P. 1
Lab Farmakologi

Lab Farmakologi

|Views: 2,077|Likes:
Published by Dewi_Fatimah_2342

More info:

Published by: Dewi_Fatimah_2342 on Mar 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

01/03/2013

pdf

text

original

I.

PENDAHULUAN Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Sebagai pola kebijaksanaan pembangunan keselamatan manusia di dunia adalah adanya Deklarasi Helsinki,yang dihasilkan oleh Sidang Kesehatan Dunia ke 16 di Helsinki, Finlandia, pada tahun 1964 (Sulaksono, M.E., 1987). Deklarasi tersebut merupakan rekomendasi kepada penelitian kedokteran, yaitu tentang segi etik penelitian yang melibatkan manusia sebagai obyek penelitian. Disebutkan, perlunya dilakukan percobaan pada hewan sebelum percobaan di bidang biomedis maupun riset lainnya dilakukan atau diperlakukan terhadap manusia (Sulaksono, M.E., 1987). Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis/ keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, di samping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia (Sulaksono, M.E., 1987). Farmakologi merupakan sifat dari mekanisme kerja obat pada sistem tubuh termasuk menentukan toksisitasnya. Bentuk sediaan dan cara pemberian merupakan penentu dalam memaksimalkan proses absorbsi obat oleh tubuh karena keduanya sangat menentukan efek biologis suatu obat seperti absorpsi, kecepatan absorpsi dan bioavailabilitas (total obat yang dapat diserap), cepat atau lambatnya obat mulai bekerja (onset of action), lamanya obat bekerja (duration of action), intensitas kerja obat, respons farmakologik yang dicapai serta dosis yang tepat untuk memberikan respons tertentu (Anonim I., 2008). Obat sebaiknya dapat mencapai reseptor kerja yang diinginkan setelah diberikan melalui rute tertentu yang nyaman dan aman seperti suatu obat yang memungkinan diber ikan secara intravena dan diedarkan di dalam darah langsung dengan harapan dapat menimbulkan efek yang relatif lebih cepat dan bermanfaat. Jalur pemakaian obat yang meliputi secara oral, rektal, dan parenteral serta yang lainnya harus ditentukan untuk mencapai efek yang maksimal (Anonim I., 2008). II. TUJUAN PERCOBAAN - Untuk mengetahui bagaimana cara memberi penandaan pada hewan percobaan.

- Untuk mengetahui berbagai pengaruh rute pemberian obat terhadap efek yang ditimbulkan. - Untuk mengetahui teknik pemberian obat melalui rute intraperitoneal (i.p.) dan secara oral. - Untuk mengetahui pengaruh peningkatan dosis terhadap efek yang ditimbulkan. - Untuk menyatakan onset of action obat berdasarkan rute yang diberikan. - Untuk menyatakan duration of action obat berdasarkan rute yang diberikan. - Untuk mengetahui efek dari pemberian Luminal Natrium berdasarkan dosis dan rute pemberian terhadap hewan percobaan. III. PRINSIP PERCOBAAN - Penandaan hewan dilakukan dengan cara menandai bagian ekor hewan dengan menggunakan spidol permanen dengan bentuk-bentuk tertentu. - Dengan membandingkan berbagai rute pemberian obat (oral dan intraperitoneal), sehingga dapat diperoleh onset of action, intensitas, dan duration of action dari suatu obat. - Dengan membandingkan peningkatan dosis terhadap efek yang ditimbulkan. IV. TINJAUAN PUSTAKA Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya, di mana faktor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang terlihat/karakteristik hewan percobaan, maka ada 4 golongan hewan, yaitu 1). Hewan liar. 2). Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka. 3). Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistim barrier (tertutup). 4). Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistem isolator Sudah barang tentu penggunaan hewan percobaan tersebut di atas disesuaikan dengan macam percobaan biomedis yang akan dilakukan. Semakin meningkat cara pemeliharaan, semakin

sempurna pula hasil percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, apabila suatu percobaan dilakukan terhadap hewan percobaan yang liar, hasilnya akan berbeda bila menggunakan hewan percobaan konvensional ilmiah maupun hewan yang bebas kuman (Sulaksonono, M.E., 1987). Jenis-jenis Hewan percobaan: No Jenis hewan percobaan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. No 23 Mencit (Laboratory mince) Tikus (Laboratory Rat) Golden (Syrian) Haruster Chinese Haruster Marmut Kelinci Mongolian gerbil Forret Tikus kapas (cotton rat) Anjing Kucing Kera ekor panjang (Cynomolgus) Barak Lutung/monyet daun Kera rhesus Chimpanzee Kera Sulawesi Babi Ayam Burung dara Katak Salamander Jenis hewan percobaan Lain-lain Spesies Mus musculus Rattus norvegicus Mescoricetus auratus Cricetulus griseus Cavia porcellus (Cavia cobaya) Oryctolagus cuniculus Meriones unguiculatus Mustela putorius furo Sigmodon hispidus Canis familiaris Fells catus Macaca fascicularis (Macaca irus) Macaca nemestrina Presbytis ctistata Macaca mulata Pan troglodytes Macaca nigra Sus scrofa domestica Gallus domesticus Columba livia domestica Rana sp. Hynobius sp. Spesies

Cara memegang hewan (handling) dan penentuan jenis kelamin Masih dalam rangka pengelolaan hewan percobaan secara keseluruhan, cara memegang hewan serta cara penentuan jenis kelaminnya perlu pula diketahui. Cara memegang hewan dari masing-masing jenis hewan adalah ber,eda-beda dan ditentukan oleh sifat hewan, keadaan fisik (besar atau kecil) serta tujuannya. Kesalahan dalam caranya akan dapat menyebabkan kecelakaan atau hips ataupun rasa sakit bagi hewan (ini akan menyulitkan dalam melakukan penyuntikan atau pengambilan darah, misalnya) dan juga bagi orang yang memegangnya (Sulaksono, M.E., 1992).

