar ab gaya kufi. Dengan demikian, dirham persia tidak digunakan lagi. Dua tahun kem udian , (tepatnya tahun 77 H/ 697 M). Abdul Malik bin Marwan mencetak dinar khus us yang bercorak Islam setelah meninggalkan pola dinar Romawi. Gambar-gambar din ar lama diubah dengan tulisan atau lafaz-lafaz Islam, seperti Allahu Ahad (Allah itu tunggal), Allah Baqa’ (Allah itu abadi). Sejak saat itulah orang Islam memi liki dinar dan dirham Islam yang secara resmi digunakan sebagai mata uangnya (A Q Zallum, 1993). D. MATA UANG DI ZAMAN KHALIFAH DAN ULAMA ISLAM

Mata Uang di Zaman Khalifah Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, sebenarnya dizaman khalifah Umar bin Khaththa b dan Utsman bin Affan, mata uang telah dicetak dengan mengikuti gaya dirham pe rsia dengan perubahan pada tulisan yang tercantum pada mata uang tersebut. Pada awal pemerintahan Umar pernah terbetik pikiran untuk mencetak uang dari kulit, namun dibatalkan karena tidak disetujui oleh para sahabat yang lain. Mata uang k halifah Islam yang mempunyai kecirian khusus baru dicetak oleh pemerintah Imam A li r.a. Namun sayang peredarnnya sangat terbatas karena keadaan politik saat itu . Mata uang dengan gaya Persia dicetak pula di zaman Muawiyah dengan mencantumkan gambar dan pedang gubernurnya di Irak. Ziyad juga mengeluarkan dirham dengan men cantumkan nama khalifah. Cara yang dilakukan Muawiyah dan ziyad, pencantuman gam bar dan nama kepala pemerintah pada mata uang masih dipertahankan sampai saat in i, juga termasuk di Indonesia. Mata uang yang beredar pada waktu itu belum berbentuk bulat seperti uang logam s ekarang ini. Baru pada zaman Ibnu Zubair dicetak untuk pertama kalinya mata uang dengan bentuk bulat, namun peredarannya berbatas di Hijaz. Sedangkan Mus’ab, gu bernur di Kufah mencetak uang dengan gaya Persia dan Romawi. Pada tahun 72-74 H, Bisr bin Marwan mencetak mata uang yang disebut denga dinar dinar Athawiya. Sam pai dengan zaman ini mata uang khalifah beredar bersama dengan dinar Romawi, dir

ham Persia dan sedikit Himiyarite Yaman. Barulah pada zaman Abdul malik (76 H) p emerintah mendirikan tempat pencetakan uang di Daar Idjard, Suq ahwaj, sus, jay, manadar, maisan, rai, Abarkubadh, dan mata uang khalifah dicetak secara terorga nisir dengan kontrol pemerintah. Nilai mata uang ditentukan oleh beratnya. Mata uang dinar mengandung emas 22 kar at, dan terdiri dari pecahan setengah dinar dan sepertiga dinar. Pecahan yang le bih kecil didapat dengan memotong uang, Imam Ali misalnya, pernah membeli daging dengan memotong dua karat dari dinar. (HR Abu Dawud). Dirham terdiri dari beber apa pecahan nash (20 dirham), nawat (5 dirham), Sha ira (1/60 dirham). Nilai tukar dinar-dirham relatif stabil pada jangka waktu yang panjang dengan ku rs dinar-dirham 1:10 pada saat itu perbandingan emas perak 1:7, sehingga satu di nar 20 karat setara dengan 20 dirham 44 karat. Reformasi moneter pernah dilakuka n oleh Abdul Malik yaitu dirham diubah menjadi 15 karat , dan pada saat yang sam a dinar dikurangi berat emasnya dari 4,25 gram. Di zaman Ibnu Faqih (289 H) nila i dinar menguat menjadi 1:17, namun kemudian stabil pada kurs 1:15. Uang di Zaman Ibnu Taimiyah Ulama Islam Ibnu Taimiyah yang hidup di zaman pemerintahan raja mamluk, telah me ngalami situasi dimana beredar benyak jenis mata uang dengan nilai kandungan log am mulia yang berlainan satu sama lain. Ketika itu beredar tiga jenis mata uang, dinar (emas), dirham (perak), dan fullus (tembaga). Peredaran dinar sangant ter batas, perdaran dirham berfluktuasi kadang-kadang malah menghilang, sedangkan ya ng beredar luas adalah fullus, fenomena inilah yang dirumuskan oleh ibnu Taimiya h bahwa uang dengan kualitas rendah (fullus) akan menendang uang kualitas baik ( dirham-dinar). E. SEJARAH MATA UANG MANUSIA

