P. 1
AHLUSUNAH WALJAMAAH

AHLUSUNAH WALJAMAAH

|Views: 384|Likes:
Published by CiiAnk_DOnxdon_4628
ilmu kalam Aziiebz
ilmu kalam Aziiebz

More info:

Published by: CiiAnk_DOnxdon_4628 on Mar 31, 2010
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/09/2011

pdf

text

original

AHLUSUNAH WALJAMAAH

A. Pengertian ahlusunah waljama¶ah Ahlusunah merupakan orang-orang yang berpegang teguh kepada sunah nabi SAW (hadits), Jama¶ah berarti mayoritas sesuai dengan tafsiran yang diberikan sadr al-Syari¶ah alMahbubi yaitu µAmmah Al-muslimin (umumnya umat islam) dan Al-Jama¶ah al-katsir wa alsawad al-a¶zam (jumlah besar dan hal layak ramai) istilah ahlussunah wal-jama¶ah dinisbahkan kepada aliran teologi asy¶ariyah dan maturidiyah yang berpegang kuat kepada sunnah nabi Saw dan merupakan kelompok mayoritas dalam masyarakat islam. Sebaliknya, mu¶tazilah sebagai golongan yang tidak kuat berpegang pada sunnah nabi SAW dan sejak semula kelompok minoritas dalam kelompok masyarakat islam pada waktu itu. Ahlu sunnah wal-jama¶ah sangat percaya dan menerima hadits-hadits shohih tanpa memilih dan melakukan interpretasi. Term ahlu sunnah wal-jama¶ah muncul setelah adanya asy¶ariyah dan maturidiyyah. Tetapi sebagian pemikir mengatakan bahwa istilah ahlussunah wal-jama¶ah suddah digunakan sebelum asy¶ari lahir. Contohnya, dalam surat Khalifah Al-Ma¶mun kepada gubernurnya Ishak Ibn Ibrahim tahun 218 H, tercantum kata-kata wa nasabu ila anfusahum ila al-usunnah (mereka mempertalikan diri dengan sunnah ), dan kata-kata ahl al-Haq wa al-Din wa al-Jama¶ah ( ahli kebenaran, agama, dan jama¶ah). Al-Asy¶ari dan Maqalat al-Islamiyah (aliran-aliran teologi dan pandangannya dalam islam), menyebut Ahlu sunnah Wal jama¶ah sebagai Ahl al al-Hadits wa As-Sunnah ( golongan yang berpegang pada hadits dan sunnah). Dalam kitabnya yang lain, Al-Ibanah ( penjelasan ) beliau menyebut Ahlu sunnah Waljama¶ah sebagai Ahl al-Haqq wa As Sunnah (golongan yang berpegang kepada kebenaran dan sunnah nabi SAW) dari semua ini, yang lebih populer adalah Ahlu Sunnah Waljama¶ah, sering juga disebut golongan sunni. Penyebutan Ahlu Sunnah Waljama¶ah ini juga digunakan untuk membedakan kelompok ini dari kelompok lain seperti, Syi¶ah, Khawarij, Murji¶ah dan Mu¶tazilah. Para imam madhab Fiqh seperti Imam Abu Hanifah (W. 105 H), Imam Malik bin Anas, Imam Asy-Syafi¶I dan Imam Ibn Hambal dikenal sebagai tokoh-tokoh Ahlu sunnah sebelum munculnya Imam Al-Asy¶ari, Imam Al-Maturidi dan yang

Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

1

lainnya sebagai tokoh mutakallimin (ahli ilmu kalam) dari kalangan Ahlu Sunnah pada abad ke 3 H. Kaum Ahlu sunnah Waljama;ah sebagai kaum yang menganut I¶tiqad yang dianut oleh Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabat beliau. Diantara mereka ada yang disebut salaf yaitu ulama terdahulu yakni generasi awal mulai dari para sahabat, tabi¶in dan tabi¶at tabi¶in dan khalaf yaitu generasi penerus yang datang kemudian. Yang termasuk ulama salaf diantaranya Ahmad Ibn Hambal, Ibn Taimiyah dan Muhammad Ibn Abdul Wahab. Sementara itu, yang termasuk ulama khalaf seperti al-Asy¶ari Al-Baqillani, Al-Juwaini, Al-Ghazali, As-Sanusi, AlMaturidi, Al-Bazdawi dan Al-Nasafi. Generasi salaf merupakan generasi yang mempercayai kebenaran ayat-ayat Mutasyabihat dan membenarkannya. Sedangkan generasi khalaf berpandangan bahwa menyerahkan arti yang haqiqi dari ayat-ayat mutasyabihat kepada Allah sendiri, dan memberikan makna ayat-ayat tersebut secara harfiyah dengan Istilah ³lam laa kaiqa bil´ dengan alas an at-tafwidl (penyerahan total). Pentafwidllan ini menggunakan penafsiran yang berpandangan sesuai dengan ke-Maha sucian dan ke-Maha agungan Allah serta lebih menjauhkan diri sikap penyerupaan (Tasbih) terhadap Allah dengan sifat-sifat makhluk atau bias di sebut ta¶wil. Disini lah terlihat jelas cirri dari Ahlus sunnah Wal Jama¶ah yang selalu mengambil sikap jalan tengah (At-Tawassah) dalam metode dan pola pikir. B. Kronologi sejarah Ahlusunnah wal jama¶ah Sejarah mencatat bahwa di kalangan umat Islam bermula dari abad-abad permulaan (mulai dari masa khalifah sayyidina Ali ibn Abi Thalib) sehinggalah sekarang terdapat banyak firqah (golongan) dalam masalah aqidah yang saling bertentangan diantara satu sama lain. Ini fakta yang tidak dapat dibantah. Bahkan dengan tegas dan jelas Rasulullah telah menjelaskan bahwa umatnya akan berpecah menjadi 73 golongan. Semua ini sudah tentunya dengan kehendak Allah dengan berbagai hikmah tersendiri, walaupun tidak kita ketahui secara pasti. Hanya Allah yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Namun Rasulullah juga telah menjelaskan jalan selamat yang harus kita ikuti dan panuti agar tidak terjerumus dalam kesesatan. Yaitu dengan mengikuti apa yang diyakini oleh al-Jama¶ah; mayoritas umat Islam. Karena Allah telah menjanjikan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad, bahwa umatnya tidak akan tersesat selama diri mereka berpegang teguh kepada apa yang disepakati oleh kebanyakan mereka.

Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

2

Allah tidak akan menyatukan mereka dalam kesesatan. Kesesatan akan menimpa mereka yang menyimpang dan memisahkan diri dari keyakinan mayoritas. Mayoritas umat Muhammad dari dulu sampai sekarang adalah Ahlussunnah Wal Jama¶ah. Mereka adalah para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dalam Ushul alI¶tiqad (dasar-dasar aqidah); yaitu Ushul al-Iman al-Sittah (dasar-dasar iman yang enam) yang disabdakan Rasulullah dalam hadits Jibril uang bermaksud : ³Iman adalah engkau mempercayai Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab- kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir serta Qadar (ketentuan Allah); yang baik maupun buruk´. (H.R. al Bukhari dan Muslim) Perihal al-Jama¶ah dan pengertiannya sebagai mayoritas umat Muhammad yang tidak lain adalah Ahlussunnah Wal Jama¶ah tersebut dijelaskan oleh Rasulullah dalam sabdanya yang bermaksud: ³Aku berwasiat kepada kalian untuk mengikuti sahabat-sahabatku, kemudian mengikuti orang-orang yang datang setelah mereka, kemudian mengikuti yang datang setelah mereka³. Dan termasuk rangkaian hadits ini: ³Tetaplah bersama al-Jama¶ah dan jauhi perpecahan karena setan akan menyertai orang yang sendiri. Dia (setan) dari dua orang akan lebih jauh, maka barang siapa menginginkan tempat lapang di syurga hendaklah ia berpegang teguh pada (keyakinan) al-Jama¶ah´. (H.R. at-Tirmidzi; berkata hadits ini Hasan Shahih juga hadits ini dishahihkan oleh al-Hakim). Al-Jama¶ah dalam hadits ini tidak boleh diartikan dengan orang yang selalu melaksanakan shalat dengan berjama¶ah, jama¶ah masjid tertentu. Konteks pembicaraan hadits ini jelas mengisyaratkan bahwa yang dimaksud al-Jama¶ah adalah mayoritas umat Muhammad dari sisi jumlah(µadad). Penafsiran ini diperkuatkan juga oleh hadits. Yaitu hadits riwayat Abu Daud yang merupakan hadits Shahih Masyhur, diriwayatkan oleh lebih dari 10 orang sahabat. Hadits ini memberi kesaksian akan kebenaran mayoritas umat Muhammad bukan kesesatan firqah-firqah yang menyimpang. Jumlah pengikut firqah-firqah yang menyimpang ini, jika dibandingkan dengan pengikut Ahlussunnah Wal Jama¶ah sangatlah sedikit. Seterusnya di kalangan Ahlussunnah Wal Jama¶ah terdapat istilah yang populer yaitu ³ulama salaf´. Mereka adalah orang-orang yang terbaik dari kalangan Ahlusssunnah Wal Jama¶ah yang hidup pada 3 abad pertama hijriyah sebagaimana sabda nabi yang maknanya: ³Sebaik-baik abad adalah abadku kemudian abad setelah mereka kemudian abad setelah mereka´. (H.R. Tirmidzi)

Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

3

Pada masa ulama salaf ini, di sekitar tahun 260 H, mula tercetus bid¶ah Mu¶tazilah, Khawarij, Musyabbihah dan lain-lainnya dari kelompok-kelompok yang membuat fahaman atau mazhab baru. Kemudian muncullah dua imam muktabar pembela Aqidah Ahlussunnah yaitu Imam Abu al-Hasan al-Asy¶ari (W. 324 H) dan Imam Abu Manshur al-Maturidi (W. 333 H) ± semoga Allah meridhai keduanya±menjelaskan aqidah Ahlussunnah Wal Jama¶ah yang diyakini para sahabat Nabi Muhammad dan orang-orang yang mengikuti mereka, dengan mengemukakan dalil-dalil naqli (nas-nas al-Quran dan Hadits) dan dalil-dalil aqli (argumentasi rasional) disertai dengan bantahan-bantahan terhadap syubhat-syubhat (sesuatu yang dilontarkan untuk mengaburkan hal yang sebenarnya) golongan Mu¶tazilah, Musyabbihah, Khawarij dan ahli bid¶ah lainnya. Disebabkan inilah Ahlussunnah dinisbahkan kepada keduanya. Mereka; Ahlussunnah Wal Jamaah akhirnya dikenali dengan nama al-Asy¶ariyyun (para pengikut Imam Abu al-Hasan Asy¶ari) dan al-Maturidiyyun (para pengikut Imam Abu Manshur al-Maturidi). Hal ini menunjukkan bahwa mereka adalah satu golongan yaitu al-Jama¶ah. Karena sebenarnya jalan yang ditempuhi oleh al-Asy¶ari dan al-Maturidi dalam pokok aqidah adalah sama dan satu. Adapun perbedaan yang terjadi diantara keduanya hanyalah pada sebagian masalah-masalah furu¶ (cabang) aqidah. Hal tersebut tidak menjadikan keduanya saling berhujah dan berdebat atau saling menyesatkan, serta tidak menjadikan keduanya terlepas dari ikatan golongan yang selamat (al-Firqah al-Najiyah). Perbedaan antara al-Asy¶ariyyah dan al-Maturidiyyah ini adalah seperti perselisihan yang terjadi diantara para sahabat nabi, tentang adakah Rasulullah melihat Allah pada saat Mi¶raj? Sebagian sahabat, seperti µAisyah dan Ibn Mas¶ud mengatakan bahwa Rasulullah tidak melihat Tuhannya ketika Mi¶raj. Sedangkan Abdullah ibn µAbbas mengatakan bahwa Rasulullah melihat Allah dengan hatinya. Allah memberi kemampuan melihat kepada hati Nabi Muhammad atau membuka hijab sehingga dapat melihat Allah. Namun demikian alAsy¶ariyyah dan al-Maturidiyyah ini tetap bersama atau berfahaman dan sehaluan dalam dasardasar aqidah. Al-Hafiz Murtadha az-Zabidi (W. 1205 H) mengatakan:³Jika dikatakan Ahlussunnah wal Jama¶ah, maka yang dimaksud adalah al-Asy¶ariyyah dan al-Maturidiyyah ³. (Al-Ithaf Syarah li Ihya Ulumuddin, juz 2 hlm 6)

Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

4

Maka aqidah yang sebenar dan diyakini oleh para ulama salaf yang soleh adalah aqidah yang diyakini oleh al-Asy¶ariyyah dan al-Maturidiyyah. Karena sebenarnya keduanya hanyalah merumuskan serta membuat ringkasan yang mudah (method) dan menjelaskan aqidah yang diyakini oleh para nabi dan rasul serta para sahabat. Aqidah Ahlusssunnah adalah aqidah yang diyakini oleh ratusan juta umat Islam, mereka adalah para pengikut madzhab Syafi¶i, Maliki, Hanafi, serta orang-orang yang utama dari madzhab Hanbali (Fudhala¶ al-Hanabilah). Aqidah ini diajarkan di pondok-pondok Ahlussunnah di negara kita Malaysia, Indonesia, Thailand dan lain-lainnya. Dan Alhamdulillah, aqidah ini juga diyakini oleh ratusan juta kaum muslimin di seluruh dunia seperti Brunei, India, Pakistan, Mesir (terutama al-Azhar), negaranegara Syam (Syria, Jordan, Lubnan dan Palestin), Maghribi,Yaman, Iraq, Turki, Chechnya, Afghanistan dan banyak lagi di negara-negara lainnya. Maka wajib bagi kita untuk senantiasa memberi penuh perhatian dan serius dalam mendalami aqidah al- Firqah al-Najiyah yang merupakan aqidah golongan mayoritas. Karena ilmu aqidah adalah ilmu yang paling mulia, sebab ia menjelaskan pokok atau dasar agama. Abu Hanifah menamakan ilmu ini dengan al-Fiqh al-Akbar. Karena mempelajari ilmu ini wajib diutamakan dari mempelajari ilmu-ilmu lainnya. Setelah selesai atau khatam mempelajari ilmu ini barulah disusuli dengan ilmu-ilmu Islam yang lain. Inilah method yang diikuti para sahabat nabi dan ulama rabbaniyyun dari kalangan salaf maupun khalaf dalam mempelajari agama ini. Tradisi ini telah bermula dari zaman Rasulullah, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibn Umar dan Jundub, maknanya: ³Kami ketika remaja saat mendekati baligh- bersama Rasulullah mempelajari iman (tauhid) dan belum mepelajari al-Qur¶an. Kemudian kami mempelajari alQur¶an maka bertambahlah keimanan kami´. (H.R. Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Hafidz al-Bushiri). Ilmu aqidah juga disebut dengan ilmu kalam. Hal ini karena ramainya golongan yang menyalahgunakan nama Islam namun menentang aqidah Islam yang benar dan banyaknya kalam (argumentasi) dari setiap golongan untuk membela aqidah mereka yang sesat. Tidak semua ilmu kalam itu tercela, sebagaimana dikatakan oleh golongan Musyabbihah (kelompok yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Akan tetapi, ilmu kalam terbagi menjadi dua bagian ; ilmu kalam yang terpuji dan ilmu kalam yang tercela. Ilmu kalam yang kedua inilah yang

Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

5

menyalahi aqidah Islam karena dikarang dan dipelopori oleh golongan-golongan yang sesat seperti Mu¶tazilah, Musyabbihah (golongan yang menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya, sepeti kaum Wahabiyyah) dan ahli bid¶ah lainnya. Adapun ilmu kalam yang terpuji ialah ilmu kalam yang dipelajari oleh Ahlussunah untuk membantah golongan yang sesat. Dikatakan terpuji karena pada hakikatnya ilmu kalam Ahlussunnah adalah taqrir dan penyajian prinsip-prinsip aqidah dalam formatnya yang sistematik dan argumentatif; dilengkapi dengan dalil-dalil naqli dan aqli. Dasar-dasar ilmu kalam ini telah ada di kalangan para sahabat. Diantaranya, Imam Ali ibn Abi Thalib dengan argumentasinya yang kukuh dapat mengalahkan golongan Khawarij, Mu¶tazilah dan juga dapat membantah empat puluh orang yahudi yang meyakini bahwa Allah adalah jisim (benda). Demikian pula Abdullah ibn Abbas, Al-Hasan ibn Ali ibn Abi Thalib dan Abdullah ibn Umar juga membantah kaum Mu¶tazilah. Sementara dari kalangan tabi¶in; Imam al-Hasan al-Bashri, Imam al-Hasan ibn Muhamad ibn al-Hanafiyyah; cucu Sayyidina Ali ibn Abi Thalib dan khalifah Umar ibn Abdul Aziz juga pernah membantah kaum Mu¶tazilah. Kemudian juga para imam dari empat mazhab; Imam Syafi¶i, Imam Malik, Imam Abu Hanifah, dan Imam Ahmad juga menekuni dan menguasai ilmu kalam ini. Sebagaimana dinukilkan oleh al-Imam Abu Manshur al-Baghdadi (W 429 H) dalam kitab Ushul ad-Din, al-Hafizh Abu al-Qasim ibn µAsakir (W 571 H) dalam kitab Tabyin Kadzib al Muftari, al-Imam az-Zarkasyi (W 794 H) dalam kitab Tasynif al-Masami¶ dan al µAllamah al Bayyadli (W 1098 H) dalam kitab Isyarat alMaram dan lain-lain. Allah berfirman yang bermaksud: ³Maka ketahuilah bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah dan mohonlah ampun atas dosamu´. (Muhammad :19) Ayat ini sangat jelas mengisyaratkan keutamaan ilmu ushul atau tauhid. Yaitu dengan menyebut kalimah tauhid (la ilaha illallah) lebih dahulu dari pada perintah untuk beristighfar yang merupakan furu¶ (cabang) agama. Ketika Rasulullah ditanya tentang sebaikbaiknya perbuatan, beliau Menjawab,maknanya: ³Iman kepada Allah dan rasul-Nya´. (H.R. Bukhari) Bahkan dalam sebuah hadits Rasulullah mengkhususkan dirinya sebagai orang yang paling mengerti dan faham ilmu tauhid, beliau bersabda,maknanya: ³Akulah yang paling mengerti diantara kalian tentang Allah dan paling takut kepada-Nya´. (H.R. Bukhari) Karena itu, sangat banyak ulama yang menulis kitab-kitab khusus mengenai penjelasan aqidah Ahlussunnah Wal Jama¶ah ini. Seperti Risalah al-¶Aqidah ath-Thahawiyyah karya alImam as-Salafi Abu Ja¶far ath-Thahawi (W 321 H), kitab alµAqidah an-Nasafiyyah karangan al

Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

6

Imam µUmar an-Nasafi (W 537 H), al-µAqidah al-Mursyidah karangan al-Imam Fakhr ad-Din ibn µAsakir (W 630 H), al µAqidah ash-Shalahiyyah yang ditulis oleh al-Imam Muhammad ibn Hibatillah al-Makki (W 599H); beliau menamakannya Hadaiq al-Fushul wa Jawahir al Uqul, kemudian menghadiahkan karyanya ini kepada sultan Shalahuddin al-Ayyubi (W 589 H). Tentang risalah aqidah yang terakhir disebutkan, sultan Shalahuddin sangat tertarik dengannya hingga beliau memerintahkan untuk diajarkan sampai kepada anak-anak kecil di madrasah-madrasah, yang akhirnya risalah aqidah tersebut dikenal dengan nama al µAqidah ashShalahiyyah. Sultan Shalahuddin adalah seorang µalim yang bermadzhab Syafi¶i, mempunyai perhatian khusus dalam menyebarkan al µAqidah as-Sunniyyah. Beliau memerintahkan para muadzdzin untuk mengumandangkan al µAqidah as-Sunniyyah di waktu tasbih (sebelum adzan shubuh) pada setiap malam di Mesir, seluruh negara Syam (Syiria, Yordania, Palestina dan Lebanon), Mekkah, Madinah, dan Yaman sebagaimana dikemukakan oleh al Hafizh as-Suyuthi (W 911 H) dalam al Wasa-il ila Musamarah al Awa-il dan lainnya. Sebagaimana banyak terdapat buku-buku yang telah dikarang dalam menjelaskan al µAqidah as-Sunniyyah dan senantiasa penulisan itu terus berlangsung. Kita memohon kepada Allah semoga kita meninggal dunia dengan membawa aqidah Ahlissunah Wal Jamaah yang merupakan aqidah para nabi dan rasul Allah. Amin.