Identiftikasi (Pemberian tanda pada hewan). Tujuan dari pada pemberian tanda pada hewan adalah disamping untuk mencegah kekeliruan hewan dalam sistim pembiakannya juga untuk mempermudah pengamatan dalam percobaan. Bermacam-macam cara yang dipakai dalam identifikasi tergantung kepada selera dan juga lama tidaknya hewan tersebut terpaki atau dipelihara. (marking, ear punching, too clipping, ear tags, tattocing, coat colors) (Sulaksono, M. E., 1992). Obat dalam tubuh akan mengalami beberapa fase yaitu: - Fase farmasetik - Fase farmakokinetik - Fase farmakodinamik Fase-fase estafet utama dalam aksi obat dalam tubuh dapat dilihat:

Dosis

Disintegrasi bentuk dosis Disolusi Substansi Aktif I. Fase Farmasetik

Optimasi ketersediaan farmasetik Absorpsi Distribusi Biotransformasi Ekskresi

II. Fase Farmakokinetik

Optimasi ketersediaan biologik

Interaksi obat reseptor dalam jaringan target

III.

Fase

Farmakodinamik

Optimasi efek biologik yang dikehendaki Efek (Reksohadiprodjo, M.S., 1994) Rute Penggunaan Obat Memilih rute penggunaan obat tergantung dari tujuan terapi, sifat obatnya serta kondisi pasien. Oleh sebab itu perlu mempertimbangkan masalah-masalah seperti berikut: a. tujuan terapi mengkehendaki efek lokal atau efek sistemik b. apakah kerja awal obat yang dikehendaki itu cepat atau masa kerjanya lama c. stabilitas obat di dalam lambung dan atau usus d. keamanan relatif dalam penggunaan melalui bermacam-macam rute e. rute yang tepat dan menyenangkan bagi pasien dan dokter f. kemampuan pasien menelan obat melelui oral (Anief, M., 1994).

Bentuk sediaan obat yang diberikan akan mempengaruhi kecepatan dan efek terapi/obat. Bentuk sediaan obat dapat memberi efek obat secara lokal atau sistemik. Efek sistemik diperoleh jika obat beredar ke seluruh tubuh melalui peredaran darah, sedangkan efek lokal adalah efek obat yang hanya berkerja setempat misalnya salep (Anief, M., 1994). Efek sistemik dapat diperoleh dengan cara: a. oral melalui saluran gastrointestinal atau rektal b. parenteral dengan cara intravena, intramuskular dan subkutan c. inhalasi langsung ke dalam paru-paru Efek lokal dapat diperoleh dengan cara: a. intraokular, intranasal, aural, dengan jalan diteteskan pada mata, hidung, telinga b. intrarespiratoral, berupa gas masuk paru-paru c. rektal, uretral, dan vaginal dengan jalan dimasukkan ke dalam dubur, saluran kencing dan kemaluan wanita, obat melelh atau larut pada keringat badan atau larut dalam cairan badan. Rute penggunaan obat dapat dengan cara: a. melalui rute oral b. melalui rute parenteral c. melalui rute inhalasi d. melalui rute membran mukosa seperti mata, hidung, telinga, vagina dan sebagainya e. melalui rute kulit (Anief, M., 1994). Rute penggunaan obat dapat diperlihatkan sebagai berikut: No. 1. Istilah Per oral (per os) Letak masuk dan jalan absorpsi obat Melalui mulut masuk saluram intestinal (lambung), penyerapan obat melalui membran mukosa pada lambung dan usus memberi efek sistemik 2. Sublingual Dimasukkan di bawah lidah, penyerapan obat mellaui membran mukosa, memberi efek sistemik

3

Parenteral injeksi a. intravena b. intrakardial

atau melalui selain jalan lambung dengan merobek beberap jaringan Masuk pembuluh darah balik (vena), memberi efek sistemik Menembus jantung, memberi efek sistemik

c. intrakutan Menembus kulit, memberi efek sistemik d. subkutan Di bawah kulit, memberi efek sistemik e. intramuskular Menembus otot daging, memberi efek sistemik 4 5 No. 6 Intranasal Aural Istilah Intrarespiratoral Diteteskan pada lubang hidung, memberi efek lokal Diteteskan pada lubang telinga, memberi efek lokal Letak masuk dan jalan absorpsi obat Inhalasi berupa gas masuk paru-paru, memberi efek lokal 7 Rektal Dimasukkan ke dalam dubur, memberi efek lokal + sistemik 8 Vaginal Dimasukkan ke dalam lubang kemaluan wanita, memberi efek lokal 9 Uretral Dimasukkan ke dalam saluran kencing, memberi efek lokal (Anief, M., 1994). SEDATIVA DAN HIPNOTIKA Hipnotika atau obat tidur (Yun: hypnos= tidur) adalah zat-zat yang dalam dosis terapi diperuntukkan meningkatkan keinginan faali untuk tidur dan mempermudah atau menyebabkan tidur. Lazimnya, obat ini diberikan pada malam hari. Bilamana zat-zat ini diberikan pada siang hari dalam dosis yang lebih rendah untuk tujuan menenangkan, maka dinamakan sedativa (obatobat pereda). Oleh karena itu, tidak ada perbedaan yang tajam antara kelompok obat sedativa maupun kelompok obat hipnotika (Tjay, T.H., 2002).