Uang kertas yang kita gunakan sekarang, bentuk dan sistemnya merupakan dari perk embangan masa yang panjang. Kertas-kertas ini dinamakan bank note, yaitu janji b ank untuk membayarkan uang logam kepada pemilik ketika ada permintaan. Uang kertas pertama kali muncul pada tahun 910 M di Cina. Pada awalnya mereka me nggunakan uang kertas atas dasar penopang logam emas dan perak 100%. Sekitas aba d 10 M uang kertas tidak 100% ditopang oleh emas dan perak dan sekitar abad 12 M mereka sudah tidak menggunakan emas dan perak sebagai penopang uang kertas. Demikianlah uang kertas muncul disamping uang logam semenjak beberapa waktu lalu . Namun beberapa uang-uang kertas yang tersimpan di bank-bank kemudian berkemban g dan terpisah dari uang-uang logam dan tidak bisa lagi ditukarkan dengan emas. Namun uang-uang tersebut tetap sah secara undang-undang. Uang kertas melewati 4 tahap yang berbeda hingga sampai pada bentuk dan sistemny a sekarang. Fase pertama, ketika volume perdagangan luar negeri semakin luas, keuntungan-keu ntungan semakin meningkat, dan harta semakin berkembang, kemudian mereka menitip kan uang logam pada penyimpanan-penyimpanan tukang emas, tempat penukaran emas, atau pemuka-pemuka agama untuk mengihindari kemungkinan pencurian dan perampokan . Pihak-pihak itu kemudian memberikan kepada penitip akta-akta penyimpanan yang di tuliskan jumlah uang lgam yang dititipkan. Akta ini sendiri bukan uang, karena t idak bersifat diterima secara luas dan tidak mungkin digunakan untuk membayar pe mbelian-pembelian. Akta ini hanya digunakan sebagai bukti penyimpanan dan untuk melakukan transfer uang dari satu tempat ke tempat lain. Fase kedua, pada fase ini penlisan akta mengalami perubahan. Pada fase pertama a kta dituliskan berdasarkan jumlah dari simpanan logam emas atau perak. Sedang pa da fase ini, seseorang yang menitip uang logam kemudian menerima akta dengan jum

lah titipan dan ditulis pada akta jaminan pembayaran terhadap akta ini. Pemegang akta pun tidak perlu membubuhkan tanda tangan untuk transaksi. Fase ketiga, kepercayaan orang-orang semakin tumbuh terhadap kertas-kertas yang diterbitkan oleh lembaga keuangan ini. Mereka menggunakannya untuk melaksanakan kontrak transaksi langsung tanpa merujuk ke lembaga keuangan untuk menukarnya de ngan uang logam. Dalam kenyataannya, lembaga keuangan menemukan bahwa sebagian b esar kertas-kertas ini berada dalam peredaran tanpa ditukarkan dengan uang logam . Sebagai contoh, jikalau lembaga keuangan menemukan diantara setiap 20 potong ker tas hanya satu kertas ditukarkan, itu artinya ratio penukaran adalah 5%. Lembaga keuangan dapat menambah ratio ini untuk cadangan dan menjaga kepercayaan orangorang, lalu menyimpan 10% dari uang-uang logam itu. Ini berarti 90% dari kertaskertas tidak memiliki saldo uang logam karena 100 kertas disbanding 10 potong ua ng logam. Jumlah uang kertas semakin banyak yang tidak ada penopangnya. Ketika orang-orang mulai merasakan penipuan yang terjadi, mereka kemudian segera menukarkan uang lertasnya ke uang logam, namun tak segampang itu sehingga menim bulkan kekacauan, dan kondisi memburuk. Negara terpaksa menerbitkan uang kertas tanpa penopang untuk meredam kekacauan. Fase keempat, peristiwa perang dunia I tahun 1914 adalah perang yang pedih, yang membuat peredaran mata uang emas memburuk,serta kebutuhan pemerintah terhadap p embiayaan perang yang bertambah. Semua itu membuat Negara-negara menahan saldo e mas yang mereka miliki dan mencegahnya keluar. Kemudian uang kertas tidak dapat ditukar dengan emas. Uang kertas memiliki beberapa kelebihan, antara lain; mudah dibawa, membawa uang kertas berisiko lebih kecil , biaya penerbitan lebih kecil, kemungkinan untuk m enerbitkannya dalam tipe-tipe bertingkat yang sesuai dengan volume interaksi dag ang yang berbeda-beda. Keputusan Negara-negara menerbitkan uang kertas tanpa penopang emas ternyata mem buat uang kertas dengan bebas diterbitkan. Negara dengan bebasnya mencetak uang kertas dan bahkan akhir-akhir ini banyak uang kertas palsu. Dari sini menimbulka n banyak kekurangan dari uang kertas. Diantara kekurangan uang kertas adalah; ri siko kekacauan dalam kegiatan keuangan dan kegiatan internasional, karena system uang kertas tidak menjamin stabilitas nilai tukar seperti jaminan pada emas. Ri siko penerbitan uang yang berlebihan dan akibatnya seperti inflasi keuangan yang menyebabkan kenaikan harga-harga dan kekacauan kondisi masyarakat. Satu lagi jenis uang yang sekarang beredar di masyarakat, yakni uang bank atau y ang lebih kita kenal dengan Giro. Uang bank terdiri dari seperti rekening giro y ang kita kenal sekarang, dan deposit-deposit di bank-bank dagang. Uang jenis ini berkembang di nagara-negara maju di mana tradisi perbankan semaki n bertambah. Di Inggris peredaranya mencapai 98%, di Amerika 95% dan di Jerman s ekitar 85%. Cek-cek itu sendiri bukan uang bank, tapi sebagai media peredaran. S edangkan uang bank adalah deposit-deposit, rekening giro. Dan itu tidak lain sek edar tanda bukti. Uang bank termasuk jenis uang yang berisiko kecil terhadap pencurian dan kehilan gan. Cek hanya bisa dipenuhi untuk orang tertentu atau karena perintah pemilik r ekening/cek. Pada satu sisi, uang bank merupakan jenis uang yang lebih mudah dig unakan dalam transaksi. Pada dasarnya bank tidak menyimpan seluruh jumlah nilai deposit, tapi hanya meny impan dalam jumlah tertentu saja, karena bank percaya nasabah tidak akan menarik simpananya secara bersamaan. Bahkan sangat kecil uang simpanan tersebut ditarik