C. Pandangan Jumhur Ulama Tentang Aqidah Ahlussunnah Wal Jama¶ah
Ibnu µAbidin al Hanafi mengatakan dalam Hasyiyah Radd al Muhtar µala ad-Durr al Mukhtar : ³Ahlussunnah Wal Jama¶ah adalah al Asya¶irah dan al Maturidiyyah´. Dalam kitab µUqud al Almas al Habib Abdullah Alaydrus al Akbar mengatakan : ³Aqidahku adalah aqidah Asy¶ariyyah Hasyimiyyah Syar¶iyyah sebagaimana Aqidah para ulama madzhab syafi¶i dan Kaum Ahlussunnah Shufiyyah´. Bahkan jauh sebelum mereka ini Al-Imam al µIzz ibn Abd asSalam mengemukakan bahawa aqidah al Asy¶ariyyah disepakati oleh kalangan pengikut madzhab Syafi¶i, madzhab Maliki, madzhab Hanafi dan orang-orang utama dari madzhab Hanbali (Fudlala al-Hanabilah). Apa yang dikemukakan oleh al µIzz ibn Abd as-Salam ini disetujui oleh para ulama di masanya, seperti Abu µAmr Ibn al Hajib (pimpinan ulama Madzhab

Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

7

Maliki di masanya), Jamaluddin al Hushayri pimpinan ulama Madzhab Hanafi di masanya, juga disetujui oleh al Imam at-Taqiyy as-Subki sebagaimana dinukil oleh putranya Tajuddin as-Subki.

D. Garis Panduan Aqidah Asy¶ariyyah
Secara garis besar aqidah asy¶ari yang juga merupakan aqidah ahlussunnah wal jama¶ah adalah meyakini bahwa Allah ta¶ala maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, Allah bukanlah benda yang boleh digambarkan, dan juga bukan benda yang berbentuk dan berukuran. Allah tidak serupa dengan sesuatupun dari makhluk-Nya (laysa kamitslihi syai¶). Allah ada dan tidak ada permulaan atau penghabisan bagi kewujudan-Nya, Allah maha kuasa dan tidak ada yang melemahkan-Nya, serta Allah tidak diliputi arah. Allah ada sebelum menciptakan tempat tanpa tempat, Allah wujud setelah menciptakan tempat dan tanpa bertempat. tidak boleh ditanyakan tentangnya bila, dimana dan bagaimana ada-Nya. Allah ada tanpa terikat oleh masa dan tempat. Maha suci Allah dari bentuk (batasan), batas akhir, sisi-sisi, anggota badan yang besar dan anggota badan yang kecil. Allah tidak diliputi satu arah atau enam arah penjuru. Allah tidak seperti makhluk-Nya. Allah maha suci dari duduk, bersentuhan, bersemayam, menyatu dengan makhluk-Nya, berpindah-pindah dan sifat-sifat makhluk lainnya. Allah tidak terjangkau oleh fikiran dan tidak terbayang dalam ingatan, kerana apapun yang terbayang dalam benakmu maka Allah tidak seperti itu. Allah maha hidup, maha mengetahui, maha kuasa, maha mendengar dan maha melihat. Allah berbicara dengan kalam-Nya yang azali sebagaimana sifat-sifat-Nya yang lain juga azali, kerana Allah berbeza dengan semua makhluk-Nya dalam dzat, sifat dan perbuatan-Nya. Barang siapa menyifati Allah dengan sifat makhluknya sungguh dia telah kafir. Allah yang telah menciptakan makhluk dan perbuatan-perbuatan-Nya, Alah juga yang menentukan rezeki dan ajal mereka. Tidak ada yang boleh menolak ketentuan-Nya dan tidak ada yang boleh menghalangi pemberian-Nya. Allah berbuat dalam kerajaan-Nya ini apa yang Allah kehendaki. Allah tidak ditanya perihal perbuatan-Nya melainkan hamba-Nyalah yang akan diminta dipertanggungjawakan atas segala perbuatan-Nya. Apa yang Allah kehendaki pasti terlaksana dan yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi. Allah bersifat dengan kesempurnaan yang pantas bagi-Nya dan Allah maha suci dari segala bentuk kekurangan. Nabi Muhammad adalah penutup para nabi dan penghulu para rasul. Nabi Muhammad diutuskan oleh Allah ke muka bumi ini untuk semua penduduk bumi, jin maupun manusia. Nabi Muhammad jujur dalam setiap apa yang disampaikannya.
Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

8

Ahlu Sunnah Waljama ah / Kel.V

9

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->