Hipnotika/ sedativa, seperti juga antipsikotropika (neuroleptika), termasuk ke dalam kelompok psikoleptika yang mencakup obat-obat yang menekan atau menghambat fungsi-fungsi SSP tertentu (Tjay, T.H., 2002). Sedativa berfungsi untuk menurunkan aktivitas, mengurangi ketegangan, dan menenangkan penggunanya. Keadaan sedasi juga merupakan efek samping dari banyak obat yang khasiat utamanya tidak menekan SSP, misalnya seperti antikolinergika (Tjay, T.H., 2002). Hipnotika menimbulkan rasa kantuk (drowsiness), mempercepat tidur, dan sepanjang malam mempertahankan keadaan tidur yang menyerupai tidur alamiah mengenai sifat-sifat EEG-nya. Selain sifat-sifat ini, secara ideal obat tidur tidak menimbulkan aktivitas sisa pada keesokan harinya (Tjay, T.H., 2002). GOLONGAN BARBITURAT Di samping sebagai sedatif dan hipnotik, golongan barbiturat dapat pula dimanfaatkan sebagai obat antikonvulsi; dan yang biasa digunakan adalah barbiturat kerja lama. (long -acting barbiturates). Di sini dibicarakan khasiat antiepilepsi prototipe barbiturat, fenobarbital, mefobarbital, dan metarbital; serta primidon yang mirip dengan barbiturat (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995). Sebagai antiepilepsi fenobarbital menekan letupan di fokus epilepsi. Barbiturat menghambat tahap akhir oksidasi mitokondria, sehingga mengurangi pembentukan fosfatase berenergi tinggi. Senyawa fosfat ini perlu untuk sintesis neurotransmiter misalnya Ch, dan untuk repolarisasi membran sel neuron setelah depolarisasi (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995). FENOBARBITAL Fenobarbital (asam 5,5-fenil-etil barbiturat) merupakan senyawa organik pertama yang digunakan dalam pengobatan antikonvulsi. Kerjanya, membatasi penjalaran aktivitas bangkitan dan menaikkan ambang rangsang. Fenobarbital masih merupakan obat antikonvulsi dengan potensi terkuat, tersering digunakan, dan termurah. Dosis efektif relatif rendah. Efek sedatif, dalam hal ini dianggap efek samping, dapat diatasi dengan pemberian amfe-tamin atau stimulan sentral lainnya tanpa menghi-langkan khasiat antikonvulsinya. Kemungkinan intoksikasi kecil; kadang-kadang hanya

timbul ruam skarlatiniform pada kulit (2%). Efek toksik yang berat pada penggunaan sebagai antiepilepsi belum pernah dilaporkan. Fenobarbital adalah obat terpilih untuk memulai terapi epilepsi grand mal. Karena efek toksik berbeda dengan obat antikonvulsi lainnya, khususnya dengan fenitoin, penggunaan fenobarbital sering dikombinasikan dengan obat-obat tersebut (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995). Indikasi penggunaan fenobarbital ialah terhadap grand mal atau berbagai serangan kortikal lainnya; juga terhadap status epileptikus serta konvulsi fe-bril. Sekalipun khasiatnya terbatas, karena sifat antikonvulsi berspektrum lebar dan aman, fenobarbital sering cocok untuk terapi awal serangan absence, spasme mioklonik, dan epilepsi akinetik; apalagi mengingat kemungkinan komplikasi serangan tonik-klonik umum (grand mal) pada ketiga je-nis epilepsi tersebut. Terhadap epilepsi psikomotor manfaatnya terbatas dan penterapan hams berhati-hati, oleh karena ada kemungkinan terjadinya eksaserbasi petit mal. Hal ini terutama hams di-ingat oleh mereka yang menggunakan fenobarbital sebagai obat terpilih pada setiap kelainan dengan konvulsi (umpamanya pada bidang kesehatan anak) (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995). Dosis yang biasa digunakan pada orang dewasa ada dua kali 100 mg sehari. Untuk lah mengendali-kan epilepsi disarankan mendapatkan kadar plasma optimal, berkisar antara 10 sampai 30 meg/ml. Kadar plasma di atas 40 meg/ml sering disertai gejala toksik yang nyata. Penghentian pemberian fenobarbital harus secara bertahap guna mencegah kemungkinan meningkatnya frekuensi serangan kembali, atau malahan serangan status epileptikus (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995). MEFOBARBITAL Mefobarbital (asam 3-metil-5.5-feniletil barbiturat), efek sedatifnya lebih lemah daripada fenobarbital; demikian pula khasiat antikonvulsinya. Tetapi mefobarbital tetap efektif terhadap grand mal. Sifat-sifatnya dan efektivitasnya sama dengan fenobarbital karena terjadi N-demetilasi di hati. Khasiat mefobarbital terhadap petit mal jelas me-lebihi fenobarbital, akan tetapi kurang bila dibandingkan dengan obat yang selektif terhadap petit mal. Dosis yang biasa diberikan pada orang dewasa adalah 400-600 mg sehari dalam dosis terbagi (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995).

METARBITAL Metarbital diperoleh dengan metilasi-N3 pada barbital dan menjadi asam 3-metil-5,5-dietilbarbiturat. Senyawa ini merupakan jenis barbiturat dengan masa kerjanya paling lama. Metarbital tidak memiliki gugus fenil (yang memberikan si-fat antikonvulsi); tetapi dalam kombinasi ataupun sebagai obat tunggal berguna terhadap grand mal yang sudah refrakter terhadap pengobatan lazim; juga terhadap epilepsi mioklonik dan petit mal. Khusus terhadap spasme mioklonik pada anak kecil (infant) metarbital paling baik khasiatnyajdan pada kelainan dengan konvulsi akibat kerusakan pada otak, metarbital juga sangat berguna (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995). Efek samping berupa kantuk, pusing, gelisah, gangguan lambung, dan ruam kulit. Dosis awal dewasa adalah 100-300 mg sehari diberikan terbagi 2-3 kali sehari dan dapat dinaik-kan menjadi 800 mg sehari. Untuk anak 5-15 mg/ kg berat badan sehari, diberikan terbagi. (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995) Obat hipnotik dapat menimbulkan rasa mengantuk dan memperlama keadaaan tidu Efek hipnotik r. lebih bersifat depresan terhadap susunan saraf pusat daripada sedasi dan obat ini dapat diperoleh secara mudah pada kebanyakan obat-obat sedatif dengan jalan meningkatkan dosis (Utama, H dan Vincent H.S. Gan,1995). Derajat dosis yang tergantung pada depresi fungsi susunan saraf pusat adalah karakteristik untuk obat-obat hipnotif sedatif. Walaupun begitu, pada masing-masing obat, terdapat perbedaan dalam hubungan antara dosis dan tingkat depresi susunan saraf pusat. Dua contoh dari hubungan dosisrespon diperlihatkan pada Gambar 21-1. Slope yang linier dari obat A adalah khas dari kebanyakan obat sedativa-hipnotika yang lebih tua, termasuk barbiturat dan alkohol. Pada obat-obat tersebut, peningkatan dosis diatas yang diperlukan untuk hipnotis dapat menimbulkan suatu keadaan anestesi umum. Dengan dosis yang lebih tinggi lagi, hipnotik-sedatif dapat menekan pusat pernapasan dan pusat vasomotor di medula, menimbulkan koma dan kematian. Deviasi dari hubungan linier dosisrespon seperti terlihat pada obat B, akan memerlukan proporsi yang lebih besar dalam peningkatan dosis untuk mendapatkan depresi susunan saraf pusat yang lebih dalam daripada hipnosis. Hal ini menunjukkan/ ditunjukkan oleh kebanyakan obat dari golongan benzodiazepin, dan batas