. Karena itu bank menyimpan sebagian dari deposit-deposit itu dalam brankasnya d an menggunakan sisanya untuk kredit modal maupun konsumsi untuk nasabah lainnya. Sebagi misal, kita asumsikan keberadaan deposit di bank sebanyak 100.000 unit u ang, bank hanya menyimpan sebesar 20% sebagai cadangan, sedangkan sisanya sebesa r 80% digunakan untuk menyalurkan kredit-kredit terhadap nasabah lain. Pemilik-pemilik deposit dapat menggunakan 100.000 unit uang dan individu/ nasaba h penerima kredit memanfaatkan 80.000 unit uang. Ini mengakibatkan kelebihan uan g yang beredar di masyarakat, hal yang dapat mengancam perekonomian global dan t erjadinya inflasi. http://iqtishaduna.wordpress.com/ekonomi-islam/sejarah-mata-uang-manusia™®-bagia n-kedua/ waktu akses puk.15.40 WITA hari selasa 28 april F. UANG DI BERBAGAI BANGSA

a. Uang Pada Bangsa Lydia Dikatakan bahwa lydian (bangsa lydia) adalah orang-orang pertama kali mengenal u ang cetakan. Pertama kali uang mucul ditangan para pedagang ketika mereka mersak an kesulitan dalam jual beli dalam sistem barter lalu mereka membuat uang. Pada masa Croesus 570-546 SM, Negara berkepentingan mencetak uang. Dan pertama kaliny a masa ini terkenal dengan mata uang emas dan perak yang halus dan akurat. b. Uang Pada Bangsa Yunani Bangsa yunani membuat “uang komoditas” (commodity money) sehingga tersebar diant ara merka “kapak” ([double axes] sebagai utensil-money) dan koin-koin dari perun ggu. Kemudian mereka membuat emas dsan perak yang pada awalnya beredar diantara mereka dalam bentuk batangan sampai masa dimulainya pencetakan uang tahun 406 SM . Kadang mereka mengukir di uang mereka bentuk berhala mereka, gambar pemimpin-pei mpin mereka, sebagaimana juga kadang mereka mengukir nama negeri dimana uang itu di cetak. Mata uang utama mereka adalah Drachma yang terbuat dari perak. c. Uang Pada Bangsa Romawi Bangsa Romawi pada masa sebelum abad ke-3 SM menggunakan mata uang yang terbuat dari perunggu yang disebut aes (Aes Signatum Aes Rude). Mereka juga menggunakan mata uang koin yang terbuat dari tembaga. Dikatakan bahwa orang pertama kali men cetaknya adalah Numa atau Servius Tullius, dikatakan, koin itu dicetak pada tahu n 268 SM. Kemudian, mereka mencetak Denarius dari emas yang kemudian menjadi mata uang uta ma imperium Romawi. Dikatakan dicetak pada tahun 268 SM. Di atas uang itu mereka cetak ukiran bentuk tuhan-tuhan dan pahlawan-pahlawan mereka, hingga masa Juliu s Caesar yang kemudian mencetak gambarnya di atas uang tersebut. G. SEJARAH RUPIAH

Kemerdekaan berarti lepas dari segala bentuk penjajahan. Setelah 17 Agustus 1945 , Indonesia memiliki kebebasan dalam segala hal tersebut. Sudah seharusnya tidak ada lagi penjajahan dalam bentuk apapun di atas bumi Indonesia ini. Hal ini ber laku juga dalam bidang perekonomian. Suatu negara merdeka semestinya berhak meng atur dan menentukan sendiri sistem perekonomiannya. Dengan begitu suatu negara b erarti juga memiliki hak untuk mencetak dan mengedarkan mata uang sendiri sebaga i alat tukar yang sah yang dipakai oleh rakyat negara tersebut. Indonesia sebaga i sebuah negara merdeka juga memiliki mata uang sendiri setelah masa penjajahan berakhir. Mata uang yang tersebut adalah rupiah yang kita kenal sekarang ini. Mu nculnya rupiah sebagai alat tukar yang sah di negara ini tidak terjadi secara in stan, rupiah mengalami beberapa tahapan dan proses hingga menjadi mata uang resm i Indonesia. Rupiah juga berkembang dari waktu ke waktu hingga akhirnya menjadi seperti yang sekarang kita pergunakan ini. Uang adalah hal yang sangat dekat den

gan masyarakat dan sangat sulit dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang sudah mengenalnya. Uang kini juga menjadi tolak ukur tingkat perekonomian suatu negara . Dengan segala fungsi dan peranannya itu, uang menjadi hal yang sangat berharga . Uang juga merupakan salah satu kebanggan dan kekuatan negara. Karena itulah sa ya tertarik untuk membahas perkembangan rupiah sebagai salah satu sejarah bangsa , dari awal masa kemerdekaan hingga akhirnya diakui sebagai mata uang resmi nega ra Indonesia dan dipakai oleh masyarakat dalam kesehariannya. a) Awal Mula Perekonomian Indonesia

Selama masa perang kemerdekaan, terdapat tiga mata uang yang beredar di Indonesi a. Ketiga mata uang itu adalah mata uang Jepang, mata uang Belanda, dan mata uan g de Javasche bank. Peredaran ketiga mata uang ini pada masa itu sangat tidak te ratur dan bebas. Hal ini dikarenakan masih kurangnya kontrol dari pemerintah ber upa kebijakan-kebijakan mengenai perekonomian negara. Hal ini wajar jika melihat Indonesia pada masa itu merupakan negara yang baru saja merdeka. Selain belum a danya kebijakan yang tegas, pada masa awal kemerdekaan ini administrasi dan perb ankan negara belum berjalan seperti semestinya sehingga belum ada bank central y ang ditunjuk sebagai bank pencetak uang resmi negara. Pada masa awal kemerdekaan tersebut terjadi pula dinamika ekonomi berupa hiperinflasi atau terjadi penurun an nilai mata uang karena terlalu banyak mata uang yang beredar di masyarakat te rhadap mata uang Jepang, hal ini memperparah perekonomian rakyat dikarenakan rak yat pada masa itu banyak yang menggunakan mata uang Jepang dalam transaksi sehar i-hari. Pemerintah Indonesia mulai mencoba mengatur dan menangani hiperinflasi i ni dengan mengeluarkan beberapa larangan perederan mata uang asing namun kebijak an ini tidak ditanggapi oleh pihak NICA karena pada saat itu mereka justru menge darkan mata uang mereka untuk mendanai gerakan militer mereka di tanah air. Kebi jakan ini diambil oleh Panglima AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) Le tjen Sir Montagu Stopford pada 6 Maret 1946. Stopford mengumumkan pemberlakuan m ata uang NICA di seluruh wilayah Indonesia yang telah diduduki oleh pasukan AFNE I. Hal ini menyebabkan kekacauan ekonomi dan terjadinya krisis kepercayaan terha dap pemerintahan pada masa itu. Masyarakat pada waktu itu menjadi bimbang dalam menggunakan mata uang dikarenakan adanya perbendaan nilai mata uang yang lebih c enderung menguntungkan jika menggunakan mata uang asing. Pemertintah Indonesia ditengah krisis dan berbagai permasalahan yang muncul pada awal kemerdekaan itu tidak berhenti berusaha untuk menetralkan keadaan. Pemerin tah mengeluarkan mata uang sendiri yaitu Oeang Repoeblik Indonesia(ORI) pada 26 Oktober 1946. Munculnya ORI sebagai mata uang resmi yang dikeluarkan pemerintah membuat mata uang Jepang, Hindia-Belanda, dan de Javasche bank tidak berlaku lag i di Indonesia. Tinggal satu mata uang asing yang masih beredar di wilayah tanah air, mata uang NICA. Namun peredaran mata uang NICA tidak didukung oleh rakyat Indonesia. Rakyat lebih memilih menggunakan ORI ketimbang mata uang NICA. Dengan begitu mata uang NICA hanya beredar dikalangan orang-orang AFNEI saja dan tidak beredar dikalangan masyarakat Indonesia. Setelah itu pemerintah mencoba membent uk bank-bank pemerintah yang direncanakan akan berfungsi sebagai pengatur nilai tukar ORI dengan mata uang asing. Bank-bank yang dibentuk pemerintah pada masa i tu antara lain Bank Repoeblik Indonesia yang sebelumnya merupakan Shomin Ginko, bank pemerintah pendudukan Jepang sebelumnya. Selain itu dibentuk pula Bank Tabu ngan Pos yang sebelumnya merupakan Tyokin Kyoku. Bank Tabungan Pos ini pada masa sekarang dikenal sebagai Bank Tabungan Negara(BTN) setelah pergantian namanya p ada tahun 1950. Ada pula Bank Nasional Indonesia yang merupakan transformasi dar i Yayasan pusat bank yang didirikan pemerintah pada 1 November 1946. Bank-bank i ni didirikan sebagai bank umum yang dijalankan oleh pemerintah RI. Fungsi utama bank-bank ini adalah sebagai penghimpun dan penyalur dana kepada masyarakat sert a pemberi jasa di dalam lalu lintas pembayaran. Pada masa tersebut ada satu bank lagi yang merupakan cikal bakal Bank Indonesia, bank ini adalah de Javasche Ban k yang pada masa itu belum menjadi bank central tatapi merupakan bank sirkulasi yang turut menjaga kestabilan perekonomian Indonesia. Sejak 1 Juli 1953 bank ini menjadi Bank Indonesia dan berkedudukan sebagai bank central. Dengan begitu Ban k Indonesia merupakan satu-satunya bank yang dapat mencetak mata uang resmi Indo