keamanaan yang lebih besar merupakan penawaran yang penting dalam penggunaan klinik yang luas untuk mengobati keadaan ansietas dan gangguan tidur.

Koma Obat A E F Anestesi Obat B E K Hipnosis S S P Sedasi Kenaikan Dosis (Katzung, B.G., 1998)

VI. METODE PERCOBAAN 5.1. Alat dan Bahan 5.1.1. Alat - oral sonde mencit - spidol permanent - spuit 1 ml - beaker glass 25 ml - erlenmeyer 10 ml - labu tentukur 100ml - jam tangan - timbangan elektrik 5.1.2. Bahan - mencit 5 ekor - akuadest - luminal Na konsentrasi 0,7% 5.2. Prosedur Percobaan 1. Penandaan Hewan - dipegang ujung ekor mencit dengan tangan kanan dan dibiarkan kaki depan berpaut pada kawat kasa kandang - ditandai ekor mencit dengan spidol permanent - diletakkan di atas timbangan elektrik, kemudian catat beratnya

2. Persiapan Hewan - dipegang ujung ekor dengan tangan kanan dan dibiarkan kaki depan terpaut pada kawat kasa kandang - dipegang kulit kepala sejajar dengan telinga mencit dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri - ditukarkan pegangan ekor dari tangan ke jari kelingking kiri supaya mencit itu dapat dipegang dengan sempurna - mencit siap untuk disuntik 3. Cara Pemberian Obat a. Intraperitoneal
y

Percobaan kontrol (dengan pemberian aquadest) - dipegang tengkuk mencit sedemikian rupa dengan tangan kiri sehingga ibu jari melingkar di bawah rahang sehingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala - disuntikkan aquadest pada bagian bawah tengah abdomen dengan cepat - diamati efek yang terjadi

y

Pemberian Luminal Na 0,7% - dipegang tengkuk mencit sedemikian rupa dengan tangan kiri sehingga ibu jari melingkar di bawah rahang sehingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala - disuntikkan Luminal Na 0,7% pada bagian bawah tengah abdomen perlahan-lahan - diamati efek obat yang terjadi

b. Peroral
y

Pemberian Luminal Na 0,7%

- dipegang tengkuk mencit - diselipkan jarum oral yang telah berisi Luminal Na 0,7% berdekatan dengan langitlangit dan didorong hingga masuk ke esofagus - Larutan didesak keluar dari alat suntik 5.3 . Flow Sheet Mencit

1. Penandaan Hewan

Dipegang ujung ekor dengan tangan kanan dan dibiarkan kaki depan berpaut pada kawat kasa dari kandang

Ditandai ekornya dengan spidol permanent Diangkat ke atas timbangan elektrik Dicatat beratnya

Hasil 2. Persiapan Hewan Mencit

Dipegang ujung ekor dengan tangan kanan dan dibiarkan kaki depan berpaut pada kawat kasa di kandang Dipegang kulit kepala sejajar dengan telinga mencit dengan menggunakan jari telunjuk dan ibu jari tangan kiri Ditukarkan pegangan ekor dari tangan kanan ke jari kelingkng kiri supaya mencit dapat dipegang dengan sempurna Hasil 3. Cara Pemberian Obat a. Per Oral Mencit

Ditandai dan ditimbang mencit Dihitung dosis, dimasukkan obat ke oral sonde Dipegang tengkuk mencit Diselipkan jarum oral yang telah berisi obat berdekatan dengan langit-langit dan dorong hingga masuk ke esofagus

Didesak larutan obat keluar dari alat suntik Diamati respon selama 90 menit dengan selang waktu 10 menit Dibuat grafik respon terhadap waktu Hasil b. Intraperitoneal Mencit

Ditandai dan ditimbang mencit Dihitung dosis, dimasukkan obat ke spuit Dipegang tengkuk mencit sedemikian rupa dengan tangan kiri sehingga ibu jari melingkar di bawah rahang (bukan tenggorokan) sehingga posisi abdomen lebih tinggi dari kepala Disuntikkan larutan obat pada bagian bawah tengah abdomen dengan cepat Diamati respon selama 90 menit dengan selang waktu 10 menit Dibuat grafik respon terhadap waktu Hasil

VI. PERHITUNGAN DATA, GRAFIK DAN PEMBAHASAN 6.1. Perhitungan Dosis Dosis mencit I 
Berat mencit 25,6gr  Dosis : Kontrol aquadest dosis 1 % / BB (i.p)  Syringe : 80 skala (1skala = 1 / 80 = 0,0125 ml)  Jumlah larutan obat yang disuntikkan :

= 1 / 100 x 25,6gr = 0,256ml 
Jumlah skala yang diberikan dalam syringe :

Dosis mencit II 
Berat mencit : 26,1 gr  Dosis : Luminal-Na 0,7 %, 80 mg / kg BB (oral)  Syringe : 80 skala (1skala = 1 / 80 = 0,0125 ml)

Jumlah obat yang diberikan : 

Konsentrasi obat 0,7 %

= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml 

Jumlah larutan obat yang disuntikkan 

Jumlah skala yang diberikan dalam syringe

Dosis mencit III 
Berat mencit : 29,8 gr  Dosis : Luminal-Na 0,7%, 90 mg / kg BB (oral)  Syringe : 80 skala (1skala = 1 / 80 = 0,0125 ml)  Jumlah obat yang diberikan :

= 
Konsentrasi obat 0,7 %

= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml 
Jumlah larutan obat yang disuntikkan 

Jumlah skala yang diberikan dalam syringe

Dosis mencit IV 
Berat mencit : 25,0 gr  Dosis : Luminal-Na 0,7 %, 80 mg / kg BB (i.p)  Syringe : 80 skala (1skala = 1 / 80 = 0,0125 ml) 

Jumlah obat yang diberikan :

= 
Konsentrasi obat 0,7 % = 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml  Jumlah larutan obat yang disuntikkan 

Jumlah skala yang diberikan dalam syringe

Dosis mencit V 
Berat mencit : 24,7 gr  Dosis : Luminal-Na 0,7%, 90 mg / kg BB (i.p)  Syringe : 80 skala (1skala = 1 / 80 = 0,0125 ml)  Jumlah obat yang diberikan :

= 
Konsentrasi obat 0,7 %

= 0,7 gr/100 ml = 700 mg / ml = 7 mg / ml 
Jumlah larutan obat yang disuntikkan 

Jumlah skala yang diberikan dalam syringe

6.2. Data Perco baan 1. Keter angan : 1.1 Norm al 1.2 Garuk Garuk (reaktif) 1.3 Gerak lambat 1.4 Tidur i.p = intraperitoneal 6.3. Grafik Percobaan Terlampir 6.4. Pembahasan Berdasarkan hasil percobaan diperoleh bahwa peningkatan dosis yaitu dari 80mg/KgBB menjadi 90mg/KgBB dengan rute pemberian yang sama yaitu Mencit II (Luminal Na 0,7% dosis 80mg/KgBB secara oral) dengan Mencit IV ((Luminal Na 0,7% dosis 90mg/KgBB secara oral) dan antara Mencit III ((Luminal Na 0,7% dosis 80mg/KgBB secara i.p.) dengan Mencit V (Luminal Na 4. 3. 2. Kontrol secara i.p Luminal dosis 80 1.1 1.1 1.1 1.1 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3 (aquadest) No Perlakuan 10 1.1 20 1.2 30 1.1 40 1.1 Waktu 50 1.1 60 1.1 70 1.1 80 1.2 90 1.2

mg/Kg BB secara oral Luminal dosis 80 1.2 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3

mg/Kg BB secara i.p Luminal dosis 90 1.1 1.1 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3 1.3

mg/Kg BB secara oral 5. Luminal dosis 90 1.1 1.3 1.3 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4 1.4

mg/Kg BB i.p

0,7% dosis 90mg/KgBB secara i.p.) akan memberikan efek luminal Na (tidur) lebih cepat. Sementara Mencit I I (kontrol (aquadest) secara i.p. 1% BB ) tidak menunjukkan efek mengantuk (walaupun pada menit ke-20, menit ke-80 dan menit ke-90 mencit berlaku reaktif). Hal ini mungkin hanya disebabkan oleh perilaku mencit saja. Menurut literatur, derajat dosis yang tergantung pada depresi fungsi susunan saraf pusat adalah karakteristik untuk obat-obat hipnotif sedatif. Pada obat-obat tersebut, peningkatan dosis diatas yang diperlukan untuk hipnotis dapat menimbulkan suatu keadaan anestesi umum. Dengan dosis yang lebih tinggi lagi, hipnotik-sedatif dapat menekan pusat pernapasan dan pusat vasomotor di medula, menimbulkan koma dan kematian (Katzung, B. G., 1998). Berdasarkan percobaan juga diperoleh hasil bahwa pemberian obat secara i.p. menunjukkan onset of action yang lebih cepat bila dibandingkan dengan pemberian obat secara oral. Oleh karena itu, Mencit V (Luminal Na 0,7% dosis 90mg/KgBB secara i.p.) menunjukkan onset of action yang paling cepat diantara semua mencit karena pemberiannya secara i.p. dan dosisnya yang tinggi. Menurut literatur, pemberian obar secara oral merupakan cara pemberian obar secara umum dilakukan karena mudah, aman, dan murah. Namun kerugiannya ialah banyak faktor yang dapat mempengaruhi bioavailabilitasnya. Sedangkan pemberian secara suntikan yaitu pemberian intraperitoneal, memiliki keuntungan karena efek yang timbul lebih cepat dan teratur dibandingkan dengan pemberian secara oral karena tidak mengalami tahap absorpsi maka kadar obat dalam darah diperoleh secara cepat, tepat dan dapat disesuaikan langsung dengan respons penderita. Namun suntikan i.p. tidak dilakukan pada manusia karena bahaya injeksi dan adesi terlalu besar (Setiawati, A. dan F.D. Suyatna, 1995). VII. KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan - Pada penandaan hewan percobaan dibuat pada ekor dengan garis-garis yang disesuaikan dengan urutan mencit. - Cara pemberian secara intraperitonial (i.p.) dengan menyuntikkan tepat pada bagian abdomen mencit dan melaui oral dengan menggunakan oral sonde untuk mempermudah masukknya obat kedalam mulut mencit yang sempit dan langsung ke kerongkongan.