nesiam Rupiah. b) Sejarah Rupiah Rupiah merupakan mata uang resmi Indonesia. Nama rupiah biasanya dikaitkan oleh banyak pihak sebagai pelafalan dari ”rupee” mata uang India, namun sebenarnya me nurut Adi Pratomo, salah satu peneliti sejarah uang Indonesia, rupiah diambil da ri kata rupia dalam bahasa Mongolia. Rupia sendiri berarti perak. Memang sama de ngan arti rupee, namun rupiah sendiri merupakan pelafalan asli Indonesia karena adanya penambahan huruf ’h’ di akhir kata rupia, sangat khas sebagai pelafalan o rang-orang Jawa. Hal ini sedikit berbeda dengan banyak anggapan bahwa rupiah ada lah salah satu unit turunan dari mata uang India. Rupee India sebenarnya juga da pat dikatakan sebagai turunan dari kata rupia itu sendiri, dengan begitu rupiah Indonesia memiliki tingkatan yang sama bukan sebagai unit turunan dari mata uang India tersebut. Pada masa-masa awal kemerdekaan, Indonesia belum menggunakan ma ta uang rupiah namun menggunakan mata uang resmi yang dikenal sebagai ORI.. ORI memiliki jangka waktu peredaran di Indonesia selama 4 tahun, ORI sudah mulai dig unakan semenjak 1945-1949. Namun penggunaan ORI secara sah baru dimulai semenjak diresmikannya mata uang ini oleh pemerintah sebagai mata uang Indonesia pada 30 Oktober 1946. ORI pada masa awal tersebut dicetak oleh Percetakan Canisius deng an bentuk dan disain yang sangat sederhana dan menggunakan pengaman serat halus. Bahkan dapat dikatakan ORI pada masa tersebut merupakan mata uang yang sangat s ederhana, seadanya, dan cenderung berkualitas kurang, apalagi jika dibandingkan dengan mata uang lainnya yang beredar di Indonesia. Pada masa awal kemerdekaan t ersebut ORI beredar luas di masyarakat meskipun uang ini hanya dicetak di Yogyak arta saja. ORI sedikitnya sudah dicetak sebanyak lima kali dalam jangka waktu em pat tahun antara lain, cetakan I pada 17 Oktober 1945, seri II pada 1 Januari 19 47, seri III dikeluarkan pada 26 Juli 1947. Pada masa itu ORI merupakan mata uan g yang memiliki nilai yang sangat murah jika dibandingkan dengan uang-uang yang dikeluarkan oleh de Javasche Bank. Padahal uang ORI adalah uang langka yang seme stinya bernilai tinggi. Setelah masa ORI tersebut, pada 2 November 1949 pemerintah menetapkan mata uang pengganti ORI. Rupiah diputuskan sebagai mata uang resmi pengganti ORI. Rupiah s endiri sebenarnya sudah ada dan dikenal sebelum dikeluarkannya ORI tersebut. Men urut sunmber tertentu, konsep rupiah sebenarnya sudah dikenal semenjak abad lima atau enam Masehi. Rupiah di Indonesia secara nyata sudah dikenal luas sebagai m ata uang sebelum masa kemerdekaan yaitu pada masa Penjajahan Jepang (Dai Nippon) pada masa Perang Dunia II. Pada masa tersebut rupiah diperkenalkan pada masyara kat dengan nama mata uang Hindia-Belanda(rupiah Hindia-Belanda) yang kemudian se telah masa kemerdekaan dikenal sebagai rupiah jawa. Rupiah pada masa tersebut ti dak menjadi mata uang resmi yang dikeluarkan pemerintah karena pada masa itu de Javasche Bank sebagai pencetak mata uang ini bukan merupakan bank central milik pemerintah dan pada masa itu pengelolaan perekonomian dan pencetakan uang dipega ng sepenuhnya oleh pemerintah dan bukan oleh bank central. Ada banyak keraguan s ebenarnya mengenai bagaimana tepatnya mata uang ini mulai ada dan dipakai sebaga i mata uang resmi. Pada masa setelah diresmikannya rupiah masih ada satu bentuk mata uang yang sempat dipakai di Indonesia. Mata uang ini adalah mata uang yang dikeluarkan pada masa RIS yang dikenal sebagai mata uang RIS. Mata uang ini masu k dalam sejarah perkembangan mata uang Indonesia sebagai pengganti sementara Rup iah. Setelah masa RIS berakhir mata uang Indonesia kembali menjadi rupiah, namun tidak ada sumber pasti yang menyebutkan mengenai waktu transisi secara tepat da ri mata uang RIS ke mata uang rupiah ini. Setelah masa RIS tersebut rupiah mulai dipakai secara umum dan mulai banyak mengalami perkembangan dan penyempurnaan. Sebagai mata uang resmi Indonesia, rupiah kemudian dikeluarkan dan dikontrol ole h Bank Indonesia. Terlebih lagi semenjak Bank Indonesia secara resmi dijadikan b ank central dan diberi kewenangan penuh untuk mengatur perbankan negara pada 1 J uli 1953. Rupiah kemudian diberi kode atau simbol yang digunakan pada semua peca han uang kertas dan uang logam berupa Rp dan diakui oleh semua pihak. Rupiah sen diri tidak secara langsung dapat tersebar secara merata di bumi Indonesia. Perse baran mata uang ini tidak begitu merata secara cepat. Misalnya saja, daerah kepu lauan Riau dan Papua baru menggunakan mata uang rupiah pada tahun 1964 dan 1971.

Semenjak dipakainya rupiah sebagai mata uang resmi, rupiah berulang kali mengal ami pergolakan. Devaluasi dan Pemangkasan merupakan hal yang selalu menghiasi pe rkembangan rupiah. Devaluasi terjadi pada beberapa periode misalnya saja pada 7 Maret 1946, 20 September 1949 ,Februari 1952 ,September 1959, akhir Januari 1963 dan tahun 1964. Pemangkasan nilai rupiah juga tejadi pada rupiah antara lain te rjadi pada 25 Agustus 1959 dan 29 Maret 1983. Perubahan-perubahan tampilan, nila i mata uang, bentuk, dan warna pun mewarnai perkembangan mata uang resmi Indones ia ini. Mulai dari ORI yang bentuk, gambar, cetakan, dan kertasnya memiliki kual itas yang buruk hingga kini uang-uang kertas telah memiliki bentuk dan tampilan yang mewah dan rapi. Rupiah sudah mengalami banyak sekali masa-masa seiring berkembangnya bangsa ini. Rupiah juga berkembang mengikuti perkembangan masa di Indonesia. Ia sempat tida k dianggap sebagai mata uang resmi ketika ORI menjadi mata uang yang diresmikan pemerintah, ia juga sempat tergantikan oleh mata uang RIS, namun pada hakikatnya seluruh mata uang tersebut sebenarnya merupakan sejarah dari rupiah itu sendiri sebagai sebuah mata uang resmi Indonesia. Sudah banyak pahlawan, daerah nusanta ra, dan kebudayaan yang tergambar di mata uang rupiah. Sudah banyak seri yang di keluarkan oleh pemerintah untuk mengganti, memperbaiki, dan menyempurnakan mata uang kebanggan negara ini. Bagaimanapun, rupiah merupakan sebuah cermin dari ban gsa Indonesia. Ketika mendengar kata rupiah, hal yang langsung terpikirkan adala h Indonesia, jelas karena rupiah adalah milik Indonesia saja dan tidak ada negar a lain yang memiliki rupiah. Sebagai salah satu kebangaan negara, sudah semestin ya rupiah juga dijunjung tinggi. Rupiah sudah selayaknya diakui, dibanggakan, da n dijaga oleh setiap warga negara Indonesia. Kecintaan pada rupiah merupakan seb uah kecintaan pada Negara Indonesia. Usaha para pendahulu untuk menciptakan sebu ah sistem perekonomian lengkap dengan mata uang yang hanya dimiliki oleh negara ini saja sangat berat. Para pendahulu berusaha menghalau kekuatan mata uang asin g yang beredar di Indonesia agar Indonesia sebagai negara merdeka mampu secara m andiri mengatur sistem perekonomiannya sendiri. Meskipun rupiah juga bisa menjad i citra buruk ditengah krisis yang sering terjadi di Indonesia ketika rupiah har us melemah terhadap kurs mata uang asing, rupiah merupakan senjata bangsa untuk menghalau penjajahan di bidang ekonomi bagi bangsa ini. Denga segala hal yang di miliki rupiah inim sudah semestinya masyarakat Indonesia berusaha mengerti dan m emahami sejarah dan perkembangan rupiah ini. Tidak berarti ketika kita sebagai w arga negara tidak memahami milik kita sendiri. Milik kita yang setiap waktu kita bawa dan gunakan. Rupiah tidak semestinya hanya kita banggakan sebagai tolak uk ur kekayaan pribadi, namun semsetinya kita banggakan sebagai tolak ukur kekayaan bangsa. Menghargai rupiah dengan tidak menekuk-nekuknya hingga menjadi lusuh, b ahkan sobek, merupakan hal kecil yang sangat berarti. Menghargai sekecil apapun nilai uang yang kita miliki akan membuat rupiah memiliki makna yang besar bagi n egara ini. Ketika kita berusaha mengetahui sejarah mata uang kita, disitu pula a kan timbul rasa cinta terhadap tanah air kita. Banyak sekali kesimpang siuran te rhadap sejarah mata uang rupiah. Dalam berbagai sumber terkadang memiliki perbed aan pandangan terhadap sejarah rupiah. Hal ini jelas dikarenakan tidak adanya pe rhatian masyarakat dan pemerintah terhadap symbol perekonomian negara ini. Ketik a generasi muda tidak mengetahui sejarah bangsa, tidak akan muncul kecintaan ter hadap segala milik negara ini. Apalagi generasi muda mendapatkan informasi yang salah mengenai sejarah. Bangsa yang besar adalah bangsa yang belajar dari sejara hnya semestinya ditanamkan kepada setiap insane di Indonesia ini. Sangat naïf ke tika kita setiap hari menggunakan rupiah sebagai mata uang resmi dalam melakukan transaksi, namun kita tidak tahu menahu akan sejarah dan perkembangan mata uang kita sendiri tersebut.