- Pada pemberian obat secara oral lebih lama menunjukkan onset of action dibanding secara Intraperitonial, hal ini dikarenakan Intraperitonial tidak mengalami fase absorpsi tapi langsung ke dalam pembuluh darah.Sementara pemberian secara oral, obat akan mengalami absorpsi terlebih dahulu lalu setelah itu masuk ke pembuluh darah dan memberikan efek. - Semakin tinggi dosis yang diberikan akan memberikan efek yang lebih cepat - Onset of action dari rute pemberian obat secar IP lebih cepat diperoleh daripada rute pemberian obat secara oral. - Duration of action dari rute pemberian obat secara IP lebih panjang (lama) dibandingkan rute pemberian obat secara oral. - Dari hasil yang diperoleh diketahui : Mencit I (kontrol [aquadest 1%] secara i.p) pada menit ke 10 sampai 90 normal walaupun pada menit ke-20, 80 dan 90 menunjukkan gerakan reaktif Mencit II (Luminal Na 0,7%, 80 mg/Kg BB secara oral) pada menit ke 10 sampai menit ke40 normal diteruskan dengan gerakan lambat pada menit ke-50 sampai 90. Mencit III (Luminal Na 0,7 %, 80 mg/Kg BB secara i.p) pada menit ke-10 langsung reaktif kemudian menunjukkan gerakan lambat dari menit ke-20 sampai menit ke-90. Mencit IV (Luminal Na 0,7 %, 90 mg/Kg BB secara oral) pada menit ke-10 dan 20 menunjukkan gerakan normal lalu diikuti gerakan lambat pada menit ke-30 sampai 90 (efeknya lebih cepat dibandingkan dengan mencit II karena dosis ditingkatkan) Mencit V (Luminal Na 0,7 %, 90 mg/Kg BB secara i.p.) pada menit ke-10 normal dan pada menit ke-20 sampai menit ke-30 gerakan lambat dan mulai tidur pada menit ke-40 sampai menit ke-90 (efeknya lebih cepat bila dibandingkan dengan mencit III karena dosis ditingkatkan). 7.2 Saran
y

Lebih berhati-hati dalam penanganan hewan percobaan dan dalam pembacaan skala spuit agar dosis yang diberikan tepat dan tercapai efek yang dikehendaki.

y

Lebih berhati-hati dalam pemberian obat secara interperitonial agar tidak mengalami kerusakan pada abdomen maupun tusukan pada organ-organ dalam yang vital.

y

Dapat digantikan atau digunakan turunan barbiturat lainnya maupun obat golongan sedatifhipnotik lainnya (seperti benzodiazepin) untuk mengetahui perbandingan onset of action dan duration of action. DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1994. Farmasetika. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 42-43. Anonim I, 2008.Farmakologi-1. http://71mm0.files.wordpress.com/2008/05/farmakologi-1.doc Katzung, B.G., 1998. Farmakologi Dasar dan Klinik. Edisi VI. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC. Hal. 351. Reksohadiprodjo, M.S., 1994. Pusat Penelitian Obat Masa Kini. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Hal. 3. Setiawati, A. dan F.D. Suyatna, 1995. Pengantar Farmakologi Dalam ³Farmakologi dan Terapi´. Edisi IV. Editor: Sulistia G.G. Jakarta: Gaya Baru. Hal. 3-5. Sulaksono, M.E., 1987. Peranan, Pengelolaan dan Pengembangan Hewan Percobaan . Jakarta. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/16_PerkembangbiakanHewanPercobaan.pdf/16_Perk embangbiakanHewanPercobaan.html Sulaksono, M.E., 1992. Faktor Keturunan dan Lingkungan Menentukan Karakteristik Hewan Percobaan dan Hasil Suatu Percobaan Biomedis. Jakarta. http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/15_FaktorKeturunandanLingkungan.pdf/15_FaktorKe turunandanLingkungan.html

Tjay, T.H. dan K. Rahardja. 2002.Obat-Obat Penting Khasiat, Penggunaan, dan Efek -Efek Sampingnya. Edisi Kelima. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit PT Elex Media Komputindo Kelompok Gramedia. Hal. 357. Utama, H dan Vincent H.S.Gan,1995. Antikonvulsi Dalam ³Farmakologi dan Terapi´. Edisi IV. Editor: Sulistia G.G. Jakarta: Gaya Baru. Hal. 168-169.

Faktor Keturunan dan Lingkungan Menentukan Karakteristik Hewan Percobaan dan Hasil Suatu Percobaan Biomedis Ir. M. Edhie Sulaksono Staf Penelitian pada Badan Penelitian dan Pengem bangan Kesehatan, Departemen Kesehatan R.I. PENDAHULUAN Penggunaan hewan percobaan dalam penelitian ilmiah dibidang kedokteran/biomedis telah berjalan puluhan tahun yang lalu. Sebagai pola kebijaksanaan pembangunan keselamatan manusia di dunia adalah adanya Deklarasi Helsinki, yang dihasilkan oleh Sidang Kesehatan Dunia ke 16 di Helsinki, Finlandia, pada tahun 1964. Deklarasi tersebut merupakan rekomendasi kepada penelitian kedokteran, yaitu tentang segi etik penelitian yang melibatkan manusia sebagai obyek penelitian. Disebutkan, perlunya dilakukan percobaan pada hewan sebelum percobaan di bidang biomedis maupun riset lainnya dilakukan atau diperlakukan terhadap manusia. Hewan sebagai model atau sarana percobaan haruslah memenuhi persyaratan-persyaratan tertentu, antara lain persyaratan genetis/keturunan dan lingkungan yang memadai dalam pengelolaannya, di samping faktor ekonomis, mudah tidaknya diperoleh, serta mampu memberikan reaksi biologis yang mirip kejadiannya pada manusia. Ditinjau dari segi sistem pengelolaannya atau cara pemeliharaannya, di mana faktor keturunan dan lingkungan berhubungan dengan sifat biologis yang terlihat/karakteristik hewan percobaan, maka ada 4 golongan hewan, yaitu 1). Hewan liar. 2). Hewan yang konvensional, yaitu hewan yang dipelihara secara terbuka. 3). Hewan yang bebas kuman spesifik patogen, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistim barrier (tertutup). 4). Hewan yang bebas sama sekali dari benih kuman, yaitu hewan yang dipelihara dengan sistem isolator. Sudah barang tentu penggunaan hewan percobaan tersebut di atas disesuaikan dengan macam percobaan biomedis yang akan dilakukan. Semakin meningkat cara pemeliharaan, semakin sempurna pula hasil percobaan yang dilakukan. Dengan demikian, apabila suatu percobaan dilakukan terhadap hewan percobaan yang liar, hasilnya akan berbeda bila menggunakan hewan percobaan konvensional ilmiah maupun hewan yang bebas kuman (Germfree animal). FAKTOR GENETIS/KETURUNAN DARI HEWAN PERCOBAAN

Faktor keturunan merupakan salah satu faktor yang ikut menentukan hasil suatu sifat-sifat biologis yang terlihat, atau karekteristik hewan percobaan, atau yang lazim disebut dengan penotipa . Faktor keturunan adalah unsur-unsur yang dianggap mempunyai sifat-sifat turunan yang diwariskan oleh kedua tetuanya kepada keturunannya. Ada dua macam sifat-sifat yang diturunkan yang menghasilkan suatu penotipa hewan, yaitu: 1). Sifat turunan yang kualitatif (tidak dapat diukur), misal nya warna bulu (hitam, albino, coklat atau warna campuran); sifat mudah dan cepat menjadi besar; golongan darah maupun kemampuan memberikan reaksi kekebalan dan lain sebagainya. 2). Sifat turunan yang kuantitatif (dapat diukur), misalnya produksi anaknya (litter size) dan sifat-sifat lainnya. Sifat-sifat turunan inipada dasarnya diatur oleh adanya suatu gen, yaitu suatu unit dasar pembentuk sifat-sifat di atas, yang diterimanya dari kedua tetuanya. Sedangkan jumlah gen yang Cermin Dunia Kedokteran No. 42, 1987 51

diwariskan kepada anaknya, berapa tepatnya tidak ada orang yang tabu. Susunan gen-gen yang membentuk sifat, bentuk atau karakter (penotipa) individu turunannya dinamakan genotipa. Sebagai contoh adalah hewan percobaan Mencit Albino (putih). Albino adalah warna bulu untuk putih, sedangkan warna bulu adalah merupakan salah satu sifat biologis yang terlihat dari hewan Mencit tadi yang bersifat menurun (sifat turunan yang kualitatif dan tidak dapat diukur). W arna bulu sudah jelas yaitu putih. Lalu, bagaimana dengan susunan genotipanya? Genotipanya telah ditentukan oleh para ahli terdahulu yaitu aa yang tersusun dari beberapa gen, sehingga terbentuklah warna bulu yang albino tadi. Strain Mencit (inbred strain) di dunia yang terdaftar berjumlah 230 strain pada tahun 1979 (FESTING, 1979). Jumlah ini belum termasuk substrain dari masing-masing strain Mencit tersebut. Masing-masing strain Mencit tersebut memiliki simbol gen yang berbeda-beda dan karakteiristik yang berbeda pula. Masing-masing memiliki perbedaan dalam perilaku, kemampuan imunologis, infeksi penyakit, kemampuan dalam memberikan reaksi terhadap obat, .kemampuan reproduksi dan lain sebagainya. Misalnya Strain BALB/c, karakteristiknya sebabagi berikut: Strain ini dibentuk oleh Mc. Dowell pada tahun 1923. Mempunyai kemampuan reproduksi yang baik; secara normal kejadian tumor glandula mammae sangat kecil sekali, akan tetapi apabila diinfeksikan dengan virus tumor glandula mammae dengan cara menggunakan fostering strain C3H (virus carrier)

akan mempertinggi kejadian tumor tersebut pada Mencit BALB/c. Ciri yang lainnya adalah resisten terhadap efek alergik ensefalomielitis (FESTING, 1979). Karakteristik yang timbul dari masing-masing strain Mencit tersebut adalah akibat daripada pemilikan gen-gen yang berbeda-beda yang diturunkan kepada keturunannya, sehingga dengan demikian masing-masing strain memiliki perbedaan dalam pemakaian sebagai model penelitian. FAKTOR LINGKUNGAN Yang dimaksud dengan faktor lingkungan antara lain iklim setempat, temperatur ruangan, kelembaban, makanan hewan yang diberikan, cara perawatan, program pemberantasan dan pencegahan penyakit dan lain sebagainya (lihat ilustrasi 2). Alam, dengan situasi lingkungan yang berbeda-beda, memberikan banyak variasi lingkungan yang sangat penting dipandang dari segi genetis/keturunan, karena 1). Faktor lingkungan dapat menutupi variasi (perbedaanperbedaan) yang ditimbulkan oleh faktor genetis/keturunan. 2). Keadaan lingkungan tertentu dibutuhkan suatu individu (dalam hal ini hewan percobaan) untuk dapat memberikan potensi genetisnya (kemampuan untuk memberikan keturunan yang baik). 3). Faktor lingkungan jelas tidak dapat diturunkan tetua kepada keturunannya. Misalnya dalam hal bertumbuh menjadi besar dari Marmut strain Hartley, d i mana hewan ini mem52 Cermin Dunia Kedokteran No. 42, 1987 punyai kemampuan genetis baik sekali dan mempunyai sifat rentan/peka terhadap kuman tbc. Dalam jangka waktu kurang lebih 30 hari setelah lahir mampu menghasilkan berat badan kurang lebih 250--300 gram (berdasarkan hasil pengamatan di bidang Binatang Percobaan), sedangkan untuk Marmut lokal/pasar, karena tidak mempunyai kemampuan genetis yang baik, sangat sulit mencapai berat yang sama dan dalam waktu yang sama pula. Persoalannya adalah, apabila Marmut strain Hartley teresebut tidak dipelihara dalam lingkungan yang baik (suhu, kelembaban, makanan dan lain sebagainya), maka akan memberikan karak teristik atau penotipa yang kurang menguntungkan, sehingga dengan demikian akan sia-sialah pekerjaan yang salama ini