http://andreaspraditya.blogspot.com/2009/01/sejarah-rupiah.html waktu akses puk. 15.40 WITA hari selasa 28 april

H.

UANG DALAM EKONOMI KONVENSIONAL

Komponen-komponen yang termasuk dalam uang adalah uang logam, uang keratas dan s impanan giro atau uang giral. Uang logam dan uang kertas disebut sebagai uang ka rtal yang merupakan utang pemerintah ataupun bank sentral tanpa bunga. Uang gira l merupakan utang bank komersial. Uang kertas merupakan bagian yang besar dari uang kartal. Semua uang kertas bere dar merupakan uang kertas yang diedarkan atau dikeluarkan oleh bank sentral yait u Bank Indonesia dengan otoritas pemerintah yaitu Departemen Keuangan. Uang kert as bersama-sama dengan uang logam disebut sebagai uang kartal. Uang giral merupakan simpanan uang pada suatu bank yang dapat diambil sewaktu-wa ktu dengan menulis cek yang merupakan perintah oleh pemilik simpanan giro terseb ut kepada bank untuk membayar kepadanya atau kepada orang lain atau pihak lain y ang ditunjuk dan dituliskan pada cek tersebut. Cek dapat digunakan untuk pembaya ran transaksi jual beli atau transaksi keuangan lainnya. Ia lebih disenangi dari pada uang kartal dalam penggunaan untuk menyelesaikan atau melaksanakan transak si pembayaran karena ia lebih aman, lebih mudah dan praktis tanpa harus menghitu ng seperti pembayaran dengan uang kartal. Seiring dengan perkembangan ekonomi yang sangat pesat, masyarakat memerlukan ala t pertukaran yang lebih praktis dinbandingkan dengan uang yang dikeluarkan oleh pemerintah. Oleh karena itu, selain uang kartal (uang kertas dan uang logam) yan g diciptakan oleh pemerintah, dalam kegiatan pertukaran terdapat alat pertukaran lain yag lebih “fleksibel” seperti kartu kredit, cek, giro bilyet dan lain-lain . Namun, alat pembayaran ini belum dapat diterima oleh masyarakat secara umum. Hadirnya uang dalam sistem perekonomian akan mempengaruhi perekonomian suatu neg ara, yang biasanya berkaitan dengan kebijakan-kebijakan moneter. Pada umumnya an alisis ekonomi suatu negara ditentukan oleh analisis atas ukuran uang yang bered ar. Samuelson mengatakan bahwa banyak ekonom percaya bahwa perubahan jumlah uang berdar dalam jangka panjang terutama akan menghasilkan tingkat harga, sedangkan dampaknya terhadap output real, adalah sedikit atau bahkan tidak ada. Dengan kata lain, ekspansi moneter akan mnurunkan tingkat bunga pasar. Hal ini a kan menigkatkan pengeluaran untuk investasi usaha riil yang sangat sensitif terh adap perubahan tingkat bunga. Melalui mekanisme pengganda (multiplier) permintaa n agregat akan meningkat, yang menyebabkan naiknya output dan harga di atas ting kat yang tidak dicapai dalam situasi normal. I. UANG DALAM EKONOMI ISLAM