telah dilakukan. KARAKTERISTIK HEWAN PERCOBAAN (PENOTIPA) Sifat-sifat karakteristik ini selamanya akan timbul, karena adanya kerja sama antara faktor keturunan dan lingkungan. Jadi adanya berbagai macam bentuk maupun sifat karakteristik disebabkan oleh karena adanya perbedaan-perbedaan yang ditimbulkan oleh faktor genetis dan faktor lingkungan. PENGARUH FAKTOR KETURUNAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP PENOTIPA HEWAN PERCOBAAN Secara matematis/perhitungan aljabar, pengaruh faktor keturunan dan lingkungan terhadap penotipa hewan percobaan dapat digambarkan sebagai berikut K+L+ Variasi K L=P K = Faktor keturunan/genetis L = Faktor lingkungan P = Penotipa Ada 4 kemungkinan pengaruh kedua faktor (genetik dan lingkungan) terhadap penotipa hewan percobaan, yaitu: I). K (sama) + L (sama) = P (sama). Artinya : apabila terdapat 2 kelompok/grup hewan percobaan atau lebih (mencit, misalnya), yang ierasal dari keturunan yang sama (strain yang sama) (dalam hal ini faktor K sama), mendapatkan perlakuan yang sama pula (iklim, makanan, perawatan, dan lain-lain) (dalam hal ini faktor L sama), maka akan dihasilkan hewan yang berpenotipa yang baik pula (P sama). 2). K (berbeda) + L (sama) = P (berbeda). Artinya : apabila terdapat 2 kelompok/grup hewan percobaan atau lebih yang berasal dari keturunan yang berlainan (strain berbeda) dan mendapat perlakuan yang sama, maka akan dihasilkan penotipa dari kedua kelompok/grup hewan percobaan tadi yang berlainan satu sama lain. 3). K (sama) + L (berbeda) = P (berbeda). Artinya : walaupun terdapat dua kelompok/grup hewan percobaan atau lebih yang sama asal keturunannya (strain

sama), apabila dipelihara dalam lingkungan yang berbeda, maka penotipa yang dihasilkan dari kedua kelompok/grup hewan percobaan tadi akan berbeda pula. 4). K (berbeda) + L (berbeda) = P (berbeda). Artinya : Penotipa dari kedua kelompok/grup hewan percobaan atau lebih tadi akan berbeda sama sekali, apabila masing masing kelompok/grup hewan tersebut berasal dari keturunan yang berlainan dan dipelihara dalam lingkungan yang berbeda pula. PENGARUH FAKTOR KETURUNAN DAN LINGKUNGAN TERHADAP HASIL SUATU PERCOBAAN BIOMEDIS (DRAMATIPA) Yang dimaksud dengan percobaan biomedis antara lain percobaan potensi/khasiat produk biologi (misalnya vaksin, sera, antibiotik, hormon dan lain lain), tes keracunan, penelitian di bidang virologi, imunologi, farmasi dan lain sebagainya. Semua percobaan tersebut bisa menggunakan hewan percobaan sebagai modelnya sebelum dilakukan percobaan pada manusia. Sebagai persyaratannya, hewan percobaan yang digunakan haruslah proses yang terjadi pada hewan percobaan tersebut sama atau banyak kesamaannya dalam proses yang terjadi pada manusia. Di samping itu, susunan genetis yang hampir sama (diperlukan usaha pembiakan yang terarah dan teratur sesuai dengan sistem yang ada dalam program pembiakan/breeding) dan lingkungan yang memadai sebagai penunjang faktor genetis, sangat berpengaruh terhadap karakteristik hewan percobaan itu sendiri (DJ. SHORT, DP. W OODNOTT, 1969). Secara imunologis untuk menentukan grup Mencit yang paling baik (mampu memberikan reaksi kekebalan) dari beberapa kelompok/grup/strain, antara lain dengan melalui percobaan pemeriksaan potensi vaksin baik Tetanus maupun Pertusis, misalnya. Masing masing

strain Mencit diimunisasi sehingga akan memberikan reaksi kekebalan yang berbeda. Berdasarkan analisa statistik, strain Mencit yang memberikan reaksi kekebalan yang paling baik (tinggi) dianggap merupakan strain Mencit yang paling baik pula. Reaksi kekebalan yang ditimbulkan oleh hewan percobaan bila diimunisasi tersebut dipengaruhi oleh mekanisme kekebalan yang ada dalam tubuh hewan dan mekanismenya dipengaruhi oleh beberapa faktor faktor genetik, lingkungan, anatomi hewan, fisiologi, faktor mikroba dan lain-lain (BELLANTI, YOSEPH, A, 1971) (lihat ilustrasi 1). Faktor genetika (keturunan) Perbedaan hasil pemeriksaan potensi yang dilakukan dibeberapa negara yaitu misalnya Jepang, Amerika Serikat, Eropa mauoun Indonesia disebabkan karena strain hewan percobaan yang digunakan berbeda , (PERKINS, FT. 1980). Dengan demikian, jelas bahwa secara genetis, Mencit yang dipakai sebagai model percobaan dari beberapa negara tersebut adalah berbeda dan dengan demikian penotipa hewan tersebut juga berbeda, lebih-lebih pola pemeliharannya di masing masing negara tersebut berbeda pula. Faktor lingkungan Meningkatnya kejadian penyakit infeksi pada hewan percobaan, disebabkan karena kondisi lingkungan yang jelek di mana hewan itu tinggal. Maka dengan meningkatnya kejadian penyakit infeksi dan disertai dengan keadaan nutrisi yang jelek pula, akan berakibat resistensi tubuh menurun, sehingga akan berpengaruh terhadap hasil suatu percobaan. KESIMPULAN DAN SARAN Dari uraian tersebut di atas, dapat disimpulkan, terdapat dua faktor utama di dalam mengontrol pertumbuhan dan perkembangan hewan percobaan (termasuk penotipa), yaitu faktor keturunan dan faktor lingkungan (eksternal). Peningkatan mutu genetis dan adanya kontrol genetik serta dengan peningkatan pengelolaan hewan percobaan akan sangat mem-

bantu dalam peningkatan mutu/kualitas hewan percobaan, walaupun hewan tersebut tergolong hewan yang konvensional. Peningkatan sistem pemeliharaan akan lebih diperlukan dalam kegiatan penelitian biomedis dari sistem yang konvensional ke sistem pemeliharaan yang lebih tinggi lagi di masa mendatang sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan kemajuan jaman. Usaha sentralisasi maupun desentralisasi hewan percobaan yang mencakup secara nasional dan dikelola secara Cermin Dunia Kedokteran No. 42, 1987 53

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->