Sebagai perbandingan dengan teori ekonom konvensional-kapitalisme- Islam membica rakan uang sebagai sarana penukar dan penyimpan nilai, tetapi uang bukanlah bara ng dagangan. Uang menjadi berguna hanya jika ditukar dengan benda yang dinyataka n atau jika digunakan untuk membeli jasa. Oleh karena itu, uang tidak bisa dijua l atau dibeli secara kredit. Orang perlu memahami kebijakan Rasulullah SAW, bahw a tidak hanya mengumumkan bunga atas pinjaman sebgai sesuatu yang tidak sah teta pi juga melarang pertukaran uang dan beberapa benda bernilai lainnya untuk pertu karan yang tidak sama jumlahnya, serta menunda pembayaran jika barang dagangan a tau mata uangnya adalah sama. Efeknya adalah mencegah bunga uang yang masuk ke s istem ekonomi ekonomi melalui cara yang tidak diketahui. Didalam ekonomi islam uang bukanlah modal. Sementara ini kita kadang salah kapra h menempatkan uang. Uang kita sama artikan dengan modal (capital ). Uang adalah barang khalyak/public goods masyarakat luas. Uang bukan barang monopoli seseoran g. Jadi semua orang berhak memiliki uang yang berlaku di suatu negara. Sementara modal adalah barang pribadi atau orang per orang. Jika uang sebagai flow concep t sementara modal adalah stock concept. a) Money as flow concept Didepan telah disinggung, bahwa uang adalah sesuatu yang mengalir. Sehingga uang diibaratkan seperti air. Jika air di sungai itu mengalir, maka air itu akan ber sih dan sehat. Jika air berhenti (tidak mengalir secara wajar) maka air tersebut menjadi busuk dan bau, demikian juga dengan uang. Uang berputar untuk produksi

akan menimbulkan kemakmuran dan kesehatan ekonomi masyarakat. Sementara, jika ua ng ditahan maka dapat menyebabkan macetnya roda perekonomian. Dalam ajaran Islam , uang ahrus diputar terus sehingga dapat mendatangkan keuntungan yang lebih bes ar. Untuk itu uang perlu digunakan untuk investasi di sektor riil. Jika uang dis impan tidak diinvestasikan kepada sektor riil, maka tidak akan mendatangkan apap (Q.S Al-Lahab). Penyimpanan uang yang telah mencapai haulnya, menurut ajaran Is lam, akan dikenai zakat. b) Money as Public Goods Uang adalah barang untuk masyarakat banyak. Bukan monopoli perorangan. Sebagai b arang umum, maka masyarakat dapat menggunakannya tanpa ada hambatan dari orang l ain. Oleh karena itu, -dalam tradisi Islam- menumpuk uang sangat dilarang, sebab kegiatan menumpuk uang akan mengganggu orang lain menggunakannya.

BAB III PENUTUP Kesimpulan: Sebab-sebab munculnya uang antara lain: I. Kesusahan mencari keinginan yang sesuai antara orang-orang yang melakuka n transaksi, atau kesulitan untuk mewujudkan kesepakatan mutual. II. Perbedaan ukuran barang dan jasa dan sebagian barang tidak dapat di bagi . III. Kesulitan untuk mengukur harga seluruh barang dan jasa. Uang adalah salah satu pilar ekonomi, uang memudahkan pertukaran komoditi dan ja sa, setiap proses produksi dan distribusi mesti menggunakan uang. Sejak dulu orang sudah akrab dengan uang, seperti pada masa pemerintahan Islam d ahulu, uang dinar dan dirham yang terbuat dari emas dan perak telah menjadi kebu tuhan orang-orang. Dalam ekonomi konvensional komponen yang termasuk dalam uang adalah uang logam, uang kertas dan simpanan giro atau uang giral. Sedangkan didalam ekonomi Islam, uang dibicarakan sebagai sarana penukar dan penyimpan nilai, tetapi uang bukan barang barang dagangan.

TANGGAPAN Dalam kehidupan sehari-hari kita banyak memerlukan kebutuhan-kebutuhan yang haru s dipenuhi, untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut kita tidak dapat melakuk annya seorang diri, untuk itu kita perlu bekerja sama dengan orang lain. Kita me nukarkan barang yang kita miliki dengan barang yang kita butuhkan yang dimiliki oleh orang lain. Tetapi dalam melakukan hal tersebut akan terdapat masalah, sepe rti ketika pemilik barang yang kita butuhkan sedang tidak membutuhkan barang yan g kita miliki, atau ketika nilai barang yang kita miliki tidak sesuai dengan nil ai barang yang kita butuhkan atau barang yang kita miliki tidak dapat dibagi-bag i.

Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut sangat tepat sekali manusia membuat ala t tukar yang dapat ditukarkan dengan barang apa saja, dan juga nilainya diketahu i secara jelas. Sehingga ketika seseorang membutuhkan suatu barang ia hanya perl u menukarkan uang yang nilainya sama dengan barang yang dia butuhkan tanpa harus mencari pemilik barang yang sedang membutuhkan barang yang ia miliki, karena ua ng dapat di tukarkan dengan barang apa saja.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->